Publisher Note
Tulisan ini pertama kali diterbitkan di majalah Zaman Baru No. 9, Tahun 1956.
Digitizer Note
This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.
All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.
The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.
SEKALI INI saja ingin bertjerita tentang beberapa hal jang saja telah saksikan di RRT, serta kesan2 saja, dan perbandingan2 jang mautakmau terpaksa dibuat untuk mendapatkan gambaran jang agak konkret. Melihat negeri lain, saja kira sudah dengan sendirinja sadja orang membuat titiktolak dari situasi kita sendiri, situasi sosial Indonesia, maksud saja. Dan karena titiktolak ini tidak lain daripada situasi sosial kita sendiri dewasa ini, tidak akan mengherankan lagilah rasanja bila tjara jang demikian akan memanggil ketjaman2 jang timbul dari prasangka jang tak diawasi oleh pikiran. Maksud saja prasangka atas nama situasi sosial kita sendiri dewasa ini. Bahkan di-hari2 waktu saja menulis karangan ini, telah timbul edjekan ataupun sindiran, dan mungkin djuga karena kebutuhan akan keisengan, dari beberapa orang pengarang sedjawat saja sendiri, bahwa kini saja sudah tersulap mentah2 mendjadi propagandis RRT. Saja kira tidak ada salahnja mengutarakan hal-hal jang baik, bahkan agama jang dianggap sutjipun membutuhkan penerangan. Tetapi soalnja disini bukanlah propaganda atau tidaknja, tetapi mentjari bahan-bahan konfrontasi, bahan-bahan perbandingan, jang didasarkan atas kenjataan-kenjataan, mentjari pengertian2 baru buat menggantikan pengertian kita sendiri jang sudah mendjadi usang karena perkembangan sosial jang terus meningkat dan tidak sesuai lagi dengan masahidup kita sendiri dewasa ini. Djustru karena itulah, sindiran atau edjekan itu bagi saja tidak bitjara apa2, dan tidak membuat saja mendjadi takut atau keberatan menulis kesaksian saja terhadap RRT. Dan dengan ini bermulalah tulisan saja.
SAJA tinggalkan Kemajoran dalam hudjan gerimis dengan pesawat Boac. Untuk kedua kalinja inilah saja menjaksikan sebahagian daripada darat dan laut Indonesia dari udara: daerah subur, hutan, laut dan alam seluruhnja jang boleh dikata belum digarap oleh kemampuan putera Indonesia. Ini segera sadja bisa dikatakan setelah orang membandingkannja dengan Singapura. Singapura! Segumpal pulau jang total-djendral dalam perbandingan, tidak berarti apa2, tetapi nisbi djauh lebih kaja daripada Indonesia. Singapura! Tanpa djutaan rakjat, tanpa ribuan mil persegi tanah garapan, tanpa pabrik2 kuntji berat, tanpa revolusi, tanpa kemerdekaan, tanpa perkebunan karet, kopra, teh, kina, sisal, timah, dan sebagainja. Tentu, bahwa kemakmuran Singapura bukan tidak bitjara apa2 kepada kita. Kita tahu, bahwa perekonomian Indonesia jang ditudju oleh sedjarah pendjadjahan mendjadi perekonomian kolonial, artinja perekonomian jang adanja tergantung dari perdagangan import dan export belaka. Dan import serta export Indonesia ini sebahagian besar melalui tjorong raksasa: Singapura inilah. Singapura dalam kenjataannja jang mengalirkan perdagangan import-export Indonesia kearah mana sadja dia suka. Kemakmuran Singapura bukan terletak pada bumi dan alamnja, tetapi pada organisasinja.
Kemudian saja lihat Bangkok untuk kedua kalinja. Bangkok — dimana buminja dihiasi dengan penumpukan pesawat2 jet Amerika Serikat. Orang merdeka dalam menarik kesimpulan akan bahan2 ini. Tetapi saja sendiri tak dapat banjak bitjara tentangnja.
Dan kemudian Hongkong, jang notabene mesti djuga saja samakan dengan Singapura. Tapi Hongkong bukan mendjadi tjorong perdagangan import-export Indonesia, tetapi RRT. Lagipula ia punja keistimewaan jang lain. Hongkong berasal dari perkataan Hiang Kiang jang berarti Arus Harum. Dan memanglah Hongkong punja arus kehidupan jang Harum, jang meluntjur dengan litjinnja. Seorang wartawan Amerika pernah bilang bahwa orang Hongkong bekerdja 25 djam dalam seharisemalam jang hanja berisi waktu 24 djam itu. Kegiatan usaha dan perdagangan demikian mendemam. Ini dipersenang lagi dengan iklimnja jang subtropik dan politik perdagangan pemerintahan setempat jang tak mengenakan bea ataupun tjukai pada barang masuk dan keluar. Suatu tjontoh jang typis telah dibeberkan oleh sebuah adpertensi jang lebihkurang berbunji demikian: „Tahukah tuan, bahwa Minox Camera dapat tuan beli di Hongkong separoh daripada harga bila tuan beli di Amerika Serikat?”
Maka bila kita bangun djam tudjuh pagi dihotel kita, dan melihat djendela2 flat jang dapat terdjangkau oleh mata kita, nampaklah, bahwa didalam kamar2 flat ini wanita2 masih tergolek dibawah selimutnja masing2, sedang di-djalan2 raja orang2 jang berpakaian wool seluruhnja dan dari kwaliteit mahal, berdjalan ber-gegas2, dengan dasi jang me-lambai2, serta wanita2 Tionghoa bertjelana hitam, ber-„tjang-i” hitam sambil menggendong anaknja memungut sampah di-djalan2, dengan gerak jang sungguh2 gesit. Keadaan ini mengingatkan kita pada daerah2 dagang di Eropah. Mautakmau saja mengakui, bahwa iklimnja jang subtropik ini menguntungkan bagi penduduk Hongkong jang proporsi tubuhnja tak berbeda dengan tubuh orang Indonesia itu untuk bekerdja lebih banjak dan lebih pandjang. Kegiatan jang mengagumkan terdapat di Des Voeux Road Central dan Queen’s Road Central dimana banjak berdiri deretan Bank serta di sekitar stasion Kowloon dan tempat penjeberangan Star Ferry ke Hongkong. Para turis Eropah bilang: Hongkong adalah Paris Timur Djauh. Paris disini tentu sadja bukan berarti kegiatan budaja atau warisan budajanja, tetapi terutama sekali tentang ketjantikan wanitanja (dan dalam Shanghai-dress para-wanitanja jang kuruskering nampak kehilangan proporsi samasekali!) dan dunia pelesirnja. „Keharuman” penghidupan di Hongkong-Kowloon ini pada hakikatnja adalah dibeli dengan diri penduduk itu sendiri.
Dari Hongkong-Kowloon ini, situasinja tak djauh berbeda dengan Singapura. Suatu hal patut ditjeritakan ialah, bahwa Hongkong-Kowloon punja sedjarah jang agak arèh djuga. Pulau jang kini dikenal dengan nama Hongkong pada tahun 1841 dirampas oleh Inggris sebagai pembalasan dendam terhadap perlakuan terhadap parapedagang Inggris di Kanton (Kuang Tjou). Tentu, bahwa pembalasan dendam sematjam ini adalah alasan jang di-tjari sadja. Jang pokok adalah membuat kubu jang dapat „melindungi” perdagangan dengan Tiongkok Selatan. Perkuatan pulau ini sebagai daerah djadjahan Inggris diperkuat dalam perundingan di Nanking pada tahun 1842. Dalam konvensi Peking tahun 1860 semenandjung Kowloon dimasukkan pula kedalam daerah djadjahan Inggris. Bersama dengannja dimasukkan pula kepulauan Stonecutters. Pada tahun 1898 dalam konvensi Peking New Territories, jang termasuk didalamnja Teluk Mirs dan teluk Deep, disewakan kepada Britania Raja buat 99 tahun lamanja. Sedikit sedjarah tersebut menundjukkan betapa pada seabad jang lalu Tiongkok terus didesak oleh Inggris sehingga terpaksa melepaskan daerah demi daerah.
Didaratan Tiongkok saja pernah mendapat tjerita, bahwa pindjaman Tiongkok pada Brittania Raja atas New Territories itu sebenarnja telah lewat masanja pada djaman Chiang Kai Shek. Untuk melupakan batas waktu jang lewat ini, Inggris menjumbat mulut Chiang dengan sebuah kapal perang tua, apkiran daripada perangdunia jang baru lalu. Dan benarlah, Chiang tersumbat mulutnja. Tetapi, apakah tjerita ini benar, saja tidak tahu.
