Baca EPUB: Unsur Senibudaja dlm. Revolusi '45

2 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. Table of Contents
  2. Table of Contents
AMAK SJARIFFUDIN
Unsur Senibudaja dlm. Revolusi '45
Kacabenggala Editions

Publisher Note

This edition does not include a publisher’s note. For this digital restoration, this page is repurposed to acknowledge those whose efforts made its preservation possible.

Artikel ini diterbitkan di majalah Sketsmasa tahun 1964 dalam edisi No. 19, Th. VII.

Digitizer Note

This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.

All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.

The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.

Pertentangan2 pendapat tentang unsur senibudaja di Indonesia, unsur seni dalam Revolusi Indonesia, dan dasar organisasi jang sering saling bertentangan, memerlukan:

SATU: Berprinsip, Berkarya & Berorganisasi


Bung Karno memerintahkan pemuda-pemudi untuk menentang imperialisme kebudajaan dan melindungi kebudajaan nasional.


SEPERTI pertumbuhan pesat partai2 politk Indonesia sesudah Proklamasi Kemerdekaan 1945, berkembang pesat pulalah seni dan budaja dari seniman2 Indonesia dalam berkarya.

Dengan dasar pelopor golongan jang disebut „pudjangga 45”, jakni Chairil Anwar, bangun pulalah kemudiannja „angkatan 45” dibidang senisastera. Dengan muntjulnja angkatan baru ini, maka berdirilah dua golongan di Indonesia dim. senisastera chususnja jakni „pudjangga baru” (angkatan tahun2 sebelum perang dunia II) dan „angkatan 45”.

Chairil Anwar, dalam beberapa seginja telah mendobrak ikatan2 jg. sering dipakai oleh golongan lama dalam susunan kalimat dan kata2, sehingga bisa dikata merupakan „pengrevolusi” kesusasteraan Indonesia. Pertentangan segera timbul tentang penilaian karya 45 dan karya sebelum perang. Djuga antara sasterawan 45 dan sasterawan sebelumnja.

Dibidang seni dan budaja lainnja, perkembangan2 timbul dengan pesat, sesuai dengan kepesatan djalannja revolusi kita. Kreasi2 baru terus tumbuh. Baik dibidang pementasan, dibidang senitari, dibidang senisuara dan tetabuhan dan banjak hal lagi. Kadangkali terasa lebih revolusioner dari jang pernah disangka semula.

TERBENTUKNJA KELOMPOK PERTIKAIAN


Berhasilnja kreasi-modern kebudajaan Senitari Indonesia dibuktikan dengan Sendratari Ramayana di Prambanan.


Pertentangan antara angkatan 45 dan angkatan pudjangga baru, bukan merupakan pertentangan jang menadjam dan mempengaruhi djalannja Revolusi Indonesia. Pertentangan2 ini hanja berkisar lebih banjak pada bidang senibudaja umumnja dan kesusasteraan chususnja.

Tetapi bagaimanapun djuga pertentangan dalam bidang senibudaja kesusasteraan jang paling tadjam tidak habis2nja dan tidak ada reda2nja. Maklumlah, dlm. segi pertumbuhan madju itu, kadangkali diperlukan pertukaran fikiran jang sehat dan konstruktip. Sedangkan jang bersifat destruktip itu tidaklah dapat digolongkan dalam artikel ini.

Tetapi bagaimanapun djuga pertukaran itu menadjam djuga, dan terdjadilah kelompok2 jang pro dan kontra. Jang pro sesuatu kelompok, mengelompok menjendiri dan jang kontrapun demikian pula.

Kemudian pertentangan itu tidak pada kedua golongan itu sadja. Dalam perkembangan senibudaja jang bertambah madju, masing2 orang jang berminat pada seni mempunjai garis pikiran dan tudjuan sendiri2. Satu pihak menganggap djalan jang ditempuhnja adalah jang seharusnja ditempuh oleh orang2 jang berkarja dalam seni, jang lainnja berpikir bahwa seni itu untuk rakjat, dan jang lainnja mendasarkan tudjuan lain lagi. Pendek kata, berpetjah-petjahlah kemudian mendjadi kelompok2 dengan tambahan tenaga2 pula jang pro dengan tiap kelompoknja.

