Baca PDF (OCR): Bebas 4

16 halaman · teks PDF berhasil diekstrak tanpa OCR · 2.3 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. Apakah setelah perang mereka dapat menjamin bahwa tidak akan ada pembantaian lagi?
  2. Dimana rantai ditempa disitulah ia harus diputuskan.
  3. PORTO ALEGRE: BANDUNG DI MASA KINI?
  4. Anti-kapitalisme dan Kedaulatan Nasional
  5. Partai versus Jaringan
  6. [ manu Chao manu Chao manu Chao ]
  7. [Wawancara] [Wawancara]
  8. Realitas di balik Isu Pendatang Tanpa Izin
  9. (Catatan kaki)
  10. M U S U H P E R A D A B A N
  11. Siapakah Musuh Peradaban?
  12. Wis Cukup, yo, Wis Cukup, dab!!!

[email protected]

Apakah setelah perang mereka dapat menjamin bahwa tidak akan ada pembantaian lagi?

Kolektif arus bawah

Perang untuk keadilan?? Perang melawan terorisme? Tentunya hal ini adalah sebuah lelucon besar – atau Amerika mempunyai penyakit ingatan menahun. Semenjak dimulainya perang dingin sampai baru-baru ini kebijakan luar negeri Amerika merupakan kebijakan teror terhadap kemanusiaan dalam skala internasional. Sama buruknya adalah Saddam Hussain, diktator tangan besi yang pada awalnya juga mendapat restu Amerika untuk melakukan teror terhadap Iran dan etnis Kurdi di Irak.

Bagaimana juga Amerika dapat mengklaim bahwa mereka berperang untuk kebenaran sedangkan dalam beberapa perang Amerika, terbukti bahwa mereka telah melakukan serangan-serangan terhadap target penduduk sipil. Tentunya jika Amerika berperang untuk kemanusiaan, mereka tidak akan menyerang fasilitas sipil pada tahun 1991, atau pengeboman di Kosovo 1999, yang menyebabkan kondisi bertambah buruk bagi etnis Albania, dan baru-baru ini penyerangan sipil di Afganistan. Dan tentunya masih banyak lagi rentetan kejahatan perang Amerika terhadap kemanusiaan.

sebetulnya terjadi sebelum Agustus 1990 – yang termasuk invasi Irak ke Iran, pemakaian senjata kimia terhadap Iran dan etnis Kurdi di Irak dan kampanye Anfal yang menyerukan pembasmian massal etnis Kurdi – yang pada waktu itu masih direstui oleh Amerika.

Bagaimana dengan pembenaran Amerika bahwa perang di Irak adalah untuk membasmi terorisme. Saddam Hussain juga merupakan “sahabat” Amerika sebelum 1990, ketika Saddam masih mengakommodasi kepentingan-kepentingan Amerika. Amerika merupakan pihak yang mendukung Partai Ba’ath, pimpinan Saddam; selain juga memberikan Saddam daftar nama orang-orang komunis yang harus dibunuh (Andrew Cockburn and Patrick Cockburn, Out of the Ashes: The Resurrection of

Saddam Hussein, New York: HarperPerennial. 1999, hal. 74). Tindakantindakan Saddam Hussain yang paling brutalpun

Kemunafikan Amerika terlihat dengan jelas sekali dimana-mana. Jika memang orang Idnonesia tidak sakit ingatan, kita bisa melihat peristiwa dalam negeri - bagaimana Amerika memberikan restu dan dukungan senjata untuk pembunuhan massal yang dilakukan Suharto pada tahun 1965 dan semasa Indonesia menjajah Timor Leste

Bagaimana dengan reaksi (pemerintah) Indonesia, setelah kejadian pengeboman di Bali? Menteri pertahanan telah mengeluarkan resolusi anti terorisme, DPR sedang membahas

peraturan pemerintah pengganti undang-undang (PERPU) mengenai anti terorisme. Tentunya ini adalah sikap yang lucu, karena bagaimanapun peristiwa kekerasan (terorisme?) kerap terjadi di Indonesia, dan bahkan dalam skala yang hebat, dari apa yang terjadi di Bali. Ambil contoh, teror terhadap penduduk sipil Timor Leste, kerusuhan antar agama di Ambon yang memakan ribuan korban; kerusuhan Poso dalam jumlah ratusan. Bagaimana juga dengan teror terhadap etnis

Cina, pada Mei 1998. Belum ada satu kasuspun yang disebutkan di atas yang selesai dituntaskan pemerintah.

Dan kenapa koq sekarang, hanya karena dipicu oleh satu kasus pengeboman, pemerintah mengambil tindakan secara drastis, dengan pemutusan berbagai kebijakan anti terorisme.

Dimana rantai ditempa disitulah ia harus diputuskan.

Rosa Luxemberg

Selamatkan rakyat Iraq dan Amerika dari kebiadaban para pemimpinnya. Tak ada dukungan bagi pemimpin dan negara, dukung rakyatnya.

Teroris hanyalah sebuah cap yang diberikan; yang dapat diberikan oleh siapa saja kepada siapa saja. Dalam hal ini kita dapat melihat bahwa negara-negara yang sedang giat mengkampanyekan “perang melawan terorisme”, pada kenyataannya merupakan pihak-pihak yang paling banyak berperan dalam terorisme terlembaga pada skala yang lebih besar (misalnya dukungan Amerika terhadap penjajahan Indonesia di Timor Leste, Israel di Palestina, Turki yang membantai etnis minoritas Kurdi). Terorisme terlembaga yang dilakukan oleh berbagai negara nyatanya tidak pernah disebut sebagai terorisme; tentunya karena mereka menyamarkan teror tersebut dengan klise-klise seperti “demi bangsa”, “untuk kebenaran” dan samaran-samaran lainnya.

Benarkah kita hanya diberikan pilihan untuk mendukung salah satu dari dua kubu arus besar, yaitu “teroris” dan “pejuang anti teroris.” Namun, pada kenyataannya, kedua kubu yang sedang berkonflik tersebut, ternyata tidak ada satupun yang bukan teroris. Dan yang pasti setelah perang besar ini, mereka masih belum bisa menjamin bahwa dunia akan terbebaskan dari pembantaian.

Tidak mengherankan bahwa otoritas militer kita mengeluhkan tentang “kualitas buruk” mereka yang terdaftar pada institusi militer. Pengakuan ini merupakan suatu sinyal yang memberikan harapan. Ini membuktikkan bahwa masih ada semangat indipendensi dan kecintaan terhadap kebebasan yang masih tersisa pada rata-rata orang Amerika hingga mereka rela mengambil resiko kelaparan daripada harus memakai seragam tentara.” — Emma Goldman, Patriotism

http://www.indymedia.org. Ini situs berita yang paling independen. Di dalamnya kalian bisa temukan banyak hal yang tidak mau dan mampu diberitakan oleh media utama milik borjuis.

www.zmag.org. Silakan saja menyaksikan yang namanya arsip materi progresif. Bukan sembarang pengarsipan: penyusunan featurefeature yang rapih dan sistematis, kajian yang

serius, data dan informasi yang kredibel. Ada feature-feature menarik seperti "Fokus Chiapas", "Fokus Asia"Fokus bioteknologi". Wah pokoknya jangan ditanya soal komitmen mereka yang mengerjakan situs ini. ngomong-ngomong

mengenai kredibilitas, gerakan progressif nich ternyata sering juga nyantol di slogan tapi gak ada data valid. terlepas dari itu semua coba dech ngeliat...daripada ngunjungin situs bokep melulu...bukan gak boleh loh!

www.chumbawamba.org. Demi tuhan, aku gak berbohong kalau chumbawamba itu punya situs. oh ya, mereka adalah sekelompok anarkisanarkis edan yang punya nasib beruntung dapat kesempatan jadi bintang musik pop. lagu-lagu pop dengan lirik supersinis. situs ini yach..seperti

mereka itu..banyak sinisme, parodi dan sarkastis

Forum Sosial Dunia di Porto Alegre telah menjadi simbol dari upaya-upaya para pemimpin kekuatan reformis dan otoriter di kalangan kiri untuk merebut kepemimpinan dalam perlawanan terhadap globalisasi kapitalis. Upaya mati-matian mereka adalah mencegah agar massa akar-rumputnya tidak menjadi radikal di luar kontrol mereka. Michael Hardt menganalisis perdebatan-perdebatan yang terjadi, dan menyerukan agar kita datang ke sana dan—tanpa perlu bergabung dengan para organiser forum itu—langsung menghubungi dan meradikalisir rakyat di akar rumput.

PORTO ALEGRE: BANDUNG DI MASA KINI?

