Publisher Note
(Pengantar)
Sesuai dengan kemajuan zaman, maka kamipun mempersembahkan pula kepada para pembatja jang budiman, suatu buku angkatan muda jang berdasarkan perluasan pikiran dan penghalusan perasaan. Djustru pada zaman krisis achlak inilah kami merasa perlu memberikan sekadar sumbangsih kepada masjarakat ramai agar pegangan budi pekerti dan kebijaksanaan di dalam pikir dan rasa pemuda jangan sampai kehilangan jalan.
Kealpaan akan bahan-bahan penunjuk djalan bagi angkatan muda dapat disamakan dengan kealpaan akan memberikan bimbingan kepada angkatan hari esok; ini sebagai dorongan menjebabkan kisah sederhana “Teuku Hassan Djohan Pahlawan” diterbitkan. Sehingga keraguan akan kekurangan batjaan jang baik untuk pendidikan dapat kami penuhi dengan seksama.
Sumbangan jang tiada sepertinja ini semoga mendapat tempat di dalam hati pada bapak dan para guru, dan bersama-sama dengan mereka kami mengharap dapat melepaskan para pemuda dari kebimbangan dan kejatuhannja kepada krisis achlak.
Dan para pemuda antara 14 dan 18 tahun, untuk siapa karangan ini disumbangkan, akan dapatlah sekedar tjahaja dalam djalan searah kemadjuan jang diharapkan oleh seluruh bangsa dan tanah air.
Tiada keraguan sedikitpun jang meliputi hati kami: bahwa sumbangsih ini adalah suatu sumbangan menurut keadaan, waktu dan tempat, didjalin dengan penuh perasaan tanggung jawab akan pertumbuhan djiwa raga angkatan remaja kita.
Penulis
Digitizer Note
This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.
All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.
The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.
MAJOR TEUKU HASSAN DJOHAN PAHLAWAN
Major Teuku Hassan sudah bersiap-siap akan berangkat kembali ke Kutaradja. Sudah empat belas hari lamanja ia berada dikota dollar Andalas itu; sungguh banjak jang dilihatnja. Laporan2 tentang keadaan daerahnja, di sebelah Utara pulau Andalas sudah dibitjarakan dan dipaparkannja satu demi satu kepada komandan jang lebih tinggi dikota Medan. Kini tugasnja telah selesai. Ia akan pulang kembali kepangkalannja jang semula.
Pulang ke Kutaradja.
Dari atas mesin terbang jang membawanja ia melihat gunung2 hidjau dan sungai deras laksana ular berliku-liku; “Major Teuku Hassan terkenang akan sjair2 pudjangga muda jang menggubahkan madah rangkaian hati; menggubah keindahan tanah air, kemakmuran dan kebahagiaan jang dapat diharapkan penduduknja dan keaslian warna hidjau jang menjebabkan tanah tumpah darahnja itu selalu muda ……
Mesin terbang menderu-deru …membawa terbang badan Teuku Hassan dan hatinja jang turut melajang-lajang hendak lekas sampai dirumah. Sudah empat belas hari ia tidak melihat ibunja. Alangkah lamanja djarak waktu ini dalam pikirannja. Takut ia kalau2 …
Ah, Teuku Hassan terkenang akan tahun2 jang lalu; ketika keadaan bahaja jang mentjekam tanah airnja menjebabkan ia harus bertjerai dengan jang dikasihnja, entah berapa lamanja. Dan hal ini tidak boleh lagi terddjadi!!!
Major Teuku Hassan DDjohan Pahlawan tertegun sebentar. Ia melihat kebawah. Sebuah djurang jang dalam memisahkan dua gunung jang hendak berdekatan. Tiga ekor elang melajang-lajang dengan sajap tjemerlang menudju kelereng gunung. Semua ini dilihatnja dari atas.
Ah, sungguh mulia warna kuning emas jang meliputi sawah dan ladang jang sedang mendjandjikan panen gilang-gemilang kepada rakjat jang serba kekurangan pada waktu belakangan ini.
Padi ditangkainja berat mengurai ke bawah dan apabila angin datang melanda pohon-pohonan dan semak-semak belukar maka ia pun turut oleng ke kiri dan ke kanan. Alangkah indah dan mulia pemandangan itu dilihat dari atas.
Lebih dari sejam Teuku Hassan duduk termangu-mangu di atas mesin jang melarikan dirinja dengan ketjepatan luar biasa. Tiba2 mesin terbang oleng kekiri, mengipas miring kebawah, kebawah, kebawah, achirnja sampailah rodanja mendjejak tanah tempat berpidjak. Alhamdulillah! Sudah sampai dilapangan terbang. Sebentar lagi sampai di Kutaradja dan sebentar lagi sampai berhadap-hadapan dengan ibu.
Mayor Teuku Hassan Djohan Pahlawan jang sudah mendapatkan urat syaraf dan jiwa baja dari pertjikan zaman pantjaroba, masih menjimpan kelemahan hati anak-anak kepada ibu jang ditjintainja …Dan inilah jang menjebabkan langkahnja makin lama makin tjepar hendak sampai di rumah …
Hanja dengan ibunja seorang saja Mayor Teuku Hassan Djohan Pahlawan hidup dari hari ke hari. Di rumah jang sederhana itu ia bangun, makan, bermain-main, belajar dan tidur. Ia membaktikan dirinja untuk tanah air, bangsa dan ibu jang ditjintainja.
Teuku Hassan Djohan Pahlawan dikenal oleh seluruh penduduk di Kutaradja sebagai seorang pahlawan putera Atjeh jang telah berjasa besar bagi kemerdekaan tanah air.
Bertepatan dengan hari Jumat ini Teuku Hassan Djohan Pahlawan bersama-sama dengan ibunja hendak mengunjungi kuburan seorang pahlawan pula: Teuku Nja Arif. Pahlawan ini ialah putera ibu jang dikasihnja itu. Ia gugur ketika hendak menghalau angkara murka di Lho Ngah. Ketika itu pasukan-pasukan Jepang jang masih belum mau menjerah. Dipaksanja mundur dan achirnja sebutir peluru mengachiri riwayatnja jang masih muda itu.
Bukan saja karena ia seorang putera ibunja, tapi juga karena telah mendjadi teman seperjuangan, maka hari Jumat ini akan dipergunakan oleh Mayor Teuku Hassan Djohan Pahlawan untuk mengadakan perkunjungan jang istimewa. Ibu telah bersiap, ia juga telah sedia dengan karangan bunga untuk arwah sandarannja jang telah gugur itu.
Dengan langkah jang tegap dan chidmat masuklah ibu dan Teuku Hassan Djohan Pahlawan diiringi oleh anak2 pasukannja ke dalam taman Pahlawan!
Taman Pahlawan …Di sana terkubur jenazah putera-putera bangsa jang telah mengalirkan darahnja jang penghabisan untuk kemerdekaan tanah air Indonesia dari genggaman penjajahan dari tahun menjelang tahun. Tulang-tulang mereka telah bertumpukan di dalam kuburnja, tapi di atasnja kini telah tersemai tanah merdeka, dan untuk pengorbanan jang mulia ini bangsa Indonesia jang mengenal terima kasih akan seterusnja menghiasi Taman Pahlawan ini dengan karangan bunga aneka warna, aneka harum …
Teuku Hassan meletakan karangan mawar putih nan harum di kaki tempat pahlawan jang juga saudaranja itu beristirahat dengan menunjukkan kepala serta menadahkan tangannja ke langit: ..Semoga Tuhan jang Maha Esa melapangkan tempat persemaiamannja sampai achir zaman”.
Ibunda mengeluarkan beberapa tetes air mata, suara hati jang membisikkan kepiluan jang tak dapat ditahannja seorang diri. Betapa tidak. Sudah tujuh tahun sampai kini ia bertjerai dengan puteranja itu. Dan dalam tujuh tahun ini tiada seorang pun dapat menghibur hati seorang ibu jang kehilangan anak, selain dari pada Teuku Hassan Djohan Pahlawan anak angkatnja itu. Dapatlah dibajangkan betapa pilu hati seorang ibu menjerahkan njata puteranja sebagai korban sutji dari pada tjita-tjita bangsa jang kudus. Dan kepiluan ini menampakkan terima kasih akan hasil jang kini dikenjam oleh seluruh bangsa Indonesia: kemerdekaan dan kebahagiaan jang ditjita-tjitakan.
Siapakah jang dapat menduga apakah jang terkandung di dalam hati ibunda sekarang? Memang kesedihan hatinja sudah jelas. Ketabahan hatinja melepaskan anaknja berkorban sudah terbukti juga. Dan dari ruang matanja berbitjara juga suatu kebanggaan seorang ibu akan pahlawan jang dengan kekerasan baja melawan arus pantjaroba jang memukul ke kiri, menjeret ke kanan, membawa hanjut segala sesuatu jang menghalangi jalannja.
Di dalam hati ketjil ibunda kini terpautlah satu tjinta kasih jang tiada padam-padamnja kepada anaknja jang lain: Teuku Hassan Djohan Pahlawan, pelipur hati jang duka, pengobat kalbu nan rawan. Sekarang hanja Teuku Hassanlah tempat hatinja bergantung, tempat ia mentjurahkan dukatjitanja; Teuku Hassanlah jang telah menggantikan tempat Teuku Nja Arif di dalam hati ketjil ibunda. Dan perasaan kasih sajang ibu ini sepenuhnja terlimpah kepada Teuku Hassan.
Jalan pulang ke rumah sangat berat rasanja. Kaki serasa menekan ke dalam lumpur, maka tiada hendak dibukakan lebar-lebar dan hati seakan-akan ada jang melarangnja untuk memikirkan jang lain daripada batu nisan jang baru ditinggalkan di belakang tadi.
Memang jalan di Kutaradja sudah tidak sebaik seperti pada zaman penjajahan. Memang ketjantikan kota jang dapat melipur hati gundah sudah banjak berkurang. Tapi Kutaradja kini bukan lagi tempat kaum penjajah melipur hatinja setelah penat duduk di kursi, bukanlah tempat berjalan-jalan pemuda dan pemudi jang kebanjakan waktu. Kutaradja kini adalah satu tenaga jang mewarisi kebanggaan seluruh bangsa. Ia pernah mendjadi pusat tanah Indonesia jang bebas merdeka dari tjengkraman musuh. Ia pernah mendjadi benteng kemerdekaan jang kokoh ketika hampir seluruh daerah Indonesia diduduki oleh kekerasan senjata kaum penjajah
Kini kelihatanlah pada mata orang jang melihat lebih jauh keindahan Kutaradja jang sebenarnja: bukan di dalam pemandangan gedung-gedung tinggi menjulang, tapi dalam detik sejarah bangsa kita menuntut hak kemanusiaan jang mutlak, yaitu kemerdekaan.
Telah setahun lamanja Mayor Teuku Hassan Djohan Pahlawan tinggal di Kutaradja, kota ketjil jang penuh keharuman dan keindahan sejarah. Siapakah jang menjangka bahwa Mayor Teuku Hassan Djohan Pahlawan adalah seorang pengobat luka pahlawan di zaman pertempuran besar-besaran selagi arus revolusi sedang menggelegak. Ia adalah pesuruh dari pada satu tugas sutji jang tinggi: yaitu Palang Merah Indonesia. Ketika rakyat banjak disiram oleh peluru senapan mesin musuh, banjak jang tewas dan merintih kesakitan, maka Teuku Hassanlah jang pertama-tama tampil ke depan sekali dengan sekedar perkakas sederhana untuk meringankan penderitaan para pahlawan jang luka-luka. Ketika pasukan demi pasukan harus mundur karena serangan jang tidak dapat ditangkis, ia pulalah jang penghabisan sekali melintasi garis pertahanan. Dan sedang mesiu meletus-letus di udara, di dalam kampung ia juga jang memberikan seteguk air untuk melega haus rakyat jang tertinggal.
Penderitaan rakyat dapat dirasanja sampai sedalam-dalamnja justru karena ia selamanja berada di samping, di depan, di muka, di belakang, ya, di tengah-tengahnja. Dan perasaan jang berdenjut-denjut di hati ketjilnja memuntjak tinggi sejalan dengan tingkatan perjuangan bangsa jang bertambah tinggi pula. Ia tiada puas dengan hanja mendjadi pahlawan jang tiada bersenjata. Ia mengganti tanda palang merah di lengannja dengan garis merah tanda prajurit terbaru. Ia mengganti tas obat-obatan dengan karabin Jepang jang sudah tua. Dan ia mengganti pakaian putih bersihnja dengan pakaian hidjau, warna daerah gerilya Indonesia, warna rumput di padang, warna hutan belukar jang indah dan warna harapan jang gemilang …
Prajurit Hassan bahu membahu berjuang dari satu gunung ke gunung lain, dari satu pusat pertempuran ke daerah lain, demikian berpindah-pindah menurut irama perjuangan di kala itu. Tempat dapat berpindah, pakaian dan siasat dapat berubah, namun tekad tidak dapat bergeser-geser: kemerdekaan jang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Demikianlah ratusan ribu teman-teman Teuku Hassan di seluruh bumi Nusantara, bersembunji di kaki bukit, di perut gunung, dan di lembah-lembah untuk mengusir musuh jang masih saja hendak menjajah. Dari hari ke hari pahlawan gerilya maju melangkah makin dekat kepada tujuan. Achirnja garis satu berganti mendjadi dua. Garis dua mendjadi bintang dan jumlah bintang itu pun makin lama makin bertambah sesuai dengan ketabahan, ketjakapan, dan pengorbanan jang diserahkan mereka kepada tanah air dan bangsa.
Dan ketika wakil Presiden Hatta berada di tanah dingin di Den Haag untuk menandatangani penghentian perlawanan dengan segala akibat-akibatnja, maka Teuku Hassan Djohan Pahlawan diberi pangkat Mayor, selaras dengan jasa, ketjakapan dan pengorbanannja …
Mayor Teuku Hassan, pemuda jang sederhana itu sedang makan bersama ibunja …
Mayor Teuku Hassan Djohan Pahlawan ialah komandan pasukan Tentara Nasional di daerah Atjeh jang berpusat di Kutaradja. Dia sebagai seorang pemimpin tentara jang tjakap dan muda pandai pula mengambil hati anak buahnja, sehingga mereka sangat mentjintainja, sebagai anak kepada ayahnja. Demikianlah sudah berbulan-bulan lamanja Komandan Hassan dan pasukannja menjaga ketenteraman di Kutaradja dengan hasil jang sangat memuaskan.
Ibunja jang sepi orang diri tinggal di rumah sehari-hari meringkaskan waktunja dengan mengajar anak2 jang belum pandai menulis dan membatja. Di samping itu tiadalah dapat diduga orang dari luar bahwa Ibunda Hassan itu adalah seorang bekas istri seorang dokter jang budiman. Suaminja itupun sudah meninggalkan dunia ini dengan pengorbanan jang tak dapat dilupakan oleh bangsanja.
Di dalam kamarnja Teuku Hassan Djohan Pahlawan menggantungkan gambar-gambar pahlawan Indonesia, di antaranja Teuku Umar, Diponegoro, Imam Bonjol, dan Pak Sudirman. Memang sudah mendjadi tjita-tjitanjalah untuk membaktikan jiwa raganja guna kepentingan pertahanan tanah air. Pemuda Hassan selalu sedia untuk menolong sesamanja dan membela keadilan walau dengan njawanja sekalipun.
Inilah jang menjebabkan komandannja jang lebih tinggi itu terharu dan menganugerahkan kepadanja pangkat komandan batalyon, walau usianja jang masih sangat muda itu.
Dokter Teuku Husin 20 tahun jang lalu telah memungut seorang anak jang terlantar ditinggalkan oleh ibu ayahnja karena bahaya alam. Anak itu dipelihara dengan baik oleh keluarga dokter Teuku Husin; di samping putera kandungnja, maka makin lama makin diketahuinja bahwa anak jang dipungutnja itu akan tumbuh mendjadi kembang mekar jang akan dapat membalas budi dan berbuat jasa baginja dan tanah airnja. Istri dokter Teuku Husin makin lama makin tjinta pula kepada anak angkatnja itu.
Beberapa pukulan penderitaan dialami keluarga Teuku Husin, tetapi senantiasa anak angkat jang setia itu menunjukkan budi tinggi jang menghiasi hidupnja sehingga achirnja samalah dirinja di dalam pandangan kedua orang tua itu dengan anak kandungnja sendiri.
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan dan tahun …. Timbullah satu zaman jang penuh siksaan lahir dan batin diikuti lagi oleh zaman jang lebih sengasara lagi. Dalam pada itu putera dokter Teuku Husin meninggal dunia, ia sendiri tidak lama kemudian menjusul pula …
Maka tinggallah kini Teuku Hassan DDjohan Pahlawan dengan ibu angkatnja saja lagi …
Teuku Hassan DDjohan Pahlawan meninjau keluar dari jendela. Beberapa buah mobil menderu meninggalkan debu di belakang. Ia termenung memikirkan nasib jang dibawanja berlarat-larat, dari tahun menjelang tahun. Ia sendiri tidak mengetahui siapa ayah bundanja jang sebenarnja. Tapi ia sendiri tidak berapa merasa sedih tidak mengetahui itu. Karena bukankah ia telah mendapatkan seorang ibu tertjinta pula didalam hati djanda dokter Teuku Husin jang budiman itu?
Memang, bertahun-tahun mengalami banjak kesusahan membadjakan semangat kita. Ini sudah dialaminja sendiri.
„Mengapa engkau termenung sadja nak”, tanja ibu tiba2 sambil memukul bahu Teuku Hassan Djohan Pahlawan . Ia terkedjut sambil melihat kebelakang. Dibuangnja puntung rokok jang sudah mati ditangannja.
„Saja teringat akan zaman jang lalu ibu!” djawab Teuku Hassan. „Saja teringat akan Pak Dokter jang budiman, akan Teuku Nja Arif jang telah tiada lagi, akan semua penderitaan hidup jang melingkupi hidup kita.”
„Kalau kau selalu memikirkan jang demikian itu nistjaja akan tak dapat engkau tidur dan beriang-riang. Djanganlah lagi dipikirkan kedjadian jang sudah2, karena itu hanja menimbulkan suasana jang menjedihkan hati sadja.”
„Bukan, Bu, bukan maksudnja hendak dikenangkan. Saja seketika terkenang akan semuanja ini. Sesudah kita pulang melawat dari makam saudaraku Teuku Nja Arif.”
Mendengar kata jang menjebut nama anak jang ditjintainja itu berubahlah muka ibunda dan menangislah is tersedu-sedu. Ibunda mengenangkan kedjadian2 jang sudah djauh dari kenangan …
Tukang es meneriakkan dagangannja dan dua orang anak berlari mengedjar akan membeli. Seorang penunggang sepeda membunjikan lontjengnja hendak membelok kekiri. Diatas, angin bermain-main dipohon kenari mengusap daun2-nya jang sudah tua dan jang masih hidjau. Memang hari ini adalah hari yang gandjil. Matahari bersinar sebagai biasa tetapi perasaan tiada sesegar kemarin. Keramaian didjalan-djalan, sebagai biasa djuga tapi didalam hati lama benar sunji menekan. Dua suasana inilah jang melahirkan perasaan2 perih jang menjelubungi hati ibu dan anak ketika itu. Jang satu mengenangkan akan nasibnja sampai mendjadi anak angkat, jang lain mengenangkan gambaran hidup jang telah lalu dimana dokter Teuku Husin dan Teuku Nja Arif masih mendjadi penawar bagi hatinja jang gundah. Tetapi kini kedua-duanja tiada dapat mengelakkan suatu suasana menekan jang memberikan kenangan lama bermain didepan mata. Ibu melihat kepada Teuku Hassan Djohan Pahlawan dan Teuku Hassan memandang ibunda dengan penuh kasih sajangnja. Tapi tiada suara jang keluar dari mulut mereka. Tiba2 djam lima berbunji dengan kerasnja dan kedua-duanja bangkitlah dari lamunan jang menjedihkan itu.
Pasar malam di Kutaradja sekali ini sangat ramainja. Seakan-akan tiada seorangpun jang tinggal dirumah demikianlah lajaknja perkundjungan pasar malam ini. Selain dari pada menonton dan bersuka-ria penduduk Kutaradja rupanja suka pula beramal. Karena 100
Teuku Hassan Djohan Pahlawan malam Minggu itu pergi mengundjungi pasar malam dengan ibunja dan seorang temannja. Beberapa tempat sudah mereka kundjungi. Semua tempat2 itu memang baik dipersolek. Ada pertundjukan monjet jang pandai minum sendiri dari gelas, sebagai seorang tuan besar lagaknja. Ada pula sebatang pisang jang mengandung buah kepala2 orang. Matjam2 pertundjukan jang mengherankan kelihatan disitu untuk memberikan huburan kepada penonton …
Diudjung sebelah kiri terdapat sebuah tempat seteleng mobil jang sangat besar dan indah. Beberapa kali sudah dipertontonkan kepada chalajak ramai tjara2-nyamenggerakkan mesin mobil dengan memakai mesin. Major Teuku Hassan Djohan Pahlawanpun sudah pernah melihat dari dekat pertundjukan ini, tapi didalam hatinja ia selalu gusar kalau2 perbuatan dari pegawai2 jang kurang berhati-hati itu dapat menimbulkan kebakaran besar. Dan memang kegusarannja itu beralasan. Demikianlah ketika ia sedang berdiri didepan kuda pusing bersama ibunja, maka terdengarlah teriak chalajak ramai: „Kebakaran, kebakaran, kebakaran!!!!!”
Apa jang ditakuti Teuku Hassan Djohan Pahlawan terdjadi sekarang. Pegawai jang tiada hati2 itu menjebabkan terbakarnja gedung seteleng dan dua orang diantaranja terpaksa dibawa kerumah sakit untuk dirawat luka2-nya jang parah itu. Api makin lama makin kuat menghembus dan dari satu tempat seteleng itu mendjalar keseteleng lainnja. Tiba2 Teuku Hassan memohon diri pada ibunja, setjepat kilat ia pergi keluar dan menjiapkan dengan perantaraan telepon sepasukan anak buahnja mendjaga keamanan dan menolong memadamkan api dengan segera.
Achkirnja dengan susah pajah berhentilah api mendjilat-djilat dan orangpun tenteramlah kembali. Rakjat semuanja berterima kasih kepada pasukan Teuku Hassan Djohan Pahlawan jang telah menolong penonton dari bentjana besar dengan ketangkasannja mengambil tindakan segera itu.
Tiada berapa lama lagi akan tibalah masanja Major Teuku Hassan Djohan Pahlawan meninggalkan negeri Atjeh. Ia akan bertolak ketempatnja jang baru dipulau Djawa. Sedih hatinja meninggalkan tempat tumpah darahnja itu; ia mengenangkan betapa sukarnja bersama-sama pemuda2 lain mempertahankan daerah atjeh dari genggaman musuh jang kedjam. Achirnja bahaja itu terhindarlah …tapi kini tempat jang ditjintainja itu harus ditinggalkannja …entah untuk berapa lamanja.
Seluruh kota mengadakan persiapan pesta perpisahan dengan pahlawan muda jang mempunjai sedjarah perdjuangan gilang-gemilang itu. Pasukan2-nja jang sangat patuh dan setia kepadanja telah memberikan tanda mata, sebilah rentjong Atjeh serta sepotong kertas berwarna. Pada kertas itu mereka sampaikanlah permohonan mereka agar Teuku Hassan Djohan Pahlawan segeralah kembali kedaerah Atjeh supaja dapat memberikan bakti ditengah-tengah rakjat jang mengharapkan akan ketangkasannja, kesutjian dan kesetiaannja.
Hari Minggu pagi …
Pasar Atjeh jang biasanja ramai, hari ini sunji di-mana2. Dan Djalan Kedah jang biasanja banjak orang simpang siur setiap djam, djuga tiada seramai biasa. Memang ada dua tiga burung bersiul-siul dipohon djohar jang sedang berbunga, tetapi mereka djuga bernjanji tidak sebagai biasa.
Hari ini hawanja sedjuk, seakan-akan suatu isjarat bahwa segera hudjan akan datang. Akan tetapi hudjan tak kundjung tiba.
Disebuah lapangan hidjau terbentang diluar kota sepasukan tentara bersiap dan berleret-leret dengan chidmatnja menghadapi Major Teuku Hassan Djohan Pahlawan.
