Baca EPUB: Surat-surat yang Ditemukan

2 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. Table of Contents
  2. Table of Contents
RAMADHAN KARTA HADIMADJA
Surat-surat yang Ditemukan
Kacabenggala Editions

Publisher Note

Dilahirkan di Bandung, 16 Maret 1927. Pendidikan terakhirnya di Akademi Dinas Luar Negeri. Selama tiga belas tahun ia bekerja sebagai wartawan pada Kantor Berita Nasional „Antara”, juga menjadi Redaktur beberapa majalah antara lain Kompas, Kisah, Siasat, Siasat Baru, dan Budaya Jaya. Tahun 1952 ia melawat ke Eropa, dan kemudian menetap di Spanyol. Sepulangnya ke tanah air, ia diberi kepercayaan menjabat Sekretaris dan Direktur Pelaksana pada Dewan Kesenian Jakarta. Memenuhi undangan Pemerintah Perancis yang umumnya berkaitan dengan masalah kebudayaan, ia beberapa kali mengunjungi negeri itu. Bahkan selama tiga tahun — 1974-1977 — ia menetap di Paris, mendampingi istrinya yang bertugas sebagai seorang diplomat. Ia sendiri ditetapkan sebagai Penasihat Duta Besar RI untuk bidang Kebudayaan.

Karya-karyanya antara lain sekumpulan sajak Priangan si Jelita (1957) yang memenangkan hadiah puisi dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional, telah diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman oleh Berthold Dämshauer, dan ke dalam bahasa Perancis oleh Henri Chambert-Loir. Romannya Royan Revolusi (1968), mendapat hadiah IKAPI/UNESCO, pun telah diterjemahkan ke dalam bahasa Perancis oleh Monique Zaini-Lajoubert. Bersama-sama Ajip Rosidi menyusun sekumpulan sajak para penyair Indonesia, yang juga diterjemahkan ke dalam bahasa Perancis oleh Henri Chambert-Loir, Anthologie Bilingue de la Poésie Indonésienne (1972). Romansa Kaum Gitana (1973) merupakan sajak Spanyol terjemahannya. Romannya Kemelut Hidup (1977) dan Keluarga Permana (1978), merebut hadiah Dewan Kesenian Jakarta.

Roman biografinya Kuantar ke Gerbang (1981), mengisahkan perjalanan hidup Ibu Inggit Garnasih bersama suaminya, Ir. Soekarno, Presiden RI pertama. Disusul oleh Gelombang Hidupku (1983), yang dianggap berhasil menampilkan sosok seorang penari bertaraf internasional — Dewi Dja — secara lengkap dan utuh. Ia juga menulis otobiografi Soeharto, Presiden RI yang kedua, dalam Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya (1989), juga telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa. Romannya yang terakhir; Ladang Perminus (1990).

Digitizer Note

This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.

All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.

The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.

APRIL 1971

Langit biru cerah tak berawan. Udara tak begitu dingin lagi. Mobil-mobil berderet sepanjang tepian jalan. Lalu lintas ramai tapi tak mengkhawatirkan. Kiri-kanan pemandangan menjerat mata dan hati saya. Serba baru. Tak tahu yang mana yang harus saya dahulukan. Masuk toko buku yang penuh dengan serba macam bacaan atau duduk-duduk dulu menikmati kopi kental atau anggur merah sambil menatap orang-orang yang lalu lalang? Semua sama bakal menyenangkan. Kalau sudah demikian adanya terserahlah pada tuan rumah akan dibawa ke mana saja saya ini, jadilah.

Kami menyusur jalan St. Germain-des-Prés, yang 17 tahun silam pernah juga saya injak. Rasanya seperti berpelukan kembali dengan yang pernah saya kasih. Berpelukan dalam keadaan yang lebih muda dan segar.

Gadis Perancis tak mungkin dilupakan. Dan kini mereka lalu lalang dengan mode short yang menggairahkan. Mantel panjang menggapai jalan, tapi memberikan kesempatan pada kaki untuk bergerak lebih leluasa dan celana yang pendek itu kentara setiap kali pemakainya melangkahkan kaki. Rambut tidak begitu rapi. Tapi tidaklah menimbulkan kesan hippy. Itulah charme yang tetap mereka miliki.

Pohonan mulai berputik dan sebentar lagi bunganya akan muncul menyambut udara yang lebih panas. Serba riang menjelang. Dan remaja berpelukan, berkasih-kasihan, berciuman di mana mereka merasa perlu untuk menyatakan cinta-kasihnya.

Saya tiba di Paris hari Jum’at tanggal 2 April. Sehari lewat sesudah orang di sini biasa menyatakan sesuatu yang tidak boleh cepat kita percayai.

Kemarin radio Perancis France-Inter menyiarkan suatu pengumuman yang membuat orang cukup lama menjadi risau dan berpikir panjang.

Radio itu mengumumkan, bahwa para menteri perhubungan dari keenam negara Masyarakat Eropa telah bersepakat di Brussel untuk mengganti arah lalu-lintas jalan menjadi di sebelah kiri dan bukan lagi di sebelah kanan seperti sekarang berlaku. Kesepakatan ini diambil, menurut France-Inter itu, adalah sebagai sambutan dan penghargaan terhadap masyarakat bangsa Inggris yang lebih dahulu telah mengorbankan kebiasaan dalam berhitung dengan mengambil kebiasaan Masyarakat Eropa, yakni satuan-puluh-ratusan.

Orang kebanyakan mudah percaya akan siaran France-Inter itu disebabkan cara radio itu menyuguhkan seperti berdasarkan hal-hal yang pantas.

Orang banyak sebentar riuh, telepon ramai mendering tanya sana, tanya sini. Orang yang baru membeli mobil stir kiri menyesal. Tapi kemudian ingatlah mereka, bahwa hari itu adalah 1 April.

