Baca PDF (OCR): 20 Mei Pelopor 17 Agustus

63 halaman · 63 halaman diproses dengan OCR· 62372 ms

Daftar isi
  1. GUSTUS
  2. 959.8
  3. Pengantar:
  4. TAMAN SISWA
  5. BUKAN KARENA AJAM DJANTAN BERKOKOK
  6. bangsa Indonesia bangkit. Sebaliknja, Proklamasi 17 Agustus 1945, adalah wudjud jang lebih
  7. dan Madura setjara modern; pun mempunjai maksud
  8. Sifat B.U. jang ,sementara" itu sungguh-sungguh
  9. RAHartini.
  10. lah mengapa; semuanja itu akan membawa kearah ke-
  11. MAN SISWA
  12. tjita politik. Marhum Umar Said Tjokroaminoto jang
  13. gauta masuk kedalam organisasi jang telah mempunjai
  14. ingin mempunjai organisasi kepanduan sendiri jang nasional. Berdirilah I.N.P.O. (Indonesisch Nationale Pad-
  15. vindersorganisasie) jang didirikan antaranja oleh sdr.
  16. Differensia pergerakan rakjat kita jang paling pen-
  17. di Djakarta tjukup djumlah anggauta-anggautanja.
  18. Kongres Taman Siswa di Jogjakarta.
  19. Dm e e wgn.
  20. Kegiatan dan hasrat persatuan djuga njata dilapangan
  21. Bapak Pergerakan Kebangsaan Indonesia.
  22. Merapi jang tampak kehidjau-hidjauan, tinggallah
  23. Utomo", perkumpulan pemuda Djawa, tetapi setelah
  24. orang mengakui dia sebagai Bapa pergerakan kebang-
  25. saan Indonesia. Memang antara lain ta' dapat disang-
  26. kal, bahwa Budi Utomo" adalah ibu-perkumpulan
  27. kaum Budi Utomo", melainkan diakui djuga oleh wakil-wakil pelbagai aliran dan golongan. Dan meskipun
  28. Budi-Utomo" tidak dapat memadai segala harapan
  29. Kala itulah tumbuh kejakinan pada Dr. Wahidin,
  30. Perdjoangan hidup tidak terelakkan lagi dan bangsa
  31. pikiran Dr. Wahidin, sehingga lekas-lekas disiapkan- lah bangsanja menghadapi perdjoangan. Dua soal me-
  32. Terlebih dahulu akan dimulaikannja mendirikan ,stu-
  33. pdaunt ts u l- t u ti
  34. kesadaran, jang kemudian tumbuh bersemi mengem-
  35. J.E. Jasper menulis tentang perdjalanan-propaganda,
  36. PKIRS.I
  37. CAAE
  38. Ber satu dalam front anti pendjadjahan.
  39. Dr. Wahidin datang dan mendjumpai patient"nja da-
  40. jang kemudian dimakamkan di Mlati, maka berdujun-
  41. ringlah benar Dr. Wahidin mendapat kesempatan, un-
  42. tuk mempertundjukkan ketjakapannja jang berdjenis-
  43. Sudah mendjadi kebiasaan, orang ingin mengetahui
  44. dengan darah jang mengalir dalam tubuh djasmaninja.
  45. Siapakah gerangan orang-orang, jang menurunkan dia,
  46. jang berdarah Djawa-murni. Mungkin dia berketu-
  47. rohusodo — dan keluarganja agar sangkaan-sang-
  48. pun untuk melengkapkan documentasi" sedjarah
  49. Sangkaan, bahwa dr. Wahidin bukan seorang jang berdarah Djawa murni, sungguh benar. Salah seorang
  50. jang menurunkan dia jalah Daèng Kraeng Nobo, seorang bangsawan Mangkasar, golongan pradjurit,
  51. dengan pasukannja mendarat di Djawa, karena huru-
  52. hara dalam negeri di Sulawesi Selatan memaksa dia menghindarkan diri ke Djawa, untuk mentjari ban-
  53. jang sangat bengal dan dungu, Wahidin disekolahkan
  54. faedahnja pertjampuran darah untuk menjehatkan tu-
  55. rohusodo itu terdapat perkawinan dengan anggauta-
  56. adalah saudara ,,misan" Wahidin Sudirohusodo, jang
  57. Gatdt MdidSoenro Gcdnmo
  58. Itr'okn noDrot omoM in lw ri Mraroono
  59. Mfrcnd doo
  60. HAdung sedjarah bagi pergerakan kebangsaan Indo-
  61. djad bangsa, sehingga ta' boleh diabaikan. Adapun hal
  62. Sid 2.
  63. pun ada, ta' hanja kita sendiri, bangsa lain djuga ada
  64. jang mengatakan bahwa kebatinan bangsa Indonesia
  65. sehingga dapat dikatakan Kehendak Tuhan atau telah
  66. gembira, bahwa PARINDRA-partai politiek ke-
  67. bangsaan-jang pernah saja pangku bangun kembali.
  68. Wage Rudolf Supratman, pentjipta
  69. TAMAN SISWA

GUSTUS

959.8

Dua

C.1

USTAKAAN WANTARA TI GRIYA o

BERPUSAT DI

Pengantar:

TAMAN SISWA

YOGYAKARTA

BUKAN KARENA AJAM DJANTAN BERKOKOK

MAKA MATAHARI TERBIT. TAPI,SEBALIKNJA.

UKAN karenα proklamasi 17 Agustus 1945, maka B

bangsa Indonesia bangkit. Sebaliknja, Proklamasi 17 Agustus 1945, adalah wudjud jang lebih

njata dari pαdα kebangkitan bαngsα Indonesia.

Wudjud jang lebih njata itu kita pertahankan, adα- lah karena kita tak mau kehilangan tempat berdjedjak. Tak mau kehilangan batu lontjatan menudju rakjat, bangsa, negara dan dunia bahagia.

Akan tetapi, tak benarlah kiranja, kalau setelah ber- ada diatas batu lontjatan ini, kita lupα akan kenjataan bahwa batu itu terletak diatas tanah dasar. Tanah dasar itulah jang kita sebut Kebangkitan bangsa Indonesia. Bergerak menentang pendjadjahan, menjiapkan revolusi nasional. M en dαtan g kαn, m emα- tangkdn bahan-bahan negeri merdeka. Dengan istilah lain, bergerak, menjiapkan revolusi nasional. Mendatangkan,mematangkan situasi Revolusioner.

Karena itu maka lepas daripada Túdjuan jang ter- tentu, hari 20 Mei, hari kèbangkitan bangsa Indonesia, adalah suatu tiang djarak, suatu mijlpaal daripada perdjalanan sedjarah.

Dalam risalah ketjil ini hanja terdapat karangan- karangan dari Ki Hadjar Dewantara dan Wurja- ningrat sebagai ta m bahan sumbangsih untuk me- ngenang hari sedjarah bangsa Indonesia itu. Kepada jang ikut serta dalam perdjoangan 20 Mei, baik jang masih ada maupun jang sudah berpulang mendahului kita, kita utjapkan berbahagialah! Ba- hagia, karena benih jang mereka taburkan, telah tum- buh rindang, tempat kita bernaung dibawahnja. Kepada kita sekarang sebagai suatu bangsa jang beradab dan generasi jang tahu menghargai djasa serta pengorbanan leluhurnja, terletak kewadjiban jang sutji untuk mendjaga agar pohon jang rindang itu seterusnja akan mendjadi tempat bernaung generasi jang bakal datang.

Kementerian Penerangan Republik Indonesia 20 Mei 1950.

PERINGATAN 42 TAHUN KEBANGUNAN NASIONAL. 1908 — 20 M ei ~ 1950. ARI 20 MEI 1908 adalah hari berdirinja Budi-

untuk pertama kali didirikan oleh bangsa kita di Djawa

dan Madura setjara modern; pun mempunjai maksud

jang modern pula (jaitu memperhatikan segala kepen- tingan hidup dan penghidupan dalam arti jang seluas- luasnja, ialah cultureel dan social); tudjuannja: m e m - .pertinggi.deradjat kebangsaan k it a. Demikian maksud dan tudjuan B.U. menurut statutennja. Berdirinja B.U. ini sebagai persatuan jang tetap adalah hasil Kongres Nasional jang Pertama, jang diadakan di Jogjakarta. Sebenarnja, pada hari itu, B.U. sudah lahir di Djakarta, sebagai buah usaha para peladjar di

S.t.o.v.i.a., jaitu Akademi Ketabiban pada djaman itu. Jang mendirikan ialah marhum dr. Sutomo, marhum dr. Gunawan Mangunkusumo (waktu itu masih stu- dent) serta peladjar-peladjar lainnja. Peladjar-peladjar dari sekolah-sekolah menengah lain (Landbouwschool dan Veeartsenschool di Bogor, semua O.s.v,i.a dise- luruh Djawa, djuga Kweekschool-Kweekschool. H.B.S. dll.) menjambut berdirinja B.U. dengan gembira; me- reka segera mendirikan tjabang-tjabang. Berkat kebidjaksanaan dr. Sutomo c.s.. jang meng- hendaki B. U. mendjadi perhimpunan nasional", jang umum dan setjara besar-besaran, untuk mana pemu-

da-pemuda kita di Djakarta itu mentjari hubungan dengan pemimpin-pemimpin tua, dan sanggup menjerah- kan pimpinan dan organisasinja kepada golongan tua, maka B. U., jang waktu itu menamakan dirinja dengan sebutan Badan-sementara" (provisorisch lichaam), tidak bersifat Jeugdvereeniging" atau perhimpunan pemuda, tetapi terus tumbuh sebagai badan perhimpunan nasional umum.

