Baca EPUB: Saya Ingat.......

3 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. Table of Contents
  2. Table of Contents
AKKY DJOEHANA
Saya Ingat.......
Kacabenggala Editions

Publisher Note

Lahir di Tanjung Balai, Sumatra Utara pada tahun 1925, Akky Djoehana menempuh pendidikan dasarnya di Belanda dari tahun 1930 hingga 1933. Dia kemudian kembali ke Indonesia dan masuk sekolah Hoogere Burgerschool (sekolah menengah atas) di Semarang.

Pada tahun 1948, Akky Djoehana kembali lagi ke Eropa. Kali ini ke Prancis, tempat dia melanjutkan studinya di Universitas Sorbonne, Paris, di bidang sejarah dan kebudayaan Tionghoa. Dia kembali ke Indonesia pada tahun 1958, dan pada tahun yang sama sempat membagikan ilmunya dengan mengajar mata pelajaran Linguistik di IKIP Bandung. Tugasnya sebagai pengajar itu kemudian harus dia tinggalkan, ketika dia kembali lagi ke Prancis pada tahun 1960. Karirnya di berbagai jabatan di UNESCO kemudian mengantarnya melanglang buana ke beberapa kota di dunia, seperti Paris, Kuala Lumpur, dan Karachi.

Digitizer Note

This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.

All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.

The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.

Le langage poétique surgit sur les ruines de la prose (Sartre, “Qu’est-ce que la Littérature?”)

Bahasa puisi bangkit di atas puing-puing bahasa prosa. (Sartre, “Apa itu sastra?”)

Kami dua-duanya lahir di daerah pantai timur Sumatra yang kini bagian dari Propinsi Sumatra Utara. Itu bukan alasan, dalam hal kami pun tidak, bahwa setelah perang kami akan bertemu di Paris. Dan di sana akan menjadi sahabat karib yang akrab sekali.

Dia lahir dalam keluarga Belanda totok, saya dalam keluarga dokter pribumi, kurang lebih lima tahun lebih dulu dari dia. Perbedaan usia itu sudah cukup alasan bahwa di Hindia Belanda kami tak pernah bertemu, bahkan berpapasan pun tidak.

Namun demikian, kini dia menyebut saya dalam kata persembahan pada buku yang dihadiahkan kepada saya, “… Sahabat terbaikku di lembah kedukaan ini”. Memoar saya, menurut dugaan saya sendiri, tak akan selesai ditulis, tapi kata persembahannya sudah siap akan berbunyi, “Untuk Rudy, satu-satunya teman Belandaku (dalam lembah kedukaan yang sama)”.

Tiga abad telah berlalu sejak orang-orang Belanda berdatangan ke Nusantara, bermukim dan beranak pinak di Hindia Belanda, dan sekilas pikiran timbul: berapa banyak persahabatan terjadi selama itu yang seperti antara Rudy dan aku? Seandainya kami berdua diberi umur, maka pada peralihan abad, kami sempat merayakan setengah abad persahabatan kami. Namun kini pun saya sudah lupa bagaimana dan di mana (dan kapan persisnya) pertemuan pertama terjadi.

Seusai perang, orang Belanda pun (apalagi cendekiawan Belanda) tidak banyak yang belajar di Paris. Dan di Sorbonne, saya satu-satunya mahasiswa Indonesia selama bertahun-tahun. Bagi orang Indonesia yang seangkatan saya, belajar di Paris adalah upaya yang percuma saja, begitulah praduga umum. Saya pun bisa gagal, semestinya harus gagal.

Saya dibekali sepucuk surat perkenalan saja yang ditulis oleh Bob du Perron kepada adiknya Bob de Roos yang menjadi Atase Kebudayaan pada Kedutaan Besar Belanda di Paris. De Roos segera sudi menulis surat keterangan tentang pendidikan menengah (sebelum perang) yang telah saya peroleh. Surat yang dilampirkan pada berkas yang saya bawa dari Indonesia—termasuk surat pujian dari mantan guru bahasa Latin dan Yunani saya (Mieke Bouman yang tenar itu)—membuka pintu Fakultas Sastra Universitas Paris (letaknya di rue des Ecoles) dan juga pintu Sekolah Bahasa-bahasa Timur (terletak di rue de Lille).

Tapi juga di lembaga terakhir itu pun kami tak pernah berjumpa pula, padahal saya sejak tahun 1949 “memberi asistensi pada ulangan bahasa Indonesia” sambil mengikuti kuliah “Bahasa Melayu” (yang diajarkan seakan-akan bahasa itu sudah mati). Karena gaji asisten tidak dianggarkan, saya dianggap tenaga tidak tetap, sehingga pimpinan sekolah dapat saja memberikan imbalan yang jauh di bawah gaji dosen tetap, yang juga tak seberapa besar.

