muda pergi berkemah dan berbagi pekerjaan, saat orangorang bekerjasama untuk memasak, membuat musik atau melakukan apapun atas dasar kecintaan pada hal tersebut bukannya sekedar atas dasar uang, artinya “ekonomi hadiah” sedang berlangsung. Satu dari hal yang paling menakjubkan adalah seperti apa yang dilakukan seorang ibu pada anaknya, memberi apapun hanya demi melihat kebahagiaan anaknya. Seperti seorang yang jatuh cinta, yang memberi dan melakukan apapun hanya demi melihat pasangannya memberikan senyuman. Atau seperti saat engkau memiliki seorang sahabat, di mana kita semua dinilai bukan berdasar pada apa yang dapat kita lakukan untuk menghasilkan uang, tapi atas apa dan siapa diri kita sendiri sesungguhnya. Masih ingat dengan relasirelasi tersebut? Atau kita terlalu larut dalam ekonomi dunia saat ini hingga kita tak lagi memiliki relasi demikian?
Ingatkah engkau pada sebuah rasa yang penuh dan membahagiakan saat engkau menikmati hal-hal di atas bumi ini dan dapat membaginya kepada orang lain? Bahagiakah dirimu saat engkau menikmati keindahan matahari terbenam seorang diri, tanpa seorang lain pun untuk berbagi indahnya warna merah di langit senja?
Tetapi lagi-lagi, siapa yang akan mengumpulkan sampah, apabila kita semua melakukan apa yang kita inginkan? Coba kita lihat pada sekelompok kawan yang tinggal bersama di satu rumah, tidakkah sampah tetap dibuang? Memang mungkin tak akan dibuang sesering petugas sampah yang dapat setiap hari, tetapi pada akhirnya toh sampah tetap dibuang, seseorang tetap akan melakukannya. Untuk berkata bahwa pasti tak seorangpun yang mau membersihkan sampah, tentu kita biasa merujuk pada diri kita sendiri yang malas membersihkan sampah dan kita cemas bahwa orang lain pasti seperti diri kita. Tetapi apabila kita berpikir bahwa kita tak dapat melakukan apapun tanpa ada orang-orang yang memerintah kita, artinya kita telah merendahkan martabat manusia itu sendiri, melakukan penghinaan terhadap spesies manusia yang konon adalah makhluk yang memiliki kapasitas otak terbesar dibandingkan dengan spesies lainnya.
Kenyataan bahwa kita semua memilih untuk bersantai tak melakukan apapun apabila kita sedang tidak bekerja untuk majikan kita demi bertahan hidup, hadir dari fakta bahwa, semenjak kita bekerja untuk majikan kita demi bertahan hidup, tanpa sadar kita telah memilih bersantai tak melakukan apapun. Tetapi apakah bersantai tak melakukan apapun saat engkau sama sekali tak bekerja untuk majikan akan terasa menyenangkan bagimu? Tidak lagi. Engkau akan mencari aktivitas yang dapat engkau lakukan dan menyenangkanmu. Maka jelas, apabila kita memiliki energi dan waktu untuk diri kita sendiri, kita akan mulai mencari cara untuk menggunakannya, untuk keperluan hal-hal praktis ataupun non-praktis: ingat,
contohnya, betapa banyak orang yang gemar berkebun karena mereka memang menyukainya, bahkan saat mereka tak perlu melakukannya untuk kebutuhan bertahan hidup. Tentu saja kita juga tak akan membiarkan diri kita mati kelaparan dalam sebuah masyarakat di mana keputusan dan kekuasaan dibagi merata, kita pasti juga tetap melakukan pekerjaan untuk mengisi perut. Dan bayangkan, engkau tak akan pernah kelaparan apabila engkau mau berbagi energi dan waktumu untuk pekerjaan tersebut. Kini bandingkan dengan dunia saat ini, di mana jutaan orang bekerja keras menghabiskan energi dan waktu hidupnya dan tetap kelaparan, sementara sebagian kecil orang tak pernah bekerja sama sekali tetapi berkelimpahan makanan dan mengalami kegemukan. Mana dunia yang engkau pilih?
Kita seringkali diberitahu bahwa tamak adalah sifat alami manusia dan itulah mengapa dunia menjadi seperti ini. Apabila kita berpikir demikian, artinya kita tak pernah membaca sejarah perjalanan kehidupan spesies manusia. Pernah eksis di atas bumi ini berbagai masyarakat yang membuat asumsi “manusia adalah makhluk yang tamak secara alamiah” menjadi runtuh. Sekali saja kita menyadari bahwa masyarakat kapitalis ini hanyalah satu corak masyarakat dari sekian banyak corak masyarakat lain yang pernah eksis, hidup dan berinteraksi di atas muka bumi, maka kita tak akan lagi berkata bahwa tamak adalah sesuatu yang alamiah. Kita dibentuk pertama kali dan paling banyak oleh lingkungan sekeliling kita, seperti betapa para ahli medis selalu menganjurkan agar pecandu narkoba meninggalkan lingkungannya untuk dapat sembuh dari kecanduannya. Intinya, lingkungan sekeliling kitalah yang membentuk kita. Tapi di sisi lain, manusia adalah juga makhluk yang memiliki kemampuan untuk mengonstruksi lingkungannya sendiri. Manusialah penulis sejarah. Apabila kita cukup ambisius, kita dapat mendesain dunia kita sendiri dan merekonstruksinya sesuai dengan hati kita inginkan.
Memang benar apabila kita dihantui oleh perasaan tamak, tak peduli dan agresif, karena kita hidup dalam sebuah dunia yang penuh kekerasan dan melulu materialistik. Tetapi dalam lingkungan yang saling mendukung, dibangun bukan berdasar ancaman dan kekerasan, kita akan mampu untuk belajar berinteraksi dengan cara-cara yang lebih menyenangkan. Tentu saja, kita semua pasti berpikir bahwa kita dapat menjadi lebih pemurah apabila kita mampu—tetapi teramat sulit untuk memberikan sesuatu secara cuma-cuma di tengah dunia di mana engkau diharuskan untuk bekerja keras membuang waktu dan energimu demi mendapatkan sesuatu. Semakin sulit engkau mendapatkan sesuatu, semakin sulit bagimu untuk berbagi hasil yang engkau dapatkan. Kini bayangkan, betapa menakjubkannya dunia apabila kita
semua mudah mendapatkan sesuatu. Betapa mudah kita akan berbagi. Betapa sistem ekonomi kapitalis menjadi sama sekali tak menyenangkan.
Mereka yang berkata bahwa sifat alami manusia adalah hasrat untuk menguasai dan mengontrol, jelas tak pernah benar-benar memahami sifat manusia. Manusia memiliki hasrat juga untuk berbagi dan bekerjasama, juga bertindak atas sesuatu yang mereka inginkan. Nyaris setiap orang tahu bahwa saat kita melakukan sesuatu atas dasar yang kita inginkan dan tak berdasar ancaman, kita juga akan lebih mudah membaginya. Apa yang didapatkan seorang ibu saat anaknya berbahagia? Apa yang didapatkan seorang pecinta saat melihat kekasihnya tersenyum? Tak lain selain kebahagiaan dan penuhnya rasa hidup. Kini bandingkan, apakah rasa itu yang kita dapat saat kita berhasil membeli motor baru atau rumah baru di kawasan mahal?
Sebagian orang biasa berpikir bahwa kapitalisme adalah konspirasi sekelompok orang kaya dalam upaya memperdaya populasi manusia, dan karenanya perjuangan melawan kapitalisme seringkali hanya berupa perjuangan melawan orang-orang tersebut. Padahal pada kenyataannya, pembebasan umat manusia dari kapitalisme adalah kepentingan semua orang. Apabila kemakmuran berkata juga tentang kebebasan dan komunitas, maka kita semua telah menjadi miskin: karena bahkan menjadi kaya di bawah kapitalisme artinya engkau memegang sejumlah besar kemiskinan. Sistem ini tidak hanya berupa plot jahat beberapa manusia yang lahir jahat yang berupaya mendominasi dunia. Kita semua terlibat di dalam bentuk dunia seperti ini dan apabila kita ingin dunia ini berubah, maka kita juga harus melibatkan setiap orang yang menginginkan dunia ini berubah.
