Baca PDF (OCR): Apokalips 11

2 halaman · teks PDF berhasil diekstrak tanpa OCR · 2.7 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. ANAK-ANAK, TANYA MAMA, AMANKAH MAKANANMU? (Bag.II)
  2. Catatan kaki:
  3. [1] http://www.monsanto.com
  4. Editorial
  5. MENGAPA KAPITALISME MENYEBALKAN (BAG.II)
  6. Bagaimana hal tersebut mempengaruhi hidup harian orang-orang umum?
  7. Krisis Sumber Daya Indonesia
  8. Politik Kita Membosankan!
  9. Bagaimana kapitalisme memberi arti pada hidup orangorang umum?

ANAK-ANAK, TANYA MAMA, AMANKAH MAKANANMU? (Bag.II)

“You are what you eat.” (Engkau adalah apa yang engkau makan) —slogan EAT (347 Clothing Company)

Monsanto, Privatisasi Benih dan Dominasi Pangan Dunia

Visi Monsanto adalah "Makanan yang berlimpah dan lingkungan yang sehat"[1]. Akan tetapi, cara mereka untuk mencapai visi tersebut sangat berbeda dengan yang kita semua mungkin pikirkan. Pada kenyataannya, Monsanto adalah salah satu korporasi raksasa yang mencoba untuk menentukan bentuk masa depan pertanian dan mengambil alih rantai makanan global.

Hari ini, lebih dari setengah populasi dunia justru menggantungkan kebutuhan pangannya pada korporasi yang juga merupakan penghasil dan pemasok Agent Orange[2] ini. Dapatkah kita menggantungkan diri kita kepada seorang peracik racun untuk memenuhi kebutuhan perut kita? Dapatkah kita percaya, bahwa apa yang Monsanto lakukan adalah memang untuk “menyediakan pangan untuk semua”?

Selain herbisida[3] Agent Orange, mereka juga memroduksi herbisida lainnya di bawah merek dagang “Roundup”. Bahan aktif dari Roundup sendiri adalah garam Isopropylamine Glyfosat, yang pertama kali ditemukan oleh seorang ilmuwan Monsanto bernama John Franz pada tahun 1970. Sejak saat itu, Monsanto mulai mengembangkan serta mematenkan molekul glyfosat-nya di bawah nama Roundup dan kemudian mulai memasarkannya sejak tahun 1973.

Namun ternyata herbisida ini bukan saja menghancurkan gulma, tetapi juga tanaman yang ingin dilindunginya. Melalui modifikasi atas sel tumbuh-tumbuhan secara genetis (atau biasa dikenal dengan sebutan genetically modified, disingkat GM), Monsanto kemudian menciptakan benih tanaman yang memiliki ketahanan terhadap Roundup. Benih tanaman GM ini mereka patenkan di bawah merek dagang “Roundup Ready”. Beberapa benih Roundup Ready yang tersedia di pasaran luas diantaranya adalah benih kanola, kedelai, jagung dan juga kapas. Dari benih Roundup Ready ini, akan tumbuh tanaman yang memiliki daya tahan terhadap herbisida Roundup, sehingga jumlah penyemprotan racun dapat ditingkatkan tanpa membunuh tanaman tersebut. Paket herbisida dan benih “super” buatan Monsanto ini akhirnya menjadi yang terlaris di dunia. Pada tahun 2003 saja, bibit GM dari kedelai, jagung, kapas dan kanola buatan Monsanto telah menguasai 90% lahan dunia yang ditanami benih-benih GM[4].

Dengan dipatenkannya benih-benih GM Roundup Ready, hukum akan menyebut Monsanto sebagai pemilik “Hak Kekayaan Intelektual” (HKI)[5] atas benih-benih tersebut. Itu sama artinya dengan membubuhkan tanda copyright di atas setiap benih kanola, kedelai, jagung dan kapas Monsanto.

Monsanto menyatakan, diperlukan waktu selama satu dasawarsa dan uang sebanyak US$300 juta yang dihabiskan untuk mengembangkan benih Roundup Ready. Untuk menutup biaya tersebut, Monsanto pun menekan para petani agar mau membeli benih dalam jumlah besar setiap tahunnya, yakni dengan cara membuat mereka setuju untuk “menghormati HKI atas benih Roundup Ready” dan tidak menanami kembali benih-benih tersebut di musim berikutnya. Setiap butir benih menjadi mirip CD Microsoft Windows yang hanya boleh diinstal hanya pada satu set CPU saja. Padahal, selama kurang lebih 12.000 tahun, para petani telah bertahan dengan cara menyimpan, membibit, dan mempertukarkan benih untuk panen tahun berikutnya. Lewat perlindungan hukum atas HKI yang dipegangnya, Monsanto kini dapat menuntut para petani kecil yang masih menjalankan tradisi menyimpan dan menanam kembali benih GM dengan tuduhan “pembajakan benih”[6]. Ada banyak petani yang secara tidak sengaja, atau tanpa mengetahui seluk beluk HKI dan paten, menanam kembali benih produksi Monsanto dan kemudian

harus berurusan dengan pengadilan[7]. Berdasarkan laporan pada tahun 2004, Monsanto telah melancarkan sebanyak 475 tuntutan pengadilan atas para petani di Amerika Utara[8]. Sekali lagi kita dihadapkan pada pertanyaan yang masih sama, “untuk kepentingan siapa hukum diciptakan?”

