Publisher Note
Cerita pendek ini dimuat pertama kali dalam majalah Siasat Th. II No. 66, 6 Djuni 1948. Cerita pendek ini juga dihimpun dalam buku yang disunting H. B. Jassin berjudul “Gema Tanah Air”.
Digitizer Note
This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.
All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.
The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.
Tjerita ini mulai sebulan jang lalu, jaitu waktu saja memperoleh sebuah kamar baru. Kamar itu baik. Agak besar, tjukup luas untuk tempat tidur dan rak-rak buku saja. Hawanjya pun baik. Kalau hari siang ia amat panas dan kalau hari malam ia amat dingin. Sekiranja angin tidak ada, terbaru baru tengik jang mesti saja atasi dengan bau obat njamuk. Selain dari itu, ada lagi tikus. Tikus-tikus ini berusaha untuk hidup dan untuk dapat beranak bertjutju. Djadi mereka tidak lebih dari kaum proletar. Saja djuga seorang proletar. Dan karena proletar seluruh dunia harus bersatu, maka akan dapatlah kami kiranja hidup rukun dalam kamar itu. Tetapi kawan-kawan serikat saja ini, suka berpesta. Kalau kegembiraan mereka sudah naik marak, maka dimakannja buku-buku saja. Sehingga tak mengherankan, djika saja pagi-pagi hari menemui de Maupassant tak berkepala atau Dos Passos tak berpunggung.
Suatu hari datang seorang anak muda bersepatu putih, bertopi hitam, badjunja belang-belang dan ia memperkenalkan diri kepada saja sebagai: C. Darla. Ia tidak mengatakan apakah apakah ia Indo-Spanjol, atau Manila ataupun orang Indonesia jang berasal dari pulau Enggano (saja mendengar kabar, bahwa orang-orang Enggano masih memakai nama-nama Spanjol.
Ia beroleh kamar jang letaknja lebih dekat kekamar mandi. Bahasa Indonesianja langgam-langgam Singapura bertjampur bahasa Inggeris sedikit-sedikit. Demikian ia bertjerita tentang „British nebi jang lendid di Singapure”. Saja tertarik kepadanja, karena ia pandai bertjerita tentang matjam-matjam pengalaman jang didapatnja di Singapura. Tentang badjingan-badjingan „geng-geng”, katanja, tentang kaum komunis dan sebagainja. Waktu ia menjusun buku-bukunja, diberikannja buku „Atlantic Charter” kepada saja. Saja makin kagum. Tetapi kemudian hari dikatakannja, bahwa buku roman jang sebagus-bagusnja, ialah buku „Elang Mas” karangan Jusuf Sou’yb. Segera hilang kagum saja. Sungguhpun demikian kami tetap bersahabat.
Pergaulan kami amat rapat, sehingga banjaklah jang berketjil-ketjil jang ditjeritakannja kepada saja. Ia mentjeritakan, bahwa ia mempunjai darah Spanjol, tetapi ia telah lama tinggal di Indonesia. Sebelum ia datang kemari, ia berdiam di Singapura. Kedatangannja ke Djakarta membawa kisah sedih. Ia harus meninggalkan kekasihnya seorang gadis Pilipona di Singapura. Sesudah mentjeriterakan itu, ia mengetik utjapan-utjapan pernjataan-tjinta dalam bahasa Inggeris jang tunggang-balik, lalu ditinggalkannja dikamar saja. Tentang pekerdjaannja tidak pernah ia berbitjara. Hanja ia berangkau pukul 9 dari rumah dan pukul 1 ia telah ada pula. Tetapi rupanja pekerdjaannya amat banjak, sehingga setiap sorea ia memindjam mesin ketik, lalu mengetik terus-menerus. Sesudah itu lalu dibakarnja segala kertas jang sudah diketiknja tadi. lalu ia bersungut-sungut. Kemudian ia datang kepada saja untuk menjatakan, bahwa mesin ketik saja kurang „enak”. Kalau boleh ia hendak membawanja ke bengkel supaja diminjaki. Ini saja izinkan. Lalu ia hendak membelikan saja pita mesin tulis jang berwarna merah-hitam. Itupun saja setudjui dengan hati jang tulus ichlas. Demikian ia melakukan perbuatan-perbuatan jang gandjil-gandjil dan jang penuh simbolik, sehingga menarik perhatian segala isi rumah. Ia mendjadi pusat perhatian. Entah memang itu maksudnja, saja tidak tahu. Tetapi ia berhasil benar, sehingga tiada lagi orang jang menghiraukan keluhan-keluhan saja setiap pagi tentang pengarang anu jang kehilangan kepala atau jang kehabisan punggung ataupun jang petjah-petjah kulit. Demikian saja tinggal dnegan teman-teman serikat saja jang mendjadi musuh saja dan sahabat saja C. Darla jang mengalahkan saja.
