BURUH BERKUASA KUMPULAN TULISAN KLASIK ANARKO-SINDIKALISME Seri I
BURUH BERKUASA
KUMPULAN TULISAN KLASIK ANARKO-SINDIKALISME
SERI I
Penerjemah: Guruh Dwi Riyanto Zakky Riza Alamanda Campysa Thomas Sandria Komalasari
Penyunting: Tim Daun Malam
Ilustrasi Sampul: Irfan Zaraputra Flying Pants <[email protected]>
Edisi Pertama Cetakan pertama, Januari 2016
Penerbit Daun Malam
Hak cipta bebas dan merdeka. Setiap makhluk dianjurkan dan dinasehatkan untuk mengkopi, mencetak, menggandakan, menyebar isi serta materi-materi di dalamnya.
Email: [email protected]
DAFTAR ISI
Kata Pengantar..................................................................4 Pendirian International 1866 - 1867................................6 Aturan-aturan Asosiasi Buruh Internasional 1869........21 Bakunin-Kuliah Pertama Mei 1871...............................51 Bakunin-kuliah kedua...................................................65 Bakunin-kuliah ketiga...................................................82 Kongres Anti-otoritarian Internasional Saint-Imier 15- 16 September 1872.......................................................114 Gagasan mengenai Organisasi Sosial - James Guillaume 1876..............................................................................126 Pondasi Serikat Buruh 1908........................................164 Sindikalisme - Emma 1913..........................................204 Sindikalis dalam Revolusi Rusia....................................225 Kongres Anarkis Internasional Amsterdam................258
Kata Pengantar
Berikut adalah sejumlah tulisan para pegiat anarkis dalam bidang perburuhan pada per tengahan abad 18 dan merentang hingga awal abad 19, yang menjadi tonggak sebuah gerakan anakis di p erburuhan. Gerakan ini kemudian muncul dengan nama yang lebih spesifik, Anarko-sindikalisme. G erakan anarkis yang sejak awal lahir dari rahim gerakan buruh militan di Eropa Barat, akhirnya menemukan bentuknya dalam sebuah gerakan buruh massal.
Gerakan anarko-sindikalis sejak mula mendasarkan kekuatannya pada massa buruh dan peran otonom buruh untuk mengubah hidup mereka. Dimulai dari perjuangan sehari-hari hingga perjuangan yang lebih rumit, kekuasaan politik yang mengubah masa depan, semua ditumpukan dalam kekuatan serikat buruh dan bukan pada aktor atau lembaga lain. Sejak awal gerakan anarko-sindikalis, tidak berniat terjun dan menggunakan partai politik, mendukung calon presiden A atau B, ataupun bergabung dalam mekanisme perburuhan milik negara.
Bagi anarko-sindikalis pertanyaan siapa dan lembaga apa yang mengelola masyarakat masa depan, saat negara perlahan lenyap, bahkan siapa yang bakal mengawal proses transisi dari sistem masyarakat kapitalis ke arah sosialisme sudah pasti serikat-serikat kaum buruh dan lembaga-lembaga politik buruh. Tidak pernah terbayangkan bahwa proses ini akan melibatkan peran partai ataupun kaum perantara selain kaum produsen (yang turut serta dalam produksi).
Anarko-sindikalis adalah teori dari para buruh sendiri mengenai hidup dan perjuangannya. Teori yang dihasilkan dari para produsen ini telah diuji berkalikali dalam kancah revolusi sejak Komune Paris (kaum anarkis banyak mengambil peran), Revolusi Rusia, Revolusi Meksiko, Revolusi Spanyol, Perang Dunia II, Revolusi Machuria, Revolusi Kuba, dan lain-lain. Dalam banyak kasus, kaum anarko-sindikalis telah berulang kali membuktikan bahwa teori tersebut tetap kokoh.
Salam,
Daun Malam
PENDIRIAN INTERNASIONALE Oleh Mikhail Bakunin
Kebangkitan Buruh Saat Kelahiran Asosiasi Buruh Internasionale. Pada tahun 1863 hingga 1864, dalam masa-masa pendirian In ternasionale, hampir seluruh penjuru Eropa, khususnya di n egeri-negeri dengan industri modern berkembang pesat—I nggris, Prancis, Belgia, Jerman dan Swiss–dua kenyataan terungkap dengan sendirinya. Kenyataan-kenyataan tersebut memudahkan dan s ecara praktis memaksa pembentukan Internasionale. Kenyataan pertama adalah bangkitnya kes adaran, keberanian dan s emangat kaum buruh serentak di seluruh penjuru Eropa setelah 12 atau 15 tahun terpuruk akibat k e gagalan besar pada t ahun 1848 dan 1851. Kenyataan kedua adalah pert umbuhan pesat harta kekayaan borjuasi dan— pasangan wajibnya–kemiskinan buruh di seluruh dunia. Inilah dua kenyataan yang mendorong buruh bertindak sementara bangkitnya jiwa dan kesadaran membekali mereka dengan keyakinan yang asasi.
Seksi Sentral. Namun, seperti juga pada masa s ebelumnya, keyakinan yang terlahir kembali ini tidak muncul dengan sendirinya dalam himpunan-himpunan buruh yang berjumlah besar. Dari s eluruh Eropa, pada mulanya keyakinan ini baru muncul di dua tempat, setelah itu disusul tempat-tempat lain tak lama sesudahnya. Namun, di negeri-negeri Eropa yang makmurpun, keyaki1 nan tersebut tidak menjadikan satu himpunan besar buruh yang utuh, tetapi segelintir asosiasi-asosiasi buruh yang tersebar di sana-sini, yang merasakan gejolak keyakinan yang tumbuh kembali, gejolak yang cukup kuat untuk menjadi alasan untuk melanjutkan perjuangan. Di asosiasi-asosiasi ter sebut pada mulanya muncul individu-individu langka: individu yang lebih cerdas, lebih giat dan lebih setia daripada individu lainnya. Seringkali individuindividu tersebut adalah orang-orang yang s udah lulus uji dan sudah terbentuk oleh perj uangan terdahulu. Individu-individu tersebut—penuh harapan dan keyakinan–memupuk ke beranian untuk memulai gerakan baru.
Individu-individu tersebut berkumpul di London pada tahun 1864, sehubungan dengan “masalah Polandia”; suatu masalah politik penting tetapi tidak ada hubungannya dengan masalah solidaritas internasional. Di bawah bimbingan langsung para pendiri Internasionale, mereka membentuk inti utama dari asosiasi ini. Kemudian, setelah pulang ke negeri masing-masing (Prancis, Belgia, Jerman dan Swiss), mereka membentuk inti kedua di negeri masing-masing. Demikianlah terbentuknya seksi sentral Internasionale.
Seksi sentral tidak mewakili jenis-jenis p ekerjaan. Seksi sentral beranggotakan buruhburuh yang mempunyai pemikiran paling maju dari ber bagai jenis pekerjaan. Jika demikian, seksi sentral mewakili apa? Seksi sentral mewakili ide Internasionale itu sendiri. Apa misi dari I nter nasionale?
Misinya adalah mengembangkan dan mem2 propagandakan gagasan Internasionale. Apa gagasan Internasionale? Gagasan Intern asionale adalah emansipasi semua buruh tak pandang jenis pe kerjaan atau tempat tinggal, bukan sekedar buruh dari negara tertentu dan dari jenis pekerjaan tert entu. Hal ini adalah emansipasi umum untuk mereka yang susah payah mencari upah tak seberapa untuk memenuhi kebutuhan hidup yang melarat dengan jalan kerja produktif apapun. Gagasan ini adalah emansipasi umum bagi mereka yang secara ekonomi tereksploitasi dan secara politik tertindas oleh modal, atau lebih tepatnya pemilik modal dan makelar modal yang diistimewakan oleh sistem sosial yang berlaku saat ini.
Demikianlah aspek negatif, militan atau revolusioner dari gagasan ini. Apakah aspek positifnya? Aspek positifnya adalah pendirdian dunia sosial baru yang semata-mata berlandaskan pada buruh yang teremansipasi dan spontan tercipta dari puing-puing dunia lama oleh organisasi dan federasi bebas asosiasi buruh, yang terbebaskan dari belenggu ekonomi dan politik dari kelas-kelas sosial yang diistimewakan oleh sistem sosial.
Demikianlah dua aspek dari satu permasalahan—satu positif dan satu negatif. Keduanya tak bisa dipisah satu sama lain.
Seksi Sentral Hanyalah Pengelompokkan I deologis. Seksi sentral adalah pusat organisasi yang hidup dan aktif dimana keyakinan baru ini dilestarikan, dikembangkan dan dimurnikan. Tak satupun buruh bergabung ke dalam seksi sentral dalam kapa3 sitas sebagai buruh khusus dari suatu jenis pekerjaan tertentu dengan pandangan untuk membentuk serikat buruh jenis pekerjaan tertentu. Buruh yang bergabung ke dalam seksi sentral adalah buruh pada umumnya, buruh yang punya pandang an menuju emansipasi umum, organisasi buruh dan dunia sosial baru yang berlandaskan pada buruh. Buruhburuh yang bergabung ke dalam seksi sentral melupakan jati dirinya sebagai buruh khusus atau buruh tulen.
Buruh tersebut tampil dalam organisasi sebagai buruh pada umumnya. Buruh untuk apa? Buruh untuk gagasan, propaganda dan organisasi dari kekuatan ekonomi dan militan dari Internasionale: buruh untuk revolusi sosial.
Seksi sentral menampilkan karakter yang sama sekali berbeda atau malah bertolak belakang dengan seksi bidang pekerjaan. Seksi bidang pekerjaan mengikuti cara olah pikir alami, yaitu berangkat dari kenyataan untuk sampai ke gagasan. Sebaliknya, seksi sentral mengikuti cara olah pikir abstrak atau ideal. Seksi sentral berangkat dari gagasan untuk sampai ke kenyataan.
Jelas bahwa dalam perbedaan bak langit dan bumi ini, jika dibandingkan dengan metode positivistik atau realistik penuh yang diterapkan oleh seksi bidang pekerjaan, metode yang dipakai seksi sentral nampak artifisial dan abstrak. Cara olah pikir dari gagasan menuju kenyataan adalah persis dengan cara yang digunakan oleh para idealis dari semua mazhab filsafat, tokoh agama atau ahli metafisik yang puncak impotensinya kini hanya tinggal sejarah.
Menjadi impoten karena kenyataan bahwa mereka tak mampu mencapai kenyataan yang nyata dan konkrit dengan menempatkan gagasan absolut sebagai titik berangkat untuk berpikir.
Jika Sendiri, Seksi Sentral Takkan Berdaya untuk Menghimpun dalam Jumlah Besar Massa Buruh. Jika Internasionale hanya terdiri dari seksi sentral saja, tak perlu diragukan jika Internasionale takkan bisa menghimpun—jangankan seluruh, sepers eratus pun takkan bisa–kekuatan sejati buruh yang menakjubkan dan dibangga-banggakan. Seksi s entral hanya akan terdiri dari buruh-buruh terpelajar dimana semua persoalan hanya akan didiskusikan dan hanya didiskusikan saja. Sudah tentu mereka juga membicarakan masalah organisasi buruh, tetapi tanpa sedikitpun berusaha untuk mewujudkannya. Bahkan sekedar untuk membuka peluang untuk mewujudkannya pun takkan sempat dilakukan oleh mereka.
Jika Internasionale hanya terdiri dari seksi sentral saja, Internasionale mungkin sudah berhasil menyusun rencana untuk menggulingkan tatanan yang ada sekarang ini. Tetapi rencana seperti ini hanya tinggal rencana, karena hal tersebut terlalu lemah untuk mencapai tujuan, Internasionale hanya mampu mengumpulkan segelintir buruh paling cerdas, paling giat, paling yakin dan paling setia. Mayoritas—berjuta-juta proletar–akan tetap di luar rencana ini. Sedangkan untuk menggulingkan dan menghancurkan tatanan sosial dan politik yang sedang menghimpit buruh saat ini, penting artinya untuk menjalin kerja sama dengan jutaan buruh tersebut.
Pendekatan Empirik yang Diterapkan Buruh untuk Memahami Permasalahan Mereka. Hanya orangorang tertentu dan segelintir buruh bisa terpengaruh oleh ide-ide murni dan abstrak. Sisanya, berjuta-juta orang—massa buruh–bukan cuma proletar, tetapi juga kelas yang tercerahkan dan kelas sosial yang distimewakan oleh sistem sosial hanya percaya logika dan kekuatan dari kenyataan. Setiap saat mereka hanya melihat dan memikirkan ke pentingan sesaat atau bergerak hanya karena nafsu akan uang.
Karena itu, untuk menarik minat dan menghimpun seluruh proletariat ke dalam kegiatankegiatan Internasionale, perlu dilakukan pen dekatan masalah bukan dengan gagasan abstrak atau umum, tetapi dengan pemahaman nyata sehari-hari.
Dari kacamata pemikir sosial, kesulitan hidup sehari-hari tampak sebagai masalah yang bersifat umum dan dalam kenyataannya hanya efek khusus dari suatu sebab umum dan permanen, Kenyataannya masalah tidak terhingga ragamnya serta punya begitu banyak aspek berbeda, terbentuk dari kumpulan penyebab sementara dan dipengaruhi oleh berbagai alasan.
Demikianlah realita sehari-hari dari malapetaka tersebut. Tetapi, massa buruh—dipaksa bekerja keras membanting tulang dan sulit mencari waktu senggang untuk memikirkan hari esok, mereka memahami malapetaka yang sedang mereka derita hanya dalam konteks realita khusus dan j arang sekali atau malah tidak pernah dalam aspek umum.
Penjelasan Konkrit Adalah Satu-satunya Cara Efektif untuk Mendekati Massa Buruh. Selanjutnya, untuk menyentuh hati dan meraih ke percayaan, kesepakatan, keakraban dan kerjasama dari berjuta-juta bala tentara buruh buta huruf—sayangnya sebagian besar proletar masuk ke dalam golongan ini–penting untuk bicara pada mereka bukan t entang penderitaan umum proletariat internasional se bagai keseluruhan, tetapi tentang kemalangan khusus yang sehari-hari dialami oleh orang-perorang. Penting untuk bicara pada mereka mengenai urusan dan kondisi kerja mereka, di lokasi spesifik tempat mereka tinggal, mengenai beratnya kondisi kerja, mengenai panjangnya jam kerja yang dijalani setiap hari, mengenai upah yang kecil, mengenai kejamnya majikan mereka, mengenai biaya hidup yang tinggi dan mengenai betapa tidak mungkin bagi me reka untuk menopang dan membina rumah tangga secara layak.
Pada saat membeberkan cara-cara melawan malapetaka tersebut sekaligus untuk memperbaiki posisi buruh, sama sekali tidak penting dari sejak awal untuk membicarakan cara-cara umum dan revolusioner yang sudah menjadi program aksi Internasionale, seperti penghapusan hak milik turun temurun, kolektivisasi properti, penghapusan hak yuridis negara dan penggantian korporasi dengan organisasi dan federasi bebas asosiasi produsen.
Buruh, dilihat dari segala kemungkinan, nampaknya sulit untuk memahami itu semua. Ada juga kemungkinan bahwa mereka sudah dipengaruhi oleh paham keagamaan, sosial dan politik yang sudah ditanamkan oleh negara dan tokoh agama. Mereka akan melengos marah dan menyangkal omongan para propagandis sembrono yang berusaha mempengaruhi mereka dengan argumen-argumen tersebut.
Jangan menggunakan metode seperti itu. Mereka harus didekati hanya dengan jalan menjelaskan cara-cara perlawanan, suatu tin dakan yang bermanfaat langsung yang tak mungkin tidak mereka pahami, yang sangat mungkin mereka terima karena menyentil akal sehat dan pengalaman hidup mereka seperti yang sudah disebutkan tadi. Cara paling mendasar pertama adalah membangun solidaritas bulat dengan kawan sesama buruh di tempat kerja dalam membela diri, dalam berjuang melawan majikan dan menyebarluaskan solidaritas ini kepada semua buruh pada jenis pekerjaan dan wilayah yang sama dalam usaha bersama melawan para majikan, yaitu dengan cara bergabung secara resmi sebagai anggota aktif seksi jenis pekerjaan yang mereka geluti, seksi yang terafiliasi langsung dengan Internasionale.
Kenyataan ekonomi, kondisi pada pe kerjaan dan kondisi eksploitasi nan dahsyat pada suatu jenis pekerjaan oleh para pemilik modal, solidaritas bulat dalam kepentingan, kebutuhan, penderitaan dan aspirasi diantara semua anggota buruh suatu seksi jenis pekerjaan—semua itu membentuk basis riil dari ikatan mereka. Gagasan tentang perl awanan akan muncul dengan sendirinya seiring dengan penjelasan atau penuturan yang cukup memadai dari olah pikir dan renungan atas kenyataan ini dalam kesadaran kolektif.
Solidaritas Anggota Serikat Buruh Berakar dari Aktualitas. Seorang buruh sama sekali tak butuh persiapan intelektual untuk bergabung ke seksi jenis pekerjaan sebagai wakil dari jenis pekerjaan yang dia tekuni. Secara alami dia sudah menjadi anggota bahkan sebelum dia sadar. Yang perlu dia tahu hanyalah bahwa dia sudah berkerja keras setengah mati dan pekerjaan yang membunuhnya pelanpelan ini hanya memberi upah tak se berapa hingga hampir-hampir dia tak bisa menafkahi anakistrinya dan hanya memperkaya majikannya. Semua itu berarti bahwa sang majikan adalah peng eksploitasi yang kejam, penindas yang tak kenal lelah, orang yang memperalat dirinya seperti budak, pada siapa dia tak punya perasaan selain benci dan hasrat memberontak seorang budak, pada saatnya nanti akan dia tinggalkan setelah dia taklukkan dalam puncak perlawanan, untuk mendapat ke adilan dan untuk merasakan rasa persaudaraan kepada bekas majikan sebagai orang yang kini sudah bebas.
Buruh tersebut juga harus mengerti—dan ini tak sulit untuk dilakukan—bahwa jika seorang diri dia takkan berdaya melawan majikannya. S upaya tidak ditindas hancur oleh majikannya,
pertama-tama dia harus bergabung dengan kawan9 kawan sesama buruh di tempat kerja dan setia dengan mereka dalam setiap perjuangan melawan majikan.
Internasionalisme Tumbuh dari Pengalaman Sebenarnya, dari Perjuangan Kaum Proletar. Buruh tersebut juga harus tahu bahwa persatuan buruh di satu tempat kerja saja tidaklah cukup. Semua buruh di jenis pekerjaan yang sama yang bekerja di wilayah yang sama haruslah bersatu. Segera setelah sadar— kecuali buruh itu benar-benar bodoh– pengalaman hidup akan memberi pelajaran tentang masalah ini. Dia akan secara sadar menjadi anggota setia dari seksi korporatif sesuai jenis pekerjaan yang dia geluti.
Kemudian seksi korporatif lahir. Walau demikian, seksi ini belum memiliki kesadaran internasional. Seksi korporatif masih bersifat lokal. Tetapi pengalaman sama yang kini dirasakan secara bers ama-sama akan segera mengatasi sempitnya cakupan solidaritas yang masih bersifat lokal pada buruh yang paling kurang cerdas sekalipun.
Ketika timbul krisis: pemogokan. Buruhburuh di suatu wilayah yang bekerja di bidang yang sama mempunyai keinginan sama: menuntut majikan untuk menaikkan upah atau mengurangi jam kerja. Majikan tidak mau mengabulkan tuntutan tersebut. Karena tidak bisa berproduksi tanpa adanya buruh, maka majikan tersebut meng gunakan buruh di wilayah lain atau provinsi lain atau malah di luar negeri. Akan tetapi, di luar negeri tersebut buruh bekerja lebih lama dengan upah lebih sedikit. Dengan demikian, majikan tersebut bisa menjual barang lebih murah hingga berhasil mengalahkan saingannya yang berasal dari negeri yang buruhnya bekerja lebih singkat tetapi diupah lebih banyak. Hal ini mendorong para majikan yang kalah saing untuk mengurangi upah dan menambah jam kerja buruh.
Dengan demikian, dalam jangka panjang, posisi buruh yang bisa ditoleransi di suatu negara bisa dipertahankan jika posisi tersebut kurang lebihnya sama dengan posisi buruh di negara lain. Seringkali kasus seperti ini terulang dengan sendirinya hingga luput dari pengamatan buruh yang paling bodoh sekalipun. Lalu, mereka mulai sadar b ahwa—untuk melindungi diri sendiri dari eksploitasi yang terus meningkat oleh para majikan– tidaklah cukup untuk mengorganisir solidaritas dalam skala lokal saja, tetapi juga perlu untuk menyatukan semua buruh dari jenis pekerjaan yang sama. Bukan hanya dari satu provinsi saja dan bukan dari satu negara saja, tetapi dari seluruh negara dan utamanya dari negara-negara yang terjalin dalam hubungan dagang atau hubungan industri. Saat semua buruh menyadari itu semua, maka, suatu organisasi akan terbentuk bukan hanya pada skala lokal atau nasional saja, tetapi sungguh-s ungguh o rganisasi internasional yang merangkul semua buruh dalam satu bidang pekerjaan.
Tetapi, organisasi ini belum merupakan organisasi buruh secara umum, ini baru sebuah organisasi internasional dari suatu jenis pekerjaan. Supaya b uruh yang tak berpendidikan menyadari dan me lihat solidaritas sejati ada diantara semua serikat buruh di seluruh negara di dunia, buruh yang mempunyai kemampuan int elektual lebih dari yang lain dan punya sedikit pengetahuan tentang ilmu ekonomi perlu untuk memberi bantuan penjelasan kepada yang lain. Bukan karena buruh biasa kurang memiliki pengalaman hidup di bidang tersebut, tetapi fenomena ekonomi yang menimbulkan solidaritas ini luar biasa ruwet, sehingga mungkin saja arti yang sebenarnya sulit dipahami oleh buruh yang belum tercerahkan.
Seandainya solidaritas internasional dibangun pada suatu jenis pekerjaan saja, maka, pada jenis pekerjaan itu, gaji buruh akan lebih tinggi dan jam kerja lebih pendek dari buruh pada jenis pe kerjaan yang lain. Sementara itu, sudah terbukti bahwa karena persaingan dagang antar majikan dan pemilik modal, sumber laba sejati adalah gaji dan jam kerja yang lebih panjang.
Jelas bahwa pada jenis pekerjaan yang buruhnya terorganisir secara internasional, pemilik modal dan majikan akan mendapat hasil yang lebih sedikit dari pemilik modal dan majikan di tempat lain.
Akibatnya, para pemilik modal akan pelanpelan memindahkan modal atau kredit sementara para majikan akan memindahkan aktivitas eksploitasinya pada jenis pekerjaan yang kurang terorganisir atau malah tidak terorganisir sama sekali.
Situasi seperti ini akan mengakibatkan menurunnya permintaan akan buruh pada jenisjenis pekerjaan yang terorganisir secara inter12 nasional. Sudah tentu ini berakibat pada menurunnya situasi perburuhan yang bekerja pada jenis pekerjaan tersebut. Buruh-buruh tersebut mau tidak mau menerima upah yang lebih kecil supaya tidak kelaparan. Oleh karena itu, pada suatu jenis pekerjaan, kondisi buruh tak boleh lebih baik atau lebih buruk tanpa serta merta mempengaruhi buruh pada jenis pekerjaan yang lain dan buruh dari semua bidang pekerjaan harus terjalin dalam ikatan solidaritas sejati yang tak terputuskan.
Masalah Internasionalisme Lahir dari Pengalaman Hidup Proletariat. Solidaritas ini sudah di buktikan dengan pengalaman maupun ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan yang di maksud hanyalah pengalaman yang berlaku universal, yang bisa dipaparkan dengan jelas dan bisa dijelaskan secara tepat dan sistematis. Solidaritas ini lahir sendiri ke dunia buruh buah dari rasa simpati yang kental, mendalam dan timbal balik dari kaum buruh dan kaum proletar. Simpati ini semakin kental akibat faktor ekonomi dan konsekuensi ekonomi, sosialpolitiknya yang kian berkembang serta semakin menindas buruh tanpa pandang bulu.
Berkat dukungan moral dan material dari kawan sesama buruh saat berjuang maupun ejekan dan tentangan yang sistematis dan menularkan kebencian dari majikan, buruh dari jenis pekerjaan lain dan dari borjuasi secara keseluruhan, buruh akan sangat memahami situasi yang sedang mereka hadapi maupun kondisi yang diperlukan untuk mendapat emansipasi. Buruh kemudian bisa melihat bahwa dunia terbagi menjadi 3 kelompok besar:
1. Berjuta-juta buruh yang dieksploitasi
2. Ratusan ribu majikan (pengeksploitasi) kelas teri dan kelas menengah.
3. Ribuan pemangsa kelas kakap, pemilik modal besar yang jadi gemuk karena menge ksploitasi g olongan kedua secara langsung dan mengeksploitasi golongan pertama secara tidak langsung. Golongan ini mengantongi paling sedikit setengah dari hasil keuntungan dari seluruh kerja umat manusia.
Begitu melihat kenyataan yang mencekam tetapi tak kunjung berubah ini, buruh segera sadar bahwa— meski terasa sebagai langkah mundur–jika ada jalan keselamatan, jalan itu tentunya ada pada men dirikan dan mengorganisir solidaritas seerat mungkin antar seluruh proletardian di seluruh dunia tanpa pandang bulu dalam usaha bersama mel awan borjuasi yang sedang mengeksploitasi mereka.
Pertimbangan Historis yang Penting dari Internasionale. Maka, demikianlah kerangka kerja yang siap pakai untuk Internasionale. Kerangka kerja ini bukan berasal dari teori di kepala pemikirpemikir hebat, tetapi dari mengolah pikir kenyataan yang sungguh-sungguh terjadi, dari perdebatanperdebatan sengit karena kenyataan tersebut mempengaruhi kaum buruh dan dari renungan serta pemikiran yang secara alami timbul di alam pikiran para buruh.
Supaya Internasionale berdiri langgeng, penting supaya unsur-unsur yang terkait dengan penciptaan Internasionale—faktor ekonomi, p engalaman, kerja keras dan pemikiran para proletar–dikembangkan hingga taraf yang kokoh untuk dijadikan dasar bagi Internasionale.
Di antara proletariat di seluruh dunia, penting juga terdapat kelompok atau asosiasi buruh yang berpemikiran maju dan bisa memancing inisiatifinisiatif akan munculnya gerakan besar emansipasi buruh. Setelah itu tentu akan lahir inisiatif pribadi dari beberapa orang cerdas dan setia pada cita-cita rakyat.
Bagi massa buruh, mulai menyadari bahwa s olidaritas internasional adalah jalan tunggal menuju emansipasi buruh saja tidaklah cukup. Penting juga supaya buruh mempunyai keyakinan akan kemanjuran dan kepastdian dari jalan ke selamatan ini serta yakin akan peluang datangnya kebebasan nanti.
Keyakinan ini hanyalah sifat, ke cenderungan kolektif dan keadaan mental. Alam semesta meng anugrahkan sifat ini kepada manusia, tetapi ke munculannya sangat dipengaruhi oleh perkembangan historis dari manusia itu sendiri. Kecenderungan kolektif para proletariat adalah hasil dari 2 hal: pengalaman historis dan, khususnya, keadaan ekonomi-sosial masa kini.
ATURAN-ATURAN ASOSIASI BURUH INTERNASIONALE Oleh Mikhail Bakunin
Tulisan ini—Mengenai Asosiasi Buruh Internasional (Internasionale)–terdiri dari 4 artikel yang dibuat oleh Bakunin untuk L’egalite: sebuah terbitan berbahasa Prancis yang diterbitkan oleh kelompok libertarian Federasi Internasionale Berbahasa Romawi pada tanggal 7, 14, 21 dan 28 Agustus 1869. Artikel ini ditulis dalam bahasa tulisan populer yang cocok untuk buruh cerdas di zaman itu.
Bakunin mengawali tulisan ini dengan membuat ringkasan prinsip-prinsip utama Internasionale dengan bahasa tulisan yang sederhana. Selanjutnya dia membahas sifat-sifat borjuasi dan hubungannya dengan Internasionale. Komentar-komentarnya yang cerdas mengenai kelas pekerja, politisi, buruh yang terborjuiskan dan borjuasi secara umum hingga kini masih terasa mengena. Proposal praktisnya menunjukkan betapa dalam dia memahami pemikiran buruh pada umumnya.
Penyebutan “hari-hari di bulan Juni” dan “harihari di bulan Desember” perlu sedikit penjelasan tambahan. Revolusi 1848 diawali dengan kerusuhan yang dilancarkan oleh buruh kota Paris pada tanggal 24 Februari 1848. Saat pemerintahan Prancis jatuh, Raja Louis Phillippe turun tahta dan melarikan diri ke Inggris. Kemudian Republik ke-2 dideklarasikan. Saat program Pelatihan Kerja
Nasional (mirip dengan program Work Progress Administration yang diluncurkan oleh Roosevelt) macet, muncul kerusuhan baru yang dilancarkan oleh ribuan buruh paris yang kelaparan. Kerusuhan ini kemudian ditumpas oleh Jendral Cavaignac yang mendapat kekuasaan mutlak dari Majelis Nasional Prancis. Pembantadian ini, terjadi dari tanggal 22 sampai dengan 24 Juni 1848, disebut sebagai “harihari di bulan Juni”, “Hari-hari di bulan Desember” menggambarkan perjalanan Louis Napoleon (di kemudian hari menjadi Kaisar Napoleon III) menuju puncak kekuasaan. Pada plebisit nasional tanggal 18 Desember 1848, dia terpilih menjadi presiden Prancis berkat dukungan buruh tani dan kelas-kelas revolusioner lainnya. Dia kemudian memenjarakan atau membinasakan kaum radikal, liberal demokrat dan oposisi republiken, kemudian membentuk apa yang disebut oleh Bakunin “pemerintahan kekaisaran dan militerisme”. - L’egalite
I. L’egalite, 7 Agustus 1869
Saat mewawancarai calon anggota, Internasionale tidak akan bertanya apakah orang itu atheis atau umat beragama. Apakah orang itu mendukung salah satu partai politik atau justru membenci semua partai politik. Internasionale hanya akan bertanya seperti ini:
Apakah kamu seorang buruh? Jika bukan,
apakah kamu akan setulus hati mengusung cita17 cita buruh dan meninggalkan semua cita-cita yang bertentangan dengan semangat Internasionale?
Apakah kamu merasa bahwa buruh— produsen tunggal seluruh kemakmuran di dunia, pencipta peradaban dan pejuang kebebasankebebasan yang saat ini justru dinikmati sendiri oleh borjuasi–pantas untuk menanggung kutukan kemiskinan, kebodohan dan perbudakan, seorang diri? Apakah kamu tahu bahwa kemiskinan adalah sumber semua malapetaka yang harus buruh derita saat ini? Apakah kamu tahu bahwa kemiskinan yang diderita oleh sebagian besar buruh di dunia maupun kepatuhan buruh pada belenggu modal adalah pasangan wajib dari tatanan ekonomi yang berlaku di masyarakat saat ini?
Apakah kamu tahu bahwa ada antagonisme—perbedaan bak langit dan bumi– yang tak mungkin disatukan antara proletar dengan borjuasi akibat kedudukan ekonomi masingmasing? Apakah kamu tahu bahwa kekaya-rayaan kelas borjuis tidak mungkin hidup berdampingan dengan kesejahteraan dan kebebasan buruh karena kekayaan yang berlimpah-ruah ini hanya bisa tegak dibangun melalui eksploitasi dan penaklukan buruh? Karena itu, demi mendapat harkat dan martabat, kaum buruh menuntut penghapusan borjuasi sebagai suatu kelas sosial. Apakah kamu tahu bahwa tak seorangpun buruh—sepintar apapun dan segigih apapun–bisa sendiri melawan kekuatan borjuasi yang terorganisir: kekuatan yang dipelihara oleh semua negara di dunia.
Apakah kamu tahu bahwa suatu organisasi buruh yang terkucil—secara lokal maupun nasional, di negara Eropa yang paling maju sekalipun— tak mungkin bisa menang melawan persekutuan antara kelas-kelas (sosial) istimewa, pemilik modal dan negara. Satu-satunya cara untuk mengalahkan persekutuan ini adalah dengan menggabungkan semua asosiasi buruh nasional maupun internasional menjadi satu asosiasi buruh universal yang tak lain dan tak bukan adalah Internasionale.
Jika anda sudah paham dan memang menginginkannya, anda akan diterima dengan tangan terbuka tak pandang apa agama dan kewarganegaraan anda. Tetapi sebelum itu, anda harus bersumpah:
1. Untuk mengesampingkan kepentingan pribadi dan keluarga maupun kepentingan politik dan agama dan mendahulukan kepentingan utama Internasionale, yaitu perjuangan buruh melawan modal, misalnya perlawanan ekonomi buruh melawan borjuasi.
2. Untuk tidak sekalipun berkompromi dengan borjuasi untuk kepentingan pribadi.
3. Untuk tidak sekalipun bersikap sombong dan meremehkan rakyat jelata. Jika bersikap demikian, maka anda akan dianggap sebagai borjuis atau musuh proletar karena borjuis tak menyukai kolektivitas sementara proletar hanya mendambakan solidaritas dari semua orang yang berkerja untuk modal dan dieksploitasi oleh modal.
4. Untuk selalu setia dengan solidaritas buruh. Bagi Internasionale, pengkhianatan sekecil apapun terhadap solidaritas buruh akan dianggap sebagai kejahatan paling berat yang mungkin dilakukan oleh seorang buruh. Pendek kata, kamu harus sepenuh hati menerima aturan umum ini dan berjanji untuk menerapkan aturan ini ke dalam setiap tingkah laku sehari-hari.
Kita bisa melihat bahwa para pendiri Internasionale bersikap sangat bijaksana dengan menghapuskan masalah agama dan politik dari agenda Internasionale. Mereka sengaja tidak memasukkan keyakinan anti agama dan negara ke dalam agenda Internasionale karena tujuan utama Internasionale adalah untuk menyatukan semua buruh yang tertindas dan tereksploitasi ke dalam satu gerakan bersama. Mereka harus membangun satu basis yang sama dan merumuskan prinsipprinsip dasar yang bisa diterima oleh semua buruh tak peduli meski banyaknya penyimpangan ekonomi dan politik yang masih meracuni pikiran kaum tertindas ini.
Memasukkan agenda anti agama dan anti politik apapun ke dalam agenda Internasionale takkan menyatukan tetapi justru semakin memecah belah buruh lebih dari yang sedang terjadi saat ini. Tokoh agama, pemerintah dan semua partai borjuis
(bahkan partai yang paling kiri sekalipun) mendapat untung dari kebodohan buruh. Mereka bahkan mendoktrin buruh dengan segala macam gagasan palsu dengan niat mencuci otak buruh supaya rela mengabaikan kepentingan sendiri demi melayani kepentingan kelas istimewa.
Selain itu, perbedaan tingkat perkembangan industri, politik dan moral massa buruh di berbagai negara masih terlalu besar sehingga massa buruh sulit untuk bersatu dalam satu agenda anti politik dan anti agama. Memaksakan agenda anti politik dan anti agama kepada setiap anggota takkan menghasilkan satu asosiasi buruh universal tetapi hanya akan menghasilkan sekte dan kemudian membuat Internasionale layu sebelum berkembang. Ada lagi alasan penting untuk menghapus semua tendensi politis, paling tidak secara formal dan hanya secara formal. Sampai sekarang, politik belum pernah berpihak pada rakyat, jika yang dimaksud dengan rakyat adalah orang-orang kelas bawah, rakyat jelata, buruh-buruh paling miskin yang kerja kerasnya menopang kelangsungan dunia. Sampai sekarang politik hanya berpihak pada kelas istimewa—golongan masyarakat yang memanfaatkan kekuatan fisik rakyat kecil untuk saling menggulingkan dan saling mengganti dalam pergulatan abadi memperebutkan kekuasaan. Rakyat memindahkan dukungan dari satu kubu ke kubu lainnya dengan harapan kosong bahwa paling tidak salah satu kubu akan mengubah arah politiknya dan ratusan tahun kemiskinan dan perbudakan akan sirna. Revolusi Prancis yang masyhur sekalipun pada dasarnya tidak mengubah keadaan buruh. Revolusi Prancis hanya mengganti golongan ningrat dengan golongan borjuis. Rakyat tak lagi disebut sebagai hamba sahaya. Mereka disebut orang bebas. Secara hukum memiliki hak sebagai warga negara yang bebas, tetapi pada kenyataannya mereka tetap hamba sahaya yang dibelit kemiskinan.
Massa buruh akan tetap diperbudak selama mereka bersikap dan bertindak sebagai alat politik kaum borjuis, baik borjuis konservatif ataupun borjuis liberal. Kaum-kaum borjuis akan tetap memperbudak massa buruh selama mereka tetap bersikap dan bertindak sebagai alat politik kaum borjuis bahkan ketika kaum borjuis tersebut pura-pura bersikap revolusioner. Ini karena semua politik borjuis—apapun nama dan warnanya–hanya punya satu tujuan, yaitu memelihara dominasi borjuis. Sementara, dominasi borjuis hanya berarti perbudakan kaum proletar.
Pertanyaannya adalah: apa yang harus Internasionale lakukan? Internasionale harus menjauhkan massa buruh dari semua politik borjuis dan membersihkan agenda politiknya dari politik borjuis. Pada awal pengorganisasian Internasionale, lembaga sosial yang menindas buruh adalah gereja, kerajaan, ningrat dan borjuasi. Borjuasi, terutama borjuis liberal, sudah tentu lebih manusiawi dari yang lain. Walau demikian, borjuis liberal pun juga tergantung pada eksploitasi massa buruh dan punya tujuan tunggal, yaitu mengalahkan saingannya dalam perebutan monopoli dalam mendominasi buruh. Tetapi, sebelumnya Internasionale harus melapangkan jalan. Dilihat dari segi emansipasi, semua politik sudah diracuni oleh unsur-unsur reaksioner. Pertama-tama Internasionale harus membersihkan diri dari semua sistem politik dan membangun politik baru dari puing-puing tatanan sosial borjuis.
II. L’egalite, 14 Agustus 1869
Oleh sebab itu, para pendiri Internasionale membangun organisasi Internasionale hanya berdasarkan pada perjuangan ekonomi melawan eksploitasi buruh. Para pendiri punya pemikiran bahwa, setelah mendapat kepercayaan diri dari kebenaran cita-cita dan keunggulan jumlahnya, buruh akan semakin aktif dalam perjuangan bersama dengan sesama buruh melawan para majikan. Dahsyatnya peristiwa dan hebatnya perjuangan akan merangsang buruh untuk mempelajari sisisisi sosial, politik dan filsafat dari prinsip dasar Internasionale yang merupakan cerminan sejati pengalaman hidup dan aspirasi buruh itu sendiri.
Jika dilihat dari sisi sosial dan politik, pasangan wajib dari prinsip Internasionale adalah penghapusan semua batas-batas negara. Selanjutnya, dari puingpuingnya, dibangunlah konfederasi Internasionale semua kelompok produktif dan kelompok kebangsaan. Secara filsafat, ini tak lain dan tak bukan perwujudan dari keadilan, kemerdekaan, kesetaraan dan kebahagiaan umat manusia. Citacita tersebut akan membuat semua fantasi agama dan mimpi kosong kehidupan yang indah di alam surga terasa berlebihan.
Tetapi untuk menyerukan dua tujuan puncak tersebut secara dini kepada buruh yang kurang cerdas dan masih keracunan doktrin atau propaganda negara dan tokoh agama yang melemahkan moral tentu akan membuat mereka kaget lalu menarik diri. Tetapi mereka malah tak curiga bahwa tujuan tersebut pada hakikatnya adalah wujud paling sejati dari kepentingan mereka sendiri, bahwa pencarian tujuan-tujuan tersebut akan membawa mereka menuju perwujudan hasrat yang paling didamba-dambakan dan bahwa prasangka politik dan keagamaan yang membuat mereka menolak pemikiran ini mungkin saja merupakan penyebab langsung dari perbudakan dan kemiskinan buruh yang berkepanjangan.
Kita juga perlu memahami prasangka kelas istimewa. Prasangka massa buruh menghalangi pemenuhan kepentingan massa buruh itu sendiri sedangkan prasangka kelas istimewa lahir karena kepentingan kelas istimewa itu sendiri. Massa buruh menginginkan emansipasi, tetapi tidak tahu jika mereka menginginkannya. Kelas istimewa tahu bahwa massa buruh menginginkan emansipasi, tetapi tak mau jika emansipasi tersebut terwujud jadi kenyataan. Dari keduanya, siapa yang punya penyakit yang tak bisa diobati? Sudah tentu borjuasi.
Biasanya, kita hanya bisa meyakinkan buruh yang sudah merasa perlu untuk berubah berkat naluri mereka yang sehat dan hidupnya yang melarat. Tetapi kita takkan bisa meyakinkan buruh yang tidak merasa perlu untuk berubah. kita juga tak mungkin bisa meyakinkan buruh yang ingin lepas dari hidupnya yang sulit tetapi justru terpikat oleh pemikiran yang berlawanan dengan pemikiran kita karena perbedaan sifat sosial, intelektual dan kebiasaan moral.
Kita juga tak bisa menganjurkan sosialisme kepada golongan ningrat yang mata duitan atau borjuis yang berambisi naik derajat ke golongan ningrat atau buruh yang pikiran dan perasaannya ingin menjadi borjuis. Kita tak mungkin bisa menganjurkan sosialisme kepada kaum intelektual sombong atau ilmuwan gadungan yang membanggabanggakan pengetahuannya hanya setelah sepotongpotong membaca beberapa buah buku. Orang seperti itu sangat sombong dan meremehkan massa buruh yang tak berpendidikan. Mereka diam-diam punya khayalan ditakdirkan untuk menjadi kasta dominan baru.
Agitasi dan penalaran seperti apapun tak mungkin bisa menyembuhkan cacat moral seperti itu. Hanya ada satu cara jitu untuk mengalahkan kekeras-kepalaan mereka, yaitu dengan aksi: menutup setiap pintu menuju kelas istimewa serta eksploitasi dan dominasi terhadap buruh. Hanya revolusi sosial yang bisa menyapu bersih semua ketimpangan dan memberi harapan serta tuntunan dalam mencari kebahagiaan dalam kesetaraan dan solidaritas.
Beda cerita jika kita bertemu dengan buruh serius. Yang dimaksud dengan buruh serius adalah orang-orang yang sungguh-sungguh dihimpit oleh beban kerja, orang-orang yang hidupnya sangat sulit sehingga mereka (kecuali dalam kasus khusus) tak punya harapan untuk mendapat hidup yang lebih baik. Termasuk pula segelintir buruh yang berjiwa besar. Meski punya kesempatan untuk keluar dari kelas pekerja, mereka justru memilih untuk berdiri bersama-sama dengan kawan sesama buruh, menderita dan berjuang melawan borjuasi. Orang-orang seperti ini tak perlu lagi diyakinkan. Mereka sudah sosialis sejati.
Massa buruh hidup melarat dan bodoh akibat Internasionale, karena beban kerja seharihari. Meski punya prasangka politik dan sosial, tanpa sadar mereka sebenarnya adalah sosialis. Karena posisi sosialnya, mereka benar-benar lebih sosialis daripada gabungan semua ilmuwan dan borjuis sosialis. Buruh menjadi sosialis karena kondisi material dan kebutuhan hidupnya sementara ilmuwan dan borjuis menjadi sosialis hanya karena intelektualitasnya. Dalam kehidupan nyata, kebutuhan material punya pengaruh lebih besar daripada kebutuhan intelektual. Meski selalu menjadi ekspresi kehidupan atau cermin dari perkembangan hidup tanpa henti, kebutuhan intelektual takkan pernah bisa menjadi prinsip yang vital.
Buruh bukannya kurang nalar untuk memahami realitas dan bukan pula kurang memiliki cita-cita sosialis. Buruh hanya kurang memiliki pemikiran sosialis. Jauh di lubuk hati, setiap buruh mendambakan hidup yang lengkap, sejahtera dalam kemakmuran material dan mengalami peningkatan intelektual berdasarkan keadilan dan kesejahteraan bagi semua umat manusia yang mendambakan hidup dan bekerja dalam suasana merdeka. Jelas bahwa impian ini tak bisa terwujud dalam sistem sosial yang berlaku saat ini karena sistem tersebut ada berdasarkan eksploitasi yang memandang rendah massa pekerja. Karena emansipasi hanya bisa dicapai dengan menggulingkan tatanan sosial yang sedang berlaku saat ini, setiap buruh yang gigih punya potensi untuk menjadi seorang sosialis revolusioner.
Bibit-bibit pemikiran sosialis sudah tertanam di alam bawah sadar setiap buruh yang serius. Tujuan kaum sosialis adalah untuk membuat buruh menyadari keinginan-keinginannya dan untuk membangkitkan kecerdasan yang nantinya sejalan dan seiringan dengan pencarian batinnya. Begitu kecerdasan buruh meningkat hingga ke tataran naluriah, tekad mereka akan terfokus dan kekuatan mereka jadi luar biasa. Sudah jadi hukum alam bahwa kebodohan dan prasangka agama ataupun politik memperlambat perkembangan kecerdasan buruh. Lalu, bagaimana cara menghapus prasangka? Dengan pendidikan? Dengan propaganda?
Pendidikan dan propaganda memang cara yang hebat tetapi belum cukup untuk menghapus prasangka dan memberantas kebodohan. Buruh yang terisolir dan dibebani beratnya pekerjaan dan kesibukan sehari-hari takkan sempat pergi ke sekolah. Selain itu, siapa yang akan membuat propaganda? Apakah segelintir sosialis sejati yang baru saja keluar dari lingkungan borjuis? Tak usah ditanya mereka sangat berdedikasi dan termotivasi karena kebesaran jiwanya. Namun, mereka tak cukup banyak jumlahnya untuk berpropaganda ke massa buruh. Selain itu, massa buruh akan curiga dengan propaganda intelektual yang berlatar belakang berbeda (atau malah bertentangan) dengan massa buruh. Pembukaan anggaran dasar Internasionale menyatakan: “Emansipasi buruh adalah tugas buruh itu sendiri”. Pernyataan ini mutlak kebenarannya. Inilah prinsip dasar dari Internasionale. Namun, buruh umumnya tak begitu menguasai teori dan tak mengerti implikasinya. Satu-satunya cara buruh untuk mempelajari teori adalah dengan praktik: emansipasi melalui tindakan praktis. Cara ini butuh solidaritas bulat dalam perjuangan melawan majikan melalui solidaritas buruh dan membangun perlawanan (dana pemogokan).
III. L’egalite, 21 Agustus 1869
Jika pada awal pembentukannya Internasionale mentoleransi gagasan agama dan politik reaksioner anggotanya, bukan karena pendiri Internasionale acuh tak acuh dengan gagasan seperti itu. Seperti yang sudah saya terangkan sebelumnya, Internasionale tak mungkin bisa acuh tak acuh karena setiap gagasan reaksioner menggerogoti prinsip dasar dan jati diri Internasionale.
Pendiri Internasionale bersikap bijaksana dengan menerapkan politik toleransi. Mereka berpendapat, jika seorang buruh terjun ke dalam perjuangan, dia akan segera sadar bahwa ada jurang pemisah diantara reaksi kaum borjuis dan aspirasi yang paling dia dambakan. Begitu menyadari hal ini, dia akan secara terbuka mengaku sebagai sosialis revolusioner.
Namun, beda halnya dengan borjuasi. Semua kepentingannya bertentangan dengan transformasi ekonomi masyarakat. Jika gagasannya juga bertentangan dengan transformasi ekonomi masyarakat, mereka akan jadi reaksioner atau dalam istilah jaman sekarang disebut “moderat”. Borjuasi akan selalu reaksioner sehingga kita harus menjaga mereka supaya tidak menyusup ke dalam Internasionale.
Massa buruh bisa mengetahui borjuis mana yang tulus ingin menjadi anggota Internasionale dengan melihat bagaimana borjuis tersebut menjaga hubungan dengan dunia borjuis.
Mayoritas borjuis kapitalis dan tuan tanah yang berani berdiri dan menunjukkan kebencian terhadap gerakan buruh adalah musuh yang nyata, tetapi pastinya tidak begitu berbahaya dibanding orang-orang munafik.
Namun ada lagi golongan borjuis sosialis lainnya. Mereka tidak terang-terangan atau seberani golongan yang saya sebut di atas. Mereka pun musuh likuidasi sosial (penghapusan institusi otoritarian yang mengeksploitasi buruh) sama seperti semua borjuis reaksioner lainnya: para pembela institusiinstitusi yang bertanggung-jawab atas perbudakan proletar. Namun demikian, mereka justru berlagak Internasionale sebagai penyeru emansipasi kelas pekerja.
Borjuis sosialis, borjuis liberal dan borjuis radikal yang mendirikan League for Peace and Freedom termasuk ke dalam golongan ini. Pada tahun 1867, saat baru berumur satu tahun, mereka ketakutan dan menolak sosialisme mentahmentah. Tahun lalu, 1866, pada Kongres Bern, sekali lagi mereka menolak mentah-mentah kesetaraan ekonomi. Sekarang, tahun 1869, setelah melihat League for Peace and Freedom mendekati ajal, mereka ingin sedikit mengulur nafas. Mereka akhirnya menyadari bahwa mereka harus menghadapi masalah sosial ini. Kini mereka menyebut diri sebagai sosialis. Walau begitu, sebenarnya mereka adalah borjuis sosialis karena mereka akan menyelesaikan semua masalah sosial berdasarkan kesetaraan sosial. Mereka ingin melestarikan kepentingan mereka terhadap modal, sewa tanah sambil menyerukan emansipasi buruh.
Apa yang mendorong mereka untuk memikul tugas yang mustahil dan konyol seperti ini? Sebagian besar borjuis bosan dengan kekuasaan pemerintahan kekaisaran dan militerisme yang ikut mereka tegakkan saat Revolusi 1848 karena terpaksa. Kita juga perlu ingat dengan hari-hari di bulan Juni—bibit dari hari-hari di bulan Desember– saat Majelis Nasional dengan suara bulat menghujat Proudhon sang sosialis yang masyhur dan heroik, satu-satunya orang yang punya nyali untuk membantah dan menelanjangi gerombolan fanatik borjuis konservatif, borjuis liberal dan borjuis radikal.
Tetapi kita pun tak boleh lupa bahwa di antara para penghujat, ada pula segelintir orang yang masih hidup, yang bertambah militan dari hari ke hari, yang mendapat pembaptisan revolusioner pada hari-hari pembantaian di bulan Desember dan yang kemudian rela menjadi syahid untuk kemerdekaan. Walau ada pengecualian yang mulia tersebut, seluruh borjuasi (termasuk borjuis radikal) membangun pemerintahan kekaisaran dan militerisme yang efeknya sedang mereka sesali saat ini. Dulu mereka menggunakan rezim ini untuk melawan proletariat, sekarang mereka ingin menyingkirkannya. Kenapa? Karena rezim itu sudah menghina dan mengganggu kepentingan borjuis. Tetapi bagaimana cara mereka membebaskan diri? Dulu mereka berani dan punya kuasa untuk menentang proletariat. Sekarang mereka penakut, pikun dan impoten.
Saat ini mereka hanya bisa berharap bantuan dari proletariat. Tetapi bagaimana cara membujuk mereka? Dengan janji kemerdekaan dan kesetaraan? Janji-janji itu sudah tak mempan lagi untuk membujuk buruh. Buruh sudah belajar dari pengalaman pahit saat kata-kata manis tersebut hanya berarti pelestarian perbudakan ekonomi proletariat yang sama beratnya dengan perbudakan yang dulu.
