Baca EPUB: Sorga Dibumi

1 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

SUGIARTI SISWADI
Sorga Dibumi
Kacabenggala Editions

Publisher Note

This edition does not include a publisher’s note. For this digital restoration, this page is repurposed to acknowledge those whose efforts made its preservation possible.

This digital edition owes its existence to the preservation efforts of the Universitas Indonesia Library, as many of Lekra’s works were lost, burned, or poorly preserved over time.

An accessible web version of this book, optimized for readability and research, is available on ilalang.drepram.com.

Digitizer Note

This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.

All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.

The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.

Sorga Dibumi

Kehidupan kanak² setiap orang amat nikmatnja. Seakan mau dilajarkan kembali perahu, mendjadi kanak² tiada berdosa. Tiada tahu artinja susah, ja pernah susah, tetapi ketawa lekas mengintai dari balik awan.

Kalau nenek habis bersembahjang magrib, dan sudah selesai menghitung tasbih, kami berkumpul ditikar sembahjangnja. Mesti kaki kami harus sudah bersih ditjutji. Mendongeng mbah, minta kami tiap malam. Dongeng jang lama diulang berkali²pun, tetap indah ditelinga kami. Nenek mendongengkan tentang Tuhan, bidadari, malaekat, setan, neraka dan sorga.

Orang jang penuh dosa, akan masuk neraka nanti diachirat. Achirat itu dimana, mbah? Tanja kami selalu. Gambaran kami senantiasa, achirat berada dilangit. Mungkin dirembulan, mungkin dibintang jang besar bertjahaja itu. Anak jang nakal dan banjak dosa, masuk neraka tentu. Neraka itu panas sekali, melebihi panasnja laut pasir ditanah Arab. Kakek kerap mendongengkan perdjalanan hadjinja, melewati padang pasir jang amat panasnja. Tetapi, kata nenek, neraka masih seribu kali panasnja. Dan kau tidak akan mati dibakar dalam neraka, diazab terus, hingga lunas dosamu. Malaekat sekali-kali datang, memukul kamu dengan gada (pemukul) besi jang menjala. Tanganmu dirantai dengan rantai besi jang menjala. Dineraka banjak binatang² berbisa, kelabang, kaladjengking, ular dan semua menjala. Djeritmu tiada terdengar oleh Ibu Bapamu, kau diazab sampai lunas. Hi, berdiri bulu tengkuk kami, hati mendjadi ketjut. Malam-malam mata tiada terpitjing. Takut dan menjesal mengapa dahulu terlahir didunia untuk berbuat dosa, dan nanti diazab dineraka.

Anak² dan orang jang saleh tiada berdosa, nanti naik sorga. Sorga itu serba indah, tiada siang malam, tiada gelap dan terang. Gelap tiada gelap, terang tiada terang. Tiada kenjang dan tiada lapar. Semua sendjuk dan segar. Bidadari melajani tiap waktu. Buah²an jang ada didunia ada semua, dan lezatnja mendjadi lipat seribu kali. Menetes liur kami, terpandang² sadja manggis buah jang manis, tetapi jang kata mbah, bisa bikin mati kalau dimakan dengan gula. Disorga, boleh makan seenaknja. Disorga ada wajang, mbah? Tanja adikku laki² jang gemar nonton wajang kulit. Embah tersenjum, tidak, wajang itu tidak bagus, tidak boleh naik sorga.

Malam-malam kami mimpi dan ketjut hati. Kenapa dulu tidak mati ketika baji. Kata nenek, baji tidak berdosa, kalau mati naik sorga. Senang kalau mati dahulu, tentu naik sorga.

Setiap pagi kami saling djadi polisi. Djangan ada jang berbuat dosa, nanti masuk neraka. Ah, betapa kasihan, adikku si gendut jang suka wajang itu, kalau masih sadja senakal itu, tentu diazab. Dan kami tidak dapat menolong.

Tiap bulan Puasa kami berlomba puasa. Si gendut jang nakal itu dan tidak tahan lapar, berkali-kali putus ditengah hari. Sering terang²an, tetapi ta’ djarang² mentjuri², pergi ketempat kawan, memandjat belimbing, dan tjepat² sembunji dimakannja sebuah. Akan kumarahi kasihan djuga. Perutnja besar seperti karung, tentu sadja ta’ tahan lapar.

Tetapi kata nenek, tidak apa. Gendut belum wadjib berpuasa, ia belum dewasa. Kalau sudah dewasa, harus ia puasa.

Budjang kami tidak puasa. Ia sudah dewasa, tentu, sebab sudah djanda. Saja tanja, mbok mengapa tidak puasa? Den, katanja, kalau mbok puasa tidak kuat mentjutji dan menjapu kebon. Kalau sore lemas tidak bisa setrika. Tetapi mbok, kataku penuh iba. Nanti kau masuk neraka. Mbok hanja tersenjum, habis den, kalau dipaksa puasa djuga pekerdjaan tidak selesai dan ibunja marah². Kalau ibunja marah² puasanja tidak sjah. Biar saja sadja tidak puasa. Kasihan, pikirku. Kenapa banjak betul tjutjian mbok ini, habis adikku ada enam orang, dan sapihan Ibu suka ngompol sadja.

Tetanggaku sebelah djuga tidak puasa. Heran djuga, dia kan bukan budjang, tentu ta’ takut dimarahi. Aku tanja, wak kenapa tidak puasa, nanti tidak naik sorga. Wak, manis djawabnja. Kalau wak puasa tidak kuat mengangkat alu, tidak bisa menumbuk padi. Tidak kuat menggendong bakul kepasar. Manis sadja jang puasa, uwak titip. Kawan²ku sepermainanpun tidak banjak jang berpuasa. Dan kalau kutanja mengapa, didjawabnja: Kau puasa sekali setahun, tetapi saja saben hari puasa. Tiap hari hanja makan sekali sadja.

Sampai dirumah sedih hatiku. Malam² aku memohon kepada Tuhan, agar mbok tidak banjak tjutjiannja supaja bisa ikut puasa, uwak banjak berasnja, tidak usah menumbuk tiap hari sesudah ikut panenan, si Tarmin dan Minah bisa makan kenjang tiap harinja. Biar semuanja ikut puasa, dan bersama² mendapat pahala sorga.

Sore hari Djimin, anak budjang kami diikat ditiang. Ia mentjuri uang Ibu, hanja satu sen. Tetapi biar djera, kata bapak. Djimin menangis minta ampun, tetapi mesti harus mendjalani hukuman. Iba hati saja, Djimin saja dekat. Kataku: „Min, djangan suka mentjuri ja, nanti kau masuk neraka, mentjuri itu perbuatan dosa. Untuk apa hanja uang satu sen sadja, kan? Dari pada nanti dibakar diachirat?” Disambung suara dalam hatiku: Sekarang sudah sakit, badan diikat, nanti memetik dosa pula.

:„Habis den, saja ingin sekali membeli lajang²,” djawabnja sambil menangis. :„Mintalah kepada Emakmu dong, djangan mentjuri.” :„Mak tidak punja uang lagi. Sudah habis, kemarin membajar utang kepada Tionghoa mindring, pembeli kainnja Lebaran dahulu.”

Malam², saja berdoa lagi, agar anak² semua dapat membeli lajang² dengan tidak usah mentjuri. Bisa minta kepada Ibunja sendiri. O— ja, dan Ibunja selalu mempunjai uang, djangan habis dimakan hutang. O— ja, dan djangan ada tukang mindring (lintah darat), sebab lintah darat itu perbuatan dosa. Ja, ja pendeknja, orang tidak usah mempunjai hutang, tidak usah, ingin membeli dapat membeli , djadi anaknja tidak berdosa (terpaksa mentjuri karena inginkan lajang²), melahirkan lintah darat banjak (habis orangnja ta’ punja uang).

Bukankah Ibuku tidak mengutang kepada lintah darat? Begitu pikirku, dan kami tidak perlu mentjuri.

Tetapi ......... Ja, aku ingat pernah pada satu malam aku terbangun mendengar Ibuku menangis terisak-isak, dan bapak menggeram keras². Aku terbangun, mataku njalang terbelalak. Bapak marah² kepada Ibu, dan Ibu hanja menangis, sekali-kali mendjawab dengan marah. Ja, dengan kata² jang djelek, jang aku tidak boleh mengutjapkan, karena itu tidak sopan. Bapak rupanja tidak sabar lagi, terdengar suara: blug, dan ibu agak keras menangis, Ibuku dipukul. Mau saja mendjerit, tetapi takut kepada Bapak. Ibuku berkata: „Digadaikan, digadaikan, kapan bisa diambil? Kalau tidak tjepat tentu hilang, ta’ boleh ditebus lagi. Orang laki² tidak dapat tjari uang. Kalau subangku hilang dipegadaian, kau tentu tidak bisa membelikan lagi.” Bapak mendjawab: „Itu kan salahmu sendiri. Saja sudah berkata, uang kas tidak boleh dipakai, kalau saja mesti menjetorkan atau ada inspeksi sewaktu², barangmu mesti masuk rumah gadai”

:„Gadjimu tidak tjukup, tidak tjukup,” tukas Ibuku.

Aduh, tidak terasa air mataku meleleh. Bapak Ibu membuat dosa. Nenek berkata, orang harus rukun, tidak boleh berselisih tidak boleh mendendam, tidak boleh berkelahi, tidak boleh pentjuri, ja pokoknja serba saleh.

O, Tuhan Maha Pengasih, berilah kepada Bapak Ibuku gadji jang tjukup, agar tidak harus selalu mentjuri uang kas, tidak harus bertengkar malam² kalau kami sedang tidur. Dan kepada Bapak Ibu semua kawanku, djuga Ibunja Djimin berilah uang tjukup supaja tidak kekurangan, dan dapat hidup rukun. Berilah uang banjak² kepada ibu Djimin supaja Djimin dapat sekolah seperti saja, nanti djadi orang pandai, dan tidak djadi pentjuri.

Ketika mataku hampir terlena, saja ingat benar pada waktu itu, saja berdoa agar Tuhan memberkahi sorga dibumi, supaja kami tidak perlu berbuat dosa, dan nanti kami dapat semua naik sorga.

......... Ketika saja sudah besar dan dapat berfikir, saja mengerti bahwa doaku waktu itu dan doa semua Bapak dan semua Ibu, bukan doa jang salah. Tuhan, berkahilah sorga dibumi, agar kami tidak berbuat dosa.

Sekarang, saja tidak hanja berdoa sadja, tetapi saja dan semua anak ketjil jang dulu berdoa-disudut² gelap ditempat tidurnja karena takut azab neraka, berbuat. Berbuat, berdjuang, untuk tertjiptanja sorga dibumi.