Kali ini adalah kali jang penghabisan Major Teuku Hassan memeriksa barisannja. Dan ini dirasai oleh kedua belah pihak: oleh jang berbaris dan oleh komandannja. Kini seluruh lapangan sepi hening. Komandan jang akan meninggalkan pasukan2 itu berpidato:
„Saudara2 sekalian. Saja merasakan betapa patuh dan kasih saudara2 jang besok akan meninggalkan saudara2. Tapi djanganlah lupa bahwa ketulusan hati saja mengatakan, bahwa perasaan saja sangat berat untuk meninggalkan saudara2 sekalian. Djanganlah saudara2 berpikir bahwa kalau saja kelak sudah tiada dipandangan mata saudara2 lagi, saja akan melupakan saudara2. Tidak, sekali-kali tidak! Djasa2 saudara diwaktu tanah air kita sedang diantjam bahaja besar didalam hati saja tertulis dengan tinta-mas. Dan djasa2 ini tidak akan dapat terhapus dengan begitu sadja. Mudah2-an perpisahan sekali ini bukanlah berarti perpisahan untuk selama-lamanja. Sebab betapapun djuga ada pepatah jang berbunji: Setinggi-tinggi bangau terbang ia akan pulang kesarangnja djuga. Saja pikir begitulah sifat manusia semuanja. Dan ketulusan hati saja kepada saudara2 membuat pula saja tidak dapat meninggalkan saudara2 dengan tidak meninggalkan kesan jang disaput oleh air mata.”
Teuku Hassan Djohan Pahlawan mengambil saputanganja dan menjapu matanja jang penuh digenangi air mata.
Seorang pemimpin pasukan madju kedepan, memberi hormat dengan patuhnja dan berkata dengan semangat jang berapi-api: „Bapak kami Major Teuku Hassan Djohan Pahlawan. Nama bapak sudah menundjukkan dengan tegas hati kepahlawanan bapak dalam menghadapi bentjana jang betapapun besarnja. Kami telah mengalami kepahitan hidup berdjuang bersama-sama dengan bapak, sehidup semati didalam hutan, dikantin dan dimana sadja. Kini kami harus bertjerai dengan bapak. Betapa terharunja perasaan kami mengenangkan perpisahan ini tentu bapak dapat pula merasakannja. Kami semuanja berharap, hendaknja datanglah lekas waktunja bapak Major kembali mengundjungi kampung halaman kita, negeri Atjeh, dimana kita akan dapat berbakti lebih banjak lagi. Dan selamat djalan jang kami utjapkan ini bukanlah berarti bahwa harapan akan bertemu sudah lenjap sama sekali. Seluruh rakjat di Kutaradja dan semua kawan2 menantikan kedatangan bapak kembali dengan tangan terbuka …!”
Siang harinya Major Teuku Hassan Djohan Pahlawan untuk penghabisan kalinja bersama ibunja pergi mengundjungi makam saudaranja, pahlawan jang telah gugur dan meninggalkan nama jang baik itu. Sekarang bunga mawar putih bersih diapitnja hati2 ditangan kanannja, karena karangan bunga ini adalah suara hatinja jang berbisik kepada arwah saudaranja, bisik selamat tinggal, terima kasih dan hormat jang setinggi-tingginja kepada seorang pahlawan gugur jang tiada minta dipudja …
Hari panas, ibu serta Major Hassan melangkah perlahan-lahan masuk kepekuburan jang hening sunji itu. Sekali lagi mereka hendak menjatakan dihadapan pandam pekuburan Teuku Nja Arif bahwa ketjintaan mereka kedua, kemesraan hati dan kepiluan karena hendak meninggalkannja adalah sangat dalam. Dalam mengheningkan tjipta dikaki pekuburan saudara dan anak jang dikasihi itu mereka berdua mendoakan keselamatan dunia achirat, semoga segala petundjuk2 baik dianugerahi Tuhan kepada hambanja. Karangan bunga telah terletak, harumnja meliputi suasana dan satu dua tangkai bunga dibasahi oleh air mata laksana embun pagi bergantung menantikan dihapus sang surja. Sedu sedan ibunda jang akan meninggalkan pekuburan itu membuat dadanja tersenak-senak, tapi djalan hidup masih djauh dan tempuhan djalan hanja dapat berhasil dengan ketabahan hati jang tak kenal mundur.
Dilapangan udara Blang Bintang (Kutaradja) sudah menanti garuda mesin jang akan memisahkan Teuku Hassan Djohan Pahlawan beserta ibunja, dengan penduduk Kutaradja jang mentjintai mereka itu. Hanja beberapa saat lagi, sudah itu …entah sampai apabila, mereka akan dapat kembali lagi ketanah Atjeh, Tuhanlah jang dapat memastikannja. Pukul sepuluh tepat. Suara gemuruh masin sudah terdengar, makin lama makin deras. Segala abu dan kotoran didekat sang garuda dihembus djauh keluar lapangan terbang. Sedjurus kemudian rodanja bergerak. Garuda mesin itu membelokkan kepalanja kekanan menudju kearah Selatan. Saputangan aneka warna melambai dari tempat menanti. Ada orang2 jang bertjutjuran air matanja. Ada jang tertawa tertahan-tahan, ada pula jang berteriak karena kehabisan tenaga untuk menahan pilu hati …Achirnja melajanglah kapal udara meninggalkan teluk bagian utara Andalas, membelok lebih keselatan dan dalam waktu jang tak terkira tjepatnja hilanglah mesin terbang dari pandangan mata. Dibawah sawah berliku-liku sebagai ular jang mentjari djalan masuk hutan keluar hutan. Dan dikiri kanannja kelihatan kebun2 tembakau, karet, kelapa sawit semua kekajaan tanah air jang harus dipertahankan dan ditjurahkan untuk kebahagiaan bangsa seluruhnja …
Djam lima pagi …ketika itu langit merah di Timur. Sang Surja mulai muntjul bertachta memberikan sinar panas kepada segala machluk didalam dunia. Diatas dahan dan ranting pohon2-an burung2 besar dan ketjil asjik berlagu: gembira dan penuh gairat menantikan tibanja tjuatja terang, dimana alam akan bermandikan tjahaja matahari jang menjuburkan hidup. Angin dingin berembus masuk kedalam tjelah2 rumah kampung dan sekali2 menepis buih dipermukaan laut. Sentuhan itu menjebabkan gelombang bersenandung dan berajun-ajun perlahan-lahan ketepian, memetjah dengan suara meraju.
Lagu angin, lagu burung dan lagu nelajan bersiul mengharapkan keuntungan hari ini amat merdu didalam telinga. Dan lagu itu terus bermain menggelorakan alam jang penuh bernafsu untuk hidup …
Dari djauh sebuah perahu nelajan perlahan-lahan memotong garis ombak, menudju ketepian. Ia oleng kekiri dan kekanan, dikemudikan oleh seorang nelajan jang berhati sutji memikirkan nafkah malam tadi untuk dibagikan kepada keluarga jang menanti dirumah.
Oleuh-leuh, kota ketjil disebelah utara pantai pulau Andalas adalah sebuah permata dalam rangkaian kalung karangan kepulauan Nusantara.
Sudah sepuluh tahun lamanja Pak Ali mendjadi nelajan berlajar malam penuh harapan, kembali pulang dinihari dengan keuntungannja. Hidup sederhana adalah sudah mendjadi pokok pendiriannja dan tiada ia akan mengotorkan kesutjian hidupnja dengan memikirkan keserakahan hidup.
Demikianlah Pak Ali nelajan ulung di Oleuh-leuh paham akan kewadjibannja; setiap pagi kalau warna merah telah menghias langit, dikedjauhan sudah kelihatan sebuah perahu nelajan terumbang-ambing menudju kepantai. Dekat ketepian terdengar siul orang, gembira lagunja menurut lagu margasatwa didalam hutan: orang itu tidak lain dari pada Pak Ali.
Sekerandjang ikan segar dibawanja pulang, disimpan seperlunja untuk dimakan dirumah dan selebihnja didjual kepasar ikan. Siapa menjangka bahwa hidup Pak Ali sukar dan mengeluh, maka salahlah ia. Ibu Ali adalah seorang perempuan sederhana jang tidak mengenal keserakahan hendak berharta banjak. Ia sangat tawakkal kepada Tuhan jang Maha Esa dan baginja sudah tjukup kalau jang Maha Esa itu tidak membiarkan keluarganja mati kelaparan. Demikian pulalah anak mereka jang baru berumur empat tahun mereka didik menurut hidup mereka: sederhana, tawakkal kepada Tuhan Seru Sekalian Alam dan bersih dari segala pikiran dan perasaan2 hendak mendjadi orang jang mempunjai harta benda jang berlimpah-limpah. Dengan pandangan hidup jang demikian itu Pak Ali melajarkan bahtera hidupnja ditengah-tengah gelombang penghidupan sehari-hari …
Pada suatu petang, ketika matahari telah lesu dan akan kembali keperaduannja, bersiap-siaplah Pak Ali sebagaimana biasa untuk menjeberangi lautan, berangkat menudju kechatulistiwa mentjari nafkah sehari-hari. Tali temali telah disiapkan. Tempat ikan besar dan ketjil sudah sedia. Makanan malampun tidak ketinggalan. Perlahan-lahan ia menjuap nasinja dan memandang kepada anak isterinja.
„Bu,” kata Pak Ali sedang ia makan itu. „Malam nanti kupikir akan datang badai besar. Tapi walaupun demikian kita tidak boleh menantikan sadja. Kita harus pergi melawan badai itu, sebab pada waktu badai mengamuk, pendjaga menara tiga djam berlajar dari sini memerlukan pertolongan. Sebelum badai datang kupikir aku sudah tiba dimenara dan dapat menolong orang itu.”
„Saja pikir untuk hari ini tak usahlah bapak berangkat karena siapa tahu kalau2 terdjadi sesuatu jang tak diingini,” demikian sahut isterinja.
Pak Ali tiada memperdulikan nasihat isterinja, tetapi melandjutkan pikirannja: „Kalau kita tak datang menolong pendjaga menara itu, mungkin ia tak dapat menjalakan api diatas dan mungkin kapal2 ketjil jang berlajar kehilangan arah dimalam hari. Menolong orang adalah pekerdjaan sutji.”
Kesusahan hati Ibu Ali tidak menjebabkan Pak Ali menari diri untuk berangkat. Ia menetapkan pasti akan berangkat dan ia mengharap akan dapat sampai dimenara sebelum badai mengamuk. Anak ketjilnja, Hassan melihat bapanja dengan dua buah matanja jang besar itu seraja menangis dan mengeluarkan tangannja. Ia hendak digendong. Dan untuk memenuhi permintaannja itu, Pak Ali mendukung serta mentjium anaknja itu. Dalam pada itu haripun sudah agak djauh petang dan sesudah meminta diri kepada isterinja dan mentjium anaknja itu, iapun berdjalanlah dengan langkah pasti menudju pantai. Perlahan-lahan dibukanja tali pengikat perahu.
„Kalau udara tetap begini,” katanja, sambil melihat keatas „tentu tidak segera badai akan datang mengamuk.”
Perlahan-lahan pentjalang melantjar makin lama makin djauh dari tepian. Diudjung matahari sudah turun diiringi oleh warna pelangi disaput merah api. Chatulistiwa garis lintang jang djauh melingkungi seluruh permukaan laut dan sepandjang mata memandang, jang kelihatan hanja air dan udara sadja. Ditengah-tengah lautan biru itu terkatung-katunglah pentjalang Pak Ali dengan tenang menudju kemenara. Angin sendja sudah mulai menepis buih laut makin lama makin deras. Kadang2 ia membawa uap dari atas jang mendinginkan sekudjur badan. Tiada satupun jang kelihatan dari pentjalang Pak Ali. Tiada tanah jang membudjur, tiada burung jang terbang kemalaman. Orang laut tahu bahwa itu adalah isjarat permulaan badai akan mengamuk …
Satu dua bintang jang tidak sabar telah menampakkan dirinja diatas. Tapi tiada berapa lamanja hilang bintang2 itu dan udarapun diliputi warna kelabu jang makin lama makin mendjadi gelap.
Pantjalang melantjar terus disendja kala itu, tiada berteman, tiada berhandai …Angin makin lama makin deras, buih telah berhamburan dan putih air jang melontjat-lontjat keatas terlihat djelas dimalam pekat jang seram itu. Dari djauh sudah terlihat oleh Pak Ali kaki menara api …harapannja hidup kembali. Sedjam lagi tentu ia akan tiba dimenara dan dapat menolong pendjaga menara itu. Buih berderai setinggi rumah dan pentjalang ikan Pak Ali dilambungkan kesana dan kemari menurut kehendak sang badai. Dengan hati jang tenang nelajan jang tawakal itu meneguhkan tekadnja hendak berlajar terus, untuk dapat menolong pendjaga menara jang bertanggung djawab berat itu. Sekudjur tubuhnja telah basah oleh air asin jang melontarkan dia kesana dan kesini didalam perahunja. Tiba2 topan mengamuk melemparkan Pak Ali kedalam lautan lepas dan seketika terbaliknja perahunja. Lama benar ia terombang-ambing ditengah-tengah segara. Matanja sudah merah dan berdarah dipikul gelombang jang tiada mengenal kasihan itu. Dengan sekuat tenaga dibalikkannja perahu jang sudah oleng itu dan achirnja dapatlah ia kembali duduk didalam pentjalang jang sudah setengah penuh air itu. „Alhamdulillah!” Ia mengutjap. „Achirnja dapat djuga aku pegangan jang baik.” Angin sudah mulai agak reda. Busah putih sudah tidak berapa menggulung-gulung seperti tadi ada bajangan seakan-akan topan reda kembali sebelum parak siang; dan dalam pada itu tentu pentjalangnja sudah sampai dikaki menara …
Tiba2 sebuah gelombang besar memukul tepi pentjalang; Pak Ali terpental keluar, pentjalangnja terbalik dan sekali ini pegangannja terlepas, kiranja tidak akan dapat tertangkap lagi. Makin lama makin djauh ia dilemparkan gelombang besar2. Achirnja sampailah kepada djarak jang tidak dapat menghubungkan dirinja dengan pentjalang dimalam pekat itu. Angin menderu-deru . ombak putih berlompat-lompatan setinggi-tinggi pohon dan dalam suasana gelita itu datanglah petir menjajat dengan tadjamnja. Djauh dipermukaan laut jang bergelombang besar itu kelihatan laksana sabut terombang-ambing badan Pak Ali, menantikan ketentuan dari jang Maha Kuasa. Makin lama badannja makin djauh dibawa berlarat-larat menudju garis chatulistiwa …
Pemandangan ditepi laut dipinggir pelabuhan sunji. Oleuh-leuh pagi ini sungguh indahnja. Dikedjauhan langit merah mudah menggambarkan kegembiraan alam menerima sinar matahari jang akan bertachta kembali memberi tjahaja kepada seluruh bumi. Lontjeng gardu didekat pasar memetjah kesunjian dan suaranja hilang dibawa angin keputjuk tjemara. Margasatwa bersiul-siul. Hari ini hari memperdjuangkan hidup kembali. Mentjari makan dialam maja. Elang hitam sambil bermalas-malas melajang-lajang diatas tepian pantai dan atjuh kedalam air jang djernih laksana tjermin itu.
Seorang perempuan jang masih muda menggendong anaknja melihat dengan mata jang saju kearah chatulistiwa menerima langit nirwana berdatang sembah diputjuk kakinja. Djauh, sangat djauh ia memandang, seakan-akan dapat menembus djarak jang tiada terkatakan itu. Sedjam, dua djam, sampai matahari tepat diatas kepalanja, perempuan muda itu masih sadja berdiri ditepi laut. Kakinja tertantjap dipasir lembut, air jang diiringi ombak kepantai memetjah ditelapak kakinja dan langit biru jang djernih menambah udara hening. Pagi sudah tertinggal, kini siang mendatang dan sebentar lagi petangpun membawa bajangan pohon2 besar djauh membudjur ditepian. Petang itu ia masih berdiri, lupa makan, lupa minum, hanja ingat akan suaminja, ajah anaknja jang tiada pulang. Banjak teka-teki meliputi hatinja jang berdebar-debar itu: Apakah Pak Ali masih berada diatas menara; atau akan pulangkah ia besok petang; atau datangkah ia sore ini djuga, gembira kembali ditengah-tengah anak isterinja; atau, atau …Dengan tiada dapat ditahan-tahan djatuhlah air mata ibu Hassan berlinang-linang. Takut ia mengeluarkan pikirannja jang mendatang itu. Takut, karena, ah, kalau benar, kalau Pak Ali tidak akan kembali lagi, tidak akan kembali lagi…amboi, apalah gunanja hidup didunia ini? Siapakah lagi jang akan mentjarikan makan, jang melindungi anaknja itu?
Kaki perempuan muda itu tak kuasa menahan badannja, kemudian djatuhlah ia rebah kepasir lembut. Angin sore tidak djemu2nya bermain-main diatas pohon2 akan lari kentjang kegunung tinggi. Ia singgah bermain pula membelai rambut perempuan muda serta mentjium pipi Hassan jang masih ketjil itu …
Seakan-akan ada jang menjuruh, Hassanpun menangislah mendjerit-djerit. Tapi tiada seorangpun jang datang melihat. Suara djeritan anak ketjil itu dibawa angin melalui gelombang lautan, kechatulistiwa. Dalam pada itu sendjapun tibalah. Dari mulai langit merah difadjar hari, sampai langit merah kembali disendjakala ibu Hassan berdiri ditepi pantai menindjau dengan penuh harapan kekedjauhan. Tapi jang diharapkannja tiada tiba …Ia tiada tiba lagi, karena Maha Kuasa telah mentakdir orang laut pulang kelaut …
Diatas kepalanja berlari-larian kalong jang takut kemalaman; burung lajang2 bersorak-sorak sambil mentjari tempat bertengger; beberapa buah ara jang pohonnja membudjur ditepian berdjatuhan dihanjutkan arus entah kemana. Ia kembali pulang. Langkahnja satu persatu; langkah djemu hidup …langkah putus asa …langkah sunji dari pada daja dan tenaga. Rambutnja telah kusut, air matanja telah menebal dipipi tetapi jang dipikirkan tiada muntjul, jang diharapkan tiada datang, jang dinantikan tiada tiba …Memang telah ditakdirkan Ilahi …Pak Ali, orang laut pulang kelaut …
Sedjak pagi hari menanti-nanti itu hiduppun tiadalah lagi berketentuan. Ibu Hassan berdjual sajur2an dipasar. Setiap hari Hassan dibawanja pulang dan pergi kepasar. Makin lama makin pilu djuga penghidupan mereka anak dan ibu, tetapi berkat ketabahan hati ibu jang masih muda itu, maka dapatlah Hassan tumbuh dengan segar dan sehatnja dikandungan dan asuhan kasih bunda itu.
Ibu Hassan hanja memikirkan hari depan anaknja sadja lagi. Bagi dirinja, sudahlah gembira ia apabila Tuhan berkenan menemukannja kembali dengan suami dan ajah anak jang ditjintainja …diachirat kelak.
Pekerdjaan berat sehari-hari menjebabkan badannja jang kuat itu makin lama makin mendjadi lemah. Menteri rumah sakit telah berkali-kali berkata, bahwa ia harus berhenti berdjualan karena badannja lemah dan harus mengerdjakan pekerdjaan jang agak ringan sedikit. Tapi nasihat ini tak mungkin diturutinja, karena ia harus memberikan djaminan hidup jang baik untuk Hassan jang dikasihinja itu. Dan untuk memberikan djaminan itu ia harus bekerdja keras …
Demikianlah, badan bukan mesin, bukan mesin jang dapat distel untuk seterusnja dapat dipergunakan. Djiwa jang dibalut daging dan tulang kenal anak letih dan lesu. Badan itupun kenal pula akan batas2 tenaga. Dan kalau ia dipakai terus nistjaja rusaklah ia, sebab: badan bukan mesin, bukan mesin jang dapat distel untuk tenaga abadi seribu daja …
Sudah lima hari ibu Hassan mengerang kesakitan. Hassan jang biasanja terdjaga baik turut pula menderita. Badannja mendjadi kurus dan dua garis ingus jang keluar dari hidungnja jang tiada ditjutji lagi itu, menundjukkan bahwa ia sakit pilek. Dalam detik2 jang demikian ini hiduplah kembali kenangan setahun jang lalu: Pak Ali kembali membawa ikan tongkol; Hassan merajap sambil menggigit-gigit sepotong kaju dan malamnja bersantap ikan tongkol dengan nasi putih: ikan tongkol segar dan baru, dari dasar lautan luas dipantai Oleuh-leuh …
Kini ia tertelentang, seorang diri, tiada handai, tiada tolan, Hassan terlalu ketjil untuk dapat turut berduka tjita dan menolong ibunja. Air mata berlinang-linang membasahi kedua belah pipinja. Bukan rahasia lagi sekarang; hidupnja sengsara dan kadang2 Hassan tiada mendapat makanan jang baik. Memang banjak tetangga jang turut belas kasihan, tetapi mereka sendiripun mempunjai kesukaran2 dan tanggungannja masing2.
Aduh, aduh, pedih nian hidup tiada berpegangan!
Dari luar terdengar ibu Hassan sakit mengerang-ngerang tertelentang seorang diri diatas balai jang keras …
Sebuah mobil Fiat ketjil sederhana berhenti dipasir lunak ditepi pantai Oleuh-leuh. Dari dalamnja keluarlah seorang-orang, badannja tegap, mukanja djernih dan tiada bertjakap-tjakap. Ia diiringi oleh seorang perempuan muda, isterinja dan seorang anak jang masih ketjil. Sudah dua puasa dokter Teuku Husin bekerdja terus menerus siang dan malam diseluruh wilajah Atjeh besar. Perhatiannja jang penuh akan pertolongan kepada umat manusia mendorong dia mendjadi dokter; dan kewadjibannja dipenuhinja dengan seksama; semua orang, tiada pandang bulu, ketjil besar, tinggi rendah akan mendapat pertolongannja bila diperlukan.
Dokter Teuku Husin adalah seorang dokter jang dikenal oleh seluruh penduduk dari Kutaradja sampai ke Langsa, Sigli, Idi, malah sampai2 kesebelah Barat Atjeh, di Kutatjane ia dikenal sebagai seorang ahli rawat jang ditjintai oleh seluruh rakjat.
Hari ini hari istirahat bagi dokter Teuku Husin. Dalam mendjalankan kewadjibannja jang penuh tanggung djawab itu maka sudah selajaknjalah ia mendapat istirahat melepaskan lelah barang sehari dua hari. Dan tempat peristirahatan jang sekedjap ini dipilihnja ialah: Oleuh-leuh, udjung pulau Andalas jang berpantai emas kilau-kemilau. Bukankah kota pantai jang tjantik itu sudah terkenal diseluruh kepulauan Indonesia sebagai tepian jang sangat indah dan manis? Bukankah ia pula mendjadi teluk pertama apabila kapal2 asing hendak berlajar masuk kepekarangan kepulauan kita dan berlabuh ditepi pelabuhan2nja? Bukankah tjengkeh jang dibawa oleh bangsa Portugis, Spanjol, Inggeris dan Belanda ber-abad2 jang lalu melalui pantai Oleuh-leuh jang indah ini? Nah, sudah selajaknja pula pantai sepuhan ini mendjadi perhatian dokter Teuku Husin untuk beristirahat. Isterinja jang gembira itu ber-main2 diatas pasir bersama anaknja. Sebuah perahu nelajan mendekat ketepian. Anaknja jang ketjil berteriak gembira melihat perahu itu makin lama makin mendekat. Tiba2 dokter Teuku Husin jang sedang asjik menindjau kebuih berderai sepandjang mata memandang itu, terkedjut: dilihatnja ia telah dikelilingi oleh beberapa orang dipimpin oleh kepala kampung. Penghulu kampung segera setelah bertemu mata, datang memberi salam seraja berkata: „Rakjat Oleuh-leuh mengetahui tuan datang beristirahat disini. Rakjat semua gembira mendengar hal ini. Semoga tuan tidak merasa terganggu atas kundjungan kami ini. Kami telah mengetahui akan budi baik tuan dan merasa senang telah dapat melihat wadjah tuan sendiri. Kami tidak pernah dalam enam bulan ini dikundjungi oleh seorang dokterpun. Oleh sebab itu sangatlah gembiranja kami melihat tuan bersenang-senang dengan keluarga tuan disini.”
