Publisher Note
Artikel ini pertama kali dimuat pada bulan Oktober 1952 dalam majalah Pudjangga Baru, No. 4, Th. XIV. Kemudian, diterbitkan kembali dalam majalah Indonesia: Madjalah Kebudajaan, No. 12, Th. III pada bulan Desember 1952. Salinan artikel ini berasal dari lampiran skripsi yang ditulis Fransiska Domas Ngantini di Universitas Sanata Dharma tahun 1999.
Digitizer Note
This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.
All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.
The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.
PILIHRASA (keuze) tiap waktu bergeser. Mobil2 paling baru mengagumkan orang2 mampu. Mobil dibeli. Dalam beberapa waktu kemudian mobil jang dibelinja bukan laqi satu2nja didaerahnja. Kian lama kian banjak. Dan djuga: Kian besar kedjemuan jang tadinja menimbulkan pilihrasanja itu. Achirnja: Pilihrasa jang mendorongnja mengambil mobil itu lenjap. Lenjap dari tempat jang semula dan bergeser ketempat jang lain. Pilihrasa tidakkan mati, selamanja ia ada, bergeser dari tempat ketempat, selama dalam djiwa seseorang masih ada api.
Demikian djuga terdjadinja angkatan. Angkatan—satu ikatan djiwa, kesatuan semangat dalam rangkuman tempat, masa dan lingkungan jang sama. Angkatan bukanlah djumlah orang dalam tempat, masa dan lingkungan jang sama. Ini pengertian dalam kesenian dan bukan dalam kamus. Dan angkatan ini tetap ada, baik diakui maupun tidak. Tuduhan bahwa seorang Beethoven, Mozart, Dos Passos, Heine dan sebagainja bukanlah dibesarkan karena angkatan, adalah sesungguhnja. Kesamaan tempat, masa dan lingkunganlah jang mentjetak persamaan visi, bahkan djuga idee, sekalipun tidak sama betul tetapi toh ada hubungan jang mempersenjawakan. Pertentangan antara satu dan lain anggota2 angkatan itu pada hakekatnja adalah proses isi-mengisi seperti sudah selajaknja terdjadi dalam sedjarah manusia atau gerombolan atau bangsa jang sedang hidup. Angkatan memang ada, diakui atau tidak. Visi dan tjara berpikir orang2 djaman Gilde di Barat tidaklah akan sama dengan orang2 djaman kebangunan industri.
Memang enak mengedjek orang dengan perkataan orang-natur, atau orang-sedikit-gecultiveerd seperti sapi-perah Friesland. Tetapi bukanlah bisa disangkal bahwa tiap2 orang adalah segumpal alam itu sendiri. Orang bisa mengambil batu dan memahatnja djadi patung jang baik, tetapi batu ini tetap bersifut batu, sekalipun kepandaian memahat itu luarbiasa.
Masa, tempat dan lingkungan ini adalah pula alam, mentjetak orang-seorang jang ada dalam rekamannja. Visinja adalah kristalisasi dari semua itu. Dan seniman adalah djurubahasa dari semua itu. Kesenian adalah bahasanja. Tjiptaan2 jang keluar daripadanja demikian djuga. Kemudian: terdjadi suatu angkatan.
Tiap masa membawa angkatannja. Dan angkatan ini bernama atau tidak, adalah tergantung pada banjak-sedikit, kuat-lembeknja kontras2 jang ada dalam masjarakat itu sendiri. Penamaan pada sesuatu angkatan adalah suatu ketegasan. Lebih dari itu: suatu tantangan. Pudjangga Baru adalah suatu angkatan—angkatan jang lahir karena kedjemuannja pada angkatan jang sudah2 jang hidup me-rangkak2.
Tiap angkatan punja kekuatan dan kelemahannja masing2, jang mana kekuatannja merupakan daja-hidupnja. Kemudian kelemahannja adalah mautnja sendiri. Kelemahan suatu angkatan pada masanja biasanja tidak diinsafi sendiri olehnja. Sorak-sorai terlalu riuh sehingga orang tak sempat mengoreksi diri, dan kematian segera datang sebelum sempat orang melakukannja. Kematian ini selamanja dimulai dengan datangnja angkatan baru. Dia jang mengoreksi.
Tentu sadja dapat dua angkatan menjumbangkan tjiptaan pada masarakatnja dalam kurun waktu jang sama. Tetapi ini tidak akan sama mengenai isi, nilai, ataupun teknik serta keadaan seluruhnja. Angkatan Pudjangga Baru dan Angkatan 45 masih tetap bekerdja dalam kurun waktu jang sama. Demikian djuga pernah terdjadi di Rusia dengan Angkatan Slavofiel dan Angkatan Barat. Slavofiel dan Barat ini sesungguhnja bukan lagi merupakan golongan seperti banjak disangkakan orang, djuga bukan sekolahan, tetapi adalah suatu angkatan.
Tentu sadja ada sisa2 angkatan lama jang tidak mau ketinggalan dan mentjoba mempergunakan apa jang dimiliki oleh angkatan baru. Tetapi ini bukanlah kedjudjuran lagi, selama jang dipergunakannja bukan miliknja sendiri. Dan hidupnja kebiasaan demikian adalah berkah vacum pengertian seni pada penjelenggara2 ataupun peminat2 kesenian.