Rumah jang Kesembilan

Kalau sore² sehabis hudjan sepertini, udara njaman, dan hudjan sedang, tiada terlalu lebat semalam, semua penghuni kampung keluar rumah, meninggalkan kepengapan dan melupakan penat² kerdja sehari. Anak² ketjil, ber-bondong² berdjalan dengan kawannja menjusur djalan, melihat permainan lampu² neon warna-warni. Seperti tiada penat²nja melihat keindahan itu, meskipun telah bertahun menatapnja. Tetapi memang lampu² neon itu banjak membawa kisah suka-duka. Kanak² tiada menjadarinja, hanja merasa sesuatu jang merindukan. Disitu, disitu dahulu, tempat neon biru muda, pernah mereka diam untuk tiga bulan lamanja. Dan disana, dibalik djalan besar jang membudjur itu, tempat neon bening kuning, mereka diam untuk lima bulan lamanja. Alangkah lainnja. Malam ini seperti siang sadja, terang-benderang. Rumahnja berbentuk aneka-warna. Dapat benar dunia ini berubah begitu rupa. Dahulu, betjek, pengap, gelap dan berbatu. Sekarang begitu rata, kering, terang-benderang, bersih memikat hati. Tidak mengira, garasi itu, berdiri diatas bekas petjomberan. Tersenjum geli anak² itu, senjum jang hanja dikenal oleh ketulusan hati kanak².

Mereka lama berdiri dipagar pekarangan jang luas. Ada sesuatu jang sangat memikat. Pohon rambutan tempat mereka dulu berlomba memandjat tidak ditebang. Pohonnja sedang lebat berbunga. Dahulu ketika mereka masih berdiam disitu, bertepatan dengan musim rambutan. Kalau Pak Hadji tidak ada dirumah, mereka bergajut naik seperti kera. Tetapi kalau ketahuan, emaknja mendapat marah sehari suntuk, dan sebagai hukumannja, maknja mesti menumbuk tepung untuk bu Hadji sebanjak tiga kilo. O, ja dimana rumah Pak Hadji dan kandang sapinja? Kalau ta’ salah dirumah nomer sepuluh itu. Kandangnja djuga dibongkar. Pak Hadji pindah, djuga mendapat pesangon tetapi tidak seberapa. Kata emaknja, pekarangan itu punja Pak Hadji, penghuni gubug membajar sewa Rp. 30,– sebulan, dan tidak boleh memungut hasil tanaman.

Itulah sebabnja, mengapa maknja selalu mendapat marah dan kena denda menumbuk tepung, kalau anak² mentjuri rambutan. Meskipun begitu Pak Hadji termasuk orang jang baik hati. Mereka kerasan disitu. Lebih² lagi dibelakang gubug² mereka mengalir parit ketjil jang bening airnja. Parit itu sekarang telah ditembok. Airnja masih bening tetapi tidak menari lagi. Pandangannja kini terpikat pada sepasang kera piaraan rumah nomer dua belas. Disitulah dulu didirikan kandang² ajam mereka. Hanja dikampung gubug inilah mereka sempat memelihara ternak. Lebaran jang lalu, Udin menjumbang seekor kurik untuk dipotong, tetapi tidak setahunja ajamnja sitabur bintang ditangkap pula didjual kepasar. Sekarang ajam² itu tidak ada lagi, penghuninja tidak perlu piara ajam, apalagi piara sapi seperti Pak Hadji. Kasihan Pak Hadji itu, sudah tua. Ketika mereka mesti pindah tjepat² — tidak pernah mereka pindah perlahan-lahan, tentu ter-buru², memperpandjang waktu sampai dihari terachir mempertahankan gubug²nja — Pak Hadji sedang sakit keras. Mana singkongnja belum masa dipungut, rambutannja sedang lebat berbuah, mandor pemborong sudah mem-bentak². Pak Hadji jang masih panas karena demam, mendengar bentakan mandor jang tidak ber-henti² itu, naik darah. Ter-hojong² ia keluar membawa golong jang tadjam ber-kilat²: „Tutup mulutmu, tutup mulutmu, ja, mulut bedebah. Tidak tahu, bangunpun aku tidak dapat? Kalau memang tidak sabar lagi menanti uang suapan, datang sini, aku habisi njawamu.” Orang sekampung lari mengedjar Pak Hadji, menjabarkan diri: „Sabar, Pak, sabar Pak, sabar.”

„Apa sabar?” bentanknja. „Dia tidak tahu adat tidak tahu kesusahan orang. Dia tidak kehilangan, aku sudah berpuluh tahun diam disini, dipaksa aku tidak semau sendiri pindah. Memang kau hanja kerdja, tetapi djangan menjusahkan orang. Tidak tahu badanku panas, hatiku mendidih? Meskipun tua, tidak takut aku melawanmu, hajo omong lagi, hajo omong lagi, bedebah!”

Masih banjak omelan Pak Hadji, tetapi ia dipapah masuk kerumah.

„Sudah Pak, sudah pak.” Anak² ketjil hanja menonton, mengerumuni.

Pak Mandor sudah lari ta’ nampak hidung, hatinja tjemas, nanti dikantor masih ditunggunja bentak pemborong.

Untunglah, meskipun demikian kepindahannja tidak membawa malapetaka. Memang banjak kenangan sukaduka kepindahannja jang ber-kali², tetapi tidak sedahsjat dirumah gubug didekat kuburan itu. Paling lama mereka berdiam disana. Sebetulnja mula² tidak enak tempat itu, tanahnja kering, tidak ada air, tidak ada empang, tidak ada parit. Mereka ber-sama² menggali sumur, gubug² mereka dipagari, dan dibelakang rumahnja menghidjau singkong dan katjang pandjang. Perkampungan pendatang itu agak besar, sebab penduduk asli masih berpuluh diam disitu. Jang ahli menukang, telah membuka bengkel sepeda, jang ahli berdagang membuka warung kebutuhan se-hari², warung² gado² jang tersohor enaknja, dan tukang² kaju; gedung² bertingkat agak djauh dari situ, tetapi saban pagi banjak Ibu² pergi kegedung² itu mendjadi tukang tjutji atau tukang masak. Sore hari pekerdja² rumah tangga ini pulang, dan dapur mereka ber-kepul². Malah ada peristiwa besar jang menjenangkan, kampung pendatang itu telah mengadakan peralatan kawin. Seorang tukang betjak menikah dengan pendjual gado². Seperti telah sempurnalah kebahagiaan mereka. Kampungnja menghidjau dan teduh dipinggir kuburan para suami bekerdja agak djauh mendjadi tukang batu, tukang betjak dan lain lagi. Telah berpuluh baji dilahirkan. Seperti kampung jang betul². Bukan darurat.

Tetapi, ja tetapi suara² telah banjak terdengar mengotori suasana jang tenteram itu. Mereka mesti pindah dan se-tjepat²nja. Diberi waktu dua minggu sadja. Tiap malam para suami berkumpul, berunding, berunding ber-kali². Kerap mereka malam² pergi, bersama dengan beberapa orang jang bukan penduduk kampung itu. Kabar telah tersiar, penduduk kampung minta tangguh tiga bulan lagi. Rumah mereka bukannja pajung jang dapat dibuka dan ditutup setiap waktu. Meskipun hanja gubug jang berisi satu bale², tetapi rumah berdiam hanjalah tempat berteduh dimalam dingin. Jang perlu, penghidupan mereka se-hari². Tukang bengkel tidak gampang sadja mentjari tempat jang tepat untuk mendapat langganan. Jang bekerdja diluar rumah, entah menukang, entah menarik betjak entah berdjualan sajur dipasar, atau djadi tukang tjutji dirumah gedung, harus mempersiapkan kepindahannja. Dan ini agar Bapak² mendjadi ma’lum. Chabar minta tangguh ini telah mentjerahkan suasana. Tetapi ..........

Pada suatu pagi jang tjerah, sekira pukul setengah tudjuh, kampung mereka dikurung tractor. Mesti pergi minggu ini, atau gubug² itu diratakan dengan tractor. Penghuni kampung semuanja keluar rumah, menggendong bajinja. Seperti telah berdjandji mereka berdjongkok memagari gubug²nja. Anak jang biasa bersekolah, hari itu tiada masuk, dan ikut berdjongkok memagar rumahnja. Kebangaannja melihat tractor itu bekerdja meratakan tanah, kini berangsur berubah seperti melihat raksasa jang dahsjat. Pemimpin barisan tractor,memberi aba, dan rumah jang diudjung, ditanduknja, rebah kebumi. Penghuni kampung ber-teriak², dan lari memburu traktor jang meratakan singkong muda. Mereka merupakan pagar melingkari traktor jang mengamuk. Anak² ketjil lari memandangi traktor² jang lain, dan bergajutan pada bahu sipengendara: „Djangan Pak, djangan Pak. Nanti aku tidur dimana”. Orang² laki² ber-seru²: „Berhenti Pak, berhenti pak. Djangan kedjam. Kami masih berunding.” Perempuan² lupa kepada gendongannja baji jang masih menjusu, men-djerit², lari² ditengah ladang jang diburu tractor. Se-orang² tua berdiri didepan tractor dan berseru: „Gilas dulu aku, nak gilas dulu. Aku malu kepada anak tjutjuku, tidak dapat mempertahankan gubug tempat berdiam pada bangsaku sendiri.”

Melihat orang mendjadi gila dan lupa diri sendiri, bertahan memagari gubugnja, tractor² pulang kembali. Orang pada berkerumun, perempuan² menangis terisak-isak, dan anak ketjil bengong hilang kegembiraannja. Gubug jang djatuh ditanduk tractor, ber-sama² didirikan kembali, tidak selang sedjam, sudah dapat ditempati, membaringkan penghuninja jang gemetar: „Kita tidak boleh lengah. Ini tentu ada buntutnja.”

Sore hari, beberapa orang laki² pergi berapat, dibalai pertemuan, ber-sama² dengan orang² dari rumah gedung jang membela mereka.

Betullah, pada esok harinja, djam lima pagi, serombongan polisi, menangkapi beberapa orang kampung itu, polisi itu ber-djaga² menunggu tractor datang. Tidak peduli djeritan lagi, traktor mengamuk meratakan perkampung sebelah timur.

Kampung jang damai itu kini tidak ada lagi. Sudah berubah mendjadi gedung jang tinggi dan bagus. Terang bukan gedung pegawai negeri. Kedjadian itu memang dashjat benar, ber-hari² mereka tidak mau pindah rumah, tidur dibalai pertemuan, dan kalau pagi mengerumuni kantor Tjamat. Sebahagian kembali kekampung memunguti daun² singkong dan katjang pandjang jang rebah, sambil air mata mereka berlinangan. Kuat tekad mereka, tidak mau pindah, sebelum disediakan tempat penampungan. Bukan salah mereka, mereka tinggal ditempat itu.

