Publisher Note
Digitizer Note
This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.
All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.
The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.
ARTI DAN GUNA PELADJARAN SEDJARAH
PERGERAKAN KEBANGSAAN INDONESIA SEBAHAGIAN DARI PERGERAKAN SEDUNIA DARI KAUM JANG TERTINDAS
PARTAI KOMUNIS INDONESIA (P.K.I.)
PERSERIKATAN NASIONAL INDONESIA (P. N. I.-LAMA)
PENDIDIKAN NASIONAL INDONESIA (P. N. I. - BARU)
PARTAI INDONESIA RAYA (PARINDRA)
GERAKAN RAKJAT INDONESIA (GERINDO)
USAHA PERSATUAN DAN GABUNGAN POLITIK INDONESIA (GAPI)
ZAMAN DJEPANG (1941-1945) DAN ZAMAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA (SESUDAH 17 AGUSTUS 1945)
ARTI DAN GUNA PELADJARAN SEDJARAH
Pada waktu kita mengindjak fase baru didalam sedjarah dunia pada umumnja, didalam sedjarah tanah air kita pada chususnja, ada gunanja kita sebentar menoleh kebelakang, bertjermin kepada sedjarah.
Sedjarah tidak tahu berdusta. Ia mentjatat dengan teliti segala kedjadian2 didalam pergaulan hidup bangsa kita. Kedjadian2 ini diperlihatkannja kepada kita sebagai kebadjikan atau keburukan didalam dangkal dalam keinsafan politik, didalam lemah-kokohnja susunan organisasi politik dan didalam ragam dan matjam pemimpin2 jang mendjadi djurubitjara perasaan rakjat. Péndék kata: sedjarah memperlihatkan kepada kita isi dan bentuk masjarakat jang sebenarnja atas dasar kenjataan2 terlepas dari keinginan dan tjita2 kita sendiri.
Bagi kaum muda Indonésia jang sedang berdjuang atau hendak melangkah kepadang perdjuangan, tidak sedikit manfaatnja untuk memperhatikan bahan2 jang tersimpan didalam sedjarah pergerakan kebangsaan kita. Zaman gemilang dalam sedjarah menimbulkan kepertjajaan terhadap zaman datang, pun ia mendjadi obat-penghilang putus asa didalam kesukaran atau krisis jang mesti dilalui tiap2 pergerakan. Kesalahan2 diwaktu jang lampau didjaga supaja djangan berulang lagi dan peladjaran jang diperoléh dipergunakan untuk menerangi djalan selandjutnja dan menjempurnakan susunan organisasi. Akan tetapi arti dan guna mempeladjari sedjarah pada umumnja terletak terutama didalam menambah pengetahuan dan pengertian kita tentang hakékat sesuatu hal. Mempeladjari sedjarah bukan menghafal beberapa nama dan tahun sadja, akan tetapi melihat segala2nja didalam pergolakan senantiasa, melihat kedjadian2 didalam perkembangannja dan perhubungan serta rangkaian sebab — akibat. Mempeladjari sedjarah terutama harus menanam pengertian kenapa dan apa sebab sesuatu terdjadi didalam ruangan tempat dan waktu jang tertentu.
Demikianlah mempeladjari sedjarah pergerakan kebangsaan bagi kita harus berarti menambah pengetahuan dan pengertian tentang hakékat pergerakan kebangsaan kita dan segala sangkut-pautnja: bagaimanakah asal mulanja, bagaimana perkembangannja, tingkat2 manakah jang sudah dilalui, benar atau salahkah djalan jang ditempuh, bagaimanakah hubungan pergerakan kita dengan pergerakan2 lain didunia?
Hal ini besar artinja didalam memerangi tjara berpikir jang berdasarkan ketachajulan jang masih tebal melekat pada sebagian besar daripada bangsa kita jang dapat malambatkan kemadjuan kita didalam abad jang mempergunakan ilmu dan téknik ini untuk digantikan dengan tjara berpikir jang memakai akal dengan menindjau se-gala2nja atas dasar kedjadian2 jang njata dan perhitungan jang dingin.
Demikian maka banjak jang terdjadi dan kabur pada waktu sekarang ini dapat dimengerti dan lebih terang agaknja djika kita mengetahui kedjadian2 jang mendahuluinja. Terutama mungkin lebih terang bagi kita kedudukan serta kemungkinan perdjuangan kita jang tidak sedikit artinja didalam menimbulkan atau memperkuat kejakinan kita dan memberi petundjuk untuk mengambil langkah2 jang tepat. Dengan kejakinan jang diperoléh sebagai hasil pengertian orang tidak mudah diombang-ambingkan dan dipergunakan sebagai alat untuk kepentingan beberapa orang sadja. Orang jang demikian hanja mau mendjadi alat tjita2nja dan berdiri atau djatuh ber-sama2 tjita2nja.
PERGERAKAN KEBANGSAAN INDONESIA SEBAHAGIAN DARI PERGERAKAN SEDUNIA DARI KAUM JANG TERTINDAS
Pergerakan kebangsaan Indonésia harus kita tindjau lain daripada pergerakan kebangsaan di Eropah Barat jaitu sebagai satu bagian dari pergerakan sedunia jang merupakan perdjuangan kaum jang tertindas dan terperas terhadap segala bentuk penindasan dan pemerasan. Di-negeri2 jang merdéka perdjuangan ini bersifat perdjuangan sosial dan ditudjukan untuk merobohkan kekuasaan kaum penindas dan pemeras baik ia bernama kaum klérikal, kaum féodal dan kapitalis untuk menjusun masjarakat atas dasar sama rata sama rasa. Di-negeri2 jang tidak merdéka — tanah djadjahan atau setengah djadjahan — perdjuangan ini berupa dua. Keluar ia tampak sebagai perdjuangan nasional: segala usaha ditudjukan untuk merebut kemerdékaan, untuk melepaskan diri dari belenggu pendjadjahan. Kedalam ia merupakan perdjuangan sosial seperti tersebut diatas.
Djadi tidaklah menghérankan, djika pikiran2 jang terdapat didunia selalu berpengaruh atas pergerakan kebangsaan ditanah2 djadjahan. Mémang pergerakan ini semuanja pada hakékatnja adalah sama, sekalipun kelihatannja ber-lain2an bentuk dan tjara2nja.
Jang disebut pergerakan kebangsaan Indonésia ialah perdjuangan bangsa Indonésia untuk mentjapai kemerdékaan, terutama perdjuangan bangsa Indonésia jang mempergunakan organisasi modérén jang berupa gerakan2 dan partai politik sedjak achir abad kesembilan belas.
Perdjuangan bangsa Indonésia untuk mentjapai kemerdékaan tentunja mulai sesudah bangsa Indonésia djatuh kedalam djurang pendjadjahan. Adapun bangsa Indonésia djatuh terdjadjah bukan oléh karena kemauannja sendiri, akan tetapi terpaksa karena kalah menjerah disebabkan alat2 dan tjara bekerdja kaum pendjadjah jang lebih sempurna. Dasar pendjadjahan ialah bahwa bangsa asing jang terdiri dari beberapa ribu orang memaksakan kemauannja kepada penduduk asli jang djumlahnja djauh lebih besar dengan djalan kekerasan. Pemerintah djadjahan berdiri atas dasar paksaan, bukan atas persetudjuan orang2 jang diperintah. Lagi pula segala jang diperbuat oléh Pemerintah-pendjadjah diperuntukkan buat kepentingan kaum pendjadjah dengan ’tiada mengingat bahkan djika perlu dengan mengabaikan ataupun mengurbankan kepentingan kaum jang didjadjah. Djadi teranglah sudah bahwa dari mulanja ada djurang jang memisahkan kaum pendjadjah dari kaum jang terdjadjah dan pertentangan kepentingan antara kaum pendjadjah dan kaum jang didjadjah.
Sekalipun bangsa jang terdjadjah kelihatan tidak berdaja dan berusaha, akan tetapi keinginan untuk merdéka tidak pernah luput dari ingatannja. Ia tetap terasa didalam hati, walaupun ia oléh karena keadaan tidak dikatakan. Ia mentjari bentuk jang halus sebagai kepertjajaan akan kedatangan Ratu Adil sebagaimana terdapat misalnja didalam ramalan Djojobojo. Dan dimana keinginan untuk merdéka ini terlalu ditindas dan dihinakan, disana ia meluap mendjadi perlawanan dan pemberontakan.
Perlawanan Pangéran Diponogoro di Djawa, Imam Bondjol di Sumatera-Barat, Tengku Umar di Atjéh dan pahlawan2 lainnja diseluruh Indonésia, semuanja ini tidak lain dari protés kaum jang tertindas, tidak lain daripada gambaran djiwa jang mau merdéka menurut tjara sendiri2 jang sesuai dengan djamannja.
Adapun pergerakan kebangsaan Indonésia jang mulai mengatur pergerakan setjara modérén (moderne organisatievorm) baru lahir pada abad kedua-puluh sebagai akibat kedjadian2 didunia.
Seperti dikatakan beberapa pengarang idéalis, abad kedua-puluh lahir kedunia dengan diiringi oléh „Oosterse-Renaissance”, keinsafan bangsa2 kulit berwarna.
Sampai penghabisan abad ke-19 bangsa2 berwarna masih tidur njenjak, sedangkan bangsa kulit putih asjik bekerdja disegala lapangan. Timur masih djauh ketinggalan dari Barat dalam hal ilmu dan téknik. Hal ini menjebabkan, bahwa hampir seluruh dunia Timur djatuh kedalam kekuasaan Barat. Pada waktu itu kemegahan si-kulit putih tak dapat diganggu dan kekuasaannja atas si-kulit berwarna tak dapat disangkal lagi.
Hal ini menimbulkan rasa kesombongan dan ketinggian hati pada si-kulit putih, sedangkan perasaan si-kulit berwarna dapat digambarkan sebagai perasaan ketjéwa dan tidak mampu. Timur berdiam diri se-olah2 membenarkan pendapat orang bahwa bangsa2 kulit berwarna sudah ditakdirkan Allah untuk mendjadi hamba se-lama2nja bagi si-kulitputih, sedangkan tanah tumpah darah meréka akan se-lama2nja tinggal mendjadi tanah djadjahan.
Akan tetapi stélsel pendjadjahan mengandung benih2 tenaga-penentang didalam tubuhnja sendiri.
Buat kepentingannja stélsel ini terpaksa melahirkan tenaga2 jang pada waktunja akan menentang stélsel pendjadjahan itu sendiri.
Demikianlah kaum pendjadjah Barat terpaksa mendirikan sekolah2, terpaksa membawa kemadjuan dan peradaban ke Timur untuk keperluan perékonomiannja jang lambat laun memerlukan tenaga pembantu jang berupa djurutulis dan mandur baik ia bernama dokter, meester ataupun ingenieur.
Lahirlah orang2 Timur jang terdidik setjara Barat. Pada satu fihak orang2 ini ada jang selalu menurut kemauan kaum pendjadjah; orang2 jang berlaku dan berlagak lebih „Barat daripada Barat”, jang melihat rendah terhadap orang2 sebangsanja. Pada lain fihak ada orang2 jang djiwanja belum begitu mati jang menentang perlakuan dan penghinaan terhadap bangsanja. Orang2 ini rata2 mendjadi pendekar bangsanja jang kadang2 membentji segala jang berasal dari Barat dan mengemukakan serta memudji segala jang berasal dari Timur sebagai hal2 jang tidak kurang daripada jang berasal Barat. Meréka ini kebanjakan anti-Barat dan melihat segala sesuatu didalam pertentangan antara Timur dan Barat. Aliran inilah jang lazim disebut „Oosterse-Renaissance” jaitu hidupnja kembali keinsafan bangsa2 kulit berwarna akan harga diri dan bangsanja sendiri jang mempunjai sebagai tudjuan pertama mentjapai persamaan hak martabat dengan Barat.
Peperangan Djepang dengan Rusia-Tsaar pada tahun 1905 merupakan puntjak gerakan ini. Kemenangan Djepang atas Rusia-Tsaar dianggap oléh segenap rakjat berwarna sebagai kemenangan si-kulit berwarna terhadap si-kulit putih, sebagai kemenangan Asia terhadap Eropah. Dihati anak2 Asia timbul rasa kemampuan dan kepertjajaan terhadap djaman jang akan datang.
Sampai dimana letusan meriam di Port Arthur berpengaruh atas Indonésia tidak mudah dikatakan. Jang njata ialah bahwa „Oosterse-Renaissance” sesudah peperangan ini berwudjud di Indonésia dalam lahirnja „Budi Utomo” dalam perumahan sekolah dokter Stovia di Djakarta pada tanggal 20 Mèi 1908. Berhubung dengan lahirnja Budi Utomo seorang kolonialethicus Mr. van Deventer menulis dalam madjalah „De Gids”: „Sesuatu jang adjaib terdjadi, Insulinde molék jang lagi tidur, sudah bangun.”
Indonésia sudah bangun, sudah mulai sadar akan dirinja. Dari saat ini bangsa Indonésia mulai mengatur pergerakan setjara modérén untuk mewudjudkan kesadarannja. Budi Utomo mendjadi pelopornja dan berdjasa betul didalam meletakkan batu pertama untuk pergaulan hidup politik jang modérén.
Budi Utomo lahir di Indonésia sebagai pendjelmaan satu tjita2 jang memenuhi seluruh tanah2 djadjahan. Pendjelmaan tjita2 ini mula2 dikemukakan oléh seorang „dokter-djawa” pensiunan di Jogjakarta: Dr. Mas Wahidin Sudiro Husodo. Dokter tua ini ber-tjita2 hendak mengangkat deradjat bangsanja. Didepan mata beliau tergambar keadaan bangsanja jang begitu terkebelakang dan keadaan dunia Barat jang begitu madju didalam hal ilmu dan téknik. Djalan jang akan ditempuh untuk memadjukan bangsa jang berarti mentjapai deradjat jang sama dengan bangsa Barat, ialah memiliki ilmu dan téknik Barat. Oléh karena itu peladjaran setjara Barat hendaklah diperluas. Mengingat keadaan bangsanja jang hidup miskin didalam kekajaan jang melimpah, maka beliau berusaha untuk mendirikan studi fonds untuk anak2 jang tjakap jang tidak sanggup memikul perongkosan sekolah jang begitu berat.
Dr. Wahidin mengundjungi beberapa tempat dipulau Djawa untuk mempropagandakan pikirannja ini diantara pegawai Pemerintah jang tua2. Rupanja pikiran beliau ini belum dapat diterima oléh kaum tua, jang masih berdjiwa conservatief.
Lebih berhasil usaha beliau diantara kaum peladjar2, kaum muda. Pikiran beliau itu diterima oléh kaum muda dengan gembira dan begitulah lahir Budi Utomo atas usaha pemuda R. Sutomo dan R. Gunawan Mangunkusumo. Selagi Dr. Wahidin hanja berusaha untuk mendirikan studi fonds sadja, pemuda2 mendirikan Budi Utomo atas dasar kebudajaan jang luas, Studi fonds hanja mendjadi satu bagian dari usaha ini.
Didalam sedikit waktu perkumpulan ini telah mempunjai banjak anggota. Anggotanja terdiri dari peladjar2 dan di Jogjakarta dari pegawai Pemerintah dan pegawai Pakualaman. Sembojan merdu „Java Vooruit”, memadjukam nusa Djawa, disambut oléh seluruh kaum terpeladjar dengan hati gembira.
Budi Utomo mengadakan kongrésnja jang pertama di Jogjakarta pada tgl. 5 Oktober 1908. Kongrés ini menerima baik rentjana-statuten Budi Utomo dan memilih pengurus besar jang pertama. Pengurus besar terdiri dari Bupati Karanganjar R. A. Tirtakusuma sebagai ketua, Dr. Wahidin sebagai wakil-ketua dan anggota pengurus lainnja adalah tuan M. Ng. Dwidjosewojo dan beberapa pegawai Pakualaman.
Menurut statutennja Budi Utomo bermaksud untuk berusaha sekedar tenaga dengan menempuh djalan2 jang sah supaja bangsa dan nusa Djawa dan Madura mendapat kemadjuan jang harmonis dan memberikan bantuan kepada orang2 jang mempunjai tudjuan jang scrupa dengan ini. Terutama akan diperhatikan:
- a.
- kepentingan pengadjaran pada umumnja.
- b.
- memadjukan pertanian, peternakan dan perdagangan.
- c.
- memadjukan téknik dan industri.
- d.
- menghidupkan kembali kebudajaan dan ilmu jang lama.
- e.
- mempertinggi tjita2 kemanusiaan pada umumnja.
- f.
- segala jang perlu untuk mendjamin kehidupan sebagai bangsa jang terhormat.
Daftar usaha ini memperlihatkan bahwa perhatian terutama ditudjukan kepada soal2 kultureel dan sosial. Disini belum terdapat satu politik program.
Sesudah pada tahun 1911 Bupati Karanganjar meletakkan djabatannja sebagai ketua, maka beliau digantikan oléh Pangéran Ario Notodirdjo dari Pakualaman. Dari susunan Pengurusnja dapat ditarik kesimpulan bahwa Budi Utomo adalah perkumpulan tjabang atas, perkumpulan kaum terpeladjar, dan kaum ningrat, orang2 jang berhubungan dengan Barat dan jang merasai dengan langsung tekanan Barat didalam pergaulan hidup se-hari2.
Dengan péndék dapat kita gambarkan langkah pertama pergerakan kebangsaan Indonésia sebagai berikut: pergerakan kebangsaan masih didalam fase locaal-patriotisme (batja: local-patriotisme Djawa), didalam fase kedaérahan. Pergerakan didalam hal politik masih didalam keadaan mentjari djalan dan oléh karena itu belum mempunjai politik; segala perhatian ditudjukan kepada soal2 kultureel dan sosial. Perkumpulan dengan sendirinja masih terbatas kepada tjabang atas, kaum terpeladjar dan kaum ningrat. Terhadap Pemerintah perkumpulan bersifat membantu atau loyal.
Adapun Budi Utomo selandjutnja supaja dapat sekedar mempertahankan hidupnja selalu mentjoba menjesuaikan dirinja dengan arus sedjarah. Penjesuaian ini terdjadi dalam dua hal. Pertama didalam meningkatnja Budi Utomo dari perkumpulan kebudajaan dan sosial se-mata2 mendjadi perkumpulan politik. Sekalipun dikemudian hari Budi Utomo karena pengaruh kaum muda seperti Mr. Supomo dan Mr. Wongsonogoro ketarik kepada aliran nasional jang tjondong kekiri, tetapi dapat dikatakan bahwa pengaruh kaum tua tetap berkuasa didalamnja, sehingga perkumpulan ini tetap pada dasar haluan semula dengan disesuaikan seperlunja menurut tempat dan waktu. Kedua didalam meningkatnja Budi Utomo dari perkumpulan kedaérahan kepada perkumpulan jang berdasarkan kebangsaan jang lebih luas. Didalam kongrésnja pada bulan April 1931 di Djakarta diambil keputusan bahwa Budi Utomo terbuka bagi semua golongan bangsa Indonésia. Prosés ini berdjalan lebih djauh lagi dengan diambilnja keputusan dikonperénsi di Solo pada tanggal 21 Méi 1935 untuk menggabungkan Budi Utomo dengan perkumpulan2 kedaérahan lainnja. Maka sebagai tanda berachirnja zaman kedaérahan Budi Utomo ber-sama2 fusi di Solo pada tanggal 25-26 Déséber 1935 dengan menerima nama „Partai Indonésia Raya” (Parindra).
