Publisher Note (KATA PENGANTAR)
Dalam buku ini jang berisi duapuluh buah tjeritera, dapat dibatja bermatjam-matjam djenis tjeritera jang menarik untuk anak² kita dari Sekolah Rakjat. Tiap² tjeritera ada mengandung peladjaran untuk mereka. Digambarkan disitu apakah akibatnja djikalau anak tidak menurut perkataan orang tua jang memberi peringatan, djikalau orang berbuat dosa seperti mentjuri dan lain-lain.
Djuga dimuat pertjakapan² dari binatang² dan barang² biasa jang mentjeriterakan pendapat mereka terhadap hidupnja masing², seperti terdjadi antara manusia. Tidak dilupakan djuga tjeritera² jang bermutu kepahlawanan jang baik dibatja dan diinsjafi oleh anak² kita. Perhatikanlah perkataan guru dalam salah satu dari tjeritera² itu, jang mengutjapkan dihadapan murid²nja : „Anak² jang sematjam engkaulah jang boleh disebut pahlawan, djarang benar orang jang berani berkorban membela ibunja".
Buku ini adalah diuntukkan bagi anak² kita dari Sekolah Rakjat baik sebagai buku batjaan dikelas maupun sebagai buku perpustakaan.
Mudah²an buku ini mendapat sambutan jang sehangat²nja dari chalajak terlebih dari anak² kita sebagai kami idamkan semula.
Penerbit.
Digitizer Note
This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.
All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.
The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.
I. AIR PAHIT.
„Bongkok! Nek Bongkok! Hai, apa kerdjamu nek Bongkok? Hi, hi, hi ... . !" — demikian terdengar riuh suara anak² mengedjek dan memper-olok²kan nek Bongkok. Mereka mengintip dari tjelah² dinding sebuah rumah jang sudah tua sekali. Karena tuanja, kelihatan rumah itu sudah miring letaknja serta genteng dan kaju²nja sudah banjak jang djatuh berlepasan.
Kemudian muntjullah dari pintu rumah itu seorang nenek² jang berambut putih tipis hampir gundul. Rambut itu disanggulkan dikepalanja sebesar telur burung dara, la menengok kekiri dan kekanan mentjari dari mana datangnja suara anak² itu. Mukanja tampak kusut ber-kerut². Matanja tjekung mendjorok kedalam. Mulutnja ketjil dan terbenam diatas dagunja jang meruntjing. Bibirnja ketjut-kaku seperti belum pernah tersenjum seumur hidupnja. Nenek ini dipanggil nek Bongkok, karena punggungnja bungkuk.
„Kok! Bongkok! Hai, nek Bongkok, mau kemana? Hi, hi, hi . . . . !" — demikian suara anak² terdengar lagi sangat riuhnja. Mereka sudah biasa memper-olok²kan nenek jang buruk itu. Dengan lintjahnja mereka ter-tawa², me-nari² dan men-djerit², djika si nenek tua itu kebetulan liwat ber-djalan² kepasar. Mereka mengharap agar si nenek itu marah lalu mengedjar dan memukulnja. Tetapi sajang, selama itu belum pernah mereka dikedjarnja atau dipukulnja. Si nenek buruk itu tidak pernah marah. Djangankan marah, mengedjar dan memukul, menolehpun ia tidak, ia berdjalan selalu melihat kebawah seperti ada sesuatu jang sedang dipikirkannja. Mukanja selalu mendung bersedih.
„Nek! Nek Bongkok, tjoba kedjar saja ....!" — teriak seorang anak.
„Kok! Nek Bongkok, tjoba pukul saja ....!"- djerit anak² lainnja.
Sekali ini si nenek buruk ini menoleh. Ia berdjalan menudju mereka. Maka larilah anak² itu berhamburan kian kemari sambil tertawa men-djerit² karena senangnja.
„Hai, djangan lari anak²ku! Mari, mari sini dekat²!" — kata si nenek tua itu.
„Bohong! Dia mau mukul kita ... !" — teriak anak² itu sambil melompat-lompat.
„Tidak! Tjobalah sini dekat nenek. Nenek bukan orang djahat...." — sambungnja.
Anak² itu mulai berhenti dan ber-bisik². Mereka berdjalan mendekati si nenek tua.
„Nenek punja sebuah tjeritera! Marilah kumpul disini" — adjak si nenek lagi.
Seorang demi seorang, anak² itu datang dan duduk mengelilingi nek Bongkok dengan mata penasaran ingin tahu.
„Adalah seorang anak gadis jang manis sekali . . . . " — demikian si nenek itu memulai tjeriteranja. „Namanja . . . . ja, gadis itu namanja si Elok, karena memang rupanja amat elok. Ibunja seorang pembikin dan pendjual obat²an kampung jang sangat mandjur. Hampir semua penduduk di-kampung² sekitarnja datang kepadanja guna meminta obat² untuk menjembuhkan segala matjam penjakit. Bukan sadja penjakit jang mengenai penjakit lahir, djuga penjakit batin, ia sanggup mengobatinja. Misalnja penjakit sombong, pemalu, tjurang duka-tjita dan lain² sebangsanja.
Sedjak ketjil, gadis itu hidup diantara ramuan obat² jang terbuat dari akar² dan rerumputan. Obat² itu berupa minuman jang dimasukkan kedalam botol² gelas, dimana botol² jang ber-puluh² djumlahnja itu diletakkan berbaris dalam sebuah kamar obat²an. Gadis itu beladjar tiap hari, bagaimana tjara ibunja membuat obat² itu dan apa nama obat² itu.
Demikianlah, hari demi hari, kepandaian ibunja itu berpindah kepadanja. Segala nama obat²an dan ramuannja sudah hafal diluar kepala. Pada botol² jang berisi matjam² minuman ia sudah tahu semuanja. Tetapi.... diantara sekian banjaknja botol² minuman, ada satu! Ja, ada satu botol jang selalu dirahasiakan oleh ibunja. Botol itu paling besar dan letaknja terpisah dari botol² lainnja. Isinja air bening jang berwarna biru-halus. Djika ibunja membuat obat untuk para pengundjung, air jang ke-biru²an ini selalu ditjampurkan kepada obat² itu beberapa tetes, menurut bagaimana banjaknja obat jang dibuat. Ber-kali² si Elok menanjakan kepada ibunja, air apakah jang selalu dibuat tjampuran obat² itu? Akan tetapi ibunja selalu mendjawab: „Engkau masih ketjil. Belum wak-tunja mengetahui nama dan gunanja air itu. Apalagi mentjitjipinja. Nanti djika adjalku sudah dekat, dan engkau sudah mendjadi gadis dewasa, tentu akan kutjeritakan semuanja, apa namanja dan bagaimana membuatnja."
O, alangkah ketjewanja gadis itu. Hatinja penasaran, mengapa tak diberi tahu sekarang djuga? Kadang² djika ibunja sedang asjik dikebun mengumpulkan akar² dan rerumputan, diam² ia masuk kedalam kamar dan menghampiri botol jang besar itu. Tetapi selalu datang rasa takut, lalu disabarkannja hatinja. „Ah, tak baik membantah nasihat ibu" — bisiknja.
Setelah ber-tahun² mereka hidup sebagai pembikin dan pendjual obat², maka tiba² ibunja djatuh sakit. Si Elok mentjoba hendak mengobati ibunja, tapi selalu ditolaknja. Ja, ibunja tak mau diobati.
Pada suatu hari, datanglah seorang tamu, meminta obat kepada si Elok. Karena ibunja tak dapat bangun, maka di suruhnja si Elok mentjampur sendiri obat² jang harus diberikan kepada tamunja itu.
„Air apakah namanja jang ke-biru²an itu, bu?" — demikian ia bertanja sekali lagi kepada ibunja.
„Barangkali sudah waktunja aku mengatakan nama air itu" — sahut ibunja. „Dengarkan: air ini namanja: air kepahitan hidup. Atau supaja mudah, kausebut sadja air pahit. Segala obat²an untuk manusia, tidak akan sempurna djika tidak ditjampur dengan air kepahitan hidup. Djadi semua manusia diharuskan mendapat dan mentjitjipi air pahit ini. Tetapi kau harus ingat, bahwa air ini tidak boleh terminum banjak², atau tidak boleh terminum lebih dari semestinja. Aku tak 'kan mentjeritakan, bagaimana akibatnja djika kita kebanjakan minum air ini. Dan engkau sekarang sudah besar, tentu mengerti sendiri, apa arti semuanja. Ingatlah, djangan sekali² kau mentjitjipinja ...."
Dengan perasaan jang aneh dan hati penasaran, si Elok mendengarkan tjerita ibunja. la belum puas. Dalam hatinja ia ingin sekali mentjitjipi, bagaimana rasanja air kepahitan hidup itu. Pahitkah ... ?
„Untuk siapa obat jang diminta tamu itu?" — tanja ibunja kemudian.
„Untuk seorang kakek, bu!" — djawabnja.
„Nah, sekarang siapkanlah olehmu sendiri. Ambillah air pahit ini dan teteskanlah kedalam ramuan obat jang sudah disediakan itu! Ja, djangan terlalu banjak, karena seorang kakek², sudah tjukup kenjang meminum air pahit selama hidupnja. Djika seorang kakek², masih djuga minum air pahit banjak², ini berarti akan mempertjepat hari matinja. Ja, sedikit sadja! Siapa tahu, ia sudah ber-botol² minum air kepahitan hidup .... "
Setelah selesai obat itu diberikan kepada tamunja, maka tidurlah ibunja.
„Heee, ibuku telah tidur" — bisiknja.
Dengan diam², ia masuk kedalam kamar obat²an. Diambilnja botol jang besar itu dan .... hati² sekali ditjitjipinja air jang ada didalamnja itu setetes. „O, alangkah enaknja!" — bisiknja. „Aku tak mengerti, mengapa disebutnja air pahit?" — katanja sambil ditjitjipinja lagi setetes. Memang benar, sekarang ada terasa pahitnja. Tapi pahit ini bertjampur dengan rasa manis, asam, asin dan gurih! Ja, tak ubahnja dengan aneka ragam kehidupan manusia jang bertjampur-baur dengan rasa: senang, sedih, gembira, kasih, bentji dan sajang-menjajangi....
„Ooo, betapa enaknja!" — bisiknja pula sambil meneteskan lagi beberapa tetes dilidahnja. Sukar ia membandingkannja dengan rasa minuman jang pernah ia tjitjipi selama hidupnja.
Karena enaknja, maka ditambahnja lagi setetes. Lalu setetes lagi! O, sekarang tidak pahit lagi, malah terasa asin dan asam. Ditambahnja pula setetes. Ah, sekarang berubah rasanja mendjadi manis dan gurih! Ja, ditambah dan ditambahnja pula terus-menerus, sehingga tak dapat lagi ia melepaskan botol itu sampai kering se-kering²nja. la telah lupa kepada ibunja. Dan .... makin lama mulutnja terasa makin panas seperti dibakar api.
Ketika ia berdiri dan berdjalan menudju ketempat ibunja, maka bangunlah ibunja tersentak seperti ada apa² jang menggigitnja.
„O, anakku! Anakku jang malang!" — demikian keluh ibunja setelah melihat anaknja. Air matanja tampak berlinang². „Engkau telah membantahi nasihat ibu, anakku! Dan sekarang tak ada lagi obat untuk mengembalikan engkau seperti sediakala. Adjalku hampir sampai, dan tinggallah engkau dalam keadaan seburuk ini. Engkau terlalu banjak minum air kepahitan hidup .... "
Dengan perasaan aneh, si Elok berdjalan kekamar menudju tjermin.
„Djangan! O, djangan melihat tjermin, hai anakku!" — djerit ibunja sambil menjusupkan mukanja kebawah bantal. Tapi si Elok terus sadja berdjalan menudju tjermin. Dan ....
Ja, Tuhanl Didalam tjermin itu tampaklah sebuah bajangan jang mengerikan, la gemetar! „Inikah aku ....?" — bisiknja.
Rambut gadis itu telah berubah warna mendjadi putih tipis dan rontok berdjatuhan. Pipinja jang tadinja elok bertjahaja, sekarang berubah mendjadi kusut dan penuh kerut² hitam. Giginja satu² djatuh berlepasan. Mulutnja jang merah seperti mawar itu, kini mendjadi ketjut-kaku. Lehernja kurus memandjang seperti galah, sedang punggungnja mendjadi bungkuk. O, ia telah mendjadi seorang nenek² jang buruk sekali. Dari matanja jang tjekung mendjorok itu, bertjutjuran air mata. Ah, inilah akibat air kepahitan hidup . . . . !
Maka menangislah ia ter-sedu² karena amat sedihnja. Hari demi hari, ia menangis meratapi nasibnja, sehingga rupanja makin lama makin buruk.
„Demikianlah tjeritera si air pahit" — kata nek Bongkok kemudian menjudahi tjeriteranja. „Dan hingga kini, gadis itu masih ada, sedang rupanja tetap buruk karena tak menurut nasihat ibunja. la kebanjakan minum air kepahitan hidup . . . . "
„Dimana gadis itu sekarang, nek?" — tanja anak² itu serentak.
„Gadis itu sekarang sedang bertjeritera dan ada dihadapan kamu sekalian. Akulah gadis jang dulu bernama si Elok. Dan akulah jang paling lama hidup dikampung ini dan paling banjak menderita kepahitan hidup" — demikianlah nek Bongkok menghabisi tjeriteranja.
Anak² jang sedang berkumpul itu terdiam semua. Mereka memperhatikan muka si nenek buruk itu. Mengapa nenek tua jang banjak menderita ini harus diper-olok²kan dan diedjek?
Maka timbullah rasa kasihan dan penjesalan dalam hati masing². Untuk memperbaiki kesalahan jang telah mereka perbuat, sedjak hari itu selalu mereka mengerumuni rumah nek Bongkok. Kadang² dibawanja oleh² dan penganan.
„Biarlah, aku sadja jang menjapu halamanmu, nek!" — kata si Umi.
„Nenek tak usah menimba air, aku sadjalah jang mengambilkan!" — sambung si Djodi.
II. TJERITERA BUAH MANGGA.
Adalah sebatang pohon mangga. Pada pohon mangga itu tergantung sebutir buah mangga jang sudah masak. Tak ada lagi buah pohon mangga itu jang lain. Buahnja hanja sebutir itu sadja.
Didekat pohon mangga itu terdapat 4 matjam binatang, jaitu:
Siput darat,
ulat hidjau sebesar ibu djari,
kumbang hitam jang sudah patah sajapnja dan seekor anak kura².
| Siput: | „Alangkah laparnja aku. Dari pagi aku belum makan apa². Ah, belum pernah aku selapar ini. Lihatlah, sampai gemetar rumah jang ada di-punggungku" |
| Ulat: | „Kalau begitu, sama dengan aku. Akupun lapar benar, hingga tubuhku lemas rasanja. Tapi dari manakah kita akan mendapat makanan?" |
| Kumbang: | „Ja, sama benar perasaanmu dengan perasaanku. Perutku seperti diaduk rasanja, karena lapar! Ah, djika sekiranja aku menemukan makanan . . . . " |
| Kura²: | „Hai, lihatlah! Tjoba lihatlah, kawan². Apakah jang kuning bergantung dipohon itu? Tidakkah itu makanan untuk kita bersama?" |
| Siput: | „Adjaib! Adjaib sekali. Inilah anugerah Tuhanl" |
| Ulat: | „Kita mendapat untung! Ja, untung jang tak di-sangka²!" |
| Kumbang: | „Bukan main untungnja. Luar biasa!" |
| Siput: | „Tahukah kalian, apa jang harus kita lakukan? Kita pandjat pohon ini ber-sama² dan kita makan buah mangga itu." |
| Kura : | „Keuntungan itu untuk kita bersama, kawan2. Aku djuga sangat lapar, tetapi aku tak dapat memandjat dan mengambil mangga itu. Bagaimana djika kalian djatuhkan sedikit kebawah untukku?" |
| Siput: | „Apa?" |
| Ulat: | „Tjis!" |
| Kumbang: | „Begitukah pikiranmu?" |
| Kura2: | „Ja, tentu sadja, kawan. Karena akupun menderita lapar. Dan bukankah aku jang mula2 melihat mangga itu? Djadi akupun berhak memakannja." |
| Siput: | „Bagaimana?" |
| Ulat: | „Ja, bagaimana?" |
| Kumbang: | „Haruskah kita memberinja?" |
| Siput: | „Djangan!" |
| Ulat: | „Djangan!" |
| Kumbang: | „Ja, djangan! Siapa jang ingin mendapat makanan, harus mengambilnja sendiri!" |
| Ulat: | Ja, tentu sadja!" |
| Kumbang: | „Aku akan merajap keatas." |
| Ulat: | „Ja, aku ikut dengan kamu!" |
| Siput: | „Tentu! Tentu! Mengambil sendiri!" |
| Siput: | „Ja, aku djuga." |
| Kumbang: | „Mari, kawan. Maaaaadju djaaaa .... lan!" |
Sruk, sruk sruk . . . . ! Lihatlah kumbang berdjalan.
Hssj, hssj, hssj .... I Lihatlah ulat merajap.
Tjek, tjek, tjek . . . . ! Dengarlah siput bersuara.
Semua berdjalan, se-akan² ber-lumba² menudju dahan mangga jang tertinggi.
Dan .... lihatlah anak kura² jang menundjukkan buah mangga tadi.
la termenung dibawah pohon seorang diri. Alangkah sedih hatinja!
Kumbang tjepat merajap.
Ulat segera menjusul.
Dan siput djauh tertinggal dibelakang.
| Kumbang: | „Hai, ulat, tjoba dengarkan!" |
| Ulat: | „Apa?" |
| Kumbang: | „Mari kita tjepat² berdjalan. Lebih tjepat dari ini. Nanti kita berdua jang lebih dahulu tiba kepada buah mangga itu. Dan kita makan ber-sama2 sampai habis. Lutju benar nanti. Bung Siput akan mendapati bidjinja sadja tergantung!" |
| Ulat: | „Ja, lutju! Lutju!" |
| Siput: | „Hai, kawan². Tunggulah. Aku tak dapat ber- |
| djalan setjepat kalian . . . . " | |
| Ulat: | „Menunggu?" |
| Kumbang: | „Ja, tentu sadja. Kita akan menunggu sambil berdjalan. Kita tak akan menghabiskan mangga itu. Daging jang termanis tentu kita sediakan untukmu!" |
| Ulat (berbisik): | „Tjis, siput jang tak tahu diri. Dia mau menjamai kita jang dapat tjepat naik keatas!" |
| Kumbang (berbisik): | „Hanja bidjinja jang akan dia dapati. Selainnja buat kita . . . . " |
Ditjeritakan pula, bahwa terbanglah seekor lebah diantara dahan² pohon itu. Lebah itu sangat bagus tampaknja. Bukan rupanja sadja jang bagus, tetapi hatinjapun sangat bagus. Artinja, lebah itu sangat baik hatinja.
Ketika ia terbang diantara dahan² itu, didengarnja pertjakapan keempat binatang itu. Apakah sekarang jang dilakukannja? la terbang dengan tjepatnja keatas, keatas sekali!
Melalui mega putih dan menudju langit jang biru. Dibalik mega putih itu, tinggallah radja Angin.
| Lebah: | „Hai, Angin, maukah engkau mendengar perkataanku?" |
| Angin: | „Tentu sadja, Lebah. Sebab, apa jang engkau katakan, selalu tentang kebaikan dan kebenaran." |
| Lebah: | „Tahukah engkau, bahwa didalam hutan jang dibawah kita ini, ada sebatang pohon mangga?" |
| Angin: | „Ja, saja tahu." |
| Lebah: | „Tahukah engkau, bahwa pohon itu hanja berbuah sebutir sadja?" |
| Angin: | „Ja, saja tahu." |
| Lebah: | „Maukah engkau meng-gojang²kan dahan tempat buah mangga itu begantung?" |
| Angin: | „Kalau untuk kebaikan, saja mau." |
| Lebah: | „Usahakanlah, supaja buah itu djatuh kebawah. Kerdjakanlah tjepat!" |
| Angin: |
„Baiklah."
Angin bertiup dengan kentjangnja. Dahan mangga bergojang kekiri dan kekanan. Dan .... bum! Mangga itu djatuh tepat sekali didekat anak kura². Kumbang dan ulat melihat kedjadian jang tiba² itu, gemetar tubuhnja menahan amarah dan sesal. |
| Ulat: | „Heeeee.... " |
| Kumbang: | „Lihatlah . . . . " |
| Ulat: | „Tu, tu . . . . si Kura² bodoh itu memakan buah mangga milik kita. Tak tahu diri!" |
| Kumbang: | „Kura² bodoh! Tak tahu diri! Biarlah, aku pergi dari sini . . . . " |
| Ulat: | „Aku djuga ikut. Tjis, kura² bodoh! Kura² busuk! Kura² palsu . . . . " |
|
Dan siput? la tak tahu apa². Dengan sabar ia terus merajap sampai kedahan. |
|
| Siput: |
„Hai, lihatlah. Mereka palsu dan pendusta! Dimakannja mangga itu sampai habis dengar kulit²nja. Sedikitpun tak ingat ia kepadaku. Ah memang tadi djuga sudah terdjadi hal jang tidak adil. Si Kura² jang mula² melihat mangga itu Kemudian mereka jang mengambilnja. Sebetul-nja patut sekali si Kura² mendapat bagian ...." Siput itu merajap kembali kebawah. Tetapi ... apa jang terdjadi? Apakah jang terletak dibawah pohon itu? |
| Siput: | „Hai, apakah itu? Bidji mangga! Bidji dengan dagingnja sedikit. Oh, rupanja inilah bagianku ...." |
Siput memakan sisa buah mangga itu sampai habis. Kemudian merajaplah ia kedalam semak, la mengerutkan badannja .... klup, pintu rumahnja tertutup, la tidur dengan njenjak.
Dan .... tamatlah tjeritera buah mangga!
III. TIDAK APA-APA BU!
„Mengapa sudah dua hari ini engkau tidak gembira seperti biasa. Kos?" — tanja ibu Engkos kepada anaknja. „Kemarin pagi² engkau tak mau makan, dan sekarangpun hanja sedikit sadja engkau makan. Sakitkah engkau. Kos?"
„Ah, tidak apa², bu" — djawab Engkos.
Sesudah makan petang, ketika Engkos dalam kamarnja sedang beladjar, ajahnja datang kepadanja. „Apa jang terdjadi atas dirimu, Kos?" — tanja ajahnja. „Sakitkah Engkau? Atau dapat hukuman disekolah? Tjoba tjeritakan kepada ajah. Apakah jang menjusahkanmu?"
„Ah, tidak apa², ajah" — djawab Engkos.
Dengan muka jang rusuh pergilah ia ter-gesa² dari kamarnja.
Marah? Mengapa ia marah? Kepada siapa ia marah? Kepada ibu? Kepada ajah?
Tentu tak ada jang tahu, apa sebabnja ia berbuat demikian. Akan tetapi, bila kalian ingin tahu, baiklah kutjeritakan:
Engkos bersahabat dengan Didi. Pada suatu hari Didi mendapat pulpen dari pamannja, karena Didi mendapat angka jang baik untuk berhitung. Sebelum diberi oleh pamannja, sudah ada djuga pulpen Didi, pemberian ajahnja. Djadi pulpen Didi waktu itu dua buah. Engkos ingin benar mendapat pulpen sematjam itu. Dengan diam², diambilnja pulpen itu dari dalam tas Didi, lalu dimasukkannja kedalam tasnja.
Tapi apakah jang terdjadi sesudah itu? Senangkah hati Engkos? O, sekali-kali tidak. Sedjak Engkos mengambil pulpen sahabatnja itu, tak tenteram lagi hatinja. Dimana sadja ia berada, selalu ia di-kedjar² oleh perasaan takut dan menjesal. Sudah dua hari ia tak ingin makan, tak ingin bermain2
dengan adik²nja dan tak ingin lagi bergembira ber-njanji².
Demikianlah, ketika ia ditanja ajahnja, dia tjepat² pergi naik kereta anginnja. Dilarikannja kereta anginnja itu ken-tjang². Apakah jang ditjarinja? Mau kemana ia? la mentjari tempat jang sunji. Sesudah sampai kepada sebuah kolam tempat banjak pohon² jang rindang tumbuh, berhentilah.
„Alangkah sunjinja" — kata Engkos. „Disini aku dapat beristirahat dengan tenteram. Tak 'kan ada orang jang tahu akan kesalahanku. Disini aku seorang diri . .. . "
„Seorang diri ....?" — demikian kata suara jang tiba² berkata dalam hati Engkos. „Pentjuri .... Pentjuri . . . . " — teriak suara itu. „Engkau tidak akan merasa tenteram, sekalipun ditempat jang sunji. Engkau akan tetap takut seperti ditempat jang ramai. Engkau tetap seorang pentjuri ....!"
„Tutup mulutmu!" — bentak Engkos. „Engkau sudah mulai lagi mengedjar-ngedjar aku? Aku kira, aku hanja seorang diri ditempat jang sunji ini."