Peristiwa itu terdjadi pada tahun 1952 hampir selam. Memang waktu itu sedang musim tractor mengamuk. Dari waktu itu sampai sekarang, sjukurlah tidak lagi ada tractor mengamuk. Tractor² mendjadi tahu, bahwa mereka berhadapan dengan manusia, bukan orang jang diam digubug. Mereka itu manusia, jang tidak dapat diperlakukan semaunja.

Bulan sedang berdandan dilangit sebelah timur. Bulat dan besar. Hawa njaman menjapu tubuh.

Dari masa tractor mengamuk itu, anak² meneruskan perdjalanannja menjelusur lampu² neon, mereka telah tudjuh kali berpindah rumah. Didjumlah dengan jang dahulu, rumah jang didiami sekarang dipinggir empang adalah rumahnja jang kesembilan. Anak² keluar masuk sekolah sadja, keluar sekolah ikut pindah dengan gubugnja. Anak jang pandai terpaksa berkali mengulang kelas jang sama karena berhenti disekolah jang lowong. Dan sekarang mereka hampir sampai dibatas. Kalau gubugnja makin bergeser kepinggir, dan mengitari empang jang banjak malarianja itu, bulan² dapat dihitung. Waktu telah dekat menghapus mereka dari daftar penduduk Kotabaru. Memang ada tempat lain, djauh dari kota tempat mereka memburu nasi: mendjadi tukang betjak, tukang tjutji da pendjual gado² — tetapi entahlah ditempat jang baru nanti mereka mesti berganti bulu. Mau djadi apa? Entahlah. Selama matahari masih terbit dan tenggelam, Tuhan masih sudi memeliharanja, masih disediakan sesuap nasi pagi dan petang. Keuletannja dan pertjajanja kepada Hidup, tidak ada jang melawan. Mereka itulah Hidup.

Anak² pulang ber-siul² ketjil. Lampu neon telah dibelakang dan mereka menudju pulang kerumahnja jang kesembilan. Nanti kalau mereka memikul tikar bantal menudju rumah jang kesepuluh, hari akan lebih gelap dari kemarin. Sebab disana tidak ada orang jang naik betjak, tidak ada jang membutuhkan tukang tjutji, dan ta’ ada jang gemar djadjan gado². Anak² mesti berdjalan tiga kilometer untuk menudju sekolahnja jang kelima.

Bulan jang bulat, terang benderang menawan hati.

Parak Siang

„Tok-tok-tok.” Tiga kali, kemudian berhenti.

„Tok-tok-tok.” Tiga kali dan berhenti lagi.

Kemudian lima kali ketokan menjusul beruntun. Suatu tanda pengenal. Seorang perempuan membuka pintu dengan hati², membelakangi lampu. Dan ketika pintu telah ditutup kembali, dan orang asing jang mengetuk itu sambil menjandang bedil berdiri menatapnja dengan tenang, ia mendesis: „Engkaulah kiranja. Pergi.”

Perdjurit asing itu menundukkan kepalanja, berbisik perlahan.

„Ja, akulah kak. Aku jang datang. Djangan kau usir aku: kali ini sadja.”

Perempuan itu mundur per-lahan² matanja memantjarkan kebentjian, ia mendesis lagi dengan marah.

„Mau kemana kau malam² begini?”

„Masuk kota.”

„Merampok ja? Menggedor?”

Perdjurit itu menundukkan kepala lebih dalam lagi. Djanggutnja jang lama tidak ditjukur menadah airmatanja jang titik.

„Djadi setelah mendjadi buaja, kau djadi perampok. Mudah²an mati kau malam ini ditembak Belanda.”

„Aku tidak merampok, kak.” Ia keluarkan seputjuk surat. Dengan satu tanda tangan sadja. Sura pengenal.

Perempuan itu menghela nafas.

„Kurang kerdja ja!”

Ia pergi mendjerangkan air.

Ja, malam itu, perdjurit gerilja menjusup kota. Ia tinggal didaerah perbatasan, dan mendjadi tempat singgah para perdjurit. Suaminja bergerilja dikota jang lain. Ketika aksi militer kedua petjah, suaminja sedang djauh bertugas, dan mereka mendjadi terputus hubungan.

Perdjurit jang baru datang itu masih berdiri didepan pintu. Merasa ragu, djanggal tidak menentu.

„Kenapa kau tidak duduk?”, tanja perempuan itu.

„Aku takut kakak tidak mempunjai lysol.”

„Aku masih dapat membersihkan kursiku dengan air panas mendidih. Kutu² masih dapat dibunuhnja.”

Perdjurit itu duduk disebuah kursi kaju. Mukanja masih tunduk sadja. Hanja suara air jang hampir mendidih mengganggu kesunjian itu. Mereka tidak ber-tjakap².

„Kalau kau tahu, bahwa akulah penghuni rumah ini, tentunja kau tidak berani mampir ja?”

„Sudah lama kuketahui kak, tetapi baru kali ini aku berani menghadap kakak.”

Tiba² sadja, kepalanja ditelungkupkan diatas medja. Ia ter-hisak².

„Sudah pandai kau menangis ja?” Suaranja masih sadja pendek² dan pedas.

Perempuan itu bangkit, untuk mengangkat tjerek, dituangnja diteko teh, dan tersebarlah bau jang harum, harumnja teh dimalam jang dingin. Perdjurit itu mengangkat kepalanja, mentjari sesuatu didinding.

Telah ber-tahun² ia tidak berani lagi mengindjak rumah ini, semendjak isterinja meninggal. Isterinja adalah adik perempuan itu, adik jang tertjantik dan paling disajanginja. Tetapi adik jang tertjantik itu telah mendjadi tanah, mati karena kesalahn, karena dosa perdjurit itu. Perdjurit itu keturunan bangsawan, mendjadi perdjurit karena revolusi. Ajahnja seorang pedjabat Pamongpradja jang tinggi, Bupati, dan isterinja anak tjamat, jang berada didaerah kekuasaan Ajahnja.

Aris, demikian namanja, semendjak ketjil telah membawa sifat² djelek seorang bangsawan. Pada usianja jang empat belas tahun ia sudah memelihara selir (gundik). Sekolahnja tidak pernah tamat, hanja dengan suap dan kuasa achirnja ia tamat dari sekolah rendah. Kebuajaan dan kekurang adjarannja terkenal diseluruh kota. Ketika ia berumur dua puluh tahun gundiknja sudah lima orang, belum lagi isteri² liar jang ditemuinja disetiap tempat. Ia mendjadi pegawai Pamong Pradja disuatu tempat.

Pada suatu hari ia bertemu dengan Rini, anak gadis seorang tjamat. Gadis itu dipinangnja, tidak didjadikan gundik, tetapi isteri. Tjamat merasa berada dilangit ketudjuh membawa pinangan bangsawan itu, tetapi anak sulungnja, ialah perempuan jang menjedu teh dihadapannja menentang dengan sengit perkawinan adiknja dengan Aris.

„Ajah. Aris seorang buaja. Mata kerandjang. Disetiap sudut ada isterinja. Saja tidak setudju ajah.”

Ajahnja mendjawab:

„Setiap lelaki sebetulnja dikendalikan oleh isteri. Ia liar, karena tidak ada orang jang dapat mengikatnja dirumah. Lihat sadja ajah, ketika belum bertemu dengan Ibumu, akupun tidak kurang nakalnja, tetapi setelah ada wanita disampingku, ajah tidak lagi keluar rumah.”

„Tetapi Ajah, Aris ini keterlaluan, ia tidak lagi nakal, tetapi kurang adjar.”

Ajahnja hanja memandangnja sadja dengan kasihan. Dan didjawab, djawaban jang menusuk hatinja.

„Djanganlah kau halangi kebahagiaan adikmu. Setiap orang mempunjai wahju sendiri². Kau wahjumu tidak mendjadi Raden Aju, tetapi adikmu mendapatkan wahju itu.”

Kakak itu terdiam, perasaan kewanitaannja tersinggung. Ia dikira tjemburu mengirikan keuntungan adiknja.

Mereka berdua djadi kawin, Aris sibuaja, dan Rini gadis tjantik ......... Begitulah kedua orang itu dalam kesunjian masing mengenangkan kembali hari kemarinnja. Perempuan itu tidak sepeserpun dapat menghargai Aris, walaupun andaikata ia mendjadi radja sekalipun. Kebentjiannja tidak pernah ditutup-tutupi, lebih² setelah adiknja sakit, setelah melahirkan anaknja jang tjatjad, dan meninggal dalam umur seminggu.

Aris kena penjakit radjasinga. Radjasinga itu menurun kepada anaknja dan menular kepada isterinja.

Perdjurit itu mengangkat kepalanja tegak², lurus dipandangnja dinding didepannja, telah ketemu jang ditjarinja selama ini. Gambar Rini, ketika masih gadis ketjil dengan dua djalinan rambut tergantung dibahunja jang mungil itu.

Ia menghela nafas.

Waktu itu isterinja sedang mengandung tiga bulan. Ia pergi bertamu kekakaknja, kepada perempuan jang ada dirumah ini.

Tiba² sadja sikakak ini berkata dengan keras.

„Djangan pindah² tempat duduk. Supaja gampang aku nanti menggosok kursi itu dengan lysol.”

Aris hanja tertawa mengiris sadja.

„Untuk apa kak, kursi itu harus dibersihkan dengan lysol?”

„Karena Aris menjebar maut di-mana², badannja penuh dengan kuman² .........” tersentak ia menghentikan kata² itu.

Rini menundukkan kepalanja.

„Kursikupun harus nanti kau siram dengan lysol, kak. Kasihan anak² jang masih ketjil².”

Kakaknja terkedjut, dan terlompat kata².

„Djadi kau djuga telah ditularinja Rini?”

„Ja, kak aku telah tiga bulan mengandung.”

Kemudian mereka berdua, Aris dan kakak itu bertengkar dengan sengit. Waktu itu Aris bukan makin tjongkaknja, kurangadjar, tidak berperi kemanusiaan, kedjam.

„Ajahku melepaskan Rini dengan harapan dapat mengendali engkau Aris.”

„Siapa jang dapat kurnia diperisteri Aris, harus sanggup dimadu. Kami orang² bangsawan tidak tjukup dengan seorang wanita.”

Setelah itu mereka tidak bertegur sapa, dan tidak pernah saling berkundjung.

