Publisher Note
Dilahirkan di Jepara, 4 Juli 1924. Menetap di Semarang hingga masa gadisnya, ketika kemudian ia pindah ke Jakarta (1942), untuk melanjutkan sekolahnya di Lyceum yang setara dengan Sekolah Menengah masa kini. Lalu ia bekerja pada Siaran Luar Negeri Seksi Perancis, RRI, di kota-kota Solo, Tawangmangu, Yogyakarta, dan Jakarta kembali. Tahun 1954 ia mendapat beasiswa Perancis, untuk mengunjungi kota Paris. Beberapa tahun lamanya ia bekerja di lingkungan KBRU di Paris, sampai menikah dan ke-mudian mempunyai anak. Sepulang dari Paris ia selalu sibuk di bidang terjemahan, hingga saat ini.
Ketika HPI – Himpunan Penerjemah Indonesia – didirikan, ia ikut sebagai salah seorang pendiri dan duduk di pengurusnya selama lebih kurang sepuluh tahun.
Tahun 1990 ia pergi ke Paris untuk kali yang ke dua, atas beasiswa terjemahan Perancis. Selain bekerja pada Ecole Francaise d’Extreme-Orient, kini ia juga memberi mata kuliah terjemahan di Centre Culturel Français dan di Universitas Indonesia.
Artikel dan terutama karya terjemahannya sangat banyak dan beragam, antara lain "Sekelumit Sejarah Penerjemahan di Indonesia dan di Luar Negeri" dalam Budaya, Bahasa dan Penerjemahan (1981), Kerjaan Aceh (terjemahan karya Denys Lombard, Sultanat d’Aceh, 1986), Nyonya Bovary (terjemahan Madame Bovary, Gustave Flaubert, 1990), Kamus Perancis–Indonesia (bersama Farida Soemargono, 1991), dan lain-lain. Selain itu ia juga menerjemahkan beberapa teks film dari bahasa Indonesia ke dalam bahasa Perancis, antara lain untuk film Atheis (Sutradara Sjoeman Djaja), November 1828 (Sutradara Teguh Karya), dan Bercanda dalam Duka (Sutradara Ismail Soebardjo). Pun lagu-lagu karya Leo Kristi, telah diterjemahkannya ke dalam bahasa Perancis guna keperluan salah satu pertunjukan dalam suatu festival musik internasional.
Digitizer Note
This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.
All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.
The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.
Dua kali aku ke Paris. Keduanya dengan beasiswa Perancis. Pada tahun 1954, waktu aku masih muda, tidak terlalu muda juga; dan 36 tahun kemudian, waktu aku sudah beruban. Terpikir olehku Jeanne Cuisinier yang mestinya juga sudah enam puluhan waktu datang ke Indonesia. Dan aku ingat kebaikan hatinya karena selama hampir setahun aku dapat mendiami apartemennya di Paris, sementara dia di Indonesia menjalankan penelitian. Aku waktu itu bekerja di siaran luar negeri RRI jurusan Perancis dan datang mewawancarainya di Hotel Polisi. Kukagumi dia, sudah setua itu masih penuh semangat mau jalan jauh-jauh. Sekarang, aku tahu bahwa usia lanjut bukanlah masalah.
Pada tahun limapuluhan aku sudah mencari jalan hendak pergi ke Perancis. Beasiswa yang ditawarkan waktu itu hanya dari Colombo Plan, jadi ke negeri yang hanya berbahasa Inggeris. Ketika Kedutaan Besar Perancis menawarkan beasiswa, aku mengajukan diri. Tetapi yang pertama memperolehnya ialah Surarti. Sudah dengan sendirinya: dia guru bahasa Perancis, hendak memperdalam bahasa itu. Aku memilih bahasa lain, salah satu dari lima bahasa internasional, bahasa Cina. Maka tahun berikutnya barulah Surarti menyambutku di Paris. Sesudah setahun, aku tidak minta perpanjangan beasiswa. Maksudku sudah terpenuhi, aku di Perancis. Aku mencari pekerjaan di KBRI dan kukira aku dapat belajar sambil bekerja. Aku memang dapat izin berkuliah, asal saja pekerjaan kantor tidak terlantar. Perkiraanku meleset. Pelajaran akhirnya terpaksa kutinggalkan. Untung tugasku penerjemahan melulu. Lagipula aku tambah pengetahuan karena bidangnya ekonomi dan keuangan yang tak kukuasai. Jadi aku tidak mengeluh, waktu itu pun aku sudah gemar menerjemahkan. Dan memang sebagai penerjemahlah aku mendapat beasiswa untuk kedua kalinya sekian dasawarsa kemudian. Pertama kali aku tinggal empat setengah tahun, kedua kalinya kira-kira empat bulan saja. Yang kupaparkan di sini adalah kenang-kenangan yang muncul mengelebat sekilas-sekilas, lepas-lepas.
Aku masuk Perancis dari arah selatan, karena pada jaman itu perjalanan masih dengan kapal laut. Kapal Italia „Flotta Lauro”, penumpangnya banyak orang Indonesia dan Indo yang mengambil kesempatan untuk „pulang” ke negeri Belanda yang tidak mereka kenal. Waktu aku turun di Genoa, aku haus sekali, jadi minum kopi sambil membayangkan kopi tubruk kita. Tapi kopi Italia lain: cangkirnya kecil, kopinya keras bukan main sehingga semalaman di kereta api mataku nyalang. Lagipula aku tidak mendapat tempat duduk, jadi harus berdiri di gang dan karena malam hari, tidak ada yang terlihat kecuali di sampingku pasangan yang laki-lakinya terus merayu si gadis dan yang gadisnya memang mau dirayu. Untung kemudian ada seorang anak muda keluar dari kabin, barangkali sudah pegal karena duduk terus-menerus. Ia seorang mahasiswa India yang akan ke London lewat Paris. Dan aku ditawari tempat duduknya.
Di Perancis aku memakai kain kebaya. Waktu aku berangkat dari Jakarta, uangku habis untuk membayar perjalanan. Maka Upik Seno mempunyai gagasan yang jitu, „Kain, kau sudah punya. Bikin saja kebaya barang selusin, yang tidak terlalu tipis. Kalau cuaca mendingin, tinggal menambah pakaian dalam yang hangat berikut jas. Lagi pula tidak perlu memikirkan mode. Dan selalu tampak rapi.”