Penguasaan paten atas benih tanaman berdampak pada berubahnya posisi kepemilikan benih, dari yang sebelumnya adalah milik publik atau milik bersama, kini menjadi milik privat: privatisasi benih. Akibatnya, petani kehilangan haknya untuk menyimpan, menanam kembali dan saling menukar benih. Seorang petani yang membeli benih GM, tidak memiliki hak apapun atas benih tersebut kecuali ia ingin berhadapan dengan meja hijau. Selain itu, harga benih pun menjadi mahal karena petani harus menanggung biaya teknologi dan royalti pada Monsanto. Belum lagi, benih Roundup Ready memang dirancang untuk digunakan dalam satu paket bersamaan dengan herbisida Roundup. Jadi, petani tidak hanya diharuskan untuk membeli Roundup saja, tetapi juga membeli benih yang tahan terhadap Roundup, karena sudah barang tentu, bibit biasa akan hancur karena tidak tahan terhadap racun herbisida tersebut. Kalau sudah begini keadaannya, tentu saja hanya para petani kaya dan tuan tanah saja yang dapat bertahan.

Monsanto berhasil mendominasi industri dan sistem pangan dunia lewat beberapa cara, di antaranya: Melahap (akuisisi) serta melibas pesaing-pesaing kecil mereka dan bekerja sama (merger) dengan pesaing besar mereka. Pada tahun 1995, Monsanto mengambil-alih beberapa perusahaan bioteknologi kecil yang baru saja memulai usahanya. Tidak hanya itu, Monsanto juga mengambil alih perusahaan besar penghasil benih seperti Agracetus. Dari Agracetus, Monsanto mendapatkan paten atas kapas dan kedelai. Sebanyak 54% saham dari sebuah perusahaan bioteknologi lainnya yang bernama Calgene, juga telah dikuasai oleh Monsanto. Beberapa perusahaan lain yang dibeli oleh Monsanto di antaranya: Asgrow Seed, De Kalb dan Holden. Pengadaan benih dunia telah jatuh sepenuhnya ke tangan Monsanto. Pada April 2002, Monsanto saling bertukar teknologi pertanian dengan sebuah perusahaan raksasa di bidang pertanian lainnya yang bernama DuPont. Mereka juga membatalkan semua tuntutan atas pelanggaran paten masing-masing teknologi. Itu berarti, kedua raksasa tersebut saling bertukar lisensi dan mendapatkan akses pada teknologi transformasi genetik yang dikembangkan masing-masing[9]. Kecenderungan ini mempersempit pilihan petani atas benih dan sarana produksi pertanian, dan tentu saja ikut mempersempit pilihan para konsumen atas bahan pangan hasil pertanian.

Mereka juga mendominasi produksi dan sarana produksi pertanian (benih dan agrokimia), lewat cara yang sebelumnya telah dibahas: meningkatkan ketergantungan petani atas produk Monsanto seperti Roundup dan Roundup Ready. Cara ini bisa dilakukan karena terdapat perlindungan HKI atas benih yang mereka modifikasi secara genetik.

Cara berikutnya adalah dengan cara mendominasi sumber daya dan pasar produk pertanian. Contohnya, di Afrika Selatan Monsanto menguasai pasar benih hasil modifikasi genetik, 60% dari pasar jagung GM dan 90% pasar gandum[10]. Untuk memperlancar bisnisnya melintasi berbagai batas negara, Monsanto juga melakukan banyak praktek suap kepada para pembuat kebijakan di berbagai negara. Tidak usah mencari contoh yang terlalu jauh. Sejak tahun 1997 hingga 2002, Monsanto telah menghabiskan uang sebesar US$700.000 untuk menyuap 140 pejabat tinggi di Indonesia lewat anak perusahaannya, PT Monagro Kimia. Suap ini dilakukan agar produknya (herbesida Roundup dan Roundup Ready jagung serta kapas) dapat diloloskan ke pasar Indonesia[11].

Lalu, bagaimana dengan dampak kesehatan dari konsumsi hasil panen benih-benih GM Roundup Ready? Pada bulan Maret tahun 1999, seorang ahli onkologi terkemuka asal

tahun 1990-an, pemerintahan AS menyatakan bahwa bahan pangan yang berasal dari benih GM tidak berbeda dengan bahan pangan natural lainnya yang telah manusia konsumsi selama berabad-abad. Namun jelas ini adalah pernyataan yang politis, dan bukan pernyataan yang ilmiah.

Pada kenyataannya, dari sejumlah penelitian yang telah dilakukan oleh para ahli, bahan pangan yang berasal dari benih GM terbukti berpotensi menimbulkan berbagai penyakit bagi para konsumennya. Di antaranya adalah: keracunan pada sistem pencernaan; kerusakan hati; tingkat kematian yang lebih tinggi serta kerusakan organ dalam; gangguan sistem reproduksi dan kematian pada bayi; berbagai jenis alergi; dan lain-lain[13]. Mengkonsumsi bahan pangan yang berasal dari benih GM sama saja dengan menimbun racun dan kerusakan di dalam tubuh karena efeknya yang bersifat jangka panjang.

