Baca PDF (OCR): Liar

113 halaman · 1 halaman diproses dengan OCR · 3.7 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. Liar : Sebuah Perspektif Anarkis dan Ekologi Dalam
  2. DAFTAR ISI
  3. LIAR “Sebuah perspektif anarkis dan ekologi dalam”
  4. BUKAN KIRI TAPI LIAR! OLEH CHRIS KORTRIGHT DAN CRAIG EVARTS
  5. Ideologi Kiri
  6. Keliaran
  7. ■ liar KEKUATAN TRANSFORMATIF DARI KELIARAN
  8. OLEH JOANNE E. LAUCK
  9. POLITIK KEHIDUPAN SEHARI-HARI
  10. Bagaimana kamu terpengaruh oleh kehangatan dan sentuhan?
  11. Bagaimana kamu terpengaruh oleh musik?
  12. Apakah rekaman yang bagus lebih baik daripada konser musik?
  13. Apakah itu hanya suara yang kamu inginkan? Atau saling berbagi ritual musik?
  14. Bagaimana dengan tingkatan dan variasi gerakan tubuhmu?
  15. Apakah kesenangan itu berbahaya? Apakah bahaya itu menyenangkan?
  16. BIOSENTRISME SEBAGAI PANDUAN MORAL
  17. Apakah kesepian yang kamu rasakan sulit untuk dinyatakan atau diekspresikan ke dalam Bahasa?
  18. Apakah kamu terkadang merasa dirimu siap untuk kehilangan kendali?
  19. PERJALANANKU MENUJU BIOSENTRISME OLEH DAVID ORTON
  20. Para Pemikir Penting
  21. Visi
  22. Berurusan dengan Para Aktivis Lingkungan Arus Utama
  23. Kontinuitas Biosentrisme Kiri dan Ekologi Dalam
  24. Diskontinuitas Biosentrisme Kiri dan Ekologi Dalam
  25. Realisasi Diri
  26. Akuntabilitas
  27. Gerakan Kiri
  28. Ekologi Sosial, Eko-Feminisme, dan EkoMarxisme
  29. Pecahnya Gerakan?
  30. Appendix: Sebuah Panduan mengenai Biosentrisme Kiri
  31. 15 Maret 1998
  32. SPESIES YANG TERANCAM PUNAH: TEKNO-HUMANISME DAN HILANGNYA MANUSIA, PANDUAN BAGI PEMULA OLEH PATRICIA FREUND
  33. Akhir dari Kata
  34. Nilai-nilai Keluarga Kaczynski
  35. BAB II BERANJAK MENJADI BUAS OLEH JAMES BARNES
  36. KEBUASAAN OLEH JAMES BARNES
  37. ANARKISME SUDAH MATI! PANJANG UMUR ANARKI! OLEH ROB LOS RICOS
  38. LAHIR TERPENJARA OLEH ANONIM
  39. GAIRAH AKAN HIDUP YANG LIAR: LUAPAN EMOSI INDIVIDUAL DARI GENERASI YANG TERHUKUM OLEH CHRIS KORTRIGHT
  40. LALU BAGAIMANA KITA DAPAT MENJADI LIAR:
  41. BEBERAPA CATATAN YANG BELUM SELESAI AKAN DIBAHAS SECARA MENDALAM OLEH WOLFI LANDSTREICHER
  42. KELIARAN DI DALAM KOTA OLEH CHRIS KORTRIGHT
  43. PERTANYAAN SEPUTAR IDEOLOGI
  44. Pengaruh Ideologi terhadap Tindakan atau Aksi
  45. Teori Keliaran Diri

SEBUAHPERSPEKTIF ANARKIS DAN EKOLOGI DALAM

■ liar

LIAR

Sebuah Perspektif Anarkis dan Ekologi Dalam

Anonim dan lain lain

“Berhentilah menyebut planet tempat kita hidup ini sebagai “Bumi”, atau pun “Planet Bumi”. Kita harus mengakui bahwa tempat kita hidup ini sebagai apa adanya: sebagai rumah kita.”

■ liar

Liar : Sebuah Perspektif Anarkis dan Ekologi Dalam

Alih bahasa: Vetuyara Krisna & Toms Penyunting: Klanamor Penata Letak: Jay Biafra Desain Sampul: Memoardistopia

Cetakan Pertama, 2021 vi + 111 halaman, ukuran 14 cm x 20 cm

Hak cipta bebas dan merdeka. Setiap makhluk dianjurkan dan dinasehatkan untuk mengkopi, mencetak, menggandakan, menyebar isi serta materi-materi di dalamnya.

Penerbit Diogenes Sinope Yogyakarta Instagram: @diogenes_sinope_

Hal indah lainnya yang kulihat saat berjalan menyusuri jalanan kota adalah ribuan rumput liar dan jamur. Rumput liar merayap melalui retakan yang membuat celah di setiap struktur beton dan tetap bersahabat dengan pepohonan yang menurut manusia mesti diisolasi. Jamur bermunculan melalui retakan di dinding-dinding apartemen, seakan memaksa orangorang untuk berinteraksi dengan alam meskipun dalam kotak-kotak kecil mereka yang sunyi. Baik jamur maupun rumput liar dapat menjadi contoh terbaik tentang betapa manusia sesungguhnya tak memiliki kendali atas dunia alamiah. Tak peduli seberapa banyak pun zat kimia dan racun yang digunakan manusia, mereka takkan pernah bisa menyingkirkan “hamahama” yang membanjiri kota.

—Chris Kortright; Keliaran di Dalam Kota

■ liar LIAR

DAFTAR ISI

BAB I...............................................................................................................1 BUKAN KIRI TAPI LIAR! OLEH CHRIS KORTRIGHT DAN CRAIG EVARTS......................................................................................................1 Ideologi Kiri...........................................................................................................2 Keliaran...................................................................................................................6 KEKUATAN TRANSFORMATIF DARI KELIARAN OLEH JOANNE E. LAUCK.......................................................................................................9 POLITIK KEHIDUPAN SEHARI-HARI...............................................14 BIOSENTRISME SEBAGAI PANDUAN MORAL OLEH JAMES A. BA RNES..........................................................................................................21 PERJALANANKU MENUJU BIOSENTRISME OLEH DAVID ORTON Introduksi.............................................................................................................29 Para Pemikir Penting.......................................................................................30 Visi...........................................................................................................................31 Berurusan dengan Para Aktivis Lingkungan Arus Utama...............33 Kontinuitas Biosentrisme Kiri dan Ekologi Dalam.............................34 Diskontinuitas Biosentrisme Kiri dan Ekologi Dalam.......................35 Realisasi Diri........................................................................................................37 Akuntabilitas.......................................................................................................39 Gerakan Kiri.........................................................................................................40 Ekologi Sosial, Eko-Feminisme, dan Eko-Marxisme...........................46 Pecahnya Gerakan?...........................................................................................52

Appendix: Sebuah Panduan mengenai Biosentrisme Kiri.................36 SPESIES YANG TERANCAM PUNAH: TEKNO-HUMANISME DAN HILANGNYA MANUSIA, PANDUAN BAGI PEMULA OLEH PATRICIA FREUND................................................................................40 Akhir dari Kata....................................................................................................46 Nilai-nilai Keluarga Kaczynski ....................................................................50 BAB II........................................................................................................57 BERANJAK MENJADI BUAS OLEH JAMES BARNES.......................57 KEBUASAAN OLEH JAMES BARNES..................................................60 ANARKISME SUDAH MATI! PANJANG UMUR ANARKI! OLEH ROB LOS RICOS......................................................................................63 LAHIR TERPENJARA OLEH ANONIM...............................................70 GAIRAH AKAN HIDUP YANG LIAR: LUAPAN EMOSI INDIVIDUAL DARI GENERASI YANG TERHUKUM OLEH CHRIS KORTRIGHT............................................................................................76 LALU BAGAIMANA KITA DAPAT MENJADI LIAR: BEBERAPA CATATAN YANG BELUM SELESAI AKAN DIBAHAS SECARA MENDALAM OLEH WOLFI LANDSTREICHER................................82 KELIARAN DI DALAM KOTA OLEH CHRIS KORTRIGHT.............87 PERTANYAAN SEPUTAR IDEOLOGI..................................................91 Pengaruh Ideologi terhadap Tindakan atau Aksi................................93 Teori Keliaran Diri.............................................................................................94

LIAR “Sebuah perspektif anarkis dan ekologi dalam”

BAB I

BUKAN KIRI TAPI LIAR! OLEH CHRIS KORTRIGHT DAN CRAIG EVARTS

Apa reaksi kita terhadap kerusakan ekologis? Para aktivis ekologi radikal dan anarkis banyak yang berpendapat bahwa bahwa ada perlawanan militan yang terorganisir terhadap penghancuran lingkungan dan segala sesuatu yang liar (termasuk manusia). Kamu melihat mereka di demonstrasi; berteriak lantang, memberi tahu kita cara hidup yang benar dan bagaimana berhubungan satu sama lain serta ideologi mana yang harus kita ikuti. Tetapi apakah tindakan militan ini benar-benar mempuyai efek yang signifikan terhadap penghancuran peradaban dan inkarnasi terbarunya: kapitalisme global yang terpusat, atau apakah mereka hanya memainkan peran setia mereka dalam memperkuat masyarakat dengan ideologi dan visi utopis mereka dengan memperkuat peran mereka dalam dunia tontonan?

Saya (CK) melihat para aktivis (termasuk saya sendiri) yang memang punya keinginan baik dan berupaya ingin berjuang, hanya saja mereka terlalu terkonsumsi dunia tontonan yang telah mengkomodifikasi keinginan, hasrat, dan pengalaman mereka sendiri. Keengganan dan rasa takut pun menjadi campur aduk. Melalui sosialisasi yang berlebihan mereka tidak mempercayai gairah dan pengalaman mereka sehingga mudah sekali untuk mengekor pada spesialis, ideologi, “pemikiran rasional” atau pemimpin. Tidak peduli seberapa gigih kita untuk mencoba untuk melawan, selama kita mengikuti langkah kaki para aktivis kiri, kita pasti akan gagal seperti mereka.

Ideologi Kiri

Ideologi kiri tidak dapat memahami kritik atau perlawanan terhadap industrialisme secara keseluruhan. Sama seperti setiap masyarakat industri lainnya, mereka juga akan “merasionalisasi” setiap makhluk hidup, termasuk manusia, dalam kaitannya dengan industrialisme. Mereka adalah kripto-materialis, karena kebuntuan ideologi mereka, sehingga masih percaya akan indusri dan produksi yang dimaksimalkan. Satu-satunya perbedaan mereka dengan sepupu kayanya (kapitalisme) adalah orang Kiri ingin mendistribusikan komoditas secara setara dan adil ke sebagian besar populasi manusia dan mereka sama sekali tidak punya kritik atas konsep komoditas itu sendiri, apalagi level konsumsi masyarakat barat, dan limbah yang dihasilkannya.

Kaum Kiri terlalu terikat dengan “pemikiran rasional” mereka yang berasal dari Era Pencerahan abad ke-18. Pencerahan melihat pentingnya rasional, analisis ilmiah sebagai cara untuk membebaskan “manusia” dari belenggu takhayul, irasionalitas dan alam. Pemikiran pencerahan menyatakan bahwa dunia liar yang berbahaya harus dianalisis, diklasifikasikan, dan dijinakkan oleh manusia barat yang rasional. Konflik internal antara kebudayaannya sendiri dan keliaran alam yang tampak mengancam hanya dapat diselesaikan dengan penjinakan dan dominasi atas alam. Oleh karena itu dari tradisi ini juga lahir pandangan bahwa “kepuasan diukur dari segi perolehan materi. Sehingga gunung menjadi kerikil, danau menjadi pendingin untuk sebuah pabrik dan orang-orang dikumpulkan untuk diproses melalui pabrik indoktrinasi yang biasa disebut sekolah oleh orang Eropa.” (Means, 1987)

Bahkan para ahli ekologi yang keluar dari tradisi Kiri masih percaya bahwa mereka “seperti dewa” dengan rasionalisme dan sains mereka. Sama seperti banyak orang Kristen yang percaya bahwa manusia adalah ciptaan, puncak dari kehendak Tuhan, jadi setiap tindakan yang diambil manusia apalagi yang berkaitan dengan dominasi kita atas alam (dan seringkali satu sama lain) adalah kehendak tuhan. Kaum Kiri Rasional atau humanis melihat bahwa manusia adalah akhir dari evolusi, puncak pencapaian alam, dan dengan demikian menjinakkan alam liar atau memandang hutan belantara sebagai sumber daya yang memang dipersembahkan oleh alam untuk konsumsi manusia; mereka memuji “perubahan manusia dari kebinatangan” (Bookchin, 1989) mengklaim bahwa pemisahan ini membuat manusia lebih unggul.

Keunggulan ini juga ditegaskan atas orang-orang “primitif” yang tidak mau atau “tidak bisa” bergabung dengan masyarakat modern. Hidup dengan cara yang mirip dengan penduduk asli Amerika tradisional adalah kekejaman bagi sebagian besar kaum kiri “rasional” karena “Masyarakat akan terperosok tanpa batas dalam ekonomi subsisten yang hidup secara kronis di tepi kelangsungan hidup” (Bookchin, 1991). Apa yang saya pikir membuat Kiri membenci keliaran adalah ketakutan akan apa yang tidak dapat dikendalikan, ketidaktahuan dan kekacauan dunia nyata yang memunculkan reaksi seperti “Alam...biasanya ‘pelit’ dan tidak memberi dan ibu yang menipu’” (Bookchin, 1991). Karena, cengkeraman ketat mereka pada “teori rasional” mereka tidak bisa melepaskan pandangan Hobbesian tentang alam meskipun ilmu-ilmu seperti antropologi dan ekologi telah menunjukkan bahwa hutan belantara dan masyarakat pra-pertanian merupakan bukti kesalahan dari kalkulasi ideologi Era Pencerahan.

...kesombongan paling fatal adalah menganggap bahwa manusia adalah objek rahasia terbesar dari evolusi hewan. Manusia sama sekali bukan mahkota ciptaan: setiap makhluk berdiri di sampingnya pada tahap kesempurnaan yang sama... Dan bahkan, dalam beberapa pandangan yang cukup relatif, kita terlalu banyak menegaskan: bahwa manusia, secara relatif, adalah hewan yang paling tidak berhasil, yang paling sakit, dan yang paling berbahaya dan menyimpang dari nalurinya.” (Nietzsche, 1990)

Suatu malam saya (CK) sedang berbicara dengan teman saya di sebuah bar kecil di San Francisco, kami minum Gin dan mendengarkan Johnny Cash. “Lupakan komisi itu, saya (CE) tidak mau bekerja di pabrik mereka. Mengapa semua intelektual dan anak kuliahan kaya ini menganggap pekerjaan itu keren. Saya hanya ingin tinggal bersama beberapa teman dan istri saya di hutan, menanam makanan saya sendiri, berburu dan menikmati hidup saya bersama keluarga dan teman-teman. Hanya orang-orang yang tidak pernah bekerja di pekerjaan buntu tanpa masa depan yang mengira kita masih peduli dengan pekerjaan pabrik. Pekerjaan adalah Pekerjaan; tidak peduli apakah bosnya adalah kapitalis atau kita semua. Saya berharap mereka berhenti mencoba menyelamatkan saya dan memberi tahu saya cara membebaskan diri saya sendiri.” Pernyataan yang dikatakan teman saya Craig menunjukkan dua kelemahan utama lainnya dalam ideologi kiri. Yang pertama adalah keyakinan buta mereka pada pekerjaan dan budaya kerja. Yang kedua adalah kebutuhan terus-menerus untuk menyelamatkan semua orang dari kelas pekerja hingga perempuan dan orang kulit berwarna, mereka sangat yakin bahwa jika kita semua menganut ideologi mereka, maka kita semua akan bebas.

Sulit bagi kebanyakan dari kita yang bekerja (dan tidak berpendidikan perguruan tinggi) untuk memahami pandangan romantis tentang pekerjaan. Tidak perlu seorang jenius (hanya seorang pekerja) untuk melihat keterasingan dalam pekerjaan.

Bahkan beberapa pekerja yang saya (CE) tahu bahkan ikut serta dalam perdebatan kiri atau kanan, meski sebenarnya hanya terbatas pada spektrum liberal atau konservatif. Mereka mengasosiasikan liberal dengan kiri dan umumnya membenci kaum liberal dan ingin mereka mati. Saya bertanya-tanya berapa banyak “kaum kiri” yang benar-benar berbicara dengan seorang pekerja minggu ini. Mereka (para pekerja) tidak tahu kiri atau kanan dan mereka tidak peduli, mereka hanya ingin menghasilkan uang sebanyak mungkin dan bekerja sesedikit mungkin. Dan, mereka tahu kaum liberal pasti tidak akan membantu mereka dalam hal itu.

Saya (CK) mengangkat ini karena, sebagai kaum kiri terus-menerus berusaha menggembalai kami para pekerja ke arah yang lebih baik.

Masalahnya adalah mereka tidak pernah mendengarkan kami. Jika mereka mencobanya, maka mereka akan menyadari bahwa intinya adalah kami tidak ingin bekerja dan kami terutama tidak ingin bekerja di dunia sosialis (bahkan anarko-sindikalisme atau program swakelola pekerja lainnya). Pembahasan perihal hal barusan harus disimpan di lain waktu terlebih dahulu; tapi percayalah, kami tidak ingin bekerja dalam sistem sosialis melebihi dari sistem kapitalis. Gagasan untuk mengelola sendiri perbudakan kita sendiri bahkan lebih tidak menarik ketimbang membuat musuh mengeluarkan cambuknya. Kami tahu bahwa industri tidak menawarkan kebahagiaan atau kepuasan, kami sangat memahami hal ini, karena kamilah yang menjalaninya dan membangunnya.

Pertanyaan yang perlu dilontarkan adalah kaum kiri yang memberi tahu kita bahwa hanya melalui pabrik-pabrik yang dikendalikan pekerja, kita dapat menemukan pembebasan diri. Apakah kamu percaya utopiamu akan menghilangkan polusi dan racun yang diciptakan oleh industri, pelecehan anak dan pasangan yang diciptakan oleh kebencian diri dari pekerjaan yang repetitif, serta penyalahgunaan diri melalui obat-obatan dan alkohol untuk meringankan beban kerja atau menjadi lebih efektif dalam hal itu? (penggunaan doping untuk bekerja lebih keras)? Untuk semua ini jawabannya adalah tidak! Industrialisme tidak dapat berfungsi tanpa racun. Bertentangan dengan apa yang kebanyakan kaum kiri yakini bahwa kita tidak dapat memiliki teknologi ramah lingkungan, komputer yang sangat tertanam sangat dalam di eksistensi keseharian kita tidak dapat dibuat tanpa racun. Jadi, saat kamu membebaskan diri sendiri dengan mengikut ideologi kiri, kamu juga meracuni udara yang kamu hirup dan air yang kamu minum serta membunuh banyak spesies lainnya.

Bahkan tanpa kapitalis, kejenuhan akan tetap ada selama kita perlu bekerja. Ekonomi komoditas tidak dapat berfungsi tanpa sebagian besar orang yang masih melakukan pekerjaan kasar. Saya (CE) diberitahu bahwa satu-satunya alasan mengapa orang yang bekerja, berusaha keras untuk mengumpulkan kekayaan, adalah karena kapitalis senantiasa mencari keuntungan di setiap tempat, tetapi kebanyakan dari kita yang bekerja tahu bahwa kita tidak akan pernah bisa memiliki apa yang mereka miliki. Sekarang coba kita bayangkan, kita hidup di sebuah dunia yang mana kita dapat memiliki setiap komoditas yang kita inginkan, lantas apakah menurutmu orang akan bekerja lebih sedikit di dunia yang demikian? Tentu tidak, karena kitalah yang kemudian akan bekerja untuk komoditas itu sendiri, dan di tahap ini kita bukan lagi jadi budak kapitalis melainkan komoditas. Kami tidak berjuang untuk mengambil tempat kami di jalur produksi (yang mana sebagian besar kaum kiri belum pernah lihat atau dengar) selama hidup kami. Kami tidak percaya manusia adalah “pewaris bumi” yang rasional. Kaum kiri tidak sama sekali tidak dapat menawarkan pemberontakan yang kita butuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, apa yang akan kita lakukan? Kita telah diajari bahwa untuk meraih kebebasan atau kehidupan yang ideal, kita harus memilih ideologi kanan atau kiri. Persetan itu semua, karena jawabannya hanyalah pemberontakan liar dan keliaran itu sendiri.

Keliaran

Sungguh sia-sia kaum kiri ceking yang mencoba mengkooptasi keliaran. Sesuatu yang mustahil dilakukan karena keliaran itu sendiri tidak didapatkan dalam bahasa. Keliaran tidak didasarkan pada barangbarang material sehingga, tidak mungkin kamu bisa merusak ataupun menghancurkannya. Tidak ada yang bisa kamu bicarakan perihal keliaran. Keliaran bukanlah produk yang bisa kamu produksi dan menjualnya kembali kepada kami dalam kemasan yang lebih aman dan ramah konsumen. Salah satu dari banyak, contoh mengubah resistensi menjadi komoditas adalah Earth First! dan mitos pengrusakan. Awal mula EF! terbentuk, mereka membahas sabotase dan pengrusakan atas ekosida secara terbuka, seringkali aksi melawan ekosida, meski tidak dilakukan oleh EF! Namun, mungkin saja terinspirasi oleh EF!. Dari sinilah mitos itu tercipta, dan kaos-kaos itu dijual bersama dengan banyak perlengkapan sabotase lainnya. Ketika citra perlawanan dijual kembali kepada massa, aksi-aksi pemberontakan menjadi berkurang. Seperti yang kita lihat, ketika penjualan kaos sabotase terhadap ekosida (anting-anting, tambalan, stiker) meningkat, kita justru melihat penurunan drastis tindakan atau aksi langsung melawan ekosida.

Keliaran adalah pemberontakan riang yang berasal dari hasrat terdalam dan naluriah kita. Keinginan ini hanya dapat didefinisikan dan dipenuhi oleh kita sebagai individu atau kelompok kecil individu. Ini adalah emosi mentah tanpa perantara. Ia adalah hidup secara konstan di ambang hal-hal yang tidak diketahui, seperti kupu-kupu yang kamu dapatkan di perutmu ketika kamu berinteraksi dengan orang yang membuatmu tertarik (dan kamu masih tidak tahu apakah mereka tertarik kepadamu; memainkan tarian saling menggoda dan tidak tahu siapa yang akan mengakui pertama kalinya, melakukan seks liar dan spontan dengan orang yang baru saja kita temui. Ketakutan dan kegembiraan yang dirasakan seorang pemain pemain ski ketika mereka menuju lompatan atau sisi gunung yang tidak mereka persiapkan. Atau rangsangan yang dirasakan seseorang saat melompat dari pesawat sebelum mereka menarik parasutnya. Keliaran bukan hanya tentang seks dan olahraga ekstrim yang berbahaya, melainkan adalah beberapa interaksi pribadi satu sama lain dan kehidupan yang masih spontan, mentah dan tanpa perantara (tetapi terlalu sering berubah menjadi komoditas). Ini adalah diri yang bebas dan liar yang kamu temukan di hutan belantara atau di tengah nafsu, emosi tak terduga dan tak terkendali yang telah dibunuh oleh kehidupan seharihari.

