Baca EPUB: Arok Dedes

26 bagian · 0.1 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. Arok Dedes
  2. Daftar Isi
  3. Dari Kami untuk Pembaca
  4. Para Tokoh
  5. para Raja Mataram dan Sailendra
  6. para Raja Wangsa Isana
  7. Keturunan Arok dan Dedes
  8. Dari Penerbit
  9. Prakata
  10. Tumapel
  11. Arok
  12. Dedes
  13. Tekad Kaum Brahmana
  14. Tunggul Ametung
  15. Perlawanan Terhadap Tunggul Ametung
  16. Arok dan Dedes
  17. Pembersihan di Selatan
  18. Rahasia Empu Gandring
  19. Jatuhnya Tunggul Ametung
  20. Daftar Kata
  21. Catatan tentang Edisi Ini
  22. Daftar Karya Pramoedya Ananta Toer
  23. Penghargaan
  24. Terima Kasih

Kisah Ken Arok biasa kita kenal lewat keris Empu Gan­dring dan kutuk­an­nya. Pra­mo­edya mening­gal­kan dong­eng itu dan menu­lis ten­tang sesu­atu yang lebih dekat dengan kita: bagai­mana keku­a­saan dir­e­but.

Arok, pemuda sudra tanpa asal-usul, dibe­sar­kan para petani dan didi­dik para brah­mana. Ia meng­him­pun orang-orang yang dipe­ras Akuwu Tuma­pel, Tung­gul Ame­tung, lalu masuk ke peku­wuan seba­gai pra­ju­rit sang Akuwu sen­diri. Dari dalam ia ber­ge­rak pelan: meng­adu para pem­be­sar, mem­bi­ar­kan orang lain meng­hu­nus sen­jata, dan muncul tepat pada wak­tu­nya.

Di peku­wuan itu pula ada Ken Dedes, anak brah­mana yang dicu­lik dan dija­di­kan Para­mesy­wari. Ia menyim­pan sum­pah­nya sen­diri.

Pram menu­lis roman ini di Pulau Buru pada 1976, seba­gai tahanan poli­tik, sebe­las tahun sete­lah peris­tiwa 1965.


Edisi Seabad · 1925–2025

Pramoedya Ananta Toer

Arok Dedes

Roman sejarah

KOLEKSI PRIBADI

MUHAMMAD REZA MAGISTRA

Lund, 2026


Pra­mo­edya Ananta Toer, Arok Dedes.

Edisi Seabad 1925–2025, edisi digi­tal. Diset ulang dari Arok Dedes, cetakan kelima, Hasta Mitra, Jakarta, Janu­ari 2002. Cetakan per­tama Hasta Mitra: Dese­m­ber 1999. Editor: Joe­soef Isak. Kulit depan edisi 2002: Si Ong (Harry Wahyu). Desain buku edisi 2002: Marsha Ang­gita. ISBN edisi 2002: 979-8659-11-2.

Naskah ditu­lis di Pulau Buru, 1 Okto­ber sampai 24 Dese­m­ber 1976.

Hak cipta karya © Pra­mo­edya Ananta Toer dan ahli waris­nya. Edisi digi­tal ini disu­sun untuk koleksi pri­badi dan per­i­ng­atan sera­tus tahun Pra­mo­edya Ananta Toer, tidak untuk diper­ju­al­be­li­kan.

Sampul, tata letak, catatan penyun­ting, daftar tokoh, dan sil­si­lah yang digam­bar ulang: Muham­mad Reza Magis­tra. Diset dengan New­s­re­a­der.

KOLEKSI PRI­BADI MUHAM­MAD REZA MAGIS­TRA · LUND, 2026



Dari Kami untuk Pembaca

Pra­mo­edya Ananta Toer lahir di Blora pada 6 Feb­ru­ari 1925 dan wafat di Jakarta pada 30 April 2006. Tahun lalu genap sera­tus tahun sejak hari kela­hir­an­nya, dan kami ingin mera­ya­k­an­nya dengan cara yang paling seder­hana: mem­baca buku­nya lagi, lalu mem­ba­gi­nya.

Arok Dedes ditu­lis di Pulau Buru, ketika Pram men­jadi tahanan poli­tik Orde Baru. Nas­kah­nya baru bisa terbit pada Dese­m­ber 1999 lewat Hasta Mitra, lebih dari dua puluh tahun kemu­dian. Teks dalam edisi ini disa­lin dari cetakan keli­manya, Janu­ari 2002.

Di tangan Pram, kisah Ken Arok bukan lagi soal kutukan keris Empu Gan­dring. Ia men­jadi cerita ten­tang cara keku­a­saan dir­e­but: lewat intrik, lewat tangan orang lain, dan lewat kesa­baran menunggu saat yang tepat. Pener­bit­nya sen­diri, dalam peng­an­tar buku ini, meng­a­jak pem­baca mem­ba­ca­nya sambil meng­i­ngat per­a­lihan keku­a­saan tahun 1965.

Selu­ruh teks kami salin ulang men­jadi teks digi­tal dan kami set dengan tata letak baru. Eja­an­nya kami biar­kan seperti ter­ce­tak, ter­ma­suk kata-kata khas Pram seperti matari, sahaya, dan menyedari. Catatan kaki Pram tetap di tem­pat­nya; catatan tam­ba­han dari kami dia­wali tulisan Catatan penyunting. Di awal buku kami ser­ta­kan daftar tokoh dan tiga sil­si­lah yang digam­bar ulang dari edisi 2002, dan di akhir buku daftar kata serta catatan ten­tang penya­li­nan ini.

Lund, Oktober 2026

Muhammad Reza Magistra dan kawan-kawan


Para Tokoh

Arok Pemuda yatim tanpa asal yang jelas, ber­nama kecil Temu. Dibe­sar­kan Ki Lem­bung lalu Ki Bango Sam­pa­ran, ber­guru pada Tan­tri­pala dan Dang Hyang Loh­gawe. Memim­pin per­la­wanan ter­ha­dap Tuma­pel.

Borang Nama yang dipa­kai Arok ketika meng­ha­sut pen­du­duk desa mela­wan Tung­gul Ame­tung.

Ken Dedes Anak brah­mana Mpu Parwa dari desa Pana­wi­jil. Dicu­lik dan dija­di­kan Para­mesy­wari oleh Tung­gul Ame­tung.

Tung­gul Ame­tung Akuwu Tuma­pel, pengu­asa yang diang­kat Kediri untuk men­ja­min arus upeti. Pemuja Wisynu.

Dang Hyang Loh­gawe Brah­mana Syiwa ter­ke­muka, maha­guru Arok, yang mem­be­ri­nya nama Arok.

Yang Suci Bela­kangka Pan­dita Negeri Tuma­pel, orang Wisynu, wakil kepen­tingan Kediri di peku­wuan.

Mpu Parwa Brah­mana Syiwa dari desa Pana­wi­jil, ayah Ken Dedes.

Ken Umang Anak bungsu Ki Bango Sam­pa­ran, yang sejak kecil menya­yangi Arok. Kemu­dian memim­pin pasukan sen­diri.

Tanca Kawan Arok sejak kecil di Karang­k­setra, pengu­rus harta ber­sama mereka dan orang keper­ca­ya­an­nya.

Ki Bango Sam­pa­ran Pemain dadu dari Karang­k­setra, ayah pungut Arok yang kedua.

Ki Lem­bung dan Nyi Lem­bung Petani di Ran­du­a­las yang mene­mu­kan Arok ketika bayi dan mem­be­sar­kan­nya.

Tan­tri­pala Guru per­tama Arok di desa Kapun­dungan.

Rimang Inang dan dayang Ken Dedes di peku­wuan, pemuja Hyang Par­wati.

Gede Mirah Pengu­rus para wanita di keput­rian peku­wuan.

Oti Budak dapur peku­wuan dari sebuah pulau jauh, kemu­dian dibu­ang ke pen­du­langan emas Kali Kanta.

Mundra (Mun­d­ra­yana) Budak pema­hat batu ber­mata satu di Kali Kanta, suami Oti.

Gusti Putra Sil­pa­sas­tra­wan Tuma­pel, peran­cang dan pem­ba­ngun gedung-gedung suci.

Arya Artya Brah­mana Syiwa di Kuta­raja yang men­dam­ba­kan kedu­dukan Pan­dita Negeri.

Kebo Ijo Per­wira Tuma­pel, orang Wisynu, yang mela­tih pasukan Arok.

Empu Gan­dring Empu sen­jata Tuma­pel, pemi­lik pabrik sen­jata di ping­giran Kuta­raja.

Para Kidang Anak-anak Tung­gul Ame­tung yang men­jadi per­wira, di anta­ra­nya Kidang Tela­rung, Kidang Gume­lar, dan Kidang Han­da­yani.

Hayam Peng­i­kut Arok yang kemu­dian ber­ba­lik mela­wan­nya.

Ling­sang, Han­danu, Bana Para peng­i­kut dan per­wira dalam pasukan Arok.

Dadung Sung­ging Pra­ju­rit penga­wal Tuma­pel.

Arih-Arih dan San­ting Nama-nama pemim­pin keru­suhan yang diburu Tuma­pel, kemu­dian berada dalam barisan Arok.

Sri Kre­ta­jaya Raja Kediri, pengu­asa atas Tuma­pel.

Yang Ter­suci Mpu Tana­kung Pan­dita ter­tinggi di Kediri.


Silsilah

para Raja Mataram dan Sailendra


Silsilah

para Raja Wangsa Isana


Silsilah

Keturunan Arok dan Dedes


Dari Penerbit

AROK DEDES adalah novel-seja­rah yang seperti juga tet­ra­logi “Bumi Manu­sia”1 ditu­lis Pra­mo­edya Ananta Toer di Pulau Buru. Kesu­l­itan dana akibat ber­tubi-tubi dibe­ra­ngus oleh keku­a­saan repre­sif rejim Orde Baru menye­bab­kan “Arok Dedes” ini baru seka­rang dapat kami ter­bit­kan. Masih ada tulisan pen­ting lain ditu­lis Pra­mo­edya di Buru yang kami harap­kan bisa menyu­sul terbit dalam waktu dekat, yaitu satu-satu­nya karya dalam bentuk drama/san­di­wara ber­ju­dul “Mangir”. Sebe­nar­nya masih ada satu karya besar lagi yang ber­bo­bot setara dengan “Arus Balik” dan “Arok Dedes”, tetapi sangat dise­sal­kan karya besar itu sirna, sudah tidak tentu lagi rim­ba­nya ke mana.

“Mata Pusaran”, demi­kian judul novel-seja­rah yang hilang itu, ber­ki­sah ten­tang awal­nya dis­in­te­grasi keku­a­saan Maja­pa­hit oleh kon­flik intern yang men­ce­tus­kan perang pare­greg2 antara Ratu Suhita dengan pang­lima perem­pu­an­nya Ni Pak­sini/Ni Ken Sup­raba mela­wan Bhre Wirab­humi dari Luma­jang.

Naskah utuh yang sebe­nar­nya sudah ram­pung itu pernah diti­tip­kan oleh penu­lis pada seo­rang per­wira ang­katan laut pada saat mening­gal­kan pulau Buru, tetapi disita oleh pengu­asa dengan cara dan prak­tek-prak­tek kebi­a­saan Orde Baru: tanpa keje­lasan oto­r­i­tas dan proses penyi­taan sehingga tidak memung­kin­kan meng­k­laim­nya kem­bali atau bahkan meng­u­sut keber­a­da­an­nya. Juga tidak ada jaminan sama sekali naskah sitaan itu ter­sim­pan dan ter­pe­li­hara baik ter­ha­dap ber­ba­gai kemung­kinan kemus­nahan. Kekha­wa­tiran ini ter­nyata ber­al­asan sekali. Seo­rang ilmu­wan Belanda yang rajin men­cari liter­a­tur di pasar buku tua di pasar Senen Jakarta secara meng­he­ran­kan sekali mene­mu­kan naskah “Mata Pusaran” itu. Apa yang dia temu­kan masih dalam format ketik-ketikan sete­ngah folio yang sudah difo­to­kopi, namun sangat disa­yang­kan tidak leng­kap, tidak utuh.

Orang Belanda itu yang menya­dari betapa ber­har­ga­nya pene­mu­an­nya itu telah menye­rah­kan apa yang ter­sisa dari “Mata Pusaran” itu kepada redaksi Hasta Mitra3. Dalam hubungan itu kami di sini ingin meng­im­bau semua pihak agar juga mela­ku­kan hal yang sama bila kebe­tulan dapat mene­mu­kan naskah ter­se­but, dalam kea­daan utuh atau pun sepo­tong-sepo­tong. Pra­mo­edya dengan sangat kecewa menga­ta­kan bahwa usia dan kese­hat­an­nya sudah tidak memung­kin­kan lagi bagi­nya untuk menu­lis ulang novel tsb. Oleh karena itu, dari lem­baran-lem­baran ter­sisa yang mung­kin masih dapat dila­cak kem­bali, redaksi – dengan ban­tuan pem­baca – ber­niat seda­pat­nya meng­him­pun dan meram­pung­kan kem­bali novel itu agar men­jadi naskah utuh untuk dapat dibaca oleh sege­nap pemi­nat karya-karya Pra­mo­edya.

Kem­bali menge­nai buku “Arok Dedes”, mung­kin mena­rik untuk dica­tat di sini bahwa novel ini ditu­lis oleh Pra­mo­edya seper­em­pat abad yang lalu dalam status seba­gai tahanan di Buru pada saat keku­a­saan rejim Suharto sedang sejaya-jaya­nya. Ciri yang khas dari kepu­jang­gaan Pra­mo­edya adalah bahwa dia dengan cara­nya sen­diri seba­gai sas­tra­wan ber­ko­mu­ni­kasi dan men­coba men­je­las­kan kepada bangsa Indo­ne­sia, ter­u­tama gene­rasi muda­nya, ten­tang meng­apa nasib Indo­ne­sia men­jadi beling­sat seperti seka­rang ini. Untuk itu dia tetap meng­gu­na­kan media bahasa yang men­jadi ciri keku­at­an­nya dengan tetap ber­ku­kuh berada di wila­yah sastra – lepas dari slogan, pro­pa­ganda dan jargon poli­tik – meski kisah yang dia bawa sarat muatan poli­tik­nya. Dan lahan serta bahan ramuan yang dipa­kai untuk ber­ko­mu­ni­kasi adalah pang­gung seja­rah Nusan­tara kita sen­diri.

Pra­mo­edya pernah menga­ta­kan bahwa kudeta per­tama yang ter­jadi dalam seja­rah Nusan­tara kita adalah ketika Ken Arok tampil mere­but keku­a­saan Tuma­pel. Kisah “Arok Dedes” ini mera­wi­kan peris­tiwa kudeta per­tama dalam seja­rah Nusan­tara kita itu. Kudeta atau coup d’etat adalah peng­er­tian modern ten­tang pere­butan keku­a­saan negara, namun dalam seja­rah kera­jaan-kera­jaan di Nusan­tara pere­butan keku­a­saan negara seperti itu sudah pernah ter­jadi pada awal abad 13. Tetapi kudeta di abad 13 itu ber­lang­sung khas dan unik. Pra­mo­edya yang kenal betul kebu­da­yaan Jawa sampai ke tulang sumsum mem­be­ber­kan bagai­mana dengan keli­haian yang cang­gih Arok ber­ha­sil men­jadi Akuwu Tuma­pel menying­kir­kan Tung­gul Ame­tung. Dengan dukungan kelom­pok agama di Jawa dalam hal ini tokoh pen­deta Syiwa – Ken Arok ber­ha­sil ber­teng­ger di puncak keku­a­saan lewat “kudeta a la feodal Jawa”, licik muna­fik, tidak ter­buka, lempar batu sem­bu­nyi tangan.

Tidak ter­lalu meng­he­ran­kan bila para pem­baca sete­lah meng­i­kuti kisah “Arok Dedes” Pra­mo­edya – walau tidak disu­ruh – aso­si­asi mereka dengan sen­di­r­i­nya segera pindah dari abad 13 lang­sung ke abad 20 di tahun 1965-an. Sampai hari ini pun belum sele­sai orang meng­kaji apa yang sebe­nar­nya ter­jadi di tahun 1965 itu. Bagai­mana bisa ter­jadi “per­a­lihan keku­a­saan” dari Pre­si­den Soe­karno ke Suharto? Bagai­mana orang yang meng­kup keku­a­saan justru ber­ha­sil melem­par tuduhan kup itu kepada pihak-pihak lain sampai yang difit­nah men­jadi korban keseng­sa­raan dan pen­de­ri­taan – bagai­mana orang yang mem­beri infor­masi ten­tang bakal ter­ja­di­nya kup, malah ditang­kap dan dipen­dam lebih tiga­pu­luh tahun dalam pen­jara?

Nalar ilmu menga­ta­kan bahwa seja­rah tidak mung­kin ber­u­lang. Itu betul sekali, akan tetapi dari seja­rah itu juga­lah akan bisa kita baca ber­ba­gai gejala kemi­r­ipan masak­ini dan masa lampau. Cukup banyak ter­da­pat ana­logi yang dapat mem­per­kaya wa-wasan budaya dan poli­tik kita untuk menge­nali diri kita sen­diri mem­baca hari ini dan masa depan lewat pel­a­jaran hal-ihwal yang diwa­risi masa lampau, lewat seja­rah yang men­jadi asset kaya bagi mereka yang mau bel­a­jar dan mena­rik man­faat dari ber­ba­gai peng­a­laman yang telah ter­jadi.

Kurang-lebih 25 tahun yang lalu dalam kea­daan ter­ku­cil di pulau pem­bu­angan Buru, lahir­lah kisah AROK DEDES Pra­mo­edya ini. Dengan media sastra dan ber­pa­ling ke seja­rah kita sen­diri, Pra­mo­edya ber­ki­sah dan menyam­pai­kan pesan kepada bangsa dan gene­rasi muda­nya menge­nai keber­a­daan kehi­dupan dalam era rejim Orde Baru yang sedang dija­lani Indo­ne­sia.

Demi­ki­an­lah catatan pendek ten­tang “Arok Dedes” sebe­lum kami menu­tup peng­an­tar ini dengan satu catatan yang mung­kin mena­rik untuk tidak dile­wat­kan.

“Arok Dedes” adalah karya Buru Pra­mo­edya Ananta Toer ter­bitan Hasta Mitra yang per­tama kali diter­bit­kan sete­lah Suharto leng­ser bulan Mei 1998 tahun lalu. Dalam “era refor­masi” dan sua­sana eufo­ria atas keja­tuhan mil­it­e­risme Orde Baru dan lahir­nya “kebe­basan pers”, patut dica­tat di sini bahwa sampai kata peng­an­tar pener­bit ini naik ke per­ce­takan, tidak pernah larangan atas buku-buku Pra­mo­edya oleh Kejak­saan Agung itu dica­but. Pra­mo­edya seba­gai penu­lis dan kami seba­gai editor/pener­bit, memang tidak ter­lalu meng­an­dal­kan kepu­tusan resmi seperti itu. Pen­ca­butan larangan terbit sebe­nar­nya meru­pa­kan suatu lang­kah untuk kepen­tingan citra Peme­rin­tah sen­diri. Bagi kami, ada atau tidak ada pen­ca­butan larangan buku-buku yang dib­re­i­del, kami akan tetap jalan terus seperti biasa selama syarat-syarat beaya cetak masih mampu kami penuhi. Mener­bit­kan buku adalah kerja poli­tik untuk mene­gak­kan apa yang men­jadi hak paling sah dari setiap indi­vidu.

Bukan­kah semua buku-buku Pra­mo­edya – ter­u­tama karya-karya Pulau Buru – justru diter­bit­kan semasa Suharto masih seku­asa-kua­sa­nya? Tidak kami tunggu keba­ikan hati para pengu­asa mil­iter, kejak­saan, kepo­li­sian dan biro­krasi sampai mereka meng­ha­di­ahi kami kebe­basan ber­su­ara, kebe­basan untuk mener­bit­kan buku-buku yang kami ingini. Dalam kenya­taan bukan kebe­basan atau kelong­garan, seba­lik­nya rejim Suharto tak henti-hen­ti­nya mem­be­ra­ngus Pra­mo­edya dan Hasta Mitra, tetapi Pra­mo­edya dan Hasta Mitra pun tak henti-hen­ti­nya bang­kit lagi setiap kali sete­lah dige­buk. Secara eko­no­mis kami memang babak-belur, tetapi secara poli­tik kami tidak pernah ter­tak­luk­kan. Tekad untuk tetap terbit semasa rejim repre­sif Orde Baru adalah bentuk sum­bangan Pra­mo­edya dan Hasta Mitra untuk ikut mene­gak­kan demo­krasi, karena kami sadar bahwa kebe­basan dan hak-hak azasi kami di jaman Orde Baru adalah sesu­atu yang harus kami rebut dan tegak­kan sen­diri, bukan sesu­atu yang bisa diha­rap­kan bakal diha­di­ahi oleh Suharto atau seo­rang Habi­bie.

Akhir­nya ingin kami sam­pai­kan di sini ten­tang keper­gian untuk selama-lama­nya seo­rang rekan dan salah seo­rang dari tiga pen­diri Hasta Mitra pada bulan Juni yang lalu, bung Hasyim Rac­h­man, pada saat Pra­mo­edya sedang ber­sa­fari selama tiga bulan di Ame­rika Seri­kat, Kanada, Belanda, Pran­cis dan Jerman. Bung Hasyim Rac­h­man adalah seo­rang war­ta­wan yang seperti juga Pra­mo­edya dipen­ja­ra­kan oleh rejim Suharto selama 14 tahun, sepu­luh tahun di anta­ra­nya di Pulau Buru. Sele­pas Buru dia dengan cara­nya sen­diri sejak hampir 20 tahun yang lalu telah ikut mem­pel­o­pori per­ta­rungan pan­jang mela­wan keke­ra­san rejim Orde Baru. Dia ikut aktif mene­gak­kan demo­krasi lewat usaha pener­bitan buku, jadi sudah sejak lama dia bekerja sebe­lum gerakan era refor­masi pemuda/maha­siswa mulai bang­kit untuk menum­bang­kan jen­d­ral Suharto pada 1998 tahun yang lalu.

Apa yang dapat kami laku­kan bagi rekan yang sudah pergi lebih dulu, tidak lain adalah kete­tapan hati untuk mene­rus­kan segala yang posi­tif yang pernah dia ker­ja­kan – yaitu mene­rus­kan pener­bitan buku-buku ber­mutu – dalam hal ini seku­rang-kurang­nya menye­leng­ga­ra­kan pro­gram pener­bitan ulang karya-karya Pra­mo­edya Ananta Toer, ter­u­tama buku-buku yang dila­rang semasa rejim Orde Baru.

Joe­soef Isak, ed.



Prakata

Ter­j­a­dilah pada tahun 1215 di Ing­gris: Raja John dengan segala kea­gung­an­nya telah meng­u­mum­kan mak­lu­mat ber­se­ja­rah Magna Charta. Dunia1 per­a­daban men­jadi gempar. Jaman Tengah yang men­ce­kik karena keku­a­saan mutlak para raja duni­awi dan rohani dengan mak­lu­mat itu seakan men­da­pat pelita di tangan untuk keluar dari pengap cekikan.

Magna Charta mem­be­ri­kan kebe­basan pri­badi dan kebe­basan poli­tik pada kawula Ing­gris, pada ummat manu­sia.

Dan ber­a­bad lama­nya mak­lu­mat itu ting­gal hanya dong­engan indah. Kenya­ta­an­nya tetap ter­gan­tung-gan­tung di langit biru. Namun bagi ummat manu­sia yang ter­ce­kik itu, dia meni­up­kan harapan dan keper­ca­yaan, bahwa benar setiap orang adalah sama di hadapan Tuhan dan sesa­ma­nya. Adalah tidak benar orang men­jadi ber­beda-beda dan ber­ting­kat-ting­kat hanya karena kadar keku­a­saan duni­awi dan rohani. Kenya­taan ting­gal seperti sedi­a­kala.

Pada tahun 1215 M. Atau 1137 Saka, bukan Magna Charta yang mene­rangi Bumi Jawa. Ing­gris tidak menge­nal Jawa, Jawa tak menge­nal Ing­gris. Namun Magna Charta yang lebih luas telah ber­laku sejak Sri Erlangga naik tahta2 (1020-1042 M.) di Kah­u­r­i­pan. Pada tahun Raja John meng­u­mum­kan mak­lu­mat­nya yang ber­se­ja­rah, Magna Charta Erlangga itu telah dilin­das oleh ketu­run­an­nya sen­diri yang kelima, Sri Kre­ta­jaya, raja Kediri3 (1185-1222 M.). Negeri Tuma­pel, di bawah per­lin­dungan Kediri, dipe­rin­tah oleh Akuwu Tung­gul Ame­tung, sepe­nuh­nya4 meng­i­kuti jejak Kre­ta­jaya, juga dalam meng­im­pro­vi­sasi per­bu­dakan, yang dua abad lama­nya telah diha­pus­kan sejak Erlangga.

Pada tahun 1215 itu juga seo­rang bocah beru­mur belasan, di kemu­dian hari dike­nal dengan nama Arok, telah mengo­r­ga­ni­sasi per­la­wanan secara tidak sadar ter­ha­dap Tung­gul Ame­tung. Dalam lima tahun kemu­dian, beru­mur dua puluh, telah men­jadi tak­ti­kus perang, yang meng­u­bah cara ber­pe­rang gaya Hindu di Jawa, juga seo­rang poli­ti­kus dan nega­ra­wan dengan gaya sen­diri.

Pada tahun 1220 M. Atau 1142 Saka, ia mema­suki peku­wuan Tuma­pel seba­gai pra­ju­rit. Dalam hanya dua bulan ia telah guling­kan Tung­gul Ame­tung dan sen­diri marak jadi Akuwu, lang­sung mengem­ba­li­kan Magna Charta Erlangga pada kedu­dukan semula.

Pada tahun 1222 M. Atau 1144 Saka, hanya dalam dua tahun, ia telah guling­kan raja ter­kuat di Jawa, Sri Kre­ta­jaya, dan dengan demi­kian mengem­ba­li­kan Magna Charta Erlangga untuk selu­ruh Jawa.

Cerita “Arok dan Dedes” ter­jadi dalam jaman lelu­hur sudah ter­bi­asa meme­rin­tah, ber­po­li­tik, ber­in­trik, biasa meng­gu­ling­kan dan mem­ba­ngun­kan negara – suatu kon­disi yang mung­kin menye­bab­kan orang Indo­ne­sia dewasa ini meng­ang­gap ter­lalu maju untuk jaman­nya. Kira­nya ang­gapan demi­kian kurang tepat. Taktik-taktik Arok sen­diri telah dip­rak­tek­kan ber­u­lang­kali, baik untuk meng­gu­ling­kan­nya sen­diri oleh anak-tiri­nya Anu­sa­pati5, Jaya­kat­wang dalam meng­gu­ling­kan Kre­ta­ne­gara, mau pun oleh turunan Arok keem­pat, Raden Wijaya, dalam meng­gu­ling­kan dua musuh seka­li­gus, Jaya­kat­wang dan balat­en­tara Kubi­lai Khan6 pada 1293. Juga dekrit­nya ten­tang per­sau­da­raan keper­ca­yaan telah diru­mus­kan dalam peme­rin­tahan Hayam Wuruk (1350-1389 M.) oleh Mpu Tan­tu­lar: Bhi­neka Tung­gal Ika7.

Baik roman seja­rah “Arok dan Dedes” mau pun “Dedes dan Arok” tidak lain dari­pada usaha mem­ba­ngun­kan basis sosial-his­to­ris bagi seja­rah-hidup Arok dan Dedes, yang mulai mem­bu­ka­kan per­a­daban baru di Jawa, makin mening­gal­kan penga­ruh Hindu, untuk data seja­rah yang banyak kali ter­de­ngar kedo­ng­eng-dong­engan8. Materi seja­rah yang paling kuat adalah yang dida­pat­kan pada sisa Tugu Keme­nangan Arok, yang kini dima­suk­kan dalam kom­p­lex Candi Singa­sari9 – yang sebe­nar­nya bukan candi dan biasa dina­mai Candi Tuma­pel – dan karya Mpu Tana­kung “Lub­daka”10 yang ditu­lis pada masa-hidup Ken Arok sen­diri.



Bab 1

Tumapel

Ia takkan dapat lupa­kan peris­tiwa itu per­tama kali ia sadar dari ping­san. Tubuh­nya dibo­pong ditu­run­kan dari kuda, dibawa masuk ke ruangan besar ini juga. Ia dige­le­tak­kan di atas per­a­duan, dan orang yang meng­go­tong­nya itu, Tung­gul Ame­tung, ber­diri meng­a­was­i­nya. Ia teng­ku­rap­kan diri di atas per­a­duan dan mena­ngis. Orang itu tak juga pergi. Dan ia tidak diper­ke­nan­kan mening­gal­kan bilik besar ini. Gede Mirah menye­di­a­kan untuk­nya air, tempat mem­bu­ang kotoran dan makanan. Matari belum terbit. Lampu-lampu suram mene­rangi bilik besar itu. Begitu matari muncul masuk ke dalam seo­rang tua menge­na­kan tanda-tanda brah­mana. Ia tak mau turun dari per­a­duan. Tetapi Tung­gul Ame­tung mem­bo­pong­nya lagi, men­du­duk­kan­nya di sebuah bangku yang diberi ber­ti­lam per­ma­dani. Ia tutup muka­nya dengan tangan. Tung­gul Ame­tung duduk di sam­ping­nya. Orang dengan tanda-tanda brah­mana itu telah meni­kah­kan­nya. Hanya Gede Mirah ber­tin­dak seba­gai saksi. Kemu­dian Tung­gul Ame­tung mening­gal­kan bilik ber­sama brah­mana itu. Sejak itu ia tidak diper­ke­nan­kan keluar dari bilik besar ini.

Semua ber­lang­sung secara raha­sia. Empat puluh hari telah lewat. Seka­rang ini Gede Mirah meri­as­nya. Ia telah sampai pada riasan ter­a­khir.

Ia ingin kerja rias ini tiada kan ber­a­khir. Dalam empat puluh hari ia telah ber­mo­hon pada Maha­dewa agar mele­pas­kan­nya dari kung­kungan ini, mengem­ba­li­k­an­nya pada ayah­nya ter­cinta di desa. Semua sia-sia. Hari yang ke empat puluh adalah hari sele­sai­nya wadad pengan­tin, ia meng­gi­gil mem­ba­yang­kan seo­rang lelaki seben­tar nanti akan mem­ba­wa­nya ke per­a­duan. Dan ayah­nya tak juga datang untuk mem­be­nar­kan per­ka­winan ini. Ia sen­diri juga tidak mem­be­nar­kan.

“Pera­wan terayu di selu­ruh negeri,” bisik Gede Mirah.

“Tanpa riasan sahaya pun tiada orang lain bisa menan­dingi.”

Bedak telah menu­tupi seba­gian dari kepu­ca­t­an­nya. Sekali lagi air­mata meru­sak­kan rias itu.

“Jangan mena­ngis. Ber­te­ri­ma­ka­sih­lah kepada para dewa. Tak ada seo­rang wanita yang telah ditem­pat­kan pada satu kedu­dukan oleh Yang Mulia Tung­gul Ame­tung. Tak pernah Yang Mulia mela­ku­kan wadad kecu­ali hanya untukmu. Per­ni­kahan itu takkan dapat diba­tal­kan. Yang Suci Bela­kangka adalah juga seo­rang brah­mana seba­gai ayahmu. Mantra-man­tra­nya sama meng­i­kat dengan yang diu­cap­kan oleh ayahmu.”

Dedes masih juga belum mem­buka mulut dalam empat puluh hari ini. Ia selalu ter­ke­nang pada ayah­nya. Tanpa pem­be­naran dan res­tu­nya, semua hanya akan menuju pada ben­cana. Dari seba­gai gadis yang ter­di­dik untuk men­jadi brah­mani, ia tahu Tung­gul Ame­tung hanya seo­rang pen­ja­hat dan pen­de­kar yang diang­kat untuk jabatan1 itu oleh Sri Kre­ta­jaya untuk men­ja­min arus upeti ke Kediri. Semua brah­mana, ter­ma­suk ayah­nya, mem­ben­ci­nya. Dua puluh tahun seba­gai Tung­gul Ame­tung peker­jaan pokok­nya adalah mela­ku­kan peram­pasan ter­ha­dap semua ter­baik milik rakyat Tuma­pel: kuda ter­baik, burung ter­baik, pera­wan ter­can­tik.

“Mari, Dara,” dan dita­rik­nya pera­wan itu ber­diri dari duduk­nya.

Dedes tetap tak bicara. Bedak dan mangir itu tak dapat menyem­bu­nyi­kan kepu­ca­t­an­nya. Dada telan­jang­nya mulai ditu­tup dengan sutra tera­wang tenunan Mesir tipis lak­sana sela­put kabut menyapu gunung kembar. Peniti pada seutas tali emas mem­bi­kin sutra tera­wang itu menyang­sang pada leher­nya, seba­gian menu­tup rambut. Dan tali emas itu sen­diri kemu­dian dili­lit­kan tiga kali pada leher untuk kemu­dian jatuh pada perut­nya. Selem­bar sutra ber­se­lang-seling benang emas dan perak ter­ka­it­kan pada kondai dengan tusuk kondai, jatuh mela­lui kuping kiri ke atas pundak.

“Mari, Dara,” kata­nya lagi dan dipim­pin­nya Dedes sang cantik, sang ayu, sang segala pujian itu hendak mening­gal­kan bilik.

Gedung peku­wuan itu dalam segala hal meniru istana Kediri, malahan nampak ber­u­saha hendak meng­a­tasi. Juga tata­cara yang ber­laku. Sepu­luh tahun yang lalu Tuma­pel masih berupa desa sama dengan desa-desa lain. Kini gedung-gedung ber­mun­culan seperti dari perut bumi. Tuma­pel beru­bah men­jadi kota dan bera­tus desa bawah­an­nya beru­bah jadi kum­pulan gubuk dan pondok bobrok. Tung­gul Ame­tung Tuma­pel melam­bung naik jadi raja kecil, dengan keku­a­saan tanpa batas, hanya takluk pada Kediri.

Dua orang penga­wal, men­de­ngar gerin­cing giring-giring, mem­buka tabir berat dari potongan ran­ting bambu petung, meng­hen­tak­kan pang­kal tang­kai tombak seba­gai peng­hor­matan, mem­bung­kuk tanpa meman­dang pada Dedes.

Gede Mirah menye­rah­kan­nya pada rom­bongan wanita pengiring yang lang­sung menye­rah­kan­nya pada Yang Suci Bela­kangka, Pan­dita Negeri Tuma­pel.

Semua menun­duk meng­i­kat­kan pan­dang pada lantai. Juga Dedes. Hanya Yang Suci meng­ang­kat muka, memim­pin semua mening­gal­kan keput­rian menuju ke pen­dopo peku­wuan. Iringan itu meru­pa­kan per­ma­inan warna dalam siraman sinar matari sore. Di depan sen­diri Dedes dalam intan bai­duri gemer­lapan. Ram­but­nya dimah­ko­tai dengan pita emas dengan matari intan ber­ta­buran pada kening. Kulit tubuh­nya yang dimangir kuning muncul dari balik tera­wang sutra Mesir dengan sepa­sang buah­dada seperti hendak ber­tan­ding dengan matari.

Yang Suci Bela­kangka menge­na­kan jubah hitam ber­ka­lung lem­pengan emas dengan hiasan dudul ber­gam­bar lam­bang serba Wisynu: cakra dan sang­ka­kala. Kalung jabatan itu dibe­rati dengan patung garuda, juga dari emas. Semua ber­ki­lat-kilat memun­tah­kan pan­tulan api dari dalam­nya.

Di bela­kang barisan dara pengiring, ber­se­len­dang aneka warna dengan buah­dada penuh meng­ga­gahi peman­dangan, dengan gelang dan bing­gal perak dan suasa menga­ng­a­kan mulut naga.

Iringan itu ber­ja­lan selang­kah dan selang­kah seperti takut bumi jadi reng­kah ter­in­jak. Tetap ting­gal Yang Suci yang tiada menun­duk dengan jubah gemer­sik pada setiap lang­kah.

Dela­pan puluh lang­kah keluar dari keput­rian iringan sampai di pen­dopo istana sang Akuwu. Empat orang pra­ju­rit ber­ba­reng meniup sang­ka­kala. Dan kelu­ar­lah Tung­gul Ame­tung dengan pakaian kebe­saran, menan­dingi pakaian Sri Kre­ta­jaya. Ia diapit oleh barisan narap­raja, kemu­dian dii­ring­kan oleh pasukan penga­wal, yang men­da­dak keluar dari sam­ping-menyam­ping istana, mena­ik­kan tombak dan meng­hen­tak­kan pang­kal­nya ke lantai.

Sang­ka­kala ber­henti ber­seru-seru. Akuwu Tuma­pel turun dari pen­dopo menyam­but pengan­tin­nya, meng­gan­deng­nya.

Dua orang pra­ju­rit datang mem­bawa dua ekor kuda dengan hiasan serba perak. Mereka meng­ang­kat sembah kemu­dian mem­per­se­m­bah­kan kuda mereka.

Tung­gul Ame­tung meno­long Dedes naik ke atas kuda yang seekor. Ia sen­diri mena­iki yang lain. Dan iringan itu meng­i­kuti di bela­kang ber­ja­lan kaki, mening­gal­kan peku­wuan, lang­sung menuju ke alun-alun. Dua orang pra­ju­rit itu menun­tun kuda pengan­tin. Juga turun dari kuda Tung­gul Ame­tung sen­diri meno­long pengan­tin­nya, mem­bim­bing­nya men­daki tangga pang­gung. Janur kuning dan daun beringin menyam­but keda­tangan mereka.

Dan rakyat yang menon­ton di sepu­tar alun-alun itu hening tanpa sorak-sorai.

Para narap­raja ikut naik ke pang­gung. Para pengiring ber­ba­ris ber­sila di bawah.

Yang Suci Bela­kangka ber­diri di hadapan pengan­tin, mem­beri hormat, menying­kir ke sam­ping meng­ha­dapi rakyat. Ia angkat tong­kat-suci­nya. Kea­daan sema­kin hening. Men­da­dak men­de­rum gen­de­rang dari bela­kang para penon­ton. Dengan tangan kanan Yang Suci meng­ang­kat giring-giring emas dan meng­ge­rin­cing­kan­nya tiga kali.

Ber­pu­luh pan­dita dari selu­ruh negeri Tuma­pel, yang dida­tang­kan dari kota dan desa dan ditu­run­kan dari gunung-gunung Arjuna, Weli­rang, Kawi dan Hanung 2, ber­ba­ris seo­rang-seo­rang dengan jubah aneka warna dan destar sesuai dengan warna jubah­nya. Di tangan mereka ter­ang­kat umbul-umbul kecil. Semua ber­jum­lah empat puluh, empat puluh pan­dita, empat puluh hari pengan­tin telah mema­tuhi wadad per­ka­winan agung tata­cara para raja dari jauh di masa silam yang sudah tak dapat dii­ngat lagi kapan.

Di bela­kang­nya lagi seba­risan dara belasan tahun menari dalam irama game­lan. Pemim­pin­nya mem­bawa ben­dera sutra merah, besar, per­tanda darah pera­wan pengan­tin diha­rap­kan. Pakaian mereka kain batik, tanpa selem­bar pun baju, dengan per­hi­asan dan mah­kota bunga-bungaan.

Waktu seba­risan kepala desa menyu­sul, memi­kul patung dewa yang sedang duduk di atas pung­gung garuda selu­r­uh­nya ter­buat dari­pada anyaman rontal, penon­ton ber­so­rak-sorai, kemu­dian meng­ang­kat sembah. Hanya para brah­mana dan brah­mani, yang berada di antara para penon­ton dan menyem­bu­nyi­kan keper­ca­ya­an­nya selama ini, dalam kedi­a­m­an­nya masih dapat menge­nal, patung itu sama sekali bukan seo­rang dewa, hanya seo­rang raja yang diper­de­wa­kan: Erlangga.

Sesam­pai di depan pang­gung semua barisan ber­ja­lan miring men­jauh mema­suki tengah-tengah alun-alun. Hanya barisan patung di atas garuda itu tetap ber­henti di depan pang­gung.

Tung­gul Ame­tung ber­diri, meng­gan­deng pengan­tin­nya, dan memim­pin­nya ber­lu­tut, kemu­dian meng­ang­kat sembah.

Para narap­raja di bela­kang pengan­tin agung juga meng­ang­kat sembah.

Yang Suci meli­hat tangan Dedes geme­tar dalam sem­bah­nya. Dan ia lihat air­ma­ta­nya titik. Kemu­dian tangan itu jatuh lung­lai di atas pang­kuan. Bela­kangka mem­ban­tu­nya meng­ang­kat tangan itu dan mem­per­ba­iki sem­bah­nya. Ber­bi­sik menin­das:

“Dewa Sang Akuwu seka­rang juga dewamu.”

Tetapi tak dapat lebih lama Yang Suci menun­jang sembah Dedes. Ia harus memim­pin upa­cara sele­sai wadad itu. Sembah pengan­tin itu jatuh lagi di pang­kuan. Bela­kangka ber­diri, meng­ang­kat tong­kat suci­nya dan giring-giring­nya pun geme­rin­cing.

Angin pan­ca­roba meniup keras, ber­pu­sing di tengah lap­angan, mem­bawa debu, mem­bu­bung tinggi kemu­dian mem­bu­yar, mela­rut dalam udara sore.

Yang Suci meng­u­cap­kan mantra restu, ditu­tup dengan suara sera­tus sang­ka­kala.

Barisan wanita dari semua biara negeri Tuma­pel yang diakui muncul dalam pakaian warna-warni, meng­am­bil alih pemi­ku­lan patung rontal, mem­ba­wa­nya ke tengah alun-alun, meneng­ge­lam­kan­nya dalam luapan api. Kemu­dian barisan pan­dita dengan abu patung dalam bokor emas mem­per­se­m­bah­kan­nya pada Tung­gul Ame­tung yang telah duduk kem­bali.

Upa­cara penu­tupan brah­ma­carya telah sele­sai.

Tung­gul Ame­tung ber­diri ber­seru pada rak­yat­nya:

“Demi Hyang Wisynu, pada hari penu­tupan brah­ma­carya ini, kami umum­kan pada semua yang men­de­ngar, pengan­tin kami ini, Dedes, kami angkat jadi Para­mesy­wari, untuk menu­run­kan anak yang kelak meng­gan­ti­kan kami.”

Bela­kangka meng­ang­kat tong­kat­nya tinggi-tinggi. Ter­de­ngar sorak ber­sam­but-sam­butan.

Dengan dida­hu­lui oleh abu patung dalam bokor di atas talam di tangan seo­rang pan­dita, Akuwu Tuma­pel dan pengan­tin­nya menu­runi pang­gung, ber­ja­lan kaki menuju ke ista­na­nya.

Para narap­raja ting­gal di pen­dopo, duduk ber­sim­puh. Akuwu dan pengan­tin­nya dalam iringan Yang Suci, dan seo­rang pan­dita mem­bawa bokor abu Erlangga menuju ke Bilik Agung yang ter­le­tak di balik pen­dopo.

Mereka dapat­kan Gede Mirah menyam­but di dalam. Dite­ri­ma­nya bokor emas itu dari tangan pan­dita dan mena­ruh­nya di atas meja, kemu­dian menyem­bah­nya.

Dedes ber­ja­lan tanpa kema­uan. Ia dengar Yang Suci sekali lagi ber­bi­sik menin­das: “Basuh­lah kaki Yang Mulia.”

Dara itu masih juga tak dapat mem­ben­dung air­ma­ta­nya dan mena­ngis ter­se­dan-sedan. Ia mem­pro­tes entah pada siapa: seo­rang brah­mani yang harus men­cuci kaki seo­rang sudra yang disat­ri­a­kan oleh Kediri.

“Yang Mulia Akuwu Tuma­pel,” Yang Suci mulai memim­pin upa­cara, “kaki Yang Mulia.”

Tung­gul Ame­tung dalam ber­diri itu meng­ang­kat kaki kanan pada Dedes yang telah dipaksa ber­lu­tut oleh Yang Suci. Air bunga dalam jam­bang itu ber­ge­rak-gerak kecil.

“Bukan­kah Yang Mulia Akuwu sudah cukup memu­li­a­kan kau, Dedes? Para­mesy­wari Tuma­pel? Telah meng­ang­kat naik kau dalam per­ka­winan kebe­saran ini?” Tindas Yang Suci.

Meli­hat Dedes tak juga men­cuci kaki Tung­gul Ame­tung, ia san­dar­kan tong­kat-suci­nya pada meja, menang­kap tangan lembut Dedes dan memak­sa­nya mem­ba­suh kaki kanan sua­mi­nya, kemu­dian yang kiri.

Dedes tak juga bang­kit dari ber­lu­tut. Kem­bali Yang Suci juga yang memim­pin­nya ber­diri, mem­bi­sik­kan pada ubun-ubun­nya, mem­ber­ka­h­i­nya dengan restu keba­ha­gi­aan serta seo­rang putra calon pemangku Tuma­pel hen­dak­nya segera dila­hir­kan­nya.

Upa­cara sele­sai dan malam pun jatuh.

Pesta untuk rakyat, juga pesta di peku­wuan telah sele­sai. Tuma­pel mulai sunyi dalam tengah malam. Dan dingin pan­ca­roba mem­bi­kin orang lari di bawah seli­mut masing-masing.

Dalam Bilik Agung Dedes ber­lu­tut meng­ha­dapi per­a­duan. Air­ma­ta­nya telah kering. Tapi dalam hati­nya masih juga meng­u­cur tiada henti. Gede Mirah dan Rimang tak mampu meng­hi­bur­nya.

Ia tahu piki­ran­nya tidak kacau. Hati­nya masih dapat meni­lai, mantra yang diu­cap­kan oleh Bela­kangka dalam San­sa­kerta mengan­dung banyak kesal­ahan ucap dan bahasa. Lima tahun yang lalu pun ia beru­mur sebe­las waktu itu ia sudah mampu menya­lah­kan, apa­lagi seka­rang. Ia tak bisa terima per­ka­winan sema­cam ini: seo­rang brah­mani harus mem­ba­suh kaki seo­rang sudra yang disat­ri­a­kan. Dan ayah­nya, seo­rang brah­mana ter­pel­a­jar, merasa tidak perlu untuk mene­ngok.

Empat puluh hari ia telah mem­bisu. Hanya itu yang ia bisa ber­buat untuk mela­wan Tung­gul Ame­tung.

Meng­ha­dapi per­a­duan begini, dengan Gede Mirah dan Rimang terus juga men­coba meng­hi­bur­nya, ia ter­i­ngat pada suatu cerita pokok ten­tang per­ka­winan antara wanita kasta brah­mana dengan seo­rang pria kasta satria. Ayah­nya, Mpu Parwa, yang men­ce­ri­ta­kan pada­nya dalam suatu pel­a­jaran ten­tang tata­ter­tib tri­wangsa3.

Pada suatu kali di tahun 1107 Saka Sri Ratu Srengga Jaya­saba dari Kediri mang­kat. Per­ten­tangan ter­jadi dalam istana siapa yang harus dino­bat­kan. Raden Dan­dang Gendis mela­ri­kan diri dari istana ke Gunung Wilis. Di sana ia jatuh cinta pada gadis anak brah­mana Resi Brah­ma­raja ber­nama Ami­sani.

Waktu itu Dedes mene­ri­ma­nya hanya seba­gai pel­a­jaran seja­rah, dan seka­rang ini ia baru meng­erti, semua itu per­i­ng­atan pada dir­i­nya untuk tidak mene­rima lamaran dan suami seo­rang dari kasta satria. Ia sesali dir­i­nya sen­diri meng­apa ia baru seka­rang ini meng­erti makna cerita itu. Dan bagai­mana cerita itu selan­jut­nya.

Resi Brah­ma­raja tidak menye­tu­jui per­cin­taan itu. Ami­sani ini, kata sang Resi, hanya gadis desa, tidak layak men­dam­pingi Tuan jadi Para­mesy­wari, duduk di sing­ga­sana di kemu­dian hari. Tapi cinta telah mem­bu­ta­kan Dan­dang Gendis. Ia men­ja­wab: Jika aku disu­ruh memi­lih antara Ami­sani dan mah­kota, seka­rang juga aku dapat kata­kan, aku pilih Dewi Ami­sani.

Resi Brah­ma­raja, yang menge­nal betul kehi­dupan istana, meminta pada Dan­dang Gendis untuk memi­kir­kan­nya kem­bali, jangan sampai hati ter­tu­tup oleh nafsu. Anakku, Tuan, aku tahu, dia lebih ber­ba­ha­gia hidup di Gunung Wilis ini dari­pada di istana.

Dan­dang Gendis tak dapat dibe­lok­kan kema­u­an­nya. Per­ka­winan dilang­sung­kan. Tiga tahun ia ting­gal di pade­pokan Resi Brah­ma­raja. Pada suatu hari datang dari Kediri ke Gunung Wilis Mpu Tana­kung dan adik­nya sen­diri, Mahisa Walungan. Mereka datang men­jem­put­nya untuk dino­bat­kan jadi raja Kediri. Ini ter­jadi pada tahun 1110 Saka. Ia tidak lain dari­pada Sri Kre­ta­jaya4 yang meme­rin­tah Kediri seka­rang.

Di istana Ami­sani, si anak desa, tidak disu­kai oleh para putri istana. Orang pun mema­sang racun untuk mem­bu­nuh­nya. Ami­sani akhir­nya mati ter­ma­kan racun itu ....

Dedes ter­ba­ngun dari renung­an­nya. Ia kini sedang meng­u­langi kisah hidup Ami­sani. Ia meng­erti di Tuma­pel ter­se­dia banyak racun untuk mele­nyap­kan­nya dari muka bumi. Aku tidak harus mati karena racun, ia yakin­kan dir­i­nya sen­diri, yang lain bisa, Dedes tidak! Ia harus hidup. Ia masih akan ber­sim­puh pada kaki ayah­nya untuk memo­hon ampun­nya karena tak mampu mem­bela diri. Ia harus telan semua upa­cara peng­hi­naan kaum Wisynu atas dir­i­nya. Ia angkat dagu, dan:

“Ayah, seka­rang ini sahaya kalah menye­rah. Deng­ar­kan sumpah sahaya, sahaya akan keluar seba­gai peme­nang pada akhir kelak­nya.”

Harum mangir pada kul­it­nya ber­sama harum dupa-setanggi mema­dati ruangan besar Bilik Agung itu. Hati­nya sen­diri sema­kin sempit ter­him­pit. Dara yang tera­suh dengan cinta-kasih seo­rang bapa ini tak punya keku­atan untuk mela­wan. Ilmu dan penge­ta­huan, yang ditu­ang­kan pada­nya oleh ayah­nya, tidak ber­daya meng­ha­dapi Sang Akuwu.

“Akhir kelak­nya sahaya yang menang, Ayah, Agung­lah kau, puncak Tri­wangsa, kaum brah­mana. Agung­lah Hyang Maha­dewa Syiwa!”

Dan Tung­gul Ame­tung hanya seo­rang jantan yang tahu memaksa, meru­sak, meme­rin­tah, mem­bi­na­sa­kan, meram­pas. Bahkan mem­baca ia tak pernah, karena memang tidak bisa. Menu­lis apa lagi.

Dedes tak tahu harus ber­buat apa. Mela­wan ia tak mampu-Lari ia pun tak mampu. Mera­ung tidak mung­kin.

Dua orang wanita itu tiba-tiba ber­siap-siap, meng­ang­kat sembah pada­nya dan mening­gal­kan Bilik Agung. Tanpa meng­ang­kat pan­dang tanpa ber­pa­ling ia meng­erti, Sang Akuwu telah mening­gal­kan pen­dopo dan mema­suki ruang besar ini.

Ia tetap ber­lu­tut meng­ha­dap ke per­a­duan. Ia dengar lang­kah kaki. Juga ia dengar suara terom­pah: Yang Suci Bela­kangka.

Lang­kah-lang­kah itu sema­kin men­de­kat, meng­ham­pir­i­nya, ia tahu detik-detik ini adalah upa­cara mena­iki per­a­duan pengan­tin.

Ia meng­gi­gil.

Dedes tak mem­be­ri­kan sesu­atu reaksi waktu tangan Tung­gul Ame­tung dengan hati-hati mele­pas sutra tera­wang Mesir dari peniti dan tali, dan menyu­sup­kan pada tangan­nya. Menu­rut tata­ter­tib yang dike­ta­hu­i­nya, dengan sutra itu ia harus mem­ba­suh muka Tung­gul Ame­tung, badan dan tangan seba­gai awal upa­cara.

Tangan Akuwu itu mena­rik­nya, dengan lembut memak­sa­nya ber­diri dan memim­pin­nya ke arah jam­bang air bunga. Tekanan paksa dari Bela­kangka menye­bab­kan ia men­ce­lup­kan sutra itu ke dalam jam­bang dan mulai mem­ba­suh muka bopeng bekas jera­wat besar, kemu­dian dada dan dua belah tangan­nya yang ber­bulu Sutra itu jatuh dari tangan­nya yang meng­gi­gil. Ia tetap menun­duk di bawah tem­busan pan­dang Sang Akuwu.

Yang Suci meng­am­bil sutra itu dan meng­gan­deng­kan tangan Tung­gul Ame­tung pada pengan­tin­nya:

“Yang Mulia, bawalah perem­puan ini naik ke per­a­duan. Para dewa mem­be­nar­kan. Pim­pin­lah dalam sang­gama untuk men­da­pat­kan karu­ni­a­nya, men­da­pat­kan calon pemangku Tuma­pel,” ia bunyi­kan giring-giring­nya, kemu­dian mening­gal­kan Bilik Agung.

Berdua mereka ber­diri di depan per­a­duan, meng­a­wasi lem­baran kapas yang ter­ge­lar di atas tilam. Sinar empat damar di setiap pojok bilik itu mene­rangi selu­ruh ruangan. Dan bayang-bayang hampir-hampir tiada. Tung­gul Ame­tung meno­leh pada dua orang wanita yang duduk ber­sim­puh di pintu. Mereka meng­ang­kat sembah dan pergi, hilang di balik tabir berat potongan-potongan ran­ting bambu petung.

Tung­gul Ame­tung mera­bai lem­baran kapas itu dan mena­tap pengan­tin­nya. Dan Dedes meng­erti sepe­nuh­nya: kapas itu akan menam­pung darah pera­wan yang seben­tar lagi harus ia tetes­kan. Gigi­lan­nya sema­kin men­jadi-jadi. Besok sebe­lum matari terbit, kapas dengan bercak darah itu akan diam­bil dengan upa­cara oleh Gede Mirah.

“Meng­apa tak juga aku dengar sua­ramu, Per­mata?” Ia letak­kan tangan pada pundak pengan­tin­nya, dan ia rasai gigi­lan itu. “Meng­apa tak juga kau lepas selu­ruh pakai­anmu? Bukan­kah kapas itu telah menunggu kese­di­a­anmu?”

Dara itu tetap mem­bisu.

“Apakah perlu kupang­gil­kan Gede Mirah untuk mem­ban­tumu?” Dedes men­ja­wab dengan tangis.

Tung­gul Ame­tung menang­kap muka istri­nya dan dici­um­nya pada pipi dan leher­nya:

“Kea­yuan yang ker­a­mat ini para dewa semoga takkan meru­sak­kan­nya Jangan jadi susut kea­yuan ini. Dengar, Dedes, aku pang­gil­kan kea­ba­dian untuk kecan­ti­kanmu demi Wisynu Sang Peme­li­hara aku pat­ri­kan kea­yu­anmu dalam kea­ba­dian dalam sebutan Ken. Diam kau, seka­rang, deng­ar­kan sua­mimu.”

Ken Dedes kehi­langan kese­im­bangan. Jatuh ber­lu­tut di hadapan per­a­duan.

Men­de­ngar den­ting bing­gal yang ber­sen­tuhan tidak wajar Gede Mirah masuk lagi ke dalam, meng­ang­kat sembah, dan:

“Yang Mulia,” ia mem­per­se­m­bah­kan keha­dir­an­nya.

Tanpa menunggu perin­tah Gede Mirah mem­buka ikat ping­gang emas Ken Dedes, mele­tak­kan dengan rapi pada bagian kaki per­a­duan, kemu­dian mena­rik tali ping­gang, dan lolos semua pakaian pengan­tin itu, telan­jang bulat seperti boneka. Gede Mirah meng­ang­kat­nya ke atas per­a­duan, tepat di atas lem­baran kapas.

Ken Dedes menu­tup mata­nya dengan tangan dan mena­ngis ter­se­ngal-sengal, lak­sana boneka emas di atas lem­baran perak. Ber­ta­hun ia telah meng­im­pi­kan saat ini, waktu datang ter­nyata ia takut dan jijik seka­li­gus.

Dan Gede Mirah memin­dah­kan tangan penu­tup mata itu ke sam­ping dan mem­per­ba­iki rias, menge­ring­kan air­mata, ber­bi­sik:

“Bila Hyang Surya besok mengir­im­kan res­tu­nya, tubuh dan jiwa pengan­tin ini sudah jadi sepe­nuh wanita.”

Ia ting­gal­kan Bilik Agung sete­lah meng­ang­kat sembah.

Tung­gul Ame­tung mem­per­ha­ti­kan tubuh istri­nya yang indah ter­te­len­tang seperti kala dila­hir­kan. Ia bela­i­kan tangan penga­sih pada pipi, leher, dada dan perut pengan­tin­nya, kemu­dian ia sen­diri naik ke atas per­a­duan dan meneng­ge­lam­kan Dedes dalam peluk­an­nya.

Kuta­raja, ibu­kota Tuma­pel, teng­ge­lam dalam dingin pan­ca­roba. Di rumah-rumah pen­ja­gaan, para kemit masih sibuk mem­per­bin­cang­kan upa­cara sele­sai brah­ma­carya. Selu­ruh negeri baru tahu dari upa­cara itu, bahwa Para­mesy­wari Tung­gul Ame­tung adalah anak brah­mana Mpu Parwa dari desa Pana­wi­jil. Semua orang tahu brah­mana itu tidak men­da­pat­kan peng­a­kuan dari Yang Suci Bela­kangka, maka juga tidak dibe­nar­kan mene­rima pel­a­jar. Satu-satu­nya murid yang resmi adalah anak-tung­gal­nya: Dedes.

Barang­si­apa pada malam itu belum tidur, dia ber­ta­nya-tanya, apa sebab­nya per­ka­winan itu dir­a­ha­si­a­kan. Dan meng­apa Tung­gul Ame­tung justru hanya meng­am­bil gadis desa. Bukan­kah di Kuta­raja sen­diri banyak gadis cantik yang patut dipa­ra­mesy­wa­ri­kan?

Peris­tiwa itu men­de­sak berita hebat dari hampir dua bulan lalu yang menye­bab­kan pen­ja­gaan istana Tuma­pel dan selu­ruh Kuta­raja diper­ke­tat. Berita itu adalah ten­tang Borang, seo­rang pemuda ber­per­a­wakan kukuh, berani atau nekad, tanpa kegen­taran. Ia muncul di tanah lap­angan Bantar, sete­ngah hari per­ja­lanan di sebe­lah barat Kuta­raja. Dan orang dengan diam-diam meng­a­gung­kan dan mem­be­nar­kan Borang, bahkan meng­ang­gap­nya seba­gai titisan Hyang Wisynu sen­diri.

Bantar adalah sebuah dukuh di kaki Gunung Arjuna, di ping­gir jalan negeri yang meng­hu­bung­kan Tuma­pel dengan Kediri. Pem­ba­ngun dukuh adalah Ki Bantar. Bebe­rapa tahun yang lalu ladang Bantar tidak tanah lapang seperti seka­rang, karena Ki Bantar setiap musim kema­rau mena­nam­i­nya dengan bawang merah. Seo­rang narap­raja dalam per­ja­lanan ke Kediri telah meng­u­sir­nya ber­sama semua kelu­ar­ga­nya. Semua harta milik dan ladang­nya dir­am­pas oleh desa.

Di lap­angan Bantar ini dua bulan yang lalu Borang muncul dalam terang cahaya bulan. Anak buah­nya telah menge­rah­kan selu­ruh pen­du­duk untuk ber­kum­pul dan meling­kar­i­nya. “Akulah Borang,” ia mem­per­ke­nal­kan diri. “Meng­apa kalian diam saja waktu Ki Bantar dan kelu­ar­ga­nya diusir dari sini? Kata­kan padaku seka­rang: siapa yang ber­suka hati karena keper­gi­an­nya?”

Pen­du­duk yang men­jadi was­pada tidak men­ja­wab. Siapa Borang, orang tak tahu. Selama ini banyak per­la­wanan ter­ha­dap Tung­gul Ame­tung, dan hampir semua telah dipa­tah­kan. Boleh jadi Borang pung­gawa Tuma­pel, boleh jadi juga seba­lik­nya.

“Meng­apa kalian diam saja tidak men­ja­wab? Seka­rang tidak, waktu Ki Bantar diusir juga tidak. Apakah kalian kurang menyem­bah dan ber­kor­ban pada Hyang Wisynu, maka kurang kebe­ra­nian dalam hati kalian?”

“Bukan­kah kami tidak ber­sa­lah memuja dan meng­kor­ba­ni­nya, ya, Borang?” Sese­o­rang ber­ta­nya.

“Pemu­jaan dan korban kalian tiada arti bila kalian tak dapat­kan kebe­ra­nian itu dari Hyang Wisynu.”

“Barang­kali kau seo­rang pemuja Hyang Syiwa, Borang. Kalau demi­kian jangan­lah dising­gung dengan ucap­anmu apa yang kami cintai, sembah dan kor­bani.”

“Apakah keku­rangan Hyang Wisynu maka Ki Bantar sampai ter­u­sir dari desa dan kalian diam saja? Apakah dia kurang memuja dan meng­kor­bani?”

“Tidak, Borang, jangan salah­kan juga kami. Tuma­pel terus-mene­rus menya­lah­kan kami. Kalau kau pun demi­kian, apalah guna­nya meng­gi­ring kami ke tengah tanah lapang ini?”

“Kalian memuja Hyang Wisynu hanya karena Akuwu Tuma­pel juga mela­ku­kan­nya?”

Angin pan­ca­roba yang dingin itu meniup tanpa meng­in­dah­kan puncak pepo­honan yang mem­bang­kang. Dan yang ber­se­li­mut kain biru dalam tema­ram cahaya bulan itu tiada men­ja­wab.

“Keku­a­saan Akuwu Tuma­pel yang diber­kahi oleh Hyang Wisynu telah mem­bi­kin kalian meng­i­dap kemis­kinan tidak ter­kira. Dengan segala yang diam­bil dari kalian Akuwu Tuma­pel men­da­pat biaya untuk ber­cumbu dengan pera­wan-pera­wan kalian sampai lupa pada Hyang Wisynu. Dengan apa yang diam­bil dari kalian itu juga Sri Baginda Kre­ta­jaya di Kediri sana tak lebih baik per­bu­at­an­nya. Sama sekali tak ada arti­nya diban­ding­kan dengan kemu­li­aan Hyang Wisynu,” ia diam untuk mem­beri kesem­patan pada pen­du­duk Bantar untuk meng­erti, ia bukan seo­rang narap­raja, juga bukan penyo­kong Akuwu Tuma­pel, bahkan menem­pat­kan diri seba­gai lawan­nya.

“Nah, jawab seka­rang. Adakah kalian setuju Ki Bantar dan kelu­ar­ga­nya diusir?” Seo­rang ber­tu­buh tinggi-besar juga ber­se­li­mut gelap, meng­ham­piri Borang, mene­tak­kan tanya: “Siapa kau sesung­guh­nya?”

“Jangan per­ha­ti­kan siapa aku, deng­ar­kan kata-kataku. Jangan kau kira Borang gentar karena yang datang padaku ber­per­a­wakan tinggi dan besar. Kau sudah tidak ber­daya selama ini. Borang masih ber­daya.”

“Siapa kau?” Desak orang itu.

“Kalau kau narap­raja dari Tuma­pel, kebe­tulan, biar semua orang lihat dan tahu siapa Borang. Apa maumu?”

Orang-orang dukuh Bantar, laki dan perem­puan, mulai men­de­sak men­de­kati.

“Kata­kan ber­de­pan-depan pada semua orang ini,” si tinggi besar mene­rus­kan, “Kau musuh Tuma­pel.”

“Aku bukan musuh Tuma­pel Aku musuh Akuwu Tung­gul Ame­tung. Apa perlu kuu­langi?”

“Kata­kan kau musuh Sri Baginda Kre­ta­jaya.”

“Musuh dari semua yang mem­be­nar­kan Tung­gul Ame­tung, juga musuh dari keti­dak­ta­huan, kebo­dohan. Maka itu, dengar, hanya mereka yang tidak menge­nal Hyang Maha­dewa Syiwa selalu dalam ceng­ke­raman kebo­dohan dan keti­dak­ta­huan. Hyang Bat­hara Guru tahu sega­la­nya. Hyang Maha­dewa, juga Hyang Bat­hara Guru, Maha Pen­cipta.”

“Jadi kau memu­suhi kami penyem­bah Wisynu?”

“Tidak, Kalian mem­bu­tuh­kan pan­caran Hyang Maha­dewa untuk dapat meng­erti, bahwa ting­gal jadi petani peme­li­hara sawah, ladang dan ternak saja, mem­bi­kin kalian tidak tahu untuk siapa kalian bekerja. Sewaktu kalian tekun bekerja meme­li­hara apa saja, elang ber­da­tangan meng­gon­dol segala yang kalian usa­ha­kan. Apakah Hyang Wisynu meni­tah­kan agar kalian meme­li­hara elang itu dengan tekun juga?”

“Kau meng­hu­jat, Borang.”

“Aku, Borang, meng­hu­jat keti­dak­ta­huan kalian.”

“Sua­ramu masih kekanak-kanakan, belum mantap. Berapa umurmu maka berani bicara urusan para dewa?”

“Dila­hir­kan boleh jadi pada waktu kau men­da­pat­kan restu per­ka­winan.”

“Masih bocah tahu apa kau ten­tang urusan dewa?”

“Seti­dak-tidak­nya dari Hyang Bat­hara Guru aku tahu, dua hari lagi kalian akan men­da­pat perin­tah untuk meng­ang­kut upeti ke Kediri. Dari Hyang Wisynu aku tahu, kalian akan laku­kan itu dengan patuh.”

“Peng­hu­jat!”

Orang-orang yang meling­kari mereka berdua diam men­de­ng­ar­kan per­teng­karan dalam malam dingin meng­gi­git itu.

“Para pan­dita, malahan Yang Suci sen­diri tak pernah ter­de­ngar bicara selan­cang kau.”

“Maka Borang yang memu­lai.”

“Berani mati, kau, bocah kema­rin.”

“Yang lebih muda belum tentu lebih tidak tahu, belum tentu lebih penge­cut dari­pada kau. Deng­ar­kan bisikan Hyang Syiwa.”

“Bisikan kepa­damu?”

“Deng­ar­kan kau, si-lebih-tua-dari­pa­daku, ber­ga­bung kalian semua yang malam ini di Bantar. Demi Hyang Wisynu, angkut semua upeti ke Kediri. Sampai ke Sang­gar­ana, lihat kalian ke sebe­lah kiri ...jangan ham­piri aku, demi Hyang Durga, hancur kau bila tak mundur lima lang­kah ... Hancur kalian, bukan karena narap­raja Tuma­pel, tapi demi Hyang Durga sen­diri.”

Orang itu mundur tiga lang­kah dengan ragu-ragu.

“Dua lang­kah lagi.’” orang itu meng­i­kuti perin­tah­nya. “Dan hancur kau dan kalian di Sang­gar­ana sana, bila tidak ber­henti di bawah pohon beringin sebe­lah kiri jalan, dengan tanduk Nandi, karena kalian tidak boleh terus, kalian harus mem­be­lok ke kiri. Tunggu di bekas per­ta­paan Bonar­dana.”

Anak buah Borang ber­tu­gal menge­pung pen­du­duk Bantar tanpa mem­buka mulut. “Ayoh, siapa harus men­ja­wab aku? Meng­apa kau diam saja?” Kata Borang ditu­ju­kan pada si tinggi-besar. “Hanya badanmu saja yang tinggi-besar? Kalau kau harus men­ja­wab­kan untuk selu­ruh Bantar, jawab­lah.”

Orang itu tidak men­ja­wab. Seo­rang kakek maju pada­nya. Dalam cahaya rem­bang itu nampak ia telah bong­kok dan ber­tong­kat:

“Ten­tara Tuma­pel akan antar­kan anak-anak yang memi­kul.”

“Kalian penyem­bah Hyang Wisynu yang kurang baik. Kese­ti­aan telah kalian per­se­m­bah­kan pada Tung­gul Ame­tung, bukan pada Hyang Wisynu. Yang kalian sembah bukan dewa cinta-kasih, bukan Sri Dewi, bukan Hyang Wisynu, tapi gan­darwa keta­kutan. Deng­ar­kan, kalian, bila seo­rang brah­mana bicara: ten­tara Tuma­pel akan tumpas di Sang­gar­ana. Juga setiap orang di antara kalian yang tidak setia pada perin­tah ini. Juga setiap orang di antara kalian yang lebih takut pada Akuwu Tuma­pel dan ten­ta­ra­nya Dan kalian takkan dapat­kan sesu­atu jawaban. Karena apa yang aku kata­kan ini adalah juga dari para dewa.”

Angin meniup keras. Borang mem­per­ke­tat seli­mut tubuh­nya. Ia angkat tangan dan meng­u­cap:

“Dir­ga­hayu! Pulang­lah kalian,” ia ber­ja­lan mening­gal­kan kepungan, dan orang-orang meming­gir mem­beri jalan.

“Borang!” Orang tua bong­kok itu mena­han dengan pang­gil­an­nya “Pemi­kul-pemi­kul ke Kediri tidak hanya dari Bantar, juga dari dukuh lain dari desa-desa lain.”

“Semua harus ber­laku seperti orang-orang Bantar.”

“Jangan pergi dulu. Brah­mana muda. Per­li­hat­kan­lah mukamu biar kami menge­nal kau. Biar pen­du­duk Bantar menya­la­kan api unggun.”

Borang ber­ja­lan meng­ham­piri si tua bong­kok:

“Nya­la­kan api, kenal­i­lah wajah Borang.”

Ran­ting keka­yuan di seke­li­ling lap­angan Bantar dikum­pul­kan cepat bera­mai-ramai. Api unggun menyala sete­lah kawul itu menyam­bar api dari gesekan kayu sadang.

Borang ber­diri mena­tap api, meng­ang­kat tangan:

“Inilah Borang. Dia tidak lari karena sinar api atau pun matari.”

Orang meli­hat seo­rang pemuda beru­mur men­de­kati dua puluh, ber­pa­kaian rapi ber­warna coklat tanah: destar, seli­mut badan, kain bawah. Mata­nya menyala seperti menyem­bur­kan api menan­dingi unggun.

“Telah kalian kenal wajah Borang. Per­ha­ti­kan,” ia buka seli­mut badan­nya dan muncul kalung perak dari lem­pengan yang ber­taut-tautan dengan gambar dudul hamsa5, garuda dan nandi. Pada tangan­nya ia mem­bawa tri­sula pendek dari perunggu.

Meli­hat lam­bang-lam­bang para dewa diper­sa­tu­kan di kalung dan pada tangan, ber­ki­lat-kilat meman­tul­kan sinar api unggun, orang pun men­ja­tuh­kan diri ber­sim­puh di tanah dengan puncak hidung menyen­tuh bumi. Lama, menunggu per­ke­nan untuk meng­ang­kat kem­bali kepala. Dan per­ke­nan itu tiada juga datang. Waktu mereka memaksa diri meng­ang­kat­nya, Borang telah tiada, juga anak buah­nya .....

Malam itu para kemit tidak mem­bi­ca­ra­kan­nya lagi. Juga tidak mem­bi­ca­ra­kan iring-iringan peng­ang­kut upeti dari sera­tus desa yang hilang di hutan Sang­gar­ana dan tum­pas­nya ten­tara penga­wal Tuma­pel.

Darah pera­wan itu telah mene­tes pada lem­baran kapas.

Waktu Gede Mirah mema­suki Bilik Agung, Akuwu dan Ken Dedes sudah tiada. Kapas itu digu­lung­nya sete­lah dita­bu­r­i­nya dengan daun bunga, dile­tak­kan di atas talam, dan dengan iringan Rimang dibawa pergi ke Bilik Larangan untuk disim­pan.

Waktu Hyang Surya terbit, Yang Suci Bela­kangka di pen­dopo meng­u­mum­kan pada seka­lian pem­be­sar peku­wuan, bahwa Ken Dedes adalah seo­rang pera­wan suci yang mema­tuhi ajaran nenek moyang, para dewa dan para guru. Peng­u­muman itu seben­tar kemu­dian merem­bes selu­ruh peku­wuan dan ibu­kota Tuma­pel. Berita diki­rim­kan juga ke desa-desa dan ke biara-biara di gunung-gunung, seba­gai perin­tah isya­rat dari Yang Suci Bela­kangka kepada para bia­ra­wan dan pan­dita, agar ber­sama meman­jat­kan teri­ma­ka­sih dan puja seka­li­gus agar pengan­tin yang baru mening­gal­kan kere­ma­ja­an­nya, mema­suki kede­wa­saan penuh itu, dilim­pahi karu­nia lebih banyak, dan semoga seo­rang calon pemangku Tuma­pel mulai dikan­dung dalam rahim­nya.

Di dapur peku­wuan, seo­rang pena­nak nasi ber­bi­sik pada teman­nya:

“Tak mung­kin­kah darah itu ber­a­sal dari sera­tus nyamuk kenyang, misal­nya, atau Yang Mulia Para­mesy­wari meng­gi­git jari­nya sen­diri dan mene­tes­kan­nya pada kapas itu?”

“Stt. Kepa­lamu bisa hilang dengan darah nya­mukmu,” teman­nya mem­per­i­ng­at­kan.

“Keper­ca­ya­anku sudah hilang pada kesu­cian,” Oti ber­bi­sik lagi.

“Tentu, karena kau sen­diri tak pernah suci sejak bayi.”

“Banyak benar orang merasa puas dengan kesu­ci­an­nya, hanya karena tak ada yang meng­gang­gu­nya, seperti Yang Mulia Para­mesy­wari Ken Dedes. Bera­pa­kah banyak jumlah dan kau tak bakal tahu orang yang justru tak boleh punya kesu­cian?”

“Hyang Wisynu memu­li­a­kan kesu­cian. Tak perlu kau ikut-ikut dengan orang Syiwa gila itu.”

“Dan siapa bakal meng­ganti kesu­cian yang hilang tanpa mau sen­diri? Hyang Wisynu?” Oti mem­ban­tah.

Gadis beru­mur dua puluh itu datang dari sebuah pulau jauh yang ia tak pernah mau menye­but nama­nya. Perom­pak telah menye­rang kam­pung­nya waktu ia sedang ber­da­yung seo­rang diri di muara sungai untuk mengum­pul­kan telor penyu. Umur berapa ia waktu itu? Ia tak tahu. Yang ter­i­ngat oleh­nya ia dapat meng­hi­tung­nya dengan dua kali banjir besar di kam­pung­nya. Yang ter­a­khir banjir itu begitu deras­nya. Rumah-rumah pang­gung ditum­bang­kan. Orang diban­ting­kan oleh arus pada batang-batang kayu hutan. Dengan surut­nya banjir hujan tak turun lagi sampai sera­tus hari. Kali pada kering hutan di pegu­nungan mulai menyala ter­ba­kar, dan pagi itu ia diser­gap di atas biduk­nya oleh serom­bongan perahu yang merom­pak kam­pung­nya.

Sete­lah itu ia dijual seba­gai budak, dari pulau satu ke yang lain. Dari seba­nyak itu lelaki yang meng­gu­na­kan dir­i­nya ia tak men­da­pat­kan seo­rang bayi pun. Para dewa tak mem­be­nar­kan lahir­nya bocah dengan ter­lalu banyak bapak, pernah seo­rang wanita sena­sib sepen­de­ri­taan menga­ta­kan pada­nya, juga para lelu­hur tidak; kalau tidak, anak dengan ter­lalu banyak bapak akan lahir seperti lipan, dengan kaki sera­tus.

Ter­a­khir kali dijual ialah sewaktu kapal besar itu mem­ba­wa­nya ke pela­buhan Gresik. Ia dibeli oleh seo­rang peda­gang ikan kering. Peker­ja­an­nya mem­pe­si­angi ikan dan men­je­mur­nya, sampai pada suatu kali ia ter­bu­juk oleh seo­rang peng­ang­kut garam ke peda­laman. Orang itu setiap bulan dua kali dengan pera­hu­nya hilir dan mudik di kali Bran­tas. Seo­rang narap­raja telah meram­pas­nya dari tangan lelaki itu, karena perahu garam dan ikan asin itu teng­ge­lam, dan orang itu tak mampu meng­ganti har­ga­nya. Dari istana Kediri ia diha­di­ah­kan pada Tung­gul Ame­tung karena mem­pu­nyai keah­lian isti­mewa: mem­buat sambel jeruk yang menim­bul­kan gairah makan.

“Kau perlu peng­am­punan, Oti, demi Hyang Wisynu,” bisik teman­nya.

Dengan Jawa yang kaku dan selalu salah tekanan ia mem­ban­tah, juga dalam bisikan:

“Justru mereka yang mem­per­la­ku­kan aku seke­hen­dak hati­nya yang memer­lu­kan peng­am­punan.”

“Boleh jadi dahulu kau orang Buddha atau Syiwa.”

“Semua yang tak kau sukai kau anggap orang Buddha atau Syiwa.”

“Semua yang jahat ber­a­sal dari orang-orang Syiwa yang memu­li­a­kan kama6 tanpa batas itu” “Stt. Lurah dapur datang.”

“Nyi Lurah, beri­lah ijin pada kami untuk sekali ini bisa ikut menga­gumi Yang Mulia Para­mesy­wari.”

Wanita tua itu ter­se­nyum senang, dan:

“Tak ada yang lebih ayu dari­pada Ken Dedes. Kalian perlu lihat. Seben­tar lagi Yang Mulia Akuwu dan Para­mesy­wari akan keluar dari pura. Semua rakyat peku­wuan akan meng­elu-elukan sepan­jang jalan. Meng­apa tidak?”

Oti mem­bu­ang muka. Ia hanya seo­rang budak, tak mung­kin bisa ber­cam­pur dengan orang banyak yang bebas. Apa­lagi menyak­si­kan orang-orang besar. Lambat-lambat ia melang­kah keluar dari dapur.

“Oti!” Lurah dapur, Sina, memang­gil­nya. Dan waktu budak itu ber­diri di hadap­an­nya, dengan kepala menun­duk, ia mene­rus­kan, “lepas tapasmu, sekali ini mari ikut.”

“Tanpa tapas penu­tup kepala, mereka akan tang­kap dan aniaya sahaya ini.”

Lurah Sina mem­be­ri­nya kain penu­tup kepala:

“Ber­ja­lan kalian berdua di bela­kangku. Semua ingin meli­hat Yang Mulia Para­mesy­wari.” Juga budak yang lain itu, Unggok, mele­pas tapas penu­tup kepala seba­gai tanda budak, dan meng­gan­ti­nya dengan selen­dang.

Semua pekerja dapur keluar, ber­mandi sinar matari pagi yang sedang meng­u­sir kabut. Puncak pegu­nungan di keja­uhan pun mulai ber­je­ngukan bere­but dulu untuk meli­hat pengan­tin yang baru keluar dari pura. Dingin pagi telah ber­ku­rang. Dan jalan pendek dari batu, peng­hu­bung antara pura peku­wuan dengan ger­bang bela­kang gedung itu, telah ter­tu­tup oleh peng­huni peku­wuan, ter­jaga oleh pasukan penga­wal.

Akuwu yang men­de­kati lima puluh itu ber­ja­lan sei­ring dengan pengan­tin­nya yang beru­mur enam belas. Mereka ber­ja­lan lambat seakan takut mem­ba­ngun­kan ceng­ke­rik tidur. Di bela­kang­nya meng­iring­kan bebe­rapa orang abdi­da­lam mem­bawa jam­bang-jam­bang kuningan ber­i­sikan air bunga.

Para penon­ton ber­sim­puh dan meng­ang­kat sembah.

Dari bawah kening­nya Oti dapat meli­hat kesu­r­a­man yang meli­puti wajah Ken Dedes dan keba­ha­gi­aan yang ter­pan­car pada mata Sang Akuwu. Dedes ber­wa­jah bulat, ber­hi­dung bangir-tipis, per­tanda ber­da­rah Hindu meng­a­lir dalam tubuh­nya. Tung­gul Ame­tung ber­wa­jah bulat, ber­hi­dung pesek, ber­pipi tebal, tak ubah­nya dengan petani Tuma­pel lain­nya. Mata mereka sama besar dan bulat. Dedes menun­duk sedang Tung­gul Ame­tung meng­ang­kat dagu seperti sedang memim­pin perang.

Begitu muda dan suci Oti men­ja­tuh­kan pan­dang pada tanah di antara dua kaki Lurah Sina. Barang­kali lima atau enam musim lebih muda dari­pa­daku, cantik gilang-gemi­l­ang, semua bakal berada di bawah perin­tah­nya semua, pria dan wanita. Sung­guh seo­rang dewi di atas bumi.

Kemu­dian ia lihat kaki Dedes yang ber­har­tal itu melang­kah lambat-lambat, kemu­dian pada buah­dada yang meng­ge­le­tar dari balik sutra tera­wang itu pada setiap lang­kah. Ia rasai setiap ayunan kaki­nya meng­in­jak-injak pada kepala dan teng­kuk­nya.

Dia memi­l­iki segala. Dia dewi di atas bumi itu. Dan aku? Diriku sen­diri pun tidak, dan selama ini tak pernah jadi mil­ikku sen­diri.

Di pulau­nya tak ada orang pernah dide­wi­kan atau dide­wa­kan. Orang ber­pe­rang dan mati, meng­a­duk hutan dan laut tanpa pernah jadi budak. Orang ber­la­dang, menang­kap ikan, men­cari telor penyu untuk selu­ruh kam­pung. Orang ber­se­saji hanya untuk para lelu­hur. Di sini semua untuk dua orang itu saja .... Dan semua kebe­saran hanya milik para dewa. Ia tahu betul, di kam­pung­nya dewa tak pernah ber­ku­asa.

Kem­bali ke dapur ia kena­kan lagi tapas kelapa penu­tup kepala Ia men­jadi ter­diam. Ia menye­sal telah ikut meli­hat kebe­saran yang ter­lam­pau besar ter­ge­lar di hadap­an­nya: manu­sia dan per­hi­as­an­nya.

Bebe­rapa tahun yang lalu ia bel­a­jar mem­baca dari teman­nya yang bukan budak, si Polang. Dari teman­nya itu juga ia dapat mem­baca rontal lepas dari Arjuna Wiwaha7 salinan dari karya Mpu Kanwa. Ia meng­he­rani adanya rak­sasa dan ia tak dapat mem­ba­yang­kan­nya. Ia meng­he­rani adanya satria yang men­da­pat­kan kele­bihan-kele­bihan dari para dewa. Dan betapa banyak dewa, rak­sasa dan satria dalam piki­ran orang Tuma­pel. Juga di Jawa ini ia banyak dengar orang menye­but­kan kebe­saran para dewa dan satria, dan dengan diam-diam ia men­coba pahami kehi­naan dir­i­nya sen­diri seba­gai budak.

Ah, hanya budak. Jangan­kan para dewa dan satria, seo­rang lelaki biasa pun tak ada datang untuk mer­a­yunya apa­lagi mela­mar­nya. Wanita budak paling baik hanya untuk pria budak. Dan di istana Tuma­pel ini dia tak ada. Seti­dak-tidak­nya ia belum pernah mene­mui. Mereka ditem­pat­kan jauh dari Kuta­raja. Ia tak tahu di mana. Seti­dak-tidak­nya tak diper­ke­nan­kan meng­in­jak bumi mulia yang ter­ja­mah oleh kaki Sang Akuwu. Ia pernah dengar budak lelaki dipe­ker­ja­kan di pem­ba­karan batu bata dan di pem­be­lahan batu. Ia merin­du­kan tempat yang tak dike­ta­hui nama­nya itu. Ia merin­du­kan salah seo­rang di antara mereka yang bakal mela­mar­nya. Ia merin­du­kan seo­rang bayi, yang dapat digen­dong dan diti­mang­nya. Ia akan nya­nyi­kan untuk­nya lagu-lagu dari kam­pung­nya dulu di muara sungai. Mung­kin­kah itu? Maukah dan mam­pu­kah orang itu mene­bus­nya dari peku­wuan ini, sedang mereka tak mampu mene­bus dir­i­nya sen­diri?

Apa saja yang telah dila­ku­kan oleh para dewa itu maka ia sampai kehi­langan hak untuk menik­mati apa yang patut dinik­mati oleh manu­sia seperti halnya dengan Ken Dedes? Sam­sara? Tahu apa aku ten­tang hidupku ter­da­hulu sampai aku harus jadi budak orang lain seka­rang ini?

“Awas!” Budak Unggok meme­kik.

Oti melom­pat. Budak-budak wanita lain yang memi­kul belanga tem­baga berisi air men­di­dih itu ter­gon­cang-gon­cang karena pemi­kul ter­de­pan ter­pe­le­set oleh ceceran kuah. Badan mereka kukuh seperti lelaki, meng­ki­lat karena panas dan keri­ngat.

“Tonga, tonga!” Budak pemi­kul itu men­de­ngus.

Tak ada orang meng­erti mak­sud­nya. Tak ada orang yang mau menge­nal baha­sa­nya.

Hari ini hati Oti rusuh tiada menentu. Ia tak bisa ber­da­mai dengan nasib­nya. Ia meng­iri pada Ken Dedes. Ia tak dapat meng­erti meng­apa semua orang meng­ang­gap per­ka­winan agung itu seba­gai sesu­atu yang semes­ti­nya. Dan dir­i­nya sen­diri? Meng­apa harus men­jadi budak, seke­dar dapat makan dan seca­bik pakaian agar tetap hidup dan tetap men­jadi budak? Dir­eng­gang­kan­nya tali tapas kelapa penu­tup kepala itu. Ia sengaja hendak mem­bi­kin lam­bang kehi­naan itu jatuh dan akan pura-pura tidak tahu. Tahun demi tahun, siang dan malam benda coklat itu sema­kin berat juga mene­kan hati­nya.

Waktu tapas itu akhir­nya jatuh tepat di bawah kaki Lurah Sina, suatu pukulan rotan telah meng­han­tam pipi­nya. Jalur merah segera melin­tang pada muka­nya, ia tak meng­e­rang, tidak meng­a­duh. Ia tahu, itulah yang bakal dite­ri­ma­nya. Tapi ia telah men­coba. Dan benar-benar tanda budak itu harus tetap dike­na­kan­nya.

“Kau sen­diri tahu, bukan aku yang meng­i­zin­kan.” Bentak Lurah Sina.

Tanpa bicara ia tutup kem­bali kepa­la­nya.

Lurah Sina duduk lagi di ambin, mem­bantu mera­jang bawang merah, seakan tiada ter­jadi sesu­atu atas diri siapa pun.

Pagi itu Arya Artya duduk ter­me­nung di tepian kolam peman­dian. Mema­suki umur­nya yang ke empat puluh ia nampak sema­kin suram. Penge­sahan gelar Arya dari Yang Suci seta­hun yang lalu belum juga mem­bawa penga­ruh baik atas dir­i­nya.

Yang Suci tidak pernah mem­ban­tah kebe­naran sil­si­lah, benar ia ber­da­rah Arya, juga meng­a­kui ia seo­rang brah­mana. Semua orang Kuta­raja tahu, di pur­a­nya sen­diri ia mem­per­se­m­bah­kan korban. Bahwa ia seo­rang yang ber­pe­nge­ta­huan luas ten­tang sifat-sifat semua dewa, syakti dan lam­bang-lam­bang serta taf­sir­nya. Bahwa ia mengu­a­sai Bha­ra­ta­yud­dha8 karya Mpu Sedah dan Mpu Panu­luh, mengu­a­sai Maha­b­ha­rata dan Rama­yana asli, juga Rama­yana dari jaman Rakai Bali­tung, tiga ratus tahun yang lalu, San­sa­kerta dan Jawa. Tetap:Yang Suci Bela­kangka tak juga mem­be­ri­nya ijin untuk meng­a­jar.

Tidak seperti brah­mana lain, ia memi­lih tempat di ping­giran ibu­kota. Bila meng­i­kuti kebi­a­saan kaum brah­mana selama dua ratus tahun bela­kangan ini, ilmu dan penge­ta­huan hanya akan ter­se­bar di lereng gunung-gunung sepi. Ia men­coba mema­tah­kan kebi­a­saan itu. Dan ia tidak ber­ha­sil. Bahkan tak ada seo­rang narap­raja pun pernah datang ber­kun­jung, apa­lagi bel­a­jar. Betapa ren­dah­nya harga brah­mana di mata Tuma­pel.

Seperti kaum brah­mana lain selama dua ratus tahun bela­kangan ini ia pun menye­sali Erlangga, orang yang serba bisa itu, juga bisa mem­bi­kin ter­de­sak­nya kaum brah­mana. Dialah pula yang mela­rang adanya paria, per­bu­dakan. Dia hanya meng­a­kui tri­wangsa; biara, candi, bahkan pura negara pun kehi­langan pamor dengan hilang­nya per­bu­dakan, kaum paria hina itu, makh­luk seren­dah hewan di luar tri­wangsa.

Untuk meng­am­bil hati kaum brah­mana Sri Baginda Kre­ta­jaya meng­hi­dup­kan kem­bali per­bu­dakan untuk mera­wat bangu­nan-bangu­nan suci Yang Suci Bela­kangka dengan serta-merta mem­be­nar­kan. Suatu telah dite­mu­kan­nya untuk men­cip­ta­kan per­bu­dakan. Akuwu Tuma­pel menyo­kong dan meman­fa­at­kan­nya. Dan diper­gu­na­kan budak-budak itu untuk mem­per­kaya diri mereka berdua.

“Sekum­pulan ular ber­muka dua,” sebut Arya Artya.” Mem­per­bu­dak orang-orang tak ber­daya, dan mem­bi­kin orang tak ber­daya untuk dija­di­kan budak.”

Duduk di bawah naungan pohon beringin muda di tepi kolam peman­dian ini benar-benar ia tak dapat memu­sat­kan piki­ran­nya. Bela­kangka mem­pu­nyai kedu­dukan ter­lalu kuat. Ia tak mampu untuk dapat men­de­sak­nya. Akuwu Tuma­pel telah ter­geng­gam dalam ceng­ke­ram­an­nya. Ia men­coba menge­nang­kan kem­bali pera­yaan sele­sai brah­ma­carya kema­rin. Ken Dedes kini telah jadi milik Tung­gul Ame­tung. Dan Akuwu itu meno­leh pada­nya pun tidak dalam upa­cara kema­rin. Bukan­kah telah dina­si­hat­i­nya Akuwu itu untuk meng­am­bil gadis itu dengan segala cara yang mung­kin. Dia telah meng­am­bil­nya, dan ia tak juga men­da­pat­kan ucapan teri­ma­ka­sih, apa­lagi mem­be­ri­kan kedu­dukan Bela­kangka pada dir­i­nya.

Ia menye­sal telah meng­ha­diri upa­cara kema­rin. Tidak hadir pun tidak mung­kin peng­ko­ko­han­nya seba­gai brah­mana bisa dica­but oleh Tung­gul Ame­tung. Ia akan kehi­langan ban­tuan negeri, dan akan ter­paksa mem­buka per­gu­r­uan di lereng gunung juga seperti brah­mana yang sele­bih­nya.

Ia tahu, Mpu Parwa dengan diam-diam telah mene­rima bebe­rapa orang pel­a­jar. Sampai sebe­gitu jauh ia tak per­se­m­bah­kan itu pada Sang Akuwu. Orang ber­ilmu, ber­pe­nge­ta­huan dan ber­ba­kat itu tak boleh punah. Jabatan Pan­dita Negeri untuk­nya belum lagi ber­arti diban­ding­kan dengan han­cur­nya brah­mana itu. Ia hanya dapat per­se­m­bah­kan nasi­hat untuk meng­am­bil Dedes. Dan untuk jasa­nya itu ia tidak men­da­pat apa-apa. Uh, meli­hat pada­nya pun Tung­gul Ame­tung tidak.

Ia sudah tak punya jalan untuk dapat ber­ceng­ke­rama dengan pengu­asa Tuma­pel itu. Orang sebo­doh itu, tapi gesit, tang­kas dan cerdik seperti tikus pada umum­nya. Selu­ruh ilmu dan penge­ta­hu­anku tak dapat menem­bus keti­dak­ta­hu­an­nya. Tapi sekali kau akan ter­ja­tuh dalam penga­ruhku

Ia tak dapat ber­da­mai dengan nasib­nya: seo­rang brah­mana yang diper­sa­ma­kan kedu­dukan dan kehor­mat­an­nya dengan seo­rang kepala desa.

Dalam usa­ha­nya untuk memu­sat­kan piki­ran ia bang­kit kemu­dian ber­ja­lan menge­li­lingi kolam peman­dian. Seben­tar ia ber­henti meng­a­wasi bambu pan­curan yang tak henti-hen­ti­nya memun­tah­kan air, tepat seperti pan­curan candi Belahan9. Ia ber­ja­lan lagi, dan kini ing­at­an­nya meng­ga­pai kem­bali peris­tiwa Belahan itu .... Tiga bulan yang lalu ia ikut dalam rom­bongan pengiring Sang Akuwu ber­kun­jung ke candi Belahan di lereng utara Gunung Penang­gungan. Tung­gul Ame­tung hendak meminta berkah pada Hyang Wisynu, pada arwah Sang Sri Erlangga untuk ren­ca­na­nya meng­am­bil Dedes, agar tidak memung­kin­kan amarah kaum brah­mana.

Seba­gai brah­mana peng­a­nut Syiwa ia tak rela meng­ang­kat sembah pada arwah seo­rang raja, biar pun diker­a­mat­kan seba­gai titisan Hyang Wisynu. Seperti kaum brah­mana sele­bih­nya ia juga tidak mem­be­nar­kan adat baru meng­ang­kat arwah raja men­jadi dewa yang harus dise­m­bah dan dipinta res­tu­nya. Tak pernah itu dia­jar­kan dalam kitab-kitab suci purba. Orang-orang Wisynu dimu­lai dengan Erlangga yang mem­buka adat memuja arwah lelu­hur, per­bu­atan khi­a­nat pada para dewa. Semua para dewa yang menen­tu­kan, bukan petani-petani bodoh itu.

Orang tak mene­gur­nya waktu ia tak ikut meng­ang­kat sembah. Mereka semua teng­ge­lam dalam kekhid­ma­tan, tak mem­per­ha­ti­kan­nya. Waktu rom­bongan mema­suki candi dengan jalan mene­kuk lutut, tak habis-habis­nya ia menyum­pah harus ber­laku seperti itu ter­ha­dap arwah seo­rang raja tani. Dan abu Sri Erlangga itu dita­nam di bawah lantai peman­dian. Orang bering­sut-ingsut menge­li­lingi kolam, dengan kepala mene­kuri air. Kemu­dian semua menuju ke din­ding bela­kang candi. Entah berapa kali orang meng­ang­kat sembah pada patung pada din­ding itu: Erlangga di atas garuda ber­tu­buh manu­sia, dipa­hat dari sebuah batu kali besar. Dan di bawah patung itu ber­diri dua orang Para­mesy­wa­ri­nya: Sri dan Laksmi, dua-duanya putri Sri Teguh Dhar­ma­wangsa. Dua-duanya tidak dipa­hat dari batu, hanya dari tanah liat bakar, merah kecok­la­tan. Tentu saja, karena Para­mesy­wari adalah Syiwa.

Ia tak dapat meng­ha­pus gambar Erlangga seba­gai Wisynu itu dari ing­at­an­nya. Dan patung potret itu tidak ber­hi­dung bangir seperti dir­i­nya, bukan hidung warisan Hindu, hanya warisan Sudra ter­ku­tuk. Kalau ia harus menyem­bah, ia akan tuju­kan pada Sri dan Laksmi, yang nyata ber­hi­dung bangir Hindu dan Syiwa pula, bukan Wisynu.

Betapa ia benci pada Erlangga, raja per­tama yang mulai tidak meng­in­dah­kan ajaran, meng­ang­kat diri dan nenek-moyang­nya jadi dewa dengan nama dewa-dewa Hindu. Selu­ruh ketu­run­an­nya meng­i­kut­i­nya, juga Akuwu Tuma­pel yang bukan ketu­runan hanya seo­rang Akuwu! Itu pun ia tak dapat mem­pe­nga­ruh­i­nya.

Mereka semua patut jadi isi nera­ka­nya Wair­o­cana. Takkan men­da­pat­kan ampun seba­gai­mana diper­o­leh Pur­na­wi­jaya.

Ing­at­an­nya kem­bali mela­yang pada pera­yaan kema­rin. Sejoli pengan­tin baru. Yang Suci memim­pin selu­ruh upa­cara. Dari cara upa­cara itu dilang­sung­kan dan mantra-mantra itu diu­cap­kan ia meng­am­bil kesim­pulan: Yang Suci tidak pernah meni­up­kan dalam kese­daran Tung­gul Ame­tung raha­sia hidup yang mem­per­ta­ut­kan atman10 dengan brah­man11. Kalau tidak mana mung­kin rumah Tiwan, hanya karena atap­nya leng­kung ber­ben­tuk tanduk Nandi, ken­da­raan Hyang Maha­dewa Syiwa itu, diba­kar, dan Tiwan sen­diri dengan anak bini­nya diikat dengan naga­banda12 dan dipaksa masuk ke dalam api?

Arya Artya tak dapat menang­gung cem­bu­r­uan Wangsa Erlangga13 bahkan juga aku­wu­nya ter­ha­dap segala yang berbau Syiwa.

“Kalau aku tak ber­ha­sil men­du­duk­kan cak­ra­warti Hyang Syiwa di Tuma­pel, ter­ku­tuk­lah kalian Wangsa Erlangga! Ter­ku­tuk! Juga selu­ruh adi­pati, bupati dan aku­wu­nya! Ter­ku­tuk!”

Ia turun ke peman­dian dan mulai bere­nang-renang dalam air hangat itu, mon­dar­ma­n­dir bebe­rapa kali, kem­bali duduk di atas batu di ping­gir kolam dan meng­go­sok badan. Turun lagi ke air kemu­dian ia beren­dam.

Sampai ia dalam per­ja­lanan menuju ke rumah ia masih juga tak dapat menen­tu­kan apa harus ia per­buat selan­jut­nya. Seki­ra­nya begitu bakal jadi­nya, ia tak bakal bisik­kan Dedes pada kuping Tung­gul Ame­tung. Ia dapat mem­per­sun­ting­kan untuk diri sen­diri.

Sampai di rumah untuk ke sekian kali­nya ia ber­ta­nya pada diri sen­diri: Jadi apakah aku ini, yang ber­nafsu untuk jadi pan­dita negeri, seo­rang brah­mana pemuja Sang Hyang Maha­dewa Syiwa, yang gagal melak­sa­nakan kei­ng­inan untuk jadi pan­dita akuwu Wisynu? Sudah sede­mi­kian hina­kah arya Hindu di bawah Wisynu Jawa ini?

Karena tak men­da­pat kepu­asan dari per­gu­lat­an­nya ia jatuh­kan diri duduk di atas tikar pandan, menya­nyi­kan sebuah karya Baga­wat­gita dalam San­sa­kerta ....

Pan­ca­roba yang cemer­lang itu men­jan­ji­kan panen pala­wija gilang-gemi­l­ang seba­gai restu Dewi Sri untuk per­ni­kahan Tung­gul Ame­tung. Yang Suci telah mengu­kuh­kan kenya­taan ini dan mem­per­se­m­bah­kan­nya pada Sang Akuwu. Ia sen­diri pada pagi itu telah menge­lu­ar­kan perin­tah pada semua petani untuk memu­li­a­kan Dewi Sri dengan lebih meriah. Patung dari jerami huma harus didi­r­i­kan di semua pela­taran lum­bung desa dan kelu­arga, dan sesaji di pura desa harus dipe­nuhi.

Tung­gul Ame­tung men­jan­ji­kan karu­nia emas lima puluh saga14 dan perak sera­tus lima puluh catak15 pada desa dengan panen ter­baik untuk mem­per­ba­iki pura desa­nya. Menyu­sul janji karu­nia sera­tus saga emas dan dua ratus catak perak kepada barang­si­apa dapat menang­kap Borang hidup atau mati. Atau San­ting, atau Arih-Arih, atau nama apa pun yang diper­gu­na­kan­nya.

Peng­u­muman itu dise­ru­kan di pang­gung alun-alun. Belum lagi ter­se­bar ke semua desa seo­rang kepala pasukan telah men­ja­tuh­kan diri di hadapan Tung­gul Ame­tung di pen­dopo.

“Ampun Yang Mulia, keru­suhan ter­jadi di barat Kuta­raja Sahaya mohon bala­ban­tuan. Mereka ter­lalu kuat.”

“Siapa bang­kit­kan keru­suhan itu? Borang? San­ting?”

“Bukan, Yang Mulia.”

“Arih-Arih lagi?”

“Tidak jelas, Yang Mulia.”

“Bukan­kah yang dipa­dam­kan Kidang Tan­dingan sebu­lan lalu ber­nama Arih-Arih?”

“Tepat, Yang Mulia.”

“Juga yang sekali ini orang­nya muda?”

“Boleh jadi, Yang Mulia.”

“Siap­kan pasukan kuda, aku sen­diri yang bakal tang­kap bajingan muda itu.”

Tung­gul Ame­tung tak pernah marah men­da­pat­kan laporan adanya keru­suhan. Apa­lagi bila yang memim­pin seo­rang muda. Ia sen­diri mening­kat ke atas mela­lui cara yang demi­kian juga Dan ia meng­erti pera­saan pemuda-pemuda yang juga ingin jadi Tung­gul Ame­tung. Soal­nya bagai­mana cara ia mem­per­ta­han­kan kedu­duk­an­nya dan bagai­mana ia meng­adu-domba antara gerom­bolan pemuda yang satu dengan yang lain. Ia tahu Arih-Arih, San­ting dan Borang, barang­kali tiga orang pemuda atau seo­rang dengan tiga nama, mem­pu­nyai cara-cara yang ia belum pernah mela­ku­kan, bahkan belum pernah menge­nal. Tetapi ia senang dengan tan­tangan itu. Ia akan mem­be­ri­kan kesem­patan ber­ke­lahi, dan keme­nangan hanya untuk dir­i­nya sen­diri.

Ia ber­pa­ling pada Bela­kangka:

“Yang Suci, tam­bah­kan pada karu­nia itu, sebuah patung Hyang Wisynu dari emas dan tam­tama dalam pasukan penga­wal peku­wuan, barang­si­apa bisa menang­kap mereka ber­tiga atau dia dengan tiga nama itu dalam kea­daan hidup.”

“Tetapi Yang Mulia tidak diper­ke­nan­kan mening­gal­kan pengan­tin.”

“Untuk hadiah bagi Para­mesy­wari.”

“Hadiah yang dijan­ji­kan itu semua memang akan jatuh ke tangan Yang Mulia sen­diri. Jangan laku­kan. Yang Mulia. Pan­jang hari tidak men­cu­kupi. Lagi­pula belum dibe­nar­kan Yang Mulia mening­gal­kan pengan­tin masih sepu­luh hari lagi.”

Tung­gul Ame­tung ter­tawa mere­meh­kan. Hari ini juga ia akan per­li­hat­kan apa yang ia bisa pada Para­mesy­wari. Resi Talu pengu­rus Candi Belahan itu bukan­kah sudah mera­mal­kan diri bakal lebih besar, jauh lebih besar dari­pada Sri Baginda Kre­ta­jaya? Sebe­lum matari teng­ge­lam ia sudah akan mengu­tip karu­nia yang ia jan­ji­kan sen­diri.

Kuda Tung­gul Ame­tung lari men­cong­k­lang dii­kuti oleh dua buah pasukan. Desa-desa Pang­kur, Karang­k­setra dan Ran­du­a­las telah dile­wati. Bukit-bukit telah dile­wati, dan di hadapan mereka mem­bu­bung puncak Gunung Arjuna. Sampai di per­ti­gaan jalan ke Kediri dan desa Kapun­dungan Tung­gul Ame­tung ber­henti. Jalan itu sema­kin men­daki, dan ia tahu kuda­nya telah lelah. Pasukan telah menyu­sul­nya.

“Memang desa-desa sebe­lah barat ini agak sulit diatur,” seru­nya, sengaja untuk dide­ngar juga oleh orang-orang desa. “Lihat, kotor. Lain kali semua desa dengan jalan kotor begini bukan saja hanya malah harus diper­i­ng­at­kan, dipe­riksa.”

“Dipe­riksa, Yang Mulia?”

“Dipe­riksa, mulai seka­rang. Keko­toran ini sarang peru­suh.”

“Mulai seka­rang belum mung­kin, Yang Mulia, tempat keru­suhan justru sudah dekat.”

“Apa kataku? Sarang peru­suh,” ia mem­beri perin­tah agar sebuah pasukan ber­ja­lan di depan­nya. Pasukan lain­nya dipe­rin­tah­kan­nya ber­henti.

Pasukan itu men­cong­k­lang sei­rama. Debu ber­ke­pulan di udara. Tak urung Tung­gul Ame­tung mele­cut ken­da­ra­an­nya dan menyu­sul di bela­kang­nya. Mereka men­ju­rus lurus ke Gunung Arjuna.

Kepala pasukan di depan men­da­dak ber­henti di tikungan, ber­pa­ling ke bela­kang dan meme­kik: “Balik, Yang Mulia! Cepat!”

Tepat di bawah lereng terjal Tung­gul Ame­tung ber­henti. Ia ter­tawa dalam hati­nya diper­i­ng­at­kan untuk balik. Dari peng­a­laman ia tahu, pohon di belokan jalan sana itu jatuh karena dite­bang. Peru­suh sedang pesta-pora di desa selan­jut­nya. Bebe­rapa kali dahulu ia sen­diri telah mero­bohi jalanan dengan pohon untuk meng­ha­langi penge­jaran pasukan kuda Kediri.

Suatu gerak men­cu­r­i­ga­kan mem­bi­kin ia meme­gangi hulu sen­ja­t­a­nya. Ia angkat pan­dang­nya ke tebing di sam­ping kanan­nya. Di atas sebuah batu ber­diri seo­rang ber­ku­mis seke­pal, ber­des­tar hitam dan ber­pe­nu­tup dada hitam pula. Pada tangan­nya ia mem­bawa tri­sula. Ia tahu benar itu bukan tri­sula untuk ber­ke­lahi, tapi untuk upa­cara kea­ga­maan orang-orang Syiwa. Cawat­nya ber­warna coklat dan nampak sudah tua. Terom­pah tapas dike­na­kan pada kaki­nya.

“Siapa yang kau cari, Akuwu Tuma­pel?” Tegur orang ber­ku­mis seke­pal itu.

“Siapa kau?” Bentak kepala pasukan yang segera datang untuk melin­dungi Akuwu.

“Diam kau, pra­ju­rit. Tidak­kah kau tahu aku sedang bicara dengan Akuwu Tuma­pel? Jangan ter­lalu dekat. Daging kalian bisa buyar di bawah sera­tus lima puluh mata tombak. Siapa kau cari Akuwu? Aku?”

Dari atas kuda­nya Tung­gul Ame­tung meng­ge­rang:

“Kau! Borang, Arih-Arih, San­ting. Meli­hat dari keku­rang­a­jar­anmu, kaulah Borang.”

“Tak aku kenal nama Borang.”

“Arih-Arih?”

“Tidak” “San­ting?”

“Kalau seo­rang berani meng­ha­dapi Tung­gul Ame­tung seo­rang diri begini, dia tak perlu ber­bo­hong.”

“Siapa kau?”

“Brah­mana dari utara.”

“Tak ada tempat untuk brah­mana di Tuma­pel.”

Kepala pasukan itu meng­ang­kat tombak untuk dilem­par­kan.

“Apakah kau anggap pra­ju­rit Tuma­pel saja yang bisa lem­par­kan tombak? Lihat tri­sula ini. Sekali aku angkat kilat Sang Maha­kala akan sambar kalian dengan sera­tus lima­pu­luh mata tombak.”

“Jadi can­trik Arya Artya pun kau belum patut,” Tung­gul Ame­tung meng­e­jek orang ber­ku­mis seke­pal itu.

“Di peku­wuan kau bebas bicara seperti itu. Tung­gul Ame­tung. Dalam apitan gunung dan jurang begini aku lebih kuasa dari­pada kau, dan seribu orang seperti kau.”

“Siapa kau?”

“Ingat-ingat wajahku ini, dan kem­bali kau segera pada pengan­tinmu. Apa kau rela­kan dia jadi janda?”

“Tidak per­cuma pasukan kuda ada di depan dan bela­kangku.”

“Apa arti­nya pasukan kudamu dalam apitan gunung dan jurang? Tak meng­erti kau ten­tang perang? Kem­bali! Deng­ar­kan nasi­hatku sebe­lum murka Hyang Maha­dewa jatuh di atas kepa­lamu.”

Orang ber­ku­mis seke­pal itu mem­buka kain penu­tup dada. Mun­cul­lah perak ber­gam­bar dudul Durga Mahi­sa­su­r­a­mar­dini16.

Tung­gul Ame­tung menu­tup mata dari pan­tulan tajam itu dengan lengan. Dari adi pun ia sudah tak tahan ter­ha­dap keta­jaman pan­dang mata orang itu. Seba­gai orang yang ber­peng­a­laman dalam adu keku­atan dan adu sen­jata ia tahu, barang­si­apa kalah pan­dang, dialah pula yang bakal kalah ber­la­wan.

Ia turun­kan leng­an­nya, mema­ling­kan muka, mena­rik ken­dali kuda dan ber­ja­lan lambat-lambat mening­gal­kan tempat itu Kepala pasukan itu mem­bu­ru­nya dan mem­pro­tes: “Ijin­kan­lah kami menum­pas­nya.”

“Kem­bali! Bukan lawanmu. Bukan lawan kita. Seo­rang brah­mana yang akan menye­le­sai­kan­nya.”

Sampai pada pasukan kedua ia gerak­kan tangan mem­beri isya­rat untuk pulang.

Di peku­wuan ia perin­tah­kan pada Yang Suci untuk memang­gil Arya Artya. Dan karena orang yang merasa diri brah­mana dari kadar puncak itu tak punya dan tak dapat menung­gang kuda, baru di malam hari ia tiba.

“Apa yang Bapa keta­hui ten­tang seo­rang brah­mana muda di Tuma­pel ini?”

“Tak ada brah­mana muda di Tuma­pel ini. Semua sudah ter­ca­tat dalam rontal! Yang Suci. Yang Mulia. Yang dii­jin­kan meng­a­jar dan yang tidak. Bapa ter­ma­suk yang tidak dii­jin­kan.”

“Mak­sudku seo­rang brah­mana muda.”

“Seki­ra­nya ada, dia akan sowan pada Bapa ini untuk men­da­pat­kan restu. Bila demi­kian Bapa akan segera menyam­pai­kan pada Yang Suci. Lagi pula, tak mung­kin seo­rang muda bisa jadi brah­mana. Untuk dapat mengu­a­sai San­sa­kerta paling tidak dia mem­bu­tuh­kan sepu­luh tahun. Tanpa itu bagai­mana seo­rang muda dapat menge­nal Athar­wa­weda dan men­jadi brah­mana? Berapa umur orang yang meng­aku brah­mana muda itu. Yang Mulia?”

“Dari kumis­nya yang sete­bal kepalan, kira­nya tiga puluh.”

“Dengan umur tiga puluh orang baru bisa meng­ha­fal mantra-mantra pen­tah­bisan,” Arya Artya meng­ang­guk. “Belum pernah ter­de­ngar ada brah­mana ber­ku­mis seke­pal. Di mana Yang Mulia jumpai dia?”

Tung­gul Ame­tung tak men­ja­wab. Pada waktu itu Bela­kangka datang. Meng­hor­mat kedua-duanya dan memu­lai:

“Yang Mulia, men­de­ngar dari para pra­ju­rit ten­tang brah­mana muda itu ...”

“Tak ada brah­mana muda ber­ku­mis seke­pal, Yang Mulia, per­ca­ya­lah,” sumbar Arya Artya.

“Serah­kan per­so­alan ini pada sahaya, Yang Mulia. Bukan suatu per­kara yang sulit.”

“Tak ada brah­mana seperti itu. Dia hanya penipu. Yang Mulia, sepa­tut­nya dihan­cur­kan badan­nya dengan garukan kerang.”

“Pada dada­nya ter­pa­sang lem­baran perak pan­jang, sele­bar satu sete­ngah jeng­kal, dengan gambar Hyang Durga Mahi­sa­su­r­a­mar­dini,” Tung­gul Ame­tung meng­adu.

“Patut diso­bek-sobek kul­it­nya dium­pan­kan pada anjing hutan, penipu itu,” Arya Artya mem­be­nar­kan. “Tia­da­kah Yang Mulia salah lihat?” Bela­kangka meng­uji. “Jagad Pra­mu­dita! Apakah aku sudah diang­gap rabun?”

“Di manakah Yang Mulia pernah lihat Hyang Durga seperti itu?” Bela­kangka men­de­sak menyi­sih­kan Arya Artya.

Tung­gul Ame­tung menye­dari, Bela­kangka sedang menye­li­diki keper­ca­ya­an­nya. Dia bisa meng­adu pada Yang Ter­suci di Kediri, dan nasib­nya akan ter­je­rem­bab. Ia perin­tah­kan dua orang itu pergi.

Sebe­lum mening­gal­kan jen­jang Yang Suci Bela­kangka ber­bi­sik pada­nya:

“Hanya Loh­gawe yang harus ditun­tut tang­gung­ja­wab­nya. Yang Mulia, biar Bela­kangka ini mengu­rus­nya.”

Ken Dedes dari din­ding Bilik Agung men­de­ngar semua pem­bi­ca­raan itu. Untuk per­tama kali ia ter­se­nyum, mem­ba­yang­kan brah­mana muda dengan Sang Hyang Durga Mahi­sa­su­r­a­mar­dini pada dada­nya. Cepat-cepat ia ting­gal­kan Bilik Agung dan turun di Taman Larangan di sebe­lah­nya.

Begitu mening­gal­kan pen­dopo Yang Suci Bela­kangka mengir­im­kan utusan kilat ber­kuda untuk mela­por­kan peris­tiwa gen­ting itu pada Yang Ter­suci Tana­kung di Kediri.

Semen­tara itu jatuh­nya tapas penu­tup kepala menye­bab­kan Oti digi­ring mening­gal­kan dapur peku­wuan, mening­gal­kan Kuta­raja, ibu­kota Tuma­pel. Ia ber­ja­lan dan ber­ja­lan memung­gungi Gunung Arjuna. Weli­rang dan Hanung. Mene­ngok ke kiri pan­dang­nya ter­ta­tap pada puncak Gunung Semeru. Mene­ngok ke kanan pada puncak Gunung Kawi dan puncak Gunung Kelud di bela­kang­nya lagi.

Ke mana pun mata meman­dang – meman­dang dengan men­curi, karena budak harus selalu menun­duk­kan kepala – hutan, rimba belan­tara yang mema­gari. Pada apa pun pen­de­ng­aran dipu­sat­kan, yang ter­de­ngar hanya desing mar­ga­satwa, dan dengung ber­sa­hut-sahutan meng­a­gung­kan kebe­saran hidup. Bahkan lang­kah kaki­nya sen­diri di atas jalanan baru itu tiada dide­ng­ar­nya. Lang­kah penga­wal­nya pun tidak.

Jalan negeri telah diting­gal­kan, mem­be­lok ke kanan, mema­suki jalanan hutan lebar sedepa hampir selu­r­uh­nya telah ter­tu­tup oleh rumput aneka jenis, bere­but hijau. Hanya bagian yang sering ter­in­jak kaki nampak merana.

Sete­ngah hari per­ja­lanan ia telah mele­wati dela­pan jem­batan besar dan sepu­luh jem­batan kecil, dua titian. Jalanan itu kemu­dian ter­pu­tus oleh kali Kanta. Di tepian sungai, di antara batu-batu gunung, hitam kelabu dalam segala bentuk dan besar, seperti cen­da­wan, ter­se­bar gubuk-gubuk deda­unan. Dari cerita yang pernah dide­ng­ar­nya, itulah per­kam­pungan budak. Dari keja­uhan telah ter­de­ngar bunyi orang mem­be­lah dan mema­hat batu. Hanya bunyi saja. Belum lagi ia meli­hat orang­nya.

Penga­wal­nya menyu­ruh ia makan. Dari gen­do­ng­an­nya ia kelu­ar­kan ketu­pat dan kala­basa labu kerdil tempat air minum – air gula merah; tulang pung­gung babi yang ber­da­ging dan seikat kacang pan­jang mentah. Juga penga­wal­nya meng­am­bil per­be­kalan dan mulai makan di tempat yang agak jauh.

Gercik dan desir air yang mener­jangi batu ter­de­ngar menya­nyi memang­gil-mang­gil.

Oti ter­nyata tidak ngeri, juga tidak takut, pada hukuman ini. Ia seba­lik­nya merasa senang dapat mening­gal­kan dapur peku­wuan, mema­suki alam bebas seperti dulu di kam­pung­nya sen­diri dan gercik air itu ter­de­ngar Lebah indah dari­pada deburan laut, dari­pada suara game­lan. Dan betapa pepo­honan rak­sasa di seki­tar itu mem­be­ri­nya kese­jukan!

Seha­bis makan ia digi­ring menu­runi tepian. Ribuan wanita sedang melim­bang emas dari pasir kali sumber upeti seba­nyak sepu­luh ribu saga setiap tahun ke Kediri. Ia tahu peker­ja­an­nya kini adalah men­du­lang emas. Mata­nya tidak meli­hat pada emas itu, tapi pada gemer­lap air yang ber­main-main dengan matari.

Penga­wal itu menye­rah­kan­nya pada lurah pen­du­langan, seo­rang perem­puan tua yang telah kisut, dengan buah­dada seperti kan­tong kempes ter­ge­ong-geong hampir sampai pada pusat. Dan hampir selu­ruh pen­du­lang itu ber­henti bekerja untuk menyam­but teman baru dengan mata­nya. Seo­rang budak dengan bayi dalam selen­dang sambil mene­teki naik ke darat dengan dulang­nya, kemu­dian duduk di tanah, menya­nyi seben­tar, mengum­pul­kan deda­unan dan meni­dur­kan anak­nya di atas­nya, di bawah seba­tang pokok kayu. Ia turun lagi dan mene­rus­kan peker­ja­an­nya.

Juga anak-anak kecil banyak ber­main-main di air mene­mani ibunya. Yang agak lebih besar ikut juga men­du­lang, karena bocah anak budak diang­gap seba­gai budak perem­puan.

“Ya, mulai besok ikut men­du­lang. Oti namamu, bukan? Sore ini usa­ha­kan olehmu sen­diri mem­bi­kin pondok,” kata Lurah Moleng.

“Tak ada alat padaku.”

“Kau masih muda. Cari­lah lelaki muda. Dia akan suka mem­ban­tumu.”

Oti mening­gal­kan kali! Menuju ke tempat para pem­be­lah batu. Jan­tung­nya ber­de­baran. Ia akan men­cari seo­rang lelaki muda menu­rut pilih­an­nya sen­diri. Di peku­wuan tiada seo­rang lelaki sudi dide­kati oleh budak. Di sini semua budak Dan betapa lama ia meng­ha­rap­kan seo­rang lelaki yang mena­ruh per­ha­tian atas dir­i­nya, meng­hi­bur­nya, menya­ya­ng­i­nya dan mer­a­yunya.

Mema­suki daerah peng­ga­rapan batu ia meli­hat seo­rang kakek sedang mema­hat sebuah relief Banas­pati. Orang itu tak meng­ang­kat pan­dang pada­nya. Mata­nya yang lemah harus selalu ter­pu­sat untuk tidak mem­bi­kin salah pahat. Oti ber­henti seben­tar dan mem­per­ha­ti­kan kakek itu selalu meng­ge­ra­yangi tempat yang habis dipa­hat­nya.

Ia ber­ja­lan lagi barang sepu­luh depa dan meli­hat seo­rang sete­ngah baya sedang mema­hat bagian dalam sikara17 kuil. Pahatan itu hanya berupa garis-garis lurus. Ia ragu. Tak adakah yang lebih muda, yang memi­l­iki keper­ka­saan ber­ka­sih sayang? Ia ber­henti di hadap­an­nya dan menim­bang-nim­bang.

“Aku hendak mem­bi­kin pondok. Siapa mau mem­bantu aku?”

Orang itu mele­tak­kan baji baja dan peno­hok, meman­da­ng­i­nya dengan mata berapi-api seperti hendak mene­lan selu­ruh keha­dir­an­nya:

“Orang baru?”

“Baru datang.”

“Sayang. Sebe­nar­nya aku juga suka. Coba pergi ke ujung sana, dia belum punya perem­puan. Sana, di bawah pohon jam­b­lang sana. Kalau dia tidak suka, kau boleh kem­bali padaku.”

Oti meng­u­cap­kan teri­ma­ka­sih dan ber­ja­lan cepat ke arah itu. Ia tak per­ha­ti­kan lagi pema­hat dan pem­be­lah batu lain­nya. Ia pun tak per­ha­ti­kan pedih tela­pak kaki­nya ter­kena run­cingan gum­pi­lan batu.

Di bawah jam­b­lang ia dapat­kan seo­rang pemuda, ber­ba­dan kukuh, hampir telan­jang bulat. Hanya selem­bar cawat kecil menu­tup kawat­nya18. Tapas kelapa pada kepala itu menu­tupi ram­but­nya. Dan rambut itu sen­diri jatuh ter­u­rai pada pung­gung­nya yang lebar. Seka­li­gus ia ter­ta­rik pada bahu­nya yang bidang dan tubuh­nya yang tinggi-besar seperti rak­sasa.

Ia letak­kan tangan­nya pada bahu pemuda itu dan tidak mene­gur­nya, hanya untuk dapat meraba kulit dan otot-otot­nya yang nampak ter­buat dari tem­baga itu.

Dan pemuda itu mene­rus­kan peker­ja­an­nya tanpa mem­per­ha­ti­kan raba­an­nya sedang mema­hat sebuah cakra di tangan seo­rang bat­hara yang belum sem­purna wajah­nya. Ia tak meno­leh.

Otot sekuat ini betapa tidak men­jadi berkah bagi hidup­nya, pikir Oti. Dengan otot sema­cam ini dunia pun dapat dipang­gul­nya untuk hidup­nya, dibawa pulang ke pondok untuk dinik­mati.

“Mau kau meno­long aku?”

Pemuda itu meno­leh, meman­da­ng­i­nya. Mata­nya hanya satu. Ia lem­par­kan pahat dan peno­hok. Ber­diri. Mata­nya menge­r­jap.

“Baru datang?” Ia lem­par­kan pan­dang ke selu­ruh ladang batu yang mem­bu­bung­kan suara pikuk itu. Ia meng­ang­guk mem­be­nar­kan sikap semua pema­hat dan pem­be­lah batu. Kemu­dian mena­tap Oti, yang masih ter­ke­jut karena kema­ta­s­a­tu­an­nya.

“Bikin pondok?”

Oti menun­duk.

“Para dewa pun tak mampu beri aku peng­ganti mata. Kau pan­dangi kakimu seperti kakimu beru­bah jadi biji mata untukku. Dari mana kau?”

“Kuta­raja.”

“Apa kesal­ah­anmu?”

“Tolong aku dibantu mem­bi­kin pondok.”

“Hanya karena mataku satu kau mau punya pondok sen­diri?”

Betapa tidak adil­nya para dewa orang Tuma­pel: tubuh sein­dah itu dan maunya diku­rangi satu.

“Kau menye­sal datang padaku? Pergi!”

Oti mem­bu­ang muka. Tak dapat ia mem­ben­dung air mata­nya, menye­sali tubuh sesem­purna itu dica­cat­kan oleh dewa-dewa­nya sen­diri.

“Meng­apa tak pergi? Tak usah punya dan bikin pondok sen­diri. Di pon­dokku masih ada tempat untuk tubuhmu.” Ia cari muka Oti. “Mari.”

Dan tubuh Oti geme­tar men­de­ngar sua­ra­nya, dan nada­nya, dan kete­guh­an­nya, dan keke­ra­san hati­nya. Seperti bayang-bayang ia iring­kan si mata­s­atu. Ke mana, ia tak tahu.

Mele­wati padang batu yang hiruk mereka ber­ja­lan dan ber­ja­lan sampai ke tepi hutan. Mereka menuju ke satu-satu­nya rumah pang­gung dari kayu. Seo­rang ber­pa­kaian serba indah, dada ber­bulu, sedang ber­diri di bawah gela­dak rumah.

Si mata­s­atu meng­ang­kat sembah sete­lah men­ja­tuh­kan lutut ke tanah. Dan Oti meng­i­kuti per­bu­at­an­nya.

“Mundra, aku lihat akhir­nya kau dapat­kan juga seo­rang perem­puan. Aku lihat dia kuat, kokoh. Seim­bang deng­anmu. Perem­puan itu memang sepa­dan untukmu. Tunggu!”

Ia naik ke atas dan turun lagi mem­bawa dua lembar kain, mem­be­ri­kan­nya pada Mundra. Yang selem­bar pada Oti.

“Kau, perem­puan, siapa namamu? Oti? Bagus. Beri­kan Mundra seba­nyak anak yang bisa kau beri­kan. Pergi kalian pulang dengan res­tuku.”

Mereka pergi, ber­ja­lan ber­i­ringan menuju ke tepian kali Kanta. Di bawah seba­tang pohon jambu rak­sasa, di situ­lah pondok Mundra. Seperti yang lain-lain ter­buat dari deda­unan yang dije­pit dengan bambu belah, tebal sejeng­kal. Atap­nya dari ila­lang. Tinggi tiga depa, lebar empat dan pan­jang lima depa.

“Kau akan senang ting­gal di sini. Gusti Putra sudah benar­kan kita.”

“Gusti?”19

“Ya, dia hanya dari kasta sudra.”

Mereka masuk, duduk di atas tum­pukan daun kering

“Siapa Gusti Putra?”

“Sil­pa­sas­tra­wan Tuma­pel.”

“Apa sil­pa­sas­tra­wan?”

“Yang meran­cang dan mem­ba­ngun gedung-gedung suci. Kau bisa masak?”

Oti merasa ter­sing­gung oleh per­ta­nyaan itu.

“Kalau tidak, aku yang masak sebe­lum kita turun bekerja. Senang aku, kau datang untuk jadi biniku.”

“Bini?” Ia angkat kepa­la­nya dan dipan­da­ng­i­nya si mata­s­atu seo­rang lelaki yang tiba-tiba saja jadi sua­mi­nya. Mundra ter­se­nyum mem­bu­juk. Piki­ran­nya mela­yang ke Kuta­raja. Semua men­da­pat gerin­cing giring-giring pan­dita pada per­ni­kah­an­nya, dan per­cikan air suci. “Pan­dita,” bisik­nya.

“Untuk budak cukup dengan ang­gukan seo­rang pem­be­sar. Kau akan senang ting­gal di sini, dengan aku. Lihat,” ia mem­per­li­hat­kan leng­an­nya yang kuat. “Tangan ini men­ja­min kese­ti­a­anmu padaku, lebih ber­harga dari­pada mataku.”

