DIOGENES
FROM ROJAVA TO GAZA: SMASH COLONIALISM
DIOGENES JURNAL DEKOLONISASI Pertengahan 2022
中國银行 VEC UBRE
KONTRIBUTOR Veronika Koman Bima Satria Putra Agit (Youth Diplomatic Center of North and East Syria). Anonimus, Aktivis Lausan 流傘
Kevin Anner (Horn Anarchists)
PENERJEmAH: Prima Ayu, Rafdi Naufan, & Bagus Pribadi EDrTor: Pam, Reyhard Rumbayan, Rifki Syarani Fachry, & Wandhq DEsAIN GrAFIs: Herry Sutresna
SUMBER: 1). The Sun Still Rises (Untorelli Press, Anarchist Guerrilla Series, 2o15): 2). https://theanarchistlibrary.org 3). https://libcom.org
SINDIKASI: Public Enemy Books Diogenes Sinope Sabate Books
COPYLEFT, 2022
BANKOFCHINA
ONG KONG
4 DIOGENES | JURNAL DEKOLONISASI #1 I/ 2022 Hal.7 Hal.11 Hal.15 Hal.19 Hal.33 Hal.44 Hal.57 Hal.62 Hal.75 Hal.91
DIOGENES | JURNAL DEKOLONISASI #1 I/ 2022 5 daftar isi
| Hal.7 Hal.11 | daftar isi Pengantar |
| Hal.11 | Di Ruang Isolasi, Hanya 3 Lagu Papua yang Saya Ingat Kevin |
| Hal.15 | Papua, Rasisme & Imperialisme Veronica Koman |
| Hal.19 | “Kami Tak Pernah Berkata bahwa ISIS telah Dikalahkan” |
| Hal.33 | Wawancara dengan Revolusioner Rojava Revolusi di Masa Kita Wawancara dengan seorang pelaku aksi-aksi kebangkitan popular Hong Kong 2019 |
| Hal.44 Hal.57 | popular Hong Kong 2019 Deklarasi Merdeka Tanpa Izin Mereka Catatan Memperjuangkan Ruang Otonom di Salatiga Bima Satria Putra |
| Hal.57 Hal.62 | “Kekerasan Itu Tidak Masuk Nalar” Wawancara dengan Anarkis Ethiopia tentang Perang di Tigray |
| Hal.62 | Wawancara dengan Anarkis Ethiopia tentang Perang di Tigray Matahari Masih Terbit pamflet Fire Cells Conspiracy |
| Hal.75 | pamflet Fire Cells Conspiracy Membela Kekerasan Ted Kaczynski |
| Hal.91 | Ted Kaczynski Obituari Widodo Tonjeh: Menanam adalah Melawan Muhammad Afandi |
6 DIOGENES | JURNAL DEKOLONISASI #1 I/ 2022
Kami tahu bahwa mereka berbohong. Mereka tahu bahwa mereka berbohong. Mereka tahu bahwa kami tahu bahwa mereka berbohong. Kami tahu bahwa mereka tahu kami tahu bahwa mereka berbohong. Namun mereka masih juga berbohong.
—Alexander Solzhenitsyn
Bidak Catur
PENGANTAR
Saat tulisan ini disusun, media sosial kami dipenuhi oleh berita-berita mengenai invasi Rusia ke Ukraina. Hal ini menggusur nyaris banyak berita-berita lokal yang seharusnya juga perlu mendapat tempat, seperti isuisu Wadas, Mandalika, IKN, dan tentu saja Papua Barat, disamping isu-isu lain yang tak kalah penting.
Namun dibandingkan mengeluhkan soal mana berita yang layak diangkat dan mana yang tidak, seharusnya kita bisa memanfaatkan berita soal apapun juga untuk digunakan mendorong sudut pandang kita, kita harus bisa menggunakan apapun untuk mengedepankan kebutuhan kita—setengah abad lampau, kelompok revolusioner di Prancis, Situationist International, menyebut hal ini sebagai detournement, yaitu membajak kendaraan, ikon, medium, popular, untuk mengedepankan isu kita. Maka dalam editorial ini, kami akan memanfaatkan isu Ukraina ini sebagai salah satu contoh yang dapat memberi sudut pandang lain, yang sebetulnya bertautan erat, memiliki benang merah yang sama, dengan teks-teks yang berada dalam terbitan ini.
Isu Ukraina ini, yang disebabkan oleh invasi Rusia beberapa saat lalu, seharusnya dilihat sebagai satu alur yang utuh dari sebuah tragedi akibat ambisi ekonomi para politisi di tataran global—yang antara lain, sebelumnya terjadi di Suriah, Hong Kong, Ethiopia, Lebanon, Chili, Kuba, dan lainnya. Kebanyakan para pengamat politik, termasuk para pengamat profesional dengan bekal pendidikan Hubungan Internasional, melihat semua kasus tersebut dari kacamata konflik kepentingan di tingkat global. Seperti bagaimana mereka dengan mudah melihat— melabeli, lebih tepatnya—kebangkitan popular di Maidan 2014 lalu yang juga melatarbelakangi konflik di Ukraina ini sekadar sebagai gerakan yang disponsori oleh Amerika Serikat. Mereka membeberkan data bagaimana sayap kanan dan kelompok-kelompok fasis Ukraina berkuasa, hanya karena harus diakui ada kelompokkelompok neofasis yang bergabung dengan barisan pemrotes. Penghakiman yang terlalu cepat itu lantas mengantar mereka pada posisi mendukung keputusan Putin, membela sang mantan KGB tersebut seperti seorang penggemar fanatik K-Pop membela idolanya. Orang-orang yang sama juga menelurkan analisa serupa saat kasus perang sipil di Suriah, di mana mereka membela Assad—yang didukung Putin—matimatian dan menuduh siapapun yang menentang Assad sebagai jihadis, ditunggangi Amerika Serikat. Para intelektual ini juga menemukan beberapa orang demonstran di Hong Kong membawa bendera Amerika Serikat, dan sekelompok fasis terkenal di Ukraina berjalan di antara para demonstran tersebut—maka munculah penghakiman serampangan lagi yang menuduh bahwa gerakan popular di Hong Kong adalah bentukan Amerika Serikat.
Putusan-putusan yang dihadirkan oleh para intelektual ini pada akhirnya sebetulnya hanya mengarah pada dikotomi klasik yang menyedihkan: “musuh dari musuhku adalah kawanku.” Mereka membela mati-matian Xi Jinping, Putin, Assad, hanya karena orang-orang tersebut berseberangan dengan Amerika Serikat. Semua perilaku koersif dimaafkan selama mereka berani menantang Amerika Serikat. Ini keputusan yang amat berbahaya, karena dalam sebuah perang dagang antara para kapitalis dan imperialis, siapapun pemenangnya, yang harus menanggung dampak buruknya selalu para penduduk termiskin. Korban pertama dari invasi Rusia, bukanlah para birokrat dan
“Dalam setiap acungan kepalan melawan tirani, akan ada orangorang dari latar belakang yang begitu beragam, dan amat merendahkan apabila keragaman tersebut lantas dikerucutkan menjadi satu tuduhan: disponsori oleh ...”
politikus, atau para milyuner yang dengan segera melarikan diri saat peluru pertama tentara Rusia ditembakkan, melainkan mereka, para penduduk sipil yang tak sanggup untuk bergegas meninggalkan tempat tinggalnya. Korban pertama dari perang sipil Suriah, bukanlah para birokrat, melainkan penduduk sipil yang di satu sisi direpresi secara brutal oleh tentara Assad, dan dipaksa tunduk oleh pasukan ISIS di sisi lain.
Kami akui bahwa analisa politik para ahli Hubungan Internasional itu penting untuk membaca langkah para raksasa, namun jauh lebih penting lagi untuk mendengarkan kata-kata dari mereka yang berada di lapangan, yang mengalami secara langsung dari setiap keputusan yang dilakukan oleh para politisi. Karena siapa yang direpresi pertama kali secara brutal saat kebangkitan Maidan 2014 oleh pemerintah Ukraina? Penduduk yang berani angkat suara. Siapa yang menjadi sasaran pengganyangan oleh pasukan ISIS di Suriah? Penduduk yang punya pandangan berbeda, atau kebetulan lahir dari orangtua yang keliru. Lalu apakah layak saat mereka disalahkan saat menerima tawaran senjata dari anggota Batalyon Azov yang fasis demi mempertahankan rumah tinggal mereka dari tentara Rusia, atau tawaran bantuan dukungan kekuatan udara Amerika Serikat demi melawan balik ISIS? Lantas dituduh sebagai antek fasis atau boneka Amerika Serikat?
Para intelek itu pasti tak pernah mencicipi pertempuran di lapangan untuk melawan kekuasaan koersif yang besar dan masif. Mereka seperti tak paham bahwa dalam setiap, semua, kebangkitan popular, tak pernah ada kekuatan yang seragam. Dalam setiap acungan kepalan melawan tirani, akan ada orang-orang dari latar belakang yang begitu beragam, dan amat merendahkan apabila keragaman tersebut lantas dikerucutkan menjadi satu tuduhan: “disponsori oleh ...” Kami tidak senaif kadal dan menafikkan juga bahwa kekuatan-kekuatan besar
akan selalu hadir dan turut bermain, mencari keuntungan dari setiap kebangkitan popular, berusaha mendorong aksi-aksi tertentu yang sebetulnya diarahkan untuk kepentingan pundipundi ekonomi para politisi. Selalu ada. Namun sekali lagi, mengerucutkan mereka semua menjadi sekadar sebagai bidakbidak catur belaka dari pergumulan dominasi ekonomi-politik, membuat para intelek tersebut tak ubahnya para politisi yang melihat korban-korban yang berjatuhan di lapangan tak lebih dari sekadar angka dalam data statistik.
Maka karena itu, di sini kami haturkan beberapa wawancara dengan para pelaku di lapangan, di mana ada sudut pandang lain yang berbeda dari ulasan-ulasan profesional yang dikotomis dan menyedihkan. Kami berharap para pembaca bisa melihat kembali setiap kasus yang terjadi dengan sudut pandang baru, kacamata baru, dan belajar darinya untuk diterapkan, diaplikasikan, dimodifikasi sesuai kebutuhan di lapangan, dan berhenti mengembik pada analisa para intelektual dan politisi. Karena sungguh, mereka pasti tahu bahwa kita tahu bagaimana mereka semua sering memperlakukan kita sebagai bidakbidak catur dalam permainan mereka. Dan mereka tetap terus memperlakukan kita semua seperti itu.
Berdasar hal-hal tersebut, semoga para pembaca juga akan dapat mulai mengubah kebiasaannya menelan mentah beritaberita dari para selebriti gerakan, sepintar apapun mereka semua kelihatannya, lalu mulailah untuk: (1) mendengarkan suara-suara dari mereka yang terdampak langsung dari setiap keputusan penguasa, bukan dari siapapun yang tidak terdampak langsung; (2) selalulah curiga dengan analisaanalisa adiluhung geopolitik yang seringkali menyepelekan lapisan masyarakat terdampak sebagai sekadar data statistik; (3) jangan terima begitu saja pembedaan aktor-aktor politik ke dalam diksi dikotomis “baik” dan “jahat”; (4) selalu berhatihati dengan media korporat; (5) musuh dari musuh kita bukan selalu secara otomatis berarti teman kita.
Maka karena itu, dengan terbitan kami kali ini, kami bukan sedang mengabarkan sebuah kabar baik. ***
1 0 DIOGENES | JURNAL DEKOLONISASI #1 I/ 2022
“Di Ruang Isolasi, Hanya 3 Lagu Papua yang Saya Ingat”
Kevin
Rasa panik tiba-tiba hadir saat saya mendengar suaranya dari ponsel. Ketika saya memulai dengan lembut, suaranya terdengar agak samar.
Ia menyapaku meski waktu sudah larut, saya tergesa-gesa karena baru pertama kali dan merasa sedikit kurang sopan karena mewawancarai seseorang pada pukul 11 malam. Saat hendak melontarkan pertanyaan pada topik pembahasan utama, tapi ia memotong niat saya. Salam kenal bung! Serunya dua kali. Saya membalas salamnya dengan nada yang sama dan memulai perbincangan dengan basa-basi.
“Tidak capek bung? Terus melayani diskusi setiap malam via online” tanya saya.
“Enggak lah bung, demi perjuangan yang mulia” jawabnya sambil bercanda.
Solidaritas itu seperti bom waktu. Beberapa hari sudah semenjak #BlackLivesMatter menjadi isu solidaritas anti-rasisme terbesar sepanjang sejarah. Di Indonesia, tumbuhnya rasa penasaran masyarakat telah menimbulkan dan juga memantik edukasi tentang isu Rasisme Papua dalam wacana publik. Bahkan saat ini, rasa ingin tahu tentang Papua Lives Matter menjadi incaran nomor satu di kalangan mahasiswa. Besarnya rasa ingin tahu banyak pihak tentang isu tersebut membuat Surya Anta Ginting muncul ke permukaan publik.
Rentetan kisah pelanggaran HAM di Papua menjadi catatan kelam. Selain pembungkaman, pengepungan, pemenjaraan, ada dua peristiwa besar dalam 2 tahun terakhir.
Lebih dari satu bulan lamanya sejak 12 Mei lalu, Surya Anta Ginting CS dan tapol lainnya dinyatakan bebas. Publik mendapati semangat baru dalam mengurai narasi kusam tentang isu rasialisme dan kebebasan sipil Bangsa West Papua. Banyak hal yang perlu dibahas tentang Papua di Negeri ini. Baginya, tuduhan yang dilontarkan kepadanya merupakan bentuk pengekangan kebebasan berpendapat. Surya Anta Ginting bersama kawannya, Ambrosius Mulait, Charles Kossay, Ariana Alopere, Dano Tabuni, dan Issay Wenda mendapatkan vonis tahanan bersalah karena melanggar pasal 106 KUHP juncto Pasal 55 KUHPP tentang makar saat menggelar aksi damai di depan Istana Jakarta, sebagai respon terhadap kasus Rasisme Papua di Asrama Papua Surabaya pada 28 Agustus 2019 lalu.
“6 Tapol Papua bebas, 7 Tapol Papua di Kalimantan kembali dikriminalisasi” kata Surya. Ia memberi isyarat kecil kepada saya, seolah berkata bahwa perjuangan dan solidaritas ini harus terus
berlanjut. “Khususnya (saat ini) bahwa pemerintah mengobral pasal makar. Dan Tapol baru negara jadi ketakutan. Takut untuk mengkritik masalah perbedaan politik” lanjutnya.
Suami dari Lucia Fransisca ini dikenal oleh publik pada 29 November 2016 lalu ketika di gedung LBH Jakarta. Ia memecah persoalan publik yang selama ini dianggap tabu bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Ia membacakan deklarasi dan mendukung “Hak Menentukan Nasib Sendiri untuk Bangsa West Papua” di hadapan beberapa wartawan saat jumpa pers.
FRI-WP terbentuk pada Mayday 2016 dan dideklarasikan pada tahun yang sama. Katanya, keterlibatannya dalam aksi solidaritas pembebasan nasional bangsa West Papua, adalah sikap politik dari FRI-WP. Ia lalu menceritakan jika saat itu merupakan tahun-tahun yang sangat mencekam. Pada 1 Desember 2016, dalam salah satu orasinya ia menyampaikan permohonan maaf kepada Bangsa West Papua. Saat diwawancarai, ia bahkan tak segan untuk mengatakan jika Indonesia selama ini telah menjajah West Papua dengan kekerasan dan diskriminasi.
Aksi perdana untuk memperingati lahirnya Negara Papua Barat ke-55 itu digelar di Bundaran HI menuju ke Istana Negara. Jumlah masa aksi kira-kira mencapai 200-an orang lebih, bersama rakyat Papua yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Papua (AMP). Di perjalanan menuju ke titik aksi, mereka sempat dikepung lalu digelandang ke Polda Metro Jaya. Pada sore harinya, seluruh peserta aksi dilepaskan.
dalam 2 tahun terakhir. Peristiwa Konflik Sipil V. Militer di Nduga pada 2018 lalu, dan Peristiwa Rasisme di Asrama Mahasiswa Papua di Jl. Kalasan, Surabaya pada tahun 2019.
Sebutan ‘Monyet’ dan pengucilan ras dilekatkan kepada orang Papua. Orang asli Papua yang menyatakan kecewa terhadap Indonesia, selalu mendapatkan perlakuan tidak manusiawi. Ujaran kebencian, tuduhan makar, hingga sebutan monyet kerap kali menimpa mereka. Geram dengan situasi tersebut, akhirnya isu-isu tentang kejahatan kemanusiaan, pembungkaman, kebebasan menyuarakan pendapat jadi sering dimotori oleh Mahasiswa Papua atau AMP, sering disuarakan pada aksi peringatan seperti Biak Berdarah (6 Juli), Newyork Agreement (15 Agustus), Roma Agreement (30 September), Hari Kemerdekaan Papua (1 Desember), hingga peristiwa Nduga (2 Desember 2018).
“Solidaritas ini cerminan fakta dan upaya mencari tahu di luar narasi negara. Orang akan menginginkan kebenaran. Sehingga FRIWP menjadi akselerator atau narasi alternatif. Selebihnya adalah konsolidasi dan penguatan
basis dari organisasi maupun individu yang ingin bersolidaritas” pungkasnya.
Awal pembicaraan kami via telepon tidak berjalan lancar. Saya tidak menyangka jika selera humor dia lumayan oke. Sebelum saya menelepon, saya telah mempersiapkan beberapa alternatif jawaban semisal jika ia mengucapkan kata-kata yang mungkin tidak saya mengerti. Juru Bicara Front Rakyat Indonesia untuk West Papua (FRIWP) itu lalu membagikan cerita mengenai apa yang ia lakukan belakangan ini. Ya, seperti yang biasa diceritakan orang-orang pada umumnya, bercerita bahwa ia semakin gemuk dan berlemak. Juga dengan ungkapan bercanda bercerita tentang mengkonsumsi babi yang menjadi kegiatan favoritnya ketika ia bebas.
Solidaritas untuk pembebasan 6 tapol Papua pun menyeruak saat aksi besar Reformasi Dikorupsi. Aksi yang digadang-gadang sebagai aksi terbesar dalam 5 tahun terakhir itu telah menguatkan harapan Surya saat menjalani masa tahanan di Rutan Mako Brimob, Jakarta. Harapannya sederhana, ia beserta kawan-kawannya berharap bebas dan dapat kembali bersolidaritas. Tapi, ia justru malah dipindahkan ke Rutan Salemba dan menjalani masa tahanan selama 9 bulan hingga bebas pada bulan Mei lalu.
Pengalaman demi pengalaman semasa ia ditahan, dibagikan kepada saya. Katanya, ia sempat mengalami depresi yang cukup berat pada dua Minggu pertama di ruang isolasi.
“Saya sempat menyalahkan kenapa bendera bintang kejora membuat saya dipenjara. Apakah saya benar-benar bersalah?” kata Surya yang sempat merangkum cerita dengan begitu emosional.
“Saya tidak tahu, saya tidak memegang bendera. Saya merasa begitu depresi, saat diisolasi. Di 2 minggu pertama. Saya sempat kehilangan argumen saya untuk terus bersolidaritas. Saya kehilangan jati diri” lanjutnya.
Suaranya semakin bergeming. Ia membayangkan masa-masa suram dan penuh kenangan saat ia berada pada titik tersulit akibat psikologisnya yang hancur. Tapi, ada cerita yang membuat saya berdecak kagum. Ketika ia bercerita bahwa ia hanya mengingat 3 lagu Papua di hidupnya. Di ruangan isolasi, ia menyanyikan 3 lagu itu kencangkencang. Ia bahkan lupa lagu-lagu lain seperti lagu Kerispatih, Sheila On 7 atau lagu-lagu lain yang menjadi favoritnya.
3 lagu papua yang ia ingat dengan momen yang juga tak terlupakan olehnya. Sea-Seo yang dinyanyikan oleh Dero Papua, Hindang Mak Hendang - Rhio Grime, Mekem Bedai Ro - Mesak Manam. Saat ia membagikan kenangannya kepada saya, ia tak segan untuk menyanyikan sepenggal lirik. Ia benarbenar melepaskan segumpal perasaan takutnya.
Surya dibantu dengan dukungan moral dan spiritual. Bantuan moral yang menjadi semangatnya dalam bentuk Kebaktian (istilah gereja karena melakukan perbuatan baik), dan saling mendengarkan keadaan psikologis masingmasing oleh teman-temannya yang berkunjung. Ia menuturkan, setelah itu jati diri Surya kembali. Keluarga Surya, ibu, anaknya, teman-teman solidaritas GKA (sebuah institusi agama pertama di Indonesia yang mendeklarasikan menerima dan mengafirmasi kelompok rentan), Kontras, LBH Jakarta, Amnesty Internasional membuat semangatnya kembali.
Awine.. Mekem Bedai Ro
Warido Rauri… Ayeye Ayo.. Yo.. o.. o.. Ayeye
Yen O Monda Yendisare
Yen Siser Naiwano..
Snar Fafisu Bo Ras Anya Imnis Kwaro
Artinya:
Oh Ibu (Mama)… Darah Mengalir… Sangat Sedih…
Pasir Putih di Pantai Sana…
Hari yang dinantikan sudah akan tiba
“Mekem Bedai Ro (membuat) air mata menetes. Saya nyanyi keras banget dan tidak ada yang mendengar”
Ratusan mahasiswa yang menunjukan solidaritas dan menuntut pembebasan membuat tapol Bernard Mabun CS segera dibebaskan tanpa syarat. Sebagai penutup, Surya berpesan dengan penuh pengharapan.
“Apabila kita tidak bersolidaritas, itu sama artinya dengan membentangkan karpet merah untuk tirani. Anda, agama anda, organisasi anda, kegiatan anda, jika anda tidak turut menyuarakan represifitas negara, baik itu pemenjaraan, pembungkaman, dan pelanggaran hak asasi manusia, anda (tetap) memberikan karpet merah kepada tirani”
“Perubahan akan terjadi ketika kalian membuka pikiran kalian, membuka keingintahuan kalian, dan kemauan kalian untuk bertindak dalam mengubah keadaan” pungkas lelaki itu.
Lalu saya membayangkan mimpi-mimpi perubahan dari semangatnya. Wajar, orang seperti saya rindu keadilan bagi dan untuk siapa pun. ***
Papua, Rasisme & Imperialisme
Veronica Koman
Tulisan ini dibuat oleh orang non-kulit hitam. Tulisan ini tidak berupaya mengklaim bahwa gerakan Black Lives Matter (BLM) dan Papuan Lives Matter (PLM) adalah gerakan anarkis.
Melawan rasisme tidak mungkin dilakukan tanpa melawan kapitalisme. Berjuang untuk kesetaraan artinya harus melawan rasisme sistemik yang dilanggengkan oleh institusi kepolisian dan penjara, diskriminasi akses kesehatan, pekerjaan, dan tempat tinggal yang layak.
Rasisme institusional ini hanya bisa dihancurkan dengan ketidakpatuhan yang diorganisir secara besar-besaran. Ketidakteraturan total dibutuhkan untuk mengubah tatanan yang sudah ada.
Pengalaman hidup di bawah kolonialisme dan kapitalisme, serta pengalaman langsung menjadi korban brutalitas kepolisian dan tentara, sadar atau tidak akan membuat orang menjadi anarkis.
Anda sepaham dengan anarkisme ketika Anda mempertanyakan otoritas, tidak merasa diwakili oleh orang yang mendaku diri sebagai wakil rakyat, menentang pengambilan keputusan yang tidak melibatkan diri Anda padahal menyangkut hidup Anda. Kampung-kampung di Indonesia mempraktikkan anarkisme, ketika menutup akses masuk secara mandiri karena pemerintah inkompeten dalam menangani pandemi. Komunitas bertindak sendiri secara kolektif, ketika sadar negara tidak bisa diharapkan.
Begitu pula dengan gerakan BLM dan PLM. Beberapa dari cara dan taktik yang digunakan mencerminkan anarkisme.
Gerakan BLM pertama kali muncul pada Februari 2012 pasca pembunuhan remaja kulit hitam Trayvon Martin oleh polisi di Amerika Serikat (AS). BLM bangkit kembali pada Mei 2020 dipicu oleh pembunuhan terhadap George Floyd.
Perjuangan BLM kemudian berkembang menjadi tidak sekadar soal kulit hitam, tapi juga melawan penindasan yang dialami oleh kelompok minoritas lainnya. Utamanya, gerakan BLM juga memperjuangkan hak atas penentuan nasib sendiri, apalagi mengingat AS adalah negara yang dibangun di atas wilayah yang diokupasi dan eksploitasi.
Salah satu karakter utama BLM yang menyebabkan gerakan ini bisa menjalar ke seluruh penjuru wilayah AS dan setidaknya 50 negara lainnya, adalah karena BLM menerapkan desentralisasi. Bertolak belakang dari sistem hierarkis. Pendekatan yang kerap diusung anarkis ini menempatkan semua yang bersolidaritas dalam posisi setara, sehingga yang baru ingin bergabung merasakan fleksibilitas. Tidak adanya sentralisasi juga memudahkan gerakan untuk menyebar secara organik dan sangat sulit dikooptasi.
Otonomi melahirkan taktik yang bermacammacam, namun tetap dengan kesatuan ide yang sama. Pada gerakan BLM, tidak ditemui pula pengerucutan pada suatu organisasi atau individu atau ideologi tertentu. Perbedaan dihargai karena setiap orang memiliki peranannya masingmasing. Suara tiap orang penting dan nilainya sama. Pengorganisiran anarkis bergantung pada konsensus dan tidak memaksa karena sifatnya yang egaliter.
Desentralisasi dan otonomi pula yang memicu adanya aksi PLM di wilayah yang sebelumnya belum pernah ada aksi solidaritas untuk Papua, seperti di Tarakan dan Tasikmalaya.
Anarkis memutuskan sendiri langkah yang akan diambil tanpa harus menunggu perubahan dari orang lain. Komunitas mengorganisir diri, lalu melakukan aksi langsung dan saling bantu. Pada aksi BLM, ada yang menyiapkan medis, makanan, air, bantuan hukum, dan lainnya. Sedangkan pada PLM, warganet Indonesia saling mengedukasi diri dengan membuat dan berbagi utas maupun situs yang berisi informasi sejarah singkat konflik Papua, daftar pelanggaran HAM Papua, dan tautan untuk donasi.
BLM dan PLM juga tidak mengusung kepemimpinan maupun penokohan. Sifat ini ditemui pula di gerakan populer lainnya seperti di Occupy Movement, Hong Kong, Arab Spring, hingga Aboriginal Lives Matter. Orang-orang disatukan oleh ide dan visi yang sama sehingga wajah tidak lagi menjadi penting. Dari sini tercermin salah satu prinsip utama anarkisme yaitu egalitarian.
Anarkis akan selalu skeptis dengan penguasa dan siapapun yang memiliki otoritas. Peraturan tertulis umumnya dibuat sepihak oleh otoritas untuk melindungi kepentingan penguasa. Untuk itu, anarkis tidak akan segan melanggar hukum positif. Tidak pernah ada perubahan yang dibuat dengan taat pada status quo.
Momentum PLM baru meledak di dunia maya dan aksi menuntut pembebasan tujuh tahanan politik Papua di Balikpapan. Semangat solidaritas ini harus dijaga.
Anarkisme dan sebagian pemikiran sosialisme lainnya banyak dikembangkan oleh orang kulit putih sehingga tidak luput dari bias ras. Untuk otokritik, mempelajari Black anarchism bisa dimulai dari ‘anarkata’ sebagai salah satu referensi awal.***
“Kami Tak Pernah Berkata bahwa ISIS telah Dikalahkan”
Wawancara dengan Agit (Youth Diplomatic Center of North and East Syria)
Kita semua sadar betapa simpang siurnya berita yang beredar di Indonesia mengenai Perang Sipil Suriah yang seakan “semua lawan semua”, belum lagi ditambah ratusan hoaks yang sengaja disebarkan berbagai pihak.
Pihak-pihak yang seharusnya mampu melihat dengan lebih jernih, sayangnya juga malah tak dapat melepaskan keberpihakannya pada salah satu kekuatan dominan yang justru membuat Suriah semakin kisruh, termasuk kaum Kiri akibat keterkungkungngannya pada konsepsi bahwa semua hal yang terjadi di dunia ini tak lebih dari persoalan ekonomi belaka, yang membuat mereka kehilangan kemampuan untuk melihat perjuangan sipil di Suriah sebagai sebuah harapan akan masa depan yang diidamkan, selain debat kusir bahwa perjuangan tersebut ditunggangi oleh Amerika Serikat. Sebagaimana kita tahu, mereka selalu berkata bahwa mereka memiliki narasumber yang dapat dipercaya dan mendukung analisa pro-Assad mereka yang begitu hitam putih. Di sini, kami juga memiliki narasumber sendiri. Kami berhasil menjalin komunikasi dengan seorang anak muda Suriah yang tentu saja bukan sekadar pengamat yang hidup aman, nun jauh dari wilayah konflik, melainkan ia yang terlibat secara aktif di lapangan dalam pembangunan komunitas di Rojava— sesuatu yang membantu kami melihat bahwa di Suriah, konflik bukanlah sekadar Assad Vs. antiAssad, atau Russia Vs. Amerika Serikat, atau ISIS Vs. Islam moderat, tapi jauh dari itu semua, yaitu: semua lawan semua, yang kepelikannya justru membuat kami paham bahwa kami hanya berpihak pada mereka yang paling dikalahkan dalam kancah perang global melawan dominasi.
Halo. Bisakah kamu memperkenalkan diri?
Hai, saya Agit, saya bekerjasama dalam Youth Diplomatic Center of North and East Syria (Rojava) atau Pusat Diplomatik Muda di Utara dan Timur Suriah (Rojava). Kami berhubungan dengan berbagai organisasi di seluruh dunia dengan harapan akan dapat mempersatukan berbagai perjuangan kita demi terciptanya sebuah dunia yang berbeda. Kami berhubungan secara langsung dengan Syrian Democratic Council (MSD) atau Dewan Demokratik Suriah serta Democratic Union Party (PYD) atau Partai Serikat Demokratik dan juga para kaum muda revolusioner.
Bisakah kamu memberi tahu apa saja kegiatan utama dari kelompokmu? Ceritakan sesuatu tentang itu
Nah, seperti yang disebutkan sebelumnya, kami adalah Youth Diplomatic Center. Tujuan dari pusat ini tiada lain untuk menggabungkan dan menyatukan berbagai kerja diplomatik yang distrukturkan oleh kaum muda di Utara dan Timur Suriah (MSD, PYD, kaum muda revolusioner, serikat mahasiswa, dll.). Selain itu, kami juga secara erat berhubungan dengan kampanye Internasional seperti Riseup4Rojava atau WomenDefendRojava. Akan tetapi pemahaman kami tentang diplomasi ini, lebih jauh dari sekadar makna liberalnya. Menurut konsep Negara Demokratik dalam kerangka konfederalisme Demokrat, setiap orang berperan sebagai diplomat. Diplomasi tak lagi dipahami semata sebagai kontak yang sangat resmi dan profesional. Malahan, hal itu didefinisikan sebagai pekerjaan apa pun yang berkontribusi pada komunikasi dan urusan antarnegara yang diikuti dengan prinsip-prinsip hubungan kerjasama yang sifatnya saling menguntungkan.
“Revolusi Rojava bukan sesuatu yang terjadi secara spontan sebagai akibat dari perang sipil Suriah. Meski tentu, ada bagianbagian spontan di dalamnya, tapi hal itu telah disiapkan sejak beberapa dekade sebelumnya.”
Karena ada banyak sekali berita yang membingungkan—terutama di Indonesia—tentang konflik di Suriah, saya akan mengawali bahasan perbincangan ini mengenai konflik tersebut. Situasinya tampak seperti sebuah perang semua melawan semua. Namun sejauh yang saya pahami, hal itu diawali oleh orang-orang yang menentang rezim Bashar al-Assad. Dapatkah kamu memberikan kronologi singkat tentang konflik tersebut?
Perang sipil Suriah dapat dilihat dalam kerangka yang lebih besar mengenai apa yang disebut “Musim Semi Arab” (ed: Arab Spring, yaitu rangkaian aksi protes, perlawanan anti pemerintah dan pemberontakan bersenjata yang tersebar di sepanjang negara-negara Arab sejak awal 2010). Ketika aksi protes dan pemberontakan mencapai Suriah, rezim Assad meresponnya dengan kekerasan dan pembunuhan terhadap para pemrotes yang menggiring pada bangkitnya perlawanan popular, yang dengan cepat berubah menjadi gelombang bentrokan bersenjata. Free Syrian Armee (FSA) atau Tentara Pembebasan Suriah terus berkembang dan semakin mengancam rezim. ISIS mengambil keuntungan dari situasi peperangan tersebut dan mereka merebut kontrol hampir di separuh wilayah Suriah pada satu titik, termasuk menguasai infrastruktur atas minyak dan listrik.
Revolusi Rojava bukan sesuatu yang terjadi secara spontan sebagai akibat dari perang sipil Suriah. Meski tentu, ada bagianbagian spontan di dalamnya, tapi hal itu telah disiapkan sejak beberapa dekade sebelumnya. Struktur dasar masyarakat yang mampu mengorganisir diri mereka sendiri telah dibangun selama bertahun-tahun, hal tersebut menjadi basis yang digunakan sebagai fondasi bagi upaya pendeklarasian diri mereka sebagai sesuatu yang otonom dari negara. Ketika kerusuhan di Suriah dimulai, dengan segera penduduk Rojava juga turun ke jalan dan mendesak rezim agar keluar dari wilayahnya, mereka berhasil mengambil alih kontrol atas sebagian besar wilayah Rojava tanpa menggunakan kekerasan.