Kami tidak memiliki program, tidak ada rencana, tidak ada organisasi, bahkan tidak ada nama atau slogan untuk digalang. Tak satu pun dari kami akan menuntunmu ke tujuan yang kamu inginkan. Karena segala sesuatu yang berasal dari hasrat individual harus datang dari dirimu sendiri, dari kita masing-masing, sebagai individu kita harus melihat sekeliling dan merasakan apa yang terjadi;

perhatikanlah keterasingan, penjinakan, pengendalian. Dan kali ini, segala sesuatunya terserah kamu: tidak ada aturan, tidak ada dialektika untuk dipatuhi. Bila kamu ingin bertindak, bertindaklah sekarang juga! Tidak ada manifesto yang akan ditulis, tidak ada buku petunjuk atau rencana pertempuran. Revolusi ini tidak hanya tidak akan disiarkan di televisi — revolusi juga tidak akan dimediasi. Revolusi hanya bisa terjadi dengan hidup bebas, berpartisipasi dalam pemberontakan di setiap aspek kehidupan sehari-hari.

Dalam proses menjalani hidup yang sepenuhnya, mengaktualisasikan keinginanmu dan menciptakan sisi liar dalam dirimu, besar kemungkinan bahwa konfrontasimu dengan otoritas semakin sengit. Pemberontakan/untuk kehidupan ini akan meruntuhkan semua yang kita ketahui sekarang. Ia tidak memiliki pilihan, karena menjadi bebas tidak sesuai dengan inkarnasi wujud otoritas atau kontrol apa pun; baik itu pekerjaan, ekonomi komoditas, hukum, atau “manajemen” hutan belantara. Hal ini berarti bahwa kamu harus keluar dari kurungan masyarakat dan berhenti mengikuti cita-cita yang gagal. Tidak ada yang bisa membebaskanmu selain dirimu sendiri. Dengan mengikuti ideologi kiri, kamu akan membelenggu kakimu sendiri ke lantai pabrik, mencambuk diri sendiri dan orang yang kamu cintai. Jadi temukanlah orang yang kamu cintai, orang yang kamu percayai, dan buat hidup menjadi nyata. Lepaskan keinginanmu untuk menjadi liar dan ingat penciptaan hanya berasal dari kehancuran. Untuk semua yang liar, semua yang terkurung dan tentu saja untuk dirimu sendiri, mari kita runtuhkan tembok-tembok.

■ liar KEKUATAN TRANSFORMATIF DARI KELIARAN

OLEH JOANNE E. LAUCK

“Kita tergoda…oleh keacuhan, yang nama lainnya adalah cinta.”- Belden C. Lane

Kita takut pada keliaran atau apa yang kita anggap liar, entah pada diri kita sendiri dan pada spesies lain. Kita cenderung mengkategori hal-hal yang liar sebagai kegilaan, suatu keadaan tak terduga yang berpotensi berbahaya. Hewan peliharaan terlantar yang dianggap “terlalu liar” harus disuntik mati di masyarakat lokal kita yang katanya manusiawi. Perilaku yang biasanya ditunjukkan oleh hewan/spesies liar hanyalah hal remeh seperti serangan, dengan cakar atau gigi, yang mereka lakukan karena rasa takut yang sangat bisa dimengerti. Namun, tanggapan tersebut dipandang sebagai bukti keliaran dan penampilan mereka, terlepas dari situasinya, membuat hewan itu tidak dapat diadopsi. Apa yang tidak bisa kita jinakkan atau kendalikan dengan mudah atau sama sekali tak dapat kita pahami, harus kita musnahkan dan taklukkan.

Secara paradoks, otonomi makhluk-makhluk liar dan ketidakpedulian mereka terhadap keprihatinan manusiawi kita yang berupaya mendesak dan pencarian akan pemenuhan diri membawa kita kepada mereka. Studi menunjukkan bahwa ketika kita berada di daerah hutan belantara, kita cenderung memperbaharui kedirian kita dan itu membuat kita merasa lebih lengkap. Tanpa akses ke hutan belantara, ketika kita tinggal di lingkungan yang murni berorientasi pada manusia, kita menderita, kehilangan emosional dan potensipotensi kita yang tidak disadari. Kita bahkan kehilangan tingkat vitalitas dan tingkatan Kesehatan pada umumnya. Banyak dari kita secara intuitif merasakan ketergantungan psikologis ini ketika kita berada di luar di daerah yang dihuni oleh satwa liar. Perjumpaan dengan spesies lain meningkatkan kesadaran kita dan mengembalikan kita ke keadaan yang lebih energik. Di luar ruangan dan tembok kota, serangga terkadang mengejutkan dan membangkitkan kita. Jika kita lebih terbuka, mereka juga bisa membangunkan kita dari kepuasan diri manusia yang angkuh, dan juga membuat kita lebih awas dan kembali mengingatkan kita perihal intuisi alami kita untuk selalu waspada. Sebagai guru alam liar, mereka terus mengajak kita lebih dekat untuk memeriksa dan merenungkan cara mereka.

Makhluk kecil sering kali memiliki kekuatan yang seringkali tak dapat kita ukur. Nyamuk bisa membuat pria dewasa lari; begitu juga laba-laba dan lebah. Seorang pelacak dan guru, John Stokes, yang belajar selama bertahun-tahun dengan penduduk asli Australia dan sekarang mengajari orang-orang bagaimana bertahan hidup di daerah hutan belantara, Ia berpendapat bahwa makhluk kecil membuat kita sadar bahwa kita hidup di dunia otomatis dengan kekuatan palsu. Karena mereka (makhluk kecil) memiliki kekuatan nyata, mereka membuat kita terpesona dan secara efektif menyepelekan rasa penting kita sebagai manusia yang seringkali tidak terlalu dilebih-lebihkan.

Orang yang bijak akan berhati-hati saat berada di alam liar yang terkadang juga cukup berbahaya. Mereka lebih waspada, sehingga menghindari cara-cara untuk menyerang secara membabi buta melalui area tersebut. Orang-orang seperti itu tahu bahwa pertemuan dengan spesies yang dapat menggigit atau menyengat kita, bukanlah seperti wahana karnaval atau sensasi elektronik, berada di alam liar menuntut lebih dari uang dan kehadiran fisik kita. Hal demikian, membangkitkan insting kita serta kualitas-kualitas tertentu lainnya — warisan nyata para pemburu asli atau mereka yang memiliki hubungan langsung dengan alam liar dan memahaminya. Ketika kita merasakan kekuatan nyata makhluk yang berpotensi berbahaya, kecuali ketika kita memang sedang panik, kita justru cenderung menenangkan pikiran, kegelisahan kita sendiri yang penuh dengan hiruk-pikuk tak karuan dan mencoba mencari ketenangan yang dibutuhkan. Terkadang keselamatan dan kebahagiaan kita tergantung pada seberapa baik kita beradaptasi.

Manfaat berdiam diri di hadapan kekuatan nyata adalah bahwa hal itu menambatkan kita ke pusat kita sendiri di mana kekuatan dapat dicocokkan dan digunakan untuk mengubah dan menginisiasi kita. Sehingga, sensitivitas meningkat, benturan dengan makhluk-makhluk semacam ini biasanya membuat kita tercengang, seolah-olah teror yang kita rasakan melucuti lapisan kenyamanan yang melindungi kita dari kehidupan. Kemampuan mereka untuk menyakiti kita juga mengikat kita pada situasi mendesak tersebut. Dan setelah momen itu, ketika kita kembali ke tempat yang aman, kita menyadari bahwa kita merasa lebih hidup.

Ada potensi untuk kita berkembang, bahkan dalam gigitan atau sengatan salah satu dari jenis makhluk ini. Kemarahan atau kebingungan kita pada pertemuan yang tak terduga dan menyakitkan memungkinkan untuk berada di dalam situasi dimana kita tidak memegang kendali. Jika kita tidak menyerang, jika kita mengabaikan sikap heroik dan membiarkan diri kita direndahkan dan ditundukkan untuk sementara, segala macam wawasan dan keberuntungan bisa saja berpotensi menjadi pengetahuan bagi diri kita seniri. Menghadapi kekuatan nyata membebaskan kita dari ikatan keserakahan, keinginan, kehampaan, dan keinginan absurd kita untuk selalu merasa nyaman dan memegang kendali. Hal demikian juga membangkitkan kemampuan intuitif dan imajinatif kita dan memberi kita kendali untuk mendekati pertanyaan besar tentang siapa kita, dari mana kita berasal, serta ke mana kita akan pergi.

Ketika makhluk liar memasuki ruang hidup kita, kesempatan yang sama ada meskipun kita telah diajari untuk segera membunuh atau lari dari apa yang mungkin menyakiti kita. Seorang direktur layanan penyuluhan berkebun, misalnya, menulis sebuah artikel tentang cara membunuh kalajengking, Ia membagikan pengalamannya pada pembacanya perihal kenangan saat dia menginjak kalajengking di rumahnya dan tersengat. Marah oleh rasa sakit yang menusuk di lengkungan kakinya, dia mengambil sebuah buku dan mulai menghancurkan makhluk itu. Ketika sudah mati, dia menelepon

Petugas Pengendali Racun. Mereka mengatakan kepadanya bahwa kecuali dia memiliki reaksi alergi yang parah terhadap sengatan, itu hanya akan menyebabkan pembengkakan dan nyeri di daerah yang terkena. “Rendam dalam es,” saran mereka.

Kemudian, dia mempelajari dan mengetahui bahwa pembangunan rumah di sekitar situ adalah alasan beberapa kalajengking pindah ke rumahnya. Habitat mereka telah terganggu. Dia juga membaca bahwa mereka menyengat hanya ketika diprovokasi. Memahami alasan mereka, bagaimanapun, tidak cukup untuk memadamkan ketakutannya untuk berpikir bahwa mereka bisa saja berada di rumahnya kapan saja dan pada resiko bahwa kemungkinan ia dapat disengat lagi. Sisa artikelnya berfokus pada cara untuk menyingkirkan mereka. Dia merekomendasikan menginjak, menghancurkan, atau meremasnya dan menggunakan semprotan pestisida di dalam dan luar ruangan.

1Apa yang sering menjadi alasan memuakkan dari pertemuan yang menyakitkan dengan makhluk liar — terutama yang kecil seperti kalajengking — adalah bagian diri kita yang mementingkan diri sendiri. Hal yang dipaparkan di atas menjadi topeng bagi ketakutan kita akan hal yang tidak diketahui dan keyakinan arogan bahwa kita dapat menyembuhkan diri kita dengan teknologi obat-obatan manusia. Menurut hemat saya, tugas kita dan tugas yang monumental pada saat itu, bukanlah menahan diri atau membela diri dari apa yang akan membantu kita tumbuh kuat dan mendekatkan kita ke sifat sejati kita. “Apa yang kita pilih untuk bertarung sangatlah kecil, apa yang bertarung dengan kita begitu hebat,” Rilke mengingatkan kita dalam “The Man Watching.” [1] Ketika kita melepaskan perlawanan kita terhadap rasa sakit dan perubahan, ketika kita dapat percaya bahwa makhluk alam yang masuk ke dalam hidup kita yang didorong oleh kekuatan tak terlihat dapat membangkitkan kita dan membantu kita tumbuh, kita dapat belajar menerima apa yang terjadi dalam pertemuan dengan mereka — tanpa harus membalas dendam. Kita bahkan mungkin menemukan diri kita mencari tempat-tempat transisi ini, di mana dunia subjektif dan objektif saling beririsan - dalam ketakutan dan harapan - yang berarti kita akan mengubah cara kita berada di dunia sehingga cukup untuk membuka jalan pemikiran dan Tindakan kita yang sebelumnya belum tersingkap.

2Ketika kita dapat melepaskan dan menahan diri dari membangun pertahanan yang rumit atau membalas dendam, kita menjadi peserta dalam inisiasi kecil dan besar dari kehidupan. Kita menjadi aktif dalam menerima peluang ini untuk tumbuh tanpa melakukan pertempuran dengan kekuatan dan makhluk yang pada akhirnya adalah sekutu alami kita yang paling mendasar di rumah kita di dunia ini. Ada kekuatan dalam kekalahan kita dan dalam penyerahan kita dan ada berkat dari para peneliti dan pengembara yang membawa pesan yang menjungkir-balikan dunia yang kita pahami sebelumnya. Seperti yang dijelaskan dengan fasih oleh Rilke di bagian terakhir dari puisi yang sama.

“Siapa pun yang dipukul oleh Malaikat ini ... pergi dengan bangga dan kuat serta hebat dari pukulan tangan kasar itu, yang meremasnya seolah-olah ingin merubah bentuknya. Kemenangan tidak menggoda pria itu. Beginilah cara dia tumbuh: dengan dikalahkan, dengan pasti, oleh makhluk yang terus-menerus lebih besar.” [2]

Dalam semua tradisi spiritual yang agung, di padang belantara iman dan ketekunan sang murid diuji. Hutan belantara dan orangorang liar yang bergerak di luar agenda manusiawi kita adalah guru galak yang terkadang mengajari kita dengan mengalahkan kita. Ini adalah cinta yang mendesak yang memanggil kita pulang ke sifat sejati kita. Dengan membungkam diri kecil kita guna menemukan bahwa keutuhan baru yang agung datang untuk menggantikan semua yang telah hilang.

■ liar

1 Rilke, Maria. “A Man Watching,” in News of the Universe: Poems of Twofold Consciousness. Robert Bly, ed. San Francisco: Sierra Club Books, 1980, pp. 121–122.

2 Ibid

POLITIK KEHIDUPAN SEHARI-HARI

Renungkan apa yang dirasakan tubuhmu secara langsung. Tidak ada yang bisa berbohong kepadamu tentang itu.

Dalam sehari berapa jam kamu menghabiskan waktu di depan layar TV? layar komputer? Layar mobil? Layer smarthphone? Keempat layar digabungkan?

Apakah perangkat lunakmu berperan sebagai supervisormu?

Dan dalam sehari berapa jam kamu tidur?

Bagaimana kamu terpengaruh oleh suara?

■ liar

Bagaimana kamu terpengaruh oleh cahaya?

Bagaimana kamu terpengaruh oleh kehangatan dan sentuhan?

Bagaimana kamu terpengaruh oleh musik?

Apakah rekaman yang bagus lebih baik daripada konser musik?

Apakah itu hanya suara yang kamu inginkan? Atau saling berbagi ritual musik?

Berapa banyak ritual yang datang kepadamu melalui gelas?

Dengan apa kamu diseleksi?

■ liar Apakah kamu terganggu jika jendela tidak terbuka, di saat kamu sedang menyalakan AC?

Bagaimana dengan tingkatan dan variasi gerakan tubuhmu?

Bagaimana perasaanmu dalam situasi kepasifan yang dipaksakan?

Bagaimana kamu terpengaruh oleh serangan tanpa henti dari komunikasi simbolik, audio, suara robot, video, cetak, papan reklame, saat kamu terjerembab di dalam belantara hutan tanda?

Apa yang mereka paksakan kepadamu?

Apakah amu membutuhkan kontemplasi? Ingatkah kamu?

■ liar Berpikir atas diri sendiri, ketimbang hanya bereaksi terhadap rangsangan?

Apakah sulit untuk bersikap acuh?

Apakah kamu diperbolehkan melihat ke dalam dirimu yang paling dalam?

Bagaimana keramaian memengaruhimu? Berapa banyak ruang yang kamu butuhkan bagi tubuhmu?

Apakah kamu merasa empatimu terbatas terhadap manusia lain?

Apakah kamu menemukan dirimu melakukan tindakan kekerasan simbolik?

■ liar Bagaimana kamu terpengaruh oleh ukuran ruangan tempatmu berada?

Ketika, misalnya, kamu tinggal di dalam ruangan yang terdiri dari susunan dua dan tiga dimensi?

Atau bagaimana dengan ruang visual?

Apakah kamu merasa perlu melihat langit? air?

Dedaunan? hewan? serta kilauan yang bergerak?

(Apakah itu sebabnya kamu memiliki hewan peliharaan, akuarium, dan tanaman liar?)

Atau apakah video kamu berkilauan, menyala, dan bergerak?

■ liar Siapa yang menyiapkan makananmu? apakah kamu makan sambil berdiri?

Apakah kamu percaya pada apa yang kamu makan?

Bagaimana kamu terpengaruh oleh standar waktu, yang dirancang semata-mata untuk menyinkronkan gerakanmu dengan jutaan gerakan lainnya?

Seberapa sering kamu beraktivitas sampai lupa waktu?

Siapa atau apa yang mengontrol menit dan jammu?

Menit-menit dan jam yang sesungguhnya adalah hidupmu?

Apa yang kamu rasakan ketika kamu tidak sedang memegang kendali, seperti berada di lift, kereta bawah

■ liar

tanah, eskalator, dan teknologi yang tak perlu dioperasikan manusia untuk berfungsi dan berada dikendalinya?

Bagaimana menunggu mempengaruhimu?

Menunggu dalam antrean, menunggu di lalu lintas, menunggu untuk buang air kecil, menunggu...belajar mendisiplinkan diri sendiri dan menormalisasi untuk mencegah dorongan spontanmu?

Apa yang kamu rasakan ketika kamu harus diam dan gerakmu senantiasa dijadwalkan ketimbang berkeliaran dengan bebas dan spontan?

Bagaimana bila kamu memulung? (Mengutil?)

Bisakah kamu menggunakan tanganmu secara kreatif, membangun, membuat, menyentuh berbagai bahan?

■ liar Apa yang kamu rasakan ketika menahan keinginanmu?

Ketika kamu merepresi keinginan seksual, dengan cara menunda atau mencegah rasa nikmat dan perasaan senang, sesuatu yang kamu mulai sejak masa kanak-kanak, sepanjang segala represi atas berbagai naluri dalam dirimu yang membuktikan sifat liarmu, naluri kebinatanganmu?

Apakah kesenangan itu berbahaya? Apakah bahaya itu menyenangkan?

Apa yang hilang dari diri kita ketika kita menggunakan teknologi yang membantu kerja-kerja yang dioperasikan tangan manusia?

Dan juga perangkat teknologi yang tak perlu membuat kita berpikir ataupun merenungkan sesuatu terlalu berat? Apa yang hilang dari kita ketika kita mengggunakan teknologi demikian?

BIOSENTRISME SEBAGAI PANDUAN MORAL

OLEH JAMES A. BARNES

Biosentrisme: istilah ini sesungguhnya agak kurang memadai. Jika Tuhan Kristen Abad Pertengahan sudah mati, dan kita kaum postmodern menganggap ajarannya sebagai pandangan tidak pantas dan egomaniak Ketika berkaitan dengan pandangan antroposentriknya: menempatkan manusia di pusat alam semesta sebagai puncak evolusi, maka mungkin sudah sepatutnya kita menghindari ideologi yang harus menempatkan apa pun di pusat. Dan ini bersifat absolut. Namun demikian, biosentrisme tetap menjadi filosofi yang lebih halus yang memberikan semua spesies hidup dan (mengapa tidak?) penciptaan kesetaraan dalam posisi bahwa kita sebagai manusia tidak memiliki hak moral untuk merusak ataupun menaklukannya.

Apapun keyakinanmu tentang asal usul kehidupan dan dunia, cukup jelas bahwa kita sama sekali tidak turut serta dalam menciptakannya; oleh karena itu, untuk alasan yang cukup sederhana, kami hanya menuntut bahwa alam bukan milik kita untuk dihancurkan. Namun, para pembela perusak biosfer telah lama meminta kesadaran manusia dan kesadaran akan diri sebagai alasan untuk penyalahgunaan tanpa berpikir atas apa yang bukan-diri dan/atau (diasumsikan) tidak hidup. Sekali lagi, karena resep alkitabiah tentang kekuasaan atas bumi telah berkurang kegunaannya bersama dengan Gereja, pengrusakan dan pembantaian atas alam sekarang memakai selebung yang modern dan humanis ini. Cukup jelas bahwa, di sini kita memiliki keinginan untuk melakukan perbuatan kotor dan mencari alasan untuk menormalisasinya.

Namun, kesadaran diri harus mengarah pada refleksi dan perhatian, Ia tidak hanya berfungsi sebagai alat untuk kepuasan akan keserakahan dan nafsu lainnya. Menurut pikiranmu, keserakahan itu baik — tidak dalam pengertian Randian, tetapi sebagai salah satu dari sejumlah keinginan dasar yang berfungsi sebagai rangsangan untuk aktivitas organisme yang mandiri, untuk mendapatkan makanan, tempat tinggal, pasangan, dll. Dengan demikian, kesadaran diri manusia , komunikasi dan budaya telah menjadi alat yang digunakan dengan sangat baik. Tetapi seperti yang diketahui siapa pun yang mendapati diri mereka berjuang melawan masalah berat badan, kecanduan, atau mungkin bahkan efek sosiopat dari ambisi yang berlebihan, kemampuan untuk memuaskan keinginan tanpa henti seringkali menciptakan masalah yang lebih sulit ketimbang ketika kita hanya fokus pada kebutuhan-kebutuhan esensial dalam hidup (seperti pangan dan air, misalnya).

Ketika kontrol dan batasan-batasan atas hasrat kita telah dihancurkan, sebagaimana yang terjadi pada kita yang berada di salah satu bagian dunia yang terkaya, pengendalian diri internal menjadi perlu. Kita dalam banyak hal berada dalam situasi yang sebanding dengan seorang raja dengan kekuasaan absolut. Dan sebagai raja, tidak ada orang yang berani menentang keinginan kita atau menolak perintah kita seringkali tak masuk akal bahkan represif. Barisan para pedagang dan pelayan siap untuk memberi kami suguhan daging dan makanan ringan yang lezat; industri garmen, yang budak-budaknya bekerja keras di tempat-tempat paling sengsara di dunia, memberi kita corak yang penuh warna dan selalu berubah. Pemandangan paling indah dan tanah langka yang belum terjamah/tersedia bagi kita untuk membangun rumah besar kita yang bersih, hangat, dan tertata apik; serta peralatan ajaib yang berkilauan serta peralatan otomatis memperkaya hidup kita dengan hiburan yang dihasilkan oleh para pekerja keras yang tak (boleh) mengeluh. Tentu saja, untuk mencapai kenyamanan ini, sebagian besar bangsa-bangsa/suku harus dibunuh dengan pedang dan seluruh ekosistem mesti dibabat, dibajak, diaspal, diratakan, ditambang, dibakar. Sumber daya dan fungsinya harus

■ liar

Apa yang kamu rasakan ketika teknik efisiensi mutakhir dapat menghasilkan produk akhir melampaui proses produksi seperti biasanya, teknik efisien yang hanya mengutamakan hasil akhir dan meniadakan proses, proses yang saat ini semakin menjadi singkat, konsekuensi yang

harus kita jalankan demi mencapai masa depan?

Apakah kamu menghemat waktu?

Apakah kesepian yang kamu rasakan sulit untuk dinyatakan atau diekspresikan ke dalam Bahasa?

Apakah kamu terkadang merasa dirimu siap untuk kehilangan kendali?

Ini semua adalah sinyal bagimu.

digunakan untuk melayani kita. Namun kita sama sekali tak dapat melihat, seperti halnya seorang tiran gila atau para cowok macho penggila makanan cepat saji, hari ketika konsekuensi apokaliptik dari gaya hidup kita yang kelewat berlebihan hadir di depan pintu rumah kita masing-masing.