Setelah Konferensi Asia Afrika di Bandung pada tahun 1955, kedua kementerian Prancis yang membawahi Sekolah Bahasa-bahasa Timur tersentak sadar akan pentingnya segera mengenal bahasa Indonesia. Jabatan asisten pada juru bahasa Indonesia/Melayu diciptakan. Namun setelah Perang Dunia kedua, belum pernah juga diangkat seorang guru besar dalam bahasa Indonesia. Dosen wanita yang memberi kuliah konon diangkat hanya karena pernah jadi peserta dalam ekspedisi etnologi ke Semenanjung Melayu. Beliau cukup cerdas untuk mengundang saya menjadi asistennya pada tahun 1949, demi pamor akademik jabatannya sendiri, tatkala mendengar tentang saya dari satu-satunya orang Prancis yang selama ini benar-benar ahli tentang sastra dan budaya Indonesia, yaitu Louis Damais (almarhum), pembimbing lagi teman saya, yang kehilangannya sampai sekarang terasa sedalam-dalamnya oleh saya.

Beliau memperlihatkan lagi kelihaiannya pada waktu jumlah orang Indonesia yang belajar di Paris bertambah; begitu jabatan asisten tersebut ditetapkan, beliau langsung memberhentikan saya tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Pengganti saya yang resmi diangkat ialah seorang Indonesia yang terdaftar sebagai mahasiswa pada sebuah Akademi Diplomat Internasional (apakah akademi itu masih ada, saya tidak tahu), tapi yang diketahui beliau secara pasti ialah bahwa yang bersangkutan tak pernah sedikit pun berkecimpung dalam bidang sastra atau linguistik Indonesia (bagaimana begitu cepat dapat dipilihnya, wallahu a’lam).

Bagaimana juga, berkat surat keterangan Tuan de Roos saya luput dari kesengsaraan untuk pada umur 24 tahun menjadi siswa sekolah menengah lagi di Prancis. Orang baik hati itu tak akan pernah mengetahui betapa besar rasa terima kasih saya kepadanya, sampai hari ini (pernyataan nir pamrih).

Masih pada tahun 1949 saya harus pergi ke kedutaan Belanda lagi untuk perpanjangan paspor saya. Saya menyerahkannya dengan tanda bukti pendaftaran pada perguruan tinggi Prancis beserta lain-lain dokumen. Berkas saya dapat diambil kembali beberapa hari kemudian karena hal saya soal rutin saja. Pada waktu hendak diambil dan saya berhadapan lagi dengan si nona muda yang melayani saya sebelumnya, dan mengira bahwa urusan saya akan diselesaikan dengan cepat, saya heran sekali melihat orang lain muncul dengan lagak pejabat tinggi. Ia memang ternyata kepala bagian konsuler sendiri yang bernama Thiebax (atau Thybakx). Dari ocehannya saya tak ingat banyak, barangkali hanya dua atau tiga kalimat yang lengkap diucapkannya, tapi dalam waktu sesingkat itu dia sempat mengingatkan saya bahwa “bekas Gubernur Jendral Hindia Belanda Timur, Jonkheer Tjarda Van Starkenborg Stachouwer” masih hidup.

Wajah sang konsul itu saya tak ingat lagi, kecuali senyumnya yang getir, apa yang dikatakannya pun (dengan maksud apa?) juga saya sudah lupakan, kecuali gelar bangsawan dan nama Gubernur Jendral itu yang cukup panjang. Padahal sang bangsawan itu sudah lenyap dari panggung (percaturan) politik, dan setelah dia tak pernah ada lagi Gubernur Jendral Hindia Belanda Timur.

Beberapa bulan kemudian bahkan Hindia Belanda Timur sudah lenyap dari peta dunia: pada bulan Desember 1949 Republik Indonesia diakui kedaulatannya secara resmi oleh Pemerintah Belanda. (Pernyataan yang tidak nir pamrih.)

Pengakuan kedaulatan Republik Indonesia tentu masih jauh dalam waktu tatkala diputuskan bahwa saya boleh melanjutkan pelajaran saya di Prancis, di Paris.

Aduhai Om Sidiku yang tersayang!!!

Betapa beruntung, betapa berbahagia mempunyai seorang paman lagi guru sepertinya… Paman yang dijunjung tinggi.

