BULLETIN Perjalanan ISDV dan yang Berjuang di Lajur Kiri De Verleden Bulletin DEVERLEDEN Penulis : Alfian Widi Santoso : Julianus Palermo Editor Ahli Bahasa
HMD Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga Surabaya, Jawa Timur
: Rama Narendra
Topik Utama
Perjalanan ISDV dan yang Berjuang di Lajur Kiri
1. Pendahuluan
Hari ini komunisme ataupun isme-isme yang lain seakan-akan tabu di mata banyak orang, bahkan masih menyisakan sayatan yang dalam bagi sebagian orang yang pernah menjadi saksi sejarahnya. Tak lain hal ini disebabkan oleh satu tragedi kemanusiaan yang mendalam yaitu tragedi 1965-1966 yang mana tragedi ini menciptakan satu hantu yang menakuti semua orang hingga hari ini. Setelah tragedi kemanusiaan ini akhirnya terjadi pemberedelan buku-buku kiri agar tidak lagi terjadi ancaman tragedi tersebut itu berulang.
Maka pertanyaan lebihnya dan sangat umum, apakah komunis di Indonesia memang benar-benar kejam selalu? Pastinya tidak, hal ini bisa dibuktikan saat kita membaca secara historis bagaimana komunisme berkembang pada satu organisasi bernama ISDV (Indische Sociaal Demokratische Vereniging) yang bertumbuh pada masa Hindia Belanda. ISDV ini berdiri atas pemikiran seorang sosialis Belanda bernama Henk Sneevliet dan juga seorang raja mogok buruh kereta api bernama Semaun
ISDV ini setidaknya telah menjadi salah satu jawaban zaman kala itu, yang mana masyarakat bumiputera sudah mulai merasakan kemuakan pada pemerintah kolonial Belanda yang telah kompleks untuk menciptakan satu atmosfer anti-kolonial, walaupun kemunculan aktivitas gerakan bumiputera dinilai agak terlambat untuk wilayah Asia, namun hal inipun tidak bisa dikatakan gagal sepenuhnya, namun inilah yang terjadi di bumi Hindia Belanda, yang juga ditambah lagi dengan kebijakan politik etis yang membuat kaum muda intelektual pergi ke Belanda dan berorganisasi dengan orang-orang kiri di sana.
2. Perlawanan atas Kolonialisme di Indonesia Sebelum ISDV
Feto 1 Moltatali
Awal dari semua ini sekiranya dapat diawali dari dua semangat yang saling berkaitan dan berkelindan, yaitu pertama, perlawanan masyarakat akar rumput berbasis keagamaan dan mistisme yang meletus atas kesewenang-wenangan kolonial pada tanah-tanah masyarakat, yang mana akhirnya menjadi perlawanan penuh masyarakat itu sendiri, dan yang kedua adalah tulisan Multatuli (nama asli Eduard Douwes Dekker) yang menjadi pemantik kemunculan semangat anti kolonialisme di kalangan intelektual Bumiputera maupun intelektual Dunia kala itu.
Perlawanan pertama, perlawanan ini bisa kita lihat pada abad 19 yang mana kala itu Nusantara masih sangat melekat ajaran-ajaran berbau mistisme, hal ini pun tidak berarti logika mistik (seperti yang disebutkan Tan Malaka) hanyalah mengajarkan cara beribadah atau cara hidup menghormati hal-hal ghaib. Logika mistika ini bisa disebut-sebut sebagai hal yang juga menghasilkan perlawanan penuh tentunya, dan hal ini kita bisa melihat pada perlawanan Diponegoro yang disebut hal yang juga menghasilkan perlawanan penuh
tentunya, dan hal ini kita bisa melihat pada perlawanan Diponegoro yang disebut sebagai Perang Jawa yang berlangsung selama lima tahun dan telah menewaskan setidaknya 200.000 pribumi dan setidaknya 8000 tentara Belanda tewas akibat perang ini. Bisa dibilang ini adalah perang maha dahsyat yang pernah terjadi di Jawa yang berlandaskan spiritualitas. Perang inipun akhirnya sangat berdampak besar padaBelanda yang mana kebijakan-kebijakan Belanda pasca Java Oorlog ini sangat berkaitan dengan perang Jawa ini, sebut saja penggolongan masyarakat (Priyayi, Santri, Abangan), lalu kebijakan penangkapan kyai yang dianggap radikal dalam penyebaran perlawanan, seperti yang terjadi pasca Pergolakan Petani Banten 1888 yang telah diabadikan Sartono Kartodirdjo.
