Publisher Note (Kata Pengantar)
Nama asli: Le Retour de l’enfant prodigue.
Kepada : Arthur Fontaine.
PENULIS novel dan essay Perantjis André Gide jang sudah termashur namanja diseluruh dunia, dilahirkan di Paris, tanggal 21 November 1869.
Perkembangan djiwa André Gide terbajang dengan njata dalam karangannja jang pertama, Les Cahiers d’André Walter, sebuah pengakuan jang setengah psychologis, setengah lyris, jang ditulisnja waktu ia berumur 18 tahun. Buku ini melukiskan keragu-raguan seorang anak muda jang dibesarkan dalam lingkungan agama Protestant oleh tiga orang perempuan: Ibunja, bibinja dan seorang teman mereka. Sesungguhnja jang mendjadi pokok tjerita ini ialah pengalaman Gide sendiri dalam masa mudanja. Oleh karena keadaan dan pula karena kesalahan ibunja, dalam masa mudanja Gide seorang jang pendiam benar. Dia seorang pemuda jang menderita, jang merasa dalam dirinja berkembang segala instinct seorang pemuda. Kerapkali ia menjesali dan menghukum nafsunja itu, karena bertentangan dengan kepertjajaannja jang teguh; seorang pemuda jang mempunjai pembawaan kesusasteraan dan ingin sekali menjatakan apa jang terkandung dalam hatinja. Les Cahiers d’André Walter ini bagi André Gide sama seperti „Werther” bagi Goethe. Dalam kedua buku ini seorang romanticus membebaskan diri dari romantisme-nja dalam gambaran seorang pemuda. André Gide sebagai pelaku André Walter ini memberi gambaran tentang masa penderitaannja, pribadinja sendiri. Les Cahiers d’André Walter terdiri dari dua bagian. Jang pertama bernama Le Cahier Blanc. Pelakunja jang terpenting dalam buku ini tinggal seorang jang sutji; ia menerima kesedihan jang terdjadi karena perdjuangan kepertjajaannja dengan nafsunja, malahan ia menderita kesedihan ini agak dengan rasa gembira, sebagai Gide sendiripun seolah-olah merasa senang mengalami pertentangan-pertentangan dalam dirinja. André Walter (seperti André Gide) menaruh tjinta terhadap kemanakannja. Ia takut benar mentjemarkan djiwanja dengan menurutkan hawa nafsunja. Karena itu, maka untuk André Walter tjinta itu seperti pertunangan jang kekal. Dalam seluruh bagian pertama ini, tjinta atau djiwa lebih dipentingkan daripada nafsu; pertjakapan-pertjakapan dalam buku ini semua abstrak dan tinggi. Bagian kedua ialah Le Cahier Noir. Pertentangan jang mengganggu djiwa Gide jang muda itu disinipun mendjadi pertentangan jang paling penting, tetapi dalam Le Cahier Noir, sifat hewan dalam manusialah jang menang.
Kemudian karangan ini disusul oleh Poésies (1892), Traité du Narcisse (1892), Tentative Amoureuse (1893) jang sangat mesra, Voyage d’Urien (1893) jang ironis dan Préludes (1895) jang melukiskan seorang laki-laki jang biasa sadja. Karena karangan-karangan ini ia masuk lingkungan pengarang Perantjis jang symbolis. Tetapi dalam lingkungan itu ia merasa tidak pada tempatnja, kaku dan diam-diam sadja. Ketika pada perdjalanan di Afrika-Utara ia menemukan hakekat diri sendiri, sadar akan rahasia djiwanja jang selalu gelisah, barulah dapat ia mengambil langkah jang menentukan menuju kemenangan kebebasannja.
„Akan tetapi,” katanja, „memutuskan ikatan belum apa-apa, soalnya, ialah apa jang harus dikerdjakan dengan kebebasan itu”. Dapat dikatakan soal ini mendjadi soal hidupnja.