Dokter Teuku Husin tertawa senjum dan membalas sambutan penduduk kota Oleuh-leuh dengan hormatnja.
„Terima kasih, terima kasih!” katanja sambil melihat kepada semua jang berdiri mengelilinginja itu.
Tiba2 dari djauh kelihatan seorang jang umurnja setengah tua mendorongkan dirinja untuk dapat berdiri didepan sekali. Dengan ternegah-engah ia menjampaikan salam hormatnja seraja berkata: „Maafkan tuan dokter jang budiman, kami gembira menerima kedatangan tuan dokter disini bermain-main. Tapi apakah kiranja tuan dokter tidak merasa terganggu apabila kami minta pertolongan kepada tuan dokter?”
Mendengar utjapan itu dokter Teuku Husin mendjadi agak terkedjut. Dengan segera ia mendjawab: „Apakah jang mesti ditolong? Saja bersedia memberikan pertolongan. Lekaslah berangkat kita, dan beri tahukan kepada saja dimana jang memerlukan pertolongan!”
Dengan tidak berpikir pandjang lagi tuan dokter meninggalkan pantai jang indah itu, dihidupkannja mesin mobilnja dan dengan sekedjap mata sampailah ia didepan sebuah gubuk jang hina; didepan bermain-main seorang anak jang sebaja umurnja dengan anak tuan dokter itu dengan ingus jang meleleh dari hidungnja . Pandangannja tertudju kepada anak itu. Dan seketika iapun tertegunlah. Alangkah kasihannja. Anak itu memandang kepadanja dengan seribu satu rupa pertanjaan jang tiada diutjapkan. Salah sebuah pertanjaan itu ialah: „Tolonglah ibuku jang sedang tertelentang didalam rumah.” Dokter Husin sedar akan firasat ini. Setelah memandang anak itu dengan kasih mesranja, maka segera madjulah ia kedepan, dibukanja pintu jang telah usang itu dan …dilihatnja didalam ibu Hassan tertelentang dengan nafas satu2. Ibu Hassan agak terkedjut melihat seorang jang tampan masuk kedalam gubuknja. Tapi suara hatinja mengatakan bahwa jang datang itu adalah pertolongan jang dikaruniakan oleh Tuhan jang Maha Kuasa.
Djendela dibuka lebar2. Tangan, kaki dan dada sisakit diperiksa dengan teliti. Seketika terbajang diruang mata tuan dokter keketjewaan jang ditelannja kembali kedalam bersama dengan ludahnja. Memang, melihat perawakannja pada ketika itu, tiada harapan akan hidup lama. Tapi betapa hendak mentjeritakan padanja? Tidakkah akan hantjur hatinja? Tidakkah berita itu akan memilukan djantungnja jang telah banjak luka2 itu? Anaknja …suaminja jang tiada lagi …keadaannja jang tiada menguntungkan …Dokter tertegun, ia tidak dapat melihat dengan matanja kepada sisakit. Ia berdiri dipinggir balai2 keras dengan peperangan hebat didalam hati …
„Tuan …!” ibu Hassan mulai berkata dengan susahnja. Ia melihat kepada orang jang berdiri dengan sedihnja.
„Djangan gusar, djangan terkedjut, saja dokter Teuku Husin datang untuk mengobatmu.”
Tenang sedikit hati ibu Hassan mendengar berita jang sekonjong-konjong didengarnja itu. Tapi firasatnja berkata …berkata, bahwa kedatangan dokter jang budiman itu tiidak akan dapat menolongnja dari pada kepergiannja kealam baka. Telah beberapa kali ia bermimpi bertemu dengan ajah Hassan, Pak Ali; suaranja datang memanggil kedalam telinganja; suara jang keluar dari dasar laut …Ia berterima kasih kepada dokter jang baik budi itu, tapi iapun tahu pekerdjaan untuk menjembuhkannja akan sia2 belaka. Setitik demi setitik djatuhlah air mata panas kebawah meliwati pipinja jang telah tjengkung itu.
„Tuan dokter …terima kasih …tolong …Anak saja …tolong djuga anak saja …saja …!” utjapan ini keluar satu demi satu dari mulut jang telah lesu.
Dokter Teuku Husin mengerti akan makna isjarat sisakit. Ia sudah tahu bahwa ia akan berlalu …
„Baik, tenanglah kau, tenanglah, tiada satu kesusahan jang boleh kau pikirkan sekarang,” kata dokter dengan tegas. “Anakmu akan mendapat rawatan baik, semua itu akan kupikul sendiri.”
„Dokter …anakku …!”
Segera dokter Teuku Husin menjuruh orang mengambil anak jang sedang bermain diluar itu. Pertemuan penghabisan …antara anak dan ibu didepan seorang dokter jang seakan-akan dipanggil oleh jang Maha Esa untuk menghadiri perpisahan anak dengan ibu jang sangat pilu itu.
Ibu muda itu mengatjungkan tangannja kepada anaknja; tangan itu terkulai kembali …badannja lemas, matanja suram. Dalam pada itu tenanglah seluruh suasana. Hassan jang masih ketjil tiada tahu, hanja merasa ia akan ditinggalkan ibu; nasibnja akan ditentukan oleh orang2 lain …
„Tuan …anak saja, terima kasih …!” Seruan jang penghabisan ini ditelannja dan dibawanja pergi …pergi untuk tidak kembali lagi kedunia jang fana ini.
Petang itu djuga ketika matahari sudah hampir beredar disebelah barat, djenazah ibu Hassan diangkut orang ketepi pantai. Sekerat batang kembodja ditantjapkan dikepala pandam pekuburan, uratnja kelak akan menghisap asin air laut jang mungkin sampai menebas djalan didalam tanah. Sepi sendiri pusara itu terbentang ditemani oleh angin lalu, bintang gemerlapan disendja kelam, dan sinar surja dihari siang …
Dokter Teuku Husin menghidupkan mesin mobilnja, menekan gas dan berlalu meninggalkan debu asap. Didalam mobil Fiat itu duduk isteri dan anaknja dan Hassan, putera Pak Ali jang telah menemui adjalnja didalam gelombang dimalam hari, putera ibunja jang sudah terbudjur djauh dipantai dibawah lambaian batang kembodja …
Hassan melihat sekelilingnja didalam mobil jang tidak pernah dikenalnja itu; matanja jang bulat besar bertjerita tentang keheranannja, apa sebab kotak besi tempat ia duduk itu dapat berdjalan ladju, apa sebab ia dapat berteriak, dan apa sebab jang duduk didalamnja mendapat angin. Ia bertjerita djuga tentang pertanjaan mengenai nasibnja jang malang itu. Mengapakah aku sekarang seorang diri dibawa entah kemana dengan kotak besi ini? Mengapakah ibuku tidak dibangunkan kembali dari tidurnja? Mengapa orang2 asing ini tersenjum manis dan memanggil namanja dengan lemah lembut? Mengapa …mengapa …?
Hassan melihat dengan hati2 keluar djendela. Debu berterbangan keatas, asap berkepul dan seekor ajam berteriak terbang menjeberang djalan, ketika mobil mereka melintas …Kemudian Hassan menangis tersedu-sedu. Ia merasa sepi …Ibunja kemana? Ibunya kemana? Ibu dokter merasakan semua penderitaan anak ketjil itu, lalu membudjuknja dengan kata2 tjumbuan jang merdu.
Tidak lama lagi akan sampailah mobil Fiat tuan dokter Teuku Husin di Kutaradja. Hari sudah mulai sendja dan karena perasaan2 jang terlalu penuh dengan banjak kegandjilan2, letihlah Hassan dan tertidurlah ia dipangukan ibu dokter.
Pagi hari ia terbangun. Hati kanak2nja keheran-heranan melihat perubahan besar jang dialamnja dihari itu. Rumah bagus permainan banjak, makanan tjukup, ibu dan bapak dokter baik budi …dan seorang temannja jang sama besar dengan dia bermain menemaninja sepandjang hari. Hari itu bagi Hassan hari jang gandjil. Nasi keras berganti susu. Badju buruk berganti dengan jang baik. Tempat bermain kini dikamar bagus penuh tjahaja pula.
Dari sehari kesehari hidupnja bertambah subur. Ia bermain sepandjang waktu; kalau menangis ia dipudjuk; kalau lapas ia diberi makan minum, ja, segala jang diberikan kepada putera kandung dokter jang bernama Teuku Nja Arif, diberikan djuga kepada Hassan.
Takdir Tuhan menjebabkan ia sampai terdampar dirumah seorang dokter jang budiman, dan memakai nama Teuku Hassan sebagai putera tuan dan njonja dokter Husin …
Hudjan rintik2 hari ini menjebabkan semua orang pada waktu siang djam dirumah. Udara mulai suram dan sekali2 kilat menjambar-njambar dengan lantangnja. Dari djauh kelihatan lentera2 penerang djalan tegak melawan angin deras jang membawa rintik2 hudjan makin lama makin banjak. Hanja dua tiga orang berada didjalan; mereka berdjalan tergesagesa supaja segera sampai dirumah atau mentjari tempat perlindungan dikaki lima.
Djalanan aspal litjin didepan rumah, rata basahnja. Sebuah mobil lalu memertjikkan air kekiri dan kekanan, sampai pada suatu tempat jang agak sepi mobil itu membelok kekanan masuk kepekarangan rumah. Dokter Teuku Husin turun dari mobilnja, kemudian masuk kerumah; badannja sebelah atas basah dan tas jang berisi perkakas periksapun turut basah pula. Dokter Teuku Husin mengeluh. „Ja Allah …moga2 orang itu akan dapat hidup terus. Ditengah djalan tadi sepulangnja dari rumah tuan Bukari, aku berdjumpa dengan seorang pedagang jang bertelentang berlumuran darah ditengah djalan. Sebuah mobil truk menggiling kakinja dan tiada seorangpun jang berani memberikan pertolongan dihudjan lebat ini,” kata Pak dokter kepada isterinja.
Isterinja, seraja membukakan djas suaminja bertanja: „Apakah jang diperbuat dengan orang jang malang itu?”
„Aku balut kakinja dengan perban basah dan kubawa ia kerumah sakit seketika itu djuga. Kini kuserahkan ia kepada tuan dokter Delwara, ahli potong jang kenamaan itu. Mudah2-an lukanja jang berat itu akan lekas sembuh, tapi …tapi aku tidak jakin …… !”
Rambutnja jang basah itu disapunja kebelakang dengan kedua belah tangannja.
„Kalau sempat aku akan pergi lagi kerumah sakit untuk melihat orang itu. Kasihan …!”
Memang Pak dokter Teuku Husin adalah seorang jang dapat turut berduka tjita serta merasai sakit jang diderita seseorang. Itulah pula jang mendjadi sebab ia ditjintai oleh orang2 jang dirawatnja.
Setelah berganti pakaian maka pekerdjaannja jang pertama ialah mendjumpai kedua anak2nja jang sedang bermain-main dengan manisnja dibelakang.
Arif dan Hassan berlari-lari mendapatkan ajahnja dan dengan penuh kasih sajang diberilah mereka oleh ajahnja itu masing2 sekaleng ketjil tjoklat jang dibelinja dalam perdjalanan pulang tadi. Gembira dokter Teuku Husin melihat kedua anaknja bermain-main dengan rukunnja. Hatinja tertarik oleh ketulusan perasaan anak kandungnja Nja Arif kehalusan budi Hassan anak jang dipungutnja dari pinggir pantai Oleuh-leuh itu. Ia melihat sambil tersenjum dan didalam dadanja kini tersimpan sebuah angan2 melihat kedua puteranja itu kelak akan mendjadi orang2 jang berharga untuk masjarakatnja.
Hudjan rintik2 masih belum berhenti. Anak2 bermain sepeda roda tiga jang baru didapat mereka sebulan jang lalu. Hassan mengadjar Nja Arif bagaimana menunggang sepeda, seperti orang2 besar mengadjar muridnja. Nja Arif tertawa gembira dan ajahnjapun riang pula melihat betapa bidjak kedua anaknja itu. Mereka berkeliling-keliling mengedari dapur, kamar makan dan beranda tengah diiringi oleh dokter jang tidak djemu2nja melihat permainan anak2 itu.
Pada suatu petang Pak dokter dan isterinja didjamu orang keluar kota. Kedua anak2nja tinggal dirumah didjaga oleh seorang budjang jang setia. Mereka bermain-main dihalaman jang luas jang ditanami dengan pelbagai warna bunga2an dan pohon2an jang rindang. Dibawah sebuah pohon kenari jang rindang mereka bermain sekolah-sekolahan. Hassan mendjadi guru dan Nja Arif mendjadi murid. Setengah djam kemudian guru mendjadi murid dan murid mendjadi guru pula. Budjang berada didalam kamar berkemas-kemas. Keasjikan kedua kanak2 itu dibiarkan oleh budjang dengan tiada merasa chawatir sedikit djuga. Nja Arif menarik tangan Hassan dan mereka berdjalan menudju kehutan. Didekatnja terdapat sebuah sungai djernih airnja. Anak2 jang agak besar sering bermain kapal2an disungai itu. Hassan memperingati Arif supaja djangan sampai bermain-main ditepi sungai karena ajah dan ibu tidak suka kita bermain disana. Demikianlah mereka itu tidak pergi menudju sungai, tapi mengambil djalan terus menudju sebuah bukit ketjil tempat pandu2 setiap sore berlatih.
Banjak buah2an dan bunga2an dipetik oleh mereka itu. Dan tiada seorangpun diantara mereka itu jang ingin pulang. Kedua-duanja diasjikkan oleh burung2 geredja jang terbang rendah, oleh kupu jang dijinak seakan-akan menjerahkan diri kalau hendak ditangkap. Makin lama makin djauhlah mereka beredar dari rumah dan dalam pada itu haripun mulai sorelah.
Budjang pergi melihat kehalaman sebentar, dan alangkah terkedjutnja ia ketika melihat tiada seorangpun anak2 itu jang berada disana. Ia memanggil-manggil tapi tiada suara jang menjahut. Achirnja dengan perasaan jang amat tjemas, ia berlari ketepi sungai melihat kalau2 mereka ada disana. Djuga ditepi sungai mereka tidak ada! Djemulah sudah budjang mentjari dan memanggil tapi tiada suara jang terdengar membalas sahutan, tiada seorangpun dari kedua anak2 itu jang kelihatan.
Sambil menagis tersedu-sedu iapun melandjutkan djalannja menudju kebukit rumput temppat pandu2 berlatih. Dalam pada itu ibu dan bapak dokter telah tiba pula dirumah dan alangkah terkedjutnja mereka ketika melihat tiada seorangpun jang berada dirumah. Firasat mengatakan bahwa ada sesutau jang terdjadi. Dengan tiada mengganti pakaian lagi berlarilah mereka masuk kedalam hutan ditepi rumahnja dan melihat kesungai, terus menudju kebukit rumput. Dari djauh samar2 terbajang dimata mereka dua orang anak jang tertelentang ditemani oleh seorang budjang perempuan. Makin lama makin tjepat mereka berlari menudju bukit rumput. Dan setelah tiba disana…alangkah terkedjut hati mereka melihat Teuku Nja Arif meraung-raung kesakitan sambil memegang kakinja. Hassan berdiri disampinngnja sambil menangis pula ketakutan. Tiada mengerti mereka itu apa jang telah terdjadi. Dokter Teuku Husin mendapatkan anaknja dan seketika tahulah ia ketjelakaan apa jang telah menimpa kanak2 itu.
Seekor ular belang sedang berdjalan disemak-semak rupanja. Ketika dilihatnja kedua orang anak2 hendak mengganggu perdjalanannja iapun meradang memagut Teuku Nja Arif jang berdjalan didepan sekali. Melihat kedjadian ini dan mendengar teriak saudaranja, timbullah kekuatan gaib didalam dada Hassan jang masih ketjil itu, untuk membela saudaranja. Diambil sekerat kaju jang terletak dekat kakinja, dipukulkannja kepada ular itu, dan berkat pertolongan jang Maha Esa maka kaju itu tepat pula mengenai kepada ular tjelaka itu. Sebuah batu ditangan Hassan menamatkan riwajat ular belang itu. Memang kalu hendak diberikan perlindungan ada2 sadja djalannja. Bangkai ular itu tertelentang ditepi djalan ketjil itu. Dan dengan tiada berpikir pandjang maka diangkutlah Nja Arif oleh ajahnja kerumah dan diobatilah kakinja jang sudah kemasukan bisa ular itu. Sedjak hari itu budjang harus mendjaga anak2 itu lebih hati2 dan tiada seorangpun dari mereka diizinkan berdjalan seorang diri masuk hutan.
Pada suatu malam jang sepi dokter Teuku Husin dan isterinja duduk diberanda muka. Hassan dan Nja Arif telah tidur dengan njenjaknja setelah letih bermain sehari-harian.
„Aku tertarik oleh kelakuan Hassan bu,” tuan dokter mulai pembitjaraannja.
„Apa jang kau maksud, pak?” tanja isterinja.
„Aku melihat sesuatu benih murni jang timbul dalam dadanja. Kulihat dan kupeladjari perasaan dan pikiran anak itu.”
Dokter Teuku Husin bertegun sebentar. Dilemparkannja puntung rokoknja keluar. Kemudian dilandjutkannja pembitjarannja dengan isterinja.
„Adakah kau meneliti lebih dalam tentang kelakuan Hassan ketika Nja Arif digigit ular seminggu jang lalu?”
„Aku tak sedar akan hal itu,” djawab isterinja.
„Nah,” kata Pak dokter. „Ketika ular hendak menerkam anak kita Nja Arif, maka timbullah perasaan persaudaraan jang murni didalam hati Hassan. Diambilnja kaju dan dipukulnja ular itu. Ini bagiku adalah suatu tanda bahwa rasa bersaudara dan rasa kesetiaan sangat banjak tersimpan didalam dadanja. Benih2 ini harus dipupuk, supaja masjarakat kita dapat bangga dengan tjontoh2 orang jang murni dan setia.”
„Memang kesetiaan dan kehalusan budi terbajang dalam kelakuannja setiap hari,” menjambung ibu dokter.
„Oleh sebab itu sudahlah mendjadi kewadjiban kita untuk memupuk sifat2 jang baik ini, supaja hidup subur untuk kebaikan anak itu sendiri kelak. Disamping sifat2nja jang baik itu akan melihat djuga perasamaan2 jang banjak antara Nja Arif dan Hassan, bu. Umpamanja, kedua-dua mereka itu adalah anak jang gembira dan periang. Kedua-duanja suka mengalah dan satu sama lain saling tolong menolong.”
„Kurasa,” demikian djawab ibu dokter. „sudah ditakdirkan Allah Subhanahu Wa Taala, Hassan mendjadi anak kita.
Dokter Teuku Husin masuk kekamar tempat kedua anak2 mereka itu terbaring tidur dengan njenjaknja. Dokter Teuku Husin memperhatikan raut muka Hassan jang litjin dan tenang itu. Diperhatikannja pula air muka anak kandungnja; penuh bajangan iba dan kesabaran. Perlahan-lahan kedua anak2 itu ditjiumnja kemudian merekapun berlalulah dari sana untuk tidur.
Ketika mereka berumur enam tahun, maka mereka keduanjapun dikirimkan oleh dokter Teuku Husin di Sekolah Rakjat. Dalam peladjaran mereka sama pandainja. Dalam kesederhanaan mereka mendjadi teladan dan dalam budi pekerti mereka mendapat pudjian tinggi dari pada guru. Habis triwulan mereka kembali pulang dengan angka2 rapor jang menggembirakan orang tuanja. Tiada seorangpun diantara teman2 mereka jang mengetahui bahwa Hassan adalah anak pungut dokter Teuku Husin, djadi saudara pungut Nja Arif. Persamaan tingkah laku jang halus, kepandaian dan budi pekerti mereka menjebabkan semua teman2 tidak ragu2 bahwa mereka adalah saudara kandung.
Diluar pekarangan sekolah Hassan dan Arif sering kelihatan bersama-sama djuga. Dalam pertengkaran dan perkelahian dengan anak2 jang nakal dan besar2 mereka selalu berdua, tolong menolong. Tiada heran kita kalau bapak guru memberi nama djulukan: sehati, dua badan.
Demikianlah dari hari kehari mereka hidup dilingkungan jang sama, dalam suasana sama, diasuh oleh tangan jang sama dan dapat mengenjam udara jang sama pula. Akan Hassan memang tiadalah diketahui sama sekali bahwa dia sebenernja bukanlah anak kandung dokter Teuku Husin. Inilah jang menjebabkan pula ia tiada bimbang2 melakukan sesuatu hal jang ingin ia lakukan. Dalam pada itu Nja Arif tiadalah lain mengetahui selain dari pada tjerita bahwa Hassan adalah saudaranja seibu sebapa dan bahwa ialah temannja sehidup semati, bersama-sama makan, minum, tidur, bermain-main dan bersama-sama menderita hukuman sekali2 oleh ajah dan ibunja. Dari sehari-kesehari pergaulan mendjadi rapat dan tiada seorang didunia dapat mengetahui kini, bahwa Hassan dan Arif bukan bersaudara, malahan, kadang2 dokter Teuku Husin sendiri tidak pertjaja bahwa Hassan bukanlah anak kandungnja. Terkadang ia memikirkan betapakah djalan jang se-baik2nja untuk memberikan Hassan pegangan serta hak2 jang sama dengan anak kandungnja Nja Arif. Setelah berunding beberapa waktu lamanja, kedua laki isteri jang budiman itupun setia sekatalah untuk mengesahkan putera sudah pendirian mereka kedua dan penuhlah sudah hak mereka terangkat mereka itu didepan para jang berwadjib. Sedjak itu teguhlah sudah pendirian mereka kedua dan penuhlah sudah hak mereka terhadap anak angkatnja itu. Sebab sebelum Hassan disahkan sebagai puteranja itu, banjaklah pikiran2 jang menggodanja. Kadang2 suami isteri dokter melamun seakan-akan ada orang asing datang kerumah mereka, menuntut hak atas diri Hassan, sehingga seketika hilanglah wadjah Hassan jang dikasihinja itu dari pandangan matanja sehari-hari. Terkadang pula serasa terdengar oleh mereka suara Hassan menjesali untungnja tiada diakui sebagai puteranja jang sjah.
Pada suatu hari jang panas penuhlah rumah dokter Teuku Husin oleh tamu undangan. Segala matjam tamu diundang, jang miskin, jang kaja, perempuan dan laki2. Hari itu dokter Teuku Husin mengatakan kepada para tamu bahwa ia merajakan kedua puteranja akan dichitankan. Alangkah ramai orang dirumah dokter itu. Ada jang bertjakap-tjakap sambil minum dan makan, ada jang bermain dabus, tarian asli dari Atjeh jang termashur itu, ada pula jang bermain musik meramaikan suasana. Pelbagai matjam kesenian, kesenangan dipertundjukkan kepada chalajak ramai tiga hari tiga malam lamanja. Adalah sudah mendjadi adat dinegeri Atjeh untuk mengadakan perajaan besar2an apabila anak2 jang ditjintai orang tuanja mendjalani chitanan. Makin besar perajaan berarti makin mulialah keluarga itu. Seorang keturunan radja2 kadang2 sampai dua tiga minggu lamanja mengadakan perajaan, sebagai imbangan akan deradjatnja.
Memanglah adat di Atjeh ini adat jang dibentuk sendiri oleh manusia pada zaman dahulu kala sehingga turun sampai pada dewasa ini. Bagi Teuku Husin memanglah adat tiada dibuangnja, akan tetapu berpesta-pesta pada waktu ini bukanlah maksudnja untuk menundjukkan kepada dunia ramai, bahwa iapun mempunjai keturunan jang tinggi. Tidak. Pikiran2 jang sematjam itu sudah hapus dari hati sutji dokter jang budiman itu.
Jang mendjadi pikirannja pada waktu itu ialah hendak mengamalkan rezeki kepada jang miskin dan menundjukkan tjintanja kepada Hassan. Dalam hati ketjilnja kini tiadalah orang jang segembira ia sekarang ini. Memang tiada seorangpun pada waktu itu jang merasa dirinja segembira keluarga dokter Husin.
Dalam hatinja, kini sudahlah sampai hadjat jang diniatnja beberapa waktu jang lalu. Bersama dengan pengchitanan kedua puteranja itu, dokter Teuku Husin menganggap didalam hatinja hari ini adalah hari pertama bagi Hassan untuk mendapatkan pengesahan setjara resmi dari dirinja sebagai ajah kandungnja.