Berapa banyak orang Indonesia yang memahami sedalam Rudy perasaan saya terhadap Sutan Syahrir, si Bung Kecil, orang Tiga Serangkai di Zaman revolusi…?

Padahal Rudy tak pernah bertemu dengannya, tak pernah mengalami kehangatannya dan rasa ketentraman yang dipancarkan pribadinya dalam pergaulan.

Di dalam kapal bermotor yang penuh sesak dan penumpang dan yang dari Teluk Jakarta membawa kami ke kapal perang Amerika Serikat “Renville” yang bersauh di luar perairan teritorial, saya berdiri di samping “Paatje” (bahasa Belanda, diucapkan Pace, artinya Pak cilik Haji Agus Salim). Dia bercerita tentang misi khusus yang dipercayakan kepadanya oleh Perdana Menteri Republik Indonesia Sutan Syahrir, untuk mengatur hubungan diplomasi dengan negara-negara Arab (bahasa Arab adalah salah satu di antara kurang lebih selusin bahasa asing yang dikuasainya) yang langsung mengakui Republik Indonesia de jure (dari negara Barat hanya Kerajaan Inggris yang mengakui Republik Indonesia de facto).

Ceritanya hidup, memikat; beliau juga pernah melawat ke Paris sebelum Perang Dunia II dan bercerita tentang pengalamannya di sana. Karena kelancarannya dalam berfikir dan berbicara, kutipan dari sastra Prancis yang seakan-akan tidak terelakkan keluarlah juga dri mulutnya. Saya hanya bisa tertawa seperti orang bloon karena “pokok anekdot” yang diceritakannya tidak tertangkap oleh saya. Pengetahuan saya tentang sastra dan budaya Prancis kurang sekali dan kekurangan itu tak dapat ditutupi dengan alasan bahwa saya diganggu oleh gerak oleng kapal, kebisingan motor, bunyi deburan ombak, dan desing angin. Tapi bagi saya menjadi jelas, bahwa di kalangan handai taulan dan kerabat sudah tersiar kabar bahwa saya diizinkan meninggalkan wilayah Republik Indonesia untuk mengikuti pendidikan perguruan tinggi di Prancis.

Waktu kami naik ke geladak kapal Renville, geladak sudah penuh sesak dengan orang, dan dalam ingatan saya, ruang saya tersedia bagi meja-meja perundingan delegasi Indonesia dan Belanda dan Panitia Jasa Baik PBB sempit sekali. Dari tiga orang anggota panitia PBB itu, saya hanya ingat Paul Van Zeeland, seorang Belgia yang berwajah tampan dan yang raut mukanya tidak mengingatkan pada stereotipe orang “Negeri Rendah/Netherlands”. Kesan saya hanyalah bahwa ia agak sombong.

Ia berbicara dengan gaya yang bagus dalam bahasa Prancis, lagi-lagi pidatonya saya tidak mengerti, saya dapat menangkap arti kalimat pertama dan yang terakhir yang diucapkannya, dan hanya itu yang saya ingat. Apa itu sebabnya bahwa seumur hidup sampai sekarang saya hanya dapat mengingat kalimat pertama dan terakhir dari pidato yang saya dengar?

Tak sulit dihitung kapan saya naik kapal menuju Eropa. Tanggal Persetujuan Renville ditandatangani terdapat dalam semua buku sekolah pelajaran sejarah. Saya berangkat beberapa minggu setelahnya.

Di mana, bilamana, dan bagaimana kami bertemu dengan Rudy dan Ethel untuk pertama kali? Jelas terbayang dalam ingatan saya bagaimana Ethel pada salah satu kunjungan bersama Rudy ke rumah kami, dengan penuh perhatian menyimak perpustakaan saya yang mengisi dua lemari tinggi yang kokoh dan kuat. Dari perabot rumah di pavilyun, di pinggiran kota, yang ditawarkan kepada saya oleh pemilik (si penipu!) itu waktu saya datang melihat-lihat lantai atas bobrok yang hendak disewakannya, hanya dua lemari itulah yang layak dipakai.

Ethel langsung mengambil kumpulan karangan Marcel Mauss yang disunting oleh Claude Lévi-Strauss, yang juga menulis kata pengantarnya. Buku itu baru saya beli. Ketika Ethel melihat bahwa lipatan halaman baru dibuka pada pengantar dan pada “Esai tentang pemberian” (karangan Mauss yang terkenal), maka dengan tersipu-sipu, cepat-cepat buku itu dikembalikan pada tempatnya.

O, Ethel manisku!!

