Publisher Note
Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Kompas edisi No. 003 Th. 40 pada 30 Juni 2004.
Digitizer Note
This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.
All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.
The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.
DERING-dering SMS pada handphone saya dari beberapa sahabat setelah kekalahan pasukan sepakk bola superpower Perancis melawan Yunani sudah bisa diduga. Dari seorang sahabat, saya mendapatkan pesan berikut, “Comment ça va Les Bleus? Ou allez vous? Le ciel est couvert, mon Zizou. Mais je ne sais pas pourquis”. Artinya kira-kira, apa yang terjadi dengan “Les Bleus?” ke mana kamu? Mendukung bergayut di langit, oh, Zizou-ku. Tetapi saya tidak tahu mengapa.
SMS sahabat tersebut masih lagi berlanjut, “What a real tragedy for European soccer! Like doomsday with the appearance of the Greece’ gods and goddesses. I’m crying Daniel—while my boyfriend in Paris keeps sending me ‘il fait du brouillard’. Oh… I’m really sad”. (Sungguh suatu tragedi bagi sepak bola Eropa! Seperti kiamat dengan turunnya dewa-dewi Yunani. Saya menangis—sementara sahabat Perancis saya terus mengirim pesan ini: kabut menyelimuti Bumi. Saya sungguh sedih.)
Saya menjawab SMS tersebut sebagai berikut, “Zizou est fini! New style of football, speed and power combined with neo-total football. That explains the Greek victory”. (Zizou sudah habis. Ini bukan tragedi, bukan pula kiamat. Sepak bola jenis baru, kecepatan dan kekuatan bergabung dengan neo-total football. Inilah yang menjelaskan kemenangan Yunani.)
Namun, ini semua lebih menjadi pencerminan debat “ahli analisis” sepak bola versi SMS yang sudah menjadi suatu dunia tertutup bagi dirinya. Setiap handphone adalah surat kabar, televisi, radio, dan sumber informasi sendiri. Semua menjadi wartawan, semua pembaca, dan semua komentator. Saya bahkan tidak tahu apakah benar istilah neo-total football, dan para pembaca pun tidak perlu percaya pada istilah ini—lebih baik kita serahkan kepada para ahli sepak bola.
Namun, argumen yang ada di dalam kepala saya, total football pada dasarnya adalah revolusi sepak bola tahun 1970-an dengan konsep menyerang bersepuluh dan bertahan bersebelas, pemain sayap kiri dan kanan bertukar tempat, baik air mengalir dalam paduan dahsyat menjadi kekuatan tak tertahankan. Belanda memamerkan itu hampir-hampir tanpa cela pada tahun 1974. Namun, apa yang dipertontonkan Yunani sangat berbeda, hanya satu-dua orang yang menyerang, sedangkan bersepuluh mereka bertahan.
“Deposuit potentes de sede”
Namun, bukan itu soal yang mau dibicarakan di sini. Pertanyaan sesungguhnya adalah apa yang terjadi dengan semua peristiwa di Portugal, selain airmata yang bertumpahan. Hampir semua pasukan adidaya dalam sepak bola tersungkur dan tersingkir sekaligus. Dan tidak tanggung-tanggung: Inggris, Jerman, Spanyol, Italia, dan terakhir Perancis. Fantastik! Deposuit potentes de sede, kaum adidaya diturunkan dari takhtanya. Yang tersisa seperti dikatakan sahabat saya di atas adalah pasukan sepak bola Eropa pinggiran.
Sebenarnya, kalau mau sedikit aja berpaling ke belahan, gejalanya sudah tampak bukan semata-mata pada kejuaraan Euro, tetapi sudah sejak Piala UEFA, ketika klub-klub besar bertumbangan. Manchester United dipermalukan di kandang sendiri oleh Porto, Chelsea dibuat tak berdaya oleh Monaco, dan yang maju ke final adalah dua klub yang dilanda kesulitan keuangan dan berada di ambang kebangkrutan—tanpa turun tangannya raja Monaco yang mengundang para investor menanam modalnya dan menyelamatkan AS Monaco, mungkin AS Monaco tidak mampu bertahan sebagai klub.
Yang lebih mengenaskan adalah Real Madrid yang dipermalukan oleh Monaco. Semuanya semakin mengharu biru akal lagi sebab klub yang karena kehebatannya itu digelari sebagai klub angkasa luar, Los Galacticos, dipermalukan oleh bintang Monaco yang bernama Morientes, yang tidak lain adalah orang yang tak mendapatkan tempat di klub aslinya Real Madrid itu dan lantas dipinjamkan ke Monaco.