Malam hari sedang perajaan berlangsung dan makan minum sudah selesai, sebelum para tamu minta diri akan kembali kerumahnja masing2, dokter Teuku Husin berpidato sebentar didepan para undangan.
„Tuan2 jang terhormat,” demikian dokter Husin memulai pidatonja.
„Terima kasih saja atas kedatangan para tamu dari semua sudut kota tiadalah terlukiskan. Bukti bagi saja bahwa para tamu sekalian memang sebenarnja menaruh perhatian kepada diri kami ini. Semoga hendaknja Tuhan mengizinkan kita akan tetap dapat hidup rukun dan mendapat kurnia sepandjang waktu. Adapun jang penting djuga bagi saja, tuan2 jang terhormat ialah hendak memperkenalkan kedua putera2 saja ini kepada tuan2.”
Sambil ia berpidato itu dipanggil oranglah kedua anak2nja jang sedang asjik bermain-main dibelakang. Dipegangnja seorang disebelah kirinja dan seorang lagi disebelah kanannja. Iapun meneruskan pidatonja.
„Tuan2 jang mulia! Inilah putera2 saja jang sebentar lagi akan dichitankan seperti jang sudah tuan2 ketahui terlebih dahulu. Jang sebelah kanan ini,” ia menundjuk kepada puteranja, „bernama Teuku Nja Arif dan jang seorang lagi Teuku Hassan. Semoga pada Teuku Hassan dan Teuku Nja Arif dianugerahi Jang Maha Kuasa umur serta rezeki jang tiada kurang2nja. Achirnja saja mengutjapkan beribu-ribu terima kasih atas kedatangan para tamu sekalian dan terimalah sekedar salam dari hati jang tulus ichlas dari saja kepada tuan2 jang sebentar lagi akan meninggalkan tempat perajaan ini.”
Seorang jang tinggi tegap menjambut pidato dokter jang mengharukan itu dengan utjapan terima kasih pula. Achirnja iapun mendoakan selamat kepada semua kelurga dokter Teuku Husin dan semoga sifat budiman tuan dokter Teuku Husin kepada seluruh penduduk kota akan dapat memberikan hiburan hati jang susah, awak jang tiada sehat.
Djam enam tepat tinggallah hanja keluarga dokter Teuku Husin sadja lagi didalam rumah jang penuh djuadah dan perkakas bunji2an itu. Ketika sepi hendak djatuh kemalam hari, kedua suami isteri jang bahagia itupun duduklah diberanda muka sambil bertjakap-tjakap.
„Aku gembira hari ini, karena didalam hati ketjilku kini telah tersimpan satu kejakinan. Kejakinan bahwa kedua putera itu akan hidup berdampingan selamanja.
„Mudah-mudahanlah,” djawab isterinja.
„Disamping itu gembira pula, karena telah terlepaslah niat dihati untuk mempersamakan Nja Arif dengan Hassan lahir dan batin. Seluruh penduduk Kutaradja sekarang telah mempersaksikan anak kita; mereka keduanja diperkenalkan kedepan chalajak ramai dan ketika itu djantungku makin keras berdebar. Firasat membisikkan kepadaku, bahwa anak2 kedua ini akan membuat sedjarah gemilang jang mengharumkan nama keluarga kita.”
Rokoknja jang sudah hampir habis diisap digantinja dengan jang baru. Dan dalam lamunan dihari-hari jang mendatang itu berbunjilah djam delapan, jaitu waktu untuk anak2 mereka masuk kekamar tidur.
Hari Raya tahun ini lebih meriah daripada Hari Raya tahun jang lalu. Sebab pada tahun ini banjak peladjar2 jang selama ini berada diluar daerah serentak pulang seakan-akan panggilan tanah tumpah darahnja memaksakan mereka kembali. Pemuda pemudi jang dikala itu berkumpul di Kutaradja menambah semarak dan meriah ibu kota selama hari2 lebaran. Teristimewa dirumah dokter Teuku Husin. Selain daripada kundjungan tetamu jang tak henti2nja kedua puteranja menambah meramaikan rumah keluarga itu. Pada hari itu mereka memakai pakaian jang sama, menampakkan adat dan budi jang serba sama pula. Dan ini pulalah jang memberikan kegembiraan seisi rumah. Kali ini tampaklah dengan djelas oleh dokter Teuku Husin dan isterinja, bahwa kedua anaknja itu sangat seia-sekata dan saling berkasih-kasihan. Keduanja berlari-lari kesana kemari dengan tiada djemu-djemunya. Dan orang2 jang datang mengundjungi Pak dokter semuanja memberikan dua matjam hadiah jang sama pula kepada kedua puteranja itu. Sehari-harian ia tinggal dirumah menantikan tamu jang datang dan pergi. Ia riang tiada terperikan, karena sekarang, ja sekaranglah ia mendapatkan bukti jang senjata-senjatanja daripada utjapan jang dulu. Jaitu kedua anaknja itu adalah sebagai pinang dibelah dua.
Dengan badju lurik mereka jang sama bahan dan potongannja, dibedakan mana jang tua dan mana jang muda. Pikirannja djauh mereka kelihatannja seakan-akan anak kembar jang tiada dapat melajang. Ia hendak melihat dengan segera hasil renungannja diwaktu-waktu jang lalu. Ia hendak melihat keduanja hidup sebagai orang berharga tempat rakjat meminta petundjuk2, tempat sisakit meminta obat.
…memang hasil2 renungan dokter jang budiman itu berbukti djuga kelak. Tuhan menentukan djalan sedjarah jang menggemilangkan nama keluarga dokter Teuku Husin, tapi, Tuhan menentukan pula bahwa sedjarah akan mendengar dan melihat segala-galanja itu menurut kalam jang ditulisnja.
Dan sedjarah ini akan didjalankan pula oleh kedua puteranja jang diasuhnja itu …
MENGHADAPI GELOMBANG PENDERITAAN.
Tiada seorang manusiapun berkuasa untuk menentukan apa jang akan terdjadi dikemudian hari. Soal ini adalah soal Jang Maha Esa dan Ialah hanja jang mampu untuk menentukan nasib seluruh dunia dengan suka dukanja. Memang ada orang2 pandai jang merasa dirinja dapat menguasai seluruh alam dengan pengetahuan jang didapatnja didunia ini. Tapi disamping timbunan pengetahuan jang tinggi2 itu bertumpuk-tumpuk ppula rahasia alam jang belum atau tidak dapat dibongkar oleh kepandaian manusia jang betapapun tadjamnja. Diantara manusia2 jang hidup didunia ini ada jang tidak sedar akan hal diatas. Diantaranja ada pula jang jakin bahwa sesuatu jang diselubungi oleh rahasia jang tidak dapat dikupas manusia adalah sudah mendjadi kekuasaan Jang Maha Mengetahui untuk menentukannja.
Dokter Teuku Husin adalah seorang dokter jang bidjaksana jang sudah berpengalaman lama dan berpengetahuan tinggi tentang banjak soal2 didalam dunia ini. Pendapatnja adalah djelas. Ia mempeladjari pengetahuan sedjauh ia dapat mempeladjari dan mejakininja, tapi dalam pelaksanaan dari pada kekuasaan sehari-hari, dalam pekerdjaannja, ia menemui kebenaran dari pada kekuasaan Ilahi. Tiada djarang ia sebagai seorang dokter menghadapi penderita2 sakit jang hendak mengembuskan nafasnja jang penghabisan. Dalam hal jang satu ini tiada kekuasaan ilmu pengetahuan dan manusia untuk melandjutkan usia si-sakit. Ia meninggal dan tiada kembali lagi. Soal mati adalah soal jang tiada dapat dihadapi manusia dengan ilmu pengetahuan. Inilah jang menjebabkan dokter Teuku Husin tawakal akan kekuatan jang tiada kelihatan dimatanja: jaitu kekuatan jang hanja dimiliki oleh jang Maha Kuasa.
Disamping berpengetahuan tinggi ia berkejakinan luas pula akan kekuasaan Allah Subhanahu Wa Taala atas seluruh alam maja ini. Inilah jang menjebabkan ia dihormati sebagai orang berilmu dan disegani sebagai orang Islam jang jakin akan kebesaran Tuhan Seru Sekalian Alam.
Seperti air jang menetes kedalam botol apabila ia dituangkan kedalamnja, demikianlah watak, pikir dan rasa dokter Teuku Husin diwarisnja kepada kedua anak2 jang ditjintainja itu. Sedjak ketjil mereka sudah diberi didikan jang baik; mereka bersekolah dan beladjar segala ilmu jang dapat dikeduk dari dunia ini; tapi merekapun tidak diasingkan dari pada pengetahuan dan kejakinan akan kebesaran Tuhannja. Gerak gerik dan tindakan Teuku Hassan dan Teuku Nja Arif adalah bajangan jang djelas dari pada tjara hidup ajah mereka itu. Dan siapakah jang akan menjangkal hal ini? Dari sedjak ketjil mereka ditjintai oleh kawan2 dan ibu2 lain sebagai anak2 jang pandai bergaul, dan suka menolong sesamanja. Dan benih berlian ini tumbuhlah dengan suburnja didalam djiwa kedua anak itu, sebagai bunga tumbuh didalam taman jang indah …
Achir tahun 1941 itu hudjan setiap hari membasahi bumi. Awan gelap meliputi seluruh dunia, karena dibenua Eropa sudah dua tahun lamanja terdjadi pertumpahan darah jang tidak mengenal kasihan. Negeri2 dipantai Pasipik dalam pada itu sudah mempersiap djumlah mesiu jang akan dilontarkan kedalam kantjah pertarungan untuk menghantjurkan kebudajaan manusia. Disebelah kiri, negeri Djepang menimbun kapal2 perang, sendjata, mesin terbang dan serdadu2 jang kelak akan melakukan peledakan besar2an untuk menang dalam pertarungan itu. Disebelah kanan, negeri Amerika jang perkasa itu telah mengadakan pula persiapannja. Dan ditengah2nja, terapung-apunglah Indonesia, negeri djadjahan Belanda, negeri dokter Teuku Husin dan isteri dan kedua anaknja, menantikan nasib jang ditulis oleh negara2 besar lainnja.
Setiap hari radio penuh dengan berita, negeri Barat terbakar dimakan oleh api mesiu. Setiap hari berdjedjer nama korban jang tiada kembali lagi kepangkuan ibu dan isterinja. Dan setiap hari tanah air kitapun menantikan lendakan jang akan datang, entah dari mana …Suram dan gelap Eropa Barat mendjalar djuga ketanah air. Setiap malam lampu diketjilkan, untuk persiapan2 bahaja serangan tiba2. Setiap detik suram dan gelappun turun didalam hati anak Indonesia jang sederhana itu.
Pada suatu petang jang semarak sampailah berita ketelinga penduduk tanah air Indonesia, bahwa pasukan udara Djepang menjerang perkapalan Amerika didekat laut Hawai. Serangan itu terkenal sebagai serangan diteluk Mutiara, jang mendjadi lontjeng isjarat pertarungan besar akan dimulai dikolong langit ini.
Dari Sabang sampai ke Merauke djantung bangsa Indonesia berdebar-debar mendengar bahwa suatu bangsa Asia tegak melawan bangsa kulit putih. Didalam hati berbisik harapan akan bebaslah bangsa Indonesia dari pada tindasan kulit putih dari abad mendjelang abad. Dan tiada sedikit jang mendoa agar jang Maha Kuasa melimpahkan kurnianja untuk melepaskan tanah tumpah darah dari belenggu genggaman kulit putih jang berabad-abad itu. Mesin2 terbang Djepang meluntjur dari satu tempat ketempat lain. Mereka terbang dari teluk Sulawesi meliwati gunung kinibalu di Borneo, singgah melemparkan bom diteluk Sabang dan menindjau keibu kota di Djakarta. Dalam pada itu teka-teki meliputi dada bangsa Indonesia …mungkinkah tuan2 Nippon akan segera datang dan melepaskan kita dari bahaja tindasan kulit putih …? Makin lama makin dekat djuga suara tapak serdadu2 Djepang berbaris kepintu gerbang kepulauan Nusantara. Ketika pada suatu hari kota Singapura, jang dinamakan bangsa Inggeris benteng dan urat nadinja di Timur Djauh, djatuh ketangan Djepang, pastilah sudah mereka akan berlabuh dikepulauan Indonesia.
Keadaan jang menggontjangkan itu menjebabkan dokter Teuku Husin kian hari kian bertambah pendiam. Suatu bisikan diterimanja dan dijakininja, bahwa atas dirinja akan terdjadi bentjana …Tapi kalau bentjana ini tiba, akan dihadapinja dengan ketabahan hati dan menjerahkan semuanja kepada Jang Amat Berkuasa. Ia mendoakan akan keselamatan anak2 dan isterinja. Dan pada suatu malam sedang surat kabar ribut membitjarakan akan berlabuhnja tentara Djepang di Tjirebon, Teuku dokter Husin membelai-belai rambutnja. Kesusahan hatinja terbajang diatas tangannja, mendjadi kenjataan: rambutnja mulai putih, dadanja mulai sesak.
Tapi kejakinan kepada Allah Taala menjebabkan ia tidak gentar sedikitpun menghadapi segala sesuatu jang mendatang. Kejakinannja teguh, bahwa ia akan dapat mengatasi kesulitan2 jang akan tiba. Dan harapannja ditudjukannja kepada kedua anaknja itu …
Serombongan kapal udara terbang diatas Sabang, kemudian membelok ke-Kutaradja, hilang kebatas laut sesudah mendjatuhkan beberapa pamplet.
Dan seminggu kemudian diseluruh kepulauan Indonesia berkibarlah bendera Hinomaru, bendera putih, merah bulat ditengah. Benda dan sekutunja telah menarik diri dari tanah jang harus dipertahankannja dan mulai saat itu terserahlah nasib seluruh bangsa kepada perlakuan bangsa jang baru menang itu. Sebagai menganugerahkan madu berlimpah-limpah kepada semut, demikianlah hari2 permulaan perlakuan bangsa Djepang terhadap rakjat jang dikuasainja. Lama kelamaan akan dibawalah rakjat tenggelam kedalam madu jang manis itu …
Pada suatu pagi dojter Teuku Husin dipanggil seorang pembesar Djepang dikantornja. Nasib apakah jang akan dialami dokter jang baik hati itu? Apakah kesalahannja? Dengan langkah jang tegap ia datang menghadap. Dua djam kemudian ia pulang, diterima oleh anak2 dan isterinja dengan pertanjaan disinar mata.
„Tidak”, djawabnja. „Tidak ada apa2 jang terdjadi atas diriku. Aku hanja ditawarkan untuk memimpin Palang Merah kemedan pertempuran di Birma. Tapi aku menolak karena pekerdjaan disini lebih banjak lagi. Achirnja dengan berbagai-bagai alasan aku diizinkan tinggal sementara waktu. Tapi djika dianggap perlu aku harus berangkat djuga kemedan perang itu. Berdoalah untuk keselamatan kita!” Utjapan ini dikeluarkannja dengan susah pajah. Sedjak itu hari kehari menanti-nantilah keluarga Teuku Husin nasib apakah jang akan menimpa mereka dikemudian hari.
Dari sehari kesehari tubuh Pak dokter bertambah kurus. Urat sjarafnja terganggu karena memikirkan hari jang akan tiba, dimana ia akan meninggalkan anak2 dan isterinja, pergi kemedan perang asing. Dan disana kelak …? Entahlah! Entah mati ditempat tawanan, entah mati ditembus peluru, entah mati kelaparan dan kesakitan dengan kuku terpendam kedalam lumpur dihutan-hutan lebat. Penjakit urat sjarafnja makin lama makin bertambah-tambah. Dan karena badannja makin lama makin lemah pula, terpaksalah ia beristirahat dan achirnja iapun dikeluarkan dari kantor kesehatan sebagai orang jang tidak dapat dipakai.
Habis manis sampah dibuang. Habis menghisap tenaga dan djernih, kini dikesampingkan karena tidak berguna lagi. Bukankah itu sudah tulisan jang tersirat dalam penghidupan didunia ini? Bukanlah tiada kemuliaan didunia ini, karena perbuatan dan kelakuan jang didjundjung oleh kemanusiaan tidak diberi penghargaan? Apakah lajak sebentuk intan permata akan dilemparkan kedalam kerandjang kotoran?
Telah tiga bulan lamanja dokter Teuku Husin berbaring ditempat tidurnja. Barang perhiasan ibu dokter makin sehari makin berkurang. Badan sakit makin sehari makin bertambah kurus pula. Pernah dokter Teuku Husin terkenang akan harapan jang diutjapkannja beberapa tahun jang lalu. Bahwa Hassan dan Arif akan mendjadi orang2 jang berbudi dan membalas terima kasih. Dan sedjarah ini akan tertulis djuga didalam pandangan matanja sendiri …Sesudah dokter Teuku Husin tak dapat lagi bekerdja, maka kedua puteranja jang pada waktu itu berumur kira2 lima belas tahun, masing2 bekerdjalah membanting tulang. Hassan mendjadi penterdjemah bahasa Indonesia-Djepang. Arif mendjadi pekerdja pada sebuah paberik minjak djarak. Kedua-duanja menundjukkan bakti jang sebesar2nja kepada orang tuanja. Dengan gadji mereka, mereka menanggung makan dan obat dengan tiada usah ditolong oleh orang2 lain. Kegembiraan hati melihat kegiatan kedua anaknja itu menjebabkan penjakit dokter jang telah mulai tua itu makin sehari makin sembuh. Mukanja sudah mulai kelihatan djernih dan badannja sudah mulai berisi kembali.
Beberapa bulan telah berlalu dengan tiada gangguan. Pada suatu hari, setahun setengah sesudah panggilannja jang pertama untuk menghadap kepada pembesar Djepang, maka dokter Teuku Husin diganggu lagi oleh sebuah berita jang mengedjutkan hatinja. Ia harus menghadap kembali. Pembesar Djepang itu tidak mau mendengar bahwa dokter Teuku Husin didalam keadaan sakit. Ia harus berangkat, menghadap, kalau tidak…Ja, kalau tidak …
Kekedjaman tentara pendudukan Djepang jang pada hari2 pertama sangat manis itu, kini bertambah memuntjak. Telah ratusan putera Atjeh mengorbankan dirinja didalam laut dekat Sabang untuk bekerdja dengan paksaan. Telah ribuan pemuda2 dari kampung digembala untuk didjadikan umpan peluru ditanah asingan Birma. Telah ribuan ja, ratusan ribu rakjat mati kelaparan, tiada berpakaian, tiada berumah jang baik. Penghidupan sedjak pendudukan Djepang dirasakan sebagai penghidupan didalam neraka dunia.
Memang rakjat Atjeh terkenal akan kesabarannja. Tapi djuga terkenal akan keberaniannja untuk menghadapi angkara murka. Dan didalam hati rakjat jang penuh kesabaran itu menjala-njalalah dendam chasumat jang tiada padam2nja. Tiap2 perbuatan djahanam akan mendapat balasannja. Itu adalah hukum didalam alam jang telah ditakdirkan Tuhan berlaku untuk semua machluknja.
Dengan langkah perlahan-lahan, hari itu djuga dokter Teuku Husin datang menghadap tuan Nippon mendengarkan nasib apa jang akan menimpa dirinja. Ia berdiri seorang diri didepan medja pembesar Djepang itu. Badannja gemetar karena kakinja belum tjukup kuat untuk menumpang tubuhnja. Tapi diteguhkannja imannja dan meminta se-banjak2-nja kepada Tuhan jang Maha Kuasa akan kekuatan. Dengan tenang didengarkannja keputusan, bahwa ia seminggu sesudah hari itu, harus berangkat ke-Birma bersama-sama tentara penjerbuan jang kedelapan untuk mengatur organisasi Palang Merah Djepang disana.
„Tapi, tuan saja…”.
„Djangan banjak bitjara,” djawab pembesar Djepang itu memotong pembitjaraan dokter Teuku Husin.
„Saja sedang sakit…”
„Djangan banjak bitjara dan djalankan kewadjiban,” demikian hardiknja kembali.
„Tuan dokter boleh pilih berangkat memenuhi kewadjiban tuan satu minggu lagi atau …ini …” Sambil berkata itu ditjabutnja pedang samurainja dan diatjungkannja sendjata itu kedepan mata dokter Teuku Husin.
Perlakuan jang demikian kasarnja belum pernah dialaminja. Dan kelakuan jang demikian biadab terhadap dirinja tidak akan dibiarkannja begitu sadja. Hatinja mendidih. Tapi pada waktu itu djuga terbajang olehnja isteri dan dua orang anaknja jang harus dibimbingnja…Belum waktu untuknja meninggalkan mereka itu……
Segala gerak-gerik dokter Teuku Husin dirasai djuga oleh pembesar itu. Hatinja mendjadi djengkel karena ia mendapat perlawanan walaupun tidak diutjapkan. Dihampirinja dokter jang masih sakit itu, ditolakkannja badan dokter jang lemah itu sehingga ia djatuh kelantai. Kemudian sambil tertawa bengis, pembesar itu berkata: „Kalau tuan dokter tidak suka dengan disiplin kita, salah tuan dokter sendiri. Maukah tuan bertjerai dengan anak2 dan isteri tuan? Ajo beri djawaban!
Hati dokter Teuku Husin menjala-njala dari dalam dan segala perkataan pembesar itu tidak didjawabnja. Ia diam sebagai patung jang menentang gelombang samudera.
Achirnja dibawa oranglah dokter Teuku Husin keluar. Perlahan-lahan ia melangkah menudju kerumah. Didepan kantor telah menunggu kedua anak2nja jang mengepit tangannja dari kiri kanan supaja djangan terdjatuh.
Hatinja agak berobat sedikit. Tapi dalam perdjalanan tiada sepatah katapun jang dikeluarkannja. Hassan melihat dari sudut, bahwa air mata telah membasahi keliling mata ajahnja. Iapun merasa sedih. Dan kesedihan jang dirasakan oleh Hassan pula achirnja oleh Teuku Nja Arif jang berdjalan disamping ajahnja dengan langkah perlahan-lahan.
Tiba ditangga rumah ibu telah menantikan pula dengan perasaan jang serba kusut. Dilihatnja ketiga2nja mengeluarkan air mata dan hatinjapun tak dapat menahan kesedihan. Air matanja membasahi kedua belah pipinja.
Seumur hidupnja dokter Teuku Husin belum pernah merasakan suasana sesedih sekarang ini. Kekedjaman tuan pembesar itu menjebabkan ia sekaligus mengambil putusan untuk mengutuk segala jang berbau Djepang ditanah airnja. Sedjak itu bertambah-tambahlah ia merasakan pukulan2 jang diterima kuli2 kereta api setiap djam diatas panggung dan badan mereka jang kurang makan itu. Setiap hari ia merasakan pula penderitaan ibu jang kehilangan anak dilautan teduh, berlajar membawa besi tua untuk keperluan perang Djepang. Setiap hari ia merasakan pula lebih dalam keperihan perut keluarga jang kekurangan makan, dikampung-kampung dan di-kota2 besar. Ia mendjadi pembentji segala jang murka dan mendjadi pembeli segala jang baik.
Suara hatinja mendapat tempat didalam hati isteri dan anak2nja…
Malam itu mereka duduk dibawah pelita jang sederhana. Listerik sudah lama tak djalan. Listerik hanja untuk tuan Nippon sadja. Demikianlah mereka bertjakap-tjakap memperbintjangkan beberapa soal jang menarik perhatian semuanja.
„Perlakuan orang Djepang jang berkuasa itu tidak dapat kutahan. Aku dianggapnja binatang jang harus tunduk kepada setiap perintahnja. Aku harus berangkat seminggu lagi ke Birma untuk Palang Merah Djepang. Dan kalau untuk menolak …dengan djalan lain aku ditjeraikan dengan kamu sekalian,” demikian dokter Teuku Husin mulai pembitjaraannja.
Semua menundjukkan kepalanja, karena mengerti apa jang dimaksud dengan istilah „dengan djalan lain” itu. Djepang itu tidak akan ragu-ragu untuk memotong leher seorang jang tidak menurut kemauannja. Dan kedjadian ini bukan sekali dua kali dilakukan Djepang. Mestikah nasib ini dialami pula oleh keluuarga dokter Teuku Husin jang malang itu?
