Publisher Note
Artikel ini dimuat pada bulan Januari 1951 dalam majalah Pudjangga Baru, No. 7, Th. XII. Salinan artikel ini berasal dari lampiran skripsi yang ditulis Fransiska Domas Ngantini di Universitas Sanata Dharma tahun 1999.
Digitizer Note
This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.
All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.
The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.
Perkembangan masjarakat dan kebudajaan bangsa kita dalam arti jang luas dewasa ini menghadapi dua bahaja. Pada suatu pihak berdiri golongan2 bangsa kita jang tua jang menghendaki supaja masjarakat dan kebudajaan kita kembali kepada nilai2 kehidupan bangsa kita jang lama, jang telah memberikan kepada bangsa kita (menurut kejakinan mereka) ketenteraman dan kerukunan hidup didesa, kedalaman kehidupan rohani seperti terdapat pada ahli2 batin bangsa kita dimasa jang silam, keindahan seperti kelihatan dalam ber-bagai2 seni lama kita, seperti jang sekarang sering masih dikagumi orang asing, kesusilaan jang memberikan kepada kita adat istiadat dan nilai2 baik buruk dalam perhubungan anak dan orang tua, suami dan isteri, dalam lingkungan keluarga maupun dalam lingkungan orang sedesa.
Pada pihak jang lain berdiri golongan muda bangsa kita, jang oleh kekagumannja melihat kemadjuan dunia Eropah dan Amerika, menetapkan segala ukuran dan pedomannja mendjadi ukuran Eropah dan Amerika. Bukan sadja dalam ilmu dan teknik, tetapi djuga dalam kehidupan se-hari2 seperti penjelenggaraan rumah, makanan dan pakaian, dalam tjara bergaul, mereka berpegang mutlak kepada Eropah dan Amerika. Teori tentang ekonomi, politik dan kesenian ditelannja mentah2. Dalam politik kita berhadapan dengan orang2 jang sebentar2 mengutjapkan kata2 Marx, Lenin dan Stalin, baik ia ditengah2 kaum kiaji, maupun ia di-tengah2 rakjat tani didesa atau kaum buruh dikota. Dalam ekonomi kita dapati orang jang membabibuta hendak mengmekanisasi se-gala2, dengan tidak peduli akan struktur desa kita dan masjarakat kita dewasa ini. Dalam seni nampak kepada kita seniman2 jang bersumpah kepada Picasso, kepada Hemingway ataupun kepada Sartre dll.
Salah golongan pertama ialah bukan sadja mereka hendak menghentikan waktu dalam sedjarah bangsa kita, tetapi mereka hendak mundur kembali kesuatu saat jang telah kita tinggalkan, oleh karena tjara hidup dan berpikir jang lama itu mengakibatkan kemiskinan dan kelemahan rakjat kita di-tengah2 dunia dan kebekuan kehidupan kebudajaan kita. Golongan tua bangsa kita itu tidak mempunjai perspektif sedjarah, malahan lebih lagi dari pada itu: mereka tidak insaf, bahwa jang dinamakan hidup itu ialah perubahan jang tiada berkesuduhan.
Pada hakekatnja golongan ini masih memandang dunia seperti bangsa Indonesia primitif zaman dahulu. Manusia primitif itu melihat kebelakang, kemasa jang silam. Masa jang silam itu ialah masa jang paling berbahagia, ketika dewa2, masih bergaul dengan manusia didunia, ketika nenek mojang jang mendirikan desa mendapat wahju membuat adat istiadat jang tiada lekang oleh panas, tiada lapuk oleh hudjan, jang tiada ber-ubah2 selama air mengalir, selama gagak hitam, dsb.
Dalam golongan ini bukan sadja terdapat mereka jang memudja ketenteraman desa, dengan gotong rojongnja, ataupun mereka jang kagum akan mistik Hindu Djawa, tetapi djuga golongan Islam, jang sangat sempit mentafsirkan hadis dan kuran, sehingga mereka hendak kembali hidup dan berbuat persis nabi dahulu dan kalau mungkin hendak mengembalikan dunia kepada zaman nabi.
Salah golongan kedua agak lebih sukar melihatnja, oleh karena mereka sendiri mengaku tidak kolot, malahan seperti kata mereka, melihat kemasa jang akan datang. Mereka tidak mau dikatakan statis, sebab bagi mereka bertambah tjepat masjarakat kita sekarang berubah, bertambah baik.
