SUWA RJO
PENGETAHUAN BAHASA INDONESIA
ETIMOLOGI
penerbit MUTIARAjakarta
Pengetahuan Bahasa Indonesia A
ETIMOLOGI
disusun oleh : SUWARDI NOTOSUDIRJO
Cetakan ke dua 1296 SM 1979
é
penerbit MUTIARA jakarta
JL. SALEMBA TENGAH 38, JAKARTA-INDONESIA 882441
茶
INDEX Halaman Daftar isi3 Prakata5 Transkripsi Latin Arab7 Tanda-tanda dan singkatan ..8 Pengantar 9 BABI 11 : Ringkasan Sejarah Bahasa Indonesia BAB II : Hubungan Keluarga antara Bahasa Indonesia
dan bahasa lainnya ........15
BAB III Bahasa-bahasa asing yang telah mempenga- ruhi bahasa Indonesia. 19 BAB IV : ETIMOLOGI .. 22 Daftar Kepustakaan 110
PR AKAT A
Buku ETIMOLOGI (Pengetahuan Bahasa Indonesia) ini disusun karena kesulitan yang saya hadapi dalam mempersiapkan sub pelajaran itu, karena materinya terdapat dalam berbagai-bagai buku. Betapa tidak efisiennya untuk membaca-baca buku sumber itu dapat dibayangkan. Sebagian dari materi itulah yang saya susun dalam buku kecil ini, sebagai kumpulan persiapan mengajar selama beberapa tahun. Saya berharap buku ini dapat sedikit membantu rekan- rekan dan para pemakai yang berminat akan bahasa kita. Tidak berlebih-lebihan jika saya katakan bahwa buku ini juga dapat digunakan di PGSLP dan Fakultas tingkat persiapan jurusan bahasa Indonesia. Saya akui, bahwa buku ini mungkin ada kekurangannya dan kesalahannya. Oleh karena itu, saran dan teguran dari para ahli dan pemakai sangat saya harapkan, demi perbaikan isi buku ini. Kemudian kepada para pemakai saya ucapkan terima kasih. 3
Solo, 23 April 1977 Penyusun, (Suwardi Notosudirjo)
S
TRANSKRIPSI Huruf Latin: Huruf Latin: Huruf Arab:F Huruf Arab: m a,a,寓,01,E,E色 b nu d O, u, w 9 dzq é r d atau dl 7 S i, y fsy y gh S
弓吗3
h t a htsC j th 上 k NNS z; こ 上 kh zh 9 1J Tanda: a, i, u
TANDA-TANDA DAN SINGKATAN Tanda/ Dibaca: Tanda/ Dibaca: singkatan: singkatan: <
| Jw | bahasa Jawa | ||
|---|---|---|---|
| berarti/artinya; | Ltn. Min. | bahasa Jawa Kuno; bahasa Latin; bahasa Minangkabau; bahasa Melayu; | |
| aj. | ajektiva; | Pars. | bahasa Parsi; |
| Arb. | bahasa Arab; | Prc. | bahasa Perancis; |
| bhs. | bahasa; | Port. | bahasa Portugis; |
| Form. | bahasa Formosa; bahasa Ibrani; | Skt. | bahasa Sansekerta; bahasa Sunda; |
| Ind. | bahasa Indonesia; | bahasa Tamil; bahasa Tionghoa; |
dari kata; V Jw Kn. menjadi; kt. kata; 二
atau; Mly.
bahasa Sasak; Sas. Bld. bahasa Belanda;
Snd. Ibr. Tam. Tha. bahasa Inggris; Ingg. Tor.bahasa Toraja;
PENGANTAR
- Buku Etimologi (Pengetahuan Bahasa Indonesia) ini mem- bicarakan asal-usul kata. Dalam pemakaian bahasa, dari dulu hingga kini, banyak kata-kata yang mengalami perubahan baik bentuknya, ucapannya, artinya maupun tugasnya dalam kalimat. Kata-kata asing maupun kata-kata dari bahasa daerah banyak juga yang masuk ke dalam kosa kata bahasa Indonesia.
2.Berhubung dengan itu, maka banyak pula kata-kata yang
sekarang tidak diketahui lagi arti aslinya, sehingga sukar bagi kita untuk mencari hubungan arti antara kata-kata yang sama. Misalnya, ungkapan "mengutarakan" pendapat. Apa-
kah hubungannya dengan arah "utara"? Lampunya "padam".
Apakah hubungannya dengan: mukanya merah "padam'?
Perniai"suri", Ibu"suri" dan "suri" teladan? Padahal "suri"
hanyalah "sisir" belaka.
- Kecuali Hukum Bunyi van der Tuuk yang ke-I dan ke-II, dalam kenyataan sekarang, perubahannya sebagai berikut: R-GH. Banyak H akhir dan R akhir menjadi hilang.
Benih—>bini; ular —>ula.
R-D-L.1 Banyak D menjadi T; dan D menjadi J; R
menjadi T. T menjadi K (tidak terang/bunyi hamzah Arab); T akhir hilang. Pelangit —> pelangik > pelangi; babad —> babat; adoh —> jauh; udan >(h)ujan. N—> Ny: kunir —> kunyit; (R —>T).
N—>Ng: Ujung Pandan —>Ujung Pandang.
4.Perubahan fonim dalam .Gejala Bahasa sebagai berikut: @Protesis. Contoh: mas —> emas; asykar —> lasy-
kar; tik —> ketik. ⑥ Epentesis. Contoh: baru —>baharu; jeneral > jenderal; emmer > ember.
C Paragos. Contoh: bapa —> bapak; bodo —> bo- doh. @Aferesis. Contoh: mpunya > punya; umundur —> mundur. @ Singkop. Contoh: sahaya —> saya; sahaja —> saja; cahaya—> cahya. f Apokop. Contoh: pelangit > pelangi; mpu laut > pulau.
g. Metatesis. Contoh: sapu > usap>(h)apus;
tebal —> lebat.
h. Desimilasi. Contoh: per-ajar> pel-ajar; rapor(t)>
lapor.
i. Asimilasi. Contoh: me-tulis —> me-nulis; me-kukur
me-ngukur. Sabtu —> Saptu; bicaksana—> bijaksana.
j. Kontraksi. Contoh: tuanku—> tengku; matahari—>
mentari. k Reduplikasi/dwipurwa. Contoh: tangga-tangga> tetangga; sama-sama > sesama (manusia)
- Perubahan semantik (arti), diberi nomor urut; nomor 1) = arti aslinya; dan seterusnya nomor 2), 3) adalah arti yang sudah berubah. Dengan demikian, langkah-langkah perubahan itu tampak dengan jelas.
- Transkripsi dengan huruf Arab untuk kata-kata dari bahasa Arab,, dimaksudkan untuk memperjelas, sebab penulisan dengan huruf Latin kadang-kadang tidak memadai. Transkripsi dengan huruf Devanagari untuk kata-kata dari bahasa Sansekerta tak dapat dilaksanakan karena kesulitan teknis.
BAB RINGKASAN SEJARAH BAHASA INDONESIA
- Bahasa Indonesia asalnya dari bahasa Melayu Kuno. Menurut hasil penyelidikan sejarah, bahasa Indonesia asalnya dari bahasa Melayu Kuno yang berbentuk kesusasteraan atau berbentuk tulisan. Contoh bahasa Melayu Kuno itu dapat kita saksikan pada prasasti-prasasti dari zaman Criwijaya (± abad ke-7), yang ditemukan di Palembang, Jambi dan pulau Bangka. Prasasti-prasasti itu bertanda tahun Çaka 604, 605 dan 608. Karena tahun Çaka itu 78 tahun lebih kecil dari pada tahun Masehi, maka tahun-tahun tersebut sama dengan tahun : 682 M, 683 M dan 686 M. Ketiga prasasti itu bahasanya bahasa Melayu Kuno, sedang tulisannya huruf Pallava, yaitu huruf yang biasa dipakai oleh orang-orang Hindu dari India Selatan. Di sini dikutipkan sedikit, tetapi sudah ditranskripsikan dengan huruf Latin.
"nipāhat di welānya yang wāla Crivijaya kaliwat me- nāpik yang bhūmi Java tida bhakti ka Crivijaya".
Arti harfiahnya: "Dipahat di waktunya yang tentara Sriwijaya telah
menyerang yang tanah Jawa tidak takluk ke Sriwijaya."
Maknanya: "dipahat pada waktu tentara Sriwijaya telah menyerang tanah Jawa yang tidak takluk kepada Sriwijaya"
- Bahasa Melayu Kuno itu pada zaman Sriwijaya tersebar ke daerah-daerah kekuasaannya, yaitu ke Minangkabau (Sumatra Barat), pulau Bangka dan Malaka. Karena serangan-serangan dari:
a.kerajaan Cola (India) tahun 1024;
b.kerajaan Singasari zaman Raja Kertanegara, tahun 1275;
C. kerajaan Majapahit zaman Patih Gajah Mada (tahun 1331 - 1364), maka Sriwijaya semakin lemah dan kemudian runtuh.
3. Malaka pada waktu itu diduduki oleh Siam (sekarang Muang Thai). Tetapi kemiudian ± 1400 dapat memerdekakan diri. Rajanya keturunan Paramesywara. Pada zaman itu kesusastraan Melayu (bukan Melayu Kuno lagi), berkembang dengan pengaruh sastra Persia-Arab. Tetapi karena serangan Portugis pada tahun 1511, negeri itu hancur. Buku-buku kesusastraan Melayu hilang lenyap ter- bakar. Rajanya, yaitu Mahmud Syah, mengungsi ke Bintan dan wafat di sana. Puteranya, yaitu Riayat Syah I mendirikan negeri baru di Johor, berseberangan dengan Singapura. Pada masa itulah kesusastraan yang telah lenyap dibangun kembali dengan pesat. Itulah yang disebut kesusastraan Melayu, dan bahasanya disebut bahasa Melayu Johor
4.Kemudian pada tahun 1641 Malaka direbut oleh Belanda. Ia juga berkuasa di Nusantara. Dalam perhubungannya dengan raja-raja dan rakyat Nusantara, Belanda dengan resmi menggunakan bahasa Melayu.
5. Dalam pergaulan umum antar suku maupun antara rakyat dengan orang-orang asing mereka menggunakan bahasa campuran, yaitu bahasa Melayu dicampur dengan bahasa daerah setempat maupun bahasa asing yang sudah dikenal oleh umum. Bahasa campuran itu disebut bahasa Melayu pasar. *)
6. Timbulnya surat-surat kabar dan wartawan-wartawan bangsa Indonesia ikut memperluas dan meningkatkan penggunaan bahasa Melayu. Hal itu tidak dapat dipisahkan dengan timbulnya Pergerakan Nasional yang dirintis oleh para pejuang bangsa Indonesia sejak tahun 1908 (Budi Utomo). *) Mungkin diasosiasikan dengan keadaan di pasar, bahasa yang digunakan oleh sipenjual dan sipembeli adalah bahasa yang hanya sekedar untuk dapat dipahami saja; bukan bahasa yang baik.
Kemudian disusul oleh Pergerakan-pergerakan lainnya. Selain surat kabar swasta, pemerintah Hindia Belanda mem- bentuk- Komisi Bacaan Rakyat (Commisie voor Volks- lectuur) yang kemudian diganti dengan nama Balai Pustaka. Ia juga menerbitkan majalah berbahasa Melayu "Panji Pustaka". Sedikit banyaknya ia mengambil bagian juga di dalam proses perkembangan bahasa Melayu.
- Pergerakan politik bangsa Indonesia, kemudian disusul oleh pergerakan-pergerakan pemuda .dari berbagai daerah yang tergabung dalam Indonesia Muda. Dalam Konggres Pemuda yang ke-II di Jakartà tahun 1928, antara lain diputuskan: Putera-puteri Indonesia mengaku
- berbangsa satu yaitu bangsa Indonesia; — berbahasa satu yaitu' bahasa Indonesia;
- bertanah air satu yaitu Indonesia. Peristiwa itu terkenal sebagai Sumpah Pemuda, 28 Oktober
- Pada saat itulah secara resmibahasa Melayu ditahbiskan menjadi bahasa Indonesia. Kata Dr. A. Teeuw, saat itulah hari "baptisnya" bahasa Indonesia.
8.Hal itu masih merupakan- pengakuan sepihak saja, yaitu pihak pemuda/bangsa Indonesia. Sedangkan pemerintah Belanda masih menyebutnya "bahasa Melayu". Oleh karena itu usaha penyeragaman (ejaan) yang dibuat oleh Ch.A. van Ophuysen, Menteri Pengajaran Belanda, masih menggunakan istilah "bahasa Melayu". Lagi pula bahasa yang baru jadi itu belum digunakan oleh orang-orang terpelajar dari berbagai 4 suku bangsa dalam pergaulan umum. Rupanya mereka lebih suka memakai bahasa Belanda. - Pada masa pendudukan Jepang, bahasa Indonesia yang belum "dewasa" itu dengan serentak harus digunakan di kantor- kantor, di sekolah-sekolah baik swasta maupun pemerintah di seluruh Nusantara. Dengan demikian, perintah-perintah, peraturan-peraturan, propaganda-propaganda,. rapat-rapat,
wajib menggunakan bahasa Indonesia. Di samping itu rakyat diwajibkan belajar bahasa Jepang. Sedangkan bahasa Belanda, Inggris, dilarang sama sekali.
10. Pada zaman Kemerdekaan, ejaan Ch.A. van Ophuysen di-
sederhanakan oleh Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan, Mr. Soewandi dalam surat keputusannya tang- gal 19 Maret 1947. Pelaksanaannya baru pada tahun 1948.
Perubahan yang menguntungkan dari segi fonologi, adalah perubahan OE>U; (dua huruf diganti dengan satu huruf)
sebab memenuhi prinsip ejaan yang baik, yaitu 1 fonim
digambar dengan 1 huruf (1 lambang).
- Sejak 17 Agustus 1972, Pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan peraturan ejaan sebagai penyempurnaan ter- hadap ejaan Suwandi, dan kita kenal dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Dalam ejaan itu yang penting adalah perubahan tj menjadi@dan [di menjadi i, sebab kedua-dua- nya memenuhi prinsip fonologi. Adapun perubahan-perubahan lainnya hanya merupakan akibat dari perubahan kedua lambang tersebut.
BAB II HUBUNGAN KELUARGA ANTARA BAHASA INDONESIA DENGAN BAHASA-BAHASA LAINNYA
1.Bahasa dipakai oleh segolongan orang, suku bangsa, bangsa atau bangsa-bangsa. Suatu bangsa mempunyai nenek moyang. Maka selayaknyalah apabila suatu bahasa juga mempunyai nenek moyang bahasa. Beberapa bahasa yang mempunyai kesamaan-kesamaan ber- arti berasal dari satu nenek moyang bahasa. Bahasa-bahasa itu masih satu keluarga bahasa. Bahasa Indonesia termasuk keluarga bahasa Austronesia.
(Latin: austro = selatan; nesia, dari kata "nesos" = pulau-pulau/kepulau- an). Yang dimaksud ialah pulau-pulau di sebelah selatan benua Asia. Secara geografis, bahasa-bahasa Austronesia terbentang dari pulau Formosa (Taiwan) di utara sampai New Zealand di selatan. Dari pulau Madagaskar di barat sampai pulau Paas (Pasca) di timur (samudra Pasifik, sebelah barat Chili, Amerika-Selatan). Jadi, termasuk di dalamnya bahasa-bahasa di Pilipina, Malaysia, Indonesia dan pulau-pulau di Lautan Teduh.
2.Keluarga bahasa-bahasa Austronesia itu meliputi ± 400 bahasa. Sedangkan 200 di antaranya terdapat di wilayah Re publik Indonesia. Bahasa-bahasa yang berjumlah 400 itu mempunyai ciri-ciriz kesamaan sebagai berikut:
Banyak kata-kata yang sama (hampir sama) bunyinya
a. maupun artinya. Contoh: kede, Jw = kidal, Mly. = kidari, Form = kiri,
Ind. atus, Jw = ratus, Mly = gatos, Bisaya (Pilipina) = 100,Ind.
ranu, Jw.Kn = dano, Tor = danau, Mly= danau, Ind. enem, Jw. = wonem, Biak = enam, Mly = 6, Ind. Kata-kata dasar umumnya terdiri dari 2 suku kata.
b. (Sedikit saja yang terdiri dari 1 suku atau 3 suku).
C. Kata jadian (turunan) terbentuk dari kata dasar diberi imbuhan (awalan, sisipan, akhiran).
d. Caranya menyusun kata-kata menjadi kalimat juga sama.
e. Ada perbedaan antara orang pertama jamak (= kami, Ind) dan orang pertama jamak termasuk orang kedua (= kita, Ind). Contoh: Dalam bahasa Biak, inggo = kami
ko= kita.
f. Tidak ada perbedaan jenis kelamin kata(seperti di dalam
bahasa Indo Jerman).
3.Keluarga bahasa-bahasa lainnya ialah: Bahasa-bahasa Austro Asia, di benua Asia bagian selatan: Vietnam, Kamboja, Muang Thai. Bahasa-bahasa Tibeto Tionghoa, di Tibet dan RRC. Bahasa-bahasa Indo Jerman, misalnya: bahasa Jerman, bahasa Sansekerta. Bahasa-bahasa Hamito Semit, misalnya: bahasa Arab, bahasa Persia. Bahasa-bahasa Ural Altai, di benua Asia bagian baratlaut dan perbatasan Eropa. (Dan lain-lain masih ada 8 keluarga bahasa yang tidak disebutkan di sini).
4.Beberapa istilah dalam Ilmu Bahasa: Ilmu Perbandingan Bahasa
Dalam penggolongan bahasa-bahasa yang sekeluarga,
kita membanding-bandingkan sifat-sifat bahasa-bahasa itu. Ilmu yang membanding-bandingkan bahasa itu disebut Ilmu Perbandingan Bahasa. Orang yang telah merintis Ilmu Perbandingan Bahasa ialah Dr. H.N. van der Tuuk, sariana Belanda. Dari penyelidikannya itu, ia membuat kesimpulan bahwa suatu bunyi dari suatu bahasa, berubah sedikit di dalam bahasa lainnya yang masih sekeluarga. Perubahan itu disebut: Hukum Perubahan Bunyi yang Pertama (ke-I), dan Hukum Perubahan Bunyi yang Kedua (ke-II). Kemudian orang lain menyebutnya: Hukum Bunyi van der Tuuk yang Pertama, yaitu: R-G-H Artinya, bunyi R dari suatu bahasa berubah menjadi G atau H di dalam bahasa lainnya. Perubahan itu karena perbedaan masa dan tempat. Contoh: Bahasa Bahasa Bahasa Melayu:Bisaya: Bulu (Sulawesi): Ratus Gatos Hatus uRat oGat oHat
Hukum Bunyi van der Tuuk yang Kedua, yaitu: R-D-L
Contoh: Bahasa Bahasa Bahasa Jwa Kuno: Melayu: Samoa: Rwa Dua Lua Rwan Daun Lau
[b]Ilmu Semantik, ialah Ilmu Arti Kata, membicarakan arti-arti kata. Ilmu semantik tentu saja banyak hubung-
annya dengan morfologi (ilmu bentuk-bentuk kata).
