Baca PDF (OCR): Soetomo

80 halaman · 80 halaman diproses dengan OCR· 102953 ms

Daftar isi
  1. Unte Taa
  2. SOETOMO
  3. PENERBIT DJAMBATAN
  4. TJERMIN KEHIDUPAN
  5. DRSOETOMO
  6. TAMAN SISWA
  7. tetapi kemudian tumbuh mendjadi perkumpulan nasional
  8. gai tanggal kelahiran pergerakan nasional Indonesia.
  9. pimpin Prof. Mendes da Costa, di Amsterdam. Kemudian
  10. ia pindah pada Dermatologicum Prof. Unna di Hamburg,
  11. pernah pula mendjadi ketua Indonesische Vereniging' jang
  12. berdjuang terus dan ia mengharap akan bertemu lagi
  13. dengan mereka kelak dikalangan perdjuangan ditanah
  14. jang mengatakan, bahwa orang sebagai Dr Soetomo itu
  15. Pada tanggal 4 Djuli 1924 ia mendirikan Indonesische
  16. untuk mempererat tali persatuan dikalangan perhimpunan
  17. itu, pengurus Indonesische Studieclub disusunnja dari ang-
  18. Tentang Mesir Dr Soetomo menundjukkan sifat-sifat ke-
  19. ngar-pendengarnja, bahwa bangsa Indonesia kiranja tidak
  20. akan bersikap sebagai suatu bangsa jang mempunjai pendi-
  21. Ia minta sedapai mungkin hendaknja djenazahnja diku-
  22. hendaklah diwakafkan untuk partai sebagai rumah pa-
  23. Sebagian besar dari harta peninggalanku hendaklah di-
  24. TAMAN SISWA
  25. Dr Soetomo — 28 Juli 1934
  26. pendjurunja ada sebatang pohon manggis jang pada ma
  27. sanja sangat lebat buana. Bilk tempat tdur Soebroto
  28. menghadap pada taman dan blumbang itu, sehingga bau
  29. neknja ditengah-tengah alam jang indah dan tenteram itu,
  30. masukkan sekolah ke Madiun. Dengan perasaan jang berat
  31. sekali dari kedua belah fihak, terdjadilah perpisahan an-
  32. tara nenek dan tjutju jang saling sajang-menjajangi itu.
  33. Soebroto dibawa pulang oleh orang tuanja ke Delopo,
  34. tarkan ke Madiun, tempat ia bersekolah, dimana ia dipon-
  35. dokkan dirumah R. Djojoatmodjo, seorang Wedana-Guru.
  36. merasa lebih senang, kalau boleh kembali kerumah nenek-
  37. jang penuh dengan bintang-bintang jang berkelip-kelip;
  38. anakku jang bekerdja dikalangan Pamong Pradja'.
  39. Daalam pada itu kenakalan Soetomo makin mendjadi-
  40. jang rendah deradjatnja, kini bertambah banjak kawan-
  41. luar sadja, tiada sungguh-sungguh sampai kelubuk hatinja.
  42. saja, bukannja dengan maksud hendak menjatakan turut
  43. berduka-tjita, melainkan hanja terdorong oleh ingin-tahu
  44. besar dan tinggi itu kupeluk dengan kedua belah tangan
  45. saja? Tak ada seorang djuapun jang dapat mendjawab soal
  46. ini. Hatiku bertanja, hatiku pula jang mendjawabnja.
  47. Saja insaf, bahwa roman muka saja tidak lagi nampak
  48. Perpustakaan Taman Siswa
  49. Sd -ea e e o da ea.
  50. lain diluar Djakarta: Magelang, Semarang dan Jogjakarta,
  51. tomo, membuka hatinja dan menimbulkan tjita-tjita jang
  52. itu Budi Utomo bersifat perhimpunan untuk umum, bukan
  53. muka putjat dan lemah lembut tutur katanja. Keadaan
  54. dabannja, setingkat ketjerdasannja, lagi mempunjai satu
  55. kerap kali mengandjurkan saja untuk menentang perbua.
  56. Dno on em komn tan.
  57. umum, sungguh luar biasa. Pada tiap pagi sebelum pergi
  58. Rumah Sakit sering orang datang menjela kesibukannja
  59. orang ialah tabiatnja jang suka terlampau berterus-terang,
  60. Sikap berterus-terang itu ada hubungannja pula dengan
  61. kebiasaannja suka menentang lawan setjara kontan. Pada
  62. waktu di Solo dalam tahun 1935 diadakan pertemuan
  63. antara para wartawan, Saeroen, seorang wartawan dari
  64. tidak segan ia menjatakan kata-kata pudjian. Demikianlah misalnja dalam buku Puspa Rinontje' ia membentangkan
  65. dengan pandjang lebar usaha-usaha seorang Belanda jang
  66. ngan terbitnja buku tersebut kita bangsa Indonesia menge-
  67. .... Kita semua berdoa agar Dr Soetomo dapat sem-
  68. besar sebagai manusia. Siapa jang sedang berhadapan muka
  69. dengan beliau, pasti merasa tengah berhadapan dengan
  70. manusia jang mulia, jang njata-njata tidak mengemukakan 'aku'-nja, melainkan benar-benar mempersatukan djiwa
  71. dengan rakjat. Segala lapangan selalu diperhatikan. Beliau
  72. DSnnk kn oen e-e on un
  73. berdjoang dalam lapangan politik, tetapi djuga giat beker-
  74. dja dilapangan pengadjaran, bekerdja dalam dunia pers,
  75. untuk pengetahuan, untuk amal, pun djuga memperhati-
  76. Dalam segala lapangan itu, beliau memberikan teladan, mengandjurkan atau menggembirakan. Hidupnja memang
  77. pengampunan segala kekurangan dalam tindak dan
  78. Tuan W. Wondoamiseno, ketua Dewan Partai Sarekąt
  79. Islam Indonesia, jang turut serta pada waktu penguburan
  80. djenazah Dr Soetomo, menulis tentang pribadi marhum
  81. Dr Soetomo a.l.:
  82. Persatuan Muslim Indonesia (Permi), sebuah partai Islam
  83. revolusioner jang kemudian dibubarkan oleh pemerintah
  84. Hindia Belanda, tak ketinggalan pula melahirkan penghormatan terhadap almarhum Dr Soetomo, jakni dengan pe-
  85. rantaraan tulisan Rasuna Said dalam madjalah Menara
  86. NASIONAL-INDONESIA"
  87. Gedung N.V. Bank Nasional Indonesia, buah usaha Dr Soetomo,
  88. jang telah banjak djasanja bagi perkembangan perdagangan dan
  89. Pada penutup tulisannja, Rasuna Said berkata: 'Kita
  90. ichlaskan tuan sekarang, meskipun dengan hati jang berat,
  91. — alam dan suasana turut ribut, ketika tuan meninggal
  92. Sebagai pemimpin suatu partai jang mau mempunjai
  93. wakil-wakil dalam Dewan-dewan itu, Dr Soetomo terma-
  94. ngeluarkan kritik jang pedas-pedas terhadap sikap dan
  95. jang keduanja membawa djiwa Dr Soetomo pula, ada
  96. baiknja diketahui rentjana-dasar partai itu. Didalam ren-
  97. tjana-dasar Parindra terbajanglah garis besar sikap Dr Soetomo sebagai pemimpin pergerakan. Rentjana-dasar itu
  98. tertera sebagai 'Keterangan azas Partai Indonesia Raja',
  99. Tudjuan dan tjita-tjita jang terachir ialah mentjapai
  100. Indonesia Mulia. Jang harus dikerdjakan selekasnja: mem-
  101. untuk bekal kelak, bilamana kemerdekaan mengatur negeri
  102. Tidak hanja soal-soal politik jang diperlukan, tetapi perlu diperhatikan sepenuhnja djuga soal menjusun peng-
  103. hidupan rakjat dengan organisasi jang sebaik-baiknja. Sedjak masa Studieclub (mulai tahun 1924) Dr Soetomo
  104. telah giat berusaha dalam lapangan sosial dan ekonomi,
  105. jang a.l. menghasilkan pendirian-pendirian seperti: rumah Pondokan Perempuan, Sekolah Tenun, Internat-internat
  106. a. Mengadakan kursus-kursus dan propaganda untuk me-
  107. nginsafkan kaum tani sebagai warga negara dengan
  108. hak-hak dan kewadjibannja.
  109. b. Mempertinggi tjara mereka bekerdja dan mengusahakan
  110. c. Mengadakan organisasi-organisasi, terutama berbentuk
  111. Oleh Departemen Sosial Parindra diusahakan a.l.: pe-
  112. liharaan kaum penganggur. Dalam usaha sosial itu Dr
  113. ruan, telah disusun rentjana perdjuangan untuk para ang-
  114. gota partai jang duduk dalam badan-badan perwakilan.
  115. Dalam rentjana itu tak dilupakan usaha kearah perbaikan
  116. besar, pembikinan tempat mandi dan tempat buang air
  117. bagi penduduk kota-besar jang tidak mampu, dan andjuran
  118. ATAS: Makam Dr Soetomo selalu menarik perhatian orang jang baru
  119. BAWAH: Presiden Soekarno bersama istri sedang mendoa untuk
  120. Andjuran Dr Soetomo itu mendapat sambutan jang
  121. 'Suluh Sarekat Sekerdja', 1934.
  122. 'Baik keneraka bersama-sama dengan rakjat daripada
  123. hidup badan sendiri disorga. Menghamba kepada keadilan
  124. dan kebenaran itu bermaksud bekerdja dan berusaha se-
  125. terusnja dengan ketetapan hati dan melintasi djalan jang
  126. itu bukan soal kita, kita wadjib mendjadi perintah partai
  127. bagai ibu sedjati.'
  128. Dari bukunja: 'Suluh Sarekat Sekerdja'.
  129. politik, dan jang paling perlu ialah mengetahui akan ke-
  130. Kongres Parindra Djakarta, 15—17 Mei 1937.
  131. Marilah selandjutnja perselisihan-persilisihan kita itu kita pandang sebagai perselisihan saudara, dan tidak kita
  132. pula. Daripada kita membuang-buang waktu dan kekua-
  133. tan, tenaga untuk bertjakar-tjakar, lebih utama kita mem- pergunakan waktu jang berharga itu untuk pekerdjaan
  134. membangun bersama-sama untuk rakjat kita.'
  135. Kongres Parindra Djakarta, 15—17 Mei 1937.
  136. 'Dengan sungguh-sungguh harus diusahakan, supaja bahasa interinsulair, bahasa perantaraan antara bangsa-
  137. bangsa dikepulauan Indonesia ini, ialah bahasa Indonesia,
  138. 'Rakjat kita mempunjai kehendak dan keinginan, jang
  139. tiap kali dinjatakan dalam njanjian, tari-tarian dan bunji-
  140. bunjian. Biasanja kita kaum terpeladjar mentertawai akan
  141. oleh rakjat itu kepada kita. Baiklah kita djaga, supaja kese-
  142. didarat, maupun diudara, digunakan tenaga terpeladjar
  143. tjerdik pandai bangsa kita? Tidakkah ini akan mendjadi
  144. itu pula sukar dapat diharapkan kemauan jang sungguh-
  145. Terdjemahan kutipan dari kata pengantar Puspita Mantja
  146. bedakan mana jang tjotjok untuk dipakai sebagai pedoman
  147. dalam menjatakan kebaktian kita itu.'
  148. DJALAN TERUS
  149. Tidakkah dalam tahun-tahun sekolah kita, kita berbuat
  150. demikian? Sebab banjaklah sudah kawan-kawan murid
  151. 8. Dr R. Soetomo: Suluh Sarekat Sekerdja, Pustaka Nasio-
  152. 9. Dr R. Soetomo: Pengadjaran dan Pendidikan, Perpusta-
  153. 10. Achdijat K. Mihardja: Polemik Kebudajaan, Balai Pus-
  154. 11. Dr M. Amir: Bunga Rampai, Toko Buku Sjarkawi,
  155. ISI BUKU
  156. I. SEDJARAH HIDUP SELAJANG PANDANG
  157. 36 Pernjataan orang-orang terkemuka tentang
  158. III. PERDJUANGAN SOETOMO DALAM KALANGAN PERGE-
  159. IV. PERTJIKAN TJITA-TJITA DAN PETUA DR SOETOMO
  160. BUKU INI DITERBITKAN SEBAGAI

RIWAJAT HIDUP DAN PERDJUANGANNJA

Unte Taa

.2 a AKAAN

SOETOMO

ITARA GRIYA

PENERBIT DJAMBATAN

TJERMIN KEHIDUPAN

*

DR SOETOMO Lukisan B. Resobowo, foto: Sjamsuddin Js

IMAMSUPARDI

DRSOETOMO

RIWAJAT HIDUP DAN PERDJUANGANNJA

BERPUSAT DI

TAMAN SISWA

YOGYAKARTA

PENERBITDJAMBATAN

923.2 1mg
Copyright by Djambatan D Djakarta | Amsterdam, 1951

C.l
PBRPUSTAKAAN MUSIUM DEWANTARA KIRTIGRIYA

O.V3025-TS/20/4 AHNN:2014

BAB I. SEDJARAH HIDUP SELAJANG PANDANG

Pak Tom! Demikianlah almarhum Dr Soetomo biasa di- sebut oleh kawan-kawan seperdjuangannja dan oleh para pengikutnja. Pengikut Dr Soetomo ialah rakjat Indonesia dalam arti seluas-luasnja, jaitu meliputi lapisan bawah sampai kelapisan atas. Bagi mereka jang hidup didekatnja, sebutan ‘Pak’ itu mengandung arti 'bapak’dalam segala hal. Bagi jang lain, Dr Soetomo adalah 'bapak pergerakan nasional Indonesia'. Tjinta dan simpati kawan-kawan se- perdjuangan dan para pengikutnja itu terbukti dengan njata sekali pada waktu Pak Tom' wafat: pernjataan turut berduka-tjita melimpah-limpah seperti tidak pernah sebe- lum itu ditundjukkan orang terhadap seorang pemimpin pergerakan nasional Indonesia jang meninggal dunia. Soetomo dilahirkan di Ngepeh, kabupaten Ngandjuk, residensi Kediri, pada tanggal 30 Djuli 1888. Setelah ke- luar dari sekolah rendah, ia meneruskan peladjaran kese- kolah dokter di Djakarta. Disekolah itulah, pada 2o Mei 1908, didirikan olehnja, bersama dengan beberapa orang temannja, perkumpulan pemuda ‘Budi Utomo', jang mula- mula hanja bertudjuan memadjukan pengadjaran sadja,

I

tetapi kemudian tumbuh mendjadi perkumpulan nasional

jang bergerak dilapangan politik, ekonomi dan sosial. Tanggal kelahiran Budi Utomo kemudian dianggap seba-

gai tanggal kelahiran pergerakan nasional Indonesia.

Pada tahun 1911 Soetomo lulus dari Sekolah Dokter dengan tidak diudji lebih dulu, bersama-sama dengan dela- pan orang temannja. Ia terus diangkat sebagai dokter di Stadsverband Semarang. Sampai pada tahun 1919 ia tiap tahun dipindahkan ketempat lain, jaitu berturut-turut ke Tuban, Lubuk Pakam (Sumatera), Kepandjen, Magetan, Blora dan Baturadja (Sumatera). Disemua tempat itu ia senantiasa melakukan kewadjibannja dengan kesungguhan hati dan mentjurahkan segenap tenaganja. Disamping itu iapun bekerdja untuk berbagai-bagai perhimpunan jang menjelenggarakan kepentingan umum; banjak pula ia dengan langsung memberikan pertolongan kepada orang-orang jang menderita kesukaran. Waktu dokter Soetomo diperbantukan pada rumah sakit Zending di Blora pada tahun 1917, ia berkenalan dengan seorang wanita Belanda jang bekerdja disitu sebagai zuster. Dengan zuster ini, njonja E. Bruring, jang telah kematian suaminja, ia kemudian kawin. Pada tahun 1919 dokter Soetomo melandjutkan pela- djarannja kenegeri Belanda. Sesudah menempuh udjian, ia bekerdja pada klinik dermatologi Universiteit, jang di-

pimpin Prof. Mendes da Costa, di Amsterdam. Kemudian

ia pindah pada Dermatologicum Prof. Unna di Hamburg,

lalu mendjadi pembantu Prof. Dr Plant di Weenen. Ketika berada dinegeri Belanda ia turut mendirikan dan

pernah pula mendjadi ketua Indonesische Vereniging' jang

kemudian berganti nama Perhimpunan Indonesia'. Pada bulan Djuni 1923 Dr Soetomo pulang ke Indonesia. Kepada teman-temannja jang masih tinggal dinegeri Belanda, ia antara lain berpesan, hendaknja mereka

berdjuang terus dan ia mengharap akan bertemu lagi

dengan mereka kelak dikalangan perdjuangan ditanah

air, dimana dibutuhkan pemimpin sebanjak-banjaknja. Setelah tiba kembali di Indonesia Dr Soetomo didjadi- kan Guru pada Sekolah Dokter di Surabaja. Disamping pekerdjaan itu ia tetap giat berdjuang untuk kemadjuan masjarakat dan bangsa Indonesia. Sudah sewadjarnjalah, bahwa ia kemudian diangkat sebagai anggota Dewan Kota (Gemeenteraad). Tetapi tidak lama ternjatalah kepadanja, bahwa perdjuangannja untuk membela kepentingan rakjat dalam Dewan itu tidak membawa hasil jang diharap- harapkannja. Oleh karena itu bersama-sama dengan ka- wan-kawannja, jaitu: R. M. H. Soejono, M. Soendjoto dan Asmowinangoen, mogoklah ia, keluar dari badan perwakilan tersebut. Tindakan itu adalah pemogokan' jang pertama terdjadi dalam suatu dewan perwakilan di Indonesia. Dalam kalangan pergerakan timbul karenanja ber- matjam-matjam kesan: sebagian diantara kaum pergerakan menjetudjui tindakan itu dan menganggapnja sebagai suatu langkah jang tepat dan bidjaksana; sebagian lagi menjata- kan, bahwa sebaiknja Dr Soetomo djangan meninggalkan Gemeenteraad, karena dengan oposisi jang dilakukannja didalam badan perwakilan itu achirnja pasti akan tertjapai hasil jang bermenfaat bagi rakjat. Diantara golongan jang menjesali tindakan Dr Soetomo itu terdapat Tan Malaka,

jang mengatakan, bahwa orang sebagai Dr Soetomo itu

dengan ketjerdasannja pasti achirnja dapat menginsafkan lawannja dalam Gemeenteraad. Tetapi bagaimanapun djuga, Dr Soetomo tetap tidak mau duduk dalam Gemeenteraad lagi, karena jakin, bahwa ia diluar badan per-

wakilan itu akan dapat mentjapai hasil jang lebih baik bagi kepentingan rakjat.

