Publisher Note
Ini merupakan drama satu babak yang ditulis oleh Utuy Tatang Sontani yang diterbitkan oleh Jajasan Kebudajaan Sadar di tahun 1964. Ilustrasi dan rencana kulitnya dikerjakan oleh Basuki Resobowo.
Digitizer Note
This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.
All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.
The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.
TEMPATTINGGALNJA SADJA SUDAH DIRUMAH rejod. Disuatu kampung dikaki gunung. Ditengah-tengah kaum tani jang sehari-harinja bergumul dengan lumpur. Dengan sendirinja badannja akan sering bau lumpur, kakinja akan sering kotor dan tangannja akan selalu kasar. Bahwa dia butahuruf dan bahwa dia selalu kekurangan sandangpangan, hal itupun sudah dengan sendirinja pula.
Namanja? Orang-orang sekampungnja tjukup dengan menjebut dia: Si Kampeng. Nama sedjelek itu tentunja bukan tidak beralasan. Konon ketika ia dilahirkan, ia muntjul dari rahim ibunja dengan kepala jang kampeng alias pendjol. Dengan begitu, maka dengan sadja ibunja menamai dia Si Kampeng.
Tentu ada jang penasaran dan bertanja, mengapa seorang ibu bisa sewenang-wenang memberikan nama. Tidakkah pemberian nama itu biasanja dilakukan oleh seorang bapak? Djustru disinilah pula letak tambahan kesialannja. Sebab ia lahir kedunia tanpa diketahui siapa bapaknja.
Anehnja—dan inilah jang djadi salahsatu sebab maka kehadirannja itu menarik perhatian kita—badannja segar bugar terus, makanja rakus terus. Dan jang lebih menarik perhatian lagi: tidurnjapun njenjak terus. Begitu njenjak, sehingga pada suatu pagi—ja, suatu pagi jang tidak menguntungkan dia tentunja, sebab ketika itu matahari sudah menjinarkan panasnja—ia kelihatan tidur mendengkur dengan badan berselimut sarung, meringkel diatas lesung disamping rumahnja.
Dua anak laki-laki jang hendak lewat kesana, mau tak mau djadi pada menghentikan langkahnja.
„Lihat!” kata salahseorang diantaranja, jang badannja kurus. „Sudah siang begini Si Kampeng masih tidur. Semalam rupanja dia menggerajang lagi.”
„Ja, betul!” kata kawannja sambil menundjuk kearah kolong rumah. „Tu, lihat buktinja. Ubi itu tentunja baru direnggutnja semalam. Ubi siapa, ja, jang ditjurinja? Djangan-djangan dia mentjuri ubi kita!”
„Mari kita perolok-olokkan dia,” udjar anak jang kurus. Dan ia terus memanggil: „Kampeng! Kampeng!”
Tapi Si Kampeng tidak usik.
„Si Kampeng anak haram!” anak jang memanggil itu berteriak.
„Uaaah,” Si Kampeng menggeliat.
„Si Kampeng anak djadah!” kata anak jang satunja lagi.
„Apa lu bilang?” balas si Kampeng sambil menguap.
„Lu anak haram!” kata anak laki-laki jang kurus.
Si Kampeng menggosok-gosok mata. Meludah, kemudian mendjawab sambil mendelik:
„Apa sih jang lu artikan dengan anak haram?”
„Bapak lu tidak ada,” djawab anak laki-laki jang satunja lagi. „Bapak lu tidak kawin dengan ibu lu!”
Si Kampeng meludah lagi:
„Lu kanak-kanak, pergilah eksana, djangan ngomong perkara jang lu sendiri kagak tahu.”
Kedua anak itu malah djadi pada ketawa.
„Memangnja bapak lu itu burak, ja? Burak siluman?” kata anak jang badannja kurus.
„Memang.” djawab Si Kampeng.
„Kapan lu ketemu dengan dia?”
„Pergi lu!”
„Huh!” anak jang satunja lagi madju kedepan.
„Lu bukan anak burak. Tapi lu anak setan, sebab kerdja lu hanja njolong.”
„Pergi lu!” Si Kampeng mulai marah.
Tapi anak itu malah terus menuding: „Ubi itu lu dapat dari mana? Karena semalam lu njolong, ja? Mengaku, tidak, lu njolong ubi?”
Si Kampeng berdiri. „Babi lu!” katanja sambil berlagak hendak memukul.
Buru-buru kedua anak itu berlarian sambil berteriak-teriak:
„Si Kampeng anak haram! Si Kampeng njolong ubi!”
„Anak goblok!” Si Kampeng menggerutu. „Maunja merongrong, tapi sekali dihardik pada berlarian. Dasar anak sundal!”
“Ada apa, sih? Pagi-pagi sudah menggerutu” kata ibunja jang tiba-tiba muntjul membawa lodong diisi air.
„Biasa!” djawab Si Kampeng. „Anak-anak sundal itu merongrong. Hampir sadja aku kehilangan sabar.”
„Itulah udjian dari bapak lu, tahu?”
„Kapan sih habisnja udjian ini?” Si Kampeng mendjawab sambil meludah. „Jang njata, aku sudah tidak mau pertjaja lagi.”
„Apa?” ibunja muntjereng. „Apa lu bilang?”
„Bahwa bapakku itu makhluk halus, bahwa bapakku itu burak, aku sudah tidak mau pertjaja lagi.”
„Lu tjelaka!” ibunja membentak.