Yang lebih mengerikan lagi, kekuasaan Monsanto telah begitu menyebar secara luas hingga ke berbagai pelosok dunia. Hampir seluruh proses produksi dan penyediaan pangan global tentu saja telah didominasi. Dan kita tidak akan pernah tahu, darimana makanan yang kita santap berasal, dan bagaimana makanan tersebut diproduksi. Maka, mungkin saja tadi pagi anda baru saja menyantap senyawa yang juga dapat ditemukan dalam kandungan Agent Orange. «

Catatan kaki:

[2] Agent Orange adalah julukan bagi racun herbisida yang digunakan oleh pasukan AS pada masa perang Vietnam untuk menggunduli hutan hujan, tempat persembunyian para gerilyawan Vietkong yang menolak pendudukan AS atas Vietnam. Agent Orange akan melepaskan senyawa kimiawi Dioxin ke udara setelah disemprotkan, dimana Dioxin sendiri adalah sebuah senyawa racun paling berbahaya yang pernah dikenali oleh manusia. Lebih jauh mengenai Agent Orange dan dampaknya, baca “Bedah Kejahatan Korporasi: Ayo Anakanak, Mari Belajar Membuat Mutan” dalam Jurnal Apokalips #10, Januari 2008.

[1] http://www.monsanto.com

Swedia, Dr. Leonard Hardell dan Dr. Mikael Eriksonn, menyatakan bahwa penggunaan herbesida Roundup justru meningkatkan resiko kanker dalam jangka panjang karena herbesida meracuni makanan yang diproduksi[12]. Sejak awal 1 BEA MASUK BAGI SEMUA RET 08 GRATIS SEPERTI KORPORASI MIGAS #1 A M APOKALIPS

[3] Herbisida adalah jenis bahan kimia yang digunakan untuk menghancurkan gulma atau tanaman liar. [4] Laporan tahunan Monsanto (2003)

[5] Peraturan perlindungan HKI atas mahluk hidup, termasuk tanaman, pertama kali ditegakkan di AS dan kemudian secara global melalui kesepakatan Hak Kekayaan Intelektual terkait Perdagangan atau TRIPS (Trade Related Intellectual Property Rights) di bawah Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Penjelasan lebih lengkap mengenai WTO dan TRIPS lihat: Hira Jhamtani , 2005, WTO dan Penjajahan Kembali Dunia Ketiga, diterbitkan oleh INSIST Press. Lihat juga Hira Jhamtani dan L.Hanim, 2002, Globalisasi dan Monopoli Pengetahuan: Telaah tentang TRIPS dan Keragaman Hayati, diterbitkan oleh INFID, IGJ dan Konphalindo.uga [6] Artikel “Kebangkitan Kekuasaan Korporasi”, oleh Sarah Anderson, dalam Jurnal Wacana edisi #19 tahun VI, 2005. [7] Artikel “Kelaparan Di Tengah Kelimpahan”, oleh Hira Jhamtani, dalam Jurnal Wacana edisi #19 tahun VI, 2005. [8] J. Ziegler, 2004, “Special Rapporteur Report on the Right to Food to UN Commision on Economic, Social and Cultural Rights”

[9] Artikel “Monsanto: Perusahaan Kematian” dalam Jurnal Wacana edisi #19 tahun VI, 2005. [10] J. Ziegler, 2004, ibid.

[11] Artikel “Monsanto: Perusahaan Kematian” , ibid. [12] Artikel “Monsanto: Perusahaan Kematian” , ibid. [13] Artikel “Monsanto and GM Foods: Health Risks” dalam http://www.sourcewatch.org/index.php?title=Monsanto_and_ GM_Foods:_Health_Risks

e m e m eralis pitalis olib nti-hirarki a e nti-k nti-n a a a

! LIT A U G S u N mi h. elalu a a k U ara KIN u; k s ala J A g k mi m m n M TA n a u a a y N m n h a at k a KITA g k mila u a nja b KA I m P a e n k m a U a u; k g L s g n HID A a m n a m a h y p. J J e a U m p h AT I m g mila U a ur lela B n s B a a S y n M E a u; k h E k tertid M K mila E ersih ntarm a N K b A m a AT K g e GI D n m e m A U L B S AIK N M U M B E B P A R G R A RA A H U A L PA H KA

Sampai berjumpa di barisan korban pemotongan subsidi selanjutnya.

Editorial

Dalam empat bulan terakhir kami mengalami banyak guncangan, terutama, adalah kenyataan bahwa pengurus situs online kami tak mampu lagi meluangkan banyak waktu selain harus berkutat dengan pekerjaannya—sehubungan ia tidak memiliki kapital selain tenaga kerjanya, persis seperti kebanyakan diri kita. Dengan kata lain situs online kami terbengkalai dan kami harus mencari penggantinya. Para neo-luddite di kolektif kami berkata pada komputer, “Ayo buat lagi!”, seraya membanting mouse ke lantai akibat frustrasi atas ketidakmampuan kami. Hingga pada akhirnya ada suntikan darah baru dalam kolektif kami—orang yang sungguh tahu bagaimana menggunakan komputer! Ya, kami memutuskan untuk melupakan sejenak kritik kami atas teknologi dan segera merekrut seorang anggota partai politik yang melek-cyber dengan janji bahwa apabila ia bersedia mengurus situs online Apokalips, maka kami akan bersedia tunduk di bawah kepeloporan partainya apabila partainya menang kelak...

