Publisher Note
Tulisan ini dimuat dalam majalah Zenith, edisi No. 12 Th. III yang terbit pada bulan Desember 1953.
Digitizer Note
This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.
All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.
The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.
SEBENARNJA, kisah ini sungguh2 tak patut dikisahkan. Terlampau banjak ketjabulan didalamnja. Tapi apa boleh buat, aku tak bisa menjimpan rahasia lama2. Tambah lama ia tambah tak tertahankan rasanja. Dengan tulisan ini aku hanja hendak mengadjak engkau ikut mengurangi rahasia ini.
Satu djam setelah sampai di Amsterdam, dan resepsi penjambutan sudah selesai, datang seorang sinéas padaku. Sebenarnja tak penting amat dia sinéas atau baktau, atau tukangsusu atau djagoan. Pekerdjaannja dalam kisahku ini tidak banjak turut ambil bagian. Pendeknja, dia datang padaku waktu tamu2 sudah pulang. Lelaki Indonesia jang datang kemari, katanja, mula2nja matanja melotot melihat wanita2 Belanda jang begitu molek dan montok2 seperti tahu.
Sudara, aku punja anak dan punja bini, karenanja hanja mendengarkan sambil tersenjum. Walau bagaimanapun djuga, memang tidak aku bantah pendapat sinéas itu, walaupun perbandingan tahu itu untukku tidak begitu tjotjok. Tahu adalah terlampau gembur. Mereka memang molek dan montok tapi untukku seperti apem. Dan djangan pula salah paham. Senjumku tidaklah bersifat pasif. Dia aktif. Ja, sudara, achir2nja lelaki ini agresif, sekalipun hanja dalam angan2 demi kurangnja keberanian.
Tambah lama dingin udara bertambah terasa. Perbedaan lima atau sepuluh deradjat selsius dengan Djakarta sudah kuasa menggigilkan tubuhku.
Bila sendja datang dan dingin mulai menjerang tubuh, datanglah siksaan untuk berbuat, untuk bergerak, untuk berdjalan. Dan aku tinggalkan kamarku, menuruni djendjang keparat jang tinggi dan tjuram itu, kedjalan raja.
Wanita2 Belanda di Indonesia, sinéas itu meneruskan obrolannja diwaktu jang lain lagi, terlalu dibuat angkuh oleh sedjarah pendjadjahan.
Sebenarnja kawan jang satu ini dalam segala kegiatannja hanja terumbang-ambing oleh dua pokok: dunia film dan dunia wanita. Semangatnja jang ber-api2 dalam mentjeritakan jang belakang ini menundjukkan, bahwa dia adalah seorang pemuda dengan dirahmati vitalitet hidup. Bukan omong-kosong, sudara, bertambah besar nafsu seseorang, bertambah besar pula vitalitetnja. Karena achir2nja nafsu dalam segala hal ini mengakibatkan nafsu untuk mereguk hidup sebesar mungkin. Nafsu adalah hidup, dan hidup adalah nafsu.
Tjobalah sekali djalan2, andjurnja, seorang diri tentu.
Itulah sebabnja aku mentjoba berdjalan seorang diri. Tak ada tudjuan.
Dalam sinarbulan jang saju itu dengan sendirinja sadja kakiku melangkah dan melangkah. Dan tidak setahuku aku telah sampai sadja ditaman Vondel. Kududukan pantatku disebuah bangku kaju berkaki besi. Kupandang bulan diatas: tidak seindah bulan Indonesia, pikirku. Ia selalu disapu mega, dan kadang2 gumpalan halimun menjeberangi taman.
Tiba2 terdengar olehku suara bisikan:
Engkau kesepian? Suara lelaki.
Rasanja aku akan mati oleh kesepian, suara perempuan—suara jang lunak dan manis.
Suara itu menarik perhatianku, dan akupun mendengarkan.
Mengapa menangis? Engkau tidak berbahagia? suara lebih jang keluar mendangkal dari mulut.
Lama-kelamaan suara lelaki itu mejakinkan padaku, bahwa ia tidak keluar dari mulut Belanda, tapi dari mulut Indonesia. Dan rasa2nja suara itupun telah lama aku kenal—dulu di Djakarta.
Ada kau saputangan? tanja perempuan itu.
Ah, setanganku kotor. Hapus sadja matamu dengan sjalku. Aku djuga selalu digilakan oleh kesepian.
Kadang2 aku tanjai diriku sendiri apa sesungguhnja jjang aku hendakkan. Dan aku tidak mengerti. Tjerita aku tentang dirimu.
