STIRNERdanFOUCAULT MENUJU KERAKATIA
Saul Newman
Introduksi
ax Stirner dan Michel Foucault adalah dua pemikir yang tidak sering ditilik M secara bersamaan. Namun, telah dipertimbangkan bahwa Stirner yang telah lama diabaikan, dapat dilihat sebagai pendahulu pemikiran pascastrukturalis kontemporer. Memang ada banyak kesejajaran yang luar biasa antara kritik Stirner tentang humanisme Abad Pencerahan, rasionalitas universal, dan identitas esensial, serta kritik serupa yang dikembangkan oleh para pemikir seperti Foucault, Jacques Derrida, Gilles Deleuze, dan lain-lain. Namun, tujuan dari tulisan ini bukan hanya untuk menempatkan Stirner dalam tradisi "poststrukturalis", melainkan untuk menguji pemikirannya tentang kebebasan, dan untuk mengeksplorasi hubungannya dengan pengembangan konsep milik Foucault dalam konteks relasi kekuasaan dan subjektivitas. Secara umum, kedua pemikir iniStirner dan Foucault melihat ide klasik Kantian tentang kebebasan sebagai sesuatu yang sangat bermasalah, karena melibatkan presuposisi esensialis dan universal yang juga sering menindas. Sebaliknya, konsep kebebasan harus dipikirkan kembali. Hal ini tidak lagi dapat dilihat hanya dalam istilah negatif, sebagai kebebasan yang lepas dari kontrol yang membatasi, tetapi juga harus melibatkan gagasan yang lebih positif dari otonomi individu, terutama tentang kebebasan individu untuk membangun mode baru mengenai subjektivitas. Seperti yang akan kita lihat, Stirner membagi gagasan klasik tentang kebebasan mutlak dan mengembangkan teori kemasyarakatan (Eigneheit) untuk menggambarkan otonomi individu yang radikal ini. Saya menyarankan dalam tulisan ini, bahwa "teori kepemilikan" (owness theory) semacam itu adalah sebagai bentuk kebebasan non-esensialis yang memiliki banyak kesamaan dengan proyek tentang kebebasan milik Foucault, yang melibatkan etos kritis dan estetika-diri. Foucault memang mempertanyakan fondasi rasional antropologis dan universal dari wacana kebebasan, mendefinisikan ulang dalam hal praktik etis. Baik Stirner dan Foucault, karena itu penting untuk memahami kebebasan dalam arti kontemporer, mereka menunjukkan bahwa kebebasan tidak bisa lagi dibatasi oleh kemutlakan rasional dan kategori moral universal. Mereka mengambil pemahaman tentang kebebasan di luar batas-batas proyek Kantiansebagai gantinya, mereka melandasinya dalam strategi konkret dan kontingen dari diri.
Kant dan Kebebasan Universal
ntuk memahami bagaimana reformulasi radikal kebebasan ini dapat terjadi, U pertama-tama kita harus melihat bagaimana konsep kebebasan itu terletak dalam pemikiran Abad Pencerahan. Dalam paradigma ini, penggunaan kebebasan dilihat sebagai sifat yang secara inheren rasional. Misalnya menurut
Immanuel Kant, kebebasan manusia diandaikan oleh hukum moral yang dipahami secara rasional. Dalam Critique of PracticalReason,Kant berusaha membangun landasan rasional mutlak bagi pemikiran moral di luar prinsip-prinsip empiris. Dia berpendapat bahwa prinsip prinsip empiris bukanlah dasar yang tepat untuk hukum moral karena mereka tidak mengizinkan universalitas sejatinya untuk didirikan. Sebaliknya, moralitas harus
didasarkan pada hukum universal imperatif-kategoris—yang dapat dipahami secara rasional. Maka, bagi Kant hanya ada satu imperatif-kategoris, yang memberikan landasan bagi semua alasan rasional tindakan manusia: "Bertindaklah seolah-olah maksim yang mendasari tindakan Anda melalui kehendak Anda sendiri, akan menjadi hukum yang universal" Dengan kata lain, moralitas dari sebuah tindakan ditentukan oleh apakah itu harus atau tidak untuk menjadi hukum universal, yang berlaku untuk semua situasi. Kant menguraikan tiga ciri dari semua maksim moral. Pertama, mereka harus memiliki bentuk universalitas. Kedua, mereka harus memiliki akhir yang rasional. Ketiga, maksim yang muncul dari aturan otonom individu harus sesuai dengan teleologi tertentu.
Poin terakhir ini memiliki konsekuensi penting untuk masalah kebebasan manusia. Bagi Kant, moral hukum didasarkan pada kebebasan—individu yang rasional bebas memilih kewajiban untuk mematuhi maksim moral universal. Dengan demikian, agar hukum moral dapat secara rasional dilakukan, hal tersebut tidak dapat didasarkan pada segala bentuk paksaan atau kontrol. Mereka harus secara bebas dipahami sebagai tindakan rasional individu. Kebebasan dilihat oleh Kant sebagai sebuah otonomi kehendak—kebebasan rasional individu untuk mengikuti perintah dari akalnya sendiri dengan mengikuti hukum moral universal ini. Maka otonomi kehendak ini bagi Kant adalah prinsip tertinggi moralitas. Dia mendefinisikannya sebagai, "itu miliknya yang merupakan suatu hukum bagi dirinya sendiri (terlepas dari miliknya apa pun dari kemauannya)". Kebebasan adalah kemampuan individu untuk mengatur dirinya sendiri: bebas dari kekuatan eksternal. Namun, kebebasan legislasidiri ini harus sesuai dengan kategori moral universal. Oleh karena itu, bagi Kant, prinsip otonomi adalah: "Jangan pernah memilih sedemikian rupa kecuali hingga pilihan maksim dipahami dalam kemauan yang sama sebagai hukum universal." Tampaknya terdapat paradoks utama dalam ide kebebasan ini—Anda bebas memilih selama Anda membuat pilihan yang tepat, selama Anda memilih maksim moral universal. Namun, bagi Kant tidak ada kontradiksi di sini karena, meskipun kepatuhan pada hukum moral tugas dan kewajiban itu mutlak, namun hal tersebut masih merupakan tugas yang dipilih secara bebas oleh individu. Moral hukum ditetapkan secara rasional, dan karena kebebasan hanya dapat dilakukan oleh individu yang rasional, mereka akan dengan bebas memilih untuk mematuhi hukum moral ini. Dengan kata lain, suatu tindakan bebas hanya sejauh itu sesuai dengan keharusan moral dan rasionalsebaliknya, itu adalah patologis dan karena ia "tidak bebas." Dengan cara ini, kebebasan dan imperatif-kategoris tidak bertentangan tapi lebih tepatnya, sebuah konsep yang saling bergantung. Sehingga bagi Kant, Otonomi individu adalah dasar moral hukum:
“Tetapi bahwa prinsip otonomi […] adalah prinsip moral satu-satunya yang dapat dengan mudah ditunjukkan hanya dengan analisis konsep-konsep moralitas;
Jouissance membenarkan dan merasionalisasi praktik-praktik ini. Fokus utama kritik Foucault terhadap penjara tidak serta-merta hanya pada dominasi di dalam penjara, tetapi pada kenyataan bahwa dominasi ini dibenarkan atas dasar moral mutlak—landasan moral yang Kant usahakan untuk membuatnya menjadi universal. Foucault ingin mengacaukan "dominasi yang begitu tenang kebaikan atas kejahatan" yang menjadi pusat wacana moral dan praktik kekuasaan.