„Hahahaha .... Engkau tidak akan lepas dari aku! Engkau tidak akan merasa tenteram, selama engkau mendjadi pentjuri. Dibibirmu engkau berkata tidak apa². Akan tetapi, tjis! Engkau mengambil pulpen orang lain dengan diam². Engkau mentjuri!"
„Tetapi Didi dua buah pulpennja. Apa salahnja djika aku, djika aku . . . . "
„Mentjurinja? Katakan sadja terus terang, engkau mentjuri! Tentu Didi dan pak Guru tidak tahu, bahwa engkau jang mentjuri pulpen itu. Akan tetapi, engkau? Engkau sendiri tahu, bahwa engkau mentjuri. Itulah sebabnja, sudah dua hari ini engkau tak enak makan dan tak enak tidur. Disekolah engkau selalu gelisah dan takut. Ibu dan ajahmu sekarang sudah mulai tjuriga akan perbuatanmu."
„Apa? Apa katamu? Ibu tidak akan menjangka bahwa aku seorang pentjuri. Dan sudah aku katakan, bahwa Didi ada dua pulpennja . . . . "
„Tjoba dengarkan, Engkos" — kata suara itu. „Sekarang diumpamakan engkau mempunjai dua pasang sepatu. Bagaimana pikiranmu, djika dengan tiba² sepatumu itu diambil sepasang oleh orang lain? Senangkah hatimu? Segala apa jang engkau miliki, engkau ingin memilikinja, sekalipun engkau mempunjai ber-puluh² pasang sepatu. Sebab itu, tak 'kan ada jang membenarkan akan perbuatanmu itu. Sekarang tjobalah engkau berterus-terang, Engkos! Kembalikanlah pulpen Didi!"
„Aku tak berani! Tak berani!" — kata Engkos dengan kesal.
„Ajahmu sadja jang mengembalikannja."
„Ah, djangan! Ajah tak boleh tahu tentang ini."
„Pak Guru! Dan engkau harus berterus-terang kepada pak Guru.
„Pak Guru?"
„Ja, kepada pak Guru" — kata suara itu.
„Baiklah" — kata Engkos per-lahan². „Tapi siapakah engkau? Mengapa setiap hari engkau mengedjar-ngedjar aku, sehingga aku merasa tak tenteram?"
„Aku adalah Kebenaran jang tinggal didada dalam hatimu. Kebenaran jang selalu ingin mengalahkan Kedjahatan. Sekarang aku berbahagia, karena Kedjahatan jang ada dalam dirimu masih dapat aku kalahkan. Ini suatu tanda, bahwa engkau belum mendjadi seorang anak jang djahat. Pergilah lekas², dan kerdjakan, apa jang tadi engkau djandjikan."
Keesokan harinja, sesudah pukul satu, Engkos tidak tjepat² pulang mengikuti kawan²nja. la tinggal seorang diri didalam kelasnja. Sudah mendjadi kebiasaan bagi murid² disekolah Engkos, bahwa djika ada sesuatu hal jang hendak dikata-kannja kepada pak Guru, ia tidak tjepat2 pulang. Pak Guru melihat kepada Engkos, lalu berdjalan mendekatinja.
„Ada apa Engkos?" — tanja pak Guru. „Apa jang hendak engkau katakan?"
„Saja seorang pentjuri, pak!" — djawab Engkos perlahan-lahan. „Dua hari jang lalu, saja ambil pulpen Didi. Tetapi sekarang saja menjesal. Saja tak dapat beladjar dan bekerdja dengan tenteram. Hendak saja kembalikan lagi, saja tak berani, karena saja sangat malu, pak!" — demikian kata Engkos dengan suara gemetar.
Pak Guru tersenjum sambil mengusap-usap punggung Engkos. Lalu berkata: „Engkau bukan pentjuri, Kos. Kalau betul² engkau pentjuri, tentu engkau tidak akan berterus-terang demikian. Mana pulpen itu, Kos? Tjoba berikan ke pada bapak!"
Esoknja, waktu peladjaran budipekerti, pak Guru berkata kepada Didi: „Didi, kemarin Engkos dengan tidak setahu dia telah mendapat pulpenmu didalam tasnja. Sebenarnja ia mau segera mengembalikannja kepadamu, akan tetapi ia takut, kalau² engkau marah dan menjangka Engkos mentjuri. Sebab itu pulpen ini dikembalikannja kepada bapak. Sekarang ambillah pulpen ini!"
„Ah, biarlah pak. Pulpen itu untuk Engkos. Pulpen saja ada dua buah. Buat apa pulpen sebanjak itu?" — djawab Didi.
„Alangkah baiknja, hatimu Didi! Tapi tentu Engkos tidak akan pertjaja dan tidak berani menerima pulpen ini, djika tak ada persetudjuan dari orang tuamu."
„Biar saja beritahukan kepada ajah dan ibu. Nanti sore akan saja bawa Engkos kerumah saja."
Pak Guru tersenjum sambil melihat kepada Engkos. Se-olah² ia berkata: „Ketahuilah, bahwa kedjudjuran itu selalu mendapat kebaikan. Tenteramkah sekarang hatimu?"
Sekembali dari rumah Didi, Engkos berseru kepada ajah dan ibunja: „Lihatlah, apakah jang saja pegang ini, bu? Saja mendapat ini dari Didi dengan persetudjuan ajah-ibunja."
Muka Engkos ber-seri2. Dia makan lagi seperti biasa. Dia tidur lagi dengan njenjaknja. Dia ber-njanji2 dan bermain lagi dengan adik²nja. Tahukah kalian, tulisan apakah jang pertama-tama ditulisnja dengan pulpen itu? Engkos menulis dalam buku tjatatannja: Aku akan tetap djudjur dan berterus-terang.
Tulisan ini dipegangnja teguh. Dan sedjak itu betullah ia berbuat djudjur dan terus-terang.
IV. KALAU MERASA TIDAK PUAS.
Pak Bendul seorang petani, la memelihara lima ekor binatang. Binatang² itu ialah: ajam, bebek, andjing, kutjing dan burung gagak jang sangat djinak.
Pada suatu hari tampaklah binatang² itu duduk berdekatan dihalaman rumah pak Bendul. Entah apa jang sedang mereka rundingkan. Rupa²nja mereka sedang mendapat kesusahan. Mukanja kelihatan seperti sedih dan merasa kurang puas. Mari kita dekati dan mari kita dengarkan apa jang ditjeritakan mereka!
„Tuk, tuk, tuk!" — kata si ajam sambil menggeleng-gelengkan kepalanja. „Aku tidak puas dengan keadaan jang sekarang ini. Apakah keuntunganku mendjadi ajam? Tiap hari aku hanja mengais sadja, men-tjari² makanan ditempat sampah, sedangkan semua telur jang kuletakkan disarangku, selalu diambil dan dihabiskan pak Bendul. Apakah itu suatu kebahagiaan? Ah, djika seandainja sadja aku mendjadi seekor bebek, alangkah berbahagianja aku. Aku dapat berenang dan aku dapat pergi kemana aku suka!"
Dia menggeleng-gelengkan kepalanja lagi dan tampak air matanja ber-linang².
„Kwek, kwek, kwek!" — kata si bebek sambil meng-gojang²kan badannja jang pendek itu. „Alangkah sedihnja mendjadi bebek. Aku hanja dapat berenang sadja. Aku tak dapat berdjalan dengan gagah. Djika aku berdjalan, semua binatang mentertawakan aku. Ah, djika seandainja aku mendjadi andjing, alangkah berbahagianja aku. Aku dapat berdjalan dengan tubuhku jang tegap. Djika pak Bendul pergi kekota, tentu dibawanja aku. Kwek, kwek, kwek! Apakah keuntunganku mendjadi bebek?"
Sambil berkata demikian ia menjusupkan kepalanja kedalam sajapnja. la menarik napas dan mengeluh pandjang sehingga kedengaran ketempat jang djauh.
„Gong, gong, gong!" — kata andjing sambil meng-garuk² kupingnja. „Tidak, aku tak senang hidup begini mendjadi andjing. Tiap hari aku harus pergi kekota mengiringkan pak Bendul. Atau disuruhnja aku melompat dan ber-lari². Tak pernah aku mendapat kesempatan satu djam sadja untuk ber-baring² dan ber-panas² dibawah sinar matahari. Apakah ini suatu keuntungan bagiku? Ah, djika seandainja sadja aku mendjadi kutjing, alangkah berbahagianja aku. Tentu tiap hari aku akan diberi makanan jang sedap² bekas makanan pak Bendul. Apakah keuntunganku mendjadi andjing?"
Sambil berkata demikian, ia me-mukul²kan ekornja ketanah. Dengan hati sedih ia memandang kelangit biru!
„Ngeong, ngeeooong, ngeoooong!" — kata si kutjing sambil menggaruk²kan kukunja ditanah. „Aku tak merasa bahagia dengan hidupku jang sekarang ini. Siang hari, bilamana jang lain terdjaga dan ramai ber-main², aku tertidur seorang diri. Tapi malam hari, bilamana semuanja sedang tidur, aku harus bangun dan harus bekerdja menangkap tikus. Apakah ini suatu kebahagiaan? Ah, djika seandainja sadja aku mendjadi gagak, alangkah berbahagianja aku. Tiap malam aku tak usah menangkap tikus lagi. Aku boleh tidur sesuka hatiku. Sekarang? Apakah keuntunganku mendjadi kutjing?"
la mendjulurkan lidahnja keluar.
„Kaak, kaak, kaaak!" — kata si gagak-djinak sambil mentjatuk-tjatukkan paruhnja. „Apakah kalian sangka aku bahagia mendjadi gagak jang djinak? Tiap hari aku tak pernah mendapat apa² dari pak Bendul. Kerdjaku hanja mentjatuk kesana, mentjatuk kesini, kemudian tidur! Ah, djika seandainja aku mendjadi ajam, alangkah berbahagianja aku. Tentu aku mendjadi binatang jang berguna untuk semua manusia. Dagingku enak dimakan. Telurku dapat dimakan dan dapat dibuat kue²!"
Dia melontjat keatas tonggak kaju. Dikembangkannja sajapnja. Kemudian dipandangnja matahari jang mau terbenam disebelah Barat. Matanja ber-kedip² karena silau.
Tiba² datanglah pak Bendul perlahan-lahan. Dia membawa tongkat kaju jang besar dan pandjang. Rupanja pak Bendul mengetahui apa jang dipertjakapkan mereka. Dengan air muka jang ramah ia menegur: „Selamat siang, sahabat²ku! Apa kabar? Dan engkau ajam? Aku dengar, engkau ingin mendjadi bebek?"
„Ja, tuan" — djawab si ajam.
„Engkau, bebek? Aku dengar, engkau ingin mendjadi andjing?"
„Ja, tuan" — djawab si bebek.
„Engkau, andjing? Engkau ingin mendjadi kutjing?"
„Ja, tuan" — djawab si andjing.
„Engkau, kutjing? Engkau ingin mendjadi gagak jang djinak?"
„Ja, tuan" — djawab si kutjing.
„Dan engkau, gagak? Engkau ingin mendjadi ajam?"
„Ja, tuan" — djawab si gagak.
Kemudian berpikirlah pak Bendul, la berpikir dan terus berpikir! Se-akan² ada suatu soal jang berat untuk dipetjah-kan dalam pikirannja. Tiba² ia berkata: „Ja, aku tahu sekarang. Aku tahu bagaimana akalnja, supaja tjita² kalian dapat tertjapai. Aku mempunjai tongkat adjaib. Dan tongkat adjaib ini, dapat mengganti rupa ajam mendjadi bebek, bebek mendjadi andjing, andjing mendjadi kutjing, kutjing mendjadi
gagak dan gagak mendjadi ajam. Bagaimana? Setudju?"
„Setudju! Tentu setudju!" — teriak binatang² itu. Mereka djadi gembira tampaknja.
„Tunggulah" — kata pak Bendul.
la mengambil sebuah ember besar dari dekat rumahnja. Ember itu dibalikkan menelungkup, dipakai menutup kelima binatang tadi. Sekarang mereka berdiam diri didalam kurungan ember jang gelap. Tubuhnja gemetar. Dadanja berdetik². Pak Bendul mengambil tongkatnja. Dikumpulkannja semua tenaga. Lalu dipukulkannja tongkat itu se-keras²nja dengan segenap kekuatannja: „Dong, dong, dong, dorong-dongdong, dong!"
Kemudian ia berteriak dengan suara jang keras se-keras²-nja:
„Ajam mendjadi bebek!
Bebek mendjadi andjing!
Andjing mendjadi kutjing!
Kutjing mendjadi gagak!
Gagak mendjadi ajam ....!"
Dong, dong, dong, dorongdongdong, dong!"
Sementara itu ia terus memukul lagi embernja dengan segenap tenaga.
„Nah, selesailah sekarang! Tjoba aku lihat, apakah pekerdjaan tongkat adjaib itu memuaskan? Eeeee .... betullah terdjadi!
Memang sekarang aku lihat ada lima matjam binatang: ajam, bebek, andjing, kutjing dan gagak djinak! Apakah kalian lihat kedjadian ini?"
„Tuk, tuk, tuk" — kata si ajam.
„Kwek, kwek, kwek!" — kata si bebek.
„Gong, gong, gong!" — kata si andjing.
Lalu mereka ber-pandang²an. Dan berkatalah mereka serentak:
„Ja, tuan! Kami melihat semua kedjadian ini. Dan kami utjapkan terima kasih!"
Berdjalanlah mereka ber-iring²an.
Pak Bendul pergi kebelakang. Disimpannja kembali ember itu. Kemudian?? O, ia tertawa, dan terus tertawa, sehingga perutnja jang gendut itu ber-guntjang². Dan bilamana ia belum merasa kenjang tertawa pada hari itu, maka esoknja ia masih terus tertawa!
V. DUSTA JANG BAIK.
Gandjil benar kedengarannja, bukan? Kita semua tahu bahwa dusta itu ialah suatu sifat jang buruk. Tetapi mengapa disini kita sebut: dusta jang baik?
Ja, memang kita tak boleh berdusta. Perbuatan ini sangat terlarang. Hanja .... ada kalanja kita terpaksa berdusta djika kita harus melindungi sesuatu jang kita hormati.
Misalnja seperti tjeritera ini:
Mukti seorang anak jang baik hati, la berumur 12 tahun. Ajahnja meninggal waktu ia masih berumur dua tahun. Djadi selama sepuluh tahun ini, ia hidup dengan ibunja sadja berdua. Mereka sangat ber-kasih²an. Perhatian ibunja ditjurahkan semua kepada Mukti. Begitu pula Mukti kepada ibunja. Sering ia berkata: „Kalau aku sudah besar, aku akan bekerdja untuk ibu. Kalau aku mendapat uang, tentu uang itu akan kubelikan kain, kebaja dan selop untuk ibu. Kalau ibu merasa lapar, tentu aku belikan makanan jang lezat. Dan kalau ibu sudah bosan tinggal dirumah, akan kubawa ibu ber-djalan² keliling pulau Djawa dengan mobil atau dengan kapal terbang."
Ibunja tersenjum mendengar perkataan Mukti demikian.
Mereka tinggal dalam rumah jang ketjil dan sederhana sekali. Ibunja sendiri jang mengurus dan bekerdja dirumah sambil berdagang untuk biaja sekolah Mukti. Sekalipun sangat lelah bekerdja dan berdagang tiap hari, ibunja tak pernah mengeluh. Asal untuk Mukti, buah hatinja.
Dengan kasih-sajang ibunja ini, Mukti sedar, bahwa hanja ibunjalah satu²nja orang jang harus dia hormati, la berdjandji dalam hatinja, apapun jang terdjadi, ia rela membela ibunja.
Pada suatu hari, ketika ia pulang dari sekolah, ibunja tak ada didepan rumah seperti biasa. Ketika ditjari, terdapatlah ia dibelakang sedang berbaring dilantai. Menurut tjerita ibunja, sudah beberapa djam ia berbaring demikian karena djatuh tergelintjir dari tangga dapur jang agak tinggi, la sudah lelah bekerdja dan berdjalan naik-turun kian kemari. Tiba² kakinja terpeleset ditangga lalu tergelintjir djatuh dilantai. la tak dapat berteriak minta tolong kepada tetangganja, karena rumah tetangganja itu berdjauhan letaknja.
„Kalau dapat, panggillah pak Joso, mantri rumah sakit tetangga kita itu" — keta ibunja merintih.
Segera Mukti berlari kerumah pak Joso. Berkat kebaikan pak Joso, ibunja dapat ditolong dan diobati dirumah sakit. Hanja .... tubuhnja mendjadi tjatjat, ialah pada punggungnja terdapat suatu tanda bendjul sebesar buah djeruk dan djalannja bungkuk.
Ibunja merasa sedih memikirkan tjatjatnja jang tiba² dideritanja itu. Kadang² ia merasa menjesal dan malu akan tjatjatnja itu. Sering ia tak mau berdjalan ber-sama² dengan Mukti didepan gurunja atau didepan kawan²nja. Takut kalau² Mukti merasa malu dengan bendjul dipunggung jang mendjadi tjatjatnja itu. Tetapi Mukti sebaliknja, sedikitpun ia tak merasa malu melihat ibunja tjatjat demikian.
Musim hudjan telah tiba. Kalau bepergian, semua orang sudah biasa bersedia pajung atau badju hudjan.
Pada suatu pagi, hari mendung mau hudjan. Mukti tidak melihat tjahaja matahari, la tidak tahu, sudah djam berapa waktu itu. Lalu pergilah ia ter-gesa² karena takut kesiangan, sehingga lupa ia tak membawa badju hudjan.
Beberapa djam kemudian, turunlah hudjan sangat lebatnja. Sedang beladjar, Mukti berkata kepada Dadang: „Ibuku tentu datang membawakan aku pajung atau badju hudjan."
Tetapi Dadang tak pertjaja akan perkataan Mukti. „Ah, masa ibumu sesajang itu kepadamu. Dan masa ia berani berdjalan didalam hudjan jang selebat ini" — kata Dadang mengedjek.
„Berani bertaruh?" — kata Mukti.
„Mengapa tak berani?" — sahut Dadang lebih mengedjek.
„Ajo, apa taruhanmu?" — sambung Mukti.
„Kalau engkau jang menang, tentu akan kuberi engkau perangko baru jang bergambar Bung Karno. Sebaliknja djika aku jang menang, tentu engkau jang harus memberikan gambar itu."
„Djadilah!" — sahut Mukti dengan gembira, la tahu dengan pasti, bahwa ibunja tentu datang membawakan dia pajung atau badju hudjan.
Mereka melandjutkan pekerdjaannja lagi, sedang hudjan terus turun dengan lebatnja. Asjik benar mereka bekerdja, sehingga terlupalah apa jang tadi mereka bitjarakan.
Sedjam kemudian, tiba² terdengarlah pintu diketuk orang dari luar. Ketika pintu dibuka, tampaklah seorang perempuan bungkuk membawa pajung dan badju hudjan. Itulah ibu Mukti!
Karena girang, Mukti melompat dari bangku mendapatkan ibunja. Lupa ia merebut badju hudjannja didepan pak Guru dan teman2nja.
„Mengapa engkau segirang ini?" — tanja ibunja keheranan.
Lalu bertjeritalah Mukti kepada ibunja tentang taruhannja dengan Dadang tadi. „Besok tentu aku beroleh gambar bung Karno itu, bu!" — katanja.
Esok paginja, ketika djam peladjaran istirahat, Mukti menanjakan gambar taruhannja itu kepada Dadang. Tetapi Dadang berlari mendjauhinja. Esok harinja begitu pula. Dadang mengelakkan pertemuannja dengan Mukti. Hingga pada hari jang kelima bertanjalah Mukti agak keras: „Hai, Dang, mana perangko baru jang bergambar bung Karno itu? Mengapa berani bertaruh djika tak dapat memenuhi taruhan itu?"
„Apa? Gambar bung Karno?" — tanja Dadang pura². „Aaaah, tempelkan sadja gambar bendjul ibumu jang seperti buah djeruk itu pada dahimu" — sambungnja pula mengedjek.
Ketika Mukti mendengar edjekan ini, lupalah ia kepada undang² sekolah dan peraturan pak Guru. Darahnja mendidih dan mukanja merah. Maka .... buk!! Ditindjunja hidung Dadang sekuat tenaga sehingga keluar darahnja. Lalu berkelahilah kedua anak itu. Seorangpun temannja tak ada jang tahu, apa sebabnja mereka berkelahi. Dan kepada kawan²-njapun, Mukti tak mau mengatakan tentang sebab² perkelahian itu.
Pulang dari sekolah, ibunja terkedjut melihat mata Mukti biru dan badjunja sobek², la bertanja, apa sebabnja terdjadi demikian.
Disinilah Mukti merasa, bahwa ada satu, pertentangan dalam hatinja. Terus terangkah atau berdusta sadja kepada ibunja? Dia bimbang. Dia tak mau berdusta, tetapi ia tak mau pula mengatakan kepada ibunja bahwa perkelahian itu berasal dari edjekan Dadang terhadap tjatjat ibunja. Bagaimana? Dikatakan sadja bahwa ibunja diedjek bendjul dan bungkuk seperti buah djeruk? Ah, djanganl Nanti ibunja sedih. Berdusta? Ah, ia bimbang. Dan achirnja berkatalah ia bahwa Dadang menuduh ia meniru hitungannja, sedang ia tak pernah mendjalankan perbuatan itu.
„Saja lupa, bu! Lalu saja tindju hidungnja. Dan kami berkelahi" — demikian katanja pura².
Ibunja tak pertjaja akan keterangan itu. Ia tahu, Mukti bukan anak pemarah. Masakan hanja karena dituduh begitu sadja, ia berani berkelahi. Tidak, ibunja tidak pertjaja. Tentu Mukti berdusta!
Itulah sebabnja maka esoknja ia datang kepada pak Guru menanjakan apa sebabnja Mukti pulang dengan mata biru dan badju sobek².
Kepada pak Guru, Mukti berani berkata terus terang dengan perasaan takut² tjemas. Tetapi pak Guru tidak mendjatuhkan hukuman kepadanja. Malah sebaliknja. Ditepuknja bahu Mukti sambil berkata: „Anak jang sematjam engkaulah jang boleh disebut pahlawan. Djarang benar orang jang berani berkurban karena membela kehormatan ibunja."
VI. SEGUMPAL MEGA JANG KESUNJIAN.
Tjahaja matahari petang itu, merah ber-garis² kuning warnanja. Tiba² merangkaklah segumpal mega jang ketjil per-lahan² merajap sepandjang langit jang melengkung biru. Mega ini menjerupai sekeping perak jang ke-putih²an warnanja, dan kadang² menjerupai setjangkir susu kaleng jang dikotjok putih².
Dia terus djuga berdjalan dengan tenangnja sambil menoleh kekiri dan kekanan, kalau² ada kawannja untuk teman bertjerita dipetang hari jang indah itu. Tapi kawannja jang diharapkannja itu, tidak djuga didjumpainja. la merasa amat sunji. Dan karena ia merasa kesunjian, tiba² melontjatlah ia mendekati matahari. Dan setelah datang ditempatnja, ia merasa enak dan berbahagia sekali, karena matahari petang itu mempunjai hawa jang hangat. Kemudian ia berkata kepada matahari itu dengan lemah lembut: „Sedjak tadi aku merasa sunji, karena aku seorang diri. Sekarang disini aku dapat teman untuk bertjerita, dan perasaan mendjadi hangat. Bolehkah aku tinggal disini?"
Tapi matahari itu menggelengkan kepalanja dan mendjawab dengan manisnja: „Engkau tak dapat tinggal disini, hai mega jang ketjil! Engkau sudah dapat bagian kerdja untuk terus berkeliling melandjutkan perdjalananmu sepandjang langit."
„Tapi aku tak punja teman untuk ber-tjakap². Dan siapa nanti jang menolong aku, djika aku mendapat kesukaran?" — kata segumpal mega itu sambil melihat kesekitarnja seakan² ada jang ditjari dan ditunggunja.
Dan betullah, ketika matahari itu sudah lenjap berlalu, maka tampaklah gumpalan mega jang sangat besar, mendekati dan merangkak keatas. Gumpalan mega itu menjerupai seekor binatang jang menakutkan, putih ke-kelabu2an dan perutnja hitam gelap. Segumpal mega jang ketjil putih itu djadi kaget dan takut melihatnja. la berpikir: „Ah, tak perlu lagi aku tinggal disini, karena aku takut melihat si hitam itu." Maka pergilah ia diam² dari tempatnja, mendjauhi gumpalan mega hitam jang gelap itu. Tapi semakin tjepat ia berdjalan, semakin tjepat pula si hitam itu mengedjarnja. Dan makin lama, makin dekatlah dia kepada si putih, sehingga ia merasa dirinja mendjadi hitam kegelapan.