Ketika kandungan itu berumur delapan bulan, terlahirlah seorang baji jang kurang umur dan bertjatjad. Aris sendiri, telah berdjalan dengan menjeret kaki kirinja, dan matanja sebelah kiri telah timbul bintik² putih. Dipakainja selalu katjamata kemanapun djuga, siang atau malam. Baji tjatjad itu hanja sangugp hidup seminggu, tetapi si Ibu jang kandungannja telah diserang kuman² radjasinga masih tahan menderita ber-bulan². Ia kena radang peranakan jang menahun.

Waktu itupun, Aris masih belum dapat dikendalikan. Dengan kaki kiri terseret dan dan berdjalan ter-hojong² ia masih kelujuran malam², lebih² lagi ketika Rini terus sakit²an sadja.

Rini meninggal dunia dengan merana.

Perdjurit itu menutup mukanja dengan dua belah tangannja.

„Apa jang kaupikirkan?” tanja perempuan itu sambil menaruhkan segelas teh.

„Sebuah rangka hidup dihari kemarin, kak, jang terkapar dirumah sakit umum.”

„Meratjau. Minumlah.”

„Rangka hidup itulah saja, kak.”

Perempuan itu diam. Dengan tidak memandangnja, ia berkata:

„Rangka jang telah membunuh manusia jang tidak berdosa.”

Kemudian dengan bernafsu ia mendesis.

„Kalau menurut mauku, revolusi ini djangan hanja menghantjurkan Belanda, tetapi djuga membunuh orang² seperti kau, melenjapkan kelas jang kau wakili. Kelas jang tidak bekerdja, tidak berguna, kelas benalu. Apa jang telah disumbangkan oleh orang² sebangsamu? Mereka kini kembali menjeberang, berpihak kepada musuh. Kelas penakut, pengetjut, sombong tidak tahu diri.”

„Tidak semua, kak. Kamipun manusia.”

„Itu tidak kusangka.”

Ia meng-aduk² tehnja dengan lena. Kalau ia memikirkan golongan² benalu itu, mau rasanja ia menjandang bedil dan pergi menembaki mereka dirumah mereka masing². Pada saat² seperti itu, hanja batinnja jang bitjara. Hati jang marah jang ketjewa.

„Kamu mau kemana malam ini?”

„Menebus dosa kak. Meninggalkan masa kemarinku mendjadi benalu jang tidak berguna. Aku ingin mati karena pelor, djangan karena radjasinga. Aku ingin djika toh pelor tidak mau membunuhku, pada saat² achir djasmaniku dikunjah penjakitku, aku dapat membuat neratja.

Aku ingin hidup seperti orang banjak jang bangkit berdjuang dalam pesta djaman ini. Djaman jang mendjandjikan kehidupan jang mulia, baik dan bahagia.”

„Kau memushi djaman djajamu, djaman golonganmu Ris.”

„Aku malu hidup didalam djamanku. Djamanku dan golonganku telah membuat aku manusia jang kotor, jang djahat, jang bekas kursinja mesti ditjutji dengan lysol, jang matanja putih sebelah, jang kakinja mesti di-seret², jang diludahi wanita² sopan. Djamanku jang tua dan lapuk, sudah masanja runtuh, sebab sudah diruntuhkannja kehidupan dan nilai² jang baik, dan telah diruntuhkannja pendukung²nja. Aku anak djaman jang runtuh kak, kau lihat begini udjungku. Kau bentji aku kak, sedang sebetulnja kau membentji kehidupan jang membuat aku begini.”

Perempuan itu berdiri dekat medja dan mengusap air matanja.

„Aku berterima kasih kepada revolusi, kepada perang kemerdekaan, sebab telah merubah aku dari sampah mendjadi manusia. Aku mengharap pengestumu, kak.”

Kepalanja ditelungkupkannja lagi, dan menangis.

Perempuan itu mendekatinja, dan berkata dengan lemah-lembut.

„Baru sekarang aku mengenal perdjurit jang matanja hanja sebelah dan kakinja lumpuh karena radjasinga, jang napasnja pendek². Dapatkah kau bertempur?”

„Tinggiku tjukup, 1.60, dan bahuku masih kuat memikul randjau. Aku dibahagian pemasangan randjau. Dalam kebangkitan ini, semua lelaki adalah pahlawan dan setiap wanita adalah pendekar. Jang selebihnja adalah sampah dan benalu. Tunggulah aku diparak siang kak, djika telah meletus randjau jang kupasang nanti lepas tengah malam, aku mampir lagi kesini atau bertemu dengan Rini entah dimana.”

Pada lepas tengah malam perdjurit itu meninggalkan rumah dipinggir kota, ter-suruk² dan me-njeret² kaki kirinja.

Perempuan itu berdiri diluar rumahnja digelap malam. Kebentjian jang dipendam ber-tahun², telah hilang di-malam ini, ketika anak djaman tua itu mengangkat sendjata untuk menumbangkan jang kemarin dan membangun jang indah diesok hari.

Dan ketika ia terdjaga dipagi subuh medengar letusan jang dahsjat, matanja njalang sampai matahari telah meninggi.

Tiada ketukan dipintunja. Parak siang telah lama lampau.

Seorang perdjurit telah pergi.

Bukan kematian seorang radjasinga.

Kematian pahlawan.

Jang Pertama

Kalau orang meninggalkan desa untuk seminggu dua minggu, maka ia akan menemui perubahan. Entah tetangganja kiri, atau jang kanan kerabat djauh atau kenalan lama, tetapi terang, paling sedikit dua orang meninggal dalam waktu seminggu.

„Pak Kromo telah meninggal. Hari Kamis.”

„mBok Dipo telah meninggal. Hari Djum’at.”

„Sinem telah meninggal. Hari Minggu.”

„Ju Siti hampir meninggal. Kaki duanja bengkak.”

Seperti ada wabah kolera, tetapi lebih mengerikan, karena maut datangnja me-ngendap² perlahan, dan orang dideranja dengan penderitaan berkepandjangan. Orang tidak tahu lagi kepada siapa mesti menaruh belas kasihan; jang terang tidak kepada jang telah mati. Jang telah mati sudahlah, telah habis penderitaan, dan mereka menempuh hidup abadi tanpa sakit dan lapar, sebab bukankah orang jang berbaring didalam tanah tidak lagi memerlukan gogik dan tiwul? Ja, kepada siapa mesti menaruh belas kasihan, karena dirinja sendiri memerlukan belas kasihan, karena dirinja sendiri memerlukan belas kasihan, se-waktu² kaki bengkak itu akan datang djua mendjemputnja, dan habislah matahari, habislah keringat, habislah rasa sakit, habislah tangis sanak keluarga. Tetapi sungguhpun demikian, tidak ada seorang jang menjerah mentah² dan mengantarkan dirinja kepada maut. majat² hidup dan kerangka jang menjeringai memenuhi djalanan, dengan berkain goni (karung) membawa tempurung, me-ngorek² parit ketjil, membongkar tanah, siapa tahu ada redjeki bersembunji. Sungai²pun tidak lagi membawa berkah, ikan² mati sebelum besar, andjing kurus berkeliaran, mungkin besok telah mendjadi hidangan. Ja, hukum agama seakan tidak berlaku lagi, mereka membuat hukum sendiri, kehidupan jang pedih itu, segala jang hidup dan tidak mematikan masuk perut, sedang bangkai jang belum terlampau busukpun, bukan halangan untuk menjambung hidup. Majat² tidak perlu lagi kain kafan, tikar sobekpun djadilah. Kemenjan tidak lagi mengepul. Ja, kemiskinan telah mendobrak segala matjam adat istiadat. Selamatan meninggal, meniga hari, menudjuh, empat puluh dan setahun ditiadakan.

Minggu ini Wongso didjemput malaikulmaut. Isterinja jang gemuk dan segar itu, sambil memangku bajinja berusia dua tahun menempel didanja jang bidang — suatu keanehan, mengapa orang itu bisa tetap gemuk dan sehat —, menunggu dengan hati jang tidak menentu majat suaminja dibungkus tikar. Hari mati suaminja sudahlah dapat dipastikan. Begitu kaki bengkak, tidak salah lagi kalau orang telah mulai menggali liang kuburnja dalam daftar penduduk. Tudjuh anak lainnja jang sudah agar besar berdjongkok mengelilingi tubuh ajahnja jang tjekung pipinja tetapi jang kembung perutnja. Mereka diam, tiada lagi terdengar tangis. Airmatanja rupanja tidak banjak lagi jang tinggal, atau masih harus disediakan untuk kedjadian² berikutnja. Djanda jang kuat dan tabah itu ditinggali delapan anak ketjil dan sebidang sawah ketjil, jang apabila tidak harus menjetorkan kepada Balatentara Djepang, tjukuplah pas untuk menghidupi keluarga besar itu.

Mulai besok, djanda itu mendjadi ibu dan ajah sekaligus.

Orang² tidak menaruh belas kasihan, atau menundjukkan rasa duka se-dalam²nja, karena bukan hanja dia sendiri mendjadi djanda didusun itu. Malah² dia mempunjai sepetak sawah, jang lain tidak mempunjai apa², ketjuali anak²nja. Hanja tetangga²nja dekat merasa kesepian jang menekan pada hari² pertama. Ja, Wongso tetangga mereka jang dekat jang kemarin masih dapat dilihat dan diadjak bertjakap, jang setahun jang lalu telah membantu mendirikan kandang kerbau, jang limabelas tahun lampau masih mendjadi teman menggembala sekarang sudah tidak ada lagi. Tetapi perasaan jang demikian itu tidak lama, sebab hari² berikutnja beruntun kematian mendjemput penduduk dusun. Memang ,tahun itu adalah tahun jang paling pedih, tahun 1944. Lebih pedih lagi, karena orang² tidak dapat melawannja, mereka tunduk dan menjerah kepada jang akan datang. Perlawanan hanja dalam hati mereka jang me-ronta², dan me-maki² kepada orang² kate fasis dari Djepang itu.

Kesedihan tidak mendapat waktu jang lama, orang telah mendjadi kebal, perdjuangan hidup tidak memerlukan waktu merenung berkepandjangan. Anaknja jang sulung, lelaki, Karmin menggarap sawah. Jang kedua, lelaki djuga, membantu menggarap sawah. Jang ketiga perempuan bekerdja dipasar, mendjadi tukang sapu dan meng-angkut² dagangan. Jang keempat masih meneruskan sekolah, sambil bekerdja mendjadi katjung pada seorang pegawai pos jang sama miskinnja dengan mereka. Berkuranglah beban djanda itu, malah seorang telah tiada untuk makan.

Tetapi rupanja kesedihan seorang tiada akan habis apabila kesedihan djaman belum hilang.

Romusha! Kerdjapaksa!