Misalnya arti-arti berbagai macam imbuhan, akar kata.
回 Fonologi, ialah Ilmu Fonim atau Ilmu Bunyi Bahasa. Fonim, ialah bunyi bahasa, yaitu unsur terkecil dalam bahasa yang mampu membedakan arti. Fonim adalah bunyi, maka bersifat pendengaran. Huruf (tulisan) adalah gambar (lambang) bunyi bahasa atau gambar fonim, maka bersifat penglihatan. Sing- katnya: = bunyi bahasa fonim huruf (tulisan) = gambar bunyi bahasa. D Fonetik ialah membicarakan bunyi-bunyi manusia dan terjadinya bunyi-bunyi itu serta alat-alat bunyi, misal nya: mulut, hidung, tenggorokan, dan lain-lain. eAkar kata ialah suku kata yang sama bunyinya dan sama (hampir sama) artinya. Contoh: buku bambu =bagian yang keras;) Akar ka- kuku = tulang keras;)ta: ku 二 keras.) kaku Orang yang telah menyelidiki akar kata -ialah tuan Reinward Branstetter dari Swiss. Hasil penyelidikannya tentang akar kata itu hanya merupakan hipotesa saja. Tetapi sebagai alat pembantu dalam ilmu semantik, etimologi dan ilmu perbandingan bahasa, akar kata itu sangat berguna. Transkripsi ialah alih tulisan. Misalnya bahasa Indonesia 1 yang ditulis dengan huruf Arab, ditranskripsikan dengan huruf Latin. Contoh: Huruf Arab: Huruf Latin:
permaisuri
padam (padma)
BAB IⅢII BAHASA-BAHASA ASING YANG TELAH MEMPENGARUHI BAHASA INDONESÍA A
- Pengaruh bahasa asing yang dimaksud di sini hanyalah
xy terbatas pada pemasukan kata-kata asing ke dalam kosa kata Indonesia, dan sedikit pembentukannya.
2.Pengaruh yang paling besar ialah dari bahasa Sansekerta. Masuknya ke Indonesia dimulai sejak abad pertama sampai lebih kurang abad ke-14, yaitu ketika orang-orang Hindu dari India-Selatan berdagang ke Nusantara. Bahasa Jawa Kuno, juga bahasa Jawa. Baru, mendapat pengaruh lebih besar dari pada bahasa Indonesia. Hal itu tidak mengherankan sebab pusat-pusat kerajaan Hindu yang besar terletak di pulau Jawa. Contoh yang mudah ialah nama-nama orang Jawa hampir semuanya dari bahasa Sansekerta. Misalnya: Sartono, Sukarna, Eka, Dwi Astuti, Java- atmaja, Ganda Kusuma, Darmono, dan lain-lain. Pemasukan kata-kata Sansekerta pada umumnya masih dalam keadaan utuh dan murni, baik bunyinya maupun artinya, sebab masuknya berupa pustaka-pustaka, atau Bahasa tertulis.
Cara masuknya ada 2 jalan, yaitu: (a.) Langsung: Kata-kata Sansekerta masuk secara langsung ke dalam kosa kata Indonesia. Contoh: karya, Skt kerja, Ind. -> yasa, Skt jasa, Ind. Tak langsung: (b.) Kata-kata Sansekerta masuk ke dalam bahasa Jawa Kuno, kemudian baru masuk ke dalam bahasa Melayu/ Indonesia. Contoh: Karya, Skt —> karya, Jw.Kn —> karya, Ind. (Kabinet Karya).
yasa, Skt —> yasa, Jw.Kn. yayasan, Jw —> yayasan, Ind. Itulah sebabnya dalam bahasa Indonesia ada kata "kerja" di samping kata "karya". Dan "jasa" di samping "yasa" atau "yayasan". Jika kurang hati-hati, orang bisa mengira bahwa kata itu (yasa, yayasan) dari bahasa Jawa. Contoh kata-kata dari bahasa Sansekerta: bahasa, kata, pada, bahwa, jadi, sama, raja, jaya, kerja, usia, surga.
- Kemudian, masuknya agama Islam berpengaruh juga atas bahasa Indonesia, baik dalam bentuk kesusastraan, huruf Arab, maupun kata-kata Arab. Ejaan Ch. A. van Ophuysen juga sangat terpengaruh oleh fonim-fonim Arab. Akibatnya ada bermacam-macam lam- bang untuk fonim (bunyi): a. Contoh: a, dalam kata "ada";
'a, dalam kata " 'adat "(dari ain Arab); a', dalam kata" tida'" (juga untuk hamzah Arab); a, dengan dua titik di atasnya, dalam kata "keada- än".
Contoh kata-kata dari bahasa Arabi kalimat, sebab, abad, awal, akhir, arif, maaf, jawab, jilid, Ahad, Senin.
4.Pengaruh bahasa Portugishanya sedikit sekali. Contoh: serdadu, Minggu; gereja, mandor.
5. Pengaruh bahasa (Inggris juga sedikit saja. Itupun kadang- kadang agak samar sebab hampir sama dengan bahasa Belanda. Misalnya: buku tulis, dari Inggris: book, ataukah Belanda: boek? pèna, dari Inggris: pen, ataukah Belanda: pen? Tetapi akhir-akhir ini, banyak kata-kata pinjaman dari
bahasa Inggris. Misalnya: public relation, fund and forces, the haves, management, dan lain sebagainya.
-6.Pengaruh bahasa Belandal agak banyak, karena pergaulan bangsa Indonesia dengan Belanda sangat lama, lebih kurang 350 tahun. Kebanyakan berupa istilah ilmu pengetahu- an Barat (teknologi). Contoh: bank, listrik, ban, gas, mobil. Pengaruh bahasa Portugis, Inggris, Belanda, pada umum- nya disesuaikan ucapannya dengan bunyi bahasa Indonesia, sehingga tidak semurni yang dari bahasa Sansekerta.
- Pengaruh bahasa Tionghoal hanya terbatas pada nama-nama makanan, alat-alat makan dan istilah perjudian. Contoh: Nama makanan: mi, bakmi, kue, bakso, taoge, lum-
pia. Nama alat-alat makan: cawan, teko, anglo, baki. Lain-lain: cukong, cukai, toke.
A
BAB IV ETIMOLOGI
①. Abad <. Arb. = 1) waktu yang akan datang sampai tak ada
batasnya. = 2) ratus tahun. 1 abad = 100 tahun. = terus-menerus sampai tak ada batasnya= abadi, aj. kekal = baka. abad >
Abdi, ibadat, Abdullah. ② abdi < Arb. 'abdu / G0 = hamba; budak; pelayan; sahaya. Ada hubungannya dengan kata "ibadat"= pengabdian; pelayanan; penghambaan.... kepada Tuhan.
Abdullah <'Abdullahi / 180 = abdi Allah; hamba Tuhan. dills
Adat, kebiasaan.
③ adat < Arb. adat /kebiasaan. 二 mempelajari; biasa < Skt.: abhi √as = 1) pelajaran; yaituyang abhyasa dipelajari tiap-tiap waktu, sehingga menjadi kebiasaan.
2) kebiasaan.
④ Adil, makmur. adil < Arb.: adil / makmur < Arb.: ma'mur/ 9090 diramaikan; dalam keadaan ramai. = 1)
Jees
Negeri yang ramai banyak penduduk- nya, biasanya serba kecukupan. = 2)serba kecukupan.
Adu, padu, (padon, adon-adon, Jw.) adu = 1) temu = sambung. Misalnya: mengadu kayu = mempertemukan 2 kayu = menyambung. Dalam bahasa Jawa ada kata "padon" pa-adu-an = per-temu-an 2 garis atau 2 bidang = pojok; sudut. Adon-adon = persambungan = 2) tidur. Baginda sedang ber-adu = ber-temu 2 pelupuk matanya =ber-tidur. padu = pa-adu = ber-temu = 2 menjadi satu. Kemudi- an berarti: bersatu. Mengadu ayam (domba) = mempertemukan 2 ayam (2 domba) = menyabung. Dari contoh itu dapat kita simpulkan bahwa ada hubungan arti antara kt. "menyambung" dan "menyabung". Tetapi mungkin juga kt. "menyabung" ayam itu
dari kt. "sawung", Jw = jago; ayam jantan.
Ahad, Minggu, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu. Ahad < Arab.:
= 1, hari ke-1 dalam seminggu.
思 Minggu < Port.: Dominggo/Deo minggo = hari Tuhan.
Senin < Arb.: itsnaini / C= 2; hari kedua. 三
Selasa < Arb.: tsalatsa'/= 3; hari ketiga.
2 Rabu < Arb.: arba'a / = 4; hari keempat.
= 5; hari kelima. Kamis < Arb.: khamis /
Jumat < Arb.: jum'at = hari untuk berkumpul di mesjid. Ada hubungannya dengan kt. "jemaah haji" = kumpulan orang-orang yang akan naik haji. jemaat. = jemaah = kumpulan orang-orang.
二 jamak 二 kumpulan; karena terdiri dari banyak, maka kemudian artinya: banyak; lawannya: tunggal.
6090
majemuk = gas = dikumpulkan; terkumpul.
Kesemuanya dari kt. kerja: jama'a /
C berkumpul.
Sabtu < Ibr.: sabt; sabat = 7; hari ke-7; yaitu hari libur (istirahat) bagi orang Yahudi, sebab menurut Torat, pada hari ke-7, setelah 6 hari lamanya menciptakan alam semesta, Tuhan lalu beristi- rahat. —0—
- Arb.: sab'a / = 7.
C
7 Ahli, ahlu nujum.
ahli < Arb.: ahlu /
ahlu nujūm/
99 nujūm / 。 najm / Ch
munajim/ 二
L
= ahli bintang-bintang; peramal; astroloog, Bld. yaitu orang yang pan- dai meramalkan nasib orang atau kejadian yang akan datang de- ngan ilmu bintang.
= bintang-bintang (jamak)
= bintang (tunggal)
= ahli ilmu bintang (ilmu falak) = astronoom, Bld.
- Akal, akil balig, dewasa.
akal < Arb.: 'aql/
= pengetahuan; sedang berakal.
akil < Arb.:
= sampai; mencapai. Akil balig = sam- balig/ 近 pai pengetahuannya tentang baik dan buruk = sudah dewasa.
dewasa < Skt. divasa =
1) waktu. Contoh: Dewasa ini harga barang mantap.
2) sudah waktunya, untuk mendapat pengakuan sebagai "orang" (bukan anak-anak lagi). Contoh:Ia sekarang sudah dewasa, sudah bisa hidup sendiri.
- Akrab, karib, < Arb.: qaraba /
1) dekat (kt. kerja).
G.
karib < Arb.: qarib/ = dalam keadaan dekat;
2) erat.
10. Almarhu 1(ah), rahmat, mendiang.
= yang dirahmati... oleh Tuhan. (Ada hubungan dengan kt. "rahmat"). almarhumah = almarhumat = almarhum untuk perempuan. mendiang, Ind. = men-hyang; menuju ke tempat Hyang/Dewa atau ka-hyang-an.
- Alim, ulama, mualim, ilmu, iklan, wa llahu a'lam.
alim < Arb.: alim/
= orang ber-ilmu; kemudian artinya menyempit, = orang ber-ilmu ·agama (saja).
ulama < Arb.: ulama'/
= orang-orang alim;(jamak). alim ulama = orang alim dan orang-orang alim; (tunggal dan jamak); seperti juga: hal-ihwal; (tunggal + jamak). 919 mualim < Arb.:/
= 1) tukang memberi ilmu; guru. Ke-
mudian menjadi nama jabatan pegawai kapal. = 2) kepala kelasi. = yang diketahui; pengetahuan.
iklan < Arb.: i'lam /
= ketahuilah! = advertensi. wallahu a'lam/ = dan Tuhan yang Mahatahu. Leng- kapnya ditambah kt. "bisawab"/
= dengan sesungguhnya.
Amal < Arb.: amala/ = berbuat. Amal jariah
= perbuatan sosial; perbuatan yang baik.Aman < Arb.: amān /
hara (peperangan).
Daru'laman/= rumah (negeri) damai.
Daru 'ssalam/= rumah (negeri) selamat.
Dar l Islam/= rumah (negeri) Islam.
- Antara, Nusantara, Dwipantara, digantara, dirgantara. antara < Skt.: antara = 1).luar
Nusantara < Skt.: nusa-antara = pulau luar. Misalnya dalam Sumpah Palapa Gajah Mada: "lamún huwus kalah nusantara, isun amukti palapa, 'lamun kalah ring Gurun, ring Seram, Tanjungpura (Kalimantan), ring Haruring, Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palem- bang, Tumasik (Singapura), samana isun amukti palapa". Artinya: Sebelum Nusantara (= pulau luar Majapahit) dikalahkan, saya tidak mau menerima upah (berupa tanah) dan seterusnya. Dari teks tersebut di atas jelas, bahwa yang dimakşud dengan "nusantara" ialah pulau-pulau di luar wilayah Majapahit pada masa itu. Kemudian kt "antara" = 2) jarak; selang yang meng- hubungkan dua tempat. Meskipun begitu, pengertian "luar" masih tetap ada. Misalnya: Antara p. Jawa dan p. Madura = tempat di luar p. Jawa dan di luar p.Madura; atau sela-sela kedua pulau itu.
Dwipantara < Skt.: dwipa-antara = pulau luar. Kemudian "Nusantara"= 3) pulau-pulau di tengah; yaitu antara India dan Tiongkok. Antara 4 benua. = 4) negeri (tanah) wilayah
R.I.
Dalam buku Negara Kertagama karangan Empu Pra- panca, di samping kt."Nusantara" dan "Dwipantara" dipakai juga kt. "Digantara" dan "Bhumyantara". Digantara < Skt.: diç = daerah; desa. Digantara = daerah luar. Bhumyantara < Skt.: bhumi-antara = tanah luar.
i + a, menjadi ya, menurut hukum sandi (persambung- an kata). Sedangkan "dirgantara" dari: dirgha + antara = jauh luar; angkasa.
- Anugerah, gerhana, karunia, gantung layar, hadiah, zakat, fitrah, sedekah, pahala, kado, bingkisan, upeti, komisi, persen. anugerah < Skt.: anugraha.
= menurut anu = memegang; mengambil. grah Pemberian itu menurut apa yang dipegang/diambil oleh Raja. gerhana < Skt.: grahana. Dalam bahasa Jawa masih tetap grahana. karunia < Skt.: karunya = pemberian dari Tuhan. Ada juga yang salah ucap jadi: kurnia, karena ditulis
dengan huruf Arab Mestinya dibaca: ka-run-ya. Bukan: kur-ni-a. gantung layar = hadiah bagi penolong perahu karam: hadiah < Arb.:hadiyat/ = pemberian sebagai do 2 balas jasa (prestasi). zakat ≤ Arb.: pemberian wajib dalam agama Islam ± 2½% dari penghasilan. sedekah < Arb.: sadaqah /
= pemberian kepada orang miskin.
fitrah < Arb. = pemberian wajib dalam agama Islam, berupa makanan pokok. pahala < Skt.: phala = 1) buah.
2) buah dari pekerjaan yang baik; upah kebaikan.
kado < Prc.: cadeau = sumbangan dalam peralatan, pesta sebagai tanda ikut bersuka cita. pemberian sebagai tanda mata atau bingkisan souvenier. = pemberian sebagai tanda takluk ke- upeti <.Skt. pada Raja Besar. = pemberian uang jasa kepada yang komisi < Bld. menolong (pengantara) jual beli. Commisie = perintah memesan. persen < Bld. percent = per seratus. = pemberian suka rela kepada se- seorang yang melihat orang lain mendapat keuntungan.
- Anumerta, tirtamerta. anumerta < Skt. anu = menurut; merta = mati; menurut
matinya. Diberi penghargaan secara anumerta = Diberi penghargaan secara menurut matinya. Janggal juga kalimat itu (?), karena kt. "secara menurut".. ., mestinya cukup: Diberi penghargaan anumerta = Penghargaan menurut matinya. tirtamerta < Skt.: tirtha-amarta = air tidak mati; air peng- hidupan. tirtha = 1)tempat berziarah. Karena tempat berziarah di India sebagian besar berupa air, yaitu di sungai Gangga, maka kemudian: = 2) air. 17: Arwah; ruh jiwa, nyawa, juwita. = ruh-ruh (jamak); arwah <'Arb.: arwah/ hi ruh = nyawa; (tunggal).
jiwa < Skt.: jiva = hidup; nyawa (karena berubah ucapan- nya); jiwa > nyawa. juwita < Skt.: jivita = yang dihidupi; yang diberi hidup oleh lain jenis (seks), yaitu: kekasih:
- Arti, harta, permata, paramarta. arti dan harta < Skt.: artha = arti; guna. Harta, yaitu sesuatu
yang sangat berarti (berguna) dalam kehidupan.
"artha" harta, karena ejaan saja (ditambah "h").
Dalam bahasa Jawa Kromo (halus): arta = uang. permata < Skt.: parama-artha = arti (guna) yang utama (mulia), oleh karena itu mahal harganya. Bukan dari: permata cincin. Paramarta; permata itu meliputi semua benda mineral yang mulia (tinggi nilainya). Tetapi sekarang diartikan: mata dari batu, untuk perhiasan emas, dll. Ambek paramarta = hati guna utama. Berjiwa yang menggunakan sesuatu sebaik-baiknya (?) = efisien.. Barangkali maksud itu cukup diungkapkan dengan kt. "di-paramarta-kan".
Asyik, masyuk. asyik < Arb.: asyiq·/ = mencintai; yang mencintai. Asyik bekerja = mencintai pekerjaannya; gemar bekerja.
.090
masyuk < Arb.: ma'syuq / = yang dicintai. gies Asyik masyuk = sepasang insan yang saling mencintai.
- Astaga < Arb.: astaghfirullāha / = saya
minta ampun (maaf) kepada Tuhan.