Apabila semuanya tampak sulit, atau terkadang engkau melihat bahwa kondisi hidup saat ini adalah akibat kesalahan orang-orang sendiri karena tak hendak bangkit membebaskan dirinya, jangan berkecil hati. Ingat, bahwa sistem yang mereka hidupi adalah sistem yang juga engkau hidupi. Kesempatanmu untuk menjadi bebas jelas terkait dengan kebebasan mereka. Jangan pula berkecil hati saat engkau melihat betapa kekuatan kekerasan terorganisir yang dihadapkan kepada kita yang berkehendak mentransformasikan dunia teramat besar—ingat bahwa kekuatan tersebut juga dibangun dari orang-orang seperti dirimu, dan ingin bebas apabila dapat. Temukan cara untuk dapat melarikan diri dari lingkaran kekerasan yang mengakar ini dan bawalah sebanyak mungkin orang lainnya bersamamu. Ambil setiap kesempatan yang muncul; hidup memang dapat dijual, tetapi tak dapat dibeli kembali—kita hanya dapat merebutnya kembali.«
Pada tanggal 18 Desember, pihak kepolisian Indonesia, yang mewakili kepentingan PT. Arara Abadi (sebuah perusahaan kertas and pulp), menyerbu warga desa Suluk Bongkal di Sumatra yang sedang berjuang mempertahankan lahannya dari serobotan PT. Arara Abadi. Dengan dilengkapi pentungan, water canon, dan senjata api, serta dukungan preman-preman bayaran, sekitar 500 pasukan polisi menerobos barisan yang dibentuk oleh ibu-ibu dan anak-anak di jalan masuk desa. Lalu mereka menembaki warga dengan peluru karet dan gas air mata, memukuli mereka dengan kejam, lantas membakari rumah-rumah warga dengan bom napalm yang dijatuhkan dari 2 buah helikopter. Represi ini bukan hanya mengakibatkan banyak warga yang terluka tetapi juga meninggalnya seorang anak berumur 2 tahun (bernama Fitri) yang jatuh ke dalam sumur akibat lari ketakutan.
Dari laporan terakhir, sekitar 200 warga termasuk aktivis-aktivis Serikat Tani Riau ditahan dan lebih dari 400 warga sampai sekarang masih berada di tengah hutan bersembunyi dari represi polisi. Pihak kepolisian telah menambah pasukannya, dengan ribuan polisi dan preman berjaga-jaga serta mengejar para warga dan aktivis-aktivis Serikat Tani Riau.
Ratusan warga desa Suluk Bongkal diteror, 700-an rumah mereka habis terbakar, tanah pertanian dan alat produksi mereka dihancurkan, dan seorang anak berusia 2 tahun kehilangan nyawanya. Ini semua demi kepentingan PT. Arara Abadi yang ingin mengklaim tanah seluas 5 ribu hektar ini yang merupakan sumber penghidupan warga.
PT Arara Abadi adalah subsidiari divisi perhutanan
di Sumatra dari Sinar Mas Group, salah satu korporasi terbesar di Indonesia yang dimiliki oleh taipan Eka Tjipta Widjaja. Perusahaan ini adalah bagian dari Asia Pulp & Paper (APP) yang merupakan korporasi multinasional dan salah satu korporasi pulp dan kertas terbesar di dunia yang memiliki klien di lebih dari 60 negara. Di sini kita lihat dengan jelas bahwa kapitalisme tidak mengenal batas negara dan bahwa aparatus negara tidak lebih dari alat represi dari kekuatan kapital dan karenanya tidak dapat dipisahkan perannya satu sama lain.
Dengan krisis ekonomi global ini, seperti halnya banyak perusahaan lainnya, harga saham APP telah jatuh hampir 75% dalam kurun waktu 6 bulan terakhir. Ini mendorong perusahaan-perusahaan untuk mempertahankan profitnya dengan cara: menekan upah pekerja, memecat pekerja, dan di dalam kasus ini menyerobot tanah warga dengan cara apapun. Kita juga bisa melihat cara bekerja kapitalisme di sini: untuk memaksa orang-orang agar dapat menjadi pekerja-pekerja yang rela bekerja belasan jam per hari dengan upah minimum di pabrik-pabrik yang tak sehat, lucuti kepemilikan mereka atas tanah dan sumber penghidupannya—mereka tak akan memiliki pilihan lain selain bekerja demi upah. Terakhir, perlu dipahami juga bahwa hal ini bukan pertama kalinya APP dan subsidiari-subsidiarinya melakukan hal tersebut dalam usahanya mencari profit, dan terjadi bukan hanya di Indonesia tetapi juga di Cina dan Kamboja. Dan selalu, di mana pun juga, usaha-usaha demikian didukung penuh oleh pemerintah masing-masing negara baik dengan undang-undang mau-pun dengan penyediaan polisi dan tentara.«
RI 2009 1 TETAP GRATIS 6 JANUA WALAU DUA LEMBAR # e m e m eralis pitalis olib nti-hirarki a e nti-k nti-n a a a
Editorial
Kami menulis jurnal ini, bukan sebagai aktivis profesional anti-globalisasi seperti yang dikatakan banyak orang. Kami juga tidak berusaha mencari posisi untuk menjadi mediasi antara korban dengan para penguasa ekonomi. Kami tidak tertarik merepresentasikan siapapun sebagaimana kami meludahi wajah mereka yang berusaha merepresentasikan kami. Kami tidak juga sedang bimbang antara ide fair-trade ataupun free-trade, kami juga tak peduli apabila neoliberalisme telah melemahkan otoritas negara-bangsa. Kami tidak peduli siapa pemimpin negara ini. Apa yang kami peduli adalah bahwa bagi kami, ekonomi hari ini hanyalah pertukaran penderitaan, semua negara adalah penjara, semua demokrasi hanya menutupi kediktatoran Kapital. Kami tidak di sini karena ingin menjadi pelindung proletariat yang menjadi lemah dan karenanya kami ingin menjadi pahlawan. Kami justru tertarik untuk berbagi dengan para insurgen Papua, para pemogok di pabrik-pabrik Tangerang, Surabaya, Cimahi, atau di mana pun, dan juga dengan para petani yang berdiri di hadapan senapan demi mempertahankan tanah mereka. Kami ada di sini karena kami adalah para proletariat yang menyadari bahwa musuh kami adalah ekonomi Kapital dan semua nilai yang melahirkannya. Sesuatu yang kami temui bukan dari teks-teks kuliah, tapi dari realitas harian kami di sekolah, jalanan, pabrik dan ruang-ruang kerja. Kami jadi paham bahwa masa depan kami tidak lagi terletak pada segala mediasi, tidak pada negara-bangsa, tidak pada upaya reformasi kapitalisme, tidak pada belas kasih lembaga donor. Masa depan kami terletak hanya pada runtuhnya ekonomi Kapital dan solidaritas di antara kita yang selama ini terpenjara olehnya.
PO Box 1419, Bandung 40014 [email protected]
TIM REDAKSI: Sumadikarta, Rikki Rikardo, Petrus Soemitro
Jurnal ini diterbitkan berkala sebagai bagian dari agenda perebutan hidup kami yang selama ini tercuri dari tangantangan kami sendiri. Agenda ini terlaksana atas kerjasama dari grup-grup afiniti independen sebagai ikhtiar melawan gelombang kolonisasi atas hidup sehari-hari yang semakin hari semakin mencekik. Sesuatu yang membuat nyaris segala sesuatu dilabeli harga tetapi semakin sedikit yang diberi arti. Gerai-gerai produk semakin bertebaran di mana pun, tetapi di mana pun juga semakin sedikit yang mampu mengaksesnya. Hidup jadi tak lebih dari sekedar menjadi urusan makan, minum, berkembang biak atau urusan tempat tinggal dan dekorasinya; menjadi urusan konsumsi tapi tidak urusan kreasi. Hidup telah kehilangan artinya. Kami hanya menginginkan hidup kembali menjadi layak untuk dijalani, di mana segala sesuatu diberi arti bukan lagi label harga, sebagaimana kami ingin membangun kembali kerajaan surga di atas puing-puing neraka bumi bersama kalian semua, hingga suatu masa, hidup akan berkembang kembali di hadapan kita seperti mawar di awal musim panas.
KLIK SITUS ONLINE: apokalips.org
rumahkiri.net | affinitasonline.com | pustaka.otonomis.org | www.katalis.tk
IRONI PEKERJA DI MASA KRISIS
Lembaga ekonomi internasional seperti IMF dan OECD memperkirakan perekonomian dunia akan mencapai titik terendah pada 2009 dan diprediksi baru akan mengalami pemulihan paling cepat di pertengahan 2010. Organisasi Buruh Dunia (ILO) memprediksi akan ada 20 juta orang yang kehilangan pekerjaannya sampai akhir 2009. Dengan demikian maka jumlah pengangguran di seluruh dunia bisa mencapai 210 juta orang pada akhir 2009. Inilah kali pertama jumlah pengangguran menembus angka 200 juta dalam 10 tahun terakhir sejak krisis moneter 1998.
Di AS, di mana krisis ekonomi dimulai, menurut survei yang dilakukan oleh lembaga Asosiasi Bisnis, jumlah angka pengangguran di Amerika Serikat akan menembus angka 7,5 persen. Dengan demikian akan ada sekitar 32 juta penduduk yang tidak memiliki pekerjaan. Angka ini mengalami peningkatan dari 26 juta orang pada Oktober.
Setelah hancurnya bisnis properti dan finansial, kini runtutan penutupan perusahaan juga merembet ke bidang ritel. Pada akhir Desember perusahaan ritel AnnTaylor Stores Corp, Talbots Inc, dan Sears Holdings Corp akan menutup 12 ribu toko mereka di 2009. Sehingga ada sekitar 230.000 pekerja kehilangan mata pencahariannya. Sementara itu, raksasa otomotif AS, General Motors (GM) juga akan melakukan PHK besarbesaran. GM meminta pemerintah AS mencegah kebangkrutannya dengan bantuan bailout US$ 18 miliar. GM mengumumkan akan mengurangi karyawan hingga 31.500 orang. GM akan mengurangi karyawannya yang kini sebanyak 96.537 orang menjadi hanya sekitar 65.000 hingga 75.000 orang hingga tahun 2012.