Ini adalah absolutisme moral yang juga ditentang Stirner. Dia melihat moralitas sebagai "hantu" –sebuah ide abstrak yang telah ditempatkan di luar individu dan dipaksakan atasnya secara opresif dan berfungsi mengalienasikan individu. Moralitas dan rasionalitas telah menjadi "ide tetap" (fixed idea) – yang telah datang harus dilihat sebagai sebuah hal yang sakral dan mutlak menurut Stirner, ide yang tetap, pasti dan kaku ini adalah konsep abstrak yang mengatur segala pemikiran—fiksi tertutup diskursif yang menyangkal perbedaan dan pluralitas. Mereka adalah gagasan yang telah diabstraksikan dari dunia dan terus mendominasi individu dengan membandingkannya dengan norma ideal yang tidak mungkin dicapai. Dengan kata lain, proyek Kant mengambil inti moral dari dunia empiris ke ranah transendental, dimana hal itu akan berlaku secara universal, yang akan dilihat oleh Stirner sebagai proyek pengucilan atau pengasingan dan dominasi. Harapan Kant tentang kepatuhan mutlak terhadap maksim moral universal, dilihat Stirner sebagai kemungkinan terburuk dari individualitas. Bagi Stirner, individu adalah yang terpenting, dan apa pun yang dimaksudkan untuk diterapkan atau menyuruh semua orang untuk berbicara, secara universal adalah akibat dari keunikan dan perbedaan individu. Individu dihantui oleh cita-cita abstrak ini, yaitu penampakan-penampakan yang bukan dari ciptaannya sendiri dan dipaksakan padanya, dan menghadapinya dengan standar moral dan rasional yang mustahil. Selain itu, seperti yang akan kita lihat, bahwa individu bagi Stirner bukanlah identitas atau esensi yang tetap dan stabil—ini sama besarnya dengan abstraksi idealis seperti hantu yang menindasnya. Sebaliknya, individualitas dapat dilihat di sini dalam istilah yang mirip dengan Foucault, sebagai bentuk subyektif yang radikal, strategi terbuka yang melibatkan individu untuk mempertanyakan dan menentang batas-batas esensialisme.
Kritik Terhadap Esensialisme
engusiran setan yang dilakukan Stirner pada "dunia roh" ini, dari kemutlakan P moral dan rasional adalah bagian dari kritik radikalnya terhadap humanisme dan idealisme Abad Pencerahan. "Pemutusan epistemologis"-nya dengan humanisme dapat dilihat paling jelas dalam penolakannya terhadap argumen Ludwig Feuerbach. Dalam The Essence of Christianity, Feuerbach menerapkan gagasan keterasingan pada agama. Menurut Feuerbach, Agama mengasingkan manusia karena ia mensyaratkan manusia untuk melepaskan sifat-sifat esensial dan kekuasaannya dengan memproyeksikannya ke Tuhan yang abstrak, yang berada di luar jangkauan manusia. Bagi Feuerbach, predikat Tuhan adalah benar-benar hanya predikat manusia sebagai makhluk. Tuhan adalah ilusi, sebuah proyeksi fiktif dari kualitas-kualitas esensial manusia. Dengan kata lain, Tuhan adalah reifikasi esensi manusia. Seperti Kant, yang mencoba untuk melampaui dogmatisme metafisika dengan merekonstruksi dengan landasan rasional dan ilmiah, Feuerbach ingin mengatasi keterasingan religius dengan membangun kembali kapasitas universal rasional dan moral manusia sebagai landasan mendasar bagi pengalaman hidup manusia. Feuerbach mewujudkan proyek humanis Abad Pencerahan untuk mengembalikan manusia ke tempatnya yang layak di pusat alam semesta, yaitu menjadikan manusia sebagai yang ilahi, sesuatu yang terbatas tapi yang tak terbatas.
Stirner berpendapat bahwa dengan mencari yang sakral dalam "esensi manusia," dengan menempatkan subjek esensial dan universal serta menghubungkan keduanya kepada kualitas-kualitas tertentu, yang selama ini dikaitkan dengan Tuhan, maka Feuerbach baru saja memperkenalkan kembali keterasingan agama, yaitu menempatkan konsep abstrak manusia dalam kategori "Yang Ilahi." Melalui inversi Feuerbachian, manusia menjadi seperti Tuhan, ini sama halnya seperti manusia diremehkan di bawah Tuhan, jadi individu direndahkan di bawah makhluk yang sempurna ini (baca: Yang Ilahi). Bagi Stirner, manusia sama menindasnya, jika ia tidak lebih daripada Tuhan. Manusia menjadi pengganti ilusi Kristen. Stirner berpendapat bahwa Feuerbach adalah imam besar dari agama universal baru, yaitu humanisme: "Humanisme hanyalah metamorfosis terakhir dari agama Kristen." Penting untuk dicatat di sini bahwa konsep tentang keterasingan milik Stirner pada dasarnya berbeda dari pemahaman humanis Feuerbachian: keterasingan dari esensi seseorang. Stirner meradikalisasi teori keterasingan dengan melihat esensi ini sebagai dirinya sendiri yang mengasingkan dirinya. Seperti yang saya sarankan, keterasingan dalam hal ini dapat dilihat lebih banyak di sepanjang garis gagasan dominasi Foucauldian sebagai sebuah wacana yang mengikat individu pada subyektivitas tertentu melalui keyakinan bahwa di dalam setiap orang ada esensi yang harus diungkapkan.
Menurut Stirner, gagasan tentang esensi manusia universal inilah yang memberikan dasar bagi absolutisasi gagasan-gagasan moral dan rasional. Prinsip-prinsip ini telah menjadi sakral dan tidak dapat berubah karena prinsip-prinsip tersebut sekarang didasarkan pada gagasan kemanusiaan, pada esensi manusia. Dan untuk melanggar prinsip-prinsip tersebut, maka akan menjadi sebuah pelanggaran terhadap esensi. Dengan cara ini, subjek dibawa ke dalam konflik dengan dirinya sendiri. Manusia, dalam arti sebenarnya, dihantui dan diasingkan oleh dirinya sendiri, oleh momok bernama "esensi" di dalam dirinya. "Sejak saat itu manusia tidak lagi, dalam kasuskasus tertentu, bergetar pada hantu di luar dirinya, tetapi pada dirinya sendiri; dia takut pada dirinya sendiri ", tulis Stirner. Jadi bagi Stirner, pemberontakan yang dilakukanFeuerbachtentunyadalamkritiknya terhadapagamatidak menggulingkan kategori otoritas keagamaan, ia hanya memasang manusia di dalamnya, membalik urutan subjek dan predikat. Dengan cara yang sama, saya mungkin menyarankan bahwa pemberontakan metafisik Kant tidak menggulingkan struktur keyakinan dogmatis, tetapi hanya memasang moralitas dan rasionalitas di dalamnya.
