Publisher Note
This edition does not include a publisher’s note.
Born in Cianjur, West Java, on May 31, 1920, Utuy Tatang Sontani was one of Indonesia’s most important dramatists and prose writers of the Angkatan ’45 generation. Writing in Indonesian and Sundanese, he was known for his realist portrayals of ordinary people and the moral disillusionment of the post-independence period. His works—particularly plays and short stories—consistently centered on the lives of the poor, the displaced, and those crushed by social change.
Utuy was an active member of Lekra and served on its central leadership between 1959 and 1965. After attending the Asian–African Writers’ Conference in Tashkent in 1958, his works gained international circulation, including translations into Russian and other languages. Following the political upheavals of 1965, Utuy was unable to return to Indonesia and eventually settled in the Soviet Union, where he taught Indonesian language and literature at Moscow State University. He lived and wrote in exile until his death in Moscow on September 17, 1979.
This work was first published during a period when Indonesian literature was closely intertwined with political struggle and cultural debate. Today, Utuy’s writings survive largely through scattered archives and overseas collections, as many of his works were banned, lost, or destroyed in Indonesia after 1965.
Digitizer Note
This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.
All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.
The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.
„Idjem ! Idjem !"
Jang dipanggil muntjul dari pintu-berakang.
„Apa, pak ?" katanja.
„Bagaimana sih suamimu itu ? Settap aku maı mengadjak dia bekerdja diladang, selalu dia masih tidur ! Sehari-harian kutunggu dia kemarin diladang, namun dia tak djuga muntjul. Kata orang, sehariharian dia duduk sadja-disana ditepi kali. Kalau terus.terusan begini, rugilah aku mempunjai menantu. Aku mengawinkan dia kepadamu, karena aku membutuhkan tenaganja, Idjem. Dan bukan karena mau memberi dia makan tiap hari tanpa kerdja apa-apa.”
„Akan saja bangunkan sekarang, ja pak :
„Biar, tak usah sekarang. Katakan sadja kepadanja bahwa aku menunggu dia diladang. Kalau kali ini dia tidak datang lagi keladang, awaslah !”
Dan setelah berkata demikian, merchanja terus pergi.
Idjem, isteri Si Kabajan, Pulanja tak sampah hati mau membangunkan suaminja jang lagi ngoro’k. Tapi setelah lama berpikir, achir-achirnja ia berani djuga mendekati.
„Kak !” katanja seraja badan suamnja itu ulgojang-gojang. „Bangun ! Sudah siang !”
Usik tubuh jang meringkuk ulatas dipah kai pantatnja mumbul. Tapi tidak terus bangun, malah terus menutupi kepalanja dengan bantal.
„Bagaimana, sih ?" kata isterinja. „Kau ta akan bekerdja lagi ?"
„Kau ini biasa mengganggu orang, ujawachja seraja menggeliat. „Sedang asjiknja aku ngadji, kau bangunkan !”
„Ngadji ! Ngadji ! Ngadji apa ? Kalau kau malas, ja malas sadja, djangan banjak dalih. Barusan bapak kesini, mau mengadjak kau keladang. Katanja dia akan menunggu kau disana.”
„Biarlah dia menunggu," djawabnja lagi sambil merebahkan lagi badan memedjamkan lagi mata.
„E-e-eee,” isterinja djengkel, „memangnja mau terus.terusan tidur ? Tidak kau malu disebut pemalas oleh orang lain ?”
„Mengapa mesti malu ?” djawabnja pula sambil tjengkat lagi. „Memangnja datangku kedunia ini bawa apa ? Aku berani disumpah — sungguh — aku berani disumpah, datangku kedunia ini tidak bawa apa-apa, bahkan tahu dari manapun aku haram. Mengapa sekarang, setelah dewasa, setelah tua, mesti aku sok-tahu, mesti aku tahu malu segala matjam ?”
„Ja, ja, itukah hasil ngadjimu ? Ngadji sambil ngorok ? Tak punja malu ?”
„Memang, djangankan mempunjai malu, bahkan aku tak punja apapun djuga."
Isterinja jang sudah djengkel djadi marah :
„Sudah ! Djangan banjak omong. Bising ! Aku merasa tertipu, tahu ? Dengan bersuamikan kau aku merasa tertipu ! Suami orang lain pada punja pentjarian jang tentu; setiap waktu ada mengasih belandja, mengasih pakaian. Tapi kau, mana ?”
„Memangnja salah sirpa ?" Si Kabajan bertanja sambil menguap.
„Salah siapa ? Ja, aku jang salah, karena aku tergesa-gesa kawin. Kepada orang asing sematjam kau mestinja aku pandjang periksa. Tapi sekarang, dari pada begini terus, aku lebih baik ditjeraikan sadja.”
„Ditjeraikan ?" Si Kabajan bertanja lagi sambil menguap.
„Ja, aku minta ditjeraikan !"
„Mintalah kepada mang lebe jang dulu mengawinkan kita," djawab Si Kabajan sambil terus membaringkan lagi badan. „Djangan minta kepadaku."
„Kau jang mesti mintakan !" isterinja berteriak.
„Memangnja aku jang butuh ditjeraikan ?" djawab Si Kabajan lagi sambil terus menutupi kepalanja dengan bantal.
Tapi memukul ia tak berani. Achirnja dadanja sadja naik-turun, terengah-engah menahan nafsu.
„Baik," katanja sahsoi ke katan kang djuga aku kelp akan pergi ke mang lebe. Sekarang djuga aku kelp be !"
Anehnja, djika isterinja itu sudah pergi, Si Kabajan bangkit dengan tjepat. Terus mendapatkan lemari makanan. Tapi apa latjur ? Tempat nasi nampak kosong. Tempat sambelpun kosong. Tak ada apa-apa untuk dimakan.
„Buset!" kaatanya seraja menggaruk-garuk kepala. „Tak ada makanan."
Tapi setelah lama termenung tiba-tiba ia tersenjum. Dan setelah tersenjum ia terus meringkukkan lagi badannja diatas dipan, memperdengarkan lagi suara ngoroknja dengan keras.
„Tjih !” kata isterinja jang kommunikan dengan muka tetap ketjut. „Sudah ngorok lagi ? ! Dasar pemalas !”
Dan mendengar omongan itu, Si Kabajah jang meringkuk malah kian memperkeras suara ngoroknja. Tapi apabila diketahuinja isterinja itu sudah masuk kepintu-belakang, pelahan-lahan ia tjengkat, mulutnja komat-kamit, terus menggerung-gerung seperti ia tiba-tiba diserang penjakit demam panas.
Tentu sadja isterinja jang tadi menghilang ke pintu-belakang itu muntjul lagi. Muntjul dengan penuh keheranan.
„Kak," katanja, „kena apa, sih ?"
Tapi apa djawab Si Kabajan ? Sambil matanja dipelototkan dan mulutnja komat-kamit ia berkata dengan suara bariton :
„Ha, tjutjuku ! Mari kesini ! Mari kesini !"
Isterinja jang penuh keheranan djadi melohok. Setelah berdjongkok, ia bertanja dengan gagap :
„Si...... siapakah gerangan jang datang memindjam djasad suamiku ini ? Kalau dia setan-siluman, lekaslah kembali pulang !”
„Aku adalah ejangmu, ’ejang Parahulu, nenekmcjangmu, tahu ?" djawab Si Kabajan dengan suarabaritonnja jang tetap dipertahankan. „Sudah lama aku menunggu kesempatan ini. Kebetulan jang punja djasad ini sekarang lagi membubung kelangit ketudjuh. Djadi aku bisa meminajamnja dengan leluasa."
„Maafkan, ejang, tjutjumu jang bodoh ini,” kata isterinja seraja menjembah. „Bolehkanlah saja bertanja : dengan hadjat apa maka ejang sekarang sengadja datang disini ?”
