Baca EPUB: sebuah-nama-kuda

2 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. Table of Contents
  2. Table of Contents
ANTON TJEKHOV
Sebuah Nama Kuda
Kacabenggala Editions

Publisher Note

Cerpen terjemahan Pramoedya Ananta Toer ini terbit di majalah Terang Bulan edisi 7 th. ke XII tahun 1958. Disertai ilustrasi Ekana Siswojo.

Digitizer Note

This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.

All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.

The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.



Buldejev, SEORANG DJENDRAL, major pensiunan, sedang menderita sakit gigi hebat. Sudah dikumurinja mulutnja dengan konjak, sudah dikerahkannja aburokok, madat, terpentin, minjaktanah kelubang giginja jang sakit, sudah dipulasnja pipinja dengan jodium, disumbatkannja sedjumput kapas jang telah ditjelup didalam alkohol kedalam lubang-lubang kupingnja, tetapi semua itu sia-sia belaka. Dan sebahagian daripada usaha-usaha itu djustru malah membuat kepalanja djadi pening. Maka datanglah sang dokter. Ia korek lubang gigi itu, menjuruh Djenderal itu mempergunakan kina, tetapi itupun mempan tiada. Djenderal itu tak mau mendengarkan usul tentang pentjabutan. Seluruh isi rumah, isteri, anak-anak, parabudjang dan bahkan djuga sipesuruh dapur. Petka itu, menjarankan satu atau lain obat. Bersama dengan jang lain2 datang pula menghadap kepala budjang, jang bernama Iwan Jovseitj dan membuktikan nasihatnja: tjobalah panggil seorang dukun!

„Sepuluh tahun jang lalu, Paduka Tuan,” katanja, „adalah seorang pegawai bea-tjukai didistrik kami. Ia bernama Jakov Wasiljitj. Ia seorang dukungigi jang tergolong dalam kelas utama. Tjaranja begini, ia hanja berpaling kearah djendela, berkomatkamit dan meludah sedikit, dan dalam waktu sekelibat kilat lenjaplah sakit gigi itu! Sungguh luar biasa tenaganja, Paduka Tuan…”

„Dan, dimana dia sekarang?”

„Setelah dia dipetjat dari kantor bea-tjukai kemudian dia hidup dengan ibu-mertuanja di Saratov. Penghidupannja hanja dari menjembuhkan gigi. Kalau ada orang sakitgigi, didjemputlah ia, dan iapun memberikan pertolongannja…Di Saratov ia menerima mereka dirumahnja, dan disembuhkannja orang-orang dari kota-kota lain dengan melalui tilgram. Ketoklah kawat kepadanja, Paduka, katakan sadja begini dan begitu soalnja…hamba Allah jang bernama Alexei sedang dimurkaiNja dengan sakit gigi jang tak tertanggungkan, sudi apalah kiranja tuan jang mulia menjembuhkannja itu.”

„Omongkosong! Penipuan!”

„Tapi, tjoba-tjoba sadjalah, Paduka Tuan. Memang dai suka pada wodka, dan memang dia tidak tinggal brsama isterinja, tetapi bersama seorang perempuan Djerman; dia menjumpah-njumpah djuga, namun orang bisa mengatakan dia adalah seorang jang mempunjai tenaga gaib!”

„Ketoklah kawat, Aliosja!” pinta isteri djenderal itu kepada suaminja. „Boleh sadja kau tak pertjaja pada dukungigi itu, tetapi aku lebih suka kalau kau mau mentjoba-tjobanja. Meskipun kau tak pertjaja, tjoba-tjobalah mengetok kawat. Tidak, kau takkan mati karena usaha itu.”

„Baiklah, baiklah,” Budejov achirnja menjetudjui. „Segera akan kuketok kawat, bukan sadja pada dukun itu sadja, malah djuga pada sang Setan itu sendiri…Ah! Sungguh aku tak sanggup menanggungkannja.

Jah, dimana tinggal dukunmu itu? Bagaimana mesti kutulis suratku keapdanja?”

Sambil duduk pada medjanja, maka djenderal itu mengambil penanja.

