Baca EPUB: Selintas Kenangan

2 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. Table of Contents
  2. Table of Contents
CHALID ARIFIN
Selintas Kenangan
Kacabenggala Editions

Publisher Note

Lahir di Payakumbuh, Sumatra Barat, pada tanggal 6 Mei 1928, Chalid Arifin adalah salah seorang perintis perfilman Indonesia. Setelah menempuh pendidikan hukum di URI Jakarta (1949) dan pendidikan Seni Rupa di Bandung (1950-1952), dia hijrah ke Prancis dari tahun 1954 hingga 1958 untuk kuliah di IDHEC (Institut des Hautes Etudes Cinématographiques). Dia mulia bekerja sebagai dekorator film di bawah sutradara terkenal Prancis H. Decoin, di dalam film: “Pourqoui viens-tu si tard?”. Sepulang di Indonesia dia bekerja dengan sutradara ternama Asrul Sani di dalam film “Pagar Berkawat Berduri” (1961-1962), “Kantala Takwa” (1990), “Oeroeg”, “Kembang Bumi”, serta sejumlah film iklan. Dia juga aktif sebagai pengajar di bidang sinematografi, terutama di IKJ-LPKJ, dan pernah menjabat sebagai anggota Senat Institut Kesenian Jakarta (1982-1985 dan 1986) dan anggota Komite Seleksi Festival Film Indonesia (1987).

Digitizer Note

This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.

All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.

The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.

Perhatian saya terhadap Prancis mulai pada zaman pendudukan Jepang ketika saya belajar menggambar dan melukis. Seni lukis waktu itu, entah mengapa, selalu dikaitkan dengan Prancis, khususnya kota Paris.

Pelukis Sudjojono, kepada siapa saya bersama lima belasan orang lain berguru, bercerita tentang sebuah pameran seni lukis modern Prancis yang diadakan di Jakarta pada tahun tiga puluhan. Ia pandai sekali berbicara dan dengan bersemangat menjelaskan dan mengomentari karya-karya pekukis-pelukis besar Prancis itu. Uraian Pak Djon menimbulkan perasaan kagum saya pada seni lukis Prancis, meski belum pernah melihat aslinya kecuali berupa reproduksi hitam putih dalam beberapa majalah berbahasa Inggris.

Pada waktu itu, saya juga sering menggambar bersama seorang pelukis Jepang. Tamura namanya. Dia mempunyai kebiasaan menulis pada lukisannya, di bawah tanda tangannya, tanggal dalam bahasa Prancis lengkap dengan tahun Masehi dan bukan seperti lazimnya, tarikh Nippon. Pemahamannya tentang bahasa Prancis sebatas itu saja, tetapi ia menganggap kebiasaan itu “gaya” yang “pantas” untuk karya lukis. Mungkin semacam bahasa universal untuk urusan seni, pikir saya. Dari dia pula saya mendapat sebuah buku tentang aliran seni lukis impressionis Prancis yang tidak saja membuka cakrawala baru, tetapi juga membuat saya ingin tahu lebih banyak lagi tentang pelukis-pelukisnya. Nama-nama seperti Cézanne, Degas, Toulouse-Lautrec, Monet, Renoir, dll. menjadi akrab. Bagi kami yang ingin menjadi pelukis itu, Prancis, yang dianggap pusat kesenian dunia, mempunyai daya tarik yang istimewa. Ingin rasanya mengenal dan melihatnya dari dekat. Namun itu hal yang mustahil. Maklum ini zaman Jepang. Karena itu diimpikan saja.

Tetapi ketika sepuluh tahun kemudian saya mendapat beasiswa dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan untuk pergi ke Prancis, tepatnya Paris, ternyata tidak untuk memperdalam seni lukis, melainkan untuk mengikuti pendidikan sinematografi. Saya memang memilih Paris karena IDHEC (Institut Des Hautes Etudes Cinématographiques) disebut pada waktu itu sebagai sekolah perfilman yang terbaik di Eropa. Dan tentu juga karena inilah suatu kesempatan yang baik untuk mewujudkan mimpi lama.

Kini beasiswa diberikan hanya untuk program Pascasarjana. Di awal tahun lima puluhan, seorang tamatan SMA mudah saja memperolehnya. Banyak hal belum terencana dan terarah seperti sekarang. Bidang studi dan negeri tujuan sepenuhnya diserahkan kepada siswa bersangkutan. Mengurusnya juga sendiri-sendiri. Mudah dimengerti bahwa karena alasan bahasa, kebanyakan siswa memilih Negeri Belanda. Informasi mengenai sekolah yang dituju di luar negeri—kecuali barangkali negeri Belanda—biasanya baru diperoleh kalau sudah di tempat. Seperti dikatakan seorang pejabat Departemen Pendidikan dan Kebudayaan waktu itu, “yang penting adalah berangkat dulu, kemudian urus di sana”. Jadi persiapan yang dilakukan hanya seperlunya saja.