Oleh Michael Hardt

KETIMBANG mempertentangkan Forum Sosial Dunia di Porto Alegre dengan Forum Ekonomi Dunia di New York, adalah lebih membuka pikiran bila kita membayangkan Forum Sosial Dunia itu sebagai keturunan jauh dari Konferensi bersejarah di Bandung yang berlangsung di Indonesia pada tahun 1955. Forum di Porto Alegre dan Konferensi di Bandung keduanya dipahami sebagai upaya kontra terhadap tatanan dunia yang sedang dominan: kolonialisme dan Perang Dingin yang biner dalam kasus Bandung, dan kekuasaan globalisasi kapitalis dalam kasus Porto Alegre. Namun demikian, perbedaanperbedaan di antara keduanya segera nampak nyata. Di satu sisi, Konferensi Bandung, yang mempertemukan pemimpinpemimpin terutama dari Asia dan Afrika, menyingkap secara dramatis dimensi rasial dari tatanan-dunia kolonial dan Perang Dingin, yang oleh Richard Wright digambarkan sebagai terbagibagi berdasarkan tirai warna? Porto Alegre, sebaliknya, adalah sebuah acara yang dihadiri oleh mayoritas kulit putih. Relatif hanya ada sedikit peserta dari Asia dan Afrika, dan perbedaanperbedaan rasial dari bangsa Amerika secara dramatis kurang terwakili. Hal ini menunjukkan adanya sebuah tugas

berkelanjutan yang dihadapi oleh mereka yang berkumpul di

Porto Alegre: untuk mengglobalkan gerakan lebih jauh, baik di dalam masing-masing masyarakat maupun ke seluruh penjuru dunia—sebuah

proyek dimana Forum Porto Alegre itu baru merupakan satu langkah. Di sisi lain, kalau Konferensi Bandung diselenggarakan oleh sekelompok kecil pemimpin politik dan wakil-wakil

nasional, maka Forum di Porto Alegre ini dipenuhi

oleh multitude (kumpulan-aneka yang berhimpun—penerj.) yang berkerumun dan sebuah jaringan gerakan. Multitude protagonis ini adalah hal baru yang hebat dari Forum Sosial Dunia, dan memiliki arti sangat penting bagi harapan yang ditawarkannya untuk masa depan.

Kesan pertama dan yang dominan dari Forum ini adalah ukurannya yang sangat luas; orang yang hadir di sana tidak begitu banyak— para organisernya mengatakan bahwa ada 80.000 orang yang berpartisipasi—namun yang cukup banyak adalah jumlah acara, pertemuan, dan berbagai kejadian. Program yang mendata semua jadwal konferensi resmi, seminar dan workshop-workshop—yang sebagian besarnya berlangsung di kampus Universitas Katolik— panjangnya seukuran satu tabloid sendiri, namun orang segera menyadari bahwa ada pertemuan-pertemuan tak resmi lain yang tak terhitung banyaknya tengah berlangsung di seluruh penjuru kota itu; beberapa diantaranya menerbitkan poster dan selebaran, beberapa lainnya dengan kata-kata lewat mulut. Juga ada pertemuan-pertemuan tersendiri untuk kelompok-kelompok berbeda yang berpartisipasi dalam Forum itu seperti pertemuan gerakan-gerakan sosial Italia, atau pertemuan untuk berbagai seksi nasional dari ATTAC. Kemudian ada juga demonstrasidemonstrasi: baik yang direncanakan secara resmi seperti demonstrasimassal pembukaan May Day yang bergaya parade, maupun yang lebih kecil seperti demonstrasi-demonstrasi konfliktual menentang, misalnya, para anggota parlemen dari negeri-negeri berbeda di Forum itu yang memberikan suaranya untuk perang terhadap terorisme yang kini sedang digencarkan. Yang terakhir, serangkaian acara lain juga digelar pada perkemahan besar kaum muda di tepi sungai—lahan yang digunakan sangat luas, dan lingkungan dengan bentangan tenda-tenda yang menaungi 15.000 orang itu mengingatkan pada festival musik musim panas, terutama ketika turun hujan dan setiap orang berjalan kaki melewati lumpur sambil mengenakan kantong-kantong plastik untuk jas hujan. Singkat kata, jika siapapun dengan kecenderungan yang obsessif berusaha untuk memahami apa yang sedang terjadi di Porto Alegre, maka hasilnya tentu adalah sebuah frustrasi mental total. Forum ini tak sepenuhnya terpahami, kacau, bersebaran. Dan keberlimpahan itu menciptakan suatu keceriaan pada setiap orang, yakni ketika tenggelam dalam lautan manusia dari begitu banyak belahan dunia yang tengah bekerja secara serupa untuk menentang bentuk globalisasi kapitalis masa kini.

Perjumpaan yang terbuka ini merupakan unsur terpenting dari Porto Alegre. Meski Forum ini terbatas dalam beberapa hal penting— misalnya secara sosial dan geografis, untuk menyebut dua di antaranya— namun ia merupakan sebuah peluang untuk lebih jauh meng-global-kan siklus perjuangan-perjuangan yang telah membentang dari Seattle ke Genoa, yang dilakukan oleh sebuah jaringan gerakan, sejauh ini dengan mempertimbangkan segala faktor, ke Atlantik Utara. Berkutat dengan banyak dari isu-isu sama seperti yang diangkat oleh kumpulan-kumpulan di tempat lain dalam menentang bentuk globalisasi kapitalis masa kini, ataupun kebijakan institusional yang spesifik seperti kebijakan-kebijakan IMF, gerakan-gerakan itu sendiri tetap saja terbatas.

Menyadari kesamaan proyek mereka dengan proyek-proyek lain di belahan-belahan dunia lainnya adalah langkah pertama ke arah perluasan jaringan gerakan, atau penghubungan satu jaringan dengan lainnya. Kesadaran ini sesungguhnya adalah alasan pokok untuk terciptanya suasana yang ceria dan meriah di Forum itu.

Namun demikian, perjumpaan ini hendaknya mengungkap serta merujuk tak hanya proyek-proyek dan keinginan-keinginan yang sama, tetapi juga perbedaan-perbedaan di antara mereka yang terlibat—perbedaan dalam hal kondisi-kondisi material dan orientasi politik. Berbagai gerakan di seluruh penjuru dunia tidak bisa begitu saja terhubung satu sama lain seperti apa adanya, melainkan harus ditransformasikan oleh perjumpaan tersebut lewat semacam pencukupan mutual (saling mencukupi). Mereka yang datang dari Amerika Utara dan Eropa, misalnya, tak bisa lain kecuali tertohok oleh perbedaan mencolok antara pengalaman mereka dan pengalaman buruh tani serta kaum miskin pedesaan di Brasil, yang paling kuat direpresentasikan oleh MST (Gerakan Masyarakat Tak Punya Tanah)—dan begitu pula sebaliknya. Transformasi macam apa yang diperlukan bagi gerakan-gerakan globalisasi Ero-Amerika dan gerakan-gerakan Amerika Latin, bukan untuk menjadi sama, atau bahkan bersatu, melainkan agar bisa saling menjalin hubungan dalam sebuah jaringan sama yang meluas? Forum itu menyediakan peluang untuk mengenali perbedaanperbedaan dan persoalan-persoalan seperti itu bagi siapa yang mau melihatnya, namun tidak menyediakan kondisi-kondisi untuk merujuk berbagai perbedaan dan persoalan tersebut. Kenyataannya, justru kualitas yang bersebaran dan berlimpah dari Forum tersebut, yang telah menciptakan eforia kesamaan, ini juga-lah yang secara efektif menggantikan ajang dimana perbedaan-perbedaan dan konflik-konflik seperti itu seharusnya bisa terkonfrontir.