Seminggu lagi hanja seminggu lagi mereka akan dapat bersama-sama; sudah itu mereka akan bertjerailah dengan ajah dan suami jang ditjintainja itu; bertjerai untuk selama-lamanja. Sebab dalam seminggu ini sudah harus didjalankan putusan: ke Birma …atau, ja atau mati …
Dalam pembitjaraan jang diliputi oleh air mata jang tak kundjung kering itu, tiba2 Teuku Hussan berdiri, lalu berkata dengan semangat: „Ajah harus memilih, ke Birma atau mati disamurai Djepang. Ah, itu putusan manusia jang belum dapat tetap seluruhnja, ajah. Saja mempunjai pandangan jang lain. Bagaimanakah kalau umpamanja ajah tidak mau ke-Birma dan tidak pula mau djatuh dibawah samurai Djepang jang kedjam itu?”
Semua tertjengang-tjengang memikirkan harapan baru itu. Mungkinkah itu dilaksanakan? Aduh, sungguh kalau dapat dilaksanakan, sungguh, inilah satu2nja djalan untuk mereka. Banjak benar pikiran jang silang siur didalam kepala mereka. Achirnja ajah berkata: „Baiklah, aku tidak sudi ke-Birma dan tidak sudi menemui adjal dipenggal Djepang durdjana itu. Kemudian apa jang hendak kuperbuat?
Semuanja kini memandang kepada Hassan. Dalam saat jang demikian sulitnja ini ia mendapat djalan untuk keselamatan mereka semua. Dalam keadaan jang rumit ini ia masih dapat berpikir tenang. Sungguh, dari sinar mata ibu jang penuh air mata kesedihan itu tertulis kebanggaan mempunjai anak seperti Hassan.
Hassan berkata pula dengan tenangnja: „Sedjak dahulu, sebelum ajah dipanggil untuk kedua kalinja, saja sudah mentjari-tjari djalan untuk mentjegah ajah dipanggil kembali. Saja jakin bahwa ajah akan diperlukan mereka untuk melandjutkan perangnja. Oleh sebab itu dari sedjak lama saja sudah bersedia-sedia menghadapi kesulitan ini. Dibelakang kandang kuda kita ada seorang kenalan saja. Hadji Daud. Kenalkah ajah dan ibu akan Hadji Daud?” Mereka mengangguk-angguk kepalanja.
„Hadji Daud adalah seorang penduduk Kutaradja jang sangat berterima kasih kepada dokter Teuku Husin. Sebelum Djepang masuk ditanah Atjeh ia pernah mendapat penjakit bisa dileher, jang akan menjeretnja keliang kubur. Berkat pertolongan dokter Teuku Husin penjakitnja sembuh. Sesudah itu anaknja jang bungsu diserang penjakit tipus. Dokter jang budiman itu djuga jang menjembuhkan anaknja jang sudah hampir tiada berharap itu. Dengan tiada perlu membajar sesenpun djuga.
Ketika Hassan mentjeritakan kepadanja hal2 jang menimpa diri ajahnja maka sedjak itu Hadji Daud mempersiapkan segala-galanja untuk memberi bantuan setjukupnja kepada orang jang sudah menolong dirinja dan anaknja itu.
„Ajah, Hadji Daud kini bekerdja sebagai tukang kuda pada seorang pembesar Djepang. Kalau sudah sampai waktunja ia akan memakai kuda untuk melarikan kita ke Selimeun, kurang lebih 42 km dari sini.”
Dokter Hussin mendengarkan semuanja dengan hati jang sangat riangnja. Ia riang, karena ia melihat djalan dapat melepaskan diri dari perlakuan Djepang jang durdjana itu. Tapi ia lebih riang, karena ia melihat benih jang ditanamkannja kedalam djiwa puteranja itu telah tumbuh. Hassan, anak seorang nelajan, telah menundjukkan pembalasan budi jang luhur membawa budi baik sampai titik njawanja jang terachir. Ia mengeluarkan air mata sambil tersedu-sedu.
„Mengapa ajah menangis,” tanja Hassan. „Maafkanlah saja kalau utjapan2 saja tidak mendapat persetudjuan ajah, atau kalau saja menjakitkan hati ajah.”
Dokter Teuku Husin memegang kepala Hassan, ditjiumnja dengan hidungnja jang penuh dengan air mata dan berkatalah ia perlahan-lahan: „Hassan anakku, kau!…kau …anak jang berbudi …!
Ibu dan Arifpun terharu akan perbuatan mereka itu dan masing2pun menangislah perlahan-lahan. Tiada berapa lama kemudian didapatlah persetudjuan. Hadji Daud besok akan membawa ajah ke Selimeum dengan kuda pembesar Djepang: ibu, Arif dan Hassan akan menjusul dibelakang berdjalan kaki. Segala sesuatu telah disiapkan. Selebihnja akan diserahkan kepada Jang Maha Melindungi.
Semua pekerdjaan jang akan dilakukan itu dikerdjakan dengan sangat berhati-hati, sebab kalau hal itu botjor maka nistjaja akan mati terbunuhlah sekeluarga itu.
Embun tebal jang melingkupi alam jang sedang tidur njenjak diparak siang, makin lama makin berkisar dihalau oleh hawa basah dan angin lalu jang membawa berita dinihari akan tiba. Burung lajang2 jang bertengger diatas pohon beringin dan pohon2 tjemara tiada sabar menantikan beduk subuh berbunji. Mereka tiada pula sabar menantikan tjahaja surja jang pertama menembus ranting2 kaju jang tumbuh rapat berdekatan. Tjahaja merah dikedjauhan jang timbul dianatara kaki gunung dan hutan lebat daerah Atjeh mengangkat dirinja makin lama makin djauh keatas. Sampai dipuntjak gunung hilanglah warna merah itu dan diganti oleh warna biru muda disepuh embun, dibawa berlarat-larat oleh angin pagi jang baru djaga dari peraduannja. Tiba2 serentak dengan teriak suara harimau membangunkan hutan, terdengar pula berbaris berganti2 suara beduk memerintahkan umat Islam untuk melakukan kewadjiban pertama hari ini. Dan djauh menghadap kegunung kelihatan ketjil sebuah bajangan hitam disaput hidjau pohon2an jang membajang kebumi. Langkahnja satu demi satu. Kepala ditundukkan …
Dua orang peladang rupanja pergi kegunung dengan seekor kuda. Jang seorang menunggang kuda itu, rupanja agak pajah. Jang seorang lagi menghela dari bawah. Berbarislah mereka perlahan2 menudju kegunung didepan mereka, kuda jang patuh itu tiada pula bertingkah didalam perdjalanan jang sukar itu. Rupanja ia mengerti bahwa iapun sedang melakukan tugas berat jang ditimpakan kepundaknja. Perdjalanan kedua peladang itu menudju ke-Selatan. Kalau hari telah terang tjuatja maka hilanglah mereka dari pemandangan mata. Entah sudah sampai dipuntjak gunung, entah sudah ditelan oleh perut hutan belukar, tapi jang terang ialah bahwa kedua anak manusia jang sederhana itu bersama dengan kudanja jang patuh, perlahan-lahan berkisar dari kota kekampung dari kampung kegunung meliwati hutan, lembah dan ngarai. Sedjauh mata memandang jang kelihatan oleh kedua peladang itu tiada lain dari pada pohon2an jang mengandung banjak buah2an jang lezat, suatu isjarat buat mereka untuk menikmati kelezatannja …
Ketika malam hendak merebut siang, disendja hari, maka djengkerik ditepi sawah dan burung2 ketjil dihutan berbunji pula, kini menjanjikan lagi selamat tinggal kepada tjuatja petang jang telah tidur digantikan segera oleh purnama raja. Didekat hutan djambu dua orang peladang jang telah berdjalan sehari-harian itu berhenti sebentar. Mereka diberi minuman oleh orang kampung jang berpondok ditepi hutan, kemudian melandjutkan perdjalanannja. Hanja setengah djam lagi. Dan kini tibalah mereka ditempat jang sudah ditentukan terlebih dahulu. Sebuah rumah teratak buruk, tapi kuat, djauh dari rumah2 jang lain berdiri, seakan-akan pendjaga kesunjian jang meradjalela disekitarnja.
Orang jang telah diatas kuda itu turun dan diapit kedalam oleh temannja. Ia didudukkan diatas sebuah balai2 kemudian iapun tergoleklah tiada bergerak-gerak. Kawannja jang kelihatan masih segar segera mengambil beberapa buah kelapa muda untuk disediakan airnja kepada kawannja jang masih terlentang di-balai2 itu.
Bintang tjemerlang menembus awan jang mulai gelap. Bulan purnama menjinarkan setengah tenaga karena disaput oleh awan. Burung hantu sedang mengarang lagu sambil mengetuk sepandjang malam. Dan derik djengkerik diiringi oleh suara kodok jang berumah ditepi tasik djauh dari rumah sunji itu. Udara segar dan tenang, tiada jang menggangu …
Sesudah agak djauh malam, maka orang jang masih kuat itu membentangkan sehelai tikar dibawah balai2 itu dan menggolekkan dirinja; sedjurus kemudian semua mendjadi hening. Mereka tertidur sunji sendiri ditengah-tengah hutan, ditemani oleh kepulan awan pegunungan dan suara bintang2 jang tidak berbahaja dipinggir hutan.
Keesokan harinja tiba pula dirumah sepi itu dua orang pemuda bersama seorang perempuan setengah umur. Mereka membawa perbekalan sekedarnja. Melihat air muka mereka jang suram itu, mereka rupanja sedang diliputi kemalangan. Tapi dalam pada itu terbajang pula tanda2 hati mereka jang tawakal akan kebesaran serta perlindungan Tuhan Jang Maha Kuasa dalam waktu2 jang sesukar ini.
Adapun ibu, Teuku Hassan dan Teuku Nja Arif, setelah ajah mereka berangkat dinihari menudju Selimeum bersama dengan Hadji Daud, menunggang kuda pembesar Djepang jang dibawa lari itu, keesokan harinja merekapun dengan diam2 meninggalkan Kutaradja dengan membawa sekedar persediaan untuk beberapa waktu lamanja. Kini mereka sudah sampai di Selimeum, ditempat mereka akan bersembunji selama Djepang masih berkuasa. Pada malam itu duduklah mereka sekeluarga ditambah pula dengan Hadji Daud jang setia itu. Mereka berhadap-hadapan. Pilu dan gembira berganti-ganti didala, hati mereka. Mereka merasa pilu karena sedjak kini mereka dihitung orang buruan jang sewaktu-waktu harus membajar keberanian melarikan diri itu dengan njawa mereka. Mereka merasa bahagia karena didalam penderitaan lahir bathin jang sehebat itu mereka dapat menanggung akibatnja bersama-sama.
Hadji Daud djuga menganggap dirinja mendjadi anggota keluarga dan turut merasakan apa jang dirasakan keluarga dokter Teuku Husin itu. Dalam kabut pikiran jang meliputi hati mereka semuanja, hanja satu djalan terbuka, jaitu kejakinan kepada Tuhan Jang Maha Kuasa, karena achirnja Ialah jang menentukan segala nasib, baik dan buruk.
Di Kutaradja tersebarlah berita dari mulut kemulut tentang kepergian keluarga dokter Teuku Husin dengan tiba2 sadja. Pembesar Djepang jang kedjam itu membalaskan dendamnja kepada anak buahnja jang lain. Beberapa orang disiksa dan dipaksa untuk memberi tahukan dimana dokter jang „tidak kenal disiplin” itu bersembunji. Beberapa pemuda jang tidak sudi menjelidiki tempat persembunjian dokter jang budiman itu, pulang kembali kekantor pembesar Djepang itu dengan berita bahwa mereka tidak menemui orang pelarian itu walaupun sudah letih ditjari dimana-mana. Demikianlah korban2 jang menjangkal dan menolak akan mentjari dan mendapatkan keluarga dokter Teuku Husin, mendapat siksaan dan hukuman jang berat. Tetapi walaupun daftar nama korban makin lama makin banjak, namun dokter Teuku Husin tetap tiada dapat ditjari …
Segala perabot rumah tangga jang ditinggalkan mereka disita dan buku2 dokter Teuku Husin dibakar pegawai2 Djepang. Seminggu lamanja ber-turut2 rumah dokter Teuku Husin jang telah kosong itu didjaga serdadu2. Tetapi penghuninja sudah terbang dan djiwa orang2 jang djaga tiada dapat dikekang dengan bajonet jang tadjam.
Dan demi keadilan jang berada ditangan Tuhan Seru Sekalian Alam tiada ketjurangan jang tidak mendapatkan hukumannja …!!!
Minggu pertama sedjak hilangnja dokter Teuku Husin dengan keluarga, dikerahkanlah oleh pemerintah Djepang didaerah Atjeh pasukan2 bersendjata lengkap untuk mentjari orang pelarian itu sampai kehutan-hutan. Sepasukan berangkat pula ke-Selatan menudju ke Selimeum. Mereka memakai djalan jang dipergunakan oleh Hadji Daud dan dokter jang malang itu ketika diwaktu fadjar muda meninggalkan Kutaradja. Dan tjelaka bagi dokter Teuku Husin itu, pasukan2 jang bersendjata lengkap itu sampai pula ke Selimeum dan memeriksa disegenap pendjuru kalau2 ada jang menjembunjikan dokter tersebut.
Disebuah kampung ditepi sungai berhentilah pasukan itu. Mereka kemudian menangkapi semua orang jang lalu lintas dan menanjai kalau2 mereka kenal akan orang2 baru jang datang kemari. Seorang anak muda jang kena tangkap ditanjai pula akan hal itu. Ia gugup dan kegugupannja mendjadi sebab ia lalu dihudjani antjaman dan pertanjaan2. Achirnja anak muda itu mengaku, bahwa didekat bukit ditepi hutan disebelah timur rel kereta api ada sekeluarga jang baru sadja tiba dari Kutaradja. Mereka setiap hari mendapat susu dari ajah anak muda itu untuk seorang tua jang sedang sakit.
Dengan segera berangkatlah pasukan itu menudju tempat jang ditundjukkan oleh pemuda jang telah gemetar sekudjur badannja itu. Dengan bengisnja semua buah2an di-kebun2 dan samak2 belukar dirambat mereka dengan bajonet terhunus dan dari djauh sudah bersedialah mereka untuk menghabisi njawa dokter Teuku Husin anak beranak.
Tjelaka…mengapakah anak muda itu membuka rahasia tempat persembunjian orang pelarian itu?
Dari djauh sudah kelihatan sebuah rumah sunji ditepi hutan djambu tempat ajah anak muda itu setiap pagi mengantarkan susu untuk dokter jang gering itu. Dengan suara jang menundjukkan kemenangan gemilang ber-teriak2lah serdadu2 itu dengan bajonet terhunus menudju rumah jang akan diserbunja.
Tjelaka…rumah sepi ini dan penghuninja akan musnalah oleh kekedjaman jang tiada terbatas itu. Tiada berapa lamanja sampailah mereka didepan rumah sunji itu. Perlahan mereka mengepung tempat itu. Dan dengan sebuah komando jang terpekik diudara, menjerbulah mereka kedalam tempat jang telah usang itu. Dinding2 dipetjah-petjahkan, beranda muka dihantjurkan dan semua perabot jang ada ditjintjang-tjintjang mereka. Kepuasan hati mereka terlaksana djuga…tetapi kepuasan hati untuk menangkap dokter Teuku Husin dan keluarganja tidak…Mereka menjerbu rumah kosong jang tertinggal. Mereka menjerbu tempat kediaman orang jang berdjiwa badja dan tiada kenal menjerah. Dan ketjewa akan hal ini, maka amarah merekapun lalu memuntjaklah. Seluruh rumah dan kebun disekitar kampung jang tertinggal itu dibakar mereka. Anak muda jang sial itupun turutlah dibakar bersama dengan rumah dokter Teuku Husin.
Untuk kesekian kalinja njawa putera Atjeh jang tiada bersalah, lenjap naik kelangit biru bersama-sama api jang membakar sebuah kampung jang tiada berdosa …
Ketika pasukan2 Djepang jang beristirahat ditepi sungai menangkapi tiap2 orang jang lalu dan menanjai tentang tempat persembunjian dokter Teuku Husin, maka seorang pemuda diantara orang2 jang tertangkap itu melihat kesempatan untuk melarikan diri dan mengadukan hal jang disaksikannja kepada Hadji Daud. Hadji Daud menjampaikan berita malang ini kepada keluarga dokter Teuku Husin dan dengan tiada membawa suatu apapun selain kain jang melekat dibadan mereka, berdjalanlah mereka tergesa-gesa melalui ngarai, sungai dan djurang keseberang gunung Silawa Djantan. Tuhan melindungi njawa orang jang tiada bersalah …! Dan penderitaan lahir jang berat mendjadi pertjobaan bagi keluarga jang budiman itu.
Djauh malam sampailah mereka ketempat persembunjian jang baru, dimana mereka didjaga dengan keras oleh semua orang jang berdekatan dengan penuh rasa kasih sajang.
Ketika keluarga dokter Teuku Husin jang diliputi perasaan damai dan kasih sajang itu berangkat mendaki gunung Silawa Djantan, maka pasukan2 Djepang dengan penuh rasa ketjewa dan nafsu binatang buas berangkat pulalah kembali kepangkalannja kearah Utara…
„Hassan, hari ini aku mengharap akan mendapat ikan jang agak besar, sebab ibu ingin benar ikan goreng jang besar,” demikian Nja Arid mulai berbitjara.
Mereka sedang duduk ditepi sungai. Pantjing terulur keair menantikan ikan jang terbesar mati tertawan.
„Akan kudoakan engkau supaja engkau dapat memantjing ikan jang besar. Dan aku djuga ingin memberikan ibu seekor udang jang besar pula. Ibu gemar akan udang bakar dimakan dengan sambel terasi.” Ke-dua2nja kemudian ber-pandang2an. Dengan harapan akan dapat memenuhi keinginan ibunja, duduklah mereka berdua ditepi sungai berdjam-djam lamanja …
Petang hari mereka membawa kampak dan parang masuk ke-bukit2 lebat untuk membelah kaju. Dan diwaktu musim potong padi mereka berdua telah berada pula ditengah-tengah sawah bersama-sama orang2 kampung disekitar gunung Silawa Djantan untuk mengumpulkan hasil. Segala keperluan makan dan rumah tangga diusahakan oleh mereka berdua. Hadji Daud jang setia itu setiap hari pergi mentjari obat dan mendjaga-djaga bahaja jang akan menimpa.
Demikianlah mereka hidup dari hari kehari dalam lindungan Tuhan Jang Maha Kuasa dihutan, djauh dari peradaban kota jang dibanggakan oleh manusia. Ketenteraman jang dibawa margasatwa didalam hutan dipegunungan biru djernih itu, menjembuhkan penjakit dokter Teuku Husin; setiap hari badannja bertambah kuat; achirnja sembuhlah ia sama sekali dan kuatlah ia berdiri untuk membantu penghidupan rumah tangga jang sederhana.
Penghidupan dikota besar dalam suasana hiruk pikuk lalu lintas sudah dilupakan. Djiwa orang desa jang sutji dari pada keserakahan hidup didunia bersemi didalam dada mereka. Mereka seakan-akan mendjadi orang2 lain. Orang2 jang baru lahir didunia dengan tiada mengenal ketjurangan jang meradjalela didaerah ramai.
Setiap hari Hadji Daud, ibu dan bapak dokter, Hassan dan Arif mentjutjurkan keringat tjang mendjelmakan bahan2 untuk melandjutkan hidup. Setiap hari kedua saudara itu berangkat djauh kehutan menebang kaju jang tinggi-tinggi diiringi angin melajang sampai kebawah; setiap hari mereka melihat air memertjik ditasik dan sungai membawa kotoran dari kota melalui hutan dan lembah untuk dilemparkan kelaut. Setiap hari mereka menikmati udara hidjau jang segar, muda laksana anak2 gembira, bermain dialam terbuka. Setiap hari bertambahlah keteguhan hati, makin lama makin mendjadi badja, achirnja keluarga dokter Teuku Husin dalam suasana orang buangan itu, mendapatkan sifat2 kesutjian manusia jang djarang didjumpai dalam pergaulan hidup manusia.
Dalam pada itu wadjah kedua pemuda jang setiap hari dibersihkan oleh air sungai dan ditimpa oleh sinar surja dari tjelah2 hutan, mendapatkan warna alam jang membajangkan kekuatan badja: merah terbakar, tabah menahan pukulan derita dan tendangan siksa …Djiwa mereka tumbuh, besar oleh keliling jang berwarna hidjau dipetang hari, merah fadjar diwaktu pagi dan kuning gemilang dikala purnama raja memantjarkan sinar emasnja kedalam air tasik jang menggenang ditengah-tengah kampung.
Berteman kitjauan burung sepandjang hari, bisik air melantjar riang dan lagu angin bermain diputjuk kaju, disinari oleh terik surja membakar tubuh disiang hari dan terkadang diusap oleh tjemerlang bintang serta tjuatja purnama diwaktu malam, hiduplah keluarga dokter Husin, aman dan tawakal dibawah lindungan Tuhan Jang Maha Kuasa.
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan kemudian menjusul tahun, kelaurga dokter Teuku Husin dengan tenang hidup, menanti, menanti dan menanti …
Selimeum diwaktu fadjar …
Waktu itu kota ketjil ini diliputi oleh kabut halus jang merupakan tirai tjitra jang bermain diatas awan. Pemandangan dari puntjak gunung sampai ketepi sungai dikakinja mendjadi samar2 oleh warna kelabu halus jang membentang didepan mata. Ajam berkokok riang, burung bernjanji gembira: binatang2 ketjil didalam hutan penuh ghairat berteriak-teriak menjambut pagi dan putjuk pohon2an gemetar riang dipukul angin.
Djauh, sangat djauh, antara terdengar dengan tiada berbunjilah bergenta-genta, beduk subuh, diiringi azan muballigh memudja Ilahi. Tukang sajur memikul djualannja menudju pasar, mengharapkan didalam hati: semoga hari ini rezeki akan dapat bertambah. Anak2 sekolah berdujun-dujun menudju stasiun, tempat mereka berkumpul dibawa kereta api ke Kutaradja. Kalau peluit kepala kereta berteriak membelah kesunjian jang mendjauhkan hati itu, berangkat kereta api perlahan-lahan, berkisar diatas djalan besi menudju ke-Utara. Ia berdjalan makin lama makin tjepat, laksana takut akan ditinggalkan waktu. Dan awan jang berwarna kelabu muda disaput embun pagi beraraklah perlahan-lahan naik keatas membuka tirai tjemerlang dikolong langit. Sekudjur perut gunung sampai kekakinja tiba2 mendjelma mendjadi biru …warna membawa harapan didalam hati jang penuh pertanjaan. Hutan kini terbuka luas, warnanja hidjau ditingkah warna kuning merah dan aneka lainnja, warna kesuma sedang mekar ditepi sungai, dipinggir tasik dan dikaki pohon2 raksasa. Sinar surja memandikan alam jang baru bangkit beradu dengan sinarnja pandjang melintar laksana garis lurus kebawah.
Legalah hati semua machluk Tuhan jang mentjari makan didalam alam terbuka. Hanja burung hantu jang takut, karena ia diliputi ketjurangan dan berteman gelita. Pada waktu itu terbentanglah suatu bukti dari peri hidup manusia seumumnja: jang murni gembira menjambut fadjar dan jang tjurang berkabung melihat tjuatja memberi tjahaja segenap pendjuru dunia.