Dalam konteks ini, saya lebih senang mendeskripsikannya sebagai jendela peluang yang diambil untuk memulai revolusi Rojava. Ada dua faktor penting untuk mencapai keberhasilan atas revolusi, kita bisa menyederhanakannya dengan menyebut dua faktor itu sebagai faktor dalam dan faktor luar: orang-orang harus siap, secara internal, dan situasinya harus sesuai, secara eksternal. Ketika penduduk Rojava telah membangun kesadaran politiknya, situasi di Suriah menjadi jendela peluang untuk perubahan yang telah berjalan.
Pembebasan Kobane yang heroik oleh YPG/YPJ (ed: Peoples Protection Forces atau Tentara Perlindungan Rakyat) dari tangan ISIS pada 2014–2015, yang juga telah menarik perhatian internasional, dapat dilihat sebagai titik balik dalam perjuangan melawan negara-negara Islam. Pada tahun berikutnya, SDF (Syrian Democratic Forces) atau Pasukan Demokratik Suriah menjadi payung bagi YPG/YPJ dan milisi-milisi lokal lainnya yang secara bertahap berhasil membebaskan kota demi kota dari kebrutalan ISIS, dan sebagai hasilnya telah mampu mengontrol sekitar sepertiga tanah Suriah dengan dukungan serangan udara dari Amerika Serikat. Beberapa faksi Free Syrian Armee (FSA) atau Tentara Pembebasan Suriah bergabung dengan SDF karena kedua pihak memang beroposisi dengan rezim Assad dan berjuang melawan ISIS, namun masalahnya lebih banyak lagi faksi Islam dalam FSA yang justru malah melawan SDF atas perintah negara Turki.
Pada tahun-tahun berikutnya Timur Laut Suriah (Rojava) dikenal sebagai wilayah paling aman dan tenang di Suriah, inilah alasan mengapa pengungsi-pengungsi yang diusir dari rumah mereka—namun masih berada di wilayah Suriah—dalam jumlah besar melarikan diri ke Rojava selama beberapa tahun terakhir
ini. Pada 2018 wilayah dengan nama Rojava secara resmi disebut sebagai “Autonomous Administration of North and East Syria” (AANES) atau (wilayah) Administrasi Otonom di Utara dan Timur Suriah yang menekankan bahwa administrasi-mandiri sekarang ini tidak hanya terbatas bagi mayoritas bangsa Kurdi saja, melainkan juga wilayah Arab hingga ke selatan (Rojava secara literal berarti “Barat” dalam Bahasa Kurdi dan digunakan untuk mendeskripsikan “Kurdistan Barat”).
Dewasa ini dapat dikatakan bahwa konflik yang terjadi telah berkembang menjadi konflik internasional dengan berbagai kepentingan yang menyertainya, yang dapat memberi kesan perang “semua lawan semua”. Itulah mengapa konflik di Timur Tengah saat ini kadangkala dianggap sebagai Perang Dunia Ketiga. Aktor-aktor utamanya (sebatas yang ada di Suriah) adalah Amerika Serikat (NATO), Turki, rezim pemerintahan, Rusia, SDF, kelompok-kelompok Islam (ISIS, Al-Nusra), FSA (Free Syrian Armee) atau Tentara Pembebasan Suriah, dan kekuatan regional lainnya seperti Irak (terutama Irak bagian Utara), Iran (para militannya) serta Israel. Penting untuk menganggap bahwa konflik tersebut tidak hanya terbatas pada wilayah Suriah dan mempengaruhi sekaligus dipengaruhi oleh beragam konflik yang terjadi di Timur Tengah serta tataran politik internasional.
Sementara Utara dan Timur Suriah berada di bawah kontrol administrasi otonom sebagaimana yang dijelaskan di atas, banyak bagian Suriah lainnya yang kembali jatuh ke tangan rezim Assad dalam tahuntahun terakhir. Selain wilayah Rojava yang diduduki melalui invasi Turki (Afrin pada 2018, Serikaniyê, dan Girespî pada 2019), garis depan lainnya yang kini sedang aktif adalah wilayah Idlib di Barat Laut Suriah. Di wilayah itu, rezim (yang secara aktif didukung oleh Rusia) tengah melawan oposisi (FSA, yang secara aktif didukung oleh Turki). Terkait wilayah Rojava (AANES), yang terindikasi oleh kehadiran militer Amerika dan Rusia, Turki dan rezim (ditambah selsel ISIS yang bisa aktif lagi sewaktu-waktu dan kelompok-kelompok Islam lainnya) dalam jumlah yang terbatas, membuat Syrian Democratic Forces (SDF) atau Tentara Demokratik Suriah mau tidak mau harus memiliki hubungan diplomatik dengan semua kekuatan-kekuatan militer tersebut (kecuali dengan negara Turki dan para kelompok Islam) meskipun pembahasan-pembahasan diplomatiknya terbatas hanya pada tataran taktis saja.
Agar dapat memahami revolusi di Timur Laut Suriah, kita harus bergerak untuk melampaui pemikiran dalam batas-batas artifisial yang dibuat oleh keberadaan negara-bangsa. Setelah Perang Dunia I, wilayah permukiman Kurdi dipaksa untuk dibagi ke dalam empat negara bangsa (Turki, Suriah, Irak, dan Iran). Sejak saat itu, orang-orang Kurdi hidup di bawah pendudukan imperialis. Sebagai hasilnya, Gerakan Kurdi telah memulai perlawanan bersenjata melawan kekuasaan tersebut dan memperjuangkan hak-hak dasar kehidupan bangsa Kurdi yang terlanggar dalam tingkat yang berbeda di semua wilayah Kurdistan tersebut. Tujuannya adalah untuk hidup dalam kebebasan tanpa penindasan kapitalisme, patriarki, dan imperialisme.
Bagaimanapun juga, Konfederalisme Demokratik, konsep yang diajukan oleh Abdullah Öcalan, adalah sebuah usulan yang memberikan pandangan tentang bagaimana berbagai etnis dan agama yang berbeda-beda dapat hidup berdampingan dengan damai dan harmonis serta secara eksplisit tidak terbatas pada populasi Kurdi saja.
Pembahasan ini semakin menarik. Jadi, apakah saya dapat mengatakan bahwa apa yang sedang kalian lakukan di Suriah Utara dan Timur adalah bagian dari perjuangan yang lebih luas untuk membebaskan Kurdistan, bukan hanya di Suriah tetapi juga untuk Kurdi di Turki, Irak, dan juga Iran, kan? Dan itu juga berarti bahwa secara historis perjuangan kalian sekarang adalah bagian dari perjuangan yang panjang untuk Kurdi di seluruh Kurdistan. Apakah kamu telah aktif dalam perjuangan ini sebelum terjadinya perang atau justru kamu sendiri telah diradikalisasi oleh perang ini? Jika kamu sudah aktif sejak perang belum terjadi, dapatkah kamu ceritakan tentang apa aktivitasmu sebelum perang dan bagaimana perubahannya di masa perang ini?
Ya, revolusi kami di sini merupakan kelanjutan dari sejarah panjang perjuangan kemerdekaan rakyat Kurdi, tidak hanya di Suriah tetapi di semua wilayah yang diokupasi. Namun sekarang telah bertahun-tahun tujuan untuk menciptakan negara bangsa baru bernama “Kurdistan” telah ditinggalkan, terutama untuk kritik mendasar terhadap konsep negara bangsa dalam paradigma baru. Apakah ini berarti bahwa perjuangan puluhan tahun sebelumnya sia-sia dan gerakan telah menyerah pada pembebasan Kurdistan? Justru sebaliknya! Kami telah mengakui bahwa kebebasan sejati hanya dapat dimiliki jika kita dapat mengatasi pemikiran tentang negara-bangsa dalam batas-batas sempitnya dan memfokuskan diri pada pengenalan kembali kesadaran politik masyarakat yang bermoral dan alami. Pada saat yang sama, konsep baru tentang negara demokrasi ini juga mampu mengatasi mentalitas kategorisasi yang selama ini telah memisah-misahkan masyarakat berdasarkan suku, agama, gender, dll. Oleh karena itu, revolusi ini bukan semata-mata revolusi Kurdi. Ini adalah revolusi rakyat Suriah Utara dan Timur, yang di antaranya dihuni oleh orang-orang Arab, Kurdi, Armenia, Asyur, dan Suriah. Konfederalisme demokratis menyediakan kerangka kerja yang sedemikian rupa agar semua orang dapat berdiskusi dan hidup bersama secara terbuka. Ini seharusnya tidak mengarah pada asimilasi seperti yang dapat kita amati dalam kerangka negara-bangsa yang dirancang untuk melayani satu bangsa, satu bahasa, satu bendera, dll. Sebaliknya, kami berpikir bahwa kesetaraan hanya akan bermakna jika itu didasarkan pada perbedaan. Oleh karena itu, minoritas akan dilindungi oleh mekanisme yang menjamin pengaruh politik dan budayanya dalam sebuah negara yang demokratis.
Mengenai pertanyaan kedua, saya tidak bisa memberikan jawaban secara umum. Beberapa dari kami telah aktif dalam Gerakan Pembebasan Kurdi selama bertahun-tahun sebelum revolusi Rojava pecah di Kurdistan atau di bagian lain dunia. Sedang kawan-kawan yang lain baru saja terbiasa dengan perjuangan dalam beberapa bulan atau tahun terakhir. Sementara beberapa kamerad memiliki sejarah yang lebih panjang dalam gerakan Kurdi atau kegiatan revolusioner lainnya, yang lain, terutama banyak warga Suriah lokal, baru saja bergabung dengan revolusi di beberapa tahun terakhir ini.
Banyak orang di sini berpikir bahwa semua kubu oposisi Assad hanyalah boneka Amerika Serikat. Saya secara pribadi tidak setuju dengan klaim itu, karena kadangkala memang, peluang satu-satunya untuk dapat bertahan adalah berhubungan dengan para iblis, maka tempuhlah jalan itu. Benarkah bahwa hal itu adalah satu-satunya alasan bagi beberapa orang sehingga mereka masih menerima bantuan militer Amerika Serikat? Di mana posisimu dalam hal ini?
Setelah beberapa kawan meninggalkan lingkaran perjuangan, atau ketika kawan-kawan yang ada dalam perjuangan tengah berusaha mencoba memperbesar kemungkinan, pada situasi itulah kompromi dan aliansi taktis temporer dibutuhkan. Tentu saja, kita harus sangat berhati-hati agar tidak mengkhianati nilai-nilai perjuangan kita sendiri, kami sendiri sudah sangat paham bahayanya.
“Agar dapat memahami revolusi di Timur Laut Suriah, kita harus bergerak untuk melampaui pemikiran dalam batasbatas artifisial yang dibuat oleh keberadaan negarabangsa. “
Secara umum, kami membedakan mana aliansi taktis dan mana yang strategis. Aliansi strategis adalah orang atau kelompok yang memiliki kesamaan nilai dengan kami seperti antikapitalisme, antifasisme, dan antiimperialisme, serta menempatkan pembebasan perempuan dan ekonomi ekologis sebagai dasar dari sebuah masyarakat yang baru. Dengan kelompok-kelompok tersebut kami harus bekerjasama untuk membahas masa depan bersama dan berjuang untuk mencapainya. Aliansi taktis, di sisi lain, adalah pembahasan-pembahasan diplomatik dan negosiasi yang kami butuhkan agar dapat bertahan dan mencegah orangorang kelaparan atau dibombardir Turki.
Tentu saja kami tidak ingin hidup di dunia yang memaksa kami berkompromi dengan para iblis, namun inilah kenyataan dari dunia yang kita tempati sekarang. Dan ini menguatkan motivasi dasar kami untuk mengubah dunia yang tidak kami inginkan ini.
Kalian telah mengalahkan ISIS, ikut senang mendengarnya. Tapi sayangnya saya juga mendengar bahwa banyak kombatan eks-ISIS bergabung dengan milisi Turki lantas sekali lagi menyebarkan teror dan penghancuran di beberapa kota yang dikuasai oleh milisi Kurdi. Apa menurutmu yang akan terjadi berikutnya? Karena kami juga mendengar bahwa satu persatu kota yang sudah terbebaskan mulai kembali dikalahkan.
Kami perlu menjelaskan beberapa hal: pertama, kami tidak pernah mengatakan bahwa ISIS telah dikalahkan. Hal itu adalah
sesuatu yang disebarkan oleh mediamedia arus utama ke seluruh dunia. Tentu saja benar bahwa ISIS secara militer kalah dalam artian bahwa SDF telah mampu membebaskan bagian terakhir dari wilayah yang dikuasai ISIS pada musim semi 2019. Namun sangat jelas juga bahwa para pejuang Islam serta organisasiorganisasi teroris itu belum terpecah. Apa yang kamu katakan benar, banyak dari mereka yang bergabung dengan milisi Islam lain yang berjuang di bawah komando Turki (tak hanya di Rojava, tetapi juga di Idlib dan Libya). Banyak dari mereka ditawari kewarganegaraan Turki setelah mereka bersedia berjuang untuk kepentingan Turki di Timur Tengah dalam kurun waktu tertentu. Dalam beberapa bulan terakhir ini telah terungkap pula bahwa MIT, dinas rahasia Turki, secara aktif menyelundupkan anggota-anggota ISIS keluar dari penjara kami di Timur Laut Suriah. Meskipun beberapa upaya tersebut berhasil digagalkan oleh keamanan lokal kami. Secara umum, selama tahun-tahun perang sipil, pejuang-pejuang ISIS difasilitasi tempat persembunyian aman di Turki dan dapat dengan bebas bolak-balik melintasi perbatasan, sementara penduduk lokal bahkan tidak dapat menjenguk anggota keluarga mereka yang berada di seberang perbatasan.
Kita dapat mengamati pengeboman dan serangan bunuh diri oleh ISIS yang telah mendapatkan kekuatan baru dari Turki memuncak di kota-kota yang telah dibebaskan di sekitar waktu terjadinya invasi. Badan keamanan kami melakukan razia di sel-sel aktif serta tempat persembunyian ISIS setiap harinya. Hari ini, sebuah motor yang disiapkan sebagai bom dapat dibongkar pada menit-menit terakhir di dekat gereja
Asiria. Salah satu strategi yang diintensifkan oleh musuh administrasi-otonom selama sebulan terakhir yaitu memprovokasi kerusuhan di bagian selatan wilayah tersebut (kebanyakan di Deir ezzor). Di daerah itu, para pemimpin suku yang berkolaborasi dengan SDF dan administrasiotonom serta mereka yang ingin menjadi bagian dari administrasi-otonom telah dibunuhi.
Seperti yang dapat kamu lihat, proyek demokratik administrasi-otonom di Timur Laut Suriah diserang dari segala sisi (tak hanya secara militer, namun ada juga peperangan khusus yang tengah terjadi melalui media dan misinformasi, serta pertarungan ekonomi). Tetapi informasi yang menyatakan bahwa satu persatu kota-kota yang sempat dibebaskan telah kembali bertumbangan, sebetulnya tidak sepenuhnya benar. Satu-satunya kekalahan yang kami tanggung adalah karena invasi Turki dengan dominasi militer dari kekuatan tentara NATO yang merupakan kekuatan militer terbesar kedua di dunia itu lah yang membuat kami kesulitan bertahan. Kami tidak memiliki pertahanan udara apapun untuk melawan balik serangan drones dan pengeboman oleh pesawat tempur. Sehingga pada invasi pertama di 2018 mereka berhasil mengambil alih Afrin, sebuah wilayah di mana ekonomi kooperatif dan struktur sipil revolusioner lainnya begitu berkembang, dan pada 2019 mereka berhasil menduduki bagian wilayah antara Gire spî dan Serikanye. Serangan yang membuat wilayah-wilayah tersebut berhasil diduduki, memang pada akhirnya hanya bertahan beberapa minggu saja. Karena meskipun wilayahwilayah di antaranya masih dihujani bom setiap saat, secara konstan perang terus berlangsung, di luar dari serangan tersebut, tidak ada kerugian berarti yang dialami oleh kota yang telah dibebaskan. Malahan ketika waktunya tepat, ada keinginan yang kuat untuk merebut kembali semua kota yang telah diduduki tersebut.
Di mana posisi pemerintah dalam hal ini? Apakah mereka membantu kalian untuk melindungi teritori atau mereka membiarkan kalian bertarung sendiri?
Pemerintah apa? Tentu saja tidak. Tak ada pemerintah apapun di Timur Laut Suriah. Administrasi-otonomlah yang berkuasa di sana. Meskipun rezim pemerintahan Suriah masih memiliki kontrol atas sebagian kecil permukiman di Qamislo dan Hasakeh, pengaruhnya tidak signifikan di wilayah tersebut.
Memang ada pembicaraan antara kami dan rezim pemerintahan Suriah, tapi tidak ada perkembangan apapun dari hal tersebut semenjak rezim tidak benar-benar memiliki ketertarikan pada negosiasi tentang masa depan demokrasi Suriah, sebaliknya mereka hanya menuntut kami untuk menjadi bagian dari tentara Suriah dan menyerahkan otonomi kami. Itu sama saja artinya dengan menyerah. Selama invasi pada Oktober 2019 terjadi kesepakatan dengan rezim yang membuat beberapa tentara rezim dikerahkan di garis perbatasan Turki. Hal ini hanyalah alasan strategis agar setiap serangan di perbatasan akan menjadi sebuah pelanggaran hukum internasional yang jelas dan para tentara juga tidak diijinkan untuk bergerak bebas di dalam teritori kami. Pada prakteknya hal ini hanya berarti bahwa tiap beberapa kilometer dua orang tentara rezim yang kesepian akan duduk-duduk sambil meminum teh. Faktanya tak ada satupun baik kami ataupun rezim yang ingin lebih banyak lagi wilayah Suriah direbut oleh Turki, dan hal tersebut menjadi satu-satunya kesamaan yang kami miliki saat ini. Selama invasi pada 2019, yang secara ironis disebut sebagai “Operasi Damai Musim Semi”, seharusnya beberapa tentara rezim juga dapat secara aktif membantu mempertahankan kota-kota dari serangan Turki, meski pada kenyataannya hanya sebatas simbolis saja.
Oke, sekarang mari kita membahas komunitasmu. Hal menarik yang terjadi di tengah perang adalah merebaknya komunitas-komunitas independen terutama di Rojava. Dapatkah kamu menceritakan tentang hal itu? Komunitas-komunitas seperti apa saja yang turut membangun proyek yang sedang berjalan?
Hmm, dari mana memulainya, ya? Sulit untuk memberikan penjelasan yang komprehensif tentang semua proyek yang sudah dimulai dalam beberapa tahun terakhir ini karena ada banyak sekali hal yang terjadi di beragam bagian dalam masyarakat. Tentu saja tidak setiap proyek yang dimulai itu berhasil, sehingga ini menjadi sebuah perjuangan yang terus-menerus melawan mentalitas kenegaraan dan patriarkal dalam masyarakat maupun dalam diri kita sendiri, namun perkembangan besar telah dibuat dan kami belajar dari pengalamanpengalaman baru setiap harinya. Saya akan mencoba menjelaskan beberapa contohnya secara singkat:
Seperti yang mungkin sudah kamu ketahui, revolusi Rojava dikenal sebagai revolusi perempuan karena peran mereka yang aktif dan penting dalam setiap bagian revolusi. Hal ini bisa disebut revolusi
perempuan karena dalam kenyataan di kehidupan sehari-harinya, perempuan di dalam masyarakat telah berubah secara signifikan. Jauh sebelum revolusi pecah, sekitar 8 tahun yang lalu, pengorganisasian perempuan secara otonom telah dimulai, meskipun hal itu harus dilakukan secara diam-diam dan tak terlihat. Kebebasan yang dibawa oleh revolusi ini memungkinkan struktur seperti Kongreya Star atau Bintang Kongreya untuk dapat bekerja secara terbuka dan menjangkau lebih banyak perempuan di dalam masyarakat. Di banyak kota, rumahrumah perempuan (mala jin) telah dibangun dan melakukan berbagai macam kerja komunitas yang memberi fokus pada isu-isu perempuan. Ketika seorang perempuan muda dipaksa untuk menikah atau mengalami kekerasan domestik misalnya, maka struktur-struktur inilah yang akan memberikan dukungan, dan pada kasus yang ekstrim bahkan menyediakan tempat tinggal baru bagi para perempuan tersebut.
Kekuatan pendorong kedua dari revolusi ini adalah kaum muda. Merupakan sebuah fakta bahwa kaum muda (tidak terbatas pada pengertian klasik tentang usia) akan menentukan masa depan masyarakat. Di dalam situasi saat ini di mana orang-orang tua kulit putih telah menguasai dunia, tak heran—meski terkadang tidak begitu jelas—kaum muda telah terdelegitimasi dengan tuduhan ketidakmatangan dan kurangnya pengalaman mereka yang terlalu digeneralisir. Pada revolusi Rojava ini kaum muda meletakkan masa depan mereka di tangan mereka sendiri dan secara aktif membentuk wajah politik di Timur Laut Suriah. Di setiap kota terdapat pusat pemuda yang digunakan sebagai titik pertemuan dan juga sebagai ruang untuk berbagai macam kegiatan. Kaum muda mengatur pendidikan untuk memberikan kesempatan kepada setiap orang untuk belajar tentang nilai-nilai revolusi dan sejarah mereka sendiri. Sebagai tambahan, kaum muda juga menjalankan demonstrasi, perayaan, serta banyak kegiatan lainnya yang bertujuan agar orang-orang berkumpul bersama dengan cara yang lebih berarti. Di Suriah, sama seperti di banyak tempat di dunia, para pemudalah yang menjadi target utama perang spesifik melalui media sosial dan cara berkomunikasi abad 21 ini. Satu tugas konkrit yang kaum muda ingin capai ialah untuk mengajak pemuda lainnya agar dapat beralih dari kesibukan bermain ponsel di sepanjang hari ke pelibatan diri di dalam masyarakat. Badanbadan resmi dari administrasi otonom Timur Laut Suriah juga memiliki struktur pemuda otonomnya tersendiri. Syrian Democratic Council atau Dewan Demokratik Suriah misalnya, juga memiliki dewan pemuda yang paralel.
Bagian inti dari masyarakat komunal yang terorganisir di Suriah Utara dan Timur adalah komune-komune itu sendiri. Sebuah komune terdiri dari beberapa tetangga yang berdekatan dan biasanya mencakup 150 sampai 1500 orang. Mereka memiliki pertemuan-pertemuan rutin di mana mereka membahas isu-isu harian dan proyekproyek mereka ke depan. Perekonomian komunal yang sedang dibangun di Rojava juga didasarkan pada komune-komune tersebut, yang juga memiliki peran dalam menentukan apa dan bagaimana proses produksi yang kooperatif itu dapat sejalan dengan kepentingan masyarakat dan tidak akan
mencelakai lingkungan atau hanya menguntungkan kepentingan di luar komunenya. Selama bekerja sehari-hari di badan-badan kooperatif komunitas, komune tidak hanya fokus untuk penyediaan kebutuhan-kebutuhan dasar bagi para anggotanya saja, melainkan juga membangun ulang semangat komunal. Karenanya, sebisa mungkin sebagian besar pekerjaan harus dilakukan bersama-sama dengan semua keluarga di desa tersebut dan melibatkan tiap anggota keluarga dari yang muda sampai yang tua.
Bagaimana dengan PKK (Partîya Karkerên Kurdistanê atau Partai Pekerja Kurdistan)? Benarkah bahwa kamu, milisi Kurdi, adalah sayap yang dipersenjatai PKK?
Tidak begitu melihatnya. Sayap yang dipersenjatai Syrian Democratic Council atau Dewan Demokratik Suriah (sebuah pertemuan umum dan satu pilar sistem demokrasi konfederalisme), singkatnya, Rojava, adalah Pasukan Demokratik Suriah (SDF). Aliansi ini terdiri dari beberapa dewan militer lokal dengan berbagai etnis yang berbeda. Sementara, Peoples Protection Forces (YPG) atau Pasukan Perlindungan Masyarakat (YPG—yang pastinya kebanyakan berasal dari Kurdi tetapi juga terdapat orang Arab dan orang dari berbagai negara lain dalam jajarannya) adalah kekuatan dominan di dalam SDF, ia juga terdiri dari milisi Arab, Asiria, Armenia, Turkmenistan dan Chehnya, serta lainlainnya. Pada akhirnya, para pejuang di dalam SDF adalah orang-orang Suriah Utara dan Timur ditambah sebagian kecil orang-orang dari negara lain yang bergabung dengan perjuangan ini dari wilayah lain di Timur Tengah serta belahan dunia lainnya.
PKK di pegunungan Kurdistan berjuang untuk tujuan yang sama seperti kemerdekaan dari imperialisme, pembebasan perempuan, dan kehidupan bebas atas penentuan segala sesuatu yang terlepas dari kapitalisme. Para milisi PKK adalah People´s Defense Forces (HPG) atau Pasukan Pertahanan Masyarakat.
Kita dapat membaca dari beberapa buku sejarah bahwa masalah dengan eks-milisi adalah bahwa banyak dari mereka mengalami masa yang berat untuk dapat kembali ke kehidupan sipilnya bahkan ketika perdamaian telah terjadi. Saya tidak ingin terdengar pesimis tapi saya paham bahwa perjalanan kalian masih jauh dari kata selesai. Namun apakah kamu pernah berpikir tentang hal itu? Karena dalam banyak hal, untuk melawan monster kita juga perlu menjadi monster. Apakah kamu memiliki program semacam tugas sipil untuk para milisi?
Secara umum, kami tidak ingin menciptakan tentara-tentara profesional sebanyak mungkin. Kami melihat besarnya bahaya dari kelompok bersenjata yang sangat profesional. Di sisi lain, tujuan kami adalah agar seluruh populasi mengenali bagaimana perjuangan ini berjalan demi otonomi dan kebebasan, serta mengambil langkah bersenjata demi mempertahankan diri mereka sendiri jika diperlukan—sementara penciptaan profesionalitas yang tinggi menciptakan jarak antara milisi dan orang-orang “normal”. Di sisi lain, selalu ada bahaya pada titik tertentu karena sayap yang bersenjata dapat bertindak demi kepentingan mereka sendiri dan memaksakan sesuatu kepada masyarakat. Untuk mencegah monopoli kekuasaan semacam itu terjadi, HPC (Society´ Protection Forces atau Pasukan Perlindungan Masyarakat) dibentuk. Struktur ini terdiri dari orang-orang biasa di lingkungan sipil yang mendapatkan pelatihan militer dasar dan terkadang bergiliran untuk menjaga lingkungannya jika situasi keamanan memaksa demikian. Orangorang ini jauh dari kategori kekuatan militer yang profesional. Namun, setiap kali unit profesional seperti YPG mendapatkan persediaan persenjataan jenis baru, HPC juga mendapatkannya, sehingga pada kasus terburuk di mana unit-unit profesional itu beralih melawan orang-orang mereka sendiri, orang-orang ini akan selalu dapat melindungi diri mereka dengan kemampuan yang setara.
Kami harus mengakui bahwa tujuan untuk pertempuran rakyat yang revolusioner di mana mayoritas populasi secara serempak mengangkat senjata belum bisa tercapai, dan karena memang ada spesialisasi kekuatan pertahanan tertentu yang diperlukan untuk dapat bertahan dari serangan ISIS dan Turki. Saya pikir potensi masalah yang kamu katakan itu sangat relevan terutama dengan kaum muda yang tumbuh dalam situasi perang dan tidak terbiasa dengan hal lain selain peperangan. Banyak orang yang menjadi bagian dari pasukan pertahanan telah hidup sebagai sipil sebelumnya, dan seharusnya mereka mampu untuk kembali ke kehidupan sebelumnya ketika konflik bersenjata usai. Lain halnya dengan orang yang masih sangat muda yang tumbuh di lingkungan peperangan, tentu akan ada ancaman bagi mereka untuk menjadi tak terbiasa dengan kehidupan tanpa
senjata dan kekerasan, mereka akan memiliki masa-masa yang sulit untuk beradaptasi dengan kehidupan biasa. Karenanya, SDF telah banyak berusaha untuk mencegah anak-anak bergabung dalam jajaran mereka. Masalahnya adalah bahwa banyak terutama di kalangan perempuan di bawah umur yang datang ke YPJ (atau YPG) karena mereka menghadapi pernikahan yang dipaksakan atau kekerasan di dalam struktur keluarga yang patriarkal. Untuk kasus-kasus semacam ini, terdapat pusat-pusat khusus di mana laki-laki dan perempuan muda yang ingin bergabung dengan kekuatan bersenjata namun masih belum cukup umur untuk boleh bergabung dengan pasukan, yang dalam kondisi tertentu tidak mampu dan tidak mau kembali ke keluarga mereka lagi, difasilitasi untuk dapat hidup dan diberikan dukungan juga pendidikan selama mereka masih belum cukup umur untuk dapat bergabung.
Di Utara dan Suriah, pasukan keamanan internal (Asayish) mengambil peran sebagai polisi (kebanyakan dengan menjalankan pemeriksaan keamanan dan terkadang juga penggeledahan sel-sel ISIS atau mencegah penyelundupan). Yang membedakan mereka dari polisi-polisi yang lain adalah bagaimana mereka semua menerima pendidikan yang mendetail dalam mediasi, etika, sejarah Kurdistan, imperialisme, perang psikologis yang disebabkan oleh budaya popular, dan pentingnya pendidikan serta kritik-diri. Sebagai tambahan, lebih relevan untuk pertanyaanmu, tujuannya adalah untuk membuat lebih banyak masyarakat menyaksikan pendidikan Asayish sehingga institusinya sendiri dapat melebur karena ia menjadi tidak penting lagi.
Bagi kami menjadi revolusioner yang sebenarnya berarti bersedia dan mampu untuk mengangkat senjata jika diperlukan dan mempertahankan diri kami sendiri dan rakyat di seluruh dunia. Meskipun, kehidupan revolusioner tidak melulu terbatas pada sisi militernya saja. Sama pentingnya untuk berdiskusi dengan masyarakat lokal dan tetangga-tetanggamu tentang politik dan membantu penciptaan pusat-pusat sosial dan seterusnya. Pada akhirnya, yang membedakan seorang revolusioner bukanlah tentang seberapa banyak yang sudah kamu lakukan, namun dengan
“Meskipun, kehidupan revolusioner tidak melulu terbatas pada sisi militernya saja. Sama pentingnya untuk berdiskusi dengan masyarakat lokal dan tetanggatetanggamu tentang politik dan membantu penciptaan pusat-pusat sosial dan seterusnya.”
tujuan apa dan di dalam kerangka yang lebih besar apakah kamu melakukan hal tersebut.
Saya setuju dengan kamu bahwa kita harus bersedia dan mampu mengangkat senjata jika diperlukan. Apalagi pada saat konflik, setiap badan yang mampu mesti siap mengangkat senjata apapun untuk membela masyarakatnya. Tapi apa pendapatmu tentang perekrutan dan penggunaan anak sebagai tentara? SDF menandatangani perjanjian dengan PBB untuk mengakhiri penggunaan anak-anak tahun lalu, bukan?
Anak-anak tidak boleh menjadi bagian dari konflik militer. Apakah ada kasus pejuang di bawah umur dalam SDF di masa lalu? Ya, ada. Saya pikir citra klasik “tentara anak yang dipaksa” masih menyesatkan dalam kasus ini. Sebagian besar pejuang di bawah umur itu adalah gadis remaja yang melarikan diri ke SDF karena tindakan itu adalah satu-satunya cara bagi mereka agar dapat melarikan diri dari pernikahan atau pemerkosaan di bawah umur, tidak ada perekrutan paksa. Seperti yang kamu sebutkan, SDF telah bekerja sama dengan PBB untuk menyelesaikan permasalahan ini. SDF telah memperkenalkan beberapa lembaga nonmiliter khusus di mana pria dan wanita di bawah umur yang ingin bergabung dengan SDF dapat tinggal sampai mereka mencapai usia legal ketika mereka memiliki pilihan untuk bergabung dengan satuan militer. PBB dan LSM lain memuji SDF atas upaya kerasnya ini.
Saya juga membaca tentang laporan kontroversial dari Amnesty International pada 2015 tentang pemindahan paksa dan pembongkaran rumah yang dilakukan oleh pasukan Kurdi, saya juga membaca tanggapan dari YPG bahwa semuanya adalah kekeliruan. Namun pada 2018, Amnesty International, sekali lagi menulis laporan tentang
serangan membabi buta yang diduga dilakukan oleh pasukan Kurdi yang menyerang perumahan dan rumah sakit. Laporan itu digunakan oleh beberapa orang di sini untuk melemahkan perjuangan kalian. Jadi saya butuh pernyataan atau pendapat kamu tentang hal itu.