Anti-kapitalisme dan Kedaulatan Nasional

Dalam hal ini, Forum Porto Alegre barangkali terlalu ceria, terlalu meriah dan tidak cukup konfliktual. Perbedaan politik paling penting yang membelah keseluruhan Forum adalah mengenai peran kedaulatan nasional. Sesungguhnya ada dua sikap pokok dalam hal tanggapan terhadap kekuatan-kekuatan globalisasi yang kini dominan: mungkin orang bisa bekerja untuk memperkuat kedaulatan negara-negara bangsa sebagai suatu perintang defensif terhadap kontrol modal asing dan modal global, atau orang bisa berjuang menuju sebuah alternatif non-nasional bagi bentuk globalisasi yang kini ada, yakni mengupayakan terwujudnya hubungan global secara sederajat. Sikap pertama memposisikan neoliberalisme sebagai kategori analitis pokok, dengan memandang musuh ini sebagai aktivitas kapitalis global yang tak terbatas dengan kontrol negara yang lemah; sikap kedua menempatkan diri secara lebih tegas menentang modal itu sendiri, baik modal yang diatur oleh negara maupun yang tidak. Yang pertama tadi barangkali memang tepat disebut sebuah sikap anti-globalisasi, sejauh kedaulatan-kedaulatan nasional, kendatipun jika dihubungkan oleh solidaritas internasional, berfungsi untuk membatasi dan mengatur kekuatan-kekuatan globalisasi kapitalis. Dengan demikian, bagi sikap ini pembebasan nasional tetap merupakan tujuan akhir, seperti halnya bagi perjuangan-perjuangan antikolonial dan anti-imperialis yang lama. Sikap kedua, sebaliknya, menentang solusi nasional apapun dan, sebagai gantinya, berupaya mewujudkan sebuah globalisasi yang demokratis.Sikap pertama menempati ruang

yang paling terlihat jelas dan paling dominan di Forum Porto Alegre; sikap ini direpresentasikan dalam sesi-sesi paripurna besar, yang diulang-ulang oleh para juru bicara resmi dan diberitakan di pers. Penyokong kunci untuk sikap ini adalah jajaran pimpinan Brazilian PT (Partai Pekerja)—yang sesungguhnya adalah tuan rumah dari Forum ini, karena PT menjalankan kota dan pemerintahan regional. Adalah jelas dan tak terhindarkan bahwa PT akan menduduki ruang sentral dalam Forum itu dan menggunakan prestise internasional dari acara tersebut sebagai bagian dari kampanyenya untuk pemilihan-pemilihan mendatang. Suara kedua yang cukup dominan berkenaan dengan kedaulatan nasional adalah jajaran pimpinan ATTAC dari Perancis, yang telah meletakkan dasar-dasar bagi Forum itu di halaman-halaman Le Monde Diplomatique. Dalam hal ini, jajaran pimpinan ATTAC sangat dekat dengan banyak politisi Perancis—yang paling terkemuka adalah JeanPierre Chevènement—yang menyokong penguatan kedaulatan nasional sebagai sebuah solusi bagi tidak sehatnya globalisasi kontemporer. Hal ini, bagaimanapun yang terjadi, adalah gambaran-gambaran yang mendominasi Forum itu baik secara internal maupun yang nampak di pers.

Sikap globalisasi alternatif yang non-kedaulatan, sebaliknya, merupakan minoritas di Forum itu—bukan dalam hal kuantitatif, melainkan dalam hal representasi; kenyataannya, mayoritas peserta di Forum itu agaknya justru menempati posisi minoritas ini. Pertama, berbagai gerakan yang telah melakukan aksi-aksi protes dari Seattle sampai Genoa umumnya diorientasikan ke arah solusi-solusi nonnasional. Sesungguhnya, struktur tersentralisir dari kedaulatan negara itu sendiri berjalan bertentangan dengan bentuk-jaringan horisontal yang telah dikembangkan oleh gerakan-gerakan tersebut. Kedua, gerakangerakan rakyat Argentina yang tumbuh secara pesat menanggapi krisis keuangan sekarang ini, yang terorganisir dalam majelis-majelis delegasi skala wilayah dan kota, secara serupa juga bertentangan dengan usulanusulan kedaulatan nasional. Slogan-slogan mereka menyerukan agar rakyat melepaskan diri bukan hanya dari satu politisi, melainkan dari semua politisi—que se vayan todos: keseluruhan kelas politik. Dan yang terakhir, di tingkat basis dari berbagai partai dan organisasi yang hadir di Forum itu, sentimennya jauh lebih keras menentang usulan-usulan kedaulatan nasional ketimbang yang di tingkat puncak. Ini secara khusus barangkali memang berlaku untuk ATTAC, sebuah organisasi cangkokan yang pemimpinnya, khususnya yang di Perancis, bergaul dengan parapolitisi tradisional, sedangkan kaki-kakinya menancap kuat dalam gerakan-gerakan.

Karena itu, pembagian antara sikap anti-globalisasi dengan perspektif kedaulatan dan sikap globalisasi alternatif yang non-kedaulatan tidaklah paling tepat dipahami secara geografis. Ia tidaklah memetakan pembagian antara Utara dan Selatan atau antara Dunia Pertama dan Dunia Ketiga. Konflik ini agaknya justru lebih tepat masuk dalam pembagian dua bentuk organisasi politik yang berbeda. Partai-partai tradisional dan kampanye-kampanye tersentralisir umumnya menempati kutub kedaulatan nasional, sedangkan gerakan-gerakan baru yang terorganisir dalam jaringan-jaringan horisontal cenderung untuk berkerumun di kutub non-kedaulatan. Dan lebih jauh lagi, di dalam organisasi-organisasi tradisional yang tersentralisir, jajaran puncaknya cenderung ke arah kedaulatan, sedangkan basisnya menjauh dari kedaulatan. Tidak mengherankan, barangkali, bahwa pihak-pihak yang berada di posisi pemegang kekuasaan akan jadi paling tertarik pada kedaulatan negara, dan pihak-pihak yang disingkirkan paling tak tertarik pada kedaulatan negara. Hal ini mungkin bisa membantu menjelaskan, di segala aspeknya, bagaimana sikap anti-globalisasi dengan perspektif kedaulatan nasional bisa mendominasi representasi Forum tersebut meski mayoritas peserta lebih cenderung kepada perspektif globalisasi alternatif yang non-nasional.

Sebagai ilustrasi konkret tentang perbedaan politik dan ideologi ini, orang bisa membayangkan tanggapan-tanggapan terhadap krisis ekonomi yang kini terjadi di Argentina, yang secara logis merupakan kelanjutan dari masing-masing sikap ini. Memang krisis itu membayangi keseluruhan Forum, seperti pertanda bahaya tentang sebuah rantai bencana ekonomi yang akan datang. Sikap pertama akan menunjuk pada fakta bahwa bencana Argentina disebabkan oleh kekuatan-kekuatan modal global dan kebijakan-kebijakan IMF beserta lembaga-lembaga supranasional lainnya yang merongrong kedaulatan nasional. Dengan demikian, tanggapan oposisional yang logis kemudian adalah memperkuat kedaulatan nasional Argentina (serta negara-negara bangsa lainnya) dalam menghadapi kekuatankekuatan eksternal yang melakukan destabilisasi ini. Sikap kedua akan mengidentifikasi adanya sebab-sebab yang sama

atas terjadinya krisis ini, namun menekankan bahwa solusi nasional tidaklah mungkin dan tidak dikehendaki. Alternatif terhadap kekuasaan modal global beserta lembagalembaganya hanya akan didapati pada suatu level yang global secara setara, dengan sebuah gerakan demokratik global. Percobaanpercobaan praktis dalam hal demokrasi yang kini tengah berlangsung di tingkat wilayah dan kota di Argentina, misalnya, menempatkan suatu kontinyuitas yang diperlukan antara demokratisasi Argentina dan demokratisasi sistem global. Tentu saja tak satupun dari perspektif-perspektif ini menyediakan suatu resep yang memadai bagi solusi segera untuk krisis ini, yang akan mampu menghindarkan resep-resep IMF—dan saya tidak yakin solusi seperti itu ada. Perspektif-perspektif ini, lebih tepatnya, menyajikan strategi-strategi politik yang berbeda untuk tindakan di masa sekarang ini yang berupaya, dalam perjalanan waktunya, untuk mengembangkan alternatif-alternatif bagi bentuk kekuasaan global yang kini berlaku.

Partai versus Jaringan

Dalam periode terdahulu, kita bisajadi telah mencapai tahap sebuah konfrontasi ideologis gaya lama di antara kedua sikap tadi. Sikap pertama bisa saja menuduh sikap kedua sebagai bermain-main ke dalam tangan neoliberalisme, merongrong kedaulatan negara dan membuka jalan bagi globalisasi lebih jauh. Politik, lanjut sikap pertama tadi, hanya bisa dijalankan secara efektif di lingkup nasional dan di dalam negara-bangsa. Dan sikap kedua bisa saja menjawab bahwa rezim-rezim nasional serta bentuk-bentuk kedaulatan lainnya, yang seperti biasanya berwatak korup dan menindas, melulu merupakan penghambat bagi demokrasi global yang kita upayakan. Namun demikian, jenis konfrontasi ini tidak bisa terjadi di Porto Alegre—sebagian dikarenakan sifat bersebaran dari acara itu, yang cenderung menggantikan konflik, dan sebagian karena sikap kedaulatan begitu berhasil menempati representasirepresentasi sentral sehingga tidak ada tandingan yang mungkin.

