Baca PDF (OCR): MASYARAKAT TONTONAN VIRTUAL - NOT BORED!

52 halaman · 2 halaman diproses dengan OCR · 3.5 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. MASYARAKAT TONTONAN VIRTUAL Not Bored!
  2. Cc DAFTAR ISI H AOSS
  3. PENGANTAR PENERJEMAH
  4. — Miguel Amorós, Technological Society-Mass Society
  5. BAGIAN SATU
  6. BAGIAN DUA
  7. 1) Apa yang sudah usang dan bisa dihilangkan?
  8. 2) Apa yang bisa dihancurkan dan diciptakan kembali secara bebas?
  9. 4) Apa yang terjadi karena revolusi sosial terus-menerus ditunda?
  10. BAGIAN TIGA
  11. BAGIAN EMPAT
  12. BAGIAN LIMA

MASYARAKAT TONTONAN VIRTUAL

MASYARAKAT TONTONAN VIRTUAL Not Bored!

Diterjemahkan dari versi bahasa Inggris berjudul The Society of the Virtual Spectacle yang dapat diakses di https://www.notbored.org/virtual-spectacle.html

Penerjemah & Penyunting Subliminal Cult

Tata Letak Fessnec Lab

Gambar Cover cyberianpunks.tumblr.com

Penerbit Fessnec Lab

m Terbitan Pertama edisi Bahasa Inggris NOT BORED! #40 Mei 2008 Terbitan Pertama edisi Bahasa Indonesia Maret 2025 iv #48 hlm; 14,8 x 21 cm

All Rights Owned by the Readers!

Cc DAFTAR ISI H AOSS

1 PENGANTAR PENERJEMAH

BAGIAN SATU

BAGIAN DUA

BAGIAN TIGA

BAGIAN EMPAT

BAGIAN LIMA

GET nou DON'T GOING CAN'T YOU'RE LOST WHERE KNOW FF nou

PENGANTAR PENERJEMAH

“Hilangnya kesadaran kelas setelah kekalahan serangan kaum proletar terbaru terhadap masyarakat kapitalis mengharuskan kita untuk merevisi diktum terkenal Marx dan mengatakan bahwa yang terpenting sekarang bukan lagi mengubah dunia, tetapi justru menafsirkannya [...] Karena proyek dominasi didasarkan pada ketidakpahaman terhadap dunia agar kita secara sukarela menyerahkan pengelolaannya kepada para pemimpin, maka proyek pembebasan haruslah justru sebaliknya: dunia harus dibuat dapat dipahami sehingga penduduknya dapat mengendalikannya tanpa perlu perantara. Untuk itu, tindakan saja tidak cukup, kata-katalah yang paling dibutuhkan.”

— Miguel Amorós, Technological Society-Mass Society

“Jika kamu mengenal musuh dan mengenal dirimu sendiri, kamu tidak perlu takut terhadap hasil dari seratus pertempuran. Jika kamu mengenal dirimu sendiri tetapi tidak mengenal musuh, setiap kemenangan yang diraih akan diiringi oleh satu kekalahan. Jika kamu tidak mengenal musuh maupun dirimu sendiri, kamu akan kalah dalam setiap pertempuran.”

—Sun Tzu, The Artof War

Salah satu masalah terbesar di kalangan anak muda hari ini adalah media sosial. Platform yang digadang-gadang membuat komunikasi dan peredaran informasi menjadi lebih mudah dan cepat ini justru membawa masalah tersendiri. Budaya ‘mindless scrooling' yang meluas di kalangan anak muda, tidak hanya menghabiskan banyak waktu mereka dalam kesia-siaan, tetapi lebih jauh dari itu: melemahkan kapasitas otak mereka, mengurangi ketertarikan mereka pada hal-hal nyata, dan pada titik ekstremnya, membuat mereka semakin cemas dan putus asa.

Hal ini bukan sekadar bualan. Ada banyak sekali laporan, teks maupun visual, yang menunjukkan bahwa para teknokrat di balik media sosial hari ini bekerja layaknya sekumpulan ahli saraf dan psikolog—mereka memahami betul bagaimana cara kerja pikiran manusia. Mereka memahami sesuatu, sesuatu dari pikiran kita yang tidak kita sadari. Pemahaman ini dan bagaimana mereka menggunakannya dibidang spesialisasi mereka, memungkinkan keberhasilan ilusi yang disajikan dalam media sosial. Bahkan meskipun kita menyadari ilusi tersebut, kita masih tetap terdorong untuk melakukan ‘mindless scrooling’, lagi dan lagi, tanpa henti. Kita masih akan mengangkat ponsel kita dan secara tak sadar, waktu berjam-jam telah berlalu.

PENGANTAR PENERJEMAH 2

Para teknokrat ini paham betul bahwa kita, sebagai spesies, memiliki perintah biologis dasar untuk terhubung dengan orang lain, karena hal itu secara langsung mempengaruhi pelepasan dopamin dalam jalur kenikmatan’. Jutaan tahun evolusi kita berada di balik sistem ini, sehingga memberi alasan mengapa kita terdorong untuk berkumpul dan hidup dalam sebuah komunitas, mencari pasangan dan menyebarkan spesies kita. Melalui pengaturan tertentu, terutama dalam apa yang disebut sebagai ‘algoritma’, para teknokrat ini memanfaatkan media sosial untuk mengoptimalkan hubungan antar-orang dengan mengalirkan serum kecanduan. “Setiap platform media sosial baik itu Instagram, TikTok, YouTube, hingga Facebook memiliki algoritma sendiri yang disesuaikan untuk memaksimalkan keterlibatan pengguna. Mereka tahu apa yang kita suka, apa yang kita komentari, dan bahkan kapan kita lebih cenderung untuk menggulir atau berhenti. Dengan memanfaatkan data ini, algoritma bekerja untuk menciptakan pengalaman yang begitu personal dan menggoda sehingga kita merasa terus tertarik untuk kembali.” Mereka melatih dan mengkondisikan kita, para penggunanya, agar ketika kita tak nyaman, kesepian, merasa tak pasti, atau takut, kita punya penenang dalam bentuk digital, yang pada gilirannya melucuti kemampuan kita untuk menghadapi situasi-situasi tersebut.

Peredaran informasi yang bebas partisipasi dan bebas akses juga merupakan ilusi, karena dibalik itu tertanam efek keterasingan yang kuat—monopoli informasi dan informatisasi berbasis ‘viral’ adalah instrumen untuk menciptakan distraksi konstan terhadap realitas yang sesungguhnya terjadi. Terlebih lagi informasi dan teknologinya pada dasarnya dikuasai oleh segelintir orang, sementara sisanya merupakan pengguna pasif yang hanya dapat menekan tombol dan memanfaatkan fitur-fitur. “Partisipasi”, seperti yang diharapkan oleh para pemuja kemajuan, pada faktanya mengungkapkan yang sebaliknya. Satu-satunya kebebasan di sana adalah kebebasan mengkonsumsi yang memperluas kolonisasi ke dalam bentuk virtual. Media sosial pada akhirnya hanya merupakan bentuk representasi baru, di mana hidup kita diproduksi bagi kita, bukan oleh kita, dan kita hanya bisa menyaksikan dengan berbaris dibangku penonton dan bertepuk tangan.

Apa yang membawa kita pada kesuraman ini? Jawabannya adalah kelimpahan. Dalam era pasca-industri, berkat otomatisasi dan penggunaan mesin canggih dalam produksi, sistem ekonomi yang mengklaim mampu memenuhi segala kebutuhan manusia, faktanya tidak bekerja berdasarkan permintaan kebutuhan, sebaliknya, kebutuhan manusia lah yang harus menyesuaikan diri dengannya. Kita tidak membeli sesuatu karena kebutuhan, tetapi karena gambaran (citra) tentang sesuatu tersebut—dalam iklan dan media sosial—membentuk gambaran tentang kebutuhan kita, bahwa seolah-olah kita membutuhkannya. Jutaan produk bekerja dengan cara ini, sehingga semakin banyak barang yang diproduksi semakin meningkat pula total kebutuhan-kebutuhan palsu; sebuah fase di mana apa yang disebut ‘kebutuhan telah menjelma menjadi ‘musuh kehidupan’.

“Alih-alih menghabiskan surplusnya dalam apa yang disebut oleh Georges Bataille sebagai "pengeluaran tidak produktif" (seperti pesta, festival, dan permainan), masyarakat modern—yang mengklaim bahwa kelangkaan masih ada—justru menginvestasikan surplus itu dalam siklus produksi baru. Akibatnya, "ekonomi" menjadi otonom dari masyarakat secara keseluruhan, dan berkembang hanya untuk dirinya sendiri. Maka, tontonan dapat didefinisikan dalam satu kalimat sebagai berikut: tontonan adalah bentuk yang menyebabkan revolusi sosial ditunda (atau ditangguhkan). Tontonan bukan sekadar hiper-visibilitas (seperti yang dipahami dalam konsep tontonan biasa), melainkan juga sebuah mekanisme penyamaran dan penyembunyian. Semakin sistematis tontonan diorganisir, semakin ia berfungsi sebagai konspirasi untuk menyembunyikan dan menyangkal kenyataan bahwa kapitalisme telah menjadi usang.”

Efek lain dari otomatisasi adalah terbentuknya struktur produksi yang didasarkan pada fleksibilitas. Dalam sistem ini, tenaga kerja dengan keterampilan tradisional semakin berkurang, sementara keterampilan dalam mengelola dan mengembangkan teknologi semakin ditingkatkan. Secara efisiensi, sistem ini menguntungkan, karena jumlah tenaga kerja dengan keterampilan teknologi yang diperlukan jauh lebih sedikit dibandingkan tenaga kerja dengan keterampilan tradisional. Namun, proses seleksi tenaga kerja masih sangat

PENGANTAR PENERJEMAH 4

dipengaruhi oleh faktor hak Istimewa—asal keluarga, lingkungan pendidikan, dan akses terhadap sumber daya. Akibatnya, bagi mereka yang kurang mampu secara ekonomi, fleksibilitas ini justru berarti ketidakpastian hidup (prekariat).

Dengan menurunnya kebutuhan terhadap tenaga kerja manusia, kaum muda hari ini tertawan dalam pekerjaan lepas (freelance/gig economy). Hal ini tentu menguntungkan kapitalisme, karena mengurangi tuntutan terhadap stabilitas kerja, hak-hak pekerja, atau perubahan sistemik yang dapat mengancam kepentingan mereka. Kepastian yang dulu ada kini menghilang dan tergantikan oleh tren dan fluktuasi yang dipasarkan sebagai “peluang.” Bagi sebagian besar anak muda, ketidapkastian yang dipaksakan oleh sistem ekonomi pasca-industri ini, sayangnya, ditafsirkan sebagai kebutuhan untuk terus beradaptasi dengan perubahan zaman. Namun, akibatnya jelas: hidup mereka tetap terjebak dalam ketidakpastian. Mereka hanya berusaha untuk tetap bisa bertahan hidup, tanpa memiliki kesempatan untuk benar-benar hidup. Rutinitas sehari-hari menjadi dangkal dan monoton, hubungan pribadi terjebak dalam kebosanan, peluang terbukti semu, dan eksperimen hanya menjadi sekadar tren.

Hilangnya pijakan sosial-ekonomi ternyata turut mengubah cara seseorang merespons keadaan mereka. Alih-alih berjuang untuk perubahan sosial yang lebih luas, kaum muda justru cenderung mencari solusi instan yang semu untuk melarikan diri dari kerisauan dan kecemasan mereka: layar ponsel, narkoba, agama, olahraga, liburan, terapi meditasi, musik, mode, simbol-simbol kecantikan, kepemilikan, kekuatan, dan sebagainya. Selebihnya, yakni aspek mendalam dari realitas dalam kehidupan sehari-hari seperti struktur ekonomi, politik, dan kekuasaan—yang merupakan penyebab utama dari kemiskinan total hidup mereka—dianggap jauh, tidak penting, dan pada akhirnya, tidak eksis. Dari sini, sebuah lingkaran setan terbentuk, di mana mereka tidak dapat hidup dengan cara yang sama sekali berbeda: model kehidupan yang serba banal ini terus berlanjut dan membentuk karakter mereka, yang pada gilirannya, akan mereproduksi model-model yang ada dalam realitas tersebut.

Semua ini membuat pembentukan kepribadian menjadi sulit, atau jika pun berhasil, yang terbentuk hanyalah kepribadian yang fleksibel dengan identitas yang rapuh. Kepribadian yang rapuh ini mengarah pada perilaku yang tidak menentu dan tidak terduga. “Kita merasa jenuh suatu hari, kemudian hiperaktif keesokan harinya. Satu saat kita menjadi romantis, lalu tiba-tiba menjadi skeptis. Kita bisa merasa tidak aman suatu waktu, lalu mendadak menunjukkan kemandirian yang berlebihan. Dari toleransi, kita bisa beralih ke intoleransi dalam sekejap.” Dengan demikian, sistem kekuasaan tontonan, yang mendominasi seluruh aspek kehidupan sosial mengandung sifat skizofrenik yang terorganisir, di mana para penghuninya hidup dalam realitas yang palsu dan akibatnya, memiliki kesadaran yang palsu. Gangguan mental’ dalam psikopatologi menjelaskan keumuman fenomena kepalsuan ini.

Oleh karena itu, banalisasi dan kepasifan menjadi tidak terelakkan, keduanya menandai keberhasilan tontonan dalam mencegah transformasi kemarahan menuju pemberontakan. Kelompok dan individu yang mengklaim memiliki alternatif dari kedangkalan ini pun, pada gilirannya, terjebak dalam banalitas yang sama. Bentuk perlawanan usang yang mereka praktikkan (kolektif, federasi, serikat pekerja) perlahan-lahan mengungkapkan ketidakefektifannya, dan ketidakpuasan semakin nyata terukir disetiap wajah. Serangan gerakan buruh terhadap sistem kapitalisme telah berakhir sejak lama, dan tidak ada yang dapat menghidupkannya kembali. Sejarah menunjukkan berulang-ulang kali bahwa serikat pekerja hanyalah alat untuk mengintegrasikan pekerja ke dalam sistem tontonan, mekanisme depolitisasi dari dalam, alat tontonan untuk tetap menutupi rahasianya. Karenanya, mereka yang masih percaya serikat dapat menjadi alat pembebasan sesungguhnya menderita skizofrenia.

Aktivisme militan juga sama banalnya: ketika partisipasi diukur dalam kerangka waktu kehadirar', yang berarti melanggengkan salah satu kendali dalam masyarakat dominan, yaitu kriteria kuantitatif jam kerja. Hanya partisipasi berdasarkan kesenangan dan antusias yang diperlukan dari setiap orang, karena fakta bahwa militan politik klasik, yang mengabdikan diri mereka pada tugas-tugas perjuangan, telah punah bersama dengan politik klasik itu sendiri, dan terlebih lagi oleh fakta bahwa pengabdian dan pengorbanan selalu dihantui otoritas (meskipun jika itu hanyalah otoritas moral). Kebosanan selalu bersifat kontra-revolusioner. Dalam segala hal.

PENGANTAR PENERJEMAH 6

Kendati darah ‘merah’ tampaknya terus mengalir ke dalam arteri mereka yang mengaku membenci sisitem kekuasaan, langkah-langkah hemodialisiss tetap perlu dilakukan: kita harus tetap mengkritik sistem tontonan secara keseluruhan. Karenanya, perhatian kita sekarang di sepanjang jalan ke depan adalah mendefinisikan kemiskinan baru. Dan mendefinisikan kemiskinan baru, berarti juga mendefinisikan kekayaan baru. Hanya dengan cara itu, kita bisa mendeteksi apa penyakit yang sedang kita derita, sebelum mencari penawarnya.