Tapi untunglah, tidak lama sesudah itu, datanglah bulan jang bulat menjerupai bola emas dengan tjahajanja jang kuning ke-merah²an, menjinari seluruh langit jang tadi petang melengkung biru. Tjahaja itu tidak sadja menjinari langit, tapi djuga terus djatuh keatas bumi. Pohon², bunga², sungai jang mengalir, ombak dilautan, dan segala jang ada dibumi, hingga rumput jang se-ketjil²nja pun, dapat djuga bagian didjatuhi tjahajanja. „Ah, indah benar keadaan dilangit dan dibumi ini seluruhnja" — pikir segumpal mega jang ketjil itu, sambil tersenjum seorang diri, melihat kepada air ketjil jang mengalir berbelok-belok didjatuhi tjahaja bulan sebagian².
la merangkak lagi per-lahan² mendekati bulan jang seperti bola emas itu. Dan setelah dekat, ia berkata lemah lembut: „Aku merasa kesunjian, hai bulan! Izinkanlah aku tinggal disini dekatmu, supaja dapat ber-tjakap² denganmu. Dan berilah aku tjahaja se-banjak²nja. Tidakkah kaulihat, betapa indahnja tubuhku kena tjahajamu jang kuning merah itu?"
Tapi bulan itu tertawa dan berkata dengan manisnja: „Sesungguhnja kau tak dapat tinggal didekatku, hai ketjil! Aku tak punja waktu untuk ber-tjakap² dengan siapapun djuga, karena aku punja kewadjiban untuk mengawasi seluruh alam. Aku mesti tahu, apakah semua air jang mengalir
dapat bagian tjahajaku? Apakah semua rumput didjatuhi tjahajaku? Dan bila sinarku ini djatuh kerumah dan melalui lubang² djendela, apakah semua anak² jang sedang berbaring ditempat tidur dapat pula melihat tjahajaku? Dan ah, banjak lagi pekerdjaanku. Aku harus memberi perhatian kepada penumpang² kapal dilautan, dan pula aku harus memberikan tjahajaku djuga kepada gubuk² si petani miskin jang tak dapat memasang lampu, karena mereka tak punja uang untuk membeli minjak tanah. Dan tahukah pula, bahwa ada diantara manusia² itu jang tak mempunjai rumah, sehingga ia mesti menggeletak tidur diatas rumput? Mereka sangat bentji kepada mega gelap jang menjerupai binatang hitam itu. Sebab dengan adanja mereka, lama² dunia ini mendjadi gelap, dan turunlah hudjan keatas bumi. Ah, bila ini terdjadi, kemana mereka harus pergi?"
Si mega ketjil jang kesunjian itu mengerti akan semua perkataan bulan tadi. Per-lahan² pergilah ia dengan sedihnja mendjauhi bulan jang sangat banjak pekerdjaannja itu, dan ia terus berdjalan dengan tenangnja.
Mega jang menjerupai binatang hitam itu, makin lama makin besar djuga tampaknja. Dan semakin besar, semakin dekat ia kepada bulan, sehingga lama² bulan itu tertutup oleh hitamnja, dan gelaplah seluruh alam. Alangkah sedihnja si mega ketjil jang kesunjian itu. Karena sedihnja, maka menangislah ia.
Tapi kemudian barulah ia tahu, bahwa gumpalan mega hitam jang besar itu, asalnja seperti dia djuga, terdjadi dari gumpalan mega putih jang ketjil². Dan sekarang ia tidak menangis seorang diri, tapi semua gumpalan hitam itu menangis mendjatuhkan air mata.
Begitulah, maka butiran² air mata dari mega itu mendjadi butiran air hudjan djatuh menjiram bumi.
Tapi si mega ketjil itu masih ingat kepada tjerita bulan jang memikirkan nasib manusia² jang tidur menggeletak di-rumput². Perkataan bulan itu masih terdengar: „kemana mereka mesti pergi?"
la tidak tahu, bahwa airpun banjak gunanja bagi manusia.
VII. TUDJUH BELAS EKOR KUDA ADJAIB.
Seorang orang jang sudah tua, mempunjai tiga orang anak laki². Ketika orang tua itu hampir meninggal, dipanggilnja ketiga orang anak itu dan berkatalah ia: „Penjakitku tak akan sembuh lagi. Sebelum aku meninggalkan kamu bertiga, aku ingin membagi-bagikan hartaku jang masih tinggal. Harta itu tidak banjak, hanjalah 17 ekor kuda. Kuda itu harus kamu bagi² sendiri. Dan aku ingin, pembagian itu menurut bagaimana jang kunasihatkan. Bagilah kuda itu dengan tjara begini: si Sulung mendapat setengah dari djumlah kuda jang 17 ekor itu. Si Tengah mendapat sepertiga dari 17 ekor, dan si Bungsu baiklah diberi sepersembilan dari 17 ekor itu. Turutlah nasihatku!" — kata orang tua itu. Tidak lama sesudah itu, ia menutupkan matanja untuk selama-lamanja.
Setelah ajahnja dimakamkan, si Sulung berkata kepada adik²nja: „Kita mempunjai 17 ekor kuda. Mari kita bagi kuda itu menurut petundjuk mendiang ajah." Kedua adiknja mengangguk.
„Setengah dari 17 ekor, ialah .... 81/2 ekor." — demikian si Sulung memulai pembagian itu. „Tetapi bagikukah kuda jang setengah itu? Aku rasa, ajah telah keliru dalam mengurus pembagian itu. Seharusnja aku mendapat sembilan ekor kuda."
„Tunggu dulu!" — kata si Tengah. „Dan aku? Aku harus mendapat sepertiga dari 17 ekor kuda. Sepertiga dari 17 ekor kuda, ialah . . . . 5²/3 ekor. Ah, kasihan kita pada kuda jang harus di-potong² itu."
Bungsu menjambung: „Aku harus mendapat 18/9 ekor kudai Ah, itu mustahil!" — katanja sambil meng-geleng²kan kepala. „Kak Sulung, engkau sudah banjak menerima pembagian
itu, sudah lebih dari kami berdua. Alangkah baik nja djika engkau mengambil delapan ekor sadja"
,,Ah, tak mau aku" — sahut Sulung. „Djika demikian tentu menjalahi keinginan ajah. Bukankah kita sudah berdjandji, bahwa kita akan menurutkan keinginan ajah jang penghabisan?"
Timbullah sekarang pertengkaran antara si Sulung dan si Bungsu. Tetapi si Tengah dapatlah memutuskan pertengkaran itu: „Marilah kita pergi kepada pak Ali Kalam. Tentu dia dapat memberi kita pertolongan, karena dia orang jang bidjaksana dikampung kita. Bukankah sudah banjak orang jang tertolong karena kepandaiannja"?
Kedua saudaranja setudju akan usul si Tengah. Make pergilah mereka mendapatkan pak Ali Kalam.
Dari djauh tampaklah pak Ali Kalam sedang duduk² dibawah sebuah pohon jang rindang. Si Sulung mentjeritakan kepadanja apa jang sedang dialami mereka. Pak Kalam terdiam mendengarkan tjerita itu. Kemudian mendjawablah ia: „Akan berbahagialah ajahmu, djika kamu dapat menjampaikan keinginan dan pesanannja. Sebaliknja, ajahmu akan merasa sedih, djika keinginannja itu akan mendjadi bahan pertengkaran jang melenjapkan persaudaraanmu bertiga. Sajapun turut bersedih akan kedjadian ini. Tetapi saja hanja seorang jang miskin. Kekajaan saja hanja seekor kuda hitam. Tetapi, karena saja ingin menolong kalian, ambillah kudaku jang seekor itu. Anggaplah, bahwa djumlah kudamu sekarang, adalah 18 ekor. Bagilah jang 18 ekor itu menurut keinginan ajahmu."
„Hai, bukan itu jang kami maksud" — kata mereka serentak. „Kami datang kemari hanjalah untuk minta pertolongan. Kami tak ingin diberi apa2."
Pak Ali Kalam tersenjum. „Ambillah kuda itu. Djika ada untung saja, tentu kuda itu dapat saja miliki lagi. Tetapi, djika tidak, saja tak keberatan kuda itu kalian miliki. Ambillah kuda itu."
Dengan penuh rasa terima kasih, pergilah mereka dari rumah pak Ali Kalam. Kuda jang baru diterimanja itu hitam warnanja.
Setelah sampai ketempat semula, segera dibagi-baginja kuda itu seperti tadi. „Sekarang kita mempunjai 18 ekor kuda. Setengah dari 18 ekor adalah sembilan ekor. Aku ambil sembilan ekor!" — kata si Sulung sambil mengambil kuda peninggalan ajahnja sembilan ekor.
„Sepertiga dari 18 ekor adalah enam ekor. „Nah, kuambil enam ekor!" — sambung si Tengah sambil mengambil bagiannja.
„Sekarang aku" kata si Bungsu. „Sepersembilan dari 18 ekor adalah dua ekor. Nah, baiklah kuambil dua ekor kuda kepunjaan ajah. Marilah kita pergi."
Tetapi.... „Heee, mengapa masih ada seekor lagi jang tinggal?" — demikian kata anak² itu serentak, ketika mereka hendak menaiki kudanja masing².
„Itulah kudanja pak Ali Kalam" — kata si Bungsu. „Tjobalah kita hitung lagi djumlah kuda kita bertiga. Barangkali ada jang kurang mengambil bagiannja."
„Sembilan ekor dengan enam ekor, ditambah lagi dua ,ekor adalah 17 ekor...."
„Naah, pertjajakah kalian, bahwa pak Ali Kalam itu seorang jang pandai?" — kata si Tengah.
Keduanja terdiam. „Mari kita kembalikan kudanja itu!"
Pak Ali Kalam tersenjum, ketika menerima kuda hitamnja kembali.
VIII. SI TJONTENG PERGI PESIAR.
Dalam sebuah lubang dibelukar dekat hutan, tinggallah keluarga kelintji jang banjaknja tudjuh ekor. Jang dua ekor adalah ibu dan bapaknja, sedang jang lima ekor lagi ialah anak²nja.
Mereka sangat penakut. Mendengar suara apa sadja jang datang, tjepat sekali terkedjut. Lebih² ibunja. Malah diadjarnja anak²nja supaja mendjadi binatang penakut dan tjuriga. Ia tahu, bahwa manusia senantiasa mengintainja dan menangkapnja. Ia melarang kepada anak²nja, djangan sekali² mentjoba keluar sendiri dari dalam lubangnja. Kalau keluar, harus disertai oleh bapak atau ibunja.
„Djangan pergi djauh² dari lubang, hai Tjonteng!" — demikian katanja kepada si Tjonteng, seekor anaknja jang paling nakal. „Semakin djauh kita mendjalani dunia, semakin banjak bahaja jang datang. Baiklah mendjaga diri!"
Tapi si Tjonteng keras kepala. Ia ingin tahu sadja akan segala apa jang dilarang bapaknja. Ia menganggap, bahwa semua larangan itu sangat mengikat kebebasannja. Dan semua jang disebut bahaja, adalah bohong semata. „Mengapa aku harus selalu tinggal dilubang jang gelap ini? Mengapa harus selalu melihat rumput² jang hanja hidjau sadja warnanja? Mengapa pula harus melihat daun kering dan ranting² jang hanja hitam sadja warnanja? Mengapa harus selalu djalan² ditanah jang hanja tjoklat sadja warnanja? Dan mengapa pula harus melihat pohon dan bunga jang itu² djuga? Ah, aku ingin melihat jang lebih bagus dari pandangan tiap hari disini. Aku ingin tahu, apa jang ditakutkan ibu didunia jang lebar itu? Ibu selalu takut, dan ibu amat penakut. Tapi aku suka pada segala jang aneh². Dan disana, didunia jang lebar itu, tentu akan lebih menjenangkan keadaannja daripada dilubang rumah jang gelap begini" — demikian is Tjonteng berpikir setiap hari.
Maka pada suatu malam, ketika semua isi lubang sedang tidur dengan njenjaknja, pelan² bangkitlah ia dari tempatnja, dan pergilah diam² mendjauhi rumahnja. Makin djauh, djauh .... dan djauh sekali. Barangkali ia tak dapat kembali lagi kelubang rumahnja. Tapi ia tak perduli, sebab ia tak ingin pulang lagi kerumahnja. Ia ingin mengenal dunia jang lebar itu. Dunia jang aneh, jang lain dari dunia lubangnja. Dan dunia jang sangat indah! Lalu berdjalanlah ia terus, terus .... dan terus semakin djauh!
Ketika fadjar menjingsing, maka teranglah semua alam. Si Tjonteng seperti dalam impian. Matanja dibuka se-lebar²nja. Ia kaget. Dikelilingnja kini tak ada rumput hidjau jang tampak. Tak ada pohon² jang rindang. Tak ada sungai jang mengalir. Ia tidak berdjalan diatas tanah jang tjoklat warnanja, tapi ia berdjalan diatas djalan jang keras dan abu² warnanja. Ia berdjalan terus melalui djalan jang keras itu. Dan ... tiba² melompatlah ia karena mendengar suara dibelakangnja: tut, tut, tuuuuut....! Ah, di-mana² tampak mobil dan gerobak jang besar². Semua itu mendatangkan suara: tut, tut, tuuuut.,...! Dan suara itu mengatjaukan pikirannja. Sekarang ia mesti hati². Ia harus berdjalan dipinggir djalan supaja tidak terlanggar mobil² itu. Ia tidak tahu, bahwa djika warna lampu di-tengah² djalan itu hidjau, artinja aman: boleh berdjalan! Djika lampu itu kuning, akan datang bahaja: hati²! Dan djika lampu itu merah, artinja bahaja sudah datang: berhenti!
Ia tak mengerti apa². Ia hanja seekor kelintji jang bodoh sadja. Belum pernah seumur hidupnja ia mengalami keributan dan kekatjauan begini. Ia merasa pusing melalui djalan² besar jang bersimpangsiur itu. Ia merasa tuli mendengar suara² jang merupakan huru-hara disekitarnja. Djantungnja
berdebar dan berbunji karena terkedjut. Ia tidak tahu, kemana harus menudju? Apakah kebelakang, kemuka, kekiri atau kekanan? Dan sesungguhnja, sedang ia tjemas kebingungan di-tengah² djalan besar, tiba² rrrrrtttt... 1 kakinja sebelah kiri putus terlanggar sebuah mobil. Alangkah sakitnja ia menderita semua ini.
Sambil menangis menahan sakit, pelan² ia merangkak kesudut, memilih tempat jang sunji: „Aduh, kakiku! Kakiku jang bagusi Kakiku jang kusajangi! Mengapa kita harus berpisah disini?" — ia menangis ter-isak². Tapi penderitaannja jang sudah berat ini, rupanja masih belum tjukup. Ditambah lagi dengan tiba² turun hudjan amat lebatnja dan suara angin kedengaran sangat ribut. Ia medjadi basah kujup dan tak putus²nja terkedjut karena mendengar suara guntur. Djantungnja selalu berdetak-detik dengan tjepat. Kini ia teringat kerumahnja. Djika disana terdjadi hudjan jang lebat begini, dengan mudah ia melompat masuk kelubangnja. Dan dari dalam lubang itu, biasa ia mentertawakan hudjan dan angin bersama adik²nja. Tapi bagaimana sekarang? Apakah jang harus ia lakukan? Kemana ia harus pergi?
Lalu ia merangkak kebawah djembatan. Disini baru ia merasa aman, djauh dari segala bahaja didjalan besar jang katjau itu. Tapi tiba² ia melihat beberapa ekor tikus besar datang mengerumuninja dan menghardik: „Hai pergilah engkau dari sini, monjet! Ini tempat kami, bangsa tikus² besar. Kalau tak pergi dari tempat ini, nanti kami gigit kamu sampai mati!" Rupanja tikus² besar itu tidak tahu, bahwa si Tjonteng seekor kelintji, bukan monjet.
Dengan gemetar ketakutan, ia keluar dari bawah djembatan itu dan berdjalan lagi melalui pinggir djalan. Ingatannja masih tetap pada kakinja jang putus. Tapi tiba² terdengar suara anak laki² ramai berteriak: „Kelintji! Tangkap! Ajo, kita tangkap!"
Anak² itu mengedjarnja. Mereka mentjobanja mau menangkap si Tjonteng. Tapi si Tjonteng tak mau ditangkap. Ia lari se-kuat²nja. Ia tak mau berhenti dan tak mau menoleh kebelakang. Ia lari, terus lari!
Tiba ditikungan djalan, ia membelok kesudut jang gelap dan bersembunjilah ia disana. Anak² jang mengedjar, seorangpun tak ada jang tahu, bahwa ia sembunji disana. Mereka lalu sadja dengan tak menoleh kekiri dan kekanan. „Aduh, lelah dan sakitnja bukan main!" — keluhnja.
Pintu dari sebuah rumah dekat tikungan itu, tiba² terbuka. Seorang perempuan tua, mak Rumi, datang keberanda dan ber-tjakap² dengan tukang sajuran. Si Tjonteng tak kelihatan olehnja. Maka dengan diam² merangkaklah si Tjonteng kedalam rumah. „Haaaaaaaa ....!" — begitulah ia melompat dari persembunjiannja sambil menghela napas pandjang. Legalah rasanja ia masuk kerumah mak Rumi itu. „Disini aku merasa aman. Disini aku merasa damai dan hangat. Aku terhindar dari dinginnja air hudjan. Aku terhindar dari ributnja suara mobil. Aku terhindar dari gangguan tikus² besar . . . . "— pikirnja.
Tapi .... sedang ia me-lompat² kegirangan, tiba² mengeonglah seekor kutjing jang hitam bulunja dan matanja kuning ke-merah²an. Dengan punggung jang dilengkungkan keatas dan dengan ekor jang bulunja meremang besar, ia menghardik: „Apa kerdjamu disini, hai binatang tjelaka? Tentu kau hendak menjolong makananku! Awas, nanti kuadjar kau!"
Dengan sekali lompat sadja, ia menerkam si Tjonteng. Tapi untunglah si Tjonteng tjepat mengelakkan serangan itu, sehingga si Hitam terbentur kepalanja kepada dinding tembok jang keras. Dan ia mendapat sebuah bendjul sebesar telur dikepalanja!
Kini duduklah si Tjonteng disebuah gang jang terus kedapur. Ia sangat menjesal, mengapa ia berani pergi seorang diri dengan tidak setahu ibu bapaknja? Ia menangis, dan air matanja meleleh dipipinja. Lama² ia tertidur karena lesu dan pajah di-kedjar².
Pak Rumi datang dari belakang. Ia baru pulang melihat kebunnja. Hampir sadja si Tjonteng terindjak kakinja. „Hai, apakah ini? Kutjing putih? Ah, bukan!" — katanja seperti heran. „Apa, ja?" — sambil memperamat-amati si Tjonteng. Ooooooo .... kelintji putih!" — katanja pula sambil mendukung dan me-nimang² si Tjonteng. Tapi si Tjonteng segera bangun dari tidurnja. Dan .... alangkah terkedjutnja, ketika terasa sepuluh djari pak Rumi jang kuat itu telah menggenggam tubuhnja dengan erat. Ia me-ronta² ingin lepas. Tapi pak Rumi tertawa. Dipanggilnja anaknja, si Rumi: „Masukkanlah dulu kedalam peti dekat kandang ajam itu. Besok kita bikinkan kandangnja jang bagus" — demikian katanja kepada si Rumi.
„Aduh, bagusnja kelintji ini. Bulunja lembut seperti kain beledu kepunjaan ibu, ja?" — kata si Rumi sambil mengusap² bulu si Tjonteng dengan muka bertjahaja. Sebentar² digosokkannja bulu itu kepada pipinja. Dan si Tjonteng gemetar tubuhnja. „Barangkali aku mau dimakannja" — pikirnja.
Esoknja si Tjonteng dimasukkan kedalam kandang jang baru. Ia diberi makan dan minum oleh si Rumi. Dan menurut pikiran si Tjonteng, kawannja itu hanjalah si Rumi seorang.
Setelah beberapa hari, gemuklah badan si Tjonteng. Bulunja bersih meng-kilat². Tapi ia merasa kesal, karena tak dapat me-lompat² dirumput hidjau. Tak dapat melihat air sungai jang mengalir. Tak dapat melihat burung² jang berkitjauan di-pohon². Ia merasa rindu kepada semua itu, dan rindu kepada ibu dan ajahnja!
Pada suatu malam, ketika seisi rumah sedang makan, berkatalah pak Rumi: „Aku ingin benar mengetjap daging kelintji. Kata orang, daging kelintji itu enak dimakan. Besok, baiklah kita mentjobanja. Si Kelintji putih kita sembelih! Ia sudah tjukup gemuk sekarang."
Alangkah sedihnja hati si Rumi. Ia sajang benar kepada si Tjonteng. Ia tak dapat tidur njenjak malam itu. „Besok tentu engkau tak kan kuberi makan lagi, hai Kelintji putihku! Besok tentu engkau akan masuk diperut ajah dan ibu. Aduh, kasihan! Buruk benar, nasibmu!"
Maka esoknja pagi² sekali, si Rumi sudah bangun. Dibukanja pintu kandang si Tjonteng dan dipangkunja ia. Bulunja di-usap² dan dilekatkan kepipinja. Se-akan² terdengar oleh si Rumi, bahwa si Tjonteng berkata dengan sedihnja: „Tak dapatkah engkau menolong aku, hai sahabat? Lepaskan aku dari kandang ini, supaja tak djadi leherku kena pisau ajahmu!"
Tiba² si Rumi mendjadi berani. Dibawanja si Tjonteng berlari kebelakang dan diletakkannja ditanah sambil berkata: „Kembalilah engkau kepada ibumu! Djangan sekali-kali kaudekati manusia!"
Ingin si Tjonteng mengutjapkan terima kasihnja. Tapi si Rumi sudah lari kembali kerumahnja dengan tjepat. Maka melompatlah si Tjonteng dengan girangnja. Ia berlari melalui kebun dan djalan² ketjil jang djauh dari tempat manusia. Ia tak berani lagi melalui djalan aspal jang keras abu² itu. Dan dengan susah pajah, sampailah ia dilubang rumah jang dulu ia tinggalkan. Didepan rumahnja ia berkata kepada ibunja: „Aku tak akan lari lagi dari rumah ini mentjari dunia jang berlainan dengan duniaku. Ah, dunia manusia itu sangat buruk dan banjak kedjahatan. Tapi disini aku merasa aman dan berbahagia!"
Bagaimana djadinja dengan si Rumi?
Pagi itu, ajah telah datang kekandang membawa pisau. Tapi pintu kandang itu terbuka dan kosong. „Kandang itu sudah kosong ...." — katanja sambil berdjalan kembali kedapur.
Mulanja si Rumi mau berdusta. Tapi ia tahu, bahwa dusta itu dilarang oleh ibu dan ajah.
„Apakah ada orang jang melepaskannja?" — tanja ajah.
„Ja, ajah. Rumi jang melepaskan si Putih" — djawabnja Dalam pikirannja ia berkata: „Ajah pasti marah. Sekaranglah waktunja aku dimarahi ajah ... ""
Tapi tahukah engkau, apa jang terdjadi?
Si Rumi ditarik oleh ajah, kemudian ditjiumnja!
IX. TJERITA SI MURAH HATI.
Didekat sungai mengalir jang penuh dengan batu², disitulah si Brohim mendirikan rumahnja dengan sederhana sekali.
Ia biasa dipanggil orang banjak: si Murah Hati, karena memang demikianlah sifatnja. Hampir semua orang jang kenal padanja, sudah pernah ditolongnja. Karena itulah ia mempunjai banjak sahabat-kenalan di-mana².
Makin lama namanja main terkenal keseluruh negeri, sampai² terdengar kepada radja jang memerintah negeri itu. Radja sangat heran dan timbul rasa iri dihatinja. „Mengapa si Brohim jang begitu sederhana keadaannja, bisa mendapat djulukan si Murah Hati? Mengapa ia bisa terkenal dan lebih terkenal daripada aku? Apakah kelebihannja dari aku jang berpangkat radja? Tidakkah aku djuga sering memberi pertolongan kepada orang² miskin? Tidakkah aku djuga sering memberi hadiah² kepada rakjat jang kesusahan?" — demikianlah radja itu bertanja dalam hatinja setiap hari.
Maka pada suatu hari, timbullah keinginan untuk mentjobanja sendiri sampai dimana kemurahan hati si Brohim itu. Dan setelah lama ia ber-pikir² mentjari akal, maka dipanggilnja seorang pegawai istana. „Engkau harus pergi kekampung mentjari si Brohim. Katakan kepadanja, bahwa aku ingin dikirim tudjuh ekor kuda jang berbulu sama, ialah berbulu belang putih dilehernja. Djika permintaan ini tidak bukti dalam minggu² ini, pasti ia akan mendapat hukuman berat....!"
Dengan hati jang tjemas, pegawai istana itu pergi kekampung mentjari si Brohim. Ia sudah kenal dengan si Brohim. Salah seorang keluarganja sudah pernah ditolongnja dari kesusahan bahaja maut. Itulah sebabnja, maka ia sangat tjemas ketika mendengar perintah radja tadi. Tak mungkin si Brohim akan dapat meluluskan permintaan itu. Tak mungkin ia bisa mendapatkan tudjuh ekor kuda jang berbulu sama dilehernja. Dimana ada kuda jang berbulu belang putih dilehernja? Ah, kasihan benar si Brohim ....