„Hanja karena kasih-sajang kepadamu, tjutjuku, aku sekarang datang; karena kudengar kau sering merintih kesusahan.”
„Betul, ejang, diwaktu jang achir-achir ini saja sangat susah, karena saja telah ditakdirkan mempunjai suami jang berlainan dari jang lain. Dia tak ada pentjarian jang tentu, tak mau bekerdja, sehari-harian hanja tidur sadja.”
Si Kabajan tertawa :
„Orang jang sedang membubung kelangit ketudjuh kaukatakan tidur ? Itulah kegoblokan manusia, kegoblokan kau !”
„Djadi...... djadi sebenarnja dia bukan pemalas, ejang ?"
„Dia sedang menuntut ilmu gaib, tahu ? Kalau kau mendjadi susah karena tingkahlaku suamimu, kesusahan itu adalah karena kau sendiri jang goblok, karena kau sendiri jang salah sangka. Itulah jang dinamakan kesusahan manusia jang dibikin-bikin. Mengerti kau ?”
„Saja mengerti, ejang."
„Djadi kau tak akan merintih lagi karena urusan itu ?”
„Tidak, ejang."
„Baiklah. Sekarang aku akan pulang. Tapi......"
„Apa,ejang?"
„Suatu kegoblokan masih melekat pada dirimu!" „Kegoblokan ?"
„Ja. Kau tidak tahu bagaimana mestinja me. njambut kedatangan nenekmojangmu sendiri ? Akan kaubiarkan aku pergi begitu sadja ?”
„O, maafkan saja, ejang. Saja lupa. Ejang mau apa?”
„Darah merah dan darah putih."
„Darah merah darah putih ? Apa itu ?"
„Telor, goblok ! Telor ajam !"
„Tapi...... tapi saja tak punja telor."
„Kau tidak punja. Tapi bapakmu kaja. Dia punja telor banjak.”
„Baik, ejang, akan saja ambilkan."
„Tiga butir, djangan kurang !”
„Baik, ejang."
Sehidmat menghadapi Si Kabajan, sehidmat itu pula isterinja itu mengundurkan diri, pergi keluar. Dan Si Kabajan jang ditinggalkan, setelah tinggal sendirian terus mengurut-ngurut tenggorokan. Banjak djuga rupanja ia mengeluarkan tenaga. Setelah mengurut-ngurut tenggorokan, iapun terus minum sampai habis segelas penuh.
Kira-kira lima menit kemudian isterinja sudah datang lagi membawa tiga butir telor. Terus menjerahkan telor itu kepada Si Kabajan : Nih ejang ”
...
„Ha. bagus ! Bagus !” djawab Si Kabajan. Dan ia terus menghirup telor itu sebutir demi sebutir. „Terimakasih,” katania setelah aditik. masuk kedalam perutnja. „Sekarang aku permisi pulang. Kudoakan supaja kau dimudahkan menerima redjeki dan didjauhkan dari mara bahaja.”
Terus tergeong-geong ia menudju dipan; meringkukkan lagi badannja dan kemudian memperdengarkan lagi suara ngoroknja.
Isterinja menghela nafas pandjang karena merasa lega. Tapi setelah mengawasi suaminja beberapa lama, tiba-tiba ia berlari keluar dengan tergopohgopoh. Tak salah lagi ia mendapatkan bapaknja diladang. Sebab tidak lama kemudian mereka berdua datang bersama-sama.
„Dia masih tidur," kata isterinja.
„Bangunkan sadja,” kata meruanja. „Mau tak mau dia sekarang mesti terusterang, mesti menerangkan siapa dia sebenarnja. Ajo, Idjem, bangunkan !”
Pelan-pelan isterinja mendapatkan dipan, terus pelan-pelan menggojang-gojang tubuh jang meringkuk disana.
„Kak, bangun," katanja.
Lama dulu, baru tubuh jang digojang-gojang itu usik. Tapi setelah usik tidak terus tjengkat.
„Kak," kata isterinja lagi.
„Apa, Idjem ?" djawabnja dengan mata masin dipedjamkan. „Biasa kau mengganggu aku."
„Ada bapak."
„Mau apa ? Kalau dia·mau mengadjak keladang, katakanlah aku masih ngadji."
„Bukan, Kabajan," kata mertuanja, „aku bukan mau mengadjak kau keladang. Aku baru pulang dari ladang. Nih, lihat ! Aku bawa ketimun. Mau kau ?"
Kini ia bangkit duduk; setelah menggosok mata sebentar, terus tangannja diulurkan.
„Mana, pak ?"
„Nih !”
Dan setjepat ketimun itu pindah tangan, setjepat itu pula terus masuk kedalam mulut jang mene. rimanja. Ribut ia mengunjah ; ribut sendirian, seolaholah tak ada orang lain didekatnja.
„Kabajan,” kata mertualja. „Apa, pak ?” „Kau sudah lama djadi menantuku, bukan ?” „Saja tak ingat berapa lama, pak.” „Sudah hampir setengah tahun, Kabajan.” „Betul ?”
„Ja, betul, sudah hampir setengah tahun. Tapi selama itu aku belum tahu siapa kau sebenarnja."
„Belum tahu siapa saja ?"
„Ja."
„Ah, masakan bapak belum tahu siapa saja ? Kan nama saja Kabajan !”
„Bukan namamu. Tapi siapa kau jang sebenarnja. Jang sebenar-benarnja."
„Maksud bapak, bapak mushn pensaran terhadap asal-usul saja ? Mau tahu dari mana saja berasal ?”
„Bukan itu, Kabajan. Bukan itu jang ingin kutanjakan. Dari mana kau berasal, bagiku sudah tidak lagi mendjadi soal. Kau, seperti djuga aku, seperti djuga anakku, adalah berasal dari Gusti Allah, Tuhan jang mentjiptakan kita semua. Bukankah begitu kataku dulu dihadapan lebe tatkala kau kawin dengan anakku ?”
„Lantas ? Kalau bukan itu jang hendak ditanjakan, apa lagi ?”
„Begini, Kabajan, Dimata orang lain kau ini sering menimbulkan kesan jang kurang baik. Mereka rata-rata menuduh kau seorang pemalas. Dan aku... ja, meskipun aku sering ngomel, sering ikut-ikutan menuduh kau pemalas, namun dalam hatiku aku sebenarnja bertanja-tanja. Nah, sekarang, supaja tidak lagi timbul salah sangka, kuminta kepadamu supaja kau terusterang sadja; supaja kau menerangkan apa sebenarnja jang kaulakukan dibalik tingkah jang nampaknja malas itu. Biar bagi kami, siapa kau ini tidak lagi merupakan teka-teki.”
„Itu susah saja menerangkannja, pak."
„Mengapa susah ?"
„Sebab kalian bodoh. Kalian tidak akan mengerti. Buktinja, meskipun berkali-kali saja katakan bahwa saja sedang ngadji, isteri saja ini tetap tidak mau mengerti.”
„Tapi sekarang saja mengerti, kak," kata isterinja.
„Bohong !”
„ Betul, kak, sekarang saja mengerti."
„Omongmu! Bagaimana kau bisa mengerti dengan mendadak ? Memangnja kau baru mimpi ?"
„Begini, Kabajan," kata mertualja. „Sebetulnja barusan sadja ejang Parahulu datang disini."
„Ejang Parahulu ?"
„Ja, ajang Parahulu, jang kuburannja sering kddjarahi itu !”
„Lantas ?"
„Dialah jang menerangkan itu semua. Dia menerangkan bahwa tidurmu itu bukan sembarangan tidur, bahwa sebetulnja kau sedang menuntut ilmu gaib.”
„ Betul dia mengatakan itu semua ?"
