Publisher Note
Cerita pendek ini dimuat pertama kali dalam majalah Zenith, No. 8, Th. I pada bulan Agustus 1951. Cerita pendek ini juga dihimpun dalam buku yang disunting H. B. Jassin berjudul “Gema Tanah Air”.
Digitizer Note
This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.
All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.
The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.
DJIRAN SEPERTI KUKENAL SELAGI KETJIL SEKARANG SUDAH TERHAPUS SAMA sekali dari pergaulan masjarakatku. Banjak sebab-sebab jang memisahkan kita dari tetangga kita. Pajah untuk bisa hidup seperti manusia biasa sekarang. Pendapat dan kejakinan sebagai anggota dari golongan pikiran dan kejakinan telah merenggangkan anak dari bapaknja, laki dari bininja, tetangga dari tetangganja, pembeli dari pedagangnja. Lingkungan pergaulan sekarang sudah meluas begitu djauh, sehingga anggota-anggotanja djauh terpisah-pisah satu sama lain, jang satu di London jang lain di Djakarta, sebagian di Afrika Utara jang sebagian lagi di Paris. Dengan orang disebelah kita sendiri kita asing.
Inilah masjarakat modern, masjarakat manusia merdeka. Tjelaka! Aku kehilangan kemerdekaan sekarang dan perasaanku jang begitu banjak bersifat diriku, dikalahkan oleh kesadaran ideologi jang membikin aku kembali djadi manusia budak. Seperti lingkaran angin pujuh: dari daerah kampungan kealam jang lebih lebar dan dari sini aku buat lagi kampungku jang ketjil bermerek ideologi. Djuga merek-merek ilmu pengetahuan seperti titel dan pangkat lekas membikin manusia mendirikan kampungnja sendiri.
Aku seorang buruh dan kesadaran ini tidak begitu mempengaruhi aku selain pada waktu ada Pasarmalam jang baru lalu. Pada perajaan buruh biasanja aku tinggal dirumah, tidak merasa berkewadjiban turut mempertundjukkan gigi. Tetapi dalam Pasarmalam aku tertangkap. Sonder aku tahu ternjata aku tjuma mengundjungi sebuah restoran dari sekian banjaknja rumah makan. Kesadaran ini baru datang waktu seorang kawan mempertjajakan harga-harga makanan dipelbagai restoran jang ada disitu. Kawan itu bukan dari kantor penjelidikan harga. Dia seorang penganggur, bukan buruh seperti aku. Aku sendiri tjuma bisa bawa kerestoran jang satu itu jang memakai merek Restoran Koperasi Buruh…
Memang merek itulah jang menarik aku, sebab tempatnja tidak begitu bagus, makanannja biasa mahalnja, biasa enaknja dan gadis pelajannja djuga tidak begitu manis.
Kalau begitu terus tentu aku lebih lekas membunuh kata manusia dengan kata buruh atau kata lain (intelektuil djuga bisa) daripada solidariteitku mendatangkan kawan sehidup semati dari lorong-lorong gelap dipertambangan atau dari lantai-lantai kamar perpustakaan di Paris. Ideologi lekas membikin manusia djadi fanatik, sama dengan agama. Sekarang aku mau tjoba mendjadi manusia biasa lagi, bebas dari segala perasaan kekampungan, seperti si botjah lagi pergi menangkap tjapung.
Kampungku jang sekarang ini ketjil, tjuma terdiri dari beberapa rumah. Tetapi pergaulan masjarakat sudah tidak ada sama sekali. Beda betul dengan kampung selagi aku masih botjah. Kampung itu besar, terdiri dari ratusan rumah. Daerah mainku seluas kampung itu. Aku bisa menerobos dari rumah jang satu kerumah jang lain dengan enak sadja.
Kalau seorang anggotanja diganggu oleh seorang dari kampung lain, seluruh kampung bergerak. Perkelahian seorang-seorang selamanja disudahi dengan permusuhan sekampung-sekampung.
Tetapi ditempatku jang sekarang ini kita saling liwat meliwati, paling banjak meringis ketjil atau utjapan selamat pagi atau selamat malam jang tawar. Tidak heran, didjalan ini tinggal bermatjam-matjam manusia: Islam kolot, Islam modern, berkata anggota Masjumi, P.N.I, komunis, kiri dan kanan, co dan non, orang Djawa jang masih kental, mamang Sunda jang masih tulen, oom dari Ambon jang masih keras dan sinjo Kemajoran jang masih kebingungan.
Tersebut aku seorang Kiblik dan tetanggaku Nika. Lebih tjelaka lagi, dia orang Belanda jang dihinggapi penjakit Djawa pada lidahnja, karena suka membanting-banting kata-kata bahasa Belanda dan pada hatinja karena suka mendengarkan gamelan dan melihat wajang. Atau djuga bisa kebalikan-kebalikannja: Orang Djawa jang kena penjakit Belanda pada otaknja, karena menganggap dirinja orang Belanda. Dengan istilah Djokja dia masuk atau bisa dimasukkan dalam golongan warganegara baru, atau warganegara bukan Indonesia aseli. Inilah jang memisahkan aku dari dia dan dia dari aku, sedang perbedaan dengan aku sebenarnja sedikit sadja, perbedaan nasib.