“Bagai­mana men­ja­min­nya?”

“Untuk mema­tah­kan batang leher.”

“Batang leherku?”

“Ter­se­rah, bisa kau bisa orang lain. Hidupku sudah cukup sesak. Seo­rang bini tak perlu sema­kin menye­sak­kan. Apa kau? Buddha? Syiwa? Wisynu? Brahma?”

Dan Oti tak tahu.

“Tahu mantra San­sa­kerta?”

Oti meng­ge­leng.

“Bagus.”

“Apa yang bagus?”

“San­sa­kerta yang bikin pening orang. Tak ada berkah sesu­atu. Kakek dan nenek kita sudah mulai tidak meng­gu­na­kan lagi. Tak tahu aku meng­apa para dewa itu memi­lih San­sa­kerta seba­gai baha­sa­nya.”

“Meng­apa kau jadi budak?”

“Ayahku pen­judi, pemain dadu, ter­tim­bun hutang, jadi budak. Aku ter­se­ret dalam per­bu­dakan. Di mana orang tuamu?”

Oti tak dapat meng­i­kuti per­ta­nyaan-per­ta­nyaan yang begitu cepat dan ter­cam­pur dengan kete­rangan yang tidak kurang cepat­nya. Ia masih sibuk meng­he­rani betapa men­da­dak­nya ia men­da­pat­kan sese­o­rang pria, seo­rang saja, yang ia impi­kan selama ini dan ter­nyata dia keku­rangan sebuah mata.

“Bica­ra­lah.”

Keka­saran sua­mi­nya dira­sa­i­nya seperti belaian kasih sayang. Di Tuma­pel semua lelaki jauh lebih halus dari­pada Mundra, dan semua memi­cing­kan mata ter­ha­dap­nya. Akhir­nya dewa-dewa orang Jawa itu melem­par­kan seo­rang suami di pang­ku­an­nya. Dan ia belum juga habis heran. Ber­ba­ris sekian banyak pria yang selama ini pernah mem­per­la­ku­kan­nya seperti seba­tang pisang, tanpa perlu meng­a­jak bicara. Suatu ang­gapan, bahwa pria adalah makh­luk paling men­ji­jik­kan di dunia ini, seka­li­gus juga mena­kut­kan, untuk waktu lama pernah mem­bu­nuh impi­an­nya ten­tang indah­nya hubungan lelaki dengan perem­puan. Tapi bela­kangan ini ia sung­guh-sung­guh merin­du­kan seo­rang pria, seo­rang saja. Itu pun tak pernah ber­wa­jah. Seka­rang di hadap­an­nya seo­rang suami, ber­wa­jah, gagah, tinggi besar, ber­mata satu. Dan semua impi­an­nya bubar. Ia merasa kosong. Boleh jadi Mundra sen­diri seo­rang dewa, mung­kin juga menyim­pan banyak kesak­tian pada dir­i­nya.

“Kau mena­ngis seka­rang. Kau sesali mataku yang satu?”

Oti mero­boh­kan diri pada pang­kuan Mundra. Dan si mata­s­atu itu mem­be­lai ram­but­nya, pipi­nya ah, belaian yang diim­pi­kan­nya tahun-tahun bela­kangan ini.

Waktu tangan kasar itu meng­ang­kat muka­nya, dari seba­lik mata ia lihat lelaki itu ter­se­nyum. Gigi­nya kuning gading ber­ki­lat-kilat seperti ter­buat dari­pada suasa. Dan ia lihat sepa­sang gigi taring yang tajam dan kuat.

“Kalau kau pernah ber­be­nah rumah, mulai­lah. Aku akan rapikan alat-ker­jaku.”

Ia tegak­kan duduk Oti, men­cium pada pipi­nya, kemu­dian mening­gal­kan pondok.



Bab 2

Arok

Matari sudah hampir teng­ge­lam waktu ia sampai di kebun buah Dang Hyang Loh­gawe. Dihin­dar­i­nya maha­gu­ru­nya dan ber­ja­lan mene­pis men­cari tempat air. Adalah tidak patut dite­mu­kan dalam kea­daan begini kotor. Sete­lah mem­ber­sih­kan diri ia ber­ganti pakaian dan masuk ke pemon­do­kan teman-teman­nya seper­gu­r­uan.

Tujuh orang itu sedang sibuk meng­ha­dapi rontal meng­ha­fal para­ma­sas­tra San­sa­kerta, keta­huan dari dengung ucapan mereka yang pelahan. “Tiada Bapa mena­nya­kan aku?” Ia ber­ta­nya. Semua meng­ang­kat kepala. Dang Hyang Loh­gawe tidak mena­nya­kan. Mereka menying­kir­kan ron­tal­nya dan dengan pan­dang ber­ta­nya mena­tap­nya.

“Dari mana saja kau? Mukamu sudah hitam biru begitu. Sudah lama kau tak bel­a­jar.”

“Kau bisa diusir,” sese­o­rang mem­per­i­ng­at­kan, “biar­pun ing­at­anmu men­da­pat­kan pan­caran dari Hyang Ganesya1.” Arok tak pernah bel­a­jar para­ma­sas­tra San­sa­kerta. Untuk­nya setiap mata pel­a­jaran ter­lalu mudah untuk disim­pan­nya dalam ing­at­an­nya.

Dan malam itu bukan para­ma­sas­tra yang keluar.

Dang Hyang Loh­gawe agak lama duduk ter­me­nung di atas tikar pandan ber­warna-warni. Para pel­a­jar menun­duk menanti. Dan waktu ia angkat pan­dang­nya, mata­nya ter­tuju pada­nya:

“Sudah lama aku tim­bang-tim­bang. Kau seo­rang muda yang cerdas, giat, gesit, ing­at­anmu sangat baik, berani, tabah meng­ha­dapi sega­la­nya. Aku tidak tahu apakah yang kau per­buat selama ini tumbuh dari hatimu yang suci dan per­tim­bang­anmu yang masak,” ia buka sebuah bung­kusan dan menge­lu­ar­kan dari dalam­nya sei­katan tebal rontal. “Kau kenal tulisan ini?”

“Kenal, ya, Bapa maha­guru.”

“Bukan­kah ini tulisan gurumu yang lama?”

“Benar, ya, Bapa maha­guru, Bapa Tan­tri­pala.”

“Tahu kau apa yang ditu­lis­nya di sini?”

“Tahu, ya, maha­guru, catatan ten­tang pri­badi sahaya.”

“Benar. Adakah waktu kau serah­kan padaku pada hari per­tama kau datang ke sini telah kau baca lebih dahulu?”

“Ampun, ya Bapa, adalah bukan men­jadi hak sahaya untuk mem­ba­ca­nya, maka tak pernah sahaya laku­kan.”

Dang Hyang Loh­gawe meng­hem­bus­kan nafas. Sinar lampu damar itu menyo­roti leher­nya yang dihi­asi dengan keri­pu­tan usia.

“Kau semes­ti­nya meng­erti, aku tak boleh ragu-ragu. Apakah yang kau per­buat di luar penge­ta­hu­anku selama ini keluar dari hati yang sakit atau­kah hati yang dapat menam­pung karu­nia para dewa, biar­lah malam ini kita sele­sai­kan dengan baik. Sete­lah ini, kau bebas tanpa ikatan padaku. Kalau benar tulisan Tan­tri­pala ini kau seo­rang pemuda yang bisa meru­sak­kan kehi­dupan dan aturan, itu pun ter­se­rah padamu. Sete­lah ini aku tidak lagi meng­ha­rap­kan keda­tanganmu, seka­li­pun kau bebas datang dan pergi. Kau meng­erti mak­sudku?”

“Ya, Bapa maha­guru, sahaya telah menim­bul­kan pri­ha­tin Bapa maha­guru Loh­gawe sesu­atu yang semes­ti­nya tidak ter­jadi, dan tidak perlu ter­jadi.”

“Baik. Tentu kau belum pernah meli­hat laut.”

“Belum, ya, Bapa.”

“Apakah yang lain-lain belum pernah ke Gresik?” Ter­nyata seo­rang pun belum pernah mening­gal­kan Tuma­pel. “Baik. Mari aku cerita. Ada sebuah daerah luas di selatan Gresik. Seluas pan­dang dite­bar­kan, hanya sawah, sawah dan sawah – sawah hanya untuk musim kering seperti seka­rang ini. Dan kau, kau deng­ar­kan saja,” Loh­gawe mem­per­i­ng­at­kan pada­nya. “Coba, seo­rang di antara kalian seka­rang terang­kan duduk per­ka­ra­nya,” ia menu­ding dengan lidi enau.

“Ya, Bapa maha­guru,” yang ter­tu­ding memu­lai, “Pada mula­nya sawah-sawah itu adalah rawa genangan Kali Bran­tas pada setiap peng­hu­jan. Sri Baginda Erlangga telah titah­kan untuk mem­buka sebuah porong sampai ke laut. Tanah galian itu kemu­dian dibi­kin men­jadi tang­gul pada kiri dan kanan. Kemu­dian porong itu diper­gu­na­kan untuk mengu­rangi beban muara Bran­tas, men­jadi jalanan kapal perang bila pulang mudik.” Seo­rang pel­a­jar yang men­da­pat tudingan giliran mene­rus­kan: “Pan­jang porong itu mele­bihi garis tengah negeri Jang­gala, dise­le­sai­kan selama tiga kali tiga puluh hari.”

“Dilak­sa­nakan pada tahun Saka Seribu ...” Dang Hyang Loh­gawe men­de­ham. Ia memin­dah­kan per­ha­tian kepa­da­nya tanpa bicara. Dan ia memu­lai:

“Ya, Bapa Maha­guru, sahaya belum pernah meli­hat Gresik, porong, penge­du­kan dan penang­gu­lan Bran­tas pada bagian-bagian yang diper­lu­kan. Semua untuk kese­jah­te­raan kawula dan negeri, mengu­rangi penya­kit dan ben­cana tahunan, mening­kat­kan per­da­gangan dan per­ta­hanan negeri”

Dang Hyang Loh­gawe untuk kedua kali men­de­ham.

“Kata­kan apa yang kau keta­hui, bukan pen­da­patmu ten­tang­nya. Ayoh.”

“Ya, Bapa, apalah arti­nya penge­ta­huan tanpa pen­da­pat?’” “Baik, aku harus per­caya kau telah menge­ta­hui semua itu, dan kemu­dian ber­pen­da­pat. Aku harus per­caya bukan seba­lik­nya yang ter­jadi. Ber­pen­da­pat tanpa ber­pe­nge­ta­huan hukuman mati bagi seo­rang calon brah­mana. Dia takkan mung­kin jadi brah­mana yang bisa diper­caya.”

“Sahaya, Bapa.”

“Baik, aku anggap kau banyak tahu, lebih banyak dari­pada yang kau per­o­leh dari­pa­daku. Kau telah dapat mem­baca sen­diri rontal tanpa ban­tu­anku lagi. Ingin aku menge­ta­hui sampai di mana dan sebe­rapa penge­ta­hu­anmu.” Ia ter­diam, menu­tup mata­nya seperti hendak memu­lai samadhi. Ia mem­buka mata dan meng­ang­guk tenang, “Baik, apa pen­da­patmu ten­tang Sri Baginda Kre­ta­jaya?”

“Bukan­kah ada larangan mem­bi­ca­ra­kan nama Sri Baginda?”

“Hanya sampai di situ penge­ta­hu­anmu?”

“Bahwa kita semua, murid dan maha­guru bisa ditu­duh mem­bi­kin per­se­ku­tuan gelap dan jahat.”

“Apakah guna­nya pen­da­pat kalau hanya untuk dike­ta­hui sen­diri?” Tolak Loh­gawe.

“Di dekat Tung­gul Ame­tung anjing pun takut meng­gong­gong. Barang­si­apa takut pada pen­da­pat­nya sen­diri....,” Loh­gawe menu­ding pada pel­a­jar lain.

“Ya, Bapa, dia tak perlu bel­a­jar untuk tahu dan untuk punya pen­da­pat.”

“Betul, ya, Bapa, tidak per­cuma Hyang Ganesya meng­hias tangan yang satu dengan parasyu2 dan tangan lain dengan aksa­mala3 keta­jaman dan irama hidup. Tanpa kebe­ra­nian hidup adalah tanpa irama. Hidup tanpa irama adalah samadhi tanpa pusat. Ampuni sahaya, Bapa.”

“Ya, seka­rang kata­kan pen­da­patmu.”

“Pen­da­pat sahaya, dengan tegas seka­rang ini, ialah: Bapa Maha­guru Dang Hyang Loh­gawe tidak suka pada Sri Baginda Kre­ta­jaya, apa­lagi pada aku­wu­nya di Tuma­pel. Tung­gul Ame­tung. Bapa per­caya pada kami, maka juga per­caya, per­se­ku­tuan gelap dan jahat tiada bakal ditu­duh­kan pada kami semua ini. Bapa Maha­guru Dang Hyang Loh­gawe menim­bang kami semua seba­gai telah dewasa untuk ber­ga­bung dalam per­se­ku­tuan para brah­mana, men­du­duk­kan kem­bali Hyang Maha­dewa Syiwa pada cak­ra­war­ti­nya. Ampuni sahaya, ya, Bapa Maha­guru.” Loh­gawe mem­be­la­lak. Lidi enau di tangan­nya jatuh. Ia pura-pura tidak tahu dan mene­rus­kan: “Bapa Maha­guru Dang Hyang Loh­gawe telah ber­se­kutu dengan kami semua yang men­de­ng­ar­kan sahaya, suka atau tidak ber­se­kutu mela­wan Akuwu Tuma­pel Tung­gul Ame­tung dan Sri Baginda Kre­ta­jaya.”

“Tak pernah aku kata­kan atau nya­ta­kan itu!” Loh­gawe mem­ban­tah. Dagu­nya ter­ang­kat menan­tang.

“Tidak per­cuma Bapa Maha­guru pernah ajar­kan pada kami tenung sikap tak suka kaum brah­mana ter­ha­dap wangsa Isana, ketu­runan Sri Baginda Erlangga.”

“Deng­ar­kan kata-kata­nya, hai, kalian,” Loh­gawe ber­pa­ling pada para murid lain­nya. “Tidak lain dari aku sen­diri yang selalu memuji-muji Sri Baginda Erlangga seba­gai raja pem­ba­ngun ter­be­sar: kali-kali ditang­gul dan dike­duk untuk lalu­lin­tas dan untuk kese­la­matan per­ta­nian dan kawula, pela­buhan-pela­buhan ter­u­tama Gresik dan Tuban, rumah-rumah suci, ben­dungan dan jalanan negeri di mana-mana: karu­nia pra­sa­sti dan dharma pada para pem­ba­ngun... .juga di mana-mana...”

“Tak ada yang bisa bantah Sri Erlangga seo­rang pem­ba­ngun besar. Satu yang pada wak­tu­nya akan Bapa Maha­guru kata­kan: hanya satu yang tidak pernah diba­ngun­kan­nya kedu­dukan kaum brah­mana. Dan yang belum lagi Bapa kata­kan: Sri Baginda Erlangga mele­ceh­kan ajaran, men­jung­kir-balik­kan para dewa Hin-

Du yang kita semua puja, hor­mati dan takuti, kita semua harap­kan karu­ni­a­nya dan takuti mur­ka­nya. Dia­gung­kan­nya Hyang Wisynu seba­gai dewa ter­tinggi dewa kaum petani itu, Dewa Peme­li­hara itu dan karena Hyang Wisynu saja meni­tis pada manu­sia ter­baik di selu­ruh negeri, manu­sia ter­bi­jak­sana di jagad pra­mu­dita dan dengan demi­kian ia sen­diri dapat nya­ta­kan diri titisan Hyang Wisynu. Ya, Bapa Maha­guru, dengan demi­kian dia sen­diri telah dapat meng­ang­kat diri seba­gai seo­rang dewa dengan segala kebe­sar­an­nya, dan meng­ang­kat nenek-moyang­nya yang disu­ka­i­nya, raja-raja ter­da­hulu, juga seba­gai dewa dengan nama-nama Hindu.”

“Kau .... !” Tegah Loh­gawe.

“Bapa Maha­guru meng­hor­mati Sri Erlangga seba­gai pem­ba­ngun agung bagi kemak­muran dan kese­jah­te­raan negeri dan kawula, tapi dir­u­gi­kan­nya kaum brah­mana. Semua teman sahaya ini masih ingat keca­man Bapa atas diri Sri Erlangga seba­gai pen­dang­kal ajaran. Bukan­kah atas perin­tah­nya, Mpu Kanwa menu­lis Arjuna Wiwaha dalam Jawa, dan cuma sadu­ran dari Ara­nya­parwa atau parwa ketiga dari Maha­b­ha­rata? Dan karena parwa itu mirip dengan riwa­yat Sri Baginda sen­diri? Bukan­kah dengan demi­kian baginda telah men­dang­kal­kan kitab agung itu? Bahkan baginda tidak menye­rah­kan tugas itu pada per­tim­bangan kaum brah­mana yang lebih berhak! Masih ing­at­kah Bapa Maha­guru pada ucapan sen­diri: ‘Hendak menan­dingi San­sa­kerta? Itu bahasa Jawa bahasa paria: Kemu­li­aan Maha­b­ha­rata hilang, kedang­kalan meng­gan­ti­kan?’”

Loh­gawe dan teman-teman sepeng­a­jar­an­nya teng­ge­lam dalam pida­to­nya. “Tidak, Bapa Maha­guru, orang tak patut melu­pa­kan­nya. Juga sahaya tidak patut mem­bi­su­kan suatu hal: para brah­mana siapa saja yang pernah sahaya temui, hanya menge­cam-ngecam, menyum­pah dan mengu­tuk. Tak seo­rang pun pernah ber­niat meng­ha­dap Sri Baginda Kre­ta­jaya untuk mem­per­se­m­bah­kan pen­da­pat­nya. Kaum brah­mana itu sen­diri yang sebe­nar­nya tak punya kebe­ra­nian, mereka keta­kutan dan justru keta­kutan sebe­lum ber­buat, keta­kutan untuk ber­buat itu yang menye­bab­kan para brah­mana telah kehi­langan kedu­duk­an­nya selama dua ratus tahun ini. Apa sebab­nya keta­kutan. Bapak Maha­guru? Bukan­kah itu juga pen­da­pat sen­diri? Dan apalah arti­nya menge­ta­hui, ber­pen­da­pat, kemu­dian takut pada­nya? Lihat­lah, ini murid Bapa sudah bicara.”

Loh­gawe menun­duk dengan mata ter­tu­tup menik­mati kefa­sihan mur­id­nya dan buah dari­pada pel­a­jaran yang dibe­ri­kan­nya. Kata-kata itu turun naik, sarat dan kosong, mele­sit tinggi dan jauh menu­kik.

“Pada waktu Sang Hyang Maha­dewa Bat­hara Guru memer­cik­kan peng­er­tian pada manu­sia, pada waktu itu hidup manu­sia dihi­dup­i­nya. Ya, Bapa Maha­guru, maka peng­er­tian adalah hidup, hidup adalah dihi­dupi dan meng­hi­dupi.”

“Cukup,” Dang Hyang Loh­gawe mem­buka mata­nya. “Kau masih sangat, sangat muda. Hatimu berani dan mulutmu lebih berani lagi. Apakah kau, seba­gai akibat dari penge­ta­huan dan pen­da­patmu sang­gup bicara seperti itu juga di hadapan Sri Baginda?”

“Dia yang ter­lalu tinggi di atas sing­ga­sana tidak pernah meli­hat tela­pak kaki­nya. Dia tak pernah ingat, pada tubuh­nya ada bagian yang ber­nama tela­pak kaki. Pen­de­ng­ar­an­nya tidak untuk menang­kap suara desa, juga tidak suara segala yang di bawah tela­pak kaki. Ia hanya deng­ar­kan diri sen­diri. Suara murid Bapa ini takkan sampai kepa­da­nya. Untuk­nya yang paling tepat hanya dijo­lok.”

“Dijo­lok?” Loh­gawe ter­ce­ngang. “Dan akan ber­da­mai dia dengan tela­pak kaki­nya sen­diri.”

Maha­guru itu lambat-lambat ber­diri, ber­ja­lan hati-hati meng­ham­piri mur­id­nya yang masih juga duduk di tem­pat­nya, masih terus meng­ham­bur­kan kata-kata­nya. Ia letak­kan tangan pada bahu pemuda itu. Menu­tup mulut­nya dengan tela­pak tangan, ber­kata pelan:

“Jangan, jangan terus­kan seka­rang. Ada wak­tu­nya kau ucap­kan semua itu di suatu tempat yang lebih baik. Yang kude­ngar bukan lagi keluar dari mulut seo­rang calon brah­mana. Itu lebih patut diu­cap­kan oleh seo­rang calon raja, di medan perang, di medan tikai, kemu­dian di atas sing­ga­sana.”

Semua diam seakan takut ber­ge­rak. Damar itu menyala dengan api tak henti menari-nari ter­kena puputan angin yang mene­ro­bosi din­ding bambu.

“Medan perang, medan tikai dan sing­ga­sana,” Loh­gawe mene­rus­kan. “Tidak sia-sia kube­ri­kan ilmu padamu. Kaulah harapan bagi semua brah­mana.” Ia buka tangan dari mulut mur­id­nya, mele­pas destar pemuda itu, men­cium ubun-ubun­nya. “Dengan api Hyang Bat­hara Guru dalam dadamu, dengan keta­jaman parasyu Hyang Ganesya, dengan keper­ka­saan Hyang Durga Mahi­sa­su­r­a­mar­dini, kaulah Arok4, kaulah pem­ba­ngun ajaran, pem­ba­ngun negeri seka­li­gus. Deng­ar­kan kalian semua, sejak detik ini, dalam kesak­sian Hyang Bat­hara Guru, yang ber­padu dalam Brahma, Syiwa dan Wisynu dengan semua syak­ti­nya, aku turun­kan pada anak ini nama yang akan mem­ba­wa­nya pada kenya­taan seba­gai bagian dari cak­ra­warti. Kenya­taan itu kini masih mem­bara dalam dirimu. Arok namamu.”

Semua murid meng­ang­kat sembah.

Malam itu acara ditu­tup dengan samadhi. Dang Hyang Loh­gawe mening­gal­kan tempat bel­a­jar, mema­suki malam.

Semua murid kini menge­pung Arok. Seje­nak ia masih belum bisa bicara. Kemu­dian keluar bisik­an­nya:

“Salah seo­rang di antara kalian berang­kat besok pagi-pagi benar ke Kapun­dungan. Dalam bebe­rapa hari ini Bapa Maha­guru akan masih memer­lu­kan aku. Tak dapat aku pergi mening­gal­kan­nya. Sam­pai­kan pada mereka untuk tetap bekerja selama aku tidak ada. Dan hati-hati. Nah, tidur­lah!”

Ia ting­gal seo­rang diri. Diam­bil­nya bung­kusan rontal hadiah dari Loh­gawe. Dibu­ka­nya bung­kus dari kain hitam itu. Tetap ia belum punya selera untuk mem­ba­ca­nya. Ia masih juga tak dapat meru­mus­kan pera­saan apa sedang meng­ge­lom­bang dalam dada­nya. Nama yang dibe­ri­kan pada­nya adalah tanda lulus setinggi-ting­gi­nya. Untuk men­da­pat peng­a­kuan dari Dewan untuk men­jadi seo­rang brah­mana, ia ting­gal meminta pada Loh­gawe untuk diha­dap­kan. Apa kemu­dian sete­lah jadi brah­mana? Ia ter­lalu muda untuk itu. Apa yang bisa dica­pai seo­rang brah­mana? Akan seperti yang lain-lain, hanya menge­cam-ngecam Erlangga sampai Kre­ta­jaya dan tidak bisa ber­buat apa-apa?

Saat lulus yang tak diduga-duga itu seakan mem­bi­kin­nya kehi­langan mata arah.

Ia angkat rontal itu, tetapi mata­nya meno­lak mem­ba­ca­nya. Dan masih ter­de­ngar-dengar bisikan pelahan guru­nya: “Sejak ini kau boleh pergi dan datang, boleh mening­gal­kan aku untuk semen­tara atau selama-lama­nya. Hanya pin­taku, ting­gal­lah kau dalam bebe­rapa hari ini ber­sama deng­anku.”

Boleh jadi ia masih hendak men­de­ng­ar­kan pen­da­patku ten­tang rontal ini.

Dan dengan demi­kian ia mulai mem­baca. Tulisan setum­puk itu adalah catatan Tan­tri­pala, guru­nya yang per­tama, ten­tang dir­i­nya.

Isi catatan itu lebih kurang seba­gai ber­i­kut:

Pada suatu sore yang suram dengan geri­mis tipis datang ke per­gu­r­uan Tan­tri­pala dua orang bocah, Temu dan Tanca. Guru itu ber­ta­nya:

“Siapa yang menyu­ruh kalian bel­a­jar kemari’” “Bapa Bango Sam­pa­ran.”5

Siapa tidak menge­nal nama Bango Sam­pa­ran? Seo­rang pen­judi yang lebih sering dite­mu­kan di tempat per­ju­dian dari­pada di rumah? Seo­rang pen­judi yang mengir­im­kan bocah-bocah untuk bel­a­jar!

Dari penge­li­hatan seki­las ia segera ter­ta­rik pada Temu. Ia seo­rang yang lincah, cerdas, mata­nya jernih meman­car, hanya tak bisa tenang. Teman­nya, Tanca, seba­lik­nya, seo­rang yang tenang, juga cerdas, hanya tidak lincah, lebih tepat dapat dika­ta­kan lamban.

Dalam tiga bulan dua-duanya telah bisa baca tulis dan mulai mem­pel­a­jari para­ma­sas­tra Jawa.

Kecer­dasan mereka menye­bab­kan Tan­tri­pala ingin tahu ten­tang orang­tua mereka. Bango Sam­pa­ran dipang­gil. Tanca adalah anak petani biasa, yang turun-temu­run ting­gal di desa Karang­k­setra. Hanya Temu yang tidak jelas siapa orang­tu­a­nya.6

Seta­hun kemu­dian Temu mening­gal­kan Tanca dalam pel­a­jaran, karena Tan­tri­pala meng­ang­gap­nya telah cukup kuat untuk mem­pel­a­jari San­sa­kerta. Ter­nyata anak itu mem­pu­nyai sema­ngat tinggi dalam bel­a­jar. Ing­atan dan kecer­das­an­nya mele­bihi dari­pada yang didu­ga­nya. Sekali lagi ia pang­gil Bango Sam­pa­ran, bagai­mana cerita sesung­guh­nya ten­tang asal anak itu.

Bango Sam­pa­ran meng­u­langi ceri­ta­nya yang dulu.

“Bagai­mana anak ini sampai men­jadi anak-pung­utmu?”

Sampai pada bagian itu Arok ter­se­nyum. Ia sing­kir­kan rontal! Itu dan meleng­kap­i­nya dengan ing­at­an­nya sen­diri ....

Dengan serom­bongan anak-anak desa Ran­du­a­las mereka melin­tangi jalanan dengan batang-batang pisang. Sebuah kereta Tuma­pel dalam penga­walan pra­ju­rit ber­kuda ter­henti di depan batang-batang lin­tangan itu. Rom­bongan itu ragu-ragu untuk menye­rang, walau mereka tahu, kereta ter­tu­tup dengan penga­walan demi­kian selalu mem­bawa upeti emas dan perak ke Kediri.

Keragu-raguan meng­a­ki­bat­kan penye­rangan itu gagal. Anak-anak itu ter­paksa buyar mela­ri­kan diri, mela­lui jalan-jalan yang tak dapat ditem­puh oleh kuda. Juga Temu mela­ri­kan diri, ke jurusan barat. Ia mem­pu­nyai susunan otot kuat, dan paru-paru lebih kuat lagi.

Ia masih dapat mem­ba­yang­kan dengan jelas saat itu. Ia lari mema­suki desa Karang­k­setra. Napas­nya sudah hampir putus waktu ia tiba di sebuah ladang. Lima orang bapak-ber­a­nak dili­hat­nya sedang men­cang­kul. Di bela­kang­nya suara pra­ju­rit-pra­ju­rit itu ramai ber­so­rak menyu­ruh pen­du­duk mem­bantu menang­kap­nya. Mema­suki desa ini ia pasti ter­tang­kap bila mereka dibantu bera­mai-ramai. Ia meli­hat seba­tang pacul yang ber­diri tak diper­gu­na­kan. Cepat ia ambil dan mulai ikut men­cang­kul. Suara sorak para pra­ju­rit itu sema­kin men­de­kat. Bapak dan empat orang anak­nya mem­per­ha­ti­kan­nya, meng­erti apa yang sedang ter­jadi, dan mene­rus­kan peker­jaan mereka seakan tiada ter­jadi sesu­atu pun. “Ya, kerja saja tenang-tenang,” kata bapak itu. Ia men­cang­kul dengan irama ayunan seperti yang lain-lain. Para pra­ju­rit penge­jar itu mema­suki ladang dan meme­riksa mereka ber­e­nam, ber­ta­nya pada bapak itu: “Siapa saja semua ini?”

“Anakku semua,” jawab­nya, kemu­dian menu­ding ke jurusan rumah, “dan itu rumahku.”

Para pra­ju­rit penge­jar itu mene­rus­kan pem­bu­r­u­an­nya dan tak kem­bali lagi.

Tak lama kemu­dian datang seo­rang anak memi­kul air.

“Kalau dia tidak aku suruh pergi meng­am­bil air,” kata bapak itu,” tak mung­kin kau ikut men­cang­kul. Semes­ti­nya di sini juga kau tadi ter­tang­kap.”

“Teri­ma­ka­sih, Bapak.”

Sejak itu ia diam­bil anak pungut oleh Ki Bango Sam­pa­ran Ia mulai mem­baca lagi. Kete­rangan ayah pung­ut­nya terasa agak ber­beda dari­pada yang dia­lam­i­nya sen­diri. Dalam catatan Tan­tri­pala itu tidak dida­pat­kan kete­rangan sete­lah anak yang disu­ruh meng­am­bil air itu meng­a­jak ber­ke­nalan. Ia ingat betul kata-kata Ki Bango Sam­pa­ran waktu itu:

“Pra­ju­rit-pra­ju­rit itu! Ker­ja­nya hanya mem­buru-buru kita, meng­an­cam kita yang ter­lam­bat menye­rah­kan upeti. Meng­apa kau dike­jar mereka?”

Ia men­ce­ri­ta­kan duduk per­ka­ra­nya.

“Betul, emas dan perak dalam kereta itu kita semua yang punya. Tidak ada salah­nya kalau kita meng­am­bil­nya kem­bali. Hanya tidak patut kalau dima­kan sen­diri. Per­bu­atan itu akan men­jadi sama dengan per­bu­atan mereka.”

Ia angkat mata­nya dan mena­tap wajah Ki Bango Sam­pa­ran. Ia senang men­de­ngar seo­rang tua yang mem­be­nar­kan tin­dak­an­nya. Selama ini pra­ju­rit-pra­ju­rit Tuma­pel menge­jar­nya, orang-orang lain menge­cam, anak-anak lain men­ja­uhi, meng­ang­gap diri dan teman-teman­nya seba­gai: bran­dalan. Orang tua yang seo­rang ini mem­be­nar­kan! Tentu punya alasan.

Hampir-hampir ia ber­ta­nya kalau bukan Ki Bango Sam­pa­ran men­da­hu­lui dengan seru­an­nya:

“Jagad Pra­mu­dita! Mata apakah yang sedang meman­dang padaku seka­rang ini?” Ki Bango Sam­pa­ran men­de­kat­i­nya dan mem­per­ha­ti­kan mata­nya. Kemu­dian: “Ini bukan mata sem­ba­rang mata!”

Disu­r­uh­nya semua anak­nya mene­rus­kan peker­jaan dan ia diba­wa­nya pulang.

“Ten­tu­nya kau lapar sete­lah lari-lari sejauh itu.”

Istri Ki Bango Sam­pa­ran. Yang kemu­dian jadi ibu pung­ut­nya men­ja­mu­nya. Ia makan dengan lahap, dan dua orang itu mem­per­ha­ti­kan dengan gem­bira.

Sete­lah itu ter­jadi tanya­ja­wab:

“Siapa namamu?”

“Orang memang­gil sahaya si Temu.’”

“Meng­apa orang memang­gilmu si Temu? Bagai­mana orang­tu­amu memang­gil?”

“Tidak pernah.”

“Tidak pernah?”

“Tak ada yang tahu siapa orang­tua sahaya. Sahaya sen­diri pun tidak tahu.”

“Jagad Pra­mu­dita! Anak seca­kap ini, dengan mata ber­si­nar seperti ini. Jagad Pra­mu­dita! Para dewa telah mengir­im­kan anak ini kepada kita, Nyi,” kata­nya pada istri­nya. “Siapa tahu dia putra tung­gal Hyang Brahma sen­diri?”

Ia masih ingat Ki Bango Sam­pa­ran ber­diri di hadap­an­nya dan menga­gum­i­nya. Pada waktu itu muncul seo­rang gadis kecil. Dan istri Bango Sam­pa­ran menga­ta­kan pada­nya:

“Nah, ini kau men­da­pat abang baru. Temu nama­nya. Nah, Temu, ini sau­da­ramu yang bungsu, si Umang.”

Memang semua itu tidak ditu­lis oleh Tan­tri­pala, ia tidak menge­ta­hui. Mung­kin juga diang­gap­nya tidak pen­ting. Dalam rontal itu dise­but­kan bekas guru­nya telah ber­ta­hun-tahun men­cari kete­rangan siapa sesung­guh­nya dir­i­nya, dan tidak pernah ber­ha­sil. Ia sen­diri pernah dita­nyai lang­sung, dan ia tidak mem­be­ri­kan sesu­atu pada­nya. Biar­lah orang hanya tahu sampai pada anak-pungut Ki Bango Sam­pa­ran.

Tulisan Tan­tri­pala itu tiba-tiba menim­bul­kan pera­saan teri­ma­ka­sih yang men­da­lam pada orang­tua pungut itu. Dan ia ber­janji pada suatu kali akan mem­ba­las semua keba­ik­an­nya. Juga pada semua sau­dara pung­ut­nya, juga pada Umang si gadis kecil yang suka mele­bih­kan jatah makan­nya.

Ia ter­se­nyum. Barang­kali anak itu kini sudah mulai dewasa. Umang! Begitu sakit-sakitan ia dulu semasa kecil.

Dan ia ingat betul hari per­tama ia ting­gal di rumah kelu­arga itu. Umang masih menung­gu­i­nya waktu Bango Sam­pa­ran datang pada­nya dan ber­kata:

“Semoga kau memang putra tung­gal Hyang Brahma. Sini, biar berun­tung aku hari ini,” dan dici­um­nya ubun-ubun­nya.

Kee­sokan hari­nya Ki Bango datang di tempat ker­ja­nya di ladang, lang­sung meme­luk­nya dan men­cium ubun-ubun­nya, ber­seru:

“Brah­ma­putra, ya, Brah­ma­putra!” Ia sor­ong­kan pada geng­gam­an­nya lima buah mata uang perak dari masing-masing satu catak, kemu­dian ber­ja­lan ber­ge­gas pulang.

Dari sau­dara-sau­dara pung­ut­nya ia meng­erti, Ki Bango Sam­pa­ran adalah seo­rang pemain dadu.

Apa arti­nya lima catak untuk­nya? Ia bisa meme­gang dan memi­l­iki ratusan kali jumlah itu. Yang lima catak itu ia bagi­kan pada sau­dara-sau­da­ra­nya. Dan mereka mene­ri­ma­nya tidak dengan wajah gem­bira. Bahkan yang tertua dengan nada protes ber­su­ngut:

“Apa sebab­nya catak ini datang ke tangan kami mela­lui tanganmu?”

Pada waktu itu juga ia meng­erti mereka cem­buru pada kasih bapak mereka kepada dir­i­nya, seo­rang pen­da­tang yang tak menentu asal­nya. Dan ia ber­janji pada dir­i­nya sen­diri, tidak akan mela­ku­kan­nya lagi.

Ber­ta­hun-tahun ia ting­gal pada kelu­arga itu. Setiap hari ia bekerja ber­sama sau­dara-sau­da­ra­nya. Bila Ki Bango Sam­pa­ran pergi, ia pun pergi, mengum­pul­kan teman-teman­nya di desa Karang­k­setra. Kem­bali ia memim­pin mereka mela­ku­kan gang­guan di pusat-pusat pengum­pulan dana negeri Tuma­pel, mem­per­sen­ja­tai baris­an­nya, dan mem­ba­ngun­kan dana sen­diri, dengan Tanca seba­gai pengu­rus­nya.

Ber­ta­hun-tahun? Berapa tahun? Tidak lebih dari tiga. Dan cem­buru sau­dara-sau­dara mening­kat jadi tiga kali. Ki Bango Sam­pa­ran sema­kin sayang pada­nya, hampir tak lagi turun ke sawah atau ladang, men­jadi bandar dadu, dan selalu mem­bawa pulang keme­nangan.

Sema­kin banyak yang dite­ri­ma­nya, dan dengan sem­bu­nyi-sem­bu­nyi dibe­ri­kan­nya pada Umang.

“Biar aku sim­pan­kan untuk Kakang,” sam­but­nya selalu.

“Buat apa aku? Untuk kau sen­diri.”

Dengan diam-diam Umang menyim­pan­nya untuk dir­i­nya. Dan ia sema­kin ter­pi­kat pada budi baha­sa­nya yang manis tanpa pamrih. Sayang dia tidak rupa­wan, sering ia menye­sali Umang.

Cem­buru sau­dara-sau­da­ra­nya kemu­dian pecah men­jadi keben­cian waktu mereka mene­mu­kan sim­panan Umang dan mulai meme­rik­sa­nya. Dengan mena­ngis gadis itu meng­adu pada Nyi Bango Sam­pa­ran, meng­a­kui itu milik Temu yang disim­pan­kan­nya. Seka­rang giliran datang pada­nya dipe­riksa mereka, dari mana catak seba­nyak itu.

“Kami tahu, kau datang kemari hanya badan ber­la­pis selem­bar cawat. Kau curi dari mana harta seba­nyak ini?”

“Jangan kata­kan aku men­curi.”

“Banyak orang men­duga kau pen­curi. Banyak pen­cu­r­ian ter­jadi. Biar­pun tidak ter­tang­kap, kami tahu kau sering pergi malam.”

“Sayang kalian sau­dara-sau­da­raku ...”

“Apa yang disa­yang­kan? Kami tak pernah menya­yangi pen­curi. Tak pernah kami ceri­ta­kan pada siapa pun kau pernah meram­pok kereta upeti. Tak perlu kau sayangi kami. Seki­ra­nya kami tidak meng­i­ngat bapak kami, pra­ju­rit Tuma­pel akan datang mem­be­kuk kau. Sudah sejak per­tama kali kau datang!”

Ki Bango Sam­pa­ran yang pulang dari dadu mene­ngahi:

“Ada apa ini ramai-ramai?”

Anak-anak­nya meng­adu. Ki Bango Sam­pa­ran yang menye­dari, ia lebih menga­sihi Temu, tak dapat menga­ta­kan semua itu ber­a­sal dari hadi­ah­nya. Dan Temu dapat meng­erti sepe­nuh­nya.

Meli­hat kete­nangan, pem­bi­suan hanya pan­dang mata ter­tuju pada­nya, dan suara sayup dari sedan Umang, ia meng­ang­kat sembah pada ayah ang­kat­nya dan ber­mo­hon diri untuk pergi mening­gal­kan mereka

“Kau hendak ke mana, Temu?” Tanya Nyi Bango Sam­pa­ran.

“Ya, Mak, anakmu ini datang kemari tanpa asal. Apalah salah pergi juga ke mana saja tanpa tujuan?”

Ki Bango Sam­pa­ran tak mampu bicara. Umang men­je­rit dan meng­ham­pir­i­nya:

“Kalau Kakang pergi, bawalah sahaya.”

“Kau masih kecil, Umang,” tegah ibunya.

“Deng­ar­kan, Umang, jangan ikuti aku. Kau masih kecil. Sim­panan itu adalah mil­ikmu, Umang. Tak ada yang berhak selain kau. Barang-barang itu bukan dari curian, tapi dari pem­be­rian seo­rang yang menga­sihi Kakang.”

Ia menyem­bah Ki Bango dan istri­nya, kemu­dian mening­gal­kan rumah itu seba­gai­mana tiga tahun yang lalu ia datang.

“Temu, jangan pergi dulu!”

Ia ber­ba­lik dan meng­ham­piri ayah pung­ut­nya. Dengan sopan ia ber­diri mengapur­an­cang.

“Barang­kali para dewa telah menen­tu­kan kau harus pergi dari sini. Kau seo­rang anak yang cerdas, lincah, pandai dan ing­at­anmu sem­purna. Biar aku tulis­kan surat.” Ia menu­lis sampai tiga lembar rontal. “Per­gi­lah kau pada Bapa Tan­tri­pala di desa Kapun­dungan. Bel­a­jar­lah kau baik-baik di sana. Kau seo­rang tani. Itu kau jangan lupa. Biar kau sudah dibe­nar­kan Bapa Tan­tri­pala untuk mening­gal­kan rumah­nya, kau harus selalu ingat: kau seo­rang tani.”

Untuk ter­a­khir kali ia dibuka des­tar­nya dan dicium ubun-ubun­nya.

Belum lagi jauh Umang telah ter­le­pas dari pegangan dan mem­bu­ru­nya. Ia ber­henti untuk menyam­but­nya. “Umang!”

Ia merang­kul­nya, dan terus mena­ngis, minta dibawa ikut. “Umang, mari aku antar­kan pulang. Pada suatu kali aku akan kem­bali men­da­pat­kan kau. Per­ca­ya­lah.”

“Aku ikut.”

“Kakang bilang: tidak. Apakah Kakang pernah ber­bo­hong padamu? Mari pulang, dan jangan pikir­kan aku Pada suatu kali aku akan datang.”

“Aku ikut”

“Kalau kau tak mau deng­ar­kan, tidak ada guna­nya aku datang lagi nanti. Kau deng­ar­kan atau tidak?” Ia meng­ang­guk dan masih mena­ngis.

Temu meng­gan­deng mem­ba­wa­nya pulang, menye­rah­kan­nya pada orang­tu­a­nya, kemu­dian ia pergi, dii­ring­kan oleh tangis pilu gadis Umang ....

Anak itu mung­kin sudah besar dan sudah melu­pa­kan aku, pikir­nya. Ia pan­dangi keli­ling­nya, ber­diri, meniup mati damar, dan menyu­sul teman-teman­nya di pondok. Ia lihat mereka telah tidur nye­nyak dengan nafas ber­sa­hut-sahutan. Ia letak­kan rontal hadiah itu di atas bantal, kemu­dian mere­bah­kan diri juga.

Seba­gai teri­ma­ka­sih batin pada Dang Hyang Loh­gawe sisa dari malam ini hendak diper­gu­na­kan­nya untuk menge­nang­kan kem­bali masa silam­nya. Tan­tri­pala tidak mung­kin dapat meleng­kap­i­nya. Hanya dir­i­nya sen­diri yang mung­kin, dan dengan demi­kian mem­per­ba­iki yang kurang patut dan mening­kat­kan apa yang diang­gap­nya telah tepat.

Ia tam­pil­kan kem­bali Umang pada mata batin­nya. Meng­apa anak itu lebih menga­sih­i­nya dari­pada sau­dara-sau­da­ra­nya sen­diri? Meng­apa dia selalu mela­ku­kan segala yang bisa men­da­tang­kan kese­nang­an­nya? Adakah secara nalu­r­iah dia telah men­cin­ta­i­nya sejak semula?

Ia tidak pernah menge­nal cinta. Pada teman-teman­nya ia men­da­pat kese­ti­aan. Dari orang-orang yang lebih tua tidak pernah. Ki Bango Sam­pa­ran dan istri menga­sih­i­nya. Tetapi Umang! Kasih atau cin­ta­kah yang dita­bur­kan­nya pada dir­i­nya?

Ia ber­janji pada suatu kali untuk mene­mu­i­nya dan mem­per­tim­bang­kan sekali lagi bagai­mana seha­rus­nya ia ber­laku ter­ha­dap dia.

Kemu­dian Tanca ditam­pil­kan­nya pada mata batin­nya.

Sete­lah mening­gal­kan rumah Bango Sam­pa­ran ia pergi ke sawah. Dida­pat­i­nya Tanca sedang mem­per­si­ap­kan sawah ayah­nya men­je­lang peng­hu­jan itu:

“Tanca, aku akan ting­gal­kan Karang­k­setra ini.”

“Aku ikut deng­anmu.”

“Kau harus mem­bantu kelu­ar­gamu.”

“Ter­se­rah padamu bagai­mana aku harus mem­bantu, tetapi aku ikut deng­anmu. Ke mana kau hendak pergi?”

“Bapa Bango Sam­pa­ran menyu­ruh aku bel­a­jar, pada Bapa Tan­tri­pala di Kapun­dungan.”

“Kalau begitu aku ikut deng­anmu.”

“Kau punya orang­tua, min­ta­lah res­tu­nya.”

Ia naik ke pema­tang, meng­ang­kat pacul dan berang­kat pulang.

“Kau mau ke mana seka­rang?” Tanya­nya meli­hat Temu tidak mene­man­i­nya pulang.

“Mene­mui teman-teman. Aku susul kau nanti.”

Siang itu teman-teman­nya di Karang­k­setra menge­pung­nya. Dan ia mem­be­ri­kan nasi­hat agar tetap ber­se­tia-sekata seperti semula. Ia akan beri­kan petun­juk dari Kapun­dungan, dan dimin­ta­nya semua saja mem­bantu ayah Tanca, karena Tanca akan diba­wa­nya pergi bel­a­jar.

Di rumah Tanca ia dapat­kan teman­nya telah siap dengan bawa­an­nya. Orang­tu­a­nya sangat gem­bira anak­nya punya kei­ng­inan hendak bel­a­jar pada guru Tan­tri­pala. Ia senang meli­hat teman­nya dile­pas dengan rela dan restu.

Di tengah per­ja­lanan ke desa Kapun­dungan Tanca mem­per­li­hat­kan dua catak perak pesa­ngon dari orang­tu­a­nya. Ia sen­diri men­da­pat pesa­ngon rontal. Kemu­dian dibi­ca­ra­kan harta benda milik ber­sama yang disim­pan dalam sebuah gua di hutan.

“Barang-barang itu takkan mung­kin pindah tempat. Kecu­ali bila ada yang ber­khi­a­nat.”

Kemu­dian mereka ter­diam, mem­ba­yang-bayang­kan peng­a­laman bel­a­jar yang bakal datang.

“Ki Bango Sam­pa­ran benar, dia kirim­kan aku pada Bapa Tan­tri­pala.”

“Aku pun benar, meng­i­kuti kau bel­a­jar”

“Ya, kita harus bel­a­jar, Tanca. Kalau tidak, kita akan begini-begini saja.”

“Kita harus bisa tan­dingi mereka.”

“Bukan, kalah­kan.”

“Kalah­kan? Bisa­kah kita kalah­kan mereka?”

“Bukan­kah kita sudah sering menga­lah­kan mereka?”

“Mereka tak pernah kalah, hanya kehi­langan.”

“Kita pun tak pernah kalah, tapi men­da­pat.”

“Tapi kita belum pernah kalah­kan mereka.”

“Kita sering kalah­kan mereka. Hanya mereka ter­lalu banyak dan kita ter­lalu sedi­kit. Keku­atan mereka tak habis-habis­nya, dan kita ter­ba­tas. Maka kita akan bel­a­jar, Tanca. Kemu­dian kita akan tahu lebih banyak, menga­lah­kan lebih gemi­l­ang.”

“Kalau kau menang, kau akan jadi raja, Temu?”

“Kau akan jadi patihku.”

“Selama ini aku telah jadi patihmu.” Temu ter­tawa ter­ba­hak. Juga Tanca. Kemu­dian: “Hanya kecil-kecilan, Tanca.”

“Jadi kita bel­a­jar untuk bisa besar-besaran?” Sekali lagi Temu ter­ba­hak tawa, kemu­dian lari men­da­hu­lui. Dan Tanca lari meng­i­kuti, seperti tumit­nya sen­diri ....

Ia mene­ngok untuk meli­hat Tanca. Dari sinar pelita itu ia lihat pemuda itu tidur dengan mulut dan tapuk mata sete­ngah ter­buka. Betapa jelek kau kalau tidur seperti itu. Ia tutup­kan selem­bar kain pada mulut­nya. Nah, begitu kau keli­hatan lebih patut. Ia bisik­kan pada teli­nga­nya:

“Patih Tanca. Aku perin­tah­kan padamu untuk ber­temu dengan Ki Bango Sam­pa­ran, dan per­se­m­bah­kan padaku bagai­mana kea­da­an­nya, dan Nyi Bango, dan Umang.” Ia ter­se­nyum-senyum kem­bali ke ambin­nya. Kemu­dian mene­rus­kan tin­jau­an­nya pada masa lalu­nya:

Sejak ber­temu per­tama kali ia tahu Bapa Tan­tri­pala jatuh kasih pada­nya. Mata itu! Ia sering dengar guru itu menye­but. Juga Bango Sam­pa­ran kasih pada­nya sejak pan­dang per­tama karena mata­nya. Untuk per­tama kali pula dalam hidup­nya di Kapun­dungan ia meli­hat wajah­nya pada cermin perak, dida­pat­nya dari penyer­buan pada seo­rang sau­da­gar yang sedang menin­jau kelu­ar­ga­nya di desa itu. Orang itu datang dari Tuban, pergi ke Gresik, memu­diki Bran­tas mela­lui Porong Erlangga7. Ia per­ha­ti­kan mata­nya, dan ia lihat memang ber­beda dari yang lain-lain. Teleng­nya besar dan ber­si­nar-sinar.

Dalam per­gu­r­uan ini ia ting­gal­kan semua teman­nya. Tan­tri­pala tak meng­erti apa harus dia­jar­kan­nya lagi pada­nya. Pada suatu kali untuk menya­ta­kan kasih­nya, guru itu mem­ba­wa­nya masuk ke hutan. Di sana secara raha­sia ia ajar ten­tang atman dan brah­man, bagai­mana men­ca­pai kea­daan nir­wi­kana8, bagai­mana men­ja­lan­kan yoga tantri untuk men­da­pat­kan siddhi9, dia­wali dengan sumpah untuk tidak akan menyam­pai­kan pada siapa pun, dan kete­rangan: “Aku adalah tantri memang ber­a­sal dari yogin Sam­ya­na­tera barang dua ratus tahun yang lalu. Kaum brah­mana dari aliran lama di Jawa pada umum­nya menen­tang Buddha ter­ma­suk yoga dan tantri, aku meng­ang­gap­nya seba­gai ilmu yang bisa dipel­a­jari dan diper­gu­na­kan. Tetapi aku tak mau ber­ti­kai dengan para brah­mana lain, maka tak perlu dike­ta­hui mereka. Tetapi untukmu, kau, pemuda penuh harapan, boleh jadi kau mem­bu­tuh­kan untuk pesa­ngon hidupmu. Kau lebih tepat mere­but tempat dalam kasta satria. Erlangga pernah men­ja­tuh­kan titah: tri­wangsa bukan hanya diten­tu­kan oleh para dewa, juga manu­sia bisa mela­ku­kan per­pin­dahan kasta karena dhar­ma­nya, sudra bisa jadi satria, sudra bisa jadi brah­mana. Sejak itu tri­wangsa sudah tidak murni lagi. Aku sen­diri seo­rang brah­mana bukan karena ketu­runan, tapi karena ilmuku. Dan kau, Temu, kau bisa jadi satria karena kemam­pu­anmu. Ting­kah lakumu bukan lazim pada seo­rang sudra, tapi satria. Matamu bukan mata satria, tapi brah­mana. Kau patut men­da­pat keleng­kapan secu­kup­nya.”

Hari per­tama itu ia diajar mela­ku­kan darana10 dengan pan­dang mata­nya, sampai pada prat­ya­h­ara11 ber­la­tih seka­li­gus pra­na­yama12 untuk men­ca­pai ekag­rata13 pan­dang, seperti dalam cerita sewaktu Arjuna mem­bi­dik dengan anak panah­nya.

Di luar dugaan Tan­tri­pala, hanya dalam tiga kali latihan Temu telah ber­ha­sil.

“Temu,” seru­nya, “dengan kemam­puan seperti ini, pan­dangmu akan mengu­a­sai manu­sia dan benda.”

Dan dimu­lai­lah ia meng­a­jar­kan mema­suk­kan cipta dan karsa dalam ekag­rata. Ia menye­dari betapa dengan latih­an­nya itu benda-benda ber­ge­rak atas cipta dan beru­bah bentuk menu­rut kar­sa­nya.14

Tan­tri­pala ter­pa­ku­kan pada tanah meli­hat itu. Tiga tahun ia baru ber­ha­sil melak­sa­nakan. Mur­id­nya ini hanya dalam seminggu. Ia peluk mur­id­nya, menye­but:

“Jagad Dewa!, pim­pin­lah anak ini. Dia akan men­ca­pai segala yang diim­pi­kan­nya. Dia akan men­jadi maha­sid­dha15. Hanya Eng­kau­lah yang bisa mem­beri petun­juk. Kalau kau biar­kan dia tumbuh tanpa petun­jukMu, dia akan jadi pen­ja­hat yang memu­nah­kan kema­nu­si­aan.”

Tan­tri­pala tak berani memim­pin­nya lebih lanjut untuk men­jadi maha­sid­dha. Tang­gung­ja­wab­nya seba­gai guru ter­lalu berat. Ia kirim­kan Temu pada Dang Hyang Loh­gawe.

Dan Loh­gawe tidak memim­pin­nya men­jadi maha­sid­dha. Ia mem­ba­wa­nya ke jalan ke arah brah­mana ....

Sebe­lum menyu­r­uh­nya pergi sekali lagi ia dibawa ke hutan, meng­a­jar, mewe­jang dan ber­pe­san:

“Dahulu kala sebe­lum ada Erlangga, sebe­lum ada Sri Dhar­ma­wangsa,” ia mulai bicara ten­tang seja­rah seba­gai kesu­kaan kaum brah­mana pada umum­nya, “pada awal abad tujuh Saka, karena tak kuat mena­han serangan Sri­wi­jaya, Sai­len­dra mela­ri­kan diri ke Jawa dan melin­dung­kan diri pada Sri Baginda Sun­naha dari Mata­ram. Sai­len­dra pela­rian itu men­da­pat dari Sri Baginda Sun­naha keku­a­saan atas bumi bagian timur Mata­ram. Sun­naha digan­ti­kan oleh San­jaya, dan San­jaya oleh Pan­cap­ana Rakai Panang­karan. Pada waktu itu Mata­ram telah diku­a­sai oleh Sai­len­dra. Pan­cap­ana Rakai Panang­karan seka­rang men­jadi tak­lu­kan, dan oleh Sri Baginda Indra dari wangsa Sai­len­dra, yang ber­a­gama Buddha itu, dipe­rin­tah­kan mem­ba­ngun candi-candi Buddha. Di antara yang diba­ngun­kan­nya adalah candi Kalasan16 untuk memu­li­a­kan Hyang Dewi Tara.

“Tentu kau tidak kenal siapa Hyang Dewi Tara. Kau tidak menge­nal agama Buddha, Maha­yana, Tan­tra­yana dan Yoga. Dia adalah Dewi Kesak­tian peng­a­nut Buddha dari Tan­tra­yana dan Yoga. Setiap dela­pan tahun sekali semua dari setiap yogin dan yogini, para maha­sid­dha, datang dari segala pen­juru, darat dan pulau, untuk memu­li­a­kan. Dewi Tara adalah lam­bang juga bagi keme­nangan Buddha atas Syiwa Mata­ram. Mereka menang dengan per­to­longan para maha­sid­dha.

“Aku tidak mem­benci peng­i­kut Buddha, apa­lagi ajar­an­nya, bahkan yoga­nya, tan­tri­nya, aku pel­a­jari. Karena itu, sebe­lum kau pindah bel­a­jar, aku ber­pe­san dua hal padamu: per­tama, pada suatu kali dalam hidupmu, bila kau men­jadi yogin atau maha­sid­dha, ber­kun­jung­lah ke Kalasan untuk memu­li­a­kan Dewi Tara. Kedua, pel­a­jari betul Yama.17 Dang Hyang Loh­gawe akan mem­ban­tumu.”

Sudah lama ia menyang­si­kan, kini kata-kata penu­tup itu meya­kin­kan­nya: Tan­tri­pala adalah seo­rang Buddha yang tak mem­per­li­hat­kan kebud­dha­an­nya. Ucapan itu juga men­je­las­kan pada­nya ia sudah mele­wati pen­di­dikan can­trik, mang­ayu. Jejang­gan, ulu­gun­tung. Kini ia sudah sampai pada ting­kat cikil, ting­kat kelima dalam tata pen­di­dikan. Di atas­nya masih ada tiga ting­kat lagi: wasi, resi dan baga­wan. Mene­rus­kan bel­a­jar pada Dang Hyang Loh­gawe ber­arti ia akan men­ca­pai ting­kat wasi.

Juga Dang Hyang Loh­gawe sudah pada hari per­tama ter­pe­sona oleh mata­nya. Dan semua per­ta­nyaan Maha­guru ten­tang dir­i­nya ia jawab, kecu­ali dua hal, yoga dari Tan­tri­pala dan masa kecil­nya. Boleh jadi Maha­guru yang tinggi per­a­dab­an­nya itu akan meng­u­sir­nya bila menge­ta­hu­i­nya.

Sampai di situ Arok menyim­pul­kan: tidak semua kebe­naran dan kenya­taan perlu dika­ta­kan pada sese­o­rang atau pada siapa pun. Peng­u­siran seo­rang guru tidak akan mem­be­ri­nya sesu­atu keba­ikan. Bahwa haus ilmu dira­sa­kan­nya sei­rama dengan haus kea­dilan, kasih dan sayang. Dan betapa ia haus akan kasih sayang itu!

Seba­gai pel­a­jar ia ikut meng­ga­rap ladang dan sawah untuk peng­hi­dup­an­nya. Di waktu seng­gang ia pimpin teman-teman­nya yang dulu di Karang­k­setra, Kapun­dungan dan juga seka­rang di Pang­kur.

Bila men­da­pat kesem­patan menyen­diri ia terus­kan mela­tih ilmu dari Tan­tri­pala. Ia tahu, dengan ilmu itu ia dapat mengu­a­sai siapa saja, bukan seke­dar mem­pe­nga­ruhi. Tetapi waktu dike­ta­hu­i­nya latihan-latihan meru­gi­kan kecer­das­an­nya, ia ter­paksa meng­hen­ti­kan­nya. Tan­tri­pala pernah meng­a­jar­kan: karu­nia ter­be­sar yang paling dii­ng­in­kan manu­sia dari para dewa ialah keku­atan mengu­a­sai dan mem­pe­nga­ruhi sesa­ma­nya; dengan karu­nia itu orang akan men­da­pat segala dalam hidup­nya. Untuk men­jaga agar para dewa tidak men­ca­but kem­bali keku­atan itu, manu­sia harus sujud pada Hyang Yama.

Tan­tri­pala kurang betul, ia yakin­kan dir­i­nya untuk ke sekian kali. Keku­atan yang dimak­sud­kan itu masih rapuh kalau yang memi­l­iki tidak ber­pe­nge­ta­huan seperti Tung­gul Ame­tung. Dan tak ada daya yang dapat memaksa sese­o­rang untuk ber­su­jud kepada Yama kalau dia telah begitu besar daya­nya, mung­kin Yama-lah yang kemu­dian ditak­luk­kan­nya.

Kesim­pul­an­nya sudah tak dapat diu­bah­nya lagi: ia akan tetap bel­a­jar untuk tidak ter­lalu banyak mela­ku­kan keke­li­ruan, baik ter­ha­dap para dewa maupun manu­sia.

Dan ia terus bel­a­jar pada Dang Hyang Loh­gawe. Guru­nya bukan seo­rang maha­sid­dha, seo­rang yang meno­lak segala yang ber­si­fat Buddha, ia mem­per­tim­bang­kan segala ber­da­sar­kan ilmu dan penge­ta­huan yang diku­a­sa­i­nya. Maha­guru itu juga mena­ruh kasih pada­nya karena kecer­das­an­nya. Arok men­da­pat kebe­basan penuh dari­pa­da­nya. Kebe­basan itu ia per­gu­na­kan terus untuk memim­pin para pemuda menyer­bui mana saja dan apa saja yang meng­un­tung­kan Tung­gul Ame­tung dan teman-teman­nya. Tuma­pel tidak pernah tenang. Satu hal yang ia belum dapat mene­mu­kan adalah: sumber emas Sang Akuwu.

Dari peng­a­laman-peng­a­lam­an­nya ia menge­ta­hui, semua peja­bat Tuma­pel mena­ruh takut bukan hanya hormat pada lam­bang-lam­bang para dewa.

“Itu ber­a­sal dari keja­hat­an­nya yang ter­lalu banyak ter­ha­dap sesama manu­sia,” ia memu­tus­kan.

Dan penge­ta­hu­an­nya itu akan diper­gu­na­kan­nya untuk menak­luk­kan para peja­bat itu sen­diri.

Sampai di situ ia masih tetap ber­pen­da­pat: semua yang dila­ku­kan­nya selama ini tidak menya­lahi Hyang Yama. Buk­ti­nya semua teman­nya setia pada­nya. Tak ada seo­rang pun yang pernah ber­khi­a­nat. Bahkan dari hasil ram­pasan-ram­pasan itu, sebuah di anta­ra­nya pernah diper­se­m­bah­kan untuk dir­i­nya pri­badi: sebuah mata uang emas yang indah dengan gambar wajah seo­rang yang indah pula sampai leher, dengan tulisan aneh yang ia tak pernah dapat baca.

Ia ber­pa­ling pada Tanca yang masih juga nye­nyak dalam tidur­nya. Banyak petu­a­langan telah meng­i­kat­kan dir­i­nya pada teman yang seo­rang itu. Dan ia per­caya dan sayang pada­nya.

Ia ting­gal­kan Tanca dan mene­rus­kan mene­ro­pong masa­la­lu­nya. Sudah ter­lalu sering ia mela­ku­kan­nya, karena peker­jaan mawas diri adalah juga syarat untuk jadi seo­rang brah­mana yang baik. Dan ia belum pernah meng­u­bah peni­lai­an­nya selama ini.

Kini untuk per­tama kali ia hendak meni­lai masa­la­lu­nya sebe­lum jadi anak pungut Ki Bango Sam­pa­ran.

Ia tam­pil­kan Ki Lem­bung di hadapan mata-batin­nya. Tubuh­nya tinggi. Otot-otot­nya nampak ber­se­rat-serat tetapi mengan­dung keku­atan tang­guh. Ia seo­rang yang gesit dan ber­mata jeli, baik di siang maupun malam hari. Dialah juga yang meng­a­jar­i­nya dapat meli­hat dalam kege­lapan: setiap pekan, pagi-pagi seha­bis tidur, men­cuci mata­nya dengan bagian tengah air ken­cing sen­diri. Ia laku­kan terus ajar­an­nya itu sampai seka­rang. Dengan mata­nya tak ada satu gerak pun dapat lepas dari per­ha­ti­an­nya.

Ki Lem­bung! Dialah orang per­tama-tama di dunia ini yang ia kenal seba­gai penga­sih­nya. Menu­rut ceri­ta­nya, dialah juga yang mene­mu­kan dir­i­nya seba­gai bayi, dibu­ang oleh orang­tu­a­nya di ger­bang sebuah pura desa. Tengah malam:

“Aku dengar tangis bayi kedi­nginan. Gelap waktu itu. Tapi aku dapat meli­hat kau. Dewa Bat­hara!, kau masih bayi, begitu kecil, ter­golek pada selem­bar tikar usang. Bayi semuda itu disu­ruh men­jaga ger­bang! Sia­pa­kah yang mena­ruh kau di situ? Aku angkat kau, masuk dalam pela­taran per­tama pura, mela­lui padu­raksa18 meng­in­tip ke halaman kedua. Sepi-sunyi. Aku dekap­kan kau pada dadaku. Tetapi kau masih juga mena­ngis. Aku lepas destar dan kuse­li­mut­kan padamu. Halaman kedua itu kosong, juga halaman ketiga. Kau masih juga mena­ngis. Aku batal­kan mak­sudku dan kubawa kau pulang.”

Ki Lem­bung19 ting­gal di tengah hutan, seo­rang petani yang memi­l­iki kerbau. Bayi itu dise­rah­kan pada istri­nya:

“Para dewa telah mengir­im­kan pada kita bayi lelaki yang seo­rang ini. Peli­ha­ra­lah dia seba­gai anak sen­diri.”

Arok tidak pernah tidak merasa ber­te­ri­ma­ka­sih bila menge­nang­kan suami-istri petani di Ran­du­a­las itu. Mere­ka­lah yang mem­be­sar­kan­nya tanpa pamrih. Meng­in­jak umur enam tahun ia sudah ter­bi­asa ber­gaul dengan kerbau, meman­di­kan dan meng­gem­ba­la­kan, meng­gi­ring­nya ke sawah dengan Ki Lem­bung memi­kul garu atau luku di bela­kang­nya.

Mema­suki umur sepu­luh ia mulai mem­bantu ber­tani. Dan dalam pera­wat­an­nya kerbau itu ber­biak men­jadi belasan.

Nyi Lem­bung seo­rang wanita mandul. Ia tak punya teman ber­main di rumah. Tempat peng­gem­ba­laan adalah medan ia ber­main dengan teman-teman­nya. Kege­si­tan, keku­atan, kecer­dasan dan kekuk­u­han menye­bab­kan ia hampir selalu keluar seba­gai peme­nang dalam per­ma­inan dan per­ke­la­hian. Dengan sen­di­r­i­nya seba­gai murid dari peng­a­lam­an­nya ia mening­kat­kan diri di atas mereka men­jadi jago dan pemim­pin.

Orang­tua-pung­ut­nya bangga pada­nya. Dan ia tak pernah meng­adu tidak perlu. Ia selalu dapat meng­a­tasi per­so­al­an­nya sen­diri.

Sering ia serah­kan peng­gem­ba­laan hewan­nya pada teman-teman­nya, dan dengan bebe­rapa orang ia meng­em­ba­rai hutan dan desa-desa lain. Penge­ta­hu­an­nya men­jadi jauh lebih banyak dari­pada teman-teman­nya.

Tak ada sesu­atu yang ter­le­pas dari per­ha­tian dan peng­a­mat­an­nya. Ia dapat ber­ce­rita ten­tang hewan, tanaman dan manu­sia yang pernah dike­ta­hu­i­nya. Dan jadilah ia guru bagi teman-teman­nya.

Dalam peng­em­ba­ra­an­nya untuk per­tama kali ia meli­hat seo­rang pra­ju­rit Tuma­pel mema­suki rumah pen­du­duk dan meram­pas kam­bing­nya. Seo­rang bocah mena­ngisi bina­tang kesa­yang­an­nya itu. Pra­ju­rit itu tidak peduli, dan bina­tang itu terus juga dise­ret masuk ke dalam hutan. Hati­nya beron­tak meli­hat peman­dangan itu. Dihi­bur­nya anak itu, dan dijan­ji­kan pada­nya:

“Nanti aku bawa­kan kam­bing untukmu.”

Dicu­r­i­nya seekor anak kam­bing dan dian­tar­kan­nya kepada bocah itu. Ia men­da­pat­kan keba­ha­gi­aan dengan per­bu­atan itu. Dan dengan demi­kian mulai­lah ia dan teman-teman­nya men­curi.

Sekali peris­tiwa ia meli­hat empat orang pra­ju­rit menye­ret seo­rang gadis, dibawa masuk ke dalam hutan. Ia kerah­kan semua teman­nya dan meng­i­kuti pra­ju­rit-pra­ju­rit itu, meng­ganggu mereka, sehingga ter­paksa mele­pas­kan korban mereka. Pen­du­duk desa mem­bi­ar­kan per­bu­atan anak-anak itu, pura-pura tidak tahu.

Mulai­lah ia memim­pin teman-teman­nya dalam per­bu­atan-per­bu­atan ber­ba­haya.

Arok ter­se­nyum senang. Ia menyim­pul­kan, justru karena per­bu­atan pra­ju­rit-pra­ju­rit Tuma­pel sen­diri ia dan teman-teman­nya men­jadi berani dan penen­tang. Ia tidak pernah menye­sali per­bu­at­an­nya ini. Ia justru bangga. Hati­nya besar, dan karena itu tubuh­nya tumbuh dengan cepat dan keku­atan ber­li­pat­ganda. Ia mema­suki medan per­ke­la­hian di desa-desa lain untuk mere­but keung­gulan.

Ki Lem­bung! Seo­rang bapak yang ber­wi­bawa dan penga­sih itu. Dari­pa­da­nya ia men­da­pat­kan cara menang­kis dan menye­rang, dengan tong­kat, kemu­dian pun dengan sen­jata tajam. Betapa ia hormat pada­nya. Ki Lem­bung adalah juga guru­nya yang per­tama.

Kemu­dian datang­lah ben­cana itu – ben­cana yang berisi karu­nia para dewa. Sekali waktu ia pulang dari peng­em­ba­ra­an­nya lang­sung men­da­pat­kan gem­ba­la­an­nya, tempat itu sepi. Teman-teman­nya lari men­da­pat­kan­nya. Tak ada nampak seekor kerbau pun.

“Kami semua lari, Temu. Juga bina­tang-bina­tang kita. Seekor macan telah menye­ret seekor dari kepu­nya­anmu.”

“Jagad Pra­mu­dita!” Seru­nya.

Ber­sama dengan teman-teman­nya ia pergi ke tempat bina­tang-bina­tang itu dikum­pul­kan. Dan pulang mereka ke tempat masing-masing. Ia meng­gi­ring ker­bau­nya yang ber­pu­luh-puluh itu. Ayah-pung­ut­nya seperti biasa menunggu di depan kan­dang, ia meng­hi­tung­nya seekor demi seekor, dan:

“Kurang satu,” kata­nya. Ki Lem­bung masuk ke dalam kan­dang dan meng­hi­tung­nya sekali lagi. “Kurang satu,” kata­nya lebih keras, ia meng­hi­tung lagi. “Kurang satu!” Pekik­nya. “Sini, kau hitung sen­diri!”

“Memang kurang satu, diter­kam macan!”

“Ke mana saja kau sampai kerbau diter­kam macan?”

Itulah untuk per­tama kali Ki Lem­bung yang menga­sih­i­nya marah luar­bi­asa. Ia tahu marah­nya bukan karena hilang­nya kerbau, karena ia tidak setia pada tugas­nya.

Seke­jap ia dapat meli­hat wajah Ki Lem­bung yang marah mem­bara. Ia tak dengar lagi apa yang dise­m­bur­kan pada­nya. Ia malu pada dir­i­nya sen­diri, ber­ba­lik dan lari.

Sampai di luar Randu Alas ia baru ber­henti lari, kemu­dian ber­ja­lan pelan-pelan menyu­sun piki­ran. Ia tim­bang kem­bali tin­dak­an­nya. Ia meng­a­kui tidak setia pada tugas­nya meng­gem­bala kerbau itu. Tapi apakah dengan demi­kian ia harus selalu jadi peng­gem­bala dalam kese­ti­a­an­nya? Ada hal-hal lebih ber­harga dan lebih pen­ting dari­pada kerbau. Dan dengan demi­kian ia memu­tus­kan tidak akan kem­bali ke rumah orang­tua-pungut yang menga­sihi itu.

Dan ber­mu­la­lah kehi­dupan yang mem­busa-busa: per­ke­la­hian, penyer­buan, pen­cu­r­ian, peram­pokan, pen­ce­gatan sen­diri atau dengan teman-teman­nya yang meng­i­kut­i­nya. Melu­kai dan dilu­kai, kalah dan menang. Ia keluar-masuk desa-desa baru, ber­ga­bung dengan pen­ja­hat besar dan tang­gung untuk kemu­dian menak­luk­kan dan ditak­luk­kan, dan mening­gal­kan­nya.

Arok meni­lai masa petu­a­lang­an­nya ini banyak mengan­dung keke­li­ruan dan peng­a­wuran. Ada bebe­rapa keja­dian yang ia sesali dan lebih banyak lagi yang mem­bi­kin ia bangga pada per­bu­at­an­nya. Yang keliru dan meng­a­wur itu ia takkan ulangi lagi. Yang benar ia akan kem­bang­kan.

Dan ia merasa ber­sa­lah tak pernah lagi mengun­jungi Ki Lem­bung dan istri­nya lebih enam tahun. Ia putus­kan untuk sekali waktu datang ke sana, seba­gai anak yang tahu mem­ba­las budi. Ia harus datang....

Ayam telah ber­ke­ru­yuk untuk kedua kali. Teman-teman­nya sepeng­a­jaran bangun. Juga Arok bangun dari peng­em­ba­ra­an­nya pada masa­la­lu­nya. Tubuh­nya tetap ter­ge­le­tak.

“Temu, Arok,” Tanca mem­ba­ngun­kan­nya.

“Ceri­ta­kan ten­tang impi­anmu, Tanca.”

“Ya, aku ber­mimpi kau suruh aku pulang ke Karang­k­setra. Aku pergi, Arok. Tahu­kah kau bagai­mana aku impi­kan mereka? Lima anak lelaki Ki Bango Sam­pa­ran telah mening­gal­kan orang­tu­a­nya. Semua turun ke Gresik. Boleh jadi bela­yar. Mereka pergi karena Ki Bango jatuh miskin. Tiada suatu bing­gal pada­nya. Catak yang kau beri­kan pada Umang telah habis pula di medan judi. Ia sudah tak mau mem­ba­yar semua hutang­nya. Boleh jadi seben­tar lagi akan dise­ret dalam per­bu­dakan. Betapa buruk mimpi itu, Arok.”

“Tiada kau impi­kan si Umang?”

“Aku impi­kan dia kurus kering. Emak­nya telah mening­gal.”

“Dengar, Tanca, boleh jadi Bapa Maha­guru akan mem­bu­tuh­kan aku dalam bebe­rapa hari ini. Per­gi­lah kau ke Karang­k­setra. Barang­kali impi­anmu benar. Suruh pemuda-pemuda itu lin­dungi Ki Bango. Tak boleh dia dise­ret ke dalam per­bu­dakan. Dan jangan lupa kata­kan pada si Umang, aku akan datang dalam bebe­rapa minggu atau bulan ini.”

Mereka berang­kat ke huma. Ia ting­gal seo­rang diri. Ia tahu masa bel­a­jar­nya pada Dang Hyang Loh­gawe telah sele­sai. Ia bukan pel­a­jar lagi. Ia telah seo­rang Wasi.20

Seka­rang ia mulai memu­sat­kan piki­ran­nya untuk mema­suki hari­de­pan. Seba­gai seo­rang yang ter­di­dik untuk jadi pan­dita ia telah ter­la­tih untuk mela­ku­kan sesu­atu dengan peren­ca­naan dan per­tim­bangan.

Ia merasa telah mem­pu­nyai keku­atan cukup, ilmu dan penge­ta­huan mema­dai. Ia akan guling­kan Tung­gul Ame­tung, Akuwu Tuma­pel. Ia dapat kerah­kan semua teman­nya di desa-desa sebe­lah barat Tuma­pel. Tetapi jumlah dan per­al­atan mereka belum men­cu­kupi. Orang-orang yang dise­m­bu­nyi­kan­nya di hutan Sang­gar­ana bukan­lah pra­ju­rit, belum bisa diper­gu­na­kan.

Dan bila Tung­gul Ame­tung tidak digu­ling­kan oleh dir­i­nya, siapa yang berani mela­ku­kan? Dua puluh tahun, seumur hidup­nya, Akuwu itu telah mera­ja­lela peram­pok besar yang diberi peng­gada oleh Sri Baginda Kre­ta­jaya.

Kalau Tung­gul Ame­tung dapat digu­ling­kan, balat­en­tara Kediri akan datang. Sampai di situ ia ber­henti ber­pi­kir. Ia belum tahu jalan. Ia harus mem­pel­a­jari kemung­kinan itu.

Dan kala matari mulai meman­car­kan sinar­nya dari balik puncak gunung, ia bangun dan menyu­sul pergi ke huma. Dida­pat­i­nya Tanca sudah tiada. Ia ambil alat­nya dan mulai bekerja.



Bab 3

Dedes

Pagar yang menge­li­lingi Taman Larangan, tepat di bela­kang Bilik Agung, diling­kari pagar tanah liat bakar. Dunia sele­bih­nya ter­pi­sah dari taman ini. Dedes senang pada semua yang ber­si­fat seni. Dan gambar-gambar timbul sepan­jang pagar itu tak pernah diper­ha­ti­kan­nya. Dari pan­dang seki­las ia sudah dapat menang­kap ceri­ta­nya. Pada peng­hu­jung sana adalah per­mu­laan dari cerita itu seba­tang pohon dengan Anoman di antara cabang dan ran­ting. Pada gambar kemu­dian satria monyet, Anoman itu, turun di taman untuk mene­mui Sinta .... Ia tak ter­ta­rik untuk mem­per­ha­ti­kan karya besar itu. Ia tetap sibuk dengan hati­nya sen­diri.

Ia tak hitung sudah berapa siang ia lewat­kan hidup­nya dalam Taman Larangan ini. Bahkan dayang pun tak jarang diu­sir­nya.

Kesu­ka­an­nya adalah duduk ber­me­nung di bawah seba­tang mlinjo yang dipang­kas indah. Di seki­tar­nya ber­ser­akan gugu­ran bunga­nya yang putih kecil-kecil. Juga seka­rang ini. Hamba yang duduk pada kaki­nya terus-mene­rus menya­nyi­kan ber­ba­gai lagu berahi nya­nyian yang pernah dinya­nyi­kan oleh setiap orang.

Tiba-tiba wanita itu ber­henti, meng­u­sap-usap betis Dedes. Diang­kat kepa­la­nya untuk meli­hat wajah pengan­tin baru itu Dan pan­dang Ken Dedes masih juga men­jang­kau jauh.

Ia mene­rus­kan lagu­nya. Menge­ta­hui tak men­da­pat per­ha­tian ia kemu­dian ber­diri mohon ampun dari sang Para­mesy­wari, dan mulai mem­be­tul­kan rambut maji­kan­nya yang hampir-hampir kacau diga­lau angin pan­ca­roba.

Bahkan kepala pengan­tin baru dengan hiasan mah­kota pita ber­ta­buran per­mata itu segan ber­ge­rak.

“Yang Mulia masih juga belum pernah nampak ter­se­nyum,” ia men­coba-coba meman­cing per­ca­kapan.

Hanya hem­busan keluh ter­de­ngar.

“Berapa ber­ba­ha­gia Yang Mulia muda, cantik-rupa­wan, ber­ilmu, wanita per­tama dan utama di selu­ruh Tuma­pel. Kasih para dewa nam­pak­nya hanya untuk Yang Mulia seo­rang. Apa lagi­kah yang patut dise­dih­kan? Semua wanita meng­ha­rap men­da­pat­kan kasih seba­nyak itu. Sangat, sangat banyak yang bahkan men­da­pat­kan satu macam pun tidak pernah untuk sepan­jang hidup­nya.”

Ken Dedes menyen­tuh tangan wanita itu untuk meng­hen­ti­kan pera­wat­an­nya. Ia ber­diri dan ber­ja­lan lambat-lambat mening­gal­kan tempat duduk. Ia meng­i­kuti di bela­kang­nya.

“Yang Mulia pun lebih ber­ba­ha­gia dari­pada Dewi Sinta itu,” ia mene­rus­kan lagi, kemu­dian menya­nyi­kan satu bait dari kisah Dewi Sinta yang ter­cu­lik oleh Rah­wana dan diku­rung dalam taman Arga­soka.

“Bukan­kah Dewi Sinta itu kemu­dian tidak ber­ba­ha­gia seumur hidup, Yang Mulia?” Hamba itu ter­tawa.

Dedes merasa malu. Ia merasa ter­sin­dir. Sinta tidak pernah mem­be­ri­kan diri dan hati­nya pada Rah­wana. Ia telah beri­kan dir­i­nya pada Tung­gul Ame­tung. Bukan­kah Akuwu Tuma­pel tidak lebih baik dari­pada rak­sasa Rah­wana? Seo­rang yang tak jauh dari ajaran, hidup dalam keti­dak­ta­huan dan peng­hi­naan ter­ha­dap Sang Yama? Mung­kin­kah karena ia mem­be­ri­kan dir­i­nya ia harus meng­u­langi nasib Dewi Ami­sani, mati ter­ma­kan racun?

Ia tak dapat ber­da­mai dengan hati­nya sen­diri, menge­ta­hui benih rak­sasa Tuma­pel itu telah mema­suki dir­i­nya.

“Apakah Yang Mulia pikir­kan selama ini?”

Ken Dedes men­ja­tuh­kan pan­dang. Dayang itu meli­hat butiran jatuh dari pasang mata­nya.

“Ah, Yang Mulia, Yang Mulia, betapa Yang Mulia meng­a­n­i­aya diri seperti ini,” dengan seta­ngan ia kering­kan air­mata maji­kan­nya dengan hati-hati. “Segala keme­wahan, keku­a­saan dan cinta Yang Mulia Akuwu rupa­nya tak mengu­rangi beban di hati Yang Mulia Para­mesy­wari.”

Men­de­ngar kata-kata ber­sim­pati itu Dedes ter­se­dan, mem­bung­kuk. Dari balik kedua tangan­nya ter­de­ngar tangis yang dite­kan.

Dan hamba itu juga mena­ngis. Dikuat-kuat­kan hati­nya. “Tak tahan sahaya meli­hat begini setiap hari, Yang Mulia. Selama dalam peku­wuan begini terus. Jangan, Yang Mulia, jangan han­cur­kan diri sen­diri. Masih ada banyak hari dise­di­a­kan oleh para dewa, meng­apa hari-hari ini saja Yang Mulia indah­kan? Demi Hyang Par­wati, kata­kan­lah apa yang sahaya bisa laku­kan untuk meri­ng­an­kan duka­cita Yang Mulia.” Ken Dedes melang­kah lambat-lambat men­de­kati pagar tanah liat bakar. Ia pura-pura mem­per­ha­ti­kan Sinta yang sedang diha­dap oleh Anoman. Di atas mereka bulan pur­nama meman­car tepat di atas pohon Naga­sari itu. Ia raba muka Sinta dengan jari­nya yang ber­cin­cin susun. Karya seni itu tetap tidak mena­rik hati­nya. Ia agak ter­hi­bur men­de­ng­ar­kan nada sim­pati itu. Hanya: adakah sum­pah­nya pada Hyang Par­wati hanya pemanis bibir?

“Yang Mulia,” Rimang ber­bi­sik di bela­kang kuping­nya.

Ia tak ber­pa­ling.

“Tak ada seo­rang pun di peku­wuan ini dapat diper­caya, Yang Mulia. Hati-hati, was­pa­da­lah.”

Ken Dedes tahu, Yama tak diin­dah­kan di mana-mana, kecu­ali di desa-desa dalam lin­dungan gunung. Juga ia tak per­caya pada hamba yang seo­rang ini.

“Demi Hyang Dewi Par­wati. Tidak­kah cukup sumpah sahaya?”

Ken Dedes melang­kah dan melang­kah lambat. Dan Rimang ber­bi­sik lagi:

“Selu­ruh isi peku­wuan tidak­lah patut men­da­pat­kan karu­nia keper­ca­yaan dari Yang Mulia. Tapi Rimang ini tidak sama dengan yang sele­bih­nya.”

Ken Dedes ber­henti, ber­pa­ling:

“Jangan cemar­kan Hyang Par­wati di hadap­anku.”

“Ampun. Bukan sahaya yang pernah men­ce­mar­kan.”

“Berapa kali dalam hidupmu kau pernah ber­sum­pah demi Hyang Par­wati?”1

“Baru sekali ini, Yang Mulia.”

“Kalau di pura ada, akan kubawa kau ke sana untuk ber­sum­pah di hadap­an­nya.”

“Sahaya ber­se­dia, Yang Mulia. Nanti seben­tar lagi kalau Hyang Surya telah ter­be­nam, sahaya akan iring­kan Yang Mulia ke pura.”

Ken Dedes ber­pa­ling pada­nya untuk meli­hat air­mu­ka­nya. Ia meli­hat Rimang tidak ber­dusta. Dan inang itu mene­rus­kan:

“Seba­ik­nya pabila bulan sudah mulai muncul dari lereng Gunung Weli­rang.”

“Apakah seo­rang hamba boleh masuk untuk kepen­tingan itu?”

“Ada di bela­kang dapur sahaya bangun­kan pura pri­badi, ya, Yang Mulia, sahaya anyam sen­diri Hyang Par­wati dari rontal.”

“Kau menan­tang murka?”

Rimang tidak menun­duk, mem­bela diri:

“Memang hanya sahaya pri­badi men­di­r­i­kan Dewi Par­wati, juga untuk sahaya sen­diri.”

“Apakah di desamu dulu orang punya patung­nya sen­diri untuk pur­a­nya sen­diri?”

“Tidak, Yang Mulia. Di sini, ke manakah sahaya harus pergi kalau tidak mem­ba­ngun­kan sese­m­ba­han sen­diri?”

“Kau menya­lahi aturan. Meng­apa kau menyem­bah Par­wati?”

“Sia­pa­kah yang mau deng­ar­kan seo­rang sahaya dari desa kalau bukan dewi sese­m­ba­han? Yang Mulia seo­rang brah­mani muda, kata­kan­lah pada sahaya: adakah kira­nya seo­rang dewi ber­ke­nan men­de­ng­ar­kan suara seo­rang dayang?”

Hati Ken Dedes ter­sen­tuh. Seben­tar ia mere­nung. Ber­ta­nya:

“Apakah kas­tamu?”

“Hanya sudra, Yang Mulia.”

Sudra hanya harus memu­li­a­kan para dewa. Dan barang­kali juga para dewa tidak mem­pu­nyai sesu­atu kewa­ji­ban ter­ha­dap­nya.

Ia iba ter­ha­dap wanita sudra ini. Dan ia men­duga nasib Rimang tidak lebih baik dari dir­i­nya. Ia tak ber­ta­nya. Ia ber­ja­lan menuju ke Bilik Agung. Dan dayang itu meng­i­kut­i­nya mem­bawa bakul rias.

“Kau bisa mem­baca?”

“Bisa, Yang Mulia”

“Tak ada rontal padamu?”

“Ah, Yang Mulia, Pan­dita Wanita itu mela­rang men­de­kat­kan rontal apa pun pada Yang Mulia Para­mesy­wari.”

Ken Dedes meng­ang­guk meng­erti: semua harus sesuai dalam keti­dak­ta­huan dengan Tung­gul Ame­tung. Dan ia merasa dir­am­pas dari segala yang ia per­lu­kan. Bahkan mem­baca pun ia tidak diper­ke­nan­kan. “Tahu­kah kau siapa aku sebe­nar­nya?”

“Seti­dak-tidak­nya bukan dari kraton, bukan dari gedung-gedung para satria, ya, Yang Mulia.”

“Di mana per­be­daan antara diriku dengan mereka?”

“Yang Mulia ter­lalu cantik, tidak ber­ba­ha­gia men­jadi Para­mesy­wari, seba­lik­nya mereka akan ber­jing­k­rak gila karena suka­cita. Sewa­jar­nya Yang Mulia ini seo­rang brah­mani.”

“Apakah kau duga aku seo­rang gadis desa?”

“Nampak seperti itu, Yang Mulia. Bukan­kah waktu per­tama kali Yang Mulia tiba belum tahu sesu­atu apa ten­tang peku­wuan?”

“Ya, Rimang, aku pun dari desa seperti kau. Apa kata orang ten­tang diriku?”

“Tak ada yang berani bicara, Yang Mulia.”

Ken Dedes meme­jam­kan mata. Saat ini ia merasa ber­ke­wa­ji­ban menge­nang­kan ayah­nya. Ia tak dengar lagi Rimang bicara:

“Betapa penga­sih Dewi Par­wati. Apa yang sahaya pohon selama ini telah men­jadi kenya­taan:Yang Mulia sudi bicara dengan sahaya ini ...”

Kenangan Ken Dedes sudah mela­yang pulang ke desa Pana­wi­jil.

Sore hari sebe­lum pergi orang sete­ngah baya itu telah ber­pe­san pada­nya:

“Anakku Dedes, boleh jadi lama aku akan ting­gal­kan kau. Hati-hati kau menunggu rumah,” dan ayah­nya itu pergi mem­bawa semua pemuda yang bel­a­jar secara diam-diam pada­nya.

Ia ting­gal di rumah hanya dengan bujang-bujang wanita.

Seo­rang brah­mana tidak pernah mening­gal­kan rumah kecu­ali karena urusan yang sangat pen­ting. Ia tahu keper­gi­an­nya hendak ber­temu dengan brah­mana lain, entah siapa, entah di mana, dengan satu pokok pem­bi­ca­raan: men­cari jalan untuk mene­gak­kan kem­bali cak­ra­warti Hyang Maha­dewa Syiwa.

Sejak kecil ia diajar untuk mem­bu­ang muka, mem­benci, ter­ha­dap siapa saja yang tidak meng­in­dah­kan Hyang Syiwa. Kemu­dian dari pel­a­jaran ayah­nya ia tahu, Tung­gul Ame­tung adalah seo­rang pen­ja­hat, karena ia tidak meng­in­dah­kan Hyang Syiwa, bahkan memu­suhi. Seo­rang pemuja Hyang Syiwa adalah orang yang tahu diri, karena selalu menim­bang masa dan hari lewat, meng­hu­kum diri sen­diri untuk setiap keke­li­ruan dan kesal­ahan. Orang-orang seperti dia tidak ada har­ga­nya untuk dike­nal, sekali pun keka­ya­an­nya menyen­tuh langit dan keku­a­sa­an­nya diso­kong dan dibe­nar­kan semua dru­biksa sepe­nuh Jagad Pra­mu­dita.

Dan setiap ayah­nya mene­rima tamu seo­rang brah­mana ia selalu diser­ta­kan dalam pem­bi­ca­raan. Sejak kecil ibunya telah mening­gal. Semua kasih-sayang Mpu Parwa ter­tum­pah pada­nya seba­gai anak tung­gal. Antara ayah dan anak ter­ja­lin ikatan kemes­raan, yang meng­ha­ru­kan bagi para brah­mana yang datang ber­kun­jung. Dan mereka tidak meno­lak keser­ta­an­nya dalam samadhi ber­sama. Tidak jarang samadhi itu ditu­ju­kan untuk han­cur­nya Tung­gul Ame­tung, agar Hyang Manak­ala tidak mem­bi­na­sa­kan semua-mua karena kese­sat­an­nya.

Malam itu ia mem­baca seo­rang diri tanpa ayah­nya. Seo­rang bujang datang meng­ganggu, mem­be­ri­ta­kan: Rom­bongan Sang Akuwu sedang meng­i­nap di desa tetangga. Maka besok, bila rom­bong­an­nya lewat untuk mene­rus­kan per­ja­lanan meme­riksa negeri, semua pen­du­duk harus hadir di sepan­jang jalan raya negeri untuk mem­per­se­m­bah­kan hormat.

Ia tak sudi menyem­bah seo­rang akuwu yang belum patut men­da­pat peng­hor­mat­an­nya, apa­lagi dari ayah­nya seo­rang yang telah men­da­pat­kan gelar Mpu karena keter­pel­a­jar­an­nya. Pagi hari ia turun ke pan­curan untuk meng­hin­dar­kan diri. Ambil meng­ha­fal sepu­luh syair San­sa­kerta ia ber­main-main dengan air curah dari pan­curan bambu itu. Kain­nya basah. Air ber­ma­nik-manik pada bahu, muka, dan buah­da­da­nya. Seo­rang bujang datang ber­lari-lari, mem­be­ri­ta­kan: Datang seo­rang penung­gang kuda ke rumah, Ayu, men­cari Sang Mpu Parwa.”

“Tiada kau kata­kan sedang pergi?” Sudah Mena­kut­kan orang­nya, Ayu. Seo­rang satria ber­ge­lang, ber­ke­ron­cong bing­gal, dan ber­ka­lung serba emas.”

“Bukan­kah rom­bongan Akuwu sudah lewat?”

“Sudah, Ayu, mereka tidak mela­lui sini.”

“Tapi satria itu?”

Dia tidak turun dari kuda­nya. Menge­ta­hui Sang Mpu tak ada, ia perin­tah­kan sahaya memang­gil anak Sang Mpu.”

“Kem­bali kau. Kata­kan dia sedang pergi ke hutan,” Dedes meng­ang­kat kain, men­daki lereng bukit, lari menuju ke arah hutan.

Begitu mele­wati lereng bukit ia sampai di ben­tangan padang rumput. Ia ber­henti untuk menin­jau keli­ling. Sunyi-senyap. Baru kemu­dian ia menye­ber­a­ngi padang itu. Lari, lari, tanpa meno­leh lagi ke bela­kangia tahu betul takkan ada orang menyak­si­kan­nya. Rumah­nya ter­pen­cil tanpa tetangga.

Sampai di tepi hutan ia ter­e­ngah-engah, ber­henti seben­tar untuk meme­riksa keli­ling. Ia merasa aman. Sambil mem­per­ba­iki kain dan rambut ia melang­kah lambat-lambat masuk ke dalam. Ia kenal hutan seke­li­ling ini. Dan ia tak pernah takut mema­suk­i­nya.

“Dedes!” Pang­gil sese­o­rang.

Ia ter­ke­jut, ter­pa­ku­kan pada tanah. Di hadap­an­nya, di dalam semak, dili­hat­nya tubuh seekor kuda kelabu. Di atas­nya seo­rang pria sete­ngah baya. Cela­na­nya satu tela­pak di atas lutut. Kain penu­tup­nya jatuh di atas pelana. Dan celana itu ter­su­lam dengan benang emas ber­gam­bar leng­kung sulur dan deda­unan. Pada kaki di atas sang­gurdi ber­ki­lau bing­gal dengan kepala naga, ber­mata intan.

Seka­li­gus ia meng­erti: itulah Akuwu Tuma­pel. Tung­gul Ame­tung si ter­ku­tuk. Ia tak men­coba menen­tang muka­nya.

“Betul yang dika­ta­kan orang,” kata pria itu dari atas kuda­nya, “lima atau sepu­luh Para­mesy­wari Kediri masih kalah diban­ding­kan dengan kau seo­rang, Dedes. Mari, Per­mata, demi Hyang Wisynu, akan kudu­duk­kan kau di sing­ga­sana men­dam­pingi aku. Mari, mari....”

Dedes mulai kehi­langan keka­ge­tan­nya. Kini keta­kutan mengu­a­sai dir­i­nya. Selu­ruh per­sen­di­an­nya goyah dan geme­tar.

“Ayah! Tolong!” Pekik Dedes. Tapi suara tak keluar dari mulut­nya.

“Kurang­kah kemu­li­aan seo­rang akuwu, maka kau tak ber­buat sesu­atu! Per­lu­kah aku rebut Kediri untuk men­da­pat­kan jawab­anmu?” Ia tetap duduk di atas pung­gung kuda, dengan tangan meme­gangi ken­dali.

Demi Hyang Maha­dewa, Dedes menye­but dalam hari. Ia men­da­pat­kan keta­ba­han­nya kem­bali. Hilang goyah per­sen­dian dan gele­tar tangan, ia ten­tang mata Tung­gul Ame­tung. Mata itu bening, dengan ling­karan kuning lebih luas, dan tidak ber­si­nar Hidung­nya tidak bangir seperti dir­i­nya. Bibir­nya tebal dan begitu penuh meng­isi wajah­nya yang nampak ter­lalu kecil untuk itu. Dada­nya bidang ber­bulu Juga tangan­nya, juga kaki­nya.

“Mata yang sein­dah itu ...”

Seka­li­gus Dedes menun­duk.

“Buah dada yang seba­gus itu ...”

Ia ber­ba­lik dan ber­siap mening­gal­kan hutan. Dari bela­kang­nya ia dengar suara rayu itu:

“Memang kau tak perlu beri­kan peng­hor­matan pada seo­rang Akuwu, Dedes. Sri Baginda Kre­ta­jaya pun belum patut men­da­pat­kan liri­kanmu,” ia turun dari kuda.

Dedes men­de­ngar kaki Akuwu mene­nangi semak, menyi­baki lam­tara muda. Ia men­coba mem­per­ce­pat jalan, tapi per­sen­di­an­nya meno­lak Dan ia rasa­kan tangan Tung­gul Ame­tung menang­kap bahu­nya. Ia kebas­kan tangan itu:

“Jangan sentuh aku!” Ia merasa dir­i­nya kotor ter­sen­tuh oleh seo­rang Wisynu.

“Betapa galak, seperti brah­mana lain-lain dan semu­a­nya,” ia tang­kap tangan Dedes, diha­dap­kan pada­nya,” seba­gai akuwu aku mela­rang kau men­jadi pedanda. Mari Per­mata, aku iring­kan kau ke Kuta­raja, naik kuda, ke tempat ter­la­yak bagimu. Mari, sayang.”

Tung­gul Ame­tung mena­rik­nya dengan hati-hati pada tubuh­nya. Dedes meng­ang­kat muka dan melu­dah­i­nya. Dan akuwu itu ter­nyata tidak marah, bahkan men­de­kap­kan tubuh­nya pada dada­nya yang ber­bulu, ia gigit dada itu, dan ia rasai keras seperti batu. Akuwu itu ter­tawa.

Ia meronta dan meronta. Akuwu itu ter­tawa lunak. Dan ia tak dapat lepas dari tangan­nya ia tahu Akuwu dapat mem­bi­na­sa­kan­nya di hutan ini. Tak ada seo­rang pun menyak­si­kan. Saksi pun takkan dapat men­ce­gah­nya. Seki­ra­nya ada sen­jata di tangan­nya ia akan tikam dia. Orang Wisynu yang tak kenal Hyang Yama ini.

Ia mulai men­ca­kar dengan tangan­nya yang bebas. Tung­gul Ame­tung ter­tawa manis.

“Anak macan juga macan,” ia ter­tawa. “Kau, anak desa yang belum lagi tahu: semua brah­mana telah takluk menyem­bah pada kaum satria. Apakah Mpu Parwa, ayahmu, belum ajar­kan itu padamu?”

Amarah tanpa daya itu mem­bi­kin Dedes ter­hi­sak-hisak mena­ngis.

“Bica­ra­lah, Per­mata, tak urung kau akan kubo­yong ke peku­wuan. Betapa banyak wanita meng­im­pi­kan kesem­patan itu, Dedes. Kau tidak suka? Justru karena itu lebih indah lagi, lebih ber­harga lagi kau di mataku, di hariku. Tidak­kah kau meng­erti Mpu Parwa bisa binasa karena kau? Bukan­kah dia sedang pergi men­cari sekutu-seku­tu­nya kaum brah­mana? Tidak­kah kau meng­erti hukuman bagi per­se­ku­tuan? Diikat dengan naga­banda, selu­ruh kelu­arga, ber­ba­ris masuk ke dalam rumah­nya yang diba­kar?”

“Karena hanya itu yang kau bisa laku­kan.”

“Hanya itu?” Akuwu Tuma­pel senang men­de­ngar Dedes mau bicara “Hanya itu? Jauh lebih banyak dari itu, Per­mata.”

“Dan jauh lebih kejam dan hina.”

“Ratusan, ribuan tahun yang lalu kaum brah­mana jauh lebih kejam. Tak per­nah­kah kau dengar kam­pung-kam­pung yang diper­se­m­bah­kan pada Hyang Durga? Itulah peker­jaan para brah­mana. Ayahmu tidak cukup jujur kalau tak pernah ajar­kan itu. Ah, putri brah­mana, seo­rang brah­mani. Aku meng­erti kau merasa ter­hina ter­sen­tuh olehku. Ten­tu­nya ayahmu sudah meng­a­jar­kan padamu aku hanya seo­rang sudra.” Ia dekap­kan Dedes sema­kin lekat, dan ber­bi­sik:

“Mul­i­a­lah Sri Erlangga Bat­hara Wisynu, dengan titah­nya semua orang bisa jadi satria atau brah­mana demi dhar­ma­nya.”

Dedes tak dapat menang­kis, badan maupun jiwa­nya. Badan­nya tak ber­daya dalam peluk­an­nya, ilmu dan penge­ta­hu­an­nya juga tak ber­daya mem­ban­tah­nya. Ia hanya dapat men­de­sis.

“Penipu!”

Dengan tangan sebe­lah Tung­gul Ame­tung meng­ang­kat tubuh Dedes dan dici­um­i­nya muka­nya, ter­se­nyum puas:

“Adakah brah­mani dia­jari juga bicara meng­um­pat? Tiada aku sangka.”

“Lepas­kan aku!”

“Sekali ter­tang­kap tangan takkan lagi kau kule­pas­kan.”

“Keji! Yang meng­erti ten­tang kemu­li­aan para dewa, meng­erti ten­tang kehi­naan manu­sia, yang meng­erti ten­tang kehi­na­an­nya tidak akan laku­kan per­bu­atan sema­cam ini.”

Tung­gul Ame­tung mem­be­lai-belai rambut Dedes dengan tangan­nya yang bebas.

“Justru karena kega­rang­anmu aku ter­gila-gila padamu, Dedes. Umpan­lah aku, gigit dan garuk, tum­pah­kan semua ajaran Mpu Parwa. Untuk semua itu men­jadi syah­lah aku men­da­pat­kan kau,” Meng­erti bahwa Tung­gul Ame­tung tak dapat dika­ta­kan tanpa penge­ta­huan menye­bab­kan ia lumpuh dalam ama­rah­nya. Dan ia dengar lagi yang lebih menya­kit­kan:

“Ayolah, kutuk aku, seperti semua brah­mana mengu­tuk semua orang di luar kas­ta­nya. Akan aku per­li­hat­kan pada dunia: kaum brah­mana takkan bisa bikin apa-apa pada waktu seo­rang brah­mani ber­nama Dedes aku duduk­kan di atas sing­ga­sana Tuma­pel. Dengar, Dedes, Per­ma­taku, tidak per­cuma Sri Erlangga mengu­tuk tri­wangsa bikinan kaum Brah­mana. Kalian tak juga sedar, hidup terus dalam kese­a­kanan, merasa ter­tinggi di atas segala kasta .... Hanya mimpi Dedes, hanya kese­a­kanan. Itulah keke­li­ruan kaum brah­mana! Kalian tak pernah tahu kenya­taan. Dan itulah juga keja­hatan ayahmu, mem­bi­kin kau buta ter­ha­dap kenya­taan.”

“Kenya­taan harus takluk pada ajaran.”

Tung­gul Ame­tung menu­run­kan tubuh Dedes sambil ter­tawa ter­ba­hak-bahak:

“Akulah kenya­taan. Aku tak takluk pada kaum brah­mana dan ajar­an­nya. Kum­pul­kan semua brah­mana di atas bumi ini. Mereka takkan dapat tak­luk­kan Tung­gul Ame­tung.”

Juga mem­per­ta­han­kan kemu­li­aan ajaran ia tidak mampu. Dan semua tamu brah­mana itu memuji kecer­das­an­nya Begitu banyak pujian dan san­jungan selama ini .Waktu ia jatuh ke tangan musuh pokok­nya begini, ter­nyata ia tak ber­daya. Dan Akuwu yang men­de­kap­nya adalah kenya­taan – kenya­taan yang tak perlu takluk pada ajar­anmu, mem­per­la­ku­kan makh­luk­nya demi­kian macam?

“Barang­kali kau tak meng­erti ucap­anku. Barang­kali kau lebih tahu San­sa­kerta bahasa kah­yangan itu dari­pada bahasa orang Tuma­pel.”

“Betapa pongah­nya kau seakan peme­nang di atas jagad para dewa ini.”

“Bagus, Dedes, senang aku men­de­ngar sua­ramu, kega­rang­anmu. Tapi kule­pas­kan kau tidak. Tahu­kah kau, orang-orang Buddha itu tak memer­lu­kan dewa-dewamu? Orang-orang tani juga tidak­me­reka menyem­bah Hyang Wisynu yang penga­sih dan pemu­rah. Deng­ar­kan, Dedes, hanya kaum brah­mana hidup dalam mimpi, hidup mereka pun dari kemu­r­ah­anku. Jangan deng­ar­kan janji dewa-dewamu itu. Mereka hanya dong­engan untuk bocah-bocah yang tak pernah dewasa.”

“Pongah!” Dedes lebih mem­per­ta­han­kan ajaran dari­pada diri sen­diri. “Kalian kaum brah­mana lebih pongah dalam piki­ran, tapi menun­duk-nunduk merang­kak-rang­kak di hadap­anku. Itu tidak jujur, Dedes. Juga kau tidak jujur, kau menan­tang-nan­tang di hadap­anku begini, tapi kau sudah ada dalam tanganku, dan kau tahu, kau tak dapat meno­lak Tung­gul Ame­tung. Tidak dapat, demi Hyang Wisynu!”

Ia lepas­kan Dedes, dan seperti diti­up­kan keku­atan pada dir­i­nya ia lari.

“Akuwu Tuma­pel belum ijin­kan kau pergi. Brent!”

Dedes lari dan lari. Dan tak antara lama di hadap­an­nya telah meng­ha­dang Tung­gul Ame­tung di atas kuda. Dan ia disam­bar dari atas. Ia meronta dan meng­gi­git leng­an­nya, namun pegangan itu tak dapat lepas. Menge­ta­hui Akuwu tak juga sakit atau pun meng­a­duh, ia hendak tikam hati­nya dengan kata-kata tajam, tapi semua ajaran telah men­jadi batu dalam ing­at­an­nya.

“Belum jera-jera kau meng­gi­git, Dedes. Kau tahu sen­diri, lengan yang sein­dah ini takkan kule­pas­kan lagi.”

“Lepas, demi Hyang Maha­dewa, ter­ku­tuk­lah kau.”

Tung­gul Ame­tung ter­tawa:

“Mari naik, Per­mata. Dewa-dewamu tak ber­daya meng­ha­dapi aku.”

Dan Tung­gul Ame­tung meng­ang­kat­nya dengan dua tangan. Ia meronta, kem­bali men­ca­kar-cakar, seka­rang menya­sar wajah sang Akuwu.

“Ayah!” Pekik Dedes. Suara itu kemu­dian padam dalam ciuman Tung­gul Ame­tung. Ia pukuli wajah Akuwu. Dan lelaki itu tidak men­jadi kesa­kitan karena pukul­an­nya. Bahkan tetap ter­se­nyum, mena­rik tali ken­dali, dan kuda itu mulai ber­pacu cepat.

Pada waktu itu Dedes meng­erti: ia kalah, semua usa­ha­nya sia-sia, ayah­nya pun tak ber­daya, juga seki­ra­nya ia meli­hat keja­dian ini.

Duduk di atas kuda dalam pelukan di depan Tung­gul Ame­tung ia dapat deng­ar­kan lang­kah kuda, dapat rasa­kan nafas­nya yang keluar masuk dari perut­nya. Ia tak berani meng­gi­git tangan yang meme­gang­i­nya, ia pun takut jatuh dari kuda yang sedang men­cong­k­lang lari itu. Ter­diam dalam keti­dak­da­yaan akhir­nya ia hanya bisa mena­ngis kele­lahan.

“Dedes,” bisik Tung­gul Ame­tung, dan ia rasai kumis­nya menyen­tuh pipi­nya, “terus­kan cakaran dan gigit­anmu. Tidak mau? Baik, terus­kan umpa­t­anmu ter­ha­dapku pada suatu kali kau akan tahu semua itu akan jadi tak ter­ni­lai indah­nya dalam kenangan setiap kali kau meng­i­ng­at­nya kem­bali, dan kau akan ber­tam­bah ber­ba­ha­gia. Hyang Wisynu telah ten­tu­kan aku jadi sua­mimu. Nasib tidak bisa kau elak­kan. Aku pun laku­kan ini bukan atas kehen­dak sen­diri hanya karena petun­juk­nya juga.”

Keka­cauan hati mem­bi­kin Dedes jadi sesak, dan ia sadari dir­i­nya mulai mema­suki keping­sa­nan. Penge­li­hat­an­nya telah ber­a­yun-ayun, dan gemu­ruh hati dan derap kuda mulai samar. Waktu ia sadar lagi, yang ter­de­ngar mula-mula adalah bunyi tela­pak kuda itu juga. Tak ada sesu­atu yang dapat dili­hat­nya, gelap-gelita. Waktu tangan­nya mulai dapat dige­rak­kan­nya, ia mulai meraba-raba hadap­an­nya. Tiada sesu­atu yang teraba. Dan waktu tangan­nya jatuh, ia rasai keha­lusan sesu­atu. Jari­nya mulai mera­bai keha­lusan itu bulu, bulu kuda! Ia sadar masih berada di atas pung­gung kuda.

Hari itu memang gelap pekat. Kuda itu tidak lagi lari. Ia angkat tangan­nya lagi, dan dira­sa­i­nya sebuah tangan, yang bukan tangan­nya sen­diri. Dan tangan itu merang­kul ping­gang­nya.

“Kau sudah bangun, Per­mata?” Ia dengar suara, tepat pada kuping kanan­nya. Suara lelaki, bukan suara Mpu Parwa.

Ia meronta, tapi pelukan itu sema­kin ketat sampai-sampai ia merasa ter­se­kat.

Ia meng­i­ngat dan ber­pi­kir, ber­pi­kir dan meng­i­ngat, dan tahu­lah ia, sese­o­rang telah men­cu­l­ik­nya dari Pana­wi­jil.

Waktu bulan tua itu mulai muncul, kuda itu mulai lari lagi, lang­kah­nya men­de­rap ber­i­rama. Hutan di kiri kanan jalan ber­la­rian meng­hi­lang seperti malu men­jadi saksi.

Dan teringa­dah ia pada Akuwu Tuma­pel di bela­kang­nya.

“Berani kau bawa aku tanpa ijin ayahku?”

“Tak tepat kau di desa.”

“Kutukan semoga jatuh ke atas kepa­lamu.”

“Tidak­kah kau akan menye­sal, Dedes? Mengu­tuki seo­rang yang akan jadi ayah dari anak-anakmu?”

“Anak-anakku tidak ber­a­yah­kan kau!” Dan Dedes kem­bali men­jadi kacau. Ia tahu anak bukan urusan manu­sia, tapi urusan para dewa.

“Takkan lama lagi, dan kau akan tahu, akulah bakal ayah dari anak-anakmu. Tuma­pel menunggu seo­rang Para­mesy­wari dan seo­rang anak calon pengu­asa peng­gan­tiku. Hyang Wisynu menun­juk kau seba­gai ibu yang ter­pi­lih itu.”

Juga sekali ini Dedes tak mampu menan­dingi Tung­gul Ame­tung dengan Hyang Wisy­nu­nya.

“Kau akan menye­sal mengu­r­uki calon suami, yang akan mem­bawa kau ke sing­ga­sana. Jangan remeh­kan satria. Tanpa satria brah­mana tak bisa ber­buat sesu­atu. Tanpa brah­mana satria bisa bikin segala-gala­nya. Dunia meng­hor­mati satria, raja-raja, juga akuwu. Seti­dak-tidak­nya hari ini telah kuda­pat­kan anak pera­wan brah­mani, seo­rang brah­mani yang masy­hur akan kesu­ci­an­nya, untuk jadi per­mata bagi hidupku dan bagi Tuma­pel.”

Dedes ping­san lagi karena keka­cau­an­nya. Waktu ia sadar lagi dira­sa­i­nya tubuh­nya telah ter­tu­tup dengan kain. Angin malam itu tak lagi meng­gi­git kulit dan mem­be­ku­kan darah­nya. Barang­kali Tung­gul Ame­tung telah menye­li­mut­i­nya dengan destar atau kain penu­tup celana. Ia merasa dihi­na­kan dan tetap tak dapat ber­buat sesu­atu.

Ditu­tup­nya mata­nya, kini memo­hon per­lin­dungan dari Hyang Dewi Laksmi. Ia dengar Sang Akuwu men­de­ngus. Ia tunggu kata-kata­nya. Tapi tak lagi keluar suara dari mulut­nya. Ia tahu ia mulai menye­rah.

Waktu air­ma­ta­nya jatuh mene­tesi lengan yang meme­luk­nya baru ia dengar sua­ra­nya lagi:

“Jangan mena­ngis, Per­ma­taku. Para dewa telah beri­kan dirimu padaku. Kau hanya men­ja­lani seba­gai­mana juga aku. Tak pernah ada wanita menan­tang, mela­wan dan meno­lak Tung­gul Ame­tung. Hanya kau! Karena itu kau dipi­lih lebih dari­pada putri-putri Tuma­pel, Kediri dan selu­ruh buana, satu-satu­nya pera­wan yang berani meng­gi­git dan men­ca­kar Tung­gul Ame­tung sung­guh-sung­guh pera­wan pilihan. Yang berani melu­dah­i­nya betul-betul manu­sia dewi. Tum­pah­kan air­ma­tamu, Per­mata, karena sete­lah ini takkan dia titik lagi, selu­ruh keba­ha­gi­aan makh­luk di atas bumi hanya mil­ikmu.”

Tung­gul Ame­tung bicara terus. Dan ia makin dapat meng­erti. Sama sekali dia tak dapat dika­ta­kan dungu. Kata-kata­nya ter­a­tur dan ber­sum­ber pada keper­ca­ya­an­nya pada Hyang Wisynu “Dedes, kaulah per­mata di antara semua jenis wanita. Tak ada pera­wan dari tri­wangsa dan di luar­nya lebih ter­pi­lih dari­pada kau Dari­pa­damu akan lahir raja-raja besar di bumi Jawa. Ah, Dedes, apakah Mpu Parwa pernah tahu semua ini?” Air­mata Dedes sema­kin deras.

“Dedes, Dedesku, dalam hatimu saja ter­da­pat api sang Mun­cu­kunda2. Di luar kau semua hanya sampah di hadapan matamu. Per­ma­taku! Per­ma­taku!”

Pera­wan itu men­jadi ragu apakah orang yang meme­luk­nya ini benar men­ja­lan­kan petun­juk dewa atau­kah memang hanya dru­biksa memin­jam suara para dewa. Segala apa ten­tang­nya yang dide­ng­ar­nya dari ayah­nya dan para brah­mana tidak cocok. Ia bukan seo­rang yang dungu, tahu ber­le­mah lembut. Atau­kah memang demi­kian semua pen­ja­hat dalam usa­ha­nya? Dan meng­apa para brah­mana, yang meng­ang­gap dir­i­nya benar karena seja­lan dengan ajaran tunduk takluk pada Hyang Yama, tidak mampu ber­buat Sesu­atu ter­ha­dap­nya? Adakah Akuwu Tuma­pel yang meme­luk­nya benar-benar lebih kuat dari semua dewa seka­li­gus? Dia telah bicara ten­tang Mun­cu­kunda, cerita dan taf­siran yang dibe­ri­kan hanya kepada siswa-siswa ting­kat cikil dan wasi. Benar­kah dia buta-huruf, dan menge­ta­hui segala hanya dari tangan kedua?

Suatu kemes­tian bagi brah­mana adalah ber­pi­kir dahulu sebe­lum ber­tin­dak. Dan nam­pak­nya Tung­gul Ame­tung mela­ku­kan ini sete­lah masak ber­pi­kir. Maka dia tahu ke mana ia pasti akan lari meng­hin­dar­i­nya, dan menunggu di sana sampai ia datang.

Kem­bali ia dise­rang keka­cauan. Semua yang dia­jar­kan oleh ayah­nya ter­an­cam akan runtuh dalam tangan orang yang dapat meng­ga­gahi segala-gala­nya ini.

Di sela-sela derap kaki kuda itu ter­de­ngar dalam ing­at­an­nya suara ayah­nya: Kaum satria adalah pemu­kul segala dosa; dunia akan binasa karena mereka; dan hanya kaum brah­mana bisa sela­mat­kan manu­sia dan dunia; maka semua usaha kaum brah­mana harus dipu­sat­kan pada kem­ba­li­nya tata­ter­tib Jagad Pra­mu­dita.

Seka­rang ia dalam pelukan seo­rang sudra yang disa­ma­kan oleh Kediri. Dan ia tak dapat mem­bela diri. Dewa-dewa juga tidak meno­long­nya. Hyang Laksmi juga tidak mem­ban­tu­nya. Hyang Maha­dewa yang setiap hari dipu­ja­nya dalam samadhi juga tidak mele­pas­kan tri­su­la­nya untuk meno­long dir­i­nya.

“Per­ma­taku!” Ia rasai wajah Tung­gul Ame­tung itu men­ci­um­nya. Dan ia dengar suara itu tidak mengan­dung kama, tapi kasih sayang. “Sega­la­nya akan diper­se­m­bah­kan pada Dedes dan kesu­ci­an­nya, dan kemu­li­a­an­nya. Apakah kurang aku meng­hor­mat­imu? Apakah aku kurang halus ter­ha­dapmu? Kau, pera­wan dengan hati meme­ram api Mun­cu­kunda! Kau, ibu dari raja-raja besar yang bakal dila­hir­kan. Sing­ga­sana Tuma­pel adalah mil­ikmu. Tidak per­cuma para dewa bisik­kan padaku setiap kali ber­sa­madhi.”

Dedes tak rasai lagi dingin angin pan­ca­roba men­je­lang pagi. “Bahkan ram­butmu kura­sai seperti belaian sorga.”

“Lepas­kan aku, Tung­gul Ame­tung,” ia mulai meronta lagi. “Kule­pas­kan kau sete­lah sampai di keput­rian peku­wuan.”

“Ter­ku­tuk kau!”

“Aku terima kutuk­anmu, Dedes. Seo­rang satria akan terima segala dari para dewa, sama bera­ni­nya dengan waktu di medan perang. Tapi jangan kutuki anak-anakmu sen­diri.”

“Penipu! Pem­bo­hong! Pen­cu­lik!” Dedes mem­be­ron­tak, juga ajaran yang telah dite­ri­ma­nya meng­gu­gat­nya meng­apa ia tidak mela­wan.

Kem­bali ia ping­san.

Men­je­lang terbit Hyang Surya, kuda itu mema­suki peku­wuan, tanpa meng­in­dah­kan para penga­wal yang sedang lalai dalam kan­tuk­nya. Ia turun dari kuda mem­bo­pong Dedes, masuk ke dalam keput­rian, dan mem­ba­wa­nya masuk ke dalam Bilik Para­mesy­wari.

Dedes sadar kem­bali. Ia dapat meli­hat Tung­gul Ame­tung mem­ba­ngun­kan seo­rang wanita yang tidur di lantai di atas tikar dengan kaki­nya. Dan ia dengar:

“Rimang! Aku serah­kan padamu put­rimu Sang Para­mesy­wari. Lehermu jadi peta­ruh.”

Ia lihat Rimang meng­ang­kat sembah, dan sepa­sang mata­nya ber­si­nar-sinar.

Sang Akuwu mele­tak­kan­nya di atas ran­jang ber­ti­lam sutra. Ia tahu pria itu ber­lu­tut pada­nya, ber­bi­sik:

“Per­ma­taku, semua ada di bawah perin­tahmu. Jangan ting­gal­kan tempat ini,” ia pergi entah ke mana.

Rimang seka­rang yang ber­lu­tut pada­nya:

“Yang Mulia, Yang Mulia ...”

Dedes mena­ngis sejadi-jadi­nya.

Di mana ayah­nya kini, ia tak tahu. Sejak peris­tiwa pen­cu­likan dalam hutan di semak lam­tara muda itu, ia tak pernah dengar sesu­atu dari desa­nya, Pana­wi­jil. Antara dir­i­nya dengan masa­la­lu­nya seakan telah ter­gun­ting putus. Tak ada orang yang menge­nal­nya di peku­wuan. Ia dise­rah­kan pada segala yang asing, dan pedandi itu memata-matai­nya tanpa jera, mem­ban­jir­i­nya dengan nasi­hat tetek-bengek. Pada suatu kali, tanpa bicara ia telah usir pedandi itu dengan gerak tangan. Ia tak per­lu­kan nasi­hat bagai­mana harus­nya seo­rang istri ter­ha­dap suami, yang oleh para dewa diti­tah­kan jadi satria untuk men­du­duki tem­pat­nya mem­per­ta­han­kan kese­im­bangan jagad pra­mu­dita.

Ia tak per­lu­kan nasi­hat dari siapa pun yang tak punya per­sing­gungan hidup dengan dir­i­nya.

Pada mula­nya ia deng­ar­kan semua, seperti ia deng­ar­kan setiap pel­a­jaran dari ayah­nya. Ia hafal­kan dalam hati­nya yang pengap karena duka­cita. Kei­ng­inan untuk tahu segala dan jiwa­nya yang sedang kem­bang dengan sar­wa­cita, memang ter­buka ter­ha­dap semua pen­je­lasan tenung kedu­dukan manu­sia di tengah-tengah jagad­nya, di tengah-tengah hubungan antar manu­sia dan dengan para dewa. Akhir­nya pintu hari­nya ter­kunci erat begitu ia menye­dari setiap nasi­hat ber­tu­juan menun­tut dari dir­i­nya kese­ti­aan mutlak kepada Sang Akuwu.

Ia muak. Ia tak mem­pu­nyai pera­saan ber­se­tia pada sua­mi­nya. Per­ni­kah­an­nya yang tanpa saksi, bahkan tidak menye­but nama­nya dan nama ayah­nya, mantra-mantra dalam San­sa­kerta yang banyak salah­nya semua itu ia rasa­kan tak punya dasar yang kuat untuk menun­tut kese­ti­aan dari­pada dir­i­nya. Tak ada yang lebih menya­kit­kan menge­ta­hui, ayah­nya sama­se­kali tidak dima­suk­kan dalam hitungan.

Bahkan sampai empat puluh hari pun orang tak tahu siapa nama dir­i­nya, apa­lagi nama ayah­nya. Apa­lagi pen­cu­likan itu dila­ku­kan oleh Tung­gul Ame­tung seo­rang. Tanpa saksi.

Dan siang itu Tung­gul Ame­tung tidak men­je­nguk­nya. Sore hari juga tidak. Kemu­dian ia menge­ta­hui: sua­mi­nya telah mening­gal­kan Tuma­pel lang­sung menuju ke Kediri dalam iringan pasukan kuda.

“Bahkan minta diri dari aku pun ia merasa tidak perlu.”

Itu juga men­jadi petun­juk bagi­nya: ia tidak ter­i­kat pada suatu kese­ti­aan pada Sang Akuwu.

Tepat pada waktu matari teng­ge­lam Rimang menge­ring­kan­nya ke bela­kang dapur, keluar dari keput­rian. Para penga­wal yang kebe­tulan ter­pa­pasi menying­kir mem­be­ri­kan jalan dan meng­ge­dik­kan pang­kal tombak pada tanah.

Mereka sudah lebih sera­tus lang­kah di bela­kang dapur, mema­suki kebun buah-buahan yang semua sedang ber­bu­nga lebat.

“Di sini pujaan sahaya. Yang Mulia Para­mesy­wari,” Rimang ber­henti di bawah pohon jambu mede muda, rendah dan lebat, “setiap han sahaya beri pohon ini air cucian daging.”

Ken Dedes meng­a­wasi Rimang, ter­he­ran-heran. Inang itu meng­ang­kat sembah pada pohon itu. “Pohon mede ini Dewi Par­wa­timu?”

Rimang tak men­ja­wab, teng­ge­lam dalam kekhu­sukan. Dedes mem­bu­ang muka kecewa dalam rem­bang senja. Tapi ia tak hendak mem­per­li­hat­kan­nya.

Sete­lah sele­sai baru Rimang ber­kata:

“Di sini­lah Dewi Par­wati. Yang Mulia,” dan dengan mata­nya ia menu­ding ke arah cabang.

Sebuah patung Par­wati dari dua jeng­kal ber­diri dari cabang itu, ter­lin­dungi oleh rimbun deda­unan.

Dedes meng­ang­kat sembah pada patung anyaman rontal itu. Dalam hari ia meng­he­rani betapa bisa dewi itu sampai men­da­pat­kan tempat begitu tidak layak di bawah keku­a­saan seo­rang satria Tuma­pel.

“Di sini­lah, Yang Mulia, demi Dewi Par­wati, demi Hyang Candra, sahaya ber­sum­pah untuk mem­bantu dan ber­se­tia pada Yang Mulia, hidup sampai pun mati.”

Mereka ber­ja­lan kem­bali ke keput­rian, kemu­dian masuk ke Bilik Agung.

Di bawah sinar damar Dedes mem­per­ha­ti­kan Rimang yang duduk di lantai, men­coba menerka siapa dia sesung­guh­nya. Dan dayang itu meng­ang­kat muka pada­nya.

“Kau dulu cantik, Rimang.”

“Tentu saja, Yang Mulia.”

“Berapa umurmu seka­rang?”

“Tiga puluh tujuh tahun surya, Yang Mulia.”

“Tidak­kah kau pernah ber­su­ami?”

“Bukan hanya ber­su­ami, Yang Mulia. Dahulu sahaya pun ada dua orang anak, semua lelaki.”

“Meng­apa kau ting­gal­kan mereka?”

“Sama dengan peng­a­laman Yang Mulia, diam­bil dari rumah dan dise­kap dalam keput­rian sampai seka­rang.”

“Jagad Dewa. Jagad Pra­mu­dita. Mak­sudmu, Rimang, adakah keda­tanganku ini men­de­sak tem­patmu?”

“Tidak, Yang Mulia, Sang Akuwu sudah tujuh tahun ini tidak memer­lu­kan sahaya lagi.”

Dedes ber­diri, ber­lu­tut di hadapan Rimang, meme­gangi dua belah bahu­nya:

“Manakah anakmu dengan Akuwu?”

“Sahaya telah ber­sum­pah takkan mengan­dung­kan benih­nya.”

“Kau mem­benci dia, Rimang?”

“Yang Mulia seo­rang Para­mesy­wari, tidak patut men­con­toh sahaya.”

“Kau mem­benci dia?”

“Sahaya anak sudra, Yang Mulia.”

“Kau mem­benci aku karena Para­mesy­wari?”

“Demi Par­wati. Tentu ada di antara para selir yang mem­benci Yang Mulia, tetapi bukan Rimang ini.”

“Tia­da­kah kau ingin men­da­pat­kan selu­ruh kasih Akuwu?”

“Selama lima belas tahun ini saya selalu menge­nang­kan suami dan anak-anak sahaya. Entah di mana mereka seka­rang.”

“Kasih betul kau pada mereka.”

“Mere­ka­lah suami dan anak-anak sahaya. Sebe­lum mati, sahaya masih ingin ber­temu. Yang Mulia. Suami sahaya dan sahaya tidak pernah ber­teng­kar. Sahaya masih ingat ter­a­khir kali meli­hat­nya pergi meng­gen­dong anak sahaya yang masih kecil dan meng­gan­deng yang lebih besar. Diusir keluar dari negeri Tuma­pel. Sahaya meme­kik memang­gil-mang­gil agar dibawa, tapi pra­ju­rit-pra­ju­rit itu menye­ret sahaya ke Kuta­raja.”

Ken Dedes duduk lagi di atas. Pada wajah Rimang tak ter­gam­bar­kan duka­cita Garis-garis keras ter­ta­rik pada ujung-ujung mulut garis-garis dendam.

“Kau bilang, kau anak sudra.”

“Benar, Yang Mulia.”

“Apa alasan Tung­gul Ame­tung?”

“Pernah sahaya cantik tiada tan­dingan di desa sahaya sejauh pemuda-pemuda yang mela­mar itu menya­ta­kan, sejauh suami sahaya selalu memuji Itu saja sudah suatu alasan, Yang Mulia.”