Untuk itulah teks Masyarakat Tontonan Virtual (2007) ini direkomendasikan. Teks ini adalah hasil pengembangan teks Guy Debord berjudul Masyarakat Tontonan (1967) yang menganalisis secara ekstensif dominasi citra dan media dalam kehidupan modern yang mengalienasi individu. Ia berhasil mengungkap kontradiksi dan rahasia kapital pada zamannya. Namun zaman telah berkembang, berbagai penemuan teknologi—meski semakin memperkuat tesis-tesis Debord—memerlukan pisau bedah baru untuk memahami perubahan apa yang telah terjadi dalam sistem tontonan.

Kendati sistem tontonan terus mempertahankan ilusi kepuasan dengan “menyerap” segala sesuatu yang mengancam mereka, sistem ini pada dasarnya sadar betul bahwa dalam utopia kapital tidak semua orang akan puas, dan tidak semua ketidakpuasan dapat ditenangkan. Akan selalu ada ruang di mana ledakan konflik dapat muncul—baik karena ketidakmungkinan adanya proyek sosial yang memuaskan semua orang, maupun karena ketidakmungkinan generasi muda untuk mencapai kepuasan pribadi mereka dalam komoditas. Pemenuhan tidak ada, karena tontonan ada di mana-mana. Maka banalitas dan kepasifan, depresi dan keputusasaan, bukan hanya menandakan keberhasilan tontonan, tetapi juga sekaligus menandakan keretakannya. SI telah mengatakan ini dalam paragraf pembuka The Bad Days Will End (1962):

“Saat dunia tontonan memperluas kekuasaannya, ia mendekati klimaks serangannya, yang memicu perlawanan baru di mana-mana. Perlawanan ini sangat sedikit diketahui karena tontonan yang berkuasa dirancang untuk menghadirkan gambaran hipnotis yang ada di mana-mana tentang penyerahan diri yang seragam. Tetapi perlawanan itu tetap ada dan menyebar.”

Jika kita mencari kebebasan dan kebahagiaan yang hilang, dan bertanya-tanya apa yang membuat mereka hilang, maka tidak akan sia-sia untuk membaca buku yang sedang kalian baca. Kami percaya bahwa proyek revolusioner hanya akan terwujud saat orang-orang bisa menyadari ketidakberdayaan mereka dan mulai mengambil alih kekuasaan atas hidup mereka sendiri. Dan buku ini adalah upaya untuk mengekspos sumber ketidakberdayaan itu.

Sistem tontonan adalah sistem yang diselubungi rahasia, tugas revolusioner adalah mengungkapkannya.

Subliminal Cult, Maret 2025

“Takdir teori tontonan adalah milik mereka [...] yang secara individu dan kolektif akan mengambil kembali ide-ide tentang anti-hierarki, koherensi dan perlawanan global.”

—Jean-Francois Martos'

“Semoga kita berhasil membantu mereka yang di tanah kelahiran tercinta kita dipanggil untuk berbicara dengan penuh wibawa mengenai masalah-masalah ini, agar kita bisa menjadi panduan mereka dalam bidang kajian ini, dan mendorong mereka untuk melakukan pemeriksaan yang jujur terhadap topik ini.”

—Carl von Clausewitz?

'https://thecolumnist.id/artikel/scroll-tanpa-henti-rahasia-algoritma-yang-mengontrol-hidup-kita-3246 > Penjelasan lebih lanjut terdapat dalam teks Generasi Muda Dalam Masyarakat Pasca-Industri karya Alfredo M. Bonanno yang telah diterbitkan oleh Contemplative Publishing

3 Kutipan dari Masyarakat Tontonan Virtual

4 Kutipan dalam Generasi Muda Dalam Masyarakat Pasca-Industri, Alfredo Bonanno

> prosedur medis untuk membersihkan darah dari limbah, kelebihan cairan, dan zat berbahaya ketika ginjal tidak dapat melakukannya dengan baik

BAGIAN SATU

Untuk memulai dari dasar: kapitalisme tidak bisa diandalkan untuk “memperbaiki” cacat-cacatnya sendiri, atau memperbaiki kerusakan dan kehancuran yang telah ditimbulkannya, dan kapitalisme juga tidak bisa diharapkan untuk runtuh dengan sendirinya karena kontradiksi-kontradiksi internalnya, lalu meninggalkan tabula rasa yang dapat digunakan untuk membangun masyarakat baru yang benar-benar manusiawi. Kapitalisme tidak bisa “diperbaiki” dengan reformasi kecil-kecilan, dan revolusi pun tidak akan “memperbaiki” kapitalisme jika revolusi itu terbatas pada sektor-sektor tertentu, seperti politik, ekonomi, teknologi, moral dan sektor tertentu lainnya. Hanya revolusi sosial, yang merupakan revolusi total, yang bisa menyelamatkan umat manusia dari keburukan kapitalisme (perang, polusi, kemiskinan, kebodohan dan intoleransi) dan menciptakan jenis masyarakat yang memungkinkan umat manusia berkembang secara maksimal (koeksistensi damai, kesehatan fisik dan mental, pemenuhan diri, dan kebahagiaan).

Untuk itu kaum revolusioner sosial harus memiliki “teori kerja” (working theory) tentang masyarakat kapitalis, yaitu, pemahaman tentang apa itu kapitalisme, bagaimana ia bisa bertahan meskipun memiliki cacat fatal, dan bagaimana kapitalisme melindungi dirinya dari upaya reformasi maupun revolusi. Di sini, kami berbeda dari mereka

BAGIAN SATU 10

yang percaya bahwa teori apapun tidak diperlukan, yang menganggap teori hanya menghalangi kaum revolusioner untuk bertindak, bahwa tindakan “radikal” adalah satu-satunya teori yang diperlukan. Mereka ini biasanya membentuk "organisasi" dan “federasi” antar organisasi-organisasi ini, yang kebanyakan memiliki pernyataan programatik bahwa mereka menentang sejumlah hal buruk (seperti militerisme, fundamentalisme agama, patriarki, rasisme, seksisme, dll.) dan mendukung sejumlah hal baik (seperti organisasi mandiri, asosiasi sukarela, mutual aid, kebebasan, keadilan, dll.).

Kami percaya bahwa hanya teori yang memungkinkan tindakan kita menjadi lebih strategis, bukan sekadar taktis; lebih efektif, bukan tidak efektif; dan lebih tepat, bukan hanya perkiraan. “Tugas utama setiap teori adalah untuk menjernihkan konsep-konsep dan ide-ide yang telah tercampur dan membingungkan, dan hanya setelah pemahaman yang benar tentang istilah-istilah dan konsep-konsep itu terbentuk, kita bisa berharap untuk berkembang dengan lebih jelas dan mudah, serta memastikan bahwa penulis dan pembaca melihat hal-hal dari sudut pandang yang sama” (Clausewitz, On War). Namun, kami tidak berkhayal tentang kesempurnaan teori. Seperti yang dicatat oleh Clausewitz, “hanya teori yang terbatas yang dapat diperoleh, yang sesuai dengan keadaan yang ada dalam sejarah. Ketidaklengkapan ini tidak bisa dihindari, karena teori harus didasarkan pada, atau dibandingkan, dengan sejarah. Selain itu, ketidaklengkapan ini lebih bersifat teoretis daripada nyata” (On War).

Tentu saja, ada banyak teori tentang masyarakat “modern”: psikoanalitik (institusi dibentuk oleh sublimasi yang menindas): sosiologis (kekuasaan dipegang oleh kelompok besar, elit kecil, atau jaringan yang kompleks): dan lain-lain. Namun, teori-teori ini tidak dirancang untuk menggulingkan masyarakat “modern.” Banyak di antaranya justru dimaksudkan untuk membenarkan eksistensi masyarakat itu. Akibatnya, teori-teori ini tidak dianggap sebagai skandal atau sesuatu yang tidak diterima oleh masyarakat tersebut, persepsi semacam itu adalah salah satu ciri teori revolusioner sejati.

Ada dua sumber utama teori revolusioner yang sejati: Marxisme dan anarkisme. Keduanya mencoba menjelaskan siapa (atau apa) yang memegang kekuasaan dalam masyarakat, dan mengapa atau bagaimana mereka memegangnya: menurut Marxis, kaum borjuis memegang kekuasaan karena mereka memiliki dan mengendalikan alat produksi, menurut anarkis, Negara memegang kekuasaan karena monopoli kekuatan koersif (militer dan polisi). Masing-masing teori ini bersifat revolusioner karena membayangkan berakhirnya masyarakat ini dan menggantinya dengan masyarakat yang lebih manusiawi: Marxisme membayangkan revolusi proletariat yang menghapuskan seluruh kekuasaan kelas, sedangkan anarkisme membayangkan revolusi politik yang menggantikan pemaksaan dengan asosiasi sukarela.

Namun, baik Marxisme maupun anarkisme telah mengalami banyak perubahan sepanjang abad terakhir. Beberapa Marxis kini lebih memilih menyebut diri mereka “komunis libertarian” dan telah sepenuhnya meninggalkan gagasan revolusi: “Fokus utama kami,” kata pengelola libcom.org, “selalu pada bagaimana bertindak sebaik mungkin di sini dan sekarang untuk memperbaiki kondisi kami dan melindungi planet ini.” Marxis lainnya (seperti mereka yang menerbitkan jurnal Aufheben) masih mempertahankan gagasan revolusi, namun meskipun mereka berniat mengikuti perkembangan zaman, mereka tetap terjebak dalam sisi terburuk dari teori Marxis “klasik,” terutama pada fetisisme terhadap proletariat dan “teori proletariat.” Masih ada beberapa sekte Leninis, Trotskyis, dan Maois yang bertahan, dan tidak mengherankan, semuanya terorganisir secara hierarkis, kaku, dan sangat membosankan. Meskipun beberapa kelompok ini mendukung beberapa organisasi besar (termasuk koalisi A.N.S.W.E.R.), “kelompok terdepan” ini tidak benar-benar revolusioner dan malah menyalurkan dorongan revolusioner kembali ke dalam sistem elektoral (biasanya, dengan mendukung Partai Demokrat).

Ada banyak kelompok dan gerakan kecil kontemporer yang mengusung “anarkisme” dan “anti-otoritarianisme,” tetapi hanya sedikit dari mereka yang menjadi sumber (atau bahkan pembaca) teori revolusioner, kebanyakan dari mereka menghindari teori demi “aksi radikal” atau “aksi langsung”. Bagi sebagian besar dari mereka, “aksi” lebih sering ditujukan pada aspek-aspek tertentu dari masyarakat kapitalis, seperti kekerasan polisi, perlakuan terhadap hewan, bioteknologi, rasisme, polusi, kerusakan lingkungan, perang terhadap narkoba, kekerasan seksual terhadap perempuan, homofobia, neo-liberalisme, dan lain sebagainya.

BAGIAN SATU 12

Jarang sekali “aksi” mereka ditujukan pada masyarakat kapitalis atau Negara secara keseluruhan. Bahkan, gagasan tentang aksi semacam itu dianggap utopis, terlalu idealis, dan bahkan tidak mungkin. Selain itu, beberapa dari “anarkis” ini sebenarnya bukan anarkis sama sekali, tetapi kaum Kiri atau “warga negara” yang hanya mengadopsi label tersebut karena, setelah kerusuhan Seattle 1999, label itu menjadi tren dan memberi mereka liputan TV dan kontrak buku.

Ada pengecualian: anarkis “insureksioner”, anarkis hijau, anarkis “primitivis,” mereka yang menyebut diri mereka anti-teknologi dan anti-peradaban, dan sebagainya (sering kali ada tumpang tindih antara berbagai aliran pemikiran ini). Sebagian besar dari mereka tentu saja berbicara tentang revolusi, tetapi—karena mereka muncul setelah gelombang ekstremisme yang dicontohkan oleh Situationist International (SI), namun tidak ingin mengikuti jejak “Marxis’—mereka merasa terdorong untuk menjadi lebih ekstrem daripada para ekstremis tersebut. Jadi, sementara Marx dan Engels menentang dominasi borjuasi dan kapital terhadap tenaga kerja, dan meskipun Situationist International menentang kerja dan dominasi tontonan (spectacle) atas kehidupan sehari-hari, anarkis revolusioner menyatakan diri mereka menentang hampir segalanya: “teknologi,” masyarakat industri, “kemajuan,” rasionalitas, dan bahkan peradaban itu sendiri. Beberapa dari ekstremis ini bahkan menentang revolusi, karena—menurut mereka—-revolusi adalah puncak dari ideologi kemajuan.

Setidaknya di Prancis, ada ketegangan besar antara kaum anarkis anti-kemajuan (teknofobik) dan kaum revolusioner yang terinspirasi oleh situasionisme. (Konflik serupa juga terjadi di Amerika, seperti yang terlihat dalam edisi #24 Green Anarchy,’ serta perdebatan antara John Filiss dan Ken Knabb.) Inti dari perdebatan ini adalah mengenai siapa musuh sesungguhnya: apakah itu masyarakat industri atau kapitalisme? Mana yang lebih berbahaya: apakah produksi industri atau komoditas?

Sebagai mantan anggota Situationist International (SI), pendapat René Riesel dalam perdebatan ini cukup berpengaruh, terutama di Prancis. Dalam Prakata untuk bukunya On the Progress of Domestication (2000), Riesel menyebut bahwa di antara “para pengejek paling terbelakang terhadap gagasan anti-kemajuan” adalah mereka yang “mengklaim sebagai pewaris dan pemegang eksklusif dogma radikal tertentu”—dalam hal ini, “ortodoksi” teori situasionis. Riesel merujuk pada “argumen yang digunakan oleh fosil-fosil hidup dari situasionisme [sic] atau ultra-Kiri, yang membantah ide bahwa lebih baik untuk menyebut masyarakat ini sebagai masyarakat industri. Mereka merasa cukup dengan terus berbicara tentang masyarakat kapitalis, masyarakat yang dikuasai kapital, masyarakat tontonan.” Menurut Riesel, mereka seperti “patung-patung lilin”, yang “bebas berbicara sesuai dengan pemahamannya masing-masing” dan “telah menemukan media yang paling cocok bagi mereka, yaitu Internet, sebuah media libertarian besar di mana kapital bekerja keras untuk merusak kreativitas massa.” Pernyataan Riesel ini ditanggapi oleh kelompok Les Amis de Nemesis, yang berpendapat: “Namun jika kita ingin tetap serius, kita harus mengakui bahwa mereka yang menolak istilah 'masyarakat industri’ pada dasarnya tidak membela sistem yang disebut seperti itu oleh kaum teknofobik, dan bahwa penolakan mereka terhadap istilah tersebut atau analisis tertentu, adalah karena menganggapnya dangkal dan lebih memilih mempertahankan oposisi yang lebih mendasar terhadap masyarakat dominan.”

Kami percaya bahwa teori tontonan (theory of the spectacle) yang dikembangkan Guy Debord, yang merupakan teori komprehensif yang mencoba menggabungkan atau setidaknya mendamaikan aspek terbaik dari Marxisme dan anarkisme, adalah teori revolusioner yang paling relevan dan berguna bagi kita saat ini. Seperti yang dikatakan Anselm Jappe pada tahun 1998, “Tiga puluh tahun [setelah Mei 1968], kini setelah Althusserianisme, Maosime, workerisme, dan Freudo-Marxisme semuanya tenggelam dalam kelupaan sejarah, jelas bahwa para Situasionis adalah satu-satunya yang saat itu mengembangkan sebuah teori, dan hingga batas tertentu dalam praktik, yang ketertarikannya tidak hanya historiografis, tetapi masih memiliki relevansi potensial hingga hari ini.”

BAGIAN SATU 14

Namun, berbeda dengan Jappe, yang hanya puas mengulang dan mengkritik teori tontonan (yang dia lakukan dengan sangat baik), kami ingin melangkah lebih jauh dan memperbarui teori ini. Setelah “menunggu waktunya” begitu lama, mungkin teori ini akhirnya siap untuk melampaui teori tontonan.

