Baca EPUB: tjatatan-ketjil-tentang-sutan-sjahrir

2 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. Table of Contents
  2. Table of Contents
SOE HOK GIE
Tjatatan2 ketjil tentang Sutan Sjahrir
Kacabenggala Editions

Publisher Note

Bagian I diterbitkan di mingguan Djaja pada 16 April 1966 dalam edisi No. 221. Bagian II diterbitkan di mingguan Djaja pada 23 April 1966 dalam edisi No. 222. Ditulis Soe Hok Gie seminggu setelah wafatnya Sutan Sjahrir pada 9 April 1966 di Zurich, Swiss

Digitizer Note

This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.

All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.

The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.

Bagian I

Hari Sabtu tanggal 9 April, Sutan Sjahrir telah meninggal dunia di Zurich. Nama Sjahrir bukanlah nama jang asing bagi rakjat Indonesia. Namanja terlalu terang untuk dikaburkan oleh fitnah2 lawan2 politiknja, oleh PKI dan simpatisan2nja. Djasanja terlalu besar untuk dihapuskan. Akan tetapi banjak djuga orang jang tidak tahu tentang perdjuangan Sjahrir, lebih2 angkatan muda Indonesia. Karena itulah dalam rangka untuk memberikan penghormatan terachir terhadap Bung Sjahrir kami ingin membuat beberapa tjatatan2 biografis dari hidupnja jang tidak terlalu pandjang ini. Karangan ini tidak bertudjuan menuliskan biografienja setjara lengkap dan disusun setjara tergesa2 karena waktu.


Foto kiri kembali dari tawanan di Prapat (1949) setelah agresi Belanda kedua. Foto kanan: sebagai olahragawan Sjahrir telah memperoleh brevet terbang (1957). (Klise: Kompas).


Djakarta, April 1942

Dalam sebuah rumah diadakan perundingan segitiga, antara Bung Karno, Bung Hatta dan Bung Sjahrir. Waktu itu Djepang baru sadja berhasil menghalau Belanda dari Indonesia. Kelihatannja kekuasaan Djepang tidak bisa ditumbangkan dan banjak orang Indonesia jang terpukau oleh djandji2 Djepang. Perundingan segitiga itu berudjuan untuk membitjarakan tentang kelandjutan perdjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia, dan dalam perundingan segitiga itu, tiga2nja setudju bahwa perdjuangan kemerdekaan akan tetap dilandjutkan, dalam keadaan jang bagaimana sulitpun.

Dalam perundingan itu diputuskan bahwa tjara perdjuangan sekarang akan disalurkan melalui dua saluran. Jang pertama adalah saluran legal dan jang kedua melalui saluran illegal, melalui gerakan dibawah tanah. Sukarno dan Hatta ditugaskan untuk memimpin jang pertama karena kedua orang ini sudah terlalu dikenal sehingga bagi merdeka akan sulit sekali untuk bekerdja setjara illegal. Dan Sjahrir ditugaskan untuk berdjuang setjara illegal, menjusun kekuatan dibawah tanah.

Pemuda idealis jang diasingkan ke Digul

SJAHRIR dilahirkan pada tahun 1909 di Kota Gedang, Sumatera Barat. Ajahnja adalah seorang djaksa dan karena itu kita tidak usah heran bila sedjak ketjilnja Sjahrir hidup dalam dunia jang “rasionil”. Namanja mulai terkenal ketika ia memimpin mahasiswa2 Indonesia di negeri Belanda bersama mahasiswa Hatta. Waktu itu Sjahrir masih beladjar di Fak. Hukum Leiden. Dibawah pimpinan Hatta-Sjahrir, PPI (Perhimpunan Peladjar Indonesia) berubah dari suatu organisasi kemahasiswaan mendjadi organisasi politik jang radikal. Ketika Sukarno ditangkap Belanda pada tahun 1929 Sjahrir termasuk salah seorang pemimpin mahasiswa jang aktip menjelenggarakan aksi2 untuk membakar massa dikalangan mahasiswa Indonesia disana.