Tahun 1911 adalah satu tahun jang besar artinja didalam perdjalanan pergerakan kebangsaan Indonésia. Sesudah tahun ini pergerakan kebangsaan mengindjak fase baru dengan berdirinja „Indische Partij” jang berdasar atas nasionalisme jang lebih luas dan berdirinja „Sarékat Islam”, suatu perkumpulan jang berdasarkan keagamaan dan kerakjatan.
Pada 25. Désémber 1912 di kota Bandung didirikan satu perkumpulan, jang disebut „Indische Partij” (Partai Hindia). Partai ini didirikan dan dipimpin oléh orang tiga: Dr. E. F. E. Douwes Dekker, Dr. Tjiptomangunkusumo dan Suwardi Surianingrat alias Ki Hadjar Dewantara. Orang2 ini adalah orang2 jang berpemandangan luas dan mempunjai penglihatan politik jang tadjam. Bagi meréka soal politik djadjahan bukan soal perasaan, tetapi soal perhitungan, soal réalitét. Soal politik djadjahan bagi meréka adalah soal perimbangan kekuatan. Terhadap politik pendjadjahan Hindia-Belanda meréka mau mengatur perlawanan dengan menarik serta mempergunakan tenaga2 anti-pendjadjahan dengan se-baik2nja. Dan djalan satu2nja ialah dengan menginsafkan serta menjadarkan orang2 dengan menghidupkan kembali rasa kebangsaan atau nasionalisme jang selama ini selalu ditekan. Meréka karena itu mengandjurkan suatu nasionalisme jang djauh lebih luas dari nasionalisme Budi Utomo. Meréka mengandjurkan satu nasionalisme jang berdasar „tjinta kepada tanah air jang didjadjah.”
Menurut statutennja perkumpulan ini bermaksud „membangunkan rasa tjinta didalam hati tiap2 orang Hindia terhadap bangsa dan tanah airnja jang memberikan lapangan hidup bagi meréka supaja dengan djalan ini meréka dapat bekerdja ber-sama2 atas persamaan hak untuk kemadjuan tanah air dan mempersiapkan tanah air untuk kehidupan sebagai bangsa jang merdéka.”
Teranglah sudah bahwa perkumpulan inilah jang pertama kalinja mengandjurkan „tjinta tanah air” dan „tjita2 kemerdékaan bangsa”. Sebagai tanah air disebut „Hindia”, nama Indonésia sebagai pengertian politik pada waktu itu belum dikenal orang. Dan orang2 jang masuk bangsa „Hindia” bukan sadja orang Indonésia, tetapi djuga Indo-Belanda dan Indo-Tionghoa jang menurut pendapat „Indische-Partij” djuga mempunjai „Hindia” sebagai tanah air, oléh sebab disana meréka dilahirkan ibu meréka kedunia. Tjita2 kemerdékaan tanah-air dinjatakan dengan sembojan: „Hindia” (tanah air meréka jang didjadjah) lepas dari Nederland. Berhubung dengan satu karangan Ki Hadjar Dewantara jang ditulis waktu orang2 Belanda memperingati seratus tahun berdirinja negeri Belanda, jang berkepala „Als ik Nederlander was” (Djika saja seorang Belanda) jang mengandung kritik jang pedas terhadap pemerintah Hindia-Belanda, maka ke-tiga2 pemimpin Indische Partij diasingkan.
Kemudian „Indische Partij” menukar nama mendjadi „Partij Insulinde”. Sebagai asas jang utama dalam programanja tertera: „Mendidik suatu nasionalisme Hindia dengan memperkuat tjita2 persatuan bangsa”. Sudah itu Partij Insulinde berpesan keras kepada anggota2nja supaja meréka memakai nama persatuan sadja dan menjebut diri meréka „Indiërs”, orang Hindia. Dengan ini tampaklah kepada kita bahwa Partij Insulinde mengorganisir tjita2 kebangsaan mendjadi suatu kekuatan didalam bentuk ikatan persatuan nasional.
Adapun Partij Insulinde kemudian mengganti nama lagi mendjadi „Nationale Indische Partij” (N.I.P.) pada bulan Djuni 1919. Perkumpulan ini tidak pernah mempunjai pengaruh pada rakjat jang banjak. Perkumpulan ini tinggal mendjadi perkumpulan orang2 jang terpeladjar. Djasa perkumpulan ini terutama terletak didalam usahanja untuk menanam rasa kebangsaan dan tjita2 kemerdékaan jang kelak mendjadi kepunjaan orang banjak.
Dengan péndék kemadjuan pergerakan dapat kita gambarkan sebagai berikut: Pergerakan kebangsaan sudah meningkat dari fase kedaérahan kepada nasionalisme jang luas. Pergerakanpun sudah meningkat dari pergerakan jang berdasarkan politik. Didalam hal politik perkumpulan mempunjai garis jang terang didalam andjuran tjita2 kemerdékaan jang bersandar atas pertentangan kaum pendjadjah dan kaum jang didjadjah, kepada koloniale antithese dan didalam mengandjurkan rasa kebangsaan sebagai ikatan persatuan nasional untuk lebih efficient memerangi pendjadjahan. Perkumpulan ini masih terbatas kepada kaum terpeladjar. Perkumpulan ini belum dapat menarik rakjat kedalam barisannja, belum mendjadi perkumpulan rakjat (volksorganisatie).
Pergaulan hidup tidak tinggal diam. Keinsafan dan kesadaran politik jang selalu dipropagandakan perkumpulan2 politik jang terdahulu lambat-laun tersebar diantara rakjat. Lagi pula prosés keinsafan dan kesadaran rakjat ini dipertjepat oléh suatu kedjadian didunia jang terkenal sebagai révolusi Tiongkok. Se-gala2nja ini mendjadi sebab timbulnja pergerakan rakjat jang pertama kali di Indonésia jang tersusun didalam perkumpulan „Sarékat Islam”.
Tahun 1911 tertulis didalam sedjarah dunia sebagai tahun révolusi Tiongkok. Dr. Sun Yat Sén, bapak pergerakan Tiongkok, berhasil meruntuhkan kekuasaan Mansju jang turun-temurun dan hendak mendirikan Tiongkok Baru jang berdasarkan nasionalisme, démokrasi dan keadilan sosial.
Kedjadian di Tiongkok ini menimbulkan semangat kebangsaan didalam hati kaum peranakan Tionghoa di Indonésia. Semangat kebangsaan ini berupa kinsafan akan harga diri sendiri jang tampak keluar didalam tingkah-laku meréka dalam pergaulan hidup se-hari2 pertukaran didalam gelagat orang Tionghoa se-hari2 terasa terlebih dahulu oléh golongan rakjat jang selalu berhubungan dengan meréka jaitu kaum dagang Indonésia.
Dimana ada aksi disana timbul réaksi. Keinsafan orang Tionghoa akan kebangsaan dan harga dirinja menimbulkan semangat kebangsaan dan harga diri sendiri didalam hati kaum dagang Indonésia. Dan tiap2 keinsafan dan kesadaran mentjari djalan untuk mendjelma dalam sesuatu bentuk. Disini perlu diterangkan pula bahwa pada waktu itu „Christelijke Zending” berusaha se-keras2nja untuk menjebarkan agama Kristén. Lagi pula didalam pers dan parlemen Belanda timbul suara2 jang mengédjék, bahwa orang Indonésia jang beragama Islam tidak ber-sungguh2 mendjalankan perintah agamanja. Semuanja ini turut menentukan tjorak pergerakan pada waktu itu: pergerakan rakjat jang berdasarkan agama jang satu jang dianut oléh rakjat pada umumnja, jaitu agama Islam.
Demikianlah lahir „Sarékat Islam” pada th. 1913 sebagai tanda kesadaran rakjat. „Sarékat Islam” didirikan oléh kaum dagang Indonésia di Djogjakarta, diantaranja Hadji Saman Hudi dan Hadji Umar Said Tjokroaminoto.
Perkumpulan „Sarékat Islam” didirikan pada waktu perkumpulan politik masih terlarang dalam undang2, jaitu dalam Regeringsreglement artikel 111. Sekalipun begitu „Sarékat Islam” (S.I.) dapat madju dengan tjepat dan menjebarkan asas dan tudjuannja keseluruh Indonésia. Rupanja masanja sudah tiba, bahwa keinginan rakjat tidak dapat dikekang dengan undang2 jang tidak berdasarkan kemauan rakjat. Ini adalah satu hal jang harus diinsafi oléh angkatan muda Indonésia dengan se-dalam2nja, bahwa pemerintah tidak dapat berbuat se-wénang2 atau menekan, kalau rakjat menundjukkan kemauan jang teguh.
Pemerintah Hindia Belanda kagum dan terkedjut melihat pergerakan rakjat jang sematjam ini. Gubernur-Djéndral Idenburg jang memegang tampuk kekuasaan „Hindia Belanda” pada waktu itu mendjalankan muslihat politik jang halus. Keinginan rakjat jang sematjam itu tak dapat dipatahkan dengan tidak menimbulkan hal2 jang tidak diingini.
Ketika pengandjur2 S. I. memadjukam permintaan untuk mensjahkan S. I. sebagai „badan hukum” (rechtspersoon) dan dengan itu mengakui S. I. sebagai satu pergerakan diseluruh Indonésia, permintaan jang sematjam itu ditolak oléh G.D. Idenburg. Beliau mengetahui bahwa S.I. jang mendjadi satu pergerakan adalah satu antjaman besar bagi kedudukan Hindia Belanda.
Kepada pemohon Tjokroaminoto beliau mengatakan, bahwa beliau hanja dapat mengakui tiap2 tjabang S.I. satu2nja sebagai „rechtspersoon”. Sarékat Islam mestilah di-petjah2 mendjadi perkumpulan2 ketjil, masing2 berdiri sendiri dan tidak berhubungan satu sama lain. Dengan djalan demikian jang terkenal sebagai politik „divide et impera” (bagi2lah dan kuasailah), G.D. Idenburg berharap akan dapat menghantjurkan bénténg persatuan rakjat jang didirikan oléh „Sarékat Islam”.
Mengingat akan kebutuhan pergerakan dan kelemahan dalam kalangan sendiri pengandjur2 S.I. memutuskan, sekalipun dengan kekesalan hati, menurut putusan Pemerintah dahulu. Maka berdirilah „Sarékat Islam” sebagai perkumpulan ketjil2. Tiap2 tjabang S.I. mempunjai Anggaran Dasar sendiri, berdiri sebagai „rechtspersoon” sendiri dan pada lahirnja tidak mempunjai perhubungan satu sama lain.
Akan tetapi roh persatuan ternjata ada kuat. Pada tahun 1915 berdirilah di Surabaja satu perkumpulan jang disebut „Centrale Sarékat Islam” atau dengan singkat C.S.I., jang disahkan sebagai „rechtspersoon” pada tahun 1916. C.S.I. ini merupakan satu Pengurus Besar S.I. jang berdiri disamping tjabang S.I. jang sudah ada dan berdiri sendiri itu.
Baru sekarang tampak ketadjaman muslihat G.D. Idenburg. Sebab sekalipun C.S.I. berupa Pengurus Besar jang mengadakan kongrés jang dikundjungi oléh utusan2 dari seluruh tjabang2 S.I. jang mempunjai „rechtspersoon” sendiri2 itu, dan sekalipun pada kongrés2 itu diambil keputusan2, jang didjadikan pedoman bersama bagi seluruh tjabang2, C.S.I. tidak dapat mempunjai kontrole jang betul dan mengadakan disiplin jang teratur atas tjabang2nja, oléh karena tjabang2 itu pada lahirnja berdiri sendiri. Bukankah tiap2 tjabang mempunjai rechtpersoonlijkheid sendiri2? Dengan demikian maka susunan „Sarékat Islam” tinggal lemah.
Pada permulaannja, S.I. bersifat loyal atau membantu terhadap Pemerintah. Kongrésnja jang pertama jang diadakan dikota Bandung pada tahun 1916 memperlihatkan sifat ini. Sembojan jang didengungkan pada waktu itu berbunji: „dengan Pemerintah dan untuk membantu Pemerintah.”
Dalam pada itu pada tahun 1914 mulai tersebar di Indonésia aliran jang revolusionér-sosialistis jang mula2 dipropagandakan oléh seorang Belanda jang bernama Sneevliet dan mendapat penganut diantara orang2 Indonésia diantaranja Semaun dan Darsono anggota Sarékat Islam afdeling Semarang.
Meréka ini memasukkan aliran jang revolusionér-sosialistis ini kedalam Sarékat Islam.
Karena itu dalam S.I. terdapat djuga satu aliran jang tidak menghendaki bekerdja ber-sama2 dengan pemerintah jang mempunjai djurubitjara jang tjakap dalam dirinja Semaun dan Darsono. Tetapi pada waktu itu aliran politik cooperation masih lebih kuat. Pada tahun 1917 S..I masih dapat menulis didalam asas politiknja, bahwa C.S.I. menudju „supaja bangsa2 Hindia Belanda mendapat pengaruh jang semakin lama semakin bertambah atas pemerintahan negeri dan pemerintah, sampai achirnja mentjapai „zelfbestuur” (pemerintahan sendiri).
Pada waktu itu S.I. berkeinginan hendak turut tjampur dalam urusan pemerintahan dengan perantaraan suatu déwan jang lambat-laun harus disempurnakan mendjadi Parlemén atau Badan Perwakilan Rakjat jang sedjati.
Kongrés C.S.I. jang kedua jang diadakan pada tahun 1917 di Surabaja menundjukkan bertambahnja pengaruh aliran Semaun jang hendak memasukkan pikiran2 jang révolusionér-sosialistis didalam Sarékat Islam. Pada kongrés itu ditetapkan satu keterangan asas (beginselverklaring) jang terdiri dari dua bagian dan suatu program usaha dengan djalan compromis antara dua aliran jaitu aliran révolusionér-sosialistis dan aliran jang berdasarkan dogma agama, masing2 diwakili oléh Semaun dan Hadji Agus Salim.
Didalam keterangan asas tertera bahwa „zelfbestuur”lah jang mendjadi tudjuan terachir didalam perdjuangan S.I. terhadap politik pendjadjahan. Asas jang kedua menetapkan bahwa perdjuangan akan diadakan terhadap segala bentuk „kapitalisme jang djahat”.
Daftar usaha membuat rentjana tentang: aksi tentang deséntralisasi pemerintahan dan hak milik, kemerdékaan bergerak, pengadjaran, agama, pengadilan, pertanian, keradjinan, keuangan, masalah2 sosial dan pertahanan negeri. Djuga pada waktu itu aliran jang menghendaki bekerdja ber-sama2 dengan Pemerintah masih lebih kuat.
Pada waktu „Volksraad” didirikan pada 18 Méi 1918 dan S.I. akan menentukan sikapnja terhadap badan perwakilan ini, S.I. menulis dalam programanja, bahwa tudjuan politiknja „ber-angsur2 memperbesar kekuasaan „Volksraad” sampai mendjadi Déwan Rakjat jang sebenarnja.. jang anggota2nja terus dipilih oléh rakjat.” Djuga disebut dalam program itu mengadakan Raad2 désa dan Regentschapsraden di Djawa dan Raad2 jang sematjam itu diluar tanah Djawa.
Didalam „Volksraad” jang pertama S.I. diwakili oléh Hadji Umar Said Tjokroaminoto dan Abdul Muis. Didalam mendjalankan kewadjiban dalam „Volksraad”, meréka sering kesal melihat politik jang didjalankan Pemerintah. Sekali2 meréka mengeluarkan kritik jang pedas terhadap Pemerintah.
Melihat perbuatan Pemerintah jang sematjam itu, aliran jang hendak menentang Pemerintah didalam S.I. bertambah kuat. Dari suatu perkumpulan jang hendak membantu Pemerintah dan meminta pertolongan dan pimpinan dari Pemerintah S.I. ber-angsur2 mendjadi perkumpulan jang mentjurigai pemerintah dan achir2nja mengadakan perlawanan jang prinsipieel.
Pertukaran haluan ini tampak betul didalam pekerti pergerakan ini: Pada tanggal 5 Djuni 1919 rakjat berontak terhadap Pemerintah di Toli2 di Sulawési Tengah. Pemberontakan ini terdjadi sesudah kundjungan Abdul Muis, ketua muda S.I. kedaérah tersebut.
Tak lama kedjadian ini disusul lagi oléh suatu kedjadian di Djawa Barat jang terkenal sebagai drama Tjimarémé.
Drama Tjimarémé adalah suatu pemberontakan rakjat dibawah pimpinan Hadji Hassan terhadap pengumpulan padi jang diperintahkan Pemerintah. Kedjadian ini disusul pula oléh prosés „afdeling B.”, jaitu terdapatnja suatu gerakan rahasia jang disangka mempunjai hubungan jang erat dengan Pemimpin Umum Sarékat Islam. Ketua S.I. berhubung dengan ini dipendjarakan, tetapi sebentar dilepaskan lagi.
S.I. masih turut didalam „Volksraad” jang kedua. Ia diwakili oléh Hadji Agus Salim jang mengadakan perlawanan (opposisi) jang tegas dan prinsipieel terhadap Pemerintah. Sesudah ternjata, bahwa pekerdjaan enam tahun didalam „Volksraad” tidak membawa hasil jang diharapkan, maka pada tahun 1923 S.I. mengambil keputusan untuk melepaskan politik „Volksraad” alias politik bekerdja ber-sama2 dengan Pemerintah.
Meréka dengan pengalaman sendiri menginsafi perkataan Semaun, bahwa Volksraad itu hanja suatu pertundjukan belaka jang tidak berguna buat rakjat. Dengan turut tjampur didalam badan perwakilan jang sematjam ini kita mengabui mata rakjat se-olah2 kita turut menentukan haluan pemerintahan.
Mulai dari saat itu S.I. mentjari kekuatan dalam diri sendiri dan tidak mengharapkan pertolongan lagi dari Pemerintah. S.I. merukunkan politik non cooperation alias politik tidak bekerdja ber-sama2 dengan Pemerintah. Putusan ini membawa perubahan2 didalam susunan S.I. jang menudju kepada susunan jang lebih sempurna.
Pada tahun itu djuga S.I. mendjelma mendjadi partai dan disebut „Partai Sarékat Islam”. Dengan menerima keputusan ini maka perhubungan jang longgar dahulu diantara badan2 S.I. jang banjak dengan C.S.I. dihilangkan dan diganti dengan satu organisasi jang hanja merupakan satu badan sadja jang mempunjai tjabang2nja dan mempunjai Pengurus Besar pada putjuknja. Kemudian diterima pula satu partai-disiplin jang melarang anggota2 S.I. mendjadi anggota partai jang lain, misalnja anggota Partai Komunis, jang sedang giat berusaha untuk memperbesar pengaruhnja atas rakjat pada waktu itu.