Kegembiraan dalam Les Nourritures Terrestres (1897) tidaklah tahan lama. Dengan tiba-tiba pada achir buku, penulis mengandjurkan membuang buku itu, sebab hanja memungkinkan satu pandangan hidup. Sebagai akibat dan kejakinan jang skeptis bahwa ada lebih dari satu djalan serta tidak satu tudjuan jang sungguh-sungguh benar, sampailah ia pada pendapatan jang dapat diterangkan dengan berbagai tjara, njata dari karangan-karangannja jang penting dalam tingkat hidup jang kedua: L’Immoraliste (1902), La Porte Etroite (1909) dan Le Retour de l’enfant prodigue (1907). Michel jang immoraal itu, melepaskan moraal jang sudah kebiasaan, tetapi sebandingkah tindakan ini dengan pengorbanan isterinja? Alissa, dalam La Porte Etroite mendjauhi segala nafsu hidup untuk menentramkan djiwanja, akan tetapi haruslah ia mengorbankan hidupnja, mengorbankan tjintanja untuk Jerome ? Anak Hilang menjatakan sesalnja waktu ia kembali, akan tetapi apa jang lebih baik, hidup dirumah atau meninggalkan rumah. Ia menolong adiknja melarikan diri dari rumah. Lafcadio dalam Les Caves du Vatican (1914) mengedjar kebebasan, tetapi tidak dapat dan tidak mau melepaskan diri dari akibat-akibat dari tindakan semaunja, jaitu pembunuhan jang tidak beralasan, jang achirnja mengakibatkan kehilangan kebebasannja pula.
Sementara itu kedudukan Gide dalam kesusasteraan Perantjis makin lama makin penting, karena karangan tjiptaannja jang dikumpulkan dalam Prêtextes (1903), Nouveaux Prétextes (1911) dan kemudian Dostoievsky (1923) dan Incidences (1924); disamping itu oleh pengaruhnja terhadap kesusasteraan Perantjis jang memberi dorongan. Pengaruh Gide ini lama berkuasa dalam madjalahnja Nouvelle Revue Française jang didirikannja dengan beberapa orang temannja, memuatkan karangan-karangan pengarang Perantjis jang terkemuka. Kedudukannja lebih njata lagi dengan terbitnja Corydon (1924), sebuah pembelaan kebebasan perseorangan dalam lapangan erotik dan Si le grain ne meurt (1926), karangan-karangan jang terus-terang tentang masa mudanja.
Kerapkali Gide dilukiskan orang sebagai seorang Puritein jang mendapat didikan jang keras betul dan kemudian melawan didikannja itu sehingga dianggap seorang pemberontak jang merombak dan menentang puriteinisme keluarganja. Tetapi gambaran ini sesungguhnja kurang tepat. Untuk mengetahui dan mengerti soal ini lebih dalam sebaiknjalah kita perhatikan autobiographie-nja Si le grain ne meurt. André Gide berasal dari keluarga jang beragama protestant; ajahnja ialah seorang protestant dari Normandie, dan ibunja seorang protestant dari Perantjis-Tengah. Kedua keluarga dari fihak ajah-ibunja, terutama dari fihak ibunja, keras benar memegang agama dan Gide dibesarkan dalam suasana Kitab Sutji dan Kitab Evangelie. Tetapi biarpun demikian, djangan kita menjangka bahwa ia terus menentang pendidikannja itu. Malahan sebaliknja, keindahan Kitab Sutji dan Kitab2 Evangelie selamanja mempengaruhi hidupnja, dan pengaruh ini tampaklah dalam buku ini. Dalam Si le grain ne meurt, tampaklah bahwa dengan rasa memudji ia menggambarkan kehidupan keluarga2 protestant di Perantjis-tengah. Tjara mentjeriterakan keadaan mereka menundjukkan hormatnja, sebagai Gide sendiri dalam hidupnja memandang kelilingnja dengan hormat pula.
Tjeritera-tjeritera dan karangan-karangan ironis jang disebutnja „soties” disusul oleh Les Faux Monnayeurs, satu-satu buku romannja, dimana dengan tjara jang tersendiri sekali membitjarakan tiga tema jang penting: perlawanan angkatan muda terhadap masjarakat, binasanja keluarga burdjuis dan tjara mentjipta suatu hasil-seni. Susunan tjiptaan buku ini berbeda dari jang lain, karena keberanian jang tak terhingga, mendjadikannja suatu roman untuk pengarang-pengarang, barangkali suatu tjonto roman jang biarpun gagal tetap luar biasa, dan masih melebihi beratus-ratus buku jang dikarang dengan lantjar menurut segala aturan karang-mengarang Les Faux-Monayeurs ini dikagumi oleh seluruh dunia jang beradab karena gambaran jang sungguh hidup serta soal-soal jang dibitjarakan didalamnja.