„ Betul, kak," djawab isterinja.
„Kurangadjar ejang Parahulu itu! Kurangadjar! Mengapa dia tidak minta permisi dulu kepadaku ? Padahal dia sudah berdjandji tak akan mentjeritakannja kepada siapapun djuga.”
„Ejang Parahulu itu nenekmojang kami, Kabajan," kata mertuanja. „Dan dia bukan sembarangan ejang."
„Ja, saja tahu. Tapi biar dia siapa, akan saja adjar dia. Akan saja adjar !”
Dan Si Kabajan jang marah itu terus berdjalan mundar-mandir sambil meneppal-nepalkan tangan. Isterinja dan mertuanja tinggal terdiam. Sebentarsebentar mereka saling pandang; tak tahu mereka apa jang mesti mereka katakan.
Setelah lama terdiam, setelah Si Kabajan duduk diatas dipan dengan kepala tertunduk, barulah mer. tuanja berani membuka lagi suara :
„Apa hendak dikata, Kabajan ? Sekali kami sudah ada jang memberi tahu, kami sekarang minta, sudilah kau membukakan rahasiamu dengan seterbuka-terbukanja.”
„Apa perlunja kalian tahu ?" Si Kabajan bertanja.
„Supaja diantara kita tiada lagi salah paham, Kabajan,” djawab mertuanja. „Salah paham diantara kita adalah tidak baik.”
Beberapa saat lamanja Si Kabajan terdiam. Achirnja mendjawab :
„Baiklah, karena sudah terlandjur ada jang mengatakan, baiklah akan saja terangkan. Tapi saja minta supaja kalian memegang rahasia ini dengan teguh.”
..Baik, kak. Baik, Kabajan," kata isteri dan mertuanja hampir serentak.
„Tapi sebelum aku menerangkan, kalian mesti bersumpah dulu."
„Sumpah apa?" tanja mertuanja.
„Sumpah kepada Gusti Allah. Mau ?"
„Mau sadja, Kabajan," kata mertuanja. „Bagaimana tjaranja ?"
Si Kabajan lalu berdiri diatas dipan.
„Angkat tangan kananmu !“ katanja.
Isteri dan mertuanja menurut mangangkat tangan mereka jang kanan.
„Sekarang utjapkan kalimat-kalimat ini : Delhi Allah, saja akan memegang rahasia tentang apa dan siapa sebenarnja Si Kabajan.”
Isteri dan mertuanja menurut pula. mengutjapkan kalimat-kalimat itu. Kemudian, atas titah Si Kabajan supaja mereka duduk bersila dilantai, merekapun pada menurut. Sedang Si Kabajan terus duduk diatas dipan.
„Dengar," katanja dengan suara sungguh-sungguh. „Sudah dua bulan lebih sebenarnja saja sering bertemu dengan Nabi Hidir."
„Nabi Hidir ?" mertuanja kaget.
„Ja, Nabi Hidir. Tahu bapak siapa Nabi Hidir ?“
„Menurut kata lebe, dia bertempattinggal uralalam air.”
„Betul. Dia bertempattinggal didalam air. Tapi sudah dua bulan ini dia sering datang mendjumpai saja."
„Datang mendjumpai kau ?" mertualja kaget lagi.
„Ja, dia datang mendjumpai saja dikala saja duduk sendirian disana difepi kali, atau diwaktu saja tidur disini. Diwaktu itulah saja berguru kepadanja, mendengarkan segala sabdanja tentang keadaan dunia sekarang.” nja ?"
„Bahwa keadaan didunia sekarang ini sudah serba salah. Orang sudah pada mementingkan diri sendiri; sudah kehilangan kepertjajaan pada diri sendiri. Inilah akibat nenekmojang kita jang sudah menundjukkan djalan jang salah kepada kita. Tapi kepada saja dikatakan bagaimana mestinja saja menundjukkan djalan jang baru.”
„Apa itu ?" mertuanja penasaran.
Si Kabajan tersenjum :
„Itu rahasia jang kedua. Tidak boleh ditjeritakaş sekarang."
Mertuanja jang penasaran djadi menarik naías pandjang. „Sajang,” katanja, „sajang tidak boleh dikatakan sekarang. Tapi...... ja, dengan mengetahui bahwa kau sering bertemu dengan Nabi Hidir, de. ngan begítu sadja, tahulah aku sekarang siapa kau sebenarnja.”
Terus perkataannja diarahkan kepada anaknja :
„Idjem, mulai sekarang djangan kau perlakukan lagi suamimu dengan sembarangan."
„Tidak, pak, tak akan lagi."
„Dia sekarang tentu belum makan, Idjem. Ambillah makanan untuknja dirumahku. Ambillah sekarang djuga. Aku sendiri sekarang tak akan terus pulang.”
Dan setelah berkata demikian, mertua Si Kabajan terus bangkit berdiri, melangkah kearah pintu.
„Bapak mau keladang lagi ?" anaknja bertanja.
„Tidak, mau kerumah lebe," djawabnja sambil terus keluar.
„Apa ?" kata Si Kabajan. „Kerumah lebe ?"
„Ja, kudengar dia bilang begitu."
„Kurangadjar ! Dasar manusia goblok !"
„Mengapa, kak ?"
„Dia tentu akan mengatakan rahasiaku, Idjem."
"Betul. Teni siens harah um darbitu."
„Betul. Tapi siapa bapakmu sudah tjukup kutahu. Tapi...... ja, sudahlah ! KaTau kau mau mengambilkan makanan untukku, pergilah. Aku sekarang maù kekali dulu.”
Merekapun lalu keluar hampir bersamaan. Si Kabajan menghilang kepintu-belakang; isterinja keluar melalui pintu-depan.
Tidak lama kemudian isterinja datang lagi membawa sepiring nasi bersama lauk-pauknja. Setelah menjimpanja kedaíam lemari, ia terus mengambil sapu, menjapukan kotoran keluar.
„Idjem !” kata seorang laki-laki berbadju djastutup dan bersarung palekat jang masuk dengan tiba-tiba. „Mana suamimu ?”
„Dia kekali, mang lebe."
„Aku dengar berita jang aneh tentang dia," kata tamu jang disebut lebe itu.
„Berita apa ?"
„Katanja dia sering berdjumpa dengan Nabi Hidir."
„Siapa bilang ?"
„Bapakmu."
„Itu...... itu rahasia, mang lebe. Sebenarnja tidak boleh ditjeritakan kepada orang lain."
„Mengapa mesti dianggap rahasia ? Nabi Hidir itu bukan rahasia, Idjem. Didalam kitab² agama Islam djuga disebutkan bahwa dia ialah hamba Tuñan jang keramat jang diam didasar air dan pernah digirui oleh Nabi Musa. Kalau dia sekarang menggurui suamimu, itu berarti suamimu itu bukan sembarangan orang. Ja, patut tingkahlaĀu suamimu itu aneh-aneh sadja. Ternjata dibelakang tingkahlakunja jang aneh-aneh itu ada apa-apanja.”
„Ja, tapi suami saja tidak mau hal itu diketani orang."
„Apa katamu ? Suamimu tak mau hal itu diketahui orang ? Itu tandanja suamimu betul-betūl bukan manusia biasa. Itu tandanja dia sudah betul-betul hampir wali. Tapi ada dalil dalam kur’an, Idjem, bahwa ilmu jang baik mesti disebarkan kepada umum, djangan dipendam dalam diri sendiri.”
Apa pula jang mesti dikatakan isteri Si Kabajan ? Bingung ia, achirnja tinggal terdiam dengan tak tahu pula apa jang mesti dilakukan.
Djustru pada saat itu, pada saat mereka terdiam itu, muntjul Si Kabajan dari pintu-belakang. Dan ia muntjul dengan membawa gajung diisi air.