Aku bebas dari nasib djelek mesti lahir dari perkawinan antara tuan besar dengan babu ketjil. Dan setjara kebetulan agama Hindu mengandung kelemahan sehingga Islam bisa menerobos kekampungku dan membikin aku bisa telan nasi uduk Pak Likin dengan enak sadja, tidak usah diganggu oleh perasaan haram atau djidjik karena sambalnja pakai taotjo. Minum airnja djuga nikmat karena Pak Likin dan ajahku sama-sama pergi kemesdjid kalau hari Djumahat. Pakaiannja putih bersih, ditjutji dan disetrika oleh mak Likin jang sering aku gembloki dari belakang. Aku berterima kasih sama Islam jang telah membebaskan aku dari nasib djelek jang dialami saudaraku itu. Bahwa kementerian perdagangan masih kokoh dengan nasib djelekku, itu tidak apa karena aku seorang buruh ketjil jang tidak butuh sama lisensi dan karunia-karunia pemerintah terhadap pedagang jang mau didjadikan manusia kelas tengah. Tetapi walaupun bagaimana aku rasai perbedaanku dengan saudara-saudaraku jang bersifat bunglon itu besar djuga, sehingga sesudah setahun aku tinggal bertetangga, jang tertulis dalam buku tjatetanku tentang rumah sebelah tjuma sebagai berikut: Rumah disebelah didiami oleh tiga keluarga. Keluarga jang pertama terdiri dari seorang nenek dengan empat orang tjutju. Tjutju jang paling tua anak perempuan jang sudah perawan. Keluarga kedua seorang serdadu Knil dengan bininja jang kurus kering dari Siam. Keluarganja jang ketiga djuga serdadu Knil dengan bini dan dua orang anak. Kedua keluarga ini semuanja kena penjakit jang kusebutkan tadi. Dengan keluarga jang pertama aku dapat berhubungan sekali sadja. Sebuah pertjakapan ketjil dibawah djendela. „Tuan tahu”, kata anak perawan itu, „si gemuk jang tuan bisa lihat dari djendela tuan ini setiap hari kerdjanja membikin betul arlodji-arlodji bampak dimedja kamarnja, bininja perempuan Siam. Mereka sering berkelahi, main tjakar-tjakaran. Tuan tentu tidak mengerti apa kata mereka, sebab mereka berkelahi dalam bahasa Siam, supaja kita djangan mengerti. Tetapi tidak urung saja dapat tahu djuga. Saja ingatkan kata-kata jang dikeluarkan, lalu saja tanjakan kepada bapak saja kalau datang. Ah…semua kata kedji2. Saja sampai malu tuan.
Dia betul perempuan jang tidak tahu diri. Dinegerinja ia tjabo jang sudah penjakitan, sekarang minta dipanggil „mevrouw”. Si gemuk jang suruh saja panggil dia begitu. Tetapi terhadap si gemuk sendiri dia tidak berterima kasih. Dia tidak mau mendengar kata. Dasar perempuan sial. Dulu sigemuk kaja.
Aku diam sadja memperhatikan mukanja jang tambah lama tambah tjantik, karena mukanja djadi kemerah-merahan oleh semangatnja berbitjara. Dia bitjara terus seperti mau memaksa aku sepaham dengan dia.
— Tuan tahu, si Komeng itu (nama bagi perempuan Siam jang kurus itu) badannja bau, karena tidak suka mandi. Dia tjutji muka sadja kalau mau djalan. (Aku memang lihat dia sering mengeluarkan kendi dari djendela untuk menggosok gigi dan mentjutji muka).
— Masakan dia tjemburu sama saja. Malah dia sendiri jang sebenarnja nakal, suka main sama laki-laki lain. Tjoba tuan perhatikan sadja kalau hari sudah mulai malam. Dia keluar dengan pakaian jang rapih dan dengan minjak wangi dibadannja. Tuan bisa ketemukan dia diwarung kopi sebelah bisokop hampir dua malam sekali.
Aku tidak tahan ketawa, lalu menanjakan: nona masih sekolah?
— Saja sudah duduk dikelas enam. Umur saja belum tinggi, baru tiga belas tahun. Kalau si Komeng sudah tua.
— Nona bilang sigemuk tadinja kaja. Apa dia bekas saudagar? Dia tersenjum mengedjek, djawabnja: Tuan tahu, serdadu-serdadu Knil jang ditahan Djepang di Birma rata-rata djadi kaja sesudah dilepaskan oleh Amerika, karena menggedor gudang-gudang disana. Bapak saja djuga djadi kaja karena banjak mentjuri. Dia kawan seperentungan dengan sigemuk. Tetapi bapak saja dipelet oleh bininja jang dibawanja dari Siam djuga, sama sadja dengan sigemuk. Kami tjuma dikasi seratus perak sebulan. Mana tjukup, tuan. Saja kasihan sama nenek saja. Dia harus banting tulang untuk kami.
— Apa kerdja nenek nona?
— Saja tidak tahu.
— Saja lihat dia banjak keluar rumah.
— Saja tidak tahu, Tuan tidak enak diadjak bitjara.
Iapun lalu pergi dan aku baru lihat betapa kotornja gaun putih jang dipakainja.
Dari keluarga kedua aku dapat keterangan: nenek itu mulanja bini ajah anak perempuan itu, lalu djadi mertuanja dan sekarang djadi nenek atas anak-anak bekas lakinja sendiri. Ajam diberikan oleh mantunja sudah banjak jang didjualnja.
Pada kesempatan lain aku lihat anak perawan itu membawa pulang seorang serdadu K.L., anak muda jang totok betul.
Dia suka menginap dan setiap kali ia datang nenek memotong ajam. Waktu ajam dikandang sudah habis dipotong semua, totok itu tidak kelihatan lagi dan anak perawan itu terpaksa harus lari menjembunjikan perutnja jang sudah mulai gendut.
Tidak apa, kata nenek itu, sekaranglah baru ia beroleh bujut jang putih bule. Nenek itu banjak keluar rumah untuk mentjari tambahan nafkah dengan berdjudi, dan djuga untuk melarikan diri dari tamu-tamu jang datang menagih hutang. Semuanja ini aku dengar dari sigendut jang tidak lama kemudian djuga harus pindah karena bininja sudah main latjur terang-terangan.