Analisa Gide tentang soal kebebasan bukan hanja permainan aesthethis semata-mata. Tidaklah mengherankan ia menggunakan pengaruhnja untuk mempertahankan hak atas kebebasan bagi golongan jang tertindas, baik penduduk asli di Congo maupun kaum buruh dinegeri jang beradab. Buku-bukunja Voyage au Congo (1927) dan Retour du Tchad (1928) membawa keperbaikan keadaan didaerah tersebut.
Kebutuhan menjelidiki diri sendiri serta djuga menjelidiki dunia sekelilingnja jang menjebabkan tjatatannja Journal begitu menarik hati, mendorongnja menjelidiki apa arti communisme untuk dunia sebagai terlihat di Rusia. Journal itu diterbitkan tidak lama sebelum perang dan terus ditambah-tambah sesudah perang. Akan tetapi dengan kedjudjuran jang mendjadi idaman hidupnja, ia menundjukkan keketjewaannja dalam bukunja Retour de l’U.R.S.S. (1936), meskipun oleh karena ini banjak diantara orang muda jang tak begitu kritis dan jang telah membelakangi Sovjet, toh menentang Gide djuga.
Sesudah perang, Gide jang melawan socialisme-nasional tetap tinggal orang besar jang merdeka dalam penghidupan seni Perantjis dan masih berpengaruh, meskipun usia jang sudah landjut.
Tidaklah mengherankan lagi, bahwa Academi Sweden setelah dirundingkan semasak-masaknja memutuskan memberikan hadiah Nobel untuk kesusastraan kepada André Gide.
Selama tahun-tahun jang terachir, lingkungan pembatja jang makin meluas dapat mengagumi prosanja jang klasik; dalam bahasa Indonesia André Gide belum dikenali lagi. Maka itu kami sadjikan suatu terdjemahan sebuah karangan Gide jang sudah terkenal sekali: Le Retour de l’enfant Prodigue.
Penerbit.
Etsa Rembrandt: Le Retour de l’enfant Prodigue
Kugambarkan disini dalam kegembiraan jang tersirat seperti orang jang didjaman dulu melukis triptik, suatu persamaan jang ditjeritakan Tuhan Kita Isa Kristus pada kita. Dengan membiarkan kederasan ilham mengabur dan hilang dalam kelam, kutjoba membuktikan bahwa tiada satu Tuhan jang telah mendapat kemenangan atas diriku, djuga Tuhanku tidak. Tapi mungkin sipembatja jang menginginkan kealiman dari diriku tidak sia-sia mentjarinja dalam lukisanku, dimana aku sebagai pemberi melukiskan diriku sendiri disuatu sudut berhadapan dengan si Anak Hilang, berlutut dan djuga seperti dia tersenjum dengan wadjah berkujup air mata.
Digitizer Note
This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.
All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.
The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.
Djika Anak jang Hilang sudah lama pergi, djemu oleh mimpi dan ketjewa atas dirinja sendiri, dari lembah kehinaan sedalam-dalamnja jang ditjarinja sendiri, mengenang kembali wadjah bapaknja, kamar jang luas dimana ibu menghadapi dia dirandjang, kebun jang digenangi air mengalir tapi dipagari dari mana dia selalu ingin lari dan saudaranja lebih tua jang hemat, jang tidak pernah disajanginja, tetapi jang selama menanti masih sadja menguasai bagian pusakanja jang belum bisa diboroskan oleh si Hilang — maka haruslah anak muda ini mengakui bahwa dia tidak menemui kebahagiaan, malah tidak bisa mengulur waktu kemabukannja jang ditjarinja pengganti kebahagiaan. — Ah, pikirnja, djika bapakku jang mula-mula marah benar padaku mengira aku telah mati, bukankah boleh djadi, biarpun aku berdosa, dia bergembira melihat aku kembali, — ah! bagaimanakah kiranja, kalau aku merendah hati kembali padanja dengan kepala tertunduk dan berselimut debu; kalau aku berlutut depannja, sambil berkata: — bapak aku sudah berdosa terhadap langit dan terhadap bapak, — dan apakah akan kulakukan, kalau diangkatnja tangannja dan dia berkata padaku: — Masuklah kedalam rumah kita, anakku ? — Dan anak muda itupun, dengan alimnja mulai berdjalan.