„A, mang lebe !” katanja dengan gembira. „Untung mang lebe datang !”
„Mengapa ?" tanja lebe.
„Ada dikatakan kepada saja barusan, bahwa saja mesti memberikan air kepada siapa jang datang dirumah saja. Ternjata mang lebelah jang mendapat kesempatan pertama kalinja.”
„Apa, Kabajan ? Kau bilang ada jang berkata kepadamu ? Siapa ? Nabi Hidir ?”
„Djangan bertanja. Minumlah !“
Lebe termenung sebentar. Tiba-tiba ia tersenjum. Dan katanja :
„Ja, betul, tak salah. Aku tahu, ketika Nabi Musa menerima rahmat dari Nabi Hidir, diapun dilarang bertanja.”
Dan ia terus menerima gajung jang disodorkan kepadanja dan terus meletakkannja kedepan mulutnja. Tapi ketika hendak meminum isinja, tiba-tiba ia njengir, mundur beberapa langkah. Dan katanja :
„Mengapa bau ?"
„Tanjakanlah kepada diri sendiri siapa jang bau !"
„Djadi...... djadi dirikukah jang bau ?"
Si Kabajan membentak :
„Goblok ! Mengapa kau bertanja pula ?“
Gemetar karena mendengar bentakan itu, lebepun menurut, meminum air dari gajung sampai habis.
„Terimakasih, Kabajan," katanja terengahengah, „terimakasih banjak aku dapat kesempatan minum air berkah jang pertama kalinja."
„Sekarang pulang !” kata Si Kabajan seraja menundjuk pintu. „Katakan kepada orang lain apa jang telah terdjadi barusan.”
„Baïk, Kabajan, akan saja tjeritakan,” djawab lebe sambil terus mundur dengan hormat, menghilang keluar.
„Nah, Idjem,” kata Si Kabajan setelah tinggal berdua dengan isterinja, „aku dapat melihat dari sekarang, bahwa nanti akan banjak tamu datang dirumah kita. Karena itu, sediakanlah gentong disini dengan gajungnja. Setiap waktu gentong itu mesti kauisi dengan air dari kali.”
„Tapi......," djawab isterinja.
„Tapi apa ?"
„Bukankah kau tak mau hal ini diketahui orang lain ?"
„Ja, itu tadi, sebelum aku pergi kekali. Sekarang sudah dibolehkan."
„Kalau begitu, bapak saja djadi tidak berdosa dengan melanggar sumpahnja tadi ?”
„Bapakmu, Idjem,” kata Si Kabajan dengan gemas, „dia tetap berdosa. Bukan berdosa kepadaku. Tapi berdosa kepada Gusti Allah. Bukankah dia tadi sudah bersumpah demi Allah ? Dan kaupun tahu siapa Gusti Allah, bukan ?”
„Saja tahu, kak. Dialah· Tuhan kita sekalian, jang Maha Kuasa, jang mengatur kehidupan kita semua.”
„Nah, kalau kau sudah tahu begitu, kaupun tentu dapat membajangkan apa djadinja dengan orang jang berani melanggar sumpah kepadaNja.”
„Ja, aku dapat bajangkan. kak." isterinja berkata sambil menjusuti mata. „Hidup tjelaka sebagai hukumulah akan datang mengantjam dia......"
Terus suaranja serak :
„Oh, kasihan dia, kak, kasihan......"
TIDAK SALAH APA JANG DIKATAKANNJA; sedjak itu djadi banjak orang datang dirumahnja. Setiap jang datang membawa kesusahannja sendiri dan pulangnja dibekali air. Tentu sadja untuk air jang diterimanja itu mereka memberikan apa-apa, tapi biasanja jang mereka berikan itu uang.
Dan karena banjak uang jang masuk, sedangkan uang itu berkuasa, tak heran kita kalau dirumah itu sekarang djadi banjak perubahan. Selain disana sekarang djadi banjak bangku, dipan jang biasa ditiduri Si Kabajan itupun sekarang diberi berseprei. Didekatnja ada sebuah medja pula, dimana ditaro sebuah gentong bersama gajungnja.
Ketika itu hari sudah siang. Diatas bangku sudah nampak duduk empat orang tamu; seorang perempuan dan tiga orang laki-laki. Sudah lama rupanja mereka duduk disana. Maĩanja sudah pada saju, sudah pada merasa kesal menunggu.
Ketika didengarnja pintu-belakang menderik, mereka pada berdiri. Tapi apabila ternjata jang muntjul itu isteri Si Kabajan — dan bukan Si Kabajan — merekapun pada ketjewa.
„Kapan dia kesini ?" tamu perempuan meluap. kan ketidaksabarannja.
„Saja tak berani bangunkan, njonja," djawab isteri Si Kabajan. „Tunggulah, djangan kepalang sabar."
„Apa dia masih tidur ?"
„Tidur ? Ja, begitulah nampaknja, tapi sebenarnja dia bukan tidur,” djawab isteri Si Kabajan sambil terus menghilang lagi.
„Tidur, tapi bukan tidur ?" tamu perempuan melohok.
„Dia tentu bukan seperti kita," kata tamu lakilaki gemuk jang berpakaian tentara. „Kalau kita tidur, ja benar-benar tidur."
„Memang," udjar tamu laki-laki jang seorang lagi, jang hanja berpantalon dan berkemedja, „seorang manusia jang bertingkat wali, gerak-geriknja tak mudah kita pahami. Kata orang, kalau tidak sehari-harian dia tidur, sehari-harian dia memeluk dengkul ditepi kali. Minggu jang lalu saja kesini, saja pulang kosong, tak bisa ketemu."
„Djadi saudara datang sekarang untuk kedua kalinja ?" tanja tamu laki-laki berpakaian tentara.
„Ja. ”
„Saudara dari mana ?"
„Dari Garut."
„Untung masih dekat. Saja dan njonja ini dari Bandung. Kalau sekarang tidak bisa ketemu, berabe djuga."
„Kalau begitu, jang paling berabe ialah saja," kata tamu laki-laki jang berdjas dan berdasi, jang sedjak tadi belum buka suara.
„Mengapa ?" tanja laki-laki berpakalan tentara.
„Sebab saja lebih djauh lagi. Saja dari Bogor."
„Dari Bogor ?" tanja tamu perempuan. „Djadi orang di Bogorpun sudah pada tahu bahwa dikampung ini ada jang aneh ?"
„Maklum orang, njonja," kata tamu dari Garut, „sekali mengetahui ada jang aneh, mulutnja itu tak bisa ditahan. Berita diberitakan lagi, achir-achirnja diketahui orang dimana-mana. Waktu saja kesini tempo hari, saja lihat ada djuga orang jang datang dari Djawa-Tengah."
„Tapi bagaimana menurut pengalaman orang. orang jang sudah pada datang disini ?" tamu perem puan bertanja kepada itu tamu dari Garut. „Adakah mereka dapat merasakan kemandjurannja ?"
„Ada tetangga saja, setelah dua kali datang disini, dagangnja djadi madju; mendadak dia diper. tjaja menghutang oleh jang punja uang."
„O, begitu ?” tamu perempuan menundjukkan perhatiannja. „Tapi itu urusan dagang, bukan ? Jang ingin saja tahu urusan lainnja.”
„Saja kira,” kata tamu laki-laki dari Bogor, „mengenai urusan apapun djuga, kuntjinja terletak pada kepertjajaan kita sendiri. Kalau kita mempertjajainja dengan·sepenuh kepertjajaan, kita tentu akan berhasil merasakan kemandjurannja. Sebaliknja, kalau didalam hati kita masih merasa ragu, lebih baik djangan datang disini sadja.”
„Betul, itu betul," kata tamu laki-laki gemuk jang berpakaian tentara.
