Baca PDF (OCR): Antagonis 0

4 halaman · teks PDF berhasil diekstrak tanpa OCR · 2.7 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. Kita Benar - Benar Tak Punya Waktu Luang
  2. #00 komunike kejahatan hidup antagonis
  3. Melampaui Gerakan & Revolusi Mahasiswa: Totalitas Permainan Menuju Totalitas Hidup Harian
  4. “Dan silahkan tebak siapa pengendalinya? Tentu saja sang bos.”
  5. TENTANG KERJA
  6. Karena hari Ini, Semua Aktifitas Kita Mempunyai Arti Yang Sama: Uang
  7. Membongkar Kebohongan Tesis Dunia Kerja
  8. Karenanya Bukan Organisasi Yang Membosankan, Melainkan Permainan Total Yang Menyenangkan

Fakta yang bisa ditemukan bahwa banyak orang yang memutuskan bunuh diri baik secara fisik maupun psikologis disebabkan oleh tekanan-tekanan yang paling besar disumbangkan oleh intensitas kerja. Perkembangan kapital memang pada akhirnya selalu membawa serta efek domino seperti kekerasan, frustasi, eksploitasi, dominasi, penghancuran, penipuan dan masih banyak lagi. Dan ini tidak hanya disebabkan oleh sistem ekonomi liberal yang oleh para aktifis Marxis dituduh sebagai satu-satunya sumber masalah. Bahwa kengerian-kengerian itu akan tetap terjadi sepanjang praktik kerja upahan eksis dalam relasi sosial kehidupan manusia. Kita bisa lari untuk sementara, tapi tak bisa sembunyi untuk selamanya. Suatu waktu jika kita terus diam dan masih saja terus percaya pada kedangkalan analisa para oposisi palsu kaum Kiri, kita akan terjebak pada neraka bernama: kerja.

Dan kalaupun ada di antara para pekerja yang merayakan indahnya praktik kerja upahan dengan menunjuk salah satu contoh praktik kerja upahan yang dianggap tepat atau sempurna, maka mereka adalah orang-orang yang mengkhianati sejarah panjang perjuangan umat manusia untuk membebaskan dirinya dari relasi hidup yang koersif. Mereka adalah orangorang yang mengingkari jejak pemberontakan para budak hingga sejarah panjang para proletar industri yang berjuang meski banyak menemui kekalahan. Orang-orang yang sama busuknya dengan Lenin dan Trostsky yang membunuhi orang-orang di Kronstadt.

Kita Benar - Benar Tak Punya Waktu Luang

Faktanya, rata-rata setiap orang menghabiskan antara lebih dari tujuh lima persen waktu yang ia miliki dalam satu hari saja hanya untuk bekerja. Coba mulai kau mengkalkulasikan sendiri berapa banyak aktifitas hidup harianmu selain kerja. Dan ini berarti ada sedikit sisa waktu yang dimiliki manusia untuk keluar dari aktifitas kerja meski hanya sesaat. Sisa waktu yang tidak digunakan untuk bekerja kemudian di sebut dengan waktu luang. Waktu yang sebenarnya tidaklah benarbenar luang.

Karena secara mendasar, yang disebut dengan waktu luang adalah waktu istirahat yang diberikan oleh sistem kerja upahan ini kepada setiap pekerja untuk merehabilitasi dirinya. Dan alasannya hanya satu saja: agar kemudian si pekerja menjadi lebih siap menyongsong waktu kerja keesokan harinya. Istirahat atau waktu luang hanya mempunyai satu perbedaan dengan aktifitas kerja upahan. Yaitu jika dalam kerja upahan, seseorang mendapatkan bayaran dari aktifitas ekonomi yang dikerjakannya dari sang majikan, sedangkan di waktu luang, seseorang tidak mendapatkan bayaran dari majikan. Meski tetap harus dipahami secara mendasar bahwa proses menjalani waktu luang juga adalah aktifitas ekonomi untuk menunjang produktifitas sistem kapitalisme hari ini.

Waktu luang sebenarnya adalah bagian dari hak-hak normatif para pekerja seperti cuti, izin sakit dan beberapa kelonggaran lain yang munafik. Kerangkanya telah benar-benar jelas bahwa waktu luang adalah bagian integral dari investasi sosial secara meluas dan global dari sistem kerja upahan. Waktu luang kemudian menduduki point penting sama seperti kebutuhan seseorang untuk mempunyai charger baterai ketika mempunyai handphone. Dan sangat jelas, ia bertentangan secara frontal dengan apa yang dikenal dengan kemalasan. Sebab hal tersebut akan dianggap kontraproduktif, dan kita sama-sama mengerti bahwa kontraproduktif berarti berkurangnya kecepatan akumulasi keuntungan akibat sebuah halangan.

Untuk menopang efektifitas waktu luang, maka sistem ekonomi politik ini tak lupa juga membangun sarana pendukung seperti tempat-tempat hiburan dan rekreasi, memproduksi film, bacaan dan lagu-lagu, menampilkan pertunjukan-pertunjukan dan masih banyak lagi. Berbagai perangkat hiburan ini tidaklah disediakan gratis untuk para pekerja, namun diubah sebagai mesin ekonomi lain yang akan mengambil keuntungan dari hasil-hasil kerja upahan yang sebelumnya telah dilakukan oleh si pekerja. Sehingga dalam upayanya merengkuh istirahat akibat kelelahan fisik dan mental, seseorang harus tetap membayar.

Diktator ekonomi yang merampas esensi hidup manusia ini mendapatkan bantuan penuh dari struktur kuasa politik yang bernama negara. Prosesnya adalah memberikan dukungan penuh terhadap semua bentuk monopoli ekonomi, dalam hal ini baik sistem liberal ataupun komunis. Oleh karenanya alienasi kerja, separasi sosial, dan kedangkalan hidup adalah sesuatu yang terus akan ditemui sepanjang negara dan sistem ekonomi tiran ini berdiri. Jika kau berpikir bahwa salah satu dari dua sistem ekonomi itu akan merubah hidupmu jauh lebih baik asalkan kau memilih pemimpin yang tepat, maka pasti kau juga menganggap bahwa adalah seorang Hitler dan Stalin adalah jenis orang-orang yang lugu dan tak bersalah.