B
=mengampuni; memaafkan. ghafara /
- Bab, fasal, ayat, kitab.
bab < Arb.: bāb /= pintu.
Selat Bab el Mandeb = pintu air mata. Sebab di selat itu para penumpang kapal menangis karena takut akan gelombang yang sangat membahayakan. Kitab; dibagi menjadi beberapa bab; dan bab dibagi menjadi beberapa fasal; sedangkan fasal terdiri dari beberapa ayat. 20 fasal < Arb.: fasl / = bagian; cabang. dii
= bagian dari fasal.
ayat < Arb.:
kitab < Arb.: kitāb / = buku; pustaka, Skt. EES
Sekarang dibedakan: kitab (alkitab) = buku keagamaan; buku = surat yang isinya bu- kan keagamaan.
- Bagi, bagian, Baginda, bahagia, bagawan, bhagawatgita,
(begyo, bejo, Jw). Semuanya itu < Skt.: bhāga = bagian.
Kemudian berarti: kebahagiaan, sebab orang yang
menerima bagian tentu merasa "bahagia". Contoh: Buku ini bagimu = 1) bagian-mu; = 2) kebahagiaanmu me- nyebabkan kamu senang (bahagia). Baginda = yang berbahagia.
Bagawan < bhāgavan = kaya (mempunyai banyak) bagian...
ilmu, yaitu pendeta.
B
Bhagawatgita <—— bhāgavat = mulia; = nyanyian;nyanyian mulia gita (untuk memuja).
Bahagia —> bagia (—>Jw: bagya; begya; bejo) = ber- untung; Lawannya: malang; sial.
- Bahaya, Bhayangkara, Bisma, Bima, bahasa, cahaya, bahwa, baharu. bahaya < Skt.: bhaya =ketakutan; (hal takut).
Dari akar kt. "bhi" = takut. Misalnya: ada bahaya = ada ketakutan. bhayangkara < Skt.: bhayamkara = 1) yang menyebabkan takut;(menakutkan); Gajah Mada pernah menjadi kepala pasukan Bhayangkara, yaitu = 2) pengawal Raja (R. Wi- jaya), ketika melarikan diri dalam peperangan dengan Jayakatwang. Bhisma < Skt.: bhisma = yang ditakuti; yaitu sumpahnya: tidak akan kawin buat selama-lamanya. Bima < Bhima = yang menakutkan; Saudara Pandawa yang kedua. Bunyi aspirasi: bh, dalam bahasa Indonesia umumnya menjadi: "bah"; (disisipi: A). Contoh: bhāsā —> bahasa. bhaya —>bahaya. chāyā —> cahaya. bhāva —> bahwa = kejadian Tetapi kt. "baharu", dari "bagru" ("r" anak tekak,
dari ucapan bahasa Rejang Kerinci ).
Kata "tahadi" dalam Pustaka Lama, belum jelas dari mana sisipan h itu. Barangkali dari analogi yang salah, yaitu tadi —> tahadi, tanpa mengindahkan etimolo- gi.
24. Bahan = 1)tarahan; yaitu kepingan. kayu manakala orang
membuat balok; (= tatal, Jw). = 2) Bakal; yang akan dibuat.
Bahtera, air bah, banjir. bahtera < Skt.: vahtra; vah = membawa; tra = alat; yang.
vahtra = 1) alat (yang) membawa; = 2) perahu. vah —> bah = banjir; sebab banjir itu membawa apa saja yang dilaluinya.Bayu, maruta, pawana. bayu < Skt.: vayu = 1) nama Dewa Angin;
= 2) angin maruta < Skt.: marut(a) = 1) nama Dewa cahaya, kilat, pe- tir, hujan menurut kepercayaan bangsa Arya. Maruta, Jw. Kn. = angin. pawana < Skt.: pavana. = 1) yang membersihkan. Dari akar kt. pu = membersihkan;
2) angin; sebab ia membersihkan apa saja yang dilaluinya.
27. Bandar, Syah Bandar, dermaga, pelabuhan. bandar < Pars.: = 1) kota pelabuhan. Kemudian berarti:
= 2) pelabuhan; (menyempit artinya). dermaga = tempat bersandarnya kapal. Syah Bandar < Pars.: = 1)raja Kota Pelabuhan; = 2) kepala pelabuhan. Syah = Raja. Syah Iran = Raja Iran. Surat keterangan yang syah = yang raja (?). Di dalam bahasa Parsi dan Arab, tidak ada kata "'syah" yang berarti: legal. Yang ada ialah "sah". Surat keterangan yang sah.
Bangku, Bank, bangkrut. bangku < Bld.: bank. Dalam ucapan Indonesia, lalu ditam- bah u. Yang semacam itu misalnya: lamp —> lampu; boek —> buku; zak —> saku; kaart —> kartu. bank < Italia: banco = bangku/meja. (Bangku yang daunnya lebar, sama dengan meja, bukan?) Pada zaman Pertengahan, banco sebagai tempat pe- nukaran uang logam. (Pada masa itu belum ada uang kertas). Kemudian kt. "banco" menjadi "bank" dalam pengertian sekarang.
bangkrut: Pada suatu waktu, pemilik banco itu ada
yang curang, sehingga para langganannya marah dan merusak banco itu. Banco rusak dalam bahasa Itali: "banco rotto"; lalu ucapannya menjadi "bangkrut" = jatuh pailit; rugi besar sehingga gulung tikar. (Meskipun perusaha- an itu tidak mempunyai sehelai tikar pun. Yaņg benar-benar gulung tikar ialah pedagang kecil yang menggunakan tikar untuk tempat dagangannya).
29. Bangsa; suku.
bangsa < Skt.: vamsa = keluarga. Darmawangsa = menjadi wangsa yang memerintah karena dharma-nya (kewajibannya). wangsa —> bangsa (w -> b) = keluarga besar.
suku bangsa.Kata "suku" = kaki. Karena hewan ternak : yang
menjadi pokok pencaharian nenek moyang kita itu berkaki 4, maka uang 1 suku = 1 kaki = 1/4 = 1½/4 real = 50 sen; (1 real = 2 rupiah). Dan di Minangkabau, ada 4 suku bangsa yaitu: Suku Piliang, Suku Bodi, Suku Koto dan Suku Caniago. Maka satu suku = 1/4 bangsa.
30. Batara, berhala, Brawijaya.
batara < -Skt.: akar kt.: bhr = besar.
Berhala < bharala; ala = kecil. berhala = besar dari pada kita, tetapi kecil dari pada Dewa /Tuhan; yaitu arwah nenek moyang. Brawijaya <— bhra — vijaya = kemenangan besar. Bre Wirabumi < bhra i wirabumi = Pembesar di Wirabumi;
yang mulia di ....
- Batin (kampung, laut), lahir batin. Batin laut = Syah Bandar = kepala pelabuhan. Batin kampung = kepala kampung (= wali negeri, di Minangka-
bau). Di Jawa disebut: lurah (kepala desa). lahir batin
Anaknya sudah lahir = sudah keluar.
- Belakang, buritan, muka, depan, hadap, harap(an). belakang < Jw.: walakang = punggung; (w -> b). buritan <— burit-an <—wuri, Jw. = belakang.
wuri —>uri —> udi; (r --> d); udi—> udik. kudi <— ke udi; sedangkan: kemudi<——kudi + em (sisipan). udi—> um-udik—>mudik = menuju ke belakang aliran sungai (menuju ke mata air).
Bagannya sebagai berikut:
kudi-> kemudi(kapal) = di belakang. W U R I—>uri->udi: 二 udik; mudik.
buri -> burit-an (kapal) = bagian belakang. Haluan < hulu-an = tempat hulu (kepala).
muka < Skt.: mukha = 1) mulut; = 2) wajah, Arb,: yaitu tempat mulut berada; (meluas artinya). = 3) depan; yaitu tempat wajah meng- hadap;(lebih meluas lagi artinya). hadap < Jw. Kn.: hadep = tempat muka; hadapan —> depan; (gejala aferesis).
hadep —> harep —> harap = yang di
depan. hadirat;(periksa: hadir!)
Bengawan < Jw.Kn.: pang-hawan = alat (sarana) jalan. Karena
jalan utama pada zaman dahulu berupa sungai, maka "pang-hawan"= sungai. Kemudian menjadi: "benga-
wan".....Solo.Bencana < Skt.: vañcana = kerusakan; mala petaka < Skt.:
pātaka = kejatuhan; (kt. benda); mala = kotoran; te- tapi mālā = rangkaian.Ber (awalan). dan me—, etimologinya sama.
Contoh: berapi= Merapi; yaitu ada api. berabu= Merbabu; yaitu ada abu; menge- luarkan abu. bertamu = maratamu, Jw = menjadi tamu. berguru = maguru, Jw. = belajar kepada guru. Karena di dalam bahasa kuno ada kata "wwara", dan dianggap kata yang paling tua, maka kata itu sebagai asal dari kedua awalan tersebut. Bagannya sebagai berikut:
bara = bar →>ber. Di Minangkabau : ba—,
7 sebab r tidak diucapkan. Misalnya: ba-kudo = ber- kuda. WWARA Jika diikuti dengan vokal, barulah r itu diucapkan mara->mar ->me-. dengan jelas. Misalnya: bar-anak = ber-anak. Sekarang pun masih banyak kata-kata yang berawalan: ber dan me yang sama (hampir sama) artinya. = menyanyi;
Misalnya: bernyanyi
bertandang = martandang; (bahasa Ba-
tak). bertanak nasi .= menanak nasi.
36. Beranda, balai (rung), pe.dapa.
beranda < Port.: veranda = serambi muka = pendapa, Jw. balai (rung) < balai ruang = atap yang menghubungkan
pagelaran dan istana. (Menurut Dr. Klinkert).
Menurut Muh. Zain, dari: Skt: rang > rong
rung —> ruang. ruang = 1) isi perut;
= 2) isi perut kapal. Menimba ruang = mem-
buang air yang masuk kapal, karena angin dari samping kapal. Maka angin itu disebut: angin timba ruang. Jadi ada dua pendapat: rung; (menurut Dr. Klinkert). ruang —> rung > ruang; (menurut Muh. Zain).
Pendapat saya: Variasinya. Menjadi Dari
| rong, Jw. | rung | ruang |
|---|---|---|
| ros, Jw kalong, Jw | rus mut | ruas muat |
| angop, Jw | angup | menguap |
Lain-lain keluang kalung
mot, Jw (karena me- ngantuk; bukan: ketel- uap!)
- Berlian, ratna, intan, mutu, manikam, zamrud, delima, biduri, permata, nilam, lazuardi. berlian < Bld.: brilliant (= Ing.) = 1) berkilauan; gemerlapan;
2) intan yang sudah dicanai; (dibuat segi-segi/faset- faset sehingga gemerlapan. Makin banyak segi-segi- nya, makin gemerlapan dan makin mahal pula harga- nya.
intan= batu permata yang tidak dicanai. ratna < Skt.: ratna =.permata (dalam arti sekarang). mutu = 1) mungkin dari kata "mata"; (menurut Prof. Dr. Purbatjaraka).
2) dari bahasa Tamil = satuan ukuran nilai emas; 10 mutu = 24 karat. Kemudian, keadaan; kwalitas; (untuk barang apa saja,
3) meskipun bukan dari emas).
manikam< Tml.: < Skt.: mani = sejenis permata yang asalnya dari dalam tubuh binatang, ikan hiu, ular, dsb. zamrud < Pars.: = permata hijau. Zamrud terserak di sepanjang katulistiwa (Multatuli)
X diasah (diserudi dsb) dg canai(=gerinda)
= negeri Indonesia yang selalu tampak hijau sepanjang musim. merah delima = merah seperti buah delima. = permata berwarna merah seperti warna delima merah. biduri(widuri) = permata ungu muda, seperti bunga widuri (biduri). nilam < Tml.: = permata biru hitam (warna nila). lazuardi < Pars.: = permata biru-laut (biru langit).
Betawi < Bld.: Batavia < Batavier, yaitu nenek moyang bangsa Belanda yang pertama kali menduduki tanah Nederland. Sekarang disebut: Jakarta < Skt.: jayakrta = dibuat menang. Nama itu diberikan setelah Faletehan (Fatahilah) menang melawan Francisco de Sā (Portugis) ±.1527. (Menurut Prof. Dr. Sukanto, pemberian nama Jaya- karta itu dikira-kirakan tanggal 22 Juni 1527). Sebelum itu, namanya Sundakalapa.
- Biaya, bea, cukai, pajak.
biaya; (Ind.). 7 biaya < Skt.: vyāya —> byaya:
beya (Jw.) —> bea (Ind.) cukai < Tha.: cuke, yaitu sebagian dari kemenangan dalam berjudi, dikumpulkan untuk yang menyelenggarakan (yang mempunyai tempat itu). pajak < Jw.: pajeg <— pa-ajeg =
1) yang tetap; yang dilakukan tiap-tiap waktu tertentu; kebiasaan.
2) yang harus dibayar tiap-tiap waktu tertentu.
- Biara, asrama. biara < Skt.: vihara =
1) tempat tinggal bersama pendita-pendita Hindu.
2)t tempat tinggal bersama pendita-pendita (biara- wan/biarawati Katholik).
asrama < Skt.: āçrama = tempat melepaskan lelah (peristira- hatan). asrama, Jw. Kn.: pertapaan; yaitu tempat melepaskan.. duniawi. Bidan, biduan, biduanda, bidadari (a). Semuanya < Skt.: vid = tahu. bidan, biduan < Skt.: vidvan =
1) yang mempunyai banyak (kaya) pengetahuan;
2) orang yang berpengetahuan tentang melahirkan /merawat bayi, dan tentang menyanyi di istana. Jadi, bidan istana dan penyanyi istana. Sekarang ada pembedaan antara: biduan (pria), dan biduanita (wanita). Biduanita <——biduan wanita; gejala kontraksi. Jadi "ita" itu bukan akhiran seperti wan dan wati.
biduanda = pesuruh istana yang dipercaya oleh raja. Misal- nya, Hang Tuah mula-mula menjadi biduanda, lama- lama naik pangkat sampai menjadi Laksamana. Akhiran: "da" adalah akhiran penghormatan (honori- fix sufix). bidadari (a) < Skt.: vidyadhari (a) = yang membawa. pengetahuan. vidya = pengetahuan; dhara(i) = yang membawa; a, akhiran laki-laki; i, akhiran perempuan. Sebabnya, di dalam bahasa Sansekerta ada dibedakan jenis kelamin kata, yaitu: laki-laki (masculinum), perempuan (femininum) dan banci (neutrum). Demikian pula di dalam bahasa Jerman.
Bila, waktu. bila < Skt.: vela = waktu, Arb. /
Contoh: Bila ia pulang, tentu membawa oleh-oleh. = waktu ia pulang... Bilamana ia tiba? = waktu mana ia tiba?Binasa; rusak. binasa < Skt.: vināça = kerusakan(kt. benda).
= merusak. Dari: vi-naç "rusak" adalah kt. Indonesia aseli.Bodoh, muda, pandai, pendeta, pandai besi. bodoh 2) tidak berakal; pandir; dungu.
muda < Jw.Kn.: = bodoh. Orang muda = orang yang masih bodoh tentang norma-norma kemasyarakatan.
pandai, pendita < Skt.:pand = pintar; pandai.
pendeta/pendita < Skt.: pandita = yang dipandaii, yang
diberi kepandaian; yang pintar. Nama-nama: Pandit Jawaharlal, Laksmi Pandit, juga dari kata itu.
pandai (emas, besi) < Jw.Kn.: pang-de = pekerja; mang-de =
mengerjakan; membuat. De-ning (kt. sambung) = oleh, Ind.: pekerjaan dari... Contoh: Patapan rusak de-ning prahara = pertapaan rusak oleh angin; (pekerjaan dari angin). 茶
- Buana, benua, bumi, pertiwi. buana < Skt.: bhāvana = penjadian; yang dijadikan oleh
Dewa, yaitu bumi (tanah).
Bandingkan: bawana ——> boana = buana; (aw->o->
u).
D D
benua <— buana; gejala: metatésis = tanah (pulau) besar, sebagian dari bumi. (menyempit artinya). bumi < Skt.: bhūmi = tanah bhāvana, bhūmi <—√bhū = menjadi. bahwa (kt. sambung), juga dari akar kata tersebut <- bhāva = keadaan. 二 Pertiwi < Skt.: prthivi
1) dewi bumi. Kemudian berarti
2) bumi. Lalu menyempit artinya
3) sebagian dari bumi ini, yaitu tempat kita dilahir- kan; tanah air Indonesia.
46. Bupati, senapati, adipati, patih. bupati < Skt.: bhū + pati =
1) tuan (yang menguasai) tanah. Kemudian berarti:
2) raja daerah (pada zaman dahulu). Sekarang,
3) kepala daerah tingkat II (kabupaten).
senapati < Skt.: senā =. laskar; tentara; pati = tuan. Senapati = tuannya/empunya/pemimpinnya tentara. adipati < Skt.: adhi = baik; mulia. Adhipati = tuan yang baik (mulia). Lalu: = raja daerah (lebih tinggi dari pada bupati). Misalnya: Adipati Wiraraja. patih <— pati. Pati —> patih; gejala bahasa: paragos.
- Dagang, galas, saudagar, berniaga, pengusaha, tengkulak.
didagang, digalas = dipikul. Contoh: Tak beban batu digalas. menggalas = memanggul sebuah beban di ujung alat pemikul (pikulan?), sedangkan ujung yang lain di- pegang untuk mengimbangi berat beban itu. (Periksa gb.). Di Minangkabau, masih umum dipakai kt. "pergi menggalas" = pergi berdagang. (Pai manggaleh).
Perubahan semantik itu dapat dibagankan sebagai berikut: penggalas (pedagang)= 1) orang yang memikul (apa saja). = 2) orang yang memikul barang jualan. = 3) penjual (meskipun barang jualannya tidak dipikui). = 4) orang asing; sebab pada zaman dulu yang berjualan pada umumnya orang asing. Contoh: Laki pulang kelaparan, dagang lalu ditanakkan. Amir Hamzah, ketika belajar di Solo, dalam sanjak- nya menyebut dirinya "orang dagang" = orang asing; perantau. Demikian pula "pergi berdagang" = pergi ke negeri asing (negeri lain). Maksudnya ke daerah lain; um- pama dari Padang ke Medan, ke Jakarta. Jadi tidak perlu ke "luar negeri" seperti pengertian sekarang. saudagar < Pars.: = pedagang; = pedagang besar. tengkulak = pedagang kecil. Barangkali dari kt. "peng-kulak". (Di dalam bahasa Jawa, kulak(an) = membeli sesuatu untuk dijual lagi; pengantara produsen dan konsumen). berniaga < Tml.: baniaga < Skt.: vanijya = barang dagangan. Jadi, "berniaga" adalah kt. dasar; ber-, dalam kt. itu bukan awalan. Tetapi, sekarang "niaga" dipakai seolah-olah kata dasar. Contoh: Pelayaran niaga, Panca Niaga, Per-niaga-an. Maka "ber" dalam kata itu seperti awalan. pengusaha, peng-usaha < Skt.: utsāhā = ikhtiar.