Strategi manusia untuk mengembangkan fleksibilitas potensi yang maksimal dan dikalibrasi dengan kemampuan pemecahan masalah yang maksimal telah membawa kita—sejauh ini—pada kesuksesan yang tak tertandingi. Tetapi, fleksibilitas ini menuntut tanggung jawab, sesuatu yang bukan menjadi masalah bagi makhluk-makhluk yang secara alami dibatasi oleh batas persaingan, perilaku atau kemampuan adaptasi lainnya. Memiliki kesadaran diri atas tindakan kita sendiri mesti mencakup kemampuan untuk mencegah keinginan yang berlebihan (atau tak diperlukan secara mendasar), keinginan untuk mempunyai keberlimpahan yang serakah, pengerukkan dan penggunaan sumber daya alam yang berlebihan sampai pada tingkatan bahwa kelangsungan hidup spesies lain dan ekosistemnya agar tidak hancur dan punah, sepenuhnya sangat bergantung pada kebijaksanaan dan niat baik kita. Oleh karena kondisi material yang ada, yang mana aktivitas manusia hanya dibatasi secara cukup relatif, sudah sepatutnya kita menggunakan pikiran bebas kita guna mengembangkan apa yang benar-benar menjadi kepentingan terbaik jangka panjang kita: kelangsungan hidup kita. Gen dan naluri dasar kita tidak dapat melakukan ini. Karena kita mampu meramalkan konsekuensi dari tindakan kita (bahkan jika kita sering menyangkalnya), kita harus melatih diri kita untuk menjadikan perbuatan kita bermanfaat bagi semua eksistensi yang ada di muka Bumi ini. Dan mengapa kita harus melakukan ini? Untuk memuaskan hati nurani kita sendiri, rasa etis kita, perasaan harga diri kita, kelayakan hidup kita, dan pandangan kita tentang apa yang benar dan salah. Sebuah kompas moral, yang ditentukan dan ditanamkan ke dalam budaya kita sedini mungkin, mungkin saja merupakan satu-satunya jalan menuju kepekaan manusia untuk mengendalikan diri dan menahan diri. Alam mungkin membunuh kita karena tindakan kita, alam tidak peduli dengan apa yang kita lakukan, ia hanya menurut pada hukum-hukumnya sendiri yang tak bisa dibantah. Setiap spesies yang kita musnahkan atau sungai yang kita hancurkan, sehingga menyebabkan kepunahan dan konsekuensi mematikan pada populasi manusia lainnya yang hidup dengan tentram dan acuh—secara sengaja atau tidak—bukanlah sesuatu yang dipertimbangkan oleh alam.

Kita bebas menjadi seburuk yang kita suka terhadap biosfer, bahkan sampai tahap merusak diri sendiri, sama seperti seseorang bebas minum dan mabuk sampai mati bila mereka mengkehendakinya. Namun seorang pemabuk tidaklah bebas dalam masyarakat ini, apalagi ketika ia mengemudi di bawah pengaruh alkohol, sesuatu yang dapat membuat ia melukai orang lain. Begitu pula juga kita seharusnya tidak memberikan hak kepada manusia untuk menghancurkan spesies lain karena ajaran serta pengetahuan bodoh kita selama ini. Apa yang membedakan dari apa yang dipaparkan barusan adalah bahwa korban non-manusia kita tidak dapat mengeluh—sebagaimana seorang pemabuk seolah-olah memiliki izin untuk menabrak pejalan kaki dan merugikan pengemudi lain. Kita sendirilah yang harus mengawasi sekeliling kita.

Evolusi masih terus berlangsung sebagai reaksi terhadap rangsangan lingkungan sampai pada bencana yang telah kita ciptakan. Sebagai bagian dari restorasi atas seleksi alam, ciptaan yang lebih aneh akan datang pada waktunya (dan alam masih punya waktu yang panjang) untuk menggantikan spesies yang garis kehidupannya telah menemui akhir. Tapi apa yang mungkin akan tercipta bisa saja takkan pernah ada, suatu kemungkinan kehancuran yang dipersingkat bahkan sebelum kehadirannya. Dengan demikian, hanya kita manusia yang memiliki pengetahuan tentang masa lalu dan dapat memprediksi kepunahan di masa depan dengan penuh rasa bersalah—bertanggung jawab atas gaya hidup dan pandangan dunia kita—untuk semua spesies yang punah dan ekosistem yang hilang.

Sebagai hewan dengan otak yang luwes dan tangan yang gesit, kita senantiasa membuat dampak—entah buruk atau baik—pada ekosistem dunia selama kita hidup sebagai spesies. Jika kita ingin hidup sebagai manusia saja (dalam artian manusia yang mengetahui bahwa ia bukanlah di atas alam, melainkan bagian dari alam) di dunia ketimbang menjadi penguasa sakit jiwa yang mana warganya (nonmanusia dan orang yang tertindas) hidup dalam ketakutan akan keinginan kita, maka kita harus memilih disiplin diri bila berurusan dengan kelangsungan alam. Kita sebagai manusia juga juga harus berhati-hati untuk tidak menyalahgunakan posisi kekuasaan kita atas biosfer. Dengan demikian, sudah menjadi bagian dari tugas kita sebagai manusia untuk tidak hanya memandang alam sebagai bagian dari diri kita, tapi juga habitat kita yang patut kita jaga.

Jadi, biosentrisme, yang menempatkan kebutuhan semua makhluk di dunia setara dengan kebutuhan kita; yang mengajari kita untuk bertanya pada diri sendiri; tindakan semacam apa yang harus kita lakukan untuk itu, yang mana klaimnya atas kehidupan dan penghidupan sama besarnya dengan manusia mana pun; yang mengharuskan kita untuk selalu berbagi dan menyisakan, meskipun hal itu sangatlah kita inginkan, agar mahkluk hidup lainnya juga dapat merasakan manfaatnya; yang mana kita juga harus menganggap spesies lainnya sebagai mahkluk yang setara; yang melarang kita melakukan kejahatan terhadap orang-orang dari spesies yang berbeda dari diri kita sendiri; yang memungkinkan kita untuk mencintai tetangga dan sesama manusia ketimbang saling menghancurkan melalui kebencian, atau lebih buruk lagi, melalui ketidakpedulian yang bodoh.

PERJALANANKU MENUJU BIOSENTRISME OLEH DAVID ORTON

Introduksi

Memperoleh lebih banyak pemahaman tentang keajaiban alam dan keterlibatan praktis dalam mempertahankan bumi, dapat membuka mata seseorang pada pandangan dunia yang lebih biosentris. Pergeseran kesadaran individu dari pandangan antroposentrik ke filosofi ekologi dalam yang menolak sama sekali pandangan dunia yang antroposentrik, merupakan suatu dinamika proses yang sifatnya sangat personal. Semakin kita mengidentifikasikan diri dengan alam, semakin kita peduli dengan apa yang terjadi padanya. Kontribusi historis ekologi dalam adalah bagaimana membuat pandangan dunia yang sifatnya biosentrik bisa diterima dan diterapkan dalam relasi manusia dengan bumi.

“Jalan saya menuju biosentrisme kiri” telah ditulis sebagai pengantar teoretis yang berkembang dalam gerakan ekologi dalam. Ini mencerminkan pengalaman jaringan kolektif, kerja praktis dan perspektif Green Web*, dan juga pandangan saya sendiri. Saya juga berhutang budi pada pemikiran dan temuan orang lain yang telah mengeksplorasi apa arti dari fokus kiri dalam ekologi dalam. Ada sejumlah buletin Green Web, ulasan buku, dan artikel yang membahas berbagai pertanyaan teoretis terkait biosentris kiri — fokusnya adalah hubungannya dengan ekologi dalam; dan ada juga buletin yang membahas aplikasi praktis ekologi dalam untuk isu-isu tertentu, beberapa di antaranya cukup sensitif, misalnya, evaluasi ekologi kaum kiri, dan menilai kontradiksi lingkungan/adat. [3] Biosentrisme kiri merujuk pada perpaduan teoretis dan praktis ini.

“Kiri,” dalam pemahaman biosentrisme kiri, meski terang-terangan mempunyai posisi anti-industri dan anti-kapitalis, tidak mengklaim diri sebagai sosialis. Sejumlah biosentris kiri menganggap diri mereka sosialis, seperti saya sendiri, sementara sebagian yang lainnya tidak. Semua biosentris kiri menangani dan peduli dengan masalah keadilan sosial di masyarakat. Namun, mereka menempatkan isu-isu tersebut dalam konteks nilai-nilai ekologis.

1Green Web menggunakan ungkapan “biosentrisme kiri” atau “ekosentrisme kiri” secara bergantian. Biosentrisme (“berpusat pada kehidupan”) adalah istilah gerakan yang lebih populer, meskipun ekosentrisme lebih komprehensif dan “ilmiah”, karena mencakup struktur fisik bumi serta bentuk kehidupan seperti tumbuhan dan hewan. Namun, kami lebih suka menggunakan biosentrisme kiri. Namun kami melakukannya dalam artian yang lebih inklusif agar terkait erat dengan bumi dalam sifat fisiknya.

Para Pemikir Penting

Pemikir berikut sangat penting untuk sintesis ide biosentris kiri yang baru: tulisan-tulisan pendiri ekologi dalam Norwegia, Arne Naess; aktivis kehutanan Australia, ahli ekologi dalam, dan kritikus filosofis ekologi dalam yang masih buram, Richard Sylvan (1935–1996); eko-filsuf kiri Jerman dan aktivis gerakan hijau Rudolf Bahro (1935–1997), yang kehidupan dan tulisannya mencatat dengan jelas perihal penderitaan dan transisi yang Ia alami dalam evolusinya dari merah ke hijau; ekosentrisme radikal dari filsuf ekologi dalam Amerika, sosialis dan bioregionalis Andrew McLaughlin; dan aktivis dan pemikir muda Kanada Ken Wu. [4]

2Penulis kunci lainnya untuk sintesis biosentris kiri adalah: Aldo Leopold (A Sand County Almanac); John Livingston (Kekeliruan Konservasi Satwa Liar dan Primata Bandel); Andrew Dobson, (Pemikiran Politik Hijau); Saral Sarkar (Politik Alternatif Hijau di Jerman Barat, dua jilid); David Johns (“The Practical Relevance of Deep Ecology,” Wild Earth, Summer 1992) [5]; dan George Sessions (Ekologi Dalam Untuk Abad 21).

3. Lihat “Green Web Literature” (1998), sebuah catatan daftar publikasi.

Visi

Melihat kembali ke dua puluh tahun keterlibatan saya dalam gerakan lingkungan [6], tampaknya perhatian utama adalah untuk mengangkat “visi alternatif” sebagai kontribusi untuk debat publik yang terjadi di sekitar isu-isu lingkungan tertentu, seperti biosida, kehutanan, ‘pembangunan berkelanjutan,’ kawasan lindung, masalah adat, atau gas alam. Sementara mengangkat visi seperti itu membutuhkan pengetahuan rinci tentang suatu masalah, untuk mengembangkan visi alternatif berarti melampaui pengetahuan praktis, yang sering dimonopoli oleh perusak bumi. Visi alternatif inilah, yang menolak tatanan industri yang ada, yang begitu mengancam korporasi, pemerintah, dan para LSM lingkungan. Kami telah melihat ini secara langsung dari serangan korporat dan LSM lingkungan terhadap karya Green Web. Begitu saya menyadari filosofi ekologi dalam pada pertengahan 1980-an, saya melihat bahwa ada alternatif yang nyata, penuh harapan, dan tidak berpusat pada manusia dari sifat merusak masyarakat kapitalis industrial. Tentu saja saya masih membutuhkan pengetahuan

3 rinci tentang masalah-masalah yang ada, tetapi ekologi dalam membantu untuk fokus dan mengangkat pertanyaan-pertanyaan yang sesungguhnya haru diajukan. Sering kali saya menghadiri pertemuan yang dirancang hanya untuk mendapatkan kesepakatan publik untuk proyek yang merusak lingkungan. Biasanya ada “konsensus” di mana kontroversi terjadi. Sementara mereka yang memahami ekologi dalam, dan dengan pengetahuan terperinci tentang masalah sedang dibahas, dapat dengan mudah menunda konsensus dan mengangkat isu yang sepatutnya dibahas. Orangorang lain yang hadir kemudian dapat berpartisipasi dalam diskusi ini, suatu tindakan yang sebenarnya dianggap subversif terhadap tatanan industrial dan aparatusnya yang selama ini biasanya tidak berhadapan dengan tantangan dan biasanya dengan mudah menormalisasi segala sesuatunya.

■ liar

4Mengangkat alternatif visi ekologi dan sosial bagi sebagian besar masyarakat yang sangat tergantung oleh industri adalah hal yang sangat penting. Meski menyebarkan visi semacam ini dalam masyarakat, secara publik atau dengan cara apa saja, bukanlah sesuatu yang mudah.

4. Ken Wu meyakini bahwa Robyn Eckersley, Warwick Fox dan Judi Bari telah memberi kontribusi bagi ecosentrisme kiri.

5. Lihat juga Green Web Bulletin #34 (1992).

6. Saya berangkat ke Canada dari Inggris pada tahun 1957. Keterlibatan saya di dalam aktivitas lingkungan dimulai sejak tahun 1977 saat masih di British Columbia. Saya adalah anggota dari sebuah organisasi naturalis, dan aktif di dalam gerakan lingkungan sebagai representatif bagi BC Federation of Naturalist. Berbagai pengalaman tersebut telah mengajarkan saya bahwa Naturalisasi tidak selalu membawa dirimu pada aktivisme lingkungan. Berbagai organisasi Naturalis tidak memandang secara normal segala bentuk pembelaan aktif terhadap alam sebagai bagian dari mandat mereka. Sebelum terlibat dalam aktivitas lingkungan ini, saya pernah aktif di dalam berbagai gerakan anti-perang dan keadilan sosial. (Latar belakang saya di Inggris adalah bagian dari kelas pekerja, dan pernah bekerja selama 5 tahun di bidang industrial sebagai seorang pekerja magang di bagian tukang-kayu perkapalan di wilayah Portsmouth Dockyard). Salah satu yang tak kalah pentingnya dalam perkembangan kesadaranku terhadap lingkungan ialah saat terlibat beberapa tahun di gerakan pelajar dan universitas, ketika masih di Canada dan di Amerika Serikat, pada tahun 1969. Saat masih mengorganisir di dalam partai Marxist-Leninist mulai tahun 1968-1975. Pada tahun 1979 saya bersama dengan keluargaku pindah ke Nova Scotia. Saya bekerja di beberapa kelompok lingkungan: Uranium Committee of the Ecology Action Center (EAC), Socialist Environmental Protection and Occupational Health Group (SEPOHG, didirikan pada tahun 1981), North Shore Environmental Web (NSEW, didirikan pada tahun 1986) dan Green Web (GW, didirikan pada tahun 1988). kami pindah ke pedalaman hutan pada tahun 1984, dan hingga kini masih menetap di sana. Wilayah kami kini banyak dibanjiri oleh berbagai aktivitas penebangan hutan yang dilakukan oleh industri-industri kayu. Saya menganggap diriku sebagai bagian dari gerakan hijau sejak tahun 1983, dan telah mempromosikan ekologi mendalam sejak tahun 1985.

Berurusan dengan Para Aktivis Lingkungan Arus Utama

Pemerintah federal Kanada menyediakan dana pemerintah untuk Jaringan Lingkungan Kanada (CEN). Setiap provinsi dan wilayah memiliki cabang provinsi CEN. Di provinsi kami ini disebut Jaringan Lingkungan Nova Scotia. CEN adalah jaringan “non-advokasi” karena ini adalah persyaratan pendanaan yang diterimanya dari pemerintah federal. CEN tidak dapat mengambil sikap terhadap masalah lingkungan, tetapi kelompok anggota jaringan ini dapat melakukannya. Mereka yang bekerja dalam jaringan ini, adalah mereka yang menerima keberadaan masyarakat industrial, dan bekerja dengan pemerintah dan industri kapitalis. Partisipasi pemerhati lingkungan melalui CEN memberikan legitimasi lingkungan terhadap situasi industri yang ada. Visi alternatif biasanya tidak datang dari jajaran CEN, yang dalam istilah Naess, mempromosikan ekologi dangkal. [7] Mencoba mengambil sikap yang keras terhadap CEN adalah suatu masalah. Saya bekerja dengan individu anggota CEN pada isu-isu lingkungan yang menjadi kepentingan bersama, tetapi tanpa bergabung dengan jaringan ini. Saat melakukan ini, saya terus memperdebatkan perlunya gerakan lingkungan yang tidak didanai oleh pemerintah maupun perusahaan. Di Nova Scotia, sebagian besar orang yang terlibat dalam pertempuran isu lingkungan yang berada di luar CEN dan berbasis pedesaan. Mereka menanggapi situasi ini dengan menyuarakan dengan lantang “tidak di halaman belakang saya”. Kelompok oposisi ini merupakan salah satu yang terkuat, hanya saja mereka tidak memiliki daya tahan yang berkelanjutan. CEN menanggapi ini dengan berusaha mencegah terciptanya kelompok oposisi berbasis akar-rumput baru di Kanada.

7, D. Orton, “Two environmental tendencies,” Canadian Dimension, 24:5 (1990), p. 41.

Kontinuitas Biosentrisme Kiri dan Ekologi Dalam

5Kekuatan pendorong utama gerakan ekologi dalam, dibandingkan dengan gerakan ekologi lainnya, adalah identifikasi dan solidaritas dengan semua kehidupan. [8] Pada awal 70-an Arne Naess membuat perbedaan antara ekologi “dalam” dan “dangkal”, dalam artikel yang sekarang terkenal “Gerakan Ekologi Jangka Panjang dan Dangkal”. Sebuah Ringkasan.” [9] Naess mengatakan bahwa penerbitan buku Rachel Carson Silent Spring pada tahun 1962, menandai awal dari gerakan ekologi jangka Panjang yang bersifat internasional.

Ekologi dalam (ED) mengatakan bahwa masalah ekologi utama tidak dapat diselesaikan dalam sistem ekonomi industri kapitalis atau sosialis yang ada. Ekologi dangkal mengatakan bahwa masalah ini dapat diselesaikan dari dalam sistem bersamaan dengan kelanjutan masyarakat industri. Namun masyarakat industri inilah yang telah menyebabkan krisis ekologi yang mengancam bumi.

Platform ekologi dalam delapan poin yang dirancang oleh Arne Naess dan George Sessions diterima oleh biosentris kiri sebagai dasar kesatuan dalam gerakan ekologi dalam. Andrew McLaughlin menyebut Platform sebagai “jantung ekologi dalam”. ED mempromosikan keanekaragaman hayati, budaya, dan sosial. Menghormati keragaman berarti menghindari dogmatisme gagasan dan bentuk organisasi dan serta menolak bahwa ide berada di atas kehidupan itu sendiri. Naess berbicara tentang ED secara personal sebagai “ sebuah intuisi.” Apa yang Ia maksud adalah ED hadir bukan hanya karena pemikiran logis. Jiwa ekologi dalam adalah keyakinan bahwa harus ada perubahan mendasar dalam kesadaran manusia, dalam cara mereka berhubungan dengan alam. Hal ini membutuhkan perubahan dari perspektif antroposentrik menjadi ekosentrik, artinya manusia sebagai spesies tidak memiliki status superior di alam. Semua spesies lain memiliki hak untuk hidup, terlepas dari kegunaannya bagi spesies manusia atau masyarakat manusia. Manusia tidak dapat menganggap dominasi atas semua spesies non-manusia, dan melihat alam sebagai “sumber daya” semata hanya untuk pemanfaatan manusia dan perusahaan.

8. Arne Naess, “Politics And The Ecological Crisis,” (1991) dalam George Session’s anthology, Deep Ecology For The 21st Century (Boston: Shambhala Publications, 1995), pp. 445–53.

9, Inquiry 16 (1973), pp. 95–100.

Diskontinuitas Biosentrisme Kiri dan Ekologi Dalam

6Gerakan ekologi dalam juga membawa sampah dalam jumlah yang berlebihan. Hal demikian bukan berarti bahwa tidak ada kejernihan kontribusi untuk dilihat ketika sampah yang seringkali tidak penting telah dibuang...[10] Diskontinuitas menggambarkan perbedaan teoretis dan kritik, yang membedakan biosentrisme kiri dari beberapa pandangan dalam ekologi dalam arus utama. Richard Sylvan, dalam artikelnya yang berani pada tahun 1985 “A Critique Of Deep Ecology”, berbicara tentang ED sebagai “rawa konseptual” yang “sedang dalam perjalanan untuk menjadi segalanya bagi semua pihak yang berkepentingan.” Syukurlah sekarang ada Platform ED dengan delapan poin sebagai dasar persatuan yang relatif tidak rumit. Namun, kehidupan nyata sesungguhnya agak lebih rumit. Ide-ide lain dari Naess, seperti realisasi diri dan pendekatan nonkekerasan/Ghandi dalam pengorganisasian, menjadi komponen penting yang ditekankan oleh beberapa orang yang telah menunjuk diri mereka sendiri sebagai penafsir ekologi dalam atau penjaga gerbang.

Bagaimana filosofi atau pandangan teoretis tetap menjadi kekuatan hidup yang berkembang dan tidak direduksi menjadi ideologi baku? Apa ruang bagi variasi? Bagaimana ide-ide ekologi dalam berkembang? Siapa yang “memiliki” Platform delapan poin, yang awalnya dirancang oleh Naess dan ahli ekologi dalam AS George Sessions, setelah ia menjadi bagian dari gerakan lingkungan radikal? Bagaimana perubahan platform di masa mendatang dapat terjadi? Apa yang dapat ditolak atau diterima seseorang dalam ED dan masih dianggap sebagai pengikut posisi filosofis ini? Apakah penerimaan, katakanlah non-kekerasan Gandhi, yang merupakan bagian dari pemikiran Naess (tetapi tidak dalam platform), perlu dianggap sebagai pendukung ekologi dalam? Bagaimana kita menghindari kontribusi pada ‘kekudusan’ dan ‘perbudakan’ di dalam ekologi dalam?

Semua pertanyaan di atas merupakan pertanyaan penting bagi pendukung ED. Saya menemukan Naess canggih dan mencerahkan dalam pemikirannya. Tapi dia juga sering ambigu, sulit dimengerti dan terkadang mempunyai pandangan keliru perihal keberlanjutan gerakan. Naess, yang kini berusia 80-an, kerap menjadi pengurai posisi ED, setiap kali konflik di dunia nyata muncul.

Filosofi ED terbuka untuk interpretasi yang berbeda, bahkan 7 ambiguitas merupakan sesuatu yang sudah tertanam di dalam ED. Ada keengganan, atau keengganan ekstrim oleh banyak pemikir/ penulis ED, untuk secara terbuka mendiskusikan pandangan yang bertentangan atau membingungkan yang telah dikemukakan dalam ED. Juga ada keengganan untuk menerapkan filosofi ED pada isuisu kontroversial untuk memberikan beberapa pedoman bagi para aktivis dalam menangani isu-isu tersebut. Contoh ambiguitas pada masalah mendasar adalah bahwa Naess telah mempromosikan pembangunan berkelanjutan di beberapa artikel [11], namun dalam korespondensi dengan saya [12], dia membantah mendukungnya. Dia juga dengan tegas menentang filosofi ekonomi pertumbuhan nol: “Tidak ada filosofi ekonomi pertumbuhan nol.” [13] Ada penulis ekologi dalam lainnya yang telah menulis untuk menentang pembangunan berkelanjutan. Namun karena tulisan Naess tentang pembangunan berkelanjutan, cukup banyak ambiguitas terdapat di tulisan tersebut.

10. A Critique of Deep Ecology, (Canberra: Australian National University, 1985), p.47.

Realisasi Diri

Contoh bagus dari ambiguitas dan kebingungan di dalam ED, adalah karya Warwick Fox dari Australia, dengan bukunya tahun 1990 “Toward A Transpersonal Ecology: Developing New Foundations For Environmentalism.” [14] Fox berpendapat dalam pencariannya untuk “Fondasi Baru,” bahwa ekologi dalam sekarang harus diganti namanya dan difokuskan kembali sebagai “ekologi transpersonal”. Baginya realisasi diri, perluasan kesadaran pribadi dalam hal menginternalisasi kesehatan bumi, adalah inti dari ekologi dalam.

Tetapi sulit untuk melihat tempat bagi aktivisme kolektif dengan “Yayasan Baru” Fox. Dan juga, realisasi diri bukanlah bagian dari Landasan delapan poin, meskipun hal itu menonjol dalam tulisantulisan Naess sendiri.

