Baca EPUB: revolusi-sosialis-oktober-dan-pengaruhnja-atas-gerakan-kemerdekaan-indonesia

2 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. Table of Contents
  2. Table of Contents
NJOTO
Revolusi Sosialis Oktober dan pengaruhnja atas gerakan kemerdekaan Indonesia
Kacabenggala Editions

Publisher Note

Pidato ini diterbitkan oleh Jajasan “Pembaruan” di Djakarta pada tahun 1954 dalam rangka memperingati ulangtahun Revolusi Oktober.

Digitizer Note

This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.

All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.

The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.

Parahadirin,

kawan2 dan parasaudara,

Ketika Revolusi Februari 1917 petjah di Rusia, Wladimir Iljitsj Lenin menulis : „Revolusi pertama, jang dilahirkan oleh perang dunia imperialis, sudah petjah. Revolusi pertama ini sudah pasti bukan revolusi terachir".

Pernjataan Lenin ini dibenarkan oleh peristiwa sedjarah 8 bulan sesudah itu : revolusi jang kedua petjah, revolusi jang menggulingkan kekuasaan feodal dan kapital di Rusia, Revolusi Sosialis Oktober jang Besar.

Hari ini genap 37 tahun sedjak meriam Oktober menggeletar di Rusia. Dari padangpasir Sampson jang panas di Australia sampai kedaerah dingin di Kutup Utara, tidak ada sedjengkalpun tanah jang tidak turut bergetar oleh geletar Revolusi Oktober.

Revolusi Oktober adalah peristiwa sedjarah jang terpenting didalam abad kita ini. Klas buruh, dipimpin oleh Partai Bolsjewik, dengan bersekutu dengan kaum tani miskin dan dengan dibantu oleh kaum pradjurit dan matros, menumbangkan kekuasaan burdjuasi, mendirikan kekuasaan Sovjet, mentjiptakan negara tipe baru, negara Sovjet Sosialis, menghapuskan milik perseorangan kaum tuantanah atas tanah, memberikan tanah kepada kaum tani, menjita milik kapitalis, merebut perdamaian, dan dengan demikian mentjiptakan sjarat2 untuk perkembangan pembangunan sosialis, Revolusi Oktober mengalahkan kapitalisme, merampas alat2 produksi dari burdjuasi, dan mengubah pabrik2, perusahaan2, keretaapi dan bank, mendjadi milik Rakjat, mendjadi milik masjarakat. Revolusi Oktober mendirikan diktatur proletariat dan menjerahkan pimpinan negara kepada klas buruh. Revolusi Oktober mengangkat kaum proletar mendjadi klas jang berkuasa. Demikianlah Revolusi Oktober membuka periode baru didalam sedjarah umatmanusia — periode revolusi2 proletar.

Semua ini tertjapai berkat pimpinan jang bidjaksana dari Partai Komunis, berkat pimpinan jang zenial dari murid Marx dan Engels jang terbesar, zeni revolusi : Wladimir Iljitsj Lenin, dan pembantu serta sahabatnja jang setia : Jusuf Wisarionowitsj Stalin (tepuktangan).

Sekarang, musuh2 keadilan jang mana jang tidak menjumpahi dan mengutuki Sovjet Uni, tetapi bersamaan dengan itu terpaksa menghargainja, atau se-tidak2nja memperhitungkannja ? Tetapi orang djudjur jang mana jang tidak berterimakasih kepada Sovjet Uni, jang tidak melihat sinar harapan pada tiap2 kemadjuan jang ditjapai oleh Rakjat Sovjet ?

Djuga Rakjat Indonesia sangat berterimakasih kepada Revolusi Oktober, sangat berterimakasih kepada Sovjet Uni. Djika tidak ada Revolusi Oktober, tidak hanja Revolusi Tiongkok dan revolusi2 di Eropa Timur tidak akan ada, tetapi djuga Revolusi Agustus 1945 kita tidak akan ada (tepuktangan pandjang).

Kita peringati ulangtahun ke-37 Revolusi Oktober sekarang ini, disaat Sovjet Uni bukan hanja sudah mendjadi kekuatan klas satu, tetapi tambah hari tambah besar otoritet serta pengaruhnja. Kita peringati ulangtahun ke-37 Revolusi Oktober sekarang ini, disaat bangsa2 terdjadjah dan setengah-terdjadjah, ber-sama2 dengan Rakjat pekerdja sedunia, memperhebat perdjuangannja untuk kemerdekaan nasional jang penuh, dengan persatuan dan kekuatan jang tiada taranja disepandjang sedjarah.

Revolusi Oktober

Titik balik perdjalanan Sedjarah

Parahadirin,

kawan2 dan parasaudara,

Tepat sekali apa jang dinjatakan didalam „Tesis tentang 50 tahun PKSU” bahwa didalam masa jang singkat selama revolusi itu Partai Komunis Sovjet Uni menunaikan tugas politik raksasa, jg „tentang kekajaan akan pengalaman, kedalaman pengolahan teori Marxis dan pelaksanaan kreatifnja didalam perdjalanan revolusi, tidak ada bandingannja didalam sedjarah dunia”.

Dan tidak hanja itu!

Revolusi Oktober telah mengubah djalan sedjarah. Dunia dan umatmanusia jang selama ber-abad2, tidak hanja ber-abad2 tetapi ber-puluh2 abad, terdjerembab didalam rawa penindasan, diperas, dihisap, dinistakan dan disengsarakan oleh kaum penindasnja, sedjak Revolusi Oktober menang — menemukan djalan pembebasannja, djalan pembaruannja. Djika sedjarah umatmanusia sebelum Oktober, ganti-berganti mengalami tuan2 penindas, mulai pawang2 budak melalui kaum tuantanah feodal sampai keradja-radja uang kapitalis, maka Revolusi Oktober mengachiri untuk — pertama kalinja dan untuk selama-lamanja — sedjarah penindasan itu (tepuktangan). Untuk pertama kalinja disepandjang sedjarah, sesuatu revolusi bukannja melahirkan tuan-tuan penindas jang baru, melainkan mengangkat kaum jang tertindas, kaum jang lapar, mendjadi tuan atas dirinja sendiri (tepuktangan).