Salah mereka jang terbesar disini letaknja, oleh karena pengertian kemadjuan itu mereka identikkan dengan keadaan di Eropah dan Amerika sekarang. Pada hakekatnja kemadjuan itu mereka bekukan, meskipun dalam suatu masa jang akan datang bagi kita. Mereka tiada insaf, bahwa kemadjuan seperti jang mereka lihat di Eropah dan Amerika itu ialah hasil suatu pertumbuhan sedjarah, jang masih terus dalam pertumbuhan. Pada hakekatnja tentang soal ini salah mereka sama dengan golongan jang pertama, jaitu ke-dua2nja sama2 menghentikan waktu pada suatu saat: golongan pertama dimasa jang silam, golongan jang kedua dimasa Eropah Amerika sekarang. Tetapi selain dari pada itu golongan kedua mempunjai salah jang lain pula, mereka bukan sadja tidak mempunjai perspektif sedjarah, tetapi disisi itu merekapun tidak mempunjai pengertian tentang arti alam dan masjarakat sekitar seperti terdjelma dalam kehidupan ekonomi, politik, agama, seni, pendeknja kebudajaan sesuatu bangsa pada suatu ketika. Mereka lupa melihat Marx, Lenin dan Stalin sebagai ekponen dari zamannja dan masjarakatnja, mereka lupa melihat Picasso, melihat Hemingway, Sartre atau siapapun sebagai ekponen dari pada tingkat sedjarah dan keadaan alam dan masjarakatnja. Dalam politik kelihatan golongan manusia jang tidak tahu hudjan atau panas, didesa atau dikota, dihadapan kijaji atau kaum terpeladjar, dihadapan sitani dan siburuh mentjutji maki imperialismus dan kapitalismus, mentjutji maki kaum burdjuis dan mengutjapkan kata2 Marx, Lenin dan Stalin sebagai kebenaran mutlak jang tiada terikat kepada tempat dan waktu. Dalam ekonomi kita menghadapi ber-bagai2 kegagalan oleh karena kurang memperhatikan keadaan alam kita dan mentalitet bangsa kita, oleh karena orang hendak mengadakan dengan sekaligus ber-matjam2 aturan dengan tidak ber-sama2 dengan itu mendidik bangsa kita. Dalam seni pada pikiran saja, inilah sebabnja maka setelah membuat kemadjuan jang sangat tjepat dan mengagumkan dalam lapangan seni sastera dan seni lukis, sekarang kesenian kita tiba didjalan buntu. Setelah mentjapai tjara melihat, teknik dan soal2 Picasso, Hemingway, Sartre dll., se-tinggi2nja mereka dapat mendjadi peniru, mendjadi epigon dari Picasso, Hemingway, Sartre dll.
Selain dari pada itu hal ini mempunjai suatu bahaja jang lebih besar lagi: Sedangkan Picasso, Hemingway, Sartre, dll., mereaksi atas alam dan masjarakat sekitarnja, kaum seniman kita mereaksi atas tiru2an, atas suatu alam dan masjarakat jang ada didalam chajal. Tidakkah mengherankan, bahwa meski sekaja itu negeri kita akan tragik dan humor, akan soal2 masjarakat dan djiwa oleh krisis kebudajaan kita, oleh kekatjauan revolusi masjarakat kita, kaum seniman kita mendjadi steril, mendjadi asing bagi masjarakat. Sedangkan masjarakat kita sebagai masjarakat jang muda penuh kemungkinan dan harapan, kaum penjair kita mendjadi pesimis dan lesu dan sadjak2nja bertambah lama bertambah kosong dan ter-awang2.
Demikianlah sesungguhnja kita disegala lapangan sekarang tiba dalam impasse, meskipun baru setahun kita. Kemungkinan2 dan harapan2 kita jang sebanjak itu se-olah2 lenjap sendiri seperti embun lenjap disinari oleh matahari.
Pokok segala kesukaran kita sekarang ini ialah tjara berpikir jang statis, jang tidak diinsafi sungguh2 oleh rakjat kita maupun oleh pemimpin2 kita. Tjontoh jang lutju bunjinja, tetapi djelas menundjukkan tjara berpikir sebagian besar rakjat kita, ialah djawab seorang bekas tawanan Pemerintah Belanda, karena tertangkap dalam menjelundupkan barang2 dengan setahu pembesar2 republik, atas pertanjaan waktu hendak dilepaskan oleh pembesar kita: „Apakah jang hendak engkau kerdjakan sekarang, kalau engkau sudah lepas?” Djawabnja: „Terus menjelundupkan barang2, Pak!”
Pada hakekatnja bukan sadja orang jang dizaman perdjuangan dahulu menjelundupkan barang2 untuk menembus blokkade Belanda, jang belum menjesuaikan dirinja akan perubahan zaman, tetapi banjak sekali golongan2 perdjuangan, pegawai negeri, golongan kebudajaan, saudagar, pertanian, jang masih belum menjesuaikan diri akan keadaan jang baru. Suatu misal pula: orang jang sekarang masih di-mana2 mentjari kesalahan Belanda, mentjuji maki kebudajaan dan bahasa Belanda dan ber-bagai2 hal jang lain, sama sadja keadaannja dengan tukang penjelundup atau orang perdjuangan gerilja jang belum menjesuaikan dirinja, sehingga seluruh masjarakat kita mendapat pimpinan dan penerangan jang salah sekali.
Sekalian kesulitan ini hanja mungkin diatasi apabila kita hendak beladjar berpikir kembali dan mengubah tjara kita berpikir. Dari berpikir statis, hendaklah kita berpikir dinamis, jaitu melihat segala sesuatu dalam perubahan, dalam tumbuh, dalam hidup dan berdasarkan itu menjesuaikan tiap2 usaha dan perbuatan kita sesuai dengan perubahan, dengan tumbuh, dengan hidup disekitar kita dan didunia jang luas. Tiap2 pikiran dan tiap2 perbuatan itu hanja baik dalam hubungan waktu dan tempatnja.