Karena otonomi pribadi kami terhadap semua kelompok dan gerakan mana pun, mungkin ada yang bertanya: “Mengapa tidak menciptakan teori baru dari awal, dengan teori kalian sendiri?” Clausewitz memberikan jawaban yang tepat: “Teori dibuat agar mereka yang datang kemudian tidak perlu mengulang kerja keras dalam membuka jalan dan memahami subjeknya, tetapi dapat menemukan pemikiran yang telah tertata dengan baik dan telah diterangi. Teori harus mendidik pikiran pemimpin masa depan [...], atau lebih tepatnya, membimbingnya dalam pembelajaran mandiri, tetapi tidak menemaninya ke medan pertempuran” (On War).

“Karena sulit untuk berbicara dengan benar tentang suatu hal, bahkan lebih sulit meyakinkan pendengar bahwa yang kita katakan itu benar. Di satu sisi, seorang teman yang sudah mengetahui semua fakta dari cerita tersebut mungkin merasa ada beberapa hal yang belum disampaikan dengan jelas seperti yang ia harapkan, dan yang ia rasa seharusnya dijelaskan, di sisi lain, seseorang yang tidak mengetahui masalah tersebut bisa saja, karena rasa iri, mencurigai adanya pembesar-besaran jika ia mendengar sesuatu yang melampaui pemahamannya sendiri [...]

Meskipun saya mungkin tidak akan lebih dipercaya daripada orang lain yang pernah berbicara tentang kenyataan ekspedisi ini, dan meskipun saya tahu bahwa mereka yang menyampaikan atau mengulangi pernyataan yang dianggap tidak dapat dipercaya tidak hanya gagal mendapatkan pengikut, tetapi juga dianggap bodoh karena usahanya, saya tentu tidak akan takut untuk tetap berbicara ketika negara dalam bahaya, terutama karena saya yakin bahwa saya bisa berbicara dengan otoritas yang lebih besar dibandingkan orang lain.”

—Thucydides, The History ofthe Peloponnesian War

1 Dari Oil on Fire, yang merupakan kata pengantar Martos pada tahun 1997 untuk bukunya Correspondance avec Guy Debord. ? On War (1832), diterjemahkan dari bahasa Jerman oleh Kolonel J.J. Graham (Barnes & Noble, 2004).

> Kehadiran kelompok-kelompok “Komunis” dalam berbagai gerakan protes di Amerika (melawan kebrutalan polisi, perang di Irak, dan pemenjaraan Mumia Abu-Jamal yang masih berlangsung) sangatlah signifikan dalam terang komentar Guy Debord mengenai akar dari “spektakuler terintegrasi.”

4 Teks singkat kami A critique of neo-anarchism (April 2007), mengkritik kelompok Kiri dan reformis lain yang dengan sengaja menyebut diri mereka “anarkis.” Kami juga menerjemahkan sebuah teks anonim dari bahasa Prancis berjudul The Citizenist Impasse (April 2001), yang mendefinisikan “kewarganegaraan” sebagai “ideologi dengan tiga ciri utama: 1) Keyakinan bahwa demokrasi dapat melawan kapitalisme, 2) Upaya memperkuat Negara agar politik ini bisa dijalankan, [dan] 3) Warga negara sebagai elemen utama dalam politik ini.” Banyak pendukung ideologi ini aktif dalam gerakan anti-globalisasi dan “keadilan global.”

5 Menurut kami, ada hal menarik di edisi ini. Meskipun menolak teori dan praktik Situationist International (karena dianggap terlalu Marxis dan terlalu mengagungkan teknologi), edisi ini tetap memuat teks dari mantan situasionis Raoul Vaneigem berjudul Lines of Flight: To Liberate the Earth of Celestial Illusions and Their Tyranny—yang kami jelaskan dalam teks On the soth Anniversary of the Founding of the Situationist International (2007)—bahwa kini ada perbedaan signifikan antara teori situasionis (yang pada hakikatnya “Vaneigemist”) dan teori Guy Debord tentang tontonan.

é Semua kutipan dalam paragraf ini berasal dari esai Max Vincent pada Maret 2007 yang berjudul Du Temps gue les Situationnistes avaient raison.

7 Anselm Jappe, Guy Debord (awalnya diterbitkan dalam bahasa Italia pada 1993: diterjemahkan dari versi bahasa Prancis tahun 1995 oleh Donald Nicholson-Smith pada 1999).

BAGIAN DUA

Semua orang, bahkan kaum kapitalis dan para pembela mereka, setuju bahwa tontonan semakin menjadi pusat dan ciri khas masyarakat saat ini. (Perlu dicatat bahwa yang kami maksud bukan sekadar “gambar” (image): tontonan adalah fenomena sensorik yang luar biasa, mencolok, atau mengesankan, terutama yang bersifat visual—jauh lebih menarik dan memikat daripada sekadar gambar.) Tontonan kini meresap dan mendominasi seluruh aspek masyarakat kapitalis: perang (shock and awe), politik (sesi foto, konvensi dan debat televisi, serta iklan kampanye), budaya (jurnalisme tabloid, “berita terkini”), olahraga (kompetisi “ekstrem”), konsumsi (penjualan dan acara “spektakuler”), seni (pertunjukan berbasis tubuh), arsitektur (khususnya yang bergaya “postmodern”), dan tentu saja, seluruh kota.

Oleh karena itu, kita harus memahami bahwa konsep “tontonan” tidak sama dengan teori kritis atau revolusioner tentang “tontonan.” Berbeda dengan teori, konsep “tontonan” hanya menggambarkan fenomena permukaan, khususnya dominasi dan “invasi” televisi serta media massa lainnya. Biasanya, mereka yang hanya mengembangkan konsep “tontonan” menganggapnya sebagai sesuatu yang telah lama ada atau bahkan selalu ada, sehingga tidak memberikan batasan historis yang jelas atau kemungkinan akhir dari tontonan. Selain itu, kecaman terhadap “spektakularisasi” (yang umumnya bernada moralistik) tidak benar-benar mengganggu atau mengguncang masyarakat saat ini: masyarakat kapitalis kontemporer telah secara resmi mengakui dirinya sebagai “spektakuler”, dan “situasionisme” (gagasan bahwa semua orang dapat atau seharusnya memainkan peran dalam pertunjukan) telah menjadi ideologi resminya. “Bahwa masyarakat modern adalah masyarakat tontonan kini sudah menjadi sesuatu yang tidak perlu diperdebatkan lagi,” tulis Le Monde pada 19 September 1987."

Prakata dalam buku Bush-League Spectacles: Empire, Politics and Culture in Bush-Whacked America (2005) karya Fran Shor memberikan contoh yang lebih kontemporer. Setelah mengutip Guy Debord dalam The Society of the Spectacle—yang menyatakan, “Tontonan tidak dapat dipahami hanya sebagai ilusi visual yang dihasilkan oleh teknologi media massa. Ini adalah pandangan dunia yang telah menjadi kenyataan material’—penulisnya menyatakan:

Tontonan telah memainkan peran penting dalam kekaisaran dan kehidupan publik sepanjang sejarah. Dari sirkus Roma hingga demonstrasi Nuremberg di Jerman Nazi, penyelenggaraan acara publik untuk mobilisasi massa selalu melayani kepentingan elit penguasa. Namun, di era masyarakat tontonan ini, di mana citra mendominasi bukan hanya dalam ranah media, tontonan menjadi semakin terintegrasi dalam cara kerja masyarakat. Meskipun ada upaya untuk memanipulasi tontonan untuk tujuan politik tertentu, tontonan tetap menjadi sarana utama untuk menyalurkan wacana dan opini populer.

Sebaliknya, tesis utama teori Debord tentang tontonan—pertama kali dipaparkan dalam buku berjudul La Societe du Spectacle’ tepat empat puluh tahun yang lalu—adalah bahwa “tontonan” bukan sekadar fenomena budaya, melainkan tahap dalam sejarah kapitalisme, atau lebih tepatnya, pembekuan sejarah pada satu momen tertentu. Momen tersebut dapat ditentukan antara tahun 1917 hingga 1939 dan dapat dijelaskan sebagai perkembangan ganda:

1) Kelimpahan kapitalis (kelimpahan komoditas yang diproduksi massal dan kekayaan material) telah melewati ambang batas tertentu hingga mencapai super-kelimpahan, dan,

2) Karena super-kelimpahan ini menjadikan revolusi sosial lebih mungkin dan diinginkan, kelas penguasa serta birokrasi di seluruh dunia berusaha menyembunyikan atau menyangkal kelimpahan tersebut secara sistematis.

Alih-alih menghabiskan surplusnya dalam apa yang disebut oleh Georges Bataille sebagai “pengeluaran tidak produktif”? (seperti pesta, festival, dan permainan), masyarakat modern—yang mengklaim bahwa kelangkaan masih ada—justru menginvestasikan surplus itu dalam siklus produksi baru. Akibatnya, “ekonomi” menjadi otonom dari masyarakat secara keseluruhan, dan berkembang hanya untuk dirinya sendiri. Maka, tontonan dapat didefinisikan dalam satu kalimat sebagai berikut: tontonan adalah bentuk yang menyebabkan revolusi sosial ditunda (atau ditangguhkan). Tontonan bukan sekadar hiper-visibilitas (seperti yang dipahami dalam konsep tontonan biasa), melainkan juga sebuah mekanisme penyamaran dan penyembunyian. Semakin sistematis tontonan diorganisir, semakin ia berfungsi sebagai konspirasi untuk menyembunyikan dan menyangkal kenyataan bahwa kapitalisme telah menjadi usang.

Beberapa revolusioner mampu mendeteksi perubahan ini saat perubahan tersebut terjadi. Nama-nama seperti Bataille, Breton, Artaud, Benjamin, Korsch, dan Lukacs cukup dikenal. Namun, seiring perkembangan ekonomi kapitalis sejak 1939, perubahan ini—bersama dengan urgensi dan kemungkinan revolusi sosia—menjadi semakin nyata dan lebih mudah dikenali dalam beberapa dekade terakhir.

Mari kita bahas lebih lanjut dalam empat pertanyaan berikut.

8 Dikutip dalam buku Guy Debord Comments on the Society of the Spectacle (1988).

? Awalnya diterbitkan oleh Buchet-Castel, The Society of the Spectacle telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh tiga penerjemah berbeda: Fredy Perlman (Red & Black, 1977): Donald Nicholson-Smith (Zone Books, 1994); dan Ken Knabb (Rebel Press, 2005). Dalam teks ini, sebagaimana di bagian lainnya, kami lebih memilih untuk menerjemahkan sendiri semua kutipan dari Debord dan para situasionis lainnya.

10 Georges Bataille, “The Notion of Expenditure,” pertama kali diterbitkan dalam bahasa Prancis pada tahun 1933; diterjemahkan oleh Allan Stoekl dan dimuat dalam Visions of Excess: Selected Writings, 1927-1939 (University of Minnesota, 1985). Perlu dicatat bahwa Bataille menggunakan kata “spektakel, tetapi dengan makna yang sangat berbeda dari penggunaan oleh Debord. Bagi Bataille, “spektakel,” “pengeluaran kolektif yang spektakuler,” dan “fungsi spektakuler” merujuk pada kewajiban tradisional kaum kaya untuk menyediakan atau melakukan “pengeluaran sosial yang tidak produktif’ demi membangkitkan gairah dan kepuasan orgiastik seluruh masyarakat, terutama bagi kaum miskin. Bataille mencatat, “Dalam masyarakat yang disebut beradab, kewajiban mendasar dari kekayaan baru menghilang dalam periode yang relatif baru [...] Hari ini, bentuk-bentuk besar dan bebas dari pengeluaran sosial yang tidak produktif telah lenyap.” Namun, hal yang menggantikan “spektakel” dalam pengertian Bataille justru adalah apa yang disebut Debord, empat puluh tahun kemudian, sebagai masyarakat tontonan (society of the spectacle). Bataille menulis: “Sebagai kelas yang memiliki kekayaan—yang menerima bersama kekayaan tersebut kewajiban untuk melakukan pengeluaran fungsional—borjuasi modern dicirikan oleh penolakan prinsip terhadap kewajiban ini. Mereka membedakan diri dari aristokrasi dengan hanya bersedia mengeluarkan kekayaan untuk dirinya sendiri dan dalam lingkaran mereka sendiri—dengan kata lain, mereka sebisa mungkin menyembunyikan pengeluaran mereka dari mata kelas-kelas lain.” Mungkin karena ia menganggap “perang” sebagai pengeluaran yang tidak produktif, Bataille melihat revolusi melawan borjuasi sebagai “malam besar ketika frasa-frasa indah mereka akan tenggelam dalam jeritan kematian dalam kerusuhan,” yang merupakan “harapan berdarah yang, setiap hari, menyatu dengan keberadaan rakyat, dan yang merangkum isi ketidakpatuhan dari perjuangan kelas.” Namun, bagi Debord, yang melihat perang sebagai sarana untuk mencapai tujuan (bukan tujuan itu sendiri), revolusi adalah pecahnya sebuah “festival.” Lihat teks klasik situasionis “Theses on the Paris Commune.” Seperti yang dikatakan oleh Les Amis de Nemesis dalam On Politics: Letter to JLD (13 Oktober 2001): “Ini sama sekali bukan tentang mempertentangkan irasionalitas Dionisian dengan rasionalitas Apollonian, melainkan melampaui oposisi yang mandul ini dan menemukan rasionalitas di tempat yang, dengan bodohnya, tidak pernah dicari.”

1) Apa yang sudah usang dan bisa dihilangkan?

Pertama dan terutama adalah kerja—dalam arti kewajiban untuk bekerja demi kelangsungan hidup. Faktanya, kekayaan yang telah terakumulasi begitu besar sehingga, jika didistribusikan secara merata, tidak ada seorang pun yang perlu bekerja lagi seumur hidupnya (meskipun masih mungkin ada sejumlah tenaga kerja yang diperlukan secara sosial, tetapi institusi kerja itu sendiri bisa dihapuskan). Dengan logika yang sama, kemiskinan, kelaparan, dan tunawisma dapat diberantas di seluruh dunia. Dan karena dalam kapitalisme, kerja berhubungan erat dengan produksi, distribusi, dan penjualan komoditas, maka pasar, iklan, serta komoditas itu sendiri sebenarnya tidak lagi dibutuhkan. Ya, manusia tetap memerlukan makanan, tempat tinggal, dan pakaian, tetapi kebutuhan tersebut tidak harus dipenuhi melalui produksi komoditas.

2) Apa yang bisa dihancurkan dan diciptakan kembali secara bebas?

Di tempat pertama adalah segala sesuatu yang sebelumnya dilakukan di luar “jam kerja”, yaitu aktivitas rekreasi, liburan, dan hiburan. Daripada sekadar menjadi cara untuk beristirahat atau menyegarkan diri agar bisa kembali bekerja, semua aktivitas ini—bahkan waktu di mana aktivitas tersebut berlangsung—bisa dinikmati secara bebas dan mandiri. Orang tidak harus “bersenang-senang” sepanjang waktu (meskipun bisa jika mereka menginginkannya): segala bentuk yang selama ini hanya berspekulasi tentang kemungkinan utopia—filsafat, seni dalam segala bentuknya, dan agama—bisa dijalani secara langsung dan sepenuhnya. Pendidikan tidak lagi bertujuan menjadikan seseorang sebagai pekerja atau konsumen yang baik, tetapi untuk menjadi manusia yang baik. Segala bentuk moralitas dan etika bisa diciptakan kembali dari nol.

3) Siapa yang menghalangi perubahan radikal ini (revolusi sosial) terjadi?

