Baca EPUB: tentang-masalah-kebudajaan-jang-benar-dan-jang-tidak-benar

2 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. Table of Contents
  2. Table of Contents
SOEDJATMOKO
Tentang Masalah Kebudajaan jang Benar dan jang tidak Benar
Kacabenggala Editions

Publisher Note

Tulisan ini terbit di majalah Gema edisi Th. II No. 5 tahun 1949 dan ditujukan untuk Supomo.

Digitizer Note

This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.

All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.

The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.

KEPADA Prof. Mr. Dr. SUPOMO

Oleh: S. SUDJATMOKO

KENJATAAN revolusi ialah kejakinannja akan artinja. Hal itu bukan sadja berarti usaha untuk mentjapai hak menentukan nasib sendiri dalam hal politik, tetapi lebih luas lagi, jaitu usaha menetapkan diri sendiri dalam hal kebudajaan sebagai bangsa. Dilihat dari sudut ini, maka revolusi itu terlahir dari kesadaran, bahwa usaha seperti itu ialah djalan keluar satu-satunja dari terus berlangsungnja proses tjerai-berai kehidupan rakjat, hilangnja sifat-sifat diri, dan djuga dari keinsafan, bahwa tidaklah mungkin dapat disusun dan dialami anasir-anasir baru, pengertian-pengertian dan kadar-kadar jang timbul karena adanja perhubungan dengan Barat berdasarkan asas-hidup sendiri jang terpusat. Itu ialah suatu hal jang tidak mungkin, jang berurat berakar pada peristiwa tidak merdekanja suatu bangsa dalam hal politik.

DJIWA pemuda Indonesia jang tidak tentu tjoraknja selama sepuluh tahun achir pemerintahan Belanda dan karena itu ketidak-sanggupannja mentjiptakan kebudajaan sendiri, disamping itu ditambah pula dengan pemalsuan kebudajaan jang banjak sedikitnja dipaksakan kepada kita selama pendjadjahan Djepang, menerbitkan kesadaran baru akan perhubungan jang tak terpisahkan antara kebudajaan dan kemerdekaan. Begitulah revolusi kita ini, dan pada umumnja nasionalisme-kolonial—dalam hal ini revolusi kita ini ialah perletusannja jang sepenuhnja—djuga berurat berakar pada keinsafan, bahwa berlangsungnja kehidupan sebagai suatu bangsa jang penuh semangat hidup dan ada persatuan kebudajaannja bergantung kepada terpenuhinja beberapa sjarat politik, ekonomi dan sosial dan djuga, bahwa djika sjarat-sjarat itu tidak mungkin dapat dipenuhi, maka hal itu sudah tidak salah lagi akan mengakibatkan musnahnja kebudajaan itu dan dengan demikian berachirlah kehidupan rakjat itu sebagai suatu bangsa (Natie).

Tetapi revolusi lebih luas artinja. Revolusi itu djuga artinja menerobosnja kesadaran waktu-sedjarah. Jaitu penerobosan jang menembus perasaan-hidup jang tidak berdasarkan sedjarah, melampaui sikap-sikap hidup mistik, jang berkuasa pada kita dalam berbagai-bagai tingkatnja dan bentuknja dan jang menjebabkan pengikutnja menjambut dunia dan tindakan dalam dunia dengan suatu sjarat perdjandjian jang tegas. Itu berarti, bahwa kita menjambut dunia ini sepenuhnja dan mengakui pentingnja bertindak dalam dunia ini, sedang kepentingan itu adalah terdapat dalam dunia ini djuga. Itu berarti penerobosan akan tjara memikirkan kategori sedjarah dan politik, jaitu kategori jang tegas terliput dalamnja. Tindakan jang bersifat politik dan tanggungdjawab terhadap tindakan itu dalam keadaan sedjarah jang njata memperoleh artinja sendiri. Dan disebelah itu dapat pula kita menjebut aspek lain pada nasionalisme itu, jang pada umumnja lebih terkenal, jaitu didapatnja orang-seorang dan sadar akan harga diri sendiri, suatu aspek jang tentangnja telah banjak ditulis orang, tetapi dalam revolusi tampak pula, bahwa hal itu tidak tetap, ja malahan barangkali dapat membahajakan karena sifatnja jang umum, jang tak dapat tidak harus ada pada suatu perdjuangan revolusioner.