Biosentrisme kiri menganggap realisasi diri sebagai konsep penting dalam ekologi dalam. Memperluas rasa diri seseorang sehingga mencakup dunia alami juga menyediakan akar spiritual yang dibutuhkan untuk aktivisme radikal. Identifikasi dengan dunia alami adalah sangat penting dan realisasi diri membahas hal ini. Namun, Fox mengedepankan realisasi diri sebagai semacam tes litmus, tentang siapa dan siapa yang bukan ahli ekologi dalam. Ini merusak sifat pemersatu Platform ekologi delapan poin, sebagai referensi umum bagi para aktivis gerakan.

11. ] Sebagai contohnya, “Sustainable Development and the Deep Long-Range Ecology Movement”, The Trumpeter, 5:4, (1988).

12. Letters of December 2, 1996 and January 10, 1997.

13. Ecology, Community and Lifestyle, (New York: Cambridge University Press, 1989) p.114.

14. Lihat juga ulasan saya tentang buku karya Fox berjudul, “New Age Deep Ecology” in Canadian Dimension, 25:6 (1991), p. 35.

Akuntabilitas

Para aktivis yang organisasinya memakai pandangan ekologi dalam yang harus membela berbagai teks tersebut. Buku lain yang dipaksa untuk dipertahankan oleh para aktivis adalah Deep Ecology oleh Devall and Sessions, yang terbit pada tahun 1985. Selama beberapa tahun ini menjadi antologi dasar tulisantulisan ED. Pengakuan terlambat oleh salah satu penulis, George Sessions dalam antologi 1995-nya, Deep Ecology For The 21st Century, mengatakan buku sebelumnya “memiliki kekurangan serius, baik substantif dan gaya, dari awal dan sekarang secara teoritis ketinggalan zaman dalam banyak hal.” Catatan kaki untuk pernyataan ini, menunjukkan bahwa buku ini diproduksi dengan terburu-buru selama periode dua minggu karena tuntutan penerbit untuk mengalahkan buku lain dengan judul yang sama. Hal ini merupakan pengkhianatan serius pada apa yang sesungguhnya menjadi prinsip-prinsip ekologi dalam![15]

8Tidak ada akuntabilitas bagi para akademisi ED atas apa yang mereka tulis kepada para aktivis gerakan yang berada di garis depan. Tidak ada pertanggungjawaban untuk perubahan yang diusulkan dalam platform delapan poin ke gerakan ekologi dalam. Misalnya, David Rothenberg, yang telah menjadi penerjemah dan juru bahasa Naess, dalam bukunya Conversations with Arne Naess: Is It Painful to Think?, mengklaim bahwa Naess ingin memasukkan dukungan untuk pembangunan berkelanjutan dalam Platform delapan poin. [16]

Antologi tulisan-tulisan ED mencerminkan bias akademis dalam pemilihan penulis mereka untuk dicetak. Juga antologi semacam itu menunjukkan sangat sedikit aplikasi praktis dari ekologi dalam untuk masalah lingkungan yang nyata.

Asumsi mendasar yang tampaknya meresapi ekologi dalam arus utama, adalah bahwa gagasan cukup untuk membawa perubahan sosial dalam hubungan kita dengan alam. Ini bisa disebut “kekeliruan pendidikan”. Ini sama sekali gagal untuk menangani hubungan kelas dan kekuasaan dalam masyarakat kapitalis industrial. Kita tidak boleh melupakan peran masyarakat dalam menciptakan gaya hidup dan perusakan ekologi.

15. Lihat juga kritik saya mengenai teks asli Deep Ecology, dalam surat kepada editor “Deep Ecology and the Green Movement,” yang dimuat dalam New Catalyst, 6 (Winter 1986/87) dan balasan dari penulis pada isu selanjutnya.

16. D. Orton, “Revised deep ecology platform surprising and disheartening”, Alternatives, 20:4 (1994) pp. 40–1, dan surat yang ditulis oleh Rothenberg, 21:2 (1995).

Gerakan Kiri

9Ecology, Community and Lifestyle Hidup saat ini merupakan pengantar tunggal terbaik untuk ide-ide Arne Naess. [17] Dalam buku ini, Naess tampil sebagai sosok simpatik terhadap sosialisme. Naess menganggap batasan kelas sebagai batasan untuk kemungkinan realisasi diri oleh individu. Dia mencatat bahwa politik Hijau menginginkan penghapusan perbedaan kelas secara lokal, regional, nasional, dan global.

Namun, dengan beberapa pengecualian, para penulis ED, termasuk Naess, kurang memberikan perhatian untuk mendefinisikan hubungan dengan kaum Kiri. Ini telah menjadi bagian dari yang diambil-alih oleh para biosentris kiri. Penulis seperti Rudolf Bahro dan Andrew McLaughlin telah memberikan kontribusi teoretis yang penting untuk memahami hubungan ini.

Ekologi Sosial, Eko-Feminisme, dan EkoMarxisme

Ketiga posisi ini memiliki kesamaan bahwa semuanya berpusat pada manusia dan menganggap hubungan manusia-ke-manusia dalam masyarakat menjadi lebih penting dan, pada analisis terakhir, menentukan hubungan masyarakat dengan alam. Oleh karena itu, prioritas penyelenggara dari salah satu dari ketiga posisi ini adalah hubungan sosial, bukan lingkungan. Biosentris kiri percaya bahwa masyarakat egaliter, non-seksis, non-diskriminatif, yang merupakan tujuan yang sangat diinginkan, masih bisa menerapkan relasi yang eksploitatif terhadap bumi. Tidak ada yang secara inheren seksis, atau rasis dalam inklusivitas ekologi dalam. Inklusivitas ini berlaku sebagai identifikasi ideal dan solidaritas dengan semua kehidupan.

Sangat mudah untuk menyematkan label sayap kanan pada ekologi dalam. Pelabelan ED sebagai bagian sayap kanan sebagian besar hanya karena ED tidak melabeli diri kiri dan juga memberikan perhatian yang minimal perihal isu keadilan social, dan juga kritik anti-kiri yang keras oleh sebagian penulis ekologi dalam. Ekologi sosial sangat diuntungkan dari hal ini. Menjadi “kiri hijau” berarti menjadi pendukung ekologi sosial! Namun, dalam ekologi sosial, meski di sana terdapat isu-isu sosial, hanya terdapat sedikit sekali soal ekologi dan tidak ada kebutuhan untuk merangsang kesadaran ekosentris yang diperlukan untuk politik ekologi radikal.

17. Lihat juga ulasan saya mengenai buku ini di dalam Capitalism, Nature, Socialism, 4:4, (1993), pp. 131–33.

Pecahnya Gerakan?

Posisi Naess adalah bahwa ada pemisahan yang diperlukan dari gerakan perdamaian, keadilan sosial dan ekologi, tetapi mereka bersatu di bawah payung gerakan hijau. Saya percaya ini salah, ini justru semakin mengisolasi gerakan ekologi dalam yang radikal dan memberi gambaran sayap kanan pada ED. Posisi ini berkontribusi membuat ED tampak tidak peduli dengan masalah manusia. Pandangan tentang pemisahan gerakan yang diperlukan seperti yang dikemukakan Naess, telah diadopsi oleh George Sessions, misalnya. Dia telah menjadi pusat perdebatan ekologi mendalam di Amerika Utara. Saya tidak percaya bahwa tiga gerakan yang terdaftar harus merupakan gerakan terpisah yang disatukan di bawah panji gerakan hijau. Ekologi haruslah menjadi yang utama, dan itu juga berarti bahwa setiap orang juga harus terlibat dalam isu-isu perdamaian/anti-perang dan keadilan sosial. Biosentrisme kiri mengatakan bahwa kamu harus terlibat dalam masalah keadilan sosial sebagai aktivis lingkungan, tetapi ekologi adalah yang utama. Pada saat yang sama, kita tidak boleh mengubah isu ekologi menjadi isu keadilan sosial seperti yang banyak dilakukan dalam gerakan lingkungan. Biosentris kiri menyebut posisi seperti itu “lingkungan sosial”. Hal ini sangat lazim dalam konteks hubungan lingkunganpribumi. [18]

Appendix: Sebuah Panduan mengenai Biosentrisme Kiri

1.11. Biosentrisme kiri adalah fokus kiri atau kecenderungan teoretis dalam gerakan ekologi dalam, yang subversif dari masyarakat industri yang ada. Ia menerima dan mempromosikan delapan poin “Platform Ekologi Dalam” yang disusun oleh Arne Naess dan George Sessions. Bio10sentrisme kiri bertahan sebagai ideal, identifikasi, solidaritas, dan kasih sayang dengan semua kehidupan. “Kiri” seperti yang digunakan dalam biosentrisme kiri, berarti anti-industri dan anti-kapitalis, tetapi tidak harus sosialis. Ungkapan ‘biosentrisme kiri’ atau ‘ekosentrisme kiri’ digunakan secara bergantian.

2. Biosentrisme kiri menerima pandangan bahwa bumi bukan milik siapa-siapa. Sembari mengangkat sejumlah kritik, biosentrisme kiri dimaksudkan untuk memperkuat, bukan melemahkan, gerakan ekologi dalam yang mengidentifikasikan diri dengan semua kehidupan.

3. Biosentrisme kiri mengatakan bahwa individu harus bertanggung jawab atas tindakan mereka dan bertanggung jawab secara sosial. Bagian dari tanggung jawab individu adalah mempraktikkan kesederhanaan sukarela, untuk meminimalkan dampaknya sendiri terhadap bumi.

4. Biosentrisme kiri prihatin dengan keadilan sosial dan masalah kelas, tetapi dalam konteks ekologi. Untuk pindah ke dunia ekologi dalam, spesies manusia harus dimobilisasi, dan kepedulian terhadap keadilan sosial adalah bagian penting dari mobilisasi ini. Biosentrisme kiri adalah untuk redistribusi kekayaan, secara nasional dan internasional.

5. Biosentrisme kiri menentang pertumbuhan ekonomi dan konsumerisme. Masyarakat manusia harus hidup dalam batas-batas ekologis sehingga semua spesies lain dapat terus berkembang. Kami percaya bahwa bioregionalisme, bukan globalisme, diperlukan untuk keberlanjutan.

6. Biosentrisme kiri berpendapat bahwa transformasi spiritual individu dan kolektif penting untuk membawa perubahan sosial yang besar, dan untuk memutuskan hubungan dengan masyarakat industri. Kita membutuhkan transformasi ke dalam, sehingga kepentingan semua spesies mengesampingkan kepentingan pribadi jangka pendek individu, keluarga, komunitas, dan bangsa.

7. Biosentrisme kiri percaya bahwa ekologi dalam harus diterapkan pada masalah dan perjuangan lingkungan yang sebenarnya, tidak peduli seberapa sensitif secara sosial isunya, misalanya, pengurangan populasi, masalah penduduk asli, perjuangan pekerja, dll.

8. Ekologi sosial, ekofeminisme, dan eko-marxisme, sambil mengajukan pertanyaan penting, semuanya berpusat pada manusia dan menganggap hubungan manusia-ke-manusia dalam masyarakat menjadi lebih penting dan, pada analisis terakhir, menentukan hubungan masyarakat dengan alam. Biosentrisme kiri percaya bahwa masyarakat egaliter, non-seksis, non-diskriminatif masih bisa menerapkan relasi yang eksploitatif terhadap bumi.

9. Biosentrisme kiri adalah “gerakan hijau” dalam orientasi dasar. Mereka anti terhadap partai politik hijau yang ada ataupun aparatus Negara, yang telah menyesuaikan diri dengan masyarakat industri dan tidak memiliki akuntabilitas terhadap gerakan ekologi dalam.

10. Agar relevan secara politik, ekologi dalam perlu memasukkan perspektif yang dikemukakan oleh biosentrisme kiri.

18. Green Web Bulletin #50, “Social Environmentalism and Native Relations” (1996).

15 Maret 1998

■ liar

Panduan utama di atas adalah hasil dari diskusi kolektif yang berlarut-larut di antara sejumlah pihak yang mendukung biosentrisme kiri dan ekologi dalam.

■ liar

SPESIES YANG TERANCAM PUNAH: TEKNO-HUMANISME DAN HILANGNYA MANUSIA, PANDUAN BAGI PEMULA OLEH PATRICIA FREUND

“Kami bukanlah yang pertama, yang memiliki niatan baik namun menghasilkan yang terburuk.”

-Cordelia, King Lear

Tekno-humanisme adalah sistem kepercayaan, lahir dari ilmu pengetahuan, yang menyaingi bakteri pemakan daging dalam tingkatan konsumsi sewajarnya. Tapi, ini bukanlah sekadar virus ini, tekno-humanisme adalah dunia yang selalu ada saat makan malam dan objek seleranya adalah ikatan masyarakat yang mengikat: agama, bahasa, dan nilai-nilai budaya. Saat ia menghancurkan, ia menciptakan pengganti. Ia memberi makan dan mengganti makanannya, tetapi makanannya adalah makanan orang sendirian. Orang dahulu tahu perlunya berkorban untuk dewa-dewa mereka, tetapi pesta itu juga bersifat saling menguntungkan; baik para dewa maupun manusia berbagi dalam makanan kurban yang terbaik, terindah, tercerdas. Para dewa mengambil bagian mereka dan umat manusia juga melakukannya dan persatuan mereka dikonfirmasi. Di bawah tekno-humanisme, hampir tidak ada tulang yang tersisa saat dewa-dewanya berpesta, dan umat manusia bukan lagi tamu melainkan hidangan utama.

Bukan, yang kami maksud bukanlah resto cepat saji McDonald.

Memahami esensi makhluk itu menuntut pembedahannya dan penjelasan tentang bagaimana ia bisa menempati pusat dari ilmu pengetahuan.

Secara instrinsik teknologi sangatlah erat dengan pemikiran abad ke-20, yang berkesimpulan bahwa kemajuan teknologi itu tidak hanya tidak terbatas tetapi tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Pandangan seperti ini menjadi panduannya dan kita hanya menjadi pengikut. Kita harus senantiasa beradaptasi dengan setiap perubahan dan gerak-geriknya. Ketika nilai-nilai kemanusiaan membusuk dan menghilang, hubungan manusia dengan sains menjadi salah satu iman terkutuk yang mana tidak ada pemahaman yang jelas antara dua subyek tersebut. Ironisnya, kita telah diperingatkan. Budaya Barat penuh dengan cerita yang merinci mengenai konsekuensi dari rayuan teknologi. Umat manusia tidaklah siap ketika sang ular menawarkan proposal yang terlalu “canggih” untuk ditolak.

Klaim dari pengetahuan adalah kekuatan. Sains telah menjadi pengetahuan yang dapat dibuktikan. Iman, di sisi lain, didefinisikan oleh tradisi dan praktik sebagai kepercayaan yang mutlak pada apa tidak dapat dibuktikan.

Iklan mendorong kita untuk kepercayaan yang materialistik ketimbang agamis, orang-orang mulai melepaskan kepercayaan tradisional untuk mengimani teknologi, sebuah struktur kepercayaan dengan kekuatan yang tampaknya nyata, kepercayaan yang pada akhirnya dapat diukur dan direplikasi melalui persamaan atau formula dan yang diciptakan sepenuhnya oleh manusia tanpa campur tangan evolusioner dari alam. Jadi, bagaimana umat manusia beralih dari menciptakan teknologi menjadi meringkuk dalam bayangannya? Bisakah kita menelusuri faktor-faktor kritis yang menumbangkan budaya manusia menjadi pengorbanan manusia? Mungkin komputer “apple”, sebagai pengusung teknologi rumahan, memilih nama “apple” (apple sebagai buah larangan dalam mitos Adam dan Hawa) bukanlah sesuatu yang tidak disengaja dan penggunaan kata “Menu” bukanlah pilihan sembarangan. Sayangnya, pemerintah abad 20 memahaminya dengan baik sejak awal penggunaan pseudo-sains sebagai sarana untuk mencapai sentralisasi ekonomi dan kontrol sosial. Prinsip-prinsip teknologi diterima dan dikembangkan, daya tariknya hampir universal. “Pengetahuan,” disebut-sebut, telah tumbuh dan berkembang. Dalam kedoknya sebagai hanya sekadar pelayan dan alat, teknologi cenderung menjadi sorotan cukup untuk menarik perhatian namun tidak terlalu mencolok di Negaranegara demokrasi, oligarki dan kediktatoran; dengan janjinya akan pertumbuhan dan perkembangan yang pesat, tanpa ada beban moralitas, tekno-sains cukup adaptif dalam sistem politik atau ekonomi dalam bentuk apapun. Teknologi adalah penjual ulung, dan sebagian besar pemerintah tahu perangkap tikus yang lebih baik ketika mereka melihatnya. Perdagangan, pendidikan, dan media dibeli lebih dahulu, dan akhirnya banyak warga biasa yang tidak hanya main mata dengan teknologi baru masa depan ini tetapi juga mempercayainya. Teknologi abad ke-20 telah menjadi bentuk baru patriotisme dan sains adalah gadis paling populer di kota. Melihat adalah percaya dan kita melihat saat ini dengan cara yang berbeda seketika masa depan tampaknya semakin mendekat. Sejak Copernicus dan Galileo mengubah pemahaman kita tentang alam semesta dari geosentris ke heliosentris, batasan lama sistem kita dianggap begitu sewenang-wenang dan ditantang secara komprehensif. Banyak institusi lama tampaknya telah memudar. Masa lalu tampaknya semakin jauh dan warisan kita semakin sulit ditemukan. Semuanya telah meninggalkan kita sendirian. Tidak adil untuk menyatakan bahwa tidak ada perlawanan terhadap mesin giling berteknologi ini. Sayangnya, bagaimanapun, perbedaan pendapat yang terfokus, dengan pengecualian beberapa contoh spektakuler, telah menurun secara proporsional sepanjang abad ini. Namun ada sesuatu yang salah dan bahkan hari ini kita mengetahuinya. Kami telah belajar mengenai keterasingan, tetapi teknologi terus berjalan. Peringatan Oppenheimer datang terlambat; semuanya sudah terjadi. Sekarang seseorang dapat menantang, katakanlah, komponen teknologi tertentu yang tidak disukai tetapi bukan konsep dari teknologi secara keseluruhan. Tekno-sains telah menjual dirinya—dalam aspek baik dan buruknya—sepaket. Kegagalan untuk mengakui keunggulannya berarti menolak masa depan. Perbedaan pendapat yang cukup serius telah menjadi suatu kejahatan; atau disebut sebagai ketololan yang tak dapat dipahami.

Reaksi yang tidak biasa telah mengiringi perlawanan yang, karena ia tampil dari sudut-sudut yang beragam, tidak dapat begitu saja dihentikan. Organisasi dan sistem yang terikat secara longgar, yang apabila dikombinasikan akan membentuk inti sel masyarakat, tengah sibuk dengan restrukturisasi yang mendalam. Minat-pribadi dan pertahanan-diri telah menimbulkan perpaduan yang khas dan penggabungan mutual aid (kerjasama saling menguntungkan-ed). Yang tak kalah aneh dari gabungan ini adalah perkawinan antara humanisme dan sains. Persatuan antara manusia dan mesin telah menghasilkan monster persilangan—tekno-humanisme—seperti halnya Frankenstein yang lebih cantik yang menyukai popularitas yang tak tertandingi sejalan dengan ortodoksi yang tak perlu dipertanyakan lagi. Filsafat baru ini mengancam untuk menghapus potensi pemberontakan dimana dan kapan saja.

Prinsip mendasar dari sistem kepercayaan ini didasarkan pada humanisme ekstatis gembira yang tujuan utamanya adalah pencapaian ilmiah: bahwa pikiran manusia dapat mencapai apa saja, bahwa pengetahuan tidak terbatas, bahwa semua penghalang adalah buatan. Dengan tidak adanya batasan, bagaimana seseorang bisa melangkah terlalu jauh? Tekno-humanisme cocok dengan kemudahan yang tidak nyaman ke dalam dunia yang semakin mencerminkan lebih banyak “itu” daripada “kita.” Se-fleksibel virus flu yang bermutasi, penyebarannya cepat dan kuat. Bahkan Alexander Agung tidak bisa lebih yakin akan dominasi dunia. Ada konstanta yang dapat dibedakan dengan jelas pada anak sapi emas teknologi dan pelatarannya yang layak untuk diperiksa.

Tekno-humanisme telah mengambil jubah dan perangkap agama militan lengkap dengan janji, larangan, dan standar perilakunya sendiri. Ia telah terlibat dalam dakwah yang agresif, melembagakan bahasa dan ritual, memberikan para pembantunya sebuah struktur yang menenangkan, memberikan para elit jalan untuk maju, dan mungkin yang paling signifikan, menaklukkan bidat dan murtad dengan kekuatan mematikan.

Menurut kejadian, kuasa ilahi menciptakan manusia menurut gambar dan rupa Allah, tetapi tekno-humanisme telah mengambil kuasa ilahi untuk membentuk Allah menurut gambar manusia. Kali ini tidak ada penyihir yang ramah (“Jangan memperhatikan pria di balik tirai!”) di Oz. Dengan kemungkinan yang meningkat, lebih sering ada mesin daripada manusia di balik tirai karena kecepatan dan kekuatan teknologi seperti itu. Aturan kemajuan ilmiah. Tahuntahun memudarnya abad ke-20 telah membuat orang-orang secara substansial tidak beriman tetapi menginginkan iman. Teknologi dengan senang hati membantu.

Pertama dan terutama dalam fitur-fiturnya, tekno-humanisme mengajarkan sebagai pasal kepercayaan bahwa kemajuan ilmiah itu baik. Kami secara agresif didorong untuk mendasarkan keyakinan kami di masa depan pada kebaikan intrinsik dari pencapaian teknologi. Kami didesak untuk mengakui ekspansi ilmiah ini sebagai kebaikan yang tak terbatas dan juga sangat tak terbatas. Oleh karena itu, keyakinan akan masa depan mengamanatkan kepercayaan yang tidak diragukan lagi pada ciptaan kita sendiri. Dasar-dasar ini diperkuat, diulang dan dikembangkan melalui sistem sekolah dan media elektronik serta cetak.

Ciri-ciri khusus ini mengilhami kita pada keajaiban masa depan yang dimodifikasi oleh teknologi — dunia yang bebas dari rasa sakit, penyakit, dan cacat, sebuah planet tanpa kelaparan atau kekurangan, kehidupan masa depan yang dibingkai ulang oleh sains dan para praktisi sains dengan keberanian untuk bermimpi dan visi untuk menciptakan. Masih kita; hanya lebih pintar, dirancang lebih baik, bebas masalah. Semua masalah rasa sakit dan keinginan akan ditangani dan diselesaikan oleh para ilmuwan, perancang sosial, teknokrat dan dokter. Saat ini, sebagian besar keberatan terhadap teknologi secara rutin dibantah, oleh banding aplikasi medis dari hampir semua aktivitas ofensif. Dan jika suatu teknologi tidak memiliki aplikasi medis, maka pasti ada kegunaan lain yang diinginkan secara sosial, misalnya tanaman rekayasa untuk memerangi kelaparan dunia. Meskipun, tepatnya mengapa perusahaan akan menginvestasikan miliaran dalam tugas-tugas kemanusiaan seperti memberi makan orang-orang yang kelaparan di dunia, kami tidak diberitahu.

Program berita secara teratur menampilkan laporan antusias tentang teknologi “canggih”; industri hiburan melukiskan adegan petualangan yang tak tertahankan yang menggabungkan elemen favorit dari kehidupan kita saat ini dengan inovasi masa depan dan gadget yang menyenangkan. Masih kita; hanya lebih baik, lebih cepat dan lebih dekat dengan citra diri fantasi kita daripada citra diri yang memantulkan diri kita. Brave New World sekarang menjadi benang kuno dan setengah terlupakan serta 1984 aman di masa lalu.