Para pemilik dunia ini, tentu saja, tetapi mereka memiliki banyak sekutu: Orang-orang yang mengklaim sebagai “waki rakyat dan menentukan siapa yang mendapatkan apa (politisi dan pemimpin serikat pekerja), orang-orang yang merancang dan membangun gedung, moda transportasi, dan kota-kota yang bertujuan memisahkan dan mengisolasi masyarakat, sehingga mencegah mayoritas penduduk berkumpul dan mengorganisir diri (arsitek, perencana kota, dan pengembang), orang-orang yang menggunakan kekerasan untuk mencegah kekayaan diambil kembali oleh rakyat (polisi, perusahaan keamanan swasta, dan militer), orang-orang yang terus menyebarkan mitos tentang kelangkaan (media massa), yang menghalangi atau menekan distribusi agar kelangkaan tampak nyata (berbagai kelompok mafia), atau yang menciptakan serta memberlakukan bentuk kelangkaan baru (mereka yang bergerak di bidang keamanan dan keselamatan), orang-orang yang mengkhususkan diri dalam pengeluaran surplus yang terkendali dan terbatas (para selebritas, bintang hiburan, dan artis spektakuler): dan terakhir, para penghancur impian dan utopia (rohaniwan, pekerja sosial, dan psikiater).

4) Apa yang terjadi karena revolusi sosial terus-menerus ditunda?

Dalam kata-kata situasionis, ekonomi kapitalis yang otonom—’salah satu fragmen dari kekuasaan sosial yang mengklaim mewakili keseluruhan (totalitas) yang koheren, dan cenderung memaksakan dirinya sebagai penjelasan dan organisasi total” (Critique of Urbanism)—menjadi semakin totaliter. Ekonomi yang otonom berubah menjadi “kediktatoran totaliter dari fragmen” (Basic Banalities). Tidak mengherankan, produk-produk yang dihasilkannya semakin berbahaya, hingga mencapai titik toksisitas dengan munculnya pembangkit listrik tenaga nuklir. Justru karena ekonomi yang otonom adalah ekonomi yang kehilangan akal sehat, peningkatan toksisitas kapitalisme dan berbagai produknya tampak “alami” atau sulit dipahami, dan dalam kedua kasus tersebut dianggap tak terelakkan. Perlu dicatat: bahkan jika ekonomi tidak menjadi otonom, komoditas tetap akan bersifat merusak. Faktanya, banyak produk beracun telah beredar di pasar sebelum periode 1917-1939. Toksisitas komoditas bukanlah kebetulan atau sesuatu yang bisa dikendalikan, hal itu tertanam dalam strukturnya sebagai “nilai”, yakni pemisahan internal antara nilai guna (yang secara definisi berguna)

dan nilai tukar (yang pada dasarnya acuh tak acuh, jika tidak secara langsung bertentangan, dengan kegunaan). Inilah sebabnya mengapa kaum revolusioner, jika ingin hidup dalam masyarakat tanpa alienasi, tidak bisa sekadar kembali ke masa sebelum kapitalisme atau sebelum masyarakat industri ada. Struktur alienasi yang sama juga ada dalam konsep nilai uang—komoditas yang tidak memiliki nilai guna dalam dirinya sendiri, selain sebagai alat tukar untuk semua komoditas lainnya.

Untuk terus mengembangkan ekonomi sekaligus terus menunda revolusi sosial, berbagai bentuk pemerintahan menjadi sesuatu yang diperlukan. Studi tentang hal ini merupakan salah satu perhatian utama Debord, tidak hanya dalam The Society of the Spectacle, tetapi juga dalam Prakata untuk edisi keempat The Society of the Spectacle dalam bahasa Italia (1979) dan Comments on the Society of the Spectacle (1988). Antara tahun 1967 dan 1988, Debord mengidentifikasi tiga bentuk pemerintahan tersebut:

1) Tontonan terkonsentrasi (concentrated spectacle), yang ditemukan dalam masyarakat “totaliter” seperti Jerman Nazi dan Uni Soviet.

2) Tontonan terdifusi (diffuse spectacle), yang ditemukan dalam masyarakat “demokratis” seperti Amerika Serikat.

3) Tontonan terintegrasi (integrated spectacular), yang muncul sebagai hasil dari “kompromi historis” antara “Komunisme” (kapitalisme birokratis negara) dan “kapitalisme” (kapitalisme birokratis korporat) yang dimulai pada pertengahan 1970-an (di Prancis dan Italia), dan mencapai puncaknya pada akhir 1980-an hingga awal 1990-an sebagai paradigma yang dominan.

Dalam banyak hal, bentuk yang paling penting dari ketiga jenis tontonan ini adalah tontonan terkonsentrasi. Meskipun muncul beberapa dekade setelah Revolusi Industri dan berkembang sebagai alternatif spektakuler terhadap kapitalisme pasar bebas, tontonan terkonsentrasi adalah bentuk tontonan yang “pertama”: dalam sifatnya yang totaliter, ia paling mendekati sifat totalitarian dari komoditas itu sendiri.” Dan, karena ini adalah bentuk yang diambil oleh Negara kapitalis ketika sedang mengalami krisis, tontonan terkonsentrasi juga akan menjadi bentuk terakhir yang akan diadopsinya. Seperti yang dikatakan Debord di bagian akhir Comments, “takdir dari tontonan ini tentu saja bukan untuk berakhir dalam bentuk despotisme yang tercerahkan.”

Tentu saja, ada dan masih terdapat perbedaan nyata antara ketiga bentuk Negara modern ini—banyak perang, baik yang “panas” maupun “dingin,” telah terjadi di antara mereka. Namun, yang membuat ketiganya tetap merupakan bagian dari tontonan—dan menjadikan tontonan sebagai sistem pemerintahan global—adalah fakta bahwa mereka saling menyeimbangkan satu sama lain (seperti dalam konsep “keseimbangan teror”) serta fakta bahwa masing-masing telah berusaha menekan subversi kelas pekerja di dalam wilayahnya sendiri. Selain itu, ada juga momen-momen tertentu—yang cukup penting untuk dipelajari—di mana bentuk-bentuk Negara yang tampaknya saling bertentangan atau bersaing justru bekerja sama dalam menekan revolusi kelas pekerja. Contohnya dapat dilihat dalam peristiwa di Spanyol pada 1930-an, Hongaria pada 1950-an, dan Italia pada 1970-an.

Sangatlah signifikan bahwa hanya sedikit dari hal-hal yang baru saja kita bahas muncul dalam diskusi kontemporer tentang tontonan atau tentang Guy Debord secara pribadi. Umumnya, pembahasan semacam ini lebih banyak berfokus pada aspek seni Debord—ia lebih dikenal sebagai pembuat film, meskipun juga seorang penulis, penerjemah, dan perancang buku—atau pada tahun-tahun awal keterlibatannya dalam Situationist International (1957-1961) dengan teori-teori seni seperti detournement, derive, dan psikogeografi. Salah satu contoh yang baik datang dari profesor universitas sekaligus neo-anarkis, David Graeber: “Kaum Situationis, seperti banyak radikal tahun 60-an lainnya, ingin melawan melalui strategi aksi langsung: menciptakan 'situasi' melalui tindakan subversif kreatif yang merusak logika Tontonan dan memungkinkan para aktor setidaknya untuk sementara merebut kembali kekuatan imajinatif mereka.”

Namun, sangat jarang ada pembahasan mengenai teori politik Debord atau periode tengah SI (1962-1968), ketika kelompok ini lebih fokus pada isu-isu politik seperti kerusuhan Watts di AS, Perang Enam Hari, Perang Vietnam, gerakan kemerdekaan Aljazair, Musim Semi Praha 1968, dan tentu saja, Mei 1968 di Prancis. Selain itu, hampir tidak ada pembahasan tentang aktivitas politik Debord setelah SI bubar pada tahun 1972—termasuk keterlibatannya dengan kaum revolusioner di Italia (1973-1975), Portugal (1974-1975), dan Spanyol (1980-1981).

Meski begitu, para komentator dari berbagai spektrum—baik dari Kanan maupun Kiri—tetap merasa perlu untuk membahasnya. Mengapa? Seperti yang dikatakan Jean-Frangois Martos dalam Oil on Fire: “Bencana ekstrem yang diakibatkan oleh demokrasi spektakuler terhadap kita, yang secara kasar semakin membuktikan kebenaran kesimpulan Guy Debord, telah membuat musuh-musuhnya akhirnya mengakui keakuratan penilaiannya.” Jika kita menyoroti secara singkat sebuah artikel terbaru dari Henry A. Giroux— Beyond the Spectacle of Terrorism”, yang diadaptasi dari bukunya Beyond the Spectacle of Terrorism: Global Uncertainty and the Challenge of the New Media (2006)—itu hanya karena artikel ini merupakan salah satu dari sedikit yang mencoba menganggap serius gagasan politik Debord, meskipun dengan cara yang kurang memadai. Dengan kata lain, artikel ini menunjukkan betapa minimnya diskusi serius tentang topik ini.

Mengikuti pola yang telah muncul sejak tahun 1970-an melalui pemikiran Michel Foucault’ dan Jean Baudrillard, Giroux hanya menyebut Guy Debord dan teori “pelopor’-nya tentang masyarakat tontonan untuk mengatakan bahwa, sejak tahun 1960-an, tontonan telah berubah begitu drastis sehingga teori Debord tidak lagi relevan. Menurut Giroux, Debord dan “konsep tontonan lama” tidak dapat menjelaskan munculnya “media baru dan teknologi berbasis gambar” seperti camcorder, ponsel berkamera, televisi satelit, perekam digital, dan internet—karena semua itu belum ada pada tahun 1967. Entah perangkat-perangkat ini benar-benar berbeda secara fundamental dari radio, televisi, dan film, atau “media baru” ini begitu melimpah sehingga telah terjadi “transformasi struktural dalam kehidupan sehari-hari”: media ini “telah merevolusi hubungan antara suatu peristiwa dan bagaimana peristiwa tersebut ditampilkan ke publik.” Meskipun “baik konsep tontonan maupun praktik terorisme bukanlah hal baru,” menurut Giroux, kini telah terjadi “penggabungan antara tontonan, terorisme, perang, dan politik,” yang benar-benar belum pernah terjadi sebelumnya. Dengan kata lain, saat ini kita hidup di dalam “rezim tontonan baru, di mana budaya layar (screen culture) dan politik visual tidak hanya merekam peristiwa spektakuler, tetapi juga menciptakannya.”

Jangan sampai kita berpikir bahwa tontonan yang “baru” ini sebenarnya tidak jauh berbeda dari yang “lama”, atau bahwa sebenarnya tidak benar jika dikatakan bahwa “diskursus kritis tentang tontonan perlu diperbarui agar dapat memberikan alat teoretis yang lebih baik untuk memahami bagaimana tontonan telah berubah.” Untuk menepis anggapan ini, Giroux membedakan antara “terorisme tontonan” (realitas lama yang dianggap sudah ketinggalan zaman) dengan “tontonan terorisme” (realitas yang baru). Jika yang pertama berakar pada “budaya fasis dan budaya komodifikasi kapitalisme akhir,” maka yang kedua berakar pada “konsep baru tentang individu yang terbentuk dalam hubungan sosial yang didominasi oleh ketakutan dan teror.” Lebih jauh lagi, jika tontonan yang » lama didominasi oleh “konsensus,” “rasa persatuan,” “solidaritas,” “Ilusi,” dan “depolitisasi” (seolah-olah Perang Dingin tidak pernah terjadi!), maka tontonan yang baru justru ditandai oleh “drama ketakutan dan kejutan,” “politisasi,” serta “gambar yang dipadukan dengan sensasi realitas.” Inti dari gagasan ini adalah bahwa “tontonan terorisme mengganggu dominasi konsumerisme, menantang kekuasaan negara, dan menggunakan gambar untuk membangun jenis politik baru yang berpusat pada kematian, histeria, kepanikan, dan kekerasan” (penekanan ditambahkan).

Menolak gagasan Debord dengan cara ini membutuhkan dua langkah yang tidak jujur secara intelektual. Pertama, Giroux lebih banyak mengandalkan ringkasan The Society of the Spectacle yang dibuat oleh akademisi lain daripada membaca teks aslinya secara langsung. Tidak mengherankan, ringkasan-ringkasan ini sering kali tidak memadai dan memiliki kecenderungan yang sejalan dengan Giroux: “Gambar telah menggantikan komoditas sebagai unit dasar kapitalisme. Alih-alih berargumen bahwa komoditas tetap menjadi elemen utama dalam dominasi, ia bersikeras, seperti yang dikemukakan Eugene L. Arva, bahwa di era saat ini, 'sistem representasi dan mediasi (atau dunia tontonan, jika Anda mau) telah menjadi lebih relevan daripada komoditas itu sendiri.” Kedua, Giroux mengabaikan fakta bahwa Debord masih terus menulis tentang tontonan setelah tahun 1967, dengan berpendapat bahwa “Debord tidak pernah membayangkan bagaimana revolusi media kedua akan berkembang, dengan banyaknya produsen, distributor, dan konsumen; atau bagaimana perang melawan terorisme pasca-9/11 akan menggeser fokus, terutama di Amerika Serikat, dari konsumerisme ke obsesi yang sama kuatnya terhadap perang dan dampak politiknya yang regresif, seperti ketakutan, kecemasan, dan ketidakamanan.” Dengan kata lain, bagi Giroux, baik Comments on the Society of the Spectacle (yang membahas jaringan komputer), maupun Prakata untuk edisi keempat The Society of the Spectacle dalam bahasa Italia (yang membahas tontonan terorisme di Italia pada 1970-an), seolah-olah tidak pernah ada.

Dengan mengabaikan Guy Debord dan kegigihannya yang mengganggu dalam menekankan peran komoditas dalam sistem kapitalisme, Giroux bisa sampai ke tujuan akhirnya (atau mungkin, ke tempat di mana ia memang sudah berada sejak awal?): yakni, penerimaan tanpa kritik terhadap media baru dan politik Kiri. “Bentuk-bentuk komunikasi dan perlawanan yang benar-benar baru, yang berbasis pada media baru, kini tampak jelas [sic] dalam gerakan keadilan global, dalam kemunculan para blogger yang semakin menuntut pertanggungjawaban korporasi dan pemerintah, serta berbagai bentuk perjuangan budaya dan politik baru yang dilakukan oleh kelompok seperti Zapatista, demonstran Seattle, dan berbagai gerakan sosial lain yang terhubung melalui jaringan informasi yang disediakan oleh Internet dan Web.” Berbeda dengan Debord—yang terobsesi dengan revolusi sosial—'para teoritisi seperti Thomas Keenan, Mark Poster, Douglas Kellner, dan Jacgues Derrida benar dalam menyatakan bahwa teknologi elektronik baru dan publik media 'menghapus batasan pada cakrawala kemungkinan komunikasi' dan, dengan demikian, membuka peluang baru untuk memanfaatkan media sebagai kekuatan demokratis, baik untuk kritik maupun untuk intervensi serta perubahan yang positif.”

“Sebagaimana hukum berlaku dalam seni, demikian pula dalam politik, bahwa perbaikan selalu menang, dan meskipun kebiasaan yang sudah mapan mungkin terbaik bagi masyarakat yang stabil, tuntutan tindakan yang terus-menerus harus diimbangi dengan penyempurnaan metode yang berkelanjutan.”

— Thucydides, The History ofthe Peloponnesian War

1 Salah satu perbedaan utama antara teori situasionis dan teori tontonan Debord (lihat catatan kaki #5) adalah bahwa, tidak seperti teori situasionis, teori tontonan mengalami pembaruan dan pengulangan beberapa kali setelah pertama kali dirumuskan pada era sebelum Mei 1968.

12 Perlu diingat dalam konteks ini bahwa banyak orang Yunani kuno percaya bahwa Lydia adalah tempat lahirnya baik komoditas pertama (uang logam) maupun tirani politik. Misalnya, dalam legenda cincin Gyges, tirani dimulai setelah seorang raja digulingkan oleh seseorang yang memiliki cincin khusus berukiran yang memungkinkannya menjadi tak terlihat sesuka hati. Lihat Marc Shell, The Economy of Literature Johns Hopkins University Press, 1978).