„Memangnja aku ini anak ketjil?” Si Kampeng mendelik. „Ketika aku masih ketjil, bisa sadja aku bertahan terhadap olok-olok anak lain jang seumur dengan aku. Apa sekarang aku harus sabar djuga melihat anak jang baru lahir kemarin pada memperolok-olokkan aku, menghina aku?”
„Itulah udjian dari bapak lu, tahu? Apa lu bisa sabar meladeni rongrongan orang-orang goblok itu atau tidak?”
„Bah, omongkosong!”
„Apa jang omongkosong?”
„Bahwa bapakku burak.”
Ibunja menatap, menggigit bibir sedjurus kemudian berkata:
„Sudah! Djangan lu banjak pikiran. Pergilah mandi. Sehabis mandi, buru-buru tjari kajubakar!”
Dan setelah berkata demikian terus pergi memasuki rumah.
„Hm, djangan banjak pikiran,” si Kampeng menggerutu. „Seperti dianggapnja aku itu masih seorang anak ketjil!”
Tapi setelah mengambil ubi dari kolong rumah, iapun terus pergi sambil ubi itu dikremusnja tanpa dibersihkannja lagi.
Ibunja jang memasuki rumah tidak lama kemudian muntjul lagi membawa seikat padi. Dibawanja padi itu kelesung dan lalu ditumbuknja disana.
Seorang perempuan membawa lodong diisi air tiba-tiba datang mendapatkan; katanja:
„Umi! Apa kau sudah dengar tentang gehger-gehger didesa kita sekarang?”
„Apa?” ibu Si Kampeng buru-buru mendjawab. „Tentang kelakuan anakku, ja? Karena dia suka mentjuri?”
„Bukan! Bukan tentang anak kau. Bahwa anak kau suka mentjuri, hal itu tak ada ruginja bagi aku. Toh aku tak punja apa-apa untuk ditjuri. Tapi jang menggehgerkan sekarang ialah kelakuan Hadji Gopur.”
„Hadji Gopur? Ada apa dengan orang kaja itu?”
„Apa lagi jang akan diributkan orang kaja, kalau bukan perkara kekajaannja? Kalau bukan perkara tanah! Kau tahu, bukan, tentang itu peraturan dari pemerintah bahwa sekarang orang tidak boleh memiliki tanah jang berlebihan?”
„Ja, aku dengar.”
„Nah, dengan adanja peraturan pemerintah itu, bukan dia bersedia menjerahkan tanahnja jang berlebihan kepada pemerintah. Ia malah djadi ribut menjegel-njegelkan tanahnja itu kepada anak-anaknja dan tjutju-tjutjunja. Tapi setelah disegel-segelkan kepada anak-tjutjunja, tanah sisanja jang belum dibagi-bagikan itu masih sadja banjak, masih sadja melebihi dari jang seharusnja dimiliki. Achirnja ia djadi bingung: kepada siapa lagi tanah kelebihannja itu mesti disegelkan?”
„Itulah keadilan Tuhan!” ibu Si Kampeng tiba-tiba njeletuk. „Kalau kita sudah lama susah karena membutuhkan tanah, sekarang orang jang punja tanah djadi bingung, karena kebanjakan tanah. Padahal apa salahnja, ja, kalau tanah kelebihannja itu diberikan kepada kita?”
„Nantinja kan begitu, Umi. Tanah kelebihan itu nantinja akan diserahkan kepada kita. Tapi kita akan menerimanja dengan diatur oleh pemerintah. Begitulah menurut aturannja, menurut aturan jang seharusnja didjalankan. Tanah orang kaja jang berlebihan itu nantinja untuk kita.”
„Maksudku…,” kata ibu Si Kampeng lagi, „apa salahnja kalau Hadji Gopur menjerahkan tanah kelebihannja itu kepada kita? Daripada dia kebingungan tak tahu kepada siapa mesti memberi!”
„Memangnja kita ini apanja?” balas perempuan jang membawa lodong sambil terus melangkah meninggalkan, karena dilihatnja si Kampeng datang mendapatkan.
Kemuntjulan si Kampeng itu sebetulnja tidak akan mengganggu pembitjaraan. Sebab tanpa memperhatikan mereka, ia terus masuk kerumah.
Tapi tidak lama kemudian ia keluar lagi. Badju dan sarungnja tidak lagi melekat ditubuhnja. Ia muntjul dengan hanja bertjelana katok dan dengan golok tersandung dipinggang.
Sudah dilangkahkannja kakinja akan terus pergi meninggalkan rumah. Tapi tiba-tiba ia berhenti, matanja mendelik-delik. Diajunkannja lagi kakinja, tapi baru dua-tiga langkah sudah berhenti lagi; matanja dilirikkan kepada ibunja.
„Hm, omongkosong!” katanja tiba-tiba.
Ibunja jang sedang menumbuk padi mau tak mau melahirkan pertanjaan:
„Apa, Kampeng?”
„Omongkosong bahwa aku anak burak.”
„E, rupanja lu sudah kena hasutan anak-anak, ja? Pagi-pagi sudah rewel.”
„Aku sudah lama tidak mau pertjaja, tahu?” djawab Si Kampeng sambil meludah. „Bahwa aku anak burak, sudah lama aku tidak mau pertjaja.”
„Kalau lu tidak mau pertjaja, sudah!”
SI Kampeng mendelik:
„Djadi mesti dibatjok dulu, ja?”
„Siapa jang mesti dibatjok itu?”
„Kau!”
Ibu Si Kampeng djadi terdiam. Matanja ditatapkan. Dan Si Kampeng jang ditatap terus pula melirik:
„Apa lu mau terus bungkem djuga?”
„Bungkem tentang apa?” ibunja mentjoba mengelak.