#00 komunike kejahatan hidup antagonis

intro[duck]ism

Saya tidak akan menyalahkan masa lalu. Apalagi masa depan yang belum tertulis. Namun belajar dari pelbagai kesalahan di masa lalu adalah sesuatu yang berbeda. Secara subjektif, saya menilai itu jauh lebih baik ketimbang terjebak dalam romantisme. Hal yang sama juga dalam melihat hidup. Memandang bahwa keseluruhan yang tengah dijalani adalah proses, membuat saya tak percaya dengan kesempurnaan atau bahkan hasil akhir. Bersamaan dengan itu, menegaskan untuk bertahan hidup dan tidak bunuh diri karena hidup terlalu naif untuk menyerah. Menutup mata dan berpura pura bahwa semua baik baik saja adalah kedangkalan. Itu mengapa saya masih bergairah dengan perebutan kendali hidup dari semua otoritarianisme dan tirani eknomi yang membuat seorang individu menjadi sekedar rupiah.

gratis seperti makian kontak saya di:

webblog: http://diaripecundang.blogspot.com email: [email protected]

Melampaui Gerakan & Revolusi Mahasiswa: Totalitas Permainan Menuju Totalitas Hidup Harian

Saya pernah merasakan bagaimana getirnya di tampar oleh Marxisme-Leninisme semasa menjadi mahasiswa dan menjadi idiot yang dikendalikan oleh benang-benang yang hampir kasat mata. Mengatur saya sebagai boneka, tentang apa yang boleh dan tidak bisa saya lakukan. Mengatur semuanya atas dasar bahwa mereka telah jauh lebih paham tentang apa yang sebenarnya yang kita butuhkan. Atas nama representasi, mereka secara sepihak menjadi lebih berkuasa terhadap saya dibanding dengan diri saya sendiri. Ironisme akut yang pernah saya kenal sebagai ideologi revolusioner, gelora kepalsuan yang binar-binarnya meski imitasi pernah menyihir untuk beberapa waktu. Jauh lebih dari itu, saya bahkan bisa dianggap sukses karena kemudian mendapatkan "karir politik" dengan menduduki jabatan sebagai pimpinan kota organisasi mahasiswa Kiri. Itu semua masih dilanjutkan dengan pemindahan saya secara permanen ke sektor buruh dan menduduki posisi sebagai sekretaris organisasi tingkat wilayah sebagai tahap lanjut atas kesuksesan mengunyah secara membabi buta semua kebohongan tentang diktatorian proletariat. Saya juga pernah mendatangi dengan penuh semangat beberapa "basis" untuk kemudian menunaikan tugas mesianik sebagai gembala. Menjadi seorang organiser yang ditugaskan "menyadarkan sekaligus memimpin" orang-orang tersebut. Seperti wayang yang menjadi dalang untuk wayang yang lain. Sebelum kemudian memutuskan mengatakan dengan tindakan: Ya Basta! Cukup dan saya memutuskan keluar sebelum penyakit ini mencapai stadium akut.

Satu-satunya hal yang membuat saya cukup bangga dengan semasa menjadi mahasiswa adalah melakukan cukup banyak hal bodoh karena instruksi atas dasar kepatuhan terhadap hirarki dengan ilusi tentang transformasi sosial menuju kepada keadaan yang lebih baik. Dengan begitu, hari ini saya telah mengumpulkan lebih dari cukup bukti untuk membuktikan bahwa cita-cita tentang transformasi sosial yang hingga kini masih menjadi mode utama dari gerakan mahasiswa adalah omong kosong yang dangkal. Seperti yang dikatakan oleh salah satu artikel di jurnal Amor Fati #4 bahwa "mendefinisikan kemiskinan hidup kita, sesungguhnya telah mendefinisikan kembali apa arti kemakmuran. Meredefinisi bentuk protes adalah juga berarti meredefinisikan arti benar dan salah di hidup kita sendiri, tentang apa yang layak untuk kita perjuangkan." Sehingga menjadi penting untuk meredefinisikan kembali perubahan yang masing-masing kita inginkan. Bukan perubahan -meski bahasanya adalah revolusiyang dangkal serta datang dipilihkan dari luar.

Bahwa aksi-aksi demonstrasi yang dilakukan oleh berbagai organisasi kemahasiswaan -entah itu termasuk intra ataupun ekstra kampusmengumbar fakta rekuperasi akut atas semua metoda dan ide-ide tentang kehidupan alternatif di luar sistem kapitalisme. Sebuah pepatah Melayu "bahwa keledai sekalipun tak ingin jatuh di lubang yang sama untuk kedua kalinya" sungguh tak pernah dijadikan pelajaran serius. Meskipun saya cukup sering mendengarkannya diulang-ulang oleh para tokoh, pimpinan dan aktifis-aktifis mahasiswa yang membaptis dirinya sebagai perwakilan rakyat. Yang terjadi justru sebaliknya, aksi-aksi yang repetitif dan mudah diterka telah bermutasi dari sekedar taktik menjadi mirip ritus dari sekelompok orang bodoh. Jauh lebih kronis adalah kenyataan bahwa organisasi-organisasi ini selalu menggantungkan frustasinya pada kapitalisme itu sendiri. Tulisan ini juga tidak bermaksud untuk membenarkan semua tindakan itu, ataupun mencoba menjadi otokritik terhadap semuanya. Namun seperti judul bab pembuka pada pamflet "On The Poverty of Student Life's" yang di tulis oleh Musthapa Khayati dan para mahasiswa di Strasbourg, Paris pada November 1966 bahwa "untuk membuat sesuatu yang memalukan menjadi lebih memalukan lagi adalah dengan cara mempublikasikannya."