Demikianlah, dengan penuh optimisme (kemudian ternyata lebih banyak berupa nekad), pada musim panas tahun 1954 saya sampai di Paris, kota impian. Tetapi kesempatan menikmati wujud nyata mimpi lama itu harus ditunda dulu.

Sejak awal berurusan dengan IDHEC saya sudah menghadapi bermacam kesulitan. IDHEC ternyata sebuah sekolah “avanceé”, yaitu maju. Artinya untuk dapat diterima di berbagai jurusannya, dituntut sejumlah pengetahuan atau pendidikan/kualifikasi keahlian tertentu. Untuk jurusan yang saya pilih, yaitu Architecture-Décoration diperlukan pengetahuan setaraf dengan tingkat dua jurusan arsitektur pada Ecole Nationale des Beaux-Arts atau tahun ketiga pada Ecole Supérieure des Arts Décoratifs. Sedangkan untuk dapat diterima di kedua sekolah tersebut diperlukan baccalauréat lengkap, yaitu ijazah SLTA Prancis. Ijazah Indonesia tidak diakui. Keterangan bahwa saya pernah dua tahun bersekolah di jurusan seni rupa di Bandung dan berpengalaman kerja dua tahun sebagai penata artistif di Perfini dengan menunjukkan gambar-gambar rencana dari film terakhir yang saya ikuti, dianggap tidak memenuhi standar yang berlaku di Prancis. Begitulah kalau kita bersekolah di negeri orang tanpa mengetahui sistem pendidikannya. Saya ditolak. Sampai di sinikah “pengalaman Prancis” saya?

Tidak juga. IDHEC memberi saya kesempatan khusus. Kemampuan saya diuji. Menggambar, saya lulus dengan baik, tetapi arsitektur… kandas total. Saya disuruh membuat gambar arsitektural dari sebuah cheminée gaya raja Louis XV. Boro-boro menggambarnya, kata cheminée saja harus saya cari dulu artinya di dalam kamus yang selalu saya bawa (tadinya saya mengira artinya cerobong asap). Apa lagi gaya Louis XV! Saya tidak ingat lagi apa yang saya gambar. Sebab, memang dasar nekad, ada juga yang saya coret-coret pada kertas. Sungguh tolol. Sudah jelas saya ditolak dan dianjurkan belajar arsitektur dan seni dekoratif. Maka ditunjuklah sekolah yang malam hari menyelenggarakan kursus guna persiapan ujian masuk pendidikan kesenian. Tetapi entah mengapa, pelajaran arsitektur tidak ada, malah diganti dengan menggambar bentuk. Maka kembali saya berhadapan dengan replika gips dari patung-patung Yunani, sama dengan yang pada zaman Jepang dan di Bandung sudah berkali-kali saya gambar. Sungguh membosankan. Untung ada juga kursus menggambar model yang lebih mengasyikkan dan mata pelajaran seperti dekoratif. Dan desain busana juga sangat menarik. Ketika tahun berikutnya untuk kedua kali saya menghadapi ujian masuk di IDHEC, menggambar saya lulus dengan baik, namun arsitektur gagal lagi. Berarti, tidak diterima di IDHEC. Gawat! sebab menurut peraturan, beasiswa dihentikan dan saya harus pulang. Tetapi KBRI cukup luwes. Melalui surat bernada himbauan kepada IDHEC yang disusun dengan bagus sekali oleh saudara Aki Djoehana, dijelaskan a.l. kesulitan saya dalam mendapatkan pengetahuan arsitektur seperti yang diisyaratkan oleh IDHEC. Tanggapan IDHEC ternyata sangat simpatik. Mereka mengakui bahwa saya sejak awal memang salah diurusi, mal dirigé, kata M. Hugues Laurent, ketua jurusan Architecture-Décoration. Ringkasnya, ia sendiri menangani soal pelajaran arsitektur. Banyak sekali tugas menggambar arsitektur yang harus saya lakukan dalam setahun itu. Di samping itu, meski tetap belum berstatus siswa IDHEC, saya harus mengikuti sejumlah mata kuliah tingkat satu. Termasuk menghadiri paling sedikit dua kali seminggu penayangan film atau ceramah dari sutradara atau tokoh perfilman. Saya sangat beruntung dengan pengaturan ini dan tidak menyiakan kesempatan tersebut. Memang, hal itu berarti saya baru pulang setelah jam enam sore—kalau tidak disambung dengan acara lain. Tetapi, untuk pertama kali sejak mendapat beasiswa, saya merasa melakukan sesuatu dengan terarah dan terukur. Tidak lagi sekadar nekad seperti selama ini. Hasilnya pun tidak mengecewakan. Pada tahun pelajaran baru, saya langsung diterima sebagai siswa penuh tanpa harus menempuh ujian masuk.