Jang murni akan menang didalam pertarungan dan jang tjurang akan hilang ditimpa kegelapan jang menjerbu kedalam hatinja sendiri …
Sebagai fadjar menjingsing dikota ketjil Selimeum itu, demikian djuga hati umat manusia menghadapi penderitaan jang dialaminja setiap hari. Lamalah mereka sudah menanti-nanti, apabila akan datang fadjar didalam hati, fadjar jang meliputi seluruh bangsa jang menderita dibawah tindasan kekuatan Djepang jang mendurhaka. Harapan jang semula akan mati atau hilang terpendam itu, kemudian sebagai fadjar menjingsing kembali, bertukar mengambil warna hidjau dan biru, warna muda dan harapan …harapan akan terpenuhi tjita2 bangsa jang hendak melepaskan diri dari genggaman angkara murka. Makin lama ia makin terang bertjahaja-tjahaja, makin lama kabut tebal makin ditembus oleh sinar sutji jang dimiliki seluruh bangsa itu. Sampai tibalah masanja, fadjar membuka se-lebar2-nja lajar alam dan tjemerlanglah hari membawa rahmat didalam kalbu anak manusia …
Makin lama kemenangan2 jang didapat pihak Djepang makin surut djuga. Pertempuran diteluk Saipan menenggelamkan sebagian besar dari pada angkatan laut Djepang jang terkenal perkasa itu. Pasukan2 sekutu makin lama makin mendekat kepantai kepulauan Djepang. Pertempuran jang mengerikan dibatja dan didengar dari surat2 kabar dan radio. Dan dalam pada itu korban kebuasan „saudara2 tua” makin bertambah banjak djuga. „Peradjurit pekerdja” sedjumlah empat djuta hilang bersama-sama pekerdjaannja untuk kepentingan mesin perang Djepang. Serdadu2 Tentara Sukarela makin lama makin banjak djuga jang mendapatkan peladjaran bertempur seorang melawan seorang. Persediaan2 perang gerilja telah dilatih, semua tenaga penghabisan dikerahkan untuk mengadakan pembelaan atas hak rampasan jang tiada halal itu. Hari ini terdengar sepuluh mesin terbang Djepang ditembak djatuh, besok dua kapal perangnja tenggelam kedasar laut, lusa empat ribu serdadunja dikirim keneraka dan tiada lama kemudian terdengar kabar pemboman besar2an di-kota2 Djepang.
Harimau jang kena pukul mengamuk kekiri dan kekanan. Memakai kekuatannja jang penghabisan untuk dapat membalas dendam. Akan tetapi luka2nja terlalu berat untuk dapat hidup lebih lama. Tenaganja sudah lumpuh dan hanja sebentar lagi …matjan itu akan rebah ketanah, membawa bersama-samanja, tjelaka dan kesengsaraan jang disebarkannja dimana-mana. Demikianlah nasib saudara tua didepan pintu gerbang pertengahan abad kedua puluh itu.
Diatas kuburan matjan jang mati mendurhaka itu, kelak akan bersemilah kembang jang ditanam dengan deburan djantung harapan oleh bangsa Indonesia jang telah lama menanti-nanti …
Tiga setengah tahun lamanja rakjat Indonesia dari Sabang sampai ke Merauke menantikan hari matinja harimau jang kedjam itu. Dua setengah tahun lamanja dokter Teuku Husin dengan keluarga bersembunji sebagai orang buruan dihutan-hutan daerah Atjeh. Dua setengah tahun dalam mendjalankan pertjobaan jang teguh ia dan keluarganja dipelihara oleh Jang Maha Kuasa …
Mereka terlepas dari penderitaan rakjat lainnja, jang mati kelaparan dipulau Djawa, mati hanjut disamudera Hindia jang memetjah dipantai Minangkabau, mati dipukul didalam pendjara tahanan di-kota2 besar, dan mati dirumah sakit oleh karena tiada obat jang menjembuhkan.
Pada suatu pagi dikota-kota besar tersiarlah kabar bahwa peperangan dengan Djepang telah dihentikan. Bom atom telah ambil ratusan ribu putera2 Djepang dan bom atom ini bukanlah suatu sendjata jang dapat dilawan seterusnja. Semangat bushido, semangat kepahlawanan bangsa Djepang, untuk pertama kalinja menjerah kepada bom atom buatan manusia jang menjebarkan maut dengan tjepatnja. Putera2 „kajangan” meletakkan sendjata disegala medan pertempuran. Harimau buas telah menggelepar diatas tanah. Napasnja telah melajang. Tinggallah kini sedjarah jang dibuatnja selama tiga setengah tahun meradjalela ditempat-tempat dimana mereka menang perang.
Berita tentang penjerahan Djepang ini dengan tiada menantikan waktu jang lebih lama lagi, disambut oleh pemuda2 Indonesia dengan hangatnja.
Tanggal 17 Agustus 1945 tersebarlah dibawa angin keseluruh pendjuru tanah air, seruan bangsa Indonesia, seruan dari hati ketjilnja. „Dengan ini bangsa Indonesia menjatakan kemerdekaannja…” Indonesia merdeka! Indonesia merdeka! Dimana-mana njanjian ini berkumandang, dimana-mana ia disambut dengan kegembiraan jang tiada taranja.
Suara gembira ini melalui gunung, lembah dan ngarai, sungai dan lautan, sampai djuga kehutan djambu di Selimeum meliwati bukit rumput, turun dari puntjak gunung Silawa Djantan …singgah ditelinga keluarga dokter Teuku Husin.
„Alhamdulillah! Tuhan telah melindungi kita …!” demikian sambutan pertama dari dokter Teuku Husin jang diutjapkan dengan mata jang bersinar-sinar.
Sekaligus lenjaplah ketakutan akan di-buru2 oleh Djepang selama dua tahun ini. Kini merekapun mengadakan persiapan untuk kembali ke Kutaradja. Melihat tempat asal jang ditinggalkan dengan penuh duka-tjita itu. Ibu dokter serasa mendapat gunung emas mendengar berita kemerdekaan itu. Ia berdjandji akan memberikan segenap tenaganja kepada kepentingan tanah air dan bangsa untuk mempertahankan kemerdekaan jang sudah ditangan itu. Dan betapakah kedua putera dokter Teuku Husin: Nja Arif dan Hassan? Demi kepentingan Nusa dan Bangsa, mereka bersumpah didepan ibu bapaknja bahwa tenaga mereka lahir dan bathin akan mereka tjurahkan untuk kepentingan kemerdekaan dan mereka rela akan mendjadi korban sutji dari pada repolusi jang mengamuk itu. Demikianlah pada suatu petang jang semarak, keluarga dokter Teuku Husin berdjalan perlahan-lahan dengan langkah2 jang tetap menudju ke Utara. Djalan jang mereka pakai untuk kembali kekota ialah djalan jang mereka pergunakan dua tahun jang lalu, ketika mereka harus mempertaruhhkan njawa mereka untuk mendjaga kehormatan.
Di Kutaradja, terbajang sudah sinar tjahaja kegembiraan perdjuangan untuk menjampaikan tjita2 jang dikandung bertahun-tahun lamanja. Memang kemerdekaan adalah suatu milik jang sesutji-sutjinja. Tiada milik jang mengatasi kesutjiannja ini.
Lihatlah …Dalam waktu beberapa minggu sadja, berapakah sudah korban kemerdekaan jang djatuh? Ratusan anggota2 pasukan Djepang tewas dalam menindas kembali bangsa Indonesia jang bediri dihari-hari pertama kemerdekaannja. Dan untuk tebusan ini ratusan bahkan ribuan pemuda2 kita diseluruh pelosok Indonesia mengalirkan darahnja jang sutji untuk membajar kemerdekaan se-mahal2nja.
Di Atjeh Barat terdjadi pertempuran sengit melawan angkara murka Djepang jang masih mengatjau. Ditanah Karo sebelah Selatan Atjeh putera2 Indonesia jang perkasa gugur dengan pandji2 merah putih ditangannja. Dipulau Djawa setiap hari kemenangan ditebus dengan darah merah, darah pemuda dan rakjat jang tjinta akan kemerdekaannja. Melahan sampai ke-pedalaman2 Kalimantan jang tidak dikenal oleh sementara bangsa kita, berketjamuk revolusi jang menggontjangkan seluruh dunia. Darah merah membuat garis sedjarah. Jang sudah silam ialah pendjadjahan oleh Belanda dan Djepang; jang masih segar dan baru ialah kemerdekaan jang harus didukung dan didjundjung oleh putera2 bangsa sendiri. Dan dalam menarik garis merah ini semua bangsa Indonesia turut serta menjumbangkan tenaganja dalam membentuk organisasi rakjat jang akan dapat menghadapi segala kemungkinan jang tidak diingini di Kutaradja. Disemua lapangan dan keadaan kedua saudara itu mendapatkan bantuan jang njata. Mereka adalah pembimbing pendorong malah pelaksana dari pada pertahanan kemerdekaan di-ibu kota negeri Atjeh itu. Kepahlawanan mereka dalam menentukan sikap dan memimpin gerakan2 rakjat jang telah tersedia, dibuktikan oleh mereka. Seluruh rakjat di Kutaradja gembira melihat kembali dokternja jang budiman itu, kini ditambah dengan dua kuntum kembang bangsa tempat mereka semuanja menggantungkan harapannja. Kutaradja jang beberapa waktu jang lalu diliputi awan mendung abadi, kini disinari oleh bintang kedjora jang bertjahaja dari dalam dada kedua putera dokter Teuku Husin …
Dua bulan setelah kemerdekaan disiarkan seluruh pelosok tanah air, maka berketjamuklah pertempuran jang seru didaerah Selatan tanah Atjeh. Sesuai dengan panggilan ajahanda mereka, kedua anak muda dokter Teuku Husin menjediakan dirinja pula untuk diberangkatkan ke-Selatan guna memberikan sumbangan jang berguna pada pertempuran itu. Kedua mereka terdjun kedalam usaha2 jang dilakukan Palang Merah. Teuku Hassan memimpin dibelakang garis pertempuran dan Teuku Nja Arif mengikuti pasukan jang madju kedepan. Banjaklah darah jang mengalir, banjaklah air mata jang keluar dan banjak pulalah pelipur jang diberikan Teuku Hassan dan Teuku Nja Arif kepada penderita2.
Pada suatu petang jang agak mendung sedikit, musuh madju kedepan hendak mengepung pertahanan pasukan2 pembela tanah air. Didepan, komandan Teuku Ibrahim dengan pandji Sang Saka Dwiwarna ditangan kanan, menjerukan komando jang dita’ati oleh anak2 buahnja. Penjerangan dilakukan dari segala sudut. Mereka terdjerumus kedalam garis pertahanan musuh, sehingga sukar untuk mundur kembali.
Dalam hal jang demikian, maka tiada lain jang dapat dikerdjakan selain dari pada menjerbu dan menemui adjal sebagai kembang bangsa jang menjediakan segala sari dan keindahannja untuk menjemarakkan tanah tumpah darah. Teuku Ibrahim didepan benar komandan2 regu dikelilingnja dan dibelakangnja Teuku Nja Arif jang bertugas untuk menjelamatkan jang kena peluru dan petjahan mortir …Tiba2 dari segala sudut berbunjilah senapang mesin musuh menjerahkan pelurunja kesegenap pendjuru. Sepuluh orang pemuda telah rebah oleh sikatan jang tiada terduga-duga datangnja itu. Teuku Ibrahim memerintahkan: „Tembak …!” Api keluar memantjar-mantjar ketempat musuh. Achirnja bertjetjeranlah darah dilapangan pertempuran jang ketjil itu. Pahlawan2 bangsa jang masih remdja gugur semuanja, tiada ketjuali. Teuku Nja Arif membajar kemerdekaan dengan njawanja jang sutji: badannja ditembus oleh peluru senapang mesin, tertimbun daun2 tua jang gugur bersama2 dengan dirinja kebumi …Hanja seorang penjelidik jang masih dapat melarikan diri. Ia tiada serta bertempur dan melihat dari atas bukit segala apa jang telah terdjadi untuk dilaporkan kepada komandan jang bersangkutan …
Setelah pertempuran reda dan pasukan2 musuh mundur kembali kepangkalannja, maka diangkat oranglah djenazah2 jang telah terbaring itu kemarkas besar. Komandan Ibrahim, Nja Arif, Usman Alwi, Iskandar, Gunawan, dan beberapa peradjurit lainnja …
Dari wadjah mereka jang sudah dingin dan laju oleh ledakan peluru, masih mengintai semjum keridlaan jang mereka lepaskan dikala mereka mengembuskan nafas jang penghabisan. Ditangan kanan Teuku Ibrahim masih dipegangnja kuat2 bendera merah putih; rupanja sebelum ia tiwas perlahan-lahan bendera terlepas dan rebah ketanah seakan-akan turut berduka-tjita akan kedjadian jang menjedihkan ini.
Sebelas djenazah dibaringkan orang diudara terbuka dimuka markas PMI.
Teuku Hassan mengajunkan langkah, satu demi satu menudju kedepan. Matanja menatap djenazah Teuku Nja Arif, saudaranja jang setia dan budiman itu. Mukanja kelihatan putjat, tapi ketenangan hatinja dapat mengalahkan perasaan jang menimpa dirinja waktu itu. Ia berdjalan menudju djenazah Teuku Nja Arif. Lututnja berat hendak mengangkat badannja. Matanja berat untuk menatap dengan tegas saudaranja jang berbaring didepannja. Didekatinya Teuku Nja Arif, dipegangnja kepala jang sudah luka2 itu, kemudian diangkatnja, dibawanja kepipinja. Setitik air mata meleleh djatuh kebawah. Kepiluan hati jang meradjalela kini tidak dapat dikekangnja. Ia menangis tersedu-sedu. Pikirannja telah sampai dipangkuan ajah dan ibunja di Kutaradja. Disana mereka mendoakan keselamatan kedua anaknja. Kini seorang telah berlalu. Tiada berita jang disampaikan.
Sedjurus kemudian tenanglah sekeliling markas PMI itu. Djenazah2 dibawa kepinggir sungai, untuk dimandikan bersih2. Teuku Hassan memerintahkan supaja malam itu djuga semua djenazah jang berasal dari Kutaradja dikembalikan. Ia sendiri jang membawa iringan2 truck jang akan mengangkut djenazah2 itu dimalam hari.
Ketika tedja menjangkut diatas hutan tanah Gajo dan Alas diperut daerah Atjeh, maka berangkatlah enam djenazah jang berasal dari Kutaradja menudju ibu kota. Dengan susah pajah sampailah iringan2 itu keesokan harinja pagi2 benar di Kutaradja. Semua penduduk telah diberitahukan akan kedjadian itu. Orang pertama jang menjampaikan berita itu kepada dokter Husin ialah Hadji Daud jang tugasnja berdjaga-djaga ditepi kota. Dengan kudanja jang setia itu ia segera sampai dokter Teuku Husin dan menjampaikan dengan hati jang tiada terkedjut dan pilu mendengar puteranja tiada lagi. Siapakah jang dapat menahan hati, mengetahui bahwa puteranja tidak akan lagi berada disampingnja sedjak ia kelak akan dikebumikan orang? Ibu dokter ketika itu djuga pingsan tiada mengenal diri. Akan tetapi dokter Teuku Husin masih mempunjai kekuatan karena pertimbangan2 jang lain. Ia mempertimbangkan bahwa adalah sudah sewadjarnja, kalau kita dengan ridla hati melepaskan putera kita sebagai korban bangsa jang hendak mempertahankan kemerdekaan.
Ditengah-tengah ruangan depan terbudjur djenazah Teuku Nja Arif dipersaksikan oleh semua orang ternama dari segenap pendjuru kota. Handai tolan berdatanglah menjampaikan belasungkawa jang tiada putus2nja. Ibu dan ajah bersama Teuku Hassan menghadapi djenazah Teuku Nja Arif untuk penghabisan kalinja. Ketenangan meliputi udara petang itu. Perasaan kesedihan terbajang pada wadjah sanak keluarga dan teman2 jang mengenal mendiang Teuku Nja Arif. Dan ketika djenazah diangkut orang ketaman Pahlawan, ketenangan djuga selandjutnja menemani satria muda itu menudju tempat peristirahatannja jang terachir. Pidato pendek jang menghiasi kuburannja bersama bunga karang mawar putih jang besar mendjadi kenang2an terachir bagi rakjat Atjeh jang dibelanja dengan djiwa raganja.
Kelam membelam malam …dikedjauhan memantjar dua tiga bintang jang tidak djemu. Dan bulan Sabit mengintai dari balik pohon asam, mendjatuhkan sinarnja jang laju kesudut kamar melalui djendela. Sinarnja tiada berfaedah besar, untuk ketiga orang jang diliputi duka nestapa itu, sebab sebuah lampu stormking mengalahkan seluruh tjahaja bulan jang lemah itu. Mereka duduk, kepala terkulai kebawah; jang seorang memilih-milih sebatang rokok ditangan, jang seorang lagi meremas-remas tangan dan seorang perempuan setengah tua mentjoba mengeringkan air matanja.
Sedjak hari kemarin, sedjak pertjeraian abadi dengan putera jang tertjinta, ibu dan bapak dokter kelihatan bertambah tua setahun. Rambut putih mengurai kebawah mendjadi saksi betapa banjaknja mereka berdua suami isteri telah mengenjam garam pengalaman dan mendukung penderitaan dipundaknja. Ditelinga mereka hari itu tiada burung jang bernjanji merdu, tiada angin jang dapat membelai hati mereka, tiada suara musik riang jang dapat mendjadi obat kepiluan hati mereka. Untuk mereka berdua jang sudah djemu menahan gelombang penderitaan hanja sedjenak dapat dihibur oleh perasaan, bahwa disamping mereka kini masih hidup seorang jang dapat menggantikan putera kandungnja. Seorang jang telah membuktikan dengan setulus-tulusnja apa dan siap ia terhadap dokter Teuku Husin dan isterinja; orang itu ialah Teuku Hassan.
Esok harinja tiba pulalah waktunja Teuku Hassan harus meninggalkan rumah orang tuanja. Ia harus kembali kemedan pertempuran menggantikan kewadjiban jang dipikul oleh mendiang saudaranja jang telah gugur itu.
„Ajah dan ibu,” demikian Teuku Hassan mengutjapkan kata2nja. „Ajah dan ibu djanganlah sekali-kali berduka-tjita terus menerus. Adalah sudah terletak ditangan Tuhan Jang Maha Kuasa akan umur seseorang. Jang perlu bagi kita—sebagaimana nasihat ajah dan ibu kepada kami—ialah, tawakal dan menjerah kepada segala sesuatu jang ditakdirkannja.” Kedua orang tua itu mendengarkan dengan hati jang seakan-akan diremuk-remuk.
„Sekarang, izinkanlah saja berlalu melakukan kewadjiban, dan haraplah supaja ibu dan ajah mengiringi saja dengan doa selamat. Saja akan tetap berdjuang menghadapi segala kesukaran dengan petua dan doa ibu dan ajah. Dan segera apabila kesempatan mengizinkan saja akan kembali mengundjungi ibu dan ajah. Bersabarlah ibu dan ajah, bersabarlahh, tiada korban jang sia-sia.”
Tiada sepatah katapun jang dapat keluar dari mulut kedua orang tua jang sudah djemu itu. Hanja mata jang penuh kasih sajang mengiringi Teuku Hassan sampai keambang pintu …
Pertempuran makin lama makin dahsjat djuga. Dipulau Djawa telah diadakan pertempuran besar2an jang memakan puluhan ribu putera2 negara. Untuk pertama kalinja dalam sedjarah semua bangsa Indonesia diseluruh pendjuru dunia turut serta mempertahankan tanah air dari antjaman pendjadjahan kembali. Teuku Hassan kini memimpin pasukan berani mati jang bergerak kemana-mana didaerah Atjeh. Dari Utara ke Selatan, dari Barat ke Timur ia bertugas memperbesar daja perlawanan dan achirnja habislah semua pasukan2 Djepang tergulung didaerah Atjeh.
Di Kutaradja dokter Teuku Husin jang makin lama bertambah tua itu giat mengerahkan pasukan2 Palang Merah untuk memperbaiki kesehatan rakjat dan membantu peradjurit2 jang luka. Didalam pekerdjaannja jang berat itu ia dibantu dengan sepenuh tenaga oleh isterinja. Dalam semua tindak tanduk jang dikerdjakan mereka itu, mereka mendapat semangat dari pada kepahlawanan puteranja jang telah gugur dan ilham bekerdja giat dari puteranja Hassan jang bertualang diseluruh daerah Atjeh untuk menghalau pengatjau jang mengantjam kemerdekaan negara.
Pada suatu minggu jang tenang dokter Teuku Husin menerima seputjuk surat dari Teuku Hassan di Atjeh Barat:
Paduka ajahanda dan ibunda jang kutjintai,
Berkat doa ibu dan ajah jang mengiringi anakanda dalam sukaduka bertualang dari sini kesana dan dari sana kesini, untuk memenuhi kewadjiban kepada negara, maka anakanda pada waktu ini berada dalam sehat wal’afiat sadja. Tiada seharipun anakanda dapat melupakan petua dan budi baik ajah bunda sehingga seakan-akan itulah ganti diri saudara anakanda Teuku Nja Arif mengikuti anakanda disamping anakanda dalam setiap detik.
Pada waktu anakanda menulis surat ini anakanda sedang berada dipondok kami, tempat dingin dibawah rindang pohon asam. Besok anakanda dipindahkan kekota Medan untuk menghadapi perlawanan jang lebih penting lagi. Semoga ajah bunda sudi mengiringi anakanda lagi dengan doa dan petua untuk pegangan anakanda dalam menghadapi bahaja jang mengantjam. Besok anakanda akan meninggalkan tanah Atjeh bersama pasukan „Teuku Umar” berangkat menudju kota Medan. Hendaknjalah ajah bunda mendjadi tahu adanja. Bersama ini anakanda kirimkan djuga setangkai bunga mawar putih, dipetik dari hutan tua, untuk dilantjapkan diatas kepala pusara saudara anakanda di Taman Pahlawan.
Sekianlah, sekali lagi anakanda mendoakan selamat sedjahtera kepada ajah dan bunda, dan untuk anakanda mohon diberi doa dan fatwa sekedar pendjaga dalam detik2 jang berbahaja.
Sembah sudjud anakanda jang merindukan ajah-bunda:
Teuku Hassan
Setelah selesai membatja surat, kedua orang tua itupun berpandang-pandanganlah. Mereka gembira dan bangga mendapatkan seorang anak jang dengan djelas menundjukkan bukti2 membalas budi jang baik. Hati jang tiada berpegangan kini seakan-akan mendapat tjahaja kembali. Hanja Hassanlah tempat pelipur lara. Jang lain tiada sanggup memberikan sinari kepada djiwa kedua orang tua jang sudah suram itu. Malam itu mereka duduk berdua. Suara sado didepan rumah membangunkan mereka dari lamunan jang pandjang. „Kalau2 Hassan tiwas pula dalam pertempuran2 jang berbahaja. Kalau2 ia ditembus peluru jang tiada mengenal kasihan …” Berbagai-bagai pikiran jang menakutkan hinggap dikepala mereka itu. Achirnja mereka berembuklah untuk mengikuti Teuku Hassan dimana sadja ia berada. Sebab hanja dengan Teuku Hassanlah mereka dapat menikmati tjahaja matahari dan sinar bulan jang merajukan kalbu. Jang lain telah lama padam akan tiada menjala lagi. Putusan telah matang2 dipertimbangkan; hanja menantikan saat jang baiklah mereka akan berangkat menudju kekota Medan untuk dapat hidup bersama dalam suka-duka dengan puteranja Hassan. Setiap hari djamnja dirasakan amat pandjang, setiap minggu harinja amat lama, menantikan saat mereka akan bertemu dengan pelipur hati mereka kembali: Teuku Hassan, putera jang sedar akan kasih orang tua dan membalasnja dengan setulus hati pula …
Pertempuran disekitar kota melawan pasukan2 Inggeris jang sudah mendarat makin lama makin mendjadi seru. Setiap malam siaran kerontjong dari radio jang merdu mendengar ditelinga, disela oleh letusan mortir jang mentjelakakan penduduk kota. Banjak rakjat biasa sudah mengungsi keluar kota. Tapi diantaranja banjak djuga jang masih menetap didalam kota. Dikala itu tiada terdjamin keamanan sedikitpun djuga. Banjak putera2 bangsa jang mati terbunuh dengan tiada bersalah satu apapun djuga. Diantaranja banjak pula jang melawan mati2an.