- Dahaga < Tml.: dhāgam = ingin.
Mungkin "dhagam"< Skt.: dāha = panas. Sekarang, dahaga = haus; ingin minum (karena panas).
49. Dahulu, hulu (sungai, hati, balang), (wulu, Jw.):
dahulu < Jw.Kn.: ra-hulu (r --> d); ra = yang terhormat (mulia); hulu = kepala; (wadah otak).
"ra", awalan untuk menghormati (honorifix prefix),
sebab waktu lampau adalah penuh kegaiban, lagi pula erat hubungannya dengan nenek moyang, maka harus dihormati. (Animisme; dinamisme). hulu sungai = kepala sungai; permulaan sungai; mata air sungai
(h)ulu hati = kepala hati; yaitu hati yang di atas = jantung. Hulubalang = hulu + bala + ng Raja.
hulu = kepala; pemimpin; bala = sena, Skt. = laskar, Pars. hulubala= kepala laskar; panglima. ng Raja = Hyang Raja; Sang Raja (= The King, Ing.). Jadi, ng dalam bahasa Jw. Kn., sebagai kata sandang (artikel), seharusnya ikut kata di belakangnya. Di dalam bahasa Melayu, mungkin karena salah potong sehingga ng itu ikut kt. di depannya. (bala-ng). Bentuk yang aneh itu disebut juga unik form; (bentuk yang ganjil). Lebih aneh lagi, bentuk yang ganjil itu ternyata banyak sekali teman-temannya. Misalnya: inang (pengasuh) <— ina ng pengasuh = ibu yang mengasuh; si pengasuh; pelayan wanita di istana yang bertindak sebagai ibu, menyusui putra- putri raja. yang <—— ia- ng. Samsudin yang mengambil buku itu = Samsudin ia ng (= si) mengambil buku itu. dang (Merduwati) < ra ng (Merduwati) = Yth. si Merduwati. Jw. Kn.: ring patapan = ri ng patapan = di itu per- tapaan. Sandhyakala ning Majapahit = Sandhyakala ni ng Majapahit = Senjakala di si Majapahit.
50 Daksina, paksina, utara, selatan. daksina < Skt.: daksina = 1). kanan. Kemudian, = 2) selatan; sebab bangsa Arya dari daerah barat ke India (ke timur), arah sebelah kanan mereka adalah arah "selatan". Lawannya ialah: paksina = 1) kiri; = 2) utara, sama artinya dengan "laut" = lor, Jw; ( t->r). utara< Skt.: uttara = di atas; lebih atas; lebih tinggi. Bangsa Arya menyebut sebelah "sana" gunung Himalaya dengan kt. "uttara", sebab tempat itu menurut pandangan mereka (seolah-olah) di atas gunung itu. Berhubung dengan arti etimologi itu, maka orang lalu membuat ungkapan "meng-utara-kan" pendapat = "meng-ke atas -kan" pendapat; menimbulkan; mengeluarkan.. selatan < Ind.: = tempat selat; yaitu selat Sumatra; (dulu selat Malaka). Karena nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari Yunan (di sebelah utara selat tersebut), maka mereka menyebut arah "kidul" dengan kt. "'selatan". Ke selatan= ke tempat selat... Sumatra. Sekarang, walaupun kita tidak lagi bertempat tinggal di sebelah utara selat itu, tetap menyebut "selatan" untuk arah "kidul". (= South, Ing.). Kt."selatan" itu, salah satu kata yang dipakai oleh Dr. H. Kern untuk membuat hipotesa bahwa bangsa Indonesia asalnya dari sebelah utara selat Sumatra.
- Dang, Sang, Ratu, Datuk, datu, Dato, raja. Dang <— dang (r −> d)= yang terhormat (mulia).
Dahulu, "dang" dipakai sebagai gelar orang lelaki maupun perempuan. Tetapi kemudian, "dang", gelar untuk perempuan, "sang", untuk lelaki.
Ratu <— ra + tu. Ra = Yth; (yang mulia); tu = orang.
Ratu = raja perempuan. (Dalam bahasa Jw, baik
lelaki maupun perempuan disebut: Ratu).
Rara
Tetapi sering berubah ucapannya menjadi: Lara (Gejala desimilasi).
Misalnya : Rara Jonggrang -> Lara Jonggrang.
Rara Mendut —> Lara (Loro) Mendut. Datuk, datu —> Ratu(r -> d).
Datuk di Minangkabau sekarang sebagai gelar bangsa-
wan, seperti halnya "Sutan". Misalnya: Datuk Majoindo, Datuk Maringgih, Datuk Bagindo Malano; Sutan ·Takdir Alisyahbana, Sutan Syahrir, Sutan Makhudum. t u, di Sulawesi menjadi: t o. Misalnya: To-n-dano = orang danau. To-m-bulu = orang Bulu. To-raja = orang atas.
Di Lombok (bhs. Sasak), t a u =,orang. Mungkin
kt. "t a u" lebih tua dari pada "t o" maupun "t u",
mengingat: tarum(a) −> t o m; (au −>o). Tom = pohon nila.
jaum, Jw Kn −> d o m; (au −> o). Dom = jarum
(jahit, kompas; jam). pe-dom-an = pe-jarum-an (tempat jarum). daun -> d o n; (au -> o). Don = ron, Jw. laut ->10 t;(au-> 0). Lot = lor, Jw. = utara. Barat laut = barat utara.
Timur laut = timur utara. Daya = selatan. Barat daya = barat selatan. Timur daya = timur selatan; (tengga- ra). 二
1) yang memerintah.
Raja < Skt.: rāja Dari"raj"= memerintah. "
2) kepala kerajaan (pria).
52. Dana, Dana Bantuan, Perdana Menteri, mantra, doa. dana < Skt.: 1) dāna = pemberian. Dari akar kt. dā
memberi. Kata Indonesia yang asalnya dari kt. "dana" agaknya tidak ada. Dalam bhs. Jawa ada kt. "dana weweh" = memberi-beri... (kepada sesamanya)."Dana driyah" = memberi kepada masarakat. Kt. "driyah" agaknya dari kt. Arab: jariyah = masarakat; sosial
2) dhana = kekayaan; uang. Yayasan Dana Bantuan = yayasan yang mengurus "kekayaan" atau "uang" untuk bantuan. Dana Sosial = "kekayaan (uang)" untuk memban- tu masarakat.
3) dhana = tempat duduk. Perdana Menteri <-- pra + dhāna; pra = depan; muka, Dhāna = tempat duduk: Yang tempat duduknya di depan, Ketua Dewan Menteri.
Menteri, mantri < Skt.: mantrin = yang ber-mantra; mantra = hasil pikiran; pengetahuan; ilmu. Dari akar kt.: "man" = berpikir.
Kesimpulan:
a) Perdana Menteri = menteri yang tempat duduknya
di depan; Ketua Dewan Menteri; Ketua Kabinet.
b) Menteri = orang berilmu; pintar.
c) Sekarang dibedakan antara: — menteri = anggota kabinet.
- mantri = pegawai menengah.
(Misalnya: Mantri Kesehatan, Mantri Pertanian, Mantri Guru, Mantri Ca- car, Mantri Jalan). mantra = alat berpikir. Sekarang, berarti: doa, Arb. Bagannya: Menteri Mantri <— akar kt.: "man" = berpi-Mantra kir.
Dara, gadis; bidadari, merpati, bulan di langit. dara < Skt.: dāra =. anak perempuan. Sekarang, gadis; (menyempit artinya).
Di Minangkabau = penganten; (anak daro); (lebih
menyempit lagi artinya). dara, Jw. = merpati (burung); jadi tak ada hubungan arti dengan kata itu.
Dara Jingga, Dara Petak (= putih), agaknya dari kt.
"dara" itu. Bidadara, bidadari, Jaladara (tokoh wayang), sasadara (= bulan di langit), semuanya dari kt. Skt.: dhara = yang membawa
(mengandung); yang ber-. .. Bidadari, (periksa: Bidan!). Jaladara <— jala + dhara = yang mengandung air; yaitu mendung; awan. Jala= air.
bulan = sasi = sasadara <— caçadhara. Caça = kelinci; dhara
= mengandung; ada; ber-... Yang membawa (ada) kelinci, yaitu bulan di langit. Menurut pandangan orang Hindu, bulan itu ada (bayangan) kelinci. Dongeng Jawa tentang hal itu juga dari cerita Hindu. Dalam puisi sering kita jumpai kt "kamar" atau "alkamar"< Arb.: Qamar = rembulan; sasi; sasadara. Tetapi kt. "sasadara" hanya kita jumpai dalam puisi-puisi Jawa saja.
- Darma, bakti, darmawisata, pariwisata, derma. darma < Skt.: dharma = 1) kebaikan; lalu berarti:
= 2) kewajiban; (sebab kebaikan menjadi kewajiban bagi setiap orang). bakti < Skt.: bhakti = kebaktian; kesetiaan. Darma bakti = kebaktian (kesetiaan) terhadap kewajiban. darmawisata < Skt.: dharma + wiçata. = bepergian sebagai kewajiban. pariwisata < Skt.: pari = umumnya; hal-hal; tentang; ke — an; viçata = bepergian. = hal-hal bepergian; tentang bepergian; ke-wisata-an. pari, Skt. = ke — an, Ind. pari-wisata = ke -wisata-an. Cukup! Tidak perlu ada kt "kepariwisataan". Ini berarti memakai "ke an" dan "pari". Sedangkan artinya sama saja. Pakailah salah satu saja. Perhatikan kata-kata di bawah ini! = tour;- wisata wisatawan = tourist; ( kata. "pariwisatawan", berlebih- lebihan ). = tourisme. pariwisata = (kewisataan 99). derma < Skt.: dharma. Karena "kewajiban" untuk "membe-
ri" kepada sesamanya itu adalah kebaikan, maka sekarang, "derma" = pemberian. Contoh: Pasar Derma = fancy fair, Ing. Singkatnya, derma = kewajiban memberi —>pemberian.
- Denda, hukum, hakim, jaksa, pidana, perdata. denda < Skt.: danda = 1) hukuman; pukulan.
= 2) kewajiban membayar sebagai hukuman. hukum < Arb.: hukm = pengetahuan. 品 29
hakim < Arb.: hakim = yang berpengetahuan.
Kedua kata itu ada hubungannya dengan kt."hikmat'" = pengetahuan. jaksa < Skt.: adhyaksa = pengawas; pemeriksa. adhi-aks = mengawasi; memeriksa. Pada zaman Majapahit ada 2 orang "dharmādhyaksa" (dharma + adhyaksa) yaitu penjabat yang mehgurusi keagamaan untuk agama Civa dan Buddha.
pidana < Skt.: pidana = siksaan Bhs. Jw: "dipidana" = disiksa; disakıti badannya. perdata < Skt.: pra + datta = yang diberikan di muka; akar kt.: dā = memberi.
Derajat < Arb.: darajat / (Dibaca: darojat).
22 (Nama Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Dorojätun, agaknya dari kata itu; tetapi banyak orang menyebut- nya: "ndoro'Jatui" = Tuan Jatun).Derita, sederhana. derita < Skt.: dhrta = ditahan; ditanggung; dipikul.
menderita = menahan/menanggung/memikul... kesu-
sahan.
sederhana
gungan; = menahan nafsu demi kebaikan. Sekarang =
seadanya; tidak mewah.
Kedua kt. itu dari akar kt.: dhr= menahan; menang-
gung.
58. Dinas < dienst = jawatan; pekerjaan..
= pekerjaan negara. ikatan dinas <— dienst verband, Bld.
59. Dinihari, hari, halilintar, senja, sandiwara, sandi, sendi.
dini (hari) < Skt.: dina = kuning.
Dinihari = waktu terbit cahaya kuning di sebelah timur, sebelum matahari terbit, ± jam 05.00 pagi.
hari < Skt.: Hari = Wisynu(nama lain sebagai dewa penguasa
angkasa). Oleh karena itu segala sesuatu yang terjadi
di angkasa disebut dengan nama "hari". Misalnya: pagi hari, siang hari, senja hari, matahari.
= waktu 24 jam. Sebab perubahan waktu pun, 'hari' - lah yang menentukan.
halilintar <— hari + lontar; yang dilontarkan oleh Hari (Wisynu). *)
*) Sampai sekarang menjadi kebiasaan di Jawa Tengah, jika ada kilat atau petir, orang selalu menyebut nama "Hari" supaya selamat. Tetapi karena salah dengar, orang menyebut "Nderi" atau "gandrik" ditambah"putune Ki Ageng Selo" = Hari! (saya) cucu Ki Ageng Selo." (Ki Ageng Selo adulah tokoh dalam cerita rakyat, khususnya di Demak, Jawa Tengah). Konon merurut yang empunya cerita, Ki Ageng Selo dapat menangkap petir, lalu petir itu dipenjarakannya di mesjid Demak. Atas permintaan isteri Sang Petir. maka petir dibebaskan dengan sarat, tidak boleh mengganggu lagi anak cuc Ki Ageng Selo. Kata-kata "nderi" atau "gandri(k) putune Ki Ageng Selo", «ntuk memperingatkan Sang Petir supaya tidak lupa akan janjinya. Rupanya Ki Ageng Selo adalah "Benyamin Franklin-nya" orang Demak (Jawa Tengah).
samdhyakāla < Skt.: saindhyakala = pertemuan waktu.
sam = bersama; dhya < √dhi = bertemu; kāla = waktu = waktu siang dan malam bertemu bersama; ± jam 18.30. Sandhyakala ning Majapahit = Sandhya kala ni ng Majapahit = waktu senja di (Si) Majapahit; Arti kiasannya: Majapahit mulai gelap (akan runtuh). samdhyakāla —> sandi kala—> candi-k ala, Jw.: semakin jauh perubahannya). = sandi <— Skt.: samdhi bertemu bersama;
2) pertemuan (persambungan) 2 kata; 'misalnya: verka + udara —> verkodara (a + u —>o). Karena sandi (persambungan) kata-kata itu sering sulit diketahui asalnya, maka seolah-olah mè- rupakan "rahasia". Oleh karena itu, kemudian berarti:
3) rahasia. Misalnya: Polisi sandi.Sandiwara (= pengajaran rahasia). Sebab penonton mesti mencari sendiri "pengajaran" yang terkandung di dalamnya. (wara/warah, Jw. = pengajaran).
samdhi —> sendi.... tulang, yang artinya masih asli. (= persambungan). Bagannya sebagai berikut:
1) senjakala = pertemuan waktu
7 siang dan malam;
2) sendi tulang= pertemuan
Skt.: saindhi: (persambungan tulang);
3) polisi sandi = polisi rahasia;
4) sandiwara = pengajaran rahasia.
Dirgahayu, usia, umur. dirgahayu < Skt.: dirgha(m) = panjang (jauh); ayus = hidup;
= hidup panjang; panjang umur; panjang usia. Sekarang berarti:
= mudah-mudahan panjang umur. usia < Skt.: ayusya = umur, Arb. ayusya > yusya > yuswa, Jw. = umur; (sya> swa). yusya —> usia = umur; (sisya > siswa = murid, Arb.;(sya ->swa).
- Duka cita, kabung, berkabung, belasungkawa. duka < Skt.: duh-kha. (Periksa no. 64!). cita < Skt.: cita = yang dipikir; pikiran; angan-angan.
cita-cita = angan-angan yang akan dicapai; keinginan. (ber)kabung = 1) enau; (sebangsa palm; aren, Jw; arenga palm). kabung < kawung; = 2) daun enau.. Sekarang "kawung" = daun nipah (sebangsa palm, enau juga), biasanya untuk menggulung tembakau (rokok). Corak batik "kawung", Jw. = gambar "buah enau". Sekarang dipakai sebarang waktu. (Mungkin dahulu dipakai untuk berkabung saja?) = 3)dukacita; Pada zaman dahulu (di beberapa tempat juga sekarang), daun enau/kawung/kabung dipakai sebagai tanda berdukacita. Misalnya bila ada wabah penyakit, di atas pintu rumah diberi "daun enau/kawung/ kabung", ketupat dari daun nyiur muda (= janur) dan ditambah daun salam (setelah pengaruh Islam). Mak- sudnya untuk menolak penyakit yang sedang me- rajalela. Tetapi nama "kawung/kabung" itu telah mereka lupakan. Sebaliknya, daun nyiur muda (ianur) dipakai sebagai
tanda "bersukacita". Misalnya: pada waktu ada per- alatan, perayaan, pesta dan lain-lain, daun nyiur tidak ketinggalan sebagai perhiasan.
- Dua < Jw. Kn.: rwa(dwa) = 2.
Bahasa Skt.: dwi = 2; dva daça = 12. Saya kira, lebih dekat: rwa (dwa) —> dua; daripada dwi—> dua. Supaya lebih jelas, perhatikanlah bilangan-bilangan dalam bahasa Skt. di bawah ini! = 11.
| eka | eka daça | ||
|---|---|---|---|
| dvi tri | trayo daça | = 13. | |
| catur | catur daça | = 14. | |
| pañca | pañca daça | ||
| sas | = 16. | ||
| sapta asta | = 7; = 9; | asta daca | = 17. = 18. = 19. |
| daça | vimşati |
= 1; = 12. = 2; dvā daça = 3; =4; = 15. = 5; = 6; (Jw.Kn: so daça sad); sapta daça = 8; nava daça nava = 20. = 10; Dan selanjutnya bilangan-bilangan yang sering kita jumpai di dalam pustaka Kuno, misalnya: cata = 100; Cata Kurava = Kurawa (keluarga Kuru), yang 100 orang. sahasra = 1.000; Sahasrabahu =.bahunya 1.000; (na- ma tokoh dalam Mahabharata). ayuta = 10.000; dalam bhs. Jw.Kn.: sa-leksa = 10.000. laksa = 100.000; dalam bhs. Jw.Kn.: sa-keti = 100.000; koti = 10.000.000; dalam bhs. Jw.: sepuluh yuta = 10.000.000. Juta, Ind.: lebih dekat dari: sa-yuta, Jw. dari pada: prayuta, Skt.