Kematian suatu angkatan sebenarnja telah dimulai sedjak angkatan itu lahir. Kematian ini bersarang dalam kelemahannja. Tiap angkatan mempunjai kelemahan. Dengan tiada kelemahan ini ia akan hidup abadi seperti setan dan dewa2 dalam tjerita. Angkatan baru mentjoba mengisi kelemahan itu dengan kekuatannja. Adanja kelemahan dan adanja semangat mengisinja, disinilah sesungguhnja letaknja romantik hidup. Krisis jang menentukan kematian angkatan lama dan kelahiran angkatan baru adalah pula tjerita tentang besar atau ketjilnja romantik hidup jang ada pada angkatan baru itu.
Amerika mengenal angkatan2 tertentu jang mana tiap angkatan punja raksasanja tersendiri. Middle Generation dengan Lewis, Anderson, Cabell dan Mencken. Flapper Generation dengan Scott Fitzgerald. Lost Generation dengan Hemingway dan Dos Fassos. Belanda pun mengenal angkatannja. Angkatan 80 dengan Perk dan Kloos. Rusia dengan Slavofiel dan Barat. Indonesia dengan Pudjangga Baru dan 45.
Di Indonesia orang lihat perbedaan besar antara Angkatan Pudjangga Baru dan Angkatan 45. Nama dari angkatan2 itu tidaklah soal jang patut diperbintjangkan. Tetapi kehadiran dari keduanja memang ada. Memang patut disesalkan bila ada jang mengatakan bahwa perbedaan itu tidak ada.
Angkatan Pudjangga Baru adalah djurubahasa dari masa kolonial dengan orang2nja jang besar dalam tjetakan ketjil pendjadjahan. Bahkan pemimpin2 sekarang jang berkuasa dinegara kita adalah pula anak2 buatan kolonial dahulu, jakni orang2 jang sedjak lahirnja telah dibuat ketjil oleh pendjadjah almarhum. Mereka ini tak punja tjontoh baik jang lain daripada jang dapat diterimanja dari pendjadjahnja. Keketjilan ini nampak benar waktu saat genting tiba: pemilihan antara dua. Berapa banjak diantara mereka jang djempalitan lari tunggang-langgang kearah jang tiada terdapat penjelesaian. Ah, mereka adalah orang2 jang telah dibuat ketjil. Dan orang2 perdjuangan didjaman pendjadjahan ini adalah pula lain daripada orang2 perdjuangan untuk saat ini. Perdjuangan dimasa itu berarti: berani ngomong didepan umum, tidak sampai pada pembuatan perhitungan dengan pendjadjah itu sendiri, langsung dengan pendjadjah itu sendiri.
Orang-orang Pudjangga Baru sempat memiliki berbagai matjam ilmu. Dan tak djarang diantaranja jang sungguh mendalami. Tetapi ini adalah ilmu mati, ilmu jang mereka sendiri djarang dapat mempergunakannja untuk dirinja, untuk perdjuangannja. Dan bukankah sudah mendjadi tontonan umum se-hari2 intelektuil2 jang dibuat ketjil oleh pendjadjah dan jang memiliki ilmu-ilmu jang mati tak banjak bisa berbuat sedang begini banjak jang harus dikerdjakan! Sungguh, suatu angkatan hidup karena djiwa, karena semangat—djiwa dan semangat perdjuangan untuk mentjapai sesuatu jang mulia menurut anggapannja. Dan bukankah Henriette Stowe ataupun Walt Whitman pengarang jang berdjuang dengan tulisannja untuk menghapus perbudakan, memperdjuangkan kesedjahteraan bangsanja serta persatuan negaranja! Dan ini dibuat oleh angkatan dialam mereka. Pudjangga Baru adalah angkatan jang menjelidiki angkatan2 lalu jang me-rangkak2. Tetapi iapun punja kelemahannja: ia me-rengek2 minta hidup sedang hidup itu sudah lama dimilikinja. Mereka belum hidup dalam hidupnja. Semua jang dimilikinja adalah benda2 mati.
Rengekan minta hidup ini lama2 mendjemukan. Maka datanglah angkatan baru jang kemudian dinamai Angkatan 45. Angkatan inilah angkatan jang mulai hidup dan menulis bersama peperangan. Angkatan ini mau mereguk hidup se-puas2nja, mempergunakan hidup jang telah disadarinja telah dimiliki, sudah djadi haknja. Renaissance jang sesungguhnja dimulai dengan sebutan Chairil pada Aku, tiada ubahnja dengan Italia dengan Dante-nja jang memulai dengan Aku adalah Satu dalam salah satu bait njanjiannja Divina Comedia. Aku mendjadi sumber dari segala inisiatif. Perkataan demi mendjadi tabu selain demi Aku. Tetapi peperangan membuat angkatan ini terampas dari bangku-sekolahnja. Mereka hanja mempunjai hidup jang dapat dan harus dipergunakannja. Dan bukanlah suatu kesalahan jang patut disangsikan bahwa angkatan ini memang kurang memiliki ilmu. Tetapi sesuatu jang sudah djadi miliknja adalah hidup, dan hidup itu dapat dipergunakannja.