Dengan tawaran untuk menyerap pekerja, para pemilik perusahaan bisa meminta bantuan negara. Tanpa sektor ekonomi yang mapan dan mampu menyerap pekerja, negara akan mendapatkan berbagai permasalahan sosial dari hampir setengah populasi negaranya yang menjadi pengangguran. Kontradiksi kelas akan menambah parah jurang ekonomi, dan mengancam kemapanan sistem kapitalis. Tidak ada jalan selain mengucurkan bantuan bagi kelangsungan pengakumulasian kapital. Negara modern yang lahir dan dimapankan di atas pondasi ekonomi pengakumulasi kapital, kini mesti memperbaiki pondasi dasarnya untuk menjaga tiangtiang kekuasaan.
Lalu Bagaimana di Indonesia?
Sebagai salah satu negara yang struktur ekonominya telah terintegrasi penuh dengan perekonomian dunia, Indonesia mengalami imbas langsung krisis ekonomi global. Memang nampaknya di satu sisi krisis ekonomi global membawa dampak positif dengan menurunnya harga BBM. Akan tetapi, jika diperhatikan lebih lanjut, dampaknya justru akan lebih besar.
Sektor ekonomi riil di Indonesia semakin mendapat kesulitan akibat krisis ekonomi global. "Kondisi perbankan dan pasar modal yang tidak menguntungkan akan berdampak kepada sektor riil. Sektor riil bisa terkena dua dampak yang tidak menguntungkan," ujar Menteri Keuangan, Sri Mulyani. Dua dampak itu adalah sektor keuangan sulit untuk memberikan modal kepada sektor riil. Kemudian produsen tidak bisa menjual komoditasnya akibat menurunnya daya serap pasar, terutama sekali akibat anjloknya nilai ekspor. Meskipun dialihkan ke pasar dalam negeri, menurunnya ekonomi dalam negeri berakibat sama, produsen kehilangan pasar komoditasnya.
Turunnya permintaan dan nilai ekspor akan memaksa produsen melakukan penyesuaian biaya-biaya, termasuk penurunan kapasitas produksi. Penurunan kapasitas produksi lazim diikuti restrukturisasi, yang selanjutnya diikuti oleh rasionalisasi pekerja. Pada titik inilah para pekerja terancam mendapatkan PHK.
Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Depnakertrans) melaporkan per 19 Desember, bahwa jumlah karyawan yang telah terkait PHK telah mencapai 41.785 orang. ''Dari angka tersebut, jumlah rencana PHK sebesar 23.927 pekerja dan yang telah terkena PHK sebesar 17.858 pekerja,'' kata Menakertrans Erman Suparno. Angka rencana PHK dan yang telah terkena PHK tersebut, diperoleh dari 13 provinsi, yaitu Sumatra Utara, Sumatra Selatan, Riau, Jawa Barat, Jawa Tengah, DKI Jakarta, Banten, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Maluku Utara, Yogyakarta, dan Papua.
Tiga belas propinsi tersebut adalah tempat sektor usaha yang mengalami dampak paling buruk akibat krisis di Indonesia, karena bernaung ribuan perusahaan perkebunan, perkayuan, juga tekstil dan garmen. Ketiga sektor ini adalah sektor usaha yang sebagian besar komoditasnya diekspor. Namun, imbas terjadinya pemecatan dan kemudian pengangguran tentu tidak akan
terputus hanya pada sektor-sektor tersebut.
Pada Oktober 2008. Ketua Umum Apindo, Sofyan Wanandi pernah menyatakan bahwa ada sekitar sekitar 100.000 pengusaha, atau 10 persen dari 1 juta anggota Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), berencana melakukan PHK terhadap karyawan. Hal tersebut bakal menjadi kenyataan jika para pengusaha tak mendapat perpanjangan kontrak dari mitra bisnisnya. Jika kita menghitung (andaikan) setiap pengusaha mempunyai 100 karyawan, maka akan ada minimal sekitar 1 juta karyawan yang segera menganggur.
Jika dilihat dari pertumbuhan ekonomi. Pada kuartal II 2008, saat krisis ekonomi belum terlalu banyak berpengaruh, pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 6,4 persen. Kemudian mulai mengalami indikasi penurunan pada kuartal III 2008 menjadi 6,1 persen. Untuk 2009, diperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan merosot pada angka 4,5 – 5 persen. Dengan demikian, akan terjadi banyak permasalahan ekonomi dalam negeri yang tentu saja bisa menghasilkan krisis ekonomi dan sosial episode baru pasca krisis moneter 1998. Pada 2009, meledaknya angka pengangguran tidak dapat dihindari dan berujung pada masalah kemiskinan yang semakin besar. Diperkirakan jumlah penduduk miskin pada 2009 meningkat menjadi sekitar 45 juta orang, sedangkan pengangguran bisa bertambah menjadi sekitar 18,6 juta orang.
Dari berbagai alternatif yang tersedia untuk menciptakan stimulus ekonomi, dapat diprediksi bahwa kemungkinan pemerintah akan kembali menciptakan utang luar negeri. Untuk menangani defisit APBN 2009, pemerintah telah ancang-ancang untuk meminjam US $ 1,5 miliar dari Asian Development Bank (ADB). Tidak tertutup kemungkinan lembaga-lembaga keuangan dunia lainnya akan kembali masuk sebagai juru selamat. Mirip dengan apa yang terjadi saat krisis moneter 1998.
SKB 4 Menteri
Dikeluarkannya Surat Keputusan Bersama (SKB) 4 Menteri, adalah bukti bahwa negara berpihak kepada para pengusaha. Melalui surat yang ditandatangani oleh Menteri Perindustrian Fahmi Idris, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, Menteri Dalam Negeri Mardiyanto, dan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Erman Suparno pada 22 Oktober 2008, para pengusaha diberikan jalan untuk menekan para pekerja jika krisis
mengeksploitasi diri mereka sendiri. Dari sudut pandang perjuangan kelas, posisi demikian tak diragukan lagi, berada di pihak Kapital. Saat secara obyektif berpihak untuk meningkatkan nilai lebih (yang dengan demikian artinya beroposisi dengan perjuangan kelas melawan tingkat eksploitasi) maka jelas para pemuja kerja secara global mempertahankan kerja upahan yang mengalienasi, fondasi terdasar dari bentuk masyarakat yang saling mengeksploitasi.
Dalam proses industrialisasi dunia, dalam prokreasi karakteristik kemakmuran dan kemiskinan, Kapital telah meningkatkan teknik-teknik untuk membuat para budaknya bekerja, meningkatkan produksi dan meninggalkan hidupnya di belakang. Metoda baru, mesin baru, makanan dan minuman baru, musik yang fungsional, ilusi birokrasi, kontrol waktu dan gerak, promosi, semua hanya mengarah pada satu hal: peningkatan eksploitasi. Engkau pikir untuk apa guna susu bayi yang mampu dengan cepat meningkatkan kemampuan otak dan aktivitas fisik mereka? Untuk apa sekolah-sekolah dipercepat, dimulai semenjak seorang anak berusia 2 tahun, kurikulum diperpadat, masa kuliah diperpendek? Satu hal: percepatan produksi tenaga kerja bagi akumulasi Kapital.
Kapital telah menyempurnakan dirinya sendiri dan metoda-metodanya untuk mengefektifkan eksploitasi. Demi tujuan ini, tak ada yang lebih membahagiakan bagi Kapital selain para pekerja yang berteriak “Aku suka bekerja!”
Perjuangan melawan kerja upahan
Mereka yang tereksploitasi, bekerja demi upah, atas dasar ancaman. Sepanjang sejarah, tak seorangpun yang bersedia bekerja upahan karena atas dasar sukarela. Para pekerja dipaksa bekerja dengan cara dilucuti seluruh miliknya: rumah, tanah dan seluruh harta bendanya. Mereka lantas diancam lebih kejam setelahnya: bekerja demi uang atau engkau kelaparan; alternatif lain adalah penjara. Proses industrialisasi dan penerapan disiplin kerja upahan selalu berupa hal yang sama. Sungai-sungai di Eropa abad ke18 dicemari polutan sebagaimana sungai-sungai di Papua dan Kalimantan dewasa ini, yang membuat mereka yang hidup dari sungai kehilangan sumber kehidupannya. Tanah-tanah suku pribumi Amerika dirampas
dan dijadikan pabrik-pabrik, sebagaimana tanah-tanah di kawasan pertanian Indonesia dirampas dari para petani dan dijadikan perkebunan atau pabrik. Mereka yang tersingkir dan kehilangan sumber makanan tak memiliki pilihan lain selain mengabdi pada disiplin kerja atau hukum dan penjara akan menanti mereka.
Tapi yang paling menyedihkan adalah kenyataan kini, bahwa banyak di antara kita, para proletariat, yang dengan senang hati memeluk dunia kerja. Kita harus bekerja untuk bertahan hidup karena kita tak memiliki apa-apa, itu yang mendefinisikan siapa kita. Tapi bagi kita seharusnya itu bukan sebuah pembenaran untuk memuja kerja upahan. Karena memuja kerja upahan sama artinya dengan memuja Kapital.