Aku memang senang berpakaian Jawa. Dan ternyata tidak mengganggu biarpun harus naik turun tangga, berjalan cepat, kadang-kadang mengejar metro. Tapi kadang-kadang juga, kalau di jalan sedang mengembus angin nakal, kainku naik ke atas sampai lutut, dan barangkali lebih tinggi lagi seandainya tidak tertahan mantel. Sudah kucari akal untuk memberatkan kain. Jepitan kertas tidak membantu. Jepitan jemuran atau batu? Sungguh tidak lucu!
Yang segera kucari setibaku di Paris ialah Museum Rodin. Rodin, karena di sekolah dahulu guru gambarku orang Belanda pernah memperlihatkan album dari Rodin dan Toulouse-Lautrec. Mataku membelalak, hatiku berbunga. Tidak terbayang olehku ada yang sebagus itu. Kalau aku kelak bisa ke Paris, batinku, aku mau melihat itu. Jadi hari Minggu pertamaku di Paris pukul 10 pagi aku sudah di depan gerbang gedung museum. Bukanya baru pukul satu siang. Tak ada kedai kopi, tak ada rumah makan di sekitarnya. Jadi dengan perut kosong akhirnya aku masuk tetapi puas melihat dengan nyata apa yang hanya kukenal dari gambar.
Penyanyi Mouloudji adalah yang kedua pada daftarku, Aku mendengarkannya di Bobino, Montparnasse. Sosoknya masih terbayang di kelopak mataku: seorang diri di pentas gelap, disorot lampu satu. Dan aku terharu dengan „Coquelicot”-nya. Bertahun-tahun kemudian kudengar kembali lagu itu, dari kaset, juga dibawakan oleh Mouloudji. Namun itu bukan Mouloudji dulu, yang romantis; lebih dingin suaranya, lebih lugas. Dan aku merasa ada sesuatu yang hilang.
Lalu Gérard Philippe . . . Ah, siapa tidak kenal dia. Kita di Indonesia pun sudah mendengar ceritanya. Dan bersama sekian banyak orang Perancis, aku mengaguminya. Di film, di panggung. Sekali aku melihatnya di pinggir jalan, dikerumuni cewek-cewek yang minta tandatangannya. Seandainya aku tidak di dalam bis, tapi berjalan kaki, pasti kudekati, meskipun barangkali tidak sampai berani ikut minta tandatangannya.
Gadis India yang menjadi teman jalanku, Devahuti, seorang mahasiswa sejarah di London yang berlibur di Paris. Sekarang dia sudah ahli sejarah yang namanya pernah kulihat disebut di sebuah majalah luar negeri. Dia seorang diri, aku seorang diri, jadi kami bergabung jalan dari Quartier Latin sampai Bois de Boulogne, mampir sini mampir sana, lalu pulang lewat jalan lain. Daging haram baginya, jadi dia membawa bekalnya sendiri dan menawarkannya kepadaku. Bukan seleraiku, maka aku makan sandwich saja. Bukan sandwich tipis yang kita kenal, tapi yang panjang besar gede sehokah dibelah dua dilapis daging atau keju, dan yang menimbulkan kesulitan kalau mau dimasukkan ke dalam mulut. Tapi sandwich dulu masih enak, kering, terasa sekali apa yang dimakan. Sandwich sekarang selalu basah-basah dibubuhi semacam mayonnaise, dan kecutnya kadang-kadang mengalahkan rasa aslinya.
Devahuti juga temanku menonton. Dan sekali kami ditraktir oleh Nanang, saudara Upik, yang kebetulan datang ke Paris, entah dari mana. Kami melihat „Madame Butterfly”. Dan waktu wanita malang itu menyanyikan lagu perpisahannya, aku kembali ke waktu kecilku, ketika aku masih delapan-sembilan tahun dan suka mendengarkan lagu itu dari piringan hitam. Kakekku yang membawanya dari Eropa. Aku rupanya sangat terkesan — tidak oleh ceritanya yang tidak kukenal — mestinya oleh lagunya sendiri yang tidak pernah kulupakan. Akhir kali aku mendendangkannya ialah untuk membuai cucuku waktu masih selengan bawah panjangnya, lima-enam tahun yang silam.
*
Paris? Paris seperti sahabat lama yang akrab kukenal, meskipun hanya dari buku-buku. Aku merasa seperti di rumah sendiri. Intim tidak asing. Tetapi lainlah membaca, lain pula mendapat pengalaman sendiri. Maka aku merasakan betapa nyamannya panas matahari di tubuh pada musim dingin. Aku suka duduk di bangku taman sambil mengamati anak-anak yang saling berkejaran atau meluncurkan perahu layar di kolam. Selalu saja ada pecinta burung dara yang dengan remah-remah roti menjinakkan mereka sehingga yang tampak di sekelilingnya hanyalah kepak sayap sepuluh-dua puluh ekor burung.
Kadangkala aku duduk di pelataran depan gereja, mendengarkan lonceng-lonceng memainkan lagunya. Atau menyusuri Sungai Seine, melihat-lihat buku dan majalah yang saat itu masih cukup murah tapi sekarang ternyata sudah langka dan menjadi selangit harganya. Aku juga suka melihat warna dedaunan yang berubah menjadi segala rona merah dan kuning. Lalu pohon itu, di pinggir air, terpencil dingin, tanpa selembar daun, gundul sampai ranting sekecil-kecilnya. Pucuk pohon seakan-akan terselubung kabut tipis warna keungu-unguan. Kukira pohon gundul semua kecoklat-coklatan. Tapi rupa-rupanya masing-masing mempunyai kabut ronanya sendiri. Sejak saat itulah hatiku terpaut terpukau pada musim gugur dan warna-warnanya.
Aku suka keluyuran lalu memergoki bapak-bapak setengah baya main pétanque di atas pasir. Di tengah-tengah keramaian kota, tidak jauh dari jalan besar, bisa saja ada lorong masuk ke dalam lalu membelok dan bermuara di sepetak tanah kecil. Suasananya sunyi tenang: tembok-tembok rumah membatasinya, dihiasi tanaman yang merambat jauh ke atas. Di pojok, sebatang pohon berbunga, menyaring cahaya sehingga tanah penuh bayangan dan bercak terang yang bergerak-gerak karena embusan angin. Di bangku di bawah pohon itu, duduk seorang nenek tua yang kadang-kadang merajut kadang-kadang mengelus seekor kucing, barangkali juga kadang-kadang terlena sebentar.