Untuk menyentuh hati jutaan buruh, mereka harus bicara tentang emansipasi ekonomi. Sekarang ini semua buruh sudah tahu bahwa kemerdekaan ekonomi adalah fondasi dari kemerdekaankemerdekaan lainnya. Jika ini masalahnya, maka borjuis mau tidak mau bicara tentang reformasi ekonomi masyarakat.
Lalu, borjuis-borjuis anggota League for Peace and Freedom berkata dalam hati:
“Baiklah kalau begitu. Kita juga akan menyebut diri sebagai sosialis. Kita harus menjanjikan reformasi sosial dan ekonomi kepada buruh tetapi dengan syarat mereka mau menghormati peradaban dan kekuasaan borjuasi serta adanya hak-milik pribadi dan hak-milik warisan serta kepentingan terhadap modal dan lain-lainnya. Kita harus cari cara untuk meyakinkan mereka bahwa hanya dalam kondisi tersebut dominasi kita akan terjaga dan (anehnya) mereka akan mendapat emansipasi. Kita pun akan meyakinkan mereka bahwa semua reformasi sosial dan ekonomi segera terwujud, penting sekali untuk melancarkan revolusi politik yang baik, hanya politik saja, semerah yang mereka inginkan, kalau perlu disertai dengan pesta potong leher besar-besaran, tetapi tetap dengan rasa hormat yang dalam kepada kesakralan hak milik, 100% Revolusi Jacobin. Pendek kata, kita akan membuat diri kita penguasa keadaan dan memberi mereka sekedar apa yang kita anggap pantas untuk mereka.”
Buruh bisa mengenali sosialis palsu (sosialis borjuis) berdasarkan satu tanda yang sangat mencolok: sosialis borjuis punya pendapat bahwa transformasi politik harus mendahului transformasi sosial-ekonomi. Sosialis borjuis tidak sepakat jika keduanya terwujud secara serentak. Sosialis borjuis akan acuh-tak-acuh jika mendengar pendapat bahwa revolusi politik hanya punya makna jika revolusi politik dimulai dengan likuidasi sosial yang menyeluruh, seketika dan langsung.
IV. L’egalite, 28 Agustus 1869
Jika ingin berpegang teguh pada prinsip dasar, Internasionale tak boleh menyimpang dari jalan tunggal yang akan membawa Internasionale menuju kemenangan. Penting untuk melawan pengaruh dua golongan sosialis borjuis: pembela politik borjuis (termasuk borjuis revolusioner) dan “orangorang pragmatis” yang berkerja sama dengan kaum borjuis.
Berikut ini adalah ringkasan politik Internasionale yang diambil dari pembukaan anggaran dasar Internasionale:
“Bahwa penghambaan buruh kepada modal adalah sumber dari perbudakan moral dan material politik. Oleh sebab itulah emansipasi ekonomi buruh menjadi tujuan besar yang lebih utama dari semua gerakan politik.”
Jelas bahwa setiap gerakan politik yang tidak bertujuan untuk mewujudkan emansipasi ekonomi buruh yang seketika, langsung, pasti dan lengkap serta tidak tegas dan jelas memproklamirkan prinsip-prinsip kesetaraan ekonomi (misalnya pengembalian modal kepada buruh, likuidasi sosial) tergolong sebagai gerakan borjuis dan harus disingkirkan dari Internasionale. Politik borjuis demokrat dan borjuis sosialis berpijak pada gagasan bahwa kemerdekaan politik adalah kondisi awal bagi emansipasi ekonomi. Kata-kata tersebut hanya punya satu arti: buruh harus berjuang bersama dengan borjuis radikal untuk mewujudkan revolusi politik dan kemudian berjuang melawan borjuis radikal untuk mewujudkan revolusi ekonomi.
Kami menolak mentah-mentah teori kacau balau seperti itu yang sekali lagi akan membuat buruh jadi alat perbudakannya sendiri dan sekali lagi membuat buruh terjun sendiri ke dalam eksploitasi buruh oleh borjuasi. Mewujudkan kemerdekaan politik sebelum kemerdekaan sosial ekonomi hanya berarti bahwa relasi ekonomis dan sosial akan tidak terusik, paling tidak, untuk “sementara”. Singkat kata, kapitalis akan mempertahankan kekayaannya dan buruh memelihara kemiskinannya.
Mereka akan berkata bahwa begitu kemerdekaan politik terwujud, kemerdekaan tersebut akan berguna sebagai alat bagi buruh untuk menciptakan kesetaraan dan keadilan ekonomi. Memang kemerdekaan adalah kekuatan yang dahsyat jika buruh punya kesempatan untuk menggunakannya dan jika kemerdekaan itu milik buruh seutuhnya. Tetapi jika tidak, kemerdekaan politik akan selalu menjadi tipu muslihat yang tampak nyata di depan mata: sebuah cerita fiksi. Kita harus hidup di alam mimpi supaya bisa membayangkan buruh—dalam keadaan sosial ekonomi seperti saat ini–bisa sungguh-sungguh menikmati kemerdekaan politik. Buruh tak punya cukup sarana material dan moral untuk bisa demikian.
Apa yang kita lihat dari Prancis setelah revolusi 1848? Dari sisi politis dan revolusi paling radikal yang bisa dibayangkan?
Buruh Prancis jelas bukannya bodoh karena acuh tak acuh hingga menyerahkan semuanya pada politisi borjuis meski sebenarnya mereka punya hak pilih universal. Mengapa? Ini karena mereka tak punya cukup sarana material yang dibutuhkan untuk mewujudkan kemerdekaan politik...sementara itu borjuis radikal dan liberal (termasuk borjuis konservatif, orang-orang yang baru kemarin sore mengaku kaum republik dan orang-orang munafik politik lainnya) menyusun persekongkolan dan siasat jahat. Borjuis bisa berbuat demikian karena punya pendapatan dari sewa tanah atau pekerjaan yang menguntungkan, ada pula yang karena punya jabatan di pemerintahan yang sudah tentu akan mereka pelihara dan bahkan akan mereka genggam lebih erat lagi.
Tetapi coba kita berandai-andai….Jika massa buruh makin cerdas karena pengalaman sehingga tak mau memilih borjuis lalu memilih buruh biasa dari kalangan sendiri sebagai anggota legislatif, apa yang akan terjadi? Buruh (anggota legislatif yang baru) tersebut akan pindah ke lingkungan borjuis lalu bergumul dan menyerap gagasan borjuis lalu meniru kebiasaan-kebiasaan kaum borjuis. Anggota legislatif yang baru tersebut akan berhenti jadi buruh dan negarawan lalu berubah jadi seorang borjuis. Malah dia jadi lebih keborjuis-borjuisan daripada borjuis asli. Ini karena manusia tidak menciptakan posisi, sebaliknya posisi yang menciptakan manusia. Kita sudah belajar dari pengalaman bahwa borjuis buruh sama egoisnya dengan borjuis pengeksploitasi, sama membawa bencana (untuk Internasionale) dengan borjuis sosialis dan sama sombong dan konyol dibanding borjuis yang berubah jadi ningrat.
Untuk menggerakkan buruh demi merebut kemerdekaan politik tanpa berdebat sengit terlebih dulu dengan sosialisme, tanpa harus mengucapkan kata-kata yang sangat mereka hindari: likuidasi sosial, borjuasi akan berkata, “Berikan padaku kemerdekaan politik supaya besok bisa kami gunakan untuk melawan kalian”
Saat borjuis sosialis berusaha menggalang bantuan buruh untuk merebut kemerdekaan politik dengan iming-iming sosialisme, buruh justru sadar keadaan—berkat penerangan dan panduan dari prinsip Internasionale–dan mengatur barisan secara efektif dan membentuk satu kekuatan sejati, secara nasional maupun internasional, untuk mengganti politik borjuasi dengan politik buruh. Saat borjuasi butuh revolusi untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan politik penuh di bawah naungan lembaga republik sedangkan revolusi tersebut tak bisa terwujud tanpa dukungan rakyat…penting supaya gerakan buruh tak lagi dimanfaatkan untuk kepentingan borjuis dan menjaga supaya revolusi terwujud semata-mata demi kejayaan rakyat, demi cita-cita semua orang yang berjuang melawan pengeksploitasi buruh.
Karena setia pada prinsip, Internasionale takkan mendukung segala jenis agitasi politik yang tidak bertujuan untuk emansipasi ekonomi buruh yang seketika, langsung dan menyeluruh serta tidak bertujuan pada penghapusan borjuasi sebagai suatu kelas yang secara ekonomi menjauhkan diri dari rakyat pada umumnya. Internasionale takkan mendukung segala jenis revolusi yang sejak awal tidak mengibarkan bendera likuidasi sosial.
Namun, revolusi bukanlah karya-cipta ataupun keputusan sepihak dari seseorang ataupun suatu asosiasi paling kuat sekalipun. Revolusi bersih dari pamrih mapun niat jahat. Revolusi selalu lahir karena dipaksa oleh suatu peristiwa yang terjadi secara alamiah. Revolusi memang bisa diramalkan, jika sudah dekat bisa dirasakan tetapi ledakannya tidak bisa dibuat lebih cepat.
Setelah yakin dengan kebenaran dari pernyataan tersebut, kemudian kami punya pertanyaan: “Politik apa yang harus Internasionale laksanakan selama jeda waktu panjang yang memisahkan kami dengan revolusi sosial akbar yang dinanti semua orang? Tak peduli semua politik lokal dan nasional, Internasionale berusaha untuk mengisi agitasi buruh di seluruh dunia hanya dengan sifat ekonomi saja. Untuk mencapai tujuan jangka pendek—jam kerja lebih sedikit dan upah lebih tinggi–Internasionale bersiap diri untuk mogok kerja, membangun dana pemogokan dan menyatukan massa buruh ke dalam satu organisasi tunggal.
Marilah kita melebarkan sayap asosiasi kita. Tetapi di waktu yang sama, kita tak boleh lupa untuk mengkonsolidasi dan memperkuat Internasionale sehingga solidaritas kita—sebagai seluruh kekuatan kita–kian kokoh dari waktu ke waktu. Mari kita tingkatkan solidaritas dalam belajar, dalam bekerja, dalam aksi bersama dan dalam hidup itu sendiri. Mari kita berusaha bersama untuk membuat hidup sedikit lebih mudah dijalani. Kalau mungkin, mari kita membangun koperasi produsen-konsumen dan masyarakat yang saling memberi pinjaman modal. Meski dalam kondisi ekonomi seperti saat ini tak bisa secara cukup atau nyata membebaskan kita, dua hal tersebut (koperasi produsen-konsumen dan masyarakat yang saling memberi pinjaman modal) tetap penting karena bisa melatih buruh untuk mengelola ekonomi dan menanam benih penting bagi Internasionale di masa yang akan datang.
Inter nasionale akan se nan tiasa mempropagandakan prinsipnya karena prinsip itu —sebagai pengucapan paling tepat dari kepentingan bersama seluruh buruh di dunia–adalah roh, nyawa dan tenaga hidup asosiasi kita. Internasionale akan terus menyebarkan propaganda, bukan karena melihat kerapuhan borjuasi, tetapi supaya setiap buruh yang sedang melepaskan diri dari belenggu ketumpulan moral dan intelektual akan bisa mengerti situasi yang sedang mereka hadapi, tahu apa yang diinginkan, tahu apa yang harus dilakukan dan tahu dalam kondisi apa dia bisa mendapatkan haknya sebagai seorang manusia. Internasionale harus menyebarkan propagandanya lebih giat lagi karena di dalam tubuh Internasionale itu sendiri kita menemukan pengaruh-pengaruh yang menyatakan kebencian pada prinsip ini. Mereka menghina prinsip ini sebagai teori kosong dan tak berguna serta berusaha untuk menyesatkan dan membuat buruh kembali ke katekisme relijius dan ekonomi borjuis.
Internasionale akan terus berkembang dan mengorganisir diri hingga kokoh supaya ketika revolusi—matang karena tekanan peristiwa–pecah, akan ada satu kekuatan sejati yang sudah siap, yang tahu apa yang harus dilakukan sehingga mampu membawa revolusi ke arah yang ditunjukkan oleh aspirasi rakyat: suatu organisasi asosiasi buruh internasional serius yang menaungi semua buruh di penjuru dunia, suatu organisasi yang sanggup menggantikan lembaga-lembaga negara yang sedang menyongsong kematiannya.
Kami menutup pemaparan serius dari politik Internasionale dengan kutipan dari paragraf terakhir pembukaan anggaran dasar Internasionale:
“Gerakan buruh diwujudkan di negara-negara industri Eropa untuk membuka pintu menuju harapan baru dan memberi peringatan keras supaya buruh jangan lagi terperosok ke dalam kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan dulu.”
BAKUNIN DALAM KANCAH GERAKAN BURUH REVOLUSIONER
Revolutionary Catechism yang ditulis Bakunin pada tahun 1866 maupun artikel-artikel lain yang ditulis sebelum dia bergabung dengan Internasionale pada tahun 1868 tidak membahas masalah proletariat industri secara spesifik. Saat Internasionale dibentuk tahun 1864, gerakan buruh baru saja tumbuh. Bahkan di Itali—tempat tinggal Bakunin hingga tahun 1867–gerakan buruh hampir-hampir tidak ada sama sekali.
Saat Kongres Internasionale di Lausanne (1867) menginjak masa reses, 26 (dari total 64) delegasi kongres menghadiri Kongres League for Peace and Freedom di Jenewa. Pada saat itulah Bakunin pertama kali berkenalan dengan anggota-anggota paling aktif dan melihat potensi revolusionernya. Masuknya Bakunin ke dalam Internasionale menjadi titik balik karir revolusionernya dan sejarah gerakan anarkis modern.
Bakunin selanjutnya menerapkan pemikiran yang dirumuskan dalam Revolutionary Catechism, Federalism, Socdialism and AntiTheologism dalam membahas masalah-masalah yang sedang dihadapi oleh proletariat Eropa. Gerakan buruh sindikalis revolusioner yang tumbuh subur di sejumlah negara di Eropa, Amerika Tengah dan Selatan, beberapa tempat di Amerika Serikat dan di Spanyol saat Perang Saudara Spanyol (1936-
1939) mengambil arah—tujuannya dari pemikiran kaum libertarian Internasionale. Professor Paul Brissenden menjelaskan hal ini dengan sebuah kutipan dari Industrial Worker (sebuah terbitan dari IWW-Industrial Workers of the World) tanggal 18 Juni 1910.
“Kita harus merunut balik asal-usul ide serikat buruh revolusioner (revolutionary unionism) modern dari gerakan Internasionale.... Banyak gagasan yang pada awalnya diajukan oleh Bakunin, sang anarkis masyhur, untuk Internasionale memiliki banyak kesamaan dengan slogan Industrial Workers of the World pada abad 21.”
Pernyataan-pernyataan Bakunin bahwa buruh adalah sosialis karena naluri…sosialis tanpa sadar…menyiratkan maksud bahwa buruh otomatis jadi revolusioner setelah terjun ke dalam perjuangan melawan majikan demi perbaikan ekonomi seketika tidaklah tepat menggambarkan pan dangan Bakunin mengenai masalah ini. Pernyataan yang dibesar-besarkan seperti ini memang sering dibuat sebagai propaganda untuk buruh yang kurang berpengetahuan atau saat berdebat panas dengan kolaborasionis atau borjuis dan marxis yang sedang memperjuangkan aksi politik parlementer.
Semua bukti menunjukkan bahwa Bakunin sebenarnya bermaksud untuk mengatakan bahwa situasi ekonomi yang dihadapi kaum buruh hanya membuat buruh terbuka pada pemikiran sosialis revolusioner.
Bakunin berkata, “Propaganda pemikiran teoritis sosialis juga penting untuk mempersiapkan massa buruh untuk revolusi sosial. Pemikiranpemikiran ini harus disebarluaskan oleh organisasi khusus buruh revolusioner yang berkesadaran dan berdedikasi serta buruh yang disatukan oleh agenda ideologis yang sama”.
Di sini Bakunin menyebut organisasi tersebut sebagai Aliansi. Bakunin menggambarkan hubungan antara Internasionale dan Aliansi sebagai berikut ini: “Aliansi dan Internasionale adalah pelengkap penting bagi satu sama lain. Internasionale dan Aliansi punya tujuan akhir yang sama, namun punya fungsi yang berbeda. Internasionale berusaha untuk menyatukan massa pekerja—berjutajuta buruh–ke dalam satu organisasi tunggal tak pandang kewarganegaraan, kebangsaan, agama dan pandangan politik. Sebaliknya, Aliansi berusaha untuk memberi arah-tujuan yang benar-benar revolusioner untuk massa buruh. Tanpa berusaha untuk saling bertentangan, agenda Aliansi dan Internasionale hanya berbeda dalam tingkatan perkembangan revolusionernya. Internasionale adalah benih—hanya benih–dari keseluruhan agenda Aliansi. Aliansi adalah penjabaran paling sempurna dari agenda Internasionale.
Ada kebingungan apakah Bakunin dan kelompok anti-otoritarian dalam Internasionale tergolong sebagai “kolektivis” atau kadang disebut “komunis anti-otoritarian”, “komunis federalis” atau “komunis anarkis”. Pertanyaan ini dijawab oleh surat yang ditulis oleh James Guillaume pada tanggal 24 Agustus 1809. Surat ini belum pernah diterbitkan; salinannya dikirim ke editor volume ini dari Montevideo, Uruguay oleh sejarawan anarkis Vladimir Munoz. Berikut ini kutipannya:
“Pada awalnya, (Kongres Internasionale 1868) istilah kolektivis digunakan untuk menyebut pendukung paham penguasaan properti (barang-milik) secara kolektif, lawan dari pendukung paham penguasaan properti secara individual, yaitu kaum yang menyatakan bahwa tambang, tanah, alat komunikasi dan transportasi, mesin dll. harus dimiliki secara bersama-sama…pada Kongres Internasionale di Basel (1869), pendukung paham penguasaan properti secara kolektif pecah menjadi 2 golongan yang saling bertentangan: (1) golongan yang menyerukan penguasaan properti lewat negara, disebut sebagai “komunisme otoritarian” atau “komunisme negara”; (2) golongan yang yang menyerukan penguasaan properti langsung oleh asosiasi buruh, disebut sebagai “komunis anti otoritarian”, “komunis federalis” atau “komunis anarkis”. Untuk membedakan diri dengan golongan otoritarian dan untuk menghindari kebingungan, golongan anti-otoritarian menyebut diri sebagai kolektivis. Varlin, editor koran anarkis La Marseillaise (dalam rencana diterbitkan) menulis surat pada saya di bulan Desember 1869. Dia menyebutkan bahwa, “Prinsip yang akan diusung oleh Jurnal ini sama dengan prinsip yang diadopsi hampir secara mufakat oleh seluruh delegasi Kongres Internasionale yang diadakan di Basel beberapa bulan yang lalu: kolektivisme atau komunisme antiotoritarian”. Setahun sebelumnya pada Kongres League for Peace and Freedom 1868, Bakunin menyebut diri kolektivis dan menyatakan “Saya ingin supaya masyarakat dan properti bersama atau sosial diorganisir dari bawah ke atas (bottom up) melalui asosiasi bebas, bukan dari atas ke bawah (top down) melalui otoritas apapun. Dalam hal ini, saya adalah kolektivis.”
Mengenai distribusi hasil-hasil kerja bersama, saya menulis….Setelah buruh memiliki alat usaha, hal-hal lain menjadi urusan nomer dua. Cara membagi hasil kerja bersama harus diserahkan pada pertimbangan masing-masing kelompok…. Kolektivis tahu persis bahwa ketika alat produksi jadi properti (barang milik) bersama, bekerja pun menjadi tindakan sosial. Karena itu, hasil kerja adalah hasil produksi sosial. pada tahun 1871, Bakunin menulis: “Hanya kerja bersama yang bisa menciptakan kemakmuran. Kemakmuran bersama harus dimiliki bersama-sama”. Dalam tulisan saya “On Building the New Socdial Order”, saya tegas menyatakan bahwa dalam masyarakat kolektivis, saat mesin melipat tiga-kan produksinya, hasil produksi tersebut tidak dijual ke konsumen, tetapi dibagi-bagikan sesuai kebutuhan masing-masing…. Kutipan ini ataupun kutipan-kutipan lain yang mudah ditemukan di tempat lain jelas menunjukkan bahwa kolektivis Internasionalis tidak pernah menerima teori “untuk masing-masing sesuai hasil kerja masing-masing”.
Guillaume tak melihat adanya perbedaan antara kolektivisme dan komunisme anti-negara. Kolektivis punya keyakinan bahwa komunisme sempurna tak mungkin terwujud dalam waktu dekat. Mereka yakin bahwa buruh sendirilah yang akan memperkenalkan komunisme secara bertahap saat mereka sudah melampau rintangan-rintangan yang dihadapi, baik rintangan psikologis maupun rintangan ekonomis.
TIGA PIDATO YANG DISAMPAIKAN PADA PEKERJA DI VAL SAINT-IMIER (MEI 1871) Oleh Mikhail Bakunin
Bakunin menggelar tiga kuliah di kota Sonvilier di Val Saint-Imier, Jura, Swiss, di hadapan para pekerja pabrik jam. Tanda kurung dalam teks menandakan pemotongan dan tambahan yang muncul di antara tanda kurung dalam dokumen asli.
Pidato Pertama
Teman-teman,1
Sejak Revolusi Agung 1789-1793 (Revolusi Prancis. penj), tidak ada peristiwa setelahnya di Eropa yang begitu penting dan besar yang terjadi pada kita sedemikian rupa, dan sekarang ada drama Paris. Dua fakta sejarah, dua revolusi bersejarah membentuk apa yang kita sebut dunia modern, dunia peradaban borjuis. Pertama, yang dikenal sebagai Reformasi2 pada awal abad 16 telah mematahkan tulang punggung bangunan raksasa feodal, kuasa tak terbatas gereja. Dengan hancurnya kekuasaan gereja, Reformasi mengawali runtuhnya kekuasaan independen dan yang tampaknya mutlak dari tuan-tuan feodal seperti raja dan bahkan kerap mengawali perlawanan menentang raja. Gereja melindungi dan memberkati tuan-tuan feodal itu. Reformasi bahkan terkadang menentang raja-raja untuk mendapat hak-haknya langsung dari rahmat ilahi. Maka, Reformasi memberi bahan bakar baru pembebasan kelas borjuis. Dua abad sebelum revolusi agama tersebut, bahan bakar itu dengan perlahan telah disiapkan oleh pembangunan kebebasan komunal dan secara berturut-turut oleh perdagangan dan industri yang berada pada kondisi iklim serupa dan secara niscaya terdampak.
Revolusi itu melahirkan kekuasaan baru, bukan kekuasaan borjuis melainkan kekuasaan Negara; Inggris yang monarki, aristokratik dan konstitusional, kekuasaan monarki, birokratik, kebangsawanan mutlak, militer dan birokratik di sepanjang benua eropa, dua republik kecil, Swiss dan Belanda.
Mari blak-blakan, kita kesampingkan terlebih dulu dua republik dan membahas monarki. Bayangkan hubungan kelas, situasi politik dan sosial setelah Reformasi.
Mari kita beri penghargaan pada orang yang tepat, kita mulai dengan para pastur, dan pastur yang saya maksud tidak hanya dari gereja Katolik, tetapi juga pelayan-pelayan Protestan. Singkatnya, semua orang yang hidup melalui pemujaan ilahi dan yang menjual Tuhan, baik eceran ataupun borongan. Perbedaan teologis yang memisahkan mereka itu sangat tidak masuk akal dan halus, hanya membuang-buang waktu membahasnya.
Sebelum Reformasi, gereja dan para pastur, Paus sebagai kepala, merupakan tuan sejati dari bumi. Menurut doktrin gereja, semua negara, monarki, kaisar dan raja paling berkuasa memiliki kekuasaan sementara. Mereka memiliki hak-hak asalkan diakui dan direstui gereja. Kita tahu, dua abad menjelang akhir abad pertengahan diisi oleh perjuangan yang semakin bersemangat dan kemenangan kedaulatan raja melawan negaranegara Paus dan gereja. Reformasi mengakhiri pertarungan itu, memproklamirkan kemerdekaan negara-negara. Hak kedaulatan diakui didapat secara langsung dari Tuhan, tanpa campur tangan Paus. Tentu saja, berkat asal usul surgawinya, hak kedaulatan itu dinyatakan mutlak. Maka, keruntuhan kelaliman gereja3 membangkitkan kelompok kelaliman monarki. Setelah menjadi tuan atas negara, Gereja menjadi pelayan negara, alat pemerintah di tangan monarki.
Tidak hanya di negara-negara Protestan , gereja mengambil sikap seperti itu. Tidak terkecuali Inggris dan termasuk semua Gereja Anglikan, monarki dinyatakan sebagai kepala gereja, tetapi juga di semua negara-negara Katolik, bahkan Spanyol tidak terkecuali. Kekuasaan Gereja Roma yang berantakan oleh pukulan mengerikan akibat Reformasi tidak dapat menyokong dirinya sendiri. Untuk menjaga keberlangsungannya, gereja membutuhkan bantuan negara-negara yang untuk sementara waktu berdaulat. Tetapi yang berdaulat, seperti kita tahu, tidak pernah membantu tanpa pamrih. Negara-negara itu tidak pernah tulus beragama. Negara-negara itu memuja kuasa dan uang mereka. Keuangan mereka pada saat yang sama merupakan alat kekuasaan dan tujuan kekuasaan. Jadi, untuk membeli dukungan dari pemerintahan monarki, gereja harus membuktikan pada mereka bahwa gereja mau dan mampu melayani. Sebelum reformasi, gereja berulangkali membangkitkan rakyat melawan raja-raja. Setelah Reformasi, gereja di semua negara, tak terkecuali di Swiss, menjadi sekutu pemerintah melawan rakyat. Gereja menjadi semacam polisi lalim di tangan negarawan dan kelas penguasa dengan tujuan untuk mengkotbahkan kepasrahan, kesabaran dan ketundukan membabibuta serta mengkotbahkan penolakan harta dan kenikmatan akan tanah. Gereja bersabda, rakyat harus memberikan bumi yang bahagia dan kuat, untuk memastikan harta surgawi bagi dirinya. Anda tahu, bahkan hingga hari ini semua gereja Kristen, Katolik dan Protestan, terus berkotbah dengan cara seperti ini. Untunglah, kini mereka kurang didengar, dan kita dapat memperkirakan mereka akan terpaksa tutup karena kekurangan jemaat, atau, dengan kata lain, tanpa korban penipuan.
Kini, lihatlah perubahan yang dipaksa dalam kelas feodal, para bangsawan, setelah Reformasi. Kelas bangsawan tetap pemilik bumi yang terpilih dan nyaris eksklusif. Namun, kelas bangsawan telah kehilangan kemerdekaan politik mereka. Sebelum Reformasi, kelas bangsawan, seperti gereja, musuh dan lawan negara. Setelah revolusi, kelas bangsawan menjadi pelayan, seperti gereja, dan pelayan dengan hak istimewa, seperti gereja. Semua jabatan militer dan sipil negara, kecuali yang paling tidak penting, diduduki oleh para bangsawan. Monarkis besar dan bahkan yang lebih kecil di Eropa terisi. Tuan-tuan feodal yang paling agung, sebelumnya begitu merdeka dan bangga, menjadi pelayan-pelayan dengan gelar kedaulatan. Meskipun kehilangan kebanggaan dan kemerdekaan, mereka mempertahakan semua kepongahannya. Kepongahan itu bahkan bisa dikatakan tumbuh. Para kacung ini memilih kepongahan sebagai sifat buruk mereka. Rendah, merangkak, bersikap merendahkan diri dalam kehadiran kedaulatan itu, mereka hanya menjadi semakin marah ketika berhadapan dengan warga negara dan rakyat. Mereka terus terjerembab baik atas nama mereka sendiri ataupun hukum ilahi, tetapi dengan izin dan layanan tuan-tuan mereka, dan di bawah alasan untuk kebaikan negara yang lebih tinggi.
Sifat dan situasi khusus kaum bangsawan itu hampir dipertahankan seluruhnya, bahkan hingga hari ini. Jerman, negara yang aneh dan tampaknya memiliki keistimewaan untuk memimpikan halhal yang paling indah, yang paling ningrat, harus mengakui hal itu sebagai yang paling memalukan dan keji. Bukti kebar-baran tercela, kekejaman perang terakhir, bentuk terkini kekaisaran JermanKnouto (Kekaisaran ini mengacu pada perjanjian Rusia dan Jerman pada waktu itu.pent) tidak diragukan lagi merupakan tantangan yang diajukan pada semua umat manusia oleh sersan kaisar brutal yang lalim.4 Kota dan perang dalam satu zaman, dan keangkuhan rombongan bangsawan yang bodoh.
Setelah Reformasi, borjuis harus membebaskan diri sepenuhnya dari tirani dan penjarahan tuan-tuan feodal, sebagai bandit atau perampok independen dan swasta, tetapi borjuis mendapati kelas itu terikat dalam tirani dan perampasan baru, dan kini diatur atas nama pajak negara umum dan khusus,5 tuan-tuan ini menjadi pelayan, itulah yang dapat dikatakan, dari negara yang sah merampok dan menjarah.
Peralihan dari feodal ke penjarahan yang lebih beraturan dan perampasan sistematis oleh negara pada awalnya tampak memuaskan kelas menengah ini. Singkatnya, ini adalah kelegaan situasi sosial dan ekonomi. Tetapi, sudah terlanjur basah, mandi sekalian, seperti kata pepatah. Pajak negara, pada awalnya wajar, setiap tahunnya bertambah dalam jumlah yang mencemaskan, walaupun tidak sebanyak negara monarki sekarang. Perang, dapat kita katakan tidak ada hentinya, negara-negara ini menjadi mutlak. Sejak Reformasi hingga Revolusi 1789, kebutuhan untuk menjaga tentara dalam jumlah banyak dibuat dengan dalih keseimbangan nasional. Tentara itu, kini bertugas sebagai pijakan utama ketahanan negara karena kedaulatan semakin mewah. Tentara itu diubah menjadi pesta permanen. Tentara merupakan tempat bangsawan pengacau, semua tugas mendapat hiasan gelar, mendesak uang pensiun pada tuannya, kebutuhan memberi makan semua kerumunan dengan hak istimewa yang mengisi jabatan tertinggi dalam tentara, birokrasi dan polisi menuntut pengeluaran besar. Biaya itu dibayar, tentu saja, pertama dan utama oleh rakyat, tetapi juga oleh kelas borjuis yang hingga Revolusi masih baik. Kelas borjuis mungkin sama derajatnya dengan apa yang orang anggap sebagai sapi perah, yang tiada lain dirancang untuk mempertahankan kedaulatan dan memberi makan gerombolan petugas dengan hak istimewa yang tak terbilang jumlahnya. Terlebih lagi, Reformasi menghilangkan kebebasan kelas menengah dua kali lipat lebih banyak daripada rasa aman yang ditimbulkan. Sebelum Reformasi, kelas menengah biasanya bergabung dan mendapat dukungan yang sangat diperlukan dari raja-raja dalam perjuangan mereka melawan gereja dan melawan tuan-tuan feodal, dan kelas menengah itu dengan cerdas memanfaatkan kesempatan untuk merenggut kebebasan dan kemerdekaan hingga derajat tertentu. Tetapi, sejak gereja dan tuan feodal menyerah pada negara, raja tidak lagi membutuhkan jasa kelas menengah. Raja secara bertahap menarik semua kebebasan yang sebelumnya dia berikan pada kelas sosial ini.
Dengan kelas menengah yang mengalami keadaan seperti itu setelah Reformasi, kita dapat membayangkan dengan jelas seperti apa massa petani dan pekerja kota. Para petani Eropa Tengah, Jerman, Belanda, bahkan sebagian di Swiss, seperti kita tahu, pada awal abad 16 dan Reformasi, membuat gerakan besar untuk merdeka dengan menyerukan “Damai di gubuk dan perang di Kastil.” Gerakan ini, dikhianati oleh kelas borjuis, dan dikutuk oleh pimpinan protestanisme borjuis, Luther6 dan Melanchthon7 . Puluhan ribu petani mengalir dalam arus pemberontakan. Maka, para petani semakin melihat keterikatan pada tanah, melihat hukum secara langsung, seperti pemberontakan para budak, dan mereka tetap dalam kondisi itu hingga revolusi 1789-1793 di Prancis, di Prusia hingga 1807, dan hingga 1848 di sebagian besar Jerman. Di sebagian besar wilayah utara Jerman, khususnya di Mcklenburg, perbudakan masih ada hingga hari ini, meskipun perbudakan sudah sirna bahkan di Rusia. Kelas pekerja kota tidak jauh lebih bebas daripada para petani. Mereka dibagi menjadi dua golongan, para pekerja yang menjadi bagian perusahaan dan para pekerja yang tidak terorganisir. Gerakan dan produksi golongan pertama itu dibatasi dan diikat dengan segepok peraturan yang memperbudak, para mandor dan para bos. Golongan kedua, yang semua haknya dicabut, ditindas dan dihisap oleh semua orang. Pajak terbesar, seperti biasa, secara niscaya, dibebankan pada rakyat.
Keruntuhan ini dan penindasan umum terhadap kelas pekerja dan sebagian kelas menengah pada gilirannya harus dimaafkan. Ukuran luar biasa dari negara monarki, aristokrasi, birokrasi dan negara militer juga harus diakui. Negara menggantikan gereja, dan diproklamasikan sebagai institusi ilahi. Jadi, negara hukum, sepenuhnya berbeda, atau bahkan agak berbeda dalam menentang moralitas pribadi seseorang. Dalam moralitas pribadi, ketika seseorang tidak terikat oleh dogma, ada landasan abadi, diakui atau tidak, dimengerti, diterima dan disadari dalam setiap masyarakat manusia. Landasan itu tidak lain kecuali rasa hormat manusia, hormat akan martabat manusia, hak dan kebebasan semua individu manusia.
Hormat, itulah tugas semua orang, cinta dan kepemimpinan, itulah kebajikan; sebaliknya, melanggar hal itu merupakan suatu kejahatan. Moral negara bertentangan dengan moralitas manusia tersebut. Negara tegak di hadapan rakyatnya sebagai tujuan utama. Menggunakan kekuasaannya, kebesarannya, dengan segala cara yang mungkin dan tidak, dan bahkan tidak seperti semua hukum manusia dan kebaikan manusia, yaitu kebajikan. Segalanya yang bersumbangsih pada kekuasaan dan perluasan negara itu baik, dan segala yang bertentangan dengan kedua hal itu adalah jahat, meskipun tindakan paling bajik dalam perspektif umat manusia yang paling mulia. Itulah kenapa negarawan, diplomat, menteri, dan semua pegawai negeri selalu menggunakan kejahatan, dusta dan penghdianatan keji untuk melayani negara. Ketika kekejian dilakukan untuk tugas negara, tindakan itu menjadi kebajikan. Itulah moral negara. Moralitas itu adalah penghapusan sempurna moralitas manusia dan kemanusiaan.
Ada pertentangan dalam gagasan dasar negara. Negara dunia tidak pernah terwujud, setiap negara pasti dibatasi dengan wilayah terbatas dan kurang lebih terbatas sebagai subyek. Sebagian besar umat manusia tetap di luar negara, dan semua umat manusia terbagi antara penduduk negaranegara besar, menengah atau kecil. Setiap negara, meskipun memiliki sebagian kecil umat manusia, memproklamirkan dan berdiri sebagai perwakilan semua manusia dan sebagai sesuatu yang mutlak. Maka, semua yang berada di luarnya, semua negara lain, dengan subjek dan ciri dari subyek mereka, dianggap oleh setiap negara tercerabut oleh semua sanksi hukum, dan maka setiap negara mengizinkan penyerangan, penaklukan, pembantaian. Anda tahu, teman-teman saya tersayang, kita tidak pernah berhasil mendirikan hak internasional, dan kita tidak akan pernah dapat melakukannya karena sudut pandang negara, semua yang di luar negara tercerabut haknya. Seperti ketika negara menyatakan perang pada negara lain untuk memungkinkan pencabutan hak itu, apa yang saya katakan? Ketika negara memerintahkan warganya untuk melakukan semua kejahatan yang mungkin untuk melawan warga yang menjadi musuh negara: Pembunuhan, perkosaan, pencurian, penghancuran, pembakaran, perampasan. Semua kejahatan itu dianggap mendapat berkat Tuhan Kristen, bahwa setiap negara penggemar perang percaya dan memproklamirkan (sebagai) pendukung Tuhan Kristen untuk menyingkirkan yang lain. Tentu saja ini mengakibatkan Tuhan yang terkenal malang menjadi malu karena kejahatan yang paling heboh di muka bumi telah dan terus dilakukan atas namanya. Itulah kenapa kita adalah musuh Tuhan, dan kita percaya fiksi ini, roh ilahi, sebagai sumber utama kejahatan yang mewabah pada manusia.
Itulah kenapa kita melawan negara ini dan semua negara-negara dengan penuh hasrat. Karena, selama ada negara, tidak akan ada kemanusiaan, dan selama ada negara, perang dan kejahatan perang, penghancuran, kesengsaraa rakyat, yang merupakan dampak tidak terhindarkan akan menjadi abadi.
Selama negara ada, massa, bahkan dalam republik-republik paling demokratis, akan menjadi budak-budak, karena mereka tidak bekerja untuk kebahagiaan dan kemakmuran mereka sendiri, melainkan untuk kekuasaan dan kemakmuran negara. Apa itu negara? Negara diklaim sebagai ekspresi dan perwujudan nilai watak dan hak kebebasan semua orang. Baiklah, klaim itu bohong seperti ketika mereka mengklaim Tuhan adalah pelindung semua orang. Sebab, fantasi makhluk ilahi membentuk imajinasi orang, Tuhan, semua dewadewi, dan di antaranya yang terutama adalah Tuhan Kristen, selalu memihak yang kuat dan kaya untuk melawan orang yang menderita dan rakyat dungu. Berkat pastur, hak istimewa paling menjanjikan, penindasan dan kepemilikan dengan nama buruk. Jadi, negara tidak lain merupakan penjamin semua tanah untuk sekelompok kecil orang yang memiliki hak istimewa dan bahagia di atas penderitaan rakyat. Negara menggunakan kekuatan kolektif dan kerja semua orang untuk menjamin kebahagiaan, kemakmuran dan hak istimewa dari segelintir orang itu dengan mengorbankan hak-hak manusia di seluruh dunia. Negara adalah tempat minoritas memainkan peran martil dan landasannya pada mayoritas.
Hingga Revolusi Prancis, kelas borjuis, meskipun dalam kadar yang lebih sedikit dibanding massa, menjadi fondasi bangunan. Karena itulah kelas borjuis revolusioner. Ya, kelas borjuis sungguh revolusioner. Kelas ini berani memberontak melawan semua otoritas manusia dan ilahi, dan mempertanyakan Tuhan, raja-raja, paus. Kelas borjuis khususnya, ingin kebangsawanan.
Bangsawan menduduki tempat di negara yang dibakar kelas borjuis dengan tidak sabar dan kelas borjuis itu ingin menggantikan mereka. Tetapi tidak, saya tidak ingin tidak adil, dan saya tidak memberi kesan bahwa dalam protes besarnya melawan tirani ilahi dan manusia, kelas borjuis mendorong dan didorong oleh pemikiran egois. Tak dapat dihindarkan, sifat pengorganisasian tertentu secara insting adalah untuk merenggut kekuasaan. Tetapi, kelas borjuis ini belum memiliki kesadaran akan jurang yang memisahkan massa yang bekerja itu dan bagaimana jurang itu sebenarnya beroperasi, karena kesadaran ini tidak terbangun lebih maju lagi dalam kelas pekerja itu sendiri, borjuis, terwakili dalam perjuangan menentang gereja dan negara, melalui semangat mulia dan karakter terbesarnya, percaya dengan tulus bahwa mereka juga bekerja bagi pembebasan semua orang.
Dua abad yang memisahkan perjuangan Reformasi religious dari Revolusi Prancis merupakan masa-masa heroik kelas borjuis. Mereka menjadi kuat melalui kekayaan dan kecerdasan, borjuis dengan blak-blakan menyerang semua institusi yang dihormati dari gereja dan negara. Serangan itu melemahkan semua, pertama-tama, melalui kritik filsafat dan sastra, dan kemudian borjuis melancarkan revolusi terbuka. Borjuis merupakan peracik revolusi 1789 dan 1793. Tidak diragukan lagi, borjuis dapat melakukan itu dengan menggunakan kekuatan popular, tetapi borjuis adalah organisatoris dari kekuatan itu dan mengarahkan kekuatan itu berhadapan dengan gereja, menentang monarki dan melawan kebangsawanan. Borjuis adalah yang memikirkan, dan yang memulai semua gerakan yang dilaksanakan rakyat. Borjuis percaya diri, mereka merasa berkuasa karena mereka tahu di belakang mereka, dengannya, ada rakyat.
Jika kita membandingkan keagungan pemikiran dan tindakan kelas menengah pada abad 18, dengan orang paling mahsyur sekarang, dengan kurcaci-kurcaci yang sekarang terkenal angkuh, kita bisa yakin ada kemunduran, kejatuhan mengerikan yang terjadi di kelas ini. Pada abad ke delapan, borjuis pintar, berani dan heroik. Kini mereka tampak bodoh dan pengecut. Dengan penuh keyakinan, borjuis sebelumnya menantang semua, dengan semua kemampuannya. Kini, keraguan mewabah, dilemahkan oleh ketidakadilan mereka sendiri, yang lebih karena situasi, pada tekad mereka. Hal itu memberi gambaran tentang kelemahan mereka yang paling memalukan. Kejadian barubaru ini di Prancis membuktikan dengan telak. Para borjuis mempertontonkan ketidakmampuan telak untuk menyelamatkan Prancis. Borjuis lebih suka invasi Prusia daripada revolusi populer. Revolusi itu sendiri dapat menyelamatkan Prancis. Tangan lemah borjuis menjatuhkan bendera kemajuan manusia, pembebasan universal. Kelas pekerja Paris membuktikannya hari ini bahwa hanya kelas pekerja yang dapat mengenakan bendera kemajuan manusia, pembebasan universal.
Dalam sesi berikutnya, saya akan coba membuktikan.
Catatan Kaki
1 Dalam naskah, “Warga Negara” disilang dan diganti oleh Bakunin
2 Reformasi. Reformasi Protestan adalah nama yang diberikan oleh Martin Luther dan banyak teolog lainnya pada abad ke-16 untuk mempertanyakan kepercayaan dan praktek gereja Katolik Roma. Tantangan ini berbuntut pada terbelahnya Gereja Katolik Roma dan pembentukan gereja-gereja Protestan.
3 Dalam naskah, kata “spiritual” dicoret.
4 Willdiam I dari Jerman (Bahasa Jerman: Wilhelm Friedrich Wilhelm I dan Ludwig von Preußen), lahir pada 22 Maret 1797 and meninggal pada 09 Maret 1888 di Berlin merupakan raja kelima Prusia dari 1861 hingga 1888 dan Kaisar pertama Jerman sejak 1871 hingga 1888.
5 Kata dengan sistematis dicoret dari naskah.
6 Martin Luther (10 November 1483, Eisleben – 18 Februari 1546, Eisleben) adalah pastur Jerman yang menentang Katolik Roma dan merupakan inisdiator Protestan (Lutheran). Dia menerjemahkan Alkitab dalam bahasa Jerman, “bahasa rakyat.” Pada 1517, dia memaparkan 95 thesis menentang peredaran surat pengakuan dosa. Penerbitan itu paling tidak secara simbolis menandakan awal Reformasi.
7 Philip Melanchthon (16 Februari 1497 di Bretten, Jerman – 19 April, 1560 di Wittenberg)memiliki nama aslinya Philipp Schwartzerd. Dia merupakan bekas orang Jerman yang relijius. Sebagai murid Martin Luther, dia paling dikenal karena menulis Pengakuan Ausburg pada 1520.
Pidato Kedua
Teman-teman terkasih,
Saya menceritakan pada Anda sebelumnya dua peristiwa bersejarah besar yang menengakkan kekuasaan borjuis: Revolusi relijius abad 16, juga dikenal sebagai Reformasi1 , dan Revolusi Politik Besar2 abad lalu. Saya menambahkan, itu semua tentunya dicapai melalui kekuatan bersenjata rakyat yang telah dimulai dan diarahkan secara khusus oleh kelas menengah. Saya akan membuktikan juga pada Anda sekarang bahwa hal itu hanya menguntungkan kelas menengah.
Namun, program Revolusi, pada awalnya, tampak agung. Bukankah Revolusi dilakukan atas nama Kebebasan, Persamaan dan Persaudaraan umat manusia, tiga kata yang tampaknya mencakup semuanya yang hanya bisa diinginkan dan dicapai umat manusia di masa kini dan masa depan? Bagaimana mungkin Revolusi yang menyerukan sikap luas seperti itu menghasilkan pembebasan yang sayangnya ekslusif, terbatas dan mengistimewakan satu kelas di atas penderitaan jutaan pekerja yang hari ini dilindas oleh ketidakadilan dan kemakmuran yang kurang ajar dari kelas ini?
Ah! Revolusi itu merupakan revolusi politik. Borjuis dengan terang-terangan menghancurkan semua belenggu, semua tirani politik tetapi secara utuh meninggalkan dasar ekonomi masyarakat. Borjuis bahkan memproklamirkan dasar ekonomi itu sebagai yang suci dan tidak dapat dilanggar— yang merupakan sumber abadi, landasan utama semua kesenjangan politik dan sosial dari semua omong kosong beragama soal masa lalu dan sekarang. Revolusi memproklamirkan kebebasan bagi semua orang, atau lebih tepatnya hak untuk bebas bagi semua orang. Tetapi, borjuis tidak sepenuhnya memberikan sarana untuk mencapai kemerdekaan ini dan menikmati sebagai pemilik, pemodal, yang kaya.
“Kemiskinan adalah perbudakan!”3
Kata-kata mengerikan dari suara akrab teman kita Clement yang berlandaskan pengalaman dan hati4 . Kita telah mengulang beberapa kali beberapa hari terakhir. Saya memiliki kesempatan baik untuk menghabiskannya di tengah-tengah Anda sekalian, teman dan rekan saya.
Ya, kemiskinan adalah perbudakan. Orang miskin harus menjual kerjanya, dan dia bekerja pada seseorang, para pemodal memberi Anda jalan agar tidak kelaparan. Para tuan borjuis pasti cukup tertarik dan berpikir untuk berani berbicara tentang kebebasan politik bagi massa pekerja! Kebebasan yang cantik yang menjadi subjek tingkah modal dan menjembatani keinginan para kapitalis yang lapar! Teman-teman terkasih, saya tentu tidak perlu membuktikan pada Anda yang telah datang untuk memahami pengalaman panjang dan pahit penderitaan kerja. Selama modal dan pekerja terpisah, pekerja akan menjadi budak modal dan menderita karena kerja tuan-tuan borjuis, yang
dengan mengejek memberi Anda semua hak61 hak politik, semua yang nampak bebas, untuk melestarikan kenyataan yang secara khusus untuk mereka sendiri.
Hak untuk bebas, tanpa sarana untuk mencapainya, hanyalah hantu, dan kita mencintai kebebasan sejati bukan? Kita ingin kenyataan. Tetapi (apa) yang merupakan inti kenyataan dan kondisi positif kebebasan? Hal itu adalah pembangunan penuh dan kenikmatan penuh semua kemampuan tubuh, intelektual dan moral bagi semua. Maka, semua sumber jasmaniah adalah niscaya bagi keberadaan semua orang. Kemudian, pendidikan dan pelatihan. Orang yang mati kelaparan, karena dilindas kemiskinan, setiap hari sekarat kelaparan dan kedinginan, dan, melihat penderitaan semua yang dia cinta, tidak dapat memberi bantuan, bukanlah manusia bebas, melainkan budak. Orang yang dikutuk untuk tetap terus menjadi brutal, kekurangan pendidikan manusiawi, orang yang memberi instruksi secara pribadi, angkuh, secara niscaya merupakan budak dan jika dia menggunakan hak politik, Anda dapat yakin, dengan satu atau lain cara, dia akan menggunakannya untuk melawan dirinya sendiri, demi membela tuannya yang menghisap.
Kebebasan tanpa syarat adalah: Tidak ada orang yang patuh pada yang lain, kebebasan ada jika semua tindakan ditentukan, tidak oleh keinginan orang lain, tetapi oleh keinginan dan keyakinannya sendiri. Tetapi, seorang yang lapar dipaksa menjual kerjanya, dan dirinya, dijual dengan harga serendah mungkin pada kapitalis yang berkenan untuk menghisap, seseorang memiliki kebrutalan dan kebodohan, terimakasih untuk terlibat dalam penghisapan akademis, yang akan secara niscaya dan selalu menghasilkan budak.
Bukan itu saja, merupakan fakta bahwa kebebasan individu-individu bukanlah sebuah fakta tunggal, melainkan produk kolektif. Tidak ada orang yang bebas dan tanpa bantuan masyarakat manusia dari sisi luar. Dalam semua Kongres pekerja kita memerangi individualistis atau kesalahan saudara seiman sosialis, bersama moralis dan ekonom borjuis. Mereka mengklaim orang dapat bebas, dia dapat hidup di luar perusahaan. Mereka mengatakan perusahaan didirikan dengan kontrak sukarela oleh mereka yang sebelumnya adalah manusia merdeka.
Teori ini diprkolamirkan oleh Rousseau5 , yang paling jahat dari abad lalu, orang sesat yang mengilhami semua penulis borjuis revolusioner, teori ini menandakan kedunguan lengkap akan sifat sejarah. Kita harus mencari kebebasan massa, tidak dalam masa lalu atau masa kini, melainkan pada masa depan—masa depan yang dekat: Dalam masa depan itu kita perlu menciptakan diri kita sendiri, melalui kekuatan pikiran, kehendak kita, tetapi juga melalui lengan-lengan kita. Di belakang kita, tidak pernah ada perjanjian bebas, hanya ada kebrutalan, kebodohan, ketidakadilan dan kekerasan–dan bahkan hari ini, Anda tahu sangat baik, yang disebut perjanjian bebas mensyaratkan kelaparan, perbudakan kelaparan massa dan penghisapan yang lapar bagi minoritas yang melahap dan menindas kita.
Teori kontrak suka rela juga salah menurut sudut pandang alam. Orang tidak dengan suka rela menciptakan perusahaan: Perusahaan-perusahaan itu muncul dengan paksaan. Manusia pada kenyataannya adalah binatang sosial. Manusia tidak dapat sepenuhnya menjadi manusia, katakanlah, binatang yang berpikir, mencintai dan berkehendak dalam suatu masyarakat. Bayangkan, orang yang dikaruniai oleh alam kemampuan luar biasa, sejak bayi dilempar ke gurun, tanpa masyarakat manusia. Jika tidak sirna dengan tragis, yang sepertinya kemungkinan terbesar seperti itu, orang itu pasti akan menjadi kasar, keras, tidak mampu berbicara dan berpikir—karena berpikir tidak dapat dipisahkan dari kata-kata, tidak ada yang dapat berpikir tanpa kata-kata. Bahkan ketika terisolasi dengan sempurna, Anda berbicara sendiri dengan Anda, karena Anda harus menggunakan kata-kata untuk berpikir; Anda mungkin memiliki imajinasi yang mencerminkan ihwal dengan baik, tetapi begitu Anda ingin berpikir tentang satu hal, Anda harus menggunakan kata-kata, karena hanya katakata yang menentukan pikiran dan memberikan kemampuan kilasan, insting, sifat pikiran. Pikiran tidak ada sebelum kata atau kata sebelum berpikir, dua bentuk itu adalah tindakan sama yang lahir berbarengan dari otak manusia. Jadi, tidak ada pikiran tanpa kata-kata6 . Tetapi apa itu kata? Kata adalah komunikasi, perbincangan individu manusia dengan orang lain yang banyak. Manusia binatang menjadi manusia, yang artinya berpikir, berpikir melalui percakapan, dalam percakapan ini. Keindividuan sebagai seorang manusia, kebebasannya, merupakan produk komunitas.