Bukan­kah untuk itu tak perlu suami dan anak-anakmu diusir dari negeri?”

“Adik suami sahaya meng­i­ng­in­kan sahaya dan alasan dicari-cari. Mula-mula adik ipar sahaya meman­cing-man­cing­nya ber­ti­kai ten­tang wayang. Suami sahaya seo­rang Syiwa seperti sahaya, seperti orang Syiwa lain­nya tidak setuju mem­per­ge­lar­kan kea­gungan para dewa mela­lui bayang-bayang kulit. Keter­ba­ta­san manu­sia tidak memung­kin­kan dia melu­kis­kan kebe­saran mereka. Sema­kin rendah yang mema­in­kan wayang itu, sema­kin men­ter­ta­wa­kan para dewa dibu­at­nya. Para dewa hanya layak disam­pai­kan oleh para pujangga dan brah­mana ...”

Ken Dedes tahu betul ten­tang per­so­alan itu. Wayang adalah per­ma­inan bodoh dari orang-orang bodoh yang tak meng­erti ajaran. Hanya para brah­mana yang berhak menaf­sir dan mene­rang­kan ten­tang para dewa. Tetapi Sang Hyang Erlangga sete­lah sepu­luh tahun naik tahta telah meni­tah­kan.” Bukan hanya kaum brah­mana saja yang berhak tahu ten­tang para dewa, semua orang boleh tahu, per­ge­lar­kan mela­lui wayang, karena bayang-bayang para lelu­hur dalam wayang adalah sama dengan bayang-bayang para dewa .... Sampai seka­rang ia seperti para brah­mana lain belum pernah menon­ton­nya.

Meli­hat Ken Dedes tidak men­de­ng­ar­kan ceri­ta­nya Rimang ber­henti.

“Meng­apa kau diam? Apa kemu­dian diper­buat oleh adik iparmu?”

“Itu saja sudah cukup jadi dalih untuk menu­duh­nya meng­hu­jat Sri Erlangga dan kaum Wisynu. Dan itu belum semu­a­nya. Per­ti­kaian itu kemu­dian ber­ki­sar pada soal Rama­yana. Ipar sahaya memu­lai sampai monyet pun meng­a­bdi pada Hyang Wisynu yang meni­tis pada Rama. Rama seba­lik­nya meng­ang­kat monyet-monyet itu jadi satria. Suami sahaya tadi­nya diam saja. Makin lama adik ipar sahaya sema­kin men­jadi-jadi, menga­ta­kan, kasih dan kemu­r­ahan Hyang Wisynu tanpa batas menyum­ram­bahi sampai titah yang seke­cil-kecil­nya. Sehingga, akhir­nya suami sahaya menam­bahi begini: monyet-monyet yang ber­jasa pada Hyang Wisynu itu tetap­lah men­jadi monyet dalam keke­sat­ri­a­an­nya, tak pernah jadi manu­sia. Seminggu kemu­dian pra­ju­rit Tuma­pel datang, dan begi­ni­lah jadi­nya nasib kami.”

“Kau sen­diri bagai­mana?”

“Sahaya selalu ber­pi­hak pada suami sahaya.”

“Hyang Wisynu tidak pernah mema­nu­si­a­kan monyet, sekali pun monyet bukan keku­a­saan Hyang Wisynu, Rimang. Itu hanya keku­a­saan Hyang Maha­dewa Syiwa, Dialah yang ber­ku­asa meng­u­bah bentuk apa pun dalam Jagad Pra­mu­dita. Bentuk, Rimang. Adapun ten­tang isi, titah sen­diri yang menen­tu­kan.”

“Sahaya hanya seo­rang sudra, Yang Mulia, tak banyak tahu ten­tang kiwan3, tenge­nan4 pun cuma sedi­kit. Sahaya hanya tahu ten­tang kasih pada suami dan anak.”

Betapa tidak ber­daya anak sudra di hadap­an­nya ini. Ia, seo­rang brah­mani, yang tahu banyak ten­tang kawan dan tenge­nan, juga tidak ber­daya. Para dewa tidak meno­long­nya, semua manu­sia juga tidak. Ayah­nya sen­diri tak ter­de­ngar war­ta­nya. Ia ter­se­dan-sedan. Apakah sia-sia semua ilmu dan penge­ta­huan yang telah dise­rap­nya sejak kecil ini? Apakah per­cuma saja semua yang telah dipel­a­jar­i­nya? Benar­kah kalau ajaran per­cuma, sama yang ter­ge­lar dalam Jagad Pra­mu­dita ini juga sia-sia?

“Yang Mulia, Yang Mulia,” Rimang ber­diri, “ampuni sahaya telah sedih­kah hati Yang Mulia.”

“Kau telah tidak ber­daya, Rimang. Aku pun tak lebih dari kau, biar pun aku bukan sudra.”

“Ber­be­las tahun ter­ku­rung di sini sahaya jadi meng­erti, Yang Mulia tiada punya teman. Jangan, Yang Mulia, tak ada guna ber­te­man. Per­ca­ya­lah, tak ada seo­rang pun bisa diper­caya. Dari sesama yang busuk, boleh jadi Rimang ini yang kurang busuk­nya.”

Rimang ter­diam meli­hat pedandi itu masuk, meng­ge­lar tikar dan duduk di hadapan Dedes. Sua­sana beru­bah karena keda­tangan­nya:

“Ber­hu­bung Yang Mulia Akuwu ber­ha­langan datang, sahaya datang untuk mene­mani” “Tak perlu aku kau temani.”

“Sahaya men­ja­lan­kan perin­tah Yang Suci.”

“Teman­i­lah Yang Suci, jangan aku.” Pedandi itu menge­rut­kan kening:

“Seti­dak-tidak­nya hari ini Yang Mulia Para­mesy­wari sudi bicara pada sahaya. Beribu teri­ma­ka­sih. Mari­lah kita nya­nyi­kan ber­sama puji Kebe­saran. Yang Mulia,” tanpa menunggu jawaban ia mulai menya­nyi.

Dedes menyer­tai, mula-mula dalam San­sa­kerta. Waktu ber­pin­dah dalam Jawa Dedes ber­henti.

“Yang Mulia Para­mesy­wari tak suka menya­nyi Jawa. San­sa­kerta Yang Mulia bagus, tepat tekanan dan pan­jang-pen­dek­nya. Sia­pa­kah guru Yang Mulia?”

“Siapa dewa puja­anmu?”

“Sang Hyang Maha­dewa.”

“Syiwa?”

“Syiwa Manak­ala, Yang Mulia.”

“Jagad Pra­mu­dita!”

“Meng­apa, Yang Mulia?”

“Aku kira semua di sini penyem­bah Wisynu.”

Pedandi itu meng­ang­kat kepala lagi, mem­per­ha­ti­kan sang Para­mesy­wari yang malam ini mulai mau ber­ta­nya-tanya.

“Aku ingin seo­rang diri malam ini.”

Pedandi itu meng­ang­kat sembah dan pergi.

Jadi perin­tah Bela­kangka dapat dipa­tah­kan­nya. Dengan diam-diam ia menik­mati keme­nang­an­nya. Dan ia akan per­gu­na­kan keku­a­sa­an­nya seba­gai Para­mesy­wari. Tapi benar­kah ia telah jadi Para­mesy­wari? Maji­kan di rumah asing ini?

Waktu Rimang datang untuk mela­ku­kan tugas menyer­ta­nya. Dedes men­coba meme­rin­tah­nya meng­am­bil­kan air panas. Dan hamba itu pergi dan balik mem­bawa cawan air panas. Ia pan­dangi wanita itu, mene­liti wajah­nya. Benar ia telah laku­kan perin­tah­nya dengan tulus. “Meng­apa kau mau aku perin­tah?”

“Meng­apa. Yang Mulia? Semua orang di peku­wuan ini harus laku­kan perin­tah Yang Mulia Para­mesy­wari.”

“Rimang, apalah arti diriku di sini maka perin­tahku harus dipa­tuhi?”

“Ah, Yang Mulia, Yang Mulia. Kuta­raja bukan desa. Rumah Yang Mulia dulu bukan peku­wuan. Yang Mul­i­a­lah yang ber­ku­asa di selu­ruh peku­wuan ini. Juga ber­ku­asa atas hidup dan mati.”

Dedes mere­dup­kan mata, kemu­dian meli­rik pada Rimang:

“Dan Sang Akuwu?”

“Yang Mulia Akuwu tidak mengu­rus peku­wuan ini. Yang Mulia Para­mesy­wari, tapi mengu­rus negeri. Seling­kupan peku­wuan ini di tangan Yang Mulia. Yang Mulia ting­gal jatuh­kan perin­tah, dan semua akan ter­jadi.”

Yang demi­kian tidak pernah ia dengar dari mulut ayah­nya, ia didi­dik tidak untuk mengu­a­sai peku­wuan dan manu­sia sei­si­nya.

“Ulangi kata-katamu, Rimang.”

Rimang meng­u­langi. Dedes menik­mati kein­dahan dan nikmat yang ter­kan­dung dalam keku­a­saan itu.

“Perin­tah­kan mena­buh game­lan, Rimang, dan terangi pen­dopo dengan empat damar lagi.”

Rimang pergi, dan seben­tar kemu­dian ter­de­ngar game­lan dita­buh.

Rimang datang lagi.

“Semua telah ter­jadi seba­gai­mana Yang Mulia perin­tah­kan.”

“Lima belas penya­nyi wanita supaya ber­lagu ber­sama, Rimang.”

“Untuk itu dibu­tuh­kan per­si­apan. Yang Mulia.”

“Aku sabar menunggu per­si­apan itu.” Dan Rimang pergi lagi.

Walau pun agak lambat ter­lak­sana, lima belas penya­nyi wanita mulai ter­de­ngar meng­iringi game­lan.

Rimang datang lagi:

“Tia­da­kah Yang Mulia ber­ke­nan meme­riksa semua?” Ken Dedes bang­kit dari duduk­nya dan ber­siap-siap hendak keluar.

“Sabar, Yang Mulia,” ia mem­per­ba­iki rias Para­mesy­wari, dan mena­han­nya keluar dari Bilik Agung.” Belum, Yang Mulia, nanti Yang Mulia akan lihat, semua akan sujud dan menyem­bah Tetapi pita mah­kota ini jangan sekali-sekali ter­lupa bila nampak di hadapan orang banyak.” Ia ambil pita mah­kota yang ber­ta­buran intan per­mata itu dari lemari batu dan menge­na­kan­nya pada kepa­la­nya.

Dedes meme­jam­kan mata, memo­hon pada dewata agar dikem­ba­li­kan keper­ca­ya­an­nya pada diri sen­diri. Dihi­rup­nya nafas dalam-dalam. Ia akan memu­lai hidup seba­gai Para­mesy­wari dengan sepe­nuh keku­a­saan hidup dan mari.

Keluar dari Bilik Agung ia lihat pedandi itu ber­diri meng­ang­kat sembah dan mem­bung­kuk­kan badan ber­bi­sik:

“Hendak ke manakah. Yang Mulia Para­mesy­wari?”

“Tak perlu kau tanya­kan.”

“Ampun, Yang Mulia, adalah di luar acara ...”

Dedes tak mem­pe­du­li­kan­nya. Ia melang­kah ke bendul untuk mema­suki pen­dopo. Di bela­kang­nya ia dengar suara pedandi itu ter­tuju pada Rimang:

“Kepa­lamu akan jatuh karena peris­tiwa ini.”

Dedes ber­henti, menunggu Rimang meng­iring­kan­nya. Dengan dada tegak dan lang­kah agung ia mema­suki pen­dopo. Semua pena­buh dan penya­nyi ber­henti, meng­ang­kat sembah, juga para penga­wal. Ia gerak­kan jari­nya meme­rin­tah game­lan dita­buh kem­bali. Dan game­lan itu ber­bu­nyi lagi diting­kah oleh nyanyi ber­sama lima belas orang dara.

Ia ter­se­nyum puas menge­ta­hui wujud dari keku­a­sa­an­nya seba­gai Para­mesy­wari. Pen­dopo itu dike­li­ling­i­nya. Dalam han tak henti-henti ia meng­u­cap syukur kepada Hyang Maha­dewa. Keku­a­saan ini adalah indah dan nikmat. Ia takkan mele­pas­kan­nya lagi, dan ia akan jadi­kan ben­teng untuk dir­i­nya sen­diri, juga ter­ha­dap duka­cita dan rusuh hati.

Sekali mengi­tari pen­dopo kemu­dian ia balik masuk ke Bilik Agung dan meme­rin­tah­kan pada Rimang supaya game­lan ber­henti. Game­lan itu ber­henti seke­tika.

“Hyang Par­wati telah lin­dungi Yang Mulia,” bisik Rimang, “Hyang Maha­dewa telah anu­ge­rah­kan keku­a­saan ter­tinggi di tangan Yang Mulia. Pan­dang­lah Rimang yang hina ini. Dengan perin­tah Yang Mulia, akan sahaya sam­pai­kan untuk jadi kenya­taan.”

Ken Dedes ber­lu­tut men­dam­pingi Rimang. Nafas besar dihem­bus­kan­nya. Ia meng­ang­kat sembah dada. Keku­a­saan tanpa batas itu ter­ba­yang oleh­nya seperti cakra5 Hyang Wisynu yang mampu menem­bus segala.

Nyala damar di empat pen­juru ruangan ia rasa­kan seperti karu­nia dari Hyang Surya sen­diri, yang mem­be­ri­nya keku­atan, jauh lebih besar dari­pada sebe­lum­nya keku­atan untuk men­da­pat­kan segala.

Dalam tun­duk­nya ia ter­se­nyum. Ber­bi­sik:

“Jagad Dewa. Jagad Pra­mu­dita.”

Sudah bebe­rapa hari ia tidak meli­hat sua­mi­nya. Kini ia mulai beru­bah men­jadi orang lain seo­rang pri­badi yang tak pernah diba­yang­kan­nya sebe­lum­nya. Para dewa mem­per­gu­na­kan tubuh hidup manu­sia untuk mela­ku­kan kehen­dak mereka. Mela­lui tubuhku yang hidup akan kula­ku­kan segala yang jadi kehen­dak mereka.

Kini ia tidak lagi menye­sali mene­tes­nya darah pada malam per­tama itu. Kini ia malah ber­syu­kur pada detik per­pi­sahan antara Dedes anak brah­mana Mpu Parwa tiada arti men­jadi Ken Dedes Sang Para­mesy­wari. Ayah­nya hanya bisa menge­cam-ngecam Tung­gul Ame­tung. Ia akan menak­luk­kan­nya.

Dan waktu bulan sema­kin lambat juga ter­bit­nya, sekali dalam iringan Rimang dan para penga­wal ia ber­kun­jung ke pura. Rimang kem­bali sebe­lum mema­suki torana. Para penga­wal menunggu dan ber­ke­mit di luar. Bahkan penunggu pura ia perin­tah­kan pergi sete­lah mem­ba­kar­kan dupa-setanggi.

Dengan keper­gian Tung­gul Ame­tung ia telah perin­tah­kan meng­u­bah susunan pura. Ia akan men­da­pat tan­tangan dari banyak orang, dan ia sengaja hendak menan­tang mereka. Ia lang­sung pergi ke sebe­lah utara, ber­lu­tut di hadapan Durga. Mula-mula ragu untuk meng­u­cap­kan sesu­atu. Diang­kat­nya muka­nya, mena­tap syakti Sang Syiwa itu, seo­rang dewi yang mena­kut­kan dengan tangan­nya yang dela­pan.

Patung kayu coklat tua meng­ki­lat itu baru sepagi dipa­sang. Ia per­ha­ti­kan tangan­nya satu demi satu, dan lam­bang-lam­bang yang diba­wa­nya: sang­kala, peri­sai, panah, busur, pedang .... Ia menun­duk lagi.

Dewi yang penuh muji­zat itu ....

Ia sema­kin menun­duk, menu­run­kan sem­bah­nya. Ia tak menye­dari buah­da­da­nya sen­diri menge­r­jap seperti buah­dada Sang Durga. Dulu ia selalu mem­pu­nyai pera­saan takut pada­nya. Keku­a­sa­an­nya dalam mem­bi­na­sa­kan meng­ge­tar­kan­nya. Bahkan menye­but­kan nama­nya ia gentar. Seka­rang ia merasa men­da­pat­kan kasih-sayang­nya. Dewi­nya yang ber­ta­ngan dela­pan ini akan tumpas segala dan semua yang akan meng­ha­dang jalan­nya.

Nenek-moyang telah menyi­ap­kan peng­er­tian ini. Mpu Parwa ber­kali-kali telah mem­be­ri­nya tafsir ten­tang­nya. Seakan semua meretas jalan bagi­nya untuk peris­tiwa hari ini. Dalam kepa­la­nya muncul Bano­wati, istri Suyud­hana, raja Kau­r­awa. Bekas pacar Arjuna itu pada suatu kali dida­tangi oleh keka­sih­nya yang menyu­r­uh­nya mene­rima pinangan Suyud­hana. Dia harus jadi Para­mesy­wari raja Kau­r­awa, untuk kelak dapat mem­ban­tu­nya menga­lah­kan Kau­r­awa sen­diri di medan perang Bha­ra­ta­yud­dha.

Ia angkat lagi kepa­la­nya, mena­tap ke atas pada mata Sang Durga.

“Inilah sahaya, ya, Durga, inilah Bano­wa­timu, datang menye­rah­kan hidup dan mati sua­miku padamu.”

Ia ter­he­nyak di tempat. Suara tawa meng­a­kak itu ter­de­ngar meme­kak­kan teli­nga­nya. Bulu roma­nya meng­ger­mang dan darah­nya men­jom­pak ke kepala. Ia ber­diri dan dili­hat­nya patung itu sese­kali tak mem­bu­ka­kan mulut.

“Per­ma­taku!”

Ia ber­pa­ling ke arah torana dan dili­hat­nya sua­mi­nya ber­diri ber­to­lak-ping­gang.

“Mari, Per­ma­taku, betapa rindu kakanda sepe­kan ber­pi­sah, mari! Kau ting­gal­kan Bilik Agung kosong tanpa jiwa ...” Tetapi ia tak ber­u­saha naik ke pura.

Ken Dedes kem­bali pada sikap-duduk­nya yang semula, mene­rus­kan per­ca­kap­an­nya dengan Hyang Durga:

“Itulah suami sahaya, ya, Hyang Durga. Bahkan bicara deng­anmu pun hendak diha­lang­i­nya. Betapa telah hina­nya kaum satria ...”

“Ada banyak waktu untuk itu. Per­mata!” Seru Tung­gul Ame­tung dari torana. Ken Dedes tetap dalam kea­da­an­nya:

“Inilah sahaya, Hyang Durga, Bano­wa­timu, yang akan jual suami pada musuh­nya,” ia ter­henti, menun­duk dalam.

Seakan ia dengar suara sayup dan lembut, keluar dari hati seo­rang ibu yang men­cinta: Kau tegakan sua­mimu, anakku, hendak kau jual pada musuh­nya sen­diri? Siapa gerangan musuh sua­mimu?

“Kaum brah­mana, ya, Hyang Durga! Belum lagi sahaya tahu benar, ya, Durga, adalah seo­rang brah­mana muda, brah­mana jiwa­nya, tapi tangan­nya tangan satria seperti kau. Sua­miku telah lari dari dia, pergi meng­ha­dap ke Kediri, boleh jadi minta bala­ban­tuan. Lin­dungi dan sokong­lah brah­mana muda itu, ya, Hyang Durga!”

Dan seakan ia men­de­ngar jawaban: Bagai­mana bisa, kau, lebih per­caya pada brah­mana muda yang belum pernah kau kenal? Nama­nya pun kau tidak tahu?

“Hati wanita ini telah dige­rak­kan oleh Hyang Maha­dewa. Ya, Bat­hari, tak mampu memung­kiri untuk sekali dapat meli­hat wajah­nya, men­de­ngar sua­ra­nya, menge­ta­hui hati­nya. Tidak­lah ter­lalu luas negeri Tuma­pel ini, ya, Hyang Durga Bano­wa­timu ini ingin tahu siapa dia brah­mana muda dengan kumis seke­pal itu.”

Seakan ia dengan Durga ter­tawa meng­a­kak mem­be­nar­kan­nya, dan: Boleh jadi takkan lama kau akan tahu brah­mana muda musuh sua­mimu itu. Tidak akan lama lagi ....

Ia renung­kan jawaban yang seakan dide­ng­ar­nya itu. Adakah itu suara Durga, atau men­di­ang ibunya sen­diri yang tak pernah dike­nal­nya, atau hanya suara harap­an­nya sen­diri? Ia tak tahu.

“Apapun yang kau kata­kan padaku, ya, Durga, mela­lui suara siapa pun, men­j­a­dilah pedang dan peri­sai pada tanganku dan petun­juk dalam hatiku.”

“Per­ma­taku! Betapa lama aku harus menanti?” Seru suara itu.

“Itulah satria sua­miku, ya, Bat­hari, yang tidak jera-jera mem­buru wanita, mele­pas segala kama yang ada dalam dada­nya, seperti anjing yang tak kenal bapa lagi.”

“Apakah harus aku bopong kau keluar dari pura, Per­mata?” Suara dari luar torana itu ter­de­ngar lagi.

Ken Dedes men­su­jud­kan diri pada kaki Durga. Ia padam­kan pan­ca­in­dera mema­suki alam darana6. Waktu terasa mati, ber­sama Hyang Maha­kala mera­suki Bat­hari Durga. Dan waktu ia telah bangun dalam kese­dar­an­nya, ia lihat Tung­gul Ame­tung telah duduk di sam­ping­nya. Bau wewa­ng­ian menyer­baki tubuh pria itu. Jelas ia telah mening­gal­kan torana pura dan mandi, ber­ganti pakaian dan ber­so­lek diri.

“Cukup, Per­ma­taku.”

Dedes bang­kit ber­diri, menun­duk­kan kepala, tak meno­lak digan­deng suami. Tangan itu lemah-lembut mena­rik­nya lang­sung ke ger­bang Taman Larangan. Seo­rang pra­ju­rit mengunci kem­bali ger­bang itu di bela­kang mereka.

Taman Larangan itu senyap. Hanya mereka berdua di dalam, ter­ke­pung oleh pagar tanah liat bakar, kemu­dian lapisan din­ding gedung peku­wuan yang memu­tari.

Ia rasai tangan Tung­gul Ame­tung mulai mere­mas jari-jari­nya. Para­mesy­wari itu meno­lak ber­ja­lan terus, mem­be­lok ke kiri dan duduk di bangku. Ia menunggu teguran sua­mi­nya karena telah menem­pat­kan Durga dalam pura Wisynu.

Dan Tung­gul Ame­tung tidak mene­gur­nya. Akuwu itu meme­luk­nya. Hari ini adalah awal dari kebi­na­saan, Tung­gul Ame­tung! Paling tidak juga Rimang menyer­tai aku.

“Kau tiada ber­ta­nya dari mana saja kakanda selama ini?” Bisik­nya mesra. “Urusan satria adalah mengu­rusi negeri.”

“Benar, Per­mata. Tiada aku sangka anak brah­mana tahu ten­tang satria.”

Ia rasai tangan Akuwu pindah meme­luk ping­gang­nya yang ram­ping seperti ping­gang lebah. Dan ia mem­be­nar­kan dir­i­nya dipe­luk.

“Aku tunggu kema­rahan.”

“Patut­kah Akuwu Tuma­pel marah pada Para­mesy­wari?”

“Kau biar­kan Hyang Bat­hari Durga ada di pura?”

“Malam ini juga akan dipin­dah­kan ke Bilik Para­mesy­wari.”

“Kau takut pada Bela­kangka?”

Ia ter­tawa, suka istri­nya mulai mau bicara, kemu­dian:

“Takut? Hanya saling mem­beri dan mene­rima.”

“Apa yang kau beri­kan dan apa yang kau terima?”

Tung­gul Ame­tung ter­tawa:

“Itulah urusan satria, bukan brah­mana.”

“Hyang Bahari Durga tak perlu dipin­dah­kan”

“Sudah cukup kesu­l­itan di Kediri karena Bela­kangka Jangan per­su­lit aku.”

“Apa yang menyu­l­it­kan kau di Kediri?”

“Itulah urusan satria.”

“Bukan, seti­dak-tidak­nya bukan ten­tang agama7. Karena menyang­kut ten­tang Bela­kangka, kira­nya ten­tang igama8.

“Dasar anak brah­mana. Hendak terus juga kau mengu­rusi soal igama?”

Tung­gul Ame­tung hendak mem­bi­su­kan­nya dengan ciuman, tetapi Para­mesy­wari menyo­r­ong muka­nya: “Kita sele­sai­kan dulu ini.”

“Apa harus dise­le­sai­kan? Tiba-tiba kau mau bicara, dan tiba-tiba kau jadi begini keras. Apakah Rimang yang meng­a­jari kau jadi begini? Barang­kali dia ingin jadi budak.”

“Tak ada tam­ba­han budak selama aku Para­mesy­wari di sini.”

“Dia akan dike­lu­ar­kan dari peku­wuan.”

“Bukan Rimang, pedandi itu!”

“Apa kesal­ah­an­nya?”

“Itulah perin­tah Para­mesy­wari.”

“Dan perin­tah Sang Akuwu yang sudah dike­lu­ar­kan, Durga harus keluar dari pura. Dia boleh tung­gui kau di Bilik Para­mesy­wari.”

“Teri­ma­ka­sih diper­bo­leh­kan aku ting­gal­kan Bilik Agung.”

“Kau belum lagi kupe­rin­tah­kan,” ia diam seben­tar.” Mari, hari sudah larut malam. Jangan kau lupa, akulah pengu­asa selu­ruh Tuma­pel.”

“Akulah Para­mesy­wari.”

“Kau tak lagi ludahi aku, tak lagi pukuli dan cakar. Sama saja, hanya cara­nya yang ber­beda. Tidak apa. Dengan kaulah semua kesu­l­itan bakal ter­a­tasi. Mari,” ia ber­diri dan mena­rik Dedes.

Para­mesy­wari tidak mem­ban­tah. Mereka berdua ber­ja­lan.

Pintu ke arah Bilik Larangan dike­tuk. Pintu itu ter­buka dan Rimang tampak ber­lu­tut meng­ang­kat sembah. Tung­gul Ame­tung ber­pa­ling ke kanan: “Itulah pintu Bilik Para­mesy­wari. Dulu kau ting­gal di situ tapi pintu itu belum pernah kau lalui.

Tung­gul Ame­tung menyi­bak­kan tabir dari potongan ran­ting bambu petung. Rimang merang­kak mening­gal­kan Bilik Agung, mem­bawa bantal dan tikar keti­duran. Di bawah damar pojo­kan ia mem­bi­ar­kan dir­i­nya dipe­luk, dicium oleh Tung­gul Ame­tung, kemu­dian dibo­pong naik ke per­a­duan.

“Kakanda tak pernah sam­pai­kan kepa­daku ten­tang nasib ayahku.”

“Semes­ti­nya dia datang pada Tung­gul Ame­tung untuk meres­tui kita.”

“Meng­er­ti­kah kau arti­nya seo­rang ayah?” Ia lihat gele­gak darah panas meme­rahi wajah sua­mi­nya. “Adakah ayahku kau bunuh?”

“Tidak,” jawab­nya keras.

“Kau begitu patut kau keta­hui kata Hyang Durga padaku ...” Tung­gul Ame­tung tiba-tiba melang­kah mundur: “Bicara padamu?”

“Para­mesy­wari Tuma­pel tidak ter­lalu hina untuk Hyang Bat­hari. Tidak­kah kakanda pernah deng­ar­kan suara dewa?” Sua­mi­nya meng­ge­leng. “Suara dewi?” Sekali lagi meng­ge­leng.

Darah panas Akuwu susut, beru­bah muka­nya jadi pucat.

“Apa kata Hyang Durga padamu?”

“Cari­lah ayahku, seka­rang juga.”

“Pra­ju­rit-pra­ju­rit Tuma­pel akan men­ca­ri­nya.”

“Tidak, oleh Akuwu Tuma­pel Tung­gul Ame­tung sen­diri.”

“Jagad Dewa! Tidak­kah kita lewat­kan saja malam ini, besok baru aku cari?”

“Bukan aku. Hyang Bat­hari sen­diri yang bilang: seka­rang juga, dan oleh Akuwu Tuma­pel sen­diri”

“Sen­diri?” ia men­coba mem­bu­juk istri­nya, duduk di per­a­duan. “Per­ma­taku! Per­ma­taku! Betapa mahal ber­pa­ra­mesy­wa­ri­kan kau,” ia men­coba men­cium dan Dedes mem­be­ri­kan pipi­nya.

“Per­gi­lah, jangan kotori dirimu dan piki­ranmu. Kewa­ji­b­anmu pada ayahku belum pernah kau laku­kan. Bulan pun sudah terbit.”

Tung­gul Ame­tung melang­kah mening­gal­kan ruangan Bilik Agung dengan kaki ter­se­ret berat.

Dedes meng­an­tar­kan sua­mi­nya sampai ke tabir bambu.

Waktu Rimang masuk lagi dan meng­ge­lar tikar di bawah per­a­duan, ia telah lenyap dalam tidur ber­ba­ha­gia. Semua beban telah dise­rah­kan­nya pada Hyang Bat­hari Durga. Ia tahu, ia dapat tak­luk­kan sua­mi­nya. Ia telah padukan cita dengan keya­kinan. Pada wajah­nya ter­sun­ting senyum – senyum abadi, senyum Ken Dedes.

Rimang mem­per­ha­ti­kan senyum itu. Meng­ge­leng-geleng. Tubuh sein­dah ini, dengan senyum yang sesuci itu, harus dia­ba­di­kan. Seakan wanita ini bukan seo­rang Para­mesy­wari tetapi Hyang Laksmi sen­diri ....

Ken Dedes ter­ba­ngun. Dunia dira­sa­i­nya ber­gon­cang-gon­cang hendak ter­ba­lik. Rimang ber­diri ter huyung-huyung di hadap­an­nya tanpa meng­ang­kat sembah. Tangan­nya menyam­bar Para­mesy­wari dan bicara ter­gesa:

“Gempa, Yang Mulia,” dita­rik­nya Dedes turun dan per­a­duan.

Dengan ter­hu­yung-huyung pula ia ber­ja­lan ke setiap pojok dan mema­dam­kan damar.

Bumi terasa kehi­langan keko­ko­han­nya, meng­om­bak dalam cahaya bulan tua. Sebuah tiang api mele­sit dari perut bumi, menga­lah­kan bulan dan bin­tang-gemin­tang, seke­jap, jauh di barat sana, di balik lereng utara Gunung Kawi. Perut bumi ter­de­ngar meng­ge­le­tar.

Ter­hu­yung-huyung Dedes mening­gal­kan Bilik Agung, mening­gal­kan Taman Larangan, keluar dari ger­bang, lari ter­hu­yung pula menuju ke pura.

Patung Hyang Bat­hara Guru dan Hyang Bat­hari Durga sudah tak ada di dalam­nya.

Ia merang­kak ke tempat bekas Bahari Durga, ber­te­kuk lutut, angan ter­te­nga­dah:

“Mereka telah khi­a­nati kau, ya, Bat­hari. Apakah semua satria ini akan punah ber­sama dosa-dosa­nya? Semoga tidak selu­ruh titah alami nasib yang sama.”

Sebuah dari damar pura jatuh. Cair­an­nya mem­be­la­bar, mem­ba­kar seba­gian dan gela­dak kayu. Bebe­rapa orang penga­wal masuk ke dalam dan mema­dam­kan­nya dengan kaki­nya. Salah seo­rang datang pada­nya, meng­ang­kat sembah dan ber­kata: “Yang Mulia Para­mesy­wari, Yang Mulia Sang Akuwu sedang pergi. Lihat­lah kawula Yang Mulia, titah­kan sesu­atu pada mereka dalam ben­cana men­jadi-jadi seperti ini ...”

Ken Dedes meli­rik pada penga­wal itu. Tak dapat ia meli­hat wajah­nya. Damar itu telah mati. Ia ber­diri dan melang­kah gontai keluar dari pura, turun ke bumi yang goyang. Dalam cahaya bulan tiang api itu ber­u­lang ber­diri tegak dari perut bumi. Dan ia lihat semua orang ber­lu­tut meman­dang ke arah Gunung Kelud. Semua orang meng­u­cap­kan puji-pujian.

“Ber­henti kalian, nya­nyi­kan puji-pujian untuk Hyang Durga,” perin­tah­nya, “tak ada keku­atan pada kalian untuk mena­han mur­ka­nya,” itulah per­tama kali ia bicara di depan umum pada kawula.

Mereka meng­ang­kat sembah pada­nya.

“Khi­a­nat! Perem­puan khi­a­nat!” Seo­rang penga­wal meme­kik pada­nya, “men­di­r­i­kan Durga di pura dalam.”

Dedes ber­pa­ling pada penga­wal yang meng­iring­kan­nya.

Lelaki ber­ba­dan per­kasa itu meng­ang­kat tombak dan melem­par­kan­nya pada penga­wal lain yang masih meme­kik-mekik itu. Pekikan itu padam. Tubuh­nya roboh dan tak ber­ge­rak lagi.

Seakan telah jadi seo­rang brah­mani penuh ia meng­ang­kat tangan ke arah mulut Kelud yang menyem­bur­kan kepun­dan. Ia tahu bumi gon­cang begini hanya karena amarah Bat­hari Durga yang dipin­dah­kan dari pura. Seakan di hadapan sidang raha­sia kaum brah­mana ia mulai menya­nyi­kan baris per­tama lagu puja untuk kebe­saran Hyang Maha­dewa.

Orang ber­sama meng­i­kut­i­nya, tidak jelas, semua tak mema­hami San­sa­kerta.

Baris demi baris telah ia ucap­kan sampai sele­sai. Dan ia telah kehi­langan keta­kut­an­nya sen­diri. Seakan sen­diri Hyang Bahan Durga, ber­kata:

“Apakah sebab­nya murka dewata ditim­pa­kan pada bumi dan manu­sia seperti ini?” Waktu tak ada seo­rang pun men­ja­wab, ia ber­ja­lan mema­suki rom­bongan orang ber­lu­tut yang sema­kin padat itu. “Ber­diri kalian semua.” Dan semua kawula, laki dan perem­puan, juga para penga­wal, ber­diri. “Tiada sesu­atu cedera bakal menimpa kalian. Ingat-ingat hari ini. Mulai saat ini kem­ba­li­lah memu­li­a­kan para dewa, ting­gal­kan dosa para satria. Hilang­kan lelu­hur itu dari piki­ran, dari hati, dari pura dan dari candi. Para dewa­lah yang sesung­guh­nya ber­ku­asa, bukan lelu­hur siapa pun. Cela­ka­lah yang men­de­wa­kan lelu­hur. Lihat kalian di langit sebe­lah barat sana ...”

Tiga buah payung api menyem­prot ber­tu­rut-turut ke udara, disu­sul oleh tiang api yang lebih rendah. Tiang-tiang itu kemu­dian sema­kin rendah, kemu­dian mene­tap ting­gi­nya seperti api yang keluar dari tanur pandai besi. Bumi sema­kin kurang meronta.

“Ucap­kan syukur kalian semua pada para dewa!” Semua ber­ge­rak pergi ke pura peku­wuan, meng­iring­kan di bela­kang­nya.

Ia mena­ik­kan teri­ma­ka­sih atas muji­zat yang dite­ri­ma­nya, bahwa semua orang telah men­de­ng­ar­kan kata dan perin­tah­nya orang seba­nyak itu, laki dan perem­puan, bin­tara dan pra­ju­rit biasa.

Waktu ia menu­runi tangga torana pra­ju­rit penga­wal itu menyam­but­nya dengan sembah:

“Ber­laksa teri­ma­ka­sih, ya. Dewi Kebi­jak­sa­naan.”

“Siapa namamu?”

“Dadung Sung­ging, ya, Dewi Kebi­jak­sa­naan, pra­ju­rit penga­wal Tuma­pel.” Dari keja­uhan nampak keba­karan ter­jadi di bebe­rapa tempat. “Pergi kalian semua, sela­mat­kan semua orang dan rumah dari api keba­karan. Pang­gil Kepala Penga­wal.”

Yang dipang­gil­nya datang meng­ham­piri, meng­hor­mat dengan gedi­kan tombak. “Siapa namamu?”

“Pang­a­lasan, Yang Mulia.”

“Tak ada pra­ju­rit boleh ber­leng­gang tanpa kerja! Peku­wuan tak perlu dika­wal. Para­mesy­wari cukup dika­wal oleh Dadung Sung­ging.”

Dalam cahaya bulan ia lihat semua pra­ju­rit penga­wal lari ke semua jurusan di mana nampak api mulai memu­nah­kan rumah.

“Ya, Guru,” gumam Dedes, “detik ini telah kau beri­kan padaku tri­sula. Semua deng­ar­kan apa yang jadi kehen­dakku,” ia jatuh ber­lu­tut dan ter­sedu-sedu penuh keba­ha­gi­aan dan syukur men­da­pat­kan tri­sula pada tangan­nya.

Dalam iringan Rimang dan Dadung Sung­ging, ber­ke­ru­dung kain penu­tup dingin ia ber­ja­lan seperti pera­wan anak Mpu Parwa dulu di desa sen­diri, meme­riksa semua bangu­nan peku­wuan. Di rumah tung­guk kemit masih ter­sisa tiga orang pra­ju­rit penga­wal. Mereka pun ia usir menyu­sul teman-teman­nya. Ia melang­kah cepat seperti wanita petani, tak meng­in­dah­kan ram­but­nya yang buyar beran­takan. Di sebe­lah selatan kota tanah telah reng­kah dan long­sor, menye­ret barang dua puluh lima rumah dalam tim­bunan kayu bakar, dan api menan­dingi Kelud.

Men­de­kati surya terbit angin mulai meniup pelahan, kemu­dian ken­cang sejadi-jadi­nya men­ju­rus ke barat

Ia awasi sen­diri penye­la­matan rumah yang masih bisa dise­la­mat­kan, korban yang ber­ja­jar dalam balai kota, mem­bu­bung­kan orang, rintih dan aduh. Ia masuki balai kota dan meli­hat sen­diri seo­rang dokter mem­be­dah kaki seo­rang bocah untuk menge­lu­ar­kan kepingan kayu dari dalam­nya. Tangan dan kaki bocah itu diikat pada ambin dalam kea­daan ping­san.

“Kau biar­kan anak kecil ini ping­san dalam kesa­kitan,” tegur, “hanya karena dia anak paria!”

Dokter itu mene­rus­kan peker­ja­an­nya, ber­pa­ling dan mem­ben­tak:

“Diam kau perem­puan celaka.”

“Siapa gurumu, maka anak yang tak dapat mem­bela diri ini tak kau bius sebe­lum­nya?” Dokter itu mele­tak­kan pisau, mem­ben­tak sekali lagi: “Tahu apa kau, perem­puan celaka? Pergi!” Dan mene­rus­kan peker­ja­an­nya.

“Tak sepa­tut­nya brah­mani dapat jawaban seperti itu. Aku perin­tah­kan padamu: bius!” Seakan tri­sula Hyang Guru ter­geng­gam di tangan dan dia­cu­kan pada­nya. Dokter itu ber­ba­lik. Lampu pada tangan pem­ban­tu­nya meman­car­kan sinar pada profil Ken Dedes dengan mah­kota pita ber­ta­buran intan per­mata dan pada profil dokter yang sudah tua itu.

Orang tua itu meng­ang­kat sembah dengan lutut kehi­langan tenaga, jatuh ke lantai: “Ampun.”

Para­mesy­wari Tuma­pel melang­kah mening­gal­kan­nya. Dokter itu men­da­pat keku­at­an­nya kem­bali, ber­diri dan segera meng­i­kuti lang­kah­nya.

“Ampuni sahaya, ya, Yang Mulia,” bisik­nya.

“Ampuni dia, ya, Dewi Kebi­jak­sa­naan,” Dedes dengar suara Dadung Sung­ging.

Ia ber­henti dan ber­pa­ling sedi­kit. Tidak mudah seo­rang brah­mani mem­be­ri­kan ampun kunci raha­sia kese­raman brah­mana. Ia ber­pi­kir apa harus diper­bu­at­nya.

“Siapa namamu?”

“Orang memang­gil sahaya, Dalung, ya, Yang Mulia.”

“Ampun untukmu. Dalung.” Dokter itu men­ja­tuh­kan diri dan menyem­bah. Ken Dedes ber­pa­ling pada Rimang, ber­bi­sik: “Adakah dia orang yang tak kenal para dewa?”

“Dila­hir­kan di desa jauh. Yang Mulia, seo­rang dokter ter­ca­kap, hanya juga jauh dari kebi­jak­sa­naan. Patut diam­puni. Yang Mulia.”

Ayam yang ber­ko­kok menyam­but datang­nya hari baru mem­beri tanda bumi sudah takkan ter­gon­cang lagi. Tetapi awan hitam mulai menu­tup langit. Segala benda ang­kasa hilang dite­lan­nya. Matari pun tak mampu memun­cul­kan muka. Bahkan nyala damar dan keba­karan yang belum ter­pa­dam­kan mulai jadi redup, seakan Hyang Agni9 sudah jadi rabun tua, dan itu pun kemu­dian hilang dalam keke­la­buan.

“Kem­bali, Yang Mulia,” Rimang mem­per­i­ng­at­kan, kemu­dian menun­tun Para­mesy­wari men­cari jalan pulang, meng­ge­ra­yang dengan tangan dan kaki. Udara sesak dihi­rup mengan­dung panas dan bau bele­rang.

Sepan­jang jalan Ken Dedes meng­gu­mam­kan mantra. Dan jalan pulang itu terasa sangat, sangat jauh. Orang tak tahu lagi waktu. Dari sana-sini ter­de­ngar para pra­ju­rit penga­wal ber­seru men­cari Sang Para­mesy­wari. Dan Ken Dedes tidak men­ja­wab.

Waktu pada akhir­nya sampai di pen­dopo peku­wuan, Yang Suci Bela­kangka ber­diri di antara damar-damar yang menyala besar.

“Yang Mulia Para­mesy­wari,” tegur­nya, “semua orang sedang men­cari Yang Mulia.”

“Apakah patut Yang Suci ting­gal aman di sini, sedang yang lain menye­la­mat­kan yang seng­sara?” Tegur­nya kem­bali.

“Para dewa telah mengu­tuk manu­sia yang ber­dosa. Tak ada sesu­atu yang bisa men­ce­gah datang­nya hukuman. Mereka hanya harus men­ja­lani.”

“Para dewa telah meng­hu­kum. Bayi-bayi yang baru lahir itu dihu­kum, boleh jadi sama sekali tanpa dosa. Apakah Yang Suci tidak pernah bel­a­jar ugama?10 Para dewa benar telah meng­hu­kum, bukan Yang Suci. Yang Suci hanya seo­rang titah,” tukas­nya berang, dan terus masuk ke Bilik Agung.

Ia tak peduli pada pan­dang gusar Bela­kangka yang tak dapat menem­busi hali­mun debu itu.

Selama tiga hari kabut debu mera­ja­lela. Semua yang ter­ge­lar di atas bumi ter­se­la­puti oleh­nya. Waktu matari mulai keli­hatan lagi, hanya pasir lembut itu juga yang nampak kelabu. Murka sang Kelud telah reda. Angin silir meniup ke dalam hati semua kawula Tuma­pel.

Orang meng­a­gung­kan Ken Dedes seba­gai Dewi Kebi­jak­sa­naan.

Perin­tah yang dibe­ri­kan­nya pada para penga­wal, peris­tiwa dokter Dalung, telah menim­bul­kan harapan pada orang kecil akan datang­nya tangan Sang Pelin­dung.

Dan orang tidak mengu­at­i­rkan hilang­nya Tung­gul Ame­tung. Kalau toh Sang Akuwu hilang dite­lan tanah reng­kah, Sang Para­mesy­wari akan jadi peng­gan­ti­nya yang lebih baik.

Di antara semua yang men­de­rita hanya Yang Suci yang paling geli­sah. Ia tak dapat meneng­gang kenya­taan meli­hat Ken Dedes nampak tiba-tiba men­jadi keras, angkuh dan galak ter­ha­dap dir­i­nya. Lebih dari itu: nampak dibe­nar­kan oleh semua kawula. Ia mem­bu­tuh­kan banyak waktu untuk ber­pi­kir, men­cari jalan untuk menun­duk­kan­nya. Dedes bisa meng­geng­gam Tung­gul Ame­tung dalam penga­ruh­nya. Dan itu tidak boleh ter­jadi.

Pada sore hari datang Tung­gul Ame­tung dalam tandu, digo­tong oleh empat orang pra­ju­rit penga­wal.

Para­mesy­wari menyam­but­nya di pintu Bilik Agung.

Ia diis­ti­ra­hat­kan di per­a­duan. Bela­kangka, Dalung dan pem­ban­tu­nya segera menge­pung­nya. Juga Sang Patih. Dan Yang Suci itu tidak menying­kir ter­ha­dap­nya. Ia merasa Pan­dita Negeri itu sengaja hendak mere­meh­kan­nya.

Patih Tuma­pel ber­lu­tut di depan kaki Sang Akuwu. Nam­pak­nya juga merasa tidak senang meli­hat Yang Suci seperti sengaja hendak mema­gari semua orang agar tak ter­lalu dekat pada Tung­gul Ame­tung.

Ken Dedes masih dapat dengar suara bisik sua­mi­nya: “Bagai­mana bran­dal itu? Apakah belum ada beri­ta­nya?”

“Belum, Yang Mulia,” jawab Yang Suci meng­am­bil kata-kata dari mulut Sang Patih. “Sang Patih telah menge­rah­kan selu­ruh kemam­pu­an­nya. Malahan kete­rangan ten­tang­nya tak bisa dida­pat­kan.”

“Sahaya tetap pada pen­di­r­ian sahaya, Yang Mulia, Borang atau Arih-Arih atau San­ting itu sama saja. Tetapi meng­ap­a­kah Yang Mulia sampai cedera begini?”

“Yang Mulia mem­bu­tuh­kan keku­atan sen­diri. Jangan pikir­kan si bran­dal itu,” Bela­kangka mene­ngahi, “serah­kan semua pada sahaya, Yang Mulia, dan ber­is­ti­ra­hat dalam pera­watan ter­per­caya dari Dalung.”

“Bagai­mana cedera Yang Mulia, Dalung?” Tanya Sang Patih.

“Kaki kanan Yang Mulia ini jelas patah. Yang kiri hanya ter­pe­le­cok.”

“Rupa­nya karu­nia yang dijan­ji­kan kurang men­cu­kupi,” susul Tung­gul Ame­tung.

“Bapa telah ren­ca­na­kan untuk meli­pat­gan­da­kan. Yang Mulia,” sambar Bela­kangka.

“Apa kata Dang Hyang Loh­gawe?”

“Ampun, brah­mana ter­ku­tuk itu tidak ada di tempat. Setiap hari dije­nguk, setiap hari belum muncul.”

“Sudah berapa lama disam­bangi’” “Lima hari, Yang Mulia.”

Tung­gul Ame­tung men­coba duduk, tetapi diso­r­ong oleh Dalung dan ter­ge­le­tak lagi.

“Lima hari! Mpu Parwa juga tak ada di rumah­nya. Sudah lebih sebu­lan.”

“Tidak­kah seba­ik­nya dia­da­kan peme­rik­saan atas semua brah­mana yang diakui dan tidak di selu­ruh Tuma­pel? Tak mung­kin mereka pergi tanpa sebab pen­ting.”

Hati Ken Dedes meriut. Ia merasa Bela­kangka sengaja hendak menge­cil­kan dir­i­nya seba­gai Para­mesy­wari. Lambat-lambat ia meng­ham­piri ran­jang, mem­per­li­hat­kan diri bukan seo­rang yang mudah untuk dising­kir­kan. Dalam kea­daan tegak ber­diri ia mene­gur:

“Kakanda datang dalam kea­daan begini rupa” tak meng­hi­r­au­kan Pan­dita Negeri itu.

“Per­ma­taku!” Seru Tung­gul Ame­tung,” men­de­kat sini. Kece­la­kaan telah meng­ha­langi pen­ca­ri­anku ...”

Dalung meng­ang­kat sembah pada Dedes dan mene­rus­kan peker­ja­an­nya.

“Para dewa belum meres­tui,” jawab­nya. “Betapa nyeri kakanda deri­ta­kan.”

“Tidak, Per­mata.”

“Seo­rang satria takkan meng­a­duh karena nyeri. Yang Mulia Para­mesy­wari,” susul Bela­kangka,” seben­tar lagi tentu akan sembuh seperti sedi­a­kala.”

Merasa sedang dike­cil­kan, dalam hati ia pang­gil-pang­gil Hyang Maha­dewa, men­ja­wab:

“Bukan tempat dan bukan wak­tu­nya bicara di depan suami cedera seperti ini, Yang Suci!”

“Ampun. Yang Mulia,” sebut Sang Patih, “seba­ik­nya seka­rang ini Yang Mulia harus segera ber­is­ti­ra­hat secu­kup­nya. Adapun ten­tang urusan negeri akan sahaya terima titah mela­lui Yang Mulia Para­mesy­wari.”

“Yang Mulia Para­mesy­wari akan ter­lalu sibuk mengu­rus Sang Akuwu. Lagi pula seo­rang brah­mana tidak punya per­ha­tian pada urusan negeri,” sambut Bela­kangka.

Tung­gul Ame­tung melam­bai­kan tangan menyu­ruh semua pergi kecu­ali dokter dan pem­ban­tu­nya dan Para­mesy­wari. Sang Patih meng­ang­kat sembah dan ber­ja­lan merang­kak mundur. Yang Suci Bela­kangka mundur bebe­rapa lang­kah dan ber­henti, ber­ko­koh hendak ting­gal dalam Bilik Agung.

“Semua brah­mana, Yang Mulia, ter­ca­tat atau tidak, akan dipang­gil ke Kuta­raja dengan perin­tah Yang Mulia.”

“Tiada kude­ngar Yang Mulia Akuwu jatuh­kan perin­tah itu,” bantah Ken Dedes. “Yang Mulia ...”

Tung­gul Ame­tung men­de­sis kesa­kitan. Ken Dedes melam­bai­kan tangan menyu­r­uh­nya pergi.

Bela­kangka ber­ba­lik dan mening­gal­kan Bilik Agung.

“Per­ma­taku,” pang­gil Tung­gul Ame­tung. Ia ber­henti dan meri­ngis kesa­kitan. “Meng­ap­a­kah kau seke­ras itu ter­ha­dap Yang Suci? Bukan­kah itu tidak patut?”

“Ter­se­rah­lah padamu siapa yang lebih kau butuh­kan. Kalau dia, biar­lah aku ting­gal­kan Bilik Agung,” ia ber­ba­lik dan melang­kah menuju ke pintu.

“Dedes! Ah, Dedes, betapa kau tega per­la­ku­kan aku begini! Dedes!”

Ken Dedes ber­henti di bawah tabir potongan ran­ting bambu petung, ber­ba­lik, kemu­dian kem­bali meng­ham­piri sua­mi­nya.

“Betapa cepat kau beru­bah. Sini,” dita­rik­nya istri­nya, dipe­luk dan dici­um­nya. Ber­bi­sik: “Seki­ra­nya kau tahu siapa Yang Suci....,” ia ter­henti karena mena­han sakit. “Belum sele­sai, Dalung?”

Sete­lah mem­per­ba­iki letak otot-otot kini Dalung dan pem­ban­tu­nya mena­rik kaki yang patah itu, mem­ba­lut­nya dengan keras kayu, kemu­dian dengan kain.

Tung­gul Ame­tung ber­mandi keri­ngat, meri­ngis dan merongos, menge­rut­kan gigi dan kening, kemu­dian jatuh ping­san.

Ken Dedes menyeka muka sua­mi­nya dengan kain basah, mem­buka des­tar­nya dan meng­a­iri ram­but­nya. Waktu sua­mi­nya bangun, segera ia meng­e­rang-nge­rang, menyam­bar lengan istri­nya dan mena­rik­nya pada badan­nya.

“Jangan­lah begini,” tegah Dedes halus, “kau masih sakit.” Dokter dan pem­ban­tu­nya undur bebe­rapa lang­kah, kemu­dian duduk di lantai. Ia meng­ang­kat sembah, kemu­dian: “Sele­sai, Yang Mulia.”

“Per­gi­lah kau, anjing per­ba­ikan sakit!”

Ken Dedes menu­tup mulut sua­mi­nya dengan tangan, ber­pa­ling pada Dalung:

“Teri­ma­ka­sih banyak, ya, Dalung, semoga dikur­niai kau kese­jah­te­raan oleh Hyang Kuwera.”11

Tung­gul Ame­tung menying­kir­kan tangan istri­nya.

“Belum juga kau pergi?” Tanya­nya dengan meng­ang­kat kepala.

“Yang Mulia Akuwu tidak seyo­gi­a­nya mening­gal­kan per­a­duan. Yang Mulia Para­mesy­wari, segala kebu­tuhan pokok Sang Akuwu harus dila­yani di per­a­duan ini juga,” ia meng­ang­kat sembah lagi dan keluar dalam iringan pem­ban­tu­nya yang mem­bawa keran­jang per­ka­kas.

“Per­ma­taku!”

“Tidak layak meng­an­jing­kan seo­rang yang telah meno­long.”

“Juga tak layak kau per­la­ku­kan Yang Suci.”

“Aku bukan­kah Para­mesy­wari?”

“Dia bukan kawula Tuma­pel, bukan kawu­laku. Dia orang Kediri yang dita­nam di sini untuk meng­a­wasi aku.”

Bela­kangka adalah tangan-tangan Kediri, Sri Baginda Kre­ta­jaya. Di hadapan mata batin Ken Dedes ter­buka suatu peng­er­tian baru: Tung­gul Ame­tung ter­nyata bukan yang paling kuasa di Tuma­pel.

“Kau mau meng­erti, Per­mata? Aku pun risi dide­kat­i­nya.” Ken Dedes untuk per­tama kali men­cium wajah sua­mi­nya dan mem­be­lai dada­nya yang ber­bulu. “Bica­ra­lah, Dedes.”

“Ayahku pun belum kakanda temu­kan.”

“Kelud meng­ha­langi. Per­ma­taku. Para dewa belum mem­be­nar­kan. Tahan­lah dahulu rin­dumu.”

“Ya, para dewa belum mem­be­nar­kan, dan kakanda ter­luka begini,” ia periksa bebatan, “tetapi kakanda tidak diha­langi dalam mela­ku­kan tugas negeri. Ada Para­mesy­wari yang mem­ban­tumu.”

“Dedes! Dedes! Kau ter­lam­pau muda untuk menge­ta­hui urusan negeri.”

“Barang­si­apa tidak ter­lalu muda untuk jadi Para­mesy­wari, dia pun cukup tua untuk menge­ta­hui urusan negeri.”

“Belum, belum mung­kin, Dedes. Meli­hat sidang negeri pun kau belum pernah.”

Ken Dedes men­cium wajah sua­mi­nya, ber­bi­sik:

“Kakanda mem­bu­tuh­kan keku­atan sen­diri. Aku yang meng­ha­langi kakanda mela­ku­kan tugas negeri. Kakanda harus segera sembuh.”

“Ken Dedes, Ken Dedes, barang­kali juga benar yang aku dengar orang menye­but-nyebut kau Dewi Kebi­jak­sa­naan. Nam­pak­nya orang pada memuji kau.”

“Diam­lah, diam­lah, kakanda sedang men­de­rita begini.”

“Apalah arti cedera ini diban­ding­kan dengan karu­nia men­da­pat­kan seo­rang dewi seperti ini? Tidak keliru para dewa menun­juk­kan padaku untuk memi­lih kau.”

“Jangan badan dige­rak­kan begini,” dan dici­um­nya leher sua­mi­nya.

“Betapa baha­gia diri kakanda merasa berun­tung men­da­pat­kan anak desa ini.”

“Dan kau begitu galak tadi­nya, men­ca­kar, melu­dah dan memu­kul Lelah itu lantas ping­san di pelukan.”

Ken Dedes ter­se­nyum menge­nang­kan peris­tiwa itu seba­gai keja­dian yang tak dapat die­lak­kan­nya lagi satu keha­rusan dari para dewa untuk sampai pada kebu­latan tekad seka­rang.

Tung­gul Ame­tung menang­kap tangan istri­nya dan tak dile­pas­kan­nya lagi.

“Betapa ter­ba­kar hati meli­hat dewi secan­tik ini, dan badan ter­be­lenggu karena cedera.”

“Jangan tan­tang, jangan lang­gar yang para dewa tidak per­ke­nan­kan. Kalau kakanda rusuh di hati, biar­lah Dedes yang sele­sai­kan.”

Tung­gul Ame­tung ter­tawa.

“Aku lihat hati kakanda memang sedang rusuh karena si Borang, Arih-Arih dan San­ting.”

“Anak desa yang nakal itu. Seben­tar lagi dia akan lenyap ber­sama dengan debu Kelud. Jangan ikut rusuh karena dia.”

“Seo­rang anak desa yang dapat meram­pas upeti sete­ngah tahun bukan­lah anak nakal,” bisik Ken Dedes. “Yang sete­ngah tahun bisa jadi seta­hun. Badan kakanda naik suhu begini. Sia­pa­kah Borang, Arih-Arih dan San­ting?”

“Tak perlu kau tahu, Dedes. Di luar peku­wuan kau tidak mem­pu­nyai sesu­atu urusan.”

“Tentu dia seo­rang Buddha,” Dedes meman­cing-man­cing.

“Aku harap memang begitu.”

“Ah. Kakanda, meng­apa harapan dima­suk­kan dalam hitungan?”

Tung­gul Ame­tung men­de­sis kesa­kitan.

“Kakanda mem­bu­tuh­kan minuman panas,” bisik­nya,” biar aku urus­kan seben­tar.”

Tung­gul Ame­tung mele­pas lengan istri­nya dan mem­bu­ang muka. Wajah­nya kejang dan gigi­nya ber­ke­rut.

Dedes masuk lagi ber­sama Rimang yang mem­bawa talam.

Meli­hat Rimang Tung­gul Ame­tung meng­ang­kat kepala:

“Rimang!” Ia melam­bai, men­de­sis, “jangan biar­kan kepa­lamu jatuh dari lehermu. Apa saja telah kau bisik­kan pada Sang Para­mesy­wari?”

“Apalah arti­nya sahaya ini maka mem­bi­sik­kan sesu­atu pada Yang Mulia Para­mesy­wari? Tiada sesu­atu, Yang Mulia.”

Dedes meng­am­bil cawan air gula kelapa dan mem­bantu sua­mi­nya minum dari­pa­da­nya:

“Jangan ber­hati rusuh, kakanda. Apalah arti­nya perem­puan desa seperti dia. Tak ada sesu­atu barang apa,” ber­pa­ling pada Rimang, “pergi kau!” Kem­bali ia seka wajah sua­mi­nya,” Betapa kau rusuh­kan hati karena si Rimang saja. Bukan­kah murka para dewa sudah cukup sehingga kakanda cedera begini?” Dengan demi­kian hari itu ber­lalu tanpa sesu­atu keja­dian. Lima puluh hari Tung­gul Ame­tung ter­i­kat pada per­a­duan dan ter­gan­tung pada Dedes.

Anak gadis desa itu dengan gigih meno­lak setiap orang yang hendak meng­ha­dap, dan dengan segala cara memaksa mereka menyam­pai­kan pada dir­i­nya. Ter­lalu banyak yang dike­ta­hu­i­nya ten­tang urusan negeri dalam waktu sepen­dek itu. Juga ten­tang Borang, Arih-Arih dan San­ting yang muncul di mana-mana. Juga ten­tang Dang Hyang Loh­gawe yang datang ke peku­wuan atas pang­gilan Yang Suci. Betapa ingin ia mene­mu­i­nya sen­diri dan belum mung­kin. Bela­kangka akan mema­gar­i­nya. Juga ia dengar ten­tang ayah­nya: ia telah pulang, mengu­tuk pen­du­duk desa yang tak dapat melin­dungi anak gadis­nya, menyum­pahi agar mereka kema­tian sumber air, dan agar Tung­gul Ame­tung akhir­nya tumpas dibu­nuh orang. Kemu­dian ayah­nya mening­gal­kan desa Pana­wi­jil dan tak kem­bali lagi. Ia tak tahu benar, benar tidak­nya berita itu.

Sikap ayah­nya men­jadi petun­juk bagi­nya, per­ka­win­an­nya memang tidak dires­tu­i­nya. Sikap­nya ter­ha­dap Tung­gul Ame­tung bukan saja tidak beru­bah, malah jadi sema­kin tegar. Ia makin menye­dari di mana tem­pat­nya antara seo­rang ayah dan suami. Ia ber­pi­hak pada ayah­nya, tetap seperti semula.

Sekali peris­tiwa waktu ia mene­rus­kan laporan ten­tang kegi­atan Borang, Arih-Arih dan San­ting, ia men­de­sak:

“Rasa-rasa­nya memang dia seo­rang brah­mana muda. Meng­apa kakanda belum juga mem­be­nar­kan? Brah­mana muda, ya, brah­mana muda. Itu sebab­nya janji karu­nia dili­pat­se­pu­luh­kan.”

“Dedes, meng­apa kau siksa aku begini rupa?”

“Hanya untuk dapat meya­kini, makin meya­kini keku­a­saan para dewa. Hanya orang Buddha yang meng­ang­gap diri bisa meru­wat diri sen­diri untuk pem­be­bas­an­nya. Hanya impian be laka, bukan­kah demi­kian, kakanda? Impian belaka.”

“Diam, kau, Dedes.”

“Bahkan para dewa pun masih memer­lu­kan peru­wa­tan untuk pem­be­bas­an­nya. Kalau tidak, tidak mung­kin ada cerita Caru­deya dan Sud­d­ha­mala.”

“Apa sesung­guh­nya mak­sudmu, Dedes?”

“Kaki kakanda cedera begini. Tapi keben­cian kakanda pada kaum brah­mana tidak ikut cedera. Itu sebab­nya kakanda belum juga mau mem­be­nar­kan, orang itu adalah brah­mana muda. Dan untuk jiwa­nya hadiah itu dili­pat­se­pu­luh­kan.”

“Bica­ra­lah pada Yang Suci. Beri aku air jeruk.”

Dedes pergi ke pintu dan mem­be­ri­kan perin­tah. Ia senang men­da­pat­kan per­ke­nan itu. Demi tri­sula Bat­hara Guru dan cak­ra­war­ti­nya12, Bela­kangka harus takluk pada­nya dan mem­per­se­m­bah­kan semua isi hati­nya. Pan­dita Negeri itu tak boleh lebih lama ber­u­saha menin­das, memaksa, seakan ia hanya ham­ba­nya belaka.

Apakah arti Bela­kangka diban­ding­kan dengan Mpu Parwa, ayah­nya? Ia telah mem­baca naskah ayah­nya yang sudah sele­sai, cerita ten­tang seo­rang anak brah­mana yang mening­gal­kan kas­ta­nya untuk jadi satria, men­da­pat­kan kebe­saran dunia yang ter­nyata tidak memu­as­kan hati­nya, karena dunia makin lama makin jadi beban bagi hati kecil­nya, kemu­dian kem­bali jadi brah­mana, ber­tapa seo­rang diri untuk mera­tapi keke­li­ru­an­nya. Apakah yang sudah ditu­lis oleh Bela­kangka? Tak pernah ter­de­ngar beri­ta­nya.

Ia bantu sua­mi­nya minum air jeruk itu, dan minta ijin untuk mene­mui Bela­kangka. Yang Suci sedang duduk mem­baca mantra aksa­mala di pojo­kan pen­dopo.

Ia per­ha­ti­kan gerak jari­nya sampai men­ca­pai kepala aksa­mala, dan: “Yang Suci!”

Bela­kangka mem­buka mata dan nampak ber­si­aga: “Yang Mulia,” kaca­nya lunak.

“Dengan per­ke­nan Sang Akuwu, kata­kan pada sahaya dari mana asal brah­mana muda ber­nama Borang, Arih-Arih dan San­ting itu?”

“Apa guna Yang Mulia hendak menge­ta­hui? Sang Patih pun belum ber­ha­sil men­je­jak­nya.”

“Jadi dia seo­rang brah­mana muda?”

“Seo­rang brah­mana takkan ber­buat keja­hatan, Yang Mulia. Semua brah­mana yang diakui oleh Tuma­pel ter­ca­tat dalam rontal. Tak ada nama Borang, Arih-Arih atau San­ting. Dia atau mereka hanya­lah pen­ja­hat, Yang Mulia Para­mesy­wari, hanya bran­dal yang meng­ha­rap­kan jatuh­nya pedang pada leher­nya.”

“Beri­kan rontal itu padaku.”

“Ampun, itu di luar kuasa Bapa.”

“Jadi sahaya harus datang pada Sang Patih?”

“Tidak. Tak ada wanita diper­ke­nan­kan men­ja­mah urusan para dewa.”

Ken Dedes kem­bali ke Bilik Agung. Ia meng­erti, Bela­kangka tak suka ia menge­ta­hui sesu­atu ten­tang urusan negeri. “Sudah kau dengar, Dedes?”

“Tiada sesu­atu.”

“Dia bisa jatuh­kan semua kepala dari leher­nya.”

Ken Dedes mena­tap sua­mi­nya, men­coba menerka, apakah Bela­kangka diper­gu­na­kan sua­mi­nya untuk memo­mo­ki­nya, atau­kah memang momok untuk setiap orang, ter­ma­suk sua­mi­nya sen­diri. Mata Akuwu tidak ber­ke­dip. Juga tidak waktu tangan­nya meraih tangan­nya, meme­luk­nya dan ber­bi­sik mesra:

“Dedes, Dalung telah menya­ta­kan aku sembuh.”

“Teri­ma­ka­sih pada para dewa belum lagi dipan­jat­kan di pura, kakanda.”

“Para dewa adalah abadi, mereka mem­pu­nyai kesa­baran dalam menunggu. Manu­sia beru­mur pendek.”

“Ayahku pun belum kakanda dapat­kan.”

“Juga dia bisa kehi­langan kepa­la­nya.”

Ia meng­erti, sua­mi­nya mulai meng­an­cam­nya. Ia meng­gi­gil Hati­nya meriut kecil. Ia keta­kutan.



Bab 4

Tekad Kaum Brahmana

Ia takkan lupa­kan upa­cara pem­be­rian nama itu, yang ditu­tup dengan: “Dengan namamu yang baru, Arok, Sang Pem­ba­ngun, kau adalah garuda harapan kaum brah­mana.”

Arok masih tetap ber­lu­tut. Malam sema­kin sunyi dise­lingi gele­par kalong menyer­bui tajuk pepo­honan buah.

“Garuda harapan kaum brah­mana,” ia meng­u­langi, pelan. “Para dewa tidak tun­juk­kan padamu untuk jadi talap­uan.”1 “Para dewa tiada tun­juk­kan pada sahaya untuk jadi talap­uan,” ulang­nya lagi.

“Kau akan kem­ba­li­kan cak­ra­warti Bat­hara Guru Sang Maha­dewa Syiwa.”

“Kem­ba­li­kan cak­ra­warti Bat­hara Guru Sang Maha­dewa Syiwa.”

“Kem­ba­li­kan kese­im­bangan Jagad Pra­mu­dita.”

“Kem­ba­li­kan kese­im­bangan Jagad Pra­mu­dita.”

“Hari sudah larut, Arok. Kem­bali kau. Ber­sa­madi kau sam­pai­kan teri­ma­ka­sih Jangan ting­gal­kan rumah. Besok akan kujem­put kau dan akan kubawa,” dan dengan itu ia usap ubun-ubun Arok yang tiada ber­des­tar, dengan dua belah tangan meme­gangi bahu bidang pemuda itu dan mena­rik­nya ber­diri, kemu­dian ia sen­diri ter­ta­tih-tatih pergi ....

Sore ini mereka berdua masih juga dalam per­ja­lanan. Guru itu di depan, ia di bela­kang­nya dengan tong­kat tang­kai tombak pada pundak memi­kul .bung­kusan barang keper­luan guru­nya dalam kain biru.

Hanya kadang ia per­ha­ti­kan kaki tua guru­nya yang ber­te­rom­pah upas itu telah jadi kuning coklat karena debu jalanan, ia heran meng­apa kaki tua itu belum juga lelah. Dan baru sekali ini ia sak­si­kan guru itu menem­puh per­ja­lanan sejauh itu.

Per­ha­ti­an­nya lebih ter­ta­rik pada keli­ling­nya – gunung­gemu-nung yang serasa tiada kan habis-habis­nya, ber­la­pis-lapis menyin­tuh langit. Jalanan negeri sudah lama diting­gal­kan. Juga jalanan desa. Seka­rang mema­suki yang kurang tera­wat, yang juga mena­rik per­ha­ti­an­nya. Ia simak dan pel­a­jari selin­tas bekas-bekas manu­sia dan bina­tang, menak­sir kapan kira­nya mereka mela­lui ter­a­khir kali. Juga ran­ting-ran­ting di atas­nya, apakah patah karena ter­in­jak atau karena jatuh dari dahan, atau memang karena sudah ter­lalu lama ter­ka­par di udara ter­buka. Juga tapak kaki yang ter­ting­gal pada botakan jalanan ia taksir berat yang mening­gal­kan­nya. Juga suara angin dan suara tam­ba­han di dalam­nya. Juga warna-warni di hutan seke­li­ling­nya.

Parang pada ping­gang tak pernah dira­sa­kan­nya. Alat itu telah men­jadi bagian dari tubuh­nya sen­diri. Parang pilihan, pem­be­rian pemuda-pemuda Pang­kur pada­nya, seba­gai tanda peng­a­kuan untuk pim­pinan ter­tinggi. Ia tahu betul siapa pemi­lik ter­da­hulu dari parang lang­sing itu, dan ia tak mau menge­nang­kan­nya. Kalau ia ter­i­ngat pada pemuda-pemuda itu dengan sen­di­r­i­nya tangan­nya meng­ga­gapi pundi-pundi yang ter­se­m­bu­nyi di balik ikat ping­gang. Di dalam­nya ter­sim­pan seke­ping mata uang emas dengan gambar seo­rang lelaki ber­hi­dung sangat man­cung, tanpa badan, hanya sampai dasar leher. Bila seo­rang diri kadang ia meman­da­ng­i­nya dan meng­he­rani meng­apa ia tak dapat mem­baca tulisan ter­tera di bawah­nya.

Dang Hyang Loh­gawe belum juga menga­ta­kan hendak ke mana.

Ia tahu jalan yang ditem­puh­nya ini menuju ke Gunung Kawi.

Sampai di bawah pohon asam hutan orang tua itu baru ber­henti. Buru-buru Arok meng­ham­piri, meng­am­bil bung­kusan pada ujung tong­kat tombak dan mem­bu­ka­nya di hadapan guru­nya. Dan suatu jarak ia per­ha­ti­kan Loh­gawe makan seke­pal ketan dengan daging serbuk, kemu­dian minum tiga-empat tepuk air enau dari kala­basa yang ter­buat dari buah labu bung­kik. Ia tahu apa hendak diper­buat selan­jut­nya: menyo­r­ong sisa makan dan menyu­r­uh­nya meng­ha­bis­kan­nya. Dan Arok meng­ha­bis­kan sisa guru­nya.

“Matari telah teng­ge­lam,” kata­nya.

“Ya, Bapa.”

“Kita akan sampai tepat pada wak­tu­nya.”

“Barang­kah lebih cepat, Bapa.”

“Lebih baik. Mung­kin agak ter­lam­bat sedi­kit. Rasa-rasa­nya sema­kin pendek dan pelan juga lang­kahku.”

“Cukup pan­jang dan cepat, Bapa.”

Mereka duduk diam-diam. Burung-burung ramai ber­ki­cau di selu­ruh hutan. Guru itu meng­a­mat-amati tong­kat peno­lak­u­lar­nya yang ber­debu, kemu­dian menye­ka­nya dengan selem­bar lur­u­han daun kering.

“Hari ini kau kubawa pergi. Tahu ke mana?”

“Tidak, ya, Bapa. Mung­kin­kah ke Kawi?”

“Ya, ke Kawi. Tahu untuk apa?”

“Tidak, ya, Bapa. Barang­tentu untuk keper­luan sangat pen­ting, ya. Bapa.”

“Seti­dak-tidak­nya juga untuk kepen­tingan sen­diri seba­gai garuda kaum brah­mana. Ada kau dengar karu­nia yang dijan­ji­kan oleh Tung­gul Ame­tung?”

“Dengar, Bapa.”

“Siapa mampu menang­kap kau?” Ia men­de­sis. “Karu­nia apa itu. Emas lima puluh saga dan perak sera­tus lima puluh catak! Diban­ding­kan dengan karu­nia yang pernah dibe­ri­kan oleh Sri Erlangga, uh, itu bukan karu­nia, sama dengan tulang dilem­par­kan pada anjing kela­paran. Sri Erlangga memang pemu­rah, penga­sih dan penya­yang. Semua ketu­run­an­nya hampir-hampir tak ada yang seperti ia. Apa­lagi Sri Kre­ta­jaya. Biar­pun begitu ...”

Arok hafal betul akan sam­bung­an­nya:

“Dia bukan guru ter­baik untukmu. Kaum brah­mana dari Mata­ram telah meng­ang­kat­nya jadi raja. Tahun berapa itu, Arok?”

“Sem­bi­lan ratus tiga puluh dua, ya, Bapa.”2

“Ya, dua­ra­tus sepu­luh tahun yang lalu. Dialah justru orang per­tama-tama yang meng­khi­a­nati kita, meng­khi­a­nati bapa mertua sen­diri, Sri Teguh Dhar­ma­wangsa. Memang dia yang mem­ba­ngun­kan kem­bali Men­dang, men­j­a­dilah Kah­u­r­i­pan.3 Tetapi dialah pula yang memung­gungi Maha­dewa Syiwa, meru­sak tata Jagad Pra­mu­dita. Ketu­run­an­nya tak ada yang lebih baik, kataku. Sri Baginda Kre­ta­jaya setia pada peng­khi­a­natan itu. Apa katamu, garu­daku?”

“Tata Jagad Pra­mu­dita harus dipu­l­ih­kan, ya. Bapa.”

“Ya, kau ingin men­jo­lok­nya. Ah, murid yang tahu kehen­dak para dewa, tidak per­cuma kau ber­guru padaku. Tidak per­cuma kube­nar­kan kau mening­kat­kan diri dari sudra jadi satria, juga kau bisa jadi brah­mana mulia. Ada sepe­nuh syarat padamu sudra-satria-brah­mana ada dalam dirimu. Kaulah kesa­tuan indah, takkan ter­jadi sekali dalam sera­tus tahun.”

Ia tak bicara lagi, ber­diri dan mulai mene­rus­kan per­ja­lanan, lang­sung menuju ke Gunung Kawi.

Jalan itu turun naik, gelap oleh payungan pepo­honan. Arok ber­pi­kir keras ten­tang maksud guru­nya. Bukan tanpa maksud ia meng­a­jak­nya bicara. Ia men­duga-duga, barang­kali ia hendak diajak ber­sa­madhi ber­sama di sesu­atu tempat suci. Seo­rang brah­mana, telah tua pula, tak mung­kin mening­gal­kan pede­pokan, menem­puh jarak begitu jauh, tanpa ter­pang­gil oleh sesu­atu yang ter­lalu pen­ting. Makin gelap dan makin gelap. “Belum­kah Bapa memer­lu­kan pene­rangan?” Dang Hyang Loh­gawe ber­henti, mem­beri kesem­patan pada Arok untuk menya­la­kan obor damar. Kini mereka ber­ja­lan ber­ja­jar. Arok di kiri dengan obor di tangan kiri.

Ber­ja­lan lambat-lambat begini ia jajar­kan kem­bali penge­ta­hu­an­nya yang sedi­kit ten­tang maha­gu­ru­nya

Sete­lah mem­ba­cai naskah yang dite­mu­kan­nya dalam sebuah gua yang tidak diting­gali, ia tak jadi ber­tapa. Naskah itu meri­wa­yat­kan kebe­saran Buddha Maha­yana, selu­r­uh­nya dalam San­sa­kerta tanpa ada sepa­tah kata Jawa pun. Ia ter­pe­sona oleh peng­gam­baran ten­tang maha­guru Dhar­ma­ki­rti dari Suar­nadwipa, yang men­jadi jiwa kebe­saran Sri­wi­jaya, ten­tang Waj­ra­bo­dhi yang menye­bar­kan Tan­tra­yana di Sri­wi­jaya dan Cina, ten­tang maha­guru Dhar­ma­pala dari Per­gu­r­uan Tinggi Nalanda, murid dari maha­guru Dig­naga dari Per­gu­r­uan Tinggi Kansyi, ten­tang Nagar­juna. Ten­tang Arya­dewa, ten­tang Dipang­kara, yang sete­lah bel­a­jar di Sri­wi­jaya kem­bali ke Tibet dan mela­ku­kan pem­ba­ha­ruan keper­ca­yaan Buddha di nege­ri­nya.

Ia ting­gal­kan gua itu, turun dari gunung ke Tuban dan bela­yar menuju ke Beng­gala Ia ber­te­kad hendak men­cari raha­sia keku­atan Buddha, meng­apa sampai dapat menga­lah­kan keku­atan-keku­atan Syiwa

Sampai di Langka ia ber­ke­nalan dengan seo­rang biksu Vir­i­ya­santi. Per­sa­ha­batan yang mesra itu kemu­dian mela­hir­kan per­ca­kapan sema­cam ini:

“Apa per­lu­nya Yang Ter­hor­mat men­cari raha­sia keku­atan keper­ca­yaan Buddha? Bukan­kah keku­atan itu ter­se­m­bu­nyi dalam diri setiap pri­badi? Dari sekian banyak pri­badi itu, satu yang tampil, yang lain melak­sa­nakan. Kebe­saran duni­awi pun dapat dica­pai, karena yang lain sudi ber­su­jud jadi budak­nya. Yang satu itulah raja. Apakah Yang Ter­hor­mat ber­ke­i­ng­inan jadi raja?”

“Tidak.”

“Kalau begitu tidak perlu Yang Ter­hor­mat pel­a­jari keku­atan yang ber­tu­juan mela­hir­kan kebe­saran duni­awi itu.”

Dengan demi­kian ia tak jadi pergi ke Per­gu­r­uan Tinggi Nalanda untuk mem­pel­a­jari agama Buddha Maha­yana dan Tan­tra­yana atau­pun Man­tra­yana. Ia mem­pel­a­jari Buddha Hina­yana, mem­pel­a­jari dari awal bahasa Pali. Lima tahun ia ting­gal di Langka, tidak pernah men­je­nguk Per­gu­r­uan Tinggi Nalanda, ber­ke­lana ke Cola­man­dala4 Burma dan Camp, kemu­dian kem­bali ke Jawa.

Buddha Hina­yana tidak pernah jadi keya­kin­an­nya. Ting­gal hanya penge­ta­huan. Juga Buddha Maha­yana, Tan­tra­yana, Man­tra­yana. Ia tetap seo­rang Syiwa. Kem­bali di Jawa, di Kediri, ia ber­u­saha mem­bang­kit­kan sema­ngat rekan-rekan­nya untuk men­du­duk­kan kem­bali Hyang Maha­dewa Syiwa pada cak­ra­war­ti­nya yang sesung­guh­nya. Dan bukan tanpa hasil. Loh­gawe sudah meli­hat mula­inya kebang­kitan Syiwa. Ting­gal satu lang­kah lagi, dan ia sudah akan dapat mem­pe­nga­ruhi Sri Baginda Kre­ta­jaya. Tetapi Mpu Tana­kung adalah ben­teng baginda yang tak dapat dila­lu­i­nya. Ia bahkan ter­pen­tal jauh, menye­la­mat­kan diri ke Tuma­pel seka­rang. Namun kaum brah­mana tetap meng­har­ga­i­nya. Dalam suatu sidang brah­mana barang tujuh tahun yang lalu telah dike­lu­ar­kan gelar Dang Hyang untuk­nya dan Loh­gawe seba­gai sebutan untuk pri­ba­di­nya yang tak jera-jera bekerja demi kemu­li­aan Hyang Syiwa. Juga untuk keting­gian dan kelu­asan ilmu yang diku­a­sa­i­nya. Sejak itu ia dipang­gil orang Dang Hyang Loh­gawe. Para brah­mana per­caya, semua yang diu­sa­ha­kan­nya, seperti yang sudah-sudah, pasti ber­ha­sil dan akan ber­ha­sil, tak pernah meng­i­ngat pada satu keku­rangan yang sangat menyo­lok pada­nya: ia tak dapat lancar bicara San­sa­kerta, seka­li­pun telah mele­wati pen­di­dikan di negeri Hindu. Dan keku­rangan ini selalu jadi peng­ha­lang­nya yang ter­u­tama dalam sidang-sidang kaum brah­mana dari banyak negeri. Mereka terus ber­ja­lan.

Langit dan bulan tidak nampak oleh mereka. Hanya pokok, cabang, ran­ting dan deda­unan, seperti tembok mema­gari sinar obor damar itu.

Tiba-tiba Dang Hyang Loh­gawe ber­henti:

“Hatiku mera­sa­kan sesu­atu yang tidak menye­nang­kan. Ada apa, Arok?”

“Ada sahaya dengar sesu­atu.”

“Sim, aku yang bawa obor,” dan damar pun ber­pin­dah tangan. Tak lama kemu­dian Loh­gawe ber­henti lagi: “Aku merasa tidak patut melang­kah lurus terus. Ada apa, Arok?”

“Ada sahaya dengar sesu­atu, Bapa, tapi masih jauh.”

“Apa yang kau dengar?”

“Suara orang,” Arok men­ja­wab. “Tia­da­kah Bapa ber­ke­be­ratan seki­ra­nya sahaya ber­ja­lan dulu untuk meli­hat­nya?”

“Jangan ting­gal­kan aku.”

“Baik, Bapa. Kalau begitu ijin­kan sahaya naik ke atas pohon yang setinggi-ting­gi­nya. Bagai­mana kalau obor dipa­dam­kan, Bapa? Tia­da­kah Bapa ...”

“Biar­kan menyala begini. Kau boleh naik.”

Arok meng­ang­kat sembah, kemu­dian melom­pat ke pokok kayu di sam­ping­nya. Seperti monyet ia ber­pin­dah-pindah dari pokok ke pokok lain yang lebih besar dan lebih tinggi, sampai dida­pat­kan­nya yang ter­tinggi. Dengan parang­nya ia tebangi ran­ting-ran­ting dan cabang yang meng­ganggu peman­dangan.

Dili­hat­nya langit di atas dengan bulan penuh ter­se­nyum pada dunia. Diam-diam ia duduk di atas cabang. Suara itu sema­kin jelas. Kemu­dian juga nampak oleh­nya serom­bongan orang ber­kum­pul-kumpul di tanah lapang dengan ber­pu­luh obor menge­li­lingi mereka. Ia tutup mata­nya untuk dapat menang­kap dan mema­hami suara-suara mereka. Waktu ia buka lagi mata­nya gerak-gerik mereka di keja­uhan sana sema­kin men­jadi tak nyata. Ia masih mem­bu­tuh­kan waktu untuk lebih dapat mema­hami suara-suara itu. Kini ia mulai dapat menang­kap, samar, seperti desir angin lalu: mantra. Ya, mantra: Hling Kling kan­darpa eraka...

Ia turun. Dari sepeng­gal mantra itu ia telah dapat menang­kap selu­ruh adegan yang ter­jadi sayup di sana: para najako5 sudah dir­e­bah­kan di atas tum­pukan daun kering dan dise­tu­buhi. Dalam peng­em­ba­ra­an­nya paling tidak telah tiga kali ia pernah meng­in­tip adegan sema­cam itu. Dan gun­dulan hutan di sana itu jadilah kini sebuah man­dala bayangan.

“Tempat itu masih jauh. Bapa.”

“Apa sesung­guh­nya yang telah ter­jadi?”

“Sama dengan yang dila­ku­kan oleh semen­tara penyem­bah Syiwa, ya Bapa.”

“Apa yang dila­ku­kan oleh semen­tara penyem­bah Syiwa?”

“Mait­huna.”6

“Husy. Tak aku benar­kan kau ulangi pen­da­pat busuk seperti itu. Salah. Keliru. Tidak benar. Menye­sat­kan.”

“Sahaya pernah sak­si­kan sen­diri.”

“Itulah akibat pahit pening­galan Sri Erlangga. Apakah gurumu yang lama, Tan­tri­pala, yang mem­bi­sik­kan itu pada kupingmu, maka kau berani bicara seperti itu?”

“Bapa Tan­tri­pala pernah mem­be­ri­ta­hu­kan, dan sahaya pernah sak­si­kan sen­diri.”

“Tan­tri­pala tidak keliru, hanya ada yang belum dika­ta­kan­nya. Apa yang belum itu, Arok?”

“Bahwa Mait­huna juga dila­ku­kan oleh kaum Wisynu.”

“Belum selu­r­uh­nya.”

“Sudah, Bapa.”

“Kalau begitu, dialah yang belum menga­ta­kan selu­ruh dari kebe­naran itu,” ia mulai ber­ja­lan lagi, “betul masih jauh?”

“Bapa tidak akan meli­hat­nya.”

“Kau kenal jalanan ini?”

“Men­de­kati tempat itu ada jalanan ke kiri, Bapa,” dan ia ambil obor dari tangan Loh­gawe.”

“Salah satu sebab kera­jaan pindah ke timur, ke timur lagi, meng­hin­dar­kan penga­ruh Yoga, Tantri dan Buddha. Ampuni kami, ya, Maha­dewa, kea­gungan Pram­ba­nan tidak mampu meno­lak penga­ruh sesat itu. Kalasan telah mem­be­ri­kan peng­a­yoman pada mereka. Mata­ram7 dipin­dah­kan dari penga­ruh itu lebih ke timur8 oleh Sri Baginda Dyah Bali­tung, kemu­dian ke timur lagi oleh Mpu Sindok. Waktu itu di timur sini masih bersih, belum ada penga­ruh seperti itu. Hyang Agas­tya tetap dimu­l­i­a­kan. Sri Teguh Dhar­ma­wangsa malah telah mengir­im­kan armada untuk menum­pas induk gerakan itu Sri­wi­jaya. Selan­jut­nya kau tahu sen­diri: kalah. Men­dang kalah, ganti kena serbu, Sri Dhar­ma­wangsa sen­diri gugur. Nanti kau akan juga dengar dari banyak guru yang patut kau mul­i­a­kan.”

Arok kini meng­erti, ia hendak dibawa ke Sidang kaum brah­mana. Ia ter­se­nyum, tahu bakal men­da­pat kehor­matan diper­ke­nal­kan seba­gai sudra-satria-brah­mana muda, hampir-hampir dua puluh tahun.

“Buang dari ing­at­anmu yang kau lihat tadi, Arok. Kau adalah garuda. Bahkan abu dari peman­dangan tadi tak patut kau sing­gung dengan jari kakimu. Garuda! Untuk kau hanya korban ter­baik, hidup ter­baik, dan kalau­pun punah, punah yang ter­baik pula. Kau takkan punah tanpa pening­galan ter­baik.”

“Teri­ma­ka­sih, ya, Bapa.”

“Kau gentar men­de­ngar kata punah?”

“Punah adalah tugas satria, dengan pening­galan ter­baik adalah sebaik-baik punah.”

“Ya, jawab­anmu adalah jawaban satria.”

“Apakah tak pernah ada yang baik pada para penyem­bah Buddha, ya, Bapa Maha­guru?”

“Apakah yang ter­jadi pada Mata­ram dulu? Bera­pa­kah sudah candi-candi agung dir­o­boh­kan oleh balat­en­tara Maha­yana Sai­len­dra? Batu-batu mulia itu dipap­rasi dari kemu­li­a­an­nya, dija­di­kan umpak untuk kuil­s­tu­pa­nya? Kita tak pernah laku­kan itu, maka kita pun tak dapat ampuni mereka.”

Ia ter­diam.

Arok masih menunggu bun­tut­nya: penge­cilan ter­ha­dap Erlangga. Sekali ini yang ditung­gu­nya memang tak muncul.

“Adakah Tan­tri­pala pernah meng­a­jar­kan padamu ten­tang seo­rang yogin dari Sri­wi­jaya ber­nama Syam­ya­na­tera?”

“Tidak, Bapa.”

“Jadi apa saja kau pel­a­jari dari dia?”

“Baca tulis.”

“Baca tulis apa?”

“Parwa, Bapa, Weda, Purana.”

“San­sa­ker­tamu baik. Semua itu lang­sung dalam San­sa­kerta ten­tu­nya.”

“Tidak keliru, Bapa.”

Dang Hyang Loh­gawe men­de­ham. Arok tahu arti dehaman itu: dalam per­ca­kapan maha­gu­ru­nya jauh di bawah­nya. Loh­gawe hanya dapat mem­baca, sulit meng­gu­na­kan­nya dalam per­ca­kapan.

“Kau mema­hami betul 100.000 bait Maha­b­ha­rata dan 24 000 bait Rama­yana dalam San­sa­kerta. Itu saja sudah cukup menga­gum­kan untuk seo­rang meng­ham­piri dua puluh tahun. Tapi kau belum tahu siapa yogin Syam­ya­na­tera. Aku harap akan ada yang menying­gung­nya nanti.”

“Terang­kan­lah pada sahaya, ya, Bapa.”

“Seba­gai pri­badi kau tak perlu menge­ta­hu­i­nya. Seba­gai ‘brah­mana’ muda kau wajib men­da­pat sepo­tong dua potong peng­er­tian untuk dapat sampai sen­diri pada kese­lu­r­uhan. Mat­si­ya­ma­nu­ya­mad­ya­mutra9 dalam kesa­tuan dengan mait­huna, itulah wabah seka­rang ini yang dibawa oleh ajar­an­nya. Yang meme­luk Syiwa, yang Wisynu, apa­lagi yang Buddha sen­diri, semua kena ram­bat­an­nya. Hanya yang was­pada juga tahu arti hidup dan mati.”

“Sahaya, Bapa.”

“Hidup yang ber­arti, dan mati lebih ber­arti lagi.”

Men­de­kati botakan hutan, tempat orang mela­ku­kan mait­huna, obor dipa­dam­kan. Dari sela-sela deda­unan langit mulai nampak, dihi­asi oleh bulan. Mereka mem­be­lok ke kiri.

“Jangan lihat ke sana.”

Seka­rang Arok yang men­de­ham.

“Deham­anmu itu keluar dari jiwa Syiwa atau­kah Buddha?”

“Ya, Bapa, bukan­kah tidak semua penyem­bah Buddha dari nikayo10 Maha­yana? Dan bukan­kah tidak semua Maha­yana meng­a­nut Tan­tra­yana? Dan tidak semua Tan­tra­yana mela­ku­kan mait­huna?”

“Itu per­ta­nyaan itu ingat-ingat, itu justru awal dari penya­kitmu.”

“Ampun, ya, Maha­guru.”

“Sejak sebe­lum diakui seba­gai ‘brah­mana’ penuh orang telah bel­a­jar menata piki­ran. Bukan­kah itu kau sudah keta­hui secara pasti? Kesal­ahan tin­dakan tak pernah ter­am­puni, kecu­ali hanya oleh Hyang Maha­dewa. Untuk itu ada Maha­dewa, karena manu­sia tidak ber­si­fat peng­am­pun.”

“Apakah dengan demi­kian manu­sia itu kejam sudah pada dasar­nya, ya, Bapa.”

“Makin jauh dari Maha­dewa dia sema­kin kejam. Bukan­kah kau tahu betul keke­jaman Tung­gul Ame­tung? Sri Baginda Kre­ta­jaya tidak kurang dari itu. Arok, pada dasar­nya manu­sia adalah hewan yang paling mem­bu­tuh­kan ampun.”

“Manu­sia adalah hewan yang paling mem­bu­tuh­kan ampun

“Kata­kan sesu­atu.”

“Ya, Bapa, oleh Tung­gul Ame­tung dan Sri Baginda, ditum­pas segala yang cen­de­rung pada keme­gahan Hyang Maha­dewa Syiwa.”

“Dan tidak lain dari kau sen­diri yang mulai mela­wan.”

Bebe­rapa ratus lang­kah kemu­dian ter­de­ngar samar suara hum.11

Dalam rem­bang cahaya bulan mene­ro­bosi deda­unan mereka meli­hat seso­sok tubuh sedang duduk seo­rang diri di bawah seba­tang pohon rak­sasa.

Mereka ber­ja­lan ber­jing­kat, cepat, seperti kucing, tanpa mem­bang­kit­kan bunyi.

“Itu juga akibat dari kece­ro­bohan Erlangga,” Dang Hyang Loh­gawe mulai mem­bang­kit-bang­kit lagi, “Dua ratus tahun, mereka sudah meru­yaki dunia seperti kudis. Ting­gal hanya kita yang meno­lak. Kau, garuda kita, kaulah keku­atan, pel­a­jari betul keku­atan Erlangga. Sejak per­tama kali Erlangga meng­a­kui semua macam penyem­ba­han dewa, anak dusun itu, sejak itu juga tidak dia­ku­i­nya kemut­la­kan kaum brah­mana dalam tata Jagad Pra­mu­dita. Kau meng­erti, Arok? Kaulah keku­atan.”

“Sahaya adalah keku­atan, Bapa.”

“Peng­a­kuan semua macam penyem­ba­han dewa jurus­nya adalah menen­tang kita.”

“Menen­tang kita, Bapa.” Mereka ter­diam lagi.

Arok belum pernah mele­wati daerah ini. Ia tak banyak mem­per­ha­ti­kan ucapan guru­nya, dan lebih banyak hanya meng­e­gongi Ia teliti daerah seluas mata dapat meman­dang. Sete­lah meling­kari hutan Arok meli­hat ber­pu­luh kunang-kunang keme­rahan ber­sa­ing dengan cahaya bulan di atas, menge­li­lingi sebuah candi. Itulah tujuan per­ja­lanan. Tak ada nampak makh­luk hidup ber­ge­rak. Dang Hyang Loh­gawe kini ber­ja­lan di depan Arok. Ia kemu­dian ber­lu­tut dan meng­ang­kat sembah ke jurusan candi. Arok menan­cap­kan obor di tanah, kemu­dian meng­i­kuti.

Mereka bang­kit dan ber­ja­lan lagi menem­puh jalan sebe­lah utara lap­angan, tidak lang­sung ke candi, karena torana berada di sebe­lah barat. Mereka melang­kah maju ber­i­ringan, hati-hati seperti takut mener­bit­kan bunyi.

Barang dua puluh lima depa di depan torana ber­diri sebuah jam­bang air. Loh­gawe mele­pas terom­pah dan men­cuci kaki dan tangan. Arok mema­dam­kan obor sen­diri. Semua barang diting­gal­kan di dekat jam­bang. Mereka ber­ja­lan menuju ke torana, mele­wati patung-patung pen­jaga dengan wajah ber­ge­rak-gerak ter­kena goyangan api obor-obor damar, seperti hidup dan mem­per­ha­ti­kan keda­tangan mereka.

Depan torana itu ter­pa­sangi empat obor. Kala-makara di atas­nya muncul dari batu seperti hendak meng­u­cap­kan sela­mat datang dan menye­tor­kan lidah penga­sih­nya. Kem­bali mereka meng­ang­kat sembah, kemu­dian meng­ha­dap ke utara dan mulai ber­p­ra­dak­sina12, menge­li­lingi candi. Di sebe­lah utara mereka ber­henti dan meng­ang­kat sembah pada Hyang Durga, yang ber­se­ma­yam dalam sebuah relung samar, hanya nampak jelas puncak hidung­nya yang menari-nari dengan sinar api. Ber­ja­lan lagi, ber­henti lagi, kini sembah untuk Hyang Ganesya.

“Om!” Bisik Dang Hyang Loh­gawe, “beri­lah anak ini kecer­dasan yang men­cu­kupi, ya, Hyang Ganesya.”

Memu­tar ke selatan mereka ber­henti pada relung lain, meng­ang­kat sembah pada Hyang Bat­hara Guru. Sinar obor ber­main-main pada perut­nya yang buncit dan jeng­got­nya yang terasa kurang pan­jang.

“Om!” Bisik Loh­gawe, “keku­at­anmu, ya Guru, hanya pada diri anak ini juga akan jadi seba­gai­mana kau hen­daki.”

Mereka ber­ja­lan lagi ke depan candi, mem­be­ri­kan peng­hor­matan pada Nan­dis­wara dan Hyang Maha­kala. Dengan melang­kah mundur mereka meng­ang­kat sembah lagi, mela­ku­kan pra­dak­sina tiga kali, kemu­dian pergi ke jam­bang air dan mening­gal­kan lap­angan candi, menuju ke ping­giran hutan.

Kisi-kisi jen­dela pada kamar-kamar loteng biara itu meng­ki­lat-kilat kena sinar damar dari dalam. Dari kilat­nya orang segera tahu mereka ter­buat dari perunggu dan setiap hari digo­sok. Di depan pintu mereka ber­henti:

“Dang Hyang Loh­gawe,” Maha­guru itu ber­bi­sik pada pintu.

Pintu pun ter­buka, dan sinar damar mem­bu­ngah menyam­but mereka. Ruang bawah itu kosong. Hanya seo­rang berada di pintu, mene­rus­kan:

“Yang ter­hor­mat Dang Hyang Loh­gawe!”

Seke­tika itu juga muncul ber­pu­luh-puluh orang, meng­ham­piri Maha­guru itu sambil meng­ang­kat sembah.

“Dir­ga­hayu, dir­ga­hayu, dir­ga­hayu, ya, Maha­guru.”

Arok ter­pi­sah dari guru­nya yang kini berada dalam ling­karan para brah­mana. Dengan bung­kusan dan tam­pak­nya ia ber­diri di pintu meli­hat hormat orang pada maha­gu­ru­nya. Sese­o­rang meng­am­bil bung­kusan dan tombak itu dari tangan­nya dan menyi­la­kan­nya meng­ga­bung­kan diri dengan mereka.

Mereka kini mulai duduk ber­ban­jar-banjar dan Arok meng­am­bil tempat paling bela­kang. Dang Hyang Loh­gawe menge­tuai per­te­muan.

Pedu­paan mulai dipa­sang di setiap pojo­kan, menye­bar­kan harum pada men­je­lang pagi itu. Upa­cara meman­jat­kan teri­ma­ka­sih pun sele­sai. Dan sua­sana hening. Suara burung lalu pun ter­de­ngar nyata Maba­san13 dimu­lai, dia­wali oleh seo­rang brah­mana sete­ngah tua dalam biru ber­des­tar putih. Sua­ra­nya nya­ring. Demi­kian ber­tu­rut-turut, sampai akhir­nya Arok, yang sama sekali belum dike­nal itu pun men­da­pat giliran.

Arok mengu­a­sai maba­sang­ama14. Untuk­nya tak ada kesu­l­itan. Ia lewati gilir­an­nya tanpa cacat. Para brah­mana itu tetap tidak mem­per­ha­ti­kan­nya. Dengan sele­sai­nya gilir­an­nya ayam-ayam biara mulai ber­ke­ru­yuk. Loh­gawe mem­bu­nyi­kan giring-giring yang dise­di­a­kan di hadap­an­nya. Upa­cara men­je­lang pagi itu sele­sai.

Semua keluar untuk mela­ku­kan hajad masing-masing, kemu­dian menyong­song Hyang Surya. Dengung nyanyi puji-pujian itu mem­bi­kin Arok merasa mengan­tuk dan disan­dar­kan dir­i­nya pada pohon. Ia telah ter­bi­asa ter­ti­dur dalam sikap demi­kian, dengan pen­de­ng­aran tetap bekerja menang­kap semua yang pen­ting untuk kese­la­mat­an­nya.

Ia bangun waktu seo­rang gadis bia­ra­wati mem­bagi-bagi­kan cawan tanah berisi air daging kaldu ayam. Sete­lah itu orang baru men­da­pat kebe­basan untuk ber­is­ti­ra­hat atau ber­ja­lan-jalan.

Arok telah dapat mem­ba­yang­kan ting­kah umum kaum brah­mana Di mana pun mereka ber­temu selalu pera­saan tak puas ter­ha­dap raja-raja ketu­runan Erlangga juga yang diper­bin­cang­kan: Jayan­taka, Jaya­warsa, Sekar­taji, Kamesy­wara-I, Kamesy­wara-II, Jayabaya, Jaya­saba, Kre­ta­jaya.

Raja-raja lemah, mereka suka menge­cam, peng­a­nut Wisynu hanya katak di bawah tem­pu­rung, pengu­rus ladang dan sawah, mene­lan keri­ngat kawula sen­diri. Bahkan raja-raja Syiwa yang gagah-per­kasa masih dapat dika­lah­kan Buddha Tan­tra­yana, Sri­wi­jaya dan Sai­len­dra, apa­lagi peng­a­nut Wisynu yang hanya tahu sawah dan ladang ini!

Betapa kuat mereka menge­cam-ngecam, turunan demi turunan, sampai dua ratus tahun! Dan tidak ber­buat sesu­atu. Dan ia men­duga sidang kali ini pun takkan lebih dari­pada itu.

Kutri­denta sudah mulai menying­gung-nying­gung Erlangga lagi. Ia menge­na­kan baju pendek ter­tu­tup jubah ungu dengan destar ungu pula, yang ujung-ujung­nya jatuh di depan dada­nya. Ia kepala biara Kutri, Bali, yang juga ber­tu­gas mela­ku­kan peme­li­ha­raan candi pura Putri Mahen­d­ra­datta, ibu Erlangga.

“Bahkan Dewi Mahen­d­ra­datta,” ia bicara dalam San­sa­kerta yang lancar. Sua­ra­nya lambat tapi tinggi seperti bunyi genta kuningan,” takkan meres­tui bila tahu bakal begini jadi­nya semua ini. Kami di Bali semua meng­erti, meng­apa pada akhir­nya Putri Dewi Mahen­d­ra­datta ber­pa­ling pada Hyang Durga. Arti­nya sete­lah sua­mi­nya, Sri Uda­yana mang­kat. Maha­dewa Syiwa kehi­langan cak­ra­war­ti­nya di Bali. Sampai seka­rang pun peme­li­hara pura Kutri, selalu seo­rang brah­mana Syiwa, tidak disu­kai oleh masya­ra­kat Wisynu. Sejauh menge­nai diri pri­badi, itu tidak meng­apa, karena semua itu ber­pang­kal pada masa jauh silam ...”

Arok meng­i­kuti Kutri­denta dengan sepe­nuh per­ha­tian. Soal­nya ter­lalu mena­rik bagi­nya, dan San­sa­ker­ta­nya pun tidak kurang indah­nya.

Kutri­denta mene­rus­kan urai­an­nya entah sudah berapa kali saja itu dila­ku­kan dan entah di mana saja dengan tenang, mengu­a­sai bahan yang dibi­ca­ra­kan­nya:

Hanya sete­lah Sri Uda­yana Dhar­ma­da­yana mang­kat, Putri Dewi Mahen­d­ra­datta berani terang-terangan memuja Hyang Syiwa. Orang men­jadi marah pada­nya, waktu menge­ta­hui ia akhir­nya ber­pa­ling pada H yang Durga. Gunung Agung mele­tus, di mana-mana pura roboh dan hancur, beribu-ribu korban jatuh binasa, menyu­sul wabah.

Putri Mahen­d­ra­datta meng­ang­gap, ben­cana itu ditu­run­kan oleh Hyang Maha­kala karena orang sudah mulai ingkar. Tetapi kawula Bedulu meng­ang­gap ben­cana itu ditu­run­kan oleh Hyang Durga atas per­mo­honan Putri Mahen­d­ra­datta. Bebe­rapa kali dalam dua ratus tahun sete­lah ter­ja­di­nya wabah dan ben­cana itu, pura Kutri dike­pung untuk dihan­cur­kan. Sela­ma­nya orang men­jadi ragu bila sudah sampai di depan ger­bang, dan niat mereka pun batal.

“Lihat­lah,” Kutri­denta mene­rus­kan, “semua brah­mana tahu, waktu Sri Maku­ta­wangsa menga­win­kan put­ri­nya pada Uda­yana atas per­se­tu­juan ber­sama raja dengan kaum brah­mana, dimak­sud­kan akan adanya pen­de­katan antara peng­a­nut Wisynu dengan peng­a­nut Hyang Maha­dewa Syiwa. Sayang Putri Dewi Mahen­d­ra­datta gagal seba­gai peng­em­ban tugas, sekali pun tak dapat dika­ta­kan gagal seba­gai Para­mesy­wari atau pun ibu. Putri Mahen­d­ra­datta memang­lah kega­galan yang per­tama....

Uraian yang mena­rik, hanya tanpa jurus tanpa kesim­pulan, Arok meni­lai.

Seo­rang brah­mana dari Mata­ram, Resi Andaru, seo­rang ahli dalam kiwan, dalam San­sa­kerta yang lebih banyak Jawa­nya, menyo­roti keme­ro­sotan penyem­ba­han pada Hyang Maha­dewa dari segi lain:

“Makin lama makin banyak rontal menye­sap ajaran lain dan men­di­r­i­kan dewa-dewa bara dari kaum Buddha, seakan titah ini sengaja hendak dica­ir­kan jadi bubur campur-aduk tidak menentu.”

Ia menye­dari keti­dak­se­daran umum akan penga­buran fil­sa­fat, bukan saja karena arus Maha­yana, juga karena nika­yo­nya yang banyak dan silang-siur mem­bi­ngung­kan, dan meng­an­cam konsep ten­tang tempat pri­badi di tengah-tengah Jagad Pra­mu­dita.

“Sebuah nikayo yang paling ber­ba­haya adalah yang mele­pas­kan diri dari kese­lu­r­uhan tata Jagad Raya, dengan ajaran dan taf­siran yang justru seba­lik­nya. Mereka kehi­langan makna dari tang­gung­ja­wab pada sesama manu­sia dan para dewa, memuja kebe­basan mutlak dan pele­pasan kama15 dengan rumus fal­safi, kemu­dian mema­dukan diri sen­diri pada para dewa dan ber­se­a­kan sang dewa itu sen­diri.”

Ia tak sebut­kan nama nikayo itu.

Dan demi­kian sete­rus­nya. Semua meng­gam­bar­kan ten­tang keti­a­da­da­yaan kaum brah­mana sen­diri. Tanpa jalan keluar Tim­bunan keca­man dan amarah. Rasa tak puas.

Hampir pada pidato ter­a­khir Dang Hyang Loh­gawe meme­rin­tah­kan pada Arok untuk men­dam­ping­i­nya seba­gai pen­ca­tat, meng­gan­ti­kan seo­rang brah­mani tua yang ter­se­rang encok.

Penu­tup dari semua laporan adalah pem­ba­caan tulisan Mpu Parwa ter­baru, dalam Jawa, yang ber­ki­sah ten­tang para petani yang dalam rom­bongan besar ber­sen­jata peng­gada kayu telah menye­rang kah­yangan untuk meng­u­sir Hyang Maha­dewa Syiwa. Mereka itu dipim­pin oleh seo­rang pemuda yang tidak keta­huan asal­nya, ber­sen­jata cakra, tak henti-hen­ti­nya meniup sang­ka­kala dan dapat ber­ja­lan tanpa meng­in­jak­kan kaki pada bumi.

Dua ratus tahun lama­nya per­ke­la­hian di kah­yangan itu ter­jadi antara rom­bongan petani, dipim­pin oleh pemuda Kunda itu. Tapi Hyang Syiwa tidak pernah ber­ge­ser sejeng­kal pun dari tem­pat­nya, tak pernah dika­lah­kan, tapi belum pernah menang.

Pada akhir­nya Hyang Syiwa meng­am­bil segeng­gam tanah dari ladang para petani itu sen­diri, dipu­ja­nya men­jadi seo­rang satria yang gagah-berani, dina­ma­inya Huma­lang. Dengan diper­sen­ja­ta­i­nya dengan tri­sula, Huma­lang meng­ha­dapi Kunda, sehingga yang bela­kangan ini tewas. Dengan demi­kian ber­a­khir juga kisah Mpu Parwa yang diba­ca­kan selama lima malam itu.

Juga Arok teng­ge­lam dalam kein­dahan puisi, ter­u­tama dalam per­ti­kaian kata antara Syiwa dan Kunda. Kunda dan Huma­lang.

“Sepe­nuh­nya tepat, benar, tiada cacat,” Dang Hyang Loh­gawe mem­be­ri­kan peni­lai­an­nya. “Memang di dalam­nya masih ada satu titik yang dilu­pa­kan.”

Ia mene­rang­kan dalam San­sa­kerta yang ber­pin­cang-pin­cang:

Ia meng­a­kui kega­galan Putri Dewi Mahen­d­ra­datta. Juga ia meng­a­kui kega­galan sau­dara Sang Putri, Sri Teguh Dhar­ma­wangsa dalam perang darat dan laut mela­wan Sri­wi­jaya untuk mem­per­e­but­kan keung­gulan laut dan di per­a­iran Nusan­tara, pun gagal dalam men­de­sak keku­a­saan Buddha Maha­yana Sri­wi­jaya. Kega­galan itu bukan saja ting­gal jadi kega­galan, juga kebi­na­saan Serangan pem­ba­lasan Sri­wi­jaya tak dapat ditang­kis, dan Sri Teguh Dhar­ma­wangsa gugur dalam pra­laya16 itu.

“Pada tahun Saka 909 itu,” ia mene­rus­kan, “sedang dia­da­kan pesta per­ka­winan antara dua putri Sri Dhar­ma­wangsa dengan Pange­ran Erlangga, putra Uda­yana Dhar­ma­da­yana. Pange­ran Erlangga waktu itu masih seo­rang bocah beru­mur tujuh­be­las, belum cukup ilmu, kurang penge­ta­huan, baik dari guru maupun ibunya, Putri Mahen­d­ra­datta. Sri Dhar­ma­wangsa ber­u­saha melak­sa­nakan amanat ayah­an­da­nya, Sri Maku­ta­wangsa, untuk men­di­r­i­kan Hyang Syiwa di Bali. Kenya­ta­an­nya jadi ber­la­inan. Erlangga bukan saja tidak men­jadi penyem­bah Hyang Syiwa, dia malah menye­bar­kan keja­hilan Bali, mem­be­ra­ni­kan petani-petani itu untuk memu­li­a­kan Hyang “Wisynu saja, dewa mereka, dewa dari kaum tani yang takkan pernah men­da­tang­kan kebe­saran itu.

“Aki­bat­nya: tidak untuk Hyang Syiwa, tidak untuk Hyang Wisynu, juga tidak untuk diri sen­diri dan kawu­la­nya.”

Sampai di situ ia ber­pa­ling pada Mpu Parwa:

“Yang ter­hor­mat,” kata­nya, “Kun­da­laya sampai di situ tepat, benar, utuh. Titik keku­rangan yang sepa­tut­nya disem­pur­na­kan lagi adalah ini:

“Bukan suatu kebe­tulan Mpu Sindok memin­dah­kan Mata­ram ke timur, karena Mata­ram barat sudah tidak mampu memben-

Dung penga­ruh Buddha. Sia­pa­kah dapat melu­pa­kan peng­hi­naan atas kaum brah­mana waktu Pan­cap­ana Rakai Penang­karan men­da­pat perin­tah dari Indra, raja Sai­len­dra itu, untuk mem­ba­ngun­kan candi Kalasan? Dan kemu­dian Sri Pan­cap­ana masih harus men­di­r­i­kan kuil-kuil lain untuk kepen­tingan Sang Buddha?”

Ia ber­henti untuk minta per­ha­tian pada kali­mat-kali­mat yang akan dika­ta­kan­nya:

“Raja-raja kita selan­jut­nya, Rakai Warak, Rakai Garung, mene­rus­kan pem­ba­ngu­nan candi-candi Buddha untuk dengan demi­kian meng­a­rah­kan selu­ruh rakyat Mata­ram, agar binasa di bawah kaki Sang Buddha, dan lebih menye­dih­kan: untuk dilu­pa­kan oleh Hyang Maha­dewa. Patung dewa-dewa Buddha apa saja yang tidak dibi­kin oleh pema­hat ter­baik Mata­ram? Suatu jaman mema­lu­kan yang seakan tiada kan habis-habis­nya. Kita baru bisa ber­na­fas lega sete­lah Rakai Pikatan meng­a­khiri semua hinaan ini. Raja besar dan bijak­sana ini mengem­ba­li­kan keper­ca­yaan diri kita menu­tup jaman seng­sara itu hampir-hampir tanpa mene­tes­kan darah, menga­wini anak raja Sai­len­dra Samar­a­tungga itu, ber­nama Pra­mu­da­war­d­hani, dan meng­ha­lau peng­ganti mer­tu­a­nya, Sri Balap­ut­ra­dewa, keluar Jawa.

“Pengem­ba­lian cak­ra­warti Hyang Syiwa dengan ter­ba­ngun­nya Pram­ba­nan nam­pak­nya tidak cukup meya­kin­kan untuk menyu­r­am­kan kebe­saran Sang Buddha. Lihat­lah, para Yang Ter­hor­mat, dalam tangan raja-raja Syiwa yang men­ca­pai puncak keja­ya­an­nya, tidak ada satu pun batu dari candi-candi Buddha itu dir­u­sak, bahkan negeri menge­lu­ar­kan dharma untuk peme­li­ha­ra­an­nya.”

Ia ber­pa­ling pada Mpu Panya dan mene­rus­kan: “Nah, Yang Ter­hor­mat Mpu Parwa, inilah titik keku­rangan dalam Kun­da­laya: ancaman mene­tap dan Buddha dan kepe­mu­r­ahan Sang Hyang Maha­dewa Syiwa.”

Mpu Parwa mem­be­nar­kan keta­jaman Loh­gawe yang dapat meli­hat adanya titik keku­rangan. Ia ber­janji akan menyem­pur­na­kan pada tahun men­da­tang.

“Sedang Huma­lang itu,” Dang Hyang Loh­gawe mene­rus­kan, “adalah sudah tepat bila ber­a­sal dari segeng­gam tanah ladang petani-petani itu sen­diri dan diti­up­kan hidup di dalam­nya oleh Hyang Maha­dewa. Huma­lang adalah Bat­hara Wisynu dalam tata cak­ra­warti Syiwa, bukan ter­pi­sah dari­pa­da­nya seperti ang­gapan dan pan­dangan kaum Wisynu dari wangsa Isana ini.

“Keta­hu­i­lah, para Yang Ter­hor­mat, bahwa adalah jadi dharma kita untuk mene­mu­kan Bat­hara Wisynu yang diti­up­kan oleh Maha­dewa itu dalam hidup kita seka­rang. Demi Hyang Maha­dewa, Huma­lang itu akan muncul. Benar­lah ramalan Yang Ter­hor­mat Mpu Parwa. Kita harus tutup jaman kehi­naan ini dengan Kun­da­laya.”

Brah­mani Tari­pada dari Kalingga dalam urai­an­nya selama sehari penuh telah menyo­roti buku suci peng­a­nut Maha­yana, Kama­ha­ya­ni­kan, yang masuk ke Mata­ram Timur dari Mata­ram Barat, dan tidak meng­a­lami banyak penya­li­nan karena teri­m­bangi oleh buku suci Brah­man­da­purana dari kaum Syiwa. Ia mem­be­nar­kan sikap kaum brah­mana selama ini yang tidak ber­mak­sud dan tidak punya kei­ng­inan untuk meng­han­cur­kan­nya. Ia seba­lik­nya memuji sikap yang meng­an­jur­kan untuk sema­kin mem­per­ba­nyak Brah­man­da­purana.

Ia mengu­kuh­kan pen­da­pat kaum brah­mana, bahwa Arjuna-wiwaha tulisan Mpu Kanwa adalah gejala per­tama peng­gu­naan buku suci untuk men­de­wa­kan manu­sia. Ini segera dii­kuti oleh Mpu Tri­guna dengan kar­ya­nya Kres­na­yana. Yang per­tama untuk kepen­tingan Sri Baginda Erlangga, yang kedua untuk Sri Baginda Jaya­warsa. Tak ada di antara raja-raja Syiwa ber­buat demi­kian. Mpu Dhar­maja dengan kar­ya­nya Sma­rad­ha­hana melang­kah lebih jauh lagi, tetapi juga lebih jujur, karena ditam­pil­kan­nya Sri Baginda Kamesy­wara dan Para­mesy­wari lebih banyak seba­gai manu­sia.

“Para Yang Ter­hor­mat,” brah­mani Tari­pada mene­rus­kan.

“Puncak keku­a­saan wangsa Isana ketu­runan Erlangga adalah Sri Baginda Jayabaya17. Adalah meng­he­ran­kan, bahwa seo­rang raja Wisynu mau men­ja­mah ombak dan menak­luk­kan daratan di sebe­rang. Balat­en­ta­ra­nya ber­ha­sil mengu­a­sai Jambi dan Selat Seme­nan­jung. Kebi­jak­sa­na­an­nya dalam mengem­bang­kan kebe­saran Wisynu, men­ja­di­kan tan­tangan yang benar-benar tak dapat dija­wab oleh kaum brah­mana pada masa­nya.

“Hari­wangsa, karya Mpu Panu­luh, karya rak­sasa dengan 16.000 sanjak itu, selu­r­uh­nya meng­a­gung­kan Wisynu yang meni­tis dalam diri Kresna. Dan bukan­kah Kresna dengan kebi­jak­sa­na­an­nya itu tidak lain dari­pada Sri Baginda Jayabaya sen­diri? Untuk memasy­hur­kan nama­nya seba­gai Hyang Wisynu pada dunia, dipe­rin­tah­kan­nya mela­kon­kan pada wayang per­ma­inan lelu­hur para petani yang meno­lak para dewa kita itu. Untuk meng­a­gung­kan keme­nang­an­nya atas Jambi dan Selat Seme­nan­jung dipe­rin­tah­kan­nya Mpu Sedah men­ja­wa­kan bagian perang dari Maha­b­ha­rata, dari Duta­parwa sampai Saup­ti­ka­parwa. Barang­kali karena sema­ngat perang­nya juga kepala Mpu Sedah dija­tuh­kan­nya dari leher­nya sebe­lum kar­ya­nya sele­sai....”

Tari­pada ber­seru-seru pada sidang agar mem­bi­kin peni­laian kem­bali ter­ha­dap Mpu Sedah, seo­rang sar­jana San­sa­kerta dan Jawa seka­li­gus, yang dengan kebe­ra­nian luar­bi­asa dan dengan cara­nya sen­diri telah mela­wan keku­a­saan raja Wisynu yang gagah ini.

“Bagai­man­a­pun, para Yang Ter­hor­mat dan Yang Suci, Sri Jayabaya oleh Mpu Sedah tidak dimun­cul­kan­nya dalam Bha­ra­ta­yud­dha. Semoga pen­da­pat ini tidak keliru.”

Ia mene­rus­kan tin­jau­an­nya ter­ha­dap karya-karya semasa keku­a­saan wangsa Isana yang ber­si­fat Wisynu, menga­gumi Mpu Panu­luh, kemu­dian sampai pada Mpu Tana­kung dalam keku­a­saan Sri Baginda Kre­ta­jaya dengan Gatot­ka­cas­raya.

“Meng­apa pada kita hanya ada Yang Ter­hor­mat Mpu Parwa? Boleh jadi karena kaum Wisynu ini tidak mem­pu­nyai begitu banyak lawan seperti kita. Di tangan­nya ada kewi­ba­waan, pada kita tiada sesu­atu. Per­ma­inan wayang telah meram­bat ke mana-mana, sedang­kan kita tidak mampu menan­dingi.”

Ia ber­seru-seru untuk mene­mu­kan kunci pem­buka pintu kebe­saran Hyang Maha­dewa ....

Sidang yang ber­lang­sung dengan tenang penuh pera­saan tidak puas pada keti­a­da­da­yaan sen­diri mema­suki acara Agama dan Ugama. Per­de­batan sengit ter­jadi, sehingga meng­an­cam gagal­nya per­si­dangan.

Dalam panas per­ti­kaian, pada suatu malam gelap ber­men­dung, datang seo­rang ber­lari-larian mem­bawa obor. Badan­nya telah basah oleh keri­ngat ber­cam­pur debu. Kepa­la­nya ter­buka, ram­but­nya kacau-balau. Ia men­ja­tuh­kan diri di depan pintu biara, keha­bisan tenaga. Dengan pang­kal obor ia memu­kul-mukul daun pintu. Sidang ter­henti seke­tika, was­pada. Boleh jadi pasukan Tuma­pel sedang dike­rah­kan untuk menin­das sidang kaum brah­mana ini. Semua meng­a­wasi pintu, menunggu muka siapa yang bakal masuk lebih dahulu. Senyap. Dari luar ter­de­ngar keluh.

Arok, yang termuda di antara semua yang hadir, mele­tak­kan alat pen­ca­tat, meng­ang­kat sembah pada sidang, kemu­dian meng­ham­piri pintu dan mem­bu­ka­nya.

“Siapa kau!” Tanya­nya, meli­hat tubuh orang yang keha­bisan tenaga, ter­bu­jur di sam­ping obor­nya yang masih menyala. “Kawula Mpu Parwa. Beri­lah sahaya minum.” Arok masuk ke dalam, mem­bi­sik­kan sesu­atu pada Mpu Parwa dan keluar lagi mem­bawa seca­wan air kaldu. Orang itu minum dalam kea­daan masih ter­bu­jur. Ia sing­kir­kan cawan dan meng­u­langi sebut­an­nya:

“Maji­kan sahaya. Mpu Parwa.”

“Ya, seben­tar akan datang.”

Mpu Parwa keluar ber­sama Dang Hyang Loh­gawe. “Kau, meng­apa kau jadi begini?” Tegur Mpu Parwa “Bangun.”

“Sahaya sudah tidak mampu bangun. Dela­pan pekan telah sahaya cari Tuanku di mana-mana, keli­ling selu­ruh Kediri dan Tuma­pel.”

“Siapa suruh kau men­cari aku?”

“Ampun, Tuanku, rumah sahaya ting­gal­kan, justru untuk mem­bawa berita ini, Tuanku.”

“Kau, perem­puan, keli­lingi negeri seo­rang diri begini?”

“Ampun, Tuanku. Sepe­ning­gal Tuanku, ayu Dedes...”

“Meng­apa Dedes?”

“Dicu­lik oleh Sang Akuwu.”

“Jagad Bat­hara!” Mpu Parwa ter­pe­kik.

“Dela­pan pekan yang lalu?” Dang Hyang Loh­gawe mene­ngahi sambil menu­tup kem­bali pintu ruang bawah biara.

“Ter­ku­tuk dia oleh semua dewa!” Seru Mpu Parwa tak dapat mengen­da­li­kan ama­rah­nya. Ia ham­piri kawula perem­puan itu. “Meng­apa tak kau lin­dungi dia?”

“Apakah daya sahaya?”

Loh­gawe mena­rik Mpu Parwa dari perem­puan yang masih ter­ge­le­tak tak kuat ber­diri itu.

“Ampun, Tuanku, hanya itu yang sahaya dapat per­se­m­bah­kan.”

Empat orang bia­ra­wati meng­ang­kat perem­puan itu dan meng­go­tong­nya masuk ke bela­kang untuk men­da­pat­kan pera­watan.

“Sabar, Yang Ter­hor­mat,” kata Loh­gawe, “tak dapat kita ber­buat sesu­atu ter­ha­dap mereka ini. Tetapi, bahwa seo­rang anak brah­mana diam­bil dari rumah­nya dengan jalan seku­rang­a­jar itu, memang tidak dapat diteng­gang. Anakmu Dedes akan dapat kau temu­kan di peku­wuan Tuma­pel. Hanya harga kaum kita yang sema­kin jatuh. Seba­ik­nya Yang Ter­hor­mat ber­is­ti­ra­hat dulu, jangan ter­ganggu oleh pera­saan pri­badi.”

Loh­gawe dan Arok meng­an­tar­kan­nya ke bela­kang. Dalam per­ja­lanan balik ke sidang Maha­guru itu ber­ta­nya:

“Kau per­ha­ti­kan uraian Tari­pada?”

“Selu­r­uh­nya, ya, Bapa.”

“Mampu kau ucap­kan tanpa rontal Sal­ya­parwa dalam San­sa­kerta?”

“Suatu kehor­matan meng­u­cap­kan­nya di hadapan sidang yang mulia kaum brah­mana. Bapa Maha­guru.”

“Baik. Jangan kece­wa­kan gurumu.” Kem­bali di depan sidang ia mem­be­ri­ta­hu­kan ter­ja­di­nya suatu peris­tiwa yang men­ter­je­mah­kan kele­mahan, keda­da­da­yaan kaum brah­mana, yang men­ca­kup semua yang telah dibi­ca­ra­kan, diu­rai­kan dan diper­ti­kai­kan, ia meng­ang­gap per­te­muan para brah­mana sema­cam ini ter­lam­pau ber­la­rut selama dua abad ini. Ia meng­u­sul­kan cara baru.

Sidang yang telah lelah tidak men­da­pat­kan sesu­atu kepu­tusan pegangan itu serta-merta menye­tu­jui. “Kalau demi­kian, kau!” Perin­tah­nya pada Arok, “ucap­kan­lah Sal­ya­parwa dalam San­sa­kerta, bukan dalam Jawa.”

Dan Arok mulai ber­ki­sah ten­tang Parwa ke-9 Maha­b­ha­rata itu: Prabu Salya ber­siap-siap akan berang­kat ke medan-perang, men­jadi sena­pati Kau­r­awa. Ia temui Para­mesy­wari Dewi Set­ya­wati. Yang masy­hur akan kecan­ti­kan­nya ... Seo­rang anak perem­puan dari Resi Bagas­pan, ber­nama Puja­wati.

Arok meli­hat para pen­de­ng­ar­nya ter­pe­sona oleh baca­an­nya. Dan ia tahu ucap­an­nya sangat patut demi pel­a­jaran ucapan yang dite­ri­ma­nya dari Loh­gawe selama ini.

“Cukup, dan teri­ma­ka­sih.”

Arok tidak mene­rus­kan.

“Sia­pa­kah kira­nya di antara Yang Ter­hor­mat dapat meli­san­kan sesu­atu ten­tang Sal­ya­parwa dalam hubung­an­nya dengan Mpu Sedah?”

Kecu­ali Kutri­denta semua ber­se­dia. Dan Loh­gawe mem­be­ri­kan kehor­matan itu kem­bali pada Arok.

“Adalah sebuah kisah,” Arok memu­lai,” yang belum ada orang berani menu­lis­kan­nya sebuah kisah ten­tang Mpu Sedah dalam hubung­an­nya dengan Sal­ya­parwa. Tetapi maaf­kan, sahaya, para Yang Ter­hor­mat dan Yang Suci, kisah itu kurang ber­arti kalau tidak dida­hu­lui dengan awalan, untuk dapat meng­erti sete­pat­nya watak para raja Wisynu ini. Sahaya mulai dengan awalan. “Para Yang Ter­hor­mat dan Yang Suci, orang-orang Wisynu suka meng­e­jek kita seba­gai kaum yang tidak menge­nal batas kama. Mereka menyin­dir-nyin­dir dan men­ter­ta­wa­kan karena lingga18, lam­bang kita pada puncak-puncak setiap bangu­nan suci kita peng­hu­bung antara kah­yangan dan dunia. Mereka tidak pernah mau meng­erti, lingga adalah kesa­tuan antara Hyang Maha­dewa Syiwa dengan syak­ti­nya, Hyang Bat­hari Durga, antara yang abadi dan yang semen­tara. Kaum Wisynu ber­se­a­kan mereka penge­kang kama tanpa tan­dingan.

“Untuk mem­buk­ti­kan wujud mereka sen­diri, tidak perlu dite­liti semua dan selu­ruh kaum Wisynu, cukup raja-raja­nya ....