Kedua, Max Havelaar (Aku Sangat Menderita). Pramoedya Ananta Toer menyebut-nyebut Max Havelaar adalah buku yang membunuh kolonialisme Belanda, mengapa bisa begitu? Max Havelaar sudah bisa dibilang sebagai bom kritik atas kolonialisme di Hindia Belanda, hal inipun memantik diskusi lebih lanjut dalam intelektual kiri di negara-negara Eropa. Selain itu, Multatuli dalam novelnya Max Havelaar telah mencerminkan satu sosok Anarkis (hal ini tidak perlu dibesar-besarkan sebab zaman-zaman tersebut sangat mekar di seluruh dunia, apalagi dengan teori-teori ideologi 'kiri' yang ramai dibicarakan pada abad 19). Hal inipun menjawab 'siapa yang mengawali semangat anti-kolonial ini?' walaupun kemunculan semangat ini agak terlambat, namun telah menjadi satu tulisan yang sangat berpengaruh di kalangan sosialis dan anarkis kala itu, tak hanya di Indonesia namun di seluruh dunia, bahkan sosok Pyotr Kropotkin yang dijuluki sebagai Pangeran Anarkis Rusia telah menyanjung sangat dalam tulisan Multatuli satu ini, bahkan tulisan Multatuli ini bisa dijajarkan dengan sosok Nietzsche, Emerson, Whitman, Thoreau, dan Ibsen. Kropotkin menyanjung dengan kalimat seperti ini "Penuh dengan gagasan yang menunjukkan betapa eratnya Anarkisme terjalin dengan karya yang sedang berlangsung dalam pemikiran modern ke arah yang sama dengan pemulihan hak manusia dari ikatan negara dan juga Kapitalisme", selain Kropotkin, ada banyak sastrawan atau para sosialis yang benar-benar menyanjung karya Multatuli ini, sebut saja tokoh nasionalisme Filipina, Jose Rizal, Sastrawan Anarkis Spanyol, Felipe Alaiz de Pablo, seorang Rudolf Rocker yang menyanjung Multatuli dengan pandangan Libertarian yang ditulis pada Multatuli: An Anarchist Seer, sosok Ferdinand Domela Nieuwenhuis sebagai sosok penting di SDB (Sociaal-Democratische Bond) telah menyanjung Multatuli dalam tulisannya "Multatuli as a Heretic par Excellence" dalam bukunya Van Christen tot Anarchist, dan masih banyak lagi yang telah menyanjung tulisan Multatuli ini.
Tulisan Max Havelaar inipun juga harusnya bertanggung jawab atas dibentuknya politik etis yang telah disahkan ratu Wilhelmina pada tahun 1901, atas desakan para liberal progresif Belanda atas kolonialisme di Hindia Belanda itu sendiri. Politik Etis inipun bisa dibilang sebagai satu penyelewengan dari tulisan Max Havelaar dan juga sebagai satu faktor awal kemunculan gerakan anti-kolonial oleh intelektual Belanda maupun Hindia Belanda.
3. Politik Etis Belanda
Kebijakan Politik Etis inipun menjadi awalan baru yang menjadi awal periode Pergerakan Nasional di Indonesia. Kebijakan ini berisi tiga yaitu Edukasi, Irigrasi, Emigrasi. Hal ini sebenarnya menjadi satu keuntungan Belanda sebab kebijakan ini memang ditujukan untuk kepentingan satu arah yaitu untuk keuntungan Belanda itu sendiri. Namun hal ini sangat berbalik arah dengan tujuan Belanda sebenarnya dan malah memunculkan organisasi-organisasi berlandaskan semangat anti kolonial, terlebih pada bagian Edukasi yang mana hal tersebut berarti mengirimkan para intelektual Bumiputera untuk bersekolah di Belanda, dan ini sebenarnya memiliki tujuan agar para intelektual ini nantinya setelah pulang dari Belanda akan lebih mendukung kebijakan Belanda, dan yang terjadi setelahnya malah mereka berpihak atas kesengsaraan yang terjadi atas masyarakatnya sendiri.
