Mengajakku larut dalam genangan hasrat. Yang menghisap tubuhku untuk ringkih dan berkarat.
Ketika aku mengerti dan menyendiri. Dan menyendiri dan mengerti. Ketika nuansa lagu Bjork menjemputku. Untuk kemudian menjemput masa lalu, masa lalu yang teramat menyiksaku. Dalam terang dan dalam gelap ruang ini, dan dalam dentuman pembangkangan Sex Pistols yang selalu menghantui langkahmu.
Saat ini saat yang nyata. Untukmu? Untukku?. Yang selalu menari dalam nada sarkastik. Juga saat dirimu menelanjangi keperkasaanku.
Rasanya aku ada saat kau lelap. Dan apakah kau tahu siapa diriku?. Aku selalu ada, dan kau mengasah kesendirianku, matahariku…belatiku… malaikatku.
“Adalah kata-kata yang memberi bentuk pada sesuatu yang masuk dan keluar dari diri kita. Adalah kata-kata yang menjadi jembatan untuk Menyebrang ke tempat lain Ketika kita diam, kita akan tetap sendirian. Berbicara kita mengobati rasa sakit. Berbicara kita membangun persahabatan dengan yang lain. Para penguasa menggunakan kata-kata untuk menata imperium diam. Kita menggunakan kata-kata untuk memperbaharui diri kita... Inilah senjata kita saudara-saudaraku.” (Subcomandante Marcos, 12 Oktober 1995). Dikutip dari buku KATA ADALAH SENJATA
DISEASE 1
Gratis dikonsumsi khalayak yang berpikiran terbuka.
(For critics and every words please send to [email protected]).
Entah dari mana saya harus memulai semua ini, maksudnya tulisan ini yang saya buat. Tapi saya akan coba menulis seadanya saja, dan semua ini berawal ketika saya ingin mempublikasikan karya-karya saya kepada teman-teman, terutama puisi.
Mungkin ini hanya saya jadikan pengantar untuk penjelasan dari puisi saya, yang mungkin terlalu abstrak dan subjektif untuk dikonsumsi, tapi semua itu tergantung dari semua pendapat kalian yang membacanya.
Puisi-puisi ini saya buat untuk merepresentasikan keadaan sosial juga semua yang telah meng-inspirasikan seluruh hidup saya baik lingkungan, orang-tua, dan teman-teman dekat saya, yang terjadi selama kurun hidup saya yang sedari dulu hingga sekarang, yang saya pikir perlu untuk saya tulis (dan mungkin juga tidak perlu bagi kalian), lalu mem-publikasikan ke kalangan teman-teman dan sekitaran tongkrongan-tongkrongan di Bandung, mungkin saja.
Yang saya tulis dalam puisi-puisi ini kebanyakan saya tulis ketika saya tidak cocok dengan keadaan masyarakat di sekitar saya yang sangatlah menjemukan. Ya.. seputaran hegemoni dan keberadaan agama yang makin hari makin pasif, serupa hasrat dan nafsu khalayak yang kian hari kian membisu dan seperti bangkai. Dan ketika saya menemukan keterasingan manusia dari porosnya, saya tidak lantas diam, saya melawan dengan se-kemampuan saya dengan tulisan maupun puisi-puisi saya yang saya pikir mungkin sangatlah standar untuk dibaca. Tetapi dalam benak saya, saya berusaha jujur untuk merepresentasikan semua itu dalam bentuk resistensi kecil-kecilan yang bisa saya realisasikan.
Tadinya sebelum ide puisi ini untuk dipublikasikan, saya ingin buat acara kecilkecilan di depan halaman rumah seorang kawan, sebut saja Pey. Acara tersebut saya gagas untuk menyambut tahun baru sembari menentang tahun baru yang tiada guna dan banyak kesia-siaannya. Tapi mungkin saya terlalu munafik untuk menyingkapi tahun baru aaaaaaagghhh… forget it. Tapi tadinya saya semangat untuk mengikutsertakan kawan-kawan di sekitaran rumah untuk berpartisipasi dalam acara acoustic tersebut, yah tapi apa boleh buat ternyata kita belum beruntung dalam masalah dana, dan walhasil saya gagas ide lain bertemakan puisi yang saya pikir minim dana dan gak terlau repot. Untuk segala jerih payah dan inspirasinya yang sangat cemerlang dan briliyan, saya haturkan terima kasih untuk hidup ini dan terima kasih juga Pey atas sarannya (kapake pisan) dan teman-teman seperjuangan di Baranang Siang Thanks Brooo.
Agama Itu Sampah
Dan tak ada lagi rumput yang hijau. Udara segar hanya menjadi amis. Dan setiap pengharapan yang kalian miliki hanya bertuliskan pengharapan berselubung neraka.
Bahwa agama adalah sampah. Bahwa agama telah menjadi limbah. Kepulan asap hitam untuk agama. Bertopeng api para pemimpi.
Yang berjalan tetap stagnan. Dalam layar tv setan. Yang menawarkan kiloan pahala. Dan hanya berakhir dalam rupiah angka. Ketika surga dan neraka menjadi akhir tujuan. Ketika itu pula tuhan dan iblis menjelma. Dalam dunia nyata para pengkhotbah,
pengkhotbah seribu muka dengan setumpuk pahala. Agama telah menjadi alat, alat sejuta pencapaian, pencapaian malaikat bersayap yang dirasuki iblis jalang. Kau sampah dan agamamu dan tuhanmu. Tuhanmu telah berubah, menjadi tuhan palsu yang bersemayam dalam tumpukan neraka dunia.
Namaku Tai
Pagi, siang, malam tak berarti bagiku. Ketika semuanya serba berantakan dan tak pernah lagi menyenangkan. Waktu demi waktu, aku tetap menjijikan. Dalam selokan dan pojok got yang berceceran.
Aku tak pernah tahu lagi apa itu waktu, karena waktu telah menyita keberadaanku. Bertahan untuk makan berak, atau dalam tumpukan sampah. Kumpulan manusia tak lagi menyadari eksistensinya. Hanya diperkosa waktu dan keringat setan kota ini.
Bahkan di pojok got dan selokan kota aku menanti. Menanti melihat apa yang akan terjadi. Ketika hegemoni telah mendiami sisi hidup. Dan barisan itu hanya terdiam dan kikuk tak sadar akan kehancuran, kehancuran yang tercipta oleh mereka dan mereka juga.
Aku tersenyum dan menjarah setiap kemungkinan konsumtivisme. Dalam setiap konsumtivisme yang lahir dari kandungan mall-mall yang berseri. Pada malam-malam kelam aku berjalan dan bertahan. Yang seperti biasa aku lakukan, karena aku sebongkah tai.
Sampai Jumpa Di Neraka Malaikatku
Jatuh dan bangun aku menjemputmu. Ketika sebuah malam menghentakku.