Publisher Note
Tulisan ini merupakan Bab 15 dari buku yang ditulis oleh Jusuf Wibisono berjudul Bertamasya di Belakang Tabir Besi. Buku tersebut berisi pandangan mata Jusuf Wibisono saat mengunjungi negara-negara Blok Timur tahun 1950-an. Buku ini pertama kali diterbitkan oleh Penerbit Bulan Bintang tahun 1953. Kemudian, edisi keduanya terbit tahun 1981 oleh penerbit yang sama.
Kami mendapatkan buku ini dari koleksinya Bang Anton, pemilik Perpustakaan Batu Api di Jatinangor.
Digitizer Note
This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.
All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.
The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.
PADA hari yang keempat kita tinggal di Moskow, saya diberitahu oleh Nuradi, bahwa kita akan kedatangan tamu istimewa, yaitu saudara Semaun. Mendengar kabar itu, lalu terbayang di muka mata saya, potretnya saudara Semaun muda, yang saya pernah lihat di buku Petrus Blumberger “De Communistische Beweging in Ned. Indie.” Badannya langsing, pakai kain dan ikat kepala. Tetapi sekarang sudah tidak begitu lagi rupanya. Rupa mukanya sudah tentu kelihatan lebih tua dari pada dipotret. Kecuali itu, menurut penglihatan saya, lain sekali coraknya sehingga sukar dicari bekas-bekas Semaun muda di mukanya Semaun tua ini. Dia pakai kopiah juga, tetapi bukan kopiah Indonesia, melainkan kopiah bundar dari kain wol hitam.
Ketika dia masuk kamar kita, dengan muka berseri-seri dia mengucapkan: “Merdika”. Bukan “Merdeka” tetapi “Merdika”. Oleh karena bagi kita pekik merdeka itu sudah tidak begitu menarik lagi seperti pada permulaan revolusi, karena kemerdekaan sudah tercapai walaupun belum sempurna, maka kita menjawab dengan “Selamat sore”.
Suara saudara Semaun tidak sebesar saya duga. Karena dalam sejarah perjoangan kemerdekaan kita, dia tercatat sebagai pemimpin besar yang melawan H.O.S Cokroaminoto jaman Serikat Islam, maka saya kira suaranya sedikitnya sebesar suara Dr. Sukiman atau A.M. Sangaji. Tetapi suaranya kecil, dan caranya bercakap-cakap begitu lemah lembut sehingga orang tidak mengira bahwa dia bekas pemimpin rakyat yang pengaruhnya sangat ditakuti oleh pemerintah Belanda penjajah dulu.
Saudara Semaun mulai cerita bahwa dia memang sudah lebih dulu dengar bahwa telah datang Misi Indonesia, akan tetapi karena dia tidak tahu di mana kita menginap, maka baru sekarang dia dapat mengunjungi kita. Percakapan dulu mengenai hal ikhwal tanah air kita dan kenang-kenangan saudara Semaun sewaktu jaman penjajahan.
Dia melahirkan perasaannya, bahwa sebetulnya dia kepingin juga pulang ke Indonesia, tetapi tentunya tidak akan mudah, karena dia sudah beristeri orang Rusia dan mempunyai anak dua. Yang pertama seorang laki-laki yang sudah belajar di sekolah tinggi.
Tentang perbuatan Muso, dia mengatakan, bahwa itu bukan instruksi dari Moskow, melainkan akalnya Muso sendiri. Dia memang orang nakal, kata saudara Semaun selanjutnya. Sebetulnya sesudah perang dunia yang baru lalu itu, dia di Moskow tidak mempunyai pekerjaan lagi. Maka dari itu, dia lalu dipulangkan oleh Pemerintah Soviet ke Indonesia. Waktu mau meninggalkan Moskow, dia tidak mau memerlukan menemui saudara Semaun untuk meminta diri, cuma meninggalkan sepucuk surat saja dia mana dia mengatakan bahwa dia mau pulang ke Indonesia.
Oleh karena menurut ajaran Komunisme itu, segala taktik boleh dipakai asal maksudnya tercapai, jika perlu menipu, berdusta, dan seterusnya, maka saya agak ragu-ragu, apakah yang dikatakan oleh saudara Semaun tentang Muso itu benar semuanya. Ada yang mengatakan karena pemberontakan Muso itu gagal, maka sudah tentu Moskow tidak mau mengakui perintahnya, dan mungkin saudara Semaun dapat petunjuk dari fihak atasan untuk memberitahukan kepada kita, bahwa pemberontakan Muso itu atas tanggungannya sendiri dan sekali-kali bukan atas anjuran atau dorongan dari Kremlin.
Tentang kejadian sekitar aksi militer Belanda kedua, saudara Semaun menceritakan bahwa berhubungan dengan kejadian itu, dia mengirim surat kepada “saudara” Stalin, yang isinya ialah minta perhatian atas nasib Indonesia. Dia tidak dapat balasan atas surat itu, tetapi kata saudara Semaun, dari kata-kata Wakil Sovyet Uni di Dewan Keamanan, dapat diambil kesimpulan bahwa suratnya mendapat perhatian.
Menurut pendapatnya, Indonesia selekas mungkin harus disusun secara sosialistis, supaya bisa menjadi kuat seperti Sovyet Uni. Industrialisasi harus lekas dimulai kalau tidak demikian, segera kita terbelakang terus. Di Sovyet Uni hampir segala-galanya sudah dijalankan dengan mesin.
Saudara Semaun tentunya tidak bisa mengetahui betul, kesukaran-kesukaran apa yang harus diatasi untuk menjalankan industrialisasi secara besar-besaran dalam tempo yang sesingkat-singkatnya di negara kita.
Adapun pekerjaannya sekarang ialah pada Radio Moskow. Dia menyelenggarakan siaran dalam bahasa Indonesia. Radio Moskow mengadakan siaran dalam ±50 bahas, di antaranya 20 bahasa daerah dalam Sovyet Uni.
Atas pertanyaan saya, apakah dia masih bisa bicara bahasa Jawa, tidak lagi karena sudah lama tidak menggunakan bahasa itu.
Walaupun bahasanya sudah lupa, tetapi satu adat kesopanan Jawa dia tidakk bisa menghilangkan, karena sudah meresap benar-benar ke dalam sanubarinya, yaitu kalau menunjukkan sesuatu barang, dia tidak pakai jari telunjuk, melainkan pakai ibu jari.
Pada akhir pertemuan, saudara Semaun mengatakan bahwa dia ingin menyampaikan nota kepada Pemerintah kita, di mana dia akan memajukan usul-usul tentang politik yang hendaknya dijalankan olehnya. Nota itu akan disampaikan kepada saudara Palar, nanti kalau kita mau pulang. Dia menanyakan apakah kita suka melihat-lihat kota di antarkan oleh dia. Tawaran itu sudah tentu kita terima dengan baik. Kemudian hari ditentukan oleh saudara Semaun akan menjemput kita.