Kalau dia ketika menurun dakian jang penghabisan achirnja melihat asap diatas atap rumah asalnja, hari telah malam, tetapi dia menunggu dulu bajangan malam larut untuk menutup kemiskinannja sebisa-bisanja. Dari djauh terdengar suara bapaknja; lututnja lemas; dia djatuh dan ditutupnja mukanja dengan tangannja, sebab ia malu terhadap malunja, tahu dia biar apapun djuga, dia adalah anak jang sah. Dia lapar; dalam selip-selip mantelnja jang kojak-kojak ada dia menjimpan hanja segenggam buah2 manis lagi jang djadi makanannja, sama dengan babi-babi gembalaannja. Dilihatnja orang menjiapkan makanan malam. Dilihatnja ibunja naik beranda…maka tidak sanggup dia menahan dirinja lebih lama, berlari dia menurun bukit, terus kepekarangan dalam, dimana dia disalak oleh andjing djaga jang tidak mengenal dia lagi. Dia mau berkata kepada budjang-budjang, tapi mereka menjingkir dengan tjuriga dan memberitahukan pada induk semangnja; itu dia datang.
Tiada sak lagi, dia memang menanti anak jang hilang, sebab dia terus mengenalnja kembali. Maka dikembangkannja tangannja; sianak hilang berlutut depannja dan tangan jang satu menutup mukanja, sedang tangan jang lain diangkat minta ampun, dia berseru: — Bapak!
— Bapak! Bapakku! Besar dosaku terhadap langit dan terhadap bapak; tidak patut lagi aku disebut anak bapak, tetapi biarkanlah aku hidup disalah satu podjok rumah kita sebagai budjang jang paling rendah…
Si Bapak mengangkat dia berdiri dan didekapkannja pada dadanja:
— Anakku! Semoga dikurniailah kembalimu! — dan kegembiraan jang melimpahi hatinja membikin dia menangis; maka diangkatnja kepalanja dari kening anaknja jang ditjiumnja dan berpaling dia kepada budjang-budjang:
— Bawalah pakaian jang paling mewah, kenakanlah tjintjin jang mahal pada djarinja. Pilih sapi jang paling gemuk dikandang, sembelihlah dan sediakanlah santapan kegembiraan, sebab anak jang kukira sudah mati, masih hidup.
Dan karena kabar ini telah berkeliling, dengan lekas dia berseru; dia tidak mau orang lain jang mengutjapkan kata-kata:
— Ibu, anak jang kita tangisi, dipulangkan pada kita kembali.
Kegembiraan umum jang membubung bagai njanji pudjian, membikin anak jang paling tua djadi kesal. Tjuma dibawah tekanan bapaknja jang keras mengundang dia, dia ikut duduk pada medja bersama. Dia sendiri diantara tamu-tamu, sebab sampai budjang suruhan jang paling rendahpun turut diundang, jang memperlihatkan kening berkerut: mengapa mereka lebih menjatakan kehormatan pada si berdosa jang menjesal itu dari kepada dia, dia jang belum pernah berdosa? Dia lebih suka akan sesuatu jang teratur daripada tjinta. Kalau dia, biarpun bagaimana, sedia turut pada pesta santapan, adalah karena dia mau membiarkan kegembiraan satu malam ini bagi adiknja dalam menantikan hari besok; adalah karena ibu dan bapak berdjandji pada dia akan memarahi si hilang besok; dan adalah karena dia sendiri telah bersiap akan mentjelanja dengan keras.
Hawa obor-obor naik meninggi langit. Makan telah lampau. Budjang-budjang telah berkemas. Dilarut malam, dimana helaan nafaspun tidak lagi kedengaran, mereka jang letih berpesta seorang demi seorang tertidur. Tetapi aku tahu bahwa dalam sebuah kamar, disebelah kamar si anak hilang, seorang anak, adiknja jang lebih muda, sia-sia sampai dinihari mentjoba djatuh pules.