Banyak intelektual muda Indonesia yang menjalin kontak dengan para intelektual Belanda yang beraliran anarkis dan sosialis dan menimbulkan interaksi saling timbal balik, dimana para intelektual muda Bumiputera memiliki akses pengetahuan tentang gerakan anti-kolonialisme dan para intelektual Belanda akhirnya mempunyai akses lebih dalam mengetahui kondisi sosial masvarakat vang dijajah
Eine Sitzung des Kongreß-Präsidiums zwischen zwei Plenumsitzungen
Liga Melawan Imperislime di Brissels, 1927
Hal ini terlihat di banyak hal, sebut saja perwakilan Perhimpunan Indonesia atau PI yang tergabung pada Kongres Liga Melawan Imperialisme di Brussels, 1927. Yang mana kongres tersebut selain sebagai bentuk perlawanan masyarakat intelektual terhadap Imperialisme, hal itu juga dimaksudkan sebagai satu kontak untuk mengetahui kondisi masyarakat kolonial. "... Berkat Liga, untuk pertama kalinya kami melakukan kontak nyata dengan masyarakat kolonial..." tulis Muller-Lehning menjelaskan dalam sebuah surat kepada anarkis India M.P. Acharya pada tanggal 15 Agustus 1929.
4. VSTP, Sebagai Awal Pondasi
Modernisasi berlangsung, kepulan modernisasi menjalar di seluruh Jawa, datanglah kereta api yang diangkut dari Eropa. Kondisi ini memungkinkan mobilisasi yang lebih cepat, dan perubahan sosial mulai nampak pada masyarakat pribumi. Kereta api selain menjadi faktor penyebab dari perubahan kondisi sosial masyarakat, ternyata juga menjadi faktor awal kemunculan organisasi buruh pertama, dengan nama VSTP (Vereniging van Spoor-en Tramwegpersoneel) adalah organisasi buruh pertama yang mengayomi buruh jawatan kereta api Hindia Belanda.
VSTP lahir pada tahun 1908, dan terdiri oleh 200 Eropa dan 10 orang Bumiputera, hal inipun berasal dari buruh-buruh kereta api NIS, SJS, SCS. Jumlah inipun meningkat setelah tahun 1917, tercatat ada 3000 orang buruh Bumiputera dan 700 orang buruh dari Eropa. Hal inipun terus melonjak naik hingga kejatuhannya setelah pemberontakan 1926 gagal tercapai. VSTP ini berisi orang-orang komunis radikal dan anarkis. Jika ada buruh yang berpaling pada pergerakan yang progresif seperti VSTP, maka mereka akan memilih organisasi Spoorbond yang telah didirikan sejak 1905, Spoorbond sendiri sangat berbeda dengan VSTP, mereka lebih berhaluan Sosial-Demokrat yang mana lebih mementingkan kekuatan serikat buruh untuk mendapat kelayakan upah dan kesejahteraan buruh. Hal yang sangat kontras antara Spoorbond dan VSTP ini tak lebih hanya perbedaan secara ideologis saja, namun dalam permasalahan mendesak pihak manajemen kereta api dalam permasalahan tuntutan upah dan kesejahteraan buruh, mereka saling bekerja sama dan tergabung dalam satu tujuan.
Gerakan VSTP inipun telah mempengaruhi sosok Sneevliet yang baru saja sampai di Hindia Belanda, Sneevliet sangat
yakin betul bahwa gerakan radikal VSTP ini sama persis dengan gerakan serikat pekerja di Belanda yang pernah ia ketahui. VSTP inipun dengan sigap diorganisir Sneevliet untuk membentuk sebuah partai yaitu ISDV. Dalam hal ini tidak bisa kita generalisir bahwa di dalam ISDV nantinya terbentuk anggotanya hanya berisi para komunis marxis, namun banyak sekali anggota nantinya berhaluan anarkis maupun sosial demokrat.