Keluarga ketiga jang datang kemudian sekarang menguasai rumah sebelah seluruhnja.
Biniku jang tjinta sama bung Karno tidak suka berkenalan dengan njonja disebelah dan njonja disebelah karena menganggap dirinja barangkali ada turunan dari ratu Belanda tidak mau menghampiri biniku jang dilihatnja masih sebagai babu. Soal Irian djuga memberatkan timbangan. Tetapi semuanja ini soal ketjil sadja, tidak berarti dan lekas dilupakan manusia kalau keadaan darurat sudah datang.
Waktu itu malam terang bulan. Suasana diluar sangat bagus dan angin sedjuk. Kami duduk diberanda muka omong-omong perkara pertandingan jang baru selesai. Tentang Bung Karno jang didukung-dukung rakjat sebagai bokser jang bisa pukul k.o. lawannja. Tentang taruhan kami jang menang sebagai pegawai non dan tinggal menunggu pembajaran djasa dari bermalas-malasan. Tiba-tiba batu kerikil dipekarangan kami diindjak-indjak orang. Seorang perempuan bergaun putih kain belatju masuk menghampiri kami. Dia njonja disebelah.
— Selamat malam!
— Selamat malam! Ada apa njonja? Aku lihat diterang lampuku muka dan matanja merah
— Ma’af, saja ganggu sedikit. Apa tuan bisa tolong. Anak saja sakit keras, kena steup sedjak tadi. Tolong saja tuan, saja tidak bisa berdjalan djauh. Perut saja sudah bulannja dan suami saja sudah kehilangan tenaga. Kerdjanja tjuma menangis da mentjium anaknja sadja.
Air matanja aku lihat meleleh. Perutnja aku lihat memang sudah besar amat. Mula-mula aku bingung mendapat kundjungan orang jang tidak disangka-sangka. Biniku djuga diam, serupa mau dihitung-hitung dulu bantuan jang diminta, achirnja:
— Keluarkan jeepmu Mat, perintah biniku.
Jeep aku berhentikan dimuka rumahnja, lalu aku masuk kedalam. Didalam kamar diatas balai-balai berkasur tipis aku lihat, bapak anak jang sakit rebah memeluk anaknja. Bininja mengelakkan dia, membungkus sisakit dengan selimut lalu mendukungnja. Aku lihat dia terengah-engah kepajahan. Sungguh ada rasa takut padaku perutnja akan meledak. Karena pernah sekali aku lihat betapa tipisnja perut perempuan hamil.
Lakinja djuga tidak bertenaga kelihatannja. Kedua laki bini itu memandang kepadaku seperti si botjah kena pukul minta ampun. Biniku aku minta mendukung si botjah jang sakit dan duduk disebelahku dalam jeep. Untung dia menurut sadja. Ajah si sakit tidak turut, mendjaga rumah dengan anaknja seorang lagi jang lebih besar, sedang bininja duduk dibelakang sendirian.
Waktu kami pulang si ajah sudah duduk bersila ditanah menunggu dimuka gang seperti anak ketjil ditinggal pergi kebioskop oleh orang tuanja, menangis tersedu-sedu. Anaknja ditjiumnja dalam pelukan biniku.
Sesudah kedjadian ini hubungan kami mulai teratur. Kalau berdjumpa saling menegur. Sekali-kali kami diantarkan kuweh-kuweh. Kamu djuga sering membalasnja. Dan aku lebih sering melihat si ajah bermain-main dengan anaknja jang sudah sembuh. Seakan mau diadjarnja aku bagaimana mentjintai anak. Dia bermain dengan anaknja persis seperti dua orang anak memang lagi main kuda-kudaan atau kutjing-kutjingan. Si ajah djadi kuda dan si anak djadi sais, sebab anaknja memukul-mukul bapaknja jang melontjat-lontjat ketjil sambil berdjongkok seperti kodok lontjat, dengan lidi. Bapak ini masih sempat bermain-main dengan anaknja sesudah pulang dari pekerdjaannja jang lima belas kilometer djauhnja dengan mengendarai speda. Dia mengajuh spedanja seperti lagi berpatju, semata-mata untuk memberi kesempatan kepada anaknja bermain dengan dia.
Umurnja sudah empat puluh lima tahun, tapi tampaknja lebih tua lagi. Badannja sehat dan kuat. Tentang mukanja? Dengan satu kata sadja: seperti Petruk. Lutju, dan matanja seperti mata anak-anak jang belum pernah melihat pembunuhan, pertumpuhan darah oleh sesama manusia.
Kalau aku lihat dia biasanja sedang mendukung anaknja jang tidak berhenti ditjium-tjiumnja. Tjinta bapak jang luar biasa seperti ini membikin aku djadi tjuriga dan ingin menjelidiki sebab-sebabnja jang lebih dalam.
Sekali bininja datang minta diketikkan surat keterangan berhubung dengan permintaannja untuk dapat onderstand.
Dalam surat keterangan itu ternjata si petruk jang gila anak itu tjuma punja dua orang anak, anak jang tempo hari sakit dan jang baru dilahirkan. Anak jang paling tua tidak tersebut sebagai anaknja. Seperti ada jang berdesing ditelingaku, suara rotan jang sering aku dengar dipukulkan pada anak jang paling tua itu dan teriak anak itu: pijn…papi, pijn…
Biniku pernah tjeritakan kalau anak itu dipukul oleh bapaknja suka sampai berlumuran darah.
Si ibu tidak berani melawan—menangis sadja.
