Baca EPUB: Seorang Penyair Indonesia di Paris

6 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. Table of Contents
  2. Table of Contents
WING KARDJO
Seorang Penyair Indonesia di Paris
Kacabenggala Editions

Publisher Note

Dilahirkan di Garut, 23 April 1937. Pernah mengajar di beberapa SMA di Ciamis dan Jakarta (1959), kemudian di Seskoad dan Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran, Bandung (1960), serta di Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (1970). Pernah pula mengajar sebagai Visiting Professor di Tokyo University of Foreign Studies, Jepang, selama enam tahun (1984-1990), yang kemudian terus dilanjutkan di Tenri University, Jepang hingga saat tulisan ini dibuat (tahun 1992).

Sepanjang kurun waktu itu ia juga pernah mendapat beasiswa dan tinggal di Perancis, guna memperdalam pengetahuannya di bidang bahasa dan sastra negeri itu. Meskipun dalam waktu yang tidak terlalu berurutan, ia telah menetap di Perancis dan menghabiskan masa hingga sembilan tahun di sana (1963-1968 dan 1977-1981). Di negeri itu pula ia memperoleh gelar Doktornya.

Karya-karyanya cukup banyak dan beragam, antara lain berupa puisi, esai, hasil wawancara, dan artikel-artikel lainnya tentang sastra dan budaya; yang dimuat di berbagai media massa seperti Siasat, Budaya, Jaya, Nieuwsgier, Archipel, dan lain-lain. Sedangkan karyanya yang lain yang pernah diterbitkan sebagai buku, antara lain Sajak-sajak Modern Perancis dalam Dua Bahasa (puisi terjemahan, 1972), Selembar Daun (1974), Perumahan (1975), dan Pangeran Kecil (terjemahan karya Saint-Exupéry, Le Petit Prince, 1981).

Digitizer Note

This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.

All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.

The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.

Belajar di Perancis, suatu kebetulan? Tentu saja tidak. Sesuatu yang dicita-citakan, tetapi kebetulan juga terlaksana. Belajar barangkali hanya prétexte saja untuk bisa hidup di Perancis. Terutama di Paris sebagai pusat kebudayaan, dan juga karena kesusastraan Perancis yang menonjol dengan penulis-penulisnya yang terkenal. Atau barangkali karena kakak saya berlangganan majalah Siasat, yang lampiran “Gelanggang”-nya sering terbaca tulisan-tulisan tentang sastra Perancis. Waktu itu saya masih di SMP. Kemudian waktu di SMA Katolik, Garut, mulai mengirimkan cerita-cerita pendek dan sajak. Dan ada beberapa yang dimuat. Kebetulan pula bahasa Perancis diajarkan di sekolah oleh seorang pastur berkebangsaan Belanda, Pastur Bosman. Hasil ujian SMA untuk bahasa Perancis ini cukup baik, nilainya 8. Ayah saya bercita-cita mempunyai anak yang jadi seorang ahli hukum. Kebetulan juga untuk mata pelajaran Tata Negara, Tata Hukum dan Kewarganegaraan, nilainya sama baiknya dengan Bahasa Perancis. Tetapi saya merasa, pada waktu itu, panggilan hidup saya menjadi pengarang. Saya tidak merasa perlu jadi sarjana. Yang perlu ialah mengakrabi sastra, dan itu bisa saya lakukan di antaranya kalau saya bisa membaca dalam bahasa Perancis, tetapi juga perlu punya pekerjaan tetap, karena menulis saja tidak menjamin bisa hidup. Sebab itulah saya menulis surat panjang pada ayah saya untuk mengurungkan niat jadi sarjana hukum dan masuk saja Kursus B-1 Bahasa Perancis di Jakarta, supaya nanti setidak-tidaknya bisa mengajar Bahasa Perancis di SMA sambil terus mengarang.