Duga, juru batu, duga-duga, Jw. = menjajagi.
duga < Jw.: duga = perkiraan; perhitungan. Misalnya: ora duwe duga = tidak mempunyai perkiraan; tidak memakai perhitungan. Ora duga-duga = tanpa kira-kira.
Ind.: menduga laut = mengukur dalamnya laut;
(memperkirakan). juru batu = orang yang pekerjaannya mengukur dalamnya laut; (sebab mereka menggunakan batu yang diikat dengan tali). Menduga hati orang = mengira-ngirakan batin se- seorang. menjajagi < Jw.: an-jajag-i = mengukur dalamnya air. Dari kt. tersebut, orang membuat ungkapan "'menjajagi." (Th. 1974), yang artinya: mencoba mengukur (mengira-ngirakan) sesuatu.
- Duka, nestapa, suka, cita. duka < Skt.: duhkha; duh (dur) = jelek; kha = langit;
duhkha = langit jelek; mendung.
= cahayanya suram; mukanya su-
ram; susah.
nestapa < Skt.: manas-tāpa; manas (manah) = hati; tāpa= pa-
nas. manas tāpa = 1) hatinya panas; = 2) susah; sedih.
Meskipun kt. "duka" dan"nestapa" itu etimologinya
tidak sama, tetapi sekarang artinya hampir sama, dan menjadi kata majemuk: "duka-nestapa"= susah dan sedih; sangat sedih. suka < Skt.: su-kha; su = baik; kha = langit;
sukha = 1)langit baik; tidak mendung; = 2) mukanya cerah, menandakan "senang".
E
cita < Skt.: cita =1) yang dipikir; pikiran. Dari akar kt: "cit" = memikir.
2) pikiran yang akan dicapai; cita-cita; angan-angan.
65. Dunia < Arb.: dunyā/ 5
= alam fana; negeri yang dekat, hidup sekarang. Lawannya: alam baka; negeri jauh; akhirat. Seluruh dunia = bumi. duniawi (aj) = ke-dunia-an.
- Duta < Skt.: duta = yang diutus; yang disuruh; utusan, Jw.
Hanuman duta = Hanuman yang diutus.. (oleh Rama untuk mencari Dewi Sita yang dicuri oleh Rawana, dalam cerita Ramayana). Sekarang, "duta" = kepala perwakilan di luar negeri.
67.. Eka < Skt.: eka = 1 (satu).
Aneka <— an-eka = tidak satu; banyak. (Bhs. Jw.: neka-neka = bermacam-macam; maneka- warna = bermacam-macam coraknya. Tetapi "aneka" tidak ada hubungannya dengan "bhin- neka").
Empu (mpu), punya, perempuan, pulau. empu (mpu) <— pu (Ind.) = 1) tuan. Misalnya: Empu Sindok = Tuan Sindok. punya < empu-nya = tuan-nya. Misalnya: Buku ini siapa empu-nya? = Buku ini siapa tuan-nya? (pemiliknya?). Sekarang, empunya (punya) = 2) milik. Misalnya: Saya mem-punya-i seekor ayam = Saya me-milik-i seekor ayam.
perempuan <—per-empu-an = per-tuan-an; yang dipanggil
"tuan". Dalam prasasti Gandasuli, ada tertulis kata-kata: "parpuan dang hyang wini" = induk; pokok. Mungkin mula-mula "empu" berarti: induk; pokok; pusat; misalnya: Empu Sindok = induk kekuasaan. Empu Kanwa = induk ilmu. = induk jari-jari tangan (kaki); ibu jari; Empu jari jempol. (Dalam bhs. Jw.: empu kunir = pokok (induk) kunyit; umbi pokok). Dari contoh-contoh itu dapat disimpulkan: "empu"= induk; perempuan = per-induk-an; yaitu "induk" dari semua keturunan. pulau < mpu-laut = tuannya laut. Barangkali hampir sama dengan "amirulbahri" bhs. Arb. mpu-laut > pulau, gejala bhs: apokop. Engku, tengku, tuanku. engku <— tengku <— tuanku. Tengku —> engku; gejala bhs: aferesis. Tuanku —> tengku, gejala bhs.: kontraksi. Tuan> Tan, gejala bhs.: singkop. Tetapi bisa ju- ga: Sutan -> Tan, gejala bhs.: aferesis. 70 Esa, sa, satu, suatu. esa <— sa (Ind.) = 1 (satu). Sa > esa, gejala bhs.: protesis. Arb. Mly.) = sa-batu (se- l suatu <— sawatu( biji). Agaknya karena salah baca, sebab ditulis dengan huruf Arab-Melayu.
G
Faham, mafhum.
00 二 fahan < Arb.: fahm / pengertian. Dari kt. kerja.: fahima / = mengerti. 2020 mafhum / asés, bentuk pasif dari kt. kerja "fahima". = dimengerti; difahami. Kata "di-mafhum-i", dipasifkan dua kali, maka ber- lebih-lebihan. Cukup: "dipahami"" saja!Fasal < Arb.: (Periksa no. 21!).
- Firdaus, surga, neraka, jahanam. Firdaus < Arb.: = surga tingkat 2.
Firdausi, bentuk genitif dari "firdaus". Contoh: Taman Firdausi. Firdaus —> paradise, Ing. = surga. surga < Skt.: svarga = swarga, Jw. Perbedaan fonetik antara "surga" dan "sorga", rupa- nya karena salah baca sebab ditulis dengan huruf
Arab Melayu:
neraka < Skt.: naraka. jahanam < Pars, = naraka, Skt. Neraka jahanam, kt. majemuk setara (dwandwa); sedang gejala bhs.: hibridis (dua kt. dari bhs. yang berlainan, yaitu dari: Skt. + Pars.). Demikian pula akal budi (Arb. + Skt.). Gajah < Skt.: gaja = gajah; (ditambah: h, jika dalam kasus nominatif, singularis, menurut tata bhs. Skt.). Gajah Mada = gajah mabuk. Sebab keberaniannya seperti gajah mabuk. (Dalam bhs. Jw. menjadi : Gajah metà = gajah mabuk). Akar kt. "mad" = mabuk.
Pawang gajah = 1) tukang menangkap dan men- jinakkan gajah;
2) pemiara (yang pekerjaannya memelihara) gajah.
75. Ganda, Gandakusuma. ganda < Skt.: ganda = perhitungan; = menghitung.
Berlipat ganda = berlipat-lipat perhitungannya. Tetapi, Gandakusuma < Skt.: gandha = bau; kusuma = bunga; Gandakusuma = bau bunga ... yang harum. Ejaannya bisa menjadi: Gondokusumo.
- Gaun, blus. gaun < Ing. : gown = pakaian wanita Barat. blus < Ing. : blouse = pakaian bagian atas untuk wanita.
- Gawai, pegawai, pekerja, karya, karena, karta. gawai < Jw. Kn. : gaway (Jw.: gawe) = mengerjakan; membu-
at. Mungkin mula-mula magaway (magawe), = 1) mengerjakan sawah (ladang), seperti masih terdapat dalam bhs. Jw. sekarang: magawe = mengerjakan sawah dengan bajak. = 2) mengerjakan apa saja. pegawai = yang bekerja; karyawan; labour, officer, Ing. pekerja < Skt.: kārya = pekerjaan. Dalam bhs. Jw. masih hidup. Misalnya: makarya = bekerja. Dalam bhs. Indonesia, mulai dipakai lagi
seperti ucapan aselinya, sejak "Kabinet Karya", di
samping kt. "kerja" yang telah lama kita pakaie karena < Skt.: karana = yang menyebabkan kerja (kausatif dari"kr"), yaitu tangan. "Karana", kt. benda. Sekarang,
"karena", kt. sambung = yang menyebabkan (sebab).
Contoh: Jembatan itu rusak karena air bah = Jembatan itu rusak, yang menyebabkan air bah. karta < Skt.: karta = dibuat. Kartanegara= dibuat kota. Yogyakarta = dibuat baik. (yogya = baik).. Tetapi, jika asalnya dari Ayuddhyakarta =dibuat tidak (dapat) diperangi; a = tidak; yuddhya = diperangi; karta dibuat. Kerja, karya, karena, karta (kerta), semuanya dari akar kt.: kr = mengerjakan.
- Gaib < Arb.: ghā'ib/ = tak ada; (maka: tak
tampak; hilang).
79. Gedang, gede, agung, gong, (gereng, Jw.).
gedang < Min.: gadang = besar; (dalam bhs. Min. tidak ada bunyi e pepet, semuanya menjadi: a). Bhs. Jw. Kn.: gong —> geeng = besar; geeng —> gereng; (e-panjang karena kehilangan r); gereng = suara besar, seperti aum harimau. gereng —> gedeng (r —> d) > gedang; gedeng —> geden > gede; (en —>e, seperti akhiran: aken —> ake, dalam bhs. Jw.). Kotagede (di Yogya) = Kotogadang(di Minangkabau). Kedua-duanya etimologinya sama. gong —> agong —> agung = besar. Sultan Agung = Raja Besar. Ki Ageng Pamanahan = Tuan Besar Pamanahan. gong —> gong = instrumen Jawa (gamelan) yang suaranya
terbesar. Dapat disamakan dengan "cantra bas" dalam instrumen musik Barat.
80 Gegabah < Snd.: gagabah = tidak berhati-hati; ceroboh; sembrono, Jw.
Gembala, < Skt.: go- pāla = 1) melindungi lembu; go = lembu; pāla = melindungi. 二 melindungi hewan, apa sa-
2) ja.
82. Gembira < Skt.: gambhira = 1) dalam; (deep, Ing.). Da-
lam bahasa Jw. Kn., ucapan maupun artinya, masih aseli. Contoh: "Gambhira cabdanikang mamuter ya mandra" = Dalam (lah) suara (orang) yang memutarnya perlahan.
b."Mulat irikang ryak agong giritulya, pada gumuruh ya macabda gabhira"= Melihat akan alun besar seperti gunung, bersama-sama gemuruh ia bersuara dalam. Oleh orang yang kurang tahu bhs. Skt., kata "gambhira" atau "gabhira" itu diartikan: "girang". Dalam bhs. Skt.: gambhira kūpa = sumur dalam. Kalimat-kalimat tersebut dari Ramayana sarga XI, 62— 63, halaman 142. Demikianlah menurut Prof. Dr. Purbatjaraka.
Sekarang, gembira = 2) senang yang terpancar dalam mimik dn kata-kata. Conton: b) tersebut, juga untuk contoh kata "agong" dari No. 79.
Gempa < Skt.: kampa = getaran.
Dari akar kt.: kamp = bergetar. Gempa bumi = getaran bumi; (= lindu, Jw.).Gereja / Sekarang berarti: = 1) rumah (tempat) beribadah orang Kristen; = 2) kaum (orang-orang) Kristen; = 3) perkumpulan (organisasi) Kristen. (Bhs. Tagalok: simbahan = sembah-an, Ind. = tempat menyembah).
Guna, guna-guna, pekasih, pesona. guna < Skt.: guna = kebaikan.
Contoh: Lembu itu banyak gunanya. = Lembu itu banyak kebaikannya. guna-guna = pekasih; alat untuk menimbulkan kasih. (Kebaikan bagi sipemilik). pekasih, Ind.: = pe-kasih; kt. "kasih <— ke + asih = ter-cin- ta; dicintai. pesona, Pars.: afsun = sihir; guna-guna. Terpesona = 1) kena sihir; kena guna-guna. = 2) terheran-heran; kagum.Guru, lagu. guru < Skt.: guru = 1) berat. Guru lagu = berat ringan;
(metrum/irama dalam puisi bhs. Skt. dan Jw. Kn.). = 2) pengajar; sebab berat ... ilmunya. lagu < Skt.: laghu = 1) ringan; = 2) melodi yang berirama.Gita < Skt.: gita = nyanyian; puisi.
Bhagavat gita *) = nyanyian mulia (pujaan) kepada De- wa/Tuhan. gita = nyanyian; bhagavat = mulia. Bhagavatgita, bagian dari Mahabharata yang sangat indah isinya. Yaitu dialog antara Arjuna dan Krisna, masalah konflik psikhologi dalam diri Arjuna yang dibimbangkan oleh kewajibannya sebagai ksatria dan cintanya kepada saudaranya (musuhnya) yaitu Kurawa.
H
88.. Gua < Skt.: gūhā Gulita < Skt.: galita = 1) hilang.
= 2) hilang pemandangannya; tak tampak. gelap gulita = gelap tak tampak; gelap sekali.
- Hadir, hadirin, hadirat. hadir < Arb.: hādir / hadlir / = sedang
datang; datang.
= orang-hadirin < Arb.: hādirina /
orang (jamak) yang datang. = hadapan; tempat mengha- hadirat < Arb.: dap; tempat hadir. 9 Hajat, perlu. = keinginan; rencana. 6 hajat < Arb.: hājat / = keperluan. perlu < Arb.: fardu / fardlu
= hidup. Hayat, < Arb.: hayāt / Ilmu hayat = ilmu ·hidup; ilmu benda-benda yang hidup (tetumbuhan, hewan, manusia) = biologi, Kitab Alhayat = Kitab Kehidupan.
- Hak, hakekat, hakiki.
= 1) benar; kebenaran. Tuhan hak < Arb.: haq / itu haq = Tuhan itu benar. = 2) milik; Tanah itu hak saya = milik saya. = 3) kekuasaan. Hak pemerintah = Kekuasaan......
G/0 dére hakekat < Arb.: haqiqat / = kebenaran;(kata benda). = kenyataan; kesungguhan.
Pada hakekatnya... = pada kenyataannya...
hakiki, ajektif dari: hakikat.
- Hakim, hukum, hikmat, jaksa.
(Periksa No.55)
95 Hamil, bunting.
hamil < Arb.: hāmil / = 1) membawa; sedang
membawa.
2)pembawa bayi di dalam perut; mengandung bayi.
hamala /= membawa.
bunting, Ind. = mengandung. Kata "bunting" dianggap kurang halus (hormat) dari pada "mengandung".
- Hal-ihwal, asal-usul, alim-ulama.
hal < Arb.: hāl J.;
ihwal <— ihwaāl /. = hal-hal (jamak).
halihwal = hal-hal-hal ? (tunggal dan jamak). Bentuk yang semacam itu lagi yaitu: asal-usul < asal + usul/ usul = asal-asal (jamak).
alim-ulama <— alim + ulamā' /
ulama' = orang-orang alim; (jamak dari: alim).
Harga < Skt.: rgha.
Bhs. Jw.: rega (baca: rego); bhs. Min. rago, tidak terlalu jauh dari bunyi aselinya. (Jw.): Pira regane? = (Min.): Bara ragonyo? = Berapa harganya?Hasil, oleh-oleh, oleh (kt. sambung). hasil < Arb.: hāsil /
iek
oleh (kt. sambung) = 1) hasil... pekerjaan; Contoh: Rumah itu rusak oleh angin. = Rumah itu rusak hasil pekerjaan angin. oleh-oleh (kt. benda) =2) hasil yang dibawa dari bepergian; yang dibawa ketika pulang; buah tangan; (dalam pustaka Lama).
- Hatta, hingga, sehingga, peringgan. hatta < Arb.: hatta / = sehingga.
Dalam pustaka Lama, "Hatta" = maka; bahkan sering dirangkaikan dengan kt.. sambung"maka" (hatta maka) = maka-maka. Dalam bhs. Skt.: atha = maka. Jadi, "hatta" (kt. sambung pengantar dalam pustaka Lama, dari Skt.: atha tersebut. (Bukan dari Arb.: hatta).
hingga < Jw. Kn.: hing = batas; hing-an = batas-an; tempat batas. Contoh: Saya makan hingga kenyang = Saya makan batasnya kenyang. (Kalau sudah kenyang, berhenti; tidak makan lagi). peringgan (dalam pustaka Lama) <— per-hingga-an = per-batas-an; tempat berbatas. Perhinggaan —> peringgan; (gejala bhs.: kontraksi).
Hijrah, tahun H (Hijrah). hijrah < Arb.: hijrat = berpindah.
Nabi Muhammad s.a.w. hijrah dari Mekah ke Medinah tahun 622 Masehi. Sejak itu dimulailah tahun 1 Hijrah. (Tahun 1 Hijriyah). Jadi tahun Masehi dengan tahun Hijriyah berselisih 621 tahun. Tahun 1977 M = 1977 — 621 = 1356 H. Tentara R I terpaksa hijrah setelah perundingan Renville disetujui oleh wakil RI dan Belanda. = berpindah dari daerah gerilya (yang diduduki Belanda) ke daerah yang telah disetujui di dalam perundingan itu.Hemat < Arh.: himmat = perhitungan; kira-kira.
Menggunakan uang harus hemat. = Menggunakan uang harus "dengan perhitungan" (dengan kira-kira). Lawannya: boros.Heran, ajaib, takjub.
0 heran < Arb.: hairān / = keheranan;hal heran (kt. benda).
ajaib < Arb.: 'ajib / = keanehan; ada hu- bungannya dengan kt. "takjub" = meng-heran-i; mengagumi. Dari kt. kerja: 'ajiba /
Hewan, hewani. hewan< Arb.: haiwān /
Ug hewani, ajektif dari"hewan". -Contoh: nafsu hewani. Protein hewani.Hulubalang, hulu sungai, hulu hati, dahulu (Periksa No. 49); penghulu, haluan,(wulu, Jw.) penghulu < peng-hulu = peng-kepala; yang mengepalai.
Penghulu suku = yang mengepalai šuku; kepala suku. haluan <— hulu-an = kepala-an = tempat kepala; tempat di muka; bagian muka ... perahu (kapal). = arah depan; yang dituju. (Ada hubungan arti dengan kt. "wulu", bhs. Jw. >(h)ulu = kepala; gambar kepala; bulatan tanda bunyi: i yang ditaruhkan di atas huruf Jawa.
Contoh N7 = pi. Ada lagi "suku" = kaki; gambar kaki; yaitu tanda bunyi: u ditaruhkan di bawah huruf Jawa.
Contoh:
γ = pu).
- I (akhiran), di (preposisi). i (akhiran) <—i (preposisi).
Contoh: Ia memasuk-i rumah.= memäsuk di rumah. Mauk-i gua itu! = Masuk di gua itu! Lalu, i (preposisi) itu diikutkan ke depan sehingga menjadi i (akhiran). di (preposisi) <— ri (preposisi dalam pustaka Kuno). Contoh dalam bhs. Jw.Kn.: ri-ng kana = di sana; (r ->
d). ri-ng Tumasik = di Tumasik. Ng, sebenarnya kt. sandang maka ikut kt di belakang- nya.
