Baca EPUB: tesis-45-tahun-pki

2 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. Table of Contents
  2. Table of Contents
PARTAI KOMUNIS INDONESIA
Tesis 45 Tahun PKI
Kacabenggala Editions

Publisher Note

Buku ini disusun oleh Politbiro CC PKI dalam rangka ulang tahun ke-45 PKI. Diterbitkan oleh Jajasan “Pembaruan” tahun 1965.

Digitizer Note

This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.

All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.

The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.

HISTORIS

TANGGAL 23 Mei 1965 ini genaplah 45 tahun usia PKI, Partai Komunis lndonesia. PKI dilahirkan oleh tuntutan2 objektif perkembangan masjarakat lndonesia, jakni ketika di Indonesia sudah ada gerakan klas buruh jang mulai muntjul pada awal abad ini dan ketika gerakan kemerdekaan nasional Rakjat Indonesia objektif membutuhkan teori jang mampu memetjahkan masaiah2 revolusi dalam zaman modern ini. Ketika itu Marxisme sudah mulai berpadu dengan gerakan klas buruh Indonesia. Marxisme telah mendemonstrasikan kebenaran ilmiahnja dengan kemenangan Revolusi Sosialis Oktober Besar Rusia 1917 jang gemilang. Dengan demikian PKI adalah faktor subjektif kekuatan revolusioner Indonesia jang dilahirken oleh sjarat2 objektif masjarakat Indonesia. Ia adalah anak zaman jang akan melahirkan zaman.

Lahirnja PKI 45 tahun jang lampau mempunjai arti penting luarbiasa setjara politik dan kebudajaan bagi Rakjat Indonesia. Dengan lahirnja PKI, gerakan kemerdekaan nasonal Rakjat Indonesia telah mendapatkan intinja, jaitu suatu organisasi modern jang militant dari klas buruh, jang menguasai dan menggunakan berbagai bentuk perdjuangan dalam melawan imperialisme setjara konsekwen. Dengan lahirnja PKI maka terbukalah kemungkinan jang lebih luas untuk tersebarnja Marxisme-Leninisme setjara luas dan intensif dikalangan Rakjat Indonesia jang berarti pendobrakan atas tradisi jang kolot dan idealis dari pandangan masjarakat Indonesia jang agraris.

Sepandjang sedjarahnja, PKI tidak pernah memisahkan diri, bahkan senantiasa berpadu dengan gerakan kemerdekaan nasional umum. Sesuai dengan klas jang diwakilinja, jaitu klas buruh, maka setjara historis, PKI memikul tugas2 sutji diatas pundaknja, jaitu harus berdiri dibarisan depan dalam perdjuangan melawan setiap penindasan. Karena itu, PKI berdjuang bukan hanja untuk pembebasan nasion Indonesia dari penindasan imperialisme, tetapi akan terus memimpin perdjuangan Rakjat Indonesia guna membangun suatu masjarakat Indonesia Baru jang demokratis, bebas dari penghisapan atas manusia oleh manusia, adil dan makmur.

45 tahun PKI adalah 45 tahun perdjuangan guna mendjadikan keharusan sedjarah itu kenjataan sedjarah. 45 tahun PKI adalah djuga 45 tahun berdjuang untuk mentrapkan Marxisme-Leninisme pada kondisi2 kongkrit revolusi Indonesia, untuk mengindonesiakan Marxisme-Leninisme, sehingga mendjadikan Marxisme-Leninisme kekuatan materiil jang perkasa dalam Revolusi Indonesia, jaitu mendjadikannja milik massa, pedoman jang mempunjai daja membangkitkan, mengorganisasi dan memobilisasi massa didalam aksi2nja.

ARTIPENTINGNJA

DJALAN jang dilalui PKI bukanlah djalan bertabur bunga, akan tetapi djalan ber-liku2 jang diretas dengan kepedihan jang ditimbulkan karena kesalahan2 dalam perdjuangan, dengan pemerasan enerzi dan keringat, bahkan, dengan tetesan darah singkatnja dengan pengorbanan dan pengabdian jang tiada taranja dari putera2 terbaik klas buruh dan Rakjat Indonesia selama puluhan tahun sedjak lahirnja.

Barulah pada tahun 1951 PKI mulai memasuki masa dewasanja, jakni setelah melalui pengalaman2 pahitgetir selama puluhan tahun, terutama pemberontakan 1926 jang ditindas dengan kedjam oleh pemerintah kolonial Belanda, pengalaman Revolusi Agustus 1945 jang tuntutan2nja hingga kini masih belum dapat dirampungkan sampai ke-akar2nja, dan tragedi nasional provokasi Madiun dimana kaum reaksi dengan dikepalai oleh Hatta berhasil untuk sementara waktu memetjahbelah bangsa Indonesia dan melakukan teror terhadap PKI dan kaum progresif lainnja. PKI baru mulai memasuki masa dewasa setelah mulai menjimpulkan pengalamannja seperti jang dirumuskan dalam Resolusi Djalan Baru pada Konferensi PKI bulan Agustus 1948.

Pembentukan Polibiro baru jang dipimpin oleh Kawan D.N. Aidit pada bulan Djanuari 1951, berarti kemenangan sajap Leninis didalam pimpinan Partai, jang kemudian, berdasarkan pengalaman2 jang kaja dari Partai sendiri dan beladjar dari pengalaman2 Partai2 sekawan, menjusun garis organisasi dan politik jang tepat, sebagai pentrapan kebenaran umum Marxisme-Leninisme pada kondisi2 kongkrit Revolusi Indonesia.

Kongres Nasional ke-V PKI pada tahun 1954, telah memberikan djawaban atas semua masalah penting dan pokok Revolusi Indonesia. Kongres tsb. meletakkan dasar2 pekerdjaan penggalangan front nasional dan pembangunan Partai. Semendjak itu, diperhebatlah perdjuangan dalam dua front sekaligus, jaitu front anti-imperialisme dan front anti-feodalisme, dengan mengerahkan udjungtombak terutama kepada imperialisme. Kebenaran Program Partai jang disahkan dalam Kongres sb. terletak dalam hal, bahwa ia mentjerminkan setjara tepat tuntutan2 objektif Revolusi Indonesia, dan karena itu ia telah membawa madju gerakan revolusioner Rakjat Indonesia dengan langkah2 raksasa.

Memperingati 45 tahun usia PKI ini berarti djuga untuk memeriksa sampai dimana hasil2 jang telah ditjapai oleh proletariat Indonesia dalam membangun suatu Partai klas buruh jang di-bolsjewikkan, dalam menggalang front persatuan nasional jang berbasiskan persekutuan buruh dan tani, dan dalam melandjutkan Revolusi Agustus, untuk Indonesia Baru jang merdeka penuh dan demokratis, sebagai sjarat mutlak untuk membangun masjarakat jang bebas dari penghisapan atas manusia oleh manusia, masjarakat Sosialisme Indonesia.

PROGRAM PKI

DENGAN Program Kongres Nasional ke-V Partai ini sebagai mertjusuar perdjuangannja, gerakan klas buruh dan Rakjat pekerdja Indonesia madju dengan langkah2 raksasa. Gerakan nasional revolusionerpun berkembang dengan pesat. Satu demi satu benteng imperialisme dipatahkan dan direbut, dimulai dengan pembatalan perdjandjian KMB, kemudian aksi membebaskan Irian Barat. Langkah revolusioner jang penting dalam rangka perdjuangan ini jalah pengambilalihan semua perusahaan milik kaum imperialis Belanda oleh kaum buruh dalam tahun 1957 jang kemudian diserahkan kepada Pemerintah RI dan didjadikan perusahaan2 negara.

Artipenting pengambilalihan itu jalah, bahwa ia telah menjalakan kembali tradisi revolusioner kaum buruh dan Rakjat Indonesia jang ber-kobar2 ketika Revolusi Agustus 1945 meletus. Aksi2 itu djuga telah mempertebal kepertjajaan Rakjat Indonesia kepada dirinja sendiri, dan memberikan pendidikan politik jang amal penting untuk membedakan musuh satu dengan jang lain, dan menanamkan pengertian bahwa diantara sekian banjak musuh, sasaran perdjuangan pada masa tertentu harus diarahkan kepada musuh jang merupakan musuh terpokok. Aksi ini djuga telah memberikan isi dan arti jang kongkrit kepada perdjuangan melawan imperialisme.

IRBAR & AS

TAMATNJA riwajat kolonialisme Belanda di Irian Barat dan dilikwidasinja modal imperialis Belanda di Indonesia telah mengakibatkan terdjadinja pergeseran2 dalam kedudukan musuh2 Rakjat Indonesia. Sidang Pleno ke-1 CC PKI Kongres ke-VII jang diadakan pada awal tahun 1963, setelah mempertimbangkan kedudukan serta peranan imperialisme AS di Indonesia dari segi politik, ekonomi, militer dan kebudajaan, telah menjimpulkan bahwa „musuh Rakjat Indonesia jang nomor satu dan jang paling berbahaja pada waktu sekarang jalah imperialisme AS”.