Pada tanggal 4 Djuli 1924 ia mendirikan Indonesische

Studieclub', suatu perhimpunan bagi kaum terpeladjar untuk menjelidiki hal-hal dan kemungkinan-kemungkinan jang dapat memadjukan ketjerdasan dan perkembangan politik jang berguna bagi rakjat Indonesia. Sebagai ichtiar

untuk mempererat tali persatuan dikalangan perhimpunan

itu, pengurus Indonesische Studieclub disusunnja dari ang-

gota-anggota jang berasal dari berbagai-bagai daerah Indonesia. Usahanja jang lain kearah pemberantasan provin- sialisme’ ialah mengadakan ‘interinsulaire dag' jang ter- djadi pada 11 Djuli 1925, jang a.l. mendapat bantuan dari seorang kiri, Muso, dari 'Sarekat Rakjat'. Pada hari tersebut diundang putera Indonesia dari berbagai daerah untuk berkumpul di Gedung Perlindungan Peladjar, Surabaja. Indonesische Studieclub menerbitkan madjalah bulanan berbahasa Belanda: 'Suluh Indonesia', jang dalam hampir tiap nomor terdapat buah pena Dr Soetomo, Kemudian madjalah ini disatukan dengan madjalah 'Indonesia Muda', jang diterbitkan oleh Algemene Studieclub jang dipimpin oleh Ir Soekarno di Bandung. Nama madjalah baru itu djadi: 'Suluh Indonesia Muda'. Untuk rakjat umum diterbitkan mingguan dalam bahasa Indonesia: 'Suluh Rakjat Indonesia', jang isinja bersifat penerangan dan pendidikan kearah persatuan dan kesa- daran nasional. Bahwa Dr Soetomo diakui sebagai seorang pemimpin jang pandai mendamaikan golongan-golongan jang berten- tangan paham, terbukti a.l. dalam tahun 1926, waktu di Surabaja terbit perselisihan jang hebat antara kaum buruh dan kaum madjikan. Dr Soetomo diundang dan diminta mendjadi pendamai. Berkat kebidjaksanaannja dapat ter- tjapai penjelesaian pertentangan jang memuaskan bagi kedua pihak. Diwaktu lain ia berhasil pula mendamaikan Sarekat Islam dan Muhammadijah, jang tentang-menen- tang. Pada tahun 1927 Dr Soetomo menerima surat angkatan mendjadi anggota Dewan Rakjat. Meskipun ia sendiri se- benarnja dapat menerima angkatan itu begitu sadja, na- mun karena ia merasa sepatutnja sebagai anggota Studieclub menjerahkan putusan kepada perhimpunan itu, soal tersebut diserahkan kepada Studieclub. Karena tenaga dan fikiran Dr Soetomo dianggap oleh Studieclub lebih

baik ditjurahkan diluar Dewan Rakjat, jang ternjata telah memberi manfaat bagi rakjat, sedangkan keanggotaan Dr Soetomo dalam Dewan Rakjat belum tentu akan mem- bawa keuntungan, Studieclub menolak pengangkatan tadi. Untuk memperkuat pergerakan politik, pada achir tahun 1927 beberapa partai politik (a.l. Budi Utomo, Partai Nasional Indonesia, Sarekat Islam, Pagujuban Pasundan, Serikat Kaum Betawi, Sumatranenbond, beberapa Studieclub) mengadakan badan gabungan dengan nama Madjelis Permufakatan Perkumpulan-Perkumpulan Politik Kebang- saan Indonesia (P.P.P.K.I.). Sebagai ketua Madjelis P.P.P.

K.I. itu diangkat Dr Soetomo. Pada 16 Oktober 193o timbullah sebuah partai politik jang diketuai oleh Dr Soetomo, jaitu Persatuan Bangsa Indonesia (P.B.I.). Partai ini adalah pendjelmaan Indone- sische Studieclub, jang pada waktu itu ditimbang sudah tjukup masak untuk dilebur, karena telah datang temponja bekerdja langsung untuk kemadjuan rakjat. Untuk penerangan dan tuntunan bagi rakjat djelata Dr Soetomo mengusahakan penerbitan sebuah surat kabar dengan bahasa Djawa dan Madura: 'Swara Umum'. Sete- lah meningkat kemadjuannja, madjalah ini didjadikan harian nasional berbahasa Indonesia dengan nama: 'Suara Umum'. Atas inisiatif Dr Soetomo pada achir Desember 1931 di- selenggarakan Kongres Indonesia Raja jang pertama. Pada waktu itu Ir Soekarno, Ketua Partai Nasional Indonesia, djustru keluar dari pendjara Sukamiskin. Untuk menjong- song pemimpin jang sangat populer inilah Kongres Indonesia Raja itu diadakan. Dalam Kongres itu selain lebih eratnja persatuan, ditjapai pula hasil-hasil lain untuk kemadjuan bangsa Indonesia. Usaha Dr Soetomo dalam hal mempersatukan apa jang mungkin dipersatukan, mendapat hasil jang bagus sekali pada 24 Desember 1935, waktu diadakan fusi antara Persatuan Bangsa Indonesia (P.B.I.) dan Budi Utomo. Partai

jang didjelmakan dari kedua partai tadi diberi nama Partai Indonesia Raja, jang lebih terkenal dengan nama singka. tan: Parindra. Pada pemilihan setjara undian untuk mene- tapkan ketua Parindra jang pertama antara Dr Soetomo dan K.R.T.H. Woerjaningrat, bekas ketua Budi Utomo jang terachir, ternjata bahwa Dr Soetomolah jang terpilih. Parindra sedjak didirikan itu terus madju dengan pesat. Anggotanja terdapat dimana-mana diseluruh Indonesia. Perhimpunan 'Kaum Betawi' jang dipimpin oleh M. H. Thamrin dan perhimpunan 'Tirtajasa’ kemudian djuga menggabungkan diri pada Parindra. Pada bulan Maret 1936 Dr Soetomo bepergian keluar negeri, menindjau negeri-negeri Djepang, Malaka, India, Sailan, Mesir, Nederland, Inggris, Turki, dan singgah djuga di Palestina. Disemua negeri jang dikundjunginja itu dipeladjarinja segala sesuatu jang kiranja dapat didjadikan tjontoh bagi Indonesia. Demikianlah maka didalam ichtisar perdjala- nannja dituliskan a.l.: tentang bangsa Djepang jang mem- punjai keuletan bekerdja dan kepandaian meniru ketjaka- pan serta keradjinan bekerdja bangsa Barat dengan tidak melupakan kebudajaan sendiri, tentang soal-soal kerocha- nian dan kebudajaan India jang dalam berbagai-bagai hal sekeluarga dengan Indonesia, tentang bangsa Sailan, jang diantaranja terdapat turunan bangsa Indonesia jang dine- geri Sailan merupakan golongan penduduk jang terkemuka, karena tinggi tingkatan kemadjuannja. Kini ternjata, bahwa perhubungan jang dilakukan oleh Dr Soetomo dengan orang-orang terkemuka di Sailan itu mendjadi dasar untuk perhubungan jang membawa man- faat bagi perdjuangan kemerdekaan Indonesia. Bukankah Republik Indonesia telah menerima bantuan jang tidak ketjil nilainja dari orang-orang terkemuka Sailan seperti Dr Drahaman, Mr. T. B. Jayah, Mr. Saldin, Mr. T. H. Burah, Mr. Senanayaka, dll. lagi?

Tentang Mesir Dr Soetomo menundjukkan sifat-sifat ke-

modernan, a.l. dalam susunan Bank of Mesir, jang dikemukakan sebagai tjontoh bagi kaum Muslimin di Indonesia untuk menjusun organisasi jang rapi dan dapat dibang- gakan. Tentang Inggris banjak ditjeriterakan usaha-usaha dalam lapangan pekerdjaan sosial jang dilakukan oleh kaum wanita; dikemukakannja, bahwa kaum wanita Inggris tidak malu-malu mengerdjakan sendiri pengumpulan uang der- ma guna pemberantasan berbagai-bagai penjakit, guna pemeliharaan penderita sakit paru-paru, dan sebagainja. Tentang Turki dikemukakan betapa sikap bangsa Turki terhadap agama Islam, adanja pendirian-pendirian jang modern menurut aliran dan tjara Barat. Ia mengandjurkan hendaknja apa jang dikemukakannja itu dapat menimbul- kan kesadaran pada bangsa Indonesia untuk mengatur organisasi jang baik dan berguna untuk pesatnja kemadjuan Nusa dan Bangsa. Tentang Palestina ditjeriterakan keadaan tempat-tempat jang bersedjarah, jang ia telah memerlukan mengun- djunginja. Tentang bangsa dan negeri Belanda, Dr Soetomo a.l. mengemukakan perhubungan-perhubungan jang dilaku- kannja dengan para tjerdik-pandai: Mr Crena de Jong, Professor Baron van Asbeck, Prof. Idema, Prof. Berg, Prof. Schrieke dan lain-lain sardjana. Didalam suatu pertemuan jang diselenggarakan oleh Indisch Genootschap ia menga- dakan chotbah tentang soal pengadjaran bagi Indonesia. Dalam suatu pertemuan jang lain ada seorang Belanda terkemuka jang memadjukan pertanjaan, bagaimana sikap bangsa Indonesia kelak kiranja, apabila bangsa Indonesia sudah sungguh-sungguh mentjapai kemerdekaannja, apakah kiranja orang-orang Belanda akan diusir? Pertanjaan ini dibalas dengan pertanjaan kembali: ‘Apakah ketika Nederland dulu dilepaskan oleh Sepanjol, bangsa Sepanjol bekas pendjadjah Nederland itu diusir oleh bangsa Belanda?" Dengan ramah Dr Soetomo mejakinkan pende-

ngar-pendengarnja, bahwa bangsa Indonesia kiranja tidak

akan bersikap sebagai suatu bangsa jang mempunjai pendi-

rian kebangsaan jang sempit, hingga menolak persahabatan dan persaudaran dengan bangsa lain. Segala kisah perdjalanan Dr Soetomo itu dipaparkannja dalam harian nasional jang diterbitkan atas usahanja sen- diri, jaitu Suara Umum dan Tempo di Surabaja, Pewarta Umum di Solo, Berita Umum di Djakarta dan mingguan Panjebar Semangat. Pun pernah diterbitkan orang buku ten- tang perdjalanannja itu, jaitu dengan nama ‘Puspita Mantja Negara' dan 'Melawat ke Mesir'. Pada 15 Mei 1937, pada waktu Dr Soetomo baru sadja tiba kembali di Indonesia dan Parindra mengadakan kon- gresnja jang pertama di Djakarta, ia dipilih lagi oleh kon- gres sebagai ketua umum partai. Sedjak itu tiada berhentinja ia bepergian kemana-mana untuk kepentingan partai maupun untuk kepentingan umum. Sebagai seorang dokter jang tjinta kepada rakjat, sehabis dan sebelum melakukan kewadjibannja sehari-hari sebagai tabib di Rumah Sakit Pusat dan sebagai guru Seko- lah Dokter, pada tiap pagi dan petang hari ia menerima tamu-tamu jang berobat, tamu-tamu itu beratus-ratus banjaknja — dari segala bangsa — semuanja ditolong dengan senang hati dan tidak diwadjibkan membajar ongkos. Pada bulan April 1938 Dr Soetomo djatuh sakit. Menu- rut penuturan keluarganja baru itulah Dr Soetomo sedjak mengindjak umur dewasa, menderita sakit. Sakitnja makin hari makin keras, hingga pada tanggal 30 Mei 1938, berte- patan hari Senen Kliwon, pada djam 16.15 pemimpin jang sangat dihargai oleh bangsa Indonesia itu menutup mata untuk selama-lamanja. Ia meninggal dengang tenang. Pesan jang ditinggalkan kepada kawan-kawannja ialah: hendaknja mereka itu berdjuang terus sampai tertjapai idam-idaman kemuliaan bagi Nusa dan Bangsa.

Ia minta sedapai mungkin hendaknja djenazahnja diku-

bur dihalaman Gedong Nasional, Surabaja. Dalam pada itu dari fihak keluarga Mangkunegoro VII dimadjukan permintaan untuk mengubur djenazah itu dimakam keluarga istana di Surakarta, sedangkan para bangsawan Surabaja minta, agar ia dimakamkan ditempat makam para bupati di Surabaja; tetapi achirnja diputuskan, bahwa djenazah Dr Soetomo dikubur ditengah-tengah halaman Gedong Nasional, Surabaja. Betapa besar penghormatan pada waktu pemakaman itu terbukti a.l. dari datangnja 163 putjuk surat kawat dan beratus-ratus surat biasa untuk menjatakan berduka-tjita dari segala lapisan dan segala bangsa. Karangan bunga jang diterima oleh panitia pemakaman ada 364 buah, sedangkan nama tamu-tamu jang datang mendjenguk keluar- ganja, pada waktu sebelum djenazah dikubur, memenuhi empat buah buku berkabung jang sangat tebal-tebal. Djumlah orang jang mengiringkan upatjara penguburan, menurut taksiran tidak kurang dari 6o.ooo orang, dian- taranja banjak jang datang dari luar Surabaja, seperti Ki Hadjar Dewantara, K.R.T. Woerjaningrat, Mr Muham- mad Yamin, M.H. Thamrin. Tak ketinggalan pula orang-orang terkemuka bangsa Belanda, Tionghoa, India dan Arab. Pesan Dr Soetomo jang terachir, jang diutjapkan kepada tuan Sudirman, pada waktu ia merasa tidak lama lagi akan wafat, jaitu di Rumah Sakit Pusat (C.B.Z.) Surabaja, adalah sebagai berikut: ‘Saudaraku, pesanku padamu dan pada saudara-saudara lain semuanja jang akan kutinggalkan, bekerdjalah terus untuk kemadjuan pergerakan kita. Ketahuilah olehmu, saudara, bahwa pergerakan bangsa kita, masih harus ber- kembang, harus bersemi dan harus selalu madju. Oleh karena itu, saudara, sampaikanlah pesanku kepada saudara-saudara semuanja jang tidak dapat mengundjungi saja kemari; bersama-samalah bekerdja lebih giat dan kuat guna kemadjuan pergerakan dan perdjoangan kita sehingga tertjapai kemerdekaan dan kemuliaan bangsa'.

Keinginannja jang terachir diutjapkan, ketika hendak mangkat, kepada adiknja, Dr Soeratmo, pada tanggal 29 Mei 1938, ialah sebagai berikut: 'Kalau Tuhan Allah sungguh-sungguh akan memanggil saja pulang kezaman baka, saja ingin sekali dikuburkan dihalaman Gedong Nasional, diantara rakjat bangsaku. Djika ditempat ini tidak mungkin, berharaplah saja, supaja dikubur didesa Ngepeh (Ngandjuk), tempat kelahiranku, didekat blumbang (kolam) jang dilingkungi bunga melati, jang dahulu semasa masih kanak-kanak atjap kali mendjadi tempatku berdjalan-djalan dengan nenekku perempuan'. 'Aku berpesan, hendaknja perusahaan 'Indonesia' jang menerbitkan surat-surat kabar ‘sUARA UMUM' dan PANJE-BAR sEMANGAT' dipelihara dengan sebaik-baiknja, sehingga tetap mendjadi perusahaan nasional jang sehat dan ber- kembang, karena itu adalah alat untuk memberi penerangan dan tuntunan bagi rakjat kita'. Rumahku jang terletak didesa Tjlaket beserta isinja

hendaklah diwakafkan untuk partai sebagai rumah pa-

sanggrahan'.

Sebagian besar dari harta peninggalanku hendaklah di-

pergunakan untuk satu fonds jang bunganja guna menolong anak-anak bangsa kita jang mempeladjari soal ekonomi dan

lain-lainnja'.

BERPUSAT DI

TAMAN SISWA

YOGYAKARTA Bdtso

BAB II. MANUSIA SOETOMO

MASA KETJIL

Ketika Njonja R. A. Soewadji, ibu Dr Soetomo, hendak melahirkan puteranja, ia dibojongi oleh orang tuanja dari rumah suaminja didesa Pelem kedesa Ngepeh, daerah Ngandjuk. Sebabnja ialah, karena orang tuanja ingin dapat menunggui dan memelihara sendiri anaknja perempuan jang baru pertama kali hendak beranak. Sedjak Soebroto, demikianlah nama pemberian ajahnja waktu Dr Soetomo baru dilahirkan, keluar dari kandungan ibunja sampai ia hampir berumur 6 tahun, ia diasuh oleh neneknja didesa Ngepeh itu. Karena asuhan nenek suami-isteri, jang sangat sajang kepada tjutju jang pertama itu, kehidupan Soebroto semasa ketjil itu penuh dengan peristiwa-peristiwa jang diliputi oleh suasana kesajangan, jang dalam hidup Dr Soetomo selandjutnja merupakan kenang-kenangan jang tidak dapat dilupakan. Suatu bukti tentang kesajangan nenek itu ialah tjara pembojongan Njonja Soewadji dari Pelem (Djombang) ke Ngepeh (Ngandjuk) tadi, jang atas pesan orang tuanja harus dilakukan dengan dipikul dalam sebuah tandu, meskipun antara Djombang dan Ngandjuk ada perhubungan kereta-api.