Apa hendak dikata, selama menjadi mahasiswa justru sajak-sajak saya tidak ada yang dimuat lagi. Masa kering ini berlangsung lama. Yang menangani ruang kebudayaan di Siasat bukan lagi Asrul Sani, melainkan Ramadhan K.H. Saya pernah diperkenalkan padanya oleh Ajip Rosidi tetapi hal itu tidak mengubah nasib saya…Majalah-majalah yang dipimpin H.B. Jassin juga tidak mau memuatkan karya-karya saya. Hanya ada dua buah sajak yang dimuatkan oleh Goenawan Mohammad dalam Gelora (yang tidak pernah saya terima nomor buktinya). Cinta saya pada sastra Perancis terus tumbuh karena mulai membaca buku-buku Perancis dalam teks aslinya. Yang menambahkan gairah ialah seorang berkebangsaan Belanda lagi, yaitu Jan Hoornweg—redaktur Nieuwsgier—yang suka memberikan hadiah buku-buku sastra Perancis, di antaranya Les Fleurs du Mal-nya Baudelaire, yang diambilkannya dari Perpustakaan “Sticusa”…Lagipula ia suka memutar antara lain lagu-lagu Georges Brassens, Patachou, Juliette Gréco dan teks-teks Rousseau, Camus, dan lain-lainnya di kelas. Mulai membaca Stendhal, Camus, dan mengikuti perbincangan tentang Eksistensialisme. Centre Culturel yang di Jalan Panarukan juga membuka mata. Sedang Sitor dengan sajak-sajak dan cerpennya yang bersuasana Perancis, yang bertebaran dalam majalah-majalah sudah lama mengundang gairah. Pernah pula menonton “Pintu Tertutup” (Huis Clos) yang disutradarai Asrul Sani dengan pemain-pemain Sukarno M. Noor, Tatiek Maliyati dan Henny Purwonegoro.

Ada juga seorang dosen Perancis yang lucu karena sewaktu marah di kelas, kami disuruh menulis dan membuat dialogue imaginaire antara “saya” dan “seorang Pramugari”; dan harus mengatakan “saya” belajar bahasa Perancis agar “saya” pandai bercakap-cakap dengan “pramugari Perancis” yang cantik itu” dalam Bahasa Perancis. Baru tahu kemudian, setelah saya tinggal di Perancis, bahwa lelucon-lelucon kami, orang Melayu, tidak selalu cocok dengan selera mereka. Demikian juga cara berkelakar mereka suka menyinggung kami! Mereka juga suka punya prasangka, idée fixe, dan suka gosip.

Ada lagi Mme AM Waworuntu (kami menyebutnya “Madame”, bukan “Ibu”, walaupun beliau wanita Indonesia pertama yang pernah jadi Walikota di Manado), terkenal sebagai dosen galak, selalu berkain kebaya dengan rapihnya, dan menuntut prononciation yang baik dari murid-muridnya. Putranya Fritz Kandou suka juga menulis artikel-artikel sastra Perancis di Siasat. Sangat mengherankan ketika ia hadir dalam ujian praktek mengajar, saya bisa mendapatkan nilai 9. Menimbulkan ilusi!

Tahun 1959, setelah tiga tahun kuliah, saya lulus ujian dan mulai mengajar di SMA Kanisius, tetapi ternyata tidak berhenti di sana. Saya masuk lagi ke Fakultas Sastra UI, barangkali untuk menambah “gengsi”, juga barangkali karena banyak ceweknya. Tetapi hanya masuk saja, sebab waktu diplonco, ada orang yang memukul kepala saya sampai pingsan, dan kemudian terpaksa dirawat di rumah sakit untuk menerima electroshock…

Setelah sembuh (apa betul tidak ada bekasnya?) saya tidak meneruskan kuliah, tetapi pindah ke sebuah kota kabupaten, Ciamis di Priangan Timur, mengajar di SMA Negeri. Lalu setahun kemudian lamaran saya untuk menjadi Asisten dosen di UNPAD diterima, sambil ikut kuliah.

Pada akhir tahun 1962, karena mendapatkan beasiswa, saya naik kapal “Australia” mengarungi lautan, mendarat di Genoa, dan meneruskan perjalanan sampai ke Paris dengan kereta api. Perjalanan ini jauh lebih menyenangkan daripada menumpang pesawat terbang, apalagi waktu menyusuri pantai selatan Italia…

Saya tiba di Paris pada tanggal 13 Januari 1963. Buku pertama yang saya beli di kios stasiun ialah kumpulan sajak Apollinaire…