Kesimpulan Sidang Pleno ini sangat penting artinja untuk menegakkan kedaulatan nasional Republik dan meningkatkan kewaspadaan nasional Rakjat Indonesia.

Kenjataan2 sedjarah menundjukkan, bahwa imperialisme AS sedjak lama selalu bersikap bermusuhan dan kurangadjar terhadap perdjuangan Rakjat Indonesia, mulai dari bantuan mereka terhadap Belanda dalam perundingan2 Linggadjati, Renville, kemudian membantu pemberontak2 „PRRI-Permesta”, disamping menjokong Belanda untuk tetap menduduki Irian Barat, dan achirnja menjokong projek neo-kolonialis „Malaysia” serta mengorganisasi aksi2 subversif terhadap Republik Indonesia.

Meskipun kaum reaksioner dalam negeri berusaha membelokkan sasaran perdjuangan Rakjat lndonesia dari musuhnja jang nomor satu, jaitu imperialisme AS, akan tetapi berkat kesadaran politik jang terus meningkat dari Rakjat kita dan tindakan2 permusuhan kaum imperialis AS sendiri, dalam waktu jang relatif singkat seluruh nasion telah mengarahkan perdjuangannja kepada imperialisme AS.

„MALAYSIA”

PROSES kebangkitan Rakjat dalam melawan imperialisme AS telah lebih dipertjepat lahirnja projek neo-kolonialis „Malaysia” dari kandungan imperialisme Inggris dengan disokong oleh imperialisme AS. Bertentangan dengan keinginan pentjipta2nja, jaitu untuk membendung arus revolusioner Rakjat Indonesia serta mengepung dan mengantjam kebebasan nasionalnja, maka projek neo-kolonialisme „Malaysia” telah lebih memperkokoh front persatuan nasional untuk menghadapi musuh dari luar. Ia telah mendjadi bahan bakar jang makin mengobarkan api semangat revolusioner jang tengah me-njala2 dalam dada Rakjat Indonesia, dan selandjutnja telah lebih mematangkan situasi revolusioner ditanahair kita. Ia bahkan telah mempertjepat terbukanja mata seluruh golongan Rakjat Indonesia terhadap kedjahatan2 imperialisme AS sebagai musuh nomor satu dan paling berbahaja.

Aksi2 anti-imperialisme Inggris-AS dimulai dengan petisi2, rapat2 protes, demonstrasi2 dan kemudian berkembang mendjadi aksi pemboikotan terhadap film2 AS. Dalam waktu jang relatif singkat sekali perdjuangan ini memuntjak dalam aksi2 pengambilalihan perusahaan2 Inggris dan AS di Indonesia oleh kaum buruh jang mendapat sokongan luas dari Rakjat. Suatu faktor jang ikut menentukan suksesnja aksi2 itu jalah karena aksi2 ini tidak hanja aksi massa dari bawah, tetapi djuga karena dikombinasi dengan perdjuangan diatas. Ini realisasi jang sukses dari garis „revolusi dari atas dan dari bawah”.

Pengambilalihan perusahaan2 tsb terutama perusahaan2 minjak AS jang selama ini memonopoli produksi minjak bumi di Indonesia, selain mempunjai artipenting ekonomi jang besar sekali, djuga mempunjai arti politik jang luarbiasa besarnja, karena ia telah menghantjurkan tachajul2 politik di-kalangan2 luas masjarakat kita, jang masih „mendewakan” dan mempunjai ilusi terhadap imperialisme AS.

EKONOMI

SUKSES2 besar dalam pengambilalihan perusahaan2 imperialisme Belanda, Inggris dan AS dan jang didjadikan milik negara atau ditempatkan dibawah penguasaan pemerintah, sesungguhnja adalah lompatan madju dan merupakan perkembangan kekiri dari sistim ekonomi di Indonesia. Djika pengambilalihan modal2 Belanda, Inggris, Amerika dilakukan setjara konsekwen, dapat dikatakan bahwa landasan pokok kekerasan monopoli asing di Indonesia jang berupa penanaman modal setjara langsung akan lenjap. Dengan demikian, akan tertjiptalah sjarat2 jang lebih baik untuk membangun ekonomi nasional jang berdiri diatas kaki sendiri, dimana ekonomi sektor negara memperoleh sjarat2 untuk memegang posisi komando. Deklarasi Ekonomi (Dekon) dan Tavip menegakkan prinsip untuk bersandar pada kekuatan sendiri dalam pembangunan ekonomi nasional dengan menggariskan „mengutamakan pertanian dan perkebunan serta mementingkan pertambangan” dan „pertanian itu dasar, industri itu tulangpunggung.”

Akan tetapi seperti jang ditjanangkan dalam Kongres Nasional ke-VII PKI (April 1962), kaum kapitalis birokrat, jaitu „merea jang mendjadi kapitalis dengan menggunakan kedudukannja dalam alat kekuasaan atau perusahaan negara atau hubungannja dengan pembesar2 dalam alat kekuasaan atau perusahaan negara” telah menjalahgunakan dan menjelewengkan perusahaan2 negara itu guna memperkaja dirinja, hingga perusahaan2 tsb. telah mendjadi basis untuk lahirnja dinasti kapitalis birokrat jang menguasai ekonomi Indonesia dewasa ini. Kaum kapitalis birokrat ini bukan sadja makin memperburuk kekuasaan politik dewasa ini, tapi djuga berusaha merebut kekuasaan politik dengan djalan kudeta. Oleh karena itu mengganjang kapitalis birokrat adalah termasuk tugas pokok Rakjat Indonesia dewasa ini. Adalah omongkosong berbitjara tentang memperbaiki ekonomi nasional dan melawan imperialisme tanpa mengganjang kaum kapitalis birokrat. Sebagaimana halnja dalam melawan musuh2 lainnja, maka djuga dalam melawan kapitalis birokrat haruslah dihimpun kekuatan seluas2nja untuk memberikan pukulan kepada faktor jang paling membahajakan perkembangan ekonomi nasional kita.

GERAKAN TANI

TAHUN belakangan ini mentjatat kebangkitan massa kaum tani melawan feodalisme. Kebangkitan itu menundjukkan, bahwa dengan program jang tepat, jang mentjerminkan kebutuhan2 objektif massa kaum tani, serta dengan garis organisasi jang bersesuaian dengan program tsb., jaitu bersandarkan kepada kaum tani miskin dan buruhtani, dan dengan pekerdjaan jang tekun, ulet dan sabar, maka sekalipun massa kaum tani mula2 terbelakang, mereka kemudian bangun dan sedar. Kebangkitan gerakan tani telah dapat merebut konsesi2 dengan dikeluarkannja UUPA dan UUPBH.

Lahirnja UUPA dan UUPBH adalah suatu kemenangan politik bagi gerakan tani, jang mematahkan teori2 jang selama ini menguasai Universitas2 dan sementara golongan, bahwa „di Indonesia feodalisme tidak mempunjai arti”. Kedua UU itu djuga merupakan penerimaan dan pengakuan resmi atas keharusan adanja program agraria anti-feodal dalam revolusi nasional-demokratis, sesuatu jang sudah lama diperdjuangkan oleh PKI.

Meskipun UUPA dan UUPBH itu hanja membatasi pemilikan tanah oleh tuantanah dan penghisapan feodal atas kaum tani, akan tetapi tuantanah2 dan kekuatan2 reaksioner telah melakukan perlawan jang sengit terhadap pelaksanaannja, mulai dari penipuan2, pemalsuan2, sampai kepada intimidasi2 dan teror terhadap kaum tani. Hal ini mengadjar kepada kita, bahwa perlawanan tuantanah dan kaum reaksioner akan djauh berlipatganda dari jang sekarang, apabila dilantjarkan perubahan agraria jang radikal sesuai dengan ketentuan Dekon tentang „mengikis habis sisa2 imperialisme dan sisa2 feodalisme” dan sesuai dengan sembojan Presiden Sukarno dalam Djarek, jaitu „Tanah Untuk Kaum Tani” dan „Tanah untuk mereka jang betul2 menggarap tanah”.

Untuk mendobrak kematjetan pelaksanaan UUPA dan UUPBH tsb. kaum tani telah melantjarkan berbagai matjam aksi. Aksi tsb. jang menandaskan makin mematangnja gerakan tani mempunjai artipentingnja jang luarbiasa dalam meningkatkan kesedaran politik dan organisasi massa kaum tani. Dengan aksi2 itu, kaum tani telah setjara tepat mengenal musuh2nja, memilih sasarannja jang terpokok, berkenalan dengan berbagai bentuk perdjuangan serta menjedari bahwa makalah jang fundamentil jalah masalah meneruskan atau tidak meneruskan revolusi. Suatu hal jang tidak kalah pentingnja jalah bahwa dengan aksi2 itu kaum tani djuga mengetahui sekutu dan pemimpinnja jang sedjati, jaitu proletariat. Ini berarti terwudjudnja kepemimpinan proletariat atas kaum tani. Sekarang tugas untuk terus membangkitkan, meningkatkan dan mengkonsolidasi gerakan tani hingga merata dan meluas diseluruh daerah dan kepulauan ditanahair merupakan tugas utama kaum revolusioner, chususnja kaum Komunis Indonesia. Hanja kebangkitan massa kaum tani jang merata dan meluas itulah jang akan mendjamin kemenangan revolusi nasional dan demokratis.