Teknologi memungkinkan industri komunikasi meningkatkan pengaruh secara substansial; pemberitaan khususnya. Mengingat bahwa setiap peristiwa berita dapat dipantau oleh, katakanlah, tiga puluh sudut kamera, maka tiga puluh sudut dapat menunjukkan tiga puluh versi dari apa yang seolah-olah terjadi. Seperti yang diakui secara terbuka, tetapi tidak berlebihan, pembuat keputusan media kemudian memilih di antara sekurangnya tiga puluh yang memenuhi kriteria penyiaran yang telah ditentukan sebelumnya. Peran media adalah melihat untuk kita, memberi tahu kita apa yang kita lihat, dan mewakili sebagai kebenaran. Keyakinan kami menghilangkan kebutuhan untuk melihat sehingga, penglihatan kami disaring melalui kacamata tekno-humanisme berwarna mawar. Singkatnya, melihat apa yang disajikan dan kita ingin percaya. Ini membebaskan masyarakat dari mempertanyakan prinsip-prinsip dasar dan asumsi teknologi itu sendiri.

Akhir dari Kata

Pengaruh teknologi dalam aspek bahasa tak diragukan lagi sangat mendalam. Jika ditinjau dari segi corak pengambilalihannya, techno-humanisme tidak hanya memanfaatkan bahasa sebagai pendongkrak namun juga untuk memaksakan kredo yang terkandung di dalamnya. Sialnya, berbagai intrik di dalamnya pada akhirnya justru memberi kontribusi yang sangat besar bagi kehancuran bahasa — namun hal tersebut tidak perlu dikhawatirkan, sebab berbagai alternatif teknologis telah beroperasi untuk mengisi celah-celah tersebut.

Jadi tanda-tanda peringatan seperti apa yang muncul mendahului matinya bahasa? Dapat dikatakan bahwa kehancuran dari kualitas penunjang atas bahasa merupakan elemen penting dalam proses kejatuhannya; ketika bahasa tidak lagi digunakan dalam proses pertukaran informasi namun semata-mata hanya untuk mengisi emosi atau pun menumpulkan akal sehat maka, kematian bahasa pun makin mendekati ujungnya. Bahasa dan pemaknaan kata-kata dapat saja mengalami berbagai perombakan serta penyalahgunaan, dimana sejumlah kelompok acak dari para “penutur asli/pribumi” mengalami tekanan berat dalam berkomunikasi.

Saya dapat saja menyatakan lebih jauh bahwa institusi-institusi sosial dapat diasumsikan berperan besar dalam kemerosotan bahasa. Kita dapat saja memilih kata “kemajuan” sebagai contoh kekeliruan bahasa yang menjadikan kata-kata tersebut tak bermakna. Dunia periklanan dan media menjejali para konsumennya dengan keyakinan keliru bahwa inovasi-inovasi dalam dunia ilmu pengetahuan (sains) adalah bentuk kemajuan. Slogan korporasi General Electric yang menyatakan bahwa “kemajuan adalah produk terpenting bagi kami” seolah memiliki otoritas yang tidak dapat dipertanyakan. Akan tetapi, jika diteliti mendalam maka secara historis kenyataan telah mengungkapkan bahwa kemajuan dari segi waktu tidaklah selalu merupakan penanda kemajuan peradaban. Perubahan turut memunculkan peradaban dan juga membuatnya membusuk. Peradaban dan, dalam hal ini, segala hal yang berada dalam jangkauan observasi bergerak dalam lingkaran yang sama. Seluruhnya lahir, “mengalami kemajuan,” dan kemudian menghilang.

Kata “kemajuan” bukanlah sesuatu yang telah ditakar mau pun telah ditentukan sebelumnya atau setidaknya mendapat jaminan perbaikan. Tidak seperti sirkulasi waktu, waktu kongkrit yang diperlukan bagi kemajuan adalah didasari oleh gagasan bahwa setiap momen adalah unik dan urutan dari momen-momen tersebut bergerak berurutan dari awal menuju akhir. Waktu secara kongkrit tak lebih dari sekedar konsep keagamaan dan eskatologis dibanding realitas yang disajikan secara saintifik serta berkembang dari penciptaan yang mengarah pada sebuah kesimpulan akhir. Dalam ranah kehidupan individual, waktu kongkrit beroperasi di dalam kemajuan para peziarah mulai dari kehidupan yang membumi hingga pada kehidupan yang surgawi. Sesungguhnya, kata kemajuan, yang juga merupakan bagian dari konsep keagamaan, memperoleh daya tariknya dari narasi yang pernah dipopulerkan oleh John Bunyan yang berjudul The Pilgrim’s Progress. Cara kita dalam menggunakan kata “kemajuan” selanjutnya dipakai untuk menggambarkan serangkaian pengalaman teknis dalam pemahaman konvensional. Sekurelisasi atas konsep religius dapat saja dikatakan merupakan tahapan dalam proses peradaban, namun dari segi penggunaan/pemanfaatannya ia juga berfungsi sebagai slogan periklanan yang menyebarkan aroma kebusukan peradaban karena mengabaikan unsur pemaknaan kata. Jadi apakah teknohumanisme harus kembali dihantam oleh bentuk penyalahgunaan istilah keagamaan palsu demi kepentingan agama itu sendiri?

Seberapa tepatkah, kemudian, kitab Kejadian menyajikan dua buah peringatan dari Kitab Perjanjian Lama bagi umat manusia yang menjerumuskan dirinya bersama dengan teknologi dan sebagai konsekuensinya, mesti menghadapi berbagai persoalan teknologis yang turut menyertai proses pengenalannya. Salah satu contoh pertama yang memilukan ialah, tentu saja, proses Kejatuhan dan terusirnya manusia dari dunia alamiahnya. Bangsa Ibrani memandang bahwa pada dasarnya dunia alamiah adalah baik adanya dan menjadi tempat yang sangat teratur sementara kekacauan merupakan fitur yang dihasilkan oleh pasca-kejatuhan pemikiran manusia dan kemudian masuk ke dunia sebagai bentuk kontribusi yang dipenuhi keraguan bagi kondisi barunya. Hal ini juga turut dibenarkan oleh contoh yang kedua, yaitu kisah mengenai Menara Babel. Pembangunan menara tersebut memberi kesan pemanfaatan pengetahuan teknis yang “tidak biasa” dalam menyokong pencapaian sebuah produk akhir yang luar biasa, namun hasil akhirnya justru menjadi bentuk arogansi teknologis yang tidak menyenangkan Tuhan. Pemaksaan penghancuran atas menara tersebut secara keseluruhan dan ketiadaan unsur Alkitabiah berikutnya menyiratkan bahwa kemungkinan kemajuan teknologi adalah sesuatu yang tidak lebih penting dibanding hasil akhirnya

— yakni lenyapnya kemampuan manusia dalam berkomunikasi dan saling memahami satu sama lain secara permanen.

Keterisolasian yang bersumber dari kekeliruan dalam memanfaatkan teknologi tersebut merupakan kejatuhan kedua bagi umat manusia. Tidak satu pun dari perkembangan ilmu pengetahuan, bahasa pemrograman komputer maupun World Wide Web yang berhasil merestorasi kapasitas kita sebagai manusia yang telah berkurang itu. Tak diragukan lagi, melalui sejumlah memori/ ingatan masa lampau, kita kembali diingatkan dalam beragam cara tentang kehilangan yang kita alami dalam cara yang sangat menyakitkan dan kesepian. Berbagai kegagalan di masa lampau itu membuat kita sebagai manusia rentan memusatkan kontrol sosial dan berupaya menginterpretasikan dunia di sekeliling kita. Ketika kata-kata merosot hingga menjadi suara-suara tak bermakna dan dunia alamiah menjadi sesuatu yang asing dan melaju secara menakutkan, kita lalu menuntut berbagai penjelasan guna mengelola kekacauan tersebut. Bahwa kita, diri kita sendiri, yang terlibat di dalam prosesnya menjadi unsur sekunder bagi ketakutan kita sendiri atas keberadaan individual dan kesendirian dalam sebuah dunia yang asing dan menakutkan.

Televisi dan berbagai perangkat komputer, yang senantiasa menjadi “alat bantu” visual kita, menjadi ancaman bagi bahasa melampaui sekedar bentuk penyalahgunaan kata-kata dan pergeseran di dalam maknanya. Penggunaan konstan beragam stimulator visual tersebut di dalam kehidupan harian menjadikan bahasa penulisan tampak akan menemui ajalnya dan tak terhindarkan bakal segera digantikan oleh pictograph (makna yang disampaikan melalui gambar). Kekuatan netral dari kata-kata yang tercetak akan segera digantikan oleh kontrol media atas unsur kebenaran personal, pilihan dan imajinasi sehingga benteng buta huruf sekalipun takkan mampu menghindarkan kita untuk tidak melihat media.com. Kontrol sosial yang dihasilkan tak lama lagi akan menaklukkan kita dengan melucuti kebebasan terakhir yang masih tersisa. Kematian kita pada waktunya akan segera menjadi peristiwa organik meskipun yang sesungguhnya membunuh kita tak lain adalah berasal dari sumber awalnya. Betapa ironisnya kemudian bahwa kematian kita digambarkan sebagai “kemajuan” di dalam setiap perwujudan dan kekeliruan penggunaan kata.

Nilai-nilai Keluarga Kaczynski

Konsep dari “nilai-nilai keluarga” meski telah dipahami dengan tidak sempurna dan diartikulasikan secara keliru oleh Wakil Presiden Quayle yang terdahulu, walaupun demikian masih tetap merupakan kritikan yang cukup penting, ketika kita membahas soal era teknologi. Pandangan Quayle tersebut menarik dan mungkin saja benar, dalam beberapa hal, yang mungkin tanpa ia pahami secara spesifik mengapa bisa demikian. Bagaimana pun, kegagalan nilai-nilai keluarga yang dipublikasikan secara cermat di dalam batasan-batasan tekno-humanisme tersebut diilustrasikan sangat baik dalam Family Kaczynski dibanding oleh “Murphy Brown”.

Nilai-nilai keluarga, yang menjadi induk dari segala nilai kultural, memiliki asal-usul tersendiri, semenjak masa-masa klasik, dalam lingkup pertautan hubungan kekeluargaan. Antigone berani menantang hukum-hukum Negara yang sangat kuat untuk menguburkan saudaranya dan perkataan klasik yang dipahami secara implisit ialah bahwa hukum-hukum keluarga tentunya dapat menggantikan aturan dan larangan pemerintah.

Perkembangan nilai-nilai keluarga dapat dipandang sebagai bentuk implementasi dari sejumlah nilai tabu yang pada gilirannya diperkuat pula oleh mitos, legenda dan agama guna mengilustrasikan kode-kode tatanan tertentu yang dikehendaki. Di dalam setiap kasus, kode-kode etik tersebut dirancang untuk melindungi relasi keluarga yang tak dapat diganggu gugat dan bukannya keyamanan penguasa atau pun kepentingan Negara. Bagaimana pun, etos semacam ini telah lama berubah. Para penguasa sejak lama telah mencari cara untuk menginstruksikan lewat beragam cara bahwa Negara, dan bukan keluarga, merupakan institusi yang layak untuk dicintai dan mendapatkan loyalitas sepenuhnya dari setiap individu. Keluarga telah dianggap sebagai pahlawan ketika mereka menjadi agen-agen pelindung Negara yang mengejar dan menangkap anggota keluarga mereka yang dipandang tersesat. Mengumumkan dan memberikan informasi atas keberadaan seseorang yang terdekat dan kita sayangi telah menjadi sesuatu yang diterima secara umum. Sebuah aktivitas yang dipandang dengan kemuakan ketika itu terjadi di era komunis Jerman Timur, memberi informasi soal anggota keluarga yang menjadi penonton setia acara olahraga Amerika merupakan gagasan yang mengancam dan membawa konsekuensi yang sangat buruk dan bersifat permanen.

Relasi keluarga sebagai “Ikatan yang membatasi” mulai tampak tak ada bedanya dengan para algojo.

Dengan kadar kecemasan publik yang mencukupi, David Kaczynski yang mengkhianati saudaranya dan menyerahkannya pada otoritas federal berdasarkan pada pengakuan publik, mendapatkan penghargaan uang tunai dan mendadak menjadi selebriti untuk seorang individu yang paling biasa. Terlepas dari serangkaian wawancara yang dilatih dengan baik sebelumnya, yang dibagi gratis kepada para reporter favorit, David Kaczynski tampaknya memilah kadar emosinya yang saling berbenturan dalam proses perekaman secara cepat. Di luar dari persona publiknya sebagai individu dengan jiwa yang tersiksa, tercabik di antara nilai-nilai keluarga dan jaminan sosial, seorang Kaczynski muda tampak begitu ceria, terlihat bahagia dengan mobil barunya, seorang pencari dana sumbangan jutaan dollar secara nasional berperan sebagai pakar ahli di sebuah Rumah Sakit jiwa bagi para anggota keluarga yang sakit; untuk melengkapi gambaran secara keseluruhan, dia tampak begitu gembira menerima penghargaan yang ditujukan secara khusus oleh majikannya, sebuah penghargaan atas “keberanian keyakinan” karena telah menyerahkan saudaranya pada para algojo yang telah ditunjuk.

“Psikologi” telah mendapat tempat dalam ranah gudang amunisi Hukum dan Ketertiban di kiri dan kanannya. Bagi sebagian besar orang, sebuah peluru seolah tampak menjadi sebuah pembersih, menjadi perangkat balas dendam para penguasa yang tercepat dibanding mematuhi kelembutan belas kasih terhadap profesiprofesi yang “menolong”. Tentu saja, profesi-profesi yang sama-sama menolong tersebut juga mengenakan jubah ilmu pengetahuan yang serupa. Sejumlah analisa psikologi disampaikan oleh “para pakar” yang mereka miliki sebagai bentuk pengetahuan yang terukur. Kita tampaknya telah lama lupa bahwa Phrenology (frenologi atau pengetahuan yang berbasis pada gagasan bahwa otak sebagai organ fisik memiliki kontribusi dalam membentuk karakter seseorang) sebagai ukuran intelejensi atau pun kekacauan perilaku pernah juga dipertimbangkan dan memiliki fungsi justifikasi yang sejajar dalam ilmu pengetahuan pada sekitar ratusan tahun yang lalu.

Sementara itu, kita hampir saja mengadili diri kita sendiri. Peristiwa pra-peradilan The Unabomber segera akan masuk dalam peringkat sebagai contoh teks pelajaran mengenai bagaimana sistem tekno-humanis memulai perannya dalam menghadapi para bid’ah. Berbagai tindak kriminal yang dimotivasi oleh beragam emosi dasar seperti hasrat, balas dendam atau pun kepentingan pribadi, meskipun secara umum tidak ditoleransi, seluruhnya ditangani dalam cara yang standar dan hanya sedikit yang dibahas secara serius. Tindakan kriminal yang dilakukan oleh para penguasa justru diijinkan, diterima dengan baik, dalam cara yang universal dan dihormati oleh waktu. Meskipun demikian, tindak kejahatan yang murni berasal dari kecerdasan adalah sesuatu yang sama sekali tidak paralel dalam memori masyarakat Amerika di masa sekarang dan tidak dapat dimaafkan. Seluruh Institusi kita dengan cepat menutup diri begitu diserang pada titik ini.

Terkait dengan hal ini pemerintah federal memperkenalkan sumber daya politik yang luar biasa ganas dan hangat pada era pemerintahan Clinton. Proses dengar pendapat dalam PraPeradilan, Kaczynski memadukan kegembiraan luar biasa dari era auto-da-fé (dalam bahasa Portugis berarti ‘aksi keyakinan’, sebuah ritual penghakiman secara umum pada masa abad ke 15 dan 19 atas orang-orang yang dianggap murtad) dengan ketelitian masa pembersihan era Stalinis. Sebagian besar dari kita dibuat tercengang oleh makian yang dilontarkan media pers yang memiliki reputasi baik. Tidak memiliki komitmen apa pun, “objek” yang dilaporkan pun sama sekali absen dari pemberitaan pers mainstream; bahkan unsur kelayakan untuk dipenjarakan pun belum terbukti. Tuntutan tersebut merupakan pernyataannya dan pihak pers membawa lebih jauh tuntutan tersebut. Kaczynski adalah iblis, Kaczynski sudah tidak waras, Kaczynski adalah orang berbahaya, Kaczynski jarang sekali mandi. Secara keseluruhan, hal ini bukanlah masamasa terbaik dalam dunia jurnalisme. Baik O.J Simpson maupun Timothy McVeigh sama sekali belum pernah mengalami badai yang seperti ini. Tentu saja, tak satu pun dari orang-orang ini yang dapat mengklaim diri memiliki pandangan atau teori apa pun yang melampaui takaran biasa saja dan kelembutan mental mereka membuat mereka terisolasi dari luapan kemarahan pihak pers. Dr. Kaczynski telah menunjukkan seperti apa perlakuan khusus yang disediakan bagi seorang pembangkang intelektual yang, dapat dikatakan, telah meninggalkan kehidupannya yang kontemplatif. Menghapuskan julukan profesor nakal menjadi hal yang tidak penting dibanding mencemarkan berbagai gagasannya yang melampaui batas kesadaran. Bahkan para pendengar setia yang bersimpati pada dirinya masih tetap membisu dalam rasa takut. Dan hal ini juga bukanlah masa-masa terbaik bagi kita.

Teknologi muncul sebagai sesuatu yang jauh lebih menonjol di etalase media pada hari-hari yang suram tersebut. ABC memperpanjang durasi dan memperluas cakupan segmen “Technology: the Cutting Edge” dan posisi pro-sains mereka mengudara nyaris seharian dengan disertai semilir keceriaan dan penghormatan penuh kekaguman. Jaringan-jaringan “peluru” tersebut makin mempertegas jalur partai atas teknologi: sebagai sesuatu yang baik atau bahkan lebih baik. Kita yang selama ini cenderung tidak sepakat menjadi gelisah dan terisolasi. Apakah masih ada orang-orang yang tersisa di luar sana yang berbagi gagasan buruk dengan kita?

Nasib Theodore Kaczynski ditakdirkan untuk menjadi kisah peringatan, contohnya ‘ia-hadir di sana-demi-kemuliaan-Tuhan’. Bukan untuk mendorong munculnya protes. Mendengar adanya dugaan percobaan bunuh dirinya, orang-orang mungkin akan kembali mengingat kelompok Baader-Meinhoff dan aksi “bunuh diri” mereka di dalam penjara yang dipertanyakan secara lemah. Namun Kaczynski tetap menunjukkan keanggunan dan kecerdasan yang luar biasa dalam menjalani kondisinya. Pers, kini tidak yakin dengan apa yang akan mereka lakukan terhadap isu yang mereka ciptakan sendiri, yang justru bertentangan dengan mereka sejak akhir hari pertama dan hari kedua, persoalan “bunuh diri” pun secara efektif dijauhkan. Sidang Pra-Peradilan pun tetap berlanjut.

Suka atau pun tidak, Theodore Kaczynski telah masuk dalam jajaran para Nabi dan visioner sosial dengan memberi corak kontribusinya sendiri. Tak ada satu pun bentuk resistensi antiteknologi yang bakalan lengkap tanpa kehadirannya. Jikalau pun salah seorang dari kita masuk ke dalam anarkis-Ludditeenviromentalis ala Kaczynski, jika ia tidak sepaham dengan prakonsepsi kita maka persoalannya adalah berada di diri kita sendiri, dan bukan masalahnya. Sebagian orang memandangnya sebagai seorang nabi dalam pemahaman tradisional dengan kepribadian layaknya seorang nabi: sulit, tak dapat disepakati dan hampir sepenuhnya benar jika ditinjau dari semua aspek. Sebagian lainnya, seperti halnya penulis ini, memandangnya dalam sudut pandang yang jauh lebih personal — semacam perpaduan yang sangat Amerika, mulai dari Daniel Boone, John Brown dan para anarkis Polandia 1848 yang sangat romantis, dikombinasikan dengan sosok jenius matematika pemalu yang umumnya baru saja menginjak kelas 7. Secara keseluruhan adalah sosok individu dalam arti kata yang terbaik. Sosok pribadi yang memiliki keunikan dalam sebuah dunia yang bercorak produksi massal. Seperti jeli kacang hitam di tumpukan kayu. Sejarah, menurut penilaian saya, akan menilainya dengan cermat, dan mungkin jauh lebih baik.

Kini dan selamanya, figur yang berbalik arah dalam pakaiannya yang berwarna oranye, dibelenggu sepenuhnya dan dibawa pergi menjauh, seorang mantan asisten profesor matematika, sosok seorang tahanan, sesosok pria yang menganggap penjara sebagai panggilan jiwanya. Entah bagaimana abad ini seolah tampak telah berakhir pada momen tersebut. Para idealis dan pendampingnya berbelok arah di tikungan dan kini ia melangkah pergi.

Dia bisa saja memiliki atau pun sama sekali tidak memiliki kualitas-kualitas seperti yang kita lihat pada dirinya atau pun di dalam setiap proyeknya namun, ia telah meninggalkan sebuah manifesto dan gambaran yang sangat jarang kita lihat. Betapa sulit untuk melupakan bagaimana seorang Kaczynski yang rapuh itu terlihat dikelilingi oleh tim penyergap Federal yang kokoh dan kekar akan tetapi, dia tetap acuh tak acuh mengenakan rantainya, menolak untuk mengakui kesalahannya dan integritas keras kepalanya itu sama sekali tidak menunjukkan perbedaan usianya.

BAB II BERANJAK MENJADI BUAS OLEH JAMES BARNES

Apa makna dari menjadi liar bagi manusia? Untuk menemukan jawabannya, seseorang perlu memeriksa kembali kondisi-kondisi domestikasi dimana mahluk liar tersebut meloloskan diri. Menjadi buas adalah kembali menjadi liar, meloloskan diri dari status kepatuhan dan menegaskan kembali otonomi dirinya. Seperti itulah kemerdekaan.

Buas, bagaimana pun juga, merupakan kata yang umum dipakai untuk sebagian besar populasi hewan liar yang senantiasa dikontrol oleh manusia, dimana tubuh dan kebiasaan hidupnya telah dibentuk sedemikian rupa guna melayani kebutuhan manusia akan tenaga kerja, makanan, serat atau pun kemewahan. Hewanhewan liar telah menyisipkan jejak-jejak perbudakan manusia, yang seringkali berbalik ke corak dan kebiasaannya yang liar ketika mereka mencari kebutuhan hidupnya berdasarkan pada syarat hidup lingkungan alamiah (atau di pekarangan suburban maupun di gang-gang perkotaan) tanpa campur tangan manusia.

Hal semacam ini bisa saja menjadi kasar — kehidupan para hewan liar bisa saja menyedihkan, tidak sehat dan berlangsung sangat singkat; mereka bisa saja dimangsa oleh hewan-hewan dilahirkan secara alamiah di alam liar atau dihinggapi penyakit endemik dan kelaparan. Namun sebagian besar hewan akan memilih kebebasan di alam liar kapan pun mereka mendapatkan kesempatan. Mereka akan menerima, meski tanpa disadari, berbagai prasyarat dan kondisi atas kebebasan mereka: bertanggung jawab sepenuhnya atas hidup mereka sendiri. Mampukah manusia menjadi liar? Bagaimana pun, berdasarkan defenisinya kita adalah dan akan selalu menjadi hewan-hewan yang sejatinya adalah liar. Tak ada satu pun makhluk yang mendomestikasi diri kita, mengontrol perkembangbiakan, makanan maupun tempat kita bernaung. Namun, kita masih merasa bahwa diri kita adalah subjek atas dominasi yang menyebalkan; kita masih memimpikan kehidupan yang benar-benar bebas — bahkan di antara kita yang merupakan sosok hewan peliharaan yang dimanjakan oleh dunia, dibekali oleh makanan empuk, dengan makanan yang diproses lebih lanjut serta duduk di atas sofa yang empuk pula. Namun, seekor hewan peliharaan, yang telah dikebiri dan dirantai, adalah budak yang serupa dengan lembu yang membajak. Lebih menyerupai budak rumahan dibanding pekerja lapangan, seperti halnya kita yang hidup di wilayah barat yang kaya. Sekalipun tidak ada sosok alien yang memperbudak dan diam-diam membuat kita berkembang biak demi tujuan jahatnya (kuharap demikian), namun berbagai tendensi domestikasi serupa yang telah memproduksi sapi potong, jagung manis dan anjing-anjing Peking tengah berupaya keras untuk mencukupi kehidupan dasar kita dalam cetakan efesiensi produksi yang telah ditentukan sebelumnya.