Petang Djumat sesudah selesai dimesdjid raja Teuku Hassan pergi setjepat mungkin ke Pantjur Batu untuk memberikan bantuan kepada pasukan Lubis jang telah terdjepit dari dua djurusan. Kapten Lubis kena tertembak dibagian suhu sehingga dia tiada berdaja untuk memimpin perdjuangan seterusnja. Untunglah datang Teuku Hassan mengambil pimpinan dan meneruskan perlawanan. Sampai sendjakala, ketika beduk maghrib mengisjaratkan orang Islam untuk bersembahjang, barulah letusan api mesiu jang penghabisan berhenti. Dari pihak musuh lima belas korban jang djatuh, sedang Teuku Hassan kehilangan empat orang anak buah jang setia. Untunglah hari itu pertempuran dapat selesai. Sebab sungguh banjak lagi jang mesti dipikirkan oleh Teuku Hassan. Kawannja kapten Lubis harus dirawat dirumah sakit dan lusa ajah dan ibunja akan datang untuk menetap dikota Medan. Hatinja sungguh sangat gembira. Oleh sebab itu untuk menundjukkan hormat jang setinggi-tingginja disediakanlah sebuah rumah sederhana dan sekedar djamuan bagi kedatangan kedua orang tua jang dikasihinja itu. Dalam bajangannja sudah terlibat betapa sentosanja ia hidup dirumah ditemani oleh ajah jang bidjaksana dan ibu jang mentjintainja segenap hati. Lusa, hari Minggu, anak buahnja akan mendapat istirahat sehari lamanja; mereka akan bersama-sama Teuku Hassan dan orang tuanja makan2 dirumah untuk menghormati kedatangan dokter Teuku Husin dan isterinja. Mudah2an djanganlah hendaknja ada suasana jang mengganggu dan menjebabkan ia berhalangan untuk menghadiri sendiri perajaan jang diaturnja guna menghormati orang tuanja itu. Dengan hati jang berdebar-debar dinantikanlah hari Minggu jang akan menemukan ia dengan orang tuanja…
Hari Minggu pagi2 benar telah tersedia makanan dan minuman setjukupnja untuk menerima kedatangan dokter Teuku Husin dan isterinja. Pukul dua siang nanti akan tibalah dikota Medan dokter jang dikenal di Atjeh sebagai dokter rakjat itu untuk menetap bersama-sama dengan puteranja. Hati Hassan tidak berhentinja memukul-mukul, menantikan detik ia akan melihat kembali wadjah ajah dan ibunja itu. Semua anak buah pasukan „Teuku Umar” dengan komandannja Hassan sendiri, sudah hadir menantikan kedatanagan orang2 jang dihormati itu. Pukul sembilan pagi terdengarlah dari djurusan Utara lotjeng geredja berbunji berkali-kali. Suaranja dibawa angin, merdu bunjinja, mengenangkan kita kepada tanda perpisahan radja2 zaman purbakala. Djam sebelas siang sedang matahari bersinar deras, melajang-lajanglah diatas udara sebuah mesin terbang pemburu Inggeris. Sudah sebulan lamanja mesin terbang jang sedemikian tiada kelihatan diatas udara kota Medan. Apakah jang akan terdjadi?
Hari pukul dua belas, matahari telah tepat diatas kepala. Teuku Hassan diperingatkan oleh perasaan seakan-akan ada jang mengatjaukan keadaan sekarang ini. Suasana kota jang tenang mendjadi lebih tenang, mendjadi sepi, dan kesepian itu seakan-akan isjarat badai akan mengamuk sekedjap lagi …
Lontjeng berbunji sekali. Teuku Hassan mengeluh kepanasan. Diambilnja setjangkir air dingin, diangkatnja kemulutnja …tiba2 terdengarlah suara senapang mesin menjikat berkali-kali. Suara ini dibalas pula oleh suara senapang lain jang berbalas-balasan. Dalam sekedjap mata maka timbullah huru hara didalam kota. Hassan terkedjut. Diangkatnja telepon untuk mentjari keterangan akan sebab2 pertempuran itu, ia mendapat kabar, bahwa di Sungai Mati, tiada djauh dari tempatnja itu telah berketjamuk pula perkelahian antara pasukan2 Inggeris dengan pasukan2 „Matjan Merah”. Dengan tiada berpikir pandjang diperintahkanlah oleh Teuku Hassan kepada anak buahnja untuk memberikan bantuan dengan segera. Segala tjita2nja untuk bertemu dengan orang tuanja dilepaskannja bersama-sama dengan asap rokoknja keawang-awang. Ia sendiri memimpin pasukan jang akan memberi bantuan itu. Dalam sekedjap waktu sampailah mereka dibelakang garis perkelahian dimana ia segera menjusun siasat baru.
Kedatangan pasukan Teuku Hassan adalah memang sangat diharapkan. Kalau tidak akan hantjurlah seluruh kekuatan Republik jang berhadapan dengan kekuatan tentera musuh jang berlipat ganda itu. Empat, lima djam, ja, sampai malam hari pertempuran masih berdjalan terus. Tiba2 hati Teuku Hassan bertjabang dua. Bagaimanakah dengan orang tuanja jang akan disambutnja itu? Apakah mereka tiada ketjewa karena tiada melihat seorangpun didalam rumah untuk menerima mereka itu? Tapi kalau ia hanja memikirkan kepentingan dirinja sendiri apakah jang akan terdjadi dengan pasukan jang telah terkepung ini? Dengan senapang jang berisi peluru ia berpikir sedjenak. Perlahan-lahan dipasangnja penolak senapang dan kini siaplah ia untuk membidik. Hatinja telah tetap . dengan djiwa raganja akan dipertahankannja kedudukan Republik di Sungai Mati itu. Ini lebih penting dari pada bertemu dengan orang tuanja!
Alangkah gembira hatinja ketika mengetahui dan mengalami bahwa ia dapat mengalahkan perasaannja jang tidak membawa faedah kepada tanah air itu. Memang, memang ia sangat tjinta kepada orang tuanja, akan tetapi njawa puluhan orang pedjuang tidak boleh dibiarkan untuk kepentingan orang tua, jang berarti kepentingan dirinja sendiri. Ketika djam sembilan malam berbunji keras diatas puntjak geredja, meletuslah peluru mortir jang penghabisan, djatuh ketengah ladang diluar kota.
Pertempuran selesai, dan setelah mengatur anak buah jang tiada kurang suatu apa, pergilah mereka beramai-ramai bergesa-gesa pulang kerumah Teuku Hassan. Dirumah telah menanti ibu dan ajah. Alangkah nikmatnja bertemu dengan orang2 jang dikasihi dengan segenap djiwa raga … Sampai diambang pintu Teuku Hassan dengan segera berdatang sembah memohon maaf sebanjak-banjaknja karena tiada dapat menaruh segenap perhatian atas kedatangan orang tuanja.
„Saja telah mengetahui ibu dan ajah akan tiba pukul dua tadi. Tapi saja harus mengirimkan bala bantuan untuk menjelesaikan pertempuran. Memang, maafkan saja ibu dan ajah …, dalam pertempuran tadi saja bimbang dan mempertimbangkan matang2 apakah saja harus terus bertempur atau menarik diri untuk menjusul ibu dan ajah. Ampunkan saja, karena saja terpaksa memilih tinggal untuk mati bersama-sama teman2 dalam pertempuran, kalau mesti …!”
„Maafkan saja ibu dan ajah!” demikian utjapan Teuku Hassan dengan perasaan jang amat menjesal.
Ibunda dan ajahnja memegang kepalanja, lalu berkata perlahan-lahan: „Berdirilah pahlawan, berdirilah. Kami bangga karena kau mendahului kewadjiban kepada negara dari pada kewadjiban kepada kehendak dirimu sendiri. Kepada orang2 jang sematjam engkaulah, anakku, nasib tanah air dapat dipertaruhkan. Engkau telah membuktikan untuk kesekian kalinja, bahwa engkau adalah seorang pahlawan jang berbudi tinggi!”
Sekali ini air mata jang mengalir dari kedua belah mata orang tua itu ialah air mata gembira jang telah lama ditahan-tahan.
„Bangkitlah anakku, bangkitlah, dan terimalah sedjak hari ini, sedjak hari kami, orang tuamu ini, mengindjakkan kaki dirumahmu, terimalah dari kami penggantian nama jang harus kami resmikan: Terimalah nama baru, sesuai dengan watak dan budimu. Teuku Hassan Djohan Pahlawan. Pakailah nama ini sebagai pusaka jang kuberikan kepada pemuda jang selama hidupku akan mendapat tempat didalam hatiku!”
Teuku Hassan sangat terharu akan utjapan ajahnja itu. Malam itu pesta dilandjutkan. Hati jang gembira digembirakan lagi oleh musik, makan dan minum sederhana sebagai sambutan akan kedatangan orang tuanja. Dalam sebuah pidato penutup dokter Teuku Husin berkata: „Hadirin jang mulia! Hari ini adalah hari pertama saja mengindjakkan kaki dikota Medan: saja sampaikan salam terima kasih kepada hadirin jang telah baik hati menjatakan turut riang akan kedatangan saja. Soal ini tidak berapa penting saja anggap. Jang penting bagi kita ialah meresmikan nama Pahlawan Muda jang memilih mati bersama-sama kawan2nja dimedan pertarungan dari pada datang melihat orang tuanja. Orang ini ialah Teuku Hassan Djohan Pahlawan: namanja sesuai dengan watak dan budinja. Saja kira tiada seorangpun diantara tuan2 jang tidak setudju akan gelar jang sudah sepantasnja itu!” Semuanja dengan serentak menjatakan persetudjuannja …
Dan dengan peresmian namanja sebagai Teuku Hassan Djohan Pahlawan selesailah perajaan sederhana jang tinggal melekat didalam hati sampai bertahun-tahun lamanja.
Memang sebenarnjalah terbukti utjapan Bung Karno, bahwa mendapatkan kemerdekaan adalah sukar, tetapi mempertahankan kemerdekaan jang telah didapat adalah lebih sukar! Sedjak hampir dua tahun bergerak didalam alam kemerdekaan, telah puluhan ribu putera2 remadja mengalirkan darahnja untuk mempertahankan kemerdekaan. Segenap sudut tanah air diantjam oleh musuh untuk ditundukkan kembali kebawah duli Sang Pendjadjahan. Ketabahan hati rakjat Indonesia telah diudji dua tahun itu tidaklah dapat dibalikkan dengan sendjata jang setadjam-tadjamnja. Dan karena sendjata musuh tiada berdaja untuk menundukkan bangsa Indonesia maka ditjarilah djalan damai untuk mentjoba melemahkan semangat pedjuang2 tanah tumpah darah.
Maka dilitjinkan oranglah pada kurang-lebih pertengahan tahun 1947 djalan kesuatu desa didekat Tjirebon, tempat pihak Indonesia dan Belanda akan berunding untuk mengachiri permusuhan. Djalanan kedesa itu sudah litjin, dan dibulan April ketika musim hudjan selesai, berundinglah pemimpin Indonesia dengan pemimpin Belanda didesa Linggardjati itu. Sedang persetudjuan ditandatangani, disana sini berdjatuhan djuga korban dari kedua belah pihak: suatu tanda bahwa tinta penanda tanganan jang belum kering perdjandjian jang diikrarkan antara manusia dengan manusia mudah dapat dipidjak-pidjak, djikalau kepentingan terdesak kedalam bahaja. Sekali lagi suatu bukti, bahwa kemerdekaan jang telah dimiliki sukar dipertahankan! Dipulau Djawa, ditengah-tengah hutan dan desa pulau Sumatera dan lain2 bagian tanah air kita timbullah pahlawan2 jang menjemarakkan sedjarah gemilang dalam buku riwajat kemerdekaan Indonesia. Ada jang meneriakkan „Tiga kali Merdeka” ketika pedang sedang djatuh memenggal batang lehernja. Ada jang tiada sudi ditutup matanja ketika ia digiring ketepi pantai untuk ditembak mati: sebab pahlawan2 itu—untuk penghabisan kali, sambil melihat permainan gelombang tanah airnja memetjah kepantai—hendak melihat keindahan alam negerinja untuk dibawanja sebagai kenangan penghabisan kepangkuan kami.
Disamping itu ribuan, ja, puluhan ribu jang menderita siksaan didalam pendjara, didalam tawanan semuanja dihadapi dengan ketenangan laksana hutan beradu …
Untuk kembali ke Linggardjati jang sudah selesai dihiasi kertas2 perundingan: setelah kertas2 tertulis ditempelkan dimana-mana untuk disampaikan kemata rakjat maka dirobek-robeklah oleh musuh kertas itu djuga …Kemudian …Tank, mesin terbang, pasukan berkuda dan segala kekuatan sendjata musuh, kini dikerahkan untuk menghantjurkan rakjat Indonesia jang „keras kepala” itu. Sebagai ular mendjalar kemana-mana, mendjalarlah sendjata Belanda ke-kota2 jang menutup mulut bangsa Indonesia jang hendak bersuara. Semua kota besar hampir diduduki. Semua kekajaan bangsa dimiliki. Jang tidak dapat dimiliki dan diduduki ialah semangat dan tekad hendak mempertahankan kemerdekaan jang sudah mendjadi hak mutlak bangsa.
Dari kota berlarianlah orang ke-desa, dari desa ke-hutan ke-gunung-gunung dan bukit2. Makin lama makin terdesaklah rakjat Indonesia jang bersendjatakan bambu runtjing kedalam semak2 belukar tempat hewan dan pohon2an hidup subur.
Kota Medanpun tiada ketinggalan mengalami sedjarah jang pahit itu. Kekuatan pertahanan kota Medan, betapapun djuga gagah perkasanja pahlawan2 muda itu, ternjata tidak berdaja. Mereka dilumpuhkan oleh mesin jang mendjalankan sendjata berat, oleh serdadu2 bajaran jang tiada sedar, bahwa mereka sedang membunuhi sesamanja. Pahlawan2 jang hanja bersendjatakan sekedar dua tiga putjuk senapang dan bambu runtjing, tjukupkan oleh semangat jang menjala-njala, pergilah achirnja meninggalkan kota Medan jang indah itu, meninggalkan njala api jang membubung keatas, sebagai tanda perlawanan terhadap angkara murka. Mereka pindah ke Tebing Tinggi ± 80 km dari kota Medan, dan disana menjiapkan pertahanan baru. Semua sendjata dan kekuatan boleh dilumpuhkan oleh raksasa2 jang memiliki tenaga jang berlimpah-limpah. Semua mulut boleh dikuntji untuk dapat meneriakan „Merdeka”, tetapi deburan djantung jang hendak mempertahankan kemerdekaan tidak bisa dihentikan tanpa menghabiskan njawa pahlawan2 itu sendiri.
Alangkah sulit dan berbahajanja perdjalanan pengungsian kedaerah pedalaman. Berdujun-dujun rakjat jang tiada bersalah dikedjar-kedjar oleh maut; ribuan meninggalkan kekajaannja, karena hendak membela hidup dan hak mutlaknja. Diantara ribuan pengungsi jang lalu di-tepi2 bukit dan dataran2 jang penuh semak2 belukar kelihatanlah dua orang setengah tua suami isteri berjalan ditengah-tengah gerakan masa itu. Siapa menjangka bahwa penderitaan dokter Teuku Husin suami isteri itu sudah selesai! Siapa menjangka bahwa mereka kini—ketika di Medan sudah aman tenteram, dapat memikirkan dengan tenang, hari tua mereka, ditengah-tengah kesibukan pekerdjaan puteranja! Mereka berdjalan tergesa-gesa, turut dengan barisan manusia jang tiada tudjuan itu. Alangkah banjak diantaranja jang sudah kehabisan air mata untuk meratapi kehilangan barangnja, kehilangan pusaka dan rumah tangga, kehilangan putera2nja dimedan pertarungan, ja, kehilangan segala jang ditjintai …Maka berderet-deretlah gambaran kepiluan terbajang diruang mata para pengungsi jang mengharapkan keamanan, keamanan untuk dapat mempertahankan hiduplah jang diharapkan mereka. Dan keamanan inilah jang tidak diberikan oleh pendjadjah jang kebetulan mempunjai sendjata jang djauh lebih utuh.
Iringan-iringan pengungsi, orang2 buruan itu pada oetang hari dengan tiba2 harus meninggalkan kota Medan, diusir oleh kekuatan sendjata dari atas dan dari bawah, diusir oleh peluru senapang, senapang mesin dan mortir. Kini mereka berada ditengah-tengah ladang kering, kersang tiada berpenghuni, tiada jang mengurusnja; karena merekapun diusir djuga dari tanah pusakanja. Mereka berdjalan berdujun-dujun, melalui dataran jang ditimpa sinar matahari, disela-sela dengan bukit2 penuh tumbuh-tumbuhan hidjau jang menambah tjantiknja pemandangan tanah air. Disana buah timun bergantungan, kebun the berderet-deret dilereng bukit, pohon karet jang menghasilkan uang mendjulang tinggi2 menampung jang melimpah-limpah, inilah jang menjebabkan bangsa Indonesia dikedjar-kedjar sebagai binatang buruan, berlari kesana kemari, tersesat kedalam hutan2 dibumi tumpah darahnja sendiri. Dari atas mengintailah, laksana elang kelaparan, mesin terbang musuh jang tiada memberi kesempatan pengungsi2 tiada berdosa untuk bernafas. Mereka diburu-buru, dihudjani peluru dan dikepung dari kiri kanan, hanja untuk merampas kemerdekaan negaranja.
Berdjam-djam lamanja rombongan dokter Teuku Husin jang berdjumlah beratus-ratus pengungsi itu berdjalan dipinggir rel kereta api jang ditumbuhi rumput2 tinggi, tiada terpelihara. Siang hari Sang Surja membakar kepala, sendjakala njamuk jang tiada diingini terbang mengiringi para pengungsi sepandjang perdjalanannja dan malam hari bulan dan bintang jang tiada timbul menjebabkan udara disekitarnja mendjadi hitam pekat. Hudjan, panas, dan angin berganti-ganti menemani para pengungsi: dan segala penderitaan ini adalah pengorbanan seluruh rakjat pengungsi, tiada ketjuali. Mereka adalah terhitung pahlawan, karena mereka dengan sukarela memilih hidup sengsara bersama-sama bangsanja jang mendjadi orang buruan, dari pada hidup senang sebagai budak jang harus mendengarkan segala perintah atasan.
Parak siang angin dingin jang turun dari pegunungan mentjubit daging mereka jang tiada berpakaian tebal. Dan waktu fadjar sedang menjingsing untuk memberi hiburan kepada hati jang senantiasa diliputi bimbang, terdengarlah dikedjauhan suara meriam, bom, mortir dan peluru ganti berganti, mengutjapkan selamat pagi kepada orang2 pelarian jang tiada bertudjuan itu. Mereka lalu, membawa barang2 sekedar mendjaga djangan sampai mati kelaparan, lalu dipinggir sungai, dipinggir lereng gunung, meliwati ladang kering, kebon the dan hutan karet; kaki penat, mata penat, perut penat, hati penat, tapi jang tiada djemu-djemu dan penat2 adalah tekad untuk mempertahankan kemerdekaan, sekali lagi kemerdekaan!! Untuk perkataan ini njawa sekalipun akan dipertaruhkan. Semuanja diserahkan oleh djutaan rakjat jang sudah mendjadi satu, bulat menghadapi segala kemungkinan. Pengungsi berdjalan terus, beriring-iring, membuktikan bahwa perdjandjian Linggardjati jang dihargai sebagai perdjandjian antara manusia dengan manusia, dengan sekedjap mata harganja dapat ditiadakan. Merekalah bukti dari pada perdjandjian manusia2 jang tiada kenal kemanusiaan …
Dua belas kilometer dari kota Tebing Tinggi, disuatu tempat jang bersembunji terdapatlah rumah Pak Bujung. Rumahnja tjukup besar untuk memuat dua tiga ratus orang. Dan kebun jang mengelilingi rumah itu tjukup pula besar untuk mendirikan dua buah rumah lagi.
Suatu perundingan jang ramah tamah, memindahkan kekuasaan rumah Pak Bujung jang budiman itu ketangan pasukan Teuku Umar dibawah pimpinan Teuku Hassan jang mendjaga daerah itu dari serangan musuh. Setelah Pak Bujung mendapat salam penghormatan dari Teuku Hassan atas nama pasukannja karena penjerahan rumahnja dengan sukarela untuk dipakai, maka berdirilah didepan rumah itu sebuah tiang tinggi. Diatasnja setiap pagi sampai petang dikibarkan Sang Merah Putih. Rumah Pak Bujung itulah jang terkenal disana sebagai rumah markas pasukan „Teuku Umar”. Setiap pagi dikebun diadakan latihan berbaris, latihan membidik dan petangnja diadakan latihan tembak2an didalam hutan. Tiada djemu2 pemuda2 itu bergerak untuk mempersiapkan dirinja sekuat mungkin. Dalam pada itu banjak pulalah kaum pengungsi jang dibantu oleh pasukan „Teuku Umar” mentjarikan tempat dan makanan.
Ketika hendak meninggalkan kota Medan dahulu, Teuku Hassan tiada berkesempatan untuk kembali pulang kerumahnja. Pasukan jang harus dihelanja, ketika itu djuga harus bersiap untuk menghambat kemadjuan pasukan2 musuh jang mengalir sangat derasnja itu. Ketika itu kembalilah ia mengalami perang bathin didalam dirinja. Ia terkenang akan bunda dan ajahnja. Ia hendak kembali tapi tiada mungkin. Dan sebagaimana biasa keputusan jang diambilnja dengan tjepat ialah: tetap berkumpul bersama-sama pasukannja sampai titik darah jang penghabisan. Nasib orang tuanja diiringinja dengan doa selamat semoga Tuhan melingdungi mereka jang tiada berdosa itu!!
Teuku Hassan Djohan Pahlawan berdjalan-djalan pada suatu petang dihutan gelap. Kemarin disana diadakan pertempuran jang meminta korban empat orang dari anak buahnja. Kini jang mendjadi pertanjaan baginja: „Apakah sebabnja pasukan musuh ingin benar merebut tempat itu?”
Keadaan jang sepinja sangat luar biasa itu sebenarnja mentjurigakan djuga. Sesudah melihat-lihat kurang lebih sedjam lamanja kembalilah ia kepangkalannja.
Soal2 jang sulit jang tiada dapat dikupasnja sendiri dibitjarakan dengan pembantu2nja. Soal2 „daerah sorga” inipun mendapat giliran pembitjaraan. Achirnja diketahuilah oleh mereka bahwa pasukan2 musuh telah berkali-kali berdjumpa dengan gerombolan2 manusia jang berderet-deret beriring-iring berdjalan untuk melintasi daerah itu. Mereka adalah pengungsi2 jang hendak menjeberang hutan jang berbahaja itu untuk dapat sampai kedaerah jang lebih aman. Dan pengungsi2 jang berbaris itulah disangka oleh musuh pasukan2 jang hendak menjerang mereka. Sebab itulah pula maka para pengungsi jang mengalir dari Medan kearah Tebing Tinggi lama benar bertahan diperbatasan. Didalam kamar jang agak luas Teuku Hassan bersama stafnja membitjarakan siasat untuk menjelamatkan para pengungsi jang disangka pasukan bantuan itu. Hutan itu mesti dikuasai dan didjaga sampai semua pengungsi dapat melintas. Tapi bagaimana akan mendjaganja? Sampai dimanakah kemampuan pasukan Teuku Hassan membela daerah hutan itu? Dengan anak buah jang tiada perlengkapan sendjata jang baik? Achirnja pikiran jang demikian itu dapat dipersoalkannja. Jang penting ialah: lebih baik gugur dalam membela penduduk jang mengungsi itu, dari pada melihat banjak darah mengalir dari tubuh para pengungsi jang tiada berdosa sedikitpun djuga. Maka diputuskanlah untuk mendjaga daerah itu, dengan kekuatan jang ada padanja.
Pada suatu hari, hari ketiga pendjagaan tempat jang berbahaja itu, dari djauh kelihatanlah kumpulan2 manusia sebagai semut berbondong-bondong hendak menudju Tebing Tinggi. Diatas, kapal udara musuh melajang-lajang mengintai mangsanja untuk diterkam …
Keadaan bagi para pengungsi jang terkepung itu sangatlah sukarnja. Beberapa orang diantaranja sudah tiada mempunjai makanan lagi, sehingga terpaksa mendapat bantuan dari para pengungsi lainnja. Dan sudah sekian lamanja mereka hendak melintas, tetapi dihalangi sadja oleh pasukan2 musuh.
Dokter Teuku Husin dan isterinja merasakan puntjak kegelisahan didalam hati. Perut belum terisi sedjak kemarin. Pakaian tak bersalin-salin, karena jang dibawa sekedar pengganti tertjetjer ditengah djalan dan pikiran senentiasa diganggu oleh pertanjaan. Dimanakah dan apakah kabarnja kini anak mereka Teuku Hassan Djohan Pahlawan?