Tidak, tidak. Maaf, kami hanya bercanda. Kami masih orang-orang yang sama, jangan khawatir, kami masih tidak mampu percaya pada partai politik yang telah terbukti berulang kali tak satupun juga yang mampu membawa hidup kami lebih baik, termasuk mereka yang berkoar berjuang demi rakyat. Berkali-kali pemerintahan berganti membawa serta beragam janji, tetapi yang kami juga selalu sadari, kami selalu yang harus dikebiri (entah demi penyusutan subsidi, entah demi penghematan sumberdaya) dan selalu saja mereka yang membuat keputusan yang tetap dengan nyaman menjalani hidup tanpa harus keluar keringat dan cemas tentang darimana uang demi menghidupi keluarga mereka akan datang selanjutnya. Selalu saja kami menjadi pecundang dan mereka pemenang di bawah sistem ekonomi kapitalisme. Selagi mereka tampak sebagai keluarga bahagia, mengendarai mobil Mercedez dan berbelanja seenaknya di outlet-outlet mall termahal, kami yang harus melayani mereka dan pulang ke rumah kontrakan dengan motor cicilan yang tak kunjung lunas. Kami memang bukan siapa-siapa. Kami hanya anak-anak muda yang bosan dipecundangi, diperas, kecewa, terluka dan marah.

PO Box 1419, Bandung 40014 [email protected]

TIM REDAKSI: Sumadikarta, Makhdum Ibrahim, Rikki Rikardo, Bambang Sutedjo, Munaa, Petrus Soemitro, Ari Wibowo, Ahmad Kosasih

Jurnal Apokalips diterbitkan berkala sebagai bagian dari agenda Kampanye Komuniti Melawan Neoliberalisme. Kampanye ini terlaksana atas inisiatif dari komuniti-komuniti independen sebagai ikhtiar melawan gelombang imperialisme gaya baru yang semakin hari semakin nyata dan terasa dampaknya. Sesuatu yang membuat nyaris segala sesuatu dilabeli harga tetapi semakin sedikit yang diberi arti. Gerai-gerai produk semakin berte-baran di mana pun, tetapi di mana pun juga semakin sedikit yang mampu mengaksesnya. Hidup jadi tak lebih dari sekedar menjadi urusan makan, minum, berkembang biak atau urusan tempat tinggal dan dekorasinya; menjadi urusan konsumsi tapi tidak urusan kreasi. Hidup telah kehilangan artinya. Kami hanya menginginkan hidup kembali menjadi layak untuk dijalani, di mana segala sesuatu diberi arti bukan lagi label harga, sebagaimana kami ingin membangun kembali kerajaan surga di atas puing-puing neraka bumi bersama kalian semua, hingga suatu masa, hidup akan berkembang kembali di hadapan kita seperti mawar di awal musim panas.

BERANDALANI DUNIA MAYA: pustaka.otonomis.org rumahkiri.net antikapitalisme.net apokalips.org (sedang dalam pembenahan serius)

MENGAPA KAPITALISME MENYEBALKAN (BAG.II)

Bagaimana hal tersebut mempengaruhi hidup harian orang-orang umum?

Hal ini berarti bahwa waktu dan energi kreatifmu dibeli darimu, itulah bagian terburuknya. Saat yang harus engkau jual untuk sekedar bertahan hidup adalah tenaga kerjamu, engkau dipaksa menjual seluruh hidupmu agar dapat eksis. Pada akhirnya engkau menghabiskan nyaris seluruh waktu hidupmu dengan melakukan apapun yang dapat memberimu upah terbesar, bukan melakukan apa yang benar-benar engkau kehendaki: engkau menjual mimpimu demi upah dan kebebasanmu demi kepemilikan material. Dalam waktu “luang”mu engkau membeli kembali apa yang engkau hasilkan selama waktu kerjamu (dengan menambahkan profit bagi majikanmu, tentu saja); engkau tak akan mampu membeli kembali waktu yang telah engkau habiskan selama bekerja bagi majikanmu. Sederhananya begini, misalkan engkau bekerja di pabrik Coca-Cola (atau biro iklan yang membuat iklan bagi Coca-Cola), maka saat engkau membeli Coca-Cola pada waktu luangmu, artinya engkau telah membeli kembali apa yang engkau hasilkan dalam waktu kerja.

Bagian waktu hidupmu tersebut telah lenyap dan engkau tak memiliki apapun selain sejumlah tagihan dan “kebutuhan” yang kini mampu engkau penuhi. Pada akhirnya engkau mulai berpikir bahwa kemampuan kreatif dan tenaga kerjamu berada di luar kendalimu. Engkau mulai mengasosiasikan aktivitas apapun selain “bersantai” (beristirahat dari kerja agar mampu bekerja kembali esok hari) sebagai sebuah penderitaan. Engkau hanya mampu melakukan sesuatu di mana engkau disuruh untuk kerjakan, bukan apa yang engkau kehendaki. Ide yang menyoal bagaimana engkau harus memiliki inisiatif dan bagaimana engkau seharusnya mengejar cita-citamu tak pernah lagi hadir di benak kita, kecuali apabila cita-cita tersebut dinilai mampu memberikan upah besar bagimu. Engkau tak memiliki keinginan apapun selain aktivitas yang merujuk pada hobi (bertamasya, mengoleksi benda-benda langka, bermain dalam sebuah grup musik dan sejenisnya).

Benar. Masih ada segelintir orang yang berhasil mendapatkan upah saat mereka melakukan apa yang selalu ingin mereka lakukan. Tetapi berapa persentase dari orang-orang yang selama hidupnya bekerja dan masuk ke dalam kategori tersebut? Amat jarang dan individu-individu tersebut selalu diagungagungkan oleh sistem ini ke hadapan kita untuk membuktikan betapa sistem ini bekerja dengan baik—lantas kita dipaksa untuk bekerja semakin keras (bagi majikan kita) dengan dijejali harapan bahwa pada suatu ketika diri kita akan seberuntung mereka.

