Publisher Note
Di kenal di usia senjanya sebagai “begawan” Ekonomi Indonesia, Prof. Dr. Sumitro Djojohadikusumo, lahir pada tanggal 29 Mei 1917 di Kebumen, Jawa Tengah, adalah seorang cendekiawan merangkap ekonom dan politikus yang karirnya mencakupi seluruh periode Indonesia merdeka. Ketika menjadi mahasiswa di Prancis guna mempelajari ekonomi pada akhir tahun tiga puluhan, dia sempat bersentuhan dengan kelompok-kelompok “kiri” dan hampir saja menjadi anggota brigade internasional yang dikirim menggempur rezim fasis Franco di Spanyol.
Usai Perang Dunia kedua, dia menempati posisi yang penting sebagai asisten Perdana Menteri (1946), Presiden dari Indonesian Bank Corp. (1947), dan wakil ketua delegasi Indonesia pada Dewan Keamanan PBB. Karirnya lalu terus menanjak hingga dia menjadi Menteri Ekonomi dan Menteri Keuangan pada beberapa kabinet di tahun 50-an. Sebagai pelopor Partai Sosialis Indonesia, dia berseberangan faham dengan Soekarno dan terpaksa mencari suaka di luar negeri setelah pemberontakan PRRI/PERMESTA pada tahun 1957.
Sepulangnya ke Indonesia setelah jatuhnya Orde Lama, dia menjadi salah satu arsitek dari kebijakan ekonomi Orde Baru, secara berturut-turut sebagai Menteri Perdagangan (1968-1973) dan Menteri Negara untuk Riset (1973-1978). Dia kemudian mengambil jarak yang semakin kritis terhadap pemerintah Orde Baru, khususnya Soeharto, meskipun yang terakhir ini menjadi besannya melalui perkawinan antara putri Soeharto, Titiek, dengan putranya sendiri, Prabowo Subianto.
Digitizer Note
This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.
All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.
The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.
Menyatakan bahwa saya mengenal tokoh besar ini tentu akan terasa mengada-ada dan sombong. Oleh karena itu, renungan saya tentang André Malraux ini akan diungkapkan sebatas pengetahuan saya tentang dia.
Memang benar saya pernah bertemu dengannya beberapa kali, dan terjadi pada masa krisis dalam sejarah, yaitu selama tahun 1938, menjelang Perang Dunia kedua. Pada waktu itu saya masih muda, baru saja merayakan ulang tahun ke-21, di Paris, tempat saya bekerja sebagai pelayan restoran di Hotel Lancaster, di jalan de Berri, tidak jauh dari Champ-Elysées. Pada waktu itu André Malraux berusia 37 tahun, 11 tahun lebih tua dari saya, seorang pahlawan perang saudara Spanyol dan seorang “tokoh panutan” bagi generasi muda seangkatan saya. Itulah konteks catatan ini, sedalam kesan dan kenangan pribadi saya, ditambah dengan interpretasi yang sangat subjektif tentang pemikiran-pemikiran, hasil tulisan, dan tindakannya.
Untuk menempatkan kesan dan interpretasi saya dalam sudut pandang yang benar, perlu diingat bahwa keadaan politik dan sosial yang bergejolak pada dasawarsa tahun 30-an menciptakan suasana tersendiri. Saya menilai tahun 1938 sebagai tahun “naas”. Tahun ini adalah tahun “Anschluss”, dengan terjadinya penggabungan antara Austria dan Jerman, diikuti oleh pendudukan Cekoslovakia oleh tentara Jerman, dan mencapai puncaknya pada saat Neville Chamberlain “menyerah” kepada Hitler di München, yang disebut sebagai “Peace in Our Time” atau perdamaian masa kini. Kejadian-kejadian ini bukan hanya sebagai akibat yang menyedihkan dari kejadian-kejadian tahun sebelumnya, namun juga pertanda akan datangnya masa depan yang lebih suram.