„Saratov, Paduka Tuan, tiap andjing pun kenal padanja,” kata kepala budjang itu. „Sudilah Paduka Tuan menulis begini, kekota Saratov, jaitu…kepada tuan jang mulia Jakov Wasiljiti…Wasiljitj…”

„Ja?”

„Wasiljitj…Jakov Wasiljitj…siapa pula nama keluarga?…tjelaka, benar2 aku terlupa pada nama keluarganja!…Wasiljitj…Setan belang…Jah, siapa pula nama keluarganja itu? Ah-ah, nama itu sudah ada disini, Paduka Tuan, ingat tapi terlupa, lupa tapi teringat…Tunggu dulu, Paduka Tuan…”

Iwan Jevseitj mengangkat matanja kearah langit2 dan mulailah ia menggerak-gerakkan bibir Buldejev dan isteri menunggu dengan sabarnja.

„Ja? Ajoh, pikir lebih tjepat!”

„Sebentar, Paduka Tuan…Wasiljitj…Jakov Wasiljitj…

Sungguh aku tak ingat namanja. Dan sederhana pula nama itu …sematjam nama kuda …Kobilin …Kobiliatnikov …Kebelev…”

„Itu lebih menjerupai nama andjing dari pada nama kuda, Zjerebtjilov?”

„Bukan, bukan Zjerebtjikov, Paduka Tuan…Loshadinin…

Losjakov…Sjerebkin…Djuga tidak, bukan begitu namanja!”

„Djadi bagaimana mesti kutulis alamatnja ini? Ajoh, ingat-ingatlah jang benar!”

„Sebentar Losjadikin, Kebilkin…Korennoi…”

„Korennikov?” isteri djenderal itu menjarani.

„Djuga tidak mendekati. Pristiazjkin…Tidak, djuga tidak! Sungguh aku tak teringat lagi!”

„Djadi, bagaimana pula kau muntjul kemari dengan nasihat sematjam itu kalau engkau tak ingat namanja?” djenderal itu menderu-deru. „Ajoh! Pergi!”

Dengan lambat-lambat Iwan Jovseitj keluar, sedang djenderal itu sendiri, sambil menekankan kedua belah tangan pada pipi, mulai berdjalan mondar-mandir dikamar.

„Ja ampun, ampun!” rintihnja. „Ah, bu! ah-ah, habislah riwajatku ini, bu!”

Diluar, dikebunbuah, kepala budjang itu mengangkat pandang kearah langit dan mulai mengerahkan ingatannja mentjari nama-keluarga sang dukungigi itu.

„Zjorebtjikov…Sjorebtjikovski…Sjorebenko…Tidak, tidak tetapi Losjadinski…Losjadewitj…Zjorebkowitj…

Kobilinski…”

Tak lama kemudian iapun sudah dipanggil lagi oleh madjikannja suami-isteri.

„Sudah ingat?” tanja djenderal itu. „Sedikitpun belum, Paduka Tuan.”

„Atau barangkali Koniavaki? Loshadnicov? Ja atau tidak?”

Dan seluruh isirumahpun mulailah mereka-reka berbagai matjam nama. Mereka mentjoba-tjobakan nama-nama kuda dari segala matjam bentuk, umur, djenis dan keturunan; nama-nama suri, tapakkuda, abah-abah…Didalam rumah, dikebunbuah, dikamar-kamar budjang dan didapur, orang mondar-mandir turun-naik, dari podjok kepodjok menggaruk djidat, mengingat nama-nama…

Maka sekali lagi kepala budjang dipanggil kegedung.

„Tubanov?” madjikan bertanja. „Kopitin? Sjereboski?”

„Tidak, tidak, Paduka Tuan,” djawab Iwan Jevseitj, dan sambil memandang keatas pada langit-langit iapun meneruskan berpikir keras-keras: „Konenko…Kontjenko…

Sjerebiev…Kobilejev…”

„Papa,” terdengar suara dari kamar kanak-kanak: „Troikin: Uzdetjkin;

Semuanja mendjadi katjaubalau sekarang. Karena telah kehabisan kesabaran dan djuga karena penanggungannja itu, djendralpun mendjandjikan hadiah lima rubel kepada barangsiapa dapat mengingatkan kepala budjang itu pada nama-keluarga dukungigi itu jang sebenarnja. Dan orang-orang pun mulailah berbondong-bondong berdjalan mengiringkan Iwan Jevseitj…

„Gendov!” mereka menjarani. „Risistii! Leshaditaki!”