Dengan diterimanja partai-disiplin ini, maka terdjadilah perpetjahan didalam P.S.I. Aliran jang diwakili oléh Semaun-Darsono meninggalkan P.S.I. dan memperkuat Partai Komunis.
Kemudian ditambah pula perkataan dibelakang nama „Partai Sarékat Islam” untuk menandakan tanda kebangsaannja. Pada tahun 1927 partai disebut „Partai Sarékat Islam Hindia Timur”, jang pada tahun 1930 diganti mendjadi „Partai Sarékat Islam Indonésia” atau dengan singkat P.S.I.I.
Dengan péndék kita dapat gambarkan kemadjuan pergerakan kebangsaan Indonésia pada waktu itu sebagai berikut: Pergerakan sudah meningkat pada fase jang baru, fase kerakjatan jang berada. Rakjat jang mulai sadar turut didalam barisan nasional dan memberikan suatu tenaga jang kuat didalam memerangi pendjadjahan. Dengan turutnja rakjat didalam pergerakan nasional, maka pergerakan nasional memperoléh suatu kekuatan baru, jaitu tenaga jang terletak didalam djumlah (kwantitét).
Selandjutnja dapat dikatakan bahwa S.I. adalah pergerakan rakjat satu2nja jang berpengaruh betul sampai kira2 tahun 1923. Lagi pula perkumpulan ini bersedjarah, karena ia mendjadi tjermin keinsafan politik kebangsaan Indonésia. Mula2 ia bekerdja ber-sama2 dengan pemerintah. Berkat pengalaman ia merukunkan politik non-cooperation dengan Pemerintah jang terdiri didalam berusaha sendiri. Sarékat Islam sangat berdjasa didalam memberikan bentuk pada kesadaran rakjat dan memberikan pokok jang asal didalam politik djadjahan jang terkenal sebagai politik cooperatie dan non-cooperatie, sebagai djalan untuk mentjapai tjita2 Indonésia Merdéka. Boléh dikatakan, bahwa apa jang diandjurkan oléh Sarékat Islam dengan sajup2, partai jang berikut hanja mengerdjakan dengan terang, tegas dan tepat.
Adapun P.S.I.I. selandjutnja menjempurnakan organisasinja. Didalam kongrésnja jang diadakan pada tanggal 24—27 Djanuari organisasi ditetapkan sebagai berikut: partai dipimpin oléh suatu badan pusat jang terdiri dari dua bagian, jaitu Madjelis Tahkim (déwan partai) jang diketuai oléh Tjokroaminoto dan Hadji Agus Salim dan Surjopranoto sebagai anggota2nja dan Ludjnah Tanfidhyah (badan jang mendjalankan penetapan2 partai) jang diketuai oléh Sangadji dengan Dr. Sukiman sebagai ketua muda.
Pada achir tahun 1932 dikalangan pengurus besar timbul perselisihan faham jaitu diantara Hadji Umar Said Tjokroaminoto, Hadji Agus Salim dengan golongan Sukiman, Surjopranoto. Dr. Sukiman dipetjat dari P.S.I.I. dan mendirikan di Djogjakarta suatu partai baru dengan nama Partai Islam Indonésia (Parii).
Berhubung dengan kesempitan bergerak disekitar tahun2 jang berikut karena tindakan2 jang diambil oléh Pemerintah terhadap partai2 jang mendjalankan politik non-kooperasi, maka didalam P.S.I.I. timbul persoalan, apakah politik non-kooperasi akan terus dipertahankan dengan segala akibat2nja ataukah politik itu akan dilepaskan untuk memperoléh sekedar keleluasaan bergerak. Soal ini didjadikan mendjadi pokok persoalan jang terpenting dikongrés partai jang diadakan di Djakarta pada tanggal 8-12 Djuli 1936. Soal ini tidak dapat diputuskan didalam kongrés. Dalam pada itu pertentangan didalam partai bertambah tadjam jang berakibat: didirikannja sebuah panitia oléh beberapa pemimpin jang hendak melepaskan politik non-kooperasi jang dipakai oléh Hadji Agus Salim dan Sangadji. Panitia ini diberi nama Barisan Penjedar dan bermaksud untuk menjedarkan P.S.I.I. atas kehendak2 zaman. Golongan ini dipetjat dari partai dan kemudian mendirikan partai jang baru pada tahun 1937.
Sesudah terdjadi pemetjatan atas diri Hadji Agus Salim dan Hadji Umar Said Tjokroaminoto telah meninggal dunia, maka P.S.I.I. mengusahakan persatuan kembali dengan golongan Dr. Sukiman. Didalam kongrés jang diadakan pada tanggal 19—23 Djuli 1937 pemetjatan atas diri Dr. Sukiman cum suis ditarik kembali dan pada bulan Septémber 1937 Dr. Sukiman dan Wali Alfatah masuk kembali ke P.S.I.I. jang dengan sendirinja mengakibatkan dileburnja Parii kedalam P.S.I.I.
Kongrés P.S.I.I. jang diadakan di Surabaja pada tanggal 30 Juli — 7 Agustus 1938 memperbintjangkan dengan lebih dalam soal non-kooperasi. Didalam kongrés itu S. M. Kartosuwirjo menguraikan, bahwa hidjrah djangan dipersamakan dengan non-kooperasi. Non-kooperasi bersifat penolakan dan dengan demikian bersifat négatip, sedangkan hidjrah jang diusulkannja bersifat positip jaitu menolak dan disamping itu mendjalankan usaha dengan se-kuat2nja untuk membentuk kekuatan jang hébat jang menudju kepada Darul Islam. Didalam kongrés ini dipilih sebagai ketua partai Wondoamiseno dan sebagai ketua Ludznah Tanfidhyah Abikusno Tjokrosujoso. Didalam pemilihan pimpinan partai golongan Dr. Sukiman ternjata tidak mendapat tempat.
Keadaan jang demikian mengakibatkan bahwa oléh Parii marhum, Muhammadyah dan Jong Islamieten Bond pada awal Désémber 1938 didirikan suatu partai baru jang diberi nama Partai Islam Indonésia (P.I.I.) jang mula2 diketuai oléh R. M. Wiwoho Purbohadidjojo. Pada kongrés pertama jang diadakan pada 4 Désémber 1938 Dr. Sukiman dipilih menjadi ketua dan sebagai anggota pengurus besar lainnja ditetapkan Wiwoho, K. B. Hadikusumo, Wali Al-fatah, Faried Ma’ruf, A. K. Musakir, Mr. Kasmat dan K. H. M. Mansur. Partai ini berhaluan kooperasi dan kemudian masuk Gapi dengan andjurannja Indonésia Berparlemén.
Didalam P.S.I.I. terdjadi perpetjahan lagi berhubung persoalan apakah P.S.I.I. akan masuk dalam Gapi atau tidak. Partai memutuskan akan masuk Gapi dan golongan jang menentang dan tidak setudju masuk Gapi jang dipimpin oléh Kartosuwirjo dipetjat dari partai. Kartosuwirjo dengan kawan2nja mendirikan P.S.I.I. badan kedua jang mempunjai Anggaran Dasar jang sama dengan jang lama, tetapi mempunjai Ludznah Tanfidyah jang berlainan.
P.S.I.I. — Kartosuwirjo ini mengadakan kongrésnja jang pertama di Malangbong (dekat Garut) pada bulan Maret 1940.
Demikian maka pergerakan Islam terdiri dari P. S. I. I. - Abikusno, P. S. I. I. -Kartosuwirjo dan P. I. I.-Dr. Sukiman sampai petjahnja perang dunia kedua dan mendaratnja Djepang di Indonésia pada bulan Maret 1942.
PARTAI KOMUNIS INDONESIA (P.K.I.)
(Internationale).
„Sarékat Islam” lahir sebagai tanda kesadaran akan harga bangsa dan diri-sendiri dikalangan kaum dagang Indonésia, golongan penduduk jang agak berada.
Keinsafan dan kesadaran akan harga diri sendiri ini tidak tinggal terbatas pada golongan penduduk jang agak berada sadja, melainkan tersebar diantara rakjat jang banjak. Kaum jang terhina, kaum jang lapar, golongan penduduk jang terlebih2 merasai penindasan dan perasaan pada badan sendiri mulai bangun dan sadar akan nasibnja dan pada waktunja akan membangunkan bentuk jang sesuai dengan kesadarannja.
Aristoteles, ahli filsafat Junani jang kesohor itu membagi manusia dalam dua golongan: golongan budak dan golongan merdéka. Ia berpendapat bahwa golongan budak haruslah tinggal budak untuk sé-lama2nja. Kita sudah agak lebih djauh didalam pandangan kita. Kita mengakui kewadjiban orang jang merdéka untuk memerdékakan orang2 jang masih mengeluh karena rantai perbudakan dan kegelapan berat mengimpit. Dan sedjarah dunia membenarkan kita dalam pendapat ini. Sebab sepandjang sedjarah kita lihat orang2 tampil kemuka jang tidak lahir didalam alam penindasan dan penghinaan membéla dan mendjadi djurubitjara kaum jang terhina dan tertindas dengan mengorbankan segala kesenangan hidup sekalipun.
Ber-turut2 tampil kemuka Thomas Morus, Comte de Saint Simon, Fourier, Robert Owen dan pudjangga2 lainnja dengan mengemukakan2suatu adjaran sama rata sama rasa jang terkenal sebagai utopis sosialisme. Adjaran ini mendapat kelandjutan mendjadi sosialisme jang berdasar ilmu (wetenschappelijk sosialisme) didalam tangan genie-ekonoom Karl Marx dan sahabat karibnja Friedrich Engels. Pun sosialisme mendjadilah pedoman buat prakték, mendjadilah sendjata kaum jang tertindas, kaum buruh, didalam perdjuangannja mentjari perbaikan nasib. Dengan terang dan djelas diperlihatkan Karl Marx, bahwa didunia ini ada dua golongan, jaitu golongan kaum jang tertindas dan golongan kaum jang menindas, golongan proletar dan golongan burdjuis. Golongan jang dua ini sepandjang sedjarah selalu terlibat didalam perdjuangan jang tak berkeputusan dan tidak mengenal damai. Ia menerangkan pula, bahwa kaum buruh hanja mendapat perbaikan nasib, djika ia sanggup menghilangkan perbédaan kelas ini dengan djalan perdjuangan kelas jang tidak enggan memakai kekerasan. Ia memberi naséhat kepada kaum jang tertindas didalam perdjuangannja pada achir Manifés Komunis: „Kaum proletar seluruh dunia, bersatulah!” Pikiran2 ini disebut orang pikiran2 jang révolutionér-sosialistis.
Pikiran2 jang révolutionér-sosialistis seperti tersebut diatas ini jang pada dasarnja berlaku bagi seluruh alam jang tertindas mulai tersebar di Indonésia pada tahun 1914. Pikiran2 ini dipropagandakan Sneevliet, seorang Belanda jang berhaluan révolutionér-sosialistis mula2 di Semarang. Dengan beberapa kawan sefaham diantaranja Brandsteder, Dekker dan Bergsma ia mendirikan pada bulan Mei 1914 suatu perkumpulan jang disebut „Indische Sociaal Democratische Vereeniging” (I.S.D.V.) jang bertudjuan menjebarkan pikiran2 jang bertjorak sosial-démokratis dan bermaksud menurut perkataan Sneevliet membangunkan „revolutionnair sentiment” (perasaan jang révolutionér) didalam hati anak Indonésia.
Supaja tjita2 jang dipropagandakan I.S.D.V. mudah tersebar diantara rakjat, maka meréka mentjari kontak dengan perkumpulan kebangsaan jang sudah ada. Perkumpulan ini akan dipakai sebagai djembatan untuk mentjapai rakjat. Pada tahun 1917 meréka berhasil mendapat kontak dengan Sarékat Islam afdeling Semarang, jang rupanja mempunjai beberapa anggota jang dapat dimasuki dengan pikiran2 jang révolutionér-sosialistis. Diantaranja Semaun jang pada waktu itu baru berumur 20 tahun.
Dari mulai saat inilah tampak suatu aliran jang révolutionér-sosialistis didalam Sarékat Islam jang mendapat djurubitjara jang tjakap didalam dirinja Semaun dan Darsono.
Tersebarnja aliran jang révolutionér-sosialistis ini dipertjepat oléh beberapa kedjadian diluar dan didalam negeri. Diluar Negeri kaum Bolsjewik pada bulan Oktober 1917 dibawah pimpinan Lenin berhasil menggulingkan kekuasaan Tsar jang begitu lalim dan hendak mendirikan Rusia Baru jang sosialistis. Révolusi Rus mendjadi ilham bagi kaum jang tertindas. Meréka mengarahkan mata ke Moscow sebagai kota pengharapan. Dan tidak sia2. Sebab pada 5 Maret 1919 di Kremlin di Moscow didirikan Internationale ke III. Selagi Internationale ke I jang didirikan di London pada tahun 1864 menundjukkan djalan bagi kaum jang tertindas dengan perkataan2 bahwa „kemerdékaan kaum buruh hanja dapat diperoléh dengan usaha kaum buruh sendiri”, bahwa „kemerdékaan kaum buruh bukanlah suatu pekerdjaan lokal atau nasional, akan tetapi suatu pekerdjaan sosialistis dan internasional”, dan Internationale ke II jang didirikan di Paris pada tahun 1889 berusaha mengumpulkan dan mengatur tenaga kaum buruh, maka Internationale ke III bermaksud dengan tenaga jang tersusun ini mendjalankan adjaran sosialisme didalam prakték. Internationale ke III mau mendjadi Internationale jang mendjalankan perbuatan, mau mendjadi Internationale-van-de-daad, dengan mendjelmakan massa-actie. Ia hendak mendjalankan actie dengan tenaga kaum jang tertindas seluruhnja dengan tidak mem-béda2kan bangsa dan agama. Demikianlah ia menulis didalam suatu Manifés jang ditudjukannja kepada proletar seluruh dunia. „Kemerdékaan djadjahan hanja dapat tertjapai dengan kemerdékaan kaum buruh seluruh dunia”. Dan kepada „budak djadjahan” di Asia dan Afrika ia berseru: „Pada saat diktatur kaum proletar tegak di Eropah, pada saat itu pulalah kamu akan memperoléh kemerdékaanmu!”
Pada bulan Juli/Agustus 1920 maka diadakanlah di Petrograd dan di Moscow kongrés Komintern ke-2 untuk merentjanakan usaha buat mendjalankan putusan2 jang diterima pada kongrés pertama. Terutama perhatian ditudjukan kepada soal2 Timur jang maksudnja mentjari djalan untuk membangkitkan perasaan révolutionér didalam hati bangsa2 Asia. Sebagai kelandjutan dari kongrés ini dapat dipandang Kongrés bangsa2 Timur jang ke I jang diadakan di Baku pada bulan Séptember 1920 „untuk memberi kesempatan kepada bangsa2 Timur menuntut hak dan tjita2 meréka dengan terus terang”. Pada kongrés inilah diletakkan pernikahan setjara ratio antara perdjuangan kelas kaum komunis jang berhaluan internasional dan perdjuangan kemerdékaan nasional daripada tanah djadjahan dan setengah djadjahan.
Dalam negeri terdapat keadaan ékonomi jang sangat kalut. Barang2 sangat kurang dan harga membubung tinggi. Penghidupan mendjadi sangat sukar. Tidaklah menghérankan kalau dalam keadaan jang demikian orang mudah dimasuki propaganda2 jang révolutionér dan sosialistis.
Se-gala2nja ini mempertjepat berkembangnja aliran jang révolutionér-sosialistis di Indonésia dan terbentuknja suatu perkumpulan sebagai pendjelmaan kesadaran itu. Demikianlah I.S.D.V. memutuskan pada 23 Méi 1920 untuk melebur I.S.D.V menjadi Perserikatan Komunis di India (P.K.I.) Anggauta pengurus jang pertama terdiri dari Semaun (ketua), Darsono (wakil ketua), Bergsma (penulis), Dekker (bendahari) dan anggota lainnja ialah: Baars, Stam, Dengah, Kraan dan Sugono. Demikianlah Indonésia pada tahun 1920 mempersaksikan berdirinja P.K.I. jang ber-tjita2 hendak membéla dan mempertahankan nasib rakjat djelata.
Pada achir bulan Désémber 1920 P.K.I. akan menggabungkan diri dengan Komintern. Demikian P.K.I. mendjadi satu séksi dari Internationale ke III jang wadjib mendjalankan kewadjiban jang diletakkan Komintern padanja. Terhadap Pemerintah „Hindia Belanda” achirnja diambil keputusan untuk memboikot „Volksraad” dan menganut politik non-cooperatie alias tidak bekerdja ber-sama2.
Selangkah demi selangkah P.K.I. berusaha merebut pimpinan pergerakan nasional dengan mempergiat usaha dan menjempurnakan susunan organisasi. Pada kongrés ke III dari Komintern jang diadakan dari tanggal 22 Juni-12 Juli 1921 di Moscow P.K.I. diwakili oléh Darsono. Bersamaan dengan kongrés Komintern ini diadakan djuga kongrés ke-I Sarékat Sekerdja Internationale Mérah. Pada kongrés2 inilah ditetapkan suatu program-perdjuangan jang diatur sampai soal jang se-ketjil2nja. Karena itu dapat dikatakan, bahwa tahun 1921 bagi P.K.I. berarti tahun menjempurnakan susunan dan mempertinggi ketjakapan bekerdja.
Pengaruh aliran jang révolutionér-sosialistis didalam Sarékat Islam bertambah hari bertambah besar sehingga ada suara timbul jang meminta adanja partai-disiplin, jaitu peraturan jang menetapkan, bahwa seorang anggota Sarékat Islam — Semaun dan Darsono selain dari anggota P.K.I. adalah djuga anggota2 Sarékat Islam — tidak diperboléhkan mendjadi anggota partai politik lain. Dengan demikian sarékat Islam berharap dapat mentjegah usaha P.K.I. untuk mendjadikan Sarékat Islam sebagai tempat untuk menjebarkan tjita2 meréka.
Pada kongrés Sarékat Islam jang diadakan pada bulan Maret 1921 di Jogjakarta Partai-disiplin ini pada dasarnja diterima, akan tetapi belum berlaku bagi P.K.I. Dalam pada itu Semaun dan Darsono memperhébat usahanja dalam Sarékat Islam. Selain didalam Sarékat Islam P.K.I. bekerdja keras didalam lapangan Sarékat Sekerdja. Pada tahun 1922 P.K.I. memimpin pergerakan pemogokan pegawai pegadaian negeri. Pemimpin2 komunis Tan Malaka dan Bergsma berusaha se-keras2nja untuk mendjadikan pemogokan ini, pemogokan umum. Meréka berpendapat, bahwa perdjuangan révolutionér tidak tjukup dilakukan dengan perkataan2, tetapi harus disertai dengan perbuatan, dengan revolutionnaire-actie. Berhubung dengan ini Pemerintah Hindia Belanda mengambil tindakan2 jang keras jang disertai dengan pembuangan Bergsma dan Tan Malaka jang dianggap „berbahaja bagi ketenteraman umum”.