Tuhanku, sebagai anak ketjil aku hari ini berlutut depanmu dengan wadjah berkujup air mata. Kalau kuingat lagi persamaanmu jang menjajat kalbu dan kutuliskan dia disini, adalah karena aku tahu siapa anakmu jang hilang itu; karena aku mengenal diriku sendiri pada dia; karena aku kadang-kadang dalam diriku mendengar dan diam-diam mengulang kata-kata, jang kau suruh dia menjerukan dalam kesusahan jang berat:
— Berapa budjang suruhan bapakku jang dengan berlebihan menikmatkan rotinja; dan aku, aku mati kelaparan!
Aku bajangkan pelukan bapak itu; njala tjinta begitu membikin hatiku tjair. Malahan aku bajangkan suatu penderitaan jang mendahuluinja; aduh! aku bajangkan segalanja apa jang dihendaki. Aku pertjaja pada itu; aku adalah dia jang hatinja berdebar lebih deras lagi ketika melihat atap biru dari rumah jang ditinggalkannja, lewat dari dakian bukit jang penghabisan. Apakah jang kutunggu untuk berlari kerumah itu dan memasukinja? — Orang menantikan aku, bukan. Kulihat sudah sapi pupukan jang disediakan orang…Tapi tunggu! Djangan terlalu lekas menghidangkan pesta santapan!
Anak jang hilang padamu aku teringat, tjeritakanlah padaku dulu kata bapakmu, sehari sesudah pesta kembalimu. Ah! semoga aku, sungguhpun kata-kata jang dihembuskan anak jang paling tua padamu, sekali mendengar suaramu sendiri menembus kata-katanja, Bapak.
— Anakku, mengapa kau tinggalkan aku?
— Benarkah bapak kutinggalkan? Bukankah bapak dimana sadja ada? Tidak pernah aku berhenti mentjintai bapak.
— Djangan kita bermain dengan kata-kata. Aku punja rumah jang melindungi kau. Bagimulah dia didirikan. Beberapa angkatan telah bekerdja supaja djiwamu punja tempat bersembunji, suatu kemewahan jang selaras, budjukan dan pengisi waktu. Mengapakah kau, anak serta ahli waris, menjingkiri Rumah?
— Karena Rumah mengurung aku. Rumah tidaklah sama dengan Bapak sendiri, Bapakku.
— Akulah jang mendirikan rumah buat kau.
— Ah! Bukan bapak jang mengatakan itu, tetapi kakakku, Bapak. Bapaklah jang mendjadikan seluruh bumi dengan Rumah dan djuga segala-galanya jang ada diluar Rumah. Rumah didirikan oleh orang lain bukan Bapak; atas nama Bapak memang, itu aku tahu, tapi toh orang lain.
— Manusia perlu punja atap, dibawah mana dia bisa meletakkan kepalanja berlepas lelah. Angkuh! Apakah kau kira kau akan bisa tidur djika angin bertiup dari segala pendjuru?
— Keangkuhankah jang begitu perlu buat itu? Mereka jang lebih miskin dari aku telah mengalaminja.
— Karena mereka miskin. Kau tidak miskin. Tidak seorangpun bisa melepaskan diri dari kekajaannja. Kau telah kubikin lebih kaja dari orang lain.
— Bapak, bapak tahu, bahwa ketika aku berangkat sudah kubawa kekajaan sebanyak bisa terbawa. Apakah perduli aku dengan kekajaan jang tidak bisa dibawa?
— Semua kekajaan jang kaubawa sudah kau boroskan.
— Emas bapak sudah kutukarkan dengan nikmat, nasihat-nasihat bapak dengan mimpi, keperanaanku dengan puisi dan kekanganku dengan nafsu.
— Buat itukah orang tuamu jang hemat memapak kebaikan dalam dirimu?
— Barangkali supaja njala jang lebih murni membakar aku, djika keradjinan jang lebih giat menghidupkan aku.
— Ingatlah pada njala jang sutji jang dilihat Musa pada semak kudus: bersinar tetapi tidak membakar.
— Aku sudah berkenalan dengan ’tjinta jang membakar.