Pada awal tahun lima puluhan, ada sekitar selusin siswa Indonesia, semuanya di Paris. Di samping ilmu politik dan sastra, mereka menggeluti bidang kesenian seperti musik dan seni lukis. Sedikitnya jumlah siswa yang memilih Prancis mungkin karena kendala bahasa. Kalau saya memilih Prancis tidaklah berarti bahwa saya sudah menguasai bahasanya. Sejak kelas lima sekolah dasar di zaman Belanda, kami sudah mendapat pelajaran bahasa Prancis (Maman coupe le pain, Papa fume une pipe, atau l’ence est dans l’encrier, dan kalimat-kalimat indah lainnya). Tentu saja, pengetahuan bahasa sebatas itu sulit diandalkan untuk menerangkan seluk-beluk seni bangunan gaya Louis XV. Mungkin juga sebabnya ialah pengajarnya “Ibu guru” bahasa Prancis kami, ternyata menjadi pemeran utama dalam revue kolosal yang waktu itu cukup menggemparkan kota Batavia, yaitu De Witte Pauw (Merak Putih). Kalau ia berdiri di depan kelas, perhatian kami bukan pada pelajaran. Tetapi kami—maklum kunyuk-kunyuk berusia belasan tahun—mengkhayalkan bagaimana ia menari-nari dengan kostum minimnya di atas panggung. Jadi pelajaran bahasa Prancis mendapat saingan yang cukup serius. Di tahun-tahun berikutnya, pelajaran bahasa Prancis yang diperoleh di sekolah lanjutan pun tidak menawarkan pemahaman bahasa yang praktis. Sehingga bahasa terpaksa merupakan prioritas utama pada bulan-bulan pertama di Paris. Kursus di Alliance Française selama enam bulan ternyata sangat bermanfaat karena selain berlangsung di dalam bahasa Prancis, siswanya diharuskan berbicara dalam bahasa tersebut. Sekali lagi, semua harus diurus sendiri atas dasar kesadaran dan kebutuhan pribadi, sebab tidak ada orang yang menyuruh maupun peraturan yang mengharuskan apa-apa.

Tahun saya sampai di Prancis adalah tahun jatuhnya Dien Bien Phu, yang disusul dengan menghangatnya suhu politik di Afrika Utara, khususnya di Aljazair. Sebagai pendatang baru yang awam, saya tidak dapat menilai perubahan—yang pasti ada—atau hal-hal lain yang istimewa dalam kehidupan masyarakat Prancis. Lingkungan dan orang-orangnya tetap tampak ramah dan saya tidak mengalami kesulitan berarti untuk menyesuaikan diri. Saya cepat merasa betah, kendati menghadapi bermacam kerepotan yang berkaitan dengan usaha memasuki IDHEC.

Pada tiga hari pertama di Paris, saya menginap di rumah Raymond de Seynes yang saya kenal di kapal Itali yang membawa kami ke Genoa. Raymond berada setahun lebih di Indonesia, sebagian besar di Kalimantan, sebagai anggota dari ekspedisi etnologi Prancis pimpinan Pierre Ivanoff. Ia pernah bersekolah di IDHEC meski tidak tamat. Sebagaimana ia menjanjikan di kapal, malam pertama di Paris dia mengajak saya menonton film di Cinémathèque. Ia tidak sabar lagi melihat film yang baik, katanya. Saya tidak begitu ingat lagi acara malam itu kecuali sebuah film avant-garde dari René Clair, yaitu L’Entr’acte. Itulah film surealis pertama yang saya lihat. Saya sungguh terkesan karena, selama itu aliran tersebut hanya saya ketahui dalam bentuk seni lukisnya. Pelajaran sinematografi ternyata sudah dimulai begitu saya menginjak kaki di kota Paris.

Memang, tinggal dan bersekolah di Paris meninggalkan kesan tertentu. Banyak hal yang terjadi pada tahun-tahun saya tinggal di Paris, yaitu antara 1954-1959. Terusan Suez dinasionalisasi oleh presiden Nasser. Prancis dan Inggris segera bertindak dan membom kota Kairo. Walaupun tidak sampai meletus perang yang sungguh-sungguh, tercipta suasana prihatin yang membuat sementara warga Paris mulai menimbun makanan yang tahan lama seperti roti kering. Gula pasir pun menghilang dari toko-toko. Ada pula orang Prancis yang mengira bahwa pemerintah mereka memusuhi Swedia gara-gara negeri itu mencaplok ’le Canal de Suède yang adalah milik Prancis! Ada juga perang pembebasan Aljazair yang meminta banyak korban dan baru berkesudahan dengan kembalinya Jendral De Gaulle di tampuk kekuasaan serta tamatnya Republik ke-4. Namun yang terutama mengesankan bukan peristiwa-peristiwa seperti gejolak politik, sosial atau budaya, yang bagaimanapun juga dapat dipelajari sesudah menjadi sejarah. Tetapi justru hal yang sehari-hari, yang biasa saja seperti wajah-wajah manusia, sebuah tempat atau sudut jalan tertentu. Entah mengapa, hal-hal demikianlah yang tetap terbayang di depan mata, lepas-lepas berdiri sendiri tanpa urutan.