Peristiwa ini tidak hanja mempunjai arti jang chusus Rusia. Peristiwa ini mempunjai arti internasional. Ia tidak hanja merobohkan kapitalisme Rusia, ia djuga menggontjangkan sendi2 kapitalisme internasional. Ia tidak hanja membebaskan proletariat Rusia, ia djuga membukakan djalan untuk pembebasan proletariat internasional. Ia melahirkan ketakutan pada semua musuh Rakjat, tetapi ia melahirkan harapan, harapan baru, harapan jang pasti dihati be-ratus2 djuta Rakjat pekerdja.

Singkatnja, Revolusi Oktober telah menunaikan tugas sedjarah sebagai djuruselamat kebudajaan dunia. Dan sebagaimana kita tahu, pelaksana utama dari Revolusi Oktober itu jalah proletariat, klas buruh.

Dizaman kita sekarang ini memang tidak ada dan tidak mungkin ada djuruselamat jang lain bagi umatmanusia, ketjuali klas buruh.

Sebagaimana dinjatakan oleh Lenin, dekat sebelum Revolusi Oktober : „Perang telah mengakibatkan krisis jang demikian hebatnja, telah begitu menekan kekuatan materiil dan kekuatan moral Rakjat, telah begitu memukul seluruh susunan masjarakat modern, sehingga umatmanusia dihadapkan pada suatu alternatif : atau dia hantjur, atau dia mempertjajakan nasibnja kepada klas jang paling revolusioner” (tepuktangan).

Rusia dan Rakjat Rusia tidak mengalami keruntuhan, karena Rakjat negeri itu mempertjajakan nasibnja kepada klas jang paling revolusioner, jaitu klas buruh, dan karena klas buruh ini, melalui Revolusi Oktober, memenuhi kepertjajaan serta harapan jang diletakkan keatas pundaknja.

Sedjak detik itu, terdapat dua arah didalam perkembangan sedjarah : arah jang pertama jalah kapitalisme, arah jang kedua jalah Sosialisme. Arah jang pertama penuh dengan krisis2 ekonomi, melahirkan barisan pengangguran jang tambah lama bertambah banjak, kemandekan produksi, dan kemerosotan tingkathidup Rakjat. Arah jang kedua tidak lagi mengenal krisis, melenjapkan pengangguran, terus-menerus mempertinggi produksi, dan terus-menerus meningkatkan tarafhidup Rakjat pekerdja. Arah jang pertama penuh dengan pertentangan politik dan moral. Arah jang kedua mengandung kesatuan politik dan kesatuan moral. Arah jang pertama berarti kehantjuran, arah jang kedua pembaruan, arah jang pertama kematian, arah jang kedua kehidupan.

Kapitalisme berarti kematian, karena ia mematikan dajatjipta masjarakat. Sosialisme berarti kehidupan, karena ia membebaskan dan mengembangkan dajatjipta masjarakat.

Apa2 jang telah ditjapai oleh Sosialisme, baik dilapangan ekonomi maupun kebudajaan, mengagumkan seluruh dunia. Tak perlu banjak2 angka disebut, tjukuplah djika dikatakan, bahwa pabrik2 jang sepenuhnja otomatis dan sentrallistrik atom misalnja, jang di-negeri2 kapitalis masih suatu angan2, di Sovjet Uni sudah dipraktekkan setjara besar2an (tepuktangan). Televisi berwarna, truk2 50 ton, dan mesinbubut jang berputar lebih 3000 kali semenit, dan banjak penemuan2 lainnja, baru di Sovjet Uni ada, sedangkan dilapangan pertahanan misalnja, bom zatair disanalah per-tama2 ditemukan, dan pesawat2 jet Sovjet sampai pada detik ini tidak ada jang menandinginja (tepuktangan). Dilapangan kebudajaan, konkurs2 internasional mendjadi bukti. Film jang terbaik, pemusik2 jang terbaik, balet dan tonil jang terbaik, semuanja datang dari negeri Sovjet. Dilapangan tjatur, maestro2 Sovjet hampir2 tak dapat dilawan, sedangkan dunia sport makin banjak sadja mentjatat rekord2 jang dipetjahkan oleh pengolahraga2 Sovjet. Hanja di Sovjet Uni djugalah Rakjat tidak hanja semuanja bisa membatjatulis, tetapi sudah mendapat pendidikan sekolah sekurang2nja 7 tahun. Hanja di Sovjet Uni djugalah Rakjat tidak hanja mendapat perawatan dokter dengan tjuma2, tetapi badannja sehat2 dan mendjadi djaminan akan kesehatan generasi jang akan datang. Tentang perbaikan tarafhidup Rakjatnja, buktinja jang paling achir, paling tak dapat disangkal tetapi djuga paling menggiurkan dan menimbulkan iri-hati, jalah penurunan harga2 barang kebutuhan hidup, jang selama 7 tahun ini sadja sudah 7 kali dilakukan.