Orang yang merdeka dari penindasan tirani menekankan setiap kerja kolektif sebagai sifat eksternal, karena kerja individual, tidak berdaya dan mandul, tidak pernah dapat menaklukan alam. Kerja produktif itu, yang menciptakan semua kemakmuran dan semua peradaban kita selalu merupakan kerja sosial suatu kelas, sayangnya telah dihisap secara tidak adil oleh individu di atas penderitaan massa pekerja. Pendidikan dan pelajaran serupa yang membangun manusia, bahwa pendidikan dan pelajaran yang sangat dibanggakan M(essieu)rs7 borjuis, dan yang sangat pelit mereka bagikan pada massa merupakan produk seluruh masyarakat juga. Kerja, saya dapat mengatakan tetap sama, rakyat memiliki naluri untuk menciptakan, tetapi sejauh ini mereka telah menciptakan hanya untuk mendukung individu borjuis. Kerja kolektif masih dihisap oleh individu yang tidak memiliki hak.
Semua yang manusiawi pada manusia, dan kebebasan, lebih dari segalanya, merupakan hasil kerja sosial suatu kelas. Bebas dalam keterpisahan absolut adalah omong kosong yang diciptakan teolog dan metafisis. Omong kosong itu menggantikan masyarakat manusia dengan masyarakat roh mereka, Tuhan. Semua orang, kata mereka, merasa bebas dalam kehadiran Tuhan, itu artinya, benar-benar kosong. Di bawah kerak bumi, begitulah kebebasan dari ketiadaan, atau ketiadaan kebebasan, yang adalah perbudakan.
Tuhan, khayalan tentang Tuhan, dalam sejarah telah menjadi sumber dari semua dorongan moral, atau yang lebih tepat immoral.
Bagi kita, yang tidak ingin roh atau apapun selain kenyataan hidup manusia, kita mengakui manusia dapat merasa bebas dan tahu —dan maka tidak dapat mencapai kebebasannya–tanpa manusia di sekitar. Menjadi bebas, saya perlu melihat pada sekeliling saya, dan diakui sedemikian rupa oleh manusia bebas. Saya tidak bebas ketika kepribadian saya tercermin, seperti pada banyak cermin, juga dalam nurani yang bebas dari semua orang di sekitar saya, ketika pengakuan semua orang berbalik memaksa saya. Kebebasan semua, sama sekali tidak membatasi kebebasan saya, seperti dituding oleh individualistis, bertentangan dengan bukti, penafsiran , dan perluasan tanpa batas. Keinginan akan kebebasan dan martabat manusia di hadapan semua orang, untuk melihat dan mendukung kebebasan membenarkan, menghukum, meluas secara tak terbatas persetujuan semua orang, itulah kebahagiaan, surga manusia di atas bumi.
Tetapi, kebebasan ini hanya mungkin dalam persamaan. Jika ada yang lebih bebas dari saya, saya secara tak terhindarkan menjadi budaknya, jika saya lebih tua dari dia, dia akan menjadi milik saya. Jadi, persamaan secara mutlak merupakan syarat niscaya kebebasan. Revolusioner borjuis pada 1793 memahami dengan jelas keniscayaan logis tersebut. Juga, kata persamaan, berada sebagai istilah kedua dalam rumusan revolusioner: Kebebasan, Persamaan, Persaudaraan. Tetapi apa itu persamaan?
Persamaan di depan hukum, persamaan hak-hak politis, persamaan warga dalam negara. Perhatikan dengan baik istilah ini, persamaan warga negara, bukan persamaan manusia karena negara tidak mengakui manusia, negara tahu warga negara. Bagi negara, manusia ada ketika negara membutuhkan— atau, secara khayal, negara dipercaya mengarahkan– hak-hak politis. Orang yang dilindas oleh kerja paksa, karena kemiskinan, lapar, orang yang secara sosial tertindas, secara ekonomi dihisap, diganyang, dan menderita, tidak hadir. Sebab, negara mengabaikan penderitaan mereka, serta perbudakan sosial dan ekonomi. Negara menyembunyikan kepatuhan aktual di balik topeng kebebasan politik yang salah. Hal itu merupakan persamaan politik, tetapi bukan persamaan sosial.
Teman-teman saya yang terkasih, Anda semua tahu dari pengalaman bagaimana yang dituding persamaan politik itu, yang tidak berlandaskan pada persamaan ekonomi dan sosial, menyesatkan. Dalam negara demokratik yang luas, contohnya, semua orang mencapai usia dewasa, tidak termasuk yang terpidana, berhak dan bahkan turut bertugas untuk menggunakan hak politik secara penuh dan melakukan semua fungsi yang dapat disebut keyakinan rekan warga negara mereka. Rakyat yang paling akhir, yang miskin, yang dungu, dapat dan pasti menggunakan semua hak seperti itu dan (menggenapi) semua fungsi-fungsi tersebut. Dapatkah kita membayangkan persamaan yang lebih luas dari ini? Ya, persamaan itu seharusnya dapat, secara legal, tetapi dalam kenyataannya, itu tidak mungkin. Orang-orang yang menjadi bagian dari massa dapat memilih berkuasa hanya jika ada perubahan radikal landasan ekonomi masyarakat, sebutlah kata itu, revolusi sosial. Tanpa itu, orangorang tidak dapat memilih berkuasa. Yang disebut hak-hak politik yang dinikmati rakyat hanyalah isapan jempol belaka.
Kita lelah dengan semua sandiwara, baik itu agama atau politik. Rakyat lelah memakan roh dan dongeng. Makanan itu tidak membuat gemuk. Sekarang, rakyat mendesak kenyataan. Mari kita lihat apa yang nyata bagi rakyat dalam penggunaan hak-hak politik.
Untuk memenuhi tugas dengan cermat, khususnya fungsi yang lebih tinggi dalam negara, seseorang harus sudah sangat terpelajar. Rakyat tentunya tidak cukup terpelajar seperti itu. Apakah ini salah rakyat? Tidak, kesalahan itu terletak pada institusi negara. Tugas agung semua negara-negara demokrasi sejati adalah untuk mendidik rakyat sebanyak mungkin. Apakah ada negara yang sudah melakukannya? Tidak perlu menyebut negaranegara monarki, yang memiliki perintah jelas untuk tidak menyebarkan kepentingan, melainkan racun katekisme Kristen pada massa. Bicaralah tentang negara-negara republik dan demokratis seperti Amerika Serikat dan Swiss. Tentunya, kita harus mengakui bahwa kedua negara itu melakukan lebih banyak daripada negara-negara lain dalam hal pendidikan untuk rakyat. Tetapi, apakah mereka mencapai tujuan, meskipun niatan mereka baik? Apakah mungkin bagi Amerika Serikat dan Swiss memberikan pendidikan setara bagi semua anakanak yang lahir di dalam negara-negara itu tanpa diskriminasi? Tidak, itu tidak mungkin. Bagi anakanak borjuis, pendidikan tinggi, bagi rakyat hanya pendidikan dasar, dan dalam kesempatan terbatas, sejumlah pendidikan menengah. Kenapa berbeda? Karena alasan sederhana bahwa orang biasa, pekerja di kota dan desa, tidak memiliki jalan untuk memperoleh, katakanlah, pangan, sandang, papan bagi anak-anak mereka sepanjang masa belajar anak-anak tersebut. Pelajaran sains membutuhkan pembelajaran hingga usia 21 tahun, dan terkadang mencapai 25 tahun. Saya tanyakan pada Anda, pekerja mana yang mampu membiayai anak mereka begitu lama? Pengorbanan ini melampaui batas kekuatan mereka, karena mereka tidak memiliki modal atau barang, dan karena mereka tidak cukup untuk hari esok, gaji mereka jarang mencukupi untuk membiayai keluarga besar.
Namun, harus dikatakan, rekan-rekan terkasih, Anda, pekerja di pegunungan, pekerja dalam perdagangan tempat produksi kapitalis, dapat dikatakan bahwa pergerakan uang dalam jumlah besar, belum menggapai kalian. Kalian sangat bahagia jika dibandingkan dengan daerah yang sudah digapai produksi kapitalis. Bekerja dalam kelompok kecil di bengkel Anda, dan seringkali bekerja di rumah Anda, Anda mendapat jauh lebih banyak daripada yang Anda dapat di perusahaan industri besar dan mempekerjakan ratusan buruh, kerja Anda cerdas, artistik, tidak membodohi seperti dikerjakan oleh mesin. Kemampuan dan kecerdasaan Anda memiliki arti. Anda memiliki relatif lebih banyak waktu luang dan kebebasan, itulah kenapa anda lebih berpendidikan, lebih bebas dan lebih bahagia daripada yang lainnya.
Dalam pabrik besar yang mapan, dikelola dan dijalankan oleh modal besar, yang di dalamnya mesin memainkan peran utama, pekerja secara pasti menjadi budak yang sengsara. Para pekerja lebih sering dipaksa untuk mengutuk anak kecil malang mereka yang baru berumur 6 tahun, bekerja 12, 14, 16 jam sehari dalam keadaan yang menyedihkan. Mereka tidak melakukannya karena keserakahan, tetapi karena kebutuhan. Jika tidak, mereka tidak mampu membiayai keluarga mereka.
Itulah pelajaran yang dapat mereka berikan pada anak-anak mereka. Saya kira tidak perlu mengucapkan lebih panjang lebar lagi untuk menunjukan pada Anda. Rekan-rekan terkasih, Anda tahu dengan sangat baik dari pengalaman dan sudah sangat yakin bahwa selama rakyat tidak bekerja untuk dirinya sendiri, tetapi untuk memperkaya pemilik harta dan modal, pelajaran yang dapat dia berikan bagi anak-anaknya selalu lebih rendah daripada pelajaran anak-anak kelas menengah.
Jadi, dalam landasan organisasi yang sama dari negara, Anda akan secara pasti menemukan kesenjangan sosial yang lebar dan membawa malapetaka: massa yang secara niscaya dungu, minoritas dengan hak istimewa, jika tidak selalu sangat pintar, paling tidak sangat terdidik jika dibandingkan dengan rakyat. Kesimpulannya mudah ditarik. Minoritas terdidik akan selamanya memerintah massa yang dungu.
Hal ini tidak hanya kesenjangan alami individu, kita terpaksa menyerah terhadap kesenjangan itu. Seseorang lebih beruntung daripada yang lain, orang yang dilahirkan dengan kemampuan alami lebih cerdas dan lebih luas dari orang lain. Tetapi saya bergegas menambahkan, perbedaan-perbedaan ini tidak terlalu besar untuk dapat kita percayai. Bahkan dari sudut pandang alam, orang secara alami hampir sama, mutu dan kekurangan saling melengkapi hampir semua orang. Hanya ada dua perkecualian bagi hukum alam persamaan itu: Yaitu yang jenius dan idiot. Tetapi pengecualian bukanlah aturan, dan secara umum, kita dapat mengatakan semua orang setara, dan jika ada perbedaan-perbedaan berarti antar individu dalam perbedaan-perbedaan masyarakat sekarang, itu karena bersumber pada kesenjangan dahsyat dari pendidikan dan pelatihan, bukan pada alam.
Anak berbakat dengan kecerdasan tinggi, tetapi lahir di keluarga miskin dan keluarga pekerja yang hidup tanpa hari esok serta terus bekerja keras, dikutuk untuk bodoh. Bakat dan kecerdasannya bukannya berkembang, namun keadaan malahan membunuh semua kecerdasan alaminya: Pekerja, buruh, perawat dan yang dipaksa menyuapi borjuis yang tentu saja, lebih bodoh daripada borjuis. Anakanak borjuis, sebaliknya, anak-anak orang kaya, meskipun tentunya seperti binatang buas, menerima pendidikan dan pelatihan yang diperlukan untuk dapat membangun kecerdasan yang sedikit itu:
Akan menjadi majikan; penghisap kerja, tuan, bos besar, anggota parlemen, pemerintah. Meskipun bodoh, anak orang kaya akan membuat hukum bagi rakyat, melawan rakyat, dan dia akan memerintah massa.
Dalam negara demokrasi dikatakan rakyat akan memilih yang baik. Tetapi, bagaimana rakyat mengenali yang baik? Rakyat tidak cukup terpelajar untuk menghakimi yang baik dan yang buruk, atau memiliki waktu luang untuk mengetahui orang yang maju dalam pemilihan umum. Terlebih lagi, orangorang itu hidup dalam masyarakat yang berbeda dengan rakyat. Baru ketika pemilihan umum mereka memberi hormat pada rakyat berdaulat Yang Mulia, kemudian begitu terpilih, mereka memalingkan muka. Terlebih, karena berasal dari kelas dengan hak istimewa, kelas penghisap, betapapun luar biasa mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat mereka, mereka akan selalu buruk bagi rakyat, karena mereka pasti ingin selalu menjaga hak khusus sebagai landasan keberadaan sosial mereka, dan mengutuk rakyat pada perbudakan abadi.
Tetapi, kenapa rakyat tidak maju sendiri mengirimkan orangnya dalam parlemen dan pemerintahan, orang yang merakyat?—Pertama, karena orang yang merakyat, hidup dengan kerja dari tangan mereka sendiri, tidak memiliki waktu untuk secara khusus dicurahkan pada politik, dan tidak dapat melakukannya, sebagian besar waktu mereka acuh tak acuh terhadap pokok masalah politik dan ekonomi. Kedua, karena seiring berjalannya waktu, orang yang merakyat itu memasuki pemerintahan dan berbalik menjadi borjuis, terkadang bahkan lebih penuh kebencian dan penghinaan daripada mereka yang lahir sebagai borjuis itu sendiri.
Anda melihat bahwa persamaan politik, bahkan di negara-negara paling demokratik, adalah kebohongan. Persamaan itu sebatas persamaan hukum, persamaan di depan hukum. Hukum dibuat oleh warga negara, bagi warga negara dan diterapkan oleh borjuis untuk melawan rakyat. Negara dan hukum menampakan kehadirannya hanya untuk melestarikan perbudakan rakyat untuk keuntungan negara.
Selain itu, Anda tahu, ketika kepentingan Anda, kehormatan Anda, hak-hak Anda terganggu dan Anda menghendaki pengadilan, untuk itu Anda pertama-tama harus membuktikan bahwa Anda mampu membayar, artinya, Anda harus mendepositkan sejumlah…Dan jika Anda tidak siap untuk membayar, Anda tidak mendapatkan pengadilan. Tetapi bagi rakyat, apakah mayoritas pekerja punya sejumlah uang untuk didepositkan di pengadilan? Sering kali, tidak. Jadi, orang kaya akan menyerang Anda, menghina dengan kekebalan hukum—karena tidak ada keadilan bagi rakyat.
Ketika tidak ada persamaan ekonomi dan sosial, sejauh minoritas pemodal dapat menjadi pemilik kaya, tidak melalui kerja mereka sendiri, tetapi melalui warisan, persamaan politik adalah kebohongan. Tahukah Anda makna sebenarnya dari harta warisan? Itu adalah hak warisan untuk menghisap kerja kolektif rakyat dan memperbudak massa.
Pahlawan-pahlawan besar Revolusi 1793, baik itu Danton, atau Robespierre atau Saint-Just tidak mengerti akan hal ini. Mereka tidak ingin kebebasan sosial dan ekonomi serta kebijakan persamaan. Itulah kenapa kebebasan dan persamaan berlandaskan konstitusi mereka dan duduk di atas dasar baru, yaitu dominasi borjuis atas rakyat.
Mereka percaya meletakan Persaudaraan dalam istilah ketiga rumusan revolusioner mereka menyembunyikan kontradiksi ini. Lagi, itu hanya kebohongan! Saya bertanya, apakah persaudaraan itu mungkin antara penghisap dan yang dihisap, antara penindas dan yang ditindas? Bagaimana? Saya akan membuat Anda menderita dan berkeringat seharian penuh dan pada malamnya, ketika saya mengumpulkan buah penderitaan dan keringat Anda, menyisakan hanya bagian kecil sehingga Anda dapat hidup, dan mengatakan kembali esok hari keringat dan penderitaan menguntungkan saya –pada malamnya, saya akan mengatakan pada Anda sambil berpelukan, kita saudara!
Itulah persaudaraan revolusi borjuis.
Teman-teman terkasih, kita ingin Persamaan, Persaudaraan suci dan kebebasan bermartabat. Tetapi kita ingin hal-hal indah, agung tersebut tidak lagi menjadi khayalan, kebohongan, tetapi menjadi benar dan nyata!
Inilah makna dan tujuan dari apa yang kita sebut revolusi sosial.
Revolusi sosial dapat dirangkum secara singkat: Revolusi sosial ingin kita, ingin semua orang yang lahir di atas bumi menjadi manusia dalam pengertian sepenuhnya dari kata itu, manusia tidak hanya memiliki hak, tetapi juga seluruh sarana untuk membangun kemampuan mereka sepenuhnya, dan menjadi bebas, bahagia, dalam persamaan dan persaudaraan! Itulah yang benarbenar kita inginkan, dan kita semua siap mati untuk mencapai tujuan ini.
Saya meminta pada Anda, teman-teman, pertemuan ketiga dan terakhir untuk menyajikan pikiran saya sepenuhnya pada Anda.
Catatan Kaki
1 Dalam manuskrip Bakunin menyebut dengan lebih pasti.
4 Sylvain Clement adalah fotografer di Saint-Imie. Kita berhutang padanya foto Bakunin yang diambil pada Mei 1871, yaitu ketika “Tiga Konferensi.” Di bulan Juli di tahun yang sama, dia bergabung dalam komiter Juri.
5 Jean-Jacques Rousseau (Lahir di Jenewa 28 Juni, 1712 dan meninggal di Ermenonville 2 Juli 1778) adalah penulis dan filsuf. Teori politik tentang kehendak umum dan kontrak sosial berguna sebagai landasan teoritis untuk demokrasi totalitardian negara baru-baru ini dan Bakunin memperingatkannya satu abad sebelum Karl Popper memberi penafsiran yang sama terhadap pemikiran Rousseau dalam The Open Society and Its Enemies.
6 Di sini, Bakunin mengantisipasi gagasan Lev Vygotsky dan Ludwig Wittgenstein tentang pertautan niscaya dan dekat antara pikiran dan kata-kata.
7 Bakunin menggunakan permainan kata dalam m(essieu) rs. Kata essieu dapat diterjemahkan sebagai poros, dalam hal ini poros borjuis dan kata messieurs berarti bentuk jamak dari monsieur yang berarti tuan atau mr dalam bahasa Inggris. Dengan memainkan tanda kurung, Bakunin sekaligus mengacu pada poros dan orang-orang borjuis. (penerjemah).
2 Revolusi Prancis 1789.
3 Ini adalah refrain lagu populer Lachambeaudie Pierre (1807-1872), diterbitkan dalam Fables , Paris, 1851.
Pidato Ketiga
Teman-teman Terkasih,
Saya menceritakan pada Anda pada pertemuan terakhir tentang bagaimana borjuis, tanpa sepenuhnya sadar akan dirinya sendiri, tetapi sebagian juga, dan paling tidak seperempat dengan sadar menggunakan lengan rakyat yang kuat sepanjang Revolusi Agung 1789-1793, untuk bertahta dalam reruntuhan dunia feodal, untuk kekuasaannya. Sekarang, borjuis menjadi kelas berkuasa. Sesuatu yang salah adalah membayangkan bahwa bangsawan dan pastur imigran yang mengkudeta negara melalui reaksi Thermidor1 , yang menggulingkan dan membunuh Robespierre dan Saint-Just, dan memenggal atau mendeportasi sekelompok pendukung mereka. Tidak diragukan lagi, banyak anggota dari dua institusi yang hancur itu mengambil peran aktif di dalam plot, merasa senang melihat mereka yang terguncang dan memenggal kepala mereka tanpa rasa iba. Tetapi, mereka tidak akan melakukan apapun jika sendiri. Terampas, mereka tidak berdaya. Bagian kelas borjuis ini yang diperkaya oleh pembelanjaan barang-barang rumah tangga, dipasok oleh perang dan pengelolaan anggaran publik, mengambil dari kesengsaraan publik dan kebangkrutan itu sendiri untuk menambah daya kantong mereka, merekalah, perwakilan kebajikan moralitas dan tatanan publik, yang merupakan penghasut reaksi tersebut. Mereka mendapat dukungan hangat dan kuat dari massa penjaga toko, keturunan yang selamanya pengecut dan jahat, yang menipu rakyat dengan racun eceran, menjual barang-barang dengan curang dan memanfaatkan kebodohan rakyat tanpa memiliki hati yang besar, semua kesombongan aristokrasi borjuis tanpa memiliki uang banyak, keluar sepanjang revolusi, bereaksi dengan tajam.
Bagi mereka semua gagasan yang mendebarkan hati massa—prinsip-prinsip utama, kepentingan agung kemanusiaan–tidak ada. Borjuis bahkan mengabaikan patriotisme, atau hanya mengetahui kesombongan dan gertakan. Tidak ada perasaan yang dapat menyita perhatian para pedagang tersebut kecuali kesulitan yang dari hari ke hari mencemaskan. Setiap orang melihat, dan orang dari berbagai pihak membenarkan, sepanjang pengepungan Paris yang mengerikan2 ,— ketika rakyat bertarung dan ketika itu pula kelas kaya dan licik menyiapkan penghianatan dengan memberikan Paris pada Prusia, ketika proletariat yang baik hati, perempuan dan anak-anak rakyat kelaparan–perhatian para pemilik toko hanya berpusat pada satu, yaitu menjual barang-barang mereka, makanan mereka, kebutuhan sehari-hari yang paling penting bagi rakyat dengan harga tertinggi.
Para pemilik toko dari semua kota-kota besar di Prancis melakukan hal yang sama. Di kotakota yang diserang oleh Prusia, mereka membuka pintu bagi orang Prusia. Di kota-kota yang tidak diserang, mereka menyiapkan untuk para pekerja, melumpuhkan pertahanan nasional, dan di mana saja mereka dapat menentang pemberontakan serta gerakan bersenjata yang merupakan satu-satunya cara untuk dapat menyelamatkan Prancis. Para pemilik toko di kota, seperti petani-petani di desa, merupakan tentara reaksioner. Para petani harus dapat diubah menjadi revolusioner, tetapi para pemilik toko itu tidak akan pernah dapat diubah.
Sepanjang Revolusi Agung, para borjuis terbelah dalam dua golongan, salah satunya (termasuk), yang beranggotakan minoritas kecil, merupakan borjuis revolusioner, yang dikenal umum dengan nama Jacobins. Kita jangan mengaburkan Jacobins hari ini dengan mereka pada 1793. Jacobins hari ini hanyalah hantu-hantu pucat dan kurcaci konyol, pahlawan pelawak abad lampau. Para Jacobins pada 1793 merupakan orangorang besar3 , mereka memiliki api suci, memuja keadilan, kebebasan dan persamaan. Bukan salah mereka kalau tidak memahami sejumlah kata-kata yang bahkan kini meringkas dengan baik semua aspirasi kita. Jacobins dulu dianggap sebagai wajah politik, bukan dalam pengertdian ekonomi dan sosial. Tetapi, saya ulang, bukan salah mereka, seperti kini tidak baik bagi kita untuk mengerti hal itu hari ini. Hal tersebut merupakan kesalahan dan harga sebuah zaman.
Kemanusian berkembang dengan lambat, terlalu lambat, sangat disesalkan! Hanya melalui serangkaian kesalahan dan kekeliruan, khususnya percobaan yang kejam, yang selalu merupakan dampak pasti bagi manusia untuk menemukan kebenaran.
Para Jacobin pada 1793 merupakan orang79 orang yang tulus, orang-orang yang terilhami oleh gagasan, berdedikasi pada gagasan mereka. Mereka pahlawan! Jika tidak, jika mereka tidak memiliki ketulusan agung dan suci itu, mereka tidak akan menuntaskan tindakan agung revolusi. Kita dapat dan harus memerangi kesalahan teoritikus Danton, Robespierre, Saint-Just, tetapi ketika memerangi kesalahan ekonomi sosial borjuis yang salah konsep, sempit dan ekslusif, kita harus menghormati kekuatan revolusioner mereka. Mereka adalah pahlawan terakhir kelas menengah, yang dulu penuh berlimpah pahlawan.
Terlepas dari minoritas yang heroik tersebut, ada massa besar borjuis yang menghisap secara materi, bagi mereka, gagasan dan prinsip revolusi hanya kata-kata yang bernilai dan bermakna sepanjang dapat digunakan untuk mengisi kantong mereka yang begitu tebal serta dihargai.4 Begitu pula yang paling kaya juga paling berpengaruh di antara mereka sudah cukup mengisi pundi melalui revolusi, mereka menemukan revolusi melangkah terlalu jauh, tiba waktunya untuk mengakhiri dan memulihkan kekuasaan hukum dan tatanan publik. Mereka menggulingkan Komite Keselamatan Publik (Comité de Salut Public), membunuh Robespierre, Saint-Just dan teman-temannya. Mereka kemudian mendirikan Dewan Direktori (Directoire), yang merupakan penjelmaan kerusakan moral borjuis pada akhir abad lalu, kemenangan dan pemerintahan emas memperoleh serta mengumpulkan pundipundi beberapa ribu orang setiap bertarung.
Tetapi Prancis tidak memiliki waktu untuk bermanja-manja, dan masih sangat tertarik pada peristiwa-peristiwa besar revolusi, tidak dapat menahan skema ini lama-lama. Ada dua protes, salah satunya gagal, lainnya berhasil. Pertama, jika protes itu berhasil, jika saja, akan menyelamatkan Prancis dan dunia, kemenangan yang kedua melantik kekejaman raja dan perbudakan rakyat. dan Maksud saya adalah kebangkitan Babeuf5 perebutan kekuasaan Bonaparte pertama.
Pemberontakan Babeuf merupakan upaya revolusioner terakhir abad lalu. Babeuf dan teman-temannya kurang lebih merupakan teman Robespierre dan Saint-Just. Mereka merupakan sosialis Jacobins. Mereka memuja persamaan, bahkan dengan mengorbankan kebebasan. Rencana mereka sederhana: kekuasaan untuk merebut alatalat kerja dan modal lainnya dari semua pemilik untuk negara republik, demokratik dan sosial, sehingga negara menjadi satu-satunya pemilik dari semua kekayaan baik yang dapat bergerak maupun tidak dapat bergerak, menjadi majikan bersama, pemilik tunggal perusahaan, pada saat yang sama menyediakan kekuasaan politik tak terbatas, negara merupakan satu-satunya penyelenggara pendidikan yang setara bagi semua anak-anak, memaksa semua orang dewasa bekerja dan hidup dengan setara serta adil. Otonomi ditingkat kota praja, inisiatif individu, kebebasan hilang dilindas kekuasaan tak terbendung. Seluruh masyarakat tidak lagi harus mewakili gambaran keseragamaan monoton dan paksaan. Pemerintah dipilih melalui hak pilih universal, tetapi begitu terpilih, dan dia tetap berkuasa, dia melayani kekuasaan semua anggota masyarakat yang absolut.6
Menegakkan teori persamaan dengan memperkuat7 kekuasaan negara tidak diciptakan oleh Babeuf. Landasan pertama teori diletakan oleh Plato, berabad-abad sebelum Kristus, dalam buku karyanya yang berjudul Republik, tempat pemikir besar kuno ini menggambarkan garis besar masyarakat egaliter. Kristen purba yang tentunya menerapkan komunisme praktis dalam perkumpulan, mereka dianiaya oleh semua penguasa dalam masyarakat. Akhirnya, pada saat awal revolusi relijius pada kuartal pertama abad 16 di Jerman, Thomas Muenzer8 dan para pengikutnya membuat upaya pertama untuk menegakkan persamaan sosial dengan dasar yang kuat. Persekongkolan Babeuf merupakan penerapan praktis kedua dari gagasan persamaan di antara massa. Semua upaya ini, tidak terkecuali yang terakhir gagal karena dua alasan: Pertama, karena massa cukup terbangun untuk mengembalikan kemungkinan perwujudan itu, dan kemudian khususnya, karena dalam semua sistem tersebut, persamaan dikombinasikan dengan kekuasaan, otoritas negara, maka dari itu menyingkirkan kebebasan. Kita tahu, teman-teman terkasih, persamaan hanyalah yang paling mungkin dan kebebasan: tidak melalui kebebasan borjuis yang ekslusif, berlandaskan pada perbudakan massa dan itu bukanlah kebebasan, tetapi hak istimewa, dengan kebebasan umat manusia seluruhnya, setiap orang yang bangkit dengan martabat manusia. Namun, kita juga tahu kebebasan ini hanya mungkin dalam persamaan. Tidak hanya pemberontakan teoritis tetapi juga praktis melawan semua institusi dan menentang semua hubungan sosial yang diciptakan oleh kesenjangan pendirian, persamaan sosial dan ekonomi melalui kebebasan bagi semua: Inilah program terkini kita, yang kita harus menangkan meskipun ada Bismarck9 , Napoleon, Thiers10, meskipun semua Cossacks dari kekaisaran Agustus, Tsar dari semua Rusia.
Semua yang terkumpul dalam persekongkolan Babeuf setelah pembunuhan dan pengusiran kudeta negara reaksioner Thermidor, tetap berdedikasi pada revolusi untuk warga negara di Paris, khususnya kebanyakan pekerja. Persekongkolan ini gagal, banyak anggotanya yang dipenggal dengan guillotine, tetapi banyak yang beruntung kabur. Di antara warga negara itu ada Buonarroti, manusia besi, memiliki sifat kuno, yang begitu bermartabat yang dia tahu harus menghormati orang-orang dari partai yang paling bertentangan. Dia tinggal di Belgia, tempatnya menjadi pendiri utama kelompok rahasia komunis-Carbonari, dan jarang disebut dalam buku sekarang, tetapi saya akan coba menjelaskan teman kita Adhemar11. Sejarah Adhmear itu suram, perlindungan heroik terakhirnya dari revolusi menentang reaksi, dikenal sebagai persekongkolan Babeuf.12
Protes lain melawan kerusakan masyarakat borjuis yang merenggut kekuasaan atas nama Dewan Direktori, seperti sudah saya katakan, adalah perampasan kekuasaan oleh Bonaparte pertama13. Cerita ini seribu kali lebih muram, Anda semua tahu.
Ini adalah pelantikan kekuasaan pedang yang brutal dan keji, yang pertama terjadi pada awal abad ini kemurkaan orang kaya baru memberi cap tamparan pada pipi kemanusiaan. Napoleon menjadi pahlawan semua penguasa lalim, bersama militer, kekuasaan itu menjadi terror. Meskipun kalah, dia mewariskan bencana, prinsip keji Napolen: Menjijikan bagi kemanusiaan dan penindasan oleh pedang.
Saya tidak akan berbicara tentang restorasi14. Merupakan upaya konyol untuk membangkitkan kekuatan politik pada dua tempat dan institusi yang tengah runtuh: kebangsawanan dan pastur. Selama Restorasi, ada hal yang luar biasa, serangan yang mengancam kekuasaan ini yang borjuis pikir sudah selamanya dia taklukan, borjuis menjadi revolusioner semu. Begitu tatanan publik tegak, musuh tatanan publik bukanlah dirinya sendiri, begitulah dikatakan, segera setelah ini berdiri dan terjamin, jika tidak menjembatani kepentingan suatu kelompok borjuis, akan terjadi persekongkolan. MM. Guizot15, Perier16, Thiers, dan banyak lainnya, yang berada di bawah Louis-Philippe membedakan diri mereka (seperti) pendukung dan pembela paling fanatik dari pemerintahan penindas, korup, tetapi borjuis. Maka dari itu, di mata mereka sempurna. Semua jiwa terkutuk dari reaksi borjuis itu, bersekongkol di bawah Restorasi. Mereka menang pada Juli 1830 dan pemerintahan liberalisme borjuis dilantik.
Sejak 1830, di Eropa benar-benar merupakan zaman dominasi kepentingan borjuis dan politik borjuis yang ekslusif, khususnya Prancis, Inggris,
Belgia, Belanda dan Swiss. Di negara-negara lain seperti Jerman, Denmark, Swedia, Italia, Spanyol dan Portugal, kepentingan borjuis mengalahkan semua kepentingan lainnya, tetapi tidak pemerintahan politik borjuis. Saya (tidak) berbicara pada Anda tentang keagungan dan kenestapaan Kekaisaran Seluruh Rusia, yang tetap menjadi subjek kekejian mutlak Tsar, dan tanpa institusi politik borjuis yang layak untuk menjadi titik penengah kelas politik, dan tempat “sungguh satu keberpihakan, dunia para petugas, organisasi birokrat, militer, dan polisi mematuhi cambuk Tsar, di seluruh negeri, puluhan juta ditelan oleh Tsar dan pegawai-pegawainya. Di Rusia, revolusi akan langsung datang dari rakyat, seperti telah saya paparkan secara menyeluruh dalam sebuah pidato panjang, saya memberikan pidato itu beberapa tahun lalu di Bern dan saya tanpa ragu menyampaikannya17. Saya juga tidak berbicara tentang Polandia yang malang dan heroik, berjuang, selalu tercekik lagi, tetapi tak pernah mati, dalam keluarnya tiga elang keji: Kekaisaran Rusia, Kekaisaran Austria dan Kekaisaran Jerman baru, diwakili oleh Prusia. Di Polandia, seperti di Rusia, tidak ada kelas menengah yang layak untuk mendukung kebangsawanan, birokrasi yang diwariskan budak Tsar di Rusia, maka dari itu birokrasi tersebut dominan yang kini kacau dan runtuh di Polandia, dan di sisi lain, budak serta para petani diganyang, kini dilindas, tidak oleh bangsawan, yang kehilangan kekuasaan tetapi oleh negara, oleh pegawai negara yang tak terhitung banyaknya, oleh Tsar. Saya tidak akan berbicara juga tentang negara yang lebih kecil, Swedia dan Denmark, yang baru menjadi sungguh-sungguh konstitusional sejak 1848 dan tetap kurang lebih di belakang keseluruhan pembangunan Eropa atau Spanyol dan Portugis, tempat gerakan industdial dan politik borjuis begitu lama lumpuh karena kekuasaan ganda pastur dan tentara. Namun, saya juga mengamati bahwa Spanyol, yang tampaknya begitu terbelakang, hadir pada kita sekarang sebagai salah satu organisasi paling luar biasa dalam Asosiasi Pekerja Internasional alias Internasionale yang ada di dunia.
Saya berhenti sejenak di Jerman. Jerman sejak tahun 1830 terus dan terus hadir pada kita sebagai negara aneh; tempat kepentingan borjuis mendominasi, tetapi kekuasaan politik tidak berada pada borjuis melainkan monarki absolut di bawah topeng daftar konstitusi, militer, organisasi birokratis dan melayani kaum bangsawan semata.
Kita sangat perlu mempelajari pemerintahan borjuis di Prancis, Inggris, dan Belgia. Karena persatuan Italia di bawah hantu Victor Emmanuel18, kita juga dapat mempelajari Italia. Tetapi, tidak ada satu negarapun yang memenuhi semua sifat seperti Prancis sehingga negara inilah yang terutama kita pikirkan.
Sejak tahun 1830, prinsip borjuis bebas sepenuhnya untuk diwujudkan dalam sastra, politik dan ekonomi sosial. Prinsip itu dapat diringkas dalam satu kata, individualisme.
Yang saya maksud kecenderungan individualisme19 ini adalah—menganggap seluruh masyarakat, massa individu, secara acuh tak acuh, pesaing, musuh, seperti musuh alami, singkatnya, ketika semua orang dipaksa hidup tetapi saling menghalangi jalan masing-masing–mendorong individu menaklukkan dan menegakkan kemakmuran dan kekayaan sendiri, kebahagiaan meskipun dengan mengorbankan semua orang dan di atas punggung orang lain. Ini merupakan pacuan kuda halang rintang, sebuah kekacauan yang biasanya memungkinkan semua orang berlomba menjadi yang pertama. Jika yang lemah menderita karena berhenti, mereka terus maju. Jika yang lelah karena letih menderita, jatuh di jalan, mereka kini terlindas. Kompetisi tidak memiliki hati, tidak memiliki rasa iba. Menderitalah yang musnah dalam perjuangan ini, secara niscaya, banyak kejahatan dilakukan, semua perjuangan yang berkaitan dengan pembunuhan saudara di mana saja terus berlanjut. Itu merupakan kejahatan melawan solidaritas kemanusiaan yang merupakan landasan tunggal semua moralitas. Negara, yang menurut perkataan mereka, perwakilan dan pembela keadilan tidak mencegah tindakan kriminal itu, melegalkan kejahatan itu dan melestarikan yang bertentangan dengan keadilan. Negara mewakili dan memihak bagi keadilan hukum, bukan keadilan manusia. Keadilan hukum tidak lain hanyalah pengabdian kemenangan yang kuat atas yang lemah, yang kaya atas yang miskin. Negara hanya memerlukan pirantipiranti yang menjadikan kejahatan—kejahatan itu legal. Saya dapat menghancurkan Anda, melindas Anda, membunuh Anda tetapi saya harus sesuai hukum. Jika tidak, saya dianggap kriminal dan diancam sedemikian rupa. Itulah prinsip kata individualisme tersebut.
Kini, mari kita melihat bagaimana prinsip itu diutarakan dalam sastra, dalam sastra yang dikarang oleh Victor Hugo, Dumas, Balzac, Jules Janin20 dan banyak pengarang buku-buku dan artikel koran borjuis lainnya yang sejak tahun 1830 membanjiri Eropa, membangkitkan kerusakan moral dan keegoisan anak muda tanpa memandang jenis kelamin, dan sialnya bahkan pada rakyat. Ambilah novel yang Anda inginkan: Selain perasaan menggebu dan palsu, kata-kata mutiara, apa yang Anda temukan? Selalu sama. Orang muda miskin, tidak pasti masa depannya, dia memiliki semua ambisi dan nafsu. Dia ingin hidup di istana, memakan hidangan mewah, meminum sampanye, menggunakan kereta kuda, dan tidur dengan bangsawan cantik. Dia berhasil, berkat upaya kepahlawanan dan petualangan luar biasa, sementara yang lainnya menyerah. Di sini, tokoh utamanya mencerminkan invidualisme murni.
Lihatlah kebijakan politik. Menyampaikan prinsipprinsip itu? Massa, kata mereka, perlu dikendalikan, diperintah, mereka tidak dapat bertindak tanpa pemerintah, seperti halnya mereka tidak mampu memerintah diri mereka sendiri. Siapa yang memerintah? Ada keistimewaan kelas. Semua orang berhak menduduki posisi dan fungsi sosial tertinggi. Tetapi, untuk mencapainya Anda harus pintar, cerdas, Anda harus kuat dan beruntung, kita harus tahu dan dapat mengalahkan semua saingan.
Seperti dalam lomba lari rintang lainnya: Lomba itu menghendaki individu yang terampil dan kuat yang memerintah, mengecualikan rakyat.
Kini pertimbangkanlah prinsip yang sama dalam persoalan ekonomi, yang pada dasar utamanya, mungkin bisa dikatakan satu-satunya persoalan. Ekonom borjuis memberi tahu kita bahwa mereka pendukung kebebasan tak terbatas individu dan kompetisi merupakan syarat kebebasan ini. Tetapi, mari kita lihat apa kebebasan itu? Dan pertanyaan pertama: apakah itu kerja terpisah, tersendiri, yang menghasilkan dan terus menghasilkan semua harta menawan ini yang mengelembungkan abad kita? Kita tidak tahu. Pekerja individu sendiri tidak dapat memberi makan dan pakadian bangsa penyamun kecil, bangsa besar menjadi kaya dan hanya dapat bertahan dengan bekerja bersama, tergabung secara terorganisir. Kerja (bagi) memproduksi kemakmuran yang dibagi, tampaknya logis bukan? Bahwa kenikmatan sumberdaya juga harus seperti itu. Baiklah, itu yang tidak diinginkan, yang ditekan dengan kebencian oleh ilmu ekonomi borjuis. Borjuis menginginkan kenikmatan individu semata. Tetapi, bagaimana dengan rakyat? Itu saja? Oh, tidak, tidak itu saja. Borjuis ingin kenikmatan bagi yang kuat, pintar, cerdas, bahagia. Ah! Ya, yang paling beruntung. Karena organisasi sosial ini, dan sesuai dengan hukum warisan sebagai landasan utama, lahir untuk menguntungkan segelintir individu yang kurang lebih kaya, dan jutaan orang sangat kekurangan, tidak beruntung. Kemudian masyarakat borjuis mengatakan pada semua orang tersebut:
Bertarunglah, apakah engkau memperdebatkan harga, kemakmuran, kesejahteraan, kekuasaan politik? Para pemenang akan beruntung. Apakah ada setidaknya persamaan dalam perjuangan saling tikam antar saudara tersebut? Tidak, tidak ada sama sekali. Beberapa, sedikit, dilengkapi dengan senjata dari kepala hingga kaki, dengan warisan pendidikan mereka dan kekayaan mereka, dan jutaan orang rakyat hadir di arena hampir telanjang, dengan warisan kebodohan dan penderitaan juga. Apakah hasil niscaya dari yang disebut kompetisi bebas itu? Rakyat menyerah, kemenangan bagi borjuis dan proletariat dalam rantai kerja paksa seperti budak bagi pemenang abadi, borjuis.
Para borjuis terutama, dilengkapi dengan senjata untuk melawan kelas pekerja yang tidak akan mungkin selalu bertahan, karena senjata ini, modal—yang kini menjadi, di semua negara beradab, pelaku utama produksi industri–sebagai umpan akan berbalik melawan borjuis.
Modal, seperti terbentuk dan kini relevan, tidak hanya menggilas kelas pekerja, tetapi juga menghujam, merampas dan mengurangi (secara menyedihkan) sebagian besar borjuis. Penyebab fenomena ini, borjuis kecil dan jahat tidak cukup mengerti, mereka tidak mengetahui meskipun sederhana. Melalui kompetisi, melalui perjuangan hidup dan mati, berkat kebebasan yang dimenangkan oleh rakyat untuk keuntungan warga negara, kini perindustrian dan perdagangan memerintah, semua manufaktur dipaksa menjual produk mereka, atau lebih tepatnya produk buruh yang mereka pekerjakan, mereka bekerja pada harga serendah mungkin. Anda tahu dari pengalaman, produk mahal kini semakin tersingkir dari pasar oleh produk murah, meskipun produk murah itu kurang sempurna dibanding yang mahal. Jadi, hal tersebut merupakan akibat mematikan dari kompetisi ini, perjuangan dalam produksi borjuis21. Persaingan diperlukan untuk tujuan penggantian produkproduk baik dengan produk-produk menengah, pekerja trampil dengan pekerja tidak trampil. Pada saat yang sama, akibat itu menurunkan mutu produk dan penghasilnya.
Dalam kompetisi ini, ada pertarungan untuk pasar yang lebih rendah, uang yang banyak secara niscaya harus menggilas modal kecil, borjuis besar pasti menghancurkan borjuis kecil. Karena pabrik besar secara alami dapat membuat produknya dan memberi harga lebih murah dibanding pabrik menengah dan kecil. Pendirian pabrik besar secara alami membutuhkan modal besar, tetapi dalam perbandingan yang dapat dihasilkan pabrik besar, pabrik besar memiliki biaya lebih rendah daripada yang kecil dan menengah: Rp. 250 juta tentu lebih banyak dari Rp. 25 juta, tetapi Rp. 250 juta mengakibatkan pekerja pabrik menghasilkan 20-30% hasil produksi, sementara pekerja Rp. 25 juta dengan cara yang sama hanya 10%. Pabrik yang lebih besar menghemat ruangan, bahan mentah, mesin, mempekerjakan lebih banyak buruh daripada pabrik menengah atau kecil, mereka berhemat, atau menang melalui pengorganisiran yang lebih baik dan pembagian kerja yang lebih besar. Singkatnya, dengan Rp. 250 juta berpusat pada pabrik besar dan tangan para buruh di dalam perusahaan serta organisasi proses manufaktur yang unik, proses itu akan lebih banyak menghasilkan dibanding dengan sepuluh pabrik yang pada setiap proses produksi berbiaya Rp. 25 juta, jadi jika setiap dari mereka menyadari, Rp. 25 juta yang mereka gunakan menghasilkan pendapatan bersih Rp. 5 juta contohnya, pabrik yang berdiri dan mengorganisir perusahaan yang luas dengan biaya Rp. 250 juta, setiap Rp. 25 juta akan mendapat Rp. 12 atau 13 juta, atau menghasilkan 5 hingga 6 (kali lipat) barang-barang. Karena dalam perbandingan pabrik besar menghasilkan lebih banyak dalam proporsi, produk-produk mereka secara alami dapat dijual jauh lebih murah daripada pabrik berukuran menengah atau kecil. Namun, dengan menjual barang-barang lebih murah, pabrik besar juga memaksa pabrik berukuran menengah dan kecil menurunkan harga, jika tidak produkproduk mereka tidak dibeli. Tetapi seraya produksi produk-produk tersebut jatuh lebih mahal daripada pabrik-pabrik besar, harga jual barang dari pabrik manufaktur ternama akan menghancurkan mereka. Maka, modal besar akan membunuh modal kecil dan modal besar jika menghadapi modal yang lebih besar lagi, pada gilirannya akan hancur.
Hari ini, modal besar cenderung b erpura-pura bekerjasama untuk membentuk modal yang sangat banyak. Hal ini memang sangat benar. Penggunaan perdagangan dan industri oleh perusahaan-perusahaan terbatas mulai menggantikan operasi pemodal individu besar. Ini terjadi di sebagian besar negara-negara industri; Inggris, Prancis dan Belgia. Seraya peradaban kekayaan bangsa dari negara-negara yang paling berkembang meningkat pendapatannya, kekayaan pemodal besar semakin naik, tetapi jumlah pemodal semakin sedikit. Hal itu berarti kelompok borjuis akan memendam borjuis kecil, dan sebagian besar rombongan yang masih menjadi borjuis kecil secara tak terhindarkan, dalam nestapa, tengah didorong menjadi kelas pekerja.
Fakta itu tidak dapat dibantah, fakta di atas ditemukan oleh statistik semua negara dengan pembuktikan matematika yang paling pasti. Dalam organisasi ekonomi masyarakat terkini, terus menghilangnya massa borjuis, pemodal yang luar biasa menjadi sedikit, hal tersebut merupakan hukum yang tidak dapat dihindari. Tidak ada obat penyembuh kecuali revolusi sosial. Jika borjuis kecil cukup cerdas dan memiliki akal sehat untuk mengerti hal tersebut, mereka sejak lama sudah bersekutu dengan kelas pekerja untuk melaksanakan revolusi ini. Tetapi borjuis kecil biasanya sangat bodoh, kebodohannya yang angkuh dan keegoisan menutup pikirannya. Mereka tidak melihat dan mengerti apa-apa. Mereka di satu sisi tergilas oleh borjuis besar dan di sisi lain terancam oleh kelas pekerja. Mereka memandang rendah, membenci dan takut terhadap kelas pekerja. Mereka dengan bodoh berakhir di mulut jurang.
Hal itu berdampak pada persaingan borjuis yang penuh bencana untuk memperebutkan kelas pekerja22. Dipaksa menjual produk-produk mereka —atau produk-produk mereka yang menghisap pekerja–dengan harga paling rendah, pabrik-pabrik secara niscaya harus membayar pekerja semurah mungkin. Maka, mereka tidak dapat membayar pekerja yang berbakat dan jenius. Mereka harus mencari sembarang pekerja, yang dipaksa menjual jasa dengan harga pasar terendah. Perempuan dan anak menyelesaikan persoalan upah rendah tersebut. Mereka mencoba mempekerjakan perempuan dan anak daripada memilih kaum lakilaki, dan pekerja tak cakap lebih dipilih daripada pekerja terampil. Mereka tidak dapat menggaji selain pekerja tidak terampil, anak dan perempuan. Para ekonom borjuis mengaku dan membuktikan bahwa ukuran upah pekerja selalu ditentukan oleh harga biaya hidup harian. Contohnya, jika pekerja dapat memiliki rumah, pakaian, makanan dengan gaji Rp. 1 juta sebulan, upahnya akan segera turun mengikuti sejumlah itu. Ini karena alasan yang sangat sederhana. Pekerja, tertekan oleh lapar, dipaksa bersaing satu sama lain dan pabrik, tidak sabar untuk secepat mungkin menjadi kaya dengan menghisap kerja pekerjanya. Di lain sisi, pabrik dipaksa oleh kompetisi borjuis untuk menjual produk-produk mereka dengan harga serendah mungkin, secara alami para pekerja akan menawarkan kepada borjuis jam kerja yang semakin panjang dengan upah yang semakin rendah.
Kesimpulan itu tidak hanya logis, fakta itu terjadi setiap hari di Inggris, Prancis, Belgia, Jerman dan sebagian Swiss, tempat industri besar berada, industri terhisap dalam pabrik besar oleh pemodal besar. Dalam kuliah terakhir saya, saya mengatakan bahwa Anda semua adalah pekerja dengan hak istimewa. Walaupun Anda jauh dari menerima upah penuh dari jumlah nilai produksi harian Anda, walaupun Anda tanpa diragukan dihisap oleh bos Anda, (bagaimanapun), dibandingkan pekerjapekerja di perusahaan-perusahaan industri besar, Anda dibayar cukup baik, Anda memiliki waktu luang ketika Anda bebas, Anda beruntung. Saya segera mengakui, lebih bernilai bagi Anda masuk dalam Internasionale ini dan menjadi berdedikasi dan anggota yang tekun dari organisasi kerja besar ini untuk memberdayakan pekerja dunia. Anda mulia dan dermawan. Dengan begitu, Anda membuktikan Anda tidak hanya memikirkan diri Anda, tetapi juga berjuta-juta saudara yang jauh lebih tertindas dan jauh lebih malang daripada Anda. Dengan senang hati saya memberikan kesaksdian ini pada Anda.
Tetapi, pada saat yang sama ketika Anda bertindak dermawan dan bersolidaritas layaknya saudara, izinkan saya mengatakan pada Anda bahwa Anda juga mengingat untuk berpandangan ke depan dan bijaksana, Anda tidak melakukannya hanya untuk saudara seiman yang malang di negaranegara dan industri lain, Anda melakukannya juga, jika tidak cukup untuk diri Anda, paling tidak untuk anak Anda. Anda tidak benar-benar, tetapi relatif bahagia, bebas, dibayar cukup. Kenapa Anda? Karena alasan sederhana modal besar belum menyerbu negara Anda. Tetapi Anda mungkin tidak percaya serbuan itu akan terjadi. (Modal)
besar, karena hukum yang terkandung di dalamnya, secara tak terhindarkan didorong untuk menyerbu segalanya. Modal besar secara alami, mulai dengan menghisap cabang-cabang perdagangan dan industri yang menjanjikan laba lebih besar, yang berjalan dengan lebih sederhana, dan secara niscaya akan berujung, setelah menghisap dengan cukup, dan persaingan dalam operasi itu segera kembali pada cabang-cabang yang sebelumnya tidak terpengaruh. Bukankah kita sekarang sudah punya mesin tenun, sepatu bot, tali? Percayalah, cepat atau lambat, dan lebih cepat daripada sebelumnya, kita juga akan memiliki mesin jam, pegas, knalpot, kotak, mangkuk, penyemiran, ukiran perhdiasan akan dikerjakan oleh mesin. Produk-produk itu tidak akan sempurna seperti yang dikerjakan oleh tangan terampil Anda, tetapi mereka memiliki harga lebih murah, dan mereka lebih laku dijual daripada produk-produk Anda yang lebih sempurna, mereka sungguh berada di bawah harga pasar. Kemudian Anda, atau paling tidak anak Anda akan menjadi budak-budak, nestapa seperti pekerja di pabrikpabrik industri besar sekarang. Jadi, Anda melihat bahwa bekerja untuk saudara seiman Anda, pekerja miskin di negara-negara dan industri-industri lain, Anda juga bekerja untuk diri Anda, atau paling tidak untuk anak-anak Anda sendiri.