Tetapi alasan yang lebih penting untuk kurangnya konfrontasi bisajadi ada hubungannya dengan bentuk-bentuk organisasi yang cocok dengan kedua sikap tersebut. Partai-partai tradisional dan organisasi-organisasi yang tersentralisir memiliki para juru bicara yang mewakili mereka dan melakukan pertempuran-pertempuran mereka, namun tak seorang pun bicara untuk sebuah jaringan. Bagaimana pendapat anda tentang sebuah jaringan? Gerakan-gerakan yang mengorganisir di dalam mereka memang mengerahkan kekuatannya, tetapi mereka tidak berproses melalui oposisi-oposisi. Salah satu ciri dasar dari bentuk jaringan adalah bahwa, tidak ada dua titik yang saling berhadapan dalam keadaan kontradiksi; melainkan selalu ditriangulasi oleh pihak ketiga, dan kemudian pihak keempat, dan kemudian oleh jumlah tak terbatas pihak-pihak lain di situs internet. Ini merupakan salah satu ciri dari kegiatankegiatan di Seattle, hal mana kita memiliki pemahaman yang paling kacau: kelompokkelompok yang kita kira berada dalam kontradiksi obyektif terhadap satu sama lain— kelompok environmentalis dan serikat buruh, kelompok gereja dan kelompok anarkis—tibatiba bisa bekerja bersama dalam konteks jaringan multitude. Gerakan, bila kita ambil satu perspektif yang agak berbeda, berfungsi agak menyerupai suatu lingkungan publik, dalam

hal bahwa gerakan bisa memperbolehkan pengungkapan penuh perbedaan-perbedaan dalam konteks bersama berupa pertukaran yang terbuka. Tetapi itu tidak berarti bahwa jaringan bersifat pasif. Jaringan menggantikan kontradiksikontradiksi, dan kemudian mengoperasikan semacam proses kimiawi, atau, lebih tepatnya, suatu perubahan seperti laut— aliran gerakan mentransformasikan sikap-sikap baku yang tradisional; jaringan mendesakkan kekuatannya melalui semacam arus bawah yang tak bisa ditolak.

Seperti halnya Forum itu sendiri, multitude dalam gerakan selalu membanjir, sangat meluap dan tak diketahui. Tentu saja kemudian menjadi penting, di satu sisi, untuk mengenali perbedaan-perbedaan yang membagi para aktivis serta politisi yang berkumpul di Porto Alegre. Akan jadi keliru, di sisi lain, bila kita coba membaca pembagian ini menurut model tradisional konflik ideologi di antara pihak-pihak yang saling bertentangan. Perjuangan politik di masa gerakanjaringan tidak lagi berjalan seperti itu. Meski ada kekuatan nyata dari pihak-pihak yang menduduki panggung sentral dan mendominasi representasi-representasi di Forum itu, mereka pada akhirnya bisajadi akan terbukti kalah. Barangkali para wakil dari konferensi, namun mereka tidak pernah mampu mencengkeram kekuatan demokratik dari gerakan. Pada akhirnya mereka juga akan tersapu dalam multitude, yang mampu mentransformasikan semua unsur yang baku serta tersentralisir menjadi begitu banyak lagi titik dalam jaringan luasnya yang tak terbatas.

Sumber: New Left Review 14 (Maret-April 2002). Naskah-naskah terdahulu dalam rangkaian ini adalah tulisan Naomi Klein, ‘Reclaiming the Commons’ (NLR No. 9), Subcomandante Marcos, ‘The Punch Card and the Hourglass’ (NLR No. 9), John Sellers, ‘Raising a Ruckus’ (NLR No. 10), José Bové, ‘A Farmers’ International?’ (NLR No. 12) dan David Graeber, ‘The New Anarchists’ (NLR No. 13).

[ manu Chao manu Chao manu Chao ]

a] Ketahui saja bahwa band ini manggung di Genoa, selama protes menentang KTT G8, menyumbangkan dana untuk pergerakan Tentara Pembebasan Nasional Zapatista (EZLN) dan bermain dalam aksi pemogokan buruh. Mereka adalah band yang mendapat sukses besar di Eropa dan Amerika Latin…ooh…tapi mereka juga yang melakukan tur dengan kapal laut…bermain di jalanan setelah konser resmi mereka… dan mengelola band mereka sebagai kolektif tanpa manajer. Berikut ini adalah profil mengenai Manu Chao… Setelah album terakhirnya (Proxima Estation: Esperanza) keluar selama beberapa tahun, aku baru saja melihatnya beredar di Indonesia, jadi terserah, mau ngapain kalau kalian melihat kaset Manu Chao di toko-toko...dicuri atau dibeli..tergantung kondisi tentunya…

[b] Chao seorang pengembara dunia tulen, menularkan nuansa pengembaraan pada musiknya. Mendengar Manu Chao seakan kita ikut dalam dalam sebuah pengembaraan. Lagu-lagu Manu Chao dilantunkan dalam bahasa-bahasa Inggris, Spanyol, Prancis, Arab, Portugis dan bahkan Portunal (bahasa campuran antara Portugis dan Spanyol, yang diciptakan penduduk yang menetap di perbatasan – “lokasi favoritku” kata

Chao). Melalui pendekatan yang berbeda dalam hal penulisan lagu dan rekaman, Manu Chao menciptakan dan melantunkan lagu-lagunya berdasarkan bahasa dimana lagu itu ditulis. Itu adalah alasan mengapa begitu banyak lagu-lagunya dalam albumnya terdahulu ditulis dalam bahasa Spanyol, dan pada album berikutnya, dalam bahasa Portugis karena “aku menghabiskan banyak waktuku di Rio dan Brasil Utara” seperti dikatakan Chao. “Aku tidak suka menulis lagu hanya karena aku berada di sebuah negara, aku harus mampu menguasai kata-kata dan slang-nya.”

[c] Terinspirasikan dengan pengembaraannya penyanyi tersebut menemukan kembali

harapan, yang sebelumnya telah hilang. “Aku masih merasakan kehilangan. Tidak ada yang benar-benar telah berubah. Aku pikir situasi bertambah buruk di mana-mana. Ada sesuatu yang baru yang sangat penting, dan itu bukan hanya pada tahun ini. Selama beberapa tahun hal itu telah sampai pada kesadaran internasional, keadaan tidak bisa berlanjut seperti apa adanya. Itulah mengapa aku menamakan album ini Esperanza (Harapan). Setiap orang harus memahami bahwa situasi harus berubah – orang-orang di kota, nelayan dan mereka yang berada di getto.”

[d]”Band kami tidak pernah tour lebih dari dua bulan. Setelah dua bulan kami selalu membubarkan diri, agar band kami tetap segar. Dan jika setiap orang ingin memulai lagi, kami akan mengulanginya dari awal. Jadi setiap tour adalah yang terakhir.”

[e] “Band ini tidak pernah berhenti,” dia melanjutkan. “Kami bermain musik 24 jam sehari. Apa yang kami anggap sebagi pertunjukan kurang-lebih berlangsung selama dua setengah jam, namun kemudian kami akan

bermain di jalanan. Secara pribadi, saya memerlukan satu jam untuk beristirahat, namun pemain akordian dan gitaris kami selalu bermain di luar jalanan di lokasi manggung setelah pertunjukan usai. Kemudian kami akan pergi ke bar, menikmati koktail dan bermain lagi. Di situlah tempat dimana kami bertemu orang-orang dan musisi-musisi baru di setiap negara. Aku

pikir ketika anda melakukan tur, sangatlah penting untuk berbagi dengan orang lain. Kami membawa sesuatu, tapi kami juga membutuhkan sesuatu. Anda harus meluangkan waktu di setiap negeri. Itulah mengapa di selasela pementasan resmi, kami meminta waktu luang tiga atau lima hari - untuk para pelajar Chiapas yang sedang melakukan protes, untuk buruh yang sedang mogok di Uruguai, di sebuah penjara di Cili dan untuk komunitas-komunitas suku Indian di mana-mana. Dengan cara seperti ini, anda dapat bertemu dengan banyak orang.”

[f]Sebagai sebuah kolektif, tanpa manajer, tentunya bukan suatu cara yang baik untuk mendapatkan sukses internasional – percobaan mereka untuk menembus Amerika tidak berhasil – Amerika belum dapat menerima nuansa musik mereka. Namun Eropa dan Amerika Selatan mencintai mereka. Pada tahun 1992, mereka memulai sebuah tur yang kelihatannya aneh, dengan menumpang kapal barang, bersama aktor-aktor dan kelompok sirkus, bermain di pelabuhan-pelabuhan di pulau-pulau Atlantik dan Pasifik.