Parahadirin,

kawan2 dan parasaudara,

Dari hari kesehari Sovjet Uni mengalami perubahan rupa. Kita melihat ke Sovjet Uni seperti melihat film pada lajarputih : sekedjap sadja mata kita berkedip, kita sudah dikagumkan oleh gambar jang baru. Sudah beratus2 warganegara Indonesia berkundjung kesana, mulai wakil2 kaum buruhnja sampai pada anggota2 Parlemennja, mulai seniman2nja sampai pada perutusan wanitanja. Dan tiap2 kali sesuatu delegasi kembali, mereka membawa tjerita baru : tjerita kemadjuan Sosialisme (tepuktangan).

Partai Komunis dan Pemerintah Sosialis Sovjet tidak me-njimpan2 tenaga untuk melaksanakan hukum pokok Sosialisme sebagaimana diterangkan oleh Kawan Stalin : memenuhi setjara maximal kebutuhan2 materiil dan kulturil masjarakat. Dan sebagaimana beberapa waktu jang lalu ditegaskan oleh Kawan Malenkov : di Sovjet Uni sekarang sudah tersedia semua sjarat jang diperlukan untuk pembangunan Komunisme (tepuktangan pandjang). Ini berarti, bahwa dalam waktu jang tidak djauh lagi, Rakjat Sovjet bukan lagi akan menerima dan mendapat menurut prestasi kerdja mereka, melainkan menurut kebutuhan mereka. Inilah jang lebih dari seabad jang lalu di-idam2kan oleh Karl Marx dan Friedrich Engels. Inilah jang sudah lebih seabad lamanja di-impi2kan oleh Rakjat pekerdja sedunia. Dan hal ini sudah akan mendjadi kenjataan di Sovjet Uni!

Sebelum perang dunia kedua, hanja di Sovjet Uni Sosialisme dibangunkan. Kemudian petjahlah perang jang terkutuk, perang jang mau didjadikan alat untuk mentjekek Uni Republik2 Sovjet Sosialis. Tetapi Sosialisme tidak mati, malahan, seperti tjendawan dimusim hudjan ia tumbuh menantang di-mana2 : di Polandia, di Rumania, di Bulgaria, di Hongaria, di Tjekoslowakia, bahkan dinegeri jang terpentjil seperti di Albania, dan djuga di Djerman, dan di Timur di Mongolia, di Tiongkok Raja, sampai2 Korea dan Vietnampun menempuh djalan menudju ke Sosialisme (tepuktangan). Sekarang, seribu djuta manusia dibenua jang membentang luas dari Berlin sampai ke Peking, membangun Sosialisme, mengikuti djalan jang sudah diretas Lenin dan Stalin (tepuktangan pandjang).

Dari Afrika sampai ke Alaska, lebih dari seribu djuta manusia, jang masih merana dibawah penindasan kapitalisme, menaruhkan kepertjajaan kepada Sosialisme. Dan kepertjajaan itu mendjamin kepastian kemenangan Sosialisme! Tetapi tidak sedikit pula, orang2 — jang hanja tubuhnja hidup diabad ke-XX sedangkan otaknja tertinggal diabad ke-XVIII — (tawa dan tepuktangan) siang dan malam, pagi dan sore memuntahkan kebentjiannja kepada Sosialisme. Tetapi kebentjian itu seperti rabuk jang menjuburkan Sosialisme! (tawa dan tepuktangan).

Demikianlah, umatmanusia sekarang — sebagaimana dikatakan Lenin — dihadapkan pada suatu alternatif. Umatmanusia sekarang berada dipersimpangan djalan : dia mesti pilih salah satu : djalan kapitalisme atau djalan Sosialisme. Tetapi djangan kita lupakan : djalan kapitalisme adalah djalan buntu! (tepuktangan).

Revolusi Oktober

Batu pertama perdamaian abadi

Parahadirin,

kawan2 dan parasaudara,

Revolusi Oktober tidak hanja melahirkan Sosialisme, Revolusi Oktober djuga melahirkan batu pertama — jang nantinja tumbuh mendjadi benteng — perdamaian dunia.

Ketika Lenin memilih hari, dan ketika Republik Sovjet baru sadja lahir dari kandungan, disamping dekrit tentang tanah dan roti, Lenin djuga mengeluarkan dekrit tentang perdamaian. Sedjak detik itu Lenin berseru kepada kaum imperialis, bahwa Republik Sovjet tidak akan meng-usik2 sedjengkal tanahpun dari negeri2 imperialis, tetapi, sebaliknja, djanganlah kaum imperialis mentjoba2 meng-usik2, meskipun hanja sedjengkal tanah Sovjet (tepuktangan).

Sikap ini adalah kelandjutan jang konsekwen dari analisa Lenin didalam bukunja „Imperialisme, tingkat kapitalisme jang tertinggi”, analisa jang briljant tentang pertentangan2 dan hukum2 pokok imperialisme, analisa jang melahirkan kesimpulan bahwa imperialisme adalah tingkat tertinggi dan bersamaan dengan itu djuga tingkat terachir dari kapitalisme, bahwa imperialisme adalah subuh revolusi sosialis proletariat, dan bahwa front dunia imperialis bisa dipatahkan pada matarantainja jang terlemah, dan dengan demikian Sosialisme bisa didirikan dibeberapa negeri terlebih dulu, bahkan bisa disatu negeri sadja.

Teori revolusi sosialis jang baru dan lengkap ini, adalah perkajaan jang disumbangkan Lenin kepada Marxisme. Dan dari kebenaran ilmu, teori ini sudah berubah mendjadi kenjataan ilmu. Sovjet Uni adalah buktinja jang segar-bugar.

Tetapi apa artinja Sosialisme dibeberapa atau disatu negeri sadja ?

Ini berarti bahwa Sosialisme bisa berdiri berdampingan dengan sistim sosial jang lama, jaitu kapitalisme. Apa jang sekarang ini populer dan disetudjui oleh setiap orang jang djudjur, jaitu ko-existensi setjara damai diantara berbagai sistim, tjita ini adalah tjita Lenin.