Demikianlah tampak oleh kita, bahwa nasionalisme itu sekali-kali bukanlah suatu asas negatif, melainkan telah membawa pandangan-pandangan baru terhadap kehidupan dan dunia ini dan karena itu, bagaimana djuga ada memberi dorongan akan pandangan hidup dan pandangan dunia jang baru; pendeknja pada waktu ini kita berhadapan dengan suatu keadaan kebudajaan jang baru seluruhnja.

KEADAAN kebudajaan baru inilah jang memaksa kita mengubah dengan tidak kepalang tanggung dasar pandnagan kita akan tiap-tiap pandangan kebudajaan bangsa kita. Kebanjakan pandangan-pandangan kebudajaan jang terdapat pada zaman kolonial adalah studi-studi tentang beberapa bahagiannja sadja, tidak dipandang dari kesatuan-keseluruhannja dalam kebudajaan kita ataupun semuanja itu ialah uraian-uraian tentang keadaan kebudajaan dengan menjebelahkan hubungan diri penulis atas soal-soal jang dibitjarakan, karena hal itu dilakukan oleh orangluar, jang baginja masalah kebudajaan Indonesia ini memang mendjadi suatu objek-studi jjang menarik hati, tetapi hanja mengenai kulit sadja dan bukan mendjadi suatu masalah jang hangat mengenai diri sendiri.

Tiap-tiap pandangan kebudajaan harus berdasarkan perasaan-hidup baru, jang diatas telah digambarkan beberapa anasirnja, ja malahan hal itu harus berdasarkan hakekatnja, jaitu menentukan nasib sendiri. Dengan demikian pada asasnja telah terputus perhubungan dengan dasar-pandangan lain jang lebih tua, jang masih berlaku sampai sekarang. Itu adalah suatu gerakan jang berdjalan kedua djurusan, kedjurusan lain, jaitu kearah jang asing dan teristimewa kearah kebudajaan Barat, dan kedjurusan diri sendiri, kearah zaman silam dalam kebudajaan sendiri, djuga dalam bentuknja sekarang ini.

Berhubung dengan sikap menghadapi Barat ada pula suatu sebab lain jang memaksa kita mendjauhkan diri, jaitu kesadaran Eropah Barat akan adanja krisis.

Memang pada 20 tahun jang lalu dalam penjelidikan kebudajaan jang dilakukan oleh penjelidik orang Barat makin lama makin banjak terdengar suara, bahwa dengan dengan tegas ukuran-ukuran kebudajaan Barat itu tidak tetap dapat berlaku untuk mempertimbangkan kebudajaan-kebudajaan Bumiputera disini, tetapi belum pernah terdjadi sebelumnja, bahwa kita terpaksa djuga menarik dasar-dasar, hasrat-hasrat dan pembatasan-pembatasan pada kebudajaan Eropah Barat kedalam penjelidikan keadaan kita sendiri, biarpun kesadaran akan krisis ini tetap djuga berlangsung dan ketidak-sanggupannja telah ternjata dengan djelas. Dalam hal itu keluhuran kebudajaan Barat masih terlampau njata tampaknja. Memang banjak sedikitnja dulu orang selalu masih segan mengambil beberapa anasir-kebudajaan dan peristiwa-peristiwa Barat mendjadi harta kebudajaan sendiri, sehingga sesungguhnjalah banjak sedikitnja terdapat suatu „ecclectisme” dalam proses pertjampuran kebudajaan ini. Tentang kritik terhadap kebudajaan Eropah Barat sebagai suatu kesegalaan, sebenarnjalah hal itu belum pernah dibitjarakan orang. Untuk itu proses ini masih banjak berlaku diluar kemungkinan-kemungkinan bagi orang untuk mentjampungkan diri kedalamnja dan mungkin djuga dengan tidak diinsafinja sedikitpun.