Sekali pernah djuga ia membuka rahasia rumah tangganja: susah tuan, susah! Kami hidup seperti diatas beling. Kalau salah seorang dari kami tersentuh hatinja, maka perih rasanja sampai ketulang.
Achirnja dapat djuga aku lihat kedua laki-bini itu tjuma diikat oleh nasib kesusahan hidup jang sama berat timbangannja.
Aku bertanja: bagaimana seorang bisa mentjintai anaknja jang satu begitu keras dan dapat memukul anaknja jang seorang lagi begitu ganas? Pada suatu hari aku bawa pulang kerumah sebotol jenever dan pada malamnja aku undang tetanggaku untuk datang minum-minum. Aku katakan aku hendak merajakan hari ulang tahunku.
Ajah, ibu, dan tiga orang anaknja datang memberi selamat kepadaku. Biniku menjediakan djuga kuweh-kuweh bagi anak-anak itu. Anak jang bungsung dipangku ibunja, dan jang dua orang lainnja bermain-main dilantai.
Kami duduk diberanda muka.
Pada seloki jang pertama aku buku pertemuan dengan ketawa-ketawa, jang kemudian disusul dengan mentjeritakan beberapa bagian jang lutju dari hidupku selagi ketjil. Tentang kenakalanku, suka mentjuri buah-buah.
Si ajah tertawa ketjil, si bini sudah mulai mengikik dan jang paling keras suara biniku.
Pada seloki jang kedua aku tjeritakan perkara mentjolong buah delima dirumah perempuan Tionghoa.
Tjenteng jang mendjaga rumah itu buta, tapi pendengarannja tadjam.
„Siapa tuh!”, teriaknja. Aku tidak perdulikan dan terus memetik, karena tahu ia tidak dapat berbuat apa-apa.
Tiba-tiba pintu katja terbuka dengan keras dan sinar lampu dari dalam menjemprot mukaku, sehingga kakiku bergemetaran dan aku lalu djatuh.
Keesokan harinja, perempuan Tionghoa jang melihat aku mentjuri itu, pergi kepada kakekku, mengadukan perbuatanku.
Sangkaku tidak salah. Perempuan Tionghoa itu diusir oleh kakekku dengan perkataan, bahwa dari turunannja tidak ada jang djadi maling. Kakekku termasuk penduduk kampung jang masih tulen dengan sifat-sifatnja.
Suasana gembira jang enteng segera berubah kala njonja sebelah sudah pulang membawa anak-anaknja jang sudah minta tidur. Suaminja aku tahan dan biniku djuga minta diri.
Dengan begitu sekeliling kami sepi dan dengan tidak terasa kami sudah tidak lagi ketawa-ketawa atau berbitjara. Malam djuga terasa kosongnja dan tamuku dengan diam-diam telah mengeluarkan barang-barang simpanannja djauh dari dalam dirinja.
Tiba-tiba ia omong—perlahan dan teratur seperti seorang guru sedang menghadapi muridnja.
— Hidup tuan selagi ketjil banjak senangnja, tetapi saja tjuma anak dari rumahmiskin.
Aku djadi kaget mendengar kata „rumahmiskin” dan padaku lalu timbul lagi kemauan untuk menggali-gali terus kedalam kenangan semasa ketjil, perasaan jang mau menjadari lagi kedalaman arti rumahtangga bagi kehidupan djiwa si botjah, sumber semangat keberanian dan kepertjajaan pada diri sendiri.
— Ibu saja perempuan jang sederhana sekali, seorang babu dirumah sahabat bapakku. Bapakku jang sering datang kesitu mengadakan perhubungan gelap dengan dia, sampai saja lahir, kemudian adik saja jang nomor satu dan adik saja jang nomor dua.
Ibu saja bukan perempuan jang dapat djadi njonja rumah. Ini menurut pendengaranku, tetapi saja sendiri tidak tahu betul apa kesalahannja. Jang saja tahu, rumahtangga bapak saja segera hantjur waktu adik saja nomor dua lahir kedunia. Saja dan adik saja nomor satu dibuang kerumah miskin, sedang adik jang nomor dua ikut dibawa ibu kekampungnja dekat gunung Dieng. Tetapi umurnja tidak lama, dia segera mati, entah karena apa. Bisa djadi karena lapar atau kedinginan.
Kembali terasa kekosongan malam, dari dalamnja mendengkir, bunji djangkerik. Tamuku mengandjurkan kakinja, menengok sebentar keluar, kebunga-bunga kemuning jang aju berajun didasar langit malam jang biru dalu. Malam makin kosong, makin kosong. Tamuku bersandar pada malam jang bolong. Seperti nabi Isa dia tersalib pada kegelapan.
— Waktu itu umur saja baru 6 tahun, adik saja empat, dia bitjara lagi. Tuan kenal rumahmiskin di Magelang?
Tuan pernah dibui? Serupa itu, barangkali lebih tjelaka lagi.
Rumahmiskin itu dibatasi oleh tembok semeter tingginja, itu batas buat kami, satu langkah keluar batas itu, kami kena hukum.
Mula-mula hukuman itu bisa membikin aku menangis keras memanggil-manggil ajahku, tetapi lama kelamaan aku djadi biasa dipukul dan tidak menangis lagi. Ajahku tidak lagi kupanggil, djuga karena aku dapat tahu dia sudah mati.
Suaranja makin perlahan, seperti dia bitjara buat dirinja sendiri.
— Saja masih ingat betul, kemudian saja djadi anak jang nakal, anak jang bandal, tidak kena adjaran. Tetapi tidak lama lalu berubah lagi, djadi pendiam, anak jang penurut. Perubahan jang tjepat itu barangkali karena terlalu banjaknja pukulan jang saja terima. Djuga otakku djadi tumpul. Dengan susah pajah aku liwati kelas-kelas enam dan tudjuh dari sekolah rendah.