Untunglah tidak sampai terjadi kacau lalu lintas di jalan. Tapi satu sindiran Perancis terhadap Inggris dilepas sudah.

Kami masuk di sebuah toko buku di antara sekian banyak toko buku yang berderet di sepanjang jalan, diselang tempat minuman-minuman. Love Story karangan Erich Segal laris. Tak tahulah berapa ratus-ribu sudah diedarkan terjemahannya dalam bahasa Perancis.

Hari-hari ini orang di Paris masih ramai berderet antre karcis untuk nonton film Love Story itu. Pertunjukan galanya dibuka oleh Madame Pompidou, dan hasilnya disumbangkan kepada Institut Kanker, dalam rangka melawan musuh umat manusia di abad ini, kanker, penyakit yang belum saja ditemukan sebab-sebabnya.

Sebentar kami berhenti di Café „Aux deux Magots”, tempat Sartre dan pengarang-pengarang terkenal lainnya dahulu berkumpul, ngobrol sambil menikmati hidup dan mempersoalkan kehadiran kita di atas bumi ini.

Semangkok kopi kental disuguhkan. Duduk di pinggir jalan. Remaja-remaja berpasangan lewat, mengepit buku. Mereka baru keluar dari sekolah. Tukang jual eskrim kewalahan.

Di balik itu tampak banyak polisi berjaga-jaga. Bukan soal tukang copet. Keresahan kaum pelajar masih harus disalurkan. Perlawanan bukan terhadap yang berkuasa. Tapi maklumlah Perancis, gelisah hidupnya jika tidak ada pembaharuan.

Bis-bis turis berseliweran. Datang dari berbagai arah. Air mancur di mana-mana. Gereja-gereja penuh sesak. Berjubel orang di dalam dan di pintu. Sebagian besar cuma jadi penonton atau paling-paling sebentar membuat salib dengan telunjuk di dadanya.

Penduduk kota Paris sendiri banyak yang keluar. Udara sekitar 16°C dirasakan terlalu panas sudah. Jalan jadi sedikit lapang rasanya. Mobil-mobil orang Paris sudah tak ada di kota.

Ini tak ubahnya dengan burung-burung yang beterbangan saling bertukar sarang.

Gambar seorang gadis yang cuma mengenakan celana pendek dan baju kaos yang tipis, menuntun anjing yang dirantai, tas pelancong di atas pundaknya, terpancang di halaman muka International Herald Tribune. Judulnya amat kena: „Demam Musim Semi, meluas dengan semarak di seluruh Eropa”.

Apakah judul ini dipakai pula untuk menyambut kejadian politik antara dua negara raksasa belakangan ini?

Paris sendiri belum mengeluarkan pernyataan apa-apa. Rupanya masih lebih baik menatap bunga-bunga yang sedang mekar, pohonan yang sedang mulai menghijau atau eskrim vanille yang cepat meleleh di tangan anak-anak.

Kami „raun-raun”, menurut istilah orang Medan. Dibawa berputar keliling kota. Tapi tentunya takkan mungkin melihat semua yang penting dalam satu hari satu malam. Pilihan jatuh lebih dulu pada yang dibisikkan seorang ibu yang mau tahu soal pendidikan. Maklumlah, di dalam oto ada seorang ibu, istri seorang tokoh penting di bidang pendidikan. Ia nanti di Jakarta, mau menceritakan apa yang pantas dibangun, diperbaiki, dan seterusnya dan seterusnya.

Cité Universitaire, kampus mahasiswa yang amat luas rasanya menyambut kami dengan gembira. Bunga-bunga kuning yang mencolok bergantian dengan merah muda yang tenteram. Gelak tawa di mana-mana.

Ribuan pemuda dan pemudi yang menuntut ilmu berkumpul di sana. Datang dari berbagai negara. Dalam persimpangan dengan mereka, terdengar pelbagai bahasa.

Pasangan berdempetan, di atas bangku di balik pohon pinus yang rimbun, atau di bawah pohon yang sedang dirungkup oleh bunganya sendiri yang amat putih.

Yang hitam dengan yang putih, yang putih dengan yang hitam. Yang putih mengejar yang hitam berlari-lari. Pendatang dari benua lain sangat laris? Boleh jadi tak perlu diragukan lagi.

Tinggallah di kampus itu enam orang putra Indonesia. Tiga mahasiswa dan tiga mahasiswi. Cukup, tidak mengkhawatirkan.

Waktu jumpa dengan seorang di antara mereka, notabene wanita yang sudah berkeluarga, saya terkenang pada pengalaman yang lampau. Kiranya hasrat untuk belajar dari wanita ini mendorong dirinya begitu kuat sehingga ia sanggup lepas dari pelukan suami dan putra-putranya yang dicintainya. Saya berdoa baginya, semoga keluarga itu cepat berkumpul kembali dalam keadaan yang menyenangkan. Saya pantas catat dalam surat ini, bahwa sang suami yang ditinggalkan tak perlu was-was. Mahasiswa-mahasiswi kita cukup menyenangkan, seperti diterangkan oleh pejabat di Kedutaan Besar RI Paris yang mengurus mereka.

Seorang diplomat kita, yang pernah bermukim di kampus itu, kelihatan seperti kembali muda. Sangat girang dan melompat-lompat seperti lupa akan kedudukannya. Apalah pula yang lebih menyenangkan daripada mengenang masa muda kita! Dan ia menunjuk pada bilik tempat dahulu ia belajar merenung dan menghibur dirinya.

Saya tidak dapat memastikan berapa banyak gedung yang ada di sana. Yang pasti adalah bahwa belum lama selang pemerintah Iran telah mengeluarkan uang banyak untuk membangun sebuah gedung besar, mewah dan modern sekali di kompleks itu, untuk kepentingan mahasiswa-mahasiswanya. Tak mubazir keuntungan negeri itu dari penghasilan minyaknya.