Baru-baru ini PBB merilis laporan terbaru hak asasi manusia tentang Suriah. Sementara aktor lain dalam perang telah menerima berlembarlembar penuh kritik (khususnya berbagai kejahatan perang negara Turki yang melibatkan penculikan, penyiksaan, pemerkosaan, pembersihan etnis, dll. yang pada akhirnya diakui secara resmi), kritik tentang SDF relatif singkat. Ada keluhan, misalnya atas penggunaan praktik penahanan ilegal dan penyiksaan terhadap pejuang dan kerabat ISIS. SDF menyambut baik upaya PBB untuk mendeteksi kejahatan perang dari segala sisi dan mengenai laporan terbaru itu, SDF secara khusus mengundang para ahli PBB untuk mengunjungi secara langsung fasilitas penjara mereka juga tempat-tempat lainnya yang disinyalir berhubungan dengan dugaan kasus penganiayaan tersebut. SDF juga tidak memungkiri bahwa dalam beberapa kasus telah terjadi kesalahan dan menimbulkan konsekuensi. Dalam kasus penjara ISIS misalnya, tidak ada yang bisa menyangkal
3 2 DIOGENES | JURNAL DEKOLONISASI #1 I/ 2022
bahwa kondisinya sangat tidak manusiawi. Namun, hampir tidak ada alternatif lain karena pemerintahan sendiri tidak memiliki cukup sarana dan penjara untuk menangani begitu banyaknya pejuang ISIS: di kamp Al-Hawl misalnya, di mana lebih dari 500 keluarga ISIS tinggal, ada 70.000 tempat pengungsian, padahal kapasitas resminya hanya untuk 15.000. Banyak dari para pejuang dan keluarga ISIS tersebut merupakan pejuang asing, terutama dari negara-negara Barat, tetapi juga banyak dari Indonesia, Malaysia atau Rusia misalnya. Jika negara-negara tersebut akan mengambil kembali warganya dan mengadili mereka di negara asalnya, ini akan membuat situasi di sini dapat jauh lebih aman dan manusiawi.
Harus saya akui bahwa memang banyak pejuang Indonesia yang berangkat ke Suriah dan bergabung dengan ISIS, dan sudah menjadi tugas bagi kami untuk menghentikan hal tersebut. Baik, saya rasa perbincangan ini sudah cukup panjang dan sangat menarik. Terima kasih banyak telah meluangkan waktu di situasi yang sulit ini. Kami berharap wawancara ini dapat menginformasikan kepada masyarakat di Indonesia mengapa mendukung perjuanganmu adalah sesuatu yang penting. Ada hal lain yang ingin diungkapkan sebagai penutup?
Saya harap, kurang lebihnya itu dapat menjawab pertanyaan-pertanyaanmu. Ya, jangan ragu untuk membagikan alamat email kami, kami juga ingin berhubungan dengan rekan-rekan lain dari Indonesia!
Salam Perjuangan,
Revolusi di Masa Kita
Wawancara dengan seorang pelaku aksi-aksi kebangkitan popular Hong Kong 2019.
Pada 2019 Hong Kong terbakar. Gedung-gedung pemerintah dan fasilitas publik dirusak, mobil polisi dibakar, toko-toko dihancurkan, bahkan individu-individu diserang. Publik di Indonesia bereaksi melihat hal ini dan seperti biasa, karena disuguhi visual yang menghebohkan tersebut, mereka mengutuki aksi-aksi yang terjadi. Hal ini diperparah oleh komentar-komentar dari kaum Kiri di sini yang justru malah senada dengan para buzzer pemerintah yang menghina dan malah menyudutkan kebangkitan popular tersebut— bukannya memberikan konteks dalam perjuangan popular yang justru seharusnya perlu dipahami, diapresiasi, dan menjadi inspirasi. Sebetulnya dapat dipahami, karena kebanyakan posisi kaum Kiri lokal telah tersedot dalam pusaran perang dagang antara Amerika Serikat dan RRT—sesuatu yang konyol karena perang dagang tersebut tak
menguntungkan siapapun selain para penguasa, ekonom, birokrat, dan pengusaha kaya raya. Mengidolakan dan membenarkan apapun putusan dari Xi Jinping, bersikap seperti buzzer dalam aksiaksinya membela apapun keputusan Jokowi dan jajaran pemerintahannya, termasuk yang tidak popular sekalipun, kala itu kaum Kiri tersebut terus menerus mencari celah dan mengeksploitasi setiap sisi paling kontroversial dari apa yang dilakukan para pemrotes Hong Kong. Maka, menyanggah opini umum yang melihat bahwa kebangkitan popular di Hong Kong sekadar sebagai kerusuhan para provokator yang dibiayai Amerika Serikat, kami menyuguhkan wawancara dengan seorang pelaku yang terlibat langsung dalam momen kebangkitan tersebut—bukan sekadar pengamat yang berdiri dari kejauhan.
Apa yang melatarbelakangi aksi protes tahun lalu dan apa kaitannya dengan protes pada tahun 2014?
Saya hanya bisa menjelaskan secara singkat tentang hal ini, saya merekomendasikan buku baru dari Au Loong-yu, seorang pengorganisir kelas pekerja kawakan, berjudul Hong Kong in Revolt karena ia mampu menjelaskan detil-detil penting untuk menjawab pertanyaan ini. Saya dapat memahami, bahwa ada hubungan yang mendalam antara apa yang terjadi pada tahun 2014 dan 2019: gerakan tahun 2014 berakhir dengan kekalahan telak karena pemerintahan Hong Kong yang kaya raya, yang didukung oleh CCP (Chinese Communist Party atau Partai Komunis Tiongkok-ed) yang jauh lebih kaya lagi itu, hanya membiarkan para pemrotes sampai pada aksi pendudukan yang kemudian berakhir dengan pembersihan kampkamp perlawanan lewat kekerasan polisi setelah 79 hari masa okupasi.
Tuntutan Umbrella Movement (sebutan untuk gerakan politik yang muncul selama aksi-aksi protes demokratik Hong Kong di tahun 2014-ed) cukup sederhana, yaitu: implementasi pemerintahan demokratik seperti yang dijanjikan dalam Undang-Undang Dasar pasal 45 yang disetujui dan ditandatangani oleh CCP di bawah pimpinan Deng Xiaoping pada tahun 1984. Hal ini bukanlah sesuatu yang dibuat-buat oleh warga Hong Kong, ini secara harfiah tertuang di atas kertas sebagai sebuah reformasi yang harus diimplementasikan— jika CCP adalah sebuah kekuatan “dekolonisasi” yang hendak menghapuskan sisa-sisa penjajahan kolonial Inggris dari Hong Kong, seperti yang mereka klaim, hal ini seharusnya sudah dilakukan. Tapi apa yang justru terjadi, CCP malah mempertahankan quasi-legislature (hak legislasi untuk ikut mempengaruhi pembuatan peraturan perundangan-ed) kolonial Inggris dan membuatnya jadi semakin tidak demokratik.
Pemerintah Hong Kong, yang didukung oleh CCP, yang menyebabkan orang Hong Kong bangkit, pada awalnya mengisyaratkan bahwa mereka mungkin akan mengimplementasikan pemilu demokratik untuk pemilihan chief executive (setara presiden di Hong Kong) pada 2013 tapi kemudian mereka malah mengingkarinya dan berkata tidak. Hal ini adalah katalis langsung bagi Umbrella Movement.
Coba saja bayangkan apa yang akan terjadi jika Jokowi secara tiba-tiba berkata “tentu saja tidak, kami memutuskan untuk tidak menggelar pemilu dan kami mengambil hak anda untuk menentukan pemimpin anda sendiri.” Jika kamu ingin berargumen bahwa Hong Kong hanya sekedar sebuah teritori bagian dari RRT (Republik Rakyat Tiongkok -ed) dan tidak memiliki hak untuk menentukan nasib sendiri (mengabaikan apa yang telah CCP janjikan di dalam UndangUndang Dasar Hong Kong); maka bayangkanlah bahkan sebagai bagian dari sebuah negara, atau sebuah desa di dalam wilayah Indonesia misalnya, di mana para pemimpinnya memutuskan untuk berbohong dengan mengatakan bahwa rakyat yang dipimpinnya tidak berhak memilih gubernurnya atau kepala desanya sendiri. Reaksi seperti apa yang akan timbul, di Indonesia, dengan sejarah panjang revolusi dan pemberontakan melawan pemerintah yang tidak bertanggung jawab?
Jika kamu meletakkannya dalam perspektif ini, tuntutan warga Hong Kong pada 2014 itu sebenarnya sangat tidak ambisius sama sekali: mereka tidak menuntut penggulingan pemerintahan, tidak juga untuk menempatkan seseorang yang mereka pilih agar dapat duduk di kursi pemerintahan. Mereka hanya menuntut hak pemilu demokratik untuk memilih sendiri pemimpin mereka melalui sistem pemilihan popular. Mereka yang MarxisLeninis yang ingin melihat Hong Kong (lebih jauh) tanpa hak pilih sepertinya telah lupa bahwa Lenin sendiri mendukung elektoralisme sosialis, parlementarianisme dan hak atas penentuan nasib sendiri. Hal ini makin ironis mengingat kemenangan pemilu populer bagi perubahan sosialis di Bolivia dan Chili dirayakan sebagai kemenangan MarxisLeninis sementara di saat yang sama “Sosialisme yang Sesungguhnya Eksis” (actually existing socialism-ed) di RRT saat ini dirayakan dengan perampasan hak warga Hong Kong atas pemilihan demokratik. Ini adalah sesuatu yang tidak koheren sebagai sebuah pemikiran kiri dan cukup jelas sebagai sebuah watak kolonial.
Bagaimana hal ini mempengaruhi perlawanan di tahun 2019? Menurut saya pemerintah Hong Kong mencoba untuk menerapkan undangundang keamanan nasional yang ketat pada 2003, melanggar janji untuk pemilihan demokratik pada 2007/2013, dan kemudian secara brutal membubarkan aksi okupasi damai pada 2014, telah secara berkelanjutan meningkatkan rasa ketidakpercayaan yang dimiliki warga Hong Kong kepada pemerintahannya dan juga kepada CCP. Kamu mungkin sudah melihat grafiti yang terkenal di gedung Dewan Legislatif setelah para pemrotes menyerbu gedung tersebut pada 2019, yang mengatakan “kamulah yang mengajari kami bahwa aksi damai tidak ada gunanya.” Dan inilah kenapa para anarkis cenderung lebih memahami dan
lebih mendukung aksi protes yang terjadi di Hong Kong: warga Hong Kong beranjak melawan otoritas yang tidak dapat dipercaya. Grafiti itu merangkum hubungan antara 2014 dan 2019: aksi okupasi damai Umbrella dinilai sebagai sumber kegagalan sehingga pada gerakan 2019 membentuk strategi, etos dan taktik yang sangat berbeda: Pertarungan jalanan melawan polisi yang brutal dan tidak bertanggung jawab, taktik gerilya bergaya “Be Water” (adaptasi dari strategi bertarung Bruce Lee, jadilah seperti air yang tidak berbentuk dan terstruktur. Strategi penyerangan yang tampak acak dan kacau namun tetap di backup dengan strategi yang matang dan disiplin tinggi-ed) alih-alih mengokupasi gedung-gedung penting, dan bahkan strategi “Laam chau” (攬炒) yang kontroversial, pada umumnya diartikan “jika kami terbakar, kamu pun terbakar bersama kami,” yang pada dasarnya bertujuan untuk menghancurkan Hong Kong secara ekonomi serta merugikan RRT. Semua taktik tersebut adalah reaksi atas aksi okupasi damai dan rasional dari Umbrella Movement yang telah gagal sebelumnya.
Dikatakan bahwa ada “martir” pertama yang sengaja bunuh diri, apakah hal ini juga katalis?
Warga Hong Kong memang menganggap satu orang tersebut sebagai martir, seseorang yang menggantungkan spanduk melawan pemerintah dan kemudian melompat dari gedung tinggi. Hal tersebut diikuti oleh sejumlah aksi bunuh diri di antara para pemrotes, terutama oleh kaum muda. Saya tidak akan menyebut ini sebagai katalis yang menyebabkan aksi protes, tapi hal tersebut memang membangkitkan banyak orang biasa yang pada umumnya tidak menganggap diri mereka sendiri aktif dalam sebuah protes, agar turut ikut berduka atas hilangnya nyawa yang disebabkan oleh pemerintah yang arogan dan tidak bertanggung jawab. Hal ini juga menandai krisis kesehatan mental di Hong Kong yang makin diperparah dengan meningkatnya kekerasan yang dilakukan oleh polisi. Kematian Alex Chow Tszlok, seorang pemuda yang jatuh dari gedung parkir ketika berusaha kabur dari kejaran polisi yang secara acak membombardir gedung parkir dengan gas air mata, ia juga dianggap sebagai martir
DIOGENES | JURNAL DEKOLONISASI #1 I/ 2022 3 7
dari gerakan ini. Kematiannya membuat banyak pemrotes radikal melancarkan serangan kekerasan dan balas dendam kepada polisi. Lagi-lagi, saya tidak mengatakan bahwa hal-hal tersebut adalah katalis, namun hal-hal itu membawa lebih banyak orang “biasa” untuk terlibat ke dalam gerakan karena mereka merasa makin dan makin muak lagi pada apa yang kemudian berubah menjadi aksi kekerasan oleh polisi di kehidupan sehari-hari.
Dapatkah kamu memberikan kronologi singkat dari aksi-aksi protes sejak 2014 hingga sekarang?
Ini adalah pertanyaan besar yang tidak dapat saya jawab di sini. Saya pikir apa yang saya bahas adalah kesalahpahaman umum yang selalu digunakan orang-orang Kiri untuk menyudutkan aksi-aksi protes, bahwa semua aksi protes ini hanyalah tentang “melindungi” seorang pria Hong Kong yang membunuh pasangannya di Taiwan. Ini adalah kasus yang digunakan pemerintah Hong Kong untuk memperkenalkan undangundang ekstradisi, yang secara oportunistik akan membuat perjanjian ekstradisi tersebut tak hanya berlaku dengan Taiwan tetapi juga Makau dan RRT. Ini adalah efek langsung dari merebaknya aksiaksi protes. Setiap kali para pemrotes menuntut penarikan undang-undang tersebut, para pengamat selalu mengatakan bahwa hal itu hanya akan “melindungi” si pembunuh, padahal jelas tidak demikian. Undang-undang ekstradisi adalah sebuah dalih bagi pemerintah untuk melegalkan apa yang sudah terjadi secara informal: penyerahan ekstra-legal (yang belum diatur undang-undanged) orang-orang Hong Kong dan Taiwan ke sistem
penjara di RRT. Pada 2015/2016 misalnya, para penjual buku di Hong Kong diculik oleh polisi daratan Tiongkok di Hong Kong dan Thailand lalu dibawa ke daratan Tiongkok dengan alasan karena menjual buku yang membahas topik-topik historis dan politik yang “sensitif” di RRT. Jadi, dengan semua hal yang terjadi di Hong Kong, ada sejarah panjang mengenai bagaimana taktik represif CCP turut meningkatkan terjadinya ledakan protes pada 2019.
Bagaimana kamu melibatkan masyarakat Hong Kong agar mereka bergabung dalam protes?
Tahun 2019 adalah mobilisasi massa terbesar dalam sejarah Hong Kong, ada saat di mana 2 juta orang mengambil alih jalanan, dengan populasi masyarakat sekitar 7,5 juta orang. Hal tersebut banyak dihasilkan oleh adanya kerja-kerja dasar yang dilakukan atas pengorganisiran progresif dari kaum Kiri, banyak di antara mereka membantu penyelenggaraan konsolidasi-konsolidasi umum di awal Juni untuk memprotes undang-undang antiekstradisi. Semenjak hal-hal itu dibangun oleh partai-partai dan kelompok-kelompok politis, banyak pesan-pesan di awal protes hendak menunjukkan ketidakpuasan melalui aksi pawai damai dan sopan di seluruh kota menuju Dewan Legislatif. Ketika polisi dengan keras (termasuk gas air mata, pengepungan, penyerangan dan peluru karet) membubarkan warga yang mulai menduduki area luar LegCo (Legislative Council/Dewan Legislatif -ed) pada 12 Juni untuk menghadang pembacaan kedua undang-undang ekstradisi tersebut, paradigmanya kemudian bergeser ke arah para pemrotes yang melawan balik polisi (hal yang sangat jarang terjadi). Jadi, hal itu bermula dari skema perlawanan biasa di Hong Kong, aksi long march damai, dan ketika polisi merespon dengan berlebihan, hal itu mendorong perlawanan ke level yang jauh berbeda. Banyak orang berspekulasi pada saat itu para pemrotes damai yang disebut wo lei fei (和理非) mengutuk pemrotes lain yang melakukan aksi lebih radikal seperti pertarungan jalanan dengan polisi dan menyerbu gedung LegCo, namun perkembangan baru yang didasarkan pada sejumlah besar partisipasi massa tersebut adalah sebuah ide yang disebut “no splitting” (sebuah etos di antara para pemrotes untuk tidak terpecah belah dengan berbagai varian aksi protes mulai dari yang moderat hingga radikal-ed) dan “brother’s climbing mountain” (sebuah slogan yang populer di antara para pemrotes yang secara umum mengacu pada etos kebersamaan dan saling mendukung aksi sesama pemrotes, tidak saling mengadu dan terbelah-ed), yang pada dasarnya menunjukkan sebuah front persatuan melawan pemerintah dan polisi, dan membebaskan siapa pun untuk memakai taktik apa saja yang mereka pikir paling nyaman untuk mereka lakukan. Kritik internal dan saling tuding adalah dua dinamika yang pada akhirnya melemahkan Umbrella pada 2014, sehingga dengan menghindari hal-hal semacam itu, maka terbukalah ruang bagi setiap orang di Hong Kong untuk dapat bergabung dengan perlawanan.
Hambatan macam apa yang kamu temui terkait strategi dan taktik?
Jadi dua hal yang saya sebutkan di atas, no splitting dan brothers climbing mountain itu cukup bagus dalam arti bahwa keduanya mengutamakan kebersatuan perlawanan, namun seperti yang kita semua tahu, penekanan untuk persatuan lintas organ dari kelompok-kelompok yang berbeda pada akhirnya menjadi sebuah bentuk peraturan itu sendiri. Ketika misalnya elemen sayap Kanan dalam aksi protes (dalam jumlah yang sangat
minoritas) mulai mendorong agenda mereka, mereka menggunakan no splitting dan brothers climbing together sebagai cara untuk mematikan kritisisme dan untuk menuduh siapapun yang mempersoalkan agenda yang mereka punya sebagai upaya untuk menghancurkan persatuan gerakan. Tidak adanya kritik ideologis adalah masalah besar yang dieksploitasi dan dimanfaatkan oleh sayap Kanan untuk mendominasi kelompok-kelompok liberal, progresif atau Kiri.
Dalam taktik jalanan, filosofi gerilya “Be Water” bertujuan untuk menguras tenaga polisi dengan tidak pernah berhenti tetapi secara terus menerus memaksa mereka untuk bergerak dan mengikuti para pemrotes di seluruh wilayah. Cara ini sangat berhasil untuk tujuan tersebut, tetapi semua orang pada akhirnya tahu bahwa sumber daya pemerintah Hong Kong dan CCP tidak ada habisnya dan pada akhirnya, setelah puluhan ribu pemrotes ditangkap dan mereka yang berada di garis depan kelelahan secara fisik sekaligus mental karena konfrontasi setiap hari, orang-orang mulai melihat batas dari kekuatan gaya pertarungan jalanan tersebut.
Namun perlu diketahui juga bahwa warga Hong Kong mampu menemukan berbagai cara yang tak terbatas untuk melawan, mulai dari nyanyiannyanyian tanpa kekerasan, hingga stiker tulisantulisan Lennon Walls (karya artistik kolektif terinspirasi dari Lennon Walls di Praha, berbentuk mosaik yang terbuat dari stiker-stiker kertas berisi berbagai tuntutan demokratisasi Hong Kong selama Umbrella Movement-ed) untuk aksi boikot yang berorientasi pada konsumen. Terdapat juga serangan-serangan fisik pada toko-toko proRRT atau yang dimiliki oleh RRT yang disebut sebagai “dekorasi.” Tapi pertanyaan sebenarnya masih sama, apa strategi terbaik untuk melawan musuh yang memiliki daya tahan 10 kali lipat darimu? Sebuah front yang tengah bangkit adalah sebuah gerakan serikat baru, yang mana terdapat ledakan jumlah pendaftaran serikat sejak awal
DIOGENES | JURNAL DEKOLONISASI #1 I/ 2022 4 1 akan terus berargumen semaunya bahwa karena dua orang, Joshua Wong dan Nathan Law, secara
tahun. Ini masih sangat baru dan pendidikan politik pengorganisasian kelas pekerja masih sangat dibutuhkan, tetapi ini adalah sebuah arena tambahan yang patut disambut baik para pekerja untuk melawan pemerintah Hong Kong.
Ada omong kosong yang disebarkan oleh para Kiri/Maois di sini yang menyebutkan bahwa aksi protes didukung oleh Amerika Serikat, dapatkah kamu memberi penjelasan tentang hal ini?
Cukup menarik untuk mencoba menjelaskan dan melawan kesalahpahaman ini pada tatarannya sendiri, karena mereka yang percaya pada hal tersebut akan selalu mampu menemukan cara agar pendapatnya benar. Telah terbukti bahwa Departemen Luar Negeri Amerika Serikat melatih polisi Hong Kong; ketika bukti itu ditunjukkan, para pengkritik akan berkata, “Ya, itu bukan pelatihan yang sebenarnya.” Sementara, mereka
“Perlawanan ini bukanlah isu yang sudah selesai, masih ada perdebatan tentang taktik dan strategi yang dapat dimenangkan.”
terus menerus mengharapkan intervensi Amerika Serikat, maka a) menodai seluruh perlawanan jutaan orang dan b) berarti bahwa Amerika Serikat bagaimanapun tetap memegang kontrol. Narasi semacam itulah yang membuat para Kiri dan Maois dengan mudah mengatakan: “Lihat ada bukti kok di sini, Joshua berjabat tangan dengan Nancy Pelosi, Nathan berjabat tangan dengan Mike Pompeo! Lihatlah orang-orang itu mengibarkan bendera Amerika, memakai topeng Donald Trump.” Mereka adalah minoritas kecil yang tidak mewakili perlawanan, terlepas dari keberhasilan nyatanya (yang saya anggap telah melakukan sesuatu yang menguntungkan Amerika Serikat). Sebagai reaksi terhadap dominasi pimpinan dan partai politik pada 2014, gerakan 2019 mengadopsi filosofi “No Big Stage”, yang terfokus pada desentralisasi dan penolakan terhadap pemimpin tunggal. Jadi sudah barang tentu, hal ini menegasikan ide bahwa Law atau Wong adalah “pimpinan gerakan.”
Coba pikirkan seperti ini: apakah kaum Kiri Indonesia akan dengan senang menerima jika saya menganggap bahwa kaum liberal dan pemrotes sayap Kanan di Indonesia mewakili seluruh gerakan mereka? Apakah para Maois akan senang jika saya mengatakan bahwa para anarkis Indonesia mewakili seluruh radikal/Kiri dalam aksi-aksi protes melawan pemerintah? Tentu saja tidak, namun karena mereka hanya ingin menjelaskan diri mereka sendiri dan lanskap politik Indonesia yang penuh kompleksitas, perbedaan dan kontradiksi, mereka hanya tidak ingin menjelaskan apa yang terjadi di Hong Kong dengan cara yang sama. Hal tersebut sangat merendahkan.
Kebenarannya begini: keterikatan dengan Amerika Serikat justru adalah isu yang ditentang kebanyakan orang di Hong Kong. Perlawanan ini bukanlah isu yang sudah selesai, masih ada perdebatan tentang taktik dan strategi yang dapat dimenangkan. Pemahaman saya tentang Kiri adalah bahwa kita harus mendukung kawan di mana pun mereka berada, tidak membiarkan mereka sendiri saat mereka tengah melawan kelaliman yang luar biasa. Saya pikir penting untuk para Kiri di Asia dan di mana pun untuk mendukung perjuangan dan melampaui para Kiri dan progresif di Hong Kong, untuk melawan balik kapital global.
Dan juga ada isu bahwa kelompok sayap Kanan menyusup ke dalam protes?
Benar, jadi ada seorang fasis sayap Kanan bernama Chin Wan yang mendirikan semacam pengkultusan dirinya sendiri dan mengadvokasikan terbentuknya negara-bangsa Hong Kong. Dia dan kelompok “Aksi Otonom Hong Kong”-nya adalah mereka yang berada di balik topeng Trump, spanduk-spanduk pro-Trump, bendera Amerika Serikat dan hal-hal semacam itu, namun dia juga dianggap sebagai seorang ekstrimis pinggiran bagi kebanyakan orang Hong Kong. Mereka menarik sebagian besar perhatian media (sama seperti Trump) dan juga sering membodohi para pengamat lepas agar berpikir bahwa mereka adalah mayoritas atau bahwa mereka mewakili kehendak populer Hong Kong. Keyakinan semacam itu sama
konyolnya dengan mempercayai Trump dan gerombolan MAGA-nya sebagai yang mewakili kehendak rakyat Amerika Serikat. Ada artikel yang bagus di Lausan tentang isu ini dan saya rekomendasikannya pada para pembaca: https://lausan. hk/2020/facing-down-the-hong-kong-protests-right-wingturn/
Setelah aksi-aksi protes dan kerusuhan itu dan ketika Tiongkok tetap memaksakan undang-undang mereka yang baru, bagaimana reaksi secara umum di sana?
Reaksi yang umum terjadi adalah rasa ketakutan yang menyebar. Jika ada sedikit aksi rally yang lunak sekalipun setelah undang-undang tersebut disahkan, aksi protes jalanan seperti itu sepenuhnya dihentikan karena undang-undang itu sendiri menyatakan dengan jelas bahwa pada dasarnya apapun dapat dicap sebagai “upaya penggulingan, subversif dan campur tangan asing.” Hukuman wajib yang baru dalam undang-undang tersebut bertingkat mulai dari 3, 5, 10 tahun atau seumur hidup. Hukum tersebut diimplementasikan oleh CCP dalam satu bulan (melangkahi pemerintah Hong Kong dan melanggar Undang-Undang Dasar Hong Kong). Penangkapanpenangkapan mulai terjadi segera setelah undang-undang disahkan pada 30 Juni 2020 dan masih berlanjut hingga hari ini. Banyak orang ditangkap hanya karena lambang-lambang atau meneriakkan slogan “Save Hong Kong, Revolution of Our Times.” Ada dorongan di masyarakat untuk berbondongbondong membeli VPN (virtual private network-ed) untuk melindungi semua aktifitas daring mereka, begitulah situasi menjadi begitu memburuk. Ini adalah sebuah era baru bagi Hong Kong.
Bagaimana strategimu untuk hari-hari ke depan?
Saya tidak akan membahasnya dengan spesifik karena kita semua tahu alasannya, namun hal penting yang perlu diketahui adalah bahwa tidak akan ada lagi demonstrasi besar yang akan terlihat atau aksi-aksi protes jalanan untuk waktu yang lama. Hal ini akan membuat para pengamat Hong Kong berpikir bahwa isu ini telah diselesaikan dan bahwa CCP telah melakukan hal yang benar. Hal ini juga akan membuat mereka yang tertarik pada aksi-aksi protes yang secara visual tampak mencolok kehilangan lagi minatnya pada politik Hong Kong. Namun itu tidak berarti bahwa perjuangan telah berakhir. Penindasan brutal yang sama oleh RRT tidak akan mampu menghentikan lusinan aksi-aksi protes dari para aktivis kelas pekerja dan pemberontakan-pemberontakan spontan warga melawan kebusukan dan inkompetensi birokratik. Memang benar bahwa pemberontakan yang meluas jadi sangat sulit, orang-orang mesti berkorban lebih banyak untuk bangkit, baik di daratan Tiongkok dan sekarang di Hong Kong, namun hal itu hanya berarti bahwa bentuk perlawanan akan berubah dan akan bergerak ke bawah tanah.
Hal penting yang harus dilakukan oleh mereka yang berada di luar Hong Kong adalah tetap membangun solidaritas Kiri internasional, untuk menunjukkan pada mereka yang berada di Hong Kong bahwa hal ini mendapatkan banyak dukungan lebih daripada sekedar dari kaum republikan Amerika yang oportunis. Sebagai gantinya, yang harus dilakukan warga Hong Kong seharusnya adalah terus menjangkau gerakan-gerakan anti-kemapanan di seluruh dunia. Sementara tidak ada lagi pertarungan jalanan, apa yang masih bisa terjadi adalah pertukaran taktik/strategi dan pendidikan politik di antara mereka yang berada di Hong Kong dengan yang berada di luar negeri; hal ini telah
menjadi sebuah pertukaran yang bagus di tahuntahun terakhir karena taktik jalanan di Hong Kong tersebar di seluruh penjuru dunia. Kita harus terus melakukannya. Omnibus Law yang militeristik di Indonesia, yang berusaha mengenyahkan perlindungan pekerja dan membiarkan kapitalis multi-nasional menyerap kekayaan negara sampai kering juga menandai konsep “kedaruratan” yang sama untuk membenarkan pemerintahan otoritarian seperti Duterte di Filipina, Xi Jinping di RRT dan Trump di Amerika Serikat. Kita harus membangun bersama-sama di antara sesama Kiri di sepanjang dan di luar Asia karena ini adalah cara satu-satunya untuk kita mampu mendelegitimasi dan mengalahkan arus kapitalis otoritarian ini. ***
Deklarasi Merdeka Tanpa Izin Mereka
Bima Satria Putra
Pada masa ketika rasa takut mudah menular, mampu melawan saja adalah sebuah kemenangan. Kami memenangkan keberanian kami sendiri, dalam upaya untuk melakukan pendudukan gedunggedung yang ditelantarkan pemiliknya di Salatiga.
Pendudukan yang paling dikenal, sekaligus bertahan paling lama diduduki, adalah salah satu gedung milik Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) di Jalan Osamaliki, Salatiga.
Bangunan di atas setengah hektar tanah itu sudah ditelantarkan bertahun-tahun, dengan kondisi menyedihkan. Genteng-genteng yang rusak membuat langit-langit bangunan bocor dan air merembes. Tanpa perawatan manusia, setiap inci tempat ini dikuasai tanaman liar setinggi lutut hingga pinggang yang tumbuh dengan baik. Saluran air yang tersumbat membuat halaman tergenang air kala hujan. Kami tampung tetesan hujan ke salah satu bak mandi yang masih berfungsi dengan baik. Butuh waktu lebih dari dua bulan lamanya untuk membuat tempat tersebut menjadi aman dan nyaman. Kami menyulapnya sebagai pusat sosial bagi banyak orang dari berbagai tempat dan latar belakang yang beragam untuk mendapat kesempatan dan ruang mengorganisasi diri mereka sendiri. Tempat yang penuh semangat, dibangun dengan kebersamaan, yang penuh perayaan, sukacita, dan harapan.
Pusat Sosial dan Tunawisma Otonom (PSTO) Bethlehem, sekarang menjadi Ruang Sosial Otonom (RSO), bertanggung jawab menginisiasi pendudukan ini. Berpartisipasi dalam pendudukan, lima orang tunawisma dewasa tinggal di gedung tersebut. Mereka bekerja sebagai pemulung, tukang parkir, dan pengamen yang berpendidikan rendah dengan pendapatan yang tidak akan cukup untuk menyewa kontrakan atau kos, bahkan untuk ukuran Salatiga yang mana banyak kebutuhan tidak semahal kota-kota besar di sekitarnya.
Salatiga adalah kota kecil, masuk dalam jajaran kotamadya/kabupaten paling sejahtera di Jawa Tengah (dalam versi pemerintah). Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2019 menunjukkan bahwa jumlah penduduk miskin di kota ini adalah 9,2 ribu jiwa atau 4,7% dari jumlah penduduk. Bandingkan dengan Kabupaten Brebes 293,2 ribu jiwa (16,22%), Kabupaten Kebumen 201,3 ribu jiwa (16%), dan Kabupaten Banyumas 211,6 ribu jiwa (12,53%). Tingkat kemiskinan yang rendah ini tidak membutakan kami dari kenyataan getir di jalanan. Bagi kami, 0,1% adalah angka yang terlalu tinggi.
Kami tidak akan menjual kesedihan kaum yang nelangsa ini. Kami tidak akan romantisisasi penderitaan yang mereka alami. Tetapi kenyataan bahwa kami bertemu mereka tidur seperti jajaran ikan pindang di gubuk bambu di pusat sebuah kota yang berhawa dingin tanpa penghangat yang memadai, bahwa mereka terbiasa mengonsumsi makanan basi dan tanpa sungkan menawarkannya pada kami (dan kami berpura-pura makan dengan lahap), sudah lebih dari cukup untuk menjadi alasan mengapa kami mesti bergerak. Kami tidak perlu menunggu penggusuran rumah, perampasan lahan, pembunuhan aktivis, pemutusan hubungan kerja (PHK) ribuan buruh, atau kasus-kasus besar. Di depan gedung DPRD Salatiga tertulis “Rumah
Rakyat” dengan ukuran sangat besar dan menyala terang, kontras dengan situasi yang sesungguhnya dari orang-orang di jalanan. Hanya para visioner yang mampu menyingkirkan bentuk manipulasi dan penipuan mengerikan di mana kegelapan sesungguhnya tersembunyi di balik benderang lampu warna-warni yang dibuat untuk menghibur rakyat yang sakit.