II

Tjara pengangkutan sedemikian itu ialah untuk men- djaga, djangan sampai sang djabang baji didalam gua-garba si-ibu dalam perdjalanan terguntjang-guntjang. Perdjalanan dengan tandu tadi memakan waktu dua hari lamanja; ketjuali empat orang pemikul tandu, turut serta pula pengawal jang bersendjata tombak dan pedang, sedangkan suami Njonja Soewadji, jang pada waktu itu mendjadi guru Sekolah Rakjat, turut mengantarkan isterinja. Nenek Soebroto itu adalah tuan R. Ng. Singowidjojo, jang kemudian, sesudah naik hadji, bernama Kyai Hadji Abdurrachman. Ia dan isterinja terkenal sebagai orang jang sangat saleh dan baik budi pekertinja. Suatu kebiasaan nenek suami isteri itu, menurut ingatan Dr Soetomo, ialah hampir setiap malam mereka itu keluar dari rumahnja, duduk dihalaman untuk bersamadi. Nenek laki-laki, jang keluar dari sebelah Timur rumahnja, sambil menuntun Soebroto, berdjalan perlahan-lahan mengeli- lingi rumah; setiba didepan rumah bertemu dengan nenek perempuan jang keluar dari sebelah Barat rumah; disana mereka itu duduk berdjadjar, tiada berkata-kata, masing- masing memudja, sambil menghitung tesbih ditangannja. Soebroto tidak mengerti apa arti perbuatan neneknja itu, tetapi hal itu tidak luput meninggalkan kesan jang sangat mengharukan djiwanja; hal itu terlebih-lebih tera- sanja, apabila bulan sedang memantjarkan tjahaja jang terang benderang. Ia merasa dirinja sangat ketjil, tetapi hatinja penuh dengan ketenangan dan ketenteraman oleh bimbingan tangan nenek laki-laki, dan setelah diam ber- diri disamping nenek perempuan jang mengekap badannja, terasalah olehnja, betapa aman dan damainja pengaruh perlindungan kedua orang nenek jang tertjinta itu. Timbul dalam djiwanja perasaan chidmat, pada hal siang harinja sering kali nenek itu dipermain-mainkan olehnja. Soebroto hidup dimandjakan oleh neneknja. Segala ke- inginan dan kemauannja selalu dituruti. Kalau Soebroto kebetulan marah dan meradjuk pada orang lain, kedua

Dr Soetomo — 28 Juli 1934

orang tua itupun turut marah pula, sehingga tak ada seorangpun didalam rumah berani berlaku sembarangan padanja. Djuga mamak-mamaknja tidak berani marah kepada Soebroto, bahkan mereka itu merasa takut, sering bertjampur rasa dengki, pada tjutju jang tertjinta itu. Begitu besar tjinta nenek itu, sehingga apabila sang tjutju merasa sedih, tergambar pula pada wadjah orang tua itu perasaan sedih. Untuk menjenangkan hati Soebroto, tuan Singowidjojo antara lain memelihara seekor domba jang sangat besar. Tetapi, apa latjur, pada suatu hari datang seorang pegawai Pamong Pradja dirumah neneknja, dan setelah dilihatnja domba jang sebesar dan sebagus itu berkatalah ia kepada nenek Soebroto: 'Saja rasa kurang pantas kambing ini dipelihara diha- lamanmu ini, sebaiknja ia digembalakan dihalaman ru- mahku'. Mendengar perkataan itu mengertilah nenek Soebroto, bahwa tamu itu menghendaki dombanja. Walaupun de- ngan sedih hati, pada keesokan harinja domba itu dikirim kekota ketempat kediaman pegawai Pamong Pradja tadi. Sebelum itu pernah pula terdjadi, bahwa seorang isteri pegawai Pamong Pradja jang datang berkundjung ke Nge- peh, berakibat dipindahkannja seekor burung djalak jang pandai berkitjau, jang sangat digemari oleh Soebroto, kerumah prijaji Pamong Pradja jang isterinja telah melihat- lihat burung tadi. Dua peristiwa tersebut sangat menusuk hati Soebroto jang masih ketjil itu dan meninggalkan bekas jang tidak dapat dilupakan. Disebelah rumah neneknja terdapat sebuah blumbang jang djernih airnja, dan didalamnja dipelihara bebera- pa puluh ekor ikan gurami. Tepi blumbang itu dita- nami bunga melati dan mawar, sedangkan disalah satu

pendjurunja ada sebatang pohon manggis jang pada ma

sanja sangat lebat buana. Bilk tempat tdur Soebroto

menghadap pada taman dan blumbang itu, sehingga bau

harum bunga-bunga tadi sering terbawa oleh hembusan angin masuk memenuhi bilik itu. Suasana indah tenteram itu sangat mempengaruhi djiwa Soebroto, dan harum melati membangkitkan semangat tjinta kepada alam. Pada waktu Dr Soetomo telah harum namanja sebagai nasionalis jang terkemuka, ia sering mengandjur-andjurkan, agar bangsa Indonesia suka berbakti dan ingat akan lam- bang bunga melati jang dianggap olehnja sebagai bunga nasional. 'Bunga melati nampak sederhana, mudah dipelihara sebagai sifat orang Indonesia, baunja semerbak harum, besar nilainja bagi penghidupan orang Indonesia', demikian pan- dangan Dr Soetomo tentang bunga melati. 'Sedjak kita masih ketjil, biasa kita mentjium bau melati jang menghiasi sanggul Ibu jang mendukung kita. Pada waktu orang men- djadi penganten, bunga melatipun memegang peranan penting dalam upatjara perkawinan. Bukankah hiasan gelung penganten perempuan dan untaian bunga jang dike- nakan dileher keris penganten laki-laki dibuat dari pada bunga melati? Malahan diwaktu orang meninggal dunia bunga melati tak ketinggalan. Bunga melatilah jang dipakai untuk meng- hias keranda waktu djenazah hendak dimakamkan, dan diwaktu orang berziarah kemakampun biasanja bunga melati pula jang ditaburkan diatas kubur. Selagi bunga jang sederhana udjudnja itu besar faedahnja dalam kehidupan manusia, apakah kita manusia tidak dapat berguna bagi masjarakat? Dr Soetomo pernah mentjeriterakan kepada sahabat- sahabatnja, bahwa ia masih dapat melukiskan keindahan sekitar blumbang neneknja itu. Pada suatu waktu Soebroto diadjak oleh nenek perempuannja duduk ditepi blumbang melihat-lihat ikan gurami jang berkedjar-kedja- ran didalam air kolam jang djernih itu; angin berhembus sepoi-sepoi, hingga Soebroto tertidur diatas ribaan ne-

neknja ditengah-tengah alam jang indah dan tenteram itu,

Kedjadian itu sering terlintas dalam kenang-kenangan Dr Soetomo. Blumbang itu djuga mendjadi pusat terpenting dalam kehidupan sehari-hari keluarga R.Ng. Singowidjojo. Sedih, dan gembira keluarga seakan-akan berputar-putar disekitar blumbang itu. Kalau datang anggota keluarga jang djauh-djauh tempat tinggalnja, merekapun sering berdjam-djam berkumpul ditepi blumbang itu, bertjakap-tjakap dengan bersungguh-sungguh ataupun bersenda-gurau dengan ri- angnja. Sebenarnja ada dua buah blumbang dihalaman rumah

R.Ng. Singowidjojo. Jang sebuah, ialah jang tadi itu, adalah dibawah pengawasan nenek perempuan, sedangkan jang lain, jang letaknja didekat surau, seakan-akan milik nenek laki-laki. Blumbang jang achir ini disediakan untuk para santeri jang bersembahjang disurau, sedangkan blumbang jang didekat rumah dipakai oleh anak-anak perempuan jang beladjar mengadji pada nenek puteri.
DISEKOLAH RENDAH Waktu mendjelang umur 6 tahun, terpaksalah Soebroto meninggalkan kehidupan sebagai anak jang serba diman- djakan itu. Pada suatu hari datang ajah dan ibunja di Ngepeh untuk mengambil Soebroto kembali: ia akan di-

masukkan sekolah ke Madiun. Dengan perasaan jang berat

sekali dari kedua belah fihak, terdjadilah perpisahan an-

tara nenek dan tjutju jang saling sajang-menjajangi itu.

Soebroto dibawa pulang oleh orang tuanja ke Delopo,

tempat bekerdja ajahnja sekarang. Dari Delopo ia dian-

tarkan ke Madiun, tempat ia bersekolah, dimana ia dipon-

dokkan dirumah R. Djojoatmodjo, seorang Wedana-Guru.

Dipondokan itu Soebroto ditempatkan disebuah kamar jang djauh lebih baik dan bersih daripada bilik anak-anak lainnja jang memondok disitu, tetapi dalam hatinja ia

merasa lebih senang, kalau boleh kembali kerumah nenek-

nja didesa itu. Tidak lama Soebroto tinggal dirumah R. Djojoatmodjo itu, karena ajahnja kemudian mendapat pekerdjaan seba- gai Adjun-Djaksa di Madium itu pula, sehingga Soebroto lalu tinggal dirumah ajah-ibu sendiri. Tetapi hidup diba- wah asuhan orang tuanja sendiri itupun tidak lama djuga, karena ajahnja ingin memasukkan dia kesekolah Belanda, agar lebih pesat mendapat kemadjuan. R. Soewadji, ajah Soebroto, mendengar kabar, bahwa disekolah rendah Belanda di Bangil ada kesempatan buat anak Indonesia untuk memasukinja. Soebroto pun dikirimkanlah ke Bangil, di- pondokkan dirumah mamaknja, Ardjodipuro, seorang guru. Disinilah Soebroto terpaksa berganti nama Soetomo. Sebabnja ialah, karena waktu dimasukkan sekolah rendah Belanda di Bangil itu ia mula-mula ditolak. Anak mamaknja sendiri, Sahit, dapat diterima. Tuan Ardjodipuro lalu menggunakan akal, agar Soebroto dapat pula diterima. Pada keesokan harinja Soebroto dibawanja lagi kesekolah dan dimintakan tempat dengan dikatakan, bahwa anak jang dibawanja itu adalah Soetomo, adik Sahit jang telah diterima masuk sekolah. Permintaan itu dapat dikabulkan, dan sedjak itu nama ‘Soetomo' tetap dipakai. Dirumah tuan Ardjodipuro itu Soetomo mengalami sua- sana penghidupan jang baru lagi. Tuan Ardjodipuro adalah seorang ahli kebatinan jang gemar tirakat, jaitu makan, minum dan tidur djauh kurang daripada ukuran buat ke- biasaan orang. Ia sebenarnja keturunan Pangeran Dipo- negoro, telah melarikan diri dari Mataram, karena diburu oleh Belanda. Agar rahasianja itu tidak diketahui orang, ia telah membuang gelar kebangsawanannja dan mengaku keturunan orang biasa. Djiwa Soetomo pun dirumah Ardjodipuro itu terpengaruh oleh tjara hidup mamaknja. Ia tiada lagi makan kenjang-kenjang seperti biasa; dima- lam hari ia sering turut keluar rumah, memandang langit

jang penuh dengan bintang-bintang jang berkelip-kelip;

ia diadjar pula mengheningkan tjipta dan memusatkan perasaan dan pikiran sambil memandang dengan tenang kesatu djurusan, berganti-ganti kelangit, kebumi, ke Barat, Timur, Selatan dan Utara. Soetomo jang seketjil itu mela- kukan segala petundjuk mamaknja dengan tidak mengerti benar apa maksudnja. Tetapi lama-kelamaan iapun merasa, bahwa kenakalan-kenakalan jang dulu waktu di Ngepeh dan di Madiun sering dilakukannja, sekarang tidak patut lagi dilakukan, terutama bila ia berhadapan dengan mamaknja. Makin hari Soetomopun merasa makin tenang hatinja dan iapun makin merasa takut pada Tuhan. Sahit jang duduk sekelas dengan Soetomo, disekolah ter- njata djauh lebih pandai dan tjakap daripada Soetomo. Kelakuannjapun djauh lebih baik dan lebih suka menurut pada guru dan orang tuanja. Sampai dalam olah-ragapun Soetomo kalah dengan Sahit. Dikelas ia biasa menurun peladjaran dari Sahit atau dari murid-murid lainnja. Soetomo gemar sekali bermain-main dan ... berkelahi. Tidak djarang ia pulang kerumah dengan muka jang bengkak serta badju kojak, bekas berkelahi dengan teman-teman sekolahnja, anak-anak Belanda. Ia tidak takut me- lawan sinjo-sinjo jang badannja lebih besar daripadanja, tetapi dalam perkelahian itu ia tidak pernah menang. Karena keberaniannja itu, lama-kelamaan teman-teman- nja malah dapat menghargainja, sehingga tumbuh rasa persahabatan. Anak-anak perempuan banjak jang suka memihak atau membela Soetomo, karena ia lebih ketjil dan lebih muda daripada kawan-kawannja, lawan ia berkelahi. Diwaktu libur Soetomo biasanja tidak pulang kerumah orang tuanja, melainkan kerumah neneknja di Ngepeh. Selama liburan itu kembalilah ia hidup mewah dan mandja. Nenek Soetomo mempunjai keinginan, bahkan kepertjajaan, bahwa tjutjunja kelak akan mendapat pang- kat jang tertinggi dalam dunia pemerintahan. Kepertjajaan

itu didasarkan kepada hari kelahiran Soetomo, jaitu Minggu bertepatan dengan hari pasaran Legi, djatuh pada Wuku jang baik, jang menurut perhitungan pawukon mem- bawa deradjat tinggi. Karena itu R.Ng. Singowidjojo ber- tjita-tjita, agar Soetomo melandjutkan peladjaran kesekolah Pamong Pradja. Ia sering memperingatkan tjutjunja, djangan sampai mau, djika ajahnja menjuruhnja beladjar kesekolah lain. Namun, betapapun djuga, tjita-tjita sang nenek itu tidak terkabul: Soetomo menuruti permintaan ajahnja untuk melandjutkan peladjarannja kesekolah dokter. Salah satu hal jang menjebabkan Soetomo tertarik kesekolah dokter itu ialah: pakaian murid 'Sekolah Dokter Djawa' pada waktu itu. Seorang mamak Soetomo jang djadi murid Sekolah Dokter Djawa itu, Suratin namanja, pada suatu kali dimasa libur pernah datang kerumahnja. Pada mata Soetomo, sungguh gagah dan tampan murid Sekolah Dokter dengan pakaiannja jang indah itu: badju putih bersih, serta pitji pakai pasmen mas! Djauh lebih menarik daripada pakaian pegawai Pamong Pradja, seperti ajahnja sendiri, jang hanja boleh memakai badju hitam sadja! Lain daripada itu ada suatu peristiwa jang menjebabkan Soetomo tidak suka djadi pegawai Pamong Pradja. Pada suatu hari, ketika ajahnja masih mendjabat Asisten Wedana, pernah ia pagi-pagi terbangun, karena kesibukan didalam rumah; ibunja membakar roti, pelajan-pelajan sibuk menjediakan penganan untuk makan pagi dan bekal bagi ajahnja jang hendak bepergian dinas. Sambil menge- nakan pakaian, ajahnja menggerutu menjumpah-njumpah pekerdjaannja jang terasa sangat berat. Mendengar keluh- kesah ajahnja itu Soetomo bertanja, mengapa ajahnja suka mendjabat pekerdjaan serupa itu. Dengan lantang ajahnja mendjawab: 'Kalau tidak suka bekerdja begini, masakan saja dapat memberikan makanan roti padamu!' Selan- djutnja Soetomo mendengar ajahnja berkata: 'Mudah- mudahan kelak djangan ada seorangpun diantara anak-

anakku jang bekerdja dikalangan Pamong Pradja'.

DISEKOLAH DOKTER

Soetoma djadi masuk kesekolah dokter di Djakarta, seta- hun sesudah Sahit. Menurut pernjataan Dr Soetomo sendiri kemudian, Sahit tetap djauh lebih pandai dan berkela- kuan baik daripada dia sendiri. Sahit dikatakan sangat tjakap, radjin, tertib, lagi pula perendah hati dan suka menolong sesama kawan. Sebaliknja dia sendiri nakal malas beladjar, suka mendjaplak (menurun) peladjaran teman-temannja, dan gemar berkelahi. Perkelahian itu sering kali timbul karena tabiat Soetomo suka mentjampuri perkara orang lain. Hampir setiap ada orang bertengkar, ia turut tjampur, sehingga berakibat orang lalu berganti musuh, jaitu dengan dia. Karena kenakalannja dan kebia- saannja suka berkelahi itu sering ia menerima hukuman atau peringatan dari Direktur sekolahnja. Ia suka meneraktir teman-temannja makan-minum diru- mah makan atau nonton gambar hidup. Uang untuk berse- nang-senang itu biasanja didapat dari orang tuanja dengan djalan membohonginja: ia minta kiriman uang ekstra, jang katanja perlu untuk pembeli buku-buku peladjaran atau pakaian. Pada waktu udjian ia biasa minta pertolongan dengan diam-diam dari kawan-kawannja; sebagai pembalas budi ia meneraktir kawan-kawannja itu dengan limun, rokok atau sate kambing dari warung Bang Amat, jang terkenal sebagai rumah makannja murid-murid Sekolah Dokter. Karena hidupnja jang rojal itu, sering ia terpaksa pindjam- pindjam uang kepada teman-temannja. Lebih tjelaka bagi Soetomo daripada sifat rojal itu adalah sikapnja tak mengindahkan benar-benar akan peladjaran- nja, karenaia berpikir, djika ia dilepas dari sekolah, sewaktu- waktu ia dapat kembali kepada neneknja di Ngepeh. Mudjur baginja, sikapnja jang tidak baik itu kemudian ditinggalkannja, karena timbul kesadaran akan diri sendiri dan tumbuh kemauan untuk merubah perangainja.

Peristiwa jang menjebabkan Soetomo mendapatkan kem- bali kepertjajaan atas diri sendiri itu terdjadi pada waktu ada pertanjaan tentang soal aldjabar jang sulit dari Guru dimuka kelas, jang tak seorangpun dapat mendjawabnja; Soetomo, dengan niat semula untuk membuat lelutjon sadja, mengatjungkan tangannja keatas, tanda ia sanggup memberikan djawaban. Guru dan teman-temannja seke- laspun mengira, bahwa Soetomo hendak mengatjau sadja seperti kebiasaannja. Tetapi pada saat itu timbullah kemauan keras dalam hati Soetomo untuk mendjawab pertanjaan Guru itu dengan setepat-tepatnja. Tak mau ia nanti mendjadi sasaran olok-olok Guru dan kawannja. Dan achirnja... ternjata Soetomo berhasil memberikan djawaban jang benar! Peristiwa serupa itu kemudian terdjadi lagi, pada waktu ada seorang guru baru jang belum kenal akan kepandaian murid-muridnja, mengemukakan persoalan jang sukar, sehingga tak seorangpun dikelas jang sanggup mendjawabnja, ketjuali Soetomo, jang dapat pula memberi djawaban jang dikehendaki oleh guru baru itu. Sedjak itu Soetomo tidak mau lagi menurun pekerdjaan teman-temannja, ia pertjaja akan kemampuan diri sendiri. Dimata teman-teman dan gurunja Soetomopun naiklah deradjatnja. Suatu hal jang perlu ditjatat ialah, bahwa dengan perubahan penghargaan orang kepadanja itu, Soetomo tetap mendekati teman-temannja jang dulu senan- tiasa dimasukkan dalam satu golongan dengan dia: golongan murid jang terbelakang. Rupanja ia mengerti benar akan kemalangan nasib golongan itu dan ia merasa, betapa perlunja mereka disampingi oleh teman jang suka mem- perhatikan nasibnja.