Apa harus aku tjeritakan? Tjeritakan selamanja tentang penderitaan, sambut lelaki dengan suara Indonesia itu. Dengarkan, — — —
Sedjak aku berkenalan dengan engkau, selalu kulihat engkau tidak berbahagia.
Ja. Dengarkan. Sedjak aku mulai dewasa, katanja, kian lama kian njata padaku, ada sesuatu jang hilang dalam djiwaku. Dan aku seperti Jahudi jang dikutuki. Aku mengembara dari tempat ketempat—mentjari sesuatu jang telah hilang dari djiwaku.
Suaranja tak terdengar lagi. Tapi suara wanita Belanda itulah jang menjambung:
Djangan! Betul, djangan. Engkau takkan dapati jang hilang itu dimulutku.
Kemudian tak terdengar, keduanja bertjakap. Aku mulai meng-ingat2, siapa sebenarnja lelaki jang kukenal suaranja itu. Waktu bulan muntjul dibuntut mendung dan intipanku menangkap rambut matakepala jang berdiri, legalah hatiku.
Aku kenal dia: seorang pelukis jang di Djakarta sering datang kerumahku.
Ketjutjukan hendak mengetahui rajuan-senimannja menahan aku hendak bangkit dan meneruskan berdjalan.
Engkau begini molek, katanja.
Wanita Indonesia pun molek2.
Tapi tidak seperti engkau, mari pulang.
Pulang kemana?
Kerumahku tentu.
Mereka bangkit dari rumputan. Diambilnja mantel mereka masing2 jang dipergunakan sebagai tikar dan selimut kemudian berdjalan bertjiuman dan berangkulan, seperti kepiting berkelahi.
Tentu sadja djantungku ikut berdesir. Tapi itu belum bitjara apa2.
Akupun bangkit. Pikiranku meng-ingat2 utjapan pelukis kawanku tadi: ada sesuatu jang hilang dalam djiwaku. Utjapan itu pernah kuutjapkan dihatiku waktu memandangi lukisan asli van Gogh dipameran Museum Keradjaan, dimana van Gogh menggambar ladang dengan pohon, matahari dan pohon jang seperti terbakar. Dia djuga kehilangan sesuatu dalam djiwanja, dan dia mentjoba mentjarinja dan memperolehnja kembali. Tetapi dia tidak tahu apa jang hilang dari djiwanja dan dia takkan mungkin tahu apa jang hendak ditjarinja kembali. Kadang2 aku sendiri merasa demikian. Tapi setelah melihat dan mendengar kawanku bermain lidah, begitu serius sebagaimana pernah aku alami djuga, kini dalam hatiku aku tertawa ter-bahak2. Aku mengerti sekarang apa jang hilang itu. Barangkali engkau mengerti djuga. Jakni: impian gairah dimasa remadja. Impian jang tidak memperoleh pelaksanaan dan kepuasan dalam pergaulan kedjenisan. Awas, djangan tuduh aku anakbuah Freud. Aku tak pernah membatja dia, dan djuga tidak pernah berkenalan ataupun bersalaman. Pendeknja, malam itu adalah malam jang memberi ilham padaku, memberi keinsafan bagaimana kadang2 masalah jang begitu rumit dan adjaib itu hanja berpangkal pada ketololan dan mentertawakan.
Suatu kali waktu sinéas itu datang lagi padaku, aku tanjakan alamat pelukis jang kukenal itu. Ia beri aku alamat dan pada suatu hari setelah menerima suratku ia datang padaku. Wadjah ber-seri2 seperti remadja mendapat tjintanja jang pertama.
Lamakelamaan pembitjaraan berpindah kesoal tjabul djuga sebagai biasa terdjadi antara sesama djenis.
Aku dapatkan wanita begitu lemahlembut seperti ibuku kepadaku sendiri. Baru sekarang aku merasa berbahagia. Tapi sajang, dia sudah beranak. Aku tidak mengerti bagaimana aku harus bawa dia pulang ke Indonesia nanti.
Waktu isteriku menjugukan kopisusu, dia terdiam. Dan waktu isteriku turut menemuinja, ia terdiam terus. Ia ambil atjara lain: tentang senilukis.
Lama2 ia tjerita pernah melukis tjabul2 jang dipadjang dietalase di djalan Zeedijk dipelabuhan. Dan ia bertjerita bagaimana ia terpaksa tunggang-langgang dikerojok tjabul2 itu. Ia terpaksa menjerahkan djagang, tjat dan pekerdjaannja jang belum selesai, mendjadi djarahan mereka.