Dan begitulah organisasi2 senibudaja bertumbuhan. Tetapi bertumbuhan djarang jg. satu tjotjok dengan jang lainnja. Pertentangan pendapat tambah meruntjing pula djadinja.

MELINDUNGI DIRI


Tumbuhnja kebudajaan dibidang senisuara/musik begitu pesatnja dan perlu pembimbingan sempurna. Nampak band-musik pimpinan Guntur Sukarnoputra.


Tadjamnja pertentangan ini menimbulkan pikiran2 jang kurang sehat kadangkali. Dan timbul pikiran „kami harus lebih kuat dari mereka”.

Hal2 jang demikian menjebabkan tumbuhnja pendapat bahwa untuk mendjadi lebih kuat, maka ada djalan jang terbaik, berlindung dibawah suatu organisasi jg. lebih kuat partai politik! Dengan perkuatan sematjam itu, maka „sendjata memukul lawan” bisa terpenuhi.

Dan sedjalan dengan bertumbuhnja partai2 politik jg. saat itu seperti tjendawa dimusim hudjan, bertumbuhan pulalah organisasi2 seni budaja lindungan partai ini. Atau dg. kata lain, onderbouw dari partai2.

Dengan organisasi senibudaja partai ini, „perdjoangan” mereka lalu selain berkokoh atas dasar dalam bersenibudaja djuga dibarengi dengan kekuatan partai, faham partai dan belat-belit partai.

ALAT PARTAI


Betapa perutusan2 kesenian berkepribadian Indonesia mendapat sambutan meriah diluarnegeri nampak al. jang dipimpin oleh Menteri PDK, Prof. Dr. Prijono (nomor 4 dari kiri) sewaktu ke Philipina dan negara2 RRT, Kambodja, Djepang, dll.


Kalau tidak ada jang melindungkan diri pada partai matjam itu, maka pihak partailah jang membentuk onderbouw, atau bagian anakpartai, jang kegiatannja meliputi bidang seni dan budaja dengan dasar2 pada langkah partai itu dengan sendirinja. Prinsip partai setjara tandas dimasukkan kedalam orgaisasi senibudajanja itu. Tandas dlm. arti politik partai.

Baik organisasi jang melindungkan diri maupun organisasi jang dibentuk partai itu, kedua2nja mendapatkan dana (budget) jang tertentu dari setiap partainja. Dan menurut keperluannja pula, sehingga dengan demikian djelas merupakan alat partai setjara djelas.

Ada pula jang masuknja independent alias „bebas”, namun bagaimana djuga tidak bisa lepas dari dari roh partainja.

Lantas timbul pertanjaan, mengapa partai2 politik membentuk onderbouw jg. demikian ini? Mengapa pertjuma membuang2 dana untuk tudjuan ini? Merasa tertarikkah semua tokoh2 partai tadi pada seni dan budaja?

Djawabannja: tidak!

Partai2 politik itu punja program-perdjoangannja sendiri2. Jang berdasar Nasionalisme, berdasar Agama, berdasar Marxisme dan beberapa aliran lagi. Tiap partai punja sistim melebarkan sajap dan pengaruhnja, dengan memasuki seluruh bidang kegiatan dalam masjarakat. Dibidang politik, perburuhan, kemasjarakatan (kewanitaan dll), peladjar, keguruan, mahasiswa, senibudaja, dll.

Begitulah maka organisasi senibudaja dibawah partai itu dengan sendirinja mendjadi sebagian dari alat partai untuk melaksanakan tudjuannja. Baik menentang lain partai ataupun melangkahkan perdjoangannja untuk revolusi.

Dalam alam liberal, dimana terdapat 48 partai politik, paling tidak setengah dari partai itu punja onderbouw matjam itu. Dan satu dengan lainnja ditanami bibit salig bertentangan. Dan didalam Demokrasi Terpimpin ini terdapat tjuma 11 partai, lebih dari djumlah itu terdapat organisasi senibudajanja.

BUKAN SENIMAN DJADI „SENIMAN”

Apa jang mendjadi tjiri jang tidak konstruktif jalah gedjala2 timbulnja djumlah banjak-banjakkan anggauta dari organisasi dibawah partai itu.