„Tapi pertjaja itu kepada apa ?" tamu dari Ga. rut bertanja.
„Ja, kepada kemandjurannja air jang diberikan," djawab tamu dari Bogor, ..kepada keluhungannja djiwa jang memberikan air itu."
„Bagi saja,” tamu dari Garut menerangkan, „saja hanja akan pertjaja kepada Tuhan; hanja akan pertjaja kepada keagungan Tuhan, kepada kerahman-rahiman Tuhan. Tapi untuk menerima kerahman-rahiman Tuhan itu, disebabkan kita ini kotor, kita tidak bisa menerimania dengan langsung. Kita membutuhkan perantara, jaitu orang jang sudah bersih, jang sudah dekat kepada Tuhan. Orang jang sudah bersih itu diantaranja ialah mamak jang kita datangi sekarang ini. Dan air jang akan diberikannja adalah untuk mentjutji kotoran jang melekat pada diri kita."
„Ja, itu sama sadja,” kata tamu dari Bogor. „Pendeknja, datang kita kesini ini adalah karena kita tidak bisa menolong diri kita sendiri, bukan ? Katakanlah kita tidak bisa menolong diri kita sendiri itu disebabkan kita ini kotor, atau disebabkan kita ini djauh dari Tuhan. Tapi hakekatnja sama sadja. Didalam kita hidup didunia ini kita membutuhkan pertolongan orang lain. Itu tidak bisa tidak. Dimana-mana djuga kita membutuhkan pertolongan orang lain. Disaat rambut kita pandjang, kita membutuhkan pertolongan tukang-tjukur, bukan ? Disaat kita membutuhkan badju, kita butuh pertolongan tukang-djahit. Nah, disaat kita sekarang butuh tenaga gaib, kitapun datang disini.”
„Tapi saja lihat," kata tamu perempuan dari Bandung, „saudara tidak membawa botol."
„Apa kita dimestikan membawanja ?" tamu dari Bogor kembali bertanja.
„Jang memestikan tidak ada,"djawab tamu dari Garut. „Saja djuga tidak membawa. Kita nanti akan disuruh meminum air itu disini."
„Tapi saja dengar,” kata tamu perempuan, ..adalah sebaiknja kalau kita membawa botol, supaja air jang kita terima dari sini itu bisa terpakai lama dengan djalan ditjampurkan dengan air sumur dirumah kita.”
„Itu betul djuga," tamu dari Garut membalas lagi. „Tapi njonja djangan menjangka bahwa jang kita butuhkan dari sini itu tjuma air sadja. Air itu hanjalah untuk membersihkan kotoran jang melekat pada diri kita. Tapi kita datang disini tidak hanja mengharap supaja badan kita bersih sadja, bukan ? Kita membawa harapan supaja setelah badan kita ini bersih, kitapun terus diridoi Tuhan supaja bisa mentjapai apa jang kita inginkan. Betul, tidak ? Nah, untuk itu, untuk kita bisa mentjapai apa jang kita inginkan itu, mamak disini nanti akan merekes. kannja kepada Tuhan didalam sembahjang."
„O, begitu ?” tamu perempuan menundjukkan perhatiannja. „Djadi jang penting datang kita kesini bukan untuk menerima air itu ? Tapi untuk meminta pertolongannja agar permohonan kita itu direkeskan kepada Tuhan ?”
„Ja, betul begitu."
„Tapi dari mana saudara tahu begitu tjaranja?" tamu dari Bogor mengeluarkan pandangan kritisnja. „Kan saudara djuga belum pernah ketemu dengan dia ?"
„Saja dengar dari tetangga saja jang sudah datang disini, tuan,” djawab tamu dari Garut. „Dan sekalipun saja tak pernah mendengarnja lebih dulu dari orang lain, saja sendiri sudah ada dugaan bahwa begitulah tjaranja dia akan menolong kita.”
Sampai disitu berhenti mereka bertjakap-tjakap. Tamu dari Garut terus duduk merunduk. Tamu dari Bogor dan tamu perempuan dari Bandung mengipasi badannja masing-masing. Sedang tamu laki-laki jang seorang lagi — jang berpakaian tentara — menguaço berkali-kali tak tahan serangan ngantuk.
Pada saat mereka terdiam itu, tiba-tiba pintubelakang terdengar menderik. Bagai disentak merekapun pada bangkit berdiri. Dan apabila ternjata jang muntjul itu Si Kabajan — muntjul sambil makan ketimun — mereka būru-buru mundur member hormat.
Tapi jang diberi hormat seperti tak melihat ada orang lain disana; senang sadja ia berdjalan menudju dipan. Dan setelah duduk diatas dipan, senang sadja ia mengunjah menghabiskan makanannja.
Setelah ketimun beres masuk kedalan, ia mendehem beberapa kali, minum air dari gentong sedikit, kemudian baru berkata kepada para tamu:
„Ja, ja, kalian sudah lama menunggu, ja ?"
„ Betul, mamak," djawab mereka serentak.
„Siapa jang lebih dulu datang ?"
„Saja, mamak," djawab tamu dari Garut.
„Kesini !”
Njempojong tamu darí Garut itu menghampírì, terus duduk bersila dihadapan Si Kabajan. Duduk dengan kepala tertunduk.
„Susah apa ?“ Si Kabajan bertanja.
„Saja ini pegawai negeri, mamak," djawabnja, „pegawai ketjil. Sudah lama ingin naik pangkat, tapi belum djuga dinaikkan."
„Mengapa belum djuga d’naikkan ?"
„Entahlah, mamak. Sudah hampir sepulun tahun, taĩ pi pangkat saja belum djuga dinaikkan."
„Itu tandanja badan saudara penun dengan kotoran !”
„Itulah sebabnja saja datang disini, mamak. Tiada lain supaja saja dibersihkan dari segala kotoran dan supaja keinginan saja itu direkeskan kepada Tuhan.”
Tidak berkata lagi Si Kabajan lalu mengambil air dari gentong dengan gajung; menatap air itu sebentar sambil mulutnja komat-kamit; kemudian bertanja :
„Bawa·botol ?”
„Tidak, mamak."
„Minumlah !"
Dengan penuh hidmat tamu dari Garut itupun meminum air dari gajung. Sehabis minum air, ia merogoh kantong tjelananja, mengeluarkan beberapa lembar uangkertas; kemudian menjerahkan uangkertas itu kepada Si Kabajan seraja katanja :
„Ini lumajan, mamak, sebagai tanda terimakasih saja atas kedjerihpajahan mamak akan membantu mengabulkan permintaan saja."
„Saudara rido memberikan uang ini ?" tanja §i Kabajan. „Sebab mamak tidak minta."
„Rido, mamak."
„Baiklah, kalau diberikan dengan rido, mamak akan terima. Keinginan saudara insjaalah akan mamak perhatikan.”
„Terimakasih, mamak, terimakasih."
Terus tamu dari Garut itu njempojong bersa. laman. Dan setelah bersalaman terus bangkit berdi. ri, berdjalan keluar dengan hati jang lega.
„Slapa sekarang ?" tanja Si Kabajan kepada tamu-tamu lainnja.
„Saja, mamak, berdua dengan kemanakan saja ini,” djawab tamu perempuan sambil menundjuk kepada tamu laki-laki berpakaian tentara.
„Dua-duanja kesini !”
Kedua tamu jang dipanggil itupun njempojong menghampiri. Terus duduk dihadapan Si Kabajan. Duduk dengan kepala tertunduk.
„Susan apa ?" tanja Si Kabajan kepada tamu perempuan.
„Begini, mamak,” djawabnja. Terus ia melihat kekiri-kekanan, kearah tamu dari Bogor. Achirnja menambahkan : „Ah, saja malu mengatakannja, mamak.”