Sepanjang sejarah orang-orang yang mendominasi telah mencoba berbagai cara untuk mengontrol reproduksi manusia, baik melalui sistem kasta, perpaduan hukum rasial, eksperimeneksperimen ala Nazi yang menjijikkan, atau pun sekedar membunuh para pria dan menjadikan para wanita sebagai budaknya. Kelaskelas Penguasa telah memperbudak seluruh bangsa, memaksa mereka untuk bekerja di pertambangan dan ladang; mereka telah membatasi hak-hak para perempuan, membuat mereka tergantung dan diasingkan, kapasitas reproduktif mereka dijaga dan diperjualbelikan layaknya komoditas demi kepentingan kaum pria, dll. Namun di atas semua itu, kebutuhan manusia untuk berkembang biak dan hidup bebas telah menaklukkan berbagai upaya keras ini. Jika perlu hasrat tersebut akan diekspresikan jauh lebih lama dari peradaban. Berbagai lagu dan literatur dibangun di atas ketegangan antara tuntutan para elit yang membuat individuindividu melayani hasrat mereka serta pencarian individual demi pemenuhan diri meski tertekan secara sosial. Kita secara genetik masih tetap liar, meskipun kita mengerang di bawah beban yang dipaksakan secara sosial untuk membatasi perilaku liar kita.

Dan hal itulah yang mesti kita singkirkan — Suara-suara di dalam kepala kita yang berkata bahwa kita harus mematuhi para majikan, pendeta dan jendral kita. Kita harus melakukannya sekarang, sebelum mereka menggunakan ilmu pengetahuan genetik untuk mengubah kita secara permanen sebagai orangorang yang berkehendak sebagai budak, yang tak bisa menghendaki otonomi. Kita mesti berkeinginan untuk bertanggung jawab atas hidup kita sendiri, membangun komunitas-komunitas yang mampu mendukung para anggotanya sehingga kita tak perlu lagi melayani para majikan kita dalam ancaman kelaparan dan kedinginan. Hal itu pastinya akan sulit. namun kita pada dasarnya adalah hewan-hewan yang mampu hidup liar; membuat perangkat manusia kita sendiri yang berupa perkampungan dan perkemahan lengkap dengan kerabat dan klan kita. Saatnya membakar kota dan meninggalkannya; Segera kumpulkan para suku dan pergi. Pintu kandang terbuka lebar — jangan pernah takut untuk melangkah keluar.

KEBUASAAN OLEH JAMES BARNES

Kita para enviromentalis terlalu banyak bicara soal alam liar, hutan belantara dan terkadang bahkan soal kebuasan tanpa, menurut saya, benar-benar mengetahui apa yang sebenarnya kita bicarakan. Bagi saya kebuasan adalah kualitas yang jauh lebih penting dari segala mahkluk hidup dan dunia ini, dalam jangka panjang, dibanding ukuran kuantitatif dari keanekaragaman hayati, kemurnian ekosistem asli atau pun penetapan hukum perlindungan.

Alam liar ditentang, tentunya secara umum, untuk dijinakkan. Kita berpikir soal beragam tanaman dan hewan yang didomestikasi sebagai sesuatu yang inferior (jika itu membawa manfaat bagi kita) bagi varietas liar, seringkali karena reproduksi dan perkembangan mereka telah dikompromikan berdasarkan spesialisasi turunan kita dan dibuat bergantung pada perlindungan kita. Hal ini mungkin pandangan yang keliru, terkait hal itu seseorang juga dapat melihatnya pada spesies-spesies yang didomestikasi yang sebelumnya telah dibuat beradaptasi sebelumnya agar manusia dapat memilihnya untuk masuk ke dalam pola simbiosis. Simbiosis tersebut dapat digambarkan sebagai bentuk perdagangan makanan: telur, susu, benih, buah-buahan — dan tubuh — atau pun produk-produk yang dapat berguna bagi kompetisi habitat bebas serta jaminan perlindungan dan pemberian makanan. Sebagai contoh, jumlah kisaran sapi domestik adalah global, yang hanya tidak mencakupi wiliayah Antartika, dan secara individual jumlahnya adalah miliaran dari beragam varietas. Apakah itu merupakan strategi yang baik untuk jangka panjang? Hanya waktu yang dapat menjawabnya. Seluruh strategi adaptif sifatnya adalah jangka pendek, berlaku hanya sementara. Masa depan sama-sama tidak dapat diketahui oleh sapi, gen atau pun manusia.

Jika hal ini menjadikan makna domestik menjadi tidak jelas kecuali dikaitkan dengan berbagai hal yang bersifat manusiawi, maka alam liar hanya dapat didefenisikan sebagai sesuatu yang tidak dipengaruhi oleh manusia. Hal tesebut menjadikan manusia berada dalam keputusasaan karena selamanya berada dalam lingkup defenisi negatif tersebut, dikutuk untuk selamanya berada dalam dunia kontrol sosial di saat keliaran tengah eksis di luar dari cagar alam berpagar kawat.

Namun adalah kesalahan untuk meyakini bahwa manusia bagaimana pun juga telah didomestikasi, dan sama sekali tidak liar. Tidak demikian. Kita adalah hewan-hewan liar, hewan yang paling berbahaya. Dan sebagaimana yang telah disaksikan oleh populasi kita yang jumlahnya 6 miliar dan terus bertumbuh ini, kita sama sekali tak bermasalah dalam menata pola reproduksi kita secara otonom.

Seperti halnya prinsip ketidakpastian, yang semata-mata memandang “hutan belantara” sebagai faktor yang pengubahnya. Tidak hanya jalanan dan penebangan kayu namun juga pencemaran terhadap udara dan air, perubahan iklim, makin berkurangnya aktivitas tradisional manusia (seperti pembuatan api, mengumpul, dan berburu), demikian pula dengan faktor-faktor non-manusia yang merayap pelan ke dalam ruang-ruang yang kita jaga sedemikian rupa, menertawai kerapuhan kendali kita baik itu berupa kebakaran atau pun banjir, serangga maupun penyakit atau juga bahaya yang timbul dari kebiasaan liar kita.

Jika dikotomi liar atau domestik adalah hal yang valid, itu bukanlah mengacu pada manusia versus non-manusia, mereka yang didomestikasi, yang terjinakkan lebih mengacu pada dorongan atau impuls untuk tunduk kepada otoritas kesadaran kita sendiri terhadap otonomi entitas yang lain, baik itu berupa lanskap, mahkluk atau pun bagian dari perjuangan kita sendiri untuk merengkuh kebebasan.

Keliaran merupakan kualitas tak terlukiskan yang kita tinggalkan, otonomi dan realisasi-diri. Hal itu bukanlah sesuatu yang dapat diatur, ditata maupun dipulihkan/direstorasi. Eksistensinya adalah sesuatu yang sifatnya independen: ia dapat digunakan/dimanfaatkan, diubah dan bahkan dihancurkan (di berbagai tempat, menjadi bagian yang terpisah-pisah) namun ia takkan bisa diproduksi layaknya dipabrik. Ia bukanlah sesuatu yang murni, bukan pula sesuatu yang jelas: Ia berasal/dihasilkan dari berbagai kekuatan yang bergerak yang mungkin memiliki maksud dan tujuan tertentu, namun takkan dapat mengarahkan secara keseluruhan. Ia adalah termasuk dari kita semua.

ANARKISME SUDAH MATI! PANJANG UMUR ANARKI! OLEH ROB LOS RICOS

Aku adalah seorang anarkis. Saya tidak percaya bahwa ada orang-orang di dunia ini yang jauh lebih mampu menentukan apa yang terbaik atau sesuai bagi diriku selain diriku sendiri. Jika saja aku tidak dilahirkan di dalam sebuah tatanan masyarakat seperti yang kita tinggali saat ini, Aku tidak akan pernah memilih untuk hidup berdasarkan pada arahannya. Meskipun saya mendapatkan banyak manfaat dari apa yang ditawarkan oleh para kapitalis/ bangsa/Negara, saya melakukannya hanya karena tidak ada pilihan lagi yang tersisa bagiku (hidup sebagai budak upahan dan mati!)

Namun, apa makna sesungguhnya dari menjadi seorang anarkis? Apakah itu mengartikan bahwa Aku akan melancarkan protes atas kondisi penindasan yang kini kujalani dan disaat yang sama tidak mengambil tindakan apa pun guna membebaskan hidupku dari kekuatan-kekuatan dominasi bangsa/Negara dan kapitalisme, ataukah itu mengartikan bahwa Aku akan melawan kekuatan-kekuatan tersebut melalui aksi dan sikap non-kooperatif, tidak peduli apa pun konsekuensi yang akan kudapatkan atas aksi tersebut? Atau, terdapat pilihan-pilihan lain yang sama sekali belum bisa kubayangkan karena terlampau tenggelam dalam kondisi ketertindasan ini?

Ada begitu banyak pertanyaan dan isu yang selalu membuat kesal para anarkis. Para anarkis klasik nyaris tidak mampu mendefenisikan siapa diri mereka dan apa yang mereka yakini tanpa perlu menjelaskan apa yang bukan bagian dari dirinya! Filosofi negasi, yang saling beroposisi, inilah yang menghalangi para anarkis — pada bagian yang terpenting — untuk mampu menghadirkan defenisi yang jelas tentang apa yang sesungguhnya mereka yakini dan bagaimana tatanan masyarakat anarkis dapat berfungsi di luar dari cakupan parameter yang didefenisikan oleh kapitalisme dan Negara/bangsa. Waktunya sudah terlampau jauh terlewati bagi para anarkis untuk mulai membayangkan seperti apa hidup mereka tanpa perlu merujuk pada semua aksi yang telah direifikasi yang turut mendefenisikan apa yang bukan bagian dari dirinya. Tantangan bagi para anarkis di masa abad ke-21 ini adalah untuk mulai mendefenisikan siapa dirinya yang sesungguhnya, apa yang selama ini mereka yakini dan seperti apa bentuk aksinya, di luar dari segala paradigma yang ditentukan untuk kita oleh beragam konstruksi sosial yang selama ini melingkupi hidup kita serta mulai menunjukkan apa yang selama ini kita yakini tentang bagaimana kita mesti bertindak dan seperti apa arah yang ingin kita tempuh dalam hidup kita. Apa hal yang ingin kita capai dalam hidup kita, tidak sekedar menunjukkan betapa kita tidak ingin berpartisipasi di dalam dominasi atas Negara/bangsa yang tergolong belum berkembang, berdasarkan pada kategorisasi sosial-ekonomi, atau pun kehidupan yang masih berbasis pada alam.

Salah satu cara paling mudah untuk mulai menempuh jalan pendefenisian-diri tersebut ialah dengan menolak terminologi hitam-putih — baik itu berupa relasi yang selama ini menjadi pondasi bagi dikotomi dunia barat. Kekeliruan paling mendasar dari ideologi dunia Barat adalah pandangan bahwa manusia merupakan sesuatu yang terpisah dari — dan dalam beberapa hal adalah superior — atas dunia alamiah. Berikut ini adalah beberapa saran tentang bagaimana mencapai hal ini:

Berhentilah menyebut planet tempat kita hidup ini sebagai “Bumi”, atau pun “Planet Bumi”. Kita harus mengakui bahwa tempat kita hidup ini sebagai apa adanya: sebagai rumah kita. Rumah — dalam defenisinya yang paling luas tersebut, akan menyingkirkan segala sampah, menghancurkan, mengorbankan atau jika tidak, akan buang air besar di tempat kita hidup. Sementara beberapa orang mungkin akan lebih menyukai beberapa tempat tertentu, kita semua harus peduli pada kenyataan yang menyiratkan bahwa dunia yang menjadi rumah bagi kita saat ini adalah milik kita semua, bahwa kita hanya menumpang lewat dan generasi berikutnya berkeinginan untuk menikmati dunia ini dengan cara yang serupa, itu pun jika kita tidak terlanjur terjebak dalam kondisi yang memaksa kita untuk memusnahkan dunia asal kita sendiri.

Kita juga harus melakukan yang serupa untuk berhenti mengaitkan manusia pada berbagai bentuk kategorisasi tertentu. Kita adalah “kita”. Hanya ada satu ras, yakni ras manusia — kita tak lebih dari spesies tunggal. Konsep mengenai ras merupakan alat dari elit-elit penguasa yang diciptakan guna mencegah orangorang yang tertindas menyadari kesamaan penderitaan mereka dan bersatu padu untuk menggulingkan para penguasa. Hal ini telah lama bekerja dengan sangat baik, seiring dengan jatuhnya orang-orang miskin ke dalam pertikaian dan penggolongan “rasial” sebagai mekanisme bertahan hidup mereka, sehingga tidak hanya meninggalkan elit-elit penguasa lolos dari aksi kekerasan yang berasal dari keputusasaan orang-orang yang tertindas, tetapi juga bertindak sebagai garda terdepan dalam proses penindasan atas orang-orang miskin lainnya dengan imbalan bakal “diterima” dalam batasan tertentu oleh para elit penguasa

Kita mesti menolak pandangan para Marxis mengenai pembagian kelas. Orang-orang kaya (nyaris) sama tertindasnya seperti halnya orang-orang miskin. Bagaimana pun juga, mereka harus berjuang keras untuk mempertahankan status sosial yang mereka miliki, membuang segala bentuk perilaku apa pun yang dapat dikategorikan sebagai “manusia,”atau pun “alamiah.”

Sebagian besar manusia tidak dapat melihat penderitaan manusia yang lain dan mulai memperhitungkan bagaimana mereka dapat memperoleh profit darinya, juga/pun tidak memandang rimbunnya hutan hujan dan segera mulai mengatur rencana tentang bagaimana mengurangi populasi dan membuka lahan pertambangan guna meningkatkan pendapatan dari korporasikorporasi yang mengekstraksi batu bara/mineral. Seseorang yang mampu melakukan hal tersebut bukan lagi merupakan sosok pribadi/personal, namun adalah sosok unit-karbon penghasil pendapatan, yang tak memiliki perasaan, tanpa emosi, tanpa hati. Eksistensi mereka secara keseluruhan didasari oleh rasa takut akan kehilangan posisi mereka di dalam tatanan masyarakat, takut bahwa suatu saat tidak akan mampu membeli sesuatu yang mereka inginkan, takut bahwa setiap orang akan berpaling dari mereka karena tak memiliki lagi kekayaan untuk dibagikan pada bawahan serta antek-antek yang memperkaya mereka. Saya hanya bisa mengasihani orang-orang kaya tersebut karena kemiskinan total akan pengalaman hidup mereka.

Para Anarkis harus meninggalkan anarkisme. Anarkisme tidak lebih hanyalah sayap paling kiri dari sosialisme. Para Sosialis sama sekali tak bermasalah dalam menciptakan hukum-hukum/regulasi yang lebih banyak, memperkuat/memberdayakan Kepolisian dan Pengadilan untuk memperkuat posisinya serta mengabaikan hal apa pun yang mungkin menghalangi jalannya dalam menentukan apa, siapa dan kenapa kita melakukan apa yang selama ini kita perbuat. Pada akhirnya, seluruh ideologi para sosialis akan menggiring kita pada bentuk fasisme. Atau bahkan jauh lebih buruk lagi.

Hal yang tidak kalah pentingnya juga adalah mengenali seberapa jauh perkembangan kita sebagai para anarkis. Para penganut ideologi anarkisme mencoba untuk mendiskreditkan dengan menyebutkan nama serta membuat skenario fantasi tentang kami untuk mendiskreditkan keberadaan kami. Murray Bookchin beserta pengikut/antek perempuannya yang bernama Janet Biehl sama sekali tidak berhenti mengkritisi para anarkis yang berkeinginan untuk memperluas diskursus anarkis melampaui batasan-batasan kapitalisme dan negara-bangsa.

Sambil tetap memutuskan secara sepihak apa yang dapat dikategorikan sebagai pandangan, teori, serta bentuk praktek anarkis dan mana yang bukan, mereka melabelkan siapa pun yang berkeinginan untuk melihat lebih dekat, atau pun memeriksa secara mendalam mengenai kapital dan kondisi sosial kekinian sebagai fasis, mengelompokkan para teoritisi anti-kerja ke dalam kategori yang serupa seperti halnya orang-orang yang menerapkan slogan kerja adalah bebas dari kamp-kamp konsentrasi. Mereka yang berkehendak untuk menghancurkan kamp-kamp kematian akan berhadapan dengan tantangan yang sangat kuat dari orangorang yang berada di dalam kamp-kamp kematian yang — sepanjang mereka masih dapat melayani para majikannya — masih merupakan bagian dari orang-orang yang posisinya baik-baik saja. Mengapa mesti menghancurkan perahu jika masih ada ruang bagi para penjilat dan juga majikan?

Terdapat begitu banyak organisasi yang mengabdikan dirinya bagi perkembangan para anarkis yang juga turut melayani kelas penguasa (misalnya IWW, WSA dan kelompok-kelompok pekerja lainnya). Kelompok-kelompok yang mengabdikan diri secara total dalam menegakkan dunia para kapitalis yang memuakkan. Mereka sama sekali tidak mampu membayangkan kehidupan di luar dari kapitalisme melampaui ikan-ikan yang membayangkan dirinya mendaki pegunungan Everest. Berkaitan dengan hal ini, anarkisme dapat dikatakan tidak lebih dari sekedar perangkat lain dalam menaklukkan spesies manusia melalui abstraksi uang dan hubungan ekonomi, dibanding sebagai teori pembebas dari jerat relasi itu. Jika pandangan pencerahan tentang kemajuan dapat diinterpretasikan sebagai ideologi pemusnahan segala bentuk kehidupan di Bumi demi mengejar keuntungan, maka anarkisme hanya dapat dipandang sebagai bentuk lebih demokratis dari upaya genosida-euthanasia secara global.

Lonceng kematian dari sudut pandang anarkisme tidak dapat diilustrasikan lebih baik selain melalui essai dari perspektif Kirihijau “The Culture of Terrorism,” yang ditulis oleh seorang antek Bookchin lainnya — yaitu Michael D. Weiss. Karyanya berkaitan dengan konsep “Budaya Terror.” Apakah konsepnya mengenai “Budaya Terror” berkaitan dengan pelanggaran batas polisi-negara yang dalam pandangan para penonton setia acara TV terjadi di berbagai program seperti “Cops” atau “Scariest Police Chases” atau hanya merupakan gambaran aktual serta teror nyata lainnya bagi masyarakat Amerika yang diusung oleh kekuatan penegak “Hukum dan ketertiban?” Apakah pidatonya hanyalah sematamata untuk meninjau kembali dasar intelektual yang diusung oleh seorang Noam Chomsky dalam membedah bagaimana berbagai agen militer, media dan kekuatan hukum memaksakan aturannya dengan menyebarkan rasa takut, intimidasi, serta pembunuhan terhadap masyarakat Amerika sebagaimana pembahasannya soal korban-korban dalam sistem produksi kapitalis di berbagai Negara yang “kurang berkembang” yang ia tulis di dalam bukunya yang berjudul “Nation of Terror”? Apakah Weiss mengalihkan pandangannya pada konsep tahun 70-an soal “Deathkulture” sebagaimana yang turut dikembangkan pula oleh kultus Zendik? Sayangnya sama sekali tidak, Weiss hanya sekedar berteriak kasar pada orang-orang yang memiliki tindik dan tatto. Pada mereka yang membaca (dan bahkan mempublikasikan) buku. Aaaiiiieeee! Tidak ada yang mampu mengilustrasikan lonceng kematian anarkisme klasik secara lebih baik selain dari orang-orang yang mengecam pihak yang menolak jatuh ke dalam defenisi sempit tentang seperti apa cara pandang dan hal yang mesti dilakukan oleh setiap orang berdasar pada pendefenisian mereka tentang bagaimana menjadi pekerja yang baik dan — yang terpenting — menjadi pelayan setia bagi para akademisi sekarat yang membangun reputasinya dengan mendefenisikan dimana dahulu posisi para anarkis berada — sekitar 30 tahun yang lalu atau lebih — serta menuntut para generasi selanjutnya mengikuti jejak mereka layaknya domba dan mengabdikan hidupnya pada ide-ide sekarat para akademisi lanjut usia itu.

Sejak tahun 80-an, dan bahkan sebelumnya, penyelidikan yang dilakukan oleh orang-orang yang sependapat dengan Fredy Perlman, John Zerzan, dan bahkan oleh Situasionis Internasional serta para filsuf seperti Michael Foucault telah membawa suatu cara baru dalam melihat sejarah dan berbagai kuasa dominasi yang kita hidupi saat ini. Suatu penyelidikan lebih lanjut tentang bagaimana bahasa yang kita gunakan dalam keseharian (di antara beragam hal lainnya) turut membentuk, mengurung/membatasi dan sebaliknya cara pandang kita terhadap dunia dan beragam kondisi sosial justru telah menggiring banyak orang untuk menolak ideologi-ideologi ortodoks yang ingin mengembangkan lebih jauh berbagai aspek pemberontakan dan insureksi. Jika hal semacam ini justru mengarah pada penghancuran atas segala yang kita tahu sebagai kehidupan (dilihat dari sudut pandang bertahan hidup), maka biarlah demikian. Apa yang kita miliki hanyalah dunia untuk diraih dan tidak memiliki apa pun selain rantai — beserta hidup dari mereka yang berkeinginan untuk memperbudak kita semua — untuk dihancurkan.

LAHIR TERPENJARA OLEH ANONIM

Saya lahir di dalam penjara. Saya bertumbuh di penjara. Tanpa adanya beberapa upaya pelarian diri singkat saya tentu akan menghabiskan seluruh hidupku meringkuk di dalam penjara. Pengalaman itu telah membentuk cara saya berpikir dan bertindak. Saya telah begitu terbiasa dengan kondisi kemelaratan yang kualami hingga seringkali membuat saya lupa bahwa saya adalah seorang tahanan. Saya sama sekali tidak pernah tahu apa yang telah hilang dalam hidupku. Tidak juga kamu.

Fungsi dari sistem penjara seringkali digambarkan sebagai “hukuman” dalam ranah moralistik konservatif atau di dalam gagasan yang lebih liberal (namun kini cukup menggelikan) sebagai bentuk “rehabilitasi”. Jangan mudah tertipu. Fungsi dari penjara jelas adalah konsep yang sangat politis: yakni untuk mempertahankan ketertiban/tatanan melalui kekuatan pemaksaan. Orang-orang diisolasi antara satu dengan yang lainnya dan juga dari komunitas mereka serta ditempatkan dalam lingkungan artifisial dimana setiap momen dan detailnya adalah tentang bagaimana menjalankan kontrol atas setiap individu. Polisi, pengadilan dan penjara hanya mencari satu hal dan itu bukanlah keadilan, melainkan kepatuhan.