Anda bekerja untuk kemanusiaan. Kelas pekerja kini menjadi perwakilan tunggal perjuangan kemanusiaan yang agung dan suci. Masa depan kini milik kelas pekerja: pekerja lapangan, pekerja di pabrik-pabrik dan kota-kota. Semua kelas-kelas berakhir, penghisap tenaga kerja massa yang abadi: bangsawan, pastur, borjuis dan semua petugas militer dan sipil banyak sekali yang mencerminkan ketidakadilan dan kekuasaan lalim negara, kelaskelas yang korup, terpukul tak berdaya, kini tidak mampu memahami dan menghasrati harta dan kekuasaan hanya untuk kejahatan.
Pastur dan bangsawan ditelanjangi dan dikalahkan pada 1793. Revolusi 184823 menelanjangi dan membuktikan ketidakberdayaan dan penyalahgunaan jabatan borjuis. Sepanjang hari-hari pada bulan Juni 1848, kelas menengah menanggalkan jauh-jauh agama ayah-ayah mereka: prinsip-prinsip dan landasan agama revolusioner, yaitu kebebasan, persamaan dan persaudaraan. Begitu rakyat menganggap persamaan dan kebebasan dengan serius, borjuis, yang hadir hanya dalam operasi itu, yang bisa dikatakan melalui kesenjangan ekonomi dan perbudakan sosial rakyat, mengeluarkan reaksi.
Para penghianat ini, yang ingin kembali menyesatkan Prancis hari ini, para pengikut Thiers, Jules Favre tersebut24, dan sebagian besar Majelis Nasional pada 1848, bekerja untuk memenangkan reaksi terbodoh sebagaimana masih mereka kerjakan hingga hari ini. Mereka mulai menghancurkan hak pilih universal, dan kemudian mendapuk kepresidenan Louis Bonaparte. Ketakutan akan revolusi sosial, kengerian akan persamaan hak, sentimen jahat mereka dan takut terhadap peradilan kelas pekerja, melemparkan kelas yang tengah runtuh ini dari tadinya begitu cerdas dan heroik, hari ini menjadi begitu bodoh dan pengecut di bawah tangan kediktatoran Napoleon III.25 Mereka, di bawah kediktatoran militer selama 18 tahun. Jangan percaya M(essieu)rs Borjuis yang sangat buruk. Mereka yang sangat ingin memainkan pemberontakan dan liberalisme, sedemikian rupa berisiknya, yang tidak terlalu nyaman terhadap rezim imperial, secara alamiah tersingkir dari lembaran. Namun semua lainnya yang meninggalkan omong kosong politik pada rakyat, secara ekslusif diterapkan pada diri mereka, seperti banyak kasus pada borjuis, penghisapan rakyat, yang dilindungi dan didorong dengan kuat. Tidakkah pada umumnya ada hak pilih universal yang parlemennya memilih Kaisar? Jadi, semuanya berjalan baik sesuai dengan kehendak borjuis. Hanya ada nila setitik. Itu adalah ambisi menaklukan kedaulatan, yang menyebabkan pengeluaran sia-sia bagi Prancis dan sebenarnya menghancurkan kekuasaan lama Prancis. Tetapi, nila setitik itu bukanlah kecelakaan, melainkan keniscayaan sistem.
Rezim lalim, absolut, meskipun tampak bebas, secara niscaya harus bersandar pada tentara yang kuat. Tentara yang berjumlah banyak cepat atau lambat mengakibatkan perang luar negeri untuk ambisi utama hirarki militer: semua ingin menjadi letnan kolonel, dan semua orang ingin menjadi letnan jenderal, karena para tentara secara sistemis rusak moralnya di barak. Mereka mengimpikan kepuasan bermartabat dari perang: pembunuhan, perampasan, perampokan, pemerkosaan,—bukti: eksploitasi tentara Prusia di Prancis. Baiklah, jika semua hasrat terhormat ini, secara cermat dan sistematis dijejalkan dalam hati para petugas dan tentara yang terus bermimpi tanpa mendapat kepuasan. Mereka menjadi getir dan semakin tidak puas menjadi tentara, dan ketidakpuasan itu bisa menimbulkan pemberontakan. Jadi, penting bagi mereka untuk pergi berperang. Maka, semua perjalanan ke luar dan perang yang dilakukan oleh Napoleon III bukanlah ciri kelakukan pribadi Napoleon, seperti yang M(essieu)rs sekarang klaim. Hal tersebut niscaya bagi sistem imperial yang lalim. Mereka membuat diri mereka takut terhadap revolusi sosial. Penyebab kemalangan mengerikan yang menimpa Prancis adalah kelas-kelas dengan hak istimewa ini, pastur tinggi dan rendah; para bangsawan yang tengah runtuh tersebut, dan akhirnya terutama borjuis yang jujur dan berbudi, kelas-kelas lain (juga) dan Napoleon III itu sendiri.
Anda semua menyaksikan, teman-teman, untuk membela Prancis yang malang ini, ada di penjuru negeri sekelompok massa, massa pekerja kota, tepatnya yang dikhianati dan digiring oleh borjuis pada Kekaisaran dan Kekaisaran mengorbankan penghisapan borjuis. Di seluruh negeri, tidak ada pekerja dermawan di pabrikpabrik dan di kota-kota yang ingin melakukan pemberontakan rakyat untuk menyelamatkan Prancis. Pekerja dan petani desa berpihak pada Prusia dan aksi-aksi melawan Prancis. Mereka lemah semangat, dibodohi oleh pendidikan agama yang mereka terima sejak awal hingga Napoleon. Hal ini sebenarnya bisa menghasilkan kondisi revolusioner.
Dalam sebuah brosur yang banyak dibaca di antara Anda, berjudul Surat untuk Prancis26, saya menjelaskan bagaimana borjuis harus menggunakan pekerja untuk memimpin Revolusi. Tetapi, untuk melakukannya, dia pertama-tama harus bangkit dan kota-kota diorganisir oleh kaum revolusioner. Para pekerja ingin: mereka bahkan mencoba di banyak kota-kota di Prancis Selatan, Lyon, Marseille, Montpellier, Saint-Etienne, Toulouse. Tetapi di mana saja mereka ditekan dan dilumpuhkan oleh borjuis-borjuis radikal atas nama Republik.
Ya, untuk kebaikan Republik, para borjuis pembela republik mereka ditakuti oleh rakyat, atas nama Republik, seperti Gambetta27, pendosa tua Jules Favre dan serigala yang tak tenar, Their, dan Picard28, Ferry29, Jules Simon30, Pelletan31 dan banyak lainnya, atas nama Republik mereka membunuh Republik dan Prancis.
Para borjuis adalah hakim. Borjuis adalah kelas paling kaya dan banyak di Prancis—setelah massa, tentunya–jika mereka ingin, mereka dapat menyelamatkan Prancis. Tetapi, untuk itu mereka harus mengorbankan uang dan hidup mereka. Mereka juga harus dengan terbuka mengandalkan kelas pekerja, seperti yang dilakukan nenek moyang borjuis mereka pada 1793. Baiklah, borjuis tidak akan mengorbankan uangnya, apalagi hidupnya, dan borjuis lebih memilih penaklukan Prancis oleh Prusia daripada menyelamatkan Prancis melalui revolusi rakyat.
Pokok masalah antara pekerja kota dan borjuis cukup banyak dikemukakan. Para pekerja mengatakan: Kita lebih baik lompat dari ketinggian rumah bertingkat daripada menyerahkan kota kita pada Prusia. Para borjuis menanggapi, kita lebih baik membuka pintu kota kita pada Prusia daripada mengizinkan Anda merusuh di tempat umum, dan kita ingin menjaga rumah kita yang mahal dengan segala cara, bahkan jika kita harus mencium pantat tuan-tuan Prusia.
Camkanlah bahwa mereka kini merupakan warga negara yang berani menghina Komune Paris, Rakyat bermartabat yang menyelamatkan kehormatan Prancis dan harapannya, kemerdekaan dunia pada saat yang sama, mereka adalah borjuis yang sama yang hari ini menghina atas nama apa? Atas nama patriotisme!32
Sungguh, para borjuis ini bermuka tembok! Mereka sudah sebegitu jeleknya sehingga kehilangan kesopanan sebagai benteng terakhir. Mereka tidak tahu malu. Sebelum terbunuh, mereka sudah membusuk dengan sempurna.
Hal itu tidak hanya di Prancis teman-teman, bahwa para borjuis itu membusuk, secara moral dan intelektual hancur, hal sama terjadi di mana saja di Eropa, dan semua negara-negara Eropa (hanya kelas pekerja) mempertahankan api suci. Kelas pekerja kini sendirian mengibarkan bendera kemanusiaan. Apa motto para pekerja, prinsip mereka? Solidaritas. Semua untuk satu dan satu untuk semua dan untuk semua. Ini adalah slogan dan prinsip mendasar Internasionale kita yang besar, yang melampaui batas-batas bangsa dan maka menghancurkan negara-negara, cenderung menyatukan para pekerja di dunia menjadi satu keluarga manusia, atas dasar kerja dan kewajiban bagi semua dan demi kebebasan setiap orang dan semua. Solidaritas dalam ekonomi sosial, disebut kerja dan kepemilikan bersama, dalam politik, disebut penghancuran negara dan kebebasan individu dengan kebebasan bagi semua. Ya, teman-teman terkasih, Anda para pekerja, solidaritas dengan teman-teman Anda, para pekerja di seluruh dunia, baru kini Anda mewarisi misi pembebasan kemanusiaan. Anda punya sesama pewaris misi itu, pekerja seperti Anda, meskipun keadaannya berbeda dengan Anda. Para petani. Tetapi para petani tidak memiliki kesadaran misi kerakyatan yang agung. Para petani diracuni, dan masih diracuni oleh pendeta dan tindakan-tindakan menentang diri mereka sebagai cara untuk bereaksi. Anda harus belajar, Anda harus menyelamatkan para petani, bukan memaksanya, dengan menjelaskan apa itu revolusi sosial.
Pada saat ini, khususnya di awal, pekerja industri harus dan hanya mengandalkan diri mereka sendiri. Tetapi mereka akan sangat digdaya jika mereka menginginkannya. Syaratnya, mereka harus dengan serius menginginkannya. Untuk mencapai hasrat ini, mereka hanya punya dua alat. Pertama, mendirikan di dalam kelompok-kelompok mereka dan kemudian di antara semua kelompok, solidaritas persaudaraan seiman yang sejati, tidak hanya dalam kata-kata tetapi juga dalam perbuatan, tidak hanya selama hari libur, percakapan dan kegiatan minumminum, tetapi dalam kehidupan sehari-hari. Setiap anggota Internasionale harus merasa, secara praktis yakin semua anggota lainnya adalah saudaranya.
Cara lain adalah organisasi revolusioner, organisasi untuk aksi. Jika pemberontakan rakyat di Lyon, Marseille dan kota-kota lain di Prancis gagal, ini karena tidak ada organisasi. Saya dapat berbicara dengan sepenuhnya mengetahui fakta-fakta itu, karena saya di sana dan kalah33. Jika Komune Paris34 tegak begitu berani hari ini, adalah karena sepanjang pengepungan, para pekerja terorganisir dengan serius. Bukan tanpa alasan bahwa koran borjuis menuding Internasionale menghasilkan pemberontakan yang luar biasa di Paris. Ya, katakanlah dengan bangga, mereka saudara kita, Internasionale yang dengan kerja tekun, mengorganisir rakyat Paris dan memungkinkan Komune Paris.
Mari kita menjadi saudara dan kawankawan yang baik dan mengorganisir diri kita. Jangan berpikir kita ada di penghujung Revolusi, kita masih di awal Revolusi. Revolusi kini adalah agenda berpuluh-puluh tahun. Revolusi akan menemui kita, cepat atau lambat, kita kemudian siap membersihkan diri kita, menjadi lebih nyata, mengurangi bicara mengurangi berteriak, mengurangi slogan-slogan, mengurangi mabuk, mengurangi hura-hura. Ambilah ancang-ancang35 dan siapkan diri kita dengan pantas dalam perjuangan untuk menyelamatkan semua rakyat dan pada akhirnya membebaskan kemanusiaan.
Hidup Revolusi Sosial! Hidup Komune Paris!
Catatan kaki
1 Thermidor adalah kudeta pada tanggal 9 bulan Thermidor (salah satu bulan dalam penanggalan Prancis) atau (27 Juli 1794) setelah Maximilien Robespierre dipenggal kepalanya dan (tanggal 10 Thermidor) dan Rezim Teror berakhir.
2 Bakunin mengacu pada pengepungan Paris oleh Prusia (September 1870 - Maret 1871) yang terjadi sebelum Komune Paris dan pengepungan kedua oleh tentara pemberontak Prancis terhadap warga Paris.
3 Bakunin merasa tertarik pada daya hidup Jacobin meskipun kekuasaan mereka bersifat diktator.
4 Dalam naskah, “Mereka dapat menggunakan untuk mengisi kantung mereka”.
5 François-Noël Babeuf (23 November 1760, St. Quentin, Picardy – 27 Mei 1797, Paris), juga dikenal sebagai Gracchus Babeuf sebagai penghormatan kalangan reformis Roma yang termasuk dalam keluarga Gracchi. Dia seorang propaganda masyarakat. Dia dihukum mati oleh pemerintah (Eksekutif) dan dipenggal pada 27 Mein 1797 atas tuduhan berencana mengorganisir yang dikenal sebagai Persengkokolan Kesetaraan (Societé des égaux) (1796). 6
Di sini, sebuah variasi pembukaan paragraf selanjutnya dihapus: “Ini merupakan pengejawantahan praktik sosialisme. Gagasan ini perlahan membangun pikiran orang cerdas dan membakar sejumlah hati dengan cinta akan keadilan selama berabad-abad, sejak Plato yang meletakan dasar pertama teori persamaan, hidup dalam insting massa yang selalu tertindas, digilas oleh kekejian brutal penghisap mereka. Ini menginspirasi persamaan, teori kesetaraan.
7 Dalam naskah: “Yang secara niscaya membutuhkan”
8 Thomas Muenzer (1489 or 1490-1525) pastur pengelana dari keluarga borjuis ini merupakan pimpinan religius dalam perang petani melawan pangeran di Jerman pada abad 16 dan salah satu protagonis besar dari Reformasi.
9 Otto von Bismarck (1815-1898) Kanselir Prusia sejak 1862 hingga 1890. Dia merupakan kaselir Kekaisaran jerman Pertama (1870-1890). Dia menentang gerakan sosialis yang cukup penting pada 1880an dengan penerapan kebijakan atau hukum (pelarangan sejumlah organisasi pekerja) atau paternalistic (institusi untuk jaminan terhadap kecelakaan dan kesehatan) meski tidak cukup berhasil dan statis.
10 Adolphe Thiers (1797-1877) adalah presiden pertama dari Republik Ketiga dan bertanggungjawab untuk pengganyangan Komun Paris sepanjang Minggu Berdarah (22-28 Mei 1871). Dalam pekan itu, dia menghukum mati lebih dari 25 ribu anggota komun.
11 Schwitzguébel Adhemar (1844-1895), adalah pemahat, yang merupakan anggota kelompok rahasia komunisCarbonari sejak berdiri pada Maret 1866. Carbonari merupakan bagian dari AIT Sonvilier (Asosiasi Pekerja Internasionale)
12 Buku yang dibahas Bakunin tersebut: Philippe Buonarroti, Persekongkolan untuk Persamaan yang menyebut Babeuf mengikuti proses peradilan dan pemindahan, serta merinci proses peradilan, dan sebagainya - Librairie Romantique, Bruxelles, 1828, volume 2
13 Perebutan pertama kekuasaan oleh Bonaparte adalah kudeta 18 Brumaire (9 November 1799) yang memulai kediktatoran Napoleon.
14 Restorasi dalam sejarah Prancis adalah kurun waktu antara kejatuhan Kekaisaran Pertama pada 6 April 1814 dan revolusi 29 Juli 1830. Restorasi merupakan kembalinya kedaulatan monarki yang dijalankan dalam kerangka Piagam 1814, sepanjang rezim monarki Louis XVIII dan Charles X, saudara Louis XVI.
15 François Guizot (1787-1874), politikus yang memiliki kecenderungan sosial konservatif dan sejarawan Prancis dan antiliberal.
16 Casimir Perier (1777-1832), bergabung pada 1817, merupakan bupati Banque de France. Selama restorasi, Perier bergabung dengan oposisi liberal dan turut berdemonstrasi, setelah lama mengalami keraguan cukup lama, mendukung revolusi 1830. Pada 1830, dia menjadi Kepala Pemerintahan dan Menteri Dalam Negeri. Dia menekan pemberontakan pertama Canut (para penenun sutera) di Lyon (November 1831). Dia mati ketika wabah kolera melanda pada Mei 1832.
17 Bakunin kembali mengulang dalam pidatonya pada Kongres Perdamaian dan Kebebasan kedua, diterbitkan pada 2 September 1868 di Bern, ibukota Swiss.
18 Victor Emmanuel II of Savoy (1820-1878) adalah raja pertama Italia.
19 Tentang individualism, Bakunin merupakan perwakilan visi sosial anarki yang menentang setiap bentuk egoism ( Bakunin menjelaskan bentuk ini dengan nama individualisme ) yang dapat dilacak dalam gagasan lain yang berasal dari Anarkis besar lainnya, seperti Max Stirner.
20 Jules Janin (1804-1874) adalah novelis, jurnalis dan kritikus teater Prancis.
21 Kompetisi dan Industri besar. Di sini Bakunin memiliki pandangan kehancuran dan nyaris Marxian tentang persaingan. Sejumlah kecil industi besar akan menelan semua keuntungan. Sebenarnya, monopoli merupakan bdiang kerok di balik pembatasan perlindungan negara dan atas dasar permintaan pemodal nasional yang takut oleh persaingan global. Bahkan hari ini, persaingan takut pada birokrasi yang tambun dan tidak fleksibel seperti halnya pada pengusaha kecil yang dapat memunculkan gagasan dan mewujudkannya dalam proyek dengan keuntungan yang disalurkan bagi kelompok jejaring dunia.
22 Proteksionisme negara-negara dan bukannya persaingan (seperti perdagangan bebas global) merupakan bencana bagi kelas pekerja. Pasalnya, hal itu mengakibatkan, selain kerusakan lainnya, krisis ekonomi 1929 yang membawa Sosialisme Nasional (Nazi) berkuasa di Jerman.
23 Revolusi 1848 di Prancis yang mengakhiri monarkis Louis d›Orleans Pilippe dan melantik Republik Kedua.
24 Jules Favre (1809-1880), memulai karir sebagai pengacara dan politikus Prancis, sekarang menjadi Republikan moderat. Sikap nyinyir Bakunin berangkat dari fakta bahwa dia merupakan salah satu lawan yang paling gigih menentang Komun Paris.
25 Charles Louis Napoleon Bonaparte, disebut LouisNapoleon Bonaparte (1808-1873). Dia terpilih sebagai presiden Republik Prancis pada 1848 dan menjadi kaisar Prancis sebagai Napoleon III pada 1852. Dia terus berkuasa hingga September 1870 ketika dia kalah di tangah tentara Prusia. Kebijakan Napoleon III bercirikan liberalisme ekonomi hingga derajat tertentu dan otoritarianisme dalam hak-hak sipil (kebebasan berkumpul, kebebasan berpendapat, dan sebagainya).
26 Bakunin menulis Surat untuk Prancis pada 1870 ketika terjadi krisis negara di Prancis karena perang PrancisPrusia.
27 Léon Gambetta (1838-1882) adalah politikus dan pengacara Prancis.
28 Ernest Picard (1821-1877) adalah pengacara dan politikus. Dia menentang secara langsung Komune Paris dan itulah kenapa Bakunin menempatkannya dalam daftar orang yang “membunuh Republik.”
29 Jules Ferry (1832-1893) adalah politikus dan pengacara Prancis. Penentang Komun ini merupakan pendukung perluasan jajahan Prancis dan memainkan peran penting dalam konsolidasi kekuasaan negara di Prancis.
30 Jules Simon (1814-1896) adalah professor filsafat, anggota parlemen, Menteri Pendidikan dan setelahnya menjadi senator.
31 Eugene Pelletan (1813-1884) adalah politikus dan jurnalis Prancis.
32 Dr.Johnson (7 April 1775) yang tenar mengatakan, “Patriotisme merupakan benteng terakhir bajingan.”
Kalimat ini mengkoreksi kata-kata Ambrose Bierce yang menyatakan “patriotism merupakan benteng pertama bajingan.”
33 Bakunin turut serta dalam kekalahan pemberontakan di Lyon pada 1870.
34 Komune Paris merupakan pemerintahan revolusioner Paris sejak 26 Maret hingga 20 Mei 1871. Untuk periode ini lihat History of the Commune of 1871 karangan Prosper-Olivier Lissagaray
35 Dalam naskah: “Mari kita tutup.”
KONGRES INTERNASIONAL ANTI-OTORITARIAN SAINT-IMIER (15-16 September 1872)
Terjadi perpecahan di Internasionale, dalam Kongres Internasional* di Hague (2-7 September 1872), Mikhail Bakunin, James Guillame bersama federasifederasi anarkis lainnya memutuskan mengundurkan diri dan bertemu di Saint-Imier (Jura, Swiss) dan mengambil keputusan yang kemudian dikenal sebagai Kongres Anti-otoritarian Internasional.
KEPUTUSAN PERTAMA
Sikap Federasi-federasi yang bertemu pada saat Kongres di Saint-Imier, dengan mengacu pada keputusan Kongres Hague dan Majelis Umum.
Mengingat bahwa otonomi dan kemerdekaan federasi-federasi dan cabang-cabang organisasi pekerja merupakan syarat utama bagi terwujudnya kemerdekaan kaum pekerja:
Bahwa wewenang legislatif dan normatif apapun yang diberikan pada Kongres Hague secara terangterangan merupakan penyangkalan atas otonomi dan kebebasan.
Pada prinsipnya, Kongres di Saint-Imier menolak semua hak legislatif semua Kongres sebelumnya, baik itu kongres wilayah ataupun umum, dan tidak mengakui ada misi apapun selain untuk mengumpulkan aspirasi, kebutuhan dan gagasan kelas pekerja dari lokasi atau negara yang berbedabeda. Dengan begitu, persatuan dan harmonisasi kelas pekerja akan terwujud sebaik mungkin. Betapapun, posisi kaum mayoritas di Kongres Hague seharusnya tidak dapat memaksakan keputusan, dalam kondisi apapun, terhadap kelompok minoritas.
Di sisi lain, mengingat lembaga Majelis Umum di dalam Asosiasi Pekerja Internasional, karena sifatnya dan secara tak terhindarkan, sangat mungkin menjadi pelanggaran permanen kebebasan yang menjadi dasar fundamental Asosiasi kita yang besar;
Mengingat tindak tanduk Majelis Umum di London, yang kini dibubarkan, sepanjang tiga tahun terakhir merupakan bukti gamblang institusi tersebut mewarisi kebobrokan;
Bahwa untuk meningkatkan kekuasaan Majelis Umum, yang pada mulanya sangat kecil, Majelis Umum menggunakan intrik, dusta, fitnah terkeji untuk mencoreng siapa saja yang berani melawan;
Bahwa untuk tiba pada kesimpulan akhir pandangan-pandangan ini, Majelis Umum telah lama menyiapkan Kongres Hague, yang diorganisir dengan sengaja, jelas tidak memiliki tujuan selain diterapkannya dominasi golongan otoritarian di dalam Internasionale dan untuk mencapai tujuan ini, tidak ada keraguan bagi mereka untuk menginjak-injak semua kepatutan dan keadilan;
Kongres (Hague) semacam itu tidak dapat menjadi ekspresi dari kelas pekerja negara-negara yang diwakilkan; Perwakilan Kongres dari Federasifederasi Spanyol, Italia, Amerika dan Prancis dengan sepenuh hati, bertemu di Saint-Imier, menyatakan sepenuhnya menolak semua keputusan Kongres Hague, menolak mengakui dengan cara apapun kekuasaan Majelis Umum baru yang terpilih dalam kongres itu. Dengan berpandangan untuk melindungi Federasi-federasi mereka dari tuntutan memaksa Majelis Umum ini, juga untuk lebih jauh mempererat persatuan dan menyelamatkan persatuan Internasionale, perwakilan-perwakilan itu meletakkan dasar proyek pakta solidaritas di antara federasi-federasi pekerja tersebut.
KEPUTUSAN KEDUA
Pakta persahabatan, solidaritas, dan saling bela antar Federasi-federasi bebas. Mengingat persatuan agung Internasionale tidak berlandaskan pada organisasi dangkal dan jahat dari kekuasaan yang terpusat, melainkan di satu sisi pada sekumpulan kepentingan dan aspirasi nyata kelas pekerja di seluruh negara dan, di lain sisi, pada persekutuan bebas mutlak dan spontan dari federasi-federasi dan cabang-cabang yang bebas dari semua negara.
Mengingat, di dalam Internasionale terlihat ada kecenderungan, yang secara terbuka diterap kan oleh golongan komunis Jerman yang otoriter dalam Kongres Hague, untuk menggantikan perkembangan bebas dan spontanitas serta organisasi proletariat yang merdeka dengan pengendalian dan penguasaan golongan para pimpinannya.
Mengingat mayoritas perwakilan dalam Kongres Hague dengan sinis menyerahkan semua prinsipprinsip Internasionale untuk mengikuti tujuan ambisius golongan ini dan para pemimpinnya, serta bahwa Majelis Umum baru yang terpilih dan mendapat sokongan kekuasaan yang bahkan lebih besar daripada yang diterima Majelis Umum melalui Konferensi London sebelumnya, mengancam untuk menghancurkan persatuan Internasionale dengan serangan Majelis Umum pada kebebasan.
Perwakilan dari cabang-cabang dan federasifederasi Spanyol, Italia, Jura, Prancis dan Amerika Serikat berkumpul pada konferensi di St. Imier ini memutuskan, atas nama Federasi-federasi dan Cabang-cabang, sepenuhnya sadar dan mengkonfirmasi, membuat pakta persahabatan, solidaritas dan saling membela menyatakan sebagai berikut: Federasi-federasi Spanyol dan cabangcabang Italia, Prancis, Jura, Amerika dan semua yang ingin bergabung dalam persekutuan ini, saling berkomunikasi dan berkorespondensi secara rutin dan langsung di antara mereka dengan sungguh merdeka dari kendali negara manapun;
Ketika satu dari Cabang atau Federasi ini di kemudian hari mendapat serangan dalam hal kebebasan baik oleh mayoritas Kongres Umum, atau oleh pemerintah atau Majelis Umum yang dipilih oleh mayoritas, semua Federasi-federasi dan Cabang-cabang akan menyatakan persetujuan sepenuhnya pada Federasi itu.
Federasi-federasi dan cabang-cabang ini kemudian dengan lantang memproklamirkan bahwa pembuatan pakta ini pada prinsipnya bertujuan untuk menyehatkan persatuan agung Internasional yang terancam oleh ambisi golongan otoritarian.
KEPUTUSAN KETIGA
Sifat Aksi Politis Kelas Pekerja
Mengingat:
Bahwa keinginan untuk memaksakan panduan atau program politik seragam bagi kelas pekerja, sebagai satu-satunya jalan yang dapat membawa pembebasan sosial kelas itu, adalah bentuk kelancangan yang tidak masuk akal dan reaksioner.
Bahwa tidak ada yang berhak mencabut dari federasi dan cabang otonom hak mereka yang tidak diragukan lagi untuk menentukan bagi mereka sendiri dan mengikuti garis kebijakan yang mereka anggap terbaik dan maka upaya pencabutan itu akan membawa kita pada dogmatisme menjijikkan yang paling layak;
Aspirasi kelas pekerja haruslah bertujuan untuk pendirdian organisasi dan federasi ekonomi yang benar-benar merdeka, berlandaskan pada kerja dan persamaan semuanya secara niscaya merdeka dari pemerintahan politik apapun dan bahwa organisasi serta federasi ini hanya dapat menjadi hasil dari tindakan yang bersifat langsung dari pekerja itu sendiri, dari badan koperasi dan pertukaran serta komune-komune otonom.
Mengingat tak ada organisasi politik yang tidak menjadi organisasi untuk mendominasi bagi keuntungan satu kelas dan di atas penderitaan massa yaitu kelas pekerja. Jika organisasi itu merebut kekuasaan, maka akan menjadi kelas penghisap dan penguasa baru, pertemuan Kongres di Saint-Imier menyatakan:
Bahwa penghancuran semua kekuasaan politik merupakan tugas utama kelas pekerja
Bahwa organisasi apapun itu dengan otoritas politik yang mengklaim revolusioner dan sementara untuk tujuan memastikan penghancuran semua kekuasaan politik merupakan tipuan belaka, dan akan membahayakan kelas pekerja sebagaimana keberadaan pemerintahan sekarang.
Bahwa, untuk menghindari kompromi dalam mencapai tujuan akhir Revolusi Sosial, kelas pekerja di semua negara harus menegakkan solidaritas aksi revolusioner di luar semua permainan politik borjuis.
KEPUTUSAN KEEMPAT
Organisasi Perlawanan Kelas Pekerja—Statistik Kebebasan dan kerja merupakan landasan moralitas, kekuatan, hidup dan kemakmuran masa depan. Tetapi jika pekerjaan tidak diorganisir secara bebas, kerja menjadi menindas dan tidak produktif bagi pekerja sebagaimana menjadi keprihatinan para pekerja, dan itulah kenapa organisasi kerja merupakan syarat tak terpisahkan dari pembebasan sejati dan penuh bagi pekerja.
Namun, kerja tidak dapat dilakukan dengan bebas tanpa kepemilikan bahan mentah dan semua modal masyarakat, dan tidak dapat diorganisir kecuali pekerja, memerdekakan dirinya dari tirani politik dan ekonomi, memperoleh hak untuk sepenuhnya mengembangkan semua kemampuannya. Tidak ada negara yang bisa mewujudkan masyarakat terorganisir berlandaskan pekerja dan keadilan. Negara berarti pemerintahan dari atas ke bawah atau massa di bawah pemerintahan, karena secara niscaya didirikan di atas birokrasi, tentara, pengawasan, rohandiawan. Pasalnya, negara pada dasarnya tidak dapat mengelak dari dorongan untuk menindas pekerja dan menyangkal keadilan.
Seperti kita lihat, para pekerja tidak pernah dapat memerdekakan diri dari penindasan berabad-abad, kecuali mengganti institusi rakus dan merendahkan moral dengan federasi merdeka dari semua kelompok produsen berlandaskan solidaritas dan persamaan.
Pada faktanya, di beberapa tempat, upaya untuk mengorganisir pekerja sudah dilakukan sedemikian rupa guna memperbaiki kondisi kelas pekerja. Tetapi, kelas dengan hak istimewa segera menelan perbaikan begitu sedikit saja terjadi. Mereka terus berusaha tanpa batas atau halangan untuk menghisap kelas pekerja. Betapapun, organisasi pekerja menawarkan banyak keuntungan, meskipun masih saja terjadi hal-hal seperti sekarang, yang tanpanya rakyat tidak tahu lagi bagaimana bisa bertahan. Organisasi pekerja semakin menyatukan kelas pekerja dalam sekelompok kepentingan, melatih mereka hidup bersama dan menyiapkan mereka untuk perjuangan tertinggi. Terlebih lagi, karena organisasi pekerja itu bebas dan spontan, organisasi inilah yang harusnya menggantikan negara otoriter dengan hak istimewa. Begitu digantikan, organisasi pekerja menawarkan jaminan tetap memelihara kehidupan ekonomi lestari dan di atas institusi politik.
Maka, dengan meninggalkan rincian organisasi positif yang dikerjakan oleh Revolusi Sosial, kami berniat untuk mengorganisir dan menata formasi perlawanan pada skala luas. Kami menganggap pemogokan sebagai senjata berharga dalam perjuangan ini. Tetapi, kami tidak memiliki ilusi tentang hasil ekonomi pemogokan. Kami menerima itu sebagai hasil permusuhan antara pekerja dan modal, dampak niscaya ketika memaksa pekerja untuk terus dan terus hidup di jurang antara pemilik modal dan kelas pekerja, untuk menyokong organisasi pekerja, dan melalui jejak perjuangan ekonomi biaya, menyiapkan kelas pekerja bagi perjuangan revolusioner akhir yang agung, menghancurkan semua hak istimewa dan semua perbedaan kelas, akan mempersembahkan para pekerja hak untuk menikmati produk kerja mereka secara penuh, dengan begitu mempersembahkan alat untuk membangun kekuatan moral, material dan intelektual pekerja sepenuhnya dalam komunitas.
Komisi mengusulkan Kongres untuk menunjuk komisi yang akan melaporkan pada Kongres berikutnya rancangan organisasi perlawanan global dan melengkapi tabel-tabel kerja statstik dalam perjuangan ini untuk mencerahkan. Kongres mengusulkan organisasi Spanyol sebagai yang terbaik sejauh ini.
Komisi mengusulkan Kongres harus menunjuk panitdia yang bertanggungjawab untuk memaparkan pada Kongres berikutnya proyek global organisasi perlawanan dan merinci tabel statistik tentang kerja yang akan memperjelas perjuangan ini. Komisi mengusulkan organisasi Spanyol sebagai yang terbaik hingga kini.
KEPUTUSAN AKHIR
Kongres akan mengirim salinan semua keputusankeputusan Kongres dan Pakta Persahabatan, solidaritas dan saling bela, pada semua federasi pekerja di dunia, dan bertindak bersama mereka terkait permasalahan kepentingan umum semua Federasi-federasi pekerja bebas.
Kongres meminta semua federasi-federasi memiliki pakta persahabatan, solidaritas dan saling bela, untuk segera berkonsultasi dengan semua federasi-federasi atau cabang-cabang yang ingin menerima persetujuaan ini, untuk menentukan sifat dan momen Kongres Internasional mereka, menyampaikan keinginan untuk berkumpul tidak lebih dari enam bulan ke depan .
Kongres mengundang semua federasi-federasi yang datang bersama untuk membentuk pakta persahabatan, solidaritas dan saling bela, untuk berkonsultasi segera, bersama dengan semua federasi-federasi atau cabang-cabang yang menerima pakta ini, untuk menguraikan sifat dan waktu Kongres internasional mereka, berharap mereka akan menyelenggarakan pertemuan ini tidak lebih lama dari enam bulan ke depan.
Kongres Saint-Imier (15 perwakilan) 6 Perwakilan cabang-cabang Italia Michail Bakunin (1814-1876) Carlo Cafiero (1846-1892)
Andrea Costa (1851-1910) Errico Malatesta (1853-1932) Giuseppe Fanelli (1827-1877) Nabruzzi Ludovico (1846-1920)
4 perwakilan cabang-cabang Spanyol Charles (Carlos) Alerini (1842-1877) Rafael Farga-Pellicer (1844? -1890) Nicolas Alonso Marselau Tomas Gonzales Morago (? -1885)
2 perwakilan cabang-cabang Prancis Camet Camille (1850 -?) Jean-Louis Pindy (1840-1917)
2 perwakilan Federasi Jura Willdiam James (1844-1916) Adhemar Schwitzguébel (1844-1895)
1 perwakilan cabang-cabang Amerika Serikat Lefrancais Gustave (1826-1901)
Catatan:
*Asosiasi Pekerja Internasional atau The International Workingmen›s Association disingkat IWA (1864– 1876), seringkali hanya disebut Internasionale Pertama, merupakan organisasi skala internasional yang bertujuan mengabungkan kekuatan politik kaum pekerja di berbagai organisasi dengan berbagai tendensi sayap kiri sosialis, komunis, dan anarkis dengan organisasi-organisasi serikat pekerja yang didasarkan pada perjuangan kelas dan kelas pekerja. Internasionale didirikan pada 1864 di sebuah pertemuan kaum pekerja di Saint Martin Hall, London. Mereka berkongres untuk pertama kalinya di Genewa, pada tahun 1866.
Di Eropa, sebuah periode penuh reaksi keras meluas setelah Revolusi 1848. Dua puluh tahun setelah peristiwa itu kegiatan revolusioner semakin meningkat, ditandai dengan pendidian IWA di tahun 1864. Pada masa jayanya, IWA dilaporkan memiliki 8 juta anggota.
Selanjutnya bisa dilihat pada https://en.wikipedia. org/wiki/International_Workingmen%27s_ Association
GAGASAN MENGENAI ORGANISASI SOSIAL oleh James Guillaume
Bakunin sangat memperhatikan teori dan praktik revolusi. Dia sangat sedikit menulis mengenai bagaimana penanganan segera urusan praktis rekonstruksi sosial sehari-hari setelah revolusi yang berhasil. Bagaimanapun juga, permasalahanpermasalahan ini dibahas secara mendalam di lingkaran Bakunin dan di antara kelompok antiotoritarian di Internasional. Dalam “Gagasan tentang Organisasi Sosial!”, Guillaume membahas peralihan dari kapitalisme ke anarkisme. Tulisan tersebut merupakan gabungan gagasan “Bakuninis” tentang bagaimana peralihan ini dapat tercipta tanpa kebangkitan institusi otoritarian.”
Nilai tulisan ini tidak terletak pada rekomendasi khusus (yang sebagian besar ketinggalan zaman, sebagian sedikit naif, meski sejumlah rekomendasi lainnya sungguh mirip dengan langkah yang diterapkan oleh kelompok anarkis di Spanyol pada akhir 1930an). Nilai tulisan Guillaume terletak pada rumusan prinsip mendasar anarkisme. Esai Guillaume ditulis pada 1874 dan diterbitkan pada 1876 ketika Bakunin meninggal. -Pengantar tulisan dalam buku Bakunin on Anarchy.
I
Gagasan yang disarikan dalam halaman-halaman berikut dapat digapai dengan efektif hanya melalui gerakan revolusi. Banjir besar butuh lebih dari sehari untuk memecah tanggul; air bah menggunung secara perlahan, tanpa diketahui. Tetapi, begitu puncak banjir terjadi, kehancuran terjadi seketika, bendungan roboh dalam sekejap mata. Lantas, kita dapat membedakan dua rangkaian tindakan. Tindakan kedua merupakan dampak niscaya dari yang pertama. Pertama, terjadi perubahan gagasan, kebutuhan, motif bertindak yang mulai tumbuh di rahim masyarakat. Kedua dimulai ketika perubahan ini cukup maju untuk berlanjut menjadi tindakan. Ada titik balik yang kasar dan menentukan. Titik balik itu adalah revolusi. Revolusi merupakan puncak proses panjang evolusi. Revolusi merupakan perwujudan secara mendadak perubahan yang telah lama dipersiapkan dan, karena itu, revolusi tidak terhindarkan.
Tidak ada orang dengan pemikiran serius akan melakukan petualangan untuk memperkirakan secara pasti bagaimana Revolusi terwujud. Revolusi, yang merupakan syarat tidak tergantikan untuk perbaikan sosial, akan terwujud. Revolusi merupakan tindakan alami, dan bukan tindakan segelintir orang. Revolusi tidak terjadi berdasarkan rencana yang sudah diperkirakan. Tetapi, revolusi dihasilkan oleh situasi yang tidak terkendali ketika tidak seorangpun dapat memerintah. Maka, kita tidak mungkin berniat untuk menarik garis besar untuk kampanye revolusioner masa depan. Kita serahkan tugas kekanak-kanakan ini pada mereka yang percaya kemungkinan dan kemujaraban jalur kediktatoran pribadi untuk mencapai pembebasan kemanusiaan. Sebaliknya, kita akan membatasi diri kita untuk menggambarkan jenis revolusi yang paling menarik bagi kita dan cara-cara membebaskan dari kesalahan masa lalu.
Sifat utama revolusi haruslah negatif, menghancurkan alih-alih mengubah institusi tertentu dari masa lalu, atau menyesuaikan institusi itu dengan tatanan baru. Revolusi akan menghancurkan institusi lama secara bersamaan. Maka, pemerintah akan ditumbangkan, bersama dengan gereja, tentara, pengadilan, sekolah, bank, dan semua institusi mereka yang berguna untuk menundukkan. Pada saat bersamaan, Revolusi mempunyai tujuan positif. Pekerja mengambil alih semua modal dan alat produksi. Mari kita jelaskan apa yang dimaksud dengan frase “mengambil alih.”
Mari kita mulai dengan petani dan permasalahan terkait tanah. Di banyak negara, khususnya Prancis, para pastor dan borjuis mencoba menakut-nakuti petani dengan memberitahukan bahwa Revolusi akan merampas tanah mereka. Ini merupakan kebohongan luar biasa yang diramu oleh musuh rakyat. Revolusi jelas-jelas menempuh jalan sebaliknya: Revolusi akan mengambil tanah borjuis, bangsawan, dan pastur serta memberikannya pada petani tak bertanah. Jika sepetak tanah merupakan milik petani yang menggarapnya sendiri, Revolusi tidak akan menyentuh tanah itu. Sebaliknya, Revolusi akan menjamin kepemilikan gratis dan menghapus semua utang yang muncul dari tanah itu. Tanah yang dulu memperkaya pundi-pundi dan dibebani pajak secara berlebihan serta menjadi berat dengan kredit tanah akan dibebaskan seperti halnya petani. Tidak ada pajak, tidak ada cicilan tanah, tanah menjadi bebas, persis seperti manusia!
Revolusi akan mengembalikan tanah yang dicuri pada pemilik yang berhak, para buruh tani. Borjuis, pastor, dan bangsawan sekarang menguasai tanah-tanah itu—tanah yang sekarang ditanami oleh buruh tani tak bertanah untuk kepentingan tuan mereka.
Bagaimana Revolusi mengambil tanah dari para penghisap dan memberikannya pada para petani? Dulu, para borjuis mencetuskan revolusi politik. Ketika mereka melancarkan salah satu gerakan yang berujung hanya pada penggantian tuan yang menguasai rakyat, mereka biasanya mencetak titah, mengumumkan pada rakyat kehendak pemerintah yang baru. Titah itu dipampang di komune* dan pengadilan. Wali kota, kapolda, dan jaksa memaksakan titah tersebut. Revolusi rakyat yang sejati tidak akan mengikuti model tersebut. Revolusi itu tidak akan diatur oleh titah. Revolusi tidak akan tergantung pada jasa polisi atau mesin pemerintahan. Revolusi akan membebaskan rakyat dengan perbuatan bukan dengan titah, kata-kata yang ditulis di atas kertas.
II
Sekarang, kita akan menelaah bagaimana pendekatan para petani untuk menghasilkan keuntungan terbesar yang memungkinkan dari alat produksi mereka, tanah. Sesaat setelah Revolusi, para petani akan menghadapi situasi yang campur aduk. Mereka yang memiliki tanah sedikit akan mempertahankan secuil tanah itu dan terus menggarapnya dengan bantuan keluarga mereka. Petani lainnya akan memiliki wilayah tanah yang luas secara bersama dan mengerjakannya dalam komune. Kelompok kedua ini merupakan yang jumlahnya jauh lebih banyak. Mereka menyewa tanah dari tuan tanah besar atau sekedar buruh tani upahan yang dipekerjakan oleh tuan tanah.
Mana yang terbaik dari dua sistem itu? Persoalannya bukan mana yang secara teoritis lebih menggiurkan, tetapi soal memulai dengan fakta dan melihat apa yang dapat segera dicapai. Dari sudut pandang ini, kita terlebih dulu mengatakan bahwa tujuan utama Revolusi telah tercapai: tanah kini milik mereka yang menggarapnya. Para petani tidak lagi bekerja untuk kepentingan penghisap malas yang hidup dari keringat mereka. Kemenangan besar ini tercapai. Sisanya merupakan prioritas kedua. Jika ingin, para petani bisa membagi tanah menjadi paket individu dan memberikan bagian itu pada setiap keluarga. Atau cara lain, yang lebih baik, mereka dapat mendirikan kepemilikan bersama dan bekerjasama menggarap tanah. Meskipun berada pada prioritas kedua setelah tujuan utama, pembebasan petani, pertanyaan tentang bagaimana cara terbaik menggarap tanah dan apa bentuk kepemilikan terbaik juga perlu mendapat penelaahan seksama.
Para petani lumrahnya akan mempertahankan bentuk kepemilikan yang sudah menjadi adat-istiadat mereka di wilayah yang telah padat dengan penduduk petani yang memiliki pertanian kecil sebelum revolusi, tempat sifat tanah tidak cocok untuk melakukan pertanian ekstensif atau pertanian dengan skala luas, tempat pertanian dilakukan dengan cara yang sama selama berabadabad, tempat mesin tidak diketahui atau jarang digunakan. Setiap petani akan terus menggarap tanah seperti yang dia lakukan sedari dulu. Tetapi, ada satu perbedaan. Bekas buruh taninya, jika dia punya, akan menjadi mitranya dan dia akan berbagi dengan buruh tani itu produk yang dihasilkan dari kerja bersama dari tanah pertanian.
Para petani yang mempertahankan kepemilikan kecil tersebut mungkin segera menyadari, mengubah sistem kerja dan produksi tradisional mereka agar lebih menguntungkan. Jika demikian, mereka akan berhimpun untuk menciptakan organisasi bersama terlebih dulu untuk bertukar atau menjual produk mereka. Upaya kerjasama awal ini akan mendorong mereka mencoba bentuk kerjasama yang lainnya. Lantas, mereka akan mendapatkan berbagai macam mesin secara bersama untuk membantu kerja. Mereka akan bergiliran membantu satu sama lain melakukan sejumlah pekerjaan menguras tenaga. Jenis pekerjaan itu dapat diselesaikan lebih baik ketika dikerjakan secara cepat oleh sebuah tim besar. Tanpa keraguan, mereka akan meniru saudaranya, para pekerja industri dan mereka yang bekerja di pertanian besar. Mereka akan memutuskan untuk mengumpulkan tanah mereka dan membentuk kelompok tani. Akan tetapi, tidak akan ada hambatan berarti jika mereka tetap berkubang dengan rutinitas lama yang sama selama bertahun-tahun. Meskipun seluruh generasi harus menua sebelum para petani menerapkan sistem kepemilikan bersama dalam komune. Sistem itu tidak akan menjadi rintangan serius bagi Revolusi. Pencapaian besar Revolusi tidak akan terdampak. Revolusi akan menghapus perbudakan upah dan kerja rodi. Proletariat pertanian hanya akan terdiri dari pekerja bebas yang hidup bebas dan berkelimpahan, bahkan di tengah sedikit wilayah yang tetap terbelakang.
Di sisi lain, kerja kolektif secara alami akan berujung pada kepemilikan bersama dalam menjalankan pertanian berskala besar. Dalam pertanian berskala besar, sejumlah besar pekerja dibutuhkan untuk menanam di wilayah luas. Di sana, koordinasi dan kerjasama mutlak diperlukan. Sebuah kelompok tani mungkin mencakup seluruh komune (unit wilayah yang otonom). Jika secara ekonomi perlu untuk efisiensi dan produksi lebih besar, kelompok tani mungkin mencakup banyak komune.
Dalam komunitas pertanian yang luas, tanah tidak akan dikerjakan seperti sekarang. Saat ini, para petani dengan tanah kecil mencoba menanam berbagai jenis tanaman di atas tanah kecil yang tidak cocok tanpa keberhasilan. Satu hektar tanah sekarang dipecah menjadi bagian-bagian kecil untuk menanam gandum, kentang, anggur, pakan ternak, buah lainnya, dsb. Tanaman-tanaman itu berhimpitan satu sama lain. Setiap jengkal tanah cenderung paling cocok untuk keberhasilan menumbuhkan jenis tanaman spesifik tertentu berdasarkan sifat fisik, lokasi, dan komposisi kimdia. Gandum tidak akan ditanam di atas tanah yang cocok untuk anggur. Kentang juga tidak akan ditanam di atas tanah yang cocok untuk padang rumput. Jika hanya memiliki satu jenis tanah, kelompok tani akan terbatas menumbuhkan jenis tanaman yang dapat dihasilkan dengan jumlah dan mutu berlimpah dan tenaga sedikit. Kelompok itu akan memilih pertukaran produk dengan kelompok tani yang kekurangan alih-alih mencoba mengembangkan seluruh produk dalam jumlah kecil dan mutu buruk di atas tanah yang tidak cocok.
Pengorganisasian internal kelompok tani itu tidak perlu harus identik. Bentuk dan prosedur organisasi akan sangat beragam berdasarkan selera pekerja yang berhimpun. Pengelolaan organisasi bisa dipercayakan pada satu individu atau komisi yang terdiri dari beberapa anggota asalkan dipilih oleh seluruh anggota sesuai dengan prinsip keadilan dan persamaan. Pemisahan fungsi pengelolaan yang berbeda bahkan memungkinkan. Setiap fungsi akan ditugaskan pada komisi khusus. Jam kerja akan ditentukan oleh hukum umum yang diterapkan di seluruh wilayah, tetapi berdasarkan keputusan komunitas itu sendiri. Akan tetapi, seiring dengan terjalinnya hubungan perjanjian komunitas itu dengan seluruh kelompok tani di suatu wilayah, sebuah perjanjian mencakup jam kerja yang tunggal mungkin akan tercapai. Produk apapun yang dihasilkan oleh kerja kolektif akan menjadi milik komunitas. Selain itu, setiap anggota akan menerima imbalan atas kerjanya baik dalam bentuk komoditas (kebutuhan pokok, pasokan, pakaian, dan sebagainya) atau berupa uang. Di sejumlah komunitas, imbalan kerja sesuai dengan jumlah jam kerja. Di komunitas lain, bayaran akan diukur baik lewat jam kerja atau jenis pekerjaan. Sistem pembayaran lain akan diujicobakan sambil melihat bagaimana sistem itu bekerja.
Permasalahan hak milik sudah diselesaikan. Dengan tidak adanya pemodal yang menarik pajak pada kerja massa, pertanyaan jenis distribusi dan imbalan menjadi yang nomor dua. Kita semua sebisa mungkin harus menegakkan dan dipandu oleh prinsip “Dari semua berdasarkan kemampuannya, untuk semua berdasarkan kebutuhannya.” Berkat kemajuan sains industri dan pertanian, produksi akan melampaui jumlah konsumsi dalam beberapa tahun setelah Revolusi. Tidak perlu lagi para pekerja mendapat hasil pembagian produk yang sedikit. Semua orang akan mengambil yang dia butuhkan dari cadangan sosial komoditas yang berlimpah tanpa takut kekurangan. Rasa moral akan tumbuh subur di antara para pekerja yang setara dan merdeka. Moral akan mencegah, atau mengurangi secara besar-besaran, sampah dan penyalahgunaan produk. Sementara itu, setiap komunitas akan memutuskan bagi mereka cara yang mereka anggap terbaik untuk distribusi produk dari kerja sama selama masa peralihan.