“Sia­pa­kah tidak menge­nal riwa­yat Putri Mah­kota Dewi Sang­gra­ma­wi­jaya, putri Sri Erlangga? Bahkan bocah angon pun tahu. Karena meng­i­dap penya­kit kedi ia tidak mena­iki tahta untuk meme­rin­tah, tetapi mena­iki Gunung Klotok untuk ber­tapa. Sri Erlangga ter­paksa mem­be­lah kera­jaan jadi dua sebe­lum mena­rik diri dari tahta, dilak­sa­nakan oleh Mpu Baradha. Sebe­lah timur men­jadi negara Jang­gala, dir­a­jai putra selir, Sri jayan­taka. Sebe­lah barat men­jadi negara Pan­jalu, beri­bu­ko­takan Dhaha, atau Kediri, dir­a­jai oleh putra selir, Sri Jaya­warsa.

“Para Yang Ter­hor­mat dan Yang Suci, sete­lah dua ratus tahun lama­nya bicara, men­de­ngar, menge­cam tanpa ber­buat apa-apa, barang­tentu para Yang Ter­hor­mat dan Yang Suci tiada ber­ke­be­ratan men­de­ng­ar­kan kisah sahaya ini, yang sahaya tinjau dengan cara sahaya sen­diri ....

“Sri Jaya­warsa mem­per­a­nak­kan Putri Mah­kota Kediri, Dewi Sekar­taji Can­dra­ki­rana. Sri Jayan­taka, Jang­gala, mem­per­a­nak­kan Putra Mah­kota Inu Kre­ta­pati.

“Para Yang Ter­hor­mat dan Yang Suci, tak ada yang dapat disela pada karya Mpu Dhar­maja ten­tang kebe­saran masa ini. Semua yang ditu­lis­nya serba indah sejauh yang dapat dinya­ta­kan dalam bahasa Jawa. Sma­rad­ha­hana itu memang sem­purna. “Pan­jalu dan Jeng­gala harus diper­sa­tu­kan kem­bali. Sekar­taji dan Inu Kre­ta­pati harus dika­win­kan untuk mewu­jud­kan penya­tuan dua kera­jaan itu, tanpa harus ada darah mene­tes.

“Seka­rang, para Yang Ter­hor­mat dan Yang Suci, kita pel­a­jari bagai­mana orang Wisynu menye­le­sai­kan per­ka­ra­nya ....

“Inu Kre­ta­pati, Putra Mah­kota Jeng­gala, tidak men­cin­tai Sekar­taji, sekali pun Sekar­taji men­cin­ta­i­nya. Putra Mah­kota Jeng­gala justru men­cin­tai anak dara patih Jeng­gala, Kuda­na­warsa. Ia seo­rang pera­wan yang sangat memi­kat hati semua per­jaka. Gadis anak Patih Jeng­gala adalah Dewi Ang­g­raini, dan mem­ba­las cinta Putra Mah­kota.”

“Inu Ker­ta­pati lebih sering ber­kun­jung ke kepa­ti­han dari­pada ke Dhaha. Per­ka­winan kene­ga­raan ter­an­cam gagal.”

“Pan­jalu mengir­im­kan urusan ke Jeng­gala, menyam­pai­kan ancaman resmi: Apa­bila per­ka­winan antara Seka­rang dan Inu Kre­ta­pati gagal karena Dewi Ang­g­raini, Pen­jalu akan mem­ba­ris­kan dua puluh ribu balat­en­ta­ra­nya untuk menye­rang Jang­gala dan mera­ta­kan­nya dengan rumput teki.”

“Takut pada ancaman, Sri Jayan­taka, raja Jeng­gala, memang­gil patih­nya, Kuda­na­warsa, meme­rin­tah­kan pada­nya untuk mem­bu­nuh anak­nya sen­diri, Dewi Ang­g­raini. Dan ter­j­a­dilah yang harus ter­jadi.”

“Demi­ki­an­lah, para Yang Ter­hor­mat, bagai­mana kaum Wisynu, raja-raja­nya, menye­le­sai­kan per­kara. Seo­rang pera­wan dalam kesu­cian dan kecan­ti­kan­nya, dalam gairah meng­im­pi­kan indah­nya cinta, harus dige­lan­dang ke hutan dan mene­rima pedang pada tubuh­nya. Dia dikor­bankan untuk Hyang Wisynu. Di atas mayat­nya didi­r­i­kan negara kesa­tuan Pan­jalu-Jeng­gala.”

“Lihat­lah pula apa yang diper­buat oleh Putra Mah­kota Wisynu ber­nama Inu Kre­ta­pati itu. Dia hanya bisa mera­tapi nasib keka­sih­nya, sama sekali tak mening­gal­kan asap tak meng­ge­lo­ra­kan sang­kalan. Dia lari, para Yang Mulia dan Yang Suci, lari dari istana mem­bawa tangis mera­tapi Dewi Ang­g­raini.”

“Bagai­mana dengan Putri Mah­kota Pan­jalu? Malu karena Putra Mah­kota Jang­gala lebih men­cin­tai Dewi Ang­g­raini dari­pada dir­i­nya, ia pun lari mening­gal­kan istana, ber­pa­kaian pria, menge­na­kan nama pria: Kelana Jayeng­sari.

“Dunia gempar. Tak ada yang dapat mene­mu­kan mereka Tapi dengan suka­cita mereka ber­temu di pulau kela­hiran nenek mereka sen­diri, Bali. Mereka pulang ber­sama ke Jawa dan kawin.”

“Para Yang Mulia dan Yang Suci, kaum Wisynu ber­so­rak-sorai dengan per­ka­winan kene­ga­raan itu. Inu Kre­ta­pati marak jadi raja tung­gal dengan gelar Kamesy­wara, dengan wila­yah keku­a­saan meli­puti seba­gian besar Jawa, Bali, Bangka, Kali­man­tan Barat-daya, Sula­wesi Tengah dan Maluku. Mpu Dhar­maja telah menya­nyi­kan kebe­saran itu. Dan mereka tetap lupa pada Dewi Ang­g­raini yang dikor­bankan....”

Arok mene­rus­kan kisah­nya, bahwa Kamesy­wara digan­ti­kan oleh Kamesy­wara-II, dan:

“Pada suatu waktu wangsa Isana mela­hir­kan raja besar, Sri Baginda Jayabaya, yang telah mem­per­se­m­bah­kan pada negeri dan kelu­arga: Jambi dan Selat Seme­nan­jung. Maka ter­ja­min­lah kemak­muran Kediri dan punah­lah bajak laut dari utara ke selatan. Seo­rang Wisynu yang sung­guh-sung­guh besar ini men­cin­tai sastra, seni, fil­sa­fat dan dir­i­nya sen­diri.

Ter­se­but­lah di sebe­lah selatan ibu­kota Kediri, di sebuah desa ber­nama Adil­u­wih, ting­gal seo­rang pemuda desa yang dika­sihi oleh Hyang Ganesya: ahli dalam bahasa dan sastra San­sa­kerta dan Jawa; keka­sih Hyang Wisynu: seo­rang sudra, petani yang baik; keka­sih Hyang Maha­dewa: ahli dalam per­so­alan para dewa. Keka­sih Hyang Kama­jaya: seo­rang per­jaka, muda. Dua puluh tiga tahun, gan­teng rupa­wan, ber­budi bahasa, penak­luk hati wanita Sia­pa­kah yang bisa salah­kan apa­bila ada seo­rang gadis, anak seo­rang brah­mana, yang ting­gal di desa tetangga jatuh cinta pada­nya? Sia­pa­kah yang bisa salah­kan, kalau seba­lik­nya pemuda keka­sih para dewa itu jatuh cinta pada Pra­ba­rini? Sia­pa­kah yang dapat salah­kan, bila Sedah dan Pra­ba­rini saling meng­i­kat janji sehi­dup­se­mati, di alam kini mau pun nanti?

Pra­ba­rini hanya memi­lih Sedah. Sedah hanya memi­lih Pra­ba­rini. Betapa mahal­nya baha­gia itu, karena Sedah harus menge­ce­wa­kan banyak pera­wan, dan Pra­ba­rini menge­ce­wa­kan banyak pemuda. Keba­ha­gi­aan mereka dibi­a­yai oleh keke­ce­waan hari para muda yang men­damba.

Sela­ma­nya ter­jadi, mereka yang tak kuat menang­gung kecewa diha­lau ke pang­kuan neraka mela­lui tindak dur­jana. Pra­ba­rini dan Sedah dalam mabok dile­ngah­kan oleh keba­ha­gi­aan. Di bela­kang pung­gung­nya ada saja di antara yang kecewa mem­per­se­m­bah­kan pada Sri Jayabaya akan adanya seo­rang dewi, cantik-jelita pen­jel­maan Dewi Set­ya­wati di atas bumi Kediri.

Sri Jayabaya adalah seo­rang raja Wisynu, oleh nenek-moyang­nya diajar meng­haki apa saja ter­baik milik kawula. Juga Pra­ba­rini tidak ter­ke­cu­ali. Dipe­rin­tah­kan­nya pasukan untuk men­jem­put Set­ya­wati Kediri. Ter­ting­gal­lah Sedah kini diga­lau oleh kecewa itu sen­diri, seo­rang diri, di desa­nya, Adil­u­wih.

Setiap hari ia turun ke ladang atau sawah, dan tak ada Pra­ba­rini meng­an­tar­kan makan lagi. Ber­gu­mul dalam lumpur dan tanah tanpa pujaan hati seakan ia telah diting­gal­kan oleh para dewa. Sedang di istana Kediri, karena kecan­ti­kan dan keje­li­ta­an­nya Pra­ba­rini didu­duk­kan di atas sing­ga­sana seba­gai Para­mesy­wari Kediri.

Setiap malam Sedah ting­gal memo­hon pada para dewa untuk mengem­ba­li­kan keka­sih­nya kepa­da­nya. Dan para dewa tidak men­de­ng­ar­kan­nya. Di istana Pra­ba­rini juga selalu memo­hon pada para dewa untuk mengem­ba­li­kan Sedah kepa­da­nya. Demi­ki­an­lah Sri Baginda Jayabaya telah memeng­gal putus tali cinta-kasih yang dibe­nar­kan semua orang dan para dewa.

Kemu­dian tiba­lah wak­tu­nya Sri Jayabaya merasa sudah cukup kukuh keme­nang­an­nya di Jambi dan atas Selat Seme­nan­jung. Untuk meng­a­ba­di­kan keme­nangan dan keko­ko­han itu diti­tah­kan­nya men­ja­wa­kan keme­nangan perang Pan­dawa atas Kau­r­awa, 6 parwa dari Maha­b­ha­rata yang 18 itu.

Pujangga-pujangga istana menya­ta­kan tak mampu menge­r­ja­kan. Juga maha­pu­jangga Mpu Panu­luh tidak. Para cerdik-cen­de­kia diki­rim­kan ke selu­ruh negara untuk men­cari ahli bahasa dan sastra San­sa­kerta dan Jawa.

Sedah bangun dari duka­ci­ta­nya men­de­ngar warta itu. Seakan ia dengar jelas suara Hyang Bat­hari Durga: Per­gi­lah kau ke Kediri, anakku, karena di sana­lah Pra­ba­rini kau dapat­kan kem­bali.

Dengan ber­te­rom­pah tapas, ber­tong­kat kayu peno­lak­u­lar, ber­ju­bah pendek dan ber­des­tar serba hitam, lak­sana Bat­hara Kama­jaya, ia ber­ja­lan ke Kediri.

Dari parwa-parwa yang dike­hen­daki Sri Baginda Jayabaya ia tahu, adalah bagian yang bisa mem­be­ri­nya jalan untuk men­da­pat­kan Pra­ba­rini, dan dengan demi­kian mem­ba­las­kan den­dam­nya pada Sri Baginda. Ia tahu Pra­ba­rini tidak ber­daya. Kaulah yang ber­daya itu, titah Hyang Bat­hari, yang harus datang pada­nya.

‘Kau, anak muda, meng­aku sang­gup men­ja­wa­kan Maha­b­ha­rata?’ Mpu Panu­luh mene­tak­nya dengan tanya mere­meh­kan.

‘Inilah sahaya, yang sang­gup, ya Yang Suci Mpu Panu­luh.’

‘Siapa gurumu, maka berani per­se­m­bah­kan lehermu?’

‘Hyang Ganesya sen­diri.’

‘Jagad Dewa. Jagad Pra­mu­dita, tia­da­kah kau sayang pada kemu­da­anmu?’

‘Seki­ra­nya tiada lagi yang sang­gup, inilah leher sahaya.’

Dewan cerdik-pandai dipang­gil ber­si­dang oleh Mpu Panu­luh, dan Sedah diha­dap­kan pada ujian.

Tidak ada seba­ris pun di antara parwa-parwa San­sa­kerta itu keliru ia ucap­kan tanpa rontal. Penya­li­nan dalam Jawa mem­bi­kin sidang peng­uji ter­he­ran-heran. Anak semuda itu, dua puluh tiga. Sri Baginda Jayabaya sen­diri memer­lu­kan datang untuk mene­mui. Dika­lung­kan untaian melati pada leher­nya, ia lulus, mele­bihi yang diha­rap­kan sidang peng­uji, seka­li­gus men­da­pat­kan gelar Mpu.

Dengan piki­ran ter­pu­sat pada hari pem­ba­lasan ter­ha­dap Sri Baginda Jayabaya, dan hari ter­pang­gil oleh cin­ta­nya pada Pra­ba­rini,dengan cepat ia men­ja­wa­kan parwa-parwa itu. Mpu Panu­luh sen­diri tak habis meng­erti betapa besar kasih para dewa pada anak muda ini. Sri Baginda sen­diri jatuh kasih dan sayang dan menye­di­a­kan semua keper­lu­an­nya tanpa dipo­hon. Baginda telah meni­tah­kan untuk mem­ba­ngun­kan ruang khusus untuk tempat ker­ja­nya, dike­li­lingi oleh taman bunga, dir­in­dangi oleh pohon buah-buahan. Di sana ia bekerja tanpa seo­rang pun meng­u­sik­nya.

Kemu­dian sam­pai­lah ia pada parwa ke-9, Sal­ya­parwa. Prabu Salya minta diri dari Para­mesy­wari untuk berang­kat ke medan perang. Puja­wati yang cantik jelita tiada tan­dingan itu kini telah ber­nama Set­ya­wari, tidak lagi cantik jelita seperti semasa gadis­nya. Ia telah ber­a­nak lima orang, Era­wati, Para­mesy­wari Sri Bala­dewa, raja Mat­hura; Sur­ti­kanti, Para­mesy­wari Sang Karna, raja Angga; Bano­wati, Para­mesy­wari Kuru­pati, raja Astina; Bur­is­rawa dan Ruk­ma­rata, yang kemu­dian gugur dalam perang Bha­ra­ta­yud­dha.

Mpu Sedah tanpa ragu-ragu mem­per­se­m­bah­kan pada Sri Jayabaya, ia tidak mampu melu­kis­kan kecan­ti­kan Dewi Set­ya­wati. Baginda tidak mengu­a­sai Maha­b­ha­rata, maka tidak tahu, bahwa Set­ya­wati yang hendak dilu­kis­kan sudah ber­a­nak lima dan tua.

Jadi apa yang Mpu Sedah kehen­daki untuk dapat melu­kis­kan kecan­ti­kan Dewi Set­ya­wati.

Seo­rang wanita sesung­guh­nya, dan cantik jelita sesung­guh­nya, untuk men­jadi contoh, duh Sri Baginda.

Sri Baginda Jayabaya, raja besar dari wangsa Isana, pen­cinta sastra, seni dan fil­sa­fat, ber­se­dia meng­ka­ru­ni­a­kan sega­la­nya pada Mpu Sedah asal­kan karya itu jadi dengan sem­purna. Baginda men­ja­tuh­kan titah untuk memi­lih wanita siapa saja di selu­ruh kawasan Kediri untuk dija­di­kan­nya contoh. Bha­ra­ta­yud­dha harus sele­sai. Mpu Sedah memi­lih dan memi­lih. Pilihan ter­a­khir jatuh pada Pra­ba­rini. Sri Baginda Jayabaya ter­se­nyum, meng­ang­guk mem­be­nar­kan.

Maka datang­lah Para­mesy­wari ke sang­gar sang pujangga. Deng­ar­kan ucapan Mpu Sedah sewaktu per­tama kali meli­hat Pra­ba­rini dii­ring­kan oleh dayang-dayang mema­suki sang­gar: ‘Duh Dewa, Duh Bat­hara...’

Jawab­an­nya adalah air­mata pada wajah Pra­ba­rini, dan kebasan tangan meme­rin­tah­kan semua dayang-dayang pergi, mem­bi­ar­kan mereka berdua ber­diri ber­ha­dap-hadapan.

Mereka masih ber­ha­dapan. Tiba-tiba, tanpa bicara, Pra­ba­rini lari, meme­luk Sedah dan mena­ngis:

‘Ampuni sahaya, kanda, inilah Pra­ba­rini milik kakanda.’ Mpu Sedah tidak men­con­toh kecan­ti­kan Pra­ba­rini, ia meng­ha­yat­i­nya dengan rin­du­nya yang mem­bun­cah.

Berapa hari atau berapa bulan itu ter­jadi? Para dewa tidak menying­kap­kan. Hanya sekali muncul seo­rang saksi.

Sri Baginda Jayabaya ber­hari-hari ber­sa­madhi di pura untuk men­da­pat­kan petun­juk hukuman apa harus ia jatuh­kan. Ia kini tahu hati Pra­ba­rini adalah milik Mpu Sedah sejak di desa. Sri Baginda hanya men­da­pat­kan badan tanpa hati. Kini Sedah men­da­pat­kan selu­ruh, seba­gai­mana dijan­ji­kan oleh Hyang Kama, badan dan hati­nya.

Sri Baginda Jayabaya bukan seo­rang Syiwa. Sampai setinggi apapun dhar­ma­nya, hati­nya tetap Wisynu yang tidak mampu mem­ba­tasi gejo­lak kei­ng­inan mengo­kohi untuk diri sen­diri, segan ber­bagi, biar­pun pada kebe­naran itu sen­diri. Ia jatuh­kan hukuman mati. Berapa umur Mpu Sedah waktu itu? Dua puluh lima tahun.

Mpu Sedah meno­lak ber­lu­tut untuk dipan­cung, ia ber­diri, ter­se­nyum meng­ha­dapi maut­nya, men­de­sis:

“Pra­ba­rini untuk selama-lama­nya adalah keka­sihku. Hanya karena aku bukan raja, aku tak dapat mem­per­ta­han­kan­nya.”

Untuk peng­hu­kuman itu ter­paksa dise­di­a­kan pedang pendek. Kepala Mpu Sedah jatuh dari leher­nya. Untuk semen­tara badan­nya masih ber­diri. Darah­nya menyem­bur mem­ba­sahi tanah, yang barang­kali pernah dilang­kahi oleh keka­sih­nya, ia tidak menye­sal. Ia hadapi segala dengan tabah. Ia adalah seo­rang brah­mana, karena telah memi­kir, meran­cang lebih dulu. Maka ia tidak men­ja­tuh­kan diri memo­hon ampun pada seo­rang raja Wisynu.

Sahaya menye­tu­jui Yang Ter­hor­mat Tari­pada dari Kalingga, agar dia­da­kan peni­laian kem­bali ter­ha­dap Mpu Sedah, dipel­a­jari riwa­yat­nya lebih teliti, dan dia­ba­di­kan, seba­gai­mana keme­nangan atas Jambi dan Selat Seme­nan­jung dia­ba­di­kan oleh­nya sen­diri dalam Bha­ra­ta­yud­dha.”

Arok meng­ang­kat sembah pada sidang menan­da­kan ucap­an­nya telah ber­a­khir. Waktu ia ber­pa­ling pada Dang Hyang Loh­gawe, ia lihat Maha­guru itu meni­tik­kan air­mata karena kefa­sih­an­nya dalam San­sa­kerta, kebe­ra­ni­an­nya ber­ki­sah dengan cara­nya sen­diri, dan kebe­ra­ni­an­nya menya­ta­kan pen­da­pat pada sidang ter­tinggi kaum brah­mana yang tidak ber­daya itu.

“Terus­kan,” kau Dang Hyang Loh­gawe.

Riwa­yat itu telah sele­sai. Arok meng­erti perin­tah itu, mene­rus­kan:

“Sri Baginda Jayabaya bukan satu-satu­nya raja Wisynu yang ber­buat demi­kian. Cucu­nya, Kre­ta­jaya, dengan cara yang agak lebih baik, bukan­kah juga mela­ku­kan­nya atas diri anak gadis Resi Brah­ma­raja? Bukan­kah demi­kian juga ting­kah­nya bawah­an­nya di selu­ruh keku­a­saan Kediri?” Sekali lagi ia ber­pa­ling pada Loh­gawe.

“Terus­kan!”

“Dahulu, yang meng­a­lami adalah Ang­g­raini, kemu­dian Pra­ba­rini, kemu­dian Ami­sani anak Resi Brah­ma­raja, seka­rang Dedes, anak Yang Ter­hor­mat Mpu Parwa. Oleh siapa? Oleh hanya seo­rang akuwu, akuwu Tuma­pel, Tung­gul Ame­tung’”

Sere­nuk ter­de­ngar sebutan-sebutan:

“Jagad Dewa!”

Dan seruan-seruan.

“Parwa! Yang Ter­hor­mat! Mpu Parwa!”

Sidang itu kacau, semua ber­diri untuk men­da­pat­kan Mpu Parwa. Dang Hyang Loh­gawe meng­ang­kat tangan mene­nang­kan:

“Yang Ter­hor­mat Mpu Parwa sedang ber­is­ti­ra­hat. Harap semen­tara ini jangan disi­buki dengan ucapan ikut ber­du­ka­cita. Peris­tiwa ini, para Yang Ter­hor­mat, meru­pa­kan gam­baran yang paling jelas ten­tang kea­daan kita semua, kaum brah­mana. Hen­ti­kan semua per­ti­kaian. Demi Gaja­yana, yang mem­per­se­m­bah­kan candi ini pada Hyang Agas­tya, dengan hanya bicara saja selama dua ratus tahun kita takkan men­ca­pai sesu­atu, kita mem­bu­tuh­kan satria, pelak­sana. Lihat­lah, berapa banyak di antara kita sen­diri yang sudah menye­be­rang pada kedu­dukan, wanita dan harta, seakan hendak meng­i­kuti Yang Suci Bela­kangka? Mereka lebih ber­ba­haya dari­pada pra­ju­rit-pra­ju­rit Tuma­pel dan Kediri seka­li­gus.”

“Yang Ter­hor­mat Kutri­denta tak meng­erti Jawa,” sese­o­rang mem­per­i­ng­at­kan.

Arok men­ter­je­mah­kan­nya dalam San­sa­kerta. Loh­gawe meng­ang­guk-angguk mem­be­nar­kan.

“Keku­rangan dalam meng­gu­na­kan San­sa­kerta ini,” Loh­gawe kemu­dian mene­rus­kan, “tidak atau jangan diang­gap seba­gai wakil keme­ro­sotan para brah­mana, juga tidak akan mengu­rangi satu titik pen­ting yang akan kusam­pai­kan. Kita telah mema­mah­biak kejeng­kelan selama ini. Lihat­lah ini,” dengan tela­pak tangan kanan ia tepuk leher Arok, “seo­rang pemuda, seo­rang Huma­lang, yang dengan tri­sula di tangan akan mampu bina­sa­kan Kunda. Inilah Arok seo­rang yang tahu bagai­mana meng­ha­dapi Akuwu Tuma­pel. Teri­ma­lah dia, per­pa­duan antara brah­mana dan satria yang ber­a­sal dari sudra ini.”

Arok meng­ang­kat sembah pada sidang, dan semua orang meman­car­kan pan­dang menye­li­dik pada­nya.

“Bicara, kau, garuda kaum brah­mana, dengan berat dan keta­jaman parasyu Hyang Ganesya, dengan keta­jaman kilat Sang Mun­cu­kunda...”

Arok men­san­sa­ker­takan ucapan Loh­gawe, kemu­dian mene­rus­kan:

“Sahaya telah ikuti semua uraian dan pem­bi­ca­raan, per­ti­kaian dan saran. Hanya satu yang tidak pernah dising­gung: di manakah sebe­nar­nya keku­atan kaum brah­mana? Selu­ruh ilmu dan penge­ta­huan, milik paling ber­harga dari kaum brah­mana yang tak dapat dir­a­gu­kan ini, dike­rah­kan hanya untuk mem­bu­ruk-bur­uk­kan yang tidak disu­kai, tidak men­jadi keku­atan yang meng­ung­guli yang lain-lain.”

Suara yang keluar dari teng­go­r­okan yang belum lagi lama mema­suki kede­wa­saan itu ter­de­ngar segar: seo­rang yang nampak masih bocah, ber­per­a­wakan sehat, mata ber­si­nar-sinar, dengan San­sa­kerta yang men­cu­kupi dan per­so­alan yang menyang­kut semua.

“Sua­ramu lan­tang, Arok, seakan semua dewa Kah­yangan memim­pinmu. Siapa guru San­sa­ker­tamu?”

“Bapa Tan­tri­pala.”

“Jagad Pra­mu­dita!” Seru Kutri­denta. “Apakah kau ber­mak­sud menga­ta­kan, semua jataka19 kau pikul pada pun­dakmu?”

“Tidak, Yang Ter­hor­mat, baru sampai ...”

“Dan tidak­kah harimu tak lain dari Hyang Kama­ha­ya­ni­kan?”20

“Tidak, Yang Ter­hor­mat. Sahaya ting­gal­kan Bapa Tan­tri­pala, telah men­de­ng­ar­kan ajar­an­nya ten­tang tata­ter­tib selama tiga tahun.”

“Seli­dik­i­lah ‘brah­mana’ muda ini,” Loh­gawe men­coba mere­da­kan penye­li­dikan.

“Sinar matamu tidak ber­bo­hong,” seo­rang lain mem­be­ri­kan per­ha­tian. “Memang ada sinar Mun­cu­kunda.”

“Sudah lama kita tak deng­ar­kan suara sese­gar itu “

“Tiada salah seo­rang brah­mana muda mem­pel­a­jari tata­ter­tib ajaran lain.”

“Terus­kan, garuda!” Loh­gawe mem­be­ra­ni­kan.

“Keku­atan, para Yang Ter­hor­mat dan Yang Suci,” Arok mene­rus­kan untuk meng­hin­dari penye­li­dikan, “barang­si­apa tidak tahu keku­atan dir­i­nya, dia tidak tahu kele­mahan dir­i­nya. Barang­si­apa tidak tahu kedua-duanya, dia pusing dalam keti­dak­ta­hu­an­nya.”

“Dari rontal siapa itu, Arok?”

“Dari sahaya sen­diri.”

“Keku­atan brah­mana ada pada ilmu dan penge­ta­hu­an­nya,” sese­o­rang menyela, “sujud­nya pada para dewa.”

“Apa yang kau mak­sud­kan keku­atan itu tombak dan pedang kaum satria?”

“Keku­atan tanpa Nandi, ber­kaki empat, ber­sen­tuhan lang­sung dengan bumi, tidak mung­kin meng­e­ja­wan­tah­kan diri seba­gai keku­atan di atas bumi. Dia ting­gal keku­atan dalam angan-angan,” Arok ter­se­nyum. “Empat kaki Nandi, para Yang Ter­hor­mat: teman, kese­ti­aan, harta dan sen­jata....”

“Baru keluar dari per­gu­r­uan sudah hendak meng­gu­rui...”

“Para dewa pun tak jarang bel­a­jar dari manu­sia ...”

“Bahkan dibe­bas­kan oleh manu­sia,” Arok menam­bahi. “Terus­kan, Arok,” Dang Hyang Loh­gawe mem­be­ra­ni­kan lagi. “Teman, para Yang Ter­hor­mat dan Yang Suci, semua kita adalah teman. Kese­ti­aan, para Yang Ter­hor­mat dan Yang Suci, tadi pun telah dika­ta­kan, di antara kita ada saja yang telah mening­gal­kan kese­ti­aan, menye­be­rang pada kedu­dukan, wanita dan harta. Sebuah dari kaki Nandi telah pin­cang. Sampai sebe­rapa pin­cang­nya, para Yang Ter­hor­mat dan Yang Suci lebih tahu. Harta, para Yang Ter­hor­mat ...”

“Tuma­pel dan Kediri sudah lama tidak menge­lu­ar­kan dharma untuk kita. Candi-candi Syiwa ter­an­cam keru­sakan!”

“Harta, para Yang Ter­hor­mat selama ada manu­sia, di situ­lah harta,” seka­rang Arok men­de­ngus ter­tawa.

“Meng­apa kau men­de­ngus-dengus begitu, sete­lah tiga tahun bel­a­jar tata­ter­tib?”

“Dengan hanya kata, para Yang Ter­hor­mat dan Yang Suci, telah sahaya timbun seba­nyak sete­ngah tahun upeti Tuma­pel pada Kediri.”

“Arok!” Seru Loh­gawe, mata­nya ter­be­liak. “Kau, garu­daku, sudah seba­nyak itu dhar­mamu, pada waktu kaum brah­mana dalam dua ratus tahun hanya ber­si­lat lidah sema­cam ini?”

“Masuk­lah ke hutan Sang­gar­ana, di lap­angan per­ta­paan Bonar­dana yang telah diting­gal­kan di sana upeti Tuma­pel untuk sete­ngah tahun telah ter­tim­bun. Para pemi­kul­nya tak berani balik ke desa masing-masing. Buat apa kaki keku­atan yang satu ini?”

“Garu­daku! Garu­daku!” Loh­gawe masih juga menye­but-nyebut.

“Para Yang Ter­hor­mat, beri­lah dia restu untuk meleng­kapi kaki Nandi. Teman dan kese­ti­aan sudah ada pada kita semua. Biar­lah anak ini, per­pa­duan sud­ra­sat­ria-brah­mana, meleng­kapi. Kita tak perlu ber­ti­kai lagi.”

Dan dengan demi­kian per­te­muan ber­tele itu ber­be­lok arah, mem­bi­ca­ra­kan empat kaki sang Nandi: kaki yang pin­cang dan yang belum ada, mem­per­kuat yang telah ada, men­da­sar­kan semua pada sin­tu­han bumi ....

Men­je­lang penu­tupan telah dila­hir­kan janji, bahwa peris­tiwa Dedes tidak akan ter­jadi lagi, bahwa itu adalah peng­khi­a­natan ter­a­khir atas kehor­matan kaum brah­mana. Untuk itu kaum brah­mana meng­a­kui kemes­tian untuk ber­ta­ngan satria, dan bahwa satria itupun harus diper­leng­kapi dengan segala syarat kesat­ri­aan. Semua untuk mem­ba­ngun­kan kaki per­kasa Nandi, dan dengan demi­kian ia bisa jadi ken­da­raan Hyang Maha­dewa Syiwa di tengah-tengah cak­ra­war­ti­nya.

Mpu Parwa, brah­mana yang sedang menang­gung aniaya itu, diang­gap tepat untuk memim­pin upa­cara penu­tupan dan peng­u­capan janji di dalam candi Agas­tya. Upa­cara itu mula-mula dila­ku­kan di gun­dulan hutan di sore hari. Mereka kemu­dian ber­ba­ris di malam hari menuju ke candi Agas­tya yang ber­man­di­kan sinar obor damar, di bawah gema puji-pujian yang dibu­bung­kan ke kah­yangan. Di atas puji-pujian itu meleng­king suara Mpu Parwa: “Ya, Maha­dewa Bat­hara Guru, kalau kami dua ratus tahun yang lalu dapat mele­tak­kan mah­kota di atas kepala Erlangga, ten­tu­lah kami tidak lebih keliru bila mem­be­ri­kan keper­ca­yaan pada brah­mana muda ini seba­gai penu­tup dari keti­a­da­da­yaan dan kela­laian dan per­ti­kaian antara kami sen­diri selama ini.”

Mereka kemu­dian ber­ba­ris ber­p­ra­dak­sina menge­li­lingi candi, ber­henti di depan Nan­dis­wara dan Maha­kala, seperti ular hendak mema­suki liang. Paling depan adalah Mpu Parwa, dengan obor kecil pada tangan­nya.

“Penu­tup per­te­muan kami, ya Maha­dewa, arti­kan­lah itu seba­gai awal sele­sai­nya keza­liman Wangsa Isana “

“Om!”

“Benar­kan­lah keper­ca­yaan kami pada “brah­mana” muda Arok ini, per­pa­duan dari tri­wangsa-tri­wang­samu sen­diri, untuk per­ko­koh cak­ra­war­timu.”

“Om!”

Barisan itu kemu­dian ber­lu­tut, meng­ang­kat sembah. Dang Hyang Loh­gawe mem­bu­nyi­kan giring-giring perunggu. Nyanyi puji-pujian mem­bu­bung meng­ha­lau burung-burung malam.

Di atas mereka langit yang hitam ter­tu­tup men­dung tebal.

Kemu­dian di sebe­lah barat tiang api melom­pat dari perut bumi, menu­suk langit, kemu­dian pecah seperti payung dan turun lagi ke bumi. Mereka semua mera­sa­kan gele­ta­ran bumi, gon­cangan, perut bumi sen­diri terasa meng­ge­le­gak.

Kelud mele­tus21.



Bab 5

Tunggul Ametung

Kalau hanya meng­ha­dapi rom­bongan peram­pok atau pem­be­ron­tak, bagi­nya meru­pa­kan peker­jaan sehari-hari sejak sebe­lum diang­kat jadi akuwu. Ia tahu bagai­mana mena­ngani mereka.

Orang yang meng­aku brah­mana, ber­ku­mis seke­pal, menu­tup dada dengan Durga Mahi­sa­su­r­a­mar­dini, meng­ha­dapi seo­rang Tung­gul Ame­tung dengan pasukan hanya seo­rang diri ....Jiwa­nya ter­gon­cang. Orang sebe­rani itu tidak bisa tidak pasti seo­rang maha­sid­dha, seo­rang sete­ngah dewa, seo­rang bat­hara, bukan lawan bagi­nya dan bagi pasuk­an­nya.

Di atas kuda dalam per­ja­lanan pulang piki­ran­nya kacau. Ramalan resi dari candi Erlangga yang men­jan­ji­kan kebe­saran mela­lui Dedes mulai mener­bit­kan ragu. Peram­pasan ber­ha­sil atas upeti ke Kediri kini ia anggap bukan suatu per­bu­atan bran­dal-bran­dal nakal. Pem­bawa-pem­bawa upeti yang tak kun­jung pulang pun bukan suatu kena­kalan gerom­bolan peram­pok. Ia meli­hat adanya bangu­nan rak­sasa yang sedang diha­dap­kan pada­nya seba­gai akuwu dan seba­gai pri­badi. Kete­rangan Arya Artya mem­bang­kit­kan kecu­r­i­gaan. Kete­rangan sisipan dari Bela­kangka sema­kin men­cu­r­i­ga­kan.

Orang-orang ter­pel­a­jar yang tahu segala-gala­nya, pikir­nya, tapi tak punya penge­ta­huan bagai­mana menyem­bu­nyi­kan kera­ku­san sen­diri!

Ia dapat men­duga Bela­kangka men­cu­r­i­gai kese­ti­a­an­nya pada Hyang Wisynu, pada Kediri. Mata-mata mela­por­kan, Pan­dita Negeri itu telah mengir­im­kan utusan ke Kediri. Ia tak boleh was-was lagi. Dengan satu pasukan kuda ia berang­kat juga ke Kediri untuk melum­puh­kan utusan Bela­kangka.

Semua yang ber­sang­kut­paut dengan manu­sia begini, bagi­nya adalah latihan jas­mani dan ketang­kasan. Tetapi manu­sia bat­hara yang meng­aku brah­mana dari utara sung­guh-sung­guh bukan tan­ding­an­nya. Jelas dia bukan anak wayang Bela­kangka atau Arya Artya. Dia lebih besar dari dua mereka seka­li­gus.

Pasukan kuda itu ber­pacu tanpa meng­in­dah­kan aturan lagi, seakan tidak ada Tung­gul Ame­tung di antara mereka. Karu­nia dijan­ji­kan untuk mereka yang paling per­tama dapat menang­kap utusan Bela­kangka. Tung­gul Ame­tung sen­diri ikut dalam per­lom­ba­an­nya sen­diri seperti biasa. Orang tak meng­in­dah­kan lagi miring-tegak­nya umbul-umbul peku­wuan. Barang­si­apa ter­ting­gal, dia jauh lebih ter­ting­gal, dibu­ta­kan oleh tabir debu.

Kuda-kuda pegu­nungan itu men­daki dan menu­runi bukit tanpa lelah, tanpa gentar, dan lebih ken­cang lagi di dataran. Hutan, jurang, selokan dan anak-anak sungai dila­lui tanpa per­ha­tian. Mereka mela­lui sebe­lah utara Gunung Kawi dan Gunung Kelud, dan di sebe­lah selatan Gunung Anjas­mara.

Mema­suki Jeng­gala mereka ter­paksa menunda penge­jaran. Kuda-kuda telah keha­bisan nafas dan keri­ngat. Para penge­jar keha­bisan tenaga, dan mata sete­ngah rabun karena kotoran.

Mereka ter­ting­gal lebih sete­ngah hari dari utusan Pan­dita Negeri Tuma­pel.

Kee­sokan hari­nya, di tepi sungai Bran­tas mereka dapat­kan seekor kuda ter­can­cang pada seba­tang kayu kapuk. Penung­gang­nya tiada nampak. Sete­lah dipe­riksa, benar kuda Tuma­pel. Cap bakar pada ping­gul kuda menun­juk­kan kuda peku­wuan. Tung­gul Ame­tung meme­rin­tah­kan untuk menyi­siri hutan seke­li­ling. Mereka tak dapat­kan seo­rang penung­gang kuda Rakit juga kosong tanpa penge­mudi, ter­can­cang di tepian. Dua buah kapal yang sedang bela­yar meng­hi­lir pun tidak mem­beri tanda akan adanya penum­pang yang naik dari tepian. Pasukan itu kem­bali meng­ha­dap pada Tung­gul Ame­tung. “Dia belum menye­be­rang,” kata akuwu itu. “Demi Hari­murti!” Ia ber­to­lak ping­gang, menge­rah­kan piki­ran­nya. “Periksa rakit itu.” Orang mulai meme­riksa rakit. “Lihat, galah pen­da­yung ada atau tidak.”

“Ada, Yang Mulia.”

“Pera­kit itu masih di seki­tar sini. Cari!” Ia sen­diri mene­bar­kan pan­dang mene­liti atas pepo­honan. “Bang­sat! Turun, kau!” Mata­nya telah menang­kap benda yang men­cu­r­i­ga­kan di balik dahan dan daun johar.

Benda itu menye­ro­sot turun. Kaki­nya ter­ke­lu­pas, merang­kak meng­ang­kat sembah.

Pasukan kuda segera meling­kari.

“Meng­apa sem­bu­nyi?”

Orang desa yang hanya ber­ca­wat itu pucat, meng­gi­gil: “Sahaya takut.”

“Tak urung hilang juga kepa­lamu. Mana penung­gang kuda ini?” Dengan jem­pol­nya pera­kit itu menu­ding pada rakit­nya:

“Di bawah rakit sahaya, ya, Pange­ran.”

Kem­bali rakit dise­li­diki. Mereka dapat­kan penung­gang kuda itu meng­ge­lan­tung di bawah rakit. Waktu dibawa ke hadapan Tung­gul Ame­tung mereka menge­ta­hui dia teman sepa­sukan sen­diri.

Tung­gul Ame­tung mena­rik pedang­nya: “Siapa suruh kau?”

“Yang Suci”

“Kelu­ar­kan surat yang kau bawa.”

Surat itu benar kepada Yang Ter­suci di Kediri, mewar­ta­kan bahwa Tung­gul Ame­tung Tuma­pel sudah mulai takut pada bayangan Hyang Durga, suatu per­tanda wewe­nang­nya atas Tuma­pel mulai harus dir­a­gu­kan.

Tung­gul Ame­tung ingin menyem­bur­kan umpa­tan pada Bela­kangka. Ia tak berani. Ia teliti wajah mereka seo­rang demi seo­rang, siapa yang bakal paling ber­ba­haya ter­ha­dap dir­i­nya. Semua meng­hin­dari tatap­an­nya.

“Siapa hendak ikuti jejak peng­khi­a­nat ini?” Tanya­nya.

“Jangan hina­kan sahaya seba­gai peng­khi­a­nat,” tang­kapan itu mem­bela diri. “Sahaya hanya dipe­rin­tah­kan mem­bawa surat ini, sela­mat sampai ke Kediri.”

“Meng­apa lari dari kami?”

“Dari keja­uhan nampak barisan tidak ter­a­tur. Sahaya sangka bukan pasukan Tuma­pel.”

“Kau orang Kediri, bukan Tuma­pel. Di mana kau dila­hir­kan?”

“Jeng­gala. Yang Mulia.”

“Menye­rah­kan kuda Tuma­pel pada keti­dak­ten­tuan, sela­mat­kan diri sen­diri di bawah rakit.”

“Tugas sahaya menye­la­mat­kan surat, bukan kuda. Yang Mulia.” Dengan kuda pasukan itu menye­ber­a­ngi Bran­tas, mening­gal­kan dua bang­kai di ping­gir kali. Sampai di sebe­rang mereka ber­ja­lan ter­a­tur, dengan seo­rang peseru jauh di depan, mewar­ta­kan akan lewat­nya Yang Mulia Akuwu Tuma­pel, Tung­gul Ame­tung.

Mereka mema­suki Kediri.

Di tengah per­ja­lanan ke pusat kera­jaan, seo­rang pra­ju­rit Tuma­pel ber­kuda meng­hin­dari papasan, mem­ba­lik­kan kuda­nya di keja­uhan dan mela­ri­kan diri. Tung­gul Ame­tung meli­hat adegan itu, dan ia tak berani men­ja­tuh­kan perin­tah untuk menge­jar, ia pura-pura tidak tahu.

Pasukan penga­wal pengiring itu sema­kin meng­erti adanya per­se­ku­tuan Kediri ter­ha­dap Tung­gul Ame­tung per­se­ku­tuan yang dida­langi oleh Yang Suci Bela­kangka.

Tung­gul Ame­tung sudah tahu akan adanya per­se­ku­tuan ini. Hasil pen­du­langan Kali Kanta tak pernah dapat dise­m­bu­nyi­kan­nya dari Kediri. Ia ter­paksa menam­bahi jumlah budak baru, dan Kediri mena­ik­kan jatah upeti. Telik telah dise­bar­kan­nya untuk menye­li­diki kese­ti­aan sil­pa­sas­tra­wan Tuma­pel, Gusti Putra. Dan mereka tidak men­da­pat­kan petun­juk. Seki­ra­nya ada pun ia takkan berani meng­gang­gu­nya. Ia mem­bu­tuh­kan tena­ga­nya: men­di­r­i­kan sebuah candi Wisynu yang megah untuk kehi­dup­an­nya sete­lah pem­be­basan dari sam­sara. Ia sengaja sem­bu­nyi­kan perin­tah­nya dan para pan­dita, takut tidak men­da­pat­kan restu mereka, seba­gai orang ber­a­sal sudra yang hendak men­can­di­kan diri. Tetapi Gusti Putra, juga seo­rang sudra, telah mem­be­nar­kan mak­sud­nya.

Yang ia tidak meng­erti, apa maksud Bela­kangka memata-matai­nya. Dari hasil Kali Kanta ia sen­diri men­da­pat pem­ba­gian yang tidak sedi­kit. Ia tidak men­di­r­i­kan istana di Tuma­pel. Ke mana saja puluhan ribu saga emas yang telah dite­ri­ma­nya? Dan seka­rang hendak diper­gu­na­kan­nya Hyang Durga Mahi­sa­su­r­a­mar­dini seba­gai jerat pada leher­nya? Bukan­kah Yang Suci meru­pa­kan seku­tu­nya untuk menim­bul­kan kem­bali per­bu­dakan? Bukan­kah mereka berdua tetap tidak mem­per­se­m­bah­kan jumlah budak yang sesung­guh­nya ke Kediri? Bukan­kah Bela­kangka mem­bi­kin jerat pada leher­nya sen­diri juga?

Pen­da­hulu Bela­kangka tidak begitu cerdik. Kediri telah mengir­im­kan pada­nya untuk memim­pin­nya di bidang kei­ga­maan, karena ia diang­gap ter­lalu dungu – tidak ber­ilmu. Ia kebas­kan tanaman Kediri itu dalam suatu kece­la­kaan. Tapi Bela­kangka mem­be­nar­kan semua ting­kah­nya, men­jadi seku­tu­nya yang ter­per­caya, maka dia tidak ter­ke­bas­kan dalam kece­la­kaan.

Pasukan kuda dengan Akuwu Tuma­pel di depan itu lang­sung menuju ke istana Ratu Ang­a­baya Kediri untuk memo­hon ijin meng­ha­dap Sri Baginda Kre­ta­jaya.

Dengan ijin itu ia meng­ha­dap. Juga Yang Ter­suci Mpu Tana­kung kebe­tulan hadir men­dam­pingi Sri Baginda.

Dan ia sen­diri telah ber­siap-siap mene­rima murka. Lari­nya pra­ju­rit kuda Tuma­pel waktu ter­pa­pasi men­jadi petun­juk bagi­nya Bela­kangka telah mengir­im­kan dua orang utusan dengan per­se­m­ba­han yang sama.

“Kau, Tung­gul Ame­tung, setiap kali meng­ha­dap, setiap kali sema­kin banyak yang tak kau per­se­m­bah­kan.”

Ia tunduk meng­a­wasi kaki Sri Baginda yang telah lebih se tengah abad pernah melang­kahi bumi, lebih tiga puluh tahun duduk di sing­ga­sana dalam segala keme­wahan dan kebe­saran.

“Malahan per­ka­win­anmu dengan Dedes pun tidak kau per­se­m­bah­kan. A, barang­kali mer­tu­amu kau agung­kan lebih dari­pada Yang Ter­suci, mung­kin telah kau pang­gil pema­tungmu untuk mem­ba­ngun­kan arca­nya dari emas utuh.”

“Ampun, duli Sri Baginda, bila ada per­se­m­ba­han dari orang lain yang begitu bunyi­nya, itu tia­da­lah benar. Inilah sahaya Sri Baginda datang meng­ha­dap sen­diri.”

“Atau­kah karena penga­ruh Mpu Parwa, mer­tu­amu itu, kau mulai kecut meli­hat gambar dudul Hyang Durga?”

“Ampun, Sri Baginda, adapun mertua sahaya, Mpu Parwa, belum pernah sahaya temui dalam hidup sahaya, sampai seka­rang.”

“Atau­kah per­se­m­ba­han Men­teri-Dalam itu keliru, upeti per­ta­nian Tuma­pel belum juga datang sampai seka­rang?”

“Ampun, Sri Baginda, peru­suh telah meram­pas­nya di hutan Sang­gar­ana.”

“Kami lihat kumismu masih utuh pada mukamu,” tetak Kre­ta­jaya, “kau, anak sudra tanpa harga, tak meng­erti bagai­mana ber­te­ri­ma­ka­sih pada Kediri yang meng­ang­kat begitu tinggi, seja­jar dengan para narap­raja dan para pange­ran ...”

Sri Baginda mena­rik diri, dan ter­ting­gal ia hanya dengan Yang Ter­suci Tana­kung.

“Apakah Yang Suci Bela­kangka kurang mem­ban­tumu maka Sri Baginda sampai begitu murka padamu?”

“Ampun, Yang Ter­suci, keru­suhan-keru­suhan dari macam yang bela­kangan ini sahaya memang baru menge­nal.”

“Bukan­kah kau men­jadi Tung­gul Ame­tung mela­lui cara yang sama seperti dila­ku­kan oleh mereka seka­rang?”

“Sela­ma­nya dapat sahaya patah­kan, kecu­ali yang ter­jadi pada dua tahun bela­kangan ini. Yang Ter­suci. Mereka meng­gu­na­kan keta­kutan kawula ter­ha­dap Hyang Durga Mahi­sa­su­r­a­mar­dini.”

“Juga kau sen­diri takut. Apa nasi­hat Yang Suci?”

“Hendak dipang­gil­nya Dang Hyang Loh­gawe.”

“Dia betul, meng­apa kau halangi?”

“Tiada sahaya meng­ha­langi, sahaya lang­sung meng­ha­dap seka­rang”

“Orang bilang kau telah bikin per­se­ku­tuan dengan brah­mana Syiwa, Arya Artya. Orang bilang kau telah laku­kan nasi­hat­nya menga­wini Dedes dan men­du­duk­kan­nya di sam­pingmu, di puncak keku­a­saan Tuma­pel. Dua puluh tahun kau telah dibe­nar­kan jadi Tung­gul Ame­tung, dan tidak juga mau bel­a­jar dari sikap Sri Baginda ter­ha­dap mereka. Jadi Yang Suci Bela­kangka masih kurang mem­ban­tumu?”

“Men­cu­kupi, Yang Ter­suci.”

“Atau­kah kau sen­diri yang tak juga bisa meng­erti?”

Tung­gul Ame­tung tak dapat men­ja­wab.

“Atau kau sen­diri yang sudah bosan memangku jabatan?”

“Hidup dan mati sahaya adalah milik Sri Baginda.”

“Dua puluh tahun yang lalu itu pun telah kau ucap­kan.”

“Sahaya tidak akan jera meng­u­cap­kan­nya, Yang Ter­suci.”

“Tidak­kah Yang Suci pernah mena­si­hat­kan padamu ten­tang Arya Artya? Seo­rang brah­mana yang ting­gal di ping­giran kota, minta peng­a­kuan ber­ge­lar Arya ... Brah­mana yang mem­bu­tuh­kan gelar kebe­saran dunia ...bukan­kah telah dite­rang­kan padamu apa arti peris­tiwa itu? Bila ada kesem­patan, dia akan muncul seba­gai satria! Melem­par­kan jubah brah­man­a­nya! Kaulah yang telah melak­sa­nakan nasi­hat­nya, menga­wini anak brah­mana Mpu Parwa. Kau tidak meminta nasi­hat dari Yang Suci Malah Bela­kangka kau paksa menga­win­kan kalian.”

Pada waktu itu ter­ba­yang oleh Tung­gul Ame­tung pen­jaga candi Sri Erlangga. Ramal­an­nya men­jan­ji­kan kebe­saran karena per­ka­win­an­nya dengan Dedes Kini ben­cana demi ben­cana jadi hadiah kawin­nya, dan kebe­sar­an­nya ter­ang­kat naik ke atas ujung duri.

“Baik, pergi kau pada Ratu Ang­a­baya, pikir­kan masak-masak sampai jawab­anmu dapat kau per­se­m­bah­kan dan dapat difa­hami oleh Sri Baginda.”

Tung­gul Ame­tung tidak diper­ke­nan­kan mening­gal­kan Kediri. Dalam pena­ha­nan di istana Ratu Ang­a­baya, tanpa seo­rang penun­tun piki­ran, ia men­coba men­da­pat­kan gam­baran yang lebih jelas ten­tang Arya Artya. Yang Ter­suci memang tidak keliru bila meni­lai brah­mana itu seba­gai seo­rang yang rakus akan kebe­saran dunia. Bela­kangka selalu men­ja­uh­kan­nya dari­nya. Dan bukan tanpa alasan. Apakah Arya Artya sedang meng­gali lubang perang­kap untuk dir­i­nya?

Boleh jadi dia sedang meng­gali lubang untukku, tetapi apa arti­nya lubang untuk Tung­gul Ame­tung ini? Dia telah beri­kan padaku Dedes. Dedes adalah segala-gala­nya. Dia lebih ber­arti dari Tuma­pel, dari hidup dan mari.

Gadis yang secan­tik itu, seje­lita itu, tidak menye­rah gam­pang pada seo­rang Tung­gul Ame­tung, telah menim­bul­kan rang­sang sema­ngat dalam hati­nya. Hidup men­jadi ber­bo­bot karena dia. Men­jadi lebih indah karena dia. Ia tak menye­sal akan lubang perang­kap itu. Ia merasa ber­ba­ha­gia di dalam­nya.

Seka­rang ia akan dapat mem­per­se­m­bah­kan: Arya Artya patut dising­kir­kan dari muka bumi.

Ia tak berani mene­rus­kan piki­ran mele­nyap­kan brah­mana itu. Per­se­m­ba­han itu bisa menye­bab­kan jatuh­nya titah untuk juga mele­nyap­kan Ken Dedes, paling tidak titah untuk menye­rah­kan Para­mesy­wa­ri­nya pada Sri Baginda. Ia tidak akan bicara sesu­atu ten­tang brah­mana ter­ku­tuk itu. Ia akan mem­per­se­m­bah­kan kaum brah­mana Syiwa pada umum­nya, dan ia ber­se­dia menum­pas semua mereka dari muka bumi. Juga Mpu Parwa mer­tu­a­nya, juga Dang Hyang Loh­gawe.

Hanya itu per­si­ap­an­nya untuk mem­per­se­m­bah­kan pada Sri Baginda Kre­ta­jaya. Selama bebe­rapa hari itu! Selama itu pula hati­nya gelap pekat digu­mul oleh kerin­du­an­nya pada Ken Dedes, Ia mem­per­se­m­bah­kan pada Ratu Ang­a­baya telah siap untuk meng­ha­dap dan ia pun diha­dap­kan.

Sri Baginda tidak sudi meli­hat­nya. Yang Ter­suci Tana­kung yang mene­ri­ma­nya. Dan Kepala Peng­hulu Agama Negara itu meng­ge­dik­kan tong­kat­nya karena kecewa.

“Apakah selama dua puluh tahun bela­kangan ini hanya meram­pas dan meram­pok, menyem­bu­nyi­kan banyak hal pada Sri Baginda saja yang kau pel­a­jari seba­gai akuwu? Apakah kau tidak meng­erti, dengan penum­pasan kaum brah­mana Syiwa, semua peme­luk­nya akan meng­ha­dap­kan mata dan taring­nya pada Kediri? Apakah kau tidak tahu kaum brah­mana bukan satria? Mereka tidak akan mem­bi­kin keru­suhan kalau tidak dir­us­uhi. Mereka tidak pernah bikin keo­naran kapan dan di mana pun. Bagai­mana seo­rang akuwu bisa ber­pen­da­pat seperti itu?”

“Mereka telah mem­bi­kin keru­suhan dengan meng­gu­na­kan Hyang Durga. Tak mung­kin itu bukan karena mereka, Yang Ter­suci.”

“Kau belum pernah mem­per­se­m­bah­kan bukti itu pada Sri Baginda. Para brah­mana adalah orang-orang ter­pan­dai dari selu­ruh negeri. Orang dungu, seperti kau ini, lebih suka meli­hat semua orang sedu­ngu kau, maka kau ingin bina­sa­kan mereka. Kem­bali kau ke tem­patmu. Pikir­kan sekali lagi.”

Akuwu Tuma­pel kem­bali ke tempat pena­ha­nan­nya. Pada waktu itu ia men­jadi keta­kutan takkan diper­ke­nan­kan kem­bali. Dan itu ber­arti ia bisa kehi­langan segala-gala­nya: wila­yah keku­a­saan, sing­ga­sana dan Dedes. Dedes, ya Dedes. Meng­ap­a­kah sete­lah menga­win­i­nya, mela­lui jalan yang dibe­nar­kan oleh para dewa, ia ter­timpa begini banyak kesi­a­lan? Seo­rang akuwu, yang di negeri sen­diri meng­geng­gam jiwa semua orang, di Kediri tak ubah­nya seperti anjing tanpa harga. Apakah Dedes yang memi­l­iki kebe­saran itu, dika­sihi para dewa, dan Tung­gul Ame­tung hanya menom­pang pada kebe­sar­an­nya?

Piki­ran itu ia bantah sen­diri. Semua kesi­a­lan dan kesu­l­itan ini semes­ti­nya hanya bea untuk kela­hiran anak­nya. Dan ia men­da­pat­kan sesanti1 dengan piki­ran itu.

Waktu meng­ha­dap lagi ter­nyata Yang Ter­suci pun tidak sudi meli­hat­nya. Hanya Men­teri-Dalam.

“Jadi keda­tanganmu seka­rang ini ber­mak­sud untuk memo­hon titah? Baik. Akhir­nya kau cukup bijak­sana. Upeti yang sete­ngah tahun itu segera penuhi, dengan denda seba­nyak itu juga. Kau boleh kem­bali ke Tuma­pel.”

Keluar dari istana ia disam­but oleh Ratu Ang­a­baya dan dibawa pulang ke ista­na­nya. Waktu ia mohon diri untuk pulang Ratu Ang­a­baya meng­ang­guk-angguk:

“Akuwu masih punya per­so­alan deng­anku.”

“Semua telah dise­le­sai­kan di istana, Yang Mulia.”

“Tentu. Tetapi per­so­alan deng­anku belum sele­sai, kataku. Per­tama, kau telah mem­bu­nuh orang Tuma­pel di daerah Kediri, bukan di Tuma­pel. Kedua kau mem­bu­nuh kawula Kediri, si tukang rakit. Ada saksi yang kau kira tidak meli­hat­nya: kecil, anak si tukang rakit, ber­se­m­bu­nyi lebih atas dari bapak­nya.”

“Pra­ju­rit ber­kuda Tuma­pel yang laku­kan itu, Yang Mulia.”

“Soal ketiga dari per­ka­ramu, kau menyu­ruh pra­ju­rit Tuma­pel mela­ku­kan itu, dan kau sen­diri meli­hat mereka mela­ku­kan­nya, dan kau tidak men­ce­gah­nya.”

Ampun, Yang Mulia, keper­luan meng­ha­dap Sri Baginda lebih pen­ting dari jiwa mereka berdua.”

“Bahkan Sri Baginda tidak sudi meli­hat mukamu. Kau tidak aku per­ke­nan­kan pulang ke Tuma­pel. Akuwu Tuma­pel bisa dija­bat oleh setiap orang.”

“Ampun, Yang Mulia.”

“Kau tahu urusan agama ini. Sri Baginda sen­diri yang akan mem­buka peng­a­dilan, seperti setiap raja Kediri mela­ku­kan­nya dalam semua peris­tiwa pem­bu­nuhan atas diri kawula di atas wila­yah kera­jaan. Lehermu akan putus.”

“Ampun Yang Mulia Ratu.”

“Dalam pen­cu­r­ian dan pem­bu­nuhan tidak pernah ada ampun.”

“Tolong­lah leher sahaya ini, Yang Mulia Ratu.”

“Aku? Meno­long buaya seperti kau? Pantas Yang Ter­suci pun tidak sudi meli­hat mukamu lagi.”

“Kata­kan­lah apa harus sahaya per­buat.”

“Per­se­m­bah­kan sen­diri per­ka­ramu pada Sri Baginda.”

“Tidak mung­kin.”

“Pada Yang Ter­suci.”

“Tidak mung­kin.”

“Sang Patih pun telah menye­rah­kan per­kara ini kepa­daku.”

“Yang Mulia Ratu jua yang ber­ku­asa atas leher sahaya,” ia angkat muka­nya. Ia tidak rela mari tidak di medan per­ke­la­hian. Ia tidak rela mati di medan agama. “Seki­ra­nya sahaya boleh mem­beli leher sahaya kem­bali.”

Ratu Ang­a­baya mene­leng pada­nya:

“Apakah lehermu ada har­ga­nya?”

Dalam pan­dang batin Tung­gul Ame­tung mem­ben­tang pen­du­langan Kali Kanta. Dan seo­rang ratu Ang­a­baya sudah akan senang dengan lima ribu saga.

“Ter­se­rah­kan pada Yang Mulia Ratu berapa harga leher sahaya ini.”

“Apakah lehermu kau hargai tinggi atau murah?”

“Mung­kin cuma lima ribu saga.”

“Aku kira cuma seribu saga. Berapa harga Ken Dedes? Kau tebus atau kau serah­kan?”

“Jagad Dewa! Sampai hati Yang Mulia menun­tut istri sahaya yang tiada tahu sesu­atu apa?”

“Seo­rang brah­mani seperti itu tentu jauh lebih ber­harga dari­pada hanya seo­rang buaya. Aku kira har­ga­nya ada barang tujuh ribu saga.”

“Sahaya akan usa­ha­kan, Yang Mulia Ratu.”

“Aku sen­diri yang akan pimpin pasukan mem­bi­kin Tuma­pel jadi bubur: per­tama, kalau mulut bua­yamu hanya baik untuk dilem­pari jang­kar; kedua, kalau Yang Suci Bela­kangka sampai cedera, biar­pun hanya lecet karena kau.”

Ia ber­so­rak dalam hati mening­gal­kan Kediri dalam iringan pasuk­an­nya. Dua belas ribu saga dalam seta­hun! Ia dapat rampas dan peras semua emas dari rumah kawula Tuma­pel. Pen­du­langan Kali Kanta tetap tidak dike­ta­hui oleh Kediri.

Ia ber­sum­pah dalam hati akan pimpin sen­diri penya­puan emas pada semua biara Syiwa. Ia tidak mela­lui jalan utara. Mula-mula pasuk­an­nya meng­i­kuti jalan ke hulu Bran­tas, terus ke selatan, baru kemu­dian menye­be­rang. Semua biara Syiwa dalam keku­a­saan Kediri dalam per­ja­lan­an­nya ia serbu dan rampas semua logam mulia yang nampak dan ter­se­m­bu­nyi. Tak dibi­ar­kan­nya satu orang peng­huni pun hidup.

Keta­kut­an­nya pada Hyang Durga beru­bah jadi dendam kesu­mat. Semua patung, yang ia temui ia han­cur­kan dengan pedang, juga yang dari emas atau suasa atau perunggu. Biara ia bakar dan diting­gal­kan.

Waktu mema­suki daerah Blitar, ia mela­ku­kan peram­pokan dan pem­bu­nuhan lagi. Sekali ini ia meng­ha­dapi per­la­wanan dari barisan bia­ra­wati, yang meng­gu­na­kan pelem­par anak panah. Ia kehi­langan dua orang anak buah­nya, tapi tak urung dapat meram­pas alat-alat upa­cara dari emas.

Mema­suki Tuma­pel ia telah dapat­kan lebih dari tujuh ribu saga. Dengan senyum puas ia perin­tah­kan pasukan kuda ber­ja­lan lambat-lambat. Per­ja­lanan ter­nyata tidak lang­sung menuju ke Kuta­raja.

Tung­gul Ame­tung meme­rin­tah­kan pasuk­an­nya ber­henti di ping­gir jalan desa. Ditun­juk­nya sepu­luh orang pra­ju­rit untuk menga­wal­nya, sedang sisa­nya harus menunggu, tak boleh mening­gal­kan tempat.

Tanpa mem­bawa barang ram­pasan ia mem­be­lok ke kanan, mema­suki jalan hutan, menuju ke tempat raha­sia pen­du­langan emas. Mereka tidak mema­pasi seo­rang pun, karena jalanan raha­sia ini tidak boleh ditem­puh tanpa ijin dari peku­wuan.

Men­de­kati tempat pen­du­langan sege­rom­bolan budak ber­sen­jata menam­pak­kan diri, ber­su­jud dan mele­tak­kan kening di atas tanah. Mereka adalah pen­jaga wila­yah emas yang ter­per­caya.

Semua lidah mereka telah dipo­tong untuk kese­la­matan raha­sia. Tung­gul Ame­tung turun dari kuda, ber­kata manis: “Kem­bali kalian di tempat semula,” ia naik ke atas kuda­nya lagi

Dan mene­rus­kan per­ja­lanan. Gusti Putra ber­lu­tut dan meng­ang­kat sembah. Tung­gul Ame­tung lang­sung naik ke pang­gung dan sil­pa­sas­tra­wan itu meng­i­kuti.

“Per­se­m­bah­kan pada kami barang sepu­luh ribu saga.”

“Ampun, Yang Mulia, yang telah dile­bur baru meli­puti sepa­ruh dari jumlah itu.”

“Itu pun baik.”

Gusti Putra mem­bung­kus lima ribu saga dalam tapas, diikat dengan tali rotan, diper­se­m­bah­kan­nya pada Tung­gul Ame­tung. Sebe­lum akuwu itu ber­ba­lik mening­gal­kan­nya ia ber­se­m­bah:

“Ampun, Yang Mulia, karu­ni­a­lah sahaya kira­nya per­ke­nan untuk mene­ngok anak dan istri sahaya.”

“Anak dan istrimu akan dida­tang­kan kemari.”

“Ampun, Yang Mulia, bukan maksud sahaya men­ja­di­kan mereka budak di sini.”

“Jadi kau meng­erti. Apakah kau merasa dirimu budak?”

“Dengan tidak diper­ke­nan­kan pergi barang ke mana sahaya kehen­daki, sahaya memang budak.”

“Kau bukan budak. Apakah kurang cukup gelar Gusti untukmu?”

“Sejak kecil sahaya bel­a­jar keah­lian mem­ba­ngun­kan rumah-rumah suci bukan untuk men­da­pat­kan gelar Gusti dan bukan untuk tidak diper­ke­nan­kan mening­gal­kan tempat.”

“Bukan­kah di sini juga banyak anak dan perem­puan?”

“Yang Mulia, apalah guna­nya ilmu sahaya bila hanya untuk jadi budak ber­ge­lar Gusti?”

“Kau ting­gal di sini. Kau takkan dapat lewati jajaro itu tanpa jadi bang­kai. Atau kau kehen­daki aku pang­gil­kan jajaro itu’”

“Ampun. Yang Mulia, sahaya masih ingin hidup. Tapi kalau itu Yang Mulia kehen­daki, inilah diri sahaya.”

Tung­gul Ame­tung tak dapat menun­duk­kan Gusti Putra, juga tak mem­be­ri­nya per­ke­nan mening­gal­kan tempat. Ia turun dari pang­gung dii­ring­kan sil­pa­sas­tra­wan yang men­jin­jing lima ribu saga, kemu­dian mem­per­se­m­bah­kan­nya waktu akuwu itu naik ke kuda­nya lagi. Ia ting­gal­kan tempat dengan tam­ba­han emas. Kem­bali para jajaro keluar dari per­se­m­bu­nyi­an­nya untuk meng­ha­tur­kan peng­hor­matan.

Ia perin­tah­kan sepu­luh orang penga­wal­nya turun dari kuda. Dengan gerak tangan ke atas rom­bongan jajaro itu mering­kus sepu­luh orang penga­wal itu. Seo­rang di anta­ra­nya meng­i­kat kuda-kuda itu men­jadi ren­tengan dan mem­per­se­m­bah­kan tali­nya pada Tung­gul Ame­tung.

Dari mulut para pra­ju­rit kuda, yang masih sempat belum ter­sum­bat, ter­de­ngar raungan memo­hon ampun. Dan Tung­gul Ame­tung mulai meng­ge­rak­kan kuda­nya. Sepu­luh kuda dalam ren­tengan itu meng­i­kuti di bela­kang­nya.

“Tak perlu kalian tunggu teman-teman kalian itu,” kata­nya pada mereka yang menung­gu­nya di ping­gir jalanan desa. “Lain kaJi dijem­put.”

Seka­rang ia tidak di depan atau tengah barisan. Di bela­kang. Dan pasukan kuda itu ber­ja­lan sei­rama seperti sedang ber­pa­rade.

Kege­lapan malam mulai turun waktu pasukan itu sampai di luar Kuta­raja. Dari jauh nampak sebuah pasukan Tuma­pel sedang mem­pa­pasi. Pasukan kuda itu masih juga ber­ja­lan tenang-tenang. Hutan di kiri dan kanan jalan sudah gelap. Dan justru dari situ ter­de­ngar pekik ber­sama. Kuda-kuda ter­ke­jut dan lari. Di depan mereka tiba-tiba mem­ben­tang sepa­sang tali meng­ha­dang jalanan. Juga Tung­gul Ame­tung jatuh ter­pen­tal ter­sapu tali. Namun bung­kusan emas itu tidak ter­le­pas dari tangan­nya. Hujan tombak bambu meng­i­kuti, kemu­dian ser­buan kilat dari kiri dan kanan.

Tung­gul Ame­tung lari mem­bawa bung­kus­an­nya, ber­te­riak pada pasukan kaki yang sedang datang. Kuda-kuda di bela­kang­nya ber­pu­sing-pusing dalam kebi­ngungan. Yang telah ter­sam­bar tombak ter­in­jak-injak. Yang masih sempat dapat mem­bawa badan­nya lari meng­i­kuti aku­wu­nya

Pasukan kaki itu datang mem­bantu dan para penye­rang yang ter­diri atas barang lima puluh orang itu meng­hi­lang ke dalam hutan dengan mem­bawa barang ram­pasan.

Dengan mem­bawa bung­kusan emas Tung­gul Ame­tung kem­bali lagi, meme­rin­tah­kan penge­jaran. Dengan tombak yang tak dapat diper­gu­na­kan mereka mema­suki hutan. Hanya seo­rang yang nampak oleh mereka. Yang lain hilang seperti meruap dalam udara.

Yang seo­rang itu terus lari dan Tung­gul Ame­tung ber­sama pra­ju­r­it­nya terus menge­jar. Pada sebuah tubir jurang orang yang satu itu tak dapat lagi mene­rus­kan lari­nya. Ia naik ke atas pohon enau. Orang ber­so­rak-sorak meme­rin­tah­kan­nya turun. Mata tombak-tombak tera­cu­kan ke atas.

“Turun, kau!” Perin­tah Tung­gul Ame­tung. “Kau akan diberi peng­a­dilan yang baik. Turun!”

Yang turun bukan per­bu­r­uan di atas enau itu, tetapi kege­lapan malam.

Akuwu itu mem­bu­tuh­kan kete­rangan tenung para penye­rang. Ia perin­tah­kan terus menge­pung sampai orang ter­se­but menye­rah. Kemu­dian ia sen­diri pulang ke Kuta­raja, dengan bung­kusan tidak ter­le­pas dari tangan. Tetapi baru saja ia keluar dari huun dike­ta­hu­i­nya emas ram­pasan dari biara-biara Syiwa telah teram­pas oleh para penye­rang. Dalam ama­rah­nya ia kem­bali lagi ke tempat semula, meme­rin­tah meng­a­sap­i­nya dari bawah.

Api mulai menyala. Per­bu­r­uan seo­rang di atas enau itu mene­bang dua daun, menge­pit­nya pada keti­ak­nya dan meno­lak diri dengan kaki, kemu­dian ter­bang mela­yang dalam kege­lapan menu­runi jurang. Dari udara ter­de­ngar sua­ra­nya yang nya­ring:

“Tung­gul Ame­tung! Tung­gul Ame­tung ... Ha-ha-ha-ha!”

Akuwu itu murka, memaki dan men­caci sejadi-jadi­nya Ia pulang ke Kuta­raja dengan hanya lima ribu saga. Pasukan kuda yang diba­wa­nya rusak. Tetapi bagi­nya bukan suatu per­kara besar atau pun berat. Sejak muda ia hidup dalam alam peram­pasan, meram­pas atau dir­am­pas. Juga kehi­langan ram­pasan emas bagi­nya bukan suatu per­kara. Yang memu­kul­nya justru Ken Dedes. Dicari-cari­nya, dite­mu­kan­nya dalam pura sedang memuja Hyang Durga dan tidak kurang dari tiga patung emas bat­hari itu juga yang telah dihan­cur­kan­nya dalam per­ja­lanan. Seka­rang, wanita yang dipu­ja­nya memu­ja­nya hanya dari kayu!

Hyang Durga! Betapa bat­hari itu banyak mener­bit­kan kesu­l­itan. Sri Baginda dan Yang Ter­suci murka karena ia takut pada­nya, seka­rang Dedes justru memuja dewi kebi­na­saan itu. Peru­suh muda itu juga meng­a­mang­kan Hyang Durga Mahi­sa­su­r­a­mar­dini kepa­da­nya. Ia mem­be­nar­kan Kediri: nam­pak­nya ada per­se­ku­tuan Durga ter­ha­dap dir­i­nya. Ia sudah mulai mem­ba­las­kan den­dam­nya dengan han­cur­nya biara-biara Syiwa. Seka­rang syak­ti­nya didi­r­i­kan di dalam pura peku­wuan. Dan tidak lain dari Dedes yang dipu­ja­nya yang men­di­r­i­kan­nya.

Kema­rahan Kediri menye­bab­kan ia ber­ba­lik men­den­dam ter­ha­dap segala yang ber­si­fat Syiwa. Dahulu ia hanya mem­bu­nuhi mereka yang secara terang-terangan mem­per­li­hat­kan­nya di depan umum, seka­rang ia ber­nafsu hendak meng­han­cur­kan­nya sama sekali. Tetapi Dedes? Wanita yang men­jan­ji­kan kebe­saran itu?

Dan waktu Dedes menun­tut­nya men­cari mer­tu­a­nya sekali lagi seo­rang peme­luk Syiwa, Mpu Parwa itu!

Malam hari itu juga ia datangi rumah mer­tu­a­nya. Pede­pokan yang ter­pen­cil jauh dari desa itu sunyi. Tak ada peng­huni kecu­ali bina­tang pia­raan yang mulai jadi liar. Ia periksa semua bilik. Ia bong­kari lemari batu tempat rontal-rontal disim­pan. Kemu­dian ia perin­tah­kan bakar semu­a­nya, ter­ma­suk rumah dan pura pede­pokan.

Bebe­rapa hari lama­nya ia men­cari dan tidak mene­mu­kan. Bila ber­ha­sil ia telah ber­mak­sud hendak mem­be­lah kepa­la­nya dengan pedang­nya sen­diri. Pulang dari peng­em­ba­raan ia lang­sung menuju ke rumah Arya Artya. Orang seru­mah­nya telah mela­ri­kan diri meli­hat datang­nya bon­do­ngan pasukan kuda. Juga Arya Artya.

Dan seka­rang ia men­cari brah­mana yang meng­gu­na­kan gelar kebe­saran itu. Bebe­rapa hari lagi. Yang dite­mu­kan adalah letusan Kelud. Gempa yang melong­sor­kan tanah telah menum­bang­kan seba­tang pohon. Kuda­nya melom­pat tak ter­ken­dali. Kemu­dian bina­tang itu sen­diri ter­se­kat pada cabang pohon yang melin­tang, jatuh ke sam­ping, rubuh, ia ter­tin­dih dan meng­a­lami cedera.

Pera­watan Dedes yang ber­ka­sih sayang itu menye­juk­kan hari­nya. Mau rasa­nya ia mem­ba­yar kem­bali dengan apa saja: gelar, harta benda, dan jiwa orang lain. Tetapi sete­lah sembuh ting­kah­nya yang ogah menye­rah­kan hati dan badan kepa­da­nya seba­gai istri yang syah mem­bang­kit­kan berang. Rasa-rasa­nya tega ia hendak mere­mas­nya sampai lumat jadi bubur. Meng­i­ngat akan ramalan resi candi Erlangga dan tun­tutan Ratu Ang­a­baya itu, kem­bali ia tak berani mela­ku­kan keka­saran. Sri Baginda Kre­ta­jaya pun akan meram­pas­nya sekali ia pernah meli­hat­nya seba­gai Para­mesy­wari Tuma­pel. Semua telah diper­ta­ruh­kan untuk perem­puan yang seo­rang ini. Ia merasa ter­lalu dungu apa­bila meru­sak­nya sen­diri.

Loh­gawe meno­lak datang ke peku­wuan. Bela­kangka tetap dapat mena­han diri. Tung­gul Ame­tung gusar.

“Semua harus datang karena pang­gil­anku. Semua harus pergi karena usir­anku,” raung­nya.

“Tidak bagi Dang Hyang Loh­gawe, Yang Mulia,” tegah Bela­kangka.

“Tidak sem­ba­rang orang men­da­pat­kan gelar Dang Hyang tanpa sebab. Yang Mulia,” Sang Patih men­coba mena­si­hati.

“Seo­rang tua tanpa tenaga ,” dengus Tung­gul Ame­tung. “Apa arti­nya dia untuk mata pedangku?”

“Seo­rang brah­mana tidak ber­sen­ja­ta­kan pedang. Yang Mulia,” tegah Bela­kangka, “dia ber­sen­ja­ta­kan kata, setiap patah dibo­boti adhi dari para dewa.” Waktu mata akuwu itu mem­be­liak pada­nya, ia tidak peduli. Mene­rus­kan,” Cedera bagi orang seperti dia akan mem­ba­kar amarah semua peme­luk Syiwa. Dia harus dide­kati, diba­iki, diam­bil hati­nya.”

“Orang tua kepa­rat!”

“Belum pernah ter­bukti dia meng­ha­sut semua keru­suhan ini, Yang Mulia,” Sang Patih meng­a­ju­kan per­ha­tian.

“Apa arti­nya meno­lak pang­gilan kalau bukan hendak mem­bang­kang?”

“Dia tidak pernah men­da­pat­kan dharma dari Tuma­pel, Yang Mulia. Dia tak ada kewa­ji­ban untuk tunduk pada Yang Mulia.” Sekali lagi Bela­kangka mena­si­hati.

Juga sekali lagi Tung­gul Ame­tung mem­be­liak pada Bela­kangka. Sete­lah pulang dari Kediri Yang Suci telah beru­bah dalam peni­lai­an­nya. Dia tak lagi diang­gap­nya teman seke­pen­tingan dalam menum­puk keka­yaan, lebih banyak seekor ular yang ikut tidur satu seli­mut deng­an­nya.

“Dia men­da­pat peng­a­kuan dari Tuma­pel, dii­jin­kan mem­buka per­gu­r­uan ...”

“Kalau semua dila­rang mem­buka per­gu­r­uan, Yang Mulia, dalam sepu­luh tahun lagi tak ada anak muda bisa baca tulis, tak ada lagi yang meng­erti bagai­mana memu­li­a­kan para dewa, manu­sia kem­bali men­jadi hewan rimba belan­tara.”

“Apa kebe­ratan Yang Suci kalau semua kem­bali jadi hewan rimba belan­tara?”

“Kebe­ratan Bapa, semua musnah, juga Tuma­pel, juga Kediri.”

“Pra­ju­rit-pra­ju­rit tidak diper­lu­kan lagi. Yang Mulia, juga akuwu, juga patih­nya, juga raja, karena tak ada lagi yang mem­pu­nyai sesu­atu untuk diper­se­m­bah­kan,” Patih Tuma­pel mem­per­kuat, “setiap orang harus men­jaga kese­la­mat­anmu sen­diri-sen­diri, tak ada orang akan ber­buat sesu­atu untuk yang lain.”

“Justru karena itu Loh­gawe harus binasa.”

“Kalau itu telah jadi kepu­tusan Yang Mulia, tidak bisa lain, Bapa hari ini juga harus ke Kediri.”

“Yang Suci sekali lagi hendak meng­adu?”

“Bukan meng­adu, itulah tugas Bapa. Seki­ra­nya Yang Mulia tidak indah­kan lagi nasi­hat Bapa, memang tak ada guna­nya lagi Bapa ting­gal di sini .” Tung­gul Ame­tung ber­ja­lan mondar-mandir.

“Sri Baginda Kre­ta­jaya pun men­de­ng­ar­kan Yang Ter­suci Tana­kung”

“Tanpa Yang Suci semua akan ber­ja­lan lebih mudah.”

“Betul, Yang Mulia, akan lebih mudah menu­kik ke jurang kebi­na­saan.”

“Baik, apa nasi­hat Yang Suci seka­rang?”

“Tak bisa lain, Yang Mulia seyo­gi­a­nya datang mengun­jung­i­nya. Hanya datang ber­kun­jung, dan orang-orang Syiwa itu akan meng­ang­gap Yang Mulia meng­hor­mat­i­nya.”

“Akuwu Tuma­pel sowan pada Loh­gawe? Nasi­hat cara apa itu?”

“Untuk kese­la­matan Tuma­pel sen­diri, Yang Mulia.”

“Tuma­pel cukup ter­jaga oleh pra­ju­rit-pra­ju­r­it­nya.”

“Yang Mulia,” susul Patih Tuma­pel, “tak ada yang tahu, apakah pra­ju­rit-pra­ju­rit itu Syiwa atau Wisynu, boleh jadi juga Buddha. Tak ada yang dapat menge­ta­hui hati manu­sia secara tepat.”

Tung­gul Ame­tung mena­tap patih­nya, meman­car­kan kecu­r­i­gaan:

“Bukan tugasmu mena­si­hat­iku. Kau hanya men­ja­lan­kan perin­tahku.”

Patih itu ter­diam dan meng­ang­kat sembah.

“Tapi Sang Patih tidak keliru, Yang Mulia. Lihat­lah pra­ju­rit-pra­ju­rit Tuma­pel itu. Apa keku­rang­an­nya’ Namun keru­suhan tidak sema­kin reda, malah mening­kat.”

“Karena Yang Suci mem­bi­ar­kan Loh­gawe ting­gal hidup”

“Tidak ada bukti dia ikut campur.”

“Dang Hyang Loh­gawe bukan seo­rang bega­wan,2 dia hanya seo­rang resi. Pada seo­rang bega­wan raja-raja pun patut menya­ta­kan hormat. Seo­rang resi3 setiap saat bisa men­jadi pra­ju­rit! Bahkan bia­ra­wati-bia­ra­wati itu tak jarang pra­ju­rit Syiwa yang ber­se­m­bu­nyi.”

“Di mana itu pernah ter­jadi, Yang Mulia?”

Tung­gul Ame­tung tidak menang­gapi.

Yang Suci Bela­kangka meli­hat mata akuwu itu menge­r­jap. Ia kenal ker­ja­pan pem­bu­nuh itu.

“Sri Baginda tidak kurang-kurang­nya kemu­r­ah­an­nya, Yang Mulia,” kata­nya mem­per­i­ng­at­kan. “Kata­kan­lah pada Bapa kapan Yang Mulia ber­se­dia ber­kun­jung ke pede­pokan Dang Hyang Loh­gawe. Pem­bi­ca­raan itu akan sangat pen­ting­nya untuk Tuma­pel, juga untuk Kediri. Apa yang diker­ja­kan di Kediri seyo­gi­a­nya seja­lan dengan yang di sini.”

Tung­gul Ame­tung melam­bai­kan tangan menyu­ruh mereka pergi, ia ber­ba­lik dan masuk ke Bilik Agung. Dili­hat­nya Ken Dedes tiada di dalam ia lang­sung turun ke Taman Larangan. Juga di sana ia tidak men­da­pat­kan­nya. Ia ting­gal­kan taman, mela­lui pintu ger­bang bela­kang. Di hadap­an­nya muncul pura peku­wuan.

Dengan hati masgul ia masuki pela­taran per­tama, kedua dan ketiga pura. Dan Dedes tak juga dite­mu­kan­nya.

Ia keluar lagi, dan dili­hat­nya istri­nya sedang berada di kebun buah yang menge­li­lingi pura dalam. Meli­hat sua­mi­nya men­ca­ri­nya diting­gal­kan­nya Rimang dan meng­ham­piri.

“Kakanda nampak rusuh di hati.”

“Tia­da­kah kau meli­hat kemit lewat kemari?”

“Sekali”

“Sia­pa­kah kira­nya yang sudah kau tegur?”

“Tiada.”

“Yang mene­gurmu?”

“Tiada.”

“Tempat ini ter­buka bagi semua kemit yang lewat.”

“Para­mesy­wari Tuma­pel ber­ku­asa atas rumah tangga peku­wuan. Adakah Kakanda menye­sal telah meng­ang­kat aku jadi Para­mesy­wari?”

“Sejak per­tama kali ber­temu kau selalu meng­a­jak ber­teng­kar, Dedes.”

“Dan kau selalu ber­hati rusuh.”

“Dewi bumi dan langit, aku tak sudi kehi­langan kau. Mari,” ia ber­ja­lan lebih dahulu kem­bali mele­wati pintu ger­bang Taman Larangan dan masuk.

Ken Dedes meng­i­kut­i­nya.

Mereka duduk di bangku kayu di bawah pepo­honan meng­hin­dari matari siang. “Baru sekali ini kakanda men­cari aku sejauh ini.”

“Diam­lah kau, brah­mani.”

Ken Dedes mem­per­ha­ti­kan nada sua­ra­nya, dan ia tak men­da­pat­kan di dalam­nya kegu­sa­ran, hanya keru­suhan hati. “Apa lagi kakanda rusuh­kan hari ini?”

“Ingin aku deng­ar­kan dari istriku, seo­rang brah­mani: apa sebab­nya dunia meng­hor­mati satria?”

“Tidak banyak satria yang dihor­mati.”

“Tidak banyak?”

“Ter­lalu sedi­kit. Mereka adalah yang bijak­sana. Sele­bih­nya tidak pernah dihor­mati dunia, hanya dita­kuti.” Meli­hat sua­mi­nya tidak mene­ngahi ia mene­rus­kan, “Mereka dita­kuti, karena semua satria adalah pem­bu­nuh, peng­a­n­i­aya, penyiksa karena kera­ku­san­nya pada kebe­saran dunia. Hanya yang bijak­sana deng­ar­kan petun­juk para dewa, men­de­ng­ar­kan Hyang Yama.”

“Apakah sebab­nya brah­mana dita­kuti?”

“Kau tak pernah takut padaku, bahkan kau telah men­cu­lik aku dari rumahku”

Tung­gul Ame­tung diam lagi, meng­am­bil tangan istri­nya dan mem­per­main-main­kan cincin pada jari-jari­nya. Ia tak tahu istri­nya sedang meli­rik­nya.

“Sua­miku tidak takut padaku seba­gai wanita, dia tetap takut padaku seba­gai brah­mani, karena Dedes tahu apa yang sua­mi­nya tidak tahu.”

Tung­gul Ame­tung ter­tawa:

“Apa yang kau tahu ten­tang keti­dak penge­ta­hu­anku?”

“Bukan­kah sua­miku tidak bisa baca tulis dan aku bisa?”

“Baca tulis?” Ia ter­tawa bahak, “setiap yang bisa, bisa juga aku suruh.”

“Sua­miku bisa menyu­ruh selama ada yang bisa disu­ruh.”

“Sela­ma­nya akan ada dan harus ada.”

“Sua­miku hanya bisa memin­jam tangan dan mata orang.”

“Tangan dan mataku lebih ber­harga untuk kerja baca tulis.”

Sekali lagi Dedes meli­rik pada sua­mi­nya untuk menge­ta­hui gusar atau tidak.

“Kalau semua tidak bisa, sia­pa­kah yang akan kakanda suruh? Kakanda tak tahu San­sa­kerta, maka tak tahu bagai­mana ber­te­ri­ma­ka­sih dan ber­mo­hon ampun dan petun­juk.”

“Mak­sudmu aku satria yang tidak dihor­mati?”

“Satria baru yang mena­kut­kan,” Dedes duduk men­jauh, “satria hidup dari keta­kutan dunia, maka ia terus juga takut-takuti dunia.”

“Maka juga kaum brah­mana takut pada satria.”

“Mereka tidak perlu takut pada kedu­nguan. Mereka bel­a­jar setiap hari untuk tidak jadi dungu.”

Tung­gul Ame­tung ter­sing­gung. Tetapi ia diam saja. “Tentu kakanda gusar.”

“Orang lain tentu sudah harus rebah di tanah.”

Ken Dedes ber­diri, ber­siap hendak pergi. Tung­gul Ame­tung menang­kap tangan­nya dan men­du­duk­kan­nya kem­bali di sam­ping­nya.

“Dengar, Dedes juga brah­mana yang semasy­hur-masy­hur­nya, Dang Hyang Loh­gawe itu, dia akan takut padaku.”

“Seo­rang brah­mana seperti dia tidak perlu takut pada siapa pun. Juga tidak pada Akuwu Tuma­pel. Dia tidak pernah mem­bu­tuh­kan­nya. Akuwu Tuma­pel pada suatu kali akan mem­bu­tuh­kan­nya, seka­li­pun karena dungunya ia ingin mem­bu­nuh­nya, seperti dico­ba­nya pada diri Mpu Parwa dan Arya Artya.”

“Aku baru tahu seo­rang brah­mani juga seo­rang pem­bo­hong.”

“Tak ada seo­rang brah­mana mero­sot dari sudra untuk men­da­pat­kan keun­tungan dari kebo­hong­an­nya. Jadi Para­mesy­wari Tuma­pel telah men­da­pat­kan segala-gala yang tidak diper­lu­kan­nya.”

“Tidak patut itu diu­cap­kan oleh seo­rang istri.”

“Kata­kan­lah, apa yang kakanda butuh­kan dari­pa­daku.”

“Engkau ter­lalu angkuh, Dedes, seperti semua brah­mana.”

“Tak ada brah­mana angkuh. Mereka hanya lebih meng­erti, lebih tahu dari­pada orang yang meng­ang­gap penge­ta­huan dan ilmu seba­gai keang­kuhan.”

“Baik­lah. Tentu semua yang diu­cap­kan oleh Para­mesy­wari Tuma­pel benar. Hanya, tidak­kah bisa kau ber­si­kap manis padaku, seperti wanita-wanita lain?”

“Apakah yang kurang manis padaku? Telah kubi­ar­kan diriku kau miliki. Dedes tidak memer­lu­kan segala apa yang kau tabur­kan padaku, dan dia memi­l­iki apa yang sua­mi­nya tidak pernah punya,” ia men­coba mele­pas­kan pegangan sua­mi­nya. “Dia telah biar­kan dir­i­nya kau miliki, karena tadi­nya menyangka dengan demi­kian dir­i­nya, ayah­nya, akan sela­mat. Kau haus akan jiwa Mpu Parwa dan kaum brah­mana. Seka­rang kau datang padaku untuk menye­rah­kan Dang Hyang Loh­gawe padamu.”

Tung­gul Ame­tung meme­lin­tir lengan istri­nya. Dedes meme­kik kesa­kitan. “Tak ada satria meme­kik kesa­kitan.”

“Biar­pun begitu kau takkan berani bunuh aku, Tung­gul Ame­tung. Kau mem­bu­tuh­kan anak lelaki pewa­ris Tuma­pel. Hanya aku yang tahu, apakah pewa­ris itu akan kugu­gur­kan atau tidak.”

Akuwu itu mele­pas tangan istri­nya.

“Akan kupe­rin­tah orang men­ja­gamu siang dan malam Hati-hati kau.”

“Kalau Dedes tidak takut padamu, apa lagi pada penga­wal-penga­walmu. Aku pun bisa meme­rin­tah mereka”

“Betapa dungu aku telah kawini perem­puan sial ini.”

“Kaulah satria sial itu, seo­rang sudra yang tak tahu diun­tung, seo­rang satria gadungan yang tak tahu tempat.”

“Diam!”

“Ada tanda-tanda Dedes mulai mengan­dung. Ani­a­ya­lah aku, sentuh aku lagi, dan akan kusam­pai­kan kepada dunia, benih dalam diriku ini bukan anakmu ...”

Tung­gul Ame­tung menu­tup mulut istri­nya dengan tela­pak tangan­nya. Dan Dedes meng­ge­leng ber­pa­ling-paling meng­hin­dari.

“Perem­puan garang sema­cam ini ...” Dibo­pong­nya istri­nya dan masuk ke dalam Bilik Agung.

Dua minggu telah ber­lalu.

Dalam dua minggu Tung­gul Ame­tung tidak lagi men­de­ngar suara istri­nya yang mem­bisu, seba­gai protes dari hilang­nya Rimang. Bahkan mata­nya pun selalu meng­hin­dari pan­dang­nya.

Ia telah pin­dah­kan kem­bali Dedes dari Bilik Para­mesy­wari ke Bilik Agung. Pintu-pintu depan dan bela­kang bilik yang per­tama ia perin­tah­kan dima­ti­kan. Brah­mani itu kini selalu ting­gal di Taman Larangan, tidak mau masuk ke Bilik Agung tanpa dibo­pong­nya dengan paksa. Juga sewaktu hujan mulai turun dua-tiga kali bela­kangan ini.

Dan sekali ini ia bopong lagi Dedes dari Taman Larangan masuk ke Bilik Agung. Menge­luh:

“Betapa kau ber­ku­kuh tak mau ber­ma­nis pada suami!” Sesal Tung­gul Ame­tung. “Masih juga tak mau dengar tak mau bicara? Baik. Aku perin­tah­kan kau ber­pa­kaian seba­gai Para­mesy­wari Tuma­pel. Seka­rang juga.”

Dan Dedes tidak meng­in­dah­kan.

Tunggu! Ame­tung mulai merias istri­nya. Dedes mem­bi­ar­kan tubuh­nya dirias. Ia meng­ganti pakai­an­nya, mem­be­daki wajah­nya, men­ce­lak dan meng­gincu bibir­nya, kemu­dian mema­sang pita mah­kota pada kepa­la­nya. Ia seka bing­gal kaki­nya, kemu­dian meng­gan­deng­nya, duduk di per­a­duan.

“Deng­ar­kan, Dedes, Per­ma­taku. Pagi ini kita akan pergi agak jauh. Kita akan mengun­jungi Dang Hyang Loh­gawe. Tak ada yang lebih tepat dari­pada kau yang bicara. Aku akan meng­iring­kan kau. Kata­kan nanti pada­nya, Akuwu Tuma­pel dan Para­mesy­wari men­jan­ji­kan kemu­li­aan pada­nya, kalau dengan penga­ruh­nya ia sang­gup dan ber­ha­sil mere­da­kan keru­suhan yang sema­kin memun­cak bela­kangan ini. Kau sudah dengar, dan kau meng­erti. Mari berang­kat.”

Ia tarik istri­nya ber­diri. Ken Dedes meng­i­kuti tarikan itu seperti golek tanpa jiwa. Sua­mi­nya sen­diri juga yang mem­bo­pong­nya ke atas tandu.

Iring-iringan itu berang­kat dengan sangat banyak peng­i­kut. Juga Yang Suci Bela­kangka diang­kut dengan tandu. Tung­gul Ame­tung dan Patih Tuma­pel ber­kuda. Di bela­kang mereka ber­ba­ris sepu­luh ekor kuda yang dimu­ati dengan hadiah. Di bela­kang­nya lagi pasukan kaki. Dan di depan sana pasukan kuda ber­tom­bak. Jauh sebe­lum iring-iringan telah ber­ja­lan lebih dahulu pasukan yang mem­ber­sih­kan jalanan dan seki­tar­nya dari para peru­suh. Seo­rang peseru mewar­ta­kan kebe­rang­katan Para­mesy­wari ke Pang­kur untuk sowan Dang Hyang Loh­gawe. Dan tak ada peru­suh meng­ganggu mereka. Sepan­jang jalan kawula Tuma­pel memer­lu­kan meng­elu-elukan dengan sembah dan hormat. Bebe­rapa kali ter­de­ngar seruan lan­tang dari tengah-tengah mereka. “Dir­ga­hayu, Dewi Kebi­jak­sa­naan!”

Bebe­rapa batu telah dilem­par­kan pada Tung­gul Ame­tung dan Bela­kangka, api mereka tidak menang­gapi untuk tidak menim­bul­kan keka­cauan.

Di jalanan yang diapit oleh jurang curam dan tebing terjal, di mana dahulu ia meli­hat brah­mana muda ber­ku­mis seke­pal itu ber­diri di atas batu ia memer­lu­kan ber­pa­ling. Di atas batu hitam itu tak nampak ada seo­rang pun. Tapi dari sebuah bukit di atas­nya lagi ter­de­ngar suara seruan yang ber­ga­ung-gaung di tengah hutan:

“Tung­gul Ame­tung! Tung­gul Ame­tung! Ha-ha-ha! Rampok yang akhir­nya roboh karena rampok kecil!”

Sang Akuwu tidak menang­gapi, juga tidak men­cari di mana orang yang ber­seru-seru itu. Ia tahu ia tidak disu­kai, tidak dicin­tai, hanya dita­kuti. Seka­rang pun rampok-rampok kecil itu bahkan mulai berani mela­wan­nya terang-terangan.

Tahu istri­nya dihor­mati oleh para kawula, kuda­nya selalu dipe­pet­kan pada tandu istri­nya, di sam­ping Ken Dedes tidak akan ada sesu­atu serangan bakal datang.

Matari telah teng­ge­lam. Iring-iringan itu dite­rangi dengan banyak damar. Mereka tiga kali telah ber­is­ti­ra­hat untuk makan dan mela­ku­kan hajad. Men­je­lang tengah malam mereka sampai. Pang­kur ber­man­di­kan damar. Semua pen­du­duk keluar dari rumah. Jalan-jalan men­jadi terang.

Dang Hyang Loh­gawe ber­diri di depan rumah­nya ber­tumpu pada tong­kat. Di bela­kang­nya ber­diri para mur­id­nya. Semua ber­ke­ro­dong kain peno­lak dingin.

“Dir­ga­hayu, Dang Hyang Loh­gawe,” seru Yang Suci. “Yang Mulia Akuwu Tuma­pel dan Para­mesy­wari datang ber­kun­jung untuk memu­li­a­kan Yang Ter­hor­mat.”

Tung­gul Ame­tung turun dari kuda, mem­bo­pong turun istri­nya dan meng­gan­deng­nya meng­ha­dap Dang Hyang Loh­gawe.

“Inilah Akuwu Tuma­pel ber­sama Ken Dedes datang meng­ha­dap, Yang Ter­hor­mat Dang Hyang Loh­gawe.”

“Dir­ga­hayu kalian semua.”

Di bawah curah sinar damar Ken Dedes ber­lu­tut, meng­ang­kat sembah, kemu­dian merang­kul kaki Loh­gawe:

“Ampuni sahaya, ya. Yang Suci, ampuni sahaya.” Loh­gawe menun­duk, meng­u­sap-usap rambut Dedes “Dedes, cucuku ...” Ken Dedes mena­ngis.

“Masih patut­kah sahaya dise­but cucu, Yang Suci?”

“Takkan ada yang bisa meng­u­bah cucuku Dedes tanpa sema­umu sen­diri.”

“Yang Suci, Yang Suci,” dan Dedes ter­hi­sak-hisak dalam tangis­nya.

Loh­gawe men­cium ubun-ubun­nya, ber­bi­sik:

“Mari, cucu, mari naik ke rumah,” ia tarik Dedes ber­diri. “Sila­kan, Yang Mulia, Yang Suci sila­kan naik.”

Dedes meme­gangi tangan Dang Hyang Loh­gawe sambil men­ci­um­i­nya. Mereka meng­iring­kan masuk. Para murid itu ber­henti di depan pen­dopo untuk menunggu perin­tah dari Sang Maha­guru.

“Betapa jauh jalan yang telah ditem­puh, seperti ada keper­luan yang ter­lalu tidak bisa ditunda, Yang Mulia Akuwu.”

Mereka duduk ber­ke­li­ling di atas tikar. Dan damar mene­rangi mereka dari dua jurusan.

Pasukan penga­wal Tuma­pel meng­ha­lau setiap orang yang hendak men­de­kati rumah, dan mereka ting­gal ber­diri di keja­uhan. Kemu­dian mereka menyi­ap­kan diri untuk mesang­grah di kebun buah Loh­gawe.

“Kami datang untuk meng­ha­tur­kan warta kese­la­matan selu­ruh Tuma­pel pada Yang Ter­hor­mat Dang Hyang Loh­gawe,” Tung­gul Ame­tung memu­lai, “selain hendak mene­ngok dan memang ada keper­luan yang tak bisa ditunda.”

“Adalah suatu kehor­matan diper­ke­nan­kan mene­ngok Yang Ter­hor­mat,” Yang Suci menam­bahi. “Apa­lagi sete­lah Yang Ter­hor­mat begitu lama mening­gal­kan Pang­kur. Barang­kali ada warta yang patut dide­ng­ar­kan oleh Yang Mulia Akuwu.”

“Dan sengaja kami bawa Para­mesy­wari Tuma­pel untuk memu­dah­kan pem­bi­ca­raan, Yang Ter­hor­mat”

Kee­sokan hari­nya pem­bi­ca­raan itu dimu­lai. Bela­kangka meng­a­ca­rai. Tung­gul Ame­tung lebih banyak mena­rik diri. Patih Tuma­pel lebih mem­per­li­hat­kan kege­si­tan. Ken Dedes tak juga angkat bicara biar pun oleh Bela­kangka bebe­rapa kali dise­but mewa­kili Sang Akuwu yang merasa agak kurang sehat.

“Memang tak ada jalan lain lagi yang bisa ditem­puh dari­pada ini, Yang Ter­hor­mat,” Bela­kangka kemu­dian meng­am­bil-alih pem­bi­ca­raan. “Yang Mulia Akuwu dan Yang Mulia Para­mesy­wari telah sepa­kat untuk meng­a­ju­kan bebe­rapa pokok,” ia ber­pa­ling pada Ken Dedes. Kemu­dian, “Sila­kan, Yang Mulia Para­mesy­wari.”

Ken Dedes meng­gi­git bibir. Ia meng­ang­kat sembah, kemu­dian merang­kak men­cium lutut Dang Hyang Loh­gawe. “Apa hendak kau kata­kan, Cucu?”

“Tiada barang sesu­atu dari sahaya, ya, Yang Suci. Hanya sahaya men­da­pat perin­tah untuk mem­per­se­m­bah­kan ini, Yang Suci.”

“Kata­kan, jangan ragu-ragu. Apakah ten­tang diba­kar­nya rumahmu dan hilang­nya ayahmu?”

“Bukan itu yang ter­kan­dung dalam perin­tah, ya. Yang Suci.” Cucu, Cucu,” Dang Hyang Loh­gawe meng­ang­guk-angguk meng­erti. “Kalau begitu itu tak perlu kau sam­pai­kan. Apakah perin­tah yang kau terima, Cucu?”

“Yang Suci, keru­suhan sema­kin lama sema­kin meru­yak, sema­kin tidak ter­pa­dam­kan. Apakah sebab­nya itu, Yang Suci?”

Tung­gul Ame­tung, Bela­kangka dan Sang Patih mena­rik diri dari pem­bi­ca­raan.

“Setiap keru­suhan di sesu­atu negeri, bukan hanya Tuma­pel, adalah pen­cer­minan dari keti­dak­mam­puan yang meme­rin­tah, Cucu.”

“Di manakah letak­nya keti­dak­mam­puan itu, Yang Suci?” Dedes mene­rus­kan.

“Keti­dak­mam­puan itu ber­a­sal dari diri semua yang meme­rin­tah, Dedes, keti­dak­mam­puan meng­erti kawu­la­nya sen­diri, kebu­tuh­an­nya, kepen­ting­an­nya.”

“Apakah Yang Suci ber­mak­sud menga­ta­kan keti­dak­mam­puan itu sama dengan kedu­nguan?”

“Tidak sama, hanya seje­nis.”

Tung­gul Ame­tung menge­rut­kan gigi. Bela­kangka meng­ge­le­tar karena muntab. Sang Patih menun­duk lebih dalam. “Dari mana asal­nya kedu­nguan itu, Yang Mulia?”

“Dari ter­lalu banyak mengu­rus diri sen­diri, sehingga buta ter­ha­dap yang lain-lain.”

“Kalau hanya demi­kian, Yang Mulia, meng­apa timbul keru­suhan?”

“Hyang Maha­dewa tahu bagai­mana mem­bi­kin Jagad Pra­mu­dita seim­bang. Keru­suhan meng­im­bangi kedu­nguan.”

“Kalau soal­nya kese­im­bangan, Yang Ter­hor­mat,” Tung­gul Ame­tung tak dapat mena­han hati­nya, “pada imbangan manakah Yang Ter­hor­mat berada?”

“Kalau soal­nya Maha­dewa, Yang Mulia, jangan tanya­kan kepada Bapa, per­gi­lah ke pura, ber­ta­nya­lah Yang Mulia kepa­da­nya. Boleh jadi Yang Suci Bela­kangka dapat Yang Mulia perin­tah­kan untuk itu.”

Bela­kangka meng­ga­ruk teng­go­r­okan.

“Kalau keru­suhan itu tidak lain dari soal­nya Hyang Maha­dewa, masih per­lu­kah Hyang Maha­dewa dise­m­bah dan dipuja?”

“Yang tidak memer­lu­kan Hyang Maha­dewa juga tidak diper­lu­kan oleh­nya. Tetapi hukum­nya ber­ja­lan terus dengan atau tanpa manu­sia.”

“Yang mem­per­ta­han­kan kese­im­bangan adalah Hyang Wisynu,” Bela­kangka menye­rang.

“Per­gi­lah Yang Suci ke pura, ber­ta­nya­lah pada Hyang Wisynu. Bukan­kah tidak perlu mela­lui jalan belok ke pede­pokan Dang Hyang Loh­gawe”

“Ampun. Yang Suci.” Ken Dedes mene­ngahi awal per­teng­karan itu, “kami datang karena Hyang Wisynu telah lupa pada Tuma­pel, tidak dija­ga­nya kese­im­bang­an­nya.”

“Karena Tuma­pel sudah lupa pada Hyang Wisynu” “Dharma tetap dibe­ri­kan pada para brah­mana. Yang Ter­hor­mat,” susul Bela­kangka, “biara-biara dan para resi yang diakui oleh negeri.”

“Sangat baik,” Dang Hyang Loh­gawe meng­ang­guk-angguk. “Kalau betul dharma men­cu­kupi dan Hyang Wisynu tidak dilu­pa­kan, tanpa ada keti­dak­mam­puan, barang­tentu para dewa tidak laku­kan sen­diri memu­lih­kan kese­im­bangan Jagad Pra­mu­dita seperti yang disam­pai­kan seka­rang ini.”

“Kalau Hyang Wisynu tidak men­ja­wab, ber­ta­nya­lah pada hati sen­diri.”

“Kalau hati sen­diri tidak men­ja­wab, Yang Ter­hor­mat tidak benar.”

“Kalau hati sen­diri pun tidak men­ja­wab, itulah tanda keti­dak­mam­puan, dan keti­dak­mam­puan itu memang­gil keru­suhan.”

“Orang tua mau menang sen­diri,” dengus Sang Akuwu.

“Yang Mulia Akuwu,” Loh­gawe segera menyam­but, “tak ada guna seo­rang tua hendak menang sen­diri. Pada akhir­nya para dewa juga yang menang.”

“Kami datang ke mari tidak untuk ber­teng­kar, tidak untuk ber­ti­kai, Yang Suci,” Ken Dedes menyela. “Bukan­kah Yang Suci juga meng­hen­daki adanya kea­manan dan keter­tiban di Tuma­pel?”

“Bukan hanya di Tuma­pel, di selu­ruh bumi, Cucu.”

“Perin­tah yang dibe­ri­kan pada sahaya dari sidang negeri Tuma­pel adalah meng­a­ju­kan per­ta­nyaan pada Yang Suci: Dapat­kah kira­nya keru­suhan dir­e­da­kan dan dipa­dam­kan?”

“Tentu saja, meng­apa tidak?”

“Kata­kan pada sahaya bagai­mana cara­nya.”

“Cara­nya, Cucu. Sama seperti yang pernah dila­ku­kan oleh raja-raja besar ter­da­hulu: bijak­sana, ber­henti hanya mengu­rusi diri sen­diri, mulai mengu­rusi kawula.”

“Seo­rang akuwu mengu­rusi kawula!” Tung­gul Ame­tung ter­tawa meng­hi­na­kan. “Peng­hi­naan yang tak dapat diteng­gang! Keang­kuhan brah­mana ...”

“Sabar, Yang Mulia,” tegah Bela­kangka.

“Jangan lupa, Yang Suci, Pang­kur masih kawasan Tuma­pel.”

“Yang Mulia mem­bu­tuh­kan penye­le­saian soal keru­suhan, bukan per­teng­karan dengan Yang Ter­hor­mat Dang Hyang Loh­gawe.”

Tung­gul Ame­tung meng­ang­kat muka dan dada, menu­ding pada Loh­gawe, meng­gu­ruh:

“Dia yang men­da­langi semua keru­suhan!”

“Lepas­kan semua tuduhan Yang Mulia, biar sahaya kum­pul­kan berapa biji kebe­naran yang ter­kan­dung dalam kebi­jak­sa­naan Tuma­pel.”

“Kau justru yang menu­duh kami meng­i­dap keti­dak­mam­puan, tidak men­da­pat­kan petun­juk dari Hyang Wisynu, tidak mem­pu­nyai kebi­jak­sa­naan,” ledak Tung­gul Ame­tung. “Apakah itu tidak keter­la­luan?”

“Para dewa meng­e­ja­wan­tah­kan diri pada dunia mela­lui syak­ti­nya” Loh­gawe ber­kata pelahan, “keti­dak­bi­jak­sa­naan manu­sia meng­e­ja­wan­tah­kan diri dalam keru­suhan ling­kung­an­nya.”

“Bukan Tung­gul Ame­tung kurang bijak­sana, peru­suh-peru­suh itu yang sengaja meru­sak kewi­ba­waan.”

“Untuk itu ada per­lin­dungan Kediri, ada pra­ju­rit Tuma­pel,” sambut Loh­gawe. “Apakah mereka keku­rangan sen­jata, maka keru­suhan tak bisa dipa­dam­kan?”

“Dua kali peru­suh itu telah meram­pas ang­kutan besi dari Hujung Galuh4 waktu mema­suki tapal batas utara Tuma­pel.”

“Dan Tuma­pel tidak ber­daya,” susul Loh­gawe. “Apakah itu juga kesal­ahan Loh­gawe? Tiada pra­ju­rit padaku ...”

“Hadap­kan semua mur­idmu!”

Loh­gawe menu­ding pada murid-mur­id­nya yang duduk ber­ja­jar di luar pen­dopo:

“Mari­lah kalian ke mari, meng­ha­dap untuk meng­ha­tur­kan sembah dan hormat pada Yang Mulia.”

Mereka bering­sut-ingsut dalam duduk­nya, men­de­kat. Tung­gul Ame­tung ber­diri, ber­ba­lik dan meme­riksa dengan teliti wajah mereka seo­rang demi seo­rang. Ia ber­to­lak ping­gang. Sua­ra­nya meng­ge­le­tar:

“Siapa di antara kalian ber­nama Borang, Arih-Arih atau San­ting?”

“Tak ada di antara mereka,” jawab Loh­gawe tetap dalam duduk­nya.

Tung­gul Ame­tung tidak men­da­pat­kan yang dica­ri­nya. Ber­ba­lik pada Bela­kangka:

“Berapa murid yang diper­ke­nan­kan untuk­nya?”

“Sepu­luh, Yang Mulia.”

“Mana yang lima lagi?” Desak Tung­gul Ame­tung.

“Hanya lima orang itu yang ada pada Loh­gawe,” jawab Loh­gawe.” Cucu, rupa-rupa­nya tak perlu lagi kita bicara. Sang Akuwu sedang meme­riksa aku.”

“Bukan meme­riksa, Yang Ter­hor­mat,” Bela­kangka mem­per­ba­iki. “Tak ada sesu­atu yang bakal menimpa diri Yang Ter­hor­mat. Yang Mulia hanya gusar karena keru­suhan yang tak juga dapat dipa­dam­kan.”

“Yang Mulia sen­diri adalah juga seo­rang pena­si­hat perang,” Loh­gawe menang­gapi Bela­kangka.

“Mana yang lima lagi?”

“Tiada, Yang Mulia.”

“Meng­apa tidak sepu­luh?”

“Tiada guna meng­a­jar murid dungu. Lima pun sudah berat.” Akuwu itu menu­suk­kan pan­dang menye­li­dik pada Loh­gawe: “Jadi siapa mur­idmu ber­nama Borang, Arih-Arih dan San­ting?”

“Tiada, Yang Mulia.”

“Sabar, Yang Mulia,” Bela­kangka mene­ngahi. “Tiada guna meng­ka­sari seo­rang brah­mana. Sila­kan duduk kem­bali. Yang Mulia.”

“Per­ke­nan­kan sahaya meng­un­dur­kan diri,” Ken Dedes memo­hon pada Loh­gawe.

“Meng­a­soh­lah, kau, Cucu. Kau sudah dada diper­lu­kan.”

“Para­mesy­wari Tuma­pel ting­gal di tempat,” perin­tah Akuwu.

Para siswa itu bering­sut mundur ke tempat semula.

“Biar­lah yang lebih tua yang bicara,” Bela­kangka mene­rus­kan. Dan kata­nya lagi, “Maaf­kan ucapan tiada pada tem­pat­nya, Yang Ter­hor­mat.”

“Ucapan tiada pada tem­pat­nya bukan lahir di rumah ini, Yang Suci, hanya ter­bawa entah dari mana.”

“Maaf­kan,” Bela­kangka mene­rus­kan, “tak ada guna­nya lupa pada pokok semula. Biar­lah sahaya yang bicara, Yang Ter­hor­mat, Yang Mulia Akuwu dan Para­mesy­wari.”

Tung­gul Ame­tung meng­ang­guk mengi­a­kan.

“Adapun keda­tangan kami ini bukan­lah ber­mak­sud hendak ber­teng­kar. Justru seba­lik­nya. Kami datang untuk memo­hon pada Yang Ter­hor­mat Dang Hyang Loh­gawe untuk ikut memi­kir­kan kepri­ha­tinan Tuma­pel. Yang Ter­hor­mat sen­diri bukan­kah juga meng­hen­daki adanya kea­manan dan keter­tiban? Yang Ter­hor­mat, bila demi­kian halnya, barang­tentu Yang Ter­hor­mat sudi meng­gu­na­kan penga­ruh Yang Ter­hor­mat untuk mere­da­kan keru­suhan-keru­suhan ini.”

“Justru sete­lah ucapan yang tidak tepat seperti itu?” Tukas Loh­gawe.

“Maaf­kan semua ucapan yang tidak tepat.”

“Apakah Yang Mulia Para­mesy­wari juga meng­hen­daki yang demi­kian?” Tanya Dang Hyang Loh­gawe. “Sahaya dipe­rin­tah­kan untuk mem­be­nar­kan, Yang Suci.”

“Kau tidak ber­ba­ha­gia di peku­wuan, Dedes, cucuku?”

“Inilah sahaya, Yang Suci.”

“Keru­suhan-keru­suhan barang­tentu juga meng­an­cam kese­la­matan dan kedu­dukan Yang Mulia Para­mesy­wari,” susul Bela­kangka.

“Tidak ada itu dika­ta­kan oleh Para­mesy­wari.”

“Para­mesy­wari akan menga­ta­kan­nya, Yang Ter­hor­mat Dang Hyang Loh­gawe,” susul Tung­gul Ame­tung.

“Sahaya hanya dharma men­ja­lan­kan perin­tah, Yang Suci: kea­manan dan kedu­dukan Para­mesy­wari ter­an­cam oleh keru­suhan-keru­suhan.”

“Kedu­dukan dan kea­manan Para­mesy­wari Tuma­pel memang ter­an­cam,” Loh­gawe mem­be­nar­kan. “Tapi kau sen­diri tidak, Dedes. Tak ada sesu­atu dosa padamu ter­ha­dap siapa pun.”

“Ten­tang dosa itu biar­kan para dewa yang meni­lai,” susul Bela­kangka.

“Kawula Tuma­pel meng­ge­lari Para­mesy­wari Dewi Kebi­jak­sa­naan. Meng­ap­a­kah Yang Mulia dan Yang Suci tidak men­coba men­de­ng­ar­kan­nya?”

“Apakah yang bisa diper­buat oleh seo­rang perem­puan?”

“Gelar itu diper­se­m­bah­kan pada manu­sia oleh manu­sia, maka bukan tanpa alasan.”

“Yang mem­per­se­m­bah­kan gelar itu barang­tentu ber­mak­sud meng­adu-domba antara Para­mesy­wari dengan Akuwu,” susul Tung­gul Ame­tung tajam. Kening­nya ber­ke­rut.

“Kalau selu­ruh kawula Tuma­pel mem­be­nar­kan gelar ugama itu, apakah ber­arti selu­ruh kawula men­ja­goi Para­mesy­wari?” Tanya Loh­gawe.

“Kita ting­gal­kan semua per­teng­karan, Yang Ter­hor­mat,” susul Bela­kangka. “Bagai­mana pun bila Tuma­pel ter­an­cam, bukan hanya Sang Akuwu dan para narap­raja, juga Yang Mulia Para­mesy­wari. Betapa baik­nya kalau Yang Ter­hor­mat sudi mem­per­gu­na­kan penga­ruh besar Yang Ter­hor­mat itu untuk mere­da­kan­nya.”

“Kami jan­ji­kan hadiah seba­gai­mana Yang Ter­hor­mat kehen­daki,” Tung­gul Ame­tung menam­bahi.

“Tiada hadiah diha­rap­kan oleh brah­mana, Yang Mulia. Kalau dia sudah dapat mem­be­ri­kan dharma untuk kese­jah­te­raan titah, para dewa akan meng­an­tar kesu­dah­an­nya.”

“Jadi, apa kata Yang Ter­hor­mat Dang Hyang Loh­gawe?”

“Tidak mung­kin Dang Hyang Loh­gawe bisa men­ja­wab seka­rang juga. Beri­lah waktu barang seminggu,” jawab tuan rumah, “Loh­gawe akan turun ke Tuma­pel dan menyam­pai­kan sesu­atu. Cukup­lah kira­nya ucapan ini. Dan kau, Cucu, juga aku akan temui kau di Tuma­pel seminggu yang akan datang.”

Pada hari yang diten­tu­kan Loh­gawe datang ke Tuma­pel, mena­iki pen­dopo dengan masih ber­te­rom­pah tapas. Sang Patih menyam­but­nya. Akuwu dan Bela­kangka masih harus dicari.

Kemu­dian Akuwu itu keluar dari Bilik Agung ber­sama Ken Dedes. Dan Para­mesy­wari segera ber­su­jud dan mem­ber­sih­kan kaki Dang Hyang Loh­gawe dengan penu­tup kepa­la­nya.

Tamu itu dengan dua belah tangan mene­nga­dah­kan muka Dedes, meres­tu­i­nya, kemu­dian meng­ang­guk-angguk meli­hat pipi wanita itu yang tem­bong biru muda. Akuwu Tuma­pel meng­am­bil tempat di kursi kebe­sar­an­nya. Loh­gawe ting­gal ber­diri. Sang Patih duduk di lantai.

Pan­dita Negeri yang datang kemu­dian juga ting­gal ber­diri. Dan Para­mesy­wari Tuma­pel ber­diri men­dam­pingi tamu yang dihor­mat­i­nya.

“Tiada banyak yang Dang Hyang Loh­gawe akan sam­pai­kan,” tamu itu memu­lai. “Seperti pesan yang dahulu juga: mulai­lah deng­ar­kan Yang Mulia Para­mesy­wari Ken Dedes. Adalah tidak tepat untuk kebi­jak­sa­na­an­nya ia men­da­pat­kan warna biru seperti itu pada pipi­nya. Kalau seo­rang Para­mesy­wari telah demi­kian diper­la­ku­kan, bagai­mana pula kawula kecil?”

Bela­kangka meng­a­wasi pipi Ken Dedes, kemu­dian mem­bu­ang muka. Sang Patih tetap menun­duk di tem­pat­nya. Tung­gul Ame­tung men­de­ngus

“Kedua, keru­suhan hanya bisa dia­tasi dengan mewara-war­a­kan, siapa yang sang­gup mere­da­kan­nya. Hen­dak­nya, bila ter­bukti, orang itu men­da­pat­kan jabatan negeri yang layak. Dan apa­bila dira­sa­kan mema­lu­kan mela­lui wara-wara, Loh­gawe sang­gup men­ca­ri­kan orang yang mampu untuk mela­ku­kan peker­jaan itu.”

“Bapa Loh­gawe men­jan­ji­kan seo­rang yang lebih mampu dari­pada pra­ju­rit Tuma­pel?” Desak Tung­gul Ame­tung.

“Loh­gawe tidak memer­lu­kan keper­ca­yaan manu­sia. Bila itu dite­rima, akan aku pang­gil orang itu beserta bebe­rapa orang teman­nya.”

“Siapa nama calon Yang Ter­hor­mat Dang Hyang Loh­gawe?” Bela­kangka ber­ta­nya untuk keso­panan. “Arok.”

“Siapa Arok itu?” Tanya Tung­gul Ame­tung. “Yang Mulia bisa bicara sen­diri deng­an­nya.”

“Pang­gil dia ke mari.”

“Dia akan datang ke mari atas perin­tahku.”

“Dia akan kehi­langan kepa­la­nya bila tidak sesuai dengan yang dijan­ji­kan.”

Dang Hyang Loh­gawe meng­ang­kat tangan, mem­beri restu pada Ken Dedes, kemu­dian mening­gal­kan pen­dopo .... “Tua bangka yang banyak mulut!”

“Hanya Arya Artya brah­mana yang banyak mulut,” Bela­kangka mem­per­ba­iki. Ken Dedes mening­gal­kan pen­dopo dengan meng­ha­fal nama baru yang ter­de­ngar aneh itu: Arok, Arok, Arok.



Bab 6

Perlawanan Terhadap Tunggul Ametung

Api itu geme­ra­tak mema­kan tum­pukan ran­ting dan dahan. Asap menge­pul lang­sung ke udara kadang dibu­ngai oleh per­cikan. Puluhan pemuda, yang duduk-duduk meling­kar­i­nya, riuh ber­sen­da­gu­rau. Batang, dahan, ran­ting dan deda­unan hutan di seke­li­ling mereka melongok­kan diri ikut mene­mani.

Hanya Arok yang ber­diri:

“Sudah, periksa barang ram­pasan itu.”

“Jagad Dewa!” Orang menye­but ber­ba­reng, meli­hat badan dan ang­gota-ang­go­ta­nya dari emas, suasa, yang ber­ser­akan; alat-alat upa­cara kea­ga­maan dari perak.

“Jangan gentar,” tegah Arok. “Bukan kita yang meng­han­cur­kan­nya. Kita telah sela­mat­kan semua ini dari tangan mereka. Kau, Ling­sang, yang sudah bel­a­jar pandai-emas dari bapakmu. Taksir olehmu berapa saga emas han­curan para dewa itu.” Lebih dan enam ribu saga, Arok”

“Semua per­caya padamu. Kau yang akan mele­bur­nya, sece­pat mung­kin. Kau yang menyim­pan­nya, sebaik mung­kin. Kita belum bisa per­gu­na­kan. Ada wak­tu­nya dia bakal jadi keleng­kapan untuk tum­bang­kan rampok-rampok itu.”

“Baik, Arok.”

“Maju kau, dan ucap­kan sum­pahmu.”

Ling­sang duduk ber­sila, mena­tap api unggun.

“Demi kau, Hyang Agni, inilah Ling­sang yang akan mera­wat, mele­bur dan menyim­pan emas, perak dan suasa ini, takkan kurang dari bobot­nya semula. Tak ada yang meng­gang­gu­nya kecu­ali dengan per­ke­nan Arok.”

Api dipa­dam­kan. Mereka ber­ja­lan ber­gan­de­ngan dalam kege­lapan hutan untuk men­ca­pai jalanan desa.

“Nah, per­gi­lah kalian Aku akan datang dua minggu lagi. Kau ikut deng­anku, Hayam!”

Mereka ber­pi­sahan. Rom­bongan besar ber­ja­lan seo­rang-seo­rang ke ber­ba­gai jurusan. Arok dan Hayam lang­sung menuju ke selatan Kuta­raja.

Anjing itu meng­gong­gong gila waktu Arok dan Hayam meng­ham­piri rumah itu. Pintu pun ter­buka dan seo­rang lelaki ber­ke­ru­dung seli­mut keluar. Pada tangan­nya ia mem­bawa tombak, pada ping­gang­nya ter­gan­tung pedang.

“Tim, Tim, ayoh Tim, jangan takut!”

Anjing itu sema­kin gila meng­gong­gong, meng­ham­piri Arok dan Hayam.

“Diam­kan anjing ini, kami hendak sing­gah,” seru Arok.

“Sudah ter­lalu malam untuk sing­gah.”

Anjing itu meme­kik ter­kena gedik pung­gung pedang, kemu­dian tak ber­su­ara lagi.

Orang di pintu itu lari masuk ke dalam rumah dan mema­dam­kan damar. “Per­cuma kau lari masuk ke dalam. Kami bisa bakar rumah ini, dan tumpas kau ber­sama anak­bi­nimu. Keluar!”

Orang itu keluar lagi. Dalam kege­lapan tak nampak ia mem­bawa sen­jata atau tidak.

“Kau Empu Gan­dring, deng­ar­kan aku.”

“Siapa kau sesung­guh­nya?”

“Pada tangan kami ada sen­jata bikin­anmu sen­diri.”

“Ten­tu­nya kalian pem­ba­yar yang baik.”

“Apakah Akuwu mem­ba­yarmu dengan baik?”

“Aku kawu­la­nya.”

“Arti­nya tidak baik. Aku bisa bayar lebih baik.”

“Siapa kau?”

“Tak perlu kau keta­hui. Pada suatu kali kau akan terima perin­tah buat­kan sen­jata.”

“Per­cuma kalau jumlah kecil, aku tak terima.”

“Kau yang bikin, aku yang bayar. Habis per­kara.”

“Kau harus per­tim­bang­kan keku­a­saan Sang Akuwu.”

“Kau laku­kan perin­tah­nya karena dia Akuwu atau­kah karena kau diba­yar?”

“Dua-duanya,”

“Kau bisa tidak laku­kan perin­tah­nya.”

“Tidak mung­kin.”

“Aku yang memung­kin­kan.”

“Tidak mung­kin. Berapa keku­at­anmu?”

“Bodoh. Kalau ang­kutan besi ke pab­rikmu aku han­cur­kan, tak bakal lagi kau mem­per­se­m­bah­kan sesaji pada Hyang Pan­ca­gina. Kau dengar? Hyang Pan­ca­gina1 akan ting­gal­kan kau.”

Empu Gan­dring ter­diam.

“Kau mem­bi­kin sen­jata hanya untuk dapat­kan upah. Ingat-ingat itu. Pada suatu kali perin­tahku akan datang padamu.” Arok ber­ba­lik dan mening­gal­kan pela­taran Empu Gan­dring.

Dalam kege­lapan Arok ber­bi­sik pada Hayam.

“’Kita tidak mema­suki Kuta­raja malam ini.”

“Sudah ter­lalu malam, Arok.”

“Kau sudah mengan­tuk?”

“Semes­ti­nya kau lebih meng­erti.”

“Baik, kita tidur di gubuk ladang.”

Mereka mema­suki ladang, naik ke atas gubuk dan meng­gol­ek­kan diri.

“Kau tak pernah ber­ce­rita, ke mana saja kau selama ini, Arok.”

“Meli­hat aku masih hidup, bukan­kah kau sudah senang?”

“Ah, Arok, kau sema­kin pen­diam seka­rang ini. Makin tak dapat aku sampai pada hatimu.”

Arok mem­bi­ar­kan teman­nya bicara dan bicara Ia sen­diri meng­he­ning­kan cipta dalam malam diting­kah musik serangga dan mar­ga­satwa malam itu. Ia tem­pat­kan dir­i­nya sen­diri di hadapan mata-batin­nya, mene­liti segala apa yang telah diper­bu­at­nya, dide­ngar dan dili­hat dan dipi­kir­kan­nya sehari itu. Untuk ke sekian kali ia meni­lai tak ada keke­li­ruan telah dila­ku­kan­nya, juga ndak ada sesu­atu yang ber­la­wanan dengan Hyang Yama.

Waktu ia bangun dari renung­an­nya, Hayam telah ter­lena dalam tidur­nya. Ia bisik­kan pada kuping teman­nya:

“Hari ini kita belum juga temu­kan tempat pen­du­langan emas itu, Hayam. Kau akan mene­mu­kan­nya dalam bebe­rapa hari ini. Aku, Arok, yang meme­rin­tah­kan. Kau seo­rang anak pandai emas yang tajam hidung. Tahu saja kau di mana tem­pat­nya. Kalau bukan dengan kau, emas ndak kita per­o­leh hari ini. Ingat-ingat, Hayam, dalam bebe­rapa hari ini kau akan temu­kan pen­du­langan itu ...”