Kami tidak mengetahui secara pasti berapa jumlah tunawisma di jalanan Salatiga. Tetapi saya memperkirakan jumlahnya mencapai 40 orang lebih, mengingat kami tidak secara serius melanjutkan kembali pendataan yang telah kami lakukan. Ini belum menghitung mereka yang berisiko tinggi terusir dan tidak memiliki rumah karena tidak mampu membayar sewa di tengah pandemi. Ada 11 orang di antaranya ikut bersama kami, sisanya memutuskan tidak terlibat namun kami selalu memastikan bahwa mereka mendapat bantuan yang dibutuhkan.
Kami telah mengorbankan banyak hal untuk menjadi bagian dari gerakan pendudukan. Tetapi pengorganisasian tunawisma adalah hal lain. Masih ada tunawisma yang menganggap ini adalah filantropi, bahkan walau kami telah berulang kali membantahnya. Padahal banyak dari kami bukanlah anak dari keluarga kaya yang menyisihkan sedikit saja dari uang jajan kami karena didorong rasa kasihan untuk beramal dan membantu orang miskin yang malang. Kami adalah buruh, mahasiswa, pelajar, pengangguran, atau para pengorganisasi yang memutuskan jalan hidupnya adalah mewujudkan kehidupan yang lebih baik bagi dirinya serta orang lain, atau mengenai kehidupan yang berbeda di mana kami sedang mengarah. Ketika tunawisma bertanya bagaimana kami bisa mencukupi diri kami di tengah militansi tanpa henti, kami menjawab: solidaritas adalah obat, inilah satu-satunya yang menyembuhkan penyakit sosial yang diderita oleh sebagian besar manusia di muka bumi.
Kami mencoba memberi bantuan bukan layaknya pahlawan. Kami memegang prinsip bahwa yang memberi tidak lebih tinggi ketimbang yang menerima. Kami berupaya merealisasikan gagasan mengenai solidaritas horizontal dalam keluarga besar baru ini. Bahkan, walau dapat dikatakan bahwa pendudukan digerakkan oleh para anarkis, dan bahwa tindakan serta tujuan yang hendak dicapai bersifat anarkistik, tidak semua yang terlibat adalah para anarkis. Ada lebih banyak orang yang tergerak karena kepedulian mereka atau terlibat karena apa yang kami lakukan adalah suatu ‘kegiatan yang positif’ ketimbang para revolusioner yang bergerak karena motif politis yang lebih ideologis.
Seorang kawan yang terlibat dalam pendudukan berkata, tidak mungkin secara berlebihan, bahwa gerakan ini telah membuka matanya mengenai apa yang mungkin dan tidak mungkin. Tetapi sebenarnya ada penjelasan yang berarti mengapa kami mendapat perhatian dan antusiasme yang meledak-ledak dari banyak orang. Kita telah terbiasa tergusur dan tidak terbiasa merebut. Kita telah terbiasa mempertahankan tetapi tidak terbiasa menyerang. Kita sudah menunggu dan bersabar terlalu lama. Gerakan pendudukan adalah maju satu langkah dari kebanyakan bentuk gerakan yang kita lakukan saat ini. Di saat yang bersamaan, pendudukan terjadi persis ketika gerakan anarkisme sedang tumbuh subur di Indonesia.
Ide soal pendudukan jelas masih menjadi sesuatu yang baru di sini. Walau begitu, bukan berarti pendudukan tidak pernah terjadi. Pada 1998, komunitas seni Taring Padi menduduki gedung bekas Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) yang ditelantarkan di Yogyakarta. Mereka mengubahnya sebagai pusat kebudayaan dan kegiatan sosial. Di saat yang bersamaan, runtuhnya orde baru disusul dengan gerakan pendudukan lahan (sering disebut sebagai mengambil alih kembali—reclaiming) oleh para petani tanpa lahan di banyak wilayah perdesaan. Pendudukan ini masih banyak
yang bertahan hingga sekarang. Contoh praktik serupa Taring Padi ialah Semangat Berbagi (Semanggi Centre Foundation) yang memanfaatkan lahan seluas 980 meter persegi dengan tiga bangunan utama milik Pemerintah Kabupaten Tangerang sejak 2011.
Entah apakah gerakan pendudukan itu ditujukan untuk memanfaatkan lahan sebagai sumber pendapatan atau mengubahnya sebagai ruang berkarya dan berkesenian, entah itu di desa atau di kota, kesamaannya terletak pada pemanfaatan suatu lahan dan bangunan yang tidak ia miliki secara legal-formal. Banyak dari tunawisma yang kami libatkan sebenarnya telah memiliki pengalaman untuk memanfaatkan gedung secara spontan dan temporer. Ada dorongan instingtif dalam diri mereka sebagai manusia bahwa berada di pinggir jalan tidak hanya tidak baik, tetapi juga berbahaya. Mereka akan memasuki gedung yang kosong selama terdapat akses untuk masuk, untuk berteduh, untuk tempat peristirahatan sebelum melanjutkan perjalanan kembali, atau untuk tempat sementara di mana ia berupaya segera mendapat ruang yang lebih layak. Dalam skala yang lebih
“Alih-alih mendukung politisi yang dalam kampanye pemilihan umum berjanji akan menghapus kemiskinan, atau mendorong undangundang baru yang menjamin hak atas rumah, kami melakukan aksi yang lebih langsung untuk memastikan bahwa semua orang memiliki kesempatan atas kesejahteraan umum.”
kecil dan kerap tidak diperhitungkan, street punk di Indonesia juga memiliki kebiasaan untuk tidur di bangunan telantar, entah untuk berkumpul atau tidur. Apa yang kami lakukan berbeda dengan yang pernah terjadi sebelumnya di Indonesia. Kami adalah upaya terorganisasi yang dengan sengaja dan berkesadaran penuh untuk mengambil alih suatu bangunan dan memanfaatkannya secara sosial, mengundang orang-orang yang ada di pinggiran dan dipinggirkan.
Tidak butuh waktu lama hingga kami mendapat apresiasi dan dukungan yang meluas dari jaringan akar rumput karena telah membawa mereka ke gedung pendudukan. Bantuan dana, material, dan tenaga solidaritas lintas kota membanjiri upaya pendudukan gedung UKSW yang dilakukan PSTO. Sebagaimana pusat sosial berfungsi secara sosial, gedung tersebut tidak hanya dijadikan sebagai rumah singgah di mana orang-orang jalanan dapat beristirahat dan tinggal. Kami juga membuat perpustakaan, dapur umum, studio, aktivitas berkebun, dan mengupayakan ruang aman bagi perempuan. Banyak kegiatan belum berjalan optimal. Banyak ide yang belum direalisasikan. Kami masih disibukkan dengan urusan tidak penting tetapi mendesak. Bahkan, hingga hari-H penggusuran, pekerjaan rumah macam jaringan listrik, paralon air, dan renovasi bangunan masih menumpuk.
Capaian paling mencolok dan telah memberi manfaat kepada banyak orang terletak pada koperasi distribusi barang layak pakai, Circle A. Kami mengumpulkan pakaian, aksesoris, kebutuhan tidur, peralatan belajar, dan peralatan makan dari masyarakat secara umum dan mahasiswa senior yang segera pindah setelah lulus. Kami benarbenar membuat swalayan di mana barang-barang tersebut dapat diambil secara gratis.
Namun, seperti dikatakan Sergio Ghirardi, “Yang gratis akan dianggap sebagai suatu skandal sekarang, karena ia benar-benar ilegal, karena sesungguhnya ia subversif”. Gratis adalah sesuatu yang berbahaya dalam peradaban di mana berbagai hal dinilai berdasarkan standar uang. Permasalahannya adalah kita mesti membayar untuk apa yang kita makan, pelajari, kenakan, dan kerjakan, di saat bersamaan kita tidak memiliki akses yang adil pada kekayaan sosial kita yang menjadi gerbang untuk pemuasan diri, perkembangan yang utuh dari setiap insan dan kemerdekaan sejati masyarakat. Bagi kami, adalah hal yang absurd bahwa untuk dapat memejamkan mata dengan nyaman saja kita harus membayar. Ini tidak dapat ditoleransi. Kenyataan bahwa udara bersih di Cina beberapa tahun lalu dijual, karena polusi udara akibat industrialisasi besar-besaran negara yang tidak komunis sama sekali itu, menunjukkan kemungkinan buruk dari komodifikasi yang mungkin kita hadapi di masa mendatang. Hidup dan mati adalah perkara membayar, dan kita sama nilainya dengan berapa rupiah yang mampu kita keluarkan.
Sebagai anarkis, kami berbenturan dengan kepemilikan yang eksklusif terhadap sumber-sumber penghidupan. Pendudukan adalah bentuk protes mengenai kegagalan sistem sosial saat ini. Alih-alih mendukung politisi yang dalam kampanye pemilihan umum berjanji akan menghapus kemiskinan, atau mendorong undang-undang baru yang menjamin hak atas rumah, kami melakukan aksi yang lebih langsung untuk memastikan bahwa semua orang memiliki kesempatan atas kesejahteraan umum. Katakanlah pendudukan adalah tindakan yang penuh risiko dan mengorbankan banyak hal, lalu apa yang harus dikatakan soal pelaksanaan Pasal 34 ayat 1 Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 yang mengamanatkan kewajiban negara untuk memelihara fakir miskin dan anak telantar?
Kami tidak membawa permasalahan tunawisma hanya pada tataran rasa iba semata. Penderitaan dari desakan ekonomi, kepemilikan pribadi, dan rendahnya solidaritas sosial, sebagaimana kami percaya, tidak disebabkan oleh kekejaman takdir atau hukuman Tuhan, tetapi oleh ketidakadilan manusia lainnya. Jika kami adalah sampah masyarakat, kalianlah yang membuang kami. Orang-orang yang tidur di jalanan, sementara banyak rumah kosong tidak berpenghuni, tidak sekadar menunjukkan kebusukan masyarakat saat ini. Para tunawisma dan kaum miskin kota merupakan hasil, atau ciptaan masyarakat di mana persamaan kesempatan tidak menjadi warisan bagi semua orang. Ini bukanlah suatu pembiaran, bukan kelengahan dari pejabat yang tidak peka dengan segala kemelaratan dan penderitaan di sekitar mereka, atau bukan ketidakbecusan petugas untuk melaksanakan apa yang mestinya menjadi tanggung jawab mereka. Lebih lanjut, ini adalah sesuatu yang memang dipertahankan oleh kelas yang berkuasa. Oleh karena itu, semua ini tidak hanya masalah moral namun juga struktural. Permasalahan struktural mesti diselesaikan dengan cara struktural, kolektivisasi seluruh kekayaan sosial beserta perangkat penunjangnya.
Pada akhirnya, kami terlalu baik. Kami terlalu lembut.
Menduduki bangunan yang sudah rusak saja sebenarnya adalah bentuk kompromi yang keterlaluan. Orangorang jalanan telah menghadapi tidak hanya rangkaian kekerasan fisik, namun juga mental. Diludahi, dipandang rendah, tidak dianggap, dihina. Dengan massa yang lebih banyak dan lebih berani, seharusnya kami menduduki bangunan yang lebih mewah dan layak huni, sebagaimana pendudukan yang dilakukan oleh banyak saudara kita di Spanyol, Inggris, dan Yunani.
Pendudukan bangunan untuk tempat tinggal adalah salah satu upaya serupa yang menjadi fondasi perubahan sosial yang kita citakan. Kami tidak hanya menuntut kesehatan gratis, kami juga akan menduduki rumah sakit dan membuatnya terbuka bagi semua orang yang membutuhkan layanan kesehatan. Kami tidak hanya menuntut pendidikan gratis, kami juga akan menduduki perguruan dan sekolah untuk membuatnya terbuka bagi semua orang yang hendak belajar. Kami akan mengusir bos dari restoran untuk menyediakan makanan gratis bagi semua orang. Kami akan menduduki stasiun bahan bakar, pusat transportasi, dan pabrik-pabrik. Kami akan menduduki tanah dan bangunan telantar, tempat di mana bibit jiwa manusia dapat tumbuh dan berbunga harapan akan masa depan yang lebih adil dan bebas.
Kami memiliki satu alasan untuk membenarkan gerakan pendudukan: tidak ada seorang pun yang mampu mengerjakan apa saja sendirian, dengan usahanya sendiri. Tuan tanah tidak pernah membangun rumah mewah. Dengan kekayaan yang berasal dari para pekerja yang dieksploitasi, ia membayar bahan bangunan seperti bata dan semen yang dihasilkan dari keringat dan darah para buruh tambang atau pengrajin kayu. Ia tinggal membayar para arsitek untuk merancang bangunan dan membayar para pekerja konstruksi untuk mengurus sisanya. Keseluruhan proses ini menunjukkan bagaimana tenaga kerja itu bersifat sosial, maka kekayaan yang diproduksi juga bersifat sosial, menjadi milik bersama. Soeharto tidak layak disebut sebagai bapak pembangunan semenjak ia secara harfiah tidak membangun apa pun dari tangannya sendiri.
Saya tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa anda menjadi bagian dari kelas tersebut hanya karena anda pengusaha kecil atau pegawai negeri yang kemudian mampu membangun rumah dengan biaya anda sendiri. Tidak sama sekali. Yang saya maksud di sini mengarah kepada kelas penguasa yang benar-benar kaya, sehingga kekayaan mereka membuat anda tidak percaya bahwa mereka bisa menjadi sekaya itu. Betul, bahwa anda memiliki kesempatan untuk mengakses beberapa hal yang diperlukan untuk perkembangan diri manusia. Tetapi jika anda adalah kelas menengah yang cukup beruntung memegang kunci untuk membuka sebuah lemari, maka kelas yang saya maksud di sini adalah pemilik lemari tersebut. Kita sedang membicarakan 1% orang yang memiliki 99% kekayaan di dunia. Untuk melawan mereka dan kekuatan yang mereka miliki, dibutuhkan keberanian dan keteguhan penuh.
Untuk menghadapi kejahatan, kita tidak butuh lebih banyak orang baik; untuk menghadapi kesalahan, kita tidak butuh lebih banyak orang benar; yang kita butuhkan adalah lebih banyak orang berani. Kami bukan orang bodoh yang tidak melek hukum. Keberanian itu bahkan dibekali dengan pengetahuan mengenai konsekuensi hukum yang mungkin menjerat kami selama melakukan pendudukan. Pasal 167 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) menjelaskan bahwa masuk ke dalam rumah orang tanpa izin dapat diancam dengan pidana penjara paling
lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah. Jika diseret ke pengadilan, kami juga bisa dituntut dengan perusakan barang karena mencungkil pintu dan jendela, merusak gagang pintu dan gembok, berdasarkan Pasal 406 KUHP. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perppu) Nomor 51 Tahun 1960 juga mengancam segala aktivitas menduduki dan mengerjakan sebidang tanah atau bangunan yang bukan haknya.
Kami tidak perlu menyangkal bahwa, dari koridor hukum positif, apa yang kami lakukan adalah salah dan ilegal. Kami hanya tidak peduli. Ketidakpedulian kami bagaimanapun juga berbeda dengan korporasi tambang dan perkebunan yang tidak peduli dengan protokol lingkungan yang telah disusun; dengan hakim yang tidak peduli betapa tidak adilnya koruptor dijatuhi hukuman beberapa bulan penjara, sementara pencuri sandal dihukum bertahuntahun; dengan massa yang patuh dengan seluruh ketidakpedulian, kebisuan, dan ketidaktahuan yang menjijikkan, yang juga ikut bertanggung jawab atas situasi yang saat ini kita hadapi. Kami dengan sengaja melanggar prosedur yang harus dilalui, kami akan melompati birokrasi kusut pemerintahan, kami tidak akan meminta izin atas apa yang semestinya menjadi sebuah hak. Kami akan mengabaikan dan tidak ambil pusing atas setiap ayat dan pasal yang mereka tulis karena itu tidak membawa manfaat bagi orang banyak selain hanya menjaga kepentingan orang-orang kaya.
Langkah subversif akan menghadapi serangan dari pemilik properti dan kacungnya, polisi, dan terkadang masyarakat kita sendiri. UKSW telah memberi tiga kali peringatan agar kami angkat kaki dari tempat yang telah kami sebut rumah. Kami memutuskan untuk bertahan. Memasuki akhir bulan Maret, kami gagal menangkis penggusuran yang dilakukan satuan keamanan kampus dan kepolisian bersenjata api.
“Otokritik dari jari telunjuk yang mengarah pada diri kami sendiri adalah betapa kami terburu-buru melakukan gerakan pendudukan tanpa pengorganisasian tunawisma yang lebih rapi dan serius.”
Tetapi pendudukan tidak berhenti sampai di situ. Kami terus melakukan pendudukan hingga enam kali, baik itu pada gedung milik pribadi, pemerintah (kami juga menduduki gedung milik PLN), maupun swasta. Kami berpindahpindah tempat dari satu gedung ke gedung lain terkadang hanya untuk beristirahat. Berulang kali diusir membuat kami makin terbiasa menghadapi polisi. Dalam suatu malam kami digerebek. Lampu rotator dari mobil polisi yang berkedap-kedip tampak seperti lampu diskotik bagi mata kami yang sayu. Pada akhirnya, kami terlalu mengantuk untuk merasa takut.
Untuk melibatkan tunawisma dalam perjuangan ini bukanlah hal mudah. Sebagai bagian dari pengorganisasian, menjalani kehidupan sebagaimana dijalani oleh mereka yang terorganisasi, untuk mengerti dan mendengar dengan simpati mendalam dan penuh ketulusan, adalah suatu kewajiban. Beberapa dari kami memutuskan untuk tidak menyewa kos dan kontrakan. Beberapa lagi meninggalkan kemapanan mereka untuk sesuatu yang mereka sadari bahwa kegagalan mungkin menghampiri. Kami tidur dengan alas yang sama, menikmati makan dan minum yang sama; menganggap bahwa untuk mencoba mengorganisasi, kami harus mengenal lebih dalam orang-orang yang perlu terlibat dalam proyek kolektif ini. Kami tidur di pasar, di terminal, di mana pun para tunawisma dapat merebahkan kepalanya, di situ kami melakukan hal yang sama. Upaya ini tidak berjalan mulus terkadang, namun ini tidak menjadi alasan bagi kami berhenti melakukan yang terbaik untuk melawan sistem kepemilikan properti.
Beberapa tunawisma ketakutan, menjauhi risiko, dan mengutamakan kepentingan pragmatis mereka sendiri. Mereka lebih memilih untuk menjauhi masalah, dengan kembali menghadapi masalah lama mereka sebelumnya yang telah mereka normalisasi sebagai sesuatu yang wajar atau pantas mereka terima. Tanpa disadari, baik tidur di gedung yang diduduki atau di jalanan, risiko diusir sebenarnya sama besarnya. Pengalaman menunjukkan demikian, dan cerita di jalanan ini harus diketahui bukan melalui tangan saya, tetapi dari mulut para tunawisma sendiri. Mereka tidak memiliki hak untuk tidur di mana pun, kecuali melakukannya diamdiam atau petugas keamanan tidak menyadari keberadaan mereka. Sebaliknya, hanya kerja sama dan persatuan di kalangan kaum miskin kota sajalah jalan keluar dan kekuatan terbaik menghadapi penindasan ekonomi terbentang. Ini sesuatu yang perlu diperkuat di dalam jiwa para tunawisma dan kaum miskin kota pada umumnya. Ini kegagalan kami, namun tidak seorang pun yang patut memanggul tanggung jawab ini sendirian di pundak mereka. Sejak awal, kami selalu menekankan bahwa setiap orang bebas untuk menentukan batas keterlibatan masing-masing, untuk maju atau mundur, sesuai dengan kebutuhan dan kepentingan mereka.
Seberapa mendesaknya agenda pendudukan sebenarnya tidak perlu dipertanyakan lagi. Para tunawisma jelas menghendaki derajat hidup yang baik bagi diri mereka sendiri dan keluarganya. Terbukti dari bagaimana mereka selalu menyambut kedatangan kami dan terus bertanya di mana kami tinggal atau apakah Bethlehem telah memiliki rumah yang baru. Memang, mereka menyatakan akan terus mendukung atau segera merapat setelah kami mendapat tempat. Kami akan menunjukkan bagaimana anarki bekerja. Kami akan menunjukkan bagaimana cinta mengalahkan rasa takut. Para tunawisma yang bersemangat, yang ingin agar kehidupan lebih baik yang mereka citakan terwujud, terus terlibat bersama kami dalam pendudukan.
Tetapi toh ini tidak mencegah gelombang demoralisasi yang menghantam kami secara berkala, membuat surut semangat banyak orang, atau membuat banyak kawan untuk berhenti dari gerakan ini. Tidak ada yang mengubah nasib suatu kaum
kecuali kaum itu sendiri. Ini adalah suatu kebenaran. Namun, rasa putus asa dan kekecewaan yang menjalar kadang mengarahkan saya sampai hati pada pikiran bahwa kemiskinan itu adalah akibat kebodohan mereka sendiri.
Otokritik dari jari telunjuk yang mengarah pada diri kami sendiri adalah betapa kami terburu-buru melakukan gerakan pendudukan tanpa pengorganisasian tunawisma yang lebih rapi dan serius. Kami harus mengakui bahwa kami adalah pengorganisasi yang buruk. Kesadaran kelas belum berkembang baik dan meluas di kalangan tunawisma. Mereka belum banyak seia sekata dalam beberapa hal sepele, apalagi dalam hal yang lebih besar. Katakata yang tidak mutiara amat, tetapi menghibur kami, adalah pernyataan Peter Kropotkin: “Hanya orang-orang yang tidak melakukan apa pun yang tidak membuat kesalahan.”
Kami juga memiliki banyak kekurangan dan kesalahan, itu pasti. Kami punya kebiasaan yang buruk dalam mekanisme pengambilan keputusan. Kami sangat kacau dalam koordinasi, mengingat tunawisma tidak memiliki perangkat komunikasi yang memadai dan bahwa mereka terpencar ke banyak tempat selama kami tidak memiliki ruang untuk menampung. Bantuan yang kami berikan justru memantik permohonan yang lebih banyak lagi, di saat kami sesungguhnya juga memiliki sumber daya terbatas. Ini kritik utama yang sering disasarkan selama Bethlehem bergerak, bahwa para pengorganisasi pada akhirnya telah membuat tunawisma menjadi manja.
Dari sini, konflik internal di antara sesama tunawisma muncul, berkembang, dan bertambah buruk terlepas dari konflik yang sudah ada
“...jika berjalan dalam harmoni, maka kita melihat pemulihan total dari sekadar seonggok daging yang bernyawa menjadi manusia yang bermartabat. Kebohongan berubah menjadi kejujuran, ketakutan berubah menjadi keberanian, rasa mementingkan diri sendiri atau individualisme dalam bentuknya yang paling kasar menjadi semangat kolektivitas dan gotong royong.
dari sononya sebelum kami bergabung dalam komunitas jalanan. Kecuali karena gangguan mental, apakah kita benar-benar akan mengatakan bahwa kecurangan, kebohongan, persaingan, fitnah, dan perilaku buruk para tunawisma adalah sifat asli manusia atau apakah itu sebenarnya muncul akibat upaya untuk bertahan hidup, sebagai respons yang wajar dari jiwa-jiwa yang menderita dalam jerat kapitalisme?
Saya tidak bermaksud untuk mengatakan, dengan nada merendahkan, bahwa kami memiliki kualitas pribadi yang lebih baik ketimbang tunawisma. Yang saya maksud adalah bahwa pribadi ini adalah konsekuensi logis, suatu akibat dari suatu penyebab pula. “Orang jahat adalah orang baik yang tersakiti,” frasa yang baru-baru ini populer dari mayoritas masyarakat yang mencoba memahami kembali asal-usul kejahatan dan kekejaman jiwa manusia. Bahwa dunia yang jahat melahirkan orang yang jahat. Bahwa kapitalisme telah merendahkan setiap orang pada taraf yang suram.
Apa yang kalian harapkan dari orang-orang yang secara ekonomi tertindas, melihat dirinya lahir ke dunia sebagai orang buangan dan tidak berarti, yang harus menempuh cara-cara terkotor dan buruk untuk bisa makan hari ini? Imajinasi heroik yang mungkin muncul mengenai sekelompok revolusioner yang berdedikasi dan tulus untuk berjuang bersama orang-orang miskin namun baik dan bersahaja demi keadilan dan kemudian hidup bahagia selamanya, runtuh seketika. Ini bukan dongeng kepahlawanan di mana kita bisa menebak akhir kisah sang pembebas dan yang tertindas. Rasa iri hati tidak terhindarkan. Beberapa tunawisma mengeluh bahwa ada rasa pilih kasih dan perhatian yang tidak merata di antara mereka, atau muncul suara bahwa yang satu lebih pantas mendapat bantuan ketimbang yang lain. Konflik semacam ini menyedot perhatian yang cukup besar dan melelahkan, juga terkadang memperkuat stereotip negatif kepada tunawisma di lingkar solidaritas.
Sebelum membahas lebih lanjut soal kepribadian ini, kita harus paham betul perbedaan mendasar mengenai kotakata house dan home dalam bahasa Inggris. Kita tidak punya padanan yang pas untuk pemisahan tegas kedua istilah ini. Yang pertama, merujuk pada bangunan, sesuatu yang bersifat materiel, kasat mata, terdiri dari beton dan semen di mana kebutuhan dasar manusia diolah. Yang kedua, melampaui bentuk fisik, adalah suasana atau kondisi di mana seorang manusia merasa nyaman dan diterima di dalamnya. Ketika kita menyadari ini, maka tujuan terpenting dari pengorganisasian tunawisma tidak berhenti pada tempat tinggal yang nyaman, pakaian yang bersih, dan badan yang harum, atau makanan yang pantas dan menyehatkan. Perubahan karakter mereka, juga mengenai bagaimana mereka memandang dan berinteraksi dengan diri mereka sendiri, orang lain, dan lingkungan yang lebih luas, adalah sama pentingnya.
Ini adalah pengalaman yang terlalu berharga untuk disimpan sendiri. Kami menyaksikan peningkatan yang pesat dari para tunawisma ketika baik kebutuhan fisiologis maupun psikologis mereka terpenuhi. Bahwa keduanya saling melengkapi, dan jika berjalan dalam harmoni, maka kita melihat pemulihan total dari sekadar seonggok daging yang bernyawa menjadi manusia yang bermartabat. Kebohongan berubah menjadi kejujuran, ketakutan berubah menjadi keberanian, rasa mementingkan diri sendiri atau individualisme dalam bentuknya yang paling kasar menjadi semangat kolektivitas dan gotong royong. Ini saja, bahkan di tengah kegagalan untuk mempertahankan tiap ‘rumah’ (house), adalah salah satu capaian yang tidak dapat dipandang remeh. Masih banyak yang perlu dijalani, masih banyak potensi yang dapat digali, masih perlu banyak dorongan dan dukungan. Kami berupaya sebaik mungkin menjadi ‘rumah’ (home) bagi mereka yang tidak mendapat tempat. Itulah alasan mengapa nama Bethlehem dipilih. Kami ingin menjadi palungan bagi semua orang, bahkan walau ia seperti Yesus yang terlahir dalam situasi tidak mendapat tempat dan diletakkan di atas tempat pakan ternak di antara penggembala. Namun, bukankah dari situlah semangat baik lahir?
Hingga di titik ini, kami akhirnya menghentikan gerakan pendudukan. Kami memutuskan untuk mencari kontrakan yang mana ia memiliki fungsi sama seperti yang telah kami lakukan atau semua yang telah menjadi angan kami. Pendudukan terakhir kami, gedung pribadi empat tingkat
yang lebih dari cukup untuk menampung semua tunawisma di Salatiga, hanya bertahan selama empat jam, sebelum kemudian diusir oleh warga sekitar yang jelas-jelas diprovokasi oleh pengurus warga setempat serta didukung oleh kepolisian dan Satpol PP yang memang berfungsi untuk menjaga ketertiban sistem kapitalisme. Mencari rumah untuk dikontrak adalah cara untuk mempertahankan apa yang telah kami bangun.
Walau demikian, bayang-bayang soal pendudukan masih tertanam kuat dalam ingatan kami. Bangunan tua yang kami bersihkan. Tempat tidur kami yang hanya beberapa lembar tikar dengan selimut yang mesti dibagi, itu pun jika ada yang kebagian. Hari-hari awal penuh kegelapan yang disinari lilin dan senter. Tidak mandi berhari-hari karena keterbatasan air yang bersih. Tempat kami biasa bertukar pikiran, berdebat, atau hanya sekedar mabuk. Tempat di mana segala kemungkinan bisa terjadi selama kita melakukannya bersama orang yang tepat.
Kami menunggu setiap peluang di mana ledakan-ledakan serupa akan terdengar, dan kapitalisme juga negara, sekali lagi, bergetar lututnya dan goyah strukturnya menghadapi ancaman yang datang menyerbu mereka. Kami adalah burung yang beterbangan dari badai yang menjelang. Saya tegaskan: tidak ada seorang pun yang ilegal di bumi kita sendiri. Ketika kami memutuskan untuk berhenti melakukan gerakan pendudukan, itu bukan berarti kami menyerah. Kita harus melakukan pendudukan kembali, kapan pun itu, di mana pun itu, selama memungkinkan. Saya akan menjadi yang paling depan untuk menyuarakan dan mendukung hal ini. Kita akan mendeklarasikan kemerdekaan kita tanpa izin mereka.***
“Kekejaman itu Tidak Masuk Nalar”
Wawancara dengan Anarkis Ethiopia tentang Perang di Tigray
Kami berani bertaruh bahwa dari 10 orang yang tahu soal konflik di Suriah dan Ukraina, hanya 1 saja yang tahu bahwa ada konflik lain yang tak kalah brutal, terjadi di belahan bumi lain, yaitu di Tigray, Ethiopia.
Seperti juga area lain yang kaya dengan mineral, Ethiopia juga kaya akan tanah yang subur, iklim yang baik, mineral berupa emas, platinum, tembaga, dan gas alam. Tak heran lantas negeri tersebut menjadi lahan perebutan pengaruh antara kekuatan-kekuatan raksasa, terutama Tiongkok dan Amerika Serikat, yang menjadikan masalah yang sudah eksis di sana sejak sekian lama, semakin keruh: masalah etnis. Dalam soalan konflik berdasar etnis ini, sebetulnya perang ini mengingatkan pada Yugoslavia pasca bubarnya Uni Soviet.
Dapat dikatakan bahwa Perang Tigray ini seperti perang di Eropa di mana pihak yang berseteru, yaitu Ethiopia, yang merupakan federasi antar beberapa etnis, seperti Yugoslavia, berhadapan dengan etnolinguistik Tigray, yang tentu saja mengingatkan pada Slovenia dan Kroasia. Sebuah perang yang berlatar belakang amat panjang dan tak kunjung terlihat bagaimana akhirnya karena menjadi perang yang dikipasi oleh banyak pihak, antara lain: Tiongkok, Uni Emirat Arab, Turki, Iran, dan tentu saja, Amerika Serikat.
Untuk mendapatkan gambaran lebih luas, di bawah ini kami hadirkan sebuah wawancara The Final Straw Radio dengan Anner, seorang Ethiopia anggota Horn Anarchists, sebuah kelompok anarkis yang berbasis di Afrika Timur. Anner berbincang mengenai kelompok tersebut, sejarah pasca-Junta Ethiopa, konteks konflik bersenjata yang sedang berlangsung di Tigray, faksi-faksi yang berperang dan penindasan dan kekerasan yang diderita oleh penduduk wilayah tersebut.
Tolong perkenalkan dirimu, jika kamu mau, dan ceritakan sedikit tentang Horn Anarchists sebagai proyek kolektif? Apa nilai-nilai yang sama-sama kalian pegang? Apa pekerjaanmu? Di mana kamu tinggal, dan sudah berapa lama kamu terlibat?
Saya menggunakan nama Anner dan saya menggunakan kata ganti she/her. Sebagai proyek kolektif, Horn Anarchists dimulai sekitar setahun yang lalu bertujuan menyebarluaskan ide-ide dan nilai-nilai anarkis dan politik Horn. Masingmasing, kami mengorganisasi aneka solidaritas anti-fasis, feminis, buruh, dan pengungsi, kemudian kami datang bersama-sama membawa nilai-nilai anarkisme dan andil bersama dalam pengorganisasian dan kolektif. Dalam satu tahun terakhir kamu telah melakukan sebagian besar kegiatan secara online, begitu juga beberapa anggota kami yang sedang diaspora, beberapa dari kami berbasis di Horn Afrika, makanya sampai sekarang kami belum benar-benar bisa berkumpul dan berjalan sebagai proyek akar rumput, tapi kami
berharap bisa melakukannya. Kegentingan apa yang terjadi di Tigray baru-baru ini, membuat kami berencana bertemu di Sudan untuk melakukan beberapa kegiatan solidaritas pengungsian di Sudan bagi mereka yang terpaksa meninggalkan rumahnya akibat perang genosida.
Untuk memastikan, apakah ada seperangkat visi anarkisme yang menyatukan orang-orang, atau hanya seperangkat nilai-nilai umum, dan jika kamu bisa deskripsikan, seperti apa itu?
Secara kolektif, nilai-nilai yang sangat kami junjung tinggi seperti kesetaraan, kebaikan, mutual aid, solidaritas, dan kerelawanan, terutama beberapa dari kami diradikalisasi lewat berbagai kegiatan relawan yang kami lakukan. Beberapa dari kami juga diradikalisasi karena membaca “banyak sekali literatur anarkis”, beberapa lainnya diradikalisasi karena bergabung dengan lingkaran pengorganisasian yang berbeda. Pada dasarnya itulah beberapa nilai yang sama-sama kami yakini dan junjung tinggi.