MASA tidak bertanja itu telah lalu, tetapi begitu pula telah berachir masanja kita bertaklid sadja menerima segalanja dari pada masa jang telah lampau dalam kebudajaan kita. Tidak sanggupnja kebudajaan zaman lalu itu memberi kita pegangan dalam pertemuan kita dengan Barat dan kemudian dengan Djepang, telah menundjukkan dengan njata, bahwa kebudajaan kita sebenarnjalah tak kurang dan tak lebih hanja suatu runtuhan sadja, tidak kuasa untuk menimbulkan beberapa dorongan baru atau jang kembali dapat djadi asas suatu kehidupan jang bulat. Sebenarnja kelemahan generasi sebelum kita, dan sebahagian djuga hal ini mengenai generasi sekarang, dalam hal kebudajaan, tak lain tak bukan ialah suatu tanda tidak kuasanja untuk mentjiptakan suatu kehidupan jang bulat. Generasi jang lampau tidak dapat mengatasi petjah-belah, jang djadi sebab kesuburannja, jang mendorong mereka terus hidup dalam keadaan biasa dimasjarakat kolonial dengan mempergunakan ketjakapan tehnik jang diperolehnja dari jang disebut orang pendidikan Barat, tetapi pada waktunja djiwanja mengalami ketegangan, maka ditjarinja tempat bernaung pada kepastian-kepastian jang diberikan oleh mistik, jang sudah tentu tetap djadi kepastian palsu, karena hanja baru dipegang, kalau tidak punja pegangan lain lagi.

Demikianlah njata bagi kita, bahwa penjelidikan keadaan kebudajaan kita, harus datang dari diri kita sendiri, jakni dari suatu perasaan hidup baru jang sedang menembus keluar. Hanja kalau itu disadari, baru terbuka kemungkinan-kemungkinan untuk kemudian hari. Dasar permulaan jang lagi akan mengaburkan keadaan kita dan mentjiptakan kepastian jang pada hakekatnja tidak benar. Dengan lajar-belakang ini, maka ada artinja karangan-karangan Prof. Supomo, tetapi dengan lajar-belakang itu pula mendjadi djelas batalnja rantjangannja.

DARI kumpulan karangannja jang terbit dalam Mimbar Indonesia akan kita bitjarakan dua buah karangannja jang dengan djelas memperlihatkan hal itu. Jakni: „Pada Pintu Gerbang Zaman Baru” (Mimbar 10 Jan. 1948 dan „Pertemuan antara Barat dan Timur” (Mimbar 13 Maret 1948), karena karangan-karangan itu memberikan pemandangan kepada kita akan dasar-dasar permulaan pandangan kebudajaannja, kesimpulan-kesimpulannja dan harapan-harapan kebudajaannja. Dalam kedua karangan itu ditundjukkan perdekatan (convergentie) jang sekarang dapat terdjadi antara kebudajaan Barat dalam perkembangannja pada waktu achir-achir dengan kebudajaan Timur. Perdekatan itu ditarik sebagai kesimpulan sesudahnja dalam karangan pertama disebut berturut-turut kutipan dari berbagai-bagai penulis, jang menurut perasaan saja terlalu banjak dipakai suatu dalil dengan tidak menentukan setjukupnja dasar-permulaan dan tempat penulis itu dalam kehidupan Eropah. Kita tidak akan memperkatakan kedua soal itu lebih landjut, biar bagaimana djuga pentingnja kelihatannja bagi kita untuk menentukan bagi penulis-penulis jang dikutip itu tempatnja jang tepat dalam kehidupan kebudajaan Eropah Barat dan dengan demikian kepitjikan sudut-sudut pandangannja bagi suatu pemandangan tentang kebudajaannja Eropah Barat, memperlihatkan sifat semena-mena pada kesimpulan-kesimpulan jang tidak tetap berlaku, jang ditarik dengan djalan menjusun beberapa kutipan tentang arah jang tentu jang dianggap patut ditempuh oleh kebudajaan Eropah Barat. Djadi tampaklah ada suatu perdekatan.