Anak-anak muda masa kini, di kota maupun di desa, selalu bercita-cita menjadi seorang bintang. Pada kenyataannya, tak pernah ada cukup lowongan kerja bagi setiap orang untuk menjadi penyanyi terkenal seperti Agnes Monica yang sekali tampil saja dapat diupah seharga berbulan-bulan (atau bahkan bertahun-tahun) upah waktu kerjamu. Lagipula, selalu ada orangorang yang bekerja di pabrik-pabrik atau biro-biro iklan untuk memroduksi CD milik sang penyanyi dan iklan-iklan yang menaikkan angka penjualan. Apabila engkau tak berhasil menjadi seorang bintang penyanyi terkenal dan paling banter hanya akan menjadi seorang desainer iklan sang bintang, penjaga toko yang menjual CD-nya atau pekerja di pabrik pemrosesan CD, maka sistem ini akan menyalahkanmu karena engkau dianggap kurang keras berusaha... maka apabila engkau hanya mendapatkan sedikit uang dan bekerja dengan dilingkupi kebosanan, itu adalah salahmu sendiri. Lagipula, engkau masih dapat menawarkan diri menjadi seorang penempel poster konser sang bintang di jalan-jalan. Benar?

ke kolom seberang pembatasan konsumsi minyak tanah. Berhubungan dengan itu pula, program konversi minyak tanah mulai dilekata-kata belaka dan tak mampu menjadi senjata untuk

Oleh: Sumadikarta Penyair & Penjual Air Isi Ulang

Krisis Sumber Daya Indonesia

ebagai anggota WTO dan aplikasi kesepakatan S peminjaman hutang terhadap IMF, Bank Dunia, dan ADB, Indonesia terlibat dalam alur perdagangan pasar bebas. Terintegrasinya perekonomian Indonesia dengan dunia telah berpengaruh pada perekonomian nasional, terutama terhadap sektor migas yang menjadi sektor utama liberalisasi ekonomi. Seperti ketika konsumsi bahan bakar di AS meningkat saat liburan musim panas, sementara produksi minyak dunia tetap maka berimbas pada kelangkaan minyak yang berbuntut kenaikan harga. Sementara harga BBM di Indonesia tidak ditetapkan dari biaya produksinya tapi dihitung berdasarkan harga minyak rata-rata dunia. Sehingga ketika harga minyak dunia naik maka akan berpengaruh pada harga BBM di Indonesia.

Pada akhir Januari 2008, pemerintah mengubah APBN 2008 karena terjadi defisit. Menurut pemerintah terjadinya defisit dikarenakan kenaikan harga minyak dunia yang menembus angka US$100 per barel. Salah satu cara pemerintah untuk mengurangi defisit ialah dengan semakin memperbesar ekspor migas dan memotong subsidi BBM. Sebagai pembenarannya pemerintah menginformasikan kepada publik bahwa subsidi BBM sebagai pos pengeluaran terbesar. Dengan begitu maka harga BBM di dalam negeri akan kembali diplot mengalami kenaikan meskipun di sisi lain minyak banyak diekspor ke luar negeri.

Pemberitaan kelangkaan BBM dan minyak tanah selama satu tahun ini sejalan dengan terpecahkannya rekor nilai ekspor migas Indonesia. Pada tahun lalu saja, ekspor migas Indonesia sebesar US$22,05 juta atau naik 3,99 persen dari tahun sebelumnya. Ekspor migas 2007 terdiri atas ekspor minyak mentah yang mencapai US$9.2 juta atau naik 12,94 persen dibanding tahun 2006 sebesar US$8.2 juta. Sedangkan ekspor gas sebesar US$9.9 juta atau turun 2,34 persen dibanding tahun 2006 sebesar US$10.2 juta. Meskipun begitu untuk 2008 produksi gas diperkirakan akan naik kembali menjadi 1.16 juta barel dibanding tahun 2007 sebesar 1.12 juta barel. Sementara itu menurut data BPS awal tahun 2007, pengangguran

terbuka mencapai 10,55 juta orang, sementara angkatan kerja baru tahun ini diperkirakan 2,1 juta. Padahal pada tahun 2006, 1% pertumbuhan ekonomi hanya berkolerasi dengan penyerapan tenaga kerja sebanyak 48 ribu orang. Dengan demikian tahun 2008 akan terjadi ledakan kemiskinan yang pada tahun 2006 saja jumlahnya mencapai 128,94 juta orang. Sehingga bisa ditarik benang merah antara peningkatan ekspor migas dengan menurunnya kesejahteraan masyarakat. Minyak yang diekspor dalam kenyataannya tidak memberi kontribusi apapun terhadap masyarakat.

Di sisi lain, penghematan energi yang dicanangkan presiden melalui Instruksi Presiden Nomor 10 Tahun 2005 nyatanya tidak sinkron. Karena meskipun rakyat dipaksa melakukan penghematan, namun penghematan BBM untuk listrik hanyalah usaha pengalihan alokasi BBM bersubsidi ke kuota ekspor. Dengan atau tanpa upaya penghematan pun nyatanya tarif dasar listrik dan BBM tetap mengalami kenaikan.