Jadi, pengorganisasian anarkis modern di Afrika yang saya dengar sebagian besar merupakan proyek di Afrika Selatan, afiliasi dari ZACF, atau orang-orang seperti Sam Mbah dan Awakening Movement, sebuah gerakan sindikalis di Nigeria atau di Mesir selama dan setelah pemberontakan terhadap Hosni Mubarak. Bisa tidak kamu jabarkan sedikit tentang suasana atau gerakan anarkisme di Horn Afrika, dan mungkin, jika itu berkaitan dengan ekonomi lebih atau ide-ide agama atau tidak beragama, genre musik atau sub-budaya, seperti metal dan punk, sebagaimana lumrah di sekitaran komunitas anarkis di banyak bagian dunia, atau jika itu berkaitan dengan gerakan otonomi daerah atau etnis, saya ingin mendengar pendapatmu.
Ya, kamu benar soal itu. Nah, ketika kami berkumpul untuk membentuk Horn Anarchists, salah satu hal yang ingin kami lakukan adalah mempelajari anarkisme di “dunia ketiga”. Sebagian besar literatur anarkis yang kami pelajari sangat Eurosentris, jadi kami ingin memahami bagaimana sejarah anarkisme bekerja di bagian dunia kami, dan sayangnya dalam hal itu kami kurang beruntung. Gerakan anarkis atau keberadaan anarkis mana pun yang bisa kami temukan hanya ada di sejumlah tempat: ada beberapa di Nigeria, Afrika Selatan, Aljazair, sebagian di Sudan dan Mesir, tapi tidak banyak, apalagi di Horn. Dan salah satu hal yang kami kaitkan dengan itu adalah bahwa para pemukim di bagian Afrika ini, dan khususnya dataran tinggi Horn, di mana masyarakatnya sangat hierarkis pun sangat religius. Dua agama yang paling dominan yaitu Kristen ortodoks dan Islam, dan masing-masing mereka sangat taat pada agamanya, dan itulah yang sangat berpengaruh mempertahankan masyarakat hierarkis yang sangat kuat secara turun-temurun dan agama mereka juga sangat terikat dengan negara dan orang-orang yang mencintai agama mereka, tuhan mereka, juga harus mencintai negara. Jadi anarkisme belum benar-benar diterima di bagian dunia kami.
Cara masuk anarkisme di Horn, terutama di Ethiopia dan Eritrea memiliki aspek yang sangat menarik, karena ia tidak datang sebagai gerakannya sendiri, diakui dan dibedakan dengan jelas di antara gerakan-gerakan lain. Dan sebenarnya caranya masuk berkaitan dengan sejarah, ketika Marxis-Leninis dan gerakan komunis lainnya, organisasi komunis menggunakannya untuk melabeli satu sama lain sebagai tuduhan bahwa si tertuduh tak sejalan dengan keinginannya. Mereka ingin membangun negara yang kuat, sekalipun negara komunis, dan menyebut lainnya anarkis sebagai cara untuk memastikan bahwa publik kehilangan kepercayaan dan memandang mereka dengan permusuhan, kebencian. Begitulah cara untuk mencoreng nama satu sama lain, dan pada dasarnya, begitulah anarkisme digunakan, bukan anarkisme yang demikian, melainkan kata “anarkis”, sebagai label.
Saat ini kita membahas buntut “tindakan polisi” terhadap provinsi utara Tigray? Dan tolong koreksi jika saya salah soal ini, yang rupanya dilakukan oleh militer Ethiopia tengah yang telah menyebabkan pengungsian secara luas. Setidaknya ini melibatkan dua negara lain ditambah milisi regional dan etnis, laporan pencurian dan kekerasan seksual yang meluas terhadap orang-orang di Tigray. Saya mengapresiasi keterbukaanmu berbagi perihal apa yang kamu ketahui, terutama karena negara bagian Ethiopia sudah melakukan banyak hal untuk menghentikan berita tentang apa yang terjadi di sana. Bagi mereka yang tidak terbiasa dengan politik dan sejarah Horn, terkhusus Ethiopia, sejarah konflik dan berbagai aktor negara dan non-negara, dan motivasi mereka cukup membingungkan. Jika tidak terlalu kepanjangan, maukah kamu menjabarkan dalam bentuk ikhtisar atau sketsa kecil tentang perang saudara dan dampaknya dan menjabarkan kondisi lapangan atas apa yang terjadi saat ini?
Setimpal memberikan ikhtisar sejarah kepadamu untuk memahami bagaimana kami sampai saat ini, Ethiopia membual punya sejarah bangunan kerajaan yang berasal dari 3000 tahun lalu. Apa yang menjadi pokok dalam proses bangunan kerajaan dan bangunan negara telah diklaim sebagai nenek moyang dari Raja Salomo yang alkitabiah di mana raja dan ratu secara berbeda mengklaim bahwa mereka keturunan Raja Salomo dan karenanya memiliki hak ilahi untuk memerintah. Jadi kecenderungan Solomon ini jadi salah satu kekuatan terkuat yang beroperasi di wilayah tersebut hingga Revolusi 1974 di mana raja terakhir digulingkan dalam kudeta dan berdirilah negara komunis melalui junta militer yang mengambil alih kekuasaan dari raja terakhir. Dan junta militer komunis ini menciptakan pemerintahan yang sangat menindas, negara diktator lagi kejam dan memulai kampanye teror merah terhadap kelompok kiri lainnya yang saat itu beroperasi di negara itu. Pada saat ini, ada cukup banyak kelompok pemberontak, pejuang gerilya dan TPLF adalah salah satu pejuang gerilya, bersama dengan Front Pembebasan Rakyat Eritrea, Front Pembebasan Oromo dan banyak lainnya. Junta militer kemudian dikalahkan oleh koalisi pejuang gerilya di bawah nama EPRDF (Front Demokratik Revolusioner Rakyat Ethiopia) yang akan memimpin negara itu selama 30 tahun ke depan. Dalam koalisi ini, TPLF lah salah satu anggota sentral dan dominan.
Maukah kamu membahas sedikit tentang TPLF? Saya pikir dalam artikel sebelumnya di blog Indigenous Anarchist Federation, kolektifmu mendeskripsikan mereka sebagai kelompok Marxis-Leninis. Bisakah kamu membahas sedikit tentang mereka? Apa hubungan mereka dengan orang-orang di Tigray? Peran apa yang mereka jalankan dalam eskalasi konflik baru-baru ini dengan rezim Abiy Ahmed di Ethiopia Tengah?
TPLF punya sejarah yang sangat menarik. Sebagai sebuah organisasi, ia dimulai oleh orang-orang tangguh dan kemudian menjadi perjuangan bersenjata terbesar di negara ini. Hubungannya dengan negara juga sangat dinamis. Sebab pertama kali dimulai itu sebagai kelompok pemberontak melawan rezim, dan kemudian berkuasa, tetapi sebelum itu, ia menyusun manifesto dan programnya sebagai partai politik dan sebagai kelompok pemberontak bersenjata yang bertujuan pemerintahan sendiri atau penentuan nasib sendiri atau bahkan kemerdekaan, jika persatuan tampaknya tidak
mungkin dilakukan di dalam negeri. Inilah yang kemudian menyebabkan federalisme etnis dan kemudian Art. 39, yang mana itu pasal yang paling diperebutkan dalam Konstitusi. Pasal itu memberikan hak bagi bangsabangsa untuk memisahkan diri apabila persatuan tidak memungkinkan lagi. Tetapi hubungan dengan orangorang TPLF jadi sangat berubah. Pertama, sangat dicintai dan dipuja masyarakat, dijamu oleh masyarakat ketika menjadi pemberontak, pejuang gerilya, kemudian merebut kekuasaan, kemudian menjadi alat negara, dan kekerasan yang melekat pada negara berlanjut dan dijalankan oleh TPLF/EPRDF. EPRDF adalah koalisi yang memimpin TPLF. Kekerasan negara dan kekerasan partai tidak bisa dipisahkan, kemudian mereka mulai kasar dengan orang-orang yang dulunya memuja TPLF dan mengagumi komitmen, dedikasi dan disiplin mereka. TPLF dielu-elukan sebagai contoh keberanian, disiplin, dan dedikasi, tetapi setelah mendapat kekuasaan, setelah mereka menjabat dan kemudian melanjutkan kekerasan negara, entah bagaimana hubungan itu berubah dengan negara bagian Ethiopia lainnya serta orang Tigray. Ketika Abiy Ahmet berkuasa tiga tahun lalu, saat itulah TPLF berkesempatan merevisi ulang hubungannya dengan rakyat Tigray. Mereka mengundurkan diri dari jabatannya di pemerintah federal dan kembali, anggota TPLF kembali ke wilayah Tigray dan mulai berefleksi atas apa yang sudah mereka lakukan dalam beberapa tahun terakhir dan meminta maaf kepada orang-orang karena kurang merepresentasikan mereka, karena tidak melakukan banyak hal baik dalam 27 tahun terakhir. Pada titik ini, orang-orang Tigray tidak benar-benar punya pilihan. Saya pribadi berpikir itu adalah kepungan, karena jalan menuju Tigray diblokir oleh kelompok main hakim sendiri Fano dari wilayah Amhara, dan mereka menyerukan kebencian. Seruan kebencian yang disponsori negara dilakukan terhadap orang-orang berbahasa Tigrinya. Tigrinya merupakan bahasa resmi yang digunakan orang-orang di Tigray. Mereka tak dicap sebagai etnis Tigrayan, tetapi mesin propaganda negara menggunakan frasa “berbicara Tigrinya” untuk menjabarkan kekejaman yang dilakukan oleh aparatur negara dalam 30 tahun terakhir.
Abiy dipuji sebagai seorang reformis, seorang demokrat dan kekuatan neoliberal di kawasan itu. Untuk membuktikannya, ia bersikeras mendokumentasikan lewat aneka film dokumenter yang ditayangkan di media milik negara, yang pada dasarnya mengungkap kekerasan negara dan terutama bagaimana tahanan diperlakukan, bagaimana ada penjara yang bahkan tidak resmi, penjara bawah tanah, penjara garasi dan semua hal semacam itu, halhal yang sangat mengerikan yang sedang terjadi. Pertanggungjawaban dibebankan kepada TPLF. TPLF diminta bertanggung jawab atas semua kekejaman yang terjadi di seluruh negeri ini. Meskipun TPLF hanyalah salah satu bagian dari koalisi yang sedang menjalankan negara, EPRDF, itu hanya salah satu anggota EPRDF, anggota EPRDF lainnya masih berkuasa. Mereka masih menjabat, namun kemudian mereka mengubah
“TPLF telah berkuasa selama 30 tahun dan strukturnya dibangun dengan baik, sangat dominan di wilayah tersebut, mengontrol wilayah dan memiliki hampir semua kursi di dewan regional.”
namanya dari EPRDF menjadi Partai Sejahtera (Prosperity Party), yaitu partai yang sekarang berkuasa, PP. PP terlihat sangat kontras dengan EPRDF, sebab hampir seperti partai satu orang di mana Abiy sebagai ketua dan pemimpinnya. Dan pada dasarnya partai mencerminkan kepribadian Abiy – sangat narsis, otoriter, tujuannya mengendalikan segala hal yang terjadi. Itulah salah satu ancaman yang dirasakan banyak orang sebagai ancaman terhadap federalisme etnis dan penentuan nasib sendiri dari berbagai wilayah etnis di negara ini. Perang melawan Tigray sekarang… Salah satu aspeknya ya karena perbedaan ideologis antara negara kesatuan Abiy, yang dipimpin Abiy, yang ingin menguasai segalanya, yang dari pusat mengatur pemerintah daerah, lalu perlawanan dari partai seperti TPLF, ia partai yang sangat kuat. Ia telah berkuasa selama 30 tahun dan strukturnya dibangun dengan baik, sangat dominan di wilayah tersebut, mengontrol wilayah dan memiliki hampir semua kursi di dewan regional. Ia lah kekuatan yang mampu bersaing dengan pemerintah pusat, mungkin satu-satunya kekuatan regional yang mampu bersaing dengan Abiy dan pemerintah federal, karena yang lainnya berada di bawah sayap Abiy dan dia dapat menugaskan siapa pun untuk menjadi pemimpin wilayah mana pun, dan orang tak akan punya kesempatan memilih mereka atau bahkan memiliki suara soal siapa yang terpilih untuk mengelola negara bagian mereka. Itulah salah satu aspek dari sisi ideologis perang: pemerintahan sendiri, otonomi versus unitarisme dan kediktatoran terpusat.
Apa yang memicu TPLF menyerang ENDF?
Tergantung kamunya bertanya ke siapa, perang di Tigray punya penyebab yang berbeda. Salah satunya yakni yang sudah saya sebutkan. Kekuatan TPLF merupakan ancaman bagi Abiy, bahwa Abiy sebagai orang yang ingin membungkam dan mengkriminalisasi perbedaan pendapat, tentu saja akan melawan wilayah yang cukup kuat guna mempertahankan apa yang dia katakan dan punya konsekuensi. Salah satunya bisa dilihat dengan pemilu yang digelar wilayah Tigray, meski pemerintah pusat memutuskan menunda pemilu dengan dalih COVID-19. Wilayah Tigray membentuk dewan pemilihan mereka sendiri dan berhasil menyelenggarakan pemilihan, pemilihan lokal serta tidak meremehkan pandemi. Mereka memastikan orang-orang menjaga jarak sosial dan mereka mengambil langkah-langkah yang diperlukan namun tetap memastikan berlangsungnya pemilihan. Itu mungkin salah satu tindakan terkuat yang dilakukan TPLF sehingga membuat Abiy uring-uringan. Di sisi lain, terutama seperti yang dikatakan negara bahwa TPLF menyerang ENDF. Kami tidak tahu ini benar atau tidak, terlepas dari ada klaim bahwa, setelah menimbulkan ancaman, pasukan sekutu TPLF menyerang komando utara Angkatan Pertahanan Nasional Ethiopia (ENDF), yang mengakibatkan perang besarbesaran.
Menyoal blokade komunikasi, saya tahu bahwa banyak jurnalis membuat keributan besar perihal mereka yang tidak boleh masuk dan tentunya mereka juga tak bisa meliput dan memberitakan, sebab itu saya sangat senang kita bisa mengobrol, tapi apakah blokade komunikasi memang terbatas atau hanya dibatasi untuk Tigray, masih berlangsung? Saya punya beberapa alasan dan berpikir mengapa militer akan melakukan ini, tapi bisa tidak kamu jelaskan mengapa militer ENDF bersikeras melakukan ini?
ENDF dan Partai Sejahtera bereaksi sangat keras, tujuannya ya untuk memutus segala macam komunikasi di Tigray, termasuk telekomunikasi, internet, saluran telepon, layanan, listrik, bahkan layanan air pun diputus. Seluruh wilayah dalam keadaan mati total. Kami tidak bisa mengetahui apa yang sedang terjadi. Kami punya keluarga di sana. Kami tidak bisa mendengar kabar dari keluarga kami selama berbulan-bulan, dan juga terjadi pembungkaman media. Dan ENDF malah semakin liar dalam kegelapan tanpa perlu memikirkan konsekuensinya, percaya bahwa mungkin kata itu tidak akan keluar.
Terima kasih untuk itu. Tadi kamu katakana bahwa secara internasional Abiy Ahmet mendapat banyak pujian. Saya rasa dia mendapat Hadiah Nobel Perdamaian untuk apa pun yang layak dalam menandatangani perjanjian ini dengan Eritrea dan karena konflik telah meningkat, ada laporan tentang serangan oleh pasukan militer dari Somalia dan Eritrea, dan juga konflik antara pemerintah Ethiopia, dan saya pikir pemerintah di Sudan, di mana banyak orang melarikan diri dari kekerasan di Tigray, melarikan diri dari pengungsian, jika itu masalahnya. Bisakah kamu membahas sedikit tentang bagaimana peran perbatasan dalam krisis ini dan seperti apa aktor internasional lainnya mengambil bagian?
Tanggapan negara-negara tetangga seperti Sudan cukup menarik. Sudan menampung para pengungsi yang terlantar, karena perang, sudah menampung lebih dari 60.000 pengungsi. Jumlahnya akan meningkat jika perbatasan tidak diblokir oleh Angkatan Pertahanan Nasional Ethiopia (ENDF). Sebaliknya, keterlibatan Eritrea dalam perang ini kejam sekali. TPLF dan Front Pembebasan Rakyat Eritrea dulunya adalah sekutu selama rezim Derg ketika mereka berdua sebagai pejuang gerilya dan kemudian Eritrea memisahkan diri dan perang Ethio-Eritrea sebagaimana yang terjadi, dan ada permusuhan yang berlangsung selama hampir tiga dekade. Dan mendamaikan Ethiopia dan Eritrea adalah salah satu penyebab utama Abiy dinominasikan dan kemudian mendapat Hadiah Nobel Perdamaian, tetapi proses perdamaian dengan Eritrea ini tidak pernah melibatkan pihak-pihak besar yang bertikai, yaitu TPLF, dan begitulah kesepakatan damai antara Abiy dan diktator Isaias Afwerki. Awak media tidak diberi tahu apa maksud kesepakatan damai dan apa isinya dan dalam retrospeksi, itu tampak lebih seperti kesepakatan perang, kesepakatan perang genosida ketimbang upaya perdamaian. Sebagai upaya perdamaian yang sungguh-sungguh, pertamatama dan terutama ini akan melibatkan pihak-pihak besar yang berperang yang tidak dilakukan oleh kesepakatan damai ini. Dan mungkin inti dari mencoba berdamai dengan Eritrea itu ya untuk mengeliminasi TPLF.
Ada laporan soal pembantaian antara lain, di Mai Kadra. 600 warga sipil, sebagian besar etnis Amhaan dan Wolkaits. Tuduhan kekejaman itu dilakukan oleh milisi simpatisan TPLF dan polisi. Ini merupakan salah satu contoh di mana anggapan orang-orang dari satu sisi, namun ada juga serangan dan pembantaian yang dilaporkan oleh Amharans terhadap Tigrayan, serta semua laporan ini yang dikabarkan oleh Human Rights Watch dan organisasi lain tentang penyerangan oleh militer berseragam. Ini topik yang sulit, tetapi bisakah kamu membicarakannya? Saya pikir kamu ingin beberapa hal diketahui oleh audiens internasional, apa yang kamu dengar tentang apa yang sedang terjadi, dan dapatkah kamu membacanya sebagai tanda perpecahan yang lebih luas dari komunitas multi-etnis di negara ini?
Pembungkaman media benar-benar mempengaruhi tanggapan internasional terhadap perang. Beberapa bulan awal perang, hanya media pemerintah regional Tigray yang bisa diakses, dan itu juga merupakan propaganda negara, kemudian dari sini ada propaganda negara federal, tetapi tak ada cara untuk benar-benar mengetahui apa yang dialami orang-orang pada umumnya. Keduanya hanya menyebarkan propaganda dan tidak memberitakan apa yang terjadi di lapangan. Kali pertama kami bisa mendengar soal kekejaman itu dari para pengungsi yang berhasil mencapai Sudan. Nantinya mereka menceritakan apa yang sudah mereka lihat apa yang sudah mereka lalui dan betapa ngerinya perang itu. Meskipun Abiy bahkan ke parlemen guna mendiskreditkan laporan-laporan ini dengan mengatakan bahwa para pengungsi ini adalah pembunuh dan bahwa mereka adalah pemuda yang diorganisir oleh TPLF, pada dasarnya dia melabeli mereka sebagai regu pembunuh dan mencoba membuat
mereka dan kisah mereka kehilangan kepercayaan. Kendati demikian media internasional berbicara kepada para pengungsi yang berhasil mencapai Sudan dari Tigray dan itulah berita paling awal yang kami dengar tentang apa yang terjadi. Kisah para penyintas, itu adalah kisah penyintas pertama yang bisa kami dengar soal perang. Belakangan orang berdatangan ke Addis, terutama orang yang berkewarganegaraan lain, mungkin kewarganegaraan-ganda. Seperti di antaranya: Ethi-Amerika, Ethiopia Jerman, dan kedutaan mereka membawa mereka kembali ke Addis dan menerbangkan mereka kembali ke negara mereka. Kemudian mereka punya lebih banyak cerita tentang apa yang telah mereka lalui. Tetapi kabar pertama yang kami dengar berasal dari pengungsi di Sudan dan kemudian saluran telepon dapat diakses di beberapa daerah di Mekelle dan beberapa kota lainnya. Koneksinya sangat buruk, tapi kami masih bisa mendapat gambaran tentang apa yang terjadi, dan kemudian video dan gambar serta rekaman bukti lainnya mulai bermunculan.
Pembantaian Mai Kadra digunakan untuk membenarkan perang. Itu merupakan peristiwa terbesar kedua yang digunakan negara bagian federal untuk membenarkan perang melawan Tigray. Yang pertama yaitu serangan terhadap komando utara ENDF dan yang kedua pembantaian di Mai Kadra. Kami masih belum tahu siapa pelakunya, karena klaimnya berbedabeda. Beberapa mengklaim itu pasukan sekutu TPLF. Yang lain mengklaim itu ENDF. Yang lain lagi mengklaim itu milisi Amhara atau kelompok main
DIOGENES | JURNAL DEKOLONISASI #1 I/ 2022 6 5 hakim sendiri Fano. Bagaimanapun, belum ada investigasi yang disetujui oleh setiap kelompok, tetapi yang kami tahu bahwa ada pembalasan. Entah itu orang Amharan yang terbunuh atau entah itu orang Tigrayan. Tentu kami tahu ada balas dendam dan aspek lain dari perang, seperti balas dendam, berbagai pembantaian yang pernah kami dengar, pembantaian di Aksum… kita telah mendengar soal pembantaian di beberapa tempat, yang terbesar sejauh ini di Aksum di mana 800 orang terbunuh di dalam sebuah gereja, dan ini tak satu pun dikabarkan oleh negara, seperti halnya Mai Kadra. Sudah hampir empat bulan, namun Mai Kadra masih berlangsung dan yang lainnya tidak. Jadi cara itu digunakan sebagai alat propaganda agar meragukan keaslian di balik laporan berita tersebut.
Jadi saya tidak tahu, saya tidak akan melihatnya sebagai kehancuran federalisme multi-etnis. Maksud saya, ada tanda-tanda kehancuran, tapi bukan pada perang ini. Sejujurnya, saya hanya melihatnya sebagai seruan kebencian dan fasisme selama bertahun-tahun. Salah satu alasan milisi Amhara dan kelompok main hakim sendiri Fano berperang karena mereka mengklaim beberapa tanah yang diduduki oleh orang Tigray dan itu sebagian besar di bagian barat Tigray, yang masih dugaan kami merekalah yang paling parah terkena dampaknya. Mereka benarbenar terkena dampak terburuk. Bahkan hampir menyerupai pembersihan etnis. Saat ini, hampir tidak ada orang Tigrayan yang tinggal di wilayah yang diduduki oleh Tigrayan dan Amharan yang sebelumnya mereka ambil alih, dan inilah salah satu penyebab mereka terlibat dalam perang. Jadi saya akan
mengaitkannya dengan fasisme ketimbang kehancuran federalisme multi-etnis.
Tanpa petunjuk yang jelas apa yang sebenarnya terjadi di lapangan, terlepas dari apa yang dikatakan oleh kedua pihak yang bertikai di media milik negara mereka, saya yakin masyarakat internasional berharap dan optimis dan ingin menimbang kata-kata Abiy dan bahwa ini akan menjadi operasi bedah menghilangkan TPLF tanpa kerusakan lebih lanjut, tetapi selain itu, jelas bukan apa-apa. Kalaupun ada, hal ini merupakan hukuman kolektif pada setiap etnis Tigrayan yang tidak hanya tinggal di Tigray tetapi juga tinggal di luar Tigray. Mereka telah diprofilkan secara etnis—saya sedang berbicara tentang orang-orang yang tidak berada di Tigray— mereka telah ditangkap, ditahan, rumahnya digeledah tanpa surat perintah, dan kemudian mereka dilecehkan, disiksa, dianiaya di jalanan oleh orang-orang yang juga sebagai aparat keamanan. Dan menurut saya hukuman kolektif ini sebenarnya sudah ada sejak dulu, hingga 2016, ketika etnis Tigrayan terpaksa meninggalkan rumah mereka. Di mana mereka sudah tinggal di tempat itu selama bertahun-tahun, selama beberapa dekade, hanya karena mereka beretnis Tigray, mereka terpaksa melarikan diri dan kembali ke Tigray. Dan sejak itu jalan diblokir, inflasi sangat tinggi, jalan ke Eritrea juga dibuka, jadi inflasi cukup tinggi di kota dan seperti yang saya sebutkan sebelumnya, pemberitaan kebencian, seruan kebencian terhadap etnis Tigrayan, pelabelan… Mereka itu disebut hyena siang hari oleh perdana menteri, dan ini sesuatu yang sudah dibentuk selama beberapa tahun.
Saya percaya komunitas internasional, hanya berharap dan ingin menimbang kata-kata Abiy. Tapi kemudian menjadi jelas bahwa ini bukan operasi bedah dan bahwa warga sipil adalah pihak yang menanggung kemarahan Abiy. Dan sekarang masyarakat internasional sangat khawatir dan berusaha mempengaruhi dan menekan Abiy untuk memastikan bahwa setidaknya dia memberikan akses untuk mendistribusikan bantuan kemanusiaan dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk melindungi warga sipil, bahkan tak melindungi, paling banter berhenti membunuh warga sipil. Sekarang ada juga ancaman sanksi ekonomi, pemotongan bantuan, dan sekarang masyarakat internasional benar-benar khawatir tentang apa yang terjadi dan terus menyebut-nyebut Abiy. Walau ya tak banyak juga yang berubah atas apa yang dia lakukan. Etnis Tigrayan menghadapi penindasan. Mereka tak cuma ditahan secara ilegal, digeledah secara ilegal, bahkan ditangkap, mereka juga dilecehkan dan disiksa di jalan jika nama mereka terindikasi seperti Tigrinia atau jika ID mencantumkan bahwa mereka berasal dari etnis Tigrayan, mereka juga tidak bisa menaiki penerbangan internasional, karena Ethiopian Airlines mengecek ID lokal mereka guna memastikan dari kelompok etnis apa mereka untuk melarang mereka terbang.
Belum lagi ada indikasi sesuatu berupa kamp konsentrasi. Kami belum bisa memverifikasi apakah ini benar atau tidak, tapi kamu pasti pernah dengar soal kamp konsentrasi juga. Banyak etnis Tigrayan diberhentikan. Mereka diskors dari pekerjaan, terutama mereka yang bekerja di pemerintahan. Setiap anggota militer yang beretnis Tigrayan diskors. Tak berhenti di situ, anggota pemerintah federal dan organisasi yang berjalan di bawah pemerintah federal yang bekerja di berbagai bagian negara juga diskors dari pekerjaan karena mereka beretnis Tigrayan. Banyak tuan tanah juga mengusir orang dan menyuruh mereka meninggalkan rumah karena dan hanya karena mereka beretnis Tigrayan.
***peringatan konten bahwa selanjutnya ada deskripsi penggambaran tentang kekerasan seksual. Jika kamu khawatir, silakan lewati paragraf berikut***
Baru-baru ini saya melihat rekaman yang beredar di media sosial tentang warga sipil yang dibunuh oleh Pasukan Pertahanan Nasional Ethiopia (ENDF), dibantai dengan cara yang sangat mengerikan. Salah satu kekhawatiran terbesar juga pemerkosaan. Pemerkosaan meluas di kotakota yang dikendalikan oleh ENDF. Baik ENDF dan tentara Eritrea terlibat dalam pemerkosaan beramai-ramai terhadap gadis-gadis yang sangat muda. Pada awalnya, remaja lalu kabarnya sekarang anak-anak di bawah usia tiga belas tahun juga diperkosa. Dan mereka beralasan bahwa tentara Eritrea menjaga dirinya dari HIV. Jadi asumsinya bahwa gadis-gadis muda itu bebas dari HIV karena mereka (tentara Eritrea) pilihan yang aman, jadi mereka terlibat dalam pemerkosaan beramai-ramai
terhadap gadis-gadis yang sangat muda. Dan apa yang terjadi, apa yang mereka lakukan pada orangorang ini... Kami baru-baru ini membaca sebuah berita dan juga melihat video wanita muda ini yang diperkosa oleh 23 tentara selama lima hari, dan kemudian mereka memasukkan beberapa kotoran dan kantong plastik bahkan paku ke dalam vaginanya, dan ada video yang beredar ketika para dokter mengeluarkan semua barang yang dimasukkan ke dalam dirinya. Kekejaman itu tidak masuk nalar, tidak manusiawi.
***konten peringatan berakhir***
Menurutmu bagaimana tanggapan masyarakat internasional terhadap konflik di Tigray dan represi terhadap masyarakat Tigray?
Ketika berbicara tentang distribusi di daerah, kita perlu memahami apa yang berperan di sini. Ada organisasi bantuan internasional yang memiliki makanan, obat-obatan, persediaan medis, persediaan makanan, siap saji dan dikemas, dan mereka punya truk penuh dengan barang-barang ini, menunggu untuk didistribusikan tetapi tak punya akses ke daerah. Pemerintah dan ENDF tak akan memberikan akses, dan itulah kesulitan utama dalam membantu orang-orang yang kelaparan dan sekarat karena kelaparan, kehausan, dan kekurangan obat-obatan.
Saya betul-betul melihat sejumlah kritik di media sosial bagi Horn Anarchists seputar distribusi bantuan dan apa yang sebenarnya terjadi dengan itu. Saya membayangkan bahwa beberapa di antaranya ialah respons terhadap pengguna media sosial barat yang mungkin mengatakan, “Lihat, seseorang sudah melakukan sesuatu, saya tidak perlu memikirkan apa yang terjadi di sana” atau berkata, “Saya dapat mengirim beberapa dolar, saya hanya cukup melakukan beberapa klik dan kemudian saya tidak punya tanggung jawab atau hubungan lagi dengan hal ini. Saya sudah melakukan bagian saya”. Apakah ada cara untuk... sementara roda berputar di PBB, untuk mencoba mendapatkan intervensi dari pasukan penjaga perdamaian, apakah ada sesuatu yang bisa kamu pikirkan yang sebenarnya bisa dilakukan orang-orang dari luar negeri untuk benar-benar membantu orang-orang di Tigray dan mengirim material, untuk memberi makan masyarakat?
Kritik kami terutama karena akun gofundme berbeda yang dijalankan oleh penghasut perang yang mendukung perang. Rasanya bohong saja mengumpulkan uang dan bantuan atas nama orang Tigray dengan mengatakan bahwa kamu membagikan kepada orang-orang di Tigray sedangkan kamu tidak punya sarana untuk mencapai Tigray. Masalahnya bukan karena kekurangan makanan atau obat-obatan. Ada organisasi bantuan yang siap mendistribusikan, mereka memiliki truk penuh. Tapi mereka tidak punya akses, dan tidak peduli berapa banyak uang yang dikumpulkan atas nama Tigray dan orangorang Tigray, tidak peduli berapa banyak uang yang mereka kumpulkan karena mereka tidak memiliki sarana untuk mendistribusikannya.
Mungkin orang-orang di tengah-tengah audiens yang peduli akan hal ini juga bisa mencari dan menemukan, misalnya, bisnis seperti Ethiopian Airlines, jika mereka tinggal di kota di mana
terdapat bandara internasional yang besar—dan mungkin ada kios Ethiopian Airlines—yang bisa menjadi tempat untuk menerapkan tekanan atau diplomatik, gedung-gedung pemerintah.
Ada berbagai cara di mana komunitas internasional dapat menunjukkan solidaritas dengan rakyat Tigray. Paling banter yakni berkicau, gunakan tagar, memastikan kata-kata itu tersiar, memastikan adanya pembungkaman komunikasi dan media bukan berarti dunia tidak tahu apa yang sedang terjadi. Kita harus sebisa mungkin memastikan bahwa orang-orang mengetahui apa yang sedang terjadi. Saya pribadi percaya bahwa saat ini Tigray harus menjadi pusat perhatian dunia. Setiap mata harus melihat Tigray karena ternyata ada genosida lain yang terjadi di abad ke-21, dan kami yakin para pemimpin besok akan angkat suara dan mengatakan bahwa ini tak pernah ada lagi, mengatakan bahwa mereka tidak akan membiarkan ini terjadi lagi, tapi ini sedang terjadi sekarang dan kami sedang menjalaninya, dan kami tidak bisa membiarkannya terjadi. Dan terutama, kita tidak bisa membiarkannya terjadi dan bungkam saja. Paling tidak yang bisa kita lakukan adalah meningkatkan kesadaran, memastikan semua orang mengetahuinya, memastikan perwakilan lokal kita mengetahuinya, menanggapinya dan mengabarkan kepada orang-orang yang sudah memilih mereka atas apa yang mereka lakukan untuk mencoba dan menghentikannya.