Apakah isinja perdekatan itu? Perdekatan itu terdjadi, djika Eropah Barat pada waktu ini menjimpang dari pandangan-dunia jang rasionil, selandjutnja mendjauhkan diri dari kekuasaan alat-alat produksi jang menjebabkan manusia melepaskan peri-kemanusiaannja dan membom-atom masjarakat itu, pembasmian tradisi-tradisi, sedang mereka tidak kuasa mentjiptakan dasar-dasar tradisi baru. Pendeknja mereka harus menjimpang dari arah-hidup dan pandangan jang membawa Barat kedjalan bermaradja-lelanja nihilisme, jang lebih dulu telah diterka djuga oleh Nietsche. Mengambil djalan lain, tetapi kemana arahnja? Menjimpang—biarlah kita pakai kata Tuan S. sendiri—kearah pandangan-dunia jang sintetis jang meliputi keseluruhan, jang mentjoba memahami manusia dan merangkuminja sebagai suatu kesegalaan dan sebagai bahagian organisas dari pada dunia ini. Dan inilah, begitu kata S., jang selalu mendjadi pandangan Timur sedjak dulu. Dan dengan demikian, biarpun tidak dengan tegas, sekurang-kurangnja sudah dengan sendirinja dibenarkan Timur dengan pandangan-dunianja itu dalam uraian S. Dibenarkan dalam dua hal: umumnja sebagai pandangan-dunia jang tepat—sebaliknja dari pada pandangan Barat jang membelok dalam perkembangannja mula-mula—dan pada chususnja djuga sebagai dasar-permulaan bagi kesadaran kebudajaan untuk Timur dan teristimewa untuk negeri ini, Indonesia.

TETAPI dengan itu masalah itu belum lagi terpetjahkan, karena bukankah tidak ditentukan, bahwa sesudah didapati perdekatan itu, ditundjuk pula, dengan pertolongan beberapa penulis lagi bahwa kedua kebudajaan itu ada mengandung anasir-anasir jang hendaknja sama memperkaja kedua belah pihak, serta diutjapkanlah harapan, supaja manusia jang mempunjai bahagian dalam pertemuan kedua kebudajaan, „the One World”, jang sangat diingini, dapat membawa kita kedjalan kemakmuran kebendaan dan kesedjahteraan kerohanian.

Disini diberi suatu kepastian, jang dapat menghiburkan hati kita sedikit, tetapi itu belum lagi berarti bahwa semuanja itu dengan segera sudah benar adanja. Kepastian itu boleh menjamankan hati kita, karena sifat umumnja dan sifat sewadjarnja dapat melepaskan manusia masa sekarang, dewasa ini, dari tanggungdjawabnja untuk ikut dengan langsung mentjiptakan pada proses seperti itu. Itu adalah hiburan jang djuga disadjikan Schubart dengan kutipannja dalam karangan-karangan diatas kepada manusia Eropah dan apda muka lain kepada manusia Indonesia oleh Djobojo. Hal itu berarti menina-bobokkan kita, dengan kepastian jang menenangkan hati, jang tidak lagi memaksa diri kita berhati bimbang dan karena kepastian itu pula kita tidak usah lagi menghadapi zaman-lalu dalam kebudajaan kita sendiri; malahan djuga tidak usah mengalami perasaan putus-asa jang dirasakan oleh manusia Eropah Barat dalam kesadarannja akan adanja suatu krisis. Hal itu malahan membinasakan pendorong jang satu-satunja dapat memberi dorongan pertama untuk mentjiptakan bentuk sendiri sebagai pernjataan perasaan-hidup baru jang sedang menembus keluar pada suatu kebudajaan baru. Demikianlah manusia Indonesia dalam usahanja untuk menentukan tempat kebudajaannja terpaksa harus melepaskan diri dari konfrontasi, baik dengan Barat maupun dengan Timur, dan disebelah itu ia menginsafi perasaan-hidup baru dan menarik tenaga pentjipta baru jang telah rusak sifatnja.