Sebab Gerakan Mahasiswa Hari Ini Adalah Sinetron Yang Menjijikkan Karenanya Adalah Layak Jika Dihargai Dengan Penghinaan Yang Sama Menjijikkannya

Saya bisa dengan cukup berani untuk mengatakan bahwa gerakan mahasiswa di Manado, dan Indonesia pada umumnya adalah sebuah gerakan tambal sulam yang menyedihkan. Tidak hanya dalam aktifitasnya, melainkan jauh hingga ke dalam persoalan paling penting, yaitu mengenai cara melihat dan menganalisa posisi -yang pada akhirnya akan menentukan taktik yang akan digunakangerakan itu sendiri. Ketiadaan pembacaan sejarah yang memadai akibat kemalasan dan berkembangnya xenophobia yang disebarkan di antara mereka sendiri membuat keterjebakan yang disengaja pada titik yang pada kenyataannya tidak cukup untuk merubah apapun hari ini - dalam pengertian yang radikal dan tidak reformisdan pada gilirannya selalu berputar-putar pada hal-hal remeh yang juga merupakan refleksi dari ideologi dominan yang berkembang di dalam kelompok-kelompok mahasiswa tersebut. Sesuatu yang tidak bisa disangkal oleh organisasi mahasiswa apapun -baik itu LMND, HMI, PMII, GMNI, GMKI, GMPI, HMI-MPO, FMN, SMI, PEMBEBASAN, IMM, KAMMI dan berbagai jenis lainbahwa mereka adalah bagian dari oposisi palsu sistem yang menjauhkan penyelesaian akar persoalan ketertindasan hidup hari ini dari sudut pandang yang revolusioner. Para oralis yang terkerangkeng pada detaildetail semata dan buta pada keseluruhan. Banyak dari mereka telah menyadari sejak awal hal ini dan terus dipertahankan sebagaimana mereka menentukan eksistensi hidupnya dari kejijikan-kejijikan yang ditebarkan oleh sistem hari ini. Sedang penyakit yang lain -dan ini fakta yang tak bisa disangkalbahwa keseluruhan organisasi mahasiswa di ilusi oleh kepercayaan bodoh dan naif tentang masyarakat massa.

Banyak dari para aktifis mahasiswa adalah agen-agen dari ideologi Kiri -entah itu Leninisme, Maoisme, Tan Malakaisme, Islam Kiri, Marhaenisme, Trotskyisme, Kiri Hijau dan berbagai varian yang lainnyayang bekerja dengan serius untuk menjaga tidak adanya "kebangkitan" secara esensial. Hal itu tentu saja akan berbahaya dan dapat menjadi serangan yang efektif yang dapat membongkar topeng kebohongan propaganda yang ditebarkan oleh para "reformis yang mencita-citakan memperbaiki sistem dengan mengganti pemimpin yang gagal dengan pemimpin yang tepat". Sedang sebagian yang lain -dan tentu sama bodohnyaadalah para fundamentalis sayap kanan yang terobsesi secara fanatik sehingga tak diragukan lagi potensi mereka sebagai pengusung fasisme kontemporer yang "baik". Masih ada lagi sekelompok lainnya -terutama di organisasi seperti pecinta alam, musik dan teateryang hidup dalam kultus konyol tentang independensi yang sebenarnya adalah tak lebih dari tragedi sikap yang menyedihkan.

Lagipula diskursus yang berkembang di kalangan mahasiswa sampai saat ini tak mampu keluar dari kedangkalan spesialisasi akademis yang hanya terjebak pada glorifikasi fakta-fakta tanpa mampu melihatnya sebagai sebuah kaitan dengan relasi hidup hari ini dalam masyarakat secara keseluruhan. Segala sesuatu tentang tatanan masyarakat telah dikupas habis tanpa pernah menyentuh basis utama dari pertanyaan tentang apakan tatanan masyarakat itu sendiri. Para mahasiswa gagal melihat secara utuh dan mendasar dari semua detil hidup hari ini sehingga terjebak pada separasi yang akut. Ini masih belum selesai dengan reifikasi dari spektakularisasi kapitalisme yang membuat para mahasiswa masingmasing mendapatkan peran sementara dalam sebuah kepasifan umum sebelum mendapatkan peran utama dalam kepasifan total yang akan mendukung sirkulasi komoditi dan keuntungan kapital. Masing-masing mereka diceraikan dari kenyataan historis, sosial dan individual yang membuat mahasiswa tersalib di antara status sosial hari ini dan status sosial masa depan yang tak pasti.

Mahasiswa-mahasiswa dan semua bentuk organisasi hirarkis yang dikreasikan untuknya pada dasarnya adalah tempat berlindung dari ketidakmampuan mereka merebut kendali atas hidupnya. Hal ini terbukti dari perayaan yang glamor dan dangkal dari masa muda dengan berbagai label yang pada esensinya tidak juga merubah atau mempengaruhi apapun selain keterjebakan yang semakin dalam sebagai fundamen penyokong berjalannya sistem. Dengan utopi-utopi naif seperti "penerus bangsa", "agent of change", "pewaris peradaban" menunjukkan bahwa di balik pembangkangan-pembangkangan palsu yang dilakukan, sebenarnya mereka tak lebih seperti tokoh protagonis dalam sinetron murahan yang justru akan mengeluh ketika mereka tak lagi dilecehkan oleh sistem. Sebab terbukti bahwa kehidupan yang mereka nilai berharga adalah kehidupan yang penuh pelecehan dari sistem ekonomi kapitalisme -tak soal apakah itu kapitalisme liberal ataupun kapitalisme negara. Kebanggaan mereka adalah pemerkosaan yang nyata-nyata dilakukan oleh negara dan kapitalisme atas mereka, namun dengan penuh kedangkalan mereka justru menunjuk-nunjuk ornamenornamen yang tidak esensial. Hasrat perubahan mereka adalah hasrat komoditi sebagai hasil konstruksikan oleh sistem. Dan kehidupan mereka yang miris ini adalah miniatur dari berbagai kemirisan yang dialami oleh masyarakat hari ini dalam setiap aspek kehidupannya.