Daalam pada itu kenakalan Soetomo makin mendjadi-

djadi pula, bahkan karena ia bukan lagi termasuk golongan

jang rendah deradjatnja, kini bertambah banjak kawan-

kawannja jang terdjangkit oleh kenakalan dan kerojalan- nja, jaitu suka membuat gaduh dan onar didalam kelas dan

diasrama, melanggar peraturan-peraturan asrama, meng- goda pendjaga asrama, keluar dari asrama untuk berdjalan- djalan atau makan-minum dirumah makan, dan sebagainja. Kemadjuan peladjaran Soetomo achirnja diketahui dju- ga oleh ajahnja, jang bergirang hati karenanja. Perubahan jang menggembirakan itu nampak pula pada surat-surat Soetomo kepada ajahnja, jang makin ternjata 'berisi'. Isi surat itu bukan lagi seperti dulu permintaan tam- bahan kiriman uang, melainkan hal-hal jang membajang- kan perkembangan djiwanja, misalnja andjuran dan perse- tudjuan Soetomo akan tindakan ajahnja, jang telah memasukkan Srijati, adik perempuan Soetomo, kesekolah Belanda. Perbuatan itu bagi seorang Pamong Pradja ditahun 19o6, dalam pandangan masjarakat adalah 'luar biasa'. Malah nenek Soetomo sendiri telah menjangka, bahwa menantunja, jaitu ajah Soetomo itu, telah 'masuk agama Kristen'. Bahkan ada seorang amtenar tinggi jang telah mendapat didikan universiter menjatakan bahwa perbuatan ajah Soetomo itu tidak patut, jakni, bahwa seorang jang hanja berpangkat Wedana memasukkan anaknja perempuan kesekolah Belanda! Didalam surat Soetomo jang lain ia mengusulkan kepada ajahnja, agar adiknja laki-laki, Soeratmo, dimasukkan kesekolah H.B.S., supaja mendapat pendidikan jang lebih baik. Dimadjukan pula pertimbangan, agar adiknja jang lain, Soesilo, jang beladjar disekolah Stovia, diberi beaja ekstra untuk mengambil peladjaran privaat bahasa Inggris, ka- rena pada waktu itu disamping bahasa Belanda di Stovia hanja diberikan peladjaran bahasa Djerman. Soetomo tahu, bahwa Soesilo madju sekali peladjarannja. Isi surat-surat Soetomo itu sangat membanggakan hati ajahnja. Dikala perhubungan batin antara ajah dan anak ber- kembang serupa itu, datanglah mendadak pertjobaan jang berat bagi Soetomo dan keluarga seluruhnja: Pada tanggal 28 Djuli 1907 R. Soewadji wafat.

Tak dapat dilukiskan betapa sedih dan pilu hati Soetomo, waktu menerima surat kawat jang berisi berita kematian ajahnja itu. Didalam buku kenang-kenangannja ditu- liskan kemudian segala perasaan jang timbul pada waktu itu, dimana disamping kebingungan dan kesedihan terba- jang adanja rasa tanggung-djawab atas nasib ibu dan adik- adiknja: ‘Siapa jang dapat merasakan kesusahan jang menimpa diri saja? Tidak ada seorangpun didunia ini, ketjuali ba- rangkali mereka jang ada didalam keadaan sebagai diri saja. Saja tidak dapat melukiskan, betapa besar kesusahan dan betapa pekat kegelapan jang meliputi hati saja. Dari sahabat karib saja tidak ada seorang djuapun jang dapat menghibur saja, meskipun mereka itu turut berduka-tjita. Saja ingat akan nasib ibu saja, saja ingat betapa akan nasib adik-adik saja jang kehilangan pelindung jang menaungi- nja, kehilangan tongkat penjandarkan diri. Ja, mereka kehilangan segala-galanja, terhitung djuga kesanggupan ajah hendak menjekolahkan mereka sampai ditingkatan jang paling tinggi, guna ketjerdasan mereka dan guna ke- pentingan bagi masjarakat. Apakah salah kita? Adakah Tuhan adil?' Soetomo menulis lebih landjut: 'Kematian ajah saja mengandung arti suatu hukuman bagi saja jang tiada terduga dalamnja, tiada terukur be- sarnja, berarti pula kehilangan kehormatan, malah djuga mendapat malu dan seolah-olah mendapat hinaan pula. Saja merasa, bahwa orang-orang disekeliling keluarga saja telah berubah sikapnja. Penghormatannja, kemurahan hatinja, kemanisan tutur katanja, keramah-tamahan ting- kah-lakunja pada perasaan saja ternjata hanja pulasan

luar sadja, tiada sungguh-sungguh sampai kelubuk hatinja.

Semua itu karena akibat kematian ajah saja. Ada pula setengahnja orang jang mendjenguk keluarga

saja, bukannja dengan maksud hendak menjatakan turut

berduka-tjita, melainkan hanja terdorong oleh ingin-tahu

belaka, apa keluarga saja ketjukupan, apa orang tua saja kaja, apakah mempunjai hutang, dan bila punja berapa djumlahnja. Malah telah terdjadi djuga ada beberapa ba- rang milik orang tua saja jang hilang diwaktu banjak orang jang datang dirumah untuk menjatakan berduka-tjita. Saja merasa sangat malu, karena pada perasaan saja, seolah- olah segala sesuatu jang tadinja dirahasiakan oleh ajah-ibu saja, hal-hal jang tadinja hanja diketahui oleh lingkungan keluarga, kini, pada hari meninggalnja ajah, lalu terbuka untuk umum. Šaja bukan sadja sedih, tetapi djuga malu, seperti orang jang ditelandjangi dimuka ramai. Apakah perasaan orang lain, diwaktu mereka tertimpa kesusahan dan mengalami keadaan serupa itu djuga begitu, saja sendiri tidak tahu. Jan dapat menghibur hati saja ialah nenek saja dan mamak R. Sosrosugondo sadja, jang selain memberi nasihat dan petua, djuga telah meringankan segala beban jang di- pikul ibu. Nenek telah meminta, agar adik-adik saja jang belum bersekolah dibojongi kerumahnja, sedangkan mamak Sosrosugondo sebagai sahabat karib ajah saja meminta, agar adik-adik saja jang masih bersekolah rendah dibojongi kerumahnja, agar dapat meneruskan sekolahnja. Nenek saja meminta kembali sebilah keris ajah jang berasal dari pem- beriannja. Setelah keris itu diterima kembali oleh nenek, seketika itu djuga diberikan kepada saja sebagai pusaka. Apa jang selama itu saja agung-agungkan, kini sudah tidak ada. Ajah saja jang selama itu mendjamin hingga saja dapat berlaku menurut kehendak saja, kini telah meninggalkan saja. Sebagai saudara tertua saja mempunjai tugas jang berat atas adik-adik saja, karena saja harus dapat menggantikan kedudukan ajah. Dapatkah gunung jang

besar dan tinggi itu kupeluk dengan kedua belah tangan

saja? Tak ada seorang djuapun jang dapat mendjawab soal

ini. Hatiku bertanja, hatiku pula jang mendjawabnja.

Saja insaf, bahwa roman muka saja tidak lagi nampak

gembira seperti dulu.

Ditengah-tengah kawan-kawan saja lebih terasa kesusa- han dan rasa malu itu, bila melihat kegembiraan dan keriangan senda-gurau mereka. Karena saja berpendapat tidak patut mengganggu suasana riang gembira kawan-kawan saja dengan roman muka saja jang sedih itu, maka saja putuskan dalam hati sendiri akan mengundurkan diri dari segala pesta-pesta, keramaian dan medan kesenangan. Tempat-tempat jang sunji-sepi mendjadi tempat penghibur diri. Bulan dàn bintang-bintang dilangit mendjadi teman-teman saja kembali, seperti ketika ketjil saja dirumah mamak Ardjodipuro di Bangil. Malam jang sunji, tempat jang sepi, itulah tempat saja menjendiri, jang dapat memberikan ketenteraman hati, meringankan penderitaan saja. Kebiasaan duduk berdiam diri diwaktu malam, sebagai jang pada masa kanak-kanak dibiasakan oleh nenek saja, rupanja memberikan tuntunan pada diri saja untuk meng- heningkan tjipta dan bertanja pada diri sendiri'. Sebenarnjalah tabiat Soetomo djauh berganti. Tidak lagi ia seorang murid jang nakal, suka mengganggu pengurus asrama, melanggar peraturan, berbuat gaduh dikelas — melainkan seorang murid jang bersungguh-sungguh. Ia insaf, bahwa tempat ia bersandar sudah tidak ada lagi. Karena itu haruslah ia dapat mengurus diri sendiri, hemat dan hati-hati, djarang bergaul jang tiada membawa faedah, djarang keluar untuk berdjalan-djalan dengan tiada mak- sud jang tertentu. Setengah dari temannja menduga, bahwa Soetomo mendapat warisan harta jang sangat banjak, se- hingga timbul sikapnja jang angkuh dan sombong. Tetapi keadaan sebenarnja bukan begitu. Soetomo kini djarang bergaul, djarang teraktir-meneraktir teman-temannja, tidak lagi berlomba-lomba dengan teman-temannja dalam hal kesenangan dan kerojalan, karena ia harus hidup hemat dan tjermat, agar belandjanja tidak melam- paui rentjana. Adat kebiasaannja lama: meminta dan terutama memberi rokok, memindjam dan memindjamkan sabun dan pakaian, tidak dilakukan lagi. Ia tidak lagi rojal

memberi sebarang-barang kepada kawan-kawannja. Ke- borosan jang dulu itu ditinggalkannja dengan djalan me- njendiri bersunji-sunji; ia mengurangi rokoknja, sampai hampir tidak minum rokok lagi. Tetapi meskipun sekarang biasanja hanja pada hari Saptu petang sadja ia merokok, dipilihnja rokok serutu jang mahal harganja. Demikian pula, meskipun hanja sebulan sekali ia pergi menonton gambar hidup, dibeli kartjis kelas jang tertinggi. Ia berpen- dirian: tidak mengapa hanja sekali-sekali sadja dihari luar biasa menikmati kesenangan hidup, tetapi sedapat-dapat dalam sekali-sekali itu dirasakan kenikmatan jang sesung- guh-sungguhnja. Karena tjara hidup jang telah berubah itu, tidak perlu lagi ia sampai pindjam uang, malahan ia sekarang sedikit- sedikit dapat menabung dari uang tundjangan jang diteri- manja dari Pemerintah, sehingga tidak perlu ia meminta uang dari rumah untuk pembeli berbagai keperluan.

MENDIRIKAN ‘BUDI UTOMO' Tjara hidup Soetomo dengan serba teratur itu menjebabkan ia dalam peladjarannja makin mendapat kemadjuan. Dalam keadaan sedemikian itu pada suatu hari berdjumpalah ia dengan Dokter Wahidin Sudirohusodo. Peristiwa itu ter- djadi pada achir tahun 19o7, diwaktu Dokter Wahidin mengadakan tjeramah dimuka murid-murid Sekolah Dokter tentang tjita-tjitanja mendirikan sebuah Studiefonds, suatu usaha untuk menolong para pemuda Indonesia, agar dapat melandjutkan peladjaran diperguruan tinggi. Diwaktu sebelum ada pertemuan itu, dikalangan murid Sekolah Dokter sudah timbul niat mendirikan perhimpunan para murid untuk menambah pesat usaha mengedjar kemadjuan. Setelah Soetomo mendengar uraian Dokter Wahidin tadi, makin kuatlah ia terdorong untuk mendjel- makan perhimpunan itu. Untuk itu ditulisnja surat akan mentjari perhubungan dengan murid-murid dikota-kota

Perpustakaan Taman Siswa

Sd -ea e e o da ea.

lain diluar Djakarta: Magelang, Semarang dan Jogjakarta,

Dokter Wahidin, seorang orang jang bidjaksana dan te- nang dalam segala tingkah lakunja serta lemah lembut tutur katanja itu telah mempengaruhi djiwa pemuda Soe-

tomo, membuka hatinja dan menimbulkan tjita-tjita jang

keras untuk bekerdja dan berdaja-upaja dalam lingkungan jang luas. Kata-kata jang diutjapkan Dokter Wahidin untuk menjatakan niatnja-menolong pemuda jang madju dengan tidak memandang anak siapa dia itu menimbulkan kesadaran Soetomo untuk berbakti dan bekerdja dengan tidak terbatas pada lingkungan keluarga dan sahabat sadja, melainkan untuk bangsa dan sesama manusia. Setelah dibitjarakan masak-masak terlebih dulu, didi- rikannjalah dengan bantuan teman-temannja, jaitu d.l.

M. Soeradji, M. Mohamad Saleh, Mas Soewarno, Muha- mad Sulaiman, Goenawan dan Goembreg, pada tanggal 20 Mei 19o8 Budi Utomo', sebuah perhimpunan bagi pemuda seluruh Indonesia jang memperhatikan terutama soal-soal pengadjaran dan kebudajaan. Dalam penetapan anggota- anggota pengurus Budi Utomo itu Soetomo dipilih mendjadi ketua, Soeradji penulis pertama, Mohamad Saleh penulis kedua, Soewarno, Goenawan dan lain-lainnja mendjadi pembantu. Adapun penetapan nama Budi Utomo' konon kabarnja terdjadi sebagai berikut: Pada pertemuan pertama antara Soetomo serta kawan-kawannja dengan Dokter Wahidin, jang menerangkan maksudnja hendak melandjutkan per- djalanannja ke Banten guna menjiar-njiarkan tjita-tjitanja, Soetomo berkata: Punika satunggaling padamelan sae sarta nelakaken budi utami'(= Itu suatu perbuatan baik dan menundjukkan keutamaan budi). Kata-kata ‘budi utami' itu kemudian diusulkan oleh Soeradji untuk didjadikan nama perhimpunan. Soeradji adalah pembantu Soetomo jang pertama. Ia pandai berbasa Djawa; dengan ketjakapannja ini ia sangat berdjasa dalam mendjalankan tugas memberi penerangan

kepada kaum tua di Djawa Tengah, jang kebanjakan di- waktu itu hanja suka menerima pertjakapan dengan ba- hasa Djawa tinggi jang halus. Pembantu Soetomo jang kedua ialah M. Mohamad Saleh, seorang pemuda jang disegani oleh teman-temannja karena sifatnja sebagai pendiam jang giat dan djudjur dalam pekerdjaannja. Kerapian organisasi dan administrasi perhimpunan sebagian besar adalah hasil kegiatan Mohamad Saleh. Selandjutnja Soetomo membagi-bagikan pekerdjaan kepada Soewarno untuk menjelenggarakan perhubungan dalam lapangan kesenian dengan bangsa Belanda, dan kepada Goenawan (kemudian terkenal sebagai Dr Goenawan Mangunkusumo) untuk mengurus propaganda dalam pers. Tentu sadja dalam perdjuangannja sebagai pemimpin Budi Utomo itu Soetomo tidak terluput dari pertjobaan- pertjobaan dan rintangan-rintangan. Pada suatu kali, se- telah beberapa kali terdjadi perselisihan paham antara Soetomo dengan guru-gurunja tentang Budi Utomo, ham- pir ia dilepas dari sekolahnja. Beberapa orang guru telah menuduh, bahwa Soetomo bermaksud hendak melawan Pemerintah Hindia Belanda. Pada ketika jang kritik itu atas andjuran Goenawan telah diadakan kata sepakat antara kawan-kawan Soetomo, bahwa apabila Soetomo dikeluarkan dari sekolah, merekapun akan minta serentak dilepas djuga. Mudjur bagi Soetomo dan kawan-kawannja, karena pemimpin umum sekolah, Dr H. F. Roll, adalah seorang guru jang luas pendiriannja. Dalam rapat guru-guru, ia telah membela pendirian Soetomo, a.l. ia bertanja kepada para guru jang hadlir: 'Bukankah diantara tuan-tuan jang hadir disini banjak jang lebih merah daripada Soetomo, dimasa tuan-tuan masih berumur 18 tahun di- sekolah dahulu?'Karena pengaruh Dr H. F. Roll itulah Soetomo tidak sampai dilepas. Dr H. F. Roll itu adalah seorang Belanda jang bersikap progresip; tiada sedikit usahanja membantu kemadjuan

pengadjaran di Indonesia. Antara lain ia berhasil dalam hal memperdjuangkan, supaja Sekolah Dokter didjadikan Sekolah Tinggi Kedokteran. Kepada Soetomo, selain membelanja waktu akan dilepas sebagai murid, pernah Dr Roll memberikan bantuan jang penting, jaitu memindjamkan sedjumlah uang guna keper- luan kongres Budi Utomo jang pertama. Untuk mempersiapkan kongres Budi Utomo jang pertama itu tidak sedikit pengorbanan jang diberikan oleh Soetomo dan kawan seperdjuangannja. Ada jang memberikan arlodji, kain-pandjang, ikat kepala dan barang-barang lain untuk didjual guna membeajai kongres itu. Uang tun- djangan bulan Puasa jang mereka terima dari Pemerintah sebagai murid Sekolah Dokter, mereka sediakan pula untuk perongkosan kongres. Belum lagi pengorbanan tenaga. Šurat-menjurat dan perkundjungan dilakukan untuk men- dapat perhubungan dengan kalangan terkemuka didalam dan diluar Djakarta, misalnja dengan R. M. A. A. Kusumo Utojo (Bupati Djepara), Pangeran Achmad Djajadiningrat (Bupati Serang), P. A. A. Kusumojudo di Djatinegara, dengan R. M. Soetomo, murid Sekolah Pamong Pradja di Magelang, dengan Bupati Temanggung jang membantu mempropagandakan terlangsungnja Kongres Budi Utomo didepan para pegawai negeri jang tergabung dalam per- kumpulan 'Sasongko Purnomo'. Mohamad Saleh dikirim Soetomo ke Djepara untuk mengadakan perhubungan dengan,para puteri adinda