Dalam pada itu, sebagai akibat daripada penangkapan Bung Karno, dunia politik pergerakan Nasional Indonesia mengalami krisis. Sartono membubarkan Partai Nasional Indonesia dan ini menimbulkan reaksi dikalangan pemimpin2 lainnja. Sjahrir jang pada waktu itu masih beladjar di Leiden memutuskan untuk kembali ke Indonesia sebentar, untuk ikut memberikan sumbangannja pada dunia pergerakan Indonesia. Maksudnja hanjalah untuk kembali sebentar, [tidak terbaca] terus sehingga rentjananja untuk kembali ke Leiden tertunda2. Dalam saat2 inilah kelihatan kepemimpinan Sjahrir.

Dalam waktu singkat ia dapat menilai hakikat daripada kelemahan pergerakan nasional Indonesia. Ia melihat bahwa pergerakan nasional Indonesia terutama didasarkan pada massa. Pemimpin membakar semangat massa, mengadakan agitasi2 jang hebat, tetapi sangat kurang dalam memberikan isi pada kesadaran politik rakjat. Dan akibatnja djika seorang pemimpin ditangkap, maka gerakannja mendjadi berantakan seperti rumah kartu. Menurut Sjahrir disamping massa aksi, perlu sekali membentuk kader2 politik jang tjakap, jang sadar tentang apa jang diperdjuangkan dan sikapnja dan tidak tergantung daripada pimpinan. Singkatnja perlu segera dibentuk partai kader, dimana jang lebih diutamakan adalah insan2 politik jang berpikir merdeka.

Kemudian Sjahrir membentuk sebuah partai baru diatas reruntuhan PNI (jang dibubarkan Sartono). PENDIDIKAN NASIONAL INDONESIA (PNI. Pendidikan, perhatikan kata pendidikan bukan partai) pada tahun 1933. Tetapi Belanda rupanja tjukup awas. Beberapa bulan kemudian PNI-Pendidikan diringkus. Hatta-Sjahrir (ketua dan sekretaris) ditangkap dan tanpa diadili dibuang ke Digul, Irian Barat. Mereka berangkat ke Digul dalam tahun 1934. Dari Digul kemudian ia diasingkan ke Bandaneira, dipulau Banda.

Selama Sjahrir dalam pembuangan Belanda ia menuliskan sebuah diary (tjatatan harian), dmana setjara terperintji ia melukiskan perasaannja, kesan2nja dan djuga harapan2nja. Tjatatan harian ini kemudian diterbitkan sebagai buku dengan djudul “Indonesische Overpeinzingen”, jang kemudian diterdjemahkan kedalam bahasa Indonesia sebagai RENUNGAN INDONESIA. Buku ini djuga diterdjemahkan kedalam bahasa Inggris sebagai “Out of Exile”. Disamping sebagai karya politik, buku ini djuga mempunjai nilai sastra jang tinggi, karena keindahan bahasanja.

Gerakan dibawah tanah

Dalam tahun 1942, Sjahrir bersama Hatta dibawa dari Banda ke Sukabumi karena pulau Banda sudah diantjam pendaratan Djepang. Sampai mereka dilepas Djepang dalam bulan Maret 1942, status mereka adalah orang tawanan.

Berbeda dengan pemimpin2 lain jang terpesona melihat kemenangan Djepang, Hatta-Sjahrir-Dr. Tjipto Mangunkusumo (seorang tokoh tua pergerakan nasional) melihat bahwa Djepang mempunjai maksud2 tidak baik terhadap Indonesia. Dan mereka djuga setjara tegas menolak fasisme, karena fasisme bertentangan dengan prinsip2 kerakjatan.

Pendapat ini djuga dianut oleh pengikut2 Sjahrir. Sjahrir dengan menggunakan logika berhadapan dengan pemimpin2 rakjat lainnja jang hanja menggunakan emosi dalam menilai situasi. Dan pada waktu itu grup Sjahrir merupakan grup ketjil karena mereka “bertentangan” dengan semangat massa jang “gila” Djepang.