Sementara Kant ingin menempatkan moralitas keluar dari wilayah agama, dan kemudian menetapkannya berdasarkan akal, Stirner berpendapat lain, bahwa moralitas hanyalah dogmatisme agama lama dalam sebuah samaran yang baru dan rasional: "Kepercayaan moral sama fanatiknya dengan keyakinan agama!" Apa yang dimaksud oleh Stirner bukanlah moralitas itu sendiri, tetapi kenyataan bahwa ia telah menjadi hukum yang sakral dan tidak bisa dipecahkan, dan ia memperlihatkan keinginan untuk berkuasa, kekejaman dan dominasi di balik gagasan-gagasan moral. Moralitas didasarkan pada penodaan: pemutusan kehendak individu. Individu harus sesuai dengan aturan moral yang berlaku; jika tidak, ia menjadi terasing dari esensinya. Bagi Stirner, pemaksaan moral sama kejamnya dengan paksaan yang dilakukan oleh negara, hanya saja itu lebih berbahaya dan halus, karena tidak memerlukan penggunaan kekuatan fisik. Penjaga moralitas sudah terpasang di setiap hati nurani individu. Pengawasan moral yang diinternalisasi ini juga ditemukan dalam diskusi Foucault tentang Panoptikisme, dimana dia berpendapat, dengan membalikkan paradigma klasik, bahwa jiwa menjadi penjara bagi tubuh.
Kritik serupa mungkin dilontarkan pada rasionalitas. Kebenaran rasional selalu dipegang atas perspektif individu, dan Stirner berpendapat bahwa ini hanyalah cara lain untuk mendominasi individu. Seperti halnya moralitas, Stirner tidak selalu melawan kebenaran rasional itu sendiri, tetapi lebih pada bagaimana hal itu menjadi sakral, transendental, dan dihapus dari genggaman individu, sehingga menihilkan kekuatan individu. Stirner mengatakan: "Selama Anda percaya pada kebenaran, Anda tidak percaya pada diri sendiri, dan Anda adalah seseorang yang beragama dan religius". Kebenaran rasional, bagi Stirner, tidak memiliki makna yang nyata di luar perspektif individu, itu adalah sesuatu yang dapat digunakan oleh individu. Seperti halnya moralitas, landasan sebenarnya adalah kekuatan.
Jadi sementara, bagi Kant, maksim moral secara rasional dan bebas dipatuhi, bagi Stirner hal itu adalah standar koersif, berdasarkan pada gagasan mengasingkan "esensi" manusia yang dipaksakan pada individu. Selain itu, hal tersebut menjadi dasar praktik penghukuman dan dominasi. Misalnya, dalam menanggapi gagasan Abad Pencerahan yang mengatakan bahwa kejahatan adalah penyakit yang harus disembuhkan daripada (mengurusi) tentang kegagalan moral untuk dihukum, Stirner berpendapat bahwa strategi kuratif dan hukuman hanya dua sisi dari prasangka moral lama yang tetap sama. Kedua strategi tersebut bergantung pada norma universal yang harus dipatuhi: "' Strategi kuratif selalu mengumumkan untuk memulai dengan individu yang akan dipandang sebagai seseorang yang 'dipanggil' untuk keselamatan' tertentu dan karenanya diperlakukan sesuai dengan persyaratan panggilan kemanusiaan' ini." Bukankah individu, bagi Kant, juga "dipanggil" untuk "keselamatan" tertentu ketika ia diminta untuk melakukan tugasnya dan mematuhi kode moral? Bukankah imperatif-kategoris Kantian juga merupakan "panggilan kemanusiaan" dalam pengertian ini? Dengan kata lain, kritik Stirner tentang moralitas dan rasionalitas dapat diterapkan pada imperatif-kategoris Kant. Bagi Stirner, meskipun maksim moral dapat dengan bebas diikuti, mereka masih memerlukan paksaan dan otoritarianisme tersembunyi. Ini karena mereka telah menjadi universal dalam perumusan Kantian sebagai norma mutlak yang meninggalkan sedikit ruang untuk otonomi individu, dan mana yang tidak dapat dilanggar, karena untuk melakukannya akan bertentangan dengan "panggilan kemanusiaan" yang universal dalam rasional seorang individu.
Kritik Stirner tentang moralitas dan hubungannya dengan hukuman memiliki kesamaan yang mencolok dengan tulisan Foucault tentang hukuman. Seperti yang telah kita lihat, bagi Stirner tidak ada perbedaan antara penyembuhan dan hukuman praktik penyembuhan adalah penerapan kembali prasangka moral lama dalam bentuk baru yang "tercerahkan":
"Strategi kuratif atau penyembuhan hanya sisi sebaliknya dari hukuman. Teori penyembuhan berjalan sejajar dengan teori hukuman. Yang terakhir melihat dalam suatu tindakan adalah sebagai dosa melawan kebenaran, maka yang pertama menganggapnya sebagai dosa manusia yang melawan dirinya sendiri, sebagai kejatuhan jauh dari kesehatannya."
Ini sangat mirip dengan argumen Foucault tentang formula modern mengenai hukuman, bahwa norma medis dan psikiatris hanyalah moralitas lama dalam sebuah samaran baru. Sementara Stirner menganggapnya sebagai akibat dari bentuk-bentuk kebersihan moral pada hati nurani individu, dimana fokus Foucault lebih pada materialitas tubuh. Formula penyembuhan dan hukuman adalah sama: itu adalah gagasan tentang apa yang benar pada "manusia", yang mengesahkan serangkaian pengecualian, praktik disiplin, dan norma-norma moral serta rasional yang restriktif. Bagi Foucault, dan juga Stirner, hukuman dimungkinkan dengan membuat sesuatu yang sakral atau mutlak—dengan cara Kant yang menjadikan moralitas menjadi hukum universal. Ada beberapa poin yang harus dibuat di sini. Pertama, baik Stirner dan Foucault melihat wacana moral dan rasional sebagai masalahmereka sering mengecualikan, mengalienasi, dan menindas mereka yang tidak memenuhi normanorma yang tersirat dalam wacana ini. Kedua, kedua pemikir ini melihat rasionalitas dan moralitas sebagai sebuah hal yang terlibat dalam hubungan kekuasaan, daripada (menganggapnya) sebagai titik epistemologis kritis di luar kekuasaan. Tidak hanya norma-norma ini dimungkinkan oleh praktik kekuasaan, ataupun melalui pengecualian, alienasi dan dominasi yang lain, tetapi mereka juga, pada gilirannya, membenarkan dan mengabadikan praktik kekuasaan, seperti yang ditemukan di penjara dan rumah sakit jiwa. Ketiga, kedua pemikir ini melihat moralitas memiliki hubungan yang ambigu terhadap kebebasan.