R.A. Kartini, sedangkan Goenawan ke Karanganjar untuk menemui Bupati R. A. A. Tirtokusumo, jang achirnja dalam kongres dipilih djadi ketua. Soetomo sendiri beberapa kali mengadakan perhubungan dengan tuan E.F.E.Douwes Dekker di Djakarta. Kongres Budi Utomo jang pertama itu berlangsung di Mataram pada tanggal 4-5 Oktober 1908. Pimpinan perhim- punan selandjutnja diserahkan kepada kaum tertua, dian- taranja terdapat Dokter Wahidin Soediro Husodo; sedjak

itu Budi Utomo bersifat perhimpunan untuk umum, bukan

untuk kaum peladjar sadja sebagai semulanja. Selain menuntut tjita-tjita bagi kemadjuan pengadjaran dan kebudajaan, Soetomo djuga sering berhubungan dengan orang-orang Belanda jang terkenal dalam dunia kerochanian. Dengan Ing. Meyl, seorang pemimpin theo- sofie jang terkenal dan dengan D. van Hinloopen Labberton kerap kali ia mengadakan perhubungan. Dari kedua ahli kebatinan itu ia sering menerima berbagai-bagai nasihat dan petundjuk mengenai soal-soal kerochanian. Kedua orang Belanda tersebut djuga berdjasa kepada Budi Utomo, karena banjak kenalan mereka diantara para pembesar Pamong Pradja jang meminta pemandangannja terhadap perhimpunan jang didirikan oleh peladjar-peladjar itu. Diantara pembesar-pembesar itu ada jang me- njangka Budi Utomo berbahaja bagi pemerintahan. Berkat pemandangan jang diberikan oleh kedua orang tersebut dengan sedjudjur-djudjurnja, maksud mereka jang semula akan memberantas gerakan BudiUtomo itu berbalik men- djadi tindakan jang bersifat membantu. Pada waktu hari lahir resmi Budi Utomo, tanggal 20 Mei 1908, Soetomo berumur 19 tahun dan masih harus tiga tahun lagi menjelesaikan peladjarannja di Sekolah Dokter itu. SOETOMO SEBAGAI SUAMI Sebagai seorang suami, Dr Soetomo rupanja tidak sangat beruntung. Ia baru kawin setelah berumur 3o tahun. Salah satu sebab dari perkawinannja jang sekasip itu ialah karena ia merasa sukar memilih djodoh. Kisah perdjodohannja dengan Njonja E. Bruring ditutur- kan sebagai berikut: Waktu Soetomo bekerdja dirumah sakit Zending di Blora pada tahun 1917, pada suatu hari ia pergi kestasion kereta-api untuk mendjemput zuster baru. Zuster itu ter- njata seorang njonja Belanda jang berbadan kurus, ber-

muka putjat dan lemah lembut tutur katanja. Keadaan

jang sedemikian itu menarik hati Soetomo; ingin sekali ia mengetahui apa jang mendjadi penderitaan njonja itu. Ternjata, bahwa zuster itu belum selang lama datang di Indonesia dari negeri Belanda, dimana ia baru kematian suaminja. Kematian suami jang sangat ditjintainja itu menjebabkan dia merasa tak dapat hidup berbahagia lagi didunia ini dan mendjadikannja suka duduk termenung- menung memikirkan nasib malangnja. Karena itulah ia dipanggil oleh kakaknja perempuan jang telah lama tinggal di Indonesia, untuk tinggal berkumpul dengan dia, dengan harapan akan dapat melupakan kesedihan hatinja. Ternjata harapan itu tidak berbukti. Kebetulan sekali dimasa itu rumah sakit Zending Blora membutuhkan te- naga zuster. Kakak njonja Bruring lalu berusaha menem- patkan adiknja itu untuk mengisi lowongan tadi, agar da- patlah kiranja dalam pekerdjaan itu njonja Bruring terhi- bur hatinja. Itulah asal mulanja pertemuan Soetomo dengan bakal isterinja. Dalam melakukan pekerdjaan dirumah sakit ternjata, bahwa njonja Bruring tidak djuga dapat melepaskan angan-angannja dari kedjadian jang telah lampau itu. Pi- kirannja senantiasa berada ditempat lain, sehingga sering tidak tepat pekerdjaan jang dilakukannja. Entah bagai- mana, hati Soetomo tertambat pada zuster baru jang hidupnja diliputi oleh kesedihan itu. Karena djandji Soetomo akan berusaha sedapat-dapatnja melindunginja dan memberikan keelokan didalam hidupnja dengan menghor- mati kenang-kenangannja, dan sebaliknja zuster Bruring dengan rela akan memberikan kemerdekaan pada Soetomo untuk terus menuntut tjita-tjitanja bagi Nusa dan Bang- sa, serta terhadap ibu dan adik-adiknja, maka achirnja bersetudjulah keduanja untuk hidup bersama sebagai suami-isteri. Perkawinan itu telah mengguntjangkan pihak keluarga njonja, karena kakak njonja Bruring, sebagai djuga kebanja-

kan orang Belanda diwaktu itu, belum dapat menerima adanja perkawinan antara njonja Belanda dengan seorang 'Inlander'. Perselisihan timbul antara kakak dan adik, sehingga menambah penderitaan bagi siadik. Djuga masjarakat bangsa Indonesia belum dapat menerima perkawinan antara Indonesia dengan Belanda itu dengan gembira. Dikalangan rakjat banjak orang jang menganggap tidak pada tempatnja, bahwa seorang pemim- pin Indonesia beristeri dengan perempuan bangsa Belanda; bahkan setengah orang mengatakan bahwa dengan perkawinan dokter Soetomo itu rakjat Indonesia telah kehilangan seorang pemimpinnja. Njonja dokter Soetomo ternjata sangat setia terhadap suaminja. Dari tahun 1917 hingga 1919, sebagai pegawai negeri jang masih ketjil gadjinja, Soetomo ditempatkan di- kota ketjil di Sumatra, Baturadja, dimana segala keperluan rumah tangga serba mahal. Karena disitu sukar mendapat budjang jang tjakap, djika tak mampu mengeluarkan biaja banjak, terpaksalah isteri dokter Soetomo bekerdja sendiri sebagai ‘koki' dan 'babu tjutji'. Dari tahun 1919 hingga 1923 dikala Soetomo melan- djutkan peladjarannja di Eropa, hidup kedua suami-isteri Soetomo-pun tidak dapat dikatakan nikmat. Sebagian besar waktu Soetomo dipergunakan untuk menuntut peng- luasan pengetahuan, sedangkan nafkah jang diterima Soetomo tidak berlebih-lebihan, sehingga njonja Soetomo ter- paksa bekerdja keras djuga untuk memelihara rumah tangga dan hampir tak pernah dapat pesiar ketempat- tempat penghibur hati. Bahkan pada waktu orang pesiar, jaitu Saptu petang dan hari Minggu, kesibukan bertambah, karena tempat kediaman Soetomo biasa dipakai untuk tempat pertemuan para peladjar dan para terpeladjar Indonesia di Amsterdam. Pada waktu ‘week-end' itu sering datang pula putera-putera Indonesia dari Leiden, Utrecht dan Delft dirumah Soetomo. Disitu mereka menemui hidangan-hidangan setjara Indonesia. Kadang-kadang sam-

pai pukul 2 malam njonja Soetomo masih bekerdja dida- pur, membuat nasi-goreng dan sebagainja; sering dibantu oleh para maha-siswa jang muda-muda, jang dengan gem- bira mentjutjikan piring dan sendok-garpu. Setelah pulang kembali ke Indonesia dan Dr Soetomo diangkat sebagai guru pada N.I.A.S. di Surabaja, ada hara- pan bagi suami-isteri Soetomo untuk hidup nikmat, karena tinggal dikota besar dan tak akan dipindah-pindahkan, lagi pula akan menerima gadji jang sangat tjukup. Tetapi malang bagi njonja Soetomo, karena hawa panas kota Surabaja tidak tjotjok bagi kesehatan badannja, se- hingga ia harus sering tetirah ketanah pegunungan. Dipe- gunungan badannja terasa sehat, tetapi hatinja tidak me- rasa senang, karena terpisah dari suaminja. Ditempat beristirahat didesa Tjlaket, dikaki gunung Pe- nanggungan, jang dibuat menurut rentjana Dr Soetomo sen- diri, hanja dua kali dalam seminggu Dr Soetomo dapat datang mendjenguk isterinja. Untuk mengisi kesepian ke- hidupannja digunung itu njonja Soetomo banjak berbuat kebadjikan bagi penduduk desa sekitarnja. Penduduk jang sakit diberi obat, mereka jang luka-luka dipelihara olehnja; dimana ada jang memerlukan, diberikan sokongan uang. Kesemuanja itu tak dapatlah mengelakkan, bahwa badan njonja Soetomo jang lemah itu, serta perasaan tak berbahagia dalam hatinja itu, achirnja mendjadikan kese- hatannja sangat terganggu. Karena sakitnja, pada tanggal 17 Februari 1934 pulanglah ia kerachmatullah. Pada waktu penguburannja, jang mendapat perhatian besar dari segala bangsa, Dr Soetomo mengutjapkan pidato sebagai berikut: Perkenankanlah saja didalam pertemuan ini memakai bahasa isteri saja untuk melahirkan perasaan terima kasih atas kehormatan dan perhatian jang kami terima, pada waktu jang tak dapat dilukiskan dengan kata-kata, waktu datang masanja saja harus menjerahkan badan djasmani isteri saja keharibaan Ibu Pertiwi. Perkawinan antara dua orang dari satu bangsa jang sama keadaannja, serupa pera-

dabannja, setingkat ketjerdasannja, lagi mempunjai satu

kemauan, satu tjita-tjita dan satu harapan, belum tentu mendapati kebahagiaan. Sering kali perkawinan itu tidak langsung menemui kebahagiaan. Apalagi perdjodohan antara dua orang jang berlainan kebangsaannja, jang seorang dianggap rendah oleh golongan masjarakat pihak jang lain, seorang lainnja ini dianggap tinggi oleh golongan masjarakat jang satunja. Barang tentu perdjodohan serupa itu sedi- kit sekali harapannja dapat berlangsung baik dan berba- hagia. Apabila perdjodohan antara kedua orang jang tersebut belakangan ini, antara dua orang jang berlainan kebangsaannja, dapat lulus langsung, sedang pertjeraiannja ha- nja terdjadi karena kehendak Tuhan, maka njatalah perdjodohan itu mempunjai tali perikatan jang kokoh erat. Dan dalam hal antara saja dengan marhum isteri saja ini, isteri sajalah jang mendjadi sebab jang terutama, hingga pertalian perkawinan itu tetap baik dan dapat terus berlangsung. Disini patutlah saja mengutjapkan terima kasih saja jang tidak terhingga kepadanja. İsteri saja adalah seorang orang jang tjinta pada tanah airnja. Oleh karena itulah ia mengerti dan insaf dan senantiasa memberi do- rongan kepada diri saja, agar tjinta saja terhadap Bangsa dan Tanah air makin djadi tebal, dan agar saja mewu- djudkan tjinta saja dengan perbuatan pula. Isteri saja seorang-orang jang tjinta kepada bangsanja. Oleh karena itu ia mengerti akan kewadjiban saja terhadap bangsa saja. Dia selalu mendorong, agar saja membuktikan tjinta saja kepada bangsa saja. Dia tidak berdiri diatas rakjatnja, tetapi ada didalamnja. Oleh karena itu hiduplah perasaan tjintanja dan senang hatinja, apabila saja beker- dja untuk rakjat. Sebagai seorang-orang Belanda jang sungguh-sungguh, isteri saja tjinta akan kemerdekaan, keadilan dan persa- maan. Karena itu pula ia tak senang, apabila mendjumpai hal-hal jang melanggar keadilan dan kemerdekaan. Ia

kerap kali mengandjurkan saja untuk menentang perbua.

tan-perbuatan jang menjalahi kebenaran dan keadilan. Isteri saja seorang jang tjinta dan setia kepada suaminja. Ketika saja memadjukan usul meminta persamaan hak (gelijkstelling) guna kehormatan dirinja, ia menolaknja. Dan waktu beberapa teman dokter mempertimbangkan, hendaknja ia beristirahat di Eropa untuk kesehatan ba- dannja, iapun menolaknja, karena ia ingin mengalami suka dan duka bersama suaminja. Belakangan saja mengetahui dari orang lain, bahwa isteriku ingin meninggal disamping- ku, sjukurlah, keinginannja ini dikabulkan Tuhan. Isteriku, kini kau telah meninggalkan daku. Sungguh banjak pengorbananmu. Baiklah, keinginanmu akan kutu- rutkan. Akan kuteruskan perdjalananku menuntut kemer- dekaan, kebenaran dan keadilan guna menghormati dirimu djuga'. Sepeninggal isterinja, Dr Soetomo hidup seorang diri dalam rumahnja. Kerap kali sahabat-sahabatnja diundang untuk makan bersama. Beberapa orangpun diadjak tinggal bersama didalam rumahnja itu. Pada bulan Maret 1936, Dr Soetomo bepergian keluar negeri. Ketika sedang berada di Kandy, Sailan, telah terlahir pengakuannja — terhadap beberapa orang sahabatnja — diantaranja Dr Drahaman, bahwa sepeninggal isterinja, tidak lagi ia mempunjai ketjin- taan, pelita asmaranja sudah padam. Sesudah Dr Soetomo kembali ke Tanah airnja, iapun hanja memelihara babu sebagai pengatur rumah tang- ganja. Njata, didalam pertjintaan rupanja tidak begitu ber- bahagia hidupnja.

SIKAP DAN SIFAT SOETOMO Dipandang sebagai seorang manusia biasa, Dr Soetomo adalah seorang jang gemar bergaul dan tidak membeda- bedakan pangkat dan deradjat. Kepada sopirnja sendiri,

B

Dno on em komn tan.

Pak Soemo, ia memakai bahasa Djawa tinggi, suatu kebia- saan jang djarang terdapat antara madjikan dengan orang bawahannja. Terhadap djongos, babu dan kokinja, sikap- nja sebagai terhadap anggota keluarganja sendiri. Kyai Hadji Mas Mansjur, seorang pemimpin Islam jang terkemuka, heran melihat sikap ramah-tamah dan sikap kekeluargaan Dr Soetomo terhadap siapapun djuga itu. Lebih mengherankan lagi sikap Dr Soetomo terhadap lawannja atau orang jang tidak menjetudjui sikap-politik- nja. Kalau mereka ini berada dalam keadaan jang memerlukan pertolongan, tidak segan-segan ia mengulurkan ta- ngan untuk menolong dengan tidak mengharap-harapkan upah atau pembalas budi.

R. P. Sosrokardono, seorang pemimpin Sarekat Islam
dan seorang wartawan jang terkenal, dulunja adalah saha- bat karib Dr Soetomo. Tetapi kemudian mereka telah bertjektjok, sehingga R. P. Sosrokardono jang semula suka membela pendirian Dr Soetomo disurat-surat kabar, lalu suka mengritiknja didalam surat kabar jang diterbitkan sendiri olehnja. Pada suatu waktu R. P. Sosrokardono sakit keras. Demi Dr Soetomo mendengar hal itu, segera ia memerlukan mengundjungi si sakit itu. Kemudian ia da- tang beberapa kali mengundjunginja dengan membawakan obat baginja. Hidup Dr Soetomo sehari-hari, bila dibandingkan dengan pangkat, kedudukan dan penghasilannja, adalah sa- ngat sederhana. Lebih-lebih kalau sedang bergaul dengan kaum rendahan, tidak segan-segan ia menundjukkan sifat kesederhanaannja, misalnja makan dan minum bersama- sama dengan bapak-bapak dan bibi-bibi tani. Tidak malu- malu ia makan diwarung bersama dengan kawan-kawan- nja, seperti misalnja makan bakmi diwarung Tjak Doera- sim. Diwaktu kongres atau rapat sering ia mengaso tidur dibalai-balai atau diatas kursi. Ia pernah bepergian dengan kereta-api dari Surabaja ke Djakarta duduk dikelas tiga. Keradjinannja bekerdja, terutama untuk kepentingan

umum, sungguh luar biasa. Pada tiap pagi sebelum pergi

kesekolah Dokter atau ke Rumah Sakit, lebih dulu ia me- nolong berpuluh-puluh orang sakit jang datang dirumahnja. Sering diwaktu itu ia bekerdja tidak dengan bantuan seorang djuru-rawatpun djua. Dalam waktu bekerdja di

Rumah Sakit sering orang datang menjela kesibukannja

untuk keperluan pergerakan atau untuk kepentingan umum lainnja. Sehabis bekerdja di Sekolah Dokter atau di Rumah Sakit, ia biasa terus pergi ke Gedong Nasional untuk berte- mu dengan kawan-kawan seperdjuangan, atau pergi me- meriksa keadaan di Bank Nasional. Pada petang hari ia melajani tamu segala bangsa, jang datang berobat. Disam- ping semua itu ia sering menulis rentjana untuk surat kabar, madjalah atau buku. Kewadjibannja sebagai pemimpin par- taipun tidak sedikit minta tenaga, jaitu untuk rapat-rapat, kursus-kursus dan pelbagai matjam pertemuan lainnja. Ketika Kongres Indonesia Raja jang pertama, dalam tiga hari tiga malam Dr Soetomo hampir tidak pernah tidur, ketjuali sedjenak-sedjenak sadja diatas kerosi diba- gian belakang tempat rapat. Waktu Parindra mengadakan kongres di Djakarta, dalam tiga hari tiga malam ia hanja tidur kira-kira tiga djam sadja! Untunglah badannja me- mang sehat dan kuat. Roman muka Dr Soetomo jang menundjukkan kera- mah-tamahan dan sikapnja suka bergaul, mendjadikan orang tertarik kepadanja dan mudah menjetudjuinja. Tetapi tak ada gading nan tak retak. Ada pula sifat- sifat Dr Soetomo jang kurang baik. Jang banjak diketahui

orang ialah tabiatnja jang suka terlampau berterus-terang,

jang menjebabkan dia sering menegur kesalahan atau me- njalahi pendapat orang lain. Sehingga banjak orang menje-

butnja kasar dan suka bertengkar, ada pula orang jang mengatakan, bahwa ia itu seorang pemarah.