Sejarah membuktikan bahwa pemujaan kerja hanya akan menyehatkan ekonomi dan hal tersebut tak pernah mampu membebaskan proletariat dari kerja upahan yang menyedihkan. Maka sudah seharusnya kini perjuangan para pekerja tidak lagi sekedar perjuangan meningkatkan suku bunga di tengah krisis ini, tidak lagi mengenai peningkatan produksi dan pemilihan “pemimpin yang baik”, tidak lagi sekedar menurut apabila para birokrat serikat pekerja di
pembebasan dari kerja upahan. Hanya dengan visi seperti inilah maka penghancuran ekonomi Kapital menemukan basisnya, sehingga kerja tak lagi menjadi kerja upahan yang mengalienasi, kerja akan menjadi sebuah aktivitas produktif yang tak terlepas dari hidup
mana kita bergabung mulai menghembuskan nafas kompromis; kita harus mulai berjuang untuk meningkatkan kualitas hidup kita. Tujuan jangka panjang kita bukan industrialisasi nasional atau apapun selama hal tersebut masih mengabdi pada Kapital, melainkan
kita sehari-hari, tipe kerja yang akan mengganti corak produksi masyarakat saat ini. Memang tak ada jalan yang mudah, tapi segala hal besar selalu dimulai dari satu langkah sederhana yang tepat. Memiliki visi yang tepat, adalah langkah awal yang harus diraih. Pertanyaannya kini adalah, seberapa ingin kita hidup di dunia yang berbeda dari yang eksis saat ini? «
MENGAPA KAPITALISME MENYEBALKAN
(Bag.VI, tamat)
Apa Alternatif dari Kapitalisme?
Alternatif dari kapitalisme jelas adalah sebuah masyarakat konsensual—masyarakat yang berjalan berdasarkan konsensus—di mana kita dapat memutuskan sesuatu secara individual (dan saat dibutuhkan, secara kolektif) tentang seperti apa hidup kita dan sekeliling kita dibentuk, tidak lagi hidup di bawah paksaan hukum “penyediaan dan permintaan”. Hukum ekonomi tersebut hanya akan eksis apabila kita menginginkannya untuk eksis. Memang sulit untuk dapat membayangkan sebuah masyarakat yang berjalan berdasar pada kooperasi (perhatikan, bukan korporasi) dari sudut pandang yang kita miliki saat ini. Tentu, betapa tidak? Satu-satunya bentuk masyarakat yang kebanyakan dari kita pernah lihat selama kita hidup hanyalah masyarakat yang berbasis kompetisi. Tetapi sesungguhnya bentuk-bentuk masyarakat lain itu ada dan pernah eksis di sepanjang sejarah spesies kita
lahir di muka bumi—bentuk tersebut juga dapat eksis lagi, apabila kita memang menginginkannya.
adanya waktu untuk melakukan berbagai macam hal, bukannya sekedar terbatas hanya melakukan satu bidang
Untuk dapat melarikan diri dari lingkaran setan kompetisi, kita perlu untuk mengembangkan sebuah ekonomi yang berdasarkan pada sistem saling memberi, bukannya berdagang—para sejarawan, arkeolog dan antropolog biasa menyebutnya sistem ekonomi hadiah. Dalam sistem tersebut, seseorang dapat melakukan apapun yang diinginkan dalam hidupnya dan menawarkan pada sesamanya apa yang menurutnya paling layak untuk diberikan, tanpa harus cemas akan adanya ancaman kelaparan. Hasil-hasil karya manusia dan dari sumber daya alam akan dibagikan kepada sesama, bukannya ditimbun oleh beberapa individu saja, sehingga setiap orang akan memiliki seluruh kapasitas yang dimiliki oleh masyarakat. Mereka yang ingin melukis dapat melukis, mereka yang menikmati pekerjaan konstruksi dapat melakukannya, mereka yang gemar memasak dapat membuat dan membaginya pada yang lain. Pekerjaan “kotor” seperti membuang sampah, akan dilakukan secara bergiriliran, sehingga setiap orang akan mendapat keuntungan dengan
aktivitas saja seumur hidup seperti yang kita kenal sekarang. “Kerja” akan menjadi sesuatu yang kita pahami proses dan kegunaannya dengan jauh lebih baik, karenanya kita tak lagi terasing dari apa yang kita lakukan. Mungkin memang tingkat produksinya rendah, tapi bukankah tingkat produksi tinggi yang kita kenal di dunia sekarang ini sesungguhnya selalu berkelebihan? Kita hanya bekerja secukupnya dan memiliki waktu lain untuk melakukan banyak hal yang kita inginkan, yang dapat membuat hidup kita lebih berarti... lagipula, saat engkau bekerja di pabrik sepatu misalnya dan engkau dapat memproduksi 20.000 sepatu per hari, apakah lingkungan tempat tinggalmu dapat mengenakan sepatu yang engkau hasilkan? Bayangkan, kini engkau hanya perlu membuat sejumlah yang sungguh-sungguh dibutuhkan.
Hal di atas pasti terdengar sangat utopis. Memang demikian, tapi bukan berarti kita tak dapat membuat hidup kita menjadi demikian di dunia seperti sekarang ini. Kita memang tak perlu melihat hanya pada masyarakat pedalaman Papua untuk mengambil contoh bagaimana hidup di luar kapitalisme. Bahkan saat ini, ada berbagai kesempatan di tengah masyarakat kita untuk melihat betapa hidup jauh lebih berarti saat segala sesuatu tidak lagi ditempeli bandrol harga. Saat sebuah kelompok ibu-ibu bertemu dan saling berbagi perkawanan serta keahlian memasak, saat sekelompok anak-anak semakin abstrak. Sementara apa yang dianggap konkrit adalah apapun yang sesungguhnya justru abstrak: kesehatan ekonomi negara, masa depan ekonomi bangsa, keutuhan NKRI, jaminan keuangan masa depan. Abstraksi-abstraksi itulah yang semakin menjadi konkret, jauh lebih konkret daripada manusia yang terdiri dari darah dan daging. Inilah alasan mengapa proletariat semestinya beraksi sesuai kebutuhannya dan kebutuhan kelasnya dalam berkonspirasi melawan orde kekuasaan apapun di bawah struktur masyarakat kelas—termasuk orde demokratik yang mapan sekalipun.
Di bawah krisis yang kembali dipampangkan, proletariat kembali hanya beraksi tanpa melihat dirinya sebagai sebuah kelas sosial, merespon secara regional dan lupa bahwa dirinya adalah bagian dari sebuah kesatuan besar yang terhampar secara internasional. Para proletariat lupa, bahwa apa yang terjadi di satu sisi dunia akan berimbas pada sisi dunia lainnya, sehingga respon yang dibutuhkan tidak lagi terbatas pada regional semata, tapi kritik yang mencakup sistem yang berjalan secara keseluruhan.
Mereka bilang kita menghadapi krisis. Kita memang tak pernah terlepas dari krisis.
Di bawah konteks krisis ekonomi, para majikan merasa mendapat pembenaran untuk melakukan langkah-langkah yang mengetatkan eksploitasi dan kontrol atas pekerjanya.
Pemogokan adalah sebuah bagian dari fungsi serikat-serikat pekerja di tengah dominasi. Mereka bergerak ke depan dalam upaya menciptakan sebuah gerakan sekaligus menyalurkan ketidakpuasan atas meningkatnya eksploitasi atas diri mereka. Tapi serikat-serikat pekerja juga berupa pedang bermata dua. Mereka dapat berfungsi sebagai perpanjangan tangan sistem ini sendiri. Mereka dapat mentransformasikan senjata menjadi majal melalui data-data dan angkaangka politik, mereka dapat menumpulkan kemarahan dan harapan dengan dalih negosiasi. Dengan cara yang sama, individu-individu telah dikonversikan ke dalam sirkus informasi.
Melawan sistem, kita harus berjuang melawan atomisasi dan isolasi. Dengan demikian betapa penting untuk memahami komunikasi, difusi percakapan dan praktik kolektif sebagaimana sebuah upaya untuk berdiri tanpa terperosok ke dalam pembenaran ideologis, bendera-bendera, seragam, atau ilusi-ilusi persatuan dan retorika belaka. Mengafirmasi setiap aksi yang non-kompromi, menolak dialog dengan kekuasaan sebagaimana demokrasi harus dipertanyakan, makna dan fungsinya. Sebuah debat teori dan praktik dibutuhkan untuk membentuk perjuangan, bukan sekedar ilusi persatuan yang seringkali memberangus ide-ide kreatif dan memupuskan harapan.
Telah terlalu lama kita merasa asing dengan diri kita sendiri. Dunia ini menjadi asing bagi kita, menjadi sesuatu yang tak kita pahami. Karenanya ia tak lagi menjadi milik kita, ia tidak memberi ruang bagi kita, ia menegasikan kita. Engkau harus bersekolah, tapi tidak lagi karena engkau harus menjadi pintar dan berguna, tapi untuk kepentingan ekonomi. Engkau harus bekerja, tapi tidak lagi karena engkau harus menghasilkan sesuatu yang dibutuhkan secara sosial, tapi untuk kepentingan ekonomi. Sistem ini tidak membutuhkan apapun darimu, selain dirimu sebagai bidak-bidak demi berjalannya roda ekonomi. Ia menegasikan hidupmu dan siapa dirimu. Karenanya kami tak melihat alternatif lain, apabila sistem ekonomi ini mengalami krisis, biarlah ia mati.