Aku suka sekali menghirup aroma harum di pasar kembang: kembang yang sedang musim, kembang yang belum musim. Atau mendengarkan ibu-ibu rumah tangga yang bertawar-tawaran di pasar pagi, pasar di pinggir jalan di langit terbuka.
Suatu kali aku antre di deretan panjang. Tiba-tiba seorang berseru, „La petite dame là-bas!” Rupanya aku dengan perut gendutkulah yang dimaksudkannya. Perempuan hamil tidak usah menunggu gilirannya, langsung dilayani.
Aku menyukai jalanan hitam yang mengilap kena hujan, udara berkabut, pantulan cahaya lampu di tempat-tempat basah, dan para pejalan kaki yang bergegas. Aku ingat almarhum ayahku, suatu malam di Salatiga, ketika kami sekeluarga makan-makan di rumah makan di pasar atas, sambil melihat ke jalan besar di bawah yang agak lengang, hanya diterangi remang-remang lampu satu-dua. „Seperti di ’Champs Elysées’ saja,” katanya mengenang. Tapi „Champs-Elysées-nya tahun 27 dan Salatiganya tahun 50-an. Ayah juga bercerita, bila ia dan Ibu menonton opera umpamanya, aku yang masih berusia dua-tiga tahunan dititipkan kepada salah seorang wanita penjaganya. Bayangkan!
Aku suka juga menyantap goreng kentang dengan sosis beserta moster-nya yang istimewa, khas rasanya, dengan anggur dan keju, dan kopi sesudahnya, sambil merokok „Gitanes”. Rokok merek itu terlalu berat, kata orang, tetapi tidak untukku. Kalau mengisap rokok putih, aku malah pusing. Tergantung musimnya, aku suka membeli buah anggur dari kereta dorong yang banyak memangkal di mana-mana, kepunyaan orang Meghribi; atau ceri, atau pêche, atau buah marron yang masih panas, baru diangkat dari tungku penjualnya di dekat mulut metro. Aku suka cuci mata menyusuri kaca-kaca pajangan toko-toko besar. Apalagi menjelang Natal, berwarna-warni bermacam-macam cara memamerkan barang, penuh fantasi, dengan potongan hiasannya bersiluet hitam, halus lembut, menempel pada kaca sampai ke atas. Waktu aku kembali ke Paris baru-baru ini, tidak seindah dulu hiasannya. Jauh!
*
Mahasiswa Indonesia di Paris waktu itu dapat dihitung banyaknya dengan jari tangan, apalagi yang langsung datang dari tanah air. Takut, katanya, bahasanya terlalu sukar. Kebanyakan mencokol di Negeri Belanda atau Jerman, antara lain karena biaya hidup di Perancis memang lebih mahal. Seorang teman yang giginya harus dirawat, pergi ke Negeri Belanda selama dua minggu, berobat di sana, berfoya-foya, berbelanja. Semua itu masih lebih murah daripada seandainya ia merawatkan gigi di Paris. Dengan uang beasiswa Indonesia yang sama, mahasiswa di Belanda dapat tinggal di apartemen, membeli motor dan menyewa mobil bila berlibur ke luar negeri. Di Paris, takkan bisa.
Tapi mahasiswa Indonesia di Paris — terutama para pemudanya — ada keistimewaannya. Mereka merupakan tukang-tukang masak yang piawai. Kalau kami sedang berkumpul-kumpul sambil makan-makan, yang memasak makanan biasanya para pemuda seperti Benny Mahdi, Chalid, Mubirman (dia termasyhur karena menurut cerita kuku panjangnya pernah tertinggal dalam masakannya). Gadis-gadisnya ongkang-onkang saja. Aku sangat setuju dengan keadaan semacam itu, karena memang aku kurang mahir di dapur.
Grup kami ini suka menyanyi-nyanyi, apalagi ada beberapa orang yang pandai main gitar. Yang kemudian datang bergabung ikut menyanyi ialah Raza, kenalan Ratna Cartier-Bresson. Pelukis muda India ini sedang naik daun, bahkan sudah mengadakan pameran di Galerie Maeght. Tubuhnya jangkung, tenang di antara anak-anak Indonesia yang ribut itu. Barangkali lewat dialah kami diundang untuk memberi sumbangan pada perayaan Hari Kemerdekaan India yang diadakan di Cité Universitaire. Yang kebanyakan kami bawakan lagu-lagu riang gembira. Wah, sambutannya boleh juga. Sampai-sampai mereka minta encore. Tapi encore-nya kurang berhasil, kedengarannya agak loyo.
Kalau bepergian di malam hari, sering kali Emir yang jadi pemandu. Tak jemu-jemunya, tak capek-capeknya kami diajaknya masuk-keluar kedai kopi, atau makan sop bawang di Les Halles atau kalau sudah jenuh, kami kemudian jalan ke mana saja, sampai kaki pegal-pegal. Emir menderita sakit asma dan kalau sedang kena serangan, keluarlah semprotannya, untuk melegakan sesak napasnya. Tapi asmanya tidak mengurangi gairahnya berjalan malam. Teman Perancisnya banyak sekali, barangkali yang paling banyak di antara kami semua. Dia suka berlagak berasal dari keluarga pangeran yang kalau memerlukan seseorang atau sesuatu tinggal bertepuk tangan. Seperti pasha di film Amerika. Herannya, orang percaya saja.
Dan Aki Djoehana-lah yang pada larut malam membawa kami masuk ruang bawah tanah, yang gelap-gelap lebih karena tebal asap rokoknya daripada karena temaram lampunya, mendengarkan chansonnier yang dengan lucunya membawakan lagu, berseloroh mengeritik keadaan politik dan sosial, mengarikaturkan tokoh-tokoh. Kadang-kadang seluruh ruang sudah meledak tawanya, tapi aku terbengong karena masih kurang tahu keadaan lokal dan tidak mengerti apa yang disindirkan, atau karena terlalu cepat bicaranya.