Sifat B.U. jang ,sementara" itu sungguh-sungguh

,,nasionalistis" dan ,,revolusioner" dan ini dapat dime- ngerti, bila kita mengingati tingkatan ketjerdasan para maha-siswa kita di S.t.o.v.i.a., jang waktu itu merupa- kan perguruan bagi bangsa kita jang paling tinggi. Pada djaman itu sebenarnja dipelbagai kalangan dise- luruh Djawa dan Madura sudah nampak tanda-tanda kebangunan nasional; teristimewa di Jogjakarta dan Su- rakarta. Misalnja di Jogja ada suatu gerombolan orang-orang terkemuka, jang sibuk berusaha menjiapkan berdirinja Studiefonds"; diantaranja jang patut disebut jaitu: marhum Pangeran Notodirodjo, marhum R. Dwi- djosewojo, marhum Mas Budiardjo, R. Sosrosugondo dan lain-lain; pusat dari gerombolan itu bukan lain ia- lah M. Ng. Sudirohusodo alias Dokter Wahidin. Untuk mempropagandakan berdirinja Studiefonds tadi, pada tahun 1906 dr. Wahidin mengelilingi seluruh Djawa, guna menarik perhatian para bupati dan orang-orang terkemuka. Inilah sebabnja ada hubungan antara beliau dengan Sutomo dan Gunawan Mangunkusumo. c.s. Dr. Wahidin sanggup mengoper" gerakan nasional jang dimulaikan para pemuda tadi, dan begitulah B.U. mendjadi perhimpunan besar dan umum, berdasar na-

Ki Hadjar Dewantara, keluar dari Pendjara Pekalongan.

sional dan menudju ke-arah kemuliaan bangsa; ditjip- takan oleh pemuda, dioper oleh kaum-tua, lalu diseleng- garakan bersama. Kongres para pemimpin, jang diadakan di Jogjakarta pada bulan-liburan Puasa tahun 1908, jang waktu itu disebut ,Eerste Jong-Javanen-congres", sangat menarik perhatian umum. Bersuanja kaum tua dan kaum muda menimbulkan banjak pertentangan faham, sikap dan laku. Para pemuda dapat bantuan penuh dari be- berapa kaum ,,setengah-tua" (diantaranja: marhum dr. Tjipto Mangunkusumo, Sutopo Wonobojo, Sumarsono alias Ki Tjokrodirdjo" d.l.l. jang tidak kalah berko- bar-kobarnja semangat dengan para pemuda). Hasil dari pada pertentangan antara golongan ,,revolusioner nasionalis" dengan kaum ,,conservatif" ialah terbentuk- nja pengurus besar pertama jang bertjorak coalisi", sedangkan Budi-Utomo-buat seterusnja — tetap ber- sifat cultureel-nasional" dengan penuh politieke ten- denzen". Berhubung dengan hebatnja pertentangan antara tua dan muda, maka marhum dr. Wahidin (saat itu beliau menangis) menolak, ketika dipilih mendjadi ketua. Saja akan bekerdja, tidak sanggup memimpin". kata beliau. Tetapi kemudian beliau toh menerima ke- dudukan wakil-ketua; jang mendjadi pemimpin pertama ialah marhum bupati Karanganjar Tirtokusumo. (Baik disini diperingati adanja opposisi jang sangat he- bat pada Kongres jang ke-2, tahun 1909, di Jogjakarta djuga, jang menuntut turunnja Pengurus Besar; dari kaum-tua hanja dr. Wahidin jang dipertahankan oleh sajap-muda; sebagai ketua baru, dipilih marhum Pa- ngeran Notodirodjo dari Pakualaman, jang sudah lama bersama-sama dengan dr. Wahidin melakukan per-

RAHartini.

Air mata kami jang titik sekarang ini perlunja semata-mata supaja bertunas bibit itu, supaja dari padanja berkembanglah natsu hidup jang baru dan murni kemudian hari. Air/mata, darah akan mengalir banjak2, tetapi tiada-

lah mengapa; semuanja itu akan membawa kearah ke-

menangan. Manakah akan terang, bila tiada didahului oleh gelap-gulita. Hari fadjar lahir daripada hari malam.

siapan untuk berdirinja ,,Studiefonds" dan kemudian berdirinja ,Neutrale Schoolvereeniging". Salah satu sebab jang.menimbulkan opposisi jang hebat itu, ialah dapatnja pemerintah kolonial menjelundupi gerakan nasional B. U.). Mengingati peristiwa-peristiwa tadi sungguh perlu, agar kita dapat mengarti, apa sebabnja makin lama makin banjak kaum ,revolusioner" meninggalkan orga~ nisasi B. U. untuk menggabungkan diri pada perhimpunan-perhimpunan baru jang kemudian menusul, jaitu Sarikat Islam" dan Indische Partij", atau berdjoang sendirian selaku ,wilde politici" (politicus merdeka). Kaum-tua dan setengah-tua, jang berhaluan ,,kiri" dan masih terus berdjoang dalam kalangan B. U., ada pula: misalnja K.R.M.T.H. Wurjaningrat, R.M. Sutatmo Surjokusumo, R. M. Sutopo Wonobojo, R. Sumarsono Tjokrodirdjo, dan masih banjak lain-lainnja.

Sesudah kita tahu, bahwa Budi-Utomo sebagai orga-nisasi setjara modern jang pertama, sudah bertjorak politik (meskipun sifatnja cultureel), lagi pula mendjadi pangkalan pertama dari pada tjalon-tjalon nasionalis- revolusioner, maka tepatlah saat berdirinja B. U. pada hari 20 Mei 1908 itu kini dianggap hari nasional". Malah pada tahun 1918, ulang-tahun B. U. jang ke-10, oleh studenten kita jang ada di Nederland di- rajakan sebagai hari nasional" djuga. Ketua Panitya adalah marhum dr. Tumbelaka, jang waktu itu tinggal dinegeri Belanda untuk menjiapkan diri sebagai ,spe- cialist" dalam ilmu penjakit urat-sjaraf. Meskipun B. U. itu bersifat Jong-Javanenbond" (perhimpunan Djawa-muda) namun ta' boleh disebut

BERPUSAT DI

MAN SISWA

YOGYAKARTA

Tiga serangkai, Dr. Douwes Dekker, Dr. Tjipto Mangunkusumo dan Suwardi Suryaningrat.

provincialistis". Djaman itu belum ada bentuk kebang- saan Indonesia wutuh, walaupun rasa-satu benarnja sudah ada. Ini terbukti dengan adanja hubungan jang sangat baik dengan perhimpunan didaerah2 diseluruh kepulauan Indonesia, jang kemudian menusul. Menu- rut statutennja bahkan boleh B. U. menerima orang- orang sebagai anggauta, jang berasal dari Maluku, Sulawesi, Bali, Borneo, Sumatera dll. (Bukankah hingga kini masih ada perhimpunan-perhimpunan ,Pa- sundan", Gerakan Rakjat Indonesia Sunda Ketjil, Pemuda Indonesia Maluku, Kebaktian Rakjat Indonesia Sulawesi dll. sebagainja?), Bukti jang njata tentang sifat B. U. jang tidak provincialistis itu ialah berfusinja

B. U. dengan P.B.I. mendjadi Parindra". Sesudah nama ,,Indonesia" disjahkan oleh rakjat, maka dengan dipelopori oleh pemuda-pemuda kita, jang pada tahun 1920bersumpah satu Negara, satu Bangsa, satu Bahasa", dan melebur ,Jong-Java", Jong-Ambon, Jong-Sumatranenbond dll. sebagainja mendjadi ,Indonesia Muda", mulai saat itulah bentuk-bentuk ke- daerahan baru dapat ditinggalkan. Sesudah B.U. lahir, maka rakjat nampak mulai bangun dan sedar. Banjak perkumpulan-perkumpulan didirikan, baik jang bertjorak agama, sosial, ekonomi, kesenian, pendidikan, journalistiek, olah raga, dll. sebagainja. Begitu djuga rakjat mulai memberanikan diri untuk mendirikan perseroan-perseroan dagang, tang- gung-djiwa, credietbank, tabungan, pertanian dll. sebagainja. Tahun 1911; inilah tahun jang istimewa. Pada tahun itu timbul gerakan baru jang ingin mewudjudkan tjita-

tjita politik. Marhum Umar Said Tjokroaminoto jang

berdjiwa nasionalis-islam-revolusioner, sesudah ber- temu dengan Hadji Samanhudi (jang waktu itu mempunjai perserikatan dagang, jang bernama Sarikat Dagang-Islam", dan mempunjai tjorak Islam dan revolusioner djuga) dapat membentuk badan baru, jaitu Sarikat Islam", jang dalam waktu jang pendek sadja dapat mengumpulkan anggauta-anggauta sedjumlah setengah djuta. Pemerintah kolonial sangat gelisah. Disamping penjelundupan atau infiltrasi" biasa, pemerintah kolonial mengirimkan dr. A. Rinkes-nja (pem- bantu adviseur voor inlandsche zaken) kedalam ling- kungan S.I. (Sarikat Islam). Kelak S. I. hanja diboleh~ kan berdiri setempat-setempat (lokal), jang tidak boleh saling berhubungan setjara ,,organisatories". Tjokroaminoto cs. (pemimpin-pemimpin lainnja misalnja H.A. Salim, Surjopranoto, Abdul Muis, Sangadji marhum,

H. Fachrudin marhum, H. Samanhudi, marhum Sosro- kardono dan banjak lain-lainnja), tak dapat digertak begitu sadja. Mereka lalu mendirikan perhimpunan baru jaitu C.S.I. berarti ,Centrale Sarikat Islam", dan jang mendjadi anggauta-anggautanja ialah semua S.I. lokal. Pada waktu itu Sarikat Islam" belum terus te- rang berwudjud ,partai politik"; sifatnja ialah keaga- maan, ke-ekonomian, dan kesosialan, jang bertjorak politik dan revolusioner. Pada tahun 1911 lahir djuga Indische Party" (ter- kenal dengan singkatannja I. P."), jang didirikan oleh
E.F.E. Douwes Dekker jang kini bernama Dr. Danu Dirdjo Setyabudhy. I. P. adalah party politik jang per- tama, jang didirikan semata-mata sebagai partai politik. Tjita-tjita I. P. ialah: Indonesia merdeka dan berdaulat,

kewarga-negaraan setjara modern (tak mengingati asal-kebangsaan apa, asalkan mengakui Indonesia se-
bagai negara dan kebangsaannja), democrats.......
pendek kata seperti sifat bentuk negara kesatuan kita Republik Indonesia sekarang. Pada 18 Agustus 1913 tiga orang pemimpin I. P. jaitu Douwes Dekker, Dr. Tjipto dan Suwardi Suryaningrat di-interneer, bertu- rut-turut ke Timor Kupang, Banda Naira dan Bangka. Akan tetapi mereka dibolehkan meninggalkan tanah- airnja, djadi setjara externeering" manasuka. Disini- lah terdjadi peristiwa jang sangat mengharukan. Anggauta-anggauta B. U. dan Sarikat Islam, menganggap korban-korban jang pertama (sedjak 1908) itu, sebagai pengorbanan mereka sendiri. Segera mereka mengumpulkan uang untuk memungkinkan ,,tiga-serangkai"

I.P." (driemanschap I.P.) itu menghindarkan inter- neeringnja dan pergi ke-luar-negeri, agar di Nederland dapat meneruskan aksinja kearah kemerdekaan Indonesia. Begitulah DD., Tjip dan Suwardi dengan sege- nap keluarganja tg. 6 September 1913 dapat berangkat dari Tandjung Priuk. Jang mendjadi sebab pemerintah kolonial mengguna- kan ,,exorbitant-recht"-nja ialah karena Suwardi Suryaningrat menulis brosurnja Als ik Nederlander was!" untuk memprotes akan diadakannja perajaan kemerdekaan Nederland 100 tahun (dari penindasan Peran- tjis dalam djaman Napoleon pada tahun 1813), untuk perajaan mana rakjat sampai didesa-desa, diharuskan mengumpulkan uang. Sambil berprotes Panitya Na- sional jang didirikan oleh S. Surjaningrat di Bandung
itu, menuntut adanja Parlement. Indische Partij" kemudian dilarang, lalu semua ang-

gauta masuk kedalam organisasi jang telah mempunjai

hak rechtspersoon", jaitu Insulinde", tetapi hanja untuk sementara, karena ,Insulinde" bukan badan po- litik. Setelah dr. Tjipto dibolehkan pulang kembali pada tahun 1914 (karena sakit), maka dibentuk organisasi baru dengan nama N.I.P. (Nasional Indische Partij), partij mana pada tahun 1922 dilarang lagi oleh pemerintah kolonial. Putjuk pimpinan N.I. P. memutus:

a. tidak mendirikan partij baru; b. mengandjurkan se- kalian anggautanja memasuki suatu partij kepunjaan rakjat, jang ada (B.O.P.S.I., P.K.I. dll.) atau pada umumnja ikut usaha atau berdjuang jang bersifat nasional. Tjipto meneruskan penerbitannja harian dalam bahasa Djawa ,Panggugah" di Solo; DD mendirikan Ksatryan-instituut"nja di Bandung dan Suwardi Suryaningrat ,Taman-Siswa"nja di Jogjakarta. Sesudah B.U., S.I. dan I.P., sebagai organisasi2 jang pokok, melakukan pembangunan pertama, menusul lambat laun kesedaran serta keinsjafan, jang menjebab- kan timbulnja differensiasi". Para pemuda mendirikan organisasi-ôrganisasi umum: ,,Tri-Koro-Darmo" di Djawa, jang kelak mendjadi Jong-Java"; Jong-Sumatranenbond", Jong-Ambon", Jong-Islamietenbond" dll., jang pada tahun 1929 berfusi mendjadi ,Indonesia Muda". Djuga kepanduan tumbuh dengan subur. Meskipun ada jang menjeburkan diri dalam N.I.P.V. (Nederlandsch Indische Padvinders Vereeniging), namun kebanjakan

ingin mempunjai organisasi kepanduan sendiri jang nasional. Berdirilah I.N.P.O. (Indonesisch Nationale Pad-

vindersorganisasie) jang didirikan antaranja oleh sdr.