Organisasi2 senibudaja matjam ini (tidak semua) menginginkan lebih banjak punja anggauta daripada organisasi senibudaja „lawannja”. Pengurusnja ataupun memang sengadja diperintah dari pimpinan partainja, mengumpulkan anggauta2 sebanjak mungkin. Tetapi apakah semua anggauta itu mengerti apa itu seni dan budaja, atau pernahkah ia berkarya atau punja simpati jang sesungguhnja terhadap seni budaja, itu bukan soal. Pokok mereka mau mentjatatkan sebagai anggauta organisasi seni budaja „itu”, maka diterima. Tidak mengherankan bahwa organisasi2 matjam ini mempunjai anggauta jg. berlimpah2 boleh dikata.

Pendek kata, asal djumlah anggauta lebih banjak, dianggap lebih berkuasa dan lebih menang suara.

Hal2 jang demikian inilah jang menimbulkan ekses2 atau gedjala2 jang kurang baik dalam bidang perkembangan seni dan budaja Indonesia dlm. masa Revolusi kita ini.

Senibudaja dengan organisasi2 matjam itu lalu didjadikan gelanggang adu kekuatan pendapat2 sendiri, adu kekuatan partai politik, dan adu kekuatan sebagai pelepas dendam.

Sedangkan dalam mempertinggi karya dibidang senibudaja untuk Revolusi Indonesia, merupakan hal jang kedua. Soal jang dikesampigkan sadja. Dengan kata lain: organisasi kebudajaan tapi „menjuarakan” program partai!

Tjuma beberapa organisasi2 matjam ini jang berkarya njata, berkat kesadaran para anggauta atau pengurus setempatnja sendiri.

SENI BUDAJA DAN POLITIK

Sembojan jg datangnja dari Eropah jang berbunji “I’art pour i’art” (seni untuk seni) buat suatu gelora Revolusi jg. kita djalankan ini sudah bukan tempatnja lagi.

Revolusi Indonesia dng. dinamikanja itu memerlukan seluruh konsentrasi kekuatan nasional politik, kemasjarakatan, kebudajaan, perburuhan dll. sehingga mempertjepat proses revolusi itu sendiri dalam menudju masjarakat jg. adil dan makmur sesuai seperti jang digariskan oleh amanat penderitaan rakjat.

Bagaimana fungsi senibudaja kita, fungsi kebudajaan Indonesia dalam dinamikanja revolusi kita ini? Karena rakjat Indonesia berevolusi, dan revolusi perkembangannja tidak lepas dari politik negara, maka dgn. sendirinja senibudaja tidak lepas dari dinamikanja revolusi dan tidak lepas dari politik negara Republik Indonesia.

Oleh sebab itu, dengan kata lain bisa disebutkan: senibudaja adalah berpolitik. Politik pembangunan mental bangsa Indonesia. Djadi bukan bersenibudaja dengan politik partai2 politik, atau berpolitk jang bukan Indonesia, bukan politik impor luarnegeri!

Bung Karno didalam Manipol menjatakan: „Revolusi zaman sekarang adalah revolusi jang multi-kompleks. Ia adalah revolusi jang sekaligus „memborong” beberapa persoalan. Misalnja Revolusi kita. Revolusi kita ini ja revolusi politik, ja revolusi ekonomi, ja revolusi kebudajaan, ja revolusi segala matjam.....”

Djelaslah bahwa segi kebudajaan termasuk salah satu dari segi revolusi kita dan revolusi kita adalah politik negara kita.

Dengan begitu akan lebih njata, bahwa dalam menindakkan kegiatan berorganisasi dan berkarya seni dan budaja, tidak boleh menjimpang dari politik-negara dan tidak boleh menganut politik atau faham luarnegeri, baik aliran dari negara2 Barat maupun dari negara2 Timur!

Sebab, bukan suatu hal jang mustahil ada jang menganut pandangan2 demikian itu, sehingga timbul pertentangan satu organisasi dibawah partai lawan organisasi dibawah partai lainnja. Dan dari pertentangan itu achirnja njlewengarti senibudaja dalam revolusi kita, karena pertentangan itu achirnja saling membela kepentingan golongannja sadja. Kepentingan partainja sadja, atau kadangkali membela kepentingan negara atau bangsa lain. Ini berlebihan njlewengnja!