„Tentang bapak gua. Tentang bapak gua jang sebenarnja!”
„Lu ini djadi tjerewet amat. Sudah berapa kali gua bilang bahwa bapak lu itu burak. Burak siluman!”
„Bohong! Omongkosong! Kalau betul djuga bapak gua itu burak, mengapa ia tidak muntjul-muntjul djuga? Dan mengapa gua mesti terus-terusan lapar?”
„Karena lu masih dalam udjian!”
„Bohong!”
„Kalau lu tidak pertjaja, sudah!”
Si Kampeng djadi mengepalkann tangan. Dan dengan kepalan tangan itu ia terus mendapatkan ibunja. Kedua belah tangan ibunja dipegangnja; katanja sambil mengatjungkan golok:
„Ajo katakan! Kalau tidak, nanti gua batjok!”
„Tolong!” ibunja meronta.
Pada saat itu djuga muntjul dua orang pulisi desa. Jang seorang berbadan djangkung dan berkumis, jang seorang lagi berbadan gemuk dan membawa pentung.
„Hei, apa ini?” kata pulisi desa jang djangkung sambil buru-buru menolak Si Kampeng dan terus membantingkannja ketanah.
„Dasar setan desa, lu!” kata pulisi desa jang gemuk sambil terus memukul dengan pentungnja. „Setelah lu mentjuri ubi orang, sekarang lu mau membunuh ibu lu, ja?”
„Ajo lu ikut kekelurahan!” perintah pulisi desa jang djangkung sambil menjepak.
„Lu tidak mau pergi?” tanja rekannja, karena dilihatnja Si Kampeng tidak mau berdiri. „Ajo berdiri!” tambahnja sambil mengajunkan lagi pentungnja.
Ibu Si Kampeng buru-buru menghalangi:
„Sudah! Sudah! Djangan anak gua dianiaja!”
„Perempuan sundal, lu!” bentak pulisi desa jang gemuk. „Sudah lu tahu anak lu mau membunuh lu, lu tjoba pula membelanja.”
„Dia bukan mau membunuh gua. Bukan!”
„Tapi anak lu setan desa, tahu?” pulisi desa jang satunja lagi membentak. „Dia pentjuri. Desa ini djadi tidak aman karena dia. Karena itu dia mesti dihukum, mengerti?”
Terus diarahkan kepada rekannja:
„Ajo pukul, kalau dia tidak menurut dibawa kekelurahan. Pukul kepalanja, biar remuk!”
„Lu menurut, tidak?” pulisi desa jang gemuk bertanja kepada Si Kampeng sambil mengatjungkan pentungnja. Dan karena Si Kampeng mendjawab dengan hanja mendelik, tanpa berkata lagi terus sadja pentung jang sudah diatjungkannja itu dipukulkan berkali-kali.
„Sudah! Sudah!” ibu Si Kampeng mendjerit sekuat tenaga.
Hanja sebentar setelah djerit itu, muntjul kesana dua orang laki-laki. Jang muntjul duluan seorang hadji sudah tua. Jang seorang lagi berpakaian serba hitam, rambutnja pandjang, mukanja brewosan dan kedua belah tangannja dibeliti gelang bahar.
„He, ada apa, ini?” hadji jang sudah tua itu bertanja.
Begitu berpengaruh kedatangan hadji itu. Kedua pulisi desa itu pada menghadapkan muka kepadanja, kedua-duanja pada membungkukkan badan.
„Ini Si Kampeng, djuragan Hadji Gopur,” kata pulisi desa jang djangkung. „Sudah terlalu sering dia mentjuri. Sudah kami berikan peringatan. Tapi peringatan itu tidak dihiraukannja. Orang-orang desa djadi pada mengadu, seolah-olah didesa kita sekarang ada setan jang mengganggu keamanan. Dan tadi malam setan desa ini telah berbuat lebih kurangadjar lagi. Berani dia mentjuri palawidja kepunjaan pak Lurah. Itu kan sudah terlalu, djuragan Hadji Gopur. Harta kepunjaan pak Lurah sudah berani dia tjuri!”
„Palawidja apa jang ditjurinja?” tanja hadji jang dipanggil Hadji Gopur itu.
„Ubi.”
„Lantas? Sekarang dia mau kauapakan?”
„Menurut perintah pak Lurah, kami mesti membawanja kekelurahan. Tapi dai membangkang.”
„Nanti dulu. Mengapa orang mentjuri ubi sadja mesti djadi berkepandjangan? Djangan dulu. Djangan dulu dia dibawa kekelurahan. Djustru sekarang djuga aku mau kekelurahan. Mau bertemu dengan pak Lurah, djustru untuk membitjarakan Si Kampeng. Sebab akupun dengar bahwa diwaktu belakangan ini dia suka mentjuri.”
Terus Hadji Gopur bertanja kepada Si Kampeng:
„Lu suka mentjuri, karena apa?”
Si Kampeng tidak mendjawab.
„Karena apa?” Hadji Gopur bertanja lagi, suaranja agak lunak.
„Saja lapar,” djawab Si Kampeng mendelik.
„Lapar? Mengapa kau tidak minta makan kepadaku?”
Lagi sekali Si Kampeng tidak mendjawab.
Hadji Gopur merogoh kantong, mengeluarkan beberapa lembar uangkertas, kemudian melemparkan uangkertas itu seraja katanja:
„Nih untuk beli makanan!”
Tapi Si Kampeng tidak atjuh.
