Baca EPUB: tanggung-djawab-seorang-sastrawan

2 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. Table of Contents
  2. Table of Contents
SOBRON AIDIT
Tanggung Djawab Seorang Sastrawan
Kacabenggala Editions

Publisher Note

Digitizer Note

This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.

All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.

The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.

SERINGKALI kita mendjumpai sebuah novel atau karja kesusastraan jang menarik, sehingga kita mendjadi terpesona dibuatnja, tetapi kemudian kita mendjadi ketjewa dibuatnja karena novel atau karja kesusastraan tsb. ditulis dengan tidak benar. Apabila hal itu terdjadi, maka njatalah, bahwa pengarangnja alias si sastrawan tidak mempunjai tanggungdjawab. Pada umumnja kita dapat membuat tiga kategori terhadap pengarang2 atau sastrawan2 jang tidak mengenal tanggungdjawab ini:

Pertama, mereka jang mengarang se-mata2 untuk tudjuan politik.

Kedua, mereka jang (katanja) menolak realisme naif, tetapi sebenarnja hanja merupakan dalih untuk membuat karangan2 tidak ada kenjataannja.

Dan ketiga, mereka jang mengadakan imitasi (peniruan) terhadap karja lain, pendeknja mereka jang menerima model kesusastraan.

Sebaiknja dalam pertemuan kita kali ini ketiga kategori tersebut kita bitjarakan satu demi satu.

Mengarang untuk tudjuan politik.

Politik adalah pembentukan dan penjelenggaraan kekuasaan. Djadi masalahnja adalah masalah kekuasaan. Oleh karena itu, politik an sich tidak selalu berarti djelek, tetapi djuga tidak selalu berarti baik. Kekuasaan itu dapat mendatangkan kesedjahteraan, tetapi sebaliknja dapat pula mendatangkan kesengsaraan kepada masjarakat. Biasanja disekitar fenomena politik terdapatlah pertentangan2 antar-negara, antar-golongan, maupun antar-pribadi. Dalam pertentangan2 inilah letaknja relatifnja politik dan subjektifnja politik. Oleh karena itu kekuasaan selalu bersifat subjektif apabila tidak disertai dengan dasar2 kemanusiaan dan kebudajaan.

Kesimpulan kita ialah, bahwa berpolitik tidak selalu djelek. Hal ini bergantung kepada tudjuannja berpolitik itu. Akan tetapi oleh karena djelas bahwa berpolitik biasanja melibatkan diri dalam pertentangan kepentingan, maka hendaklah diletakkan dalam proporsinja. Seorang politikus selalu mempunjai kepentingan2 jang semata-mata bersifat lahiriah karena kekuasaan adalah djuga bersifat lahiriah. Sebaliknja seorang pengarang atau sastrawan mempunjai karja – pekerdjaan jang tidak semata-mata bersifat lahiriah, melainkan bersifat rohaniah. Sabagai telah kita ketahui ketika kita membitjarakan poesi (Selecta, No. 82) maka dengan sendirinja karja kesusastraan adalah karja rohaniah. Oleh karena itu apabila kita hendak melahirkan apa jang rohaniah, adalah bertentangan dengan azaz kebudajaan jang selalu berusaha merohaniahkan apa jang lahiriah.

Apabila toh si pengarang atau sastrawan nekad untuk bertentangan dgn azas kebudajaan itu maka biasanja ia bertindak tidak djudjur, dengan perkataan lain, si pengarang atau sastrawan tidak mempunjai tanggungdjawab.

Meskipun demikian hal ini tidak berarti, bahwa seorang pengarang tidak boleh berhubungan dengan politik. Sebagai ternjata dalam pertemuan kita ketika kita membitjarakan revolusi sastra (Selecta, No. 83) maka jg kita kehendaki ialah hendaklah poesi jang mendjiwai revolusi dan tidak sebaliknja. Dalam hal, bahwa revolusi jang mendjiwai sastra, maka jang salah bukan kaum revolusionairnja, melainkan para sastrawan dan senimannja.