Semua diawali dengan serbuan Jepang di Cina pada tahun 1931-32, serta pemboman dan pendudukannya atas Shanghai. Kemudian kita menyaksikan pengambilalihan kekuasaan di Jerman oleh kaum Nazi di Jerman pada tahun 1933, ketika Hitler diangkat sebagai Reichskanzler; lalu petualangan ekspansionis Mussolini ke Abyssinia (sekarang Etiopia dan Erythrea), dan tahun berikutnya kudeta Jenderal Franco di Spanyol yang menyebabkan pecahnya perang saudara, yang kemudian dijadikan ajang percobaan adu keunggulan bagi pesawat-pesawat tempur Jerman dan Italia. Sehingga pada tahun 1939, kami sudah menduga-duga bagaimana semua ini akan berakhir.
Pada masa itulah, perjalanan hidup untuk pertama kalinya mempertemukan saya dengan André Malraux. Kesempatannya adalah ketika diajak menghadiri suatu pertemuan oleh Henri Cartier-Breson dan istri pertamanya, Ratna Murindia, sekarang sudah wafat, dan kalau tidak salah, penyair Amerika berkulit hitam Langston Hughes. Persahabatan saya dengan Cartier-Bresson dimulai pada saat itu dan seterusnya selalu erat.
Pertemuan itu diadakan atas prakarsa sekelompok aktivis yang mengumpulkan dana bagi Spanyol—tentunya untuk golongan Republik. André Malraux juga hadir pada saat itu. Dia mendorong kami, bersama beberapa kelompok aktivis lainnya, untuk mendukung pergerakan golongan Republik Spanyol melalui berbagai kegiatan. Kontribusi saya sederhana, misalnya saya bersama Ratna mengumpulkan dana dengan mengadakan pagelaran tari-tarian Indonesia di depan berbagai kalangan. Pada kesempatan-kesempatan seperti itu, saya beberapa kali beruntung bertemu lagi dengan Malraux dan mendengarkan beliau, terpukau, berbicara tentang perang Spanyol dan tentunya tentang masalah-masalah aktual.
Pada masa itu, André Malraux baru saja mengakhiri tugasnya dalam perang saudara di Spanyol. Dia bergabung dengan tentara Republik pada tahun 1936, tidak lama setelah Franco menggulingkan kekuasaan yang sah. Dialah yang mengorganisir angkatan udara Republik dan menjadi pemimpin Eskadron España. Sesungguhnya dia hanya mempunyai beberapa pesawat kecil yang rapuh dan tua, jenis yang sangat primitif dibandingkan dengan pesawat Messerschmitt dan Stuka milik Franco. Walaupun demikian, eskadron pimpinan Malraux telah memainkan peranan yang besar dalam pertempuran di Toledo dan Madrid. Dia mengambil bagian secara langsung pada tidak kurang daripada enam puluh misi tempur dan beberapa kali mengalami cedera.
Apakah mengherankan jika saya dan generasi seangkatan menganggap Malraux bagaikan pahlawan dalam dongeng dan seorang pahlawan yang patut dicontoh?
Pada tahun sebelum itu, saya sendiri mencoba masuk ke Brigade Internasional, mengikuti Jef Last, seorang penulis radikal-sosialis Belanda dan sahabat saya pada waktu mahasiswa. Namun sayang, setelah latihan militer singkat di Catalonia, saya ditolak karena dengan umur saya yang baru 20 tahun, saya dianggap masih di bawah umur. Oleh karena itu, pertemuan saya dengan André Malraux, secara psikologis sejenis penghibur hati yang amat penting ketika itu.
Apa kesan pertama saya terhadapnya? Sebuah bola energi yang kuat, dengan sebatang rokok selalu terselip di bibirnya atau di antara jari-jarinya. Sebuah topik yang menarik perhatiannya akan berkembang dalam rentetan gagasan yang cemerlang yang diungkapkan dalam bahasa yang sangat baik, sehingga terkadang bagi kami yang muda-muda, tidak dapat mencerna seluruh perkataannya dengan baik. Sungguh kami terpesona oleh karisma kepribadiannya. Walaupun demikian, dia juga dapat bergaul akrab dengan yang muda-muda. Dengan pembawaannya yang sopan dan sederhana, dia tahu cara membuat kami tidak merasa canggung.