„Tidak mau kau terima?” tanja Hadji Gopur. Tapi tanpa menunggu didjawab, terus sadja perkataannja diarahkan kepada pulisi-pulisi desa:
„Biarlah, uang itu nanti tentu akan diambilnja. Marilah kita bersama-sama kekelurahan.”
Baru sadja dua-tiga langkah mereka mengajun kaki, tiba-tiba Hadji Gopur teringat akan sesuatu. „O, ja” katanja sambil menundjuk kepada laki-laki berpakaian serba hitam, „aku belum memperkenalkan siapa jang bersama aku sekarang. Dia seorang keramat, seorang dukun jang sudah mashur, tempattinggalnja djauh sekali. Sengadja dia datang menemui aku, djustru karena merasa terpanggil untuk memperlihatkan sesuatu keadjaiban.”
Tanpa melahirkan kata-kata, laki-laki berpakaian serba hitam jang disebut dukun itupun lalu bersalaman dengan kedua pulisi desa.
„Keadjaiban apa, djuragan Hadji Gopur?” pulisi desa jang djangkung bertanja.
„Akan kita lihat nanti,” djawab Hadji Gopur sambil terus melangkah pergi, diikuti oleh dukun.
Kedua pulisi desa itupun pergi pula mengiringkan.
Sepeninggal orang-orang itu, ibu Si Kampeng menghampiri anaknja dan mentjoba mengadjak bitjara:
„Tidak kau ambil uang itu?”
Si Kampeng tidak mendjawab.
„Djangan menolak pemberian orang,” kata ibunja lagi. „Ambillah!”
Tapi Si Kampeng bukan mendjawab. Diangkatkannja badannja, disusutnja darah jang keluar dari hidungnja. Dilihatnja darah itu, kemudian dengan langkah terhujung ia pergi kearah batu, terus duduk disana membelakang kepada ibunja.
Disana, disusutnja lagi darah jang keluar dari hidungnja. Dilihatnja darah itu, dikepal-remaskannja tangannja, digitnja bibirnja. Achirnja dipukul-pukulkannja kepalan tangannja kepada kepalanja dan sambil meremasi rambut dengan kedua belah tangan diledakkannja isi dadanja dalam suara meraung tertahan-tahan.
Mau tak mau ibunja menghampiri dan bertanja:
„Kau menangis?”
„Inilah gara-gara aku djadi anak haram, gara-gara aku tidak punja bapak!” djawabnja. „Orang semau-maunja sadja menghina aku, semau-maunja sadja menjiksa aku!”
„Kau bukan tidak punja bapak,” ibunja mentjoba meredakan. „Bapakmu bukan tidak ada.”
Si Kampeng meludah:
„Mana buktinja? Katakanlah dia mahluk halus, tapi untuk inikah mahluk halus melahirkan aku? Untuk membiarkan anaknja terus-terusan disiksa orang? Katakanlah dia mengudji, tapi sampai kapam dia mengudji aku? Sampai kepalaku remuk karena dipukuli orang? Aku tahu, bapakku adalah sebenarnja seorang pengetjut. Begitu pengetjut, sampai dia tidak berani muntjul kehadapanku. Bapakku itu seorang djahat. Begitu djahat, sampai merasa perlu disembunjikan!”
Ibunja terdiam mendengarkan. Ada terbajang pada wadjahnja keharuan. Ada terasa dalam hatinja keharusan berkata, tapi mulutnja tidak kuasa mengutjapkan.
„Betul, tidak?” Si Kampeng mendesak. „Bapakku itu seorang djahat? Begitu djahat, sampai kau sendiri merasa perlu menjembunjikannja?”
Ibunja menggigit bibir, menghela nafas sedjenak, kemudian mendjawab:
„Bukan, Kampeng, bukan orang djahat.”
„Tapi seorang pengetjut, ja?” Si Kampeng menjusul.
„Bukan, bukan seorang pengetjut.”
„Lantas, orang apa?”
Ibunja menggigit lagi bibir, menghela lagi nafas sedjenak, kemudian berkata:
„Aku akan katakan, tapi kau djangan bilang sama orang lain.”
Ia melihat dulu kekiri, melihat dulu kekanan, kemudian melangkah mendekati. Tapi setelah sudah hampir dekat, tiba-tiba ia berhenti, menggigit-gigit bibir. Dibalikkannja badannja, membelakang pada anaknja. Dikepal-kepalkannja tangannja, kemudian baru bersuara:
„Bapakmu adalah orang jang paling kaja didesa ini.”
„Hah?” Si Kampeng bangkit melompat. „Orang paling kaja didesa ini? Siapa?”
„Siapa lagi? Dia tadi menundjukkan kasihsajangnja pada kau!”
„Hadji Gopur?” Si Kampeng melotot.
„Ja.”
Tiba-tiba mata Si Kampeng bersinar. Mukanja berseri. Dan setelah tersenjum sedjurus terus sadja ketawa membahak:
„Djadi aku ini anak orang kaja? Aku ini anak orang kaja! Uh, patut dia tadi membela aku, mengasih aku uang!”
Dan ia terus memunguti uangkertas jang bertebaran ditanah. Dan katanja lagi sambil menepuk-nepuk dada:
„Orang jang paling kaja didesa ini, itulah bapakku! Orang jang paling ditakuti didesa ini, itulah bapakku! Siapa lagi sekarang jang akan berani menghina aku?”
Tapi hanja sebentar ia gembira. Setelah termenung sedjurus, kembali mukanja djadi murung. Dan setelah melemparkan uangkertas, kembali ia duduk terhujung diatas batu.
„Tapi apa sebab mesti dirahasiakan?” tanjanja sambil kembali membelakang kepada ibunja.