Usman Sastroamidjojo (Mr. Usman jang kini ada di Australia); kemudian timbul K.B.I. (Kepanduan Bangsa Indonesia); S.I.A.P. (S.I. Adeeling Pandu); Kepanduan Katholik dll. Perhimpunan-perhimpunan sosial senantiasa pesat kemadjuannja. Jang berdasar agama misalnja Mu- hammadijah" dengan Aisjiah"-nja dibawah pimpinan marhum Kjai H. Moh. Dahlan dan marhum Njai Dahlan: ,,Nachdatul-Ulama", ,Persatuan Ummat Islam" dan lain-lainnja. Semuanja mempunjai bagian usaha perguruan. Dalam soal usaha pendidikan jang berdasar kebudajaan bangsa jang paling terkenal ialah Taman Siswa dengan systimnja pendidikan dan organisasi jang istimewa, didirikan pada 3 Juli 1922 di Jogjakarta oleh Suwardi Suryaningrat, jang sedjak 8 Mei 1928 bernama Ki Hadjar Dewantoro. Usaha-usaha perguruan lain-lainnja ada pula, diantaranja Adhi-Darmo", Neutrale Schoolvereeniging", Isla- mijah" dan banjak lagi lain-lainnja. Di Sumatera jang sangat terkenal ialah I.N.S. (Indonesisch Nederlandse School) jang didirikan oleh Mohamad Sjafei di Kaju- tanam, dengan systimnja pendidikan beladjar dan be- kerdja (Arbeitschule). Para wanita ta' suka ketinggalan; banjak organisasi-organisasi wanita berdiri (diantaranja Wanito-Uto- mo" dengan pimpinan-pimpinannja jang terkenal; Njonjah-njonjah Sukanto, Abdulkadir, Gondoatmodjo dll di Jogjakarta). Perhimpunan-perhimpunan itu kemudian berfederasi dalam organisasi-nja P.P.I.I. (Perikatan Perhimpunan Istri Indonesia) jang didirikan pada ta- hun 1927 di Jogjakarta.

Differensia pergerakan rakjat kita jang paling pen-

ting ialah tumbuhnja Sarikat-sarikat Buruh, jang pada umumnja dipimpin oleh kaum S.I. (Surjopranoto, Sosrokardono, Samaun, Alimin, Darsono dll.). Pada periode itu djuga mulai tersebarnja benih-benih so- cialisme dengan aksinja jang hebat dan berpusat di Semarang. I.S.D.V. (Indische Sociaal-democratische Vereeniging) dibawah pimpinan Ir. Baars, H. Snee- vliet dll., jang kemudian mendjadi P.K.I. (Partij Ko- munis Indonesia) dengan S.R. (Sarikat Rakjat) se- bagai ,ondergrond"-nja (lapisan bawah). Berhubung dengan timbulnja perselisihan-perselisihan dan perpetjahan-perpetjahan" maka sementara kali dilakukan usaha-usaha untuk mempersatukan te- naga, jang dianggap perlu untuk mempertahankan kepentingan-kepentingan rakjat. Radicale Concen- trasi" dibentuk; P.P.P.K.I. untuk memusatkan aksi partai-partai politik Kemerdekaan Indonesia (di Surabaja). Di Surabaja marhum dr. Sutomo c.s. mendirikan Studieclub" jang sebenarnja adalah suatu bibit partij politik. Kemudian Studieclub itu mendjadi P.B.I. (Per- satuan Bangsa Indonesia), jang kelaknja berfusie dengan B. U. lalu mendjadi ,Parindra". (Partij Indonesia Raja). Partij ini mementingkan kebudajaan, ke-ekono- mian di samping politik. Disinilah berkumpulnja pemimpin-pemimpin Wurjaningrat c.s. dari B. U.

H. M. Thamrin dari Kaum Betawi". Sukardjo Wirjo- pranoto, dan banjak lain-lainnja. Mereka jang merasa lebih radikal dari pada kaum .moderate" jang masuk kedalam Parindra, mendirikan partij baru jang semata-mata mementingkan perdjoang- an politik. Dibawah pimpinan umum dari Ir. Soekarno berdirilah P.N.I. (Partij Nasional Indonesia); pemim-

pin-pemimpin lainnja ialah drs. Moh. Hatta, mr. Sartono, mr. Sujudi, mr. Moh. Yamin dll. Kemudian P.N.I. petjah mendjadi dua, jaitu ,,Partindo" (Partij Indonesia) dan jang lain terus memakai singkatan P.N.I., tetapi lengkapnja berbunji Pendidikan Nasional Indonesia"; biasanja menamakan golongannja dengan nama ,,Pendidikan". Ir. Soekarno, mr. Sartono, mr. Sujudi dll. masuk kedalam ,Partindo", sedangkan Hatta dengan kawan-kawannja se-faham memilih Pendidikan". Ada pula gerombolan, djuga dari petjahan P.N.I. lama, jang kemudian mendirikan partij sendiri, jaitu Gerindo" (Gerakan Rakjat Indonesia), jang dipimpin misalnja oleh mr. Amir Sjarifudin, mr. Moh. Tamin, S. Mangunsarkoro dll. Dalam waktu itu mudah dimengerti timbulnja bebera- pa perselisihan-perselisihan pula; pun dirasainja perlu- nja mengadakan pemusatan tenaga. ,Gappi" dibentuk (Gabungan Partai-partai Politik Indonesia); gerakan ,Indonesia Berparlement" dilakukan dsb. Perserikatan-perserikatan jang berusaha dalam la- pangan Kebudajaan, makin lama makin tambah djum- lahnja. Dimana-mana timbul gerakan kesenian, baik jang nasional maupun jang bersifat umum; ada jang tradisioneel, ada pula jang revolusioner, misalnja gerombolan ,,Pudjangga Baru" dengan pemimpin-pemim- pinnja mr. Sutan Takdir Alisjahbana, Armijn Pane dll. Patut disebutkan pula adanja gerakan-gerakan pe- muda jang merupakan masjarakat mahasiswa, sesudah

di Djakarta tjukup djumlah anggauta-anggautanja.

U.S.I. (Unitas Studiosorum Indonesiensis) berdiri, se-

dangkan kemudian mereka jang berfaham nasionalis- tisch setjara radikal, mendirikan P.P.P.I. (Persatuan Peladjar-peladjar Indonesia).

Dilapangan journalistik terdapat pula kemadjuan jang pesat. Dulu, kira-kira tahun 1895, di Jogjakarta dan Solo sudah ada surat-surat berkala di Jogja Ret- nodumilah" jang dipimpin oleh marhum dr. Wahidin Sudirohusodo; di Solo Djawi-Kondo", ,Bramartani" dll. Semuanja masih bertjorak kesusasteraan. Kira-kira pada tahun berdirinja B. U. ada seorang wartawan modern, jang menarik perhatian karena lantjarnja dan tadjamnja pena jang ia pegang. Jaitu marhum R. M. Djokomono, kemudian bernama Tirtoadisurjo, bekas murid S.t.o.v.i.a, jang waktu itu bekerdja sebagai re- dacteur harian Bintang Betawi"(jang kemudian bernama ,,Berita Betawi"), lalu memimpin redaksi ,,Medan Prijaji" dan ,Suluh Pengadilan". Beliau boleh disebut "pelopor" dalam lapangan journalistik. Selangkah demi selangkah ke-wartawanan dapat kemadjuan, dan jang achir-achir ini dengan amat pesat, hingga membutuh- kan ,Kantor Berita" sendiri (Antara), dan dalam saat peralihan, disekitar 17 Agustus 1945, dapat mengusa- hakan suatu badan-berita setjara besar-besaran, jang berhubungan langsung dengan luar-negeri.

Tjukup sekianlah ichtisar kisah pergerakan rakjat kita, dengan kemadjuannja sedjak berdirinja B. U. tg. 20 Mei 1908, ichtisar mana pasti djauh dari lengkap, karena banjak jang tidak bersandar dokumentasi", hanja berupa kenang-kenangan dari satu orang sadja. Hendaknja para pemimpin-pemimpin tua lainnja, suka

Kongres Taman Siswa di Jogjakarta.

melengkapkan kisah-kisah tadi, teristimewa jang ber- hubungan dengan lingkungan-lingkungan mereka masing-masing. Karena pergerakan rakjat kita sedjak 20 Mei 1908 itu menudju kearah kemerdekaan nusa dan bangsa Indonesia, maka sebenarnja pada hari 17 Agustus 1945 sudah selesailah pergerakan itu. Tudjuan jang terachir sudah tertjapai. Ini tidak berarti selesainja ,perdjuangan". Pertama kali haruslah diingati, bahwa untuk mem- bangun negara kita, jang baru berdiri dan dalam se- gala hal masih dalam keadaan sangat sederhana itu, memerlukan perdjuangan. Kedua kalinja ta' sekali-kali boleh dilupakan, bahwa pendjadjahan jang tidak ku- rang dari 31/2 abad lamanja itu, tidak mungkin dapat musnah sekali gus, hanja dengan ,proklamasi" sadja. Sisa-sisa keadaan dan tenaga-tenaga kolonial, sisa-sisa djiwa dan suasana pendjadjahan barang tentu masih ada; baik karena kekuasaan tradisi, maupun karena dengan sengadja dan mungkin siasat-siasat jang ter- tentu, Nederland tidak akan menjerahkan kedudukannja sebagai pemilik" Indonesia jang kaja raja itu dengan suka-rela, dengan ichlas dan ridla. Boleh dipas- tikan, Belanda akan mempertahankan kedudukannja itu dengan mati-matian, mungkin dengan bantuan dari negara-negara Barat lainnja, jang banjak sedikit akan ikut tanggung rugi. Untuk menghadapi itu semua, per- lulah pula rakjat kita terus siap sedia, untuk mene- ruskan perdjuangannja, djuga setjara mati-matian. Dugaan-dugaan itu dibenarkan oleh kenjataan-ke- njataannja. Zaman Linggardjati" datang dengan tjam- pur-tangannja Luar.Negeri. Terbukalah pintu untuk kembalinja pendjadjahan, sekalipun setjara semi-

DLAIAN TALUS.