Namun bagi beberapa orang yang bekerja secara "total dan serius", hal di atas akan terasa sangat melecehkan. Kenyataan bahwa ada begitu banyak orang-orang yang menganggur dan terus berusaha mendapatkan kerja membuktikan bahwa kerja adalah aktifitas paling diminati saat ini. Dan ini benar adanya, sebab inilah yang diinginkan oleh para pemilik modal. Bahwa orang-orang akan berebutan mencari pekerjaan. Lalu setelah mendapatkan pekerjaan dengan susah payah, seseorang akan mempertahankan pekerjaannya dengan bekerja sebaikbaiknya. Menjadi abdi setia sebagai budak yang terus membangun istana untuk para majikannya sementara ia sendiri tergerus dan akan mati dalam kebosanan dan frustasi. Dan itulah praktif hidup kita semua hari ini, di sini. Hal yang sama akan bisa kau temukan pada kaum Marxis bahwa kemerosotan tersebut dapat diatasi dengan mengganti majikannya dengan birokrat partai kiri. Hal ini untuk menggantikan tesis dari para kapitalis yang beranggapan bahwa sebaiknya para pengusaha adalah majikan yang baik. Sementara itu di sisi yang lain para feminis akan berpikir bahwa latar belakang ideologinya tak menjadi soal sepanjang ia adalah perempuan. Ini membuktikan bahwa para idiot pemuja lubang pantat ideologi ini hanya bersoalan di soal siapa yang menjadi penguasa, dan bagaimana mendistribusikan kekuasaan tersebut ke tangan segelintir kecil orang saja. Sementara satu hal yang sama adalah mereka tetap menginginkan semua orang agar tetap bekerja.

Etos kerja yang didengung-dengungkan oleh negara dan semua sistem ekonomi, tentu saja adalah kebohongan yang digunakan untuk memanipulasi seluruh pekerja agar semakin rajin mengumpulkan keuntungan bagi mereka. Semua orang yang pernah bekerja atau masih terperangkap dalam dunia kerja pasti akan dengan mudah mengerti bahwa satu-satunya kelas yang diuntungkan oleh etos produktifitas adalah kelas borjuis. Mungkin kata borjuis ini akan sedikit susah dimengerti oleh para mahasiswa yang berpikir bahwa mereka adalah sebuah golongan tersendiri. Sebuah kasta antara borjuis dan proletar? Atau mungkin mahasiswa lupa bahwa institusi pendidikan adalah bentuk yang sama dengan keluarga. Sebagai tempat untuk mereproduksi dan menjalankan regenerasi kaum pekerja. Ya, golongan calon-calon robot proletar.

“Kebutuhan akan uang yang adalah kebutuhan primer pada masyarakat modern hari ini pada akhirnya berhasil membuat keseluruhan aktifitas kreatif manusia kemudian ditransformasikan sebagai aktifitas ekonomi semata”

Kembali ke persoalan tentang kerja yang dalam praktiknya dibawah sistem ekonomi dan politik hari ini adalah sesuatu yang irasional dan tidak kreatif. Dalam praktiknya, kerja upahan sama sekali mengacuhkan keberadaan inisiatif dan daya ledak kreatifitas dari seseorang. Itu dapat dibuktikan dengan jelas bahwa dalam praktik kerja, seseorang hanya akan berada di satu jenis pekerjaan selama rentang waktu yang ditentukan oleh majikan. Seorang pekerja tidak berhak untuk menentukan apakah ia benar-benar menikmati pekerjaannya karena memang pekerjaan apapun hari ini tidak akan bisa dinikmati. Seorang pekerja sepanjang masa bekerjanya kehilangan kontrol atas dirinya sendiri dan menjadi mesin yang dikendalikan oleh tombol. Dan silahkan tebak siapa pengendalinya? Tentu saja sang bos.

“Dan silahkan tebak siapa pengendalinya? Tentu saja sang bos.”

Padahal seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, orientasi upah yang meskipun akan selalu kurang setiap hari menjadi satu-satunya tujuan yang kemudian dipaksakan menjadi rasional. Dan nilai lebih yang dikumpulkan para majikan dari tiap-tiap pekerja kemudian tidak hanya diendapkan melainkan diinvestasikan untuk perluasan bisnis itu sendiri. Perluasan tersebut dapat mencakup banyak aspek termasuk penambahan jumlah pekerja baru yang otomatis akan mempercepat sirkulasi akumulasi kapital. Penting juga untuk dipahami bahwa nilai lebih yang didapatkan oleh para bos datang dari nilai-nilai produktif tiap-tiap pekerja yang dihisap dalam aktifitas kerja upahan tersebut. Ketika menerima upah, seorang pekerja selalu dibayar lebih kurang dari nilai produktif yang telah ia kerjakan. Waktu berikutnya, seorang pekerja akan datang dengan nilai yang telah berkurang tersebut untuk kemudian menerima yang jauh lebih kurang lagi.

Nilai produktif yang terus berkurang dari seorang pekerja disebabkan karena upah yang didapatkannya akibat kerja tersebut digunakan sebagai alat untuk bertahan hidup, yaitu dengan membeli barang-barang kebutuhannya. Barang-barang ini tentu saja adalah produksi dari koporasi-korporasi yang akumulatif. Barang yang dibeli seorang pekerja akan selalu terasa mahal karena begitulah logika ekonomi kapital berjalan. Dengan demikian, dari keseluruhan upah yang didapatkan oleh seorang pekerja, tidak akan sanggup membeli sekaligus memenuhi kebutuhan yang ia perlukan, karena nilai yang diterima oleh seorang pekerja selalu semakin kurang. Meski kita juga harus menyadari bahwa yang dinamakan dengan kebutuhan hari ini adalah konstruksi definisi produk-produk yang diciptakan oleh perusahaan dan memaksa kita untuk tidak lagi sekedar menginginkan barang tersebut namun mesti merasa membutuhkan produk tersebut. Itu sebabnya, menjelaskan mengapa sistem ekonomi kapital akan mempertahankan separasi masyarakat ke dalam unit-unit kecil yang tidak terkoneksi. Sebab mereka akan difungsikan sebagai pasar dan tentu saja setiap orang akan diharuskan menjadi konsumen yang baik. Siklus ini akan berlangsung terus menerus sepanjang seseorang masih berada dalam praktik kerja upahan.

Untuk menopang tesis tentang mekanisme operasi kerja upahan ini, maka ilusi tentang kemajuan atau yang biasa disebut dengan peningkatan karir menjadi salah satu senjata efektif untuk melumpuhkan inisiatif dari seorang individu. Bahwa dengan menekuni satu jenis pekerjaan selama rentang waktu tertentu yang sudah barang tentu sangat lama, ia akan mendapatkan hasil berupa peningkatan upah beserta kenaikan status di antara pekerja-pekerja yang lain. Kenaikan ini mesti dibayar dengan melupakan kesenangan-kesenangan, cita-cita serta harapan di luar kerja karena akan dianggap mengganggu proses "peningkatan karir". Selain itu, efek lain yang ditimbulkan dari peningkatan ilutif tersebut adalah beban kerja yang semakin bertambah berat, waktu istirahat yang semakin terbatas, lingkungan sosial yang semakin sempit, tingkat stres dan frustasi psikologis yang semakin tinggi yang sering berujung pada kematian.