„Itu kesalahan bapakku,” djawab ibunja, „kesalahan kakekkmu.”
„Mengapa?”
„Kakekmu itu sangat miskin, tahu? Lebih miskin dari kita. Tapi dia disajangi Hadji Gopur, diberi menjewa tanah, diberi memindjam uang untuk membeli rumah jang kita diami sekarang.”
„Lantas?”
„Pada suatu waktu ia ditagih, dimestikan membajar semua hutangnja. Dan kalau hutangnja tidak bisa dibajar, ia mesti menjerahkan anaknja.”
„Menjerahkan anaknja?”
„Ia, menjerahkan aku. Ketika itu umurku baru 13 tahun.”
„Lantas?”
„Akupun diserahkan. Dan dengan begitu, hutang kakekmu djadi lunas.”
„Lantas?”
„Ja…setelah itu aku djadi mengandung kau. Tapi kakekmu djadi djatuh sakit dan terus meninggaldunia.”
Si Kampeng memegangi kepala, seolah-olah kepalanja itu mendadak hendak petjah.
„Gua kagak ngerti!” meledak kata dari mulutnja.
„Apa jang tidak kau mengerti?”
„Kau tidak dikawin!”
„Mengapa mesti dikawin? Aku diserahkan hanja untuk bajar hutang. Dan bagaimana aku akan dikawin? Bininja sudah ada empat orang. Lebih dari empat, dia tidak boleh kawin lagi.”
Si Kampeng djadi menahan nafas. Termenung sedjurus kemudian suaranja lemah:
„Djadi karena itu, siapa bapakku itu mesti dirahasiakan, ja? Siapa bapakku itu lalu disebut burak siluman? Sehingga dengan begitu djadi tak ada laki-laki jang mau kawin dengan kau, sehingga kau mesti bantingtulang sendirian selama hidupmu?”
Ibunja tidak mendjawab.
„Tjih,” Si Kampeng meludah, „sungguh djahat dan sungguh pengetjut jang melahirkan aku ini!”
Pada saat itu tiba-tiba muntjul pulisi desa jang gemuk dengan setengah lari. Dan begitu muntjul terus pula menerangkan:
„Kampeng, kau dan ibumu mesti datang kekelurahan sekarang djuga. Bukan akan menerima hukuman. Sebaliknja, kau akan menerima redjeki.”
„Redjeki apa?” tanja ibu Si Kampeng.
„Dia akan menerima tanah dari Hadji Gopur.”
Si Kampeng kaget. Dan ibunja tjepat bertanja:
„Menerima tanah dari Hadji Gopur?”
„Ja.”
„Mengapa? Apa sebab Hadji Gopur tiba-tiba memberi tanah kepada Si Kampeng?”
„Karena bapak Si Kampeng sudah menitipkan Si Kampeng kepada Hadji Gopur. Supaja Si Kampeng itu dipungut anak dan diberi tanah.”
„Hah?” Si Kampeng muntjereng. „Bapakku menitipkan aku kepada Hadji Gopur? Dari mana dia tahu?”
Dan ia trus ketawa membahak.
„Itu ketahuan dengan perantaraan seorang dukun, tahu?” pulisi desa mentjoba mejakinkan.
„Dukun?” Si Kampeng ketawa lagi. Terus meludah: „Aku tidak mau pertjaja sama dukun!”
Pulisi desa djadi muntjereng:
„Apa? Lu tidak mau pertjaja sama dukun? Memangnja jang menerangkan bahwa lu anak burak itu siapa? Tjoba tanjakan pada ibu lu! Betul, tidak, Umi? Waktu kau dulu bunting, kau dibawa oleh pak Lurah pergi kedukun, bukan? Dan dukun itulah jang menerangkan bahwa jang menjebabkan kau bunting itu ialah karena kau sudah kawin dengan burak siluman? Nah, sekarang kedesa kita telah datang pula seorang dukun jang dengan sengadja datang dari tempat djauh. Dukun inilah jang menerangkan bahwa Si Kampeng mesti dipungut anak oleh Hadji Gopur.”
„Bohong!” Si Kampeng menukas.
„Djadi lu tidak mau pergi kekelurahan?”
„Tidak!”
„Goblok lu! Orang mau kasih redjeki lu tolak?”
„Siapa jang membutuhkan aku, datanglah disini!”
„Memangnja lu radja, mesti didatangi?”
„Memang, aku radja. Radja burak! Tahu?”
Pulisi desa djadi tidak bisa bitjara lagi. Sambil bersungut-sungut terus sadja ia angkat kaki.
“Mengapa kau menolak pergi kekelurahan?” kata ibu Si Kampeng, setelah mereka tinggal berdua.
Tapi lantaran Si Kampeng tidak mendjawab, ibunja djadi terus berkata dengan diri sendiri:
„Inilah rupanja jang dinamakan firasat! Begitu berani aku mengatakan siapa bapakmu, karena ternjata bapakmu itu berbalik pikir, karena ternjata bapakmu itu mempunjai rasa belas kasihan, mau memberikan sebagian dari tanahnja pada kau.”
„Bah!” Si Kampeng menukas.
„Mengapa: bah?”
„Itu bukan belas kasihan.”
„Bukan belas kasihan? Lantas apa?”
„Memangnja aku tidak tahu apa jang ramai dibitjarakan orang?”
„Apa? Apa jang ramai dibitjarakan orang?”
„Mestinja dia menjerahkan tanah itu kepada pemerintah. Bukan kepada aku.”
„Tapi apa salahnja dia memberi kau tanah? Kau anaknja, ada hak mendapat tanah dari dia!”