Pilihan lainnya yakni membantu para pengungsi yang terlantar, yang saat ini sebagian besar berada di Sudan. Kolektif kami mengorganisir mutual aid dengan para pengungsi yang berada di Sudan. Ada juga inisiatif lain yang mencoba mendukung pengungsi di Sudan, serta di Tigray. Sekarang akses relatif lebih baik. Kami tidak bisa mengatakan itu tak terkekang dan bebas, namun relatif lebih baik dan ada juga inisiatif mencoba dan mendistribusikan bantuan di Tigray, meskipun masih terbatas. Ada juga pilihan untuk membantu organisator Tigrayan, ada organisator Tigrayan yang berbeda di seluruh dunia, mencoba untuk mengorganisir protes, rapat umum dan meminta PBB dan pemerintah negara-negara tempat mereka tinggal untuk menekan Abiy guna menghentikan genosida, untuk memastikan tentara Eritrea meninggalkan Tigray, juga milisi Amhara dan kelompok main hakim sendiri Fano meninggalkan Tigray, karena kekejaman yang mereka lakukan sangat tak masuk nalar dan mengerikan.
Orang-orang yang ingin andil dalam solidaritas dengan Tigrayan penting juga meminta pertanggungjawaban perwakilan mereka atas langkah-langkah yang dilakukan perwakilan
mereka dan pemerintah mereka untuk menekan pemerintah Ethiopia dalam menghentikan perang genosida ini dan untuk menekan negara mereka dan PBB agar campur tangan dan bertindak— tanggung jawabnya untuk melindungi warga sipil. Berlandaskan seberapa buruk situasi sekarang ini, kami mendengar kematian yang dikonfirmasi lebih dari 50.000, tapi masih banyak tempat yang tak bisa diakses dan pemberitaan belum maksimal bahkan di bagian yang bisa diakses, namun perkiraan kami banyak sekali korban, dan ini terus berlanjut.
Kembali ke dunia teoretis sejenak, jika kamu melihat setelah berakhirnya konflik bersenjata, saya yakin kolektifmu sudah banyak membahas soal seperti apa transisi menjadi desentralisasi, akar rumput, anti-fasis, wilayah anti-nasionalis dan…
Ya, kami sering mendiskusikannya dan yang kami harapkan seperti misalnya...oke, ada fasis yang berbeda di Ethiopia, ini sangat menarik. Ada fasis yang percaya pada Ethiopia dan ada fasisme etnonasionalis, namun mereka semua sayap kanan, mereka semua fasis. Dan orang-orang ini mencoba melawan jenis fasisme tertentu, mereka masuk ke jenis fasisme lain, mereka pergi ke kelompok mereka sendiri. Cukup banyak kelompok fasisme di negara ini yang saat ini didukung, yang juga mendapat tepuk tangan dari pemerintah.
Apa yang kami harapkan yang bisa kami miliki… Biarkan saya berbicara atas nama saya sendiri. Secara pribadi, saya ingin memulai gerakan buruh. Saya percaya itu akan menjadi lintas sektoral di antara kelompok etnis yang berbeda, keyakinan yang berbeda. Dan kemudian orang-orang miskin Ethiopia yang paling tahu masalah mereka dan siapa pun yang mengaku mewakili mereka dan berjuang atas nama mereka, pada dasarnya menggunakan mereka sebagai tameng kemanusiaan. Setiap hari ada beberapa orang yang meninggal di Ethiopia di berbagai bagian negara dari kelompok dan organisasi fasis ini, dan mereka sangat lantang di platform mereka. Mereka mengontrol media, mereka mengontrol sumber daya, dan orang-orang takut jika mereka tidak mau bersekutu dengan yang ini atau yang itu, tidak ada lahan subur bagi orangorang dari kelompok yang berbeda untuk bersatu dan melawan penindas mereka sendiri.
Salah satu alasan TPLF dikenal menindas negara. Seperti yang saya katakan, TPLF ini minoritas. Mereka tidak berkeliling dan menindas setiap kelompok etnis, strukturlah yang telah menindas dan menekan. Orang Oromia tidak serta merta ditindas oleh orang-orang TPLF, orang-orang yang berasal dari kelompok itulah yang berkuasa. Orangorang masih merasa “Saya tertindas karena mereka adalah bagian dari kelompok etnis tertentu. Dan satu-satunya cara saya bisa melawan penindasan ini yaitu jika saya bersekutu dengan kelompok etnis saya sendiri dan melawan yang lain,” yang mana ini menciptakan permusuhan hampir dengan setiap kelompok lain kecuali dengan kelompokmu sendiri. Dalam hal itu, makanya kemudian sulit berbicara tentang perjuangan kelas.
Tapi idealnya, nantinya saya menyukai gerakan kelas. Kelas adalah elemen yang sangat penting dalam politik Ethiopia saat ini karena politik hampir semata-mata didasarkan pada identitas, dan khususnya identitas etnis. Jadi baik kamu kelompok etnis tertentu atau kamu seorang fasis yang percaya bahwa orang tidak boleh menyebutkan identitas mereka, harus percaya pada satu negara, satu tuhan, satu orang. Perjuangannya sangat berat.
Beberapa tahun yang lalu saya berbincang dengan seseorang yang mengorganisir di Bosnia, dan beberapa bagian dari perbincangan kita mengingatkan saya pada bagian dari perbincangan itu, di mana dia berbicara mengenai pelembagaan diferensiasi etnis dan bahkan jika tidak diterapkan, pelembagaan “pemerintahan sendiri” dan formalisasi perbedaan etnis sebagai dasar kehidupan orang dalam komunitas bersama. Sementara, seolah-olah, itu akan melindungi seseorang dari penindasan oleh kelompok lain dan memungkinkan seseorang untuk menjalankan agamanya, berbicara bahasa mereka, hal-hal yang begini, juga melembagakannya ke dalam pemerintahan dan menjadi dasar representasi pengelolaan uang publik atau program sosial, atau apa pun, juga memperkuat diferensiasi antar rakyat, bahwa, setelah jatuhnya Yugoslavia, di mana dalam banyak hal setiap orang dipersatukan di bawah gagasan kelas ini, sama tidak sempurnanya dengan keadaan Tito. Orang yang saya ajak bicara ini semangat sekali soal kemungkinan bahwa orang-orang telah pecah dari partai-partai etnis yang dimaksudkan untuk memecah belah mereka satu sama lain. Dan sepertinya itu hal yang sangat penting dan kritis. Bagi saya, ini sangat masuk akal.
Ya, ada beberapa kelompok yang memobilisasi agar mengkriminalisasi pengorganisasian di lingkup identitas etnis. Apa yang kami alami sepanjang sejarah Ethiopia adalah... Ethiopia adalah negara Imperialis. Kami tidak berjuang melawan fasis Italia ini, namun kami juga tidak berjuang melawan fasisme kami sendiri. Ini adalah negara ekspansionis, sebuah kerajaan, dan berasimilasi ke dalam budaya dominan. Saya tidak bisa mengkritik ketika orang-orang memperjuangkan hak-hak kelompok mereka berdasarkan identitas etnis mereka, mereka tidak diperbolehkan berbicara dalam bahasa mereka sendiri, untuk menjalankan agama mereka sendiri, karena selama bertahun-tahun agama negara ya agama Kristen ortodoks. Dan orang-orang dipaksa menyangkal identitas mereka sendiri dan harus sesuai dengan apa yang dianggap sebagai identitas negara, yaitu identitas orang dataran tinggi dan agama Kristen. Namun sebagian besar orang di Ethiopia menentang Federalisme Etnis di seluruh negara dan kebangsaan, penentuan nasib sendiri sepenuhnya sampai pada titik pemisahan diri. Sudah jadi medan pertempuran bagi
berbagai partai politik yang mencoba melakukan ini, semacam berkuasa dan menggunakan senjata pemerintah federal, atau sebenarnya pemerintah daerah, aktivis dari kelompok etnis yang berbeda mengklaim bahwa mereka akan memisahkan diri jika permintaan ini atau itu tak terpenuhi. Sejujurnya, saya tidak menentang orang-orang yang berjuang melindungi hak-hak mereka, terutama minoritas, tapi sampai kapan? Di lain sisi itu masalah besar, terutama saat ini ketika rezim Abiy sedang mencoba membangun negara lama Ethiopia tunggal di mana semua identitas dilebur menjadi satu. Sebenarnya Ethiopia disebut sebagai wadah peleburan identitas yang menjadi identitas dominan tertentu.
Luar biasa. Terima kasih banyak sudah meluangkan waktu dan bekerjasama dengan saya dalam melakukan perbincangan ini. Saya sangat menghargainya.
Kamu bisa mendengar lebih banyak perspektif dari Horn Anarchists dengan mengecek @HornAnarchists di twitter atau mengunjungi situs web mereka, HornAnarchists.NoBlogs. Org, yang kebanyakan dalam bahasa Amharik dan Tigrayan tetapi bisa dibaca dalam bahasa Inggris melalui layanan terjemahan daring.***
EDEN PALEC MOZECIE ZLAMA
EĆ PALCÓW TO JUZ PIESC
WWW.BAR.LA.ORG.PL
DIOGENES | JURNAL DEKOLONISASI #1 I/ 2022 7 3 – CCF
Matahari Masih Terbit
“Kita akan selalu menemukan wilayah merdeka dari diri kita sendiri, gairah yang tak dikenal, hasrat yang tak terbatas yang mempersenjatai pertaruhan kehidupan...”
“Ada satu revolusi, tetapi ada ribuan cara di mana seseorang dapat mengambil tindakan revolusioner” – CCF
pengantar: Pamflet yang berjudul asli The Sun Still Rises ini diterbitkan pada tahun 2011 oleh kolektif anarkis-nihilis Fire Cells Conspiracy/Conspiracy of Cells of Fire – sering kita kenal sebagai CCF/ Konspirasi Sel Api – yang berbasis di Yunani.
Mereka dikenal sebagai kolektif yang aktif melakukan serangan serta teror kepada pemerintahan dan negara sejak tahun 2008-an, dan selain aksi-aksi insureksionisnya, CCF dikenal juga sebagai sel otonom yang banyak memproduksi teks/pamflet/komunike yang mereka sebar kepada jaringan anarkis internasional, termasuk Indonesia.
Di dalam pamflet yang ditulis di dalam penjara ini, mereka secara rinci menjelaskan latar belakang dari organisasi revolusiner otonom ini sebagai sintesis kolektif yang menghubungkan berbagai sudut pandang orang-orang yang telah berpartisipasi di dalamnya. Begitu juga dengan penjelasan mereka sejak awal mengenai penolakan model sentralis dalam sebuah organisasi revolusioner karena inisiatif gerakan akan selalu hadir dari pikiran dan gagasan individu-individu yang otonom, dan juga sebuah ‘kelompok’ bukanlah tujuan dari revolusi, melainkan hanya sebuah sarana untuk menuju kepadanya.
Secara keseluruhan, pamflet ini menganjurkan bentuk-bentuk konspirasi baru dari gerakan gerilya urban anarkis yang lebih masif, mereka juga kerap menganjurkan kepada pembaca untuk gerilya seumur hidup seperti kutipan yang tertulis di bawah nanti, bahwa “Kami bukanlah anarkis ketika hanya melemparkan molotov ke mobil polisi anti huru-hara, melakukan pengambilalihan, atau menanam alat peledak. Kami juga anarkis ketika kami berbicara dengan teman-teman kami, menjaga rekan-rekan kami, bersenang-senang, dan jatuh cinta”. Proposal yang ditawarkan oleh CCF berfokus pada pengembangan eksperimen aksi langsung yang konsisten dan strategis
Pengetahuan memilih proyeknya, setiap proyek adalah kebaruan dan ia memilih momennya, setiap momen adalah kebaruan, tetapi secara bersamaan muncul dari memori semua momen yang ada sebelumnya. –The Interior of the Absolute
sebagai bentuk transformasi wacana menjadi tindakan, pembaharuan metode teror dan serangan dengan menggunakan material yang dapat diperoleh, memperluas jaringan sel yang tersebar di penjuru dunia yang harus selalu mempertimbangkan kembali sekuritas dan peluang tindakannya, konspirasi baru ini akan terdiri dari individu yang otonom atau pun terkoordinasi melalui panggilanpanggilan dan juga komunike yang ditulis dari berbagai sel. Adapun tiga poin utama dari proposal yang ditawarkan dalam pamflet ini adalah 1) Kesepakatan tindakan langsung dengan menggunakan berbagai macam cara yang dapat merusak infrastruktur musuh – kapitalis dan negara, 2) Berperang melawan negara dan secara bersamaan menajamkan kritiknya terhadap masyarakat, 3) Solidaritas revolusioner internasional.
Para anarkis atau sekadar pembaca wacana anarkisme, tentu tidak boleh melewatkan CCF, sebagai kelompok yang konsisten dalam aksi langsung selama lebih dari satu dekade, mereka mampu melampaui provokasi. Provokasi hanyalah klaim lembek bagi lingkaran anarkis di Indonesia,
provokasi tidak pernah selesai mencapai pesan yang disampaikan didalamnya, keberanian dan hasrat untuk menjadi yang bebas dan liar terkadang terhambat oleh satu dan lain hal, bahkan seringkalinya tidak bekerja sama sekali. Kami sebagai redaksi dengan sengaja memasukkan pamflet Matahari Masih Terbit ke dalam jurnal ini, sebab, seperti yang CCF katakan bahwa “Melalui tindakan kita, kita sedang menyebarkan sebuah revolusi yang menyentuh kita secara langsung, sementara juga berkontribusi pada penghancuran masyarakat borjuis ini. Tujuannya bukan hanya untuk meruntuhkan berhala-berhala kekuasaan, tetapi untuk sepenuhnya menjungkirbalikkan ide-ide saat ini tentang kesenangan materi dan harapan di baliknya”.
Pengetahuan memilih proyeknya, setiap proyek adalah kebaruan dan ia memilih momennya, setiap momen adalah kebaruan, tetapi secara bersamaan muncul dari memori semua momen yang ada sebelumnya. –The Interior of the Absolute
Awal Mula: Organisasi revolusioner Fire Cells Conspiracy tidak memulai aktivitasnya begitu saja. Bukan seolaholah secara tiba-tiba memotong ruang dan waktu. Itu adalah masa depan yang diteriakkan dari masa lalu.
The Conspiracy terdiri dari sintesis kolektif, menghubungkan latar belakang dan sudut pandang semua yang berpartisipasi di dalamnya dan menarik kesimpulan berharga dari pengalaman masa lalu proyek subversif dan serangan yang kami ikuti.
Ini mewakili keinginan kami untuk melangkah lebih jauh, bukan untuk menempuh beberapa tangga hierarki informal yang mengagungkan kekerasan dan metodenya, tetapi hanya untuk berkembang, bergerak maju, dan mengeksplorasi perspektif baru, beralih dari “sekelompok teman” ke organisasi, dari yang sporadis hingga yang konsisten, dari yang spontan hingga yang strategis.
Sepanjang jalan, kami mengambil sikap kritis terhadap masa lalu, tetapi kami tidak pernah keluar dari jalan kami untuk saling bermusuhan. Kami adalah ketidakcocokan anarki, lahir dari momen-momen kuat dan kekosongan yang menganga. Selain itu, tujuan kritik dan kritik diri bukanlah untuk mengakhiri sesuatu, tetapi justru sebaliknya: itu adalah aspirasi untuk mengembangkan sesuatu. Fakta bahwa kami tidak akan menguraikan tinjauan kritis terkait saat ini bukan berarti kami takut untuk mengakui kesalahan kami. Sebaliknya, pemeriksaan semacam itu lebih baik dilayani oleh jarak dan kepala dingin daripada gerak hati yang timbul tanpa suatu pertimbangan.
Selama tidak ada fase sejarah singkat dan intens kami, kami kehilangan ingatan tentang lingkungan kolektif kami, tentang tempat kami berasal. Kami juga merasa bahwa kami menemukan kesamaan yang kami miliki dengan kawan-kawan yang memulai perjuangan sebelum kami, terlibat dalam pertempuran mereka sendiri, ditangkap dan dipenjarakan, tetapi tidak pernah menundukkan kepala mereka. Kami menemukan semangat revolusi yang tidak pernah menyesal menghubungkan sejarah dan realitas perjuangan dari dekade yang berbeda dalam konteks bersama kebebasan individu dan kolektif.
Dalam konteks itu, kami memalsukan bahasa kami sendiri. Berbicara dalam bahasa direct action, kami secara terbuka mengangkat isu untuk menciptakan infrastruktur yang terorganisir. Sebagai anarkis, kita sering menjauhkan diri dari konsep organisasi karena kita menyamakannya dengan hierarki, peran, spesialisasi, “keharusan Anda”, dan kewajiban. Namun, kata-kata memperoleh makna yang diberikan oleh orang-orang yang menggunakannya. Sebagai Fire Cells Conspiracy, kami menyerbu ke dalam pertempuran atas makna organisasi anarkis revolusioner
Jalan dari Percikan ke Api
Sejak awal, kami menolak ide model sentralis dan memilih untuk memulai dari inisiatif individu yang ingin berkolektif. Apa yang muncul selama pertemuan organisasi adalah masalah koherensi, konsistensi, tanggung jawab individu dan kolektif, dan tindakan langsung sebagai sarana untuk mengubah kata-kata kita menjadi tindakan. Pada pertemuan kelompok, setiap kawan memiliki kesempatan untuk mengusulkan rencana penyerangan, sehingga membuka diskusi tentang perencanaan, waktu, analisis politik, dan masalah operasional yang ditimbulkan oleh lokasi target tertentu. Selama diskusi ini, tidak ada jaminan bahwa kami akan mencapai sebuah kesepakatan. Argumen yang berlawanan terkadang berkembang menjadi dialektika yang kuat, terutama mengenai strategi dan penentuan prioritas waktu, dan cukup sering ada lebih dari satu proposal, sehingga kami kemudian harus memutuskan mana yang akan kami pilih dan mana yang akan kami simpan di “storage” untuk disempurnakan lagi di masa depan. Itu adalah proses yang memungkinkan kami untuk membuka pikiran kami; memperluas wawasan kami; belajar dari pengalaman yang berbeda satu sama lain; membela pendapat kami dengan penuh semangat; mencari tahu bagaimana untuk mengenali kesalahan kami; memahami konsep untuk membentuk sesuatu bersama-sama; menjadi sadar terhadap kebutuhan akan strategi; dan – yang paling penting – menciptakan hubungan bukan atas nama beberapa tujuan revolusioner “profesional”, tetapi berdasarkan pertemanan, persahabatan sejati, dan solidaritas nyata.
Kami menyukai apa yang kami lakukan karena mengandung seluruh esensi kami. Oleh karena itu, “Conspiracy” tidak hanya kami secara bersamasama, tetapi juga kita masing-masing secara terpisah. Bahkan dalam kasus-kasus ketika tidak ada kesepakatan bersama tentang tindakan tertentu, kami tidak menggunakan cara “mengemis” dari mayoritas demokratis yang berlaku. Sebaliknya, minoritas kawan yang bersikeras melakukan serangan mengambil inisiatif otonom untuk bergerak maju dengan pilihan mereka. Itu terjadi secara paralel dengan anggota kolektif lainnya, yang mendukung mereka pada waktu tertentu jika perlu, secara alami memainkan peran dalam keseluruhan organisasi kami.
Segera setelah diskusi selesai, tidak peduli berapa banyak pertemuan yang diperlukan untuk menyelesaikannya, kolektif menyatukan tema-tema sentral dari semua pertemuan dan membentuk sumbu utama di mana komunike akan ditulis.
Itulah sebabnya sejumlah komunike ditandatangani oleh kelompok-kelompok (Nihilist Faction, Breath of Terror Commando, Terrorist Guerilla Unit) yang muncul dari setiap inisiatif terpisah. Selama fase kedua, setelah mencapai kesepakatan, baik sebagai keseluruhan kolektif atau sebagai inisiatif terpisah, kami merencanakan serangan. Masing-masing dari kami menyumbangkan pengetahuannya; informasi diambil dari surat kabar, majalah, dan internet; area di mana aksi hendak dilakukan akan diintai dan dipetakan; pendekatan dan penarikan dari target ditetapkan (menghindari kamera dan pos pemeriksaan polisi), termasuk rute alternatif jika terjadi sesuatu yang tidak terduga, dan tentu saja mengingat kemungkinan konfrontasi dengan para babi. Ada juga kelompok pendukung, “tempat persembunyian”, cara meminta bantuan, dll. (Dalam manual mendatang, kami akan menganalisis dan menjelaskan pengalaman kami, yang terkait dengan cara kami memahami apa yang sedang terjadi saat serangan sedang dilakukan).
Segera setelah diskusi selesai, tidak peduli berapa banyak pertemuan yang diperlukan untuk menyelesaikannya, kolektif menyatukan tema-tema sentral dari semua pertemuan dan membentuk sumbu utama di mana komunike akan ditulis. DIOGENES | JURNAL DEKOLONISASI #1 I/ 2022 7 7
Selama fase ketiga (yang tidak pernah jauh dari proposal awal tentang pemilihan target), kami mengerjakan teks komunike. Ketika sebuah topik diusulkan (misalnya, menyerang polisi), kawan yang membuat proposal itu memaparkan isinya. Kemudian diskusi dimulai, di mana setiap orang menyempurnakan konsep, menyatakan ketidaksetujuan, menunjukkan masalah, dan menawarkan cara lain untuk mendekati topik. Segera setelah diskusi selesai, tidak peduli berapa banyak pertemuan yang diperlukan untuk menyelesaikannya, kolektif menyatukan tema-tema sentral dari semua pertemuan dan membentuk sumbu utama di mana komunike akan ditulis. Penulisan komunike tentang topik tertentu biasanya dibagikan di antara mereka yang menginginkan tanggung jawab, dan setelah ditulis, kami berkumpul untuk membacanya dan membuat koreksi, penambahan, dan sentuhan akhir. Jika komunike dikaitkan dengan inisiatif terpisah, maka rekan-rekan yang terlibat dalam inisiatif terpisah itu bertanggung jawab untuk menulisnya.
Proses yang sama dilakukan untuk rekanrekan Thessaloniki kami, dan ketika kami berkolaborasi sebagai Fire Cells Conspiracy Athena-Thessaloniki, rekan-rekan dari kedua kota mengoordinasikan tindakan tersebut berdasarkan prinsip saling membantu dan persahabatan.
“Semua Orang Melakukan Segalanya”
Tentu saja, kami sangat menyadari bahaya yang mengintai dalam setiap proyek kolektif yang bercita-cita untuk menyebut dirinya anti-otoritarian – munculnya hegemoni informal dan reproduksi perilaku korup, di mana kita adalah musuh. Kami merasa bahwa tujuan kekuasaan adalah untuk memecah belah. Untuk menghilangkan kemungkinan munculnya hierarki informal dalam kelompok kami, kami langsung menyerang inti spesialisasi dan peran segera setelah mereka muncul. Kami berkata: “Semua orang melakukan segalanya”. Setiap orang dapat belajar dan
menemukan cara untuk mencuri mobil dan sepeda motor, membuat plat nomor, memalsukan KTP dan dokumen resmi, mengambil alih barang dan uang, menembak sasaran, dan menggunakan senjata api dan bahan peledak.
Oleh karena itu, adalah dan terus menjadi penting bagi kami bahwa cara dan metode yang kami gunakan untuk tindakan kami itu mudah dan relatif sederhana untuk diperoleh dan disiapkan, memungkinkan mereka untuk menyebar dan digunakan oleh siapa saja yang memutuskan untuk bergerak menuju perang gerilya urban yang baru. Ini termasuk bensin, tabung gas, dan lilin yang dapat dengan mudah diperoleh di supermarket, tetapi juga mekanisme waktu improvisasi yang – setelah “penelitian” yang sesuai dalam manual teknis dan panduan yang tersedia di internet, ditambah sedikit imajinasi inovatif – siapa pun mampu mengarangnya.
Kita tentu tidak melupakan bahwa, meskipun “setiap orang melakukan segalanya”, setiap orang juga memiliki kemampuan dan kecenderungan pribadinya masingmasing, dan akan salah jika mengabaikan perbedaan itu. Dengan keinginan dan saling pengertian sebagai pemandu kami, kami masing-masing melakukan apa yang kami rasa paling mampu. Misalnya, jika seseorang adalah pengemudi yang baik atau pencuri yang terampil, atau mungkin memiliki bakat menulis, itu tidak berarti bahwa kemampuan kreatif mereka akan ditekan atas nama homogenitas kolektif yang salah. Terserah masing-masing kawan untuk menawarkan kemampuan dan metodologi mereka kepada kawan-kawan lainnya tanpa membuat “pengorbanan” partisipasi sendiri, dan lebih baik lagi jika itu terjadi dengan cara yang seluas-luasnya, melampaui konteks sempit kolektif dan memfasilitasi akses oleh keseluruhan arus anti-otoritarian – misalnya, melalui penerbitan panduan praktis seperti yang dilakukan oleh beberapa kawan Jerman, yang berisi sejumlah cara yang berbeda untuk membuat alat peledak.
Selain itu, tindakan kami tidak pernah melibatkan peran yang tetap dan tidak berubah. Tanpa menggunakan rotasi siklus tugas, yang mengingat jam kerja wajib, semua rekan mengambil keuntungan dari landasan bersama yang memungkinkan mereka untuk dapat melakukan tugas apa pun dan kapan saja selama serangan. Proses meningkatkan kemampuan Anda untuk menggunakan bahan dan teknik secara alami merupakan proses pendidikan mandiri yang berkelanjutan. Sejalan dengan itu, kami ingin menekankan betapa pentingnya mengembangkan kapasitas operasional kelompok serta sudut pandang revolusionernya secara bersamaan. Tingkat kapasitas operasional steril tidak boleh meningkat tanpa intensifikasi pemikiran dan wacana yang sesuai, dan hal yang sama jelas berlaku untuk kebalikannya. Kami tidak memiliki komite pusat untuk menunjuk peran. Hanya ada tugas tertentu dalam rencana tertentu – posisi yang berubah sesuai keinginan kawan-kawan yang ambil bagian.
Gerilya Seumur Hidup
Kami selalu merasa bahwa sebuah organisasi tidak harus eksklusif untuk rekan-rekan yang menjadi bagian darinya. Tindakan kami tidak dimulai atau berakhir dalam konteks grup. Kelompok adalah sarana untuk revolusi, bukan tujuan itu sendiri. Karena ketika sarana menjadi alasan keberadaan mereka, “penyakit” mulai bermunculan, seperti vanguardisme, partai bersenjata, dan kebenaran ortodoks eksklusif.
Melalui Fire Cells Conspiracy, kita mengatakan apa yang kita yakini, siapa kita, dan kecenderungan apa yang kita wakili, tetapi kita sama sekali tidak mengatakan bahwa seseorang harus secara tepat mengikuti apa yang disebut garis yang benar atau berpartisipasi dalam kelompok kita untuk diakui sebagai kawan.
Dengan demikian, kami sendiri juga telah mengambil bagian dalam proses selain dari Conspiracy, seperti bergabung dengan jaringan aksi terkoordinasi, menghadiri pertemuan, berpartisipasi dalam pawai dan demonstrasi, mendukung serangan dan tindakan sabotase, memasang poster, dan menulis slogan. Tapi kami tidak pernah berpikir satu hal lebih unggul dari yang lain. Itu karena polimorfisme perang revolusioner terdiri dari
komitmen terbuka dan permanen yang tidak ada hubungannya dengan tontonan fetish (memeluk perjuangan bersenjata sebagai satu-satunya hal yang penting) atau fiksasi penuduhan (menekankan karakteristik kuantitatif “massiveness” sebagai kriteria untuk keaslian revolusioner). Sebaliknya, kita memposisikan diri kita sebagai musuh langsung melawan “polimorfisme” gosip kafe, pidato di auditorium universitas, peran kepemimpinan, pengikut, dan semua fosil dogmatisme dan kebiasaan konservatif yang bertindak sebagai parasit dalam lingkungan anarkis, yang hanya ingin kendalikan kawan-kawan muda, menyabotase mereka, dan mencegah mereka untuk menciptakan jalur evolusi otonom mereka sendiri melalui proses revolusioner.
Kami percaya bahwa konsep gerilya urban anarkis bukanlah identitas terpisah yang diasumsikan hanya saat terlibat dalam serangan bersenjata. Sebaliknya, kami merasa ini adalah masalah menggabungkan kehidupan pribadi dan publik setiap orang dalam konteks pembebasan total. Kami bukanlah anarkis ketika hanya melemparkan molotov ke mobil polisi anti huru hara, melakukan pengambilalihan, atau menanam alat peledak. Kami juga anarkis ketika kami berbicara dengan teman-teman kami, menjaga rekan-rekan kami, bersenang-senang, dan jatuh cinta.
Kami bukanlah tentara tamtama yang bertugas untuk revolusi. Kami adalah gerilyawan kesenangan yang memandang hubungan antara pemberontakan dan kehidupan sebagai prasyarat untuk mengambil tindakan. Kami tidak percaya untuk mengikuti pada “garis yang benar”. Selama dua tahun terakhir, misalnya, kelompok gerilya urban baru sering mengajukan masalah perampokan dan perampasan dari mesin perbankan sebagai serangan lain terhadap sistem. Komunike dan klaim tanggung jawab mereka adalah propaganda yang kuat untuk penolakan kerja melalui penodongan dan perampokan yang diarahkan ke perut kapitalis – bank – dengan tujuan menjadi pembebasan individu dari pemerasan delapan jam perbudakan upah di satu sisi, dan perampasan kolektif dan akses langsung ke uang untuk kebutuhan infrastruktur dan proyek-proyek revolusioner di sisi lainnya.
Kami keluar dari adegan fiksasi etika masa lalu perang gerilya urban, yang jarang mengambil posisi publik pada masalah perampokan revolusioner terhadap bank. Kami merasa bahwa sekarang ada banyak wacana dan praktik gerilya urban baru yang menentang – dengan cara yang jelas – etos kerja para bos serta mesin predator perbankan, mengusulkan pengambilalihan bersenjata sebagai tindakan pembebasan, dan jelas bukan sebagai cara untuk menjadi kaya.
Namun demikian, kami tidak menganggap pengambilalihan bank sebagai prasyarat untuk partisipasi seseorang dalam perang gerilya baru. Ada satu revolusi, tetapi ada ribuan cara di mana seseorang dapat mengambil tindakan revolusioner. Kawan-kawan lain mungkin memilih untuk melakukan pengambilalihan dari kuil konsumerisme (supermarket, pusat perbelanjaan) untuk secara individual memulihkan apa yang telah “dicuri” dan menggunakan barang-barang itu untuk
memenuhi materi setiap orang, sehingga menghindari keharusan untuk mengatakan “selamat pagi” ke bos atau menerima perintah dari beberapa atasan. Yang lain lagi mungkin berpartisipasi dalam serikat-serikat akar rumput, menjaga hati nurani mereka tetap diasah – seperti pisau tajam – untuk perang yang akhirnya menghapuskan segala bentuk pekerjaan yang memperkaya para bos sambil memiskinkan martabat kita.
Kami merasakan hal yang sama tentang “menghilang” secara sukarela untuk pergi ke bawah tanah. Fetisisasi ilegalisme tidak menginspirasi kami. Kami ingin setiap orang bertindak sesuai dengan kebutuhan dan keinginan mereka. Setiap pilihan alami memiliki kualitas dan kebaikannya sendiri serta kerugiannya. Memang benar bahwa ketika suatu kelompok secara sukarela memilih untuk pergi ke bawah tanah (“menghilang” dari lingkungan keluarga dan teman, menggunakan dokumen-dokumen palsu, dll.), itu pasti melindungi mereka dari mata musuh. Tetapi pada saat yang sama, hubungan sosial mereka dengan lingkungan radikal yang lebih luas terputus, dan pada titik tertentu mereka kehilangan rasa interaksi. Tentu saja, hal yang sama tidak berlaku ketika ada alasan obyektif untuk pergi ke bawah tanah (surat perintah penangkapan, harga untuk kepala seseorang), dalam hal ini klandestin adalah perlindungan menyerang dari mereka yang tertangkap di garis bidik hukum. Ini menciptakan kebutuhan paralel akan keberadaan infrastruktur pendukung, baik di antara kelompok-kelompok gerilya itu sendiri maupun di dalam lingkungan antiotoritarian yang lebih luas, yang akan “menutupi” jejak kawan-kawan buronan. Prasyaratnya adalah keterlibatan dan kebijaksanaan tertentu, yang konsepnya sering dianggap “ketinggalan zaman” tetapi menurut kami harus sekali lagi diluncurkan dengan tajam ke dalam pertempuran. Jika kawankawan dari kelompok gerilya terlibat dalam interaksi di atas tanah secara teratur – berpartisipasi dalam pertemuan dan proses gerakan, mengambil bagian dalam diskusi, dan membuat proyek dengan orang lain yang membahas keprihatinan bersama – maka sifat hermetis dari kelompok gerilya jelas harus dilindungi dari keterbukaan telinga dan mulut besar. Oleh karena itu, sikap umum juga harus menjadi salah satu kebijaksanaan untuk menghindari sikap berlebihan yang memekakkan telinga yang dapat mengubahnya menjadi “magnet” bagi bajingan regu anti-teroris dan polisi. Mengambil halaman
dari kritik diri kita sendiri, kita harus menyebutkan fakta bahwa banyak dari kita berperilaku sangat berlawanan dengan yang di atas, yang – bersama dengan kekejaman perilaku tertentu yang berasal dari lingkungan anarkis – “membimbing” sejumlah operasi polisi secara langsung terhadap kita. Bagaimanapun, kritik diri meletakkan dasar yang kokoh untuk mengembangkan diri dan memberikan penjelasannya, tetapi teks saat ini tidak sesuai untuk itu. Kami akan kembali ke sana di masa mendatang.