Pada achir bulan April 1965 telah terdjadi peristiwa bersedjarah dengan berlangsungnja Kongres Fusi Organisasi Nelajan Seluruh Indonesia jang menghasilkan organisasi nelajan jang bersifat nasional, jaitu Barisan Nelajan Indonesia. Dengan demikian tertjipta alat jang kuat untuk mengembangkan gerakan massa revolusioner kaum nelajan. Dengan memegang teguh garis klas, jaitu berbasiskan buruh nelajan dan nelajan miskin, bersatu dengan nelajan sedang, menetralisasi nelajan kaja dan memukul djuragan2 djahat, Barisan Nelajan Indonesia mempunjai tugas untuk mengorganisasi dan memobilisasi kaum nelajan pekerdja untuk mengganjang setan2 pantai, terutama djuragan2 djahat, jaitu djuragan2 jang membangkang tidak mau melaksanakan Undang2 Perdjandijan Bagi Hasil Perikanan.

KEBUDAJAAN

PEKERDJAAN dibidang kebudajaan djuga telah mentjapai sukses2 besar. Lekra, organisasi kebudajaan revolusoner jang didirikan pada tahun 1950, telah membuka front perdjuangan baru dibidang kebudajaan dalam rangka perdjuangan melawan imperialisme dan feodalisme, sebagai sjarat untuk membangun kebudajaan nasional jang demokratis dan revolusioner. Tidak dapat dsangkal bahwa mengganjang imperialisme dibidang ekonomi dan politik jang tidak disertai dengan pengganjangannja dibidang kebudajaan adalah sama halnja dengan menutup pintu depan tetapi membuka pintu belakang untuk masuknja maling. Aksi memboikot flm2 AS sampai kepada penghentian kegiatan Ampai, pengambilalihan gedung Ampai, penutupan kantor2 USIS diseluruh Indonesia dan pengusiran “Peace Corps” merupakan hasil2 gemilang dari perdjuangan Rakjat Indonesia untuk mengachiri dominasi imperalis, terutama imperialis AS dibidang kebudajaan. Djuga dibubarkannja „Manikebu” dan „BPS” merupakan kemenangan2 besar dibidang kebudajaan.

Dalam hubungan inilah, maka diselenggarakannja Kongres Sastra dan Seni Revolusioner (KSSR) oleh CC PKI dari 28 Agustus sampai 2 September tahun 1964 jang dibuka oleh Presiden Sukarno, dan jang telah memberikan djawaban atas masalah2 pokok dan penting dibidang sastra dan seni, mempunjai artipentng jang luarbiasa untuk mempersendjatai pekerdja2 kebudajaan chususnja dan Rakjat kita umumnja guna melaksanakan prinsip „berkepribadian dalam kebudajaan” dengan membangun kebudajaan nasional jang demokrats dan revolusioner, serta melawan kebudajaan imperialistis dan feodal jang masih berdominasi didalam masjarakat kita. KSSR menandakan taraf baru dalam perdjuangan dibidang kebudajaan guna mentjiptakan sastra dan seni jang berkepribadian nasional, jang mengabdi buruh, tani dan pradjurit.

TROTSKISME

SUATU kemenangan besar jang ditjapai oleh gerakan revolusioner Rakjat Indonesia jalah pelarangan oleh Pemerintah terhadap kegiatan Partai Murba dan organisasi2 pendukungnja, jang merupakan sarang kegiatan kaum pemetjahbelah trotskis di Indonesia.

Sementara orang mengira, bahwa masalah trotskisme bukanlah masalah nasional, melainkan hanja masalahnja PKI sadja. Pandangan jang demikian didasarkan pada anggapan jang keliru, seakan2 trotskisme itu adalah suatu „sekte” daripada Marxisme. Memang benar, bahwa pada awalnja trotskisme adalah suatu penjelewengan bordjuis ketjil dari Marxisme.

Akan tetapi dengan kemenangan jang gilang-gemilang dari Revolusi Sosialis Oktober Besar Rusia 1917, jang mendemonstrasikan kebenaran adjaran Lenin tentang revolusi sosialis, a.l. tentang memungkinkannja Sosialisme menang disatu negeri, maka trotskisme sebagai suatu sekte dalam gerakan klas buruh telah digugurkan sepenuhnja oleh sedjarah.

Semendjak itu trotskisme telah mendjadi gerakan jang samasekali tidak mendasarkan diri atas adjaran2 Marxisme dan sudah tidak ada lagi bara2nja Marxisme sedkitpun. Kaum trotskis telah mendjadi kekuatan ultra kanan jang bersembojan „kiri” kekuatan anti-Marxis jang berdjubah „Marxis”, dan telah mendjadi komplotan pendjahat politik dengan sembojan2 „revolusoner” jang mendjadi barisan depan dari kekuatan kontra-revolusioner internasional. Setjara politik dan organisasi mereka adalah alat jang penting untuk memetjahbelah dan mematahkan gerakan revolusioner klas buruh dan gerakan pembebasan nasional Rakjat2 tertindas di-mana2. Di Indonesia kaum trotskis sudah mulai memetjahbelah gerakan revolusioner dalam pemberontakan nasional jang pertama Rakjat Indonesia dalam tahun 1926, dan melakukan provokasi2 ketika kaum Komunis mengorganisasi gerakan dibawahtanah untuk melawan feodalisme Djepang jang mengakibatkan djatuhnja banjak korban dar kalangan kader2 revolusioner. Mereka melakukan usaha2 kudeta dan usaha2 petjahbelah dengan mendirikan „Persatuan Perdjuangan” jang setjara munafik menjerukan program dan sembojan2 „revolusioner” dalam Revolus Agustus, mereka memetjahbelah gerakan buruh, mereka bergandengan tangan dengan kaum revisionis modern dalam usaha untuk mendjatuhkan PKI, mereka melantjarkan polemik2 tentang Pantjasila dan „Sukarnoisme” pada saat2 gerakan revolusioner djustru semakin membutuhkan kebulatan persatuan untuk mengganjang musuh2 revolusi.

Sesungguhnja trotskisme dalam gerakan revolusioner adalah bagaikan penjakit kanker dalam tubuh manusia, jang menjerang pada saat2 dan tempat2 jang tidak di-duga2. Itulah sebabnja mengganjang dan mengachiri trotskisme merupakan tugas urgen bagi setiap patrot dan orang revolusioner untuk dilaksanakan dalam tahun 1965 djuga.

MARXISME

ADALAH menggembirakan, bahwa pada usia 45 tahun PKI ini, Marxisme sebagai adjaran revolusioner klas buruh, karena keilmiahan dan keobjektifannja telah terudji oleh sedjarah, berkembang subur di Indonesia dan mendjadi milik massa jang djumlahnja kian hari kian banjak di Indonesia. Dewasa ini disamping kaum Komunis, maka semakin luaslah golongan jang mempeladjari Marxisme atas andjuran Presiden Sukarno. PKI menjambut perkembangan ini dengan penuh gairah dan akan memberikan segala bantuannja.

Kenjataan menundjukkan, bahwa ada sementara orang jang mempeladjari Marxisme hanja sebagai „mode” sadja, agar supaja mereka tidak ketinggalan oleh arus zaman. Bahkan ada sementara orang jang mempeladjari dan mengadjarkan Marxisme bukan untuk memetjahkan masalah2 revolusi jang kita hadapi, melainkan malahan untuk mengaburkan dan memutarbalikkan adjaran2 tentang revolusi. Terhadap orang2 sematjam ini, kaum Marxis berkewadjiban untuk membuka kedok kemunafikannja agar supaja Marxisme benar2 digunakan sesuai dengan apa jang dikatakan Bung Karno sebagai „satu2nja ilmu jang kompeten untuk memetjahkan masalah2 sedjarah, politik dan kemasjarakatan”.

Tugas membantu orang2 jang djudjur dalam mempeladjari Marxisme dan menelandjangi pemalsu2 Marxisme adalah tugas penting proletariat Indonesia dewasa ini dalam rangka membikin Marxisme mendjadi milk nasion. Setiap Komunis haruslah menjedari benar2, bahwa mendjadikan Marxisme milik nasion pada hakekatnja adalah usaha untuk memenangkan setjara penuh revolusi nasional-demokratis dan revolus sosialis. Oleh karena tu, tugas tersebut menuntut dari setiap Komunis untuk bekerdja lebih keras, memeras enerzi dan keringat lebih banjak, dan memperbesar pengabdiannja kepada Rakjat dan Revolusi Indonesia.