Stirner berpendapat bahwa di permukaan norma moral dan rasional secara bebas dipatuhi, mereka tetap demikian memerlukan penindasan atas diri kita sendiri dominasi diriyang jauh lebih berbahaya dan efektif daripada pemaksaan langsung Dengan kata lain, dengan menyesuaikan diri dengan norma moral dan rasional yang berlaku universal, individu melepaskan kekuatannya sendiri dan membiarkan dirinya dikuasai. Foucault juga membuka kedok dominasi tersembunyi dari norma moral dan rasional yang ditemukan di balik wajah tenang kebebasan manusia. Foucault berpendapat, ide kebebasan Abad Pencerahan klasik hanya mengizinkan kedaulatan palsu. Ia mengklaim memiliki kesadaran "berdaulat" (berdaulat dalam konteks penghakiman, tetapi tunduk pada kebutuhan kebenaran), individu (kontrol sementara atas hak pribadi yang tunduk pada hukum alam dan masyarakat), kebebasan dasar (berdaulat di dalam, tetapi menerima tuntutan dunia luar dan 'selaras dengan takdir'). Dengan kata lain, humanisme Abad Pencerahan mengklaim membebaskan individu dari segala macam penindasan institusional. Sementara pada saat yang sama, melibatkan intensifikasi penindasan atas diri dan penolakan kekuatan untuk menolak penaklukan ini. Subordinasi ini di jantung kebebasan dapat dilihat dalam imperatifkategoris Kantian: sementara hal itu didasarkan pada kebebasan kesadaran, kebebasan ini tetap tunduk pada kategori rasional dan moral mutlak. Kebebasan klasik hanya membebaskan suatu bentuk subjektivitas tertentu, sementara mengintensifkan dominasi atas individu yang disubordinasikan oleh kriteria moral dan rasional ini. Dengan kata lain, wacana kebebasan didasarkan pada bentuk spesifik subjektivitas manusia otonom, rasional Abad Pencerahan dan liberalisme. Seperti yang ditunjukkan Foucault dan Stirner, bahwa bentuk kebebasan ini hanya dimungkinkan melalui dominasi dan pengecualian mode-mode subjektivitas lain yang tidak sesuai dengan model rasional ini. Dengan kata lain, moralitas tidak menyangkal atau membatasi kebebasan dengan cara terbukadalam kasus Kant, moral maksim didasarkan pada individu memilih kebebasan—kebebasan ini tetap dibatasi dengan cara yang lebih halus karena diperlukan untuk menyesuaikan diri dengan moral dan kemutlakan rasional.
Kemudian jelas, bahwa bagi Stirner dan Foucault, ide klasik Kantian tentang kebebasan sangat bermasalah. la membangun individu sebagai "rasional" dan "bebas' sambil menundukkannya pada norma moral dan rasional yang mutlak, dan membaginya menjadi pribadi yang rasional dan irasional, moral dan immoral. Individu bebas sesuai dengan norma-norma rasional ini, dan dengan cara ini juga subjektivitasnya dibangun sebagai situs penindasannya sendiri. Tirani yang diam dari norma diri yang dipaksakan telah menjadi model penindasan yang berlaku. Sementara bagi Kant, maksim moral dan norma-norma rasional ada dalam hubungan komplementer dengan kebebasan, bagi Stirner dan Foucault hubungan tersebut jauh lebih paradoksal dan bertentangan. Bukanlah bahwa norma moral dan rasional transendental menyangkal kebebasan dalam paradigma Kantian, yang mengandaikan kebebasan. Agaknya bentuk kebebasan yang terwujud melalui kategori-kategori mutlak ini menyiratkan bentuk-bentuk dominasi lain yang lebih halus. Dominasi ini dimungkinkan justru karena hubungan kebebasan dengan kekuasaan ditutupi. Seperti yang telah kita lihat, bagi Kant kebebasan adalah ketiadaan dari paksaan. Namun, bagi Stirner dan Foucault, kebebasan selalu berimplikasi pada relasi kekuasaanrelasi kekuasaan yang kreatif maupun restriktif. Untuk mengabaikan hal ini, apalagi untuk mengabadikan ilusi yang menghibur, bahwa kebebasan menjanjikan pembebasan universal dari kekuasaan, adalah dengan bermain tepat di"tangan" dominasi.
Kemudian mungkin dapat diperdebatkan, bahwa Foucault dan Stirner mengungkapkannya dengan cara yang berbeda: sisi bawah yang otoriter atau dengan "adegan lain" kebebasan Kantian.
Kebebasan Foucauldian: Kepedulian Diri
ni tidak berarti, bahwa Stirner dan Foucault menolak gagasan kebebasan. Sebaliknya, mereka menginterogasi batas-batas proyek kebebasan Abad Pencerahan untuk memperluasnyauntuk menciptakan bentuk-bentuk kebebasan dan otonomi baru yang melampaui batasan imperatif-kategoris. Memang, seperti yang ditunjukkan Olivia Custer, bahwa Foucault sama terlibatnya dengan Kant dalam problem kebebasan. Namun, seperti yang akan kita lihat, ia berusaha mendekati masalah kebebasan dengan cara yang berbeda melalui strategi dan praktik etika yang konkret dari diri sendiri.
Bagi Foucault, ilusi posisi kebebasan di luar dunia kekuasaan harus dihilangkan. Terlebih lagi, keterikatan kebebasan pada kategori esensialis dan moral yang terencana serta rasional harus setidaknya dipertanyakan. Namun, konsep kebebasan sangat penting bagi Foucault—ia tidak ingin membuangnya, tetapi lebih menempatkannya di ranah hubungan kekuasaan yang tentu membuatnya tidak pasti. Hanya melalui memikirkan kembali kebebasan dengan cara ini, ia dapat direbut dari dunia metafisika dan dibawa ke tingkat individu. Alih-alih gagasan
Kantian yang abstrak tentang kebebasan sebagai pilihan rasional di luar batasan dan keterbatasan, kebebasan bagi Foucault ada dalam hubungan timbal-balik dengan kekuasaan. Lebih dari itu, kebebasan bukan diandaikan oleh prinsip-prinsip moral mutlak, tapi sebenarnya ia diandaikan oleh kekuasaan. Menurut Foucault, kekuasaan dapat dipahami sebagai serangkaian "tindakan atas tindakan orang lain" di mana beberapa wacana, kontra-diskurus, strategi, dan teknologi berbenturan dengan satu hubungan khusus yang lain dari kekuatan yang selalu memprovokasi hubungan spesifik dan perlawanan lokal. Perlawanan adalah sesuatu yang melebihi kekuatan dan pada saat yang sama merupakan bagian integral dari dinamikanya. Kekuasaan didasarkan pada kebebasan tertentu untuk bertindak: pilihan kemungkinan tertentu. Dalam pengertian ini, "kekuasaan hanya dilakukan atas subjek bebas, dan hanya sejauh mereka bebas." Tidak seperti skema klasik di mana kekuasaan dan kebebasan ditentang secara diagram, pemikiran Foucauldian menegaskan ketergantungan total pada yang terakhir disebut. Dimana tidak ada kebebasan, dimana tindakan benar-benar dibatasi dan ditentukan, menurut Foucault bahwa sebenarnya tidak ada kekuatan: misalnya perbudakan, yang bukan merupakan sebuah hubungan kekuasaan.