Padahal, katanja dengan utjapan sajang, lukisan itu bisa berharga limaratus gulden.
Omongkosong! bantahku.
Ah, kau. Disini djuga banjak perusahaan2 jang tidak lain daripada snob. Perusahaan2 jang banjak hubungannja dengan Indonesia. Dan tjabul dan ketjabulan sekarang, dan barangkali djuga dulu, djadi tema jang mendebarkan dada disini.
Kalian disini tjuma bertambah pandai dilapangan tjabul, isteriku menengahi. Kalian disini tjuma bisa pesta2.
Dan semangat kawanku sipelukis untuk meneruskan tjeritanja tentang pengalamannja mendadaksontak mendjadi padam.
Hari berganti hari dan pada suatu waktu datang sinéas itu. Setelah membuka badju-motornja ia bertjerita:
Aku kira perempuan Belanda jang paling murah di Eropa, rupa2nja di Sweden, Denmark dan Djerman lebih murah lagi.
Ia keluarkan potret2 jang dibuatnja sebagai bukti.
Tjobalah sekali2 kesana, andjurnja pula. Tambah hitam tambah laku. Negro2 jang biasanja gagah dan tegap, disana hidup makmur, tapi tubuhnja sudah mendjadi lidi. Aku kira kalau aku tekuk sekali, patah semua tulang2 jang sudah djadi kering didalam tubuhnja itu.
Sinéas itu kemudian tertawa senang. Achirnja mengedjek:
Emansipasi! Aha emansipasi! Inilah hasilnja.
Dan kalau kalian pulang, kata isteriku jang muntjul dari pintu, di Indonesia nanti kalianlah jang bert-teriak2 ‘berantas tjabul’. Kalian tentang emansipasi Indonesia—hanja karena takut karena kalian nanti djuga punja anak perempuan.
Sinéas ini tidaklah seperti pelukis kita. Ia tak peduli pada reaksi perasaan wanita jang tersinggung djenisnja. Meneruskan:
Selama ada kesempatan! katanja. Siapa jang bertanggungdjawab bila aku nanti di Indonesia mendjadi lupa? Siapa jang akan mengurus kepentinganku kalau aku mendjadi asing dengan kesenanganku sendiri?
Kemudian, dihari lain lagi, pelukis kita datang ketempatku. Langsung mengadukan halnja:
Tahu kau waktu kemarin minggu aku datang kekamarnja? Ah, luarbiasa! Luarbiasa! Belum pernah kualami seumur hidup.
Tentu sadja akupun ingin mendengar tjeritanja. Sedikitbanjak timbul djuga irihatiku pada keluarbiasaan jang hendak ditjeritakannja.
Aku datang kemarin, katanja. Dia bilang, ‘Sekarang hari minggu, spesial untuk anakku.’ Barangkali engkau belum tahu, anak2 sekolah rakjat disini masuk djam delapan pagi dan pulang pada djam lima sore. Djadi tiap hari minggu hari itu disediakan untuk anaknja. Tapi aku berhasil tidur dengannja dipodjok kamar. Tiba2 anaknja masuk dari ruang lain, sonder memandangi kami, menudju kelemari sambil berkata, ‘Mami, aku tidak melihat kesitu.’ Ja, ampun. Alangkah luarbiasa. Alangkah hebat pendidikan barat. Dia tak mau tjampur urusan prive orangtuanja. Dan begitu ketjil anaknja.
Tiba-tiba ia berhenti dan bertanja:
Mengapa kau tertawa terbahak-bahak?
Kalau begitu, kataku, anak itu sudah biasa melihat sandiwara seperti itu. Kalau begitu, aku kira, engkau adalah lelaki jang kelimaratus.
Kurangadjar! sumpahnja. Aku tidak pertjaja. Itu karena pendidikan.
Itu karena rutine, bantahku.
Kurangadjar! sumpahnja lagi.
Sebelum meneruskan tjeritanja isteriku masuk membawakan kopisusu.
Bagaimana noni-nja? tanja isteriku.
Sinar kepuasannja kini berwarna keungu-unguan, berubah mendjadi kebimbangan bertjampur tjemburu jang menggelisahkan. Djuga menggelisahkan hatiku.
Karena isteriku harus masak ia pergi lagi.