Kiranya adalah suatu hal yang unik dari kampus ini ialah bahwa pelbagai negara membangun gedung di atas tanah itu. Amerika Serikat, Vietnam, Yunani, Armenia, Jepang, Inggris, Nederland, dan entah siapa lagi menanam modal di sana.

Pemimpin kampus mahasiswa itu cukup bijaksana. Ia menempatkan mahasiswa-mahasiswa Indonesia di gedung Belanda. Kalau keju Edam sudah ada kembali di atas meja pemimpin negara di Jakarta, apa pula salahnya menempatkan pemuda-pemuda Indonesia di gedung Belanda itu. Demikianlah mungkin pikiran yang timbul di kepala pemimpin kampus itu. Dan Nederland memang memberikan prioritas pula pada mahasiswa-mahasiswa Indonesia apabila ada kamar-kamar kosong di sana.

Beasiswa yang diterima mahasiswa-mahasiswa kita, sebesar 500 F. Setengahnya mereka keluarkan untuk membayar ongkos kamar. Mereka bisa makan di restoran yang disediakan di kampus itu dengan uang 1,75 F sekali makan. Buku harus dibeli sendiri. Untuk kuliah tak perlu mengeluarkan uang lagi bagi seseorang yang mendapat beasiswa dari pemerintah Perancis.

Dihitung-hitung jumlahnya saya menarik kesimpulan, mahasiswa-mahasiswa kita yang tinggal di kampus itu, jika harus hidup dari uang beasiswa saja, cukup prihatin. Apakah minyak kita tidak bisa membantu mereka seperti halnya Iran mengatur mahasiswa-mahasiswanya?

Kami sempat mencoba makan di restoran Cité Universitaire itu. Lari-lari karena sebentar lagi akan ditutup. Di dalam masih banyak orang. Kita harus melayani diri sendiri. Terima baki, ambil gelas, ambil sendok dan garpu, terima makanan, ambil air dan cari tempat duduk yang kosong. Jika mau minuman yang lebih lezat ambil sendiri, tapi mesti mengeluarkan uang tambahan. Selesai makan, kembali kita harus angkat baki dan menyerahkannya kepada orang yang menjaganya di depan pintu keluar. Lezat makanannya? Bolehlah.

Seorang mahasiswa kita bercerita bahwa ia pernah mengalami suatu peristiwa ketika seorang mahasiswa protes keras karena makanan yang dihidangkan tidak enak, dan menuntut makanan yang lebih sedap.

„Ramai juga protes itu!” katanya.

„Kalau tidak ramai, bukan pula mahasiswa Paris namanya,” sambung diplomat kita yang pernah tinggal di kampus itu sambil tertawa. Ia kembali mengenang jaman „keemasannya”, pengalamannya dua puluh tahun yang lalu.

Malam hari kami keluar lagi. Dan kali ini oto meluncur ke arah daerah „maksiat”. Paris tanpa maksiat? Tak terbayangkan oleh seluruh umat di atas bumi ini! Tapi apakah benar demikian? Neraka yang lebih panas ada di Amsterdam? Sumur durhaka yang lebih dalam ada di Munchen?

Kami menyusuri tepian sungai Seine, di atas jalan aspal yang baru dibangun 6-7 tahun yang lalu. Dan waktu tiba di „Place de la Concorde” rasanya seperti berada di tengah alam mimpi. Air mancar yang dikelilingi oleh cahaya-cahaya lampu yang terang dan sejuk. Jernih seperti safir biru. Inilah kiranya suasana yang diciptakan manusia untuk melupakan keluh dan derita sepanjang jaman.

Di sanalah pula orang dulu-dulu memenggal kepala Maria Antoinette di „Jardin des Tuileries”.

Pemandangan tambah elok menghadap ke arah „Arc de Triomphe”, kebanggaan seluruh rakyat Perancis.

Kami sempat di pusat maksiat „Place Pigalle”, pelancong-pelancong ramai berkelarian berputar sekitar daerah itu, tak ubahnya dengan laron-laron yang ditarik ke arah lampu-lampu aneka warna.

Kami masuk di kedai kopi. Penuh sesak.

Saya kenang pengalaman 17 tahun yang lampau. Rasanya tak begitu berubah daerah ini.

Barangkali, ya, ada hal yang baru. Ada sejumlah toko-toko seks di sana yang dulu tidak ada. Tapi rupanya orang Perancis, sekalipun terkenal sebagai orang yang bebas dan terus mencari kebebasan, mempunyai selera tertentu bagaimana caranya ia menikmati sesuatu keindahan.

Kami masuk di sebuah toko seks. Apa yang saya rasakan setelah saya melihat toko-toko yang serupa di Amsterdam?

Di Pigalle alat-alat itu disimpan amat rapihnya, alhasil tak menimbulkan rasa jijik.

Barangkali demikian kesan yang timbul pada diri saya, dan mungkin juga pada banyak orang lain, oleh karena di sana masih terpelihara suasana di mana tari-tarian can-can bercampur jadi satu dengan lukisan-lukisan Lautrec suatu karya seni yang dipuji.

„Moulin Rouge”? Boleh jadi rasanya sekarang sudah menjadi sempit setelah ada tempat-tempat yang serupa di Tokyo atau di Munchen. Tapi apakah suasana yang berjalan dan dipelihara sejak permulaan abad ke 19, akan bisa didapat dalam waktu yang pendek?

Barangkali tentang semua ini baiklah dijawab oleh Eustache Deschamps, penyair yang hidup 600 tahun yang lampau, yang diabadikan oleh Presiden Georges Pompidou dalam Anthologie de la Poésie française dengan sajaknya „Belle de Paris”.

„Semua orang asing menyenanginya dan akan tetap menyenanginya
Karena untuk kegembiraan dan untuk keriangannya
Tak ada kota lain satu pun yang menyamainya
Tak ada yang dapat dibandingkan dengan Paris.