Hari mendjelang malam, barulah suruhan radja itu sampai ditempat si Brohim. Dengan ramahnja si Brohim menjambut tamunja. Disuruhnja isterinja menjediakan makanan dan mendadak menjembelih ajam untuk menjuguh, sebagai tanda bahwa ia senang dikundjungi sahabatnja.
Selesai makan, baru tamu itu mentjeritakan maksudnja dan mengatakan semua permintaan radja. Dengan muka jang tenang, ia berkata kepada tamunja: „Sebenarnja aku tak punja kuda sebanjak itu. Apalagi kuda jang berbulu sama dilehernja. Akan tetapi, djanganlah tuan takutkan benar. Besok pagi aku akan pergi mentjarinja. Barangkali teman² dan sahabat-kenalan jang ada diluar kota, mereka ada mempunjainja. Mudah²an sadja mereka dapat menolong. Tuan bolehlah menunggu disini, sampai aku kembali dari perdjalanan . . . ."
Esok harinja, pagi² sekali, si Brohim telah pergi mengendarai kudanja jang berbulu merah ke-hitam²an. Tamunja tinggal dirumah dengan hati jang tidak pertjaja. Ja, ia tak pertjaja, kalau si Brohim akan dapat kuda belang putih jang sebanjak itu.
Tapi . . . belum djuga matahari terbenam, tiba² terdengar ramai suara telapak kaki kuda serta ramai pula orang² jang menungganginja bertjakap-tjakap.
„Inilah ketudjuh ekor kuda jang berbulu sama dilehernja itu. Katakan kepada radja, bahwa kuda jang sebanjak ini, bukan kepunjaanku, melainkan kawan² serta sahabat-kenalanku jang mempunjainja. Mereka hanja semata ingin menolong aku dari antjaman hukuman berat jang sudah ditimpakan oleh radja. Terimalah semuanja . . . . "
Dengan hati terharu dan ber-matjam² pertanjaan dikepalanja, pulanglah pesuruh radja itu keistana. O, alangkah terkedjutnja radja itu ketika melihat tudjuh ekor kuda jang dimintanja kemarin. Ia tak mengira sedikitpun, bahwa permintaannja akan dibuktikan dalam sehari sadja. Pertolongan teman²nja itu tentu sebagai pembatas djasa atas kemurahan si Brohim dalam perbuatannja jang dulu². „Muati kuda itu dengan barang² dipunggungnja, dan kembalikan semuanja kepada si Brohim" — demikian kata radja itu setelah termenung sedjurus.
Dan keesokan harinja si Brohim telah menerima kembali ketudjuh ekor kuda jang belang² putih itu lengkap dengan barang²nja sekali sebagai hadiah dari radja. Tetapi barang² itu tak ada jang diambil si Brohim sedikitpun. Ia segera mengembalikannja semua kepada teman²nja jang mempunjai kuda itu masing².
Beberapa minggu berselang, radja menjuruh lagi pegawainja jang lain untuk mentjari si Brohim. „Katakan kepadanja, bahwa aku minta kuda kepunjaannja. Djika kuda itu tidak bukti dalam minggu ini, aku akan memberinja hukuman berat."
Pegawai istana itu pergilah mentjari si Brohim. Sesudah hari berganti malam, barulah ia sampai dirumah si Brohim. Kebetulan malam itu turun hudjan dengan lebatnja. Orang itu basah kujup pakaiannja. Si Brohim segera menjediakan api buat berdiang memanasi tamunja. Pakaiannja diganti dengan pakaian kepunjaannja. Sangat menjesal ia, ketika menanjakan ajam kepada isterinja, ternjata ajam itu telah habis. Djuga telur²nja sudah habis terdjual dipakai pembeli pakaian anak²nja. Maka dengan diam², pergilah ia menuntun kuda kepunjaannja kerumah tetangganja. Dan disini, kuda itu disembelih.
Ia menjuguh dan menghormat tamunja agak luar biasa, karena ia tahu, bahwa tamu itu adalah pegawai istana suruhan radja. Disediakannja tempat tidur jang baik dan disambutnja dengan ramah-tamah sekali, sehingga tamunja merasa senang dan tertarik oleh sifat²nja tuan rumah.
Habis makan, maka bertjeritalah tamu itu dan disampaikannja maksud serta permintaan radjanja. O, alangkah terkedjutnja si Brohim mendengar tjerita tamunja itu. „Sebenarnja kuda itu sudah aku sembelih, dan dagingnja, ja, itulah jang disuguhkan tadi. Tapi tuan tak usah takut. Barangkali besok dapat lagi kuda jang serupa dengan kudaku jang disembelih tadi. Biasanja teman² sahabatku suka menolong bilamana aku dalam kesusahan seperti sekarang ini."
Maka esok harinja, pagi² sekali, si Brohim sudah pergi menemui sahabat²nja. Dan sore harinja, ia telah kembali pula dengan seekor kuda jang serupa dengan kudanja jang disembelih tadi malam. „Katakan kepada radja, bahwa kuda ini bukan kuda kepunjaanku, melainkan kuda pemberian sahabatku jang dengan rela ia bermaksud menolong aku dari hukuman radja. Bawalah kuda ini, dan serahkanlah kepada radja . . . . "
Ketika radja itu mendengar laporan dari suruhannja jang bertjerita tentang kebaikan dan keichlasan si Brohim menerima dan menghormati tamunja, termenunglah beberapa lamanja. Dalam hatinja ia mengagumi dan memudji si Brohim. „Muati lagi punggung kuda itu dengan uang dan barang², serta pulangkan kembali kepada si Brohim."
Tapi seperti biasa, setelah kuda itu kembali penuh dengan barang², si Brohim tak berani membuka muatannja. Kuda itu dikirimkan kepada teman jang mempunjainja tadi.
Beberapa bulan kemudian, radja itu menjuruh lagi seorang pegawainja, untuk pergi kerumah si Brohim. Tapi sekali ini bukan untuk meminta kuda belang² putih atau kuda jang berbulu merah kepunjaannja, melainkan radja itu meminta patinja si Brohim. Pati artinja njawa. Djadi sekali ini, si Brohim harus dibunuh!
Pegawai radja jang ketiga ini, belum kenal kepada si Brohim. Djuga ia belum tahu, bagaimana rupa si Brohim dan dimana rumahnja. „Bagaimana aku harus mentjari dia?" — pikirnja.
Malam hari, barulah ia sampai kekampung si Brohim. Kebetulan sekali, ia masuk kerumah si Brohim, karena hanja rumah si Brohimlah jang letaknja paling dekat kepinggir kota. Maka seperti biasa, tamu itu didjamu si Brohim dengan semestinja, karena ia tahu, bahwa tamu ini adalah suruhan radja.
Selesai makan, bertjeritalah tamu itu, apa maksud kedatangannja dikampung ini. Ia harus mentjari orang jang bernama si Brohim, akan tetapi ia tidak tahu dan tidak kenal kepada orang jang ditjarinja itu. Ia minta tolong kepada si Brohim, supaja mau ia menudjukkan rumah dan orang jang dimaksudnja tadi.
Ah, alangkah sedihnja hati si Brohim. Djika si tamu ini diberi tahu, bahwa orang jang ditjarinja itu ada dihadapannja sekarang, tentu tak 'kan berani ia mendjalankan kewadjibannja sebagai perintah radja. „Kasihan benar orang ini ...." — pikirnja.
Lama sekali si Brohim termenung mentjari akal. Kemudian berkatalah ia: „O, aku kenal betul dengan orang jang bernama si Brohim itu. Tapi kalau betul² tuan mau membunuhnja sebagaimana perintah radja itu, maka djanganlah tuan pergi kerumahnja dimalam hari. Rumahnja selalu penuh dikerumuni teman² dan sahabat-kenalannja. Djadi .... tuan harus mentjarinja dilain tempat. Aku tahu betul, bahwa tiap²
pagi, ialah kira² djam empat subuh, ia selalu sembahjang diatas batu datar dipinggir sungai rumah ini. Malah kadang² ia tidur disana mulai tengah malam hingga subuh. Baik tuan datang sadja besok subuh dipinggir sungai ini, dan djangan segan², bunuhlah dia atas perintah radja . . . . "
Tamu itu senang hatinja. Maka tidurlah ia dengan njenjaknja.
Esok paginja, ia sudah bangun dan pergilah diam² kepinggir air sungai jang ditundjukkan tuan rumah tadi malam. „Alangkah dinginnja ....!" — katanja sambil menjelubungkan kain selimutnja. „Apakah betul si Brohim itu sudah ada dipinggir sungai sepagi ini?" — demikian ia bertanja seorang diri.
Remang² dalam tjahaja taram-temaram, tampaklah diatas batu datar, seorang laki² jang tergolek tidur berselimutkan kain pelekat. Muka dan lehernja rapat ditutupi kain itu seluruhnja, sehingga tak tampak bagaimana bentuk dan rupa orang itu. „Biar aku lihat dulu, bagaimana rupa si Murah Hati jang terkenal diseluruh negeri ini" — katanja sambil membuka selubung kain itu pelan².
Tapi.... o, alangkah terkedjutnja, ketika tutup muka dan leher itu dibuka, bukan orang lain jang ia tjita²kan sebagai si Brohim si Murah Hati, melainkan .... tuan rumah sendiri! Maka terkulailah tangan jang sudah memegang alat pembunuh itu dengan lesu. Pelan² dibangunkan dan ditanjanja sekali: „Siapakah tuan jang sebenarnja?"
„Akulah si Brohim jang harus kaubunuh menurut perintah radja ....!" — djawabnja dengan tenang. „Atas perintah radja, bunuhlah aku!" — sambungnja.
Pesuruh radja itu termenung. Dengan suara pasti ia mendjawab: „Tidak! Aku tak mau membunuh tuan, sekalipun radja atau siapapun jang memberi perintah. Aku tak mau tangan ini mendjadi kotor karena dosa membunuh orang jang sebaik tuan. Biarlah aku kembali kepada radja dengan tangan kosong tak mengerdjakan apa². Akan kutjeritakan kepadanja bahwa tuan tidak patut dapat hukuman dan penganiajaan sekedjam ini. Djika radja itu tetap tak mau menerima segala jang kutjeritakan, dan tetap tuan harus mendapat hukuman, maka sebelum dia membunuh tuan, akulah jang lebih dulu membunuh dia. Aku lebih suka mendjadi pembunuh radja jang kedjam, daripada mendjadi pembunuh tuan! Memang radja jang berbuat se-wenang², harus dibunuh oleh rakjatnja sendiri ....!"
Sambil berkata demikian, ia lari se-tjepat²nja menudju istana kembali.
Radja itu terharu, demi mendengar semua laporan pesuruhnja. „Sesungguhnja, aku merasa kalah oleh kebaikan dan kemurahan hatinja . . . . "— katanja sambil menggelenggelengkan kepalanja.
Tjerita ini tersebar keseluruh negeri. Dan si Brohim hidup dengan tenangnja meneruskan kehidupannja sebagai Brohim si Murah Hati.
X. POHON KATJANG DENGAN DJUNDJUNGANNJA.
Didalam sebidang kebun, tumbuhlah pohon katjang jang mendjalar dan membelit pada djundjungannja. Djundjungan ini berupa galah jang dibuat dari bambu. Makin lama pohon katjang itu makin tinggi, sehingga lama² sampailah ia kepuntjak djundjungannja.
Dengan sombong ia melihat kekiri dan kekanan, se-akan² dialah jang tertinggi dan termulia diantara tanam²an jang ada didalam kebun itu. „Akulah jang terbesar dan tertinggi diseluruh kebun ini" — katanja sambil memandang dengan pandangan jang menghina kepada semua tanam²an jang ada disekelilingnja. Tubuhnja bergojang kekiri dan kekanan. Seluruh tubuhnja itu penuh dengan daun² jang hidjau segar dan buah katjang jang bergantungan. Kelihatan salurnja kokoh melingkari djundjungannja jang berdiri lurus tidak bergerak. Djundjungan ini berdiri dengan sabarnja menurutkan perintah pak Tani jang menjuruh supaja dia berdiri ikut menegakkan pohon katjang itu. Ia berdiri lurus dengan sabarnja, sedang pohon katjang itu makin lama makin rindang. Bunganja makin lama makin banjak, dan buahnja timbul disana-sini dibagian tubuhnja. „Alangkah indahnja pandangan dikebun ini" — kata pohon katjang itu. „Dan semua keindahan ini disebabkan oleh daun²ku jang hidjau segar dan bunga²ku jang putih bertjahaja! Tjuma satu hal jang sangat mengganggu pandangan mata, ialah djundjungan jang warnanja kotor ke-hitam²an ini. Tjoba lihat, alangkah kotornja! Lebih² ia sangat sombong pula. Ia tak mau membungkuk sedikitpun, sehingga teman²ku jang datang kemudian, teralang olehnja. Tjis, sombong benar dia .... !"
„Tetapi aku tak dapat membungkuk, hai pohon katjang!" — djawab djundjungan itu. „Punggungku terasa kaku . . . . "
„Nah, itulah lagi tjatjatnja" — kata pohon katjang itu. „Aku mudah sadja membungkuk. Lihatlah, hendak kemana tubuhku bergerak, dapat."
„Tentu sadja" — djawab djundjungan itu dengan sedihnja. „Engkau adalah pohon jang dapat membelit, sedang aku hanjalah galah bambu jang kaku sadja.'"
„Alangkah baiknja kalau engkau dapat membungkuk. Terus-menerus berdiri tegak demikian, sungguh tak menjedapkan mata. Dan apakah sebenarnja pekerdjaanmu disini ....?" — pohon katjang itu bertanja dengan sombongnja. „Tiap hari engkau hanja diam sadja tidak bergerak, sedikitpun tak ada paedahmu. Kami? Tiap hari tubuh kami makin pandjang. Kami membawa daun² jang hidjau rimbun dan kami membawa bunga² jang bertjahja! Kemudian kami berbuah, dan buah² ini dimakannja oleh manusia! Dan engkau? Bergerakpun, engkau tak dapat. . .. "
„Aku tak tahu" — djawab djundjungan itu dengan muka bertambah sedih. „Jang memantjangkan aku disini, ialah pak Tani. Barangkali dialah jang lebih tahu, apakah maksudnja aku ditaruh disini. Dan aku sekarang hanja menurut sadja, diam berdiri disini dengan tiada bergerak."
„Tjis, sangat buruk perbuatanmu itu! Pemalas!" — demikian pohon katjang itu menggerutu. „Mengapa pak Tani menjimpan sesuatu jang tidak berguna disini? Mengapa barang jang tidak berguna ini tidak dibuangnja?"
Pertjakapan itu tiba² terhenti, karena waktu itu datang angin keras meniup mereka. Daun² dan bunga katjang itu tampak menggeletar dengan indahnja, menghiasi kebun.
„Tjobalah lihat, galah jang kaku itu!" — katanja menggerutu. „Hai, membungkuklah sedikit, untuk menghormati sang angin!" — teriaknja pula.
Karena galah itu merasa malu, maka dengan sekuat tenaga, ia mentjoba membungkukkan tubuhnja. Akan tetapi .... krak, krak . . . . "Rubuhlah ia! Dan semua sulur² jang tadinja membeliti djundjungan itu, djatuhlah ikut ber-sama² dengan galah itu.
Se
Pohon katjang jang sombong itu melingkar ditanah, sedang tubuhnja hitam karena digelapi semua bajangan. Dengan sekuat tenaga, ia mentjoba menguatkan dirinja untuk naik merajap keatas. Tetapi .... dapatkah ia berbuat demikian? Punggungnja terasa lemah. Dan djatuhlah ia kembali.
„Ah, djika seandainja galah itu berdiri lagi, tentu aku dapat ikut naik keatasnja. Sajang ....!" — demikian ia mengeluh.
Tetapi galah itu tidak mau berdiri lagi seperti tadi. Ia terletak ditanah sambil mendengarkan keluhan pohon katjang.
Kemudian tertawalah ia seorang diri, sedang pohon katjang tampak bersedih hati memikirkan betapa besarnja paedah djundjungan itu.
XI. DADANG DENGAN BOTOL² OBAT.
Dadang sudah lama sakit panas dan batuk². Dalam kamarnja jang sunji itu tiap hari ia berbaring. Tadi malam, panas badannja naik lagi. Ia tak mau minum obat dan tak mau menurutkan nasihat dokter. Kalau ia diberi obat oleh ibunja, ia menangis atau dengan diam² dibuangnja obat itu ketempat kotoran atau keluar djendela.
Pada suatu petang, turun hudjan dengan lebatnja. Dadang tak dapat tidur. Tubuhnja terasa sakit dan lesu. Panas badannja makin naik meninggi. Ia berbaring. Si Kamil, pengasuhnja, duduk dibangku jang ada disudut kamar. Ia menunggu dengan sajangnja, kalau-kalau Dadang minta minum. Dadang djuga tak mau ditinggalkan si Kamil, karena dialah kawannja ber-main² dirumah.
Ketika ia membuka matanja kembali, tampak ibunja duduk disampingnja.
„Sebentar lagi dokter datang, 'nak" — kata ibu Dadang perlahan.
Dadang tidak menjahut. Dalam hatinja ia sangat bentji kepada dokter. „Apakah gunanja memanggil dokter tiap minggu?" — pikirnja. „Dokter itu tjuma menjakiti sadja pekerdjaannja. Mula² ia memidjit pergelangan tangan, lalu mengenakan benda dingin jang memakai karet pandjang ditelinganja untuk mendengarkan napas. Kata ibu, benda itu stetoskup namanja. Sesudah mendengarkan napas, ditusuknja udjung djariku dan diisapnja darahku. Kemudian disuntiknja pula lenganku. Tiap hari ia menjuruh aku minum obat jang pahit². Perbuatannja selalu kedjam dan tidak menarik hati. Ah, aku bentji kepada pak dokter. Aku bentji kepada semua botol² obat jang ada diatas medja disampingku ini." Sambil berpikir demikian, ia memedjamkan matanja.
Ibunja mengusapusap kepalanja. „Lekaslah sembuh, nak. Nanti kalau sudah sembuh, kau boleh ber-main² lagi diatas gunung²-an jang dibuat ajah . . . . "
„Masih adakah gunung²an itu, bu?" — tanja Dadang.
„Tentu sadja masih ada. Lekaslah sembuh. Segala permainanmu masih ada menunggu engkau" — demikian kata ibunja sambil terus mengusap-usap kepala Dadang.
Tiba² pintu terbuka pelan². „Nah, dokter datang!" — kata ibu. Lalu Dadang diperiksa dengan teliti seperti biasa. „Obatnja diminum? — tanja dokter. Tapi Dadang diam sadja dan mukanja putjat. Ia takut, karena sudah dua hari ia tak mau minum obat. Obat itu dibuangnja keluar djendela.
Sesudah Dadang disuntik dan minum obat, barulah pak Dokter pergi. Dadang ditinggalkan oleh ibunja. „Dia harus tidur, djangan diganggu" — kata pak dokter kepada ibu.
Pintu ditutup, dan sunjilah didalam kamar. Dadang bersandar pada bantal. Tapi ia tak dapat tidur. „Mengapa tak ada teman² jang datang mengadjak aku ber-main² melihat gunung²an?"
Ia memandang lagi kedjendela. Tampak diluar djendala, air hudjan me-rintik². Ia merasa pusing. Matanja ber-kunang². Dan .... tiba² nampak olehnja sebuah botol obat jang terbesar diatas medja berubah rupanja mendjadi seorang orang jang kurus tinggi, berbadju putih, bertopi dan berkatja mata. Seperti pak dokter tampaknja. Kemudian disusul pula oleh botol² ketjil jang ada didekatnja. Begitu pula alat pengukur panas jang terletak disampingnja. Mereka merupakan orang² ketjil sebesar botol dan ber-gerak² seperti sebuah barisan jang sedang berdjalan. Orang² ketjil ini makin lama makin banjak . Dengan dikepalai oleh orang jang serupa dengan pak dokter tadi, mereka ber-iring² mendapatkan
Dadang. Ja, Dadang mendjadi bingung. „Apakah jang terdjadi?" — pikirnja.
Tiba² terdengar bunji jang sangat ribut diluar. Dengan takut Dadang bertanja kepada botol jang mendjadi pemimpin barisan itu. „Mengapa sangat ribut? Apakah jang terdjadi diluar?"
Orang ketjil itu mendjawab: „Sudah lama benar rumah ini kedatangan segerombolan musuh. Sekarang mulai datang lagi musuh² itu. Mereka sangat ketjilnja, sehingga dapatlah mereka masuk kedalam kamarmu dengan djalan melalui lubang kuntji pintu. Mula² mereka berdiri diudjung tempat tidurmu, kemudian be-ramai² mengerumuni tubuhmu. Ada jang singgah dikepalamu, ada jang masuk kerongkonganmu dan ada lagi jang hinggap dan bergantungan didjari-tanganmu. Musuh² itu berkuasa atas dirimu, dan engkaupun sangat patuh akan perintahnja. Kalau mereka melarang makan, maka tak maulah engkau makan. Djika mereka melarang engkau tidur maka tak maulah engkau tidur. Dan tahukah engkau, siapa musuh mereka?" — tanja orang ketjil itu. Dadang menggelengkan kepalanja. „O, musuh mereka jang terbesar, ialah .... obat² jang ada disampingmu itu! Kalau mereka melihat engkau hendak minum obat² itu, maka gemetarlah tubuhnja dan dengan tjepat mereka memberi perintah supaja lekas engkau membuang obat² itu ketempat kotoran atau keluar djendela. Dan obat² itu ialah .... kami! Kami, kami inilah musuh mereka! Tapi karena engkau sangat patuh kepada perintah mereka, kami tak pernah masuk kedalam tubuhmu untuk melawan mereka. Achirnja mereka mendapat kemenangan atas dirimu. Tjobalah perhatikan, tubuhmu makin lama makin lemah dan kurus, sedang mereka makin berkuasa atas dirimu!"
Dengan, mata terbelalak, maka berkatalah Dadang: „Tetapi engkau sangat pahit."
„Ja, kepahitan kami itulah jang mendjadi alat untuk berperang dengan mereka. Djika kami dapat masuk kedalam tubuhmu, rasa pahit kami itu sanggup bertempur habis-habisan dengan mereka, sehingga mereka terusir dari tubuhmu dan lari semua dari rumah ini."
„Tolonglah aku! Tolonglah aku, hai orang² ketjil" — kata Dadang. „Sekarang aku mau menurut kepadamu! Usirlah musuh² itu!"
„Pedjamkan matamu!" — kata orang² ketjil jang sebesar botol² obat itu. „Nah, sekarang kami akan mengerahkan tenaga pasukan kami untuk mengusir mereka. Dan pemimpin kami ialah pak dokter!"
Dengan hati berdebar, Dadang memedjamkan matanja. Kemudian terdengar suara orang² jang berteriak mengusir musuh, sedang suara sepatu jang berbaris sangat gaduh kedengarannja.
Dadang menunggu pertempuran itu dengan tjemas, sedang keringatnja mengalir dikening dan diseluruh tubuhnja. Beberapa lama kemudian, Dadang mendengar suara orang² jang dikedjar dan suara djendela dibuka orang. Dengan badan gemetar, pelan² Dadang membuka matanja. Waktu itu tampaklah olehnja ber-puluh² orang ketjil hitam jang berlarian melompati djendela, dikedjar oleh orang² ketjil putih jang se-besar² botol. Orang² ketjil jang dikedjar itu tidak berbadju, kulitnja hitam, rambutnja merah, sedang orang² ketjil jang mengedjarnja, semua berbadju putih, bertopi dan berkatja mata. „Itulah pasukan pak dokter....!" — bisik Dadang.
„Tidurlah engkau! Mereka sudah kalah dan sudah kami usir semuanja!" — demikian kata pemimpin botol² obat itu. „Sebelum engkau sembuh benar, tiap hari tentu kami menunggu engkau. Djangan takut, tidurlah engkau. Kami mendjagamu ....!"
Per-lahan² djendela itu tertutup kembali. Dan dengan penuh rasa sukur, diulurkannja tangannja: „Terima kasih!" — katanja. Lalu tertidurlah ia.
Esoknja, ketika ibunja datang menengok Dadang, dengan girang berkatalah ia: „Engkau dapat tidur, nak? Sebentar lagi tentu engkau sembuh. Kepalamu tidak panas lagi dan keriringatmu keluar banjak. Tentu karena obat jang kauminum kemarin petang. Sekarang minum lagi ja?"
Dadang mengangguk. Air mukanja djernih. Ia tak menangis lagi. Ia tak membentji lagi obat² dan ia tak bentji lagi kepada pak dokter.
Seminggu kemudian, si Kamil sudah memberi tahu kepada teman² Dadang, bahwa Dadang sudah sembuh. Sekarang ia radjin benar minum obat.
Pak dokter mendapat pudjian dari ajah. Tetapi Dadang tetap berpendapat, bahwa pasukan botol obat² itulah jang telah mengusir musuh² hitam diwaktu malam. Botol² obat itulah jang telah berdjasa kepadanja. Dan Dadang berterima-kasih benar kepada botol² obat itu.
Dadang tidak tahu, bahwa pendapatnja itu hanja terdapat dalam mimpinja selama tertidur.