Gagasan Foucault tentang kebebasan adalah permulaan yang radikal milik Kant. Bagi Kant, kebebasan diabstraksikan dari batasan dan keterbatasan kekuasaan. Sdangkan bagi Foucault, kebebasan adalah dasar dari batasan dan hambatan ini. Kebebasan bukanlah konsep metafisik dan transendental. Sebaliknya, itu sepenuhnya dari dunia ini dan ada dalam hubungan yang rumit serta terjerat dengan kekuasaan. Memang, tidak ada kemungkinan dunia bebas dari relasi kekuasaan, karena kekuasaan dan kebebasan tidak bisa ada tanpa satu sama lain.
Selain itu, Foucault dapat melihat kebebasan sebagai sesuatu yang terlibat dalam hubungan kekuasaan. Karena baginya, kebebasan lebih dari sekadar tidak adanya atau negasi dari sebuah kontrol. Dia menolak model kebebasan yang "represif" yang mengandaikan "diri" yang esensialsifat umum manusiayaitu yang dibatasi dan perlu dibebaskan. Pembebasan subyektivitas esensial adalah dasar gagasan klasik Abad Pencerahan tentang kebebasan dan masih menjadi pusat imajinasi politik kita. Namun, baik Foucault dan Stirner menolak gagasan ini, yaitu tentang "diri" yang esensial—ini hanyalah ilusi yang diciptakan oleh kekuasaan. Seperti yang dikatakan Foucault, "Orang yang digambarkan kepada kita, yang kita ajak untuk bebas, sudah terdapat pada dirinya, sebuah akibat dari penindasan yang jauh lebih dalam daripada dirinya sendiri." Meskipun ia tidak mengabaikan tindakan-tindakan pembebasan politik—misalnya ketika orang mencoba untuk membebaskan diri dari cengkraman penjajah—hal ini tidak dapat berlaku sebagai dasar untuk bentuk kebebasan yang sedang berlangsung. Menganggap bahwa kebebasan dapat diterapkan secara abadi atas dasar tindakan pembebasan di awal, ini hanya berguna untuk membangkitkan bentuk-bentuk dominasi baru. Jika kebebasan menjadi ciri khas yang abadi dari setiap masyarakat politik, itu harus dilihat sebagai praktik—strategi berkelanjutan dan cara tindakan yang terus melawan dan mempertanyakan tentang hubungan kekuasaan.
Praktik kebebasan ini juga merupakan praktik yang kreatif—proses yang terusmenerus terjadi dalam pembentukan diri subjek. Dalam pengertian inilah kebebasan bisa dilihat sebagai positif. Salah satu hal yang mencirikan modernitas, menurut Foucault, adalah sikap "heroik" Baudelairean terhadap masa kini. Bagi Baudelaire, sifat modernitas adalah kontingen dan sekilas harus dihadapkan dengan "sikap" tertentu terhadap masa kini yang seiring dengan munculnya cara baru dalam hubungan yang dimiliki seseorang dengan dirinya sendiri. Ini melibatkan penemuan kembali "diri" :
"Modernitas ini tidak membebaskan manusia dalam wujudnya sendiri; ia memaksa manusia untuk menghadapi tugas menghasilkan dirinya sendiri" . Jadi, daripada kebebasan menjadi pembebasan diri yang penting bagi manusia dari hambatan eksternal, sebenarnya itu adalah praktik yang aktif dan sengaja untuk menciptakan diri sendiri. Praktik kebebasan ini dapat ditemukan dalam contoh pesolek, atau flâneur, "Yang membuat tubuhnya, perilakunya, perasaan dan gairahnya: eksistensinya sebagai sebuah karya seni." Menurut Foucault, ini adalah praktik estetika-diri yang memungkinkan kita untuk merefleksikan secara kritis pada batas waktu kita. Ia tidak mencari tempat metafisik di luar semua batas, tetapi bekerja dalam batas: batasan masa kini. Lebih penting lagi, ini juga merupakan pekerjaan yang dilakukan pada batas-batas diri kita sendiri dan identitas kita sendiri. Karena kekuasaan berlaku melalui proses subyektifikasidengan mengikat individu ke identitas esensial, maka rekonstitusi radikal-diri adalah tindakan perlawanan yang diperlukan. Kemudian, ide kebebasan ini mendefinisikan bentuk baru politik yang lebih relevan dengan rezim kekuasaan kontemporer: "Masalah politik, etika, sosial, dan filsafat dari zaman kita bukanlah untuk membebaskan individu dari Negara dan lembaga-lembaganya, tetapi untuk membebaskan diri kita sendiri dari Negara dan jenis individualisasi yang terkait dengannya"
Bagi Foucault pembebasan diri adalah praktik etis yang jelas. Ini melibatkan gagasan "peduli terhadap diri sendiri" di mana hasrat dan perilaku seseorang diatur oleh dirinya sendiri, sehingga kebebasan dapat dipraktekkan secara etis. Foucault menyarankan, kepekaan terhadap "peduli pada diri sendiri" dan praktik etis kebebasan ini dapat ditemukan di antara orang-orang Yunani dan Romawi pada zaman kuno. Bagi mereka kebebasan individu adalah masalah etika. Karena hasrat untuk berkuasa atas orang lain juga merupakan ancaman terhadap kebebasan seseorang. Penggunaan kekuasaan adalah sesuatu yang harus diatur, dipantau, dan dibatasi. Menjadi budak untuk hasrat seseorang sama buruknya dengan tunduk pada hasrat orang lain. Pengelolaan hasrat dan praktik seseorang ini membutuhkan etika perilaku yang dibangun untuk diri sendiri. Untuk mempraktekkan kebebasan secara etis, agar benar-benar bebas, seseorang harus mencapai kekuasaan atas dirinya sendiri, atas hasrat dirinya sendiri Seperti yang ditunjukkan oleh Foucault, dalam pemikiran Yunani dan Romawi kuno, "Penguasa yang baik justru adalah orang yang menjalankan kekuatannya dengan benar, yaitu pada saat yang sama menggunakan kekuatannya pada dirinya sendiri"
Namun, praktik etis kebebasan yang terkait dengan "peduli terhadap diri" ini dimulai, pada titik tertentu terdengar agak seperti Kantian. Seperti yang dikatakan Foucault, "Untuk apa etika, jika bukan praktik kebebasan? [...]. Kebebasan adalah kondisi etika ontologis." Apakah ini tidak muncul untuk membangkitkan kembali imperatif-kategoris, dimana bagi Kant, moralitas mengandaikan dan didirikan pada kebebasan? Apakah Foucault, dalam usahanya untuk melepaskan diri darikemutlakan moralitas dan rasionalitas, memperkenalkan kembali imperatif-kategoris dalam pengaturan perilaku dan hasrat yang hati-hati ini? Tidak ada keraguan tentang keketatan bentuk etika ini. Dalam Use Pleasure and The Care of the Self, Foucault menggambarkan resep orang-orang Yunani dan Romawi tentang segala hal mulai dari diet, olahraga hingga seks. Namun, saya akan menyarankan bahwa ada perbedaan penting antara etika "kepedulian diri" dan prinsip moral universal yang dipaksakan oleh Kant. Pengaturan perilaku dan problematisasi kebebasan yang penting bagi etika "kepedulian diri" adalah hal-hal yang diterapkan pada diri sendiri, daripada dipaksakan secara eksternal dari titik universal di luar individu. dalam pengertian ini, praktik kebebasan Foucault adalah etika, bukan moralitas. Ini adalah konsistensi tertentu dari gaya dan perilaku yang memiliki objek pertimbangan serta problematisasi tentang diri. Dengan kata lain, ini memungkinkan diri untuk dilihat sebagai proyek terbuka yang didasari oleh praktik etis individu, bukan sebagai sesuatu yang didefinisikan secara a priori oleh hukum universal-transendental. Hukum moral tidak berlaku di sini—tidak ada otoritas transendental atau keharusan universal yang memberlakukan praktik etis ini dan menghukum pelanggaran atasnya. Menurut Foucault, moralitas didefinisikan oleh jenis subyektifitas yang ditimbulkannya. Di satu sisi, ada moralitas yang menegakkan kode, melalui perintah, dan yang mengandung bentuk subjektivitas yang merujuk perilaku individu pada hukum-hukum ini: menyerahkannya kepada otoritas universalnya. Bisa diperdebatkan bahwa ini adalah moralitas imperatif-kategoris Kant. Di sisi lain, Foucault berpendapat bahwa terdapat moralitas di mana:
"Penekanannya ditempatkan pada hubungan diri yang memungkinkan orang untuk tidak terbawa oleh nafsu dan kesenangan, untuk mempertahankan penguasaan dan keunggulan atas mereka, untuk menjaga perasaannya dalam keadaan tenang, untuk tetap bebas dari perbudakan batin dan nafsu, serta untuk mencapai bagaimana menjadi yang dapat didefinisikan oleh kenikmatan penuh dari diri sendiri, atau supremasi diri yang sempurna, diri sendiri."