Tidak mungkin, bantahnja. Dia pernah bilang padaku, ‘Engkau begini menawan hati’. Gila rasa hatiku karena kebahagiaan. ‘Kulitmu begini halus dan rambutmu, ah, begini hitam dan lebat. Dan matamu seperti buah amandel.’
Djadi engkau jang diraju? tanjaku.
Itu bukan berarti aku jang diraju, tapi orang2 Barat memang berani berkata spontan. Tapi —
Itulah jang membimbangkan. ‘Tapi’, katanja, ‘aku tidak tjinta padamu.’
Mengapa dia djanda sekarang? aku bertanja.
Mengapa pula dengan tapi?
Tidak tjinta? Bagaimana bisa engkau sering tidur disana?
Ja, aku merasa bahagia. Dia djuga. ‘Kita tjukup dengan bahagia,’ katanja.
‘Kalau aku merasa berbahagia karena perhubungan ini, dan engkau djuga, apalagikah jang kita pinta?’
Katanja, lakinja dulu selalu mengeluhkan rasa-rendahnja karena tak mempunjai kesempatan memasuki sekolah tinggi. Djadi diberinja kelonggaran, mereka bertjerai dan lakinja meneruskan disekolahtinggi pertanian di Wageningen. Sekarang hampir insinjur. Mulia hatinja, bukan?
Memang mulia, kataku.
Sebenarnja aku kepingin punja anak dari dia. Tjoba bajangkan: rambut hitam sebagai rambutku, djuga matanja, hidungnja mantjung, dan mukanja tidak menondjol kekiri dan kekanan seperti kita ini.
Anakmu dengan dia bakalnja tjantik2.
Sinéas kita masuk. Dan pelukis kita sekaligus terdiam. Setelah mengutjapkan katapengantar sedikit, langsung ia pada soalnja jang diutjapkannja dengan edjekan:
Emansipasi! Emansipasi! Aku bisa buat film dokumenter bagus tentang hasil emansipasi wanita Barat. Guruku kemarin sudah hidup dengan perempuan lain.
Dan bininja?
Dengan lelaki lain tentu.
Bertjerai?
Mereka Katholik. Mereka tidak boleh bertjerai. Tapi hidup dengan lelaki atau perempuan lain boleh. Pater2 jang terhormat djuga tidak melarang. Hanja untuk bertjerai mereka tak mengidjinkan.
Bagaimana hendak kaumulai film dokumentermu itu?
Dengan type mula dari gedjala hasil emansipasi tentu. Mula2 kamera diarahkan pada anak2 sekolah rakjat, kemudian anak2 sekolah menengah jang mulai pegang2an sepeda, sesudah itu mereka tjeraiberai disekolah-sekolah tinggi dan masarakat luas—dan kemudian kita baru lihat bekas2 dari perang emansipasi. Achirnja manusia2 barat dibuat fade-out, dan burung2 masuk kedalam fade-in menggantikan mereka, terbang dari dahan kedahan, bertjumbu kesana berkasih kemari. Titel film itu? Tjerita tentang emansipasi dibenua Barat.
Ia tertawa senang.
Dalam hal ini engkau terlampau jakin pada pengetahuanmu, kataku. Kupandang pelukis kita, dan ia tak menjukai tjerita sinéas itu.
Apa pikirmu, pelukis? tanja sinéas kita.
Ah, dalam hal itu aku belum punja pengalaman. Dan ia tak mentjoba mengimbangi atau membantah. Ia tak membuka mulut lagi.
Beberapa bulan kemudian musimpanas telah habis djangkanja dan digantikan oleh musimrontok. Sekali aku djalan2 lagi ketaman Vondel, tetapi tak nampak pasangan2 manusia jang tergolek di-balik2 semak atau pepohonan. Bau rontokan daun jang membusuk menjesakkan nafas. Akupun segera meninggalkan taman tersebut. Tetapi sampai dikamarku, gang depan kamar penuh dengan barang2 rumahtangga. Rupa2nja kamar sebelahku ditinggali orang baru sekarang. Beberapa djam kemudian orang baru itu muntjul dengan seorang anaknja jang berumur delapan tahun. Dari bentuk tubuh dan tjaradjalannja sekaligus nampak olehku, bahwa itulah perempuan patjar pelukis kita. dalam pertjakapan jang terdjadi beberapa minggu kemudian ternjata dugaanku itu benar belaka.