XII. IA TAK PERTJAJA LAGI KEPADA IKAN.
Hari panas terik. Bu guru berdiri dimuka kelas menggambar seekor ikan. Anak² memperhatikan gambar itu dengan teliti. Ketjuali si Abu. Ia duduk disudut bangku agak membungkuk. Matanja sudah laju. Sebentar ia menguap sambil menutup mulutnia dengan kitab tulis jang terletak diatas bangkunja. Rambutnja jang kering dan kusut itu menundjukkan, bahwa otaknjapun kering dan katjau. Ia sudah tak kuasa lagi berpikir. Hatinja bentji melihat gambar ikan jang dipapan tulis itu.
Lihatlah, betapa tjepatnja bu guru membuat gambar ikan mas jang besar itu.
„Nah, gambar ini sudah selesai" — demikian kata bu guru memulai tjakapnja sambil meletakkan kapur tulis diatas medja. „Tjoba perhatikan. Ikan ini, ikan mas namanja. Dan gambar jang satu lagi ialah ikan mas jang dibelah dua. Kalau kita perhatikan tubuhnja, dapat kita bandingkan, bahwa tubuh ikan ini hampr serupa dengan djantung pisang. Bentuk jang londjong begini, memudahkan untuk meluntjur didalam air. Ekornja lebar. Ekor ini berdaging kuat, gunanja ialah untuk alat pendorong badannja. Sirip²-nja tjukup keadaannja, agar ia dapat menentukan arah perdjalanannja didalam air...." — Sampai disini, bu guru berhenti. Anak² mendengarkan seraja melihat pada gambar. Bu guru mengalihkan pandangannja kepada anak² itu ber-ganti²: dari Ali kepada Imam; dari Imam kepada Ati; dari Ati kepada Kusna dan .... dari Kusna kepada Abui Kebetulan Abu sedang menguap pandjang. Mulutnja tidak ditutup. Mukanja dan rambutnja telah laju dan katjau benar tampaknja. „Tjoba perhatikan sekali lagi. Engkau djuga, Abu ....!" — demikian bu guru meneruskan tjeritanja, sehingga si Abu terperandjat dan terpaksa ia memperhatikan gambar ikan itu.
„Badannja tertutup oleh sisik. Kalau kita selidiki, sisik itu berkulit tipis jang berlendir. Tetapi kulit itu bening, sehingga kelihatan sisik itu tak berkulit. Bentuk sisik itu bulat pandjang, terdjadi daripada zat tulang. Ia bertanam didalam kulit djangatnja. Warna sisik ini matjam², ada jang merah, putih, hitam, kuning .... "
Ja, sampai disini Abu tak dapat lagi menahan kantuknja. Matanja sangat berat untuk dibukakan dan .... merah, putih, kuning .... ah, berputarlah semua perkataan bu guru dalam pikirannja. Pandangannja djuga mendjadi ber-warna² karena kantuknja. Ja, merah, putih, kuning .... klup! Mata Abu tertutup dan .... tampaklah kini seekor ikan besar jang gandjil bentuknja, meluntjur dari papan tulis.
„Ha, mengapa engkau tinggal ber-malas² disini?" — demikian ikan itu bertanja kepada si Abu.
Abu tidak mendjawab. Ia meng-amat²i bentuk ikan itu. „Gandjil benar rupamu. Engkau bukan ikan mas jang digambar ibu tadi. Siapakah namamu?" — tanja si Abu.
„Aku bernama si Ikan terbang. Rupaku berlainan dengan ikan mas kepunjaan bu guru tadi. Lihatlah, badanku amat pandjang. Pada kiri-kanan dadaku ada sirip sepasang. Sirip ini dinamai sirip dada."
„Alangkah pandjang dan lebarnja sirip dadamu itu. Seperti sajap mesin terbang. Untuk apa sirip jang sepandjang itu?"
„Untuk terbang" — djawab ikan itu.
„Bagaimana engkau dapat terbang?"
„Mudah sekali. Lihatlah, diudjung belakangku, terdapat sebuah sirip. Sirip ini sirip ekor namanja. Djika aku hendak terbang, sirip ekor ini mulai bekerdja! Sirip ini aku kibas²kan diatas permukaan air. Oleh kekuatan sirip ini, mula² aku meluntjur diatas permukaan air. Kemudian aku tekankan sirip ekor ini, sehingga dadaku terdjungkit. Lalu aku pergunakan sajapku untuk me-lajang². Djika angin sedang kentjang, terbangku sangat tinggi. Tetapi harus hati², sebab kadang² djatuh diatas kapal. Banjak teman²ku jang terus ditangkap oleh pegawai kapal. Dan kata mereka, dagingku enak dan tjukup untuk dimakan beberapa orang."
„Hai, dimana tempat tinggalmu? Djika ikan mas, kata ibu hidupnja hanja dikolam dan disungai-sungai sadja. Dikolam dan disungai tentu tak ada kapal."
„O, ja. Engkau belum tahu, bahwa aku hidup dilaut. Laut itu sangat luas, sehingga aku bebas untuk melontjat dan terbang kian-kemari. Sudahkah engkau melihat laut?"
Abu menggelengkan kepala. Kemudian bertanjalah ia: „Mengapa engkau terbang? Apa maksudmu terbang?"
Hal ini sama sadja dengan binatang lain. Djika ada binatang jang mencoba hendak menerkam, lalu ia lari atau terbang. Demikian djuga diriku. kalau aku dikedjar ikan buas, lalu xxxxat dan terbang diudara. Alat ini sengadja diberi tuhan kepada binatang untuk menjelamatkan dirinja dari bahaja.
O, ja. Seperti trenggiling" — sahut si Abu. „Djika ia dalam keadaan bahaja, digulungnja badannja itu erat² sebagai perlindungannja."
„Ja, betullah demikian" — djawab ikan.
„Banjakkah musuhmu dilaut?"
„Kalau engkau ingin tahu, mari ikut sadja terbang bersama² kelaut. Tinggalkan sadja sekolahmu ini."
Abu berdiam sebentar. „Tetapi aku tak dapat berenang Bagaimana nanti kalau engkau terdjun kelaut?"
„Kalau begitu, biarlah aku tak akan terdjun. Kita melihat diatasnja sadja. Nanti engkau dapat melihat, bagaimana teman²ku hidup dilaut. Biasanja mereka terdjadi dari beberapa kelompok dan terdapat diseluruh lautan" — kata ikan itu. ,Duduklah dipunggungku. Nanti kita terbang ..."
Ketika si Abu siap hendak mengendarai ikan itu., tiba² meluntjurlah dari papan-tulis seekor ikan mas jang tjantik.
„Hai, djangan pertjaja kepada ikan itu, Abu!" — demikian ikan mas itu berkata kepada si Abu. „Kalau engkau meninggalkan sekolah ini, tentu bu guru marah dan engkau tenggelam kedasar laut, lalu dimakan ikan jang buas!"
„Heeee, siapakah engkau?" — tanja si Abu. „Engkau ikan mas jang digambar bu guru dipapan tulis tadi."
Ikan itu mengangguk. „Aku disuruh bu guru memanggil engkau. Dan engkau djangan ikut dengan ikan terbang ini. Ikan ini pendusta!"
Tetapi sementara Abu mendengarkan tjerita ikan mas itu, sirip ekor si ikan terbang sudah bekerdja. Seperti kapal terbang djuga, ia meluntjur dulu, kemudian terbang membawa si Abu dipunggungnja. Hati si Abu berdeber, benarkah tjerita ikan mas itu? Benarkah si ikan terbarbang itu pembohong ....?"
„Nah, itulah laut. Indah, bukan? Mari kita ... . . . !"
„Hai, aku tak dapat berenang!" — kata si Abu gemetar.
„Ah, tjoba² sadja. Mari kita turun . . . ."
Dan .... bjurr! Si Abu djatuh dilaut dan kepaianja basah-kujup.
„Aaauuu, aaauuuu! Aku tak dapat berenang. Aku tak mau pertjaja lagi kepada ikan. Ikan ini pendusta ....!" — teriak si Abu dalam keadaan basah-kujup. Dan .... eeeeh, dibukanja matanja dengan gugup. Antara ingat dan lupa, si Abu menjeka air jang membasahi kepalanja. Diusapnja air itu dengan lengan badjunja. Tampak bu guru berdiri didepannja sambil membawa botol berisi air. Anak² terdengar tertawa dan ber-bisik².
„Enakkah tidurmu, Abu?" — tanja bu guru sambil tersenjum.
Abu masih belum terkumpul benar ingatannja. „Ah, saja tak pertjaja lagi kepada ikan terbang. Saja hanja pertjaja kepada ikan mas jang dipapan tulis itu" — kata si Abu perlahan².
„Apa? Ikan terbang?" — tanja bu guru. „Engkau mimpi, Abu!"
Barulah si Abu sadar akan keadaannja. Ia terkedjut dan tunduk ke-malu²an. Seumur hidupnja, baru ia merasa malu sebesar itu. Tetapi dalam hatinja ia bentji kepada ikan terbang jang berdusta itu. Ia menjesal, mengapa ia telah meninggalkan sekolahnja dan ikan mas jang digambar dipapan-tulis itu?!
XIII. TJERITERA PUTERI TIDAK MAU.
Djaman dahulu kala, adalah seorang puteri, putera radja. Puteri ini baru berumur kira² 12 tahun. Ja, puteri ini masih ketjil!
Setiap malam ia tidur ditempat tidur jang bertilamkan sutera². Kamarnja hampir kelihatan kuning warnanja, karena barang² dan perabotan jang didalamnja, serba emas berkilat². Istananja terbuat dari batu pualam jang putih gemerlapan.
Tentu kamu mengira, bahwa puteri ini hidup dengan gembira dan bahagia, bukan? Ooo, salah sekali dugaanmu itu. Puteri ketjil ini, hidup dalam keadaan jang murung dan ketjut, karena selalu merasa tidak puas dengan keadaan dirinja, sekalipun ia hidup dalam kesenangan dan mewah se-mewah²nja.
Tiap hari ia hanja menggerutu sadja kerdjanja. Dan perkataan apakah jang selalu keluar dari mulutnja? O, perkataan jang keluar dari mulutnja, hanjalah satu perkataan sadja, ialah: „tidak mau!"
Pagi hari ia sudah bangun dari tidurnja. Disampingnja sudah tersedia lontjeng jang terbuat dari perak. Lontjeng ini gunanja untuk memanggil pelajan. Apabila lontjeng berbunji, maka datanglah pelajan kamar. Pelajan ini segera mengenakan pakaian puteri jang terbuat dari sutera biru muda. Lalu diambilnja sepasang sepatu beledu hitam dan dipasangnja sekali.
Selesai berpakaian, datanglah pula pelajan lain, pelajan santapan namanja. Pelajan ini membawakan puteri air susu dan kuwe² jang amat lezat. Tapi puteri itu segera berteriak: „tidak mau! Aku tidak mau air susu, aku ingin air kopi....!"
Segeralah datang pelajan lain jang membawakan air kopi. Pelajan ini berpakaian warna merah dan tjelananja
pendek ber-wiru². Tapi puteri itu berteriak lagi: „tidak mau! Aku tidak mau air kopi, aku ingin air teh manis!"
Datanglah pula pelajan lain jang berpakaian seperti pakaian Tionghoa lama. Badju dan tjelananja terbuat dari sutera merah djambu jang longgar ber-kilat². Barulah puteri ini meminumnja.
Sesudah minum pagi dan makan kuwe jang lezat², pergilah puteri itu ber-djalan². Baru sadja ia sampai digerbang istana, maka berderetlah kusir² istana dengan kereta emasnja jang berkuda putih enam ekor. Tapi puteri itu segera berteriak: „Tidak mau! Aku tidak mau kuda putih, aku ingin kereta perak jang ditarik kuda hitam!"
Segera kereta emas itu ditarik kembali kebelakang dan kini datanglah kereta perak dengan enam ekor kuda hitam. Kusirnja berbadju biru tua, berompi merah dan berkaus kuning. Ia melontjat kedalam kereta sambil memegang tjambuk. Maka berangkatlah kereta itu dengan mewahnja, berdjalan berkeliling sekitar kota.
Siang hari, puteri itu kembali diistana.
Diatas medja jang berhiaskan bunga² serta segala perabotan dari perak, terhidanglah santapan siang. Ah, puteri itu berteriak lagi: „Tidak mau! Aku tak mau disediakan nasi dan semur ajam! Aku ingin sajur daging sadja ....!"
Pelajan santapan itu segera lari kebelakang dan diambilnja sajur daging. Sajur daging ini diketjapnja sedikit. Kemudian datanglah pelajan lain lagi jang membawa nasi kuning dan panggang daging. Tapi puteri itu berteriak lagi minta diganti degan nasi putih dan goreng ikan. Setelah nasi putih dan goreng ikan datang, ia berteriak pula minta diganti dengan bistik sapi ....
Demikianlah kehidupan puteri itu dari hari kehari. Pelajan² diistana selalu sibuk mengerdjakan perintah²nja jang tiada habis²nja itu. Dari pagi sampai djauh malam, mereka harus bekerdja keras untuk kesenangan puteri jang seorang itu sadja.
Djika hari telah malam, datanglah seorang pelajan jang mengenakan pakaian tidurnja. Tapi puteri itu tak mau memakai badju tidur. Ia ingin memakai pakaian sore sadja.
Ketika ia tidur diatas tempat tidur jang bertilamkan sutera², ia berteriak: „Tidak mau! Aku tidak mau memakai tempat tidur sutera. Aku ingin memakai tempat tidur beledu hidjau!" Maka dibawanja ia keatas tempat tidur jang bertilamkan beledu hidjau. Dan barulah ia tidur ditempat tidur jang baru, sampai ajam mulai berkokok.
Tapi .... tjeritera ini belum selesai! Dengarlah selandjutnja:
Pada suatu hari, ketika puteri itu bangun dipagi hari, terkedjutlah ia. Ooo, ia telah tergolek didalam rumah seorang petani miskin dipinggir hutan. Ia tergolek dilantai jang bertilamkan djerami dan berselimutkan kain² rombengan!
Seketika itu djuga, ia berteriak: „Tidak mau! Aku tidak mau tidur ditempat tidur djerami! Aku mau tempat tidur beledu kuning ....!"
Tetapi ....
Sepi sadja disekitar rumah itu. Tak ada seorangpun pelajan istana jang datang. Ia ingin sekali memanggil mereka dengan lontjeng peraknja. Tetapi lontjeng itu tak ada disampingnja. Kemudian ia mendjerit! Ada kira² satu djam lamanja ia menangis terus-menerus, sehingga serak-parau suaranja. Setelah ia pajah menangis, tiba² muntjul seorang petani tua. „Siapakah engkau? Aku tak mau tempat tidur djerami! Aku ingin tempat tidur beledu kuning ....!" — teriak puteri itu kepada petani tua.
„Ho, ho, ho! Untuk tempat tidur beledu kuning, engkau harus menunggu lama disini, sampai tempat tidur itu datang sendiri ...." — djawab petani itu mengedjek. Lalu diberinja
puteri itu pakaian dan badju jang amat buruk.
„Aku tidak mau pakaian buruk! Aku mau badju sutera dan sepatu beledu hitam!"
„Ho, ho, ho! Untuk pakaian sutera dan sepatu beledu djuga, engkau harus menunggu lama disini, sampai pakaian sutera dan sepatu beledu itu datang sendiri .. . ."
Ketika puteri itu selesai berpakaian dengan pakaian buruk, maka dibawakannja sepiring bubur beras merah tjampur djagung. zzAku tak mau buburl Aku mau minum air kopi....!" — teriak puteri itu pula.
„Ho, ho, ho! Tunggulah disini, sampai air kopi itu datang sendiri ...." — djawab petani itu tambah mengedjek.
Selesai makan, puteri itu diharuskan bekerdja diladang. „Aku tidak mau bekerdja diladang jang panas itu! Aku mau djalan² dikereta dengan kuda merah sepuluh ekor!"
„Ja, ja. Tunggulah disini. Untuk segala kemewahan itu, engkau harus merasakan dulu hidup dihutan bersama aku ...." — Dan achirnja puteri itu mau djuga bekerdja diladang dengan pajahnja.
Siang hari ia merasa lapar. Akan tetapi ia hanja mendapat nasi merah sadja dengan sajur sedikit. „Aku tak mau sajur! Aku mau daging ajam dan ikan!" — teriaknja. Akan tetapi, petani tua itu selalu mendjawab seperti djawabnja jang sudah². Dan setelah pajah ia bekerdja diladang, pada petang harinja ia hanja disediakan nasi dengan goreng ikan asin sadja sedikit. Ah, sungguh aneh! Puteri itu tidak berteriak lagi: „tidak mau!" — Akan tetapi dimakannja nasi itu diam² sampai habis.
Ja, demikianlah kehidupan Puteri itu sekarang ditempatnja jang baru. Hari Senin sudah berganti hari Selasa. Hari Selasa berpindah mendjadi hari Rabu, Kamis, Djumat.... dan selandjutnja hingga terus ber-minggu².
Sekarang puteri ketjil itu sudah biasa hidup melarat dengan pak petani tua. Ia tak pernah lagi berteriak: „tidak mau!" Akan tetapi, ia menerima sadja pada segala apa jang diberikan pak tani tua itu. Tingkah-lakunja amat sederhana. Ia mulai radjin bekerdja. Ia sudah tahu, bagaimana rasanja hidup melarat, dan bagaimana sakitnja djika perut lapar minta isi. Kemiskinan dan kelaparan ini mendidik dia mendjadi manusia baru jang bentji akan kemewahan jang ber-lebih²an!
Sampai kepada suatu ketika, ja, ketika ia bangun pagi², badannja terasa berbaring lagi ditempat tidurnja jang bertilamkan sutera², lengkap dengan pakaian tidurnja. Kemudian datanglah para pelajan. Pelajan² itu sibuk mengenakan lagi pakaian siangnja dan sepatu beledunja. Lalu datanglah seorang lagi jang membawakan air kopi. Tapi sungguh mengherankan benar! Puteri itu tak sepatahpun beteriak: „Tidak mau!" — „Tidak mau!" Ia menjambut semua pelajanan itu dengan ramah dan penuh terima kasih ....
Semua perubahan tingkah-laku dan sifat²nja ini, sangat menggembirakan seluruh istana. Lebih² ajah-bundanja. Mereka sekarang pertjaja, bahwa puterinja tidak bersifat buruk seburuk dulu lagi. Kekajaan orang tuanja tak dipakainja kesempatan untuk kemewahan dirinja jang ber-lebih²an.
XIV. MALAM HARI.
Hari mulai sendja. Per-lahan² matahari tenggelam dibalik gunung dan gelaplah hari. Alangkah sunjinja disekeliling hutan itu.
Beberapa djam jang lalu, masih banjak terdengar ber-matjam² suara binatang. Tetapi makin lama makin berkurang djuga jang terdengar. Tentu kamu mengira, bahwa tak ada satupun jang bersuara dihutan itu. Tak ada satupun jang berbitjara.
Tapi sungguhkah tak ada jang bersuara dihutan itu? Tjoba dengarkan! Suara apakah jang ber-bisik² ditepi hutan itu?!
„Alangkah bagusnja malam ini" — demikian kata sekuntum bunga mawar memulai pertjakapannja. Ia bergojang kekiri dan kekanan amat lembutnja. Sekarang aku hendak tidur beristirahat. Besok akan kukembangkan lagi badjuku jang merah ini dan akan kusebarkan bau wangiku keseluruh hutan. Alangkah senangnja aku djika banjak lebah jang datang mengerumuni badjuku. Mereka mengisap maduku dengan udjung pendjilatnja jang halus itu."
„Sebenarnja bangsa manusia itu tidak tahu terima-kasih" — bisik sekuntum mawar jang berwarna merah muda. „Mereka tidak tahu, bahwa kita semua sangat senang djika didatangi lebah² itu. Dan bukankah lebah² itu amat berguna madunja buat mereka? Dan bukankah madu itu menjehatkan tubuh mereka?"
„Ja, ja. Sebagai tanda terima-kasih mereka kepada kita, maka diambilnja pisau. Kemudian dipotongnja kita dan dimasukkannja kedalam gelas jang berair" — sahut sekuntum mawar putih mengedjek.
„Hai, bukankah air itu baik djuga untuk kita? Dalam gelas jang berair itu kita dapat hidup dengan sederhana" — kata sekuntum bunga ketjil jang biru warnanja. „Siapakah jang mendjadi hiasan diruangan tamu? Kita! Siapakah jang mendjadi pusat perhatian? Kita! Dan siapakah jang sering ditjium dan dibelai oleh setiap tamu jang datang? Kita!"
„Ah, djangan terlalu sombong, kamu!" — kata beberapa helai daun kering ditanah jang sudah gugur. „Kamu harus ingat, bahwa djika tidak ada kami jang gugur dan bertimbun ditanah, tentu kamu tidak akan tumbuh. Karena kami bertimbun begini, lama² kami mendjadi pupuk. Dan pupuk inilah jang berdjasa. Akarmu mengisap makanan dari kami. Dan bukankah makanan itu dikirimkan oleh akar keseluruh tubuhmu? Kalau kami tidak ada, o, seluruh anggota tubuhmu tidak akan dapat makanan. Dan kamu tidak ada artinja bagi bangsa manusia. Sesungguhnja — kamu, lebah dan bangsa manusia, harus berterima kasih kepada kami si daun kering jang mendjadi pupuk."
„Tentu sadja" — kata seekor tjatjing tanah jang gemuk. „Aku djuga djangan dilupakan, sekalipun aku ketjil dan hina! Kalau aku tidak mengebor tanah ini terus-menerus tiap hari, tentu kamu tidak akan mendapat tembusan hawa kedalam. Kalau tidak ada hawa, tentu kalian mati lemas. Sesungguhnja — kamu, pupuk, air, lebah dan manusia, harus berterima kasih kepadaku. Tetapi apa jang terdjadi sebenarnja? Bangsa manusia menggali dan mengambil aku dari tanah. Kemudian ditusuknja dengan kail dan ditjemplungkannja kedalam air agar tubuhku habis di-robek² ikan. Itukah tanda terima-kasih .... ?!"
„O, aku lain lagi" — kata sekuntum melati putih ikut bertjakap dari sudut.
„Hai, apa pendapatmu, ketjil?" — tanja bunga mawar jang merah sambil tertawa.
„Ah, djangan kau tertawakan aku!" — sahut melati itu ke-malu²an.
„Aku hanja sekuntum melati jang ketjil sadja. Aku berpikir dan berbuat, selalu dengan perasaan kasih-sajang. Sesungguhnja, tak baik kita hanja memikirkan diri kita sendiri
sadja. Kita semua tak dapat hidup seorang diri. Jang satu tentu membutuhkan jang lain, atau sebaliknja. Misalnja sang lebah, mereka, mempergunakan kaki bawah dan bulu²nja untuk pengangkutan serbuk. Dengan penjerbukan itu, mereka menjebarkan tjatjah-djiwa kita, bangsa tumbuh²an. Mereka berbuat djasa untuk kita, tetapi kitapun berbuat djasa pula untuk mereka. Tidakkah gudang madu kita terbuka buat mereka untuk diisapnja tiap hari? Demikian pula bangsa manusia. Mereka seringkali memberi kita air, bilamana kita merasa kering kehausan. Sebaliknja, kita dapat memberikan warna dan harum wangi kita kepada mereka ....
„Betul itu!" — sambung setangkai rumput jang sudah tua. „Aku djuga senang mendengarnja, djika kalian bertjakap seperti si putih ketjil itu ....
„Menurut pendapatku, tak usah kita minta² terima kasih karena djasa kita ...." — sambung melati itu „Kewadjiban kita, hanjalah: berbuatlah baik, apa jang telah dianggap baik. Kita semua butuh-membutuhkan dan harus bantu-membantu."
„Ja, akupun setudju demikian" — kata bunga mawar jang merah. „Tetapi sekarang sudah malam. Baiklah kita tidur! Besok, hari akan siang kembali dan kita bangun pagi² dengan mengembangkan warna badju kita jang baru dan harum wangi kita untuk seluruh alam dan manusia ... ."
Maka terdiamlah semua bunga dan daun² diseluruh hutan itu. Mereka tak bertjakap-tjakap lagi. Tetapi kita sudah dapat menangkap apa jang mereka pertjakapkan tadi, ialah: bahwa didunia ini, segala bunga² jang ber-warna², segala daun²an jang hidjau, tjarjing tanah jang hina, lebah² dan daun kering, semua saling membutuhkan dengan tiada memandang upah dan penghargaan!
XV. DUA SAHABAT.
Iljas dan Bandi, dua orang bersahabat Mereka bekerdja mendjadi pegawai stasiun disebuah kota ketjil. Kedua orang ini, sudah lama bersahabat, sekalipun tabiatnja berlainan.
Iljas seorang jang sabar dan patuh kepada kewadjiban. Sebaliknja, Bandi seorang jang malas bekerdja dan penaik darah. Banjak benar kawan² sepekerdjaannja jang sakit dan luka hatinja karena sifat dan tabiat kekasaran Bandi. Dengan Iljas djuga kadang² Bandi berselisih. Tetapi perselisihan ini tidak lama, karena Iljas pandai benar memadamkan nafsu Bandi.