Baiklah kita menindjau dunia politik Indonesia waktu itu dalam rangka perdjuangan dibawah tanah. Pada waktu itu, sebagian besar tokoh2 pergerakan nasional melihat bahwa Djepanglah jang akan dapat menjelamatkan Indonesia dar pendjadjahan. Hanja sebagian ketjil sadja dari pimpinan rakjat Indonesia jang melihat setjara lebih djauh dan mendalam. Disamping grup Sjahrir-Hatta-Dr. Tjipto terdapat pula grup lain, jaitu grup Amir Sjarifudin. Amir Sjarifudin adalah seorang tokoh muda jang anti Hatta-Sjahrir dalam tahun 1932, ketika PNI dibubarkan Sartono. Kemudian ia aktip dalam PARTINDO bersama Sukarno-Sartono dan setelah PARTINDO dibubarkan Sartono lagi, ia mendirikan GERAKAN RAKJAT INDONESIA. Dalam tahun 1935, ia mulai didekati orang2 komunis, dan katanja Musso pernah datang dari Moscow (waktu itu ia dibuang) untuk menemuinja. Karena ia mendapatkan instruksi dari Komintern jang waktu itu anti fasis. Amir kemudian petjah dengan kawan2nja dan ia mengambil sikap anti Djepang.

Belanda jang waktu tu sedang “gulung tikar” segera mendekati Amir dan menawarkan bantuan materieel kepada Amir. Van der Plas sebelum lari ke Australia memberikan wang sebanjak f 25.000,- kepada Amir dengan instruksi untuk membuat sel2 gerakan dibawah tanah.

Djadi waktu itu, di Indonesia terdapat dua pusat gerakan dibawah tanah. Satu dibawah pimpinan Amir jang berorientasi ke Australia (batja NICA)-Moscow, dan jang lainnja dibawah pimpinan Sjahrir jang berorientasi ke Indonesia sendiri.

Amir kemudian mentjoba mendekati Sjahrir agar mau bergabung. Tetapi Sjahrir tidak mendjawabnja, karena melihat tjara2 kerdja Amir jang emosionil dan motif politik jang tidak sehat dari Amir. Penilaian Sjahrir ternjata benar. Dalam waktu satu tahun djaring2 Amir dapat ditjium Djepang dan ia ditangkap.

Sjahrir setjara perlahan2, tetapi pasti kemudian menjusun djaring2nja sendiri setjara berdikari. Dan seperti kita sudah lihat diatas, sebelumnja telah ada “understanding” dengan Sukarno-Hatta. Sjahrir djuga didekati oleh Djepang, dan pendekatan ini djuga ditolak. Ia pura2 t.b.c. dan membeli rumah di Tjipanas. Kepada Djepang ia katakan bahwa pisiknja sudah rongsokan akibat terlalu lama ditawan (1934-1942). Djepang pertjaja. Dan dari Tjipanas inilah gerakan bawah tanah Indonesia jang pertama disusun. Dari rumah ini dengan menggunakan radio gelap, ditangkap berita2 perang dan kemudian disebarkan ketengah djaring2nja.

Pada waktu itu pembantu2 Sjahrir banjak terdapat dari kalangan mahasiswa. Di Fak. Kedokteran disusun djaring2 bawah tanah, dan pimpinan mahasiswa inilah kemudian mentjetuskan perlawan mahasiswa terhadap Djepang. (A.l. Eri Sudewo; Sjarif Tajeb, Subadio).

Dan sebaga penghubung gerakan bawah tanah dan gerakan legal Sukarno-Hatta bertindak orang kepertjajaan Sjahrir, Djohan Sjahruzah. Djohan kemudian djuga merupakan sekretaris dari seluruh gerakan dibawah tanah.

Ketekunan dan kerasionilan Sjahrir membuat djaring2nja sangat effektip bergerak. Mereka bergerak dikalangan mahasiswa, dikalangan petani dan djuga diantara unit2 PETA sendiri. Kontaknja meluas dan pengaruhnja dirasakan dimana2.

Proklamasi kemerdekaan

TANGGAL 15 Agustus Sukarno-Hatta baru sadja tiba dari Saigon menemui Djendral Besar Terauchi membitjarakan tentang kemerdekaan Indonesia. Sore2 Sjahrir datang kerumah Hatta mengabarkan bahwa Djepang sudah menjerah. Ia mendapatkan berita ini dari radio gelapnja. Sjahrir djuga menjatakan bahwa ia akan menentang kemerdekaan hadiah dari Djepang dalam bentuk apapun. Hatta diminta agar ia mau membudjuk Sukarno untuk mengumumkan proklamasi. Hatta setudju dan menemui Ir. Sukarno.