Tahap Pertama Conspiracy dan Usulan untuk “New Conspiracy”
Gerilyawan akhirnya lolos dari halaman buku yang berhubungan dengan dekade yang lalu dan turun ke jalan dengan ganas. Karena gerilya urban tidak menawarkan kebebasan utopis. Dia memungkinkan akses ke kebebasan langsung. Dengan demikian, setiap orang mulai mendefinisikan dirinya sendiri dan membebaskan dirinya dari kepasifan masyarakat.
Sekarang ada kebisingan di mana-mana – suara luar biasa dari kehancuran yang meluas – serta wacana revolusioner yang diperlukan untuk mengikuti pengeboman terhadap target yang melayani dominasi. Armada kelompok anarkis yang gigih membakar ketenangan di tengah malam, kelompok dengan nama yang mencerminkan “menu” yang mereka tawarkan kepada sistem (di Athena: Deviant
Behavior for the Spread of Revolutionary Terrorism, Warriors from the Abyss/Terrorist Complicity, Revolutionary Conscience Combatants, Lambros Fountas Gurilla Formation; di Thessaloniki: Chaos Warriors, Attacking Solidarity Cells, Arson Attack Cell, Schemers for Nighttime Disorder, Fire to the Border Cell, Combative Conscience Cell, Revolutionary Solidarity Cell, dll.). Banyak dari kelompok-kelompok ini juga bereksperimen dengan proyek pembebasan internasional baru sebagai kaki tangan dalam aliansi yang dikenal sebagai International Revolutionary Front/ Informal Anarchist Federation.
Kami yang telah mengambil tanggung jawab sebagai anggota Fire Cells Conspiracy tidak terintimidasi oleh belasan tahun penjara yang disediakan pengadilan untuk kami. Untuk memulainya, kami membuat kolektif aktif di dalam penjara.
Kami tahu bahwa, bagi kami, fase awal perjuangan telah selesai. Namun, kita juga tahu bahwa tidak ada yang berakhir. Conspiracy tidak akan tetap dilucuti. Ini akan menjadi komitmen yang sah di penjara, serta proposal terbuka untuk sektor antagonis dari metropolis.
Fire Cells Conspiracy membuktikan dirinya sebagai jaringan sel, seperti namanya. Saat ini, kami tidak mencoba untuk membahas catatan operasionalnya. Kami hanya ingin memperjelas perspektif politiknya.
Kami merasa bahwa berkomitmen pada Conspiracy baru paling mendekati esensi kata, jadi kami membuka kemungkinan itu dengan membuat proposal untuk Conspiracy baru yang terdiri dari jaringan sel yang tersebar dan tidak terlihat yang belum memiliki alasan untuk bertemu secara langsung melalui tindakan dan wacana mereka saling mengakui sebagai kawan dalam kejahatan politik yang sama: Subversi Hukum dan Ketertiban. Conspiracy ini akan terdiri dari individu dan sel yang mengambil tindakan, baik otonom atau terkoordinasi (melalui panggilan dan komunike), tanpa perlu menyetujui setiap posisi dan titik referensi tertentu (misalnya, nihilisme dan individualisme). Sebaliknya, mereka akan terhubung atas dasar saling membantu yang berfokus pada tiga poin utama.
Poin pertama yang kami usulkan dalam diskusi informal ini adalah kesepakatan tentang pilihan tindakan langsung dengan menggunakan segala cara yang mampu merusak infrastruktur musuh. Tanpa hierarki metode kekerasan, kawan dapat memilih dari batu hingga Kalashnikov. Namun, tindakan langsung itu sendiri hanyalah entri lain pada catatan polisi, sehingga harus disertai komunike yang sesuai dari sel atau individu yang mengaku bertanggung jawab dan menjelaskan alasan di balik serangan itu, sehingga menyebarkan wacana revolusioner. Pena dan pistol terbuat dari logam yang
sama. Di sini, perhatikan bahwa Conspiracy periode yang sekarang tidak pernah mengabaikan metode penghasut apa pun di gudang senjatanya. Tidaklah jujur bagi kita jika beberapa kawan muda berpikir bahwa menggunakan nama “Conspiracy” baru dikondisikan oleh penggunaan metode yang dianggap lebih unggul (misalnya, bahan peledak). Perang gerilya urban yang baru tidak terlalu bergantung pada metode operasional daripada keputusan kita untuk menyerang kekuasaan.
Poin kunci kedua dari kesepakatan adalah untuk berperang melawan negara sambil secara bersamaan terlibat dalam kritik tajam terhadap masyarakat. Karena kami adalah anarkis revolusioner, kami tidak hanya berbicara tentang kemalangan yang disebabkan oleh kekuasaan dan oligarki yang berkuasa. Kami juga melakukan kritik yang lebih komprehensif tentang cara kaum tertindas menerima dan menyebarkan janji-janji kebahagiaan dan konsumerisme yang ditawarkan oleh bos mereka.
Fakta bahwa kita terlibat dalam perjuangan melawan negara tidak berarti kita membutakan diri pada kompleks kekuasaan yang menyebar yang mengatur hubungan antar pribadi kontemporer. Wacana anti-otoritarian sering mengubah dan menggeneralisasi konsep seperti negara, menghilangkan tanggung jawab orang lain yang membentuk masyarakat. Dengan demikian, ia menciptakan sudut pandang steril yang memperlakukan seluruh sektor sosial sebagai subjek revolusioner, baik yang disebut proletariat atau tertindas, tanpa mengungkapkan tanggung jawab individu yang masing-masing dari kita tanggung dalam perbudakan hidup kita.
Negara bukanlah benteng. Anda tidak akan menemukan pintu yang mengarahkan Anda ke beberapa jenis mesin atau mesin yang dapat dimatikan dengan menekan tombol. Negara bukanlah monster yang bisa Anda bunuh dengan tujahan di jantung. Ini adalah sesuatu yang sangat berbeda. Kita dapat membandingkannya dengan sebuah sistem: jaringan yang terdiri dari ribuan mesin dan sakelar. Jaringan ini tidak memaksakan dirinya pada masyarakat dari atas. Ini menyebar ke seluruh masyarakat dari dalam. Bahkan meluas ke bidang kehidupan pribadi, menjangkau dan menyentuh emosi kita pada tingkat sel. Itu membentuk hati nurani dan dibentuk olehnya. Ini menghubungkan dan menyatukan masyarakat, yang pada gilirannya memelihara dan menguduskannya dalam pertukaran nilai dan standar yang berkelanjutan. Dalam permainan ini, tidak ada penonton. Masing-masing dari kita memainkan peran aktif.
–Costas Pappas, No Going Back.
Musuh dapat ditemukan di setiap mulut yang berbicara bahasa dominasi. Itu tidak eksklusif untuk satu atau beberapa ras atau kelas sosial. Itu tidak hanya terdiri dari para penguasa dan seluruh kediktaktoran yang berperut buncit. Juga kaum proletar yang bercita-cita menjadi bos, kaum tertindas yang mulutnya meludahkan racun nasionalis, kaum pendatang yang mengagungkan kehidupan di peradaban barat tapi bertingkah laku seperti diktator kecil di tengah rakyatnya sendiri, tahanan yang mengadu dan menyepukan orang lain kepada para sipir, setiap mentalitas yang menyambut kekuasaan, dan setiap hati nurani yang menoleransinya.
Kami tidak percaya pada ideologi viktimisasi di mana negara mengambil semua kesalahan. Kerajaan besar tidak hanya dibangun di atas penindasan. Mereka juga dibangun atas persetujuan massa yang bertepuk tangan di arena Romawi yang tak lekang oleh waktu dari setiap diktator. Bagi kami, subjek revolusioner adalah setiap orang yang membebaskan dirinya dari kewajiban masa kini, mempertanyakan tatanan dominan, dan mengambil bagian dalam pencarian kriminal untuk kebebasan.
Sebagai tahap pertama Conspiracy, kami tidak tertarik untuk mewakili siapa pun, dan kami tidak mengambil tindakan atas nama kelas apa pun atau sebagai pembela “masyarakat tertindas”. Subjeknya adalah kita, karena setiap pemberontak adalah subjek revolusioner dalam revolusi yang selalu berbicara sebagai orang pertama yang pada akhirnya membangun kolektif “kita” yang sejati.
Poin kunci kesepakatan ketiga dalam proposal kami mengenai pembentukan Conspiracy baru adalah solidaritas revolusioner internasional. Sebenarnya, keinginan kita semua untuk menerapkan diri kita sendiri untuk menciptakan momen-momen serangan terhadap tatanan dunia mungkin membuat sebagian dari kita kehilangan nyawa, dengan banyak dari kita berakhir di penjara. “Kami” tidak mengacu pada Conspiracy atau organisasi lainnya. Ini mengacu pada setiap pemberontak, apakah mereka bagian dari kelompok gerilya atau mengambil tindakan secara individu di jalan mereka menuju kebebasan. Sebagai fase pertama Conspiracy, keinginan dan proposal kami ke setiap sel baru adalah bahwa kekuatan penuh solidaritas revolusioner diungkapkan – solidaritas yang diteriakkan melalui teks, aksi bersenjata, serangan, dan sabotase untuk mencapai telinga orang-orang yang dianiaya dan dipenjarakan, tidak peduli seberapa jauh mereka berada.
Kami merasa bahwa jaringan sel seperti itu, tanpa struktur terpusat, akan mampu melampaui batas rencana individu sambil mengeksplorasi kemungkinan nyata koordinasi revolusioner di antara struktur minoritas otonom
Solidaritas yang kita bicarakan tidak mengharuskan mereka yang menunjukkan solidaritas untuk mengekspresikan identifikasi politik mutlak dengan terdakwa. Ini hanyalah pengakuan bersama bahwa kita berada di sisi barikade yang sama dan bahwa kita saling mengenali dalam perjuangan, seperti pisau lain yang tertancap di perut kekuasaan. Oleh karena itu kami juga mengusulkan dukungan untuk Informal Anarchist Federation/International Revolutionary Front, sehingga dapat berfungsi – seperti yang ditunjukkan oleh kawan-kawan FAI Italia – sebagai mesin penggerak.
Mulai saat ini, setiap kawan yang setuju (jelas tanpa harus mengidentifikasi dirinya) dengan tiga poin kunci dari perjanjian informal yang kami usulkan dapat – jika mau – menggunakan nama Fire Cells Conspiracy sehubungan dengan sel otonom yang menjadi bagian darinya. Sama seperti kawan-kawan Belanda yang tanpa kita mengenal satu sama lain secara pribadi tetapi dalam kerangka konsistensi antara wacana dan praktik, menyerang infrastruktur dominasi (pembakaran dan serangan cyber terhadap Rabobank) dan mengklaim bertanggung jawab sebagai Fire Cells Conspiracy (Sel Belanda).
otonom. Struktur-struktur ini – tanpa mengenal satu sama lain secara pribadi – pada gilirannya akan dapat mengatur kampanye pembakaran dan pemboman di seluruh Yunani, dan juga di tingkat internasional, berkomunikasi melalui klaim tanggung jawab mereka.
Karena kita hidup di masa yang mencurigakan, kita harus mengklarifikasi sesuatu. Tindakan yang diklaim menggunakan nama Fire Cells Conspiracy yang tidak konsisten dengan salah satu poin yang telah kami berikan dan tidak mengambil tindakan pencegahan yang diperlukan untuk mencegah “kerusakan” pada apa pun selain target sabotase pasti akan menimbulkan kecurigaan kami, mengingat kemungkinan bahwa mereka akan ditetaskan oleh negara.
Kembali ke proposal kami, “anonimitas” sehubungan dengan kontak pribadi akan memperkuat sifat tertutup dari sel-sel otonom, sehingga lebih sulit bagi polisi untuk “berkompromi” dengan mereka. Bahkan penangkapan satu sel utuh yang menerapkan bagian dari Conspiracy baru tidak akan membawa otoritas penganiaya ke sel lain, sehingga menghindari efek domino terkenal yang terjadi di zaman kita.
Di masa lalu, fakta bahwa kami adalah rekan tahap pertama mungkin tidak terlibat dalam insiden tertentu tidak pernah menghentikan kami untuk secara terbuka menyatakan dukungan atau kritik kami, dan hal yang sama berlaku untuk saat ini jika rekan baru memilih untuk menggunakan nama organisasi. Tanpa perlu mengenal satu sama lain, melalui komunike-komunike yang mengiringi penyerangan kita bisa memulai diskusi terbuka tentang refleksi dan masalah yang, meski dilihat dari kacamata yang berbeda, tentu terfokus pada arah yang sama: revolusi.
Akibatnya, kami rekan-rekan fase pertama sekarang memikul tanggung jawab atas wacana yang kami hasilkan di dalam penjara dengan menandatangani sebagai Fire Cells Conspiracy, diikuti dengan namanama kami.
“Conspiracy” yang baru akan mempertahankan dan menjaga kemerdekaan adatnya, menulis sejarah perjuangannya sendiri. Kelanjutan yang signifikan ini pasti akan menghubungkan titik-titik di peta pemberontakan, menyapu mereka menuju tujuan akhir revolusi.
Epilog Yang Belum Dituliskan
Melalui tindakan kita, kita sedang menyebarkan sebuah revolusi yang menyentuh kita secara langsung, sementara juga berkontribusi pada penghancuran masyarakat borjuis ini. Tujuannya bukan hanya untuk meruntuhkan berhalaberhala kekuasaan, tetapi untuk sepenuhnya
menjungkirbalikkan ide-ide saat ini tentang kesenangan materi dan harapan di baliknya.
Kami tahu pencarian kami menghubungkan kami dengan banyak orang lain di seluruh dunia, dan melalui pamflet ini kami ingin menyampaikan salam terhangat kami kepada mereka: Fire Cells Conspiracy di Belanda; FAI di Italia; Práxedis G. Guerrero Autonomous Cells for Immediate Revolution dan ELF/ALF di Meksiko; ELF di Rusia; para anarkis di Bristol, Argentina, dan Turki; Autonome Gruppen di Jerman; September 8 Vengeance di Chili; kawan-kawan di Swiss, Polandia, Spanyol, dan London; dan semua orang yang kita tinggalkan, di mana pun penolakan terhadap dunia ini sedang mekar.
Teks ini tidak memiliki epilog, karena praksis akan selalu terus menyuburkan dan mengubah dirinya. Kami hanya berhenti sebentar, menyimpulkan dengan beberapa kata yang pernah dikatakan seseorang:
Ini adalah momen yang mencengangkan ketika serangan terhadap tatanan dunia mulai bergerak. Bahkan pada awalnya – yang hampir tidak terlihat – kami sudah tahu bahwa segera, apa pun yang terjadi, tidak akan ada yang sama seperti sebelumnya. Ini adalah serangan yang dimulai perlahan, mempercepat langkahnya, melewati titik yang tidak bisa kembali, dan meledakkan tanpa dapat ditarik kembali apa yang dulu tampak tak tertembus – begitu kokoh dan terlindungi, namun tetap ditakdirkan untuk jatuh, dihancurkan oleh perselisihan dan kekacauan... Di jalan kita ini, banyak yang terbunuh atau tertangkap, dan beberapa masih berada di tangan musuh. Yang lain tersesat dari pertempuran atau terluka, tidak pernah muncul lagi. Yang lain sedang tidak memiliki keberanian dan mundur. Tetapi saya harus mengatakan bahwa kelompok kami tidak pernah goyah, bahkan ketika harus menghadapi kehancuran yang paling parah.***
– Fire Cells Conspiracy: Gerasimos Tsakalos, Olga Economidou, Haris Hatzimichelakis, Christos Tsakalos, Giorgos Nikolopoulos, Michalis Nikolopoulos, Damiano Bolano, Panayiotis Argyrou, Giorgos Polydoras.
Membela Kekerasan
Ted Kaczynski
Ketika saya menulis kepada New York Times untuk menawarkan berhenti dari terorisme hanya jika naskah saya diterbitkan, saya berjanji bahwa manifesto itu tidak akan secara eksplisit menganjurkan kekerasan, karena saya berasumsi bahwa media arus utama akan menolak untuk mempublikasikan apa pun yang menganjurkan kekerasan. Untuk alasan itu, dalam Industrial Society and Its Future (ISIF), saya mengecilkan kemungkinan peran kekerasan dalam revolusi. Pada kenyataannya, saya pikir bahwa revolusi yang berhasil melawan sistem teknoindustri harus melibatkan kekerasan di beberapa titik.
Pemaksaan dan kekerasan adalah sanksi terakhir. Ketika konflik sosial yang besar tidak dapat diselesaikan melalui kompromi, masalah tersebut diselesaikan dengan kekuatan fisik atau ancaman darinya. Seperti yang saya katakan di ISIF, paragraf 125-135, jika kita mencoba berkompromi dengan teknologi, kita akan kalah. Sistem tidak pernah dan tidak akan pernah puas dengan situasi stabil apa pun – ia selalu berusaha memperluas kekuatannya dan tidak akan pernah secara permanen mentolerir apa pun yang tetap berada di luar kendalinya (ISIF, paragraf 164). Dengan demikian konflik antara kami dan sistem tidak dapat didamaikan dan pada akhirnya hanya dapat diselesaikan melalui kekuatan fisik. Sistem ini bergantung pada kekuatan dan kekerasan untuk mempertahankan dirinya – itulah gunanya polisi dan tentara. Jika kita sebagai kaum revolusioner meninggalkan semua jalan kekerasan, kita menempatkan diri kita pada posisi yang kurang menguntungkan atas sistem. Saya tidak menganjurkan kekerasan tanpa pandang bulu atau otomatis; dalam banyak situasi, taktik non-kekerasan adalah yang paling efektif. Tetapi saya tetap mempertahankan bahwa kekerasan adalah bagian penting sebagai perangkat dari alat revolusioner, dan bahwa kita harus siap menggunakannya ketika kita dapat memperoleh keuntungan penting dengan melakukannya.
Alasan mengapa sistem mengajarkan kita untuk takut pada kekerasan adalah karena kekerasan dalam bentuk apa pun berbahaya bagi sistem. Sistem membutuhkan ketertiban di atas segalanya; dibutuhkan orang yang patuh dan penurut serta tidak membuat masalah. Roger Lane telah menunjukan bahwa sebelum Revolusi Industri, masyarakat Amerika jauh lebih toleran terhadap kekerasan daripada sekarang, dan bahwa penekanan pada anti-kekerasan muncul sebagai tanggapan terhadap kebutuhan sistem industri akan warga negara yang tertib dan patuh. (Bab 12 pada Violence in America: Historical and Comparative Perspectives, diedit oleh Hugh Davis Graham dan Ted Robert Gurr.) Membiarkan beberapa pengecualian, para pemimpin sistem cukup tulus dalam penolakan mereka terhadap kekerasan. Meskipun sistem harus menggunakan kekerasan untuk mempertahankan dirinya sendiri, sistem biasanya mencoba untuk menjaga tingkat kekerasan – termasuk kekerasannya sendiri – serendah mungkin, karena meningkatkan tekanan sosial yang membahayakan sistem. “Polisi jahat” yang memukuli orang dengan caranya sendiri adalah pemberontak yang melawan sistem. Bagi anggota teknokrasi yang paling rasional dan disiplin, polisi yang ideal adalah polisi yang menggunakan kekuatannya yang cukup untuk menjaga ketertiban umum dan kedisiplinan sosial, dan tidak lebih dari itu.
pengecut. Ketiga, ada para santo – orang-orang yang agak langka yang keyakinannya pada nonkekerasan dimotivasi oleh belas kasih yang tulus.
Kebanyakan orang yang bersikeras pada prinsip non-kekerasan termasuk dalam salah satu dari tiga kategori. Pertama, ada kaum konformis – mereka yang percaya pada anti-kekerasan karena sistem telah berhasil mencuci otak mereka. Kedua, ada
Ada pun konformis dan pengecut, mereka dihina dan kita tidak perlu mengatakan lagi tentang mereka. Para santo, di sisi lain, pantas kita hormati. Jika kita menerima prinsip-prinsip mereka, kita pada dasarnya akan menyerah pada revolusi, tetapi bagaimana pun juga mereka mungkin memiliki peran penting untuk dimainkan. Melalui gejolak dan kekerasan yang mungkin akan menyertai sebuah revolusi, mereka dapat membantu untuk menjaga cita-cita kebaikan dan kasih sayang; dan – siapa yang tahu? – mungkin suatu hari mereka bahkan akan memiliki efek praktis dalam mengurangi jumlah kekejaman dalam masyarakat manusia. Tetapi dengan sendirinya mereka tidak dapat memenangkan sebuah revolusi. Untuk itu diperlukan petarung yang tangguh.
Bahwa sebagian besar penentang terhadap kekerasan dalam masyarakat kita hanyalah masalah kesesuaian atau konvensi sosial dapat dilihat dari cara di mana sikap terhadap kekerasan bervariasi sesuai dengan keadaan di mana kekerasan itu dilakukan. Ketika kekerasan dilakukan dengan persetujuan sistem (seperti dalam perang, misalnya), kebanyakan orang menerimanya begitu saja. Mereka ngeri dengan kekerasan hanya ketika kekerasan itu tidak disetujui oleh sistem.
Pengacara saya membawa seorang neuropsikolog, seorang bernama Dr. Watson, untuk memberi saya beberapa tes untuk memastikan bahwa saya tidak gila. Setelah pengujian selesai, Dr. Watson menanyakan beberapa pertanyaan tentang pengeboman saya. Antara lain, dia bertanya kepada saya bagaimana perasaan saya tentang dampak tindakan saya pada “korban” dan keluarga mereka, dan dia tampak agak bermasalah bahwa seorang pria cerdas seperti saya dapat membunuh orang tanpa merasa bersalah dan tanpa terlalu khawatir tentang dampak pada keluarga orang yang meninggal. Tetapi jika saya adalah seorang tentara yang telah membunuh atau melukai tentara musuh dalam perang, Dr. Watson tidak akan pernah bertanya bagaiman perasaan saya tentang dampaknya terhadap para korban atau keluarga mereka. Tidak ada yang mengharapkan seorang prajurit untuk ragu-ragu membunuh tentara musuh atau khawatir tentang bagaimana perasaan keluarga dari yang telah mati, dan sangat sedikit tentara yang khawatir tentang hal-hal seperti itu. Hal ini menunjukkan bahwa kebanyakan sikap orang terhadap kekerasan tidak diatur oleh belas kasih tetapi oleh konvensi sosial.
Runtuhnya sistem tekno-industri hampir pasti akan melibatkan kesulitan fisik yang meluas. Jika kerusakan tiba-tiba, itu berarti kelaparan yang sebenarnya, karena tidak akan ada pestisida dan pupuk kimia, tidak ada benih hibrida berteknologi tinggi, tidak ada bahan bakar atau suku cadang untuk mesin pertanian, tidak ada truk dan kereta api untuk mengangkut hasil bumi ke kota. Bahkan jika sistem itu hancur secara bertahap selama beberapa dekade, hampir tidak dapat dibayangkan bahwa pengurangan populasi dan transisi ke pertanian subsisten dapat dilakukan dengan cara yang mulus dan teratur. Banyak orang akan menderita karena kekurangan makanan atau kebutuhan fisik lainnya, dan dalam keadaan seperti itu pasti akan ada kekacauan sosial yang meluas dan karena itu berjuang. Lihatlah sejarah! Runtuhnya suatu peradaban hampir selalu disertai dengan kekerasan, dan semakin maju suatu peradaban, semakin besar pula kekerasannya.
Budaya kelas menengah modern luar biasa dalam hal mencoba menekan agresi, yang merupakan bagian normal dari repertoar perilaku manusia dan sebagian besar mamalia lainnya. Sebagian besar masyarakat sepanjang sejarah manusia lebih toleran terhadap agresi daripada kelas menengah saat ini. Memang benar bahwa ada beberapa budaya primitif yang benar-benar non-kekerasan, dan ideologi pasif dan non-kekerasan telah mengangkat budaya-budaya ini sebagai contoh untuk menunjukkan bagaimana masyarakat modern yang penuh kekerasan berbeda dengan orang-orang biadab yang mulia. Tetapi dengan
Tentu saja, perang primitif sangat berbeda dengan perang modern. Hari ini tentara berperang untuk memuaskan ambisi para politisi atau diktator; dalam perang besar mereka biasanya wajib militer, dan bahkan jika mereka secara sukarela umumnya melakukannya hanya karena mereka telah dicuci otak oleh propaganda.
ketidakjujuran yang disadari atau tidak, mereka sepenuhnya mengabaikan budaya primitif yang jauh lebih banyak mengizinkan tingkat kekerasan yang jauh lebih besar daripada yang dilakukan oleh moralitas kelas menengah modern. Sebagai contoh, Derrick Jensen, dalam Listening to the Land (Sierra Club Books, 1995, halaman 3) memuji orang Indian Okanagan di British Columbia atas fakta bahwa mereka tidak pernah terlibat dalam kekerasan fisik, tetapi tidak sepatah kata pun yang dia katakan untuk mengakui fakta bahwa mayoritas suku Indian Amerika Utara jelas suka berperang.
Banyak suku bahkan membudayakan perang sebagai sesuatu yang mulia dan mengagumkan, dan melakukan perang yang tidak perlu hanya karena para pemuda ingin memenangkan kejayaan militer. (Jangan sampai kaum feminis mencoba untuk menyalahkan semuanya pada binatang jantan yang jahat itu, harus ditunjukkan bahwa laki-laki dihasut oleh para wanita. Di antara suku-suku yang suka berperang, setiap wanita ingin putranya menjadi pejuang pemberani, dan salah satu alasannya mengapa para pemuda ingin memenangkan kejayaan militer adalah karena hal itu membuat mereka populer di kalangan wanita muda.)
Tentu saja, perang primitif sangat berbeda dengan perang modern. Hari ini tentara berperang untuk memuaskan ambisi para politisi atau diktator; dalam perang besar mereka biasanya wajib militer, dan bahkan jika mereka secara sukarela umumnya melakukannya hanya karena mereka telah dicuci otak oleh propaganda. Medan perang modern adalah rumah jagal di mana keterampilan dan keberanian seorang prajurit tidak banyak berpengaruh pada peluangnya untuk bertahan hidup. Sebaliknya, orang Indian Amerika berjuang untuk melindungi diri mereka sendiri dan keluarga mereka atau karena mereka ingin berperang. Pertempuran mereka dalam skala kecil, sehingga prajurit individual tidak direduksi menjadi sedikit umpan meriam yang tidak berarti. Dan konflik mereka tidak menghasilkan kerusakan lingkungan besar-besaran yang menyertai peperangan modern. Faktanya, karena perang mereka membuat populasi turun, menjadikannya sebagai konsekuensi lingkungan yang positif.
Menghilangkan semua kekerasan akan meningkatkan harapan hidup kita, tetapi harapan hidup dalam masyarakat modern mungkin lebih lama daripada yang pernah ada di masyarakat lain mana pun, namun masyarakat modern sangat bermasalah. Ada banyak masyarakat lain di mana harapan hidup jauh lebih pendek, tetapi di mana stres, frustasi, kecemasan, atau rasa sakit psikologis lainnya jauh lebih sedikit. Ini menunjukkan bahwa harapan hidup bukanlah hal terpenting bagi kebahagiaan manusia; masih kurang penting untuk kebebasan manusia.
Saya tidak ingin memberi kesan bahwa saya menganggap kekerasan itu diinginkan untuk kepentingannya sendiri. Justru sebaliknya. Saya lebih suka melihat orang hidup bersama tanpa saling menyakiti secara fisik, ekonomi, psikologis, atau dengan cara lain. Tetapi penghapusan kekerasan seharusnya tidak menjadi prioritas utama kami. Prioritas yang utama ialah harus menyingkirkan sistem tekno-industrial.***
Obituari Widodo Tonjeh: Menanam adalah Melawan
“Sang Penghadang Perluasan Geografi Produksi Kapital dari Pesisir Selatan Jawa”
Muhammad Afandi
Setelah membongkar, merampas tanah warga, dan membangkrutkan pesisir utara Pulau Jawa selama lebih dari 1 abad lewat berbagai mega proyek ekstraktif perkebunan dan pertambangan – yang memicu bencana dan krisis sosial ekologis, tampaknya kini kapitalisme juga mulai menyasar dan menggempur selatan Jawa dengan cara yang hampir sama. Seluruh narasinya akan bermuara pada perluasan geografi produksi kapital dalam rangka menghindari krisis yang mereka ciptakan sendiri.
Untuk memperlancar dan memfasilitasi perluasan geografi produksi kapital tersebut, berbagai mega proyek pembangunan infrastruktur terus digenjot lewat beragam model pembiayaan, disertai aksi-aksi kekerasan, intimidasi, dan teror oleh aparat keamanan negara, ataupun milisi swasta, hingga propaganda media.
Dukungan yang tak kalah penting seperti jaringan koneksi antar wilayah, regulasi pendukung, manajemen dan efisiensi birokrasi, kontrol dan ketersediaan tenaga kerja murah, penundukan organisasi masyarakat sipil baik dengan pengawasan mata-mata negara ataupun swasta juga menjadi satu paket yang harus dipastikan “tersedia” agar penghisapan surplus dalam sirkuit yang telah dibangun dapat berjalan lancar.
Selatan Jawa untuk tahun-tahun ke depan dapat dipastikan akan menjadi medan berlumur darah bagi rakyat kecil pedesaan, karena kapling blok-blok konsesi pertambangan berstempel “provinsi geologi” dan pembentukan kantungkantung industri baru telah dicetak sedemikian rupa.
Bahkan, sebelum pengkaplingan yang berpotensi memicu ledakan sosial skala luas di seluruh wilayah selatan Jawa itu benar-benar terjadi secara masif, ancaman tersebut sudah dirasakan warga pesisir Desa Garongan, dan 5 desa sekitarnya di wilayah selatan Kulon Progo, Yogyakarta sejak tahun 2006. Ruang hidup mereka harus berhadapan dengan rencana pertambangan pasir besi yang akan dioperasikan PT Jogja Magasa Iron (JMI), milik Rajawali Grup dan PT Jogja Magasa Mining (JMM) yang terhubung dengan keluarga Kesultanan Yogyakarta dan Kadipaten Pakualaman.1
Bagi warga, pertambangan JMI tidak hanya akan merusak dan mengancam seluruh kawasan pertanian, sosial-ekonomi, dan ekologi, namun juga akan melenyapkan seluruh pengetahuan yang mereka sebut sebagai “sistem pertanian lahan pantai”.
Sistem pertanian lahan pantai adalah pertanian yang berbeda dengan model pertanian lahan basah atau kering yang umumnya kerap kita temui di kawasan pertanian non pesisir. Pertanian ini mengandalkan kawasan pesisir berpasir hitam, atau yang sering disebut oleh geolog sebagai mineral pasir besi.
Material pasir hitam yang mendominasi seluruh kawasan pesisir, diyakini warga setempat memiliki fungsi dan peran sebagai penyaring alami dan pengikat air asin menjadi air tawar yang dibutuhkan kegiatan pertanian. Dengan demikian persoalan ketersediaan air irigasi yang kerap menjadi inti persoalan selama puluhan tahun di wilayah yang mereka diami telah terpecahkan.
“Kami yakin, jika pasir hitam yang membentang di seluruh pesisir ini ditambang, maka air tawar yang dibutuhkan untuk irigasi pertanian akan hilang. Seluruh air di kawasan ini akan berubah menjadi asin, seperti air laut,” ungkap seorang petani asal Desa Garongan.
Untuk memaksimalisasi penggunaan air di lahan pesisir yang kerap dianggap “haus air” karena berlahan pasir, mereka mengembangkan teknologi sistem irigasi yang mereka namai dengan sumur renteng.
“Untuk membangun sumur renteng, kami memerlukan blok-blok beton, pipa panjang, dan sebuah mesin pompa air. Blok beton tersebut kami susun dengan pola tertentu dan difungsikan sebagai tempat penampungan air. Seluruhnya mengelilingi lahan pertanian, dan tersambung melalui pipa. Selanjutnya, mesin pompa akan menyedot air dari bawah lahan pasir, dan mengalirkannya secara merata ke seluruh blok, lalu disemprotkan ke tanaman,” kata seorang petani pada tahun 2011.
Bagi mereka, teknologi irigasi sumur renteng dan pasir hitam adalah dua faktor kunci yang menjamin ketersediaan air irigasi dan keberlangsungan
Bagi warga, pertambangan JMI tidak hanya akan merusak dan mengancam seluruh kawasan pertanian, sosial-ekonomi, dan ekologi, namun juga akan melenyapkan seluruh pengetahuan yang mereka sebut sebagai “sistem pertanian lahan pantai”.
pertanian lahan pantai. Sejak teknologi itu mereka kembangkan pada akhir tahun 1990-an, beragam tanaman dapat tumbuh subur dan mampu membangkitkan perekonomian di Desa Garongan, dan desa-desa lainnya di sepanjang selatan Kulon Progo. Jauh sebelumnya, kawasan pesisir itu dianggap mustahil untuk dikembangkan sebagai lahan pertanian.
Sayangnya, seluruh pengetahuan dan teknologi irigasi pertanian yang mereka kembangkan secara mandiri itu, harus berbuah pahit dan terancam musnah oleh kehadiran pertambangan JMI.