Atas dasar alasan untuk mengurangi subsidi BBM, mulai Mei 2008, di luar opsi kenaikan harga BBM, pemerintah merencanakan pembatasan pembelian premium dan solar bersubsidi untuk sepeda motor dan mobil pribadi. Sedangkan kendaraan umum masih disubsidi penuh. Nantinya setiap kendaraan pribadi mendapat jatah pembelian bahan bakar per hari. Volume pembelian dikendalikan melalui kartu pintar (smart card) yang ditempel di kendaraan. Program ini dicanangkan atas asumsi bahwa setiap kendaraan pribadi hanya berhak menikmati BBM bersubsidi sekian liter per hari. Jika jatah BBM subsidi dari pemilik kendaraan pribadi tersebut habis, maka dia harus membeli BBM non subsidi yang harganya cukup mahal. Sekilas, argumentasi demikian terasa benar, namun dalam praktek di lapangan tentu akan banyak kekacauan besar sebagai mana pengalihan minyak tanah ke kompor gas yang kacau.

Selain mematangkan program pembatasan premium dan solar, pemerintah tengah menggodok rencana

barkan ke daerah-daerah di luar Pulau Jawa. Program pembatasan BBM dan minyak tanah ini berjalan dalam kondisi pengelolaan migas yang kacau. Seperti yang telah diketahui, kelangkaan minyak tanah terjadi di mana-mana. Kelangkaan ini terjadi sejak program konversi minyak tanah ke gas diluncurkan PT Pertamina. Bersamaan dengan itu, pasokan minyak tanah ke daerah yang menjadi sasaran konversi pun dibatasi. Namun tidak jarang kelangkaan terjadi di daerah yang belum mengalami konversi. Akibatnya minyak tanah yang harga normalnya Rp2.300 melonjak menjadi Rp3.000–Rp4.500 di tingkat pengecer. Padahal jika kita lihat dana yang telah digunakan lebih dari Rp3 triliun untuk menyediakan tabung gas, kompor, dan selang yang dibagikan gratis kepada masyarakat, kemudian ditambah biaya teknis untuk operasional smart card, maka jumlahnya bisa mengurangi nilai subsidi yang dipotong.

Faktor lain yang menyebabkan krisis BBM terjadi adalah liberalisasi pengelolaan migas. Penerapan UU Migas No.22/2001 tidak memperhatikan kondisi industri perminyakan nasional dan daya beli masyarakat. Melalui peraturan tersebut, pemerintah memantapkan liberalisasi di sektor migas dan memberikan jalan bagi swasta dan asing berinvestasi dalam bisnis BBM. Kemudian pada tahun 2007 Undang-Undang Penanaman Modal disahkan oleh DPR. Undang-undang ini secara jelas memberikan keleluasaan korporasi untuk berkecimpung dalam segala sektor ekonomi tidak terkecuali sektor-sektor strategis yang menentukan hajat hidup orang banyak.

Dampak dari liberalisasi ekonomi di sektor migas ialah banyaknya kilang minyak di Indonesia yang telah dikuasai oleh perusahaan-perusahaan minyak seperti Chevron, Exxon Mobil, Conoco Phillips, Shell, Texaco, BP, UNOCAL, dan Halliburton. Dengan UU Migas yang telah ada maka perusahaan minyak yang menjadi kontraktor bagi hasil (KPS) di Indonesia diperbolehkan untuk menjual sendiri minyaknya. Apalagi pada awal 2008, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengeluarkan peraturan untuk membebaskan bea masuk impor barang untuk kegiatan usaha hulu migas dan panas bumi,

menanggung pajak pertambahan nilai (PPN) impor barang untuk kegiatan eksplorasi hulu migas dan panas bumi, sekaligus membebaskan bea masuk impor platform pengeboran produksi terapung dan di bawah air.

Pemerintah juga meyakini akan meningkatnya investasi di sektor migas dan sangat optimis 26 blok migas yang ditawarkannya pada Desember 2007 akan diminati investor. Selain memberikan kepastian hukum dengan pembebasan bea masuk dan menanggung PPN barang impor, pemerintah juga memberikan bagi hasil (split) yang sangat menarik. Untuk blok migas yang berada di laut dalam misalnya, pemerintah bersedia menurunkan bagi hasil hingga 50%. Padahal, biasanya untuk minyak bagi hasil pemerintah mencapai 85% dan untuk gas mencapai 60% Karena itu pula pemerintah mencanangkan target investasi migas tahun ini sebesar US$ 14.4 miliar atau sekitar Rp 135.4 triliun.

Ketika terjadi defisit yang salah satunya diakibatkan target lifting minyak dalam APBN 2008 yang awalnya diproyeksikan 1.034 juta barrel per hari tidak tercapai, maka kebijakan pemerintah menaikan investasi asing mesti dipertanyakan kembali. Karena semakin besar penguasaan perusahaan asing atas kilang minyak berarti semakin memperkecil produksi migas nasional dan mengakibatkan krisis BBM. Minyak dimanfaatkan untuk keuntungan pihak perusahaan.

Berkaitan dengan ditingkatkannya ekspor migas, kelangkaan BBM dan minyak tanah yang semakin kentara terjadi di Indonesia, Dirut Pertamina, Ari Soemarno malah beralasan bahwa Pertamina sama sekali tidak pernah mengurangi pasokan BBM dan menjamin stock dalam kondisi aman. Sebagai kambing hitamnya, Ari mengatakan bahwa masalah distribusi BBM dikarenakan cuaca buruk dan banjir. Ditambahkannya pula bahwa kelangkaan ini terjadi karena banyaknya penyelundupan BBM di mana BBM bersubsidi dibeli untuk kemudian dijual kembali di sektor industri yang mematok harga lebih tinggi. «

Oleh: Tri Fatimah Ibu Rumah Tangga

Politik Kita Membosankan!

adapilah kenyataan, bahwa hal itu benar adanya. Apabila tidak, mengapa kebanyakan orang H lain mengernyit saat mendengar kata “politik”? Mengapa diskusi dan pertemuan (dan juga demonstrasi) yang kita organisir hanya dihadiri oleh orang yang itu itu juga? Mengapa mereka yang dianggap tertindas tidak juga bergabung dengan kita demi pembebasan dunia?