Pada suatu ketika, petang hari, mereka beristirahat. Karena rumahnja berdekatan, Iljas datang kerumah Bandi, maksudnja akan ber-tjakap² tentang pekerdjaan dan keadaan se-hari². Waktu Iljas masuk, terdapat Bandi sedang termenung bermuka masam.
„Mengapa kau semurung ini, Di?" — tanja Iljas. Tetapi Bandi tak mendjawab. Ia tetap bermuka masam dan keruh. Setelah Iljas duduk, barulah ia berkata: „Huh, bagaimana tidak akan susah dan murung? Tjoba sadja pikirkan: anakku tiga orang. Semuanja harus bersekolah dan makan ongkos banjak. Tetapi apakah jang kupakai untuk ongkos² mereka itu? Wang gadjiku amat sedikit, tak 'kan tjukup untuk ongkos² mereka. Tuan kepala kita jang dulu, telah berdjandji, bahwa ia akan menaikkan gadjiku. Ketjuali itu, ia sering djuga memberi sumbangan untuk ongkos² keluargaku. Tapi sajang, ia lekas dipindahkan dan diganti oleh kepala jang sekerang. Huh, tuan kepala jang baru ini, sangat kikir. Tak pernah ia menanjakan tentang keadaanku serta keluargaku sehari-hari. Ia tak tahu, kalau hidupku sangat berat. Ja, tak pernah ia memberi sumbangan apa² untuk keluargaku. Djika ditanja soal gadji, malah ia marah dan membentak-bentak ketakutan: pemalas, pemboros, ah, banjak lagi kata²nja jang pahit. Memang dia sombong! Aku bentji! Kadang² aku lupa, hampir sadja aku pukul dia, djika ia sedang maki² begilu . . . . "— kata Bandi ber-sungut².
Iljas tersenjum mendengarkan kawannja ber-sungut². Buat Iljas tak aneh lagi. Bandi sudah biasa ber-sungut² dan marah demikian rupa.
„Ja, kita harus bersabar. Barangkali tuan kepala jang sekarang ini, belum kenal kepada kita. Djika sudah kenal djuga. tentu ia baik dan meluluskan keinginan kita!"
„Sabar? Huh, sabar? Belum kenal? Bohong ....! Aku sudah tjukup bersabar. Dan dia sudah tjukup mengenal kita. Memang bukan sekali ini sadja aku berganti madjikan. Sudah sering, bahkan ber-kali². Tapi belum pernah ada madjikan seperti orang ini kedjamnja. Tadi pagi dia mem-bentak² aku lagi didepan orang banjak. Ah, malu aku! Selama hidupku belum pernah aku dimaki orang didepan umum. Sampai mati rasanja, tak 'kan lupa sakit hatiku tadi. Tunggu sadja, sekali waktu, akan kubalas dendamku ini. Biar bagaimanapun djuga, ia harus kubalas ....!"
„Apa, Di?" — tanja Iljas. „Membalas dendam? Ah, tak baik itu! Kita harus bersabar sedikit. Lambat laun djuga berhasil maksud kita!"
„Tidak! Memang kau termasuk golongan kolot! Nasihatmu hanja sabar, sabar, sabar! Huuuuuh .... bosan aku. Memangnja aku mau djadi malaikat? Tunggu sadja, nanti, sekali waktu, akan kubalas dendamku ....!"
Iljas pulang kerumahnja dengan perasaan menjesal. Mengapa Bandi semarah itu? Apakah jang telah diutjapkan oleh tuan Murko? Dan pembalasan apa jang hendak ia lakukan?
Malam itu Iljas tak dapat tidur njenjak. Se-malam²an ia teringat akan sahabatnja. „Membalas dendam?" — Ah, alangkah takutnja ia. Bagaimana kalau sesungguhnja Bandi memukul tuan Murko? Bandi tubuhnja tinggi-besar, karena ia seorang pekerdja jang banjak mengeluarkan tenaga, sedang tuan Murko badannja ketjil-pendek, karena ia seorang pegawai jang hanja duduk sadja kerdjanja. Perbandingan kedua kekuatan ini, sangat mengerikan Iljas.
Esok harinja, seperti biasa kedua sahabat itu bekerdja. Tuan Murko jang diantjam Bandi itu, kebetulan sedang beristirahat. Ia pulang ke Bandung melihat keluarganja jang sakit.
Iljas girang, ketika mendengar kabar ini. Djika tuan Murko sudah masuk bekerdja lagi, tentu amarah Bandi sudah reda. Dan ia lupa akan niatnja membalas dendam.
Tetapi ramalan Iljas ini meleset.
Petang hari, Iljas berdjalan² melihat sawah. Sawah itu terletak disepandjang djalan kereta api. Ketika ia sedang asjik memperhatikan pematang² jang hampir gugur, tampaklah dari djauh seorang laki² jang tinggi besar badannja, sedang mem-bungkuk² diatas rel kereta api. Sebentar² ia menoleh kedepan, dimana tempat kereta api jang penghabisan datang menudju stasiun.
Iljas terus berdjalan mendekati orang itu. „Heee, siapakah orang itu? Bandikah ia?" — tanja Iljas seorang diri.
O, betullah. Orang itu adalah Bandi, sahabatnja. Ia sedang mengungkit-ungkit rel kereta api itu. „Hai, Bandi? Mengapa kau begitu?" — tanja Iljas sesudah dekat kepadanja. Bandi terkedjut sekali. Tetapi setelah ia tahu, bahwa jang datang itu sahabatnja, ia melandjutkan pekerdjaannja lagi.
„Akan kubalas dendamku! Biar ia mati terguling dari kereta api ....!" — katanja sambil melepaskan sekerup rel jang dikerdjakannja sedjak tadi.
„Siapa?" — tanja Iljas. „Siapa jang harus terguling ....?"
„Siapa lagi kalau bukan dia si sombong dan si kikir itu? Mesti, dia mesti tjelaka!" — katanja pula marah².
„Ia sedang beristirahat, Bandi. Dia tidak ada disini" — sahut Iljas gemetar.
„Ja, tetapi sore ini dia akan pulang dengan kereta penghabisan. Djadi tentu dia ada dikereta nanti . . . . "
„Ah, Bandi. Engkau harus ingat. Djika engkau berbuat sedjahat itu, tentu bukan dia sadja jang tjelaka, tetapi akan banjak lagi penumpang² didalamnja jang menderita karena kekedjamanmu ini. Kita harus dapat menahan napsu amarah kita, Bandi. Mari kita betulkan lagi rel kereta api ini, supaja ketjelakaan itu djangan terdjadi ....!"
„Apa? Aku betulkan lagi rel ini? Terima kasih, Iljas. Semua hinaan dan tjatji-maki jang telah dia hadiahkan kepadaku, kini akan kubalas dengan perbuatan ini. Ajo, kita saksikan apa jang terdjadi sesudah ini . ..." — demikianlah katanja sambil menarik tangan Iljas.
Tetapi Iljas tertegun. „Tidak!" — djawabnja sambil-meng-geleng²kan kepalanja. „Kereta ini harus tertolong . . . . "
Bandi menjentakkan tangan Iljas. „Apa kehendakmu? Aku bentji kepada si sombong djahanam itu!" Sambil berkata demikian, pergilah Bandi ter-gesa² kepinggir sawah meninggalkan Iljas. Ia ingin tahu, apakah pekerdjaannja berhasil atau tidak, Ia hendak menjaksikan keadaan itu dari djauh, dipinggir sawah.
Iljas gemetar tubuhnja karena tjemas memikirkan ketjelakaan jang akan datang. Ditjarinja akal, bagaimana djika kereta itu datang? Ia berpikir. Kemudian teringatlah ia kepada kain putih jang dibelitkan dilehernja. Kain putih! Djika kain itu dilambaikan, akan tahukah orang² itu, bahwa disini ada bahaja? Ah, kain putih itu bukan tanda bahaja. Djadi? Kain apa? Kain merah ....?!
O, ia harus mentjari warna merah. Kemana ia harus mentjari, sedang kereta itu sebentar lagi akan datang dan langsung menudju tempatnja berdiri. Apakah jang harus ia perbuat? Kemana ia harus mentjari warna merah?
Ah, dengan tak berpikir pandjang lagi, ia mengambil pisau-lipatnja dari dalam saku tjelana, dan .... tjress! Dilukainjalah pergelangan tangan kirinja. Kamu tahu, bahwa djika pergelangan tangan dilukai mengenai urat nadi, tentu akan keluar darah se-banjak²nja. Dan darah ini merah warnanja.
Maka mengalirlah kini darah dari pergelangan tangan Iljas jang kemudian disapunja oleh kain putih tadi. Lama² kain putih iu berganti rupa. Kain itu mendjadi merah! Nah . . . . dengarlah kereta api telah datang. Suaranja terdengar gemuruh.
Tetapi sementara itu, darah Iljas masih mengalir terus. Iljas berlari kedjurusan tempat kereta api itu datang sambil melambai-lambaikan kain merah jang dipegangnja. Makin dekat kereta api itu, makin tjepatlah ia me-lambai²kan kain merahnja. Ja, makin dekat, makin dekat dan .... tiba² pingsanlah Iljas tak tahu lagi apa jang telah terdjadi atas dirinja, sedangkan darah dari tangan kirinja terus mengalir basah! Ia pingsan, karena terlalu banjak mengeluarkan darah.
Pengemudi kereta api itu mengerti akan tanda bahaja jang di-lambai²kan Iljas. Per-lahan² berhentilah kereta itu ditempat jang agak djauh kepada rel jang berbahaja itu. Semua penumpang belum mengerti, apakah sebabnja terdjadi peristiwa jang mengherankan itu. Dengan hati ber-debar², mereka turun dan mendekati Iljas jang sedang berbaring pingsan. Tangan kanannja memegang kain merah, sedang tangan kirinja penuh berlumuran darah!
Tapi sementara kereta api itu berdjalan per-lahan², tampaklah seorang laki² jang berlari menjusul Iljas dari belakang. Orang itu ialah .... Bandi. Ja, waktu Iljas mengerdjakan perbuatannja jang mengerikan tadi, Bandi menjaksikannja denga hati berdebar dan penuh rasa dosa dan kesalahan. Seketika itu djuga, hilanglah nafsu amarah Bandi kepada tuan Murko jang tadinja sangat bergolak itu: Hanja satu jang ia pikirkan, ialah: Iljas dalam bahaja! Djika Iljas dibiarkan, tentu matjam² tuduhan dan hukuman akan menimpa kepadanja. Padahal Iljas telah berkurban demikian besarnja untuk keselamatan orang lain.
Itulah sebabnja, maka Bandi menjusul Iljas. Ia lupa kepada urusannja sendiri. Dan ketika sampai ditempat orang² jang sedang berkerumun itu, dengan nafas ter-engah² ia berdiri disamping Iljas dan berkata: „Tangkaplah saja! Sajalah jang sudah berbuat salah dan menjebabkan ketjelakaan ini ...."
XVI. SEBUAH PENA JANG BERTJERITA.
Memang pekerdjaan tukang rombengan itu hanja berkeliling sadja ketiap rumah mentjari barang² jang sudah tidak terpakai, atau barang² bekas jang didjual oleh orang² jang sedang butuh uang.
Sekali ini, ia berhenti melepaskan lelahnja dibawah pohon jang disekitarnja banjak tumbuh rumput² hidjau muda. Dan marilah kita dekati tempat barang² rombengan berkumpul itu. Ah, aneh benar. Kita dengar suara ramai jang asjik ber-tjakap².
„Engkau pengikut baru ...." — demikian kata sebuah buku jang sudah robek pinggirnja kepada sebuah pena-tinta jang menggeletak disampingnja. „Aku lihat tadi, kau dibawa oleh seorang anak laki² dan didjualnja dengan murah kepada tuan kami. Apakah kau sudah rusak benar, maka didjual semurah itu?"
„Ah, anak itu bodoh" — djawab pena-tinta itu. „Dia pemalas. Dan dia tidak tahu akan harga dan paedahku. Sambil marah², dimintanja aku dari seorang jang amat radjin beladjar dan menulis. Tapi baru sadja seminggu aku berada ditangannja sudah didjualnja kepada tukang rombengan jang membawa² kalian. Dan uangnja dipakainja djadjan. Dasar anak bodoh ...." — katanja menggerutu, „Ia tidak tahu, bahwa karena kekuatanku dan kesetiaanku bekerdja, aku dapat djuga menghasilkan uang be-ribu² rupiah. Dan dengan uang itu, dapat pula aku menjumbang beberapa rumah piatu, menolong anak² miskin, mendirikan bangun²an sekolah desa atau memberi sokongan kepada badan² perdjuangan."
„Apa katamu?" — djawab barang² rombengan itu heran. „Kami tidak mengerti. Tjoba tjeritakan, apa arti perkataanmu itu dan apa paedahmu bagi manusia?"
„Dengarkan! Begini tjeritanja:
Aku datang ketempat ini, dengan menumpang kapal laut jang besar sekali, melalui lautan jang warnanja selalu biru. Setelah ber-minggu² didjalan, baru aku tiba ditempat perhentian kapal atau ditempat kapal berlabuh. Namanja pelabuhan.
Dua hari kemudian, sampailah aku disebuah toko. Aku diletakkan berderet dengan kawan²ku lainnja dalam sebuah lemari katja. Dari dalam lemari itu, aku bisa melihat keadaan toko disekitarnja, dan bisa melihat keluar toko. Senang benar aku melihat orang² jang berbelandja dan berpakaian bagus². Tapi kasihan pula bilamana kita melihat keluar toko, banjak orang² jang miskin hina-dina. Tukang² betja mendajungkan kakinja menarik kawan² bangsanja lagi jang pelesir berse-nang². Tukang² betja itu, pakaiannja robek² penuh keringat dan kerdjanja seperti kuda. Air mukanja keruh penuh penderitaan.
Pada suatu hari, datanglah seorang laki² kedalam toko. Laki² itu berbadju bagus dan berdasi belang² seperti bianglala. Se-patunja bagus meng-kilat².
Tiba² ia bertanja: „Apakah disini ada pulpen Parker?" — seraja me-lihat² kedalam katja lemari. Segera tuen toko mendekati tempat kami. Dibukanja lemari kami dan ditundjuk-kannja deretan kami. Barulah aku tahu, bahwa disini, aku disebut orang: pulpen Parker. Lalu dipilihnja deretan kami, satu demi satu. Tapi penghabisannja, ia memegang aku dan berkata: „ini sadjalah, jang ber-garis² hidjau . . . . "
Waktu kotak tempatku diambil, ramailah kawan²ku memberi utjapan selamat djalan. Dan dengan hati jang sedih, aku membalas utjapan selamat tinggal, karena kami tidak tahu, kapan ditakdirkan berdjumpa lagi.
Esok harinja, aku sudah di-bawa² oleh tuan si pembeli itu. Tempatku disaku badjunja bagian sebelah atas, diselitkan berderet dengan pensil emas dan sapu tangan jang selalu harum ber-minjak wangi.
Tapi aneh benar. Tuan ini kerdjanja hanjalah pelesir sadja setiap hari. Rupa²nja ia tidak punja tempat pekerdjaan jang tentu. Barangkali kamu tahu, bahwa didalam tubuhku ada sebuah pembuluh karet tempat tinta. Djika sebuah alat diluar tubuhku ini diangkat keatas, dan penanja ditjelupkan kedalam botol tinta, dan kemudian ditekannja kembali alat itu, maka masuklah tinta kedalam pembuluhku. Alangkah segarnja, bila tinta itu sudah mengisi pembuluhku. Se-akan² tinta itu darah baru jang dapat menjehatkan tubuhku. Maka mulailah aku bekerdja sebagaimana kehendak si penulis jang menju-ruh aku setiap waktu.
Tapi pada tuan ini, kerdjaku tak berat. Apabila pembuluhku sudah berisi tinta penuh, maka kerdjaku hanjalah menuliskan makanan dan minum²an jang dipesannja dirumah makan sadja. Djika hari telah malam, dibawanja aku menonton ke-gedung² bioskop sampai larut. Aku hanja didjadikannja hiasan sakunja sadja, untuk memperlihatkan kekajaan si pemilik.
Ah, sesungguhnja! Tak betah aku tinggal ber-sama² dengan tuan ini. Aku mendjadi kurang sehat karena kurang bekerdja.
Untunglah, pada suatu hari, aku dibawa djalan² kepasar Glodog. Ketika ia berdesak² dipasar, tiba² ditjabutnja aku oleh seorang laki² jang tidak kukenal. Dibawanja lari sekuat tenaga, hingga djauh terpisah dari tuan madjikanku. Rupa²-nja aku dibawa oleh seorang pentjopet jang ulung. Tak mungkin aku bisa kembali ketempat asalku. Dari pasar Glodog, aku dibawanja naik trem, dan sampai ditempat tukang rombengan. Ia melompat dari atas trem, dan ter-gesa², didjualnja aku kepada salah seorang diantara tukang² rombengan itu.
Untuk pertama kalinja tinggal dipikulan tukang rombengan ini, memang merasa sedih. Aku tinggal menggeletak ber-desak²an dengan bekas lampu jang sudah tua, sepatu tinggi jang sudah robek kulitnja, dan banjak lagi barang² tua jang baunja sangat berlainan dengan bau²an ketika tinggal dilemari katja dan disaku tuan si pembeli jang pertama. Tetapi ja, ada djuga baiknja. Disini aku bisa lebih dekat dengan tukang² betja, tukang petjel, pengemis² dan banjak lagi orang² kampung jang pertjakapannja kadang² amat lutju dan menggembirakan. Dan lama² aku mendjadi biasa bergaul dengan teman² dan tetangga jang tadinja dipandang hina itu. Bahkan, kini aku lebih senang bergaul dan mendengarkan tjerita² mereka, daripada berdiam dilemari katja atau pelesiran keluar masuk rumah makan.
Pada suatu hari, datanglah dua orang kakak beradik ketempatku. Dua saudara ini amat serupa rautan mukanja. Jang seorang, laki². Badannja tinggi-besar. Jang seorang lagi, wanita. Kurus pandjang tapi manis. Kedengaran mereka ber-tjakap² : „Aku sudah lelah mentjari dipasar, tapi pulpen Parker jang kauingini itu tidak djuga didjumpainja" — demikian kata abangnja. „Kita beli sadja pulpen jang biasa."
„Ah, aku kepingin jang hidjau jang ber-garis² ...." — kata adiknja. „Dan aku ingin jang seperti kepunjaan mas Nonol"
„Tapi bagaimana? Kita 'kan sudah lelah men-tjari², dan mukamu sudah merah begitu kepanasan ...." — djawab abangnja.
Wah, hatiku berdebar. Aku ingin melompat sadja kepada mereka dan berkata: „inilah aku, si pulpen hidjau! Ambillah aku, hai orang² manis ....!"
Mungkin, karena sudah nasibku untuk hidup ber-sama² dengan mereka. Maka sesudah lama mereka berputar memeriksa tukang² rombengan, maka bertemulah mereka dengan aku. Dan mulai hari itu djuga,, aku dibawa kedalam sebuah toko, lalu diberinja tubuhku dengan huruf² ketjil: „Aliati Trisna". Nama Aliati adalah nama adiknja, sedang Trisna ialah nama abangnja. Aku diberikan kepada adiknja, adalah sebagai hadiah ulang tahunnja.
Sedjak ini, lain benar rasanja penghidupan dan keadaan ketika ditempat tuan pembeli jang pertama dengan ditempat jang sekarang ini. Dahulu, aku tak pernah bekerdja, dan tinta jang ada dipembuluhku, djarang benar diganti. Karena itu aku djadi merasa kurang sehat.
Tapi disini sekarang sebaliknja. Tiap hari aku dipakainja menulis, dan sebentar² digantina tinta jang dipembuluhku itu. Lama² aku tahu, bahwa nona Aliati ini adalah seorang penulis buku². Dan ketika membeli aku djuga, ia sedang menjelesaikan sebuah bukunja jang sudah ber-puluh² halaman ditulisnja. Siang malam ia bekerdja dengan radjinnja. Dengan sendirinja, aku merasa tjinta kepada nona Aliati ini, dan sedapat mungkin aku mendjaga diriku supaja tetap kuat tak gampang rusak dalam membantu menjelesaikan pekerdjaannja.
Sesudah be-ratus² halaman ia menulis, pada suatu hari pergilah ia kesebuah gedung jang dinamai penerbit. Penerbit, ialah suatu badan jang semata menerima karangan² untuk diterbitkan mendjadi buku. Karangan² itu dinamai naskah. Dan naskah² jang datang itu diperiksa oleh mereka jang bekerdja dibagian penerbit bagian pemeriksaan naskah² tersebut. Mereka disebut: pegawai bagian redaksi. Naskah² itu setelah diperiksa bahasa, tjerita dan isi tjeritanja, kemudian dipertimbangkan, baik tidaknja diterbitkan. Begitu pula dengan naskah nona Aliati. Dan rupa²nja naskahnja diterima baik oleh penerbitnja, sebab tak lama kemudian, aku tahu sendiri, bukunja diterbitkan dengan sambutan jang baik pula.
Sedjak ini, banjak lagi buku²nja jang ditulis dan diterbitkan. Hampir semua adalah hasil bantuanku. Ia banjak mendapat uang dari buku²nja. Tapi uang itu dipergunakannja untuk menjokong badan² perdjuangan, sekolah² desa dan barisan² tentara jang ketika itu banjak dikirim kemedan pertempuran. Dan ketika peperangan masuk kekota, serta musuh² merusakkan segala rumah² dan gedung² dikota, maka pergilah Trisna bersama dengan ber-puluh² kawannja kegunung sambil membawa sendjata. Adiknja, nona Aliati tidak ikut. Ia dapat bagian dikota, dan mendjadi penghubung mereka jang pergi kegunung-gunung. Dan aku? O, kini aku pindah ketangan Trisna, dan diharuskan ikut bersama dia kegunung!
Ber-minggu² aku di-bawa² digunung, masuk kampung keluar kampung. Kadang² tiba dihutan sepi jang tak ada penghuninja. Trisna djarang sekali makan dan tidur. Djika malam² ia berkumpul dengan kawan²nja sambil mengelilingi lampu minjak, biasa aku dikeluarkan dari dalam sakunja. Dipakainja aku menggambar kampung² atau tempat² jang harus diserang. Djadi kerdjaku sekarang, tidak sadja menulis, tapi djuga menggambar tempat² musuh jang harus diserang.
Pada suatu hari, terdengarlah suara tembakan di-mana². Ketika Trisna keluar hendak mengatur pasukannja, tiba² datanglah sebuah peluru musuh, tepat mengenai dadanja dan tembus dipunggungnja. Seketika itu djuga, Trisna rebah ditanah dengan berlumuran darah! Aduh, aku tak tahan melihatnja. Tubuhku penuh dilumuri darahnja jang merah panas itu. Aku tak tahu lagi, apa jang terdjadi sesudah itu, sebab tubuhku mendjadi kaku dan tertutup oleh darah kering jang mendjadi hitam. Suara tembakan makin lama makin reda, kemudian sepi tak terdengar apa² lagi.
Trisna dibawanja ketempat jang sunji. Lukanja ditjutji bersih, dan aku djuga ikut tertjutji. „Trisna meninggal kena tembak ....!" — demikian kata kawan²nja jang berkumpul. Terdjadilah hudjan air mata, karena Trisna terkenal sebagai pemimpin pasukan jang berani dan sajang kepada anak-buahnja.
Oh, alangkah sedihnja hatiku! Aku ingin memeluk tubuh Trisna erat², dan membawanja kerumah jang dulu, tempat ia berkumpul dengan keluarganja.
Per-lahan² aku diambilnja dari saku badjunja. Dibatjanja tubuhku: „Aliati Trisna".
„Biarlah, aku sampaikan nanti kepada adiknja" — kata seorang kawannja sambil memasukkan aku kedalam sakunja.
Tapi ber-bulan² lamanja, Aliati tak djuga datang ketempat kami. Dan lama² kami dengar, bahwa ia masuk pendjara dikota! Ah, ngeri benar aku mendengarnja. Untunglah, kita hanja mendjadi benda² sadja jang tak mungkin kena tembak atau masuk pendjara. Manusia selalu diantjam oleh keganasan manusia lagi ....
Peperangan digunung sudah berachir! Aku dibawanja kembali kekota. Tapi entah karena letih dan lapar, entah karena pusing melihat kendaraan demikian ramainja, orang jang membawa aku ini, terlanggar oleh sebuah mobil jang sedang tjepat melantjar didjalan besar. Aku terpelanting kepinggir djalan. Dan segera dipungutnja oleh seorang tua jang kebetulan sedang berdiri dipinggir djalan itu. Orang itu tjepat berdjalan dari tempat ketjelakaan itu, sehingga aku tak tahu lagi, apa jang terdjadi atas orang jang terlanggar mobil tadi. Setiba dirumah, aku diberikan kepada anaknja jang laki². Anak ini tampak girang me-lontjat². Dan sedjak ini, bergantilah penghidupanku. Tiap hari aku ikut kesekolah, dan disini aku bekerdja menurut kemauan anak ini: menuliskan peladjaran, menggambar atau menjalin hitungan² dipapan tulis. Anak ini amat radjin. Tiap² ia menghadapi ulangan dan udjian, selalu ia mendjadi anak jang terpandai.