III
Kita harus membedaan jenis-jenis pekerja industri yang berbeda-beda sama seperti kita membedakan jenis-jenis petani yang berbeda-beda. Pertamatama, ada pengrajin yang menggunakan alat-alat sederhana, pembagian kerja hampir tidak ada. Seorang pekerja dapat menghasilkan jumlah yang sama banyak dibandingkan ketika dia bekerjasama. Jenis-jenis ini mencakup, contohnya, tukang jahit, pembuat sepatu, tukang cukur, tukang mebel, dan juru foto. Meskipun begitu, perlu ditekankan, bahwa produksi massal dengan skala besar dapat diterapkan untuk menghemat waktu dan tenaga bahkan dalam kerajinan seperti ini. Maka, apa yang kita sampaikan berlaku terutama pada periode peralihan.
Urutan berikutnya adalah keterampilan yang membutuhkan kerja kolektif banyak pekerja menggunakan mesin kecil yang dijalankan dengan tangan dan pada umumnya dilakukan di bengkel dan peleburan, percetakan, bengkel tukang kayu, tukang batu bata, dan sebagainya.
Terakhir, golongan ketiga merupakan industri tempat pembagian kerja lebih banyak terjadi. Di sini, produksi dalam skala massif membutuhkan mesin yang rumit dan mahal serta investasi modal besar; contohnya, pabrik tekstil, pabrik baja, pabrik metalurgi, dan sebagainya.
Bagi para pekerja yang beroperasi dalam golongan industri pertama, kerja kolektif tidaklah niscaya. Di banyak kasus, tukang jahit atau sepatu mungkin memilih bekerja sendiri di bengkelnya yang kecil. Keberadaan satu atau beberapa pekerja yang menekuni keterampilan tersebut cukup lumrah dalam satu komune. Namun, tanpa maksud meremehkan dengan cara apapun pentingnya kemerdekaaan individu, kita menganggap kerja kolektif merupakan yang terbaik. Dalam masyarakat yang setara, teladan mendorong pekerja untuk menghasilkan lebih banyak. Terlebih, teladan akan semakin menguatkan pesan bahwa kerja bersama memungkinkan setiap pekerja belajar dari pengalaman dan keterampilan pekerja lain dan ini akan menyumbang keuntungan unit secara keseluruhan.
Bagi pekerja di dua golongan lainnya, sifat dasar pekerjaan itu terbukti mengharuskan kerja kolektif. Alat kerja tidak lagi perkakas tunggal yang sederhana melainkan mesin yang harus dikendalikan oleh banyak pekerja. Oleh karena itu, mesin juga harus dimiliki secara kolektif.
Setiap bengkel, setiap pabrik, akan mengatur diri sendiri dalam serikat pekerja yang merdeka untuk mengelola produksi dan mengorganisir kerja yang menurut mereka baik. Asalkan, hak-hak setiap pekerja dikawal dan prinsip persamaan serta keadilan dipenuhi. Di bab sebelumnya, kita berurusan dengan pengelolaan, jam kerja, imbalan, dan distribusi produk ketika membahas soal kelompok atau komunitas pekerja pertanian. Perhatian yang sama diberikan pada pekerja industri. Maka, tidak perlu mengulanginya lagi. Kita baru saja mengatakan, ketika industri membutuhkan mesin yang canggih dan kerja kolektif, mesin produksi harus dimiliki secara kolektif. Tetapi, satu hal yang tetap perlu diperjelas. Apakah peralatan itu akan menjadi milik semua pekerja di setiap pabrik, atau akan menjadi milik perusahaan yang terdiri dari semua pekerja di setiap industri tertentu? (Perusahaan dalam ini sama dengan serikat industri).
Kita berpendapat, alternatif kedua lebih menarik. Sebagai contoh, ketika Revolusi, para pekerja percetakan di Roma, Italia, mengambil alih kepemilikan pabrik percetakan, mereka mengundang rapat akbar dan memproklamirkan semua alat cetak di Roma merupakan milik para para pekerja percetakan di Roma. Karena sangat memungkinkan dan diperlukan, mereka melangkah lebih jauh dan bersatu melalui sebuah perjanjian solidaritas dengan semua pekerja percetakan di semua kota di Italia. Pakta itu menghasilkan pengorganisiran semua pabrik percetakan Italia sebagai kepemilikan kolektif federasi percetakan Italia. Dengan cara ini, para pencetak Italia akan mampu bekerja di banyak kota di negara mereka dan mempunyai hak penuh dan menggunakan peralatan serta fasilitas secara penuh.
Ketika kita berpendapat bahwa kepemilikan alat produksi, termasuk pabrik itu sendiri, meski dikembalikan pada perusahaan, kita tidak bermaksud mengatakan para pekerja di bengkel pribadi akan diatur oleh pemerintahan industrial apapun yang memiliki kekuasaan untuk melakukan apa yang mereka mau dengan alat produksi. Tidak, para pekerja di berbagai pabrik tidak memiliki sedikitpun niatan menyerahkan kendali atas alat produksi yang dengan susah payah mereka menangkan pada kekuasaan yang lebih tinggi yang disebut “perusahaan.” Hal yang akan mereka lakukan adalah, di bawah kondisi khusus tertentu, menjamin penggunaan timbal balik alat-alat produksi mereka dan menyetujui hak sesama pekerja di pabrik lain untuk berbagi fasilitas mereka. Mereka juga menerima hak yang sama untuk berbagi fasilitas sesama pekerja yang terikat dalam pakta solidaritas sebagai timbal balik.
IV
Komune terdiri dari semua pekerja yang tinggal dalam satu daerah. Tanpa mengabaikan sedikit pengecualian, komune biasanya dapat diuraikan sebagai federasi kelompok produsen lokal. Federasi lokal atau komune ini diorganisir untuk menyediakan sejumlah jasa yang tidak berada dalam wilayah hukum eksklusif atau kapasitas perusahaan (serikat industri) tertentu. Namun, federasi lokal menyangkut semua perusahaan. Karena itu, layanan itu disebut layanan umum. Layanan umum komunal dapat disebut satu per satu yaitu:
A. Pekerjaan Umum
(Perumahan dan Konstruksi)
Semua rumah merupakan milik komune. Setelah Revolusi, setiap orang terus tinggal untuk saat ini di petak yang sama dengan yang mereka tempati sebelum Revolusi kecuali untuk para keluarga yang terpaksa tinggal di pemukiman yang sangat bersesakan atau bobrok. Keluarga-keluarga seperti itu akan segera dipindahkan atas biaya komune ke apartemen kosong yang sebelumnya dihuni atau dimiliki orang kaya.
Pembangunan rumah baru akan mencakup ruang-ruang yang sehat, memiliki luas cukup untuk menggantikan pemukiman kumuh yang menyedihkan di bedeng-bedeng tua. Pembangunan ini akan menjadi prioritas utama masyarakat baru. Komune akan segera memulai pembangunan ini sedemikian rupa sehingga menyediakan lapangan kerja bagi perusahaan bangunan, tukang batu, tukang kayu, pandai besi, tukang keramik, tukang atap, dan sebagainya. Tidak hanya itu, pembangunan ini akan menyediakan pekerjaan berguna untuk massa rakyat yang, karena tidak punya keterampilan, hidup dalam kemalasan sebelum revolusi. Mereka akan dipekerjakan sebagai buruh dalam pembangunan jalan dan konstruksi raksasa serta proyek pengaspalan yang akan dimulai di manapun, khususnya perkotaan.
Perumahan akan dibangun menggunakan biaya komune. Artinya, perusahaan-perusahaan itu akan menerima kupon dari komune agar mereka bisa mendapatkan semua komoditas penting untuk menjaga kesejahteraan dan kemakmuran anggota. Kupon itu merupakan upah karena membangun berbagai gedung. Karena rumah tersebut dibangun menggunakan dana publik, sistem ini akan mensyaratkan dan menyediakan perumahan gratis yang tersedia untuk semua orang.
Perumahan gratis mungkin akan menyebabkan pertengkaran serius karena rakyat yang tinggal di perumahan kumuh akan bersaing satu sama lain untuk mendapat hunian baru ini. Tetapi, kita mengira, ketakutan akan terjadinya perpecahan serius merupakan sebuah kesalahan karena sejumlah alasan berikut: Pertama, kita harus mengakui bahwa hasrat untuk perumahan baru dan lebih baik merupakan permintaan yang adil dan sah. Permintaan yang adil ini akan merangsang pekerja bangunan untuk melakukan upaya lebih keras untuk mempercepat konstruksi rumah yang baik.
Namun, rakyat harus bersabar ketika menunggu pembangunan baru. Mereka juga harus melakukan yang terbaik dengan fasilitas yang ada. Komune akan, seperti sudah kita katakan, mengurus kebutuhan paling mendesak dari keluarga-keluarga yang paling miskin, memindahkan mereka ke istana-istana orang kaya yang luas. Terkait rakyat yang lainnya, kita percaya antusiasme revolusioner akan mendorong dan menginspirasi mereka dengan semangat kedermawanan dan pengorbanan diri. Mereka akan senang untuk bertahan sedikit lebih lama di perumahan kumuh yang tidak nyaman. Mereka juga tidak ingin ribut dengan tetangga yang akan segera menikmati apartemen baru. Dalam waktu cukup singkat, berkat upaya luar biasa pekerja bangunan yang didorong dengan kuat oleh permintaan akan perumahan baru, perumahan akan cukup banyak bagi semua. Semua orang pastinya akan menemukan akomodasi yang memuaskan.
Semua ini mungkin tampak luar biasa bagi mereka yang pandangannya tidak mampu menembus panorama masyarakat borjuis. Sebaliknya, kebijakan-kebijakan itu sangat sederhana dan mudah dilakukan sehingga secara manusiawi tidak mungkin terjadi sebaliknya. Akankah pasukan tukang batu dan pekerja bangunan yang terus menerus dan tetap disibukkan dengan pembangunan rumah memiliki nilai bagi masyarakat beradab? Apakah akan dibutuhkan bertahun-tahun kerja tanpa henti untuk memasok rumah yang baik untuk semua? Tidak, hanya sedikit waktu yang dibutuhkan. Setelah menyelesaikan tugas utama, akankah mereka menganggur dan tidak melakukan apapun? Tidak, mereka akan terus bekerja dengan ritme yang lebih pelan, mengubah rumah yang sudah ada. Mereka akan sedikit demi sedikit menghilangkan perkampungan suram, jalanan yang kotor, rumah-rumah dan gang menyedihkan yang sekarang menyemut di kotakota kita dan menggantinya dengan perumahanperumahan pekerja yang di dalamnya mereka dapat hidup selayaknya manusia.
B. Pertukaran
Dalam masyarakat baru, tidak akan ada lagi komune sebagaimana kata itu dimengerti saat ini sebagai entitas geografi-politik semata. Setiap komune akan mendirikan Bank Pertukaran yang mekanismenya akan kita paparkan sejelas mungkin.
Serikat pekerja, seperti halnya produsen individu (dalam porsi produksi yang tetap dimiliki secara pribadi), akan menyimpan komoditas yang tidak dikonsumsi dalam fasilitas yang disediakan oleh Bank Pertukaran. Nilai komoditas akan ditentukan terlebih dulu melalui kesepakatan kontrak antara federasi perusahaan kawasan dan berbagai komune. Komune juga akan memasok statistik pada Bank Pertukaran. Bank Pertukaran akan memberi imbalan pada produsen kupon yang dirundingkan berdasarkan nilai produk mereka. Kupon ini akan berlaku di seluruh wilayah termasuk federasi komune.
Kebutuhan pokok, dengan kata lain, yang mendasar untuk hidup dan kesehatan, akan dipindahkan ke berbagai macam pasar bersama. Selagi menunggu pasar baru dibangun, pasar akan menggunakan toko-toko lama dan gudang bekas para pedagang. Sejumlah pasar akan menyalurkan bahan pangan, pakaian, keperluan rumah lainnya, dan sebagainya.
Barang-barang yang diperuntukkan untuk ekspor akan tetap di gudang umum hingga komune terkait meminta barang tersebut.
Beberapa komoditas yang disimpan di fasilitas Bank Pertukaran di antaranya adalah barang-barang konsumsi komune itu sendiri, seperti makanan, kayu, pakaian, dan sebagainya dan barang-barang untuk ditukarkan dengan barang yang diproduksi oleh komune lainnya.
Pada tahap ini, kita mengantisipasi keberatan. Kita mungkin akan menerima pertanyaan: “Bank Pertukaran di setiap komune akan membayar produsen, dengan kupon, nilai produk mereka, sebelum yakin bahwa produk mereka dibutuhkan; dan jika produk itu tidak dibutuhkan, dan teronggok tidak digunakan, bagaimana sikap Bank Pertukaran? Bukankah Bank akan beresiko rugi, atau bahkan bangkrut, dan dengan operasi seperti ini, bukankah selalu ada resiko terlalu banyak kupon ditarik?”
Kami menanggapi, setiap Bank Pertukaran memastikan terlebih dulu bahwa produk-produk itu dibutuhkan dan, maka, segera menerbitkan bayaran kupon kepada produsennya tidak akan memiliki resiko.
Tentu, akan ada sejumlah golongan pekerja yang terlibat di konstruksi atau pembangunan barang yang tidak bergerak, barang yang tidak dapat dipindahkan ke tempat penyimpanan Bank Pertukaran. Contohnya adalah bangunan. Dalam hal ini, Bank Pertukaran akan bertugas sebagai perantara. Pekerja akan mendaftar bangunan pada Bank Pertukaran. Nilai bangunan akan disepakati terlebih dahulu. Bank akan mengganti nilainya dengan kupon penukaran. Prosedur yang sama akan berlaku dalam berurusan dengan berbagai macam pekerja yang berkarya di layanan pengelolaan komune. Kerja mereka tidak menghasilkan produk manufaktur, melainkan pemberdian layanan. Layanan-layanan itu harus diukur terlebih dahulu. Bank Pertukaran akan membayar nilai mereka menggunakan kupon.
Bank Pertukaran tidak hanya akan menerima produk milik para pekerja komune. Bank ini juga akan berhubungan dengan komune lain dan mengatur pengadaan barang yang harus komune impor dari luar. Contohnya adalah sejumlah bahan makanan, bahan bakar, produk manufaktur dan sebagainya. Produk luar ini akan diletakan berdampingan dengan produk lokal. Para konsumen akan membayar untuk komoditas di berbagai pasar dengan kupon yang jumlahnya berbagai macam. Semua barang akan memiliki harga yang seragam.
Gambaran kita membuktikan bahwa pengoperasian Bank Pertukaran pada hakikatnya tidak beda jauh dari prosedur bank komersial biasa. Operasi bank itu tidak lain hanya membeli dan menjual. Bank membeli dari produsen dan menjual ke konsumen. Tetapi, kita memperkirakan, fungsi Bank Pertukaran akan semakin berkurang setelah periode waktu tertentu tanpa ketidaknyamanan. Sistem baru akan menggantikan sistem lama secara bertahap: Pertukaran dalam pengertian tradisional akan memberi jalan bagi distribusi, murni dan sederhana. Apa yang kita maksud dengan ini?
Produk dengan pasokan terbatas hingga batas tertentu akan dijatah. Cara termudah untuk melakukannya adalah menjual produk yang langka dengan harga tinggi sehingga hanya orang yang sungguh membutuhkan produk itu bersedia membayar. Tetapi, konsumsi tidak akan lagi perlu dijatah karena pertumbuhan produksi yang luar biasa tidak akan gagal terjadi ketika kerja dikelola secara rasional. Praktik penjualan akan dihapus. Praktik ini diterapkan sebagai semacam penghalang untuk konsumsi yang tidak normal. Bank komunal tidak akan lagi menjual komoditas. Bank akan membagikan komoditas berdasarkan kebutuhan konsumen.
Penggantian pertukaran lewat distribusi barang akan berlaku pertama-tama secara terpisah untuk kebutuhan-kebutuhan pokok. Penggantian itu akan berlangsung cukup cepat. Ini karena pekerja akan dengan seluruh tenaga memusatkan perhatian untuk menghasilkan kebutuhan pokok yang berlimpah. Komoditas lain, yang dulunya langka dan sekarang dianggap mewah, dalam jangka waktu yang logis akan dihasilkan dalam jumlah besar dan tidak lagi dijatah. Di lain sisi, opini publik akan menghapus nilai yang menempel pada perhiasaan langka dan remeh-temeh, seperti mutiara, permata, dan sejumlah logam mulia lainnya. Material-material itu akan digunakan untuk penelitian oleh perhimpunan ilmuwan atau sebagai bahan alat tertentu, seperti, permata untuk industri atau dipajang untuk memenuhi rasa ingin tahu di museum sejarah alam.
C. Pasokan Makanan
Persoalan tentang pasokan makanan menjadi semacam epilog untuk diskusi kita tentang pertukaran. Apa yang kita katakan sebagai pengorganisasi Bank Pertukaran berlaku secara umum untuk semua produk, termasuk pangan. Namun, kita menganggap berguna untuk menambah bagian khusus tentang pertanggungjawaban secara lebih rinci kebijakan-kebijakan yang berurusan dengan distribusi produk makanan pokok.
Sekarang, pabrik roti, toko daging, anggur, dan minuman, toko makanan impor dan sebagainya diserahkan sepenuhnya pada industri swasta dan spekulan. Penyerahan ini memperkaya mereka dengan mengorbankan konsumen melalui berbagai penipuan. Masyarakat baru harus segera membenahi situasi itu dengan menempatkan distribusi semua bahan pokok paling mendasar pada layanan publik komunal.
Wajib diingat: Kita tidak secara tersirat menyampaikan bahwa komune mengambil alih sejumlah cabang produksi. Tidak. Produksi dalam makna sebenarnya, istilah itu tetap ada di tangan perhimpunan produsen. Tetapi, contohnya, apa yang terlibat dalam produksi roti? Tidak ada selain menanam gandum. Para petani menyebar benih dan memanen, kemudian memindahkan buliranbuliran gandum ke gudang Bank Pertukaran. Fungsinya sebagai produsen berakhir pada titik itu. Menggiling gandum menjadi tepung atau mengubah tepung menjadi roti bukanlah produksi. Proses itu sama dengan yang dilakukan sejumlah pekerja di pasar komunal, kerja yang dirancang untuk menyediakan produk makanan, roti, seperti keinginan konsumen. Hal yang sama berlaku untuk daging, dan sebagainya.
Sudut pandang itu hanya logis jika pengolahan dan distribusi bahan pangan— pembakaran, penyembelihan, pembuatan anggur dan sebagainya–dilakukan oleh komune. Maka, gandum dari gudang komune akan digiling menjadi tepung di penggilingan komunal (hasilnya akan dibagi dengan beberapa komune. Tepung akan diubah menjadi roti di pembakaran komunal. Hal serupa akan berlaku untuk daging: ternak akan disembelih di rumah pemotongan hewan komunal dan dipotong di toko daging komunal. Anggur akan disimpan di gudang anggur komunal dan dikemas dalam botol, kemudian akan didistribusikan oleh pegawai khusus. Akhirnya, semua komoditas makanan yang cepat membusuk akan tetap dijaga kesegarannya di gudang komunal dan disimpan dalam peti kaca tertutup di pasar komunal.
Hal yang paling utama, sebuah upaya harus segera dibuat untuk mendirikan distribusi gratis sejumlah bahan pangan pokok, seperti roti, daging, anggur, produk peternakan, dan sebagainya. Ketika makanan berlimpah tersedia dan gratis bagi semua, peradaban secara umum akan mengambil satu langkah maju yang besar.
D. Statistik
Tugas utama Komisi Statistik komunal adalah mengumpulkan dan memilah semua informasi statistik berkaitan dengan komune. Berbagai perusahaan atau perhimpunan produksi akan terus memperbaharui catatan keanggotaan dan perubahan anggota sehingga dimungkinkan untuk segera mengetahui jumlah pekerja di berbagai macam cabang produksi.
Bank Pertukaran akan menyediakan angka paling lengkap tentang produksi dan konsumsi barang-barang pada Komisi Statistik. Statistik yang dikumpulkan dari semua komune di suatu wilayah merupakan alat yang memungkinkan untuk menyeimbangkan produksi dan konsumsi secara saintifik. Statistik ini juga memungkinkan untuk menambah bantuan bagi industri yang produksinya kekurangan atau mengurangi jumlah orang untuk industri yang produksinya berlebihan. Statistik juga akan memudahkan jam kerja sesuai dengan kebutuhan produksi masyarakat. Statistik juga akan memungkinkan perkiraan nilai relative waktu kerja yang terlibat dalam berbagai produk. Meskipun tidak sempurna, perkiraan itu cukup untuk tujuan praktis. Perkiraan itu akan berguna sebagai kriteria harga di Bank Pertukaran.
Semua hal itu belum semua. Komisi Statistik akan mampu melakukan sejumlah fungsi yang saat ini dijalankan oleh negara sipil. Contohnya, pencatatan kelahiran dan kematian. Kita tidak memasukkan pernikahan karena dalam masyarakat yang bebas kehidupan bersama suka rela antara pria dan perempuan akan menjadi urusan pribadi bukan lembaga. Itu bukan menjadi subyek atau tidak membutuhkan sanksi publik.
Ada banyak kegunaan statistik lainnya: Terkait dengan penyakit, fenomena cuaca, singkatnya, semua fakta yang dikumpulkan dan dipilah secara rutin dapat berguna sebagai panduan pembangunan sains dan pembelajaran secara umum.
E. Ilmu Kesehatan
Di bawah Ilmu Kesehatan umum, kita mengumpulkan berbagai pelayanan publik yang tidak bisa digantikan untuk menjaga kesehatan publik. Pertama, tentunya, layanan medis, yang akan gratis bagi semua penduduk komune. Dokter tidak akan seperti kapitalis, yang mencoba mengeruk keuntungan sebanyak mungkin dari pasien mereka yang sakit. komune akan mempekerjakan mereka dan komune mengharapkan mereka merawat semua yang membutuhkan jasa mereka. Tetapi, perawatan medis hanyalah sisi kuratif ilmu pelayanan kesehatan. Merawat yang sakit tidaklah cukup. Mencegah penyakit juga merupakan keutamaan. Inilah fungsi sebenarnya ilmu kesehatan.
F. Keamanan
Layanan ini melibatkan kebijakan yang diperlukan untuk menjamin keamanan pribadi, perlindungan rumah dan kepemilikan bagi seluruh penghuni komune dari perampasan dan bencana (banjir, kebakaran dan sebagainya).
Mungkin akan ada sedikit sekali perampokan dan perampasan pada masyarakat di tempat semua orang hidup dengan benar-benar bebas untuk menikmati buah dari kerjanya dan di tempat hampir semua kebutuhan orang terpenuhi secara berlimpah. Kesejahteraan materi, begitu juga kemajuan moral dan intelektual, merupakan produk pendidikan yang sungguh manusiawi, tersedia bagi semua. Ini semua hampir pasti menghapus kejahatan akibat kebrutalan, penyimpangan, dan permasalahan lainnya. Bagaimanapun, masih perlu untuk berjaga-jaga atas keamanan seseorang. Layanan ini, bisa disebut (jika kata ini memiliki arti yang tidak terlalu buruk) Polisi komunal, tidak akan diserahkan pada organisasi resmi tersendiri seperti sekarang. Semua penduduk yang mampu akan bertugas secara bergiliran untuk menjalankan kebijakan keamanan yang ditegakkan komune.
Tanpa diragukan, akan muncul pertanyaan bagaimana para pelaku pembunuhan dan kejahatan dengan kekerasan lainnya diperlakukan dalam masyarakat baru yang setara. Jelas, berdasarkan alasan rasa hormat pada hak individu dan penghilangan otoritas, masyarakat tidak dapat membiarkan pembunuh lepas begitu saja atau menunggu teman korban membalas dendam. Kebebasan pelaku pembunuhan akan dicabut. Mereka akan dipenjara di rumah khusus hingga dia dapat dikembalikan ke masyarakat dengan kondisi tidak berbahaya. Bagaimana pelaku kriminal diperlakukan selama dipenjara? Berdasarkan prinsip apa hukumannya ditentukan? Berbagai pendapat yang jauh berbeda satu sama lain menanggapi pertanyaan yang halus tersebut. Kita harus belajar dari pengalaman, tetapi yang kita benar-benar tahu: Terima kasih berkat dampak pendidikan yang menguntungkan, kriminal akan jarang terjadi. Kriminal akan menjadi pengecualian. Para pelaku akan dirawat seperti orang sakit dan pengacau. Permasalahan kejahatan yang sekarang memberi banyak pekerjaan pada hakim, sipir, dan polisi, tidak akan lagi penting secara sosial dan hanya menjadi bagian sejarah medis.
G. Pendidikan
Pertanyaan soal pemenuhan kebutuhan anak (makanan, pakaian, mainan, dan sebagainya) merupakan inti pertimbangan pertama. Sekarang, orang tua tidak hanya memenuhi kebutuhan anak mereka tetapi juga mengawasi pendidikan mereka. Kebiasaan ini berlandaskan pada prinsip yang salah. Prinsip itu menganggap anak sebagai harta pribadi orang tua. Anak bukan milik siapapun juga. Dia merupakan milik dirinya sendiri. Dalam rentang waktu ketika kebohongan tidak mampu melindungi anak dan, maka, anak terpapar untuk dihisap, masyarakat harus melindungi anak dan menjamin perkembangan bebasnya. Masyarakat juga harus menanggung kebutuhan dan mengawasi pendidikannya. Dalam memenuhi kebutuhan anak dan membiayai pendidikan, masyarakat hanya memberikan “pinjaman” di muka ketika anak akan membayar saat dia menjadi produsen yang dewasa.
Masyarakat, bukan orang tua, yang akan bertanggungjawab untuk membesarkan anak. Begitu prinsip ini tercapai, kita percaya kita tidak perlu lagi menjelaskan secara rinci bagaimana prinsip ini sebaiknya diterapkan: Melakukan sebaliknya beresiko menggapai utopia. Maka, permintaan wajib diberikan pada percobaan bebas dan kita harus melihat pelajaran dari pengalaman praktis.
Kita cukup berpendapat, masyarakat diwakili oleh komune ketika berhadapan dengan anakanak. Setiap komune harus menentukan apa yang terbaik untuk membesarkan anak. Di masyarakat, anak-anak akan hidup bersama. Masyarakat akan membiarkan anak-anak dalam pengasuhan ibu, paling tidak hingga usia tertentu, dan sebagainya.
Tetapi, pemenuhan kebutuhan anak hanyalah salah satu aspek masalah. komune memberi makan, sandang, dan papan pada anakanak. Siapa yang akan mengajar mereka? Siapa yang akan mengembangkan sifat terbaik mereka dan melatih mereka sebagai produsen? Berdasarkan rencana dan prinsip seperti apa pendidikan mereka terlaksana?
Kita menjawab pertanyaan tersebut sebagai berikut: Pendidikan anak-anak harus dipadukan. Pendidikan anak harus membangun baik kemampuan mental dan fisik. Pendidikan membuat anak menjadi manusia seutuhnya. Pendidikan tidak harus diserahkan pada satu kasta guru tertentu. Mereka yang mengerti sains, seni, atau keterampilan dapat dan harus terpanggil untuk mengajar.
Kita harus membedakan dua tahap pendidikan anak. Tahap pertama, anak-anak berusia lima atau enam tahun. Mereka tidak cukup umur untuk belajar sains. Penekanan pada pendidikan anak usia itu ada pada pembangunan kemampuan fisik. Tahap kedua, anak-anak beRusia dua belas hingga enam belas tahun. Mereka akan diperkenalkan berbagai jenis pengetahuan manusia. Pada saat yang sama, mereka belajar satu atau lebih kerajinan atau ketrampilan dengan praktik.
Tahap pertama, seperti disebutkan, akan diperuntukan bagi pembangunan kemampuan fisik. Ini untuk memperkuat tubuh dan melatih indera. Saat ini, kemampuan mendengar, melihat, dan ketangkasan manual tumbuh secara tidak lengkap dan serampangan. Pendidikan yang rasional, sebaliknya, akan melatih perkembangan kemampuan ini hingga ke tahap terbaik yang paling memungkinkan dengan latihan sistematik yang istimewa. Untuk tangan contohnya, anak-anak tidak hanya akan dilatih menggunakan tangan kanan. Anak-anak akan dilatih agar bisa menggunakan tangan kiri sama terampilnya dengan tangan kanan.
Ketika indera-indera berkembang dan kebugaran tubuh disokong oleh latihan senam yang cerdas, pikiran akan mulai diasah, tetapi dengan cara yang spontan. Anak akan secara alami dan tanpa sadar menyerap segudang pengetahuan ilmiah. Pengamatan pribadi, pengalaman praktis, percakapan antara anak, atau dengan orang yang bertanggungjawab terhadap pengajaran—semua itu akan menjadi satu-satunya perintah yang diterima anak-anak sepanjang periode pertama.
Tidak perlu lagi ada sekolah. Ilmu pendidikan sekarang dengan semena-mena mengatur sekolah. Di sekolah, anak-anak menunggu secara tidak sabar saat mereka lulus ketika mereka bisa menikmati sedikit kemerdekaan di luar.
Anak-anak akan sepenuhnya bebas ketika mereka berkumpul. Mereka akan mengorganisir permainan mereka sendiri, percakapan mereka, membuat sistem kerja mereka, menengahi keributan, dan sebagainya. Mereka akan dengan mudah terbiasa dengan kehidupan publik, bertanggungjawab, saling percaya, dan bantu. Mereka akan memilih sendiri guru mereka untuk memberi pelajaran. Guru-guru itu tidak akan menjadi tiran yang dibenci. Guruguru itu akan menjadi teman yang akan mereka dengarkan dengan senang.
Selama tahap kedua, anak-anak, berusia dua belas hingga enam belas, akan belajar secara berurutan cara metodologi cabang-cabang prinsipil pengetahuan manusia. Mereka tidak akan diajar oleh guru profesional. Orang awam yang menjadi guru dari ilmu sana sini, yang juga merupakan pekerja manual paruh waktu akan mengajar mereka. Satu cabang pengetahuan tidak akan diajar oleh satu orang, tetapi oleh banyak orang, semua dari komune, yang memiliki baik pengetahuan dan hasrat untuk mengajar. Selain itu, buku-buku bagus yang menjadi subjek pembelajaran akan dibaca bersama. Diskusi cerdas akan mengikutinya. Ini akan mengurangi pentingnya kepribadian guru.
Ketika anak-anak mengembangkan tubuh dan belajar sains, dia akan mulai magang sebagai produsen. Pada tahap pertama pendidikannya, kebutuhan untuk memperbaiki atau merombak mainan akan memperkenalkan anak dengan kegunaan perkakas sederhana. Pada tahap kedua, dia akan mengunjungi berbagai pabrik dan, terdorong oleh minatnya pada satu atau lebih keterampilan, dia akan segera memilih keterampilan yang dia ingin tekuni secara khusus. Orang yang bekerja di pabrik akan mengajar mereka selama magang. Pelajaran mengenai teori akan menjadi tambahan pendidikan praktis.
Dengan cara ini, ketika remaja mencapai usia enam belas atau tujuh belas tahun, dia sudah berkenalan dengan cakupan pengetahuan manusia, belajar ketrampilan, dan memilih jurusan yang dia paling suka. Maka, dia akan berada pada posisi untuk membayar kembali pada masyarakat biaya yang terlibat bagi pendidikannya, tidak dalam bentuk uang, tetapi melalui kerja dan rasa hormat pada rekan-rekannya sesama manusia.
Singkatnya, kita harus membuat sejumlah catatan tentang hubungan antara anak dan keluarga. Ada orang-orang yang menyatakan program penempatan anak di asrama masyarakat berarti “menghancurkan keluarga”. Doktrin tersebut omong kosong. Selama persatuan dua individu dari jenis kelamin berbeda penting untuk berkembang bdiak, selama ada ayah dan ibu, hubungan alami antara orang tua dan anak tidak pernah dihancurkan oleh hubungan sosial.
Hanya sifat hubungan orang tua dan anak akan diubah. Di jaman dulu, ayah merupakan tuan mutlak dari anak. Ayah mempunyai kekuasaan akan hidup dan mati atas anak. Di zaman modern, otoritas orang tua mengalami sejumlah pembatasan. Lantas, apa yang menjadi lebih alami dari penghapusan apa yang masih tersisa dari otoritas ini dan menggantinya dengan kasih sayang yang sederhana dari masyarakat setara yang merdeka?
Kita tidak mengklaim anak harus diperlakukan layaknya orang dewasa. Kita juga tidak mengklaim semua kelabilan anak harus dihormati atau jika anak-anak membuat kesalahan terhadap hukum sains dan akal sehat yang mendasar, kita harus menghindari untuk memaksa dia merasa bahwa dia salah. Sebaliknya, kita mengatakan bahwa anak-anak harus dilatih dan dibimbing. Tetapi, arah tahun-tahun pertamanya tidak harus dilatih hanya oleh orang tuanya, yang seringkali tidak mampu dan biasanya menyalahgunakan kekuasaan. Tujuan pendidikan adalah membangun kapasitas tersembunyi anak sebaik mungkin dan memberdayakan mereka untuk mandiri secepat mungkin. Jelas sekali, otoritarianisme tidak sesuai dengan sistem pendidikan yang mencerahkan. Hubungan ayah dengan anak tidak lagi antara tuan dan budak tetapi antara guru dan murid, teman yang lebih tua ke yang jauh lebih muda. Dengan begitu, apakah Anda menganggap hubungan kasih sayang timbal balik antara orang tua dan anak akan menjadi cacat? Sebaliknya, ketika hubungan dekat semacam itu hilang, bukankah ketidakharmonisan yang menjadi ciri keluarga modern mulai? Bukankah keluarga pecah menjadi berkeping-keping karena tirani yang diberlakukan oleh orang tua pada anakanak?
Maka, tidak ada yang dapat mengklaim masyarakat bebas dan terbarukan akan menghancurkan keluarga. Dalam masyarakat seperti itu, ayah, ibu, dan anak akan belajar mencintai satu sama lain dan menghormati hakhak bersama mereka. Pada saat bersamaan, cinta mereka akan diperkaya ketika cinta itu melampui batas sempit kasih sayang keluarga hingga mencapai cinta yang lebih luas dan mulia: Cinta akan keluarga besar manusia.
V
Organisasi sosial tidak dapat dibatasi pada komune lokal atau federasi lokal kelompok produsen. Kita akan melihat bagaimana organisasi sosial diperluas dan dilengkapi, di satu sisi oleh berdirinya federasi perusahaan wilayah yang terdiri dari semua kelompok pekerja di industri yang sama; dan di sisi lain dengan berdirinya federasi komune-komune.
Kita sudah menandai di Bab III apa itu federasi perusahaan. Bentuk kasar organisasi semacam ini telah hadir dalam masyarakat sekarang. Semua pekerja di sektor atau kerajinan tertentu masuk dalam organisasi yang sama. Contohnya adalah federasi pekerja percetakan. Tetapi, organisasi-organisasi itu merupakan gambaran kasar dari seperti apa mereka jadinya nanti di masyarakat baru. Federasi perusahaan akan menyatukan semua pekerja dalam industri yang sama. Mereka tidak lagi bersatu untuk melindungi gaji dan kondisi kerja, mereka melawan pembantadian yang dilakukan majikan mereka, tetapi utamanya untuk menjamin penggunaaan bersama alat-alat produksi yang merupakan memilih setiap kelompok dan berdasarkan kontrak timbal balik menjadi milik bersama seluruh federasi perusahaan. Dengan cara ini, federasi dari kelompok-kelompok pekerja akan mampu melatih kendali atas produksi secara konstan dan mengatur laju produksi untuk memenuhi kebutuhan konsumen yang berubah di masyarakat.
Federasi perusahaan akan beroperasi dengan cara yang sangat sederhana. Pada saat revolusi esok, kelompok produsen (perhimpunan lokal) dari industri yang sama akan merasa perlu untuk mengirim wakil dari kota ke kota untuk mempelajari informasi dan belajar dari pengalaman satu sama lain. Konferensi sebagian ini akan menyiapkan cara untuk penggelaran kongres umum federasi perusahaan di titik pusat. Kongres ini akan merumuskan kontrak federatif yang akan dikumpulkan untuk koreksi dan persetujuan semua kelompok federasi perusahaan. Sebuah biro permanen dipilih melalui kongres dan bertanggungjawab pada kongres. Biro ini akan bertugas sebagai penghubung yang menengahi antara kelompok federasi dan antara federasi dengan semua federasi perusahaan lainnya.
Ketika semua cabang-cabang (industri), termasuk organisasi pertanian, telah berorganisasi dengan cara ini, mereka akan mendirikan jejaring federatif yang luasnya membentang di seluruh penjuru negeri dan mencakup semua produsen, serta semua konsumen. Statistik produksi, dikoordinasikan oleh Biro Statistik, dari setiap federasi perusahaan, akan memungkinkan penentuan jatah jam kerja, harga produksi dan nilai tukar produk, dan seberapa jumlah produk-produk itu harus dihasilkan untuk memenuhi kebutuhan konsumen.
Rakyat yang terkesima dengan keindahan orasi kosong dari seorang yang disebut politisi demokrat mungkin akan menuntut semua rincdian itu diselesaikan melalui pemilihan langsung oleh anggota-anggota federasi perusahaan. Ketika kita menanggapinya dengan bantahan, mereka akan menuding kita sewenang-wenang. Mereka akan memprotes apa yang mereka anggap kekuasaan biro. Mereka berpendapat bahwa kekuasaan ekslusif untuk berurusan dengan permasalahan hidup mati dan pembuatan keputusan penting harusnya tidak diputuskan oleh biro. Kita akan menjawab, tugas yang dilakukan oleh biro permanen tidak melibatkan jalannya otoritas apapun. Biro hanya peduli dengan pengumpulan dan penggolongan informasi yang dihasilkan oleh kelompok produsen. Ketika informasi ini digabungkan dan diumumkan ke publik, informasi ini akan digunakan untuk membantu menentukan harga dan biaya, jam kerja dan sebagainya.
Operasi seperti itu membutuhkan perhitungan matematis sederhana yang dapat sampai pada satu kesimpulan benar. Kesimpulan ini bisa diperiksa oleh semua yang mengakses angka tersebut. Biro permanen bertugas untuk memastikan dan membuat fakta diketahui semua orang. Bahkan sekarang, contohnya, kantor pos melakukan layanan yang sedikit lebih mirip pada apa yang dilakukan federasi biro perusahaan di masa depan. Kita tahu tidak ada yang mengeluh bahwa kantor pos melakukan penyalahgunaan kekuasaan karena mengumpulkan, memilah, dan mengantarkan surat. Setiap operasi kantor pos tidak tunduk pada hak pilih universal.
Terlebih lagi, kelompok produsen membentuk federasi yang mencampuri tindakan biro secara jauh lebih efektif dan secara langsung daripada sekedar pemungutan suara. Ini karena merekalah yang akan memanen semua informasi dan memasok statistik. Biro hanya menjadi koordinator statistik itu. Biro merupakan penengah pasif semata tempat kelompok melakukan komunikasi dan secara terbuka memastikan hasil kegiatan mereka sendiri. Pemungutan suara merupakan alat untuk menyelesaikan permasalahan yang tidak dapat diselesaikan dengan alat data ilmiah. Ini merupakan permasalahan yang harus diserahkan pada keputusan arbitrer anggota. Tetapi, tidak perlu pemungutan suara untuk pertanyaan yang kemungkinan dapat dijawab dengan penyelesadian ilmiah yang pasti. Kebenaran tidak dapat ditentukan dengan pemungutan suara. Kebenaran diverifikasi dan diterima melalui kekuatan buktinya yang perkasa.
Tetapi, kita baru berurusan dengan setengah organisasi di luar komune; federasi perusahaan akan sejajar dengan pendirian Federasi komune.
VI
Revolusi tidak dapat dibatasi di satu negara: revolusi wajib menyebar agar tidak musnah, jika tidak ke seluruh dunia, paling tidak ke sejumlah besar negara beradab. Faktanya, tidak ada negara yang dapat memenuhi dirinya sendiri. Hubungan dan transaksi internasional merupakan keharusan untuk produksi dan tidak dapat dipotong. Jika sebuah negara revolusioner diblokade oleh negara-negera tetangga, Revolusi akan gagal karena terus terisolasi. Seperti bagaimana kita mendasarkan hipotesis akan kemenangan Revolusi di sebuah negara, kita harus mendasarkan bahwa sebagian besar negara-negara Eropa lainnya akan melahirkan revolusi pada waktu yang sama.
Di negara, tempat kaum proletar berhasil membebaskan dirinya dari dominasi borjuis, organisasi sosial yang baru didirikan tidak harus menyesuaikan dengan sekumpulan pola dan boleh berbeda dalam banyak hal. Hingga hari ini, ada banyak perbedaaan antara sosialis bangsa-bangsa Jerman (Jerman dan Inggris) dan mereka di negaranegara Latin dan Slavdia (Italia, Spanyol, Prancis, dan Rusia). Maka, mungkin organisasi sosial yang diterapkan oleh revolusioner Jerman, contohnya, akan berbeda dalam sejumlah atas banyak hal dengan apa yang diperkenalkan oleh revolusioner Italia atau Prancis. Tetapi, perbedaan-perbedaan itu tidaklah penting sejauh hubungan internasional diperhatikan. Prinsip mendasar Revolusi (Lihat Bab I dan II di atas) sama. Hubungan pertemanan dan solidaritas tanpa ragu akan ditegakkan antara rakyat terbebas di bermacam negara.
Jelas, bahwa garda depan yang diciptakan oleh negara saat ini akan disapu oleh Revolusi. komune akan bebas bersatu dan mengorganisir diri mereka sendiri sesuai dengan kepentingan ekonomi, kesamaan bahasa mereka, dan situasi geografis. Di sejumlah negara seperti Italia dan Spanyol, yang terlalu lebar untuk sebuah pengelompokan komune dan secara alami terbagi dalam banyak wilayah berbeda, mungkin akan berdiri tidak hanya satu, tetapi banyak federasi komune. Ini tidak akan memecah persatuan, kembali ke perpecahan dulu yang kecil, terpisah, dan penuh perang seperti negara politis. Federasi komune yang beragam, sembari menjaga identitas mereka, tidak akan dikucilkan. Bersatu dalam kepentingan yang bertautan, mereka akan menyimpulkan sebuah pakta solidaritas, dan persatuan suka rela ini berdasarkan tujuan dan kebutuhan bersama, pertukaran informasi terus menerus, kontak pertemanan, yang akan lebih dekat dan kuat daripada sentralitas politik dangkal yang dipaksakan dengan kekerasan dan motifnya tidak lain kecuali penghisapan rakyat untuk keuntungan kelas dengan hak istimewa.
Catatan:
*komune dalam sebutan kata Prancis, merupakan pembagian daerah administrasi di wilayah Republik Prancis. Luas komune kira-kira sama dengan satu kota kecil atau beberapa kecamatan. Komune terdapat di kota dan desa.
Sebuah komune di Prancis, bisa terdiri dari sebuah kota seperti Paris dengan penduduk 2,2 juta orang, sebuah kota kecil dengan 10 ribu penduduk, atau hanya kelompok dari 10 orang. Perbedaannya hanya kekuatan administrasi yang dimiliki tiap-tiap komune ini. Setiap komune bisa mempunyai walikota, atau dewan komune yang menjalankan keputusan tingkat nasional.
Namun ada artian lain dari kata komune ini yang muncul sejak masa bahasa Latin mendominasi Eropa di abad 12. komune juga berarti berbagi hidup bersama, terkait dengan kata communia. Kata komune, komunitas, komunal muncul dari satu kata latin yang sama Communis yang berarti sesuatu yang dimiliki bersama. Juga dekat dengan kata Komunikasi (Inggris: communication) dari bahasa Latin communicare yang juga berarti berbagi.
Kata komune memasuki gelanggang politik radikal setelah perlawanan rakyat komune Paris melawan kaum borjuis Prancis di tahun 1871. Perlawanan ini dikalahkan dengan pembantaian puluhan ribu kaum radikal dan proletar, pembuangan paksa ribuan pejuang yang masih hidup ke daerah-daerah koloni Prancis di seluruh dunia. Ribuan lain yang sempat melarikan diri ke luar negeri, hidup di negeri-negeri Eropa lain ataupun Amerika Utara.
Selanjutnya, lihat pada:
https://en.wikipedia.org/wiki/Commune
https://en.wikipedia.org/wiki/Communes_of_France
Milisi-mi li si b ur u CNT s h d a r ela m i s er i a P era ka n g Si i
p l Sp a n t buruh anarkis Spanyol yo l 1936-1939.
Organisasi aanrkis Prancis, Union Anarchiste, memasang baliho di tempat-tempat publik menjelang Perang Dunia II.
Trem yang diambil alih dan dijalankan untuk publik di Barcelona, oleh serikat buruh anarkis CNT selama perang sipil Spanyol 1936-1939.
b r al Aksi serikat uruh ana kis industri dunia, IWW di Amerika
t Serikat ahun 1914
Pemogokan serikat buruh anarkis di kota Liverpool Inggris, tahun 1911.
Mogok massal dan demonstrasi besarbesaran yang diseruka serikat buruh anarkis FORA di Argentina tahun 1920an.
Sepanjang Perang Dunia Kedua, aktivis-aktivis serikat buruh anarkis yang terpaksa tiarap dan bergabung dengan gerilyawan antifasis seperti kelompok antifasis di Italia ini untuk melawan Nazi, Fasis Itali, atau tentara pendudukan Jepang bagi kaum anarkis di Machuria, Cina, Korea
Sebuah demonstrasi serikat buruh anarkis berbahasa Jerman, FAU. Serikat buruh ini masih aktif sampai hari ini di 22 kota di Jerman, dan memidi Austria, Swiss, wilayah yang liki organisasi saudara
Dewan Soviet Tentara di kronstadt, Rusia sepanjang revolusi 1917 yang banyak berisikan kaum anarkis.
4 Mei 1886, dikenang sebagai hari Chicago martir yang kemudian diperingati ole kaum buruh sedunia sebagai hari buruh. Hari Mayday sendiri adalah peringatan untuk mengenang 8 anarkis yang digantung karena memperjuangkan upah buruh para 4 Mei 1886.
Serikat-serikat perempuan anarkis, Mujeres Libres, mempersenjatai diri selama Perang Sipil Spanyol 1936-1939.
Aksi-aksi buruh selama revolusi Rusia 1917, dimana banyak buruh bergabung dengan serikat-serikat buruh anarkis untuk membentuk Soviet-soviet alias dewan-dewan buruh dan berbagai organisasi demokratis khas buruh..
PONDASI SERIKAT PEKERJA Oleh Emile Pouget
Definisi Serikat Pekerja1
Belakangan ini istilah “serikat pekerja” memiliki arti lebih luas dari makna sebelumnya. Istilah tersebut kemudian menentukan “anggota-anggota dari sebuah organisasi serikat pekerja”. Disamping definisi yang hambar dan samar-samar ini, yang dengan maksud tertentu bisa dilabelkan untuk serikat pekerja “Kuning” demikian juga “Merah”. Istilah tersebut telah mendapatkan arti yang baru dan sangat spesifik.
Istilah “serikat pekerja” telah menjadi sebuah istilah yang lengkap: dia adalah kekuatan impulsif dari para pekerja berkesadaran, untuk bergerak maju. Para pekerja yang mengeluarkan seruan ini telah mengesampingkan hal-hal yang tak sehat dan menipu serta telah meyakini bahwa sebuah perbaikan—baik secara sebagian maupun hingga tahapan yang ekstrim–hanya dapat dihasilkan dari kekuatan dan keinginan rakyat. Di atas puing-puing harapan palsu yang mengikuti, berisi kepercayaan-kepercayaan mistik terhadap keajaiban yang diharapkan dari Penyelenggara Negara seperti halnya Penyelenggara Semesta, mereka akhirnya menjabarkan sebuah doktrin yang sehat dan manusiawi, yang dasar-dasarnya telah terjelaskan dan dibuktikan oleh fenomena sosial.
Para anggota serikat pekerja jelaslah merupakan bagian dari pekerja yang berkelompok lewat serikat pekerja, hanya saja dia tak ikut menganggap serikat pekerja sebagai sebuah alat untuk menyempitkan visi hingga ke lingkup debat harian dan pertengkaran dengan majikan; dan meski untuk saat ini dia juga berjuang untuk menyelesaikan keluhan-keluhan kecil, dia tak pernah mengesampingkan kejahatan yang muncul dari eksploitasi pekerja. Dia juga tidak menerima serikat pekerja sebagai, seperti halnya diyakini kaum politisi, sebuah “sekolah Sosialisme”, dimana orang-orang direkrut dan dilatih menjadi petarung yang agresif dalam hal-hal yang mereka anggap efektif dan layak, untuk mendapatkan kekuasaan di kursi pemerintah.
Bagi kaum serikat pekerja, serikat adalah sebuah kombinasi sempurna yang menjawab semua kebutuhan, semua aspirasi, dan karena itu mencukupi untuk semua tujuan. Dia adalah asosiasi yang diangankan kaum “reformis” yang mengambil kesempatan untuk melakukan konflik harian dengan para majikan, untuk peningkatan kondisi kerja, dan untuk menyelesaikan klaim-klaim kecil.
Namun serikat pekerja bukan sekedar hal itu saja; dia juga merupakan sebuah kombinasi yang mampu merampaskan kapital dan menata ulang masyarakat, yang bagi sejumlah kaum sosialis, yang tertipu dengan keyakinan mereka terhadap “negara”—keyakinan bahwa hal itu bisa dicapai dengan cara merampas kekuasaan politik.
Karena itu, bagi kaum serikat pekerja, perserikatan bukanlah sebuah kegiatan sementara, yang hanya cocok untuk saat ini, yang kegunaannya tak bisa dipisahkan dari keadaan yang ada saat ini. Bagi mereka serikat pekerja adalah kombinasi awal yang penting; yang harus bangkit secara spontan, independen dari semua teori yang dipegang sebelumnya, dan berkembang dalam lingkungan apapun.
Faktanya, apalagi yang lebih masuk akal dibandingkan bergabungnya mereka yang dieksploitasi dari bidang-bidang kerja yang sama, untuk sepakat bersatu dalam mempertahankan keuntungan-keuntungan yang dapat diraih saat itu juga.
Di sisi lain, apabila masyarakat kapitalis telah dimusnahkan dan masyarakat Komunis atau masyarakat lain telah tumbuh berkembang di reruntuhan tersebut, akan terbukti bahwa dalam situasi-situasi ini, dalam lingkungan-lingkungan baru ini, kebutuhan akan asosiasi, menyatukan orang-orang yang bekerja dalam pekerjaan atau tugas yang identik atau serupa, akan menjadi hal yang sangat darurat.
Karena itulah serikat pekerja, lembaga di perusahaan itu, nampak sebagai sel organik dari semua masyarakat. Pada saat ini, bagi kaum serikat pekerja, dia adalah sebuah organisme konflik dan gugatan kaum pekerja melawan majikan. Di masa depan, dia akan menjadi landasan dimana masyarakat yang normal akan dibangun, ketika telah dibebaskan dari eksploitasi dan penindasan.
Pertarungan Kelas Pekerja di Abad Sembilan Belas
Konsepsi awal serikat pekerja bukanlah hasil dari sebuah sistem hipotesis yang muncul dari beberapa otak saja dan tak dibuktikan dengan uji coba praktek. Sebaliknya, dia berproses dari analisa kejadiankejadian bersejarah serta penerjemahannya yang jernih. Kami dapat mengatakan bahwa hal itu merupakan hasil dari konflik di antara kelas pekerja dan kelas menengah sepanjang abad.
Sepanjang abad sembilan belas, kaum proletar berjuang untuk memisahkan pergerakannya dari aksi yang sepenuhnya politik, yang dilakukan oleh partai-partai kelas menengah. Hal ini merupakan upaya yang sangat besar, bagi kelas menengah yang menginginkan untuk memerintah tanpa rintangan. Persetujuan atau ketidakpedulian dari kaum proletar adalah hal yang dibutuhkan mereka. Para politisi bukan hanya melawan dan membantai kaum proletar ketika bangkit melawan para penindasnya, namun juga membuat mereka menjadi penurut akibat pendidikan palsu yang dirancang untuk mengalihkan mereka dari ujdian pertanyaan-pertanyaan ekonomis, serta menyebabkan energi mereka bergeser ke arah harapan demokrasi yang menipu.