® Dari esai berjudul “Revolution in Reverse,” yang dipublikasikan di sebuah situs web bernama Infoshop News. Orang yang mengikuti tautan yang kami sediakan akan melihat bahwa, dalam bagian “Komentar,” Bill Not Bored menunjukkan bahwa Graeber menggunakan kutipan palsu dari Raoul Vaneigem dalam esai ini. Respons (atau ketidakresponsan) Graeber terhadap poin ini sangat khas dari kaum neo-anarkis (lihat Bagian Lima dari teks ini).

4 Lihat esai kami dari Oktober-Desember 2004 yang berjudul On the flaws of Michel Foucault's Discipline and Punish.

BAGIAN TIGA

Ketika kita kembali membahas teori tontonan Debord hari ini, tujuan kita bukan sekadar mengulanginya atau membelanya. Sebaik atau sebrilian apa pun teori itu, ia tetap harus disempurnakan. Inilah alasan kami memperkenalkan konsep tontonan virtual kepada para pembaca—bentuk baru dari tontonan global yang muncul ketika atau setelah integrasi antara komunisme dan kapitalisme mencapai titik di mana istilah “komunisme” tak lagi digunakan, sementara “kapitalisme” digantikan oleh eufemisme seperti “usaha bebas” atau “pasar bebas.” Momen kelahirannya dapat ditelusuri dengan cukup jelas, yakni pada serangan pertama yang dipimpin Amerika terhadap Irak, begitu pula fase awal pematangannya, yang dimulai pada peristiwa 11 September 2001.

Kami berharap bahwa perluasan dan penyempurnaan teori ini dapat meningkatkan relevansinya bagi perjuangan masa kini. Clausewitz pernah mengatakan bahwa “teori harus selalu bersifat praktis.” Baginya—dan bagi kami—’Semua hasil positif dari penyelidikan teoretis, baik prinsip, aturan, maupun metode, semakin kehilangan sifat universal dan kebenarannya ketika berubah menjadi doktrin yang kaku. Teori-teori tersedia untuk digunakan sesuai kebutuhan, dan keputusan apakah suatu teori cocok atau tidak harus selalu bergantung pada penilaian.”

Pertama, catatan tentang cara kami memaparkan gagasan. Dalam The Society of the Spectacle, yang sebagian besar terdiri dari kutipan detourned (diubah dan tidak dikreditkan) dari Hegel, Marx, serta berbagai sumber terkenal lainnya, Debord menjelaskan alasan di balik pilihan bentuk komunikasi yang tidak biasa ini:

Teori kritis harus disampaikan dengan bahasanya sendiri. Ini adalah bahasa kontradiksi, yang harus bersifat dialektis, baik dalam bentuk dan maupun isi [...]

Dalam gaya penyajiannya, teori dialektis adalah sebuah skandal dan kebejatan menurut aturan bahasa dominan serta bagi selera mereka yang telah dididik dengan bahasa tersebut, karena dalam penggunaan positif dari konsep-konsep yang ada, penyajian ini mencakup kecerdasan dan keluwesan konsep-konsep tersebut yang ditemukan kembali, serta kehancuran yang diperlukan untuk mereka [...]

Detournement adalah kebalikan dari kutipan. Kutipan mengacu pada otoritas teoretis yang, hanya karena diambil sebagai kutipan, selalu menjadi sesuatu yang telah dipalsukan—yakni sebuah fragmen yang dicabut dari konteksnya, dari gerakannya, dan akhirnya dari zamannya sebagai referensi global, serta dari pilihan spesifik yang terkandung dalam referensi tersebut, baik yang dikenali secara tepat maupun secara keliru. Detournement adalah bahasa cair dan anti-ideologi. Ia muncul dalam komunikasi yang sadar bahwa dirinya tidak bisa mengklaim jaminan apa pun secara inheren dan definitif [...]

Apa yang disajikan sebagai detourned dalam formulasi teoretis—dengan menolak segala bentuk otonomi yang bersifat tetap dalam ranah ekspresi teori, yakni dengan (melalui tindakan radikal ini) menciptakan intervensi yang mengganggu dan meruntuhkan tatanan yang ada—mengingatkan bahwa teori itu sendiri tidak memiliki makna yang berdiri sendiri, melainkan hanya dapat dipahami melalui aksi historis serta koreksi historis yang menjadi bentuk kesetiaan sejatinya.

Namun, dalam Prakata tahun 1979 dan Comments on the Society of the Spectacle, Debord meninggalkan detournement dan beralih ke metode pemaparan yang “baru” atau setidaknya berbeda. Dalam Comments, ia menulis:

Kondisi zaman yang semakin suram sekali lagi memaksa saya untuk menulis dengan cara yang berbeda. Beberapa elemen akan sengaja dihilangkan, dan alur pemikiran secara keseluruhan akan tetap dibiarkan sedikit samar. Para pembaca akan menemukan beberapa petunjuk tersembunyi, sesuai dengan karakteristik zaman ini. Selama ada tambahan halaman-halaman lain di sana-sini, makna keseluruhan tulisan ini mungkin akan muncul, seperti klausul rahasia yang sering kali ditambahkan ke dalam perjanjian yang secara resmi menguraikan ketentuannya, seperti zat kimia yang baru menunjukkan sifat aslinya saat dikombinasikan dengan zat lain.

Sejauh The Society of the Spectacle dapat dianggap sebagai sebuah detournement yang diperluas dari Capital karya Marx—karena diterbitkan hampir tepat 100 tahun setelahnya—maka pengabaian terhadap detournement sebagai metode pemaparan juga beriringan dengan (atau setidaknya terlihat seperti) pengabaian terhadap Marxisme. Tidak seperti Marx, yang berfokus pada kaum pekerja dan hubungan mereka dengan alat produksi, dalam Comments, Debord justru lebih menyoroti para konsumen dan hubungan mereka dengan alat distribusi. Beberapa pihak berpendapat bahwa pergeseran ini melemahkan atau bahkan merusak Comments, serta mengubah teori tontonan menjadi semacam “teori konspirasi.” Namun, keberatan-keberatan ini tidak terlalu kami permasalahkan.

Pada tahun 1967 (ketika merumuskan The Society of the Spectacle), sangat mengejutkan sekaligus mengganggu ketika Debord telah “kembali” kepada konsep-konsep Marx: kekalahan gerakan buruh pra-perang dan munculnya “masyarakat konsumen” pasca-perang tampaknya membuat banyak tulisan Marx tentang kemiskinan hidup kelas pekerja menjadi tidak relevan. Selain itu, kelompok-kelompok revolusioner seperti Socialisme ou Barbarie sudah mulai meninggalkan Marx sejak tahun 1964 atau 1965. (Faktanya, The Society of the Spectacle ditulis Debord sebagai respons terhadap kecenderungan ini.) Namun, perlu diingat bahwa hubungan Debord dengan Marx tidak pernah sepenuhnya langsung atau menyeluruh: hubungan itujustru terjalin melalui History and Class Consciousness (1924) karya Georg Lukacs—yang baru tersedia dalam bahasa Prancis pada tahun 1960—dan terhubung kembali dengan tema-tema Marxis yang pada masa hidup Marx sendiri masih marginal atau kurang berkembang (seperti konsep fetisisme komoditas dalam Capital, Volume 1), atau beberapa teks penting Marx yang baru diterbitkan lama setelah kematiannya (seperti Economic and Philosophical Manuscripts, yang baru diterbitkan tahun 1932).

Namun, saat ini, menyebut nama Marx hampir selalu memicu reaksi tawa dan penolakan, baik dari kapitalis, yang percaya bahwa runtuhnya Uni Soviet menandakan “kekalahan” definitif Marxisme atau percaya bahwa Marxisme adalah salah satu hal terbaik yang pernah terjadi bagi kapitalisme (!), maupun dari pihak anarkis, yang melihat Marxisme sebagai musuh mereka.

Oleh karena itu, kami tidak melihat alasan untuk tetap mempertahankannya —tentu saja, dengan tetap menyaring hal-hal baik yang Debord warisi dari Marx melalui Lukacs, sekaligus membuang hal-hal buruk yang ia ambil dari keduanya.

Di sisi positifnya, Debord (melalui Lukacs) mewarisi gagasan Marx tentang pentingnya memahami kapitalisme secara menyeluruh, bukan hanya bagian-bagian terpisah darinya. Lukacs menulis, “Bukan keutamaan motif ekonomi dalam penjelasan sejarah yang membedakan Marxisme dan pemikiran borjuis, melainkan sudut pandang totalitas.” Kaum situasionis sejalan dengan gagasan ini: “Keutamaan kategori totalitas adalah pembawa prinsip revolusi dalam sains” (Concerning Several Errors of Interpretation). Penekanan pada totalitas ini mencegah situasionis untuk terlalu fokus pada fakta atau peristiwa secara terpisah, namun memungkinkan mereka untuk melihat proses yang lebih besar yang mencakup momen-momen tersebut. Berbeda dengan Marx, Debord bukan seorang ilmuwan: ia tidak percaya bahwa sejarah berkembang secara linear, dan ia juga tidak meyakini adanya “hukum-hukum” sejarah. Baginya, perjuangan adalah segalanya, dan hasil dari perjuangan itu tidak bisa dipastikan atau diprediksi sebelumnya. Dalam The Society of the Spectacle, Debord menulis:

Apa yang menghubungkan teori Marx dengan pemikiran ilmiah adalah pemahaman rasional tentang kekuatan-kekuatan yang benar-benar berperan dalam masyarakat. Namun, teori Marx secara fundamental melampaui pemikiran ilmiah, yang hanya bisa dipertahankan dengan terus berkembang melampaui batas-batasnya: teori ini adalah pemahaman tentang perjuangan, dan sama sekali bukan hukum. “Kami hanya mengenal satu ilmu: ilmu sejarah, kata The German Ideology.”

Di sisi negatifnya, Debord tetap mempertahankan ambivalensi tertentu —kurangnya kepastian atau kontradiksi—dalam pandangannya tentang ekonomi. “Sebenarnya ada dua pandangan yang saling bertentangan dalam Marx,” kata Anselm Jappe, “yang satu membayangkan pembebasan dari ekonomi, dan yang lainnya membayangkan pembebasan melalui ekonomi, dan kedua pandangan ini tidak bisa begitu saja dipisahkan berdasarkan fase-fase tertentu dalam pemikirannya, seperti yang sering dilakukan sebagian orang.”

Kontradiksi ini terlihat dalam pemikiran Debord: di satu sisi, ia menyerukan slogan terkenalnya Jangan Pernah Bekerja!” (yang ia klaim pada 1963 sebagai “Preliminary Program to the Situationist Movement”), namun di sisi lain dalam The Society of the Spectacle ia menegaskan bahwa “bentuk politik yang akhirnya ditemukan untuk mewujudkan pembebasan ekonomi dan kerja,”

dalam abad ini telah “mengambil bentuk yang jelas dalam Dewan Pekerja revolusioner, yang memusatkan pada diri mereka sendiri semua fungsi keputusan dan pelaksanaan, dan saling berfederasi melalui delegasi yang bertanggung jawab kepada basis dan dapat dicabut kapan saja” (Tesis 116). Masalahnya, tentu saja, adalah bahwa mereka yang tidak pernah bekerja tidak akan mungkin membentuk dewan pekerja. Sebaliknya, jika dewan pekerja benar-benar terbentuk, maka pada akhirnya mereka harus menerapkan gagasan “angan pernah bekerja”—yang justru akan menghapus dasar keberadaan mereka sendiri.

Perpecahan dalam hal emansipasi ini dapat dikaitkan dengan perpecahan lainnya. Apakah proletariat (“elemen negatif yang bekerja dalam masyarakat ini,” menurut Tesis 114 dari The Society of the Spectacle) memang secara tak terhindarkan diciptakan oleh kapitalisme itu sendiri? Apakah proletariat secara potensial bersifat “revolusioner” karena perannya yang krusial dalam proses produksi, kohesi internalnya, konsentrasinya di kota-kota, serta keterasingannya dari “keuntungan” yang dinikmati oleh masyarakat borjuis? Ataukah, sebaliknya, seorang proletar revolusioner adalah siapa saja—baik mahasiswa, ibu rumah tangga, maupun manajer tingkat menengah—yang tidak memiliki kendali atas hidupnya sendiri, terjebak dalam kehidupan yang hanya mengandalkan perintah dari orang lain, menyadari kondisinya, dan bersedia bertindak atas kesadaran tersebut?

Anselm Jappe mengajukan argumen yang menarik: proletariat perkotaan pada masa Marx “sebenarnya tidak lebih dari peninggalan pra-kapitalis, sebuah 'status' dalam pengertian feodal, dan bukan hasil langsung dari perkembangan kapitalisme.” Justru karena kapitalisme semakin matang—terutama sejak tahun 1960-an dengan berkembangnya robotisasi, otomatisasi, dan komputerisasi—’proletariat” seperti yang dipahami oleh Marx telah bubar atau setidaknya bergeser ke “negara-negara dunia ketiga.”

Menurut Les Amis de Nemesis: “Sistem dominan saat ini tidak lagi—seperti pada masa Ancien Regime atau Negara nasional yang kuat—berbentuk sistem terpusat dengan “pusat kekuasaan” yang bisa diserang oleh pemberontakan rakyat yang bersenjatakan garpu rumput dan sabit, bahkan, kini tidak ada lagi jaringan pabrik yang dapat diblokade atau direbut oleh pekerja, sebaliknya, sistem ini adalah tatanan yang tersebar luas, di mana manifestasinya ada di mana-mana, seperti nilai-nilai pasar yang terbentuk dalam setiap tahapan siklus ekonomi (dari produksi, sirkulasi, hingga konsumsi komoditas), dan di dalamnya manusia terjebak tanpa pekerjaan, terutama tanpa penghasilan.”

Kendati demikian, bahkan hingga 30 Juni 1992, dalam Prakata untuk Edisi Ketiga dalam Bahasa Prancis dari Spectacle, Debord masih berpegang pada gagasan (eksploitasi tenaga kerja) bahwa “di mana-mana muncul pertanyaan yang sama dan menakutkan, yang telah menghantui dunia selama dua abad: bagaimana membuat kaum miskin bekerja, ketika ilusi telah terbongkar dan kekuatan telah dikalahkan?” Ia tidak memperhitungkan situasi di banlieue Prancis, di mana kaum miskin benar-benar dibiarkan sendiri (tanpa pekerjaan dan bahkan terpinggirkan sepenuhnya dari ekonomi), kecuali tentu saja, jika mereka memberontak.” Fakta bahwa dalam Comments on the Society of the Spectacle ia sama sekali tidak menyebutkan “proletariat” atau “perjuangan kelas” bukanlah bukti bahwa Debord berhasil menyelesaikan kontradiksi ini, melainkan menunjukkan bahwa ia cukup menyadarinya dan mencoba menutupinya.

Untuk kembali ke pokok penyelidikan kita: Comments on the Society of the Spectacle secara jelas merupakan pengembangan lebih lanjut dari teori yang telah dirumuskan Debord pada tahun 1967. Di awal buku ini, ia mengingatkan pembaca tentang dua ciri utama dari spectacle (baik dalam bentuknya yang terkonsentrasi, tersebar, maupun terintegrasi): “pembaruan teknologi yang terus-menerus” dan “peleburan antara Negara dan ekonomi.” Kedua ciri ini, jika digabungkan, akan sesuai dengan definisi awal dari spectacle: sebuah mekanisme ganda yang sekaligus menciptakan dan menghancurkan kondisi bagi revolusi sosial.