Waktu saja mendarat dilapanganterbang Kai Tak, jang terletak diantara dua bukit tjadas di Kowloon, kerusuhan jang ditimbulkan oleh golongan Kuo Min Tang baru beberapa djam reda. Selingkungan lapanganterbang sunjisunjap. Tanggal 14 November waktu itu. Dikemudianhari seorang kawan bertjerita pada saja, bahwa kerusuhan ini memang disengadja dengan maksud2 politik jang luas. Pada malamhari-nja sewaktu saja berbaring dikamar hotel dan mendengarkan siaran radio Hongkong, terdengar siaran wartaberita jang mengabarkan bahwa Gubernur Hongkong baru tiba dari perlawatannja keluar daerah Hongkong. Dimana, sajapun tidak tahu. Beberapa menit setelah itu terdengar Gubernur ini mengadakan pidato jang meng-hibaz: Tak ada tempat jang saja rasakan sebagai tempatku sendiri daripada daerah Hongkong ini. Seluruh penduduk Hongkong saja tjintai …dsb. dsb. Sementara itu polisi Hongkong menolak permintaan pertolongan dari serikat buruh untuk melindungi kawan2nja jang berada dalam kepungan perusuh2 Kuo Min Tang jang tak segan2 membunuh dan menjiksa itu. Kawan saja itu bertjerita, bahwa maksud2 politik2 jang termaktub didalam kerusuhan itu ialah untuk mendjaga agar Sukarno tidak mendarat di Hongkong. Dan benarlah Sukarno tidak mendarat di Hongkong. Dari Kuang Tjou ia membelokkan perdjalanannja kebaratnja, ke Kunming dan meninggalkan perbatasan Tiongkok. Penolakan ini dimaksudkan agar Sukarno djangan sampai membuat konperensi pers di Hongkong. Konperensi pers demikian akan merugikan Taiwan, jang notabene adalah anggota Seato. Dan sudah dapat diduga, sebelumnja, bahwa konperensi pers Sukarno di Hongkong hanja akan menguntungkan RRT. Benar-tidaknja tjerita kawan ini sajapun tidak berani mendjamin. Se-tidak2nja, bila benar, maka kita berkenalan dengan suatu taktik baru jang menundjukkan tak adanja perikemanusiaan. Atau se-tidak2nja, bila tak benar, kawan saja itu sungguh2 punja dajachajal jang luarbiasa baiknja.
Tjuma semalam itulah saja di Hongkong. Keesokannja China Travel Service mengurus perdjalanan saja hingga keperbatasan Lowu — stasion penghabisan djadjahan Inggris. Dari djendela lain kamar saja, saja dapat melihat barak tentara Inggris jang dinamainja Barak Pendidikan. Maksudnja dengan Barak Pendidikan ini ialah mendidik warganegara RRT jang hendak pergi keluarnegeri melalui Hongkong untuk beralih pikiran dan membenarkan kolonialisme dan imperialisme Inggris. Demikian djuga jang dialami oleh warganegara Tiongkok jang hendak masuk kewilajahnja sendiri. Dalam hal ini saja merasa beruntung karena tak digiring masuk kedalam barak itu dalam pendjagaan polisi bersendjata untuk kemudian mengeram didalam tangsa jang dilingkungi kawat berduri.
KERETAAPI Kowloon-Canton Railway ini sungguh menjenangkan dan bersih. Duduk dihadapan saja dalam satu coupé adalah seorang milijuner India, jang achirnja mendjadi sahabat saja di Tiongkok, sekeluarga orang kaja Tionghoa Hongkong jang pergi kepedalaman Kowloon untuk main lowok. Kemudian saja lihat pegawai2 kedutaan Pakistan, dan bersama dia terdapat penjair Mohammad Ali dari Pakistan. Kemudian terdapat serombongan orang Djepang, diantaranja terdapat pengarang Djepang jang kenamaan Yoshiro Nagayo. Digerbong lain saja lihat djuga 4 orang Rus.
Di Lowu parapenumpang turun. Disinilah saja menjaksikan kegiatan, keradjinan dan kekuatan para-wanita Tionghoa dari daerah Selatan. Mereka semuapun akan menjeberangi perbatasan menudju kedaratan RRT. Hampir tiap perempuan menggendong anak sambil memikul barang bawaan. Biasanja anaknja jang agak besar memikul pula sambil menuntun adiknja jang agak besar, jang sudah berdjalan. Dan jang sudah bisa berdjalan inipun tidak lenggangkangkung. Tetapi djuga membawa barang bawaan. Melihat tamasa jang baru saja lihat seumur hidup saja ini, dengan sendirinja timbul pikiran pada saja, bahwa alangkah anehnja bila Tiongkok dengan penduduknja, laki-perempuan, jang giat, radjin dan kuat itu, pernah didjadjah. Pikiran saja mengatakan tidak mungkin. Kemungkinannja hanja satu, jakni pengchianatan! Dan pengchianatan ini memanglah jang dikerdjakan oleh kaum feodal. Waktu kami turun dari gerbong dan sampai didoane perbatasan Inggris, jang nampak pertama kali adalah perbukitan. Sebuah diantara terdapat kubu, diatasnja berkibar bendera RRT.
Penjair Pakistan Mohammad Ali berseru lambat: So that is red China.
Doane Inggris memeriksa kami dengan atjuhtakatjuh seakan tak terdjadi apa2 diselingkungannja, dan bahwa seakan pekerdjaannja itu tak mempunjai hubungan apa2 dengan kehidupan dan dirinja sendiri. Namun tak ada orang mengalami kesukaran. Dengan tiada saja duga sedikitpun seorang warganegara Tiongkok, pegawai doane RRT menjambut saja dengan kata2 Inggris: „Selamat datang di Tiongkok”.
Saja lihat kain merah pandjang ter-gantung2 pada tiang dengan ditulisi huruf kuning. Pegawai doane itu mengatakan pada saja, bahwa maksud tulisan itu adalah Hidup Persahabatan, dan seruan2 kepada presiden Sukarno. Kemudian saja dibawa kekamartunggu. Tentang kopor2 saja? Beres, katanja, djangan kuatir. Sebentar kemudian milijuner India itupun duduk disofa didekatku. Dan kami didjamu makan. Inilah untuk pertama kalinja saja mengindjak daratan Tiongkok.
Tuan Bhardeka, milijuner tersebut, untuk kedua kalinja. Pertama kali ditahun 1948.
Kemudian rombongan Pakistan masuk pula. Antara mereka dengan mereka dipergunakan bahasa Inggris.
Apabila kita punja sahabat di Hongkong, dan kita mendarat untuk pertama kalinja, bahkan djuga demikian dilakukan oleh buku petundjuk kota Hongkong, maka sahabat itu akan bilang: Hati2lah tuan pada tjopet, ditiap sudut ada tjopet. Maka di RRT ini, disetasiun Somtjun saja melihat ribuan tjalon penumpang jang duduk, berdiri atau sedang iseng main kartu dilantai sambil menunggu kereta jang akan membawa mereka ke Kanton atau Kuang Tjau. Saja lihat mereka tak kuatir akan adanja tjopet. Pada wadjah mereka nampak adanja kepertjajaan pada keamanan sosial. Lagu2 opera dan modern Tionghoa ber-ajun2 melalui pengerassuara jang dipasang ditengah2 setasiun. Dan dalam ajunan lagu2 anak2 ketjil mendjaga adik2nja. Ratusan pradjurit dgn sendjatanja masing2 duduk2 dengan amannja dilantai atau bangku, dengan uniformnja jang mengingatkan saja pada uniform Djepang.
Waktu itu adalah musimgugur. Perbukitan nampak belang2 karena setengah gundul. Waktu kami naik kekereta, maka ternjata bahwa tak ada perbedaan kelas dalam keretaapi ini. Hanja sadja orang2 asing mendapat tempat chusus jang tidak sesak. Segera kami duduk, datanglah pelajan, dengan ketjakapan jang mirip2 dengan seorang akrobat menjediakan gelas2 dihadapan kami beserta bungkusan teh hidjau. Tak ada sesuatu tanda akan adanja luxe. Tuan Bhardeka kembali mendjadi kawan duduk saja. Tiap gerbong mempunjai dua buah kipas angin, sedang panas hawa waktu itu adalah 24 deradjat selsius. Musimgugur tanpa angin dan dengan pepohonan jang masih menghijau. Segera setelah kereta berangkat, ternjata bahwa udara terlalu keringnja, dan segera kemudian bibir mendjadi petjah2 dan kering. Udara didaratan Tiongkok ini rupanja benar2 tidak dipengaruhi oleh angin laut, dan lebih banjak oleh angin dari pedalaman. Kami berangkat dari Somtjun pada djam duabelas lewat tudjuh menit waktu Peking dan sampai di Kanton pada djam empat lewat, waktu Peking. Tuan Bhardeka jang pernah dua kali mengindjak daratan Tiongkok bertjerita, bahwa dahulu djarak antara Somtjun-Kuang Tjau jang djaraknja tidak lebih dari 30 kilometer itu merupakan daerah penungan jang hambar. Penduduknja lebih banjak tenggelam dalam minuman keras, tjandu, dan buaja serta djagoan berkeliaran dengan senangnja. Tetapi, kata tuan Bhardeka selandjutnja, lihatlah sendiri sekarang semua orang jang saudara lihat lagi bekerdja atau sedang mengaso sebentar dari kerdjanja. Lelaki-perempuan, kadang2 setjara kolektif orang mengajuh pada pedal2 kintjir jang menaikkan air dari sawah bawah kesawah atas. Mereka belum bekerdja setjara machinal, sekalipun traktor dan bulldozer mendjadi barang2 jang amat diinginkan, dan sekalipun kooperasi2 telah didirikan diseluruh daratan. Walau demikian menurut laporan2 produksi selalu naik, dan airmuka mereka sungguh berbeda nampak pada saja daripada parapetani di Indonesia. Mereka bekerdja dengan suatu kejakinan akan baiknja hasil jang akan mereka paneni. Kita di Indonesia mempunjai jang mana pada wadjahnja nampak suatu negativisme terhadap panen mendatang. Semua diserahkan kembali pada alam, pada Tuhan jang memberi dan mengambil atas kehendakNj. sendiri. Petani Tiongkok dengan suatu kejakinan akan kemenangan usaha melawan keganasan alam sebisa mungkin. Tanah tandus jang membudjur dari Somtjun sampai Tjau jang kuranglebih 80 km pandjangnja itu mereka garap dengan kejakinan. Dalam hal ini sungguh sulit untuk menghindarkan suatu perlantunan kesan atau pendapat jang tidak bernada pudjian bagi parapetani Tiongkok. Memang kenjataan membuktikan, bahwa Tiongkok jang beberapa tahun jang lalu harus mengimport beras, kini bahkan mengexportnja.