Seberangkatnja Tan Malaka keluar negeri, Semaun kembali pada bulan Mei 1922 di Indonésia sesudah mengadakan perdjalanan penindjauan ke Moskow kira2 tudjuh bulan. Ia mentjeriterakan pengalamannja di Rusia dan negeri2 lainnja untuk didjadikan teladan bagi Indonésia. Didalam beberapa rapat ia mengandjurkan supaja P.K.I. djangan terlalu meniru2 Rusia, akan tetapi mengadakan siasat perdjuangan sendiri jang disesuaikan kepada keadaan. Terutama ia mengandjurkan, supaja persatuan dipelihara dan disiplin diperteguh. Djuga ia mengandjurkan, supaja orang2 djangan mengambil tindakan2 jang didorongkan oléh hawa nafsu. Hendaklah diambil keputusan2 dengan kepala dingin dengan mengukur perbandingan kekuatan ékonomi dan politik.
Beberapa orang tidak begitu senang mendengarkan perkataan jang diutjapkan Semaun itu dan merasa sedikit ketjéwa melihat Semaun „membélok kekanan”. Bahwa Semaun tidak menghentikan kegiatannja seperti disangka orang bermula terbukti dari pekerdjaannja dilapangan sarékat sekerdja. Ia berusaha dan berhasil mengadakan fusi dari sarékat2 sekerdja jang ada dengan berdirinja „Persatuan Vakbond Hindia” (P.V.H.) jang merupakan satu front terhadap kaum madjikan jang berusaha merendahkan upah dalam bulan Séptémber 1922.
Sajang sekali bahwa usaha bagus dalam lapangan sarékat sekerdja ini disertai oléh kekeruhan dan pertjéktjokan antara Sarékat Islam dan P.K.I.; P.K.I. menuduh Sarékat Islam suatu perkumpulan jang kapitalistis. Sebaliknja Sarékat Islam menuduh bahwa P.K.I. itu adalah suatu perkumpulan jang tidak mempunjai agama. Didalam keadaan jang demikian ketetapan mesti lekas datang.
Pada kongrés Sarékat Islam di Madiun pada tahun 1923 diambil keputusan bahwa partai-disiplin berlaku djuga terhadap P.K.I. Dengan keputusan ini orang2 jang berhaluan révolutionér-sosialistis dan Sarékat Islam mérah mengundurkan diri dari Sarékat Islam dan memperkuat P.K.I. Didalam kalangan Sarékat Islam terdjadi pembersihan, akan tetapi ia kehilangan anggota2 jang sangat aktif. Mulai dari saat ini boléh dikatakan P.K.I.lah perkumpulan satu2nja jang sangat berpengaruh diantara rakjat djelata.
Djustru pada tahun ini P.K.I. kehilangan suatu tenaga besar. Semaun diasingkan Pemerintah Hindia-Belanda berhubung dengan pemogokan kaum buruh keréta api pada bulan Agustus 1923. Pimpinan P.K.I. pindah kepada Darsono. Sekalipun demikian berkat susunan organisasinja dan keichlasan pemimpin2nja, P.K.I. dapat meneruskan usahanja dengan tiada memperlihatkan kemunduran. Malahan ia mempergiat usahanja didalam merebut pimpinan rakjat djelata. Pada kongrés P.K.I. jang diadakan pada bulan Juni 1924 di Djakarta ditetapkan bahwa Sarékat Islam mérah jang dalam pada waktu itu diganti mendjadi Sarékat Rakjat didjadikan onderbouw (tingkatan bawah) dari P.K.I. Orang2 jang belum matang didalam adjaran komunisme mendjadi anggota Sarékat rakjat, P.K.I. adalah tempat anggota2 jang sudah faham adjaran komunisme dan dapat mendjalankan peraturan2, disiplin, pekerdjaan2 menurut taktik jang ditetapkan oléh Partai.
Pada kongrés ini diterima djuga suatu peraturan partai (partij-reglement) jang memuat keterangan asas, program-perdjuangan, Statuten dan Peraturan Rumah Tangga partai. Dengan diterimanja partij-reglement ini, maka P.K.I. memperteguh disiplin dan menjempurnakan organisasi jang mendjadi pokok kemadjuan dan kekuatan perkumpulan ini.
Disamping menjusun kekuatan kedalam dengan menjempurnakan organisasi, P.K.I. memperhébat usaha dilapangan Sarékat Sekerdja. Pada achir 1924 P.K.I. menetapkan untuk mengurangi propaganda politik umum dan mentjurahkan tenaganja untuk memperlébar dan memperkuat sarékat sekerdja. Péndék kata untuk memberikan dorongan jang révolutionér kepada sarékat sekerdja jang mendjadi tulang-punggung didalam perdjuangan politik jang njata.
Pada bulan Juni 1924 di Canton diadakan Pan Pacific Conferentie mérah jang akan memperbintjangkan bagaimana perdjuangan proletar di Eropah dapat dipersatukan dengan perdjuangan kemerdékaan nasional di Timur. Conferentie berpendapat, bahwa perlu dibangunkan suatu Internationale mérah dari kaum pelaut dan pegawai pelabuhan dipelabuhan jang ada di Timur jang akan didjadikan rantai penghubung antara perdjuangan di Timur dan di Barat. Pada konpérénsi ini dibitjarakan djuga dengan pandjang lébar stratégie dan taktik pemogokan. Didalam memerangi kapital jang bersandar atas negara modérén kaum buruh tidak dapat memperoléh kemenangan dengan djalan improvisasi. Perlu diadakan persiapan jang merupakan pertempuran-ketjil2 jang semakin lama bertambah besar terhadap kapital oléh kaum buruh jang semakin révolutionér. Baru sesudah didikan dan persiapan ini mendapat hasil jang bagus dapat diadakan révolusi jang akan menjekék léhér kapitalisme. Didalam konpérénsi di Canton ini, Indonésia diwakili oléh Alimin dan Budisutjitro.
Didalam kongrés P.K.I. jang diadakan pada bulan Désémber 1924 diKotagedé (Djogjakarta), sarékat sekerdja didjadikan pokok jang penting. Kongrés ini dipimpin oléh Alimin dan dihadiri oléh Darsono dan Muso. Alimin jang mewakili P.K.I. di Canton membentangkan „oléh2” Canton-conferentie. Mulai dari saat ini P.K.I. memperhébat usahanja dengan rentjananja jang tertentu dikalangan kaum buruh perdagangan, industri dan pengangkutan. Sesudah konpérénsi di Kotagedé, di Surabaja diadakan konpérénsi kaum buruh perdagangan, industri dan pengangkutan serta konpérénsi kaum buruh pelabuhan dan perkapalan. Didalam konpérénsi ini akan direntjanakan satu front perdjuangan kaum buruh pelabuhan dan perkapalan di Asia sebagai kelandjutan dari konpérénsi di Canton.
Tahun 1925 dimulai oléh P.K.I. dengan penuh kegembiraan dan kesadaran akan kewadjibannja jang semakin lama bertambah berat. Usaha2 dilapangan pengangkutan, perdagangan dan perindustrian diperlébar dan dikonsolidér. Organisasi diperkuat dengan djalan séléksi. Orang2 jang tidak djudjur dikeluarkan dari partai; ditjarikan djalan untuk memberikan kesempatan, supaja inisiatip orang-seorang dapat berkembang. P.K.I. djuga aktip dilapangan pemuda dengan mendirikan di-mana2 Barisan Pemuda. Didalam sarékat sekerdja diusahakan untuk menimbulkan suasana pemogokan. Segala2nja ini menunjukkan bahwa P.K.I. sedang hibuk mempersiapkan diri untuk mendjalankan masa-aksi. Daérah2 jang mendjadi perhatian adalah Semarang dan Surabaja pusat kapitalisme dan daérah Bantam dan Sumatra Barat jang mempunjai sedjarah gemilang didalam usaha melawan pendjadjah. Persiapan ini rupanja dikendalikan dari pusat dengan rahasia jang diduga bertempat di Singapura. Singapuralah mendjadi tempat penghubung antara P.K.I. dan Komintern, tempat pertemuan pemimpin2 P.K.I. di Indonésia dan pemimpin2 Indonésia jang ber-turut2 meninggalkan Indonésia seperti Alimin, Muso, Sardjono, Subakat, Winanta dll.
Pada bulan Maret 1925 P.K.I. mengadakan rapat di Djakarta untuk merembukkan semua soal2 jang paling ketjil tentang hal persiapan ini. Dibitjarakan lebih djauh djalan2 jang akan dipakai seperti pemogokan2, pembakaran, pembunuhan atas pegawai pemerintah jang menggentjét rakjat dan lain2 djalan kekerasan jang se-waktu2 dipergunakan kaum jang tertindas.
Pada pertengahan tahun 1925 suasana pemogokan meliputi udara. Di Semarang pemogokan dimulai didalam satu pertjétakan orang Tionghoa. Pemogokan ini disusul oléh djururawat di C.B.Z. dan pemogokan kaum buruh perkapalan.
Pada achir tahun 1925 di Solo diadakan pertemuan antara pemimpin2 P.K.I. jang terkemuka untuk mengadakan révolusi. Tentang akan diadakannja révolusi pada dasarnja semua setudju. Jang mendjadi persoalan ialah tentang djalannja. Direntjanakan untuk memulai pemberontakan di Sumatera Barat jang akan mendjalar keseluruh Indonésia dan diadakan pada satu waktu. Sebahagian berpendapat, bahwa waktunja belum sampai untuk mengadakan révolusi dan karena itu harus memperkuat persiapan dulu.
Soal waktu ini menimbulkan pertikaian faham diantara pemimpin2 jang terkemuka jang mendjadi sebab, bahwa pemberontakan di daérah2 tersebut tidak terdjadi pada satu waktu jang tertentu. Pemberontakan meletus di Djawa pada bulan Nopémber 1926, di Sumatera baru pada bulan Januari 1927, waktu api pemberontakan di Djawa sudah mulai padam.
Pemberontakan ini dapat dipadamkan oléh Pemerintah Hindia Belanda dengan memakai djalan kekerasan. Pemimpin2 Indonésia be-ribu2 dibuang ke Bovendigul. Pemimpin2 jang hendak melandjutkan usaha P.K.I. dengan menempati tempat pimpinan diantjam dengan segala antjaman. Hak bersidang jang sudah sempit semakin dipersempit. P.K.I. dimasukkan kedalam golongan perkumpulan jang terlarang. Dengan hilangnja P.K.I. sebagai bentuk kesadaran dan keinsafan rakjat, pergerakan kebangsaan Indonésia menudju kemerdékaan tidak berhenti. Ia mentjari djalan untuk tampil keluar dengan menjesuaikan diri menurut keadaan dan kemungkinan baru. Sebab diatas runtuhan P.K.I. lahirlah pada bulan Juli 1927 Perserikatan Nasional Indonésia (P.N.I.).
Berhubung dengan pemberontakan di Indonésia Moscow menulis: „Kami memberi saluut kepada proletar dan kaum tani Indonésia, golongan rakjat kaum buruh djadjahan Belanda, jang sedang terlibat didalam perdjuangan jang berlumuran darah dengan kaum kapital. Hendaknja bangsa Indonésia mengetahui, bahwa kami berdiri disamping meréka.” Tentang kegagalan pemberontakan itu ditulis, bahwa perdjalanan pemberontakan menunjukkan kekurangan persiapan jang sungguh2 dalam hal politik dan organisasi. Pada umumnja dapat dikatakan, bahwa kaum révolutionér hanja memakai kata2 jang umum seperti „perlawanan terhadap impérialisme Belanda” dengan tidak dapat memberi sebagai pengganti rentjana jang njata didalam hal politik dan ékonomi, jang dapat menggerakkan massa dan mendjadikan pemberontakan sebagai permulaan pembangunan umum dan pergerakan kaum buruh jang hébat.
Dengan péndék dapat dikatakan, bahwa seluruh masjarakat Indonésia insaf dan sadar akan keadaan dan nasibnja sebagai daérah djadjahan, dan bahwa ia mesti memperbaikinja dengan segala daja-upaja, karena ia mengetahui pula bahwa perubahan nasibnja tidak diperoléh dengan begitu sadja, melainkan dengan usaha sendiri. Dari itu ia mengutamakan organisasi sebagai sendjata jang tadjam melawan pendjadjahan. Bagi kaum muda Indonésia sedjarah P.K.I. dapat didjadikan teladan. Dengan tuduh-menuduh jang djuga terdjadi pada waktu sekarang ini antara kaum agama dan kaum pergerakan, pendjadjah sadjalah jang beruntung. Terbukti pula, bahwa pemberontakan jang tidak dapat diganti dengan rentjana perdjuangan jang memberi bukti jang njata, hanja merupakan tenaga2 jang ter-sia2 sadja. Pemberontakan harus berbénténg ideologie jang kuat, mempunjai organisasi jang rapih jang dapat mendjalankan program jang tertentu jang menghasilkan bukti2 jang njata.
Akan tetapi sekalipun pemberontakan jang dilakukan P.K.I. tidak memperoléh maksud-tudjuannja, besar djuga pengaruhnja buat perdjalanan pergerakan kemerdékaan dimasa datang.
Kaum jang terhina, kaum jang lapar, golongan penduduk jang ter-lebih2 mengalami penindasan dan pemerasan sudah bangun dan sadar akan nasibnja. P.K.I. berdjasa betul didalam membendung dan membekukan perasaan révolutionér rakjat, ini mendjadi satu kekuatan jang tersusun didalam suatu organisasi jang rapih.
Sajang sekali bahwa pemberontakan tidak meletus pada suatu ketika, karena perselisihan faham diantara pemimpin2 P.K.I. jang terkemuka. Pertjobaan untuk menggulingkan kekuasaan Hindia-Belanda gagal sama sekali. Akan tetapi rakjat sudah mentjapai kesadaran sedemikian rupa, sehingga ia tidak enggan lagi memakai kekerasan jang se-waktu2 dipakai kaum jang tertindas untuk mempertahankan hak hidupnja. Pemerintah Hindia-Belanda memadamkan api pemberontakan ini dengan segala kekuatan jang ada padanja. Be-ribu2 pemimpin rakjat di-Digulkan, hak bersidang dan berserikat jang begitu sempit lebih dipersempit dengan seribu satu larangan. P.K.I. jang mendjadi motor pendorong pergerakan rakjat dimasukkan kedalam golongan perkumpulan jang terlarang.
P.K.I. seterusnja berusaha mentjapai tjita2nja dengan gerakan dibawah tanah (illegaal). Sebagian daripada anggota P.K.I. meneruskan perdjuangan P.K.I. berdasarkan penetapan siasat sendiri didalam bentuk jang lain daripada P.K.I. Meréka itu ditjap oléh P.K.I. sebagai kaum Trotzkis. Meréka itu diantaranja jang terkemuka seperti Tan Malaka, Djamaluddin Tamin dan Subakat mendirikan P.A.R.I. (Partai Republik Indonésia) di Bangkok pada pertengahan tahun 1927 jang kemudian harus bergerak djuga setjara illegaal. Sesudah pergerakan rakjat jang berhaluan révolutionér-sosialistis tidak dapat bergerak lagi setjara terang2an, maka pergerakan rakjat berdjalan terus dengan memakai bentuk jang lain.
Rakjat jang sudah sadar tidak dapat didiamkan dengan begitu sadja. Perkumpulan2 boléh hilang dan berganti, akan tetapi tjita2 jang dipangku roh jang sadar akan tetap hidup sepandjang waktu. Demikianlah rakjat Indonésia tidak tinggal diam berpangku tangan, melainkan gelisah mentjari bentuk untuk mewujudkan kesadarannja (jang sesuai dengan tempat dan waktu). Dan didalam menentukan tjorak pergerakan rakjat sesudah zaman P.K.I. besar sekali pengaruh „Perhimpunan Indonésia”. Bersamaan dengan berdirinja Budi Utomo (1908) di Indonésia, lahirnja dinegeri Belanda perkumpulan peladjar2 Indonésia jang disebut „Indische Vereeniging” (Perkumpulan Hindia). Perkumpulan ini pada permulaannja tidak memperhatikan soal2 politik, melainkan se-mata2 berusaha untuk mempererat tali persaudaraan diantara peladjar2 Indonésia dinegeri Belanda. Dengan datangnja orang buangan Dr. Tjipto Mangunkusumo dan Suwardi Surjaningrat dinegeri Belanda pada tahun 1913 mulailah masuk „hantu” politik dikalangan „Indische Vereeniging”. Pertentangan antara kaum pendjadjah dan kaum jang terdjadjah mulai terlihat jang menjebabkan orang2 Belanda jang dulu mempunjai simpati terhadap „Indische Vereeniging” mengundurkan diri dari kalangan „Indische Vereeniging”. Kedjadian2 diduniapun turut mempertadjam pertentangan ini.
Perang dunia pertama (1914-1918) memperkaja dunia dengan suatu sembojan baru „The right of selfdetermination”, hak tiap2 bangsa untuk menentukan nasib sendiri. Sembojan ini jang mula2 diutjapkan oléh Présidén Wilson memenuhi udara dunia seluruhnja. Ter-lebih2 ditanah djadjahan ia menimbulkan pengharapan jang besar.
Sebelum perang di Eropah berachir Pemerintah Hindia-Belanda jang gentar bahwa kedjadian2 di Eropah akan mendjalar sampai ke Indonésia memberikan satu djandji jang terkenal sebagai „November-belofte” (Djandji-Nopémber). Pada tanggal 18 Nopémber 1918 Gubernur-Djéndral Van Limburg Stirum berdjandji bahwa „haluan baru, jang ditempuh sekarang di Nederland atas pengaruh kedjadian2 dunia turut pula menetapkan kompas bagi tudjuan politik pemerintahan disini”.
Djandji ini didjelaskan oléh wakil Pemerintah di Volksraad dengan perkataan: „Apa jang dimaksud oléh Pemerintah dengan keterangan jang dibentangkannja? Kalau saja mengeluarkan perkataan ini, maka terbajang dimuka kita kedjadian2 baru diatas dunia dan pengaruhnja jang akan ternjata dalam daérah politik. Di-mana2 terasa, bahwa perlu benar mengadakan perubahan jang sungguh2 dalam pemerintahan negeri menurut asas2 baru, atau djika perubahan ini sudah dimulai mendjalankannja dengan tjepat, sehingga apa jang dahulu disangka masih djauh, sekarang sudah dekat. Tak ada orang jang berdiri di-tengah2 gelombang penghidupan dapat mengélakkan diri dari arus dunia ini, demikian djuga Pemerintah sekalipun dimisalkan ia mau tak dapat menahannja. Pemerintah menerima segala kelandjutan darurat jang datang dari fihak2 jang terkemuka dalam djadjahan ini untuk menurut haluan jang ditempuh di Nederland”.
Demikianlah bunjinja djandji manis jang diutjapkan „Hindia-Belanda” selama ia masih dalam bahaja.
Akan tetapi sesudah Nederland terhindar dari bahaja maka ia lupa akan djandji jang diutjapkannja. Perubahan2 jang sungguh2 dalam peraturan pemerintahan negeri menurut asas2 baru jang perlu diadakan dan diadakan dengan tjepat, sekarang rupanja tak perlu lagi. Indonésia kembali „tidak matang”. Demikianlah sembojan „the right of selfdetermination” jang mengandung banjak pengharapan diwudjudkan dalam prakték. Bangsa Indonésia memperoléh pengalaman sampai dimana sembojan merdu dapat dipertjajai.