Kami pada waktu itu tinggal di Suresnes, sebuah kota pinggiran Paris pada lereng-lereng perbukitan lembah Sungai Seine. Letaknya dengan demikian cukup menarik, tapi Suresnes tak mempunyai “watak”. Tak jauh dari tempat kami, tinggal Robert Franquinet, seorang Belgia yang ya pelukis, ya penyair, ya penulis, dan atase pers pada Kedubes Belanda.

Dari paman saya yang kaya raya, Om Sy, adik ibu saya, setelah berkunjung ke Amsterdam—tempat ia berumah tangga dengan bibi (Belanda) saya, Tante Miesje, di kediamannya di “Pantai Emas” (julukan daerah pemukiman orang kaya)—saya terima sebuah mobil Fiat 600 sebagai hadiah perkawinan “yang menyusul” (mereka belum kenal dengan istri saya, Widari). Hal itu sesuai dengan adat Minangkabau: saya kemenakannya, lagi anak tertua dari satu-satunya kakak perempuannya.

Di musim panas tahun 1955 pada kunjungan lain ke Amsterdam, di tengah kota, mobil kami dilanggar oleh sebuah taksi. Kami berdua masuk rumah sakit. Widari menderita geger otak. Saya fraktur dan tengkorak. Widari boleh keluar setelah sebulan dan saya sepuluh hari kemudian. Mobil Fiat kami hanya rusak sedikit bumpernya dan spackbor belakang kanannya, motornya utuh. Jadi kendaraan itu dapat saja dipakai, tapi Bibi dan Paman, kurang dua tahun setelah kecelakaan terjadi, berpendapat bahwa sebaiknya mobil itu ditukar dengan mobil lain, yaitu sebuah Fiat-1100.

Pada musim panas 1957 kami bertandang seperti biasa ke Boulogne, ke rumah Rudy. Rudy dengan penuh gairah, itulah ciri khasnya, langsung ingin menguji-coba mobil baru saya. Medan percobaan ialah Bois de Boulogne. Dia masuk mobil dan menempatkan diri di belakang stir dengan keracaknya, sebuah sikap yang oleh saya yang sama sekali tak berwawasan teknik, tak pernah terungkapkan terhadap kendaraan bermotor. Kami baru saja melaju untuk mengelilingi Danau Atas dan Danau Bawah Bois de Boulogne, tiba-tiba kami tertolak lepas dari tempat duduk kami, Rudy terkecuali; pada waktu itu sabuk pengaman belum ada dan belum diwajibkan. Apa yang terjadi? Seorang pejalan kaki yang tidak berhati-hati rupanya tiba-tiba menyeberang jalan dan Rudy langsung menginjak rem sekuat tenaganya. Sambil tertawa malu, diterangkannya bahwa ia sudah terbiasa mengemudikan mobil antik (yang setelah direhab olehnya dapat dijualnya dengan harga yang setinggi langit). Rudy benar-benar manusia pemalu.

Setahun kemudian (1958) saya menerima kawat dari Kementerian P dan K (kini Depdikbud) di Jakarta. Saya “diperintah pulang dengan kapal yang pertama” dan dalam rangka ikatan dinas saya tak diizinkan meneruskan penelitian saya untuk meraih gelar doktor (S3) di Sorbonne. Pelaksanaan perintah menteri dapat saya “damaikan” ala Indonesia dengan bantuan duta besar Indonesia di Paris (beliau anggota PNI “tapi” teman baik mertua laki saya). Saya masih boleh membaca makalah saya tentang bahasa Indonesia di hadapan Société Linguistique de Paris (perhimpunan linguistik Paris) sebelum pulang ke tanah air. Saya berangkat meninggalkan Paris pada awal musim panas 1959 untuk jadi peserta dalam proses pembangunan nusa dan bangsa.

Beberapa minggu setelah saya mendarat di tanah air, Presiden Soekarno menarik segala kekuasaan negara ke dalam tangannya dan dengan itu membongkar seluruh ketatanegaraan Republik. Di tengah peristiwa-peristiwa yang menggegerkan ini, saya hari demi hari terpaksa mendatangi pelbagai kantor dan instansi untuk mengemis agar diangkat sebagai pegawai negeri. Alhamdulillah surat keputusan pengangkatan saya di IKIP akhirnya keluar, bahkan atase kebudayaan Prancis sempat dilibatkan dalam urusan saya.

Akan tetapi andaikata saya tidak kembali ke Indonesia, saya juga tak akan dikirim kembali ke Paris untuk menjadi anggota staf sebuah organisasi internasional, orang berkebangsaan Indonesia yang pertama dalam organisasi itu. Maka dengan demikian, di Paris, persahabatan kami dapat mekar dengan terus-menerus.