Yang tidak kulihat dan yang kusesali ialah pergelaran perpisahan Josephine Baker. Begitu pula pianis ulung Dinu Lipati, padahal sudah ada karcisnya yang diberikan teman sekuliah karena dia tidak dapat pergi. Tapi aku melihat Zizi Jeanmaire menyanyi dan menari, dan Ingrid Bergman main di panggung dengan santai, pameran besar Picasso dengan „Guernica”-nya, dan pameran foto Henri Cartier-Bresson, diselenggarakan oleh Musée de l’Art Décoratif yang tidak mempunyai kebiasaan memamerkan jenis bidang fotografi yang oleh sementara orang bahkan dianggap bukan seni. Dan aku ikut minta tanda tangan sehabis Konperensi Internasional Pertama Penulis dan Seniman Hitam yang diselenggarakan oleh Présence Africaine. Kecewa karena Richard Wright yang pernah datang ke negeri kita dan yang sudah kita kenal dengan Road to Bandung-nya, bertanya kami dari mana, tidak mengenaliku dengan kain kebayaku sebagai perempuan Indonesia. Berjabatan tangan dengan Cheikh Anta Diop setelah dia tandatangani bukunya Nations nègres et culture. Membeli kumpulan puisi Aimé Césaire, Cahier d’un retour au pays natal, tapi gagal menemuinya. Namun dari Jacques Rabemananjara, penyair Madagaskar, ada kata persembahan yang panjang, yang kukutip, „Ce chant de prison je le dédie en toute fraternité, car à travers la lointaine Indonésie la race malgache est en train de lire la ligne mère de son origine et de son destin.” („Nyanyian penjara ini kupersembahkan dengan rasa persaudaraan yang setulus-tulusnya, sebab melalui Indonesia nun di sana bangsa Madagaskar sedang membaca garis ibu sangkan-paran-nya.”)
Di antara teman sekuliah yang masih kuingat, ialah France. Seorang gadis agak pemalu, tetapi begitu dia tahu aku dari Indonesia, aku diundangnya makan ke rumah. Telingaku mengiang; penduduk Paris asli, menurut orang Perancis sendiri, tidak bakal mengundang orang ke rumah, paling-paling mengajak makan ke restoran. France ternyata bukan orang Paris, dia dari Alsace. Ia mau bertanya tentang masakan Indonesia. Wah, salah alamat. Tetapi dia sudah dapat masak mi dan karena tidak tahu, kepedasan makan sambal tanpa apa-apa. Kusuruh dia cepat-cepat memamah gula putih dan dia terheran-heran karena pedasnya hilang. Dia ganti kuundang ketika grup kami mau makan-makan. Dan pada malam itu dia bertemu dengan seorang tamu kami yang lain bangsa India. Ekor pertemuan itu panjang; mereka kemudian kawin. Ada pula anak Madagaskar. Nama keluarganya mulai dengan Ra, jadi ia berdarah biru. Ia sama-sama belajar bahasa Cina denganku. Sekali waktu guru kami menerangkan kata thai — besar. Kudengar dia cekikikan. Kutengok. Matanya berbinar-binar. Aku langsung mengerti. Bahasa kami kan serumpun.
Ada seorang teman wanita lain, sudah bersuami. Karena kuliahku putus, aku tidak pernah bertemu lagi dengannya. Tetapi rupanya ia hamil bersamaan waktu denganku dan kami sama-sama mengikuti latihan „cara melahirkan tanpa merasa sakit” yang sedang banyak dianjurkan.
Mungkin dokterku tidak terlalu percaya. Ia bertanya, apakah betul-betul aku tidak merasa sakit, karena heran aku masih bisa bergurau saat bayiku akan keluar, padahal dalam posisi sungsang. Dia tidak tahu, perempuan Indonesia terlalu tinggi harga dirinya untuk berteriak kesakitan seperti perempuan di kamar sebelah menurut ceritera perawat. Tetapi selama aku melakukan cara-cara bernafas yang diajarkan, aku memang tidak kesakitan. Waktu aku keluar dari klinik menggendong bayiku, temanku tadi kebetulan baru saja datang, tampak capek dan pucat, merengis kesakitan. Tapi senyum lalu mencerahkan mukanya: sebentar lagi ia pun akan membawa bayi pulang.
Jacqueline Dupont bukan teman sekuliah. Sudah kukenal sejak di Jakarta. Dia suka mencatat syair lagu-lagu yang dia gemari. Waktu aku datang di Paris, Jacqueline baru saja pindah apartemen dan menceritakan kesulitannya memasang kertas dinding. Kepalanya sampai terbentur lemari. Aku tertawa. Dia marah ditertawakan padahal dia kesakitan. „Oh, itu tertawa bangsaku,” kataku. Senang tertawa, sedih tertawa, malu tertawa, dimarahi tertawa. Dan aku ingat Louis Damais yang memang pernah mempersoalkan tawa orang Indonesia yang menurut pengamatan orang Barat, muncul pada saat-saat yang paling tak terduga. Kata Louis, barangkali pelepasan ketegangan jiwa.
Kadang-kadang kami diajak ke luar kota oleh teman yang kebetulan mempunyai kendaraan. Dengan Alisyah dan Bernard, bersama dua orang teman lain lagi, kami ke Bretagne. Dan aku merasakan betapa enaknya keju Camembert yang masih muda empuk. Camembert itu ada ceritanya. Di Jakarta, teman-teman Perancisku mengiklankan keju itu sebagai yang paling lezat se-Perancis. Jadi kubeli waktu mencari lauk untuk roti. Wah, bau busuk apa itu! Mana mungkin kusantap! Harus diapakan benda keras tengik itu. Dibuang sayang, dibawa enggan. Aku saat itu duduk di bangku taman. Mataku menjelalat ke kiri ke kanan. Tidak ada yang melihat. Lalu dengan munafik aku bangkit melenggang seakan-akan tidak ada apa-apa. Kutinggalkan bangku dan keju dengan harapan semoga ada yang menemukannya dan merasa bahagia. Tidak tahu aku, bahwa kemudian keju itu menjadi kegemaranku yang langsung kucari waktu aku berkunjung lagi ke Paris baru-baru ini. Tetapi tekanan darahku ketika itu kebetulan tinggi. „Wah, Nyonya,” kata dokter yang merawatku, „Camembert kan garam melulu!” Adieu-lah, Camembert!
Dalam Fiat kecil milik Aki, kami ke selatan Perancis sampai ke Arles dan Sète. Seperti apa kiranya pohon-pohon yang pernah dilukis van Gogh? Tetapi daerah itu baru kena musim salju yang ekstra dingin, hingga banyak pohon mati.
Di selatan orang-orangnya lebih santai. Di sebuah kota kecil kami mendekati simpang empat. Seorang polisi lalu lintas berwajah ramah — dengan isyarat — bertanya: mau ke mana? Ke kanan, ke kiri, terus? Terus, baik. Ia membalikkan badan seperempat lingkaran, merentangkan tangan untuk menghentikan lalu lintas yang tidak ada, dan mempersilakan kami terus dengan tawa manis.