Tapi pada suatu hari, aku dimintanja. Anak jang mengambilku ini, anak jang pemalas dan bodoh! Seminggu kemudian, aku didjualnja kepada tukang rombengan ini dengan harga jang murah sekali . . . . "
Sampai disini, berhentilah pulpen itu bertjerita. Dan .... ketika mereka masing² memikirkan tjeritera itu, tiba² terdengarlah suara sepatu mengindjak rumput per-lahan². Seorang wanita muda, datang mendekati pikulan tukang rombengan itu. Dibuka-bukanja buku jang sudah tua dan robek² itu. Tapi tiba² terlihat olehnja pulpen jang tergolek disampingnja. Dipungutnja, dibukanja, dan dibatjanja huruf² jang tertulis dibatangnja. Dengan mata terbelalak, dan kemudian tampak air matanja menggenangi kelopaknja, ia berkata perlahan: „bang Trisna telah meninggal . . . . "
Kemudian dibelinja pena itu kepada tukang rombengan tadi, dan diselitkannja dibadjunja bagian atas, dengan maksud tak akan di-lepas²nja kembali.
XVII. TITIK AIR HUDJAN.
Sehari-harian udara tjerah djernih dan langit terbentang lebar seperti pajung biru jang besar mengembang diatas bumi.
Tetapi pada petang harinja, berkumpullah dilangit itu, awan jang gelap mendung, dimana tak lama kemudian, djatohlah hudjan amat lebatnja. Dan dari salah sebuah gumpalan awan jang mendung itu, terlepaslah dua titik air. Tjepat sekali mereka meluntjur kebawah berdampingan dan tiba pada sebuah katja djendela rumah jang besar.
Titik air jang satu, djatuh tergelintjir kepinggir djendela, sehingga ia menjerupai sebuah titik air mata jang besar! Tapi jang satu lagi hanja bergojang sadja diatas katja dengan tenangnja. Tubuhnja ketjil-ramping, dan ia menjerupai sebuah mutiara jang gandjil berkilau.
Si Ramping melihat kepada kawannja. Ia ingin terus berdampingan dengan kawannja ini, sebagaimana ketika mereka ber-sama² terlepas djatuh dari gumpalan awan mendung. „Hai, djauh benar engkau meluntjur dari tempatku" — serunja. „Marilah kembali, dan marilah kita sama² tinggal sebagaimana kita djatuh dari gumpalan awan tadi . . . . "
„Tak dapat, kawan! Katja ini menggalang djarak jang djauh diantara kita. Aku tak bisa melontjati katja ini. Dan .... mungkin kita tak dapat bertemu lagi!"
Si Ramping mulai menitikkan air mata dan menangis perlahan². Ia merasa terpentjil diatas katja jang lebar itu dan djauh terlepas dari kawannja.
„Tapi lihatlah" — kata si Ramping pula. Lama² kita akan tiba ditepi djendela itu. Dan pada pinggir djendela itu, tentu kita tak dapat turun lagi. Dan disinilah nanti kita harus mendekati masing²."
Belum djuga selesai si Ramping bertjakap, tiba² datanglah angin berhembus diatas katja itu. Kedua titik air itu tertiup
ladju melalui djalan jang ber-belok², lalu menggelundung kebawah, hingga achirnja bertemu dan berdekatanlah mereka. „Huree .... mereka berteriak sambil merajap ketepi djendela jang bertjat hidjau.
Awan dilangit tidak mengirimkan lagi titik² air jang baru kebumi, sehingga si Ramping bersama kawannja itu tinggal berdua sunji dipodjok djendela. Disini mereka asjik merenungkan kenangan perdjalanannja dari tempat jang begitu tingginja dilangit. Mereka saling bertanja, berapa djauhnja sudah djalan jang mereka lalui, dan tempat manakah jang baik, digumpalan awan ataukah diatas katja djendela?!
Tapi sedikit demi sedikit, udara mendjadi tjerah. Matahari tersembul keluar dengan warnanja jang merah emas. Sungguh bagus kelihatannja, merona awan jang tinggal. Ia menjinari katja djendela, sehingga kedua butiran air itu mendjadi merah dan padam warnanja seperti batu permata!
„Mari kita berdjemur diri ...." — teriak si Ramping.
Kawannja tersenjum mengangguk. Dan mereka asjik berpanaskan diri disinar matahari. Tapi kemudian dirasanja, bahwa tubuh mereka, makin lama makin ketjil, hingga achirnja hilanglah mereka terangkat kedalam lingkungan tjahaja dan panas.
„Ooooo, matahari memanggil kita kembali kelangit!" — teriak titik air jang besar. „Memang tempat kita bukan dipodjok djendela jang gelap, melainkan disana, diatas bumi . . . . "
Sesungguhnja, belum djuga matahari itu menjembulkan seluruh wadjahnja, kedua titik air itu sudah hilang! Kemana mereka itu pergi, tak seorangpun jang mengetahui. Bahkan, titik² air itu sendiripun, tak mengetahui benar, kemana mereka pergi?!
XVIII. RIWAJAT SEORANG TUKANG SEPATU.
Pernah ditjeritakan, bahwa dahulu ada seorang tukang sepatu. Tiap hari ia sibuk bekerdja, karena sangat banjak menerima pesanan dari kawan²nja.
Karena repotnja bekerdja, tak putus²nja ia ber-sungut² tiap hari: „Bekerdja! Bekerdja .... selalu bekerdja! Alangkah malangnja nasibku. Se-hari²an harus bekerdja untuk mentjari uang dan mentjari makan. Ah, djika sekiranja aku banjak uang, tentu aku tak usah bekerdja lagi. Aku akan berbaring se-hari²an ditempat tidur jang lunak dan indah. Alangkah nikmatnja mendjadi orang kaja. Tidur, makan, ber-djalan², kemudian tidur lagi sepandjang hari!"
Demikianlah ia menggerutu tiap hari, djika ia menghadapi pekerdjaannja. Hingga lama kelamaan ia mendapat panggilan dari kawan²nja: „bung Penggerutu!"
Sudah lama ia mempunjai seorang pembantu. Pembantu itu Sabur namanja. Ia sangat setia kepada tukang sepatu itu. Tiap hari ia membantunja dengan radjin.
Pada suatu hari mereka bekerdja, menjelesaikan sepatu² pesanan. Seperti biasa, tukang sepatu itu ber-sungut²: „Bekerdja, bekerdja. Ah, alangkah senangnja aku, djika aku banjak uang. Aku tak usah bekerdja . . . . !"
Sabur menoleh dan memandang dengan herannja. „Djadi tuan bekerdja hanja untuk uang sadja?" — tanjanja.
„Betapa tidak?" — sahut tukang sepatu itu. „Orang bekerdja, hanjalah untuk uang, uang!"
„Saja tidak" — sambung Sabur. „Saja bekerdja untuk menolong mereka jang ingin memakai sepatu. Dan djika saja tidak bekerdja, terasa badan saja pegal² dan kaku!"
„Engkau bodoh!" — kata tukang sepatu itu membentak. „Aku tak mau bekerdja!"
Sedang mereka ber-tjakap² demikian, tiba² datanglah seorang
kakek jang berdjanggut pandjang sudah putih. Orang tua itu berhenti didepan mereka dan berkata: „Selamat pagi!"
Tukang sepatu itu menoleh dengan marahnja. Ia marah, sebab ia menjangka, bahwa orang jang datang itu ialah pemesan sepatu baru.
Tetapi orang tua itu tidak memesan sepatu baru. Ia berdiri sadja sambil bertelekun kepada tongkatnja. Kemudian bertanjalah ia: „Aku dengar, engkau tidak berbahagia dengan keadaanmu jang sekarang ini?"
Tukang sepatu itu makin marah dan menjahut: „Bagaimana akan berbahagia djika se-hari²an harus bekerdja seperti ini?"
„Aku kira, engkau senang menerima pesanan banjak. Tidakkah bekerdja itu satu kebahagiaan?"
„Ah, engkau seperti si Sabur pula. Dia sudah merasa berbahagia dengan bekerdja setiap hari."
„Tjoba tjeritakan, apakah keinginanmu?"
„Aku ingin banjak uang! Aku ingin kaja! Djika aku sudah kaja, aku tak usah bekerdja lagi. Hanja makan, tidur, berdjalan², kemudian berbaring se-hari²-an . . . . "
Orang tua itu tersenjum.
„Kalau hanja itu sadja keinginanmu, baiklah engkau ikut dengan aku . . . . "
Tukang sepatu itu dibawanja kedalam hutan. Dalam hutan itu ada sebuah gua. „Inilah gua pusaka nenek mojangku" — kata kakek itu. Ia berdeham tiga kali. Per-lahan² pintu gua itu terbuka. „Masuklah" — kata orang itu.
Ia berdjalan didepan. Tukang sepatu itu mengikuti dari belakang. Alangkah terkedjutnja ia ketika melihat keadaan didalam gua itu. Beratus-ratus permata terserak disitu. Emas dan perak berhamburan disana-sini. Orang tua itu tidak memperhatikan keheranan bung Penggerutu. Ia terus berdjalan menudju sebuah kamar. Pintu kamar itu dibukanja ....
„Aduh! Apakah ini? Mimpikah aku?" — teriak tokang sepatu itu. Benpuluh² karung jang berisikan emas bertumpuk didalamnja, sehingga kamar itu terang besinar tampaknja.
„Ambillah seberapa kaudapat" — kata orang tua itu. „Dan dengan emas permata ini, mudah²an tert|apailah tjita’mu.
„Sekarang aku tak usah bekerdja lagi. Aku akan tidur se-hari²an, makan, djalan² dan pesta² ...."
„Apa?” — tanja isterinja. „Tak usah bekerdja lagi? Bagaimana terdjadinja nanti dengan para pemesan sepatu?”
„Apa? Sepatu? Mengerdjakan sepatu? Engkau tolol! Tak tahukah engkau, bahwa kita sekarang telah mendjadi orang kaja? Apakah artinja sepatu² untuk orang jang uangnja ber-djuta²?”
Isterinja tak mendjawab. Dengan diam² ia menjuruh meneruskan pekerdjaannja kepada si Sabur. Dan dengan patuh, Sabur terus melajani para pemesan.
„Besok, kita membeli gedung jang bagus dengan parkakasnja sekali, lalu membeli mobil untuk berdjalan², Kemudian kita adakan pesta setlap bulan untuk memperlihatkan kakajaan kita kepada teman² semuanja" — demikianlah katanja pada suatu hari kepada isterinja.
Dan betullah, esok paginja, hari Senin ia sudah pergi dengan pakaiannja jang serba baru. Kawan²nja heran melihat bung Penggerutu pagi ini. Mengapa ia tak bekerdja? Alangkah bagusnja pakaiannja!
Bung Penggerutu berdjalan sambil me-mutar²kan tongkatnja. Kadang² dipilinnja kumisnja jang ketjil djarang itu dan tersenjum seorang diri. „Uang! Uang! Tak usah bekardja!" — begitulah is berkata dalam hatinja sambil berdjalan menudju romah tuan Benggala.
„Tuan, tundjukkanlah gedung jang terindah dikota ini jeng hendak didjual" — katanja kepade tuan Benggala.
,,Gedung jang terindah? Bisakah kaubeli dengan uang tunai?"
,,Ja, tentu!’' — sahut bung Penggeruts.
Dengan tak tawar-menawar lagi, dibajarnja gedung jang terbagus kepunjaan tuan Benggala. Dan tuan Benggala terbelalak matanja melihat uang jang dikeluarkan bung Penggerutu. Ia terbelalak dan ternganga ....
Hari itu djuga mereka pindah kegedung baru den malamnja dilangsungkan pesta besar. Pesta ini akan dadakan tiap bulan, seudara²!" — kata bung Penggerutu dengan bangga.
,,Hureeeee ...." — kawan²nja jang diundang itu bersorak karena gembira.
Kini mulai hidup baru.
Kamu menjangka, bahwa bung Penggeruta mendjai orang jang sangat berbahagia didania ini, bukan? Tidakkah demikian..
Ja, tentu kamu menjangka demikian. Tetapi salahlah dugaanmu itu, Sebab ....
Sekarang tak pernah ia tidur njenjak lagi. Djika malem hari, tiap² 10 menit, ia bangun dengan terkedjut. Mengapa? Tidur nja diganggu oleh mimpi² jang mengedjutkan. Mimpi tentang pentjuri jang buruk² jang akan merampas harta-bendanja, Ia selalu merasa di-kedjar² oleh perampok. Sekarang ia mambuat lubang dibawah tempat tiduirja. Disembunjikannja karung jang berisi wang mas itu didalamnja. Pagi² sekali ia sudah bangun. Diperiksanja emas itu, masih adakah atau habis ditjuri orang?
Demikianlah selalu ia diganggu oleh pikiran jang boruk².
Karena tiap hari ia hanja berbaring sadja ditempat tidur, keinginannja untuk tidur mendjadi berkurang. Makanan jang lezat² selalu ditjari dan disediakan baginja. Tetapi karena terlalu banjak makan makanan jang lezat², lidahnja tak dapat membedakan lagi, mana jang lezat dan mana jang tidak lezat.
Makin lama ia makin gemuk. Perutnja buntjit seperti sebuah tambur. Karena ia lelah mem-bawa² perutnja itu, keinginannja untuk ber-djalan² mendjadi berkurang. Pipinjapun gembung seperti biola. Djarinja sebesar pisang, sehingga sering sekali ia membuat tjintjin jang baru. Djuga sepatunja sering benar diganti, karena tiap hari kakinja bertambah besar!
Naaaaah, sekarang ia kembali mendjadi: bung Penggerutu, karena tiap hari ia ber-sungut², malahan lebih dari dulu.
Isterinja pusing memikirkan. Kursi² jang dahulu dibelinja, sekarang tak tjukup lagi untuk duduk² suaminja. Terpaksa ia memesan kursi malas jang besar!
Ja, isterinja djuga sekarang mendjadi penggerutu seperti suaminja. Kadang² mereka bertengkar dengan hebat.
Setahun kemudian!
Pada suatu hari, bung Penggerutu hendak melihat emasnja dibawah tempat tidur. Tetapi badannja tak dapat masuk lagi kedalamnja. Ia menggerutu dan maki². Sedang ia me-maki² demikian, tiba² terdengar olehnja: „Selamat pagi!"
Ia menoleh. Tampaklah seorang kakek jang berdjanggut pandjang mendekatinja. „Gemuk benar, engkau! Bagaimana? Berbahagiakah engkau sekarang?"
Sambil merengut tukang sepatu itu menjahut: „Bahagia? Ja, aku berbahagia, karena aku masih bisa bernafas dengan badanku jang besar ini."
„Itu adalah kemauanmu, bukan?"
„Apa? Aku tak pernah meminta badanku sebesar ini. Aku hanja meminta uang sadja."
„Tetapi engkau harus tahu, bahwa orang jang tidak bekerdja, akan gemuk badannja seperti engkau sekarang. Bagaimana? Akan kautambah lagi emas itu?"
„Djangan! Djangan!" — teriak tukang sepatu itu. „Pergi! Pergilah!" — teriaknja pula dengan nafas ter-engah². „Aku
tak ingin lagi diberi emas. Ambillah emas jang masih ada padaku! Aku hanja ingin, tubuhku mendjadi biasa. Djika tubuhku seperti dulu, biarlah aku mendjadi tukang sepatu kembali."
„Naaaaah .... sekarang engkau tahu, bahwa orang jang bekerdja itu lebih berbahagia daripada orang jang ber-baring² sadja ditempat tidur."
Tukang sepatu itu mengangguk. Ia mengerti!
Dua minggu kemudian, didjualnja harta bendanja dan dibagikan kepada siapa jang membutuhkan. Dan .... duduklah ia kembali ditempat pekerdjaannja jang dulu.
Betullah, sehari demi sehari, badannja mendjadi susut. Sesudah badannja susut kembali seperti biasa, tak pernah ia menggerutu lagi.
Ia merasa berbahagia!!
XIX. SI ULAT HIDJAU.
Pada setangkai daun djambu, tampaklah seekor ulat ketjil jang hidjau muda warnanja. Apakah kerdja si ulat itu? Ia makan, lalu makan, dan terus makan!
„Alangkah indahnja hidup ini" — pikir si ulat itu. „Hidup ini berbahagia. Ja, alangkah bahagianja kita hidup . . . . "
Demikianlah ia berpikir sambil makan. Dan ia makan tiap hari sekuatnja. Hari pertama ia makan selembar daunl Hari kedua ia makan dua lembar daun. Dan hari ketiga ia makan tiga lembar daun! Ja, demikianlah ber-turut². Sehingga ia tidak merupakan ulat ketjil lagi, akan tetapi, sekarang ia merupakan seekor ulat hidjau jang besar dan gemuk.
Tapi lama² ia merasa tak lapar lagi. „Huh, kenjang benar perutku" — keluhnja. „Sedjak hari ini, aku hendak tidur sadja. Aku sudah tak ingin makan lagi. Memang hidup ini indah. Dan alangkah bahagianja kita hidup" — demikianlah ia berkata seorang diri. Kemudian ditjarinja setangkai dahan jang sunji dan aman. Dahan itu terlindung oleh beberapa dahan jang kuat. Setelah merasa senang ia ditempat jang baru itu, maka tidurlah ia dengan njenjak.
Lama² terdjadilah suatu hal jang adjaib atas diri si ulat itu. Kulit jang dibelakang kepalanja itu mendjadi tersobek dan petjah. Kemudian di-banting²kannja badannja. Disentakkannja kulit asal jang tadi melekat pada badannja itu.
Dia terbangun sebentar. Kemudian ia tahu, bahwa ia bukan ulat hidjau jang tadi lagi. „Aku kehilangan asal tubuhku jang dulu" — pikirnja. „Tapi biarlah, semua ini suatu keharusan dalam hidup. Dan hidup ini memang indah" — demikian ia berkata sambil mengamati badannja. „Ah, aku bukan ulat lagi. „Aku sudah mendjadi kepompong!"
Kemudian ia mendjatuhkan badannja lagi. Dan dengan malasnja, tertidur kembali.
Burung² gembira bernjanji,
Si Kepompong tak mendengarnja!
Angin meniup setiap pagi,
Si Kepompong tak merasainja!
Dan siapa melihat dia,
Tentu mereka akan berkata:
„Si Kepompong sudah mati!"
Tapi tak demikian sebenarnja. Si kepompong² masih hidup. Ja, sesungguhnja, dia masih hidup!
Dan pada suatu hari, pada pertengahan musim panas, terbangunlah ia kembali. „Apakah ini? Apakah jang terdjadi?" — demikian ia berpikir seorang diri. „Mengapa perasaanku gandjil benar? Aku ingin pergi! Aku ingin keluar! Aku ingin merajap. Aku tak ingin lagi tidur. Aku ingin pergi sadja keluar! Dan tahukah kalian, apa jang hendak aku perbuat? Aku hendak merombak semua kulit jang menutupi tubuhku. Aku ingin lepas dari kurungan. Alangkah indahnja hidup ini!"
Maka dirombaknja tutup kulit dari tubuh kepompong tadi. Tutup kulit jang hitam itu sobek terbuka. Dan tampaklah sebuah kepala jang hitam ketjil mendjenguk dari lubang kulit itu. Kepala itu mempunjai tubuh jang bulat pandjang. Tubuh itu berkaki, berkumis dan bersajap empat helai.
Kemudian petjahlah semua kulit penutup kepompong jang tadi. Dan tak lama sesudah itu, merajaplah pada tangkai² dahan pohon djambu itu, seekor kupu² jang masih lemah.
„Inilah aku, binatang baru ....!" — demikian teriak kupu² itu dengan gembira. Ia melihat kesekitar keadaan disekelilingnja. „Aku bukan ulat lagi. Aku bukan kepompong lagi. Aku sekarang telah mendjadi kupu² baru!" — Sambil berkata demikian, ia me-rajap² kian kemari, mentjari dahan² jang kena sinar matahari. Sajapnja jang tadi ketjil² dan lembab, lama² mendjadi segar lebar dan kering. Sajapnja jang tadi lemah
dan suram, kini mendjadi bagus bertjahaja dengan warna jang matjam²: kuning, biru, hidjau dan ungu.
„Sekarang aku sudah tjukup dewasa" — kata kupu² itu. Dia mengembangkan sajapnja, kemudian terbanglah meninggi, merasakan hawa dan matahari jang hangat.
Tapi sebenarnja, bukan hanja si ulat itu sadja jang mendjadi kupu² baru itu. Banjak lagi jang lain². Sepuluh, dua-puluh, ah barangkali beratus². Mereka ber-sama² berterbangan dibawah tjahaja matahari jang bersinar. Mereka bersama² mengisap madu diatas bunga. „Alangkah indahnja hidup ini. Dan alangkah nikmatnja kita hidup" — demikian kata mereka ber-sama².
Tapi lama², musim bunga pergi berlalu!
Mereka hinggap diatas daun² jang mereka pilih sendiri. Dan diatas daun² itu mereka meletakkan sekumpulan telur²-nja. Sepuluh, duapuluh, ah barangkali be-ratus² pula. Dan mereka mendjadi letih. Ja, terlalu letih. Karena letihnja, mereka terbang ber-pusing² dari atas pohon itu. Makin lama makin rendah, makin rendah, sehingga hinggaplah ia diatas bumi jang sedjuk dan teduh. Dan disini mereka terus berbaring:
„Aku sudah menjimpan telur²
diatas daun!
Aku penuhi kewadjiban
dengan sempurna!
Aku puas bermain-main
disinar surja!
Aku kenjang mengisap
madu bunga-bunga!
Alangkah indah hidup ini,
alangkah bahagia kita disini.
Akan tetapi tibalah kini,
tibalah kini,
pada hidupku jang paling achir!
Demikianlah kupu² itu bernjanji. Tapi kemudian terdiam lah ia. Tak ada satu perkataanpun jang keluar. Dengan mengumpulkan semua tenaga, tiba² ditariknya kepalanja jang ketjil hitam itu kedepan. Disentakkannja semua kakinja sehingga terlepas dari tubuhnja. Dikatupkannja sajap jang berwarna-warna itu. Kemudian? Matilah ia!
Angin datang meniup dengan sedjuknja. Per-lahan² ditiupnja si kupu² jang sudah mati itu melalui daun², pohon², kemudian masuk kedalam hutan jang gelap. Disanalah si kupu² itu tergolek antara akar² dari sebatang pohon jang sudah tua. Makin hari makin ketjil, makin ketjil, dan hantjurlah ia mendjadi debu bersatu dengan tanah. Ketika musim hudjan datang, si kupu² itu telah hilang tak tampak lagi.
Akan tetapi ....
Apakah jang tampak diatas daun² bekas semua kupu² jang sudah mati itu?
Lihatlah, diatas daun² itu hidup pula ber-puluh², be-ratus², malah be-ribu² ulat jang ketjil². Serta ulat² itu tiap hari makan, terus makan, dan terus makan! Kemudian? Dapatkah kalian melandjutkannja?!
XX. DONGENG PUTERI SEKAR KUMBANG.
Dongeng ini dimulai dengan mentjeritakan sebuah negara jang bernama Pandan Emas. Pemerintahan negara ini, dikemudikan oleh Radja, Patih sebagai wakil Radja dan beberapa pembesar istana jang pandai² dan bidjaksana. Dinegeri ini, tidak ada budak belian jang boleh disiksa se-wenang². Dinegeri ini, tidak ada undang² jang mengharuskan rakjat-banjak menjerahkan kekajaan dan hasil-buminja kepada Radja atau kepada para pembesar setiap tahun. Maka tertjiptalah sebuah negara jang adil, makmur, kuat dan djauh dari gangguan² perampok atau gangguan rakjat jang berontak karena lapar!
Patihnja, mempunjai seorang puteri jang sangat tjantik parasnja dan manis perangainja. Puteri ini bernama Sekar Kumbang. Ketika puteri ini meningkat dewasa, meninggallah ajahnja dalam usia jang sudah landjut.
Sepeninggal ajahnja, Sekar Kumbang sering berkeliling ke-kampung² mengundjungi petani² atau pedagang² ketjil jang sedang kesusahan. Sedapat mungkin ditolongnja mereka dari berbagai kesulitan jang menimpa dirinja. Dan djika ia tidak pergi kekampung² ia membuat kain tenunan jang tempatnja ditaman bunga. Taman ini penuh dengan bunga²-an aneka warna serta buah²an jang kuning merah. Tenunannja dengan benang jang berwarna atau benang emas jang djarang terdapat dilain negeri.
Pada suatu hari, datanglah seorang sateria kedalam taman tempat Sekar Kumbang menenun kain. Sateria ini bernama Kumbang Lelana. Ia telah ber-tahun² berkelana mentjari ilmu keluhuran budi dari beberapa pendeta jang ada diberbagai pertapaan di-gunung² atau dihutan. Ia telah ber-tahun² pula beladjar ilmu kesaktian perang.