Lelaki dusun jang telah kering tanpa daging digiring berdujun kesuatu tempat jang tadinja sawah² terhampar. Mereka ratakan tanah, dan membuat lapangan terbang. Pagar kawat berduri berdiri mengelilingi, dan desa² disekitarnja dilindas habis, penduduknja dipindahkan ketempat jang tandus. Entah bagaimana akan wudjudnja lapangan terbang itu, tiada seorang jang tahu. Para pekerdja berganti setiap hari, dan mengerdjakan daerah tertentu. Meratakan tanah, menggali lubang² dalam, memasan pondamen, dan bagaimana hubungannja satu dengan lainnja orang tidak tahu. Bagaimana kekuasaan jang tidak berakar, bagaiman sesuatu akan kalah terbukti kepada tiadanja kepertjajaan kepada siapapun, kepada ketjurigaan ber-lebih²an, malahan kepada keluarga sendiri. Orang² Djepang jang memimpin kerdjapaksa itu sendiri tidak tahu apa dan bagaimana djadinja lapangan terbang itu. Ia hanja mendjalankan perintah.

Tiada ampun, djuga dusun itu mendapat giliran kerdjapaksa, ja semua lelaki jang bisa berdiri, berbaris berangkat kelapangan terbang jang sedang dibuat itu, djam 4.00 pagi rombongan jang pandjang itu berangkat dan djam 8.00 sore mereka sampai kerumah dengan tulang² seakan putus. Tiga hari sudah mereka bekerdja, dan djanda Wongso mengirimkan anaknja sulung. Dusun itu jang djauh dari lapangan terbang mendapat giliran seminggu ber-turut².

Setiap pagi djanda Wongso menjediakan bekal sebungkus nasi dan sepotong ikan asing jang diikat erat dilipatan sarungnja, dan setiap sore ia tunggui anaknja jang sulung dipinggir djalan, dan bila sadja datang rombongan itu dibimbingnja anknja masuk kerumah, dipidjitnja kakinja dan dibedaki badannja jang biru² kena pukulan Djepang dengan beras kentjur. Memang anak itu belumlah besar, baru 15 tahun umurnja. Tetapi karena ia pengganti kepala keluarga, dan badannja kokoh kuat, ia kena panggilan „kerdja sutji” itu.

Pada hari jang kelima, hari sudah agak malam, tetapi rombongan pekerdja itu belum nampak djuga datang. Gelisah djanda Wongso menanti dipinggir djalan, bersama dengan beberapa orang perempuan. Kira² djam 9 malam nampaklah dikegelapan malam serombongan orang pulang berbaris, suara mereka menggumam didesa jang sepi seakan mati itu. Di-tengah² nampak beberapa orang memikul usungan dari bambu. Itulah sebabnja maka rombongan itu terlambat pulang. Rupanja karminlah jang diusung, setengah mati menggeletak badanja bengkak² biru akibat pukulan, sedang kakinja berlelehan darah jang mengental. Mata kirinja hampir tertutup oleh bengkak biru hitam. Dalam keadaan tidak sadar ia ditaruh di-bale² dirumahnja jang suram. Ibunja menangis me-lolong², sepuluh kali lipat kerasnja dari pada ketika ditinggal mati suaminja.

„Anakku, anakku. Mati kau, nak? Mati? mengapa bukan aku jang mati, aku jang tua, jang sudah lama hidup? Mengapa bukan aku jang disiksa, mengapa engkau jang masih anak²? Djepang edan, Djepang gila!”

Tetangga semua berkumpul mengerumuni rumah Wongso, dan menghibur² ibunja jang seperti orang tak ingatkan diri lagi. Mereka tanja-menanja dan suaranja be-rebut² dalam bisik² jang menggumam, apa dan bagaimana terdjadinja peristiwa jang mengerikan itu. Karmin, anak malang itu, terbaring dengan me-ngerang² menjajat hati, dadanja sesak, dan tangannja meng-gapai². Ia sudah tak tahu lagi dimana ia berada.

„Karmin dipukuli Djepang dengan gagang bedil, karena ia salah melintasi daerah terlarang itu dan dituduh mendjadi mata². Sekira djam 12.00 tadi ia disiksa, dan ia dibiarkan terbaring dipanas matahari. Tiada seorang dapat menolong, dan baru dapat dibawa pulang sore ini. Sedari siang ia tidak sadar.”

„Mengapa kalian tidak membela? Mengapa, anak jatim tak berbapa ini kalian biarkan dipukuli?”

„Kami tidak berani. Mereka bersendjata.”

„Berapa djumlah kalian, maka takut? Berapa djumlah Djepang? Tentu banjak kita, bukan?” begitu bantah djanda Wongso sambil ter-isak². „Tjoba aku ada dan melihat anakku dianiaja, biar sampai mati aku bela, walau aku hanja seorang dan aku hanja perempuan.”

„Anaku, anakku, ja Tuhan. Ja Tuhan, belum tjukup kiranja aku mendapat siksaan. Apa dosaku.”

Kemudian ber-teriak² ibu jang hilang akal itu memaki² Djepang. Me-nantang².

„He, diamlah kau Wongso. Suara me-nantang² Djepang ber-teriak² sematjam itu dapat membahajakan dirmu. Malahan seluruh dusun. Diamlah, diamlah, tawakallah.”

„Diam, diam, kau tidak merasakan bagaimana pedih hatiku. Kalau ia dipukul sampai mati, atau ditembak, tidak terobek hatiku. Ia disiksa seperti itu, lihatlah, lihatlah. Napasnja satu², tangannja menggapai dan badannja bengkak matang. Anakku, anakku. Kubalas Djepang gila itu, dikutuk Tuhanlah manusia binatang itu!”

„Ssst, diamlah. Makilah, tetapi dihatimu sadja, mbakju. Berbahaja, berbahaja.”

Itu itu berhenti me-raung², mungkin karena kelelahan. Ia pandangi tetangganja satu persatu. Lalu berkata dengan lesu.

„Kalau tidak dibalas, mereka semakin kurang adjar.”

Orang² menggumam.

„Membalas? Apa daja kita? Kita tidak berdaja. Ibarat sulung masuk api. Api tidak padam tetapi laron mati semua — djangan perturutkan hati jang panas, mbakju.”

„Kalian memang penakut, dan pendek akal. Kantjil binatang jang lemah dan ketjil bisa mengalahkan harimau. Kamu manusia tidak bisa berakal pandjang.”

Orang² menahan ketawanja. Mereka menganggap djanda Wongso betul² telah hilang akal.

Ketika mendjelang djam malam, orang² itu pulang kerumahnja masing², meninggalkan djanda itu meratap semalaman. Djeritnja kedengaran menjajukan didjauh malam. Dan rupanja djiwa Karmin tidak dapat diharapkan lagi. Hanja, djanganlah selama itu Ibu dan anak itu didera.

Pagi² rombongan itu berangkat lagi. Mereka membitjarakan lagi kedjadian kemarin, dan berdjandji pada diri masing² untuk lebih ber-hati², djangan sampai terdjadi penjiksaan seperti hari kemarin. Sehari itu tidak terdjadi apa². Dan Djepang pendjaga lebih tertib memeriksa para pekerdjanja. Senapangnja berisi peluru, bajonet berkilat, samurainja pandjang dipinggang, tetapi hatinja kerdil dan takut. Bajang² dikira hantu. Begitu tidak pertjajanja ia pada diri sendiri. Lubang² perlindungan jang digali itu semakin pandjang dan semakin ber-kelok², bentuknja aneh. Mereka mulai menguatkan dinding² lubang itu dengan batu dan bata merah. Kalau pendjaga itu sudah kepajahan, atau kalau perut mereka djuga telah lapar, atau kalau mereka dapat marah dari komandannja, murah sekali turunnja hantam dan tendang. Orang² sudah kebal akan siksa itu.

Hari ini hari terachir bagi rombongan dusun itu. Semalam mereka menengok lagi Karmin. Anak jang malang itu belum nampak berubah, hanja ia sadar sekarang. Ibunja meramukan bedak² dan obat² Djawa. Tetapi rupanja, dirongga dada anak itu ada sesuatu jang terlaku. Napasnja ter-sengal², Djanda Wongso, masih sadja me-maki² Djepang, bila sadja berbitjara dengan romusha² itu. Ditjertjanja habis²an, lelaki penakut sebanjak itu.

„Kantjil seekor bisa mengalahkan buaja beratus-ratus, tetapi manusia seratus tidak bisa mengalahkan seekor Djepang. Tidak malu kalian.”

Suara djanda Wongso itu rupanja tidak lepas seperti angin lalu sadja. Mereka semua me-mikir², apakah itu bisa dilaksanakan, atau hanja harapan kosong seorang tertindih. Akal, ja akal itu jang perlu. Mereka sebetulnja malu, ditjertja oleh seorang perempuan. Dituduh penakut. Sehari itu sampai djam 12.00 siang mereka bekerdja seperti biasa. Hari ini hari terachir besok tidak lagi datang kelapangan terbang ini. Sedang Karmin belum terbalas.

Beberapa orang berkumpul dibawahpohon beringin, satu²nja pohon jang tidak ditebang, makan², dan memikir². Ketjelakaan, ja ketjelakaan. Itu sadjalah satu²nja djalan untuk membalas dendam.

Mereka tidak keras² bitjara. Dan tjaranja djuga belum tahu. Nanti sadja lihat keadaan. Tetapi semua harus berani tutup mulut, dan serentak berkata bahwa itu ketjelakaan. Atau daerah itu berhantu. Ja, Djepang suka menakuti orang² itu dengan tachajul, dan itulah sekarang sendjata mereka.

Beberapa orang pekerdja terpentjar djauh dengan temannja, menjelesaikan sebuah terowongan pandjang. Mereka sengadja keluar masuk pintu terowongan untuk menarik perhatian tiga orang pendjaga Djepang jang mondar-mandir.

„Hai, keredja ja, kau orang.” bentak tiga orang kate itu.

„Takut, tuan. Ada penunggunja rupanja. Tertjium bau hantu didalam sana.”

„Penakut kau orang semua ja. Ajo kerdja, masuk lagi.” Didorongnja tiga empat orang dipintu terowongan pandjang itu.

„Minta tambah kawan, tuan besar” kata pekerdja² itu.

„Tidak bisa, ja. Kamu orang sudah banjak. Berapa. Ho-ho — lebih dari duapuluh. Tjukup, ajo masuk.” Si Djepang mendahului masuk.

Mereka masuk kelubang jang pandjang berkelok dan bertingkat itu. Tiga orang Djepang telah masuk perangkap mereka. Mereka tahu, bahwa bajarnja adalah djiwa mereka. Itu sudah diperhitungkan, tentu ada jang mendjadi korban, tetapi ditempuh terus.