Kami singgah di rumah keluarga Raymond de Seynes di dekat Toulouse, bekas gudang yang dijadikan tempat kediaman, luas, nyaman menyenangkan, dengan pelataran berkerikil putih-kuning, Raymond, salah seorang anggota tim Perancis yang datang ke Indonesia sebenarnya untuk membuat film di Irian Jaya, tetapi karena tidak mendapat izin, memindahkan kegiatan ke Kalimantan dan Bali. Anggotanya antara lain juga Pierre Ivanoff, ahli etnologi. Henri Martin dan Bourguenev yang suka membantu siaran dalam bahasa Perancis di RRI Jakarta. Mereka pulang dengan membawa sebuah koleksi barang berharga yang sebagian saya kira mereka jual, di Perancis memutarkan film mereka, memasarkannya piringan hitam mereka terutama yang musik Bali, mengadakan ceramah di mana-mana. Raymond harus masuk dinas militer, tetapi karena salah seorang kakaknya sudah gugur dalam perang, dia dibebaskan dari kewajiban ikut perang Aljazair dan mendapat kedudukan administratif di bidangnya, film atau fotografi.
Ratna mengambil tempat yang khusus di hatiku. Ia dahulu penari. Kalau tidak salah ada darah Manadonya. Kemudian diperistri oleh Berrety, seorang berkebangsaan Belanda, yang turut mendirikan kantor berita Aneta. Kaya-raya. Untuk Ratna-lah ia bangun Villa Isola sebagai persembahan cintanya. Aku tidak tahu benar duduk perkaranya, tapi pada suatu ketika Ratna ikut dengan rombongan penari Ramgopal yang termasyhur dan akhirnya tiba di Paris. Ia kawin dengan Henri Cartier-Bresson yang mulai sebagai pelukis, lalu giat dalam perfilman dan akhirnya menjadi termasyhur sebagai fotografer dengan nama dunia. Rumah Ratna selalu berantakan. Di mana-mana ada buku, di mana-mana ada barang antik. „Ayo makan,” ajaknya. Tapi untuk dapat makan, buku-buku harus disingkirkan dulu. Juga ada topeng-topeng. Ratna rupanya percaya bahwa topeng dapat mempunyai pengaruh tertentu. Ia bercerita iparnya mempunyai sebuah topeng yang seolah-olah terasa memancarkan hawa kejahatan. Iparnya kemudian dinasihati supaya membuang saja topeng yang naas itu, tetapi tidak mau. Beberapa waktu kemudian iparnya itu meninggal karena sakit jiwa. Apakah ada hubungan antara kematiannya dan topeng itu, aku kurang tahu.
*
Pada suatu hari Minggu kami ke luar kota ke pinggir Sungai Seine. Hari cerah dan hangat. Di tebing sungai yang landai orang duduk berteburan, berkeluarga, dewasa dan anak, berpakaian minim. Kalau tidak mendengkur, mereka makan minum seakan-akan tak sudah-sudahnya, atau bertengkar, atau bercanda, atau hanya berleha-leha saja mencari panas matahari selagi masih ada.
Ratna mengajak kami berjalan di bantaran kali, sambil berulah sedikit, pura-pura memperlihatkan kami beberapa langkah tarian. Sengaja. Supaya orang tidak memperhatikan suaminya yang sedang mencari mangsa alat fotonya. Pernah, tutur Ratna, di sebuah rumah makan duduk seorang pria, gendut sekali, menghadapi hidangan semeja. Henri ingin mengambil fotonya dan mengelilinginya terus mencari sudut pengambilan yang paling baik. Pria yang dibidiknya itu makin lama makin marah. Dan pada saat ia sudah meledak, Henri menjepretnya. Foto itu bisa dilihat di salah satu albumnya.
Ratna memberikan kami hadiah perkawinan yang indah sekali: bulan madu di rumah suaminya di desa yang namanya kalau tidak salah St. Dié, di pinggir Sungai Loire. Tidak besar rumahnya, juga penuh buku, dan di dinding terpampang sebuah lukisan besar Mersekal de Saxe yang harum namanya pada abad ke-18, bekas pemilik rumah itu, dan kalau aku tidak khilaf, leluhur George Sand. Tiga hari di sana kami manfaatkan untuk berkeliling ke puri-puri: Blois dan Chambord yang masih kuingat. Blois dengan tangganya yang aneh bin ajaib, tangga putar: orang bisa berjalan berdampingan waktu naik, tetapi keluarnya masing-masing di tempat lain. Dan di ruangan tempat Duc de Guise gugur ditusuk pedang, si pemandu tersendat suaranya penuh haru. Di Chambord yang putih itu kepada kami ditunjukkan paku dari jaman Molière, masih tertancap di dinding, dahulunya digunakan untuk menahan tali tabir panggung.
Kami pulang ke Paris naik kereta api penuh anak sekolah yang kembali sehabis liburan. Tetapi jalan macet karena telah terjadi kecelakaan dan kami terlambat datang pada resepsi yang diadakan Pak Santo, Dubes kita, untuk tiga mempelai baru, yaitu Haryati–Marco, Supadmi–Sarapil, Winarsih–Chalid.
Haryati sudah kawin beberapa bulan sebelumnya. Marco sebenarnya seorang dokter yang dikirim ke Indonesia dengan tugas dari WHO dan bertemu di Yogya dengan Haryati, orang perjuangan, orang pergerakan wanita. Tetapi Marco gandrung dengan matematika, jadi beralih bidang ilmu, kemudian mendapat nama internasional dan sekarang anggota Académie Française.
Supadmi tadinya atase pers, tetapi waktu kawin sedang tidak bekerja lagi, meskipun kemudian kembali ke KBRI sebagai pegawai lokal. Banyak mengalami kesengsaraan tetapi tetap tegar. Padmi dan Sarapil kawin pada hari yang sama seperti kami, tetapi mereka di Negeri Belanda, aku di Paris. Hari Senin, hari pertama dalam seminggu, hari baik. Perkawinan resmi di Mairie St. Sulpice berlangsung dengan megah dan khidmat. Betapa tidak. Kalau kawin pada hari Senin, bayarannya paling tinggi. Pada hari Sabtu gratis, tetapi kawinnya seperti di ban jalan saja, mulai dari tempat pasangan dinikah sampai di atas tangga di luar orang berjejalan berdesak-desakan berkeringat menunggu giliran. Pada hari Senin, pintu-pintu ruangan dibuka lebar lalu ditutup setelah semua tamu pengantin masuk. Dari kotapraja ke mesjid. Di kedutaan, upacara menurut adat Jawa; dan Chalid yang putra Minang, berpakaian teluk belanga lengkap dengan keris di depan perut, begitu masuk pintu dikalungi rangkaian bunga, bukan melati, tetapi bunga putih kecil-kecil.