Hal ini bukan berarti, bahwa kita tidak usah mempeladjari kehidupan dan kebudajaan bangsa kita dimasa jang silam, hal ini bukan berarti, bahwa kita tidak dengan segala daja upaja kita mesti berusaha mengetahui dan menguasai kehidupan dan kebudajaan bangsa2 jang modern sekarang.
Djauh sekali dari pada itu.
Jang pertama memberikan kepada kita kemungkinan mengetahui sifat2 dan struktur masjarakat dan kebudajaan bangsa kita, jang hendak kita bawa madju itu. Sesungguhnja ini sering dilupakan oleh angkatan muda kita, sehingga usaha dan perdjuangan mereka berlaku di-awang2, djauh dari masjarakat kita jang tinggal tetap tiada bergerak. Jang kedua memperlihatkan kepada kita ber-matjam2 kemungkinan kemadjuan untuk masa jang akan datang dan selandjutnja. Hal ini sering dilupakan oleh kaum tua kita, jang aman tenteram hidup dialam pikirannja, seperti katak hidup dilumpur dengan tiada insaf akan kemadjuan dan kemakmuran jang ditjapai manusia dibagian dunia jang lain.
Jang pertama memberikan kepada kita uitgangspunt dan soal2 jang harus kita selesaikan, sedangkan jang kedua seharusnja memberikan kepada kita arah tudjuan dan alat2 untuk menjelesaikan soal2 kita untuk mengangkat rakjat kita ketingkat manusia jang lebih tinggi, dalam zaman modern ini.
Tetapi kombinasi jang hidup antara keduanja itu hanja dapat ditjapai dengan berpikir dinamis.
Kalau kita tidak dinamis berpikir menghadapi masjarakat dan kebudajaan kita jang lama, sebaliknja daripada keluar dari rawa soal2 dan kesukaran2nja jang membuat kita lemah di-tengah2 dunia, kita akan lebih dalam terbenam kedalamnja. Maka lenjaplah segala harapan akan kemadjuan, sedangkan dunia jang besar akan berdjalan terus.
Demikian djuga kalau kita tidak dinamis berpikir menghadapi dunia Eropah dan Amerika, maka kita akan mendjadi Don Quichot, seperti orang2 jang mati2an menjerang materialismus dan intellektualismus dalam masjarakat kita pada hal soal materialismus dan intellektualismus itu soal Eropah dan Amerika, dan soal bangsa kita ialah, bagaimana memberikan materi dan intelek kepada bangsa kita se-tjepat2nja, supaja kehidupannja agak lebih manusia ditengah2 dunia. Dilapangan ekonomi dan politik, bahaja ini tak kurang besarnja. Sebaliknja dari manusia jang hidup, jang dengan sadar menghadapi soal2 dimasjarakatnja, kita mendjadi seperti golongan Komunis di negeri kita, jaitu beo dan atau Pak Turut belaka. Dan dalam seni bahaja statis menghadapi Eropah dan Amerika itu telah kelihat. Penjair kita demikian terpesona oleh soal2 krisis Eropah dan berhubung dengan itu dengan pesimismus Eropah, sehingga krisis Eropah dan pesimismus Eropah itu dibawanja pula kedalam masjarakat kita.
Pada hal krisis bangsa kita sekarang lai tingkatnja dari krisis bangsa2 Eropah dan Amerika dan karenanja lain pula soal2nja. Suatu tjontoh jang njata, orang di Eropah sekarang sering benar menjerang anggapa abad kesembilan belas di Eropah, sebagai anggapan jang telah lampau zamannja. Bagi kita barangkali banjak sekali soal2 kita, jang menjerupai soal2 di Eropah dalam abad kesembilan belas; soal2 perindustrian, perburuhan, soal peladjaran, soal pembebasan wanita, soal perubahan desa dan timbulnja kota. Dalam beberapa hal kita dapat kembali menjelami pengalaman Aufklärung, malahan kepada renaissance, bahkan saja mau kembali lebih djauh lagi: Alangkah baiknja, kalau kita dapat membawa suasana dan sikap hidup filsuf Junani kedalam kehidupan didesa kita.
Kita harus merebut Eropah dan Amerika dalam kebesaran usaha dan djiwanja, dalam vitalitetnja, bukan dalam putus asanja dan kepitjikannja, bukan dalam dekadensinja.
Demikianlah dengan garis besar saja kemukakan salah satu sebab impasse pertumbuhan dan perkembangan masjarakat dan kebudajaan kita terletak dalam tjara berpikir jang statis. Tentu soal ini masih banjak seluk beluknja dan tiap2 bagian uraian jang singkat ini pasti dapat didalamkan dan diluaskan.
Mudah2an ada jang tertarik akan soal ini dan di Pudjangga Baru ini mudah2an dikemudian hari akan dapat dibuat analisis jang lebih dalam tentang ber-bagai2 aspek dari soal ini.
S. T. A.