Mungkin setelah bertahun-tahun kita “berjuang” untuk memberi kesadaran soal ketertindasan mereka, kita berujung dengan menyalahkan mereka atas kondisi yang menimpa mereka. Mereka pasti memang tidak ingin melawan; apabila tidak, mengapa juga mereka kalaupun pernah terlibat dengan aktivitas kita, tak pernah mampu bertahan lama dan bahkan terlalu jauh apabila kita berharap mereka akan mampu membangun perjuangan mereka sendiri? Mereka pasti bagian dari kelas borjuis atau tak pernah mau sadar; apabila tidak, mengapa mereka hanya terus menerus menonton kita berbaris dalam demonstrasi, padahal penindasan telah berada tepat di hadapan mereka sendiri?

Kenyataannya, politik kita membosankan bagi mereka dan karenanya jadi tidak relevan. Mereka tahu bahwa gaya protes kita—berbaris rapi di bawah satu komando, membawa spanduk dan plakard serta menyebarkan leaflet yang isinya begitu-begitu juga—kini tampak tak berdaya untuk memberikan perubahan nyata dan mereka menyadari hal tersebut. Mereka paham bahwa retorikaretorika yang kita serukan seringkali hanya tetap berupa

mengubur sistem kontrol ini, tak pernah memberi dampak apapun pada dunia yang mereka hidupi sehari-hari. Mereka paham bahwa isi hidup mereka dari hari ke hari tetap sama saja. Mereka—dan juga kita—paham benar bahwa kebosanan yang sering mendatangi para aktivis setelah bertahun-tahun “berjuang” adalah bukti bahwa “politik” yang kita usung bukanlah kunci untuk membawa transformasi dalam kehidupan harian. Bahwa politik kita tidak relevan dengan hidup sehari-hari.

Dan kita juga tahu betul. Bahwa berapa banyak “mantan” aktivis yang kini merengkuh dunia seakan tak ada yang salah dengannyabahkan kata “mantan” tersebut juga menekankan bahwa politik kita hanyalah sebuah fase yang perlu dilalui saat kita telah beranjak “dewasa”? Mengapa teramat sulit bagi kita untuk memotivasi orang lain untuk melakukan apa yang kita lakukan? Mungkin, kita membumbui “kerja-kerja” kita dengan berusaha (entah sadar atau tidak) berurusan dengan polisi walaupun hanya dalam taraf minimum dan simulasi bentrokan, tidaklah secara praksis demi mengubur sistem ini, melainkan demi membuat hidup kita lebih menarik, untuk bermain-main dengan adrenalin yang romantis. Apakah kita pernah merasa bahwa kita terjebak dalam sebuah ritual yang telah menjadi tradisi lama, dengan bentuk aksi yang juga begitu-begitu saja? Apakah kita pernah secara diamdiam berkhayal dapat keluar dari rutinitas aktivitas politik kita yang sering terasa membosankan—tapi tentu kita

malu untuk mengutarakan hal tersebut karena adanya kemungkinan dilabeli sebagai kurang radikal, borjuis atau bahkan kontra-revolusi?

Apabila demikian, tidak heran apabila amat jarang yang mau bergabung dengan barisan kita. Karena diri kita sendiri melihat politik kita sama sekali tak relevan dengan kehidupan harian kita—dan kita tinggal menunggu fase di mana kita akan beranjak “dewasa”, bekerja, berkeluarga dan melihat dunia sebagai sesuatu yang baik-baik saja.

Saat kita memisahkan politik dari pengalaman harian individu-individu, perempuan dan lelaki, maka hal tersebut akan menjadi tak relevan. Saat kita bergabung dalam aktivitas politik hanya karena merasa hal tersebut adalah kewajiban, serta membuat aksi politis menjadi sebuah tanggung jawab kita menyelamatkan hidup orang lain, bukannya sebagai sesuatu yang memang relevan dengan hidup harian kita dan karenanya harus kita lakukan, maka kita telah mengalienasikan diri kita sendiri. Saat kita membuat politik kita menjadi hal yang tak hidup, hal yang tak menarik, tanggung jawab yang menjemukan, hal tersebut hanya akan menjadi beban tambahan bagi orang lain, bukannya sebuah peringan beban hidup yang semakin berat. Dan karenanya, kita telah meruntuhkan ide dasar bahwa politik kita adalah sesuatu yang penting.

Apa yang seharusnya politis? Saat kita memiliki kesempatan untuk menghidupi hari-hari kita sebagaimana yang kita kehendaki. Dan “politik” seharusnya bukan hanya soal mendiskusikan pertanyaan di atas, tetapi beraksi

secara langsung untuk meningkatkan kualitas hidup kita. Beraksi dengan cara yang menyenangkan, menarik—karena aksi politis yang membosankan hanya akan menghasilkan kebosanan lain dalam hidup kita. Tak perlu lagi ada aksi protes yang dapat dengan mudah dapat diprediksi oleh kita, polisi, pemerintah dan media massa.

Setelah kita mampu membuat politik kita menjadi relevan dan menarik, sisanya akan menyusul. Tetapi dari sesuatu yang menjemukan, baik itu yang menjadi ritual teoritis ataupun aksi ritual, tak akan ada sesuatupun yang bernilai yang akan hadir menyusul.