Saya tinggal di 12, rue Gay Lussac, di Hotel Henri IV, (sekarang sudah bukan hotel lagi) tidak jauh dari Jardin du Luxembourg, tempat yang nyaman untuk duduk menikmati hangat matahari dan membaca koran…Rupanya Paul Valéry pernah beberapa tahun tinggal di hotel itu. Kuliah pun tidak jauh dari sana, masih di Quartier Latin di gedung Sorbonne yang di rue des Écoles itu. Kuliah-kuliah berjalan biasa saja. Seperti mahasiswa-mahasiswa lain yang mendapat beasiswa sebelumnya, saya kuliah di Institut des Professeurs de Français à l’Étranger untuk memperdalam bahasa Perancis. Hanya saja ada tambahannya dari yang lain, saya kemudian mengambil juga Diplôme de Littérature Française Contemporaine. Di kuliah-kuliah bahasa saya jarang ikut Tatabahasa, Grammaire, karena kurang suka. Yang saya sukai tentu saja kuliah mengarang, Composition. Apalagi karena sering dipuji oleh Madame Cheval. Resminya saya baru tingkat 2 di Fakultas Sastra UNPAD, tapi saya bisa sekelas dengan anak tingkat 5 dari UI. Saya kemudian dipindahkan ke kelas yang pakai ABCD, bukan lagi tingkat 123…dst. Yang lulus ujian masuk Cours de Littérature Française Contemporaine juga hanya saya, yang dari UI hanya diperkenankan sebagai pendengar saja. Saya tahu anak UI itu pandai, tapi pernahkah ia merenungkan Fonction de la littérature dans la vie, yang menjadi subjek ujian? Satu bukti bahwa subjek dissertation seperti itu sebenarnya subjek yang biasa-biasa saja untuk mahasiswa Perancis, bahkan untuk siswa-siswa sekolah menengah tingkat atas. Siswa-siswa sudah akrab dengan kesusastraan mereka. Bukan saja hasil sastra dan penghayatannya, tetapi juga mempelajari masalah-masalah yang berkaitan dengan penciptaan, fungsi seni pada umumnya dalam kehidupan. Mereka juga belajar Esthétique. Culture littéraire mereka sangat tinggi. Bukan hanya mereka yang memilih disiplin humaniora, melainkan juga yang berkecimpung dalam disiplin eksakta. Sebagai seorang penyair (walaupun sajak-sajak saya masih saya pendam) tentu saja masih percaya bahwa sastra mempunyai tempat yang tinggi dan terhormat dalam masyarakat dan mempunyai misi dalam kehidupan ini. Tentu saja pandangan ini sangat subjektif karena waktu itu saya ingin menjadi pengarang. Barangkali walaupun diungkapkan dalam bahasa yang kaku, karangan saya intensif dan memancarkan semangat…

Jadi begitulah, barangkali kerja saya hanya membaca, nonton bioskop (kebetulan Cinémathèque jaman itu letaknya dekat tempat tinggal saya di rue d’Ulm). Dari masa itulah saya mulai mengenal juga film-film Jepang, karya-karya Ozu, Kurosawa dan Mizoguchi. Saya amat menyukai film Antonioni, Pasolini, Fellini dan Godard. Juga kadang-kadang pergi ke teater, museum dan konser. Yang paling anteng ialah masuk kedai kopi, ngobrol. Yang menyeret saya ke sana seorang gadis Italia, Michela Caruso, teman kuliah sastra. (Tahun 1988 saya melihatnya di Roma, di teater “Spazio Uno”, one-woman show dalam sebuah lakon Raymond Queneau, “Journal de Sally Mara” versi Italia). Seringlah saya ikut berbincang-bincang dengan suatu grup artis (atau bakal artis) yang suka berkumpul di kedai kopi Buci. Pergaulan saya tentu saja lebih banyak dengan orang asing daripada dengan orang Perancis sendiri.