Sepandjang berdjalan ini bukit2 tandus ditjoba sebisa2nja untuk dipetik hasilnja. Disana-sini nampak parapetani merebut alam untuk djadi miliknja, untuk dirubah mendjadi sahabat keluarganja, mereka bekerdja tanpa melihat keretaapi jang lewat didekat atau didjauh bujung2 tanah serta beton2 kuburan. Memang membosankan melihat pemandangan alam sepandjang djalan keretaapi ini: sepotong alam jang baru ditundukkan, lebih banjak masih berada dalam keadaan belum pernah tergarap, miskin akan pepohonan dan tetumbuhan. Tetapi kian mendekati kota Kuang Tjou, kian mulai nampak perubahan pada alam tandus ini: perkebunan tebu, djeruk, pohon2 Mei jang tinggal ranting2nja belaka karena telah menggugurkan seluruh daunnja. Maka melihat pemandangan jang dikotori oleh bukit2 jang tandus ini membuat terbitnja pikiran dalam diri saja, alangkah berbahagia parapetani ini bila bukit2 itu dapat disingkirkan kelaut. Tetapi bukannja hal ini tidak mungkin, karena saja pernah melihat betapa bukit2 jang terdjadi atas tumpukan batuhitam digergadji, diratakan dengan tanah.
Waktu kereta mulai memasuki daerah Kuang-Tjau, nampak betapa gubuk2 jang terbuat daripada suatu djalinan tumbuh2an dan dilapis dengan tanah mulai terdorong habis oleh flat2 jang baru dibangunkan. Dalam membuat flat ini pekerdja RRT tidak membutuhkan waktu sampai tahunan, tjukup dengan bulanan, bahkan mingguan. Laki dan wanita bekerdja-berat ber-sama, seperti halnja dengan parapetani Indonesia. Bendera merah-putih me-lambai ditiap gerbang dan rumah2 disamping bendera. Bahkan sekali nampak oleh saja tulisan besar „Salut kepada Presiden Sukarno” dalam bahasa Indonesia. Dan semua ini menjebabkan saja membenarkan kata2 jang diutjapkan oleh atase kebudajaan RRT di Djakarta, sdr. Shuma Wen-Shen, „Di RRT saudara akan merasa tinggal ditanahair sendiri.” Sesungguhnjalah, di RRT saja tak merasa sebagai tamu apapula sebagai orang asing. Didalam gerbong misalnja, seorang pengantar menemani paratamu asing dan mengadjaknja mengobrol tentang berbagai hal. Tadinja saja heran djuga melihat parapengantar ini ikut djuga membatja surat2 kabar atau madjalah2 dari Hongkong. Beberapa hari kemudian mendjadi djelaslah bagi saja, bahwa RRT tidak mempunjai aturan pembatasan batjaan. Djuga siaran2 radio dari seluruh dunia boleh mereka dengarkan tanpa ada sanksi. Bagi saja sendiri ini merupakan suatu aspek jang penting, mengingat betapa banjaknja berita jang menjatakan bahwa didaerah komunis tak ada kemerdekaan, dan umumnja bila orang menjebut negara komunis, maka assosiasi orang lantas sadja mengembara kesatu negara komunis sadja, jakni Rusia. Djelasnja, se-akan2 dinegeri komunis tidak ada pengakuan atas nasionalisme.
Satu hal lagi jang saja hargakan pada RRT ialah pelajanannja jang sungguh2 dipentingkan terhadap paratamu. Bahkan sampai pada pelajan2 tidak memperlihatkan sikap jang tiada atjuh. Mereka mentjintai pekerdjaannja masing2, dalam keadaan attent dalam kewadjiban — suatu hal jang selalu membuat litjinnja segala urusan. Waktu saja turun dari kereta disetasiun Kuang Tjau, seorang pekerdja dari National Travel Service ber-lari2an kearah berhentinja gerbong orang asing. Ia bertanja dalam bahasa Inggris sekolahan: Sdr. tamu dari Indonesia? Dan dibawalah saja kehotel. Berbeda dengan hotel2 jang pernah saja tumpangi dalam hidup saja, maka disini sudah disediakan dua bungkus rokok. Se-akan2 Tiongkok mengetahui benar, bahwa saja ini — dan tamu2 luarnegeri umumnja — tukangrokok belaka. Kebetulan saja sendiri memang ahli merokok. Saja tak ingat nama Hotel ini. Jang teringat hanja Kali Mutiara jang disebari dengan ratusan sampan, motorboot dan perahu lajar. Hampir ditiap kendaraan itu me-lambai2 Dwiwarna dan bendera RRT. Dan bila saja mendjenguk keluar djendela kearah djalan raja, djuga bendera2 ini terpampang disegala tempat. Pagi itu Sukarno terbang ke Kunming, dari Kuang Tjau. Sore itu saja datang di Kuang Tjau dari Kowloon. Se-tidak2nja saja masih mentjium bau pesta.
„Bagaimana rentjana saudara sekarang?” pekerdja National Travel Service itu bertanja pada saja. Dan saja djawab, malam ini djuga atau besok saja mesti pergi ke Peking. Malam itu djuga saja didjamu oleh Perhimpunan Sasterawan Seluruh Tiongkok Tjabang Kuang Tjau, dan besoknja pagi2 djam 7 saja telah duduk didalam pesawat udara. Pekerdja Travel Service dan wakil Perhimpunan Sasterawan mengantarkan sehingga Pesawat hilang lenjap dari pemandangan mereka. Komposisi daripada penumpang pesawat adalah demikian: dikursi paling depan, dihadapan medja buku dan madjalah batjaan, 3 orang pegawai kedutaan Indonesia, kemudian beberapa orang Tionghoa. Sesudah itu empat orang Pakistan, diantaranja penjair Mohammad Ali. Tiga orang Djepang diantaranja Yoshiro Nagayo, pengarang kenamaan Djepang itu. Empat orang Rus, jang seorang diantaranja tertinggal, karena waktu kami sedang sarapan pada djam lima pagi, ia kena kedjang. Seluruh tubuhnja mendjadi tegak kaku, memuntahkan banjak busa dari mulutnja. Rupanja2 ajan. Saja mendapat tempat duduk dekat pintu paling belakang. Dan dibelakang saja kakus dan medja tempat makanan dan rokok. Didalam pesawat ini orang harus melajani diri sendiri, tidak seperti bila kita naik BOAC, KLM atau CPA. Maka bila orang tak mengetahui kebiasaan ini, mulutnja akan kesepian djuga. Sedang di BOAC, misalnja, walaupun ada stewardes toh seorang sebangsaku berpesan kepadaku: Kalau saudara naik GOAC bawahlah makanan. Kalau tidak tanggung kelaparan. Dan sesungguhnjalah, di Boac saja menanggung kelaparan.
Dalam pesawat ini penjair Mohammad Ali selalu membatja Collected Stories of Lu Hsun. Saja menduga, bahwa ia akan menghadiri rapat peringatan Lu Hsun pada tanggal 20 jad, di Peking. Saja sendiri lebih senang membatja pegunungan dan perbukitan Tiongkok Selatan jang dipandang dari atas seperti direnda dengan bujung2 kuburan. Bertambah tinggi kami terbang, bertambah insaflah saja, bahwa sesungguhnja saja amat kedinginan. Gigi mulai bergemelutuk. Dua-tiga orang mulai membungkus dirinja dalam selimut. Kemudian barulah saja tahu, bahwa jang menjebabkan dinginnja bukan main ini tak lain karena dinding pesawat tak dilapis kain wol — dalam keadaan telandjang, dan hanja dilapis dengan tjat hidjau militer. Satu2nja djalan untuk terlepas daripada dingin hanjalah terusmenerus makan atau mengisap gula2, dan merokok. Pesawat terus terbang. Sementara itu saja mentjoba untuk tidur. Tetapi pikiranku penuh dengan chajal jang membajangkan bagaimana rapat peringatan Lu Hsun di Peking nanti. Sesungguhnjalah, baru sekali ini saja ikut tjampur dalam pertemuan internasional sematjam ini. Dan sebelum chajal itu mampu memberikan bajangan jang tjukup lengkap, saja telah djatuh tertidur. Bangun2 waktu pesawat mendarat disetasiun Wuhan, setasiun pertama. Pada setasiun kedua kami semua mendapat makan lengkap. Pada setasiun ketiga, setasiun militer sebenarnja, kami dihadapkan pada kakus djumbleng. Ini mengingatkan saja pada tjerita beberapa orang di Indonesia bahwa RRT tidak mempunjai kakus jang lajak. Memang suatu antipropaganda jang murah. Tetapi dilandasan lapanganterbang militer ini berbaris puluhan jet militer.