Aku bertemu lagi dengan Haryati dan Supadmi di Paris, waktu aku berkunjung untuk kedua kalinya tahun yang lalu. Tiga puluh enam tahun sudah berlalu. Sesudah sekian lama kami lintasi suka dan duka, kami berkumpul lagi: hati masih hangat berdebar, semangat masih tinggi berkobar.
*
Tahun 1991 aku masuk Paris dari pelabuhan udara Charles de Gaulle. Daerah itu baru bagiku. Tetapi di langit putih di atas, aku disambut nama yang sudah amat beken di tanah air, di tengah-tengah nama-nama Perancis yang tak kukenal: Toyota (atau boleh jadi nama lain, pokoknya Jepang). Seperti di negeri kita, pembangunan rupanya sedang melaju: di mana-mana terlihat keran-keran yang menggapaikan lengan panjangnya tinggi-tinggi. Aku pangling. Betapa tidak. Tiga puluh enam tahun rentang waktu yang lama. Jakarta saja dalam beberapa dasawarsa ini amat banyak pembaruannya. Jadi tidak mengherankan kalau ibukota Perancis pun memanglingkan. Tapi . . . ada yang lain. Apa? Entahlah! Aku merasa asing. . . Tidak lagi seakrab dahulu. Paris kini bukan Paris yang dulu lagi. Apakah karena sekarang tembok gedung-gedung sudah tidak gelap kelabu lagi? Kurasa tidak. Tetapi bila kakiku melangkah di Boulevard Saint-Michel atau Boulevard Saint-Germain, langkahku serasa di sembarangan jalanan lain. Hotel Danton, yang letaknya persis di atas Metro Odeon, dahulu tempat kediamanku. Sekarang semacam sekolah atau tempat kursus. Kedai kopi di bawah sudah semakin maju. Kakak-adik kembar pemiliknya sudah meninggal keduanya. Toko-toko kecil di daerah itu, yang menjual segala macam keperluan sehari-hari seperti roti, daging, telur, éclair dan baba au rhum, kopi, benang, gas kompor, krem karamel dan masakan jadi, sudah tidak ada lagi. Apakah karena itu? Mungkin. . .
Aku pun sudah berubah. Aku tidak lagi berkain kebaya. Memikirkan harus mencuci kain di kamar yang tidak ada tempat untuk menjemur sebagaimana mestinya, lalu mewirunya, dan mengurus sanggul — sanggulku masih model kuno memakai cemara, bukan tempelan — aku merasa malas. Maka aku mengenakan pakaian yang dinamakan Malay-dress tapi dari lurik, seperti yang dikenakan Bu Broto dalam „Losmen”.
Sekali waktu aku masuk kantor pos, ada wanita Asia di antrean. Senyum lebar, lambai tangan, lalu langsung ia bercas-cis-cus. Tapi cas-cis-cusnya bukan bahasa Perancis. Bengongku membuatnya tertegun. Ah, ternyata ia orang Cina menurut pengakuannya, artinya orang Vietnam. Tetapi kekeliruannya bisa difahami. Betapa tidak, selain mirip rupanya, kami sama benar pakaiannya: celana panjang warna gelap, baju hitam lengan panjang, selendang penghangat yang melilit leher karena udara mulai dingin, rambut sama-sama mulai beruban — hanya saja rambut dia lebih pendek sedangkan sanggulku bertengger kecil tinggi di kepala — munthil ceguk menurut istilah ayahku. Bukan sekali itu saja, dan bukan hanya aku yang mengalaminya. Ada teman yang sama ceritanya.
Yang juga kurasakan telah berubah ialah masakannya, mutunya tidak lagi seperti dulu. Seperti di Jakarta saja: semua orang bisa menjajakan mi, asal berwujud mi, tapi belum pasti enak. Padahal dulu ada yang ditunggu-tunggu orang karena sangat enaknya. Di Paris ikanlah yang kupesan. Ikan segar yang kuharapkan, yang muncul ikan potongan bungkusan yang didinginkan, disimpan di lemari es. Hah! Dan sia-sialah kuharapkan moster seenak dulu untuk dioles di atas sosis. Aku ditraktir di sebuah rumah makan di Passy, di daerah elit, termasuk yang top katanya Memang enak dagingnya, disajikan di atas tegel yang panas sekali, daging yang masih mentah, yang kita potong sendiri sedikit-sedikit kita masak sendiri di atas panas tegel itu dan kita makan matang, setengah matang, menurut selera. Sayurnya boleh dipilih, kentang goreng atau buncis. Kuingat masakan buncis dahulu, halus enak-lezat tak ada bandingnya, mungkin dimasak dengan mentega. Tetapi yang kini terhidang selusin buncis besar-besar, apalagi masaknya tidak rata. Ada yang ujungnya keputih-putihan, yang warnanya setengah hangus, hijaunya meragukan, pontang-panting letaknya di atas piring. Kucicip, memang seperti wujudnya rasanya, hambar tidak menggiurkan. Kata teman-temanku, barangkali fantasikulah yang membayangkan masakan tempo dulu begitu lezat. Tetapi menurut Marco, bisa saja: dulu yang mempunyai restoran itu, makan dari dapur restoran, jadi masakannya selalu enak. Sekarang banyak jenis makanan yang sudah dikomersialkan. Belum lagi kusebut MacDonald yang menjual masakan boleh dikatakan kodian, sudah siap tinggal diangkat. Seperti di tempat kita, segala macam bentuk fried chicken. Jakarta dan Paris ternyata memang banyak kesamaan, meskipun barangkali tingkatnya agak lain.
Kalau masakannya kadang-kadang mengecewakan, manusianya tidak. Menurut cerita, orang sono sekarang sombong, tidak suka membantu. Tetapi aku, selalu dibantu. Kalau naik kereta api, ada saja yang mengangkatkan atau menurunkan koperku ke dan dari tempat bagasi. Aku termasuk jenis orang yang daya orientasinya tak dapat diandalkan, membelok ke kiri kalau harus ke kanan, salah membaca jurusan metro hingga seringkali sesat. Suatu hari barangkali kelihatan bingungku, karena aku langsung ditegur bapak-bapak yang bersama dua orang temannya sedang berjalan-jalan santai, dan aku ditunjukkan arah. Aku pernah bertanya jalan, lalu aku diantar ke alamatnya oleh ibu-ibu yang rupanya penduduk daerah itu.