MANIPOL

DALAM perdjuangan untuk menjelesaikan tuntutan2 Revolusi Agustus 1945 sampai ke-akar2nja, PKI memimpn Rakjat untuk mentjapai perubahan fundamentil dalam kekuasaan politik, untuk terwudjudnja pemerntah „dari Rakjat, oleh Rakjat dan untuk Rakjat” Sesuai dengan garis jang ditetapkan oleh Kongres Nasional ke-VI PKI (September 1959) Rakjat Indonesia dewasa ini menuntut pembentukkan kekuasaan Gotongrojong berporoskan Nasakom jang sanggup mengorbankan kepentingan kaum penghisap besar dikota dan desa dan membela dengan konsekwen kepentingan Rakjat. Sedjak djatuhnja kabinet Sukiman pada tahun 1952, maka pada pokoknja terdjadi perubahan2 kekiri didalam kekuasaan politik Republik Indonesia. Dengan diterimanja Manipol sebagai Garis2 Besar Haluan Negara, RI dengan resmi mempunjai program jang progresif revolusioner bagi seluruh nasion Indonesia untuk menjelesaikan Revolusi Indonesia. Kekuatan2 reaksioner telah mendapat pukulan2 berat dan pengaruh mereka dalam kekuasaan politik sangat berkurang. Pada dewasa ini kekuasaan negara RI mengandung dua aspek, jaitu aspek anti-Rakjat dan aspek pro-Rakjat. Kekuatan aspek pro-Rakjat sudah semakin besar dan memegang inisiatif dan berofensif, sedangkan aspek anti-Rakjat, walaupun masih tjukup kuat, semakin terdesak dalam kedudukan terdjepit. PKI berdjuang agar aspek pro-Rakjat itu semakin kuat dan achirnja dapat berdominas dan agar aspek anti-Rakjat dikeluarkan dar kekuasaan negara.

Berhubung dengan adanja dua aspek dalam kekuasaan negara RI, perdjuangan revolusoner Rakjat Indonesia dilakukan dengan mengkombinasikan perdjuangan massa-aksi revolusioner Rakjat dari bawah dengan tindakan2 revolusioner badan2 kekuasaan negara dari atas, sesuai dengan prinsip mendjalankan „revolusi dari atas dan dari bawah.”

SITUASI REVOLUSIONER

PERLAWANAN jang makin meningkat dari Rakjat Indonesia terhadap imperialisme, feodalisme dan kekuatan2 kontrarevolusioner didalamnegeri, menundjukkan bahwa dewasa ini telah terdapat situasi revolusoner jang makin menandjak dan mematang dinegeri kita. Tjiri2 utama dari situasi revolusioner jalah bahwa: (1) massa Rakjat sudah aktif berdjuang untuk adanja perubahan jang dapat memperbaiki penghidupan mereka; (2) segi anti-Rakjat dalam kekuasaan politik makin terdesak, segi pro-Rakjat makin unggul dan politik Pemerintah makin banjak jang disesuaikan dengan tuntutan2 Rakjat; dan (3) aksi2 massa Rakjat makin meluas sehingga peranan massa Rakjat makin besar dan makin menentukan dalam kehidupan masjarakat dan politik negara.

Situasi revolusioner ini adalah hasil ofensif Manipolis atau ofensif revolusioner dari semua kekuatan revolusioner terhadap kekuatan nekolim dan feodal dan semua kekuatan kontrarevolusioner lainnja. Situasi revolusioner ini harus dapat ditanggapi dan difahami dengan baik2 oleh siapa sadja jang mau terus mengibarkan pandji revolusi. Dalam situasi demikian sembojan kita jalah: „Ofensif berarti sukses dan menang, defensif berarti gagal dan kalah”.

Situasi revolusioner ini menuntut kaum revolusioner terus memperhebat ofensif revolusioner disegala bidang dengan setiap hari berusaha mengantongi kemenangan, untuk achirnja merampungkan revolusi nasional-demokratis sepenuhnja.

TRISAKTI TAVIP

DALAM perdjuangan untuk mengikis habis sisa2 imperialisme dan sisa2 feodalisme dan membangun Indonesia jang merdeka penuh dan demokratis harus kita laksanakan dengan konsekwen Trisakti Tavip, jaitu „berdaulat dalam politik berdiri diatas kaki sendri dalam ekonomi dan berkepribadian dalam kebudajan”. Amanat politik Presiden Sukarno „Berdikari” menegaskan kembali trisakti itu dan Ketetapan MPRS No. VI/MPRS/1965 tentang Banting Stir Untuk Berdikari dalam Ekonomi dan Pembangunan merupakan landasan untuk penjusunan plan pembangunan ekonomi jang realistis dan sesuai dengan prinsip2 Dekon.

Untuk itu adalah sjarat mutlak meningkatkan peranan aktif kesadaran subjektif setiap orang revolusioner, terutama meningkatkan kemampuan dalam pekerdjaan politik dan organisasi daripada setiap Komunis, baik setjara kolektif maupun individuil, sehingga betul2 memenuhi tugas sedjarah daripada klas buruh sebagai pelopor dalam perdjuangan seluruh nation Indonesia.

FRONT PERSATUAN

SEPULUH tahun lebih telah lewat sedjak Kongres Nasional ke-V Partai menetapkan garis umum penggalangan front persatuan nasional, jaitu garis: menggalang persatuan anti-imperialisme antara klas buruh, kaum tani, burdjuis ketjil dan burdjuis nasional berbasiskan persekutuan buruh dan tani anti-feodalisme dan jang dipimpin oleh klas buruh. Garis umum in didasarkan pada analisa klas2 didalam masjarakat Indonesia jang belum merdeka penuh dan setengah feodal. Garis umum ini dirumuskan djuga dengan teori do-do-re-mi-fa (1-1-2-3-4), jaitu, 1-tenaga memimpn jalah klas buruh, 1-tenaga pokok jalah kaum tani, 2-persekutuan klas buruh dan kaum tani sebagai basis front persatuan nasional, 3-tiga kekuatan pendorong revolusi jalah buruh, tani dan burdjuis ketjil jang merupakan Rakjat pekerdja dan 4-kekuatan2 revolusioner jaitu buruh, tani, burdjuis ketjil dan burdjuis nasional jang merupakan kekuatan Rakjat jang dirugikan oleh imperialisme dan feodalisme.

Dalam masa jang relatif singkat menurut ukuran sedjarah itu, garis umum penggalangan front persatuan nasional tsb, telah menempuh berbagai udjian dari „razzia Agustus Sukiman”, „peristiwa 17 Oktober 1952”, „peristiwa 13 Desember 1956” jang disusul oleh pemberontakan „PRRI-Permesta”, gerakan2 rasialis, sampai pada rentetan peristiwa2 Ketaon, Kanigoro, Malang, Bali dsb. Akan tetapi djustru lewat udjian2 tsb persatuan nasional revolusioner dinegeri kita bukannja mendjadi susut, melainkan makin berkembang dan tumbuh perkasa. Seperti dikatakan oleh Karl Marx, bahwa „teori mendjadi kekuatan materiil segera sesudah ia mentjekau massa”: demikian pula „teori persatuan nasional revolusioner berporoskan Nasakom” sudah, sedang dan akan terus-menerus mentjekau massa, dan karenanja ia tumbuh mendjadi kekuatan materiil jang perkasa.

Dalam masa sepuluh tahun lebih itu terasa betapa kader2 dan anggota2 PKI makin menguasai „dua djimat” dalam penggalangan front persatuan dengan burdjuis nasional, jaitu prinsip „bersatu dan berdjuang” dan prinsip „mendjaga kebebasan dalam bersatu”. Kader2 dan anggota2 PKI djuga semakin baik menggalang front persatuan nasional dengan memegang teguh prinsip Marxisme-Leninisme dan luwes dalam membawakannja. Dan didalam tempaan perdjuangan revolusioner Rakjat Indonesia untuk menggulingkan „empat bukit setan”, imperialisme, feodalisme, kapitalisme komprador dan kapitalisme birokrat, garis umum penggalangan front persatuan nasional tsb. telah dilengkapi oleh pengalaman Rakjat Indonesia sendiri, dengan sendjata taktik „menetapkan sasasran jang seketjil mungkin, dengan menggalang front seluas mungkin”.

PERSEKUTUAN BURUH & TANI

PRINSIP menggalang persekutuan buruh dan tani anti-feodalisme sebagai basis persatuan nasional dengan klas buruh sebagai pimpinan telah mendorong PKI untuk semakin intensif mengintegrasikan diri setjara total dengan gerakan tani. Ini sepenuhnja sesuai dengan pandangan kaum Marxis-Leninis bahwa hakekat revolusi2 pembebasan nasional adalah revolusi agraria. Pengalaman Revolusi Indonesia memperkuat dalil tsb. dan telah memberikan peladjaran jang sangat penting bahwa soal kaum tani atau soal desa adalah soal menang atau kalahnja revolusi. Pengalaman Revolusi Agustus 1945 mengadjarkan kepada kita bahwa desa atau kaum tani mempunjai empat peranan: sumber bahan makanan, sumber pradjurit, tempat revolusi mundur djika terpukul dikota, dan pangkalan untuk menjerang musuh dan merebut kembali kota.