Dalam rentjana maka proklamasi akan diumumkan pada tanggal 15 Agustus. Ribuan pemuda disiapkan untuk merebut RRI dan markas Kenpeitai di Djl. Merdeka Barat (sekarang ditempati KOGAM V-VII). Tetapi Ir. Sukarno masih ingin mencheck berita Sjahrir, sehingga rentjana tanggal 15 gagal. Dan Sjahrir telah kepalang memberikan instruksi bergerak pada anak buahnja. Di Tjirebon Dr. Sudarsono telah berontak (ex. Dubes kita di India) dan ia segera ditawan Djepang.

Dalam pada itu Djepang sudah mulai bergerak membajangi grup2 „anti Djepang”. Grup2 ni kemudian bergerak sendiri2, dan mereka pada tanggal 16 Agustus djam satu malam mengadakan rapat dan hasilnja adalah mentjulik Sukarno-Hatta agar mereka tidak „disalah-gunakan” Djepang. Keputusan ini dilaksanakan pada malam itu djuga.

Dalam aktivitas pentjulikan ini, Sjahrir tidak ikut serta, karena ia melihat perspektip2 lain dalam rentjana merebut kekuasaan. Sjahrir djuga menolak menghadiri perundingan lebih landjut karena grup tua mengadakannja dirumah laksamana Maeda, rumah Djepang. Hanja anak buahnja jg hadir dalam perundingan2 ini.

Bagian II

Pemimpin Revolusi Indonesia

TANGGAL 17 Agustus kemerdekaan Indonesia diumumkan, dan sedjak tanggal itu di-mana2 timbul gerakan2 rakjat untuk mengamankan kemerdekaan jang telah berhasil direbut dari tangan Djepang. Sehari kemudian Ir. Sukarno dan Drs. Moh. Hatta dipilih sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia. Mereka djuga memimpin kabinet Presidensiel. Setiap hari bangsa Indonesia sibuk memperkuat Republik jang baru dilahirkan ini, karena harus diakui bahwa R.I. waktu itu masih sngat sederhana aparatnja. Sendjata2 harus direbut dari tangan Djepang, djawatan2 penting (radio, kereta api dll.nja) harus diambil alih dsb.-nja.

Disamping soal itu ada suatu soal jang sulit sekali jang dihadapi R.I. dalam rangka hubungan internasional. Sekutu (termasuk Belanda) baru sadja berhasil menaklukan Djepang dan Sekutu bermaksud untuk melikwidasi semua sisa2 peninggalan Djepang. Apakah Republik Indonesia termasuk „a state made by the Japanese”. Kata Belanda/Nica: ja. Sedangkan kata bangsa Indonesia tidak. Belanda dengan alat2 komunikasinja berusaha untuk menghantjurkan R.I. dimata dunia internasional dengan membuat kampanje bahwa R.I. adalah anak Djepang. Mereka tundjukkan bahwa Presiden Sukarno semasa djaman Djepang adalah kolaborator, pengandjur romusha, dan tuduhan2 murah lainnja. Mereka katakan bahwa R.I. adalah negara chaos jang tidak dapat mengurus dirinja sendiri. Bahwa dipedalaman terdjadi perampokan2, garong dan badjingan2 meradjalela.

Itulah soal2 dalam dan luar neger jang dihadapi Indonesia. Dalam saat2 jang sulit itulah muntjul kembali Sjahrir. Sedjak djaman Djepang sudah diketahui umum bahwa Sjahrir anti fasis. Dan garis politik jang ia djalankan ternjata benar. Disamping itu aparat gerakan bawah tanahnja menjebar di-mana2. Karena itu tidak usah kita heran ketika Sjahrir pada achirnja diminta untuk mendjadi ketua Badan Pekerdja Komite Nasional Indonesia Pusat pada tanggal 16 Oktober 1945. Sebagai wakil ketuanja dipilih Amir Sjarifudin, djuga bekas pemimpin gerakan bawah tanah. Dan tak lama kemudian Sjahrir dipilih mendjadi Perdana Menteri R.I. jang pertama. Sekarang tampuk pemerintahan berada ditangannja.