Pernah Darla bertanja tentang tjinta kepada saja, dan apakah telah banjak pengalaman saja tentang hal ini. Rupanjanya sangat tertarik benar hatinja akan pokok pertjakapan ini, sehingga kadang-kadang sampai sekerat malam kami bertjakap-tjakap. Katanja, ia masih muda, masih ingin melihat dunia dan belum mau kawin. Tetapi ia sekarang sedang tersangkut pada suatu perkara jang sulit. Perkara itu, ialah perkara kasih-sajang djuga.
Sekali ia pulang membawa sebuah gelang rantai perak, seperti jang biasa saja lihat dipakai oleh serdadu-serdadu India atau Australia. Gelang itu diperlihatkannja kepada saja. Disana tertulis: Cordiaz Darla. Djadi sahabat saja itu ialah: Cordiaz. Bukan nama Indonesia. Saja tidak tahu berbahasa Spanjol, tetapi kalau mendengar-dengar bunjinja, ada djuga mengarah-arah sedikit. Sama enak kedengarannja, seperti perkataan Ortega dalam buku Ortega y Gasset dan perkataan Fernando dalam nama Fernando Poe. Pertjakapan kami malam itu dimulainja dengan sebuah ketawa besar. Sesudah itu ia berbitjara tentang Arni. Saja tidak kenal Arni. Katanja Arni, ialah „bekas” kekasihnja, dan sekarang gadis itu sudah kurus-kering karena ia tidak pernah lagi datang kerumahnja. „Tidak ada orang jang dapat menggantikan saja”, katanja. „Huh! Awak kira awak punje negeri! Ajahnja mesti datang kepada saja, minta ampun, baru saja datang ke sana ia mesti mendapat adjaran sedikit.”
„Djadi, menang lagi?” tanja saja.
„Siapa bilang kalah”, katanja.
Saja ikut tertawa karena sahabat saja menang. Tetapi, Arni pandjang umurnja dirumah kami, karena sahabat saja itu, mempertjakapkan Arni sadja kerdjanja. „Ia tidak dapat bertjerai dengan saja. Hatinja hantjur luluh,” katanja „Semua salah bapaknja. Sekarang anaknja makan hati.” Ia makin hari makin tidak senang diam. Surat-surat jang diketiknja makin lama makin banjak. Tetapi sebanjak itu jang diketiknja, sebanjak itu pula jang dibakarnja. Kalau ia tidak menjeterika tjelananja, ia mengetik, kalau ia tidak mengetik, ia keluar rumah. Perginja terburu-buru. Tetapi setjepat itu perginja, selekas itu pula kembalinja. Kalau sedang makan ia bertjeritera tentang saja-kasihan-sama-Arni.
Suatu malam ia pulang bergegas-gegas. Terus kekamar saja.
„Ia mentjari dukun,” katanja. „Saja mau diberi guna-guna. Bangsat! Saja djuga ada dukun.”
Entah dari mana ia mendapat kemauan untuk pergi kepada dukun entah dari ibunja, entah dari neneknja orang Spanjol, saja tidak tahu.