5. Sarekat Islam dan Semaun
Feto 3 PK1-5I
Sarekat Islam sendiri adalah satu organisasi pada masa pergerakan nasional yang mana awalnya bernama Sarekat Dagang Islam atau digagas oleh Haji Samanhudi sebagai satu wadah untuk para pengusaha batik di Surakarta. Pada tahun 1912, H.O.S Tjokroaminoto mengubah nama organisasi Sarekat Dagang Islam menjadi Sarekat Islam. Perubahan nama tersebut bertujuan agar keanggotaan organisasi tidak hanya terbatas pada golongan pedagang, namun juga terbuka bagi seluruh umat Islam di Indonesia. Sarekat Islam pun akhirnya menjadi satu organisasi massa yang mana telah menggaet banyak orang dalam maksud pergerakan nasional. Setelah dipegang oleh sosok Tjokroaminoto, sekiranya Sarekat Islam menjadi lebih pesat dan berkembang tidak hanya di Jawa, namun di luar Jawa. Sarekat Islam menjadi organisasi ternama yang identik dengan gerakan nasionalis, demokratis, religius serta ekonomis. Hanya dalam waktu singkat, Sarekat Islam dapat berkembang hingga menyebar ke seluruh lapisan masyarakat.
Sosok Tjokroaminoto ini digambarkan menjadi satu sosok yang sangat diagungkan, dianggap Ratu Adil ataupun sebagai pangeran tanpa mahkota (sebagai satu sosok yang bisa menuntun orang Jawa mengambil kejayaan pra Java Oorlog). Sebab Tjokroaminoto sesuai dengan ramalan, yang mana semua orang mencarinya sebagai bentuk kejamnya sosial, ekonomi, politik kala itu.
Pada Januari 1913, di Surabaya, Sarekat Islam menegaskan bahwa organisasi ini bukanlah sebuah partai politik. Sarekat Islam terbuka untuk bangsa Indonesia. Namun, untuk menjaga agar Sarekat Islam tetap menjadi organisasi rakyat, dilakukan pembatasan terhadap masuknya pegawai negeri sebagai anggota.
Setelah Sarekat Islam berjaya di Indonesia, organisasi ini mulai mengalami perpecahan karena adanya perbedaan suasana kehidupan politik setelah tahun 1929. Sarekat Islam telah terkena pengaruh komunis yang diperkenalkan oleh Henk Sheevliet pada 1913. Satu tahun setelahnya, 1914, Sneevliet bersama beberapa orang Belanda mendirikan Indische Social Democratische Vereenihing (ISDV) di dari ISDV sendiri yaitu untuk Semarang.Tujuan menyebarkan paham Marxis. Namun, anggota ISDV tidak memiliki hubungan dekat dengan rakyat, sehingga mereka pun berniat untuk mencoba memasuki Sarekat Islam dan terjadi dualism anggota, yaitu beberapa orang menjadi anggota SI dan menjadi anggota ISDV. Akhirnya ISDV menarik beberapa pimpinan SI yang cenderung sosialis, dan salah satunya adalah Semaun yang kala itu masih berumur sekitar 19 tahun dan menjadi pimpinan SI Semarang. Kala itu sebelum dipimpin oleh sosok Semaun, SI Semarang dikenal
Diperparah lagi di saat H.O.S Tjokroaminoto menjadi salah satu anggota Volksraad. Semaun sendiri tidak menyetujui jika Sarekat Islam harus mengirimkan wakilnya ke dalam Volksraad (Dewan Perwakilan Rakyat). Dengan kemelut pertentangan dalam SI, muncullah perpecahan dalam kubu Sarekat Islam, yang mana hal tersebut bisa dikategorikan menjadi dua yaitu SI merah yang dipimpin oleh Semaun dan SI Putih dipimpin oleh H.O.S Tjokroaminoto.