Dengan mengibarkan pandji ko-existensi, Lenin meletakkan dasar untuk perdamaian dunia.

Tetapi kaum imperialis menjambut pandji2 jang dikibarkan Lenin, dengan bom, meriam dan samurai. Kelahiran baji Sovjet, jang oleh semua manusia jang berkeadilan disambut dengan senjum dan njanji, oleh kaum imperialis disambut dengan sergapan biadab. Kita masih ingat akan „perang salib 14 negara”, kita masih ingat akan serbuan kaum „Entente” dengan segala Koltjak dan Judenitsjnja, tetapi kita djuga ingat akan perang patriotik jang dengan gigih dan tabah dilakukan oleh Rakjat Sovjet terhadap kaum penjerangnja (tepuktangan).

Kita djuga ingat akan perang dunia kedua, ketika fasisme Hitler menumpahkan se-gala2nja kefront Timur sesuai dengan „Pakt Anti-Komintern”nja, dan ketika negara2 Barat sengadja memperberat tanggungan URSS dengan tidak mem-buka2 front kedua dipantai Barat Eropa. Tetapi kita djuga ingat akan perlawanan jang diberikan oleh Partai, Pemerintah dan Rakjat Sovjet, dan bukan hanja perlawanan, tetapi penghantjuran (tepuktangan).

Sekarang, belum lagi darah dan airmata kering, belum lagi djanda2 pulih dari pedihnja, belum lagi korban2 Hirosjima sembuh dari malapetaka jang menimpanja, dan belum lagi kuburan heibo2 dan romusja2 kita temukan, kaum imperialis dikepalai oleh Amerika Serikat meng-antjam2 dunia dengan kehantjuran baru. Dan mereka tidak berhenti pada meng-antjam2. Mereka sudah mengotori tangan mereka dengan darah Republik Vietnam, darah Republik Indonesia, darah Republik Korea. Mereka mempersendjatai kembali kaum militeris Djerman, algodjo Eropa; dan mereka mempersendjatai kembali kaum fasis Djepang, penjembelih pemuda2 kita! Belum lagi kita berbitjara tentang pangkalan2 perang jang dengan demam dan dengan gila mereka dirikan dinegeri2 orang lain, tentang uang dan budi jang mereka obral untuk „memperlengkapi” „pahlawan2” sematjam Syngman Rhee dan Adenauer, Bao Dai dan Tjiang Kai-sjek (tawa dan tepuktangan).

Ibu jang membuai anaknja, dan peladjar jang berangkat kesekolah menuntut ilmu, petani jang mengolah sawahnja, dan sardjana jang bekerdja didalam laboratoriumnja, be-tanja2 : untuk apa semua itu ?

Mau menghantjurkan komunisme ?

Baiklah saja katakan kepada mereka : sia2, tuan2! (terdengar : „betul, betul!” ber-sama2 tawa dan tepuktangan).

Seratus tahun jang lalu, Tsar dan Paus, Metternich dan Guizot, tidak berhasil menghantjurkan Komunisme. Ketika itu Komunisme baru seperti bibit, jang belum tumbuh mendjadi tanaman! Lebih sepertiga abad jang lalu, tentara Churchill dan samurai Djepang, mau menghantjurkan Komunisme, tetapi gagal. Ketika itu Republik Sovjet belum punja apa2, belum punja industri dan pertanian modern; djuga belum punja Angkatan Perang modern! Belasan tahun jang lalu, Hitler, Mussolini dan Tojo djuga men-tjoba2 mau mengubur Komunisme. Tetapi bukan mereka jang mengubur Komunisme, melainkan Komunismelah jang mengubur mereka! (tepuktangan). Ketika itu belum ada Demokrasi Rakjat di Eropa Timur, dan belum ada RRT dengan Tentara Merah serta 600 djuta Rakjatnja jang mereka takuti!

Masih inginkah kaum imperialis mengulangi petualangannja, mengulangi Don Kisotismenja ? (tawa). Masih inginkah mereka mentjoba sekali lagi adu kekuatan dengan Komunisme ? (tawa).

Tigapuluhtudjuh tahun jang lalu, melawan Komunisme sama dengan menumbukkan kepala ketembok granit jang keras (tawa dan tepuktangan). Apalagi sekarang! („betul!”, tepuktangan).

Tetapi terserah kepada kaum imperialis: apakah mereka mau menerima tawaran perdamaian sebagai partner terhormat, ataukah mereka mau diremukkan sebagai perampok jang tidak punja harga. (tepuktangan).

Revolusi Oktober

Putjuk tombak gerakan kemerdekaan

Parahadirin,

kawan2 dan parasaudara,

Beberapa tahun jang lalu Kawan Mao Tse-tung menjatakan terimakasihnja kepada Marx dan Engels, dan djuga kepada pemimpin2 Revolusi Oktober, Lenin dan Stalin, karena telah memberi sendjata kepada Rakjat Tiongkok. „Sendjata ini bukan metraljur, tetapi Marxisme-Leninisme”, kata Kawan Mao Tse-tung.

Revolusi Oktober sesungguhnja tidak hanja meletakkan batu pertama bagi perdamaian jang kekal, ia djuga meretas djalan bagi perkembangan gerakan kemerdekaan nasional : ia seperti putjuk tombak jang mempelopori gerakan kemerdekaan bangsa2.

Dengan menimbulkan luka2 jang tak tersembuhkan pada tubuh kapitalisme, Revolusi Oktober menggojahkan dan melemahkan sendi2 imperialisme dunia, dan dengan demikian mempermudah perdjuangan bangsa2 untuk membebaskan dirinja dari penindasan kolonial.