Bukan maksud kami berkata bahwa kita tak perlu membangun solidaritas terhadap mereka yang tak bersinggungan langsung dengan kita dalam kehidupan harian. Tetapi maksud kami, politik kita haruslah berkorelasi dengan hidup keseharian kita, harus jelas bagi orangorang mengapa hal ini menjadi penting, dan karenanya tak boleh lagi politik menjadi sesuatu yang tampil menjemukan. Mungkin ini saatnya kita memaknai “politik” dengan makna yang berbeda, karena bagaimana kita bisa mengharapkan orang lainyang hidup sehari-harinya telah dipenuhi kesulitan—untuk terlibat dan hanya mendapatkan lebih banyak lagi kesulitan untuk ditanggung. Mari kita bangun aktivitas kita sebagai sebuah permainan; permainan yang dimainkan dengan taruhan tertinggi, tetapi juga sekaligus menarik, menyenangkan dan akan mendorong orang lain untuk mengambil bagian di dalamnya. «

Kita lupa arti menjadi ada... Kita tak tahu lagi untuk apa kita hidup... ...ada banyak alasan untuk mati Tapi kita hanya butuh satu alasan untuk tetap hidup.

dari kolom seberang

Masalahnya, bukan keinginanmu apabila engkau harus menjadi salah seorang dari ribuan penjaga toko atau pekerja pabrik yang menjual dan mencetak CD sang bintang. Engkau mera-sa tak dapat menyalahkan siapapun dan berakhir dengan mengutuki ketidakberuntunganmu. Tetapi pernahkah kita pikirkan, bahwa dibandingkan harus berkompetisi keras menaiki jenjang karir hingga ke puncak atau mencoba keberuntungan menjadi seorang pemain sinetron, apa tidak sebaiknya kita berusaha keras menemukan cara agar kita semua pada akhirnya akan mampu melakukan apa yang kita kehendaki dalam hidup kita? Karena apabila seandainyapun salah satu dari kita “cukup beruntung” mendaki jenjang karir hingga ke puncak, bagaimana dengan jutaan orang lain yang “tak beruntung” —penjaga wartel, aktris gagal, petugas kebersihan mall, penjaga toko yang bosan dan tak bahagia, atau pembantu rumah tangga? Apakah dirimu bahagia dengan tinggal di sebuah dunia yang dipenuhi dengan orang-orang yang tak bahagia, yang tak pernah mampu meraih cita-cita dan harapan masa kanak-kanaknya... yang mungkin kini bahkan mulai belajar untuk berhenti memiliki harapan? Apakah itu tujuan dalam hidupmu?

Bagaimana kapitalisme memberi arti pada hidup orangorang umum?

Di bawah kapitalisme hidup kita hanya berkisar di sekitaran bendabenda, sebagaimana pada akhirnya kita mulai percaya bahwa kebahagiaan dapat diukur dengan seberapa banyak benda-benda yang dapat dimiliki. Mereka yang memegang kemakmuran berhasil memilikinya karena mereka menghabiskan banyak waktu dan energi untuk menemukan cara bagaimana agar mereka bisa mendapatkannya dari hasil kerja orang lain. Mereka yang hanya sedikit memiliki kemakmuran, demi sekedar bertahan hidup harus menghabiskan nyaris seluruh hidupnya bekerja (bagi kemakmuran orang lain). Orang-orang “tak beruntung” ini nyaris tak mampu membeli apapun—semenjak hidup mereka sendiri telah terbeli dari diri mereka. Sementara di sisi lain, seluruh anggota kelas-kelas sosial tersebut telah dibombardir semenjak pertama kalinya melihat dunia, dengan berbagai iklan dan propaganda gencar yang menyatakan bahwa kebahagiaan, muda, arti dan segala sesuatu dalam hidup ini dapat ditemukan dalam kepemilikan benda-benda dan status sosial. Kita semua diajari untuk bekerja keras sepanjang hidup kita agar mampu menumpuk benda-benda. Itu satu-satunya nilai kebenaran nyata yang eksis dalam hidup kita.

Dengan demikian kapitalisme telah memusatkan arti hidup setiap orang pada apa yang mampu kita miliki dan bukan pada apa yang kita lakukan, dengan cara membuat kita menghabiskan hidup berkompetisi menumpuk benda dan meraih status sosial. Tapi apakah kita berbahagia dengan cara tersebut? Sejarah telah menunjukkan bahwa kebahagiaan lebih mudah ditemukan dalam sebuah masyarakat yang mendorong orang-orang untuk melakukan apa yang mereka kehendaki, bukannya berkompetisi dan merendahkan mereka yang jatuh dari jenjang sosial dengan cara menghisap hasil kerjanya. Untuk membangun masyarakat demikian, kita harus mulai berhenti menghisap hasil kerja orang lain demi kemakmuran kita serta mulai berbagi kemakmuran tanpa mengharapkan profit; hanya dengan demikian maka kita dapat mulai melangkah untuk meruntuhkan arti hidup yang diberikan kapitalisme pada kita semua, sehingga kita mampu menemukan arti baru akan hidup. «

Akan hadir di bagian III: Tetapi bukankah kompetisi mengarah pada produktivitas?

“Menjadi kaya dewasa ini berarti memiliki benda-benda yang tak berguna dalam jumlah terbesar—menciptakan kemiskinan dalam jumlah sebesar-besarnya.” —Donald Trump