Ia sen­diri pun tidur.

Pemi­lik ladang itu mem­ba­ngun­kan mereka. Dan Hayam meng­u­cap­kan banyak-banyak teri­ma­ka­sih telah men­da­pat­kan peng­i­napan yang baik dan sehat.

Arok telah turun dari gubuk untuk mene­rus­kan per­ja­lanan, ter­henti sete­lah bebe­rapa lang­kah, meng­i­ngat-ingat.

“Kumismu keting­galan, Arok!” Hayam mem­per­i­ng­at­kan.

Sete­lah mene­rima kumis­nya ia ber­ja­lan ber­ge­gas seo­rang diri mela­lui per­la­dangan, meng­hin­dari Kuta­raja, menuju ke utara. Ia tidak sing­gah di Pang­kur atau pun Kapun­dungan. Tuju­an­nya semen­tara ini hanya satu: Karang­k­setra, kelu­arga Bango Sam­pa­ran.

Sampai di rumah yang ditu­ju­nya ia tak mene­mu­kan barang seo­rang pun. Rumah itu kosong dengan pintu-pintu ter­buka. Ia masuki bilik demi bilik. Tak ada satu barang pun ber­harga yang nampak. Tikus ber­ke­li­aran kehi­langan sumber rejeki. Ia pergi ke dapur. Tak sebuah pun belanga berada di tempat, kosong. Ia periksa tungku. Sudah lama tak pernah ada api menyala di dalam­nya. Bahkan bekas kucing tidur sema­lam pun tak ada.

Ia keluar lagi dan masuk ke kan­dang kerbau. Tak ada bau kerbau atau rumput kering. Bekas­nya pun tiada. Ia lihat lubang penim­bun kotoran ternak itu kering keron­tang. Tak ada lalat ber­main-main seperti bia­sa­nya. Peka­rangan sam­ping dan bela­kang rumah telah kotor oleh rerum­putan.

“Siapa kau?” Sese­o­rang mene­gur.

“Anak pungut Ki Bango Sam­pa­ran.”

“A, kebe­tulan. Ayoh, ikuti aku.”

“Ikuti kau? Siapa kau?”

“Semua di atas tanah ini sudah jadi mil­ikku. Biar begitu hutang Ki Bango Sam­pa­ran belum ter­lu­nasi. Dia telah kuse­rah­kan pada Gusti Demang. Memang telah aku terima uang peng­gan­tian. Ki Bango jadi milik Gusti Akuwu. Tapi anak­nya sempat lari. Maka aku men­de­ri­ta­kan rugi. Kau seka­rang ikut deng­anku, ke Gusti Demang.”

“Ter­lalu berani kau meng­ha­dapi aku,” dengus Arok.

“Aku sen­diri tak perlu ber­ke­lahi deng­anmu. Ada banyak pra­ju­rit yang akan mem­per­ta­han­kan hakku.”

“Kaulah kira­nya yang mem­bi­kin Ki Bango jadi budak,” ia ter­se­nyum. “Orang-orang seperti kau! Bandar dadu!”

“Juga Ki Bango sudah jual orang lain jadi budak. Apa beda­nya? Kalau aku jatuh pun mung­kin aku jadi budak juga.”

“Sudah, pergi kau dengan damai.”

“Ganti keru­gi­anku”

“Berapa?”

“Tiga ratus catak.”

“Pergi kau! Jangan ganggu aku. Seba­lik­nya kata­kan padaku, kira-kira ke mana si Umang pergi.”

“Bodoh. Kalau aku tahu, aku sen­diri yang menang­kap­nya”

“Kalau aku yang dapat menang­kap Umang’”

“Tidak perlu. Kau pun men­cu­kupi untuk meng­gan­ti­nya”

“Kalau aku ban­ting kau?”

Orang itu ter­tawa meng­hi­na­kan:

“Mana mung­kin. Sekali aku ber­te­riak, pra­ju­rit-pra­ju­rit itu akan datang.”

“Kalau aku tikam kau?”

“Tidak mung­kin. Kalau belum pernah tahu bagai­mana hebat lariku.”

“Lari­lah, biar aku kejar kau dengan parangku.”

Arok mena­rik parang dan orang itu lari, tanpa ber­te­riak. Ia lari, mem­bung­kuk, tanpa meno­leh. Dari keja­uhan seperti sabit. Arok ter­tawa senang, kemu­dian mene­rus­kan per­ja­lan­an­nya.

Sete­lah lulus seba­gai siswa begini, ia merasa bebas untuk pergi ke mana pun ia suka. Tapi semua pemuda Karang­k­setra telah ting­gal­kan desa­nya. Dengan mela­lui jalan hutan ia kini menuju ke Randu Alas, ke rumah orang­tua pungut per­tama-tama: Ki Lem­bung.

Matari sudah teng­ge­lam waktu dalam hutan itu tiba-tiba muncul serom­bongan orang muda, lelaki dan perem­puan, semua ber­sen­jata. Ia ter­ke­pung di tengah-tengah, dan ber­diri tanpa ber­ge­rak.

Dari atas pohon ter­de­ngar leng­kingan suara: “Arok!”

Arok meng­ang­kat muka ke arah datang­nya suara, ia lihat seo­rang turun dari pohon, hanya ber­ca­wat. Pada tangan­nya seba tang tombak dan pada ping­gang­nya ter­gan­tung parang.

Tiba-tiba orang yang menge­pung­nya ber­lu­tut.

“Tanca!”

“Ya. Akulah Tanca,” ia meme­luk Arok. “Tak bisa aku kem­bali pulang pada Bapa Maha­guru. Mereka semua ini mena­han aku. Ki Bango... Umang!” Pekik­nya memang­gil. Dari ling­karan penge­pung itu ber­ge­rak seo­rang gadis, juga hanya ber­ca­wat, pada tangan­nya mem­bawa tombak, pada ping­gang­nya ter­gan­tung parang. Seperti yang lain-lain juga badan­nya kotor. Dengan kaki dan hati ragu ia ber­diri.

Arok meng­i­kuti arah pan­dang Tanca. Dan ia dengar bisikan pada teli­nga­nya:

“Itulah Umang. Lari tepat pada wak­tu­nya. Ter­u­tama perin­tahmu yang tepat pada wak­tu­nya.”

Umang masih ber­diri ragu. “Maju kau. Inilah Arok, pemim­pinmu.”

Ia melang­kah, dan kaki itu geme­tar.

Arok melang­kah menyam­but­nya, menang­kap bahu­nya:

“Umang?”

Umang meng­ang­kat sebe­lah tangan, meng­go­sok mata dan ter­hi­sak-hisak.

“Meng­apa kau mena­ngis, Umang?” Tegur Tanca, “bukan­kah semes­ti­nya kau gem­bira ber­temu dengan abangmu?”

Kaki Umang sema­kin meng­gi­gil, kemu­dian jatuh ber­lu­tut.

“Ampuni aku, Umang, ayah sudah ter­buru dibu­dak­kan.”

Umang men­ja­tuh­kan badan di tanah dan mena­ngis sejadi-jadi­nya.

“Bangun, kau, pra­ju­rit!” Perin­tah Tanca. Tangis Umang men­jadi keras.

“Umang!” Pang­gil Arok, “bangun kau, dan deng­ar­kan aku.” Umang bangun, ber­diri di hadapan Arok dan mem­bu­ang muka.

“Deng­ar­kan, aku ber­sum­pah untuk mem­be­bas­kan ayahmu!” Dan kepada yang lain-lain: “Siapa yang tidak sang­gup mem­bantu?”

Kepungan orang itu melom­pat ber­diri:

“Perin­tah­kan! Perin­tah­kan!”

“Kau dengar, Umang? Semua temanmu sedia mela­ku­kan.”

“Dengan pim­pin­anmu, Arok, pim­pin­anmu sen­diri.”

“Selama ini kalian dipim­pin Tanca.”

“Di daerah sen­diri lain dari di tempat lain “

“Baik, aku akan pimpin kalian.”

Hutan gelap itu ber­gema-gema dengan sorak sorai.

Umang sema­kin keras mena­ngis.

“Adakah tidak sepa­tut­nya kau ber­te­ri­ma­ka­sih pada mereka?” Tanya Tanca.

Arok mena­rik bahu­nya dan diba­wa­nya ber­ja­lan ke arah Randu Alas. Yang lain-lain meng­i­kuti di bela­kang­nya.

“Kita tidak ke Randu Alas, Arok. Di sana banyak pra­ju­rit.” Arok ber­henti. “Ada apa di sana?”

“Sang Akuwu telah meme­rin­tah­kan mem­buka peng­a­duan untuk hutang-hutang yang tidak ter­lu­nasi.”

“Bukan­kah di sana hanya ada dua-empat rumah?”

“Dulu, Arok. Seka­rang banyak orang Kuta­raja pindah ke sana!” Ia ber­pa­ling ke bela­kang, “Bukan­kah aku tidak keliru?”

“Benar, Arok, Tanca benar.”

“Belok ke kanan, Arok,” Tanca men­da­hu­lui ber­ja­lan. “Pasang damar, jalan di depan kami!”

Obor damar itu turun naik mene­rangi jalanan hutan, jalanan seta­pak yang gundul. Paling depan Tanca. Di bela­kang­nya Arok dan Umang.

“Ber­henti dulu, kau,” perin­tah Tanca pada pem­bawa damar. Ia juga ber­henti, ber­pa­ling ke bela­kang, “Umang, lihat­lah dulu wajah Arok. Mung­kin kau keliru. Boleh jadi bukan Temu yang ting­gal­kan kau enam tahun yang lalu. Dan kau, Arok. Mung­kin kau juga keliru. Lihat­lah baik-baik, ber­pan­dang-pan­dang­lah kalian yang benar.”

Arok menang­kap muka Umang dan dipan­da­ng­i­nya. Air­mata gadis itu masih juga mele­leh, dan Arok menye­ka­nya dengan tangan­nya. Umang tidak mem­ba­las pan­dang­nya. Tapuk mata­nya runduk.

“Gadis kecil ber­ingus dulu, kini sudah besar,” desau Arok. Ia mundur dan meman­dangi tubuh kotor yang sehat dan kurus itu. Ia per­ha­ti­kan dada­nya, ping­gul dan ping­gang­nya. Gadis itu telah mema­suki kede­wa­saan.

“Pena­ngis di hadap­anmu itu, Arok, adalah gadis ter­pa­nas dari selu­ruh rom­bong­an­nya. Tak ada di antara mereka yang dika­sih­nya ampun. Haus darah dia, Arok. Hampir-hampir tak pernah bicara Lebih sering mela­mun.”

“Benar itu, Umang?”

“Barang­kali mela­mun­kan datang­nya saat ini.”

“Umang! Umang! Gadis kecilku yang ber­ingus-ingus dulu!”

“Bica­ra­lah kau, Umang, biar semua dengar,” perin­tah Tanca.

Umang men­da­hu­lui melang­kah, dan tetap tidak bicara.

“Sini damar itu,” perin­tah Tanca. Ia obori Umang. “Tidak patut­kah Arok datang jauh-jauh men­cari kau? Bahkan senyum pun kau tidak?”

Umang lari men­da­hu­lui dan mena­ngis mera­ung-raung.

“Hibur dia, Arok. Lihat, dia masuk ke hutan.”

Arok lari menyu­sul. Dan rom­bongan itu tidak meng­i­kuti masuk. Sebuah damar lain ditan­cap­kan di ping­gir jalanan hutan, dan mereka mening­gal­kan tempat itu.

“Umang! Umang!” Pang­gil Arok.

Hutan itu tiada ditum­buhi semak-semak, hanya batang-batang pohon rak­sasa. Ia dengar tangis Umang, dan dida­pat­kan­nya gadis itu ber­su­jud di bawah seba­tang pokok, lupa di mana tom­bak­nya, dan mene­rus­kan tangis­nya.

Arok meng­ham­pir­i­nya, duduk di sebe­lah­nya dan meng­u­sap-usap ram­but­nya, Ia tegak­kan badan Umang, ia letak­kan kepa­la­nya pada pang­ku­an­nya. Dan gadis itu masih juga mena­ngis ter­se­ngal-sengal.

“Meng­apa kau mena­ngis sema­cam ini? Bukan­kah semua temanmu cukup mem­per­ha­ti­kan kau?”

Tangis itu mulai men­jadi reda.

“Deng­ar­kan abang akan ber­ce­rita,” dan ia ber­ce­rita ten­tang negeri-negeri jauh yang pernah dide­ng­ar­nya. Ia per­ha­ti­kan tangis itu, sema­kin lama sema­kin mereda. “Dan ada satu negeri lagi jauh di barat sana, di tempat Hyang Surya setiap sore masuk ke per­a­du­an­nya. Di situ ada seo­rang petani mem­pu­nyai seekor babi betina. Hanya itu mil­ik­nya yang ber­harga. Tapi sayang babi itu bong­kok....

“Kik,” ter­de­ngar Umang ter­tawa, ter­i­ngat pada cerita itu semasa kecil­nya.

Arok tidak peduli, pura-pura tidak tahu.

“Petani yang ber­nama Tumpal itu setiap hari bicara pada babi­nya yang bong­kok, dina­ma­inya dia Ratu Leng­kung­sari, karena pung­gung­nya begitu meleng­kung­nya seakan pada bong­kok­nya tepat seo­rang dewa selalu mena­rik­nya ke atas. Pada suatu hari, Tumpal meng­um­pani babi­bong­kok­nya dengan potongan-potongan ubi mentah. Apa kata­nya sekali ini?” Ia tengok Umang yang sudah mulai tenang dan mena­han tawa. “Dia bilang; aduh, aduh Sri Ratu Leng­kung­sari,betapa indah bong­kokmu ini, sampai semua babi hormat padamu, tak berani men­de­kat tak berani mene­gur. Men­da­dak ter­jadi sesu­atu. Ratu Leng­kung­sari ber­henti makan, ber­henti mengu­nyah, kuping­nya ber­diri meng­ang­kat kepala dan mema­sang mon­cong­nya pada Tumpal, ber­kata dengan suara besar: “Ha-ha-ha, yang berani dekati cuma si Tumpal. Tumpal jatuh ter­pe­lan­ting saking kaget­nya.”

“Kik-kik-kik,” Umang ter­tawa meng­i­kik. “Dulu tak begitu ceri­ta­nya.”

“Bagai­mana cerita yang dulu?”

“Tak tahu, ah.”

“Kau sudah besar, Umang, sudah dewasa.” Umang duduk tegak, cepat, ter­ke­jut menye­dari kea­da­an­nya. “Sudah ber­ti­duran saja di pang­ku­anku.” Seje­nak Umang tak bisa bicara. Ia tidak meng­ha­dapi Temu yang dahulu, tapi seo­rang lelaki dewasa ber­nama Arok, nama sete­lah lulus bel­a­jar dari seo­rang brah­mana yang dihor­mati orang selu­ruh negeri.

“Maaf­kan aku. Bang,” kata­nya kemu­dian.

“Mari kita menyu­sul yang lain-lain,” Arok ber­diri.

Umang pun ber­diri.

“Meng­apa kau mena­ngis tadi? Dan begitu lama?” Apalah arti­nya diban­ding­kan dengan menunggu selama enam tahun?”

“Benar kau menunggu-nunggu aku, Umang?”

“Bukan­kah Abang tak pernah ajari aku ber­bo­hong?”

Arok ber­henti ber­ja­lan. Ia tak ingin menying­gung pera­saan gadis yang telah menung­gu­nya selama enam tahun ini.

“Tentu, kau menunggu aku selama enam tahun. Kau harap­kan seba­gai apa waktu dia datang?”

“Seba­gai kau seka­rang ini.”

“Seba­gai sau­dara, kenalan, apakah seba­gai suami?”

“Bang,” ia tak dapat mene­rus­kan.

“Meng­apa tak kau jawab? Bukan­kah aku tak pernah meng­a­jar­imu mem­bisu?”

Umang melang­kah ber­ja­lan dan menun­duk. Dan Arok meng­i­kut­i­nya.

“Jawab, Umang.”

“Jawab­an­nya ada padamu sen­diri, Bang.”

“Baik, Umang. Kita akan bebas­kan ayah dulu. Mari, kita menyu­sul mereka.”

Mereka keluar dari hutan, men­ca­but damar di ping­gir jalanan desa dan lari mem­buru.

Antara seben­tar Arok meli­rik Umang di bawah sinar damar yang dipe­gang­nya. Ia tidak rupa­wan seperti gadis-gadis lain yang pernah dite­mu­i­nya. Ia kenang­kan semua keba­ikan Ki Bango Sam­pa­ran dan istri­nya, juga gadis di sam­ping­nya ini, yang kini lari di malam hari hanya dalam cawat, rambut ter­u­rai, dan dingin udara tak dira­sa­kan­nya sama sekali. Mereka berdua telah ber­mandi keri­ngat waktu men­ca­pai rom­bongan. Tanpa ada yang bicara lagi rom­bongan itu ber­ja­lan terus sema­kin mema­suki kan­dungan belan­tara.

“Macan!” Tanca mem­per­i­ng­at­kan dan ber­pa­ling ke bela­kang ke arah tudingan.

Seekor macan besar, loreng kuning hitam ber­lari-larian kecil meng­i­kuti mereka.

Dan mereka ber­ja­lan terus seakan tiada ter­jadi sesu­atu. Dari keja­uhan nampak api unggun, dan mereka menuju ke sana Sebuah gubuk pan­jang dari kulit kayu ber­a­tap daun-daunan yang belum sepe­nuh­nya kering menari-nari dalam sinar unggun yang tidak terang itu. Bebe­rapa orang ber­tom­bak meng­ang­kat dua belah tangan menyam­but mereka.

“Arok ber­sama kita,” bisik Tanca. “Jangan ribut, ada macan meng­i­kuti kita.”

Rom­bongan itu masuk ke dalam rumah, menan­cap­kan damar mereka di sam­ping unggun. Tiada seo­rang pun ting­gal di luar. Ting­gal macan besar loreng kuning hitam itu duduk diam-diam meman­dangi api. Sete­lah puas ia pun bang­kit dan ber­ja­lan kem­bali ke arah datang­nya.

Gubuk pan­jang itu diting­gali oleh bebe­rapa belas orang pela­rian dari Tuma­pel utara karena ter­an­cam akan dibu­dak­kan. Per­kara mereka macam-macam. Anta­ra­nya karena tak mampu mem­ba­yar iuran negeri, per­teng­karan dengan peja­bat, tak mampu mem­ba­yar hutang, pen­da­tang baru yang meno­lak menye­rah­kan istri­nya pada seo­rang pra­ju­rit, gagal menye­rah­kan hewan pada pem­be­sar setem­pat, karena hewan itu ter­nyata ter­se­rang penya­kit dan mati. Mereka ter­diri dari laki dan perem­puan, dewasa dan kanak-kanak.

Di bawah pim­pinan Arok dan Tanca mereka mela­ku­kan penyer­gapan-penyer­gapan, penye­rangan dan peram­pasan barang-barang Akuwu Tuma­pel. Dua kali mereka telah menyer­gap peng­ang­kutan besi dari Hujung Galuh, meng­han­cur­kan lima koyang garam 2, lima puluh satu pikul beras3, dua ratus takar minyak-minyakan4, bera­tus hasta kain tenun. Mereka telah dengar Tung­gul Ame­tung hendak mengun­jungi

Dang Hyang Loh­gawe untuk meminta per­to­longan. Juga mereka telah dengar adanya bon­do­ngan pela­rian orang Syiwa dari Kediri Selatan ke arah Tuma­pel Selatan. Mereka telah mulai mem­buka perang­kap ter­ha­dap keku­atan Tuma­pel, sete­lah menge­ta­hui tidak lain dari Tung­gul Ame­tung yang mela­ku­kan penyer­buan dan peng­han­curan biara-biara Syiwa.

Arok dan Tanca telah mene­mui Hayam dan men­da­pat­kan kete­rangan secu­kup­nya ten­tang pen­du­langan emas Kali Kanta, ten­tang barisan jajaro yang tidak pernah nampak oleh orang dan selalu mem­bu­nuh orang yang men­coba masuk tanpa ijin, dan mena­han yang dengan ijin, untuk kemu­dian juga dija­di­kan budak.

Tak ada yang tahu berapa keku­atan mereka. Hayam tidak pernah mema­suki daerah pen­du­langan. Ia hanya mema­suki hutan seki­tar dengan lima puluh orang anak buah­nya, menyi­siri selang­kah demi selang­kah untuk mene­mu­kan tempat per­se­m­bu­nyian mereka. Tengah malam mereka balik tanpa mene­mu­kan sesu­atu.

Tanca telah dapat mene­mui pim­pinan pela­rian Syiwa dari Kediri. Mereka ter­diri atas bia­ra­wan dan bia­ra­wati yang takkan mung­kin lagi bisa ber­da­mai dengan Tung­gul Ame­tung, telah meng­u­cap­kan sumpah untuk menum­pas Akuwu Tuma­pel dan semua gerom­bol­an­nya. Mereka takkan kem­bali jadi bia­ra­wan dan bia­ra­wan sebe­lum sumpah mereka ter­lak­sana.

Dengan Hayam dida­pat­kan per­se­tu­juan untuk mela­ku­kan serangan besar-besaran atas pen­du­langan emas, dan dengan demi­kian mere­but sumber keka­yaan ter­po­kok dari Tung­gul Ame­tung.

“Kau berani memas­ti­kan bia­ra­wan dan bia­ra­wati itu akan menyer­tai kita?”

“Mulai kapan kau tidak per­caya pada Hayam Lumang Celu­kan?”

Dengan demi­kian Arok dan Tanca kem­bali ke utara.

Men­je­lang matari teng­ge­lam di bela­kang mereka ter­de­ngar teriak para peseru Tuma­pel akan lalu­nya Yang Mulia Akuwu, Yang Mulia Para­mesy­wari Ken Dedes dan Yang Suci Bela­kangka dengan Sang Patih Tuma­pel.

“Dedes, Tanca, anak Mpu Parwa. Dicu­lik dari desa­nya di Pana­wi­jil.”

“Semua sudah dengar.”

“Waktu Mpu Parwa ada ber­sama kami.”

“Ya.”

“Anak brah­mana ketu­runan. Ten­tu­nya cantik.”

“Ya, semua yang ter­can­tik kepu­nyaan Tung­gul Ame­tung,” Tanca mulai meming­gir, “kemari, Arok, ke tempat yang lebih tinggi. Mari kita lihat.”

Mereka men­daki tebing di sebe­lah kanan jalan. Di keja­uhan telah nampak iring-iringan itu maju dengan ter­lalu lambat, dida­hu­lui dan dii­kuti oleh pasukan kuda. “Orang bilang Para­mesy­wari Tuma­pel tidak ber­ba­ha­gia.” Tanca mela­por­kan.

“Kerbau betina pun takkan ber­ba­ha­gia dengan orang dungu seperti itu, Tanca.”

“Untuk apa kau hendak meli­hat Dedes? Bukan­kah seben­tar lagi ada padamu Umang?”

“Seben­tar lagi Tung­gul Ame­tung jatuh, Tanca.”

“Dia takkan dapat meng­e­lak­kan nasib­nya.”

Mereka duduk-duduk di bawah pohon meman­dangi iringan yang meram­bat maju itu.

“Betapa indah­nya kalau kita sergap sekali tang­kap. Arok,” Tanca memu­lai lagi.

“Lantas kita mau apa kalau ber­ha­sil? Kau pun tak tahu jalan lagi, seperti orang buta ber­ge­ra­yangan men­cari jalan, jadi ter­ta­waan.”

“Barang­kali benar pen­da­patmu: kita begini saja sampai para dewa ber­ke­nan mem­beri petun­juk jalan.”

“Pen­da­pat lama itu tak perlu diubah, Tanca.”

“Tak perlu kita meli­hat mereka, Arok. Mari lang­sung ke Randu Alas. Yang lain-lain sudah lama menunggu kita.”

Sete­lah ber­te­riak meng­hi­na­kan Tung­gul Ame­tung mereka mene­rus­kan per­ja­lanan.

Dengan sema­kin ber­go­lak­nya desa-desa sebe­lah barat Tuma­pel, banyak pra­ju­rit ditem­pat­kan ter­pen­car di mana-mana. Dua orang itu meng­hin­dari setiap desa.

Di tengah hutan Umang menyam­but mereka dengan barisan pera­wan. Di bela­kang­nya barisan pemuda. Semua hanya ber­ca­wat. Damar menyala di mana-mana. Di bela­kang­nya peng­ang­kut besi yang telah meng­ga­bung­kan diri dari desa-desa lain yang ter­kena kerja paksa. Di bela­kang­nya lagi menyu­sul barisan pela­rian yang meng­ga­bung­kan diri. Setiap orang yang men­da­pat­kan keper­ca­yaan untuk memim­pin dise­but Maarok, yang kemu­dian beru­bah men­jadi Warok

Barisan besar itu keluar dari hutan, mema­dam­kan damar dan mulai menyapu desa-desa dari para pra­ju­rit Tuma­pel yang sedang ber­ke­li­aran men­cari mangsa. Tidak kurang dari lima puluh orang pra­ju­rit telah ber­gu­gu­ran pada malam itu.

Men­je­lang pagi mereka telah menge­pung Randu Alas yang ter­pen­cil di dalam hutan. Desa kecil itu kini telah padat dengan gubuk-gubuk para pela­rian dari Tuma­pel. Sawah dan ladang telah mele­bar lebih sepu­luh kali lipat. Tetapi tak ada pra­ju­rit Tuma­pel nampak ber­ke­mit.

Rumah Ki Lem­bung kini berada di tengah-tengah desa. Arok maju tanpa ragu-ragu ke rumah, kemu­dian ber­ba­lik dan meme­riksa kan­dang. Hanya seekor anak kerbau men­de­kam ter­can­cang sen­di­r­ian. Ia periksa tong­gak-tong­gak pen­can­cang dan meme­riksa keli­cin­an­nya. Ia tahu sudah lama kan­dang ini telah diting­gal­kan oleh rom­bongan besar ternak yang dulu. Ia kitari rumah sambil memang­gil-mang­gil pelan Ia dengar ambin di dalam ber­ke­rait. Kemu­dian suara:

“Suara siapa itu yang memang­gil-mang­gil kalau bukan suara anakku?”

“Akulah ini, Mak, anakmu.”

“Temu, anakku?”

“Temu, Mak.”

Pintu depan itu ter­buka.

“Temu? Temu? Di mana, kau?”

Arok men­ja­tuh­kan diri di hadapan perem­puan yang belum lagi dili­hat wajah­nya itu, merang­kul kaki kanan­nya. Wanita itu ber­lu­tut dan men­ci­umi muka Arok.

“Aku tahu pada suatu kali kau akan datang,” ia mena­ngis. “Keter­la­luan, kau, begitu lama baru kem­bali ...”

Arok ber­diri dan mem­bo­pong emak­nya masuk ke rumah Dari sinar damar ia lihat wanita itu bukan seo­rang ibu muda yang dulu, tetapi telah tua dengan muka telah dir­u­sak oleh usia.

“Mak, aku tak mengira kau meng­ha­rap­kan keda­tanganku.”

“Ter­lalu! Ter­lalu!” Ia ter­hi­sak-hisak. “Dua puluh tahun yang lalu, Temu ... Selalu aku gur­is­kan tanda-tanda tahun pada tiang ... Kau mulai meng­i­sap dadaku ... Ya dewa, meng­apa tak kau kelu­ar­kan air dari dadaku untuk anak ini? Biar­pun begitu kaulah satu-satu­nya anakku, ah, Brah­ma­putra, Brah­ma­putra

“Emakku, emakku sen­diri,” Arok meng­a­yun-ayun­kan Nyi Lem­bung dalam bopongan.

Wanita itu tak dapat ber­buat sesu­atu kecu­ali mena­ngis.

“Kau tidak sayang padaku, Temu.”

“Inilah sahaya datang.”

“Kau biar­kan aku sen­di­r­ian selama ini.”

“Ah, emak, emakku sen­diri,” ia letak­kan nyi Lem­bung di atas ambin, dan wanita itu merang­kul­nya, seakan takkan dile­pas­kan untuk selama-lama­nya. “Kalau emak mau aku bawa...”

“Hendak kau bawa ke mana emakmu ini?”

“Ke mana saja emakku suka.”

“Begitu kecil kau datang ke rumah ini, seka­rang ... Bukan tangis kedi­nginan yang ter­de­ngar,” ia ter­henti untuk mele­pas­kan hisak­nya. “Kau tidak diganggu pra­ju­rit tadi?”

“Pra­ju­rit, Mak? Anakmu ini juga pra­ju­rit, Mak.”

“Pra­ju­rit?!” Nyi Lem­bung mele­pas­kan peluk­an­nya, turun dari ambin dan meng­a­wasi Arok dari sesu­atu jarak. “Pra­ju­rit? Ikut mem­bu­nuh bapakmu sen­diri?”

“Ampun, Mak, tidak, bukan pra­ju­rit Tuma­pel,” ia dekati Nyi Lem­bung, dan wanita tua itu meng­hin­dar­i­nya. “Meng­apa, Mak?”

“Jangan sentuh aku.”

Tapi Arok telah mem­bo­pong­nya lagi, ber­bi­sik:

“Bukan pra­ju­rit Tuma­pel, Mak, bukan.”

“Bapakmu mereka bunuh di desa Kidal, Temu, tidak pernah kem­bali lagi, sudah lima tahun ber­se­lang,” ia mulai mena­ngis lagi.

“Diam, Mak, aku sudah dengar. Inilah anakmu yang akan mem­ba­las­kan dendam brah­ma­put­ramu, Mak.”

Nyi Lem­bung dalam bopongan itu meme­luk leher anak­nya:

“Aku per­caya, anakku akan laku­kan itu.”

“Mari, Mak, aku bawa kau ke tempat lain.”

“Tidak, Temu, tem­patku di sini. Kau saja yang sering datang ke mari.”

“Anak kerbau siapa yang di kan­dang, Mak?”

“Pra­ju­rit punya, aku yang diha­rus­kan meme­li­ha­ra­nya.”

“Kurang­a­jar! Aku bunuh anak kerbau itu, Mak.”

“Jangan. Aku tetap ting­gal di sini, Temu.”

“Siapa meme­li­hara Mak kalau sakit?”

“Tak pernah sakit.”

“Bagai­mana makan­nya?”

“Apa saja yang bisa dima­kan”

“Mari aku bawa, Mak.”

“Tidak. Biar aku mati di desa ini, Temu.”

“Mak, ayam sudah pada ber­ke­ru­yuk, Seben­tar lagi matari terbit.”

“Ya, per­gi­lah kau. Sering-sering kau datang ke mari...”

Gerakan para bia­ra­wan dan bia­ra­wati di selatan Tuma­pel mulai meram­bat dengan cepat sampai ke kaki Gunung Semeru dan kaki Gunung Kawi serta dataran tinggi Kelud. Balat­en­tara Tuma­pel dike­rah­kan ke tiga jurusan untuk mema­dam­kan pem­be­ron­takan. Pra­ju­rit-pra­ju­rit yang ditem­pat­kan di desa-desa dita­rik ke selatan, teng­gara dan barat-daya.

Gerakan itu kemu­dian ber­padu dengan gerakan Arok, keku­a­saan setem­pat dan kaum petani peng­a­nut Syiwa.

Kediri, yang murka karena per­bu­atan Tung­gul Ame­tung, men­jadi sibuk. Kre­ta­jaya hampir-hampir men­ja­tuh­kan perin­tah untuk menying­kir­kan Tung­gul Ame­tung. Tetapi sidang negara memu­tus­kan lain: Biar Akuwu Tuma­pel menye­le­sai­kan pem­be­ron­takan-pem­be­ron­takan itu, untuk kemu­dian Bela­kangka akan menye­le­sai­kan bagian yang ter­a­khir. Mahisa Walungan. Adik Sri Baginda, telah dise­but-sebut untuk meng­gan­ti­kan peme­gang keku­a­saan Tuma­pel.

Tiga kede­ma­ngan di kaki Gunung Semeru ter­nyata tak dapat dipa­dam­kan oleh Tung­gul Ame­tung. Separoh dari pasuk­an­nya binasa. Ia sen­diri memim­pin perang penin­dasan di Gunung Kawi dan dataran tinggi Kelud. Di sini pun ia ter­paksa mundur. Lawan­nya telah meng­gu­na­kan alat sen­jata baru yang belum pernah dike­nal sebe­lum­nya: pelem­par anak panah yang bisa mele­pas­kan tiga kali lebih cepat.

Kede­ma­ngan-kede­ma­ngan di tiga tempat ter­se­but akhir­nya tak diu­rusi­nya lagi. Ia kem­bali ke Kuta­raja dan menge­lu­ar­kan perin­tah pada semua desa dalam kawas­an­nya untuk menye­rah­kan dua ratus orang calon pra­ju­rit, beru­mur antara tujuh­be­las dan dua puluh tahun.

Tidak semua desa mampu meme­nuhi jatah. Pemuda-pemuda yang ter­pang­gil banyak yang mela­ri­kan diri, masuk ke hutan dan meng­ga­bung­kan diri dengan keku­atan Arok. Juga lurah-lurah yang takut kena hukuman dengan senang hati mening­gal­kan desa­nya, meng­ungsi ke Gresik, Kediri atau ber­ga­bung dengan Arok.

Menge­ta­hui maksud Kediri ter­ha­dap dir­i­nya, ia mem­per­kuat pasukan penga­wal, dan meng­am­bil semua pra­ju­rit Tuma­pel yang ter­baik ke Kuta­raja. Untuk itu ia harus lebih banyak men­da­pat­kan perak untuk mem­bi­a­yai mereka. Ia sen­diri sudah mulai kehi­langan keper­ca­yaan akan keku­a­sa­an­nya sen­diri suatu hal yang mem­bi­kin kera­ku­san­nya akan emas sema­kin men­jadi-jadi. Ren­cana telah masak dalam hati­nya: bila semua tak dapat diper­ta­han­kan lagi, ia akan lari ke utara dalam penga­walan kuat, mem­bawa emas dan Dedes.

Ia tak pernah lagi mening­gal­kan Kuta­raja. Juga tidak mening­gal­kan peku­wuan. Ten­tara baru sejum­lah tujuh ribu lima ratus itu belum meng­gem­bi­ra­kan hati­nya. Lima ratus di anta­ra­nya dike­rah­kan­nya untuk men­jaga kea­manan garis antara Kuta­raja dengan pen­du­langan emas.

Sikap­nya ter­ha­dap Dedes sema­kin hari sema­kin lunak. Hanya pada brah­mani itu ia mele­tak­kan harapan kebe­saran di kemu­dian hari. Ia mewa­jib­kan diri mem­per­ca­yai ramalan resi candi Erlangga di Belahan. Tanpa keper­ca­yaan itu segala-gala­nya akan hilang dari­pa­da­nya.

Ia sengaja tidak meng­ganti Rimang dengan siapa pun. Dan ia tak biar­kan Ken Dedes men­da­pat­kan teman yang pasti akan dapat disu­r­uh­nya untuk men­cari kete­rangan.

Ter­ha­dap Bela­kangka ia sudah mema­tok­kan keten­tuan: bila kea­daan sudah tak dapat diper­ta­han­kan, ia akan mem­bi­na­sa­kan-nya untuk meme­nang­kan bebe­rapa hari sebe­lum balat­en­tara Kediri sempat mema­suki Tuma­pel. Tetapi semua mata-mata­nya tidak pernah men­da­pat­kan siapa-siapa pem­ban­tu­nya. Kemu­dian tiba pukulan yang tak ter­e­lak­kan itu.

Malam itu Oti lari dari gubuk mening­gal­kan sua­mi­nya yang telah dilum­puh­kan oleh lima orang jajaro. Ia lari menye­ber­a­ngi padang batu. Tak diin­dah­kan­nya kaki­nya yang telah ber­da­rah-darah.

Ia lari ke tempat Gusti Putra. Tanpa meng­in­dah­kan tata­cara ia daki tangga, men­dob­rak pintu loteng dan men­ja­tuh­kan diri di hadapan sil­pa­sas­tra­wan yang sedang mem­bi­kin per­hi­tungan di atas selem­bar rontal.

“Ampun, Gusti, sahaya mohon per­lin­dungan.”

“Bukan­kah kau ini Oti?”

“Inilah sahaya, Gusti.”

“Apakah sua­mimu tak mampu melin­dung­imu?”

“Sudah jatuh meng­ge­le­tak, Gusti, tolong­lah dia.”

Gusti Putra bang­kit dari tempat duduk, meng­gu­na­kan ikat ping­gang dan mema­sang pedang­nya. Ia ambil dua pucuk tombak:

“Mari,” dan dise­rah­kan sepu­cuk pada Oti. “Boleh­kah sahaya ikut ber­ke­lahi, Gusti?”

“Mari bantu aku.”

Oti mene­rima tombak itu, mata­nya mena­tap Gusti Putra.

“Hanya kau dan aku yang bisa meno­long­nya. Tak ada orang lain bisa diha­rap­kan. Ayoh!”

Mereka mema­ti­kan damar, menu­runi tangga dan lari melin­tasi padang batu.

Pada malam itu juga pasukan Arok, diper­kuat oleh barisan bia­ra­wan dan bia­ra­wati dan para petani Syiwa, menyi­siri hutan seling­karan pen­du­langan. Mereka melang­kah seta­pak demi seta­pak untuk mene­mu­kan sarang jajaro. Gua-gua mereka dite­mu­kan kosong.

Umang, dalam sema­ngat untuk mem­be­bas­kan ayah­nya, selalu men­jadi panah barisan wanita.

Dan pasukan itu ber­ge­rak dalam kege­lapan seperti gelom­bang kucing malam. Tak ada seo­rang pun yang pernah meng­in­jak tempat ini. Tetapi jalan-jalan seta­pak jajaro sen­diri yang mem­beri petun­juk lalu­lin­tas mereka.

Atas perin­tah Arok Tanca selalu men­dam­pingi Umang. Mereka men­da­pat­kan seo­rang jajaro sedang mema­sak di depan guanya.

Umang meng­a­cu­kan tombak pada dada­nya. Orang itu ter­ke­jut. Waktu meme­kik Tanca menye­pak mulut­nya. Ia jatuh ber­gu­ling dan men­ca­but parang. Umang mema­suk­kan tombak pada iga-iganya. Orang itu men­coba mera­ung. Mulut­nya nampak besar dan gelap seperti gua.

Gerakan selan­jut­nya juga tidak mene­mu­kan jajaro lagi.

Lewat tengah malam mereka sema­kin meng­ham­piri pen­du­langan. Mulai dite­mu­kan bebe­rapa orang jajaro. Per­la­wanan hampir-hampir tidak ada. Mereka men­duga akan tetap aman dalam kera­ja­an­nya dalam hutan.

Bia­ra­wan dan bia­ra­wati, yang meng­erti pen­du­langan adalah sumber keku­atan pen­ting bagi keku­atan Tung­gul Ame­tung, ber­ge­rak cepat dan tidak ragu-ragu meng­gu­na­kan sen­ja­t­a­nya: pelem­par panah cepat itu.

Sebuah bayang-bayang gelap ber­ge­rak-gerak di balik batu besar. “Orang Gusti,” Oti mem­per­i­ng­at­kan. “Siapa itu!” Gertak Putra.

Bayang-bayang itu mengi­tari batu ber­lin­dung diri. “Budak atau jajaro?” Orang itu lari

“Kalau jajaro aku lempar kau dengan tombak.” Bayang-bayang itu ber­henti

“Sini.”

Bayang-bayang itu tidak mau datang, Gusti Putra meng­ham­piri.

Pedang­nya dita­rik­nya dari sarong. “Budak atau jajaro?”

“Budak,” jawab suara perem­puan.

“Oti, bawa sau­dara ini. Siapa namamu?”

“Rimang.”

“Meng­apa di sini?”

“Setiap malam sahaya ber­se­m­bu­nyi di ladang batu. Gusti, ah. Gusti Putra, beribu teri­ma­ka­sih Gusti sudi datang begini.”

“Takut pada jajaro?”

“Siapa tidak takut, Gusti?” Jawab Oti.

“Mereka datang ber­ge­lom­bang-gelom­bang, hampir setiap malam. Cela­ka­lah wanita-wanita muda itu harus mela­yani empat sampai enam orang.”

“Dewa Bat­hara, aku tak pernah keluar malam.”

“Inilah barang­kali Rimang pengiring Yang Mulia Para­mesy­wari, Gusti.”

“Benar, Gusti, juga bekas selir Yang Mulia Akuwu.”

“Jagad Dewa! Nanti kita bica­ra­kan lagi. Mari!”

Mereka ber­ja­lan ber­ge­gas.

“Inilah gubuk sahaya.”

“Mundra!” Seru Gusti Putra.

“Inilah sahaya, Gusti, malu sahaya tidak bisa mem­bela diri ter­ha­dap mereka. Oti! Oti, kau sela­mat?”

“Mana jajaro itu?”

“Sudah pergi lagi, Gusti, ke gubug-gubug lain “ “Tolong sua­mimu itu, Oti. Rimang, kau ikut deng­anku. Bawa tombak Oti.”

Mereka ber­ja­lan dan men­de­ngar-deng­ar­kan dari gubuk ke gubuk. Pada sebuah gubuk mereka men­de­ngar seo­rang wanita merin­tih. Gusti Putra ber­bi­sik pada Rimang:

“Tombak siapa saja yang nanti keluar. Aku masuk.”

Ia mema­suki gubuk itu dan dengan tangan meng­ge­ra­yangi kea­daan di dalam. Suatu raungan lelaki telah mema­dam­kan rin­tihan.

“Pasang damar!” Perin­tah Gusti Putra pada Rimang yang menunggu di luar.

Rimang masuk

“Tidak ada sahaya bawa pem­bang­kit api. Gusti.” Men­de­ngar raungan, bebe­rapa orang jajaro ter­de­ngar men­da­tangi. Gusti Putra mena­rik tangan Rimang, ber­bi­sik: “Keluar kita, Rimang.”

Di depan gubuk mereka meli­hat bayang-bayang lima orang mem­bawa parang telan­jang.

“Gusti Putra di sini. Pang­gil kepa­lamu kemari!”

Lima orang jajaro itu menye­rang ber­ba­reng ke arah datang­nya suara, mem­be­lah din­ding gubuk. Dengan pedang­nya Gusti Putra mem­ba­bat dua orang di anta­ra­nya, lang­sung jatuh men­je­lem­pah di tanah.

Tombak di tangan Rimang jatuh ke tanah. Ia sen­diri pun jatuh. Kaki­nya geme­tar kehi­langan tenaga.

Tiga orang jajaro itu menye­rang Gusti Putra.

Dengan meng­e­lak­kan serangan sil­pa­sas­tra­wan itu meme­kik-mekik meme­rin­tah:

“Mundur kalian! Pergi! Pang­gil kepa­lamu ke mari.”

Mereka tidak meng­gub­ris.

“Kalian mela­wan Gusti Putra, mela­wan perin­tah Sang Akuwu. Kem­bali! Kem­bali ke sarang kalian!”

Per­ke­la­hian dalam kege­lapan itu ber­pin­dah-pindah dari depan ke sam­ping gubuk. Dan Rimang, yang malu pada kele­mah­an­nya sen­diri mulai merang­kak ber­diri, meng­am­bil tombak dan bisik­nya:

“Ya Maha­dewa, beri aku keku­atan.”

Dengan tom­bak­nya ia tikam seo­rang jajaro dari bela­kang. Sekali lagi raungan ter­de­ngar, jajaro yang dua orang itu tak dapat lagi memu­sat­kan per­ha­tian, kemu­dian lari mening­gal­kan tiga orang teman­nya.

“Pergi dari sini kita, Rimang, seben­tar lagi mereka akan datang dalam jumlah sangat besar, orang-orang buas itu,”

Pasukan bia­ra­wan dan bia­ra­wati itu maju lebih cepat dari­pada yang diduga. Mereka ber­henti di ping­giran ladang batu Tanca, Umang dan pasuk­an­nya ter­sa­sar men­ja­uhi pen­du­langan. Kemu­dian mereka menem­puh jalan kem­bali karena sema­kin tak men­de­ng­ar­kan suara-suara isya­rat.

Waktu Arok sampai di tepi padang batu ia perin­tah­kan mem­be­ri­kan isya­rat. Pasukan bia­ra­wan-bia­ra­wati dan petani itu sudah men­ja­wab dari sebe­lah kanan. Tanca dan Umang belum ter­de­ngar. Ia perin­tah­kan lima orang untuk men­ca­ri­nya.

Bulan tua mulai muncul dari atas hutan, men­de­sak kemut­la­kan kege­lapan. Mereka mulai dapat meli­hat bayang-bayang ber­gen­ta­yangan di padang batu, di depan gubug-gubug, juga suara-suara manu­sia.

Bulan itu naik sejeng­kal lagi dan pasukan Umang-Tanca baru ter­de­ngar mem­be­ri­kan isya­rat.

Serom­bongan jajaro nampak ber­ja­lan tenang-tenang hendak pulang ke guanya masing-masing.

Tiga pasukan di tepi ladang batu itu ber­so­rak. Rom­bongan jajaro itu lari menyerbu. Arok, yang meng­erti mereka tidak tahu kri­da­gama5 dan tugas­nya memang bukan untuk ber­tem­pur, mem­bi­ar­kan mereka maju. Sorak mereka ber­ge­lom­bang-gelom­bang lagi. Semua jajaro mening­gal­kan gubuk-gubuk dan ber­la­rian ke arah datang­nya sorak.

Pasukan panah cepat dari barisan bia­ra­wan-bia­ra­wati mulai meng­hu­jani dengan jarum bambu maunya. Lima belas orang jajaro itu lari balik mening­gal­kan bebe­rapa orang korban, meng­ga­bung­kan diri dengan rom­bongan besar­nya.

Seka­rang pasukan jajaro itu mera­ung ber­ba­reng, mem­ben­tuk garis pan­jang. Tetapi hanya dengan tombak dan parang mereka tak meng­erti bagai­mana harus meng­ha­dapi anak panah. Mereka masih tetap mera­ung-raung dengan suara bolong dan ter­de­ngar aneh, seperti keluar dari rongga mulut macan.

Pasukan tak dike­nal yang ber­diri di tepi padang batu di ping­giran hutan itu lari mening­gal­kan tempat, mema­suki padang di depan­nya dan men­de­sak pasukan jajaro. Empat ratus orang jaja buyar meme­cah diri, seperti seke­lom­pok lebah dilem­par batu.

“Semua budak bebas mulai hari ini!” Teriak Arok.

“Semua budak bebas!” Pekik ber­sama.

“Han­cur­kan jajaro!”

“Han­cur­kan!”

Bebe­rapa jajaro nampak mem­bu­ang sen­jata dan men­coba lari mema­suki hutan Tetapi tombak teman­nya sen­diri selalu menyam­bar­nya dengan tepat.

Panah-panah beter­bangan. Mereka mundur dan mundur. Di bela­kang mereka para budak nampak sedang kebi­ngungan dan mela­ri­kan diri ke arah sungai.

“Han­cur­kan jaguar itu!” Pekik Arok.

Budak-budak yang lari itu sete­ngah­nya ber­henti.

“Kalian bebas. Seka­rang juga. Han­cur­kan jajaro!”

Selu­ruh pasukan Arok lari menge­jar. Para jajaro mulai mem­bu­yar lebih tipis dengan raungan hewan.

Dan budak-budak itu mulai melem­pari para jajaro dengan batu. Ter­je­pit oleh dua keku­atan mereka kemu­dian ber­ba­lik, mener­jang pagar budak dengan parang dan tombak dan mela­ri­kan diri ke arah Kali Kanta, tanpa ber­la­wan.

Gusti Putra mena­rik tangan Rimang dan diba­wa­nya lari pulang ke rumah pang­gung­nya. Kaki mereka telah ber­da­rah-darah, Sil­pa­sas­tra­wan itu menya­la­kan damar. Bercak-bercak darah dari kaki kedu­a­nya mem­be­kasi lantai gela­dak, “Sudah, kau sem­bu­nyi saja di sini.”

“Jajaro tentu nanti datang kemari.”

“Bina­tang-bina­tang itu. Kau benar juga.”

Pada waktu itu mereka men­de­ngar sorak perang dari keja­uhan. Dan mereka men­de­ngar-deng­ar­kan suara aneh itu.

“Sorak, Rimang, bukan raungan Sesu­atu telah ter­jadi di Tuma­pel.”

“Kita turun saja, Gusti.”

Sorak itu ter­de­ngar lagi, ber­ge­lom­bang, ber­gema-gema “Bukan suara jajaro.”

Tak lama kemu­dian ter­de­ngar raungan sim­pang-siur pasukan jajaro.

“Memang sesu­atu sedang ter­jadi di Tuma­pel, Rimang. Mari bantu aku.”

Ia buka lemari batu dan menge­lu­ar­kan batangan-batangan emas dari dalam. Bolak-balik mereka menu­runi tangga. Kemu­dian mereka pikul batangan-batangan itu ke dalam hutan di bela­kang rumah. Barang dua ratus depa Rimang ber­henti, tak kuat mene­rus­kan. Nafas­nya sengal-sengal.

“Sampai di sini pun sudah baik. Kita angkut seper­em­pat­nya saja, Rimang, dan ditim­bun­nya yang tiga per­em­pat dengan lur­u­han deda­unan dan ran­ting.

Mereka ber­ja­lan terus, mela­lui jalan seta­pak jajaro. Tiga ratus depa kemu­dian Rimang ber­henti lagi, tak mampu mene­rus­kan.

“Baik. Kita ting­gal­kan jalan seta­pak. Bawa bebe­rapa potong ini,” sekali lagi Gusti Putra menim­bun sisa itu dengan lur­u­han daun.

Mereka mening­gal­kan jalan seta­pak, menem­puh jalan liar yang ditum­buhi semak-semak.

“Berani kau seo­rang diri di hutan ini? Biar aku ang­kuti sen­diri yang lain-lain.”

“Kita lupa mem­bawa sen­jata, Gusti.”

Sorak di keja­uhan itu ber­ge­lom­bang-gelom­bang lagi. Dan raungan jajaro tidak ter­de­ngar menyam­but.

“Jajaro itu lari, Rimang. Boleh jadi akan mem­bu­yar mela­lui tempat ini. Kita ber­se­m­bu­nyi saja, Rimang.”

Mereka mema­suki semak yang lebih rapat. Sekali lagi sorak ber­gema. Dari arah yang ber­ten­tangan ter­de­ngar aum macan.

Dan Rimang sen­diri tak berani ter­lalu dekat pada Gusti Putra. Ia tahu banyak cerita ten­tang kega­nasan orang-orang yang mengu­a­sai ter­lalu banyak emas. Boleh jadi ia akan diang­gap ter­lalu banyak tahu ten­tang raha­sia penyim­panan.

“Benar kau bekas selir Sang Akuwu?”

“Benar, Gusti.”

“Bagai­mana bisa sampai ke mari?”

“Yang Mulia sudah tidak memer­lu­kan, Gusti.”

“Kan tidak perlu sampai ke mari? Apa kesal­ah­anmu?”

“Ter­a­khir jadi pengiring Yang Mulia Para­mesy­wari.”

“Apakah Yang Mulia Para­mesy­wari jahat?”

“Tidak, Gusti. Yang Mulia berdua belum pernah rukun. Mung­kin karena itu sahaya ditu­duh meng­ha­sut.”

“Apakah Yang Mulia Para­mesy­wari seo­rang putri dari Kediri, Rimang?”

Sorak-sorai ber­talu-talu ter­de­ngar ber­gema-gema meng­ge­lom­bang, jauh lebih pan­jang-pan­jang dan terus-mene­rus.

“Jajaro itu kalah, Rimang. Raungan mereka tak ter­de­ngar sama sekali.”

“Sahaya, Gusti.”

Mereka diam-diam men­de­ng­ar­kan kalau-kalau ada pecahan jajaro yang menem­puh tempat mereka. Tak ada tanda-tanda.

“Apakah Yang Mulia Para­mesy­wari putri dari Kediri?”

“Tidak, Gusti. Hanya seo­rang pera­wan desa, anak brah­mana Mpu Parwa.”

“Jagad Dewa!” Sebut Gusti Putra. “Dedes?”

“Betul, Gusti.

“Tak mung­kin dengan rela orang tua atau dir­i­nya sen­diri.”

“Dicu­lik, Gusti.”

“Dicu­lik! Jagad Dewa!”

“Kenal­kah Gusti pada Yang Mulia?”

Gusti Putra men­de­ngus. Kemu­dian:

“Mari kita sela­mat­kan terus sisa emas itu.”

Rimang geme­tar. Pada akhir kerja ini tentu dibu­nuh­nya aku, pikir­nya, ia lak­sa­nakan perin­tah itu, mem­bawa sese­di­kit mung­kin dan men­ja­raki sejauh mung­kin.

Tiba-tiba ter­de­ngar sorak gemu­ruh, lebih keras, ber-gaung-gaung menyapu padang batu dan hutan.

“Mereka ber­so­rak gem­bira. Jajaro itu mung­kin sudah tumpas Tapi siapa kira­nya yang menyerbu? Pasti bukan balat­en­tara Tuma­pel. Ayoh, Rimang, lebih cepat.” Sinar matari pagi telah mulai menu­suki men­dung di sebe­lah timur. Batang-batang emas itu telah ter­ku­bur di dalam tum­pukan deda­unan dan ran­ting.

“Meng­apa kau selalu jauhi aku?”

“Ampun, Gusti. Jangan bunuh sahaya sete­lah mem­bantu kerja begini.”

“Gila! Siapa akan bunuh kau? Aku? Gila! Mari keluar hutan,” dan Gusti Putra melang­kah cepat mening­gal­kan Rimang.

Rimang ber­ja­lan lambat-lambat. Kalau ia tahu jalan pada saat ini juga ia akan mela­ri­kan diri. Tak ada jalan bagi­nya dari­pada meng­i­kuti Gusti Putra keluar dari hutan.

Semua budak, laki-perem­puan, tua-muda dan kanak-kanak ber­so­rak-sorai menyam­but keda­tangan pasukan pem­be­bas itu. Mereka semua dikum­pul­kan di padang batu.

Arok naik ke atas sebong­kah batu, ber­lu­tut dan meng­u­cap syukur kepada Maha­dewa. Semua meng­i­kuti con­toh­nya. Waktu ia ber­diri dili­hat­nya seke­lom­pok kecil budak lelaki mening­gal­kan rom­bong­an­nya, menye­lu­sup di balik-balik batu besar.

“Hayam, ikuti mereka dengan regumu,” perin­tah Arok. Kemu­dian pada semua budak yang hadir: “Mulai hari ini kalian bebas. Hanya jangan bubar dulu. Tidak lama lagi pasukan Tuma­pel akan datang meram­pas lagi tempat ini dan mem­per­bu­dak kalian kem­bali. Karena itu semua orang di antara kalian agar ber­siap-siap ber­tem­pur. Setuju?”

Sorak-sorai gemu­ruh menyam­but ajakan itu.

“Tumpas setiap pra­ju­rit Tuma­pel.”

“Tak ada sen­jata pada kami!” Teriak sese­o­rang.

“Kalian mem­bantu pasukan yang akan diting­gal­kan di sini. Setuju?” Ia menu­ding ke arah sayap kanan­nya: pasukan

Bia­ra­wan-bia­ra­wati dan petani selatan Tuma­pel. “Bantu mereka seperti mem­bantu sau­dara-sau­da­ramu sen­diri. Meng­erti?”

“Meng­erti.”

“Siapa di antara kalian ber­nama Bango Sam­pa­ran?”

“Ki Bango! Ki Bango!” Orang ber­seru-seru memang­gil. Dari tengah-tengah kum­pulan budak itu keluar seo­rang lelaki jang­kung yang sudah mulai agak bong­kok, ber­ja­lan dengan lang­kah tegap maju meng­ham­piri Arok. “Inilah Bango Sam­pa­ran, Yang Mulia!” Arok melom­pat turun dari batu, ber­su­jud dan men­cium kaki­nya. Ki Bango melang­kah mundur kemu­dian juga ber­lu­tut men­cium tanah.

“Biar­lah aku memu­li­a­kan kau, Bapak. Inilah anakmu, anakmu sen­diri si Temu.”

“Jagad pra­mu­dita! Temu? Temu anakku?” Berdua mereka bang­kit dan berang­kul-rang­kulan. Arok memim­pin Ki Bango Sam­pa­ran naik ke atas batu.

“Inilah Ki Bango Sam­pa­ran, bapakku. Hor­mati dia seperti kalian meng­hor­mati aku, karena seben­tar lagi aku akan ting­gal­kan tempat ini. Bapakku ini akan memim­pin kalian. Jangan kalian ting­gal­kan tempat ini sebe­lum pasukan Tuma­pel nanti dapat dika­lah­kan. Semua masuk ke dalam hutan.” Ia diam seben­tar dan mene­bar­kan pan­dang ke keli­ling. Dengan lam­baian tangan ia mem­beri isya­rat pada Umang di sayap kiri untuk maju mene­mui bapak­nya.

Sayap kiri yang ter­diri dari wanita ber­ca­wat dengan hanya seo­rang lelaki, Tanca, maju serem­pak dan meng­ang­kat sembah pada Ki Bango Sam­pa­ran “Bapak, inilah Umang.”

Tanca menyo­r­ong Umang naik ke atas batu. Dan Umang mena­ngis, ter­sedu-sedu. Ia ting­gal­kan ombak­nya pada Tanca Budak-budak itu maju meling­kari batu itu, ber­ta­nya satu pada yang lain.

“Inilah pra­ju­rit wanita yang juga mem­be­bas­kan kalian.

Umang, anak darah Ki Bango Sam­pa­ran. Aku bukan anak darah, hanya anak pungut.”

Ki Bango Sam­pa­ran meme­luk Umang dengan tangan satu dan meme­luk Arok dengan tangan yang lain.

“Kami ber­tiga ber­temu di padang per­bu­dakan ini Harap kalian meng­i­ngat-ingat ini: per­bu­dakan tidak aku benar­kan Siapa pun tidak dibe­nar­kan untuk men­ja­di­kan sau­da­ra­nya sen­diri dan bukan sau­da­ra­nya sen­diri men­jadi budak.”

“Ki Bango Sam­pa­ran telah men­ja­di­kan sahaya jadi budak,” seo­rang meng­adu.

“Juga sahaya jadi budak karena dia.”

“Sahaya juga.”

“Maka itu Ki Bango Sam­pa­ran juga dija­di­kan budak oleh orang lain. Untuk selan­jut­nya tak boleh ter­jadi lagi, baik karena judi, hutang maupun tak kuat mem­ba­yar upeti. Kalian meng­erti? Maaf-mema­af­kan kalian mulai hari ini. Nah, bera­mahta-mahan kalian seka­rang dengan semua pra­ju­rit yang telah mem­be­bas­kan kalian!”

Budak-budak itu bere­butan dulu untuk men­cium kulit Arok. Juga Umang men­cium tangan Arok. Kemu­dian juga Ki Bango meng­i­kuti contoh orang banyak.

Arok turun dari batu mema­suki tengah-tengah kaum budak. Orang sema­kin rapat untuk dapat men­cium kul­it­nya. Dengan lam­baian tangan ia perin­tah­kan semua pra­ju­rit untuk mera­mahi mereka.

Dan pesta keri­angan pun dimu­lai dengan tari dan nyanyi Ratusan mulut meni­ru­kan suara game­lan sambil menari....

Dengan regu­nya Hayam meng­i­kuti bebe­rapa orang budak lelaki yang memi­sah­kan diri dari rom­bong­an­nya, lari ber­ce­pat-cepat menuju ke rumah pang­gung Gusti Putra.

Mereka lihat budak-budak itu terus lari tanpa mem­per­ha­ti­kan keli­ling, naik ke tangga dan hilang di dalam pang­gung. Tak lama kemu­dian mereka turun lagi. Dua orang di anta­ra­nya kini mem­bawa tombak, seo­rang mem­bawa pedang. Mereka ber­pen­caran ke seke­li­ling rumah.

Regu Hayam makin men­de­kat dan men­de­ngar:

“Cari sampai dapat!”

Dan ia lihat seo­rang pung­gawa keluar dari hutan di bela­kang rumah. Budak-budak itu segera menang­kap­nya. Tombak dia­cu­kan pada dada­nya. Sece­pat kilat pung­gawa itu telah ter­pe­lin­tir tangan­nya ke bela­kang badan.

“Kau simpan di mana semua emas itu?”

“Di atas!” Raung Gusti Putra, ditu­ju­kan pada regu ber­sen­jata yang men­da­tangi.

Regu Hayam lari men­de­kati.

Dua orang ber­tom­bak dan seo­rang ber­pe­dang itu meng­ha­dang regu pem­be­bas, meng­an­cam:

“Kalian orang-orang desa, jangan ganggu kami. Jumlah kalian memang besar, tapi jangan coba mela­wan bekas pra­ju­rit Tuma­pel, biar jum­lah­nya kecil.”

“Apa yang kalian per­teng­kar­kan?” Tanya Hayam.

“Orang-orang ini meng­hen­daki emas,” sebe­lum Gusti Putra menye­le­sai­kan kata-kata­nya mulut­nya telah kena hujan tinju, dan ter­bi­su­kan. Darah meng­u­cur.

“O, itu?” Sambut Hayam. “Kalau begitu kalian ini mau meram­pok emas kami?”

“Emasmu?”

“Serbu mereka!” Perin­tah Hayam. Gusti Putra dile­pas dari pelin­tiran tangan Dengan tombak Hayam menyerbu. Dalam hujan tombak yang dilem­par­kan rom­bongan kecil budak itu kewa­lahan. Bebe­rapa orang telah men­je­lem­pah tanpa bisa mem­ba­las. Kemu­dian mela­ri­kan diri ber­pen­caran ke segala pen­juru. “Siapa kau?” Tanya Hayam pada pung­gawa itu. “Gusti Putra, pengu­rus semua peker­jaan di sini.”

“Budak-budak itu mena­nya­kan di mana emas disim­pan.”

“Betul. Bawalah aku pada pemim­pinmu yang ter­tinggi” “Di mana kau simpan emas itu?”

“Hanya pada pemim­pinmu yang ter­tinggi akan kusam­pai­kan.

“Baik,” dipe­rin­tah­nya bebe­rapa orang anak buah­nya untuk men­jem­put Arok.

Hayam naik ke pang­gung, meme­riksa semua lontar per­hi­tungan. Gusti Putra meno­long menyu­sun­kan. Hayam melongok pada jen­dela ber­kisi-kisi, ber­ta­nya ke bawah:

“Apa ribut-ribut di bawah itu?”

“Perem­puan, Hayam.”

“Rimang,” kata Gusti Putra, “bekas pengiring Para­mesy­wari Tuma­pel.”

“Ah? Suruh dia naik,” ia mene­rus­kan baca­an­nya. “Aku lihat ada tiga puluh ribu saga. Benar?”

“Benar. Hanya tidak akan dika­ta­kan di mana ditem­pat­kan.”

“Baik ada wak­tu­nya sen­diri untuk menga­ta­kan. Bakar semua per­hi­tungan itu,” perin­tah Hayam. “Tiga puluh ribu saga. Jangan lupa.”

Rimang naik ke atas waktu Gusti Putra mem­ba­kar rontal-rontal per­hi­tungan.

“Jadi sepu­luh ribu saga yang ter­se­dia,” Hayam menin­das dengan sua­ra­nya. “Kalau yang sepu­luh ribu itu tidak ada kepa­lamu ter­gan­tung-gan­tung di ujung pedang,” ia ber­pa­ling pada Rimang yang duduk di lantai. “Bekas pengiring Para­mesy­wari?”

“Sahaya.”

“Lari waktu dike­jar-kejar jajaro, men­cari per­lin­dungan kemari,” Gusti Putra mene­rang­kan, “kemu­dian kami berdua ber­se­m­bu­nyi dalam hutan.”

“Dengar, Gusti Putra, tidak lama lagi pasukan Tuma­pel akan mela­ku­kan serangan pem­ba­lasan. Kau ber­pi­hak pada siapa?”

“Aku pun seo­rang budak.”

“Baik. Sam­pai­kan nanti pada pemim­pinku. Jangan salah ucap. Dan kau, Rimang, sudah lama kau jadi budak di sini?”

“Belum lagi lama.”

“Kau akan dibawa nanti oleh pemim­pinku. Ber­siap-siap kau. Per­ja­lanan akan sangat jauh.”

“Sahaya.”

Matan makin meninggi. Arok datang dalam iringan pasukan, didam­pingi oleh Umang dan Tanca. “Sepu­luh ribu saga ter­se­dia, Arok.”

Arok tak men­ja­wab. Dengan pan­dang mata­nya ia seli­diki selu­ruh ruangan. Hayam men­ce­ri­ta­kan segala yang telah ter­jadi.

“Berapa bekas pra­ju­rit Tuma­pel dibu­dak­kan di sini?” Tanya­nya pada Gusti Putra.

“Empat puluh.”

“Perin­tah­kan meng­him­pun semua mereka dan giring kemari.”

Hayam turun.

“Lak­sa­nakan olehmu sen­diri,” perin­tah Arok. Ia men­je­nguk ke jen­dela meli­hat Hayam pergi ber­sama regu­nya. “Kau, perem­puan, kata­kan padaku apa yang diper­ca­kap­kan Hayam dengan Gusti Putra.”

Dan Rimang men­ce­ri­ta­kan.

“Apa saja yang telah kau lihat?”

Dan Rimang men­ce­ri­ta­kan.

“Gusti Putra, lihat, tidak mung­kin suatu per­hi­tungan bisa meng­ha­sil­kan tepat sepu­luh ribu saga.”

“Sahaya hanya men­ja­lan­kan perin­tah.”

“Perin­tah Hayam?”

Arok meng­ham­piri Gusti Putra dan mena­rik­nya ke jen­dela. “Ceri­ta­kan semua, sebe­lum pasukan Tuma­pel datang menye­rang kem­bali.”

“Lin­dung­i­lah sahaya.”

“Bukan hanya aku lin­dungi, selu­ruh peker­jaan ini terus­kan pengu­rus­an­nya. Hanya mereka tidak seba­gai budak. Beri­kan upah yang men­jadi hak mereka. Atau kau yang ber­tin­dak mem­beli hasil mereka. Ter­se­rah padamu. Hanya sebe­lum pasukan Tuma­pel datang, semua harus ikut ber­ke­lahi.”

“Bagai­mana sahaya harus pang­gil pim­pinan ter­tinggi?” Arok ter­tawa.

“Aku ber­a­sal dari sudra, ber­laku satria, ber­hati brah­mana Pang­gil sesuka hatimu.”

“Sia­pa­kah nama pim­pinan ter­tinggi?”

“Ceri­ta­kan semua yang perlu aku keta­hui.”

“Ber­sama Rimang telah kami sem­bu­nyi­kan hasil emas yang ada. Menu­rut per­hi­tungan rontal tiga puluh ribu saga. Ampun, harap sahaya dilin­dungi dari pem­ba­lasan Hayam.”

“Urus­anku. Kata­kan semua.”

Sil­pa­sas­tra­wan itu mela­por­kan ten­tang pem­bi­kinan candi dalam per­si­apan.

“Dan Lihat­lah, Pim­pinan Ter­tinggi, semua regol atas dari pang­gung ini adalah emas belaka, dila­pis kayu.”

“Meng­apa kau sem­bu­nyi­kan dari Tung­gul Ame­tung?”

“Sil­pa­sas­tra­wan hampir semua dikor­bankan pada waktu candi sele­sai didi­r­i­kan. Raja-raja itu tak dapat meneng­gang bila orang lain mem­buat juga candi dengan tangan ahli yang sama, apa­lagi sama dalam segala peren­ca­naan dan peng­ga­rapan.”

“Meng­apa kau mau jadi sil­pa­sas­tra­wan?”

“Sejak dahulu telah diatur oleh raja-raja, maka setiap Sil­pa­sas­tra­wan selalu ber­a­sal dari sudra.”

“Jadi semua sil­pa­sas­tra­wan tak pernah ada yang jujur pada raja­nya?”

“Mereka ber­u­saha lari sebe­lum candi sele­sai diba­ngun.”

“Tung­gul Ame­tung tak memer­lu­kan candi,” sambar Arok. “Mayat­nya cukup diba­kar dan dise­bar­kan di Bran­tas.”

“Teri­ma­ka­sih, Pim­pinan Ter­tinggi,” jawab Gusti Putra.

“Kau tidak akan dibu­nuh, karena aku tidak perlu dican­di­kan seba­gai sudra. Juga Tung­gul Ame­tung ber­a­sal dari sudra “

“Teri­ma­ka­sih. Adapun semua emas yang Pim­pinan Ter­tinggi telah periksa sen­diri sahaya per­se­m­bah­kan. Setiap budak akan mem­be­nar­kan sahaya. Sisa­nya Rimang tahu di mana kami telah menyem­bu­nyi­kan.”

“Baik. Urus semua peker­jaan dengan baik, karena kami akan segera pergi lagi.”

Pasukan Arok dita­rik selu­r­uh­nya dari pen­du­langan. Para bekas budak telah diper­sen­ja­tai untuk mem­per­ta­han­kan daerah kerja mereka sen­diri. Para bekas pra­ju­rit Tuma­pel yang dibu­dak­kan telah diku­rung, dan mereka yang men­coba meram­pas emas dari Gusti Putra ditum­pas, dua orang ber­ha­sil mela­ri­kan diri.

Pasukan Arok ditem­pat­kan di selatan kota. Seo­rang bekas pra­ju­rit telah diha­dap­kan kepa­da­nya, men­da­pat perin­tah untuk meng­ha­dap Tung­gul Ame­tung ten­tang penye­rangan dan peram­pasan daerah pen­du­langan. Tetapi orang itu tidak meng­ha­dap, mela­ri­kan diri mening­gal­kan Tuma­pel, pergi ke Kediri.

Dari mata-mata­nya di Kediri Tung­gul Ame­tung men­de­ngar, bahwa sumber emas­nya telah dir­am­pas oleh pasukan pem­be­ron­tak. Dengan serta merta ia perin­tah­kan men­jem­put Dang Hyang Loh­gawe dengan kereta yang dita­rik oleh empat ekor kuda. Tetapi Loh­gawe menya­ta­kan belum lagi ber­ha­sil mene­mu­kan orang yang diha­rap­kan­nya.

Pasukan Arok telah memu­tus­kan jalan raya dan jalan air yang meng­hu­bung­kan Kediri dengan Tuma­pel dari sebe­lah selatan. Keku­rangan garam dan hasil laut lain mem­bi­kin pen­du­duk Kuta­raja men­jadi geli­sah.

Dan Tung­gul Ame­tung jarang keluar dari peku­wuan. Keper­ca­yaan pada pra­ju­r­it­nya sen­diri mulai goyah; pada pasukan penga­wal­nya ia men­jadi curiga. Pada Bela­kangka ia hanya menunggu kesem­patan untuk mem­ba­las­kan den­dam­nya. Jalan satu-satu­nya yang ter­buka bagi­nya hanya ber­ba­ikan dengan kaum brah­mana. Meminta ban­tuan mereka, ber­da­mai dengan selu­ruh ummat Syiwa. Dan apakah itu mung­kin sete­lah per­bu­at­an­nya ter­ha­dap mereka selama ini? Ia sen­diri ragu. Ber­da­mai dengan mereka tak lain arti­nya dari memang­gil balat­en­tara Kediri, Sekali ia men­coba meng­am­bil hati Ken Dedes, mulai men­ce­ri­ta­kan pada­nya ten­tang kea­daan negeri. Sete­lah sele­sai men­cu­r­ah­kan semua kesu­l­itan ia hanya men­da­pat kata penu­tup dari bibir wanita harapan kebe­sar­an­nya itu:

“Barang­si­apa menye­bar angin, dia akan ber­pa­nen badai.”

Lama ia mere­nung­kan ucapan itu, dan ia mulai meng­erti Kemu­dian ia mena­war­kan pada Para­mesy­wari untuk ikut ber­sama-sama meme­rin­tah negeri.

Hanya Yang Suci Dang Hyang Loh­gawe yang bisa meno­long.

Ia perin­tah­kan sekali lagi untuk men­jem­put brah­mana itu.

Dengan Tanca Arok ber­kun­jung ke pabrik sen­jata Tuma­pel di luar Kuta­raja.

Pabrik itu tak ter­de­ngar ramai seperti bia­sa­nya.

Mereka ber­diri di depan gambar bin­tang besar ber­su­dut lima, lam­bang dewa kaum sudra, Hyang Pan­ca­gina, pelin­dung pandai besi, pandai tem­baga, tukang kayu, pelu­kis, dan pandai emas Mereka meng­ang­kat sembah dengan satu tangan, kemu­dian masuk ke dalam pabrik.

Empu Gan­dring sedang ber­diri sunyi ber­se­de­kap tangan dalam keli­lingan para peker­ja­nya. Men­de­ngar seruan dir­ga­hayu ia ting­gal­kan mereka dan mene­mui tamu­nya.

“Tidak bekerja hari ini. Bapak Empu?” Tanya Arok.

“Tidak. Tidak ada besi.”

“Bia­sa­nya datang dari mana besi itu?”

“Jauh, jauh sekali, dari Sofala, Wulungga.”

“Kami ada besi.”

Empu Gan­dring meman­dangi Arok dan Tanca ber­ganti-ganti. Ia ter­tawa dan meng­ge­leng. Jeng­got hitam­nya yang pan­jang melam­bai-lambai dan mata­nya yang agak sipit meng­e­jek.

“Kami per­lu­kan seribu pedang dan tiga ribu tombak lempar.”

“Tidak mung­kin. Siapa kau?”

“Perin­tah itu telah kau terima di malam hari di rumahmu sen­diri, dan kau sudah menyang­gupi.”

Empu Gan­dring men­jadi ber­sung­guh-sung­guh, mene­liti dua orang tamu itu ber­ganti-ganti. Kemu­dian:

“Hanya Sang Akuwu bisa meme­san seba­nyak itu.”

“Kau sudah ber­janji,” Arok mene­tak. “Besi akan datang ke tempat ini. Berapa kau per­lu­kan biaya?”

“Banyak keru­suhan seka­rang ini.”

Tanca mena­rik Empu Gan­deng dan diba­wa­nya keluar pabrik. Arok meng­iring­kan dari bela­kang. Di bawah lam­bang Hyang Pan­ca­gina, Tanca men­de­sak:

“Kau ter­lalu pongah. Empu Gan­dring. Apakah kau kira kami rak bisa beli kepa­lamu? Kau telah ber­janji.”

Memang aku telah ber­janji, tapi seba­nyak itu? Di bawah lin­dungan siapa aku? Hanya Sang Akuwu.”

Arok mem­per­li­hat­kan pada­nya potongan-potongan emas dari sepu­luh saga: “Dua ratus saga untuk panjar.”

Empu Gan­dring meng­ge­leng.

“Tiga ratus saga.”

Empu Gan­dring ter­tawa.

“Bicara kau, orang pongah!”

“Jiwaku lebih mahal dari­pada panjar tiga ratus.”

“Kau bisa kata­kan berapa per­lumu.”

“Tak ada besi”

“Apakah perlu aku pekik­kan pada teli­ngamu?” Desak Arok, “Besi itu akan kami antar­kan?”

“Aku pikir­kan dulu.”

“Di sini dan seka­rang juga kau harus men­ja­wab. Kami sudra, dan kau pun hanya sudra.”

“Balat­en­tara Kediri,” bisik Empu Gan­dring. “Tak ada urus­anmu.”

“Mereka akan tumpas anak-istriku.”

“Kami pun bisa laku­kan itu pada malam dulu itu” Empu Gan­dring pucat, Sinar mata­nya padam. Kepo­ngahan­nya seba­gai ahli yang dibu­tuh­kan oleh semua orang, padam saat itu juga.

“Seribu pedang dan tiga ribu tombak lempar bukan sedi­kit,” keluh­nya. “Apa perlu aku cari­kan tam­ba­han tenaga?” Desak Arok.

“Tidak. Aku bisa cari sen­diri.”

“Jadi kau sang­gup.”

Kepala pabrik sen­jata itu meng­ang­guk

“Berapa lama semua sele­sai?”

Gan­dring meng­hi­tung-hitung dengan jari kaki­nya pada pasir tanah. Kemu­dian: “Seta­hun.”

“Kau gila!”

“Sang Akuwu bisa kasih perin­tah men­da­dak.”

“Itu urus­anmu. Seta­hun ter­lalu lama. Dengar,” desak Arok, “Pada tang­gal yang sama enam bulan yang akan datang aku akan ambil semua pesan­anku. Berapa biaya semua?”

“Dengan besi yang men­cu­kupi dari kau,” Gan­dring men­ja­wab, “Seribu saga emas.”

“Baik, seribu saga. Kalau kau mene­tapi janji akan kuberi kau hadiah. Ini, terima yang seribu saga, dan ber­se­nang-senang kau dengan orang-orangmu.”

Empu Gan­dring menge­r­nyit­kan dahi dan ber­ke­dip-kedip mene­rima upah dari Arok, kemu­dian ber­ba­lik hendak masuk ke dalam pab­rik­nya.

Arok menang­kap bahu­nya, dan:

“Penipu! Kau belum lagi meng­ang­kat janji pada Hyang Pan­ca­gina.”

“Kau memang ter­lalu. Gan­dring,” tegur Tanca. “Pantas semua orang tidak suka padamu. Boleh jadi ter­lalu banyak kau tipu mereka.”

“Dia boleh coba menipu kita. Tapi pada 1 Hyang Pan­ca­gina dia tidak akan berani. Ayoh. Ucap­kan jan­jimu: seribu pedang, tiga ribu tombak lempar akan kau sele­sai­kan dalam enam bulan mulai dengan hari ini, dan untuk itu kau telah mene­rima seribu saga.”

Empu Gan­dring ber­lu­tut, meng­ang­kat hormat dengan satu tangan – hormat seo­rang sudra pada sesa­ma­nya dan pada dewa sudra, – dan meng­u­cap­kan janji. Begitu ia ber­diri lagi Arok mem­bi­sik­kan pada teli­nga­nya: “Akan ada orangku yang meng­a­wasi jalan­nya peker­jaan. Jangan main-main dengan kami. Dir­ga­hayu.”

Dalam per­ja­lanan kem­bali ke selatan seo­rang gadis ber­ca­wat, mem­bawa busur pada bahu dan tempat anak panah pada ping­gang meng­hen­ti­kan mereka.

“Arok,” kata­nya, “Yang Suci Dang Hyang Loh­gawe men­ca­rimu Seo­rang pesu­ruh telah datang mem­bawa sepu­cuk surat untukmu. Ini,” kata­nya lagi sambil meng­ga­pai tempat anak panah.

Arok mem­ba­ca­nya, kemu­dian ber­bi­sik pada Tanca: “Pimpin semua pasukan olehmu, Tanca. Aku harus pergi. Kalau keku­atan mampu, putus­kan sama sekali jalan darat dan air ke Kediri. Jangan memaksa. Kalau tidak mampu, bikin jadi sam­bilan.”

Ia beri­kan semua sen­ja­t­a­nya pada Tanca. “Kem­bali kau ber­sama Tanca gadis.”

Mereka ber­pi­sahan. Arok ber­ja­lan seo­rang diri mema­suki Kuta­raja, terus menuju ke utara, kemu­dian mem­be­lok ke barat, ke kaki Gunung Arjuna.

Pagi hari ia sampai di Pang­kur, lang­sung masuk ke asrama. Para siswa sudah berang­kat ke sawah. Dan tidur­lah ia di tem­pat­nya yang lama.

Dang Hyang Loh­gawe yang meli­hat keda­tangan­nya mem­bi­ar­kan ia ber­is­ti­ra­hat. Dan waktu kereta dari Kuta­raja datang, ia masuki asrama dan mem­ba­ngun­kan­nya, menyu­r­uh­nya mandi.

Dalam kereta Arok baru men­de­ngar maksud guru­nya: ia hendak dibawa meng­ha­dap Tung­gul Ame­tung untuk mere­da­kan keru­suhan di bagian selatan negeri.

“Garu­daku!” Bisik Loh­gawe, “hanya kau yang dapat tum­bang­kan Akuwu Tuma­pel. Hanya cara ini yang bisa ditem­puh. Kau harus men­da­pat­kan keper­ca­yaan dari Tung­gul Ame­tung. Dengan keper­ca­yaan itu kau harus bisa meng­gu­ling­kan­nya. Semua brah­mana di Tuma­pel, Kediri, di selu­ruh pulau Jawa, akan menyo­kongmu. Dengan Tuma­pel di tanganmu kau akan bisa hadapi Kediri. Demi Hyang Maha­dewa, kau pasti bisa.”

Arok ter­pe­sona oleh tugas yang datang secara men­da­dak itu Dari medan per­tem­puran ia harus pindah ke medan siasat.

“Kau pasti bisa,” ulang Loh­gawe mem­pe­nga­ruhi.

“Sahaya pasti bisa.”

“Pegang Tuma­pel dan hadapi Kediri.”

“Pegang Tuma­pel dan hadapi Kediri, ya. Bapa Maha­guru.”

“Demi Hyang Maha­dewa.”

“Demi Hyang Maha­dewa.”

“Hening­kan cipta dan deng­ar­kan suara para dewa ...” Arok meng­he­ning­kan cipta. Dan kereta itu lari laju kem­bali ke Kuta­raja.

Arok tak men­de­ngar suara para dewa. Yang datang pada­nya adalah seo­rang gadis ber­ca­wat kumal ber­nama Umang. Sua­ra­nya yang ter­de­ngar oleh­nya: Umang akan ber­se­tia padamu sampai akhir hidup. Di sam­ping­nya adalah Ki Bango Sam­pa­ran. Dan pesta per­ka­winan di padang budak itu ber­a­khir dalam segala kese­der­ha­na­an­nya.

Ia raba cawat­nya sen­diri. Dengan selem­bar kain itu ia nikahi Umang. Dengan itu pula ia akan hadapi Tung­gul Ame­tung hari ini, dan ia akan hadapi dia seba­gai musuh semua orang. Pada tangan­nya ter­geng­gam tugas kaum brah­mana untuk menying­kir­kan­nya. Dan ia harus meng­hamba pada­nya seba­gai budak­nya yang paling rendah.

Ia ter­se­nyum.

“Aku tahu, kau sudah meng­erti selu­ruh sang­kut­paut dari tugasmu. Kau tidak akan menge­ce­wa­kan.”

“Sahaya tidak akan menge­ce­wa­kan, ya Bapa Maha­guru.

Arok meme­jam­kan mata. Dalam hati ia menempa ren­cana dalam hubungan dengan semua orang yang men­cin­ta­i­nya...

Kereta itu ber­henti di depan rumah tung­gu­k­ke­mit. Pang­a­lasan, kepala kemit. Ikut naik ke atas kereta dan memim­pin kusir mela­lui sam­ping kanan peku­wuan, mem­be­lok di bela­kang­nya.

Mata Arok tajam meng­ha­fal semua kea­daan, dan seki­las ia lihat pura-dalam di sebe­lah kir­i­nya, ter­ku­rung pagar tanah liat.

Kereta ber­henti tepat di ten­tang pintu ger­bang per­tama pura. Semua turun. Pang­a­lasan menge­tuk pintu ger­bang bela­kang peku­wuan. Waktu pintu itu ter­buka Pang­a­lasan men­ja­tuh­kan diri dan meng­ang­kat sembah. Loh­gawe meng­ang­kat tangan. “Dir­ga­hayu, Yang Ter­hor­mat,” sapa Tung­gul Ame­tung. “Dir­ga­hayu!” Tung­gul Ame­tung memim­pin dua orang tamu­nya duduk di bangku. Pang­a­lasan menu­tup pintu dan pergi. Arok ber­diri di bela­kang Loh­gawe.

“Sia­pa­kah yang Bapa bawa, maka tidak meng­in­dah­kan keso­panan peku­wuan?”

“Dialah Arok, orang yang aku jan­ji­kan.”

Tung­gul Ame­tung ber­diri, meng­ham­piri Arok dan menye­li­dik dengan mata­nya. Tiba-tiba ia mem­bu­ang muka bebe­rapa bentar kemu­dian menye­li­dik lagi dengan mata­nya.

“Aku pernah lihat mau ini,” kata­nya. “Arok namamu. Di mana seka­rang kumismu?”

“Hor­mati Sang Akuwu, Arok!” Perin­tah Dang Hyang Loh­gawe, Arok men­ja­tuh­kan diri dan meng­ang­kat sembah.

“Yang Ter­hor­mat Bapa Dang Hyang, aku menge­nal mata itu. Sur­uh­lah dia meng­aku asal­nya, per­bu­at­an­nya selama ini.”

“Yang Mulia mem­bu­tuh­kan ban­tu­an­nya untuk mema­dam­kan keru­suhan. Kalau per­jan­jian yang dida­sar­kan per­min­taan dari Yang Mulia tidak ber­laku, seba­ik­nya kami ting­gal­kan tempat ini” Tunggu! Ame­tung ber­ba­lik. Kemu­dian ber­ja­lan mondar-mandir dari tempat itu ke pintu Bilik Agung Tiga kali ber­ja­lan mon­dar­ma­n­dir kemu­dian ia masuk ke dalam bilik.

“Begi­tu­lah ting­kah seo­rang sudra yang tak tahu diun­tung, kata Loh­gawe, “tidak pernah bisa meng­hor­mati orang. Juga tidak bisa meng­hor­mati dir­i­nya sen­diri. Tak ada sesu­atu pun yang perlu dihor­mat­i­nya.”

Arok menun­duk mem­per­si­ap­kan piki­ran untuk dapat menun­duk­kan pengu­asa liar ini. Pada waktu itu Tung­gul Ame­tung keluar dari Bilik Agung. Di bela­kang­nya muncul Ken Dedes yang meng­ang­kat sembah pada Dang Hyang Loh­gawe. Orang tua itu meng­ang­guk mem­ba­las. Dan Dedes hilang lagi dari lubang pintu.

Tung­gul Ame­tung lang­sung duduk di hadapan Loh­gawe:

“Yang Ter­hor­mat,” kata­nya dengan nada hormat, “Yang Mulia Para­mesy­wari Tuma­pel meng­hen­daki agar Tuma­pel mem­per­ca­yai Yang Ter­hor­mat.”

“Setiap per­se­tu­juan menun­tut bea, Yang Mulia.”

“Boleh jadi.”

“Arok datang karena per­se­tu­juan deng­anku, bukan atas perin­tah Yang Mulia. Dia tidak akan mene­rima perin­tah Yang Mulia sebe­lum Bapa ini meminta pada­nya untuk men­ja­lan­kan­nya.”

“Baik. Seperti kita per­bin­cang­kan sebe­lum­nya, Bapa men­jan­ji­kan seo­rang yang akan dapat mere­da­kan dan menin­das keru­suhan di Tuma­pel.”

“Jadi Yang Mulia terima anak ini?”

“Dia sen­diri belum men­jan­ji­kan sesu­atu.”

“Kata­kan, Arok.”

“Ya, Bapa Maha­guru, sesuai dengan perin­tahmu, sahaya akan reda­kan dan tindas keru­suhan di selu­ruh Tuma­pel. Hanya per­ke­nan­kan sahaya mem­bawa lima puluh orang anak buah sahaya.”

“Yang Mulia dengar sen­diri per­mo­hon­an­nya” “Kau boleh datang­kan anak buahmu, hanya ucap­kan sebe-

Lumnya kese­ti­anmu pada Sang Akuwu Tung­gul Ame­tung dan Para­mesy­wari. Bahwa kau akan men­jaga kese­la­mat­an­nya, dan kese­la­matan Tuma­pel.”

“Ucap­kan jan­jimu, Arok.”

“Sahaya ber­janji akan ber­se­tia dan men­jaga kese­la­matan Sang Akuwu dan Para­mesy­wari dan Tuma­pel.”

“Kau, Syiwa, Wisynu atau­kah Buddha?”

“Dia datang tidak untuk dipe­riksa, Yang Mulia,” tegur Loh­gawe. “Dia telah ber­se­dia untuk mere­da­kan dan mema­dam­kan keru­suhan, dan itu sudah segala-gala yang Yang Mulia kehen­daki. Per­se­tu­juan telah kita terima, sisa­nya hanya pelak­sa­naan.”

“Apa katamu, Arok?”

“Sahaya akan datang mem­bawa anak buah sahaya.”

“Baik Pang­gil anak buahmu, mem­per­kuat pasukan penga­wal peku­wuan sebe­lum kau siap mere­da­kan dan mema­dam­kan keru­suhan.”

Pasukan Umang telah mena­han perahu-perahu yang dita­rik mudik oleh lima puluh orang dhar­mana,6 mem­bawa per­be­kalan untuk Tuma­pel dari Hujung Galuh mela­lui Kediri. Semua awak kapal ia tahan dan semua dhar­mana ia lepas­kan.

Muatan itu ter­diri dari besi dari Sofala dan hasil laut dari Gresik.

Pesa­ngon yang dibe­ri­kan­nya pada para dhar­mana itu menye­bab­kan mereka pulang dengan girang, mem­bawa oleh-oleh untuk kelu­arga, juga keta­kutan men­da­pat hukuman dan Kediri...

Tahun Saka 1142 (1220 Masehi).



Bab 7

Arok dan Dedes

Ia menye­dari dalam sua­sana hati yang aneh. Kadang merasa takut, kadang kuatir, kadang meng­a­lami kegem­bi­raan batin, kadang sendu. Sua­sana hati tidak tetap, turun-naik biar pun tanpa sebab yang nyata. Kadang keben­ci­an­nya pada Tung­gul Ame­tung tiba-tiba hilang. Dengan diam-diam ia amati wajah sua­mi­nya, yang jelas tak mengan­dung seu­jung jarum pun darah Hindu, hidung­nya yang leng­kung ke dalam, tulang pipi­nya yang ter­lalu tinggi sehingga mem­bi­kin rongga mata itu nampak dalam, gelap secara tidak wajar.

Dua kali ia tidak datang bulan. Ia tahu: ia mulai mengan­dung. Rimang telah mena­nam­kan untuk­nya seba­tang pohon sri­ga­ding di Taman Larangan. Ia takkan lupa pada bisik­an­nya: Begi­ni­lah batang­nya, dan begi­ni­lah daun­nya; bunga­nya putih ber­kem­bang datar seperti payung, batang bunga­nya sama besar dengan pang­kal lidi enau ber­warna kuning; ter­se­rah pada Yang Mulia Para­mesy­wari hendak gugur­kan anak Sang Akuwu atau tidak, Yang Mulia cukup minum air seduan bunga­nya, dan anak itu akan larut mening­gal­kan kan­dungan.

Rimang sudah tiada dan kan­dungan itu nam­pak­nya memang hendak men­jadi.

Harus­kah anak ini anak yang makin sedi­kit darah Hindu dalam dir­i­nya dibi­ar­kan hidup dan dengan demi­kian mem­be­ri­kan pada Tung­gul Ame­tung seo­rang pewa­ris Tuma­pel?

Minum­lah seduan bunga sri­ga­ding pada waktu kan­dungan masih sangat muda, kata Rimang; makin tua akan makin ber­ba­haya bagi Yang Mulia; dan bila ter­lalu tua ada kemung­kinan Yang Mulia meng­a­lami peng­gu­gu­ran berat dan tak dapat mengan­dung lagi.

Tapi anak itu bukan hanya anak Tung­gul Ame­tung, juga anak­nya sen­diri. Ia ragu-ragu untuk meng­am­bil kepu­tusan.

Kemu­dian ter­jadi peris­tiwa itu: Tung­gul Ame­tung untuk per­tama kali minta nasi­hat apakah Arok yang dibawa oleh Dang Hyang Loh­gawe ia terima atau tidak. Ia tindas kegem­bi­raan hati­nya dan men­ja­wab dingin:

“Yang Suci Dang Hyang Loh­gawe ber­li­dah dan ber­mata dewa, ia tidak mung­kin keliru.”

Untuk per­tama kali ia lihat sua­mi­nya meme­jam­kan tapuk mata­nya yang mulai meng­ge­lam­bir karena usia, meme­jam­kan-nya keras-keras sehingga cakar ayam pada sudut-sudut luar mata­nya men­jadi sema­kin nyata, meng­ang­guk, kemu­dian mening­gal­kan Bilik Agung.

Ia memer­lu­kan men­je­nguk ke Taman Larangan, meng­ang­kat sembah pada Dang Hyang Loh­gawe dan menya­pu­kan pan­dang pada Arok yang duduk di tanah. Seka­li­gus ia meli­hat jago Loh­gawe mentah-mentah ber­da­rah sudra. Tak ada sedi­kit pun darah Hindu dalam dir­i­nya, nampak pada ting­gi­nya tulang pipi dan leng­kung hidung ke dalam, mulut yang agak lebar dan muka­nya yang lebar pula, tak jauh ber­beda dari Tung­gul Ame­tung sewaktu muda­nya barang­kali.

Agar sua­mi­nya tidak menge­ta­hui kecu­cuk­an­nya ia sengaja menin­das kei­ng­inan untuk ber­temu dengan brah­mana itu dan jago­nya. Dan justru karena itu ia sibuk menim­bang-nim­bang seo­rang diri: adakah seo­rang sudra tanpa sedi­kit pun darah Hindu bisa mela­ku­kan hal-hal besar? Ia pan­dangi wajah­nya sen­diri pada cermin perunggu, mem­be­lai batang hidung­nya yang tinggi dan lurus, pada tulang pipi­nya yang tidak begitu tinggi, dan meya­kin­kan diri: darah Hindu ini semes­ti­nya men­ja­min diriku untuk juga bisa laku­kan hal-hal besar. Kalau Arok bisa ditun­juk oleh Yang Suci, semes­ti­nya aku bisa juga menun­juk diriku sen­diri.

Belum pernah seo­rang tanpa darah Hindu, sudra itu, mem­buk­ti­kan diri bisa laku­kan hal-hal besar sepan­jang seja­rah Ia takkan lupa­kan kata-kata ayah­nya: Ter­lalu sedi­kit darah Hindu meng­a­lir dalam tubuh Sri Erlangga Dharma Dayana; itu sebab­nya tin­dakan-tin­dak­an­nya menyim­pang dari kemes­tian, ia bisa laku­kan itu hanya karena mengu­a­sai balat­en­tara sepe­nuh­nya. Dan pengu­a­saan mutlak atas balat­en­tara kemu­dian men­jadi tra­disi wangsa Isana. Sampai Sri Kre­ta­jaya seka­rang. Tung­gul Ame­tung menyam­pai­kan pada­nya sete­lah per­te­muan:

“Arok akan datang bebe­rapa hari lagi, mem­bawa pasuk­an­nya seba­nyak barang lima puluh orang.”

“Hanya lima puluh?”

“Tiada lagi­kah keper­ca­ya­anmu pada Loh­gawe?”

“Kakanda harus tambah keku­at­an­nya.”

“Akan kul­i­hat dulu. Dia akan kutem­pat­kan di peku­wuan,” ia men­de­ngus. “Anak tani biasa. Aku agak ragu. Hanya mata­nya, mata­nya, Dedes, entah mata hantu atau­kah dru­biksa, apakah gan­darwa.”

“Suatu kali akan kuni­lai sen­diri kemam­pu­an­nya.”

“Tentu,” jawab­nya lunak. “Dan sete­lah jelas kau mulai mengan­dung begini, seba­ik­nya kau men­da­pat­kan peng­a­suh barang tujuh orang. Kau boleh pilih gadis-gadis putri para bang­sa­wan Kediri mana saja, Dedes.”

“Tidak perlu,” jawab­nya. Ia tahu putri-putri bang­sa­wan akan lebih cepat ber­se­kutu untuk mera­cun­nya. Ia tak hendak men­jadi Ami­sani anak Resi Brah­ma­raja.

“Atau gadis-gadis sudra?”

“Beri­kan kem­bali padaku Rimang, atau tidak sama sekali Aku masih mampu mengu­rus diriku sen­diri.”

“Kan­dung­anmu, Dedes. Atau per­lu­kah kira­nya tenaga para putri anak selir?”

“Teri­ma­ka­sih, Kakanda, tidak perlu,” Dedes ber­ma­nis-manis, “hanya bila ber­ke­nan di hati Kakanda, per­bo­leh­kan aku mem­ba­cai rontal-rontal yang ada.”

Dalam bebe­rapa hari menunggu keda­tangan jago Loh­gawe dengan pasuk­an­nya ia mem­ba­cai rontal. Seba­gian ter­be­sar adalah agama sejak Erlangga sampai pada selu­ruh wangsa Isana yang ber­ku­asa. Semua itu tidak pernah dite­mu­i­nya, hanya diper­ke­nal­kan pada­nya oleh Mpu Parwa secara lisan. Apapun keku­rangan wangsa ini ia mulai menga­gumi dharma mereka pada kehi­dupan, peng­ha­pusan kasta waisyia, karena memang tak ada kaum waisyia ber­da­rah Hindu. Ia mulai meli­hat adanya pem­ba­gian tri­wangsa Erlangga itu secara lebih jelas: kasta brah­mana dan satria yang ber­da­rah Hindu dan kasta sudra yang tidak mengan­dung­nya dalam dir­i­nya. Kasta itu ter­nyata diten­tu­kan oleh darah. Dan ia merasa senang karena tidak ter­ma­suk sudra, ber­da­rah Hindu, dan juga tidak senang karena akan mela­hir­kan seo­rang bayi dengan sema­kin kurang darah mulia itu dalam tubuh­nya. Ter­paksa ia hibur dir­i­nya; seti­dak-tidak­nya masih ada dalam dir­i­nya dia bukan sudra seba­gai bapak­nya.

Sebuah rontal yang sangat tua ter­paksa ia cuci dengan minyak kelapa, tetapi tulis­an­nya sudah ter­lalu kabur. Waktu ia gosok kem­bali dengan jelaga, yang bisa ter­baca pun sangat sedi­kit. Dua nama yang ter­baca oleh­nya adalah Wasista, putra Brahma. Kemu­dian: Cina­dara. Selan­jut­nya tidak ter­baca lagi. Kemu­dian potongan-potongan kali­mat ten­tang Maha­cina Kra­ma­sara yang tidak jelas duduk-per­ka­ra­nya. Kemu­dian lagi kali­mat yang agak leng­kap, diu­cap­kan oleh Kra­ma­sara: “Wanita itu Dewa; Wanita itu Kehi­dupan; Wanita itu Per­hi­asan...”

Ia meng­erti sepe­nuh­nya kali­mat tidak sele­sai itu, tetapi tak tahu sang­kut­pa­ut­nya. Pada waktu itulah Tung­gul Ame­tung mem­be­ri­ta­hu­kan pada­nya, Arok telah datang dengan pasuk­an­nya. Semua hanya ber­ca­wat, dan ia telah meme­rin­tah­kan entah mem­ba­gi­kan celana dan kain penu­tup, destar dan sen­jata. Juga telah dipe­rin­tah­kan­nya mem­ba­ngun­kan asrama baru di sam­ping asrama pasukan penga­wal yang telah ada.

“Pada wak­tu­nya,” sambut Dedes, “beri­lah aku per­ke­nan untuk meli­hat dan bicara deng­an­nya. Aku ingin tahu bagai­mana macam dan kemam­puan jago Yang Suci Dang Hyang.”

“Sama dengan semua anak buah­nya: gesit, kurus dengan mata menyala-nyala seperi si kela­paran meli­hat makanan.”

“Salah kesan bisa ber­ba­haya, Kakanda,” tegur Dedes.

Dan Tung­gul Ame­tung yang mulai bel­a­jar ber­ma­nis pada istri­nya pada hari-hari sesak ini ber­ta­nya:

“Apa salah kesan itu, Dedes?”

“Ada dia­jar­kan oleh kaum Brah­mana: orang kaya ter­ke­san pongah di mata si miskin; orang bijak­sana ter­ke­san angkuh di mata si dungu; orang gagah-berani ter­ke­san dewa di mata si penge­cut; juga seba­lik­nya, Kakanda: orang miskin tak ber­ke­san apa-apa pada si kaya; orang dungu ter­ke­san mengi­ba­kan pada si bijak­sana; orang penge­cut ter­ke­san hina pada si gagah-berani. Tetapi semua kesan itu salah. Orang harus menge­nal mereka lebih dahulu.”

Akuwu itu mening­gal­kan Taman Larangan untuk mene­mui Arok dan anak buah­nya sekali lagi.

Ia menun­duk pada perut­nya, mem­be­la­inya dan ber­bi­sik: “Kau tidak akan sedu­ngu ayahmu. Kau takkan bikin malu

Ibumu. Kalau kau wanita, kau adalah dewi, kalau kau pria kau adalah dewa. Ayahmu tak punya per­sang­kutan dengan kau.

Dengar, kau, jabang bayi? Kau ber­da­rah Hindu, ayahmu sudra hina.”

Pasukan Arok mela­ku­kan latihan di bawah Kebo Ijo dan dibantu oleh Dadung Sung­ging. Waktu Arok dike­nal­kan pada nama mereka seka­li­gus ia tahu Kebo Ijo adalah seo­rang Wisynu, nampak jelas dari nama bina­tang1 yang diper­gu­na­kan­nya. Dadung Sung­ging ia belum tahu, boleh jadi Buddha atau Syiwa.

Seminggu lama­nya dengan pasukan ia ber­la­tih mem­per­ta­han­kan peku­wuan, menge­nal tempat-tempat, pojo­kan dan peda­laman peku­wuan mela­lui gambar. Ia tahu tepat di mana para selir ting­gal di bagian keput­rian. Bilik Para­mesy­wari dan Bilik Agung, Taman Larangan dan Taman Sari. Mata­nya yang tajam tidak mele­wat­kan sesu­atu pun tanpa ter­ta­nam kuat dalam ing­at­an­nya. Ia dapat meng­i­ngat dengan pasti goresan-goresan, macam dan jum­lah­nya pada padu­raksa, benda apa saja yang ada dalam Balai Agung di halaman dua pura-dalam, dan gambar apa saja yang meng­hi­asi pagar tanah liat pura itu.

Waktu pasuk­an­nya mulai men­da­pat giliran kemit, semua per­ha­ti­an­nya ter­tuju bukan saja pada bentuk, juga suara-suara yang keluar dari peda­laman peku­wuan. Pada umum­nya suara wanita, ter­tawa dan bicara.

Ketiga kali ia mela­ku­kan kemit ter­j­a­dilah peris­tiwa ber­se­ja­rah itu. Ia hanya ber­tiga waktu ber­ke­mit itu. Waktu mem­be­lok di jalanan antara bela­kang gedung peku­wuan dan kebun buah yang meling­kari pura-dalam, dari ujung jalan yang lain ia meli­hat sebuah tandu dipi­kul oleh empat orang budak dengan tapas penu­tup kepala.

Dalam iringan dua orang ia meme­lan­kan jalan. Tandu itu ber­henti di depan pintu ger­bang bela­kang peku­wuan. Ia ber­henti mem­beri hormat dan meng­ge­dik­kan pang­kal tombak pada bumi.

Para­mesy­wari turun dari tandu. Ia ter­pe­sona oleh kecan­ti­kan­nya. Kul­it­nya gading. Angin meniup dan kain­nya ter­sing­kap mem­per­li­hat­kan paha­nya yang seperti pualam. Arok meng­ang­kat muka dan mena­tap Dedes. Dengan sen­di­r­i­nya ekag­rata ajaran Tan­tri­pala bekerja. Cahaya mata­nya meman­car­kan gelom­bang menak­luk­kan wanita yang di hadap­an­nya itu.

Dedes ter­pa­ku­kan pada bumi. Ia menun­duk­kan kepala, merasa mata seo­rang dewa sedang menum­pah­kan penga­ruh atas dir­i­nya. Ia geme­tar. Dengan tangan meng­gi­gil ia buka pintu Taman Larangan itu, tapi tak mampu.

Arok datang mem­ban­tu­nya, dan ia dengar suara dewa itu:

“Saha­ya­lah orang Yang Suci Dang Hyang Loh­gawe.”

“Dir­ga­hayu untukmu, Arok.”

“Beribu teri­ma­ka­sih. Yang Mulia.”

Pintu itu ter­buka. Arok dapat meli­hat Taman Larangan itu. Dedes masuk ke dalam dan pintu ditu­tup kem­bali.

“Makh­luk kah­yangan, Arok,” bisik pra­ju­r­it­nya.

Arok tak menang­gapi dan ber­ja­lan terus ber­ke­mit di bela­kang peku­wuan, di bela­kang pura-dalam, di dalam kebun buah, memu­tari gedung peku­wuan itu barang lima kali kemu­dian kem­bali ke tung­guk kemit.

Ia dite­rima oleh Pang­a­lasan dengan perin­tah baru:

“Demi perin­tah Yang Mulia Akuwu, kau, Arok, diha­rap­kan meng­ha­dap seka­rang juga di Taman Larangan.”

Dan Arok berang­kat lagi ke bela­kang gedung peku­wuan.

Pintu ger­bang itu tidak ter­kunci dari dalam. Ia sorong dan ter­buka. Dua orang penga­wal ger­bang itu meng­ang­guk mengi­a­kan. Sete­lah menu­tup pintu di bela­kang­nya ia meng­ang­kat sembah pada Sang Akuwu yang duduk ber­san­ding di bangku kayu taman, di bawah rin­dangan pepo­honan.

Ia duduk ber­sila di hadapan Akuwu dan meng­ang­kat sembah.

“Inilah Arok, jago pilihan Yang Ter­hor­mat Dang Hyang.” Ia dengar Tung­gul Ame­tung memu­lai.

Arok meng­ang­kat sembah pada Para­mesy­wari.

“Jadi kaulah yang ber­nama Arok,” kata Dedes. Sua­ra­nya agak geme­tar.

“Inilah sahaya, Yang Mulia.”

“Berapa umurmu?”

“Dua puluh, Yang Mulia Para­mesy­wari.”

“Pernah kau bel­a­jar pada Yang Suci Dang Hyang?”

“Sampai tamat, Yang Mulia Para­mesy­wari.”

“Semuda itu sudah tamat? Ampuni aku, berapa banyak syair dalam karya Mpu Panu­luh Hari­wangsa?”

“Enam belas ribu bait, Yang Mulia.”

“Bisa­kah kau meng­u­cap­kan barang sepu­luh bait?”

Arok mem­ba­ca­kan bagian awal dalam San­sa­kerta.

“San­sa­kerta!” Para­mesy­wari men­de­sis, “Jagad Dewa.” Mata­nya mem­be­liak dan dite­bar­kan mem­bi­kin ling­karan ber­diri pada alam semesta. Ber­bi­sik pada Tung­gul Ame­tung: “Dalam San­sa­kerta sein­dah itu. Bukan manu­sia, dewa itu sen­diri.” Ia ber­diri, tak tahu apa harus diper­bu­at­nya, mata­nya sebak. Ber­bi­sik lagi pada sua­mi­nya. “Tidak patut dia duduk di tanah begitu rupa.”

“Arok,” Akuwu memu­lai, “keta­hu­i­lah, Yang Mulia Para­mesy­wari Tuma­pel telah ber­ke­nan untuk menge­nal dirimu.” Arok meng­ang­kat sembah teri­ma­ka­sih. “Tun­juk­kan pada kemu­r­ahan Yang Mulia Para­mesy­wari, bahwa kau akan segera dapat mema­dam­kan keru­suhan di selatan Tuma­pel.”

“Bila Yang Mulia Para­mesy­wari men­ja­tuh­kan titah melak­sa­nakan seka­rang juga, akan sahaya lak­sa­nakan.”

“Balat­en­tara Tuma­pel tidak mampu, banyak binasa, bagai­mana cara­nya kau berani menyang­gupi?”

“Yang Mulia Akuwu dan Yang Mulia Para­mesy­wari ting­gal­lah ber­ba­ha­gia di peku­wuan. Sahaya akan padam­kan dalam waktu cepat”

“Kau harus tahu, lima ratus jajaro penga­wal telah dihan­cur­kan. Sisa­nya mela­ri­kan diri dan bakal binasa di hutan-hutan. Engkau dengan gam­pang mem­per­se­m­bah­kan janji keme­nangan gam­pang.”

“Inilah Arok, Pra­ju­rit Yang Mulia sen­diri.”

“Kau per­caya, Per­mata?”

“Yang Mulia Akuwu seba­ik­nya bel­a­jar per­caya pada­nya.”

“Baik, padam­kan keru­suhan di selatan. Kau akan men­da­pat tam­ba­han lima ratus pra­ju­rit lama yang ber­peng­a­laman. Dengan kepala pasuk­an­nya kau akan pel­a­jari medan.”

“Sedia, Yang Mulia.”

“Kalau ber­ha­sil, kau akan lan­jut­kan peker­jaan ke barat daya, Kawi dan Kelud.”

“Sedia, Yang Mulia.”

Semen­tara itu Ken Dedes tetap meng­a­wasi dan mem­per­ha­ti­kan Arok.

“Bica­ra­lah, Per­mata. Seka­rang gilir­anmu.”

“Arok, kata­kan padaku siapa sesung­guh­nya Kera­mas?”

“Seo­rang maha­yo­gin. Yang Mulia Para­mesy­wari, dari negeri Cina. Sete­ngah orang memang­gil­nya Maha­cina.”

Kem­bali Ken Dedes ber­diri, mem­be­liak, dan Tung­gul Ame­tung mem­per­ha­ti­kan ting­kah istri­nya yang aneh itu.

“Apa maha­yo­gin itu?”

“Seo­rang maha­guru, Yang Mulia Para­mesy­wari, yang mengu­a­sai ilmu tantri dan yoga.”

“Jagad Dewa!”

“Ada apa, Per­mata?” Bisik Tung­gul Ame­tung.

“Tak pernah dia­jar­kan padaku ten­tang tantri dan yoga.”

“Apa guna semua itu untuk Para­mesy­wari?”

“Coba kata­kan padaku yang masih bodoh ini,” Dedes mene­rus­kan,” apa saja yang kau keta­hui dari ucapan Kra­ma­sara ten­tang wanita?”

Arok meng­ang­kat muka dan pan­dang, meman­car­kan sinar ekag­rata, ber­ki­lauan mene­lan semua yang dili­hat­nya. Tung­gul Ame­tung merasa seperti lumpuh di tempat duduk­nya.

“Deng­ar­kan sahaya ulangi kata-kata­nya Wanita adalah Dewa; Wanita adalah Kehi­dupan; Wanita adalah Per­hi­asan untuk pria ...Yang Mulia. Sahaya mem­be­nar­kan, hanya alas­an­nya tidak. Yang Mulia, menye­sat­kan ...”

Dengan susah payah Ken Dedes ber­ba­lik, melang­kah cepat-cepat mening­gal­kan Taman Larangan, masuk ke Bilik Agung. Sepan­jang per­ja­lanan ia menye­but-nyebut:

“Jagad Dewa, Jagad Pra­mu­dita!”

Tung­gul Ame­tung mening­gal­kan tempat duduk, ber­ja­lan cepat mem­buru istri­nya. Arok menu­tup mata memu­sat­kan ekag­rata pada pen­de­ng­ar­an­nya, dan ia dengar: Tung­gul Ame­tung : Meng­apa, Per­mata? Meng­apa?

Ken Dedes : Jagad Dewa! Jagad Pra­mu­dita!

Tung­gul Ame­tung :Ya-ya, meng­apa?

Ken Dedes : Bukan semes­ti­nya dia duduk di tanah begitu di hadapan Dedes. Tung­gul Ame­tung : Meng­apa?

Ken Dedes: Akulah yang semes­ti­nya menyeka kaki­nya. Tung­gul Ame­tung dengan nada sengit : Meng­apa? Ken Dedes : Dari San­sa­ker­ta­nya jelas dia telah kuasa semua ilmu. Dia tahu yang aku tidak tahu .... Seo­rang sudra yang men­daki naik ke tempat brah­mana.

Tung­gul Ame­tung : Jangan risau, dia takkan kem­bali dari medan per­tem­puran.

Dari pintu Tung­gul Ame­tung men­je­nguk keluar dan melam­bai­kan tangan meng­u­sir Arok.

Arok meng­ang­kat sembah, ber­diri, mela­lui pintu ger­bang bela­kang peku­wuan, mening­gal­kan Taman Larangan.

Sebe­lum berang­kat ke medan per­tem­puran Arok telah meme­rin­tah­kan anak buah­nya untuk meng­hu­bungi Tanca dan Umang, mem­bawa perin­tah untuk men­je­bak pasukan Tuma­pel dari ang­katan lama yang akan dipim­pin­nya. Per­ja­lanan akan menem­puh jalan negeri, maka pen­je­bakan itu akan ter­lalu mudah dila­ku­kan. Anak buah itu datang mem­bawa ren­cana Tanca di sam­ping surat khusus yang mela­por­kan tugas peng­a­was­an­nya ter­ha­dap Hayam. Surat itu pendek, men­ce­ri­ta­kan bahwa Hayam merasa tidak senang tidak diper­bo­leh­kan ke pen­du­langan dan padang batu. Ia telah menu­duh, ada sesu­atu yang dise­m­bu­nyi­kan dari­pa­da­nya, dan ia menya­ta­kan kehi­langan keper­ca­yaan pada Arok dan Tanca. Kemu­dian ia mena­rik pasuk­an­nya dan kata­nya dibawa ke kaki Gunung Kawi.

Ten­tara Tuma­pel berang­kat dengan keku­atan tujuh ratus orang. Pasukan Arok sen­diri berang­kat paling dahulu. Sampai di jebakan per­tama tak ter­jadi sesu­atu. Di jebakan ke tiga ter­jadi perang semu dan sorak-sorai riuh. Pasukan Arok ber­ba­lik mem­bantu teman-teman­nya sen­diri. Pasukan Tuma­pel yang kedua dan ketiga segera masuk dalam jebakan yang tidak pernah diduga-duga­nya, men­de­ri­ta­kan penum­pasan darah. Panah cepat para bia­ra­wan dan bia­ra­wati, tombak, pedang dan pasangan-pasangan bambu hampir-hampir mem­bi­na­sa­kan selu­ruh ten­tara Tuma­pel. Mayat ber­ge­lim­pangan sepe­nuh jalanan. Per­ke­la­hian hampir-hampir tidak ter­jadi. Sorak riuh-rendah menan­da­kan keme­nangan pada ten­tara Arok. Pra­ju­rit-pra­ju­rit Tuma­pel yang dapat melo­los­kan diri dari maut dibi­ar­kan­nya lari. Mereka takkan berani kem­bali ke asra­m­a­nya, dan akan tetap meng­hi­lang dari Tuma­pel.

Bagi Arok semua itu hanya sebuah latihan untuk meng­ha­dapi per­tem­puran yang jauh lebih ber­arti di kemu­dian hari. Pada­nya telah ada tempat resmi seba­gai pra­ju­rit Tuma­pel. Ia dapat ber­ge­rak bebas di antara mereka, dan lebih bebas di tengah-tengah pasuk­an­nya sen­diri.

Mema­suki padang batu ia disam­but oleh Gusti Putra, Mundra dan Umang.

Dari Umang ia mene­rima laporan, bahwa jalan air dan darat ke Kediri telah jatuh selu­r­uh­nya ke tangan­nya. Ber­pu­luh-puluh perahu telah dir­am­pas, dan bera­tus dhar­mana telah dipe­rin­tah­kan­nya kem­bali pada kelu­ar­ga­nya. Tetapi seba­gian ter­be­sar tak berani pulang dan meng­ga­bung­kan diri.

“Beri­kan padaku lima ratus orang dhar­mana.”

“Kau akan men­da­pat­kan­nya pada hari ini juga. Suami.”

“Dan per­si­ap­kan mereka untuk berang­kat ber­sama deng­anku ke Tuma­pel.”

“Mereka akan berang­kat meng­iring­kan kau.”

Gusti Putra mela­por­kan, bahwa selu­ruh per­ta­hanan di pen­du­langan dan per­ba­tuan dipe­gang oleh Mundra. Untuk itu ia men­da­pat­kan kehor­matan nama Mun­d­ra­yana. “Berapa jumlah pasuk­anmu, Mun­d­ra­yana?”

“Semua orang dewasa. Pim­pinan Ter­tinggi, laki dan perem­puan, kecu­ali kanak-kanak.”

“Baik. Berang­kat kau dengan dua ratus orang pada malam ini juga. Hin­dari jalanan negeri, dan ber­kam­pung kalian di desa Randu alas. Mul­i­a­kan ibuku, Nyi Lem­bung. Bina­sa­kan semua pra­ju­rit Tuma­pel yang tidak takluk padamu. Isilah namamu, Mun­d­ra­yana, dengan keme­nangan gilang-gemi­l­ang.”

Malam itu ia ber­is­ti­ra­hat dengan Umang di gubuk Ki Bango Sam­pa­ran. Dan pada kee­sok­an­nya ia berang­kat pulang ke Kuta­raja dengan mem­bawa lima ratus pra­ju­rit tam­ba­han bekas dhar­mana Kediri dan seba­gian dari anak buah Tanca. Mereka semua ber­pa­kaian pra­ju­rit Tuma­pel, juga per­sen­ja­ta­an­nya.

Mema­suki Kuta­raja mereka ber­ba­ris dan ber­so­rak-sorai mem­be­ri­ta­kan keme­nang­an­nya. Pen­du­duk kota pada keluar dari rumah masing-masing, menyam­but balat­en­tara pulang itu tanpa sorak, hanya diam-diam menon­ton. Mereka ber­ba­ris di depan peku­wuan untuk mene­rima pujian dari Sang Akuwu.

Damar-damar pen­dopo itu telah ditam­bah dengan sepu­luh lagi. Empat orang men­teri Tuma­pel dan Bela­kangka hadir. Tetapi Sang Akuwu belum juga muncul.

Malam telah tiba waktu akhir­nya pintu Bilik Agung ter­buka. Yang muncul bukan Akuwu, tetapi Para­mesy­wari dalam pakaian kebe­saran yang serba gemi­l­ang. Dii­ring­kan oleh para men­teri dan Bela­kangka ia menye­ber­a­ngi pen­dopo, ber­diri pada anak tangga. Meng­u­mum­kan:

Yang Mulia Sang Akuwu sedang ber­ha­langan, telah berang­kat pada siang hari tadi ke sebe­lah barat Tuma­pel.”

Arok, yang ber­diri di depan pasuk­an­nya meng­erti, Sang Akuwu sedang memim­pin sen­diri penin­dasan keru­suhan di sebe­lah barat.

Ia mela­por­kan hasil per­tem­pur­an­nya: para peru­suh di selatan ditum­pas selu­r­uh­nya. Ten­tara Tuma­pel kehi­langan dua puluh lima orang pra­ju­rit.

“Arok, seti­a­wan Tuma­pel, teri­ma­ka­sih atas jasamu yang sangat besar pada Tuma­pel. Asra­ma­kan anak buah untuk kemu­dian meng­ha­dap padaku.”

Dan Arok meng­as­ra­ma­kan pra­ju­r­it­nya sen­diri yang enam ratus orang, dengan regu-regu dipim­pin oleh anak buah lama. Ia tahu: hari ini adalah hari awal keme­nang­an­nya dan awal kerun­tuhan Tung­gul Ame­tung.

Peng­ha­dapan itu ter­jadi di pen­dopo. Ken Dedes seba­gai Para­mesy­wari Tuma­pel duduk di Sing­ga­sana meng­gan­ti­kan Sang Akuwu. Empat orang men­teri duduk di bawah meng­a­pit­nya. Yang Suci Bela­kangka ber­diri, ber­tumpu pada tong­kat. Sang Patih tidak hadir, karena dibawa oleh Sang Akuwu dalam menin­das keru­suhan.

Para­mesy­wari meme­rin­tah­kan pada­nya men­ce­ri­ta­kan jalan­nya per­tem­puran.

Arok meng­ang­kat muka dan menga­gumi kecan­ti­kan Dedes. Dalam hati ia mem­be­nar­kan Tung­gul Ame­tung men­du­duk­kan­nya pada tahta Tuma­pel. Ia adalah mah­kota untuk kera­jaan mana pun, karena kecan­ti­kan­nya, karena penge­ta­hu­an­nya, karena keb­rah­ma­na­an­nya, karena ketang­kas­an­nya, karena kei­ng­in­an­nya untuk menge­ta­hui per­so­alan negeri.

Ia mela­por­kan jalan­nya per­tem­puran dalam San­sa­kerta. Dan selama itu mereka berdua ber­pan­dang-pan­dangan seperti dua orang yang sudah lama saling menge­nal dan meng­erti hati masing-masing.

Dedes tak mengu­a­sai isti­lah perang, lebih-lebih tak mengu­a­sai hati sen­diri lagi. Dengan jujur ia meng­a­kui pada dir­i­nya telah jatuh cinta pada pemuda sudra tanpa darah Hindu sete­tes pun itu, yang demi­kian fasih ber­ba­hasa ilmu para dewa dan mahir

Dalam yud­d­ha­gama. Dan begitu muda, hanya ter­paut tiga tahun dari dir­i­nya sen­diri.

Dialah yang patut jadi sua­miku, peme­gang keku­a­saan atas Tuma­pel, seo­rang brah­mana yang akan dapat memu­li­a­kan cak­ra­warti Hyang Syiwa. Ia pejam­kan mata, menik­mati musik yang ter­de­ngar dalam San­sa­kerta Arok. Dan ia mem­bi­ar­kan dir­i­nya dipan­dangi sepu­as­nya oleh seo­rang lelaki yang bukan sua­mi­nya. “Sele­sai, Yang Mulia Para­mesy­wari.”

“Teri­ma­ka­sih Arok, akan aku terus­kan pada Yang Mulia Akuwu,” ia ber­pa­ling pada Bela­kangka yang ber­diri agak jauh di sam­ping­nya, “Yang Suci, sila­kan ajukan per­ta­nyaan pada­nya untuk meleng­kapi gam­baran.” Ia tahu Bela­kangka tak dapat meng­i­kuti laporan itu, apa­lagi para men­teri Tuma­pel.

Dan Bela­kangka meng­ga­ruk-garuk teng­go­r­okan.

Tawaran dite­rus­kan­nya pada para men­teri. Salah seo­rang meng­a­kui tidak meng­erti San­sa­kerta.

Ken Dedes ter­se­nyum. Kesem­patan itu ia per­gu­na­kan untuk ber­pe­san pada Arok agar mene­mu­i­nya di Taman Larangan nanti tengah malam.

Dan dengan demi­kian peng­ha­dapan bubar.

Malam itu juga ia ambil-alih tugas kemit, dan dengan demi­kian pasuk­an­nya sen­diri yang telah ter­per­caya yang mela­ku­kan­nya. Ia meng­erti, Para­mesy­wari sedang menan­tang maut dan mena­war maut untuk dir­i­nya dengan undangan malam itu.

Dedes masuk ke Bilik Agung dengan tubuh meng­gi­gil. Begitu Arok menya­ta­kan kesang­gup­an­nya ia meng­erti, ia telah ber­se­kutu dengan pemuda itu untuk men­ja­tuh­kan Tung­gul Ame­tung. Kese­daran, bahwa ia sedang menempa makar, dira­sa­kan­nya suatu hal yang ter­lalu besar dan tubuh­nya kurang kuat menam­pung. Melin­tas wajah Mpu Parwa di hadap­an­nya Ayah ter­cinta itu meng­ang­guk mem­be­nar­kan. Kemu­dian melin­tas wajah Dang Hyang Loh­gawe Brah­mana itu dili­hat­nya meng­ang­guk mem­be­nar­kan. Ia perin­tah­kan untuk menga­wal­nya dari pintu ger­bang bela­kang peku­wuan ke pura dalam.

Dilin­tas­i­nya Taman Larangan. Di luar ia disam­but oleh empat orang penga­wal.

“Pasukan siapa kalian?” Tanya­nya pelan.

“Arok, Yang Mulia.”

“Aku merasa lebih aman dalam penga­walan kalian.”

“Beribu teri­ma­ka­sih. Yang Mulia.”

Mereka meng­iring­kan­nya mema­suki halaman per­tama, kedua dan ketiga pura. Penunggu itu meng­ang­kat sembah menyam­but­nya kemu­dian menyi­la­kan­nya naik ke atas.

“Ting­gal­kan aku seo­rang diri,” perin­tah­nya.

Pedu­paan itu telah menge­pul­kan harum. Ia tahu tak ada patung-patung Maha­dewa dan syakti-syak­ti­nya. Tetapi selama ini ia telah mem­bi­a­sakan tanpa dengan mereka.

Ia lenyap­kan pera­saan pri­badi, segala pamrih yang meng­gu­muli hati, mema­dam­kan pan­ca­in­dra dengan hanya mem­ba­wa­kan satu macam per­mo­honan untuk men­da­pat­kan petun­juk yang benar dan dibe­nar­kan pada Hyang Maha­dewa Syiwa. Dan lenyap­lah ia dalam alam puja. Selu­ruh wujud­nya padam, mema­suki alam sinar dan getaran kemu­dian ke alam sunnya tanpa sesu­atu. Kemu­dian sayup-sayup meng­ge­le­tar, makin lama makin nyata, dan ter­de­ngar suara tawa. Muncul di hadap­an­nya seo­rang tua buncit ber­jeng­got putih pan­jang sampai ke pusar, telan­jang dada dan ber­tong­kat, ber­bi­sik pada­nya:

“Kem­bali kau. Cucu, kem­bali, mah­kota kera­jaan mana pun yang kau ing­in­kan sudah ada pada kepa­lamu.”

Seka­rang alam sunnya itu padam. Ujung-ujung ibu­jar­i­nya meng­ge­le­tar, meram­bat naik ke kaki, ke badan, ke leher dan kepala. Baru ia dapat meng­ge­rak­kan tubuh­nya. Ia meng­ang­kat sembah pada Hyang Bat­hara Guru dalam bayangan, kemu­dian bering­sut mundur, bang­kit dan mening­gal­kan pura.

Waktu ia menu­runi tangga, ia ter­i­ngat, bahwa ia tidak seo­rang diri meng­ha­dap Hyang Maha­dewa Syiwa Bat­hara Guru. Ia beserta anak dalam kan­dungan. Ia raba perut­nya dan ber­bi­sik:

“Jangan kau kaget, anakku. Sesu­atu harus ter­jadi, dan kau ikut menyer­tai bun­damu sejak semula.”

Para penga­wal itu meng­hor­mat­i­nya dengan gedi­kan pang­kal tombak. Ia melang­kah pelan-pelan ke pintu ger­bang bela­kang peku­wuan. Sebe­lum masuk ia ber­pa­ling dan ber­bi­sik:

“Teri­ma­ka­sih, pra­ju­rit. Aku merasa aman dalam penga­walan pasukan Arok. Maka pintu ger­bang ini tak perlu dika­wal,” dan ia masuk ke dalam.

Lambat-lambat ia menu­tup pintu sambil mem­per­ha­ti­kan apakah para penga­wal telah pergi. Memang mereka semua telah pergi dan ber­ba­lik ia meng­ha­dap ke Taman Larangan. Bulu roma­nya meng­ger­mang, ter­ke­jut, meli­hat seso­sok tubuh ber­diri di hadap­an­nya. Hampir ia ter­pe­kik. “Dir­ga­hayu untukmu, anak Mpu Parwa.” Demi dili­hat­nya orang itu Arok, ia ber­lu­tut dan meng­ang­kat sembah: “Dir­ga­hayu, ya, Guru.”

“Keta­hu­i­lah, telah aku antar­kan ayahmu Mpu Parwa kem­bali ke Gunung Kawi sete­lah pulang meli­hat rumahmu diba­kar habis oleh Tung­gul Ame­tung.”

“Ten­ma­ka­sih beribu kali, ya, Guru.”

“Ayahmu takkan meli­hat kau sebe­lum sua­mimu tumpas karena sen­jata.”

Sahaya men­de­ng­ar­kan, ya, Guru.”