Mengenal Widodo dan Yogyakarta
Untuk mempertahankan ruang hidup mereka, sejak 2006, warga Garongan dan 5 desa tetangganya memutuskan untuk menggalang kekuatan dan perlawanan serta mengorganisasi diri dalam wadah Paguyuban Petani Lahan Pantai-Kulon Progo (PPLP-KP) yang terus bertahan hingga kini.
Salah satu pengurus utama PPLP-KP yang dikenal cukup luas oleh publik, bahkan mungkin layak disebut sebagai ikon perjuangan mereka adalah Trisno Widodo. Sehari-hari, baik di kampungnya ataupun dalam pergaulan yang lebih luas, ia juga akrab disapa Mas Wid ataupun Tonjeh.
Sebelum mengabdikan diri sebagai juru bicara PPLP-KP, Widodo telah melanglang buana menghabiskan masa mudanya di era 1990- an dengan bekerja sebagai buruh serabutan di berbagai wilayah, termasuk di Sumatera, hingga ke negeri jiran Malaysia.
Baginya saat itu, sebagaimana pernah ia ceritakan kepada saya, kampungnya tidak begitu menarik untuk dijadikan sebagai tempat mencari pengalaman hidup dan pekerjaan, karena selain ketersediaan lahan pertanian yang sangat terbatas, juga terdapat streotip atas orang-orang pesisir selatan Kulon Progo.
Di era orang tuanya semasa muda dan masa kanakkanak Widodo, orang-orang yang bermukim di pesisir selatan Kulon Progo kerap di cap sebagai orang udik, wong cubung, miskin, dan sering belekan: sakit mata.2
Namun, seiring berkembangnya pertanian lahan pantai, ia memutuskan pulang ke kampung halamannya pada tahun 1998 dari perantauan untuk bertani dan memberanikan diri mempersunting Tri Mulyani sebagai pasangan hidupnya.
Dalam 1 dekade terakhir, Widodo dan gaya perlawanan PPLP-KP telah menjadi magnet bagi pemerhati dan peneliti agraria, aktivis sosial dan ekologi, dan berbagai komunitas petani di wilayah Jawa. Selain karena kemandirian dan kepiawaiannya dalam membangun wajah perlawanan mereka secara berbeda di media dan solidaritas di tingkat nasional dan internasional, kasus perlawanan PPLP-KP memang harus diakui memiliki daya tarik khusus dan terhitung jarang
Belakangan, lewat terbitnya Undang-undang Keistimewan (UUK) tahun 2012, klaim tanah SG dan PAG oleh pihak Kesultanan Yogyakarta semakin mendapatkan legitimasinya dan memicu perluasan konflik agraria dan perampasan tanahtanah milik rakyat di sebagian besar wilayah selatan Yogyakarta.
dilakukan warga Yogyakarta. Yakni memiliki keberanian untuk melawan secara terbuka terhadap kekuasaan kelompok elit istimewa yang jarang disentuh dan dicela oleh publik Indonesia, khususnya di Yogyakarta, mereka adalah keluarga Kesultanan Yogyakarta.
Yogyakarta adalah sebuah Kesultanan yang dibentuk oleh Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) pada tahun 1775 lewat Perjanjian Giyanti pasca munculnya konflik internal di kerajaan Mataram.3 Melalui Perjanjian Giyanti, seluruh pergantian raja dan para pemimpin, administrasi pemerintahan, dan tata kelola wilayah –
pertanahannya harus tunduk sepenuhnya pada persetujuan VOC.
Dalam Perjanjian Giyanti disebutkan bahwa Sultan Hamengku Buwono I, raja pertama Kesultanan Yogyakarta diangkat oleh VOC, dan untuk mengelola wilayahnya VOC memberikan pinjaman tanah untuk Kesultanan.
Sebelum peristiwa tersebut terjadi, tepatnya pada 1749, Raja Mataram Paku Buwono II telah menyerah kepada VOC dan menyatakan bahwa seluruh kekuasaan dan wilayahnya diserahkan kepada VOC, dengan demikian muncul istilah tanah pinjaman saat Kesultanan Yogyakarta dibentuk.
Menariknya, pasca Indonesia merdeka hingga era akhir tahun 1960-an, saat banyak kerajaan di Indonesia disapu gelombang revolusi sosial, dan tanah-tanah bekas swapraja dihapus dan menjadi objek target dari redistribusi lahan sesuai Undangundang Pokok Agraria (UUPA) 1960, situasi tersebut tampaknya tidak menyentuh Kesultanan Yogyakarta. Tanah-tanah bekas swapraja di Yogyakarta – yang sering disebut sebagai Sultanaad Grond (SG) dan Pakualamanaat Grond (PAG) tetap dibiarkan lolos.
Banyak rumor beredar, kelolosan itu dipengaruhi oleh narasi bahwa Yogyakarta memiliki kontribusi penting dalam kemerdekaan Indonesia di masa silam. Padahal, pada tahun 1940, saat kekuatan anti kolonial tumbuh subur di berbagai wilayah, Sultan HB IX pernah mengadakan perjanjian dengan Belanda. Dalam perjanjian itu Kesultanan Yogyakarta disebutkan sebagai bagian dari Kerajaan Belanda.
Sejumlah peneliti agraria di Yogyakarta memperkirakan terdapat sedikitnya 10,67 persen luas wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) telah diklaim menjadi milik Kesultanan dan Kadipaten sejak terbitnya UUK.
Dengan demikian, konsolidasi dan pemaksaan konsentrasi sumber daya agraria oleh Kesultanan yang bercorak khusus dan bermodelkan “satu pintu” tersebut (tidak terjadi di wilayah Indonesia lainnya), bisa jadi ditujukan untuk mempermudah perluasan geografi produksi kapital di selatan Jawa, khususnya di Yogyakarta. Apalagi dengan UUK, Sultan Yogyakarta juga diberikan kekuasaan sekaligus sebagai Gubernur, di mana dengan jabatan dan segala kewenangan yang cukup luas tersebut, ia dapat menerbitkan berbagai regulasi pendukung yang dibutuhkan untuk memuluskan seluruh perluasan produksi kapital yang dimaksud.
Menjahit Jaringan Perlawanan Akar Rumput
Melalui perantara seorang teman, saya bertemu Widodo untuk pertama kali sekitar pertengahan Mei 2010 di kota Yogyakarta. Pertemuan itu tanpa saya sadari telah membawa kami dalam persahabatan panjang yang tak biasa.
Sebulan setelah perkenalan itu, kurang lebih pada pertengahan Juni 2010, saya mengajaknya untuk menghadiri sebuah forum pertemuan penting yang diselenggarakan di Deli Serdang, Sumatera Utara – sebuah wilayah sabuk perkebunan yang hampir 2 abad telah menjadi laboratorium eksperimen teknis dan sosial, di mana hirarki rasial, kelas, etnis, dan gender secara sosial direkayasa, diperebutkan, dan diubah.
Kegiatan yang dimaksud adalah sebuah pertemuan antar komunitas petani, mahasiswa, pemuda, dan pekerja seni yang digagas secara mandiri dengan tujuan untuk mendiskusikan perlawanan terhadap kapitalisme, sekaligus merefleksikan berbagai pengalaman perjuangan yang telah dilakukan oleh banyak komunitas akar rumput. Selain dihadiri oleh berbagai komunitas akar rumput dan individu dari berbagai pulau di Indonesia, pertemuan tersebut juga diikuti puluhan peserta dari beberapa negara.
Bagi Widodo, pertemuan tersebut sangat berkesan. Menurutnya, ada banyak pelajaran penting yang bisa direfleksikan untuk menguatkan gerakan yang sedang ia bangun bersama rekanrekannya di PPLP-KP.
Perkenalan kami itu, dan kunjungan lapangannya ke komunitas petani Sumatera Utara yang turut hadir dalam kegiatan tersebut, membawa pertukaran pengalaman dan pengetahuan yang cukup mendalam, khususnya tentang model dan gaya perlawanan petani di Jawa dan Sumatera.
Mengingat pentingnya solidaritas dan konsolidasi yang kuat antar komunitas akar rumput, semangat pertemuan di Sumatera Utara itu kami sepakati untuk dipraktikkan di selatan pulau Jawa.
Untuk memulainya, pada 1 April 2011, saat PPLP-KP memperingati 5 tahun perjuangannya, Widodo dan beberapa pengurus PPLP-KP mencoba mengundang delegasi petani pesisir selatan Jawa Tengah yang berkonflik dengan TNI AD, dan petani pesisir selatan Jawa Timur yang berkonflik dengan korporasi pertambangan. Di penghujung acara itu, pengurus tiga organisasi tersebut bersepakat untuk membangun gerakan bersama, dan berkomitmen untuk meluaskan gerakannya hingga ke seluruh selatan Jawa. Saya dan
Lahirnya FKMA selain ditujukan sebagai wadah perjuangan rakyat yang mandiri dan independen, juga diharapkan dapat menjadi kekuatan strategis dalam melawan perluasan geografi produksi kapital yang menggempur selatan Jawa. Forum pertemuan tersebut juga mengenalkannya pada berbagai ide dan praktik “gerakan otonomi dan desentralisasi”.
kawan-kawan, yang sebagian besar berstatus mahasiswa dan bermukim di kota Yogyakarta, turut terlibat secara mendalam untuk mendukung semangat dan kesepakatan itu dengan mengambil beberapa peran.
Selama hampir enam bulan (April-Oktober), Widodo mengajak kami menyusuri selatan Jawa untuk menemui satu persatu komunitas warga yang berkonflik dengan industri pertambangan ataupun yang mengalami perampasan ruang hidup oleh industri lainnya.
Segala usaha itu membuahkan hasil berupa puluhan komunitas warga selatan Jawa yang bersepakat untuk saling bertemu, mendiskusikan persoalan perampasan ruang hidup secara bersama, dan mencoba menggali lebih jauh berbagai kemungkinan untuk memenangkan perjuangan. Tepat pada 20-22 Desember 2011, sekitar 34 delegasi dari 10 komunitas akar rumput yang berasal dari Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, dan Banten berkumpul di sekretariat PPLP-KP dan kota Yogyakarta.
Kegiatan pertemuan itu diselenggarakan secara mandiri, dan membuahkan beberapa poin rekomendasi untuk ditindaklanjuti, sekaligus menyepakati untuk menghimpun diri dalam sebuah wadah perjuangan bersama yang dinamai dengan Forum Komunikasi Masyarakat Agraris (FKMA). Di ujung kegiatan ini, seluruh peserta kegiatan memberikan mandat kepada Widodo sebagai dinamisator FKMA. Ia diberikan tanggung jawab untuk membangun dan mengelola komunikasi strategis antar organisasi, dan
memperluas jaringan perlawanan.
Pasca berdirinya FKMA, kunjungan ke berbagai komunitas di selatan Jawa kerap rutin dilakukan Widodo. Secara khusus, kami banyak belajar dari perlawanan yang dilakukan PPLP-KP dan komunitas akar rumput lainnya.
Selanjutnya, pada 8-10 Februari 2013, FKMA kembali bertemu di Yogyakarta untuk melaksanakan kongres kedua, dengan melibatkan 12 komunitas akar rumput. Menariknya, komunitas dari pesisir utara Jawa, dan Sumatera juga turut hadir sebagai peserta baru. Seluruh peserta dan undangan yang hadir dalam kongres FKMA II tersebut tercatat melebihi 75 orang. Widodo menganggap bahwa benih-benih penguatan solidaritas perlawanan telah tumbuh dengan baik dalam wadah FKMA, ia meyakini perluasan geografi produksi kapital, atau sering disebutnya sebagai pembesaran perampokan ruang hidup, akan dapat disumbat pelan-pelan.
Di tengah-tengah aktivitasnya sebagai dinamisator FKMA, dan petani, sebulan pasca kongres kedua FKMA, Widodo menghadiri sebuah kegiatan di Filipina yang diselenggarakan Local Autonomous Network dan Pusat Studi Dunia Ketiga, Universitas Manila pada 7-12 Maret 2013.
Selain dihadiri oleh mahasiswa dan akademisi dari berbagai negara Asia, Eropa dan Amerika, forum yang dikelola secara mandiri tanpa melibatkan lembaga donor itu juga diikuti puluhan aktivis dan delegasi komunitas akar rumput.
Ditemani seorang penerjemah, ia mempresentasikan perlawanan PPLP-KP dan berbagai pengalaman komunitas akar rumput di Indonesia dalam menghadapi konflik agraria dan kapitalisme global, khususnya yang terhimpun dalam FKMA.
Baginya, pertemuan itu melahirkan dua catatan penting. Pertama, selain dapat memperkaya dan merefleksikan secara
bersama bagaimana dinamika gerakan perlawanan akar rumput di berbagai negara, dan pentingnya untuk menguatkan jejaring solidaritas perlawanan dalam melawan kapitalisme global. Kedua, forum pertemuan tersebut juga mengenalkannya pada berbagai ide dan praktik “gerakan otonomi dan desentralisasi”.
Kelak, poin terakhir di atas, telah membawa pengaruh yang cukup besar dalam membentuk gaya perlawanan PPLP-KP.
Setibanya di bandara Juanda Sidoarjo, sepulang menghadiri pertemuan di Filipina, ia sempat mengalami beberapa kali pemeriksaan yang tak biasa daripada penumpang lainnya.
Widodo Menuliskan Perlawanannya dan Kisah Persahabatan
Sepanjang tahun 2010 hingga April 2013, Widodo terbilang rutin menuliskan berbagai pengalaman perjuangan dan aktivitas hariannya. Ia mencatatnya di kala waktu senggang dalam sebuah buku tulis dengan tangannya sendiri.
Semula, catatan itu hanya ditujukan untuk dirinya saja ataupun menjadi bahan diskusi secara terbatas di lingkar terdekatnya. Namun, setelah melewati proses diskusi panjang dengan rekan-rekannya di internal PPLP-KP dan jaringan solidaritas, akhirnya catatan yang ditulisnya itu didorong untuk dipublikasikan, dengan harapan agar dapat memancing diskusi gerakan agraria semakin meluas, khususnya di komunitas akar rumput.
Lebih jauh, catatan itu juga diharapkan dapat menjadi titik balik untuk mengkritisi para peneliti agraria ataupun akademisi yang kerapkali berseberangan dengan cara berpikir PPLP-KP dalam menafsirkan gerakan perlawanan yang mereka bangun.
Dengan dukungan yang cukup luas dari lingkar terdekatnya, catatannya berhasil dibukukan dan diterbitkan Tanah Air Beta pada tahun 2013, dengan judul Menanam adalah Melawan (MAM).
Selain dibagikan secara gratis ke berbagai komunitas akar rumput, MaM juga didiskusikan di beberapa tempat, dan universitas. Sejak itu, Widodo, sang juru bicara PPLP-KP, juga dikenal sebagai petani sekaligus penulis. Kehadiran MaM disambut luas oleh berbagai pihak, di antaranya karena, hanya sedikit petani yang menuliskan perlawanannnya, khususnya di Yogyakarta.
Sebagai juru bicara PPLP-KP, ia juga dikenal memiliki hubungan dekat dengan simpul-simpul komunitas, dan segelintir akademisi kritis di Yogyakarta. Salah satunya adalah almarhum George Junus Aditjondro (GJA) – aktivis, pengajar, sekaligus guru bagi banyak aktivis.
GJA selain kerap hadir dalam berbagai kegiatan yang diselenggarakan PPLP-KP, juga memiliki peran penting dan tempat khusus dalam perlawanan yang mereka bangun. Bagi Widodo dan seluruh anggota PPLP-KP, hanya GJA yang memiliki keberanian dan sikap tegas terhadap kekuasaan Kesultanan Yogyakarta dibandingkan dengan akademisi lainnya.
Namun, segala keberanian dan dukungannya itu pun harus dibayar mahal, pasca GJA memberikan pernyataan bahwa keraton (kawasan – kompleks perumahan raja) adalah kera yang ditonton dalam sebuah diskusi publik bertajuk Membedah Status Sultan Ground/Pakualaman Ground dalam Keistimewaan Yogyakarta di Auditorium Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta pada 30 November 2011.
Buntutnya karena pernyataannya tersebut, GJA ditetapkan sebagai tersangka terkait kasus dugaan penghinaan lembaga Keraton Yogyakarta pada 5 Januari 2012.
Awal Juni 2012, kesehatan GJA memburuk, dan beberapa kali harus dirawat secara intensif di rumah sakit. Walaupun sempat bertahan dalam kondisi yang sangat terbatas, GJA akhirnya meninggal pada 10 Desember 2016 di Palu dengan meninggalkan begitu banyak warisan pengetahuan dan semangat perlawanan yang patut diteladani oleh siapapun. Salah satu tulisannya yang berjudul SG dan PAG, Penumpang Gelap RUUK yang ditulis pada tahun 2011 dan sempat dimuat di harian Sinar Harapan ditaruh kembali menjadi epilog dalam buku MaM yang ditulis Widodo.
Jauh sebelum kasus GJA mencuat, Widodo kerap mengunjungi GJA di perpustakaan miliknya di kota Yogyakarta untuk sekedar bersilaturahmi ataupun mendiskusikan perjuangan PPLP-KP. Saya dan kawankawan biasanya turut hadir, karena 2 orang sahabat saya adalah yang merawat koleksi buku-buku milik GJA dan yang juga diberi tanggung jawab untuk menempati perpustakaan tersebut, bahkan kadang-kadang mengantarnya ke Universitas Sanata Dharma, tempat GJA mengajar.
Rencana yang Tertunda, Pandemi, dan Solidaritas Pangan
Sepanjang tahun 2016-2017, Widodo kembali bersemangat untuk menyusun naskah buku kedua. Seluruh draf yang berhasil ia tulis diserahkan kepada kami (5 orang) untuk diperiksa. Seperti biasa, kami memberinya beberapa catatan dan umpan balik yang diperlukan, sebagaimana ia harapkan. Namun, hingga tahun 2018, sepertinya ia masih berusaha memperbaiki dan mencicil beberapa bab untuk melengkapi naskah buku itu.
Memasuki tahun 2019, untuk menguatkan solidaritas perlawanan antar komunitas akar rumput dan jejaring perlawanan masyarakat sipil pulau Jawa dan Bali, model pertemuan yang digelar FKMA pada tahun 2011 dan 2013 kembali diselenggarakan pada 15-17 November 2019 di Wadas, Jawa Tengah.
Dalam pertemuan itu, Widodo dan rekanrekannya dari PPLP-KP menegaskan kepada seluruh peserta agar setiap gerakan akar rumput mampu menghindari model perlawanan bergaya “litigasi formal”, sebuah gerakan yang bertumpu pada penyelesaian kasus melalui jalur hukum dan peradilan negara. Menurut mereka gaya perlawanan tersebut, selain akan menguras banyak energi dan logistik, juga berpotensi menumpulkan dan membelokkan perlawanan menuju ke arah kekalahan besar, sekaligus yang paling berbahaya adalah akan mendisiplinkan cara berpikir seluruh pelaku gerakan sosial ke dalam logika negara.
Lebih jauh, mereka menggarisbawahi, bahwa pusat perlawanan dan kemenangan awal dari sebuah gerakan akar rumput berada pada sejauh mana kampung tidak dapat ditembus oleh siapapun, dan kekuatan kemandirian organisasi. Sehingga pusat perlawanannya tidak diletakkan dan di geser ke meja-meja negosiasi dalam kamarkamar yang disediakan negara, yang dalam hal ini
justru menjadi salah satu pelaku utama penyebab terjadinya perampasan ruang hidup. Jika sebagian besar komunitas akar rumput, dan para aktivis meyakini bahwa kekerasan, perampasan, dan krisis sosial-ekologis disebabkan oleh “absennya negara” dalam menjamin hak dan keselamatan ruang hidup warga, sebaliknya mereka mengatakan bahwa justru dengan hadirnya negara maka perampasan ruang hidup dapat terjadi.
Cara berpikir tersebut telah mendorong PPLPKP berfokus pada penguatan kerja-kerja jaringan antar komunitas akar rumput yang lebih luas, dan cukup berhati-hati untuk bekerjasama dengan berbagai elemen yang terkesan meyakini model perlawanan yang bercorak negara-sentris. Mereka percaya bahwa aliansi jejaring komunitas akar rumput merupakan bangunan terpenting untuk mewujudkan kemandirian gerakan sosial daripada bersekutu dengan organisasi-organisasi yang terhubung dengan lembaga donor, ataupun sekolompok aktivis, peneliti, dan akademisi – yang terkadang justru menawarkan dan mengawetkan logika “negara-sentris”.
Mereka percaya bahwa aliansi jejaring komunitas akar rumput merupakan bangunan terpenting untuk mewujudkan kemandirian gerakan sosial daripada bersekutu dengan organisasi-organisasi yang terhubung dengan lembaga donor, ataupun sekolompok aktivis, peneliti, dan akademisi – yang terkadang justru menawarkan dan mengawetkan logika “negara-sentris”.
Untuk merawat nafas panjang perjuangan dalam tubuh internal PPLP-KP, mereka juga mencatat seluruh peristiwa penting yang pernah terjadi di sepanjang sejarah dan garis waktu perlawanan. Misalnya, tanggal penyerangan aparat keamanan terhadap aksi demonstrasi yang mereka lakukan, hari tani, penangkapan anggota PPLP-KP, hari ulang tahun organisasi, dan lain-lain. Momen dan ingatan kolektif itu mereka catatkan ulang dan diberi tanda khusus dalam “kalender gerakan sosial” yang dicetak dalam jumlah ribuan, dan dipajang di seluruh rumah anggota PPLP-KP. Dengan cara itu, garis waktu 365 hari di PPLP-KP akan dimaknai dan dirayakan sedikit berbeda.
Bagi komunitas akar rumput yang baru saja merintis perlawanannya, keberhasilan PPLP-KP dalam mempertahankan 13 tahun umur perjuangannya dan pengalaman bagaimana mereka mengorganisasikan perjuangannya, memang menjadi sesi yang kerap ditunggutunggu. Pertemuan yang melibatkan 32 komunitas akar rumput, dan ratusan peserta dari berbagai komunitas selama 3 hari itu, melahirkan berbagai rekomendasi penting untuk ditindaklanjuti.
Sayangnya, sebagian besar agenda rekomendasi dan rencana tindak lanjut itu harus ditunda untuk dikerjakan karena pandemi Covid-19 – yang menghantam Indonesia sejak Maret 2020. Bahkan di tengah kegagapan banyak komunitas dalam menghadapi Covid-19, dan seiring meningkatnya serangan butral negara di berbagai sudut kampung, kami juga harus kehilangan salah satu sahabat terbaik Aris Panji, pada 22 Juli 2020. Seniman, penyair, deklarator FKMA,
dan penulis Nyanyian Karah asal Jawa Tengah itu memang telah beberapa kali harus berhadapan dengan kondisi kesehatan yang kritis.
Namun, terlepas dari cengkraman masamasa sulit itu, lagi-lagi, Widodo dan PPLP-KP kembali memberikan contoh teladan yang jarang dilakukan banyak komunitas. Mereka menginisiasi aksi langsung lewat program solidaritas pangan yang ditujukan untuk seluruh anggota PPLP-KP ataupun komunitas lainnya sepanjang tahun 2020-2021.
Lewat program tersebut, seluruh anggota PPLP-KP yang terpapar Covid-19 akan diberikan segala kebutuhan pangan dan kesehatannya secara gratis. Tim yang mereka bentuk akan mengirimnya ke rumah-rumah warga yang membutuhkan sampai penyintas berhasil melewati masa-masa tersulitnya. Sementara untuk solidaritas di luar PPLP-KP, mereka mengirimkan secara rutin berbagai bahan pangan, dan sayuran yang mereka panen sendiri ke berbagai komunitas yang menginisiasi gerakan dapur umum di wilayah perkotaan Yogyakarta.
Tidak banyak yang melakukan itu!
Begitu juga dengan “kuasa ruang” di Yogyakarta yang disusun dengan gambaran bahwa keraton adalah pusat, dan pesisir adalah pinggiran, juga mereka lawan dan konstruksi ulang. Bagi Widodo dan PPLP-KP, pesisir adalah pusat seluruh denyut nadi kehidupan dan jantung sejarah sosial-ekologis ruang hidup mereka.
Pertemuan Terakhir
Juni tahun 2021, saat kasus Covid-19 di Indonesia hampir menembus angka dua juta, Widodo mengirimkan pesan singkat bahwa ia bersama anggota PPLP-KP akan berkunjung ke beberapa komunitas akar rumput di Jawa Timur. Satu di antaranya adalah tempat di mana saya menghabiskan waktu sepanjang 5 tahun terakhir.
Selama hampir 1 pekan, saya menemaninya untuk menemui beberapa orang pengurus organisasi akar rumput yang sedang mempertahankan kampung mereka dari perampasan lahan. Seperti biasa, mereka saling bertukar pengalaman dan pengetahuan, sekaligus merajut tali persaudaraan dan solidaritas perlawanan.
Selain pengakuannya, gerak tubuhnya saat itu memang menunjukkan bahwa ia tidak sebugar biasanya.
Delapan bulan berlalu, Jumat, 4 Maret 2022, sekitar pukul 14.34 WIB, seorang anggota PPLP-KP yang kerap bersamanya, mengirimkan kabar bahwa Widodo tengah dirawat di salah satu rumah sakit (RS) swasta di pusat kota Yogyakarta.
“Mas Wid sepertinya mengalami masalah gangguan ginjal. Sebelum ini juga sudah masuk RS karena masalah jantung dan diabetes,” ungkapnya.
Kabar itu segera saya kirimkan kepada kawan-kawan lainnya. Kami berembuk untuk mengambil tindakan dan menggalang aksi solidaritas. Namun, karena beberapa hal yang tak terelakkan, saya tidak dapat terlibat secara mendalam dan harus segera kembali ke Jawa Timur. Kawan-kawan di Yogyakarta mencoba menggalang donasi, dan menjaganya secara bergantian di RS.
Tak diduga, Rabu sore, 9 Maret 2022, seorang kawan mengirimkan sebuah pesan singkat Widodo (44 tahun) telah meningggalkan kami selamanya. AlFatihah.
Saya tak menyangka, perbincangan di sebuah kampung pada Juni itu adalah momen pertemuan terakhir kami di dunia yang fana ini. Sejak pertemuan terakhir itu kami hanya terhubung melalui berbagai aplikasi yang tersedia di telepon genggam.
Satu tahun dua bulan sebelumnya, keluarga besar Widodo juga mengalami duka yang sama. Adik perempuannya meninggal di Batang, Jawa Tengah, karena sakit yang datang secara tiba-tiba.
Senin, 14 Februari 2022, selepas mengikuti doa bersama di rumah duka, saya dan kawan-kawan terdekat berbincang cukup lama dengan Mbak Tri (istri Widodo).
“Beberapa waktu terakhir sebelum sakit parah dan masuk RS, Mas Wid pernah bilang kepada saya bahwa ia rindu dengan kawan-kawan lamanya”, ucap istrinya.
Satu dari tiga nama yang disebut dalam cerita istrinya adalah saya. Setelah mendengarnya, saya hanya bisa menghela nafas panjang, dan mengambil posisi tubuh yang kaku. Cerita itu seolah saling terhubung saat adik almarhum memberikan keterangan tambahan.
“Saya sudah melarangnya untuk pergi-pergi jauh, termasuk ke Jawa Timur pada Juni 2021 lalu, karena Mas Wid sudah terlihat tidak sehat. Kakinya mulai sering bengkak”.
Selepas adiknya bercerita, saya memberanikan diri untuk mengambil sebuah kesimpulan pahit bahwa bisa jadi kunjungannya ke Jawa Timur
untuk menemui saya dan kawan-kawan yang lain, serta komunitas tani tempat kami belajar, adalah semacam gerak batin untuk menuntaskan kerinduan dengan para sahabat lama sekaligus sebagai salam perpisahan menuju kepergian abadi.
Di penghujung percakapan itu, Mbak Tri, kembali memberikan pernyataan. “Terkait dengan rencana buku kedua, Mas Wid sudah menulis beberapa tambahan.”
Malam itu, kami berembuk untuk mengecek kembali seluruh naskah MaM II, dan berbagi tugas untuk menyelesaikannya.
Warisan dan Penutup
Secara pribadi, Widodo bukanlah sekedar sahabat, melainkan juga keluarga dekat. Di akhir tahun 2015, ia, ayahnya, dan beberapa orang pengurus PPLP-KP sempat menjadi wakil keluarga saya untuk meminang seorang perempuan yang sekarang menjadi istri saya.
Harus diakui ada banyak kisah tentang Widodo yang tidak mungkin dituliskan semuanya di sini. Ia adalah pelopor perlawanan yang lahir dari kelas rakyat biasa yang umumnya sangat sulit ditemukan di Yogyakarta. Sepanjang yang saya ketahui, sejarah pembangkangan dan perlawanan terhadap penguasa di Yogyakarta, khususnya raja, kerap berpusat dari tokohtokoh yang lahir dari keluarga bangsawan ataupun elit tertentu, dan biasanya dilatari motif perebutan kekuasaan.
Selain itu, kisah perlawanan di Yogyakarta biasanya juga tidak ditunjukkan dalam wajah gerakan yang bersifat terbuka dan konfrontatif, kerap kali dengan aksi-aksi simbolik. Namun, Widodo dan PPLP-KP memilih sebaliknya, memimpin pembangkangan dan perlawanan di luar etika “kesantunan” yang merajalela dalam nafas yang panjang, dan terhormat.
Begitu juga dengan “kuasa ruang” di Yogyakarta yang disusun dengan gambaran bahwa keraton adalah pusat, dan pesisir adalah pinggiran, juga mereka lawan dan konstruksi ulang. Bagi Widodo dan PPLP-KP, pesisir adalah pusat seluruh denyut nadi kehidupan dan jantung sejarah sosial-ekologis ruang hidup mereka.
Sebagai penutup obituari ini, saya ingin menggarisbawahi beberapa poin penting yang patut diingat dan layak didiskusikan kembali secara kritis, baik untuk PPLP-KP ataupun komunitas petani lainnya terkait nilai, ide, dan gagasan yang bersemayam dalam Menanam adalah Melawan (MAM).
Sebelum kalimat MaM tersebut lahir dan kerap dilontarkannya dalam berbagai kesempatan, kami pernah mendiskusikan dan mengunci beberapa pertanyaan untuk menguji landasan dasar dan arti MaM sesungguhnya dalam beberapa poin. Dari sekian banyak poin yang dimaksud, diantaranya adalah:
Pertama, apa saja yang menjadi prasyarat utama untuk dapat dikategorikan sebagai Menanam adalah Melawan?
Kedua, apa dan siapa yang kita lawan sesungguhnya, kapitalisme pertambangan yang mengancam PPLP-KP, atau juga termasuk kapitalisme pertanian? Poin kedua ini sebenarnya untuk memeriksa secara mendasar terkait fakta umum di lapangan yang menunjukkan masih banyaknya petani yang terjerat benih GMO produksi Cargill, Bayer, Monsanto, Dupont, dan lainnya.
Ketiga, bagaimana dengan sistem kepemilikan atas alat dan sarana produksi di komunitas? Poin ini selain menitikberatkan pada agenda perombakan kepemilikan, juga berusaha untuk mengimajinasikan ulang bentuk masyarakat dan komunitas petani yang dibayangkan oleh Widodo dan PPLP-KP ke depan.
Keempat, penting untuk mendiskusikan kembali secara kritis kedudukan serta relasi manusia dan alam di tengah berbagai ritual dan warisan dominasi yang turut mengawetkannya. Poin ini ditujukan sebagai ruang rekonsiliasi antara alam dan masyarakat manusia untuk menuju kepekaan ekologis baru yang bebas dari kapitalisme.
Selamat jalan kawan, beristirahatlah dengan tenang! Sampai bertemu lagi!
Yogyakarta, 5 April 2022.
catatan
1 Menurut sebuah laporan Tim Kolaborasi Liputan Agraria pada Maret – Juli 2021, disebutkan bahwa 210 dari total 300 lembar saham PT JMI dikuasai oleh Indo Mine Ltd, sebuah perusahaan tambang asal Australia yang mayoritas sahamnya dimiliki Rajawali Group. Sementara 90 lembar saham lain JMI, dimiliki oleh PT Jogja Magasa Mining (JMM), sebuah perusahaan tambang lokal di DIY. Laporan ini juga merinci siapa saja pemilik saham PT JMM, yakni: “sebanyak 90 lembar saham JMM dikuasai PT Mitra Westindo Utama. Putri sulung Sri Sultan Hamengku Buwono X, GKR Mangkubumi juga menguasai 75 lembar saham JMM. Sementara Adik Pakualam X, BRMH Hario Seno juga menguasai 75 lembar saham JMM. Kemudian, 50 lembar saham JMM lainnya dimiliki oleh kemenakan Sri Sultan Hamengku Buwono X, RM Sumyandharto. Sisanya, 10 lembar saham JMM, dimiliki IMaM Syafii, pengusaha asal Yogyakarta.” Sumber: https://www.mongabay.co.id/2021/09/08/ was-was-petani-pesisir-kulonprogo-kala-lahan-tani-terancam-tambang-1/. Diakses 2 April 2022.
2 Wong cubung identik dengan kotor, jorok, miskin, dan tidak berpendidikan. Belekan atau sakit mata yang menimpa warga di kampungnya sering disebabkan oleh kelilipan (kemasukan) pasir – yang materialnya sangat mendominasi wilayah kampung mereka.
3 Perjanjian Giyanti 1775 membagi Kerajaan Mataram menjadi 2, yakni Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta.
1
X 3