Sepi dan sunji ditempat itu, lubang pandjang dibawah tanah. Gelap dan lembab. Tembilang mereka menjentuh dinding lubang dan menggali lebih dalam lagi. Sekarang baru djam setengah lima. Pukul enam baru selesai pekerdjaan. Sabar dahulu djangan ter-gesa², tepat pada waktunja mereka bertindak, dan ber-sama² mereka keluar luabgn tepat pada waktu tanda berhenti bekerdja. Seorang mesti mendjaga dimulut lubang, untuk melengahkan pendjaga² lainnja, tidak boleh mereka masuk terlalu dalam.

Mereka sampai keudjung terowongan jang belum selesai dibuat. Sepuluh orang berdjalan didepan, si Djepang tiga ditengah, dan agak keatas, berdiri sisa² pekerdja itu. Kira² setengah enam, Djepang itu memberi aba berhenti kerdja. Sekaranglah mulai. Pikir mereka. Djepang itu membalikkan badannja, sepuluh orang jang tadinja didepannja memukul mereka serentak dengan tjangkul dan tembilang. Selebihnja menjerang dari depan. Sekilas sadja, tidak berbilang beberapa menit, tiga orang pendjaga itu rebah, dan darah mengalir dari kepalanja. Mereka belum pernah melihat darah manusia, ketjuali darah Karmin jang mengalir kemarin petang. Mereka ngeri, dan berdiri putjat kebingungan. Apa sekarang? Kepuasan hatinja ditutupi oleh ketakutan. Mereka itu orang² biasa dan djudjur, belum pernah menjiksa orang. Tetapi kebingungan itu tidak lama djuga, mereka bersihkan tembilang dan tjangkul bekas darah itu dengan tanah. Bersama mereka diam² meninggalkan majat tiga orang Djepang itu, dan keluar hati tertekan. Seorang jang mendjaga dimulut terowongan memberi isjarat bahwa keadaan aman. Mereka keluar dengan diam dan hati jang berat.

„Beres,” djawabnja kepada mata jang bertanja itu, teman² jang menunggu didepan pintu.

Mereka berbaris dengan diam² pulang. Suasana berat menekan. Dan mungkin malam² berikutnja akan tetap ter-bajang² peristiwa ngeri, kedjahatan jang mereka lakukan untuk pertama kali. Ja, entahlah, apakah itu kedjahatan.

Mereka tidak membuka mulut terdjadinja pengerojokan terhadap tiga Djepang itu, dan fihak Djepang menutupi peristiwa ngerti dan memalukan itu. Peristiwa itu didiamkan, seperti terdiamnja empat majat, karena Karminpun telah pula meninggal pada hari ketudjuh itu, djam enam sore.

Sedjarah tidak akan metjatatnja. Keberanian duapuluh orang terhadap tiga singa jang haus darah.

Tetapi terang, bahwa ini merupakan kepahlawanan mereka jang pertama.

Mereka telah beladjar membentji dan mentjinta.

Dan djarak seribu milpun selalu dimulai dengan langkah jang pertama.

Tanpa disadari, inilah langkah mereka jang pertama!

Orang Kedua

Ter-gopoh² ia kenakan sandalnja, disambarnja petji lusuhnja dibenamkan dalam² sampai kekuping. Malam amat gelap dan dingin. Pada bulan Mei kemarau ini, awan masih djuga bergajutan dan hudjan sudah mulai meritjih. Pintu pagarnja ditutup per-lahan², dan sekedjap ia hilang ditelan malam.

Setengah djam kemudian, sampailah ia kerumah Asmawi. Rumah itu penuh orang, dan terang-benderang. Dipertjepatnja langkahnja, hatinja ber-debar² gelisah. Matikah Asmawi? Pikirnja. Tadi Reso hanja mengabarinja, bahwa Asmawi sakit keras dan belum lagi sempat menanja lebih landjut, Reso sudah buru² pergi memberi tahu kawan² lain.

Sjukur, sjukur. Asmawi masih segar bugar, walaupun kelihatan lemas dan putjat dipembaringannja. Sebentar² ia me-ngerang².

„Nah datang djuga achirnja kau San. Lama benar ku-tunggu². Orang² sudah mau bawa aku lekas², tetapi sebelum kau datang tak mau aku pergi.”

„Apa jang dirasa bung As? Begitu mendadak. Tadi pagi kita masih omong² kan?” Hasan bertanja bergagap.

„Perut. Biar itu urusan dokter, walau kutjeritakan padamu, kau tidak djuga dapat berbuat apa²”

„Pak Mantri sudah datang?”

„Itu dibelakangmu.”

Mantri djururawat jang gemuk itu tersembul dipintu dan berkata.

„Nah ini jang di-tunggu² sudah datang, ajo tjepat berangkat. Makin lekas makin baik.”

„Sebentar lagi sadja Pak, tidak sampai berbilang sepuluh menit.”

Mantri djururawat keluar sambil meng-geleng².

„San.” kata Asmawi lembut. „Kata Pak Mantri mesti dioperasi. Djangan terkedjut, banjak orang dioperasi, bukan aku sadja. Mungkin lama aku baru bisa sembuh lagi. Sepeninggalku, kaulah jang mengambil oper semua pekerdjaan. Itu dimap sudah aku kumpulkan apa² jang harus lekas² diselesaikan, saja harap kau bisa batja apa jang tersurat dan jang tersirat. Kau tjukup lama dan tjukup mendalam mengikuti perkembangan pekerdjaan, aku jakin kau bisa ambil oper dengan tjepat, walau aku tahu kau akan menolak, sebab itulah satu²nja kelemahanmu.

Nah, tiga hari lagi kerdjabakti, terus laporan djangan lupa. Djatah waktu hampir habis. Uang konggres diurus bung Reso, bantu dia, kontrol semua, kau tahu kelemahannja bukan, pak tua kita jang suka keras itu. Tjeramah urusan Idris, seperti biasa, bersiaplah dengan segala tetek bengeknja.”

Asmawi berhenti sebentar, me-ringis² kesakitan, dan belum lagi Hasan membuka mulut, Asmawi sudah menjambung omongannja.

„Djangan banjak pikir, djangan bimbang², aku tahu betul² kelemahanmu. Berpikirlah dua kali sadja, paling banjak tiga kali, djangan lima kali seperti biasanja. Peringatkan Sugeng, kau tahu soalnja.”

„Mengapa djustru aku jang harus menggantikanmu, lebih baik didiskusikan dulu.”

„Itu urusanmu. Mau diskusi semalam ja boleh — boleh sadja, kalau kau pandang tidak tjukup. Tetapi aku jang sakit ini mesti lekas² pergi, dan aku harus memutuskan siapa jang menerima pesan² pekerdjaan. Kau boleh aku andalkan to San?” kemudian lemah lembut ia berkata lagi: „San, kalau ......... ja kalau untungku tak ada, dan pembedahan meleset, kalian urus anak isteriku ja?”

Hasan mengangguk, air matanja bersibak. Begitulah mestinja dia, seperti Asmawi. Tegas, hampir² menjakitkan hati, tetapi lembut seperti sutera. Ia atur kepentingan orang banjak, baru ia urus anak isterinja.

Sebentar lagi rombongan pengantar Asmawi sudah siap dioplet. Asmawi duduk ditopang oleh Hasan dan Idris, isterinja masih memerah matanja, duduk disudut sambil memangku anaknja berumur dua tahun. Didekat supir duduk Sugeng, bendaharawan mereka. Mesin dihidupkan, tepat ketika itu Reso datang dari tugasnja berkeliling memberi tahu kawan², jang sekarang berkerumun didepan rumah Asmawi.

„Nah, itu dia Pak Reso. Kami berangkat Pak, tolong kantjing rumah bung As, dan djaga ja pak, kami pulang kalau semua sudah beres,” seru Hasan.

Oplet bergerak madju, orang² melambaikan tangan.

„Selamat, selamat, lekas sembuh.”

Hanja Reso jang mengereundel. Selalu dialah jang mendapat pekerdjaan sematjam ini. Ia ingin sekali pergi mengantar bung As, tetapi orang menjuruhnja berkeliling memanggil teman², dan tidak mau menunggunja datang. Sekarang orang² enak² naik mobil, dan ia mesti membereskan rumah As jang katjau balau itu. Selalu dia, selalu dia. Kalau mau ada tjeramah, maka ialah jang harus mengatur segalanja. Minta izin, tjari pindjaman kursi atau tikar, pasang medja, bantu mengedarkan undangan, dan baru nanti datang orang² muda, duduk gagah dideretan depan dan pidato. Selama itu Reso duduk ditempat jang paling belakang, memikirkan pekerdjaan jang harus disiapkan besok paginja. Kalau semua orang mesti pergi kekota, maka ialah jang tidak pernah termasuk semua orang, ia harus tunggu kantor. Dan kalau semua orang harus dikantor, maka ia tidak termasuk semua orang, dan djalan sendiri kekota membawa laporan dan surat² penting. Tiap sore semua orang ber-sungut² menanti koran, dan ia terpaksa mengurangi kedjengkelan orang² jang bersungut itu dengan ikut membantu loper Harian Rakjat mendistribusi koran jang sudah telat dua hari. Sering kali pekerdjaannja itu menimbulkan kedjengkelan, tetapi jang lebih kerap, menimbulkan kebangaan. Kalau rapat sudah djalan, djamuan teh lantjar, pengundjung penuh dan antusias, bergelora djuga hatinja. Maka pergilah ia berdiri agak djauh, dan melihat hasil kerdjanja. Orang² duduk dengan anteng mendengarkan tjeramah, atau mengagumi djanur² kuning jang dipasang dan untaian daun beringin digapura masuk, anak² kegirangan mendapat bagian bendera² merah — sisa hari buruh tahun lalu jang disimpannja dengan teliti — maka kepuasan hatinjaitu tidak dapat dibeli lagi. Ia merasa bahwa pekerdjaannja itu teramat pentingnja.

Asmawi sudah dibedah dengan selamat. Radang usus buntu. Masih sebulan ia harus isitirahat, dan selama itu Hasan, dari orang jang selamanja mendjadi orang kedua, menduduki tempat sebagai orang pertama. Hasan jang pendiam, penurut dan rendah hati itu, terpaksa menambahkan lagi satu sifat baru: banjak omong dan tegas. Sesuatu jang tidak mudah.