Karena Revolusi Oktoberlah, bangsa2 jang sudah ratusan tahun mentjari djalan pembebasannja dengan sia2, menemukan djalan itu, djalan jang ditundjukkan oleh Marx, Engels, Lenin dan Stalin. Proletariat diberbagai negeri, di Tiongkok dan di Italia, di India dan di Australia, djuga di Indonesia, menjusun kekuatannja setjara ilmu, dengan membentuk Partainja sendiri : Partai Komunis.

Demikianlah, PKI-pun lahir dalam pangkuan Revoiusi Oktober.

Djuga pemberontakan perwira ditahun 1926, pemberontakan bersendjata melawan kaum kolonialis Belanda, dilakukan oleh Rakjat dan Partai Komunis Indonesia dengan kejakinan, bahwa achirnja, kemenangan seperti jang ditjapai Revolusi Oktober toh akan kita tjapai djuga. Pemberontakan itu karena beberapa sebab gagal, tetapi Lenin mengadjar kita djangan berketjilhati, apalagi putusasa di-saat2 mengalami kegagalan. Di tahun 36-an PKI dibawah pimpinan Kawan Musso almarhum, mengusahakan penggalangan front-anti fasis, dan ketika pendudukan Djepang tidak bisa kita hindarkan, disaat „pemimpin2” Indonesia banjak jang tak teguh imannja, PKI mengatur perlawanan terhadap Djepang, dan dengan demikian mentjiptakan sjarat2 untuk kelahiran Republik Indonesia (tepuktangan).

Tidak pernah kaum Komunis Indonesia tidak didjiwai dan disemangati oleh kemenangan Oktober. Dan pengaruh Revolusi Oktober tidak terbatas pada kaum Komunis sadja. Sudah sedjak tahun 30-an, baik pemimpin2 Nasionalis maupun pemimpin2 Islam, turut menjebarkan Marxisme di Indonesia (tepuktangan). Boleh dibilang tidak ada seorangpun pemimpin Indonesia jang tidak terpengaruh oleh Marxisme, oleh kemenangan Revolusi Oktober. Djuga dizaman pendudukan Djepang, hampir semua pedjuang ilegal, meskipun tidak banjak buku ketika itu, selalu membatja buku2 Marxis sebagai pedomannja.

Pengaruh Marxisme jang hebat ini mempunjai kelandjutannja dimasa Revolusi. Masukilah penerbit, pertjetakan atau toko buku ketika itu, penerbit, pertjetakan atau toko buku manapun : hampir 90% dari perpustakaan Revolusi itu perpustakaan Marxis! Peladjarilah azas partai2 politik ketika itu : tidak ada satu partaipun jang tidak mengatakan menudju ke Sosialisme, atau se-tidak2nja „keadilan sosial”!

Revolusi kita, sajang sekali, kalah. Dan dengan tak kenal malu kekalahan itu disusul oleh pengchianatan2 nasional. Tjerah udara Revolusi, untuk sementara diliputi kabut jang suram, tetapi kaum buruh kita, pemuda2 kita, patriot2 dan demokrat2 kita, terus bekerdja dengan setia kepada tuntunan2 Marxisme. Bagi setiap orang Indonesia jang djudjur, Marxisme adalah bintang kedjora jang menerangi djalan hidup dan djalan perdjuangannja (tepuktangan).

Karena kita tidak terlambat mengenal Marxisme, maka selama lebih sepertiga abad ini perdjuangan bangsa Indonesia tidak pernah berhenti satu haripun, dan — dengan tak kenal patahhati dan tak kenal putusasa.

Tigapuluhenam tahun jang lalu, Lenin pernah menulis bahwa „India, Tiongkok dan Rakjat revolusioner lainnja di Asia, akan melaksanakan 1789 dan 1793-nja”, djelasnja : akan melaksanakan revolusinja melawan kaum pendjadjahnja.

Kejakinan ini terhundjam erat didalam sanubari bangsa Indonesia, seperti halnja mereka jakin, bahwa bagaimanapun kita ber-putar2 atau berdjungkir-balik, besok matahari akan terbit dari Timur.

Inilah sebabnja, mengapa Revolusi Agustus 1945, jang bagi kaum kolaborator datang seperti halilintar dikala tjuatja terang, bagi pedjuang2 kemerdekaan kita datang sebagai sesuatu jang sudah wadjar : sebagai kekasih jang sudah lama dirindukan!

***

Parahadirin,

kawan2 dan parasaudara,

Revolusi Rusia memang berlangsung tjepat, tetapi djalan perdjuangan bangsa Rusia berdjalan lama sekali, penuh penderitaan dan pengorbanan. Kita kenal pemberontakan Pugatjov, kita kenal peperangan melawan Napoleon, kita kenal kaum Dekabris, dan kita kenal Revolusi tahun ’05. Djalan pergulatan bangsa Rusia adalah djalan jang djauh, djalan jang pandjang. Makaitulah, bagi bangsa Rusia dan bagi bangsa2 Sovjet umumnja, kemerdekaan itu begitu berharganja, begitu bernilainja, seperti halnja bidjimata sangat berharga dan bernilai. Dan makaitulah, djika bangsa2 lain bergulat untuk membebaskan dirinja, bagi Rakjat Sovjet jang sudah bebas, tidak ada ke-ragu2an lagi : mereka tentu dan mereka selalu membantu bangsa2 dalam membebaskan diri. Revolusi Oktober adalah bantuan terbesar pertama, karena Revolusi Oktober memudahkan perdjuangan kemerdekaan bangsa2, sesudah imperialisme diperlemah. Sekarang, tiap2 perkokohan sistim Sosialis, tiap2 kemadjuan produksinja, tiap2 kemadjuan tekniknja, ilmunja, ja, tiap2 kemadjuan seni dan sasteranja, merupakan bantuan jang besar bagi perdjuangan kemerdekaan bangsa2.