Pendeknja—ia pergi kepada dukun. Sore-sore itu ia mengirim surat dan suatu bungkusan kepada Arni. Surat dan bungkusan itu kembali malam itu djuga. Sesudah menerima itu, rupanja runtuh segala pasak-pasak tubuhnja. Dengan terbungkuk-bungkuk ia masuk kamarnja, lalu dikuntjinja pintu erat-erat. Esok harinja, waktu saja kembali dari berdjalan-djalan, saja lihat kopornja tidak ada lagi. Diatas medja saja ada surat. Didalamnja tertulis: „Saja tidak tahan lagi tinggal disini. Rumah ini terlampau ribut buat saja.” Kasihan! Rupanja banjak djuga tikus-tikus dalam kamardja. Dan kawan-kawan serikat saja ini rupanjanya bertindak sebagai kaum kapitalis, sehingga sahabat saja jang sama proletarnja dengan saja, tidak dapat bersatu dengan mereka—lalu pergi.
Sangka saja selesailah riwajat Cordiaz Darla. Tetapi minggu jang lampau saja mendengar chabar, bahwa ia telah kawin dengan seorang djanda jang beranak lima. Saja pergi kerumahnja. Agak merumuk ia sedikit waktu saja temui. Saja tanjakan bagaimana mereka kawin. „Bagaimana orang Indonesia kawin,” kata isterinja. Perempuan ini peramah betul dan ia lebih berpengalaman dari Darla, seingga tak dibiarkannja Darla banjak tjakap. Ia memperlihatkan surat kawin mereka kepada saja. Saja batja di sana nama: Chaidir Darla, djadi huruf C itu tidak berarti Cordiaz. Namanja memang Chaidir, karena isterinja memanggil „dir, dir!” Djadi ia bukan orang Spanjol atau orang Pilipina. Waktu saja mau pergi saja katakan kepada Darla, bahwa saja ikut berbesar hati. Saja berdjandji akan mendoa-doakan supaja mereka lebih banjak mendapat anak „Ingat,” kata saja „orang tua-tua bilang: banjak anak, banjak padi!” Isterinja tersenjum berseri-seri.
Dua hari jang lalu saja menerima surat dari Darla. Dalam surat itu tertulis: „Saja tidak akan lagi tinggal disini. Tolonglah saja!”
Saja maklum sudah. Bagaimana ia akan tahan, kalau hatinja keras untuk djadi orang Spanjol atau Pilipina, sedangkan orang menganggap dia orang Indonesia. Lagi pula apalah salahnja. Bangsa saja banjak sudah jang mendjadi orang Belanda, mengapa pula tidak akan diberi kesempatan kepadanja untuk mendjadi orang Spanjol. Orang Indonesia belum banjak lagi jang djadi orang Spanjol. Sebab itu saja kirimkan wang 50 rupiah dan saja tulis pada surat pengantarnja: „Untuk ongkos mendjadi orang Spanjol.”
Tapi jadi pagi, saja lewat bersepeda didepan rumah Darla. Kebetulan saja bertemu dengan budjang perempuannja, lalu saja tanjakan kalau-kalau ia tahu tentang amplop berisi wang jang saja kirimkan.
„Ia, saja sendiri jang kasih sama njonja,” djawabnja.
„Sama njonja? Djadi……?”
„Njonja terus beli kebaja baru.”
„O, bagus, bagus.” (Hati saja berkata, tjelaka tiga belas).
„Tuan sekarang dimana?”
„Katanja, kerdja dibagian distribusi. Masuk dulu tuan!”
„Ndak, ndak. Lain kali sadja”, Saja pergi.
Ah, kandas. Tragis betul. Belum djuga rupanja sampai tjita-tjita Darla untuk bernama: Cordiaz Darla. Tetapi tidak apa, siapa tau ia besok mendjadi orang Djerman atau orang Amerika.