Tirani nilai pasar afirmasi program revolusioner Telah dua abad berlalu semenjak kritik atas sistem ekonomi ini diajukan, bahwa kapitalisme tidak dapat melayani kepentingan manusia semenjak segala sesuatu direduksi menjadi nilai pasar. Dunia ini tidak lagi berjalan atas ide-ide, hukum, politik atau apapun selain nilai ekonomi Kapital, kehausan akan profit
mengonsolidasikan ekspansi reproduksi tirani Kapital.
Negara tidak hadir sebelum kesadaran akan akumulasi Kapital lahir, tapi kini kita melihat bahwa negara dapat terlepas dari kuasa Kapital. Segala sesuatu yang eksis hari ini, eksis untuk melayani kepentingan Kapital. Kapital-lah kuasa sesungguhnya hari ini, memperpanjang kediktatoran nilai pasar atas hidup.
Fakta-fakta yang memperlihatkan eksploitasi, kediktatoran, penindasan, penderitaan, tidaklah disebabkan oleh orang-orang tertentu, pemerintah atau negara tertentu, melainkan adalah sebuah ekspresi yang tak terelakkan dari perkembangan kuasa Kapital. Bukan sekedar Suharto, bukan sekedar SBY-JK, bukan sekedar Amerika, tapi semua adalah konsekwensi dari kuasa Kapital. Inilah yang seharusnya menjadi titik teoritis bagi gerak awal gerakan revolusioner. Kesadaran bahwa seluruh kontradiksi dan penderitaan masyarakat kini tercetus melalui sel-sel dasar masyarakat ini, dalam komoditi. Dalam kontradiksi antara nilai guna dan nilai tukar, kita tak hanya dapat menemukan sebuah stimulus bagi langkah-langkah konkrit ke depan, melainkan juga sebuah elemen penting dari arahan dan isi program revolusioner.
Diskursus terbuka tentang kediktatoran ekonomi
Di sini kita akan menggarisbawahi beberapa aspek kediktatoran ekonomi dewasa ini, perkembangan kontemporer dari kediktatoran yang didorong oleh nilai tukar dalam segala bidang kehidupan manusia, bentuk-bentuk kediktatoran yang menjadikan manusia menjadi budak dari monster yang ia ciptakan sendiri: ekonomi.
membuat segala ide, hukum, politik termasuk kriminalitasnya hanya eksis untuk mempertahankan dan tak dipenjara oleh sekolahmu (yang akan menghasilkan budak-budak berikutnya), maka kita dipenjara
Walaupun kediktatoran ekonomi kontemporer selalu memiliki fitur konstan dari keberadaan Kapital, tetap, dibutuhkan sebuah proses panjang hingga Kapital lahir, hingga ada semacam kewajiban untuk melayani kepentingan ekonomi, kebutuhan untuk berkorban demi kompetisi ekonomi, obligasi untuk sebuah upaya memperjuangkan ekonomi nasional. Sudah terlalu banyak darah di seluruh dunia ditumpahkan hingga pada akhirnya hal tersebut dianggap sebagai sebuah aturan alamiah: bahwa manusia atau apapun itu tidak berharga dibandingkan ekonomi.
Pemerintah di berbagai negeri, baik itu kapitalis ataupun sosialis, selalu berkata bahwa rakyat harus berkorban demi kepentingan ekonomi. Karena hanya dengan cara seperti demikianlah maka dunia masa depan akan menjadi lebih baik. Para pemerintah menjanjikan sebuah masa depan yang brilian dengan cara yang persis sama saat para pengkotbah memberikan janji-janji surga setelah dunia ini berakhir.
Dewasa ini, di tengah krisis, tak ada lagi janjijanji tersebut, tak ada solusi yang dibicarakan mengenai kelaparan dan penderitaan—mereka secara terbuka berkata bahwa kita harus terus berkorban dan semakin keras berkorban. Dahulu kita semua diberi janji, bahwa perkembangan ekonomi akan dapat menghapuskan kelaparan dan penderitaan. Bedanya, kini mereka tidak lagi menutup-nutupi kenyataan bahwa penderitaan di atas bumi ini nyata. Para birokrat tak lagi menuntut pengorbanan demi dunia masa depan yang lebih baik; kini mereka lebih suka berbicara mengenai bagaimana kita harus terus berkorban karena ekonomi membutuhkan sikap tersebut. Engkau dipecat? Maaf, tapi engkau harus berkorban, demi kepentingan menyelamatkan ekonomi bangsa.
Semakin sering hal tersebut dilakukan, semakin kita semua mampu melihat bahwa pengusaha, pemerintah, tak pernah berbeda. Kampanye-kampanye mereka, perjuangan parlementer mereka, dan perebutan kursi kekuasaan, tidak lagi mereka semua adalah faksi-faksi yang saling berjuang, mereka hanya berebut jatah. Sementara hidup kita tak pernah berubah: kita adalah para budak yang dirantai demi berputarnya roda ekonomi. Budak-budak yang dapat dipaksa bekerja kapanpun, diupah berapapun, dipecat kapanpun. Bila
oleh kerjamu.
'Krisis' dan 'Pemulihan' adalah dua lagu lama yang senada
Krisis telah tiba, kita harus mengencangkan ikat pinggang. Kita tidak boleh kehilangan semangat dan putus asa, bukan saatnya bagi kita untuk mengeluh. Kita sudah melakukan hal yang benar, tetapi tingkat pertumbuhannya masih sangat lemah. Begitulah semua komentar dan tulisan yang selalu kita dengar dari media di kiri hingga kanan. Semua selalu memiliki pola yang sama. Apabila ekonomi menurun, kita harus berkorban (atau dikorbankan) untuk membuat ekonomi kembali berjalan normal atas upaya kita untuk berkorban. Baik dalam krisis ataupun dalam proses pemulihannya, para pekerja seperti kita yang selalu harus rela berkorban. Dengan kata lain, orang-orang seperti kita yang selalu berada dalam krisis.
Retorika borjuis
Semakin dalam tatanan masyarakat ini runtuh, semakin gencar dorongan untuk bekerja didengungkan oleh media. Mereka menjelaskan pada kita bahwa “kerja itu penting”, bahwa “kita harus membangun negara yang kuat dan tak didominasi asing”. Masalahnya, ucapan-ucapan demikian selalu dikumandangkan oleh mereka yang tak pernah bekerja membanting tulang setiap hari dan hanya mendapatkan upah yang sama sekali tak cukup untuk sekedar biaya hidup. Tapi jauh melampaui individu yang berkata demikian, diskursus “panjang umur kerja” adalah sesuatu yang dikumandangkan di belakang oleh Kapital. Tentu saja, Kapital kini tak lagi sekedar nilai, tapi ia menjadi sebuah pola relasi sosial, menjadi pembenaran bagi eksploitasi. Dalam cara ini, Kapital telah mentransformasikan diri menjadi subyek terpenting masyarakat. Bukan lagi manusia yang mengendalikan Kapital, tapi manusialah yang menjadi boneka di bawah kendali Kapital. Para majikan, penguasa, pemerintah, birokrat, semua hanyalah boneka, menjalankan operasi akumulasi Kapital, untuk Kapital itu sendiri.
Saat presiden Bush berbicara, Suharto berbicara, SBY, setiap kali majikan berbicara, birokrat berbicara, semua tak berbicara untuk diri mereka sendiri. Kapital berbicara melalui mulut mereka.
“Kerja”, “Meningkatkan efektivitas dan memperbaiki etos kerja”, “Kerja akan membebaskanmu”, atau slogan apapun yang mendukung kerja; kini kita mengetahui untuk kepentingan siapa sloganslogan tersebut diciptakan. Kelas sosial mana yang diuntungkan dengan terciptanya nilai lebih Kapital tak peduli label apa yang mereka gunakan, 'nasional', 'negara demokrasi', 'negara sosialis'. Partisipasi dalam memperoleh nilai lebih dari pola operasional Kapital dan mengontrol kelas pekerjalah yang menentukan di sisi mana mereka berpihak. Dari para pemilik kontrol atas kelas pekerja alias budak-budak modern, hanya mereka yang berhasil membuat para pekerja upahan nyaman dengan perbudakan mereka sendirilah yang paling hebat.
Mereka yang terpedaya
Beberapa orang berkata bahwa realitas seperti di atas akan berbeda apabila pekerja sendiri yang berbicara. Lihat betapa para pekerja berebut mendapatkan pekerjaan. Saat sebagian kecil dari mereka berhasil mendapatkannya, mereka menyoraki pekerjaannya. Bukankah artinya pekerja justru ingin bekerja? Apakah artinya ucapan kami di atas adalah kebohongan? Bagi kami yang juga terpenjara oleh kerja, mereka yang menyoraki kerja telah mengkhianati kelasnya, mengubur begitu saja sejarah perjuangan panjang para pekerja dan telah membuat segala capaian proletariat mundur selangkah. Tapi, sikap tersebutlah yang justru diharapkan oleh para majikan.