TENTANG KERJA

Mengapa perubahan tak kunjung datang? Mengapa hari ini, hampir ketika semua usaha dan praktik revolusioner telah dicoba tapi seakan menemui tembok besar yang kokoh? Mengapa selama bertahun-tahun, bukannya perbaikan hidup melainkan kemerosotan akut yang kita dapatkan? Dan mengapa semakin hari, bukannya gerakan perlawanan yang menguat namun justru berkebalikan dengan itu, kapitalismelah yang semakin digdaya? Sementara berbagai tesis dari gerakan Kiri juga ternyata dalam praktik-praktiknya tak jua mampu membawa manusia keluar dari lingkaran persoalan. Fakta mengemuka bahwa kedua sistem ini sama-sama gagal berfungsi. Apa yang salah dan kenapa itu bisa terjadi? Pertanyaan-pertanyaan di atas adalah hal-hal yang kemudian dalam rentang beberapa tahun terakhir tidak hanya menjadi bahan permenungan saya secara pribadi melainkan juga beberapa kawan lama yang dahulu merupakan kamerad, namun kini menjadi pasif karena telah menemukan zona nyaman untuk melanjutkan hidup. Meski banyak dari mereka menyadari bahwa apa yang tengah mereka jalani adalah sesuatu yang berkebalikan secara frontal dengan apa yang dulu mereka cita-citakan. Ironisnya, hampir semua dari mereka justru hanya berputar dalam lingkaran frustasi akut tanpa mau melangkahi ketakutanketakutan personal sebagai upaya menjawab pertanyaanpertanyaan tersebut.

Karena hari Ini, Semua Aktifitas Kita Mempunyai Arti Yang Sama: Uang

Semenjak dilahirkan dan dibesarkan dalam masyarakat hirarkis, hanya ada satu bentuk relasi yang diperkenalkan kepada setiap orang sebagai cara berhubungan dengan sesuatu di luar dirinya. Relasi tersebut adalah relasi yang didasarkan bahwa merupakan sesuatu yang wajar jika kita kemudian mendefinisikan segala sesuatu dari satu sudut pandang yang absolut: nilai uang. Hal ini berimplikasi pada praktek di mana seluruh aktifitas harian kita telah berubah menjadi aktifitas pasar. Tidak hanya sekedar memandang bahwa sesuatu yang berada di luar kita sebagai produk yang mempunyai nilai jual dan nilai beli, namun terlebih dari itu adalah fakta bahwa kita juga mendefinisikan diri kita sendiri sebagai produk yang mempunyai harga. Ungkapan konyol bahwa "tak ada yang gratis" adalah ekstraksi yang cocok untuk menggambarkan dunia kita saat ini.

Silahkan membantah dan menganggap bahwa hal ini adalah tesis yang tergesa-gesa dalam menarik kesimpulan. Tapi mari melihat dan berikan tanggapan akan setiap hal yang kau lakukan. Dan ternyata benar bahwa sekarang setiap orang akan mendapati bahwa hingga urusan yang paling personal sekalipun, semuanya telah mempunyai label harga. Dan dengan ini dapat ditarik kesimpulan bahwa semua orang akan mempunyai satu prioritas yang sama dari beragam kebutuhan primer: kebutuhan akan uang.

Kebutuhan akan uang yang adalah kebutuhan primer pada masyarakat modern hari ini pada akhirnya berhasil membuat keseluruhan aktifitas kreatif manusia kemudian ditransformasikan sebagai aktifitas ekonomi semata. Beberapa contoh dapat dilihat dengan jelas, misalnya mulai dari persoalan ketersediaan pangan, persoalan disribusi pendidikan, jaminan akan kesehatan, persoalan kesenian, hingga aktifitas seks. Keseluruhan aktifitas berbayar ini adalah akibat terisolasinya seorang individu dari individu yang lain dalam zona-zona yang berdekatan secara fisik namun tak berhubungan secara sosial.

Memang beberapa orang akan masih bisa menganggap bahwa masing-masing individu mempunyai ketergantungan yang erat dengan orang lain, namun sayangnya aktifitas itu sekarang tidak lagi dalam konteks kebutuhan akan relasi sosial. Satu-satunya kebutuhan yang membuat tiap-tiap individu masih berhubungan hari ini adalah persoalan kepentingan akumulasi kapital.

Dan tentu saja bagi banyak orang di kehidupan seperti saat ini, adalah sesuatu yang lumrah jika hari ini kita semua membutuhkan uang. Sebab kemungkinan untuk bertahan hidup tanpa uang hampir mencapai nol persen meski bukan berarti itu tak mungkin dilakukan. Meski berbeda secara kuantitas, namun satu hal mendasar yang sama adalah bahwa semua orang akan selalu merasa berkekurangan seberapa banyakpun uang yang telah dimiliki. Sebab setiap kali kita berhasil membeli kebutuhan kita, maka akan terus hadir kebutuhan lain yang setiap saat akan semakin bertambah besar jumlahnya. Mengingat juga pada hari ini, daftar kebutuhan seseorang semakin tak masuk akal. Hal ini tak lain disebabkan oleh kebutuhan-kebutuhan yang jumlahnya sangat banyak dan bervariatif walau sebenarnya "tidak dibutuhkan", namun melalui berbagai media pemaksaan, kita akhirnya percaya bahwa suatu benda atau aktifitas jasa benar-benar kebutuhan mendasar kita. Secara otomatis, uang yang harus dikumpulkan juga mesti semakin besar. Dan untuk itu, setiap orang harus menjual lebih banyak untuk merengkuh hal tersebut. Mulai dari menjual tenaga, waktu, pikiran bahkan mimpi sekalipun. Ironis bukan?