Si Kampeng berdiri. Meludah dulu, kemudian mendjawab:
„Tapi mengapa mesti putar-putar? Dan mengapa mesti dengan menjuruh kau menderita, mesti dengan menjuruh kau bungkem untuk selama hidupmu? Mengapa?”
Dan setelah berkata demikian, tanpa menunggu didjawab lagi terus sadja ia pergi, entah mau kemana.
Ibunja jang ditinggalkan, setelah memunguti uangkertas dan setelah membereskan pekerdjaan dilesung terus pula menutupkan pintu rumah.
Masih bingung ia, belum tahu kemana akan pergi, tiba-tiba dilihatnja perempuan jang membawa lodong tadi akan lewat kehadapan.
„Ah, kebetulan!” katanja sambil perempuan itu buru-buru disambut.
„Mengapa?”
„Kau bilang Hadji Gopur sedang bingung, bukan? Bingung karena urusan tanahnja jang berlebihan?”
„Ja, begitulah dia sekarang”.
„Dimisalkan…ini misal sadja. Dimisalkan kau akan diberi tanah oleh Hadji Gopur, apa jang akan kaukatakan?”
Perempuan itu djadi heran:
„Mengapa kau bertanja demikian?”
„Aku bilang: ini hanja misal sadja.”
„Dimisalkan aku akan diberi tanah oleh Hadji Gopur, Umi? Jang sudah pasti aku akan menuduh dia…djahat!”
„Djahat?”
„Tentu sadja. Apa sekarang, dengan menjegel-njegelkan tanah kepada keluarganja, kau mengira perbuatannja itu tidak djahat? Tanah itu menurut aturannja kan mesti diserahkan kepada pemerintah, Umi. Biar nanti pemerintah jang mengatur membagi-bagikannja kepada jang membutuhkan. Tapi mengapa dia membagi-bagikannja kepada keluarganja sendiri, dengan sesuka hatinja pula? Itu kan djahat!”
„Tapi…bagaimana pendapatmu? Apakah pihak jang menerima tanah itu akan dituduh djahat djuga?”
„Pihak jang menerima tanah itu…entahlah, Umi. Tapi mengapa kau ada perhatian sampai kesana? Aku djadi heran djuga!”
Ibu Si Kampeng menggigit-gigit bibir dulu, kemudian mendjawab:
„Sebetulnja…ja, sebetulnja kami didatangi pulisi desa.”
„Didatangi pulisi desa?”
„Ja, didatangi pulisi desa. Tapi…marilah kita membitjarakannja sambil pergi dari sini.”
Perempuan jang dibawa bitjara itu masih ternganga-nganga. Tapi melihat ibu Si Kampeng buru-buru mengajun kaki, iapun buru-buru melangkah; keduanja buru-buru pergi darisana.
Tidak lama kemudian pulisi desa jang dua orang itu muntjul lagi kesana. Jang berbadan gemuk, begitu muntjul terus berteriak memanggil-manggil:
„Kampeng! Umi!”
Tapi karena tak ada sadja jang menjahut, achirnja ia berkata kepada rekannja:
„Rupanja mereka pada pergi. Biarlah aku mentjarinja.”
„Ja, tjarilah sampai dapat,” djawab pulisi desa jang djangkung. „Aku akan tunggu disini sampai mereka pada datang.”
Pulisi desa jang gemuk itupun segera menghilang. Dan tinggallah kawannja menunggu sendirian.
Serombongan orang-orang desa jang mengiringkan Hadji Gopur, Lurah dan dukun tiba-tiba muntjul pula kesana. Begitu mereka muntjul, pulisi desa jang menunggu itu terus melaporkan:
„Mereka pada pergi, djuragan Hadji Gopur. Tapi sekarang sedang ditjari.”
„Ja, biarlah kita menunggu,” djawab Hadji Gopur. „Tak apa kita menunggu sebentar, ja pak Lurah?”
„Tak apa,” djawab Lurah.
Ternjata mereka tak perlu menunggu lama. Sebab Si Kampeng jang ditjari-tjari itu tidak lama kemudian datang djuga diiringkan pulisi desa jang mentjarinja. Dan hampir bersamaan dengan kedatangan mereka, dari arah lain ibu Si Kampengpun datang pula, bersama-sama dengan perempuan jang tadi membawa lodong.
„Dia sedang nongkrong sadja didekat kuburan,” pulisi desa jang datang itu melaporkan.
„Kuburan siapa?” tanja Lurah.
„Kuburan kakeknja.”
„Bagaimana?” tanja Lurah. „Apa kita mulai sekarang sadja?”
„Sekarang sadja,” djawab Hadji Gopur. „Toh tak ada lagi jang mesti ditunggu. Saksi-saksi sudah tjukup banjak pula.”
„Kesini, Kampeng!” kata Lurah.
„Begini,” kata Lurah. „Bapak jang rambutnja pandjang ini adalah seorang keramat, seorang dukun jang mashur, tempattinggalnja djauh sekali. Sengadja dia datang kedesa kita, bukan karena kita jang memanggil, tapi karena memenuhi panggilan dari keradjaan mahluk halus didaerah ini, karena memenuhi panggilan dari bapakmu. Dan untuk apa ia dipanggil itu? Untuk menjampaikan pesan bapakmu kepada penduduk desa ini, terutama kepada kau dan kepada djuragan Hadji Gopur, pesan bapakmu itu sudah disampaikannja. Dan djuragan Hadji Gopur sudah bersedia pula akan mendjalankan pesan itu. Tinggal kau sekarang jang mesti mendengar pesan itu dengan telingamu sendiri, dengan disaksikan oleh penduduk desa lainnja. Itulah sebabnja kau tadi dipanggil kekelurahan. Tapi kau tidak mau datang. Itupun tidak apa. Biar sekarang kami jang datang disini. Tapi djangan salah paham. Kami datang disini bukan karena menghormati kau. Tapi kami menghormati bapakmu. Mengerti?”