Dm e e wgn.

kolonial". Sebagai akibat mutlak timbullah ,perang-kolonial" jang ke I, Pihak Luar-Negeri merasa perlu pula untuk bertjampur-tangan dan menekan dan me- maksa terlaksananja ,,persetudjuan Renville". Timbullah perang-kolonial" jang ke II. Atas putusan ,Per- satuan Bangsa-bangsa" datanglah zaman K.M.B. dengan persetudjuannja, jang seperti persetudjuan-persetudjuan Linggardjati dan Renville, hanja dapat di- sahkan sebagai persetudjuan jang berdasar ,compro- mis". Sjukurlah Tuhan tetap terus melindungi kita, Tentara nasional kita, bersama-sama dengan para pemuda, bahkan dengan seluruh rakjat dapat meru- pakan ,tentara-gerilja", jang amat ditakuti oleh Belanda dan kawan-kawannja Luar-Negeri. Segala apa jang ditjiptakan oleh pihak Belanda, ja'ni perpetjahan dan perpisahan rakjat, berdirinja daerah-daerah dan negara-negara bagian diseluruh Indonesia, kemudian runtuh semua. Pada saat ini Negara Kesatuan menurut proklamasi 17 Agustus akan pulih kembali. Ini semua adalah buah dari siap sedianja rakjat kita, untuk me- neruskan perdjuangannja, setjara mati-matian. Dan inilah buah pemeliharaan serta latihan semangat perdjuangan, sedjak 20 Mei 1908, empatpuluh dua tahun jang lampau. Marilah pada hari ini kita merenungkan, peladjaran apakah kiranja jang dapat kita pungut dari pada se- djarah perdjuangan kita sedjak 20 Mei 1908 itu. Da- patlah kiranja peladjaran itu kita simpulkan demikian:

  1. terbuktilah, bahwa seluruh rakjat, dalam segala lapisannja, menghendaki kemerdekaan nusa dan bangsa, lepas dari pendjadjahan dari siapapun;

Kegiatan dan hasrat persatuan djuga njata dilapangan

kepanduan.

erpetjahan jang terdjadi dikalangan

  1. perpe pergera' an kita itu sebenarnja adalah perpisahan- perpisahan differensiasi, untuk memurnikan atau menggiatkan usaha masing-masing;
  2. hasrat untuk bersatu, berhubung dengan adanja pokok-pokok kepentingan bersama jang dirasai benar-benar, selalu timbul dimana ada bahaja me- ngantjam dari luar; 4 kekuasaan dan kekuatan dari pihak pendjadjah hanja dapat menguasai kita, selama kita berpetjah belah;
  3. dimana ada kesatuan tekad dan laku, disitulah kita dapat mendesak dan mengalahkan musuh kita bersama;
  4. tetap terus adanja sisa-sisa pendjadjahan, meng- haruskan kita untuk tetap terus awas dan waspada serta siap sedia untuk berdjuang;
  5. tetap Tuhan akan melindungi kita, selama kita me- lakukan perdjuangan kita dengan dasar Pantja-Sila. Sekali merdeka, tetap merdeka!

Dr. WAHIDIN SUDIROHUSODO,

Bapak Pergerakan Kebangsaan Indonesia.

DOKTER WAHIDIN SUDIROHUSODO. Oleh: Ki Hadjar Dewantara. Anak desa mendjadi pemimpin besar. ALAM sebuah dusun, teratur indah dikaki gunung

Merapi jang tampak kehidjau-hidjauan, tinggallah

1.k. satu abad berselang suatu keluarga, jang dalam se- gala kesederhanaannja tetap menarik perhatian orang. Sebagai salah seorang penduduk jang tertua di Mlati, — demikian nama dusun jang tahu memegang nama~ nja, — kepala keluarga tersebut sangatlah dihormati ser- ta disajangi oleh orang-orang sekampungnja; dan adjaib djuga, orang-orang lain pada umumnjapun sa- ngat menghargai dia. Njatalah hal sedemikian itu dise- babkan karena keunggulan budinja, sifat jang dimiliki djuga oleh seluruh anggauta keluarganja. Keadaan jang luar biasa pada keluarga tersebut, tiada luput dari perhatian orang-orang kota, jang untuk se- mentara waktu meninggalkan ibu kota Jogjakarta dan datang berkundjung ke Mlati, baik untuk keperluan, maupun untuk beristirahat. Lebih-lebih Wahidin jang kala itu masih kanak-kanak, tetapi telah menundjukkan pandangan mata jang memantjar djernih, selalu mendjadi pusat perhatian. Dalam kalangan-kalangan terke- muka, baik kalangan Eropah maupun kalangan Djawa, orang berpendapat bahwa Wahidin harus bersekolah. Demikianlah maka Wahidin meninggalkan dusun menudju kekota, kemudian kita lihat dia sebagai seorang dari beberapa anak Djawa, jang mula-mula se- kali mengundjungi Europese lagere school (sekolah

rendah Belanda). Oleh sebab Wahidin djauh melebihi teman-temannja karena fikirannja jang tjerdas tiada terhingga, orangpun mengusahakan agar dapatlah ia melandjutkan peladjarannja, sehingga achirnja tertja- tatlah djuga nama Wahidin sebagai murid sekolah Dokter-Djawa di Djakarta (dulu Betawi). Disinipua dalam kalangan guru-guru ia terkenal sebagai seorang murid jang giat bekerdja, tjerdas otaknja serta sehat djiwanja. Sebagai dokter-djawa" diwaktu itu iapun boleh di- kata luar biasa sehingga dipandang patut serta terpilih untuk mendjadi guru-bantu atau ,assistentleeraar" pada sekolahnja. Kelak sesudah itu ia berkedudukan tetap di Jogjakarta, tempat ia mengetjap pendidikan jang perta- ma dan achirnja mendjadi salah seorang penduduknja jang terkenal dan budiman. Disana Dr. Wahidin ting- gal sampai wafatnja, jalah pada hari bulan Mei, tahun 1917. Siapa kelak membuka kitab-kitab sedjarah kebangsa- an kita, iapun pasti akan menghadapi lembaran bersih berhiaskan nama orang, jang sedang kita peringati dja- sa-djasanja dengan terbitnja risalah ini. Bertahun-tahun nama Dr. Wahidin — (dikalangan Djawa terkenal dengan sebutan Mas Ngabehi Sudiro- husodo) terikat erat dengan pergerakan nasional, sehingga orang jang meriwajatkan hidupnja ta' boleh tidak harus memberi, pandangan tentang pergolakan masa diwaktu itu, masa jang sungguh-sungguh merupa- kan titik perhentian dalam perdjalanan sedjarah bangsa kita. Orang menamakan Dr. Wahidin Bapa dari Budi-

Utomo", perkumpulan pemuda Djawa, tetapi setelah

tiada lagi ia hidup*ditengah-tengah kita, lazimlah djuga

orang mengakui dia sebagai Bapa pergerakan kebang-

saan Indonesia. Memang antara lain ta' dapat disang-

kal, bahwa Budi Utomo" adalah ibu-perkumpulan

jang melahirkan berdjenis-djenis aliran dalam masja- rakat-Indonesia. Hal ini tidak sadja dinjatakan oleh

kaum Budi Utomo", melainkan diakui djuga oleh wakil-wakil pelbagai aliran dan golongan. Dan meskipun

Budi-Utomo" tidak dapat memadai segala harapan

ataupun idam-idaman, tetaplah orang berpendapat, bahwa, terlahirnja pergerakan jang mula-mula bersifat re- volusioner-nasionalistis itu adalah peristiwa jang maha- raja, karena kala itulah mulai terdengarnja detik kebangunan dari berdjuta-djuta rakjat jang diperbudak. Lain dari pada itu, meskipun Dr. Wahidin sebenarnja bukan pendiri ,Budi-Ultomo" seperti akan kita ketahui nanti, dialah jang memberi isjarat untuk memulaikan kebangunan nasional. Pendidikan dan Pengadjaran pintu pembangunan. Terkenanglah kita akan masa jang belum djauh lam- pau, lk. 50 tahun berselang, tatkala orang belum dapat menjaksikan kegiatan hidup seperti kita alami sekarang ini. Tetapi sebagaimana sering kita djumpai, keadaan jang tenang-tenteram diwaktu itu disebabkan belum adanja pengertian serta belum tumbuhnja keinsafan. Barang tentu diwaktu itu sudah mulai tampak usaha- usaha mengedjar kemadjuan, lebih dari pada jang biasa diperoleh disekolah rakjat atau volksschool. Akan tetapi oleh karena tiap kesempatan untuk melandjutkan peladjaran memerlukan biaja banjak, maka sebenarnja-

lah kemadjuan setjara modern hanja mungkin dikedjar oleh golongan kaum berada sadja.

Kala itulah tumbuh kejakinan pada Dr. Wahidin,

bahwa kepada lapisan jang terbesar didalam masjara- kat perlu diberikan pengadjaran jang sebaik-baiknja.

Perdjoangan hidup tidak terelakkan lagi dan bangsa

Djawa harus memilih: berdjoang atau mati. Namun perkataan mati tiada sedjenak djuga mendjelang alam

pikiran Dr. Wahidin, sehingga lekas-lekas disiapkan- lah bangsanja menghadapi perdjoangan. Dua soal me-

mikat hati-sanubarinja: memperluas pengadjaran jang sempurna dan memperhebat kesadaran nasional. Suatu hal jang ta' boleh dibiarkan demikian sadja jalah, bahwa anak-anak dari golongan jang tidak berada tetapi luar biasa kepandaiannja, — seperti dia sendiri sebagai tjontoh jang paling njata — masih terlalu banjak jang belum dapat melandjutkan peladjaran. Selain itu ia mempersalahkan djalannja kemadjuan setjara Barat, jang tidak sedikit merugikan sifat murni dari bangsa Djawa. Kedjadian itu ta' boleh terulang, kata Dr. Wahidin. Dengan diam-diam lagi bersungguh hati iapun ber- siap-siap melaksanakan tjita-tjitanja. Dalam madjallah Djawa ,Retno-Dumilah" jang dipimpinnja sendiri tiada djemunja ia berusaha menginsafkan pembatja akan pentingnja pengadjaran. Disamping itu dipergunakan- nja madjallah tersebut untuk mempropagandakan tjita-tjitanja, jang ternjata tidak sia-sia belaka. Buktinja, banjak nian penduduk Jogjakarta berlomba-lomba mem- bawa anak-anaknja kesekolah. Hasil jang baik ini men- dorong Dr. Wahidin untuk melandjutkan gerakannja.