Kami tak bisa membuat ini menjadi lebih jelas lagi, bahwa gerakan kelas pekerja yang otonom selalu, dan masih, terhalang oleh semua kekuatan reaksi yang tidak jelas. Mereka juga dihalangi kekuatan demokrasi yang merupakan (dibalik topeng barunya yang munafik) kelanjutan dari masyarakat lama dimana sejumlah kecil parasit dihidupi oleh sejumlah besar pekerja paksa dan kelas bawah yang sangat besar jumlahnya.
Kaum kelas menengah, melalui negara yang berfungsi (terlepas dari bentuknya) untuk melindungi kemewahan-kemewahan kapitalis, merapuhkan dan membelokkan aspirasi kelas pekerja. Karena itu, sepanjang upaya-upaya untuk mencapai emansipasi, kaum proletar telah gagal menyadari bahwa Pemerintah yang mereka harapkan itu selalu sama saja, tak peduli nama apapun yang mereka pasang. Mereka berpindah dari satu Undang-Undang ke yang lainnya tanpa menghasilkan perubahan apapun, yang seringkali disebut oleh sejarah sebagai hal yang luar biasa penting. Semua pemerintahan memperlakukan kaum pekerja dengan kebencian dan niat buruk. Ketika dari penguasa, mereka mendapatkan keringanan atas nasib buruk, mereka merengkuhnya tanpa perlu berhutang soal hal ini kepada perasaan belas kasihan, namun kepada ketakutan yang bermanfaat yang dapat mereka inspirasikan. Terhadap inisiatif dari pemerintah, mereka hanya berhutang semua legislasi yang menindas, tindakantindakan yang sewenang-wenang, dan pembalasan yang kejam.
Antagonisme di antara negara dan kelas pekerja mendominasi seluruh abad sembilan belas. Kita dapat melihat hal itu secara jelas saat kita mengamati pemerintah. Melalui bagaimana mereka melempar musuh-musuhnya dengan tulang-tulang untuk dikunyah dan seketika mengakui hak-hak politik rakyat. Sementara mereka telah memperlihatkan sendiri betapa keras kepalanya mereka jika menyangkut kebebasan ekonomi. Untuk yang terakhir ini, mereka hanya mengalah kepada tekanan rakyat.
Perbedaan sikap di pihak penguasa sangatlah mudah dijelaskan. Pengakuan hak-hak politik masyarakat tak mengganggu pihak pemerintah, selagi celotehan ini tidak membahayakan prinsipprinsip otoritas dan tidak mengabaikan pondasi kelas di dalam masyarakat.
Ceritanya menjadi agak berbeda jika kebebasan ekonomilah yang dipertanyakan. Ini adalah keuntungan nyata bagi rakyat, dan hanya dapat dicapai dengan pengorbanan kaum yang mendapat keistimewaan. Karena itu negara, sebagai penyokong kapitalisme, menolak habis-habisan untuk memberikan satu partikelpun kebijakan bagi perbaikan ekonomi.
Dengan menunjukkan adanya konflik permanen antara kelas pekerja dengan negara, hal itu akan membawa kita ke dalam penulisan para martir kelas pekerja. Untuk membuktikan kebenaran dan konsistensi dari antagonisme ini, pemaparan beberapa titik bersejarah telah cukup.
Kurang dari dua tahun setelah pengambilalihan penjara Bastille (Juni 1791), kaum borjuis— lewat juru bicaranya–yaitu Majelis Konstituate Nasional, dengan segera memutuskan untuk mencabut hak kelas pekerja untuk membentuk asosiasi-asosiasi, sebuah hak yang baru saja mereka dapatkan dengan cara revolusioner.
Para pekerja yakin bahwa Revolusi tersebut adalah awal dari kebebasan ekonomi. Mereka berpikir bahwa membakar gerbang-gerbang kota Paris ditempat pajak kota dikumpulkan (12 Juni 1789) akan menghancurkan semua pembatasan. Mari kita tambahkan bahwa dua hari setelah pembakaran gerbang-gerbang Paris, Bastille telah direbut dengan sebuah sebuah serangan, bukan karena itu merupakan penjara politik, namun karena Bastille merupakan bahaya bagi kaum pemberontak Paris, seperti halnya Mont Valérien pada tahun 1871.
Para pekerja yang larut dengan antusiasme para pembuat pamflet, mengira bahwa mereka telah terbebas dari kungkungan rezim masa lalu, dan mulai memahami satu sama lain lalu berkelompok untuk melawan eksploitasi. Mereka merumuskan klaim mereka dengan teliti. Para borjuis segera membuktikan terhadap mereka bahwa Revolusi tersebut hanyalah bersifat politis dan bukan ekonomis. Mereka mengeluarkan undang-undang yang menindas; dan karena kurangnya pengalaman dan pengetahuan para pekerja, karena agitasi mereka yang membingungkan dan tidak koheren; tidaklah sulit bagi pemerintah untuk mengalahkan gerakan ini.
Kita tak boleh salah duga bahwa hukum Chapelier telah cukup bijak, dan bahwa mereka yang memberikan suara bagi keputusan itu telah mengabaikan dampaknya bagi kehidupan sosial. Untuk membuat kita menelan interpretasi fantasi ini, kita telah diberitahu bahwa kaum Revolusionis pada periode itu tak melakukan protes apapun untuk melawan hukum ini. Keheningan mereka hanya menunjukkan bagi kita, bahwa mereka mengabaikan aspek sosial dari revolusi dimana mereka turut ambil bagian, dan bahwa mereka hanyalah kaum demokrat murni. Lebih dari itu, tidak ada yang menakjubkan soal pandangan jangka panjang mereka. Bahkan hari ini, kita masih melihat orang-orang yang berpura-pura sebagai sosialis padahal mereka hanyalah sekedar kaum demokrat saja.
Sebagai bukti bahwa kaum parlementarian 1791 mengetahui apa yang mereka lakukan; beberapa bulan setelahnya, pada bulan September 1791, Majelis Konstituate Nasional menguatkan hukum Chapelier; hukum yang melarang persatuan di kalangan pekerja industri, dengan memberlakukan hukum lain yang membuat perkumpulan bagi pekerja agrikultur juga ilegal.
Majelis tersebut bukanlah satu-satunya Majelis yang mengeluarkan kebenciannya terhadap massa pekerja. Semua Majelis yang terbentuk sesudahnya berusaha mengencangkan ikatan yang memperbudak pekerja kepada majikannya. Lebih lagi, memandang bahwa aturan yang dikeluarkan, yang membuat hampir mustahil bagi kaum pekerja untuk mendiskusikan dan melindungi kepentingannya, ternyata tidaklah cukup, perkumpulan-perkumpulan borjuis terus berusaha untuk memperburuk posisi terkutuk kaum proletar itu, dengan menempatkan mereka di bawah kontrol absolut para polisi.
Majelis Kovensi terbukti tidak lebih simpatik kepada kelas pekerja. Pada bulan Nivóse pada tahun kedua, dia menyatakan “menentang koalisi pekerja yang bekerja di bidang-bidang berbeda, yang dengan tulisan ataupun para wakilnya melakukan penghasutan hingga munculnya mogok kerja.” Sikap Konvensi, sikap revolusioner yang mendapatkan begitu banyak pujian, jelas-jelas membuktikan bahwa opini politik tak ada hubungannya sama sekali dengan kepentingan ekonomi. Bukti yang lebih baik adalah selain perubahan-perubahan di dalam bentuk pemerintahan, mulai dari Demokrasi hingga Konvensi, Autokrasi Napoleon 1, Monarki Charles X, hingga Konstitusionalisme LouisPhillipe, kesewenang-wenangan hukum terhadap kaum pekerja tak pernah mereda.
Di bawah Konsulat, pada tahun XI (1803), sebuah mata rantai baru perbudakan ditempa— Buku Sertifikat yang menjadikan pekerja menjadi sebuah kelas yang individu-individunya didaftarkan secara sendiri-sendiri. Kemudian, dengan prosedur legal yang lihai dan jahat serta pengacara-pengacara mereka yang menuliskan artikel Kode yang masih membuat kita menderita hingga sekarang, para pembuat peraturan mengikat dan menyumpal kaum proletar dengan begitu baik hingga Louis XVIII dan Charles X, pewaris bingkisan ini, tidak merasa butuh untuk memperbaikinya.
Meskipun begitu, di tengah pelarangan legislatif yang ketat, para pekerja mendapatkan pemahaman, mereka mulai berkelompok di dalam bentuk-bentuk yang lunak seperti “mutualitas”, dan membentuk embrio serikat pekerja untuk mengorganisir perlawanan. Kombinasi tersebut tumbuh hingga sebuah titik dimana terjadinya pemogokan berulang; kemudian pemerintahan Liberal milik Louis-Phillipe memberikan hukuman lebih besar bagi perkumpulan pekerja (1834). Namun dorongan tersebut telah terjadi! Luapan kekejaman hukum ini tidak menghentikan pergerakan pekerja. Mengesampingkan hukum tersebut, Sociétés de Résistance terus berlipat ganda, dan diikuti oleh sebuah periode agitasi yang terus tumbuh, serta pemogokan kerja yang berjumlah besar.
Revolusi 1848 adalah hasil dari gerakan ini. Sebuah bukti dari cakupan ekonomi Revolusi ini adalah masalah-masalah ekonomis diprioritaskan di atas semua perkara lainnya. Sayang sekali, kelompok perlawanan kurang pengalaman. Para pekerja di perkotaan mengabaikan para petani, dan sebaliknya. Karena itu pada tahun 1848 para petani tidak tergerak dan tidak memahami gerakan kelas pekerja; seperti pada tahun 1852 ketika para pekerja kota tak memahami apapun dari usaha insureksi kaum petani. Di samping kegagalan ini—dan masih banyak yang lain–semua kemajuan ini diakibatkan oleh energi kelas pekerja. Adalah keinginan para pekerja yang diekspresikan pada Komisi Luxembourg dan secara legal disahkan oleh Pemerintahan Sementara.
Pada jam-jam pertama Revolusi tersebut, kelas menengah yang ketakutan menunjukkan keinginan untuk berdamai, untuk menyelamatkan kapitalisme dengan mengorbankan beberapa kemewahan yang remeh. Namun, mereka dengan segera teryakinkan kembali, dengan imunisasi masyarakat akibat sebuah virus politik—hak pilih universal–dengan adanya inkonsistensi dari organisasi perlawanan, keganasan mereka menjadi sebesar ketakutan mereka. Pembantaian Juni 1848 bagi kaum kelas menengah adalah pemenuhan kepuasan awal. Segera setelah peristiwa itu, pada tahun 1849, para perwakilan masyarakat membuktikan diri mereka sebagai sekedar perwakilan kelas menengah, mereka mengesahkan hukum yang menentang adanya perkumpulan. Semua perkumpulan dilarang, dan anggotaanggotanya diberikan hukuman sesuai dengan tata hukum pada tahun 1810.
Reaksi dari Louis-Phillipe gagal mengalahkan pergerakan kelas pekerja, dan begitu pula pemerintahan Republikan dan Napoleonis. Tanpa mempermasalahkan lagi bentuk pemerintahan atau larangan untuk berkelompok, kelompok-kelompok perlawanan terus berkembang dalam jumlah dan kekuatan yang begitu besar hingga dengan tekanan mereka kepada otoritas publik dapat memeras pemerintah untuk melakukan sanksi legal. Perbaikan dan kebebasan yang mereka peroleh dengan paksa, adalah berkat semangat revolusioner mereka.
Itulah yang sekarang kita kenal dengan Aksi Langsung, hak berhimpun yang telah berhasil diperas dari Caesarisme pada tahun 1864. Para pekerja dari semua asosiasi mengelompokkan diri mereka sendiri bersatu dan melakukan pemogokan tanpa mengindahkan hukum sama sekali. Lebih dari yang lainnya, para pekerja cetak menandai diri mereka sendiri dengan karakter yang revolusioner, di Paris (1862) salah satu dari pemogokan yang mereka lakukan menjadi kejadian penentu yang membawakan kesadaran akan hak untuk berhimpun. Pemerintah mereka, buta seperti semua pemerintah yang lainnya, mencoba membunuh pergerakan tersebut dengan memberikan serangan yang besar. Penangkapan menyeluruh dilakukan. Seluruh anggota dari komite pemogokan dipenjara, seperti halnya anggota yang paling aktif dari pemogokan tersebut.
Penyalahgunaan kekuasaan yang sewenangwenang ini, alih-alih menakut-nakuti, dia justru memancing opini publik, dan menghasilkan gelombang kemarahan akibat kejadian tersebut hingga pemerintah telah dipaksa untuk menyerah dan mengesahkan hak pekerja untuk berhimpun. Hal ini hanya disebabkan oleh tekanan yang tak terduga. Akan sulit untuk menyematkan sukses ini kepada wakil-wakil kaum sosialis, sebuah alasan yang sangat baik mengapa tak ada satupun dari mereka yang berhasil ada di Parlemen.
Penaklukan hak untuk berhimpun sangat menstimulasi organisasi serikat pekerja, mereka berkembang begitu cepat tanpa tertahankan, hingga pemerintah terpaksa memasang wajah baik terhadap masalah yang pelik ini. Pada tahun 1863 kebebasan serikat pekerja diakui oleh lingkaran Kekaisaran, yang mengatakan “Terkait organisasi dari asosiasi kelas pekerja, Administrasi (pemerintah) harus memberikan kebebasan penuh untuk merekamereka tertarik bergiat di dalamnya.”
Sementara itu, Asosiasi Pekerja Internasional atau Internasionale (yang secara definitif dikonstitusikan pada tahun 1864) setelah beberapa upaya tanpa hasil sebelumnya, memberikan cahaya kepada Eropa Barat dan membuka horison baru bagi kelas pekerja; horison yang telah dikaburkan oleh krisis besar pada tahun 1871.
Mari kita sekarang berhenti, agar tidak terlalu jauh terbawa dalam rangkuman retrospeksi ini, dan mari mengambil kesimpulan logis dari sini. Dari catatan sejarah yang telah kita sebutkan, dibahas bahwa pada awal dari rezim saat ini, bahwa pada tahun 1791, pemerintah sebagai pelindung kemewahan kelas menengah, menyangkal dan menolak hak-hak para pekerja dan menggilas mereka rata hingga mirip partikel debu—tanpa keterikatan satu sama lain–hingga mereka jatuh di bawah belas kasihan eksploitasi.
Kemudian dari para pekerja yang muncul dari kekacauan, tempat kelas menengah ingin mereka tetap berada, pekerja mengelompokkan diri atas dasar ekonomi; yang terpisah dari politik apapun. Pemerintah, dengan label apapun dia, mencoba memenjarakan pergerakan proletar dan tidak berhasil, kemudian berubah pikiran dan menyetujui perbaikan atau kebebasan yang didapat para pekerja. Inti yang paling menonjol dari semua agitasi dan kejutan sosial ini adalah bahwa terdapat yang tertindas dan penindas, yang diperintah dan memerintah, dan mereka memiliki kepentingan yang tak sekedar berbeda, namun juga berlawanan, dan di antara mereka terdapat perang kelas dalam makna sesungguhnya.
Dalam rangkuman singkat yang telah diberikan, kita dapat melihat pergeseran dalam pergerakan serikat pekerja tanpa kungkungan kontaminasi parlementer, kebijakan dari asosiasi pekerja yang berlandaskan pada perkara ekonomi solid, yang merupakan landasan bagi semua kemajuan yang sesungguhnya.
KESEPAKATAN AGAR DAPAT HIDUP
Landasan dari Harmoni Sosial
Setelah mendemonstrasikan, bahwa dari sudut pandang sejarah, pergerakan serikat pekerja abad 20 adalah konsekuensi normal dari perjuangan kelas pekerja abad ke-19, kita sekarang harus menguji nilai gerakan ini dari sudut pandang filosofis dan sosial. Untuk memulainya, mari kita letakkan dasardasar pemikiran dalam beberapa baris. Manusia adalah binatang sosial. Dia tak dapat, dan tak akan pernah bisa, hidup dalam dunia yang terisolasi. Mustahil membayangkan hidup seseorang manusia yang tak mengambil bentuk kelompok sosial. Seberapun tak berkembangnya pengelompokkan pada manusia primitif, manusia selalu bergabung dalam perkumpulan. Adalah benar, Jean-Jacques Rousseau, seorang teoritisi demokratis, dalam ajarannya mengatakan, bahwa sebelum mereka membentuk masyarakat, manusia hidup dalam “kondisi alami”, dan hanya dapat berkembang dari tahap itu saat mereka melepaskan beberapa dari hak alami mereka dengan cara melakukan “kontrak sosial.”
Omong kosong, yang ketinggalan jaman ini, sangat populer pada akhir dari abad ke-18. Dia menginspirasikan para revolusioner kelas menengah pada tahun 1789-1793, dan terus berlanjut menjadi landasan hukum dan institusi yang menghambat kita.
Seberapapun kelirunya sufisme Jean-Jacques Rousseau, dia menguntungkan dengan memberikan lapisan filosofis dari prinsip otoritas, dan menjadi ekspresi teoritis kepentingan kelas menengah. Untuk alasan inilah kelas menengah membuat versi mereka sendiri. Filosofi ini tergambar di “Deklarasi Hak Asasi Manusia” juga dalam artikel-artikel “Kode” hukum, hingga diaturlah secara lengkap : kompendium dominasi dan eksploitasi.
Namun tidak juga benar, seperti yang diklaim oleh para Darwinis, bahwa masyarakat adalah tanah peperangan dimana perjuangan untuk keberadaanlah yang mengatur aksi manusia. Teori ini selain mengerikan dan keliru, memberikan lapisan hdias ilmiah yang munafik dan palsu kepada bentuk terburuk eksploitasi. Dengan cara ini, kelas menengah memberikan konstruksi bahwa para penindas adalah kaum kuat yang diproduksi oleh seleksi alam, dimana yang tertindas adalah kaum lemah, korban dari sebuah keharusan yang tak kasat mata (dan juga alami); dan bahwa yang lemah dipaksa untuk hidup seperti tumbuhan, atau menghilang selagi kaum yang kuat mengambil keuntungan dari salah satu solusi ini.
Teori seperti itu hanya dapat berakar pada interpretasi yang sewenang-wenang dan keliru dari ide-ide Darwin. Lagipula apabila dia memang benar, dia hanya bisa diterapkan kepada spesies lain. Peperangan di dalam satu spesies adalah kecelakaan yang mengerikan; bahkan bila dilakukan kepada spesies lain yang hidup dalam asosiasi, hal ini tetap tidak alami, karena harmoni adalah kebutuhan yang tak terbantahkan.
Kesepakatan agar tetap hidup, menyebabkan menurunnya individualitas pada manusia, adalah cara untuk memperoleh dan menggandakan kapasitas kesejahteraannya. Pengujian kondisi sebenarnya dari kehidupan yang berlaku pada spesies manusia berakhir dalam penolakan teori yang disebarkan kelas dominan, teori-teori yang hanya bertujuan untuk memfasilitasi dan membenarkan eksploitasi massa.
Memang, meskipun kedua doktrin itu, demokratisme dari JJ Rousseau pada abad ke18th dan Darwinisme dari kelas menengah abad ke-19 memiliki perbedaan teoritis, keduanya tiba pada kesimpulan yang sama: mereka mengklaim semangat penyangkalan, selagi mengajarkan bahwa “kebebasan seseorang dibatasi oleh kebebasan orang yang lain”. Melalui doktrin-doktrin ini semangat pengorbanan yang bahkan tak lagi populer dan hina dalam aspek relijius, telah dimunculkan kembali dan menjadi prinsip sosial. Doktrin-doktrin ini mengajarkan bahwa begitu seseorang sepakat untuk hidup di dalam masyarakat, dia harus sepakat untuk mengorbankan hak-hak alaminya. Pengorbanan ini dilakukan di altar otoritas dan properti, dan sebagai gantinya dia mendapatkan harapan untuk dapat menikmati hak yang tersisa dari pengorbanannya.
Bangsa-bangsa modern telah dipimpin oleh metafisika yang kini mengenakan topeng ilmiah, topeng demokrasi, mereka membungkukkan punggung dan mengorbankan hak-hak mereka. Karena doktrin-doktrin ini telah terpatri ke dalam mereka begitu dalam hingga hari ini. Bahkan penduduk yang bangga karena merasa teremansipasi secara intelektual, menerimanya sebagai sebuah aksiom yang tak dipertanyakan lagi—bahwa kebebasan seseorang dibatasi oleh kebebasan orang yang lainnya.
Formula kebohongan ini tak akan sanggup diuji, formula ini memiliki arti yang tak lebih dan tak kurang daripada sebuah antagonisme yang konstan dan berulang di antara manusia. Apabila dia memiliki kebenaran di dalamnya, kemajuan akan menjadi mustahil, karena kehidupan hanya akan menjadi perjuangan berkelanjutan dari amukan binatang buas yang liar. Karena apabila binatang manusia hanya dapat memuaskan keinginannya dengan mencelakakan sesama manusia yang lainnya, itu berarti pertarungan, peperangan dan kebuasan tak akan pernah ada habisnya.
Namun, disamping semua teori kriminal yang merepresentasikan masyarakat sebagai tanah
peperangan, dan manusia sebagai makhluk179 makhluk yang hanya mampu bertahan apabila mereka melukai satu sama lain atau merobekrobek satu sama lain hingga hancur dan saling melumat. Kita telah mendapati kemajuan, dan ide solidaritas telah berkembang, karena insting dari harmoni sosial jauh lebih kuat dibanding teori-teori perjuangan keberadaan.
Penyederhanaan ini mungkin akan ditolak oleh beberapa orang, yang mengatakan bahwa negara adalah agen kemajuan, bahwa intervensinya telah membantu memberikan moral dan menenangkan. Tuduhan ini melengkapi sufisme yang dikutip di atas, “Keteraturan” yang diciptakan oleh negara hanya dilakukan dengan menekan dan menindas massa, dengan tujuan supaya kaum minoritas yang teruntungkan dapat terus mendapatkan keuntungannya, sementara massa ditundukkan oleh keyakinan yang ditanamkan kepada mereka, termasuk pula pengakuan bahwa penyerahan sebagian dari “hak alami” mereka adalah keharusan, apabila mereka sepakat dengan “kontrak sosial.”
Kita harus menentang definisi kelas menengah atas kebebasan yang menyetujui perbudakan dan penderitaan dengan sebuah formula yang berlawanan, yang merupakan ekspresi sebenarnya dari kenyataan sosial, yang bangkit dari prinsip fundamental akan “menjaga harmoni agar bisa berjuang”, yaitu, kebebasan masing-masing akan tumbuh ketika bersentuhan dengan kebebasan orang yang lain.
Bukti yang tak perlu dipertanyakan dari definisi ini sudah menjelaskan perkembangan progresif dari masyarakat manusia. Kekuatan harmoni dengan tujuan agar dapat hidup memiliki kekuatan dinamis yang superior dari kekuatan yang memisah-misahkan, merepresi dan menindas yang dilakukan oleh minoritas parasit. Karena hal-hal itulah masyarakat menjadi maju. Itulah mengapa masyarakat tidak hanya terdiri dari pembunuhan, reruntuhan dan ratapan.
Menyerap gagasan kebebasan ini memberikan keuntungan bagi kita, supaya terlindungi dari penanaman sufisme kelas menengah, supaya memahami apa arti kata “masyarakat”. Itu berarti bahwa kekuatan penggerak utama adalah kemanusiaan, yaitu harmoni dan asosiasi. Mari kita juga memahami bahwa masyarakat adalah kumpulan dari individual yang membangunnya, dan bahwa dia tak memiliki kehidupan yang terpisah dari mereka, konsekuensinya adalah tidak akan ada pertanyaan soal tujuan kebahagiaan yang bukan merupakan kebahagiaan dari orang-orang yang membentuk masyarakat tersebut.
SERIKAT UNTUK PRODUKSI – EM RIO MASYARAKAT
Turunan Sipil dan Turunan Demokrasi.
Harmoni dan kerukunan dalam pertarungan kehidupan, dikenali sebagai tumpuan sosial, yang berarti metode perkumpulan sosial akan terdiri dari kelompok-kelompok, supaya pertumbuhan individu tidak terhambat dan terus berkembang, menjadi penting bagi kelompok tersebut untuk sepenuhnya sesuai dengan fungsi-fungsi ekonomi. Bagi manusia, fungsi-fungsi ini memiliki dua aksi yang tak bisa dikurangi: (1) Konsumsi; (2) Produksi. Kita terlahir sebagai konsumen, dan tumbuh menjadi produsen. Begitulah proses normalnya.
SANG KONSUMEN
Sebagai seorang konsumen, manusia haruslah mengikuti dorongannya, dan untuk memenuhi peran ini dia hanya memikirkan kebutuhannya, kepuasan yang terpaksa dibatasi oleh peluang. Konsumsi adalah tolak ukur dari pembangunan sosial. Semakin besar jumlahnya masing-masing, semakin tinggilah tingkat kemakmurannya. Masyarakat hari ini tidak bekerja dalam jalur tersebut. Jauh dari keberadaan yang bebas, individu menjadi subyek pelarangan dan rintangan yang hanya dapat disingkirkan oleh uang. Kemudian, karena uang tersebut direbut oleh kelas penguasa, berkat keistimewaan yang dia nikmati, dia dapat mengonsumsi berdasarkan keinginan dan kesenangannya. Di sisi lain, para pekerja, yang telah membuat produk-produk alam dapat dikonsumsi, dan yang disamping fakta ini telah menguntungkan para kapitalis yang membayar mereka dengan upah, telah ditempatkan dalam sebuah posisi yang membuat mereka mustahil untuk mengkonsumsi sesuai dengan kebutuhannya.
Ketidakseimbangan semacam ini tidak bisa ditolerir. Sungguh mengerikan bahwa ada orangorang—tanpa menghitung anak kecil, orang cacat dan orang-orang tua–yang dapat mengonsumsi tanpa memproduksi. Juga hal yang mengerikan bahwa para produsen yang sebenarnya harus dibuat kehilangan peluang untuk mengkonsumsi.
Konsumsi mendahului produksi, karena kita mengonsumsi jauh sebelum kita mampu untuk memproduksi. Namun dalam organisasi sosial, terdapat kebutuhan untuk membalikkan situasi ini dan membuat produksi menjadi titik awal.
SANG PRODUSEN
Sang produsen adalah dasar dari segalanya. Dia memenuhi fungsi organik esensial yang menjaga masyarakat dari kepunahan. Mereka juga merupakan sel pertama dari kehidupan ekonomi. Serikat merekalah, serta pemahaman yang baik bersama para produsen lain yang bekerja dengan tujuan sama di dalam pikiran mereka—dalam hal ini berarti, dalam industri yang sama, perdagangan yang sama, serta upaya-upaya yang serupa–yang menciptakan ikatan solidaritas seperti jaring, yang terbentang di atas kolektivitas manusia.
Penyelenggaraan ini serta harmoni logika, menghasilkan SERIKAT UNTUK PRODUKSI, yang merupakan fondasi dari masyarakat. Tidak ada bentuk lain dari asosiasi yang sepenting ini. Semua yang lainnya bersifat sekunder secara alami. Dia yang merupakan inti sosial, pusat dari kegiatan ekonomi. Namun supaya kelompok produksi dapat melaksanakan fungsinya secara normal, mereka harus membangkitkan individual, dan mereka harus terus berusaha agar tidak memusnahkan otonomi mereka atas nama wacana apapun.
Sangat diyakini, bahwa kesadaran akan bagian fundamental yang dimainkan oleh produsen di dalam masyarakat, dan kelompok yang berada di dalamnya memiliki hak untuk menjadi bagian darinya, adalah sebuah kesadaran yang relatif baru. Identitas kepentingan dan penyatuan aspirasi di antara para produsen, berkoordinasi dengan kebutuhan mereka, aktivitas profesional serta kecenderungannya, tak selalu senyata saat ini. Pemahaman akan fenomena sosial telah terhambat oleh ketidakpedulian, bahkan tanpa menghitung fakta bahwa pembangunan ekonomi tidak mencapai kemajuan zaman kita. Penyebab lain yang menghambat pemahaman, muncul dari bagian dominan yang tetap bertahan yang sebelumnya dimainkan oleh kelompok-kelompok keluarga. Pada suatu masa, ketika kemanusiaan hampir seluruhnya dibangun oleh suku-suku pemburu dan pastoralis, keluarga memenuhi fungsinya sebagai inti sosial, sebuah fenomena yang dijelaskan oleh fakta bahwa pada masa produksi yang telah lampau itu, baik produksi industri maupun agrardia, nyaris tak pernah melebihi lingkup keluarga, hingga bentuk asosiasi ini telah mencukupi untuk kebutuhan dasar, barter belum dimulai untuk mengubah kondisi yang ada.
Hari ini kondisi-kondisi tersebut telah terkena perubahan besar yang membuat mustahil untuk mempertimbangkan keluarga sebagai nukleus organik. Hal ini memang bisa disamakan dengan mengesahkan semua bentuk perbudakan, karena semua perbudakan adalah konsekuensi dari terciptanya sebuah otoritas bahwa kepala keluarga membawa bentuk-bentuk kekuatannya dan silsilah keturunannya.
Lagipula, tak ada yang memimpikan kemunduran semacam itu. Ke arah yang cukup berbeda, kelas menengah pada awal revolusi 1789 sempat mencoba untuk membimbing kecenderungan masyarakat terhadap keinginan sosial. Kaum kelas menengah, yang membutuhkan orang-orang yang mau bekerja, dapat menjadi fleksibel, mau dibentuk, dan tak memiliki kekuatan untuk melawan—telah menghancurkan ikatan dari solidaritas sesungguhnya, kelas–atas nama wacana pencabutan hak-hak keistimewaan dagang yang sebelumnya disukai oleh rezim lama. Kemudian, untuk mengisi ruang kosong yang tersisa di dalam kesadaran populer, dan untuk menghambat ide mengenai asosiasi atas dasar ekonomi, kemunculan kembali hal tersebut yang ditakutinya, kaum kelas menengah manuver untuk menggantikan tempat ikatan solidaritas nyata yang dihasilkan dari kepentingan yang identik—dengan ikatan fiktif yang menipu demokrasi dan keanggotaannya sebagai warga negara.
Agama, yang hingga saat itu telah melayani kaum penguasa di atas bumi untuk mengalahkan dan mengekang kecenderungan ke arah perbaikan bangsa, yang mendorong masyarakat, telah disingkirkan ke balik layar. Bukannya kelas menengah menghina kekuatan yang brutal dari “pengekangan” ini, namun mereka menganggap agama sebagai sesuatu yang ketinggalan zaman dan telah melakukan pekerjaannya. Kaum kelas menengah menganut Voltairianisme, dan meskipun mereka menyerang para pendeta, mereka menganggap tahayul kelas pekerja sama rendahnya dengan kepercayaan mistis kaum Kristen. KEDAULATAN RAKYAT! BANGSA DAN NEGARA! Hal-hal ini menjadi pujaan yang populer.
KEKANGAN PATRIOTIK
Dalam mengarahkan kehidupan masyarakat sipil, kaum kelas menengah memuja sentimentalitas patriotik. Garis ideologi yang menyatukan orangorang yang dilahirkan secara kebetulan di antara vardiabel garis batas yang mengelilingi teritori tertentu, yang dipuja sebagai sesuatu yang sakral. Mereka sungguh-sunguh meyakini bahwa hari yang paling berjaya dalam kehidupan seorang patriot adalah masa ketika mereka menikmati rasanya membantai untuk negara mereka.
Mereka menipu masyarakat dengan omong kosong seperti itu, dan menghambat mereka untuk merefleksikan nilai filosofis dari virus moral yang menginfeksi mereka. Berkat latar suara drum dan terompet, lagu-lagu dan seruan perang, mereka telah dilatih untuk mempertahankan apa yang tak mereka miliki, yaitu warisan mereka. Patriotisme hanya dapat dijelaskan oleh fakta bahwa semua patriot tanpa kecuali memiliki bagian dari properti sosial, dan tak ada yang lebih absurd dari seorang patriot yang tak memiliki harta warisan.
Tanpa mempedulikan absurditas tersebut, kaum proletar telah mencapai titik dimana mereka tak lagi memiliki sejengkal tanah negeri—yang berarti tak terdapat alasan sama sekali untuk patriotisme mereka–yang hanyalah merupakan penyakit.
Di bawah sistem yang lama, karir militer adalah profesi seperti halnya yang lain, hanya saja lebih barbar; dan tentara, dimana drum patriotik yang besar tak ditabuh, adalah gabungan dari pembunuh bayaran yang “berbaris” untuk dibayar. Setelah Revolusi tersebut, kaum kelas menengah merancang pajak darah—wajib militer bagi masyarakat, sebuah deduksi alami dari hipotesa bahwa di masa depan Bumi Pertiwi akan menjadi “properti semua orang”, namun dia terus menjadi “properti sedikit orang”, dan yang sedikit ini, berkat sistem yang baru, telah memecahkan permasalahan tersebut dengan membuat keistimewaan mereka dilindungi oleh orang yang lainnya, oleh mereka yang dirampas warisannya.
Di sini, memang, nampak sebuah kontradiksi yang luar biasa. Ikatan nasionalisme, dimana militerisme adalah bentuk yang nyata, dan yang kita dengar melayani perlindungan kepentingan bersama, justru memiliki hasil yang berlawanan secara diametris—dia berfungsi untuk mengalahkan aspirasi kelas pekerja.
Bukanlah perbatasan ideologis yang memisahkan bangsa-bangsa menjadi Inggris, Prancis, Jerman, dan seterusnya, yang diawasi oleh tentara, namun secara prinsipnya adalah perbatasan kaum kaya untuk menjaga kaum miskin tetap terantai di dalam kemiskinan.
KUNGKUNGAN DEMOKRASI
Kelas menengah memiliki keahlian dalam mengarahkan demokrasi. Setelah menaklukkan kekuasaan politik dan mengamankan dominasi ekonomi bagi dirinya, kelas menengah berusaha untuk tidak menghancurkan mekanisme yang berguna bagi kaum aristokrasi. Mereka membatasi dirinya untuk mengemas kembali bagian depan negara untuk mengubah penampilannya, untuk membuatnya bisa diterima sebagai bentuk kekuatan baru, oleh masyarakat.
Sekarang di masyarakat tak ada lagi hal yang nyata, selain fungsi-fungsi ekonomi, yang sepenuhnya cukup untuk individu, dan berguna untuk kelompok. Secara konsekuen, semua kristalisasi luar dan segala kesombongan politik adalah hal yang parasit serta opresif, karena itu memuakkan.
Namun, masyarakat tidak memiliki kesadaran akan hal ini, oleh karena itu sangatlah mudah untuk menipu mereka.
Kelas menengah, dengan tujuan menghambat tumbuhnya kedaulatan ekonomi yang menjadi penyakit di dalam kebebasan berhimpun telah berhasil mereka bungkam, mengajarkan masyarakat untuk berkiblat kepada kedaulatan politik, manifestasi tanpa daya yang tak akan mengganggu eksploitasi kapitalis. Tipuan ini begitu sukses hingga keyakinan dalam kesetaraan politik —tipuan besar itu–telah berhasil membungkam massa dalam beberapa abad terakhir.
Hanya sejumlah kecil kearifan yang dibutuhkan untuk mengerti bahwa kapitalis dan pekerja, pemilik tanah, serta mereka yang terampas, tidaklah setara. Kesetaraan tidak menjadi kenyataan ketika yang kaya dan yang miskin sama-sama memiliki kartu pemilihan umum.
Namun masih saja penipuan ini berlanjut. hal itu terus berlanjut hingga hari ini, di antara orang-orang yang berniat baik, masih saja ada yang percaya khayalan fiktif seperti itu.
Mereka adalah korban dari logika palsu, mereka menggabungkan pengaruh dari massa populer dan membandingkannya dengan kelemahan jumlah dari minoritas penguasa, dan beranggapan bahwa pendidikan massa sudah cukup untuk menjamin bahwa mereka akan menang dengan memakai cara aksi yang normal dari mayoritas.
Mereka tidak melihat bahwa pengelompokan demokratis, dengan landasan hak pilih universal, bukanlah kesatuan yang sejenis dan berkesinambungan, dan bagaimana mustahilnya mengelola itu dari kacamata aksi yang gigih.
Kelompok ini menyatukan warga negara secara sembarangan yang kepentingannya tidak sama, seperti misalnya majikan dan pekerjanya, dan saat kelompok ini menyatukan mereka, itu hanya memberikan hak untuk memilih sesuatu yang bersifat abstrak atau ilusi.
Keinginan untuk tetap kompak di dalam
Parlemen, ketidakpedulian mereka terhadap aspirasi rakyat dan juga ketidakberdayaan mereka, adalah fakta-fakta yang telah disaring begitu hatihati hingga tak ada gunanya untuk berkutat disitu. Hasilnya juga tidak lebih baik ketika kita mencoba untuk menguji konsekuensi dari hak pilih universal di tingkatkan kotamadya. Sedikit contoh singkat akan dapat menunjukkan hal ini.
Sepanjang seperempat abad terakhir, kotamadya di pedesaan, sebagian besar selalu berada di tangan kaum petani. Para pemilik lahan yang kaya tidak melawan penaklukan ini, karena mereka tahu, berkat kebutuhan tak kasat mata dari masyarakat saat ini serta rintangan-rintangan yang diletakkan di jalannya oleh otoritas lokal, tak ada apapun yang benar-benar berdampak, yang bisa dilakukan terhadap mereka.
Dengan dorongan sosialis, penalukkan kotamadya dengan langkah yang mirip telah terjadi di distrik-distrik kelas pekerja, yang keuntungan pekerja selalu kecil. Kota-kota kecil yang dimusnahkan oleh pemerintah belum mampu mewujudkan program-program mereka dan ketidakpercayaan adalah buahnya. Bahaya yang lain lagi, para pekerja telah mengalihkan serikat pekerja mereka ke arah upaya-upaya politik, semua energi mereka telah habis ke arah ini dan mereka telah mengabaikan organisasi ekonomi, hingga semua majikan yang buruk, yang tak memiliki batas dalam keganasan ekploitasinya semakin mendapatkan keuntungan karena tidak menemukan kelompok serikat pekerja yang aktif dan bersemangat yang melawan mereka.
Di bagian utara Prancis—Roubaix, Armentières, dan sekitarnya–dimana kota-kota kecil bersifat sosialistik, upah sangatlah rendah. Begitu pula di Ardennes. Terdapat sejumlah serikat pekerja yang telah dibentuk, namun anggota-anggotanya membdiarkan dirinya terserap sepenuhnya oleh kegiatan politik, serikat-serikat telah kehilangan kekuatan untuk melawan majikannya.
Kepada semua kerusakan ini, sebisa mungkin, Demokrasi menambahkan lagi kesalahan yang lebih besar. Kemajuan seperti yang didemonstrasikan oleh seluruh masa lalu sejarah kita, adalah konsekuensi dari upaya-upaya revolusioner dari minoritas berkesadaran. Sekarang Demokrasi mengorganisir penindasan minoritas bagi keuntungan kaum mayoritas yang konservatif dan dungu [atau jadi obyek rampasan bersama mereka? – catatan juru ketik].
Usaha membelokkan pergerakan ekonomi yang coba dilakukan kelas menengah hanyalah hal sementara. Kelompok bisnis bukanlah sebuah hasil dari pertumbuhan artifisial. Mereka muncul dan berkembang secara spontan dan tak terhindarkan, di dalam lingkungan apapun. Mereka dapat ditemukan pada masa purbakala, pada abad pertengahan, dan hari ini, dan kita dapat tunjuk bahwa pada semua masa, perkembangan tersebut telah dihambat oleh para pemilik hak istimewa, yang takut akan kekuatan ekspansif dari metode organisasi ini, dan berusaha terus memerasnya, namun tanpa berhasil menghancurkannya.
Tidaklah menakjubkan bahwa kelompok bisnis dapat memiliki vitalitas yang intens seperti itu. Pemusnahan total terhadap mereka akan mustahil untuk dilakukan. Supaya dapat berhasil, dibutuhkan penghancuran masyarakat itu sendiri. Memang, kelompok bisnis memiliki akar keberadaannya pada bentuk produksi yang ada saat ini, dan biasanya berlanjut dari situ. Sekarang, selagi asosiasi untuk berproduksi adalah kebutuhan yang tak terhindarkan, bagaimana mungkin para pekerja yang telah berkumpul bersama untuk tujuan ini, membatasi kerjasama mereka hanya untuk hal-hal yang menguntungkan bagi majikan mereka, yang mengambil keuntungan dari eksploitasi mereka semua? Agar dapat memuaskan kepentingan kapital, para produsen dikumpulkan bersama di dalam kelompok-kelompok ekonomi, dan mereka bisa disebut memiliki tingkat kecerdasan sejenis kerang apabila mereka tidak mampu menilai lebih dari batasan yang dipaksakan pada mereka oleh para pengeksploitasi.
Para pekerja yang memiliki sedikit kepintaran tak bisa dielakkan akan melihat antagonisme mencolok yang membuat mereka, para produsen dan musuh-musuh yang tak bisa didamaikan dari para majikan mereka, mereka telah dirampok, dan majikan mereka adalah perampoknya. Karena itu, bagi mereka perselisihan itu sangat radikal hingga hanya para politisi atau penjilat majikanlah yang dapat mengatakan sampah seperti “harmoni antara kapital dan pekerja”.
Lagipula, tak akan lama lagi sebelum para penerima upah menyadari bahwa keserakahan majikan semakin keterlaluan, perlawanan kelas pekerja akan semakin lemah. Sekarang mudah untuk membuktikan bahwa terisolasinya pekerja upahan adalah kelemahan utama mereka. Secara konsekuen, kerjasama untuk berproduksi telah mengajarkan kaum tereksploitasi untuk menghargai keuntungan asosiasi, mereka hanya membutuhkan keinginan dan inisiatif untuk menciptakan kelompok untuk pembelaan kaum pekerja.
Mereka akan segera mempelajari pentingnya hal ini. Kaum kelas menengah, yang tak memiliki ketakutan terhadap “masyarakat sebagai pemilih” telah dipaksa untuk melihat masyarakat sebagai “serikat pekerja” dan mengakui hak mereka untuk berkumpul, dan kebebasan serikat pekerja.
Dengan mempertimbangkan akibat-akibat awal ini, berbagai upaya berulang telah dilakukan untuk membelokkan kelas pekerja dari serikat pekerja. Meski menghadapi manuver seperti ini, bagian yang dilakoni oleh serikat pekerja telah tumbuh menjadi lebih jelas dan terperinci, begitu banyak hingga di masa depan dia dapat didefinisikan: Pada saat ini, misi permanen dari serikat pekerja adalah untuk mempertahankan dirinya terhadap penurunan semangat hidup seperti apapun, hal itu berarti juga melawan semua pengurangan upah dan meningkatkan jam kerja. Selain menentang serangan, mereka juga harus memainkan bagian pro-aktif dan berjuang untuk meningkatkan kesejahteraan dari serikat tersebut, yang hanya dapat dilakukan dengan menerobos keistimewaan kapitalis, dan membentuk semacam pengambilalihan parsial.
Di samping perbincangan mengenai pertarungan berkepanjangan ini, serikat pekerja terikat dengan kerja untuk emansipasi integral, yang akan menjadi perantara yang efektif. Mereka akan mengambil kepemilikan dari kemakmuran sosial, yang sekarang berada di tangan kelas menengah, dan menata ulang masyarakat dengan landasan Libertarian Komunis, hingga jumlah maksimum kemakmuran dapat dicapai dengan upaya produksi yang minimum.
HAK UNTUK BERSERIKAT
Kita sekarang akan membahas mengenai bagaimana serikat pekerja dibentuk. Membentuk bagian dari kelas tertentu, sebuah minoritas sangat kecil yang terdiri dari individual-individual yang tegas dan memiliki karakter, yang menciptakan sebuah kelompok yang bertujuan untuk menentang dan melawan para kapitalis.
Sikap seperti apakah yang akan diambil oleh sekelompok kecil militan ini? Akankah mereka menunggu hingga mereka telah memenangkan, apabila bukan semuanya, setidaknya mayoritas dari Saudara Pekerja dari kelas mereka, untuk menyatakan klaim mereka?
Mereka akan bertindak dengan cara ini apabila dalam perjuangan ekonomi yang mereka perjuangkan, ekonomi yang mereka perkenalkan memiliki prasangka politik secara mayoritas.
Namun, selagi praktek harian menuntut perjuangan yang lebih darurat dibandingkan demokrasi sufisme, logika kehidupan mendorong mereka ke dalam aksi, menuju ide-ide baru yang berlawanan dengan formula politik yang telah mewarnai mereka. Untuk mencapai hasil ini, tidaklah penting bagi para kombatan untuk memiliki kualitas penilaian yang besar, apabila mereka tidak terbekukan oleh berbagai abstraksi dan formula.
Kita telah menyaksikan, di dalam situasi yang sangat penting, politisi Basly yang menghormati prinsip-prinsip serikat dan menuntut prinsip-prinsip tersebut segera dilakukan. Hampir berlebihan untuk menambahkan bahwa yang berperan dalam manuver ini adalah kecerdasan yang masih murni, supaya dapat merusak reputasi kecenderungan revolusioner. Pada Konferensi pekerja tambang yang dilaksanakan di Lens pada tahun 1901, pertanyaan mengenai pemogokan umum tengah dilakukan, dan Basly berusaha keras untuk menghambat pergerakan dengan mengusulkan sebuah referendum yang berlawanan dengan teori-teori demokrasi, Basly menyebabkan Kongres memutuskan bahwa jumlah orang yang tidak memilih harus dimasukkan ke dalam jumlah total mayoritas.
Politisi ini, yang mengajari dirinya dengan cerdas, akan sangat takjub apabila dia disadarkan, bahwa dia bukannya tengah mengakali kongres tersebut, dia justru telah bertindak revolusioner dan telah menjadi inspirasi bagi prinsip-prinsip serikat kerja. Memang, dalam kasus ini, Basly tak menaruh perhatian kepada opini orang-orang tanpa menaruh prasangka, dia memandang rendah kepada mereka sebagai orang-orang yang tak bernilai, yang hanya cocok diletakkan dalam unit pemikir, sebagai makhluk-makhluk yang lembam dengan kekuatan laten yang hanya bisa digerakkan dengan sentuhan orang-orang yang tegas dan berenergi. Cara memandang seperti ini adalah negasi dari teori-teori demokrasi yang memproklamirkan kesetaraan hak bagi semua orang, dan mengajari bahwa keinginan berdaulat dari masyarakat sepenuhnya ditanggung melalui cara pengorbanan universal. Basly tidak jelas mengenai poin ini, dan untuk sementara, dia melupakan teori-teori politiknya, dengan mudah dia terpengaruh oleh doktrin-doktrin ekonomi dari lingkungannya.
Mari kita juga mengingat bahwa demokrasi tidak pernah menjadi hal yang abu-abu di antara kelompok-kelompok bisnis. Berhadapan langsung dengan kebutuhan-kebutuhan sosial, para kombatan di tingkatan serikat pekerja menyelesaikan permasalahan sesuai yang diajarkan pemikiran umum kepada mereka. Karena itu, hal-hal yang mereka lakukan mendahului deklarasi dari prinsipprinsip serikat pekerja.
Kaum serikat pekerja tidak pernah mempercayai bahwa mereka harus meminta keputusan dari seluruh kelas menengah berdasarkan peraturan, dan mencocokkan aksi mereka untuk menyenangkan mayoritas. Butuh satu orang saja untuk mulai membentuk kelompok, dan mempresentasikan klaim mereka tanpa mengindahkan mereka yang tak mau berpikir.
Bisakah apapun menjadi lebih alami? Mari kita bedakan antara hak abstrak dan teoritis yang diiming-imingi demokrasi di depan mata kita, serta hak yang sebenarnya ada dan nyata yang merepresentasikan keseluruhan kepentingan kita, serta titik awal yaitu aksi dari kesadaran individual. Hak setiap individu untuk bangkit dan melawan penindasan dan eksploitasi tak bisa disangkal. Hak seseorang untuk berdiri sendiri untuk memprotes dan memberontak terhadap semuanya, tidaklah aneh. Haruskah itu menyenangkan massa, untuk membanting tulang mereka dan menjilat sepatu dari para tuan, yang dia anggap berarti? Seseorang yang memiliki kebencian, tak ingin tunduk, hendak bangkit dan melawan, seperti manusia yang memiliki hak untuk melawan semuanya. Hak orang tersebut sangatlah jelas dan tak butuh dipertanyakan. Hak dari massa yang tertindas, selagi itu terbatas pada hak perbudakan, tidaklah layak untuk disadari dan tak bisa saling diperbandingkan. Hak dari massa seperti ini hanya akan mengambil bentuk dan layak dihormati, ketika mereka lelah dengan kepatuhan dan bekerja bagi orang lain, serta mulai memimpikan pemberontakkan.
Karena itu, ketika sebuah kelompok dibentuk, yang di dalamnya terdapat sekumpulan orang yang penilaiannya bersentuhan dengan satu sama lain, mereka tidak butuh mencari kepedulian dari massa. Cukuplah untuk kaum serikat pekerja menyesali bahwa orang-orang yang tak mau berpikir itu telah menyia-nyiakan haknya. Mereka tidak bisa membiarkan orang-orang itu menghambat proklamasi dan realisasi dari hak minoritas yang mau berpikir.
Tanpa teori apapun yang telah dijabarkan sebelumnya, kaum serikat pekerja terinspirasi dan terbimbing oleh ide-ide ini ketika mereka membentuk kelompok. Mereka bertindak, dan masih bertindak, dalam harmoni dengan ide-ide ini.
Dari sini kita menyimpulkan bahwa hak serikat pekerja tidak memiliki kesamaan apapun dengan hak demokrasi. Salah satunya adalah ekspresi dari mayoritas yang tak mau berpikir, yang membentuk sebuah massa padat yang akan melumpuhkan kaum minoritas yang berpikir. Dengan nilai dari dogma “Kedaulatan Rakyat” yang mengajari bahwa semua manusia adalah saudara yang setara, hak demokrasi ini berakhir dengan menyetujui perbudakan ekonomi dan menindas orang-orang yang memiliki inisiatif, kemajuan, ilmu pengetahuan, dan kebebasan.
Serikat pekerja adalah hal yang persis sebaliknya. Hal ini dimulai dari kedaulatan individual dan otonomi manusia, mereka berakhir dengan kesepakatan untuk hidup dalam solidaritas, yang merupakan konsekuensi logis dan tak diragukan dari kebebasan dan kesetaraan sosial.
Karena itu kita bisa mengerti bahwa dengan nilai kedaulatan individual, kaum serikat pekerja telah tumbuh semakin kuat seiring persentuhannya dengan kedaulatan-kedaulatan yang identik; mereka tidak menunggu hingga negara setuju untuk memanifestasikan keinginan mereka, mereka berpikir dan bertindak atas nama semuanya, seolah kelompok mereka memang terbangun dari seluruh massa. Logika membawa mereka untuk berpikir dan beraksi seolah mereka adalah keseluruhan kelas pekerja—faktanya, seluruh negara.