Karena Sovjet Unilah, kebudajaan dunia terbebas dari penghantjuran oleh fasisme. Karena Sovjet Unilah, dunia sekarang diselamatkan dari malapetaka perang.

Djuga perdjuangan kita, perdjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia, mendapat bantuan2 jang langsung dari Sovjet Uni. Ini adalah kenjataan sedjarah, dan karena ia kenjataan sedjarah, maka seorang seperti Mohamad Hattapun terpaksa mengakui pada tanggal 16 September 1948 : „Benar djuga bahwa Sovjet Rusia membela kemerdekaan negeri2 jang terdjadjah, berdasarkan kepada ideologinja sendiri”.

Mungkin beliau ini sekarang menjesal pernah mengutjapkan kalimat tsb. (tawa), tetapi pengakuan2 atas kenjataan toh lebih tahan udji daripada fitnahan dan kebohongan! (tepuktangan).

Waktu berdjalan tjepat, dan waktu jang tjepat itu dipergunakan se-efektif2nja oleh kaum reaksi sekarang, untuk membelokkan perhatian Rakjat Indonesia dari kenjataan2 jang sesungguhnja. Mereka berusaha mati2an supaja Rakjat Indonesia „melupakan” sadja bantuan Sovjet Uni kepada Republik kita. Dan bersamaan dengan itu mereka menumpahkan segala sesuatu untuk mendjerumuskan Indonesia kedalam dua djebakan : SEATO - Amerika, dan kudeta-kolonial Belanda. Saja katakan kudeta, karena apa jang kita saksikan sekarang, jaitu pertjobaan2 untuk menggulingkan Pemerintah Republik, adalah suatu komplotan besar2an, komplotan jang tak kenal malu, untuk mentjekek Republik kita dan untuk mengembalikan kekuasaan kapital monopoli asing sepenuhnja atas kehidupan ekonomi dan politik negeri kita. Mereka jang menjatukan dirinja dengan komplotan anti Republik ini, adalah orang2 jang tinggal kulitnja sadja Indonesia, tetapi djiwanja anti-Indonesia („betul, betul!”, tawa, tepuktangan).

Karena komplotan inilah keadaan kita sekarang agak suram, dan krisis ekonomi mentjengkam negeri kita. Sudah galib, di-saat2 jang sukar, kita teringat kepada sahabat. Dan dalam keadaan begini, kita lebih2 teringat kepada negara2 sahabat kita, lebih2 kepada Sovjet Uni. Saudara2 Djawoto, Prijana, Sumanang, dll, menjaksikan sendiri baru2 ini betapa ichlasnja bantuan jang diberikan Sovjet Uni kepada RRT.

Dan djika bangsa2 terlibat di dalam kesukaran, disanalah Sovjet Uni muntjul sebagai sahabat jang ichlas (tepuktangan). Ketika Perantjis ditjekek lehernja oleh Hitler, Sovjet Unilah — sebagaimana baru2 ini ditegaskan sekali lagi oleh Eduard Herriot — jang mengulurkan tangan persahabatan (tepuktangan). Ketika Republik Korea dibakar oleh Foster Dulles, djuga Sovjet Uni jang ber-sama2 RRT dan negara2 demokratis lainnja membela kedaulatan Korea.

Tetapi mengapa kita memantjangkan mata keluar negeri ? Kita sendiri, di-saat2 jang se-sukar2nja, mendapat uluran tangan persahabatan dari Sovjet Uni.

Mungkin hal2 ini akan tidak mengenakkan kaum reaksi — ingatan itu tidak selalu njaman! — , tetapi ketika Belanda menjerbu Republik kita, siapa jang membela kita didalam PBB? Toh bukan tuan Truman? (tawa).

Wakil Republik Sovjet Sosialis Ukraina, Manuilski, ketika itu menjatakan dengan terang : „Tidak memerlukan pendjelasan, bahwa sikap delegasi Sovjet terhadap Indonesia tidak ada dan tidak mungkin ada persamaannja dengan sikap pemerintah2, jang mempunjai rentjana2 expansionis terhadap Republik Indonesia”.

„Republik2 Sovjet”, kata Manuilski lebih landjut, „jang berdasarkan azas2 persamaan dan persahabatan Stalinis diantara bangsa2, diwaktu jang lampau maupun sekarang tidak dapat bersikap masabodoh terhadap keinginan jang adil dari Rakjat Indonesia. Keinginan2 ini sesuai dengan prinsip2, jang bisa didjadikan sendi perdamaian dan keamanan diantara bangsa2, ia sesuai dengan Piagam Perserikatan Bangsa2, jang menghormati azas persamaan hak diantara bangsa2 besar atau ketjil, dengan tak pandang bangsa atau warna, azas hak menentukan nasib sendiri bagi bangsa, jang memberi hak kepada setiap bangsa untuk menentukan susunan negara dan susunan sosial, jang dianggap paling sesuai bagi diri mereka sendiri”.

Kemudian, sesudah mengutuk perbuatan jang memburukkan kedudukan Republik Indonesia, Manuilski membela supaja „kedaulatan wilajah” Republik Indonesia „tidak dilanggar”.

Djuga wakil URSS, Andrei Wisjinski, membela Republik kita dengan menegaskan bahwa tindakan2 Belanda „tidak mungkin dinamakan lain ketjuali sebagai tindakan agresi terhadap Rakjat Indonesia, dilakukan oleh suatu negara, jang mendjadi anggota PBB” (tepuktangan).