Tahun 1964 beasiswa saya habis, tapi saya memutuskan untuk tetap tinggal di Paris, belajar sambil kerja sampingan. Berat juga. Pernah jadi tukang membersihkan kaca, jaga malam hotel, tukang edit film amatir di Kodak, jadi figuran dalam sebuah film Serge Bourguignon yang dibintangi Brigitte Bardot dan Laurent Terzieff, “À cœur joie”, di bagian administrasi La Quinzaine Littéraire, yang pemimpin redaksinya Maurice Nadeau. Saya dan seorang teman, Patrice Jorland, telah menerjemahkan sekitar selusin sajak Indonesia. Dan Maurice Nadeau sudah membacanya dan menjanjikan akan memuatkannya dalam Les Lettres Nouvelles. Tetapi lama sekali belum dimuatkannya juga walaupun saya sudah mendapatkan uang panjarnya, sampai suatu hari, karena saya sudah merencanakan pulang ke Indonesia, saya menanyakannya lagi, jawabannya harap tunggu, saya membanting pintu waktu keluar dari kamarnya. Saya tahu bahwa saya sudah menutup pintu selama-lamanya…Ada juga saya menyumbang artikel-artikel tentang sastra Indonesia untuk Encyclopédie Larousse. (Tahun 1980 waktu saya tinggal lagi di Paris, redaktur sastranya Jacques Demougin masih mengenal saya dan memberi saya buku-buku sebagai hadiah). Untunglah ada asrama mahasiswa yang murah, masih juga di Quartier Latin, “Groupe d’Accueil des Étudiants” yang direktrisnya baik sekali, Mlle Françoise Reille-Soult, cucu salah seorang marsekalnya Napoléon. Yang mengesankan di asrama ini sering diselenggarakan makan malam yang diikuti dengan ceramah dan debat tentang kebudayaan dengan mengundang orang luar. Di sinilah saya mempunyai kesempatan berkenalan dengan orang Perancis, tidak seperti di ruang kuliah yang hanya dihadiri oleh orang-orang asing dari berbagai bangsa. Sering pula kami pergi menonton teater, yang juga diikuti dengan makan-makan dan debat. Pernah Jean-Marie Domenach, direktur majalah Esprit memberi ceramah tentang bukunya Le Retour du Tragique yang waktu itu baru terbit.

Pada masa itulah saya banyak menulis sajak. Sedang kuliah hanya “Cours de Travaux Universitaires/Préparation de thèse” saja. Latihan menulis.

Dalam periode itu pula saya pernah dua kali mengikuti “Le Mois de l’Amitié”, yang diselenggarakan oleh “Les Amis de la République Française” sekali di Montargis, Perancis, dan sekali di El Jadida, Maroko. Kami, dari sekian bangsa berkumpul selama sebulan, berwisata, membuat—exposé—tentang negara masing-masing, mendengarkan ceramah-ceramah para tenaga ahli Perancis yang pernah bekerja di Dunia ke tiga, antara lain René Dumont…Sangat mengesankan perjalanan di Maroko itu. Eksotis walaupun buat kami yang bukan orang Barat! Apalagi disambut dengan baik dan dimanjakan oleh panitia penyambut negara itu! Pertama kali melintasi gurun pasir (Atlas), tidur di oasis, menyaksikan tari perut, melihat El Koutoubia, Meknes, Marrakech dan Casablanca. Sedang tempat yang saya sukai di Perancis, ialah le Midi, pantai selatan Perancis, masih ingat mengunjungi museum keramik Picasso di Antibes, gereja Matisse di Vence, berjalan-jalan di Cannes, di tepi pantai…

Tahun 1966 (?) di Paris ada juga Konferensi PP se-Eropa. Saya bertemu Syumanjaya. Situasi tanah air dari kejauhan masih belum jelas. Ingat-ingat lupa, apa orang masih mendukung Sukarno lewat Suharto? Dan saya mulai mengirimkan sajak-sajak ke majalah Horison. Akhirnya beberapa terpampang memenuhi dua halaman tengah. Sejak itu saya merasa diakui sebagai penyair (?), ada kesan seolah-olah bermukim di luar negeri merupakan suatu nilai tambah bagi pengesahannya.

Tanggal 13 Januari 1968, saya pulang ke Indonesia (mampir dulu ke Roma dan di rumah Bachtiar Effendi ketemu Mochtar Lubis). Sayang tidak menyaksikan Revolusi Mahasiswa 1968, yang menjatuhkan De Gaulle itu! (Harus saya katakan bahwa mengikuti kehidupan politik di sana, membaca koran, menonton televisi, menyaksikan “meeting”, menumbuhkan perasaan keterlibatan sosial. Tahulah kita siapa yang kita sukai dan kita benci. Seolah-olah perasaan keadilan kita juga ikut dimainkan, misalnya waktu “l’affaire Ben Barka”. Apakah ini semua dimungkinkan karena kehidupan demokrasi yang matang?)