Terlebih dahulu akan dimulaikannja mendirikan ,stu-

dil a.

pdaunt ts u l- t u ti

diefonds", karena ternjata kebanjakan pemuda tidak puas dengan pendidikan sekolah rendah sadja, sedang- kan usaha melandjutkan peladjaran sering kandas di- rintang oleh biaja. Setelah beberapa orang terkemuka menjanggupi bantuan lahir-batin, maka Dr. Wahidin lalu mengambil keputusan akan melakukan perdjalanan propaganda keseluruh Djawa. Diantara orang-orang jang sangat besar pengaruhnja perlu disebut nama Pa- ngeran Notodirodjo dari keluarga Sri Paku-Alam, se- orang bangsawan jang sedjiwa dengan Dr. Wahidin dan jang turut giat membantu usahanja. Persahabatan karib antara kedua orang ini, masing-masing dari la- pisan jang paling berdjauhan, seakan-akan membawa bukti, bahwa perbedaan golongan didalam masjarakat sedikitpun tidak berarti bagi djiwa kita. Pada tahun 1906 Dr. Wahidin mulai menolakkan langkahnja. Mak- sudnja terlebih dahulu, akan mengadakan rapat-rapat pada tempat-tempat penting di Djawa Barat. Harapan- nja tiada lain, hendaknjalah golongan prijaji makin pertjaja akan keharusannja mengadakan suatu gerakan jang meliputi seluruh masjarakat serta bertudjuan mem- pertinggi deradjat bangsa. Menurut rentjananja pendi- rian studiefonds nasional harus dikerdjakan lebih dahulu. Dalam beberapa pertemuan jang rapat antara Dr. Wahidin dan golongan prijaji dipelbagai tempat, untuk pertama kalinja bangsa kita menindjau dan me- njadari kedudukannja didalam masjarakat. Kelak ter- bukti pula, bahwa saat itulah mulai tertanamnja benih

kesadaran, jang kemudian tumbuh bersemi mengem-

bangkan pergerakan nasional.

Gerakan para muda minta pimpinannja. Tiba dirumah dari perdjalanan berat, propagandist kita harus menjaksikan pula, bahwa penjokong tidak- lah tjukup banjak untuk dapat mendirikan studiefonds. Dalam harian Java-Bode", tertanggal 5 Nopember

J.E. Jasper menulis tentang perdjalanan-propaganda,

jang telah dilakukan oleh Dr. Wahidin seraja mene- rangkan, bahwa kebanjakan bupati beriri-hati, karena usaha pendirian perkumpulan jang sangat berguna itu tidak pula datang dari fihak mereka sendiri. Padahal, lepas dari bantuan para bupati, sedikit sadja jang boleh diharapkan dari pegawai-pegawai kabupaten jang ba- rang tentu sangat tergantung dari fihak atasan. Untunglah Mas Ngabehi Sudirohusodo bukan orang jang mudah dipatahkan semangatnja. Tetapi belum lagi dimulaikannja mengadakan gerakan baru, telah tersiar kabar dari beberapa sudut, bahwa usahanja itu akan segera dilandjutkan oleh tenaga-tenaga muda. Dua orang jang kemudian mendjadi tabib, Raden Sutomo dan Mas Gunawan Mangunkusumo, waktu itu masih bersekolah di Djakarta, mengumumkan pendirian ,,Bu- di-Utomo" pada tahun 1908. Semua peladjar sekolah kepandaian menengah (middelbare vakscholen) meng- gabungkan diri dalam perkumpulan tersebut dan kemudian diputuskanlah untuk menjerahkan seluruh pim- pinan pergerakan jang segera akan dilangsungkan di Jogjakarta, kepada Dr. Wahidin. Sementara itu propagandist kita tiada berhenti mendjalankan rentjananja. Setelah selesai mengadakan rapat-rapat persediaan de- ngan pendiri-pendiri di Djakarta, iapun bertolak lagi dari tempat ketempat, sehingga segera djuga persiapan kongres dapat disudahi. Siapa dahulu turut mengun-

djungi kongres jang pertama itu, pasti ta' kan dapat me- lupakan, betapa tjakapnja Dr. Wahidin selaku ketua kongres memikat dan menguasai seluruh rapat dengan pidato pembukaannja. ,,Bangsa Djawa menghadapi hari gemilang", demikian udjarnja. Hal itu dibuktikan dengan mengupas perdjalanan sedjarah. Kata-kata Dr. Wahidin itu menjalakan keberanian serta memperteguh kepertjajaan para tjendekiawan kita, jang hadir serta memperteguh kepertjajaan para tjendekiawan kita, jang hadir pada saat itu. Maka ta' dapat disangkal lagi, dialah sesungguhnja pembawa suara bahagia: hidupnja tjita-tjita kebangsaan. Tatkala kongres bubar, segera dimulaikan orang mengadakan gerakan jang teratur. Demikian maka tumbuhlah pergerakan kebangsaan dengan Dr. Wahidin sebagai Bapanja. Pabila kini rangkaian kedjadian jang lampau itu kita kenangkan kembali, satu demi satu, maka terbajanglah Dr. Wahidin dalam pikiran kita, djiwa besar jang me- misahkan waktu jang silam daripada masa jang akan datang. Dokter dan dukun, kawan dan pe- ngetua jang ulung. Adapun kekuatan besar, jang senantiasa memperteguh semangat Dr. Wahidin dalam segala perdjuangan- nja, jalah tjinta jang dalam terhadap bangsanja. Dan kita jakin tjintanja itu pasti akan meliputi seluruh umat manusia, pabila kebetulan bangsanja bukannja go- longan jang tertindas. Maka sesungguhnjalah tjinta, jang memberi kekuatan kepadanja itu, adalah tjinta ke- pada sesama manusia. Masih perlulah kiranja orang bertanja-tanja, apakah Dr. Wahidin sebagai tabib dapat memenuhi sjarat-sjaratnja?

18 Agustus 22 Desember 1930 Perkara P.N.I. dimuka hakim di Bandung. 4 ter. dakwa: Ir. Soekarno, Maskun, Gatot Mangkupradja, Soeprijadinata, dengan pa. ra pembelanja: Mr. Sartono, Mr. Soejoedi dan Mr. Sastromoeljono. Tuduhan hakim-kolonial : het deelnemen aan een vereeniging, welke als oogmerk heeft het plegen van misdrijven, alsmede wegens het zich opzettelijk uiten in woorden, waarin verstoring der openbare orde en omverwerping van het in Nederlands-Indië gevestigde gezag wordt aangeprezen".

Ponis hakim kolonial: Ir. Soekarno 4 tahun Gatot Mangkupradja 2 tahun Maskun 1 tahun 8 bulan. Soeprijadinata 1 tahun 3 bulan.

Dengan singkat telah kita tuliskan diatas, bahwa ia pernah mendjadi guru-bantu pada sekolah Dokter-Djawa di Djakarta. Kemudian setelah ia berkedudukan di Jogjakarta, seakan-akan seluruh penghargaan dan kepertjajaan penduduk ditumpahkan kepadanja, karena orang menjaksikan sendiri, bahwa Dr. Wahidin meng- anggap pekerdjaan tabib itu sebagai panggilannja. Terutama terkenal sekali ketjakapannja, dan jang lebih penting lagi dikalangan Djawa, sikapnja tiada bertjela. Djika orang-orang kaja memandang dia sebagai seorang tabib, jang dapat menjembuhkan segala penjakit, maka bagi si miskin ialah seorang jang besar kasih sa- jangnja serta ta' pernah menghitung diri. Tidak sedikit djasanja dalam hal memadjukan tjara pengobatan mo- dern dikalangan penduduk jang paling kolot. Kalau dalam mengedjar kesehatan biasanja harus ada pak- saan dari atas, maka dengan sangat mudahnja Dr. Wahidin senantiasa berhasil mejakinkan penduduk untuk melakukan hal-hal, jang berhubungan dengan kesehatan. Sebuah tjontoh daripada daja pengaruhnja kita sak- sikan dibawah ini. Seorang puteri bangsawan kolot, jang mendapat gangguan penjakit kepala pening dan ta' berhasil menolaknja dengan obat-obatan buatan sendiri, memanggil Sudirohusodo, tabib jang tersohor itu. Dr. Wahidin pun datang. Resep ditulisnja dan ia berpesan: Minumlah dari obat itu, tiap hari tiga kali sesendok teh". Setelah Dr. Wahidin pergi, puteri ter- sebut memasukkan kertas berisikan tulisan jang ta' dapat difahamkannja tadi, kedalam mangkuk putih berisikan air. Kemudian air jang pada pendapatnja telah disutjikan itu diminumnja, tiap hari tiga kali sesen-

PKIRS.I

Knc1423

CAAE

Ber satu dalam front anti pendjadjahan.

dok teh. Demikian djuga selalu diperbuat dengan ker- tas berchasiat dari para dukun. Pada hari jang ketiga

Dr. Wahidin datang dan mendjumpai patient"nja da-

lam keadaan sehat-wal'afiat. Seminggu kemudian patient jang sangat berterima kasih itu, mengirimkan tiga ekor ajam besar bewarna hitam kerumah Dr. Wahidin. Itulah semua ajam jang biasanja disadjikan dalam se- lamatan dan selalu mendjadi hak milik sidukun. Lebih-lebih dimusim penjakit berdjangkit, Dr. Wahidin djugalah satu-satunja tenaga jang paling dibu- tuhkan. Sedangkan tabib-tabib bangsa Eropah, ja, bahkan tabib-tabib Djawa lainnja sekalipun sering di- persukar, kalau hendak memasuki kampung jang terse- rang penjakit, maka kundjungan Dr. Wahidin selalu disambut dengan suka-gembira dan tiap orang mela- kukan segala petundjuknja. Terkenal dan sangat digemari orang segala tulisan Dr. Wahidin dalam madjallah ,,Guru-Desa"; demikian djuga halnja dengan pidato-pidato, jang dengan bantu- an dari fihak atas sering diutjapkan pada rapat-rapat jang dikundjungi oleh rakjat. Tempat demi tempat di- kundjunginja, semata-mata hanja untuk mengingatkan penduduk, apa jang harus dilakukan dalam keadaan bahaja penjakit. Dalam hal ini Surabaja'pun ta' keting- galan mendatangkan dia, Tidak sempat beristirahat. Sekali terpikir oleh Dr. Wahidin, — jang dalam usia landjut masih terlampau banjak pekerdjaannja, - akan berangsur-angsur mengundurkan diri dan achirnja hendak menempuh hidup jang lebih tenang dan ten- teram. Maka dipanggillah anaknja jang laki-laki jang

bernama Mas Suleman, seorang dokter-djawa djuga, untuk diserahi segala pekerdjaan ketabiban. Selandjut- nja ia sendiri berhasrat akan terus berhamba kepada keluarga Sri Paku-Alam, karena selain mendjadi tabib- pura, sedjak dahulu ia merangkap mendjadi penasehat umum dan mendjadi sahabat karib dari Pangeran Noto- dirodjo. Dalam pada itu ia masih sanggup datang ke- sana-sini, terutama kalau pertolongannja sangat dibu- tuhkan. Dr. Suleman datang, dan tinggal mendjadi ba- giannja, karena tiap kali datang suruhan dengan per- mintaan, agar ,,dokter jang tua" suka datang. Bukan sadja penduduk asli, bahkan penduduk Tionghoa seka- lipun lebih menjukai dia daripada tabib-tabib lainnja. Dan sekali orang memilih dia sebagai dokter, akan te- taplah ia berobat kepadanja. Ja, bagi kebanjakan orang ia bukan sadja seorang tabib, bahkan terutama seorang teman, jang sangat dipertjajai dan dihormati. Agaknja tiada mengherankan lagi, bahwa ia pernah dipanggil oleh suatu keluarga Tionghoa, karena Tuan dan Njo- njah saling bertengkar dengan hebatnja. Dan waktu Dr. Wahidin kehilangan seorang anaknja perempuan,

jang kemudian dimakamkan di Mlati, maka berdujun-

dujun penduduk Tionghoa mengundjungi tempat jang djauh itu, sekedar untuk memberi penghormatan jang terachir. Seorang diantara mereka menjatakan dengan kata-kata jang keluar dari hati sutjinja, betapa besar arti Dr. Wahidin bagi seluruh masjarakat Tionghoa di Jogjakarta. Meskipun orang-orang pada umumnja mengerti, bahwa dokter jang tua itu perlu beristirahat, namun Wahidin tetap mendjadi tabib sampai pada hari-hari achir-

nja, terutama disana, pabila orang sangat membutuh- kan pertolongannja.