Membongkar Kebohongan Tesis Dunia Kerja

Karena kebutuhan akan uang yang tak pernah selesai, maka kemudian salah satu aktifitas yang tidak bisa dihindari setiap individu hari ini adalah: kerja. Hal ini telah berubah menjadi keharusan yang tidak bisa tidak mesti dilakukan agar hidup dapat terus dilanjutkan. Hidup manusia telah terdegradasi ke dalam poin yang paling dangkal yaitu sekedar untuk bertahan hidup. Dan tuhan baru bernama kerja telah menjadi idola yang paling banyak disembah dan mendapatkan pengikut massif dengan jumlah terbanyak melintasi batas-batas dari sistem yang lama seperti teritori, ras, afiliasi politik, kebangsaan. Jika ini lagi-lagi tesis yang salah dan terburu-buru, maka panggil saya Batman.

Kesemua aktifitas kerja manusia hari ini adalah sesuatu yang disebut sebagai: kerja upahan. Atau dengan kata lain, ini adalah produksi yang diwajibkan. Produksi yang disebabkan oleh kepentingan ekonomi dan politik. Dalam kerja, ia hanya terobsesi dengan satu hal saja, yaitu produk atau hasil yang diakibatkan oleh kerja itu sendiri. Hasil ini dapat berupa produk yang kau lihat berjejer di gerai-gerai swalayan, upah yang merupakan konsekuensi dari kerja tersebut atau juga berupa keuntungan bagi pemilik modal. Kerja merupakan aktifitas untuk "sekedar bertahan hidup".

Dan gerakan mahasiswa adalah cerminan paling realistis dari ketidakmampuan mereka untuk keluar dari rekuperasi hidup harian. Bahwa mahasiswa dan gerakan yang dilakukannya adalah bentuk nyata dari betapa mereka merasa nyaman hidup dalam alienasi sehingga dengan sabar mereka terus saja tunduk pada dua jenis otoritas yang paling kuat mengikat leher mereka, yaitu negara dan keluarga. Sehingga mereka memang telah mengetahui bahwa kehidupan mahasiswa hari iniadalah bentuk persiapan yang logis menuju terinternalisasinya mereka sebagai generasi pekerja berikut. Inilah karakter paling nyata dari gerakan mahasiswa, yaitu dengan identitas kemiskinan sosial yang akut beserta keterlambatan-keterlambatan di setiap responnya yang reaksioner dan ini memang telah sangat disengaja. Sehingga dalam segala cara -apapun bentuknyamahasiswa tak dapat menyangkal bahwa setiap tindakan -dan tentu saja pada akhirnya gerakan yang mereka lakukan, apakah itu gerakan moral ataupun gerakan politikyang mereka lakukan mencerminkan dengan jelas karakteristik borjuisme yang melekat.

Maka kampanye gerakan pembebasan mereka tak lebih dari penyakit liberalisme yang berjangkit selayaknya para borjuis yang lain. Namun yang lebih menyedihkan adalah bahwa mereka -meski banyak dari mereka dengan pasti dengan menyadariberupaya menopengi semua itu dengan berpura-pura paling ideologis dibandingkan dengan proletar kebanyakan lain -bersamaan dengan itu membenarkan kedangkalan pemahaman mereka yang menyembah ideologi-ideologi dan bukannya memperjuangkan totalitas hidup mereka sendiri. Dalam krisis individual yang kronis tersebut, mereka masih saja mencari pembenaran-pembenaran historis yang kosong untuk membenahi bahwa terjadi perubahan semenjak keterhisapan mereka sebagai satu bagian dari rantai pabrik sosial yang mereproduksi para pekerja untuk keberlangsungan akumulasi kapital.

Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) misalnya di sini -di Manado. Bisa dikatakan bahwa dua organisasi mahasiswa ini adalah contoh dari kelompok yang bisa dituduh bertanggung jawab atas kepasifan yang terjadi. LMND yang dengan idiotnya memperbudak diri pada kebohongankebohongan Leninisme serta PMII yang masih berputar-putar pada absurditas Tan Malakaisme dan Islam transformatif yang dangkal telah menunjukkan kegagalankegagalan utama dari tesis vanguardisme -kepeloporanserta dialektika yang tidak dialektis karena usangnya metoda yang mereka gunakan, namun dengan keras kepala dan kesombongan sebagai parasit tanpa rasa malu yang adalah sifat dasar organisasi tersebut terus mereka pertahankan. LMND yang tak bisa keluar -karena atas dasar kepatuhan pada hirarki kiri-ismedari doktrinasi Partai Rakyat Demokratik (PRD) hanya menghasilkan buntut-isme dari doktrin-doktrin ideologis yang konyol ala MarxismeLeninisme, sementara PMII yang juga terjebak dalam tarik menarik lingkaran Nahdlatul Ulama (NU) -yang keseluruhannya praktiknya hanya menampakkan kegamangan yang tragissebagai induk semang membuat kedua kelompok mahasiswa ini dengan sengaja mengurung diri dalam sebuah dunia kecil yang tertutup dengan keterputusan dari perjalanan sejarah yang -tidak hanya mengubah wajah masyarakatpada akhirnya membenarkan semua kritik terhadap institusi perkuliahan sebagai ruang verbal yang berisik dan hanya memproduksi polusi intelektual dengan logika terbalik -merumitkan halhal sepele namun menyepelekan hal-hal esensial. Maka dapat saya katakan di sini dengan lebih terang lagi bahwa organisasi mahasiswa hanyalah sebuah ruang oral antar spesialis yang sedang mematangkan dirinya sebagai elemen konservatif dari piramida masyarakat kapital hari ini. Dan dapat dikatakan juga bahwa setiap aksi revolusioner yang telah melampaui semua itu akan menemukan bahwa gerakan mahasiswa adalah satu dari jenis lelucon yang buruk.