Lalu ada keluarga Prot. Kami berkenalan berkat Yayuk Hidayat dari UI yang juga mendapat beasiswa untuk menerjemahkan buku dan yang mondok di tempat mereka. Keluarga besar dengan lima anak, termasuk si bungsu yang masih kecil. Kaya. Pernah tinggal di Indonesia, malah ada yang lahir di sana. Tuannya memang sering ditugaskan ke luar negeri. Keluarga yang alim, secara teratur pergi ke gereja dan banyak bergiat demi gereja. Keluarga yang sopan sekali, tidak banyak yang seperti itu menurut Yayuk. Ibunya agak ceriwis. Dengan ramah sekali aku diterima di rumah mereka di Rambouillet, malahan diajak ke pondok mereka di Les Contamines di pegunungan Jura, pusat olah raga luncur ski. Kami melaju dengan kecepatan di atas 100 km di auto-route. Ruginya, tidak melintasi kota dan desa. Ny. Prot yang memegang setir, menjadi pemandu. Ia berbicara tentang sapi dan keju. Suatu waktu pernah menyudutkan seorang penjual keju yang semestinya tahu banyak tentang barang dagangannya, tapi kebetulan tidak tahu bahwa keju itu kulit luarnya ada yang terbentuk dengan rerumputan atau entah apa lagi. . . .
Aku heran melihat di atas pohon-pohon banyak bergelantungan benda mirip sarang burung, bundar seperti bola. Ternyata boule de gui yang barangkali lebih kita kenal sebagai mistletoe, di Barat dipasang di rumah semasa Natal. Kami lewat Beaune yang terkenal karena bunganya. Tanamannya sering dipangkas sedemikian rupa hingga tangkai-tangkainya penuh bunga jatuh mirip air terjun. . .
Rupanya puncak-puncak gunung sedang kehabisan air, jadi banyak sapi yang digiring turun. Sepanjang hari sepanjang malam terdengar suara keloneng dari genta mereka. Di lereng-lereng pegunungan kutemukan kembali warna-warna musim gugur: merah karat, merah coklat, merah gelap dan yang menyala, merah yang muda, dan segala nuansa kuning dari yang keputih-putihan sampai warna telur asin, diselingi hijau pohon cemara yang tak luntur-luntur sepanjang tahun. Tanaman kecil di sudut serambi, yang kemarin ranting-rantingnya masih dirintiki titik-titik embun halus bening, esok harinya sudah memutih direnda salju, lembut gemulai. Pegunungan mengabut, hilang warna-warnanya. Dan dunia menjadi sunyi tanpa suara. . .
*
Beasiswa yang memungkinkan aku ke Perancis, diberikan kepadaku sebagai penerjemah. Dari Arles, Perancis Selatan, datang tawaran dari CITL (Collège International des Traducteurs Littéraires) untuk bekerja di tempat mereka. Tempatnya di „Espace van Gogh”, bekas rumah sakit jaman dahulu yang pernah menampung pelukis itu waktu sakit. Di tingkat satu dan dua sayap barat gedung itu, CITL berkantor. Ada perpustakaan lengkap dengan segala macam kamus, tempat kerja dengan komputer-komputer, mesin cetak, mesin fotokopi; ada buku-buku dari berbagai negeri dalam berbagai bahasa, termasuk Indonesia. Dan bagi penerjemah disediakan sepuluh kamar yang harus dibersihkan sendiri (cukup besar untuk bekerja dengan leluasa, tempat tidurnya di panggung, ada kamar mandi dan kakus tersendiri, ada alat pemanas yang dapat diatur sendiri), dengan dapur, tempat makan, ruang tamu dan teve di satu ruangan bersama yang luas sekali; semua itu di bawah atap yang kelihatan balok-balok besarnya. Sangat murah, 90 F. sehari; untuk penerjemah karya sastra bahkan 50 F. saja, tetapi harus masak sendiri.
Waktu aku datang, tidak semua kamar terisi, musim panas sudah usai. Irina asal Rumania, ahli tentang Proust, rencananya menerjemahkan semua karya penulis itu. Dia memang membicarakan Proust pada seminar internasional tiga hari yang diadakan di Arles. Pikirannya senantiasa ke rakyatnya yang menderita. Dia pun sulit ke luar negeri seandainya tidak ada undangan. Dalam perubahan-perubahan besar yang sedang terjadi di Eropa Timur itu, ia menginginkan kembalinya kerajaan. Mengapa tidak, katanya, seperti di Inggris. Kalau Irina suka murung, temannya sebangsa lebih riang, pikirannya tidak selekat itu dihantui nasib negerinya.
Orang-orang Eropa Timur ini rupanya percaya juga pada roh gentayangan. Menurut mereka, semua penghuni „Espace van Gogh” itu pernah mengalami malam-malam tak bisa tidur. Kesan yang timbul, suasannya agak aneh. „Di negeriku,” kelakarku, „mendengar cerita kalian, orang langsung akan percaya ada yang mengganggu.”
„Ya, boleh jadi,.. sambut mereka, „barangkali roh Van Gogh.”
„Tapi dia kan tidak mati di sini!”
„Oh, siapa tahu, barangkali rohnya . . .” Wah!
Kirsten seorang wanita Denmark yang menikah dengan seorang berkebangsaan Perancis. Pustakawati ini kemudian berhasil memperoleh pekerjaan di Perpustakaan CITL sehingga dapat dekat dengan anak perempuannya yang bersekolah di daerah itu. Kirsten yang senang bersepeda dan pandai masak itu saya kira yang paling wajar dan imbang wataknya di antara para penerjemah wanita yang terkumpul di „Espace van Gogh” itu.
Dari penerjemah laki-laki, John adalah orang Nigeria. Salah seorang saudaranya, menurut ceriteranya, pernah bertugas sebagai duta besar di Jakarta. Ia ternyata juga ke Arles dengan beasiswa yang sama seperti Yayuk dan aku. „Ah,” serunya waktu mengetahui hal itu, „yang sembilan ribu Francs, ya!” Jumlah itu memang besar untuk beasiswa, dan meskipun ongkos perjalanan pulang-balik harus dibayar sendiri, asal saja agak hemat, uangnya dapat kembali dari beasiswa itu. John orangnya memang lucu, isterinya lebih dari satu.