Di tahun 1995, Chao dan band-nya pindah ke Spanyol, dimana dia juga memulai sebuah band lainnya yaitu Radio Bemba Sound System, yang di dalamnya termasuk personel dari Mano Negra. Chao kemudian kembali ke Amerika Selatan dan Tengah. Selama beberapa tahun dia bertualang dengan gitarnya dan alat rekam empat trek. Koleksi lagu-lagu yang dihasilkan selama petualangannya diluncurkan pada tahun 1998 (1999 di Amerika) dengan judul Clandestino. Album tersebut mendapat sambutan yang biasa-biasa saja pada awalnya, namun kemudian menjadi semakin populer – dan kemudian menemukan relungnya pada lingkar musik Latin Alternatif yang sedang mengalami perkembangan pesat (meskipun syair-syairnya merupakan campuran antara Inggris, Prancis dan juga Spanyol). Pada pertengahan tahun 2001 Manu Chao meluncurkan album Proxima Estacion: Esperanza, yang menunjukkan pengaruh nuansa musik Karibean.

Menjadi bebas dengan menghormati orang lain

[Wawancara] [Wawancara]

[i] Chao, yang bernama asli Oscar Tramor, dilahirkan pada 26 Juni 1961 di Paris. Orang tuanya - bapaknya Clandestino Ramon Chao, adalah seorang penulis besar dari Galicia, ibunya dari Bilbao. Tumbuh dalam lingkungan dwi bahasa, dia banyak terpengaruh dengan scene punk Inggris. Dia sempat terlibat dalam beberapa band, termasuk Les Hot Pants yang bermain musik rock, yang sempat mendapatkan sambutan baik dari kritikus di tingkatan lokal. Setelah itu Chao dan sepupunya memulai sebuah band, Mano Negra, nama yang diadopsi dari sebuah organisasi anarkis di Spanyol. Mereka sempat merekam single, “Mala Vida,” untuk sebuah perusahaan rekaman kecil. Kesuksesan awal di Prancis mengantarkan mereka pada sebuah kontrak rekaman dengan Virgin – sesuatu yang dianggap sebagai selling out oleh fans mereka.

Chao, kemudian memulai Manu Chao, band yang bercirikan multi bahasa dan multi kultural, dengan pengaruh besar dari band punk rock legendaris Clash.

Sejak pembubarannya di tahun 1994, anda dapat dimaafkan jika anda mempercayai bahwa semua anggota band tersebut telah menghilang. Penyanyi Manu Chao telah muncul kembali dan sekarang merupakan superstar di Eropa dan Amerika Latin. Dengan dua album solonya, Clandestino, pada tahun 1998 dan Proxima Estation: Esperanza (Stasiun berikut : Harapan), pada tahun 2001, dia telah merintis wilayah musik dengan keunikan yang brilian. Mano Negra menolak mengikuti aturan main rock korporat – mereka merekrut pengamen sebagai anggota band, melakukan tur Amerika Latin dengan kapal barang dan menghancurkan sebuah stasiun TV di Argentina ketika mereka diminta untuk memberikan definisi anarkisme dan menjelajahi Kolombia dengan kereta (bernegosiasi dengan kelompok-kelompok gerilya dan tentara dimana mereka dapat bermain) – Manu Chao kelihatannya tidak juga tertarik untuk menjual dirinya pada MTV.

[?] Anda bermain dalam konser gratis pada protes menentang G8 di Genoa, sehari sebelum semuanya meledak. Bagaimana pandangan anda mengenai gerakan anti globalisasi?

: aku sepenuhnya mendukung gerakan anti globalisasi. Aku menyumbangkan royalti pada Zapatistas di Chiapas dan aku tidak mempercayai politisi – anda harus bertindak pada lingkungan di sekitar. Namun hal yang terakhir yang dibutuhkan gerakan adalah dengan mengangap orang seperti ku sebagai pemimpin mereka. Menghindari ikon-ikon dan mentalitas pengikut adalah hal-hal yang membuat gerakan menarik.

[?]Anda pertama terkenal bersama Mano Negra, yang sering dianggap sebagai Clash dari Perancis, dan musik anda pada waktu itu lebih bernuansa rock. Apa yang mendorong anda untuk merubah dan mengadopsi hibrida antara Latin dan reggae ?

: Ketika Mano Negra melakukan tour di Amerika Latin, kami menemukan bahwa masyarakat setempat seringkali tidak menyukasi ketukan rock dan aku ingin menciptakan musik yang dapat menarik orang-orang di luar lingkungan musik rock. Musik ska disukai dimana-mana dan digunakan oleh banyak band Amerika Latin dan merupakan musik yang mudah untuk diikuti dengan goyangan. Juga, dengan Mano Negra, kami harus masuk studio rekaman selama dua bulan untuk merekam sebuah album, tetapi sekarang teknologi memungkinkan aku untuk membawa studio seperti sebuah koper. Aku telah melakukannya - menetap selama beberapa waktu di Brasil, Madrid, Meksiko, di Afrika Utara dan Barat dan ketika aku mengembangkan lagu-lagu, aku juga dapat merekam suara di lingkungan setempat.

[?]Di Inggris, anda dipromosikan sebagai World Music artist. Bagaimana pendapat anda mengenai cap yang demikian? : Itu adalah cap yang malas. Maksudku, aku ingin menjangkau semua orang, namun musikku spesifik pada bagian dunia dimana aku berpijak. Aku akan beritahukan definisiku mengenai World Music, dan itu adalah Bob Marley. Kemanapun anda pergi di dunia, anda akan selalu mendapatkan orang-orang yang mendengar musik Bob Marley karena dia adalah seorang musisi yang dicintai setiap orang. Ketika Mano Negra bermain di Kolombia, kami berhadapan dengan penonton yang tidak menyukai rock, hal itulah yang menyebabkan aku mengadopsi nuansa reggae. Orang-orang dimanapun kelihatannya suka dengan musik itu.

[?] Mano Negra mempunyai pengikut setia yang cukup besar: apakah yang menurut anda menyebabkan album anda mendapatkan popularitas yang besar? : Tidak ada jawaban tunggal untuk itu, dan sejujurnya, semuanya adalah kejutan. Aku merasa pada awalnya, penerimaan Clandestino yang lebih luas disebabkan oleh mereka yang memainkan album itu yang membantu orang lain untuk mendengarnya. Orang-orang yang mengembara, para backpackers, mereka mendengarkannya dengan cara itu dan mereka mulai meminkannya. Jadi itu semua terjadi

[?] Anda mengklaim bahwa anda tidak mempunyai rencana selain menyelesaikan tur ini. Apakah yang dapat kami harapkan kemudian dari Manu Chao?

: Jangan berharap apapun. Aku dapat menghilang selama enam tahun. Aku serius! Aku menikmati kesuksesan, tapi aku tidak ingin menjadi seorang penghibur yang terjebak dalam kepopulerannya. Ketika tur ini berakhir, aku tidak mempunyai rencana apapun kecuali untuk mengembara lagi. Mengembara adalah guru yang yang paling baik dan aku ingin menjelajahi India dan Afrika. Ketika kami, Mano Negra, bermain di Kolombia, semua penonton mempunyai pistol, dan jika mereka merasa bahwa anda tidak menghormatinya, anda akan dibunuh. Realita seperti itulah yang mengajarkan anda untuk menyesuaikan musik dengan budayanya.

Peristiwa diusirnya ribuan pekerja Indonesia (TKI) oleh pemerintah Malaysia, hingga kemudian terlunta-lunta bertahan di Nunukan (Kalimantan Timur), mengundang keprihatinan, amarah dan tanda tanya besar di benak kita. Mengapa hal seperti ini bisa terjadi? Di bawah ini adalah cuplikan dari tulisan seorang warga Malaysia (juga merupakan anggota Partai Pekerja Sosialis/SWP Inggris) tentang berbagai permasalahan seputar pekerja migran.

Realitas di balik Isu Pendatang Tanpa Izin

Oleh: Muhammad Salleh (September 2002)

MIGRASI tenaga kerja internasional bukanlah fenomena baru, begitu pula dengan kemunafikan dan kampanye menentang fenomena ini. Hampir semua negeri di Asia kini menerima tenaga kerja asing, ataupun mengirim tenaga kerja ke luar negeri, terutama untuk mengisi kekurangan tenaga kerja dalam pekerjaan-pekerjaan tertentu. Bahkan, ekspor tenaga kerja kini menjadi sumber pendapatan yang penting bagi negara-negara miskin. Organisasi Buruh Internasional (ILO) memperkirakan bahwa kini terdapat lebihkurang enam juta pekerja Asia yang bekerja di luar negeri, dengan sebagian besarnya meninggalkan negeri asal mereka tanpa izin (Jakarta Post, 3 Maret 2000).