Makin berhasilnja PKI dalam mengintegrasikan diri dengan gerakan tani dibuktikan oleh makin meningkatnja aksi2 kaum tani dari aksi jang paling rendah sampai pada aksi2 mendobrak kematjetan UUPA/UUPBH serta aksi2 dalam rangka meningkatkan konfrontasi dengan “Malaysia”. Dewasa ini tak ada satu haripun jang lewat tanpa aksi kaum tani jang ribuan djumlahnja. Ini berarti sekaligus peningkatan kesedaran politik, peningkatan keberanian serta dipertadjamnja kewaspadaan, peningkatan kesedaran berorganisasi dan disiplin, jang lebih landjut menurut peningkatan taraf kebudajaan dari kaum tani.

Kemadjuan gerakan tani adalah sedemikian rupa sehingga menimbulkan setjara tak terelakkan kristalisasi didalam Partai2 dan semua kekuatan revolusi. Elemen2 jang betul2 setia dalam kata2 dan perbuatan terhadap Manipol tidak bisa lain ketjuali memihak dan menjatukan diri dengan kaum tani jang telah berubah dari „serba salah” mendjadi „serba benar”. Sedangkan elemen2 jang anti-gerakan tani, tani-phobi atau munafik, makin terbuka wadjah jang sebenarnja, sehingga makin terpodjok dan terisolasi dari massa jang terus madju dengan tegapnja seirama dengan derap-madjunja gerakan revolusioner. Ini membuka djalan kearah pengokohan lebih landjut front persatuan nasional dinegeri kita.

NASAKOM

KERDJASAMA politik Nasakom adalah suatu tjiri jang chas dalam hal penggalangan front persatuan nasional revolusioner di Indonesia. Ide persatuan Nasakom, jang sudah dikemukakan oleh Presiden Sukarno dalam th. 1926, adalah pentjerminan kenjataan kehidupan politik dalam masjarakat Indonesia, dimana tiga aliran politik jang besar, jaitu Nasionalisme, Agama dan Komunisme berakar dan berpengaruh dalam sedjarah gerakan kemerdekaan nasional. Djasa jang besar dari Bung Karno bagi Revolusi dan Rakjat Indonesia jalah bahwa beliau sebagai putera Indonesia berhasil menggali dan mengembangkan tradisi kegotongrojongan Nasakom itu. Djuga Lenin, dengan kearifan seorang Marxis jang senantiasa dihangati oleh apinja internasionalisme proletar, telah menundjukkan pada klas buruh dan Rakjat Indonesa, djauh sebelum klas buruh Indonesia mendirikan Partainja, apa jang oleh Bung Karno ditjetuskan sebagai ide Nasakom tsb. dalam artikelnja jang berdjudul “Kebangkitan Asia” (1913).

Dalam menanggulangi intrik2 adan ratjun perpetjahan jang disebabkan oleh musuh2 revolusi dan membikin lebih baik lagi kerdjasama Nasakom, PKI telah mengadjukan empat fasal “tatakrama Nasakom” sebagai sendjata jang paling ampuh untuk mengurus kontradiksi2 jang timbul antara sesama kekuatan revolusi. Empat kode etik atau empat fasal tatakrama Nasakom jalah:

Pertama: setiap aliran politik dalam Nasakom harus setia pada Manipol dan pedoman2 pelaksanaannja.

Kedua: dikalangan Nasakom dan semua golongan Manipolis tidak boleh ada konfrontasi, tetapi jang ada jalah konsultasi, musjawarah untuk mufakat dan kompetisi Manipolis. Kompetisi Manipolis berarti berlomba dalam mengabdi Rakjat, dalam melaksanakan Ampera.

Ketiga: dikalangan Nasakom tidak hanja harus bisa menerima, tetapi djuga harus bisa memberi. (Hal ini djuga dinjatakan dalam tulisan Bung Karno Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme tahun 1926).

Keempat: masing2 aliran dalam Nasakom harus mendjaga supaja tidak menerobos pekarangan alran lain sampai merugikan aliran lain; djangan sampai, misalnja, sesuatu aliran politik membikin interpretasi tentang adjaran aliran lain jang merugikan aliran lain itu. Djangan sampai terdjadi orang2 jang tidak tahu alif-bengkoknja Marxisme membikin uraian2 atau tulisan tentang Marxisme atau Komunisme jang bertentangan dengan Marxisme. Serahkan interpretasi tentang adjaran tiap aliran kepada aliran politik jang bersangkutan.

Presiden Sukarno dalam amanat “Berdikari”nja dengan tegas mengatakan: „Aku setudju dengan adanja suatu tatakrama Nasakom. Di Indonesia perkembangan Nasionalisme, perkembangan Agama dan perkembangan Komunisme didjamin. Ke-tiga2 aliran itu harus bekerdja sama setjara rukun. Masing2 tidak diperkenankan membitjarakan aliran jang lain setjara merugikan aliran lain itu. Djuga propaganda anti-Nasionalisme, anti-agama dan anti-Komunisme dilarang”.

Pada pokoknja 4 fasal tatakrama Nasakom itu sudah diterima oleh seluruh nasion, mula2 lewat Deklarasi Bogor dan kemudian diperkuat dengan ketetapan MPRS No. VII/MPRS/1965 tentang Prinsip2 Musjawarah untuk Mufakat dalam Demokrasi Terpimpin. Tatakrama Nasakom ini merupakan sendjata jang tepat untuk mengurus kontradiksi diantara sesama kekuatan revolusi dan untuk lebih membulatkan tekad Rakjat Indonesia baik dalam meningkatkan konfrontasi dengan “Malaysia” maupun untuk merampungkan tugas2 revolusi Indonesia.

FRONT NASIONAL

ORGANISASI Front Nasional jang dibentuk dengan Penpres No. 13 th ’59 adalah hasil pengalaman perdjuangan Rakjat Indonesia sendiri, suatu perkembangan dari ber-matjam2 bentuk kerdjasama jang pernah dialami dalam perdjuangan Rakjat Indonesia. Ia djuga merupakan perpaduan antara kegiatan pemerintah dan kegiatan Rakjat, terutama antara Partai2 politik, ormas2 revolusioner, angkatan bersendjata dan perorangan. Dengan demikian tiga bentuk front persatuan nasional dinegeri kita, jaitu: kerdjasama politik Nasakom, persekutuan buruh dan tani serta organisasi Front Nasional, merupakan „tritunggal” jang sangat efisien untuk mempersatukan semua kekuatan revolusi, untuk mewudjudkan kebulatan tekad dan kebulatan tindakan guna menunaikan Amanat Penderitaan Rakjat. Oleh karena tu adalah mendjadi tugas kita semua untuk terus mengkonsolidasi dan mengembangkan ketiga bentuk front persatuan nasional tsb.

GARIS UMUM REVOLUSI & PANTJASILA

REVOLUSI Indonesia sekarang sudah mempunja Garis Umumnja jang tepat, jaitu: Dengan front nasional jang bersokoguru buruh dan tani, berporos Nasakom dan berlandaskan idiil Pantjasila, menjelesaikan revolusi nasional-demokratis, menudju ke Sosialisme Indonesia. Setia kepada Garis Umum ini, PKI tidak hanja menerima tetapi dengan tak kenal djemu terus menanamkan didalam fikiran Rakjat Indonesia mahapentingnja Pantjasila sebagai alat dan filsafat pemersatu. Kaum Komunisto-phobi memfitnah, bahwa PKI menerima Pantjasila „hanja” sebagai alat pemersatu, tetapi PKI telah mendjawab bahwa PKI menerima Pantjasila djustru sebagai alat pemersatu. Disinilah bedanja antara PKI dan kaum Komunisto-phobi atau Manipolis-munafik, jang meremehkan masalah persatuan kekuatan2 revolusi. PKI menerima Pantjasila tidak sebagai „taktik” dalam arti sematjam tipu muslihat, melainkan berdasarkan analisa Marxis jang bertolak dari pandangan materialisme dialektik bahwa Pantjasila merupakan kenjataan jang mentjerminkan kejakinan2 jang hidup didalam masjarakat Indonesia, sehingga PKI menerima Pantjasila sebagai dasar Negara bukan hanja karena ada sila2 jang disenangi oleh PKI. PKI menerima Pantjasila sebagai suatu keseluruhan jang tidak ter-potong2 karena kekuatan Pantjasila terletak djutsru didalam ter-potong2 karena kekuatan Pantjasila terletak djustru didalam kesatuannja. Atau sebagai jang dikatakan oleh Bung Karno, penggali Pantjasila itu sendiri bahwa djika diperas Pantjasila mendjadi Trisila dan diperas lagi Eka-sila, jaitu Gotongrojong.