Ahli Kebudajaan dan Seniman. Tinggallah kini pada kita untuk menghormat Dr. Wahidin sebagai seorang ahli kebudajaan Djawa dan sebagai orang jang penuh berbakat seni. Diantara kaum tjendekiawan kita dewasa ini boleh dikata hanja seorang dua sadja jang telah berhasil menjelami djiwa kebudajaan bangsanja seperti pernah diselami oleh Dr. Wahidin. Ahli-ahli bahasa serta ahli-ahli bangsa dari Eropah jang untuk keperluan penjelidikannja da- tang sendiri mengundjungi pusat tanah Djawa akan dapat menjatakan betapa dalam dan luas pengertian Dr. Wahidin tentang Nusa dan Bangsanja. Sebagai seorang Djawa jang mentjapai kemadjuan setjara Barat, akan tetapi dalam segala hal masih tetap seorang Djawa, Dr. Wahidin adalah satu-satunja jang dapat menuntun kaum tjerdik pandai bangsa Barat mendje- lang alam pikiran Djawa jang sukar difahamkan itu. Sebagai seorang ahli musik Dr. Wahidin tjakap me- mainkan semua alat gamelan dan hafal olehnja segala tjiptaan gending lama dan baru. Pada sebuah tempat jang tertentu diruangan pendapanja, selalu tersedia alat-alat gamelan, siap-lengkap untuk seketika dimain- kan. Djuga sebagai dalang ialah jang terbaik diantara penggemar-penggemar dalam kalangan kesenian di Jogjakarta; hanja seorang dalang sadjalah lebih dige- mari dan lebih terkenal dari dia. Oleh karena itu se-

ringlah benar Dr. Wahidin mendapat kesempatan, un-

tuk mempertundjukkan ketjakapannja jang berdjenis-

djenis itu.

Penghormatan dan penghargaan, pa- ra tjendekiawan. Mas Ngabehi Dr. Wahidin Sudirohusodo njata be- nar seorang jang luar biasa dalam masjarakat Djawa. Kebanjakan kaum tjendekiawan kita mengenal dia dari dekat, karena orang selalu bangga dapat berdjabatan tangan dengan dia. Dalam bulan Puasa, pabila orang-orang pergerakan banjak jang singgah di Jogjakarta untuk mengundjungi rapat-rapat, maka dapat dipasti- kan rumah Dr. Wahidin mendjadi pusat pertemuan ra- mah-tamah. Disanalah berulang-ulang telah tertambat tali persaudaraan antara pelbagai kaum nasionalist kita, karena memang selalu diusahakan oleh Dr. Wahidin untuk mempertemukan segala tenaga jang ber- guna bagi gerakan kebangsaan Indonesia. Begitupun peladjar-peladjar sekolah menengah jang telah dapat menginsafi tugas kewadjibannja terhadap Nusa dihari depan, semuanja menganggap suatu kehor- matan dapat berhadapan sendiri dengan Dr. Wahidin, serta dapat mendengarkan wedjangannja jang bidjaksana. Dihari-hari liburan sering kita lihat Dr. Wahidin sebagai seorang bapa dan teman dikerumuni oleh pemuda-pemuda H.B.S., Artsenschool, Landbouw dan Veeartsenscholen, Kweek-dan Opleidingscholen,

d.1.1. Kata-kata diutjapkan oleh Dr. Wahidin senan- tiasa memberi kesan jang dalam kepada pemuda-pemuda tersebut. Sesungguhnjalah, Dr. Wahidin adalah pemimpin jang paling disukai dalam pergerakan kebangsaan di- waktu itu. Kaum nasionalist kita dengan tjoraknja masing-masing memandang kepadanja sebagai kepada seorang saudara tua jang bidjaksana dan jang selalu

dibutuhkan petundjuk-petundjuknja. Bahkan mereka jang melihat keketjewaan ,Budi-Utomo" dan achirnja berdjoang dibawah pandji ,Indische-Partij" atau ,Sari- kat India" jang revolusioner itu, tiada sekali-kali djuga memutuskan hubungan dengan Sudirohusodo, pendo-
rong dan pelopor gerakan kebangsaan......
Semoga segala pikiran jang baik mengantarkan dia dalam perdjalanannja kealam baka. Amin. Pendorong usaha perekonomian. Dr. Wahidin Sudirohusodo bukan sadja seorang ahli kebudajaan, penggemar gending, tari dan wajang, seorang perintis persuratkabaran dan pengadjaran, dia sangat mementingkan pula so'al ekonomi pada umumnja. Sudah disebutkan dimuka tentang penerbitan madjallah .,Guru Desa" oleh Budi-Utomo, jang dipimpin sendiri oleh Bapak Wahidin. Madjallah tsb. bermak- sud mendidik rakjat didesa-desa kearah kesadaran* so- sial pada umumnja, misalnja dalam segala so'al kese- hatan, tetapi tiap-tiap nomor madjallah itu memuat pelbagai nasehat dan pengadjaran tentang perekonomian djuga. Ilmu pertanian, perdagangan, koperasi dll. sebagainja, setjara populer agar mudah dimengerti, selalu terdapat didalam madjallah tsb. Teringat disini pada saja, bahwa sudah lama sebe- lum ada pergerakan, kira-kira tahun 1895, Dr. Wahidin mendirikan paberik-sabun setjara ketjil-ketjilan. Boleh djadi usaha itu semata-mata untuk mendorong rakjat kearah hidup ekonomi setjara baru, untuk mengadjar- kan pada rakjat tjaranja membikin sabun; boleh djadi hanja sebagai ,experiment". Bagaimanapun djuga per- usahaan industri sabun tadi tidak hidup landjut.

H.O.S. TJOKROAMINOTO,
Pengasuh-politik Bung Karno.

Keturunan Dr. Wahidin.

Sudah mendjadi kebiasaan, orang ingin mengetahui

asal-usul keturunan seseorang, jang mempunjai sifat-sifat jang luar biasa. Begitulah banjak orang ingin tahu akan hubungan sifat pribadi Dr. Wahidin Sudirohusodo

dengan darah jang mengalir dalam tubuh djasmaninja.

Siapakah gerangan orang-orang, jang menurunkan dia,

Wahidin, seorang anak-desa di kaki gunung Merapi, jang kini menarik perhatian seluruh rakjat Indonesia itu? Pabila kita melihat tubuh dan wadjahnja, jang berbeda dengan tubuh wadjah seseorang dari lapisan rakjat djelata umumnja, tentulah kita mudah dapat sangkaan bahwa pastilah dr. Wahidin bukan seorang

jang berdarah Djawa-murni. Mungkin dia berketu-

runan Hindu-Djawa, sama dengan kebanjakan orang-orang bangsawan di Djawa, Bali, dan lain-lain daerah kepulauan kita Indonesia, jang pernah mendjadi pusat kolonisasi Hindu-didjaman purba. Sangkaan tentang adanja darah bertjampur dalam baju2 dan djantung sanubari dr. Wahidin, timbul pula berhubung dengan adanja teori dalam ilmu-keturunan, jang antara lain mengadjarkan sering terdapatnja ke- madjuan hidup tumbuh rochani dan djasmani, bila dua djenis bangsa bersua dalam perkawinan, jang menurunkan. Marilah kita menindjau asal-usul Wahidin Sudi-

rohusodo — dan keluarganja agar sangkaan-sang-

kaan tadi dapat kita simpulkan mendjadi ketetapan, untuk memuaskan mereka jang ingin mengetahuinja,

pun untuk melengkapkan documentasi" sedjarah

bangsa kita sedjak 2 Mei.

Turunan Daèng Kraeng Nobo.

Sangkaan, bahwa dr. Wahidin bukan seorang jang berdarah Djawa murni, sungguh benar. Salah seorang

jang menurunkan dia jalah Daèng Kraeng Nobo, seorang bangsawan Mangkasar, golongan pradjurit,

jang dalam djaman Mataram ke-II (Mataram-Islam)

dengan pasukannja mendarat di Djawa, karena huru-

hara dalam negeri di Sulawesi Selatan memaksa dia menghindarkan diri ke Djawa, untuk mentjari ban-

tuan ketentaraan. Di Mataram Daèng Kraeng Nobo dapat menghadap Sri Sultan sendiri, jaitu Sunan Mangkurat Tegal-arum, jang ingin menggunakan te- naga sang Hulubalang Bugis itu, karena Mataram kala itu sangat terdesak oleh pasukan-pasukan pem- berontakan sang Trunodjojo. Demikianlah keadaan memaksa Daèng KraengNobo ikut bertempur, sebagai pemimpin Pasukan Bugis di Mataram. Bersangkutan dengan masuknja Kraeng Nobo dalam tentara Mataram itu ditjeriterakan pula, bahwa saudara-mudanja, djuga seorang pemimpin pradjurit Bugis, bernama Daeng Aru Palaka, dan jang lebih dahulu datang ke Djawa dengan maksud jang sama, setibanja di Mataram, tidak langsung menghadap Sri Sultan, melainkan terus menjerahkan diri kepada Trunodjojo dengan sangkaan, bahwa inilah Sultan Mataram. Karena djasa-djasanja, maka kemudian Aru Palaka mendjadi anak menantu sang Trunodjojo. Adapun Sultan Mangkurat memberi titah kepada Kraeng Nobo, untuk menarik saudara mudanja, Aru Palaka, kedalam tentara Mataram. Karena usaha itu berhasil, maka Kraeng Nobo kemudian mendapat ha- diah sebidang tanah jang luas dikaki Gunung Merapi,

serta dapat bernikah dengan seorang puteri bangsa- wan. Ksatrya Bugis dan puteri Mataram inilah jang kelak menurunkan dr. Wahidin Sudirohusodo. (Tentang Daeng Aru Palaka ditjeriterakan, bahwa kemu- dian dia dapat dipegang kembali oleh Trunodjojo dan dihukum mati menurut adat-perang). Hubungan dengan Famili Kahle. Keterangan tentang asal-usul Dr. Wahidin seperti tertera diatas tadi, ialah jang kami dapat dari Dr. Radjiman Wedyodiningrat seorang saudara sepupu Wahidin Sudirohusodo, jang kini masih ada ditengah- tengah kita, hidup sebagai orang-tani di Walikukun anggauta Dewan Pertimbangan Agung". Untuk me- lengkapkan dokumentasi, perlu bagi mereka jang hen- dak meneruskan penjelidikan tentang Bapak pergera- kan nasional itu, maka dibawah ini kami sadjikan se- kedar penerangan hal asal-usul Dr. Wahidin, seperti jang kami dapat dalam madjallah ,Tanah Air", No. 3, tahun I bulan Maret 1948, ditulis oleh ,Pembantu Istimewa (sdr. Sudarjo Tjokrosisworo?) dan rupa- rupanja sebagai hasil ,interview' 'dengan Dr. Suleman Mangunhusodo, putera sulung Bapak Wahidin, jang kini masih mendjabat tabib dalam Haminte Surakarta. Menurut interview tersebut, ajah Wahidin adalah seorang ,ronggo" didaerah Bagelen, Banjumas. Seta- matnja dari Sekolah Djawa di Jogja, Wahidin dipu- ngut oleh tuan Frits Kahle, administrateur-eigenaar onderneming gula di Wonolopo, timur Tasikmadu. daerah Sragen, Surakarta. Frits Kahle tadi adalah ipar ajah Wahidin, karena saudara perempuan Pak Ronggo (djadi bibi Wahidin) menjisihi hidup Frits