Mengerti akan keinginan tamu jang dihadapi, Si Kabajan berkata kepada tamu dari Bogor :
„Saja mesti menunggu diluar ? O beile buka pintu, menghilang keluar.
„Nah, sekarang katakan," kata Si Kabajan kepada tamu perempuan jang dihadapinja, „susah apa ?"
„Begini, mamak, Suami saja itu seorang pegawai tinggi."
„O! Lantas ?"
„Sudah duapuluh tahun saja kawin dengan dia, sedjak dia djadi orang biasa, sedjak dia djadi pegawai biasa dengan gadji jang tidak mentjukupi untuk hidup berdua.”
„Lantas ?”
„Bertahun-tahun kami hidup menderita, mamak. Kalau dia kekurangan, saja bantu dia dengan mendjual atau menggadaikan barang-barang kepunjaan saja.”
„Ja. Lantas ?”
„Sekarang, setelah dia djadi pegawai tinggi, setelah berpangkat tinggi dan banjak uang, sekarang dia kawin lagi dengan seorang gadis.”
„O, djadi njonja dimadu ?"
„ Betul, mamak."
„Dimadu dengan perempuan jang djauh lebin müda dari njonja ?”
„Ja. ”
„Dan lebih tjantík dari njonja ?"
„Betul, mamak. Betapa pedihnja hati saja tentu mamak dapat bajangkan. Sama halnja seperti saja ini memungut anak andjing; sedjak ketjil dipelihara dikasih makan, setelah besar dia menggigit.”
„Lantas ? Njonja sekarang mau apa ?"
„Jang saja inginkan ialah supaja isterinja jang baru dia kawini itu ditjeraikan lagi, mamak."
„Supaja isterinja jang lebih muda dan lebih tjantik dari nionja ifu ditjeraikan ? Itu berat, njonja, sungguh berat !”
„Djadi...... djadi tidak mungkin dia bisa ditjeraikan ?"
„Bahkan mamak lihat, njonjalah jang besar kemungkinan akan ditjeraikan !”
Mendengar itu, tentu sadja tamu perempuan itu melohok. Mukanja mendadak putjat. Dadanja terengah-engah.
„Be......betul, mamak ?" tanjanja dengan ...
„Ja, begitulah jang mamak lihat. Tapi segala sesuatu jang akan terdjadi didunia ini masih bisa dirobah, njonja, asal kita betul-betul menginginkannja dan betul-betul mengusahakannja.”
Muka tamu jang sudah putjat itupun kembali berdarah. Dan katanja setelah menarik nafas :
„Djau...... ujadi mamak bisa menolong mengusahakan ? Maksud saja mengusahakan supaja bukan saja, tapi isterinja jang baru dikawininja itulah jang akan ditjeraikan ?" permintaan njonja itu sungguh berat." rikan apa sadja kepada mamak, asal saja bisa terlaksana keinginan, bebas dari beban penderitaan." tidak mengharap diberi apa-apa." Tapi diawaban Si Kohata nah didengar tamu. Ia bahkan terus mengeluarkan tjintjin berlian dari djarinja seraja katanja : „Biar mamak tidak mengheran. Naranjah kanu sebagai manusia saja mesti berterimakasih atas kedjerihpajahan orang lain jang bersedia memberikan pertolongan, Karena itu, harap mamak suka menerima tjintjin ini dari saja.”
"Rid, Damak." tjintjin itu, „kalau njonja rido memberikannja, akan mamak terima.” saja jakukan ? " " "apakah jang mesti
„Sekarang bawa botol ?"
„Bawa, mamak."
Si Kabajan lalu mengambil air dari gentong dengan gajung; menatap air itu sedjurus sambil mulutnja komat-kamit; kemudian menuangkannja kedalam botol seraja katanja :
„Nih, bawalah air ini pulang, untuk diminum dan dipakai mandi."
„Terimakasih, mamak, terimakasih."
„Sekarang saudara," kata Si Kabajan kepada tamu laki-laki berpakaian tentara. „Saudara susah apa ?"
„Saja ini tentara, mamak," djawabnja. „Tapi tentara digaris belakang, bekerdja dibagian gudang bahan makanan."
„Ja, ja, mamak mengerti. Menghadapi bahan makanan lebih menarik daripada menghadapi musuh, bukan ?”
„Betul, mamak. Untuk mati dimedan pertempuran itu saja belum rela. Maklum saja sudah banjak anak, mamak. Tapi djustru sekarang saja mesti pindah. Mesti pindah mengikuti pasukan penggempur digaris depan.”
„Hm, lantas ?"
„Itulah sebabnja saja datang disini, mamak. Maksud saja tidak lain supaja saja mendapat pertolongan mamak agar saja......”
„Agar apa ?"
„Agar saja kebal, mamak, tidak mempan kena peluru."
„Apa ? Agar saudara kebal ! Itu perimntaan jang bukan-bukan ! Manusia bukan tidak bisa kebal, tapi orang sematjam saudara tak akan bisa mentjapainja. Mintalah apa jang bisa saudara tjapai." agar kepindahan saja kegaris depan itu dibatalkan."
„Djadi saudara mau tetap ditempatkan digudang bahan makanan ?”
„Ja. ”
„Bawa botol ?“
„Baya, mamak."
Lagi sekali Si Kabajan mengambil air dari gentong dengan gajung; menatap air itu sambil mulut nja komat-kamit; kemudian menuangkannja kedalam botol jang disodorkan tamu.
„Ini, mamak, lumajan," tamu berpakaian tentara itu menjerahkan beberapa lembar uangkertas.
„Saudara rido memberikan ?" tanja Si Kabajan, „Rido, mamak."
„Baiklah, akan mamak terima. Nah, sekarang pulanglah ! Semua keinginan kalian insjaalah akan mamak perhatikan.”
Kedua tamu itupun lalu njempojong bersalaman. Tapi setelah mereka bangkit berdiri, tamu perempuan tiba-tiba bertanja lagi :
„Apakah air ini untuk saja sadja, mamak, atau untuk suami saja djuga ?"
"Did,"
„Ditiampurkan dengan air sumur ?"
„Baiklah, mamak. Terimakasih atas segala. Kalau belum terasa djuga, biar nanti saja kesini lagi." ada waktu untuk menghela nafas pandjang, sebab begitu mereka menghilang keluar terus masuk pula tamu dari Bogor. Tak sabar rupanja ia menunggu lama-lama diluar; karena itu iapun masuk dengan tidak menunggu dipersilakan lagi.
„Sekarang giliran seia.
„O, ja, hampir mamak lupa habwa, danja.
Tamu jang gagah berdasi itupun ada saudara njempojong kehadapan Si Kabajan, terus bersila disana, kepalanja ditundukkan.
„Susah apa ?" tanja Si Kabajan.
„Saja ini sedang menghadapi perkara, mamak; djawabnja.
„Perkara apa ?"
„Perkara dengan polisi. Besok atau lusa saja mesti menghadap kepengadilan. Kedatangan saja sekarang kesini tidak lain ialah supaja saja bisa dibebaskan dari segala tuntutan.”
„Lantas ? Saudara sudah bersalah apa ?"
„Begini, mamak. Saja ini petugas negara, diserahi kewadjiban menjimpan uang."
„Lantas ?"
„Uang jang dipertjajakan kepada saja itu saja pakai untuk kepentingan saja sendiri."
„Itu bukan dosa jang ketjil."
„Saja tahu, mamak. Kaiau saja dikenakan hukum, paling sedikit saja mesti masuk bui dua bulan."
„Dan saudara sekarang ingin dibebaskan dari hukuman ?"
„Ja."
„Setelah merusak uang negara, saudara masın mau selamat pula ?”
„Be......betul, mamak. Terseranlan kepada mamak; mau diapakan djuga saja ini, saja akan menurut. Soalnja asal saja ini selamat, dibebaskan dari segala tuntutan.”