6. Lahirnya ISDV
ISDV (Indische Sociaal Demokratische Vereniging) yang nantinya menjadi cikal-bakal Partai Komunis Indonesia ini diprakarsai oleh intelektual Belanda yang pergi dari negaranya sebab kalut politik di negaranya sana dan memutuskan untuk pergi ke Hindia Belanda, lebih tepatnya adalah Sneevliet pada 9 Mei 1914. ISDV menjadi satu organisasi yang radikal dan sangat kuat, terlebih lagi memang Sneevliet menyasar pada VSTP dan SI, tak hanya itu, bahkan Sneevliet juga pernah menggaet para buruh anarkis Tionghoa untuk masuk ke dalam lingkaran ISDV walaupun terbilang tak bisa mencapai hati mereka.
Atas prakarsa Sneevliet, diundanglah anggota VSTP itu dan banyak komunis radikal hingga sosial demokrat lain untuk membentuk ISDV tersebut. Jadi sejak awal terbentuknya ISDV, para anggotanya memiliki karakteristik sosialis yang sangat beragam bentuknya dan sudah menggadaikan prinsip aslinya serta nekat untuk membuat satu organisasi yang beragam seperti ISDV ini. Hal inipun juga memberi dampak lebih yang mana di dalam ISDV sendiri terjadi perdebatan sengit antar idealisme mereka sendiri. Di sisi lain, ISDV telah menampung hampir seluruh kaum sosialis di Indonesia itu sendiri.
ISDV melakukan kongres pertama kalinya pada tahun 1915 yang mana kali itu tampak dua aliran revolusioner, yang pertama di bawah kepemimpinan Sneevliet dan aliran kedua dipimpin oleh Schoutman. Perbedaan pendapat menjadi satu perdebatan di kalangan internal ISDV yang baru dibentuk ini, Schoutman berpendapat bahwa sosialisme belum tersebar sepenuhnya di Hindia Belanda dan jika saja penyebaran paham sosialisme ini dimulai secara terang-terangan, maka akan terjadi pemberontak di kalangan mereka yang belum matang secara teori.
Banyak tokoh intelektual bumiputera yang memilih jalan berpihak pada ISDV, terlebih disaat beberapa anggota SI yang kecewa dengan kinerja Tjokroaminoto dan memilih damai dengan bergabung pada Volksraad. Terlebih pada mereka yang masih berjiwa muda pada kala itu dan lebih memilih pemecahan diri di tubuh SI yaitu SI merah, para intelektual tersebut yaitu Semaun, Darsono, Alimin, Musso, Haji Misbach, Mas Marco Kartodikromo yang namanya sudah terpampang di banyak tempat.
7. Tokoh-Tokoh Intelektual Kiri
Banyak tokoh kiri bumiputera yang benar-benar progresif, dan beradadiberbagaikalangan. Sebut saja Semaun yang dikenal sebagai raja mogok, kala itu ia masih sangatbelia, yaitu sekiranya berumur 18 tahun. Kala umur 19 tahun, ia sudah menjadi pemimpin SI Semarang, dan juga menjadi generasibumiputera pertama ISDV sekaligus nantinya menjadi ketua PKI yang pertama. Walaupun Semaun adalah sosok yang hanya mendapat pelajaran hingga tingkat dasar saja, dan keluarganya berlatarkan rakyat biasa, namanya sudah melegenda di SI.
Selain Semaun, ada juga sosok Alimin, salah satu karib dari Semaun dan juga pernah satu atap dengan Semaun di Pondokan milik H.O.S Tjokroaminoto. Ia menjadi salah satu pengenyam Pendidikan yang baik dan fasih beberapa Bahasa. Alimin bergabung di ISDV pada tahun 1918 dan menjadi ketua cabang Batavia dan anggota pengurus pusat bersama dengan Musso.
Salah satu yang identik kali ini adalah Haji Misbach atau terkadang dijuluki sebagai Haji Merah atau sang propagandis. Haji Misbach itu kala menjadi pemimpin Sarekat Islam Solo, namun lama-kelamaan merembetke juga ISDV. Haji Misbach ini benar-benar dibilang sosok Islam yang radikal, ia tak s e g a n - s e g a n memusuhi kawan
Fote 5 Semaon
seperjuangannya di saat nama nabi Muhammad dihina. Ia juga tak takut untuk mengkritik Muhammadiyah maupun SI yang dianggap kinerjanya mengambil jalan diplomatis dan berunding dengan kolonial. Perlawanannya terhadap banyak perspektif ini tidak dengan cara yang sangat buruk, melainkan Haji Misbach melawan dengan cara yang elegan yaitu menulis kritikannya di koran.