Kita semua adalah subjek bagi model pendisiplinan militer. Hal inilah yang ingin diwujudkan di dalam masyarakat yang dilingkupi oleh pabrik beserta kebutuhan utamanya akan pengaturan waktu, pemisahan ruang dan penghancuran otonomi para pekerja. Kepatuhan ala militer tersebut diperkuat pula oleh indoktrinasi

(di dalam sekolah), penyingkiran seseorang dari lingkup komunitasnya (dunia alamiahnya), pemaksaan otoritas (lewat para guru, tuan tanah, majikan, polisi) dan berujung pada ancaman belenggu pada kaki dan penjara. Penjara semata-mata merupakan tempat perhentian akhir bagi para pemberontak, orang-orang yang menolak menyesuaikan diri, bagi mereka yang tak puas dan rusak jiwanya karena berada dalam belenggu otoritarian, atau pun tatanan serupa penjara.

Dengan mendirikan tempat penampungan bagi para suku Indian yang diawasi secara langsung oleh militer, pemerintah Amerika telah menciptakan penjara bertipe keamanan minimum yang bertujuan untuk mengisolasi dan mengontrol seluruh populasi. (“melakukan domestikasi atas suku-suku Indian liar” dan sekaligus membersihkan penghalang untuk mendomestikasi wilayah tanah mereka). Sama sekali tidak yang dapat membenarkan bentuk pengurungan ini berdasarkan retorika kejahatan dan penghukuman. Pola pikir Eropa, yang cenderung mendesak hadirnya kontrol dan tatanan atas suatu wilayah, adalah terlalu mementingkan diri sendiri untuk merisaukan hadirnya justifikasi semacam itu, terkecuali untuk menyelubungi berbagai kebijakan pemerintah dengan ocehan kebajikan paternalisme mereka. Dengan memutuskan relasi mereka dengan tanah mereka sendiri serta memaksa suku-suku itu untuk memasukkan anak-anaknya ke sekolah, kebijakan pemerintah berupaya untuk mengasimilasi keberagaman budaya pribumi yang kaya itu ke dalam tungku peleburan khas Amerika yang didasari oleh satu pemikiran tunggal layaknya Borg di Star Trek.

Pada akhirnya para penjajah tersebut menjebak dirinya sendiri ke dalam sistem penindasan yang mereka buat sendiri. Kota-kota dan kemudian daerah pinggiran kota menjelma menjadi kandang yang dipenuhi manusia/kemanusiaan namun sama sekali tak memiliki relasi dengan makhluk yang lain. Kita menjadi makin terisolasi dari komunitas biologis yang jauh lebih luas, terpisah dari dunia alamiah yang juga turut memberi konteks dalam setiap aktivitas manusia. Hiburan dalam kemasan yang dirancang untuk memenuhi konsumsi setiap individu telah menggantikan berbagai pengalaman sosial yang turut membentuk komunitas (misalnya, tarian dapur, tarian perang, pemeliharaan gudang, festival nyanyian komunitas). Teknologi makin memediasi beragam interaksi sosial setiap orang dan juga interaksi yang terjalin antara manusia dengan dunia alamiahnya. Kita semua terperangkap dalam ruang kesendirian, narsisme serta pasifisme yang makin menyesakkan.

Saya pertama kali menyadari status saya sebagai tahanan saat masih di sekolah menengah. menjadi subjek dari ribuan jam kurungan, duduk di meja, diawasi, dikelilingi oleh tembok-tembok yang membuat tekanan untuk melarikan diri semakin bertumbuh tak terkendali layaknya api. Saya memalsukan izin yang tak terhitung jumlahnya (pihak administrasi pasti meyakini bahwa saya adalah seorang anak yang sakit-sakitan) dan kemudian Saya akan berjalan melintasi tepi sungai yang masih liar. Saya pun mulai merasakan bahwa jika sekolah sesungguhnya adalah penjara, maka lingkungan suburban tempat saya tinggal adalah halaman penjaranya, sebagai bagian dari lingkungan yang ada di bawah kendali. Pengembaraan saya telah memberikan saya sensasi kebebasan, rasa kekerabatan yang erat dengan makhluk lain selain sebagai anjing yang terikat, atau pun sebagai tanaman di pot halaman rumput yang terawat. Namun, saya kembali ke kehidupan saya yang terdomestikasi layaknya seekor anjing yang berlarian di lingkungan sekitar tapi mesti kembali karena perut yang kelaparan. Bertahun-tahun masa pendidikan yang kualami tersebut sama sekali tak memberikan keterampilan apa pun untuk menjalani hidup di luar.

Terdapat satu setengah juta penduduk Amerika yang berada di balik pagar kawat dan jeruji besi. Hal ini merupakan petunjuk pertama yang memperlihatkan bahwa masyarakat kita saat ini berorientasi pada pemenjaraan. Namun masing-masing dari kita menjalani hidup di dalam penjara dimana sekolah pada dasarnya diwajibkan, kemudian diikuti pula oleh masa kerja yang diwajibkan pada saat kita dewasa. Koloni penjara yang maha luas ini mempertahankan tatanan dalam tiga cara.

Pertama, menetapkan beragam level/tahapan pemenjaraan. Orang-orang yang tidak mengikuti aturan akan dilepaskan dari kebebasan mereka yang terbatas dan dipindahkan ke dalam institusi yang jauh lebih membatasi. Fasilitas dengan keamanan super maksimum dan fasilitas yang dijuluki sebagai “Lubang” adalah tak lebih dari kotak-kotak kecil yang padat, tidak lebih dari 8 sudut. Instalasi keamanan tingkat menengah memungkinkan kontak dengan para tahanan lain dan adakalanya dengan matahari dan angin. Sebuah instalasi keamanan tingkat minimum bahkan memungkinkan kontak dengan tanaman dan tanah melalui tugastugas penyisiran wilayah sekitar atau pun penugasan sebagai pmbersih pinggiran jalanan. Lingkungan perkotaan memungkinkan terjalinnya asosiasi bebas di antara manusia dan burung merpati. Lingkungan suburban memiliki batasan yang kabur dimana keliaran merayap pelan lepas dari segala pembabatan, herbisida dan bangkai jalanan.

Metode kedua dalam menjaga ketertiban ialah dengan menyajikan beragam distraksi yang tak terbatas. TV adalah perangkat pasifikasi yang sangat memadai di balik tembok penjara. Dengan level/tingkat pengurungan yang diturunkan, maka terdapat lebih banyak bentuk asosiasi yang diijinkan namun juga lebih banyak distraksi yang eksis. Lebih banyak hobi yang tersalurkan, mainan, video, gadget teknologi dan sampah konsumer yang tumbuh beriringan secara logaritmik dengan setiap musim liburan.

Metode ketiga dalam mempertahankan tatanan/ketertiban ialah dengan menyangkal setiap keterampilan yang dimiliki oleh para tahanan, yang merupakan sumber daya dan sikap yang sangat diperlukan agar dapat berhasil hidup di luar lingkungan penjara, sehingga mereka akan berakhir kembali ke dalam penjara. Sistem pengurungan dengan demikian diabadikan tetapi tidak ditampilkan terlalu represif. Para tahanan tampak berakhir kembali ke dalam penjara karena keinginan atau kelemahan mereka sendiri. Hal ini berlaku bagi para penghuni yang telah lepas dari penjara dan juga berlaku bagi setiap dari kita yang ingin lepas dari cengkraman masyarakat tekno-industrial. (coba amati kesulitan yang membumbui pengalaman para anggota Earth First! yang berkemah jauh dari kendaraan, tidur di luar tenda, mengambil resiko jauh dari api unggun, mencari makanan, serta menjelajahi malam. Berapa banyak dari kita yang benar-benar menghabiskan seluruh atau dua musim di alam bebas?)

Meskipun seluruh budaya cukup mendefenisikan dengan baik berbagai norma-norma sosial yang membatasi kebebasan, namun tidak ada budaya lain yang begitu efektif dan secara drastis mengisolasi para anggota masyarakatnya di dalam dunia artefak manusia, dalam lingkungan yang sengaja dibangun dan menjadi adat rujukan bagi diri sendiri.

Selama lebih dari setengah milenium di Amerika, baik para penjajah maupun yang dijajah telah dipindahkan jauh dan lebih jauh lagi dari wilayah lansekap kehidupan hingga masuk ke dalam lingkungan dengan tatanan yang lebih terkontrol. Sepanjang tiap 500 tahun di rentang waktu tersebut, jalanan telah dipaksakan masuk ke dalam lingkungan alam liar, pagar kawat yang membatasi makin bertambah banyak, sementara tanah itu sendiri telah menjelma menjadi lingkungan penjara yang dirancang bagi manusia dan makin mengeringkan keberagaman dan vitalitasnya.

Saya tidak ingin meremehkan kondisi-kondisi mengerikan yang dihadapi oleh mereka yang selama ini telah dikurung lebih lama dibanding Saya, yang tidak hanya menderita karena telah kehilangan aspek spiritualnya namun juga mengalami kebrutalan secara psikologis. Lebih dari itu, saya ingin menegaskan persamaan kita dengan mereka yang telah menghabiskan masa berbulanbulan, bertahun-tahun, dan seumur hidupnya di dalam neraka yang tersusun hanya oleh bebatuan dan logam. Dukungan terhadap perjuangan para tahanan adalah aktivitas yang penting bagi para biosentris anarkis.

Kita semua sama-sama tengah berada di dalam kapal tangki minyak yang akan tenggelam. Beberapa dari kita telah terkurung di bawah dek, sementara yang lainnya bebas menjelajahi seluruh bagian kapal. Namun itu bukanlah tempat bagi siapa pun dari kita. Hidup tidak dapat bertumbuh subur di sini.

GAIRAH AKAN HIDUP YANG LIAR: LUAPAN EMOSI INDIVIDUAL DARI GENERASI YANG TERHUKUM OLEH CHRIS KORTRIGHT

Saya lahir dari generasi terkutuk. Generasi lain tidak dapat memahami perasaan kami. Ada beberapa bagian dari generasi ini yang mencoba memahami rasa keputusasaan ini namun bagi kami itu bukanlah sesuatu yang teoritis, seperti itulah yang kami ketahui. Seperti itulah yang selama ini kami pahami (secara emosional, intelektual, serta spiritual). Orang tua saya pernah bercerita padaku tentang seperti apa diriku saat masih berusia 3 tahun. Saya pernah sekali berada di dalam kantor mereka di San Fransisco dan Blue Angels tiba-tiba melayang di atas kepalaku, saya melompat ke bawah meja sambil berteriak “mereka menjatuhkan bom!” Sewaktu masih kecil saya pernah memiliki beberapa teman yang kebetulan adalah para pengungsi asal Vietnam dan Amerika Tengah sehingga, saya dapat mendengar langsung bagaimana kejamnya kapitalisme dan komunisme di masa itu. Saat usiaku 10 menginjak 10 tahun saya pernah berkenalan dengan beberapa orang meninggal karena AIDS, belum lagi menyaksikan sendiri orang-orang yang membusuk perlahan. Saya telah melihat beberapa pernikahan yang hubungannya begitu kuat dan juga menyaksikan begitu banyak anak-anak yang diculik oleh “Dinas Perlindungan Anak” karena kejahatan kebangkrutan. Saya menginjakkan kaki pertama kali di San Quentan pada usia 5 tahun dan melihat sendiri seseorang terbunuh pada usia 6 tahun.

Saya sama sekali tidak tahu apa-apa soal kehancuran ekologis. Lubang di lapisan ozon selalu ada. Anak sungai dan sungai selalu beraroma lucu. Saya tidak bisa memakan kepiting yang kutangkap bersama ayahku di anak sungai yang ada di belakang rumahku, sialnya, saya tak dapat meminum air ketika saya tengah menjelajah dengan tas ransel di punggung bersama dengan ayahku. Dia mencoba untuk menjelaskan mengapa lereng bukit tidak memiliki pepohonan dan kenapa dia mesti kehilangan sebagian dari telinganya karena kanker kulit. Bukankah seharusnya terdapat busa berwarna cokelat di sekitar ban bekas yang ada di samudera pasifik? Bayi-bayi yang mati karena pembuangan limbah industrial — bukankah itu sesuatu yang alamiah? Sekarang kalian ingin bicara soal Utopia padaku. Kamu menginginkan saya memandang cahaya di ujung terowongan ketika saya sama sekali belum melihat pertandingannya!

Industrialisme telah menciptakan sebuah dunia dimana seluruh lingkungan manusia dan setiap objek yang ada di dalamnya hadir untuk melayani kepentingan “produksi” dan untuk mengingatkan orang-orang bahwa satu-satunya kebahagian mereka terdapat di dalam dunia industrial. Dunia artifisial ini dibangun oleh manusia yang ingin menggeser pengaruh/inspirasi alam liar terakhir yang ada di dunia ini, Sembari berjanji akan mencakupi semuanya sehingga manusia sudah tidak mungkin lagi melihat, membayangkan, atau bahkan mengharapkan apa pun yang di luar itu.

Sulit bagiku untuk memahami atau pun menghubungkan visivisi apa pun yang berkaitan dengan harapan atau ilusi-ilusi utopia. Namun dalam membusuknya perut peradaban begitu banyak dari kita yang mencoba untuk menjalin koneksi dengan sisi liar kita sendiri. Ber agam hasrat dan insting itulah yang membuat saya merasa sakit ketika sedang bekerja, tersesat di dalam labirin bangunan dan tembok kokoh, dibuat tuli oleh listrik yang berdengung dan ketidakmampuan dalam menekan reaksi kekerasan karena merasa telah dikontrol, digiring dan dimanipulasi. Koneksikoneksi semacam ini mungkin muncul dari pengakuan kita atas rasa ketidakberartian kita saat berdiri di tengah alam liar atau di samping tebing raksasa, perasaan tersebut mungkin berasal dari rasa persahabatan ketika kita menjalin kontak mata dengan seekor rakun atau bisa juga berada di dalam gejolak adrenalin erotis serta pertempuran jalanan saat kita berhadapan dengan polisi. Masingmasing dari kita menemukan pola ini dengan cara kita sendiri, namun kesamaan yang ada di antara kita yang tak dimiliki oleh para aktivis lain adalah bahwa kita takkan pernah menunggu datangnya revolusi, melihat ke masa depan atau pun membayangkan utopia. Kita berusaha untuk menghidupkan resistensi, untuk menghidupkan setiap momen dan memberontak di setiap momen yang kita miliki.

Seperti kobaran api yang melahap gedung atau pun bulldozer, gairah kita untuk menghancurkan sosok Leviathan ini takkan bisa dikendalikan dan diprediksi. Karena penolakan kita terhadap ideologi dan penolakan sadar terhadap dialektika, beragam manifesto dan program pula yang membuat resistensi kita takkan dapat dipetakan, diantisipasi, atau pun dipersiapkan. Meskipun analisis adalah hal yang sangat vital dalam mematikan tatanan masyarakat teknologis ini, aksi juga memiliki peran yang tak kalah krusial. Dan di dalam bayang-bayang peradaban ini pula ancaman itu merayap pelan. Ancaman tersebut mengancam pondasi dari peradaban kita karena peradaban tersebut tak memiliki rasionalisme yang memadai bagi keberlangsungan industrialisme. Penolakan atas produksionisme, adalah penunjang bagi hasrat kehidupan dan petualangan yang melampaui kerja. Untuk memilih kehidupan dari seekor hewan di atas segala bentuk kemajuan sains dan medis. Untuk menempatkan hutan belantara atau pun samudera di atas tatanan masyarakat industrial. Hasrat anti-rasional pula yang akan menjadi satu-satunya pemicu untuk melemparkan korek api guna menghentikan mereka yang senantiasa meracuni dunia dan berupaya mengendalikan diriku! sebuah anti-rasionalis dalam pengertian yang bisa membuatku meregang nyawa, bukan sebagai seorang martir, namun sebagai individual yang melakukannya demi kesenangan hidup yang murni dan demi hasrat atau pun cinta atas kehidupan.

Dunia yang bebas dan liar hanya dapat diciptakan di dalam reruntuhan dari peradaban ini. Ketika saya mengatakan reruntuhan maka yang saya maksudkan adalah sungguh-sungguh reruntuhan dalam artian fisik. Gedung-gedung dan pabrik-pabrik mesti dihancurkan dan isi perutnya yang berupa teknologi tersebut harus hancur dengan palu dan api. Jalanan dan trotoar mesti dirobek agar tanah yang ada di bawah dapat bernafas kembali. Mesin-mesin yang mampu berpikir, berlari, mengontrol dan menjalankan kehidupan kita harus dibunuh. Semua hewan yang dikandangkan dan lahanlahan liar yang dikelilingi oleh pagar kawat harus dibebaskan kembali. Seluruh bagian dari dunia artifisial mesti dihancurkan untuk menciptakan sebuah masyarakat yang baru.

Bentuk masyarakat baru yang bebas dan liar ini juga mesti lahir di antara reruntuhan jenis lain, jenis reruntuhan yang jauh lebih penting. Reruntuhan tersebut adalah reruntuhan budaya yang mati, yakni relasi sosial yang kita ciptakan bersama dengan segala hal yang ada di dunia ini. Hubungan dengan dunia non-manusia bergeser dari bentuk relasi sumber daya dan superioritas ke bentuk relasi selayaknya kawan bermain di dunia yang penuh petualangan. Bersama manusia yang lainnya kita mesti mematikan bentuk relasi komoditas yang telah diciptakan oleh budaya kerja, dibanding memikirkan apa yang bisa kita dapatkan dari manusia lain mari kita saling berbagi pengalaman dan perasaan satu sama lain. Dalam relasi kita dengan kekasih kita, hubungan tersebut biasanya berbasis pada produksi, kita masuk ke dalam satu kontrak atau yang lainnya bergantung pada hasil produk seperti apa yang kita harapkan dari komitmen tersebut. Hal yang lebih parah lagi adalah kita membawa sifat-sifat paling menjijikkan dari kapitalisme industrial ke dalam tempat terindah di dalam kehidupan kita. Seharusnya tidak ada kontrak apa pun dalam hubungan dengan kekasih kita. Kesepakatan, saling memahami, dialog yang jujur — semua ini adalah hal yang penting, namun jika kamu merancang kehidupan percintaanmu ke dalam model berorientasi ekonomis/legal maka hubungan itu takkan bernyawa dan kosong seperti halnya kehidupan bercorak ekonomi. Tak peduli apakah hubunganmu itu hanya untuk di malam hari atau untuk seumur hidup, non-monogami atau pu monogami, hubungan tersebut harusnya spontan, penuh gairah dan jauh dari segal bentuk hukum. Mencoba untuk menciptakan pola hubungan yang baru dengan dunia terdengar lebih baik dibanding menantikan datangnya sebuah revolusi, bukankah demikian?

Apakah kita akan menang? Dapatkah kita membangun suatu tatanan masyarakat baru yang hidup bebas di hutan belantara dibanding menghancurkannya? Saya meragukan itu, namun saya akan menjalani kehidupanku dalam pembangkangan karena saya menikmatinya. Saya merasa lebih baik berada di tenggorokan mesin destruktif ini daripada hidup nyaman di dalam perutnya. Dalam proses memperjuangkan kebebasan dan keliaran itu setidaknya kita dapat merasakan sendiri emosi-emosi terdekat dengan kebebasan sesungguhnya. Resistensi juga turut menciptakan patahan-patahan pada pondasi peradaban yang mempercepat runtuhnya peradaban yang tak terhindarkan. Karena peradaban ini akan segera runtuh, ia takkan mampu menopang dirinya sendiri. Ketika peradaban itu runtuh maka seluruh kemanusiaan akan ikut runtuh bersamanya, begitulah proses evolusi, entropi dan kehidupan!

Ataukah mungkin saya salah! Mungkin kita dapat menang!

LALU BAGAIMANA KITA DAPAT MENJADI LIAR:

BEBERAPA CATATAN YANG BELUM SELESAI AKAN DIBAHAS SECARA MENDALAM OLEH WOLFI LANDSTREICHER

Penghancuran peradaban — yakni jaringan hubungan yang meliputi Negara, ekonomi, teknologi. agama, keluarga, serta segala bentuk otoritas dan kontrol — yang juga berarti menjungkirbalikkan domestikasi — bagi Saya, semua ini adalah tujuan revolusioner, sebuah pedoman untuk menuju pada jalan hidup insureksi di masa kini. Meskipun diekspresikan secara negatif, namun terdapat visi-visi yang positif dibalik negasi ini. visi positif tersebut dapat dikatakan sebagai “keliaran”. Namun keliaran — terutama jika ditinjau sebagai tujuan pencapaian individual dalam pemberontakan atas domestikasi dan peradaban — adalah kualitas yang masih samar. Sebagai anarkis, saya merasa senang dengan hal ini. Takkan pernah ada seorang ahli di dalam keliaran manusia, takkan ada seorang pemimpin yang akan membawa kita ke sana (bahkan tidak pula kamerad yang telah lama hidup di dalam hutan selama 15 tahun terakhir, yang memandangnya lewat lensa ideologi peradaban sebagai “Alamiah”, “Ibu pertiwi”, “Lingkaran Kehidupan”, bahkan “hutan belantara” atau pun “keseimbangan ekologi” sembari memandang dirinya sebagai hakim atas mereka yang memahami “keliaran” atau pun tidak). Bagi siapa pun yang dapat membaca hal ini dan, tentunya merupakan bagian dari makhluk yang beradab, keliaran adalah sebuah konsep, sebuah gagasan yang dapat menginspirasi terjadinya pemberontakan; namun potensipotensi yang dapat menginspirasi sebuah pemberontakan tidaklah muncul dari jawaban yang mungkin disediakan oleh gagasan ini (seperti halnya ide pembebasan lain yang tak tergelincir ke dalam ideologi, gagasan ini sama sekali tak menyediakan jawaban) namun dari berbagai pertanyaan yang dimunculkan olehnya, berbagai persoalan perlahan mulai terbuka.

Eksplorasi kita terhadap pertanyaan seputar keliaran manusia tentu saja turut memasukkan pembahasan mendalam mengenai apa yang kita pahami soal orang-orang yang tidak-beradab dan bagaimana cara mereka hidup, dengan kesadaran bahwa semua pengetahuan semacam itu telah disaring sebelumnya melalui lensa-lensa ilmu pengetahuan peradaban seperti dalam antropologi dan paleontologi. Kita mesti menghindari delusi yang memperdayai kita untuk mengimitasi atau pun “berjalan kembali” kepada cara hidup orang-orang tersebut. Sekalipun kita memilih untuk mengupayakan imitasi semacam itu, ia hanya akan menjadi imitasi dari sebuah gambaran statis mengenai orang-orang di luar peradaban yang disajikan pada kita lewat kacamata peradaban industrial, dibanding menghidupkan kembali dinamika hubungan sosial-alamiah sesungguhnya dari orang-orang tersebut. Hal terbaik yang dapat dipelajari dari pendalaman studi antropologis terhadap orang-orang di luar dari peradaban ini ialah bahwa banyak orang di luar sana yang ternyata dapat hidup dengan baik tanpa semua kenyamanan yang telah disediakan oleh tatanan sistem sosial dan sistem teknologi yang bernama peradaban. namun sekali lagi realisasi semacam itu, yang terlepas dari bingkai ideologi apa pun, sama sekali tak menyediakan jawaban, namun justru memunculkan banyak pertanyaan yang memerlukan eksperimentasi serta eksplorasi yang lebih berani atas berbagai kemungkinan. Saya berulangkali menekankan hal ini, sebab seringkali retorika dari para anarkis anti-peradaban dipenuhi oleh asketisme dan pengorbanan moralitas, Saya memandang pemberontakan terhadap peradaban sesungguhnya adalah bentuk pemberontakan terhadap kanalisasi hasrat ke dalam produksi dan reproduksi sosial. Dalam lingkup pergaulan kita, sudah ada begitu banyak eksplorasi memadai yang coba mendalami arti dari beragam budaya non-peradaban bagi kita. Saya lebih memilih untuk mengeksplorasi seperti apa makna “menjadi liar” dalam kaitannya dengan praktek-praktek insureksioner di masa sekarang.