Kapital membutuhkan tenaga kerja. Alangkah lebih mudah bagi Kapital apabila para pekerja bekerja karena mereka menyukai kerja dan dengan sukarela
ekonomi mempengaruhi keberlangsungan perusahaan.
Dalam SKB ini, ada pasal yang menyatakan bahwa upah minimum sebagai salah satu komponen dalam ketenagakerjaan, harus dibahas secara Bipartit. Artinya, pengusulan upah akan diserahkan sepenuhnya dalam mekanisme pasar, di mana pemerintah tidak lagi memiliki peran apa-apa dalam menentukan komponen upah minimum tersebut. Dalam kenyataan di lapangannya, upah para pekerja tidak akan mengalami kenaikan bahkan besar kemungkinan penurunan, karena disesuaikan dengan kondisi keuangan perusahaan di tengah krisis. Bahkan akan rentan dengan penyelewengan, pengusaha bisa seenaknya menurunkan upah pekerja atas dasar legitimasi SKB.
Pemerintah dan pengusaha berdalih bahwa dengan menurunkan upah pekerja akan dapat mencegah PHK dan menjaga keberlangsungan industri. Di satu sisi, pekerja tetap dipaksa untuk bekerja dengan upah yang rendah, sementara di sisi lain akumulasi kapital yang dinikmati oleh pengusaha dapat terus terjaga. Menurunnya laba yang diterima oleh para pemilik perusahaan sama sekali tidak menganggu kesejahteraan dan pemenuhan kebutuhan pokok hidupnya dan keluarga. Berbeda dengan kesejahteraan pekerja dan pemenuhan kebutuhannya yang sangat tergantung dari upah yang diterima, yang biasanya dalam jumlah yang jauh dari cukup.
Setelah digoyang aksi unjuk rasa puluhan ribuan pekerja sepanjang OktoberNovember, akhirnya pemerintah memutuskan revisi SKB yang diumumkan pada 27 November. "Selama ini Pasal 3 menjadi perdebatan. Pasal 3 berbunyi 'Gubernur dalam menetapkan upah minimum tidak melebihi pertumbuhan ekonomi nasional'. Karena ini multipersepsi, pasal tersebut kita revisi menjadi, 'Gubernur dalam menetapkan upah minimum dengan mempertimbangkan tingkat inflasi',” ujar Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Erman Suparno. Tingkat inflasi yang disebutkan dalam revisi tersebut disesuaikan dengan masing-masing daerah. Sehingga jumlah UMR ditentukan pada kemampuan masing-masing daerah. Sebelumnya, sejumlah daerah telah menetapkan UMR tanpa terpengaruh SKB 4 Menteri, yakni Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Namun, dengan terjadinya gelombang besar pemecatan pekerja awal 2009 ini, maka revisi SKB tidak menolong.
Sementara itu, dengan menyeruaknya gelombang unjuk rasa para pekerja, telah menunjukan satu kenyataan pahit. Banyaknya aksi demonstrasi yang diikuti oleh pekerja, telah menjadi alasan para pengusaha untuk memotong upah, skorsing, bahkan memecat para pekerja yang membolos karena ikut berunjuk rasa. Hal ini seperti memperlihatkan betapa menderitanya nasib para pekerja menjadi semacam permainan di tangan para pengusaha. Banyaknya angka angkatan kerja dan pengangguran telah membuat pengusaha menjadi jumawa, karena dengan begitu mereka dapat merekrut atau memecat para pekerja dengan mudah.
Padahal jika memang alasannya untuk membantu pemulihan ekonomi dan menyelamatkan bangsa, kenapa tidak para pejabat legislatif, eksekutif, dan yudikatif saja yang mengalami pemotongan gaji. Jika dipotong 10 persen saja dari penghasilan mereka yang fantastis, maka berapa miliar rupiah setiap bulannya negara dapat melakukan penghematan apalagi jauh dari wacana berhutang. Merupakan sebuah ironi ketika para pekerja mesti mati-matian mempertahankan hidupnya, dengan upah yang tidak sesuai dengan biaya hidupnya dan keluarga, sementara para pejabat dan pengusaha masih bisa memakan laba dan gaji yang berkali-kali lipat besarnya dari yang seharusnya mereka dapatkan.«
ENRIC DURAN DAN AKSI LANGSUNG MELAWAN KRISIS EKONOMI
Pada 17 September 2008, Enric Duran, seorang revolusioner yang tinggal di Barcelona, mulai menghilang dalam pelarian. Ia mengaku telah merampok sekitar 492.000 euro dari 39 bank yang berbeda, kemudian mempublikasikan sebuah koran gratis yang didistribusikan sebanyak 200.000 eksemplar keesokan paginya. Enric mengumpulkan pinjaman dari bank-bank tersebut dengan berbagai jaminan palsu, ia bahkan menyatakan tak akan mau membayarnya. Untuk membubuhkan garam pada luka, Enric bahkan mengkritisi industri bank dan mendorong orang-orang untuk merampok bank.
“Aku merampok 492.000 euro dari mereka yang merampok kita dengan jauh lebih banyak,” ujarnya melalui korannya, Crisi. Publikasi tersebut hadir hanya satu kali dengan dibiayai oleh uang yang ia bawa lari, sebagian besar porsi lain uangnya ia donasikan untuk membiayai berbagai proyek-proyek sosial yang dapat menjadi alternatif bagi kapitalisme. Sementara sisa uangnya ia gunakan juga untuk membiayai pelariannya. Bersikukuh pada tradisi yang nyaris hilang dari Robin Hood, Enric hadir tepat di kala krisis ekonomi mendera.
Bahkan mungkin, jauh lebih penting dari aksi penipuannya, Crisi, koran yang ia publikasikan, adalah sebuah serangan terhadap Kapital. Crisi penuh berisi dengan artikel-artikel yang memaparkan keburukan pola operasional bank sesungguhnya, tentang krisis ekonomi, kelaparan dunia, investasi pada perang dan perdagangan senjata, sejarah media massa, biografi dan foto-foto para politisi dan figur korporasi yang bertanggung jawab atas semua kesengsaraan tersebut. Artikel utamanya—sepanjang 6 halaman penuh—mendiskusikan berbagai alternatif yang mungkin dari kapitalisme. Menggunakan contoh kebangkitan di Catalunya, artikel tersebut memaparkan betapa horizontalisme gerakan sosial-lah yang dapat dipelajari, masyarakat yang saling bekerja sama dan menolak dimediasi oleh birokrat manapun, membangun kebun-kebun komunitas, rumah-rumah komunitas, serikat kerja, jaringan barter dan lain sebagainya. Proyek-proyek itulah yang mungkin dan perlu dibangun “di sini, saat ini”, demikian tutur artikel tersebut.
Kabar mengenai aksi langsung tersebut cepat menyebar dan mengejutkan mediamedia korporat sehingga selama beberapa hari Barcelona dipenuhi obrolan mengenai kasus tersebut. Menarik saat melihat orang-orang malah berpartisipasi menulis artikel dukungan, menggandakan dan mendistribusikan Crisi lebih luas. Bahkan dalam waktu singkat, seluruh isi koran tersebut telah tersedia dalam berbagai bahasa, Spanyol, Inggris, Euskera dan Arab.
Dalam harapan semakin banyak orang yang mengambil kontrol atas hidupnya sendiri, Enric mengklaim bahwa aksinya adalah sebuah bentuk pembangkangan sipil terhadap Kapital.
Sebagaimana Enric melaksanakan pelariannya, tepat seperti yang dipaparkan dalam Crisi, di AS, pemerintah menyalurkan dana $700 milyar untuk menyelamatkan bankbank yang kolaps dari dana jaminan sosial—sebuah perampokan yang tak akan pernah dihukum di bawah rezim Kapital. Sementara di Uni Eropa, para pemerintah menggunakan pembenaran krisis untuk memperpanjang jam kerja menjadi 65 jam per minggu dan memotong banyak anggaran sosial. Persis seperti kata-kata Enric, di bawah rezim Kapital, baik di tengah krisis ataupun tidak, mereka yang miskin dan harus bekerja adalah mereka yang selalu dikorbankan.