Akupun mengakui bahwa perempuan itu tjantik, langsing sekalipun tidak molek dan montok seperti tahu dan/atau apem. Tiap tjam setengah delapan terdengar radio dipasang pada siaran senam-pagi, dan terdengar gedebak-gedebuk dia dan anaknja bersenam. Kalau aku bangun dari randjang kamarnja telah sunjisenjap. Djam lima sore anak dan ibu datang kembali. Djam tudjuh siibu masak didapur. Djam sembilan berbunji bel dari bawah sekali. (Belku dua kali). Kemudian terdengar sepatunja belari-larian menuruni djendjang. Pabila sampai ditingkat pertama terdengar langkah kakinja berhenti, terdengar tali pintu ditarik. Suara-suara pertjakapan menjusul, kemudian langkah bersama menaiki. Satu atau dua djam kemudian terdengar bel sekali lagi, dan lelaki lain datang. Lelaki jang ketiga atau keempat kadang-kadang tidak pulang-pulang hingga pagi. Tidak djarang aku lihat mantel tamu tetangga melambai-lambai dikapstok gang didepan kamarnja, dan topi terletak damai diatasnja.
Lamakelamaan aku ingin mengetahui siapa-siapa lelaki-lelaki itu. Tetapi tiap kali ganti orang. Ada jang buntjit, ada jang kuruskering seperti aku, ada jang pendek, sekali-dua orang Indonesia sebangsa dengan pelukis kita, sekali lagi seorang Tionghoa. Hanja pelukis kita tidak muntjul-muntjul lagi, sekalipun hanja untuk bertamu dirumahku.
Maka bulan demi bulan rontok sepandjang perédaran. Isteri dan anak-anak pulang kembali ke Indoneesia—negeri jang dirahmati matahari. Sinéas datang kekamarku untuk mengadjak mentjari pengalaman:
Kalau tak kualami, katanja, pulang-pulang ke Indonesia engkau tak bisa tidur. Engkau akan diganggu oleh perasaan penasaran. Di Indonesia engkau hanja punja kerbau, dan disini engkau punja banjak kuda tédji, kuda putih. Dan lebih murah daripada kerbau Indonesia.
Bukan karena sutji atau belagak sutji mengapa aku menolak adjakannja. Aku masih belum biasa bertjerai dengan anak-anak dan isteriku jang kutjintai. Lagipula sedjak dahulu aku hanjalah machluk rumahtangga jang tidak mudah bergerak dan menjesuaikan diri dengan keadaan lain.
Kawan, katanja kemudian, dinegeri ini seorang lelaki terlebih dahulu harus melatih diri mendjadi buaja.
Harus?
Tentu. Harus. Kalau tidak—Engkau akan dibuajai orang. Engkau djadi kurban sia-sia, sedang rumahmu begitu djauh. Aku tak tahu berapa ribu mil, tapi aku kira lebih dari seratusribu mil. Kalau engkau djadi kurban djuga, engkau hanja bisa kelapkelip seperti monjet kena sumpit. Bahkan akupun tidak bisa menolong engkau.
Seminggu berlalu pula. Dan untukku sendiri seminggu jang rerak didasar sedjarah itu mengandung kenang-kenangan perpisahan jang pahit. Malam itu aku sedang mentjukupi piama dikamarmandi. Waktu aku masuk kekamarku kulihat tetanggaku, patjar (atau bekas patjar) pelukis kita sudah ada didalam.
Kopi, katanja. Minumlah, segar panas-panas. Diluar amat dingin.
Ia mengenakan trui hidjau-putjuk-daun dengan rok hitam. Rambut djagungnja terkatjau mendjambul diubun-ubun. Kupingnja berhiaskan perakbakar Siam, dan pada lehernja terlilit sjal hitam Spanjol. Ketjantikannja membingungkan aku, hingga tak terpikir olehku untuk bertanja mengapa ia masuk sadja kedalam kamarku.
Aku mau nonton, katanja. Matanja jang abu-abu seperti matakutjing kesilauan menjajukan dan memantjarkan sinar adjakan.
Semoga senang nonton kataku.
Ia pergi, tapi berdiri lama dipintu memandang aku, kemudian melangkah kekapstok mengenakan mantel dan menuruni tangga tjuram jang terkutuk itu. Hilang.
Beberapa malam setelah anak-isteriku pergi aku terusmenerus membatja untuk melupakan kenangan-kenangan perpisahan pahit, dan terus membatja hingga kadang-kadang telah terdengar mobil lewat lagi didjalan raja.