Tapi kapankah, di manakah, dan bagaimanakah Rudy dan saya saling berkenalan? Jawaban atas pertanyaan retoris itu mudah saja, yaitu yaitu dalam tahun-tahun yang susul-menyusul, setiap kali kami bertemu malah termaktub dalam “takdir yang saling silang”. Membaca kenang-kenangan tentang masa mudanya membangkitkan dalam diri saya rindu yang sama, yang mendorongnya untuk menuliskannya, merasakannya, atau malah dengan intensitas yang berlipat ganda. Sebab dengan sendirinya saya kenal citra-citra yang dilukiskannya, yang serempak menimbulkan citra-citra lain, citra masa anak saya sendiri yang berlalu di seberang lautan nan jauh di sana.

Kenang-kenangan tentang anak kecil berkulit sawo matang di Amsterdam, di daerah yang jalan-jalannya diberi nama sungai, main, menangis, dan bernyanyi. Babak riwayat hidup saya itu sudah ditutup secara mutlak dan tidak berkesinambungan. Sebab ikatan antara bangsa Belanda dan bangsa Indonesia, baik berupa ikatan batin maupun ikatan budaya, yang mungkin saja terjalin, mengingat hubungan yang cukup lama antara kedua bangsa, tak pernah menjadi kenyataan.

Waktu saya dalam perjalanan ke Paris mendarat di Amsterdam, saya pertama-tama menghubungi teman seperjuangan saya Joke Moeliono yang memperkenalkan saya kepada tokoh-tokoh lokal sastra Belanda. Joke ternyata sedang berupaya memperkenalkan sastra Indonesia kepada khalayak ramai di Eropa, khususnya di Belanda. Chairil Anwar, Pramoedya A.T., Aoh K. Hadimadja, dan lain-lain, bukan nama asing di kalangan sastrawan Belanda berkat usahanya. Akan tetapi walhasil pertemuan-pertemuan saya dengan mereka itu, saya dapat memastikan bahwa saya tak pernah akan sanggup menulis sebuah roman dalam bahasa Belanda.

“Wahyudi duduk di kursi rotan di serambi menunggu Greet”—peristiwa yang sulit dibayangkan (dalam suasana zaman kolonial sebelum kemerdekaan), kunjungannya kepada Greet begitu juga, apalagi kunjungan Noni Greet ke ujang Wahyudi.

Jika diingat bahwa Paul Valéry merasa tak sanggup menulis kalimat yang berbunyi: “Nyonya Raden Ayu keluar pukul 4 sore” (kutipan ini terdapat dalam salah satu “Variéte” nya), jelaslah mengapa, bagi saya bahasa Belanda terbebani “kebencian” (seperti setiap bahasa, tanpa dirasakan oleh penutur yang berbicara dalam bahasa ibunya).

Beberapa waktu yang lalu, saya membaca kembali karya Soewarsih Djojopoespito, satu-satunya roman dalam bahasa Belanda yang ditulis oleh seorang Indonesia. Roman itu menarik, itu pun tidak diragukan sama sekali, bahkan terkadang menggugah perasaan. Namun betapa banyak percakapan di dalamnya yang jalan kalimatnya atau ujarannya kedengaran canggung di telinga saya (tidak biasa). Kiasan yang “disesuaikan” dengan baik tetap mengesankan sebagai “bahasa buku”. Saya belajar untuk menguasai bahasa “penjajah” dengan baik sekali, tapi benar aslikah tutur bahasa saya? (cf. Sausure, structuralisme).

Bagaimanapun juga, dalam kehidupan saya ada seseorang, seorang Belanda yang memahami sedalam-dalamnya mengapa bagi saya “La nostaligie n’est plus ce qu’elle était” (Nostalgia itu tidak seperti nostalgia dulu lagi). Tidak pula jauh waktu belum lama berselang, saya turun dari ranjang dari sisi Alenaku yang tercinta, yang masih tidur dengan lelapnya, karena tersentak bangun oleh suara yang samar-samar kedengarannya: “………. dari Dam……… naik trem no 24………. lewat de Lairesse………. Turun di lapangan Minerva……….”. Kalimat yang begitu “kekanak-kanakan” dan yang begitu memilukan, begitu menyergap pikiran saya: Apakah, setelah tiga abad berbagi nasib ini, itulah saja warisan yang tersisa pada saya, pada “Perpisahan dari Negeri Pendeta”?1

Tourcoing, Musim Panas 1994

(Saduran dari bahasa Belanda oleh Joke Moeliono)


1Afscheid Van Domineesland, karya M. ter Braak.