Suatu kedjadian jang berlaku didataran Asia Djepang tidak luput mempengaruhi kaum jang terdjadjah, jakni Révolusi Turki (1919-1922). Turki Muda dibawah pimpinan Mustafa Kemal Pasha — pahlawan Anaforta — mewudjudkan sembojan Wilson dengan nasionalisme jang radikal. Segala tenaga nasional dihimpunkannja dan dengan tenaga ini ia memusnahkan tentera pendjadjah Griek jang dibantu oléh Sarékat didataran Afiun Karahisar. Dan berkat ketetapan hati bangsa Turki lahirlah Turki Merdéka jang kembali muda diantara negara2 merdéka didunia.
Teladan jang diperlihatkan oléh Turki Muda memperingatkan tanah2 djadjahan bahwa ia tidak boléh menggantungkan diri kepada djandji2, melainkan harus berbangkit serentak untuk mengatur nasib sendiri. Pertjaja kepada tenaga dan kesanggupan sendiri mendjadi pedoman perdjuangan.
Se-gala2nja ini turut menentukan tjorak „Indische Vereeniging” di-hari2 jang akan datang. Pada tahun 1922 perkumpulan ini berganti nama mendjadi „Indonesische Vereeniging” atau „Perhimpunan Indonésia”. Penggantian nama ini menandakan suatu perkisaran kearah politik jang lebih radikal. Hal ini terlihat djuga dari keterangan asasnja jang memuat bahwa „hari kemudian bangsa Indonésia hanja dan se-mata2 terletak didalam terdirinja suatu bentuk pemerintahan jang bertanggung djawab kepada rakjat itu sendiri didalam arti jang sebenarnja, oléh karena hanja, bentuk pemerintahan jang sematjam itulah jang dapat diterima oléh rakjat. Tiap2 orang Indonésia harus berusaha untuk melaksanakan hal ini dengan tenaga dan ketjakapan sendiri dengan tidak menggantungkan diri kepada „bantuan” bangsa lain. Tiap2 perpetjahan tenaga Indonésia, didalam bentuk bagaimanapun djuga, harus ditjela dengan se-keras2nja, oléh karena hanja persatuan jang bulat diantara putra Indonésia seluruhnjalah jang dapat mendjamin tertjapainja tudjuan bersama”.
Dengan terang dapat kita lihat bahwa politik sudah disandarkan kepada asas „Selfhelp” (menolong diri sendiri): bekerdja dengan tenaga dan ketjakapan diri sendiri untuk membangunkan dan mempertinggi tenaga nasional, baik jang djasmani maupun jang rohani. Politik protés2an dan me-minta2 akan ditinggalkan dan sebagai politik terhadap pemerintah jang tidak mau mengindahkan utjapan Wilson akan didjalankan politik non-cooperatie alias tidak bekerdja ber-sama2. Nasionalisme jang radikal (revolusioner nasionalisme) mendjadi sendjata jang tadjam bagi bangsa2 jang terdjadjah dan sembojan „hak menentukan nasib sendiri”, didjadikan dasar tuntutan politik.
„Perhimpunan Indonésia” terutama sesudah tahun 1924 makin hari makin radikal. Madjalah perkumpulan jang tadinja bernama „Hindia Putra” diganti mendjadi „Indonésia Merdéka” untuk menegaskan tudjuan jang hendak ditjapai. „Indonésia Merdéka” didjadikan selandjutnja sembojan perdjuangan Indonésia Muda. Keterangan asas Perhimpunan Indonésia pada tahun 1925 memperlihatkan keradikalan ini. P.I. berpendapat bahwa:
- 1.
- Hanja Indonésia jang bersatulah, jang dapat menjingkirkan pertikaian golongan antara golongan, jang dapat mematahkan kekuasaan kaum pendjadjah. Tudjuan bersama — memerdékakan Indonésia — perlu akan terbentuknja suatu tenaga massa nasional jang sadar dan bersendi kepada kekuatan diri sendiri.
- 2.
- Turutnja segala lapisan rakjat Indonésia didalam perdjuangan kemerdékaan ini adalah suatu mutlak untuk mentjapai tudjuan itu.
- 3.
- Hal2 jang sangat penting dan memberi kepastian didalam masalah kolonial adalah pertentangan kepentingan antara kaum pendjadjah dan kaum jang terdjadjah. Usaha kaum pendjadjah untuk mengaburkan pertentangan ini harus dilawan kaum jang terdjadjah dengan usaha mempertadjam dan menguatkan segala pertentangan.
- 4.
- Melihat pengaruh pendjadjahan jang begitu merusak akan keadaan djasmani dan rohani pergaulan hidup Indonésia segala matjam usaha harus didjalankan untuk mengembalikan keadaan djasmani dan rohani kepada keadaan jang biasa.
Daftar usaha „Perhimpunan Indonésia” memuat antara lain mendjalankan propaganda asas meréka ini di Indonésia dan mendjalankan politik propaganda luar negeri.
Propaganda politik luar negeri didjalankan oléh Perhimpunan Indonésia dengan sangat aktif. P.I. mentjari perhubungan dengan berbagai perkumpulan diantaranja dengan Komintern dan „Association pour l’Etude des Civilisations Orientales” (Perkumpulan untuk mempeladjari kebudajaan Timur) jang didirikan pada tahun 1925 di Paris. Perhimpunan Indonésia turut djuga didalam beberapa kongrés. Pada kongrés Démokrat International dalam bulan Agustus 1926 di Bierville Perhimpunan Indonésia diwakili oléh Mohammad Hatta. Wakil P.I. menerangkan dengan tegas kepada penganut démokrasi Barat perhubungan jang erat antara perdjuangan révolutionér untuk mentjapai kemerdékaan nasional dengan dasar2 kemanusiaan! Pada kongrés „Liga melawan Impérialisme dan penindasan pendjadjahan” jang dilangsungkan di Brusel pada 10-15 Pébruari 1927 wakil Perhimpunan Indonésia Mohammad Hatta jang djuga mendapat tempat dalam présidium kongrés ini menggambarkan penganiajaan, pemerasan dan perlakuan jang buas jang didjalankan Belanda terhadap rakjat jang tidak berdosa di Indonésia berhubung dengan pemberontakan Nopémber 1926 Indonésia mendapat bantuan moreel didalam bentuk suatu resolusi jang diambil oléh Kongrés jang berbunji bahwa „pergerakan kemerdékaan adalah suatu tuntutan hidup bagi bangsa Indonésia dan djuga suatu soal penting bagi kemanusiaan”.
Djuga didalam Kongrés Wanita Internasional jang diadakan di Gland (Swis) pada bulan Agustus 1927 Perhimpunan Indonésia memperdengarkan suaranja dan mengusahakan supaja tudjuan Indonésia Merdéka lebih terkenal dikalangan internasional. Berhubung dengan kegiatan2 P.I., maka djustisi Belanda menangkap pemimpin2 P.I. jang terkemuka pada waktu itu diantaranja Mohammad Hatta, Mr. Ali Sastroamidjojo, Mr. Nazir Pamuntjak dan Mr. Abdul Madjid Djojodiningrat pada bulan Séptémber 1927 jang kemudian dibébaskan pada tanggal 22 Maret 1928.
Selain daripada mendjalankan propaganda politik luar negeri jang aktif Perhimpunan Indonésia djuga giat berusaha untuk menjebarkan asas politiknja di Indonésia. Anggota2 lama P.I. jang sudah kembali ditanah air meneruskan usaha P.I. dengan mendirikan Studieclub dibeberapa tempat. Diantaranja di Surabaja, di Solo dan Bandung. Pada tahun 1926 Perhimpunan Indonésia menganggap bahwa asas politiknja sudah tjukup tersebar sehingga dirantjangkan untuk mendirikan suatu perkumpulan rakjat jang berhaluan révolutionér nasionalistis di Indonésia jang akan berpusat di Bandung. Perkumpulan itu akan diberi nama „Sarékat Rakjat Nasional Indonésia” (S.R.N.I.). Berhubung dengan pengaruhnja P.K.I. masih sangat kuat maka perkumpulan itu belum dapat didirikan.
Demikianlah Perhimpunan Indonésia (P.I.) dapat dipandang sebagai pengasuh asas politik baru jaitu asas nasionalisme radikal (revolusioner nasionalisme). Dengan nasionalisme dimaksud persatuan Indonésia (Indonésia satu dan tak dapat di-bagi2) dan dengan radikal dimaksud bahwa politik jang akan didjalankan harus berdasar „selfhelp”, pertjaja kepada tenaga dan kekuatan sendiri kedalam dan berdasar non-cooperatie alias tidak bekerdja-ber-sama2 terhadap kekuasaan jang ada, jaitu Pemerintah Kolonial.
Maka tidaklah menghérankan kalau didalam sedikit waktu sesudah lenjapnja P.K.I. sebagai perkumpulan jang terbuka berdiri lagi suatu perkumpulan rakjat jang berhaluan nasionalisme radikal sebagai pengganti P.K.I. jang berhaluan révolutionér-sosialistis.
PERSERIKATAN NASIONAL INDONESIA (P. N. I.-LAMA)
Perhimpunan Indonésia, perkumpulan peladjar2 Indonésia dinegeri dingin dapat dipandang sebagai pengasuh asas politik baru bagi Indonésia, asas politik nasionalisme radikal. Nasionalisme radikal sebagai sendjata politik jang tadjam mula2 timbul di Irlandia dikalangan kaum nasionalis kiri jang tergabung didalam perkumpulan „Sin Fein” (Kita sendiri). Meréka berdasar atas pengalaman jang pahit didalam perdjuangan melawan Inggris menganut serta memperdjuangkan asas politik „selfhelp”, jang berarti berusaha mentjapai tjita2 sendiri dengan tenaga dan kekuatan diri sendiri.
Terhadap pemerintah Inggris meréka menolak segala pekerdjaan bersama dan mendjalankan apa jang lazim disebut politik Non-Cooperatie. Asas politik ini menimbulkan djuga suatu pergerakan nasional jang hébat di India.
Rakjat India dibawah pimpinan Tilak meninggalkan asas jang disebut „mendicancy” — politik” (politik minta2) alias politik bekerdja ber-sama2 dengan Pemerintah Inggris. Akan tetapi asas politik ini baru terbukti ketadjamannja sesudah perang dunia pertama didalam perdjuangannja bangsa Turki dibawah pimpinan Kemal Ataturk melawan tentera pendjadjah Griek. Berkat kepertjajaan bangsa Turki atas tenaga dan kesanggupan diri sendiri maka dapatlah dimusnahkan tentera pendjadjah Griek dan lahirlah Turki Merdéka jang kembali muda diantara negara2 merdéka didunia.
Perdjuangan bangsa Turki diikuti dengan penuh minat oléh tanah2 djadjahan.
Bagi pemuda Indonésia jang selalu mentjari djalan jang se-baik2nja untuk melaksanakan tjita2 Indonésia Merdéka dengan memperhatikan sedjarah perdjuangan dan pengalaman bangsa2 lain, perdjuangan bangsa Turki ini tidak sedikit memberi ilham serta petundjuk djalan.
Djuga pemuda Indonésia lambat laun berdasar atas pengalaman dan penjelidikan politik djadjahan memperoléh kejakinan bahwa asas politik nasionalisme radikallah djalan satu2nja jang akan dapat melaksanakan tjita2 „Indonésia Merdéka”.
Demikianlah bahwa didalam sedikit waktu sesudah Partai Komunis Indonésia (P.K.I.) sebagai pendjelmaan asas politik jang bertjorak révolutionér-sosialistis hilang sebagai perkumpulan jang terang (legaal) lahir lagi suatu perkumpulan rakjat jang tidak kurang hébatnja jang berasaskan nasionalisme radikal.
Pada 4 Juli 1927 berdirilah di kota Bandung atas usaha Dr. Tjipto Mangunkusumo, Ir. Sukarno, Mr. Iskaq Tjokrohadisurjo, Mr. Sartono, Mr. Budiarto, Mr. Sunarjo, Dr. Samsi dan Ir. Anwari dll., „Perserikatan Nasional Indonésia” atau dengan singkat P.N.I.
P.N.I. lahir sebagai tanda kesadaran dan kemungkinan rakjat Indonésia, sebagai kelandjutan duapuluh tahun pergerakan kebangsaan Indonésia. P.N.I. didirikan dan dipimpin oléh kaum terpeladjar Indonésia, jang selain dari terpeladjar djuga telah mendapat didikan politik. Kebanjakan dari meréka adalah bekas anggota Perhimpunan Indonésia di Negeri Belanda dan jang tinggal di Indonésia selalu turut aktif didalam pergerakan dan memperdalam pengertiannja tentang hal pergerakan dengan mempeladjari buku2 jang meriwajatkan pergerakan di-negeri2 lain.
Dengan pengertian dan pengalaman meréka tentang hal pergerakan maka meréka mengetahui bahwa semangat kebangsaan sudah umum tersebar diantara rakjat. Jang mendjadi pokok persoalan ialah bagaimana semangat kebangsaan ini dapat dihimpunkan, dapat dipadukan mendjadi suatu kekuatan nasional.
Semangat kebangsaan ini dapat dipadu mendjadi kekuatan nasional dengan memperdalam keinsafan rakjat, dengan mengarahkan kepada pergerakan rakjat jang sadar (bewuste volksbeweging). Untuk memperoléh pergerakan rakjat jang sadar, maka perkumpulan perlu mempunjai asas dan tudjuan jang terang dan tegas, perlu mempunjai suatu téori nasionalisme jang radikal jang dapat menimbulkan kemauan jang satu, kemauan nasional. Bila kemauan nasional ini tjukup tersebar dan masuk mendalam dihati sanubari rakjat, maka kemauan nasional ini mendjadi suatu perbuatan, jaitu perbuatan nasional (trilogie nationale geest — nationale wil — nationale daad).
Berdasarkan atas pengetahuan ini, maka didalam Anggaran Dasarnja P.N.I. mentjantumkan dengan terang dan tegas tudjuannja, jaitu „Indonésia Merdéka”.
Tudjuan ini hendak ditjapai dengan asas „selfhelp” dengan menimbulkan suatu pergerakan rakjat jang sadar, berdasarkan atas tenaga dan kekuatan sendiri. Didalam keterangan asasnja diterangkan, bahwa susunan masjarakat Indonésia, baik dilapangan politik, ékonomi dan sosial sudah dirusakkan oléh kapitalisme-imperialisme.
Djalan satu2nja untuk memperbaiki susunan masjarakat jang sudah dirusak itu ialah dengan mentjapai terlebih dulu kemerdékaan politik jang berarti berachirnja pengaruh-perusak kapitalisme-imperialisme jang berbuntut pendjadjahan.
Berdasar atas tindjauan ini maka seluruh tenaga nasional akan dikerahkan untuk mentjapai kemerdékaan politik, untuk melaksanakan tjita2 „Indonésia Merdéka”.
Tjita2 Indonésia Merdéka tidak datang dengan sendirinja, djuga tidak datang karena kemurahan hati sipendjadjah. „Indonésia Merdéka” lahir sebagai hasil perdjuangan rakjat Indonésia, sebagai akibat perbandingan kekuatan antara sipendjadjah dan kaum jang terdjadjah. Karena itu putra dan putri Indonésia jang sedjati harus meninggalkan déwan2 perwakilan „rakjat” dan mentjurahkan tenaganja dilapangan pembangunan nasional guna memperbesar kekuatan nasional. Demikianlah P.N.I. memuat didalam daftar usahanja antara lain : memadjukan pengadjaran nasional, ékonomi, kooperasi, keradjinan dan keséhatan rakjat.
Terhadap Pemerintah „Hindia Belanda” P.N.I. mendjalankan politik non-cooperatie. P.N.I. hanja mau mengakui Pemerintah jang timbul dari dan oléh rakjat. Dan Pemerintahan jang demikian itu hanja bisa terdapat didalam suatu negara nasional jang merdéka, maka P.N.I. mengadakan departemén2 sendiri; P.N.I. membentuk „negara” sendiri didalam negara „Hindia Belanda”.
Dengan penuh kegembiraan dan kepertjajaan atas tenaga dan kesanggupan diri sendiri P.N.I. memulai pekerdjaannja. Propagandis2 P.N.I. masuk désa keluar désa dan tempat2 lainnja untuk mengembangkan tjita2 meréka. P.N.I. mudjur mempunjai seorang pemimpin didalam diri Ir. Sukarno (Bung Karno) jang mempunjai ketjakapan-berpidato jang luar biasa. Seorang orator menurut pembawaan ia djuga mengenal djiwa rakjatnja. Seorang „academicus” jang dididik setjara Barat ia tak terbantut dari pergaulan hidup tempat ia berdiri dan bekerdja. Tjita2 P.N.I. diutjapkannja didalam perkataan dan perasaan rakjat: proletarisme jang berasal dari Barat diganti dengan pengertian marhaenisme jang lebih mudah dapat difahamkan oléh rakjat. Kapitalisme-imperialisme diterangkannja setjara mudah dan gampang dimengerti oléh rakjat dengan mengambil kiasan2 dari tjerita2 wajang.
Maka didalam sedikit waktu nama dan tjita2 P.N.I. sudah tersebar dan dikenal orang sampai di-pelosok2.
Untuk menjusun semangat kebangsaan jang me-luap2 ini serta memperkuat susunan organisasi, maka P.N.I. mengadakan kongrésnja jang pertama di Surabaja pada tanggal 27—30 Mei 1928. Didalam Kongrés ini jang dikundjungi oléh 1000 à 1500 orang Ir. Sukarno membentangkan dengan tegas dan ber-api2 keterangan asas P.N.I.
Pada Kongrés ini diputuskan pula untuk mengganti perkataan „perserikatan” mendjadi perkataan „partai”. Perkumpulan selandjutnja akan disebut „Partai Nasional Indonésia” atau dengan singkat P.N.I.
Pertukaran perkataan ini berarti meningkatnja P.N.I. mendjadi suatu organisasi jang lebih tersusun, mendjadi suatu partai politik jang harus mempunjai program politik, ékonomi, dan sosial jang tertentu dan ber-hati2 didalam penerimaan anggota. Sebagai anggota hanja dapat diterima orang2 jang sadar dan aktif.
Didalam Kongrés ini ditentukan pula suatu daftar usaha jang memuat dalam hal :
I. Politik :
- 1.
- Memperkuat perasaan kebangsaan dan perasaan persatuan Indonésia.
- 2.
- Menjebarkan pengetahuan dan ilmu tentang sedjarah nasional dan memperbaiki hukum2 nasional.
- 3.
- Mempererat perhubungan antara bangsa2 di Asia.
- 4.
- Menuntut kemerdékaan diri, kemerdékaan pers, dan kemerdékaan berserikat dan berkumpul.
II. Ekonomi :
- 1.
- Berusaha untuk mentjapai perékonomian nasional jang dapat berdiri sendiri.
- 2.
- Menjokong perdagangan dan perindustrian nasional.
- 3.
- Mendirikan bank nasional dan kooperasi2 untuk mentjegah riba.
III. Sosial :
- 1.
- Memadjukan pengadjaran nasional
- 2.