Kahle sebagai isteri nikah. Wahidin dipungut Frits Kahle itu untuk menemani Hobert, anak Frits Kahle

jang sangat bengal dan dungu, Wahidin disekolahkan

di ,Eropese Lagere School" di Lodji-Wetan, Solo, dan terbuktilah disana, bahwa ia adalah seorang mu- rid jang sangat pintar. Ketika berusia 16 tahun Wahidin sudah tamat sekolah, lalu dimasukkan ,Sekolah Dokter Djawa" di Djakarta. Karena Wahidin pandai bahasa Belanda, maka dapatlah ia menambah pengeta- huan jang didapatnja dari para dokter-dokter. guru, dengan mempergunakan bahan-bahan ilmu kedokteran dari buku-buku bahasa Belanda. Djaman itu Sekolah Dokter Djawa masih bertingkat rendah dan hanja mempunjai 3 kelas tahunan, sedangkan bahasa pe- ngantar ialah bahasa Melaju". Wahidin hanja bela- djar 22 bulan, lalu dipandang tjukup pandai untuk men- dapat idjazah ,Dokter Djawa". Kemudian Dr. Wahidin pernah mendjabat ,,Assistentleeraar" pada ,almater"- nja Sekolah Dokter itu. Dalam madjallah ,,Tanah Air" tadi dapat kami batja pula, bahwa Dr. Wahidin Sudirohusodo dilahirkan pada tahun 1850 dan meninggal pada tahun 1916. Selandjutnja menurut interview jang tersebut diatas tadi, Wahidin Sudirohusodo beristerikan seorang wa- nita Indo, asal Bengkulu dan bernama Feuilletau de Bruyne. Sekianlah tambahan, jang kami kutip dari madjallah Tanah-Air".

Keluarga Dr. Wahidin. Mungkin berdasarkan kejakinan eugenetik", ilmu kebaikan turunan jang antara lain mengadjarkan guna

faedahnja pertjampuran darah untuk menjehatkan tu-

runan, maka banjak didalam keluarga Wahidin Sudi-

rohusodo itu terdapat perkawinan dengan anggauta-

anggauta suku bangsa lain. Setidak-tidaknja adat per- nikahan dengan saudara-saudara ,,misan" atau ,,mindo" dan sebagainja tidak terdapat. Dr. Wahidin sendiri bernikah dengan seorang puteri ,,Betawi". Seorang puteranja, Abdullah Senior, jang terkenal sebagai pelukis jang ulung, bernikah dengan seorang puteri Sun- da. Basuki Abdullah Junior, tjutju Wahidin, beristeri- kan seorang puteri Belanda. Dr. Wahidin adalah putera seorang tani jang ter- hormat didesa Mlati dan tjutju Lurah desa tersebut. Salah seorang saudara Bapak Lurah tadi adalah nenek Dr. Radjiman Wedyodiningrat. Disinilah kita lihat, seorang pemimpin jang dalam tahun 1908 ikut menge- mudikan ,,Budi-Utomo", kemudian terkenal sebagai tabib jang ulung dan tabib-keraton jang berdjasa (hing- ga dapat kerunia sebutan ,Kangdjeng Raden Tumeng- gung" dari Sri Sunan Paku-Buwono ke-X), djuga terkenal sebagai seorang tjerdik-pandai jang bersemangat filsafat, kini anggauta Dewan Pertimbangan Agung",

adalah saudara ,,misan" Wahidin Sudirohusodo, jang

sama berketurunan Daeng Kraeng Nobo djuga. Dr. Wahidin berputera dua orang; jang tertua ialah Dokter Suleiman Mangunhusodo, jang sedjak lama berdjabat ,,hofarts" di Solo, dan jang kedua ialah mar- hum Abdullah Sr., seorang pelukis jang terkenal, teristimewa sebagai ,aquarellist". Banjak orang sudah kenal Basuki Abdullah, seorang pelukis jang ulung pula, teristimewa terkenal sebagai portretschilder". Pelukis muda ini adalah putera Abdullah Sr. Jang sangat menarik perhatian pula ialah seo-

rang puteri Abdullah Senior pula, jaitu Nji Tridjoto, isteri Ki Tjokrosuhardjo, dulu berkedudukan di Ban- dung, kini ada di Jogjakarta. Nji Tridjoto Tjokrosu- harto itu sedjak lama terkenal sebagai puteri pemahat- artja jang pertama. Bapak sudah tjiptaan2 Tri Tjo- krosuharto jang menarik perhatian para seniman; mi- salnja artja2 jang menggambarkan Drs. Sosrokartono, jang mewudjudkan seorang puteranja sendiri, borst- beeld Sri Sultan Hamengkubuwono ke VIII, dan lain- lainnja. Sebagai diketahui maka monument ,Banteng Kurdo" di Madiun, jang memperlambangkan perdjo- angan kemerdekaan kita, ádalah tjiptaan serta buah tangan Nji Tridjoto.

e

Mgh ShR. t o

Gatdt MdidSoenro Gcdnmo

M.HdiDaean AblahAi.c se, oeMr. otoSolto
. dmman

Itr'okn noDrot omoM in lw ri Mraroono

Mfrcnd doo

PAK WOERJANINGRAT. Kemerdekaan mungkin dojong,
djika tak diisi .....

ARI ini-tanggal 20 Mei—adalah hari jang mengan-

HAdung sedjarah bagi pergerakan kebangsaan Indo-

nesia. Karena setelah mengalami pendjadjahan sadar- lah bangsa kita, bahwa djika kita tidak menghimpun kekuatan nasional akan sukarlah bagi bangsa Indonesia dikemudian hari. Kesadaran itu didjelmakan dan pada 20 Mei 1908 lahirlah perhimpunan kita jang pertama- tama jalah Budi Utomo, dipelopori oleh alm. Dr. Wahidin Soedirohoesodo dan digerakkan oleh maha- siswa2 kedokteran dan peladjar-peladjar lainnja. Memang mula-mula Budi Utomo berdasarkan kebudajaan dan bergerak dalam lapang pengadjaran, karena bangsa kita telah mempunjai kebudajaan jang tidak rendah, sedang kebudajaan adalah ukuran dera-

djad bangsa, sehingga ta' boleh diabaikan. Adapun hal

pengadjaran perlu untuk dapat berlomba-lomba dengan bangsa lain. Maka didirikanlah studie -fonds Darmo Woro. Walaupun demikian sedjak semula aliran berpolitiek dalam Budi Utomo telah dan senantiasa ada. Karena pada waktu itu dipandang belum saatnja serta belum tjukup bahan-bahannja, pun kaum pendjadjah. tentu akan mempersukarnja, maka hal politiek disabarkan dahulu. Pada permulaan Budi Utomo boleh dikatakan perkumpulan prijaji-prijaji dan peladjar-peladjar serta baru terbatas pada tanah Djawa dan Madura. Akan tetapi makin lama makin meluaskan anggauta-anggautanja. Terdorong oleh keinginan penduduk Bali dan Lombok untuk turut serta dalam Budi Utomo dan dianggap sa- ma kebudajaannja, daerah Budi Utomo diluaskan sam- pai pada pulau-pulau itu. Setelah Budi Utomo berdiri lahirlah bermatjam-ma- tjam perkumpulan termasuk perkumpulan kesenian. Pada tahun 1913 meskipun belum bertjorak politiek, Budi Utomo telah mengadakan National Congres di Semarang dengan perkumpulan-perkumpulan dan golongan-golongan terkemuka, untuk menentukan· bagai- manakah sikap kita djika negeri Belanda dan negeri kita tersèrèt dalam kantjah peperangan, jang sungguh meletus pada tahun 1914. Kesimpulannja karena bangsa kita belum mempunjai kekuatan, maka kita tinggal diam sadja. Pada waktu itu timbul pembitjaraan tentang milisi untuk bangsa kita. Dalam Congresnja tahun 1915 Budi Utomo mem- buat resolusi menjetudjui milisi dengan parlemen. Se-

bab suatu negara ta' akan kuat djika tidak dibela oleh bangsanja sendiri, dan keadaan negara tidak akan se- djahtera kalau tidak diatur parlemennja sendiri. Kemudian Budi Utomo turut mengirimkan utusan dalam Panitya Indië Weerbaar kenegeri Belanda untuk menjampaikan resolusi tentang milisi jang harus diadakan dengan putusan parlemen Indonesia. Tetapi belum ada. hasil jang memuaskan, selain akan diadakan Volksraad. Maksud Belanda mendirikan Volksraad itu ta' lain hanja hendak mengumpulkan suara-suara. Djadi bangsa kita belum mempunjai kekuasaan. Walau maksud milisi tidak tertjapai, namun sema- ngat keperadjuritan sudah berkobar-kobar, sehingga melahirkan gerakan kepanduan dimana-mana. Budi Ultomopun mempunjai kepanduan. Gerakan kepanduan ini disusul oleh adanja berma- tjam-matjam perkumpulan keolah-ragaan. Dengan adanja Volksraad, Budi Utomo lalu masuk politiek, sebab hanja dengan djalan demikianlah Budi Utomo dapat turut memperhatikan kepentingan baugsa dalam segala lapangan serta dapat mentjatat bagaima- nakah sebenarnja politiek pendjadjahan itu. Adapun partai programnja jalah:

  1. pemerintahan demokratis dalam bentuk nasional;
  2. pemilihan umum;
  3. kerdja-sama dengan partai-partai lainnja. Sampai pada waktu itu sebenarnja Budi Utomo suka menerima self-government, akan tetapi karena tindakan-tindakan Pemerintah masih djauh dari selfgovern- ment itu, maka dalam Budi Utomo timbul aliran non- coöperatie (tidak suka kerdja-sama dengan Pemerintah).