Sikap berterus-terang itu ada hubungannja pula dengan

kebiasaannja suka menentang lawan setjara kontan. Pada

waktu di Solo dalam tahun 1935 diadakan pertemuan

antara para wartawan, Saeroen, seorang wartawan dari

Djakarta, menjatakan tidak setudju Dr Soetomo didjadikan ketua suatu komisi, dengan alasan bahwa Dr Soetomo bu- kan pemimpin pergerakan, melainkan seorang pendeta jang tinggi perasaan perikemanusiaannja belaka. Seketika itu Dr Soetomo nampak merah mukanja dan dengan suara menantang ia menjatakan, bahwa iapun sanggup berdjuang dengan pedang. Pada suatu waktu di Surabaja diadakan rapat umum oleh golongan jang menentang kaum nasionalis, jang a.l. menjerang sikap politik Dr Soetomo. Meskipun pada waktu itu Dr Soetomo tidak diminta bitjara dan tidak disediakan tangga untuk naik kepanggung, iapun tampil kemuka, me- lompat keatas panggung dan berbitjara menjambut segala serangan terhadap dirinja, sehingga achirnja hadirin bubar beramai-ramai, menuruti djedjak Dr Soetomo jang me- ninggalkan rapat sambil menjanjikan ‘Indonesia Raja'. Pendirian Dr Soetomo terhadap agama Islam dan gerakan-gerakan Islam sangat dihargai oleh kaum agama dan oleh kalangan bangsa Arab. Hal itu terbukti dari pengang- katan Dr Soetomo mendjadi penasihat perkumpulan Mu- hammadijah dan banjaknja kawan-kawannja diantara pe- muka Nahdatul Ulama. Iapun termasuk seorang diantara pendiri Kollijah Islam. Dikalangan bangsa Tionghoa banjak orang jang bersa- habat karib dengan Dr Soetomo, terutama setelah dalam kalangan itu didirikan Partai Tionghoa Indonesia. Kebali- kannja daripada itu, tidak sedikit orang Tionghoa jang bentji kepadanja, karena dugaan mereka, bahwa Dr Soetomo adalah sahabat bangsa Djepang. Kalangan Belanda sebagian besar memandang Dr Soetomo sebagai kawan atau sebagai ... lawan jang dihormati. Memang pendirian Dr Soetomo terhadap Belanda sebagai orang seorang tak ada tjelanja. Ia suka menghargai djasa orang-orang Belanda jang benar-benar telah berbuat baik terhadap Indonesia. Terhadap orang Belanda seperti itu

tidak segan ia menjatakan kata-kata pudjian. Demikianlah misalnja dalam buku Puspa Rinontje' ia membentangkan

dengan pandjang lebar usaha-usaha seorang Belanda jang

bernama Holle, disertai dengan andjuran kepada kaum pemimpin rakjat Indonesia, agar suka meniru siasat Holle untuk mengikat hati rakjat, sehingga mereka itu dengan suka hati mau mendjalankan penerangan dan tuntunan untuk perbaikan nasibnja. Adapun Holle itu adalah seorang ahli pertanian jang sangat tjinta pada rakjat petani; ia sangat berdjasa dalam usaha mempertinggi nilai hasil bumi. Ia mengandjurkan antara lain kepada sekalian pe- muda, hendaknja mereka pada waktu hendak menikah gadis pilihannja, membawa sepasang (dua buah) buah njiur untuk diserahkan kepada penghulu dan kemudian untuk dipergunakan djadi benih untuk ditanam dalam per- kebunan. Andjuran itu achirnja menimbulkan suatu ke- pertjajaan dalam masjarakat tani Pasundan, bahwa njiur tadi adalah lambang bagi perkawinan. Kalau njiur itu kelak subur hidupnja, maka perkawinan itu akan membawa bahagia pula. Itulah sebabnja, maka tiap-tiap buah njiur jang dibawa oleh tjalon penganten dipilihnja dengan teliti dan hati-hati sekali; akibatnja ialah, bahwa pohon njiur jang tumbuh dari benih itu subur hidupnja, sehingga achirnja ditanah Periangan terdapat banjak sekali pohon njiur jang tumbuh dengan suburnja pula. Seorang Belanda lain, jang oleh Dr Soetomo sangat di- hargai djasanja, ialah Mr J.H. Abendanon. Tiap menge- mukakan djasa R.A. Kartini, tidak lupa ia menjebut- njebut djasa Mr J. H. Abendanon itu. Dalam bukunja 'Perkawinan dan perkawinan anak-anak', jang diterbitkan oleh Balai Pustaka pada tahun 1928, Dr Soetomo menulis: 'Penulis merasa salah, djika dalam menjebut nama R. A. Kartini melupakan nama Mr J. H. Abendanon, seorang Belanda sahabat bangsa Indonesia itu. Karena dengan usaha Mr J. H. Abendanon itulah achirnja dapat dikumpul- kan surat-surat jang berisi tjita-tjita R. A. Kartini, dan de-

ngan terbitnja buku tersebut kita bangsa Indonesia menge-

tahui akan keluhuran budi puteri tersebut, dan karena itu pula timbullah perasaan tjinta kepada Tanah air dan Bangsa diantara bangsa Indonesia'. Átas usaha Dr Soetomo buku kumpulan surat-surat R.A. Kartini 'Door Duisternis tot Licht' itu telah diterbitkan salinannja dalam bahasa Djawa. Selain nama MrJ.H.Abendanon disebut-sebut pula didalamnja nama Njonja G. H. van Deventer jang berdjasa bagi kemadjuan kaum wanita Indonesia. Didalam buku Dr Soetomo 'Kenang-kenangan', jang ditulis untuk memenuhi permintaan sahabatnja, H. Krae- mer di Bogor, diperingati a.l. djasa-djasa dan budi orang-orang Belanda: Dr H.F. Roll, Dr E.F.E. Douwes Dekker,

D.van Hinloopen Labberton dan sebagainja. Pernah karena pertentangan antara pergerakan Indonesia dengan golongan Belanda sangat meruntjing, redaksi harian ‘Suara Umum' selalu menulis kata ‘Belanda' dengan huruf b ketjil, dengan tidak setahu Dr Soetomo sendiri. Hal itu ditegur oleh seorang Belanda. Dengan tidak malu-malu Dr Soetomo menjatakan dengan terus-terang akan kekeli- ruan sikap jang menurut pendapatnja karena sentimen be- laka itu. Sedjak itu tjara menulis demikian tadi tidak di- pakai lagi, sungguhpun kritik-kritik masih terus dilakukan dengan hebatnja. Sebagai seorang anggota keluarga dan saudara jang tertua, Dr Soetomo berlaku sebagai pengganti ajahnja terhadap enam orang adik-adiknja. Meskipun pada waktu ketjilnja sering hidup terpisah dengan ajah-ibu, pada hari tua tampak besar pula tjintanja kepada orang tuanja. Kesehatan ibunja selalu diperhatikannja dengan sungguh-sungguh. Pada suatu kali Dr Soetomo menghadap ibunja di Solo; segera nampak padanja, bahwa ibunja dalam keadaan sangat lemah. Setelah diketahuinja, bahwa ibunja sedang berpuasa, dengan pandjang-lebar Dr Soetomo memberikan penerangan tentang wadjib dan tidak- nja orang berpuasa menurut adjaran agama, dan dengan

lemah-lembut dibudjuknja ibundanja, supaja suka ber- henti berpuasa untuk mendjaga kesehatan. Achirnja sang ibupun menuruti nasihat anaknja dan sedjak itu untuk se- landjutnja barulah berpuasa, apabila badannja benar- benar sehat. Djuga anggota keluarganja jang lain selalu diperhatikan keadaannja. Ia merasa senang, apabila mereka itu menda- pat kesenangan, sebaliknja sangat sedih, apabila ada jang menderita kesukaran dalam hidupnja. Pernah ia menangis, karena mengetahui seorang kemanakannja perempuan ber- tengkar dengan suaminja. Diantara kemanakannja jang perlu disokong, terutama untuk peladjarannja, diberikan sokongan seperlunja. Te- tapi orang lainpun tidak sedikit jang diberinja sokongan, diantaranja ada jang dibantu dengan diam-diam, agar ban- tuan itu tidak diketahui orang. Pada waktu Dr Soetomo sudah meninggal dunia dan djenazahnja tengah disutjikan dirumahnja, di Simpang Dukuh, Surabaja, datanglah seorang pemuda jang menjer- bu ketempat djenazah disutjikan itu sambil menangis dan menjebut-njebut: 'Bapakku, bapakku!' Semua anggota keluarga dan orang-orang jang hadlir lainnja, heran tertje- ngang-tjengang dan mengira, bahwa pemuda itu sakit ingat- an, karena ia bukan anggota keluarga, bahkan tak ada orang jang kenal padanja. Belakangan orang mengerti, bahwa pemuda itu adalah salah seorang dari mereka jang dengan diam-diam disokong beaja sekolahnja oleh Dr Soetomo. Pemuda jang menangis itu adalah seorang murid N.I.A.S. di Surabaja, jang kemudian dapat melandjutkan sekolahnja pula, dan kini telah mendjadi dokter, ialah Dr Abdulmanap.

PERNJATAAN ORANG-ORANG TERKEMUKA TENTANG DR SOETOMO Pendapat seseorang tentang sifat orang lain jang semurni-

murninja ialah apabila djarak antara kedua orang itu tidak terlalu dekat, sehingga pendapat itu tidak mudah dikeruh- kan oleh sentimen perseorangan. Dalam pada itu djarak jang paling djauh antara kedua orang itu adalah djika orang jang dilukiskan sifat dan tabiatnja itu sudah mening- galkan dunia jang fana ini. Pernjataan orang-orang terkemuka tentang Dr Soetomo sebagai manusia dan sebagai pedjuang untuk kemuliaan bangsa, jang dilahirkan setelah almarhum itu meninggal, seperti terdapat dalam kutipan-kutipan dibawah ini, da- patlah kita anggap sebagai pernjataan-pernjataanjang tulus dan djudjur, bebas dari pelbagai prasangka dan sentimen. Sanusi Pane, pudjangga jang terkenal itu, jang dimasa itu bergerak aktif dalam Gerindo (Gerakan Rakjat Indo- nesia) menjatakan:

.... Kita semua berdoa agar Dr Soetomo dapat sem-

buh dari sakitnja, karena kita merasa, bahwa beliau masih sangat diperlukan bagi bangsa kita. Tetapi doa kita tidak terkabul. Allah telah memanggil beliau kembali keasalnja. Memang Allah lebih mengetahui terhadap hamba-Nja. Kita semuanja menurut dengan pudjaan terhadap kebi- djaksanaan-Nja. Meskipun demikian, kita merasa berduka- tjita. Kita ini manusia dan tidak sempurna. Soetomo sudah meninggal dunia. Sesudah beliau beker- dja dan berdjuang selama seperempat abad untuk kepen- tingan bangsa dan tumpah darahnja. Beliau lahir didalam masa pergerakan nasional mulai tumbuh dalam pemben- tukannja jang njata, dan sedjak itu hidup beliau melulu hanja untuk keperluan memadjukan bangsanja. Mengorbankan perasaan, mengorbankan kesenangan, mengorbankan harta benda. Beliau besar sebagai pengandjur. Djuga

besar sebagai manusia. Siapa jang sedang berhadapan muka

dengan beliau, pasti merasa tengah berhadapan dengan

manusia jang mulia, jang njata-njata tidak mengemukakan 'aku'-nja, melainkan benar-benar mempersatukan djiwa

dengan rakjat. Segala lapangan selalu diperhatikan. Beliau

DSnnk kn oen e-e on un

berdjoang dalam lapangan politik, tetapi djuga giat beker-

dja dilapangan pengadjaran, bekerdja dalam dunia pers,

untuk pengetahuan, untuk amal, pun djuga memperhati-

kan soal kebudajaan.

Dalam segala lapangan itu, beliau memberikan teladan, mengandjurkan atau menggembirakan. Hidupnja memang

gembira dan selalu mendorong untuk bekerdja dan berdjoang. Njata sekali beliau itu seorang pemimpin besar dan manusia jang luhur. Kini daja hidupnja telah padam, tetapi namanja akan mendjadi peringatan bangsa untuk selama-lamanja, akan selalu menggembirakan hati dan memperkokoh semangat. Barisan rakjat jang berdjalan menudju pada tjita-tjita- nja, diam sedjenak, memberikan saluut pada salah seorang pemimpin besar jang sedang berlajar kezaman jang kekal'. Hadji Agus Salim memperingati marhum Dr Soetomo sebagai berikut: 'Diantara beribu-ribu jang telah meninggal dunia tiada- lah meninggalkan bekas dan tempat terluang. Peribasanja: Datang tiada menambah djumlah, pergi tiada mengurangi bilangan. Tetapi terhadap diri Dr Soetomo tidak demikian halnja. Bepergiannja kerachmat Allah telah meninggalkan bekas dan tempat terluang jang susah ditjarikan gantinja. Sedjak lahirnja pergerakan nasional hingga 3o tahun beliau selalu memegang pimpinan, selalu dengan kesung- guhan hati dan dengan ketjakapannja jang sukar ditjari tolok bandingnja, apapula jang melebihi. Hidup, suara, tindakannja didalam pergerakan bangsa kita telah memberikan bekas jang tidak akan musna. Ia lahir ditengah- tengah dunia Islam, moga-mogalah Allah Ta'ala melimpah- kan 'Husn -al Chatmah'. Hendaknja mendapat rachmat Allah dan mudah-mudahan pengorbanan dan kebaikannja dilebihkan dari segala keutamaannja serta dilimpahkan

pengampunan segala kekurangan dalam tindak dan

niatnja'.

Tuan W. Wondoamiseno, ketua Dewan Partai Sarekąt

Islam Indonesia, jang turut serta pada waktu penguburan

djenazah Dr Soetomo, menulis tentang pribadi marhum

Dr Soetomo a.l.:

Dr Soetomo gemar memberikan pertolongan atau bantuan, sampai-sampai pada golongan jang mendjadi lawan dalam perdjoangan, asal sadja dimadjukan permintaan. Pertolongan atau bantuan ini diberikan dengan ichlas, meskipun beliau mengetahui akan menderita kerugian bagi dirinja sendiri. Ia senantiasa ramah-tamah dan suka bergaul dengan siapa sadja, meskipun dengan orang jang berlawanan dengan tudjuannja. Apa jang dilahirkannja, itulah pula isi hatinja. Sebagai pemimpin ia tidak suka membeda-bedakan tentang deradjat; baik orang miskin atau kaja, berpangkat atau tidak, semuanja dipandang sama sebagai sesama machluk Tuhan. Kalau bekerdja untuk kepentingan Nusa dan Bangsa, tidak kenal pajah dan lelah, menudju tjita-tjita jang gemi- lang ialah kemerdekaan Indonesia. Djarang terdapat dalam sedjarah pergerakan, seorang pemimpin jang mempunjai tjita-tjita luhur dan mengerdja- kan sendiri tertjapainja tjita-tjita itu hingga disaat achir usianja. Karena itu, sudah semestinja rakjat melahirkan duka-tjitanja jang tiada terhingga, dan memang kita akui betapa besar amal dan pengorbanan jang sangat mulia itu'.

Ketua Partai Politik Katholik Indonesia, I.J. Kasimo, se- telah dengan pandjang-lebar menguraikan riwajat hidup dan perdjoangan Dr. Soetomo, telah berkata, bahwa al- marhum itu njata seorang pemimpin dan ksatria bagi Nusa dan Bangsa Indonesia, karena segala ketjintaan terhadap Tanah Air dan Rakjat tidak hanja diutjapkannja belaka, melainkan dikerdjakan dengan penuh tenaga dan piki- rannja.

Persatuan Muslim Indonesia (Permi), sebuah partai Islam

revolusioner jang kemudian dibubarkan oleh pemerintah

Hindia Belanda, tak ketinggalan pula melahirkan penghormatan terhadap almarhum Dr Soetomo, jakni dengan pe-

rantaraan tulisan Rasuna Said dalam madjalah Menara

Puteri', jang bunjinja demikian: 'Djarang orang jang mempunjai sifat ksatria, rela ber- korban, berani, merdeka berfikir, lantjar menulis dan djuga mahir berpidato. Tetapi Tuhan telah menakdirkan sifat-sifat jang utama itu pada tuan! Orang-orang tentu tidak akan lupa akan sifat-sifat tuan jang senantiasa sebagai ksatria terhadap lawan dan kawan. Orang tidak akan lupa terhadap kedermawaan tuan mengorbankan segala milik tuan, mengorbankan pikiran, tenaga dan harta benda; djuga uang, karena sudah bukan rahasia lagi, bahwa segala hasil uang jang tuan kumpulkan achirnja tuan dermakan sebagai amal. Tidak akan dilupakan keberanian tuan me- laksanakan pekerdjaan jang sudah tuan jakini kebaikannja, sungguhpun pada mulanja terkadang mendapat halangan dan tjelaan. Pun pula keichlasan hati serta keteguhan ke- mauan tuan disaksikan orang banjak. Dr Soetomo! Tuan tidak mengandjurkan orang lain ber- korban, sedangkan tuan sendiri tidak melakukannja. Pun tuan tidak berkata tjinta Tanah Air dan Bangsa, sedangkan hati tuan bentji. Tidak, tidak, tuan tidak sedemikian! Tuan telah berkata agar kaum terpeladjar madju memimpin rakjat, memberikan obor penerangan, karena kalau bukan kaum terpeladjar, siapakah jang akan melakukannja? Kita sebagian daripada kaum itu, tidak hendak dipisahkan. Kemuliaan kita adalah kemuliaan kita djuga, kehinaan kita adalah kehinaan kita sendiri pula. Andjuran tuan itu sudah tuan buktikan dengan perbuatan sehingga meng- chawatirkan bagi pangkat tuan. Tetapi dengan keberanian tuan jang ichlas itu tuan telah mendapat penghormatan jang njata, jang sedjati, baik dari kawan maupun lawan. Karena tuan insjaf akan nilai diri tuan'.

N.V. BANK

NASIONAL-INDONESIA"

Gedung N.V. Bank Nasional Indonesia, buah usaha Dr Soetomo,

jang telah banjak djasanja bagi perkembangan perdagangan dan

perekonomian bangsa Indonesia.

Pada penutup tulisannja, Rasuna Said berkata: 'Kita

ichlaskan tuan sekarang, meskipun dengan hati jang berat,

— alam dan suasana turut ribut, ketika tuan meninggal

dunia —. Kita jang tuan tinggalkan akan melandjutkan langkah kearah tjita-tjita tuan. Marilah para putera-puteri kita, kita tjapai idaman bapa kita itu. Kita wadjib me- landjutkannja. Sudah tidak sesukar lagi sebagai jang telah ditempuh oleh almarhum bapa kita itu. Marilah saudara- saudari, tundjukkan ketjintaan pada bapa almarhum kita dengan menjelesaikan pekerdjaan jang belum selesai'.

BAB III. PERDJUANGAN SOETOMO DALAM KALANGAN PERGERAKAN

Perdjuangan Dr Soetomo dalam pergerakan nasional sa- ngat dipengaruhi oleh sikap dan sifatnja sebagai manusia. Karena itu usaha-usahanja maupun tjita-tjitanja dalam perdjuangan politik sering berdasarkan pada perasaan so- sial, rasa sajang kepada sesama manusia, keinginan untuk meringankan beban dan mengentengkan penderitaan manusia, terutama bangsa Indonesia. Untuk membela nasib rakjat, djika dipandang perlu, Dr Soetomo tidak menolak djalan kompromi dengan lawannja dalam poliktik. Itulah sebabnja setengah orang menuduh, bahwa Dr Soetomo adalah seorang pemimpin pergerakan jang tidak mempu- njai pendirian jang tetap. Tuduhan itu a.l. disandarkan pada kedjadian, bahwa Dr Soetomo pernah 'mogok', me- lepaskan keanggotaannja dalam Gemeenteraad Surabaja dan pernah menolak pengangkatan mendjadi anggota Volksraad, sedangkan ia sebagai ketua Partai Indonesia Raja (Parindra) sedjak Juli 1937 menjetudjui duduknja anggota-anggota Parindra dalam Dewan-dewan, seperti Volksraad, Provinciale Raad, Regentschapsraad dan Gemeenteraad.