Lagipula, apa yang membuktikan kepada kita bahwa kaum serikat pekerja yang militan dapat dibenarkan saat mempertimbangkan diri sebagai eksponen aspirasi dan keinginan dari semua orang adalah saat situasi mensyaratkan hal itu—misalnya, dalam sebuah kasus pertengkaran dengan majikannya–kaum non-serikat mengikuti arahan dari serikat pekerja dan secara spontan mengelompokkan diri mereka sendiri, bertarung bahu-membahu dengan para kamerad mereka yang telah mengorganisir pergerakan itu dengan kesabaran dan energi.
Kaum non-serikat, kaum yang tak berpikir, karena itu seharusnya tidak merasa tersinggung dengan sejenis penjagaan moral yang diasumsikan dengan penilaian seperti ini. Kaum serikat pekerja militan tak akan menolak siapapun yang datang dengan niat baik, dan mereka yang tersakiti karena merasa diperlakukan sebagai seseorang yang tak layak diperhatikan hanya butuh untuk mundur dari posisi mereka yang rendah, membuang kemalasan mereka dan bergabung dengan sebuah serikat pekerja.
Lebih dari ini, para pemalas tak memiliki hak untuk mengeluh, selagi mereka diuntungkan oleh hasil yang dicapai atas usaha kamerad-kamerad mereka yang mau berpikir dan bertarung, juga karena mereka mendapatkan keuntungan tanpa harus mengalami derita dalam perjuangan.
Karena itu keuntungan-keuntungan yang dicapai oleh sedikit orang akan meluas mencapai semuanya, yang membuktikan superioritas dari serikat pekerja di atas hak demokrasi. Lihatlah demikian jauhnya prinsip-prinsip serikat pekerja tercerabut dari basa basi kelas menengah, yang mengajarkan bahwa setiap pekerja adalah tuan dari takdir mereka sendiri! Dalam diri kelas pekerja, setiap pekerja memiliki keyakinan bahwa ketika mereka bertarung untuk diri sendiri, mereka juga tengah bertarung untuk semuanya, dan tak pernah muncul di benak mereka, niat untuk menyalahkan balik atau sengaja bertindak lamban.
Para pekerja membenci kedangkalan dan kepicikan dari egoisme kelas menengah, yang dibalik jubah ekspansi individual, menternakkan kemiskinan dan penyakit, serta mengeringkan mata-mata air kehidupan. Mempercayai bahwa hubungan saling bantu agar dapat hidup adalah prakondisi dari semua kemajuan sosial, kaum serikat pekerja mengidentifikasikan kepentingan mereka dengan kepentingan bersama. Itulah mengapa ketika mereka mengambil tindakan, hal itu bukan atas nama mereka, namun atas nama orangorang yang takdirnya tengah mereka bentuk. Dalam logika yang lebih jauh mereka tidak membatasi kegiatan mereka dengan asosiasi mereka. Namun, menyatakan klaim umum, mereka meluaskannya hingga kepada seluruh kelas pekerja. Hal ini, ketika mereka telah memeras perbaikan dari kapitalisme, mereka berharap semuanya dapat ikut diuntungkan, semuanya! Kaum non-serikat! Mereka yang tak mau berpikir, bahkan berkhianat!
Perasaan persaudaraan dengan cakupan pemikiran luas ini, pemahaman manusia yang mendalam akan harmoni sosial, menaikkan serikat pekerja hingga ke tingkatan yang lebih unggul. Superioritasnya terhadap prinsip-prinsip demokrasi, yang hanya mengembangbiakkan tipuan-tipuan tersembunyi, perjuangan saling membunuh antara saudara, dan konflik sosial lainnya, tak perlu diragukan lagi. Karena itu, hak serikat pekerja adalah ekspresi dari hak asasi manusia baru yang mendalam, yang menggugah kesadaran dan melawan dogmadogma kuno dengan mempersiapkan generasi sosial—sebuah masyarakat yang sistem hukumnya menindas akan digantikan dengan sistem kontrak bebas–yang disepakati oleh semua pihak yang terlibat, dapat ditingkatkan atau bisa dibatalkan ketika diinginkan, dimana produksi kapitalis akan memberi jalan bagi federasi ekonomi, membawa kelekatan kelompok produksi, dimana anggotaanggotanya akan meyakinkan umat manusia akan keberadaan kesejahteraan dan kebebasan yang maksimal.
KESIMPULAN
Akan lebih dari lugas untuk menyatakan ini sebagai sebuah “Pengantar”, di dalam artikel-artikel ini saya telah berusaha untuk mendefinisikan ide-ide yang menuntun gerakan serikat pekerja. Hal yang terpenting masih akan kita lihat di masa depan. Tulisan ini hendak menunjukkan harmoni antara aksi serikat pekerja dengan teori serikat pekerja dan akumulasi fakta serta contoh-contoh yang membuktikan hal tersebut, bahwa serikat pekerja terinspirasi oleh ide-ide ini meski terkadang tidak disadari.
Gerakan serikat pekerja menunjukkan bahwa penerapan ide-ide penuntun ini mempengaruhi masyarakat saat ini, dan berhadaphadapan dengan organisme kuno yang telah berkarat, terdapat bakteri-bakteri yang berkembang dari masyarakat baru dimana umat manusia akan berevolusi tanpa hambatan, di tengah-tengah kelompok-kelompok yang otonom.
Catatan kaki:
1 Kata dari bahasa Prancis, Syndicate telah diubah ke dalam bahasa Inggris dengan persamaannya yang terdekat. Namun organisasi Prancis tersebut berbeda dari versi Inggis-nya dalam memperhitungkan semangat revolusi dan mengacuhkan aksi politik.
2 La loi Chapelier, meninggal pada 17 Juni 1791.
Catatan editor:
1. Kami secara bebas menerjemahkan kata “assocdiation” yang digunakan teks terjemahan Inggris dengan kata-kata dari bahasa Indonesdia, sesuai konteks kalimat menjadi berhimpun, berasosiasi, berkumpul, berorganisasi, berserikat.
2. Kami menerjemahkan kata “Syndicate” menjadi serikat pekerja, serikat buruh.
SINDIKALISME: ANCAMAN MODERN BAGI KAPITALISME Oleh Emma Goldman
Dengan fakta bahwa gagasan-gagasan dalam sindikalisme telah dipraktikkan oleh para pekerja selama setengah abad terakhir, bahkan tanpa latar belakang kesadaran sosial, fakta bahwa di negara ini, lima orang yang mendukung sindikalisme sebagai metode paling efektif perlawanan kaum pekerja terhadap kapital harus membayar keyakinannya dengan nyawa, bahwa sindikalisme telah dipraktikkan secara sadar oleh para pekerja di Prancis, Italia dan Spanyol sejak 1985, maka saya agak terhibur menyaksikan bagaimana orang-orang di Amerika dan Inggris sekarang memperlakukan sindikalisme seolah-olah hal tersebut adalah tawaran yang baru dan belum pernah didengar sebelumnya.
Sungguh mengherankan betapa naifnya orang-orang Amerika, betapa tidak matang dan tidak dewasanya mereka dalam kepentingan internasional. Saat mereka menyombongkan halhal praktiknya, penduduk Amerika umumnya paling terlambat dalam mempelajari makna dan taktik-taktik modern dalam perjuangan besar pada masanya. Mereka selalu tertinggal dalam gagasan-gagasan dan metode-metode yang berhasil dipraktikkan oleh para pekerja di Eropa.
Tentu saja ini masih bisa disanggah dengan alasan bahwa perjuangan bangsa Amerika masih belia. Memang indah memiliki pemikiran yang belia, masih segar untuk menerima dan memahami sesuatu. Sayangnya, pemikiran Amerika tersebut nampaknya tak pernah tumbuh dewasa dan mengkristal.
Mungkin itu juga sebab seorang revolusionis Amerika dapat menjadi politisi pada saat bersamaan. Itu jugalah alasan para pemimpin Pekerja Industrial Dunia (Industrial Workers of the World/I.W.W) dapat tetap bekerja di Partai Sosialis, yang tentu bertentangan dengan segala prinsip dan aktivitas I.W.W sendiri. Itu jugalah mengapa seorang Marxis yang kaku dapat menganjurkan para anarkis untuk bekerja sama dengan faksi yang dulu memulai kariernya dengan menganiaya salah seorang perintis anarkisme, Mikhail Bakunin, secara keji dan jahat. Singkatnya, dalam pikiran kaum radikal Amerika yang tanpa sikap dan tak pasti, penggabungan gagasan-gagasan serta metodemetode yang paling kontradiktif adalah hal yang paling bisa dilakukan. Hasilnya adalah kekacauan yang menyedihkan dalam gerakan radikal, semacam kemabukan intelektual yang tak pernah memiliki cita rasa maupun kepribadian.
Hanya pada saat inilah Sindikalisme dianggap sebagai masa lalu dari banyak orang-orang Amerika yang hebat, yang disebut-sebut sebagai kaum intelektual itu. Hal ini bukan berarti mereka tahu apa pun tentang sindikalisme selain beberapa otoritas besar seperti Sorel, Lagardelle, Berth dan yang lainnya. Tetapi, percayalah, karena orang Amerika membutuhkan segel otoritas tersebut. Jika tak ada otoritas macam itu, mereka tak akan menerima sebuah gagasan betapa pun benar dan berharganya gagasan tersebut.
Majalah-majalah borjuis kita dipenuhi dengan disertasi mengenai sindikalisme. Salah satu dari kolega kita yang konservatif bahkan melanjutkannya hingga mempublikasikan karya salah satu muridnya tentang subjek ini, yang telah disetujui juga oleh seorang profesor. Semua ini bukanlah karena sindikalisme merupakan sebuah kekuatan dan berhasil dipraktikkan oleh para pekerja Eropa, namun—seperti yang saya katakan sebelumnya–karena karya itu punya persetujuan otoritatif yang resmi.
Seolah-olah sindikalisme ditemukan oleh filsuf Bergson atau wacana-wacana teoritis dari Sorel dan Berth, dan belum pernah ada serta dihidupi oleh para pekerja jauh sebelum orang-orang ini menulis tentang gagasan tersebut. Fitur yang membedakan sindikalisme dari mayoritas filsafat adalah bahwa sindikalisme mewakili filsafat revolusioner kaum pekerja yang dikandung dan lahir dalam perjuangan yang sebenarnya dan dialami oleh kaum pekerja sendiri—bukan dalam universitas, kampus, perpustakaan, atau dalam otak beberapa ilmuwan. Filsafat revolusioner kaum pekerja, itulah makna vital dan sebenarnya dari sindikalisme.
Sudah sejak tahun 1848, sebagian besar para pekerja menyadari kesdia-sdiaan aktivitas politik sebagai cara untuk membantu mereka dalam perjuangan ekonomi. Pada saat itu, tuntutan mereka telah maju ke arah tindakan ekonomi yang lebih langsung, cara yang berseberangan dengan pemborosan energi dalam jalur-jalur politik. Hal ini bukan hanya terjadi di Prancis, bahkan lebih dulu daripada yang terjadi di Inggris tempat Robert Owen sang Sosialis revolusioner sesungguhnya tengah mempropagandakan gagasan-gagasan serupa.
Setelah bertahun-tahun agitasi dan eksperimen, gagasan tersebut dimasukkan ke dalam konvensi internationale yang pertama pada tahun 1867. Dalam resolusi itu disebutkan bahwa emansipasi ekonomi harus menjadi tujuan utama semua revolusi, sementara semua tujuan lain diprioritaskan setelahnya.
Faktanya, posisi radikal inilah yang akhirnya memecah gerakan revolusioner saat itu lalu membaginya menjadi dua faksi: yang pertama, bersama Marx dan Engels, yang menyasar penaklukkan secara politik; yang lainnya bersama Bakunin dan para pekerja Latin, yang terus membangun jalur-jalur sindikalis dan industrial. Perkembangan lanjut dua sayap ini tak asing bagi semua orang yang bisa memprediksinya. Pertama berangsur-angsur tersentralkan menjadi sebuah mesin yang besar, dengan tujuan tunggal untuk menaklukkan kekuasaan politik di Negara Kapitalis yang ada, sementara yang kedua menjadi faktor revolusioner yang bahkan lebih vital, ditakuti oleh musuh dan dianggap sebagai ancaman terbesar bagi kekuasaannya.
Pada tahun 1900, selagi menjadi perwakilan dalam Kongres Anarkis di Paris, saya pertama kali menjumpai sindikalisme yang tengah bergolak. Pers Anarkis telah membahas subjek ini selama bertahun-tahun sebelumnya sehingga kami, para anarkis, tahu beberapa hal mengenai sindikalisme. Namun, mau tidak mau, kami yang hidup di Amerika harus puas dengan bagian teoritisnya saja.
Namun, pada tahun 1900, saya melihat dampaknya terhadap pekerja di Prancis: kekuatan, antusiasme, dan harapan sindikalisme yang diinspirasikan kepada para pekerja. Saya juga beruntung dapat belajar tentang seseorang yang paling banyak bekerja mengarahkan sindikalisme ke kanal-kanal yang berfungsi: Fernand Pelloutier. Namun, sayang sekali, saya tidak dapat menjumpai pemuda luar biasa ini karena saat itu dia sakit kanker. Namun, ke mana pun saya pergi, dengan siapa pun saya berbicara, pengabdian dan cinta pada Pelloutier sangat besar. Semua orang setuju, dialah yang mengumpulkan kekuatan-kekuatan yang resah digerakan pekerja Prancis dan memberikan mereka kehidupan dan tujuan yang baru, yaitu tujuan dan hidup dari sindikalisme.
Setelah kembali ke Amerika, saya segera mulai menyebarkan gagasan-gagasan sindikalis, terutama Aksi Langsung dan Pemogokan Umum. Namun, melakukan hal ini terasa seperti berbicara pada gunung berbatu—tak ada pemahaman, bahkan di antara elemen-elemen yang lebih radikal, dan di antara pekerja yang tingkat kerjanya serupa.
Pada tahun 1907, saya berpartisipasi sebagai perwakilan di Kongres Anarkis di Amsterdam, dan selagi di Paris, bertemu dengan sindikalis yang paling aktif dalam organisasi Confédération Générale an Travail, yaitu Pouget, Delesalle, Monatte, dan banyak lagi. Lebih dari itu, saya berkesempatan melihat bagaimana sindikalisme berjalan sehari-hari, dalam bentuk-bentuknya yang paling konstruktif dan inspiratif.
Saya menceritakan hal ini untuk menandakan bahwa pengetahuan saya mengenai sindikalisme tak berasal dari Sorel, Lagardelle, atau Berth. Namun, dari interaksi sesungguhnya dengan para pekerja dan dari pengamatan akan kerja luar biasa yang dilakukan oleh para pekerja di Paris di berbagai tingkatan Konfederasi tersebut. Perlu satu volume buku sendiri untuk menjelaskan sindikalisme yang dilakukan mereka secara mendetail. Di pers-pers Amerika, hanya ada bahasan soal metode perlawanan mereka, mogok kerja dan sabotase dalam konflik pekerja melawan kapital. Hal-hal ini tentu sangat penting. Namun, nilai-nilai utama dari sindikalisme jauh lebih dalam lagi. Nilai-nilai tersebut ada dalam efek konstruktif dan mendidik dalam kehidupan serta pemikiran massa.
Perbedaan fundamental antara sindikalisme dan metode serikat buruh yang lama adalah saat serikat-serikat pekerja lama, tanpa pengecualdian, bergerak dalam sistem upah dan kapitalisme, dan menganggap kapitalisme sebagai sesuatu yang tak terhindarkan, sindikalisme menolak, bahkan mengutuk tata industrial saat ini sebagai sesuatu yang tidak adil dan bersifat kriminal, dan tak mengharap sistem ini memberikan hasil yang menjanjikan untuk jangka panjang bagi para pekerja.
Tentu saja, sindikalisme, seperti halnya serikat buruh yang lama, berjuang untuk meraih target208 target jangka pendek, namun dia tak cukup bodoh untuk berpura-pura bahwa pekerja bisa mengharapkan kondisi yang manusiawi dari pengaturan ekonomi yang tidak manusiawi di masyarakat. Karena itu, dia bergulat dengan musuh hanya untuk mendapatkan semua yang bisa diambil darinya. Namun, secara keseluruhan, tujuan sindikalisme serta tempat konsentrasi energinya adalah sepenuhnya meruntuhkan sistem upah. sindikalisme berlanjut lebih jauh bertujuan untuk membebaskan para pekerja dari setiap institusi yang tidak menginginkan pembangunan produksi yang bebas demi kebaikan seluruh umat manusia. Singkatnya, tujuan utama dari sindikalisme adalah untuk membangun kembali masyarakat dari keadaannya kini yang tersentralisir, otoritatif dan brutal menjadi sistem yang berlandaskan pada kelompok-kelompok pekerja yang berfederasi dan bebas dengan kebebasan sosial dan ekonomi.
Maka dari itu, sindikalisme bekerja dalam dua arah. Pertama, dengan merongrong institusiinstitusi yang ada. Kedua, dengan mengembangkan dan mendidik para pekerja serta menumbuhkan semangat solidaritasnya untuk mempersiapkan mereka untuk kehidupan yang utuh dan bebas, ketika pada akhirnya kapitalisme telah dihapuskan. Sindikalisme pada intinya adalah ekspresi ekonomi dari Anarkisme. Keadaan itulah yang menyebabkan begitu banyak anarkis hadir di dalam gerakan sindikalis. Seperti halnya anarkisme, sindikalisme mempersiapkan para pekerja dalam jalur ekonomi langsung, sebagai faktor yang disadari dalam perjuangan besar hari ini, sebagaimana juga dia merupakan faktor yang disadari dalam tugas untuk membangun kembali masyarakat sepanjang jalur industri yang otonom, sebagai perlawanan terhadap ruh sentralisasi yang melumpuhkan dan yang memiliki mesin birokrasi yang penuh dengan korupsi, dan akan selalu terjadi di dalam partaipartai politik.
Dengan menyadari bahwa kepentingan kapital dan pekerja yang secara diametrikal bertentangan tak akan pernah bisa didamaikan, sindikalisme menolak metode serikat buruh yang begitu tua dan berkarat, lalu mendeklarasikan perang terbuka terhadap rezim kapitalis, sebagaimana juga terhadap setiap institusi yang saat ini mendukung serta melindungi kapitalisme.
Sebagai konsekuensi logisnya, sindikalisme, dalam perang hariannya terhadap kapitalisme, menolak sistem kontrak, karena sistem tersebut tidak menganggap pekerja dan kapital sebagai hal yang setara, dan karena itu sindikalisme tak akan sepakat jika kapital punya kuasa untuk menentukan, sementara pekerja harus mematuhinya.
Untuk alasan-alasan yang serupa, sindikalisme menolak negosdiasi di dalam perseteruan kerja, karena prosedur seperti itu hanya memberikan waktu bagi musuh untuk merancang hasil akhir yang dia inginkan. Karena itu, negosiasi membuat para pekerja gagal meraih objek yang ingin dicapainya. Diluar itu, sindikalisme setuju dengan spontanitas sebagai penjaga kekuatan tarung para pekerja, karena spontanitas membuat para musuh lebih tidak siap, dan karenanya mendorong mereka untuk menuruti kesepakatan-kesepakatan yang cepat atau yang membuatnya rugi besar.
Sindikalisme menentang kas serikat buruh yang besar karena uang adalah elemen korupsi dalam tingkatan pekerja, sebagaimana dalam kapitalisme. Kami, di Amerika, tahu hal ini sangatlah benar. Apabila gerakan pekerja di negara ini tidak didukung oleh pendanaan yang sangat besar, mungkin gerakan ini tidak akan sekonservatif sekarang, juga para pemimpinnya mungkin tak akan begitu korup. Namun, alasan utama penolakan sindikalisme terhadap kas berjumlah besar adalah fakta bahwa hal tersebut menciptakan jarak kelas dan kecemburuan di dalam tingkatan-tingkatan pekerja. Ini sangat merugikan bagi semangat solidaritas. Pekerja yang organisasinya memiliki simpanan dana yang lebih besar menganggap dirinya lebih superior dibandingkan saudaranya yang lebih miskin, sama seperti mereka menganggap dirinya lebih baik dibandingkan seseorang yang hanya dapat menghasilkan lima puluh sen lebih sedikit darinya.
Nilai etis utama pada sindikalisme menekankan pentingnya para pekerja untuk menyingkirkan elemen pertikaian, parasitisme dan korupsi di dalam tingkatannya. Sindikalisme bertujuan untuk menumbuhkan pengabdian, solidaritas dan antusiasme, yang jauh lebih penting dan vital dalam perjuangan ekonomi dibandingkan dengan uang.
Seperti yang telah saya nyatakan, sindikalisme tumbuh dari kekecewaan para pekerja terhadap metode politik dan parlementer. Dalam proses perkembangannya, sindikalisme belajar mengetahui di dalam negara—dengan corongnya, yaitu sistem representatif–salah satu dukungan terkuat bagi kapitalisme; seperti halnya sindikalisme telah mempelajari bagaimana tentara dan gereja menjadi pilar utama negara. Karena itulah sindikalisme meninggalkan mesin politik dan parlementardiatisme, lalu menuju arena ekonomi tempat sang Pekerja, tempat sang gladiator sendiri dapat mengalahkan musuhnya.
Pengalaman historis membuat para sindikalis bertahan dalam oposisi tanpa kompromi terhadap parlementariatisme. Banyak yang pernah masuk ke dalam kehidupan politik, dan karena tak ingin tergerogoti oleh atmosfir tersebut, memilih untuk keluar dari jabatannya, lalu mengabdikan diri mereka pada perjuangan ekonomi, contohnya: Proudhon, revolusioner Belanda Nieuwenhuis, Johann Most dan banyak lagi. Sementara itu, orang lain yang memilih tetap berada di parlemen akhirnya mengkhianati kepercayaan yang diberikan pada mereka, tanpa menghasilkan apa pun yang menguntungkan para pekerja. Tidak berlebihan jika mengatakan bahwa para sindikalis menjadi antiparlementariat karena pengalaman pahit mereka.
Dengan cara serupa, pengalaman mereka telah menghasilkan sikap anti-militer. Dari waktu ke waktu, tentara telah digunakan untuk menembaki mereka yang melakukan mogok kerja dan untuk menanamkan gagasan patriotisme yang menjijikkan, dengan tujuan memecah-belah para pekerja, dan memudahkan sang majikan untuk tetap menikmati hasil rampasannya. Seranganserangan yang dilakukan agitasi sindikalis terhadap takhayul patriotisme dibuktikan dari kelas penguasa yang takut kalau-kalau loyalitas tentara goyah, dan penerapan hukuman keras terhadap mereka yang anti-militer. Tentu saja, karena kelas penguasa jauh lebih menyadari daripada para pekerja bahwa ketika tentara menolak mematuhi atasan mereka, seluruh sistem kapitalisme akan celaka.
Lagipula, mengapa para pekerja harus mengorbankan anak-anak mereka hanya untuk digunakan menembaki orang tuanya sendiri kelak? Karena itu, sindikalisme tidak hanya logis dalam agitasinya yang anti-militer, tetapi juga paling praktis dan menjangkau lebih jauh karena sindikalisme merampas senjata terkuat para musuh yang sering digunakan untuk melawan para pekerja.
Metode-metode yang digunakan oleh sindikalisme adalah Aksi Langsung, Sabotase, dan Mogok Umum.
AKSI LANGSUNG—Usaha individu atau kolektif yang secara sadar dilakukan untuk memprotes, atau memperbaiki kondisi sosial melalui pernyataan sistematis yang tegas dari kekuatan ekonomi para pekerja.
SABOTASE, dianggap kriminalitas, bahkan oleh mereka yang disebut-sebut sebagai Sosialis revolusioner. Tentu saja, bila Anda setuju bahwa properti—yang menyingkirkan produsennya sendiri dari penggunaannya–adalah hal yang dapat dibenarkan, maka sabotase adalah kriminalitas. Namun, kecuali kaum Sosialis berhenti percaya pada moralitas borjuis—moralitas yang membuat segelintir orang memonopoli seluruh bumi dengan mengorbankan begitu banyak orang–maka mereka tak dapat terus beranggapan bahwa properti kapitalis adalah sesuatu yang tidak dapat diganggugugat. Sabotase merongrong bentuk kepemilikan pribadi ini. Karena itu, bisakah hal itu dianggap sebagai tindakan kriminal? Justru sebaliknya, hal itu sangatlah etis karena membantu masyarakat untuk menyingkirkan musuh terjahatnya, yaitu faktor yang paling merusak dari kehidupan sosial.
Sabotase pada intinya berpegang pada aksi penghambatan, dengan metode apapun yang memungkinkan, proses produksi yang teratur, juga menunjukkan sikap yakin para pekerja untuk memberikan sesuai dengan yang mereka terima, dan tidak lebih. Misalnya, pada saat pemogokan jalur rel kereta api di Prancis pada tahun 1910, barang-barang yang cepat busuk dikirimkan melalui kereta yang lambat, atau kereta yang menuju arah yang berlawanan. Siapa yang dapat menganggapnya kriminalitas selain kaum filistin paling awam? Apabila pekerja rel sendiri kelaparan, dan publik yang “tak bersalah” tak memiliki cukup perasaan solidaritas untuk turut mendesak bahwa para pekerja tersebut harus mendapatkan haknya supaya terus hidup, maka publik sendiri telah kehilangan simpati dari para pemogok dan pasti menerima konsekuensinya.
Selama mogok ini, bentuk sabotase lain juga dilakukan dengan menempatkan kotakkotak berat di atas barang-barang yang ditandai “Perlakukan dengan hati-hati”, pecah belah dan keramik Cina serta anggur-anggur yang mahal. Dari sudut pandang hukum, hal ini mungkin merupakan tindakan kriminal. Namun, dari sudut pandang kemanusiaan yang sewajarnya, hal ini adalah sesuatu yang masuk akal. Hal yang sama berlaku saat pekerja mengacaukan kerja mesin tenun, atau bekerja sesuai dengan kalimat-kalimat hukum yang prosedur birokratisnya kaku, seperti yang dilakukan oleh para pekerja rel Italia, yang karenanya mengakibatkan kekacauan dalam pelayanan rel kereta api. Dengan kata lain, sabotase hanyalah sebuah senjata pertahanan dalam perang industrial, yang lebih efektif karena dia menyentuh kapitalisme pada titiknya yang paling vital, yaitu kantong uangnya.
Dengan Pemogokan Umum, sindikalisme bermaksud untuk melakukan penghentian kerja, pemogokan kerja. Pemogokan seperti ini tidak harus menunggu hingga semua pekerja di tempat atau negara tertentu siap melakukannya. Seperti yang telah ditunjukkan oleh Pelloutier, Pouget, serta orang-orang lainnya, dan terutama oleh berbagai kejadian baru-baru ini di Inggris, pemogokan umum dapat dimulai oleh satu industri dengan mengerahkan kekuatan besar. Ibarat seseorang yang mendadak berteriak “Hentikan si pencuri!” Dengan segera, yang lainnya akan ikut berteriak hingga udara dipenuhi oleh suara mereka. Pemogokan umum, yang dimulai oleh sebuah organisasi yang telah ditentukan, oleh satu industri atau sebuah minoritas kecil yang memiliki kesadaran di antara para pekerja, adalah teriakan industrial “Hentikan si pencuri!” yang akan segera disambut oleh banyak industri lain, menyebar seperti kebakaran dalam waktu yang sangat singkat.
Penolakan politisi pada pemogokan umum didasari dengan salah satu alasan bahwa para pekerja juga akan rugi karena kebutuhan hidupnya terganggu. Pertama-tama, para pekerja lebih tahu rasanya kelaparan. Kedua, jelas pemogokan umum memicu kesepakatan yang lebih pasti daripada pemogokan biasa. Tengoklah pemogokan transportasi dan penambang di Inggris, betapa cepatnya tuan-tuan negara dan kapital dipaksa berdamai! Lagipula, sindikalisme menyadari hak para produsen atas barang yang mereka buat, misalnya, para pekerja berhak mengambil barang-barang hasil produksi mereka sendiri untuk mencukupi kebutuhannya apabila pemogokan tidak segera mencapai kesepakatan yang diinginkan.
Ketika Sorel menekankan bahwa pemogokan umum merupakan inspirasi penting bagi masyarakat untuk memberikan arti pada hidup mereka, dia tengah mengekspresikan sebuah pemikiran yang tak pernah lelah ditekankan oleh para anarkis. Meskipun begitu, saya tidak sepakat dengan Sorel bahwa pemogokan umum merupakan “mitos sosial” yang mungkin tak akan pernah terwujud. Saya pikir, pemogokan umum akan terwujud ketika para pekerja memahami nilainya sepenuhnya—nilainya yang destruktif sekaligus konstruktif, sebagaimana yang mulai disadari oleh para pekerja di seluruh dunia.
Beberapa pihak mungkin menganggap berbagai gagasan dan metode sindikalisme ini sepenuhnya negatif meskipun efeknya pada masyarakat hari ini jauh dari negatif. Namun, sindikalisme memiliki aspek positif secara langsung. Pada kenyataannya, lebih banyak upaya dan waktu dicurahkan untuk fase ini dibandingkan fase yang lain. Berbagai bentuk aktivitas sindikalis dirancang untuk mempersiapkan para pekerja, meski dari dalam kondisi sosial dan industrial saat ini, untuk menyambut kehidupan masyarakat yang baru dan lebih baik. Ke arah tujuan itulah massa dilatih dalam semangat saling bantu dan persaudaraan, membangun inisiatif dan kemandiriannya, serta mempertahankan semangat kelompok (esprit de corps) yang rohnya adalah solidaritas tujuan dan komunitas yang terbangun dari kepentingan kaum proletariat internasional.
Hal yang utama dari aktivitas-aktivitas ini adalah mutualitées, atau masyarakat yang saling membantu (mutual aid), yang didirikan oleh para sindikalis Prancis. Tujuan yang mereka dahulukan adalah mengamankan pekerjaan bagi anggotaanggota yang menganggur, dan terus mendorong semangat saling bantu yang bersandar pada kesadaran identitas kepentingan para pekerja di seluruh dunia.
Dalam tulisannya “Gerakan Pekerja di Prancis,” L. Levine menyatakan bahwa sepanjang tahun 1902, lebih dari 74.000 pekerja dipilih dari 99.000 pelamar dan disediakan pekerjaan oleh kelompok-kelompok masyarakat ini tanpa dipaksa tunduk pada pemerasan seperti yang dilakukan oleh para predator biro pekerjaan.
Tindakan para predator biro pekerjaan ini merupakan sumber dari kemunduran terparah, selain merupakan eksploitasi yang tidak tahu malu terhadap para pekerja. Terutama di Amerika, tempat para biro pekerjaan seringkali juga merupakan biro detektif yang menyamar, mereka menyuplai para pekerja yang sedang membutuhkan pekerjaan untuk menyerang daerah-daerah, berbekal janji palsu akan pekerjaan tetap yang menguntungkan.
Konfederasi Prancis telah lama menyadari peran picik dari para biro pekerjaan sebagai lintahlintah yang hidup dari para pekerja yang menganggur dan memelihara borok mereka. Dengan ancaman pemogokan umum, para sindikalis Prancis telah memaksa pemerintah untuk melarang keberadaan para predator biro pekerjaan ini, dan kelompok mutualitées yang dimiliki oleh para pekerja telah hampir sepenuhnya menggantikan posisi mereka demi keuntungan moral dan ekonomi yang sangat besar bagi para pekerja.
Di samping kelompok mutualitées, para sindikalis Prancis membuat aktivitas lain yang bertujuan untuk menguatkan ikatan solidaritas dan saling bantu di antara para pekerja. Di antaranya adalah berbagai upaya untuk membantu para pekerja melakukan perjalanan dari tempat satu ke yang lainnya. Nilai praktis maupun etis dari bantuan seperti ini sungguh tak terhingga. Dia membantu mempertahankan jiwa persahabatan dan memberikan rasa aman di dalam kesatuan keluarga pekerja yang besar. Hal ini adalah salah satu efek vital dari semangat sindikalis di Prancis dan di berbagai negara Latin. Betapa upaya seperti itu sangatlah dibutuhkan di negara ini! Apakah ada yang bisa meragukan pentingnya momen saat para pekerja yang datang dari Chicago, misalnya, ke New York, yakin mereka akan disambut para kameradnya dengan tempat tinggal dan makanan untuk sementara waktu sampai mereka mendapatkan pekerjaan? Bentuk aktivitas semacam ini sepenuhnya asing bagi badan-badan pekerja negara ini, dan akibatnya seorang pekerja yang tengah melakukan perjalanan untuk mencari pekerjaan— buruh-buruh yang menggelandang–terus berada di bawah belas kasihan para polisi dan aparat, menjadi korban hukum-hukum yang mengatur gelandangan, dan menjadi makhluk malang, yang ketika akhirnya mereka direkrut, karena berbagai tekanan akan kebutuhan, menjadi kelompok buruh yang menolak ikut mogok dan malah menggantikan kerja para buruh yang tengah mogok.
Saat berada di markas Confédération, saya berulang kali menyaksikan beberapa contoh aktivitas ini. Ketika pekerja dari berbagai daerah di Prancis, dan bahkan dari beberapa negara lain di Eropa, datang membawa kartu serikatnya, mereka disuplai dengan makanan dan tempat tinggal, didukung dengan semangat persaudaraan, dan dibuat kerasan oleh para pekerja lainnya di Confédération.
Akhirnya, dampak dari aktivitas-aktivitas ini, pemerintah Prancis terpaksa membayar tentara untuk menghentikan pemogokan karena hanya sedikit sekali pekerja yang mau sukarela melakukan hal tersebut berkat upaya dan taktik sindikalisme seperti ini.
Hal yang tak kalah penting dengan aktivitas bantuan mutual dari para sindikalis adalah kerjasama yang mereka bangun antara kota-kota, batas negara, para pekerja pabrik dan buruh tani atau petani. Para buruh tani atau petani memberi makan para pekerja selagi pemogokan berlangsung, atau membantu mengurus anak-anak para pekerja yang tengah melakukan mogok. Bentuk praktis solidaritas ini telah dicoba untuk pertama kalinya di negara ini saat pemogokan Lawrence terjadi, dan hasilnya menginspirasi.
Semua aktivitas sindikalis ini diwarnai dengan semangat kerja pendidikan yang dilakukan secara sistematis dalam kelas-kelas sore dengan membahas semua topik vital dari sudut pandang libertarian yang tidak bias, bukan “pengetahuan” tercemar yang dijejali ke otak kita di sekolahsekolah publik. Cakupan pendidikan ini benarbenar fenomenal. Pendidikan ini juga membahas topik seperti kebersihan organ seksual, perawatan bagi perempuan pada masa hamil dan persalinan, perawatan rumah dan anak, sanitasi dan kebersihan umum. Faktanya, semua cabang pengetahuan manusia—ilmu pengetahuan alam, sejarah, seni– mendapatkan perhatian yang menyeluruh, berikut penerapan praktisnya di perpustakaan, klinik, konser dan festival yang telah dibangun oleh para pekerja, tempat para seniman dan penulis memandang bahwa partisipasi di dalamnya adalah sebuah kehormatan.
Salah satu upaya sindikalisme yang paling vital adalah mempersiapkan para pekerja, sekarang, untuk peran mereka di dalam masyarakat yang bebas kelak. Karena itulah organisasi-organisasi sindikalis memberi para anggotanya buku-buku pelajaran mengenai setiap perdagangan dan industri, buku pelajaran yang dapat membantu para pekerja menjadi handal dalam bidang pilihannya, mumpuni dalam karyanya, yang bertujuan mengakrabkan diri mereka dengan semua cabang industri, sehingga ketika para pekerja berhasil mengambil alih produksi dan distribusi, mereka akan sepenuhnya siap untuk mengelola urusan-urusan mereka dengan berhasil.
Keefektifan kampanye pendidikan sindikalisme ini dibuktikan oleh para pekerja rel kereta di Italia, yang sangat hebat menguasai bidang transportasi dalam setiap detail sehingga mereka dapat mengajukan tawaran pada pemerintah Italia agar para pekerja mengambil alih jalur rel di negara tersebut dan menjamin jalannya operasi dengan lebih sedikit kecelakaan dan dampak ekonomi yang lebih besar dibandingkan dengan saat ini yang masih dipegang oleh pemerintah.
Terkait dengan pemogokan pekerja pembuat kaca di Italia, para sindikalis telah membuktikan sendiri kemampuan yang menakjubkan dalam melanjutkan produksi. Alih-alih sekadar menganggur saat pemogokan berlangsung, para pekerja memutuskan untuk tetap melanjutkan produksi kaca. Semangat solidaritas yang mengagumkan ini merupakan hasil propaganda sindikalis yang membuat mereka mampu membangun sebuah pabrik kaca dalam waktu yang luar biasa singkat. Sebuah bangunan tua disewa dan disiapkan selama beberapa minggu agar dapat berfungsi untuk tujuan tersebut—umumnya proses ini memakan waktu berbulan-bulan. Proses ini dibantu oleh solidaritas para pemogok, yaitu kamerad-kameradnya yang ikut bekerja bersama mereka seusai jam kerja. Kemudian, para pemogok tersebut mulai mengoperasikan pabrik kaca, rencana kerja dan distribusi koperatif mereka selama pemogokan pun terbukti begitu memuaskan dalam semua hal, sehingga pabrik eksperimental tersebut akhirnya menjadi permanen. Satu bagian industri kaca di Italia kini berada di tangan organisasi kooperatif para pekerja.
Metode pendidikan terapan ini tidak hanya melatih para pekerja dalam perjuangan hariannya, namun juga mempersiapkan dirinya untuk pertarungan besar dan masa depan, saat mereka mengambil tempatnya di dalam masyarakat sebagai makhluk yang cerdas, berkesadaran dan merupakan produsen yang berguna, ketika kapitalisme telah dihapuskan.
Hampir semua sindikalis yang maju setuju dengan para anarkis bahwa masyarakat yang bebas hanya akan dapat terwujud melalui asosiasi sukarela, dan bahwa keberhasilannya yang paling utama tergantung pada pengembangan intelektual dan moral para pekerja yang akan menggantikan sistem upah dengan tatanan sosial baru yang dilandaskan pada solidaritas dan kemakmuran ekonomi bagi semua orang. Inilah sindikalisme dalam teori dan praktik.
PARA SINDIKALIS DALAM REVOLUSI RUSIA oleh Gregori Petrovich MAimoff
Mendiskusikan berbagai aktivitas dan peranan para anarkis dalam revolusi, Kropotkin mengatakan: “Kami para anarkis telah berbicara banyak soal revolusi, namun hanya sedikit dari kami yang siap untuk suatu kerja nyata, melaksanakannya saat proses itu berlangsung. Saya telah mengindikasikan beberapa ini dalam tulisanku Conquest of Bread. Pouget dan Pataud juga telah menggoreskan bentuk aksinya dalam karyanya ‘Syndicalism and the Co-operative Commonwealth’”.
Kropotkin berpandangan bahwa para anarkis belum memberikan perhatian yang cukup soal elemen mendasar revolusi sosial. Fakta sebenarnya dalam sebuah proses revolusioner tidak begitu banyak terwujudkan di dalam pertempuran jalanan—hal tersebut sematamata fase destruktif yang diperlukan guna membersihkan jalan demi mengupayakan sesuatu yang lebih konstruktif. Faktor mendasar dalam revolusi adalah organisasi kehidupan ekonomi dari negeri tersebut. Revolusi Rusia telah membuktikan secara meyakinkan bahwa kita harus mempersiapkan diri untuk melewati masa tersebut. Semua hal lain tidaklah penting. Dia berpandangan bahwa teori sindikalisme akan melengkapi apa yang kurang dalam gerakan di Rusia: saluran untuk mengalirkan arus rekonstruksi secara ekonomi dan industri negeri ini. Dia mengacu kerja ini ke anarkosindikalisme. Hal itu semua dan juga koperasi akan menyelamatkan negeri-negri lain dari kesalahan besar yang diderita Rusia.*
Revolusi telah menggetarkan semua kelas dan strata dalam kehidupan sosial di Rusia. Kegelisahan teramat dalam telah menyebar ke setiap lapisan masyarakat di Rusia sebagai akibat dari penindasan rezim Tsar tiga abad lamanya.
Selama letupan revolusioner tersebut, kegelisahan ini menjadi kekuatan yang menyatukan elemen-elemen yang berbeda-beda, menghancurkan bangunan besar despotisme dalam waktu tiga hari. Sebuah periode revolusioner singkat, yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dalam gelombang pergerakan ini, meski pada kenyataannya berbagai komponen kekuatan tersebut digerakkan oleh beragam kerja dan tujuan eksklusif berbeda dan terkadang seragam, dikuasai sepenuhnya oleh kebulatan suara. Pada saat momen letupan revolusioner itu berbagai tujuan dari beragam kekuatan tersebut tepat, karena karakternya yang negatif, diarahkan guna menghancurkan rezim uzur yang berkuasa secara absolut. Tujuan-tujuan konstruktifnya masih belum jelas. Hanya selama rangkaian perkembangan lebih lanjut, melalui berbagai konstruksi yang ditempatkan pada beragam tujuan dan kerja-kerja revolusi, yang hingga sekarang kekuatan-kekuatan tak berbentuk itu mulai mengkristal dan pemberontakanpun mulai bermunculan di antara mereka guna memenangkan ide-ide dan sasaran yang mereka inginkan.
Hal itu merupakan ciri-ciri revolusi yang patut diperhatikan meskipun pengaruh anarkis atas massa sebelum revolusi tersebut pecah menjadi besar, namun sejak revolusi itu mulai, hal ini diikuti oleh desentralisasi penuh yang anarkistik. Lembaga-lembaga revolusioner seketika terdorong ke depan oleh rangkaian revolusi tersebut, yang menjadikan karakter penting anarko-sindikalis. Hal tersebut menjadi semacam instrumen yang cukup memadai untuk mempercepat proses realisasi ideide anarkis, yaitu: Soviet-soviet, Komite-komite pabrik, Komite-komite petani, Dewan ketetanggaan, dan lainnya. Logika internal dari perkembangan dan pertumbuhan bentuk organisasi semacam itu, yang terjadi hingga November (Oktober) 1917, berujung pada kepunahan sementara Negara Rusia dan pondasi ekonomi kapitalis. Saya mengatakannya sementara, karena pada akhirnya negara dan kapitalisme kembali berjaya. Dalam perkembangannya, revolusi itu begitu mudah untuk digagalkan oleh mereka yang pada awalnya menjadi instrumen yang mempercepat perkembangan revolusi itu sendiri. Massa rakyat yang percaya tanpa periksa, meski mulai menciumnya secara instingtif, masih belum sadar sepenuhnya bahwa Partai Komunis Rusia, Bolshevik, yang sedang dalam tahap membangkitkan kepercayaan diri massa tersebut, sedikit demi sedikit membungkus revolusi itu dengan atmosfir dominasi negara dan dengan kekuatan brutal yang begitu menakutkan. Mereka menghukum revolusi dengan proses pembusukan yang tak terhindarkan lagi. Proses tersebut, bagaimana pun, mulai terlihat hanya enam bulan setelah terjadinya “revolusi Oktober“. Dalam momen tersebut, revolusi menjadi matang. Perjuangan menjadi semakin tajam dan tujuan revolusi mulai menampakkan karakter yang semakin jelas dan lantang. Negeri pun mendidih dan menggelembung, hidup seutuhnya di bawah kondisi-kondisi kebebasaan.
*Emma Goldman, My Disillusionment in Russdia, dalam kunjungannya menemui Peter Kropotkin di Dimitrov pada Juli 1920.
PERJUANGAN BESAR
Perjuangan berbagai kelas, kelompok dan partai guna memberi pengaruh lebih besar dalam revolusi terjadi begitu intens, kuat dan memiliki karakter menyerang. Hasil dari perjuangan ini adalah hadirnya suatu kekuatan pengunci; tak seorang pun yang berposisi sebagai pemegang kendali superior atas yang lain. Hal ini pada gilirannya tak memberi kemungkinan bagi negara dan pemerintah— sebagai kekuatan eksternal yang posisinya di atas masyarakat–untuk menjadi salah instrumen kekuatan tandingannya. Negara menjadi beku, sama sekali tak mampu menggunakan pengaruh negatifnya dalam rangkaian peristiwa yang terjadi itu. Demikian pula tentara, yang justru aktif sebagai bagian revolusioner gerakan, berhenti menjadi instrumen yang taat pada kekuasaan negara. Dalam perjuangan besar yang melibatkan beragam ketertarikan dan ide tersebut, para anarkis turut ambil bagian secara aktif.
Selama periode Maret (Februari) hingga November (Oktober) 1917 tersebut meluas torehan paling gemilang bagi para anarko-sindikalis dan anarkis lainnya adalah propaganda, agitasi, organisasi, dan bentuk aksi mereka.
Revolusi itu telah membuka lebar pintu bagi para anarkis yang mengasingkan diri di berbagai negeri untuk kembali pulang, dimana selama ini mereka melarikan diri dari upaya penyiksaan brutal pemerintahan Tsar. Namun, bahkan jauh sebelum orang-orang ini kembali, melalui partisipasi aktif para kamerad yang bebas dari penjara dan pengasingan, sudah banyak bermunculan berbagai kelompok dan serikat anarkis serta beragam publikasi anarkis. Bersama dengan kembalinya para anarkis yang menyebar luas tersebut, aktivitas ini mulai mendapatkan momentum yang tepat. Rusia diliputi oleh jaringan berbagai kelompok yang padat, walaupun terkoneksi dengan amat longgar. Jarang ada kota besar yang yang tak memiliki kelompok anarko-sindikalis ataupun anarkis. Propaganda itu mengambil bentuk yang belum ada sebelumnya dalam sejarah aktivitas kelompok anarkis. Terdapat sejumlah besar koran-koran anarkis, majalah, selebaran, pamflet dan buku-buku yang jumlah cukup banyak. Pasar penjualan buku dibanjiri oleh berbagai literatur anarkis. Ketertarikan terhadap anarko-sindikalisme dan anarkisme sangatlah besar, bahkan menjangkau hingga ke sudut-sudut kota, negeri bagian utara.
Beragam koran dipublikasikan tidak hanya dalam pusat-pusat kota industri dan administratif seperti Moskow dan Petrograd (Di Petrograd, sirkulasi terbitan anarko-sindikalis, Golos Trouda dan terbitan anarkis, Burevestnik, masing-masing berjumlah 25 ribu eksemplar setiap hari; koran harian Anarchia di Moskow memiliki sirkulasi yang hampir sama). Demikian halnya di berbagai kota provinsi, seperti Kronstadt, Yaroslavl, Nizhni-Novgorod, Saratov, Samara, Krasnoyarsk, Vladivostok, Rostov on Don, Odessa and Kiev. Pada tahun 1918, koran-koran anarkis lain bermunculan di Ivanovo-Vosnesensk, Chembar, Ekaterinburg, Kursk, Ekaterinoslav, Vdiatka.
Propaganda dari mulut ke mulut bahkan jauh lebih luas daripada tulisan. Hal itu banyak dijalankan di kalangan tentara, sebagaimana juga di lingkungan pabrik dan pedesaan. Propaganda tersebut menekankan pada tugas utama untuk memunculkan tujuan logis dari berbagai prinsip dan tendensi anarkis yang melekat dalam revolusi tersebut. Propaganda anarko-sindikalis, sangatlah berhasil di lingkungan para pekerja. Pengaruh anarkisme, terutama vardian anarko-sindikalis, sangatlah besar di lingkungan para pekerja Petrograd yang memaksa kaum Sosial-Demokrat* mengeluarkan terbitan khusus guna memerangi ”anarko-sindikalisme di antara proletariat yang terorganisir”. Sangat disayangkan, kerja baik dan berpengaruh ini kurang terorganisir.
*Sosial Demokrat atau Sosial Demokratik adalah pecahan gerakan sosialis Marxist yang mengambil jalan reformasi. Gerakan sosial demokrat cukup besar pengaruhnya setelah meninggalnya Marx dan menjelang Perang Dunia I. Sosial demokrasi juga memperngaruhi secara besar-besaran gerakan Marxis di Rusia. Partai Buruh Sosial Demokratik Rusia (PBSDR) Rossiiskadia Sotsdial-Demokraticheskadia Rabochadia Partidia: adalah partai marxis yang dibentuk di Minsk pada tahun 1898. Saat kongres pertamanya, polisi rahasia kerajaan Rusia, Oknara menangkapi semua anggotanya.
Mencoba menggabungkan unsur-unsur yang tak sepakat dengan kaum revolusioner Narodnik, kaum Sosial Demokrat menyajikan program Marxis yang menggabungkan dan mengorganisir, baik buruh maupun petani menuju revolusi sosialis. Meskipun kaum Sosial Demokrat menganggap kaum buruh merupakan sepenuhnya kelas revolusioner di Rusia, sementara hanya beberapa unsur golongan petani yang dianggap revolusioner. Kaum petani kaya (Kulak) dianggap kaum reaksioner.
PBSDR menciptakan teori marxis untuk melihat apa yang akan terjadi terhadap Rusia jika kapitalisme berjaya. Hal ini kemudian memecah partai. Sejumlah orang menganggap reformasi lebih penting daripada revolusi. Dengan ajaran Marxis sendiri bahwa kapitalisme perlu dimatangkan sebelum mencapai sosialisme. Pada tahun 1903 ketika diadakan Kongres Kedua di Belgia dan Inggris persengketaan ide muncul memecah gerakan sosial demokrasi ini. Setelah kongres partai terpecah ke dalam dua faksi Bolshinstvo (Bolshevik—artinya mayoritas) dan Menshinstvo (Menshevik—artinya minoritas), sementara Mensheviks percaya reformasi, Bolshevik percaya revolusi untuk memenangkan ide-ide Sosial Demokrasi. Setelah pemberontakan tahun 1905 di Rusia, kelompok Bolshevik menjadi yang minoritas di dalam partai. Keadaan ini berlangsung hingga bulan September, 1917.
Lihat:https://www.marxists.org/glossary/orgs/s/o. htm#srs
SENTRALISME VIA FEDERALISME›
Pengaruh anarko-sindikalisme sendirinya secara kredibel ditunjukkan dalam perjuangan supremasi berbagai Komite Pabrik terhadap serikat buruh. Komite-komite Pabrik hampir benar-benar terguncang oleh sebuah bentuk unik anarko-sindikalisme. Hal ini dibuktikan oleh konferensi Komite-komite Pabrik Petrograd, dan oleh konferensi seluruh Rusia Komite-komite tersebut. Terlebih lagi, Bolshevik sedang menuju keperebutan kekuasaan dan kediktatoran, dipaksa untuk menyingkir (untuk sementara, sebagaimana nanti ditunjukkan), ajaran Marxisme mereka yang ortodoks dan menerima slogan-slogan anarkis beserta metode-metode mereka. Sialnya, hal tersebut hanyalah permainan taktik, dan sama sekali bukanlah program Bolshevik yang berubah. Sloganslogan yang diformulasikan oleh Bolshevik (para Bolshevik) mulai disuarakan, dengan cara yang tepat dan dapat dipahami berbagai tuntutan massa dalam pemberontakan tersebut, serupa dengan sloganslogan para anarkis: “Hentikan perang, Perdamaian
sekarang juga tanpa aneksasi atau perjanjian ganti231 rugi!”, “Jangan patuhi pemerintah dan kapitalis!”, ”hapuskan tentara sekarang juga!”, “persenjatai para pekerja!”, “ambil alih tanah bagi kaum tani”, “rebut pabrik-pabrik!”, “Federasi soviet-soviet”, dan sebagainya. Tidakkah realisasi dari beragam sloganslogan luar biasa itu akan mengarah pada kejayaan sepenuhnya ideologi anarkis, dan menyingkirkan basis serta pondasi Marxisme? Bukankah mewujudkan banyak dari slogan-slogan dahsyat ini, membawa pada kemenangan ideologi anarkisme? Bukankah alamiah bagi anarkis terhanyut dalam slogan-slogan ini, apalagi mereka tidak memiliki organisasi yang kuat untuk menjalankannya secara independen? Akibatnya mereka akhirnya turut serta dan bergabung dalam gerakan bersama ini.