Terus Lurah berkata kepada dukun:
„Silakan pak dukun memulai!”
Tanpa mengutjapkan kata-kata, dukun jang rambutnja pandjang itu membuka buntelan, mengeluarka isinja, kemudian membuat lingkaran dengan kapur diatas tanah. Setelah menaruh pedupaan ditengah-tengah lingkaran, ia membakar kemenjan dan setelah pedupaan itu mengepulkan asap, ia lalu duduk menghadapinja dengan mata dipedjamkan dan kepala ditundukkan.
„Ahung! Ahung!” bunji kata jang jang keluar dari mulutnja berulang-ulang.
Setelah ada kira-kira lima menit ia berbuat demikian, tiba-tiba ia mengangkat kepala, melototkan mata dan gerak jang beringas, tiba-tiba ia bangkit berdiri, mementjak-mentjak sambil melompat-lompat.
„Hihi-hihi-hiem!” katanja sambil berdjalan seperti kuda, mengelilingi lingkaran. „Hihi-hihi-hiem!”
Setelah terdiam menghentikan langkah dan setelah mulutnja komat-kamit, tiba-tiba ia memperdengarkan suaranja jang berat mengerikan:
„Mana itu anakku? Anakku jang diberi nama dengan serampangan? Anakku, seorang ksatria berdarah siluman jang dengan semau-maunja diberi nama Si Kampeng? Mana itu dia?”
Si Kampeng mulanja terdiam sadja. Tapi karena diisjarati Lurah supaja madju kedepan, iapun menurut, memasuki lingkaran dan kemudian berdiri disana dengan sikap menunggu.
„Mana itu Hadji Gopur?” kata dukun lagi. „Hadji Gopur, orang jang paling kaja didesa ini?”
Tanpa ada jang menjuruh lagi Hadji Gopur madju kedepan, memasuki lingkaran.
„Dengarkan baik-baik,” kata dukun. „Aku, burak siluman jang berkelana dari satu keradjaan kelain keradjaan, dari satu daerah kelain daerah, sudah lama mengetahui bahwa anakku jang kulahirkan didaerah ini ada didalam keadaan jang sangat menderita. Dia tidak ada jang mengurus, tidak ada jang memelihara, sampai achir-achirnja ahlaknja djadi rusak, djadi suka mentjuri.
Padahal aku tahu, didaerah ini ada orang jang sangat kaja. Kedepannja telah lama hendak kutitipkan anakku, supaja dialah jang bertindak sebagai seorang bapak pungutnja, dialah jang berkewadjiban mengurus dan memelihara anakku sebagai seorang bapak terhadap anaknja.
Maka sekarang, didalam kesempatan jang tidak setiap hari terbuka ini, kuperintahkan kepadamu, hai anakku, djanganlah kau ragu-ragu mengaku bapak kepada Hadji Gopur. Dan kau, Hadji Gopur, djanganlah kau ragu-ragu mengaku anak kepada Si Kampeng. Dan buktikanlah pengakuan itu dengan perbuatan-perbuatan jang njata. Buktikanlah sekarang djuga.”
„Saja sudah bersedia,” djawb Hadji Gopur.
„Kau, Kampeng, sudah bersedia pula? tanja dukun.
Si Kampeng tidak mendjawab.
„Bilang: bersedia, Kampeng!” kata Lurah.
„Bersedia,” kata Si Kampeng.
„Sukur, sukur,” kata dukun. „Sekarang aku sudah merasa lega, karenanja akan segera sadja kembali.”
Dan dukun itu terus mengelilingi lagi lingkaran seraja katanja: „Hihi-hihi-hiem! Hihi-hihi-hiem!” dan setelah mementjak-mentjak seperti tadi, ia terus duduk lagi bersila menghadapi kepulan asap pedupaan, matanja dipedjamkan lagi, kepalanja ditundukkan lagi.
„Selesai,” katanja setelah achir-achirnja ia mengangkat kepala dan terus bangkit berdiri.
„Nah, saudara-saudara,” kata Lurah kepada orang banjak. „Sudah kita saksikan barusan suatu upatjara dimana dinjatakan bahwa Si Kampeng ini sebenarnja sudah lama mesti dipungut anak oleh djuragan Hadji Gopur. Dan baik si Kampeng maupun djuragan Hadji Gopur sudah menjatakan kesediannja pula untuk mendjalankannja. Tinggallah kita sekarang menjaksikan apa jang akan dilakukan oleh djuragan Hadji Gopur sampai dimana beliau akan membuktikan kasih sajangnja sebagai bapak pungut terhadap anak jang dipungutnja.”
Sambil menundjukkan sehelai segel Hadji Gopur berkata kepada si Kampeng:
„Kampeng, karena mulai sekarang kau sudah disjahkan mendjadi anak pungutku, maka sekarang aku akan mewarisi kau sebidang tanah untuk bekal hidupmu.
Aku bilang, mulai sekarang tanah itu diserahkan pada kau. Tapi sebenarnja, didalam segel ini disebutkan bahwa penjerahan tanah itu dilakukan sedjak kau berumur 15 tahun. Sebab sebagaimana dikatakan bapakmu tadi, sebenarnja kau sudah lama mesti kupungut sebagai anak, sudah lama aku mesti mengurus dan memelihara kau sebagai seorang bapak terhadap anak.