“Keta­hu­i­lah, bahwa per­si­dangan kaum brah­mana puncak di candi Apanya, Gunung Kawi, telah ber­janji untuk men­ja­tuh­kan Tung­gul Ame­tung dan Kediri. Kaulah yang menye­bab­kan per­si­dangan mengu­tuk dan meng­hu­kum pen­cu­likan itu. Kau meng­erti semua yang aku kata­kan, anak Mpu Parwa?”

“Sahaya men­de­ng­ar­kan, ya, Guru.”

“Belum patut aku jadi gurumu, Dedes”

“Beribu teri­ma­ka­sih atas pem­be­ri­taan itu, ya, Kakanda.”

“Kata­kan padaku, pada pihak siapa kau berada.”

“Sahaya ada pada pihak para brah­mana, pada pihak Kakanda.”

“Apakah cukup dengan hanya pemi­ha­kan?”

“Sahaya serah­kan suami sahaya, hidup dan mati­nya, pada Kakanda,” ia menun­duk,” semua yang ditun­tun oleh tangan Dang Hyang Loh­gawe pasti kebe­naran yang tak dapat dita­war.”

“Apakah kau tidak menye­sal kehi­langan suami?”

“Sahaya serah­kan diri dan hidup sahaya kepada Kakanda, demi Hyang Maha­dewa.”

Arok mena­rik Dedes ber­diri, dan ia rasai tubuh Para­mesy­wari meng­gi­gil:

“Bangun kau, Dedes, dan kem­bali kau ke Bilik Agung.”

“Akan Kakanda ting­gal­kan sahaya begini seo­rang diri?”

“Tidak. Setiap saat aku akan kun­jungi kau di sini. Ter­se­rah pada pang­gil­anmu.”

Arok memim­pin­nya ke arah Bilik Agung. Sampai di tangga ia minta diri dan melang­kah cepat menye­ber­a­ngi ger­bang bela­kang peku­wuan, kemu­dian keluar. Ken Dedes jatuh tak ber­daya di depan per­a­duan, ia letak­kan kepa­la­nya. Mata­nya ter­tu­tup, ia merasa sangat, sangat ber­ba­ha­gia. Ia merasa tidak ber­dosa pada para dewa, juga tidak pada ayah­nya. Ia meng­ge­liat waktu menye­dari adanya saksi per­ca­kapan mereka: anak dalam kan­dungan. Dibe­la­inya perut­nya:

“Duh, anakku, jangan kaget telah aku serah­kan hidup dan mari ayahmu pada musuh-musuh­nya. Kalau kelak kau ting­gal­kan rahim ibumu, kau akan tiba di dunia yang tidak seperti ini; dunia yang dike­hen­daki oleh para dewa.”

Dengan dua ratus pra­ju­rit sen­diri dan dua ratus pra­ju­rit Tuma­pel, dan dengan restu resmi Para­mesy­wari, Arok berang­kat menyu­sul Tung­gul Ame­tung untuk menum­pas keru­suhan di utara dan barat Kuta­raja.

Di desa Asam Bagus kesa­tu­an­nya ber­henti untuk mesang­grah. Dua puluh orang dari pra­ju­r­it­nya sen­diri ia perin­tah­kan meng­hu­bungi Arih-Arih dan San­ting untuk menum­pas buntut pasukan yang diba­wa­nya. Ia sen­diri akan ber­ba­lik dan ikut meng­han­cur­kan.

Dengan penga­walan empat orang pada malam itu juga ia berang­kat ke Pang­kur untuk mene­mui Dang Hyang Loh­gawe. Ia menyam­pai­kan Tuma­pel sudah hampir berada di tangan­nya. Setiap waktu ia dapat guling­kan Tung­gul Ame­tung.

“Aku per­caya. Kau telah bekerja lebih cepat dari­pada per­hi­tungan. Untuk itu waktu belum mengi­jin­kan. Peng­gi­lingan atas Sang Akuwu, garu­daku, belum tentu ber­arti keme­nangan bagimu, bisa ber­arti awal dari kehan­curan kita semua.”

“Ya, Bapa Maha­guru, sahaya meng­erti: Kediri tidak akan ting­gal diam. Pasukan gajah­nya yang per­kasa akan segera datang meng­han­cur­kan Tuma­pel.”

“Itu bisa kau hadapi Arok. Ter­gu­ling­nya Tung­gul Ame­tung ber­arti kau men­jadi raja Tuma­pel. Di situ letak kesu­l­it­an­nya. Belum pernah ter­jadi seo­rang sudra, tanpa darah Hindu, marak jadi raja. Erlangga yang mula-mula marak dengan ter­lalu sedi­kit darah Hindu dalam tubuh­nya. Tetapi darah itu ada. Padamu sama sekali tiada. Kau tidak bisa meng­a­ju­kan sil­si­lah yang bisa dibe­nar­kan oleh kaum brah­mana. Takkan ada raja lain yang bakal dapat meng­a­ku­imu.”

“Tak pernah ini Bapa ajar­kan pada sahaya.”

“Seka­rang ini aku sam­pai­kan, Arok. Tanpa darah Hindu orang tak bisa jadi raja.”

“Apakah ini ber­arti sahaya hanya baik untuk ber­pe­rang saja untuk orang lain?”

“Bukan. Kau bukan semes­ti­nya jadi pra­ju­rit bayaran. Deng­ar­kan, garu­daku: begitu dunia men­de­ngar seo­rang sudra telah meng­gu­ling­kan keper­ca­yaan Kediri di Tuma­pel, semua raja di Jawa. Orang-orang yang ber­da­rah Hindu itu, akan bang­kit dan ber­ba­ris untuk mem­bi­na­sa­kan kau. Kau bisa guling­kan Sang

Akuwu dengan mudah. Memang setiap waktu bisa. Tapi jadi raja bukan­kah tidak cita-citamu? Jadi satu-satu­nya dari yang sele­bih­nya? Bukan, Arok. Jalan ke tahta ter­lalu mudah bagi orang seperti kau. Hanya jangan kau lupa, kau mem­bawa tugas dari semua brah­mana dan peng­a­nut Hyang Maha­dewa. Tugasmu adalah meng­gu­ling­kan wangsa Isana yang sudah tak dapat meneng­gang lagi itu.”

“Sahaya meng­erti sepe­nuh­nya, Bapa Maha­guru.”

“Mung­kin kau lupa. Jatuh­kan Tung­gul Ame­tung seakan tidak karena tanganmu. Tangan orang lain harus mela­ku­kan­nya. Dan orang itu harus dihu­kum di depan umum ber­da­sar­kan bukti tak ter­ban­tah­kan. Kau meng­am­bil jarak secu­kup­nya dari peris­tiwa itu. Tanpa jatuh­nya Tuma­pel, kita takkan bisa meng­ha­dapi Kediri. Tuma­pel adalah modal per­tama, Arok. Jangan kau lupa.”

Ia diam, meme­jam­kan mata, kemu­dian mene­rus­kan:

“Segera sete­lah jatuh­nya Tung­gul Ame­tung, Bela­kangka akan ber­tin­dak seba­gai wakil Kediri. Ia akan menem­pat­kan sese­o­rang untuk jadi peng­ganti semen­tara. Itu tidak boleh. Dedes harus segera meme­gang keku­a­saan peng­ganti sua­mi­nya. Dia harus mampu men­ja­tuh­kan hukuman bagi yang ber­sa­lah dan karu­nia bagi yang ber­jasa. Kaulah harus jadi tempat ia menyan­dar­kan diri.”

Dan Arok sepe­nuh­nya meng­erti. Ia menyam­pai­kan, bahwa Tuma­pel Selatan sepe­nuh­nya sudah berada di tangan­nya. Seben­tar lagi juga sebe­lah barat dan utara.

“Kau memang putra Hyang Brahma sen­diri.”

Arok meng­ang­kat sembah.

“Sudah kau ber­temu dengan anak Mpu Parwa?”

“Sudah, ya, Bapa Maha­guru.”

“Sudah kau bicara deng­an­nya?”

Ia men­ce­ri­ta­kan per­te­muan di malam hari dalam Taman Larangan itu.

“Hanya orang seperti kau yang berhak memi­l­iki dia. Ingat, Arok, dia ber­da­rah Hindu. Bila dia meme­gang keku­a­saan atas Tuma­pel adalah sudah wajar menu­rut kebi­a­saan lama. Bukan kau. Dari per­ka­win­anmu deng­an­nya saja syarat-syarat baru ter­se­dia untukmu.”

“Tia­da­kah Bapa maha­guru mena­ruh banyak, ter­lalu banyak keper­ca­yaan pada sahaya?”

“Kau hanya men­ja­lani kehen­dak kaum brah­mana.” Dan Arok pulang pada kesa­tu­an­nya.

Waktu hendak mema­suki rumah peng­i­nap­an­nya di Asam Bagus dari rim­bunan semak di ping­gir jalan ter­de­ngar teguran dari sese­o­rang: “Arok, aku tahu dari mana kau.”

“Siapa itu!”

“Bana.”

Ia telah men­ca­but pedang dan para penga­wal­nya dengan tombak mulai menge­pung semak-semak itu. “Bana siapa!”

“Anak buahmu dulu. Dengar, aku mau bicara deng­anmu.”

“Keluar kau dari situ.”

“Jangan bunuh aku. Aku akan keluar men­da­pat­kan kau.” Orang itu keluar dari semak-semak.

“Ah, kau?” Seru Arok. “Bagai­mana kau bisa di sini? Tem­patmu di utara.”

“Kau tak per­ha­ti­kan aku dan kami sejak tadi. Aku pra­ju­rit Tuma­pel. Tak bisa lolos dari wajib ten­tara. Semua temanku yang dalam pasuk­anku adalah anak-anak kema­rin, anak tani semua. Apakah kau tega tumpas kami seperti yang kau bawa ke selatan?”

“Lantas apa maumu?”

“Aku dan kami meng­ga­bung­kan diri deng­anmu, Arok.”

“Bagai­mana bisa orang seperti kau tidak bisa lari waktu kena wajib ten­tara?”

“Mereka meng­an­cam Bapak dan emak.”

“Keta­hu­i­lah, sesung­guh­nya pra­ju­rit Tuma­pel sukar untuk dapat diper­caya. Juga kau. Tem­patmu tidak di sini, di baris­anmu sen­diri”

“Aku tak mampu meli­hat bapak dan emak ter­a­ni­aya Sudah kuka­ta­kan tadi. Aku meng­erti, kau meng­hen­daki jaminan dari kami. Mari aku bawa ke peng­i­napan kami”

“Tidak perlu.”

“Baik, aku bawa jaminan kami kepa­damu.” Arok masuk ke rumah peng­i­nap­an­nya dalam iringan para penga­wal­nya.

Bebe­rapa bentar kemu­dian ter­de­ngar suara dari luar rumah­nya: “Bana datang untuk mene­mui Arok.”

“Bawa dia masuk,” perin­tah­nya pada kemit.

Ia masuk mem­bawa sepu­luh orang tam­tama ang­katan lama yang telah ter­i­kat, dii­ring­kan oleh penga­wal-penga­wal dari ang­katan baru.

“Inilah jaminan kami. Ter­se­rah padamu hendak kau apakan bina­tang-bina­tang ini.”

Di bawah cahaya damar nampak muka Bana yang masih muda belia, belum lagi tumbuh kumis dan cam­bang. Pipi­nya barut dan ber­da­rah.

“Beri kami hidup, Arok,” seo­rang tam­tama memo­hon. “Keja­hatan kalian tak mung­kin melin­dungi hidup kalian,” jawab Arok.

“Kami tang­kap sedang mela­ku­kan keja­hatan ter­ha­dap orang desa, Arok.”

“Hanya itu yang kalian bisa per­buat selama ini hanya menin­das dan meram­poki orang desa.”

“Hidupi kami. Akan kami per­se­m­bah­kan apa saja: harta, anak bini, untuk dibu­dak­kan, untuk milik sen­diri...,” seo­rang memo­hon.

“Dengar,” kata Arok pada semua yang hadir, juga pra­ju­rit-pra­ju­rit yang ter­ba­ngun dari tidur­nya, “kami tidak mem­be­ri­kan peng­am­punan dan hukuman. Kami mem­be­ri­kan kea­dilan pada siapa saja, pada semua sejauh kemam­puan kami. Juga kea­dilan untuk kalian, para tam­tama ang­katan lama untuk semua keja­hat­anmu selama jadi pra­ju­rit Tuma­pel. Bana, nyah­kan mereka dari pan­dang­anku, dan segera kau kem­bali kemari.”

Mereka berang­kat, dan Arok mene­liti makan dan minum yang dise­di­a­kan untuk dir­i­nya dan para penga­wal­nya.

Ia mulai makan dan hujan turun dengan deras­nya. Bana datang lagi, basah kuyup:

“Arok, kita sama-sama anak desa, anak tani, meng­apa kau kehi­langan keper­ca­yaan pada kami?”

“Apakah tam­tama tadi bukan anak tani? Anak tani pun bisa jadi sampar untuk bekas tetangga dan teman seper­ma­inan sen­diri di desa­nya yang dulu. Juga kau bisa jadi sampar.”

“Tidak, aku tetap ber­sama deng­anmu.”

“Tidak semu­dah itu. Kau sudah men­da­pat contoh busuk dari pra­ju­rit Tuma­pel.”

“Beri­lah kea­dilan padaku, pada kami semua.”

“Baik, berang­kat kau ber­sama pasuk­anmu malam ini, gabung­kan diri dengan Mun­d­ra­yana di Randu Alas. Lari pindah kalian ke utara Tuma­pel, ber­ga­bung dengan San­ting dan Arih-Arih bila meli­hat kami datang, dan ber­so­rak kalian Arok datang.”

“Siapa Mun­d­ra­yana?”

“Si-mata­s­atu. Salam dari Pim­pinan Ter­tinggi pada­nya, dan pergi kalian.”

“Belum tentu dia per­caya.”

“Kalau begitu, itulah nasib pra­ju­rit Tuma­pel.”

“Baik, kami berang­kat, Pim­pinan Ter­tinggi.”

Salah seo­rang penga­wal­nya ber­bi­sik:

“Kau ter­lalu keras, mereka adalah anak buahmu sen­diri.”

“Mereka pra­ju­rit Tuma­pel waktu meng­ha­dap aku. Mereka tetap pra­ju­rit Tuma­pel sebe­lum ber­ga­bung dengan Mun­d­ra­yana. Kita anak tani, tidak memer­lu­kan lain kecu­ali diri kita sen­diri. Dia harus bel­a­jar meng­erti.”

“Dia masih ter­lalu muda, dan telah menye­rah­kan jaminan.”

“Dia memer­lu­kan kea­dilan, dia harus bel­a­jar menge­nal­nya dengan selu­ruh tubuh dan jiwa­nya, bukan hanya suara hampa untuk bunga bibir dan bunga hati Juga untukmu sen­diri. Juga untukku sen­diri. Juga untuk kita semua. Setiap orang.”

Dedes merasa ber­ba­ha­gia telah ter­be­bas dari ting­kah laku pura-pura selama keper­gian Tung­gul Ame­tung. Ia merasa mene­mu­kan diri sen­diri, tidak dibi­ar­kan tenar seo­rang diri di tengah rimba belan­tara kedu­nguan. Ia merasa berada di antara orang-orang­nya sen­diri, dijaga kese­la­mat­an­nya, diper­ha­ti­kan dan dihar­gai.

Dan ia jatuh cinta. Ter­lalu sering ia ambil cermin perunggu dan ber­hias. Dan kadang pun ia malu pada diri sen­diri: seo­rang wanita, istri sese­o­rang, mengan­dung dua bulan, jatuh cinta pada seo­rang sudra! Tanpa darah Hindu dalam dir­i­nya! Apakah jadi­nya anak ini dengan hati ibunya yang beru­bah-ubah sema­cam ini? Kalau ada Rimang, boleh jadi akan lebih mudah meng­am­bil kepu­tusan untuk meng­gu­gur­kan­nya. Dia tak ada, dan hubungan dengan orang lain pun tiada.

Arok pun pergi. Ia merasa: dia akan datang kem­bali untuk mene­ngok­nya. Waktu Tung­gul Ame­tung pergi ia tak punya pera­saan itu, bahkan tak meng­ha­rap­kan meli­hat­nya kem­bali. Ia tahu: ia jatuh cinta. Dan ia merasa ber­syu­kur dapat men­cin­tai seo­rang pria.

Dan kalau ter­i­ngat ia pada pem­be­naran Arok, Wanita adalah Dewa, Wanita adalah Kehi­dupan, Wanita adalah Per­mata, keba­ha­gi­a­an­nya men­da­pat­kan pengu­kuhan. Apa yang Tung­gul Ame­tung tahu ten­tang itu? Tak sedi­kit pun. Orang yang jatuh cinta pada diri dan nama sen­diri karena seke­ping keku­a­saan dari Kediri itu tak tahu sesu­atu pun kecu­ali nik­mat­nya keku­a­saan. Dan Arok tak menye­tu­jui alasan Maha­yo­gin Kra­ma­sara. Dia tidak mem­be­nar­kan seo­rang maha­guru! Tentu dia punya alasan, ah, Arok yang menge­nal para dewa itu. Umur dua puluh telah dile­pas oleh Yang Suci Dang Hyang Loh­gawe, menum­pas keru­suhan di selatan, dan kini akan menum­pas lagi di barat dan utara. Bukan­kah dia juga yang meng­aku brah­mana dari utara? Dengan kumis seke­pal?

Teka-teki itu pada suatu kali akan dita­nya­kan­nya pada­nya. Juga teka-teki keme­nang­an­nya di selatan. Karena, bukan­kah semua itu gerakan Syiwa mela­wan Tung­gul Ame­tung? Bagai­mana mung­kin ia menin­das mereka para pela­wan Akuwu itu?

Makin ia pikir­kan, Arok sema­kin men­jadi teka-teki bagi­nya. Dan justru karena itu sema­kin agung dalam peni­lai­an­nya – anak sudra itu!

Sedap sore ia memuja di pura dalam untuk kese­la­matan Arok. Dan setiap berang­kat tidur ia bicara pada anak dalam kan­dungan ten­tang keti­dak­pan­ta­san ayah­nya, Sang Akuwu, meya­kin­kan dir­i­nya sen­diri bukan seo­rang istri yang tidak tahu ber­se­tia, tetapi seo­rang brah­mani yang hendak menge­bas­kan diri dari kung­kungan kedu­nguan dan musuh dari ajaran.

Keba­ha­gi­aan ini akan ia kokohi untuk selama-lama­nya.

Ia hin­dari Patih dan para Men­teri. Semua kepu­tusan mereka harus disam­pai­kan kepa­da­nya mela­lui Bela­kangka. Hendak diper­li­hat­kan­nya pada Peng­hulu Negeri itu, bahwa ia tidak pernah takluk kepa­da­nya. Dan bahwa ia harus men­de­ng­ar­kan kata­nya dan perin­tah­nya.

Dari Rimang ia menge­ta­hui, semua keru­suhan meng­ang­kat tinggi nama Hyang Bat­hari Durga. Kini dalam melu­as­nya keru­suhan, bat­hari itu tak banyak lagi ter­de­ngar. Ia juga tidak meng­erti sebab­nya.

Seka­rang dua orang lelaki yang meng­isi hidup­nya berang­kat untuk ber­pe­rang, seo­rang suami dan seo­rang pujaan hati. Ia tindas pera­saan malu tidak meng­ha­rap­kan kem­ba­li­nya sang suami. Ia memo­hon agar pujaan hati saja yang bakal­nya pulang kepa­da­nya.

Dalam kea­daan hati penuh dengan baha­gia dan harapan ia keluar dari gedung peku­wuan dalam iringan para penga­wal, meme­riksa selu­ruh halaman, mema­suki tung­guk kemit dan memer­lu­kan ber­ta­nya pada kepala kemit: “Anak buah siapa yang ber­jaga seka­rang?”

“Arok, Yang Mulia Para­mesy­wari.”

“Siapa yang meng­a­tur giliran?”

“Pang­a­lasan, Yang Mulia.”

“Meng­apa bukan anak buah Pang­a­lasan?”

“Sahaya kurang periksa, ampun.”

“Pang­gil Pang­a­lasan.”

Dan waktu Pang­a­lasan datang, ia mem­per­se­m­bah­kan:

“Ampun. Yang Mulia, anak buah sahaya seba­gian dibawa oleh

Arok, seba­gai gan­ti­nya ia menu­kar dengan anak buah­nya.” Ken Dedes mem­bu­ang muka untuk menyem­bu­nyi­kan senyum.

“Baik. Kau tidak ber­sa­lah. Juga Arok tidak, barang­kah ia mem­bu­tuh­kan tam­tama yang lebih ber­peng­a­laman.”

“Memang itu sebab­nya, Yang Mulia Para­mesy­wari.”

“Kau boleh pergi.” Pang­a­lasan pergi dan ia ber­ta­nya pada kepala kemit, “Kau anak buah Arok, apakah kau orang Syiwa?”

“Ampun. Yang Mulia,” ia gugup dan ter­diam.

“Meng­apa takut? Apakah semua anak buah Arok orang Syiwa?”

“Tidak. Yang Mulia”

“Apa sebab­nya kau ikut dia?”

“Hanya dia yang mem­bi­kin kami tidak ter­a­ni­aya. Yang Mulia.”

“Apakah Arok tidak meng­a­n­i­aya seperti pra­ju­rit Tuma­pel?”

“Ampun. Yang Mulia, sahaya tidak patut men­ja­wab.”

“Apa perin­tah Arok padamu dan kalian?”

“Sepe­nuh­nya men­jaga kese­la­matan Yang Mulia.”

“Lain­nya?”

“Hanya Yang Mulia, tak ada lain.”

“Apakah kau dan kalian men­cin­tai Arok?”

“Tanpa dia mung­kin kami sudah lama binasa.”

“Meng­apa?”

“Ampun. Yang Mulia, sahaya tidak patut men­ja­wab.”

“Siapa yang patut?”

“Arok sen­diri.”

Ia ting­gal­kan tung­guk kemit. Dalam iringan para penga­wal ia masuki keput­rian, mema­suki Bilik Para­mesy­wari tempat ia per­tama kali ting­gal, kemu­dian mema­suki tempat para selir. Para wanita rupa­wan itu ber­lu­tut di depan bilik masing-masing dan meng­ang­kat sembah. Mereka adalah bunga kecan­ti­kan selu­ruh Tuma­pel, dan seba­gian dalam kea­daan menyu­sui. Tanpa bicara ia per­ha­ti­kan seo­rang demi seo­rang di antara mereka, adakah kira­nya meman­car­kan keben­cian pada­nya. Tak ada yang mem­ben­ci­nya, hanya ia meli­hat hormat mereka kepa­da­nya sung­guh tidak keluar dari hati. Ia ber­pa­ling pada para penga­wal­nya:

“Lihat, bukan­kah cantik semua mereka? Tidak­kah kalian ingin memi­l­iki salah seo­rang di anta­ra­nya?”

Para penga­wal itu mem­bu­ang muka, dan para selir mem­be­re­ngut merasa dihi­na­kan.

“Bukan,” kata­nya kemu­dian, “puas­kah kalian ting­gal di sini jadi selir?”

Seo­rang meng­ang­kat mata dan meli­rik kepa­da­nya. Ia tahu, semua mereka datang kemari karena paksa, seperti dir­i­nya sen­diri.

Ia ber­ja­lan ke bilik ter­u­jung, tempat istri syah Tung­gul Ame­tung sewaktu ia masih muda. Wanita tua itu men­ja­tuh­kan diri dengan kening di tanah pada kaki Dedes.

“Di manakah anak-anak Bibi?” Tanya­nya.

“Semua sudah jadi pra­ju­rit, Yang Mulia.”

Ken Dedes ter­pe­ran­jat dan ber­pa­ling pada para penga­wal­nya. Buru-buru ia ber­ta­nya ten­tang hal lain:

“Tidak­kah Bibi ingin pulang ke desa?”

“Sahaya hanya menunggu perin­tah Yang Mulia.”

“Bukan aku yang meng­hen­daki. Aku hanya ber­ta­nya.”

Perem­puan tua itu meng­ang­kat sembah dan tidak bicara sepa­tah pun.

“Mari­lah aku lihat bilikmu,” tanpa menunggu jawaban ia masuk. Bilik itu ter­diri atas empat ruangan. Ia masuki semua. Setiap ruangan berisi benda-benda ber­harga.

“Semua di sini, Yang Mulia, adalah pem­be­rian anak-anak sahaya.”

“Betapa ber­bakti anak-anak Bibi. Berapa semua, Bibi?”

“Tujuh, Yang Mulia.”

Keluar dari keput­rian ia mema­suki dapur untuk per­tama kali. Semua budak wanita men­ja­tuh­kan diri men­cium tanah dan tidak lagi ber­ge­rak dari tem­pat­nya.

“Buang tapas dari kepala kalian. Tak ada lagi yang menge­na­kan tapas di peku­wuan ini.”

Mereka semua mem­bu­ang penu­tup kepala itu dan mena­ngis ter­hi­sak-hisak. Tak seo­rang pun meng­u­cap­kan kata.

Dedes ber­pa­ling pada para penga­wal­nya:

“Deng­ar­kan, tak ada lagi budak di peku­wuan ini. Atas perin­tah Para­mesy­wari. Sam­pai­kan pada kepa­lamu.”

Ia ting­gal­kan dapur dan masuk ke Taman Larangan dari bela­kang, duduk di bangku di bawah rin­dangan pepo­honan dan mem­ba­cai rontal.

Pasukan Arok ber­ja­lan cepat ke arah Gunung Arjuna. Desa-desa yang dila­lui sepi. Pen­du­duk telah meng­ungsi ke hutan-hutan seki­tar, atau ber­ga­bung dengan kaum peru­suh.

Canang dan gen­de­rang pasukan itu ber­talu tiada henti-henti, mem­be­ri­ta­hu­kan pada kaum pela­wan akan keda­tangan­nya.

Tung­gul Ame­tung, Sang Patih dan pasuk­an­nya ter­ke­pung di desa Jarak Sempal dan telah lebih sehari sema­lam kela­paran.

Pasukan Arok ber­so­rak lari menyi­bak para penge­pung. Dan para penge­pung, seperti telah dise­tu­jui sebe­lum­nya ber­pe­kikan:

“Arok datang! Arok datang!” Dan lari buyar meng­un­dur­kan diri.

Pasukan Arok ber­ge­rak seakan menge­jar musuh.

Sorak-sorai per­tem­puran kede­ngaran di keja­uhan, sema­kin lama sema­kin men­jauh, kemu­dian padam.

Arok men­da­pat­kan Mun­d­ra­yana di desa Randu Alas. Ia peluk warok baru itu. Dan Mun­d­ra­yana tak berani mem­ba­las peluk­an­nya, hanya erat-erat meme­gangi lengan kir­i­nya.

“Betapa banyak orang yang dapat kau kerah­kan, Mundra.”

“Sebe­lum­nya sahaya telah datang ke desa sahaya sen­diri. Orang desa sahaya murka luar biasa men­de­ngar per­bu­dakan Kali Kanta, Pim­pinan Ter­tinggi, lang­sung meng­am­bil sen­jata mereka dan ikut ber­ge­rak.”

Tak lama kemu­dian Bana muncul dan mela­por­kan tugas­nya. “Baik, kau pergi ke sebe­lah utara Tuma­pel, Bana.”

“Apakah sudah cukup jaminan dari aku dan kami?”

“Cukup.”

“Aku pergi, Arok!”

“Ya, kau pergi,” ia tarik Mun­d­ra­yana masuk ke rumah Nyi Lem­bung dan mem­bi­sik­kan: “Mem­bu­yar­lah kalian ke semua desa barat Tuma­pel ini. Ajak semua mem­ber­sih­kan desa masing-masing dari pra­ju­rit Tuma­pel. Beri aku lima puluh orang bekas budak dan lima puluh lagi dari desamu sen­diri.”

Dengan tam­ba­han sera­tus orang ia balik ke Jarak Sempal. Dida­pat­kan­nya Tung­gul Ame­tung sedang ber­lu­tut di sam­ping seo­rang per­wira Tuma­pel yang tewas, dan jari-jari­nya mem­per­ba­iki letak destar mayat itu. Sang Patih ber­jong­kok di ten­tang­nya, menun­duk.

“Anakku yang gagah berani,” Tung­gul Ame­tung ter­de­ngar meng­u­la­ng­i­nya untuk entah berapa kali, “mati mem­bela bapa....”

Meli­hat bayang-bayang pan­jang dari matari sore yang melin­tasi mayat itu ia mene­ngok.

Arok meng­ang­kat sembah:

“Inilah sahaya, Yang Mulia. Jalan ke Kuta­raja telah bersih dari kaum peru­suh.”

Tung­gul Ame­tung meli­rik curiga pada Arok dan tidak bicara sepa­tah pun.

“Mari sahaya iring­kan kem­bali”

Sang Patih meme­rin­tah­kan pra­ju­r­it­nya untuk meng­ang­kat mayat per­wira itu, dan dengan demi­kian pasukan Tuma­pel yang telah sampai pada puncak kele­lahan dan kela­paran itu berang­kat pulang ke Kuta­raja.

Di Asam Bagus Arok mem­per­se­m­bah­kan agar meng­i­nap. Tung­gul Ame­tung menye­tu­jui. Segera kemu­dian ia murka karena tak ada pen­du­duk desa yang meng­ha­dap.

“Mereka semua celah mela­ri­kan diri, Yang Mulia.”

Sang Akuwu meme­rin­tah­kan mem­bong­kari lum­bung untuk mem­beri makan pasukan dan dir­i­nya sen­diri. Ter­nyata ternak besar juga dibawa pergi oleh pemi­l­ik­nya.

Sang Patih meme­rin­tah­kan agar men­je­jak ternak besar dengan damar. Dan Arok men­ce­gah­nya, bahwa obor damar itu memang­gil kebi­na­saan. Kaum peru­suh bisa menyer­gap di mana saja.

Arok meli­hat Tung­gul Ame­tung untuk ke sekian kali meli­rik pada­nya. Dalam hati ia men­ter­ta­wa­kan­nya. Ia tahu dir­i­nya dan pasuk­an­nya tetap was­pada ter­ha­dap segala gerak-gerik pra­ju­rit Tuma­pel dan Akuwu. Dan seka­rang pun anak buah­nya terus mem­ba­yangi semua pra­ju­rit Tuma­pel.

Tung­gul Ame­tung nam­pak­nya tak ada kei­ng­inan untuk mena­nya­kan ten­tang penin­das­an­nya di sebe­lah selatan. Dan Arok sen­diri menyim­pan per­se­m­ba­han itu untuk waktu yang lebih tepat.

Malam itu Tung­gul Ame­tung dan selu­ruh pasukan hanya makan nasi dengan daun-daunan, tanpa garam, dan semua orang makan dengan lahap. Gula pun tiada, tuak apa­lagi. Pada waktu semua ter­le­lap dalam kele­lahan hanya pra­ju­rit-pra­ju­rit Arok yang ber­jaga. Juga mereka yang men­jaga mayat putra per­tama Tung­gul Ame­tung, Kidang Han­da­yani. Akuwu sen­diri tidur di antara per­wira-per­wira pute­ra­nya sen­diri, yang ber­jaga ber­gan­tian.

Kuta­raja ber­ka­bung karena gugur­nya Kidang Han­da­yani. Seperti ikut ber­be­la­sung­kawa selu­ruh Tuma­pel dalam kea­daan damai. Tak ada per­se­m­ba­han ten­tang ter­ja­di­nya keru­suhan baru pada Sang Akuwu.

Jena­sah itu diba­kar di depan pura dalam dengan segala upa­cara kebe­saran. Menu­rut kepu­tusan negeri abunya akan dita­bur­kan di Laut Selatan, sehingga tidak bakal diter­jang oleh perahu dan kapal yang mondar-mandir di Bran­tas.

Dalam per­si­dangan negeri sehari sete­lah abu Kidang Han­da­yani disim­pan dengan upa­cara di pura dalam, yang juga diha­diri oleh Para­mesy­wari Tuma­pel, baru Arok men­da­pat kesem­patan untuk mela­por­kan pema­da­man keru­suhan di selatan.

Tung­gul Ame­tung mena­tap Arok dengan pan­dang tajam:

“Belum ada bukti keru­suhan di selatan telah padam.”

“Apakah kira­nya bukti yang Yang Mulia Akuwu harap­kan dari sahaya?”

“Selu­ruh Kuta­raja ber­te­riak keku­rangan garam, dan hasil laut belum juga datang sampai seka­rang. Jalan air dan darat di selatan masih rusuh.”

“Bukan­kah lembah Bran­tas tepat pada waktu sungai mem­be­lok ke barat bukan lagi kawasan Tuma­pel, Yang Mulia, tetapi Kediri?” Kata Arok tidak pasti.

“Yang Suci, belum pernah Kediri menya­ta­kan yang demi­kian.”

“Yang Mulia, memang belum pernah ada per­nya­taan yang demi­kian selama dua puluh tahun ini. Selama ini baik jalan air maupun darat diper­gu­na­kan oleh Tuma­pel dan Kediri ber­sama, jadi sela­yak­nya kea­man­an­nya harus ditang­gung ber­sama-sama. Arti­nya, seba­gai orang yang mewa­kili Kediri. Yang Mulia, jalur darat, jalan negeri dan air lembah Bran­tas. Sebe­lah utara jalan negeri men­jadi bagian Kediri, bagian selatan Bran­tas men­jadi bagian Tuma­pel. Itu pun kalau Yang Mulia dapat menye­tu­jui.”

“Apakah dengan itu Yang Suci ber­mak­sud mengu­rangi kawasan Tuma­pel?”

“Bukan. Bapa telah per­se­m­bah­kan, seki­ra­nya Yang Mulia Akuwu menye­tu­jui. Kewi­la­yahan ter­gan­tung pada kenya­taan apakah kea­man­an­nya dapat diper­ta­han­kan atau tidak. Bila tidak, dia men­jadi kawasan siapa saja.”

“Kediri selama ini tidak pernah mengir­im­kan balat­en­tara untuk meng­a­man­kan­nya. Tuma­pel sudah, sampai pada tikungan Bran­tas.”

“Jadi sampai di tikungan itu wila­yah Tuma­pel.”

“Jagad Dewa!” Seru Tung­gul Ame­tung murka. “Telah aku ber­sih­kan daerah selatan itu, dari tikungan ke barat sampai ke ben­dungan Sri Erlangga Ringan Sapta. Telah aku per­se­m­bah­kan separoh dari wila­yah itu kepada Sri Kre­ta­jaya atas titah­nya sen­diri, karena Kediri mem­bu­tuh­kan daerah Ganter2 karena pen­du­langan emas yang kaya. Seka­rang aku harus ber­tang­gung­ja­wab dari Ganter sampai tikungan itu, wila­yah yang tak meng­ha­sil­kan apa-apa. Apakah ini cukup adil, Yang Suci Bapa Bela­kangka?”

“Ter­se­rah­lah pada Yang Mulia, kalau Yang Mulia meng­hen­daki dari Ganter ke Timur sampai tikungan tetap wila­yah Tuma­pel, Yang Mul­i­a­lah yang perlu turun tangan mem­ber­sih­kan­nya. Bapa telah meng­u­sul­kan ker­ja­sama Kediri-Tuma­pel.”

“Apakah Yang Suci pasti dibe­nar­kan oleh Kediri?”

“Tak dapat dir­a­gu­kan. Yang Mulia.”

“Apakah Akuwu Tuma­pel ini hanya petani huma yang setiap waktu harus mem­ba­bat kem­bali?”

“Karena ladang tidak tera­wat, Yang Mulia.”

“Jagad Dewa, Jagad Pra­mu­dita!” Ia ber­pa­ling pada Para­mesy­wari dan ber­ta­nya, “Kaulah yang bicara, Para­mesy­wari.”

“Bukan­kah itu ter­gan­tung pada kesang­gupan Tuma­pel sen­diri. Yang Mulia?” Dedes men­ja­wab, “Dan bukan­kah kesang­gupan Tuma­pel ter­le­tak pada para pra­ju­r­it­nya sen­diri?”

“Pang­gil para Kidang. Yang Suci, Bapa tidak diper­lu­kan lagi.”

“Ampun.”

Bela­kangka mening­gal­kan sidang.

Hanya tiga orang putra Tung­gul Ame­tung yang dapat diha­dap­kan. Tung­gul Ame­tung mene­rang­kan pada mereka ten­tang seng­keta kewi­la­yahan dengan Kediri. Kemu­dian:

“Apakah kalian rela wila­yah dari tikungan Bran­tas ke barat sampai Ganter hilang dari Tuma­pel?”

Putra termuda mem­per­se­m­bah­kan:

“Ampun, Yang Mulia Ayah­anda, sejeng­kal pun dari Tuma­pel tidak seyo­gi­a­nya gumpil.”

Kalau begitu siapa di antara kalian sang­gup meng­a­man­kan daerah itu, dan memu­lih­kan lalu lintas air dan darat?”

Ketiga-tiga­nya menya­ta­kan sang­gup dan dipe­rin­tah­kan mening­gal­kan sidang.

“Arok, kau telah dengar semua kete­rangan dari Yang Suci, Yang Mulia Para­mesy­wari dan para Kidang. Wila­yah itu milik Tuma­pel. Kau mem­per­se­m­bah­kan telah mema­dam­kan keru­suhan di selatan. Per­se­m­bah­kan seka­rang, adakah Gusti Putra masih sela­mat? Dan di mana kau telah men­jum­pa­i­nya?”

“Sahaya tidak menge­nal Gusti Putra, Yang Mulia.”

“Apakah peng­ha­lauan para peru­suh itu tidak sampai ke tempat pema­ha­tan batu di tepi Kali Kanta?”

“Sampai, Yang Mulia.”

“Jagad Dewa! Jadi siapa yang mela­ku­kan keru­suhan itu, hei, Arok?”

“Seo­rang peru­suh yang ter­ta­wan meng­a­kui mereka ber­a­sal dari Lodaya. Yang Mulia, dan ber­ga­bung dengan para jajaro.”

“Jagad Dewa. Kalau kau tidak temui Gusti Putra, di mana orang-orang lain, laki dan perem­puan, yang bekerja di tempat itu?”

“Sahaya datang dan tempat itu sudah kosong.”

“Jagad Dewa.”

“Kau mem­bi­kin teka-teki. Tak mung­kin perem­puan dan kanak-kanak itu hilang lenyap tanpa bekas.”

“Boleh jadi mereka semua telah ber­ga­bung dengan para peru­suh.”

“Apakah Para­mesy­wari bisa mem­per­ca­yai per­se­m­ba­han seaneh itu?”

“Apakah tak ada seo­rang pun di antara pekerja itu yang ter­tang­kap olehmu, Arok?” Tanya Ken Dedes.

“Hanya seo­rang. Yang Mulia Para­mesy­wari, itu pun karena luka pada tela­pak kaki­nya, seo­rang perem­puan, ber­nama Rimang.”

“Rimang!” Seru Para­mesy­wari.

Tung­gul Ame­tung menge­r­nyit­kan dahi dan mem­bisu. “Apakah mak­sudmu Rimang bekas selir peku­wuan?”

“Betul, Yang Mulia.”

“Kau tidak diper­lu­kan lagi,” perin­tah Sang Akuwu.

Arok meme­rin­tah­kan anak buah­nya yang dapat mengen­da­rai kuda untuk meng­hu­bungi Tanca dan Umang, dan mena­nya­kan apa sebab­nya perin­tah­nya untuk mem­buka lalu lintas darat dan air tidak juga dilak­sa­nakan.

Men­je­lang pagi utusan itu kem­bali dan mela­por­kan, lalu lintas itu tidak diganggu lagi. Umang dan pasuk­an­nya telah dita­rik ke pen­du­langan. Tetapi Hayam, yang kata­nya mena­rik pasuk­an­nya ke Gunung Kawi, ter­nyata dengan tin­dak­an­nya telah menen­tang keku­atan Arok. Dengan pasuk­an­nya ia mengu­a­sai jalur dari tikungan ke barat sampai Ganter.

Hayam telah meno­lak per­i­ng­atan Tanca untuk menying­kir dari jalur itu. Jawaban yang dite­ri­ma­nya adalah tan­tangan untuk semua keku­atan Arok. Bahkan telah menye­bar­kan fitnah, bahwa Arok tak dapat diper­caya, rakus, dan menim­bun emas untuk kepen­ting­an­nya sen­diri. Bahwa dalam penyer­buan Kali Kanta, Arok telah menyem­bu­nyi­kan ram­pasan paling sedi­kit tujuh puluh ribu saga emas, dan dia tidak ber­niat mem­per­li­hat­kan­nya pada anak buah­nya.

Tanca telah mem­ba­las fitnah itu, bahwa Hayam­lah yang selalu diper­ca­yai oleh Arok untuk mengu­rus semua yang ber­ben­tuk emas. Bahwa sampai seka­rang Arok tidak punya apa-apa kecu­ali seke­ping mata-uang emas per­se­m­ba­han teman-teman­nya sen­diri.

Tetapi, bahwa penga­ruh Hayam Lumang Celu­kan nam­pak­nya ditam­pung juga oleh semen­tara bia­ra­wan dan petani adalah yang paling ber­ba­haya. Ia bisa beru­bah sikap setiap saat, bisa tiba-tiba ber­ga­bung dengan Kediri, bisa dengan Tuma­pel, dengan tujuan hanya untuk men­ja­tuh­kan Arok.

Arok meng­ge­leng-geleng men­de­ngar laporan itu. Dari peng­a­lam­an­nya selama ini ia telah meng­ha­dapi bebe­rapa orang yang tak ber­pen­di­r­ian, kecu­ali pada keun­tungan dir­i­nya sen­diri, dan ber­pi­hak pada siapa saja yang dapat memu­as­kan kera­ku­san­nya. Dan Hayam yang paling ber­ba­haya: dia mem­bawa satu pasukan utuh.

“Ingat-ingat keja­dian ini,” ia mem­per­i­ng­at­kan urus­an­nya, “bahwa setiap orang yang ber­laku demi­kian akan men­da­pat­kan kea­dilan seba­gai­mana dia sen­diri sudah tahu sebe­lum­nya. Untuk meng­hin­dari peng­a­dilan itu dia ber­lin­dung di balik anak buah­nya. Siapa pun boleh men­coba, dan kea­dilan itu takkan dapat dihin­dar­i­nya, karena dia adalah tumit manu­sia sen­diri.”

Ia keluar dari asrama dan men­da­pat­kan Dadung Sung­ging di hadap­an­nya, ber­bi­sik:

“Tuan, mari­lah ber­ja­lan-jalan, karena ada pesan sangat pen­ting.”

Arok meng­a­wasi pra­ju­rit penga­wal itu dengan mata curiga, dan ia ber­ja­lan di sam­ping­nya menuju ke bela­kang asrama. Ia tak men­coba ber­ta­nya.

“Dari Yang Mulia Para­mesy­wari ...”

Arok menang­kap lengan Dadung Sung­ging.

“Ampun, ter­se­rah pada Tuan hendak per­caya atau tidak.”

“Tak mung­kin Yang Mulia Para­mesy­wari ber­pe­san sesu­atu padaku. Kau peman­cing Yang Suci?”

“Apakah sahaya harus mati ter­je­pit antara dua gajah?”

“Siapa kau?”

“Dadung Sung­ging sahaya.”

“Bagai­mana Yang Mulia Para­mesy­wari bisa mem­per­ca­yai orang seperti kau?”

Ia ber­ce­rita ten­tang peris­tiwa mele­tus­nya Kelud

“Kau orang Syiwa?”

“Sahaya.”

“Bagai­mana kau bisa diper­caya?”

“Sia­pa­kah yang tahu raha­sia para dewa kalau bukan kaum brah­mana? Deng­ar­kan pesan Yang Mulia, Tuan.”

“Tidak. Tak ada sesu­atu per­se­ku­tuan meng­hu­bung­kan aku dengan Yang Mulia. Pergi kau.”

“Sahaya tidak akan pergi dari hadapan Tuan. Tuan harus deng­ar­kan,” Dadung Sung­ging memaksa. Arok ber­ba­lik, dan ia meng­i­kuti. “Yang Mulia Akuwu akan sak­si­kan sen­diri peker­jaan Tuan di selatan.”

Arok menyam­bar ikat ping­gang Dadung Sung­ging:

“Dan kau bilang itu pesan dari Yang Mulia.”

“Demi Hyang Maha­dewa.”

“Apa urus­anmu dengan Yang Mulia Para­mesy­wari.”

“Hanya keper­ca­yaan, Tuan.”

“Siapa lagi yang men­da­pat pesan­nya selama ini?”

“Sekali, hanya Tuan.”

“Kau ang­gota kelom­pok raha­sia?”

Dadung Sung­ging tak men­ja­wab dan Arok meng­gun­cang­nya.

“Ter­se­rah hendak dia­pa­kan sahaya ini, hanya pesan Yang Mulia agar Tuan ber­ce­pat-cepat men­da­hu­lui.”

“Selatan telah aku ber­sih­kan. Sang Akuwu dapat sak­si­kan.”

“Telah sahaya per­se­m­bah­kan pada Yang Mulia Para­mesy­wari, ada sesu­atu yang tidak beres di selatan.”

“Apa yang kau mak­sud­kan tidak beres?”

“Bukan tidak beres untuk Tuan, hanya untuk Sang Akuwu.”

Arok mele­pas ikat ping­gang Dadung Sung­ging dan mulai mem­per­ha­ti­kan pra­ju­rit itu lebih teliti.

“Apa yang kau keta­hui ten­tang selatan?”

“Bagi Sang Akuwu yang pen­ting adalah emas. Sahaya hanya mene­rus­kan pesan: Ber­ce­pat-cepat­lah Tuan.”

“Aku tidak per­caya padamu. Pergi kau.”

Arok ber­ce­pat-cepat balik ke asrama dan meme­rin­tah­kan seo­rang anak buah­nya untuk ber­kuda ke selatan, meng­hu­bungi Tanca dan Umang. Ia tahu pasukan bia­ra­wan dan bia­ra­wati telah dita­rik ke sebe­lah timur maka ia tidak perlu meng­hu­bungi.

Ia sebar­kan bebe­rapa orang anak buah­nya untuk menge­ta­hui adanya per­si­apan dari Tung­gul Ame­tung atau tidak. Empat orang ia perin­tah­kan untuk menye­li­diki Dadung Sung­ging. Untuk per­tama kali ia menge­ta­hui, bahwa ia belum banyak tahu ten­tang Kuta­raja.

Tung­gul Ame­tung ter­nyata mem­pu­nyai per­si­apan untuk berang­kat ke selatan. Ia menunggu-nunggu barang­kali men­da­pat pang­gilan untuk menga­wal. Dan dari seo­rang yang ditem­pat­kan di pabrik sen­jata dike­ta­hu­i­nya Dadung Sung­ging sering datang ke pabrik, juga ke rumah Empu Gan­dring.

Ia tak men­da­pat pang­gilan untuk menga­wal. Tung­gul Ame­tung dii­ring­kan oleh para Kidang dan pasuk­an­nya.

Ia datang pada Pang­a­lasan dan mem­be­ri­nya libur selama dua hari dan meng­am­bil alih pen­ja­gaan. Pada kesem­patan itu ia latih anak buah­nya untuk mela­ku­kan pem­be­laan atas peku­wuan sehingga meng­gem­par­kan para peng­huni. Suara sorak dan aba-aba ber­gema-gema seakan ada ser­buan sesung­guh­nya sedang ter­jadi. Dan yang demi­kian tidak pernah dila­ku­kan sebe­lum­nya.

Ken Dedes keluar dari peku­wuan dan meme­rin­tah­kan memang­gil Arok, yang segera datang dan duduk meng­ang­kat sembah.

“Apa yang sedang ter­jadi, Arok?”

“Ampun, Yang Mulia, dengan banyak­nya keru­suhan bela­kangan ini sahaya meng­ang­gap pen­ting adanya latihan mem­per­ta­han­kan peku­wuan.”

Ken Dedes ting­gal ber­diri di pen­dopo. Kemu­dian men­cang­kung dan ber­bi­sik:

“Adakah telah Kakanda per­si­ap­kan di selatan sana?”

“Sepe­nuh­nya sudah. Siapa sesung­guh­nya Dadung Sung­ging?”

“Sahaya hanya hendak men­coba adakah dia bisa diper­caya.”

“Aku tidak per­caya pada­nya.”

“Kalau begitu sahaya akan hen­ti­kan.”

“Kem­ba­li­lah ke tem­patmu, anak Mpu Parwa!”

“Tia­da­kah sahaya dapat mene­mui Kakanda nanti di Taman larangan’”

“Sayang tidak, Akuwu akan segera kem­bali.”

“Beri­ta­hu­lah sahaya siapa Dadung Sung­ging sesung­guh­nya.”

“Akan kau dapat­kan.”

Dedes mene­gak­kan badan, meng­ang­kat tangan mem­beri isya­rat agar Arok pergi. Dan ia pun meng­ang­kat sembah kemu­dian menying­kir pergi

Latihan itu dite­rus­kan. Para peng­huni peku­wuan kini pada keluar untuk menon­ton.

Dedes men­duga Sang Akuwu akan murka bila menge­ta­hui adanya ladhan tanpa perin­tah dan tanpa sepe­nge­ta­hu­an­nya. Tetapi ia menye­rah­kan sega­la­nya pada kebi­jak­sa­naan Arok.

Waktu Tung­gul Ame­tung datang pada malam hari segera dipe­rin­tah­kan Arok meng­ha­dap.

“Aku meng­erti alas­anmu dengan mem­bi­kin latihan sewaktu aku tiada. Kewa­ji­b­anmu adalah mema­dam­kan keru­suhan,” sua­ra­nya dingin.

Arok dapat merasa keke­ce­waan Sang Akuwu karena lenyap­nya para budak dan Gusti Putra. Sumber emas­nya binasa.

“Apakah kau ber­pen­da­pat keru­suhan bisa pada suatu kali men­ja­mah peku­wuan?”

“Latihan itu justru per­i­ng­atan bagi para peru­suh. Yang Mulia, agar mele­pas­kan niat seki­ra­nya mereka mem­pu­nyai ren­cana. Sahaya tidak tahu hati orang lain, Yang Mulia.”

“Jadi benar duga­anku: kau tidak yakin keru­suhan telah kau padam­kan.”

“Mereka belum selu­r­uh­nya tumpas dari muka bumi.”

Dedes men­de­ng­ar­kan semua per­ca­kapan dari Bilik Agung. Kadang suara sua­mi­nya tidak ter­de­ngar. Tetapi suara Arok keras dan lan­tang. Ia ikuti dalih Arok yang selalu meng­e­lak­kan tuduhan dan kecu­r­i­gaan.

“Arok, coba per­se­m­bah­kan padaku, apa sebab­nya semua per­bu­at­anmu mener­bit­kan kecu­r­i­ga­anku?”

“Yang Mulia, apa­bila sahaya memang tidak patut mene­rima keper­ca­yaan dari Yang Mulia, ijin­kan­lah sahaya beserta pasukan sahaya mening­gal­kan Kuta­raja.”

“Maka kau juga akan memu­lai keru­suhan baru?” Desis Tung­gul Ame­tung. “Aku yang meme­rin­tah­kan. Bukan kau yang memo­hon. Dengar, sudah sejak kul­i­hat sen­diri kau meng­ha­lau peru­suh di barat Kuta­raja, kau sen­diri telah mem­buk­ti­kan diri punya per­se­ku­tuan dengan mereka. Tidak mung­kin para peru­suh yang begitu gigih mela­wan pasukan Tuma­pel lari hanya karena keda­tanganmu.”

“Yang Mulia, kalau demi­kian halnya memang sepa­tut­nya sahaya tidak datang untuk tidak meru­sak keper­ca­yaan Yang Mulia.”

“Diam, kau sudra hina. Telah aku angkat kau dari orang gelan­dangan ber­ca­wat men­jadi pra­ju­rit Tuma­pel. Jawab per­ta­nya­anku: per­se­ku­tuan apa ter­jadi antara kau dengan peru­suh di selatan?”

“Yang Mulia meng­hen­daki jawaban yang tidak ter­da­pat pada sahaya.”

“Pem­bo­hong. Sudah sejak semula datang mukamu menun­juk­kan hari yang tidak bisa diper­caya. Per­se­m­bah­kan.”

“Sahaya hanya mema­dam­kan keru­suhan, lain tiada.”

“Apa kau dan pasuk­anmu per­buat di rumah Gusti Putra?”

“Tempat itu telah kosong sewaktu sahaya datang. Juga orang-orang sudah ndak ada lagi.”

“Apa telah kau ambil dari rumah pang­gung itu?”

“Tiada sesu­atu pada rumah satu-satu­nya, rumah pang­gung itu.”

“Akan aku perin­tah­kan periksa anak buahmu. “Bila Yang Mulia ber­ke­nan.”

“Baik. Hati-hati kau. Apa sebab­nya bila aku tiada di peku­wuan kau meng­am­bil alih tugas kemit?”

“Sahaya tidak per­caya pada pra­ju­rit Tuma­pel yang tidak mampu mema­dam­kan keru­suhan Kese­la­matan Yang Mulia Akuwu dan Yang Mulia Para­mesy­wari bukan­kah telah men­jadi tang­gungan sahaya sejak per­tama per­se­tu­juan itu dite­rima? Bila tugas itu tidak dibe­nar­kan lagi sahaya laku­kan, pas­ti­lah bukan sahaya yang tidak mema­tuhi.”

Untuk waktu agak lama Tung­gul Ame­tung tidak bicara. Dari Bilik Agung Dedes meng­erti sua­mi­nya keha­bisan kata. Orang yang ter­bi­asa meng­gu­na­kan keke­ra­san dan keku­a­saan itu tak mampu meng­ha­dapi Arok yang ter­bi­asa meng­gu­na­kan keke­ra­san dan piki­ran seka­li­gus.

Dengan muka merah ter­ba­kar ia masuk ke Bilik Agung dan men­da­pat­kan­nya sedang duduk mem­per­main-main­kan kalung, yang ter­gan­tung rendah pada perut.

“Kuda liar yang sulit diter­tib­kan,” deng­us­nya.

Dedes pura-pura tak men­de­ngar, ber­diri dan meng­ham­piri:

“Sudah malam, Kakanda.”

“Aku telah keliru menem­pat­kan dur­jana di bawah atapku, mung­kin juga dalam bilikku sen­diri.”

Dedes mena­tap­nya, men­duga-duga barang­kah kecu­r­i­gaan itu kini jatuh pada dir­i­nya.

“Kalau benar begitu seba­ik­nya dibu­ang dari bawah atap dan dari dalam bilik.”

“Sete­lah semua san­di­wa­ra­nya tak bisa dima­in­kan­nya lagi,” ia tang­kap muka Dedes dan dua belah tangan, menem­bus­kan pan­dang pada mata­nya, dan: “Kau brah­mani orang Syiwa, dia jago Loh­gawe Syiwa, sudah bicara apa saja kau pada­nya?”

“Pernah aku pang­gil dia, kuta­nya­kan apa saja guna­nya ber­la­tih di peku­wuan.”

“Dan apa kau bica­ra­kan pada­nya?”

“Apakah aku harus bisik­kan pada­nya?”

Dua belah tangan Tung­gul Ame­tung ber­ge­rak cepat men­ceng­kam kuping Dedes. Para­mesy­wari itu mena­ngis kesa­kitan dan tidak meng­a­duh.

“Bukan saja kuping ini bisa putus,” ia sorong istri­nya lang­kah demi lang­kah, “Apa kau bisik­kan pada­nya?”

“Perin­tah itu belum aku terima dari Yang Mulia Akuwu.”

“Para­mesy­wari bisa bikin perin­tah untuk dir­i­nya sen­diri,” ia men­do­r­ong­nya sekali lagi, “Jawab!”

“Jatuh­kan perin­tahmu, dan akan aku lak­sa­nakan!”

Tung­gul Ame­tung menam­par mulut Dedes dengan tela­pak tangan dan mem­bu­ang muka dari tan­tangan mata perem­puan di hadap­an­nya.

“Betapa pandai Akuwu Tuma­pel mem­bi­kin orang benci pada­nya!”

“Diam! Kalau sekali waktu aku pang­gil sepu­luh budak yang kuat-kuat, aku perin­tah­kan meni­duri kau sampai mati, baru kau meng­erti siapa Tung­gul Ame­tung.”

“Para­mesy­wari hanya darma jalani perin­tah,” tan­tang Dedes, “tak pernah yang sema­cam itu dise­but­kan dalam rontal.”

Tung­gul Ame­tung ber­ba­lik, meng­am­bil semua rontal yang ter­ja­jar dalam ikatan-ikatan dalam lemari batu, mem­ba­wa­nya keluar dari Bilik Agung, dan kem­bali, lang­sung meng­ham­piri Dedes:

“Orang yang meng­a­jar mulutmu begini tajam, patut dibe­lah empat dengan kapak, tepat pada mulut­nya.”

Ia angkat Dedes pada ping­gang­nya, ia angkat, digen­dong­nya kemu­dian dilem­par­kan­nya di per­a­duan.

Arok men­ja­tuh­kan perin­tah pada semua anak buah­nya untuk tidak men­ja­wab per­ta­nyaan orang yang tidak dike­nal dan mereka yang bukan dari barisan sen­diri. Justru karena perin­tah itu mereka ter­he­ran-heran meli­hat banyak­nya orang men­coba bicara dengan mereka.

Perin­tah lain adalah: mem­bela diri ter­ha­dap setiap serangan, dari siapa pun dan kapan pun. Pen­ja­gaan atas asrama sen­diri diper­ke­tat dan seo­rang pun di luar barisan sen­diri tak diper­ke­nan­kan masuk atau pun men­de­kati.

Dadung Sung­ging sema­kin sering men­coba men­de­kat­i­nya. Ia tam­pung semua kata­nya dan tidak menang­gapi. Sekali disam­pai­kan pada­nya, bahwa Yang Mulia Akuwu sedang mem­per­si­ap­kan gerakan pem­ber­sihan besar-besaran untuk mem­buka kem­bali lalu lintas darat dan air di selatan. Dan Arok akan ditun­juk seba­gai pim­pinan dengan para Kidang seba­gai pem­ban­tu­nya.

“Awas, Tuan, para Kidang akan men­cari kesem­patan untuk mem­bu­nuh Tuan.”

“Teri­ma­ka­sih,” juga ia tidak menang­gapi.

Arok men­duga, per­i­ng­atan itu benar. Hanya belum jelas bagi­nya dari kelom­pok mana pra­ju­rit seo­rang yang aneh ini. Ia baru sampai pada penge­ta­huan dia sering bicara dengan Empu Gan­dring. Dan ia ber­ha­rap semoga Dedes tidak mena­ruh banyak keper­ca­yaan pada­nya. Bagai­man­a­pun Dadung Sung­ging hanya pra­ju­rit Tuma­pel, yang ter­la­tih dalam semua macam keja­hatan ter­ha­dap kawula Tuma­pel yang tidak ber­daya dan tidak bisa mem­bela diri....



Bab 8

Pembersihan di Selatan

Hujan yang jatuh tak henti-hen­ti­nya itu memu­dah­kan Arok mengir­im­kan bebe­rapa orang ber­gan­tian untuk ber­te­duh di pabrik sen­jata Hyang Pan­ca­gina. Juga di rumah pri­badi Empu Gan­dring di ping­giran Kuta­raja.

Dalam waktu cepat ia dapat keta­hui ada tiga orang bekas jajaro telah meng­ga­rap ladang Empu Gan­dring. Di pabrik ter­da­pat lima orang. Semua dima­suk­kan oleh Empu Gan­dring sen­diri.

Juga ia menge­ta­hui Dadung Sung­ging sering mene­mui empu1 itu, baik di pabrik atau pun di rumah­nya.

Arok meme­rin­tah­kan seo­rang anak buah­nya yang diang­gap­nya cerdas untuk men­de­kati Dadung Sung­ging, men­da­pat­kan siapa-siapa saja teman­nya, dan dida­pat­kan­nya jaring-jaring yang tidak begitu luas tetapi ketat.

Benar Dadung Sung­ging seo­rang ang­gota gerakan raha­sia, dan semua gerakan itu ber­pu­sat pada Empu Gan­dring.

Belum lagi leng­kap penge­ta­hu­an­nya ten­tang itu Tung­gul Ame­tung telah meme­rin­tah­kan­nya ber­siap-siap dalam seminggu untuk mela­ku­kan gerakan pem­ber­sihan ter­be­sar di daerah selatan.

Tiga hari sebe­lum berang­kat ia telah mema­suki Taman larangan di malam hari dan men­da­pat­kan taman itu leng­ang. Ia masuki Bilik Agung dan men­da­pat­kan Tung­gul Ame­tung sedang nye­nyak dalam tidur­nya. Suara keruh­nya ber­de­rai-derai ber­pan­tulan dari din­ding ke din­ding. Hanya sebuah damar menyala.

Dir­a­ba­nya kaki Dedes. Wanita itu mem­buka mata, menying­kir­kan tangan Akuwu yang meme­luk­nya, duduk meman­da­ng­i­nya. Ia melam­bai­kan tangan dan Dedes turun dari per­a­duan.

Mereka turun ke Taman Larangan.

“Dedes, anak Mpu Parwa, aku minta, cabut kem­bali keper­ca­ya­anmu dari Dadung Sung­ging.”

“Sahaya meng­erti maksud Kakanda. Seka­rang juga sahaya cabut. Hanya, beri­lah sahaya kete­rangan.”

“Dia ang­gota gerakan raha­sia yang aku belum temu­kan kunci-kun­ci­nya. Coba­lah kau yang laku­kan itu.”

“Beri­lah sahaya sedi­kit petun­juk.”

“Dia punya hubungan ter­lalu rapat dengan Empu Gan­dring.”

“Bila Kakanda lusa pergi, dan Sang Akuwu menyer­tai, sahaya akan pang­gil dia.”

“Beri­lah janji setinggi-ting­gi­nya pada­nya. Boleh jadi dia orang Syiwa atau Wisynu dan kira-kira pasti bukan Buddha.”

“Sahaya, Kakanda, dan ingat-inga­dah, hati-hati­lah, Sang Akuwu akan per­gu­na­kan pem­ber­sihan yang ber­ha­sil untuk menying­kir­kan Kakanda sen­diri. Was­pa­da­lah ter­ha­dap para Kidang.”

“Teri­ma­ka­sih, Dedes. Akan aku ting­gal­kan satu regu untuk men­jaga kese­la­mat­anmu. Hati-hati­lah sete­lah keper­gi­anku. Jangan tim­bul­kan kecu­r­i­gaan. Kem­bali kau ke Bilik Agung, dan tolong seka­kan bekas kakiku dari lantai.”

Ia ting­gal­kan Taman Larangan. Sesanti meli­puti dir­i­nya. Di asrama ia disam­but oleh anak buah­nya yang mela­por­kan jalan­nya per­te­muan di rumah Empu Gan­dring! Mereka telah memu­tus­kan untuk men­coba mema­suk­kan Kebo Ijo dalam pasukan pem­ber­sihan yang hendak dibe­rang­kat­kan, dan dengan kesa­tu­an­nya akan menem­pati buntut barisan. Kebo Ijo harus mem­be­lok ke Kali Kanta dengan diam-diam dan meram­pas emas yang ter­sim­pan oleh Gusti Putra. Dua orang bekas jajaro akan dima­suk­kan seba­gai penun­juk jalan yang bakal menem­puh jalanan jajaro.

Sekali lagi ia kirim­kan utusan pada Tanca dan Umang untuk menying­kir­kan semua orang dari padang batu dan pen­du­langan. Dan khusus pada Tanca dipe­ran­kan agar meman­cing Hayam agar ter­li­bat dalam per­tem­puran deng­an­nya.

Ia menun­juk­kan pada­nya jalan-jalan yang akan ditem­puh­nya dan agar menyi­ap­kan pasukan untuk mem­ban­tu­nya bila para Kidang dan Tung­gul Ame­tung nanti menye­rang pasuk­an­nya dari bela­kang.

Laporan, bahwa dari bela­kang Kebo Ijo kemu­dian harus menyu­sul dan menum­pas Tung­gul Ame­tung, para Kidang dan Arok untuk kemu­dian secara seren­tak menyerbu pen­du­langan emas Kediri di selatan Ganter oleh Arok tak begitu diper­ha­ti­kan.

Tuma­pel kosong dari balat­en­tara.

Oleh Para­mesy­wari Bela­kangka dan para narap­raja dipe­rin­tah­kan­nya mening­gal­kan pen­dopo. Seo­rang penga­wal anak buah Arok ia perin­tah­kan men­jem­put Empu Gan­dring.

Orang yang sedang sampai pada ting­kat kemas­y­hu­r­an­nya seba­gai pandai besi itu datang dengan lam­bang Hyang Pan­ca­gina pada dada­nya, sebuah bin­tang segi-lima sele­bar tela­pak tangan, ter­buat dari emas, diling­kari oleh rang­kaian daun beringin, juga dari emas. Pada leher­nya ter­si­lang­kan selen­dang kuning, ter­i­kat pada ping­gang sebe­lah kiri.

Sebe­lum mena­iki pen­dopo telah diang­kat­nya sembah tiga kali dan dengan isya­rat Ken Dedes ia mulai naik sambil terus meng­ang­kat sembah dan duduk di bawah tempat duduk Sang Para­mesy­wari:

“Dir­ga­hayu untukmu, Empu Gan­dring!”

“Semoga para dewa melim­pah­kan kemu­r­ahan tiada ter­hingga pada Yang Mulia Para­mesy­wari.”

“Teri­ma­ka­sih, Empu. Ada aku dengar kau sedang mem­bi­kin banyak, ter­lalu banyak sen­jata. Kau ter­lalu sibuk.”

Empu Gan­dring nampak menge­r­nyit. Kemu­dian buru-buru men­ja­wab:

“Kira­nya tidak perlu diper­ha­ti­kan warta seperti itu, Yang Mulia. Sudah lama tak ada datang besi dari Hujung Galuh.”

“Bukan­kah tahun yang lalu Yang Mulia Akuwu telah menye­rah­kan sepu­luh ribu saga pada Yang Mulia Ratu Ang­a­baya Kediri untuk mem­beli besi dari Sofala?”

“Sampai seka­rang belum ada seke­pal pun yang datang, Yang Mulia.”

“Orang bilang, pabrik itu selalu riuh.”

“Banyak sen­jata rusak bela­kangan ini, Yang Mulia, ter­lalu banyak diper­gu­na­kan untuk meng­ha­lau peru­suh.”

“Kapan ter­a­khir Yang Mulia Akuwu meni­tah­kan mem­bi­kin sen­jata baru?”

“Tahun lalu, Yang Mulia, dan belum bisa diker­ja­kan sampai seka­rang ini. Empat ribu pedang, lima belas ribu tombak lempar, dan empat ribu tombak tangan.

“Empu Gan­dring, kau yang terahli dalam mem­bi­kin sen­jata, aku pang­gil kau meng­ha­dap karena merasa kuatir akan kese­la­mat­anku sen­diri di hari-hari bela­kangan ini. Seba­gai kepala pabrik sen­jata kira­nya kau menge­ta­hui jumlah sen­jata yang ada di Tuma­pel ini, baik di tangan peru­suh atau pun balat­en­tara Tuma­pel. Dari manakah kira­nya para peru­suh itu men­da­pat­kan sen­ja­t­a­nya?”

“Seti­dak-tidak­nya, Yang Mulia, bukan bikinan sahaya yang ada di tangan kaum peru­suh itu. Boleh jadi mereka mem­be­li­nya dari Gresik, boleh jadi juga dari Kediri sen­diri.”

“Kau men­cu­r­i­gai Kediri, Empu?”

“Hanya dugaan, Yang Mulia. Baik di Tuma­pel maupun Kediri, semua pandai besi berada dalam peng­a­wasan negeri. Tetapi tidak mus­ta­hil peja­bat-peja­bat yang rakus itu men­ju­al­nya untuk dir­i­nya sen­diri. Besi dari Sofala itu ter­lalu kotor, dan tak bisa diten­tu­kan secara pasti berapa sam­pah­nya. Dari per­hi­tungan yang tidak pasti itu mereka dapat mem­per­kaya dir­i­nya.”

“Lihat­lah. Gan­dring, aku pang­gil kau pada waktu Sang Akuwu pergi. Bukan­kah kau tak pernah dipang­gil meng­ha­dap?”

“Tak pernah, Yang Mulia.”

“Kaulah satu-satu­nya yang menge­ta­hui ten­tang sen­jata yang ada di Tuma­pel ini. Aku meng­adu padamu, aku kuatir akan kese­la­mat­anku pri­badi. Bukan­kah aku diam­bil dari desa, ditem­pat­kan di peku­wuan ini bukan untuk meng­a­lami kema­tian di ujung sen­jata para peru­suh?”

Empu Gan­dring ter­diam dan ber­pi­kir keras.

“Keru­suhan sema­kin meru­yak di mana-mana. Adakah kau tidak meli­hat, bahwa sen­jata bikin­anmu pada suatu kali mem­bu­nuh aku? Mung­kin juga mem­bu­nuh dirimu sen­diri pula?”

“Ampun, Yang Mulia, demi­ki­an­lah sudah kehen­dak para dewa, hanya untuk mem­bu­nuh­lah guna­nya sen­jata. Waktu Hyang Pan­ca­gina turun dari Gunung Hyang, ber­ja­lan ke barat selama sehari dan sema­lam, sam­pai­lah ia di kaki Gunung Semeru. Di situ­lah ia meli­hat dua orang kakak-ber­a­dik sedang ber­ke­lahi. Si abang ter­ban­ting ke tanah, leher­nya digi­git sampai putus, dan mati­lah ia. Hyang Pan­ca­gina ber­ta­nya pada peme­nang itu: Telah aku ajar­kan pada kalian ber­ba­gai kepan­daian. Seka­rang kau ber­ke­lahi dan mem­bu­nuh abang sen­diri dengan gigi dan jari-jarimu. Mari ikuti aku, akan kua­jari kau mem­bi­kin sen­jata. Juga hewan mem­bu­nuh lawan dan mang­sa­nya dengan gigi dan kuku­nya. Dengan sen­jata buat­anmu sen­diri itu kelak kau akan ber­beda dari­pada bina­tang. Demi­ki­an­lah, Yang Mulia, dengan sen­jata itu manu­sia tidak lagi men­jadi hewan, karena dia telah bisa mem­bu­nuh dengan sen­jata.”

“Biadab! Hanya sudra yang bisa punya cerita begitu hina.”

“Ampun. Yang Mulia, sahaya hanya­lah sudra hina.”

“Jadi karena kaulah manu­sia bukan bina­tang lagi, kaulah pusat kema­nu­si­aan.”

“Ampun, bukan itu maksud sahaya. Pusat kema­nu­si­aan akan tetap kaum brah­mana. Apalah arti­nya sudra hina ini diban­ding­kan dengan mereka? Dengan Yang Mulia Para­mesy­wari?”

“Dengan sadarmu kau men­jadi empu agar manu­sia dapat bunuh-mem­bu­nuh dengan layak?”

“Bukan, Yang Mulia, sudah sejak manu­sia lebih dari tiga, sejak itu juga mereka ber­bu­nuh-bunuhan, dan untuk itu para dewa meng­a­da­kan kasta brah­mana untuk menye­la­mat­kan mereka dari haus darah­nya sen­diri.”

“Dalam hal itu kau benar. Walau demi­kian, kau meman­dang dunia ini dari segi bunuh-mem­bu­nuh.”

“Tidak, Yang Mulia. Lihat­lah, seki­ra­nya sahaya tidak mem­bi­kin sen­jata, sia­pa­kah yang bisa mem­per­ta­han­kan Tuma­pel dan kese­la­matan Yang Mulia?” Empu Gan­dring menun­duk dan mene­lan senyum­nya sen­diri.

“Baik­lah, memang ada kemu­li­aan dalam hatimu. Seka­rang aku hendak ber­ta­nya padamu: bagai­man­akah sikapmu bila pada suatu kali aku ter­an­cam mati karena keru­suhan makin memun­cak?”

“Tidak mung­kin, Yang Mulia. Para peru­suh tidak memu­suhi Yang Mulia. Mereka mem­buat keru­suhan untuk men­di­r­i­kan Hyang Syiwa.”

“Apakah kau sen­diri bukan Syiwa?”

“Sahaya adalah seperti Sang Akuwu apa agama raja, itulah agama sahaya.”

“Wisynu.”

“Wisynu, Yang Mulia.”

“Kalau Sang Akuwu jadi Syiwa?”

“Maka Syi­wa­lah sahaya.”

Ken Dedes mem­bu­ang muka. Kemu­dian dengan cepat ia mena­tap Empu Gan­dring yang duduk di bawah­nya:

“Kau pem­bi­kin sen­jata agar orang bunuh-mem­bu­nuh tidak seperti bina­tang, kau sen­diri ter­nyata yang paling mem­bu­tuh­kan kese­la­matan.”

“Inilah sahaya.”

“Ya, itulah kau. Tapi bagai­mana kau tahu para peru­suh itu tidak memu­suhi aku?”

“Seo­rang brah­mani putri seo­rang brah­mana ter­ke­muka ...”

“Keru­suhan itu sudah ada sebe­lum aku ada di peku­wuan.”

“Sama saja, Yang Mulia, semua tidak akan melu­kai Yang Mulia. Ten­tara Tuma­pel tidak akan meng­u­sik Yang Mulia. Peru­suh demi­kian juga.”

“Meng­apa ten­tara Tuma­pel tidak akan meng­u­sik aku?”

“Karena Yang Mulia Para­mesy­wari Tuma­pel.”

“Mak­sudmu orang Wisynu pun tidak akan meng­u­sik aku?”

“Pasti tidak. Yang Mulia.”

“Bagai­mana kau bisa tahu?”

Empu Gan­dring meme­gang lam­bang dewa yang ter­gan­tung pada dada­nya, meng­ang­kat muka, dan: “Demi Hyang Pan­ca­gina.”

“Kau ber­sum­pah pada dewamu, kehor­mat­anmu. Dan kau tidak per­se­m­bah­kan segala seluk-beluk yang kau keta­hui.”

“Ada wak­tu­nya sen­diri, Yang Mulia. Hanya, yang perlu Yang Mulia keta­hui, ada bebe­rapa tam­tama yang selalu mem­per­ha­ti­kan kese­la­matan Yang Mulia.”

Seka­li­gus Dedes mem­ba­yang­kan Dadung Sung­ging, tetapi dia hanya pra­ju­rit, bukan tam­tama.

“Bukan per­wira?”

“Yang Mulia, jangan per­ca­yai per­wira mana saja dari Tuma­pel ini. Mereka semua sanak-kelu­arga Sang Akuwu. Dan Yang Mulia Tung­gul Ame­tung adalah sudra, sejauh sahaya keta­hui sejak ia muda.”

“Teri­ma­ka­sih atas keba­ik­anmu, Empu.”

“Kalau Yang Mulia memer­lu­kan, sahaya ber­se­dia men­ce­ri­ta­kan semua ten­tang Sang Akuwu, siapa orang­tu­a­nya, bagai­mana naik­nya sampai men­jadi Akuwu ...”

“Ten­ma­ka­sih, Empu, barang­kali lain kali,” ia menyeka bibir dengan seta­ngan,” Sung­guh engkau orang mulia hati. Bahwa kau mem­per­hi­tung­kan kese­la­mat­anku, sudah men­jadi bukti dari keba­ik­anmu, seka­li­pun engkau orang Wisynu, dan seka­li­pun engkau sangat memen­ting­kan kese­la­mat­anmu sen­diri seba­gai­mana halnya dengan diriku. Aku ingin selalu ber­hu­bungan deng­anmu. Siapa yang dapat meng­hu­bung­kan, Empu?”

“Pada suatu kali akan Yang Mulia temui sese­o­rang dengan ber­ka­lung bin­tang emas kecil pada dada­nya, bin­tang Hyang Pan­ca­gina, Yang Mulia.”

“Teri­ma­ka­sih, Empu yang baik hati, kau boleh pergi.”

Desas-desus yang diti­up­kan oleh Bela­kangka men­da­pat­kan bumi yang subur: Sete­lah Tung­gul Ame­tung kehi­langan put­ra­nya yang per­tama, ia ingin segera ter­be­bas dari enam put­ra­nya yang sele­bih­nya, dengan demi­kian, hanya anak dari Para­mesy­wari-lah yang bakal­nya jadi pewa­ris Tuma­pel tanpa peng­gu­gat.

Tak ada di antara pra­ju­rit Tuma­pel yang meng­am­bil sikap ter­ha­dap desas-desus itu. Bagi mereka hidup atau mati­nya para Kidang bukan­lah urusan mereka. Di antara para tam­tama memang ada yang ter­se­nyum dalam hati. Tum­pas­nya para Kidang akan mem­buka kemung­kinan bagi mereka untuk naik jadi per­wira.

Bela­kangka juga meni­up­kan: sudah ber­kali-kali Tung­gul Ame­tung mohon per­ke­nan dari Kediri untuk menem­pat­kan putra-put­ra­nya jadi kepala-kepala kawasan Tuma­pel, tetapi selalu dito­lak oleh Sri Baginda. Kediri tidak suka meli­hat Tuma­pel men­jadi lebih kuat dari­pada sebe­lum­nya.

Pan­dita Negeri itu tidak mem­pu­nyai keya­kinan Sang Akuwu akan bisa meng­a­tasi keru­suhan dalam nege­ri­nya. Ia bekerja seba­gai yang ia bisa untuk mena­rik kese­ti­aan kawula Tuma­pel pada Kediri. Orang yang tak lagi bakal mampu mem­be­ri­nya emas itu sudah tak perlu ia tim­bang berat lagi.

Satu-satu­nya yang jadi peng­ha­lang­nya adalah Ken Dedes. Ia menge­ta­hui benar, Para­mesy­wari itu didu­kung oleh para peru­suh. Untuk mere­da­kan keru­suhan, Loh­gawe harus dite­kan untuk dapat mem­per­gu­na­kan Dedes sebaik-baik­nya untuk meng­gu­ling­kan Tung­gul Ame­tung. Ia tahu suami-istri itu belum pernah nampak rukun. Dan dua-duanya menen­tang dir­i­nya. Para­mesy­wari bisa tetap. Akuwu boleh ber­ganti.

Tetapi mun­cul­nya Arok men­jadi masa­lah yang agak sulit bagi­nya­para peru­suh itu takut atau seba­lik­nya patuh pada­nya. Buk­ti­nya, ke mana ia men­da­tangi mereka, tak pernah dibe­ri­ta­kan ada anak buah­nya yang tewas. Hanya Tung­gul Ame­tung yang tidak pernah mem­per­ha­ti­kan. Keku­a­saan selu­ruh balat­en­tara ada pada tangan­nya, seperti pengu­asa-pengu­asa wangsa Isana semua. Tetapi Akuwu, tak pernah menge­ta­hui peda­laman balat­en­ta­ra­nya sen­diri. Seperti sewaktu masih jadi gerom­bolan liar yang menin­das desa demi desa, ia meng­ang­gap semua anak buah­nya patuh pada dir­i­nya, hanya karena pri­ba­di­nya.

Ia telah ber­ha­sil mema­suk­kan anak buah­nya ke dalam barisan penga­wal Sang Akuwu yang meme­riksa pen­du­langan Kali Kanta, dan dari­pa­da­nya menge­ta­hui: pen­du­langan itu telah diting­gal­kan sama sekali, baik oleh para budak mau pun para jajaro, rumah Gusti Putra telah rusak, din­ding-din­ding­nya ber­te­baran, pele­buran emas telah hancur, ting­gal hanya padang batu yang masih utuh.

Juga lenyap­nya pen­du­langan menim­bul­kan teka-teki bagi­nya. Dan ia tidak berani mem­per­se­m­bah­kan ini pada Kediri, karena ia sen­diri mem­pu­nyai kepen­tingan pri­badi. Kediri pun tak pernah mena­nya­kan sumber emas Tuma­pel. Sang Akuwu sen­diri meng­ang­gap­nya seba­gai raha­sia negeri sen­diri dan takkan menga­ta­kan pada siapa pun. Sumber emas itu adalah mil­ik­nya pri­badi.

Ia men­duga, Arok­lah yang telah menyu­lap pen­du­langan itu men­jadi daerah kosong tanpa manu­sia. Pas­ti­lah Arok telah mem­bu­nuh semua orang untuk dapat memi­l­iki semua emas yang telah ter­se­dia. Juga Gusti Putra telah dibu­nuh­nya.

Kadang ia ragu pada piki­ran­nya sen­diri. Dan ke manakah para jajaro yang ter­ke­nal buas dan tak pernah gentar pada mati itu? Adakah mereka bisa menye­rah dengan mudah untuk ditum­pas begitu saja?

Atas per­ta­nya­an­nya orang mela­por­kan: tidak ada bang­kai orang nampak di pen­du­langan atau pun padang batu.

Apakah itu cukup men­jadi buka, per­tem­puran tidak pernah ada?

Dan dengan demi­kian ia kerah­kan pem­bantu-pem­ban­tu­nya untuk mem­ba­yang-bayangi Arok.

Pasukan Tuma­pel itu ber­ba­ris laju ke selatan seakan hendak meng­gem­pur Kediri. Enam kesa­tuan di bawah pim­pinan para Kidang meru­pa­kan ben­teng pemi­sah antara pasukan Arok di depan dan pasukan yang dipim­pin sen­diri oleh Tung­gul Ame­tung. Tak ada pasukan kuda serta, karena mereka ditu­gas­kan untuk men­jaga kea­manan Kuta­raja.

Kebo Ijo tidak ber­ha­sil men­da­pat­kan tempat di buntut barisan. Ia lang­sung berada di bawah pim­pinan Kidang Tela­rung, tepat di bela­kang pasukan Arok.

Waktu pasukan Kidang Tela­rung mem­be­lok ke kanan meng­i­kuti tikungan sungai, dari kan­tong­nya ia kelu­ar­kan sum­pitan kecil dan mele­pas­kan anak sumpit bera­cun pada pemim­pin­nya. Tela­rung meme­kik kemu­dian roboh tanpa ber­su­ara lagi.

Pasukan Arok ber­ja­lan terus tanpa meno­leh ke bela­kang. Pra­ju­rit barisan ter­a­khir lari ke depan dan mela­por­kan keja­dian itu pada­nya. Ia hanya meng­ang­guk. Dan pasuk­an­nya ber­ja­lan terus. Ten­tara Tuma­pel ter­henti semua di tikungan. Kebo Ijo mem­bu­ang sum­pit­an­nya ke sam­ping dan meno­long pemim­pin­nya, mem­per­li­hat­kan diri sedang sibuk men­cari sebab-sebab ben­cana itu dan meme­rin­tah­kan anak buah­nya untuk meng­go­tong­nya ke ping­gir jalan di bawah pohon.

Tung­gul Ame­tung menge­rut­kan dahi meli­hat balat­en­tara yang ter­se­kat itu dan mela­rang turun dari kuda. Menge­ta­hui Kidang Tela­rung telah meng­hem­bus­kan nafas peng­ha­bisan ia mem­bung­kuk! Mayat anak­nya dan meme­rin­tah­kan Kebo Ijo dengan tiga regu kem­bali ke Kuta­raja mem­bawa mayat.

Sete­lah men­de­ngar desas-desus Tung­gul Ame­tung sen­diri meng­hen­daki kema­tian para Kidang, orang tidak ter­ke­jut meli­hat peris­tiwa itu

Tung­gul Ame­tung naik ke atas kuda­nya lagi dan dengan ben­takan meme­rin­tah­kan balat­en­tara ber­ja­lan terus.

Pasukan Arok telah jauh mening­gal­kan mereka, sengaja lari. Arok menuju lang­sung ke tempat per­ku­buan Hayam barang tiga ribu depa sebe­lah barat dari tikungan Bran­tas2.

Tepat seba­gai­mana diren­ca­na­kan, barang dua ribu depa sebe­lah barat tikungan, dari kiri jalan pasukan Tanca mela­ku­kan serangan men­da­dak dengan tombak lempar dan panah. Kacau balau ten­tara Tuma­pel. Buntut barisan itu dengan sen­di­r­i­nya mem­be­lok ke kiri untuk mem­bi­kin ling­karan kepung ter­ha­dap penye­rang, menye­bar ber­la­rian ke arah Sungai Bran­tas yang hanya dua ribu depa dari jalan negeri. Mereka tidak bisa ber­ge­rak lebih lanjut, ter­se­kat oleh ranjau-ranjau bambu.

Tak lama kemu­dian pasukan Umang, pasukan wanita yang hanya ber­ca­wat itu menye­rang dengan anak panah yang dapat dile­pas­kan empat seka­li­gus. Dengan pedang lebar Oti memim­pin regu­nya dan melang­gar daerah ranjau itu untuk mene­bangi pra­ju­rit Tuma­pel yang diden­dam­i­nya. Ia meme­kik, mera­ung, meng­a­yun­kan pedang lebar­nya dengan tangan per­kasa. Dalam seben­tar waktu pedang­nya telah ber­mandi darah para pra­ju­rit yang ter­se­kat oleh ranjau dan tak dapat mem­bela diri.

Umang meme­rin­tah­kan pasuk­an­nya untuk segera mena­rik diri dari kemung­kinan serangan pem­ba­lasan, Oti meno­lak mundur. Ia diting­gal­kan oleh anak buah­nya dan menyerbu seo­rang diri untuk memu­as­kan den­dam­nya Mela­lui jalur-jalur bebas ranjau ia lari meni­kam dan mene­bang, meme­kik­kan kata-kata yang tak ada seo­rang pun meng­erti arti­nya. Mela­lui jalur bebas itu juga ia menem­busi daerah ranjau, mem­be­lok ke kiri, mene­ro­bosi hutan belan­tara dan meng­ga­bung­kan diri dengan buntut pasukan Umang.

Pasukan Tanca mela­ri­kan diri selu­r­uh­nya ke arah Sungai Bran­tas, kemu­dian mem­bi­kin tikungan tajam ke kiri dan mema­suki daerah ranjau dengan pasukan buntut Tuma­pel yang sudah ber­ge­lim­pangan dalam jebakan. Pasukan itu terus ber­ge­rak meling­kar ke arah buntut baru lawan­nya.

Pasukan Arok terus lari mening­gal­kan ten­tara Tuma­pel, mem­be­lok ke kiri mening­gal­kan jalan negeri, mema­suki jalur antara jalan raya dan Sungai Bran­tas, lang­sung menge­pung per­ku­buan Hayam. Tanca telah gagal meman­cing­nya keluar dari per­ku­bu­an­nya.

“Arok datang!” Pasukan Arok ber­seru-seru. “Jangan sampai ber­tem­pur! Kelu­ar­kan Hayam!”

“Arok datang!” Pasukan Hayam ber­te­riak menyam­but. “Jangan lebih men­de­kat!”

“Kelu­ar­kan Hayam!”

Enam ratus pra­ju­rit Arok itu makin ketat menge­pung per­ku­buan Hayam. “Dengan satu gelom­bang serangan kalian akan hancur-binasa. Menye­rah kalian!” Teriak Arok. “Kelu­ar­kan Hayam!”

Dan yang keluar meng­ha­dapi Arok bukan Hayam, seo­rang sete­ngah umur ber­ju­bah coklat ber­ka­lung emas dan ber­tong­kat gading.

“Diam kau, Arok! Kau, yang sudah khi­a­nati teman-teman sen­diri ber­sum­pah mela­wan Tuma­pel dan Kediri seka­rang justru ikut dengan Tuma­pel, mela­wan teman-teman sen­diri menyem­bu­nyi­kan emas ram­pasan dari teman-teman sen­diri ... Dengar itu, kalian, peng­i­kut-peng­i­kut Arok! Tang­kap oleh kalian musang ber­bulu macan itu!”

“Deng­ar­kan semua pra­ju­rit Arok!” Teriak Arok. “Barang­si­apa per­caya pada mulut­nya, inilah Arok, tang­kap dan lumat­kan dengan tombak kalian.”

“Orang tidak per­caya pada Arok, orang lebih per­caya pada seo­rang brah­mana,” orang ber­ju­bah itu men­coba mem­pe­nga­ruhi semua orang. “Apakah Arok? Sejak kecil ber­nama Temu, men­da­pat sedi­kit keme­nangan ber­nama Borang, seka­rang, dalam barisan Tuma­pel ber­nama Arok! Orang lebih per­caya padaku, Arya Artya, brah­mana.”

“Kata­kan lebih cepat!” Pekik Arok, “dan kelu­ar­kan jagomu, si Hayam Lumang Celu­kan.”

“Tak perlu! Seben­tar lagi pun kau akan dilu­mat oleh anak buahmu sen­diri. Kero­yok dia!” Perin­tah Arya Artya pada anak buah Arok. “Kero­yok dia, perin­tahku. Deng­ar­kan perin­tah brah­mana, kalian sudra, anak-anak tani dan tukang!”

“Yang Suci Arya Artya!” Seo­rang warok ber­te­riak, “Yang Suci belum pernah ber­bukti ber­buat sesu­atu untuk kepen­tingan kami.”

“Tanpa ber­niat lak­sa­nakan perin­tah brah­mana kalian telah menan­tang Hyang Yama.”

“Dia anggap dir­i­nya Hyang Yama sen­diri,” pekik Arok. “Deng­ar­kan suara brah­mana palsu itu. Deng­ar­kan aku, kalian, tak ada brah­mana meng­gu­na­kan nama para dewa untuk kepen­ting­an­nya sen­diri, kecu­ali brah­mana palsu.” Dan ia meme­kik, “Hayam, sing­kir­kan brah­ma­namu ini, keluar kau, dan hadapi Arok. Jangan ber­se­m­bu­nyi pada teng­kuk anak buah! Kau, peng­ha­sut, pem­fit­nah!”

Hayam tak juga keluar.

Arok meme­rin­tah­kan satu regu untuk meng­a­wasi jalan negeri, agar tidak ter­su­sul oleh ten­tara Tuma­pel.

“Dan kalian, anak buah Hayam. Jangan angkat sen­ja­tamu. Biar kita semua sele­sai­kan per­teng­karan ini. Kelu­ar­kan pemim­pinmu, seo­rang warok yang tak dapat diper­caya mulut­nya itu.”

“Lumat­kan Arok!” Perin­tah Arya Artya.

“Sama saja nilaimu dengan Hayam, brah­mana! Dengan modal fitnah dan hasut hendak dapat­kan segala-gala­nya.”

“Kata­kan kau tidak khi­a­nati teman-temanmu sen­diri, ber­ga­bung dengan balat­en­tara Tuma­pel.”

Per­ku­buan itu ter­buat dari tum­pukan balok batang kayu. Nam­pak­nya Hayam telah menyi­ap­kan­nya dengan ter­buru-buru sete­lah men­da­pat tan­tangan Tanca. Ia tahu akan kalah per­bawa dan kalah jumlah. Ia tidak menge­lu­ari tan­tangan dan lebih suka ber­lin­dung di balik balok-balok. Mena­rik pasukan lebih ke barat ia kuatir akan ter­tum­buk oleh ten­tara Kediri. Mena­rik ke utara ia hanya mene­mui padang rumput dan daerah pegu­nungan yang tak meng­un­tung­kan. Mena­rik diri ke selatan menye­ber­a­ngi hutan Lodaya dan hutan pegu­nungan Ken­deng Selatan pasuk­an­nya akan kela­paran. Maka ia lebih suka tetap ber­diri di tempat mengu­a­sai lalu­lin­tas air dan darat.

Arok ber­diri di atas tung­gul kayu, meli­hat selu­ruh daerah per­ben­tengan Hayam. Anak buah Hayam dengan tombak di tangan ber­lin­dung di balik-balik pohon men­de­ng­ar­kan semua per­se­li­sihan.

“Kalau kau jujur,” pekik Arya Artya dengan meng­a­mang­kan tong­kat­nya, “jelas­kan pada semua temanmu ini, yang di luar maupun di dalam per­ku­buan, mana saja emas yang kalian per­o­leh selama ini. Jangan ragu-ragu, kata­kan!”

“Kau brah­mana palsu yang rakus akan emas. Dari mana asal tombak dan pedang di tangan orang-orang semua ini? Apa kau kira dari brah­mana Arya Artya? Siapa yang mem­bantu kelu­arga mereka, yang semua teman ini telah ting­gal­kan kalau bukan emas kami ber­sama? Seti­dak-tidak­nya belum pernah Arya Artya mem­bantu, biar­pun hanya dengan sebu­tir beras. Apa kau kira hanya orang-orang yang nampak olehmu ini saja yang mem­bu­tuh­kan biaya?”

“Penipu! Jangan per­ca­yai mulut­nya.”

“Kalau begitu terang­kan, berapa yang sudah aku tipu. Bukan­kah tidak lain dari Hayam sen­diri peme­gang semua benda ber­ben­tuk emas? Kelu­ar­kan Hayam Lumang, biar dia terang­kan lebih jelas. Hayam, keluar kau!”

Hayam keluar dari balik din­ding balok. Dua tombak ada pada tangan­nya, kiri dan kanan. Pada ping­gang­nya ter­gan­tung pedang leng­kung sempit.

“Jangan gega­bah mulu, Temu. Tombak ini bisa masuk ke teng­go­r­ok­anmu. Betul aku yang mengu­rus emas sebe­lum penyer­buan ke Pen­du­langan. Sete­lah itu lain lagi yang ter­jadi, semua hasil kau kang­kangi sen­diri. Kau men­coba tidak akui?”

“Hei, semua peng­i­kut Arok!” Pekik Arok.” Satu-satu­nya emas yang aku punya hanya mata uang ini,” ia kelu­ar­kan dari ping­gang mata uang emas dengan huruf tak ter­baca dan dengan gambar kepala orang sampai leher itu. “Ini pun pem­be­rian kalian pada per­te­muan tahun yang lalu. Adapun emas dari pen­du­langan, semua telah dalam pengu­rusan Gusti Putra.”

“Gusti Putra pung­gawa Tuma­pel, Arok pra­ju­rit Tuma­pel. Apakah itu suatu kebe­tulan?”

“Berapa yang kau per­ki­ra­kan emas pada Gusti Putra?”

“Tiga puluh ribu saga!”

“Penipu!” Bentak Arok. “Bukan tiga puluh ribu saga. Deng­ar­kan yang baik, semua yang men­cu­r­i­gai aku atau per­caya padaku: lebih dari tujuh puluh ribu saga.”

Arya Artya pucat. Tong­kat­nya jatuh dari tangan.

“Deng­ar­kan kalian, jangan ada yang keliru dengar: lebih dari tujuh puluh ribu saga.”

Anak buah Hayam yang ber­si­aga dari balik-balik pohon kehi­langan kewas­pa­da­an­nya, keluar dari per­se­m­bu­nyian masing-masing dan ber­ja­lan men­de­kati Hayam.

“Beri kami pen­je­lasan,” tuntut salah seo­rang- “Kau menga­ta­kan Hayam, kau sen­diri yang mema­suki rumah Gusti Putra. Kau ber­sum­pah demi Hyang Pan­ca­gina, tiga puluh ribu, katamu.”

“Dia penipu kalian! Tak ada seba­nyak itu.”

“Arok,” seo­rang dari dalam per­ku­buan ber­ta­nya, “Benar­kah kau menipu dengan jumlah sebe­sar itu?”

“Pada saat­nya kalian semua akan dapat meli­hat sen­diri, tidak secu­wil pun bakal kurang, apa­bila pem­bi­a­yaan sehari-hari tetap dike­lu­ar­kan oleh Hayam. Lihat, Hayam telah lari dari kita mem­bawa kalian Tanya­kan pada­nya, berapa sisa yang ia telah bawa?”

Arya Artya duduk pada sebong­kah batu besar, kehi­langan lidah­nya.

“Jelas­kan, Hayam.!” Desak anak buah­nya. “Kau seo­rang Warok, patut bisa diper­caya oleh anak buahmu.”

“Rampok-rampok yang rampok-meram­pok!” Pekik Arya Artya. Ia bangun dari duduk­nya dan ber­ja­lan hendak mening­gal­kan per­ku­buan.

“Untuk per­lin­dung­an­nya Hayam meng­am­bil orang luar, brah­mana palsu itu!” Pekik Arok, kemu­dian mene­gur­nya dalam San­sa­kerta, “brah­mana yang karena emas telah lupa daratan lupa lautan, menya­rang­kan diri di tengah-tengah anak-anak muda yang punya per­kara sen­diri. Cih!”

Arya Artya ber­henti ber­ja­lan dan mena­mat­kan pan­dang­nya pada Arok.

“Jawab, Hayam!” Pekik orang-orang dalam baris­an­nya sen­diri. “Arok, berapa kira-kira yang masih ada pada­nya?”

“Penge­lu­aran bela­kangan ini memang tiga kali lipat. Semes­ti­nya masih ada sebe­las ribu saga pada­nya.”

“Penipu!” Raung Hayam dan melem­par­kan tom­bak­nya pada Arok.

Baris­an­nya sen­diri seren­tak menge­pung Hayam dan melu­cu­ti­nya dari semua sen­ja­t­a­nya.

“Jawab dengan kata!” Pekik mereka bera­mai-ramai. “Kaulah sen­diri yang tidak jujur.”

“Jangan biar­kan orang luar itu menge­ta­hui semua ten­tang kita,” perin­tah Arok pada anak buah Hayam.

Sepu­cuk tombak mela­yang. Arya Artya ter­jung­kal di tanah ber­mandi darah. “Ter­ku­tuk, kau, Arok, sudra pem­bu­nuh brah­mana!” Seru Arya Artya sebe­lum meng­hem­bus­kan nafas peng­ha­bisan. Mulut­nya menye­ri­ngai, kemu­dian tak keluar lagi kata-kata dari­pa­da­nya. “Lepas­kan, aku!” Pekik Hayam.

“Kaulah kira­nya warok palsu,” pekik anak buah Hayam dengan muka tiada ter­ken­dali.

“Jangan bunuh dia,” teriak Arok. “Buka pintu per­ku­buan.”

Orang ber­la­rian mem­buka. Tapi Hayam tetap ter­te­li­kung tangan dalam kepungan anak buah sen­diri.

Barisan Arok masuk ke dalam per­ku­buan dan meling­kar men­jadi gelang rak­sasa menge­pung Hayam.

Hayam sen­diri dipaksa ber­lu­tut dan tangan tetap ter­te­li­kung:

“Aku tahu kalian hendak bunuh aku secara hina.”

“Tidak,” bentak Arok. “Kau yang pernah ber­jasa pada kami semua, kau tidak layak men­da­pat­kan maut secara hina. Lepas­kan dia”

Hayam ber­diri sambil mem­ber­sih­kan lutut­nya. Mata­nya menyala-nyala menyem­bur­kan dendam.

“Seben­tar lagi ten­tara Tuma­pel akan datang kemari. Kalian, anak buah Hayam, ber­so­rak-sorai perang kalian ber­sama pra­ju­r­itku. Kami akan mundur, dan kalian menge­jar. Kami akan masuk dalam tubuh ten­tara Tuma­pel, dan kalian menye­rang. Kami akan keluar dari tubuh Tuma­pel, menye­rang kalian, dan kalian lari ke selatan, mele­wati per­ku­buan ini, seber­a­ngi Bran­tas, ber­henti di sana. Meng­erti?”

Hutan itu gagap gempa oleh pekik jawaban.

“Pilih­lah pim­pinan kalian sen­diri. Angkat seo­rang warok baru.”

“Hayam Lumang tak layak jadi warok,” sese­o­rang meng­u­sul­kan.

“Jatuh­kan hukum­anmu, Arok.”

“Apa kei­ng­in­anmu?”

“Biar­kan aku lalu mening­gal­kan tempat ini, mening­gal­kan kalian semua. Jangan hina­kan seo­rang bekas teman.”

“Adakah Arok dan semua teman­nya pernah meng­hi­na­kan orang? Meng­apa kau takut dihi­na­kan? Kau adalah sepe­nuh­nya apa yang kau per­buat sen­diri ter­ha­dap semua kita. Maju.”

Hayam melang­kah maju lambat-lambat. Ia ber­henti di hadapan Arok dengan dendam menyala-nyala pada mata­nya.

“Beri aku kesem­patan ting­gal­kan tempat ini.”

“Kau tidak akan meng­khi­a­nati kami semua di tempat lain, bekas warok! Beri­kan dia tombak!”

Sese­o­rang mem­be­ri­kan pada­nya sebi­lah tombak tangan. Sece­pat kilat ia mulai menye­rang, meng­gu­na­kan sikap Arok yang belum menyi­ap­kan diri. Dalam meng­e­lak­kan jojo­han, Arok melang­kah ke sam­ping, ter­tum­buk oleh akar dan jatuh ter­ba­lik.

Orang ter­pe­kik meli­hat Hayam menyam­bar lam­bung Arok. Pim­pinan ter­tinggi itu melom­pat bangun dengan kulit teri­ris dan darah mulai meme­rahi kain penu­tup celana dan celana itu sen­diri. Ia men­da­pat kesu­l­itan dalam mena­rik pedang­nya. Kemu­dian ber­sama dengan sarong­nya ia mulai mem­bela diri. Hayam menye­rang dengan kalap, tahu bakal­nya pasti mati. Tetapi tombak yang ter­lalu pan­jang untuk per­ke­la­hian dekat itu meng­ganggu serang­an­nya.

Arok makin mera­pati. Dengan pukulan sung­sang pedang ber­sa­rung ia kenai dagu Hayam sehingga ter­hu­yung ke bela­kang, dan ia susul­kan ayun­kan kaki menye­pak hulu hati­nya. Hayam jatuh ping­san.

Kebo Ijo tidak lang­sung menuju ke Kuta­raja. Dengan petun­juk para jajaro yang diba­wa­nya ia mem­be­lok ber­sama pasuk­an­nya, mema­suki hutan, mela­lui jalanan seta­pak jajaro menuju ke pen­du­langan. Mayat Kidang itu mereka ting­gal­kan di dalam hutan tanpa penunggu.

Mereka ber­ja­lan ber­i­ring. Tak bisa melang­kah lebih cepat dari­pada yang dike­hen­daki. Di bawah petun­juk para jajaro mereka lang­sung menuju ke rumah pang­gung Gusti Putra. Tetapi rumah itu telah tiada seka­rang ting­gal tum­pukan puing hitam.

“Di mana disim­pan emas itu?” Pekik Kebo Ijo murka.

Jajaro yang tidak ber­li­dah itu pada menu­ding ke arah tim­bunan puing hitam dan menge­lu­ar­kan suara keruh besar dari teng­go­r­okan.

“Di mana Gusti Putra?”

Mereka mem­beri isya­rat tidak tahu.

Dengan murka Kebo menen­dang mereka, meme­rin­tah­kan untuk mem­bong­kar puing. Tak ada dida­pat­kan sesu­atu kecu­ali debu, arang, tanah yang ter­ba­kar jadi bata dan batu-batu kali. Ia perin­tah­kan mem­bong­kari bawah­nya lagi, meng­gali tanah. Yang dida­pat­kan hanya bebe­rapa tulang ping­gul babi.

“Sambar gele­dek!” Maki Kebo Ijo.

Ia jela­jahi padang batu yang sunyi-senyap, kemu­dian turun ke Kali Kanta yang tak kurang senyap­nya. Kem­bali men­daki tebing ia cabut pedang­nya dan meme­rin­tah­kan semua anak buah­nya menyi­siri selu­ruh padang batu dan ping­giran hutan. Yang dite­mu­kan hanya batu dan batu dan batu.

Dalam kema­rah­an­nya ia ayun­kan pedang­nya pada kepala salah seo­rang jajaro sehingga belah sampai mata. Jajaro lain-lain­nya mela­ri­kan diri dalam keja­ran tombak lempar, lenyap ke balik hutan.

“Betapa bodoh bisa ditipu oleh jajaro,” geru­tu­nya. “Ter­ku­tuk kau Empu Gan­dring. Dasar sudra ber­ke­pala anjing! Awas kau! Sekali lagi menipu aku ...” Pasuk­an­nya kem­bali menuju ke jalan negeri mele­wati jalanan seta­pak kaum jajaro. Dan mereka tak dapat­kan mayat Kidang Tela­rung.

Kem­bali Kebo Ijo men­jadi murka. Dipe­rin­tah­kan­nya menyi­siri hutan seki­tar. Dan orang men­da­pat­kan jalur bekas mayat itu dise­ret, tanpa mening­gal­kan tetesan darah.

Di bawah seba­ung pohon rak­sasa orang meli­hat Kidang Tela­rung tidur dalam pang­kuan ora­ngu­tan rak­sasa. Tak ada orang yang takut pada ora­ngu­tan. Dari tahun ke tahun jenis ini telah dibi­na­sa­kan dan dapat dika­ta­kan hampir musnah dari kawasan Tuma­pel. Anak-anak kecil pun berani mem­bu­nuh­nya.

Bina­ung itu nam­pak­nya sudah lama kehi­langan laki­nya. Ia ciumi mayat itu dengan mesra, tak mem­pe­du­li­kan datang­nya bon­do­ngan pra­ju­rit. Malah menyo­beki pakaian mayat sehingga Kidang itu telan­jang bulat seperti bayi besar dalam gen­do­ngan induk­nya.

Para pra­ju­rit ber­henti dan ter­tawa bahak. Kebo Ijo di bela­kang mem­ben­tak supaya ber­ge­rak lebih cepat. Mereka meng­gu­na­kan galah pan­jang yang dir­un­cing­kan dan menyo­dok dada ora­ngu­tan betina janda itu.

Bina­tang itu dengan satu tangan menang­kap ujung galah dan dengan tangan lain mem­per­ta­han­kan Kidang Tela­rung. Waktu sor­ongan galah sema­kin kuat, dengan hati-hati ia letak­kan mayat itu di atas tanah dan dengan dua tangan mem­per­ta­han­kan diri sekuat daya agar run­cing galah tidak menu­suk dada­nya. Dalam kea­daan demi­kian para pra­ju­rit seperti juga kanak-kanak sedang menum­pas ora­ngu­tan selama ini mereka meling­kar ke bela­kang hewan itu dan meng­han­tami tubuh bela­kang­nya dengan sen­jata. Bina­tang itu tetap meme­gangi ujung galah sampai mati­nya. Kidang Tela­rung hanya meng­a­lami keru­sakan pakaian. Sesam­pai di Kuta­nya hari sudah malam. Yang Suci Bela­kangka dan para roha­ni­a­wan mera­wat dan mem­ba­lu­r­nya dengan wangi-wang­ian, kemu­dian mele­tak­kan dalam pura, diham­buri oleh air­mata ibunya.

Malam itu juga Ken Dedes turun dari peku­wuan pergi ke pura untuk ikut menya­ta­kan ber­du­ka­cita pada ibu yang dalam bebe­rapa hari telah kehi­langan dua orang put­ra­nya. Per­wira pasukan kuda juga hadir. Dan ia sengaja mem­per­ha­ti­kan setiap pra­ju­rit yang dapat dili­hat­nya adakah menge­na­kan lam­bang Hyang Pan­ca­gina.

Pura dan pela­taran dite­rangi oleh damar-damar besar.

Waktu ia turun dari pura dan mema­suki halaman ke dua ia ber­pa­pasan dengan seo­rang tam­tama yang ber­ka­lung Hyang Pan­ca­gina, kecil, dari emas, ber­ki­lat-kilat oleh sinar damar.

Kebo Ijo ber­lu­tut dan meng­ang­kat sembah. Ken Dedes ber­henti seje­nak untuk mem­per­ha­ti­kan. Ia telah sering meli­hat tam­tama yang seo­rang ini. Paling tidak telah empat kali. Dan selama itu sejauh ter­i­ngat oleh­nya tak pernah menge­na­kan bin­tang Pan­ca­gina.

“Kau yang mem­bawa pulang mayat putra Yang Mulia Akuwu?”

“Sahaya, Yang Mulia.”

“Jangan ting­gal­kan pura, tunggu mayat sampai ayah­nya datang,” perin­tah­nya, kemu­dian melang­kah cepat-cepat mening­gal­kan halaman pura, mema­suki ger­bang bela­kang peku­wuan dan hilang dari peman­dangan.

Kebo Ijo ting­gal di pura. Seo­rang demi seo­rang pergi, juga kemu­dian Bela­kangka. Ibu mayat itu masih tetap mena­ngisi anak­nya yang ter­sa­yang, yang selalu ingat pada kese­nang­an­nya, dan telah mem­per­se­m­bah­kan pada­nya barang-barang ram­pasan ter­baik selama ini.

Sebe­lum kem­bali ke peku­wuan ia telah mene­mui Empu Gan­dring dan menya­ta­kan kema­rah­an­nya. Dan ahli sen­jata itu meng­hi­bur­nya dengan kata-kata ini:

“Apa arti­nya semua emas diban­ding­kan dengan Ken Dedes? Semua tam­tama telah di tangan kita. Kau satu-satu­nya turunan satria. Tak patut kau marah seperti itu pada seo­rang yang telah menem­pakan semua ren­cana untukmu. Kem­bali kau ke peku­wuan, kalung­kan Hyang Pan­ca­gina ini pada lehermu. Usa­ha­kan agar Dedes meli­hatmu. Hanya dengan ini kau akan bisa bicara dengan orang ter­can­tik di selu­ruh negeri itu. Jangan bodoh, karena dia wanita cerdas. Ingat-ingat, Tung­gul Ame­tung rela mengor­bankan apa pun untuk bisa miliki dia. Ia akan memi­lih Dedes dari­pada Tuma­pel.”

“Kau, sudra, yang hendak per­main-main­kan aku!” Kebo Ijo ber­su­ngut-sungut semula, dan dike­na­kan­nya juga Hyang Pan­ca­gina. Apa aku kata­kan pada­nya?”

“Kata­kan: selu­ruh balat­en­tara Tuma­pel berada di bawah perin­tah Ken Dedes, bukan Tung­gul Ame­tung.”

“Kalau dia meng­adu pada sua­mi­nya?”

“Kau yang sehari-harian gen­ta­yangan di peku­wuan tidak meng­erti apa ter­jadi di sana,” Empu Gan­dring menye­sali. “Apa lagi kemu­dian?”

“Terang­kan, bahwa balat­en­tara Tuma­pel dipim­pin oleh sebuah inti ... Selan­jut­nya kau tahu sen­diri”

Dan Kebo Ijo tak habis-habis heran meli­hat Para­mesy­wari Tuma­pel memer­lu­kan ber­henti dan mem­be­ri­nya perin­tah menunggu terus di pura dalam.

Piki­ran­nya mulai dibun­cahi dengan impian indah: Tung­gul Ame­tung seo­rang sudra. Ia anak satria. Ia benar­kan Empu Gan­dring: sudah semes­ti­nya antara Sang Akuwu dan Para­mesy­wari tak bakal ada kese­ra­sian. Tempat Tung­gul Ame­tung ter­lalu jauh di bawah Ken Dedes. Dan dir­i­nya sen­diri jauh lebih dekat, seo­rang satria. Juga satria yang selama ini dihi­na­kan oleh Sang Akuwu, tetap men­jadi tam­tama, tak bisa lebih tinggi dari seo­rang Kidang yang juga cuma sudra. Para tam­tama lain­nya pun tidak puas dengan sikap Tung­gul Ame­tung, menge­ta­hui para Kidang tak dapat dika­ta­kan tang­guh seba­gai pra­ju­rit.

Ia meng­im­pi­kan diri men­jung­ki­r­kan Tung­gul Ame­tung, dan Dedes men­dam­ping­i­nya.

Para­mesy­wari itu belum juga muncul. Pura yang sempit tanpa jen­dela itu panas, pekat oleh asap damar, kepulan dupa setanggi dan wangi-wang­ian pem­ba­lut mayat, dan ber­ba­gai macam bunga.

Ia duduk ber­sim­puh pada ping­giran pintu. Setiap kali seakan men­de­ngar suara ia mene­ngok. Bahkan sekali pernah menin­jau bela­kang­nya begitu lama, dan pan­dang­nya mene­ro­bos dua ger­bang halaman pura, mene­lu­suri jalanan di depan­nya, dan ber­henti pada ger­bang bela­kang peku­wuan jauh di sana. Semua itu nampak oleh penge­li­hat­an­nya. Juga dua orang penga­wal yang ber­tu­gas men­jaga ger­bang itu.

Men­je­lang matari terbit benar Para­mesy­wari datang lagi. Para penga­wal itu ber­henti di depan pura. Ia pura-pura tak men­de­ngar. Dan ia sema­kin mena­jam­kan kuping. Bunyi kain pada setiap lang­kah Dedes ter­de­ngar seba­gai game­lan yang men­dayu-dayu. Dan lang­kah itu terasa oleh­nya begitu lambat. Kemu­dian tubuh yang meng­gi­ur­kan itu mele­wat­i­nya tanpa menyapa, mening­gal­kan wangi-wang­ian lain lagi. Ia lang­sung pergi ke tempat mayat, dan ia dengar perin­tah­nya:

“Sudah, Bibi, ting­gal­kan ber­is­ti­ra­hat seben­tar, biar aku yang ganti mengu­rus­nya.”

Wanita tua itu meng­ang­kat sembah, ber­ja­lan merang­kak mening­gal­kan pura, masih juga mera­tap pelahan, mem­pro­tes per­la­kuan para dewa yang tega meram­pas anak-anak itu dari­pa­da­nya.

“Siapa namamu?” Tanya­nya pada tam­tama itu. Kebo Ijo meng­ang­kat sembah dan mem­per­se­m­bah­kan nama­nya. “Kau tam­tama, bukan?”

“Benar, Yang Mulia.”

“Namamu Kebo, meng­apa hanya tam­tama, bukan per­wira?”

“Ter­se­rah­lah semua pada Yang Mulia Akuwu.”

“Sini, tolong aku betul­kan letak Kidang ini.”

Ter­nyata Kebo Ijo hampir-hampir tak dapat ber­ge­rak dari tem­pat­nya: ia geme­tar, tubuh dan hati­nya, seka­li­pun lelah dan kan­tuk­nya hilang kabur entah ke mana.

Dedes meng­ang­kat muka mem­per­ha­ti­kan tam­tama yang ter­lalu lambat ber­ge­rak itu. Dan ber­de­baran jan­tung Kebo Ijo ter­ta­tap sinar mata­nya. Untuk per­tama kali ia berani menga­gumi kecan­ti­kan­nya.

Dengan ber­ja­lan ber­lu­tut ia men­de­kat.

“Berapa umurmu?”

“Tiga puluh satu, Yang Mulia.”

Ken Dedes ter­se­nyum, dan Kebo Ijo merasa disam­bar petir: Para­mesy­wari Tuma­pel ter­se­nyum pada­nya, seo­rang tam­tama, seo­rang satria yang tidak diang­gap oleh Tung­gul Ame­tung!

“Ada kul­i­hat Hyang Pan­ca­gina pada dadamu.”

Dengan sen­di­r­i­nya Kebo Ijo meraba kalung emas itu:

“Benar, Yang Mulia.”

“Jadi kau sudra.”

“Bukan, Yang Mulia, Satria.”

“Angkat ini, mari ber­sama aku, agak ke sanakan,” mereka geser mayat itu sedi­kit ke kanan. “Mana bisa seo­rang satria menge­na­kan lam­bang dewa orang sudra?”

“Hanya untuk dapat men­de­ng­ar­kan Yang Mulia.”

“Oh? Apa hendak kau deng­ar­kan dari­pa­daku?”

“Boleh jadi sahaya akan men­da­pat kebe­run­tungan mene­rima riuh khusus dari Yang Mulia.”

Pen­jaga pura itu masuk, ber­ja­lan merang­kak sambil meng­ang­kat sembah, lang­sung menuju ke pedu­paan dan mem­per­ba­iki api dan menyi­r­am­kan dupa setanggi baru. Kemu­dian ia pergi lagi.

“Apakah pen­ting betul titah khusus dariku untukmu?”

“Akan men­jadi kenang-kenangan terin­dah dalam hidup sahaya, Yang Mulia.”

“Baik. Baik. Per­se­m­bah­kan padaku sesu­atu.”

“Ten­tang apa, Yang Mulia?”

“Ten­tang Hyang Pan­ca­gina.”

“Hyang Pan­ca­gina ini adalah pem­be­rian dari Empu Gan­dring.”

“Sudah lama kau menge­nal dia?”

“Semua tam­tama kenal. Yang Mulia.”

“Meng­apa semua?”

“Dialah satu-satu­nya orang pandai di Tuma­pel.”

“Dan Bela­kangka?”

“Yang Suci adalah orang Kediri, bukan Tuma­pel” “Meng­apa para tam­tama saja kau sebut? Di mana kaum per­wira?”

“Kaum per­wira hanya sanak semenda Sang Akuwu dan meru­pa­kan kelom­pok ter­sen­diri.”

“Kelom­pokmu, kelom­pok tam­tama, meng­apa ber­kam­pung di seki­tar Empu Gan­dring? Apa yang kau harap­kan dari dia?”

Kebo Ijo tak dapat mengen­da­li­kan diri dalam desakan per­ta­nyaan-per­ta­nyaan yang meng­gebu-gebu dan meng­gi­ring­nya pada peng­a­kuan itu. Ia kehi­langan kese­im­bang­an­nya, tanpa ancang-ancang tanpa per­tim­bangan mene­rus­kan:

“Yang Mulia, Empu Gan­dring­lah yang mem­bi­kin para tam­tama ber­se­pa­kat mem­per­se­m­bah­kan semua balat­en­tara ke bawah duli Yang Mulia Para­mesy­wari.”

“Teri­ma­ka­sih, Kebo Ijo. Tetapi bagai­mana bisa begitu? Bukan­kah selu­ruh balat­en­tara Tuma­pel milik Sang Akuwu pri­badi?”

Kebo Ijo tiba-tiba men­jadi takut pada ucap­an­nya sen­diri. Ia tak berani mene­rus­kan.

“Meng­apa kau ter­diam? Kurang baik­kah tugas khusus ini bagimu?”

Kebo Ijo geme­tar. Ia merasa kepa­la­nya seakan kini berisi angin dan hati­nya penuh padat oleh maut yang meng­an­cam-ngan­cam dengan sera­tus cara.

“Kalau Yang Mulia ber­ke­nan melin­dungi jiwa sahaya ...”

“Adakah kau tim­bang Para­mesy­wari Tuma­pel tidak bisa diper­caya?”

“Ampun, Yang Mulia, karena ini juga menyang­kut semua tam­tama Tuma­pel.”

“Kau dan kalian berada dalam lin­dung­anku, Kebo.”

“Itulah nilai dan kenang-kenangan terin­dah dalam hidup sahaya, Yang Mulia.”

“Kalau begitu terus­kan per­se­m­ba­hanmu. Cepat. Boleh jadi Sang Akuwu akan segera tiba.”

“Di bawah pim­pinan Empu Gan­dring, para tam­tama setuju mem­per­se­m­bah­kan selu­ruh balat­en­tara Tuma­pel, Yang Mulia.”

“Apa sebab­nya?”

“Sang Akuwu hanya seo­rang sudra yang disat­ri­a­kan. Semua pra­ju­r­it­nya diang­gap­nya sudra, tak peduli dia satria, seperti sahaya ini. Bukan­kah Sang Akuwu jauh di bawah dera­jad Yang Mulia Para­mesy­wari?”

“Ter­lalu jauh.”

“Kami dari Gerakan Empu Gan­dring, Yang Mulia, lebih meng­hen­daki Yang Mulia Para­mesy­wari yang meme­gang keku­a­saan Tuma­pel.”

“Bagai­mana Sang Akuwu?”

“Ter­se­rah pada Yang Mulia sen­diri.”

“Dan para per­wira?”

“Mereka tanpa arti tanpa kami, Yang Mulia.”

“Lihat­lah, bela­kangan ini dengan cepat keru­suhan dipa­dam­kan oleh seo­rang baru ber­nama Arok.”

“Arok ter­ma­suk orang yang sangat ber­ba­haya bagi Tuma­pel, Yang Mulia. Keme­nang­an­nya yang cepat dan utuh di selatan dan barat, mener­bit­kan kecu­r­i­gaan di kalangan tam­tama dan per­wira.”

“Meng­apa dia ber­ba­haya?”

“Itulah, Yang Mulia, keme­nang­an­nya yang cepat dan utuh adalah per­ma­inan san­di­wara untuk men­ca­pai sesu­atu yang tidak patut. Dia juga seo­rang sudra hina, Yang Mulia.”

“Tidak­kah kalian keliru men­duga, Kebo?”

“Empu Gan­dring telah memi­kir­kan semua itu. Yang Mulia.”

“Baik­lah semua telah dipi­kir­kan­nya. Tapi lihat­lah: Kediri adalah Wisynu, aku Syiwa. Bukan­kah Kediri akan mem­be­ri­kan balat­en­ta­ra­nya ke Tuma­pel?”

“Yang Mulia, bila yang men­dam­pingi Yang Mulia seo­rang satria dan Wisynu pula, dan segera meng­ha­dap ke Kediri ... Tiada sesu­atu yang bakal ter­jadi.”

“Apakah semua itu piki­ran Empu Gan­dring?”

“Betul, Yang Mulia, dan para tam­tama.”

“Betapa cepat kau dan kalian mem­per­ca­yai aku, Kebo.”

“Karena kea­daan sema­kin tidak ter­ta­han­kan, Yang Mulia. Keru­suhan-keru­suhan yang ber­li­pat­ganda bela­kangan ini ter­lalu banyak meram­pas jiwa pra­ju­rit-pra­ju­rit kami.”

“Bukan­kah guna­nya pra­ju­rit untuk tewas di medan perang?”

“Tidak sepe­nuh­nya demi­kian, Yang Mulia. Mun­cul­nya Arok kami rasa­kan sema­kin meng­kha­wa­tirkan. Pasuk­an­nya sema­kin lama sema­kin besar, dan pra­ju­rit asli Tuma­pel sema­kin ber­ku­rang juga. Jelas dia mem­bi­a­yai sen­diri pasuk­an­nya” “Apakah Yang Mulia Akuwu tidak menge­ta­hui?”

“Yang Mulia Akuwu ter­lalu mem­per­ha­ti­kan dan meng­ha­rap­kan ter­ca­pai­nya keme­nangan atas kaum peru­suh, secara menyo­lok mem­bi­ar­kan Arok ber­kem­bang men­jadi lebih kuat. Pada suatu kali. Yang Mulia, bila keru­suhan itu telah padam sama­se­kali, Sang Akuwu akan meng­ha­dapi lawan yang berada dalam lin­dung­an­nya sen­diri.”

“Tentu semua itu piki­ran Empu Gan­dring, bukan, Kebo?”

“Empu Gan­dring dan semua tam­tama, ya, Yang Mulia.”

“Juga mereka seba­gai pra­ju­rit tidak ingin tewas di medan per­tem­puran, bukan?”

“Tewas bukan tujuan kami. Yang Mulia, tujuan kami adalah menang atas musuh-musuh Tuma­pel, musuh-musuh Yang Mulia Para­mesy­wari.”

“Juga itu piki­ran Empu Gan­dring dan para tam­tama?”

“Demi Yang Mulia Para­mesy­wari.”

“Teri­ma­ka­sih. Dari semua musuh Tuma­pel itu, Kebo, yang mana kalian anggap paling ber­ba­haya?”

“Yang Mulia, dari semua itu Yang Mulia sen­diri seka­rang yang menen­tu­kan Kami dari gerakan Empu Gan­dring hanya dharma melak­sa­nakan untuk Yang Mulia.”

“Baik, kau boleh pergi.”

Bela­kangka merasa puas dapat meng­geng­gam pasukan kuda Tuma­pel di dalam keku­a­saan Kediri. Dalam waktu bela­kangan ini utusan-utus­an­nya tak pernah meng­a­lami gang­guan atau hilang di tengah jalan. Ia selalu perin­tah­kan utusan menem­puh jalan utara yang ber­ca­bang-cabang, sehingga pen­ce­gatan dan penyu­sulan lebih mudah dapat dihin­dari, kecu­ali bila benar-benar ter­per­gok.

Ia telah ber­ha­sil melum­puh­kan Sang Patih dan para Men­teri. Mereka ting­gal men­jadi boneka-bone­ka­nya yang patuh. Ia dapat meng­i­kuti dengan cermat keja­tuhan Tung­gul Ame­tung seba­gai satu-satu­nya sudra ter­kuat dalam keku­a­saan Kediri, karena hanya meng­an­dal­kan keku­atan belaka, kini mero­sot jadi kilang­pe­rang, yang tidak menge­ta­hui ke mana jurus per­kem­bangan dari semua ini.

Ia telah meng­i­sya­rat­kan pada Kediri agar sudra ter­kuat yang seo­rang ini digan­ti­kan oleh seo­rang satria, dan bahwa waktu untuk itu telah hampir sampai. Bila keru­suhan-keru­suhan telah dapat dipa­dam­kan Tung­gul Ame­tung sudah akan sangat lelah, dan kelu­arga Sri Baginda dengan mudah akan dapat ditem­pat­kan di Tuma­pel.

Ten­tang Arok ia mem­per­se­m­bah­kan, bahwa jago Loh­gawe memang sudah mulai menun­juk­kan tanda-tanda ber­ba­haya. Ia mem­pu­nyai cara-cara perang yang sampai seka­rang belum dapat difa­hami. Tetapi untuk memus­nah­kan seo­rang sudra sebe­lum men­da­pat­kan bentuk keku­at­an­nya yang mantap bukan­lah suatu hal yang ter­lalu sulit.

Per­be­daan antara Tung­gul Ame­tung dan Arok memang ken­tara, walau­pun dua-duanya muncul dengan cara yang sama. Yang per­tama meme­ras teman-teman seper­ju­ang­an­nya yang ter­per­caya sampai semua tumpas dalam per­tem­puran-per­tem­puran dan meng­gan­ti­kan­nya dengan anak-anak­nya sen­diri, yang kedua meme­li­ha­ra­nya.

Bela­kangka telah mene­mu­kan cara untuk meng­ha­dapi Arok seki­ra­nya memang ber­ha­sil dapat mema­dam­kan semua keru­suhan. Ia akan per­gu­na­kan Kebo Ijo.

Ia telah mengu­rus penge­sahan sil­si­lah­nya yang ter­nyata benar tanpa seti­tik pun pemal­suan. Ia dila­hir­kan dan dibe­sar­kan di Tuma­pel. Ibunya anak seo­rang peng­u­saha peng­ang­kutan air, yang meng­hu­bung­kan Kuta­raja dengan Hujung Galuh. Ia beru­mur sepu­luh atau sebe­las tahun waktu gerom­bolan Tung­gul Ame­tung mulai menyapu desa demi desa, menge­rah­kan pen­du­duk­nya men­jadi pra­ju­r­it­nya dan mengu­a­sai selu­ruh Tuma­pel. Waktu itu ia masih ber­nama Langi. Ia kuasai lalu­lin­tas air dan darat antara Tuma­pel dengan Kediri baik dari selatan maupun utara. Per­u­sa­haan nenek Kebo Ijo gulung tikar. Dan bukan hanya itu, bapak Kebo Ijo, Kebo Delan­cang, seo­rang per­wira Kediri, telah ditum­pas ber­sama pasuk­an­nya oleh Lang di desa Gledug.

Kediri meng­a­kui Kebo Ijo seo­rang dari kasta satria. Tung­gul Ame­tung tidak meng­gub­ris.

Ia akan tam­pil­kan satria ini untuk meng­ha­dapi Arok, dengan sege­ro­bak janji indah. Dan ia tidak tahu, juga Empu Gan­dring telah memi­l­ih­nya untuk jadi bidak bagi gerak­an­nya. Kas­ta­nya akan mem­bi­kin ia berapi-api meng­ha­dapi si sudra Langi Tung­gul Ame­tung. Tetapi ia belum lagi mulai men­de­kati satria yang tidak diakui itu. Ia masih harus menunggu gerakan pem­ber­sihan di selatan.