Malampun tibalah, tetapi nama-keluarga itu sungguh tak dapat ditemukan. Dan orang-orang naik kerandjang masing-masing, sedang kawatpun tidak diketok.

Sepandjang malam itu djendral tak dapat tidur. Ia berdjalan mondar-mandir didalam kamarnja, merintih-rintih.

…Sekira djam tiga pagihari ia keluar dari gedung dan mengetuk djendela kamar kepala budjang.

„Merikov barangkali?” tanjanja dengan suara seperti mengaduh.

„Tidak, bukan Merikov, Paduka Tuan,” djawab Iwan Jevseitj dengan keluhan minta maaf.

„Barangkali malah bukan nama kuda, tapi nama jang samasekali berlainan!”

„Demi Allah, Paduka Tuan, nama kuda…Itu aku masih ingat benar.”

„Kau sungguh-sungguh tak punja ingatan, saudara…Nama ini bagiku sekarang ini barangkali lebih berarti daripada apapun djuga diatas dunia ini. Aku tak sanggup menanggungkannja lebih lama lagi!”

Pada keesokanharinnja djenderal itu menjuruh mendjemput dokter lagi.

„Biar dia tjabut sekarang!” djendral itu memutuskan.

Dokter itupun datang, dan mentjabut gigi tjelaka itu.

— …Pristiazjkin…Tidak, djuga tidak! Sungguh aku tak teringat lagi! —

Karena telah terlepas dari tjengkaman sang sakit, sekarang segera ia mendjadi tenang kembali. Setelah melakukan pekerdjaannja dan menerima upahnja buat pekerdjaan jang habis diselesaikannja, dokter itu naiklah keatas kendaraannja dan berangkat pulang. Diluar pintugerbang, diladang, ditemuinja Iwan Jevseitj. Ia sedang berdiri dipinggir djalan dengan pandang terpusatkan pada tanah. Kepala budjang itu sedang tenggelam dalam pemikirannja. Menilik dari kerut-merut pada djidatnja dan dari pantjaran matanja, nampak ia sedang memikir dengan amat kerasnja.

„Bulanov…Tjeressedelaikov…” bisiknja.

„Zasuponin…Loshadski…”

„Iwan Jevseitj!” panggil dokter itu kepadanja. „Barangkali kau bisa mendjual padaku sekedar gandum daripadamu? Petani-petaniku telah menawarkan djuga tetapi gandumnja tidak begitu baik…”

Iwan Jevseitj melemparkan pandang muram pada dokter itu. Suatu senjum jang tergelimang djauh sedang menghiasi bibirnja. Dan tanpa mengatakan sesuatupun ia bertepuk tangan dan lari kegedung madjikannja sekentjang-kentjangnja seakan sedang diuber-uber andjing gila.

„Sudah kudapat, Paduka Tuan!” teriaknja dengan girangnja dan dengan suara jang seakan bukan suaranja sendiri sambil menjerbu kedalam kamar kerdja Djendral itu. „Sudah kudapat, berbahagialah hendaknja tuan dokter itu! Ovsov! Ovsov nama dukungigi itu! Ovsov, Paduka Tuan! Ketoklah kawat kepada Ovsov!”

„Ini, ambil ini!” kata djendral itu dengan penuh penghinaan sambil mengamangkan dua buah ara tepat pada wadjah kepala budjang itu. „Aku tak butuhkan nama-kudamu lagi! Ambil ini!”



Keterangan:

Kobilin dan Kobelev berasal dari kata Rusia kobila jang berarti kuda betina.

Zjerebtjilov berasal dari kata Rusia zjerebionok jang berarti anak kuda djantan.

Troika = sebuah pasangan 3 ekor penghela kereta.

Uzdetjka = kendali.

Ovsov = berasal dari kata Rusia ovjos = gandum.