Kita dapat melihat kemudian, bahwa gagasan Foucault tentang kebebasan adalah sebagai praktik etis yang secara radikal berbeda dari ide kebebasan milik Kant yang dianggap sebagai dasar hukum moral universal. Bagi Foucault, kebebasan adalah etis karena menyiratkan proyek terbuka yang dilakukan pada diri sendiri, tujuannya adalah untuk meningkatkan kekuatan yang dilakukan seseorang terhadap diri sendiri dan untuk membatasi serta mengatur kekuatan yang dimiliki orang lain. Dengan cara ini, kebebasan pribadi dan otonomi seseorang ditingkatkan. Disisi lain, bagi Kant, kebebasan adalah dasar dari moralitas metafisik yang harus dipatuhi secara universal. Dengan kata lain, bagi Foucault, etika mengintensifkan kebebasan dan otonomi, sedangkan bagi Kant, kebebasan dan otonomi pada akhirnya dibatasi oleh moralitas yang mereka buat.
Jadi, ada dua aspek yang terkait dari konsep kebebasan Foucault yang harus ditekankan di sini. Pertama, terdapat praktik kebebasan yang memungkinkan seseorang untuk membebaskan diri, bukan dari batas-batas eksternal yang menekan esensi seseorang, tetapi dari batas yang ditentukan oleh esensi ini. Ini melibatkan pelanggaran batas-batas: melalui pelanggaran dan penemuan kembali diri sendiri. Ini adalah bentuk kebebasan yang berlaku dalam batas-batas kekuasaan, yang memungkinkan individu untuk menggunakan batas tersebut dalam menemukan dirinya sendiri. Kedua, terdapat aspek kebebasan yang jelas etis—itu adalah praktik "peduli terhadap diri sendiri" yang bertujuan meningkatkan kekuatan dan hasrat seseorang, sehingga tetap memastikan kekuatan seseorang atas orang lain. Dengan cara ini, praktik "peduli terhadap diri sendiri memungkinkan individu untuk mengarahkan suatu tindakan etis di tengah-tengah hubungan kekuasaan, dengan tujuan mengintensifkan kebebasan dan otonomi diri. Oleh karena itu, kebebasan dipahami sebagai praktik yang berkelanjutan dan kontingen dari diri yang tidak ditentukan sebelumnya oleh hukum moral dan rasional yang tetap.
Dua Abad Pencerahan
alam esainya yang muncul kemudian, What Is Enlightenment?, Foucault D menganggap desakan Kant atas penggunaan akal otonomi yang bebas dan umum adalah sebagai pelarian, sebuah "jalan keluar" bagi manusia dari keadaan ketidakmatangan dan subordinasi. Sementara Foucault percaya bahwa akal otonom ini berguna karena memungkinkan etos kritis terhadap modernitas. Ia menolak "pemerasan" Abad Pencerahandesakan bahwa etos kritis ini di jantung Abad Pencerahan ditorehkan dalam rasionalitas universal dan moralitas. Masalah dengan Kant adalah bahwa ia membuka ruang untuk otonomi individu dan refleksi kritis pada batas-batas diri sendiri hanya untuk menutup ruang ini dengan meresepkannya kembali dalam pengertian transendental-rasionalitas dan moralitas yang memerlukan kepatuhan mutlak. Bagi Foucault, warisan Abad Pencerahan sangatlah ambigu. Seperti yang diperlihatkan Colin Gordon, bagi Foucault ada dua Abad Pencerahan, yaitu Abad Pencerahan atas kepastian rasional, identitas mutlak, dan takdir, dan Abad Pencerahan atas pertanyaan dan ketidakpastian yang terus menerus muncul. Menurut Foucault, ambiguitas ini tercermin dalam perlakuan Kant tentang Abad Pencerahan.
Mungkin ada momen Kantian di Foucault (atau dapatkah kita mengatakan momen Foucauldian di Kant?). Foucault menunjukkan bagaimana seseorang dapat membaca Kant dengan cara yang heterogen, dengan fokus pada aspek yang lebih peka dari pemikirannya, di mana kita didorong untuk menginterogasi batas-batas modernitas, untuk merefleksikan secara kritis tentang cara kita yang telah dipilih sebagai subjek. Seperti yang diperlihatkan Foucault, Kant melihat Abad Pencerahan (Aufklärung) sebagai sebuah kondisi kritis, yang dicirikan oleh "keberanian untuk mengetahui dan penggunaan akal secara bebas serta otonom. Kondisi kritis ini seiring dengan "kehendak revolusi"—dengan upaya untuk memahami revolusi (dalam kasus Kant mengenai Revolusi Perancis) sebagai peristiwa yang memungkinkan menginterogasi kondisi modernitas, "ontologi masa kini"—dan cara kita sebagai subyek berdiri dalam kaitannya dengan itu. Foucault menyarankan bahwa kita dapat mengadopsi strategi kritis ini untuk merefleksikan batas-batas wacana Abad Pencerahan itu sendiri dan perintah rasional serta moral universalnya. Dalam pengertian ini kita mungkin menggunakan kapasitas kritis Abad Pencerahan terhadap diri sendiri, sehingga membuka ruang bagi otonomi individu di dalam bangunannya: di luar jangkauan hukum universal.
Sikap kritis terhadap masa kini, dan praktik "peduli terhadap diri sendiri" yang dengannya ia terikat, menguraikan strategi silsilah kebebasanstrategi yang, seperti dikatakan Foucault "tidak berusaha untuk memungkinkan suatu metafisika yang memiliki akhir menjadi sains; namun ia berusaha memberi dorongan baru […] pada kebebasan yang tidak terdefinisi."