Darsono, sosok yang bisa dibilang anarkis dan juga menjadi salah satu sahabat dari Semaun. Darsono mulai terpantik jiwanya kala dalam persidangan Sneevliet pada November 1917—setelah ia menuliskan artikel berjudul Zegepraal atau berarti Kemenangan, yang berisi tentang kemenangan komunis pada Revolusi Oktober 1917/Revolusi Bolshevik. Ia juga dengan cepat diangkat menjadi anggota redaksi Sinar Djawa sejak Februari 1918 oleh Semaun. Darsono memiliki nama pena yang sangat bagus yaitu Onosrad (kebalikan dari namanya) dan menuliskan artikel berjudul "Russische Nihilisten" di Sinar Djawa, sebagai menjadi satu cara pandang yang sangat militan dari sosok Darsono dan memilih jalan Nihilisme.
Semua tokoh di atas memiliki pandangan yang beragam namun memiliki keluaran yang sama yaitu menciptakan rakyat Hindia Belanda ini bebas dari belenggu kolonial.
8. ISDV Berubah Menjadi PKI
营洲印庚共產室 PARTY KOMMUNIST INDONESIA (P.K.I.) COMMISSARIAAT BATAV
Foto Komite PKI caboog Batavia
23 Mei 1920, ISDV menjadi satu partai politik yang dinamai dengan Partai Komunis Indonesia, kala itu Semaun terpilih menjadi ketua di partai yang baru terbentuk ini dan Darsono menjadi wakilnya. Partai baru inipun mengembangkan relasinya dengan Komintern dan bergabung dengan organisasi itu pada akhir 1920. Hal inipun sesuai dengan anjuran Sneevliet, yang mana memerintahkan organisasi ini di bawah naungan Komintern.
Berdirinya PKI ini disambut hangat tidak hanya dari kalangan buruh dan tani saja, namun dari golongan masyarakat lainnya. Dalam waktu yang tidak lama PKI sudah mempunyai pengaruh yang sangat besar di dalam PPKB (Persatuan Pergerakan Kaum Buruh) yang kongresnya dalam bulan Agustus tahun 1920 di Semarang dihadiri oleh 22 serikat buruh dengan anggotanya yang mencapai 72.000 anggota.
Pada tahun 1920, di Jawa dan Sumatra terjadi banyak pemogokan yang kebanyakan berakhir kemenangan di tangan buruh. Kemajuan yang didapat oleh kaum buruh ini membuat getir pemerintah Belanda, dan yang menjadi puncak kekhawatiran dari pemerintah Belanda kala itu adalah merambatnya paham komunis hingga ke sela yang terkecil dari masyarakat. Akhirnya pemerintah pun berusaha mempengaruhi SI dan mempertajam pertentangan antara kaum Komunis dengan SI. Aliran reformis yang ada dalam PPKB disokong oleh pemerintahan Belanda dan dengan itulah pertentangan yang sangat tajam terjadi di antara kaum revolusioner dan kaum reformis.
Golongan Komunis telah merembet masuk ke banyak cabang SI dan memutuskan untuk mendirikan markas sendiri untuk bersaing dengan pemimpin lama SI yaitu Tjokroaminoto, dengan maksud agar dapat menguasai cabang-cabang SI pada kongres yang diadakan pada 25 Desember 1921 di Semarang.
Perebutan kekuasaan semakin nampak dan semakin kuatnya pengaruh dalam cabang-cabang SI, membuat para pemimpinnya berusaha memperluas disiplin partai ke dalam semua cabang organisasi pada Februari 1923. Golongan Komunis memutuskan untuk membantu seksi SI 'Merah' di salah satu cabang SI sebagai pembalasan pada kongres yang diadakan pada Maret dan berusaha menarik anggota-anggota cabang tersebut. Akhirnya unit-unit yang dikuasai oleh kaum Komunis ini berganti nama menjadi Sarekat Rakyat atau disingkat menjadi 'SR’.