Mengarang dengan bermanipulasi.

Dalam menjelesaikan suatu karangan sastra, umpamanja novel atau tjeritapendek, apakah jang harus dilakukan oleh si pengarang? Apakah kebesaran seorang pengarang itu terdapat dalam hasil kenjataan, bahwa ia berhasil „mentjipta" tokoh2nja, situasinja, dsb.? Kalau begitu halnja, apakah peranan daja-fantasi jang dapat mentjiptakan sesuatu karja diluar kenjataan merupakan satu2nja peranan dalam penulisan sastra? Apakah hal ini analog dengan imaginasi para teknolog jang memolopori pentjiptaan2 baru dalam bidang teknologi dengan kemudian disusul dengan kenjataan2nja? Apakah hal ini analog dengan „science fiction" jang mentjeritakan pengalaman2 ke-planet2 lain jang padamulanja hanja merupakan impian dan kemudian mendjadi kenjataan? Apakah hal ini analog dengan pilem2 Hollywood jang diputar di Indonesia jang kemudian mendjadi kenjataan dalam masjarakat pemuda dinegara kita jg me-niru2 adegan2 pilem Hollywood itu?

Pertanjaan2 diatas se-akan2 membenarkan pendapat jang mengatakan, bahwa penulisan atau pentjiptaan sastra boleh dilakukan diluar kenjataan, karena dengan penulisan atau pentjiptaan tersebut pengarang hendak mentjiptakan kenjataan baru, dan inilah jang disebut kesusastraan bertendens. Tetapi dalam hal, bahwa kesusastraan tidak menggambarkan kenjataan jang sebenarnja, bukanlah selalu berarti kesusastraan jang bertendens, melainkan dapat djuga berarti kesusastraan jang tudjuannja asal menjenangkan pembatjanja, seperti seorang ibu jang bodoh memandjakan anak2nja. Dalam hal ini si pengarang mendjalankan manipulasi, jaitu ia mengambil bahan2 dari sana sini jang tidak dialaminja sendiri, melainkan didengarnja dari kiri-kanan, lalu berdasarkan itu menulis kesusastraan. Pengarang seperti ini djika diminta tanggungdjawabnja akan memberikan keterangan, bahwa ia menolak realisme naif, karena ia tidak bisa setjara harafiah mengemukakan kenjataan2, melainkan harus „mentjipta sendiri".

Akan tetapi bagaimanapun djuga dalam hal ini ia tidak mungkin bitjara tentang tanggungdjawab.

Mengarang dengan model.

Dalam gaja lain ialah mengarang dengan model, artinja ia meniru sesuatu karangan jang dikaguminja, karena ia ingin sama dengan pengarangnja. Dalam kondisi ini andaikata ia dapat berhasil, namun karangannja karena berupa imitasi (peniruan) tetaplah tidak berdjiwa. Andaikata seorang Chairil Anwar dapat berhasil me-niru2 poesi seorang Marsman, tetaplah poesinja itu tidak berdjiwa, sebab seluruh kegiatan rohaniahnja dilahiriahkan, suatu hal jang bertentangan dengan azas kebudajaan.

Demikianlah kita mempunjai pendirian, bahwa penulisan atau pentjiptaan sastra itu haruslah berhubungan setjara terus-menerus dengan kenjataan2. Manusia, apalagi djika ia seorang pengarang, jang terlepas dari kenjataan2nja akan mengalami keasingan dari dirinja, ibarat pohon jg hidup segan mati tak hendak. Keadaan ini bertentangan dengan hakikatnja sendiri sebagai manusia. Kebudajaan dan kesusastraan senantiasa menjatakan hakikatnja itu, kemanusiaannja, kasih-sajangnja. Kiranja dalam pertemuan jad. perlu kita menguraikan sedikit tentang alasan kita mengatakan hal ini.