Yang kami kagumi dan bahkan junjung di dalam diri Malraux bukanlah sekedar peran historisnya yang kongkrit, atau kewiraannya, atau bahkan sikap pantang menyerahnya, tetapi juga karyanya. Saya tentunya membaca buku-buku yang dia tulis pada akhir tahun 20-an dan di awal 30-an, yang dianugerahi *Prix Goncourt&, yaitu penghargaan tertinggi dunia sastra Prancis: Les Conquérants (1928), La Voie Royale (1930), dan La Condition Humaine (1933). Karyanya yang terakhir inilah yang paling mengesankan saya. Dan pada hemat saya, adikarya itu tidak hanya mempengaruhi jamannya tapi juga generasi-generasi berikutnya.
Apabila kita mengakji riwayat hidup André Malraux serta peranan historisnya selama sebagian besar abad ini, tidak syak lagi yang nampak adalah keserasian yang total antara ide, tulisan, dan riwayatnya sebagai manusia “pelaku”. Dan keserasian ini ada pada setiap saat dan pada kesempatan yang berbeda: pada tahun 20-an dan awal tahun 30-an, ketika sebagai aktivis muda yang militan, dia berada di Indocina dan Cina; pada waktu perang saudara di Spanyol (1936-1939); selama Perang Dunia kedua (1939-1945), ketika dia bergabung dengan apa yang disebutnya “le peuple de la nuit” (‘orang-orang malam’), baik dalam rombongan gerilya daerah Dordogne dan Corrèze—dengan nama perang Colonel Berger—maupun sebagai pimpinan Brigade Alsace-Lorraine, yang terlibat di pertempuran St. Odile dan Strasbourg pada tahun 1944; kemudian ketika dia tampil di permukaan sebagai anggota kabinet Génèral de Gaulle (sebagai Menteri Penerangan pada tahun 1945 dan Menteri Kebudayaan pada tahun 1959).
Bukan Malraux namanya kalau tokoh kita ini tinggal diam dan tak lebih daripada saksi (pasif) sejarah. Dia selalu ingin bertindak, berpartisipasi, meninggalkan jejak, mempengaruhi baik tatanan maupun arus sejarah. Dari tulisan serta kehidupan Malraux sebagai manusia “pelaku”, generasi muda seangkatan saya dibekali suatu prinsip yang sangat berharga, yaitu bahwa nilai yang sesungguhnya dari gagasan apa pun terbukti pada perbuatan kita menyangkut gagasan tersebut. Gagasan dan tindakan harus harmonis, seperti dua elemen tak terpisahkan dari sifat manusia. André Malraux, selaku filosof, pengarang, dan manusia “pelaku”, juga menunjukkan betapa penting menampilkan suatu gaya, di dalam artian estetika dari “action” (perbuatan) dan bukan kejelimetan yang dangkal. Berkenaan dengan hal ini, kelihatannya Malraux sangat setia pada dirinya ketika menolak bergabung dengan klik cendekiawan yang berkisar di sekitar Jean-Paul Sartre. Klik tersebut, apa pun pretensi akan kecemerlangannya, pada akhirnya selalu berkeluh-kesah.
Tak terbantah lagi ada suatu segi pada Malraux yang amat mempengaruhi teman-teman dan saya sendiri, yaitu dia menawarkan jawaban pada pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang hakikat keberadaan, arti dan tujuan hidup kita, yang selalu diliputi oleh pergolakan dan ketidakpastian di dunia tempat kita hidup pada waktu itu.
Selama paruh pertama abad 20, aliran filsafat yang dominan adalah filsafat Henri Bergson, terutama yang tertuan dalam karyanya L’Evolution Créatrice, sebuah studi tentang masalah keberadaan dan kehidupan manusia. Yang perlu diingat di sini adalah, bahwa filsafat ini didasari oleh konsep keberlanjutan, gerakan abadi serta perubahan, dan kita menggunakan naluri untuk memahami kebenaran hakiki dari segalanya. Seperti banyak orang seangkatan, saya cukup tergoda oleh doktrin Bergson ini, yang nampak cocok dengan apa yang kita lihat di dunia tempat kita hidup, dengan proses pemusnahan dan penciptaan kembali yang abadi itu. Padahal ada satu hal yang terlewatkan, yaitu prinsip-prinsip yang menuntun kita dalam hidup dan memberikan alasan-alasan bagi segala keputusan yang kita ambil. Apakah kita pada prinsipnya hanya elemen-elemen pasif, yang terlempar dalam perputaran waktu, pergerakan, dan perubahan? Segala perbuatan kita dalam hidup ini apakah “bernilai” hanya karena kita memang telah berbuat demikian, atau karena perubahan demi perubahan, dan semua itu diatur oleh naluri kita?