Sid 2.

Meskipun Budi Utomo berpolitiek, akan tetapi tidak lupa kebudajaan, malahan memadjukan djalan keba- tinan (moreel) sebab moreel jalah sjarat jang terpenting untuk persatuan. Setelah mengetahui banjak dan bermatjam-matjam perkumpulan jang dapat memetjahkan persatuan, se- dang Budi Utomo insaf, bahwa kekuatan kita jang djitu adalah persatuan, maka Budi Utomo senantiasa berusaha menjatukan perkumpulan-perkumpulan (fe~ derasi). Mula-mula mengadakan Nasional Komite jang terdiri dari:

  1. Serekat Islam;
  2. Budi Utomo;
  3. Perkumpulan Bangsawan Solo dan Jogya;
  4. Perkumpulan Bestuursambtenaren. Akan tetapi tidak tahan lama, Kemudian setelah Volksraad berdiri Budi Utomc tu- rut dalan Radicale Concentratie jang terdiri dari:
  5. I.S.D.P.
  6. Serekat Islam;
  7. Insulinde;
  8. Budi Utomo. Dalam tahun 1927 mendjadi anggauta P.P.P.K.I. (Persatuan Partai Politiek Kebangsaan Indonesia) jang terdiri dari:
  9. P.S.I.I.
  10. Indonesische Studieclub;
  11. P.N.I.
  12. Serekat Sumatera;
    0

  13. Pasundan;

  14. Budi Utomo. Dalam tahun 1928 Budi Utomo meluaskan tudjuan-

nja, jalah mempersatukan bangsa Indonesia, maka daerahnja bertambah luas meliputi seluruh Indonesia. Dari semula ketika masih berdasarkan kebudajaan sampai pada waktu berpolitiek Budi Utomo tidak lupa memperhatikan keadaan dan kedudukan desa, karena mengetahui bahwa desa adalah sendi masjarakat kita. Ini terbukti dengan dibuatnja pedoman untuk Guru Desa. 19358-10juni] Pada tahun 1929 Budi Utomo mengadakan Nationaal Onderwijs Congres jang kemudian mendjadi P.P.I. (Permusjawaratan Pengadjaran Indonesia) jang beru- saha menjatukan perkumpulan-perkumpulan jang mem- punjai sekolahan. Oleh karena adanja federasi perkumpulan-perkumpulan tadi belum memuaskan dan banjak perkumpulan jang azas-tudjuannja sama masing-masing berdiri sendiri-sendiri, maka timbullah suatu idee untuk melebur perkumpulan-perkumpulan itu mendjadi satu perkumpulan (fusi).1935(25Aereben) Dalam tahun 1 terdjadilah fusi antara perkumpulan-perkumpulan:

  1. P.B.I. (Persatuan Bangsa Indonesia);
  2. Budi Utomo;
  3. Tirtajasa;
  4. Serekat Sumatera;
  5. Partai Serekat Selebes dengan nama PARTAI INDONESIA RAYA. Budi Utomo, P.B.I. dll. sama ichlas meleburkan diri, tidak ada ketjurigaan, jang dilihat hanja zakelijk, maka ber- djalan dengan lantjarnja. Anggauta-anggauta pengurus jang ta' dipilih, tidak merasa suatu apa, sedang jang dipilih sama terus bekerdja dengan giatnja.

Dengan lahirnja PARINDRA ini dinjatakan dengan terang-terangan azas-tudjuannja jalah:

  1. Satu bangsa-BANGSA INDONESIA.
  2. Satu tanah air-TANAH AIR INDONESIA.
    INDONESIA MERDEKA.

  3. Pun menetapkan bendera Merah Putih mendjadi bendera kebangsaan, lagu INDONESIA RAYA tjiptaan Saudara W. R. Supratman — sebagai lagu kebangsaan dan memakai bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. PARINDRA mempunjai suatu barisan jalah Surya Wirawan dan hampir seluruh Indonesia ada tjabang dari PARINDRA. Untuk memadjukan desa disempurnakannja bagian- nja Rukun Tani jang sangat berfaedah bagi Rakjat desa umumnja dan jang mempunjai anggauta beribu- ribu djumlahnja. Pun PARINDRA melindungi vak- verenigingen, sedang hal politiek — oleh karena ber- hubungan dengan umum didjalankan oleh PARINDRA. Djadi teranglah sudah bagi kita semua, bahwa Budi Utomo menanam bahan-bahan untuk tjita-tjita Indonesia merdeka, dan tjita-tjita Indonesia merdeka ini ber- wudjud dalam PARINDRA. Pada tahun 1941 Djepang datang, memerintahkan semua perkumpulan — termasuk PARINDRA — di- bubarkan. Meskipun demikiàn djiwa keberanian untuk merdeka telah berkobar, menjala-njala didalam dada bangsa Indonesia. Menurut riwajat jang saja uraikan dimuka terang dan ta' dapat dimungkiri lagi, bahwa kemerdekaan jang kita tjapai sekarang ini adalah hasil pergerakan ke-

bangsaan, dimulai sedjak didirikannja perkumpulan kita jang pertama Budi Utomo. Berdirinja Negara kita sekarang telah sesuai dengan tjita-tjita kebanjakan pergerakan kebangsaan, ja'ni merdeka, negara kesatuan. Hanja tinggal bagaimana mengisinja agar dapat sentausa, makmur, aman dan tenteram. Sebab djika ini tidak tertjapai, kemerdekaan mungkin dojong. Apa jang saja sebutkan diatas — hemat saja — ter- gantung pada kesatuan perdjoangan kita sendiri. Telah terbukti dalam riwajat-riwajat banjak negara jang mula-mula kuat mendjadi surut atau djatuh. Sebaliknja negara jang tadinja lemah mendjadi kuat. Riwajat ini patut kita peladjari supaja kita tidak djatuh dalam keadaan jang kurang sejogya. Menurut pemandangan saja, keadaan jang kurang sejogya itu ta' hanja kurang memperhatikan kelahiran sadja melainkan djuga kurang, memfikirkan kebatinan. Djika pemandangan saja ini benar, tepatlah sudah se- perti kehendak Pemerintah, kita dewasa ini mengedjar pembangunan. Dalam pada itu kita djangan sampai melalaikan dasar-dasar kebatinan kebudajaan kita. Sesungguhnja menurut sedjarah serta bukti-bukti-

pun ada, ta' hanja kita sendiri, bangsa lain djuga ada

jang mengatakan bahwa kebatinan bangsa Indonesia

adalah baik dan sesuai dengan kebudajaan kita sendiri. Artinja sudah tepat dan selaras dengan keadaan alam,

sehingga dapat dikatakan Kehendak Tuhan atau telah

mendjadi hukum alam. Sudah barang tentu saja ta' dapat tidak senang dan

gembira, bahwa PARINDRA-partai politiek ke-

bangsaan-jang pernah saja pangku bangun kembali.

Menurut zaman ini partai kebangsaan perlu ada. Djika tidak bangsa kita akan mumed diombang-ambingkan, tersèrèt kian kemari oleh gelombang aliran. Selain dari itu PARINDRA adalah pendjelmaan atau pertumbuhan dari Budi Utomo. Djadi walaupun berpolitiek tentu tidak akan mengabaikan kebatinan dalam kebudajaan kita. Ini adalah kekuatan jang djitu. Pun PARINDRA

  • ja'ni Partai Indonesia Raya — perkataan RAYA ini politis amat luas. Suatu partai kebangsaan ta' dapat diperbudak, ma- lahan dapat fanatiek dan mendjadi — isme. Inilah jang perlu kita ingati, sebab sering-sering mendjadi adigang- adigung, kurang humaniteit dan dynamis. Bagi saja sendiri tidak chawatir djika bangsa kita mendjadi fanatiek, karena kebudajaan kita adalah ke-Tuhanan. Ke-Tuhanan dalam kebudajaan kita sudah terang, semua manusia ada benih satu. Hanja karena perbedaan keadaan tanah air maka manusia berbeda- beda. Pun semua jang tersebut dalam Pantjasila sudal termasuk Ke-Tuhanan dalam kebudajaan kita. Didesa- desa jang mendjadi sendi bangsa semangat gotong ro- jong, rukun, damai, prasadja (suka berterus terang), gastvrijheid, masih hidup berkobar. Maka bangsa kita disebut bangsa jang tidak rendah dan dapat menjesuai- kan diri. Disini bukan tempatnja menguraikannja lebih landjut. Adapun andjuran saja kepada PARINDRA jang baru bangun ini, oleh karena keadaan sudah berlainan, ja'ni kita telah merdeka, pendjadjahan sudah lenjap, sehingga kita berhadapan dengan kita sendiri dan ta toleh tidak berhubungan dengan internasional, maka hendaknja tudjuan, sikap, dan sepak-terdjang PARIN.

DRA diobah, disesuaikan. Harapan saja supaja PARINDRA mendjalankan politiek jang waardig. Djauhkanlah segala sesuatu jang dapat mengakibatkan dojongnja kemerdekaan. Ingat- lah pada pemimpin-pemimpin jang telah mendahului kita, ja'ni almarhum Dr. Soetomo dan Thamrin. Pada waktu itu walaupun PARINDRA mendjalan~ kan politiek, akan tetapi tidak lupa realiteit. Sentiment- pun dipakai djuga, karena ini adalah kekuatan jang besar, akan tetapi harus dipimpin oleh redelijkheid dan bidjaksana. Seperti telah saja sebutkan tudjuan PARINDRA Indonesia merdeka, tetapi bukanlah tjita-tjita jang terachir. Tjita-tjita terachir dari PARINDRA ialah ,hidup mulja bangsa Indonesia". Meskipun PARINDRA dapat berdiri lagi, tetapi dja- ngan lupa mengambil initiatief untuk sedapat mungkin berfusi dengan partai-partai jang azas-tudjuannja sama. Sebab banjaknja kepartaian dapat membingungkan Rakjat dan menimbulkan perpetjahan. Maafkanlah .beribu maaf, sekarang saja ta' dapat memangku PARINDRA lagi berhubung dengan keadaan badan dan usia saja. Dalam keadaan seperti saja ini, tepatnja hanja sedapat-dapat ,,heneng". Tetapi saja siap sedia akan membantunja. Sebagai penutup uraian saja ini, mengingat negara kita merdeka masih muda, mengingat keadaan dunia masih sama ruwet, mengingat pula bahwa PARINDRA bangun kembali, maka pudji-do'a saja simpulkan dalam sembojan perkumpulan kita jang pertama, ja'ni Budi Utomo, jang saja pandang tepat, berbunji : Santosa waspada anggajuh utomo.

Wage Rudolf Supratman, pentjipta

Lagu Kebangsaan INDONESIA RAJA.

BERPUSAT DI

TAMAN SISWA

Kalau tidak ada perdjoangan Rakjat jang 40 tahun itu, kita tí- dak akan dapat menijapai aiau memproklamirkan kemerdekaan kita pada tgl. 17 Augustus 1945 itu ;" (Drs. Moh. HATTA).

MUSEUM DEWANTA