Debord kemudian menguraikan tiga aspek baru dari apa yang dulu, pada tahun 1967, ia teorikan sebagai dekomposisi, yang telah kita bahas dalam Bagian Dua teks ini dengan judul “Apa yang terjadi ketika revolusi sosial terus-menerus ditunda?” Ia menyoroti tiga ciri utama berikut:

Kerahasiaan umum ada di balik tontonan, sebagai elemen utama yang melengkapi dan menopang semua yang ditampilkannya. Pada akhirnya, inilah operasi paling vital dalam sistem tontonan.

Fakta bahwa tidak ada bantahan terhadap kerahasiaan itu telah memberi dimensi baru pada kebohongan (kepalsuan). Dengan sekali pukul, kebenaran yang hampir ada di mana-mana telah hilang, atau paling tidak, telah direduksi sebagai hipotesis murni yang tidak pernah dapat dibuktikan. Kebohongan (kepalsuan) tanpa bantahan ini telah berhasil menghilangkan opini publik: awalnya, opini publik merasa tidak bisa didengar, lalu dengan cepat menghilang sama sekali. Hal ini tentu saja berdampak besar pada politik, ilmu pengetahuan terapan, sistem peradilan, dan pengetahuan artistik.

Konstruksi masa kini di mana mode, dari pakian hingga musik, tidak lagi berkembang seolah-olah waktu telah berhenti, yang ingin melupakan masa lalu dan tidak lagi percaya pada masa depan, yang dicapai melalui aliran informasi dalam lingkaran yang tak pernah berhenti, yang selalu kembali pada daftar singkat hal-hal remeh yang diproklamirkan sebagai penemuan besar. Sementara itu, berita tentang hal-hal yang benar-benar penting, tentang perubahan nyata yang terjadi, jarang muncul, atau hanya muncul secara terputus-putus. Ketika muncul, berita itu sering kali hanya menggambarkan bagaimana dunia sedang mengutuk keberadaannya sendiri, seolah berada dalam jalur kehancuran yang telah diprogram.

Masing-masing ciri yang disebutkan tadi, bisa dikatakan, masih tetap berfungsi hingga saat ini. Mari kita bahas satu per satu.

Kerahasiaan—yang dimaksud di sini bukan hanya menyimpan rahasia, tetapi juga menahan informasi yang seharusnya dibicarakan secara terbuka—telah berkembang pesat sejak 1988. Salah satu “rahasia” terbesar dalam 20 tahun terakhir adalah peristiwa 11 September: apa yang sebenarnya terjadi pada hari itu? Ada banyak aspek yang masih belum jelas, seperti “rahasia negara” (misalnya, peran “dinas rahasia” dalam serangan tersebut atau kegagalan mereka dalam mendeteksinya), “rahasia dagang” (apakah menara yang runtuh dibangun dengan standar yang buruk?), serta pertanyaan-pertanyaan yang tidak terjawab dalam investigasi resmi (misalnya, mengapa Gedung 7 di World Trade Center runtuh meskipun tidak terkena pesawat?). Selain itu, karena serangan tersebut dijadikan alasan untuk melancarkan “perang melawan terorisme,” berbagai bentuk kerahasiaan yang disebutkan oleh Debord (yang dulu dituduh paranoid)—mencakup “rahasia pertahanan yang memungkinkan negara bertindak di luar hukum dengan kebebasan penuh”, “layanan kepolisian dan kontra-intelijen, serta dinas rahasia, baik yang dikelola oleh negara maupun di luar negara (para-State)” yang dimiliki oleh “setiap negara, belum lagi berbagai aliansi supranasional, saat ini memiliki jumlah yang tak terhitung”. Selain itu, ada “banyak perusahaan swasta yang bergerak di bidang pengawasan, keamanan, dan investigasi,” serta layanan yang dimiliki oleh

“perusahaan multinasional besar’—kini telah menjadi bagian “rutin” dari kehidupan sehari-hari.

Debord juga menyebutkan berbagai bentuk kepalsuan dalam Comments, mulai dari karya seni, artefak sejarah, hingga makanan. Namun, ia juga menyinggung kelompok-kelompok revolusioner.

Misalnya, kondisi baru dalam masyarakat tontonan yang semakin terintegrasi memaksa kritik terhadapnya tetap berada dalam keadaan yang benar-benar klandestin, bukan karena para pengkritiknya menyembunyikan diri, tetapi karena kritik mereka sengaja disembunyikan melalui pengelolaan ketat terhadap panggung pengalihan perhatian. Dalam situasi ini, pihak yang bertugas mengawasi kritik tersebut—dan, jika perlu, menyingkirkannya—kini dapat menggunakan metode-metode tradisional yang biasa digunakan dalam dunia klandestin: provokasi, infiltrasi, dan berbagai cara untuk mengeliminasi kritik otentik demi mendukung kiritik palsu yang sengaja dibuat untuk menggantikannya.

Dalam catatan kaki penerjemah kami untuk teks bagian ini, yang sekali lagi mungkin tampak sangat paranoid, kami mengingatkan pembaca pada contoh berikut: “Pada musim panas 1968, seorang neo-Nazi Italia dan agen provokator bernama Mario Merlino berhasil menyusup ke dalam lingkaran anarkis Roma dengan membentuk “Kelompok XXII Maret, yang namanya menyerupai Gerakan 22 Maret, kelompok dari Nanterre, Prancis, yang mencakup Daniel Cohn-Bendit serta beberapa enrages (pemberontak) yang kemudian bergabung dengan Situationist International. Salah satu tindakan pertama yang diambil oleh Kelompok XXII Maret adalah merusak sejumlah mobil setelah demonstrasi di depan Kedutaan Besar Prancis di Roma. Media Italia dengan cepat menyalahkan Partai Komunis Italia atas insiden tersebut.” Sebagai contoh lain dari operasi false flag, kita juga bisa menyebut kasus Brigade Merah, yang diduga menculik dan membunuh Aldo Moro pada 1978. Tentu saja, ada pula yang meyakini bahwa peristiwa 11 September juga merupakan operasi false flag.

Saat ini, penciptaan identitas palsu semakin marak di dunia periklanan. Dalam strategi viral marketing, yang mendorong konsumen untuk secara sukarela menyebarkan propaganda di antara mereka sendiri, sebuah agensi iklan dapat menciptakan beberapa karakter fiktif dengan “profil” yang tampak meyakinkan. “Orang-orang” ini (atau lebih tepatnya dalang di balik mereka) akan menulis entri blog di situs tertentu mengenai suatu produk, politisi, atau gagasan tertentu. (Perlu dicatat bahwa hal-hal tersebut juga tidak harus nyata—bahkan, lebih efektif jika juga merupakan kebohongan.) Entri blog ini bisa berisi ulasan positif maupun negatif. “Orang-orang” fiktif lainnya kemudian akan berkomentar di bawahnya, menciptakan kesan seolah-olah terjadi diskusi nyata. Selain itu, mereka (atau penulis asli) akan menautkan blog tersebut ke situs web yang mendukung atau menyerang produk, politisi, atau gagasan yang dibahas, sehingga meningkatkan peringkatnya di mesin pencari utama. Untuk semakin memperkuat klaim yang dibuat, “orang-orang” ini akan mengunggah “bukti visual” palsu di platform berbagi media seperti Flickr, Photobucket, atau YouTube. Seorang “blogger” (yang juga tokoh fiktif) yang “melaporkan” berita “akar rumput” di situs seperti DIGG, Huffington Post, atau Drudge Report kemudian akan “membocorkan” cerita terkait produk, politisi, atau gagasan tersebut.

Pada titik ini, produsen produk, juru bicara politisi, atau pihak yang mengaku sebagai pendukung gagasan tersebut akan angkat bicara —seolah-olah untuk pertama kalinya. Mereka akan menyebarkan siaran pers atau pernyataan lain mengenai diri mereka dan “nilai-nilai” yang mereka usung. Mereka bisa saja mengonfirmasi atau membantah apa yang telah dikatakan oleh “akar rumput.” Para “blogger” awal serta para komentator akan kembali merespons, dan siklus kebohongan spektakuler ini pun berlanjut. Pada akhirnya—atau setidaknya begitulah — kelihatannya—“orang-orang” (diharapkan yang benar-benar nyata) akan mulai melakukan protes untuk membantah klaim yang telah beredar, baik itu pujian maupun fitnah, yang kemudian akan menghidupkan kembali siklus “berita.” Sebagai klimaks dari seluruh operasi ini, pihak yang diuntungkan akan mengungkap bahwa semua ini hanyalah sebuah tipuan—bahwa produk, politisi, atau gagasan yang sempat ramai (atau tidak ramai) dibicarakan sebenarnya tidak pernah ada. Dengan demikian, mereka menciptakan kesan bahwa versi asli (apa pun itu) memiliki nilai yang sangat berharga, karena mereka cukup cerdas dan licik (atau mungkin sinis?) untuk menjalankan penipuan ini dengan sangat berhasil sejak awal.

Karena Debord menyebutkan “pakaian dan musik” dalam pembahasannya tentang “masa kini yang abadi,” kami merasa perlu mengingatkan pembaca bahwa dalam lagu-lagu seperti Imagine karya John Lennon yang penuh kedamaian atau God Save the Queen dari Sex Pistols yang bernuansa apokaliptik, penolakan terhadap masa depan merupakan bagian penting dari pembebasan masa kini. Namun, masa kini yang abadi dalam tontonan yang terintegrasi tidaklah membawa kebebasan, juga bukan mimpi indah kaum hippie. Ia bisa terasa seperti mimpi membosankan yang berlangsung terlalu lama atau malah mimpi buruk yang kita harapkan segera berakhir. Tapi mimpi itu tidak pernah berakhir—ia terus berlanjut, tanpa menghasilkan apa pun selain kelelahan, yang pada akhirnya hanya memperkuat keinginan untuk tidur, menyerah dan larut didalamnya.

Hari ini, hampir 20 tahun setelah terbitnya Comments on the Society of the Spectacle, “pembaruan teknologi yang tak henti-hentinya” telah melahirkan “ekonomi informasi”, yaitu sebuah sistem ekonomi (atau bahkan keseluruhan masyarakat) yang dipenuhi dan didominasi oleh komputer serta jaringan data. Di sinilah istilah “virtual” mulai memainkan peran penting. Kata ini memiliki tiga makna utama yang berbeda: a. hampir seperti yang digambarkan, tetapi tidak sepenuhnya sesuai dengan definisi yang ketat, b. (dalam dunia komputasi) tidak benar-benar ada secara fisik, tetapi dibuat seolah-olah ada oleh perangkat lunak; c. (dalam optik) berkaitan dengan titik-titik di mana sinar akan bertemu jika diproyeksikan ke belakang.

Karena itu, kini kita sering mendengar istilah seperti gambar virtual, memori virtual, dan realitas virtual. Ironisnya, tak satu pun dari hal-hal ini memiliki “kekuatan” (seperti yang tersirat dalam kata Latin virtus) atau “keunggulan moral” (seperti dalam kata virtue). Sebaliknya, sesuatu yang virtual cenderung lemah karena ia sebenarnya tidak benar-benar ada, dan pada saat yang sama menipu karena hanya hampir sesuai dengan definisi aslinya atau dengan sesuatu yang nyata yang coba ditirunya. Dengan demikian, tontonan virtual sangat cocok dengan regresi yang digambarkan dalam Tesis 17 dari The Society of the Spectacle:

Fase pertama dominasi ekonomi atas kehidupan sosial ditandai dengan perubahan nyata dari “keberadaan” (being) menjadi “memiliki” (having). Fase terkini, di mana kehidupan sosial sepenuhnya didominasi oleh hasil-hasil ekonomi yang terakumulasi, menyebabkan pergeseran besar dari “memiliki” (having) menjadi “tampak” (appearing), di mana semua bentuk “kepemilikan” yang nyata harus memperoleh nilai dan fungsinya semata-mata dari bagaimana ia tampak di hadapan orang lain.

Pada tahap ketiga, “tampak” (appearing) telah merosot menjadi sekadar kelihatan (seeming): bahkan citra (image) pun kehilangan “keberadaannya”, atau kehilangan substansinya. Kehidupan sosial atau “realisasi manusia” tidak benar-benar ada—ia hanya tampak seolah-olah ada.

Saat ini, Negara dan ekonomi telah menyatu menjadi satu institusi otonom karena memiliki kepentingan bersama dalam isu “terorisme.” Di satu sisi, mereka berperang melawan “perang global melawan terorisme” (Global War on Terrorism atau GWOT), yang membutuhkan investasi besar sekaligus menghasilkan keuntungan besar bagi industri militer. Di sisi lain, mereka berusaha melindungi Negara dan ekonomi dari aksi-aksi “teroris” yang dilakukan oleh kelompok yang sama yang menjadi target GWOT. Karena perang ini (atau setidaknya klaimnya) merupakan respons terhadap ancaman teroris, sementara ancaman tersebut sebenarnya merupakan respons terhadap perang ini—serta kebijakan luar negeri yang didukung, dibenarkan, dan dilindungi oleh GWOT—maka terciptalah sebuah lingkaran setan yang berbahaya sekaligus menguntungkan. Semakin “teroris” menggunakan taktik perang yang spektakuler dan “asimetris,” semakin besar pula justifikasi bagi Negara dan ekonomi untuk terus meneliti serta mengembangkan senjata “cerdas” (yang diperbarui secara teknologi), semakin ketat kerahasiaan yang mereka terapkan, dan semakin luas ruang bagi operasi false flag.

Masyarakat yang telah “dimodernisasi” hingga tahap tontonan virtual ditandai oleh lima ciri utama yang baru atau yang sebelumnya jarang dibahas: sonorisasi, penyiksaan, kecepatan, kecelakaan, dan kamp pengungsian.

Bukan hanya penglihatan yang menjadi objek spektakularisasi dalam masyarakat tontonan virtual, tetapi juga suara. Hal ini terjadi dengan dua cara: pertama, melalui digitalisasi, dan kedua, dengan membuat komputer untuk “memainkan” suara di mana-mana, sepanjang waktu. Saat CD pertama kali diperkenalkan, para pencinta musik mengkritiknya karena dalam proses digitalisasi, mesin menghapus apa yang dianggap sebagai “noise” dan menggantinya dengan “keheningan bersih.” Ini merusak banyak rekaman lama, terutama yang dibuat sebelum teknik studio canggih berkembang pada 1960-an. Rekaman tersebut terdengar kering, rapuh, dan kehilangan kegembiraan serta kehangatan aslinya. Setelah teknologi studio yang semakin maju, semua rekaman mulai dibuat dengan peralatan digital, yang justru memperburuk masalah ini: semua rekaman menjadi kehilangan emosinya. Namun, ketika diputar di perangkat seperti ponsel dan iPod, rekaman tersebut terdengar “spektakuler”—bersih dan kering, seolah-olah tidak ada manusia yang terlibat dalam produksinya. Dan memang, dalam musik yang hampir sepenuhnya mengandalkan synthesizer, seguencer, drum machine, dan mikroprosesor lainnya, sangat sedikit manusia yang benar-benar terlibat.

Dengan berkembangnya komputer stasioner maupun genggam, suara yang telah dispektakulerkan juga semakin meluas. Kini, bukan hanya di tempat-tempat umum seperti supermarket dan lift kita dipaksa mendengar muzak—melainkan juga suara, pesan, perintah, dan nada dering terprogram yang kini ada di mana-mana. Seperti halnya suara analog sebelumnya, keheningan pun mulai menghilang. Paul Virilio menyebut fenomena ini sebagai “sonorisasi.”” Contoh yang paling jelas adalah pesan-pesan otomatis yang terus-menerus diputar di kereta bawah tanah otomatis di New York City. Pesan-pesan ini terdengar jelas—bahkan cukup keras untuk mengganggu percakapan—dan tidak pernah berhenti:

“Hadirin sekalian: berjalan di antara gerbong saat kereta sedang bergerak bukan hanya berbahaya, tetapi juga melanggar aturan, kecuali dalam keadaan darurat dan jika diperintahkan oleh petugas darurat. Untuk daftar lengkap peraturan kereta bawah tanah, silakan kunjungi mta.info.”