Teori Kepemilikan Stirner
eperti yang akan kita lihat, justru S keinginanuntukmemberikan dorongan baru demi kebebasan, dan untuk membawanya keluar dari alam mimpi serta janji-janji kosong itu tercermin dalam "teori kepemilikan" milik Stirner. Dia mengadopsi pendekatan "genealogis" yang serupa dengan Foucault dalam menjadikan fokus kebebasan pada diri dan menempatkan kebebasan di tengah-tengah hubungan kekuasaan.
Ide untuk melampaui batas dan menemukan kembalidirimembebaskan diri dari identitas yang tetap dan esensial—juga
merupakan tema sentral dalam pemikiran Stirner. Sebagaimana telah kita lihat, Stirner menunjukkan bahwa gagasan tentang esensi manusia adalah fiksi yang menindas individu—berasal dari idealisme Kristen yang terbalik—dan terkait dengan berbagai bentuk dominasi politik. Stirner mendeskripsikan proses subyektifikasi yang sangat mirip dengan Foucault: alih-alih kekuasaan beroperasi sebagai represi ke bawah, ia memerintah melalui subyektifikasi individu, dengan mendefinisikannya menurut identitas esensial. Seperti yang dikatakan Stirner:" Negara mengkhianati permusuhannya kepada saya dengan menuntut saya menjadi seorang manusia. . .memaksakan menjadi seorang manusia kepada saya sebagai sebuah tugas" . Esensi manusia membebankan serangkaian gagasan moral dan rasional yang tetap pada individu, yang bukan dari ciptaannya dan membatasi otonominya. Justru gagasan tugas ini, kewajiban moral—kewajiban yang sama yang merupakan dasar dari imperatif-kategorisyang Stirner temukan menindas.
Maka bagi Stirner, individu harus membebaskan dirinya dari ide-ide dan kewajiban yang menindas ini dengan terlebih dahulu membebaskan dirinya dari esensi—dari identitas esensial yang dipaksakan padanya. Kemudian, kebebasan melibatkan suatu pelanggaran esensi, suatu pelanggaran diri. Tetapi bentuk apa yang harus dilakukan oleh pelanggaran ini? Seperti halnya Foucault, Stirner curiga terhadap bahasa pembebasan dan revolusi—itu didasarkan pada gagasan tentang diri yang esensial yang seharusnya membuang rantai represi eksternal. Bagi Stirner, justru gagasan esensi manusia inilah yang menindas dirinya sendiri. Oleh karena itu, strategi kebebasan yang berbeda diperlukan, yaitu orang-orang yang meninggalkan proyek pembebasan dan pencarian humanis, tapi sebaliknya, untuk mengkonfigurasi ulang subjek dengan cara-cara baru dan non-esensialis. Untuk tujuan ini, Stirner menyebut pemberontakan:
"Revolusi dan pemberontakan tidak harus dipandang sebagai sinonim. Yang pertama terdiri dari kondisi terbalik, kondisi atau status yang mapan, negara atau masyarakat, dan karenanya merupakan tindakan politik atau sosial; dan yang terakhir ini memang memiliki konsekuensi yang tidak dapat dihindarkan, suatu transformasi keadaan, namun tidak dimulai darinya tetapi dari ketidakpuasan manusia dengan diri mereka sendiri, bukan kebangkitan bersenjata tetapi kebangkitan individu, bangkit tanpa memperhatikan peraturan yang muncul darinya. Revolusi ditujukan pada peraturan baru; pemberontakan membuat kita tidak lagi membiarkan diri kita diatur, tetapi untuk mengatur diri kita sendiri, dan tidak menetapkan harapan yang berkilau pada "institusi". Ini bukan pertarungan melawan yang mapan, karena jika itu berhasil, maka runtuhnya diri sendiri; itu hanya dapat bekerja, jika saya keluar dari yang mapan."
Jadi sementara revolusi bertujuan mengubah kondisi sosial dan politik yang ada sehingga esensi manusia dapat berkembang: sebuah pemberontakan bertujuan membebaskan individu dari esensi ini. Seperti praktik kebebasan milik Foucault, pemberontakan bertujuan mengubah hubungan yang dimiliki individu dengan dirinya sendiri. Kemudian, pemberontakan dimulai dengan individu yang menolak identitas esensial yang dipaksakan: seperti kata Stirner, dimulai dari ketidakpuasan manusia terhadap diri mereka sendiri. Pemberontakan tidak bertujuan untuk menggulingkan lembaga-lembaga politik. Ini ditujukan untuk individu, dalam arti melampaui identitasnya sendiri yang hasilnya adalah perubahan dalam pengaturan politik. Oleh karena itu, pemberontakan bukan tentang menjadi seperti apa adanya — menjadi manusia, menjadi manusia— tetapi menjadi apa yang bukan semestinya.
Etos pelarian identitas esensial ini melalui penemuan kembali diri sendiri memiliki banyak kesamaan penting dengan estetika Baudelarian tentang "diri" yang menarik perhatian Foucault. Seperti pernyataan Baudelaire bahwa "diri" harus diperlakukan sebagai sebuah karya seni, Stirner melihat "diri" atau ego sebagai "tidak menciptakan sesuatu" (creative nothingness), yaitu kekosongan radikal yang tergantung pada individu untuk mendefinisikan: "Saya tidak mengandaikan diri saya sendiri, karena saya setiap saat hanya memposisikan atau menciptakan diri saya sendiri " . Bagi Stirner, "diri" adalah sebuah proses, yaitu aliran berkelanjutan dari fluksi yang menciptakan diri sendiriitu adalah proses yang menghindari pemaksaan identitas yang tetap dan esensial: "tidak ada konsep yang dapat mengekspresikan saya, tidak ada yang ditunjuk karena esensiku melelahkanku".
Oleh karena itu, strategi Stirner tentang "pemberontakan" dan proyek Foucault "peduli terhadap diri sendiri" adalah praktik kebebasan bersyarat yang melibatkan rekonfigurasi subjek dan hubungannya dengan "diri" . Bagi Stirner, seperti halnya Foucault, kebebasan adalah proyek yang tidak terdefinisi dan terbuka di mana individu terlibat didalamnya. Seperti yang dikemukakan oleh Stirner, pemberontakan tidak bergantung pada lembaga-lembaga politik untuk memberikan kebebasan kepada individu, tetapi mencari individu untuk menemukan bentuk kebebasannya sendiri. Ini adalah upaya untuk membangun ruang-ruang otonomi dalam hubungan kekuasaan, yaitu dengan membatasi kekuasaan yang dilakukan atas individu oleh orang lain dan meningkatkan kekuatan yang dilakukan individu terhadap dirinya sendiri. Apalagi individu bebas untuk menemukan kembali dirinya dengan cara-cara baru dan tak terduga, serta melarikan diri dari batas yang ditentukan oleh esensi manusia serta gagasan universal tentang moralitas
Gagasan tentang pemberontakan melibatkan reformulasi konsep kebebasan pasca- Kantian dengan cara-cara yang radikal. Misalnya Stirner menyarankan, bahwa tidak ada gagasan universal tentang kebebasan; kebebasan selalu merupakan kebebasan khusus dalam samaran universal. Kebebasan universal bagi Kant adalah domain semua individu yang rasional, yang hanya akan menyembunyikan minat tertentu yang tersembunyi. Menurut Stirner, kebebasan adalah konsep yang ambigu dan problematik: sebuah "mimpi yang sangat indah" yang menggoda individu namun tetap tidak tercapai, dan dari mana individu harus bangun.