Permasalahan karir-isme yang berkembang dalam organisasi mahasiswa -dan dengan begitu menjadi salah satu karakter dari gerakan yang dilakukan kemudianadalah satu lagi ilusi tentang penanda tercapainya "kemajuan" dalam perkembangan kehidupan sebagai aktifis gerakan. Ran Prieur menuliskan kemajuan sebagai "pusat kebohongan dari kebudayaan kita dan ada ilusi-ilusi serta fantasi-fantasi mengenainya di mana-mana". Hal ini dapat terlihat lebih jelas pada dunia kerja yang setelah kelulusannya sebagai mahasiswa -yang lagi-lagi ditentukan oleh sebuah otoritas di luar kekuatan mahasiswa itu sendiridi mana seseorang harus memulai dari "tingkat paling bawah" dan berupaya dengan bekerja keras hingga di ambang batas kegilaan yang telah menjadi kewarasan untuk mencapai "kenaikan tingkat". Tentu saja kebohongan-kebohongan yang telah mereka kunyah dan telan mentah-mentah akan di reproduksi kembali dalam berbagai bentuk -sebagai contoh dalam lingkungan bergaul atau ketika mereka menikah. Maka ini dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan usang mengenai senioritas dalam relasi antar mahasiswa sebagai aplikasi nyata kejahatan yang tengah dijalani oleh mereka -yang di sebabkan oleh negara dan kapital dan bagaimana mereka menyambung kejahatan itu kepada pihak-pihak lain. Para mahasiswa yang telah sampai di "tingkat atas" yang absurd tersebut setelah mencapainya dengan bersusah payah akan memiliki banyak prasyarat dan ritus-ritus konyol sebagai resep manjur kepada mereka yang masih berada di tingkat bawah tentang bagaimana mencapai "puncak" tersebut. Yang dikejar dari tingkatantingkatan itu adalah privilese konyol kaum minoritas sebagaimana hari ini sebagian kecil orang hidup dari hasil penghisapan nilai kerja keras mayoritas yang lain.

“Jika kegagalan yang terjadi di masa lalu adalah karena yang dimengerti sebagai revolusi dan semua taktik-taktik perjuangan telah menjadi sedemikian kaku, repetitif dan membosankan akibat "standar tunggal" kaum Kiri, mestilah membuat kita mengambil sikap untuk segera melakukan detournement terhadapnya menjadi permainan besar dengan melibatkan lebih banyak orang yang tentu saja mengasyikkan bagi setiap kita.”

Sementara mereka berkelit pada kebebasan semu yang pada kenyataannya adalah bentuk dari totalitas kontrol oleh negara dan kapital, dan kemudian "sedikit berbaik hati" menyediakan sebuah ruang kecil bebas yang oleh mahasiswa disalah artikan sebagai indepedensi. Penyakit yang juga mewabah dan berjangkit luas hingga berefek pada kebingungan untuk meletakkan sikap individual dan mengambang pada ruang hampa yang ironis. Dengan jelas dapat terbaca adanya ketakutan historis untuk meletakkan diri pada pertempuran frontal melawan negara dan kapital pada sisi yang berhadap-hadapan. Dengan sengaja melarikan diri dalam pertempuran yang membuat mereka juga ikut menjadi korban -namun layaknya para pembohong, mereka akan terus menyangkal semua fakta tersebut.

Dan mereka menamakan semua dusta itu sebagai kultur mereka. Melegitimasi spectacle dalam keseluruhan aktifitas hidup harian mereka dan berarti memberikan diri secara sadar untuk dijadikan kelinci percobaan dari totalitarianisme kapital dengan tingkat resiko mematikan. Menggantungkan diri pada setiap sensasi kejadian yang diselenggarakan oleh kapitalisme dan negara dan akan merasa janggal dan kesepian jika itu dihentikan. Inilah kaum yang dengan begitu gembira diperkosa dan bangga mempermalukan diri sendiri. Kaum parasit yang bahkan terus mendapatkan bayaran dengan harga murah oleh orang tua mereka yang juga tergadai dalam kerja upahan. Kaum pemalas genit untuk dukungan aktif terhadap eksploitasi, karena memang mahasiswa adalah avant garde untuk setiap kepasrahan terhadap pelecehan. Atau mari sekalian kalungkan gelar sebagai kaum nekrofilik atas semua utopi mahasiswa tentang hidup yang baik-baik saja di bawah kapitalisme dan negara.

Karenanya Bukan Organisasi Yang Membosankan, Melainkan Permainan Total Yang Menyenangkan

Benar bahwa satu-satunya bentuk relasi sosial yang tersisa untuk kita kenali hari ini adalah bentuk yang hirarkis, dominatif dan koersif, karena hampir semua alternatif di luar apa yang diajarkan kepada kita oleh masyarakat hari ini telah dibakar habis. Mereka mengharapkan tak ada celah sekecil apapun bagi setiap kita untuk dapat menemukan ruang hidup yang lebih egaliter, horisontal serta bebas dominasi dan kontrol. Namun hampir semua bukan berarti tidak ada lagi terbuka kemungkinan, sebab yang mengatakan hal seperti itu adalah mereka yang sudah berada di dasar lubang galian keputusasaan dan sedang menanti kematian mereka ditentukan. Kita masing-masing orang masih punya lebih dari sekedar cukup untuk mengambil kepunyaan kita, yaitu hidup. Masih punya harapan yang realistis untuk menuntut yang tidak mungkin. Masih memiliki daya hancur dinamit untuk menegasikan pilihan-pilihan biner dan semu yang menutupi hidup. Memungkinkan untuk mendapatkan satu-satunya petualangan yang tersisa di masyarakat hari ini yang sudah menghapus semua petualangan yang mengasyikkan, yaitu penghapusan masyarakat itu sendiri. Permainan menantang yang membutuhkan keseriusan dengan taruhan tertinggi.

Permainan dalam definisi saya tentu saja adalah sebuah aktifitas kreatif yang liar dan dalam tensi kebebasan tertinggi. Sebuah kegiatan yang tidak tersubordinasi dalam mekanisme angka seperti yang terjadi dalam mekanisme kerja upahan hari ini. Aktifitas besar ini merupakan gabungan secara sukarela dari aktifitas individu-individu dengan persentuhan yang alamiah. Permainan ini tidaklah berorientasi pada hasil seperti pemahaman terhadap permainan hari ini. Melainkan sebaliknya, permainan ini mesti bertumpu pada proses sehingga menegasikan bahwa harus ada yang menjadi wasit yang menjaga aturan-aturan. Keterlibatan-keterlibatan dan semua pergesekan yang terjadi di dalamnya adalah benturan-benturan yang pada akhirnya menjawab soal kebutuhan sosial.