(Paris, 16 April 1971)

***

MEI, 1971

Mulai dari bunga-bunga muguet, bunga-bunga putih kecil-kecil yang dijual di sepanjang jalan berbarengan dengan perayaan 1 Mei. Mulai dengan upacara penyuntingan bunga muguet lambang harapan baik, oleh Madame Pompidou di istana Elysee. Dan pernyataan-pernyataan serta tuntutan-tuntutan mengalir lagi dengan derasnya sepanjang bulan.

Majalah L’Express mencantumkan tulisan „Grèves: le Mythe de Mai” — „Pemogokan: mitos bulan Mei” — di halaman mukanya.

Kaum buruh pabrik mobil besar „Renault” mogok dan melakukan aksi unjuk sikap, berhari-hari lamanya. Tuntutan diajukan kaum buruhnya. Pembicaraan dua pihak dilakukan. Kemudian suasana mereda lagi, dan buruh-buruh bekerja kembali.

Datang gelombang lain di jalan besar. Kaum muda berdemonstrasi menyatakan pikirannya dan keinginannya.

Ide-ide baru dilontarkan di tengah-tengah kota Paris. Yang bergerak adalah anak-anak muda usia sekitar 20 dan 25 tahun. Mereka membawa spanduk-spanduk dan membagi-bagikan selebaran.

Apa tuntutan mereka?

Mereka seolah-olah muak sudah dengan suasana kehidupan di dunia seperti sekarang ini.

„Borjuis! Peradabannya sedang sekarat! Peradaban kami yang sedang muncul!” tulis mereka dalam selebaran yang dibagi-bagikan.

Selebihnya mereka nyatakan bahwa mereka menginginkan hubungan masyarakat yang berbeda daripada yang ada sekarang, yang dinilai oleh mereka sebagai hubungan yang cuma berdasarkan uang semata-mata. Mereka menginginkan hubungan-hubungan yang baru yang tidak didasarkan hanya pada uang dan kekuasaan. Mereka menginginkan lembaga-lembaga yang lebih cocok yang memberikan bantuan kepada orang-orang yang sedang berada dalam kesulitan.

„Hancurkan sistem yang tidak bernilai kasih-sayang, yang menindas, di mana masing-masing bertindak sebagai polisi terhadap yang lain untuk keuntungan si penindas! Kami mau menciptakan peradaban cinta dan kebahagiaan!” serunya.

Inilah suara mereka yang menyebut dirinya Front Pembebasan Angkatan Muda.

Bunuh diri seperti yang terjadi beberapa tahun silam, di Saigon?

„Tidak. . .,” jawab pemuda-pemuda Paris ini. „Kami tidak inginkan lagi pemuda bunuh diri dalam menghadapi dunia yang busuk ini. Kami menuntut kebebasan dan hak hidup, dan kami akan membela hak-hak ini dengan tekad yang bulat!”

Tapi bagaimana bentuk dunia yang mereka inginkan itu sebenarnya? Bagaimana susunan masyarakatnya, bagaimana susunan lembaga-lembaganya?

Itu mereka belum tahu.

Ini adalah sekuntum bunga yang ada di Paris. Entah bagaimana akan jadinya ia di hari esok.

(Paris, 7 Mei 1971)

***

JUNI 1971

Permulaan bulan Juni 1971, Perdana Menteri Chaban-Delmas ajukan „Nouvelle Société” („Masyarakat Baru”). Orang menyebutnya „revolusi diam-diam”. Suatu rencana undang-undang yang akan diajukan pemerintah Perancis kepada parlemennya pertengahan bulan ini menyangkut soal sosial dan kemanusiaan.

Pemikiran pemerintah Perancis yang pada pokoknya membuka pintu bagi semua warganya agar bisa mencapai tingkat hidup yang lebih baik dan mendapatkan rasa tenang di hari esok ini, tidaklah mendadak timbul hari ini, melainkan berdasarkan undang-undang yang telah berlaku tiga tahun yang lalu (1968) dan hasil-hasil perundingan antara perusahaan-perusahaan dan kaum buruhnya di hari-hari berikutnya.

Pemerintah Chaban-Delmas bertolak dari prinsip, bahwa semua orang harus mendapatkan kesempatan, secara adil mengecap pendidikan setinggi-tingginya sesuai dengan keinginan dan kemampuannya.

Untuk ini haruslah dibuka pintu agar misalnya seorang klerk bisa menjadi komis, seorang tukang memasang sekrup bisa menjadi kepala bagian, seorang kepala bagian bisa menjadi kepala biro, seorang loper bisa menjadi redaktur, dan sebagainya.

Dengan terbukanya pintu pendidikan bagi semua, yang menghilangkan batas umur, batas uang dan batas waktu, hilanglah pula pintu yang menutup horison seseorang. Dengan demikian tidaklah akan mandek pikiran dan kesempatan seorang buruh, atau tukang, atau ahli, di tengah masyarakat industri yang menuntut gerak setiap hari. Tak bisa diam! Tiap penemuan yang menyangkut masyarakat industri menuntut pekerja-pekerja yang terus naik pengetahuannya.

Kenyataan bahwa banyak orang gugur dalam menuntut ilmunya di sekolah oleh seribu satu macam sebab yang tidak diinginkan, haruslah dilawan oleh suatu perjuangan yang berlaku bagi semua dan yang kemudian dituangkan oleh suatu perjuangan daya upaya pemerintah Chaban-Delmas yang disebutnya „revolusi diam-diam”, melawan terhadap ketidakadilan, melaksanakan demokrasi dalam pendidikan.

Catatan menyebutkan, bahwa pada tahun 1968 ada 150.000 orang pekerja stagiaire (yang sedang menuntut ilmu tambahan) dalam formasi yang terus maju itu. Jumlah ini akan menjadi 500.000 dalam tahun 1971 ini, dan akan bertambah lagi sampai menjadi 2 juta dalam waktu 5 tahun. Inilah kenyataan semangat yang mendorong „revolusi diam-diam” Chaban-Delmas itu.