Suatu angkatan bukanlah buatan satu-dua orang. Ia mendjelma sebagai semangat, sebagai djiwa masa, tempat dan lingkungannja. Ia mendjelma sebagai keharusan kemasarakatan. Dan bila orang menamai Angkatan 45 buatan Chairil Anwar, ia ter-apung2 dan tidak melihat dasar jang mendjadikan bentuk sungai. Angkatan Pudjangga Baru adalah angkatan pada masanja sendiri jang tidak bisa diulang untuk kedua kalinja. Ulangan hanjalah perbuatan jang sia2. Demikian pula dengan Angkatan 45. Menghukum atau mengadili kekurangan2 jang terdapat pada sesuatu angkatan adalah mengadili atau menghukum anasir2 kemasarakatan jang menjebabkannja.
Dilahirkan didjaman perang Angkatan 45 tahu apa artinja penderitaan dan keketjewaan. Sebagai manusia jang normal, anggota2 angkatan inipun menghendaki jang baik bagi bangsa serta masarakatnja. Hanja tjara, kemampuan serta hasilnja jang ber-lain2an, jang mana tak ada jang bisa menjalahkan. Divina Comedia pun gagal dalam isinja, tetapi sebagai hasil kesusasteraan ia adalah suatu mijlpaal dari masanja. Demikian djuga tulisan2 Ronggowarsito. Dan tiap2 hasilseni dengan kelebihan dan kekurangannja adalah suatu kehadiran adanja masa, adanja masarakat dengan manusianja, dengan kegiatan rohaninja, dengan daerah dan djiwanja.
Tentu, Angkatan 45 ini akan menjebabkan diri buat angkatan mendatang. Dan jang mendatang ini adalah jang kuasa mengisis kekurangan2 jang ada pada Pudjangga Baru serta 45. Tak adanja kerelaan untuk menjebabkan diri adalah perbuatan jang akan sia2 belaka. Orang memang mempunjai sifat pelit. Ia tak mudah mau kehilangan kenang2annja jang indah jang telah dirakumnja dalam hidupnja. Bila tidak demikian takkan mungkin ada hari2 besar dikalender. Orang suka bergajutan pada masa2 gemilangnja. Inilah anasir2 reaksioner janng selamanja mendjidjikkan angkatan mendatang. Dan bertambah kuat orang bergajut padanja, bertambah reaksioner ia, bertambah sengit tantangan jang harus diterimanja. Suatu hal jang sudah selajaknja. Dan kemudian hasil jang akan ditjapai oleh angkatan mendatang sangat terikat pada kemampuan serta kekurangannja. Kekurangan! Tentu sadja ada kekurangannja. Dan kekurangan dilain pihak ini jang melahirkan romantik hidup dan perdjuangan dipihak mendatang. Tetapi, ah, tiap orang ini bermaksud baik, paling sedkit untuk dirinja sendiri. Dan itu tak perlu benar didjadikan alasan untuk menanamkan benih sakit dalam hati atau tubuh.
Sesungguhnja sesuatu angkatan tjuma bisa diukur dari hasil2 jang dapat ditjapainja. Dan sudah dapat dibajangkan bahwa angkatan mendatang adalah angkatan jang kuat, jang dapat mempergunakan se-gala2nja jang dimilikinja, ilmu, hidup serta kekuatan jang berguna untuk perdjuangannja jang tegas, serta tiada memiliki kebebasan untuk dapat merampas hartabenda jang dit-jita2kannja. Bosanan! Bosanan sesungguhnja pembunuh angkatan2 jang sudah2 dan djuga sekarang ini sehingga selalu kita terhalang mendjadi bangsa kuat. Sungguh tidak tepat bangsa Indonesia dilambangkan banteng, sekalipun banteng tekel, jakni banteng jang tiada bertanduk. Lambang jang mendekati adalah buaja atau tjitjak jang dalam seluruh pergulatannja setengah bekerdja dan setengahnja lagi beristirahat.
Bosanan inipun akan diisi oleh angkatan mendatang dengan ketekunan.
Demikianlah maka terdjadi angkatan. Jang satu harus menjebabkan diri untuk jang lain karena keharusan dan bukan karena kehendak satu-dua orang.
Telah sering terdengar njaring tuduhan bahwa Angkatan 45 telah mampus. Ini tidaklah patut disoali. Kalau ini belum terdjadi djuga, besok atau lusa toh akan terdjadi. Tetapi suatu angkatan tidak akan mati selama ia telah menjumbangkan hasilnja kepada sedjarah. Kadang2 ia tidak mati sebagai agkatan sebelum ada angkatan baru jang datang menggantikannja. Dan kemudian perdjuangan mati2an dari tunas muda jang membawa kejakinan baru serta pokok tua jang mau bergajut pada kegemilangannja sendiri sedikit-banjak akan terdjadi. Tetapi selamanja angkatan baru jang menang.