Malam itu kudengar ia pulang. Dan waktu wekker-berpergian-ku kutengok, hari ternjata telah pukul dua malam. Biasanja bila datang malam ia terus menjelinap hilang ditelan malam. Tapi kini ia bangunkan anaknja dan diadjaknja bertjanda. Aku dengar anak itu menangis karena ngantuk. Lagipula aku terpaksa berpikir dimana bioskop di Nederland ini jang habis begitu malam. Paling lambat habis pukul duabelas malam. Pikiran itu tertarik oleh langkah kakinja jang mondarmandir digang ada empat-lima kali.
Djam empat pagi aku baru tertidur dengan bukudidada.
Aku terbangun waktu lampu besar kamarku dinjalakan orang. Nampak olehku sidjanda tetanggaku dengan pénjor tipis berdiri didinding memandang aku. Wadjahnja tiba-tiba berubah. Sigap ia menudju kemedja dimana tjangkir dan lépék bekas kopi semalam kuminum.
Suara garang keluar dari mulutnja:
Aku menjesal kasih kau kopi, katanja. Dan dilemparkan lépak dan tjangkir itu kedinding sehingga petjah bertaburan dilantai. Sendok-ketjilnja ia lipat dan ia lemparkan padaku:
Ini kenang-kenangan untukmu.
Kemudian ia pergi. Dan aku tidur lagi. Antara terdengar dan tiada masuk dalam kupingku siaran wartaberita djam delapan pagi hari radio Brussel. Sedjam kemudian barulah aku benar-benar bangun. Kutjutji muka dan mulut dan kupanggil konsierse. Setelah kutjeritakan segala, aku bertanja:
Apa artinja segala ini?
Ia tertawa terbahak-bahak.
Tuan tidak banjak bergaul, katanja. Sebenarnja, sedjak tuan mengindjak kaki dibumi Nederland tuan harus hidup sebagai orang Belanda.
Ada hubungannja dengan semua ini?
Kopi itu adalah pembeli persahabatan. Tuan harus menginap ditempatnja.
Aku punja anak, aku punja bini.
Disini, anak tinggal anak dan bini tinggal bini, tapi persahabatan djalan terus.
Tuan djuga, tanjaku.
Aku orang Belanda, tuan, aku Jordaan sedjati.
Mendengar keterangan itu, segala irihati dan desiran darah dalam menghadapi pengalaman kawan-kawanku luluh tjair dan hilang. Biar diambil perbandingan tahu ataupun apem, semua tidak bitjara lagi dengan hatiku. Mungkin karena sifat-sifat patriartjat jang kubawa dari rumah, bahwa bila memiliki hati wanita, maka memiliki seluruhnja dan untuk selama-lamanja, tidak terbatas oleh menit atau djam.
Waktu Amsterdam merajakan penjambutan Santa Klaus, kutemui pelukis kita sedang duduk dihalte trem.
Hari ini aku mau masak tjaptjai, kataku. Mari kerumah. Kita makan bersama-sama.
Ia hanja menggelengkan kepala.
Kita buat empat mata sapi, kataku.
Lebih baik kita makan direstoran.
Aku tak punja uang.
Aku djuga tak punja, katanja. Mulai besok aku sudah tak sanggup beli rokok.
Engkau sekarang tak pernah bertjerita tentang noni-mu.
Untuk itu aku sudah kehabisan tjerita, katanja.
Aku baru beli buku Ancient Mexico—tentang seni pahat. Engkau boleh batja.
Kirimkan sadja kerumahku, katanja.
Pelukis kita benar-benar tak mau datang kerumahku. Hari itu djuga waktu berdjalan pulang aku berpapasan dengan sinéas kita jang menderung-derung diatas motornja. Dibelakang membontjeng patjarnja jang baru. Ia perkenalkan aku padanja kemudian meneruskan dalam bahasa Indonesia:
Kalau orang Indonesia hendak kenegeri ini sebelumnja harus bersiap mendjadi buaja. Wanita Indonesia belum memperoleh akibat emasipasinja, karena itu lelakinja masih bisa berbuat garang. Tapi menghadapi masjarakat wanita jang sudah menerima akibat emansipasi demikian ini, kita akan kena gulung kalau tidak djadi buaja. Bukan? tanjanja kemudian pada noni-nja.
Noni jang tak mengerti bahasa Indonesia itu hanja tjengartjengir.
O-ké! Dan motornja menderum hilang dalam rombongan manusia penjambut Santa Klaus. Aku meneruskan perdjalanan pulang. Dan untuk selama-lamanja kata-kata sinéas kita takkan dapat kulupakan: emansipasi-buaja-emansipasi-buaja-emansipasi-buaja.
Amsterdam. XII-1953