Waktu telah berada diangkasa lagi, dan melihat pegunungan dan perbukitan dan hutan jang tiada habis2nja, terbit dalam hati saja, bahwa bila ada serangan dari luar saja kira tak mungkin RRT bisa mempertahankan diri. Hal ini pernah djuga saja njatakan pada seorang kawan Tionghoa. Dia hanja tertawa. Kemudian bilang, bahwa Balatentara RRT jang didemobilisasikan adalah sebanjak 3 djuta orang. Mereka pulang kerumah masing2 membawa sendjata. Artinja, bahwa mereka mendjadi situasi pegunungan dan perbukitan jang terasa tiada habis2nja itu. Dan tjara jang baik adalah ber-siap2 dengan pertahanan rakjat. Tentu, bahwa adalah suatu kesembronoan menjerahkan sendjata sebanjak itu bila „keadaan sosial” masih amat „lembek”. Karena itu saja dengan sendirinja berpikir, bahwa tindakan ini tidak mungkin suatu kesembronoan. Artinja, bahwa bukan sadja rakjat itu pertjaja sepenuhnja kepada para pemimpin negaranja, tetapi jang penting adalah sebaliknja, ialah, bahwa parapemimpin negara ini telah berhasil mentjiptakan keadaan sosial baru jang memuaskan rakjatnja, dan, mereka pertjaja pada rakjatnja itu. Sebahagian dari kaum demobilisasi ini telah berpengalaman dalam perang Korea melawan pasukan Amerika, dan dalam peperangan Korea ini untuk pertama kali mereka melihat tank2 raksasa dan melawannja. Bantuan bantuan tegas dari RRT inilah jang menjebabkan adanja Republik Demokrasi Rakjat Korea. Bantuan ini bisa saja mengerti, kalau saja mengingat kembali akan kelakuan imperialis-kolonialis. Korea dan Tiongkok ikut pula mengalaminja dengan pahitnja. Dan tiap orang jang mau mengakui kenjataan2 obyektif akan membenarkan, bahwa demokrasi barat telah banjak membuat dosa terhadap daratan dan kepulauan Asia, sedang sebaliknja Asia tidak pernah berdosa terhadap Barat. Keinsafan-budi atau geweten inilah jang menjebabkan Tiongkok memberikan bantuan riel kepada Korea.
Pada djam lima sore pesawat mendarat dilapanganterbang Peking. Waktu itu panas udara adanja 20 deradjat selsius. Seorang penterdjemah tetap dan anggota Perhimpunan Sasterawan Seluruh Tiongkok Pusat, Chang Yung-Sung, beserta sekretaris Lembaga Persahabatan Tiongkok-Indonesia, Sie Ho-Sian, menjambut saja dan membawa saja ke hotel. Dari djendela ini saja lihat betapa sibuknja bus dan mobil2 membawa pekerdja orang2 Rus pulang kehotel. Diantaranja adalah insinjur2 dari Tjekoslovakia, Polandia dan turis2 dari Perantjis, Inggris, delegasi2 berbagai permusjawaratan dari India, Nepal, Birma, Australia, Hongaria dan boleh dikata dari seluruh dunia, bahkan djuga dari Guatemala. Hanja orang Amerika tiada saja temui disini. Tiongkok umumnja menggunakan bus uap dan bus Skoda dari Tjekoslovakia. Baru di Peking inilah saja mendapat kesempatan jang sebenarnja untuk berkenalan dengan wadjah dan djiwa Tiongkok. Disini pulalah saja melihat betapa penduduk boleh dikata mengenakan pakaian biru seluruhnja. Seperti semut, kata seorang anggota missi parlemen Indonesia. Pemandangan jang sama sadja demikian memang membosankan. Tetapi kebosanan itu achirnja berubah mendjadi penghargaan, waktu saja mengetahui, bahwa rakjat Tiongkok adalah rakjat jang pernah menang dalam suatu revolusi mental, sehingga mereka berani hidup sederhana. Dan sesungguhnjalah keberanian akan hidup sederhana ini jang memungkinkan Tiongkok melantjarkan pembangunan serentak diseluruh negeri setjara besar2an. Dan warna biru ini selamanja membawa kenangan pada masa heroik dalam Perang Pembebasan jang baru lalu, dimasa parakader mengenakan pakaian Sun Yat Sen jang serba biru. Dan mengapa warna biru jang dipilih, adalah karena baru warna itu jang bisa dihasilkan Tiongkok pada masa itu. Mengimport bahan warna jang beraneka warna adalah pekerdjaan mubazir, djustru negara sedang membangun dan membutuhkan biaja jang terlalu besar djumlahnja.
Pada keesokanharinja barulah saja menjaksikan betapa untuk berhasilnja pembangunan ini wanita2 tidak sempat mengetjat bibir, dan rambut mereka tak begitu mendapat perhatian. Tentu, bahwa hal ini djuga mendjadi perhatian saja atas nama kelamin saja. Lagipula saja sungguh2 membenarkan pepatah „wanita dan ketjantikan adalah satu.” Namun tiadalah saja mengurangi penghargaan saja terhadap kebulatan tekat dan keseluruhan tekat mereka dalam menjerahkan se-gala2nja demi berhasilnja pembangunan. Di Indonesia pernah djuga saja dengar, bahwa pakaian biru ini adalah hasil daripada paksaan golongan berkuasa. Setelah melihat sendiri di Tiongkok, terutama setelah menindjau dari djurusan kesederhanaan mereka, maka dapatlah saja menarik kesimpulan, bahwa hal itu tidak benar samasekali. Buktinja, bila musim dingin tiba, pakaian Sun Yat Sen jang biru dan kebanjakan tidak dari wol, tetapi dari katun ini, dilapisi dengan pakaian wol jang berbagai matjam warnanja. Kesederhanaan inilah jang membuat orang2 luarnegeri jang biasa hidup mewah didalam kekurangan sesamanja merasa tidak betah lebih lama tinggal di Tiongkok. Bagi saja terutama, Tiongkok merupakan suatu kenjataan akan kemenangan revolusi total, terutama revolusi mental, jang mana kita bisa banjak beladjar daripadanja. Azas2 kesederhanaan inilah jang menjebabkan Tiongkok tidak banjak mengalami kesukaran dalam melakukan program2 raksasa, karena nafsu2 luxe ditindas oleh kesadaran mereka. Import tetekbengek tidak dilakukan. Bila tetekbengek ini toh dibutuhkan, maka dibuatlah industri sendiri. Kwaliteit? Memang lebih rendah daripada kwaliteit luarnegeri. Hal itu orang Tiongkok tak menjembunjikannja. Tetapi, didjawab mereka dengan suatu kesadaran jang penuh, ini adalah buatan kami sendiri. Benar nilainja kurang, tetapi harganja djuga lebih murah. (Kira2 harga seperlima daripada barang import). Dan nilai ini bisa kita perbaiki bersesuaian dengan bertambahnja pengalaman kami.
Memang di Peking, dan djuga di-tempat2 lain kita bisa saksikan sedan2 Soviet jang paling baru, tetapi djuga sedan2 Inggris dan Amerika jang mahal2 itu. Kebanjakan sedan2 ini adalah kepunjaan paradiplomat atau disediakan untuk paratamu luarnegeri. Bagaimana tentang embargo PBB? Ha, tentang hal inipun ada tjeritanja jang lutju. Amerika dengan tidak terang2an meexport mobil2nja kedaratan Tiongkok. Dengan sendirinja setjara berselimut melalui Hongkong-Kowloon. Tentang Inggris, kita sudah tahu belaka, dengan terang2an mereka terdjang embargo ini. Maka bagi saja sungguhlah lutju bila mendengar wartawan Perantjis me-maki2 embargo jang hanja menguntungkan Amerika dan Inggris jang mengelabui mata Perantjis, karena hingga waktu itu tak dapat export mobilnja ke RRT. Ini hanja mengenai export mobil ke RRT. Embargo itu sendiri dalam banjak segi memang dipatuhi oleh anggota2 PBB. Tetapi rakjat RRT jang telah hidup dalam alam kesederhanaan itu samasekali tidak merasa gentar mengalami putusnja hubungan ekonomis dengan dunia luar. Saja sendiri melihat adanja heroisme dalam sikap mereka terhadap embargo ini. Tetapi mereka tidak tinggal berpeluklutut dengan heroismenja belaka. Tetapi mereka bekerdja untuk mengatasinja. Mereka bangunkan industri jang menghasilkan tiap benda2 selesai atau setengah-selesai jang tadinja mereka import. Biarpun embargo akan berdjalan 10 tahun lagi mereka tidak akan merasa pusing, bahkan mungkin sekali mereka malah mengexportnja. Inilah, bagi saja terutama, suatu realisasi kreatif atas tantangan perekonomian internasional terhadapnja. Negara2 demokrasi Barat terlampau menjandarkan kekuatannja pada faktor2 ekonomi. Tetapi di RRT saja menjaksikan betapa faktor2 mental telah dapat mengalahkan diktator ekonomi demokrasi Barat ini. Maka saja berpendapat, bahwa tidaklah benar bahwa Tiongkok mendjiplak mentah2 Marxisme, walaupun memang dia pengikut jang setia. Jang penting disini ialah, bahwa ia dapat mentjernakan kekuatan nasionalnja sendiri jang sudah dimilikinja ribuan tahun lamanja. Komunisme Tiongkok merupakan tjontoh jang baik daripada Tiongkok Timur jang hidup subur ditanah kelahirannja sendiri.