Waktu lulus dari sekolah, aku boleh tinggalkan rumahmiskin itu.
Sahabat bapakku menjatakan bersedia djadi bapak angkatku dan aku lalu tinggal dirumahnja. Ibuku djuga sudah kembali bekerdja disitu sebagai babu. Sahabat bapakku itu punja perusahaan daging sapi dan aku adalah tenaga jang bisa dipakainja betul.
Ibu saja sudah djadi perempuan tua jang berambut putih. Dia tetap tinggal pada agamanja: Islam. sekali-kali aku lihat dai bersembahjang dan suka menjebut-njebut kata-kata orang Islam, seperti Allah, astagfirullah dan lain-lain.
Dia tetap orang kampung. Kamarnja dibelakang. Dia panggil saja sinjo. Saja panggil dia mami, tetapi dengan terus terang sadja djarang ketemukan dia, walau kami hidup dalam satu rumah. Tuan tentu mengerti apa sebabnja. Mukanja tidak senang saja lihat. Barangkali ada perasaan menjesal harus lahir dari seorang ibu seperti dia itu, perempuan kampung.
Tetapi ah…pada suatu kali waktu saja ribut dengan bapakangkatku karena dia terlalu sering memaki-maki aku dengan „anak andjing”, „anak djadah”, ibu saja menitikkan air mata. Dia panggil aku kekamarnja dibelakang dan dengan membekali aku wang disuruhnja aku pergi kekampungnja. Nasehatnja aku turut. Ada sebulan lamanja aku menginap dirumah kakekku dari ibu. Kalau tidak diambil sendiri oleh bapakangkatku tentu aku tidak kembali lagi keperusahaannja.
Dikampung ibuku aku hidup seperti anak radja. Aku tidak usah kerdja dan aku dipanggil dengan sinjo. Kalau aku tinggal terus disana, barangkali aku akan lebih berbahagia, djadi orang kampung.
Pada bapakangkatku aku disuruhnja menggiring sapi-sapi dari Bl…ke Klaten dan saja suka dipanggil dengan kata „andjing”.
— Dibandingkan dengan rumahmiskin, mana jang lebih enak?, aku menanja dengan tiba-tiba.
— Tentu sadja sebagai tukang giring sapi. Dari setiap ekor sapi saja dibajar sebenggol buat wang saku.
Hidup seperti botjah sapi ini banjak enaknja. Saja bisa bermain dengan sepuas-puasnja. Umur saja waktu itu sudah ada delapan belas tahun, tetapi saja masih senang bermain-main. Barangkali karena terlalu lama ditutup dalam rumahmiskin. Dirumahmiskin itu saja dipaksa hidup sebagai orang sutji. Kalau berbuat salah buru-buru minta ampun sama Tuhan. Tuhan, Tuhan, Tuhan…”, dia menggeleng-gelengkan kepalanja. Berat rupanja urusannja dengan Tuhan itu. Aku lebih mengenakkan dudukku.
— Tuhan djadi machluk jang ganas bagiku, seorang jang kuasa dan suka mempermain-mainkan kekuasaannja. Dia djadi seperti anak ketjil jang kubentji. Semua omongan guruku atau bapakangkatku tentang tjinta Tuhan, kesajangan Tuhan, tidak kupertjajai lagi, karena guruku sendiri sudah aku bentji. Peladjaran tentang kesutjian, ketjintaan dan tahu apa lagi baru punja arti kalau orang jang mengadjarnja itu djuga sutji dan penuh dengan ketjintaan. Heran seperti orang belum pada mau mengerti, bahwa badjingan tidak bisa mengadjar keagamaan. Berapa orang dari guru2 agama sekarang jang bukan badjingan? Kenapa manusia berbitjara seperti bukan manusia?
Lho, kenapa saja berbitjara begini, seperti orang gila sadja.
Tetapi dalam hatiku sendiri aku teruskan pikirannja itu: memang benar kebanjakan manusia tidak menghargai manusia. Mereka tjuma melihat anak-anakan malikat.
— Dan…untuk apa semuanja ini saja tjeritakan. Ah…memang betul djuga barangkali kata biniku bahwa aku sudah lama gila. Seperti tidak ada omongan lain. Tetapi tuan sendiri kelihatan senang mendengar obrolan saja, djadi tidak ada salahnja kalau saja tjeriterakan.
Diawasinja botol jenever jang sudah habis seperempatnja, lalu diangkatnja:
— Jenever tuan enak.
— Tuang lagi, kataku. Memang saja sediakan buat malam ini.
— Saja memang kuat minum, sudah turunan. Bapak saja djuga kuat minum katanja, tetapi matinja dibotol.
— O…, kataku sambil menggeleng-gelengkan kepala, tuan pernah djadi anak penggiring sapi?
Dia mengerti maksudku.
— Tuan mau dengar terus tjerita saja?
Dari Bl…biasanja aku berangkat pukul empat sore. Kendaraan mobil biasanja sudah tidak ada. Kalau ada djuga tjuma sekali-sekali sadja. Ah, itu masa jang enak buat saja.