Seperti diucapkan di depan pers baru-baru ini oleh perdana menteri Perancis Chaban-Delmas itu, reform ini mungkin adalah salah satu yang paling penting yang dapat dilakukannya.

Inilah sekuntum bunga yang ada di Paris. Harum semerbak, tinggal ditunggu buahnya.

Mahasiswa Perancis sedang gerah?

Dijawabnya, mahasiswa Perancis selamanya gerah. Tak pernah tenang sepanjang usia universitas.

Kami ingin menyaksikan dari dekat. Ditemani seorang diplomat yang pernah mengikuti kuliah di ibukota Perancis ini, Ilen Surianagara, kami singgah di "Institut d’Etudes Politiques" di rue St. Guillaume.

Diplomat kita itu kelihatan seperti muda kembali, agaknya ia terkenang saat ketika mengepit buku dan lari-lari di gedung itu.

Suasana hangat, gerah, panas di sana. Papan-papan penguaman penuh dengan pelbagai plakat. Menunjukkan acara-acara kuliah dan ceramah serta ajakan dan seruan dari pelbagai organisasi mahasiswa.

Kuliah-kuliah dan ceramah-ceramah tentang ekonomi, situasi moneter, Pasaran Bersama Eropa, negara-negara yang sedang berkembang, Marxisme, Komunisme, dan lain-lain. Semua diberikan oleh ahli-ahlinya: profesor-profesor dan aktivis-aktivis.

Seabad yang silam perguruan tinggi yang kami kunjungi itu bernama "Ecole Libre de Science Politique". Didirikan oleh swasta.

Waktu itu masyarakat Perancis merasakan kebutuhan untuk segera memiliki pakar-pakar ilmu kemasyarakatan, sesudah mereka mempunyai dokter-dokter, ahli-ahli hukum, insinyur-insinyur teknik dan industri. Mereka memerlukan wartawan-wartawan, ahli-ahli politik, direktur-direktur bank yang berpandangan luas, ahli-ahli administrasi, dan lain sebagainya. Maka didirikanlah perguruan tinggi ini.

Sesudah perang dunia kedua, perguruan tinggi ini dinasionalisasikan dan diberi nama "Institut d’Etudes Politiques".

Dari gedung perguruan tinggi inilah lulus tokoh-tokoh penting di dunia seperti Borguiba, Mossadeque, dan presiden Perancis yang sekarang, Pompidou, pernah memberikan kuliah di sini. Tentu banyak pula tokoh-tokoh nasional Perancis lulusan perguruan tinggi ini.

Watak istimewa sekolah tinggi ini ialah kebebasannya. Baik orang kanan maupun orang kiri memberikan kuliah dan ceramah, menurut keahliannya masing-masing. Artinya, yang mengajar Marxisme misalnya adalah benar-benar Marxis, yang mengajar komunisme adalah benar-benar komunis, yang mengajar sosialisme adalah benar-benar sosialis, dan lain sebagainya. Dan terserah kepada si mahasiswa, kuliah yang mana yang akan diikutinya.

Perguruan tinggi ini terbagi atas 4 jurusan, yakni sospol, ekonomi-keuangan, politik — hukum internasional, dan administrasi. Hendaknya diketahui, bahwa jurusan administrasi adalah yang diincar oleh banyak pemuda Perancis yang pintar-pintar. Atau paling tidak jurusan ekonomi-keuangan.

Dan calon-calon negarawan yang lulus jurusan-jurusan ini berlomba lagi masuk perguruan tinggi yang lebih dihargai, yakni "Ecole Nationale d’Administration" (E N A.) yang berada di bawah Perdana Menteri. ENA inilah, yang hanya boleh dimasuki oleh pemuda-pemuda Perancis, merupakan persemaian negarawan yang paling berharga di Perancis.

Keistimewaan "Institut d’Etudes Politiques" yang lainnya ialah perpustakaannya. Dikatakan bahwa perpustakaan perguruan tinggi yang lamanya studi tiga tahun ini adalah perpustakaan yang terbesar di antara perguruan tinggi yang ada di Eropa.

Siapa yang masuk di perguruan tinggi adalah sesungguhnya ia belajar untuk bekerja. Beberapa putra Indonesia bernasib baik pernah mengikuti kuliah di perguruan tinggi ini, seperti diplomat kita Ilen Surianagara yang menuntun saya ke gedung ini, Erwin Ramedhan yang kini hidup di tengah-tengah pers Perancis sebagai kolumnis, Jusfiq Hadjar yang kini membantu seorang antropolog Perancis Mme Berthe.

Kami jalan kaki menyusuri St Germain-des-Prés. Melalui toko-toko pakaian, tukang jualan eskrim, dan toko-toko buku yang amat menarik. Kakilima penuh oleh kaum muda, mahasiswa yang berbondong, berdempet, berpelukan. Kami membelok mengikuti Boulevard St. Michel yang membawa kami ke daerah yang amat tersohor sudah di tanah air, Sorbonne.

Kami istirahat sejenak di atas bangku, tak jauh dari patung filosof Robert de Sorbon, pendiri perguruan tinggi yang terkenal itu. Seekor keledai diikat pada sebatang pohon. Tak jauh pula dari tempat kami duduk-duduk.

Saya merasa ada di tengah-tengahnya sekali. Tak mampu menandingi Robert de Sorbon, tapi alhamdulillah lebih pula dari binatang yang diikat pada pohon itu, yang dielus-elus oleh setiap orang yang lewat di depannya.

Kami masuk di gedung Perguruan Tinggi Sorbonne itu. Tertarik oleh kesibukan sejumlah mahasiswa yang tampak sekali sedang bersemangat.