Tahun 1977-1981 saya tinggal lagi di Paris, ikut kuliah di École des Hautes Études en Sciences Sociales. Saya ikut kuliah Prof. Denys Lombard, yang juga Directeur de thèse saya (yang berkenan menjadi sponsor saya setelah membaca dan memuji skripsi sarjana saya “Les problèmes pratiques de la traduction poétique” yang merupakan kritik terhadap antologi yang saya susun sendiri Anthologie bilingue de la Poésie française moderne atau yang judul Indonesianya Sajak-sajak Perancis Modern dalam Dua Bahasa.∗ Selain itu juga kuliah Sociologie de la Littérature oleh Jacques Leenhardt. Ada beberapa kali juga ikut kuliah Tzvetan Todorov tentang “La Poétique de Rimbaud”. Tetapi saya merasa bahwa Paris bukan Paris yang dulu, waktu pertama kali saya datang.

Sementara itu dewa-dewa sudah berganti: Sartre yang pikun, yang terakhir sudah mengakui bahwa ia hanya ikut-ikutan mode eksistensialisme (walau Simone de Beauvoir jadi berang!), dan lalu Levi-Strauss, Lacan, Michel Foucault, Barthes dan terakhir Derrida yang naik pentas.

Saya tinggal di Maison de Cuba, Cité Universitaire. Hidup lebih teratur. Tetapi saya merasa pengetahuan saya tidak banyak bertambah. Perhatian saya tercabik: antara ingin mempelajari metode penelitian yang ilmiah, mengikuti teori-teori yang baru dan keharusan menyelesaikan disertasi secepat-cepatnya. Tentu bukan kesalahan dosen, hal itu lebih disebabkan karena saya sendiri kurang siap, pengetahuan saya tentang dunia Nusantara kurang luas, kurang érudit karena kurang mengikuti studi wilayah Indonesia yang ditulis, terutama oleh kaum orientalis. Saya belum tua, tetapi kegairahan pertama mulai pudar. Kesenangan saya waktu itu hanya membaca koran, nonton film dan jalan-jalan ke toko buku. Di jaman itulah saya banyak berhutang budi pada teman-teman, misalnya Françoise Cayrac, Jacques Leclerc, Benny Hoed, Ramadhan K.H., Monique Zaini untuk rasa persahabatan mereka, dan terutama pada Henri Chambert-Loir dan Eliane, Gilbert Hamonic, serta Andy Thor yang banyak membantu saya. Juga utang budi yang paling besar dan tidak mungkin terbayar ialah pada Prof. Dr. Denys Lombard. Tesis saya, yang berjudul “Sitor Situmorang: La vie et l’œuvre d’un Poète Indonésien” akhirnya rampung. Sebuah karya gotong-royong, karena ternyata bahasa Perancis saya masih jauh dari memadai, secara gramatikal bisa jadi betul, tetapi tidak secara idiomatik. Memang menguasai bahasa Perancis ini sukar, dan menjadi masalah. Ada orang Indonesia yang menulis disertasinya dalam bahasa Indonesia, dan orang Perancis yang menerjemahkannya (gratis).

Saya pikir kalau saya diberi kesempatan hidup sekali lagi, saya tidak mau lagi kuliah dicangkok-cangkok begitu, tapi langsung masuk universitas, seperti orang Perancis, mulai dari tingkat I (Propédeutique) setelah mampu menguasai bahasa Perancis!

Saya akhirnya jadi seorang doktor (Docteur de Spécialité en Études Extrême-Orientales) keluaran Université Paris 7, tetapi patutkah saya menyandang gelar itu? Sesungguhnya saya terlalu dilettante, tidak memiliki ketekunan seorang peneliti untuk menyebut diri ilmuwan. Ilmuwan sejati Indonesia yang terakhir ialah Hoesein Djajadiningrat, kata ‘un ami français’. Setelah itu kualitasnya menurun…karena tidak mempunyai disiplin berpikir, barangkali kebebasan berpikir juga…Teman itu masih merasa bangga dengan mengatakan, “Setidak-tidaknya di sini masih ada kebebasan.” Dan tentu saya tahu bahwa kebebasan itu semestinya diperoleh melalui perjuangan.

Lewat tulisan ini pula saya ingin meminta maaf bahwa saya tidak berhasil menjadi jembatan yang baik, yang bisa menghubungkan dua dunia, Perancis dan Indonesia. “Un rendez-vous manqué, quoi!” Dan buat saya sendiri, “une vie gâchée..?”