Tapi seperti juga dalam bahasa Cina, bahwa 'krisis' dituliskan dalam gabungan dua kata, satu berarti 'bencana' dan kedua berarti 'kesempatan', maka sebagaimana yang juga dipaparkan Enric, kita harus mulai bangkit justru di tengah krisis ini. Ada jalanan yang menunggu untuk kita tempuh—kebun-kebun komunitas yang perlu dibangun, pemogokanpemogokan yang perlu diorganisir, jaringan energi antar komunitas yang perlu diinstal dan bank-bank yang perlu dirampok. Kesempatan justru terbuka luas di bawah krisis.«
BANTU IA UNTUK SEGERA MATI
Dalam periode seperti ini kita akan melihat satu persatu ruang-ruang kerja ditutup atau direstrukturisasi dengan pola operasional yang tak asing di telinga kita: pemecatan atau penurunan upah secara masif—justru kala harga-harga terus merangkak naik. Di hadapan serangan borjuis yang akan semakin memojokkan kita dengan ancaman tak adanya pendapatan yang juga berarti peningkatan penderitaan, proletariat hanya dapat merespon melalui perjuangan, dengan aksi langsung. Dalam beberapa kasus, perjuangan bagi kepentingan proletariat membawa serta hal tersebut walaupun di banyak kasus sama sekali hanya berupa pengulangan taktik lama yang selalu berakhir dengan hasil yang juga sama: demonstrasi yang pada akhirnya berujung pada pemilihan “pemimpin nasional yang baik, jujur dan peduli pada rakyat”—terutama menyadari bahwa Pemilu nasional akan diselenggarakan di tahun ini. Bagaimanapun juga, pola perjuangan demikian sama sekali tidak merefleksikan kepentingan proletariat dalam cara apapun juga, melainkan justru hanya melayani kepentingan musuhnya: borjuis dan kapitalisme.
kita dari kehidupan nyata. Neuron-neuron kita semakin tak sensitif. Kemampuan untuk merasa dan berempati kita semakin majal. Kita dijejali berita, informasi, ikEKONOMI KAPITAL SEDANG KRISIS, Kepentingan proletariat adalah untuk memenuhi kebutuhan manusia, untuk melakukan distribusi produk-produk sosial dengan lebih merata, untuk mengurangi jumlah penumpukan produk yang tak berguna yang dihasilkan oleh tangan-tangannya. Sebagai kelas sosial, bahkan kepentingan proletariat adalah mengontrol dan mendistribusikan keseluruhan produk sosial, menghapuskan struktur kelas dan meniadakan kelas sosialnya sendiri dengan cara melenyapkan seluruh divisi kelas. Saat para majikan mendepaknya dari kesempatan satu-satunya untuk mendapatkan uang demi memenuhi kebutuhan hidupnya, proletariat sadar benar bahwa hal tersebut semakin menjauhkan dirinya dari hidup. Saat segala sesuatu di bawah sistem ini hanya bisa diakomodir apabila kita memiliki uang, apa artinya saat kesempatan satu-satunya untuk mendapatkan uang telah ditutup dari hidup kita?
Omong kosong semua hal yang menyatakan bahwa krisis telah berlalu. Setelah melalui periode yang mampu menghipnotis masyarakat dengan ilusi-ilusi tentang kemampuan konsumsi yang meningkat, kini krisis kembali dihadapkan ke wajah kita. Tentu saja, ini terjadi setelah Indonesia dinilai oleh para pengamat internasional sebagai negara yang mampu menyelenggarakan Pemilu yang demokratis pada periode sebelumnya. Keterbukaan dan kebebasan berserikat bagi serikat-serikat pekerja dan pers membuat lupa bahwa kini penindasan dihadirkan dalam akselerasi yang halus. Serikat-serikat pekerja legal dibangun, tapi tak satupun orang-orang miskin bahwa struktur negara tetap dibutuhkan, dan bahwa kita semua harus memberikan kekuatan kita pada negara. Biarkan mereka yang mengatur, kita hanya perlu untuk tunduk dan patuh. yang berbicara dalam bahasa yang berbeda dengan bahasa para pemilik budak dan kapital: ekonomi, politik. Saat mereka bersuara lantang “Tidak!” kami tahu bahwa mereka sesungguhnya sedang berkata “Ya!”, bahwa mereka sedang melakukan apa yang dibutuhkan struktur negara. Negara membutuhkan gerakan oposisi palsu justru untuk memperkuat posisinya. Negara membutuhkan berbagai alasan untuk dapat mengingatkan
Kita hidup di tengah masyarakat di mana politik telah menggantikan bahasa para budak. Kebohongan ini diputuskan, diatur dan dipalsukan ke dalam sebuah realitas tunggal. Penderitaan dan kemonotonan hidup kita telah diatur. Kemakmuran hanyalah sesuatu yang abstrak dan juga diatur. Tak seorangpun kini dapat hidup di luar “agama” hari ini: agama abstraksi moneter, ekonomi dan politik. Berbagai ritualnya diatur dan dioperasikan untuk mengakselerasikan defisit, benefit dan profit—termasuk juga represi.
Para “pendeta” agama universal ini hadir dengan berbagai layanan sosial mereka untuk mendomestikasi, merekomposisi dan mengajukan konsepkonsep seperti solidaritas, tetapi hanya bertujuan untuk melanggengkan kekuasaan struktur negara. Berbagai gerakan oposisi dibentuk, tidak untuk dibiarkan berkembang meruntuhkan struktur sistem, tapi untuk menjebak mereka para budak yang tak puas, melenakan mereka dengan ilusi bahwa “segalanya akan baikbaik saja”. Tentu, dalam bahasa mereka, itu artinya adalah “segalanya akan baik-baik saja... apabila kalian memilih kami sebagai pemimpin kalian”.
Para spesialis masalah sosial menginvestigasi, mengkalkulasi dan meredefinisi berbagai masalah sosial, dari kriminalitas, kelaparan, keterasingan dan meningkatnya stress, dengan mengajukan solusi-solusi yang hanya melayani kepentingan mereka sendiri. Percayalah, dalam kenyataannya, keberadaan para spesialis itulah justru salah satu masalah kita.
Marginalisasi hadir dengan cara menempatkan orang-orang dalam ketidakpastian ekonomi. Semua orang dapat kehilangan pekerjaannya kapan saja, semua orang berada dalam kecemasan sepanjang hidup. Semua orang diatur, diatur, diatur... kita semua diatur dengan janji-janji “keamanan” dan berbagai jaminan, hanya untuk terus mengingatkan kita bahwa kita akan selamanya hidup dalam kecemasan. Kecuali, kita semua rela untuk diperlakukan dan dipaksa bekerja dengan cara apapun dan bagaimanapun juga. Silahkan pilih, lakukan pekerjaan buruk ini atau engkau kehilangan sumber pendapatanmu dan keluargamu kelaparan.
Corak komunikasi yang eksis juga menjauhkan
lan. Kita dihancurkan dengan cara yang kita pilih sendiri, kita ditundukkan, hasrat kita diberangus. Tak ada kebenaran selain kebenaran ekonomi dan politik, tak ada pandangan dunia yang eksis selain dunia dalam imaji jual beli.
Kita ditakut-takuti. Rasa takut kita dieksploitasi. Kita dipecahbelah dalam permainan paranoia. Kontrol melalui komputer, melalui informasi, sirkus politik, reality-show, oposisi palsu, ancaman krisis. Eksistensi kita sebagai manusia ditutup selain hanya dalam rutinitas tersebut.
Bagaimana mendefinisikan penindasan modern yang kita lakukan dengan sukarela ini?
Di akhir dekade 1960-an terjadi sebuah proses pemodernisasian penindasan di sepanjang negeri Indonesia, yang membuat keadaan tampak mulus di permukaan dan borok-borok dikubur jauh-jauh dari pandangan mata penduduknya. Ingatan dan kenangan akan bagaimana melakukan perjuangan demi hidup yang lebih baik sedikit demi sedikit dikubur dan digantikan dengan kisah-kisah heroik yang hanya membuat kita merasa bahwa diri kita lemah tak berdaya karena kita bukan siapa-siapa. Akhir dekade 1990-an, ketidakpuasan meluas dan menggulingkan rezim. Tapi sistem yang mengalami krisis dapat beradaptasi dengan baik dalam kondisi apapun. Jurang pemisah yang seringkali menjadi pemicu konflik antar kelas sosial ditutupi dengan jaring pengaman dan berbagai kredit, ketidakpuasan ditutupi dengan diperbolehkannya dibentuk serikat-serikat pekerja formal, konsumerisme didorong dan peran uang ditonjolkan—siapa yang memiliki uang terbanyak adalah pemenang. Tapi uang hanya membawa lebih banyak lagi jarak dan isolasi di antara mereka yang miskin. Kebutuhan akan uang menentukan sebuah reduksi kualitatif dalam relasi manusia modern. Peran uang sebagai sebuah elemen yang menentukan perilaku kita seakan tak dapat ditolak. Kita berlomba mempertontonkannya, untuk memperlihatkan bahwa kita layak diterima secara sosial, walau dalam hati kita paham benar bahwa kita tak pernah memiliki jauh lebih banyak, kecuali kita mulai belajar berbicara dengan bahasa para penindas kita: bahasa ekonomi dan politik.
Kita paham bahwa kita hidup di dunia yang dipenuhi kaum para budak modern yang miskin, tapi apa yang kita selalu lihat di televisi adalah dunia kaum kaya. Kita paham bahwa semuanya palsu, tapi kita tak dapat mengelak bahwa kepalsuan itulah yang kita hasrati dan tiru sebanyak mungkin.
Sesungguhnya masyarakat telah memperlihatkan pada dirinya sendiri, dari waktu ke waktu, kemampuannya untuk bertindak dan kadang dengan cara menciptakan pemberontakan. Tetapi dari waktu ke waktu kita juga melihat baik melalui represi, rekuperasi atau keduanya sekaligus, bahwa dinamika masyarakat berusaha untuk mengintegrasikan sel-sel radikal bebasnya untuk kembali ke dalam sistem, baik secara sukarela atau dengan paksaan. Apabila di tengah komunitas kaum miskin hal itu dilakukan dengan jaring pengaman sosial dan sistem kredit, di tengah ruang-ruang kerja hal itu hadir dalam serikat-serikat buruh yang dikontrol pemerintah melalui birokrasi, representasi dan aksi negosiasi yang mengandalkan delegasi yang disetujui pemerintah.