Setelah dipertemukan dengan Sekar Kumbang, tak lama kemudian kawinlah kedua remadja ini dengan disaksikan oleh Radja dan semua kaum kerabat Patih bersama ibunja Sekar Kumbang sendiri. Demikianlah, mereka hidup dengan tenteram disamping turut mengemudikan pemerintahan negara Pandan Emas.
Tapi beberapa bulan kemudian, sateria Kumbang Lelana minta izin kepada isterinja untuk melihat orang tuanja jang sudah ber-tahun² ditinggalkannja. Negara tempat orang tuanja itu, adalah sebuah keradjaan jang terletak djauh dari negeri Pandan Emas. Bila ingin berdjalan kesana, haruslah melalui hutan² jang lebat mengerikan. Karena susahnja perdjalanan, Sekar Kumbang tak dibolehkan ikut serta. Hanja ditinggalkannja sebentuk tjintjin emas bermata merah jang sangat indah. Sinarnja ber-kilat² memberi tjahaja kepada djari puteri Sekar Kumbang jang kuning emas!
Didekat negeri Pandan Emas, terdapatlah pula seorang Radja jang bernama radja Dursila. Radja ini amat buruk se-gala²nja. Banjak sekali tempat² jang direbut dan dirampas untuk kesenangannja sendiri. Rakjatnja disuruhnja menjerahkan segala kekajaannja jang telah mereka miliki. Djika hasil tanahnja itu tak memenuhi keharusan jang diminta, maka didjadikannja orang² itu budak belian jang diperintah dan disiksanja se-wenang². Budak belian ini selain dari memenuhi istana, djuga memenuhi rumah² para pembesar istana. Mereka disuruhnja bekerdja sekuat tenaga. Djika ada diantara mereka jang berbuat salah, maka disiksanja semua budak² belian itu dengan tjambuk atau dengan pekerdjaan jang amat berat. Padahal pembesar² ini tak ada lagi penghasilannja, selain dari merampas dan memeras kekajaan rakjat jang kemudian didjadikan budak² belian itu. Pembesar² itu tak ada jang dikerdjakan, selain berdjudi, pesta² dan mabuk minuman keras!
Karena djalan pemerintahan negara sangat katjau dan penuh kekedjaman, maka banjaklah diantara penduduk jang melawan kepada pembesar² itu. Tapi perlawanan ini tjepat diketahui oleh radja. Akibatnja, be-ribu² penduduk jang melawan itu ditangkapi dan dimasukkan kedalam pendjara. Tiap hari mereka digiring kesebuah lapangan, kemudian didera dengan tjambuk dibawah terik matahari, hingga kulit badan mereka merah berpetjahan! Bilamana mereka ini mati karena siksaan jang amat berat, maka diperebutkannja semua harta dan kekajaannja, sedang anak isterinja didjadikan budak belian!
Pada suatu malam, bermimpilah radja Dursila itu. Dalam mimpinja, ia bertemu dengan seorang puteri jang tjantik parasnja dan pandai menenun kain dengan benang² emas.
Esok paginja, radja itu mentjeritakan mimpinja itu kepada salah seorang pembesar istana. Dikatakannnja, bahwa ia ingin benar menemui puteri itu. Dinegerinja tak ada puteri jang tjantik dan pandai seperti puteri jang ada dalam mimpinja.
Kemudian tersiarlah kabar, bahwa puteri jang dimaksudkan radja Dursila itu ialah puteri Sekar Kumbang jang ada dinegara Pandan Emas. Tapi puteri ini sudah bersuami, sedang suaminja adalah seorang sateria jang amat gagah dan sakti dalam ilmu peperangan.
Radja Dursila sangat girang mendengar berita ini. Ia tak perduli, apakah puteri ini sudah bersuami atau belum, dan apakah suaminja orang gagah atau tidak. Ia hanja satu tudjuannnja: merebut puteri itu dari negara Pandan Emas. Djika menolak, akan dirampasnja dengan kekerasan atau perang!
Maka pada suatu hari, datanglah radja Dursila itu mengundjungi puteri Sekar Kumbang jang sedang ditinggal suaminja. Dengan kasar, radja itu memaksa puteri Sekar Kumbang supaja ikut kenegerinja. Tentu sadja radja Dursila ditolak dan diusirnja! Tapi apakah jang terdjadi? O, dengan mempergunakan kesaktian ilmunja, puteri itu ditariknja dan dibawanja terbang melalui mega putih, mega hitam dan angin jang amatkentjangnja. Ia men-djerit² diangkasa, suaranja menjajat hati siapa jang mendengarnja.
Ibunja melompat keluar, maksudnja hendak menolong. Tetapi ketika dilihatnja puteri itu telah djauh me-lajang² dilangit, maka menangislah ia dan terus lari mengikuti bajang² anaknja ditanah. Sebentar² ia menengadah keatas sambil berteriak dan me-lambai² tangannja dengan rasa hati jang remuk.
Tapi lama² hilanglah bajangan ditanah itu, dan lenjaplah djerit anaknja diangkasa, sedang ia sendiri telah masuk kedalam hutan belantara dan berdjalan ter-lunta², tak tahu kemana hendak ditudju. Makin lama makin djauh djuga ia berdjalan, dan ketika ia hendak menjeberangi sebuah sungai besar, ia tergelintjir dari atas batu jang litjin, dan hanjutlah tak sadarkan diri lagi.
Untunglah, seketika itu djuga datang seekor kura² putih jang sangat besar mendekatinja, dan didorongnja ibu Sekar Kumbang pelan² ketepi kali. Waktu tiba ditepi sungai itu, ia masih pingsan. Dan dalam pingsannja, ia mimpi berdjumpa dengan suaminja jang telah meninggal. Suaminja memberi petundjuk, agar ia terus berdjalan sepandjang sungai jang besar ini.
Setelah sedar kembali, maka berdjalanlah ia mengikuti sungai besar itu sebagaimana petundjuk suaminja dalam mimpinja tadi.
Setibanja diistana radja Dursila, mula² puteri Sekar Kumbang diperlakukan dengan baik. Akan tetapi, karena ia amat melawan kepada radja dan kepada pembesar² istana jang membudjuknja, maka ditutupnja ia dalam pendjara. Sekali² datanglah seorang pendjaga jang membawa tjambuk. Lalu ditjambuknja puteri Sekar Kumbang dengan bengisnja. Karena sakitnja ia menahan segala siksaan radja Dursila, maka pada suatu hari ia menangis amat sedihnja sambil meminta pertolongan Dewata dan me-manggil² nama suaminja. O, adjaib sekali! Ketika ia menggosokkan djarinja jang bertjinijin merah itu dimatanja, tiba²: berdirilah seorang raksasa jang amat besarnja! Raksasa ini berpakaian serba merah, berambut merah, berkumis merah, berdjanggut merah dan bermata merah jang menjala seperti api. „Ja, radjaku! Hambalah raksasa dari batu merah. Apakah jang tuan inginkan maka tuan memanggil hamba .... ?!" — demikian raksasa itu bertanja dengan hormatnja.
Demi melihat raksasa jang sebesar itu, pingsanlah puteri karena terkedjut. Tapi setelah siuman kembali, mengertilah ia, bahwa raksasa ini adalah hikmat batu tjintjin jang diberikan suaminja. Dengan tenang mendjawablah puteri: „Lepaskanlah aku dari siksaan jang seberat ini, raksasa! Dan berilah djalan, agar lekas bertemu dengan suamiku, Kumbang Lelana."
„Tuan puteri harus pura² menurut, djika radja Dursila datang. Bilamana dia sudah dekat dengan tuan Puteri, djangan ragu², tindjulah mukanja dengan batu tjintjin merah ini. Hamba bersembunji didalamnja. Apabila dia sudah pingsan, larilah tuan Puteri dari pendjara ini, menudju kebarat laut. Nanti tuan Puteri akan bertemu dengan djalan kebahagiaan. Terimalah keris ini untuk berperang dihari kemudian!" — demikian ia berkata, lalu menghilang kembali.
Esok harinja, datanglah radja Dursila ketempat puteri Sekar Kumbang. Dengan tenang puteri menjambut kedatangan radja. „Lekaslah kemari, hai Puteri!" — demikian radja itu membudjuknja. Pelan² mendekatlah puteri Sekar Kumbang, dan .... tiba² ditindjunja seluruh muka radja itu ber-tubi² dengan tangannja jang berbatu tjintjin, sehingga kaburlah pemandangan radja. Matanja ber-kunang², hidungnja serta mukanja penuh berlumuran darah dan .... pingsanlah!
Seperti ada kekuatan gaib jang menariknja, maka melompatlah puteri Sekar Kumbang melalui pintu pendjara, kemudian larilah menudju kebarat laut.
Setelah ber-hari² ia berdjalan melalui hutan² dan lereng² gunung, maka sampailah ia kesebuah'taman bunga jang serupa indahnja dengan taman bunga dinegeri Pandan Emas. Pelan² masuklah ia kedalam taman itu. Tampak di-tengah² taman itu berdiri sebuah tjandi tempat pendeta² bersamadi. Pintu tjandi itu terbuka. Dan ketika ia masuk, tampaklah seorang pendeta jang serupa dengan ajahnja, sedang bersamadi. Pakaiannja serba putih, dan semua rambutnja jang tumbuh sudah putih seperti kapas. Melihat pendeta ini, maka menangislah puteri Sekar Kumbang seraja bertanja: „Ajahkah ini, ataukah mata hamba jang salah lihat?"
Pendeta ini mendjawab dengan penuh kasih-sajang: „Ja, anakku. Betullah, ini adalah ajahmu! Sebenarnja, aku tidak mati, tapi aku menjelam kedasar bumi, kemudian disuruhnja tinggal dihutan ini. Jang dahulu dibakar dan dikubur, itu bukanlah aku, melainkan kulit dan tulang jang membungkus aku!"
„Oh, mengapa kami tidak dibawanja serta?"
„Belum waktunja, hai anakku. Nanti apabila sudah waktunja, tentu kita tinggal disini djuga ber-sama². Tapi apakah maksudmu sekarang, maka engkau datang disini?"
„Hamba ingin membalas kebengisan dan kekedjaman radja Dursila, kemudian ingin lekas bertemu dengan suami hamba, Kumbang Lelana!" — djawab puteri.
„Baiklah" — kata ajahnja. „Tapi engkau harus berani berdjuang dulu, anakku! Sekarang akan kuberi engkau sebuah adjimat jang dapat meng-ubah² rupamu. Menjamarlah kini mendjadi laki². Dan djika engkau membutuhkan bantuan, panggillah sadja raksasa dibatu merah itu, tentu ia akan datang menolongmu. Nah, sekarang kembalilah engkau kenegeri radja Dursila. Sebenarnja rakjat disana sudah lama menaruh dendam kepada radjanja itu. Mereka telah ber-puluh² tahun berada dalam tjengkeraman radja Dursila jang kedjam itu. Sekarang engkaulah jang harus menolong dan membebaskan mereka dari bentjana sehebat itu. Pergilah!"
Maka seketika itu djuga gantilah rupa puteri Sekar Kumbang. Ia mendjadi seorang sateria jang amat gagah dan tampan. Dengan adjimat pemberian ajahnja, ia kembali menudju istana radja Dursila. Tapi ketika ia menoleh kebelakang, taman bunga dan tjandi ajahnja jang indah itu sudah lenjap tak kelihatan lagi. Ia mengutjap sjukur, karena ia telah dapat pertolongan dari bentjana sebesar itu.
Ditengah-tengah perdjalanan, sedang ia menudju ketempat radja Dursila, tiba² terdengarlah suara orang ramai ber-tjakap², kemudian tampaklah be-ratus² peradjurit lengkap dengan sendjatanja masing². Setelah mereka bertemu muka, bertanjalah kepala pasukan itu: „Hai, sateria, tidakkah tuan melihat seorang puteri jang lari ditempat ini? Ia lari dari pendjara radja Dursila dan ia telah melawan kepadanja, sehingga radja itu pingsan berlumuran darah ....!"
Pura² heran dan tidak mengerti, bertanjalah kembali sateria itu: „Puteri? Seorang puteri melawan kepada radja? Gagah benar dia! Tapi apakah sebabnja maka ia melawan kepada radja? Tentu ia tidak akan berbuat sehebat itu, djika radja sendiri tidak berbuat djahat kepadanja . . . . "
Mula² kepala pasukan itu tak mau berterus-terang tentang kedjahatan² radja Dursila, karena ia takut akan mendapat siksaan nanti, djika pertjakapannja ini disampaikan oleh mereka jang mendjadi mata² radja. Akan tetapi, setelah banjak diantara mereka jang memulai mentjeritakan keadaan radja Dursila serta para pembesarnja, maka berkatalah kepala pasukan itu dengan terus-terang, bagaimana kelakuan dan kedjahatan radja Dursila itu selama ia memegang pemerintahan.
Dengan tenang berkatalah pula sateria itu: „Kalau begitu keadaan jang sebenarnja, mengapa kalian mentjari dan megepung puteri jang lemah dan tidak bersalah?"
Para peradjurit itu terdiam semua.
„Mengapa tidak kalian lawan radja jang djahanam itu? Mengapa kalian tidak mengadakan pemberontakan? Tidakkah kalian mempunjai sendjata ....?" — tanja satria itu.
„Kami tidak kuat, dan kami takut menghadapi siksaan²nja jang sangat kedjam. Pengikut kami jang memberontak radja, hanjalah orang² miskin belaka!" — djawab kepala pasukan itu.
„Tapi kalau aku berani melawan radja itu, maukah kalian ikut serta? Sanggupkah kalian memberi bantuan?"
„Sanggup! Kami berani!" — teriak para peradjurit itu serentak. „Tapi siapakah tuan jang sebenarnja?" — tanja mereka.
„Aku suaminja puteri Sekar Kumbang!"
Maka ramailah sekarang peradjurit itu bersorak dan berteriak². Kemudian dengan pimpinan sateria baru, menjerbulah mereka kedalam istana, menghantjurkan segala jang ada dan menjerang semua pembesar pengikut radja.
Puteri Sekar Kumbang jang telah mendjadi satria, kini berhadapan dengan radja Dursila, lalu berperanglah mereka satu lawan satu dilapangan perang dimuka istana. Dengan mempergunakan segala ilmu kesaktiannja, radja Dursila melawan kepada musuhnja. Tapi makin lama makin repot kelihatannja, karena sateria Sekar Kumbang sangat gagahnja, seperti ada sesuatu tenaga besar jang membantu dibelakangnja. Maka dengan diam², terbanglah radja Dursila itu keangkasa dan bersembunji dibalik mega jang ber-gumpal². Tapi sateria Sekar Kumbang segera minta kepada raksasa merah: „Hai, raksasa merah, djadikanlah aku angin ribut!" — Dan tiba² dapatlah ia terbang membawa angin keatas mega, dan hantjur berpetjahanlah
mega itu diserang angin ribut. Tapi segera pula radja Dursila turun, dan tiba² djadilah ia api jang berkobar se-besar²nja, seperti api jang ditimbulkan dari kebakaran berpuluh² rumah. Tapi satria Sekar Kumbang tak kehabisan akal. Segera ia meminta lagi kepada raksasa merah: „Hai, raksasa datanglah hudjan jang amat lebat, hingga padamlah api karenanja.
Setelah ber-kali² radja Dursila itu mendapat kekalahan, maka tobatlah ia kepada satria Sekar Kumbang. Ia minta ampun sambil berlutut dikaki musuhnja. Tapi tiba² ada suara berbisik ditelinga Sekar Kumbang: „Djangan dihidupi ia, hai Radjaku! Bunuhlah radja durhaka ini dengan keris pemberian hamba!"
Mula² puteri akan mengampuninja. Tapi setelah be-kali² mandengar bisikan raksasa merahnja, maka berkatalah ia: „Aku tak akan mengampuni engkau, hai radja durhaka! Kamu terlalu djahat dan terlalu melanggar peri-kemanusiaan! Kini kubunuh engkau, dan kulenjapkan dari permukaan bumi jang menghendaki keadilan!"
Lalu ditusuknja dada dan djantung radja Dursila itu dengan keris pemberian raksasa, dan matilah seketika itu djuga.
Melihat radjanja jang kedjam itu mati, maka bersoraklah rakjat beserta para peradjurit jang telah lama menderita karena siksaannja itu, ketjuali para pembesar istana jang masih hidup ketakutan minta ampun. Tapi merekapun dilarang oleh raksasa merah itu untuk tinggal dihidupi. „Bunuhlah mereka djuga! Merekalah jang paling djahat kepada budak² belian!" — maka dibersihkannja pula mereka ini dari permukaan bumi. Dibunuhnja satu²! Kemudian pergilah ia ke-pendjara², dan beribu² budak belian jang dipendjarakan karena memberontak, dibebaskan semuanja dari hukuman. Djuga anak-isteri mereka jang dikurung dalam istana, dibebaskan semuanja. Hingga bersihlah tampaknja istana dan negara ini dari bentjana jang
didatangkan radja Dursila beserta para pembesar diwaktu lampau. Dan kini dipegangnja pemerintahan negara radja Dursila itu oleh sateria Sekar Kumbang dengan adilnja.
Tapi baru sadja beberapa bulan ia menggantikan radja Dursila, pada suatu hari datanglah pendjaga istana jang dengan heran melaporkan, bahwa ada seorang sateria jang mau menghadap radja. Sateria ini mengaku, bahwa ia adalah suaminja puteri Sekar Kumbang.
„Suruhlah dia masuk dan menghadap kedalam istana" — demikian perintahnja kepada pendjaga itu.
Tak lama kemudian, datanglah sateria Kumbang Lelana. Dengan gusar, Kumbang Lelana menanjakan isterinja dan dimintanja sekali. Tapi Sekar Kumbang bersikap pura². Ia mengatakan, bahwa isterinja tak akan diserahkan, bilamana tidak diambil dengan djalan peperangan. „Kalau begitu, kau mau merampas hak orang lain. Marilah kita berperang!" — demikian Kumbang Lelana memutuskan pertjakapannja dengan puteri Sekar Kumbang.
Sambil tertawa didalam hati, berangkatlah puteri Sekar Kumbang kemedan tempat berperang dimuka istana, sedang Kumbang Lelana menunggu dengan geramnja. Maka berperanglah Sekar Kumbang dibantu oleh raksasa merah dibatu tjintjin, dengan tak diketahui oleh Kumbang Lelana.
Seperti djuga dengan radja Dursila dahulu, Sekar Kumbang selalu dapat mengalahkan lawannja, karena ia berperang bukannja sendiri, melainkan dibantu oleh kekuatan raksasa jang amat gagahnja. Demikianlah, lama² Kumbang Lelana tak tahan lagi melawan serangan² musuhnja. Setelah pajah ia di-kedjar² diapi, digunung, dan dimega jang ber-gumpal², maka turunlah kembali kebumi. Ia mengaku terus-terang, bahwa ia sudah kalah. „Bunuhlah aku!" — teriaknja dengan geram. „Tapi sebelum kaubunuh aku, bawalah dulu Sekar Kumbang ketempat ini. Aku ingin berdjumpa dahulu . . . . "
„Sebentar kubunuh engkau dengan keris pusaka ini" — djawabnja. „Tapi marilah ikut, dan tinggallah diberanda depan. Akan kupanggil Sekar Kumbang kemari, menjaksikan pembunuhan ini!"
Tapi sesungguhnja ia masuk kedalam kamarnja, dan dipakainja adjimat pemberian ajahnja dahulu itu. Dan .... seketika itu djuga mendjelmalah kembali Sekar Kumbang sateria, mendjadi Sekar Kumbang jang asli, puteri negara Pandan Emas jang amat tjantik!
Kembali diberanda istana, sudjudlah ia dan berkatalah kepada suaminja: „Kakanda, akulah sebenarnja jang tadi berperang dengan kakanda. Dan tjintjin jang berbatu merah inilah jang menolong aku dari berbagi bentjana kedjahatan!"
* * *
Sekarang kembalilah kita mentjeritakan ibunja, ibu puteri Sekar Kumbang.
Sepandjang hari ia berdjalan mengikuti sungai besar jang mengalir masuk pelan² kenegara Sekar Kumbang sekarang. Pakaiannja sudah habis, rambutnja sudah kusut dan mukanja sudah putjat karena kurang makan kurang tidur.
Untunglah, pada suatu hari, liwatlah dipinggir sungai itu seorang djaksa jang baik hati dari istana Sekar Kumbang. Ia berdjalan diiringkan oleh seorang pesuruhnja, Ketika mereka hendak menjeberang, terdengarlah isakan dan tangis seorang perempuan. Djaksa itu menengok. „Hai, siapakah engkau? Mengapa nangis seorang diri ditempat jang sesepi ini?" — tanja djaksa itu.
Ibu Sekar Kumbang berkata, bahwa ia sedang mentjari anaknja. Tetapi tidak dikatakannja, bahwa anaknja itu seorang puteri jang bernama Sekar Kumbang dan bersuamikan seorang sateria putera radja jang bernama Kumbang Lelana.
Setelah bersepakat, maka ikutlah ibu Sekar Kumbang kerumah djaksa itu.
Setibanja dirumah, maka disuruhnja mandi dan diberinja pakaian jang bersih. Setelah ibu Sekar Kumbang mandi dan bertukar pakaian, barulah tampak bertjahja, sehingga keluarga djaksa itu menjangka, bahwa perempuan jang dibawanja dari pinggir sungai itu bukannja perempuan dari keturunan orang kampung, melainkan keturunan radja². Hanja sajang sekali, djaksa itu tidak tahu, bahwa radjanja sudah lama sibuk mengirimkan para pesuruhnja ketiap peloksok, untuk mentjari seorang perempuan tua, ibu dari permaisurinja.
Setelah ber-bulan² ibu Sekar Kumbang tinggal dirumah djaksa, pada suatu hari datanglah kabar dari istana, bahwa radja puteri akan berpesta, pesta merajakan puteranja jang baru lahir. Baji itu akan dibawa kemuka istana dan akan dipestakan dihadapan rakjat banjak. Maka seluruh isi negara diharuskan datang kemuka istana. Demikian pula keluarga djaksa bersama ibu Sekar Kumbangpun tak ketinggalan, ikut hadir menjaksikan pesta baji itu.
Tapi alangkah terkedjutnja ia, ketika melihat siapa jang mendukung putera baji keradjaan itu. „Oh, Sekar Kumbang, buah hatiku!" — demikian ia berbisik dan dalam hatinja mengutjap sjukur kepada Dewata.
Karena tak tahan menahan kegirangan jang bertjampur kesedihan, maka pulanglah ia ketempat tinggalnja. Ia mentjari akal, bagaimana djalannja agar dapat bertemu dengan puterinja.
Untunglah, pada suatu hari ia mendengar kabar pula, bahwa puteri Sekar Kumbang menderita sakit keras. Ia masih ingat, bagaimana kebiasaannja diwaktu lampau, djika puteranja sedang sakit. Biasanja ia membuatkan obat berupa makanan. Obat ini dibuatnja dari tepung dan gula jang sangat halus dan ditambahnja dengan bumbu² jang orang lain tidak mengetahui rahasianja. Obat ini dinamakan: kuwe Pandan Emas. Hanja dialah sendiri jang dapat membuatkan kuwe
Pandan Emas itu. Dan bilamana puteri telah makan kuwe ini, maka sembuhlah dan kembali sehat seperti biasa.
Kabar tentang sakitnja puteri Sekar Kumbang, segera tersiar keseluruh negeri. Semua dukun dan ahli obat²an sudah dikumpulkan diistana untuk diminta pertolongannja.
Ibu Sekar Kumbangpun sibuk membuat kuwe Pandan Emas. Maka dengan perantaraan isteri djaksa, disampaikannja kuwe ini kepada radja puteri. Adjaib sekali, ketika puteri melihat makanan ini, berdebarlah hatinja dan timbullah rindu kepada ibunja. Lebih² setelah kuwe itu dimakannja. O, terkedjutlah ia dan bertanja: „Siapakah jang telah membuat kuwe jang seenak ini?"
„Ibu hamba, ja tuan Puteri!" — djawab isiteri djaksa itu dengan herannja.
„Panggillah ia segera! Katakan, aku ingin berdjumpa sekarang djuga. Lekaslah, aku menunggu disini!"
Setelah ibunja mendapat panggilan, maka pergilah keistana dengan memakai kudung putih dikepalanja agar tuan Puteri tak segera mengenalnja.
Tidak lama kemudian, sampailah ia kehadapan puteri Sekar Kumbang. Tapi puteri sudah tak sabar lagi, ditariknja kudung ibunja dan di-amat²inja mukanja. „Oh, ibuku!" — demikian Puteri mendjerit dan bersudjud dipangkuan ibunja.
Sesudah djelas diperiksa dan diketahui, bahwa sesungguhnja tamu djaksa itu adalah ibu Sekar Kumbang, maka radja Kumbang Lelanapun bersudjud pula dikaki ibunja, tanda bakti dan suka-tjita!
Demikianlah, mereka hidup berkumpul dinegara baru dengan pemerintahan jang adil, makmur dan damai-santausa.