106. Ibarat, misal, umpama.
= per-umpama-an ibarat < Arb.: 'ibārat /
misal < Arb.: mitsl / 3= contoh.
u(m)pama < Skt.: upamā = ukuran dekat; upa = dekat; akar- kt.: mā = mengukur; upama = mengukur (membandingkan) dengan barang yang dekat. upama > umpama; gejala bhs.: epentesis.
- Ikrar < Arb.: iqrār / = ketentuan.
Dari kt. kerja: aqara / = menentukan.
Ber-ikrar = mengatakan ketentuan. (Tak ada yang menyaksikan). Berjanji = mengatakan janji. (Ada yang menyaksikan).
Ber-sumpah= berjanji. .... kepada Tuhan/Dewata.
- Imam, iman, mukmin. imam < Arb.: = pemuka; pemimpin.
Dari kt kerja: amāma / = depan.
iman < ·Arb.: iman = kepercayaan. ~9 mukmin < Arb.: mu'min /E0= orang-orang ber-iman (diimani); orang-orang percaya.. .(kepada Tuhan).
Indonesia < Ltn.: Indos = Hindu; nesos = pulau-pulau (kepulauan). =1) pulau=pulau Hindu. Kepulauan yang penduduknya sangat dipenga- ruhi oleh kebudayaan Hindu. Jadi bukan pulau-
pulau di wilayah RI saja, tetapi juga pulau-pulau di sekitarnya. Kata "Indonesia" mula-mula dipakai oleh se- orang ethnoloog Jerman, C. Bastian, sebagai isti- lah ethnologi (ilmu bangsa-bangsa), dengan ar- ti tersebut di atas. = 2)Dalam Ilmu Bahasa, "Rumpun Bhs. Indonesia" meliputi: bhs. Melayu di Malaysia; bhs. Formosa dan bahasa-bahasa di kepulauan Riukiu; bhs. Indonesia di wilayah RI.; bhs. Malagasi di pulau Madagaskar Timur; bhs. Tagalog dan Bisaya di Pillipina, dll. = 3)Negeri (tanah) Indonesia, dan juga nama bangsa serta nama bahasa.
(Dari: Bahasa Dan Budaya, Tahun II No. 5,
Juni 1954).
110. Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun! / UO
= Sungguh kita dari Tuhan dan sungguh kita kepada-Nya kita kembali. (ini terjemahan harfiah. Makna- nya: kata-kata yang tidak perlu hilangkan saja!).
Insya Allah /
= Jika Tuhan menghendaki (berkenan).
Inang pengasuh, istana, astana, setana (baca: stana). inang < Jw.Kn.: ina = ibu; yang memelihara anak.
= wanita pengasuh putra-putri raja. (Periksa No. 49)
istana, astana, setana < Skt.: stāna. = 1) tempat;
J
= 2)tempat kediaman raja; = 3)tempat orang mati; pekuburan. Contoh: Istana Baginda dihiasi dengan batu permata. = 2) Astana Buku. = 1) Astanalaya; setanalaya. = 3)
- Islam < Arb.:
p Kt. "Islam", bukan singkatan dari kata-kata: Isa, Subuh, Lohor, Asar dan Magrib. Perhatikanlah huruf-huruf permulaan dari kata-kata ini (Huruf-huruf. Arabnya):
Isya"-と
20 Subuhw0 C
Lohor 证
Asar JeS E -> Magrib 一0
Lalu bandingkanlah dengan huruf-huruf pada kata: I-s - 1 - a-m (huruf Arab). Ternyata tidak cocok (Singkatan huruf Latinnya memang cocok).
- Janaka < Skt.: = 1) tukang melahirkan; (bidan).
= 2) Arjuna: yaitu naima saudara Pandawa
yang ketiga. Disebut "Janaka" karena anaknya banyak. Tidak jelas hubungannya dengan kt. "jenaka" = lucu.
- Jagung, jawawut, jali, Jawa.
- Menurut pendapat Dr. C.C. Berg: jagung <— Jawawut agung (jawa-agung). Dengan alas-
an:
a. Jagung sebagai makanan pokok yang kedua di Jawa, tak ada bentuk "kromo"-nya. Ini agak aneh.
b. Barangkali dalam kt. "jagung", semula dari "jawa-agung" = jawawut (padi-padian) besar. Dalam kt. "agung" sudah terasa halus dan gagah, lagi pula di beberapa tempat sebagai bentuk "kromo" (halus). Oleh karena itu tak perlu ada bentuk kromonya.
2. Pendapat saya seperti berikut: jagung <— wija-agung = wija (wiji/biji) besar. Jw.: wija,
wiji = biji. Jali (sebangsa gandum), biasa ditanam di pematang dan jumlahnya sedikit. Sedangkan jagung ditanam di tengah ladang dan banyak sebab lebih diperlukan sebagai makanan pokok yang kedua setelah padi. jali ≤ wija alit = biji (wiji) kecil. Sebab isi bijinya lebih kecil dari pada jagung. Besar dan kecil di sini yang dibandingkan ialah jagung dan jali, sebab kedua-duanya biasa ditanam pada satu tempat. jawawut < jawāwut. a panjang itu karena ke- hilangan r. Misalnya: bandā, Min. = bandar; pa- sā, Min. = pasar.
Jika r itu dikembalikan, maka a jadi pendek. Jadi, jawāwut <— jawarwut. Bagannya sebagai berikut: jawawut <—— jawāwut <——.jawarwut <—— wija-war — wut. wija = wiji = biji; war = bar = ber; wut = but; (buk, Btk.) = rambut; diwut-wut, Jw. = berambut-rambut. Dawut (ndaut) = mencabut rambut (akar) benih padi. wija-war-wut = biji berambut; sebab jawawut me- mang rambutnya sangat tebal sehingga bijinya hampir tidak tampak. Jagung juga berambut tetapi hanya sedikit, lagi pula setelah tua, rambutnya rontok atau hilang. Jawa <— jawawut = padi-padian; padi ketitiran. Sekarang biasanya untuk makanan burung ketitiran (= perku- tut, Jw.). Zaman dahulu, pulau Jawa banyak ditum- buhi jawawut. Dalam pustaka Jawa Kuno tertulis : Jawādwipa = pulau Jawa (pulau jawawut). (Pulau Sumatra disebut: Swarnadwipa = pulau emas, sebab pada zaman dahulu banyak menghasilkan emas.) Bagannya:
a. jawawut <—— wija war wut = biji berambut;
b. jagung <— wija agung = biji besar; (lebih be-
sar dari "jali"). *) Kata "wija" dalam bhs. Jw. sekarang masih hidup. Misalnya: palawija = buah biji. Tetapi tidak harus berupa "biji" menurut logika orang zaman sekarang yang sudah makan "teknologi" Barat. Biji, maksudnya "hasil" yang diambil. Dapat berupa: akar (umbi), tangkai -buah atau biji. Palawija ialah hasil bumi, kecuali makanan pokok (padi dan jagung). Palawija dibedakan dalam tiga golongan, yaitu:
a. pala kasimpar (= menjalar), buahnya di,atas tanah dan batangnya menjalar (me- rambat). Misalnya: ketimun, labu, kapri. b, pala gumantung (= bergantung), batangnya tegak, buahnya di atas tanah. Misalnya: pepaya.
c. pala kependem (= terpendam); buahnya di dalam tanah/(umbi-umbian). Misalnya: ubi kayu, ketela rambat (petatas), kacang tanah.
c. jali.<— wija alit = biji kecil; (lebih ke-
cil dari "jagung"). = pulau jawawut.
d. Jawa <— jawadwipa
116. Jaya, Jayabaya, Jayakatwang, Sriwijaya, Jakarta. jaya < Skt.: jaya = kemenangan. Dari akar kt.: ji = menang. (jaya)baya < Skt.: bhaya = takut. Karena kemenangannya,
orang menjadi takut (segan) kepadanya.
(jaya)katwang < Jw. Kn.: katwang = dihormati .... karena
kemenangannya. Sriwijaya < Skt.: cri+ wijaya. cri = bersinar-sinar; gemilang. = kemenangan. vijaya
Sriwijaya =kemenangan gemilang.
Negara yang "menang" (jaya), menjadi unggul, agung,
makmur. Maka kemudian "'kejayaan"= keunggulan; keagungan; kemakmuran.
Jakarta < Skt.: jaya-krta = dibuat menang. (Periksa no. 38!)
Jala, pukat; net. jala < Skt.: jāla = jala; jaring; pukat; (jala rambut wanita,
volley, laba-laba = net, Bld.). Lain lagi: Skt.: jala = air. Misalnya: Jaladhara; jaladri = tem- pat air (lautan); Jala Sena Stri; Jalesveva jayamahe. Jala sena stri = isteri pasukan air. Maksudnya: organi- sasi Isteri Angkatan Laut. Jalesveva jayamahe <—— jalesu = di air; eva = juga; jayamahe = kita menang. Maksudnya: Di lautan juga kita (harus) menang!Jam, arloji, lonceng, pukul, waktu, saat, ketika. jam < Pars.: = arloji, Bld.
arloji, <— Bld.: horloge = watch, Ing.
lonceng < Tha.: lonceng = genta. pukul 10 = jam sepuluh.
Zaman dahulu sebelum orang menggunakan arloji
untuk mengukur waktu, orang memukul tabuh, kentongan, sebagai tanda waktu. Pukul 10 = tabuh dipukul 10 kali; pukul 12 =tabuh dipukul 12 kali. Sekarang, meskipun orang tidak lagi menggunakan tabuh yang "dipukul" untuk penandaan waktu,
kata "pukul" (= jam) masih juga dipakai.
waktu < Arb.: waqt / 9 saat < Arb.: sā 'at /
ketika < Skt.: ghatika. Sekarang kata-kata itu dipakai untuk ukuran waktu yang tidak tertentu. Urutannya dari yang tersingkat sebagai berikut:
Saat — ketika — waktu-musim-masa-zaman.
(Tidak tertentu).
Detik-menit-jam-hari-minggu-bulan -
tahun-abad. (Lamanya tertentu; dapat diukur).
Janda, duda, balu, bali, balui.
- janda < Jw.: randa; (r —> d > j) <— Skt.: randa = be-
kas isteri. duda < Jw.: duda = bekas suami.
Kata ""janda" dan "duda" termasuk kt. baru di dalam
bhs. Indonesia. Dalam pustaka Lama ada kt. "hidup meranda tua" = gadis tua yang belum juga kawin. Randa = perempuan; gadis. Dalam bahasa Melayu Lama ada kata "balu" =. bekas suami/isteri; (jadi, ada balu laki-laki dan balu perempuan).
balu < Jw. Kn.: waluy = kembali; (w —> b). Balu = suami/isteri yang kembali... séperti keadaan sebelum mereka kawin. Atau, kembali .., membujang atau kembali ... ke tempat semula (rumah orang tua-
nya). balui, Mly.: seri; draw, Ing.; (dalam istilah sepak bola).
Pertandingan sepak bola antara kesebelasan A dan B berakhir balui = .seri; draw. Maka harus bermain "kembali"(= balui) sampai ada yang kalah atau menang.
(kem)bali, balik < Jw. Kn.: baluy.
Bagannya sebagai berikut:
> balui; (w -> b) = seri, draw.
balu; (uy -> u) = janda Jw. Kn.: waluy: lelaki/perempuan.
→ bali(k); (uy −> i) = pulih
Perubahan bunyi yang serupa itu lagi:
7apu, Jw. = kapur (untuk makan sirih).
Jw.Kn.: apuy:
api.
duru = tetumbuhan bangsa palma.
Jw.Kn.: duruy:
-> duri.
tamu. Jw.Kn.: tamuy: > tami; (Jw. bentuk kromo/ halus) = tamu.
Jangkar, sauh, galah. jangkar < Bld.: anker = (anchor, Ing.).
Mungkin, jangkar <- diangker = diikat dengan angker. sauh (ind.) = jangkar. Barangkali, sauh (jangkar) pada zaman dahulu hanya berupa "galah" saja. Sebab dalam bahasa yang sekeluarga, yaitu bahasa Formosa, "sao" = galah.Japa, mantra, doa, sihir, pesona, pekasih. japa < Ind.: = kalimat yang diucapkan untuk mendatangkan
kekuatan gaib/minta pertolongan arwah leluhur. Karena pengaruh kebudayaan Hindu, lalu dipakai orang kata "mantra" (Skt.), (Periksa juga No. 52). Sejak pengaruh Islam, dipakai pula kt. "doa", Arb. sihir, pesona, < Pars.: afsun = guna-guna. = kagum;keheranan; terpengaruh sekali. pekasih < Ind.: pe-kasih <— ka-asih = dicintai. = alat untuk menimbulkan kasih.Jasa, yayasan. jasa < Skt.: yasa = 1) kemashuran.
Ia berjasa kepada tanah air = Ia membuat kemashuran tanah air. = 2) tenaga; pikiran. yayasan < Jw.: yayasan <— yasa-yasa-an. Bentuknya reduplikasi/dwi purwa. Contoh lain: pohon-pohonan -> pepohonan; daun-daun-an-> dedaunan; rumput-rumput-an-> rerumputan. Sekarang, yayasan = organisasi berbadan hukum yang mempunyai pekerjaan tertentu. Misalnya: Yayasan Dana Sosial.
77.
- Jebak, perangkap, terpikat, ikat. jebak = 1) sangkar untuk menangkap burung.
Sangkar itu dibagi 2, sebelah untuk tempat burung pemikat (penarik), yang sebelah lagi untuk tempat masuknya burung yang akan ditangkap. Pintunya dibuat sedemikian rupa sehingga saat burung itu masuk, pintu dapat menutup dengan sendirinya. = 2) tertipu; kena jebak; kena perangkap; kena jerat. Tidak hanya burung, orang pun bisa kena jebak. perangkap = alat untuk menangkap burung atau hewan lainnya. Sifatnya lebih umum, tidak tentu berupa jebak. Bisa juga berupa alat lainnya. (ter)pikat < pa-ikat = peng-ikat. pikat, mula-mula = 1) burung yang diikat, untuk menarik burung yang akan ditangkap; = 2) tarik; (terpikat = tertarik); = 3)tertarik perhatiannya. Ringkasannya: terpikat, = 1) mendekat kepada pikat (burung); = 2) tertarik perhatiannya; ter- pengaruh. Bedanya:
a. terjebak = tęrtarik kepada tipuan, akibat-
nya susah/celaka;
b. terpikat =tertarik dengan akibat senang.
124. Jelita, molek, elok, ayo!, ayu!, yuk! jelita < Skt.: jvalita / = 1) yang ternyala;
= 2) berseri-seri; bersinar-sinar. Contoh: Cantik jelita = cantik berseri-seri ..... muka- nya. = 3) cantik nian; cantik sekali molek <—— um-olek <— uli(k) =baik; indah; cantik. Bhs. Batak, uli = indah. Tapian na uli = tepian nan elok = tempat mandi di sungai yang indah. Tapian na uli —> Tapanuli; gejala bhs.: kontraksi. Dalam bhs. Jw. Kn.: Sang Daçarata nāma tā moli = Kehormatan Sang Dasarata tak ada yang melebihi baiknya (membaiki); "moli"<— ma-uli-i = mem-baik-i. elok < olek; gejala bhs.: metatesis. olek <— uli(k). Bagannya sebagai berikut: > molek; (um-olek). uli(k) —> olek: -> elok. ayo! (kt. seru) <— ayu (ajektif). ayu, Jw. = cantik (untuk orang perempuan). Bagus (untuk orang lelaki). Bagus dan gagah disebut: ngganteng, Jw. Kt. "ayu" (aj, Jw.) — >"ayo" (kt. seru, Ind.). Tetapi arti aselinya masih terasa. Misalnya: "Jon, mari kita nonton!" Lalu Jon menjawab, "Ayo!" = Baik! (Bagus!). Arti sekarang = Mari! yuk!, singkatan dari "ayu" yang sering diucapkan: "ayuk!" (Karena jalan napas ditutup atau dipotong suaranya).
- Jemur, anjur, mujur, malang, halang, palang, rintang, lintang. jemur <— jur + sisipan: em = 1) baring.
Contoh: Menjemur pakaian = membaringkan pakaian (di halaman). Dalam bhs. Olo Ngaju (Kalimantan): pajuran = tempat menjemur. Dalam bhs. Batak Toba: bonjur = tempat berbaring di luar. Kesimpulannya: "jur"= terletak memanjang; (bagi barang yang panjang). Demikian menurut Dr. G. Kahlo, dalam majalah Bahasa Dan Budaya Th. I.
anjur = panjang. Daratan menganjur ke laut = memanjang ke laut. Ungkapan: Ia menganjurkan supaya kita hidup seder- hana = memanjangkan... perkataan dari mulut; mengemukakan.
mujur <—— um + ujur = terletak memanjang. Berperahu mujur lebih ringan mendayungnya = memanjang sungai; (sejajar dengan aliran sungai). Karena jika sejajar dengan aliran sungai itu mendayungnya lebih ringan, jadi menguntungkan. Maka "mujur"= beruntung.
Lawannya: "malang" = 1) melintang di sungai; berat
mendayungnya; = 2) susah; celaka; sial.
malang <— um + alang = terletak menurut lebarnya; me-
rintang. halang <— alang.
Tambahan h itu hanya karena "kebiasaan" saja.
Sebenarnya: "alang". palang <— pa-alang = peng-alang; pe-rintang... pintu, jalan,
dsb.
Palang Merah = dua warna merah yang saling me-
rintang.
Alangkah indahnya pemandangan itu.= Ada rintang- ankah untuk mengatakan indah? alang, ujur; kt. dasar primer. malang, mujur; kt. dasar sekunder. (garis) lintang <— rintang; (r —> 1). Ingat juga Hukum Bunyi van der Tuuk yang kedua (R-D - L). Garis lintang = garis yang melintang terhadap garis bujur.
126 Jenggala, Daha, Kahuripan. Jenggala < Skt.: jānggala = 1) belukar; hutan. = 2) Kerajaan Jenggala (di Jawa Timur). Barangkali kerajaan itu dibangun di atas belukar (hutan). (= Jungle, Ing.). Daha < Skt.: dāha= 1) panas; = 2) Kerajaan di Jawa Timur. (Barangkali Daha hawanya panas?): Kahuripan <— ka-hurip-an = ke-hidup-an. hurip —> hudip (r ——> d) —> hidup; gejala bahasa metatesis.
Jendela, tingkap. jendela < Port.: jenela. Tambahan d di tengah, gejala bhs.:
epentesis. (Menurut H.D. van Pernis). tingkap, Ind.: jendela.Jilid < Arb.: jild /
= 1) kulit... buku;
2) seri; buku. Misalnya: Buku jilid I = Buku seri I. Dari kt. kerja (Arb.): jalada /正
= menguliti; memberi kulit.