Dari Jepang juga ada salah seorang wakilnya, yang kalau sudah mulai minum-minum, terus menyerocos. Ia sangat tidak setuju ketika teve menayangkan salah satu jenis upacara dalam keluarga kekaisaran Jepang. Upacara itu kebetulan sama-sama kami tonton. „Itu urusan pribadi orang Jepang,” katanya. Dia sebenarnya bahkan juga tidak setuju ada kekaisaran. . .
Aku masih berkenalan juga dengan seorang penerjemah dari Jerman, yang sudah lama di Arles dan mempunyai apartemen sendiri. Olga suka sekali pada binatang. Kulihat dia di Camargue berlama-lama bercakap-cakap dengan kuda-kuda putih daerah itu yang katanya masih setengah liar. . .
Lalu ada sepasang orang Perancis yang banyak bergaul dengan penghuni „Espace van Gogh”, Alain dan Bernadette. Bernadette dengan suaranya yang hangat, seorang guru di sekolah TK dan merasa agak rendah diri di kalangan penerjemah yang „intelektual” ini. Dia pun pandai masak. Mengingat ratatouille-nya, aku kangen Arles. Masakan itu banyak tomat dan terongnya. Ada teman Indonesia di Paris bercerita, bahwa di Yogya laki-laki muda tidak dianjurkan makan terong, karena melemahkan syahwat. Haryati, orang Yogya, terbengong, tidak mengetahuinya. Mungkin karena dalam keluarganya anaknya perempuan melulu, delapan atau sembilan orang . . . Kembali ke pasangan Perancis tadi. Mereka tinggal di apartemen dalam gedung yang sudah kuno dan tidak diperbaharui seperti banyak gedung tua lainnya. Seandainya diperbaharui, mereka pasti bakal pindah, karena uang sewanya langsung akan naik, terlalu mahal untuk pasangan yang rupanya pas-pasan saja hidupnya. Alain, suaminya, yang paling tidak ketahuan apa kerjanya. Acuh tak acuh pakaiannya, agak bohemian barangkali. Banyak bergaul dengan dunia sastra, beberapa kali kujumpai dalam toko buku. Suami-istri ini baik sekali. Pada malam pertama aku tiba di Arles, mereka mengajakku makan di rumah ketika mengetahui aku mau mencari rumah makan. Musim wisata sudah usai, jadi tidak lagi ada tur-tur keliling. Maka Alain-lah yang mengantar kami — Irina, Olga dan aku — ke Camargue, dalam mobil bututnya yang kecil, ke keluasan pantai Laut Tengah yang terhampar sepi dan lengang di bawah keluasan langit birunya, tapi Laut kidul kita lebih buas. Alain sendiri pernah setahun-dua tinggal di sana dalam rumah beroda. Karena itu barangkali ia kenal baik pemilik rumah makan pantai itu — seorang laki-laki yang sudah mulai beruban tapi masih gagah benar di atas kudanya, putera daerah itu — yang karena permainan perusahaan tertentu tidak lagi dapat menjalankan pekerjaannya sebagai nelayan profesional, jadi bertahan hidup membuka rumah makan di tepi pantai.
Dari seminar penerjemahan karya sastra, yang terutama menarik minatku adalah pembicaraan mengenai pembentukan penerjemah sastra. Yang berbicara — baik yang di panggung maupun yang memberi tanggapan dari sidang pendengar — ketahuan sudah berpengalaman panjang. Cara mereka bermacam-macam. Ada yang mendirikan sekolah dan kursus, ada yang berdasarkan teori, yang lain lebih mengandalkan pengalaman. Menarik sekali. Pembicaraan tentang penerjemahan buku-buku Proust kuikuti, barangkali karena Proust bagiku sulit sekali, dan tak suka kubaca, makanya asing. Jepang kali itu juga mengambil tempat penting. Selain pembicaraan, ada pameran karya-karya Jepang, asli dan terjemahan, diselenggarakan di toko-toko buku penerbit Actes Sud. Perusahaan ini memang banyak menerbitkan terjemahan ke dalam bahasa Perancis.
Tidak ada seminar tanpa undangan makan. Di sebuah rumah makan yang pada jaman dahulunya merupakan tempat pertukaran kuda pos, tersedia meja penuh dengan segala macam selada, dari sayur-sayuran sampai berbagai macam daging. Minyaknya minyak zaitun, berat untuk perut yang tak terbiasa. Para tamu boleh mengambil hidangan sesuka hatinya. Ada yang berceritera bahwa makan-makan seperti ini model baru. „Lho,” kataku, „di negeriku, ini dinamakan perasmanan, artinya makan ala Perancis.” „Kok begitu?” reaksinya. Tapi hidangan selada itu memang nikmat.
Sebagai penutup inginlah aku mengenang beberapa orang yang sudah mendahului kita ke alam baka. Pertama-tama Ratna yang makamnya tidak sempat kuziarahi. Widari teman sekolahku yang pelamun, sinar matanya ada kalanya amat sendu. Emir juga sudah tiada. Begitu pula kawan dekatku Soetomo dari UI, yang biarpun sudah jajan, setibanya di rumah makan lagi, karena yang tadi itu bukan nasi. Lalu Suyudi, arsitek Gedung Conefo yang kemudian menjadi Gedung MPR, dan Gedung ASEAN; arsitek pula untuk Kedutaan Besar Perancis di Jakarta. Dan anak tunggal Haryati, Mahar, yang hanya kukanal waktu masih bayi; ia meninggal dalam kecelakaan pada umur yang masih muda, tetapi sudah menjadi harapan orang tuanya, anak gagah, cerdas, berhumor. Untuk memperingatinya, Haryati mengadakan hadiah tahunan bagi putra-putri Indonesia yang datang belajar di Perancis, yang memungkinkan mereka membeli buku. Hadiah itu diberinya nama „Mahar Schutzenberger”.
Pada tahun 50-an aku menginjak tombol di pelataran Gereja Notre-Dame. Titik itu katanya pusat kota, di negeri kita mungkin dinamakan pal km 0. Injak tombol itu, kata orang, kau akan kembali ke Paris. Barangkali kelakar, tapi kuinjak, aku ingin kembali. Tahun lalu aku berkunjung lagi ke Notre-Dame. Kucari ke mana-mana, tombol itu sudah hilang, mana dapat diinjak. Tidak bakalkah kulihat Paris kembali?
Jakarta, Mei 1991