Sikap PKI jang menerima Pantjasila adalah sikap jang objektif dan ilmiah, dan sekali-kali tidak berarti bahwa PKI telah mendjadi revisionis. Sikap PKI jang tepat terhadap Pantjasila ini djustru telah membikin makin terpodjoknja kaum Komunisto-phobi jang karena kekalapannja telah melakukan usaha dari jang halus sampai jang paling kotor untuk memfitnah bahwa sikap PKI tsb. adalah sikap jang “munafik”.

ANGKATAN BERSENDJATA

ANGKATAN BERSENDJATA RI lahir dari pangkuan Revolusi Agustus 1945 jang memiliki tradisi anti-fasisme, anti-imperialisme, anti-feodalisme, demokratis dan ber-tjita2 Sosialisme Indonesia. Oleh karenanja ia adalah Revolusi Indonesia jang djuga dipimpin oleh Manipol untuk ber-sama2 kekuatan2 revolusi lainnja mengubah Indonesia dewasa ini mendjadi masjarakat Indonesia jang merdeka penuh dan demokratis menudju ke Sosialisme. Majoritet anggota Angkatan Bersendjata RI terdiri dari putera2 kaum buruh dan tani, terutama kaum tani, jang merupakan sokoguru Revolusi Indonesia. Klas buruh dan PKI, bersama dengan kekuatan revolusioner lainnja, mempunjai andil besar dalam membangun Angkatan Bersendjata ini. Oleh karena tu, adalah djuga kewadjiban PKI untuk mengeratkan hubungan „Dwitunggal Rakjat dan Angkatan Bersendjata RI” supaja dalam kedjadian apapun Angkatan Bersendjata atau bagian terbesarnja senantasa berdiri teguh difihak Rakjat, difihak revolusi.

Kaum imperialis asing dan agen2nja didalamnegeri selalu berusaha keras untuk mengadudomba Rakjat Indonesia, chususnja PKI, dengan ABRI atau sebaliknja. Mereka selalu menggambarkan se-akan2 terdapat permusuhan antara kaum Komunis Indonesia dengan ABRI. Sebagai djawaban untuk menanggulangi maksud djahat kaum imperialis itu Kaum Komunis selalu mengibarkan tinggi sembojan „Dwitunggal Rakjat dan Angkatan Bersendjata” dan sepenuhnja mendukung apa jang dikatakan oleh Presiden Sukarno didalam Amanat kepada MPRS: „Hanja satu permintaanku, jaitu supaja Rakjat Manipolis, jang sedang melangsungkan ofensif Manipolis, bekerdjasama se-erat2nja dengan alat2 negara untuk meringkus reaksi dan kontrarevolusi itu. Kepada alat2 negara, polisikah dia, AD-kah dia, AL-kah dia, AU-kah dia, djaksa-kah dia, hakimkah dia, kepala daerahkah dia, aku minta supaja mereka benar2 memihak Rakjat”.

MASALAH SUKUBANGSA

DALAM tugas penggalangan front persatuan nasional, pemetjahan setjara tepat masalah sukubangsa, termasuk suku keturunan asing, mempunjai peranan jang penting. Suatu kenjataan jalah bahwa nasion Indonesia terdiri dari banjak sukubangsa besar dan ketjil, masing2 dengan bahasa, kebudajaan dan adat istiadatnja sendiri. Menghadapi tindakan terkutuk kaum reaksioner dari luar dan dalamnegeri jang tidak henti2nja berusaha mempertadjam kontradiksi2 dan mengobarkan purbasangka sukuisme dan rasialisme guna memetjahbelah persatuan nasional Rakjat Indonesia. PKI telah meletakkan garis jang tepat untuk memetjahkan masalah sukubangsa, jaitu garis „haksama untuk semua sukubangsa” jang berarti „mentjegah sukubangsa-besarisme” dan menekankan prinsip „sukubangsa besar harus menghormati sukubangsa2 jang ketjil”, sedang dikalangan sukubangsa ketjil harus ditjegah timbulnja suku-bangsaisme jang sempit jang tidak mau menerima segala sesuatu dari sukubangsa lain. Mengenai suku keturunan asing, PKI dengan gigih melawan segala diskriminasi rasialis antara „asli” dan „tidak asli”, menekankan haksama dan kewadjiban sama bagi semua warganegara, dan mengintensifkan politik pengintegrasian berbagai lapisan suku keturunan asing kedalam seluruh gerakan revolusioner Rakjat Indonesia.

Djuga garis ini telah mengalami berbagai udjian, tetapi sikap jang teguh memegang garis itu telah berhasil mengalahkan berbagai kegiatan separatisme dan rasialisme dinegeri kita jang dilantjarkan oleh kekuatan reaksi. Kuntji sukses pekerdjaan Partai dibdang ini jalah makin berakarnja Partai dikalangan massa Rakjat dari setiap sukubangsa dinegeri kita.

PEWARIS DAN PENERUS PERDJUANGAN

DIDALAM Preambul Konstitusi PKI ditegaskan, bahwa PKI „adalah pewaris dan penerus perdjuangan jang heroik dan revolusioner dari Rakjat Indonesia”.

Kenjataan sedjarah menundjukkan, bahwa dalam usia jang masih muda, dalam tahun 1926, PKI telah tampil kedepan memimpin pemberontakan bersendjata, pemberontakan nasional jang pertama dengan tudjuan menggulingkan kekuasaan kolonial Belanda. PKI djuga telah memimpin gerakan dibawah tanah dalam melawan fasisme Djepang dan telah memainkan peranan jang penting dalam persiapan dan selama Revolusi Agustus 1945, serta kemudian dalam melawan pemberontakan „PRRI-Permesta” jang hendak memetjah kesatuan nasion Indonesia. Dengan moral jang tinggi, kaum Komunis menghadapi siksaan2 kaum kolonial Belanda, kaum fasis Djepang, teror reaksi dalam Provokasi Madiun dan dalam pemberontakan2 kontrarevolusioner seperti DI-TII, RMS, „PRRI-Permesta” dls. Bersamaan dengan golongan2 patriotik lainnja kaum Komunis mengorbankan djiwanja dalam membela kemerdekaan Indonesia, dalam perdjuangan membebaskan Irian Barat, dalam melaksanakan Dwikora dengan konfrontasi disegala bidang dan dalam perdjuangan2 patriotik lainnja.

Dalam memperingati ulangtahun ke-45 ini, kita tundukkan kepala kepada semua Komunis jang telah gugur, baik dalam mendjalankan hukuman mati, ataupun dalam mengalami siksaan dalam pendjara dan pembuangan, demi untuk kebebasan tanahair dan klasnja. Adalah mendjadi kewadjiban setiap Komunis untuk tetap setia dan mendjundjung tinggi tradisi dan heroisme revolusioner jang dimiliki oleh generasi2 jang mendahuluinja.

PARTAI MASSA & KADER

KENJATAAN2 objektif jang dihadapi PKI, jaitu, negeri kepulauan jang luas, jang banjak penduduknja tetapi tidak merata dan terdiri dari banjak sukubangsa jang kemadjuannja tidak sama, mengharuskan PKI untuk mendjadikan dirinja partai kader dan partai massa sekaligus, berdisiplin badja, tersebar diseluruh negeri dan terkonsolidasi dalam ideologi, politik dan organisasi. Tanpa Partai jang demikian, tidaklah mungkin bagi PKI membawa madju gerakan revolusioner Rakjat Indonesia kepintu gerbang kemenangannja.

Pengalaman sedjarah PKI menundjukkan, bahwa masalah pembangunan Partai banjak tergantung dari tjepat-tidaknja Program dan politik Partai, jaitu, sampai dimana Partai mentjerminkan dan membela kepentingan2 massa luas hingga dapat menarik massa itu kedalam barisannja.

Dewasa ini, PKI telah mempunja anggota lebih dari 3 djuta, dan kita dapat berkata, bahwa PKI telah mendjadi partai massa dan partai kader, jang ditandai oleh djumlah anggota jang besar, jang bersatu disekitar inti pimpinan jang telah tergembleng, jang inti aktivis2nja senantiasa bertambah dan diremadjakan terus-menerus, dengan dipromosikannja anggota2 jang paling tjakap, paling madju dan jang telah terudji didalam gerakan revolusioner Rakjat kita.

Haruslah senantiasa diingat, bahwa PKI adalah Partai tipe baru bentuk tertinggi organisasi dan pelopor dari klas buruh, dan ini hanja mungkin apabila PKI setjara teguh mendasarkan dirinja kepada prinsip2 sentralisme demokratis. Melaksanakan sentralisme demokratis dalam kehidupan Partai setjara konsekwen adalah sjarat utama untuk terdapatnja disiplin badja didalam Partai.

PENDIDIKAN IDEOLOGI

BERKEMBANGNJA PKI mendjadi salahsatu Partai terbesar di Indonesia dalam masa lebih dari sepuluh tahun ini menimbulkan tugas2 baru jang mendesak kepada Partai, jaitu mutlaknja diselenggarakan pendidkan ideologi jang sistimatis dikalangan massa anggota Partai, sebagai djaminan untuk terdapatnja kesatuan aksi dan organisasi dalam Partai.