“Hadirin sekalian: mohon gunakan tempat sampah yang telah disediakan di platform kereta bawah tanah.”

“Hadirin sekalian: naik di bagian luar gerbong sangat berbahaya. Tetaplah berada di dalam gerbong setiap saat.”

“Hadirin sekalian: ransel dan tas besar dapat diperiksa secara acak oleh polisi.”

“Hadirin sekalian: ini adalah pesan penting dari Departemen Kepolisian New York City. Selalu awasi barang-barang Anda. Lindungi diri Anda. Jika Anda melihat sesuatu yang mencurigakan di dalam kereta atau di peron, segera laporkan kepada petugas kepolisian atau pegawai MTA. Tetap waspada dan semoga hari Anda aman.”

Jelas ada beberapa tema yang berulang dalam perintah-perintah ini: adanya bahaya, kemungkinan keadaan darurat, kewajiban mematuhi peraturan, penghormatan terhadap otoritas polisi, serta harapan agar “anda menjalani hari yang aman.” Jelas bahwa jutaan orang yang menggunakan kereta bawah tanah di kota ini sedang dipersiapkan secara psikologis untuk menghadapi negara dengan sistem keamanan nasional yang terus berkembang, di mana langkah-langkah darurat yang seharusnya bersifat sementara menjadi permanen. Namun, pengulangan pesan-pesan ini secara terus-menerus bukan hanya sekadar propaganda atau pencucian otak—ini adalah bentuk penyiksaan. Apa yang diharapkan dari para penumpang? Apakah mereka harus menyerah di bawah tekanan dan menyatakan (tentu saja dengan suara lantang) bahwa mereka juga mencintai Big Brother?

Seperti pembunuhan politik, penyiksaan dulunya dilakukan secara rahasia, ilegal, dan dengan penuh perhitungan—baik oleh mereka yang berada di puncak kekuasaan spektakuler (agen CIA) maupun oleh mereka yang beroperasi di lapisan “dunia bawah tanah” kriminal (mafia eksekutor).

Namun, saat ini, penyiksaan dilakukan secara terbuka, legal, dan tanpa pandang bulu. Penyiksaan tidak lagi dilakukan oleh para sadis profesional untuk mendapatkan hasil yang meragukan—seperti mengekstrak informasi atau uang dari seseorang yang enggan bekerja sama—tetapi kini dilakukan oleh sadis amatir sebagai bentuk hukuman atau balas dendam terhadap kelompok besar orang.

Contohnya adalah penggunaan musik rock yang sangat keras oleh militer AS terhadap Manuel Noriega pada Desember 1989 atau penggunaan film porno oleh Pasukan Pertahanan Israel terhadap penduduk Ramallah yang terkepung pada April 2002. Perhatikan bahwa dalam kasus pertama, bukan musik punk atau bentuk musik pop “marginal” lainnya yang digunakan, dan dalam kasus kedua, bukan film porno bertema penyiksaan yang dipilih. Dalam kedua kasus tersebut, hanya produk komersial biasa yang digunakan. Seperti yang dikatakan jurnalis Charles Paul Freund, “Idenya, tampaknya, adalah menemukan bentuk budaya yang membuat target merasa tidak nyaman, lalu menundukkan mereka pada paparan yang tiada henti terhadapnya.” Dalam konteks ini, “penyiksaan” bersifat relatif: apa yang sangat menyiksa bagi Noriega atau para pemberontak Muslim mungkin justru menyenangkan bagi orang lain. Saya, misalnya, mungkin menganggap bekerja di kantor tanpa dinding atau bilik—hanya sebuah ruangan besar tempat semua orang bisa saling melihat dan mendengar sepanjang hari—adalah penyiksaan, sementara Anda mungkin menikmatinya. Namun, perbedaan utama antara peristiwa tahun 1989 dan tahun 2002 adalah keterlibatan banyak pihak ketiga yang tidak bersalah serta saksi yang tidak diinginkan. Seperti yang dilaporkan Freund:

Menggantikan siaran berita Palestina dan program lainnya dengan tayangan seperti itujustru semakin meningkatkan stres dan frustrasi warga. Ingatlah bahwa penduduk Ramallah tidak bisa meninggalkan rumah mereka, bahkan untuk sekadar membeli bahan makanan. Kebutuhan mereka akan informasi sangatlah besar. Pasukan Israel sebenarnya memiliki opsi untuk sepenuhnya menghentikan siaran televisi. Namun, mereka memilih membiarkannya tetap mengudara, tetapi dengan menggantinya dengan tayangan “pengganti.” Bisa jadi, film porno tersebut bahkan lebih merusak moral warga dibandingkan jika siaran dihentikan sepenuhnya.

Saat ini, gambaran tentang penderitaan dan rasa sakit bisa ditemukan di mana-mana: di acara TV seperti 24 dan Law & Order: Special Victims Unit, film seperti Wolf Creek dan Hostel; hingga dalam iklan produk seperti ponsel “Razr” dan permen penyegar napas “Mentitas.”; dan seterusnya. Tidak mengherankan jika praktik penyiksaan diri dan penghinaan terhadap diri sendiri juga semakin marak, seperti yang terlihat dalam acara Fear Factor, pertunjukan seni Stelarc, musik noise, tindik di area genital, serta partisipasi dalam berbagai acara dan kompetisi reality TV. Bukankah ini semua menguatkan teori tentang “Stockholm Syndrome”? Orang yang diculik dan ditahan melawan keinginannya lama-kelamaan cenderung berpihak pada penculiknya. Namun kini, “Stockholm” adalah seluruh dunia.

Teknologi modern—baik digital maupun industri—adalah teknologi yang berfokus pada kecepatan. Tujuannya adalah mempercepat berbagai hal, seperti menyelesaikan tugas, mengirim barang atau pesan, serta berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Awalnya, dorongan utama untuk meningkatkan kecepatan berasal dari faktor ekonomi (“waktu adalah uang”). Namun, sejak munculnya teknologi digital dan hyperspeed, kecepatan tidak hanya menjadi kebutuhan tetapi juga menjadi sesuatu yang diidamkan demi sensasi kecepatan itu sendiri. Contohnya, banyak orang suka mengendarai mobil cepat bukan karena ingin tiba di tujuan lebih cepat, tetapi karena ingin merasakan sensasi berkendara dengan kecepatan tinggi.

Namun, semakin meningkatnya “kecepatan dari kecepatan” (speed of speed)—hingga mendekati titik keinstanan (instantaneity)—masalah tertentu muncul dan memburuk. Kecelakaan yang terjadi pada kecepatan tinggi cenderung lebih parah dan berakibat fatal. Pengambilan keputusan pun semakin sulit dan rentan terhadap kesalahan karena waktu yang tersedia untuk berpikir semakin sedikit. Bahkan, keinstanan membuat semua keputusan yang tidak diprogram sebelumnya dan tidak dikendalikan oleh mesin menjadi mustahil. Selain itu, raang—maknanya dan dengan demikian pentingnya—menjadi sesuatu yang mudah diabaikan dan bahkan terlupakan, yang pada gilirannya mengarah pada homogenisasi atau bahkan kehancurannya. Akhirnya, waktu—yang dianggap sebagai satu-satunya hal yang benar-benar penting—menjadi “beku” (becomes spatialized) seolah-olah berhenti dan membeku dalam masa kini yang terus berulang (abadi).

Semua masalah ini tidak mengganggu tontonan—justru sebaliknya, memperkuat tontonan. Namun, di beberapa bidang, kecepatan justru tidak diperbolehkan untuk dipercepat lebih jauh atau mendekati keserentakan (simultaneity). Bahkan, dalam satu bidang tertentu, kecepatan benar-benar “dibalik” dan digantikan oleh kelambanan ekstrem, seperti dalam arena politik. Di Amerika Serikat, misalnya, musim pemilihan pendahuluan kini semakin panjang. Masih tersisa satu tahun lagi menuju pemilihan presiden 2008, tetapi para kandidat dari kedua partai telah berkampanye selama berbulan-bulan. Proses yang sangat lambat ini bisa terasa seperti siksaan tersendiri, terutama dengan retorika agresif dan sikap perang yang mereka usung. Namun, ritme yang lambat ini juga menjamin dua hal: pertama, meningkatnya jumlah donasi kampanye, dan kedua, kejenuhan publik terhadap kandidat-kandidat yang ada, yang pada akhirnya mengurangi minat mereka dalam pemilu itu sendiri. Pertanyaannya adalah: apakah ini hanya kebetulan, atau justru bagian dari rencana yang disengaja?

Pembaruan teknologi yang terus-menerus secara tidak sengaja menciptakan kecelakaan dalam skala besar. Penemuan mobil juga berarti penemuan kecelakaan mobil; penemuan pesawat terbang juga berarti penemuan kecelakaan pesawat, dan seterusnya. Karena pembaruan teknologi dalam kapitalisme dilakukan secara sengaja, maka kecelakaan menjadi sesuatu yang mudah diperkirakan, bahkan bisa diprediksi, dan karena pembaruan ini terus berlangsung tanpa henti, dampaknya pun semakin luas dan mendalam. Arah atau vektor dari fenomena ini jelas: kecelakaan besar dan spektakuler akan terjadi secara global—bukan hanya di satu tempat, tetapi di seluruh dunia pada saat yang bersamaan. Dengan demikian, ada semacam keselarasan atau keterkaitan antara kecelakaan teknologi yang dapat diprediksi dan aksi terorisme yang disengaja. Terorisme sendiri bisa didefinisikan sebagai gangguan terhadap kehidupan sehari-hari melalui aksi kekerasan seperti perang. Lambat laun, semakin sulit membedakan antara ledakan yang terjadi karena “kecelakaan” di pembangkit listrik tenaga nuklir dengan tindakan sabotase yang disengaja di tempat yang sama. Dalam masyarakat tontonan, batas antara terorisme dan kehidupan sehari-hari menjadi kabur, hingga akhirnya tak bisa dibedakan sama sekali.

Mari kita ambil contoh. Banyak orang bertanya-tanya bagaimana mungkin kedua menara di World Trade Center bisa runtuh dengan cepat dan total—seolah-olah dihancurkan dengan ledakan yang dikendalikan—setelah masing-masing ditabrak oleh pesawat yang sengaja ditabrakkan. Sebagian orang menerima begitu saja penjelasan resmi yang menyatakan bahwa tabrakan pesawat (dan/atau panas yang dihasilkan dari ledakan serta pembakaran bahan bakar pesawat) cukup untuk menyebabkan gedung runtuh dalam pola “pancake”—yakni runtuh secara berurutan dari atas ke bawah. Sementara itu, sebagian lain mengajukan teori “konspirasi” yang menyatakan bahwa bom telah diledakkan di dalam gedung-gedung tersebut, baik bersamaan dengan tabrakan maupun segera setelahnya. Teori pertama secara ilmiah (fisik) dianggap mustahil, sementara teori kedua mengharuskan kita percaya bahwa baik “orang luar” (para pembajak pesawat) maupun “orang dalam” (mereka yang menempatkan dan meledakkan bom) bekerja sama atau bahwa para “orang luar” sebenarnya adalah bagian dari “orang dalam.” Memang benar teori konspirasi ini tampak lebih sesuai dengan apa yang terjadi secara kasatmata, tetapi teori ini juga mengasumsikan adanya tingkat kompetensi luar biasa—sesuatu yang tidak pernah diperlihatkan oleh pihak-pihak yang diduga sebagai dalang, seperti Bush/Cheney, CIA, Mossad/Bet Shin, dan sebagainya, baik sebelum 11 September 2001 maupun setelahnya.

Untuk memperjelas—atau bahkan membuktikan—hipotesis bahwa terorisme dan kehidupan sehari-hari kini semakin sulit dibedakan, mari kita bayangkan skenario berikut: memang benar ada “orang luar” (teroris) yang berhasil membajak beberapa pesawat pada 11 September 2001 dan menerbangkan dua di antaranya langsung ke menara kembar World Trade Center. Namun, para teroris ini tidak mengetahui bahwa kedua gedung tersebut (bersama dengan WTC 7, yang juga runtuh pada hari yang sama meskipun tidak ditabrak pesawat) sebenarnya sudah direncanakan untuk ditutup dan dikosongkan karena tidak lagi menguntungkan secara ekonomi. Dan—karena lebih murah untuk melakukannya jauhjauh hari— gedung-gedung itu telah lebih dulu dipersiapkan untuk dihancurkan oleh para ahli. Dengan kata lain, gedung-gedung ini adalah “kecelakaan” yang menunggu untuk terjadi, dan “kecelakaan” yang akhirnya terjadi adalah serangan teroris yang sudah direncanakan sebelumnya.

Sementara itu, di Prancis dan Amerika Serikat, politisi sayap kanan menggunakan “isu imigran” untuk menakut-nakuti masyarakat dan membangun tembok, baik secara harfiah maupun simbolis, demi mencegah lebih banyak “imigran ilega” masuk ke negara mereka—sembari mengabaikan atau bahkan memperburuk kehancuran yang terjadi dari dalam, yang dilakukan oleh para elit kekuasaan spektakuler terhadap identitas fundamental Prancis dan Amerika (sejarah revolusioner dan tradisi kebebasan)—ada satu pertanyaan lain yang bahkan tidak diajukan, apalagi dijawab. Pertanyaan itu adalah tentang pengungsi, yaitu orang yang, “karena ketakutan yang beralasan akan penganiayaan berdasarkan ras, agama, kebangsaan, keanggotaan dalam kelompok sosial tertentu, atau pandangan politik, berada di luar negara asalnya dan tidak dapat atau, karena ketakutan tersebut, tidak mau mendapatkan perlindungan dari negara itu” (Konvensi PBB tentang Status Pengungsi, 1951).

Menurut berbagai perkiraan, saat ini terdapat sekitar 15 hingga 20 juta pengungsi, yaitu “penghuni sementara” di kamp-kamp pengungsi, di mana—sambil menunggu kesempatan untuk mendapatkan suaka di negara lain—mereka tidak memiliki kebebasan bergerak, hak untuk bekerja, maupun hak atas kepemilikan properti. Mereka sepenuhnya bergantung pada PBB dan organisasi bantuan kemanusiaan internasional. Sayangnya, banyak di antara mereka yang tidak pernah mendapatkan suaka dan harus menjalani hidup mereka dalam kondisi yang serba terbatas di kamp-kamp ini. Namun, definisi “pengungsi” menurut PBB tidak mencakup 20 hingga 30 juta orang yang mengungsi (biasanya karena perang sipil) di dalam negara mereka sendiri, juga tidak termasuk jutaan orang yang meninggalkan negara asal mereka karena bencana alam, kecelakaan buatan manusia, kegagalan ekonomi (seperti gagal panen), atau akibat invasi dan pendudukan oleh kekuatan asing. Dan tentu saja, tidak ada seorang pun yang berpikir untuk memperhitungkan begitu banyak orang yang tetap tinggal di negara mereka tetapi merasa terasing, muak, atau memiliki pandangan politik yang membuat mereka tidak lagi percaya pada perlindungan yang diberikan oleh negara mereka. Jika semua kelompok ini digabungkan, bukankah mereka sebenarnya mewakili mayoritas populasi dunia? Maka, kita melihat bahwa vektor tontonan virtual ini mengarah pada miliaran “pengungsi”—baik yang tertahan di kamp-kamp yang terus membesar maupun mereka yang hidup sebagai orang asing di tanah mereka sendiri, seperti hantu di tengah masyarakat. Ini bukan sekadar dunia yang jungkir balik, melainkan dunia yang telah terbalik dari dalam ke luar.