Dan tertjeburlah organisasi2 matjam ini setjara njata dalam perebutan kekuasaan partai2 politik.

DILARANGNJA MANIKEBU

Disekitar tahun 1962-1963, muntjullah beberapa orang sasterawan di Djakarta sebagai konseptor dari apa jang dinamakan „Manifest Kebudajaan” atau „Manikebu”, dimana beberapa garis tentang berseni budaja dalam alam Revolusi Indonesia ini tidak tegas2 dinjatakan. Dengan demikian, timbullah tentangan2 pihak sasterawan dan budajawan jg. tidak ikut menandatangani Manikebu itu, sebab dianggap menjalahi djalannja revolusi menandingi Manipol/Usdek.

Pada bulan Mei 1964, setelah masalah Manikebu mentjapai puntjak ditentangnja, achirnja PJM Presiden Sukarno telah mengeluarkan larangan terhadap dilandjutkannja konsep Manikebu itu, karena tidak sejalan dengan Revolusi kita dan tidak sedjalan dengan Manipol/Usdek.

Larangan Pemimpin Besar Revolusi kita memang tidak dapat diragukan lagi. Seperti apa jang telah pernah beliau amanatkan dalam Manipol sbb:

„.....Buanglah apa jang salah, bentuklah apa jang harus! Beranilah membuang apa jang harus dibuang, beranilah membentuk apa jang harus dibentuk! Beranilah membongkar segala alat2 jg. tak tepat alat2 materiil dan alat2 mental beranilah membangun alat2 jg. baru untuk meneruskan perdjoangan diatas rel Revolusi. Beranilah mengadakan retooling for the future”.

Tidak tjotjoknja Manikebu dengan alam Manipol dan Revolusi Indonesia saat kini, maka seharusnja dilarang.

DJANGAN MENGAGUNGKAN ORANG ASING

Seperti halnja Manikebu jg. dilarang, maka ada djuga beberapa kelompok sasterawan atau budajawan jg. lebih tjondong mengagungkan sasterawan2 atau budajawan2 luarnegeri daripada mengagungkan seniman2 atau sasterawan2 atau budajawan2 kita sendiri. Malahan ada jang membuat tulisan sasterawan2 asing sebagai bahan indoktrinasi dari alirannja, sehingga dengan demikian tidak bedanja sebagai dipakainja Manikebu sebagai landasan. Inipun harus dilarang!

Banjak sasterawan2 agung kita jang perlu diunggulkan. Banjak karya2 Mpu2 kita didjaman kedjajaan bangsa Indonesia sebelum diindjak2 oleh imperjalis dan kolonialis Barat. Banjak karya sasterawan angkatan baru dan angkatan 45 jg. dipakai sebagai pedoman untuk melangkahkan arah sastera demi Revolusi Indonesia. Mengapa Ronggowarsito harus dikesampingkan, umpamanja. Mengapa Chairil Anwar kadangkali ada jg mengetjilkan arti dan kedudukannja dibandingkan dengan umpamanja Shakespeare, Tolstoy, Gorky, Hemingway dan matjam2 itu? Mengapa harus menganut djalan pikiran dengan mendewa2kan penulis2 Inggeris, Rusia atau Amerika?

Mengagungkan atau mendewakan penulis2 luarnegeri apapula kalau disebar2kan sematjam indoktrinasi langkah partai merupakan hal jang menjalahi langkah Revolusi kita.

Membatja atau bisa mengerti besar dan betapa baiknja karya penulis2 luarnegeri itu tidak ada salahnja baik djuga sebab sifatnja seperti mempeladjari bahasa asing untuk pengetahuan kita. Tetapi tidak dg. mendewa2kan penulis2 itu. Sebab kalau demikian, sama artinja memakai bahasa asing sehari2 sementara berbitjara dg. sesama orang Indonesia sendiri! Bukankah ini a-nasional?

Djadi, kalau ada karya penulis-besar asing jang dipakai seolah merupakan sebagian dari bahan indoktrinasi faham golongannja, maka maniak jang demikian ini menjeleweng dari dasar dan haluan negara kita. Menjeleweng dari rel Revolusi kita, dan menjeleweng pula dari Pantjasila serta Manipol/Usdek itu.