Terimalah pemberian ini dengan hati jang gembira, sebab akupun memberikannja dengan hati jang seihlas-ihlasnja.”
Bagi orang banjak tentu sadja perkataan Hadji Gopur itu merupakan sesuatu jang tidak diduga-duga. Ibu Si Kampeng nampak mukanja berseri-seri. Jang lainnja pada usik, saling berbisik. Tapi Si Kampeng tetap sadja terdiam, tetap sadja muram, seolah-olah disekitar dirinja itu tak pernah terdjadi apa-apa.
„Kampeng!” tegur Lurah. „Apa kau tuli? Atau merasa didalam mimpi? Ini bukan impian, Kampeng! Kau mulai sekarang tak usah mentjuri lagi, sebab mulai sekarang kau memiliki tanah garapan sebanjak tiga hektar. Tu, tanah garapan itu jang terletak ditepi sungai sebelah Timur. Tanah jang subur dengan sawahnja jang termasuk kelas satu dan pohon kelapanja jang banjak.”
Tapi Si Kampeng tetap membisu.
Orang banjak djadi bengong. Hadji Gopur djadi heran dan Lurahpun achir-achirnja djadi muntjereng.
„Kampeng!” terdengar tiba-tiba ibunja memanggil.
Mau tak mau Si Kampeng memandangi ibunja. Dan setelah meludah iapun lalu berkata:
„Saja tidak mengerti.”
„Mengapa?” tanja Hadji Gopur.
„Apa jang tidak kau mengerti?” tanja Lurah.
„Mengapa mesti putar-putar?” djawab Si Kampeng.
„Hah? Putar-putar?” tanja Hadji Gopur. „Apa jang putar-putar? Apa sih, Pak Lurah, jang dimaksudkannja dengan putar-putar?”
„Apa, Kampeng?” tanja Lurah. „Apa jang kaumaksudkan dengan putar-putar?”
„Kok aneh!” kata Hadji Gopur. „Bukan ia berterimakasih. Tapi seolah-olah mau menolak dengan mengatakan putar-putar. Apa sih jang dimaksudkannja dengan putar-putar?”
„Djawab, Kampeng!” kata Lurah. „Apa jang kau maksudkan dengan putar-putar?”
„Mengapa saja mesti menderita dulu?” djawab Si Kampeng. „Mengapa untuk menerima tanah itu, ibu saja mesti disiksa dulu, mesti disuruh bungkem, disuruh sengsara selama hidupnja?”
„Apa?” tanja Hadji Gopur dengan mata terbelalak. „Apa lu bilang?”
„Mengapa ibu saja mesti dirusakkan hidupnja!” djawab Si Kampeng.
„Ibumu dirusakkan hidupnja?” tanja Hadji Gopur lagi. „Siapa jang merusakkan hidup ibumu?”
„Bapakku. Bapakku jang tidak mau kawin dengan dia. Jang membiarkan dia hidup sengsara.”
„Bapakmu? Memangnja siapa bapakmu itu?”
„Kau!”
Bidji mata Hadji Gopur bagai hendak melompat. Badannja menggigil, mukanja merahpadam. Mendenging suaranja:
„Dari mana lu timbul keberanian menuduh aku sebagai bapak lu? Dasar anak tak tahu budi, tak tahu berterimakasih! Sudah diberi sedjengkal, mau sedepa. Sudah dipungut anak, mau diakui anak? Memangnja lu mau menuduh aku sudah tidur dengan ibu lu? Ibu lu jang kotor itu? Pak Lurah, kalau begini gelagatnja, segel ini akan saja sobek sadja. Tanah itu tak akan djadi saja berikan. Anak siluman ini rupanja sudah rusak samasekali ahlaknja. Sudah ngatjo pikirannja. Sudah benar-benar djadi setan desa! Sia-sia sadja kita hendak berbuat baik kepadanja.”
Dan ia terus menundjukkan gerak hendak menjobek-njobek segel.
Tapi dengan tidak disangka-sangka Si Kampeg buru-buru menjambar seraja katanja:
„Tanah itu sudah hak gua. Hak gua sebagai anak lu!”
„Setan!” teriak Hadji Gopur. „Bunuh dia! Bunuh setan desa ini! Bunuh!”
Tapi sebelum orang lain bisa mengerti kepada perintahnja, Si Kampeng sudah lebih dulu mengajunkan goloknja dan terus mendorongkan Hadji Gopur ketempat terpisah dari orang banjak. Lurah, kedua pulisi desa, dukun dan orang banjak pada berlarian mengedjar Si Kampeng. Dan ibu Si Kampeng mengikutinja pula seraja mendjerit-djerit:
„Bunuh Hadji Gopur! Bunuh dia! Dialah jang djahat! Dialah setan desa jang sebenarnja, jang sudah membunuh bapakku, jang sudah merusakkan hidupku.”
Tapi setelah menghilang bersama orang banjak, achir-achirnja iapun muntjul lagi sendirian. Langkahnja terhujung-hujung, mukanja putjat pasi, tangannja menggenggam segel.
Dipandangnja segel itu; kemudian berkata sedih:
„Kampeng…anakku…”
Dan ia terus merumpujuk kehabisan tenaga. Tapi segera pada saat itu perempuan jang membawa lodong tadi datang mendapatkan. Katanja sambil buru-buru menegakkan:
„Anakmu itu pahlawan, Umi. Si Kampeng itu seorang pahlawan!”
Djuni 1964.