Pendidikan didalam Partai, jang semula berupa kursus2 singkat atau gerakan2 beladjar jang disesuaikan dengan kebutuhan2 politik dan organisasi setjara kongkrit dalam periode2 tertentu dari pembangunan Partai, telah berkembang mendjadi djaringan Sekolah2 Partai dari tingkat central sampai tingkat subseksi jang dapat menjelenggarakan pendidikan Marxisme-Leninisme bagi anggota2 PKI. Sukses2 jang ditjapai dibidang pendidikan ini telah ikut mensukseskan pula pekerdjaan2 Partai dibidang organisasi dan politik. Ia telah membantu tertjiptanja kebulatan fikiran didalam Partai terhadap masalah2 pokok revolusi Indonesia, dan karenanja, telah membantu mengurangi seminimum mungkin kesalahan2 politik jang dilakukan oleh kader2 partai. Disamping itu, sukses2 jang ditjapai dibidang pendidikan ini telah mentjiptakan pula sjarat2 untuk membangun barisan pekerdja teori didalam Partai, jang akan mempertjepat penggeneralisasian pengalaman2 jang kaja dari gerakan revolusioner Rakjat kita.

Meningkatnja teori dan ideologi Partai, baik setjara kolektif maupun individuil, menundjukkan dengan gamblang, bahwa dengan pendidikan jang sistimatis dan dengan pimpinan jang tepat, seseorang anggota, apapun asal-klasnja pasti bisa mendjadi seorang Komunis jang baik. Kenjataan ini merupakan bantahan jang tegas terhadap kaum revisionis modern, jang mengagungkan asal-klas seseorang, hingga se-olah2 menutup kemungkinan bagi seseorang jang bukan berasal dari klas buruh untuk mendjadi seorang Komunis jang baik. Dari pengalaman gerakan klas buruh sedunia dan gerakan klas buruh Indonesia dapat ditarik peladjaran bahwa klas buruh jang dihinggapi oleh revisionisme, reformisme dan sosial-demokrasi mendjad kekuatan jang membela burdjuasi, sedangkan kaum tani jang telah dididik dengan teori Marxisme-Leninisme merupakan kekuatan jang dengan setia mendukung proletariat.

PEKERDJAAN RISET

PENGALAMAN sedjarah Partai kita menundjukkan, bahwa masalah riset adalah masalah jang penting untuk dapat memberikan pimpinan jang ilmiah. Tak dapat disangkal, bahwa masalah terpokok dari riset adalah masalah melakukan kontak2 dan hubungan2 langsung dengan kenjataan2 jang harus diketahui dan harus dirombak. Dari kontak dan hubungan langsung itu, kita dapat mentjerminkan hukum2nja setjara tepat, mempergunakannja untuk mengubah kenjataan tersebut. Adalah suatu omongkosong belaka melaksanakan metode memimpin „memadukan seruan umum dengan tuntunan kongkrit, memadukan pimpinan dengan massa”, tanpa melakukan kontak atau hubungan langsung dengan kenjataan2 itu sendiri, dengan perkataan lain, tanpa melakukan riset.

Program tepat jang dilahirkan oleh Kongres ke-V Partai, adalah hasil studi dan penelitian jang tekun dari pimpinan Partai terhadap sifat masjarakat Indonesia, hingga dengan Program itu, Partai telah memberikan pimpinan jang tepat terhadap gerakan revolusioner dinegeri kita. Pekerdjaan riset mengenai keadaan tani dan gerakan tani diseluruh Djawa, jang dilakukan dibawah pimpinan langsung Kawan D.N. Aidit, tidak hanja mendorong perkembangan gerakan tani, tapi djuga membangkitkan kesedaran didalam barisan Partai bahwa pekerdjaan Partai hanja akan berhasil baik djika dipadu dengan pekerdjaan riset.

Oleh karena itu, kegiatan riset ini jang telah dimulai dalam kehidupan Partai kita, haruslah senantiasa dikembangkan hingga mendjadi tradisi didalam kehidupan Partai chususnja dan gerakan massa kita pada umumnja, sebagai djaminan untuk tetap berada di-tengah2 massa, memberikan pimpinan jang ilmiah terhadapnja. PKI senantiasa menjerukan sembojan beladjar dan bekerdja: „Tahu Marxisme, kenal Keadaan”.

PEKERDJAAN BERPLAN

PENGALAMAN jang amat penting didalam pembangunan Partai kita jalah peranan bekerdja dengan berentjana (berplan). Semendjak tahun 1951, Partai telah dibangun berdasarkan plan2, baik djangka pendek maupun djangka pandjang. Bekerdja dengan plan memberikan pendidikan dan latihan ideologis kepada massa anggota Partai guna mentjegah kegiatan2 jang spontan, guna mendjamin pekerdjaan jang menjeluruh disemua bidang kegiatan serta guna memadukan pekerdjaan berkobar dan pekerdjaan tekun. Hal itu menundjukkan, bahwa perkembangan Partai kita bukanlah suatu proses jang spontan, akan tetapi suatu proses kegiatan jang berentjana dan bertudjuan, didasarkan atas azas2 jang ilmiah.

Dewasa ini, Partai tengah menjelenggarakan Plan 4 Tahun mengenai Kebudajaan, Ideologi dan Organisasi, sesudah dua kali menjelesaikan plan tiga tahun, jaitu: Plan 3 Tahun mengenai Organisasi dan Pendidikan dan Plan 3 Tahun mengenai Pendidikan dan Organisasi. Suksesnja pelaksanaan Plan 4 Tahun jang sekarang ini akan pasti sangat mempertinggi kemampuan Partai kta sebagai organisasi Komunis jang besar untuk memetjahkan masalah2 politik, ekonomi dan kebudajaan jang dihadapi oleh gerakan revolusioner Rakjat kita. Berhasilnja Plan 4 Tahun akan meningkatkan peranan aktif kesadaran subjektif dari setiap anggota Partai untuk dapat melaksanakan tugas2 revolusionernja setjara baik.

EMPAT SJARAT KADER

PERANAN kaum Komunis Indonesia dalam menghadapi masalah2 nasional ataupun internasional semakin diakui oleh kawan dan lawan, dan telah menempatkan Partai didalam kedudukan jang semakin menentukan dalam perkembangan politik ditanahair kita. Bersamaan dengan itu, tanggungdjawab Partai kepada klasnja, kepada Rakjat Indonesia, semakin besar. Tanggungdjawab itu menuntut kepada setiap Komunis untuk setjara terus-menerus meningkatkan mutu dirinja masing2 sebagai Komuns, mendjadi Komunis jang baik dan lebih baik lagi. Dalam situasi revolusioner jang sekarang makin menandjak dan mematang di Indonesia, maka diperlukan disiplin badja lebih2 daripada sebelumnja. Oleh sebab itu, anggota2 PKI harus berusaha keras untuk mendjadi kader2 PKI jang berani, berdisiplin, pandai dan berkebudajaan.

Untuk mendjadi Komunis jang baik haruslah dilakukan pembadjaan dan pendidikan diri setjara terus-menerus, jaitu mendidik diri dalam semangat, teori dan ideologi Marxisme-Leninisme dan dalam mentrapkannja pada kondisi2 kongkrit revolusi Indonesia, serta membadjakan diri didalam kehangatan api perdjuangan revolusioner.

Dalam keadaan sekarang, sjarat2 untuk membadjakan diri dan mendidik diri bagi setiap anggota partai terbuka se-luas2nja. Dengan adanja djaringan pendidikan didalam badan2 Partai, setiap anggota Partai mempunjai kesempatan untuk dapat mendidik diri sedangkan menandjaknja gerakan revolusioner negeri kita dewasa ini membuka kesempatan se-besar2nja bagi setiap anggota Partai untuk membadjakan dirinja didalam kehangatan api revolusioner dibidang kegiatan apapun.

Hanja dengan kader dan anggota2 Partai jang senantiasa melakukan pembadjaan diri, dan pendidikan diri jang senantiasa meningkatkan peranan aktif kesedaran subjektifnja, jang mendjadi insan politik dan kultur jang progresif dan sehat, maka kemenangan Rakjat kita pasti dan tak terelakan.

NEFO VERSUS OLDEFO

REVOLUSI Indonesia adalah bagian jang takterpisahkan dari revolusi duna. Dalam menghadapi antjaman agresi imperialis terus-menerus, terbukti daja mobilisasi sembojan revolusioner dari Rakjat Indonesia „kita tjinta damai, tapi lebih tjinta kemerdekaan”.

Tugas internasional revolusi Indonesia dewasa ini jalah memperkokoh front internasional anti-imperialis, jaitu nefo untuk melawan oldefo. Untuk ini gerakan revolusioner Rakjat Indonesia harus mengintegrasikan diri dengan revolusi Rakjat2 semua negeri untuk membentuk satu dunia baru jang bersih dari imperialisme, kolonialisme dan neokolonialisme.