Untuk keempat kalinja Si Kabajan mengambil air dari gentong dengan gajung; menatap air itu sambil mulutnja komat-kamit; kemudian memerintah :
„Kesini madju !"
Tamu menurut, meng’sarkan silanja; mengulurkan tangannja dengan maksud akan menerima gajung. akan meminum air dari gajung itu.
Tapi Si Kabajan membentak :
„Tidak ! Saudara tidak tjukup dengan hanja minum air ini. Dosa saudara terlampau berat. Mar kesinikan kepalanja !”
Mau tak mau tamu jang gagah berdasi itu mengulurkan kepalanja kehadapan Si Kabajan. Dan mau tak mau ia mesti diam menurut, takala kepalanja itu digujuri Si Kabajan dengan air.
„Nih, sekarang diminum !" kata Si Kabajan se telah kepala tamu itu basahkujup.
„Terimakasih, mamak," kata tamu terengah. engah, „terimakasih."
Dan ia terus merogoh kantong badjunja, mengeluarkan dompet.
„Ini lumajan," katanja lagi seraja menjerahkan beberapa lembar uangkertas.
"Ridu saudara memberikan uang ini ?"
„Rldo, mamak."
„Baiklah, mamak akan terima. Keinginan sau. dara insjaalah akan mamak perhatikan."
"S"kurang saja boleh pulang ?" „oa, puralgian !”
Setelah njempojong bersalaman, tamu jang berkepala basahkujup itu terus mengundurkan diri, menghilang keluar.
„Edan semua !" kata Si Kabajan setelah tinggal sendirian. „Hidup begini mesti kuachiri. Mesti kua-
Terus ia berteriak memanggil isterinja :
Jang dipanggil muntjul dari pintu-belakang :
„Nin, uang !"
„Aduh, banjaknja! Dan ada ng-orang dari kota betul-betul
„Sinnaman semuanja. Aku kira dengan uang jang sudah terkumpul sampai sekarang ini kau akan bisa hidup dua atau tiga bulan, bukan ?”
„Bisa, kak.”
„Sjukurlah; dengan begitu aku akan senang meninggalkan kau."
„Meninggalkan aku ?" isterinja terkedjut. „Kau mau kemana ?"
„Kau tahu, Idjem, aku sudah lama ada niat mau pergi, mau melandjutkan tapa. Nah, niat itu akan kulakukan sekarang."
„Maksudmu : sekarang, hari ini ?"
„Hari ini dan djam ini djuga."
„Djam ini djuga ?"
„Ja, dan djika kepadaku dikatakan mesti pergi djam ini, aku tak boleh mengundurkannja lagi."
„Tapi......"
„Tapi apa ?"
„Berapa lama kau akan pergi ?“
„Mungkin sebulan. Mungkin kurang. Mungkin pula lebih. Aku tak bisa pastikan dari sekarang."
„Tapi aku harap djangan terlalu lama, kak.
„Begitulah harapanku djuga."
„Lantas ? Apa sadja jang akan kaubawa ?"
„Jang akan kubawa ? Tidak, Idjem, tak ada Jang kuperlukan."
„Kau akan pergi begitu sadja ?“
..Ja."
„Makanlah dulu. Kau kan belum makan."
„Tidak, Idjem, itupun tidak perlu. Tapi ja, kalau kau masih memikirkan perutku, berilah aku sebungkus nasi dengan lauk-pauknja uĩtuk bekal didjalan."
„Baiklah, kak, akan saja sediakan sekarang djuga.”
Dan isterinja terus masuk kepintu-belakang.
Pada saat itu, pada saat isterinja ada didapur, Si Kabajan buru-buru mengeluarkan setjarik kertas dari kantong badjunja. Buru-buru pula menjimpan kertas itu kebawah sprei dipan. Apabila isterinja muntjul lagi membawa bungkusan sebesar kepala, iapun sudah duduk lagi dengan sikapnja jang tenan, seperti tadi.
„Nih, kak," isterinja memberikan bungkusan „Aku kira kau perlu djuga membawa sedikit-sa
Si Kabajan. „Selebihnja boleh kausimpan."
Setelah beres semuanja; setelah Si Kabajan me. masukkan bungkusan kedalam sarungnja jang dibun. delkan dan menjimpan uangkertas kedalam kantong badjunja, iapun terus bersedia akan melangkah keluar.
Tapi tiba-tiba isterinja berkata : „Nantî dulu, kak ! Ada sesuatu jang akan saja katakan.”
„Apa ?"
„Bapak dari tadi ada didapur. Ia mau bitjara dengan kau, tapi tidak berani "
"Darkeauk bulkan. Sudah lama dia mengingini diberkahi, mengingini dibersihkan dari segala dosa, tapi kau selalu menolak sadja, bukan ?"
Allah bukan dosa jang bisa ditjutji dengan begitu sadja, Idjem." lah dia. Kau tahu, selama ini dia tidak enak makan, tidak enak tidur. Kian dipikirkan — katanja — kian dia jakin bahwa dosa jang dipikulnja itu sangat berat.”
„Memang didunia tak ada.
"Tapi kau akan bersedia meringar. Allah" lahannja ?"
Setelah terdiam sedjurus Si Kabaian
„Baiklah, Idjem, dia akan kuberkahi. Panggillah dia kesini !”
Dengan girang isterinja masuk kepintu-belakang. Tidak lama kemudian ia kembali lagi. Kembali berdua dengan bapaknja.
Sekali pandang djelas kelihatan mertua Si Kabajan itu kehilangan piegangan. Mukanja putjat, matanja laju. Dan ia datang kehadapan menantunja dengan kepala tertunduk seperti murid sekolah jang tidak menghafal menghampiri gurunja.
„Bapak mengaku bahwa bapak berdosa ?" tanja Si Kabajan.
„Ja, aku mengaku, Kabajan,” djawabnja, suaranja lemah.
„Berdosa kepada siapa ?"
„Terutama berdosa kepada Gusti Allah, karena aku sudah melanggar sumpah kepadaNja."
„Bagaimana rasanja ?"
„Berat, Kabajan, sebab aku tahu bahwa Gusti Allahlah jang memberi kità redjeki. Dan sekarang, serasa-rasa aku dihadapkan kedjurang kemiskinan jang menganga, jang sewaktu-waktu akan menjeret aku kedalamnja.”
„Djadi sekarang bapak merasa menjesal karena sudah melanggar sumpah itu ?”
„Betul, Kabajan, aku menjesal."
„Tapi apa sebab dulu bapak sampai berani melanggar sumpah itu ?”
„Apa sebab ? Ja, sebab aku tak mau dipandang rendah karena mempunjai menantu jang dituduh malas. Karena itu, dengan tidak ingat lagi akan bahajanja melanggar sumpah itu, lalu kukatakan kepada setiap orang apa dan siapa kau sebenarnja. Setelah mereka tahu bahwa kau bukan sembarangan orang, orangpun tak lagi memandang rendah kepadaku. Dimana-mana orang memudji kita.”
„Itulah gara-gara bapak selalu mengharap un. tung, selalu mengharap dipudji !”
„Betul, Kabajan, mengakulan aku bahwa aku salah. Sekarang kuserahkan diriku kepadamu. Apapun djuga jang akan kaulakukan dengan aku, ting. gal terserah kepadamu.”
„Bukalah pakaian !"
„Buka pakaian ?" mertuanja tertjengang.
„Ja, buka pakaian !"
Dengan penuh pertanjaan mertuanja menurut, membuka semua pakaiannja. Badju-luarnja, ikatkepa. lanja, badju-dalamnja dan tjelananja, semuanja ditanggalkan. Tinggallah ia bertjelana katok.