SENIBUDAJA UNTUK RAKJAT INDONESIA

Sudah bukan hal jang dapat dibantah lagi, bahwa senibudaja kesusasteraan dan kebudajaan kita haruslah diperlukan rakjat. Rakjat harus mengerti dan didjiwai dengan kepribadiannja sendiri, jakni. kepribadian Indonesia.

Masalah kebudajaan Indonesia itu haruslah dasarnja menggali kebudajaan aseli Indonesia. Djangan dikaburkan oleh „keunggulan” sasterawan2 luarnegeri. Maka rakjat akan mengerti setjara langsung bukan disebabkan oleh maniak atau kefanatikan menganut sesuatu faham jang kadangkali kurang dimengerti sendiri apa sebenarnja faham itu buat dia, sebab senibudaja untuk rakjat berarti djuga senibudaja utk. tudjuan Revolusi 45. Djadi harus ditekankan pd. sifat2 kepribadian Indonesia.

Kalau sudah berdasar jang sama seperti ini, maka dengan sendirinja tidaklah terdapat pertentangan pendapat antara satu kelompok dengan kelompok lainnja. Sebab, kalau semua partai politik mengakui dan menjatakan setjara konsekwen Pantjasila dan Manipol/Usdek, dan menggali falsafah serta haluan Negara Republik Indonesia itu, maka dng. sendirinja organisasi2 senibudaja jang dibawah naungan partai2 politik itu djuga harus sedjalan dengan ini. Tidak boleh menjimpang. Itu berarti Pantjasilais munafik dan Manipolis munafik!

Manikebu jang merupakan manifest jang menandingi Manipol/Usdek sudah dilarang, sekarang tiba gilirannja kalau ada organisasi2 senibudaja dibawah partai jg. „setjara tidak bermanifest, tetapi mempunjai sematjam manifest sendiri dibidang kebudajaan ini” untuk digulung. Apakah ini tidak sama halnja dengan Manikebu itu?

PEMIMPIN BESAR REVOLUSI BUNG KARNO HARUS TURUN TANGAN

Apa jang tergambarkan tadi setjara djelas kiranja dapat diterima, betapa bahajanja segi kebudajaan kalau diratjuni jg. menjimpang dari tudjuan dan rel Revolusi kita. Dengan hilangnja kepribadian Indonesia dari kamus senibudaja Indonesia, berarti hilangnja pula salah satu sendi dari Revolusi kita. Dan ini berarti menggerogoti revolusi djuga.

Oleh sebab itu sudah saatnja sekarang dalam masa tahap Revolusi Indonesia jg. memuntjak ini diselesaikan samasekali rintangan2 ekonomi dan diperhatikan djuga unsur pentingnja kebudajaan Indonesia sebagai „nation dan character building” rakjat Indonesia, baik generasi sekarang maupun utk. generasi jang akan datang.

BUNG KARNO, baik beliau sebagai Presiden Indonesia maupun Pemimpin Besar Revolusi kita, sejogyanja turun tangan dalam hal ini. Alangkah baiknja, apabila disusun suatu staf tersendiri jang chusus menindjau hal ini dari segi pengamanan revolusi. Dalam hal ini diikutsertakan JM Menko2 (seperti JM Menko Penerangan, JM Menko KA SAB, JM Menko Kesedjahteraan Rakjat, dll.), dibantu oleh JM Menteri2 PDK, PTIP, Perdagangan, Sosial, Agama dll. Dan untuk ini tidak lepas duduknja sebagai penasehat jalah JM Wakil PM I, Wakil PM II dan Wakil PM III.

Dengan susunan jang sedemikian inilah dapat diteliti setjara sesungguhnja, bagaimana seharusnja organisasi senibudaja di Indonesia jang tidak sedikit djuga peranannja sebagai sendi Revolusi Indonesia itu boleh berdiri. Bagaimana seharusnja langkah2 jang mereka pergunakan dan dasar2 apa jg. mereka pakai dalam kegiatannja.