Bagaimanakah politik Sjahrir? Politiknja kedalam negeri adalah membereskan R.I. dengan tjara2 jang efisien. Ia mulai menjusun aparat Pemerintahan diatas reruntuhan aparat jang lama. Dan dalam waktu singkat ia berhasil membuat R.I. berdjalan. Tugas pertamanja jang berhasil adalah mengurus soal2 tawanan perang. Dengan tjara jang sangat baik, R.I. berhasil membawa tawanan2 Sekutu ke Djakarta dari seluruh pelosok tanah air dan disamping itu membawa tentara Djepang jang dilutjuti ke-kota2 pelabuhan Indonesia. Dengan suksesnja ini sekaligus ia berhasil membantah kampanje Belanda bahwa R.I. adalah negara jang katjau dan dipedalaman terdjadi anarchi. Manakah mungkin sebuah Pemerintahan anarchi menjelesaikan tugas internasional seperti ini?

Politik luar negerinja adalah mentjari sahabat didunia. Dengan senjum diplomatnja (ia terkenal sebagai diplomat jang sering tersenjum) ia berhasil mejakinkan bangsa2 lain bahwa kemerdekaan R.I. adalah suatu hak sedjarah. Dan kepada negara2 Asia (waktu itu negara2 Afrika masih belum merdeka) dibinanja persahabatan jang akrab. Ketika India tertimpa bahaja kelaparan, Indonesia langsung mengirimkan beras untuk membantunja. Jang ditugaskan untuk mengurus beras ini a.l. adalah Dr. Sudarsono (kemudian djadi dubes kita di India). Tugas ini djuga berhasil dengan baik. Belanda jang melihat bahaja politik „persahabatan Sjahrir” ini kemudian menghalang2i tugas mulia dari bangsa Indonesia. Usaha2 Belanda berhasil sampai batas2 tertentu, akan tetapi suksesnja Belanda malah merupakan boomerang. Bangsa2 Asia malah muak melihat jang menghalangi tugas mulia daripada sesama bangsa Asia. Achirnja Sjahrir berhasil „memobilisasi” kekuatan Asia melawan kolonialisme Belanda (hasil kongkritnja terasa setelah se-th. kemudian ketika India, Pakistan, Mesir dan Ceylon melarang kapal2 Belanda mendarat dipelabuhan2 mereka, dan ketika India menjelenggarakan konperensi Inter Asia pada tahun 1949).

Sjahrir memimpin revolusi Indonesia sedjak tahun 1945-1947 dan selama itu ia djuga berhasil mendesak Belanda kesudut dengan Linggadjati (Maret 1947). Belanda jang berkepala batu achirnja terdesak dan terpaksa mengakui bahwa R.I. berdaulat setjara defacto di Djawa, Madura dan Sumatera. Tetapi sajang usaha2 Linggadjati kemudian dichianati sendiri oleh Belanda jang mengadakan aksi militer pada bulan Djuni 1947. Menarik sekali keterangan perdana mentri Belanda pada waktu itu, Dr. Schermerhorn, ketika beliau melepas djenazah Sjahrir baru2 ini: …„Kami berdua masing2 dengan tjara2 sendiri telah mentjoba berdjuang untuk sesuatu, untuk mana kekuatan2 jang ada dibelakang kami tidak memahaminja”.

Ditentang oleh persatuan perdjuangan

Apakah makna dari utjapan Dr. Schermerhorn? Kekuatan2 reaksioner dinegeri Belanda tidak setudju dengan persetudjuan Linggadjati dan kemudian berhasil mendorong Belanda untuk mengadakan aksi militer. Kekuatan2 ini dipimpin oleh Tan Malaka jang ingin agar ditempuh tjara2 jang ekstreem dalam menghadapi Belanda. Bagi mereka tjara2 diplomasi Sjahrir selalu akan merugikan, dan karena itu mereka menentang Sjahrir (sebenarnja ada motif pertentangan pribadi dan balas dendam jang belum mungkin kami umumkan karena situasi politik).

Kekuatan2 jang anti politik Sjahrir ini achirnja berhasil mendjatuhkannja sebagai P.M. (Djuni 1947). Dan salah seorang jang kemudian mengchianati Sjahrir adalah Amir Sjarifudin, ex-pemimpin gerakan bawah tanah dahulu. Amir oleh karena ambisinja berhasil „mendongkel” Sjahrir dan menggantikannja sebagai Perdana Menteri. Kemudian ternjata Renville jang dihasilkan Amir djauh lebih buruk daripada Linggadjati.