129. Juang, kelahi, sodor.
juang, berjuang = 1) berkelahi.
Contoh: Gajah berjuang sama gaiah. pelanduk mati di tengah. = Gajah berkelahi sama gajah... = 2) berperang; (perkelahian banyak orang dengan senjata). Contoh: Mereka berjuang di garis depan. = mereka berperang... = 3) bekerja keras; (berperang melawan nasib). Contoh: Saya berjuang mati-matian untuk mencapai ijasah ini. berjuang < Min.: ba-juang; juang, dari kt.: jung, dari: ujung. bajuang*), Min. = 1) bermain dengan ujung sodor (sejenis tombak). = 2) perang-perangan; bermain perang.
Kata "sodor" kemudian menjadi permainan anak- anak yang disebut "gobag sodor". Seorang pemain bergerak maju mundur menurut garis (seperti sodor/ tombak), berusaha memegang lawannya yang me- masuki petak-petak. Jika terpegang, maka lawan itu mati, tidak bermain lagi. Sedang teman si sodor, ber-
*) Sehubungan dengan kt. "bajuang", Min., di Jawa Tengah ada permainan yang disebut "ujungan". Sebab, mengguna- kan "ujung" sebatang rotan yang panjangnya ±75 cm, garis tengah 2,5 cm. Seorang pemain bercambukan' dengan lawannya. Tangan kiri dibebat dengan kain untuk me- nangkis pukulan tangan kanan memegang rotan. Kain bebat itu disebut "badong". Di belakang masing-masing pemain, ada seorang yang lebih mahir dan disebut. "welandang". Ia mengawasi permainan itu. Jika. lawannya melanggar, welandang memperingatkan atau menghukumnya.Sejak zaman Jepang dilarang, sebab bersifat permusuhan, tidak sportif.
- Kata, kalimat, kalam. kata < Skt.: kathā= ucapan; sebutan. Dari akar kt.:
kath = menyebutkan; mengucap-
kan. 9 kalimat < Arb.: kalimat /= 1) kata; = 2) susunan kata-kata.
kalam, ada 2 macam yaitu:
= pena (dari tangkai bulu ayam,
< Arb.: qalam /
angsa, lidi), dipakai pada zaman dahulu. Misalnya: Nenek dahulu menulis dengan kalam dan dawat.
< Arb.: kalam/ perkataan. F Misalnya: Akhirulkalam, kami ucapkan selamat belajar. = akhir kata.
- Kala, Batara Kala, kalajengking, ketonggeng, kelabang, kele- lawar, kelemayar. kala < Skt.: kāla = 1) Ciwa, sebagai dewa Perusak; Bata-
ra Kala. Purbakala <— purvakālá
= 2) waktu dahulu; zaman purba; zaman
dahulu, permulaan waktu; (Periksa
No. 59).
kalajengking = ketonggeng = ketungging, sebab hewan itu
"menungging", ekornya di atas siap untuk menyengat.
Kata "kala" itu agaknya dari arti No. 1 di atas, sebab binatang itu merusak (merugikan) manusia seperti Batara Kala.
gerak ke kiri ke kanan menurut garis melintang,
menghalangi lawannya yang sudah memasuki petak, dan akan ke luar (membebaskan diri) dari petak itu. Jika semua lawan sudah keluar dari petak-petak, maka satu permainan telah selesai. Jadi, "gobag sodor" bu- kan dari bahasa Inggris: go back through the door,seperti banyak dikatakan orang di Jawa.
"gobag", Jw. = permainan, seperti "gobag umpet"
(= sembunyi), .dli.
- Kabar, warta, berita. kabar < Arb.: khabar / warta < Jw.: warta <—— Skt.: vrtta. berita < Skt.: vrtta; (w —> b).
r(Skt.) sering diucapkan sebagai re (e lemah/pepet),
atau ri. Contoh: Krsna, diucapkan "Kresna" atau "Krisna".
Demikian pula: vrtta, diucapkan "wreta" atau
"writa" Bagannya: > wreta -> werta -> warta. vrtta -> writa -> brita ->- berita.
- Kadar, sekedar.
二 kadar < Arb.: qadr/ ketentuan; kemampuan. = qadara/ 正 menentukan; mampu; (to be able to, Ing.).
Ala kadarnya = menurut ketentuannya (kemampuan-
nya). ala < Arb.: = menurut; secara.
"jengking" = menungging; (variasinya: menonggeng). kelabang <—— kala abang = kala merah; sebangsa lipan besar, berkaki banyak suka menyengat. kelemayar <—kala mayar = sejenis lipan kecil bercahaya pada waktu malam, seperti perahu mayar; (perahu panjang banyak lampunya pada malam hari). kelelawar <—— kala lwar = kala lebar; (lwar, Jw. Kn.: = lebar; luas), sebab sayapnya lebar (luas). kala lekar <—kala yang suka melingkar bila tersinggung. 209 Kamus < Arb.: qāmūs / =buku kata-kata.
- kan (akhiran),
1) <- preposisi: akan = untuk; bagi; kepada;
terhadap. Misalnya: Saya membuatkan adik layang-layang. = Saya membuat untuk adik layang-layang.
2) <— kt.: bukan = to?
Misalnya: Kamu tentu ingin lulus, bukan? Kamu tentu ingin lulus, kan? = to?
Karib, akrab.(Periksa No. 9). Karuan, keruan < Jw.: ka-weruh-an = ketahuan.
Contoh: Sekarang ia tak karuan tempat tinggalnya = 1) tak ketahuan. Buku-buku itu tak karuan letaknya. = 2) tak teratur. Karuan saja ia gembiranya bukan main, sebab habis terima uang. = 3) tentu saja.Katib (ketib), khatib.
katib < Arb.: kātib / = sedang menulis; pe-
nulis; juru tulis.
Dari kt. kerja: kataba / = menulis. 二 termaktub, maktub <— maktūb/ tertulis; ditulis; termaktub—ter-di-tulis; ter-ter-tulis; (dipasifkan dua kali).
khatib < Arb,: khātib / peng-khotbah; tu- kang berkhotbah.
khotbah <— khutbah /
- Kejàm, eram, peram, padam.
kejam < Jw.: ka-erem = tertutup; ditutup.
erem -> edem (r -> d) -> ejem (d -> j). Ungkapan bhs. Jw.: Matane merem = matanya tertutup (ditutup). = tak melihat orang lain. = tak me-
naruh belas.
eram; mengeram, Jw.: ang-rem= menutup .. telur, supaya menetas. peram; memeram mangga= menutup..: mangga, supaya masak. padam; memadamkan api = menutup... api, supaya mati.
Bagannya sebagai berikut: ka-erem -> kerem -> kedem -> ke. jem -> kejam; rem ->erem:-> erem-> meng-erem; →pa-erem -> perem -> peram; memeram;
pa-rem —> padem —-> padam; memadamkan.
- Kepada, pada. kepada, pada < Skt.: pāda= 1) tempat.
Contoh: Kepada ayahanda = ke tempat ayahanda. Untuk menghormati oran'g kedua, dengan cara me- nyebut bagian bawah dari tubuh orang itu, yaitu tempat ia berdiri.
2) untuk; bagi; terhadap. Misalnya: Ia berkirim surat kepada ibu.
3)di. Misalnya: Pada hari Mi nggu.
141. Kemudi, kemudian. kemudi, (Periksa no. 32). kemudian = belakangan; yang di belakang; yang belum tiba.
Misalnya: Tuntutlah ilmu sungguh-sungguh. untuk bekal hari kemudian = hari yang di belakang; hari yang belum tiba; kelak.
Kemah < Arb.: khaimat (khaimah) = rumah darurat.
Kemah ibadat = rumah (tempat) beribadat; tempat sembahyang.Kenduri, selamatan, perjamuan, pesta. kenduri < Pars.: khanduri = berdoa bersama, lalu makan mi-
num.
selamatan < Arb.: salamat (salamah) = berdoa bersama. La- lu makan minum. = perjamuan; pesta.
144. Kereta < Skt.: ratha = 1) kendaraan; (dibuat dari kayu).
= 2) kendaraan yang ditarik kuda.
kereta api = kendaraan yang dijalankan dengan api
(untuk membuat uap .air sebagai tenaga). Dalam pedalangan (drama wayang), masih disebut: rata.
145. Keroncong = 1) gelang bergiring-giring (berkelintingan), bia-
sanya dipakai oleh penari India. = 2) beberapa gelang kecil-kecil, biasa dipakai oleh wanita (bukan penari). = 3) lagu Indonesia semacam langgam, yang polanya tetap; misalnya: Kr. Bandar Jakar- ta, Kr. Sapu lidi.
- Kesan, pesan. kesan
= 1) bekas; gambar; cap... (jari, tapak tangan,
tapak kaki). Misalnya: Polisi mengamati kesan kaki pencuri. = bekas; gambar; cap; jejak. = 2) bekas; gambaran... dalam ingatan; tang- gapan. Misalnya: Peristiwa itu sangat berkesan di hatiku. pesan= permintaan. Misalnya: Ia memesan sepasang sepatu. = Ia minta.. Sepatu itu pesanan tuan Ibrahim = permintaan tuan Ibrahim. = nasihat. Misalnya: Sebelum berangkat ia berpesan supaya aku belajar rajin-rajin.
(Kata "kesan" dan "pesan" sering dikacaukan pe-
makaiannya).
- Kesatria, satria < Skt.: ksatriya
= salah satu warna (kasta) dari masarakat Hindu.
Sekarang, kesatria = jujur; berani berkorban; perwira;
taat, dsb.
- Kecuali < Jw.: ke-jawi = keluar. (menurut Prof. Dr. Purba-
tjaraka). Jw.: kuwalik = terbalik (menurut Muh. Zain). 0 do Kiamat < Arb.: qiyāmat / = pembangkitan.
Lengkapnya ditambah: yaumul qiyāmati/ 9° = hari pembangkitan; yaitu saat orang-orang mati dibangkitkan oleh Tuhan untuk diadili; zaman akhir.
- Kian kemari, ke sana ke mari, makin, arkian. kian <— ke-ana. Bandingkan kata-kata ini:
a) ini —> s-ini —> ke s-ini;
b) itu > s-itu —> ke s-itu;
c)... > s-ana —> ke s-ana. Dari analogi a dan b tersebut, kita dapat menduga bahwa dahulu tentu ada kt. "ana", sebab sekarang ada kt. "sana". Bagannya:
> ke sana; (ke sana ke mari). ana —> ke-ana: > kian; (kian ke mari). Contoh: Kian lama kian besar = ke sana lama ke sana
besar. = tambah lama tambah besar.
makin < ma-kian = me- ke sana = menuju ke sana. arkian, arakian <— ari kian = jika ke sana; jika ke situ; jika be- gitu.
- Kisah, hikayat, cerita.
心 kisah < Arb.: qissah /= 1) cerita. = 2) cerita tentang per- jalanan. = hikayat < Arb.:hikāyat / cerita kehidupan se- seorang. Misalnya: Hikayat Abdullah.
cerita < Skt.: carita = 1) yang dijalankan... dari mulut; = 2) perkataan. ceritera < Skt.: caritra = alat berjalan.
= 1) yang dibaca; baca-Kur'an < Arb.: qur'an / an;
Al Qur'an / = 2) Kitab Suci orang Islam.
Dari kt. kerja: = membaca.
- Lagu. (Periksa: guru, No. 86).
- Layan, pelayan, melayani, berlayanan. layan < Jw.: layan = imbang; beban.
Contoh: Jw.: Sepikul ana rong layan = Satu pikul ada dua "layan". (= 2 beban; 2 imbangan). pelayan = peng-imbang; yang mengimbangi. Melayani pembeli = mengimbangi..
berlayanan = berimbangan. Misalnya: A membeli — B-menjuali; A memberi— B menerima; A minta-B memberi.
166 Laksa, laksana, Laksmana. laksa, 1 laksa. (Periksa: "dua", No. 62). laksana < Skt.: laksana = 1) tanda-tanda baik. Contoh: Puteri itu laksana bidadari. = Puteri itu mempunyai tanda-tanda baik yang terdapat pada bidadari. = 2) seperti. Matanya laksana bintang timur. melaksanakan= 3) berbuat seperti... yang di- perintahkan. Contoh: Melaksanakan tugas = berbuat seperti yang ditugas- kan. = 4) menjalankan; melakukan. Arti ini agaknya dari bhs. Jw.: "lumaksana" (laksana + um sisipan) = berjalan... dengan kaki. Laksamana < Skt.: laksmana; = nama tokoh pahlawan, adik Rama dalam Rama- yana. Sekarang, = pangkat dalam angkatan laut (= admiral, dari'bhs. Arb,: amirulbahri = raja lautan).
- Laku, berlaku, lakon < Jw.: laku = jalan (dengan kaki)
Contoh: Peraturan itu masih berlaku = masih berjalan.
Uang ini sudah tidak laku lagi = tidak jalan; tidak beredar. lakon < Jw.: laku-an; u + a dalam aturan sandi bhs. Jw, menjadi o, sepertu: ->keraton; ke-ratu-an- le-lucu-an >lelucon; buru-an>buron. Dalam bahasa Indonesia sekarang bahkan menjadi "buron-an" (dari: "buru-an-an"? Pembentukan yang sangat ruwet!). Sekarang "lakon" jalannya kejadian; jalannya cerita.
157. Lanjut, lanjur, julur, anjur. (Periksa juga No. 125)
lanjut, lanjur <— anjur; (r —> t). ter-anjur —> tel-anjur; (r —> l), didesimilasikan. julur = anjur ke samping; (horisontal). Contoh: Daratan itu menganjur ke laut = menjulur ke laut. Ia menjulurkan lidahnya.
- Lapor, rapor (rapot), repot. lapor < Bld.: raport = pemberitahuan sesuatu yang sudah di-
kerjakan. r —> 1, didesimilasikan. Yang semacam itu lagi: trompet >slompret; (r >1). teranjur->telanjur; (r >1). (r >1). ranger, Bld. >langsir; repot < Ing.: report = raport, Bld. = 1) lapor. = 2) sibuk; banyak peker- jaan, akibatnya pa- yah.
Pada zaman kolonial, seorang, pegawai pribumi pada waktu-waktu tertentu harus menghadap kepada atas- annya untuk memberitahukan hasil pekerjaannya. Menjelang hari-hari tersebut, pegawai itu mesti me- nyelesaikan segala pekerjaannya. Banyak pekerjaan.—> sangat sibuk untuk membuat "report"> sangat repot.
- Lasykar, tentara, serdadu. lasykar < Pars.: asykar; gejala bhs: protesis. tentara < Skt.: tantra = tuntunan. serdadu < Port.: soldado. Lelucon, dagelan, penggeli hati, jenaka. lelucon < Jw.: le-lu-cu-an <— lucu-lucu-an = yang lucu-lucu;
hal-hal yang lucu. (menggelikan hati; bukan menggelikan badan!). Bentuknya: reduplikasi/dwi purwa; perulangan suku depan. dagelan < Jw.: dagel-an = pukul. Contoh: bhs. Jw.: Tak dagel kowe = Saya pukul kamu. (Ban (sepeda) dagel = ban tanpa angin; Ban pejal. (ma- sif), jika dinaiki serasa dipukul-pukul. dagelan = pukulan pada hati; hati serasa dipukul sehingga geli lalu ... tertawa.
penggeli hati = kalimat (cerita) singkat yang membuat orang
tertawa. jenaka = lucu. Misalnya: Pelanduk jenaka. Arti kt. "jenaka" tersebut tidak jelas hubungannya dengan kt. "janaka", Skt. = tukang melahirkan; nama saudara Pandawa yang ketiga. Bedanya: lelucon = hal (kejadian) yang lucu.
M
dagelan = lelucon yang dirangkaikan menjadi ceri- tera dan biasa dipanggungkan. penggeli hati = cerita yang dibuat lucu; tidak biasa dipanggungkan. jenaka= lelucon khayal (dongeng); hanya dicerita- kan, tidak masuk akal.
- Maaf, ampun.
oes maaf < Arb.: ma'af / = ampun.
ampun < Jw.: sampun = 1) sudah; selesai; berakhir; usai. = 2) bertobat, tidak akan berbuat dosa lagi.
- Mada. (Periksa: Gajah, No. 74.)
- Makhluk, khalik. makhluk < Arb.: makhlūq /
= yang dicipta-
kan.....oleh Tuhan.
khalik < Arb.: khāliq /
= yang mencip-
takan; pencipta, yaitu Tuhan.
Majelis, dewan, divan.
majelis < Arb.: majlis / = 1) tempat duduk; = 2) orang-orang yang biasa duduk di situ; penatua- penatua. dewan < Port.: divan. = 1) tempat duduk yang empuk; sofa. = 2) orang-orang yang biasa duduk di sofa, yaitu
M
kaum cerdik pandai. = majelis (dalam arti se- karang). divan, dipan < Port.: = 1) tersebut di atas. = 2) tempat tidur dari kayu. 心ノ0
- Madrasah < madrasat / = sekolah.
dwds
madu, Madura, Madukara, dimadu. madu < Skt.: madhu = 1) gula; madu. = 2) gula buatan lebah. Madura < Skt.: madhura = 1) bermadu; bergula; manis. = 2) negerinya Baladewa ( dalam Mahabharata). = 3) pulau di ujung timur_p. Jawa. Madukara < Skt.: madhukara = 1) pembuat madu; lebah. = 2) Daerah kekuasaan Arjuna (dalam Mahabharata). dimadu < Jw. Kn.: ma-dwa = men-dua... isteri; dimadu di-dua-i isterinya.
- Maha, hina. maha < Skt.: mahā = 1) besar.
Misalnya: Mahā Muni = pendeta besar, = 2) sangat. Misalnya: mahā prajna = sangat bijaksana. Maha, dalam bahasa Indonesia: = 1) besar. Misalnya: maha guru = guru besar. = 2) sangat. Misalnya: maha luas = sangat luas. = 3) paling. Misalnya: Tuhan Yang Maha Kuasa= Tuhan Yang Paling Kuasa.
Maha Esa = satu besar; tak ada yang menyamai besar- nya; paling besar.
hina < Skt.: hina = kecil.
Mala petaka, bencana. mala petaka < Skt.: mala = kotoran.
=yang menjatuhkan. petaka = 1) yang menjatuhkan kotoran. = 2) kecelakaan; bencana. bencana < Skt.: vañcana = kerusakanMerdu < Skt.: mrdu = lembut; halus.