Sebagai imbangan daripada kemadjuan produksi, dan dengan sendirinja ekonomi, Tiongkok ini maka Amerika Serikat membuat suatu peraturan jang demikian bunjinja: United States Treasury Departement (Foreign Assets Control) Regulations prohibit the importation into the USA of merchandise originating in Chine or Nort Korea. Saja kira peraturan ini bukanlah chusus berazaskan perlindungan terhadap industri dalam negeri, tetapi berdasarkan alasan emotional semata. Ini kita mengerti bila mengingat kembali akan kekalahan balatentara Amerika Serikat jang sempurna persendjataannja itu terpaksa gulungtikar di Korea menghadapi kesatuan2 RRT dan Korea Utara jang sederhana persendjataannja. Dan tak dapat dilupakan adalah pula veto jang didjatuhkan Amerika terhadap masuknja RRT mendjadi anggota PBB. Bitjara tentang import barang RRT ke Amerika ini bagi saja memang bisa dibatasi. Tetapi bagaimanakah halnja dengan hasil2 kerdjajaan tangan RRT jang tiada taranja diseluruh dunia itu? Apakah djuga ini tidak lajak masuk ke Amerika Serikat? Dan apa pula sebabnja wartawan2 Amerika Serikat dilarang masuk kewilajah RRT, sedang RRT sendiri mengundang mereka, dan mengapakah djustru Amerika Serikat sendiri jang melarang mengundang mereka, dan mengapakah djustru Amerika Serikat sendiri jang melarang wartawan2nja sendiri? Memang, hal ini adalah urusan Amerika Serikat sendiri, tetapi saja kira dunia kita ini hanja satu inilah, dimana kita hidup berdampingan dengan bangsa2 jang mendudukinja. Djadi tiadalah salahnja kita ikut memikirkannja, bahkan saja kira ada baiknja kita ikut memikirkannja.
SEKARANG saja alihkan perhatian kita pada soal kebudajaan.
Pada mulanja pusat kebudajaan adalah di Nanking. Dengan kemenangan pasukan Merah, jang membuat Peking mendjadi ibukotanja, maka seperti dengan sendirinja pusat itu pindahlah ke Peking. Pada djaman Chiang Kai Shek nama Peking dirubah mendjadi Peiping, jang berarti kota jang telah diamankan. Tetapi penduduk menolak penamaan ini, karena kata aman ini tidak berlaku bagi rakjat umumnja. Terror meradjalela — maksud saja terror jang dilakukan oleh opsir2 Chiang Kai Shek. Salahsebuah tjontoh jang indah misalnja dapat dikemukakan seorang tokoh terkemuka dalam opera Hwa Mu-lan, pahlawan wanita jang gagahberani ini. Pemain terkemuka dari opera ini pada suatu kali diminta kawin oleh seorang perwira Chiang. Tetapi dia menolak. Dan apa jang dikerdjakan oleh opsir ini? Dia tidak tinggal diam. Kawan2nja jang pegang kekuasaan diadjak memboikotnja. Maka opera ini tidak boleh main lagi. Baru sesudah pembebasanlah artis ini bisa main lagi. Bahkan ia mendjadi begitu popular sehingga dapat menjumbangkan sebuah pesawat terbang kepada pemerintahnya untuk memperkuat pasukan di Korea. Kekajaan jang demikian besar ini, jang masih merupakan dongengan dihampir seluruh dunia, adalah suatu hal jang biasa di Tiongkok. Apabila dalam pembangunan gedung, pabrik, kota dsb. penduduk bekerdja bergotongrojong atau setjara kolektif, maka para artis dan seniman ini pun membangun setjara individual. Disinilah saja menjaksikan akan paraseniman dan artis jang membangun negaranja setjara total. Membangun apa? Membangun djiwa mereka sehingga tetap muda dan kuat. Lu Hsun, bapa alam pikiran Tiongkok modern, mengatakan, bahwa kita semua biarlah mendjadi sapi jang makan rumput, tetapi toh menghasilkan susu. Dilapangan kesusasteraan parapengarang mempunjai tugas sebagai insinjur djiwa. Dan tugas ini bukannja diletakkan dengan paksa oleh pemerintah pada hati mereka, sehingga terdjadi suatu hypokrisi produksi, tetapi mereka menjadari tugas ini. Memang sungguh suatu hal jang adjaib kedengarannja, bila kita tidak memulai mengerti dari dasarnja. Dasarnja adalah solidarisme kewarganegaraan.
Dengan solidarisme kewarganegaraan suatu negara bisa membangun se-gala2nja. Mungkin solidarisme ini memang mengandung benih2 chauvinisme, tetapi melihat betapa terbukanja hati orang Tionghoa dan ketjenderungannja untuk bersahabat dengan bangsa2 lain, saja menjangsikan adakah solidarisme ini ada mengandung chauvinisme. Memang, bahwa solidarisme ini timbul karena adanja kesedaran politik. Tetapi ada suatu hal jang penting, ialah, bahwa rakjat Tiongkok oleh parapemimpinnja tidak dibentuk untuk mendjadi manusia politik, tetapi lebih banjak dibentuk mendjadi manusia budaja. Sungguhlah tidak pertjuma mengapa parapemimpin RRT boleh dikata hampir semua adalah seniman. Dalam membentuk rakjat mendjadi manusia budaja, mereka bukan mempergunakan politik abstrak, tetapi lebih banjak politik real, jakni memberikan bahan2 jang real. Bahan2 jang real ini dapat disebut misalnja, pemeliharaan kembali warisan2 kebudajaan lama, seperti istana2, taman2, perluasan museum, penghidupan kembali kesenian feodal dan kesenian rakjat, perlipatgandaan akademi2 seni, penghargaan terhadap kaum seniman, baik dalam bentuk honoraria maupun dalam bentuk kedudukan sosialnja, dan sebaliknja sikap jang terbuka daripada kaum seniman untuk menerima kritik dari masarakat seninja masing2, peraturan jang melarang didirikannja gedung diatas tanah jang belum diselidiki oleh parapenjelidik kebudajaan adakah tanah dimana akan didirikan gedung tersebut mengandung warisan kebudajaan atau tidak, peredaran buku jang ratusan ribu exemplar banjaknja dengan harga jg bisa dibeli oleh pekerdja jang paling muda dengan tidak mengganggu perutnja, dan jang lebih penting lagi ialah: bebasnja paramahasiswa belajar, artinja, mereka tidak diwajibkan membajar uang kuliah.
Maka tradisi kebudajaan dipelihara dengan baik, bahkan dipersubur. Dongeng2 kuno dan baru hidup dengan djelasnja dalam djiwa rakjat, bahkan djuga sedikit atau banjak mendjadi atjuan dalam kehidupan se-hari2. Pepatah2 jang puluhan ribu banjaknja, jang tadinja diteorkan oleh paraahlipikir Tiongkok kuno, dan masih mengandung nilai2 kebenaran tidaklah disia2kan. bahkan ditiap pertemuan dengan kaum tjerdikpandai Tiongkok satudemi satu pepatah ini keluar dengan tiada kehilangan hubungan dengan masakini, dan demikian pula halnja dengan dongeng2 kuno. Dalam tiap persoalan orang Tionghoa selalu meruntuhkan mutiara pepatah atau dongeng kuno ini, jg. karena banjaknja, se-akan2 tetap baru dan segar. Istana kuno di Peking, misalnja, kini dipelihara kembali. Apabila dahulu orang jang tidak berkepentingan berani masuk dan mendapat hukuman mati atau se-tidak2nja disiksa dalam bentuk2 tertentu, kini terbuka bagi semua orang. Petani2, buruh, sampai djendral dapat masuk untuk melihat dan menjaksikan betapa radja mereka dahulu hidup dengan mewahnja demi kesengsaraan rakjatnja, dan sekaligus djuga menjaksikan hasil2 jang terbaik daripada kesenian dan keradjinantangan Tiongkok pada suatu masa tertentu. Dalam hal ini seorang pekerdja memberikan penerangan dengan tiada mengenal lelah. Maka dari penerangan jang dikatakan dengan terbuka oleh djurupenerang itu tiap orang Tionghoa mendjadi tahu tentang sedjarah dirinja sendiri, sedjarah nenekmojangnja, dan …nasib apakah jang akan menimpa diri mereka sendiri bila tanahairnja tak segera dibebaskan. Dengan djalan demikian maka banjaklah kesedaran jang bisa dibangkitkan dalam djiwa rakjat Tiongkok, dan kesedaran ini amat perlu bagi timbulnja patriotisme positif. Pendidikan jang setjara tidak langsung ini melalui hasil2 kebudajaan dan sedjarah, menjebabkan mengapa rakjat Tiongkok mampu mengikuti perkembangan internasional bukan sebagai orang penonton tetapi djuga sebagai peserta, mereka tak tinggal melongo ataupun takatjuh. Mereka memikirkan kepentingan satu dengan lainnja, dan djuga dunia umumnja. Pikiran jang tidak tinggal didalam tempurung otak, tetapi mendjalar keseluruh uratsaraf. Ini baru tentang istana kuno, dan belum tentang museum perdjuangan. Maka adalah istana musimpanas jang telah mashur diseluruh dunia, dimana hampir pada tingkat tertinggi terdapat kupel, dan didalamnja berdiri artja2 buddha jang besar. Istana ini menghadap pada telaga, dikelilingi oleh bukit2. Istana jang meninggi sampai dipuntjak bukit, bukit2 serta telaga ini adalah buatan tangan manusia, hasil kerdja rakjat djelata. Tentu, bahwa puluhan ribu rakjat tewas dalam membuat istana musimpanas untuk seri ratu ini. Karena istana ini adalah buatan rakjat, maka rakjat diperbolehkan masuk dan djuga menikmatinja, saja sendiri merasa, bahwa dalam menikmatinja pikiran kita tak bisa dilepaskan begitu sadja, tetapi tersangkut pada latarbelakang ketjintaan orang Tionghoa pada keindahan, jang, dengan kemampuan manusia disalurkan melalui dan diberi berbentuk kesenian. Selain taman2 jang telah ber-abad usianja ini dibuat taman2 baru, sehingga saja mendapat kesan, bahwa kota2 Tiongkok merupakan taman itu sendiri seluruhnja. Dalam hubungan pembangunan manusia budaja ini sungguh lajaklah bila kawan2 Tionghoa mendjadi heran apabila saja bertanja, berapa prosen mereka kena padjak atas honorarianja? Sesungguhnjalah, honoraria dari pekerdjaan kreatif tidak dikenakan padjak setjepengpun djuga. Seorang bukan golongan seniman berkata kepada saja, bahwa tidaklah lajak bila seniman jang bekerdja dan berdjuang seorang diri untuk nusa dan bangsanja itu mesti kena padjak. Dan dikemudianhari seorang pengarang Birma bertjerita pada saja bahwa pengarang memang kena padjak, tetapi padjaknja lebih baik merupakan formalitas, karena besarnja hanja 3 sampai 7 per-mil, bukan per-sen.