Dalam bidang ini, saya berpikir bahwa André Malraux mengisi suatu kekosongan (saya telah mengingatkan bahwa interpretasi saya bersifat pribadi dan subjektif). Baik di dalam perkataannya maupun di dalam tindakannya, dia tidak pernah menganjurkan “l’action pour l’action”, yaitu perbuatan demi perbuatan. Baik dalam tulisannya maupun di dalam berbagai aktivitasnya, dan sepanjang riwayatnya di tengah suatu zaman yang diwarnai kekacauan itu, kita selalu menemukan nilai-nilai pokok kehidupan manusia, yaitu martabat manusia dan keadilan sosial. Dan di situlah timbul peran dari “l’homme engagé”, yaitu manusia yang berpihak dan sepenuhnya mengabdikan diri pada upaya mempertahankan martabat manusia dan keadilan dalam konteks sosialnya.
Walaupun secara umum André Malraux dianggap sebagai tokoh “obor” masyarakat peradaban Eropa, kini visi dan pemikirannya telah menembus batas-batas geografis dan mencakup seluruh ragam ideologi politik, mulai dari golongan ekstrim kiri hingga tengah kanan.
Selagi muda, berusia sekitar 20 tahunan, sebagai seorang editor majalah l’Indochine, kemudian “l’Indochine Enchâinée*, dia menentang para kaum kolonial dan seluruh sistim kolonial, dan berpihak pada bangsa Annam (Indocina). Kegiatannya di Cina, dan terutama cerita Kio sebagaimana dikisahkan di dalam bukunya La Condition Humaine, sesungguhnya merupakan protesnya yang tegas dan gigih melawan praktek penindasan yang kejam dari tentara Chiang Kai Chek di Shanghai. Di atas sudah disebut keberaniannya di Spanyol, juga peranannya dalam gerakan perlawanan (anti Jerman) semasa Perang Dunia kedua.
Pada tahun 1934, ketika partai komunis meminta Malraux membuat sebuah petisi yang ditujukan kepada Hitler untuk memprotes penahanan Dimitrov dan Thaelman, dia langsung melakukannya dengan penuh semangat.
Lama sesudah itu, sewaktu dia menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, sembari mempromosikan mensubsidi kebudayaan serta kesenian Prancis, André Malraux sesungguhnya telah memperbaiki kualitas hidup negaranya, karena pada hakikatnya martabat manusia tidak hanya tergantung pada pangan semata.
Kita telah melihat bahwa gagasan “manusia yang berpihak” pada harkat manusia dan keadilan sosial selalu bermunculan di dalam karya tulis atau perbuatan André Malraux. Kehidupannya adalah bukti (nyata) bahwa cause (“tujuan luhur yang menimbulkan keterpihakan”) itu dapat dan harus dipertahankan, juga pada saat dunia harus tunduk pada waktu, gerakan, dan perubahan.
Sekarang saya ingin menutup kenangan saya ini tentang Malraux dengan mengingat ungkapannya tentang manusia dan peradaban, yang langsung maupun tak langsung berhubungan dengan gagasan martabat manusia dan keadilan dalam masyarakat maju. Saya mengambil kutipan dari pidato Discours aux Ecrivains (Pidato untuk Para Pengarang) yang dia tulis pada tahun 1935, ketika “angkara murka” mulai menyingsing di cakrawala dan membawa dunia dalam malapetaka Perang Dunia kedua:
“Peradaban tiada lain berarti mengabdikan kekuatan manusia pada pencapaian impiannya; bukanlah menjadikan impian manusia sebagai abdi kekuatan.”
Pada kesempatan ini, mohon saya dimaafkan, jika saya mengalamatkan kata-kata terakhir ini pada generasi muda sebangsa dan setanah air saya:
Generasi muda setanah air, dengarkan perkataan-perkataan dari seorang tokoh besar. Karena perkataan-perkataan itu adalah sebuah pesan yang menembus batas waktu dan tempat.
(Terjemahan dari bahasa Prancis oleh Ade Pristie Wahyo).