PKI berpendirian teguh, bahwa nasion2 tertindas dan jang sedang berdjuang untuk kemerdekaan nasional jang penuh, perpaduan patriotisme dan internasionalisme merupakan sjarat mutlak untuk suksesnja perdjuangan besar menghantjurkan imperialisme. Tidaklah mungkin seseorang mendjadi patriot sedjati tanpa mendjadi internasionalis sekaligus. Patriotisme tanpa internasionalisme bisa berkembang mendjadi sovinisme. „Patriotisme” sematjam itu tidak mungkin membawa nasion kearah kebebasan jang sesungguhnja, karena nasion jang menindas nasion lain adalah tidak bebas. Sebaliknja, seseorang tak mungkin mendjadi internasionalis jang sedjati, djika tidak sekaligus patriot. Imperialisme hanja dapat dihantjurkan setjara internasional, djika ia mendapat pukulan jang mematikan disetiap tempat dimana kakinja berpidjak. Perdjuangan jang konsekwen melawan imperialisme disetap negeri adalah patriotis dan sekaligus internasionalis.

Kemenangan revolusi2 di Asia Tenggara jang merupakan salah satu daerah pusat teleng kontradiksi2 dunia, tidak hanja berarti memotong garis hidup imperialisme, tetapi—seperti jang dikatakan Presiden Sukarno—berarti pula mengubahnja dari „life-line” mendjadi „death-line” daripada imperialisme; karena kemenangan tersebut berarti bobolnja benteng terpokok dari kaum imperialis.

Perdjuangan Rakjat Indonesia sebagai salah satu negeri di Asia Tenggara dan peranannja dalam pertjaturan politik internasional dewasa in, dimana terdapat Partai Komunis terbesar jang Marxis-Leninis diluar kubu sosialis, dan dimana aksi2 massa revolusioner dalam berbagai bentuk perdjuangan terus meningkat dari hari ke hari, akan memberi sumbangan jang besar kepada revolusi dunia menguulingkan imperialisme dunia.

MELAWAN REVISIONISME

DALAM usahanja untuk membendung arus gerakan Komunis internasional dengan kubu sosialis sebagai hasilnja jang terpenting dewasa ini, dan untuk menindas gerakan pembebasan nasional di Afrika, Asia dan Amerika Latin, jang mendjadi sebab utama makin merontoknja sistim kolonial imperialisme jang oleh Pernjataan 81 Partai2 Komunis dan Partai2 Buruh dinjatakan sebagai peristiwa jang nomor dua pentingnja sesudah lahirnja kubu sosialis, kaum imperialis dengan AS sebagai biangkeladinja, telah berhasil mentjiptakan serdadu2 sukarelawan ideologi dan politiknja, jaitu kaum revisionis modern. Revisionisme modern adalah ideologi burdjuis jang menjelundup kedalam gerakan Komunis dengan berdjubah Marxisme, jang dalam usahanja menentang adjaran2 Marxisme-Leninisme jang fundamentil senantiasa menjesuaikan diri dengan perkembangan jang paling baru. Selama masih ada imperialisme didunia, bahaja revisionisme akan senantiasa mengantjam gerakan Komunis dan dengan demikian djuga mengantjam gerakan pembebasan nasional. Oleh karena itu, perdjuangan menghantjurkan imperialisme omongkosong belaka djika tidak disertai dengan perdjuangan jang tegar mengganjang revisionisme baik jang lama maupun jang modern.

Pengalaman Rakjat Indonesia sendiri dalam menanggulangi agresi, subversi dan intervensi asing, dan dalam memperkokoh nefo chususnja di Asia-Afrika, telah mengadjarkan betapa djahatnja kaum revisionis modern jang mau mematahkan perdjuangan revolusioner Rakjat2 A-A, a.l. lewat usul2 mereka dalam dua kali „KTT non-blok”. Sokongannja terhadap neo-kolonialisme „Malaysia”, intervensinja terhadap urusan dalam negeri Indonesia mengenai Kabinet Nasakom, dan djasanja untuk „menjelamatkan” madjikannja Lyndon Johnson mengenai „usul perdamaian” di Vietnam, telah menelandjangi dirinja sendiri sebagai pion kaum imperialis dalam gerakan buruh internasional.

Perajaan Dasawarsa KAA I jang diselenggarakan dengan sukses di Djakarta pada bulan April jl. merupakan peristiwa internasional jang sangat penting. Pidato Presiden Sukarno pada upatjara peringatan Dasawarsa memberi arah jang tegas anti-imperialis kepada Konferensi A-A II jad. di Aldjazair. Ia menundjukkan bahwa perdjuangan Rakjat2 A-A samasekali tidak didasarkan pada rasialisme atau pembatasan2 geografi, tapi langsung ditudjukan kepada musuh2 semua Rakjat didunia, jaitu imperialisme, kolonialisme dan neokolonialisme.

Tak dapat disangkal, bahwa turun panggungnja Chrusjtjov dari pimpinan PKUS dan pemerintah Sovjet adalah suatu kemenangan dari perdjuangan kaum Marxis-Leninis sedunia melawan revisionisme. Tetapi ini tidak berarti bahwa perdjuangan melawan revisionisme sudah selesai. Kenjataan menundjukkan, terutama dengan diselenggarakannja pertemuan Moskow 1 Maret 1965, bahwa revisionisme masih tetap hidup, tanpa Chrusjtjov. Ini berarti bahwa kaum Marxis-Leninis sedunia dituntut untuk lebih memperkuat persatuan dan keteguhannja dalam melawan revisionisme modern.

Dalam perdjuangan melawan revisionisme, PKI tidak sedetikpun lengah dalam perlawanannja terhadap dogmatisme jang lama maupun jang modern, jang djika tidak dilawan bisa menjebabkan Partai terisolasi dari massa, atau djuga bisa terdjerembab dalam djurang revisionisme modern.

GERAKAN KOMUNIS INTERNASIONAL

MASALAH memperkuat persatuan GKI atas dasar Marxisme-Leninisme, atas dasar prinsip2 revolusioner dari Deklarasi Moskow 1957 dan Pernjataan Moskow 1960, merupakan tugas vtal PKI dan Partai2 Komunis serta kaum Marxis-Leninis sedjati diseluruh dunia, jang tak dapat di-tawar2 lagi. Dalam perdjuangan ini PKI akan tetap mempertahankan azas bebas dan haksama dalam hubungan antar Partai2 Komunis.

PKI telah menjimpulkan, bahwa GKI sedang berada dalam keadaan seleksi, kristalisasi dan konsolidasi. Keadaan jang kadang2 nampaknja mentjemaskan hanjalah demikian djika dilihat sepintas lalu. Sjarat2 objektif tjukup untuk mendjamin, bahwa GKI tidak akan ambruk. Selama didunia masih ada penindasan dan penghisapan, selama itu terdapat sjarat2 jang kuat bagi perkembangan gerakan komunis.

Awal gelap revisionisme tidak mungkin bertahan lama menerima teriknja matahari Marxisme-Leninisme. Taufan perdjuangan revolusioner akan segera menjapu bersih awan gelap ini dan langit GKI akan tetap tjerah dibawah sinar Marxisme-Leninisme.

Mari kta terus mengibarkan tinggi2 enam pandji perdjuangan melawan revisionisme, jaitu: 1) pandji Marxisme-Leninisme melawan revisionisme, 2) pandji revolusi melawan kapitulasi, 3) pandji perdamaian kongkrit melawan perdamaian abstrak, 4) pandji internasionalisme proletar melawan egoisme negara besar, 5) pandji persatuan melawan perpetjahan, 6) pandji optimisme revolusioner melawan pesimisme.

TUGAS2 MULIA

SUDAH 45 tahun PKI berdjuang untuk persatuan bangsa, demokrasi dan kemerdekaan nasional jang penuh. Banjak rintangan jang telah dilalui, lebih banjak lagi jang masih dihadapi. Tetapi tugas2 perdjuangan PKI, sebagai tugas2 perdjuangan Rakjat, adalah mulia. Tjita2nja adalah tjita2 umatmanusia jang paling luhur, jaitu pembebasan—pembebasan umatmanusia dari penghisapan nasion atas nasion dan manusia atas manusia.

Tugas2 mulia PKI dilaksanakan dengan pertama mengibarkan tinggi2 Tripandji Bangsa, jaitu Demokrasi, Persatuan, Mobilisasi dan Tripandji Partai jaitu Front Persatuan, Pembangunan Partai, Revolusi Agustus ’45; kedua, melaksanakan dengan konsekwen langganan kerdja Partai jatu memadukan teori dan praktek, melaksanakan kritik-selfkritik dan garis massa dan metode memimpin Partai; ketiga membasmi penjakit puasdiri disegala bidang dan bekerdja keras sebagai kader2 jang berani, berdisiplin, pandai dan berkebudajaan.

Djajalah Partai Komunis Indonesia!

Djajalah front nasional berporos Nasakom!

Djajalah Republik Indonesia!

Djajalah Revolusi Agustus!

Djajalah Marxisme-Leninisme!

Djakarta, 6 Mei 1965

Politbiro CC PKI