“Exaltavit humiles”
Kemenangan dan kekalahan itu mengundang bermacam-macam kesan dalam diri setiap orang, siapa pun yang mengamati sepak bola, bukan semata-mata sebagai olah tubuh, tetapi sebagai pentas kesenian di panggung dunia. Tidak ada yang berani mengatakan bahwa Ceko adalah negara kemarin sore dalam dunia sepak bola.
Namun, ketika seseorang melihat pelatihnya, Karel Bruckner, maka beberapa hal berikut menarik perhatian. Sejak lama dia bukan pelatih nasional di Ceko sendiri karena dia adalah seorang pelatih klub kecil lokal, di daerah, di provinsi.
Dia dipanggil karena semua pelatih dengan nama besar gagal membawa klub Ceko ke tingkat yang lebih tinggi di dunia. Gagal di Euro 1996, gagal di Piala Dunia 2002. Akan tetapi, apa yang dihormati dalam diri Bruckner adalah keprofesionalannya. Hanya Bruckner, orang tua itu, yang dihormati oleh para pemain Ceko yang digelari sebagai “Klekih-Petra”, yaitu “guru kepala”, mengacu kepada ketua suku Apache dalam buku Karl May Winnetou Gugur. Sebagai “guru kepala”, dia menerapkan prinsip kerja keras, persiapan matang, tanpa kompromi, pemusatan pikiran, dan tidur jam 11 malam, bukan berkeluyuran. Pelatih Porto bukan seorang pemain kawakan, dia hanya seorang pemain lokal dan tidak pernah memperkuat klub nasional negaranya, Portugal.
Lima negara adidaya sepak bola sepanjang tahun mempertontonkan bisnis sepak bola, menjualbelikan pemain dengan harga fantastik. Menggaji para pelatih dengan jumlah yang mengalahkan setiap presiden republik negara mana pun, termasuk Amerika Serikat. Eriksson digaji 10 juta poundsterling setahun, sedangkan Karel Bruckner digaji 70.000 poundsterling setahun. Hal itulah yang menyebabkan Pelatih Kroasia sebelum bermain dengan Inggris sesumbar, dia akan membuktikan bahwa Inggris menggaji Eriksson terlalu tinggi. Dia gagal, memang. Namun, akhirnya Portugal yang membuktikan bahwa Inggris menggaji Eriksson terlalu tinggi untuk pencapaian yang tidak sepadan.
Kalau negara adidaya melambung-lambungkan sepak bola dalam gelimang harta dan kemewahan, negara-negara pinggiran menggelar olahraga sepak bola dalam arti yang idilik, asli, sederhana, yaitu menciptakan gol sebagai hasil gabungan paling dasar dalam atletik: meloncat tinggi, berlari cepat, dan beradu kuat. Dengan itu, mereka naik ke tingkat atas dalam dunia persepakbolaan, exaltavit humiles.
Maradona pernah mengejek Beckham bahwa parasnya terlalu cantik untuk menjadi pemain sepak bola yang hebat. Maradona mungkin benar. Namun, Maradona lupa bahwa Beckham bukan saja pemain sepak bola, tetapi juga ikon bisnis dan seks sekaligus, lambang kekuatan yang dieksploitasi dengan cermat oleh pihak iklan sebuah merek minyak pelumas. Dalam iklan, bola yang ditendang Beckham menerjang penjaga gawang, dan dua-duanya, bola dan penjaga gawang, digusur ke angkasa. Dalam iklan, Beckham menunjukkan sumber kekuatannya, yaitu minyak pelumas yang dikeluarkan dari dalam jantungnya.
Ilusi kekuatan ditantang langsung di Portugal ketika Beckham harus gagal mengeksekusi tembakan penalti, bukan hanya sekali, tetapi dua kali. Pertama, tembakannya ditepis penjaga gawang Perancis. Kedua, tembakan Beckham jauh melenceng menembus langit ketika bola sedikit pun tidak menyentuh tiang-tiang, apalagi jala gawang Portugal.
Etos dasar olahraga
Yang kita saksikan di sini adalah pertarungan para pahlawan lokal, idilik dengan etos olahraga asli dan sederhana dengan determinasi tinggi melawan suatu kekuatan besar; negara adidaya yang bergelimang kemewahan dan kemasyhuran. Pemain dan pelatih negara adidaya mempertontonkan kemewahan. Para pelatih negara pinggiran masuk sebagai para rahib—tengok wajah Karel Bruckner! Padahal, setiap atlet tidak lain dari seorang rahib dalam etos dan determinasi. Memang pada mulanya setiap rahib adalah seorang olahragawan. Bisnis besar olahraga negara adidaya bola mengabaikan paham ini.