Djalan jang kuliwati melalui pemandangan alam jang indah. Dari tanah pegunungan jang tinggi aku turun kebawah, ketanah datar jang merupakan kota ketjil: Klaten. Lima sampai enam ekor sapi saja giring dari atas kebawah didjalan jang sepi. Binatang-binatang itu saja ikat pada hidungnja dengan tali jang pandjang merangkai mereka djadi satu. Kalau matahari sudah dekat hilang biasanja saja sudah sampai didjalan turun jang paling tjuram. Biasanja saja diam beberapa menit menahan sapi-sapiku sambil menengok kekiri-kekanan. Djauh dibawah sebelah kiri aku lihat kawanku lari mendjeludjur kali ketjil jang memotong djalanku dibawah. Aku panggil namanja keras-keras, dia menjahut dan hatiku seperti kembang jang terbuka. Rasa mengkal, letih dsb. lalu hilang. Tali biasanja lalu aku lepaskan dan aku melontjat diatas punggung sapi jang dengan kentjang turun kebawah. Begitulah aku menemukan kawanku jang sedang menunggu aku dekat djembatan.
Dikali itu aku mandi dan sapi-sapiku boleh minum dengan sepuas-puasnja. Sesudah mandi aku lalu makan dan binatang-binatang menggigi-gigit rumput. Enak betul ditempat itu. Aku kepingin hidupku habis sampai disitu sadja, sebab terusannja tjuma penjiksaan sadja sampai sekarang ini.
Kawan itu aku dapat melalui nasi bekalan. Mula-mula dia sering aku djumpai ditempat itu sedang mandi. Dia anak miskin jang gembul. Perutnja gendut. Restan makananku dihabiskannja dengan sekedjap. Setiap tiga hari sekali aku ketemu dia disitu. Walaupun lebih ketjil dari aku, masih banjak aku boleh beladjar dari dia, seperti merokok.
Kalau matahari sudah hilang sama sekali dan hari djadi gelap betul, kawanku itu sudah siap menjalakan pelita dalam kaleng biskwit jang kemudian digandulkan pada tali ditengah-tengah sapi-sapiku. Begitulah aku melandjutkan djalanku sampai kira-kira pukul sepuluh malam. Aku sudah penat betul dan binatang-binatang itu djuga.
Sonder aku perintahkan sapi-sapi itu dengan sendirinja berhenti dibawah pohon jang rindang, tempat biasa aku bermalam. Binatang-binatang itu sudah dapat mengendus bau kawan-kawannja jang lebih dahulu. Mereka pada merebahkan diri masing-masing sekitar rumput kering jang sudah disediakan pak Karto.
Pak Karto orang jang dibajar Rp.5- sebulan oleh bapakangkatku untuk menjediakan rumput kering dan menjediakan aku tempat untuk mondok. Aku tidur diatas balai-balainja dan suka djuga dekat sapi-sapiku. Hangat rasanja dekat binatang-binatang itu dan bau sapi dengan tahinja tidak terasa lagi bagi hidungku.
Dinihari aku sudah djalan lagi bersama kawan-kawanku dan kira-kira pukul setengah tudjuh pagi aku sudah sampai dirumah. Awas kalau aku terlambat datang, misalnja pukul tudjuh, habis aku dimaki bapakangkatku. Aku tahu apa artinja tidak punja bapak kalau masih ketjil. Tuan tidak, tuan enak punja kakek jang selalu memblea tuan, walaupun salah. Aku kepingin ada seorang seperti itu. Ah…buat aku makin lama hidup makin tidak enak. Dulu sebelum perang masih boleh djuga, tetapi sekarang kita serba ketakutan. Tidak ada lagi jang mau membela kita, pemerintah seperti musuh kita rasanja. Aku tunggu dikirim ke Nieuw Guinea. Barangkali disana lebih enak. Banjak kawanku sudah ada disana.
Jang tidak enak disana banjak ular. Banjak aku bisa sakit kalau melihat ular. Tuan pertjaja, waktu dalam interniran aku pernah ketemukan ular jang tiga meter pandjangnja melintang ditengah-tengah djalan. Ular itu sudah mati digiling motor, tetapi aku belum djuga bisa melangkahi dia. Kakiku pada lemas sampai aku didukung oleh kawan-kawanku. Aneh, tetapi betul begitu. Aku kira ular itu ada punja apa-apa jang masih belum terang. Dia punja tenaga gaib. Betul, tuan, aku sendiri rasai. Djuga sama tokek ada. Bulukku selamanja bangun kalau lihat tokek. Makin besar makin seram.
Matnja seperti lagi mentjari-tjari binatang jang sangat ditakutinja itu, dilantai dan ditembok. Lalu dia melihat keluar.
— Sama gelap anehnja saja tidak takut. Sama setan djuga tidak. Apalagi bini saja. Waktu saja ditangkap Djepang, katanja dia berpuasa sampai empat puluh hari empat puluh malam dibawah pohon pisang dekat kuburan. Dia minta supaja saja bisa selamat keluar dari tahanan. Permintaannja itu terkabul.
Tamuku sekarang kelihatan sudah melantur. Dia sudah kehilangan atau tidak mau lurus sedikitpun djalannja. Barangkali sudah sinting sekarang. Aku mesti bantu dia membenarkan djalan tjeritanja.
— Lama tuan djadi botjah sapi? Aku mau tahu tjerita hidupnja seluruhnja.
— Tukang giring sapi maksud tuan. Ja, ada lima belas tahun. Tuan senang betul mendengarkan saja tjerita. Belum pernah saja mendongeng seperti kepada tuan.
— Sesudah itu, tuan djadi apa, aku tegakkan lagi dia jang mau miring.
— Saja djadi tukang potong, kemudian djadi djuru periksa. Saja disekolahkan setahun lamanja sampai dapat idjazah keurmeester. Waktu itu saja sudah kawin dan biniku mengadjarkan aku mentjari pekerdjaan di abatoir Haminte Semarang. Nasehatnja aku turut, sebab dia mengantjam saja mau kabur.