Dalam rangkaian tjerita saja mengenai kebudajaan ini dapatlah kiranja saja tjeritakan djuga tentang rapat peringatan Lu Hsun jang diadakan pada tanggal 20 Oktober. Perhimpunan Sasterawan Seluruh Tiongkok Pusat untuk merajakan hari ini mengundang tidak kurang dari 26 negara. Jang datang adalah 24 negara. Rapat diadakan digedung musjawarat politik Dan, perdana menteri Chou Eng Lai sendiri datang menghadirinja. Bukti akan pembentukan manusia budaja ini diperjelas lagi dengan hadirnja Lou Ting-yi, anggota dewan pimpinan Partai Komunis, bahkan djuga ikut menjumbangkan katasambutan. Antara lain ia mengatakan, bahwa: „Rakjat Tiongkok merasa ber-terimakasih kepada kesusasteraan revolusionar ini, karena ia membangkitkan rakjat untuk masuk kedalam kantjah revolusi dan berdjuang dan merebut kemenangan. Djadi Lu Hsun, bapa dari sastera dan dunia pikiran Tionghoa revolusionar ini, akan tetapi ditjintai oleh rakjat Tiongkok. Namanja akan tetap abadi. Demi pembangunan kita maka kita harus memperdjuangkan perdamaian jang tetap; itulah sebabnja kaum pengarang dan artis Tiongkok harus menghidjupi djiwa Lu Shun, dan mengambil bagian aktif dalam perdjuangan untuk mempertahankan perdamaian. Seperti Lu Hsun, mereka harus tetap berhubungan rapat dengan massa, mentjurahkan seluruh kekuatannja demi masalah besar pembangunan dan perdamaian.”
Sedang sudah lama sebelum itu Mau Tse-tung sendiri menjatakan penghargaannja dan penilaiannja jang tertinggi kepada pendiri realisme sosialis Tiongkok ini dengan kata2 demikian: „Lu Hsun adalah pemimpin jang tertinggi dalam revolusi kultural Tiongkok: ia bukan hanja orang besar dalam kesusasteraan, tetapi djuga orang besar dalam pemikiran dan seorang revolusionar besar…Lu Hsun, jang mewakili lapisan besar rakjat, adalah seorang pahlawan nasional jang tak ketinggalan djaman difront kultural, seorang pahlawan jang paling korrek, paling berani, paling kuat, paling setia dan paling giat jang menjerbu dan mendobrak perbentengan musuh.”
Apabila ahli2 negara telah begitu terbuka untuk menelaah hasilsastera, maka djelaslah bagi kita betapa proses pembudajaan rakjat Tionghoa ini berdjalan dengan lantjarnja. Mao Tse-tung sendiri adalah seorang penjair, jang berarti pula, bahwa dalam politik dalamnegerinja ia takkan menutup pintu bagi seni, bahkan sebaliknja menempatkan nilai2 seni, dan dengan sendirinja nilai2 keadilan dan kebenaran, pada tempatnja jang bear.
Dan dalam katapenutup saja pada pidato dirapat peringatan itu adalah: Berbahagialah rakjat jang mempunjai pengarang sebagai Lu Hsun, tetapi lebih berbahagialah rakjat jang dapat menghormati dan menghargai pengarang-pedjuang jang telah berdjasa kepadanja. Saja kira, saja tidak bisa menutup pidato saja itu lain daripada itu. Dan saja kira, barangsiapa berkenalan dengan sedjarah hidup Lu Hsun dengan latarbelakang sedjarah sosial dan politik dan ekonomi serta sedikit akan membenarkan saja. Tetapi soalnja bukanlah saja hendak mentjari pendukung, tetapi soalnja adalah melakukan pengamatan sampai dimana rakjat Tiongkok dapat menghargai pedjuang2 jang berdjuang untuknja, dan telah merelakan dirinja djadi kurban atas nama kebahagiaan rakjat itu. Dan dalam pengamatan itu ternjata, bahwa sesungguhnjalah rakjat Tiongkok menghargai parapahlawannja. Maka dibuatlah: taman2 pahlawan jang agung dan mewah — taman jang sesungguhnja, diantara bunga2an dan pepohonan, diantara hasil2 senipahat dan senituang — sehingga parapahlawan ini tidak berubah mendjadi dewa atau tokoh mythologis, tetapi mendjadi bunga. Tiap hari anak2 ketjil dan buruh atau pekerdja jang tjuti mengundjungi taman2 pahlawan ini untuk menjaksikan tempat mereka jang terachir, dan untuk bertamasa, sehingga perbuatan pahlawan disini dianggap bukanlah keluar kekuasaan manusia biasa, tetapi dapat dilakukan oleh tiap orang jang menjadari situasi tanahairnja.
Politik pembudajaan ini adalah lebih luas daripada jang saja duga semula. Bila di-negeri2 jang dikalahkan oleh semangat tjerabutan (ontworteld geest) orang mengedjek dan memandang dengan sebelah mata akan ahli2 seni lama, maka di Tiongkok dengan giatnja diadakan penilaian kembali atas tjerita2 lama, penggalian jang tak kenal lelah atas kuburan ber-abad, mentjetak kembali buku2 tua, usaha memperkenalkan opera Peking, bukan sadja didalam batas2 RRT, bahkan djuga di-negeri2 luar. Sungguh, tjara demikian menjebabkan rakjat Tiongkok kehilangan rasa rendahdiri jang tadinja ditanamkan oleh kaum pendjadjadjah, kaum konsessionis dan kaum intervensis. Suatu keberanian jang amat dahsat jang bisa dilakukan oleh negara Asia ini ialah pengoreksiannja atas kepertjajaan jang ber-abad2 lamanja mentjelakakan dan mendjerumuskan rakjat. Ini bukan berarti, bahwa kepertjajaan dibatasi, tetapi dihilangkan unsur2 jang merusak, jang tidak sesuai lagi dengan djamannja, dan agama bukan lagi merupakan tudjuan jang mendjerumuskan orang pada sektarisme, tetapi agama mengambil tempat-bertolak masakini, jang djustru memberi orang kekuatan ikut menjelesaikan masalah2 masakini setjara konkrit. Artinja agama bukan diketjilkan daripada kehidupan se-hari2. Dikemudianhari saja mendapat kesempatan mendengarkan suatu reportase tentang sembahjang paramuslimin disebuah mesdjid di Peking. Peking sadja mempunjai tidak kurang dari 70.000 muslimin dan muslimat. Chotbah jang mereka batjakan membuat kebenaran dan keadilan bukannja mendjadi muda, tetapi sebaliknja mendjadi muda dan bertenaga. Karena kebetulan waktu itu Inggris-Perantjis-Israel sedang menjerang Mesir, maka mendjadi lebih tegaslah betapa dunia agama ini memberikan bantuan moril jang tidak sedikit kepada Mesir.