Sebagai pemimpin suatu partai jang mau mempunjai

wakil-wakil dalam Dewan-dewan itu, Dr Soetomo terma-

suk golongan pemimpin jang berhaluan 'cooperation', mau kerdja-sama dengan Pemerintah Hindia-Belanda. Karena itu tidak mengherankan, kaum non-cooperator sering me-

ngeluarkan kritik jang pedas-pedas terhadap sikap dan

sepak terdjang partai jang dipimpin oleh Dr Soetomo (P.B.I. dan kemudian Parindra). Dasar buat segala tindakan politik jang diutamakan oleh Dr Soetomo ialah ber- faedah atau tidaknja tindakan itu bagi rakjat. Mengenai putusan Parindra dalam bulan Juli 1937 tersebut diatas, jang menetapkan, bahwa partai akan mengizinkan ang- gotanja memasuki Dewan-dewan perwakilan rakjat, Dr Soetomo pernah memberikan keterangan sebagai berikut: 'Kita tahu, bahwa susunan Dewan-dewan sangat menge- tjewakan, karena djumlah anggota bangsa Indonesia ditambah dengan anggota bangsa Timur Asing'— kalah dengan djumlah anggota bangsa Belanda atau mereka jang memihak kepada Pemerintah. Lain daripada itu Gubernur Djenderal dapat pula membatalkan putusan Dewan-dewan, bahkan College Gedeputeerden Provinciale Raad berkuasa membatalkan putusan Dewan Kabupaten dan Dewan Kota-besar. Tetapi meskipun demikian, dalam memperdjoangkan kepentingan rakjat, kita harus memakai segala djalan jang mungkin membawa keuntungan bagi rakjat: Adanja wakil-wakil dalam Dewan-dewan itu mem- beri kesempatan kepada partai untuk memadjukan tuntutan-tuntutan dan pembelaan guna perbaikan nasibrak- jat dan pentjapaian kemerdekaan. Suara partai itupun bukan sadja akan didengarkan oleh fihak Pemerintah, me- lainkan djuga oleh rakjat dengan perantaraan pers. Dengan begitu rakjat akan bertambah sadar dan insaf akan hak- haknja. Kita tidak dapat mengharapkan, bahwa hak-hak politik dan sjarat-sjarat lainnja untuk mentjapai kemuliaan Bangsa dan Nusa akan diberikan sebagai hadiah oleh fihak jang berkuasa. Kemuliaan Bangsa hanja dapat tertjapai

dengan kekuatan dan ketjakapan rakjat sendiri. Karena itulah kita harus selalu berdaja-upaja menjentosakan kekuatan dan menambah ketjakapan rakjat dalam organisasi jang teratur, dengan mempergunakan pengaruh pergerakan rakjat didalam maupun diluar badan-badan Pemerintah dan Dewan-dewan perwakilan'. Adapun usaha Parindra dalam lapangan politik, sebelum menetapkan sikapnja turut tjampur dalam Dewan-dewan itu, berupa kursus-kursus untuk kader dan untuk anggota seumumnja, rapat-rapat protes dan rapat-rapat umum jang biasanja menghasilkan sesuatu resolusi atau mosi. Setelah ada putusan tersebut, oleh departemen urusan politik Parindra ditetapkan adanja bagian-bagian jang bertugas-ke- wadjiban:

a. mempeladjari dan memperhatikan hal-hal jang menge- nai soal pemilihan anggota untuk Dewan-dewan perwakilan, membangkitkan dan memberi tuntunan untuk berdirinja fraksi nasional serta membangunkan fonds untuk membeajai pemilihan dan memadjukan usul dan andjuran bagi perbaikan pemilihan, perbaikan hak-hak memilih ataupun perluasan banjaknja anggota-anggota dalam Dewan-dewan.
b. mempeladjari dan memperhatikan soal-soal politik jang ada didalam dan diluar Dewan-dewan, jang dapat didjadikan bahan untuk perdjuangan oleh wakil-wakil partai dalam Dewan-dewan, terutama jang dipenting- kan dalam Volksraad. Berkat adanja rentjana dan usaha jang teratur untuk mem- perdjuangkan pemilihan buat Dewan-dewan itu, Parindra mendjadi partai jang paling banjak mempunjai wakil-wakil dalam semua Dewan-dewan perwakilan. Karena kemuntjak perdjuangan politik Dr Soetomo adalah didalam Parindra, jang terdjadi karena fusi antara be- berapa partai, jaitu jang terbesar Budi Utomo dan P.B.I.,

jang keduanja membawa djiwa Dr Soetomo pula, ada

baiknja diketahui rentjana-dasar partai itu. Didalam ren-

tjana-dasar Parindra terbajanglah garis besar sikap Dr Soetomo sebagai pemimpin pergerakan. Rentjana-dasar itu

tertera sebagai 'Keterangan azas Partai Indonesia Raja',

sebagai berikut:

Tudjuan dan tjita-tjita jang terachir ialah mentjapai

Indonesia Mulia. Jang harus dikerdjakan selekasnja: mem-

berikan pendidikan kepada rakjat dalam hal politik, eko- nomi dan sosial, sehingga rakjat dalam waktu selekas-le- kasnja dapat mendjalankan pemerintahan negeri, sebagai permulaan tjita-tjita kemuliaan Indonesia'. Berhubung dengan sebutan, bahwa tudjuan dan tjita-tjita terachir ialah mentjapai 'Indonesia Mulia' itu, ada beberapa golongan jang menuduh, bahwa Dr Soetomo tidak menghendaki kemerdekaan' bagi rakjat Indonesia, melainkan hanja 'kemuliaan' belaka; bahkan ada golongan jang menjatakan, Dr Soetomo tidak berani mengutjapkan 'Indonesia Merdeka'. Dalam pembelaan terhadap dugaan- dugaan itu diterangkan dari fihak Dr Soetomo, bahwa dalam istilah 'kemuliaan Indonesia’ telah termasuk arti 'kemerdekaan Indonesia', karena mustahil suatu bangsa dan negara akan dapat mentjapai kemuliaan, apabila masih terdjadjah, belum merdeka! Sebaliknja, adanja kemerdekaan belumlah merupakan djaminan adanja kemuliaan. Apabila pergerakan nasional sudah mentjapai kemerdekaan nusa dan bangsa, perdjuangan masih harus berdjalan terus untuk mentjapai kebahagian bangsa dan negara. Demikian Dr Soetomo, dan kini kebenaran ini di- rasakan orang dengan keadaan Republik Indonesia seka- rang ini. Dalam keterangan azas tadi selandjutnja tertjantum: 'Sjarat-sjarat akan mentjapai tudjuan dalam soal politik:

a. Susunan pemerintahan jang demokratis, bersandar atas kepentingan dan kebutuhan Indonesia.

b. Alat pemerintahan jang berdasar dan ditudjukan bagi kepentingan Indonesia, serta dipegang sendiri oleh bangsa Indonesia.
c. Kedudukan jang sama bagi segala penduduknja.
d. Hak dan kewadjiban jang sama bagi tiap-tiap orang. Dalam hal ekonomi: mentjapai alat ekonomi dan men- djalankan perdagangan dengan Luar Negeri. Dalam kalangan sosial, mentjapai:
a. Perguruan kebangsaan.
b. Kesehatan rakjat.
c. Memadjukan pendidikan djasmani.
d. Hak bekerdja, perlindungan kaum buruh, larangan bekerdja oleh anak-anak, mentjegah keadaan jang tidak baik. Dalam soal perhubungan kebudajaan dengan Luar Negeri hendak ditjapai tjita-tjita:
a. Memadjukan kerdja-sama dengan negeri luaran dalam berbagai-bagai hal, istimewa tentang kebudajaan.
b. Mengangkat wakil-wakil dinegeri luaran untuk keper- luan orang-orang jang tinggal atau bersekolah dinegeri itu.
c. Memadjukan peladjaran bahasa asing dengan mendiri- kan club bahasa asing. Pada keterangan azas itu dan pada keterangan-keterangan lebih landjut, nampak betapa diberikan tempat jang longgar sekali kepada usaha ekonomi dan sosial. Dr Soetomo sendiri berpendapat, bahwa untuk kemu- liaan bangsa harus selalu diperdjuangkan lebih dulu per- baikan hidup rakjat dengan djalan memberikan pertolo- ngan dan tuntunan jang njata, dengan mengadakan badan-badan koperasi, badan-badan perdagangan, perhimpunan kaum-tani, sarekat-sarekat sekerdja, bank-bank dan seba- gainja. Semua itu harus dilakukan dengan organisasi jang teratur dan dikerdjakan dengan giat, sehingga terdapat pengalaman-pengalaman dan pengetahuan-pengetahuan

untuk bekal kelak, bilamana kemerdekaan mengatur negeri

sendiri telah tertjapai.

Tidak hanja soal-soal politik jang diperlukan, tetapi perlu diperhatikan sepenuhnja djuga soal menjusun peng-

hidupan rakjat dengan organisasi jang sebaik-baiknja. Sedjak masa Studieclub (mulai tahun 1924) Dr Soetomo

telah giat berusaha dalam lapangan sosial dan ekonomi,

jang a.l. menghasilkan pendirian-pendirian seperti: rumah Pondokan Perempuan, Sekolah Tenun, Internat-internat

Perlindungan Peladjar, Bank Nasional, dsb. Djumlah himpunan koperasi, jang mula-mula bagi kota Surabaja hanja ada 9 buah sadja, atas dorongan dan ban- tuan Dr Soetomo, terutama dizaman adanja P.B.I. (tahun 1930—1935) berkembang mendjadi lebih dari seratus buah dan diluar Surabajapun timbul koperasi-koperasi jang tak terbilang banjaknja, sebagian besar didaerah Djawa Timur dan berudjud 'verbruiks-cooperatie'. Sajang kemudian, terutama disebabkan oleh kurang ulet dan kurang pengala- man, gerakan koperasi itu djadi mundur sekali. Disamping koperasi-koperasi itu dibangunkan pula Bank Pasar dimana-mana, jang maksudnja a.l. memberantas pemindjaman uang oleh pedagang ketjil kepada kaum 'lintah darat'. Dimasa itu pula Dr Soetomo dan kawan-kawan seper- djuangannja mengandjurkan gerakan ‘Swadeshi' jang di- sertai dengan pendirian berpuluh-puluh koperasi pemin- talan dan pertenunan. Suatu gerakan jang sangat penting bagi kehidupan kaum tani, mulai dari zaman P.B.I., diteruskan pada zaman Parindra, ialah pembentukan 'Rukun Tani' jang maksud dan tudjuannja: memberi tuntunan kepada kaum tani untuk mendapat kedudukan jang baik dalam masjarakat, dengan djalan:

a. Mengadakan kursus-kursus dan propaganda untuk me-

nginsafkan kaum tani sebagai warga negara dengan

hak-hak dan kewadjibannja.

b. Mempertinggi tjara mereka bekerdja dan mengusahakan

pekerdjaannja, serta pula mempertinggi harga-harga hasil pekerdjaan untuk mendapat penghasilan jang lebih luas.

c. Mengadakan organisasi-organisasi, terutama berbentuk

koperatif, guna keperluan mentjari bibit tanaman, mem- beli dan mendjual bahan. Gerakan ini telah berhasil dengan berdirinja tjabang-tjabang Rukun Tani jang terserak diseluruh Djawa dan ada djuga terdapat diluar pulau Djawa. Dalam masa madju-madjunja gerakan ini, tjabang Rukun Tani Lu- madjang menjelenggarakan suatu Pasar Malam Rukun Tani jang mendapat perhatian besar dari segala fihak. Urusan koperasi, bank, pertanian, disamping pelajaran, keradjinan dan perdagangan dalam Parindra diselenggara- kan oleh Departemen Ekonomi dan dipimpin oleh Mr Susanto Tirtoprodjo. Bagian pelajaran telah berhasil mem- bentuk perhimpunan koperasi bagi para pelajar Indonesia dipusat-pusat pelajaran seperti Surabaja, Makasar, Semarang, Djakarta, Palembang, Bandjarmasin, dll. Telah ter- bentuk pula perhimpunan Rukun Pelajar Indonesia (Rupelin) jang mempunjai kantor-kantor di Surabaja, Makasar, Semarang, Djakarta dan Balikpapan; perahu-perahu Rupelin melajari seluruh lautan jang menghubungkan bagian-bagian kepulauan Indonesia.

Oleh Departemen Sosial Parindra diusahakan a.l.: pe-

meliharaan kaum miskin, pemeliharaan anak jatim, peme-

liharaan kaum penganggur. Dalam usaha sosial itu Dr

Soetomo banjak sekali memberikan bantuan uang sendiri. Untuk memperdjuangkan perbaikan dalam lapangan sosial, termasuk pula urusan kesehatan rakjat dan pergu-

ruan, telah disusun rentjana perdjuangan untuk para ang-

gota partai jang duduk dalam badan-badan perwakilan.

Dalam rentjana itu tak dilupakan usaha kearah perbaikan

perumahan rakjat, soal air minum bagi rakjat dikota-kota

besar, pembikinan tempat mandi dan tempat buang air

bagi penduduk kota-besar jang tidak mampu, dan andjuran

memperbanjak adanja poliklinik sampai didesa-desa, dsb. Departemen Serikat Sekerdja jang diketuai sendiri oleh Dr Soetomo berhasil a.l. mendirikan 'Serikat Sopir', 'Serikat Kusir', 'Serikat Buruh Pelabuhan' dan 'Serikat Buruh Pertjetakan'. Dr Soetomo sangat memperhatikan soal pengadjaran. Telah kita ketahui, betapa ia senantiasa memikirkan pengadjaran bagi adik-adik dan kemanakan-kemanakannja; telah kita ketahui, bahwa tudjuan pendirian Budi Utomo semula adalah terutama mempertinggi deradjat pengadjaran bagi para peladjar Indonesia; telah kita ketahui pula, bahwa Dr Soetomo di Surabaja mendirikan Indonesische Studieclub, suatu perhimpunan untuk mempeladjari pel- bagai soal kemasjarakatan; dalam 'keinginannja jang ter- achir' tak lupa pula berpesan, agar sebagian besar dari harta peninggalannja dipergunakan untuk suatu fonds jang bunganja guna menolong peladjar. Kesemuanja itu mènun- djukkan dengan djelas, bahwa soal pengadjaran sungguh mendapat perhatian istimewa dari Dr Soetomo. Waktu Dr Soetomo dalam tahun 1936 melawat keluar negeri, dimana-mana ia memperhatikan soal pendidikan dan pengadjaran; di India ia mengundjungi Santiniketan, di Mesir mengundjungi Al Azhar, di Turki mengundjungi Universitet Ankara, dinegeri Belanda a.l. Universitet Mer- deka, di Inggeris memperhatikan kehidupan putera-putera India jang beladjar disana. Karena itu sudah selajaknja ia pada Kongres Perguruan Nasional ditahun 1937 memegang peranan jang penting. Dalam pre-adpisnja diandjurkannja disitu, supaja pemuda-pemuda Indonesia sedapat-dapat melandjutkan peladjaran diluar negeri, terutama di Pili- pina, India, Djepang, Mesir dan Turki. Dan untuk itu diandjurkannja, supaja sekolah-sekolah nasional dan sekolah-sekolah pertikelir lainnja mengadjarkan bahasa Inggris, suatu bahasa jang dapat memudahkan urusan meneruskan peladjaran keluar negeri itu.

ATAS: Makam Dr Soetomo selalu menarik perhatian orang jang baru

datang di Surabaja.

BAWAH: Presiden Soekarno bersama istri sedang mendoa untuk

arwah Dr Soetomo.

Andjuran Dr Soetomo itu mendapat sambutan jang

hangat sekali dari fihak mereka jang menjetudjuinja mau- pun jang tidak menjetudjuinja. Dalam tulisan untuk men- djawab fihak jang tak setudju dengan andjuran Dr Soetomo itu, ia a.l. mengemukakan saran, agar Pemerintah Hindia Belanda melakukan tindakan-tindakan sebagai berikut:

a. menambah djumlah dan djenis perguruan jang tjotjok dengan rentjana kemakmuran dan kelebihan penduduk;
b. menurunkan uang sekolah dengan maksud agar selaras dengan kekuatan rakjat Indonesia dan memberikan kesempatan anak-anak jang tidak mampu untuk be- ladjar dengan tjuma-tjuma.
c. memberikan bea-siswa (studie-beurs) setjara luas dan mengadakan asrama jang murah beajanja bagi murid-murid sekolah menengah dan tinggi, kalau perlu djuga untuk murid-murid sekolah rendah. Sambutan dari mereka jang menjetudjui andjuran-andjuran Dr Soetomo dalam Kongres Perguruan Nasional itu ialah, bahwa para pemuda Indonesia lebih giat mempela- djari bahasa Inggris dan berbagai sekolah partikelir men- tjantumkan bahasa Inggris pada daftar pengadjarannja. Tidak lama sehabis Kongres tersebut mulai banjak pemuda-pemuda pergi keluar negeri, ke Mesir, India, Djepang, untuk meneruskan peladjarannja, terutama dalam pengetahuan vak. Ketjuali bagi pengadjaran sekolah, Dr Soetomo djuga pengandjur bagi pendidikan masjarakat seumumnja: kursus pemberantasan buta huruf, kursus pengetahuan umum dan penerangan setjara tertulis. Dalam hal penerangan tertulis ini Dr Soetomo menundjukkan kegiatan jang sungguh menakdjubkan: Disamping pekerdjaannja sebagai dokter, sebagai guru sekolah dokter dan sebagai pemimpin partai, masih sempat pula ia menulis karangan-karangan jang sering bersifat penerangan. Buku-buku karangan Dr Soetomo jang sematjam itu ialah misalnja:

'Sesalan Kawin', 1928. 'Perkawinan dan Perkawinan anak-anak', 1928. 'Pelita Buruh'.

'Suluh Sarekat Sekerdja', 1934.

'Puspa Rinontje', 1938. Usaha Dr Soetomo dalam lapangan penerbitan surat- surat kabar dan madjalah adalah djuga karena terdorong olch hasrat memberikan penerangan seluas-luasnja kepada rakjat.

PERPUSTAKAAN TAMAN-SISWA djl. Taman-Siswa 31 JOGJAKARTA

BAB IV. PERTJIKAN TJITA-TJITA DAN PETUA DR SOETOMO

Agar supaja para pembatja dapat mengukur sendiri beta- pa sifat, budipekerti dan kejakinan almarhum Dr Soetomo dalam beberapa segi perdjuangan, disini kami sadjikan sekumpulan ketjil daripada kutipan-kutipan diambil dari berbagai buku, madjalah, surat kabar dan pidato Dr Soetomo sendiri. BEKAL UNTUK PERDJUANGAN Dari buku Perajaan interinsulair', 11 Fuli 1925. ,,Senantiasa berdjuang kemuka djurusan kita, dengan tiada memperdulikan sindiran dan tjela, bahkan tiada menjesali kehilangan dan kekurangan jang harus diderita dari barang-barang jang menjenangkan hidup kita sendiri."

Kongres Parindra di Djakarta, 15—17 Mei 1937. 'Jang paling berat ialah memerangi rintangan-rintangan jang ada didalam diri sanubari kita sendiri. Kelambatan dan kelemahan djasmani jang menghalangi dan menjukar- kan kemadjuan dan ketjerdasan rochani, harus kita ka- lahkan'.