Ah…hampir-hampir saja kalap dan membunuh bapakangkat saja sendiri waktu itu. Bapakangkat saja marah bukan main. Dia habis memaki-maki saja dimuka isteri saja sendiri: anak tidak mau terima kasih, anak sundal, anak kolong. Saja ditjutji bersih. Waktu saja ubar dia dengan golok baru bapakangkatku berhenti memaki. Dari sedjak itu saja mulai berumahtanga sendiri, lepas dari bapakangkatku. Ibu saja jang bekerdja sebagai babu disitu, djuga turut diusir. Dia pulang kekampungnja. Bini saja tidak mau menerima dia dalam rumah. Tidak enak orang dimaki, tuan. Sakit hati tidak mau hilang-hilang. Seumur hidup saja tidak bisa lupakan.
Tiba-tiba dia berhenti, lalu minum lagi. Mukanja kelihatan benar merahnja sekarang. Seperti ada ketawa jang mau petjah.
— Tuan pertjaja, saja bisa minum darah dengan enak sadja? Kalau saja tjeritakan tuan tentu tidak pertjaja. Kalau sekarang ada saja minum didepan tuan. Sebabnja saja sampai bisa minum darah adalah begini.
Ketawa jang mau petjah dimukanja tertahan dan sekarang mendung lagi kelihatannja.
— Waktu saja masih djadi tukang potong saja djatuh hati sama seorang gadis. Gadis itu bukan main tjantiknja. Kalau dia tersenjum bikin saja djadi bertambah gila. Dekat bibirnja ada tahi lalat dan kedua belah bibirnja selalu basah, manis kelihatannja. Tiap hari gadis itu saja bawakan daging. Sonder aku tahu dia sudah membikin perhubungan lagi dengan orang lain dan pada suatu malam saja lihat sendiri dia masuk dalam kamar dengan seorang laki-laki. Kamar itu lalu ditutup dari dalam. Saja matagelap dan mentjari pestol bapakangkatku. Saja putuskan dalam hati untuk berdiri satu djam lamanja dimuka pintu jang tertutup itu. Kalau pintu itu dibuka, saja berniat membunuh kedua bangsat itu. Tetapi sukur lebih dari satu djam mereka belum djuga keluar dan kabarnja sampai pagi esoknja. Sedjak itu badan saja makin hari makin kurus, sehingga achirnja saja tinggal tulang sadja. Saja dinamakan orang bangkai jang berdjalan. Bapakangkat saja ikut kesal, karena tenaga saja tidak bisa dipakainja lagi. Entah karena dia sendiri memang jakin, entah karena obat itu tidak usah dibeli, banjak tersedia dalam kandangnja, disuruhnja aku minum darah sapi jang masih hangat mantjur dari leher sapi jang disembelih.
Saja takut sama bapakangkatku. Apa jang disuruhnja saja turut. Mula-mula tidak enak rasanja, tetapi lama kelamaan amisnja sudah tidak terasa lagi dan achirnja darah mendjadi air minum saja jang biasa. Darah memang obat mudjarab sekali. Badan saja dua kali lebih gemuk dan besar dari sebelum sakit. Djuga tenaga saja berlipat ganda.
Walaupun saja sudah sembuh dan kuat, tiap-tiap hari saja masih minum darah, sampai dilarang oleh bapakangkatku sendiri.
Bapakangkatku menamakan aku goblok: selamanja aku mesti disuruh dulu.
— Barangkali karena darah sapi itu saja bisa keluar hidup dari interniran Djepang di Birma.
— Djadi bukan karena tapa isteri tuan dekat kuburan?
— Dua-duanja bisa djadi. Dalam interniran saja kuat tahan pukulan dan kekurangan makan. Tjuma pikiran saja sadja jang tidak kuat, hampir-hampir saja gila.
Dalam tahanan itu saja sering digoda mimpi jang pedih rasanja, seperti ada belati jang tertantjap dihati.
Biniku, biniku jang membikin aku hampir gila. Mukanja selalu mengganggu aku. Saban malam aku mimpikan dia: dia dikedjar-kedjar Djepang. Anehnja walaupun sudah bangun dari pulas aku terus sadja melawan. Aku masih melawan walau kawan-kawanku sudah menjirami aku dengan air se-ember. Aku maki-maki dan pukuli kawan-kawanku sendiri dalam persangkaan melawan si Djepang. Ini saja tidak mau tjeritakan kepada isteriku, takut dia djadi kolokan.
Bisa sampai seperempat djam aku berbuat begitu dan kawan-kawanku menjangka aku sudah berubah pikiran. Tetapi sukur tidak. Tiba-tiba aku djadi lemas dan sadar dari mimpiku itu. Bukan main senangnja aku, buka karena tidak djadi gila, tapi karena apa jang menjakiti hati itu tjuma mimpi belaka. Tetapi tjelakanja mimpi itu tidak mau lepas -lepas dari kepalaku.
Dia diam lagi, selama berbitjara dia sudah tidak menguasai dirinja lagi. Sebentar-sebentar dia bangun dan sekarang njata dia sudah merasa keletihan. Dia lelah dan mentjari ketenangan.
— Ah…perempuan, perempuan…
Kedua belah kakinja diundjurkannja lagi dan kedua belah tangannja memangku kepalanja jang ditekannja sambil menggeliat.
— Memang tuan, perempuan banjak bikin susah saja. Tuan tahu bagaimana saja dapat perempuan jang djadi bini saja sekarang ini? Berkat pertolongan andjing saja jang tjerdik. Terra namanja.