Sistem ini memiliki logikanya sendiri dalam menyalurkan sisi-sisi ketidakpuasan. Ekonomi dan politik seakan tak dapat diserang. Segala sesuatu dilakukan dengan logika uang, setiap krisis selalu hanya semakin
memperkuat eksistensi logika tersebut. Bahkan krisis ekonomi yang kita hadapi kini juga memperkuat alasan eksistensi struktur negara. Segalanya mengarah pada maksimalitas abstraksi ekonomi. Abstraksi kepalsuan yang universal dan selama ini kita yakini dan tak pernah dipertanyakan kebenarannya.
Ideal yang tak mungkin dari kapitalisme-lanjut adalah mentransformasikan para pekerja urban menjadi kelas menengah, yang di saat bersamaan memaksa pekerja-pekerja dari pinggiran untuk menjalani kehidupan neraka di pabrik-pabrik. Pemuda-pemuda miskin yang tak mampu menemukan lahan kerja diorganisir dalam kelompok-kelompok milisi sipil yang selanjutnya digunakan untuk meredam setiap suara sumbang. Semuanya dilakukan dengan kebohongan bahwa semuanya demi keutuhan negara. Semuanya seharusnya dilakukan dengan sukarela oleh warga negara yang baik. Warga negara? Sebuah terminologi yang digunakan oleh para pemilik budak untuk menjaga agar budaknya tetap bekerja dengan baik, budak harus tetap jujur, dapat meredam emosi, penyabar walaupun seumur hidup terjerembab di jurang kemiskinan finansial, fisikal dan mental.
Ide-ide kelas menengah juga tampil dengan kontradiksinya sendiri: budget yang menurun, standar hidup yang meningkat. Kelas menengah harus terus dan terus menghabiskan hidupnya di ruang-ruang kerja mengejar sesuatu yang abstrak, yang pada intinya tetap sama: mereka dikontrol dan diatur untuk tak dapat lari dari perbudakannya. Korporasi-korporasi multinasional mendominasi pasar, menyedot dan menghancurkan yang lebih kecil. Mereka mengakselerasikan kerja-kerja pekerja miskin dengan pekerja kelas menengah, sekaligus memilah-milah mereka satu sama lain, agar semuanya lupa bahwa mereka semua sama: seorang budak.
Tentu saja, krisis ini tidak membuat para pemilik budak melompat keluar jendela
Di bawah tekanan keharusan untuk mendapatkan uang demi sekedar bertahan hidup, dengan serangan iklan dan etalase-etalase yang selalu siap merampok upah kita tanpa kita sadari, dunia dipenuhi dengan kecemburuan dan kompetisi, semua orang adalah saingan. Bagi mereka yang tak memiliki harapan sama sekali, pisau menjadi pilihan satu-satunya walaupun resiko yang harus mereka tanggung adalah penjara. Mereka yang memilih membuka usaha sendiri adalah mereka yang mengeksploitasi diri sendiri—apabila engkau tak memiliki majikan, maka klien adalah majikan barumu. Manajemen eksploitasi diri yang terbaik dan kehampaan perjuangan sosial. “Aku tak bekerja untuk boss manapun!” begitu katamu? Tak pernah seorang pekerja sepanjang sejarah memproklamirkan eksploitasi dirinya dengan begitu bangga, tapi kini adalah waktu yang tepat: semua orang melakukan penindasan atas dirinya sendiri dengan senang hati. Bukankah memiliki pekerjaan kini juga menjadi kebanggaan? Bukankah artinya itu adalah kebanggaan untuk menjadi seorang budak? Karena kerja yang sesungguhnya bukanlah kerja upahan, melainkan kerja untuk memproduksi produk kebutuhan sosial.
Dahulu para budak dipaksa untuk mau bekerja, tak sedikit dari mereka bahkan lebih rela mati. Tapi kini, setelah sistem perbudakan “dihapuskan”—atau lebih tepat ditransformasikan dalam bentuk lain—kita semua berebut untuk bekerja. Kerja upahan terburuk, kerja anti-sosial, apapun dilakukan. Para pekerja didomestikasi melalui harga-harga yang terus menanjak, ancaman pemecatan, kontrak dan aturan kerja. Apabila bukan majikanmu, maka birokrat serikat pekerjalah
Hidup kita didominasi oleh imaji-imaji serat cybernetik, yang membuat kita melupakan kesengsaraan hidup. Televisi adalah obat: ibu-ibu rumah tangga mengikuti kisah asmara dan perselingkuhan para selebriti dan sinetron untuk melupakan bahwa kehidupan seksualnya sendiri semakin menyedihkan. Lagipula, mengapa harus diingat, apabila kini telah tersedia sebuah sabun pembersih yang efektif untuk menghilangkan noda di kemeja termasuk noda tinta? Game-game virtual menggantikan pola komunikasi dan interaksi anak-anak kita dari lingkungan sosial. Pembicaraan tatap muka menghilang digantikan oleh interaksi yang penuh ilusi dan mediasi. Tak ada lagi apapun, selain Kapital. Engkau kesepian? Tenang saja, keluarkan sejumlah uang dan belilah pulsa untuk ponselmu, lupakan bahwa dirimu terisolasi. Tak memiliki uang? Bekerjalah lebih keras. Kapital berada di jantung kehidupan kita sehari-hari, ia mengontrol setiap aspek dan mengarahkan apapun ke dalam jalur yang ia tentukan sendiri.
Dengan mengatomisasi dan memecah komunikasi orisinil antar kita, dengan menginvasi kehidupan privat kita, Kapital telah mendistorsikan perjuangan yang semula dilancarkan kepadanya. Tak ada yang dapat eksis tanpa Kapital. Segala sesuatu harus tunduk di bawah kuasa Kapital, melalui struktur ekonomi dan politik. Kapital adalah penguasa dan kebenaran tunggal. Dari krisis ke krisis, Kapital semakin mengukuhkan dirinya. Ia semakin kukuh pasca Perang Dunia II. Negaranegara “demokratik” meneguhkan dirinya sendiri sebagai satu-satunya pembicara yang valid, mediator yang valid dan pemegang kebenaran yang valid. Semuanya dilakukan dengan satu bendera: demokrasi.
yang akan menentukan apa yang terbaik buatmu. Engkau hanya bidak di papan catur. Engkau hanya perlu terus dan terus bekerja, karena hidup semakin sulit apabila engkau tidak bekerja. Begitulah, semakin sulit untuk memenuhi kebutuhan hidupmu, bahkan yang paling mendasar sekalipun, apabila engkau tidak bekerja.
Tetapi demokrasi adalah ilusi komunikasi. Melaluinya dan di dalamnyalah para politisi mengekspresikan ide-ide mereka yang lantas menjadi suara mayoritas. Kekuatan kemampuan kita untuk berkomunikasi dan cara berkomunikasi, telah direnggut dari diri kita, kata-kata dari mulut kita dihapuskan dan digantikan oleh berbagai kebohongan ideologis. Demokrasi tak lain daripada penjarahan atas komunikasi yang dilakukan oleh para politisi, yang memanggil diri mereka sendiri sebagai representatif dan delegasi dari kita yang tak diperbolehkan bersuara. Demokrasi adalah kepalsuan komunikasi yang dilakukan hanya untuk satu tujuan: melanggengkan akumulasi roda Kapital.
Apapun yang tak ada dalam legalitas negara tidaklah eksis. Apabila engkau melihat sesuatu, yang penting bukan apa yang engkau lihat, tapi apa yang dikatakan media tentang sesuatu tersebut. Itulah realitas. Mungkin engkau menganggapnya kepalsuan, tapi dari hari ke hari itu jugalah yang engkau yakini. Kita dilatih untuk tak lagi melihat dengan mata dan hati, melainkan dengan mata negara dan Kapital, baik itu dengan rasa takut atau dengan rasa apati.
Penghancuran manusia dan empati antarmanusia telah mencapai tahap paranoia: hal tersebut menjadi normal, logis dan natural. Adalah wajar untuk membiarkan manusia kelaparan hanya demi menjaga agar ekonomi dapat tetap beroperasi seperti semestinya. Seperti bagaimana kita dianjurkan untuk menghormati pimpinan kita, kita diberitahukan bahwa ratusan atau ribuan orang manusia memang harus dikorbankan demi kepentingan ekonomi nasional, dan satusatunya cara untuk lari dari kesulitan hidup adalah dengan cara bekerja lebih keras. Untuk semakin menjauhkan kita dari perasaan empati, kita dianjurkan untuk memberikan donasi pada NGO atau membeli produk-produk tertentu untuk membantu mereka yang miskin di sisi lain negeri ini. Kita lupa bahwa para pemilik produk tersebutlah yang membuat kemiskinan semakin merajalela, untuk kemudian mereka berpurapura peduli untuk mengentaskannya.
Semakin keras kita bekerja dan menghabiskan waktu hidup kita dengan bekerja, kita tak memiliki energi lain selain untuk pergi ke pembaringan dan terlelap. Sedikit demi sedikit, dengannya realitas manusia