Sekarang: = halus suaranya.Mitra, sekutu, seteru, sahabat. mitra < Skt.: mitra = teman; kawan. sekutu < Skt.: sakutu = yang bersama; teman sekerja; re-
kan. seteru < Skt.: catru = musuh; lawan.
Mitra lawannya : seteru;
sekutu : seteru; 99 kawan : lawan.,
sahabat < Arb.: = teman
- Merana, merta, maut, mati. merana < Skt.: marana = saat kematian; sekitar hari mati-
nya; ajal, Arb. Contoh: Hidupnya merana = dekat kematian; ham- pir mati. merta < Skt.: mrta = mati; maut, Arb.
N N
anumerta = menurut (mengikuti) matinya. maut < Arb.: maut = kematian; hal mati (kt. benda). Contoh: Maut itu lawannya hidup.
Nama, juluk.
nama < Skt.: nāma. (naame, Bld.; name, Ing.). juluk < Jw.: = nama. Dijuluki si Cebol = dinamai (diberi nama) si Cebol.Nawa < Skt.: nava = 9 (sembilan).
Contoh: Navaksara, dari: nava + aksara = 9 huruf (tu- lisan).Nadi, pembuluh nadi. nadi < Skt.: nadi = 1) sungai pembuluh nadi = 2) pembuluh darah besar, dari jantung;
(sebab seperti sungai). pembuluh <— pem-buluh <— wuluh = bambu.
Nara, nara pidana, nara marga, nara singa. nara < Skt.: nara- = orang. nara pidana = orang hukuman. (Periksa: pidana, no. 55) nara marga = orang jalanan; yang bekerja di jalan; pekerja DPU. Tetapi, "marga satwa"= hewan buruan. "Marga" dari Skt.: mrga = buruan; yang diburu. Sedang "marga" Skt.: ='jalan; "satwa" dari Skt.: satva = hewan. (dalam bhs. Jw.: sato). nara singa < Skt.: nara simha = 1) orang singa; badan ma- nusia kepala singa; yaitu penjelmaan Wisynu yang ke-4. Narasimha-lah yang mampu membunuh Hirani-
P
yakasipu yang tak dapat dibunuh oleh hewan, ma- nusia maupun dewa. (Menurut agama Wisynu/Vaisna- va, untuk memelihara dunia, Wisynu menjelma 10 kali, dan disebut: daça avatara. Penjelmaan yang
pertama sampai ke-9 sudah terjadi. Sedangkan yang
ke-10 belum terjadi. Wisynu akan berupa Kalki avatara, yaitu orang mengendarai kuda putih dan membawa pedang akan memerangi kejahatan dan memberi pahala kepada semua orang yang berbuat kebaikan.).
- Netra. (periksa: Tuna, No. 195).
177. Omong, bicara, bilang.
omong < Jw.: = bicara. Omong kosong = bicara kosong (tidak penting, hanya sebagai perintang waktu saja). Mly.Kn.: mangmang = ngomong, Jw. = berbicara. bicara < Skt.: vicara = perkataan. bilang < Jw.: wilang = hitung. wilangan, Jw. = hitungan. Ind.: membilang = 1) menyebutkan ürutan angka- angka; (satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh, dst.).
= 2) berkata; mengucapkan apa sa-
ja, meskipun bukan bilangan. (Banyak dipakai dalam bahasa pergaulan).
- Obor < Jw. = suluh.
- Pamong, among, praja.
pamong < Jw.: pa-among = peng-asuh; yang mengasuh. among = asuh. Sistim among = sistim asuh. pamong tamu = pramuria.
Salathin /
= raja-raja; (jamak).
Bustanussalatina = Taman (kebun) raja-raja. Bustanu = taman (kebun). Tajussalathina = Mahkota raja-raja. = tajuk, Ind. = mahkota.
Taju
ratu < Jw.: ratu = 1) orang terhormat. =2) raja; sultan. (Dalam bhs. Jw., baik pria maupun wanita disebut: ratu). Ind. = 3) raja perempuan. Misalnya: Ratu Juliana; (Belanda): Ratu Elizabeth II; (Inggris). Ratu Tribuwana; (Majapahit).
Ratri < Skt.: rātri = malam. Dewi ratri = rembulan; sasadara; sasi
- Sejati, jati, jadi, saja, jelma, lahir.
sejati < Skt.: sajati. Sa = sama; seperti. Jati = kelahiran; lahirnya. Sajati = sama (seperti) ketika lahir; belum bertambah; (natuurlijk, Bld.). jati, Skt. = kelahiran. Dalam bahasa Indonesia, di samping "jati" ada
kt. "jadi" yang artinya sama. Hari jadinya = hari
lahirnya. jadi, perubahan dari "jati", Skt.
saja < Skt.: saha-ja = dengan lahirnya; apa adanya; seder-
hana; polos. Contoh: Suku terasing di pedalaman hidupnya masih bersahaja. = sederhana; polos. Sahaja aku datang untuk menengokmu. = sejak se- mula; dari permulaan. Kt. "sahaja" > sengaja
Ia menurut saja. (sahaja) = dengan sendirinya; (vanzelf, Bld.).
jelma < Skt.: janma = kelahiran; kejadian; menjadi. Contoh: Kepompong itu sudah menjelma kupu-kupu= lahir sebagai ... .; menjadi. ..
187. Seru, serwa < Skt.: sarwa = semua; segala; sekalian; segenap.
serba <— serwa <—— Skt.: sarva. Contoh: sarva bharana = semua perhiasan. = semua kebaikan. sarva guna Tetapi bhs. Ind.: serba guna = banyak gunanya Pencipta seru sekalian alam (dalam pustaka Lama), mestinya: serwa sekalian alam. Kesalahan itu karena ditulis dengan huruf Arab:
Mestinya dibaca: serwa. Dalam bahasa Indonesia ada 2 macam "seru". Seru <— serwa.= serba = semua. (Sudah dibicarakan di atas.) seru < Skt.: cru = 1) mendengar. Contoh: Ia berseru memanggil temannya. = berteriak; bersuara keras. Kata seru = interyeksi, juga dari kt. "çru" tersebut. = 2) memperdengarkan suara. Berseru Contoh: Pertandingan sepak bola kemarin sangat seru. = hebat.
Jadi, "seru" = 1) mendengar.
= 2) teriak; (memperdengarkan suara kuat) = 3) hebat; (kejadian yang kuat).
Singa, singgasana, takhta, kursi. singa, Skt.: simha = singa; leo. singgasana, Skt.: simhasana <— simha + asana = tempat duduk singa. =tempat duduk; kursi. asana Disebut demikian, sebab tempat duduk. (kursi) itu biasanya ada gambar singa (patung singa). Lagi pula singa adalah "raja rimba", sering dijadikan lambang "raja manusia". Bagannya: > singa. simha > singha: > singgasana.
Singgasàna = takhta = kursi kerajaan. takhta < Pars.: takhta. kursi < Arb.:. kursiy/
- Sayembara, wara-wara, (sandi)wara. sayembara < Skt.: svayamvara = 1) memilih sendiri.
= 2) terpilih dengan sendirinya (bagi yang paling pintar). svayam, dari: sva = sendiri. vara = memilih.
wara-wara, Jw. = uwar-uwar = pengumuman; pemberitahuan kepada orang banyak. (sandi)wara <— wara (warah) = beritahu; ajar. Jw.: diwarahi = diberitahu; diajari. Sandiwara = pengajaran (pemberitahuan) rahasia. Yaitu penonton mesti mencari (mengungkap) sendiri makna atau "pengajaran" yang terkandung di da- lam cerita "drama" itu.
T
Swasta, swasembada, swadaya, swakarya, swabuana paksa. swasta < Skt.: svastha = berdiri sendiri.
Sva = sendiri; stha = berdiri. Sekarang, = partikulir; bukan pemerintah. swasembada <- Skt.: = mencukupi (kebutuhan) sendiri. swadaya <— Skt.: = kekuatan sendiri; auto aktivitas. swakarya <- Skt.: = bekerja sendiri. swa buana paksa <- Skt.: sva bhuvana paksa. = 1) sayap bumi sendiri = 2) sayap tanah air sendiri. = 3) AURI. Paksa = sayap; paksi = yang bersayap, yaitu burung. (Periksa: No. 188.)Tanpa < Jw.Kn.: tan pangucap = 1) tidak meng-ucap...
Karena salah potong menjadi: tan-pa ngucap;
= 2) tidak me- ngucapkan....
sehingga awalan "pa"- ikut ke depan menjadi "tanpa", Jw. Sekarang, "tanpa" = 1) tidak ber. .. = 2) tidak dengan... (zonder, Bld.; withouth, Ing.).Tetapi < Skt.: tathāpi = 1) begitu juga.
= 2) meski begitu Contoh: Ia kaya tetapi pelit. = Ia kaya meski begitu (ia) pelit.Terima, panglima, terkabul. terima <— ter-lima = ter-tangan.
Jw. Kn.: lima = tangan. Jw. kromo (halus): liman = hewan yang mempunyai anggota kelima sebagai"tangan", yaitu belalai (= ga- jah).
*) Jw.Kn.: tan; bhs. Roti: ta; bhs. Mly.: tak..
T
Panglima <— Pang-lima = 1) pe-nangan; yang menangani; sipemegang. = 2) pemimpin pasukan; kepala lasykar. = terima. terkabul < Arb.: qabul / 9 Dari kt. kerja: qabila / 心 = menerima.
- Tuna < Jw.: kurang;rugi; cacat.
Contoh bhs. Jw.: tuna rungu = kurang pendengaran- nya. Olehe dodolan tuna = hasil penjual- annya rugi. Saiki deweke tuna suku = kini ia cacat kaki. Kata-kata baru banyak yang menggunakan kt. "tuna" tersebut ditambah kt. Sansekerta atau kedua-duanya bhs. Jw. Misalnya: tuna netra = cacat mata; buta. (netra, Skt.) tuna wicara = cacat bicara; bisu. (wicara, Skt.) tuna rungu = cacat pendengaran. (rungu, Jw. =de- nger, dengar). tuna suku = cacat kaki; pincang; lumpuh, dsb. (hanya dipakai dalam bhs. Jw. saja.) tuna susila = kurang susila; pelacur. (susila, Skt.) tuna karya = tidak punya pekerjaan; penganggur. tuna wisma = tidak berumah; gelandangan. (wisma, Skt.) tuna aksara = tidak tahu huruf; buta huruf. (Jw.: wuta sastra)*) tuna busana = tidak ber-pakaian; telanjang. *) Bandingkan: 二
| tuna aksara | cacat huruf (?) |
|---|---|
| wuta sastra | buta pengajaran (?) |
| tuna netra | = buta; tidak melihat. |
| buta huruf | tuna netra aksara(?) |
二
= 二 "wuta aksara". (Saya kira ini lebih cocok).
U
Utara < Skt.: uttara. = 1) lebih ke atas. (Periksa No. 50.) = 2) ke atas. Contoh: Ia telah meng-utara-kan pendapatnya di dalam rapat. = meng-ke atas-kan. ... = 3) mengemukakan.
Utama, pertama. utama < Skt.: utama = paling atas. pertama < Skt.: pratama = paling depan;
= ke satu.Upacara, acara, cerita, ceritera, caraka. upacara < Skt.: upacara = 1) berjalan dekat.
upa = dekat; cara = berjalan. = 2) berjalan selangkah demi selangkah. acara < Skt.: ācara = 1) berjalan kembali. ā = kembali; cara = berjalan. = 2) langkah; langkah-langkah. cerita < Skt.: carita = 1) yang dijalankan. = 2) yang dijalankan... dari mu- lut; perkataan. ceritera < Skt.: caritra = 1) alat berjalan, = 2) jalannya kejadian. caraka< Skt.: = 1) tukang berjalan; pejalan ka- ki. = 2) utusan; kurir, Bld. Udara, saudara, werkodara. udara < Skt.: udara = 1) perut.
2) perut (isi) dunia, antara bu-
W
mi dan langit,
= angkasa. saudara < Skt.: sa + udara.
= 1) satu perut; se-kandungan. = 2) teman; sahabat.
= 3) anda; (orang kedua).
werkodara < Skt.: vrka + udara
= 1) perut srigala. = 2) Bhima, saudara Pandawa yang ke-2; (sebab perutnya kecil seperti perut serigala).
199. Upaya < Skt.: upaya = 1) untuk mendekati.
= 2) mendekati ... yang diingini; usa-
ha;ikhtiar.
- Warna, aneka, kasta.
warna < Skt.: varna = 1) kasta; tingkatan. *)
= 2) warna. = 3) corak. aneka (Periksa No. 67). kasta < Port.: casta = tingkatan.
- Warta (Periksa no.130).
- Warsa, tanggap warsa. warsa < Skt.: varsa = tahuń. tanggap < Jw.: tanggap = 1) tangkap; terima. Misalnya: Menanggapi pembicaraan orang.= menang-
kap (menerima)... = 2) kena; di-... .-i. Misalnya: Tanggap tahun = kena tahun; di-tahun-i. = 3) ulang.
Misalnya: Tanggap warsa = ulang tahun.
*) Masarakat Hindu dibedakan dalam 3 warna, yaitu: varna Brahmana, varna Ksatriya, dan varna Waisya.
x perloncatan huruf dlm kata
y
e.g. copot jadi pocot (Jawat pecat
Wanita, pria. wanita < Skt.: vanita = 1) yang diingini. = 2) yang diingini... oleh pria; perem- puan. wanita >banita (w>b)> batina (ge- jala: metatesis)> betina. xy
pria < Skt.: priya = 1) yang dicintai. = 2) yang dicintai... oleh wanita; lelaki.
Wisma, gria, panti, rumah. wisma < Skt.: visma = 1) yang dimasuki.
= 2) rumah. Wisma Nusantara = Rumah .. gria < Jw.: griya = rumah;(Jw. kromo/halus). griya <— Skt.: grhā = rumah. = 1) pe-nunggu. panti < Jw.: pa-anti = 2) tempat menunggu; rumah. Panti Nirmala = rumah sehat (tanpa penyakit).Yaitu, yaini, yakni. yaitu <— ia-itu. yaini <— ia-ini. yakni
Yang <—— ia- ng. = ia si...
Misalnya: Yang buta dituntun oleh yang melek.. = Ia si buta dituntun oleh ia si melek. Edi yang mengambil buku itu. = Edi si mengambil buku itu.Yayasan. (Periksa: No.122).
208. Zaman, Arb.: zamān/
(Jaman) edan <— Jw.: edan = gila.. = kemerosotan akhlak. (Jaman) meleset < Bld.: malaise.
- Zamrud. (Periksa No. 37).
KEPUSTAKAAN
- Dra. Ny.Haryati Subadio, — Tatabahasa Sanskerta Ringkas.
— Bahasa Sanskrita I, II. — Bahasa Arab I, II. — Tatabahasa Indonesia.
- Pokok Dan Tokoh Dalam Kesusasteraan Indonesia -Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia I, II. — Kesusasteraan Indonesia, I, II. — Kesusasteraan I, II.
- Direktorat Pendidikan Gu-
- S. Adisewoyo,
- S. Adisewoyo,
- Dr. C.A. Mees,
- Dr. A. Teeuw,
- S. Takdir Alisyahbana,
Dra. B. Simorangkir Simanjuntak, ru dan Tenaga Tehnis
9. Muh. Zain,
W.J.S. Purwadarminta
Dr. R.B. Slamet Muljana
12. H. Suyuti & B. Suparno,
Balai Pendidikan Guru,
- Kementerian P P dan K,
- Pustaka Rakyat,
- DII.
— Kamus Moderen Bahasa Indonesia.
- Kamus Umum Bahasa Indonesia. — Bimbingan Seni Sastera.
- Bunga Melati (Arab Melayu).
- Seri Pelajaran KGB, KGA. — Seri Majalah Bahasa Dan Bu- daya.
- Majalah Pembina Bahasa.
P
pamong desa = pegawai pemerintahan desa. pamong praja = penjabat pemerintahan; (kepala desa, camat, bu- pati, dst.). praja < Skt.: praja = rakyat. Pamong praja = pamong rakyat.
Payudara < Skt.: Payodhara, dari kt.: payas + dhara
1) mengandung susu; = 2) buah dada wanita; tetek; (buste, Bld.). payas + dhara —> payodhara, menurut hukum sandi bhs. Skt. (Periksa: "dhara" No. 53).
. Pecat, lepas. pecat < Jw.: lepas. Bhs. Jw.: pecat cawed (cawet) = lepas tali pengikat pasangan pada leher lembu untuk menarik bajak (waktu mengerjakan sawah), setelah selesai. Berarti lembu itu sudah "bebas" dari pekerjaan "membajak". Ungkapan bhs. Jw.: wayah pecat cawed = lebih kurang jam 11.30, yaitu waktu lembu-lembu dilepas tali pasangannya, siap untuk dimandikan dan pulang. Sekarang, ungkapan: pegawai"dipecat"= dibebaskan dari pekerjaan tidak dengan hormat.
- Permaisuri, padma, seru. permaisuri < Skt.: parameçvari.
Dari kt.: parama + icvari = isteri pertama. Parameswari—>permaisuri, karena salah baca sebab ditulis dengan huruf Arab Melayu sbb.:
S Mestinya dibaca: pa-ra-me-swa-ri.
R
padma Skt.: padma = teratai merah.
Dalam bahasa Indonesia menjadi: (merah) padam. Mestinya: merah padma = merah seperti teratai merah (sangat merah). Hal itu juga karena salah baca, sebab ditulis dengan huruf Arab, sbb.:
= padam?
= seru? Betulnya: sarwa; serwa.
- Pra,pramugara/i, pramuria, prakata, prasarana, prasetia, pramuka. pra < Skt = depan; muka; dahulu. pramugara < Skt.: = pembagi makanan (pria); steward, Ing. pramugari < Skt.: = pembagi makanan (wanita); stewardess,
Ing.
pramuria < Skt.: = pamong tamu; penjemput tamu; hostess,
Ing. prakata < Skt.: = kata pendahuluan (pembukaan).
prasarana < Skt.: = alat pelengkap.
(sarana = peralatan; alat-alat). prasetia < Skt.: = janji setia.
pramuka, singkatan dari Skt.: praja = rakyat; muda = pemuda;
karana = tangan; anggota. (Periksa: praja, no. 179.)
- Raja, sultan, ratu. raja < Skt.: rāja = 1) yang memerintah.
= 2) kepala kerajaan (pria). Contoh: Skt.: rāja kula = keluarga raja. sultai < Arb.: sulthān / = raja;(tunggal)