Sedjak perdjalanan jang sukar itu memang pada dirinja sendiri tiada dirasakan penawar hidup selain dari pada mengharapkan bertemu kembali dengan puteranja jang berada digaris depan. Tapi bagi para pengungsi lainnja, dokter Teuku Hussin adalah laksana penawar dalam waktu2 jang penuh pertjobaan itu. Mereka tiada terketjuali, mendapat perawatan jang baik dari dokter jang budiman itu. Barang siapa jang dimana sadja ditimpa tjelaka, ia bersedia memberikan pertolongan dengan sekedar obat jang dibawanja didalam tas ketjilnja. Dokter Teuku Husin terkenal didalam gerombolan2 pengungsi itu sebagai sinar matahari menerangkan tjahaja gelap gelita didalam hati mereka. Dan kisah ini sampailah dari mulut kemulut, dari seorang ke-orang lain. Achirnja ia sampai djuga kepada seorang anak buah pasukan Teuku Umar jang berada ditengah-tengah para pengungsi itu untuk mengadakan penjelidikan, dan dari sana sampailah ia sebagai njanjian merdu ditelinga puteranja Teuku Hassan Djohan Pahlawan.
…untuk menolong semua para pengungsi dan untuk menjelamatkan orang tua jang ada ditengah-tengah mereka itu, akan kupertahankanlah daerah ini dengan seluruh tenaga, djiwa dan ragaku. Semoga Tuhan melindungi pasukan kami!” demikianlah ia berbisik dalam hatinja ketika diketahuinja bahwa orang tuanja berada kini antara djarak dekat…walaupun sementara waktu tidak dapat dikundjungi.
Sepasukan jang bersendjata agak lengkap sedikit berbarislah dengan gagahnja, dibawah pimpinan Teuku Hassan Djohan Pahlawan sendiri melalui daerah jang berbahaja itu. Pasukan itulah jang akan melingdungi para pengungsi dan mempertahankan djalanan djangan sampai dikatjau musuh. Diatas, mesin terbang ketjil bermain-main sebagai tjapung jang sudah kekenjangan, tiada memikirkan soal2 lain, selain melajang-lajang menindjau kebawah. Pasukan berdjalan terus dengan gagahnja dan tiada lama kemudian perhubunganpun sudah didapat. Sekedjap lagi mereka akan sampai dikepala rentetan manusia jang sangat pandjang itu. Dalam pada itu mesin terbang diatas hilang ke Timur dan tidak kembali lagi. Dokter Teuku Husin mengetahui bahwa ini adalah alamat pertempuran besar2an. Mesin terbang tadi akan menjampaikan kabar dan tentulah tidak lama lagi barisan infantri dan tank musuh akan sampai disitu untuk berhadapan dengan barisannja jang bersendjatakan bahaja beberapa putjuk senapang sadja.
Dan…memanglah benar dugaan Teuku Hassan! Setelah ia sampai ditengah-tengah para pengungsi dan mentjari dengan matanja kesana sini, untuk mendapat ibu dan ajahnja, berdentumlah suara meriam disambut dengan suara mortir, suara peluru senapang mesin dan seketika ramailah daerah itu dihudjani oleh peluru.
Ber-puluh2 kaum pengungsi gugur kebumi; seorang ibu jang menggendong anak jang baru berumur setengah tahun mendjerit meminta tolong sambil rebah ketanah. Anaknja berteriak-teriak menangis, ketakutan rupanja. Sebuah peluru membuat ilang dikepalanja. Segera dokter Teuku Husinpun sampailah ketempat ketjelakaan itu. Ditjobanja henak mengobati lobang jang telah berlumuran darah itu…tapi sia-sia. Hanja anaknja jang masih hidup dapat tertolong. Perempuan itu terbudjur ditanah sedang anaknja didukung Dokter Teuku Husin ketempat lain. Dalam pada itu hudjan peluru tiada henti2nja. Tiada djauh dari tempat ketjelakaan itu rebahlah pula bersama-sama kebumi empat orang sekeluarga; ibu, bapa, seorang anak laki2 berumur sebelas tahun dan seorang anak perempuan berumur delapan tahun. Satu turunan hantjur dibasmi oleh peluru musuh jang beruntun-runtun datang menghudjani pengungsi2 itu. Pasukan „Teuku Umar” mengadakan perlawanan sedapat mungkin.
Tiba2…Teuku Hassan Djohan Pahlawan melihat ajahnja duduk sedang merawat seorang laki2 tua jang kena petjahan bom. Mata mereka beradu…„Ajah!” teriak Teuku Hassan, lalu menjerbu menghampiri dokter itu. Dokter Teuku Husin melihat kepada Teuku Hassan dengan tadjamnja, suaranja seakan-akan tidak dapat keluar untuk mengutjapkan kegembiraannja. Ia berdiri…dan pada saat itu djuga…ia berdjatuh kembali ketanah. Ketika ia hendak bangkit, kelihatanlah badjunja penuh darah mengalir kebawah. Dengan tiada memikirkan apa2 diangkatlah oleh Teuku Hassan badan ajahnja jang telah luka parah itu. Dan didalam hudjan peluru jang mengganas itu melintaslah rombongan pengungsi jang masih ketinggalan.
Sendja hari, tedja memantjarkan warna merah, berbuntut kelabu, djatuh sampai mentjium putjuk pohon tjemara ditepi hutan. Kalong2 jang ketakutan kini telah bergantungan kembali dipohon djambu. Pertempuran sudah selesai. Semua pengungsi dapat dilintaskan dari daerah jang berbahaja itu. Hanja beberapa puluh jang tinggal dibelakang untuk selama-lamanja. Dokter Teuku Husin jang luka parah itu didukung oranglah ke-markas. Dalam pada itu ibu dokter telah berkumpul pula, bersatu kembali dengan suaminja dan puteranja. Sungguh berat tugas Palang Merah waktu itu. Empat puluh orang jang luka2 harus dirawat. Tempatnja sangat ketjil dan dokter hanja ada tiga orang. Dua orang sedang bekerdja giat membantu korban2 dan jang seorang lagi, jaitu dokter Teuku Husin terlentang diatas balai2 diruangan tengah markas besar. Dadanja sebelah kiri kena tertembak. Darah sangat banjak mengalir. Melihat hal ini tjemaslah hati ibu dan Teuku Hassan Djohan Pahlawan. Ibunda jang sedjak tadi berdiam diri sadja menangis tersedu-sedu. Hatinja sangat pilu, karena pertemuan dengan puteranja itu diiringi pula dengan kemalangan, bahwa suaminja akan meninggalkannja pula untuk selama-lamanja. Perasaan ini sudah timbul didadanja sedjak dokter Husin termenung-menung beberapa hari jang lalu…
Kebingungan berkuasa atas diri Teuku Hassan, Pimpinan sementara waktu, kalau terdjadi serangan2 dimalam hari diserahkannja kepada Lukman, karena ia bermaksud akan tetap tinggal disamping ajahnja sampai ia dapat sembuh. Sembuh? Ja, memang demikian doanja sepandjang waktu. Walaupun hati ketjilnja takut menghadapi kebenaran: bahwa ajahnja tidak akan dapat mengatasi penderitaan sakit jang sangat pajah itu.
Seluruh markas diam dan tenang. Tiada lama kemudian dokter Teuku Husin dengan susah pajah mengangkat tangannja memberi isjarat. Teuku Hassan mendekati telinga kemulutnja. Dan satu demi satu keluarlah perkataan tertahan-tahan: „Teuku Hassan Djohan Pahlawan, anakku, djaga…ibumu…terima kasih…selamat…tingg…”.
Nafasnja berhenti berdjalan. Mukanja mendjadi putjat pasi. Matanja memandang lalu kedepan dan diwadjahnja membajang senjum menutup segala derita jang sudah dialaminja. Bulan malam itu bulat diatas awan. Awan kelabu melingkupi tabir dunia dan dari djauh tangis burung hantu sedang menjampaikan berita kemalangan jang menimpa keluarga jang penuh perdjalanan derita itu. Dokter Teuku Husin mengembuskan nafasnja jang penghabisan, gugur sebagai pembela manusia sesuai dengan panggilannja sebagai dokter.
Keesokan harinja beberapa djenazah diangkat orang berhati-hati ke Tebing Tinggi. Disana dengan dihadiri oleh ratusan penduduk dikebumikanlah djenazah2 itu. Diantara kuburan jang berderet-deret itu terbentanglah kuburan mendiang dokter Teuku Husin, tanahnja basah ditimbun aneka warna kesuma, sumbangan terachir dari berpuluh-puluh pengungsi jang telah menikmati bantuannja diwaktu pengungsian, melalui berbagai-bagai penderitaan. Seorang pemuda dan seorang perempuan setengah umur, putera dan isterinja, duduk, tunduk kebawah, sedang air mata djatuh menetes keatas pusara jang masih lembab itu. Bermainlah kenangan jang didjalin dari tahun ketahun, tergambarlah suka-duka bersama sedjak dari tanah Atjeh di Utara pulau Andalas sampai ketempatnja jang penghabisan di Tebing Tinggi. Memang dikala seorang meninggalkan dunia dibuatlah perhitungan oleh orang2 jang masih ditinggalkan. Jang buruk hapus dan jang baik ditelanlah kedalam dengan sedu jang menggetarkan badan. Jang baik mendjadi kenang2an manis…Apakah kiranja perbuatan dokter Teuku Husin jang dapat dikata buruk? Sungguh, tidak ada. Dalam hidupnja ia dapat dilaksanakan sebutir permata murni jang memberi sinar suka ria kepada manusia jang ditimpa bentjana. Kini ia tiada lagi. Permata murni telah petjah meninggalkan sinar diatas dunia jang penuh daja dan aniaja ini. Dokter Teuku Husin telah gugur dalam melakukan tugasnja sebagai manusia dan pentjinta tanah air. Dan untuk pernjataan terima kasih jang tak kundjung hilang dari kenang-kenangan ditutuplah riwajat hidupnja dengan sebuah pidato memperingati djasa2nja untuk ditulis didalam buku sedjarah dengan tintas emas…
***
Pertempuran dari waktu kewaktu berketjamuk disekitar tempat Teuku Hassan Djohan Pahlawan bertahan dengan pasukannja. Hidupnja sebagai biasa didjalankannja dengan lebih tawakkal dan jakin kepada tugas jang dipikulkan dipundaknja. Dibelakang dimarkas pasukan „Teuku Umar” bekerdjalah tangan tjekatan mendjahit dan masak untuk pahlawan2 jang setiap detik harus bersedia mempertahankan daerah itu. Tangan tjekatan itu ialah tangan ibu dokter. Disamping kiri kanan kepalanja telah menjibak rambut putih, sebagai pernjataan umur sudah landjut, jang disertai tekanan kepiluan hati jang disimpannja didalam dada. Tapi namun demikian hati ibunda tiada menyerah sadja kepada nasib jang sudah tertulis. Adapun pengobat hatinja jang telah rusak itu ialah, putera jang didalam pekerdjaan sehari-hari, mengiringinja oleh perasaan dan pikiran serta kenjataan bahwa puteranja Teuku Hassan Djohan Pahlawan senantiasa berada disisinja. Setiap waktu apabila ia mendapat kesempatan untuk mengundjungi kota Tebing Tinggi, maka tidaklah ia sekalipun lupa untuk berziarah kemakam dokter Teuku Hassan, membawa kembang jang dipetiknja dari hutan dekat markas pasukan „Teuku Umar”.
Musim hudjan telah tiba lagi. Setiap hari bumi dibasahi air dan kilat sabung menjabung membersit siang dan malam. Pohon2an djemu bermandikan air hudjan; burung2 djemu disiram oleh lebat air diatas dahan dan ranting2. Disamping itu musuhpun djemu pula mengadakan patroli kehutan-hutan karena enggan untuk mengotorkan pakaiannja. Kesempatan musim hudjan lebat ini dipergunakan oleh pasukan2 Teuku Hassan Djohan Pahlawan untuk mengundurkan diri dan bertempat kesebelah Utara. Memang, selain dari pada kemalasan pasukan2 musuh untuk mengadakan patroli didaerah Tebing Tinggi itu merekapun sudah dipersiapkan pula ditempat jang lain. Mereka dipusatkan disebelah utara kota Medan mendjaga pantai Timur dan Utara, mendjaga kekajaan2 jang berupa minjak didaerah Pangkalan Brandan!
Karena serangan makin lama makin bertambah seru disebelah Utara itu, maka berkisar pulalah pasukan jang dipimpin oleh Teuku Hassan Djohan Pahlawan kesebelah Utara. Demikianlah pada musim hudjan itu pasukan pembela tanah air jang sedang terantjam itu menerobos hutan, masuk gunung keluar gunung, menuju ke-Utara.
Sebelum berpindah tempat Teuku Hassan Djohan Pahlawan dan ibunja masih sempat mengadakan perkundjungan kemakam dokter Teuku Husin untuk menjampaikan utjapan selamat tinggal, semoga kelak kemudian hari dapat datang berkundjung kembali!
Perdjalanan tidaklah semudah jang diduga. Dari kiri dan kanan tiada djarang mereka mendapat serangan jang datangnja dengan tiba2. Akan tetapi mereka senantiasa mempertahankan diri dengan gagah berani sehingga berkat lindungan Tuhan Jang Maha Kuasa, dengan tiada kurang suatu apapun sampailah mereka diperbatasan kota Medan. Tiga hari tiga malam mereka menetap disuatu kampung jang tersembunji. Malam keempat, ketika perdjalanan akan dimulai lagi, terdengarlah kabar, bahwa pertempuran2 umum dimana-mana akan dihentikan. Dari radio, surat kabar dan pengumuman lain2nja disiarkanlah kabar keseluruh kepulauan Indonesia bahwa segera perundingan akan diadakan; untuk menghabisi permusuhan dan menjelesaikan pekerdjaan jang terbengkalai. Pada mulanja memanglah terasa, seakan-akan sebuah batu berat jang menjangkut didalam dada terlepas kebawah, ketika mendengarkan berita tentang perundingan perdamaian jang akan menghentikan pertempuran darah itu.
Akan tetapi, walaupun persiapan sudah selesai, penerangan tentang penghentian tembak menembak telah diteriakkan dimana-mana, tetapi masih sadja terdengar didalam hari peluru mortir musuh melajang-lajang diangkasa, dibalas oleh mortir pasukan2 Indonesia, masih sadja pasukan musuh berhadap-hadapan dengan pasukan Indonesia jang selamanja siap sedia itu. Dalam gemuruh api pertempuran jang tiada hendak berhenti, diharaplah oleh pemimpin2 kedua belah pihak mentjiptakan suatu suasana jang diliputi perdamaian …
***
Ketika perundingan Linggardjati dengan semena-mena dirobek-robek oleh tangan jang tiada sudi memenuhi djandjinja sebagai manusia jang baik2 maka timbullah kembali pertempuran jang mengambil korban ribuan pemuda2 pembela bangsa dan tanah air. Ketika itu mulut manis ditukar dengan peluru dan meriam, ketika itu djandji mulut ditukar dengan permusuhan jang seakan-akan tiada dapat diredakan. Ketika itu perundingan diadakan didesa Linggardjati, didaratkan tempat kaki dapat kuat berpijak. Entah karena disebabkan oleh angin darat jang tiada membawa manfaat bagi perdamaian entah karena hal2 jang lain lagi jang dibawa oleh angin itu, maka sekali ini perundingan ditjoba oranglah diatas air. Air asin akan dapat memberikan kebaikan bagi perdamaian, demikianlah berbagai-bagai tafsiran jang terdengar.
Dan pada suatu hari jang baik diatas sebuah kapal jang berlabuh djauh dari tepian, diadakanlah perundingan antara Belanda dan Indonesia. Ditengah-tengah udara hening tenang, ombak memetjah kepinggir kapal jang berlabuh djauh dipantai itu, disanalah dibuka pembitjaraan untuk mendekatkan kedua bangsa itu. Agaknya djurang permusuhan telah terlampau luas ternganga, kebentjian jang harusnja tiada dimiliki manusia sudah meradjalela didalam dada kedua belah pihak. Dan perasaan jang meradjalela inilah jang hendak diperbaiki.
Kapal „Renville” jang memuat ahli2 negara untuk membitjarakan perdamaian dua bangsa jang sedang bertarung itu, seakan-akan mendapatkan djalan keluar. Memang, tiada lama kemudian tersiarlah kabar, bahwa perdjandjian „Renville” telah ditanda tangani, dan perhentian permusuhan segera akan didjalankan.
Maka didesa, dikampung, digunung, bahkan dikota-kota besar tempat penduduk masih berada dalam tjengkam2 kekuasaan asing, terasalah dada agak mendjadi lapang.
Memang perdamaianlah jang diidam2kan seluruh bangsa Indonesia jang telah djenuh akan kehilangan putera, anak, dan suami. Dan kabar jang dibawa oleh angin laut dari kapal „Renville” itu memanglah suatu penawar bagi hati jang sedang ketakutan akan kelaparan, peluru dan maut jang mengintai setiap detik. Demikian achirnja perasaan gembira, sampai djuga bertempat didada Teuku Hassan Djohan Pahlawan dan ibunya jang djemu akan penderitaan peperangan jang telah mengambil banjak korban itu.
Ketika untuk kedua kalinja dalam sedjarah kemerdekaan bangsa, tinta ditjoretkan keatas kertas perdjandjian, dengan diiringi doa dari seluruh bangsa Indonesia, semoga betul2 pertempuran2 jang tjelaka dapat dihentikan, — maka berlalulah dengan hati jang tenang, pasukan Teuku Hassan Djohan Pahlawan dari tepi kota Medan melewati Bindjei terus menembus ke Utara, makin lama makin djauh keatas, sampai keperbatasan kampung halamannja Atjeh…
Harapan dalam hati ada kalanja bersenandung keluar karena membawa kebahagiaan; ia mentjapai hasrat jang tertulis djauh didalam djiwa dan membawa sinar keluar. Tapi harapan hati dapat djuga ketjewa, karena jang ditjita-tjitakan tiada sesuai dengan kenjataan; Ia membawa kesedihan, kepiluan dan rasa putus asa; tapi pada watak anak muda ketjewaaan menimbulkan dendam menuntut pembalasan!!
Perundingan „Renville” jang diharap-harap akan mengachiri penderitaan rakjat itu, ternyata dirobek-robek lagi oleh para ahli negara musuh jang berkuasa. Untuk kedua kalinja didalam sedjarah pantjaroba ini seluruh bangsa Indonesia mendjadi orang buruan kembali, lari kesemak-semak belukar, keluar hutan masuk hutan, bertempat dilereng gunung…kali ini dengan tekad pembalasan jang lebih kuat dari pada jang sudah2.
Tatkala mesin terbang musuh melajang-lajang diatas kepala djuataan manusia Indonesia jang tiada berdosa untuk menjebarkan pelurunja, berlalulah pasukan „Teuku Umar” menudju ke Utara dengan siasat jang lebih tjepat lagi. Teuku Hassan Djohan Pahlawan bertahan didaerah permulaan tanah tumpah darahnja dan berkewadjiban untuk membajar tiap2 pelanggaran atas bumi kampung halamannja dengan njawa. Dan djandji ini dikikrarkannja dengan sungguh2. Empat kali dalam dua minggu ia bertempur dengan sendjata perlengkapan jang sederhana untuk menahan kemadjuan pasukan Belanda jang hendak madju kedalam daerahnja. Dan keempat kalinja itu ia dapat memperoleh kemenangan jang tiada sedikit nilainja untuk sumbangan kemerdekaan. Dalam pertempuran mati-matian itu ia mendapat luka ringan disebelah kiri bahunja, tapi ibunda jang setia, jang menuruti kemana langkah dan tudjuannja, menjembuhkan luka2nja dengan segera.
Otong, Sukardi dan Husni telah mendahului Teuku Hassan. Mereka melepaskan njawanja didepan mata musuh, ketika musuh hendak merambat djalan kedepan. Mereka djatuh, darah mereka mengalir seperti darah kawan2nja dipulau Djawa, Kalimantan, Maluku dan lain2 pulau Indonesia dengan kejakinan telah memberikan korban kudus kepada perdjuangan kemerdekaan. Sebatang kaju limau hutan mendjaga tiga rangkapan makam pahlawan jang kini tertinggal dihutan diperbatasan Sumatera Timur dan Atjeh.
Pada suatu hari Teuku Hassan Djohan Pahlawan mendapat perintah melalui seorang penghubung rahasia dari kota Medan, untuk segera berangkat kedaerah pedalaman karena pada waktu itu didaerah Atjeh djauh kedalam, berpusat pemerintah Republik karena Jogjakarta sudah djatuh, sedangkan Presiden dan pemimpin pemerintahan negara lainnja banjak jang tertangkap.
Perintah ini didjalankan dengan patuh dan keesokan harinja bertolaklah pasukan „Teuku Umar” untuk melalui hutan2 jang berbahaja, makin lama makin menuju ke Utara untuk memberikan bantuan penuh kepada angkatan perang jang mempertahankan pemerintahan sementara itu. Jogjakarta sudah djatuh. Kutaradja kini, tempat kelahirannja mendjadi ibu kota Republik Indonesia, tempat pertahanan seluruh rakjat jang tidak dapat ditembus. Alangkah besarnja penghargaan jang ditjiptakan keadaan kepada tempat kelahirannja itu. Alangkah mulianja mendengar dan mengalami pula peristiwa Atjeh mendjadi benteng terachir dari kekuatan nasional. Tiada setetes darahpun akan dibiarkan mengalir ditubuh kalau musuh mentjoba menembus pertahanan ini. Tidak, bajarannja tidak murah!! Tekad Teuku Hassan Djohan Pahlawan sudah bulat: Tiada perundingan jang akan dapat mendinginkan hatinja lagi. Tiada kepertjajaannja kepada musuh jang memang telah menghilangkan kepertjajaan itu sama sekali. Dalam pengalaman bertahun-tahun mengembara itu, hatinja telah mendjadi badja, sinar matanja telah menunjukkan kepahlawanan jang tidak dapat disuruh mundur oleh sendjata jang bagaimanapun beratnja. Dan dalam waktu2 itu makin eratlah hubungan dengan anak buahnja, dan makin bersatulah mereka menghadapi segala bahaja jang mengantjam. Pengalaman jang pahit mengadjarkan bahwa kata2 manis tidak dapat mendjadi ukuran kebaikan jang tersimpan didalam hati seseorang.
Perkembangan2 keadaan jang disalurkan oleh perundingan2 diluar dan didalam tanah air, menjebabkan achirnja tertjapai djuga suatu perundingan jang disebut perundingan KMB, jaitu Konperensi Medja Bundar. Berpuluh-puluh pemimpin Indonesia terbang kenegeri Belanda untuk merundingkan nasib tanah air dan menghentikan permusuhan.
Betapakah pikiran Teuku Hassan Djohan Pahlawan? Tidak, tidak!!! Dua kali ia sudah tertipu oleh kertas2 jang ditanda tangani oleh para penjelenggara perdamaian. Tetapi kali ini ia tidak akan sudi mempertjajai akal muslihat itu. Walaupun kesetiaannja kepada pemerintahannja sangat didjundjungnja tinggi namun kepertjajaannja kepada musuh, tiada serambutpun djuga. Inilah jang menjebabkan ia lebih hati2 dan Bersiap-siap sesudah terdengar berita resmi bahwa perundingan selesai dan para pemimpin negara Indonesia membawa pulang ke tanah air, kemerdekaan seluruhnja, dipotong dengan tanah Irian, untuk sementara waktu …
***
Kutaradja bermandikan tjahaja surja jang memantjarkan sianr dimana-mana …
Diatas sebuah makam pahlawan di Taman Pahlawan, Teuku Hassan Djohan Pahlawan menaruhkan sekarang kembang mawar putih sebagai tanda selamat bertemu kembali dengan arwah saudaranja jang telah djatuh beberapa tahun jang lalu. Ibunda menjiramkan air kembang Melati diatas pusara Teuku Nja Arif diiringi oleh doa kepada jang Maha Kuasa, agar dilapangkanNja kuburan Putera jang ditjintainja itu. Kemudian perlahan-lahan mereka berdua meninggalkan Taman Pahlawan jang sunji tenteram itu menudju keluar.
Dikota hawa panas memantjar-mantjar dengan tiada djemu2nja. Sais sado meletjut kudanja jang bermalas-malas, tukang es meningkahkan lagu dengan lontjengnja, menerbitkan nafsu anak2 akan melepaskan dahaganja. Dan dari djauh terlihat dua bajangan pulang kerumah, penuh harapan2 baru kemudian hari …