„Agresi militer jang tidak beralasan dari Belanda terhadap Republik Indonesia itu”, kata Wisjinski lebih landjut, „menimbulkan kegelisahan jang adil pada semua orang jang djudjur di dunia. Ja, apakah PBB memberikan perlindungan jang mendjadi kewadjibannja itu kepada Rakjat Indonesia ? Kita semua tahu bahwa hal ini tidak terdjadi. Selama pembitjaraan masaalah Indonesia didalam Dewan Keamanan, berbagai negara tidak lupa untuk memperketjil pentingnja kedjadian2 di Indonesia dan dalam hal ini memaksakan kepada Dewan Keamanan suatu keputusan, jang dalam segala seginja tidak bisa dianggap mentjukupi untuk melindungi kepentingan2 Republik Indonesia, sebagai korban suatu agresi bersendjata”.

Kita lihatlah betapa ichlas dan djudjurnja pembelaan wakil2 Sovjet ini atas kepentingan Republik kita. Dan siapa jang bisa melupakan, bahwa disaat kita dikepung oleh kaum kolonialis Belanda itu, Pemerintah Sovjet, melalui persetudjuan jang ditandatangani dengan dutabesar Suripno di Praha, mengakui Republik Indonesia, dan dengan demikian memperkuat kedudukan kita dalam menghadapi Belanda ?

Sampai detik ini bantuan Sovjet ini tidak berubah seudjung rambutpun. Masaalah Irian Barat kini sedang dibitjarakan oleh Madjelis Umum PBB. Kita semua menjaksikan siapa jang membantu tuntutan nasional kita ini : toh bukan Amerika atau Australia ? Untuk kesekian kalinja terbukti, bahwa negara2 imperialis bukan sahabat kita dan tidak mungkin mendjadi sahabat kita, dan bahwa sebaliknja, kita hanja menemukan sahabat pada negara2 jang se-tjita2 dengan kita, jang menentang pendjadjahan, jang mendjundjung tinggi pandji2 kemerdekaan, dan jang berdiri didepan sekali dalam djadjaran negara2 ini jalah : Sovjet Uni (tepuktangan).

Ekonomi negeri kita sekarang terlibat didalam krisis. Kitalah, dan bukan orang lain — sudah tentu — jang bisa dan harus mengatasi krisis ini. Tetapi kita sekarang hidup dalam suatu zaman, dimana bangsa2 maupun negara2 tidak mungkin hidup mementjil sendiri2, dimana bangsa2 maupun negara2 mau tak mau harus bantu-membantu. Tidak benar bahwa hanja Sovjet Unilah jang mau membantu kita, tetapi Sovjet Uni toh bersedia membantu kita. Sudah tentu bukan untuk mendjadi single buyer karet kita atau untuk membandjiri pasar kita dengan permen karet dan Coca Cola (tawa), tetapi perdagangan bebas jang mereka tawarkan, jang nota bene boleh kita lakukan dengan rupiah dan dengan angsuran, bisa membantu, dan tidak sedikit membantu usaha kita mengatasi krisis ekonomi sekarang. Paviljun URSS didalam Pekan Raja Ekonomi Internasional baru2 ini menundjukkan betapa besarnja potensi industri maupun pertanian Sovjet, dan betapa stabilnja susunan ekonomi Sosialis. Belum lagi kita bitjarakan tentang kesediaan Sovjet Uni untuk mengadakan tukar-menukar kebudajaan, jang tidak hanja penting bagi kita untuk mengenal kebudajaan mereka, tetapi djuga untuk memperkenalkan kebudajaan kita. Dalam hal ini tidak ada seorang senimanpun jang tidak setudju, sajang, bahwa halangan pelaksanaannja masih sadja datang dari beberapa pendjabat Pemerintah.

Semua ini mungkin. Dan jang berbitjara disini jalah kenjataan, jang berbitjara disini jalah sedjarah!

Parahadirin,

kawan2 dan parasaudara,

Jean-Paul Sartre berpendapat, bahwa nasib Perantjis tergantung dari bersahabat-tidaknja negeri itu dengan Sovjet Uni. Hal ini kiranja djuga berlaku bagi Indonesia. Tigapuluhtudjuh tahun sesudah Revolusi Oktober, persahabatan Sovjet-Indonesia tidak lagi hanja dilakukan oleh Rakjat2nja, tetapi djuga oleh Pemerintah2nja. Hal ini penting, karena persahabatan ini tidak hanja ditakuti oleh musuh kita nomor satu, kolonialisme Belanda, — persahabatan ini djuga memperlemah kedudukan Belanda terhadap kita! (tepuktangan).

Parahadirin,

kawan2 dan parasaudara,

Adakah dewasa ini sesuatu gerakan jang lebih dibentji daripada Komunisme ? Tetapi adakah dewasa ini sesuatu gerakan jang lebih ditjinta daripada Komunisme ? Se-banjak2 orang jang membentji Komunisme didunia ini, ratusan kali lebih banjak orang jang menaruh simpati terhadapnja (tepuktangan).

Matjam2 dongeng di-sebar2kan tentang kaum Komunis. Ada ditjeritakan, bahwa kaum Komunis itu djahat, bandit, kedjam, kadang2 dikatakan djuga bahwa kaum Komunis itu „tukang minum darah” (tawa). Tetapi baiklah kita ingat, jang mengatakan ini bukan hanja kaum konservatif dan kaum sosialis kanan : djuga Van der Plas dan Sarekat Hidjonja (tepuktangan), djuga Djepang dan Kenpeitainja suka mendongeng begitu! (tepuktangan). Djuga suka didongengkan, bahwa Pemerintah Sovjet itu memasang „tirai besi”. Tetapi semendjak warganegara2 Indonesia sendiri sering mendapat kesulitan bukan di Moskow tetapi di Kemajoran atau Tandjungpriok, (tawa) dan semendjak umat Islam Sovjet jang menunaikan rukun hadji mendapat rintangan bukan dari Pemerintah Uzbek melainkan dari kedutaan2 Inggris, maka mulai lenjaplah dongeng tentang „tirai besi” itu seperti embun di telan matahari (teputangan).