Pada Agustus 1923, Semaun ditawan dan dipaksa memilih untuk meninggalkan Hindia Belanda atau dipenjarakan di Toor. Menjelang akhir tahun, semua pemimpin Belanda yang ada di partai itu dipaksa pergi oleh pihak pemerintah Belanda. Menurut Semaun, justru karena sudah ada kecurigaan sejak awal atas lantangnya orang-orang Belanda menggaungkan anti imperialisme.
Feto 7 Tan Malaka din Dorsono
PKI juga telah menjalani setidaknya tiga kali kongres Komunis International. Sneevliet mengangkat dirinya sendiri tuk menjadi perwakilan Indonesia di Komintern kedua pada 1920, dan membentuk hubungan dengan PKI melalui Shanghai. Darsono mewakili Indonesia di Komintern ketiga di Moskow 1921, dan Tan Malaka mewakili Indonesia di tahun berikutnya pada Komintern keempat dan memainkan peran aktif dalam membuat kerangka kebijakan Komintern.
9. Penutup
Setelah membaca panjang lebar tulisan ini, kiranya kita semua mendapat sebuah arti penting dari sebuah pembebasan. Kita pun di hari ini sekiranya sangat tidak layak untuk melabeli bahwa PKI adalah sebuah pembantaian dan sebagainya. Dalam proses menuju kemerdekaan, banyak organisasi dari berbagai perspektif, ideologi dan pandangan dunia yang berbeda dan dibayangi pertanyaan yang sama "mau dibawa kemana negara ini?" dan mereka semua menjawab dengan pasti "negara ini harus berdikari dan Merdeka", baik itu mereka yang komunis, Islam, nasionalis dan lainnya, semuanya membutuhkan kemerdekaan atas belenggu. Kita bisa melihat bersitegangnya kaum komunis dan SI, hal ini pun semena-mena untuk kemerdekaan Indonesia sendiri, dan mereka pun tidak memberi celah bahwa pembunuhan antar manusia diperbolehkan untuk mencapai satu pandangan, mereka pun berdebat dalam tulisan-tulisan maupun dalam kongres, dan sekali lagi mereka hanya berjuang memerdekakan Indonesia. Terima kasih.
Daftar Pustaka
Sumber Buku
D.N Aidit. Lahirnja PKI dan Perkembangannja (1920-1955). Jakarta: Jajasan Pembaruan. 1955
Bima Satria Putra. Perang yang Tidak Kita Menangkan (Anarkisme dan Sindikalisme dalam Pergerakan Kolonial Hingga Revolusi Indonesia (1908-1948)). Yogyakarta: Pustaka Catut. 2018
Peter Kasenda. Sukarno, Marxisme dan Leninisme (Akar Pemikiran Kiri dan Revolusi Indonesia). Jawa Barat: Komunitas Bambu. 2017
Soe Hok Gie. Di Bawah Lentera Merah. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya. 1999
Sumber Jurnal
Wahyu Wirawan. Semaun dalam Bayang-Bayang Pemerintah Hindia Belanda 1899-1923. Paramita Vol. 21 No.2. Juli 2011
Dewi Yulianti. Nasionalisme Buruh dalam Sejarah Indonesia
Angghi Novita. Gerakan Sarekat Buruh Semarang Tahun 1913-1925. Journal of Indonesia History Vol.3 No.2. 2015
Sumber Website:
https://www.socialistalternative.org/indonesia/a-short-history-of-the-indonesian-communist-party/
https://www.jstor.org/stable/20067338?readnow=1&refreqid=excelsior%3Adf89ed4cbc5b74283ae655ebf42ae382&seq=13#page_scan_tab_contents
https://tirto.id/the-pre-history-of-indonesian-communism-and-the-dutch-apostles-cyZN
https://www.marxists.org/indonesia/indones/1952-AiditSejarahGerakanBuruhIndonesia.htm
https://www.marxists.org/indonesia/indones/index.htm
https://www.marxists.org/history/indonesia/1960-AiditLessonsCPI.htm