Hari ini dimulailah mengamalkan kerdja untuk rakjat. Djalan kampung jang sudah ber-lubang² bekas roda gerobak, harus dibikin litjin hingga orang tidak perlu memandak² djika melwatinja malam². Sampai djam 4 pagi mata Hasan tidak terpitjing. Inilah salah satu kerdjanja jang terberat, berhadapan langsung dengan rakjat, mengadjaknja dan menjadarkannja. Penjakit lamanja „berpikir sepuluh kali” berdjangkit lagi. Apakah orang² semua sudah tau? Apakah lurah mau datang? Apakah akan banjak jang ikut? Apakah akan berhasil? Apakah bagian djamuan siap? Apakah anak² muda jang mendjadi pelopor betul² akang datang lebih pagi, dan bersedia dengan bunji²an seperti didjandjikan? Apakah Pak Reso akan mutung, karena tadi pagi mereka berbantah-bantah? Apakah betul sikapnja menghadapi Pak Reso dengan djuga bersikap keras? Apakah Idrus jang banjak tingkah itu akan seperti biasa mendjengkelkan hati, seperti masa² lalu? Ja, banjak jang di-pikir², dan semuanja itu pikiran jang djauh dari menjenangkan. Kalau sadja ia seperti bung As, waktu tidur, tidurlah pulas, waktu kerdja, kerdjalah keras, bereslah.

Sebetulnja Hasan masih mempunjai kebaikan dari segala kesalahannja. Ia selalu mentjari kesalahan kepada dirinja sendiri, dan tidak pernah mentjarinja pada orang lain. Djika achirnja orang lain ternjata jang salah, maka ia masih mempunjai alasan untuk menjalahkan dirinja sendiri, mengapa ia sampai menjebabkan orang lain berbuat salah. Tetapi sikap ini banjak membawa bentjana daripada berkah. Kalau tidak ada Asmawi jang tegas itu, tentulah tak akan ada orang jang lempeng lagi, sebab semua kesalahan diborong Hasan, dan orang² jang salah tidak pernah merasa salah.

Ketika ajam sudah ramai berkerujuk, mata Hasan berat tidak tertahan, dan iapun tertidur dengan pulasnja.

Terkedjut seperti terdjatuh dari pohon jang tinggi, ketika didengarnja orang mengetuk pintu keras². Ia melontjat bangun. Hari sudah tinggi, matahari mulai menjerbu djendela. Buru² ia tjutji muka, dan menjambar pitji lusuhnja. Pak Reso dengan muka keruh menunggu didepan pintu. Tanpa mengutjap sepatah katapun, mereka berdjalan menudju ketempat kerdja. Hanja terutjap setengah gerutu dari mulut Reso: „Tambah lagi kerdjaku sekarang, membangunkan orang.”

Dari djauh telah tampak ber-puluh² orang berkerumun, dan bendera merah terpantjang. Anak² muda menjanji² dan suling jang merdu menggembirakan pagi jang tjerah. Dari djauh nampak Pak Lurah berbadju dril kaki dan memandang patjul. Apa jang terfikir oleh Hasan sukar untuk dikatakan. Apakah ia bangga? Ja, ia bangga, karena kerdja ini berhasil. Apakah ia merasa gagal? Ja, ia gagal, karena ia sebagai pimpinan datang terlambat, dan baru bangun ketika pak Reso mengetuk pintunja. Apakah ia senang? Ja, ia senang, sebab pak Reso tidak mutung, dan semua rentjan berdjalan lantjar, dan si Idrus jang banjak tingkah itu tidak bertingkah. Apakah ia tidak senang? Ja, dan itu ketidak senangan pribadi. Ia ingin agar ia dapat datang lebih dahulu, pulang paling belakang, seperti lajaknja seorang pimpinan jang baik. Penjakitnja banjak fikiran ternjata belum sembuh sama sekali.

Ketika mereka berdua sampai ketempat itu, dengan nada biasa pak Reso bilang.

„Sebetulnja aku ingin datang tadi malam, ingin minta maaf kedjadian kemarin siang, aku bersikap keras kepadamu. Kemarin aku lupa, bahwa bung Hasan penggantinja bung As, dan mendjadi orang pertama jang berhak mengatur kita semua. Tetapi sedari sore aku tertidur kepajahan. Tadi pagi dari rumah aku mampir kerumahmu, mau lihat, dan ingin djalan ber-sama². Kebetulan kau belum berangkat.”

Hasan seperti mau memeluk pak Reso, djadi ia bukannja disusul dari tempat kerdja, tetapi betul² pak Reso biasa menjinggahi sadja. Tetapi, tetap, seperti biasa, rasa memikul kesalahan memberati hati Hasan.

Hari itu berlalu dengan sukses. Orang² bekerdja dengan gembira dan berhasil — Pidato pak Lurah, orang jang bukan separtainja, sangat simpatik. Anak² muda meluap kegembiraannja, dan para wanita menjelenggarakan hidangan dengan memuaskan. Semua gembira, semua memudji, hanja disudut hati. Hasanlah menindih batu rasa salah itu. Malam nanti, ia bermaksud mengadakan pertemuan untuk mengadakan kritik serta zelf-kritik. Terutama ialah jang harus banjak dikritik.

Orang² duduk mengelilingi lampu minjak tanah dikantoran, sebelah muka rumah Asmawi. Hasan mulai dengan kritik terhadap dirinja sendiri. Susah ia melahirkan, apa sebabnja ia datang terlambat. Sungguh menggelikan, kalau ia mesti mengutarakan se-ketjil²nja apa jang terfikir malam tadi, segala keraguannja dan ketjemasannja jang tidak djauh bedanja dengan ketjemasan anak ketjil jang akan bepergian djauh esok harinja. Dan kesalahan jang „masih mentah”, tidak disimpulkan, begitu sadja mentjeriterakan sesuatu kedjadian, terang tidaklah banjak manfaatnja.

Ia me-main²kan pinsilnja, sambil mengatur pikirannja. Apakah kesalahannja jang pokok? Kekurangannja jang utama? Bagaimana merumuskannja, hingga benar dipandang dari sudut theori dan berguna dalam praktek selandjutnja? Bagaimanakah, mestinja dasar berfikirnja dan memetjahkan sesuatu? O, ja, tidak salah lagi, dari sudut klas, dari sudut asal klasnja dan watak klasnja. Inilah pokok dari dari segalanja. Nah, terang-benderang sekarang soalnja. Djalan didepannja amat njatanja, semak² dihati ketjilnja hilang terbabat, dan pikir djernihnja memegang peranan.

„Kawan²”, ia mulai. „Kesalahanku jang paling pokok, jang mengakibatkan tjara kerdjaku kurang beres, sampai² kepada kedatanganku jang terlambat pada kerdja tadi pagi, ialah sifat ragu²ku, sebagai sifa sisat asal klasku jang pembimbang. Aku ragu² akan diriku sendiri, akan kemampuanku. Ini adalah kesalahan jang tidak ketjil dan tidak dapat dimaafkan. Karena, djaraknja sungguh tidak djauh, daripada kesalahan — jang maha besar —. Ialah ragu², bimbang akan kemampuan, kesanggupan dan kekuatan rakjat, keperkasaan massa.”

Hati² ia memilih kata², dan per-lahan², djelas ia mengutarakannja. Kemudian disampaikannja agak djelas, apa jang ter-fikir² olehnja semalam sampai djam empat pagi, sampai² ia tertidur dan bangun terlambat.

Ia menghela nafasnja dalam², setelah selesai ia mengkritik dirinja sendiri. Enteng hatinja sekarang.

Kemudian bergilir kawan² jang lain mengadjukan kritik dan kritik diri. Lain dari biasanja, kritik diri sekarang sudah meningkat. Pisau analisa sudah lebih tadjam lagi.

Setelah selesai semua, Hasan berkata.

„Sekarang dapatlah kita susun segala hasil kerdja kita ini dalam laporan kepada Subseksi nanti. tentu bukan berapa kilometernja jang utama — walau itu perlu — tetapi kepada inti dan mutunja amal kepada rakjat ini. Nah, siapa jang siap untuk mengantarkannja besok kekota?”

„Nah, djanganlah lain orang lagi,” kata Reso. „Itulah pekerdjaanku situa ini. Aku sudah tua, tidak bisa lagi seperti kalian beladjar dengan lebih baik. Aku lihat kalian terus beladjar dan memperbaiki diri, tetapi pak Reso ini sudah berkarat, tidak bisa diasah lagi. Kalian bisa mengubah pekerti jang kurang baik, dan mengembangkan jang baik, tetapi pak Reso tetap seperti paku karatan itu, mengomel dan marah², hingga kalau tidak ada kalian, teranglah semua orang sudah lari dan keluar serta membentji kita. Jah, tidak ada lagi pekerdjaan jang masih pantas untukku, situa karatan ini, ketjuali mengantar surat dan kerdja² lain seperti dulu. Berilah aku kepuasan anak²ku, biarlah pekerdjaan jang satu ini djangan kau rampas dari tanganku, biar masih dapatlah aku berkata, bahwa Reso pun bekerdja untuk kemadjuan Partai.”

Semuanja terharu mendengar utjapan pak Reso, siangkatan 26 ini. Pak Reso sendiripun bersibak matanja. Dan semua orang jang kena damprat pak Reso selama ini, dan jang masih mendongkol hatinja, merasakan kemesraan jang lebih lagi, kepada si Tua ini, paku karatan katanja, jang masih tetap siap diposnja.

Hasan pulang berdua dengan Reso. Dan seperti biasa mereka berdua selalu berdiam sadja. Tetapi tidak ada ketegangan antara mereka ini, jang ada hanjalah penghargaan dan simpati.

Hasan merasa banjak sekali beladjar dalam waktu sepekan ini, dan ia merasa bahwa ia bukannja „orang kedua” abadi, sekarangpun ia telah merasa mendjadi orang jang „kesatu setengah”. Dan bila nanti bung As terpilih dalam pimpinan Subseksi, ia dengan jakin dan pertjaja bersedia mendjadi orang pertama didaerah ini.

Orang-orang sebatang kara

Makin tinggi hari, barisan pengungsi bukannja semakin berkurang. Ber-bondong² orang² jang berpunja dan tidak berpunja menjusur djalan² ketjil, menggendong apa jang dapat digendong, menjunggi, memikul dan membimbimg kekajaannja jang paling berharga ......... anak²nja. Djalan² ketjil itu jang penuh dengan manusia mempunjai suasana jang aneh, sepi sedih dan muram dalam segala keter-buru²an. Ajah², kakak lelaki dan semua anak² lelaki berdjalan didepan iring²an keluarga, membawa barang² jang paling berat, beberapa malahan menuntun ternaknja; ibu², wanita² dan nenek berdjalan ter-suruk² dibelakangnja, menudju keseuatu tempat jang belum dijakini benar dimana, namun jang telah terhundjam dihatinja: ditempat baru itu masih dapatlah mereka berseru Merdeka dan diperbolehkan mengibarkan bendera Merah Putih serta menjanji Sorak-sorak bergembira.