Kemerosotan ekonomi di Asia Timur pada tahun 1997 dan 1998, serta gejolak ekonomi yang terjadi sekali lagi pada tahun 2002, telah menyebabkan pesatnya pertumbuhan jumlah pekerja asing di kawasan Asia. Misalnya, pada tahun 1998, diperkirakan terdapat satu juta pekerja migran di Thailand, dengan hanya 300.000 dari mereka yang berada di negara itu secara sah. Malaysia pun menjadi tujuan bagi sekitar 1,8 juta pekerja asing, dengan kebanyakan mereka datang dari Indonesia, Bangladesh dan Filipina.1 Hanya 500.000 dari jumlah itu yang disebutkan memiliki dokumen perjalanan yang sah; bahkan beberapa sumber menyebutkan bahwa jumlah sesungguhnya mungkin lebih tinggi, terutama di negeri Sabah.2 Sebagai contoh, Tenaganita (sebuah lembaga nonpemerintah yang menangani isu-isu pekerja migran) pernah menyebutkan bahwa terdapat kurang-lebih 3 juta pekerja sah dan tidak sah di Malaysia, yakni sekitar 10 persen dari jumlah penduduk.3 Laporan-laporan dari Filipina juga menyebutkan bahwa jumlah

pendatang tanpa izin di negeri Sabah melebihi setengah juta orang.4 Serupa dengan itu, seorang anggota parlemen di Johor mengatakan bahwa di negeri itu sendiri terdapat satu juta pendatang dari Indonesia pada tahun 1995.5 Akan tetapi, isu pekerja migran bukan hanya mendatangkan masalah bagi Malaysia dan Thailand. Diperkirakan ada 200.000 warga Malaysia yang bekerja di Singapura, dan beribu-ribu lagi di Jepang, dan kebanyakan dari mereka tidak memiliki dokumen perjalanan yang sah.6 Seperti dapat dilihat, isu pendatang asing dan pendatang tanpa izin merupakan isu yang memiliki kepentingan di hampir semua negeri Asia.

Dari satu perspektif, migrasi bisa mendatangkan manfaat bagi semua pihak yang terkait. Bagi pendatang asing, migrasi menyediakan peluang untuk mencari penghasilan yang tak tersedia di negeri asal. Bagi negara pengirim, migrasi menyediakan peluang bagi para penganggur dan pemasukan dari devisa7 ; bagi negara penerima, migrasi menyediakan aliran tenaga kerja murah, yang menyebabkan dipertahankannya gaji pada tingkat yang rendah dan pertumbuhan pada tingkat yang tinggi. Akan tetapi, migrasi pun seringkali memiliki sudut gelap, terutama bagi para pekerja migran tidak terampil yang menjadi korban pelanggaran HAM, penyiksaan, pemenjaraan sewenangwenang, diskriminasi dan belenggubelenggu lainnya. Tindakan-tindakan seperti ini juga dihadapi oleh organisasi-organisasi non-pemerintah (NGO) dan para aktivis yang membela hak-hak pekerja migran. Meski pekerja migran dilindungi oleh hukum internasional, yakni Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia serta Undang-Undang ILO, namun fakta bahwa negara bertanggung jawab atas penerapan Undang-Undang ini bermakna bahwa, mereka seringkali gagal menyelidiki dan menghukum kesalahankesalahan yang dilakukan oleh pihak swasta, sehingga mereka sesungguhnya merupakan bagian dari permasalahan ini. Bahkan, campur tangan pejabat pemerintah seringkali lebih dalam lagi, dan ini terlihat sangat jelas bila kita mengkaji pekerja migran asal Indonesia yang berpusat di Malaysia.

Sementara itu, Indonesia merupakan negara pengekspor tenaga kerja yang utama di dunia. Diperkirakan bahwa antara tahun 1969 dan 1994, sebanyak satu juta penduduk Indonesia telah meninggalkan negeri asalnya untuk mencari pekerjaan di negeri asing, dengan Arab Saudi, Malaysia dan Singapura menjadi tumpuan bagi 90 persen dari para migran tersebut. Meski ada beberapa masalah dalam upaya mengkaji aliran migrasi dari Indonesia secara terperinci,8 namun beberapa sifat umum bisa dilihat. Misalnya, kebanyakan penduduk Indonesia yang meninggalkan negerinya adalah pekerja tidak terampil, dan mayoritas dari mereka adalah perempuan.9 Dari segi ini, migrasi ke luar negeri merupakan salah satu jalan yang terbuka bagi warganegara Indonesia yang ingin memperbaiki kondisi

ekonominya. Misalnya, pada tahun 1997, sebuah laporan ILO mendapati bahwa seorang pekerja Indonesia hanya memperoleh penghasilan 0,28 Ringgit Malaysia (RM) setiap hari di negeri asalnya, dibandingkan dengan 2 RM atau lebih di Malaysia.10

Kebanyakan pekerja migran di Malaysia berasal dari Indonesia, dan mayoritas dari mereka merupakan pekerja tidak terampil dan tanpa izin. Maksudnya ialah, bahwa mereka masuk ke Malaysia tanpa dokumen yang sah, atau bahwa dokumen perjalanan mereka sudah habis masa berlakunya. Kehadiran begitu banyak pekerja migran telah menjadi isu politik besar di Malaysia, terutama berkaitan dengan ketegangan diplomatik antara Malaysia dan Indonesia, dan kegelisahan mengenai pelanggaran HAM. Sebagai contoh, Partai Tindakan Demokratik (DAP) dan Partai Bersatu Sabah pernah mengatakan bahwa masuknya pekerja Indonesia bisa mengubah perimbangan perkauman, sedangkan Organisasi Kebangsaan Melayu Bersatu (UMNO) dan Partai Islam Se-Malaysia (PAS) seringkali melihat datangnya warga Indonesia sebagai hal yang menguntungkan dari segi pemilihan umum. Sehubungan dengan itu, persoalan pendatang tanpa izin yang diberi hak suara (hak untuk memilih) telah menjadi isu hangat di negeri Sabah.11 Propaganda pemerintah pun mempersalahkan pendatang asing untuk masalah-masalah sosial seperti pelacuran dan pengedaran narkoba, kemudian membuat itu seolah menjadi alasan penting untuk melakukan tindakantindakan seperti menjaga ketat perbatasan negara dengan menahan dan memulangkan pekerja tanpa izin ke negeri asal mereka.

Kebutuhan pengusaha Malaysia akan tenaga kerja murah, terutama untuk sektor perkebunan, konstruksi dan jasa, telah meningkatkan aliran pekerja tanpa izin ke Malaysia. Dengan mempekerjakan migran tanpa izin, para pengusaha Malaysia bisa membayarkan upah yang sangat rendah tanpa menyediakan jaminan kesejahteraan, seperti asuransi, sembari menghindari pungutan pajak negara untuk pekerja asing, dan mempekerjakan mereka untuk masa yang lama dalam kondisi kerja yang kurang baik. Namun, upah yang sangat rendah itu masih lebih tinggi ketimbang upah yang bisa diperoleh di Indonesia sendiri. Para makelar, agen-agen penyalur tenaga kerja dan pegawai-pegawai pemerintah yang melakukan korupsi di kedua negara juga memiliki kepentingan untuk mengekalkan aliran pekerja migran itu.

Sementara itu, pemerintah Malaysia dan pemerintah Indonesia kini meningkatkan upaya guna memastikan agar pekerja asing menempuh cara-cara yang legal untuk memasuki Malaysia. Indonesia telah meningkatkan pengawasan terhadap ekspor tenaga kerja melalui Departemen Tenaga Kerja di Jakarta, sedangkan Malaysia bertumpu pada kombinasi kebijakan berupa pengampunan (amnesti) dan deportasi pendatang tanpa izin kembali ke negeri asal. Meski koran-koran di Malaysia sering merujuk isu eksploitasi pekerja sebagai alasan di balik upaya pemerintah Malaysia ini, namun penyebab sesungguhnya adalah terkait dengan isu keuangan dan stabilitas keamanan.