Tidak ada seorang pun—baik kaum neo-anarkis, kaum nasionalis warga negara (citizenists), maupun kaum kiri yang sibuk mengkritik korporasi multinasional, neoliberalisme, serta upaya memperkuat (mendemokratisasi) negara agar lebih “jujur’—yang telah merumuskan teori yang benar-benar memadai untuk menjelaskan fenomena ini. Bahkan Guy Debord sendiri tidak melakukannya. Sikapnya terhadap kerusuhan di Vaux-en-Velin pada tahun 1990 terdengar moralistik dan tidak mendukung, yang jelas bertolak belakang dengan teks tajamnya pada tahun 1985 tentang “masalah imigran”? Di kamp-kamp pengungsi, ekonomi kapitalis (yakni kerja dan konsumsi barang yang dibeli dengan pendapatan dari kerja) tidak berlaku. Bahkan, karena kamp-kamp ini sering kali beroperasi di luar hukum yang berlaku (state of exception), negara pun tidak hadir. Akibatnya, kamp-kamp ini sangat rentan berubah menjadi kamp konsentrasi atau bahkan kamp kematian.

Menurut Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR), ada tiga solusi jangka panjang” untuk masalah ini: repatriasi sukarela ke negara asal, integrasi di negara suaka yang awalnya menolak mereka, atau pemukiman kembali di negara lain. Namun, kenyataannya, tidak satu pun dari solusi ini yang benar-benar bisa diterapkan. Di berbagai tempat—seperti pemukiman liar (favela) di Rio de Janeiro atau perkampungan gecekondu di Istanbul—satu-satunya solusi nyata adalah revolusi dan pemerintahan mandiri yang otonom.

“Memang benar, saya bisa saja menulis sesuatu yang berbeda dan lebih menyenangkan untuk Anda. Namun, tidak ada yang lebih berguna daripada ini, terutama jika Anda ingin mengetahui keadaan sebenarnya di sini sebelum mengambil keputusan. Saya juga tahu bahwa Anda cenderung ingin mendengar sisi terbaik dari suatu keadaan, lalu menyalahkan pembawa berita jika harapan yang telah ia bangkitkan tidak sesuai dengan kenyataan. Karena itu, saya merasa lebih aman untuk mengatakan kebenaran kepada Anda.”

— Thucydides

15 Debord adalah anggota Socialisme ou Barbarie dari Juli 1960 hingga Mei 1961. Pada 5 Mei 1961, ia menulis surat pengunduran diri yang sangat menarik kepada para peserta konferensi nasional Pouvoir Ouvrier. Dalam serangkaian esai yang kami tulis antara 1996 dan 1999, kami mengeksplorasi hubungan antara Cornelius Castoriadis dan Socialisme ou Barbarie di satu sisi, serta Guy Debord dan Situationist International di sisi lain. Untuk melihat bagaimana hubungan ini berperan dalam penulisan The Society of the Spectacle, lihat surat Debord kepada Edouard Taube tertanggal 17 Oktober 1964.

16 Lihat esai From a Supper of Ashes to Embers of Satin, yang membahas kerusuhan di Prancis pada November 2005.

17 Untuk pembahasan yang lebih dalam tentang kerusuhan November 2005 di kawasan banlieues Prancis, lihat teks dari Les Amis de Nemesis (catatan kaki #16) serta esai Max Vincent berjudul Remarks on the Riots of Autumn 2005 in the French Banlieues.

18 Lihat surat Guy Debord kepada Gianfranco Sanguinetti, tertanggal 21 April 1978.

19 Baca ulasan kami tentang buku Virilio tahun 2003, Artand Fear.

29 Porn and Politics in Palestine, artikel di Reason Magazine Online, 3 April 2002.

21 Untuk mengetahui reaksi Debord terhadap kerusuhan di Vaux-en-Velin, lihat suratnya kepada Jean-Francois Martos tertanggal 26 Desember 1990. Debord menulis Notes on the "immigrant question" untuk membantu Mezioud Ouldamer, yang saat itu sedang mengerjakan buku berjudul The Immigrant Nightmare in the Decomposition of France.

BAGIAN EMPAT

Sekarang, mari kita fokus pada hal-hal praktis, terutama yang berkaitan dengan organisasi. Para revolusioner harus bersatu, karena tontonan (the spectacle) bergantung pada keterasingan dan perpecahan. Setiap revolusioner membutuhkan dukungan, dorongan, inspirasi, dan persahabatan yang hanya dapat diberikan oleh sesama revolusioner. Namun, kelompok-kelompok ini sendiri harus bersifat revolusioner, yang berarti mereka harus didasarkan pada prinsip kesetaraan dan tidak boleh mencerminkan kondisi yang ada dalam tontonan, seperti hierarki, penipuan (baik terhadap diri sendiri maupun orang lain), perpecahan, dan ketidakkonsistenan. Singkatnya, organisasi revolusioner tidak boleh berbentuk kolektif atau federasi kolektif. Sebaliknya, mereka harus menjadi kelompok individu yang tidak menekan atau menghilangkan keunikan anggotanya, tetapi justru mempertahankan, memperkaya, dan pada akhirnya turut diperkaya oleh mereka.

Karena itu, kami menolak konsep “multitude” yang dikembangkan oleh Antonio Negri.” Kami bukan filsuf dan tidak tertarik untuk membangun atau mengembangkan sistem ontologis yang lebih cocok untuk perdebatan akademis daripada untuk aksi revolusioner. Perlu dicatat bahwa meskipun Negri mengganti istilah “individu” dengan “singularitas” dalam kerangka post-modern-nya, politiknya tetap tidak melampaui politik elektoral dan partai politik yang dianggap “radikal” Kami juga menolak teks dari Situationist International yang berjudul “Definisi Minimum Organisasi Revolusioner” (Minimum Definition of Revolutionary Organizations), yang secara dogmatis menyatakan bahwa organisasi semacam itu “secara konsisten mengejar realisasi internasional atas kekuasaan absolut Dewan Pekerja, sebagaimana yang telah digambarkan dalam pengalaman revolusi proletariat abad ini.”

BAGIAN EMPAT 44

Kami adalah pekerja yang tertindas, tetapi bukan bagian dari satu “kelas” tertentu. Kami semakin sadar akan situasi kami, tetapi tidak membutuhkan “kesadaran kelas.” Kami mencari pembebasan di luar sistem ekonomi, baik kapitalis, sosialis, maupun komunis.

Menurut kami, semua taktik organisasi yang digunakan oleh kaum situationist tetap relevan dan berguna dalam perjuangan hari ini. Karena tontonan adalah sistem global, organisasi revolusioner harus bersifat internasional, baik dalam komposisi maupun tindakan, serta mencakup anggota dari sebanyak mungkin negara. Namun, para anggota ini tidak boleh bersikap nasionalis atau bertindak sebagai “perwakilan” dari negara asal mereka—mereka harus menjadi kaum internasionalis. (Oleh karena itu, kemampuan berbahasa asing menjadi syarat wajib.)

Karena organisasi revolusioner harus tetap kecil, mereka tidak dapat menerima terlalu banyak anggota; mereka juga tidak dapat mentolerir kehadiran orang-orang yang ternyata berbeda secara fundamental dari apa yang mereka tampakkan sebelum bergabung. Oleh sebab itu, meskipun disayangkan, pengeluaran anggota tetap diperlukan, begitu pula pemutusan hubungan dengan “orang luar” yang bersikap bermusuhan terhadap keberadaan, program, atau aksi kami, atau yang terus berkolaborasi dengan pihak ketiga yang telah kami putuskan hubungan dengannya.

Organisasi revolusioner harus menjadi komunitas nyata yang terjalin melalui interaksi langsung, bukan sekadar keberadaan “daring” di mailing list, forum diskusi, atau ruang obrolan. Komunitas ini harus berusaha untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka sendiri, seperti makanan, pakaian, dan tempat tinggal, jika tidak, mereka tetap terikat dalam sistem komoditas. Selain itu, mereka harus terus mengembangkan keterampilan komunikasi pribadi dan sosial. Setiap individu harus benar-benar memahami perasaan dan keinginan mereka yang sebenarnya serta mampu mengekspresikan dan mewujudkannya dalam Tindakan, jika tidak, penipuan, hierarki, dan struktur kekuasaan akan muncul dengan sendirinya.

Agar koheren, “program” politik kita harus berakar pada pemahaman kita tentang tontonan (the spectacle). Artinya, program ini harus menyoroti konsentrasi kekayaan yang luar biasa besar dalam masyarakat, serta bagaimana kekayaan itu digunakan dengan cara yang buruk atau bahkan mematikan—misalnya, Amerika Serikat menghabiskan 3 miliar dolar setiap minggu untuk Global War on Terror. Program ini juga harus menawarkan visi tentang masyarakat yang bisa dibangun jika sistem ini digulingkan dan kekayaannya dialihkan untuk kesejahteraan manusia secara nyata. Kita harus secara tegas mengkritik kesenangan dan “kebahagiaan” yang ditawarkan oleh sistem ini sebagai sesuatu yang semu dan tidak memadai. Program kita harus menolak gagasan bahwa kerja, komoditas, dan pasar masih relevan dalam kehidupan manusia, serta terus-menerus mengungkap dan melemahkan institusi, individu, dan kekuatan yang menghalangi penghapusan sistem lama yang sudah usang ini ke dalam tempat sampah sejarah.

BAGIAN LIMA 46

“Warga yang melakukan suatu tindakan dalam sebuah republik—baik demi kebebasan maupun demi tirani—harus terlebih dahulu mempertimbangkan kondisi dasar masyarakatnya dan menilai dari situ seberapa sulit tindakan mereka. Sebab, sama sulit dan berbahayanya mencoba membebaskan rakyat yang ingin tetap hidup dalam perbudakan seperti halnya mencoba memperbudak rakyat yang ingin hidup

dalam kebebasan [...] Kota-kota yang terbiasa hidup dalam perbudakan tidak keberatan untuk sering mengganti penguasanya, bahkan, dalam banyak kasus, mereka justru menginginkannya.”

— Machiavelli, Discourses on Livy

22 Lihat terjemahan Arianna Bove atas esai Negri berjudul Approximations: Towards an Ontological Definition of the Multitude. Untuk informasi lebih lanjut tentang Negri, baca teks kami pada Juli 2001 berjudul The Relevance of Antonio Negri to the Anti-Globalization Movement.

BAGIAN LIMA

Terlepas dari laporan-laporan optimistis kaum neo-anarkis yang merasa puas diri, seperti David Graeber,” kita saat ini menghadapi situasi yang sangat sulit—jauh lebih buruk dibandingkan yang dihadapi oleh Situationist International pada tahun 1957. Belum pernah sebelumnya tontonan (the spectacle) begitu kuat: ia telah berhasil membentuk generasi baru yang sepenuhnya tunduk pada hukum-hukumnya; ia mampu menjalankan programnya yang mematikan, meskipun mendapat perlawanan, kritik, dan protes dari jutaan orang; dan ia masih terus berambisi mencapai lebih banyak lagi. Sebagian dari keberhasilan ini berasal dari rasa percaya diri dan perasaan kebal yang dimiliki oleh para pemimpinnya. Seperti yang ditulis Debord dalam bagian akhir Comments on the Society of the Spectacle:

Kita harus menyimpulkan bahwa perubahan yang tak terhindarkan akan segera terjadi dalam kalangan elite yang mengelola dominasi ini, khususnya mereka yang bertugas melindunginya. Namun, tentu saja, perubahan ini tidak akan pernah dipertontonkan di atas panggung tontonan. Ia hanya akan muncul seperti kilat, yang baru kita sadari saat ia menyambar. Perubahan ini—yang akan menandai akhir dari era tontonan—akan berlangsung secara diam-diam. Meskipun menyangkut mereka yang telah lama bercokol dalam lingkaran kekuasaan, perubahan ini akan terjadi secara konspiratif. Mereka yang dipilih untuk mengambil bagian di dalamnya hanya akan lolos berdasarkan satu syarat utama: bahwa mereka benar-benar memahami rintangan-rintangan yang telah mereka atasi dan mengetahui sejauh mana kemampuan mereka.

Keberhasilan tontonan saat ini juga disebabkan oleh kegagalan berbagai gerakan protes selama satu dekade terakhir (terutama gerakan anti-globalisasi dan gerakan anti-perang) dalam mengidentifikasi akar permasalahan serta cara terbaik untuk menyelesaikannya. Sebaliknya, mereka justru menyia-nyiakan waktu, tenaga, dan kepercayaan dengan hanya berfokus pada gejala-gejala serta tetap terjebak dalam sistem politik dan dunia kerja yang ada. Kita juga tidak boleh mengabaikan peran pasifitas dan apatisme dari sebagian besar orang yang tidak aktif secara politik, atau dengan kata lain, keberhasilan tontonan dalam mencegah mayoritas rakyat mengubah kemarahan dan kekecewaan mereka menjadi keinginan untuk terlibat dalam aktivitas politik. Entah mereka terlalu sibuk “menikmati” (dibius oleh) bir dan televisi mereka, atau mereka sudah kehilangan harapan bahwa sesuatu yang berarti bisa dilakukan untuk mengubah keadaan.

Dalam perjuangan ini, kita harus selalu ingat bahwa kita adalah minoritas dalam minoritas: mayoritas gerakan perlawanan terdiri dari para penganut paleo-Marxisme, warga negara, kaum Kiri, dan neo-anarkis. Dengan kata lain, kebanyakan dari mereka bukanlah kaum revolusioner sejati, melainkan reformis radikal yang hanya berfokus pada sebagian aspek permasalahan atau mencoba menggunakan Negara (“demokrasi”) untuk memperbaiki ketimpangan dalam pasar. Di sisi lain, seperti yang dialami kaum Situationist di masanya, kita juga tidak bisa berharap banyak dari para seniman. Mereka cenderung hanya bertanya tanpa peduli dengan jawabannya, seolah menyerahkan keputusan itu kepada orang lain. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk tetap teguh dan tanpa ampun dalam mengkritik para “radikal” ini, sama seperti kita mengkritik para “konservatif” yang merasa nyaman (atau cukup nyaman) dengan keadaan yang ada.

Menariknya, ketika dikritik, seniman dan aktivis bereaksi dengan cara yang berbeda. Para seniman biasanya memilih diam atau menghilang setelah satu kali merespons, sementara aktivis justru menjadi “defensif” atau bahkan menyerang balik. Mereka marah ketika ada yang berani mengkritik mereka (terutama aktivis yang berasal dari kalangan akademisi) dan menuduh para “penyerang” sebagai perusak gerakan karena bersikap “negatif” atau “memecah belah.” (Anehnya, hanya sedikit dari mereka yang menuduh hal serupa terhadap para informan atau agen bayangan ala COINTELPRO yang ada di tengah-tengah mereka.) Terutama jika mereka tergabung dalam sebuah “kolektif” atau kelompok lain yang menekan individualitas, mereka akan merasa percaya diri dalam jumlah mereka

BAGIAN LIMA 48

(“semua orang merasa seperti saya”) dan berusaha membungkam kritik dengan mempermalukan lawan mereka atau memaksanya menarik kembali ucapannya. Kita sudah terlalu sering menyaksikan hal ini terjadi sehingga kita dapat menyimpulkan satu hal: bagi mereka, keberadaan individualitas itu sendiri adalah sesuatu yang memalukan. Maka, siapa pun yang menunjukkan individualitasnya (otonominya) harus dipermalukan, harus dibuat merasa bersalah.

Namun, kita yang tidak memiliki kepentingan untuk mempertahankan sistem tontonan ini tidak bisa dipermalukan. Kita, pada dasarnya, tidak mengenal rasa malu.

Not Bored! New York City 1 November 2007

3 Dikutip dari esai The Shock of Victory yang dipublikasikan di Infoshop News. Jika mengikuti tautan yang kami berikan, pembaca akan melihat bahwa dalam bagian "Komentar," Bill Not Bored menyoroti adanya perbedaan besar antara optimisme dan ilusi kemenangan yang menipu diri sendiri. Respons (atau ketidakresponsan) Graeber terhadap kritik ini sangatlah mengungkapkan banyak hal.