- Memperbaiki kedudukan kaum wanita.
- 3.
- Memadjukan sarékat2 buruh dan tani.
- 4.
- Memperbaiki keséhatan rakjat.
- 5.
- Mengandjurkan monogami (mempunjai hanja satu isteri).
Tahun 1928 bagi P.N.I. adalah tahun propaganda dan tahun permulaan bekerdja setjara teratur menurut program jang sudah terlebih dahulu ditentukan. Untuk memperhébat usaha ini maka P.N.I. pada 15 Juli mengeluarkan suatu centraal-orgaan jang disebut „Persatuan Indonésia”.
Pusat pekerdjaan P.N.I. terletak terutama didaerah Priangan, akan tetapi lambat laun meréka menjebarkan usahanja sampai ke Djawa Tengah, Djawa Timur dan tanah seberang (Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi).
Melihat hébatnja pergerakan rakjat jang ditimbulkan oléh P.N.I., Pemerintah „Hindia Belanda” memberi peringatan supaja tahu menahan diri kepada pemimpin2 P.N.I. didalam pidato pembukaan „Volksraad” jang diutjapkan oléh Gubernur Djéndral pada 15 Mei 1928.
Peringatan Pemerintah „Hindia Belanda” ini sedikitpun tidak mengurangi kegiatan P.N.I. Ir. Sukarno mengadakan propaganda ke-mana2 untuk mengadjak rakjat mengedjar tjita2 bersama „INDONESIA MERDEKA”. Di-mana2 ia disambut dengan hangat oléh rakjat dan di-halang2i pula dengan sangat oléh polisi2 P.I.D. pemerintah „Hindia Belanda”. Sebagai akibat pekerdjaan hampir dua tahun dapat dikatakan, bahwa bidji tjita2 nasionalisme jang dipropagandakan P.N.I. sudah tersebar di-mana2.
Kongrés P.N.I. jang ke II dilangsungkan dikota Djakarta pada 18—20 Mei 1929 di „Gedung Permufakatan Nasional” di Gang Kenari. Kongrés ini mendapat kundjungan jang hébat dari wakil2 Indonésia dari segala aliran.
Ketua P.N.I. Bung Karno membaharui dengan ber-api2 kebulatan hati P.N.I. untuk mengedjar „Indonésia Merdéka”, dibawah pandji2 Mérah putih Kepala Banténg. (Mérah — keberanian, Putih — kebersihan hati, Kepala Banténg — pertjaja kepada kekuatan dan tenaga sendiri).
Didalam rapat2 tertutup diambil beberapa keputusan jang mendjadi daftar usaha ditahun jang akan datang, diantaranja:
- 1.
- P.N.I. akan menjokong Bank Nasional Indonésia.
- 2.
- Pengurus Besar P.N.I. diberi kuasa untuk mengadakan perhubungan dengan „Perhimpunan Indonésia” (P. I.) dinegeri Belanda dan memberikan mandaat kepada meréka untuk mewakili P.N.I. didalam beberapa hal.
- 3.
- Mendirikan suatu „korbanfonds” untuk menolong orang2 jang djatuh sebagai korban pergerakan.
- 4.
- Mendirikan kooperasi2 dan mengusahakan „Persatuan Kooperasi Indonésia”.
- 5.
- Memperkuat usaha dilapangan serikat sekerdja.
- 6.
- Pengurus Besar seluruhnja dipilih kembali.
Petundjuk2 Kongrés ini merupakan petundjuk djalan bagi N.N.I. untuk memperhébat dan menjempurnakan usahanja. Propaganda diperluas dan diperdalam. Usaha kearah menjusun tenaga jang njata segera dimulai dengan mendirikan Serikat Sekerdja Supir „Persatuan Motoris Indonésia” (P.M.I.), Serikat Anak Kapal Indonésia (SAKI), Serikat Djongos jang disebut „Persatuan Djongos Indonésia” (P.D.I.).
Takut dan tjemas melihat kegiatan P.N.I. jang lambat laun — djika tidak merobohkan, tentu akan membahajakan kedudukan „Hindia Belanda”. Pemerintah memberikan peringatan jang kedua kepada pemimpin2 P.N.I. pada 15 Juli 1929.
Peringatan Pemerintah ini diterima dengan menggiatkan usaha dan menjusun tenaga dengan lebih ber-hati2. Pekerdjaan P.N.I. berkembang di-mana2, diperkuat oléh sekutu jang kuat jang berupa Krisis ékonomi dunia.
Pemerintah Hindia Belanda, jang semakin hari bertambah tjemas melihat pengaruh jang diperoléh P.N.I. di-mana2, mulai menundjukkan tangan besi. Kabar bohong jang mengatakan, bahwa P.N.I. hendak mengadakan pemberontakan pada tahun 1930 didjadikan oléh Pemerintah alasan untuk melakukan penggelédahan dan penangkapan.
Pada 24 Désémber 1929 Pemerintah menggelédah rumah2 dan kantor2 P.N.I. diseluruh Indonésia dan melakukan penangkapan atas diri beberapa pemimpin P.N.I.
Beberapa pemimpin dikeluarkan lagi dari tahanan. Jang terus ditahan dan dituntut dimuka pengadilan ialah Ir. Sukarno, Maskun, Gatot Mangkupradja dan Suprijadinata. Baik pembélaan Ir. Sukarno jang magistraal itu jang tetap tinggal sebagai dokumén politik jang berharga bagi pergerakan Indonésia maupun appél kepada „Raad van Justitie”, tidak dapat melepaskan pemimpin2 P.N.I. dari tuntutan jang dipersalahkan atas diri meréka.
Keempat pemimpin P.N.I. dipersalahkan dan dihukum karena melanggar artikel 153 bis dan ter dan artikel 161 Hukum Pidana „Hindia Belanda”, jaitu artikel2 karét tentang perkumpulan jang bermaksud melakukan „kedjahatan” dan mengganggu „ketenteraman umum”. Ir. Sukarno bersama2 dengan pemimpin2 lainnja dipendjarakan di Sukamiskin.
Dalam pada itu pimpinan P.N.I. berada ditangan Mr. Sartono jang buat sementara waktu memerintahkan untuk menghentikan pekerdjaan Partai.
PENDIDIKAN NASIONAL INDONESIA (P. N. I. - BARU)
Sesudah Ir. Sukarno dimasukkan kependjara, pimpinan P.N.I. berada ditangan Mr. Sartono. Pengurus Besar P.N.I mengeluarkan manifés supaja propaganda partai diberhentikan buat sementara waktu jaitu selama perkara „P.N.I.” masih dalam pemeriksaan. (Djanuari 1930 — April 1931).
Sesudah Pengurus Besar „P.N.I.” mengadakan dua spoed-kongrés jaitu pada bulan Pébruari 1931 di Djakarta dan pada achir bulan April 1931 di Djakata maka didalam sebuah maklumat pengurus Besar P.N.I. memberi-tahukan bahwa P.N.I. sudah dibubarkan karena keadaan memaksa.
Pembubaran „Partai Nasional Indonésia” (P.N.I. lama) menimbulkan kekeruhan didalam udara politik Indonésia serta menggontjangkan masjarakat Indonésia.
Sebagian menjetudjui pembubaran itu, sedangkan jang sebagian lain menafsirkannja sebagai kelemahan iman dan watak. Anggota2 P.N.I. jang dapat menjetudjui pembubaran itu mendirikan suatu partai politik baru jang disebut „Partai Indonésia” atau dengan singkat „Partindo”, pada tanggal 30 April 1931. Partai ini bertudjuan Indonésia Merdeka dan berdiri atas dasar nasionalisme dan selfhelp atau seperti lazim disebut berdasarkan socio-nasionalisme dan socio-demokrasi. Partai ini diketuai oléh Mr. Sartono.
Dalam pada itu anggota2 dan orang2 politik jang tidak dapat menjetudjui baik pembubaran P.N.I. maupun tjara P.N.I. dibubarkan, merupakan „Golongan Merdéka” dengan Hatta-Sudjadi sebagai pemuka2nja.
Dengan terang dan djelas meréka mengemukakan kenapa meréka tidak dapat setudju dengan pembubaran P. N. I. dengan kata2 jang demikian : „Sekarang timbul bentjana lain, satu langkah jang chilaf dari pemimpin2, P.N.I. ditikam dengan keris sendiri dan dikuburkan selagi djiwanja masih teguh. Hati siapa jang tak luka melihat partai dibubarkan sebelumnja hak dipertahankan sampai se-habis2 daja upaja?
Adakah hikajat Dunia memberi tjontoh jang kedua bagi kita, bahwa satu partai politik menggulung tikar dalam perdjuangan menuntut hak selagi jang berkuasa belum berani menindasnja? Mengambil tjontoh di Indonésia sadja. Apakah Sarékat Islam dibubarkan oléh pengurusnja, tatkala ia mendapat pertjobaan jang hébat berhubung dengan afdeling B? Apakah Partai Komunis Indonésia (P.K.I.) dibubarkan oléh pengurusnja tatkala ia mengalami pertjobaan?
Menurut pemandangan kami, kita baru undur sesudah tidak dapat bergerak lagi. Kalau sudah nasib bagi Banténg akan terkubur, haruslah ia dikubur dengan kehormatan, sebagai seorang tiwas dalam perdjuangan. Apa sebab P.N.I. dibubarkan sebelum hak dipertahankan sampai sehabis daja-upaja?
Misalkan sekalipun pemerintah nanti akan membubarkan P.N.I. dan memasukkan segala pemimpin2nja dan pengikut2nja kedalam bui! Mengapa takut masuk bui atas kebenaran, atas keinsafan jang kita tidak bersalah? Inilah salah satu korban jang menimpa diri orang jang mempunjai tjita2 jang tinggi. Apakah empat orang sadja jang mesti mendjadi korban dan jang lain itu perlu melarikan diri atau sedikitnja mendjaga supaja kulitnja jang halus dan tipis itu djangan merasa sakit sedikit?
Kedua : Tjaranja membubarkan P.N.I. dengan tiada semufakat dengan anggota2 jang be-ribu2. Apakah sifat ini berdasar kerakjatan? Dalam perdjuangan kemerdekaan rakjat itulah jang mendjadi djiwa partai. Rakjat harus dididik supaja ia insaf akan artinja partai, supaja ia berkejakinan bahwa partai itu darah-daging baginja.
Dari mulai Januari 1930 pengurus P.N.I. mengeluarkan manifés menjuruh rakjat diam dan tidak bergerak. Selaininja, segala kepentingan partai diurus oléh pemimpin2 menurut sesuka meréka itu sadja. Diadakan Kongrés di Mataram, diadakan kongrés di Djakarta jang menetapkan nasib partai semuanja itu dengan tiada sepakat dengan anggota2 tidak didahului oléh rapat2 afdeling dengan anggota2nja. Boléhkah kongrés jang terdjadi sedemikian dikatakan sjah? Perkataan „Kerakjatan” lekat dibibir pemimpin2 kita. Akan tetapi dalam praktéknja tidak kelihatan. Rakjat itu disangka seperti tikar tempat sapu kaki sadja; disangka sebagai djenis jang hanja perlu buat disuruh bertepuk tangan kalau mendengar seorang pemimpin jang berpidato”.
Golongan Merdéka tidak diam melihat masalah jang terdjadi, melainkan meréka menjingsingkan lengan badju untuk memperbaiki keadaan. Didalam sebuah maklumat meréka mengutarakan maksud meréka dan sebab2nja meréka mengambil sikap itu. Meréka mengatakan :
„Saat ini adalah suatu masa jang sedih dalam pergaulan politik, kebangsaan di Indonésia. Pada saat inilah kentara benar, bagaimana lemahnja pergerakan kita. Betul kelihatan keluar beberapa partai jang mengibarkan merawal nasional, akan tetapi semangat jang menghidupkan tjita2 itu kelihatan tidak kuat benar. Hilangnja partai Nasional Indonésia dari muka bumi ini rasa membawa tenggelam roh kebangsaan kita. Persatuan jang ditanam oléh P.N.I. berubahkan petjah-belah antara kaum-saudara; karena badan jang mengikat anak-buahnja djadi satu sudah tidak ada lagi.”
Seterusnja meréka berpendapat bahwa djika Indonésia mau merdéka, terlebih dahulu haruslah dimerdekakan semangat rakjat, dibébaskan ia dari segala perasaan terkungkung, perasaan ketakutan dan ketidak mampuan. Haruslah rakjat diadjar berpikir dan menimbang benar dan salah. Dan barulah pergerakan rakjat akan subur hidupnja tidak lagi se-mata2 bergantung kepada satu atau dua orang pemimpin sadja. Karena itu meréka akan memerlukan di-hari2 jang akan datang memperteguh iman dan memadu watak dengan didikan sendiri. Mula2 meréka merupakan satu perkumpulan jang dipertalikan sebuah madjalah jang diberi nama „Daulat Rakjat”, sesuai dengan tjita2 jang meréka perdjuangkan dan disebut Club Pendidikan Nasional Indonésia.
Mohammad Hatta salah seorang pengandjur dari golongan Kedaulatan Rakjat ini jang namanja tidak asing lagi bagi rakjat Indonésia berkat perdjuangan dikalangan „Perhimpunan Indonésia” barisan terkemuka dari pergerakan Kebangsaan Indonésia dinegeri dingin berada dinegeri Belanda. Atas permintaan kawan2nja ia menamatkan peladjarannja dulu disekolah tinggi perdagangan di Rotterdam.
Dalam pada itu Sutan Sjahrir jang pada waktu itu masih beladjar di Universiteit bagian hukum dinegeri Belanda berangkat ke Indonésia untuk keperluan pergerakan. Selain dari pada „student-ilmu” ia adalah djuga „student-politiek” jang berguru disekolah tinggi politik jang bernama „Perhimpunan Indonésia” dan pergerakan sosialis.
Berkat usaha jang didjalankan dengan kekerasan dan ketabahan hati maka Club Pendidikan Nasional Indonésia mendjelma sebagai perkumpulan politik jang tertentu, sekalipun ia tidak memakai nama partai dengan nama „Pendidikan Nasional Indonésia” atau dengan singkat P.N.I. (P.N.I. baru) pada achir Désémber 1933 di Djogjakarta. Perkumpulan ini berdasar atas kebangsaan dan kerakjatan. Perkumpulan ini diketuai oléh Sutan Sjahrir. Sekembalinja Mohammad Hatta dari negeri Belanda jang dalam pada itu telah menamatkan peladjarannja barisan P.N.I. bertambah kuat.
Demikianlah terdapat di Indonésia pada waktu ini dua perkumpulan politik jang berhaluan non-cooperatie jaitu : „partai Indonésia” (Partindo) dan „Pendidikan Nasional Indonésia” (P.N.I. baru). Setengah orang mengatakan bahwa perpetjahan tidak berdasarkan prinsipieel melainkan karena pertikaian diantara pemimpin2 Indonésia diwaktu itu. Kurang tepat kiranja djika kedjadian jang sebesar ini didasarkan atas pertentangan jang persoonlijk. Lebih tepat kalau dikatakan bahwa perpetjahan itu terdjadi karena pertentangan dua kodrat jang pada satu ketika karena kedjadian2 mentjapai puntjak kemasakannja: jaitu satu kodrat jang hendak meneruskan politik massa-actie jang radikal, dan kodrat jang lain mendjalankan politik nasionalisme diatas garis lain.
Pada waktu Bung Karno keluar dari Sukamiskin pada pertengahan tahun 1932 ia mendapat dua partai sebagai pengganti P.N.I. lama jang ditinggalkannja. Beberapa usaha telah ditjoba untuk mempersatukan Partindo dan P.N.I. baru, tetapi tidak berhasil.
Achirnja Bung Karno tinggal memilih salah satu dari partai jang dua ini sebagai tempat perdjuangannja. Pilihannja djatuh kepada „Partai Indonésia” atau Partindo.
Demikian partai ke-dua2nja meneruskan perdjuangan nasionalnja sepandjang pengertian, kejakinan serta kekuatan iman dan wataknja sendiri2.
Dalam pada itu pergerakan kebangsaan Indonésia tidak luput dari rintangan2 dan halangan2 dari Pemerintah „Hindia Belanda”.
Bung Karno jang mentjari kekuatan didalam agitasi ditangkap buat kedua kalinja pada 31 Juni 1933. Ia dipersalahkan memuat karangan2 jang berdasar hasutan dalam „Fikiran Rakjat” dan bukunya jang bernama „Mentjapai Indonésia Merdéka” dikatakan pula penuh dengan hasutan. Pemerintah tidak menuntut Bung Karno dimuka pengadilan, melainkan mendjalankan hak jang ada padanja jang terkenal sebagai „exorbitante rechten”. Dimuka persidangan „Volksraad” pemerintah memberitahukan bahwa Bung Karno bakal diinterneer, bakal dibuang. Demikianlah Bung Karno sesudah mengundurkan diri dari Partindo disingkirkan tangan jang berkuasa dari kalangan pergerakan rakjat.
PARTAI INDONESIA RAYA (PARINDRA)
Bertambah landjut dan dekat pergerakan kebangsaan kepada tjita2nja, bertambah sulit djalan jang hendak ditempuh, bertambah banjak rintangan dan halangan jang didapat dari pemerintah „Hindia Belanda”. Berdasarkan pengalaman jang pahit jang sudah2, maka terasa betul untuk mengerahkan pergerakan rakjat dari agitasi kekonsolidasi dan organisasi, meningkatkan pergerakan rakjat kepada pergerakan jang sadar serta tersusun rapih dan kuat.
Jang demikian ini berarti penjusunan tenaga kedalam dengan menjaring, mendidik serta memperbanjak kader2. Menimbulkan dan memelihara orang2 jang selain mempunjai tjita2 jang tinggi djuga berani memperdjuangkan tjita2nja didalam kenjataan jang tidak selalu idealistis.
Selama pergerakan masih didalam tingkatan kegembiraan agitasi pekerdjaan tiada begitu sulit. Setiap orang jang dapat menarik perhatian diatas podium tampil kemuka sebagai pemimpin rakjat dengan kadang2 menjembunjikan kelemahannja dibelakang perkataan2 jang menarik hati dan radikal.
Serentak pergerakan mengalami kesukaran dan orang harus bekerdja sebagai peradjurit jang tidak dikenal namanja, pada waktu itu pergerakan menghendaki tenaga2 jang ulet. Orang2 jang beriman teguh dan berwatak kuat, jang berhati sabar dan tenang jang dengan tiada djemu2 menggunakan setiap kesempatan dari kemungkinan jang ada, orang2 jang dapat menjusun tenaga sedikit demi sedikit, orang2 jang tetap tinggal gembira dan penuh harapan didalam segala kesulitan, jang selalu dapat melihat bintang tjita2nja bertjahaja di-tengah2 malam jang se-gelap2nja sekalipun.
Pekerdjaan seperti tersebut diatas tengah dikerdjakan pergerakan nasional terutama oléh „Pendidikan Nasional Indonésia” (P.N.I.-baru).
Usaha jang tiada terlihat tetapi berharga ini tidak luput dari perhatian pemerintah Hindia Belanda jang mempunjai hidung, kuping dan mata di-mana2.