Karenanja, sebaiknja kekuatan dibidang ini dihimpun. Dihimpun dalam arti kata prinsipnja sesuai dengan Manipol/ Usdek. Didjalankan sistim Demokrasi.Terpimpin. Ditetapkan satu garis jang njata. Garis jang harus ditempuh dan mana jang tidak. Kalau menjimpang, bisa dianggap sebagai perbuatan kontra-revolusi.

DIHIMPUN DJADI SATU

Ratjun2 perpetjahan sering ditanamkan dalam organisasi senibudaja dibawah partai. Ratjun meski ada jang sengadja atau tidak untu menentang organisasi „lawannja” diindoktrinasikan setjara djelas ataupun ditutup2i.

Menghindarkan kemungkinan jang lebih parah lagi, menghindarkan rusaknja djiwa2 pembina mental, golongan „national character building” itu, maka perlu tindakan segera dan tjepat. Sebab, pertentangan itu kalau dibiarkan tidak akan selesai, malahan berlarut-larut tidak berketentuan.

Dan organisasi dibawah partai jang menganggap dirinja lebih kuat, akan „memakan” djiwa seniman2 atau sasterawan2 Indonesia jang masih murni, dan menjeret pula dalam blok-blokan jang tidak diharapkan oleh Pemerintah kita.

Maka sampailah pada persoalan, apakah tidak seharusnja mereka ditarik dalam satu organisasi. Satu organisasi seperti Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), sedangkan jg. mendirikan organisasi2 kewartawanan diluar itu tidak sah. Tidak diakui Pemerintah. Seperti hainja organisasi Pramuka, tjuma satu! Jang berdiri diluar itu, harus dilarang.

Beberapa Partai dalam pernjataan mereka (PNI, Murba, IPKI) telah setudju penjederhanaan partai, djadi tiga atau satu sekaligus. Dengan demikian konsekwen pula meleburkan „onderbouw”-nja djadi satu pula.

Sebab dengan peleburan djadi satu organisasi jang diakui Pemerintah, maka djalannja djuga dapat dikendalikan. Djuga dapat menolong dan menjatukan organisasi2 senibudaja jang lepas dari pengaruh partai politik, atau lepas dari faham2 matjam hal2 diatas tadi.

DAPAT DITELITI

Dengan demikian itulah dapat diteliti, siapa jang berdjoang sungguh2 dlm. bidang kebudajaan itu demi Revolusi Indonesia ataukah demi pihak lain atau kepentingan golongan sadja. Dengan penjatuan organisasi itulah dapat dilakukan pembimbingan langsung dalam segi2 prinsipnja. Prinsip membela Revolusi Indonesia: Pantjasila, Manipol/Usdek, Sosialisme Indonesia. Sedangkan perkembangannja dapat diatur menurut bidang masing2.

Dari bentuk demikian inilah dapat diawasi segala kebudajaan/kesusasteraan asing baik Barat maupun Timur jang tidak tjotjok dengan kepribadian Indonesia, jang merugikan Revolusi. Atau meneliti jang setjara ramai2 ditondjolkan „tjotjok”, ternjata merugikan rakjat Indonesia sendiri dikelak kemudian hari.

Dari sinilah bisa diawasi penerbitan buku2 jang bersifat tidak „bercharacter building”, antara lain seperti sebagian tjerita2 silat Tiongkok jang beberapa unsurnja bisa membawa beberapa segi negatief.

Dan dari sinilah sumbangan njata dapat dilihat oleh para sasterawan, seniman, budajawan jang tjinta Kepribadian Indonesia.

Baik kita tjuplik kembali amanat BUNG KARNO dalam Manipol dibidang segi „melindungi kebudajaan nasional dan mendjamin berkembangnja kebudajaan nasional” antara lain sbb:

„..... Kenapa dikalangan engkau (pemuda-pemudi) banjak jang gemar membatja tulisan2 dari luaran, jang njata itu adalah imperialisme kebudajaan? Pemerintah akan melidungi kebudajaan nasional, dan akan membantu berkembangnja kebudajaan nasional, tetapi engkau pemuda-pemudi pun harus aktif ikut menentang imperialisme kebudajaan, dan melindungi serta memperkembangkan kebudajaan nasional!”

* * *