Namun, kenyataan dengan segera akan terbukti, bahwa penyelewengan posisi revolusioner yang dilakukan Bolshevik bukanlah suatu kebetulan. Namun, mereka melangkah dengan taktis penuh teliti dan terencana, diarahkan tepat pada ketertarikan dan tuntutan massa paling vital. Sebuah rencana yang dirancang untuk menghidupkan dogma membangkai Marxisme yang tercerai berai. Wajah asli Bolshevik diperlihatkan oleh Komisaris Urusan Nasional, Stalin (Dzhugashvili), dalam satu artikelnya (April 1918) dia menulis bahwa tujuan mereka adalah, “Untuk mencapai sentralisme melalui federalisme”. Secara terus menerus, dengan hati-hati, revolusi didorong ke alur gagasan Marxisme sesuai dengan rencana yang telah dipertimbangkan sebelumnya. Semacam alur ke arah mana setiap keyakinan rakyat perlu sebuah jalur penundukkan.
Dengan demikian, sepanjang periode pemerintahan borjuis dan borjuis sosialis, para anarkis bekerja bergandengan dengan kaum Bolshevik (bukan secara organisasional tentunya). Lalu bagaimana para anarkis memposisikan diri selama periode itu? Daftar kota-kota di mana berbagai publikasi anarkis bermunculan telah menunjukkan bahwa kebebasan pers adalah sesuatu yang meluas saat itu. Tak satu pun koran-koran yang dibekukan aktivitasnya, sama sekali tak ada selebaran, pamflet atau buku-buku yang disita, tak ada satu pun rapat umum atau pertemuan umum yang dilarang. Meskipun terjadi perampasan terhadap rumah-rumah pribadi para konglomerat, seperti di Durnovo Villa dan beberapa mansion di petrograd; penyitaan rumah-rumah percetakan,— termasuk tempat percetakan Russkaya Voldia, yang dipublikasikan oleh salah satu menteri pemerintahan Tsar, Protopopov–walaupun terdapat seruan secara terbuka kepada tentara untuk membangkang pada kesatuannya; meski terjadi hal seperti itu, hanya ada beberapa kasus dimana para anarkis dianiaya secara diam-diam ataupun secara terencana oleh pihak otoritas. Adalah hal benar bahwa pemerintah di periode itu tidak menolak untuk berurusan habis-habisan dengan para anarkis dan Bolshevik. Perdana Menteri Pemerintahan Sementara Rusia saat itu, Kerensky beberapa kali mengancam untuk “mengosok mereka (anarkis) dengan setrika panas”. Namun pemerintah sama sekali tak berdaya, karena revolusi tengah bertenaga penuh, setelah Oktober
Bagaimana posisi para anarkis berubah bersama dengan kemenangan revolusi Oktober, dalam persiapan dan perwujudannya dimana mereka telah mengambil bagian yang sangat menonjol? Perlu diingat bahwa selama periode pemerintahan Kerensky, kaum anarkis tumbuh dengan pesat dan mendekati momen Oktober itu pergerakan mereka dapat diasumsikan cukup besar. Pertumbuhan ini bahkan jauh lebih pesat setelah revolusi Oktober, ketika para anarkis mengambil peranan aktif dalam perjuangan secara langsung menentang kaum kontra-revolusi dan pasukan Jerman-Austria. Tidak hanya karena suara para anarkis memegang kendali, tetapi massa sesungguhnya mengikuti seruan dan arahan para anarkis, mempertemukan berbagai aspirasi-aspirasi mereka yang lama terkubur dalam satu formulasi konkrit. Karena itulah mereka memberi dukungan terhadap tuntutan-tuntutan para anarko-sindikalis, menjalankannya sekeraskerasnya di tengah cengkraman yang melumpuhkan Bolshevik, yang saat itu tidak terlalu kuat.
Dibawah pengaruh propaganda anarkosindikalis, bermunculan pula proses mensosialkan perumahan secara spontan di Petrograd melalui Komite-komite Perumahan. Hal ini meluas ke seluruh jalanan, memunculkan komite-komite jalanan dan kompleks/blok, saat seluruh kompleks/ blok tertarik masuk ke dalamnya. Hal tersebut menyebar pula ke kota-kota lain. Di Kronstadt hal semacam itu bahkan telah bermunculan lebih dulu dibanding di Petrograd dan bahkan dengan intensitas jauh lebih tinggi. Jika di Petrograd dan kota-kota lain, perumahan disosialkan hanya setelah kemenangan Revolusi Oktober, di Kronstadt langkah yang sama telah diambil jauh lebih dulu. Di bawah pengaruh Yartchuk, yang menikmati popularitas di kota itu, dan di tengah penolakan aktif dari kaum Bolshevik. Langkah semacam ini dijalankan dengan terorganisir oleh para pekerja revolusioner dan pelaut di seluruh penjuru kota. Faksi Bolshevik meninggalkan pembahasan tersebut saat Soviet Kronstadt tengah bersidang untuk memprotes proses mensosialkan perumahan.
KONTROL PEKERJA
Di medan perjuangan revolusioner yang mengarah pada penghapusan institusi kepemilikan pribadi sebagai sumber daya produksi, pengaruh para anarkis bahkan jauh lebih tegas. Ide-ide mengenai “kontrol pekerja“, yang ditegaskan melalui Komitekomite pabrik, merupakan ide yang didukung oleh para anarko-sindikalis sejak awal mula revolusi itu terjadi, ide itu telah mengakar di antara para pekerja kota dan mendapatkan sambutan yang hangat, yang memaksa partai-partai sosialis menciptakan bentuk-bentuk yang mirip namun berbeda. Kaum Sosial Demokrat dan kaum Sosial Revolusioner sayap kanan memelintir ide mengenai kontrol para pekerja ini menjadi kontrol negara atas industri, melalui partisipasi para pekerja, serta menyerahkan kendali atas perusahaan ke tangan para kapitalis.
Bagi kaum Bolshevik, mereka agak samar-samar soal pemaknaan “kontrol pekerja”, membdiarkannya tetap tanpa definisi yang jelas dan menjadikan itu sebagai alat propaganda yang sangat berguna. Hal ini ditegaskan oleh A. Lozovsky (S. A. Dridzo), yang menulis ini dalam pamfletnya Workers Control (Petersburg, Socdialist Publishing House, 1918):
“Kontrol para pekerja merupakan slogan perlawanan Bolshevik sebelum peristiwa Oktober....meski pada kenyataannya kontrol para pekerja tergambar jelas di setiap ketetapan, di setiap spanduk, hal itu mempunyai aura misterius tersendiri. Pers partai sangat sedikit menulis mengenai slogan-slogan tersebut, lebih sedikit lagi yang berusaha untuk melaksanakannya dalam bentuk konkrit. Ketika Revolusi Oktober pecah dan menjadi kebutuhan untuk mengungkapkan makna “kontrol para pekerja“ secara jelas dan tepat, bermunculan lah berbagai opini berbeda bahkan dikalangan (di dalam partai) pendukung slogan tersebut.“ (Hal. 19.)
Bolshevik menolak untuk menerima konstruksi ide soal “kontrol pekerja“ anarko-sindikalis, yaitu, mengambil kendali produksi, mensosialkan dan melembagakan kontrol pekerja beserta mensosialkan hasil produksi masyarakat melalui komitekomite pabrik. Ide ini berhasil dimenangkan, para pekerja mulai mengambil alih perusahaan ketika pemerintahan sosialis-borjuis masih berkuasa. Komite-komite pabrik dan beragam komite kontrol lain telah siap untuk mengambil alih fungsi-fungsi manajemen pada saat itu. Pada malam meletusnya revolusi Oktober pergerakan ini mengambil bentuk karakter massa yang sesungguhnya.
KOMITE-KOMITE PABRIK
Komite-komite Pabrik serta Biro Sentral mereka menjadi pondasi baru pergerakan revolusioner yang mengambil tugas untuk menjadikan pabrikpabrik menjadi komune-komune produsen dan konsumen. Komite-komite pabrik itu menjadi inti sel dari tatanan sosial baru yang sedikit demi sedikit memunculkan dasar kehidupan revolusi tahap awal. Esensinya yang sangat anarkistik menjadikan komite-komite pabrik tersebut membuat banyak musuh. Sikap semua partai politik seperti menahan marah, upaya keras mereka bertujuan untuk mereduksi komite-komite pabrik tersebut ke posisi lebih rendah daripada serikat buruh. Kaum Bolshevik sejak awal telah menunjukkan kecurigaannya atas tipe organisasi ini. Hanya ketika mereka semakin yakin bahwa gerakan serikat buruh terlalu didominasi oleh kaum Sosial-Demokrat untuk dijadikan instrumen kebijakan Bolshevik, mengikuti para anarko-sindikalis, mereka mulai memusatkan perhatiannya pada komite-komite pabrik. Tujuannya untuk mengendalikan mereka dan melalui komite-komite pabrik tersebut, pada akhirnya mengendalikan penuh serikat-serikat pekerja. Meski terdapat sikap semacam ini, melalui beberapa kejadian Bolshevik dipaksa untuk mengambil posisi terhadap komite-komite pabrik yang sedikit berbeda dari para anarko-sindikalis. Secara berangsur-angsur mereka pun mengambil sikap. Pada mulanya mereka sangat menentang itu. Para anarko-sindikalis berakar pada komitekomite pabrik. Mereka menciptakan teori yang nyata. Serikat buruh telah mati, bahwa masa depan menjadi milik komite-komite pabrik, mereka pula yang akan memukul jatuh kapitalisme, bahwa komite-komite pabrik adalah bentuk tertinggi dari gerakan pekerja, dan lain-lainnya. Dengan kata lain, teori ini terbentuk terkait komite-komite pabrik mirip dengan teori yang digagas kaum anarkosindikalis Prancis mengenai gerakan serikat buruh beberapa puluh tahun sebelumnya. Di bawah kondisi seperti ini, keterpisahan antara dua bentuk organisasi (serikat buruh dan komite-komite pabrik) menghadirkan bahaya besar bagi pergerakan di Rusia.
“Hal ini sangat berbahaya, bahkan dikalangan orang-orang yang aktif di komite-komite pabrik yang bukan anarko-sindikalis, kami melihatnya cenderung beroposisi terhadap serikat buruh dan memilih komite-komite pabrik dan bahkan dapat menggantikan serikat-serikat industrial beserta cabang lokal dengan tipe organisasi komite pabrik.“- Lozovsky, Workers Control (hal. 37).
PENGAMBILALIHAN PERUSAHAAN
Secara karakteristik, hanya pers anarko-sindikalis yang secara tepat menilai peranan dan arti pentingnya komite-komite pabrik secara tepat. Artikel pertama dalam pers revolusioner terkait soal ini, muncul di terbitan pertama Golos Trouda. (secara kebetulan, artikel tersebut tidaklah menegaskan opini Golos Trouda secara menyeluruh terkait persoalan ini.) Di salah satu pertemuan komite-komite pabrik yang berlangsung di Petrograd pada Agustus 1917, artikel tersebut hangat diperdebatkan oleh Bolshevik, khususnya oleh Lozovsky dan yang lainnya. Tetapi ide ini menjadi lebih dominan bahkan dikalangan partai Bolshevik dan dengan sendirinya menjawab keinginan para pekerja. Bahkan Lenin menyatakan dalam pidatonya di hadapan pertemuan umum seluruh serikat pekerja (berlangsung pada musim semi 1918) bahwa “Pabrik adalah komune yang dikendalikan sendiri oleh para produsen dan konsumen”.
Propaganda anarko-sindikalis tersebut akhirnya membuahkan hasil. Kemudian terjadi gelombang perebutan perusahaan dan manajemen organisasi para pekerja. Dimulai ketika pemerintahan sementara masih memegang kendali kekuasaan dan para anarkis memainkan peranan penting di dalamnya. Peristiwa yang paling dibicarakan pada periode itu adalah pengambil alihan pabrik serbuk mesiu Shlisselburg dan tanahtanah perusahaan pertanian yang terinspirasikan oleh para anarkis Zhuk, keduanya lalu diorganisir berdasarkan prinsip-prinsip anarkis. Peristiwa semacam itu kembali terus berulang semakin sering dan di malam sebelum revolusi Oktober pecah peristiwa tersebut dianggap sebagai pemicunya. Segera setelah berjayanya revolusi Oktober, Biro
Sentral dari dewan-dewan pabrik menerbitkan instruksi panjang untuk mengontrol aktivitas produksi secara luas. Instruksi-instruksi tersebut terbukti jadi dokumen literasi yang cerdas karena mampu memperlihatkan kejayaan ide para anarkosindikalis. Arti penting kejadian ini penting untuk dipertimbangkan mengingat pada saat itu Bolshevik mulai mendominasi di dalam komite-komite pabrik tersebut.
Besarnya pengaruh ide mengenai dewandewan pabrik di kalangan pekerja hingga jadi tubuh eksekutif di komune-komune pabrik—berbagai sel mereka tergabung ke dalam organisasi federatif yang turut mempersatukan seluruh pekerja dan menciptakan sistem administratif industrial yang sangat penting–ditunjukkan oleh kegelisahan Bolshevik yang terungkap setelah revolusi oktober.
“Di tempat, republik soviet-soviet, kita akan menjadi republik koperasi kaum produsen (artels), dimana pabrik-pabrik para kapitalis bermetamorfosis melalui proses ini. Sebagai ganti dari regulasi cepat produksi dan konsumsi secara sosial—sebagai ganti dari peraturan yang menggantikan langkah sejati dari tatanan organisasi masyarakat sosialis yang diarahkan berdasarkan berbagai alasan–sebagai gantinya kita menyaksikan mimpi-mimpi visioner para anarkis mengenai komune-komune industrial yang otonom”. - I. Stepahanov, From Workers, Control towards Workers Administration in the industries and Agriculture (Moskow, 1918, hal.
11).
Keunggulan Bolshevik semakin menunjukan betapa menakjubkannya kesuksesan yang diraih kamerad kita, terutama W. Shatov, dalam usahanya untuk mempengaruhi komite-komite pabrik—Shatov memimpin serangan ke Istana Musim Dingin, Petrograd, pada Oktober 1917. Dia meninggalkan pergerakkan anarko-sindikalis dan menjadi seorang Bolshevik sejak awal ketika ibu kota berpindah ke Moskow pada awal 1918. Dia ditangkap dan mungkin ditembak tanpa proses peradilan selama proses pembersihan yang terjadi pada akhir 1930-an. Meskipun didominasi oleh Bolshevik, komite-komite pabrik pada periode tersebut justru mengusung ide-ide kaum anarkis. Belakangan, tentu saja, mereka harus merasakan penderitaan karena upaya pemurndian yang dijalankan Bolshevik terhadap komite-komite pabrik. Jika saja yang terjadi sebaliknya, jika kaum anarkis berposisi mayoritas, mereka sudah pasti berusaha melenyapkan dari kerja-kerja komite-komite, elemen sentralisasi dan prinsip-prinsip negara.
SINDIKALISME SPONTAN
Di sini kami tidak sedang menguraikan sejarah pergerakan serikat pekerja Rusia secara detil atau catatan sejarah perjuangan berbagai partai atau kelompok di dalam serikat pekerja. Tetapi, murni sebagai informasi. Kami ingin memberi penekanan pada momen-momen tersebut dalam kehidupan
gerakan serikat pekerja yang mewarnai kerja241 kerja minoritas anarko-sindikalis. Pergerakan para pekerja, seperti revolusi itu sendiri, bangkit secara spontan. Dia meminggirkan serikat buruh, mendasarkan dirinya pada komite-komite pabrik beserta organisasi-organisasinya terutama yang ada di Petrograd.
Meskipun kaum proletariat Rusia, secara keseluruhan, sama sekali mengabaikan ide-ide mengenai sindikalisme Revolusioner, dan walaupun literatur mengenai anarko-sindikalis masih sangat kurang, seperti halnya kurangnya representatif pergerakan ini dikalangan para pekerja Rusia, meskipun ada hal semacam itu, pergerakan pekerja di seluruh Rusia telah mengarah pada desentralisasi. Proses itu telah memilih secara spontan keunikan sindikalisme Revolusioner. Tak seperti periodeperiode sebelumnya, salah satu yang mengiringi revolusi Februari 1917 adalah bentuk partisipasi aktif para anarko-sindikalis—yakni para pekerja yang berasal dari Amerika Serikat dan kembali ke Rusia, dari tempat dimana mereka turut berperan dalam perjuangan Industrial Workers of the World (IWW).
KOMITE PABRIK VS SERIKAT PEKERJA
Hingga Januari 1918, sampai berlangsungnya Konvensi Serikat Buruh Seluruh Rusia yang pertama, gerakan pekerja berlayar dengan bendera komite-komite pabrik. Perjuangan ini merupakan pertempuran sengit melawan elemen-elemen borjuis yang bertempur secara diam-diam demi supremasi mereka, menentang serikat-serikat buruh. Perjuangan ini mengambil karakter yang kuat setelah Konferensi Serikat Buruh Ketiga Seluruh Rusia, yang menampakkan dengan jelas arus perbedaan yang besar antara berbagai taktik dan tujuan serikat pekerja dengan mereka yang ada di komite pabrik. Yang terakhir, menyatukan diri pertama kali di Petrograd, lalu menyusul ke seluruh Rusia, menyatukan tubuh-tubuh sentral mereka dan memberi landasan bagi revolusi. Para anarkosindikalis berperan aktif di Komite-komite Pabrik maupun di Serikat-serikat buruh. Tak ada kebulatan suara dalam barisan anarko-sindikalis mengenai bentuk organisasi mana yang disukai. Pergerakan ini jauh dari dukungan para anarkis lainnya. Pergerakan semacam ini bahkan juga tak diterima oleh kelompok penerbitan Golos Trouda. Banyak kaum Bolshevik enggan mendukung sudut pandang komite-komite pabrik, tetapi lebih mendukung serikat para pekerja. Pada salah satu konferensi komite-komite pabrik Petrograd, Lozovsky menyerang pandangan ini dan pergerakan mendukung dengan serangan yang tak bermoral dan kejam.
Secara keseluruhan, elemen-elemen anarko-sindikalis telah menunjukkan preferensi bagi komite-komite pabrik dengan memusatkan kekuatan mereka ke arah itu. Mereka hadir di berbagai komite pabrik tersebut, sebagaimana yang ada di Biro Petrograd dan seluruh Biro Sentral Komite-komite Pabrik Seluruh Rusia. Demikian pula dengan pengaruh para anarko-sindikalis pada konferensi-konferensi komite pabrik, seperti dalam surat Novy Put, yang memberi warna tersendiri bagi anarko-sindikalisme, meski tak satu pun anarkosindikalis bekerja sebagai staf di situ.
Pengaruh para anarko-sindikalis secara langung maupun tidak langsung tersebut membuat para borjuis dan koran-koran sosialis memberi sinyal bahaya melalui: surat kabar Dien (borjuis), Novaya Zhizn (Sosialis), Izvestdia Petrogradskogo Obshtchestva Zavochikovy Fabricantov (borjuis), Izvestdia Tzentralnogo Ispolnitelnogo Komiteta (sosialis), Rabochaya Gazeta (sosialis), dan lainnya. Kaum sosial-demokrat menerbitkan publikasi khusus (Rabochaya Mysl) untuk melawan pengaruh anarko-sindikalis dikalangan proletariat yang terorganisir.
Hal tersebut tentu saja upaya yang sia-sia. Para anarko-sindikalis menaklukkan massa dengan slogannya “kendali kaum pekerja“. Massa pekerja yang makin meluas di bawah pengaruh anarkosindikalis terdorong untuk mengambil alih pabrikpabrik. Pengaruh slogan anarko-sindikalis, yaitu “kontrol pekerja“, dengan sendirinya menunjukkan Pedoman untuk Menjalankan Kontrol Pekerja di bidang Industri, yang diedit dan diterbitkan oleh Dewan Sentral Komite-komite Pabrik Petrograd, mendapat penolakan kasar dari Bolshevik dan Menshevik dalam Konvensi Pertama Serikat Buruh Seluruh Rusia. (lihat laporan stenograf, Konvensi Pertama Serikat-serikat Buruh Seluruh Rusia serta terbitan A. Lozovsky (Dridzo), “Kontrol Pekerja”).
Para anarko-sindikalis di masa itu memiliki kelompok organisasi di luar dari serikat pekerja dan juga menerbitkan surat kabar maupun Majalah. Di Petrograd majalah Golos Trouda, Krasnoyarsk Sibirsky, di Moskow ada organisasi sindikalis revolusioner bernama Rabochaya Zhizn, dan lain-lainnya. Para anarko-sindikalis hadir pada banyak komite pabrik dan serikat pekerja, mereka melancarkan propaganda yang intensif. Mayoritas anarko-sindikalis meyakini bahwa dengan bekerja di serikat pekerja, mereka akan mampu menanamkan sebuah arah anarko-sindikalis.
PERLUASAN PERGERAKAN
Sebelum Konvensi Serikat Buruh Seluruh Rusia Pertama, para anarko-sindikalis berhasil mengorganisir platform IWW Amerika diantara 25 sampai 30 ribu buruh tambang distrik Debaltzev di Don Basin. Pembantaian kaum Cossack menyebabkan terbunuhnya seorang organisator serikat pekerja yaitu kamerad Kondiayev dan memicu perang sipil berikutnya, hal ini juga turut menghancurkan semua langkah awal tersebut. Aktivitas anarko-sindikalis juga terjadi di tambang Cheremkhovo, sebelum pemberontakan Czechoslovak terjadi. Di Ekaterinodar dan provinsi Novorossiysk, gerakan para pekerja mengadopsi platform anarko-sindikalis. Pergerakan ini dipelopori oleh B. Yelensky, Katdia Gorbova dan yang lainnya. Pergerakan itu merangkul seluruh provinsi Chernomorsky, beserta kota Ekaterinodar dan Novorossiysk. Pergerakan tersebut terdiri dari para pekerja pelabuhan dan tambang semen. Di
Moskow para anarko-sindikalis memiliki pengaruh dominan di antara pekerja-pekerja rel kereta api, pembuat parfum dan yang lainnya. (Pergerakan tersebut digerakkan oleh para kamerad termasuk di dalamnya Preferansov, N. K. Lebediev Kritskaya). Menerjemahkan pengaruh tersebut ke dalam angka-angka definitif sangatlah sulit. Kami hanya dapat menuliskan bahwa, pada Konvensi Pertama Serikat Buruh Seluruh Rusia, terdapat juga faksifaksi anarko-sindikalis di dalamnya. Termasuk beberapa Maximalist dan simpatisan lain yang jika ditotal berjumlah sekitar 25 orang. Karena basis representasi adalah rata-rata satu delegasi mewakili 3.000 atau 3.500 anggota, maka bisa dikatakan jumlah para pekerja anarko-sindikalis mencapai 88.000 orang. Gambaran ini bagaimana pun bisa bertambah dua atau tiga kali lipat guna mendapat ide memadai terkait perluasan aktual pergerakan.
PENUNDUKKAN KOMITE-KOMITE PABRIK
Pada Konvensi Serikat Buruh Pertama, diadakan setelah revolusi Oktober, kaum Bolshevik dan SosialRevolusionis kiri menjadi kekuatan mayoritas. Hal itu menandai kemenangan akhir dari serikat pekerja atas komite-komite pabrik. Bolshevik menundukkan komite-komite pabrik, yang bersifat federalis dan anarkistik secara alamiah, serta lebih memilih sentralisasi lewat serikat pekerja. Melalui bantuan serikat buruh, Bolshevik berhasil menjadikan komite-komite pabrik sebagai alat mereka untuk mendominasi massa. Setelah mencapai itu, Bolshevik meneruskan niatnya dengan menguliti komite-komite tersebut dari fungsinya. Setelah semua itu komite-komite pabrik hanya memiliki satu fungsi, yaitu mengawasi produksi, fungsi yang dibebankan pada mereka oleh Bolshevik.
Pada tahun 1918, teror Bolshevik menyisakan serikat-serikat buruh. Oleh karenanya, kita masih bisa melihat pergerakan anarko-sindikalis berkembang di dalam serikat pekerja buruh pabrik roti di Moscow, Kharkov dan Kiev (aktivitas yang enerjik diperlihatkan di antara buruh pabrik roti di Kiev oleh A. Baron, yang jika belum dieksekusi sampai saat ini, tahun 1940, dia pasti masih di penjara atau diasingkan di suatu tempat; organiser buruh ini, sejak ditangkap tahun 1920, dipindahpindahkan ke berbagai penjara dan tempat pembuangan oleh pemerintah Bolshevik). Aktivitas anarko-sindikalis juga meningkat di antara buruh perusahaan pos dan telegraf di Petrograd. Dalam Konvensi Buruh Pos dan Telegraf Seluruh Rusia, kaum anarko-sindikalis memberi pengaruh sangat kuat, lebih dari setengah delegasi mengikuti gerakan ini (aktivis utama buruh anarko-sindikalis dalam serikat pekerja ini dialah Milhalev, Bondarev dan lainnya. Meningkatnya pengaruh anarko-sindikalis di serikat pekerja dapat dinilai dengan membaca laporan stenograf Konvensi yang diadakan tahun 1918). Cabang serikat pekerja Petrograd berbaris di bawah bendera anarko-sindikalisme. Salah satu publikasinya, yaitu Izvestdia Pochtovo-Telegrainikh Sluzhashtchikk Petrograda, diedit oleh seorang anarko-sindikalis. Hal yang sama juga terjadi pada serikat pekerja angkutan sungai di Volga Basin, yang melalui aktivitas kamerad Anosov, publikasi serikat pekerja mengambil posisi yang sepenuhnya anarko-sindikalis.
PENCAPLOKAN SERIKAT-SERIKAT PEKERJA
Semua pencapaian itu kemudian dihancurkan oleh Bolshevik. Prinsip-prinsip Industrial yang mendasari proses penyatuan serikat-serikat pekerja ke unit-unit yang lebih besar menjadi senjata ampuh bagi Bolshevik melawan anarko-sindikalisme. Awalnya Bolshevik menyatukan serikat-serikat pekerja yang tak mereka curigai, dari sudut pandang mendasar mereka untuk mendominasi. Terobosan itu untuk menyatukan serikat-serikat pekerja secara besar-besaran dan mengaburkan kepemimpinan para pekerja anarko-sindikalis di serikat-serikat yang tak bisa mereka andalkan. Hal tersebut mengurangi jumlah serikat pekerja yang anarkis, seperti yang terjadi pada serikat pekerja telegraf di Petrograd, para pekerja di pabrik pembuatan parfum di Moscow, pekerja transportasi air di Kazan, organisasi-organisasi pekerja kereta api di kawasan Moskow dan Kursk, tempat kamerad Kovalevich dan Dvumjantzev memegang peranan penting.
Dengan cara tersebut dan melalui sentralisasi intensif, disertai pemungutan suara yang penuh kecurangan, di beberapa tempat tindakan
keras dilakukan oleh pihak otoritas, lembaga248 lembaga administratif serikat pekerjapun jatuh ke tangan para Bolshevik. Konvensi serikat pekerja se-Rusia yang kedua (1919) semakin memperjelas proses pencaplokan serikat-serikat pekerja tersebut. Pada konvensi itu jumlah delegasi anarkosindikalis dan simpatisannya hanya berjumlah 15 orang. Jumlah itu hanya mewakili 52.950 orang, ketika para pekerja yang bersimpati pada anarkosindikalisme sedang meningkat, sebuah kenyataan yang menunjukkan makin rendahnya simpati para pekerja terhadap Bolshevik. Aturan konvensi yang muncul semakin mengurangi hak para anarkosindikalis untuk mengajukan juru bicaranya dalam pembahasan sejumlah agenda penting di forum itu. Pada konvensi yang ketiga, hanya tersisa 10 delegasi anarko-sindikalis (termasuk simpatisan) yang mewakili 35.300 orang.
Konvensi tersebut sungguh-sungguh mempertontonkan kegagalan taktik yang dianjurkan oleh Golos Trouda, yang menanggung beban bersama kaum anarko-sindikalis di Rusia pada saat itu, (Penulis teks ini adalah staff Golos Trouda saat itu, namun hal ini tidak menjadi halangan baginya untuk mengakui kekeliruan yang telah dilakukan orang-orang dalam penerbitan ini). Kurangnya serikat-serikat pekerja yang murni revolusioner makin mempercepat kehancuran pergerakan para anarkis dan sindikalis. Saat kaum anarkis dibuat berceceran di berbagai serikat buruh yang dikuasai Bolshevik, kekuatan anarko-sindikalis tak mampu menunjukkan perlawanan apa pun dan dibabat habis melalui politik tangan besi “Kediktatoran
Proletariat”.
Pada awal 1920-an hanya ada satu serikat pekerja di Moscow yang bertahan di jalur anarkosindikalis. Sebuah serikat pekerja pabrik pembuat roti, yang berorientasi anarko-sindikalis berkat upaya keras seorang kamerad bernama N.I. Pavlov. (yang kemudian harus menyangkal pandangan anarko-sindikalis-nya di bawah tekanan polisi rahasia Bolshevik, GPU), sebuah harga yang harus dibayar demi kebebasannya. Pavlov membuat pernyataan yang mengingkari pandangan anarkisnya saat dibebaskan dari penjara. Faktor yang berkontribusi dalam menyebarnya pengaruh anarko-sindikalis di serikat pekerja pembuat roti adalah melalui upaya para Maximalist, Niushenkov dan Kamyshev.
Pada Konvensi Kedua Serikat Pekerja Seluruh Rusia, delegasi serikat pekerja pembuat roti memasukkan faksi “federalis“ berjumlah 10 hingga 50-an orang, yang kemudian bertambah hampir sepertiga dari anggota serikat pekerja. Pada Konvensi tersebut, usaha pertama dilakukan untuk mengorganisir Federasi Revolusioner Pekerja Makanan bawah tanah (dilakukan oleh Maximoff, Niushenkov, Pavlov). Hal ini merupakan langkah awal guna membentuk Konfederasi Umum Buruh se-Rusia untuk buruh industri makanan. Langkah tersebut merupakan upaya keras yang dilakukan oleh Komite Eksekutif anarko-sindikalis Rusia untuk memperlihatkan poin-poin mendasar program mereka. Mengingat tindakan represi akan
segera dilancarkan Negara Bolshevik, komite250 komite pabrik beserta kamerad yang disebutkan di atas dan yang telah dipilih dalam pertemuan faksi, sama sekali tak punya kesempatan untuk bekerja meneruskan rencananya. Hal ini menjadi manifestasi hidup dari sebuah perjuangan kaum anarko-sindikalis di tengah kepungan serikat buruh Bolshevik.
SENTRALISASI DAN TEROR
Program pergerakan serikat pekerja Rusia yang diperkenalkan Bolshevik adalah seperti ini, Sentralisasi, keanggotaan yang sifatnya wajib, disiplin wajib dipaksakan melalui pengadilan disipliner, pengawasan kaum pekerja melalui partai politik (dalam hal ini partai Bolshevik), militerisasi para buruh, kerja ekstra para pekerja yang sifatnya wajib, mengikat keanggotaan para pekerja dengan tempat-tempat kerja mereka masing-masing, nasionalisasi produksi melalui manajemen satu orang yang ditunjukkan partai (sebagai ganti administrasi kolektif kaum pekerja), standarisasi upah (dibagi dalam 36 kategori), mengenalkan sistem kerja upah rendah, Taylorisme, pekerjaan diupah menurut hasil yang dikerjakan, pemberdian bonus, sistem premium, dan lain sebagainya. Kontrol dan manajemen para pekerja diharamkan dan pemaksaan mendukung pemerintah tanpa syarat.
Kebijakan dan berbagai program serikat pekerja ditentukan secara menyeluruh (hal ini masih berlangsung) oleh prosedur dan program
“Pemerintahan Bolshevik”. Saat ini, dan terus berlangsung bertahun-tahun, serikat pekerja ataupun Pusat Administratif tidak memiliki kesamaan apapun dengan massa proletariat. Mereka semua hanyalah cermin pemerintahan, yang harus memenuhi tuntutan pemerintah dengan mengorbankan kelas pekerja.
Negara Soviet terus memelihara metodemetode teroristiknya dalam menindas semua oposisi yang ada di serikat pekerja, menakar hukuman brutal kepada siapa pun yang melanggar surat keputusan pemerintah, yang tentunya berseberangan dengan para pekerja. Dengan mematuhi ini, serikat pekerja telah membuktikan diri sebagai salah satu agenagen represif pemerintah, berkolaborasi dekat dengan organ-organ penghukum yang dimiliki oleh Negara, seperti: Cheka, pengadilan rakyat, GPU,dan sebagainya.
Berikutnya adalah ilustrasi yang jitu dari diterapkannya kebijakan teroris terhadap para pekerja. Krasny Nobat dan Uralsky Rabochy melaporkan beberapa kasus berikut: karena selama tiga hari meninggalkan pabrik tanpa izin, seorang pekerja dihukum untuk membongkar muatan seberat 5.000 pound (2,5 ton) selama 3 hari. Kegiatan itu akan dilakukan setelah aktivitas kerja tetapnya. Banyak pekerja lain yang dihukum wajib penjara di tempat kerjanya untuk “kejahatan” yang sama karena telah absen selama hari kerja. Kebijakan yang memperbudak ini terus tumbuh subur, terutama di wilayah Ural, sepanjang masa administrasi Trotsky dan Piatakov.
Inspeksi pemerintah terhadap sanitasi dan kondisi-kondisi teknis berlaku di distrik pusat tambang batu bara menunjukkan gambaran yang mengerikan. Atas nama “persemakmuran bersama”, yang sebenarnya adalah keuntungan negara semata, para pekerja harus hidup bermil-mil jauhnya dari pertambangan dan dalam berbagai barak yang kondisinya menyedihkan, jauh dari kenyamanan, dimana pintu-pintu dan jendela sekali pun tak layak pakai. Di musim dingin barak-barak tersebut sulit memberi perlindungan dari cuaca beku dan angin sedingin es. Tanpa dilengkapi toilet, para pekerja terpaksa menggunakan tangki septik-tank di sekitar barak.
Para pekerja tambang diberi roti setengah pound (200 gram alias 0,2 kilogram) per hari — dengan syarat mereka harus memenuhi kuota kerja harian mereka. Gagal memenuhi itu, jatah makan mereka akan dikurangi. Sebagai tambahan, waktu lembur diperas dari para pekerja, yang dibayar dengan sarapan per hari. Para pekerja yang tak memenuhi aturan kerja akan tetap berada di tambang hingga mampu mencapai tugas harian mereka. Semua itu menunjukkan tirani zalim dan tindakan sewenang-wenang yang menjadi ciri administrasi pemerintah Bolshevik terhadap para pekerja. (Datadata tak dipublikasikan ini diperoleh dari reportase para dokter yang melakukan investigasi. Laporan tersebut dijaga kerahasiaannya di antara berbagai bukti lainnya di Departemen perlindungan pekerja, komisariat pekerja).
Kondisi semacam itu adalah hal umum dalam kehidupan para pekerja di Ural selama administrasi pemerintahan Bolshevik dipegang Trotsky dan Piatakov. Di perkebunan Izhevsk, seorang pekerja anarkis bernama Gordeyev ditembak karena gagal memenuhi disiplin kerja (lihat, Golos Rossiyi edisi awal tahun 1922, yang diterbitkan di Berlin). Di Ekaterinburg (kini Sverdlovsk) para pekerja percetakan uang dihukum kerja paksa, “kejahatan“ mereka adalah “pelanggaran disiplin perburuhan“.
Apa yang menjadi program para anarko-sindikalis, yang berbeda dengan “serikat-serikat pekerja Bolshevik” yang dikontrol negara? Singkatnya, keberadaan negara—sekalipun itu negara yang penuh kebaikan–adalah musuh kelas pekerja. Oleh karena itu, tugas pertama dari serikat-serikat pekerja adalah untuk membebaskan dirinya dari kurungan negara, dengan menekankan pentingnya organisasi Industrial. Untuk hal inilah para anarko-sindikalis membentuk berbagai program dan taktiknya di pergerakan serikat pekerja Rusia.
Tentang Penulis, Oleh RUDOLPH ROCKER: GREGORI PETROVICH MAXIMOFF lahir pada 10 November 1893, di desa Mitushino, provinsi bagian Smolensk, Rusia. Setelah menyelesaikan studi kependetaan, dia menyadari bahwa bidang tersebut bukanlah kegemarannya lalu pindah ke St. Petersburg, sampai dia menyelesaikan studinya sebagai seorang agronomist di Akademi Agrikultural pada tahun 1915. Dia lalu bergabung dengan pergerakan revolusioner dan jadi propagandis aktif selama masih menjadi mahasiswa. Setelah revolusi 1917 , dia bergabung dengan Tentara Merah. Ketika Bolshevik memakai tentara untuk bertugas sebagai polisi dan melucuti para senjata para pekerja, dia menolak untuk mematuhi perintah dan dijatuhi hukuman mati. Solidaritas buruh pabrik baja berhasil menyelamatkan nyawanya.
Dia menjadi editor surat kabar anarko-sindikalis yaitu Golos Trouda (suara buruh) dan Novy Golos Trouda (suara baru para buruh). Pada 8 Maret 1921, dia bersama kawannya yang lain ditangkap saat pemberontakan Konstadt terjadi dan dipenjarakan di penjara TagankaMoscow. Empat bulan kemudian dia ikut dalam aksi mogok makan selama 10 hari dan hanya intervensi sindikalis eropa, yang menghadiri kongres Internasional serikat pekerja merah, yang menjamin dia dan kawankawannya dari kemungkinan untuk diasingkan.
Dia pergi ke Berlin dan menjadi editor sebuah koran terbitan orang-orang sindikalis Rusia yang diasingkan, bernama Rabotchi Put (jalur para buruh). Tiga tahun setelahnya dia berangkat ke Paris, lalu ke Amerika Serikat dan menetap di Chicago. Di sana dia menjadi editor Golos Truzhenika (suara para pekerja) dan selanjutnya Dielo Trouda-Probuzhdenie (Kesadaran para buruh) sampai akhir hidupnya pada 16 Maret 1950. Berbagai tulisannya termasuk “The Guillotine at Work (1940)”, yang menjadi dokumentasi utuh sejarah teror Bolshevik selama 20 tahun di Rusia, menjadi kutipan dari pamflet yang ada sekarang, yaitu; Constructive Anarchism (1952) dan merupakan pilihan komprehensif dari tulisan-tulisan Michael Bakunin, The Political Philosophy of Bakunin -Scientific Anarchism (1953). Dua yang disebutkan terakhir dipublikasikan sebagai penghormatan.
Maximoff meninggal dalam masa jaya hidupnya, karena gagal jantung, dan semua yang beruntung telah mengenalnya turut berkabung. Dia bukan hanya seorang pemikir yang cemerlang, tetapi juga manusia yang
Kongres Anarkis Internasional Amsterdam
Kongres Anarkis Internasional Amsterdam berlangsung pada 24 Agustus hingga 31 Agustus 1907. Pertemuan mengumpulkan delegasi dari 14 negeri, di antaranya yang datang figur-figur terkenal dalam gerakan anarkis seperti Errico Malatesta, Luigi Fabbri, Benoît Broutchoux, Pierre Monatte, Amédée Dunois, Emma Goldman, Rudolf Rocker, Christian Cornélissen, dan sebagainya.
Organisasi Kongres
Anarkis Belgia dan Belanda menjadi inisiator kongres ini. Kelompok Belanda mengurusi pengorganisiran materi acara ini, sementara kelompok Belgia mengurus publikasi Bulletin of the Libertarian Internationale, dengan editor utama Henri Fuss. Pada bulan Desember 1906-Januari 1907, mereka meluncurkan memo seruan dalam tujuh bahasa, bagi terselenggaranya sebuah pertemuan internasional, yang turut ditandatangani oleh federasi-federasi anarkis di Belanda, Belgia, Jerman, Bohemia, London, (khususnya anarkis ber bahasa Yiddish*), namun memo tidak ditandatangani oleh seorangpun anarkis Prancis. Di Prancis, gerakan anarkis terbelah menjadi dua, yaitu, mereka yang menolak ide organisasi, dan karena itu menolak gagasan meng enai sebuah organisasi internasional, dengan mereka yang menaruh harapan pada serikat buruh, sehingga “mereka tengah sibuk di bidang lain”. Hanya 8 orang anarkis yang membantu di dalam kongres, termasuk Benoît Broutchoux, Pierre Monatte dan René de Marmande.
Kongres Amsterdam 1907
Berbagai tema dibahas di dalam kongres, khususnya mengenai organisasi di dalam gerakan anarkis dan sindikalisme. Hal lain termasuk pen didikan kerakyatan, fungsi pemogokan umum, dan anti militerisme–sebuah Kongres Anti-militerisme Internasional diselenggarakan secara bersamaan di Amsterdam saat itu. Betapapun, perdebatan yang paling penting adalah hubungan antara anarkisme dan sindikalisme. Pada akhirnya, sebuah resolusi disepakati, yang menyatakan bahwa “gagasan anarki dan organisasi, berkebalikan dari anggapan selama ini yang mempertentangkan keduanya, justru saling melengkapi dan memperkuat satu sama lain”. Pernyataan itu diakhiri dengan pernyataan perlunya “menciptakan organisasi-organisasi anarkis dan penggabungan ke dalam berbagai federasi dari kelompok-kelompok anarkis yang telah ada.”
Sebuah badan Anarkis Internasional didirikan, dengan sebuah biro internasional bera nggotakan lima orang (Errico Malatesta, Rudolf R ocker, Alexander Schapiro, John Turner dan Jean Wilquet), yang bertugas “melakukan penyusunan arsip gerakan anarkis internasional” dan “menyambungkan berbagai gerakan anarkis di berbagai negeri”. Biro ini berkedudukan di London, dan sebuah kongres diagendakan pada tahun 1909. Lembaga I nternasional ini hanya berhasil menamatkan 12 edisi t er bitan. Di akhir tahun 1911, biro London menghentikan segala aktivitasnya
Perdebatan antara Malatesta dan Monatte
Malatesta dan Monatte tidak bersepakat perihal beberapa hal seputar organisasi. Berpegangan pada Charter of Amiens tahun 1906, yang menyatakan netralitas ideologi serikat buruh dan posisi independen mereka dari partai politik, Monatte berpendapat bahwa sindikalisme, sebagaimana juga dipahami di Prancis, merupakan alat yang revolusioner, yang akan menciptakan prasyarat bagi sebuah revolusi sosial. Monatte membandingkan netralitas “model Prancis” ini dengan netralitas serikat buruh di Rusia atau Belgia atau Jerman atau dalam serikat-serikat buruh sosial demokrat.
Di pihak lain, Malatesta mengkritik Monatte, dengan menyatakan bahwa “sindikalisme s emata t idak cukup dan mampu menjadi alat revolusi sosial,” di saat bersamaan ia juga mendukung (sebagaimana Monatte) netralitas ideologi di dalam serikat buruh, dalam rangka tidak memecah belah gerakan buruh. Malatesta berpendapat bahwa serikat buruh adalah reformis dan bahkan bisa jadi bersifat konservatif. Bersama Cornélissen, dia mengutip c ontoh serikat buruh Amerika Serikat, dimana serikat buruh dengan anggota buruh-buruh trampil seringkali melakukan upaya mati-matian untuk mempertahankan status istimewa mereka ter hadap buruh-buruh non trampil. Menurut Malatesta, kaum anarkis juga harus membela Lumpen proletariat dan tak hanya berjuang untuk mem perbaiki kondisi perburuhan secara umum. Malatesta menekankan perbedaan kepentingan di dalam gerakan buruh itu sendiri. Bahkan dia berjalan lebih jauh sampai mengkritik perihal adanya kategori tegas kelas sosial: “Tidak ada kelas dalam pengertian saklek, karenanya tidak ada yang namanya kepentingan kelas. Di dalam ‘kelas’ pekerja pun, sama halnya di dalam kelas borjuis, terdapat kompetisi dan perjuangan.” Karenanya, dia berpendapat bahwa solidaritas kaum pekerja harus menciptakan cita-cita bersama, yang tidak bisa didapatkan di dalam kerangka serikat buruh profesional. Jika Monatte mengkritik bahaya birokratisasi serikat buruh, walau menekankan perlunya mempertahankan staf yang digaji di dalam serikat buruh, Malatesta secara kategori menolak sebuah legitimasi adanya anarkis yang digaji dan menjadi staf permanent di dalam serikat buruh.
Puncaknya, Malatesta mengkritik kepercayaan berlebihan terhadap pemogokan umum (general strike). Dia menyatakan pemogokan umum tidak dengan sendirinya meletuskan revolusi, sebuah proses yang menurutnya kemungkinan besar harus melewati sebuah pemberontakan bersenjata.
Warisan Kongres Anarkis Internasional Amsterdam
Menurut sejumlah pandangan, kedua visi organisasi gerakan pekerja di serikat buruhisme yang berbeda
ini kemudian menyatu menjadi gerakan anarko259 sindikalisme. Dia menggabungkan konsep serikat buruh dengan prinsip-prinsip anarkisme. Meski demikian, sindikalis Prancis, Monatte dan Robert Louzon terus berargumen bagi sebuah s erikat b uruh sindikalis revolusioner yang independen dari berbagai partai dan pengelompokkan politik. S ementara, Maletesta sendiri terus berpendapat melawan konsepsi kaum sindikalis atau konsepsi kaum anarko sindikalis mengenai sebuah serikat buruh revolusioner. Bagi Malatesta, serikat buruh harus terbuka bagi setiap pekerja, terbuka terhadap segala aktivitas pekerja untuk mempertahankan keadaan hidupnya , dan kaum anarkis harus bekerja di dalam serikat buruh seperti ini untuk mempengaruhi s eluas-luasnya lapisan pekerja, tanpa berusaha membuat serikat buruh tersebut menjadi sebuah organisasi anarkis.
PROFIL SINGKAT PENULIS
Mikhail Alexandrovich Bakunin (30 Mei 1814 Rusia – 1 Juli 1876, Bern, Swiss) merupakan seorang revolusioner anarkis asal Rusia, dan pendiri kolektivisme. Dia dipandang sebagai orang yang sangat paling berpengaruh di dalam aliran
anarkisme, dan sebagai pendorong utama tradisi “anarkis sosial”. Namanya menjulang sebagai aktivis politik, karena dia berjuang di berbagai negeri di Eropa barat, membuatnya menjadi ideolog terkenal dan memberi pengaruh yang besar di antara aktivis radikal di seluruh Eropa dan Rusia.
James Guillaume (16 Februari 1844 – 20 November 1916, di Paris) dilahirkan di London, Inggris. Dia tertarik terhadap ide-ide anarkis saat menjadi mahasiswa di Zurich, Swiss dan kemudian sebagai tukang cetak di Neuchatel. Dia menjadi anggota terkemuka di Federasi Jura, cabang Internasionale di Swiss. Karena keyakinan anarkismenya,
dia berkawan dengan Bakunin. Keduanya dikeluarkan dari Internasionale pada Kongres Hague tahun 1872. Selanjutnya, dia aktif dan turut membidani Internasionale Anarkis St.-Imier. Dia berperan besar menarik Kropotkin ke ide-ide anarkisme dan bekerja bersama melakukan agitasi anarkis di Swiss selama tahun 1870an. Di awal 1880an, Guillaume menarik diri dari aktivitas anarkis, dan aktif kembali dua puluh tahun kemudian di dalam gerakan buruh anarko-sindikalis. Karya tulis sepanjang empat volume selama periode terakhir itu, L´International: Documents et Souvenirs menjadi sumber informasi sangat penting dari sudut pandang anarkis terkait Internasionale Pertama. Guillaume juga mengedit Karya-karya Terpilih Bakunin yang diterbitkan di Prancis pada tahun 1907.
Emma Goldman (27 Juni 1869 di Rusia – 14 Mei 1940 di Toronto, Ontario, Kanada) merupakan seorang anarkis yang dikenal lewat aktivisme politik, tulisan dan pidato-pidatonya yang memikat. Dia memainkan peran penting dalam pembangunan filosofi politik anarkis di Amerika Utara dan Eropa di paruh pertama abad 20. Dia juga
dikenal sebagai penganjur hak-hak kaum perempuan dan dipandang sebagai salah satu pengagas aliran anarkafeminis di dalam kalangan anarkis.
Grigori Petrovitch Maximoff (10 November 1893 di Rusia – 16 Maret 1950 di Chicago, Amerika Serikat) merupakan seorang anarko-sindikalis kelahiran Rusia yang bergabung dalam, Nabat,
sebuah gerakan anarkosindikalis di wilayah Ukraina. Bersama sejumlah anarkis, dia ditangkap pada 8 Maret 1921 menyusul operasi penangkapan yang dilakukan badan intelijen partai Bolshevik, Cheka. Setelah sebuah aksi mogok makan oleh para tahanan politik menarik perhatian delegasi sindikalis yang sedang menghadiri pertemuan buruh di Rusia, Maximoff adalah salah satu dari 10 tahanan anarkis yang kemudian dibebaskan dan dideportasi dari Rusia.
Émile Pouget (12 Oktober 1860 di Prancis - 21 July 1931 di Prancis) merupakan seorang anarkis komunis Prancis yang mengadaptasi taktik yang mirip dengan anarkosindikalisme. Dia adalah pimpinan utama serikat buruh CGT - Confédération générale du travail dari tahun 1901 – 1908.
SUMBER TULISAN
Bakunin, Mikhail; 1866-1867. Pendirian Asosiasi Buruh Internationale. Dikutip dari berbagai manuskrip bagian dari buku “The Political Philosophy of Bakunin”, oleh G.P. Maximoff https://www.marxists.org/reference/archive/bakunin/works/various/ wrksint.htm Goldman, Emma; 1913. Sindikalisme, Ancaman Modern bagi Kapitalisme. http://dwardmac.pitzer.edu/Anarchist_Archives/goldman/syndicalism. html Guillaume, James; 1874-1876. Gagasan mengenai Organisasi Sosial. Ditulis Agustus 1874, Bakunin on Anarchy, diterjemahkan dan diedit oleh Sam Dolgoff, 1971 https://www.marxists.org/reference/archive/guillaume/works/ideas. htm http://libcom.org/library/basis-trade-unionism-emile-pouget
Bakunin, Mikhail; 7, 14, 21 dan 28 Agustus 1869. Kebijakan Asosiasi Buruh Internasionale, 1869. Diterbitkan pertama kali di L’egalite tanggal. Bakunin on Anarchy, diterjemahkan dan diedit oleh Sam Dolgoff, 1971. https://www.marxists.org/reference/archive/bakunin/works/1869/ policy-iwma.htm
Bakunin, Mikhail; 1871. Tiga Pidato Bakunin (dalam bahasa Prancis). http://www.panarchy.org/bakunin/troisconferences.html
Bakunin, Mikhail; 15-16 September 1872. Kongres Anti Otoritarian Internasional St.Imiers. http://www.panarchy.org/jura/saintimier.eng.html
Pouget, Emile Pouget; 1860-1931. Pondasi Serikat Buruh. Pamlet “Voice of Labour”, dipublikasi tahun 1908 oleh T.H. Keell, 127 Ossulston St., London, N.W.
Maximoff, G.P; (1893-1950). Kaum Sindikalis dalam Revolusi Rusia. Pamlet Direct Action No. 11, n.d. [awal tahun 1970an] http://libcom.org/library/syndicalists-in-russdian-revolution-maximov
Wikipedia; Jan 2016. Konggres Anarkis Internasional. https://en.wikipedia.org/wiki/International_Anarchist_Congress_of_ Amsterdam