Dinding-dinding gedung itu penuh dengan coretan: anti fasisme, anti perang. Tuntutan damai untuk Indocina, anti Amerika, mendukung Vietcong. Selebaran dibagi-bagikan oleh seorang mahasiswa. Isinya tak jauh dari apa yang tertera di dinding. Dua buah patung yang ada di dalam — satu di antaranya adalah patung Louis Pasteur, dicat merah tangannya yang sebelah.

Nampak sekali golongan ekstrem kiri sedang melakukan aktivitas di daerah perguruan tinggi itu. Tapi entah golongan yang mana. Sebab ada tiga golongan ekstrem kiri di sini: golongan Trotskyis, Maois, atau Anarchis. Dan tiap golongan ini terbagi lagi dalam sejumlah kelompok yang berbeda-beda pula. Ada yang disebut "Ligue Communiste", "Lutte Ouvrière", "Aliance Marxiste Révolutionnaire", "Humanité rouge", "Vive La Révolution", "Fédération Anarchiste", dan lain sebagainya.

Seorang dosen Indonesia yang sudah bermukim di Paris ini menceritakan bahwa golongan-golongan ekstrem kiri yang sering memulai mengadakan aksi-aksi di fakultas-fakultas. Di samping organisasi-organisasi ekstrem kiri di Paris, ada lagi organisasi-organisasi tandingannya. Mereka ini dikelompokkan orang sebagai mahasiswa yang moderat tradisional, atau mahasiswa sosialis dan kiri, atau mahasiswa kanan dan ekstrem kanan.

Keggerahan di lingkungan gedung Sorbonne ini lebih terasa daripada di "Institut d’Etudes Politiques". Tapi temperatur di Sorbonne itu masih lebih rendah lagi jika dibandingkan dengan di universitas di Nanterre, di luar Paris. Akibat suasana Mei 1968 rupanya masih terus terasa.

Serba ragam ada di Paris. Serba ragam pula ada di jantung persemaian kaum intelektualnya.

Seperti di Australia, Nederland, Jerman dan lain-lainnya, di Perancis kian bertambah jumlah sahabat-sahabat Indonesia.

Barangkali tepat kalau saya mulai dari menyebut lingkungan perguruan tinggi yang ada hubungan dengan Indonesia. Sebab ini adalah inti dan motornya.

Dewasa ini ada kira-kira lima puluh orang mahasiswa yang mempelajari bahasa, sastra dan kebudayaan Indonesia di Perancis, yakni di "Ecole Pratique des Hautes Etudes" tempat Denys Lombard, seorang penerjemah cerpen-cerpen Indonesia, memberikan kuliah; di "Institut National des Langues et Civilisations Orientales, Paris III, di mana seorang putra Indonesia, Boer Mauna, mengajar; dan di Universitas Paris X-Nanterre, di mana seorang wartawan berkebangsaan Indonesia, Erwin Ramedhan, kini memberikan bantuannya mengajar bahasa Indonesia.

Mereka yang berkumpul di lingkungan ini mengadakan kegiatan-kegiatan lainnya, yang pada hakikatnya menambah erat hubungan antara Indonesia dan Perancis.

Denys Lombard misalnya, yang tidak lama lagi akan terbang ke Indonesia untuk mengumpulkan bahan-bahan baru dan mengadakan hubungan dengan rekan-rekannya, dewasa ini sedang giat-giatnya bekerja untuk kepentingan majalah tengah-tahunan Archipel yang diharapkan bisa terbit bulan Agustus yang akan datang. Majalah ini merupakan jembatan bagi masyarakat yang berbahasa Perancis khususnya untuk mengenal lebih jauh keadaan wilayah Asia Tenggara, ditambah Madagascar yang secara antropologis banyak sekali hubungannya dengan negeri kita.

Archipel ini mempunyai banyak pendukung, terdiri dari sejumlah antropolog yang mempelajari Indonesia, Filipina, Malaysia, Birma, Madagaskar dan lain-lain, ahli-ahli bahasa dan sastra negara-negara Asia Tenggara, dan lain-lain. Dari prospektus yang telah disebarankan diperkirakan bahwa majalah Archipel yang tebalnya akan sampai 250 halaman ditambah sejumlah foto-foto itu, akan cukup membuka jalan bagi para penimba ilmu mengenai negara-negara di Asia Tenggara.

Di "Institut National des Langues et Civilisations Orientales" kini terdaftar kurang lebih 25 orang yang sedang mempelajari bahasa dan sastra Indonesia, mulai dari permulaan sekali sampai ke tingkat tiga.

Ini adalah seperti persemaian pertama. Apabila ada yang telah lulus dari perguruan tinggi ini dan ingin melanjutkan pengetahuannya mengenai Indonesia, ia bisa masuk ke "Ecole Pratique des Hautes Etudes" dan ditempatkan di "Centre de documentation et de recherches sur l’Asie du Sud-Est et le Monde Insulindien".

Di kedua perguruan tinggi itu biasalah pula sudah ada mahasiswa-mahasiswanya yang sudah faham bahasa Vietnam, atau Cina, atau Jepang, atau Malagasy. Mereka ingin meluaskan orientasi dan memilih lagi wilayah Indonesia sebagai tambahannya.

Di Universitas Paris X-Nanterre kini ada kurang lebih lima belas orang antropolog yang sedang mempelajari bahasa dan kebudayaan Indonesia. Beberapa orang di antara mereka akan terbang ke Indonesia pada bulan Juli yang akan datang, untuk mengadakan penelitian antropologi di wilayah Indonesia Timur, di Seram dan pulau-pulau sekitar laut Banda.

Di samping itu ada sebuah organisasi lagi yang cukup erat hubungannya dengan Indonesia, yakni yang menamakannya dirinya "Les Amis de l’Orient". Belum lama berselang, organisasi ini yang diketuai oleh M. Stern, telah mengadakan malam pertunjukan tari-tarian Indonesia yang cukup mendapat perhatian di tengah-tengah Ibukota Perancis ini. Dalam organisasi ini berkumpul sejumlah orang Perancis yang nampaknya berkedudukan cukup baik, cukup berada, dan menaruh perhatian pada pelbagai aspek kebudayaan negara-negara di sebelah Timur, antara lain Indonesia.