Mereka meninggalkan se-gala²nja dikota jang gila terbakar itu, tidak hanja karena takut hudjan peluru, tetapi djuga karena mentjari kedamaian hati, ketenangan dan kejakinan dapat menghirup udara merdeka. Memang datangnja jakin itu, bukannja seperti taufan jang dahsjat, tidak, ia seperti angin lembut sepoi² membawakan lagu merdu abadi jang berbisik pada manusia, disaaat seperti apapun djuga, dan terutama pada kesepian dan keputus-asaan. Musik itu memberi kekuatan kembali, dan memberi irama pada langkah² pengungsi jang kepajahan itu.

Matahari gila berkuasa dilangit jang biru tanpa awan, dan rombongan itu sekarang menjusur djalanan pandjang tanpa perlindungan. Pohon² dipinggir sudahlama tua, dan djatuh ditebang, bergelimpangan disawah jang kering, karena penghuninja telah lama melarikan diri dan sajup² hanja nampak getaran panas meng-gelombang² ditjekerawala. Setengah sadar pengungsi² itu mempertjepat langkahnja. Kanak² dan baji² mulai merengek-rengek, tetapi mereka tidak perduli. Dalam tempat seperti ini, ja seperti ini jang tidak berperlindungan, apapun bisa terdjadi. Mudah²an tidaklah.

Tetapi, ketika matahari sedikit sadja memiringkan tubuhnja, terdengarlah deru mesin terbang djauh dari sebelah barat. Pengungsi² menengadahkan mukanja, dan hantu maut jang sangat ditakuti itu makin mendekat. Beberapa pesawat terbang merendah, kemudian terdengarlah bunji jang dahsjat be-runtun², menghudjani manusia dibawah langit terik itu. Dalam sekedjap mata semuanja katjau-balau. Kepala keluarga jang berdiri didepan barisan mengeluarkan perintah berlindung, bertjampur-baur dengan katjaunja, dan anak² buahnja terpentjar² mentjari hidup sendiri². Rupanja kedahsjatan itu tidak berhenti disitu sadja, sebentar kemudian menderulah tank² musuh meratakan djalan pandjang jang tandus itu. Senapan mesinnja ter-batuk² sambil berlari, dan debu berterbangan. Entah berapa lamanja kedahsjatan itu, masing² mempunjai djamnja, ialah jang berdetik² dirongga dadanja. Ukurannja tidak sama untuk tiap² orang, ada jang tjepat, dan lalu berhenti, ada jang tjepat mem-buru², dan terlepaslah anak dalam bimbingan, ada jang lambat per-lahan² dalam rintihan luka² diparit².

Ketika setan² itu achirnja pergi, dan djalan itu mendjadi lebih lengang dan menjeramkan, orang² jang mentjari kemerdekaan itu bangkit mengerang-ngerang. Kemerdekaan jang diburunja telah memberinja udjian, memberinja harga, betapa mahalnja. Keluarga² mentjari² anggotanja jang bertjetjeran, menangisi anaknja jang tak berdosa berlumuran darah dilengan dan kaki, dan me-raung² pada hidup jang sampai didjandjinja. Mereka terpaksa berhenti ditengah djalan, membebat, membalut, mengubur, menangis dan mentjari.

Ketika malam turun rombongan jang tidak saling kenal tadinja itu, dan sekarang dipersatukan oleh nasib, sampai kesebuah dusun jang tidak berpenghuni. Mereka masuki rumah² kosong jang masih lengkap perabotannja, dan membaringkan badannja dengan lesu, tetapi dengan tekad jang lebih kuat lagi. Seorang perempuan muda, tersesat memasuki sebuah rumah ber-sama² dengan rombongan keluarga lain. Sedari tadi, mukanja suram, dan ia sangat kebingungan. Tetapi tiada seorangpun jang memperdulikannja, karena setiap orang sibuk dengan urusannja sendiri. Ia duduk merenung dipodjok rumah, ketika beberapa orang mulai menggelar tikar bantalnja dan membaringkan badannja. Ia melihat kiri-kanan, dan menghela nafas pandjang². Kemudian digelarnja tikarnja dipodjok jang terasing, dan ia membaringkan badannja.

Malam dingin turun, dan rumah itu gelap tiada berpelita. Orang² takut memasang lampu. Machluk² pentjari kemerdekaan itu, merapatkan selimutnja, atau merapatkan badannja dengan anak dan isterinja, dan hilanglah separuh dari penderitaan dalam kehangatan antara manusia itu. Rintihan² kesakitan telah tiada lagi terdengar.

Perempuan muda itu melengkungkan badannja jang menggigil dilantai jang kering dingin itu, sambil merapatkan kain pandjangnja, tiba² lututnja meraba sebuah kepala ketjil. Anak ketjil itu terbangun kena sentuhan lutut, dan duduk, kemudian dengan gerakan jang mengharukan merebahkan badannja didepan perempuan muda itu, serta memeluk lehernja dengan kuat². Perempuan itu meng-usap² kepala ketjil itu setengah tidak sadar dalam gumamnja, memanggil sebuah nama jang sangat disajangi: „Giman”, dan memeluknja lagi dengan mesra, kemudian tertidurlah lagi.

Pagi telah datang mengintai, dan perdjalan jang djauh memanggil lagi. Orang² sudahbangun, mentjutji muka dengan air dingin seperti es, buru² memasak air, minum seteguk, lalu berdjalan lagi.

Anak ketjil ......... „Giman” ......... duduk disudut, dengan mata kepengin melihat orang² itu minum kopi, dan ter-sipu² melihat Ibunja jang dipeluknja se-malam². Perempuan muda itu kini melihat „Giman”nja dengan atjuh ta’ atjuh, kedjadian semalam hanjalah impian sadja. Ia berdiri membuka pinut, ber-sama² dengan rombongan lain meneruskan perdjalan, kemana, entah.

Ketika rombongan itu sampai kebatas kota merdeka, mereka berhenti melepaskan lelah, dibawah pohon² jang rimbun, sambil menunggu kawan² didepannja sedang diperiksa oleh anggota² tentara. Lagi² suatu udjian kemerdekannja. Dikota Merdeka itu, mereka ditjurigai, dan tidak diterima seperti apa jang diharapkannja.

Mereka hanjalah anak² jang setia, bukannja anak² jang perwira, pandu dari Ibunja, pengungsi² itu.

Lasjkar² itu masih ketjil², muda², dan pakaiannja lusuh. Sambil memeriksa, mereka menanjakan situasi medan perang jang terachir, meng-geleng²kan kepala, dan mengeluarkan kata² makian kepada Belanda. Anak² seketjil itu, jang mengenal bedil, baru pada waktu menjerbu tangsi² Djepang, berhadapan dengan serdadu² jang terlatih dalam Perang Dunia II, tetapi orang belum pernah mendengar, bahwa anak² ketjil itu pernah mendjadi pengetjut.

Pengungsi² itu melewati pintu pendjagaan, dan mereka jang tebal perbekalannja meninggalkan kelezatan bagi perdjurit² ketjil itu. Sebungkus rokok, sekaleng susu, sebungkus dendeng, sebotol minjak rambut, biskuit², maklumlah kota jang baru ditinggalkannja sudah mulai kebandjiran barang² mewah dari para pedagang² dari kota² pantai.

Beberapa orang jang dianggap „mentjurigakan” disimpan, dibelakang gardu pendjagaan, dan orang² mulai sangsi² lagi akan nasibnja.

Perempuan muda itu bangkit berdiri, dan mengikuti rombongan orang² itu dengan atjuh tak atjuh. Pikirannja buntu, dan kemiskinannja memang menjolok. Sebungkus ketjil beban dipanggul dibahunja jang lemah, dan matanja kuju. Tiba², dirasanja langkahnja tertegun. Ia berhenti dan menoleh. Giman semalam jang memeluknja erat², memegang udjung badjunja. Air matanja menetes sebesar mutiara dan badannja menggigil.

„Aku takut, takut, ajo lari, ada orang bawa bedil,” serunja ter-hisak².

„Ah, mengapa takut. Mana Ibumu?”

„Mati ditembak oleh orang bawa bedil. Bapak djuga,” dan ia terduduk menangis. „Aku takut, ajo lari, nanti ditembak pula aku.”

„Djangan takut nak, itu tentara kita, bukan Belanda,” budjuk perempuan itu.

Matanja sudah tidak lagi pudar, dimbimbingnja anak jang menggigil itu dengan langkahnja jang lebih pasti, menudju gardu pendjagaan.

Gimannja, menggeletar, dan erat² berpegang pada tangan perempuan muda itu.

„Siapa nama mBakju?” tanja lasjkar pendek ketjil itu.

Perempuan muda itu mengutjapkan suatu nama dengan lembut.

„Dengan siapa mengungsi?”

„Anak saja.”

„Suami?”

„Ditawan Belanda dipendjara Ambarawa.”

„Mana anaknja?”

„Ini,” sambil didukungnja Giman.

„Nama?”

„Giman”

„Bukan,” seru anak itu, „namaku Slamat, bukan Giman.”

„Ja, Slamet, panggilnja Giman,” djawab perempuan muda itu.

Laskar itu tertawa.

„Memang dik, Slamet lebih gagah daripada Giman,” katanja.

„Namaku Slamet Rahardjo,” seru budak itu lagi.

„Ja, ja,” sahut perempuan muda itu. „Makanja kau Slamet dan Rahardjo tidak mendapat bentjana. Tetapi kita pakai sadja nama Giman ja untuk se-hari²? Slamet Rahardjo kita pakai setiap Lebaran sadja.”

Laskar itu tertawa.

„Ini, mbakju, setjarik keterangan, pergilah kedapur umum, minta ransum. Ini untuk dik Slamet Giman, bantu baik²”.

Tiba² Giman jang sudah diturunkan dari dukungan itu lalu memeluk „Ibu”nja erat², dan memanggil: „Ibuku, ibuku.”

Beberapa orang jang berbaris dibelakang perempuan muda itu ter-heran², melihat peristiwa itu, karena kemarin siang, ketika rombongan pengungsi itu diserang Belanda, ia melihat perempuan muda itu ber-kali² djatuh pingsan disamping majat anaknja, seorang budak laki² sebesar „Giman” itu.

Ketika dua tahun kemudian perempuan muda itu kembali kekota asalnja, karena Belanda sudah pergi, ia tahu, bahwa semendjak ia menemukan kembali anaknja Giman Slamet, setelah menguburkan anaknja sendiri, mereka berdua adalah orang² sebatang kara.

Suaminja telah mati tersiksa dalam pendjara Ambarawa.

Berdua, dengan Gimannja, mereka meneruskan menempuh djalan pandjang, jang tidak kalah musjkilnja dari djalannja dua tahun jang lalu, menudju apa jang belum ditjapainja selama ini: Kemerdekaan sedjati.