Namun demikian, perbedaan antara sah dan tidak sah ini sesungguhnya agak kabur. Sebagai contoh, polisi laut Malaysia terkadang mengizinkan masuknya pendatang ilegal kalau mereka diberi uang pelicin, dan pihak migran seringkali bisa menghindari pemenjaraan dengan cara yang sama. Bahkan, biasanya lebih murah bagi seorang pekerja untuk tiba di Malaysia tanpa dokumen yang sah, lalu mencari majikan yang sanggup mempekerjakannya, ketimbang harus membayar biaya pembuatan paspor, visa dan izin kerja. Terlebih lagi, kendati ada kemunafikan pemerintah Malaysia serta koran-koran setempat yang mengemukakan isu HAM dan eksploitasi pekerja, namun kenyataannya adalah bahwa upayaupaya ini tidaklah menjaga hak asasi para pekerja itu di negeri asalnya. Inilah penyebab sesungguhnya mengapa para pekerja tanpa izin bisa menjadi pekerja sah dengan sekejap mata, sebagaimana pekerja sah juga bisa menjadi pendatang tanpa izin secara tiba-tiba.12 Di balik upaya-upaya palsu pemerintah Malaysia dan pemerintah Indonesia, terdapat kekuatan-kekuatan ekonomi kapitalis yang membuat Undang Undang apapun yang ditetapkan menjadi tidak bisa diberlakukan sepenuhnya. Kebutuhan Malaysia akan tenaga kerja murah, di samping adanya keuntungan besar yang bisa diraih dari ekspor pekerja Indonesia, membuat isu HAM apapun seolah menjadi sesuatu yang ditertawakan. Di saat yang sama, pelanggaran HAM tersebut terus berlangsung. Dan persoalan ini baru akan bisa diatasi jika kelas pekerja Malaysia berjuang bahu-membahu dengan para saudaranya dari negerinegeri tetangga untuk menumbangkan sistem yang melahirkan kezaliman itu, yakni sistem kapitalis global.

(Catatan kaki)

1 Dari Pejabat Migrasi Internasional, “IOM Menakuti Peningkatan Mendadak Dalam Migran Tanpa Izin di Asia Tenggara Yang Dilanda Krisis,” 8 Juni 1998.

2 Kajian Penduduk Sementara, Jabatan Ketua Menteri, Kota Kinabalu (1988).

3 Lihat juga K. S. Jomo dan V. Kanapathy, “Economic Liberalization and Labour in Malaysia: Efficiency and Equity Considerations in Public Policy Reform,” makalah yang dikirimkan kepada ILO, Bangkok (1996).

4 Lihat J. Esplanada, “Peningkatan Pendatang Haram Filipina di Sabah,” Philippine Daily Inquirer, 30 Oktober, 1999. Lihat juga The Sun, 23 September 1996. 5 The Star, 16 Desember 1995. 6

A. Kassim, “In Search of Greener Pastures: Malaysian Illegal Workers in Japan,” dalam H. Komai (penyunting), Overview of Emigrant Workers to Japan in Developing Countries, Jepang, Universitas Tsukuba (1993), hal. 163-183.

7 Kepentingan ekspor tenaga kerja bagi perekonomian Indonesia ditunjukkan oleh program Repelita Keenam (1995-1999), dimana diperkirakan bahwa 1,25 juta pekerja migran akan dikirim ke luar negeri. Jika program ini tidak terhambat oleh krisis ekonomi pada tahun 1997-1998, sebanyak 4 juta penduduk Indonesia akan berada di luar negeri dengan pajak penghasilan sebesar 8,5 milyar dolar bagi perekonomian Indonesia.

8 G. J. Hugo, “Migrasi tenaga pekerja antarabangsa dan keluarga: Beberapa pemerhatian di Indonesia,” Asian and Pacific Migration Journal , Jilid 4, Nomor 2-3, hal. 273-301.

9 Sebaliknya, aliran tenaga kerja Indonesia ke Malaysia, secara umum, terdiri atas pekerja laki-laki. 10 Lihat “Tekanan Emigrasi dan Perubahan Struktur: Kajian Kes Indonesia,” ILO, International Labour Migration From Indonesia, Bab 3, http:// www.ilo.org/public/english/protection/migrant/ papers/emindo/ch3.htm

11 Misalnya, lihat Daily Express, 29 September 1999, hal. 1; Borneo Post, 12 Nopember 1999; dan N. N. Samah dan W. N. Wan Chik, ‘Keputusan Likas dibatal—Mahkamah dapati wujud pengundi hantu pada pemilihan 1999,’Utusan Malaysia, 9 Juni 2001. http://members.tripod.com/skypin/politik/ pol153.html. Untuk keterangan lebih lanjut, lihat M. Salleh, seperti pada nota 6.

12 Lihat “RM 10 untuk kad pengenalan palsu”,

The Borneo Post, 18 Agustus 1999.

BERGEGAS kami berontak, sebab kami muda tak mau ditelan keriput otak pada mesinmesin cuci otak,

bergerak kami serempak dengan nyali masing-masing pada tangan-tangan yang teriak. Kami muda, telanlah kemudaan kami kalau kau bisa kalau kau kuat.

Kami muda tak enggan belajar pengalaman masa yang telah lampau.

Jangan kau pandang remeh. Ujilah kami, dalam waktu yang sekejap, luluhlantakkan kami biar kami terasah! telah kami serahkan kemudaan kami pada kerasnya jaman untuk dibasuh, dibalut, dibakar atau dirajam. Tak apa, itulah nasib kami nasib kemudaan kami, agar kami tak segan terus loloskan diri dari ujian menuju suatu tujuan yang belum lagi nyata, Sebab, ‘harapan adalah pembakar gerak kami, ujilah kami’! Dan jadilah sejarah ini!

…Yogya, 24 september ’02, dinihari…oleh:Arie S. …untuk kaum muda Indonesia khusunya, juga seluruh pemuda lain…

M U S U H P E R A D A B A N

Siapakah Musuh Peradaban?

· orang yang percaya pada suatu kepercayaan secara membabibuta/taqlid.

· orang yang tidak memiliki rasa humor.

· orang yang tidak suka karya seni dan hasil budaya.

· orang yang suka menghancurkan hasil karya peradaban.

· orang yang tidak toleran pada pemikiran orang lain.

· orang yang benci pada kebebasan.

· orang yang rasialis dan sektarian.

· orang yang suka menindas.

· orang yang suka mengeruk keuntungan dari orang lain.

· orang yang menghambur-hamburkan sumberdaya alam.

· orang yang menyerukan konsumerisme.

· orang yang suka berfoya-foya dan konsumtif.

· orang yang berperilaku kejam pada binatang dan tumbuhan.

· orang yang suka berlindung di balik kata hukum, norma-norma dan moralitas. Diterbitkan oleh Jaringan Kerja Propaganda

SUARA KEBEBASAN

Wis Cukup, yo, Wis Cukup, dab!!!

Ayo, konfrontasi dengan para fundmentalis agama, sekarang juga

Hei, saya nggak tahu mo’ mulai dari mana, bahkan mo’ ngomong apa tentang masalah yang satu ini. Rasanya pengen teriak “bajingan, asu!!. Semua ini berawal dari kekonyolan (atau malah keseriusan) kaum fundamentalis agama yang menyebalkan aeje gile. Ya, setelah gonjang ganjing antinarkoba, sekarang sebagai tambahannya, digulirkan pula isu baru, anti-seks pra-nikah. Ini isu yang cukup serius lho, sebab dari sini kita semua diuji apakah masih juga terus bersimpati terhadap rengekkan orang-orang ini atau kita lekas-lekas memulai sesuatu usaha agar mereka segera melipat ekor dan ngacir.

Maafkan saya bila tulisan ini agak becek atau berantakan karena berlepotan dengan caki maki, sumpah serapah. Saya berusaha keras menjaga kewarasan dalam tulisan ini walau sangat berat sebab fundamentalisme agama bila anda mau boleh saja dikelompokkan dalam kecenderungan penyakit jiwa. Dan saya bukan orang yang sangat iseng hingga perlu meneliti masalah kegilaan semacam ini. Tapi seperti juga fasisme yang dulu banyak disepelekan, fundamentalisme agama bukan tidak mungkin akan mencatatkan diri sebagai ideologi pembantai manusia nomor satu dengan terlebih dahulu mengalahkan Nazi Hitler dengan korban harus lebih dari 6 juta manusia tentunya.