Sudah takdir barangkali, akhirnya saya terdampar di Jepang, dan diberi kepercayaan untuk mengajar bahasa dan sastra Indonesia di sini. Barangkali ada manfaatnya untuk pengembangan bahasa Indonesia. Saya masih bisa menghibur diri karena masih bisa menonton film-film yang ada Isabelle Adjani, Gérard Depardieu dan Philippe Noiret-nya, berbelanja buku dan CD Perancis. Di sini ada “Printemps” dan “Maxim’s”, “Antenne 2”, bahkan bisa mendengarkan “Le Pont Mirabeau”, “Hymne à l’Amour” dan banyak lagu lagi dari dalam bahasa Jepang, misalnya.

Demikianlah ada seorang penyair yang meninggalkan jejaknya berupa beberapa sajak yang tentu bicara lebih jelas tentang hidupnya di Paris. Dan sampai sekarang pun masih tetap merindukan kota itu walaupun ia tidak lebih dari un mal aimé.

JARDIN DE LUXEMBOURG†

Apakah hanya sunyi
pagi ini, antara hidup
dan kembang-kembang kuncup
jauh di dasar benua
terlupa
alam akar-akar musim
terkubur dingin
Apakah hanya sunyi saja pagi ini
antara matahari dan salju putih
hutan berteriak
silau dari tepi ke tepi
Antara mimpi
dan otak yang rusak
hanya sunyi saja berteriak

PLACE DANTON‡

(Tg. Priok)

1

Waktu kapal angkat sauh
tak pernah kupikirkan
wajahmu
bisa jauh
matahari senja
membelai riak-riak ombak
penuh cinta
waktu kapal angkat sauh
tak pernah kubayangkan
kemerdekaan
makin jauh
matahari turun
mengantar bayang-bayang
tahun gelandangan

2

Waktu kapal angkat sauh
tak pernah kubayangkan
kemerdekaan
makin jauh
jangan menangis
jika nasibnya tak keruan
ini juga tertulis
dalam kasih sayangnya padamu
hijau selalu daun
karena hujan turun
dan matahari tersenyum
tak pernah kupikirkan
meninggalkan
kesayangan

PLACE ST MICHEL

Kepada M.C.

Diam dalam café tanpa berbuat apa-apa
Selain memandang orang ngomong
orang bercumbu
menulis sajak-sajak kosong dan alpa
dari segala duka dan sengsara manusia
— ada di mana pun di dunia, perang
pagi, petang, malam
tak henti-henti
ada yang berjuang tak jemu-jemu
memperbaiki nasib, menegakkan pribadi…
Sering hanya inilah dunia kutahu
pekarangan tanpa matahari
tanpa derita dahsyat
tanpa apa-apa pula
yang bisa bikin dengki
iri hati ataupun syak khianat
— kuterima bagianku bagai seorang bijak
puas dengan kata-kata, bagianku
yang paling banyak
tanpa meminta
pun tanpa bertindak
bagai budak
Musim dingin menghembus dari utara
menghembus lagi dengan tusukan derita
menjelajahi bumi dengan berita yang fana
menyalakan lilin nurani yang sunyi
melimpahkan semangat
buat bertanya-tanya kembali
bukan hanya dalam hatiku
tetapi hatimu yang sejati.

KEPADA PELUKIS SALIM (2)

Kadang-kadang bertanya kapan mesti pulang
jika jerit begitu sakit menggigit sumsum dan tulang
jika hidup seolah perahu di tengah gelombang
dan luka, tikaman datang berulang-ulang
Ingin menulis dan melukis dengan tenang
tapi apa? sunyi meraja di sekeliling
hampa, segala jadinya tak penting
warna kata pucat dan bisu, terbuang
Kadang-kadang bertanya
kapan menulis dan melukis
bila mimpi lebur dalam kata dan warna asing
Masih kita letakkan baris-baris
dan garis, makin lama makin kecil diri
dihimpit dinding!