Carrefour de l’Odéon, di mana saya tinggal, cukup menyenangkan. Saya menyukai bagian kota ini dan karena itu saya tidak pernah ganti alamat. Saya cepat betah di Paris a.l. karena quartier ini juga. Bangunanya umumnya tua-tua dan tak jarang menyimpan sejarah menarik. Menyusuri jalan-jalan di daerah ini sungguh menyenangkan. Rue de Seine dengan puluhan galeries seni rupanya. Boulevard St. Michel dengan café-cafénya, toko-toko buku di mana kita dapat membaca buku-buku bekas sepuas-puasnya (tanpa harus membelinya). Dan tentu saja manusianya yang berlalu lalang, ada yang santai bercanda, ada pula yang bergegas mengejar pertemuan, kuliah atau jadwal lainnya. Sebagian terbesar adalah mahasiswa. Teater La Huchette yang dapat menampung hanya 70 penonton, tetapi setiap malam penuh karena repertoirnya yang menarik seperti karya-karya Ionesco, Tardieu, Lorca, dll. Dari yang terakhir ini, Yerma dimainkan selama dua tahun lebih, setiap malam. Sungguh menakjubkan. Ada juga bioskop kecil, Champollicon, dapat menampung ratusan orang dengan harga karcis 100 Franc (lama). Saking sempitnya ruangan, proyektor ditempatkan di atas layar, meyorot ke dinding belakang penonton di mana sebuah cermin besar memantulkan gambar kembali ke layar. Sederhana sekali, namun film yang diputar semua film lama dan bagus. Jadi kesempatan baik untuk melihat film-film klasik yang tidak diputar lagi di bioskop biasa. Lalu ada taman Luxembourg di mana tua muda datang menikmati suasana nyaman, riang, dan ceria. Pada hari minggu tertentu, sebuah orkestra besar mempergelarkan konser sehingga suasana menjadi seperti pesta saja. Tentu masih banyak tempat atau sudut jalan di quartier ini yang menarik. Seperti misalnya, Carrefour de l’Odéon di mana bermuara beberapa jalan sebelum sampai ke Boulevard St. Germain. Di tempat ini terdapat beragam toko atau tempat untuk bermacam keperluan. Ada sebuah bank, tempat cuci pakaian (Au Renouveau namanya), bioskop, toko alat foto, beberapa café, sebuah club malam dengan musik flamenco, sebuah crèmerie, sebuah restoran mahal namun dengan hidangan lezat: La Choppe Danton, sebuah boutique amat kecil yang menjual jarum, benang, pita, kancing, dan lain keperluan jahit-menjahit. Wanita tua yang menjaga tempat itu kurus, kecil dan selalu berpakaian hitam, sehingga wajahnya dengan rambut putih serta kedua tangannya sangat mencolok. Ia duduk diam saja di tengah warna-warni gulungan pita, benang, kancing, sabar menunggu pembeli yang tidak kunjung datang. Ada Café Monaco, yang entah mengapa pengunjungnya hanya orang Amerika yang berjam-jam nongkrong di sana main bridge, catur, atau membaca The Herald Tribune. Richard Wright, pengarang kulit hitam Amerika yang tinggal tidak jauh dari sana, juga seorang pengunjung tetap Café Monaco ini.

Dengan jarak waktu empat puluh tahun, pemandangan-pemandangan sekilas demikianlah yang terlintas di depan mata. Barangkali itulah yang membuat saya menyukai Paris. Dan barangkali mimpi-mimpi lama tentang kota Paris sebagian telah terpenuhi juga. Tentu saja pergaulan dengan teman-teman, baik Prancis maupun Indonesia telah ikut mewarnai kesan-kesan ini. Bersama merekalah saya mengalami dan berbagi suka dan duka selama tinggal di Paris. Saya berterima kasih kepada mereka semua. Sebagian dari mereka kini sudah tiada: Emir, Sujudi, Hoai Tjiang, Kwan Poen, Widari, Ratna, Harjati, dan Mochtar Apin. Mereka akan selalu menjadi bagian yang utuh dari kenangan saya tentang Paris.