Selanjutnya, kebebasan adalah konsep terbatas. Itu hanya dilihat dalam arti negatifnya yang sempit. Lebih tepatnya, Stirner ingin untuk memperluas konsep ke dalam bentuk kebebasan yang lebih positif. Kebebasan dalam arti negatif hanya melibatkan penyangkalan diri—untuk menyingkirkan sesuatu, menyangkal diri sendiri. Itulah sebabnya, menurut Stirner, semakin bebas individu seolah-olah ia semakin, sesuai dengan ide emansipatif humanisme Abad Pencerahan, kehilangan kekuatan yang ia lakukan terhadap dirinya sendiri. Di sisi lain, kebebasan positif—atau "kepemilikan" adalah bentuk kebebasan yang diciptakan oleh individu untuk dirinya sendiri. Tidak seperti kebebasan a la Kantian, "kepemilikan" tidak dijamin oleh cita-cita universal atau imperatif-kategoris. Jika itu hanya bisa menyebabkan dominasi lebih lanjut: "Orang yang bebas tidak lain adalah orang yang dibebaskan [.] dia adalah orang yang tidak bebas dalam garmen kebebasan, seperti halnya keledai dalam kulit singa".
Lebih tepatnya, kebebasan harus diambil alih oleh individu itu sendiri. Agar kebebasan memiliki nilai apapun, maka hal itu harus didasarkan pada kekuatan individu untuk menciptakannya. "Kebebasan saya menjadi lengkap hanya ketika itu adalah kekuatan saya; tetapi dengan ini aku tidak lagi menjadi manusia yang bebas, menjadi dan memiliki (diri sebagai) manusia." Stirner adalah orang pertama yang mengakui bahwa dasar kebebasan yang sesungguhnya adalah kekuasaan. Untuk melihat kebebasan sebagai ketiadaan universal kekuasaan adalah untuk menutupi basis kekuasaannya.
"Teori kepemilikan" adalah pengakuan, dan memang bersifat afirmatif, dari hubungan yang tak terelakkan antara kebebasan dan kekuasaan. "Kepemilikan" adalah perwujudan kekuasaan individu atas dirinya sendiri—kemampuan untuk menciptakan bentuk kebebasannya sendiri, yang tidak dibatasi oleh kategori metafisik atau esensialis. Dalam pengertian ini, "kepemilikan" adalah bentuk kebebasan yang melampaui imperatif-kategoris. Hal ini didasarkan pada gagasan tentang "diri" sebagai bidang kemungkinan yang kontingen dan terbuka, alih-alih pada kepatuhan mutlak dan patuh terhadap prinsip moral eksternal.
Kesimpulan
Agasan tentang "kepemilikan" ini sangat penting dalam merumuskan G konsep kebebasan pasca-Kantian. Mungkin terlihat dalam kata-kata Stirner berikut, bahwa "kepemilikan menciptakan kebebasan baru." Pertama, "kepemilikan" memungkinkan kebebasan untuk dipertimbangkan di luar batas kategori moral dan rasional universal. "Kepemilikan" adalah bentuk kebebasan yang diciptakan untuk diri sendiri, bukan yang dijamin oleh cita-cita transendental. Foucault juga berusaha untuk "membebaskan" kebebasan dari batas-batas yang menindas ini. Kedua, "kepemilikan" menyatu erat dengan argumen Foucault tentang kebebasan yang terletak dalam hubungan kekuasaan. Seperti halnya Foucault, Stirner menunjukkan bahwa gagasan kebebasan sebagai absennya kekuasaan dan kontrol adalah sebuah ilusi. Individu selalu terlibat dalam jaringan hubungan kekuasaan yang kompleks Kebebasan harus diperjuangkan, diciptakan kembali, dan dinegosiasikan kembali dalam batas-batas ini. Dengan demikian, "kepemilikan" dapat dilihat sebagaiusaha menciptakan kemungkinan resistensi terhadap kekuasaan. Demikian pula bagi Foucault, Stirner mempertahankan bahwa kebebasan dan perlawanan selalu ada, bahkan dalam kondisi yang paling opresif. Dalam pengertian ini, "kepemilikan" -nya adalah proyek mengenai kebebasan dan perlawanan dalam batas-batas kekuasaanini adalah pengakuan atas sifat kebebasan yang secara fundamental antagonis dan ambigu. Ketiga, tidak hanya merupakan upaya untuk membatasi dominasi individu, tetapi juga merupakan cara untuk mengintensifkan kekuatan yang dilakukan seseorang terhadap diri sendiri. Kita telah melihat bahwa bagi Stirner dan Foucault, kebebasan universal Kant didasarkan pada norma moral dan rasional yang mutlak yang membatasi kedaulatan individu. Foucault dan Stirner sama-sama tertarik, tentunya dengan cara yang berbeda, dalam merumuskan konsep kebebasan: melalui praktik etis "peduli terhadap diri sendiri" dan melalui strategi "kepemilikan", yang keduanya bertujuan untuk meningkatkan kekuatan yang dimiliki individu atas dirinya sendiri.
Kedua strategi tersebut memungkinkan kita untuk mengkonsepkan kebebasan dengan cara yang lebih kontemporer. Kebebasan tidak bisa lagi dilihat sebagai emansipasi universal atau janji abadi dunia di luar batas kekuasaan. Kebebasan yang membentuk dasar dari imperatif-kategoris, kebebasan yang ditinggikan oleh Kant sebagai wilayah akal dan moralitas, tidak bisa lagi berfungsi sebagai dasar bagi ide ide kebebasan kontemporer. Ini juga telah ditunjukkan oleh Stirner dan Foucault, bahwa untuk mengecualikan atau mengalienasi dan menindas: dimana disitu memperbudak, disitu juga ia membebaskan. Kebebasan harus dilihat tidak lagi tunduk pada maksim mutlak moralitas dan rasionalitas, terhadap imperatif yang mendorong hukum-hukum dan hukuman yang membosankan serta yang tidak dapat dihindari. Bagi Stirner dan Foucault, kebebasan harus "dibebaskan" dari pengertian mutlak ini. Alih-alih hak istimewa yang diberikan dari titik metafisik kepada individu, kebebasan harus dilihat sebagai praktik, etos kritis-diri, dan sebagai perjuangan yang melibatkan oleh individu dalam masalah kekuasaan. Ini tentu melibatkan refleksi pada batas-batas diri dan kondisi ontologis saat inipenemuan kembali konstan dan problematisasi subjektivitas. Dengan cara ini, kebebasan pasca-Kantian bukan hanya pengakuan mengenai kekuasaan, tetapi juga refleksi atas batas-batas kekuasaan—sebuah penegasan kemungkinan otonomi individu di dalam kekuasaan dan kapasitas kritis dari subjektivitas modern.
“Kebebasan selalu merupakan kebebasan khusus dalam samaran universal”