Musuh2 Sosialisme tidak malu2 dan terang2an memusuhi Sosialisme. Tetapi patut ditjatat : hanja dalam memusuhi Sosialisme mereka ber-terang2an, sebab dengan litjik dan pengetjut mereka membela apa jang mereka bela. Saja sendiri belum pernah mendjumpai sesuatu perkumpulan jang misalnja bernama „Madjulah kapitalisme” atau misalnja „Perhimpunan membela imperialisme”…(tawa).

Meskipun demikian, kita harus mengangkat topi kepada musuh2 Sovjet, musuh2 Sosialisme dan musuh2 Komunis itu. Sekarang ini, tidak pernah satupun suratkabar terbit, tidak pernah satupun brosur atau buku ditulis, tidak pernah satupun pidato diutjapkan, dimana tidak terdapat se-kurang2nja satu kata „Komunis” (tawa). Kadang, didalam kebingunan mereka, dari menit kemenit, mereka memenuhi pidato mereka dengan kata „Komunis, Komunis” (tawa), dan mereka memenuhi halaman suratkabar atau madjalah mereka dengan kata2 seperti „Sovjet, Sosialisme, Bolsjewik, Komunis” dll. Semua ini sangat membantu kesuburan pertumbuhan Komunisme! (tepuktangan).

Sekarang, tepat pada ulangtahun ke-37 Revolusi Sosialis Oktober, seluruh dunia memperingati haribesar Rakjat pekerdja ini. Sebagian dengan kegembiraan, sebagian lagi dengan kebentjian (tawa). Tetapi betapapun besarnja kebentjian mereka : didalam hati ketjil mereka mereka toh iri djuga melihat kemadjuan2 Sosialisme. (tawa).

Paling2 mereka akan mengatakan : „Sosialisme itu memang mendatangkan kemadjuan, tetapi ia ditjapai dengan pertumpahan darah, ia ditjapai dengan pemberontakan!”

Tetapi benarkah mereka itu begitu prinsipiil menolak pertumpahan darah atau pemberontakan ?

Di Guatemala, „Westerling” Armas (tawa) melakukan pemberontakan dan menimbulkan pertumpahan darah. Tetapi tuan Foster Dulles tjepat2 menjatakan kegembiraannja, dan me-mudji2 „Westerling” Armas setinggi langit (tawa dan tepuktangan). Djuga kaum reaksi di Indonesia, dengan agak sembunji2 me-mudji2 Armas (tawa). Tidak, parahadirin, mereka tidak menolak pemberontakan! Mereka menolak pemberontakan djika pemberontakan itu ditudjukan terhadap imperialisme, tetapi mereka me-njandjung2 pemberontakan dan me-njandjung2 pertumpahan darah, asalkan pemberontakan dan pertumpahan darah itu ditudjukan terhadap kemerdekaan dan kemadjuan. Demikianlah halnja! (tepuktangan).

Bahwa di Rusia dulu terdjadi pertumpahan darah? Ini sama sadja dengan jang terdjadi di Indonesia. Seperti halnja Belanda disini, tsar disana bukan ber-puluh2, tetapi beratus-ratus tahun lamanja menindas Rakjat banjak dengan mengalirkan darah Rakjat jang tidak berdosa. Apa artinja darah jang terpaksa tumpah didalam Revolusi Oktober Rusia atau didalam Revolusi Agustus Indonesia, dibandingkan dengan darah dan airmata jang dibandjirkan akibat tsarisme Rusia dan kolonialisme „Hindia Belanda” ?

Ada hal2 jang tidak kita sukai didalam hidup kita, tetapi kadang2 kita terpaksa melakukannja, sekali lagi : terpaksa.

Parahadirin,

kawan2 dan parasaudara,

Kita menghadapi haridepan kita dengan beladjar se-banjak2nja dari Revolusi Oktober. Tetapi apakah ini berarti bahwa kita mesti mendjiplak segala sesuatu dari Sovjet Uni?

Kawan Aidit menegaskan sbb : „Rakjat Indonesia harus berorientasi ke Sovjet Uni…Ini tidak berarti, bahwa bentuk negara Sovjet Uni, jaitu sistim Sovjet, mesti diikuti oleh semua negeri, termasuk Indonesia. Samasekali tidak demikian. Sebaliknja, tiap2 bangsa akan melalui djalannja sendiri menudju ke Sosialisme, berdasarkan perkembangan keadaan nasionalnja, keadaan politik, ekonomi dan kebudajaannja”.

Dan achirnja, sebagaimana ditegaskan didalam Program Partai Komunis Indonesia : „Tidak meragukan lagi bahwa tudjuan ini akan terlaksana, sebab bintang kedjora jang menerangi djalan perdjuangan Rakjat Indonesia jaiah adjaran2 Marx, Engels, Lenin dan Stalin jang mahadjaja, sebab pengalaman dua Rakjat jang besar — Sovjet Uni dan Tiongkok — merupakan teladan jang memberi inspirasi kepada Rakjat Indonesia” (tepuktangan).

Parahadirin,

kawan2 dan parasaudara,

Tigapuluhtudjuh tahun jang lalu proletariat Rusia berhasil mendjadikan dirinja klas jang berkuasa. Akan datang masanja djuga proletariat Indonesia berkuasa atas nasibnja sendiri! (tepuktangan pandjang).