Tentang lapangan pendidikan hanja sedikit jang saja bisa tjeritakan, jakni karena paramahasiswa tak diwajibkan membajar uang kuliah, bila mereka meninggalkan sekolah tinggi mendapat gadji minimum, jakni Y 65,—. Berbeda halnja dengan pekerdja kasar jang beladjar dengan tenaganja. Pekerdja kasar mempunjai gadji minimum jauh lebih tinggi daripada lulusan universitas ini. Fakultas2 jang berhubungan dengan teknik pada umumnja mempunjai mahasiswa lebih banjak, misalnja fakultas pertambangan. Djuga mempunjai banjak mahasiswa adalah fakultas pendidikan guru. Kedua fakultas ini punjai kompleks sekolah dan asrama jang besar2. Fakultas sastera jang banjak menarik minat adalah djurusan bahasa dan sastera Rusia, sedang djurusan bahasa dan sastera Indonesia terlalu sedikit, dibandingkan dengan hubungan jang telah berlangsung begitu lamanja antara Tiongkok dengan Indonesia. Waktu saja memberikan sedikit tjeramah, saja mendapat keterangan, bahwa djumlah mahasiswa-mahasiswi dari djurusan ini adalah tidak lebih dari 35 orang. Namun demikian patutlah, paradoxen berbesarhati melihat bahwa mahasiswa2nja setelah lulus dari didikannja telah mampu mendjadi penterdjemah buat paratamu jang datang dari Indonesia. Seorang diantara bekas mahasiswa ini adalah sdr Sie Ho Sian, sekretaris Lembaga Persahabatan Tiongkok-Indonesia, dan sdri Tjen Hsia-yu, penterdjemah dari buku Abdoel Moeis Salah Asuhan. Suatu hal jang menggairahkan adalah segala kegiatan sastera, dan kebudajaan umumnja, jang terdjadi di Indonesia mendapat perhatian penuh dari Fakultas Sastera dan Bahasa djurusan Indonesia. Waktu saja mendapat kesempatan untuk me-lihat2 perpustakaan Universitas Peking ini, sungguh2 saja merasa heran betapa sedikit buku Indonesia jang ada disini. Dalam hati saja terbitlah pertanjaan: apakah parapenerbit di Indonesia tidak mempunjai perhatian samasekali untuk memperkenalkan buah2 tjetakannja kepada Universitas2 luarnegeri. Tetapi saja kira ini termasuk atjara lain lagi daripada apa jang mesti saja tjeritakan.
Pendidikan di Tiongkok dimulai sedjak kanak2 bisa berdjalan. Karena orangtua kanak2 ini kebanjakan bekerdja dua2nja disianghari, dipagihari mereka diserahkan pada tempat penitipan kanak2, atau mereka diambil dengan betjak jang tertutup katja. Tiap kanak membutuhkan biaja Y 15,— untuk dapat diterima ditempat penitipan ini. Selain mendapat pendidikan, dan terutama sekali mempersiapkan mereka mendjadi warganegara jang bertanggungdjawab, djuga mendapat makan dan tempattidur. Disorehari mereka diambil oleh orangtuanja masing2 atau diantarkan kerumah. Dalam barisan2 ketjil jang terdiri atau sepuluh atau limabelas orang, kadang2 djuga hanja empat, anak2 itu bila pagi dibawa berdjemur dan bermain di-taman2, jang begitu banjak terdapat ditiap kota di Tiongkok. Dalam tangan pengasuh jang dalam djiwanja bersemajam semangat patriot, dan dalam lindungan orangtua jang djuga bersemangat patriot, maka kanak2 ini sedjak mereka bisa mengerti bahasa jang paling sederhana telah menerima benih2 jang baik. Kemudian pendidikan jang konstruktif ini disambung dengan diadakannja pioniers atas barisan pelopor jang terdiri atas anak2 sekolah. Mereka jang bisa mendjadi pionier dan mendapat ikatleher merah adalah murid2 jang dapat membuktikan dirinja bisa memberi tjontoh jang baik, mentjintai milik umum, radjin beladjar dan bekerdja — pendeknja tunas2 baru jang telah mempersiapkan diri untuk djadi warganegara jang bertanggungdjawab penuh, bukan hanja setjara ideal, djuga real. Dari kalangan pionier inilah dikemudianhari nasib Tiongkok akan diserahkan. Berbeda benar halnja dengan kepanduan diberbagai negara demokrasi barat, maka kalangan pionier ini hidup sepenuhnja dalam pertautan pertanggungdjawab jang langsung atas masarakatnja. Pernah sekali disebuah tamanpahlawan di Kuang Tjau saja melihat ratusan kanak2 diantaranja djuga banjak pionier sedang berpiknik. Saja melihat empat orang anak, diantaranja seorang pionier, sedang bertengkar, masing2 membawa kaleng pengangkut air. Waktu saja tanjakan mengapa bertengkar, maka pionier itu mendjawab: „Kami bukan bertengkar, tetapi pembagian pekerdjaan harus diatur. Kalau tidak maka tidak akan ada kerdjasama.” Pionier ini kira2 berumur sembilan tahun. Bagi mereka jang sudah serba cynis terhadap RRT, mungkin akan bilang bahwa itu adalah kata2 klise jang hanja tjukup dengan mengulang sadja. Saja kira soal ini bukan mengenai klise-tidaknja, tetapi sampai dimana mereka dapat menilai pengertian2 daripada suatu kata2 jang bagi kita disini terdengar agak bombastis. Bedanja dengan dibanjak kalangan diluar RRT, maka bombastis atau tidak anak2 ini berbuat dengan kongkrit, bukan berhenti dibibir.
Suatu hal jang djelas pada anak2 Tiongkok ini adalah spontanitasnja serta bakat2nja untuk menilai sesuatu sesuai dengan realiteitszin. Sekali waktu saja mengundjungi makam Lu Hsun di Sjanghai — dan djuga makamnja diletakkan di-tengah2 taman jang tidak kurang indahnja — ribuan kanak2 beserta pioniernja sekali mengepung mobil kami sehingga kami terpaksa turun. Mereka ber-sorak2 Indonesia! Indonesia! suatu hal jang sungguh mengharukan hati saja, mengingat betapa banjak arti Indonesia itu sudah bagi mereka. Indonesia, India, Birma dsb. bukan nama2 tempat jang mati, jang tidak bitjara apa2 — tetapi telah mereka kenal sesuai dengan realiteitszin mereka itu. Dengan spontan mereka ulurkan tangan masing2 dan mengharap djabatan.
Bagaimana kuatnja realiteitszin ini dapat dibuktikan pula di Sjanghai, terutama sekali karena djasa Madame Soong Ching Ling, dalam memberikan kanak2 ini taman2 pendidikan dan sebuah istana kanak2 jang mengagumkan besar dan indahnja. Di istana anak2, jang sungguh2 sebuah istana ini, kanak2 Sjanghai datang dari segala pendjuru. Disini mereka ber-main2, dan …beladjar sesuatu kedjuruan atas kemauan sendiri. Disini tidak ada guru, karena mereka memang bukan bersekolah. Hanja bagi tiap kedjuruan ada seorang pembimbing. Disebuah ruangan saja lihat pemuda dan pemuda dari belasan tahun membuat dan memperbaiki alat2 listrik dan radio. diruangan lain belasan kanak2 membuat model pesawatterbang dan kapal. diruangan lain bermain musik, menari, bermain drama, berpidato. Sedang norma2 pergaulan ala feodal telah tersapu bersih. Maka djuga tidak mengherankan apabila hingga guru bukanlah sikap seorang anak jang tidak berarti apa2, tetapi dia mengambil tempat jang penuh didalam pergaulan ini, dan djuga orang2 tua menerima kepenuhan mereka: suatu djalan jang amat praktis dalam menjuburkan kompleks rendah atau tinggi diri.