SESUDAH membitjarakan pemandangan tentang apa jang telah diterima dalam kekatjauan itu oleh dasar-permulaan jang telah diambil dalam kedua karangan itu, maka sekarang kita dapat pindah memberi pemandangan tentang bahan-bahan karangan itu. Dan barangkali lebih banjak hasilnja untuk mendasarkan pandangan ini pada pengertian Tuhan, sedang dalam karangan-karangan itu dalilnja, atau lebih tepat dalam hal ini pertuturan kutipan itu, berulang-ulang achirnja sampai djuga kepada pengertian Tuhan itu.

Adakah pengertian Tuhan jang telah lahir kembali di Eropah Barat akan mendjadi pendorong bagi kebudajaan baru jang tampaknja akan timbul? Dan kalau betul demikian adalah pengertian Tuhan ini dapat meliputi pengertian Timur jang tradisionil, sehingga sebenarnjalah kita dapat mengatakan adanja suatu perdekatan?

Sudah pastilah hal itu tidak demikian sekadar dia mengenai filsafat existentie. Tetapi ini benar, bahwa segala nama jang dikutip itu ada persesuaiannja dengan hal ini, jakni bahwa mereka itu semuanja menjudahi pergerakan, jang membantunkan manusia keluar dari kegelapan sistim kepertjajaan atau tjara berpikir jang telah djadi umum dan melemparkannja kembali kepada dirinja serta dapat menentukan tanggungdjawabnja jang abadi terhadap kehidupannja dalam kemerdekaannja sebagai suatu machluk jang hidup. Tetapi „Transzendenz” Heidgers tidak ada sangkut-pautnja dengan Tuhan, hanja djadi suatu anasir pergerakan jang dengan tegas harus ditafsirkan sebagai terliput dalamnja, dan bahwa kehidupan harus memberi dorongan untuk mentjapai hakekatnja. Begitu pula kita tidak dapat berkata pada Sartre akan pengertian seperti itu dalam adjarannja jang boleh disingkatkan djadi suatu kesusilaan jang berterus-terang (bertindak seperti kita, seperti setiap orang dalam hal itu seharusnja bertindak).

Tetapi djuga pengertian Tuhan dari existentialist-existentialist Katholiek dan existentialist jang terlebih berdekatan dengan agama Protestant, jakni Karl Jaspers pada hakekatnja berbeda dari pada apa jang diartikan orang dengan Tuhan di Timur. Sebabnja Tuhan dari Jaspers sangat djauh dan pada asasnja tidak dapat ditjapai. la berkata kepada orang-seorang akan kemungkinan adanja tanggung-djawab jang dipikul dengan kemauan sendiri, djadi tidak dapat ditawar lagi. Ia berkata kepada manusia dalam Chiffres, bahasa sembojan jang menentukan tudjuan manusia karena dia ada, dan tambahan lagi ia berkata dalam „Scheitern”, jakni pada asasnja segala usaha manusia untuk memenuhi tudjuannja dalam kehidupan harus kandas. Gog dari Jaspers, seperti jang dikemukakan Preiffer, tidak akan dapat ditjapai, ketjuali kalau melalui „den Engpasz ethischer Anstrengung” (Djalan sempit daja-upaja kesusilaan).

UNTUK menundjukkan pertentangan jang sesungguhnja, malahan barangkali tidak mungkinnja hal itu disatukan, jakni pertentangan antara pengertian Tuhan Eropah Barat dan—biarlah buat sementara waktu kita sebut begini—pengertian Timur, maka rasanja tak perlulah kita lari kepada filsafah existentie ini; biarpun dengan bersendikan itu sangat mudah kita dapat mentjahari persesuaian dan mungkin pertaliannja dengan pikiran Protestant modern. Bukankah terpetjahnja orang-seorang daripada Tuhan telah ternjata pada masa Pembaharuan (Hervorming). Waktu itu orang-seorang terpisah dari padaNja, dengan tegas terhampar suatu djurang jang tak terseberangi antara manusia dengan Tuhan dengan sunjinja manusia berdiri dihadapanNja dengan angan-angan hatinja sendiri. Dihadapan orang-seorang itu adalah djurang jang dalam itu, jang halnja dapat diseberangi dengan melalui djembatan rahmat Tuhan, jang tidak mungkin dapat diperoleh manusia dengan bersendikan dirinja sendiri.