Kalau Tung­gul Ame­tung tewas seka­rang ini, kea­daan akan men­jadi sulit, karena selu­ruh Tuma­pel akan ter­li­bat dalam per­ke­la­hian semua orang lawan semua orang. Dan itu ber­arti hilang­nya penga­ruh dan keku­a­saan Kediri. Ia sen­diri ter­paksa juga harus menying­kir­kan diri.

Kalau Tung­gul Ame­tung keluar seba­gai peme­nang, kaum peru­suh di selatan dapat dika­lah­kan, tin­dakan per­tama Sang Akuwu adalah meng­ha­dapi Arok. Antara kedu­a­nya harus terbit suatu per­mu­suhan yang terkam-mener­kam, dan Arok harus kalah dan Tung­gul Ame­tung dalam kea­daan lemas tanpa daya.

Kalau Sang Akuwu kalah di selatan, dan sumber emas itu lenyap, ia akan pulang seba­gai seo­rang tanpa arti tanpa keku­atan. Tak mung­kin lagi ia dapat mem­bi­a­yai balat­en­tara dan rumah tangga peku­wuan. Dan kalau dalam kea­daan seperti itu Arok tewas, pada waktu itu ia akan mun­cul­kan Kebo Ijo ke atas pang­gung.

Tewas­nya Kidang Han­da­yani bagi­nya suatu per­tanda baik bagi semua ren­ca­na­nya. Tewas­nya Kidang Tela­rung mem­be­ri­nya keya­kinan yang lebih kuat.

Ia menunggu apa yang akan ter­jadi hari ini.

Betapa penuh keja­dian Tuma­pel ini...

Orang-Orang meling­kari Hayam Lumang, meng­ang­kat tombak masing-masing untuk melu­mat­kan­nya. Jangan,” tegah Arok.

Tak rela kami Pim­pinan Ter­tinggi dilu­kai dan difit­nah.”

“Bangun­kan dia dari ping­san­nya,” perin­tah­nya. Sese­o­rang menyi­r­am­kan air pada tubuh­nya. Hayam ber­ge­rak, kemu­dian duduk. “Bangun kau!”

Hayam melom­pat bangun, menye­dari kea­da­an­nya. “Beri­kan tombak pada­nya.”

Sese­o­rang mem­be­ri­kan tombak, tapi ia meno­lak­nya.

“Beri­kan pedang pada­nya.”

Juga ia meno­lak mene­rima.

Arok melem­par­kan semua sen­jata pada dir­i­nya:

“Hanya dengan tangan. Baik. Ayoh serang aku!”

Dan Hayam Lumang, tidak juga menye­rang.

“Telah aku beri­kan kesem­patan padamu men­da­pat­kan maut yang ter­hor­mat, dan kau meno­lak. Kau memi­lih yang hina? Tidak menye­sal seba­gai orang bekas warok?”

“Pada saat yang ter­a­khir ini, Arok, biar­lah aku tetap meng­hor­mati dan men­cin­ta­imu. Kau telah mem­be­ri­kan padaku gam­baran dari seo­rang yang patut aku ikuti sampai mati. Adapun sisa emas kita aku simpan di tempat ayahku. Ambil­lah itu. Tak ada sedi­kit pun yang kurang. Arok, jangan hina­kan bekas teman dan saha­batmu ini. Beri­lah dia kehor­matan pada saat­nya yang ter­a­khir.”

Arok mena­rik pedang dari ping­gang seo­rang pra­ju­rit dan meng­han­tam­kan­nya pada dada Hayam Lumang sehingga belah, dan darah menyem­bur dari jan­tung­nya.

Kema­tian Hayam sung­guh-sung­guh meng­go­cang­kan pasukan Arok yang sudah ber­him­pun kem­bali jadi satu itu. Banyak yang mem­be­re­ngut karena kemu­r­ahan tidak dilim­pah­kan pada si ber­sa­lah yang meng­a­kui segala-gala­nya dan menya­ta­kan cinta dan hor­mat­nya pada pim­pin­an­nya. Orang mulai ber­bi­sik-bisik menya­ta­kan tidak puas.

“Siapa tidak setuju?” Tiba-tiba Arok ber­ba­lik dan ber­ta­nya. “Siapa yang punya ang­gapan Arok kejam? Tidak ada? Lihat, jangan kalian ter­pe­sona pada kata-kata­nya yang ter­a­khir, pada waktu dia jadi sadar kem­bali karena sudah tidak punya keku­atan. Bukan ucap­an­nya yang ter­a­khir yang men­jadi nilai dari selu­ruh dirimu. Laku dur­jana pada semua teman­nya adalah dosa yang tidak ter­am­puni. Selama ada sen­jata pada kita seperu ini, kita adalah satria, seka­li­pun tidak karena kasta.”

Orang menun­duk men­de­ng­ar­kan, dan sunyi-senyap per­ku­buan itu.

“Jangan ada yang sentuh dua mayat ini. Separoh dari pasukan yang aku bawa, ber­ga­bung kalian dengan bekas pasukan Hayam, lepas­kan pakaian ten­tara Tuma­pel. Aku dan sisa­nya nanti yang harus kalian kejar.” Matari telah mulai con­dong ke barat waktu peng­in­tai mem­be­ri­ta­kan keda­tangan pasukan Tung­gul Ame­tung sen­diri.

“Ber­so­rak semua, ber­so­rak perang!”

Hutan itu ber­gema-gema dengan sorak perang gemu­ruh. Arok meng­ang­kat tangan dan semua ber­henti:

“Kejar kami nanti sampai seber­a­ngi jalan negeri mema­suki padang rumput. Bila buntut barisan sudah juga mema­suki padang rumput, kami mulai ber­ba­lik, dan lari kalian kem­bali kemari, lari terus dan seber­a­ngi Bran­tas. Jangan lupa.”

Sorak-sorai meng­ge­mu­ruh lagi. Mereka ber­so­rak dan minum, minum dan ber­so­rak.

Peng­in­tai mem­be­ri­ta­kan pasukan Tung­gul Ame­tung sema­kin men­de­kat, disu­sul oleh pasukan lain. Mereka ber­henti ber­so­rak.

Peng­in­tai mem­be­ri­ta­kan mun­cul­nya pasukan ketiga. Mereka ter­tawa-tawa mem­ba­yang­kan per­tem­puran aneh yang akan ter­jadi.

“Hanya Arok kita kepala pasukan yang tidak pernah naik kuda,” sese­o­rang mem­per­i­ng­at­kan. “Kita harus sedi­a­kan kuda,” sese­o­rang men­ja­wabi. “Ayoh, sorak lagi.”

Pasukan Tung­gul Ame­tung sema­kin jauh mening­gal­kan jalan negeri menuju ke per­ku­buan. Mereka sema­kin men­de­kat, ting­gal jarak seribu depa, lima ratus depa, dua ratus depa.

“Lari!” Perin­tah Arok.

Pasukan Arok lari ter­bi­rit-birit mening­gal­kan per­ku­buan Tak lama kemu­dian di bela­kang­nya mem­buru pasukan ber­ca­wat. Yang menge­jar ber­so­rak-sorai, yang dike­jar mem­bisu, lari cepat mem­bu­tuh­kan per­to­longan dari balat­en­tara yang datang.

“Kem­bali!” Pekik Arok mem­per­i­ng­at­kan Tung­gul Ame­tung.

“Penge­cut!” Balas Tung­gul Ame­tung.

“Pasukan sahaya rusak, Yang Mulia.”

“Menying­kir!”

Pasukan Arok meng­ga­bung­kan diri pada Tuma­pel. Dalam barisan lebar pasukan pem­buru itu mener­jang pasukan Tung­gul Ame­tung, meling­kar dan men­de­sak, kemu­dian ber­baur dalam kancah per­tem­puran.

Anak buah Arok ber­te­riak-teriak meng­an­jur­kan mundur, menu­run­kan sema­ngat ten­tara Tuma­pel:

“Lari!”

“Mundur!”

“Lari!”

“Mundur!” Dan terus juga lari mening­gal­kan gelang­gang ke arah jalan negeri.

Arus­nya akhir­nya dii­kuti juga oleh pasukan Tung­gul Ame­tung, sehingga Akuwu itu kehi­langan keku­atan. Tubuh pasuk­an­nya tak dapat dige­rak­kan. Akhir­nya ia sen­diri juga ber­ba­lik, lari lebih cepat dengan kuda­nya.

Arus pela­rian itu kemu­dian mener­jang juga pasukan yang sedang men­da­tangi, mem­bawa serta deng­an­nya pra­ju­rit-pra­ju­rit Tuma­pel. Arus itu sema­kin lama ber­tam­bah sema­kin tebal, mener­jang dan menye­ret serta pasukan buntut. Lari lurus ke utara, sampai di jalan negeri.

Pasukan Arok men­da­hu­lui melin­tasi jalan dan mema­suki padang rumput di sebe­lah uta­ra­nya lagi. Dan pasukan pem­buru itu menge­jar lebih gencar. Mula-mula balat­en­tara Tuma­pel ber­siap hendak meni­kung ke timur, tetapi pasukan Arok pura-pura tidak tahu dan terus juga lebih dalam mema­suki padang rumput. Pra­ju­rit-pra­ju­rit Tuma­pel yang di bela­kang­nya dengan sen­di­r­i­nya meng­i­kuti.

Waktu para penge­jar juga mulai mema­suki padang itu tiba-tiba Arok mem­beri perin­tah pada pasuk­an­nya untuk ber­ba­lik dan meng­ha­dapi para penge­jar. Tung­gul Ame­tung ikut ber­ba­lik meng­i­kuti.

Para penge­jar kini dalam keja­ran, lari kem­bali menuju ke per­ku­buan semula. Per­tem­puran sambil lari itu men­ja­tuh­kan kurban pada ten­tara Tuma­pel karena pasukan Arok meng­gu­na­kan kesem­patan ini menye­rang mereka secara ter­se­m­bu­nyi.

Dan matari hampir teng­ge­lam.

Mereka yang telah keha­bisan nafas pada menying­kir ke ping­gir kuatir ter­in­jak-injak.

Para per­wira dan tam­tama yang mem­per­ha­ti­kan gerakan perang yang aneh itu seba­gian menga­gumi Arok, dan ada yang men­cu­r­i­gai-Tapi tak urung mereka lari menge­jar mema­suki hutan.

Hujan jatuh dengan deras­nya, dan kea­daan dalam hutan sema­kin muram. Jalanan yang habis ter­in­jak-injak oleh yang dike­jar ter­lalu licin bagi para pem­bu­ru­nya. Namun mereka mema­suki juga per­ku­buan yang kosong dan tidak mampu mene­rus­kan penge­jaran.

Api unggun dinya­la­kan dalam hujan itu dan peme­rik­saan kubu dila­ku­kan oleh Tung­gul Ame­tung. Ia meme­rin­tah­kan mem­per­ba­iki semua per­ku­buan. Waktu ia men­da­pat­kan mayat Arya Artya, Arok yang mem­ba­wa­kan obor damar. Akuwu itu meme­riksa muka mayat itu, melu­dah ke tanah dan ber­gu­mam: “Kau tahu siapa dia?”

“Tahu, Yang Mulia, Arya Artya.”

“Mayat siapa yang lain­nya?”

“Hayam Lumang, pemim­pin peru­suh di selatan ini” “Siapa yang mem­bu­nuh mereka?”

“Pasukan sahaya dalam penye­rangan per­tama.”

“Meng­apa engkau lari?”

“Dari sebe­rang Bran­tas mereka men­da­tang­kan ter­lalu banyak balat­en­tara.”

Para Kidang dan tam­tama meng­a­wasi Arok dengan pan­dang tajam.

“Meng­apa hanya Arya Artya dan kepala peru­suh yang mati?”

“Mereka mem­bawa lari kor­ban­nya.”

“Mereka yang dua ini tak dibawa lari?”

“Sahaya tidak tahu alasan mereka. Barang­tentu suatu pan­cingan yang jahat.”

“Apa mak­sudmu dengan pan­cingan yang jahat?”

“Dapat diduga mereka akan laku­kan serangan di malam hari,” jawab Arok. “Maka hanya ada dua kemung­kinan, mening­gal­kan tempat ini atau terus menge­jar.”

“Kami akan ting­gal di sini. Kau men­jaga tepian Bran­tas.”

“Pasukan kami tidak men­cu­kupi, Yang Mulia.” Tung­gul Ame­tung tidak meng­gub­ris. Arok dan pasuk­an­nya berang­kat pada saat itu juga. Ia tahu Tung­gul Ame­tung takut dise­rang oleh pasukan peru­suh lain yang menye­rang per­tama. Ia mem­bu­tuh­kan peng­i­napan dengan pen­ja­gaan yang kuat.

Hujan mulai reda waktu pasukan Arok sampai di tepi Bran­tas. Ia pang­gil Ling­sang, pemim­pin baru peng­ganti Hayam, dan meme­rin­tah­kan pada­nya untuk mengir­im­kan urusan pada Tanca agar menye­rang ten­tara Tuma­pel sebe­lum mereka sarapan men­je­lang matari terbit. Ia pang­gil kem­bali semua pasuk­an­nya dari sebe­rang dan minta seper­em­pat dari jumlah bekas pasukan Hayam.

Sebe­lum matari terbit ten­tara Tuma­pel telah ber­ge­rak mening­gal­kan per­ku­buan. Sebuah gelom­bang besar peru­suh melanda dari jurusan barat, seakan-akan dari Kediri. Per­ke­la­hian yang seru segera ter­jadi.

Sebe­lum berang­kat pasukan Kidang Gume­lar telah dipe­rin­tah­kan oleh Tung­gul Ame­tung untuk meni­kam pasukan Arok yang ber­jaga di tepi Bran­tas dari bela­kang. Tetapi serangan men­da­dak telah meng­u­bah piki­ran Tung­gul Ame­tung. Seo­rang utusan ber­kuda telah dipe­rin­tah­kan memang­gil kem­bali, dan memang­gil semua pasukan Arok untuk mem­bantu.

Jarak antara per­ku­buan dengan ping­gir Bran­tas di selatan tidak sampai seribu depa. Utusan susulan itu tak dapat mem­buru. Kidang Gume­lar telah mulai menye­rang dengan tiba-tiba, tanpa menge­ta­hui, pasukan Arok telah ber­kem­bang lebih besar dari­pada sebe­lum­nya.

Arok selalu men­ca­dang­kan kemung­kinan akan datang­nya usaha pemus­nahan dari Tung­gul Ame­tung. Sang Akuwu tidak pernah rela meli­hat segala sesu­atu yang ber­si­fat Syiwa. Dan pasukan Arok hampir selu­r­uh­nya orang Syiwa.

Kidang Gume­lar ber­so­rak sorai menyerbu dan segera dita­dahi dengan lebih gencar. Per­tem­puran dalam hutan tanpa lap­angan itu meng­un­tung­kan pasukan Arok yang biasa ber­ge­rak dalam hutan. Kidang sen­diri mem­beri aba-aba dari atas kuda­nya tanpa maju menyer­tai pasukan. Akhir­nya ia berada di buntut barisan.

Pasukan Arok meng­hin­dari serangan dan meling­kar ke bela­kang. Kidang Gume­lar dir­un­duk dari bela­kang dan ditang­kap hidup-hidup dan kuda­nya dir­am­pas. Pasukan itu kemu­dian men­de­sak ten­tara Tuma­pel dari pung­gung­nya. Mereka lari sampai ke Bran­tas. Seba­gian men­ce­bur­kan diri, men­coba menye­be­rang menye­la­mat­kan kul­it­nya masing-masing. Dan di sebe­rang sana dita­dahi oleh pasukan Ling­sang.

Utusan ber­kuda itu ber­seru-seru menyam­pai­kan titah Sang Akuwu untuk menye­le­sai­kan per­teng­karan, dan mena­rik semua pasukan untuk mem­bantu per­tem­puran di dekat jalanan negeri.

Arok meme­rin­tah bina­sa­kan utusan itu. Tam­tama itu ter­ba­lik dari kuda­nya dengan ping­gang ter­tem­bus tombak.

Ia kum­pul­kan semua anak buah­nya dan meme­rin­tah­kan agar lebih was­pada ter­ha­dap peni­ka­man Tung­gul Ame­tung dari bela­kang.

Barisan itu mening­gal­kan tempat per­tem­puran menuju ke jalanan negeri. Arok ber­ja­lan di depan di atas kuda Kidang Gume­lar. Dan Kidang itu sen­diri ter­i­kat tali digi­ring di buntut pasukan. Wakil Arok dalam pasukan, Han­danu, meng­iring­kan di bela­kang­nya di atas kuda bekas utusan, mem­bawa panji-panji pasukan ber­warna hitam kuning.

“Di depan!” Perin­tah Arok. “Naik­kan tinggi-tinggi panji itu, dan seru­kan keda­tangan Arok.” Ia mene­ngok ke bela­kang, “dan semua kalian, per­ke­ras seru­an­nya!”

Pasukan itu seakan bukan mening­gal­kan per­ke­la­hian yang habis dime­nang­kan, tapi dari asrama untuk ber­pa­rade, dengan setiap pra­ju­rit ber­seri-seri penuh keper­ca­yaan diri dan keper­ca­yaan pada pim­pin­an­nya.

“Pasukan Arok datang!” Pekik Han­danu. “Pasukan Arok datang!” Teriak selu­ruh pasukan. Panji itu diang­kat tinggi. Hutan itu makin lama makin tipis kemu­dian muncul per­tem­puran besar di hadapan mereka.

Han­danu meleng­king dan pasukan Arok mera­ung. Panji diang­kat-angkat tinggi. Arok memacu kuda­nya seakan hendak menyerbu mema­suki medan per­tem­puran. Pasukan Tanca dan Umang meme­cah diri kemu­dian mela­ri­kan diri ke jurusan Kediri.

Serangan kilat men­da­dak itu banyak menum­bang­kan ten­tara Tuma­pel yang ber­ja­lan ber­i­ringan keluar dari jalanan sempit tanpa men­da­pat­kan medan yang cukup luas untuk ber­ta­han. Mayat ber­ge­lim­pangan ter­kena sem­buran panah cepat pasukan Umang.

Tung­gul Ame­tung ber­ba­lik menunggu keda­tangan Arok dan pasuk­an­nya. Mata­nya mem­be­liak meli­hat dua kuda Tuma­pel diper­gu­na­kan oleh Arok dan pem­bawa pagi­nya. Dan Arok lang­sung datang ke depan Tung­gul Ame­tung, tidak turun dari kuda dan mena­tap Tung­gul Ame­tung.

“Kau bukan per­wira, tak berhak mena­iki kuda itu.”

“Lihat­lah, Yang Mulia, sahaya ter­i­kat pada per­se­tu­juan untuk men­jaga kese­la­matan Yang Mulia Akuwu. Yang Mulia Para­mesy­wari dan Tuma­pel,” Arok ber­kata dengan suara lan­tang.

Han­danu dari atas kuda­nya mem­beri isya­rat pada pasuk­an­nya untuk segera maju men­de­kat. Juga ia tidak turun dari kuda.

“Kalau bukan karena per­se­tu­juan itu, peng­khi­a­natan dari Yang Mulia ter­ha­dap pasukan sahaya, akan sahaya jawab dengan pedang, lang­sung pada Yang Mulia.”

Tung­gul Ame­tung meng­gi­git bibir.

“Jangan­lah Yang Mulia lupa, yang Yang Mulia hadapi adalah Arok. Lihat­lah pasukan sahaya,” kata­nya dengan suara lebih keras. “Setiap saat bisa lindas semua ten­tara Yang Mulia. Tetapi itu bukan tugas Arok dari Yang Suci Dang Hyang Loh­gawe.” Tung­gul Ame­tung belum juga men­da­pat­kan kepri­ba­di­an­nya. “Pasukan Tuma­pel di bawah Kidang Gume­lar telah sahaya tumpas dalam bebe­rapa bentar.” Ia ber­pa­ling, “bawa sini pelak­sana peng­khi­a­natan itu.”

Kidang Gume­lar diha­dap­kan pada Tung­gul Ame­tung, ter­i­kat dengan tali rotan.

Kidang Gume­lar ber­ja­lan menun­duk men­de­kati ayah­nya. Sece­pat kilat Tung­gul Ame­tung melom­pat­kan kuda­nya dan mener­jang anak­nya sehingga men­je­lem­pah di tanah. Ia turun dari kuda­nya dan meng­a­yun­kan pedang pada leher­nya, putus jadi dua. Ia naik lagi ke atas kuda sambil melu­dah. Arok tak meng­ge­rak­kan kuda­nya dan Akuwu meng­ham­piri. “Jangan Yang Mulia menyangka, bahwa dengan tin­dakan itu Yang Mulia dapat menu­tupi peng­khi­a­natan Yang Mulia.”

Panji di tangan Han­danu mem­beri isya­rat agar semua pasukan ber­si­aga untuk ber­ke­lahi.

“Yang Mulia belum juga men­ja­tuh­kan titah. Maka, sedang pasukan sahaya sudah ber­si­aga begini, sahaya ingin men­da­pat­kan pene­gasan: adakah per­se­tu­juan dengan Yang Suci Dang Hyang Loh­gawe masih Yang Mulia hor­mati atau tidak? Bila tidak, seka­rang juga tidak ada kewa­ji­ban kami ter­ha­dap Yang Mulia.”

“Sabar, Arok.”

“Sahaya tahu, Yang Mulia meng­hen­daki jiwa sahaya. Bukan lagi per­so­alan sabar, Yang Mulia, tetapi hidup dan mati. Sahaya dan pasukan sahaya sama sekali tiada punya kebe­ratan untuk menye­le­sai­kan per­teng­karan seka­rang pun dan di sini pun.”

“Semua adalah karena salah terima perin­tah, Arok.”

“Kalau demi­kian halnya Yang Mulia tidak perlu mem­bung­kam mulut Kidang Gume­lar dengan pedang.”

Para Kidang pucat meli­hat nasib sau­da­ra­nya. Dan selu­ruh balat­en­tara Tuma­pel yang belum lagi sembuh ter­ke­jut dari serangan men­da­dak yang cepat meng­ge­lom­bang itu ter­pu­kau meli­hat Arok, seo­rang pra­ju­rit yang baru dua bulan di Kuta­raja telah berani demi­kian garang ter­ha­dap Sang Akuwu.

“Mari, iring­kan aku pulang ke Kuta­raja.”

“Sahaya masih menunggu jawaban. Biar semua men­de­ngar dan tahu apa yang sedang ter­jadi.”

“Aku meng­hor­mati per­se­tu­juan dengan Dang Hyang Loh­gawe.”

“Bagai­mana peni­laian Yang Mulia ter­ha­dap peker­jaan sahaya dalam gerakan pem­ber­sihan daerah selatan ini?”

Tung­gul Ame­tung meli­hat pada pasukan Arok. Ia tahu pasukan itu tidak lebih sedi­kit, seba­lik­nya.

“Tak ada di antara pasuk­anmu yang ber­ku­rang,” kata­nya. “Hanya balat­en­tara Tuma­pel meng­a­lami rusak,” ia menge­rut­kan gigi, kemu­dian ber­ba­lik, “kawal aku sampai ke Kuta­raja.”

Dengan muka masam Tung­gul Ame­tung ber­ge­rak maju dan dengan lambai tangan meme­rin­tah­kan ten­ta­ra­nya berang­kat, mening­gal­kan semua korban yang ber­ge­lim­pangan.

Ten­tara Tuma­pel ber­ge­rak, ber­ja­lan melang­kahi bang­kai-bang­kai teman­nya dan tidak mema­hami kea­daan baru yang datang men­da­dak itu. Mereka mulai kehi­langan sema­ngat tempur dan kegair­ahan.

Mema­suki Kuta­raja hari telah sore.

Pasukan Arok men­da­pat perin­tah dari pemim­pin­nya untuk meme­kik­kan sorak keme­nangan. Sorak itu ber­talu-talu, tapi barisan di depan Tung­gul Ame­tung tak berani menyam­but Orang-orang keluar dari rumah masing-masing untuk menon­ton.

Selu­ruh balat­en­tara itu ber­henti di depan peku­wuan. Tung­gul Ame­tung dalam iringan Arok dan Han­danu mena­iki tangga dalam sam­butan Ken Dedes yang nampak cantik jelita, yang Suci Bela­kangka, Sang Patih dan para Men­teri. Di depan peku­wuan pasukan Arok masih juga meme­kik­kan sorak keme­nangan. Tetapi ten­tara Tuma­pel tetap tak berani menyam­but. Mereka geli­sah, meli­hat Arok muncul lebih unggul dari­pada Tung­gul Ame­tung.

Ken Dedes mem­bawa sua­mi­nya naik ke pen­dopo yang telah dige­lari dengan hidangan, daging babi dan kam­bing, karena kaum Wisynu menu­rut adat tidak makan daging hewan yang mem­bantu per­ta­nian.

Akuwu itu tidak duduk di pen­dopo, lang­sung masuk ke Bilik Agung. Dengan demi­kian Para­mesy­wari men­jadi pro­to­kol pen­jamu para pim­pinan balat­en­tara yang pulang mem­bawa keme­nangan.

Arok turun dari pen­dopo dan memang­gil semua pim­pinan, meme­rin­tah para pra­ju­rit pulang ke asra­m­a­nya masing-masing.

Tengah malam sete­lah upa­cara Akuwu memang­gil Yang Suci dan men­ce­ri­ta­kan segala yang telah ter­jadi di selaun, kecu­ali pem­bu­nuhan yang dila­ku­kan­nya sen­diri atas Kidang Gume­lar. Dimin­ta­nya Bela­kangka berang­kat meng­ha­dap Sri Baginda untuk memo­hon ban­tuan balat­en­tara, semua atas tang­gungan Tuma­pel.

“Tetapi Yang Mulia,” jawab Bela­kangka, “bila balat­en­tara Kediri datang, bukan­kah itu meru­pa­kan ancaman ter­ha­dap kedu­dukan Yang Mulia sen­diri? Bukan­kah dalam upa­cara peng­ang­katan Yang Mulia dulu diten­tu­kan, Yang Mulia akan men­ja­bat kedu­dukan dan pang­kat selama Yang Mulia dapat mem­per­ta­han­kan Tuma­pel?”

Bela­kangka tidak men­duga, bahwa per­kem­bangan telah men­ca­pai puncak baru. Kini ia baru meng­erti meng­apa hanya pasukan Arok saja dari selu­ruh balat­en­tara yang ber­so­rak-sorai. Tetapi ia pun tetap was­pada ter­ha­dap kecer­dikan Tung­gul Ame­tung.

Jangan-jangan Akuwu sengaja meng­gi­ring­nya ke Kediri untuk dibu­at­kan kece­la­kaan dan dengan demi­kian Kediri akan kehi­langan kete­rangan ten­tang Tuma­pel.

“Kediri ber­ke­wa­ji­ban untuk mem­be­ri­kan per­lin­dungan sete­lah sekian lama Tuma­pel mem­per­se­m­bah­kan upeti. Bukan­kah Tuma­pel kawula Kediri dan bukan budak?”

“Yang Mulia, ter­lalu keras kata-kata itu ter­de­ngar, dan bisa mem­bang­kit­kan murka Sri Baginda.”

“Yang Suci, inilah per­mo­honan ter­a­khir dan ter­ga­wat dari Akuwu Tuma­pel pada Yang Suci. Aku tak meli­hat ada jalan lain.”

“Baik, beri Bapa ini satu regu pasukan kuda.”

“Yang Suci akan men­da­pat­kan­nya besok pagi.”

Kee­sokan hari­nya ia berang­kat dengan kereta dalam penga­walan satu regu pasukan kuda. Tetapi ia tidak melan­jut­kan per­ja­lanan ke Kediri. Ia ber­henti di desa Sum­ber­pe­tung. Dua orang keper­ca­ya­an­nya dipe­rin­tah­kan­nya mene­rus­kan per­ja­lanan untuk mem­per­se­m­bah­kan pada Ram Ang­a­baya, bahwa kea­daan Tuma­pel gawat, tetapi belum mem­bu­tuh­kan ban­tuan balat­en­tara. Ia ber­mak­sud ting­gal di sana sambil memata-matai Sang Akuwu dan Arok.

Lewat tengah malam ia men­ja­tuh­kan perin­tah agar penga­walan peku­wuan dipe­gang lang­sung oleh Kebo Ijo dan pasuk­an­nya, dan mela­rang pra­ju­rit lain di luar kesa­tu­an­nya meng­in­jak kawasan peku­wuan. Sete­lah itu dengan penga­walan kuat ia pergi ke pura untuk meli­hat abu dan mayat putra-put­ra­nya.

Mula-mula ia meng­ham­piri guci batu tempat abu dan meng­he­ning­kan cipta. Kemu­dian pada mayat yang ter­ba­ring di bawah­nya ter­tu­tup bebe­rapa lembar kain. Ia buka penu­tup muka­nya dan di bawah sinar damar nampak oleh­nya kebi­r­uan muka mayat itu.

Tiba-tiba ia mene­nga­dah, kemu­dian kem­bali mene­liti warna mayat yang biru, dan men­da­dak menu­tup muka­nya dengan dua belah tangan dan mena­ngis ter­sedu-sedu.

Ia meng­erti Kidang Tela­rung mati karena peng­khi­a­natan, karena pera­cunan. Ia bang­kit ber­diri dan meng­ang­kat pedang­nya, lari masuk ke peku­wuan dan men­da­pat­kan Dedes sedang nye­nyak tidur. Dengan muka masih basah karena air­mata ia bangun­kan Para­mesy­wari dan ber­bi­sik ter­pu­tus-putus:

“Tolong aku.”

Dedes buru-buru turun dari ran­jang dan mene­liti wajah sua­mi­nya. Kemu­dian: “Kata­kan­lah, Kakanda.”

“Urus­lah agar pasukan Kebo Ijo seka­rang juga dita­rik dari peku­wuan. Ganti dengan pasukan lain.”

“Pasukan siapa yang Kakanda lebih per­caya?”

“Barang­kali salah seo­rang di antara para Kidang.”

“Bukan­kah semua mereka sedang ber­ka­bung?” Meli­hat Akuwu ragu-ragu dan gugup, ia mene­rus­kan, “Apakah kesal­ahan Kebo Ijo? Dia seo­rang satria, lebih patut men­da­pat­kan kehor­matan ini.”

“Sing­kir­kan dia dari peku­wuan. Per­gi­lah. Urus dengan para Men­teri.”

“Siapa kemu­dian yang menga­wal aku? Bukan­kah pra­ju­rit-pra­ju­r­it­nya juga?”

“Bia­sa­nya kau ... Bukan­kah kau seo­rang dewi kebi­jak­sa­naan? Sege­ralah,” kata­nya tanpa daya.

Dan Dedes pergi mening­gal­kan Bilik Agung.

Tung­gul Ame­tung duduk di per­a­duan dengan pedang telan­jang di sam­ping­nya. Ia menye­dari kini: balat­en­tara Tuma­pel tak lagi dapat diper­caya, bukan lagi andai-andai­nya. Semen­tara itu ia mem­be­nar­kan sikap Dedes yang meno­lak pem­bantu dan penga­wal Bilik. Bila tidak mung­kin sudah lebih dahulu sese­o­rang meng­khi­a­nat­i­nya sewaktu tidur.

Seo­rang demi seo­rang di antara para kepala pasukan ia jajar­kan di hadapan mata batin­nya. Para Kidang yang per­tama-tama tak diper­ca­ya­i­nya karena per­ka­win­an­nya dengan Dedes. Pasukan kuda makin lama makin dekat pada Bela­kangka, dan Yang Suci merasa lebih aman dalam penga­walan mereka. Arok? Dengan terang-terangan ia telah nya­ta­kan sikap pada­nya, telah berani meng­ha­dap­kan pasuk­an­nya pada balat­en­tara Tuma­pel di tengah medan per­tem­puran.

Kebo Ijo? Ia yakin Kidang Tela­rung dibu­nuh oleh pasuk­an­nya, oleh­nya sen­diri atau oleh sur­uh­an­nya. Ia seba­gai satria yang tidak pernah diakui, dia mem­pu­nyai alasan. Ia masih muda dan dengan kema­tian itu mung­kin meng­ang­gap lebih dekat pada haknya atas Tuma­pel dari­pada para Kidang. Ingin ia mem­bi­na­sa­kan­nya, tapi kini ia belum berani, belum menge­ta­hui betul keku­atan yang di bela­kang­nya. Namun ia akan meng­han­cur­kan­nya.

Pada­nya seka­rang ting­gal Dedes, yang tidak dimu­suhi oleh siapa pun, kecu­ali barang­kali oleh para selir saja dan istri­nya.

Dan balat­en­tara Kediri? Bila datang? Ia tahu kedu­duk­an­nya akan ter­an­cam, tetapi jiwa­nya akan sela­mat, juga har­ta­nya, juga Para­mesy­wa­ri­nya. Ia harus yakin: semua kesu­l­itan tak lain dari­pada bea untuk anak kebe­saran yang bakal lahir.

“Kau menang, Dedes!” Bisik­nya mera­tapi kedu­duk­an­nya yang tidak menentu. Ia merasa sangat, sangat lemah, tanpa penun­jang begini. Ia harus per­gu­na­kan Dedes untuk menye­la­mat­kan dir­i­nya ....

Dengan mem­per­si­ap­kan segala-gala dalam piki­ran­nya ia datang ke asrama Arok.

Dan para kemit tidak mengi­jin­kan ia masuk sebe­lum men­da­pat perin­tah dari Arok sen­diri. Para penga­wal dari pasukan Kebo Ijo bahkan mereka tahan.

Arok keluar untuk menyam­but­nya. Untuk per­tama kali di depan orang lain ia tidak meng­ang­kat sembah.

“Bahkan Para­mesy­wari tidak kau ijin­kan masuk,” protes Dedes.

“Sila­kan masuk, Yang Mulia,” sambut Arok. “Siapa pun me-

Mang tak dapat mema­suki asrama ini kecu­ali Yang Mulia. Sila­kan.”

Dan Para­mesy­wari tidak masuk. Dalam San­sa­kerta ia sam­pai­kan pada Arok ten­tang per­se­m­ba­han Kebo Ijo, dan perin­tah Tung­gul Ame­tung untuk meng­gan­ti­kan penga­wal peku­wuan.

“Dedes, anak Mpu Parwa, sam­pai­kan pada Kebo Ijo untuk mene­mui aku dalam sebu­lan ini.”

“Baik. Bagai­mana ten­tang peng­gan­tian penga­wal?”

“Jangan pasuk­anku. Tunjuk olehmu yang lain saja. Kau akan dika­wal malam ini oleh pra­ju­rit-pra­ju­r­itku.”

Ken Dedes pergi dalam penga­walan para pra­ju­rit Arok. Bagi­nya tak ada lain yang dida­tangi kecu­ali pasukan Kidang. Dan ia men­ja­tuh­kan titah: Tanpa seo­rang Kidang.

Seo­rang tam­tama segera menyi­ap­kan pasuk­an­nya dan ber­ba­ris meng­iring­kan Para­mesy­wari mema­suki peku­wuan.

Ken Dedes memang­gil Kebo Ijo dan meme­rin­tah­kan masuk ke asrama pada saat itu juga.

“Apakah kesal­ahan sahaya, yang Mulia?” Kebo Ijo ber­kata dengan suara geme­tar.

“Maju men­de­kat kau, Kebo!” Perin­tah­nya. “Apakah yang telah kau per­buat di selatan?”

“Tiada sesu­atu, Yang Mulia.”

“Juga aku dengar Kidang itu tewas sebe­lum ber­tem­pur, dan pasuk­anmu yang men­jadi saksi, atau lebih dari itu.”

“Tiada seo­rang pun tahu ten­tang sebab sesung­guh­nya, Yang Mulia. Bukan­kah seba­ik­nya ada peme­rik­saan teliti?”

“Untuk itu selu­ruh pasuk­anmu tidak diper­ke­nan­kan keluar dari asrama. Dan ingat-ingat,” sua­ra­nya men­jadi sangat pelahan, “Hitung hari­nya, dalam sebu­lan ini kau harus meng­ha­dap pada Arok.”

Dengan kaki geme­tar Kebo Ijo mening­gal­kan peku­wuan.

Malam itu juga pra­ju­rit-pra­ju­rit Kebo Ijo yang dita­han oleh pasukan Arok diha­dap­kan pada Arok. Dela­pan orang itu dalam kea­daan ter­lu­cuti duduk ber­ban­jar di bawah sebuah damar besar “Siapa di antara kalian ber­de­la­pan mau men­ce­ri­ta­kan peris­tiwa kema­tian Kidang Tela­rung?” Sese­o­rang mulai ber­ce­rita. “Baik. Aku per­caya.”

“Apakah peris­tiwa itu kalian anggap kece­la­kaan atau­kah peng­khi­a­natan?”

“Bukan­kah seba­ik­nya Dalung yang men­ja­wab?”

“Apakah Dalung belum juga diper­se­m­bah­kan pada Yang Mulia Para­mesy­wari atau Akuwu?”

“Sejauh kami keta­hui, belum.”

“Meng­apa Kebo Ijo tak laku­kan itu?”

Tak ber­ja­wab.

“Apakah Dalung pernah dito­lak, kalian tolak, waktu hendak mema­suki peku­wuan?”

“Kami men­da­pat perin­tah mela­rang siapa pun masuk.”

“Selama kalian men­da­pat tugas kawal. Sebe­lum itu?”

“Kami tiada tahu.”

“Di sebe­lah mana Kebo Ijo waktu peris­tiwa itu ter­jadi?”

“Di bela­kang Kidang.”

“Baik. Ada ter­de­ngar desas-desus yang ber­a­sal dari kalian sen­diri. Sewaktu mem­bawa pulang mayat Kidang kalian tidak lang­sung ke Kuta­raja.

“Lang­sung.”

“Jangan kalian lupa, kalian dalam keku­a­saan pasukan Arok,” dan Arok menyo­dor­kan lodong tuak pada mereka. “Kalian datang lebih dulu dari kami. Kami seka­rang sangat mengan­tuk. Minum, dan jangan tunda-tunda jawaban.”

Mereka minum.

“Benar? Lang­sung ke Kuta­raja?” Tanya Arok. “Jangan lupa, malah seo­rang di antara teman-temanmu bilang tidak, mem­be­lok ke sesu­atu tempat untuk men­cari petai hampa. Orang itu akan kami ungkap dan kami hadap­kan pada kalian. Jangan lupa, kalian dalam tangan pasukan Arok.”

Mereka tidak men­ja­wab.

“Baik, kalian tak mau men­ja­wab. Ten­tu­nya mau mene­rang­kan padaku: apa arti petai hampa?”

“Tak ada di antara kami ber­de­la­pan pernah meng­u­cap­kan itu. “Baik. Tidur­lah kalian.”

Mereka per­gi­arok duduk pada ambin asrama dan segera dike­li­lingi oleh enam orang penga­wal­nya. “Mereka harus meng­aku, Pim­pinan Ter­tinggi. “Mereka akan meng­aku. Semua usaha mereka sia-sia. Mereka meng­ang­gap Kebo Ijo begitu besar keku­a­saan dan penga­ruh­nya. Dalam per­a­turan Tuma­pel dia tidak ber­arti apa-apa.”

“Adakah Kidang benar dikhi­a­nati?”

“Biar mereka yang men­ja­wab nanti.”

Malam itu juga ia jatuh­kan perin­tah untuk mem­per­ke­tat peng­a­wasan ter­ha­dap Empu Gan­dring dan Kebo Ijo.

Kemu­dian Arok berang­kat tidur dengan penge­ta­huan yang pasti: Tuma­pel sudah ada dalam geng­gam­an­nya ....



Bab 9

Rahasia Empu Gandring

Seperti anjing men­de­kati tuan­nya yang mem­bawa tong­kat pemu­kul Kebo Ijo datang pada Empu Gan­dring untuk meng­a­dukan halnya.

“Tuan tidak pernah men­ce­ri­ta­kan sebe­lum­nya,” tegur Empu Gan­dring, “kalau telah bunuh Kidang Gume­lar dari bela­kang. Per­bu­atan ter­ku­tuk itu yang meng­ga­gal­kan semua ren­cana. Meng­apa hanya seo­rang Kidang tanpa arti Tuan bina­sa­kan? Bukan­kah ren­cana semula Tung­gul Ame­tung sen­diri dan Arok? Kemu­dian menyerbu ke pen­du­langan emas Kediri.”

“Ampuni sahaya.”

“Seki­ra­nya ren­cana pri­badi ter­ku­tuk itu sudah sahaya keta­hui sebe­lum­nya, Tuan, tidak mung­kin sahaya mem­be­ri­kan keper­ca­yaan pada Tuan untuk bicara dengan Para­mesy­wari. Seka­rang sudah ada orang lain menge­ta­hui ten­tang gerakan kita. Semua ren­cana kita gagal dalam tangan Tuan. Tuan ter­u­sir dari peku­wuan seperti bukan ketu­runan satria. Tuan tidak merasa ter­sing­gung, bahkan kecut. Apakah seo­rang Kidang yang meng­u­sir Tuan?”

“Bukan Para­mesy­wari!”

“Jagad Dewa!”

“Dan perin­tah­kan pada sahaya untuk meng­ha­dap Arok dalam satu bulan ini.”

“Jagad Bat­hara!”

“Dela­pan anak buah sahaya telah dita­han oleh pasukan Arok dan belum juga dile­pas­kan sampai seka­rang.”

“Ah-ah, betul-betul kita dalam kesu­l­itan, Tuan,” Empu Gan­dring kemu­dian ber­ko­mat­k­a­mit dan menyem­bur­kan sirih ke lantai. “Pang­gil Dadung Sung­ging kemari, Tuan.”

“Ada di depan,” ia mening­gal­kan tuan rumah dan balik lagi mem­bawa Dadung Sung­ging.

“Nah, kata­kan apa yang kau keta­hui. Bukan­kah kau dari pasukan Kidang?”

“Sahaya, Empu. Per­tama-tama sibuk­nya orang dalam peku­wuan mem­bi­ca­ra­kan mati­nya Kidang. Dalung telah diha­langi datang. Begitu ganti penga­wal, Empu, seo­rang Kidang datang mem­ba­wa­nya, meme­rik­sa­nya di pura, dan lang­sung menga­ta­kan: kema­tian tidak wajar, racun. Ia telah mene­mu­kan tanda-tanda aneh bekas barutan kuku bina­tang dan luka sete­ngah jari dalam­nya di bawah ping­gang.”

“Itu tidak pen­ting. Ucapan Para­mesy­wari atau Akuwu yang aku butuh­kan.”

“Akuwu tidak lagi keluar dari peku­wuan. Juga tidak ke pura sejauh kami keta­hui. Para­mesy­wari setiap hari ke pura seperti biasa. Sekali sahaya dapat men­curi kesem­patan bicara. Yang Mulia masih tetap mem­per­ca­yai sahaya, ber­pe­san, bahwa ia tidak mem­per­ca­yai pasukan Kidang, dan meng­ha­rap sahaya dan teman-teman sahaya men­jaga kese­la­mat­an­nya dengan baik.”

“Tidak mem­bi­ca­ra­kan kese­la­matan Akuwu?”

“Tidak, hanya dir­i­nya sen­diri.”

“Tak ada suara-suara ten­tang Arok atau aku?”

“Tidak ada, Empu.”

“Juga tidak tenung sesu­atu yang ber­nama Gan­dring?”

“Tidak, Empu.”

“Cukup.”

Dan Dadung Sung­ging pergi. “Bagai­mana seka­rang Tuan?” Tanya Kebo Ijo. “Tuan ter­lalu menyu­sah­kan, tidak men­de­ng­ar­kan petun­juk.”

“Sahaya memang sudah ber­sa­lah besar.”

“Tetapi nanti seba­gai Akuwu Tuan bisa meng­u­langi dan meli­pat­gan­dai kesal­ahan Tung­gul Ame­tung. Barang­kali Tuan sudah punya ren­cana meng­u­sik-usik orang Syiwa pula. Tuan telah gagal dalam menum­pas Tung­gul Ame­tung dan Arok pada waktu mereka justru sedang ter­lena. Sebe­nar­nya kebi­na­saan mereka akan bisa memun­cul­kan Tuan di medan perang. Tuan ting­gal ber­seru-seru: Inilah Kebo Ijo, semua kini aku ambil-alih. Sayang, Tuan, kesem­patan itu Tuan sia-siakan.”

“Beri­lah sahaya petun­juk bagai­mana mesti ber­si­kap ter­ha­dap Arok. Para­mesy­wari telah men­ja­tuh­kan perin­tah­nya.”

“Lihat, tuan ter­nyata juga belum ber­ha­sil mem­pe­nga­ruhi Ken Dedes. Dia hendak meng­gu­na­kan Tuan untuk jadi peng­hu­bung­nya. Itu yang Tuan harus meng­erti.”

“Selu­ruh balat­en­tara Tuma­pel telah sahaya per­se­m­bah­kan pada­nya.”

“Tuan tidak bisa mem­buk­ti­kan kebe­naran ucapan Tuan sen­diri. Tuan menying­kir sete­lah dipe­rin­tah­kan pergi. Cela­ka­nya Tuan juga tidak menye­dari itu suatu ujian dari Para­mesy­wari.”

“Jagad Dewa!” Seka­rang Kebo Ijo yang menye­but.

“Seo­rang satria seperti tuan semes­ti­nya tidak laku­kan rang­kaian kesal­ahan seperti itu.”

“Baik­lah. Seka­rang, Tuan beri sahaya nasi­hat bagai­mana harus meng­ha­dapi Arok kepa­rat ini?”

“Tuan nam­pak­nya segan pada­nya.”

“Segan?” Kebo Ijo ter­tawa sum­bang. “Segan? Apakah arti Arok? Hanya karena titah Para­mesy­wari sahaya harus datang pada­nya.”

“Kalau segan, Tuan tak perlu datang pada­nya.”

“Anak buah sahaya yang dela­pan? Mereka bisa ber­ki­cau di bawah lecutan cam­buk­nya.”

“Pulang­lah Tuan. Biar sahaya pikir­kan dalam bebe­rapa hari ini. Sedang Tuan sen­diri, seo­rang calon satu-satu­nya untuk Akuwu Tuma­pel, hen­dak­lah bel­a­jar bijak­sana.”

Empu Gan­dring meng­an­tar­kan Kebo Ijo keluar pela­taran rumah­nya dalam iringan penga­walan yang kuat. Bebe­rapa bentar kemu­dian mereka hilang dite­lan kege­lapan malam.

Men­je­lang tengah malam datang seo­rang tam­tama, juga dalam penga­walan kuat. Tuan rumah sudah tidur waktu anjing­nya meng­gong­gong gila. Ia keluar untuk men­jem­put tamu­nya dan lang­sung mem­ba­wa­nya masuk.

Anjing itu terus meng­gong­gongi para penga­wal. Tiba-tiba sua­ra­nya padam, dan tak ada seo­rang pun mem­per­ha­ti­kan. Para penga­wal itu duduk-duduk memung­gungi rumah, dalam kege­lapan malam.

“Berita celaka, Tuan,” Empu Gan­dring memu­lai. “Kebo Ijo memang ter­lalu dungu, dan nama sahaya sudah ter­lan­jur ter­bawa-bawa oleh si goblok itu.”

“Seo­rang yang hanya cocok untuk umpan per­tama, Tuan,” tam­tama itu menye­tu­jui.

“Cela­ka­nya pula dia tidak berani meng­ha­dapi Arok.”

“Sudah ter­cium desas-desus dialah yang mem­bu­nuh Kidang Tela­rung. Memang hanya cocok untuk umpan per­tama,” tam­tama itu mene­gas­kan.

“Cuma dia satria di Tuma­pel, Tuan. Puh, negeri desa tanpa satria ini. Orang Kediri pun segan mema­suki negeri ini. Bagai­mana pun darah­nya lebih mulia dari­pada Tung­gul Ame­tung. Dengan kebe­ra­nian dan kecer­dikan dia bisa bangun­kan negeri. Kebo Ijo ini cuma punya darah!”

“Kita lepas­kan dia, Tuan. Bagai­mana dengan sen­jata yang dijan­ji­kan? Arok makin men­de­sak, sedang pra­ju­rit-pra­ju­rit ang­katan baru itu tak punya sikap ter­ha­dap­nya. Sahaya tidak meng­erti sikap mereka. Seperti tidak peduli. Sikap yang tidak bisa dite­bak justru yang bisa bikin salah hitung.”

“Mereka akan ber­pi­hak pada yang berani ambil tin­dakan dan menang. Tung­gul Ame­tung mengunci diri dalam peku­wuan. Arok tidak akan meng­am­bil tin­dakan. Ingat Tuan pada ucap­an­nya di selatan? Dia ter­i­kat pada per­se­tu­juan antara Loh­gawe, dan Tung­gul Ame­tung mem­be­nar­kan. Dia tidak akan ber­buat sesu­atu ter­ha­dap­nya. Tin­dakan hanya bisa datang dari pihak kita.”

“Jadi, bagai­mana sen­jata yang dijan­ji­kan?”

“Gam­pang, Tuan.”

“Sahaya ragu-ragu akan kegam­pang­an­nya. Sudah lama besi tidak masuk ke Tuma­pel.”

“Sebut nama Empu Gan­dring, dan gudang sen­jata akan ter­buka.”

“Beri­kan­lah segera. Kita harus meng­ha­dapi Arok.”

“Hanya sete­lah dapat sahaya pas­ti­kan wak­tu­nya. Kita belum lagi men­ca­pai per­se­tu­juan ten­tang pem­ba­gian hasil yang akan dica­pai. Demi Hyang Pan­ca­gina.”

“Tuan, kita semua orang sudra.”

“Hanya sahaya yang menen­tu­kan.”

“Dan keku­atan Arok yang sema­kin mera­ja­lela?”

“Tung­gu­lah.”

Tam­tama itu pergi dalam kawalan kuat. Empu Gan­dring meng­iring­kan­nya keluar. Waktu tamu sudah hilang dalam kege­lapan Empu Gan­dring memang­gil-mang­gil anjing­nya. Bina­tang itu tidak men­ja­wabi. Ia masuk ke dalam dan keluar lagi mem­bawa damar. Bina­tang itu ia dapati mati ter­kena tikaman bera­cun. Ia angkat bang­kai itu dengan satu tangan, dibawa masuk.

“Alamat tidak baik,” bisik­an­nya pada diri sen­diri. “Memang Kebo Ijo kepa­rat. Pantas ditem­bak dari bela­kang, hina tanpa sedi­kit pun kehor­matan.”

Ia letak­kan bang­kai itu di atas meja dan dipa­sang­nya pedu­paan di depan mon­cong­nya, kemu­dian ber­bi­sik pada kuping bang­kai itu: “Tim, kau yang sejak kecil aku peli­hara, aku sayang dan aku man­jakan, kata­kan padaku kapan wak­tu­nya aku harus gerak­kan sen­jata yang telah di tangan ini. Kau, jangan sia-siakan jerih-payahku selama ini. Kau telah deng­ar­kan aku.”

Kuta­raja setiap hari meli­hat para tam­tama dan per­wira dalam penga­walan besar. Orang men­duga per­tem­puran akan mele­tus di ibu­kota. Tetapi tiada yang tahu antara siapa dengan siapa.

Hanya pasukan Arok ting­gal tenang dalam asrama. Tetapi pra­ju­rit-pra­ju­r­it­nya yang ber­pa­kaian preman banyak ber­ham­buran meng­a­wasi segala per­u­ba­han yang ter­jadi. Pema­sukan hasil laut tetap ter­henti. Bahan makanan sema­kin sulit. Balat­en­tara Tuma­pel tak mengi­jin­kan pen­du­duk meng­ungsi, takut mereka akan ber­ga­bung dengan para peru­suh di luar kota.

Tetapi kiriman bahan makanan ke asrama pasukan Arok terus meng­a­lir.

Waktu iring-iringan kiriman mulai diganggu oleh pasukan-pasukan lain, bahkan dir­am­pas, Arok mulai meme­rin­tah­kan menge­lu­ar­kan pat­roli. Kadang-kadang ia sen­diri dalam iringan satu regu.

Dan pen­du­duk ibu­kota, yang tidak meng­erti seluk-beluk kegen­tingan, tidak ber­pi­hak pada siapa pun.

Mayat Kidang Tela­rung telah diba­kar dalam upa­cara kecil di halaman pura. Bisik-desus sema­kin ber­kem­bang, dia mati dikhi­a­nati. Nama Kebo Ijo seba­gai wakil kepala pasukan Kidang Tela­rung mulai dihu­bung-hubung­kan orang dengan peng­khi­a­natan itu. Namun mereka tidak dapat mema­hami kegen­tingan seka­rang.

Bela­kangka kem­bali dari Sum­ber­pe­tung dalam iringan pasukan kuda, seperti seo­rang akuwu. Dari desa itu ia telah kirim­kan utusan ke Kuta­raja minta tam­ba­han penga­walan untuk dapat mema­suki Kuta­raja seba­gai wakil Kediri dengan sela­mat tak kurang suatu apa

Ia masuki ibu­kota dengan keya­kinan: dengan modal pasukan kuda ia akan dapat tegak­kan kewi­ba­waan Kediri, ia telah men­de­ngar laporan dan mau-maunya ten­tang merun­cing­nya per­se­li­sihan antara Tung­gul Ame­tung dengan Arok. Juga telah men­de­ngar tenung kedu­dukan Kebo Ijo yang sulit: dide­sas-desus­kan mem­bu­nuh seo­rang Kidang dan diusir oleh Para­mesy­wari.

Keret­a­nya ber­ge­rak pelan-pelan menuju ke asrama pasukan Kebo Ijo.

Kun­jungan itu mem­bi­kin Kebo hidup kem­bali. Ia ber­lari-larian menyam­but, ber­be­sar hati meli­hat barisan kuda yang mera­mahi pasuk­an­nya. Begitu Bela­kangka turun dari kereta ia segera ber­lu­tut, mem­ber­sih­kan kaki­nya dan meng­ang­kat sembah.

“Semoga para dewa tetap melin­dung­imu, anakku.” Bela­kangka memu­lai, “aku hendak bicara sesu­atu deng­anmu. Naik­lah ke kereta, biar kita bisa bicara terang-terang.”

Kebo Ijo meng­ang­kat muka, men­duga pasukan kuda datang untuk men­cu­l­ik­nya, dan:

“Dengan kereta dalam iringan pasukan kuda begini, penga­wal sahaya tentu tak dapat melin­dungi sahaya.”

“Apakah pasukan kuda kurang cukup kuat?”

“Ter­lalu kuat ter­ha­dap sahaya, Yang Suci.”

“Patut­kah kau men­cu­r­i­gai aku? Mari naik. Jangan buang-buang kesem­patan sekali ini, kalau tidak, kau akan kehi­langan untuk selama-lama­nya.”

Piki­ran Kebo Ijo goyah. Tanpa menim­bang-nim­bang kese­la­matan dir­i­nya ia iring­kan Bela­kangka naik ke kereta. Ken­da­raan itu ber­ge­rak menge­li­lingi Kuta­raja, sengaja dipa­mer­kan bahwa ada keku­atan lain yang selama ini dilu­pa­kan orang.

Dalam ber­ken­dara ber­ke­li­ling itu ter­jadi per­ca­kapan ini: “Sri Baginda telah mema­hami kea­daan Tuma­pel sampai seke­cil-kecil­nya. Disim­pul­kan, bahwa per­kem­bangan yang buruk ini ber­sum­ber pada satu sebab: Arok si Syiwa yang dur­haka itu. Dia ter­nyata hanya alat dari Dang Hyang Loh­gawe. Ucapan Arok di medan per­tem­puran itu jelas ber­sang­kutan dengan kese­ti­a­an­nya pada Loh­gawe, bukan pada Sang Akuwu yang dilin­dungi oleh Kediri. Maka jalan yang ter­buka dan per­tama-tama hanya mem­bi­na­sa­kan brah­mana ter­ku­tuk itu.”

“Yang Suci,” Kebo Ijo megap-megap. “Memang tidak sem­ba­rang pra­ju­rit berani mem­bi­na­sa­kan seo­rang brah­mana. Kau sen­diri juga gentar. Hanya Tung­gul Ame­tung berani laku­kan itu Berani hanya karena bodoh­nya. Ajaran lama menga­ta­kan: brah­mana adalah semu­lia-mulia orang, karena dia di tempat ter­de­kat pada para dewa. Tetapi Loh­gawe bukan brah­mana yang sema­cam itu. Dia meng­u­sik semua orang di Tuma­pel, peng­hu­jat Hyang Wisynu dengan per­bu­at­an­nya. Bagai­mana pen­da­patmu?”

“Sahaya hanya seo­rang pra­ju­rit, Yang Suci.”

“Jadi kau tidak berani.”

“Bukan­kah pada Yang Suci ada pasukan kuda?”

“Untuk apa aku bicara deng­anmu? Tidak­kah kau meng­erti maksud-maksud Kediri atas dirimu?”

“Aduh Dewa Bat­hara, sampai setinggi itu karu­nia dilim­pah­kan pada sahaya, Yang Mulia?”

“Jangan sebo­doh Tung­gal Ame­tung.”

“Tetapi ten­tang Dang Hyang Loh­gawe itu. Yang Mulia, amit-amit, sahaya tiada kebe­ra­nian seka­rang dan kemu­dian.”

“Tidak apa, kalau itu tidak mung­kin. Kalau begitu tangan-tangan Loh­gawe yang harus dipeng­gal – Arok, Kebo, anakku.”

“Meng­apa tidak lang­sung Tung­gul Ame­tung, Yang Mulia?”

“Jagad Dewa. Bagai­mana kau bisa bicara begitu? Sang Akuwu masih dalam lin­dungan Kediri.”

“Jadi untuk apa sahaya harus hadapi Arok?”

“Masih kau tidak meng­erti? Deng­ar­kan: Kediri akan mem­bantu Tuma­pel dalam tiga bulan ini bila keru­suhan tidak ter­a­tasi. Kini kegen­tingan pindah dari luar kota ke dalam kota. Semua ini dise­bab­kan Arok, si kepa­rat itu. Kalau dia mau, seka­rang juga, dan Tuma­pel jatuh ke tangan­nya.”

“Bukan­kah masih ada pasukan sahaya dan pasukan kuda?”

“Pasuk­anmu? Tentu! Hanya kau ter­lalu ragu-ragu, atau mung­kin ter­lalu hati-hati. Pasukan kuda hanya baik untuk perang ter­buka. Dalam per­ke­la­hian awut-awutan yang bisa ter­jadi di ibu­kota, dia tidak ber­daya, kecu­ali dengan ker­ja­sama pasukan kaki.”

Sahaya telah dipe­rin­tah­kan oleh Yang Mulia Para­mesy­wari untuk mengun­jungi Arok.”

“Baik, bica­ra­lah deng­an­nya, jajagi kei­ng­in­an­nya. Boleh jadi kau bisa tun­duk­kan dia hanya dengan kata.”

“Yang Suci...” Kebo megap-megap.

“Kau tidak per­caya pada pasuk­anmu sen­diri.”

“Yang Suci, bukan begitu.”

“Pasukan kuda akan mem­bantu penga­walmu.”

Mereka tidak mem­per­ha­ti­kan mata pen­du­duk yang meli­hat kereta dalam iringan pasukan kuda dengan pan­dang tidak peduli.....

Iring-iringan itu mele­wati peku­wuan dan asrama-asrama pra­ju­rit. Seperti telah diatur sebe­lum­nya di depan asrama pasukan Arok di dekat peku­wuan pasukan kuda itu ber­so­rak dan meng­ang­kat tinggi-tinggi tombak mereka yang dihi­asi dengan ben­dera warna-warni. Mereka sengaja melam­bat­kan lang­kah, dan pra­ju­rit-pra­ju­rit Arok tidak menang­gapi, juga tidak keluar untuk menon­ton.

“Lihat, pasukan Arok tidak men­ja­wab pameran kita ini.” Kebo Ijo meli­rik ke asrama Arok. “Per­li­hat­kan dirimu di jen­dela.”

“Yang Mulia,” Kebo Ijo megap-megap. “Ayoh, biar mereka tahu, pasukan kuda dan pasuk­anmu ber­satu, dan di bela­kang­nya adalah aku, Bela­kangka, wakil Kediri. Ayoh!” Ia dorong Kebo Ijo, memak­sa­nya mem­per­li­hat­kan diri di jen­dela kereta. “Ya,” Bela­kangka meme­gangi ping­gang­nya. “Ting­gal dulu di situ, biar mereka cukup menge­nal kau. Apa yang kau takuti? Takkan bakal ada tombak menyam­bar batang tubuhmu.” Bela­kangka masih juga meme­gangi ping­gang­nya. “Ter­se­nyum menan­tang, kau! Dan meng­ang­guk-angguk, seperti kau meng­erti benar, Arok sudah men­jadi takut padamu.”

Karena Kebo Ijo hendak buru-buru mena­rik badan dari jen­dela, Bela­kangka menin­das pung­gung­nya dengan lutut. Dan pasukan kuda itu masih juga ber­so­rak-sorak. Asrama Arok telah dile­wati. Bela­kangka mena­rik lutut­nya dan mele­pas­kan ping­gang Kebo.

“Senyum kau tadi?”

“Senyum, Yang Suci.”

“Kalau tidak. Kita ter­paksa harus meng­u­langi sekali lagi.”

“Senyum, Yang Suci, benar sahaya telah senyum.”

“Baik, besok atau lusa pasuk­anmu dan pasukan kuda akan laku­kan baris keli­ling kota.”

“Yang Suci, ah, Yang Suci... Para Kidang, pasukan-pasukan lain... Mereka akan gusar pada sahaya.”

“Bukan­kah tidak ada per­pe­cahan antara kalian?”

“Para Kidang, Yang Suci!”

“Kau takut pada para Kidang karena telah mem­bu­nuh seo­rang Kidang?”

“Jagad Dewa, tidak, Yang Suci.”

“Meng­apa takut? Kalau begitu kau punya maksud jahat ter­ha­dap Tung­gul Ame­tung.”

“Demi Hyang Wisynu, tidak. Yang Suci.”

“Meng­apa kau takut kalau ada pada pihak­nya? Bukan­kah kau jadi pra­ju­r­it­nya Sang Akuwu?”

“Sahaya tidak tahu hati para tam­tama. Mung­kin ada di antara mereka yang...”

“Ya-ya, jadi ada di antara para tam­tama yang hendak ingkar ter­ha­dap Sang Akuwu.”

“Bukan begitu maksud sahaya, Yang Suci.”

“Nah seka­rang sebut­kan siapa-siapa mereka...”

“Ampun, Yang Suci, ampuni sahaya.”

“Jangan takut. Bagi Kediri, yang ter­pen­ting adalah kese­ti­aan Tuma­pel pada Kediri. Tung­gul Ame­tung tak ber­arti apa-apa. Kalau ada tam­tama yang ingkar, aku tidak ambil pusing. Bahkan seki­ra­nya dia digu­ling­kan pun aku tidak peduli. Yang pen­ting, akuwu baru harus tetap setia pada Kediri. Nah, sebut­kan seka­rang nama-nama mereka. Siapa tahu mereka dapat kau ajak sepa­kat? Jangan lupa, kaulah orang yang paling layak mengu­a­sai Tuma­pel. Kediri pasti akan mem­be­nar­kan. Tak lain dari aku yang akan mem­per­se­m­bah­kan ke Kediri.”

“Yang Suci, betapa besar kasih Yang Suci pada sahaya.”

“Tidak per­cuma telah kuurus penge­sahan sil­si­lahmu ke Kediri. Kau seo­rang Kebo, anak seo­rang Kebo. Nah kata­kan seka­rang, siapa-siapa tam­tama yang ingkar dan akan mem­ban­tumu naik?”

Kereta itu kini men­ju­rus ke luar kota.

“Luar kota seka­rang lebih aman,” Bela­kangka menyi­sipi. “Ayoh kata­kan, jangan tunda-tunda kea­daan yang baik ini.”

“Yang Suci, Yang Suci!”

“Lihat pasukan kuda di depan dan bela­kangmu. Apa kau tak per­caya pada keku­atan dan kelin­ca­han­nya? Kelin­ca­han, Kebo, lebih pen­ting dari keku­atan. Dia lima kali lebih cepat dari­pada lima kali pasuk­anmu. Dengan pasukan kuda dan pasuk­anmu, keku­atan men­jadi dua puluh enam kali. Kalau para tam­tama itu menyo­kong kau, jelas­lah sing­ga­sana akuwu itu men­jadi mil­ikmu. Baik, kau tak mau sebut­kan nama-nama mereka. Pen­dek­nya aku per­caya ada para tam­tama seba­gai­mana kau mak­sud­kan. Bukan?”

Dan Kebo Ijo tak berani men­ja­wab.

“Jadi kedu­duk­anmu sudah cukup kuat. Kau hanya gentar pada Arok. Sikapmu ter­ha­dap Para­mesy­wari sung­guh-sung­guh tepat. Kau pergi dari peku­wuan tanpa menim­bul­kan onar. Hanya jangan gega­bah bila hendak ber­ge­rak nanti. Beri­tahu aku. Dan jangan lupa, besok atau lusa, baris­kan keku­at­anmu menge­li­lingi selu­ruh kota, juga mela­lui asrama Arok.”

Kereta itu kem­bali mema­suki kota. Dan Kebo Ijo telah ber­mandi keri­ng­at­nya sen­diri.

Waktu kereta ber­henti di depan asrama Kebo Ijo, Bela­kangka ber­bi­sik:

“Aku tahu kau mem­bu­tuh­kan emas, biaya semua keper­luan itu. Ada kau modal?”

“Seca­tak pun tiada, Yang Suci.”

“Mema­lu­kan. Apa yang bisa kau gerak­kan tanpa seca­tak pun? Datang nanti malam ke tem­patku.”

“Sahaya, Yang Suci. Betapa pemu­rah Yang Ter­suci pada sahaya.”

“Semua akan aku peta­ruhku pada satu-satu­nya Kebo di Tuma­pel.”

“Bagai­mana dengan Arok, Yang Mulia?”

“Kita terus­kan nanti malam.”

Kebo Ijo turun dan Bela­kangka pulang ke ista­na­nya.

Malam itu juga tam­tama itu datang meng­ha­dap dalam iringan penga­wal yang kuat.

Bela­kangka mene­ri­ma­nya dengan gem­bira, lang­sung menyo­dor­kan sebuah kan­tong berisi lima puluh ribu catak perak dan dua ribu saga emas.

“Kau akan mengem­ba­li­k­an­nya sete­lah ber­ha­sil, dan barang­tentu ber­li­pat empat seba­gai harga sing­ga­sana akuwu. Kau meng­erti Kebo?”

“Sahaya Yang Suci.”

“Ber­sum­pah­lah.”

“Demi Hyang Wisynu, sahaya akan kem­ba­li­kan lima kali lipat sete­lah ber­ha­sil.”

“Aku akan masih tetap wakil Kediri di Tuma­pel.”

“Tanpa per­lin­dungan Yang Suci seba­gai wakil Kediri, sahaya bakal tiada daya.”

“Seti­dak-tidak­nya kau meng­erti duduk per­kara.”

“Bagai­mana dengan pasukan kuda, Yang Suci?”

“Sepe­nuh­nya dalam tanganku, tak perlu jadi piki­ranmu.”

“Bagai­mana dengan pasukan Arok, Yang Suci?”

“Untuk itu malam ini kita ber­temu ...”

Ruang gerak Tung­gul Ame­tung ter­ba­tas pada Bilik Agung dan Taman Larangan. Ke Pen­dopo pun ia tidak, ia tahu, kecu­ali di bidang keten­ta­raan, semua Ken Dedes yang mengu­rus. Juga meng­ha­dapi para Men­teri, Sang Patih dan Yang Suci.

Ken Dedes men­jadi ber­se­ma­ngat dengan peker­ja­an­nya yang baru. Ia merasa tri­sula Maha­dewa telah ter­geng­gam dalam tangan­nya, juga cakra Hyang Wisynu.

Sete­lah memang­gil Dalung dan men­da­pat­kan per­se­m­ba­han ten­tang kema­tian Kidang Tela­rung, bahwa sese­o­rang di bela­kang­nya telah mem­bu­nuh­nya dengan anak sumpit bera­cun, ia perin­tah­kan Kebo Ijo datang meng­ha­dap.

Dan Kebo Ijo tidak datang meng­ha­dap. Asra­m­a­nya kosong.

Ia masuk ke Bilik Agung dan mem­be­ri­ta­hu­kan pada Tung­gul Ame­tung, hendak menang­kap Kebo Ijo. Juga mem­be­ri­ta­hu­kan mama­nya kosong.

“Dia meme­gang pasukan bekas Kidang. Jangan gega­bah menang­kap dia.”

“Dia harus dia­dili.”

“Dia bisa ditang­kap hanya kalau sudah bisa dice­rai­kan dari pasuk­an­nya.”

Para­mesy­wari pergi lagi ke pen­dopo, meme­rin­tah­kan memang­gil Arok, dan yang dipang­gil datang.

“Deng­ar­kan, Arok, Kebo Ijo telah aku pang­gil meng­ha­dap. Dia harus ditang­kap dan harus mem­per­tang­gung­ja­wab­kan kema­tian Kidang Tela­rung. Dia tidak ada di tempat. Asra­m­a­nya kosong.”

“Dia sedang di luar kota dengan pasuk­an­nya, Yang Mulia. Juga dengan pasukan-pasukan lain, juga dengan pasukan kuda.”

“Apakah dia men­coba mem­bi­kin huru-hara?”

“Jangan kuatir. Yang Mulia. Dia memang telah ber­ha­sil mening­gal­kan para per­wira. Pasukan Kidang yang menga­wal peku­wuan juga tidak bisa diper­caya lagi. Ijin­kan­lah semua pasukan sahaya mema­suki peku­wuan, Yang Mulia.”

“Apakah itu perlu?”

“Kalau balat­en­tara Tuma­pel sudah ber­him­pun di bawah Kebo Ijo demi­kian, kelan­jut­an­nya hanya huru-hara. Pasukan sahaya akan masuk sedi­kit demi sedi­kit sampai semua Dada ting­gal.

“Jadi kau meli­hat akan adanya perang?”

“Masih ada sedi­kit waktu, Yang Mulia. Pasukan sahaya akan segera masuk. Kalau telah dibu­nyi­kan teng­ara lon­ceng perunggu tung­guk kemit, jangan Yang Mulia lupa, lari­lah Yang Mulia seo­rang diri masuk ke pura dalam. Seo­rang diri, Yang Mulia. Bagai­mana kese­hatan Sang Akuwu, Yang Mulia?”

“Aku tidak meng­erti, Arok, selalu gugup tidak menentu.”

“Kalau begitu Yang Mulia Akuwu mem­bu­tuh­kan kete­nangan. Huru-hara mung­kin akan ter­lalu hebat. Sang Akuwu tidak boleh ter­gon­cang karena itu. Ten­tang itu serah­kan semua pada sahaya, dan semua akan beres. Hanya, harap Yang Mulia Akuwu diu­sa­ha­kan tenang. Kalau bisa dibius, Yang Mulia.”

Arok menem­bus­kan pan­dang pada Para­mesy­wari. Ken Dedes menu­tup tapuk maunya dan meng­ang­guk.

Dengan demi­kian sedi­kit demi sedi­kit mulai pagi itu anak buah Arok masuk ke peku­wuan.

Dari semua kete­rangan anak buah yang dise­bar­kan­nya Arok telah men­da­pat gam­baran yang pasti ten­tang kea­daan Tuma­pel. Dan dengan ter­sing­kir­nya para per­wira, ter­u­tama pada Kidang, ia telah men­da­pat­kan peng­ko­ko­han dari kepas­tian itu. Ber­da­sar­kan itu ia mulai menyim­pul­kan:

Pasukan Kidang yang kini masih ting­gal di peku­wuan memang sengaja tidak dita­rik oleh Arok untuk tidak ter­lalu mener­bit­kan kecu­r­i­gaan sen­diri.

Ia kum­pul­kan mereka di bela­kang peku­wuan dan diberi kete­rangan, bahwa Kebo Ijo telah meng­am­bil-alih semua ten­tara Tuma­pel, dan dengan demi­kian hendak mela­wan Yang Mulia Tung­gul Ame­tung, yang dilin­dungi oleh Kediri. Kea­daan sema­cam ini akan bisa memang­gil balat­en­tara Kediri untuk mela­ku­kan penum­pasan. Hanya orang dungu seperti Kebo Ijo, yang tidak meng­erti. Kalau sisa pasukan Tuma­pel yang ting­gal di peku­wuan hendak meng­i­kuti jejak­nya, ber­arti itu memang­gil kebi­na­sa­an­nya sen­diri. Ia mem­per­si­la­kan siapa saja untuk meng­i­kuti Kebo Ijo. Dan tak ada seo­rang pun yang pergi “Pada siapa kese­ti­a­anmu. Kebo Ijo atau Arok?”

“Arok!” Jawab mereka

“Kalian ada di antara pasukan Arok. Setiap peng­khi­a­natan ter­ha­dap jawaban sen­diri bukan tanpa akibat.”

“Arok!” Jawab mereka sekali lagi.

“Lihat,” ia menu­ding ke arah pura,” di sana ada bebe­rapa orang Kidang dan per­wira yang sedang menyak­si­kan. Sekali lagi: pada siapa kese­ti­aan kalian?”

“Arok!”

“Teri­ma­ka­sih.”

Ia anggap sisa sen­jata Tuma­pel ini tidak lagi men­jadi masa­lah yang ter­lalu gawat. Ia pecah-pecah pasukan itu dan dita­ruh di bawah pim­pinan anak buah­nya sen­diri. Kesu­l­itan lain yang harus dise­le­sai­kan­nya adalah Empu Gan­dring. Seba­gai­mana halnya dengan para sudra ter­ke­muka, pada mereka timbul impian untuk naik men­jadi akuwu. Kenya­taan, bahwa Tung­gul Ame­tung sen­diri seo­rang sudra telah mem­be­ra­ni­kan impian mereka – para tam­tama, Empu Gan­dring sen­diri, dan ter­u­tama satria Kebo Ijo. Semua mereka meng­hen­daki sing­ga­sana Tuma­pel. Di antara semua itu, yang ia anggap paling ber­ba­haya adalah Empu Gan­dring. Dialah peng­ha­sut per­tama agar para tam­tama ingkar pada Tung­gul Ame­tung dalam keme­ro­sot­an­nya. Yang meme­ro­sot­kan­nya adalah per­la­wanan pemuda dan orang-orang tani yang dipim­pin­nya. Gan­dring ingin meme­tik buah usa­ha­nya.

Ia nilai Empu Gan­dring seba­gai seo­rang yang cerdik, wiba­wa­nya terasa di dalam pasukan Tuma­pel. Ia mengu­a­sai per­sen­ja­taan Tuma­pel. Dan ia mem­per­sa­tu­kan para tam­tama di bawah penga­ruh dan perin­tah­nya, namun mem­per­ten­tang­kan­nya satu dengan yang lain. Pada setiap orang di antara mereka ia tiup­kan harapan untuk mena­iki sing­ga­sana. Pada suatu ketika mereka akan ber­bu­nuh-bunuhan satu sama lain. Gan­dring akan keluar seba­gai peme­nang tanpa ber­ke­lahi, dan dengan demi­kian men­jadi pewa­ris Tung­gal Tuma­pel.

Gan­dring telah mene­rima emas dan besi dari­pa­da­nya, telah menempa besi itu men­jadi sen­jata. Tetapi anak buah­nya tetap belum pernah ber­ha­sil men­da­pat­kan di mana barang-barang jadi itu telah disim­pan. Dengan semua sen­jata pesan­an­nya itu paling tidak Gan­dring akan bisa mem­per­sen­ja­tai pasukan kecil untuk modal untuk menum­pas seo­rang demi seo­rang para tam­tama seka­wan­nya bila mereka tidak juga binasa ter­a­du­domba oleh­nya. Tanpa Gan­deng para tam­tama itu seba­lik­nya akan cerai-berai seperti serum­pun anak ayam kehi­langan induk.

Ia men­duga ahli sen­jata itu sudah banyak makan garam dan cukup rontal telah dipel­a­jar­i­nya. Tanpa modal itu tak mung­kin dia mem­pu­nyai impian untuk mena­iki sing­ga­sana.

Ia tahu apa harus ia per­buat ter­ha­dap­nya. Dengan lenyap­nya sudra ter­pel­a­jar itu, gerakan Empu Gan­dring akan lumpuh, dan ia sen­diri akan hanya meng­ha­dapi Tung­gul Ame­tung, arti­nya: meng­ha­dapi Kediri. Ia mem­bu­tuh­kan banyak waktu ....

Bahwa Kebo Ijo kemu­dian juga ber­ga­bung dengan Bela­kangka, ter­a­rak dalam penga­walan pasukan kuda dalam satu kereta, bisa ter­jadi karena kele­mahan Kebo dan pasti karena kelo­baan Bela­kangka. Balat­en­tara Tuma­pel mampu ber­ge­rak tanpa perin­tah dan pem­bi­a­yaan Akuwu hanya mung­kin bila ada modal dari sumber lain. Sumber itu adalah Bela­kangka. Ia merasa cukup meng­i­kuti sepak ter­jang­nya. Kesim­pul­an­nya: kadang-kadang saja Yang Suci mewa­kili Kediri. Makin banyak dia menya­ta­kan diri wakil Kediri, makin jelas dia meng­ha­rap­kan keam­b­rukan Tung­gul Ame­tung dan meng­gan­ti­nya dengan orang yang runduk takluk pada dir­i­nya.

Dan Bela­kangka tidak akan memi­lih jago yang cukup cerdas. Yang demi­kian akan menye­pak­nya sete­lah men­da­pat keku­atan. Maka per­se­ku­tuan dua orang itu ia anggap seba­gai per­ma­inan dua ekor cong­corang yang ber­ka­sih-kasihan untuk saling memangsa.

Dang Hyang Loh­gawe menang­gapi kesim­pulan-kesim­pul­an­nya: “Hati-hati, garu­daku, jangan sampai keta­jaman parasyu Hyang Ganesya dan irama aksa­ma­l­a­nya ter­le­pas dari tanganmu. Selama kau mengo­koh­nya, kau berada dalam kete­patan kebe­naran.”

Mene­rima jawaban itu lang­sung ia perin­tah­kan anak buah­nya mene­ro­bosi malam gelap ber­hu­jan meng­hu­bungi pasukan-pasuk­an­nya di utara, barat dan selatan kota, meme­rin­tah­kan menge­pung Kuta­raja dalam tiga hari men­da­tang. Dengan tam­ba­han: jangan sampai mener­bit­kan takut pada pen­du­duk dan siapa saja, ber­laku tenang, sopan, peno­long, dan peng­a­jak.

Ia ting­gal di asrama dengan hanya satu regu.

Dengan regu itu pula pada suatu siang ia men­da­tangi pabrik sen­jata. Ia menge­na­kan gelang dan kalung per­wira Tuma­pel, lang­sung masuk dan men­da­pat­kan empu itu sedang meme­riksa nilai tombak-tombak yang baru turun dari penye­puhan.

“Dir­ga­hayu, Tuan Empu Gan­dring.”

Ia lem­par­kan tombak dari tangan­nya ke atas meja peme­rik­saan. Nampak ia sangat ter­ke­jut meli­hat seo­rang per­wira Tuma­pel ber­diri di hadap­an­nya:

“Arok, per­wira Tuma­pel, Tuan Empu.”

Ia mena­tap Arok, meng­i­ngat-ingat.

“Tuan kenal siapa aku.”

Empu Gan­dring meng­ge­leng-geleng:

“Baru kali ini sahaya meli­hat Tuan. Nama Arok sahaya kenal tapi baru sekali ini meli­hat. Duduk. Tuan Arok,” ia mem­per­si­la­kan­nya pada selem­bar tikar yang ter­ge­lar di pojo­kan.

“Lebih baik ber­diri saja begini.”

“Baik. Ten­tu­nya Tuan ada keper­luan pen­ting.”

“Aku datang mem­bawa dua hal. Per­tama, bagai­mana warta ten­tang sen­jata yang aku pesan?”

“Sen­jata apa, Tuan?” Ia memang­gil seo­rang pem­ban­tu­nya.

“Bukan­kah kau telah mene­rima kiriman besi dari aku?”

“Besi? Kapan kalian pernah mene­rima besi?” Tanya­nya pada pem­ban­tu­nya. “Bukan­kah tidak pernah ada selama sete­ngah tahun ini?”

“Tak pernah kami mene­rima kiriman besi, Tuan,” pem­bantu Gan­dring mem­be­nar­kan.

“Baik­lah. Bukan­kah kau sen­diri yang dahulu ber­sum­pah pada

Hyang Pan­ca­gina di depan sana sete­lah mene­rima seribu saga dari aku?”

“Seribu saga. Tuan? Meli­hat emas seba­nyak itu pun sahaya tidak pernah.”

“Baik­lah. Buka gudang sen­ja­tamu.”

“Kami di sini tak punya gudang sen­jata, Tuan. Setiap sen­jata yang sele­sai, lang­sung diki­rim­kan ke peku­wuan.”

“Baik­lah Di gudang nomor berapa sen­jata disim­pan?”

Empu Gan­dring ter­tawa ter­ba­hak. Kemu­dian:

“Semes­ti­nya Tuan, seo­rang per­wira Tuma­pel, lebih tahu.”

“Baik­lah. Seka­rang urusan yang kedua. Yang Mulia Akuwu telah men­ja­tuh­kan titah agar kau datang meng­ha­dap.”

Empu Gan­dring pucat. Ia ber­pa­ling ke mana-mana.

“Siapa Tuan cari? Kebo Ijo? Dia sudah dipang­gil lebih dahulu, dan sampai seka­rang belum datang meng­ha­dap. Dia telah diang­gap menyang­kal titah. Nasib­nya sudah jelas. Maka itu dia lari mem­bawa pasuk­an­nya ke luar kota. Sayang sekali Tuan tidak punya pasukan. Mari!”

“Seba­ik­nya sahaya pulang dulu. Tuan, untuk ber­pa­kaian yang lebih tertib.”

“Tidak perlu,” tegah Arok; dan pada pem­bantu empu, “harap kalian keta­hui, Tuan Empu diti­tah­kan meng­ha­dap Yang Mulia Akuwu.”

“Jangan, Tuan,” pem­bantu empu itu mene­gah balik. “Jangan bawa empu kami. Peker­jaan akan macat selu­r­uh­nya.”

“Baik, kau pun ikut serta dengan kami,” ia tang­kap lengan pem­bantu itu.

Orang itu meng­han­tam lengan Arok dengan tangan­nya yang lain, lepas, dan mela­ri­kan diri. Ber­te­riak: “Sela­mat­kan empu kita!”

Ratusan pekerja itu ber­ge­rak. Bebe­rapa orang saja lari menyerbu regu Arok untuk menye­la­mat­kan Gan­dring yang telah digi­ring ke jalanan Seba­gian ter­be­sar ragu-ragu.

“Kalian mau menyang­gah Sang Akuwu?” Pekik Arok. “Balat­en­tara Tuma­pel akan datang meng­hu­kum kalian.”

“Bohong!” Pekik pem­bantu empu dari bela­kang para pekerja. “Semua balat­en­tara Tuma­pel sudah ingkar pada Tung­gul Ame­tung. Bebas­kan empu kita!”

Para penyerbu itu dapat ditang­kis, men­jadi ragu-ragu, dan meng­un­dur­kan diri.

“Jangan halangi,” pekik Arok. “Jangan pang­gil pasukan Arok. Lebih baik kalian ikuti perin­tah­nya.”

Empu Gan­dring dibawa ke asrama Arok. Ia didu­duk­kan di atas bangku, dan Arok meme­rik­sa­nya sambil ber­diri.

“Kau tahu dosa-dosamu. Maka deng­ar­kan kuse­but­kan satu demi satu: per­tama, kera­ku­san menye­bab­kan kau suka menipu semua orang yang mem­bu­tuh­kan jasamu.”

“Sahaya tidak pernah menipu.”

“Kau tak perlu bantah atau jawab. Cukup kau deng­ar­kan. Juga Yang Mulia Akuwu kau tipu sehingga sen­jata Tuma­pel tak dapat diper­gu­na­kan untuk mema­dam­kan keru­suhan. Mau lihat bukti?”

Seo­rang anak buah meng­an­tar­kan pada Arok sebi­lah tombak bikinan Empu Gan­dring dan tombak pra­ju­rit Arok.

“Lihat ini per­ban­ding­an­nya. Dengan keku­rangan baja seperti ini sen­jata Tuma­pel ter­lalu sering kem­bali ke pab­rikmu. Lain keku­at­an­nya dari sen­jata pra­ju­rit Arok. Kau bisa lihat sen­diri. Dengan buat­anmu yang busuk ini kau hendak lemah­kan balat­en­tara Tuma­pel.”

“Tuan, nilai besi yang kami terima memang tidak baik.”

“Diam, aku tak tanya. Lihat ini, tombak bikin­anmu ini kurang pan­jang dan kurang tipis diban­ding­kan dengan kepu­nyaan kami. Bukan­kah ga, angka satu ini, ciri dari pab­rikmu? Kau hendak lemah­kan Tuma­pel dengan ini, dan kau hendak mem­per­kaya dirimu sen­diri. Kau telah mene­rima emas dan besi dari aku, dan besi itu telah kau tempa jadi sen­jata, tapi kau tak ber­mak­sud menye­rah­kan padaku. Aku meng­erti sen­jata itu untuk dirimu sen­diri.”

“Tuan!”

“Kedua, deng­ar­kan baik-baik. Mela­lui Dadung Sung­ging kau telah mema­tai-matai peku­wuan,” ia ber­pa­ling pada anak buah­nya, “pang­gil sini Dadung Sung­ging.”

Dan pra­ju­rit Kidang itu diha­dap­kan.

“Inilah mata-matamu. Dia men­duga, kau menyo­kong Para­mesy­wari. Kau hanya menyo­kong dirimu sen­diri. Dia mela­ku­kan perin­tah-perin­tahmu dengan suka rela, tanpa upah seke­ping perak pun, karena menyangka kau orang jujur yang hendak men­di­r­i­kan cak­ra­warti Hyang Maha­dewa mela­lui Para­mesy­wari. Tapi kau sen­diri yang meng­a­kui diri seo­rang Wisynu selama Sang Akuwu Wisynu. Seki­ra­nya Sang Akuwu Buddha, kau pun orang Buddha. Pen­di­r­i­anmu di mana saja ada, yang ting­gal mantap hanya kera­ku­sanmu. Sing­kir­kan pra­ju­rit ini!”

Empu Gan­deng tak lagi men­coba mem­ban­tah.

“Ketiga, engkau men­coba meng­adu domba antara Sang Akuwu, Sang Para­mesy­wari dan aku, mela­lui pesu­r­uhmu yang mena­ma­kan dir­i­nya Kebo Ijo, ber­ka­lung Hyang Pan­ca­gina kecil, dan seakan Sang Akuwu dan Arok adalah musuh Sang Para­mesy­wari.”

“Keem­pat, mela­lui orang yang mena­ma­kan Kebo Ijo itu juga kau menya­ta­kan selu­ruh balat­en­tara Tuma­pel ada dalam tanganmu, dan kau mem­per­se­m­bah­kan­nya pada Para­mesy­wari. Apa nya­ta­nya seka­rang, balat­en­tara Tuma­pel telah mening­gal­kan Sang Akuwu dan para per­wi­ra­nya di bawah perin­tah Kebo Ijo. Kau meng­ang­gap Kebo Ijo akan serah­kan itu padamu? Kau meng­impi! Dia akan geng­gam untuk dir­i­nya sen­diri. Kau kira kau yang mem­bi­kin dia jadi begitu pen­ting dan dide­ng­ar­kan balat­en­tara Tuma­pel? Kau meng­impi untuk kedua kali. Dia bisa mena­rik balat­en­tara Tuma­pel karena emas dan perak dari Yang Suci Bela­kangka.”

Kuping Empu Gan­dring ber­ge­rak-gerak.

“Di bela­kang Bela­kangka adalah Kediri. Di bela­kang Kebo Ijo bukan kau – kau yang tak pernah mem­beri orang seke­ping perak pun. Bahkan meng­ga­ruk dari siapa saja yang dapat kau kenai!

Maka pada akhir­nya Kebo Ijo akan datang padamu untuk menum­pasmu. Bicara kau seka­rang.”

Empu Gan­dring menun­duk­kan kepala, teng­ge­lam dalam piki­ran­nya sen­diri. “Jangan kau kira selu­ruh balat­en­tara Tuma­pel bisa kalian kuasai. Lihat, ini Arok, yang tetap mem­per­ta­han­kan Tuma­pel. Dia dan pasuk­an­nya akan mem­per­ta­han­kan­nya sampai titik darah ter­a­khir. Bukan karena imbalan uang, emas dan perak dan sing­ga­sana. Hanya karena kese­ti­aan pada janji. Kau sen­diri sudah dengar ucapan Arok di tengah-tengah medan per­tem­puran, lang­sung di hadapan Sang Akuwu. Arok dan pasuk­an­nya akan tetap setia men­jaga kese­la­matan Sang Akuwu, Para­mesy­wari dan Tuma­pel.”

Dalam rubungan para pra­ju­rit itu Gan­dring tetap mem­bisu.

“Kau boleh bicara.”

Empu Gan­dring belum juga bicara.

“Bahwa kau menipu aku, bagiku bukan soal. Pada suatu kali semua sen­jata yang kau sem­bu­nyi­kan akan jatuh ke tanganku. Pab­rikmu akan dipe­gang oleh orang yang seka­rang ini sama sekali tidak pernah kau kenal, bahkan nama­nya kau tidak keta­hui.”

Empu Gan­dring meng­ang­kat kepala dan mena­tap Arok.

“Dosamu ter­ha­dap dirimu sen­diri jelas: kau telah ber­sum­pah pada Hyang Pan­ca­gina, dan kau tidak ber­mak­sud untuk meme­nuhi sum­pahmu. Kau kehi­langan kepan­ta­s­anmu men­jadi penyem­bah­nya, maka juga kau kehi­langan segala hak untuk terus men­jadi empu. Kau penipu diri sen­diri dan orang lain dan semua orang.”

Gan­dring menun­duk lagi. Kemu­dian ia meng­ang­kat kedua belah tangan pada dada, meng­hela nafas dalam dan:

“Sahaya tahu, sahaya sudah sampai pada batas ter­a­khir.”

“Seka­rang kau betul. Jangan harap­kan Kebo Ijo akan meno­long kau, bahkan akan mem­bu­nuhmu. Seba­gai apa? Seba­gai guru pen­je­ru­mus, tidak bisa diper­ca­yai hati manu­sia, tidak bisa

Dipe­gang oleh para dewa, bahkan juga tidak oleh dewa sudra Hyang Pan­ca­gina. Telah kusam­pai­kan semua dosamu kem­bali padamu sen­diri”

“Sahaya meng­erti dan menye­dari. Hanya, bila sahaya boleh meminta, jangan hen­dak­nya tangan Kebo Ijo dibi­ar­kan menyen­tuh badan sahaya. Beri­lah sahaya kehor­matan tangan Tuan sen­diri.”

“Baik. Demi kehor­mat­anmu yang ter­a­khir, bila kau masih punya kehor­matan, kapan Kebo Ijo kau atau kalian perin­tah­kan menyerbu peku­wuan?”

“Lusa. Lusa malam.”

“Baik. Lusa. Kalau kau bohong, tubuhmu tidak akan diba­kar, akan kami serah­kan pada anjing-anjing peku­wuan. Dan Tim, anjingmu yang telah mati itu, akan datang ikut menyan­tap tubuhmu.”

“Demi kehor­matan sahaya ter­a­khir.”

Siang itu Arok meng­ha­dap Para­mesy­wari untuk men­dam­ping­i­nya dalam meng­ha­dapi pameran keku­atan Kebo Ijo.

Pasukan Arok dan Kidang yang tetap di peku­wuan dipe­rin­tah­kan­nya mena­rik diri ke bela­kang peku­wuan. Selu­ruh Tuma­pel sepi, tak ada berani keluar dari rumah. Hanya anjing dan babi dan kucing ber­ke­li­aran di jalan-jalan. Hujan turun seben­tar, deras, tetapi hari tetap gelap oleh men­dung tebal yang ter­gan­tung di langit.

Kilat tak henti-henti menge­r­jap, dii­kuti oleh petir dan guruh. Tetapi hujan tak juga turun lagi.

Dedes meng­a­wasi Arok yang duduk di bawah di hadap­an­nya. Piki­ran­nya mela­yang pada masa dua bulan yang lalu waktu Arok datang ke peku­wuan untuk per­tama kali, dan ia mengan­dung dua bulan. Kini kan­dung­an­nya telah beru­mur empat bulan, dan balat­en­tara Tuma­pel sedang balik gagang mela­wan ayah dari kan­dung­an­nya. Ia tahu, balat­en­tara itu tidak memu­suhi dir­i­nya.

Dan siapa pun yang meng­gan­ti­kan Tung­gul Ame­tung akan meng­ang­kat­nya seba­gai Para­mesy­wari, karena kasta dan karena kecan­ti­kan­nya. Juga ia tahu orang meng­hen­daki jiwa sua­mi­nya. Dan ia meni­tik­kan air mata. Sua­mi­nya kini ter­bu­jur nye­nyak ter­ma­kan bius ringan.

Para Men­teri dan Sang Patih Tuma­pel telah kema­rin mela­ri­kan diri ber­sama kelu­arga masing-masing ke arah timur, daerah yang belum pernah meng­a­lami keru­suhan. Seba­gian dari para abdi juga telah pada meng­ungsi.

“Kau mena­ngis, Dedes, anak Mpu Parwa!”

Dedes menyeka mata­nya.

“Mereka semua memu­suhi sua­mimu. Dan dia seka­rang tidur tanpa menye­dari kea­daan dan keja­hat­an­nya selama ini.”

Mem­ba­yang­kan, bahwa takkan lama lagi sese­o­rang akan mem­bu­nuh sua­mi­nya, dan darah akan menyem­bu­rat, dan anak dalam kan­dungan takkan menge­nal bapa, ia men­jadi ter­hi­sak-hisak.

“Apakah seka­rang kau ber­ba­lik pikir, anak Mpu Parwa?” Dedes menu­tup muka dengan dua belah tangan dan mena­ngis.

“Kau menye­sal?”

Dedes terus mena­ngis. Dan pen­dopo yang leng­ang itu diisi oleh sua­ra­nya yang pelahan dita­han-tahan.

“Bukan­kah demi Hyang Maha­dewa telah kau serah­kan hidup dan mati­nya padaku?”

“Darah! Darah bap­a­nya, Guru, Kakanda.”

“Darah pen­cuci kaki Hyang Maha­dewa Syiwa diper­lu­kan anak Mpu Parwa. Begi­tu­lah sepan­jang seja­rah titah di atas bumi ini. Kuat­kan hatimu, jangan jatuh ke bumi seba­gai buah mem­bu­suk tak mampu matang. Kau brah­mani, kuat hati, kuat ilmu. Hapus­kan air­ma­tamu!” Ken Dedes ter­diam. “Kau yang mengu­a­sai Bha­ga­wat­gita ...”

“Air­mata ini bukan untuk suami sahaya, juga bukan untuk diri sahaya, ya. Guru. Justru untuk anak yang tak bakal menge­nal bapa ini.”

Arok meng­a­wasi perut Dedes, kemu­dian:

“Adakah hanya karena anak itu semua harus keluar dari ren­cana yang dise­tu­jui oleh para brah­mana dan semua orang Syiwa?”

“Ampuni sahaya.”

Arok mene­bar­kan pan­dang­nya ke keli­ling. Leng­ang. Dalam kesu­nyian itu yang ter­de­ngar hanya suara keru­yuk ayam dan per­ca­kapan bebas dari para selir di bela­kang.

“Meng­er­ti­kah kau, Dedes, bahwa semua ini ber­ge­rak, selu­ruh negeri, hanya karena hendak men­ja­tuh­kan sua­mimu?”

“Meng­erti, Kakanda.”

“Bahwa balat­en­tara yang ingkar itu tidak segera memu­kul hanya karena ada pasukan Arok?”

“Meng­erti, Guru.”

“Meng­er­ti­kah kau, bahwa saat ini yang telah dua ratus tahun lama­nya ditunggu-tunggu oleh kaum brah­mana dan ayahmu sen­diri?”

“Juga saat ini yang sahaya pohon dari Hyang Bha­tari Durga.”

“Meng­apa kau tangisi anak yang takkan meli­hat bapa? Apakah itu lebih berat dari­pada dua ratus tahun menunggu dan ter­in­jak-injak?”

“Sahaya malu pada diri sen­diri.”

“Hanya karena pada suatu kali anakmu akan ber­ta­nya: sia­pa­kah bapa sahaya? Maka kau jatuh­kan air­mata yang semes­ti­nya untuk keper­luan lain’”

“Guru, Kakanda.”

“Ber­diri, kau, dan suruh seisi peku­wuan keluar mening­gal­kan tempat ini. Suruh pergi ber­sama semua harta-ben­da­nya. Per­tem­puran akan bisa ter­jadi di peku­wuan ini. Suruh pra­ju­rit-pra­ju­rit mem­bo­bol­kan pagar bela­kang dan suruh mereka lewat sana. Kemu­dian segera kau kem­bali sebe­lum Kebo Ijo ber­po­ngah dengan keku­at­an­nya “

Ken Dedes bang­kit, meng­ang­kat sembah dada dan masuk ke dalam. Arok pun bang­kit, kem­bali ke asrama, meme­rin­tah­kan pra­ju­rit-pra­ju­r­it­nya naik kuda untuk meng­hu­bungi pasukan-pasukan di luar kota, agar besok, pada waktu matari telah teng­ge­lam, semua mema­suki kota dari barat, utara dan selatan dengan ber­se­lem­pang klaras1 untuk mem­be­da­kan diri dari ten­tara Tuma­pel yang keta­huan mulai ber­ka­lung dan ber­ge­lang janur.2

Ia per­hi­tung­kan, bahwa sete­lah Kebo Ijo mem­po­ngah­kan keku­at­an­nya, sesuai dengan watak ten­tara Tuma­pel pasti ia akan perin­tah­kan pra­ju­r­it­nya ber­suka ria ke selu­ruh kota, meram­pas dan men­ja­rah, apa­bila nyata tidak ada per­la­wanan.

Dan besok malam, bila semua pasukan luar kota telah mema­suki Kuta­raja, harus serem­pak meme­kik­kan sorak perang untuk Arok, mem­bela diri ter­ha­dap sedap serangan, tetapi tidak akan mela­ku­kan serangan lebih dahulu.

Utusan-utusan itu berang­kat seke­tika, menung­gang kuda dengan ber­ka­lung dan ber­ge­lang janur, dan ia sen­diri kem­bali ke peku­wuan.

Semua regu yang ter­ting­gal di asrama diba­wa­nya serta ter­ma­suk dela­pan orang pra­ju­rit Kebo Ijo yang meng­ga­bung­kan diri. Kemu­dian ia meme­riksa selu­ruh per­ta­hanan peku­wuan dan per­ku­buan-per­ku­buan di luar­nya. Ia per­ha­ti­kan bon­do­ngan wanita dan sisa abdi­da­lam yang ber­ge­rak meng­ang­kuti harta benda masing-masing dan bobolan pagar.

Buntut dari bon­do­ngan adalah istri Tung­gul Ame­tung yang dii­ring­kan oleh para Kidang sampai bobolan, kemu­dian datang pada­nya untuk menya­ta­kan hormat.

“Kalian para Kidang,” ia mem­per­i­ng­at­kan, “jangan ada yang melang­kah­kan kaki mema­suki peku­wuan. Kalian sudah tolong ibu kalian meng­ang­kuti harta benda keluar dari sini. Seka­rang, mul­i­a­kan ibu kalian, jaga hati­nya, jaga kese­la­mat­an­nya, dan jangan sekali-kali men­cam­puri urusan peku­wuan. Serah­kan per­ta­hanan peku­wuan padaku selu­r­uh­nya, tanpa syarat.” Mereka keluar, juga mela­lui bobolan pagar. Arok mema­suki Taman Larangan dari bela­kang dan masuk ke dalam. Dipe­rik­sa­nya semua bilik dan ruangan, gudang bahan makanan dan sen­jata. Ia masuki Bilik Agung dan men­da­pat­kan Dedes sedang meng­a­wasi Tung­gul Ame­tung yang tidur nye­nyak dengan mulut ter­buka.

Ia tarik tangan Dedes, dan Para­mesy­wari itu merang­kul­nya, ter­hi­sak-hisak:

“Ampuni sahaya, bagai­man­a­pun dia pernah suami sahaya.”

“Ratusan, mung­kin ribuan orang telah binasa karena dia. Selu­ruh kawula Tuma­pel kecu­ali pra­ju­r­it­nya men­de­rita karena dia. Mari, ting­gal­kan tempat ini.” Mereka keluar dan Dedes men­du­duki tem­pat­nya seba­gai Para­mesy­wari sedang Arok di hadap­an­nya, duduk di bawah. Para pra­ju­rit Arok ter­de­ngar ramai mema­suki peku­wuan dan men­du­duki bilik, mem­buka per­ku­buan dalam rumah.

Ber­sa­maan dengan bunyi guruh mulai ter­de­ngar sorak-sorai di keja­uhan.

“Seben­tar lagi mereka datang. Jangan gugup, jangan takut. Kau seo­rang brah­mani, harus lebih tabah dari­pada orang biasa. Ber­ja­lan nanti kau ke tangga, lam­bai­kan selen­dang sutramu pada Kebo Ijo, dan ter­se­nyum kau pada­nya. Aku akan ber­diri di bela­kangmu. Jangan sekali-sekali mene­ngok. Kau dengar, anak Mpu Parwa?”

“Sahaya.”

“Jangan sampai mele­set. Kalau per­tem­puran ter­jadi karena keke­li­ruan, boleh jadi selu­ruh ren­cana akan bubar.” Sahaya, Guru, Kakanda” “Dengar, mereka makin men­de­kat” Sorak-sorai itu makin lama makin ken­tara.

Seben­tar angin meniup keras dan hujan turun lebat, datang dan pergi seki­las, mening­gal­kan bercak-bercak pada jalanan batu di depan peku­wuan. Puncak gunung-gemu­n­ung hilang ter­tu­tup men­dung dan pepo­honan nampak lesu-berat ter­be­bani air hujan. Udara terasa tebal untuk paru-paru.

Dan sorak-sorai meng­ge­lom­bang sema­kin dekat. Kemu­dian mulai ter­de­ngar juga suara gen­de­rang dan teta­buhan.

“Tidak­kah perlu dijem­put Yang Suci?” Tanya Para­mesy­wari.

“Telah ada dia di tung­guk kemit.”

“Jagad Dewa! Meng­apa dia di situ?”

“Biang-keladi dari semua ini adalah Gan­dring dan Bela­kangka. Gan­dring telah dise­le­sai­kan. Bela­kangka masih akan kita per­gu­na­kan.”

“Bagai­mana nanti Kediri?”

“Dia dibawa kemari untuk dise­la­mat­kan.”

“Dise­la­mat­kan dari siapa?”

“Dari keku­atan Kebo Ijo.”

“Sahaya tidak meng­erti. Bukan­kah Kebo Ijo mem­bu­tuh­kan Bela­kangka dan seba­lik­nya, untuk tidak memur­ka­kan Kediri?”

“Mereka sema­kin dekat.”

Dari pen­dopo sudah mulai keli­hatan pasukan kuda. Sorak dari sebe­las ribu ten­tara Tuma­pel itu meme­kak­kan teli­nga. Jalanan sepi dari lalu­lin­tas. Bahkan anjing, kucing dan babi mela­ri­kan diri keta­kutan.

Pasukan kuda itu muncul seu­tuh­nya, ber­ja­lan pelahan, menyi­rik dan ber­pu­tar-putar meme­nuhi jalanan. Empat ratus pasang kaki kuda itu menum­buki jalanan batu itu, mening­gal­kan luma­tan lumpur kuning. Ben­dera-ben­dera pada tang­kai tombak basah kuyup tak mampu ber­ki­bar.

Seo­rang diri di atas kuda di bela­kang pasukan itu muncul Kebo Ijo, hanya dengan pedang di ping­gang. Dari keja­uhan ia sudah nampak memu­sat­kan pan­dang pada peku­wuan.

Tepat di depan peku­wuan pasukan kuda itu ber­so­rak riuh-rendah, meng­ang­kat tombak mereka ber­ba­reng, dan semua wajah­nya ter­tuju ke pen­dopo.

“Mari aku iring­kan, Dedes. Bang­kit kau dan ber­ja­lan ke tangga.”

Arok meng­iring­kan Para­mesy­wari ber­ja­lan ke tangga. Ia ber­diri tepat di bela­kang­nya. “Selen­dangmu, anak Mpu Parwa. Lam­bai­kan pada Kebo Ijo.” Ken Dedes mena­rik selen­dang dari bahu­nya dan melam­bai­kan pada Kebo Ijo. Nampak dari keja­uhan tam­tama itu mem­bung­kuk dan ter­se­nyum-senyum.

“Jangan mem­be­re­ngut. Per­li­hat­kan wajah gem­bira, buka sedi­kit mulutmu, biar nampak gigimu.”

Sorak-sorai itu padam, ting­gal gerak kaki kuda dan tangan para pra­ju­rit Dan gelang-gelang janur yang kuning dalam keke­la­buan hari ber­men­dung itu nampak seperti menyala meme­nuhi udara.

“Lambai Kebo Ijo dengan selen­dangmu. Dia pasti datang. Dia harus datang. Dia harus lupa sedang mem­bawa balat­en­tara.”

Ken Dedes melam­bai dan melam­bai dengan selen­dang­nya, ter­se­nyum, kecil dan besar, gigi­nya muncul rampak, gemer­lapan dalam rem­bang hari ber­men­dung.

Pasukan kuda yang empat ratus orang itu mulai mele­wati peku­wuan. Kebo Ijo ter­kena daya tarik lam­baian, mem­be­lok seo­rang diri ke peku­wuan. Sorak-sorai ber­henti, balat­en­tara Tuma­pel tak meng­erti apa lagi harus diker­ja­kan, meli­hat pemim­pin ter­tinggi keluar dari acara semula.

“Ucap­kan teri­ma­ka­sih, dia telah tun­juk­kan kese­ti­aan balat­en­tara Tuma­pel kepa­damu.”

Kebo Ijo telah sampai di ten­tang tangga. Ia turun dari kuda­nya, tanpa menyem­bah mele­tak­kan sebe­lah kaki pada anak tangga, ber­to­lak ping­gang.

“Kebo Ijo, teri­ma­ka­sih telah kau per­se­m­bah­kan kese­ti­aan balat­en­tara Tuma­pel kepa­daku. Ter­nyata kau memang tidak memung­kiri janji telah mem­per­se­m­bah­kan balat­en­tara kepa­daku.”

Kebo Ijo kehi­langan kata. Dan senyum dan kera­mahan Ken Dedes mem­bi­kin ia men­jadi bingung. Waktu ia menye­dari, Arok ada di bela­kang Para­mesy­wari, men­da­dak wajah­nya men­jadi merah menyala:

“Arok, apa kau per­buat di sini?”

“Men­jaga kese­la­matan Yang Mulia Para­mesy­wari.”

“Tugasmu men­jaga kese­la­matan Tung­gul Ame­tung.”

“Aku perin­tah­kan dia men­jaga kese­la­mat­anku, Kebo Ijo.”

“Perin­tah­kan dia keluar dari peku­wuan,” perin­tah Kebo Ijo cem­buru.

“Besok malam, bila kau, Kebo Ijo, mema­suki peku­wuan dalam iringan para tam­tama secara patut, untuk meng­am­bil-alih peku­wuan dan keku­a­saan atas Tuma­pel, Arok dan pasuk­an­nya akan aku usir. Hanya yang mengu­a­sai selu­ruh balat­en­tara yang mengu­a­sai semua-muanya. Asra­ma­kan semua pasukan, beri mereka hari pesta dalam tiga harmal ini.”

“Mana Tung­gul Ame­tung?”

“Dia sudah dalam tanganmu. Segera bawa pergi semua pasuk­anmu, suruh ber­pesta, kawula Tuma­pel jangan dibi­kin takut karena keri­u­han ini.”

Dedes sekali lagi melam­bai­kan selen­dang menyu­r­uh­nya pergi dengan diser­tai senyum manis, mena­wan dan merayu-rayu.

“Serah­kan Arok seka­rang juga.”

“Apa arti seo­rang Arok? Bila Kebo Ijo telah mema­suki peku­wuan besok malam, dia adalah mil­ikmu, hidup dan mati­nya. Jangan lupa selu­ruh balat­en­tara telah kau per­se­m­bah­kan padaku. Pulang­lah.”

Kebo Ijo ragu-ragu. Bebe­rapa orang tam­tama mulai mema­suki pela­taran depan peku­wuan.

“Jangan ragu-ragu, teman-temanmu mulai hendak menyu­sul kau. Pulang, kataku. Pulang! Beri kesem­patan pada semua pra­ju­r­itmu ber­pesta-ria mera­ya­kan keme­nangan ini – keme­nang­anmu!”

Kebo Ijo mene­ngok ke bela­kang. Kuatir akan dir­e­coki mereka ia ber­ba­lik dan mening­gal­kan peku­wuan. Para tam­tama itu tak mene­rus­kan mak­sud­nya, juga keluar. Ia lam­bai­kan tangan

Meme­rin­tah­kan balat­en­tara ber­so­rak lagi. Dan suara gemu­ruh itu mem­bu­bung ke langit, meme­kak­kan teli­nga.

“Begi­tu­lah jadi­nya gerakan Empu Gan­dring, ber­kem­bang tidak menentu, seperti kuda liar tak tahu tujuan.”

“Adakah sahaya telah ber­sa­lah?” Tanya Dedes.

“Sepe­nuh­nya menu­rut ren­cana.”

“Meng­apa gerakan Empu Gan­dring, Kakanda?”

“Suatu keku­atan yang dapat meng­ge­rak­kan selu­ruh balat­en­tara Tuma­pel sung­guh-sung­guh gerakan yang hebat. Patut dipe­li­hara. Peli­hara dia dengan tanganmu sen­diri, anak Mpu Parwa.”

“Sahaya akan coba.”

“Lam­bai­kan terus selen­dangmu sampai pasukan ter­a­khir.”

“Apa­bila ren­cana gagal, Kakanda, sahaya ber­se­dia tumpas ber­sama Kakanda.”

“Demi Hyang Maha­dewa yang meng­ge­rak­kan semua ini, kita tidak akan tumpas. Dir­ga­hayu, kita akan tetap sela­mat dan jaya.” Ia sentuh sikut Dedes, “Lam­bai­kan lebih ber­se­ma­ngat.” Kemu­dian dengan suara rendah seperti ucapan mantra, “Kehan­curan dari Hyang Bat­hari Durga hanya untuk mereka. Pasti!”

“Demi Hyang Maha­dewa, pasti.”

Para pra­ju­rit yang men­da­pat lam­baian Para­mesy­wari itu ber­so­rak lebih gemu­ruh, sema­kin lama sema­kin parau, ter­lalu gem­bira men­da­pat per­ha­tian dewi kecan­ti­kan Tuma­pel.

“Mereka tak tahu apa sedang ter­jadi,” kata Arok dari bela­kang. “Gerakan Empu Gan­dring itu sung­guh-sung­guh dah­syat. Hanya Empu Gan­deng itu saja dapat mela­ku­kan peker­jaan rak­sasa ini.”

Dedes terus juga melam­bai-lam­bai­kan selen­dang. Tangan­nya telah ter­se­rang pegal: “Kakanda, anak dalam kan­dungan ini...”

“Meng­apa lagi dengan anakmu?”

“Dia akan lahir lima bulan men­da­tang.”

“Ya. Meng­apa?”

“Beri­lah sahaya pegangan.”

“Pegangan apa?”

“Bahwa Kakanda akan mem­per­la­ku­kan anak ini seba­gai bap­a­nya sen­diri.”

“Bap­a­nya adalah Tung­gul Ame­tung.”

“Bap­a­nya sedang menunggu saat kema­ti­an­nya.”

“Dia masih hidup.” Dedes meno­leh pada­nya.

“Jangan meno­leh, lam­bai­kan terus selen­dangmu, beri mereka semua senyum­anmu.”

“Dia tidak boleh tahu siapa bap­a­nya sesung­guh­nya.”

“Temui dulu ayah­an­damu Mpu Parwa.”

“Ayah­anda? Di mana ayah­anda seka­rang?”

“Kau tak pernah memi­kir­kan­nya selama ini. Besok mung­kin datang ber­sama pasukan.”

“Pasukan?”

“Pasukan kita.”

Balat­en­tara Tuma­pel itu masih juga ber­i­ring-iringan, sua­ra­nya sema­kin para. Buntut ter­a­khir sudah tidak mampu lagi ber­so­rak, ting­gal hanya ber­jing­k­rak dalam barisan. Dan jalanan batu ini ter­la­pisi lumpur han­curan batu, kuning dan tipis.

“Sele­sai, anak Mpu Parwa, kau bisa ber­is­ti­ra­hat.”

Arok meng­an­tar­kan­nya mela­lui Bilik Agung ke Bilik Para­mesy­wari.

“Kau takkan temani sua­mimu?”

“Tidak, Kakan­da­lah sua­miku,” jawab­nya cepat. “Demi anak ini, demi Tuma­pel, demi kita berdua.”

Arok ber­si­de­kap dan Dedes ber­diri dengan mata cemas.

“Tidak­kah Kakanda sudi mem­be­ri­kan sahaya pegangan?”

“Bica­ra­lah besok dengan ayah­an­damu. Aku tidak men­ja­wab Di bilik lain sana tidur sua­mimu.”

“Adakah Kakanda akan ting­gal­kan sahaya seo­rang diri? Hina­kah sahaya untuk Kakanda?”

“Aku tidak akan ting­gal­kan kau seo­rang diri. Kaulah wanita yang paling patut jadi Para­mesy­wari. Juga untuk raja ter­be­sar pun di pulau Jawa ini. Ber­is­ti­ra­hat­lah.”

“Tiada mung­kin sahaya ber­is­ti­ra­hat dalam kea­daan seperti ini.”

“Besok kea­daan akan lebih tegang.”

“Sahaya tidak akan ber­is­ti­ra­hat. Jangan ting­gal­kan sahaya seo­rang diri begini.”

“Besok akan kau dapat­kan Rimangmu kem­bali. Dia pun akan datang ber­sama pasukan.”

“Teri­ma­ka­sih, Kakanda. Namun jangan ting­gal­kan sahaya sampai semua telah sele­sai.”

“Kau takut?”

“Tidak. Hanya tidak mampu menang­gung­kan seo­rang diri,” ia tang­kap tangan Arok meminta keku­atan.

Arok mem­bi­ar­kan leng­an­nya dipe­gangi. Meli­hat itu Dedes kini angin­nya dengan dua tangan. Lelaki itu kini memin­dah­kan pan­dang dari wajah Dedes pada dua belah tangan­nya.

“Anak Mpu Parwa, lepas­kan pegang­anmu. Bukan­kah kau tidak akan lupa di Bilik Agung ada sua­mimu?”

“Ampuni sahaya,” ia lepas­kan pegang­an­nya, “hanya jangan ting­gal­kan sahaya seo­rang diri. Hanya sahaya wanita di selu­ruh peku­wuan.”

Arok meme­rin­tah­kan anak buah­nya untuk mem­bawa Bela­kangka ke Bilik Para­mesy­wari.

Wakil Kediri itu datang dengan wajah pucat dalam iringan para penga­wal.

“Pim­pinan Ter­tinggi,” seo­rang memu­lai, “Inilah Yang Suci Bela­kangka. Di sam­ping itu aku beri­ta­hu­kan: asrama kita telah diba­kar.”

“Biar­kan semua mereka bakar. Api itu menyala atas perin­tah Yang Suci Bela­kangka ini.”

“Tidak benar!” Bantah Bela­kangka. “Pergi kalian,” dan para penga­wal itu pergi. “Kebo Ijo tak mampu, tak bakal mampu mem­bi­a­yai semua ini. Dua orang ter­kaya di selu­ruh Tuma­pel hanya dua: Tung­gul Ame­tung dan Yang Suci. Akuwu tidak bakal mem­bi­a­yai gerakan untuk menen­tang dir­i­nya sen­diri.”

“Tiada keka­yaan padaku.”

“Keka­yaan Yang Suci ter­kum­pul­kan di Kediri. Memang yang di sini hanya sisa, namun men­cu­kupi untuk mem­bi­a­yai semua huru-hara ini.”

“Tidak benar.”

“Baik. Besok Kebo Ijo akan meng­aku di hadapan kita,” Arok meng­an­cam, “dan Yang Suci akan tahu aki­bat­nya – seo­rang pan­dita, seo­rang wakil Kediri, seo­rang pemuka Wisynu ... Apakah masih akan tetap ber­ta­han?”

“Buat apa seo­rang wakil Kediri mem­bi­a­yai gerakan untuk mela­wan Kediri?” Tanya Bela­kangka balik.

“Seo­rang Kebo Ijo tidak akan ber­pi­kir untuk mela­wan Kediri. Tanpa tun­jangan Kediri dia takkan berani ber­ting­kah seperti hari ini. Kediri ber­arti Yang Suci Bela­kangka.”

“Betapa bodoh­nya, kau Arok, tidak menge­ta­hui, semua gerakan ini ditu­ju­kan kepa­damu.”

“Jangan­lah Yang Suci mereka-reka. Kebo Ijo takkan mampu bebas­kan Yang Suci dari tangan sahaya. Sete­lah sele­sai semua ini sahaya sen­diri yang akan datang ke Kediri mem­bawa Yang Sua dan di sana akan sahaya per­se­m­bah­kan semua kedur­ja­naan Yang Suci.”

Bela­kangka ter­tawa meng­hi­na­kan.

“Yang Mulia Para­mesy­wari men­jadi saksi per­tama dan utama dalam peme­rik­saan ini, Yang Suci. Sahaya harap jangan­lah kira­nya kesu­cian Yang Suci dipe­ta­ruh­kan dalam per­ma­inan.”

“Kau memang ber­ilmu dan ber­pe­nge­ta­huan, Arok. Kaulah yang mem­bi­kin gaduh selu­ruh negeri ini. Setiap orang yang ber­a­kal tahu, kau seo­rang pemain san­di­wara di peku­wuan dan di medan per­tem­puran. Yang Mulia, awas-awas­lah pada anak gelan­dangan yang seo­rang ini.”

“Yang Suci, boleh jadi Arok seo­rang gelan­dangan dalam usa­ha­nya mene­gak­kan kea­dilan dan peng­a­yoman bagi kawula Tuma­pel.”

“A, kalian berdua sudah mulai ber­se­kutu. Meng­erti aku seka­rang meng­apa Yang Mulia Akuwu tak pernah keluar, dan Kebo Ijo meng­an­cam hendak meng­han­cur­kan Arok dan pasuk­an­nya.”

“Mereka telah mem­ba­kar asrama kosong, Yang Suci,” Arok mem­per­i­ng­at­kan. “Kalau asrama itu kami jaga, mereka takkan mem­ba­kar­nya. Kalau peku­wuan tidak kami jaga, Kebo Ijo akan menyer­bu­nya. Dia takkan punya kebe­ra­nian sen­diri. Semua ber­a­sal dari Yang Suci. Yang Suci sen­diri menga­ta­kan dia ber­sama selu­ruh gerakan ini ditu­ju­kan pada sahaya. Meng­apa pada sahaya? Seo­rang yang justru mem­per­ta­han­kan peku­wuan, Yang Mulia Akuwu dan Yang Mulia Para­mesy­wari?”

“Tun­juk­kan di mana seka­rang Sang Akuwu.”

“Mari kami antar­kan mema­suki per­a­du­an­nya. Yang Mulia sedang ter­le­lap dalam tidur­nya. Mari.”

“Tahu­kah Yang Suci, bahwa semua yang ber­ge­rak ini mem­be­lu­dag tidak dengan sen­di­r­i­nya? Ada Gerakan yang men­da­langi. Gerakan itu adalah Gerakan Empu Gan­dring! Kebo Ijo hanya seke­dar boneka Empu Gan­dring. Yang Mulia lebih tahu dari sahaya, bahwa besok Kebo Ijo akan menyerbu peku­wuan, tetapi Yang Mulia Para­mesy­wari telah mem­per­i­ng­at­kan­nya agar tidak ber­ben­tuk ser­buan. Bukan, Yang Mulia?”

“Telah aku perin­tah­kan pada Kebo Ijo datang untuk meng­am­bil-alih peku­wuan dan keku­a­saan atas Tuma­pel, maka keda­tangan­nya cukup dika­wal secara patut oleh para tam­tama.”

“Sete­lah itu Gerakan Empu Gan­dring akan meng­ha­bisi Kebo Ijo dan Empu Gan­dring naik ke sing­ga­sana Tuma­pel.”

Bela­kangka ter­longok-longok.

“Gerakan besar ini tidak akan meng­ha­sil­kan sesu­atu untuk Yang Suci. Biaya yang Yang Suci kelu­ar­kan sia-sia.”

“Empu Gan­dring bukan pra­ju­rit!”

“Dia yang memi­l­iki selu­ruh balat­en­tara Tuma­pel. Yang Suci ter­lam­bat menge­ta­hui. Bila Empu Gan­dring naik, Yang Suci yang paling mula akan dia­dili telah menga­cau­kan kea­daan. Maka Yang Suci kami bawa kemari untuk ter­le­pas dari peng­a­dilan tak menentu dari Empu Gan­dring yang bakal menang. Sayang, Yang Suci tidak mau meng­erti jasa kami, telah mem­ba­las dengan kebo­hongan, yang tidak patut dila­ku­kan oleh seo­rang pan­dita Wisynu yang ter­ke­muka.”

Bela­kangka sibuk menata piki­ran. Dan Arok tidak mem­bi­ar­kan­nya:

“Yang Suci meng­ang­gap dapat meme­tik buah dari peker­jaan Empu Gan­dring dengan hanya bicara-bicara, tanpa menge­ta­hui segala apa yang telah dia laku­kan. Empu Gan­dring sen­diri meng­ang­gap dapat meme­tik buah dari peker­jaan sahaya dan semua teman sahaya dalam menen­tang Tung­gul Ame­tung. Ya, sahaya menen­tang Sang Akuwu yang dilin­dungi Kediri. Ya, sahaya menen­tang Kediri. Sahaya dan semua orang Syiwa, juga Yang Mulia Para­mesy­wari.”

“Kau sen­diri yang meng­a­kui menen­tang Kediri.”

“Yang Suci belum juga meng­a­kui hendak mengail di air keruh. Sahaya ingin deng­ar­kan peng­a­kuan itu.”

“Bukan jadi watak seo­rang pan­dita Wisynu mengail di mana pun dan dalam air macam apa pun.”

“Ada wak­tu­nya setiap orang mem­per­tang­gung­ja­wab­kan per­bu­at­an­nya sen­diri. Juga seo­rang pan­dita Wisynu, juga seo­rang brah­mana Syiwa – setiap orang, juga mereka yang sama sekali tidak pernah menge­nal dan tidak mau menge­nal Hyang Maha­dewa. Besok, di hadapan Kebo Ijo, Yang Suci akan meng­aku.”

“Per­ba­ik­i­lah letak jubah Yang Suci,” Ken Dedes mem­per­i­ng­at­kan, “Agar kehor­matan dan kesu­cian tetap nampak oleh setiap orang.”

“Anak buah kalian telah sem­bu­nyi­kan tong­katku.”

“Yang Suci telah menyem­bu­nyi­kan kebe­naran. Apalah salah­nya bagi Yang Suci untuk meng­gu­na­kan cabang pohon?”

“Tidak pernah seo­rang wakil Kediri dihi­na­kan sema­cam ini.”

“Yang Suci,” Arok menam­bahi, “belum pernah wakil Kediri diha­dap­kan ke depan peng­a­dilan sejak Sri Baginda Erlangga Dharma Dayana. Tetapi besok akan ter­jadi, demi Hyang Maha­dewa.”

“Dan Yang Mulia Para­mesy­wari ter­nyata telah ber­se­kutu dengan Arok menen­tang Kediri.”

“Inilah Dedes, yang Yang Suci telah beri penge­sahan atas diri dengan gelar Ken,” balas Dedes.

“Gelar yang dipi­lih­kan oleh Kediri untuk sudra yang disu­ka­i­nya,” tambah Arok. “Ahya, barang­kali ada baik­nya sahaya tanya­kan, apakah arti Ken menu­rut Kediri, Yang Suci? Tak pernah sebe­lum­nya ada gelar seaneh itu.”

“Waktu Yang Mulia mem­be­ri­kan gelar itu kepa­daku,” sam­bung Para­mesy­wari, “aku tak meng­hi­r­au­kan. Jadi apa sesung­guh­nya arti­nya. Yang Suci, karena gelar diatur oleh Kediri.”

“Waktu mereka mene­mu­kan gelar itu,” Arok menyam­bung, “mung­kin sambil ter­tawa-tawa, karena arti tidak layak ada di dalam­nya. Bukan­kah begitu, Yang Suci.”

Bela­kangka meno­lak untuk bicara lebih lanjut. Dan ia dian­tar­kan oleh para penga­wal kem­bali ke tung­guk kemit.

Para pra­ju­rit Tuma­pel diberi ber­li­bur oleh Kebo Ijo. Ter­pe­nga­ruh oleh ucapan Para­mesy­wari ia bera­ni­kan mereka untuk ber­pesta mera­ya­kan keme­nang­an­nya.

Dalam penga­walan kuat ia sen­diri pergi untuk men­jem­put Empu Gan­dring dan men­da­pat­kan pabrik sen­jata itu dalam sua­sana murung.

“Kepa­rat!” Pekik­nya serena menge­ta­hui Empu Gan­dring diung­kap oleh Arok atas perin­tah Tung­gul Ame­tung.

Tetapi ia ndak lang­sung pergi ke peku­wuan untuk meng­ha­jar Sang Akuwu. Di hadapan mau batin­nya ber­diri Ken Dedes yang menunggu keda­tangan­nya besok malam dalam iringan para tam­tama secara patut, secara ter­hor­mat.

Ia ting­gal­kan pabrik sen­jata dan pergi ke istana Bela­kangka untuk mela­por­kan hasil ber­po­ngah keku­atan. Men­de­ngar Yang Suci telah ditang­kap oleh pasukan penga­wal peku­wuan atas perin­tah Tung­gul Ame­tung, ia mulai ragu-ragu. Ia tak dapat ber­pi­kir sen­diri. Tetapi gam­baran yang dibe­ri­kan oleh Para­mesy­wari, bahwa besok malam ia akan mene­rima selu­ruh Tuma­pel ter­ma­suk Ken Dedes sema­kin mem­be­bal­kan piki­ran­nya. Dan ia rasa Dedes lebih ber­harga dari­pada Tuma­pel. Peru­suh di luar kota mung­kin mem­bi­kin Tuma­pel ting­gal Kuta­raja, tapi Dedes akan jadi mil­ik­nya.

Dan Arok? Empu Gan­dring dan Bela­kangka meng­i­ng­in­kan jiwa­nya. Tetapi bukan­kah dia ter­i­kat pada per­se­tu­juan dengan Loh­gawe untuk men­jaga kese­la­matan Sang Akuwu, Para­mesy­wari dan Tuma­pel? Dia hanya seti­a­wan per­se­tu­juan. Meng­apa jiwa­nya dike­hen­daki mereka? Dia sama sekali bukan peng­ha­lang. Dan Para­mesy­wari sen­diri mem­be­nar­kan. Huh! Tak ada alasan untuk cem­buru. Seo­rang brah­mani takkan mung­kin mene­rima seo­rang pria sudra tanpa dipaksa dengan sen­jata. Apakah arti­nya Arok? Seo­rang tidak menentu asal-usul­nya, tak punya sil­si­lah, apa­lagi disyah­kan oleh Kediri.