„Idjem !” kata Si Kabajan kepada isterinja setelah ia menatap air dalam gentong sambil mulutnja komat-kamit. „Sekarang bantulah aku mengangkat gentong ini. Hanja dengan semua air dalam gentong ini dosa bapak akan bisa dibersihkan.”
Mertuanja kaget. Tapi sebelum ia sempat mengeluarkan sepatah kata, Si Kabajan dan isterinja sudah menuangkan segenap isi gentong kepadanja, membasahkujupkan badannja sedjak dari rambut sampai kekaki. Tentu sadja mertuanja itu menggigil kedinġinan.
„Djangan disusuti !" kata Si Kabajan. „Biar ke-
Terus perkataannja diarahkan kepada isterinja : para tamu jang pernah datang disini, kalau mereka kesini lagi, katakanlah bahwa aku sedang menapai keinginan mereka. Dan untukmu sendiri aku ada pesan. Dibawah sprei dipan itu ada surat untukmu. Tapi kau tidak boleh membatjanja sekarang. Nanti, setelah aku pergi djauh, baru kau boleh membatjanja.”
Dan setelah berkata demikian jan janjahahah. kan keluar. Manuar la terus melangIsterinja merigantarker.
1. Introduction disana beberapa saat lamanja, memandang Si Kabajan sampai sehilang-hilangnja. Kemudian setelah menutupkan pintu, gembira ia berdjalan kehadapan bapaknja sambil menghitung uang.
„Duapuluh-lima...... limapuluh...... oh, lebih dari duaratus," katanja. „Belum lagi harga tjintjin ini. Entah berapa."
„Aku tahu," kata bapaknja jang menggigi1 kedinginan, „kau sekarang lebih kaja dari aku. Kau mesti berterimakasih kepadaku, Idjem."
„Mengapa ?"
„Kan aku jang mula-mula menemukan suamimu itu !”
„Betul, bapak jang menemukan. Tapi ia tidak akan djadi suami saja kalau saja sendiri tidak mau."
„Ja, pendeknja sekarang kau banjak uang itu adalah karena kita berdua. Karena itu, uang jang kauterima itu djangan kaumiliki sendiri. Aku mesti dibagi. Besok atau lusa kau kan akan menerima lagi uang banjak dari para tamu.”
„Itu kalau suami saja ada diruman. ‘Tapi dia mungkin akan lama djuga meninggalkan saja.”
„Kira-kira berapa lama ?"
„Tidak tahu; dia tidak katakan."
„Dia sebenarnja mau kemana, sih ?"
„Itupun tidak dikatakannja."
„Tadi dia katakan bahwa ada surat untukmu. Tjoba batja surat itu !”
„Surat itu hanja untuk saja, bapak.
„Apa salahnja aku ikut mengetahui isinja ?"
„Nantilah, sekarang dia belum djauh. Menurut pesannja surat itu boleh dibatja hanja djika dia sudah djauh."
„Kan sekarang djuga dia sudah djauh, lujem, sudah tidak kelihatan lagi kemana perginja. Ajo, batja ! Aku ingin tahu.”
Terpaksa Idjem mentjari-tjari Rebawan sprel dipan. Dan apabila ia sudah menemukan setjarik kertas, iapun lalu membatja isinja. Djelas kelihatan perangainja mendadak berubah, kegembiraannja bertukar dengan kesedihan.
„Apa sih isinja ?" tanja bapaknja.
„Dia tak akan kembali lagi, bapak," djawab Idjem dengan serak.
„Apa ? Tak akan kembali lagi ? Tjoba batja de. ngan keras !”
Berat nampaknja Idjem mau membatja surat itu dengan keras. Tapi achir-achirnja keinginan bapaknja itu dipenuhinja djuga.
„Idjem,” katanja, „aku terpaksa meninggalkan kau untuk selama-lamanja. Kemana aku pergi tak usah kau tahu seperti djuga kau tak usah tahu dari mana aku datang. Selama aku diam dikampung ini, aku tjukup banjak mengenal kegoblokan manusia. Dan akupun tjukup kenjang bermain-main dengan mereka. Sebenarnja aku ini manusia biasa sadja. Tak pernah aku memiliki keluhungan djiwa jang berlebihan, tak pernah pula aku bertemu dengan Nabi Hidir, apa lagi dengan Gusti Allah jang djadi pudjaan kalian.”
„Kurangadjar !" bapaknja menjela. „Dan kita
„Nanti dulu, pak, nanti dulu," kata Idjem. „Ini masih ada terusnja."
„Apa terusnja itu ? Bañwa dia sudah berhasil mempermainkan aku, menghina aku ?" kan membatja, „aku pertjaja bahwa kau tak akan mengatakannja kepada orang lain, sebab kau sudah bersumpah kepada Gusti Allah, bukan ? Kau sudah bersumpah bahwa kau tak akan mengatakan apa dan siapa sebenarnja Si Kabajan.”
Medebah : Pemipu ! ? mertua Si Kabajan merentak-rentakkan kaki. „Dan kîta djadi tidak berdaja dengan sumpah kita." anaknja, „sebab bagaimanapun djuga dia telah berdjasa."
„Berdjasa apa ?"
..Dia sudah mendatangkan redjeki banjak, tanpa membanting tulang dan tanpa meminta-minta. Bagi saja, kepergiannja sekarang ini betul-betul merenggut seluruh djiwa saja.”
„Ja, karena kau isterinja !"
„Bukan, pak, tapi karena dia betul-betul seorang jang luñung budinja, karena dia betul-betul seorang wali.”
..Bah, wali, wali ! Nih, lihat aku ! Akan kau biarkan sadja aku kedinginan ? Ajo, lekas, ambilkan sarungku jang bersih !”
Idjem jang berada dalam kesedinah sudah menjusuti mata akan pergi keluar. Tapi sebelum ia sempat berdiri, muntjullah lebe dengan tergopoh-gopoh, nafasnja terengah-engah.
„Idjem !" katanja. „Suamimu itu mau kemana :
Aku lihat dia naik truk."
„Naik truk ?" tanja ldjem.
„Ja, naik truk kearah Selatan. Dia mau kemana ?”
„Katanja, dia mau bertapa, mang lebe.
„Kapan dia kembali lagi ? Akan lama djuga dia pergi ?"
„Mungkin lama djuga."
„Terlambat! Aku terlambat!"
„Mengapa ? Ada apa, sih :
„Aku barusan dari pak tjamat, Idjem. Dia mengatakan bahwa dia menerima tilgram dari familinja, dari seorang pembesar di Djakarta. Dengar kau, Idjem ? Dari seorang pembesar ! Dan apa isi tilgram itu ? Suamimu diminta supaja pergi ke Djakarta, supaja memberkahi pembesar itu sebelum dia berangkat keluarnegeri. Sajang.ja, sajang suamimu tidak ada. Dan kita tak tahu pula kapan dia kembali, bukan ? Tapi bagaimanapun djuga, Idjem, kita semuanja sudah sewadjibnja merasa bangga, karena dikampung kita ini ada seorang jang berdjiwa luhung, jang keluhungannja sampai-sampai dibutuhkan oleh pembesar di Djakarta !”
„Memang, mang lebe," kata Idjem, „kita semuanja sudah sewadjibnja merasa bangga, karena suami saja itu betul-betul seorang wali !"
„Bahagialah kau jang djadi isterinja," kata lebe lagi. Terus kepada mertua Si Kabajan : „Dan kau, sungguh kau beruntung bermenantukan dia. Sungguh kau beruntung !"
„Ja. betul," djawab mertua Si Kabajan dengan suara didalam mulut, „aku beruntung."
„Ajo, Idjem ! Ambilkan sarungku ! Memangnja aku mesti mati kedinginan ?”
Djakarta, Oktober 1959.