Sebelum saja berkenalan dengan perempuan jang sekarang djadi bini saja ini, masih ada satu lagi perempuan jang mengadakan perhubungan dengan saja. Perempuan itu bapaknja Belanda totok dan ibunja perempuan Ambon. Dia sendiri mengambil warna kulit ibunja dan potongan muka bapaknja. Bagus dan manis. Dia djuga direbut orang. Orang itu anak bapakangkatku sendiri jang baru datang dari Holland. Sebenarnja bukan direbut, saja dibudjuknja tukar dengan motorfietsnja, jaitu kalau saja mau lepaskan perempuan itu saja boleh pakai motorfietsnja sepuas-puas hati saja. Motornja baru, merek Norton. Tiap hari saja berkeliling kota dengan kejakinan akan mendapat kekasih jang bagus dari Belanda hitam itu. Begitulah dengan motorfiets itu saja dapat pikat hati perempuan jang sekarang djadi biniku. Dia bekerdja ditoko sebagai pelajan. Kepada dia memang saja menaruh tjinta, oleh karena itu saja tidak mau direbut lagi oleh orang. Kepada anak bapakangkatku sendiri aku tidak mau tjerita-tjerita tentang hubungan saja jang baru.
Waktu itu saja punja andjing jang tjerdik sekali. Dia baru tinggal padaku setahun selamnja, tetapi sudah menurut betul sama aku. Aku adjar dia dengan sungguh-sungguh. Kepadanja saja bisa berbitjara seperti saja berbitjara kepada manusia.
Saja kasih nama Terra.
Tiap hari Terra saja suruh mendjaga patjar saja jang baru. Kalau ada surat, mula-mula Terra mengantarkan surat ini kepada patjar saja, lalu dengan tenang dan sabar duduklah dia dimuka toko tempat orang djagaannja bekerdja. Sementara itu sebentar-sebentar dia menengok kedalam. Orang-orang jang datang bekerdja diamat-amatinja benar. Mereka tidak boleh kurang adjar terhadap kekasih saja. Kalau dia pulang kerumah, Terra mengikutinja dari belakang. Kalau ditengah djalan ada jang berani menggoda perempuan itu, orang lantas berurusan dengan Terra. Dengan tjara demikian patjar itu tidak bisa ditjolong. Dia tetap terpelihara sampai dia djadi biniku jang resmi.
Aku lihat dia letih betul sekarang. Mulutnja sudah berbusa. Kepalanja dikulaikan pada batas sandaran kursi dan kedua belah tangannja tergantung lepas kelantai. Dimedja botol jenever sudah tinggal seperempatnja sadja lagi terisi. Aku djuga sudah pusing dan berfikir lebih baik aku antarkan sadja dia pulang. Aku mulai kasihan melihat dia digoda oleh bajangan hidupnja jang mengikuti dia selalu. Lagi pula aku takut dia menjusahkan aku nanti. Dari dalam terdengar biniku memanggil. Aku disuruhnja masuk tidur. Malam djuga sudah larut betul.
Tiba-tiba dia melontjat pergi kepekarangan luar dan menghembuskan napas seperti keretaapi. Dihampirinja lagi medja, lalu minum seseloki lagi dan nafsu berbitjara tiba-tiba menerkam dia lagi. Jenever jang diminumnja sampai tertumpah dari mulutnja, membahasi kemedjanja.
— Tuan pikir, bagaimana saja tidak suka sakit hati, tidak suka marah-marah. Sepulang saja dari interniran tahu-tahu katanja saja sudah punja anak laki-laki. Tiba-tiba sadja dia sudah besar, sudah bisa lari dan panggil saja papi. Matanja ada sipit sedikit dan saja tidak berani melihat matanja itu. Bini saja bilang itu anak saja. Begitu saja ditangkap, begitu dia hamil katanja. Tetapi matanja sipit dan dalam interniran saja selalu diganggu mimpi djahat.
Bagaimana tuan, tuan pikir, pikir. Tiba-tiba dia berteriak keras: pikirrrr. Sekali lagi: piiiikiiiir…Seperti bunji peluru mendengking ditengah malam buta.
Biniku tergopoh-gopoh keluar memegangi aku jang tertawa sadja. Dari luar djuga datang perempuan sebelah mengadjar lakinja. Kami masing-masing dipisahkan seperti dua orang sedang berkelahi. Untung dia menurut dan sebelum aku naik ketempat tidur aku masih mendengar dia memaki-maki: saja jang kasi makan dia, saja jang belandjai dia. Tuan mesti pikirrr…bangsat, bangsat.
Tiba-tiba dia merobah suaranja, bukan suara orang marah-marah.
— Tuan sudah tidurrr? Daag, daag…
Ke-esokan harinja aku bangun sudah siang, dibangunkan oleh biniku, walau mata masih mau tinggal rapat.
— Dengar, tuan disebelah sudah bangun.
Aku dengar teriak anak ketjil: pijn papi, pijn, pijn, pijn papi.
Dalam hatiku aku berkata: tuan itu sudah gila betul-betul sekarang, lalu aku pulas lagi. Tidak lama kemudian aku digoda lagi dengan suatu teriakan jang lebih keras. Ramai bunjinja. Njonja disebelah ikut berteriak menangis-nangis. Astaga.
Tuan jang sudah gila itu djadi berbahaja betul-betul. Dengan golok jang tadjam dia menusuk-nusuk sembarangan. Anaknja jang sangat ditjintainja sendiri ikut terbunuh. Aku tidak bisa tinggal diam. Aku harus memberi bantuan. Soal tetanggaku sekarang djadi soalku djuga. Aku melontjat…dan ternjata aku djatuh dilantai jang keras. Sukur soal pembunuhan itu adalah tjuma ketakutanku jang sampai terbawa-bawa dalam mimpi.
Zenith Th. I No. 8, Agustus 1951.