Masarakat Tiongkok Baru melahirkan baji, kanak2 dan pemuda2 jang tidak blanko. Ini dibuktikan dengan tegasnja waktu terdjadi agressi Inggris-Perantjis dan Israel terhadap Mesir. Di Peking ratusan ribu pemuda berdemonstrasi didepan kedutaan Inggris. Dari waktu ternjata orang2 kedutaan ini tak menggubris, dan mau/tak terima mereka dengan djangan menguntji pintu depan dan rumah, keesokan harinja mereka datang kembali berdemonstrasi. Sedikitpun tak ada kekerasan dilakukan, tetapi mereka pasang pengeras2 suara pada pagar2 kedutaan jang dihadapkan kepada gedung. Melalui pengeras2 suara ini mereka menjampaikan isihat mereka. Jah, mautakmau penghuni kedutaan mesti dengar djuga. Kesengitan parapemuda ini sungguh2 beralasan, karena djalan dimana kini berdiri gedung2 kedutaan, beberapa tahun jang lalu, jakni sebelum pembebasan, adalah daerah jang diberi tanda peringatan: Ardjing dan orang Tionghoa tak boleh masuk. Kemudian di Sjanghai, daerah jang terkenal dengan konsessi2nja itu, demonstrasi menjokong Mesir dilakukan tidak kurang oleh 1½ djuta orang. Dari tingkat paling atas hotel saja lihat betapa lapangan rakjat dibandjiri dengan bendera merah, dan suara mereka jang berkumandang melalui pengeras suara. Bagi saja sendiri melihat Sjanghai berarti melihat kota-dunia jang pertama kali. Dengan penduduknja jang 6 djuta itu, maka djumlah demonstran jang tidak kurang dari 1½ djuta pemuda itu sungguh2 menghadapkan saja pada masalah spontanitas dan ketjidaan blanko ini. Nilai2 keadilan sosial dan keadilan budi, bukan merupakan adjaran jang mati pada kata2, tetapi mendjadi sumber kekuatan rakjat Tiongkok, dan saja kira mendjadi sumber sedjak ribuan tahun jang lalu. Hanja sekarang sumber ini dipelihara. Ini terbukti dalam tjara mereka memperlakukan parahukuman didalam pendjara2 jang bukan lagi bernama dan berbentuk pendjara, tetapi lebih banjak bernama dan berbentuk taman pendidikan. Bahkan dilapangan kemiliteran ada perintah, bahwa pasukan RRT dilarang melepaskan peluru melalui perbatasan Birma, sekalipun presis pada perbatasan itu berdiri seorang serdadu Kuo Min Tang. Karena inilah maka banjak terdjadi keributan ditapalbatas ini, karena dalam clash2 dengan serdadu2 Kuo Min Tang, pasukan RRT tak bisa berbuat lebih daripada dalam batas negaranja, sedang Kuo Min Tang jang mengetahui akan perintah tersebut dengan leluasa berlindung diperbatasan ini. Orang2 Tiongkok memandang kerusuhan2 diperbatasan Birma ini sebagai lelutjon dan bukan perang. Kadang2 pertempuran jang terdjadi bukanlah dengan peluru, tetapi dengan kata2. Untuk mendjebak pasukan Kuo Min Tang dipergunakan taktik memantjing, agar mereka bisa masuk kedaerah RRT, kemudian dikepung. Mereka tidak akan di-apa2kan bila menjerah. Bahkan mendapat tawaran 3 matjam: mau bekerdja, masuk pasukan RRT atau kembali kekampung halaman. Bila mereka ingin kembali kekampung halaman, mereka direhabilitasikan, diberi tanah dan kembali mendjadi petani seperti paratetangganja. Saja tidak akan menjangkal kebenaran tjerita demikian, melihat adanja pertumbuhan keadilan sosial dan keadilan budi ini.
Keadilan ini bukan barang mati, tetapi bahkan dimobilisasikan. Dalam hal ini pers mengambil bagian jang amat penting. Ia merupakan kekuasaan jang paling digentari bagi mereka jang menjalahi keadilan. Suara pers adalah suara rakjat seumumnja, karena didukung oleh pernjataan bahwa dia tidak pernah menjalahi kepentingan umum. Hukuman dari pers terhadap pedjabat2 negeri terasa lebih berat daripada hukuman jang didjatuhkan oleh pengadilan. Karena itu, melihat kekuasaannja jang besar ini perspun amat ber-hati2 dalam melantiskan kritik.
ACHIRNJA saja akan bitjara sedikit tentang keadaan sosial.
Pada achir2 masa pendudukan Djepang, saja bekerdja sebagai penjusun kronik tentang Tiongkok di Domei. Ditambah dengan sedikit pengetahuan saja jang saja peroleh dari batjaan suratkabar didjaman Belanda, maka saja mendapat gambaran jang serba sedikit tentang keadaan sosial Tiongkok. Dengan gambaran inilah saja memperbandingkannja dengan keadaan sosial Tiongkok dewasa ini. Rakjat Tiongkok merasa berbahagia karena tanahairnja ini tak mengalami perampokan atau pentjurian ataupun pembegalan. Pada permulaan Pembebasan pembegalan dan perampokan ini memang masih ada, jakni dilakukan oleh tuan2 tanah jang melarikan diri ke-hutan2 dengan sendjata jang masih ada padanja. Sendjata ini memang mereka miliki sebelum terdjadi Pembebasan, untuk menanamkan kewibawaannja terhadap parapagarsarinja, jaitu penjewa tanahnja. Konsekwensi daripada adanja sendjata biasanja adalah penjalahgunaan didalam keadaan sosial jang buruk. Maka djuga tidak mengherankan apabila hingga sekarang kita masih dapat menjaksikan akan penjalahgunaan sendjata oleh paratuantanah ini. Dirumah2 paratuantanah ini, terutama didaerah Selatan jang agraris lebih kaja daripada didaerah utara, kita masih dapat saksikan benteng tinggi segiempat jang mendjulang tinggi diatas atap rumahbesar. Dari benteng inilah pasukan tuantanah memuntahkan peluru senapanmesinnja kepada parapagarsari jang memberontak.
Salahsatu continuity daripada kebusukan keadaan sosial adalah pelatjuran. Pemberantasan atasnja akan tetap sia2 apabila keadaan sosial tetap busuk, karena besok atau lusa dia toh akan bangkit lagi dan mengambil kamuflase jang lebih rapi. Tetapi kenjataannja sekarang di Tiongkok adalah lain. Dunia pelatjuran di Peking diberantas dalam semalam, setelah itu tidak timbul lagi. Di-daerah2 lain pemberantasan itu lebih tjepat lagi. Lama atau pendeknja waktu pemberantasan djuga mentjerminkan sedjarah sosial setempat pada masa sebelumnja. Sjanghai misalnja, membutuhkan waktu 15 hari dan malam untuk memberantasnja. Dan njatanja pemberantasan ini ditampung oleh kemungkinan2 sosial jang sedemikian rupa sehingga tidak ada kesempatan untuk tumbuh kembali. Hal jang menjebabkannja terutama sekali adalah suatu ajat didalam undang2-dasarnja jang dilakukan dengan sepenuhnja itu, bahwa ‘kerdja adalah suatu kewadjiban jang mulia.’ Maka ini berarti pula, bahwa kerdja mendjadi dasar se-gala2nja. Filsafat kerdja ini menjebabkan, bahwa penghidupan jang diperoleh dengan djalan memberikan pelalai atau kasarnja adalah pelesiran, mendjadi haram. Tentu sadja bukan haram dalam pengertian keagamaan, tetapi dalam pengertian sosial.
Selama satu bulan di RRT belum pernah saja dengar tentang peristiwa pelatjuran, pentjurian, perampokan ataupun pembunuhan. Satu2nja peristiwa penipuan saja dengar di Peking — jakni penipuan dengan kesengadjaan jang besar, sehingga penipu jang achirnja tertangkap ini mendapat gelar penipu-politik. Beberapa waktu jang lalu diandjurkan agar peristiwa itu diabadikan didalam tjerita, atau dengan kata2 kawan2 Tionghoa sendiri: dibutuhkan seorang Gogol Tiongkok. Kini tjerita itu telah disandiwarakan dan mendapat perhatian jang luas, sehingga siasat2 penipuan politik itu diketahui belaka oleh umum, dan mendjadi peringatan bagi rakjat seluruhnja.
Diatas sudah saja tjerita sedikit tentang basis gadji. Pernah saja tanjakan kepada penterdjemah saja, sdr. Huang Wei Lung, seorang lulusan Universitas Peking djurusan Indonesia, dan kelahiran Malaja, apakah sdr. tidak ingin mempunjai mobil sendiri, dan mendapatkan uang jang lebih banjak. Djawabannja sungguh2 mengagetkan saja. Begini katanja: Tentu sadja saja ingin semua itu, tetapi kami harus bisa mengontrol keinginan2 kami, sehingga tidak merugikan usaha pembangunan kami. Kedengarannja memang bombastis. Tetapi bila kita lihat betapa RRT melakukan pembangunan dengan tenaga raksasa jang dikandung oleh djiwa tiap orang Tionghoa, maka kita tidak kehilangan proporsi dalam me-nimbang2 akan kebenaran kata2nja.
Dalam pembangunan, ini bukan sadja telah berhasil dalam lapangan kedjiwaan, tetapi djuga pembangunan ekonomi, sosial, kota, walaupun baru dalam taraf pertama. Tetapi djuga hasil2 jang diperoleh dalam taraf pertama ini telah mengagumkan seorang asing sebagai saja, dan saja kira djuga tiap orang asing jang mengundjungi RRT.
RRT telah memberi saja kesan jang mendalam tentang bagaimana suatu bangsa jang diterbelakangkan harus bekerdja menurut rentjana jang benar2 sesuai dengan kepentingan nasionalnja. Kenjataan2 jang saja saksikan daripada kerdja bangun ini menimbulkan banjak pikiran pada saja, dan memimpin saja untuk memandang sesuatu hal dalam rangkuman keseluruhan. Misalnja, bila kita melihat seorang warganegara RRT maka kita dengan mudah dapat mengatakan, bahwa sebagai perseorangan mungkin orang Indonesia lebih kaja daripadanja. Tetapi melihat keseluruhan RRT, maka kita berhadapan dengan suatu totalitas jang hebat, jang kaja, jang dahsat. Sebagai totalitas RRT saja kira adalah negara jang terkaja didunia ini. Dia bangun dengan tenaga jang ada pada dirinja sendiri. Bantuan dari luar bukanlah merupakan faktor jang menentukan. Ini dapat dibandingkan dengan Amerika, jang sehingga tahun 1955 tertimbun dalam hutang2 nasionalnja.
Setelah menuliskan sebagian daripada kesan2 saja dan pendapat saja tentang RRT ini, dengan sendirinja akan terbit pertanjaan dalam hati pembatja, apakah saja memudji atau mentjelanja, atau tinggal netral. Dalam hal ini lebih baik saja mengandjurkan, agar melihat sendiri RRT dan memandangnja sebagai totalitas.
Djakarta, XII-1956.