Ada lagi organisasi yang berhubungan dengan kita, yakni Kamar Dagang Franco-Indonesia di bawah pimpinan Lécuyer. Tapi rupanya organisasi ini sudah tidak begitu giat lagi. Apakah ini disebabkan rekan-rekannya di Indonesia kurang menyambutnya, atau memang keadaan ekonomi Indonesia dewasa ini kurang memungkinkan roda organisasi dagang di Perancis itu berputar dengan cepat.

Seorang anggota parlemen Perancis, de Montesquiou, dalam bulan depan akan datang di Indonesia, memimpin rombongan anggota parlemen dan tokoh-tokoh industri. Mereka akan mengadakan kontak yang lebih erat dengan rekan-rekannya di pelbagai daerah di Indonesia, di samping melakukan perjalanan turis biasa.

Tidaklah dilupakan organisasi penganut "Subud" di Perancis, dalam membicarakan sahabat-sahabat kita ini. Dewasa ini di Perancis sudah ada kurang lebih 200 orang penganut "Susila Budhi Dharma" yang dipimpin oleh Muhamad Subud Sumohadiwidjojo.

Seorang pemimpin "Subud" di Perancis bernama Dachlan Leroy, seorang artis yang cukup berada. Penganut "Subud" ini berkantor di tengah-tengah bukota Perancis. Mereka mengadakan hubungan dengan rekan-rekannya yang ada di pelbagai negara di Eropa dan di benua lainnya. Tentu juga dengan "kantor pusat"nya di Jakarta.

Bahkan pemerintah di Jakarta telah mengajukan kepada petugas-petugasnya di luar negeri agar mempermudah memberikan visa kepada penganut-penganut "Subud" ini, dapat dimaklumi.

Dengan ini belumlah disebutkan sejumlah orang yang benar merupakan sahabat dekat dari Indonesia, tapi lebih bergerak secara sendiri-sendiri. Prof. Vincent Monteil yang telah menulis buku Indonesia yang amat dihargai orang itu, tentulah tidak dilupakan. Ia merupakan "jemban emas" bagi Indonesia-Perancis. Bukan itu saja. Ia juga sahabat karib dari sejumlah negara-negara yang penduduknya kebanyakan menganut Islam: penghubung Perancis dan dunia Islam.

Mantan Dubes Perancis untuk Indonesia, Cheysson, masih tetap memperhatikan dan aktif berdaya-upaya untuk kepentingan Indonesia-Perancis.

Kini tingallah memupuk persatuan-persatuan ini, agar tetap hidup dan berkembang. Kedua belah pihak harus ikut ambil bagian. Dan tentu sebagian dari porsi tugas itu disodorkan kepada para diplomat, para budayawan, kaum intelektualnya. Apa yang akan disuguhkan Indonesia kepada sahabat-sahabat akrab di Perancis ini?

(Paris, Juni 1971)

1974–1978

Istri saya, Tines ditempatkan di KBRI Paris, pos pertama, sebagai diplomat. Tahun-tahun itu menggugah saya untuk meminima sebanyak mungkin pengalaman hidup di tempat yang kesohor sebagai pusat kebudayaan Eropa.

Tapi betapapun merontanya saya, saya tiada bangkit dari kemandalan sebagai penayar. Priangan si Jelita – kumpulan sajak yang pernah meraih penghargaan ke-I Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional – tidak disambung dengan mutiara sastra saya lainnya. Ini pula sebabnya istri saya membeli sebuah papan nama – entah di pasar yang mana – yang bertulisan "Rue Ramadhan, célèbre poète dont les oeuvres sont restées cachées". Sindiran yang penuh humor, atau humor yang bercakubuk?

Toh saya berhasil di tahun-tahun itu dengan karya berbentuk prosa, Kemelut Hidup dan Keluarga Permana. Itu balasan saya kepada Tines yang berolok-olok.

Pada tahun-tahun itu saya diperkaya oleh karya-karya seniman-seniman Perancis, pemikir-pemikir Perancis. Bisa dipahami. Jalan-jalan ke gedung Panthéon, saya seperti ditempa oleh pemikiran mengenai cinta tanah air. Tulisan-tulisan yang terpampang di sana, "Liberté, égalité, fraternité" terasa seperti pelahan-lahan masuk ke dalam diri saya, bak cairan yang menyelusup ke puri-puri. Dan sekian nama yang diukir di dalam gedung itu seperti mengajari saya, bahwa bukan hanya satu golongan saja yang benar-benar berjuang untuk tanah airnya.

Penyair Victor Hugo mengabadikan gedung Panthéon dan suasana yang merangkumnya. Saya terpikat olehnya, oleh Iuar dan dalamnya.

C’est pour ces morts, dont l’ombre est ici bienvenue,
Que le haut Panthéon élève dans la nue
Au-dessus de Paris, la ville aux mille tours…
Cette couronne de colonnes
Que le soleil levant redore tous les jours.
Bagi mereka para pahlawan, selamat istirah bayang nya di sini,
Di Panthéon jangkung menjulang tinggi
Menaungi Paris, kota seribu menara…
Dengan mahkota pilar-pilarnya
Yang dihiasi emas mentari pagi setiap hari.

Saya bangkit. Saya tidak mau cuma diberi. Saya juga mau memberikan sesuatu kepada lingkungan di mana saya berada. Saya seperti mendapat isyarat, bahwa tidak baik kalau cuma menerima.

Sebelum itu saya memang sudah direnggut oleh perasaan ini. Waktu Presiden Soeharto menjadi tamu Presiden Pompidou di tahun 1972, saya (bersama Ajip Rosidi) sempat menyiapkan sebuah buku kumpulan puisi Indonesia yang diterjemahkan kedalam bahasa Perancis oleh sahabat Henri Chambert-Loir. Saya merasa, patut rombongan Presiden Indonesia menyuguhkan buku itu kepada pihak tuan rumah di Paris, sebab Presiden Pompidou terkenal sebagai pencinta puisi, sedikitnya Presiden Perancis itu sudah keluar dengan sebuah buku berupa antologi puisi Perancis pilihannya.