Pemerintah Hindia Belanda tidak hendak mematikan pergerakan kebangsaan. Ia tahu bahwa perasaan rakjat jang tidak dapat keluar karena dibungkam mentjari djalan lain jang dapat menimbulkan keadaan2 jang tidak diingini. Lagi pula ia takut kepada musuh jang lebih berbahaja jang didalam kata2 meréka disebut „hantu” communisme.
Pemerintah Hindia Belanda hanja hendak melemahkan pergerakan kebangsaan. Ia hanja membentji pergerakan jang radikal nasionalistis. Ia butuh akan sematjam nasionalisme jang lunak jang dapat dipakai sebagai alat untuk membendung perasaan rakjat dan dalam pada itu tidak membahajakan kedudukan „Hindia Belanda”.
Demikianlah kita melihat bahwa ia tidak mentjoba menghantjurkan pergerakan kebangsaan sama sekali. Pergerakan ditjoba melemahkannja dengan mengadakan „vergaderverbod” (larangan berkumpul) terhadap pergerakan kiri dan menjingkirkan tenaga2 pendorong dan otak pemikir jang berupa pemimpin2 rakjat jang djudjur, berani dan berpengaruh dengan djalan pembuangan.
Demikianlah pemerintah Hindia Belanda mengasingkan Ir. Sukarno, bapak agitasi pergerakan kebangsaan Indonésia pada bulan Pébruari 1934 ke Flores jang kemudian diganti dengan Bengkulen.
Tetapi tindakan pemerintah ini tidak terbatas pada Ir. Sukarno sadja. Djuga teoreticus dan organisator pergerakan kebangsaan Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir diasingkan jang berkuasa pada achir 1934 ke Boven-Digul jang kemudian diganti dengan Banda-Naira. Sajap kiri pergerakan kebangsaan Indonésia Partai Indonésia (Partindo) dan Partai Nasional Indonésia (P.N.I.-baru) didjatuhkan vergaderverbod (larangan berkumpul). Demikianlah dapat dikatakan bahwa sajap kiri dari pergerakan kebangsaan Indonésia hampir tidak dapat bergerak.
Akan tetapi pergerakan kebangsaan Indonésia berdjalan terus. Ia mendapat bentuk jang sesuai dengan kesadaran dan kemauan orang2 jang memperdjuangkannja serta ditentukan oléh perbandingan kekuatan jang tersimpan didalam masjarakat itu sendiri.
Pada waktu sajap kiri dari pergerakan kebangsaan hampir tiada dapat bergerak, pada waktu itulah tampil kemuka serta mulai terkenal dan berpengaruh „Partai Indonésia Raya” (Parindra).
Parindra didirikan oléh Dr. Sutomo pada achir tahun 1935. Sebagai bentukan perdjuangan bangsa dan rakjat Indonésia pada satu ketika Parindra mempunjai sedjarah sendiri jang berhubungan erat dengan penghidupan serta perdjuangan dari promotor dan pemimpinnja : Dr. Sutomo.
Dr. Sutomo adalah salah seorang dari pendiri „Budi Utomo” pada tanggal 20 Mei 1908. Seorang ningrat menurut keturunan, seorang terpeladjar menurut didikan karena ketjakapan dan tjita2nja dapat melepaskan dirinja dari pengaruh lingkungannja dan menjesuaikan dirinja kepada keadaan zaman jang bagi Indonésia berarti meningkat dari zaman kedaérahan (provincialisme) kezaman kebangsaan (nasionalisme) dan dari zaman kehormatan karena turunan (feodalisme) kezaman kehormatan karena ketjakapan (démokratis),
Sebagai seorang terpeladjar jang mengetahui betapa perlu pengetahuan perdjuangan dan masjarakat bagi pergerakan ia mendirikan „Studieclub Surabaja” pada 11 Juli 1924.
Sesuai dengan kehendak zaman dan keperluan akan satu perkumpulan sebagai penjebar tjita2, maka „Studieclub Surabaja” dan „Serikat Madura” dilebur mendjadi „Persatuan Bangsa Indonésia”. (P.B.I.) pada tanggal 16 Oktober 1930.
Dari fusie antara „Budi Utomo”, P.B.I. „Serikat Selébés”, Serikat Sumatera, Serikat Ambon d.l.l. sebagai tanda berachirnja fase kedaérahan didalam pergerakan kebangsaan Indonésia lahirlah „Parindra” (Partai Indonésia Raya) pada achir tahun 1935.
Parindra adalah suatu partai politik jang berdasarkan nasionalisme Indonésia Raya dan bertudjuan Indonésia Mulja dan Sempurna. Adapun Parindra didalam perdjuangannja tidak berhaluan non-cooperatie tidak djuga berhaluan cooperatie, akan tetapi karakternja sama dengan partai jang menganut asas cooperatie alias bekerdja ber-sama2 dengan pemerintah „Hindia Belanda” dengan djalan duduk dalam dewan2 djadjahan dari kota sampai ke „Déwan Rakjat” (volksraad). Karena Parindra tidak principieel menganut asas politik non atau co kadang2 sépak terdjangnja keluar tampak seperti cooperator dan kadang2 seperti non-cooperator. Parindra tidak menolak duduk dalam Déwan2 dari kota sampai ke „Volksraad”, tetapi bila perlu atau djika usulnja tidak diterima ia meninggalkan déwan2 tersebut dan mendjalankan apa jang disebut incidentele atau utilistische non-cooperatie selama waktu jang ditentukan oléh partai.
Parindra bertambah madju dan mulai berpengaruh djuga diantara rakjat. Partai ini berusaha menjusun kaum tani dengan mendirikan rukun tani, menjusun serikat sekerdja perkapalan dengan mendirikan „Rukun Pelajar Indonésia” (Rupelin), menjusun perékonomian dengan mengandjurkan „Swadeshi”, adanja kaum pertengahan Indonésia dan mendirikan bank2 jang berpusat pada „Bank Nasional Indonésia” di Surabaja. Kemadjuan dan pengaruhnja ini tidak sedikit diperoléhnja karena ketjakapan dan kedjudjuran pemimpinnja Dr. Sutomo jang meninggal dunia pada bulan Mei 1938. Selain dari Dr. Sutomo Parindra mempunjai pemimpin jang tjakap jang terkenal sebagai parlementarier ulung didalam dirinja Mohammad Husni Thamrin jang meninggal dunia pada bulan Januari 1941.
Pemimpin2 lainnja dari Parindra adalah ketuanja sendiri Wurjaningrat, seterusnja R. Sukardjo Wirjopranoto, R. Pandji Suroso, Mr. Susanto Tirtoprodjo, Mr. Dr. Subroto, Mr. Samsudin, Ruslan Wongsakusumo, Sudirman d.l.l.
GERAKAN RAKJAT INDONESIA (GERINDO)
Diatas telah kita gambarkan bagaimana sukarnja bergerak bagi sajap kiri pergerakan kebangsaan. Hal ini berakibat bahwa „Partai Indonésia” (Partindo) dibubarkan pada permulaan tahun 1937 oléh Mr. Sartono. Adapun P.N.I.-baru tetap tinggal berdiri, akan tetapi lama-kelamaan tidak begitu berpengaruh lagi atas pergerakan rakjat.
Sebagai kelandjutan dan kemungkinan sajap kiri dari pergerakan kebangsaan Indonésia bergerak didirikanlah „Gerakan Rakjat Indonésia” (Gerindo) pada bulan April 1937 oléh bekas2 anggota Partindo jang telah dibubarkan itu. Tudjuan Gerindo sama dengan Partindo, hanja taktik perdjuangannja disesuaikan menurut waktu. Gerindo melepaskan asas non-kooperasi dan mendjalankan asas kooperasi jaitu mau bekerdja ber-sama2 dengan pemerintah djadjahan. Gerindo hanjalah satu bentuk dan tjara bergerak menurut keperluan dan kemungkinan perdjuangan. Gerindo didirikan dan selandjutnja dipimpin oléh Mr. Amir Sjarifuddin, Mr. Mohammad Yamin, Mr. Sartono, Dr. A. K. Gani, Sanusi Pané, Wikana, A. M. Sipahutar, Asmara Hadi dll. Kongrésnja jang pertama diadakan di Djakarta pada tanggal 20—24 Djuli 1938 dimana ditetapkan untuk mendirikan satu organisasi pemuda jang mendjadi onderbouw dari Gerindo jaitu Barisan Pemuda Gerindo jang dipimpin oléh Armansjah dan Aidid. Kongrés jang kedua jang diadakan di Pelémbang pada tanggal 1-2 Agustus 1939 memutuskan akan menerima peranakan (Indo Eropah, Tionghoa dan Arab) sebagai anggota partai. Kongrés itu menjetudjui djuga masuknja Gerindo kedalam Gapi. Pimpinan Gerindo untuk tahun 1940 dipilih dengan djalan pemilihan bersurat (referendum). Dr. A. K. Gani terpilih sebagai ketua, Mr. Sartono sebagai ketua-muda dan R. Wilopo sebagai penulis. Gerindo djuga berusaha dengan perantaraan Gapi supaja pemimpin2 Indonésia jang berada didalam pembuangan seperti Ir. Sukarno, Hatta, Sjahrir, Mr. Iwa Kusuma Sumantri dan Dr. Tjiptomangunkusumo segera dibébaskan oléh pemerintah untuk memperteguh barisan demokrasi menentang fascisme jang sedang mengantjam.
Disamping Gerindo berdiri lagi pada tanggal 21 Djuli 1939 suatu partai politik baru jaitu „Partai Persatuan Indonésia” (Parpindo) jang didirikan oléh Mr. Mohammad Yamin sesudah ia diroyeer dari Gerindo. Adapun Mr. Mohammad Yamin diroyeer karena ia meskipun sudah diperingatkan oléh pengurus besar menerima pemilihannja untuk mendjadi anggota Volksraad buat sidang 1939—43 sebagai pilihan Sumatra Barat dengan tidak semufakat dengan Gerindo.
Demikianlah susunan politik bangsa dan rakjat Indonésia pada waktu keadaan politik internasional sangat kalut dan setiap waktu peperangan dapat meletus karena antjaman fascisme Djerman dan Djepang.
USAHA PERSATUAN DAN GABUNGAN POLITIK INDONESIA (GAPI)
Didalam perdjalanannja pergerakan kebangsaan Indonésia seperti djuga pergerakan lain2nja menempuh djalan mempersatukan tenaga baik untuk lebih kuat mempertahankan diri maupun untuk lebih kuat mendesakkan tuntutan2nja. Biasanja usaha persatuan itu mula2 didorong perasaan serta keinginan untuk bersatu sadja jang kemudian meningkat kepada persatuan atas dasar kepentingan jang sama. Djuga biasanja persatuan itu diusahakan dalam badan2 pemerintahan jang kemudian meningkat djuga kepada usaha persatuan diluar pemerintahan.
Usaha persatuan jang pertama jang terkenal didalam pergerakan politik di Indonésia dimulai dengan didirikannja „Radicale Concentratie” pada bulan Nopémber 1918 di „Volksraad” atas usul fraksi sosialis. Partai2 dan perkumpulan2 jang ada seperti Budi Utomo, Serikat Islam, Insulinde dan I.S.D.V. mengumpulkan tenaga didalam satu blok untuk mendesak keharusan adanja sebuah Madjelis Nasional sebagai parlemén pendahuluan untuk menetapkan undang2 dasar sementara. Parlemén itu harus terdiri dari dan dipilih oléh rakjat dan disamping itu harus diadakan suatu pemerintahan jang bertanggung djawab kepada parlemén itu.
Usaha jang kedua ialah didirikannja „Radicale Concentratie Baru” pada tanggal 12 Nopémber 1922 untuk mendesak peraturan pemerintahan jang tidak begitu kuno. Gabungan ini tidak bersifat parlementér, tetapi merupakan suatu usaha kerdja sama antara golongan2 radikal seperti komunis, sosialis, Indiers dan nasionalis Indonésia.
Usaha jang ketiga untuk mentjapai persatuan dilakukan oléh P.N.I. pada tanggal 17 Désémber 1927 dengan didirikannja „Permufakatan Perhimpunan2 Politik Kebangsaan Indonésia (P.P.P.K.I.) jang terdiri dari P.N.I. (diwakili oléh Ir. Sukarno, Mr. Iskaq, Mr. Sartono, Mr. Budiarto dan Dr. Samsi), Partai Serikat Islam (diwakili oléh Dr. Sukiman dan Sjahbudin Latif), Budi Utomo (diwakili oléh Kusumo Utojo dan Sutopo Wonobojo), Pasundan (diwakili oléh Oto Subrata, Bakri Surjaatmadja dan Sutisna Sendjaja, Serikat Sumatra (diwakili oléh Parada Harahap dan Dahlan Abdullah), Kaum Betawi (diwakili oléh Thamrin) serta Indonesische Studieclub (diwakili oléh Sujono, Gondokusumo dan Sundjojo). Gabungan ini berusaha mentjegah perselisihan diantara sesama anggota jang kiranja dapat melemahkan perdjuangan kebangsaan serta menjatukan arah serta bentuk dan tjara beraksi untuk mentjapai tjita2 nasional. Pimpinan gabungan ini disebut „Madjelis Pertimbangan” jang terdiri dari seorang ketua, penulis, bendahara dan wakil2 partai2 jang tergabung didalamnja. Pimpinan harian dipegang oléh Dr. Sutomo dan Ir. Anwari. Gabungan ini sekedar membawa hasil djuga didalam menjebarkan dan mendalamkan rasa persatuan Indonésia dengan diantaranja menetapkan lagu kebangsaan „Indonésia Raja”, bendéra kebangsaan „Mérah-Putih” dan bahasa kebangsaan „bahasa Indonésia”.
Melihat aliran2 jang berlainan jang tergabung dalam P.P.P.K.I. ini (penganut asas kooperasi), dan non-kooperasi, golongan agama dan golongan nasionalis), maka persatuan ini tidak akan bisa kuat dan mentjapai hasil jang lebih banjak daripada itu.
Karena berbagai anggota mempunjai rasa bahwa P.P.P.K.I. hanja sekedar alat sadja buat P.N.I. untuk melakukan politiknja dengan lebih tepat dan tjepat, ditambah pula dengan perselisihan diantara kaum nasionalis dan golongan agama tentang kedudukan kaum wanita, maka sesudah S.I. keluar dari P.P.P.K.I. pada bulan Désémber 1930, gabungan ini dari sehari kesehari bertambah lemah dan sekalipun tidak dibubarkan boléh dikatakan bahwa gabungan ini disekitar 1933 dan 1934 tidak beraksi lagi dan berada diantara keadaan mati dan hidup.
Untuk menghadapi keadaan internasional jang semakin hari semakin ruwet dan banjak seluk-beluknja, maka guna penjusunan tenaga kedalam supaja lebih kokoh dan kuat memperdjuangkan tjita2 kebangsaan Indonésia, maka sajap kiri dan kanan dari gerakan kebangsaan Indonésia mengadakan suatu front nasional baru jang démokratis lagi disekitar tahun 1939. Badan baru ini disebut Gabungan Politik Indonésia (GAPI) dan merupakan suatu féderasi dari partai politik Indonésia jaitu Parindra, Gerindo, Pasundan, Persatuan Minahasa, P.S.I.I. dan P.I.I. Gapi se-hari2 diurus oléh suatu sekretariaat jang terdiri dari Abikusno Tjokrosujoso sebagai Sekretaris Umum (P.S.I.I.), Mr. Amir Sjarifuddin sebagai pembantu sekretaris (Gerindo) dan Thamrin sebagai bendahara (Parindra).
Konperénsi Gapi jang diadakan di Djakarta pada tanggal 19-20 Séptémber 1939 menetapkan supaja dituntut adanja suatu parlemén dan suatu pemerintah jang bertanggung-djawab terhadapnja untuk Indonésia dan djika hal ini dipenuhi oléh pemerintah dalam waktu jang tertentu, maka Gapi akan bersedia mengandjurkan kepada rakjat supaja menjokong Belanda dalam usaha peperangannja. Selandjutnja dirantjang untuk mengadakan suatu Kongrés jang disebut „Kongrés Rakjat Indonésia” jang dilangsungkan di Djakarta pada tanggal 23-25 Désémber 1939 jang selain dihadiri oléh Gapi djuga dihadiri oléh perkumpulan2 ékonomi, sosial dan kebudajaan serta serikat2 sekerdja. „Indonésia Berparlemén” didjadikan tudjuan aksi serentak diseluruh Indonésia.
Konperénsi Gapi jang diadakan pada 10 Désémber 1940 mengambil keputusan untuk menjerahi sekretariaat membikin satu rantjangan ketatanegaraan buat Indonésia dan selandjutnja mengabulkan undangan panitia-Visman untuk memberikan keterangan jang lebih djauh tentang tuntutannja „Indonésia Berparlemén”. Pada konperénsi Gapi jang diadakan pada tanggal 31 Djanuari 1941 ditetapkanlah suatu rentjana ketatanegaraan jang diantaranja memuat hal2 dibawah ini:
A. Bentuk dan Susunan Parlemén.
- 1.
- Parlemén jang dimaksudkan oléh Gapi terdiri atas dua Kamar jaitu Kamar Pertama dan Kamar Kedua.
- 2.
- Semua anggota dipilih.
- 3.
- Hak memilih ialah umum dan langsung.
- 4.
- Banjaknja anggota Kamar Pertama dan Kamar Kedua ialah se-kurang2nja 100 dan 200 masing2.
- 5.
- Parlemén adalah suatu badan jang tertinggi untuk membuat undang2 dalam negara.
B. Susunan lain berhubung dengan „Indonésia Berparlemén”.
- 1.
- Indonésia adalah suatu Negara dengan seorang Pemimpin Negara.
- 2.
- Jang bertanggung-djawab ialah menteri2.
- 3.
- Pemimpin Negara dibantu oléh suatu badan Penaséhat, jang anggotanja diangkat dan diperhentikan oléh pemimpin Negara itu.
- 4.
- Indonésia dan Nederland merupakan ber-sama2 suatu Serikat Negara (Statenbond).
C. Daja upaja untuk mentjapai „Indonésia Berparlemén”.
- 1.
- Langkah2 pertama jang harus dilakukan oléh
Pemerintah Belanda ialah.
- a.
- pengangkatan seorang Indonésia mendjadi wakil Gubernur Djéndral G.G.).
- b.
- pengangkatan seorang Indonésia mendjadi wakil Diréktur untuk tiap2 departemén.
- c.
- pengangkatan lebih banjak lagi orang Indonésia mendjadi anggota Déwan Hindia (Raad van Indie).
- 2.
- Pemerintah dan Badan Perwakilan merupakan ber-sama2 „Self-Government” Indonésia.
- 3.
- Selfgovernment itu mengatur semua kepentingan Negara (anggaran belandja) jang tidak diketjualikan.
- 4.
- Pemerintah Agung (dinegeri Belanda) dan Selfgovernment
Indonésia menetapkan ber-sama2:
- a.
- konstitusi negara jang berdasarkan démokrasi dilapangan politik, ékonomi dan sosial.
- b.
- perhubungan hukum antara Nederland-Indonésia dan Negara lain;
- 5.