Sebaliknja ada manusia jang hidup dalam kesadaran keagamaan serba-esa dan berpusat kepada manusia jang pada asasnja tidak pernah lepas daripada Tuhan. Itulah suatu pendirian jang bukan hanja berlaku, tetapi terutama terdapat di Timur. Pertanjaan akan hakekatnja kehidupan, kehidupan manusia jang tidak dapat dilipur, dan rasa-takut pada masa ini tentulah tetap asing bagi orang demikian, karena usaha menjatukan diri kehadirat Tuhan pada asasnja mungkin dan tetap djadi asas dalam pengalaman mistiknja.

Begitu pula tidak pernah dapat disamakan nihilisme Eropah Barat dengan nihilisme agama Buddha atau djuga dengan nihilisme anarchistis dari berbagai-bagai mazhab mistik di Timur.

Dorongan mentjahari Tuhan didunia ini, hasrat melaksanakan keradjaan Tuhan dalam kehidupan ini, tetapi djuga dorongan itu dalam arti keduniawian, mentjahari kebenaran untuk kebenaran, kebenaran dalam pertaliannja dengan segala-galanja, pendeknja berpikir setjara ilmu-pengetahuan, maka semuanja itu tidak dapat kita timbulkan semangatnja daripada pengertian Tuhan seperti itu.

Bukankah ini memberi kepastian jang sama—memang subjektif—,tetapi sungguhpun demikian tidak kurang njatanja dalam persatuannja dengan Tuhan. Itu adalah suatu lompatan kepada Tuhan, jang djika ditilik dari sudut keperluan tjara berpikir masjarakat adalah suatu salah- sambungan.

Salah-sambungan, karena disini lingkaran itu terlalu lekas dipersambungkan dengan mengabaikan banjak kenjataan-kenjataan dalam lingkaran itu. Ketegangannja terlalu lekas dihilangkan; ketegangan itulah jang mendjadi tenaga penarik satu-satunja bagi pentjiptaan suatu kebudajaan. Itulah sebab kelemahan tenaga kebudajaan kita pada abad-abad penghabisan. Tampak kepada kita bagaimana berbedanja kedua pengertian Tuhan itu, bukan sadja pada hakekatnja, melainkan djuga melihat akibatnja pada masjarakat.

BOLEHKAH kita disini mengatakan suatu perdekatan? Tidak. Tadi telah tampak oleh kita, bahwa kedua pengertian Tuhan itu berlainan isinja. Dalam pada itu harus pula diingat, bahwa sungguhpun pada pengertian Tuhan itu ada tenaga baru sedang berlaku dalam masjarakat, pastilah tidak dapat kita mengatakan tenaga itu meliputi seluruhnja. Dalam hal itu, baik Banning, orang Protestant, maupun Berdajew, orang Keristen-Timur; biar bagaimana djuga berbeda pendiriannja masing-masing, sama-sama memperdengarkan pendiriannja jang chusus. Dan oleh karena itu Schubart, orang jang djauh pandangannja kemuka itu, terlampau lepas pandangannja dari perasaan umum. Djika kita mau suatu gambaran jang sempurna tentang tendens-tendens dalam kebudajaan Eropah Barat, maka kita tidak boleh mengabaikan memandang, bukan sadja manusia Eropah Barat jang sedang bimbang dan lagi mentjahari keluar, melainkan djuga kita harus memperhatikan tenaga geredja Katholiek jang terus mendesak serta tjara berpikir Marxisme jang seluruhnja bersifat keduniawian, jang baginja tidak ada kebimbangan itu ataupun kebimbangan itu hanja kedjangan penghabisan daripada suatu masa kekuasaan kelas jang lampau.