Manusia jang tidak dimengerti oleh massa

Sjahrir adalah manusia, dan sebagai manusia dia tidak terlepas dari tjatjad2. Salah satu tjatjadnja jang terbesar (kalau ini boleh kita namakan tjatjad) adalah bahwa ia tidak pernah dapat berpikir mengikuti arus emosionil massa. Hal ini djuga telah disadarinja sedjak djaman pergerakan nasional. Dalam satu tjatatan hariannja ia pernah mengeluh bahwa pikiran2nja tidak dapat ditangkap rakjat banjak dan ia sendiri tdak dapat menerima pikiran2 emosionil massa. Karena itu selalu ada djarak antara Sjahrir dan massa rakjat jang emosionil. Bagi Sjahrir jang terpenting adalah ratio, bukan sentimen. Lebih penting pembangunan pabrik daripada tugu2, lebih penting pendidikan dari pada slogan. Dan kadang2 rakjat lebih ingin slogan karena slogan2 dapat memuaskan kebutuhan psikologis mereka.

Tragedi pertama datang pada masa pergerakan nasional. Ketika Bung Karno-Sartono membakar dengan agitasi2nja massa rakjat. Sjahrir sibuk mengadakan pendidikan politik jang rasionil. Bagi Sjahrir lebih baik mendirikan partai kader dari pada partai massa jang dirangsang oleh sentimen. Padangan2nja jang rasionil inilah jang menjebabkan Sjahrir menolak partainja (Partai Sosialis Indonesia) didjadikan partai „ketjap” seperti partai2 tertentu (PKI misalnja).

Tragedi kedua datang pada waktu djaman revolusi pisik. Ia menolak untuk mengikuti sentimen massa jang hyper anti Belanda. Baginja revolusi bukanlah letusan emosi akan tetapi merupakan perhitungan rasionil. Dan dalam hal inilah ia djuga berbeda dan berselisih dengan Presiden Sukarno.

Tragedi ketiga datang setelah pemilihan umum. Ketika setiap orang ramai2 membebek pada situasi, Sjahrir dengan PSI-nja tidak mau mengikuti hal ini, sehingga achirnja PSI dibubarkan dan ia sendiri ditangkap.

Ini adalah kelemahan Sjahrir (kalau kita mau menilainja sebagai kelemahan) akan tetapi ini djuga adalah kekuatan Sjahrir, karena tanpa ratio kita adalah bebek2.

Perselisihan dengan PKI

Setelah Sjahrir meletakkan djabatan sebagai P.M. maka ia mendjadi penasihat Presiden. Tanggal 21 Djuli 1947, Belanda menjerang Republik. Setjara nekad Sjahrir menembus blokade Belanda dan sampai di Singapura. Disana ia beberkan semua ketjurangan2 Belanda, dan kemudian ia pergi ke PBB. Dalam sidang umum PBB, Sjahrir membela R.I. dan menelandjangi Belanda dan tindakan Sjahrir adalah kemenangan diplomatik R.I. jang besar sekali. Kemudian setelah Sjahrir kembali ke Indonesia ia aktip mendidik kader2 politiknja dari Partai Sosialis (bukan PSI).

Tetapi lama kelamaan terdjadi perselisihan antara Sjahrir dengan Amir Sjarifudin, karena Sjahrir menginginkan agar Partai Sosialis menempuh garis sosialisme kerakjatan jang demokratis, sedangkan Amir ingin agar Partai Sosialis menempuh garis Marxis-Leninis-Stalinis. Bagi Sjahrir Indonesia tidak usah memilih pihak Amerika ataupun Soviet akan tetapi kita harus menempuh garis politik bebas aktip. Amir sebaliknja menganggap bahwa dunia ini terbagi atas dua kubu, jaitu kubu kapitalis dipimpin AS dan kubu kaum tertindas dipimpin Moscow dan Indonesia sebagai nation tertindas hendaknja memilih blok Moscow. Pertentangan ini makin tadjam, lebih2 setelah Amir dipengaruhi Muso jang datang dari Moscow atas perintah Komintern. Pada achirnja Sjahrir keluar dari Partai Sosialis dan mendirikan Partai Sosialis Indonesia pada bulan Pebruari 1948. Kawan2nja dari masa pergerakan bawah tanah mengikutinja a.l. Djohan Sjahruzah (sekdjen PSI), Dr. Sudarsono, Subadio, Subagio, Nj. Maria Ulfah Santoso dan lain2nja. Amir jang makin lama makin dipengaruhi PKI achirnja menikam R.I. dari belakang dengan pemberontakan Madiun pada bulan September 1948.