- Pembangunan politik itu hendaklah dilaksanakan dalam lima tahun; djika perlu, dengan mempergunakan „Staatsnoodrecht” (Hukum negara darurat).
Dengan apa jang disebut diatas itu, maka jang diminta boléh dikatakan sekedar Indonésianisasi sadja.
Pada tanggal 14 Séptémber 1941 „Kongrés Rakjat Indonésia dirobah mendjadi „Madjelis Rakjat Indonésia” jang dipimpin oléh suatu badan jang disebut „Déwan pemimpin” jang terdiri dari wakil2 féderasi jang besar2 seperti Gapi (féderasi organisasi2 politik) jang diwakili oléh Abikusno Tjokrosujoso, Sukardjo Wirjopranoto, Oto Iskandar di Nata, Mr. Sartono dan Kasimo, MIAI (féderasi organisasi2 agama Islam) jang diwakili oléh Wachid Hasjim, Wondoamiseno, Dr. Sukiman, K.H.M. Mansur dan Umar Hubeisj. P.V.P.N. (féderasi organisasi serikat2 sekerdja dari pegawai negeri) jang diwakili oléh Suroso, Atik Suardi, Mr. Hendromartono, Ruslan Wongsokusumo dan Dryowongso.
Pada tanggal 16 Nopémber 1941 Déwan Pemimpin mengambil keputusan untuk mengadakan pengurus harian untuk melantjarkan djalannja organisasi sampai kepada kongrés Madjelis Rakjat Indonésia jang akan datang.
Sebagai pengurus harian dipilih Mr. Sartono (ketua), Sukardjo Wirjopranoto (penulis) dan Atik Suardi (bendahara). Diputuskan djuga untuk mengadakan kongrés Madjelis Rakjat Indonésia pada bulan Mei 1942 di Surakarta.
Pada tanggal 13 Désémber Pengurus harian mengeluarkan satu surat sebaran jang berisi sematjam pernjataan kesetiaan terhadap Pemerintah dan andjuran supaja rakjat berdiri dibelakang pemerintah untuk mempertahankan keamanan dan ketenteraman.
Berhubung dengan itu timbul perselisihan faham politik jang mengakibatkan P.S.I.I. (Abikusno) keluar dari Madjelis Rakjat Indonésia dan Gapi pada tanggal 25 Désémber 1941 dengan alasan, bahwa Sartono dan Sukardjo bertindak dengan tidak setahu anggota jang lain2 dan dalam hal ini meréka sudah meléwati hak2 jang sudah ditentukan bagi meréka. Peperangan dengan Djepang dan kemudian mendaratnja Djepang di Indonésia pada bulan Maret 1942 mengachiri djalan serta susunan politik jang baru ini jang didalam keadaan perubahan politik pada waktu itu ternjata tidak mempunjai daja apa2.
ZAMAN DJEPANG (1941-1945) DAN ZAMAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA (SESUDAH 17 AGUSTUS 1945)
Pada zaman Djepang segala pergerakan politik tidak diperboléhkan bekerdja dan disuruh dibubarkan. Lagi pula orang2 Djepang bertindak sangat kedjam terhadap orang2 politik jang ditangkap dan ditjurigai. Hal ini mengakibatkan bahwa orang2 politik sekedar menjesuaikan diri kepada keadaan dengan memasuki alat2 pemerintahan Djepang untuk menjelamatkan diri sambil bekerdja dibawah tanah ataupun sama sekali mengabdi kepada usaha peperangan Djepang. Pergerakan kebangsaan Indonésia mengambil dua djalan jaitu jang terlihat (legaal) jang sangat dipengaruhi oléh Djepang dan jang illegaal (dibawah tanah dengan tidak ataupun mempergunakan alat2 pemerintahan Djepang).
Sesudah Djepang mendarat dan berkuasa dinegeri ini maka lahirlah sebagai pergerakan rakjat jang terlihat dan memenuhi kehendak zaman gerakan 3 A: Nippon Pelindung Asia, Nippon Tjahaja Asia, Nippon Pemimpin Asia dibawah pimpinan Mr. Samsuddin beserta barisan pemudanja „Pemuda Asia Raja” dibawah pimpinan Sukardjo Wirjopranoto.
Karena gerakan ini tiada mendapat sambutan sebagai jang diharapkan maka Djepang membubarkan gerakan 3 A ini dan mentjoba memikat hati rakjat guna keperluan perangnja dengan mengadjak pemimpin2 jang lebih dipertjajai dan ditjintai oléh rakjat untuk bekerdja ber-sama2. Didalam menentang Gerakan 3A dan merintis djalan untuk djalan baru ini perlu disebut usaha pemuda2 jang berkumpul di Asrama Ménténg no 31 jang dipimpin oléh Sukarni Kartodwirjo dan Chaerul Saléh. Dalam pada itu Djepang mengusahakan kembalinja pemimpin jang sudah lama dibuang oléh Belanda jaitu Ir Sukarno dari Bukittinggi. Maka pada bulan Maret 1942 lahirlah „Pusat Tenaga Rakjat” dibawah pimpinan empat se-rangkai Ir. Sukarno, Drs. Mohammad Hatta, Ki Hadjar Déwantara dan K.H.M. Mansur. Suatu pertjobaan pemimpin2 Indonésia jang sangat speculatif untuk memperdjuangkan tjita2 bangsa Indonésia didalam waktu jang sangat berbahaja dan memberikan sedikit sekali kemungkinan untuk bergerak. Sebagai bukti kenjataan ini ialah ditangkapnja salah satu pemimpin jang djuga turut bekerdja mengusahakan berdirinja „Putera” jaitu Mr. Amir Sjarifuddin jang didjatuhi hukuman mati dan selandjutnja dihukum seumur hidup atas usaha Sukarno dan Hatta.
Supaja „Putera” djangan sempat menjusun tenaga untuk memungkinkan tuntutan2 politik terhadap Djepang jang masih terlibat didalam peperangan, maka „Putera” dibubarkan pada bulan Maret 1943 dan diganti dengan Perhimpunan Kebaktian Rakjat (Djawa Hookokai) jang dipimpin oléh Ir. Sukarno sebagai Tjuo Honbucho.
Tatkala tersiar kabar bahwa Djepang telah menjerah maka atas desakan pemuda, Sukarno-Hatta mewudjudkan tjita2 kebangsaan Indonésia dengan memproklamirkan Indonésia Merdéka atas nama seluruh rakjat Indonésia pada tanggal 17 Agustus 1945. Révolusi nasional Indonésia ini digugat oléh pemuda dan diperkuat oléh rakjat pekerdja buruh dan tani dikota dan didésa jang memasangkan seluruh djiwa dan raganja guna perdjuangan ini.
Bangsa Indonésia pada umumnja dan rakjat Indonésia pada chususnja memperlihatkan keberanian dan pengorbanan jang mengagumkan untuk membéla bidji tjita2nja jang ditanam pada kira2 40 tahun jang lalu dan mentjapai puntjak kematangannja melalui segala rintangan dan halangan pada tanggal 17 Agustus 1945. Berdirilah Negara Republik Indonésia jang démokratis jang memulai dengan membersihkan diri dari sisa2 fascisme Djepang dengan menggagalkan usaha untuk mendirikan satu partai negara jaitu Partai Nasional Indonésia dan memperboléhkan didirikannja partai2 P.K.I. jang sedjak tahun 1926 bergerak setjara illegaal dibangunkan mula2 oléh Mr. Jusuf jang kemudian mengalami pembersihan dan pembaharuan dengan datangnja pemimpin2nja dari luar negeri diantaranja Sardjono dan Alimin. Masjumi jang bergerak sebagai perkumpulan agama biasa didalam zaman Djepang didjadikan partai politik jang kemudian terbagi dua jaitu partai politik Masjumi dipimpin Dr. Sukiman-Mohammad Natsir dan Partai Serikat Islam Indonésia (P.S.I.I.) jang dipimpin oléh Abikusno dan Wondoamiseno. Orang2 jang berasal dari Gerindo dan Parindra sebagian berkumpul didalam „Serikat Nasional Indonésia” jang kemudian diubah mendjadi P.N.I. dengan pemimpin2nja jang terkemuka Sidik Djojosukarto, Mangunsarkoro, Mr. Sartono, Dr. A.K. Gani, Suwirjo dll.
Jang sebagian lagi mendirikan „Partai Sosialis Indonésia” (Parsi) jang dipimpin oléh Mr. Amir Sjarifuddin dengan dibantu oléh tenaga2 jang baru datang dari negeri Belanda seperti Mr. Abdul Madjid Djojoadiningrat. Sebagian lagi mendirikan perkumpulan pemuda dengan nama Pemuda Sosialis Indonésia (Pesindo) dibawah pimpinan Wikana.
Sebagian lagi mendirikan Partai Buruh Indonésia dibawah pimpinan Setiadjit, S.K. Trimurti dan Ir. Sakirman. Anggota2 Pendidikan Nasional Indonésia mendirikan „Partai Rakjat Sosialis” (Paras) dibawah pimpinan Sutan Sjahrir jang kemudian berfusi dengan „Partai Sosialis Indonésia dengan nama „Partai Sosialis” dibawah pimpinan Sjahrir dan Amir Sjarifuddin. Pengikut2 P.A.R.I. dari Tan Malaka mula2 berkumpul didalam „Persatuan Perdjuangan dan kemudian mendirikan „Partai Rakjat” jang kemudian berfusi dengan Partai Buruh Merdéka dari Sjamsu Harya Udaya mendjadi „Partai Murba” dibawah pimpinan Sukarni Kartodwirjo. Adapun Pesindo, Partai Buruh Indonésia, Partai Sosialis dan P.K.I. kemudian mengadakan féderasi dengan nama „Sajap Kiri” jang kemudian bertukar nama mendjadi Front Demokrasi Rakjat” (F.D.R.) jang dipimpin oléh Tan Ling Djie. F.D.R. kemudian sesudah datangnja Muso dari luar negeri berfusi mendjadi P.K.I., sesudah Sjahrir cum suis mengeluarkan diri dari Partai Sosialis dan mendirikan Partai Sosialis Indonésia dibawah pimpinan Sjahrir-Sjahruzah-Supeno. Disamping partai2 ini maka terdapat lagi partai2 agama „Partai Keristen Indonésia” (Parkindo) dibawah pimpinan Dr. J. Leimena dan „Partai Katholik Republik Indonésia (P.K.R.I.) dibawah pimpinan Kasimo.
Pergerakan kebangsaan Indonésia mentjapai puntjaknja pada tgl. 17 Agustus 1945. Sukarno dan Hatta atas nama seluruh Rakjat Indonésia memproklamirkan Indonésia „MERDEKA” atas dasar tuntutan hak tiap2 bangsa untuk menentukan nasib sendiri jang disokong oléh kekuatan jang berupa kebulatan kemauan dan tékad rakjat dan pemuda.
Dengan demikian maka timbullah satu Negara baru diantara negara2 merdéka lainnja didunia jang memperkenalkan dirinja sebagai negara jang berdasarkan Kedaulatan rakjat. Negara baru ini didirikan diatas runtuhan2 dua zaman pendjadjahan didepan mata kapitalis-impérialis Belanda jang datang hendak mendjadjah kembali. Hal ini harus diperhatikan betul2 untuk dapat memahamkan kekuatan2 dan kemungkinan Negara baru ini sebagai kuntji-penerangan bagi segala soal2 jang kadang2 merupakan keanéhan didalam pergolakan jang terdjadi sedjak tanggal proklamasi jang tidak sedikit mengalirkan darah itu
Révolusi tidak djatuh dari langit, djuga ia tidak terdjadi dengan kebetulan atau karena bikinan beberapa orang jang ingin berévolusi. Révolusi hanja terdjadi djika keadaan2 sudah memungkinkannja. Adapun meletusnja kadang2 disebabkan ataupun dipertjepat oléh pengaruh2 dari luar. Révolusi tidak lain daripada tabrakan dua tenaga jang bertentangan — tabrakan daripada tenaga jang menghendaki perombakan segala ukuran2 jang ada sampai ke-akar2nja dan tenaga jang mempertahankan keadaan2 jang lama — jang telah lama berdjalan dengan bersembunji dan pada satu ketika mentjapai puntjak kematangannja dan tampak lebih djelas keluar sebagai pertjobaan merebut kekuasaan jang kerap kali mempergunakan kekerasan.
Pihak jang hendak merebut kekuasaan didorongkan penderitaan dan pengalaman jang pahit serta tjita2 jang merupakan mimpi jang indah akan keadaan dan kemungkinan baru jang lain dan lebih baik daripada apa jang dialamkannja selama ini. Sebaliknja ia kekurangan pengetahuan dan terutama pengalaman tentang isi jang terang, tjara dan organisasi jang tepat guna mewudjudkan apa jang di-tjita2kan itu.
Pihak jang mempertahankan kekuasaan didorongkan oléh kedudukan jang énak jang dialamkannja diwaktu jang lampau, sedangkan masa datang tidak begitu bagus tergambar dalam pikirannja. Karena itu ia dengan sekuat tenaga mempertahankan kedudukannja jang lama dengan tjara jang disesuaikan dengan keadaan jang baru dengan mempergunakan pengetahuan dan pengalamannja tentang tjara bertindak dan berorganisasi jang sempurna dizaman jang lampau.
Soal jang harus djuga mendjadi perhatian ialah bahwa tiap2 révolusi menarik massa jang se-banjak2nja kedalam penghidupan politik. Massa jang didalam zaman biasa tertidur dan bersikap tidak berpihak dengan sadar dan karenanja hanja merupakan tenaga jang terpendam mendjadi faktor jang menentukan didalam tiap2 révolusi. Didalam révolusi pikiran dikuasai oléh perasaan, sehingga tidak ada orang jang bersikap nétral. Gagal-tidaknja perebutan serta landjutnja kekuasaan tergantung daripada kekuatan pihak jang merebut dan mempertahankan pada ketika perebutan kekuasaan itu serta kemampuannja mengerdjakan kekuatan baru seterusnja kepada kekuatan2 jang ada.
Terutama menarik serta mengorganiseer kekuatan2 jang selama ini terpendam dengan memberikan tudjuan dan memperlihatkan perbuatan2 jang dapat menangkap perasaan dan pikiran orang banjak.
Demikian didalam Révolusi di-lain2 Negeri dan sepandjang sedjarah, tidak lain halnja dengan révolusi Nasional Indonésia jang ber-kobar2 pada tanggal 17 Agustus 1945 Révolusi Nasional Indonésia jang tidak lain daripada tonggak penundjuk djarak didalam perdjalanan penghidupan bangsa Indonésia Révolusi ini pada satu pihak menutup zaman jang lampau, zaman pendjadjahan jang ditulis dengan perkataan2 autocratie atau se-wénang2, pemerasan, penindasan dan penghinaan. Seluruh bangsa Indonésia pada umumnja dan Rakjat djelata didésa dan dikota pada chususnja merasakan penindasan dan penghinaan ini. Djika ia tidak begitu ditindas didalam penghidupan ékonominja ia dihina dengan ber-bagai2 djalan diantaranja dengan rassen-discriminatie atau perbédaan kebangsaan didalam pergaulan hidup. Karenanja bangsa Indonésia seluruhnja berbangkit serentak untuk menghapuskan keadaan jang lama dan memperdjuangkan penjusunan keadaan jang baru jang bersembojan perkataan „KEMERDEKAAN”.
Dan jang terutama mendjadi pokok perhatian adalah kemerdékaan bangsa, kemerdékaan nasional. Perkataan kemerdékaan adalah satu perkataan jang dapat menggetarkan djiwa dan dapat menjuruh orang berkorban dan menderita, melalui pendjara, pembuangan dan tiang gantungan. Akan tetapi perkataan ini sebetulnja adalah suatu perkataan jang kosong dan umum jang tidak mempunjai isi jang tertentu. Pada waktu kemerdékaan masih mendjadi tjita2 soal isi belum mendjadi persoalan. Akan tetapi pada waktu tjita2 berubah dari mimpi jang indah mendjadi kenjataan, soal isi perlu akan pemetjahan. Sebab kenjataan tidak selalu idealistis, seperti tjita2 itu tidak selalu tjotjok dengan kenjataan. Révolusi Nasional Indonésia membawa kemerdékaan dari tjita2 mendjadi kenjataan.
Pada lain fihak Révolusi Nasional Indonésia membuka kemungkinan baru. Keadaan2 jang baru jang mendjadi impian rakjat diwaktu jang lalu dimana segala jang djelék dizaman jang lampau akan lenjap dan dapat mengubah membaharui serta menjempurnakan penghidupan bangsa dan seluruh Rakjat. Didalam tingkatan permulaan penjusunan keadaan baru ini soal isi dan tudjuan harus mendjadi terang dan djelas. Kemerdékaan harus diberi isi jang tidak hanja dapat dipikirkan, akan tetapi turut dirasakan oléh sebahagian jang terbesar dari orang2 jang memperdjuangkannja. Soal isi tidak sedikit gunanja didalam mengeraskan perasaan jang ber-kobar2 jang tidak bertahan lama mendjadi kesadaran serta mengembangkan kemauan dan kemampuan bekerdja dari orang2 jang memperdjuangkannja. Landjutan dan sempurnanja Révolusi Nasional Indonésia sebagai achir dan penutup perdjuangan bangsa jang berdjalan lebih dari 350 tahun dan pembuka keadaan2 serta kemungkinan2 baru tergantung daripada pemetjahan2 soal ini dengan njata2. Tergantung daripada ketjakapan kita untuk memberikan isi kepada kemerdékaan kita dan isi apa jang kita berikan kepada kemerdékaan kita itu. Didalam hal ini sedjarah dapat memberikan bahan2 jang berharga.
Pada waktu kita mengachiri satu fase didalam sedjarah dunia pada umumnja, didalam sedjarah tanah air kita pada chususnja ada gunanja kita sebentar menoléh kebelakang bertjermin kepada sedjarah kebangsaan kita. Terutama Indonésia Muda, supaja ia dapat menginsafi kedudukan tanah airnja pada waktu sekarang ini dan dimasa datang menurut tempat dan waktu jang ia terima sebagai pemberian sedjarah di-tengah2 tenaga raksasa jang tampak pada waktu sekarang ini. Demikian berarti mengukur tenaga jang dapat diperdjuangkan dan kemungkinan jang dapat ditjapai. Dalam pada itu ia harus djuga memandang kemuka kepada keadaan2 dan kemungkinan2 baru. Ia harus berani memilih dengan pengertian apa jang hendak mendjadi tjita2nja dimasa datang, supaja langkahnja bertambah tetap, kejakinannja bertambah teguh, dan tenaga perdjuangannja bertambah kuat.
Memilih antara démokrasi tua — kapitalisme jang membawa penindasan, kemelaratan, permusuhan, dan penderitaan bagi umat manusia umumnja dan bagi bangsanja pada chususnja atau démokrasi baru — sosialisme jang mulai menampakkan diri dengan menuliskan kemerdékaan, perdamaian, kemakmuran dan kebahagiaan didalam pandji2nja.
Hari2 jang akan datang akan menjuruh orang berfihak dan memilih: Ini atau Itu, bukan Ini dan Itu. Buat pemilihan itu sedjarah pergerakan kebangsaan kita dapat menjumbangkan bahan2 jang berharga.