Perjalanan dalam tulisan ini dimulai saja dari masalah yang telah demikian biasa saat ini. Sebagaimana kita lihat dan rasakan

serangan kaum fundamentalis terhadap benteng kebebasan telah mengarah kepada bidang-bidang yang sangat penting, serangan ini mau tidak mau telah menyenggol atau menyikut hal-hal yang demikian hakiki yaitu tubuh kita sendiri. Maksud saya bukan tubuh dalam arti umum tapi tubuh dalam arti individu, jelasnya tubuh atau badan anda para pembaca. Misalkan saja, isu anti-narkoba, yang telah menimbulkan histeria begitu dashyat sehingga hampir tiap hari di TV, Radio, koran, dan berbagai media dan juga dalam pembicaraan sehari-hari dimanapun serangan terhadap manusia-manusia pemakainya, pengedarnya dan penjualnya digeber. Di layar kaca muncul dua jagoan yang saling berebut pengaruh Polisi Negara dan Polisi Moral (para fundamentalis). Dan dari hari-kehari kampanye telah menggambarkan seakan-akan para narkobais ini telah menjadi mahluk setengah setan/iblis. Moral mereka diserang, bahkan kewarasan mereka dipertanyakan. Mereka tak layak punya tempat di dunia. Ya, mereka harusnya ditebas bagai rumput liar, sebelum mengganggu segera harus dibabat habis-tumpas-musnah. Tunggu sebentar dong, katanya ini propaganda untuk mempertahankan kebebasan, kok ngomongnya begitu. Maaf kalau keterusan saya hanya ingin memperlihatkan arus yang berkembang saat ini.

Saya dengan sungguhsungguh membayangkan

bagaimana saudara-saudara saya yang memakai narkoba dikeluarkan dari sekolah, dijauhi masyarakat, diawasi oleh orang tua dan sikap-sikap lain, terlepas apakah ia memakainya secara sadar atau ikut-ikutan. Saya bertanya semua sikap itu apa sih gunanya dan kenapa harus demikian. Itu semua bagi saya belum terjawab. Kecuali bahwa semua histeria ini akan membutakan banyak orang terhadap persoalan-persoalan kehidupan yang menghimpit sebagaimana selama ini telah dengan nyenyak kita jalani. Kemiskinan, kemelaratan, kelaparan, negara yang makin gila semua terlupakan. Semua tidak masalah asal kita membungkus diri kita dengan “moral yang baik”.

Sekarang lagi-lagi saya terganggu oleh kampanyekampanye yang tidak bertanggung jawab oleh orangorang yang mengaku dirinya suci tak ternoda dan bermoral baik, alim, soleh dan segunung gelar puji-pujian. Anehnya saya tidak terhipnotis bahkan tidak peduli dengan gelar ataupun sebutan ini itu. Karena toh itu ‘kan kata mereka. Kita nggak tahu kok aslinya kayak apa. Kampanye anti-seks pra-nikah atau yang lebih tepat paksaan kepada setiap orang untuk tidak melakukan hubungan apapun antara laki-laki dengan perempuan tanpa ijin dari Tuantuan dan beliau-beliau itu. Walaupun itu badannya sendiri.

Walaupun itu kelaminnya sendiri.

Yang saya coba tekankan disini adalah perlu untuk meletakkan persoalan pada tempat semestinya. Dan perlu untuk menguliti beragam persoalan yang terkesan biasa dan diterima begitu saja oleh orang banyak disekeliling kita. Sebenarnya ada beragam masalah yang sedang terjadi diluar sana:

- mempersoalkan keperawanan

- perjodohan yang kini diangkat kembali

- penentangan aborsi

- masalah kehamilan diluar nikah

- poligami versus monogami

- pakaian perempuan dan tata pergaulan

- jam malam bagi orang yang berpacaran, adanya jam berkunjung antar

perempuan dan lakilaki di kos-kosan

- penggerebekkan, penangkapan pekerja seks dan mahlukmahluk malam lainnya

- nikah paksa (dibeberapa kampung) untuk remaja-remaja yang berpacaran diluar jam berkunjung

- pengawasan, pengintelan oleh Tuantuan dan beliau-beliau yang bersemangat, Juru Bicara Tuhan.

- makin difungsikannya kembali RT, RW sebagai kaki tangan pelaksana moral dan penguatan otoritas negara - dab lain-lain.

Semuanya ini masalah besar yang perlu disoroti satu persatu, tapi dalam kesempatan kali ini saya memilih untuk mengutak ngutik masalah yang paling asyik:

KEPERAWANAN.

Keperawanan itu susah untuk dikategorikan, walau demikian dimasyarakat artinya bisa demikian sempitkan, yaitu perempuan yang vaginanya belum pernah di masuki

penis laki-laki. Kenapa dianggap ketat karena banyak lho benda-benda yang menyerupai penis, tapi para pembaca sekali-sekali jangan pernah membocorkan hal ini kepada Beliau-beliau, para polisi moral yang gagah berani itu.

Kaum fundamentalis agama mengaitkan keperawanan dengan moralitas seseorang. Artinya jika selangkangan anda meragukan demikian juga moral anda. Gila, saya terus terang jijik dengan orangorang yang kerjanya memata-matai selangkangan orang lain. Apakah seseorang perawan atau tidak jelas tidak bisa dihubungkan dengan moral bahkan saya berpendapat seseorang tidak perlu menjadi hakim moral bagi orang lain. Biarlah setiap tindakan masing-masing menjadi tanggungjawabnya masing-masing. Jika ia menghilangkan hak orang lain, ia akan berhadapan dengan orang itu. Jika semakin besar orang yang dirugikannya ia juga akan berhadapan setara dengan jumlah orang yang telah dirugikannya. Tapi sekali lagi jangan pernah ada dan diperbolehkan satu orang menindas orang lain atas dasar apapun apalagi prasangka-prasangka dari jaman batu.

Saat ini kaum fundamentalis agama telah mengangkat diri menjadi penentu siapa yang baik dan siapa yang buruk. Saya membayangkan mereka seperti tukang stempel, dan jidat-jidat kita menjadi landasan. Jika menurut mereka, sikap kita buruk maka mereka akan mengetokkan stempel Tuhan (tuhannya mereka) dan jidat kita jadi sasarannya. Dan dengan tulisan di jidat tersebut dimanapun kita berada tersedia tangantangan yang berkeinginan baik untuk melepaskan batok kepala kita dari badan.

Dalam tulisan ini saya tidak ingin lagi berbicara seolah-olah berusaha menyibakkan kabut yang semakin tebal. Tidak, saya telah bosan dengan sikap bertahan. Oleh karenanya di tulisan saya ini saya tidak panjang lebar mengupas kenapa keperawanan dipersoalkan, tentang hak perempuan, tentang ini itu. Anda, para pembaca bisa mendapatkan hal ini (jika anda mau sedikit berusaha) di jurnal-jurnal perempuan, di internet, di majalah-majalah perempuan, di toko-toko buku dan bahkan mungkin kader pos yandu atau darma wanita setempat.

Disini saya ingin mengajak anda melakukan KONFRONTASI terhadap kaum fundamentalis agama. Tidak ada lagi sikap setengah-setengah. Anda perempuan atau laki-laki jangan sekali-kali mau ditindas oleh mereka. Bagaimana caranya, apakah kita langsung membakar jenggot mereka. Jelas ini bukan yang akan saya sarankan saat ini. Saya mengusulkan setiap dari pembaca dimanapun berada jika ada setuju secara garis besar dengan tulisan ini, anda bisa mulai melakukan hal-hal yang kreatif untuk mengimbangi gerakan mereka. Dibaris ini saya pikir cerita saya bisa membantu anda. Suatu hari si Jifar dan

Dian Sastro berpacaran di kampus UGM, tiba-tiba ada mobil satpam dengan pengeras suara mulai mengusir mereka, si Jifar dan Dian Sastro pergi karena terganggu tapi beberapa menit kemudian mereka kembali dan melakukan pertunjukkan bercinta yang “hot” yang memberi inspirasi kepada anak-anak muda yang lewat tentang apa yang dapat mereka lakukan dengan bibir mereka. Suatu aksi mencerahkan karena memberi penemuan baru dalam masyarakat yang punya budaya seks abnormal. Ini sebuah cerita menarik dengan contoh perlawanan yang bersifat budaya namun anda punya seribu cara untuk menghadapi kaum fundamentalis. PIKIRKANLAH, selebaran mereka yang ditempel di tempat umum, larangan dan spanduk-spanduk, tempattempat mereka berkumpul, situs mereka di internet, toko-toko buku milik mereka, dan sebagainya, PIKIRKANLAH apakah kita akan membiarkan mereka, yang tidak bisa lolos ini berbuat sesukanya. Apakah kita bisa menari dengan bebas dengan semua masalah ini PIKIRKANLAH.

Terakhir, saya jadi teringat ada kata-kata mutiara yang berujar jangan berpacaran ditempat yang gelap karena biasanya ada orang ketiga yaitu setan. Ini bisa diterapkan kepada kaum fundamentalis agama agar jangan mencampuri urusan dua orang yang berpacaran karena yang mencampurinya adalah orang ketiga yaitu, Tebak yang benar.

Atas nama Tuhan kalian kami, gantung, asyik 'kan!!