Pidato Kongres Indonesia Raja, I Djanuari 1932. .. hanja dengan menundjukkan keperwiraan, kebe- naran dan ketulusan hati terhadap pengabdian pada nusa dan bangsa, baharulah kita dapat mengharukan hati rakjat kita, baharulah rakjat pertjaja kepada kita dan suka menjokong perdjalanan kita jang menudju dengan lang- sung kearah kemerdekaan, agar supaja Bangsa dan Ibu Pertiwi kita dapat tempat didunia ini jang penuh dengan kehormatan dan kemuliaan'.

'Suara Parindra', Februari 1938. 'Kita harus memalingkan muka dan segala kemauan bekerdja kita kepada massa, rakjat murba, jang nasibnja be- gitu djelek. Djika kita dapat bekerdja bagi mereka, men- djundjung mereka dari kesengsaraannja, tahulah kawan akan kesenangan rasa dan kepuasan hati jang dapat melu- pakan apa jang kita derita sendiri.

UNTUK RAKJAT Kongres Perguruan di Solo, 8 Djuni 1935. 'Kami, sebagai saja djuga ini, mulai ketjil hingga keluar dari sekolah tinggi adalah mendapat pengadjaran karena ongkos jang dipungut dari keringat bangsa kita jang mela- rat dan hidup dalam kegelapan itu. Maka oleh karena itu sudah sewadjibnjalah, karena hutang budi itu, kaum terpe- ladjar menjediakan fikiran dan tenaga untuk keperluan dan kesedjahteraan rakjat.'

'Suara P.B.I.', 1 Djuli 1932. 'Kita masuk mendjadi anggota dari salah suatu partai politik, karena jakin hanja didalam partai itulah kita akan merasa puas dan senang mengorbankan diri kita untuk melajani rakjat dan keluh kesah Ibu Pertiwi kita.'

Kongres Indonesia Raja (pidato), 1 Djanuari 1932.

'Baik keneraka bersama-sama dengan rakjat daripada

hidup badan sendiri disorga. Menghamba kepada keadilan

dan kebenaran itu bermaksud bekerdja dan berusaha se-

terusnja dengan ketetapan hati dan melintasi djalan jang

membawa kita ke Indonesia Mulia'.

SIKAP ANGGOTA PARTAI 'Suara P.B.I.', 1 Djuli 1932. 'Maka adalah salah bila ada orang jang mengira, bahwa hidup didalam perikatan partai politik itu berarti mengu- bur inisiatif atau perkembangan perseorangan kita sendiri. Djauh daripadanja. Sumbangan dan kekuatan kita akan terbukti dan berpengaruh didalam kalangan kita sendiri, sedang diluar partai harus hanja ada suara dan kemauan partai. Inilah arti kata mengabdi dan berkorban jang se- sungguh-sungguhnja, ialah mengakui dan menundukkan diri kita pada kekuatan dan perasaan jang lebih besar dan mulia daripada kekuatan dan perasaan kita sendiri.'

'Suara P.B.I.', 1 Djuli 1932. ‘Putusan umum dari Kongres harus mendjadi kejakinan kita. Terhadap kepada partai kita, kita harus bersikap sebagai Kumbokarno, ialah Right or wrong my country'; begitulah sikap bangsa Inggris djuga — begitupun seha- rusnja sikap kita terhadap kepada partai. Betul atau salah:

itu bukan soal kita, kita wadjib mendjadi perintah partai

kita.'

KAUM PUTERI Pidato berdirinja P.P.A.F. Surabaja. 'Hendaknja kaum puteri tidak sadja mendjadi sajap kiri pergerakan kita, tetapi dapatlah memberikan tjontoh se-

bagai ibu sedjati.'

PERDJUANGAN BURUH

Dari bukunja: 'Suluh Sarekat Sekerdja'.

'Didalam perdjuangan kita harus mengetahui siasat dan

politik, dan jang paling perlu ialah mengetahui akan ke-

kuatan kita sendiri dan kekuatan lawan kita.'

Dari bukunja: 'Pelita Buruh'. 'Berdjoang berarti berusaha akan merebut kedudukan jang sepadan dengan keadaan kita dimasjarakat ini, dan usaha ini membawa risiko, jang harus kita pikul dengan kegembiraan pula. Pada waktu kemenangan haruslah kita djangan tinggal bersenang-senang dan lupa akan kewadji- ban kita. Kemenangan itu adalah berarti mendekati seting- kat dari anak tangga jang harus kita naiki lagi. Maka tingkat itu adalah sebuah fondamen, guna meneruskan pemandjatan kita naik terus keatas.'

'Pelita Buruh'. 'Kekalahan didalam perdjuangan itu bagi kita harus dipandang sebagai pengadjaran guna memperbaiki organi- sasi, memperbaiki siasat kita, dan sebagainja. Djauhlah kita akan berketjil hati bila mendapat kekalahan dan tamparan dari lawan kita.'

PERSELISIHAN SAUDARA

Kongres Parindra Djakarta, 15—17 Mei 1937. 'Dengan mengingati peladjaran Kristus (Lucas 11/17, jang maknanja: tiap-tiap keradjaan jang memetjah-metjah akan musna, dan sebuah keluarga jang memetjah-metjah sendirinja akan runtuh; Im. S.) dengan mengetahui pula dimanapun djuga didunia ini, karena pertikaian golongan satu dengan jang lain, pekerdjaan nasional kita tidak akan terpelihara, akan tetapi sebaliknja malah mendjadi mang-

sanja musuh.'

Kongres Parindra Djakarta, 15—17 Mei 1937.

Marilah selandjutnja perselisihan-persilisihan kita itu kita pandang sebagai perselisihan saudara, dan tidak kita

hembus-hembuskan mendjadi besar dan kita korek-korek

pula. Daripada kita membuang-buang waktu dan kekua-

tan, tenaga untuk bertjakar-tjakar, lebih utama kita mem- pergunakan waktu jang berharga itu untuk pekerdjaan

membangun bersama-sama untuk rakjat kita.'

DASAR KOOPERATIF Kongres Parindra Djakarta, 15—17 Mei 1937. 'Didalam lapangan ekonomi bertumpuk-tumpuk pula kewadjiban-kewadjiban baru jang dapat dikerdjakan dengan langkah dan akal jang bulat. Mengingat kemelaratan umum dan kekurangan modal, atau tidak adanja dasar atas adat tolong-menolong dari orang tua terhadap pute- ranja, maka usaha jang paling gampang dan baik untuk mengganti dan memperbaiki masjarakat itu ialah didasar- kan atas adat dan kebiasaan jang sudah ada itu, hanja sadja diperbaharukan dan diatur dengan pengetahuan, artinja membangun masjarakat atas dasar dan perasaan kooperatif, tolong-menolong, tetapi dalam mana tentunja masih ada tempat djuga untuk usaha-usaha seseorang sen- diri dan untuk mempunjai milik.'

PERGURUAN NASIONAL

Kongres Perguruan di Solo, 8 Djuli '35. 'Soal perguruan nasional untuk rakjat adalah soal jang letaknja pada: mentjari dan mendidik guru-guru jang dengan gembira dan rela hati suka mengorbankan dirinja akan hidup sebagai Kyai jang sedjati, jang merasa senang dan puas dengan menjediakan dirinja untuk berkembang- nja Nusa dan Bangsa.'

BAHASA INDONESIA

Kongres Parindra Djakarta, 15—17 Mei 1937.

'Dengan sungguh-sungguh harus diusahakan, supaja bahasa interinsulair, bahasa perantaraan antara bangsa-

bangsa dikepulauan Indonesia ini, ialah bahasa Indonesia,

diakui sebagai bahasa resmi. Sudah tentu dengan sendirinja orang-orang asing jang tinggal disini lantas lebih memperhatikan dan lebih suka mempeladjarinja dengan radjin bahasa kita umumnja.'

Kongres Parindra di Djakarta, 15—17 Mei 1937. 'Kaum terpeladjar harus menaruh perhatian kepada bahasa kita, agar supaja surat-surat kabar dan madjalah- madjalah nasional kita dengan sendirinja akan mendjadi alat jang penting untuk menjampaikan pendapat umum di Indonesia.'

Kongres Parindra di Djakarta, 15—17 Mei 1937. ... Kita harus mengambil tjontoh dari bangsa Jahudi, jang menghidupkan kembali bahasa Ibrani. Sedang bangsa Turki dan Tsjech kembali menghormati bahasanja sendiri. Tetapi mudjur djuga basa kita ini masih tetap bahasa jang hidup dengan kuat dan suburnja.'

KESENIAN Didalam rapat Persindo, Surabaja. ‘... meskipun kita sekarang hidup dalam kesempitan, toch dalam abad jang belakangan ini ada tanda-tanda, bahwa kita hendak mengusahakan kesenian. Hampir semua gending-gending, lagu-lagu dan njanjian-njanjian menan- dakan kedjurusan, bahwa kita sedang dalam kesakitan, dan ada pula tanda-tanda kebangkitan nasional.'

Kongres Parindra Djakarta, 15—17 Mei 1937.

'Rakjat kita mempunjai kehendak dan keinginan, jang

tiap kali dinjatakan dalam njanjian, tari-tarian dan bunji-

bunjian. Biasanja kita kaum terpeladjar mentertawai akan

sifat kedesaan, ketjanggungan dan kedjanggalannja. Akan tetapi, marilah kita mengambil sikap lain, dan dengan ketjintaan dapat menerima kurnia jang diberikan

oleh rakjat itu kepada kita. Baiklah kita djaga, supaja kese-

nian rakjat itu mendapat kemadjuan.'

PERS NASIONAL Pidato Kongres Indonesia Raja, 1 Djanuari 1932. 'Maka pers nasional itu adalah salah satu dari tjabang kehidupan kita jang sebagai tjermin dapat membajang- bajangkan sekalian tjita-tjita, keadaan dan kemauan kita. Pers nasional ialah suatu sendjata jang maha tadjam dan jang amat setia mengabdikan dirinja pada siapa jang mem- pergunakannja.'

AGAMA Didalam rapat pendirian P.P.A.F. ‘Pergerakan kita tidak berdasarkan agama ini bukan berarti bahwa kita tiada setudju dengan agama dan mela- rang anggota kita memeluk agama, sekali-kali tidak. Malah kita andjurkan mereka jang kita berikan kemerdekaan memeluk agamanja masing-masing itu menetapi akan ke- wadjibannja dengan sungguh-sungguh dan mengerdjakan perintah dengan perbuatannja.'

MILISI Kongres Parindra di Djakarta, 15—17 Mei 1937. 'Pemerintah Hindia-Belanda disini, begitu djuga dinegeri Belanda, telah berulang-ulang mendesak dan mengandjur- kan kerdja-bersama. Öleh karena itu apakah buruknja apabila untuk pendjagaan (pertahanan) negeri, baik dilaut,

didarat, maupun diudara, digunakan tenaga terpeladjar

tjerdik pandai bangsa kita? Tidakkah ini akan mendjadi

bukti dari kepertjajaan? Akan tetapi selama ketakutan dan keragu-raguan terdapat dalam pimpinan negeri, selama

itu pula sukar dapat diharapkan kemauan jang sungguh-

sungguh untuk kerdja-sama dengan saling menambah ke- kuatan masing-masing itu.'

KRITIK Pidato Kongres Fusi di Solo. 'Kritik jang sehat dan mempunjai sifat membangun, baik kita perhatikan dan pertimbangkan; tetapi kritik jang me- metjah-belah, kita diamkan sadja, sambil bekerdja terus lebih giat menurut kejakinan dan kebenaran.'

BUNGA-BUNGAAN ASING

Terdjemahan kutipan dari kata pengantar Puspita Mantja

Negara'. 'Isi buku jang saja beri nama Puspita Mantja Negara' ini adalah kumpulan uraian pemandangan saja dinegeri asing jang telah saja tulis disurat kabar, dipilih dan ditam- bah, mana jang selaras, jang patut diperingati oleh para pembatja, dapatlah kiranja dipakai djadi bahan pertim- bangan dalam usaha turut memberikan tanda kebaktian untuk kewadjiban negara dan bangsa sendiri.

Laksana bunga-bungaan, tak semua harum baunja dan indah warnanja, demikianpun puspita dari negeri asing ini tidak semuanja selaras dengan keadaan bangsa kita disini, karena itu harus kita selalu waspada, dapat membeda-

bedakan mana jang tjotjok untuk dipakai sebagai pedoman

dalam menjatakan kebaktian kita itu.'

DJALAN TERUS

Didalam waktu sudah sakit, dalam Suara Parindra April 1938. 'Kita harus djalan terus, meskipun dengan hati patah.

Tidakkah dalam tahun-tahun sekolah kita, kita berbuat

demikian? Sebab banjaklah sudah kawan-kawan murid

kita sekelas, jang karena beberapa alasan — baik dari sebab kurang tjakap atau karena kepandaiannja tidak men- tjukupi — harus kita tinggalkan dalam kelas kita itu, sedang kita naik kekelas jang lebih tinggi? Kawan-kawan itu terpaksa kita tinggalkan, karena djika tidak demikian dapat menghalangi tertjapainja tjita-tjita kita jang lebih tinggi. Demikianlah djuga dalam perdjuangan kita. Banjak dari kawan separtai, jang semendjak dari permulaan perdjuangan berdiri disamping kita, menghadapi segala kesukaran dan dapat menolak atau melalui bahaja, — achirnja k rena beberapa hal tidak dapat meneruskannja. Mereka djatuh dalam masa perdjoangan masih hangat, dan tidak dapat lagi berdiri tegak. Šebab, jang seorang mementingkan kepada keinginannja untuk dapat hidup sedjahtera dengan keluarganja, seorang lagi ingin naik pangkat, sedang ada pula jang tidak mem- punjai perangai dan tidak dapat dipertjaja, apabila kepa- danja sudah diserahi kewadjiban jang lebih banjak tang- gungannja. Banjak dari kawan-kawan kita dari dulu, dengan siapa kita bersama menderita kesusahan dan dapat kesenangan, — jang karena itu lebih kita tjintai dan hargai daripada seorang saudara sendiri — harus kita tinggalkan didjalan, agar supaja tidak menghalangi kemadjuan perdjoangan kita. Djalan terus!'

PERPUSTAKAAN

Perpustakaan jang dipergunakan untuk menjusun buku ini antara lain:

  1. Dr R. Soetomo: Kenang-kenangan, 1934.
  2. Dr R. Soetomo: Poespa rinontje, Pustaka Nasional, 1938.
  3. Dr R. Soetomo: Puspita Mantja Negara, Pustaka Nasional, 1937.
  4. Dr R. Soetomo: Sesalan Kawin, Tjetakan ketiga, Balai Pustaka, 1936.
  5. Dr R. Soetomo: Perkawinan Anak-anak, Balai Pustaka,
    1928.
  6. Dr R. Soetomo: Chotbah Pembukaan Kongres Indonesia
    Raja, Suara Umum, I s/d 3 Djanuari 1932.

  7. Dr R. Soetomo: Pelita Buruh, Perpustakaan P.B.I. Surabaja.

    8. Dr R. Soetomo: Suluh Sarekat Sekerdja, Pustaka Nasio-

nal, 1934.

9. Dr R. Soetomo: Pengadjaran dan Pendidikan, Perpusta-

kaan P.B.I. Surabaja, 1934.

10. Achdijat K. Mihardja: Polemik Kebudajaan, Balai Pus-

taka.

11. Dr M. Amir: Bunga Rampai, Toko Buku Sjarkawi,

Medan.

  1. A. Wahit Rata: Dr Soetomo dengan perdjoangannja, Sjari-
    kat Tapanuli, Medan.

  2. Imam Soepardi: Melawat ke Mesir, Pustaka Nasional,
    1937.

  3. Imam Soepardi: Pangastuti, Pustaka Nasional, 1933.
  4. Imam Soepardi: Kata Peninggalan Dr Soetomo, Pustaka Nasional, 1937.
  5. Imam Soepardi: Swargi Dr Soetomo, Pustaka Nasional,
    1940.
  6. Tan Malaka: Massa Actie, Pustaka Murba, 1947.
  7. Buku Peringatan P.B.I., Centraal Bestuur P.B.I.
  8. Gedenkboek Interinsulaire Dag Studieclub, Indonesische
    Studieclub, 1926.

  9. Dr Samsi: Membela P.P.P.K.I.

  10. R. M. Margono Djojohadikusomo: Sepuluh tahun pene-
    rangan tentang Koperasi, Balai Pustaka, 1941.

  11. Kongres Indonesia Raja, Suara Umum.

  12. Buku Peringatan Tumapel, Pusat Koperasi Tumapel,
    Malang. Surat-surat kabar dan madjalah-madjalah: 'Suara Umum', Surabaja, 'Kebangunan', Djakarta, 'Perasaan Kita', Djakarta, Menara Puteri', Medan, 'Suara Katholiek', Jogja- karta, 'Panjebar Semangat', Surabaja, 'Tempo', Surabaja, 'Suara Parindra', Surabaja, 'Suluh Rakjat Indonesia', Surabaja, 'Suluh Indonesia', Surabaja, 'Suluh Indonesia Muda', Bandung, 'Bangun', Surakarta, 'Indische Courant', Surabaja, 'Soerabajaasch Handelsblad', Surabaja, 'A.I.D. de Preangerbode', Bandung, 'Pandji Pustaka', Djakarta, 'Darmokondo', Surakarta, dan lain-lainnja.
ISI BUKU

I. SEDJARAH HIDUP SELAJANG PANDANG

II II. MANUSIA SOETOMO. Masa ketjil II

Disekolah rendah 16
Disekolah dokter.
Mendirikan 'Budi Utomo' 26
Soetomo sebagai suami 31
Sikap dan sifat Soetomo.
Dr Soetomo. 43

36 Pernjataan orang-orang terkemuka tentang

III. PERDJUANGAN SOETOMO DALAM KALANGAN PERGE-

RAKAN 51 62

IV. PERTJIKAN TJITA-TJITA DAN PETUA DR SOETOMO

PERPUSTAKAAN 71

BUKU INI DITERBITKAN SEBAGAI

NOMOR 9 DARI SERI TJERMIN KEHIDUPAN

Telah terbit dalam seri ini: KARTINI, Wanita Indonesia. oleh Nj. Hurustiati Subandrio SUN YAT SEN, Bapak Republik Tiongkok Baru. oleh Y.C.Wu GANDHI, Pelopor Kemerdekaan dan Kebudajaan India, oleh A. Z. Ali, berdasarkan naskah A. Pleysier NEHRU, Pahlawan besar India. oleh Hazil RIZAL, Pahlawan Kemerdekaan Pilipina. oleh Amal Hamzah, berdasarkan naskah F. W. Michels KEMAL, Pentjipta Turki Baru. oleh Suwirjadi ROOSEVELT, Pembela Dunia Demokrasi. oleh Amal Hamzah, berdasarkan naskah F. W. Michels

SAJJID AHMAD KHAN, Seorang Islam Modern dan Pem- baharu Sosial. oleh Amal Hamzah, berdasarkan naskah Dr J. M. S. Baljon Jr

PEI