Pendidik kader2 politik

Bulan Desember 1948 Belanda menjerang Jogja. Dalam penjerangan ini Sjahrir ditangkap Belanda tetapi tak lama kemudian ia dilepas kembali. Sedjak saat itulah sampai meninggalnja ia tidak lagi mendjabat suatu djabatan dalam Pemerintah. Ia tjurahkan hidupnja untuk mendidik kader2 politik Indonesia jang konsekwen dan rasionil. Ia aktip dalam Partai Sosialis Indonesia sebagai ketua umum. Bagi Sjahrir, PSI bukanlah partai bebek, PSI harus dapat membawakan suara2 jang sehat dan berani dan kalau perlu harus berani bertentangan dengan arus emosi massa. Usaha2 Sjahrir tidaklah sia2. Ide2nja terus berkembang dan ia berhasil sampai batas2 tertentu mendjadikan PSI sebagai partai jang ideal bagi tjita2nja. Persoalan pertama jang harus dihadapi PSI adalah persoalan pemilihan umum. Sjahrir dapat memilih, apakah ia akan membuat PSI sebagai partai agitasi atau sebagai partai kader, Sjahrir memilih jang kedua. Dan konsekwensinja berat. PSI kalah dalam pemilihan umum. PSI hanja mendapat 5 buah kursi dalam DPR. Tetapi Sjahrir tidak ketjewa, karena memang ia tidak pernah men-tjita2kan PSI sebagai PKI jang kerdjanja hanjalah agitasi dan menipu rakjat.

Patah hati

Waktu beredar dan keadaan Indonesia makin lama makin buruk, ekonomi makin hantjur, dan korupsi dan demoralisasi meradjalela.

Timbul pemberontakan PRRI-PERMESTA. Sjahrir tidak mau menjalahkan semua kesalahan pada pihak pemberontak, tetapi ia mengandjurkan untuk mentjari sebab daripada pemberontakan ini. Beberapa tokoh PSI terlibat a.l. Sumitro Djojohadikusumo, Mr. Rasjid, dllnja. Tetapi PSI djuga tidak membenarkan pemberontakan ini, karena dengan pemberontakan tidak akan menjelesaikan persoalan dengan memuaskan. Sjahrir bersikap tegas. Kemudian DPR pilihan rakjat dibubarkan seperti orang membubarkan panitia piknik sadja dengan dekrit. Ditundjuk DPRGR jang semua anggauta2nja tidak dipilih rakjat. Sjahrir dan kawan2nja diasingkan sama sekali. Tetapi walaupun demikian ia tidak mau ikut dalam “paduan suara berdiri dibelakang tanpa reserve” atau “paduan suara mendukung” ini dan itu.

Achirnja pada tahun 1961 PSI dibubarkan oleh Presiden Sukarno. Dan pada tanggal 16 Djanuari 1962 djam 4.30 pagi Sjahrir ditangkap dengan sebuah surat perintah. Kedjadian ini benar2 membuat hatinja patah. Ia ketjewa. Ia tidak ketjewa karena ia ditangkap (pendjara bukanlah soal baru bagi hidupnja), tetapi ia ketjewa karena sebagian besar daripada kaum tjendekiawan Indonesia waktu itu (1960 katas) bungkam atas pemerkosaan UUD 45, bungkam atas ketjurangan2 politik, bungkam atas segala ketidakadilan. Sedjak itu Sjahrir tidak pernah sehat lagi badannja. Seperti lilin, ia adalah lilin jang sudah kehilangan vitalitas hidup. Faktor lain jang membuat kesehatannja tambah buruk adalah bahwa ia mengalami perlakuan buruk dari fihak Pemerintah. Ia pernah pingsan selama dua puluh empat djam dan dokter tak boleh dipanggil.

Bulan Mei 1965 achirnja ia diidjinkan berobat keluar negeri tetapi umurnja tidak pandjang lagi. Tanggal 9 April 1966 ia meninggal dunia sebagai tahanan politik. Tetapi tjita2nja terus hidup dan semoga akan diamalkan oleh Generasi Muda jang telah bangkit sekarang.

Soe Hok-gie