Dan pengalaman historis telah mengajarkan bahwa format organisasional yang hirarkis sama sekali tidak mengubah apapun, justru sebaliknya semakin memperburuk karena mengaburkan esensi persoalan dan menjebak pada persoalan yang artifisial semata. Jika mau menengok ke belakang, kita akan menemukan bahwa gerakan mahasiswa pada Mei 1998, adalah bukti terakhir yang menunjukkan kegagalan metoda kuno -yang reformis dan pengecutdalam perlawanan terhadap perampasan hidup oleh totalitarianisme ekonomi. Silahkan mengurut lebih jauh ke belakang, dan akan terlihat jelas bahwa yang tersisa hanyalah pengkhianatan demi pengkhianatan serta kegagalan yang berulang. Itu berarti bahwa menggunakan metoda yang sama membuka potensi terjebak pada kekalahan yang sama. Sesuatu yang seharusnya tidak mesti terjadi jika kita mau menjadikan masa lalu sebagai bahan evaluasi dan landasan untuk menemukan kesesuaian taktik terkini yang mampu melampaui bentuk-bentuk klasik metoda gerakan sebelumnya. Kita mesti melangkah lebih jauh, meninggalkan interupsi-interupsi sosial yang menjebak dan membatasi totalitas pandangan kita terhadap keseluruhan detail kehidupan hari ini yang saling berhubungan.

Jika kegagalan yang terjadi di masa lalu adalah karena yang dimengerti sebagai revolusi dan semua taktik-taktik perjuangan telah menjadi sedemikian kaku, repetitif dan membosankan akibat "standar tunggal" kaum Kiri, mestilah membuat kita mengambil sikap untuk segera melakukan detournement terhadapnya menjadi permainan besar dengan melibatkan lebih banyak orang yang tentu saja mengasyikkan bagi setiap kita. Bahwa revolusi haruslah yang menjadi permainan yang membuat setiap orang mendapatkan dirinya bermain secara serius dengan kemampuan terbaik dan energi kreatif yang besar dan melimpah. Menghancurkan sentralisme revolusi ke dalam potongan-potongan kecil yang dapat didistribusikan sebagai otonomi total kepada masing-masing orang. Revolusi kita akan berupa sebuah pementasan besar di mana tak ada yang menjadi penonton dan tak ada satu atau sekelompok kecil orang yang menjadi sutradara. Pementasan dengan begitu banyak keragaman cerita di dalamnya dan masingmasing kita adalah pemeran utama dalam cerita yang liar dan bebas tanpa kontrol untuk memaksimalkan totalitas hidup yang di jalani.

Kelemahan-kelemahan organisasi mahasiswa hari ini -yang memang akan selalu direkuperasikemudian menjadi penting untuk dianalisa dan dikritik secara cermat dan mendalam. Bahwa setiap tindakan dan pola pikir kita adalah hasil replikasi dari pola masyarakat hari ini. Untuk itu, kita mesti menempatkan diri melampaui itu semua untuk membuka kemungkinan baru tentang hidup yang jauh lebih sehat. Harus memulai dengan berani berbagai metoda alternatif di luar organisasi dengan kelompok-kelompok yang non hirarkis dan desentralis. Meski berhadapan dengan kegagalan-kegagalan, yang terutama adalah memperlakukannya sebagai bahan untuk menemukan metoda baru. Hari ini bukan lagi saat untuk merealisasikan teori-teori tentang revolusi dalam praktek, namun mengarahkan setiap praktek revolusi untuk menemukan teorinya sendiri.

Perjuangan menghidupi hidup harus dapat melompati revolusi yang ala kadarnya yang dipicu oleh kegamangan jati diri, pencarian identitas dan periode-periode yang temporer. Mesti ada keseriusan dalam permainan simultan untuk menjungkirbalikkan keseluruhan bangunan masyarakat hari ini. Semuanya, tanpa ada yang mesti di sisakan. Serangan sekaligus tanpa interupsi. Jika tidak, maka revolusi hanya akan sekedar terperangkap sebagai fenomena sosial dan gejolak-gejolak yang temporer dan mudah melenyap. Dan yang tersisa kemudian adalah generasi kalah yang menyembunyikan semua kegagalankegagalan mereka, dan menjadi pagar penghalang berikut untuk mereka yang masih ingin melompati hidup yang sekedarnya.

Permainan yang akan menggantikan revolusi -selain harus berbahayamestilah melangkah lebih dalam dengan mengusung sikap nihilistik terhadap tawaran-tawaran untuk tetap mempertahankan bentuk masyarakat hari ini. Permaian yang mengusung berbagai metoda aksi langsung dengan serangan-serangan langsung yang berbahaya terhadap properti korporat dan negara. Mengarahkan eksekusi-eksekusi yang frontal dari setiap borjuis dan mengantar mereka menuju kematian mereka yang tragis di tiang gantungan di tengah-tengah lapangan revolusi. Permainan gembira yang keras yang membakar, merusak dan menghancurkan simbol-simbol dan properti ekonomi kapital dan negara. Vandalistik yang riang untuk membalas setiap waktu, tenaga dan mimpi yang tergadaikan di bawah mekanisme kerja upahan.

Sebab persoalannya adalah meninggalkan pemahaman bahwa Kiri akan jauh lebih baik dari Kanan. Ini adalah kebohongan propaganda para birokrat partai Komunis dan keseluruhan kaum Kiri yang terobsesi dengan kekuasaan. Sebab tak ada kemungkinan untuk mereformasi kapitalisme dan negara. Hidup hanya mungkin jika keduanya dieliminasi sekaligus.

Apabila kalian menganggap tawaran ini sebagai sesuatu yang dangkal dan tidak substansial, maka itu membenarkan bahwa kalian adalah orang-orang yang telah dikebiri sehingga lumpuh total dalam kedangkalan sistem "kerja upahan". Persoalannya, karena perjuangan vital ini -menyangkut hidup masing-masing orangtidak bisa diwakilkan kepada siapapun. Seorang Sapri Dg. Serang, petani Polombangkeng, Takalar yang dirampas tanahnya oleh negara dan korporasi, menegaskan dengan jelas bahwa pemimpin hanya membuat mereka lemah. Itu mengapa setiap orang semestinya membawa dirinya sendiri.