CAFÉ DE FLORE

1

Mestinya kita jumpa lagi setiap petang
mestinya ketemu di bawah bintang
kita datang dan kita pulang
dengan keindahan kenang
Kita datang dan kita pulang
kita selalu cinta lagu-lagu yang garang
sebab cognac yang kuteguk waktu kau pergi
tak menghalau kau yang selama ini membayang
Mari kita jelajahi bumi, daging
tulang dan mimpi yang jalang
mari kita bercinta
dengan kepenuhan indria
sebab hidup hanya sehari
lalu terbang

2

Mestinya mengerti, sebab sajak-sajak
yang kutulis bukan permainan kata
tapi darah yang membusa dalamnya bersinggasana
seperti di wajahmu kecantikan bertakhta
Jangan sia-siakan harapan penyair
ia selalu setia sebab hatinya yang cair
deras dan jernih bagai airmancur
jujur dan lepas dari dusta
walaupun dalam dukana
lampu membujur, berjajar-jajar
Kita ketemu lagi besok dan lusa
cinta tak terbatas pada kata-kata
walau dunia dalam gerhana
benua kita selalu mandi cahaya

AKHIR TAHUN§

(Hotel Henri IV)

Apakah kaudapatkan
di sini? Matahari sepi
dan kita bergegas
masuk kuliah
Di kamar
beratus buku bertebaran
tak keruan. Dan kau membaca
dan membaca
hingga topan
memusingkan gambaran
kebenaran. Kaulemparkan
segala beban di jalan
Semesta menemukan dirinya
dalam wajah lelah perempuan

PERTANYAAN

Baris-baris sajak yang kutuliskan
ialah gema dari segala cinta padamu
kata-kata yang mengalir
dari sayap penyair
Garis kepercayaan yang kami peluk
ialah kemerdekaan yang tak kenal takluk
senantiasa siap membendung bencana
menyelamatkan jembatan kencana
baris-baris kehormatan
yang kami jaga
ialah keutuhan harga manusia
di mana dusta
dan mulut neraka
tak punya hak menyebut-nyebut surga

MENARA

(Les Chimères de Notre-Dame)

Dari puncak menara kulihat kota terbuka
kala langit mendera mega, kata-kata pahit
jadi ludah dusta, tiap makna berputar
seperti kepala ular memuntahkan bisa
Di puncak menara kulihat kota
dengan khayal, mata gila
binatang serakah
borok hidup yang parah
Dalam gemuruh suara hanya
keluh jiwa yang rapuh
sungai membelah kota
sarat bangkai kata-kata
Ke puncak menara
tidak sampai lagi Kata

SALJU

Ke manakah pergi
mencari matahari
ketika salju turun
pohon kehilangan daun
Ke manakah jalan
mencari lindungan
ketika tubuh kuyup
dan pintu tertutup
Ke manakah lari
mencari api
ketika bara hati
padam tak berarti
Ke manakah pergi
selain mencuci diri

PONT DES ARTS

Selalu ada anak-anak muda mengguriskan kapur-kapur berwarna di jembatan ini. Pengembara tahu dari mana—bertemu di sini di sungai Seine, melukiskan rindunya dengan rambut-rambut gondrong, kalung dan pakaian kumal—mengharapkan dari pelancong pengisi perutnya kosong.

Mereka melukiskan harapannya lewat motif-motif dari Picasso, Rouault, Modigliani dan lain-lainnya—seniman abadi dan tenar. Dan orang-orang lewat memandang sebentar, melemparkan kepingan uang untuk keisengan ini. Heran dan kagum akan kegilaan mereka.

Para pelukis begini terus melanjutkan mimpinya dalam kenyataan, di mana saja. Barangkali berkat potongan-potongan kapur itu mereka bakal menemukan dirinya lewat karya-karya para pendahulunya. Dikenalnya dari awal bahwa hidup tidak mudah, apalagi kalau seniman.

Jembatan ini, seperti juga yang lain-lainnya, menghubungkan pinggir sini ke tepi sana. Barangkali sekali bisalah mengantarkan dunia jasmani ke arah pembebasan rohani…


∗Suatu kenangan tersendiri, waktu diadakan pesta terbitnya buku itu oleh pihak Kedutaan Besar Perancis, dan duta besarnya sambil mengangkat gelas menyampaikan pesan “selamat” dari Presiden Georges Pompidou (yang juga sebelum jadi Presiden pernah menyusun sebuah antologi sajak-sajak Perancis).


†Dibuat setelah pulang dari Perancis


‡Tidak ada Place Danton, yang ada hanya Carrefour de l’Odéon. Realitas sastra bukan realitas dunia nyata.


§Sajak ini dibuat sebelum saya pergi ke Paris. Nama hotel dibubuhkan kemudian.