Begitu pula tidak benar untuk menarik kesimpulan dari personalisme di Eropah Barat, bahwa ada perdekatan. Tentu benar, bahwa usaha untuk mentjahari sikap-hidup sintetis jang meliputi seluruhnja, jang sekarang sedang muntjul di Eropah Barat, ada gunanja bagi kita, jang tentu patut diperhatikan dalam perdjalanan kita; tetapi bagi kita jang sekarang sedang menemui pribadi dan diri kita, maka djika dianggap ada perdekatan itu dengan berdasarkan ditemuinja dan dihargakannja kembali pribadi itu di Eropah Barat, hal itu hanja akan mengaburkan sifat pembebasan diri kita dalam sifat jang sebenarnja. Personalisme ialah suatu masalah jang sepatutnja belum boleh timbul pada diri kita.

Tentang sifat tjara-berpikir baru jang sintetis dan meliputi seluruhnja, kita harus insaf, bahwa krisis Eropah Barat bukan sadja menundjukkan sesuatu jang tjerai-berai, sesuatu jang merosot karena terputusnja ikatan persatuan, tetapi sebaliknja hal itu lebih-lebih lagi berarti suatu krisis untuk naik, berarti berlangsungnja suatu gerakan jang didorong oleh ketjakapan mengeritik dalam ilmu pengetahuan dan djuga dalam rasa-kesadaran atas dasar-dasar dan dasar-dasar palsu pada kebudajaan Eropah-Barat. Dan karena itu pada satu pihak benar djuga adanja, djika dikatakan, bahwa tjara-berpikir baru itu ingin meliputi seluruhnja dan sintetis, tetapi sungguhpun demikian masih djuga bersifat tidak tetap. Sifat tidak tetap jang selalu ada pada dasar-permulaan, jang dengan segera terus berlaku sesudah dasar-permulaan itu ditentukan, itulah jang memberi kekuatan dan kebaharuan seterusnja serta tenaga hajati kepada tjara-berpikir Barat.

DARI tenaga penarik jang tidak padam-padam itulah terlahir kebudajaan. Pendeknja, bagi kita tidak boleh soalnja untuk mentjahari apakah ada terdapat perdekatan atau tidak dalam tjara-berpikir Timur jang tradisionil, seperti jang dinjatakan oleh Prof. Supomo, dengan tendens-tendensnja jang sekarang tampak di Eropah-Barat.

Pertama sekali perdekatan itu tidak ada, kalau kita tjukup bersikap kritis terhadap kedua belah pihak, kedua kita harus insaf, bahwa usaha mentjahari perdekatan itu timbul karena kebutuhan akan penglipur lara dan tersebab oleh adanja hasrat untuk membenarkan segala jang—kuno, sedang dalam pada itu diharap-harap, bahwa dengan berdasarkan segala jang tua itu kehidupan masih dapat berlangsung dengan memuaskan, sungguhpun telah ternjata dengan chusus akan kelemahannja.

Sebabnja kita tidak berani mengakui adanja kebimbangan itu kita tidak berani mentjahari pernjataannja berdasarkan perasaan-hidup baru jang telah menembus dengan naiknja nasionalisme. Hanja kalau ada keberanian itu untuk melihat dan mengakui kelemahan zaman lalunja sendiri dan dalam pada itu tetap bersikap kritis terhadap Barat, djuga pada peristiwa-peristiwa krisisnja, hanja dengan djalan demikian pandangan kita akan tjukup djauhnja untuk menginsafi kedudukan baru kita dan tenaga-tenaga baru jang berlaku dalamnja. Hanja begitu dan berdasarkan itu dapat terpenuhi gerakan sedjarah jang pada permulaannja terlaksana dalam pergerakan kebangsaan, pendeknja seluruh proses pembaharuan ini.

Sebenarnja dengan ini kita tidak lebih madju daripada menentukan masalahnja sadja. Djuga disini tidak diberikan bagaimana djalannja memetjahkan soal itu. Tetapi bagaimana djuga masalah itu dengan tepat dan terang dimadjukan disini dan tidaklah ia dikaburi oleh kebutuhan akan membenar-benarkan atau chajal-harapan sadja. Hanja dengan demikian kita dapat memperoleh pemandangan jang djelas.