Salah satu hal yang mesti dipelajari dari proses pembedahan secara antropologis, historis dan pengamatan mendalam terhadap keadaan kita saat ini ialah bahwa manusia merupakan makhluk yang sangat berubah-ubah dan mampu beradaptasi. Berbicara soal “manusia secara alamiah” dalam hubungannya dengan relasi antara manusia satu dengan yang lainnya serta dengan dunia di sekitarnya tampaknya sangatlah absurd. Manusia tampaknya memiliki sedikit insting, dan insting tersebut, jikalau pun masih ada, tampaknya hanya memiliki peran yang sangat sedikit di dalam resistensi. Jika ini adalah persoalannya, maka upaya untuk “menjadi liar” mungkin harus menguasai insting. Namun level variabel dan kemampuan beradaptasi yang dimiliki manusia, mengindikasikan bahwa setiap individu mampu untuk melakukan penguasaan itu. Kekurangan nyata dari sifat alamiah manusia secara spesifik merupakan faktor yang memungkinkan domestikasi atas manusia, untuk menjadikannya makhluk yang beradab, namun hal itu juga membuka kemungkinan bagi munculnya pemberontakan atas kondisi tersebut, suatu pemberontakan yang dapat menghancurkan kondisi ini dan mentransformasikan kita ke dalam sesuatu yang baru — karena berbagai pengalaman yang pernah kita rasakan sebagai makhluk beradab takkan menghilang begitu saja, namun akan turut mempengaruhi seperti apa transformasi kita nantinya. “Keliaran” pasca-peradaban oleh karenanya tidak akan berbalik ke arah pra-peradaban di masa lalu, namun akan menjadi ajang eksplorasi berbagai bentuk relasi baru antara manusia dengan dunia di sekitarnya yang terbebas dari berbagai batasan yang dipaksakan oleh peradaban. Arti pentingnya dari hal tersebut hanya dapat dipahami pada momen yang diciptakannya dan akan terus berubah di setiap momen karena ia diciptakan secara terus menerus ke dalam arus interaksi yang dinamis yaitu keliaran dunia secara khusus.

Semua ini mungkin terlihat abstrak. Pada akhirnya, bagi individual yang beradab, keliaran akan menjadi sebuah konsep yang abstrak. Ia akan selalu menjadi demikian hingga seseorang kemudian terinspirasi oleh gagasan semacam ini — bukan sebagai gagasan paling ideal di atas yang lainnya, namun sebagai konsepsi tentang bagaimana menciptakan kebebasan bagi diri sendiri — untuk kembali bangkit dalam pemberontakan aktif melawan domestikasi atas diri masing-masing dan melawan setiap institusi peradaban yang memaksakan domestikasi tersebut. Individu-individu yang telah terinspirasi pada akhirnya akan mengembangkan kebuasan yang serupa dengan berbagai makhluk buas lainnya — serupa dengan berbagai hewan yang dahulu terdomestikasi dan kemudian menjadi liar — namun manusia secara individual dapat mengarahkan kebuasan ini pada berbagai target yang tepat dalam insurgensi terencana terhadap sumbersumber domestikasi yang dikenali.

Poin saya di sini ialah bahwa bagi insurgen yang berhadapan dengan totalitas peradaban, keliaran bukanlah merupakan jawaban, bukan pula suatu solusi akhir yang suatu saat nanti akan dicapai, namun lebih merupakan pertanyaan, sebuah bentuk pergulatan di dalam keseharian. Oleh karenanya, praktek-praktek keliaran harus menjadi proses eksperimentasi yang tiada henti kita lakukan, yang menggabungkan kesadaran untuk menciptakan setiap momen dalam hidup dan penolakan berkesadaran, melalui aksiaksi destruktif, terhadap setiap bentuk otoritas — dan demikian

■ liar

pula atas domestikasi dan peradaban seperti yang selama ini kita ketahui. Eksperimentasi semacam itu akan mentransformasikan kita dan cara kita berinteraksi dengan dunia di sekeliling kita. Dalam konteks peradaban, hal ini mungkin merupakan pemahaman praktek terbaik tentang seperti apa makna keliaran bagi kita semua.

Tak ada jawaban di sini — yang ada hanyalah pertanyaan. Namun pertanyaan-pertanyaan tersebut dibekali pula oleh jawaban bahwa kita adalah makhluk yang terdomestikasi dan dibekali pertanyaan yang paling kejam dan intens bahwa sesungguhnya kita bisa menaklukkan semua ini dan menjadi diri kita yang paling unik.

KELIARAN DI DALAM KOTA OLEH CHRIS KORTRIGHT

Banyak orang bertanya padaku mengapa saya lebih memilih untuk tingggal di San Francisco. Jika saya mencintai keliaran dan merasakan hubungan yang kuat dengan dunia alamiah, lalu bagaimana bisa saya hidup di tengah-tengah kumpulan manusia? Sebagai seorang anti-industrialis, aktivisme dan berbagai tulisan saya berfokus pada keliaran, hewan-hewan, anti-teknologi, kebebasan dan sedikit sentuhan misantropi. Bukankah itu adalah sesuatu yang kontradiktif saat saya memutuskan untuk tinggal di sebuah kota besar? Ya, memang ada level kontradiksi di dalam hidup Saya seperti halnya kemunafikan. Ketika setiap orang terhubung dengan peradaban ini, semua orang yang beroposisi dengan tatanan masyarakat teknologis ini akan saling bertautan di dalam kontradiksi dalam satu atau lain cara. Namun bukankah berbagai perbedaan antara kota dan kehidupan liar adalah sesuatu yang absolut? Apakah kota tak memiliki unsur keliaran sama sekali?

Saat saya berjalan menyusuri jalanan dimana hutan semen beracun beserta kendaraan dan orang-orang bertebaran di sekeliling, begitu tergesa-gesa berangkat kerja, berbelanja, berpacu dalam konsumsi mereka dan mati, saya merasa teralienasi dari dunia alamiah. Pepohonan ditanam secara individual dalam sebuah kotak persegi yang berdebu dan dikelilingi oleh beton. Pepohonan tersebut senantiasa disusun berbaris rapi seperti hal lainnya yang ada di kota ini. Segala hal yang ada di kota ini dibuat mengikuti jaring (Grid) dan garis, tak satu pun yang berunsur non-linear atau pun spontan. Setiap keputusan yang dibuat dalam penciptaan kota ini dibuat untuk menghimpun sebanyak mungkin orang ke dalam ruang paling kecil, menawarkan mereka lebih banyak produk untuk dikonsumsi. Kota adalah sarung beton yang menutupi keliaran indah yang pernah ada sebelumnya. Sebagian besar dunia kita saat ini telah ditutupi oleh selubung yang nyaris identik. Jika kamu bagian dari mereka yang kesibukannya tiada henti hal semacam inilah yang bisa jadi kamu saksikan, namun apakah hanya hal semacam ini yang masih tersisa di luar sana?

Ketika saya berjalan menyusuri jalanan, saya melihat ada sesuatu yang berbeda. Saya melihat adanya selubung, kota yang dipenuhi racun dan drone; konsumsi, perkembangbiakan dan proses kematian yang tidak begitu cepat. Namun, saya juga melihat sesuatu yang lain. Saya melihat ada jutaan retakan di trotoar yang berasal dari pergerakan spontan permukaan bumi. Jalanan, trotoar, dan gedung-gedung yang tampaknya begitu kokoh takkan bisa bertahan melawan pergerakan yang terus berkembang dari planet yang kita sebut sebagai rumah ini.

Hal indah lainnya yang kulihat saat berjalan menyusuri jalanan kota adalah ribuan rumput liar dan jamur. Rumput liar merayap melalui retakan yang membuat celah di setiap struktur beton dan tetap bersahabat dengan pepohonan yang menurut manusia mesti diisolasi. Jamur bermunculan melalui retakan di dinding-dinding apartemen, seakan memaksa orang-orang untuk berinteraksi dengan alam meskipun dalam kotak-kotak kecil mereka yang sunyi. Baik jamur maupun rumput liar dapat menjadi contoh terbaik tentang betapa manusia sesungguhnya tak memiliki kendali atas dunia alamiah. Tak peduli seberapa banyak pun zat kimia dan racun yang digunakan manusia, mereka takkan pernah bisa menyingkirkan “hama-hama” yang membanjiri kota.

Terdapat pula kehidupan liar urban yang begitu nyata di setiap kota. Burung-burung falcon yang hidup dan terbang menyambar mobil-mobil di kota New York. Singa-singa pegunungan kini lebih sering muncul di lingkungan suburban di wilayah selatan California. Di sini, di San fransisico, kalian dapat melihat berbagai spesies berbeda yang belarian, mulai dari tikus kecil dan tikus besar di dalam terowongan kereta bawah tanah hingga tupai dan bahkan rusa. Ada satu spesies yang secara personal senang kuajak bermain, spesies itu adalah rakun. Makhluk kecil yang nakal ini sering menimbulkan kerusakan di kota saat malam hari dengan menggali tempat sampah, mengetuk sampah kaleng, menyelinap masuk ke dalam apartemen dan mengacak-acak ruangan dapur serta melahap makanan hewan peliharaan. Saya bahkan mengenal seseorang yang pernah mengendarai sepedanya menyusuri Golden Gate Park di suatu malam dan terjatuh dari sepedanya karena sekumpulan rakun. Ada semacam rasa persahabatan yang kurasakan dengan rakun-rakun yang sering kutemui. Selama setahun saya pernah menghabiskan waktu bersama dengan para rakun di apartemen tempatku tinggal, duduk di atap bersama rakun sambil minum bir. Suatu malam rakun betina itu membawa masuk tiga ekor rakun muda. Selama sejam kami berempat saling menatap satu sama lain, bermain dan saling mengejek. Setiap malamnya hingga suatu saat saya pindah dari tempat itu dan menyisihkan waktu beberapa jam dengan kawan-kawan saya yang non-manusia itu.

Ada aspek kehidupan lain yang berbeda di kota San Fransisco: yakni belantara terbesar di dunia yang jaraknya hanya beberapa mil dari pintu rumahku. Butuh beberapa menit untuk sampai di samudera pasifik. Terdapat koneksi dengan samudera yang sangat sulit untuk dijelaskan namun jika kalian tak dapat mencium atau mengecap aroma samudera di udara kalian akan memohon untuk bisa merasakan tubuh air yang bertebaran ini. Saya bisa menghabiskan waktu berjam-jam berjalan menyusuri pantai, atau berdiri di atas batu karang dengan hantaman gelombang air laut di sekeliling. Tak ada hal yang jauh lebih menggairahkan dan begitu kuat di dunia ini selain menikmati momen berlarian di pantai di tengah badai petir. Angin yang seolah hendak mengangkat tubuhmu, kilat menyambar samudera dan gelombang menghantam pinggiran pantai.

Semakin manusia melanggar batasan di alam liar maka beragam spesies tersebut akan terus beradaptasi untuk bertahan hidup di lingkungan urban. Meskipun hal ini bukanlah ide yang baru lagi namun hal itu akan mulai mengajarkan setiap orang bahwa kita tidak berada di bawah kendali. Namun hingga tiba saatnya tatanan masyarakat ini remuk, semakin banyak kehidupan liar yang kulihat merambah ke lingkungan perkotaan semakin bahagia pula diriku, karena hal itu dapat membantuku untuk tetap terhubung dengan sisi liar dalam diriku dan membuatku merasa jika keruntuhan peradaban ini akan terjadi lebih cepat. Kalian takkan pernah tahu bahwa mungkin saja dalam beberapa tahun lagi akan ada singasinga pegunungan dan beruang yang akan mengembara di jalanan kota San Fransisco.

PERTANYAAN SEPUTAR IDEOLOGI

Seperti apa peranan ideologi bermain di jalur perlawanan kita? Ini adalah pertanyaan yang sangat penting bagi keberlanjutan dan kecairan dalam komunitas kita (komunitas yang jauh lebih luas dari EF!, seluruhnya mencakup resistensi terhadap industrialisme). Para ideolog di setiap sisi akan menjelaskan bahwa kita membutuhkan dialektika yang koheren untuk bisa mengikuti dan bahwa ideologi memainkan peranan yang sangat penting guna menciptakan suatu platform “revolusioner” bagi kita agar dapat melangkah lebih jauh. Namun apakah ini benar? Dapatkah sebuah insureksi muncul dari berbagai ide eksternal atau apakah itu bisa muncul dari dalam diri kita sebagai individual dan muncul dari koneksi personal kita terhadap alam liar.

Dapatkah ideologi menyesuaikan keberadaannya ke dalam insureksi yang liar? Untuk menjawab pertanyaan ini maka kita perlu mendefenisikan ideologi. Ideologi sesungguhnya adalah bentuk kesadaran palsu. Hal tersebut tidak berasal dari dalam diri kita namun berasal dari orang lain; sebuah gagasan yang diciptakan dari pengalaman mereka lalu disajikan pada kita sebagai sebuah cetakan. Terdapat begitu banyak bentuk ideologi, yang menyesuaikan dirinya ke dalam setiap aspek kehidupan kita: kapitalisme, komunisme, atheisme, theisme, humanisme, rasionalisme, di dalam percabangan anarkisme ortodoks dan dalam bisentrisme akademik. Semua ini diciptakan di luar dari diri kita sebagai individual yang memusatkan dunia di luar dari pengalaman personalnya.

Karena ideologi tidaklah berasal dari dalam diri kita maka kita tak dapat merasakannya sepenuhnya atau pun mendefenisikannya di dalam kata-kata kita sendiri. Seringkali kalian akan mendengarkan pernyataan-pernyataan seperti “Marxisme mengatakan bahwa....” atau “Biosentrisme mengatakan....” dan “Alkitab menegaskan bahwa...”, dibanding menyatakan “Saya merasa...” atau “Menurut Saya...” Berbagai gagasan eksternal tersebut takkan bisa cair sebab seluruhnya telah ditetapkan sebelumnya di dalam satu atau pun bentuk lainnya sebagai “pandangan yang sah”. Seluruh hal tersebut digunakan untuk menilai setiap aksi dan gagasan kita. Karena kita tidak merasa yakin dengan ide-ide, pengalaman dan hasrat kita sendiri maka kita mesti membuatnya valid dengan menyesuaikannya pada kotak-kota pandangan eksternal. Karena kita harus menyesuaikannya ke dalam kotak-kotak ini dibanding membiarkan gagasan kita bersandar pada dirinya sendiri hingga membuat ideologi menjadi sesuatu yang kaku dan dogmatik. Kita tak memiliki kemampuan untuk mengubah dan mengembangkan ideologi karena itu bukanlah milik kita, kita adalah bagian darinya dan bukan sebaliknya.

Ini bukanlah bermaksud mengatakan bahwa beragam ideologi di luar sana sama sekali tak memiliki gagasan yang cukup baik dibalik perpaduannya dengan dogma mereka masing-masing. Hampir semua ideologi dapat mengajarkan kita sesuatu, mereka memiliki berbagai gagasan yang dapat memperluas pemahaman kita tentang dunia secara individual. Namun hal yang jauh lebih penting adalah untuk mengambil berbagai gagasan tersebut ketika terdapat kesesuaian dengan pemahaman personal kita akan kehidupan dan memperluasnya agar sesuai dengan pandangan personal kita terhadap dunia. Hal yang sama pula berlaku saat mengutip para penulis tertentu. Terdapat level kedekatan tertentu dan kekuatan dalam kesepakatan, sepanjang pernyataan tersebut adalah sesuatu yang sifatnya personal. Dengan mengatakan “Saya sepakat dengan John Zerzan saat ia mengatakan...” atau pun “Saya merasa bahwa

Kirkpatrick Sale memberikan poin yang bagus ketika ia menulis...” Ini adalah sesuatu yang personal, dalam mengambil suatu gagasan yang sifatnya personal dari percakapan atau artikel yang kita baca dan mengaplikasikan itu ke dalam pemahaman personal kita. Hal semacam ini dapat memperkuat dan mendukung gagasan kita namun tetap dapat mempertahankan sisi personal kita. Namun berbagai ideologi seperti “biosentrisme” atau pun “Marxisme” bukanlah sesuatu yang individual melainkan adalah ide-ide yang abstrak. Semua itu akan cenderung tampak sebagai “sumbersumber yang sah” dibanding menjadi sumber-sumber yang sifatnya personal, lebih menjadi dialog di dalam ranah akademik dibanding menjadi bagian dalam kehidupan harian secara personal.

Pengaruh Ideologi terhadap Tindakan atau Aksi

Jika ide-ide kita menjadi rapuh dan dogmatik di tengah-tengah ideologi, lalu apa yang akan terjadi dengan tindakan/aksi kita? Jawaban tegas saya adalah bahwa aksi-aksi kita akan menjadi stagnan dan sama sekali tidak efektif. Penggolongan terjadi dengan begitu cepat ketika pertarungan yang kejam dan buruk menerobos unsur “moral, serta taktik-taktik yang tepat”. Demikian pula dengan berbagai ide kita saat kita berpegang teguh pada ideologi dalam menakar setiap aksi yang kita lakukan, maka aksi/tindakan tersebut akan menjadi kaku dan tidak mengalir serta tidak berkembang seperti yang seharusnya.

Sepanjang eksistensi EF! terdapat keretakan ideologis yang selama ini terus bertarung dan bersembunyi di balik nama “strategi”. Hal tersebut selama ini telah melapisi beberapa isu terakhir dari terbitan ini segera setelah peristiwa pembakaran Vail (the Vail arson). Akankah ketidaksepakatan ini dapat terpecahkan? Tidak, kecuali masing-masing faksi ideologis tersebut terbelah ke dalam pergerakan ideologisnya masing-masing. Atau kita, sebagai komunitas yang melakukan perlawanan, meninggalkan pemikiran ideologis dan panduan ideologis yang menggerakkan setiap aksi kita. Perdebatan soal sabotase versus pembangkangan sipil bukanlah perdebatan strategis; itu adalah sebuah perdebatan ideologis/moralistik. Perdebatan itu takkan menyisakan ruang bagi keberagaman dalam komunitas yang melancarkan perlawanan.

Saya tidak akan menanyakan “mengapa kita semua tidak berjalan terus saja?” Saya memahami bahwa terdapat begitu banyak perbedaan opini di sana dan Saya, secara personal, memiliki perasaan yang cukup kuat berkaitan dengan topik ini. Opini saya lebih didasari oleh pengalaman, hasrat dan pandangan pribadi saya dibanding ideologi atau pun moralisme eksternal. Karena seperti inilah pemahaman saya dan apa yang kurasakan tepat bagiku, saya tidak menghakimi orang lain (atau berusaha untu tidak demikian) untuk apa yang sesungguhnya didasari oleh pengalaman dan hasrat mereka. Dengan membawa perdebatan keluar dari ranah ideologis dan masuk ke dalam ranah praktek dan personal, kita dapat melakukan diskusi yang lebih otentik berkaitan dengan efektivitas dan pengalaman personal serta menyisakan ruang bagi perbedaan.

Teori Keliaran Diri

Jika ideologi adalah sesuatu yang destruktif bagi sebuah komunitas perlawanan, maka dimana kita harus memposisikan berbagai ide kita? Kita perlu membentuk teori sendiri yang berbasis pada keliaran kita sendiri serta hubungan personal dengan alam liar yang kita rasakan. Saya tak memiliki koneksi dengan alam liar seperti kawan-kawan saya yang menyukai gurun. Mereka lebih menyukai iklim yang panas dan kering, berjalan di gurun, sage brush dan kaktus. Serupa denga itu, mereka pun tidak tahu mengetahui hubunganku dengan lautan, hiu, burung camar dan rakun. Kami saling menghormati dan memahami hasrat masingmasing terhadap pengalaman di alam bebas dan liar. Namun kami tidak dapat memahami sepenuhnya emosi dan latar belakang personal masing-masing yang menghubungkan kami dengan alam.

Dengan menciptakan ideologi di sekitar koneksi personal dan perasaan semacam itu kita malah akan mensterilkan dan melembutkan beragam hasrat, perasaan dan pengalaman tersebut. Ide-ide kita hanya dapat dihadirkan melalui berbagai gagasan individual yang saling berjaringan untuk tujuan yang sifatnya umum; sebuah dunia yang liar dan bebas. Apa pun yang berusaha mempersingkat hal ini hanya akan menodai visi kita yang liar dan menodai keberagaman belantara yang kita cintai dan pertahankan.

Jika kita menciptakan suatu resistensi komunitas yang didasari pada jaringan swa-teoritisi dibanding kumpulan ideolog dan slogan, aksi-aksi kita akan jauh lebih harmonis dan lebih produktif. Jika jalur-jalur ideologis mampu ditaklukkan kita dapat mengecualikan aksi-aksi yang dilakukan oleh masing-masing individu yang digerakkan oleh teori dan hasrat mereka sendiri yang lebih sesuai secara individual dalam konteks komunitas perlawanan yang jauh lebih luas. Penghormatan dan pemahaman tersebut akan membantu terciptanya sebuah komunitas yang jauh lebih luas cakupannya dan juga lebih toleran terhadap pilihan-pilihan taktik yang pilih oleh tiap individu. Kekuatan lain yang dapat muncul dari aksi-aksi yang digerakkan oleh hasrat masing-masing individu dan kolektif ialah gairah yang lebih liar. Hal ini bukan bermaksud mengatakan bahwa gairah ini sebelumnya tidak ada namun banyak individu yang merasa bahwa perlu untuk menyesuaikan dirinya ke dalam satu “kotak pemikiran” tertentu. Dengan memperluas kebebasan dalam memilih taktik yang kita kehendaki dalam dunia alamiah, setiap individu akan bertindak dari hati. Ketika aksi munculnya dari hati, seseorang akan mengerahkan segala kemampuannya (dan diharapkan juga intelejensi mereka) dalam bentuk resistensi yang mereka pilih.

Saya tinggal di San Fransisco, California, saya memilih untuk tidak berpartisipasi di dalam kampanye Headwaters karena beragam opini berbeda yang kami miliki terkait dengan bentuk taktik dan partisipasi dengan otoritas. Jika berbagai individu yang terlibat dalam kampanye ini telah memilih untuk menempuh jalur tersebut, Saya tak bisa mengatakan bahwa mereka “salah”. Saya tetap akan menjalin dialog dengan mereka, berbagi pandangan dan perspektif serta mendengarkan perspektif atau pun ide mereka. Karena kami tidak memiliki keinginan yang serupa berkaitan dengan taktik maka saya memilih untuk tidak ikut serta di dalam kampanye mereka, dengan segala hormat, sebab tujuan untuk melindungi redwoods adalah sesuatu yang bisa saya mengerti. Dibanding berselisih dengan mereka soal berbagai perbedaan tersebut, saya lebih memilih untuk bekerja bersama beberapa individu yang memiliki keinginan yang serupa berkaitan dengan taktik. Kami bertarung pada medan tempur yang sama namun dalam front yang berbeda.

Mari kita runtuhkan segala tembok ideologi, membebaskan pikiran dan hasrat kita melalui resistensi yang nyata. Sebab untuk memperjuangkan sebuah dunia yang liar dan bebas, dimana makhluk-makhluk yang bebas dapat saling berinteraksi dan berbagai pengalaman satu sama lain maka kita takkan dapat membangunnya dengan aturan dan pandangan yang kaku. Jadi, di saat masing-masing dari kita berjuang untuk membebaskan hewan-hewan dan tanah itu sendiri, tetaplah selalu ingat untuk tetap membebaskan hasrat dan keliaran kita sendiri. Berpikirlah sendiri dan bertindaklah, dan yang terpenting adalah berpikirlah saat kau bertindak!