Friangan Si Jelita sudah diterjemahkan oleh Henri Chambert-Loir ke dalam bahasa Perancis, dan penerbitannya di bantu oleh pelukis Jehian. Tidak malu saya berada di Paris di tahun-tahun itu dengan modal yang saya sebut di atas.

Kami berdaya. Sementara rombongan Indonesia sudah berhasil merenggut "Piringan Emas" di Festival Folklore di Dijon, atas jerih payah sahabat yang bergerak di bidang musik, Slamet Abdul Syukur, tiada jemu-jemunya saya hiliar mudik dari kantor istri saya di Rue Cortambert ke gedung UNESCO di Place de Fontenoy.

Latar belakangnya adalah bahwa sekretaris Duta Besar kita di Paris A. Tahir waktu itu, yang bernama Mme Monique Zaini Lajoubert, sedang menjelang ujian akhirnya untuk mencapai gelar Doktorinya. Tak nyana, disertasinya tentang roman saya Royan Revolusi.

Dan itu berkepanjangan. Ia menerjemahkan seluruh roman saya itu, dan kemudian saya diundang untuk datang di gedung UNESCO, menemui yang bernama M. Taha Husein (Junior), putra pengarah Mesir yang bernama M. Taha Husein (Senior) yang menangani soal penerbitan buku-buku UNESCO waktu itu.

Bukan sekali saya bicara dengan M. Taha Husein. Ia bersikap hati-hati. Ia memperhitungkan anggota-anggota UNESCO lainnya, menjaga jangan sampai penerbitan buku yang akan dibantu oleh UNESCO itu menyinggung salah satu pihak yang jadi anggota lembaga internasional itu.

Segalanya berjalan beras. Spasmes d’une Révolution, terjemahan buku saya Royan Revolusi, hasil kerja Mme Monique Zaini-Lajoubert bisa mendapat bantuan dari UNESCO. Kalau tak salah, biaya penerjemahannya dibayar oleh lembaga internasional itu, dan sejumlah buku itu dibeli oleh UNESCO untuk kepentingannya.

Suasana waktu itu memang UNESCO, di bawah Mbouw, sedang giat-giatnya melaksanakan rencana memperkenalkan karya cipta dunia ketiga (dan kedua) kepada dunia pertama, dengan pegangan, bahwa bukan hanya dunia ke tiga (dan kedua) yang patut mengenal kebudayaan dunia pertama (Eropa dan Amerika Utara), melainkan juga — malahan ditekankan — sudah waktunya dunia pertama mengenal lebih banyak kebudayaan dunia ketiga (dan kedua). Waktu itulah UNESCO banyak menyuguhkan karya cipta dunia ketiga (dan kedua) kepada masyarakat Eropa dan Amerika.

Di samping itu saya berulang kali pergi ke kantor penerbit "Puyraimond" yang terselip di tengah deretan toko-toko di daerah Les Halles.

Dengan pihak itu saya mesti mengatur perjanjian. (Saya mesti mencatat di sini, bahwa dari penerbitan Spasmes d’une Révolution itu saya tak sempat menerima uang sepeser pun. Tapi sudahlah itu. Tak mau saya jadi berpikir panjang tentangnya.) Saya mesti "me-lobby" juga pihak KBRI dan Perwakilan RI di UNESCO untuk membeli sekian ratus buku yang diterbitkan Puyraimond. Usaha saya berhasil. Tentu saja saya dan juga rekan saya Monique serta editornya, Marcel Bonneff, merasa sangat senang, sewaktu buku itu terbit.

Semasa itu terbit pula novel-novel Ajip Rosidi dan Nasjah Djamin. Voyage de Noces (terjemahan dari Perjalanan Pengantin) hasil kerja Henri Chambert-Loir atas buku Ajip Rosidi dan Le Départ de L’Enfant Prodigue, hasil kerja Farida Soemargono atas buku Nasjah Djamin Hilanglah Si Anak Hilang, diterbitkan oleh penerbit yang sama "Puyraimond".

Saya baru tahu kemudian bahwa pemilik perusahaan penerbitan itu, bernama M. Puyraimond, adalah seorang peneliti bahasa dan sastra Cina yang bersemangat memperkenalkan karya-karya dari Timur kepada masyarakat Barat. Tapi ia bukan pengusaha. Itu kekurangannya, rupanya. Maka akhirnya penerbit itu gulung tikar.

Saya patut bergembira dengan terbitnya tiga buah novel Indonesia itu dalam waktu yang boleh dibilang bersamaan.

Saya merasa, tidak percuma tinggal di Paris waktu itu. Rasa bangga yang memenuhi rongga dada ini mantap sampai sekarang. Kita bisa memperlihatkan kepada pembaca buku Perancis, bahwa dunia kita tidak gersang, bahwa kita juga menghasilkan sesuatu.

Kebanggaan tersendiri, bahwa saya bisa menunjukkan buku-buku itu kepada kenalan-kenalan yang berbahasa Perancis.

Dan kesenangan saya itu disambung lagi sewaktu saya melihat buku Spasmes d’une Revolution itu terpampang di balik kaca etalase toko buku di gedung UNESCO, Paris, berdampingan dengan buku Achdiat K. Miharjda, Atheis, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, juga dengan mendapat bantuan dari lembaga internasional itu.

Lama saya berdiri di depan etalase toko buku UNESCO itu. Dengan suatu perasaan tertentu. Perasaan bangga, bahwa kita juga bisa menyuguhkan sesuatu kepada pihak lain. Dan bukan cuma menerima.

Kenangan, ditulis 1991