Ia pergi ke asrama-asrama untuk men­da­pat­kan para tam­tama. Tapi asrama-asrama telah kosong. Para pra­ju­rit telah bubar ke selu­ruh kota untuk men­ja­rah pen­du­duk, mera­ya­kan keme­nang­an­nya. Hanya pasukan kuda yang menga­wal­nya, yang masih utuh. Dan ia tak berani mem­be­ri­ta­kan pada mereka ten­tang ditang­kap­nya Bela­kangka. Hanya empat puluh orang tam­tama dapat ia kum­pul­kan.

Di hadapan mereka ia ter­nyata tak berani menya­ta­kan sesu­atu, takut salah, takut keta­huan keti­dak­ta­hu­an­nya, takut kehi­langan wibawa. Juga ia tidak berani menyam­pai­kan berita ten­tang ditang­kap­nya Empu Gan­dring. Ia tahu keku­a­saan atas balat­en­tara tidak ada di tangan­nya, tapi di tangan Gerakan Empu Gan­dring.

Seo­rang tam­tama dengan suara keras menan­tang meng­a­ju­kan per­ta­nyaan:

“Bagai­mana seka­rang jadi­nya kita ini sete­lah semua orang tahu Empu Gan­dring ditang­kap oleh Arok atas perin­tah Tung­gul Ame­tung?”

“Keta­hu­i­lah,” jawab­nya agak gugup, “sete­lah keme­nangan ada pada kita, Empu Gan­dring men­jadi tidak pen­ting. Lagi pula dia bukan pra­ju­rit.”

“Lantas bagai­mana sikap kita ter­ha­dap Kediri?”

Kebo Ijo ter­i­ngat pada jaminan Bela­kangka:

“Kita akan kirim­kan utusan ke Kediri mem­per­se­m­bah­kan tanda takluk, dan semua akan beres,” tapi dengan hilang­nya Bela­kangka ia tak yakin pada kata-kata­nya sen­diri.

“Yang Suci harus mem­be­ri­kan jaminan pada kita. Kalau tidak gajah perang Kediri bisa memus­nah­kan kita semua, dan sia-sia semua ini.”

“Para­mesy­wari telah mem­beri jaminan selu­ruh Tuma­pel akan dise­rah­kan­nya besok malam.”

“Itu bukan jaminan Kediri tidak meng­han­cur­kan kita. Cela­ka­lah kau, Kebo Ijo, bila hendak cela­ka­kan kita semua.”

“Kebo Ijo adalah bagian dari kalian.”

“Bagian dari kami dalam usaha ber­sama, bagian kau adalah hasil­nya. Bukan­kah begitu mak­sudmu?” Tam­tama lain mene­tak.

Dan Kebo Ijo tak dapat men­ja­wab.

“Jawab, Kebo, satria ketu­runan Kediri ...”

“Bagai­mana Tung­gul Ame­tung? Dia masih ber­te­naga untuk menang­kap Empu Gan­dring dan Yang Suci. Itu dulu urus!”

“Sabar kalian. Aku akan urus ini sampai sele­sai.”

Ia ting­gal­kan para tam­tama yang men­de­ngung­kan keti­dak­pu­asan mereka.

Kebo Ijo keluar dari asrama dalam kawalan pasukan kuda lang­sung menuju ke peku­wuan. Tetapi ia tak berani mema­suki pela­taran ter­i­ngat pada pesan Para­mesy­wari. Hanya besok malam ia boleh datang. Pasukan penga­wal itu ia perin­tah­kan men­jauh. Ia sen­diri turun dari kuda dan memang­gil-mang­gil penga­wal di tung­guk kemit. Dan ia heran bebe­rapa pra­ju­rit kemit itu sama sekali tak nampak gentar meng­ha­dap­i­nya. Dari ping­gir jalan ia ber­ta­nya:

“Hei, kau, pra­ju­rit! Di mana Empu Gan­deng dan Yang Suci pada saat ini?”

Seo­rang pra­ju­rit turun dari tung­guk dan meng­ham­piri pagar: “Hanya Arok yang bisa men­ja­wab.”

“Pang­gil Arok!”

“Akan dipang­gil.”

Seo­rang pra­ju­rit lari ke peku­wuan, kemu­dian kem­bali meng­iring­kan Arok dan Para­mesy­wari, tanpa tam­ba­han penga­wal.

Tamu itu sema­kin kehi­langan kebe­ra­ni­an­nya meli­hat Dedes Ia meng­ang­kat sembah.

Ken Dedes lang­sung mene­gur:

“Bukan­kah per­jan­jian kita besok malam, Kebo Ijo?”

“Sahaya tidak melang­kah mema­suki pela­taran peku­wuan. Yang Mulia Para­mesy­wari. Hanya di ping­gir jalan begini.”

“Apakah kurang cukup kuat janji seo­rang Para­mesy­wari Tuma­pel kepa­damu?”

“Ampun. Yang Mulia, sahaya hanya mem­bu­tuh­kan Arok.”

“Inilah Arok.”

“Ampun. Yang Mulia, sahaya hendak mena­nyai Arok.”

“Laku­kan.”

“Arok, kau telah tang­kap Empu Gan­dring dan Yang Suci atas perin­tah Yang Mulia Akuwu?”

“Benar.”

“Di manakah mereka seka­rang?”

“Dalam guci abu.”

“Jagad Dewa! Telah kau bunuh mereka.”

“Tidak. Kau yang mem­bu­nuh­nya. Mereka di dalam asra­maku waktu pra­ju­rit-pra­ju­r­itmu kau perin­tah­kan mem­ba­kar asra­maku.”

“Meng­apa mesti kau per­buat itu, Kebo? Tia­da­kah kau meng­erti bagai­mana pri­ha­tinku memi­kir­kan semua ini? Engkau menam­bahi kepri­ha­tin­anku begini.”

“Ampun, Yang Mulia, pra­ju­rit-pra­ju­rit dungu tidak ber­pi­ki­ran itu..”

“Tetapi kau yang meme­rin­tah­kan. Mereka takkan berani mela­ku­kan­nya tanpa perin­tahmu,” Para­mesy­wari mene­kan.

“Tetapi Arok atas perin­tah Sang Akuwu telah tang­kap mereka,” tam­tama itu men­coba ber­da­lih.

“Sampai seka­rang ini, Kebo, keku­a­saan masih di tangan Yang Mulia Akuwu. Mulai besok malam baru di tanganmu. Sebe­nar­nya aku berhak meme­rin­tah­kan menang­kap kau karena mem­bu­nuh mereka mela­lui pem­ba­karan asrama. Lihat­lah, aku tidak jatuh­kan titah untuk menang­kapmu, karena kaulah yang ter­pan­tas untuk meme­gang keku­a­saan atas Tuma­pel. Kem­ba­li­lah, ber­sa­bar­lah sampai besok malam.”

“Tidak­kah seba­ik­nya guci abu mereka diba­wa­nya serta, Yang Mulia?” Tanya Arok pada Para­mesy­wari.

“Apalah guna­nya abu untuk mereka? Pulang kau!”

Kebo Ijo meng­ang­kat sembah, meli­rik pada Arok dan pergi menun­tun kuda­nya. Lang­kah­nya gontai, meng­ga­bung­kan diri pada pasukan kuda penga­wal­nya.

Sete­lah menyam­pai­kan teri­ma­ka­sih pada para pra­ju­rit di tung­guk kemit karena keta­ba­han mereka Dedes kem­bali ke peku­wuan dalam iringan Arok.

“Betapa ber­be­lit-belit per­so­alan ini, Kakanda.”

“Yang ber­be­lit-belit hanya cara mereka hendak men­jang­kau-kan tangan pada sing­ga­sana.”

“Apakah Kakanda yakin akan kebe­naran penye­li­dikan telik-telik Kakanda?”

“Seper­em­pat jari pun tak ada yang mele­set.”

“Apa sebab telik-telik Sang Akuwu tak dapat mene­mu­kan?”

“Karena mereka dari kalang­an­nya sen­diri, hanya karena upah dan pang­kat, untuk kemu­dian takut kehi­langan dua-duanya. Untuk men­da­pat­kan kete­rangan mereka tempuh jalan yang ter-

Mudah: meng­ada-ada. Dan orang tak ber­dosa yang jadi kor­ban­nya.”

“Bagai­mana Empu Gan­dring bisa punya piki­ran demi­kian?”

“Dia sen­diri tidak berani punya piki­ran seperti itu. Ber­sama para tam­tama mereka saling berani-mem­be­ra­ni­kan, dan ber­ben­tuk piki­ran itu.”

Arok meng­an­tar­kan sampai ke pintu Bilik Para­mesy­wari. Sebe­lum pergi lagi ia ber­pe­san:

“Mulai besok tak perlu lagi Sang Akuwu dibius, anak Mpu Parwa. Kepen­tingan telah lewat.”

“Jangan ting­gal­kan sahaya ter­lalu lama,” ia meng­ang­kat sembah pada Arok.

Dan Arok pun pergi untuk meme­riksa per­si­apan pasuk­an­nya.



Bab 10

Jatuhnya Tunggul Ametung

Undian itu dila­ku­kan dengan sut. Ling­sang dan pasuk­an­nya men­da­pat kehor­matan jadi ujung barisan yang akan mema­suki Kuta­raja dari selatan. Di bela­kang­nya akan menyu­sul pasukan Umang. Di bela­kang­nya lagi pasukan Tanca.

Setiap pasukan mem­bawa serta deng­an­nya para petani yang meng­ga­bung­kan diri mereka yang telah bosan dan muak ter­ha­dap peram­pasan dan penin­dasan yang menimpa mereka selama ini.

Dan di bela­kang ketiga-tiga pasukan meng­i­kuti kanak-kanak dan orang-orang tua,juga ibu-ibu dengan anak dalam gen­dong atau dalam tun­tunan.

Dengan keper­ca­yaan pada kebi­jak­sa­naan Pim­pinan Ter­tinggi sema­ngat mereka mem­bun­cah Tubuh-tubuh yang kurus tak ter­pe­li­hara dan pakaian yang dekil rom­pang­ram­ping itu, hampir-hampir telan­jang bulat, men­de­rap dalam hujan pagi yang tak putus-putus­nya. Klaras basah yang menye­lem­pangi tubuh mereka tak mampu ber­ki­bar karena sarat oleh air hujan. Leng­gang dan lang­kah mereka sei­rama, ke arah tujuan yang satu. Dan air yang ter­ge­nang di jalanan tak sempat isti­ra­hat, memer­cik dan ber­ke­ci­bak kena ter­jang ribuan pasang kaki – seakan tiada kan akhir­nya.

Pasukan Ling­sang memang­gul enam tombak lempar setiap orang, pedang pada ping­gang, tanpa peri­sai. Pasukan Umang ber­sen­ja­ta­kan panah cepat dengan laras bambu, yang diti­ru­nya dari pasukan bia­ra­wan dan bia­ra­wati. Juga pada ping­gang mereka ter­gan­tung pedang, hanya lebih pendek. Pasukan Tanca ber­sen­ja­ta­kan tombak tangan ber­ga­gang pan­jang. Hanya sebi­lah seo­rang. Juga pedang ter­gan­tung pada ping­gang mereka. Barisan petani yang meng­i­kuti mem­bawa sen­jata ber­a­neka macam: kapak, cang­gah, tri­sula, pisau dapur, sabit, clurit, pelem­par batu. Semua ber­se­len­dang klaras. Juga ibu-ibu dan kanak-kanak.

Dalam dingin hujan itu seben­tar-seben­tar Umang menyi­sih dari baris­an­nya, mene­kan perut­nya, mena­han muntah. Kemu­dian ia lari menyu­sul. Selu­ruh pasukan menge­ta­hui, ia sedang mengan­dung. Tak ada yang ber­ha­sil men­ce­gah­nya, ia tetap hendak memim­pin mema­suki kota, tak mau kehi­langan kesem­patan, yang takkan kem­bali untuk kedua kali dalam hidup­nya.

Dari sebe­lah barat kota ber­ba­ris pasukan Mun­d­ra­yana. Dari utara pasukan San­ting dan Arih-Arih. Juga para petani meng­i­kuti mereka, laki-perem­puan dan kanak-kanak, seakan tidak berang­kat perang. Mereka hendak ikut ber­sum­bang merun­tuh­kan keku­a­saan Tung­gul Ame­tung. Paling tidak men­jadi saksi hidup.

Pasukan bia­ra­wan dan bia­ra­wati yang tak banyak jum­lah­nya diha­rus­kan tetap di tempat di teng­gara. Sebe­lah timur kota dibi­ar­kan ter­buka.

Dan matari seakan tidak akan muncul lagi untuk sela­ma­nya. Men­dung tebal dan hujan terus-mene­rus seakan sengaja hendak merang­sang tum­buh­nya benih baru dalam kehi­dupan di Tuma­pel.

Akhir tahun 1142 Saka (1220 Masehi)...

Siang itu Tung­gul Ame­tung duduk di bangku Taman Larangan ber­sama Dalung dan Para­mesy­wari. Badan­nya mem­bung­kuk ber­tumpu pada sikut dengan dagu teng­ge­lam pada tela­pak tangan. Des­tar­nya tak tera­wat dan mata­nya kuyu meman­dang jauh tanpa meli­hat.

“Apakah pusing Yang Mulia belum juga ber­ku­rang?”

Sang Akuwu hanya meng­ge­leng.

Para­mesy­wari mena­rik pan­dang dari sua­mi­nya yang kusut dan melem­par­kan ke langit. Hujan telah lama ber­henti, namun matari belum juga muncul.

“Tuak!” Desau Tung­gul Ame­tung. Sua­ra­nya rendah seperti keluar dari dasar perut.

Para­mesy­wari men­de­kat­kan lodong tuak, kemu­dian mem­ban­tu­nya minum.

“Hari tidak baik begini, Kakanda. Bukan­kah seyo­gi­a­nya ting­gal dalam Bilik Agung?”

Sang Akuwu kem­bali meng­ge­leng. “Apa sebe­nar­nya yang Kakanda rasa­kan?”

“Kepala men­de­nyut seperti pecah.”

“Memang seba­ik­nya beradu, Yang Mulia,” Dalung mem­per­se­m­bah­kan. “Udara ter­lalu buruk untuk kese­hatan Yang Mulia. Mari sahaya bim­bing.”

Dibim­bing oleh Dalung dan Para­mesy­wari Tung­gul Ame­tung ber­ja­lan goyah menuju ke Bilik Agung. Sampai di tangga ia ragu-ragu untuk naik.

“Hujan akan turun lagi. Kakanda,” Para­mesy­wari meng­i­ng­at­kan. “Angin mulai keras dan tajam begini.”

Dan Tung­gul Ame­tung tak juga melang­kah naik.

“Meng­apa, Kakanda?”

“Seakan ada sesu­atu yang mela­rang aku masuk.”

“Kami mene­mani,” hibur Para­mesy­wari. “Tak ada apa-apa. Selu­ruh peku­wuan dan Tuma­pel, Akuwu dan Para­mesy­wari dijaga ketat oleh pasukan Arok.”

“Dia bisa ber­khi­a­nat.”

“Tidak. Per­se­tu­juan itu tetap meng­i­kat. Mari naik.”

“Di mana para Kidang?”

“Semua sedang kemit kota.”

“Jadi Tela­rung sudah dia­bu­kan?”

“Sudah sele­sai, Kakanda.”

“Dan Kidang Gume­lar?”

“Gume­lar? Tiada pernah kuper­ha­ti­kan di mana dia selama ini,” jawab Para­mesy­wari pura-pura tidak tahu, “boleh jadi sedang ber­kun­jung ke rumah keka­sih.”

“Mari sahaya bantu naik, Yang Mulia.”

“Lihat dahulu, apakah di pen­dopo masih ada orang.”

Para­mesy­wari men­da­hu­lui masuk, melongok ke pen­dopo, kemu­dian ber­seru sambil ber­pa­ling:

“Sunyi sepi tiada seo­rang pun.”

Ia mulai melang­kah mena­iki tangga. Dan Para­mesy­wari kem­bali men­de­kati, men­de­ngar pesan­nya:

“Jangan per­ke­nan­kan siapa pun naik ke pen­dopo. Di mana Arok seka­rang?”

“Kemit ke seke­li­ling peku­wuan.”

“Jagad Dewa, betapa ter­lupa aku mem­bawa pedang.”

Para­mesy­wari meng­am­bil­kan pedang telan­jang dari per­a­duan. Serenta pedang itu ter­geng­gam pada tangan, mata­nya men­jadi liar, meng­a­wasi pintu dan semua pojo­kan, kemu­dian mem­ba­lik pada Dalung:

“Kau!” Meme­kik, “Kau!”

Dalung melang­kah mundur, Para­mesy­wari meme­gangi bahu sua­mi­nya, men­ce­gah ber­buat sesu­atu keke­ra­san. “Kau yang racuni aku.”

“Tidak,” bantah Para­mesy­wari. “Dalung­kah yang meme­li­hara dan meng­o­bati Kakanda?”

“Kau bikin kepa­laku serasa hendak pecah.”

“Tidak,” bantah Dedes. “Dalung, pergi kau.”

Dalung buru-buru meng­ang­kat sembah dan mening­gal­kan Bilik Agung.

“Pang­gil dia kem­bali! Dia akan datang lagi bawa teman-teman­nya”

“Tidak. Tidur­lah lagi. Kakanda, biar hilang pening di kepala,” ia tarik sua­mi­nya ke per­a­duan, men­du­duk­kan­nya dan meng­ang­kat kaki­nya sebe­lah dan sebe­lah.

Tung­gul Ame­tung mele­tak­kan pedang itu di sam­ping­nya.

“Jangan ada orang sampai naik ke pen­dopo. Siapa pun mema­suki Bilik Agung, aku tebang batang leher­nya.”

“Kalau begitu biar­lah aku pergi.”

Akuwu itu menang­kap per­ge­langan istri­nya:

“Jangan pergi.”

“Tidak­kah Kakanda meng­hen­daki ber­san­tap?”

“Tidak,” ia tarik Dedes pada dir­i­nya dan dir­a­ba­nya kan­dungan istri­nya. “Baik, semua ini untuk bea kau, anak, anak yang tidak kuke­nal.”

“Tidur­lah, Kakanda. Atau­kah tuak lagi Kakanda ing­in­kan?”

“Stt. Ada kau dengar?”

“Hanya pra­ju­rit ber­ganti jaga.”

“Pes. Dengan mereka aku tak­luk­kan desa demi desa, aku bangun­kan negeri besar ... Meng­apa mereka semua seka­rang tak dapat diper­caya?”

“Karena mereka tak pernah diajar men­da­pat keper­ca­yaan.”

“Mulut brah­mani!”

“Jangan pikir­kan sesu­atu apapun, tidur­lah. Aku yang akan jaga Kakanda. Bel­a­jar­lah mem­per­ca­yai seo­rang saja, istrimu sen­diri ini.”

“Untukmu, untuk anakmu, negeri ini aku dir­i­kan.”

“Tentu, Kakanda.”

“Hanya bebe­rapa bulan lagi, dan anak ini bakal lahir, ah, apa yang aku himpun, aku bangun­kan, aku lihat ber­gum­pil-gumpil jadi desa kem­bali. Keliru aku, Dedes,” ia duduk dan meme­gangi hulu pedang­nya, “keliru aku, sudah deng­ar­kan nasi­hat Bela­kangka. Semes­ti­nya Loh­gawe aku tebang lebih dahulu sebe­lum minta nasi­hat. Keliru! Aku terima Arok. Dia tidak bekerja untukku, untuk kepa­rat Loh­gawe!”

“Tanpa Arok, Kakanda, keru­suhan takkan mung­kin padam.”

“Dia tidak padam­kan keru­suhan. Dalam setiap pema­da­man balat­en­tara Tuma­pel rusak, pasuk­an­nya sen­diri sema­kin besar.”

“Meng­apa dulu Kakanda biar­kan?”

“Karena aku pun tahu ada sesu­atu tidak beres dalam ten­ta­raku sen­diri. Hanya tak ada telik dapat bisa temu­kan duduk per­ka­ra­nya.”

“Sampai seka­rang?”

“Sampai seka­rang.”

“Kakanda betul. Ada sesu­atu yang tidak beres – itulah Gerakan Empu Gan­dring.”

Tung­gul Ame­tung mem­be­liak pada Dedes: “Apa diper­buat Empu Gan­dring?”

“Dihim­pun­nya para tam­tama – sen­diri hendak naik jadi Akuwu!”

Tung­gul Ame­tung melom­pat turun dari per­a­duan dengan pedang di tangan.

“Jangan keluar, Kanda, di luar gen­ting.”

Tung­gul Ame­tung ter­henti di pintu. Mata­nya liar menem­busi pen­dopo ke segala jurusan.

“Pasukan Arok sedang ber­ha­dap-hadapan dengan balat­en­tara Tuma­pel yang dipim­pin oleh Gerakan Empu Gan­dring.”

“Jadi siapa yang ber­pi­hak padaku?”

“Arok!”

“Jagad Dewa! Balat­en­ta­raku sen­diri hendak balik gagang ter­ha­dapku? Kepa­rat!”

Para­mesy­wari meng­ham­pir­i­nya dan mem­ba­wa­nya kem­bali ke per­a­duan:

“Bel­a­jar­lah per­caya pada Arok.”

“Dia ter­lalu cepat men­jadi kuat. Akhir­nya dia akan mela­wan aku. Berapa bulan yang lalu dia datang kemari?”

“Dua, Kakanda.”

“Jagad Dewa, Jagad Pra­mu­dita. Sekuat itu dalam hanya dua bulan! Dalam dua tahun pun aku tak mampu!”

“Bel­a­jar per­caya. Kakanda, bel­a­jar mem­per­ca­yai.”

“Mulut brah­mani!”

Diam­lah. Balat­en­tara Tuma­pel takkan lagi dapat Kakanda perin­tah.”

“Empu Gan­dring!” Tung­gul Ame­tung meng­aum. Kemu­dian dengan suara rendah. “Dari mana kau bisa menge­ta­hui?”

“Arok, Kakanda.”

“Suruh Arok mem­bi­na­sa­kan­nya.”

“Dia sudah laku­kan.”

Tung­gul Ame­tung men­ce­kam kepa­la­nya. Pedang­nya jatuh ber­ge­lon­tang di lantai. “Pijiti kepa­laku!” Perin­tah­nya. “Yang keras! Keras! Lebih keras!” Pekik­nya.

“Boleh­kah destar ini aku buka?”

“Buang! Cepat pijiri!”

Dalam piji­tan Dedes yang kurang kuat mata Akuwu mem­be­liak dan ber­pen­daran liar.

“Dia sudah bina­sa­kan Gan­dring, ahli sen­jata tiada tara, tanpa perin­tahku. Dari mana balat­en­ta­raku akan men­da­pat­kan sen­jata? Khi­a­nat!” Bisik­nya.

“Kakanda tak punya balat­en­tara lagi seka­rang ini.”

“Jagad Dewa.”

“Tidur­lah, Dedes men­jaga Kakanda.”

“Apa keku­at­anmu?”

“Arok masih ter­i­kat pada per­se­tu­juan,” Para­mesy­wari meno­long mem­ba­ring­kan kepa­la­nya di atas bantal. “Dia bukan musuh Kakanda. Bel­a­jar­lah per­caya. Atau per­lu­kah kira­nya aku nya­nyi­kan?”

Tung­gul Ame­tung ber­gu­mam tidak ken­tara. Kemu­dian ter­de­ngar sua­ra­nya yang cepat, diu­cap­kan dengan mata ter­ka­tup: “Akan kube­lah kepa­lamu dengan tanganku sen­diri.”

“Ya, Kakanda, sete­lah semua reda kem­bali.”

“Ya, dengan tanganku sen­diri.” Betul.”

Juga si kepa­rat Loh­gawe, Bela­kangka, semua orang Syiwa.”

“Ya, semua orang Syiwa.” Tiba-tiba ia mem­buka mata, ber­ta­nya gugup:

“Suara apa itu?”

“Tiada aku dengar sesu­atu.”

“Deng­ar­kan yang baik,” Tung­gul Ame­tung meli­rik ke langit-langit, agak lama tiada ber­ke­dip. “Tiada kau dengar?” Ken Dedes meng­ang­guk. “Apa kau dengar?”

“Suara orang-orang Syiwa.” Akuwu men­cari-cari pedang dengan tangan­nya. “Siapa? Arok?”

“Bukan. Orang-orang Syiwa yang sudah Kakanda bunuh.” Ken Dedes mening­gal­kan Bilik Agung. “Dedes! Dedes! Jangan pergi!”

Kebo Ijo ber­ha­sil dapat mem­bung­kam para tam­tama dengan tam­ba­han catak dan saga.

Ia men­jadi cang­gung tanpa Empu Gan­dring. Namun ia lega juga dengan hilang­nya orang yang pandai mengu­a­sai dir­i­nya itu. Seka­rang ia men­jadi orang paling ter­ke­muka dari gerak­an­nya. Ia men­jadi kecil hati tanpa Bela­kangka, apa­lagi catak dan saga sudah men­de­kati habis­nya. Juga tanpa dia ia kehi­langan jaminan dari Kediri. Kalau demi­kian ia merasa bebas tanpa ada orang lain lagi menyo­r­ong-nyo­r­ong­nya.

Ia tahu, bila perak dan emas telah tandas dari per­se­di­aan, para tam­tama itu akan ber­ba­lik menen­tang dan meng­ha­dap­i­nya. Sumber emas yang dike­ta­hu­i­nya seka­rang adalah rumah Empu Gan­dring, Bela­kangka, peku­wuan dan Arok.

Dia­jak­nya empat orang tam­tama meng­a­da­kan per­se­ku­tuan kecil untuk meram­pok rumah Empu Gan­dring dan Bela­kangka. Ia tahu selu­ruh balat­en­tara men­da­pat liburan sampai besok, dan mereka sedang sibuk ber­pesta men­ja­rah dan meram­pok, mem­per­kosa dan meng­a­n­i­aya, karena Hyang Kama telah mere ka tak­luk­kan, dan hukum adalah kepu­nyaan balat­en­tara Tuma­pel.

Mulai nanti malam Tuma­pel dan Dedes telah jadi mil­ik­nya.

Tapi para tam­tama harus tetap dapat diken­da­li­kan. Dan ken­da­li­nya hanya janji naik jadi per­wira, kan­tong berisi catak dan saga.

Telah dapat ia bangun­kan keya­kinan: sekali kesem­patan ini mele­set, dia takkan datang lagi untuk selama-lama­nya.

Dan empat orang tam­tama itu menye­tu­ju­i­nya. Dengan kawalan pasukan kuda mereka men­da­tangi rumah Empu Gan­dring dan tidak men­da­pat­kan sesu­atu kecu­ali per­ta­nyaan anak-bini­nya ten­tang bapa-suami mereka. Bahkan tak ada lemari batu di dalam rumah itu. Empu Gan­dring ter­nyata cermat dalam sim-menyim­pan, juga menyim­pan maksud-maksud pri­ba­di­nya sen­diri. Di istana Bela­kangka mereka dapat­kan sekum­pulan selir. Juga lemari baru itu tak mereka dapat­kan. Seba­gai hiburan sial mereka lucuti para selir dari per­hi­asan mereka. Kemu­dian mereka kem­bali ke asrama.

“Bagian kalian adalah yang ter­a­khir, yang ter­baik,” Kebo Ijo meng­hi­bur pasukan kuda yang menga­wal­nya. “Harta-benda dalam peku­wuan akan jadi milik kalian.”

Kebo Ijo menye­sal mem­be­ri­kan janji itu. Mereka bisa men­jadi murka bila ia tak bakal meme­nu­hi­nya. Dan ia tidak bakal meme­nu­hi­nya. Selu­ruh peku­wuan harus jadi mil­ik­nya sen­diri, ter­ma­suk sing­ga­sana, Dedes dan dana negeri. Ia akan hadapi pasukan kuda sebe­lum jadi murka dengan balat­en­tara Tuma­pel.

Sebe­lum sampai ke asrama, di sebuah jalan raya negeri ia meli­hat suatu per­tem­puran ter­jadi di seki­tar rumah besar seo­rang peda­gang. Ia lam­bai­kan tangan meme­rin­tah­kan per­tem­puran lerai.

Dan per­tem­puran itu tidak lerai. Seo­rang tam­tama yang menge­ring­kan­nya meli­hat anak buah­nya sedang ber­ke­lahi dengan para pra­ju­rit dari pasukan lain. Ia men­ce­bur­kan diri mem­bantu anak buah sen­diri.

Kebo Ijo mene­rus­kan per­ja­lanan. Kalau tam­tama itu tewas dalam per­tem­puran, bahaya untuk dir­i­nya akan ber­ku­rang dengan seo­rang lagi.

Ia men­duga dalam peku­wuan sudah ter­se­dia barang lima puluh ribu saga, dan catak tak ter­hi­tung lagi. Nanti malam, bila selu­ruh keku­a­saan sudah jatuh ke tangan­nya paling banyak ia akan bagi­kan seper­se­pu­luh. Mula-mula para tam­tama, kemu­dian selu­ruh pra­ju­rit kuda.

Bagai­mana menye­la­mat­kan sele­bih­nya? Ia pilih para tam­tama yang diang­gap­nya ter­de­kat dengan dir­i­nya – mereka yang seka­rang meng­iring­kan­nya. Ter­ba­tas pada mereka saja segala-gala­nya akan diatur. Mereka pun akan ia angkat seba­gai men­teri dan patih, dan semua akan beres.

Pada dasar­nya ia tidak pernah men­den­dam Tung­gul Ame­tung karena tewas­nya ayah­nya, Kebo Delan­cang. Makin dekat dengan waktu yang dijan­ji­kan oleh Ken Dedes, makin muncul gam­baran Akuwu seba­gai pem­bu­nuh ayah­nya, makin ia merasa ber­dosa bila tidak mem­ba­las akan dendam: ia mem­pu­nyai alasan untuk laku­kan itu. Harus! Hanya dengan jalan mem­bu­nuh­nya darah sat­ri­a­nya akan men­da­pat peng­ko­ko­han.

Sampai di asrama, kea­daan masih leng­ang. Para pra­ju­rit masih gila dengan pes­ta­nya. Hanya para tam­tama dari Gerakan Empu Gan­dring yang masih tetap berada di tempat. Yang tidak ber­ga­bung juga sedang sibuk mem­per­ta­han­kan harta kelu­arga sen­diri dari jarahan dan peram­pasan.

Keda­tangan­nya disam­but oleh per­ta­nyaan dari seo­rang tam­tama yang paling men­jeng­kel­kan­nya itu:

“Belum juga kau jawab ten­tang Empu Gan­dring dan Yang Suci.”

“Apakah belum cukup pundi-pun­dimu diisi?” Ia sengaja mem­bi­kin jawab­an­nya jadi keras.

“Bukan pundi-pundi dan isinya yang aku tanya­kan, Kebo; kepas­tian ten­tang Empu Gan­dring dan Yang Suci.”

“Kalian akan ber­temu dengan mereka nanti malam.”

“Seba­gai apa? Seba­gai tang­kapan pasukan Arok?”

“Arok hanya men­ja­lan­kan perin­tah Akuwu.”

“Di mana mereka seka­rang?” Tanya­nya.

“Seka­rang ini tak perlu kau tahu.”

“Kebo, itu tidak benar. Perlu kau keta­hui apa kata Empu Gan­dring padaku ter­a­khir kali: Jaga si Kebo, memang dia punya darah – lebih dari itu tidak!”

“Itulah Empu Gan­dring. Ten­tang kau untuk ter­a­khir kali dia bilang padaku: jangan turut­kan kehen­dakmu. Karena apa? Karena kaulah, kata­nya, tukang jegal yang bisa mem­bi­kin orang ter­ba­lik sewaktu ter­tawa suka.”

“Kata-kata­nya ter­a­khir padaku,” seo­rang tam­tama lain menyeia,” dia mem­per­i­ng­at­kan agar was­pada pada tam­tama sele­bih­nya.”

“Itulah Empu Gan­dring,” seru Kebo Ijo. “Pen­dek­nya bukan dia yang mem­bi­a­yai semua ini. Aku. Kalian yang takkan pernah jadi per­wira tanpa per­la­wanan ter­ha­dap Tung­gul Ame­tung ini – sekali kita ber­teng­kar, semua kesem­patan akan hilang. Dengan cakra Hyang Wisynu, deng­ar­kan Kebo Ijo bicara, akan kupe­li­hara Gerakan Empu Gan­dring ini tanpa Empu Gan­dring.”

“Belum ada seo­rang resi pun yang mem­be­nar­kan ada cakra Hyang Wisynu pada tanganmu,” sese­o­rang mem­ban­tah.

“Seti­dak-tidak­nya,” orang lain lagi menam­bahi, “Tung­gul Ame­tung dibe­nar­kan oleh Resi Belahan. Siapa benar­kan kau?”

Kebo Ijo gugup dan menang­kap satu-satu­nya pegang­an­nya selama ini:

“Semua kalian tahu, sil­si­lah Kebo Ijo sudah ada di Kediri. Adakah pada salah seo­rang di antara kalian ada? Yang Ter­suci Tana­kung telah mem­pel­a­jari dan mem­be­nar­kan. Apakah pada salah seo­rang di antara kalian ada? Sia­pa­kah yang lebih dekat pada Kediri di antara kita? Aku atau­kah kalian?”

“Ten­tang itu biar­lah wakil Kediri yang bicara, bukan kau!”

Kebo Ijo meng­ge­ra­gap.

“Apakah guna­nya kita ber­teng­kar begini?” Seo­rang tam­tama lain lagi menyela. “Wak­tu­nya sema­kin pendek, dan Para­mesy­wari Tuma­pel, sejauh yang kita keta­hui, telah ber­se­dia mene­rima selu­ruh balat­en­tara Tuma­pel. Sejak keja­dian itu Tung­gul Ame­tung sudah tiada arti­nya lagi. Kita ting­gal menunggu saat resmi malam ini. Apa guna semua per­cek­cokan ini? Apa­lagi kita seka­rang menge­ta­hui, Empu Gan­dring meng­adu-domba kita selama ini?”

Kebo Ijo meli­rik pada pem­bi­cara ter­a­khir itu, dan dike­ta­hu­i­nya dia adalah salah seo­rang pengiring yang telah dipi­lih­nya. Dan orang itu mene­rus­kan:

“Bagai­mana pun, Kediri akan meng­a­kui Kebo Ijo dari­pada kita seka­lian. Selama ini dia hanya tam­tama seperti kita. Itulah keja­hatan Tung­gul Ame­tung yang tidak meng­in­dah­kan tri­wangsa. Untuk meng­erti itu tak perlu mela­lui ucapan Yang Suci. Wakil Kediri itu ada atau tidak, aturan itu ber­laku dengan sen­di­r­i­nya. Tidak meng­in­dah­kan aturan para dewa akan tum­bang dengan sen­di­r­i­nya, atau harus ditum­bang­kan. Lagi pula Kebo bukan­lah seo­rang Syiwa, dia Wisynu seperti kita semua. Maka dia patut dan harus dide­ng­ar­kan.”

Kebo Ijo men­da­pat­kan kepri­ba­di­an­nya kem­bali:

“Memang itulah yang kumak­sud­kan untuk menyam­pai­kan pada kalian. Seka­rang ter­se­rah pada kalian apakah kita ber­henti sampai di sini saja atau harus melang­kah. Barang­si­apa lebih suka ber­henti barang­tentu akan kita ting­gal­kan.”

“Aku ikut ber­sama deng­anmu, Kebo, karena para dewa lebih dekat pada seo­rang satria dari­pada sudra. Barang­si­apa telah patah di tengah jalan, ting­gal­lah di sini, atau ber­ga­bung­lah dengan para pra­ju­rit yang sedang ber­pesta. Barang­si­apa ikut dengan Kebo Ijo, mari kita iring­kan dia pergi ke pura. Tin­dakan sepen­ting ini tidak patut tanpa dike­ta­hui oleh Hyang Wisynu.”

“Dengan memo­hon pada Hyang Wisynu kita tidak akan ber­sa­lah pada para dewa dan juga tidak pada Kediri,” Kebo Ijo menam­bahi.

“Kau ber­ko­koh tak mau mene­rang­kan bagai­mana nasib Yang Suci dan Empu Gan­dring,” tam­tama yang men­jeng­kel­kan itu mulai lagi.

“Dua-duanya ada pada Arok dan Akuwu,” jawab Kebo Ijo gusar. “Kalau kau hendak ikut ber­sama mereka, per­gi­lah”

“Dan kau ter­lalu per­caya pada Para­mesy­wari.”

“Kau ter­lalu per­caya Para­mesy­wari ber­ku­asa atas Arok!” Yang lain lagi menam­bahi.

“Jadi kau per­caya pada siapa?” Tanya Kebo balik. “Hanya pada Hyang Wisynu.”

“Kalau begitu mari ber­sama aku pergi ke pura,” ajak tam­tama penyo­kong Kebo. “Mari berang­kat, Kebo! Kami akan iring­kan!”

Ajakan yang mem­be­bas­kan itu memaksa Kebo itu bang­kit ber­diri dan mulai melang­kah mening­gal­kan asrama dalam iringan para tam­tama penyo­kong.

Bebe­rapa orang yang meli­hat hampir semua meng­i­kuti Kebo merasa kehi­langan pegangan, ikut ber­diri dan meng­i­kuti mereka tanpa kere­laan.

Para pen­du­duk Kuta­raja yang kaya dalam kea­daan kacau-balau itu menye­bar­kan hamba-ham­ba­nya, ber­seru-seru memang­gil para pra­ju­rit untuk mem­per­ta­han­kan harta benda dan kelu­ar­ga­nya. Mereka men­jan­ji­kan upah tinggi.

Mereka yang mem­pu­nyai sanak tam­tama memer­lu­kan meng­hu­bungi untuk minta ban­tuan. Per­ke­la­hian antar pra­ju­rit Tuma­pel sema­kin men­jadi-jadi. Darah ber­te­tesan di mana-mana.

Kelom­pok-kelom­pok pra­ju­rit baru, yang tak dapat meli­hat keja­hatan itu pada mela­ri­kan diri kem­bali ke desa masing-masing di luar kota. Sampai di tengah per­ja­lanan mereka kem­bali harus mela­ri­kan diri ber­pa­pasan dengan pasukan-pasukan Arok yang sedang menuju ke Kuta­raja.

Kelom­pok-kelom­pok lain, juga dari ang­katan baru, dalam bon­do­ngan mela­ri­kan diri ke peku­wuan minta per­lin­dungan pada pasukan Arok.

Darah ber­te­tesan di jalan-jalan dan pela­taran rumah orang-orang kaya dan tidak kaya. Setiap dendam pada pen­du­duk, betapa pun kecil­nya, kini men­da­pat kesem­patan dile­pas­kan: lamaran ter­to­lak, per­min­taan ter­to­lak, sikap yang diang­gap kurang hormat dan kurang meng­hi­na­kan diri sen­diri di hadapan pra­ju­rit Tuma­pel, lelu­con para pra­ju­rit yang tidak ditang­gapi dengan tawa. Ter­u­tama yang paling men­de­rita adalah kaum ter­pel­a­jar yang miskin dan tak mampu menyewa tenaga pem­bela dalam keru­suhan ini. Karena keter­pel­a­jar­an­nya para pra­ju­rit men­jadi dengki. Dalam keka­cauan seka­rang mereka men­da­pat kesem­patan untuk mem­buk­ti­kan: sen­jata lebih ber­arti di tangan orang sebo­doh-bodoh­nya dari­pada keter­pel­a­jaran dalam tubuh tanpa pelin­dung.

Arus bon­do­ngan pen­du­duk yang mela­ri­kan diri ke luar kota mela­lui segala cara yang mung­kin tak lagi dapat diben­dung, siang dan malam, ter­u­tama wanita dan kanak-kanak.

Di bebe­rapa tempat pen­du­duk telah pula mulai mela­wan. Dan para pela­wan makin lama mening­kat jum­lah­nya. Mula-mula secara per­o­rangan, kemu­dian ber­ga­bung, kam­pung demi kam­pung.

Pasukan kuda, yang sudah tak lagi meli­hat Yang Suci Bela­kangka, kemu­dian jadi ragu-ragu ter­ha­dap per­kem­bangan yang tak jelas jurus­nya. Hanya karena jaminan dari Bela­kangka menye­bab­kan mereka masih ting­gal tertib. Tetapi terus-mene­rus menga­wal Kebo Ijo? Mereka tak tahu lagi apa pula guna­nya. Per­wi­ra­nya, seo­rang sanak-jauh dari Tung­gul Ame­tung kemu­dian menye­dari, bahwa gerakan besar yang dipim­pin Kebo Ijo ber­tu­juan untuk meng­gu­ling­kan paman­nya. Sang Akuwu. Meng­erti, bahwa bila Tung­gul Ame­tung ter­gu­ling ia sen­diri kemu­dian akan men­da­pat­kan giliran, akhir­nya meme­rin­tah­kan pasuk­an­nya mena­rik diri, mem­ba­wa­nya lari ke Kediri mela­lui utara. Per­wira itu telah ber­te­kad untuk mem­per­se­m­bah­kan segala sesu­atu di Tuma­pel pada Ratu Ang­a­baya, dan akan mohon per­lin­dungan Kediri. Ia tidak tahu siapa yang harus dila­wan­nya seba­gai pra­ju­rit Tuma­pel.

Empat ratus pra­ju­rit kuda itu nampak seba­gai gelom­bang tebal yang meme­nuhi jalanan. Tanpa panji dan tanpa umbul-umbul.

Mereka sudah buang segala tanda-tanda Tuma­pel dan men­jadi pasukan liar.

Sore itu hujan turun lagi dengan lebar­nya. Hanya seben­tar.

Namun air yang meng­a­lir dari gunung-gunung di sebe­lah utara tak dapat ditam­pung oleh selokan kiri-kanan jalanan negeri, naik ke atas­nya.

Dan pasukan San­ting, Arih-Arih dan Bana men­de­rap maju dengan sema­ngat menga­lah­kan dingin dan hujan. Sepan­jang jalan sema­kin meng­gem­bung besar dengan ikut­ser­ta­nya pen­du­duk yang ber­ga­bung: orang-orang Syiwa, Wisynu, Buddha, Kala­cakra, Tan­tra­yana, Durga dan mereka yang hanya memuja lelu­hur.

Selama ini Tung­gul Ame­tung paling memu­suhi orang Syiwa, maka yang paling keras mela­wan adalah juga golongan mereka.

Dalam su pasukan Bana harus masuk lebih dahulu ke Kuta­raja. Pasuk­an­nya yang ter­diri atas anak-anak belasan tahun itu bukan lagi ber­ba­ris, tetapi telah men­de­kati lari, semua sudah kehi­langan kesa­bar­an­nya untuk segera mela­por­kan kea­dilan yang telah mereka lak­sa­nakan pada Arok.

Sepan­jang jalan ia ber­temu dengan wanita dan kanak-kanak yang mela­ri­kan diri, juga pra­ju­rit-pra­ju­rit Tuma­pel ang­katan baru. Makin lama makin banyak barisan yang meng­i­kuti, ter­u­tama gadis-gadis dari desa-desa yang dila­lui. Dan pasukan itu sema­kin jadi ber­se­ma­ngat.

Sepan­jang jalan orang ber­seru meng­u­mum­kan: pasukan Arok turun dari gunung untuk meng­gem­pur Kuta­raja, meng­gu­ling­kan Tung­gul Ame­tung.

Di bela­kang­nya menyu­sul pasukan San­ting – sebuah pasukan yang telah ber­peng­a­laman mela­wan Tuma­pel selama lima tahun, juga dii­kuti oleh petani-petani dewasa dari desa-desa yang pernah dilin­dung­i­nya, mem­bawa segala macam sen­jata dan per­be­kalan.

Di bela­kang­nya lagi menyu­sul pasukan Arih-Arih – sebuah pasukan yang telah ber­peng­a­laman selama tiga tahun, dengan keah­lian mema­in­kan bandul batu dan mera­yap dalam kege­lapan. Sama halnya dengan pasukan San­ting, dua-duanya mahir mengu­a­sai medan di rimba belan­tara.

Dari sebe­lah barat pasukan si mata­s­atu Mun­d­ra­yana mem­bawa serta deng­an­nya semua pen­du­duk desa kaki Gunung Arjuna, laki dan perem­puan, tua dan muda.

Pasukan bekas budak, yang men­da­lam den­dam­nya ter­ha­dap Tung­gul Ame­tung dan barisan jajaro ini, boleh meng­gu­na­kan panah cepat yang dipel­a­jar­i­nya dari barisan bia­ra­wan dan bia­ra­wati. Penuh keper­ca­yaan, sen­ja­t­a­nya tiada ter­la­wan oleh tombak dan pedang, mereka akan dapat menum­pas balat­en­tara Tuma­pel dengan hujan­ma­ut­nya.

Di tengah-tengah rom­bongan pen­du­duk yang ber­ga­bung ter­da­pat juga Nyi Lem­bung, yang diang­kat dengan tandu. Dalam rom­bongan lain ter­da­pat pan­dita Tan­tri­pala, yang naik kuda ditun­tun oleh murid-mur­id­nya. Dalam rom­bongan pen­du­duk ter­a­khir ter­da­pat Dang Hyang Loh­gawe, juga naik kuda, dalam iringan murid-mur­id­nya.

Semua takkan lewat­kan kesem­patan untuk sak­si­kan tum­bang­nya Tung­gul Ame­tung.

Men­dung di atas mereka tidak men­ja­tuh­kan hujan, namun jalanan yang biasa dihan­cur­kan oleh ladam kuda itu telah rusak dan mengan­dung lumpur.

Selu­ruh barisan itu dua kali ber­henti di sebuah desa di ping­gir jalan untuk ber­san­tap. Dan sore pun datang waktu mereka harus mene­rus­kan per­ja­lanan lagi.

Waktu senja jatuh, pasukan Mun­d­ra­yana meli­hat di depan­nya gelom­bang besar pasukan kuda Tuma­pel. Mereka lang­sung ber­so­rak perang dan menye­ru­kan datang­nya pasukan Arok

Pasukan kuda di depan itu nam­pak­nya hendak mener­jang gelom­bang manu­sia yang meng­ha­dang jalan, tak peduli dan tidak gentar pada sorak-perang. Meli­hat itu pasukan Mun­d­ra­yana meme­rin­tah­kan pen­du­duk yang serta meming­gir ke kiri dan kanan jalan. Mereka menyi­bak diri seperti gelom­bang pecah dua. Dari depan pasukan kuda ber­so­rak men­ja­wabi.

Men­de­ngar tan­tangan itu pasukan Mun­d­ra­yana lang­sung lari ke depan. Jarak mereka sema­kin dekat.

“Ming­gir untuk pasukan kuda Kediri!” Ter­de­ngar pekikan dari depan.

“Balik untuk pasukan Arok!”

Dengan pedang ter­hu­nus Mun­d­ra­yana lari men­da­hu­lui pasuk­an­nya dan meme­rin­tah­kan menyem­bur­kan hujan panah. Anak panah mele­sit ke udara seperti seke­lom­pok awan, mem­bi­kin ter­de­pan pasukan kuda itu mem­ban­ting arah ke kiri dan kanan.

Pasukan kuda yang tidak ber­mak­sud hendak ber­tem­pur itu ter­paksa meng­hin­dari hujan panah, seben­tar ber­pu­sing-pusing di tempat, kemu­dian semua mem­be­lok mener­jang desa, dengan hujan panah terus meng­i­kuti.

Kuatir mereka kemu­dian menye­rang rom­bongan pen­du­duk di bela­kang, pasukan Mun­d­ra­yana ber­ba­lik dan lari ke bela­kang untuk menyem­pur­na­kan peng­u­siran Pasukan kuda itu sema­kin men­jauh, mener­jang-ner­jang ladang dan sawah untuk kemu­dian meng­hi­lang dari peman­dangan.

Pasukan Mun­d­ra­yana ber­so­rak gem­bira, menge­ta­hui tanda-tanda keta­kutan dari balat­en­tara Tuma­pel. Pasukan cepat penin­das keru­suhan kecil-kecilan itu ter­nyata gentar meli­hat gelom­bang manu­sia dari belasan ribu orang yang ber­sen­jata. Para gadis ber­la­rian ke depan untuk memu­nguti anak-anak yang ber­ham­buran dan menye­rah­kan kem­bali pada para pra­ju­rit Mun­d­ra­yana.

Mereka maju lagi dan matari pun hilang dite­lan oleh pegu­nungan dan puncak rimba.

Di selatan kota pasukan Umang telah dua kali ber­is­ti­ra­hat di desa di ping­gir jalan. Semua perem­puan desa terang­sang untuk serta: hampir selu­r­uh­nya Wisynu dan pemuja Dewi Sri. Tetapi serangan yang sema­kin datang menye­rang kesem­pat­an­nya menye­bab­kan ia digan­ti­kan oleh Oti.

Di bela­kang­nya, pasukan Ling­sang yang merasa ber­sa­lah telah mau dibawa oleh Hayam Lumang Celu­kan untuk mela­wan Arok, untuk pene­bus kesal­ah­an­nya, adalah yang paling ber­se­ma­ngat meng­a­gung­kan Arok. Sepan­jang jalan pasukan itu ber­so­rak-sorai menye­but nama pemim­pin ter­tinggi mereka.

Dalam pasukan Tanca ter­ga­bung bebe­rapa ratus orang dhar­mana Kediri. Tanca sen­diri agak kurang ber­se­ma­ngat. Mpu Parwa yang dijem­put­nya ter­nyata meno­lak ikut serta mema­suki Kuta­raja. Ia tak ber­ha­sil mem­bu­juk­nya, bahwa keda­tangan­nya adalah untuk menyak­si­kan keja­tuhan Tung­gul Ame­tung.

“Takkan kuin­jak­kan kakiku di bumi Kuta­raja,” jawab­nya. “Juga tidak untuk meli­hat jatuh­nya Tung­gul Ame­tung.”

“Seti­dak-tidak­nya untuk menyak­si­kan bebas­nya Dedes, ya, Bapa Mpu Parwa,” Tanca men­coba mem­pe­nga­ruhi.

“Sejak dia mem­bi­ar­kan diri ter­sen­tuh oleh orang Wisynu ter­ku­tuk itu, aku men­jadi ragu apakah benar dia anakku.”

Tanca merasa tak punya hak untuk men­de­sak­nya lebih lanjut, kecu­ali mem­be­ri­ta­kan:

“Sahaya hanya men­ja­lan­kan perin­tah dari Arok, Bapa.”

“Berang­kat­kan pasuk­anmu dengan res­tuku,” dan ia tak bicara lagi, kemu­dian pergi ke candi Agas­tya. Tanca merasa tidak puas dengan gagal­nya tugas itu. Ia dapat meli­hat jatuh­nya Tung­gul Ame­tung kurang sem­purna tanpa saksi Mpu Parwa, yang justru ber­ke­pen­tingan meli­hat bebas­nya Dedes.

Senja mulai jatuh. Dan ia belum juga perin­tah­kan pasuk­an­nya ber­so­rak. Yang ber­so­rak-sorai justru sisa pen­du­duk yang tidak sempat meng­ga­bung­kan diri dengan pasukan-pasukan sebe­lum­nya.

Men­dung di langit masih juga ter­gan­tung. Hari men­jan­ji­kan malam yang gelap-pekat. Guruh ter­de­ngar terus-mene­rus meng-

Gerutu di keja­uhan. Dan Tanca masih juga belum dapat mene­mu­kan jawaban apa harus dika­ta­kan­nya pada Arok ten­tang tak hadir­nya Mpu Parwa. Di barisan ter­de­pan Oti terus juga mem­be­ra­ni­kan Umang: “Kuat­kan, kuat­kan. Kata­kan pada anak dalam kan­dung­anmu itu: jangan ganggu ibu yang sedang maju ke medan-perang.”

“Lihat­lah, sudah aku tahan­kan.”

“Ping­giran kota sudah hampir sampai. Per­gu­na­kan untuk ber­so­rak. Tidak benar kalau anak itu harus jadi bebanmu.”

“Jagad Dewa,” pekik Umang. “Ber­so­rak kalian!” Kemu­dian ia lari ke bela­kang, meme­rin­tah­kan pada peng­ga­bung yang telah parau itu untuk mem­buka suara.

Malam jatuh waktu barisan ter­de­pan itu mele­wati ping­giran kota, mela­lui desa Empu Gan­dring, Lumam­bang. Seba­gai­mana diren­ca­na­kan pasukan Umang menye­bar ke seke­li­ling pabrik sen­jata di ten­tang rumah Empu Gan­dring. Dihan­cur­kan­nya pintu-pintu batu pada bukit kecil di bela­kang pabrik dan dike­lu­ar­kan sen­jata-sen­jata yang telah jadi. Yang tidak ber­sen­jata kini ber­sen­jata. Tak ada yang diting­gal­kan di gua dalam bukit. Tum­pukan-tum­pukan dija­jar di ping­gir jalan untuk diper­gu­na­kan oleh pasukan-pasukan yang masih di bela­kang. Kemu­dian mereka meme­kik­kan sorak-perang lagi.

Wanita-wanita yang hanya ber­ca­wat itu men­de­sak maju dalam kege­lapan Kuta­raja, meng­ha­lau pra­ju­rit-pra­ju­rit Tuma­pel yang lena dalam gila pesta men­ja­rah dan meram­pok.

“Pasukan Arok datang! Pasukan Arok datang!”

Pada mula­nya pra­ju­rit-pra­ju­rit Tuma­pel tidak menye­dari, mereka datang untuk menye­rang. Sorak-perang dari teng­go­r­okan wanita itu ter­de­ngar aneh, tinggi dan ngilu, tidak meng­gam­bar­kan sema­ngat haus darah. Serenta mereka menge­ta­hui wanita-wanita menyapu para pra­ju­rit Tuma­pel dari kam­pung ke kam­pung dan dari desa ke desa, mem­bi­na­sa­kan mereka yang ter­pa­pasi, ter­paksa mereka lari beling­satan mening­gal­kan segala yang telah teram­pas dan ter­mi­l­iki.

Sorak-sorai itu mem­buru-buru, mem­bun­tuti ke jan­tung ibu­kota...

Malam itu sera­tus depa jalanan kiri dan sera­tus depa jalanan kanan depan peku­wuan ber­man­di­kan sinar damar besar, ber­ja­jar-jajar sampai ke pela­taran, pen­dopo peku­wuan. Tetapi pen­dopo itu sen­diri tidak ber­su­a­sa­nakan pesta kosong.

Ratusan pra­ju­rit Arok ber­ba­ris ber­ja­jar seba­gai pasukan kehor­matan menyam­but keda­tangan Kebo Ijo dan para tam­tama Mpu Gan­d­rung yang meng­iring­kan­nya. Arok dan Han­danu ber­diri pada tangga pen­dopo seba­gai penyam­but resmi.

Kebo Ijo datang dalam pakaian kebe­saran, ber­hias dengan serba emas, dii­ring­kan oleh sera­tus empat puluh tiga tam­tama – semua dalam pakaian kebe­saran. Pasukan penyam­but meng­ge­dik­kan tombak mereka pada tanah, kemu­dian ber­lu­tut dengan satu kaki.

Dan Kebo Ijo mene­rus­kan per­ja­lanan tanpa meng­gub­ris. Ia ber­ja­lan paling depan. Di bela­kang­nya empat orang pengiring teper­caya, di bela­kang­nya lagi para tam­tama sele­bih­nya.

Dari keja­uhan mulai ter­de­ngar sorak-perang pasukan Arok, tetapi mereka tidak mem­per­ha­ti­kan, mengir­a­kan seruan-seruan para pra­ju­rit Tuma­pel yang sedang ber­pesta.

Kebo Ijo melang­kah gagah lang­sung ke pen­dopo.

Arok dan Han­danu meng­ge­dik­kan tombak.

“Yang Mulia,” Arok memu­lai. “Sila­kan naik. Yang Mulia Akuwu masih di Bilik Agung. Sahaya akan men­jem­put Yang Mulia Para­mesy­wari dari pura-dalam.”

“Ya, pergi kau men­jem­put Yang Mulia Para­mesy­wari!”

Arok dan Han­danu meng­ge­dik­kan tombak, kemu­dian balik kanan jalan mela­lui depan peku­wuan pergi ke bela­kang.

Kebo Ijo naik ke pen­dopo yang kosong dari manu­sia, penga­wal atau­pun narap­raja. Ia ber­ja­lan lang­sung ke Bilik Agung dan ber­henti pada tabir bambu patung.

“Tung­gul Ame­tung!” Seru­nya, “keluar kau!” Dari dalam ter­de­ngar orang batuk. Dan Kebo Ijo meng­u­langi perin­tah­nya:

“Aku belah kepa­lamu! Siapa kau, berani-berani buka mulut padaku?” Ter­de­ngar suara parau dari dalam. “Dedes! Dedes! Di mana kau, Per­mata?”

“Mabok!” Bisik seo­rang pengiring.

“Segera masuk, sebe­lum Para­mesy­wari datang,” bisik yang lain. “Hanya ini kesem­patan kita.”

Kebo Ijo meng­hu­nus pedang dan masuk ke dalam.

Ter­de­sak dari selatan para pra­ju­rit Tuma­pel yang belum tahu betul duduk-per­kara, ber­la­rian ke pusat ibu­kota. Tetapi sorak-perang dari sebe­lah utara dan barat mulai men­de­sak, meng­ge­lom­bang seperti laut pasang. Kilat yang ber­ke­japan men­jadi suluh bagi para pra­ju­rit yang ber­la­rian dari utara dan barat.

Kini mereka mulai menge­ta­hui, benar-benar pasukan besar Arok sudah datang mener­jang kota dari tiga jurusan. Tak ada tempat bisa mereka per­gu­na­kan ber­lin­dung. Asrama yang pada mula­nya mereka per­gu­na­kan ber­kum­pul, kini mereka ting­gal­kan lagi dalam kea­daan bingung tanpa per­wira tanpa tam­tama. Mereka hanya bisa meng­ang­kut harta-benda paling ber­harga, mem­bela diri secara per­o­rangan dan mela­ri­kan diri ke arah timur – daerah hutan belan­tara yang belum ter­ja­mah manu­sia.

Pasukan Arok makin men­de­sak dan mem­bi­ar­kan timur kota tetap ter­buka. Sorak-perang dan seruan pasukan Arok datang meng­gi­ring balat­en­tara Tuma­pel yang beling­satan itu mening­gal­kan tem­pat­nya. Rumah-rumah pen­du­duk yang diper­gu­na­kan mereka ber­se­m­bu­nyi diting­gal­kan oleh para peng­huni, yang memang­gil keda­tangan pasukan pen­da­tang.

Para petani peng­ga­bung tidak kalah ber­se­ma­ngat dari pra­ju­rit-pra­ju­rit Arok. Mereka ber­lari sambil menye­rang dan menyer­bui rumah-rumah yang diper­gu­na­kan ber­se­m­bu­nyi.

Gelom­bang dari luar kota mengu­a­sai Kuta­raja seta­pak demi seta­pak, mening­gal­kan pra­ju­rit-pra­ju­rit Tuma­pel ber­ge­lim­pangan, dan men­de­sak terus ke titik yang dijan­ji­kan peku­wuan Tuma­pel untuk meli­hat sen­diri jatuh­nya Tung­gul Ame­tung dan Tuma­pel.

Gedung peku­wuan ter­ke­pung rapat dengan tombak. Sorak parau makin men­deru-deru, meng­gen­tar­kan para tam­tama yang kebi­ngungan menunggu di pen­dopo.

Kemu­dian orang meli­hat Kebo Ijo keluar dari bilik dengan pedang ber­lu­muran darah.

“Pasukan Arok datang!”

Ia ber­ja­lan ke tengah-tengah kum­pulan tam­tama. Mata­nya liar meli­hat kepungan tombak di hadap­an­nya. Ia lari mening­gal­kan pen­dopo masuk kem­bali ke Bilik Agung.

Para tam­tama ting­gal duduk di tempat. Kemu­dian seperti men­da­pat perin­tah gaib semua ber­su­jut dengan kening pada lantai.

Para­mesy­wari didam­pingi oleh Arok dan dika­wal oleh regu besar ber­tom­bak naik dari depan ke pen­dopo. Orang ber­so­rak menyam­but.

Para tam­tama tetap ber­su­jud menye­rah di tempat.

Arok meng­ang­kat tangan menyu­ruh semua pasukan luar kota diam.

Ken Dedes ber­henti menunggu Arok. Dan seo­rang tam­tama meme­kik dalam sujud­nya:

“Ampun Yang Mulia Para­mesy­wari, inilah para tam­tama Tuma­pel datang untuk ber­su­jud pada kaki Yang Mulia.”

“Di mana Kebo Ijo?”

“Di dalam Bilik Agung, Yang Mulia.”

Dedes didam­pingi oleh Arok, dii­ring­kan oleh regu ber­tom­bak masuk ke Bilik Agung.

Meli­hat Arok datang dengan regu ber­sen­jata, dengan pedang ber­lu­muran darah ia lari ke pintu Taman Larangan. Tapi tak mung­kin, juga di situ tombak-tombak menye­ri­ngai dari luar.

“Menye­rah kau. Kebo Ijo!” Perin­tah Arok. “Dan lihat kalian, semua penga­wal, dia telah masuki Bilik Agung. Pada tangan­nya pedang­nya sen­diri, ber­lu­muran darah.”

Semua yang melongok ke Bilik Agung meli­hat Kebo Ijo ber­diri dengan pedang di tangan. Air­mu­ka­nya tegang, mata­nya sedi­kit mem­be­liak dan mulut­nya agak ter­buka sehingga keli­hatan baris gigi­nya yang hitam-kelam karena sirih dan jahawe.

Di depan per­a­duan Tung­gul Ame­tung meng­ge­le­tak di lantai kayu, ber­mandi darah, tuak dan mun­tahan sen­diri. Dada­nya belah, perut­nya menga­nga. Muka­nya pecah, dan dari mulut­nya masih keluar mun­tahan ber­cam­pur darah. Jari-jari tengah­nya masih keli­hatan ber­ge­rak-gerak tak ken­tara. Bau amis meng­a­wang di udara.

Ken Dedes men­ce­kam dada dan meme­kik: “Kakanda!” Ia lari pada sua­mi­nya. “Tang­kap si Kebo!” Perin­tah Arok.

Tombak-tombak pasukan penga­wal menye­ri­ngai menge­pung Kebo Ijo. Pedang di tangan­nya jatuh meng­ge­lon­tang di lantai.

“Tang­kap semua tam­tama di luar sana!”

Seba­gian besar para penga­wal ber­la­rian menge­pung para tam­tama di pen­dopo.

“Ikat si Kebo!”

Dan Kebo Ijo diikat.

“Pem­bu­nuh Yang Mulia Akuwu!” Demi Arok. “Telah mati waktu sahaya masuk,” jawab Kebo. Suara dan kaki­nya geme­tar.

“Penipu! Pedang dan tanganmu masih ber­lu­muran darah.”

“Kakanda! Kakang!” Tangis Dedes, mem­bung­kuki sua­mi­nya. “Berapa kali kau pukul­kan pedangmu?” Desak Arok. “Hanya sekali, pada perut­nya.”

Arok melang­kah cepat ke arah Tung­gul Ame­tung, mem­bung­kuk seben­tar, mera­ba­nya sedi­kit, kem­bali pada Kebo Ijo:

“Penipu, pem­bu­nuh. Paling tidak tiga kali kau meme­dang. Badan­nya masih hangat, jari-jari­nya masih ber­ge­rak. Tak ada orang lain masuk kecu­ali kau!” Ia menu­ding ke arah pintu ke taman Larangan. Dan di sana tombak – tombak menye­ri­ngai tanpa nampak pra­ju­rit-pra­ju­rit yang meme­gang­i­nya. “Hanya kau!”

“Sahaya hanya sekali meme­dang, sung­guh mati, pada perut­nya.”

Sese­o­rang memu­kul mulut­nya dengan gedi­gan tang­kai tombak. Ia ter­diam. Darah meng­a­lir dari mulut itu.

Para­mesy­wari masih ber­lu­tut mem­bung­kuki sua­mi­nya dan mera­tap. Sua­ra­nya pelahan meng­hiba-hiba. Arok meng­ham­pir­i­nya dan mem­per­se­m­bah­kan:

“Yang Mulia Para­mesy­wari,” ia ber­pa­ling dan menu­ding pada Kebo Ijo,” ter­se­rah pada Yang Mulia hukuman apa harus dija­tuh­kan pada pen­ja­hat itu.”

“Mati, Arok, Sang Akuwu mati,” tangis Dedes.

“Pang­gil dan jemput Dalung!” Perin­tah Arok pada anak buah­nya. Dan empat orang lari keluar untuk men­ja­lan­kan perin­tah. Arok meng­ham­piri mayat Tung­gul Ame­tung, mem­bung­kuk dan mem­per­ha­ti­kan Dedes meng­am­bil selen­dang dari kepala dan deng­an­nya menyeka muka sua­mi­nya dari darah, kemu­dian menyeka dada, tangan. Tetapi darah itu masih juga meng­u­cur dan mengo­tor­i­nya lagi. Ia bantu Para­mesy­wari menu­tup­kan tapuk mata mayat itu, mele­tak­kan tangan­nya di sam­ping tubuh.

Hening selu­ruh Bilik Agung dan pen­dopo. Sorak perang tak ter­de­ngar dari keja­uhan.

Lambat-lambat Para­mesy­wari ber­diri, meng­ang­kat muka dan pan­dang pada Kebo Ijo, ber­kata pelahan:

“Seo­rang satria – ber­ke­lahi dengan orang yang sedang mabok.” Ia ber­pa­ling pada Arok, ber­ta­nya, “Apakah itu cukup patut, Arok?”

Arok meng­ang­kat pedang, ter­a­rah pada Kebo Ijo:

“Jawab per­ta­nyaan, Yang Mulia Para­mesy­wari!”

“Ampun,” gele­tar suara Kebo Ijo.

“Apakah kau sudah jadi jajaro, tak buka suara pada Yang Mulia Para­mesy­wari?”

“Ampun,” ia jatuh ber­lu­tut. Selu­ruh tubuh­nya geme­tar.

“Giring semua tam­tama itu masuk kemari dengan tertib, biar mereka sak­si­kan apa telah diper­buat oleh pemim­pin­nya.”

Para tam­tama itu ber­ba­ris merang­kak mema­suki Bilik Agung.

“Inilah hasil kalian dari Gerakan Empu Gan­dring, hanya menum­bang­kan orang yang sedang mabok. Baik, kalian memang hanya sudra, tapi pemim­pinmu ini, seo­rang satria! Mem­bu­nuh orang mabok – hanya paria yang dija­jar­o­kan bisa ber­laku sehina itu!”

Para tam­tama itu ber­ja­lan mem­ben­tuk ling­karan, merang­kak tanpa menu­run­kan sembah, sampai orang ter­a­khir mening­gal­kan Bilik Agung.

Dalung masuk, lang­sung men­da­pat perin­tah mengu­rus mayat dan mele­tak­kan­nya di pen­dopo. Dengan dua orang pem­ban­tu­nya ia ber­sih­kan mayat itu dan mem­ba­lu­r­nya dengan wangi-wang­ian, kemu­dian meng­ang­kat keluar.

Ting­gal hanya dua orang di dalam ruangan: Arok dan Dedes.

“Dedes,” bisik Arok, “semua sudah sele­sai.”

Dedes tak menang­gapi.

“Dedes, aku ulangi: semua sudah sele­sai. Bicara, kau.”

“Ya, semua sudah sele­sai.”

“Mari ke pen­dopo,” dan sampai di tempat Arok ber­kata keras, “Yang Mulia Para­mesy­wari, dengan wafat­nya Yang Mulia Akuwu Tuma­pel, Tung­gul Ame­tung, Yang Mul­i­a­lah seka­rang pengu­asa penuh di Tuma­pel. Titah­kan sesu­atu.”

Dari pasukan-pasukan luar kota yang menge­pung mem­bu­bung seruan-seruan tidak puas. Ken Dedes nampak meng­ge­ra­gap, meng­hin­dar­kan pan­dang dari para penge­pung di luar pen­dopo dan menan­cap­kan pada wajah Arok. Bibir­nya ber­ge­rak, tetapi tak sepa­tah kata keluar dari­pa­da­nya. Dan bibir itu nampak kering.

“Dengan mang­kat­nya Sang Akuwu pada hari ini,” Arok memu­lai lagi,” Yang Mulia Para­mesy­wari seka­rang pengu­asa penuh Tuma­pel.”

“Arok Akuwu kita!” Mereka ber­so­rak.

Arok melam­bai­kan tangan menyu­ruh orang ber­sa­bar Tetapi kege­li­sahan umum itu masih juga mera­ja­lela Ia angkat tangan tinggi-tinggi, menyu­ruh semua diam. Dan kege­li­sahan itu makin lama makin mereda.

Dari peman­dangan seki­las Dedes menge­ta­hui, semua orang men­de­ng­ar­kan Arok. Jan­tung­nya men­de­nyut­kan pera­saan tak rela. Ia, seo­rang brah­mani, adalah yang ter­tinggi di antara semua yang ada di hadap­an­nya. Dan nam­pak­nya orang tak ingin men­de­ng­ar­kan sua­ra­nya.

“Titah­kan sesu­atu, Yang Mulia, selu­ruh kawula Tuma­pel sedang menunggu-nunggu.”

“Kalian, para tam­tama Gerakan Empu Gan­dring. Kalian telah mela­ku­kan per­se­ku­tuan untuk mem­bu­nuh Yang Mulia Akuwu dan telah melak­sa­nakan pada hari ini,” sua­ra­nya ragu-ragu, sangat pelan, parau, tangan selalu dile­tak­kan pada perut bawah.

Dan Arok menom­pangi dengan suara lan­tang:

“Siapa pemim­pin kalian dari Gerakan Empu Gan­dring?” Meli­hat tak seo­rang men­ja­wab, ia mene­rus­kan: “Selu­ruh Tuma­pel dan ibu­kota, juga peku­wuan, telah ter­ke­pung oleh pasukan Arok. Balat­en­tara Tuma­pel telah lari, binasa atau menye­rah. Jangan kalian meng­ang­gap masih punya keku­atan. Salah seo­rang harus men­ja­wab: Siapa pemim­pin kalian?”

“Empu Gan­dring,” seo­rang men­ja­wab.

“Maka itu Empu Gan­d­rung telah aku tang­kap. Siapa pemim­pin kalian sete­lah itu?”

“Kebo Ijo,” semua men­ja­wab.

Kebo Ijo sen­diri duduk menun­duk dengan tangan ter­i­kat ke bela­kang.

Arok menu­ding pada Kebo Ijo:

“Diakah yang pimpin kalian untuk mem­bu­nuh Tung­gul Ame­tung, Akuwu Tuma­pel yang dilin­dungi oleh Kediri’”

“Kami datang bukan untuk mem­bu­nuh,” seo­rang men­ja­wab, “Kami datang untuk meng­ha­dap Yang Mulia Para­mesy­wari, diti­tah­kan datang pada malam ini.”

“Meng­apa kau bunuh Yang Mulia Akuwu?” Tanya Arok pada Kebo Ijo. “Meng­apa tak kau jawab? Baik. Siapa perin­tah­kan kau?”

Pasukan Arok yang menge­pung di luar dan di dalam peku­wuan, dalam dingin malam itu tetap tak ber­ge­rak dari tempat.

“Jadi kau sen­diri yang ber­ke­hen­dak mem­bu­nuh­nya. Untuk meng­gan­ti­kan Yang Mulia jadi Akuwu. Hei, kalian para tam­tama Tuma­pel. Apa benar demi­kian?”

“Benar! Benar!” Para tam­tama men­ja­wabi ramai. “Apakah itu perin­tah Empu Gan­dring?”

“Gan­dring meme­rin­tah­kan menum­pas Arok,” sahut mereka. “Meng­apa tak kalian tumpas aku dan pasuk­anku? Baik, kalian tak mau men­ja­wab. Sayang sekali kalian tak laku­kan itu.”

“Kau, Kebo Ijo, apa perin­tah kau terima dari Bela­kangka?” Dan Kebo Ijo tak dapat men­ja­wab.

“Yang Mulia Para­mesy­wari, pengu­asa tung­gal selu­ruh Tuma­pel, Yang Mul­i­a­lah yang meme­riksa mereka.”

Ken Dedes mem­beri perin­tah pada para penga­wal untuk mengu­rus mayat Tung­gul Ame­tung.

“Dengan tin­dakan ini kalian telah menan­tang Sri Baginda Kre­ta­jaya – kalian, balat­en­tara Tuma­pel, tetap setia pada Kediri. Untuk itu pasukan Arok telah men­jaga kese­la­matan kami. Dan kau, Kebo Ijo, yang menya­ta­kan telah menye­rah­kan balat­en­tara Tuma­pel ke tangan kami, kau telah meng­khi­a­nati Tuma­pel dan Sang Akuwu, yang dilin­dungi oleh Kediri.”

“Jangan jatuh­kan dulu hukuman atas mereka. Yang Mulia. Mereka belum lagi bicara ten­tang keser­taan Bela­kangka dalam per­kara ini.” Pada anak buah­nya:”Bawa kemari Yang Suci Bela­kangka.”

Kebo Ijo geme­tar men­jadi-jadi

Bela­kangka ber­diri di hadapan Arok Jubah­nya telah lusuh dan des­tar­nya agak miring. Ia ber­si­de­kap mem­per­ta­han­kan kemu­li­a­an­nya. Tak ada tong­kat pada­nya.

“Nah, kata­kan, kau, Kebo Ijo, apa perin­tah yang kau terima dari Yang Suci.”

“Menum­pas Arok,” jawab­nya.

“Meng­apa tak kau laku­kan? Baik, kau tak mau men­ja­wab. Jadi Yang Suci jelas hendak menum­pas aku dan pasuk­anku. Dengan ban­tuan pasukan kuda pun kau tak laku­kan itu. Yang Suci. Yang Suci telah dengar sen­diri.”

“Si penipu!” Desau Bela­kangka pelahan.

“Demi hidup dan demi mati,” susul Kebo Ijo, “dan meme­rin­tah­kan juga menum­pas Dang Hyang Loh­gawe.”

“Si pem­bo­hong!” Desau Bela­kangka.

“Orang seperti Kebo Ijo tak mampu bicara bohong,” susul Arok. “Dia bicara sewa­jar­nya, atau mem­bisu karena tak mau menga­ta­kan. Yang Sucilah yang penipu dan pem­bo­hong.”

“Untuk ucap­anmu kepa­lamu jadi tebusan untuk Kediri, Arok.”

“Tidak apa-apa, Yang Suci. Yang Mulia Para­mesy­wari, sila­kan mening­gal­kan pen­dopo kalau dike­hen­daki.”

“Baik, Arok, aku serah­kan segala kebi­jak­sa­naan ter­ha­dap para peru­suh ini ke tanganmu. Hukum­lah yang sepa­tut­nya men­da­pat hukuman karena dosa-dosa­nya, dan jangan sentuh mereka yang tidak ber­sa­lah.”

Arok meng­ang­kat sembah, dan para penga­wal meng­iring­kan­nya mening­gal­kan pen­dopo mela­lui kepungan pasukan Arok. Bebe­rapa orang penga­wal meng­ang­kat mayat Tung­gul Ame­tung.

“Kalian semua dari pasukan Arok,” seru Arok, “sak­si­kan­lah ini Yang Suci Bela­kangka Pan­dita Negeri Tuma­pel. Untuk men­ja­tuh­kan Sang Akuwu ia telah perin­tah­kan mem­bi­na­sa­kan Arok dan pasuk­an­nya.”

“Tumpas dia, Arok!” Orang mulai riuh ber­seru-seru.

“Dan ditum­pas­nya Tung­gul Ame­tung yang sedang mabok.”

“Penge­cut!” Orang meme­kik-mekik.

Bela­kangka ber­ba­lik meng­ha­dapi pasukan Arok:

“Wakil Kediri mewa­kili kera­jaan dengan balat­en­tara cukup kuat. Hukuman bagi mereka yang menyen­tuh dan meng­hi­na­kan­nya.” Ia ber­ba­lik pada Arok dan menu­ding, “Kau Arok. Peran­cang dari pem­bu­nuhan ter­ha­dap Sang Akuwu dalam per­lin­dungan Kediri! Kau sen­diri yang mem­bu­nuh Tung­gul Ame­tung.”

“Hai, kalian tam­tama dari Gerakan Empu Gan­dring, siapa yang bunuh Sang Akuwu?” Tanya Arok.

“Kebo Ijo!” Mereka men­ja­wab seren­tak.

“Jangan kalian ter­pe­nga­ruhi oleh kepungan pasukan Arok. Kata­kan sesung­guh­nya,” seru Bela­kangka. “Apa arti pasukan Arok diban­ding­kan dengan balat­en­tara Kediri? Hanya men­ti­mun ber­ban­ding durian.”

“Kebo Ijo!” Mereka meng­u­langi. “Kami lihat sen­diri pedang­nya ber­lu­muran darah.”

“Kebo Ijo,” desak Bela­kangka, “Kau tidak mem­bu­nuh Tung­gul Ame­tung. Arok yang mem­bu­nuh­nya. Dia orang Syiwa. Dia jago dari brah­mana Syiwa Loh­gawe yang tidak rela meli­hat keku­a­saan Wisynu. Kau sen­diri orang Wisynu, mana mung­kin mem­bu­nuh Wisynu yang lain? Tidak mung­kin. Semua hanya akal si Arok.”

Para tam­tama yang duduk ber­ban­jar-banjar meng­ang­kat pan­dang pada Bela­kangka.

“Bahkan pasukan kuda Tuma­pel mening­gal­kan Yang Suci, karena juga Yang Suci tak dapat diper­caya.”

“Hukuman Kediri akan jatuh ke atas kepa­lamu meng­hina wakil­nya, kau, Arok.”

“Yang Suci betul memang tidak mau sahaya periksa. Baik.” Ia ber­pa­ling pada pasuk­an­nya, “Inilah Yang Suci Bela­kangka, Pan­dita Negeri Tuma­pel dan wakil Kediri. Yang Suci inilah yang meni­up­kan keja­hatan dalam hati Sang Akuwu untuk ber­ja­hat ter­ha­dap orang Syiwa.”

“Omong kosong,” bantah Bela­kangka, “Tung­gul Ame­tung sejak mula muncul seba­gai pen­ja­hat. Karena kele­mahan Kediri ia diakui seba­gai pengu­asa Kediri untuk Tuma­pel. Juga Arok pen­ja­hat, hanya tidak diakui oleh Kediri. Hanya oleh Tung­gul Ame­tung. Dua kucing jantan tak dapat ber­kum­pul. Salah seekor harus kalah atau mati. Kucing Tung­gul Ame­tung yang mati Kucing Arok ting­gal hidup, kini menu­duh-nuduh.”

“Dan kalian yang menge­nal Arok, inilah aku, keja­hatan apa pernah aku laku­kan ter­ha­dap kalian?”

Tanca melom­pat naik ke pen­dopo:

“Buka kupingmu. Yang Suci, kuping Kediri. Arok dan teman-teman­nya justru pelin­dung ter­ha­dap keja­hatan Tung­gul Ame­tung dan balat­en­tara Tuma­pel yang dilin­dungi oleh Kediri. Dia dan teman-teman­nya memang pen­ja­hat, deng­ar­kan pen­ja­hat bagi Akuwu karena meng­ha­lang-halangi keja­hat­an­nya. Akuwu jahat karena wakil Kediri mem­be­nar­kan keja­hat­an­nya, bahkan meran­cang­kan untuk­nya.”

Tanca maju meng­ham­piri Bela­kangka, mene­ngok pada pasuk­an­nya:

“Apakah Arok pernah men­ja­hati kalian?”

“Dia lin­dungi kami dari keja­hatan balat­en­tara Tuma­pel yang dilin­dungi Kediri.”

“Tumpas Bela­kangka!” Seo­rang wanita meme­kik sambil naik ke pen­dopo dengan tombak di tangan kanan dan laras panah cepat ter­gan­tung pada bahu. Wanita yang hanya ber­ca­wat itu meng­ham­piri Arok, meme­kik, “Suami, meng­apa tak segera kau tumpas?”

Arok ter­te­gun meli­hat wanita itu, kemu­dian melang­kah cepat meng­ham­piri: “Umang!”

“Inilah istrimu dan anakmu datang,” ia meng­ham­piri Bela­kangka dan menu­ding, “Apa kau ragu­kan lagi. Suami?”

“Biar­lah semua orang tahu akan dosa-dosa Yang Suci. Kita hanya men­di­r­i­kan kem­bali kea­dilan dan kebe­naran, Umang.” Kemu­dian ber­bi­sik, “Benar­kah telah kau kan­dung­kan anakku?”

Seje­nak orang ter­pe­sona meli­hat Umang. Dan dari tengah-tengah pasukan ter­de­ngar:

“Beri jalan untuk Yang Suci Dang Hyang Loh­gawe!”

Brah­mana itu dibantu naik oleh para pra­ju­rit Arok. Umang, Arok dan Tanca ber­su­jud pada­nya dan mem­ber­sih­kan kaki­nya.

“Bangun dan ber­diri, kalian – kalian yang telah roboh­kan keja­hatan tak layak sujud sema­cam ini.”

Semua bangun dan Arok mene­rus­kan:

“Yang Suci Bapa Maha­guru Dang Hyang Loh­gawe, bica­ra­lah.”

“Bawa kemari Para­mesy­wari dan mayat Tung­gul Ame­tung!” Ia ber­pa­ling pada Bela­kangka tapi tidak mene­gur­nya.

“Inilah kira­nya dalang dari pem­bang­kangan ter­ha­dap Kediri,” tuding Bela­kangka pada Loh­gawe. “Mema­suk­kan jago­nya ke peku­wuan untuk meram­pas segala dan semua.”

“Jangan biar­kan pen­ja­hat Kediri itu bicara lebih lama!” Sese­o­rang meme­kik.

Para tam­tama yang duduk ber­sila masih tetap pada tem­pat­nya, hanya berani meng­ge­rak­kan leher dan tapuk mata.

Para­mesy­wari datang dalam iringan pasukan penga­wal. Lang­sung ia ber­su­jud pada Loh­gawe:

“Ber­diri kau, Dedes, anak Mpu Parwa, Para­mesy­wari Tuma­pel,” sambut brah­mana itu, “aku datang untuk sak­si­kan run­tuh­nya Tung­gul Ame­tung.”

“Dialah yang jelas dalang run­tuh­nya Tuma­pel dan Akuwu,” pekik Bela­kangka. “Tak ada sesu­atu yang ber­hu­bungan dengan Kediri. Semua yang telah ter­jadi ting­gal urusan Tuma­pel dan kawu­la­nya,” sang­gah Loh­gawe. “Meng­erti kalian semua? Kawula Tuma­pel tak pernah ber­hu­tang sebu­tir beras pun pada Kediri.”

“Tuma­pel adalah bagian dari Kediri, Tuma­pel harus meng­hor­mati wakil Kediri,” pekik Bela­kangka.

“Tuma­pel tetap bagian Kediri,” jawab Loh­gawe, “hanya tidak meng­a­kui pen­ja­hat yang kebe­tulan jadi wakil­nya. Tuma­pel punya agama dan ugama sen­diri, tak perlu sama dan tak perlu diten­tu­kan oleh Kediri. Tak ada itu ter­se­but dalam rontal.”

Hujan turun dengan deras­nya. Seba­gian ter­be­sar dari pasukan luar kota yang menge­pung dipe­rin­tah­kan ber­te­duh dan tetap siaga. Bebe­rapa ratus orang yang ting­gal ber­jaga dipe­rin­tah­kan naik ke pen­dopo. Suara per­ca­kapan di pen­dopo ter­sapu oleh deras hujan, guruh dan petir. Semua damar di jalanan depan peku­wuan di pin­dah­kan di bawah-bawah atap yang ter­se­dia.

“Semua orang berhak meli­hat Tung­gul Ame­tung,” kata Loh­gawe, “untuk meli­hat tam­pang orang yang selama ini men­ja­hat­i­nya.”

Pasukan luar kota itu ber­so­rak mengi­a­kan. Mereka yang ber­te­duh datang kem­bali, telah merugi mening­gal­kan peris­tiwa ber­se­ja­rah yang takkan ter­u­lang kem­bali untuk selama-lama­nya itu. Tanpa meng­hi­r­au­kan hujan dan dingin mereka mera­pat dan meng­in­tip dari sela-sela kaki teman­nya di pen­dopo.

“Jangan ber­se­dih, Dedes, bahwa seperti itu nasib mayat dari sua­mimu.”

Dedes meng­ang­kat sembah:

“Bila sudah sepa­tut­nya dia jalani, biar­lah dia men­ja­lan­i­nya. Yang Suci. Biar­lah semua dapat meli­hat orang yang pernah men­ja­hat­i­nya.”

“Dan sejak saat ini, Dedes, Para­mesy­wari Tuma­pel, setiap pen­ja­hat harus diper­li­hat­kan pada mereka yang pernah dija­hat­i­nya, biar orang meng­erti tam­pang dan sanu­bari pen­ja­hat!”

“Sahaya, Yang Suci.”

“Dan kalian semua, selu­ruh pasukan Arok yang hadir, dari dalam dan luar kota, juga kalian para tam­tama Tuma­pel, per­ha­ti­kan pula tam­pang Yang Suci Bela­kangka ini, yang meng­gu­rui Tung­gul Ame­tung dalam keja­hatan ter­ha­dap kawu­la­nya sen­diri....” Loh­gawe ter­henti bicara.

“Yang Ter­hor­mat Dang Hyang Loh­gawe. Apakah pantas menu­duh wakil Kediri seperti itu?”

“Itulah Yang Suci Bela­kangka, meng­aku wakil dari Kediri. Sebe­lum keda­tangan­nya, Tung­gul Ame­tung hanya pen­ja­hat biasa, peram­pok, peram­pas, pen­cu­lik dan pem­bu­nuh. Sete­lah keda­tangan­nya orang Syiwa mulai dia­ni­aya. Per­bu­dakan mulai dija­lan­kan untuk harus men­da­tang­kan emas bagi mereka berdua Inilah orang yang meran­cang per­bu­dakan. Kenal­i­lah dia. Sehingga per­bu­dakan yang celah diha­pus oleh Sri Erlangga dua ratus tahun yang lalu muncul kem­bali, mem­pa­ri­a­kan kawula hanya untuk dapat­kan emas. Itulah dosa Yang Suci.”

Dari barisan luar kota ter­de­ngar sorak pasukan Mun­d­ra­yana. Mereka men­de­sak dan naik ke pen­dopo. Mun­d­ra­yana, basah kuyub dengan mata­s­a­tu­nya yang menyala meng­ham­piri Bela­kangka:

“Inilah rupa­nya orang Suci yang mem­bu­dak­kan aku selama sepu­luh tahun.”

Dalam waktu pendek Bela­kangka ter­ku­rung oleh para bekas budak basah kuyub yang menyala karena amarah. Dan Bela­kangka kehi­langan kepri­ba­dian dalam kepungan para peng­an­cam.

“Kem­bali kalian!” Perin­tah Arok. “Kalian hanya deng­ar­kan agar meng­erti duduk per­kara.”

Mun­d­ra­yana dan anak buah­nya turun dari pen­dopo sambil ber­so­rak menan­dingi bising hujan mening­gal­kan bercak-bercak di lantai. Bela­kangka ter­diam meng­a­lami keme­ro­sotan sema­ngat.

Seba­gian ter­be­sar pasukan luar kota masih ter­diam, tidak dapat meng­i­kuti per­so­alan, tidak meng­erti benar duduk per­kara.

“Yang Suci telah menu­duh aku meran­cang­kan peng­gu­lingan Tung­gul Ame­tung, Akuwu Tuma­pel. Tidak perlu ditu­duh­kan. Semua kawula yang telah dir­u­gi­kan oleh­nya meng­hen­daki demi­kian. Itu adalah urusan Tuma­pel, bukan Kediri. Seba­lik­nya Yang Suci seba­gai wakil Kediri hendak menum­bang­kan dia juga, hanya mela­lui penum­pasan ter­ha­dap Arok dan pasuk­an­nya. Yang Suci telah ber­dosa ter­ha­dap Tuma­pel. Ken Dedes, Yang Mulia Para­mesy­wari Tuma­pel, Yang Mul­i­a­lah seka­rang yang memu­tus­kan.”

Dedes meng­ang­kat pan­dang pada Arok. Ia ter­te­gun menye­dari hadir­nya seo­rang pra­ju­rit wanita muda, hanya ber­ca­wat, ber­sen­ja­ta­kan tombak dan panah cepat, ber­diri di sam­ping Arok. Ia pak­sa­kan diri ter­se­nyum, kemu­dian bicara pada Arok: “Arok, sing­kir­kan Yang Suci Bela­kangka dari pen­dopo. Beri­kan kesem­patan pada semua orang untuk meli­hat orang yang selama ini telah men­ja­uh­kan mereka. Dialah biang keladi sesung­guh­nya dari keja­hatan atas orang Syiwa dan per­bu­dakan yang dila­ku­kan oleh men­di­ang sua­miku.”

“Turun­kan Bela­kangka dari pen­dopo,” perin­tah Arok pada penga­wal­nya, “dan per­ton­ton­kan pada umum mulai saat ini, sambil menunggu jatuh­nya hukuman.”

Pasukan penga­wal meng­ge­lan­dang wakil Kediri turun dari pen­dopo – mema­suki hujan, disam­but dengan sorak-sorai oleh pasukan Mun­d­ra­yana.

Kini pan­dang orang ter­tuju pada Kebo Ijo dan para tam­tama.

“Beri jalan pada Nyi Lem­bung!” Sese­o­rang meme­kik dari para penge­pung. Dan jalan ke tangga ter­si­bak.

“Beri jalan pada emak Arok!”

Seo­rang perem­puan ditu­run­kan dari tandu dan dipa­pah naik ke pen­dopo. Begitu sampai di gela­dak, ia lari, menub­ruk Arok.

“Temu! Temu!” Ia ter­hi­sak-hisak. “Aku tahu akhir­nya kau menang juga atas pem­bu­nuh-pem­bu­nuh bapakmu.”

Semua mata ter­tuju pada Nyi Lem­bung, yang untuk kesem­patan ini menge­na­kan pakai­an­nya ter­baik. Dan seba­gian dari pakaian itu telah basah mene­tes­kan air di lantai gela­dak.

Ken Dedes meng­ham­piri Nyi Lem­bung. Ber­ta­nya:

“Inikah emak Arok?”

“Inilah emak sahaya, Yang Mulia.”

“Dan siapa perem­puan muda ini?” Ia mene­ngok pada Umang.

“Inilah Umang, sau­dari pungut dan istri sahaya, pra­ju­rit dari pasukan luar kota sebe­lah selatan.”

Air muka Dedes beru­bah. Pan­dang­nya gugup. Nampak ia ber­u­saha mengu­a­sai diri, kemu­dian ter­se­nyum:

“Kita masih sibuk mengu­rus semua ini.”

“Temu, tun­juk­kan padaku siapa-siapa pem­bu­nuh bapakmu.”

Arok menun­tun perem­puan tua itu pada kelom­pok para tam­tama dan menu­ding:

“Semua di antara mereka, Mak.”

“Dan kau biar­kan mereka tenang-tenang seperti tak punya dosa pada manu­sia dan Hyang Wisynu?”

“Setiap orang akan men­da­pat­kan kea­dilan yang setim­pal dengan dhar­ma­nya, Mak.”

“Demi emakmu ini, Temu, bina­sa­kan mereka seba­gai­mana mereka mem­bi­na­sa­kan bapakmu.”

“Bina­sa­kan mereka semua!” Orang mulai ber­so­rak gegap gem­pita meneng­ge­lam­kan derai hujan.

Ken Dedes lupa pada ling­kung­an­nya. Pan­dang­nya ter­tuju hanya pada Umang: seo­rang gadis pra­ju­rit, ber­bi­bir tebal dan ber­mata kecil, kurus sehingga hanya buah­da­da­nya saja nampak daging pada tubuh­nya, mata menyala mem­per­ha­ti­kan segala yang ter­jadi.

Di luar hujan ber­henti. Pasukan Mun­d­ra­yana ber­so­rak-sorai meng­a­rah Bela­kangka dan meng­hu­jan­i­nya dengan maki dan kutukan.

Arok mem­bawa Nyi Lem­bung kem­bali ke tem­pat­nya, meng­ha­dap­kan­nya pada Para­mesy­wari.

“Adakah emakmu ini Wisynu, Arok?”

“Wisynu, Yang Mulia.” Ia melang­kah pada Umang, ber­ta­nya: “Adakah kau juga Wisynu?”

“Wisynu,” jawab Umang.

Dedes ber­ba­lik dan melang­kah pada Dang Hyang Loh­gawe. Brah­mana itu menyam­but­nya dan ber­kata:

“Tak ada salah­nya mereka orang Wisynu.” Dedes balik kanan jalan dan ber­henti di hadapan Kebo Ijo.

Tanpa men­da­pat per­ha­tian orang Tan­tri­pala naik ke pen­dopo, lang­sung pergi pada Loh­gawe dan meng­ang­kat sembah. Dan Loh­gawe ber­seru pada Dedes yang memung­gung­i­nya:

“Para­mesy­wari, tak ada salah­nya orang Wisynu itu. Orang Buddha pun tiada. Yang ber­sa­lah adalah yang ber­dosa ter­ha­dap para dewa dan sesa­ma­nya.”

“Arok! Meng­apa kau diam saja?” Pekik seo­rang dari pasukan luar kota. “Kita­lah yang menang atas Tuma­pel. Kaulah yang sudah pimpin semua kita. Meng­apa kau diam saja?”

Arok ber­ja­lan melang­kah pada pasukan luar kota, dan ber­bi­sik pada salah seo­rang di anta­ra­nya:

“Jangan kalian kehi­langan kesa­baran – kalian yang telah ber­ta­hun-tahun ber­ke­lahi...,” dan ia ber­ba­lik ke tem­pat­nya. Menye­dari hadir­nya Tan­tri­pala ia lang­sung datang pada­nya dan meng­ang­kat sembah.

Ling­sang melom­pat ke pen­dopo dan lang­sung meng­ha­dap Para­mesy­wari tanpa menyem­bah:

“Yang Mulia, beri­kan kem­bali pada sahaya emak sahaya.”

Cepat-cepat Dedes menyeka muka, ter­se­nyum dan ber­ta­nya manis:

“Kau pra­ju­rit luar kota?”

“Sahaya, Yang Mulia.”

“Siapa emakmu, dan meng­apa kau tuntut dari aku?”

“Sang Akuwu telah men­cu­l­ik­nya sewaktu sahaya masih kecil, dibawa ke peku­wuan dan tak pernah keluar lagi. Dengan bapak dan sau­dara sahaya diusir dari Tuma­pel.”

“Siapa emakmu?”

“Rimang!”

Tanca yang sejak tadi tak bicara, kini men­da­pat kesem­patan ber­buat, ber­seru-seru keluar:

“Rimang! Rimang! Naik kau ber­sama Oti!”

Rimang naik ke atas, lang­sung meme­luk kaki Para­mesy­wari.

“Rimang?” Tanya Ken Dedes. “Lihat­lah, apakah ini benar anakmu.”

Rimang bang­kit dan meng­a­wasi Ling­sang. “Itulah emakmu, Ling­sang.”

Mereka berdua ber­ha­dap-hadapan, kemu­dian ber­pe­lukan “Ampuni aku, Mak, meng­gu­na­kan nama Wisynu Ling­sang begini.”

Di luar mulai riuh orang men­je­rit-jerit: “Perang ini bukan untuk per­te­muan kelu­arga!”

“Beri­kan kea­dilan setim­pal pada yang ber­dosa!”

“Arok. Kita­lah yang menang, bukan Para­mesy­wari Tuma­pel!”

“Nya­ta­kan sesu­atu pada kami, Arok!”

“Nya­ta­kan! Nya­ta­kan!”

Sekali lagi Arok meng­ham­piri ling­karan pasukan luar kota, ber­seru dengan suara lan­tang:

“Deng­ar­kan kalian – kalian yang telah ber­ta­hun-tahun sabar ber­pe­rang, dan kini tidak sabar meli­hat penye­le­saian...”, ia ber­pa­ling ke bela­kang, meli­hat Dang Hyang Loh­gawe, kemu­dian datang men­jem­put­nya, dan meng­a­jak­nya ber­ha­dapan dengan pasukan-pasukan luar kota. “Deng­ar­kan kalian – dengan ini aku nya­ta­kan: Kita telah menang perang ter­ha­dap Tuma­pel. Mulai saat ini selu­ruh Tuma­pel adalah milik kita sen­diri.” Orang ber­so­rak dan ber­jing­k­rak.

“Akuwu Tuma­pel Tung­gul Ame­tung kita dapat­kan mati di bawah pedang kebo Ijo, tam­tama Tuma­pel sen­diri.” Tak ada sorak dan tak ada Jing.

“Bukan ber­arti Kebo Ijo lebih ber­ha­sil dari­pada kalian. Justru karena desakan kalian maka kedu­dukan Tung­gul Ame­tung men­jadi lemah dan tidak ber­daya. Kea­daan itu diper­gu­na­kan oleh Kebo Ijo untuk mem­bu­nuh­nya. Dan dia tidak mem­bu­nuh­nya dalam kea­daan perang – sedang seo­rang diri dalam kea­daan mabok tuak.”

Sunyi-senyap.

“Selu­ruh balat­en­tara Tuma­pel sudah tidak ber­daya meng­ha­dapi desakan dari luar kota dan siasat kita dari dalam kota. Kebo Ijo dan gerak­an­nya, Gerakan Empu Gan­dring, tidak mem­pu­nyai sang­kut­paut dengan kita. Dia adalah pen­ja­hat – telah mem­bu­nuh orang tanpa perang.”

Tetap sunyi-senyap.

“Kita semua tidak mela­wan Kediri, kita semua mela­wan keja­hatan Tung­gul Ame­tung.”

Di pen­dopo, kecu­ali Kebo Ijo dan para tam­tama yang duduk dalam pen­ja­gaan pasukan penga­wal, Ken Dedes ber­sama dengan yang lain­nya ber­diri di bela­kang Arok dan Dang Hyang Loh­gawe.

Ken Dedes ber­diri tepat di bela­kang Loh­gawe. Air­mata meng­a­lir menye­ber­a­ngi pipi­nya. Ia kuatir tem­pat­nya seba­gai brah­mani dan Para­mesy­wari ter­de­sak oleh kea­daan baru Ia merin­du­kan ayah­nya, meng­ha­rap­kan penga­ruh­nya akan menye­la­mat­kan kedu­duk­an­nya. Ia tak rela di dunia ini ada seo­rang Umang, perem­puan sudra dengan per­leng­kapan perang meng­hi­asai dir­i­nya, sedang pada badan­nya ber­ki­lauan per­hi­asan emas dan intan. Dada­nya sesak. Akhir­nya ia tak dapat mena­han hati dan mena­ngis ter­se­dan-sedan.

Loh­gawe dan Arok meno­leh pada­nya.

“Meng­apa kau mena­ngis, Cucu?”

“Ayah sahaya, Yang Suci.”

Tanca men­de­sak ke depan dan mem­be­ri­ta­kan:

“Yang Ter­hor­mat Mpu Parwa meno­lak meng­in­jak­kan kaki di bumi Tuma­pel.”

Tangis Dedes seka­li­gus padam. Ia tahu ayah­nya tidak dapat meng­am­puni dir­i­nya: ia tidak lebih tinggi dari­pada Umang.

“Terus­kan, Arok!”

Orang mulai ber­seru-seru kehi­langan kesa­baran.

“Ingat-ingat kalian, kita tidak mela­wan Kediri. Bela­kangka kita adili, tetapi belum kita putus­kan. Kita tidak meng­a­dili Kediri, kita meng­a­dili Bela­kangka yang mela­ku­kan per­se­ku­tuan dalam keja­hatan dengan Tung­gul Ame­tung di Tuma­pel. Seki­ra­nya Sang Akuwu tidak ter­buru mati, dia pun akan kita adili. Tetapi kalau Sri Baginda Kre­ta­jaya tidak senang pada kita dan mengir­im­kan balat­en­ta­ra­nya, kita akan hadapi.”

Sorak riuh ber­talu-talu.

“Tuma­pel tanpa Akuwu Tung­gul Ame­tung seka­rang tetap berada dalam kawasan Kediri.”

“Tidak perlu!” Orang ramai-ramai meme­kik mem­ban­tah.

Dang Hyang Loh­gawe meng­ang­kat satu tangan. Orang pun ber­lu­tut dan meng­ang­kat sembah.

“Deng­ar­kan kalian semua yang telah meme­nang­kan perang. Dengan keme­nangan ini telah sele­sai babak per­la­wanan ter­ha­dap

Akuwu Tuma­pel Tung­gul Ame­tung. Kita semua mema­suki babak lain, yang sama sekali ber­la­inan dari­pada sebe­lum­nya. Jangan bangun­kan macan tidur. Para dewa telah mem­be­nar­kan keja­tuhan Tung­gul Ame­tung dan keme­nangan kita. Akuwu itu mati di bawah pedang Kebo Ijo atau kita, sama saja, karena itulah kehen­dak para dewa.”

Di bela­kang Loh­gawe kem­bali Dedes mena­ngis ter­se­dan-sedan menge­ta­hui tak ada seo­rang pun mem­per­ha­ti­kan dan meng­hor­mati dir­i­nya. Kenik­matan keku­a­saan itu ia rasai men­da­dak lenyap dari tangan­nya. Jatuh pecah-belah di lantai, tak ter­be­tul­kan lagi. Ia merasa seba­tang kara di tengah-tengah keri­u­han ini, seo­rang yatim-piatu di tengah-tengah padang batu. Ia meli­hat keku­a­saan itu tanpa sema­u­nya telah ber­a­lih tangan, pada Arok dan Loh­gawe. Dalam hati ia ber­mo­hon pada Hyang Maha­dewa agar tempat dan kedu­duk­an­nya tidak akan ter­de­sak oleh sudra ber­bi­bir tebal, ber­mata kecil dan hanya ber­da­ging pada dada, yang ber­nama Umang itu. Ia tak deng­ar­kan ucapan Loh­gawe.

“Aku, Dang Hyang Loh­gawe, meres­tui keme­nangan ini, keme­nangan kita semua.” Orang kem­bali ber­so­rak-sorai.

“Dan aku benar­kan Arok seba­gai orang per­tama untuk selu­ruh Tuma­pel!”

Sorak-riuh rendah ber­ge­lom­bang-gelom­bang men­je­lang tengah malam seakan tanpa habis-habis­nya. “Bicara, kau, Arok!”

“Deng­ar­kan, kalian!” Kea­daan reda, “bahwa keme­nangan bukan satu-satu­nya buah usaha. Maka jangan ulangi keja­hatan Tung­gul Ame­tung dan balat­en­ta­ra­nya. Jangan ada seo­rang pun yang meram­pok, men­curi, meram­pas, meng­a­n­i­aya, mem­per­kosa seperti mereka. Dalam hal ini aturan dari Sri Baginda Erlangga masih tetap ber­laku: hukuman mati ter­ha­dap mereka itu. Juga ter­ha­dap diriku bila dalam babak baru ini mela­ku­kan­nya.”

Sorak meng­ge­lom­bang lagi, ber­a­lun dan beriak.

“Aku, Arok, adalah seo­rang sudra seperti kalian semua. Karena itu semua sudra, jangan ber­teng­kar. Baik kaum Wisynu, Syiwa, Buddha, Kala­cakra dan Tan­tra­yana, jangan ber­teng­kar karena ber­la­inan meng­a­gung­kan para dewa ...”

Pera­saan tidak menentu dalam dada Ken Dedes men­da­dak hilang men­de­ngar itu. Nafas­nya ter­e­ngah-engah meno­lak, mem­bang­kang ter­ha­dap per­nya­taan itu.

Tan­tri­pala merang­kul Arok dan mem­bi­sik­kan sesu­atu.

“Kalian lihat, aku adalah seo­rang Syiwa, istriku, Umang, orang Wisynu, bapa ang­katku, Bango Sam­pa­ran dan Ki Lem­bung juga orang Wisynu, guruku. Yang Ter­hor­mat Tan­tri­pala adalah Buddha, maha­gu­r­uku, Yang Suci Dang Hyang Loh­gawe adalah Syiwa. Aturan-aturan yang baik selama dua ratus tahun ini adalah karu­nia raja Wisynu, Sri Erlangga. Yang jadi ukuran baik tidak­nya sese­o­rang bukan bagai­mana menyem­bah para dewa, tapi dharma pada sesa­ma­nya.”

Dedes merasa ter­sing­gung nama­nya tiada dise­but-sebut, tapi ia ber­diam diri, menge­ta­hui balat­en­tara yang dise­rah­kan kepa­da­nya telah ditum­pas oleh pasukan luar kota Arok.

“Arok! Kaulah raja kami!” Sese­o­rang meme­kik.

“Tidak! Tak diper­lu­kan dua orang raja di bumi Jawa.”

Dang Hyang Loh­gawe buru-buru meng­ang­kat tangan minta per­ha­tian:

“Kalian telah deng­ar­kan dia, Arok, orang yang cakap, pandai dan bijak­sana, yang akan mem­bawa kalian pada kege­mi­l­angan. Dia men­da­pat pan­caran sepe­nuh­nya dari Hyang Bat­hara Guru. Dia adalah orang ter­baik dari kalian. Dia adalah titisan Hyang Wisynu, karena dialah yang meme­li­ha­ra­kan kalian dari ben­cana Tung­gul Ame­tung dan balat­en­ta­ra­nya. Dia adalah Akuwu-mu, Akuwu Tuma­pel!”

Orang kem­bali ber­so­rak-sorai.

“Bebas­lah kalian kini ber­temu dengan kelu­arga kalian, dengan orang­tua, anak dan istri. Sebe­lum ini per­bu­dakan telah diha­pus­kan oleh Arok dengan sen­jata. Tak ada per­bu­dakan lagi boleh ber­laku.”

Sorak-sorai kem­bali meng­ge­lom­bang, ber­a­lun, beriak. Loh­gawe mem­beri isya­rat pada Arok untuk ber­lu­tut di hadap­an­nya. Arok ber­lu­tut dan ia angkat tangan kanan­nya di atas kepa­la­nya:

“Aku, Dang Hyang Loh­gawe, dengan petun­juk Hyang Maha­dewa telah benar­kan dia, Arok, men­jadi Akuwu Tuma­pel. Semua kawula Tuma­pel, beri­lah hormat pada Akuwu baru ini...”

Kecu­ali Dang Hyang Loh­gawe dan Tan­tri­pala semua ber­lu­tut dan meng­ang­kat sembah. Juga mereka yang di bela­kang, juga para tang­kapan, yang meng­ang­kat sembah sambil meno­leh ke sam­ping.

Suatu tekanan berat telah memaksa Ken Dedes ber­lu­tut di hadapan umum dan meng­ang­kat sembah. Ia menya­dari: riwa­yat dir­i­nya seba­gai peme­gang keku­a­saan telah sele­sai, dan justru karena itu ia merin­du­kan­nya.

Orang telah kem­bali ber­diri. Juga Arok.

Loh­gawe ber­ba­lik, dan:

“Dalam keme­nangan kalian ini semua telah mem­be­ri­kan dhar­ma­nya. Juga Para­mesy­wari Tuma­pel, anak Mpu Parwa, Ken Dedes, telah men­du­duki tempat pen­ting di antara semua kalian. Yud­d­ha­gama1 tidak mem­be­nar­kan ia jadi orang jarahan perang. Para­mesy­wari Tuma­pel adalah juga ber­sama semua kalian dalam per­gu­latan ini. Kare­na­nya Ken Dedes tetap Para­mesy­wari Tuma­pel.”

“Umang Para­mesy­wari!” Pekik Oti dari bela­kang Umang.

“Umang Para­mesy­wari!” Sambut semua pasukan. “Umang! Umang! Tidak lain dari Umang!”

Loh­gawe meng­ang­kat tangan men­di­am­kan:

“Dang Hyang Loh­gawe belum sele­sai bicara. Lihat­lah, semua diatur secara ter­buka. Aku ulangi: Ken Dedes tetap Para­mesy­wari Tuma­pel. Ten­tang Umang, istri Arok? Dia juga Para­mesy­wari.” Ia menyi­la­kan Umang dan Dedes tampil ke depan, dan dita­rik­nya Arok ber­diri di tengah-tengah.

“Lihat­lah, Dang Hyang Loh­gawe tidak menya­lahi kehen­dak para dewa, mereka ditem­pat­kan sesuai dengan dhar­ma­nya. Hor­mat­i­lah mereka ber­tiga.”

Sekali lagi orang ber­lu­tut dan meng­ang­kat sembah.

“Sam­but­lah pengu­kuhan ini!”

Sorak-sorak ber­talu menan­tang tengah malam. Seki­las alam terang oleh petir yang diba­rengi ulah ledak­an­nya.

“Bicara kau, Arok!” Perin­tah Loh­gawe.

“Deng­ar­lah aku ber­janji, seba­gai Akuwu Tuma­pel per­bu­dakan tidak akan dia­da­kan lagi, aku lawan dan aku hapus­kan. Dengan ban­tuan semua kalian akan kutum­pas keja­hatan dalam bentuk dan cara apa pun. Aku tidak akan meng­haki milik kalian, juga tidak akan meram­pas apa pun dari siapa pun. Dua orang wanita ini saja yang akan menyer­tai hidupku seba­gai istri. Dan akan aku pimpin kalian meng­ha­dapi dan mela­wan keja­hatan dari luar Tuma­pel, dari siapa pun datang­nya.”

Kem­bali orang ber­se­ma­ngat perang. Dan orang meng­erti kata-kata itu ditu­ju­kan pada Kediri.

Seje­nak kea­daan men­jadi tenang. Loh­gawe meng­ang­kat tangan:

“Akuwu Tuma­pel baru, Arok, adalah sudra, ber­laku satria dan ber­hati brah­mana. Para­mesy­wari Ken Dedes adalah brah­mani, dengan gelar Ken bikinan Bela­kangka, dan barang­tentu dibe­nar­kan oleh Kediri. Aku sen­diri tidak tahu arti­nya. Bagai­man­a­pun gelar itu telah ber­laku. Maka pada kesem­patan ini, deng­ar­kan semua kalian, mulai saat ini Arok juga ber­ge­lar Ken. Umang, Para­mesy­wari Tuma­pel adalah juga seo­rang sudra. Untuk­nya, juga pada malam ini ber­ge­lar Ken.”

Kem­bali orang ber­so­rak riuh-rendah, kecu­ali para tang­kapan di latar bela­kang.

“Bica­ra­lah kau, Arok, semua anak buahmu telah lelah dengan per­tem­puran sehari ini.”

“Teri­ma­ka­sih pada semua kalian. Ber­as­ra­malah kalian di bawah petun­juk pasukan kota. Dan hubung­kan syukur kepada para dewa untuk keme­nangan kita semua ini, keme­nangan yang men­ja­min tak seo­rang pun akan jadi budak lagi.”

Kepungan itu ber­so­rak-sorai, makin lama kepa­datan itu makin meni­pis. Akhir­nya hanya ting­gal pasukan penga­wal.

Tanca, Bana, Rimang, Oti, Arih-Arih, San­ting, Tan­tri­pala, Loh­gawe dan Mun­d­ra­yana meng­iring­kan Akuwu Tuma­pel baru masuk ke dalam peku­wuan, ke Bilik Para­mesy­wari sete­lah perin­tah dija­tuh­kan untuk menying­kir­kan para tang­kapan.

Mema­suki Bilik Para­mesy­wari Ken Dedes ber­henti di depan per­a­duan, yang diti­dur­i­nya pada bulan per­tama ia mema­suki peku­wuan. Kini ia harus ber­bagi tempat dengan seo­rang lelaki yang jadi sua­mi­nya. Arok – seo­rang lelaki yang dicin­ta­i­nya dengan tulus. Tapi ia tidak rela ber­bagi keku­a­saan deng­an­nya. Dan kini ia pun harus ber­bagi tempat dengan Para­mesy­wari lain, Ken Umang – seo­rang wanita yang baru dike­nal­nya. Ia tidak rela ber­bagi per­a­duan dan ber­bagi keku­a­saan deng­an­nya. Ia sadar akan dir­i­nya waktu lengan Arok meme­luk leher­nya

Dengan tangan kanan. Dan ia lihat tangan kir­i­nya meme­luk Ken Umang.

“Jangan kalian berdua sampai pernah ber­teng­kar. Kalian berdua adalah kakak-ber­a­dik demi kese­la­matan semua. Per­teng­karan kalian bisa meram­bat keluar dan jadi per­teng­karan umum.”

Ber­tiga lewat tengah malam itu turun dari peku­wuan menuju ke pura dalam untuk menyam­pai­kan puji-syukur kepada para dewa.

Ken Dedes kehi­langan keda­mai­an­nya mema­suki pura ber­sama dengan orang Wisynu, juga Para­mesy­wari Tuma­pel. Dili­hat­nya Ken Arok dan Ken Umang telah teng­ge­lam dan puji syukur. Dan waktu ia ber­pa­ling ke bela­kang dili­hat­nya Bango Sam­pa­ran dan Bana juga sedang teng­ge­lam. Dari cara mereka ber­sim­puh dan menun­duk dapat dike­ta­hu­i­nya: dua-duanya orang Wisynu.

Ia meli­rik pada sua­mi­nya yang sedang teng­ge­lam di sam­ping kir­i­nya. Apakah benar ucapan Loh­gawe, dia men­da­pat pan­caran sepe­nuh­nya dari Hyang Bat­hara Guru dan titisan Hyang Wisynu Untuk per­tama kali ia mera­gu­kan brah­mana puncak itu. Lelaki di sebe­lah kir­i­nya memang sangat ber­harga untuk­nya, sangat ber­harga untuk cinta dan hidup­nya. Dia telah per­se­m­bah­kan keme­nangan untuk kawula Tuma­pel dengan mus­li­hat ber­muka ganda dan cara tanpa bilangan. Dan ia tahu, keme­nangan itu tidak diper­se­m­bah­kan kepada dir­i­nya. Sejak per­tama kali naik ke pang­gung keku­a­saan Tuma­pel dia telah mem­bawa serta deng­an­nya orang Wisynu, Buddha, Tan­tra­yana dan Kala­cakra, orang-orang bodoh yang hanya menyem­bah lelu­hur. Ia tidak yakin Ken Arok akan men­du­duk­kan kem­bali Hyang Syiwa pada cak­ra­war­ti­nya.

Ia meng­erti Ken Arok mem­pu­nyai cara ber­pe­rang tanpa mem­buka gelar, tidak seperti para satria sebe­lum ini. Dan dengan cara-cara ber­pe­rang itu ia takkan mung­kin ter­ka­lah­kan. Kese­la­matan dan kea­gungan Tuma­pel ter­ja­min di dalam tangan­nya. Hanya ia sen­diri kehi­langan tempat di sam­ping suami yang dicin­ta­i­nya, kehi­langan balat­en­tara yang dapat dipe­rin­tah­nya, kehi­langan keper­ca­yaan dari orang­tua yang dicin­tai dan dipu­ja­nya setu­lus hati. Dan dalam kan­dung­an­nya seo­rang bayi, anakku dari musuh sua­mi­nya, sedang menunggu giliran untuk jadi ber­ku­asa atas Tuma­pel. Dan Para­mesy­wari lain itu, juga sedang mengan­dung. Juga dalam kan­dung­an­nya seo­rang bayi sedang menunggu giliran untuk jadi pengu­asa atas Tuma­pel. Dan bayi itu adalah anak Ken Arok yang menang atas Tuma­pel. Bayi­nya adalah anak dari yang dika­lah­kan­nya.

Ia pejam­kan dan kedip­kan mata. Ia lihat kege­lapan di hadap­an­nya, dan ia tidak rela.

Untuk per­tama kali ia biar­kan air­ma­ta­nya ber­li­nang.

Naskah “Arok dan Dedes”. Dise­le­sai­kan: 1 Okto­ber – 24 Dese­m­ber 1976

Mako, Buru2, 24 Dese­m­ber 1976



Daftar Kata

Atharwaweda, kitab-kitab suci agama Hindu.

bathari, dewa perem­puan.

berhartal, dicat dengan seje­nis boreh ber­warna kuning.

bertugal, ber­diri tegak mema­tung.

binggal, gelang pada kaki.

cantrik, ting­kat per­tama dalam tata pen­di­dikan kuno.

disambangi, sowan, datang mene­ngok.

dudul, ukiran timbul pada kayu atau logam.

jahawe, seje­nis tum­buhan gambir, kawan makan sirih.

jajaro, barisan pasukan pagar pen­jaga.

jejanggan, ting­kat ketiga dalam tata pen­di­dikan kuno.

kedi, kela­inan sek­sual (banci), perem­puan seba­gai laki-laki atau seba­lik­nya.

kemit, piket jaga.

mangayu, ting­kat kedua dalam tata pen­di­dikan kuno.

mangir, bedak yang harum untuk kulit wanita.

mengapurancang, menang­kup­kan kedua belah tela­pak tangan.

menepis, men­je­jak sedi­kit di atas tanah.

menyumrambahi, meng­a­yomi dan men­jelma nyata.

mesanggrah, men­di­r­i­kan tenda untuk meng­i­nap.

mewara-warakan, meng­a­da­kan sayem­bara.

penohok, lem­bing untuk men­cong­kel batu atau mem­buat lubang dalam tanah.

pramudita, alam semesta.

rontal, tulisan di atas daun lontar (Borassus flabellifer).

sangkala, terom­pet dari kulit kerang.

sarwacita, sege­nap serba ben­tuk­nya.

silpasastrawan, pujangga dan seni­man kera­jaan.

tapas kelapa, penu­tup kepala ter­buat dari anyaman daun kelapa.

telengnya, kelo­pak dan bola mata­nya.

tamana, ruangan sing­ga­sana raja.

tungguk kemit, gardu/rumah pang­kalan piket jaga.

uluguntung, ting­kat keem­pat dalam tata pen­di­dikan kuno.

wadad, mena­han diri untuk tidak meng­ga­uli wanita.


Catatan tentang Edisi Ini

Teks Arok Dedes dalam edisi ini ber­a­sal dari cetakan kelima Hasta Mitra, Janu­ari 2002. Kami bekerja dengan dua salinan digi­tal dari cetakan itu: pin­daian foto halaman demi halaman, dan sebuah salinan teks. Salinan teks itu kami ban­ding­kan dengan pin­daian, lalu kami betul­kan salah baca mesin yang ter­se­bar di dalam­nya: huruf yang ter­tu­kar, kata yang ter­po­tong atau ter­ga­bung, dan tanda hubung pada kata ulang yang hilang.

Ejaan kami biar­kan seperti ter­ce­tak pada 2002, ter­ma­suk bentuk-bentuk yang dipi­lih Pram sen­diri, seperti matari, sahaya, menyedari, dan tatatertib. Salinan teks yang kami pakai di bebe­rapa tempat menu­lis­kan matahari; di semua tempat itu kami kem­ba­li­kan ke matari sesuai buku cetak­nya. Judul bab dan tanda per­gan­tian adegan kami pul­ih­kan dari pin­daian.

Catatan kaki ber­no­mor dari Pram dan pener­bit tetap pada tem­pat­nya. Catatan yang dia­wali tulisan Catatan penyunting adalah tam­ba­han kami, untuk mem­bantu pem­baca hari ini menge­nali nama, tempat, dan karya yang dise­but dalam cerita. Daftar tokoh di awal buku juga tam­ba­han kami.

Tiga sil­si­lah di awal buku kami gambar ulang dari edisi 2002. Kete­rangan kecil di bawah seba­gian nama, seperti tahun peme­rin­tahan, tidak ter­baca pada pin­daian, sehingga tidak kami ser­ta­kan. Satu nama anak Uda­yana pada sil­si­lah Wangsa Isana juga tidak ter­baca dan kami ting­gal­kan.

Nama keem­pat putri Ker­ta­na­gara, yang seba­gian tidak ter­baca pada pin­daian, kami tulis menu­rut ejaan yang lazim. Kesal­ahan apa pun yang masih ter­sisa dalam penya­li­nan ini adalah tang­gungan kami.


Daftar Karya Pramoedya Ananta Toer

  • Tulisan-tulisan semasa di SD, satu di anta­ra­nya pernah dita­war­kan pada pener­bit Tan Koen Swie, Kediri, dito­lak. Semua hilang.
  • Sepoeloeh Kepala Nica (1946), hilang di tangan pener­bit Balingka, Pasar Baru, Jakarta, 1947.
  • Kranji–Bekasi Jatuh (1947), frag­men dari Di Tepi Kali Bekasi.
  • Perburuan (1950). Peme­nang sayem­bara Balai Pus­taka, Jakarta, 1949.
  • Keluarga Gerilya (1950).
  • Subuh (1951), kum­pulan 3 cerpen.
  • Percikan Revolusi (1951), kum­pulan cerpen.
  • Mereka yang Dilumpuhkan I & II (1951).
  • Bukan Pasarmalam (1951).
  • Di Tepi Kali Bekasi (1951), sisa naskah yang dir­am­pas Mari­nir Belanda pada 22 Juli 1947.
  • Dia yang Menyerah (1951), kemu­dian dice­tak-ulang dalam kum­pulan cerpen.
  • Cerita dari Blora (1952), peme­nang karya sastra ter­baik dari Badan Musya­warah Kebu­da­yaan Nasi­o­nal, Jakarta (1953).
  • Gulat di Jakarta (1953).
  • Midah Si Manis Bergigi Emas (1954).
  • Korupsi (1954).
  • Cerita Calon Arang (1957).
  • Sekali Peristiwa di Banten Selatan (1958).
  • Panggil Aku Kartini Saja I & II (1963); III & IV diba­kar Ang­katan Darat, 13 Okto­ber 1965.
  • Kumpulan Karya Kartini, yang pernah diu­mum­kan di ber­ba­gai media; diba­kar Ang­katan Darat, 13 Okto­ber 1965.
  • Wanita Sebelum Kartini, diba­kar Ang­katan Darat, 13 Okto­ber 1965.
  • Gadis Pantai (1962–65) dalam bentuk cerita ber­sam­bung, bagian per­tama tri­logi ten­tang kelu­arga penu­lis; terbit seba­gai buku, 1987, dila­rang Jaksa Agung. Jilid II dan III diba­kar Ang­katan Darat, 13 Okto­ber 1965.
  • Sejarah Bahasa Indonesia. Satu Percobaan (1964); diba­kar Ang­katan Darat pada 13 Okto­ber 1965.
  • Mari Mengarang (1955), tak jelas nasib­nya di tangan pener­bit di Jalan Kramat Raya, Jakarta.
  • Cerita dari Jakarta (1957).
  • Realisme Sosialis dan Sastra Indonesia (1963).
  • Lentera (1965), kum­pulan tulisan yang pernah diu­mum­kan oleh Lentera. Tak jelas nasib­nya di tangan pener­bit di Jalan Pece­nongan, Jakarta.

Semua kar­ya­nya dila­rang oleh Kemen­te­rian PPK/PDK, 1966.

  • Bumi Manusia (1980), bagian per­tama tet­ra­logi Buru. Dila­rang Jaksa Agung, 1981.
  • Anak Semua Bangsa (1981), bagian kedua tet­ra­logi Buru. Dila­rang Jaksa Agung, 1981.
  • Sikap dan Peran Intelektual di Dunia Ketiga (1981).
  • Tempo Doeloe (1982), anto­logi sastra pra-Indo­ne­sia.
  • Jejak Langkah (1985), bagian ketiga tet­ra­logi Buru. Dila­rang Jaksa Agung, 1985.
  • Hikayat Siti Mariah, (ed.) Haji Mukti (1987). Dila­rang Jaksa Agung, 1987.
  • Rumah Kaca, bagian keem­pat tet­ra­logi Buru, 1988. Dila­rang Jaksa Agung, 1988.
  • Sang Pemula (1985). Dila­rang Jaksa Agung, 1985.
  • Memoar Oei Tjoe Tat, (ed.) Oei Tjoe Tat, 1995. Dila­rang Jaksa Agung, 1995.
  • Nyanyi Sunyi Seorang Bisu I, 1995. Dila­rang Jaksa Agung, 1995.
  • Arus Balik, 1995.
  • Nyanyi Sunyi Seorang Bisu II, 1997.
  • Arok Dedes, 1999.
  • Mangir, 2000.
  • Larasati (Ara), 2000.

Penghargaan

1988 Fre­e­dom to Write Award dari PEN Ame­ri­can Center, Ame­rika Seri­kat.

1989 Anu­ge­rah dari The Fund for Free Exp­res­sion, New York, Ame­rika Seri­kat.

1995 Wer­t­heim Award, “for his meri­to­r­i­ous ser­vi­ces to the strug­gle for eman­ci­pa­tion of the Indo­ne­sian people”, dari The Wer­t­heim Foun­da­tion, Leiden, Belanda.

1995 Ramon Mag­say­say Award, “for Jour­na­lism, Liter­a­ture, and Cre­a­tive Arts, in recog­ni­tion of his illu­mi­nat­ing with bril­li­ant sto­r­ies the his­to­r­i­cal awa­ke­ning, and modern expe­ri­ence of the Indo­ne­sian people”, dari Ramon Mag­say­say Award Foun­da­tion, Manila, Fili­pina.

1996 Partai Rakyat Demo­kra­tik Award, “hormat bagi Peju­ang dan Demo­krat Sejati” dari Partai Rakyat Demo­kra­tik.

1996 UNESCO Madan­jeet Singh Prize, “in recog­ni­tion of his out­s­tan­ding con­tri­but­ion to the pro­mo­tion of tole­rance and non-vio­lence”, dari UNESCO, Paris, Pran­cis.

1999 Doctor of Humane Let­ters, “in recog­ni­tion of his remar­kable ima­gi­na­tion and dis­ting­u­is­hed liter­ary con­tri­but­i­ons, his exam­ple to all who oppose tyranny, and his highly prin­cip­led strug­gle for intel­lec­tual fre­e­dom”, dari Uni­ver­sity of Mic­hi­gan, Madi­son, Ame­rika Seri­kat.

1999 Chan­cel­lor’s Dis­ting­u­is­hed Honor Award, “for his out­s­tan­ding liter­ary arc­hi­e­ve­ments and for his con­tri­but­i­ons to etnic tole­rance and global unde­r­s­tan­ding”, dari Uni­ver­sity of Cali­for­nia, Ber­ke­ley, Ame­rika Seri­kat.

1999 Che­va­lier de l’Ordre des Arts et des Let­ters, dari Le Minis­tre de la Cul­ture et de la Com­mu­ni­ca­tion Répub­li­que Française, Paris, Pran­cis.

2000 New York Foun­da­tion for the Arts Award, New York, Ame­rika Seri­kat.

2000 Fuku­oka Cul­tu­ral Grand Prize, Jepang.


Terima Kasih

Edisi kecil ini ber­u­tang pada banyak tangan.

Kepada kawan-kawan yang ikut men­di­gi­tal­kan buku ini, mem­baca ulang halaman demi halaman, dan mem­beri masukan untuk sam­pul­nya. Tanpa kesa­baran kalian, buku ini hanya akan ting­gal seba­gai berkas lama di folder.

Kepada Hasta Mitra, Joe­soef Isak, dan Hasyim Rac­h­man, yang mener­bit­kan karya-karya Pram ketika mener­bit­kan­nya ber­arti ber­ha­dapan dengan larangan.

Dan kepada Pram sen­diri, yang tetap menu­lis ketika tubuh­nya dipa­sung.