— Tjinta jang hendak kuadjarkan padamu menjegarkan. Apakah jang tinggal padamu sesudah suatu waktu jang singkat, anakku?
— Kenangan pada kenikmatan.
— Dan kemiskinan sebagai akibatnya.
— Dalam kemiskinan itu aku merasa dekat pada bapak.
— Perlukah kemiskinan untuk membikin kau kembali lagi padaku?
— Entahlah; entahlah. Tapi dalam kegersangan padang pasir aku baru bisa mentjintai kedahagaanku.
— Kemiskinanmu baru bisa mengadjar kau menghargakan kekajaan.
— Tidak, bukan begitu! Tidakkah bapak akan mengerti aku? Baru ketika hatiku semata-mata hampa, dia terisi dengan tjinta. Dengan harga segala kekajaan kubeli kegembiraan jang gesit.
— Berbahagiakah kau begitu djauh dari aku?
— Aku tidak merasa djauh dari bapak.
— Apakah jang bikin kau djadi kembali? Katakanlah.
— Aku tidak tahu. Barangkali kemalasan.
— Kemalasan, anakku! Itukah? Bukankah karena tjinta?
— Bapak, sudah kukatakan pada bapak, belum pernah aku begitu mentjintai bapak seperti dipadang pasir. Tapi aku letih, tiap pagi saban kali musti mentjari makananku untuk hidup. Dirumah, sekurang-kurangnya makan tjukup.
— Ja, budjang-budjang jang mengerdjakannja. Djadi laparlah jang membawa kau pulang.
— Barangkali djuga ketakutan, penjakit…Achir-achirnya makanan jang bertukar-tukar melemahkan aku; sebab aku makan buah-buahan liar, belalang dan madu. Aku makin lama makin tidak bisa tahan kesusahan jang mula-mula membangunkan kegembiraan jang gesit. Malam2 kalau aku kedinginan, teringat bagaimana enaknja randjangku terhampar dirumah bapak; kalau aku mesti puasa, terkenang, bahwa kelebihan makanan selamanja lebih besar dari kelaparanku. Aku menunduk; untuk berdjuang lebih lama aku tidak tjukup berani, tidak tjukup kuat, tapi toh…
— Djadi sapi pupukan kemarin enak kau rasa?
Dengan tersedu si anak hilang membuangkan mukanja kebumi:
— Bapak! Bapakku! Biar bagaimanapun masih terasa buah-buah manis dulu. Tidak satu apapun bisa bikin aku lupa kesegarannja.
— Anak sajang! mulai bapak itu lagi dan diangkatnja dia — barangkali aku terlalu keras berbitjara padamu. Saudaramu jang mau begitu; dialah jang menetapkan hukum dalam rumah. Dia tuntut supaja kukatakan padamu : „Diluar Rumah tidak bisa kauketemui kebaikan bagimu.” Tapi dengarkanlah : Aku mentjiptakan kau, aku tahu semua apa jang terjadi dalam dirimu. Aku tahu apa jang membawa kau kedjalan ini; kutunggukan diudjung djalan. Kalau kau panggil aku…aku akan datang
— Bapak! Djadi aku akan ketemu bapak lagi dengan tidak pulang kembali?…
— Kalau kau rasa dirimu lemah, sebaiknjalah kau datang kembali. Pergilah sekarang; kemballah kekamarmu jang sudah kusediakan buat kau. Tjukuplah buat ini hari; lepaskanlah lelahmu; besok kau bisa berbitjara dengan kakakmu.
Teguran dari saudara jang lebih tua.
Si anak hilang mulanja bersikap memandang rendah.
— Kakakku, dari mulanja kita sama sekali berlainan, antara kita memang tidak ada persamaan sudah, kakak.
Saudara jang lebih tua berkata:
— Itu salahmu.
— Mengapa salahku?
— Karena aku tinggal dalam garis jang sudah ditentukan; apa jang keluar melewatinja hanjalah buah atau benih keangkuhan.
— Tidak mungkinkah ada sifat2 lain dari kesalahan2 saja?
— Sebutlah sifat-sifat jang baik jang membawa kau kembali kedalam garis ketenteraman dan batasilah apa jang lain dari itu.
— Tjatjat inilah jang kutakuti. Djuga apa jang mau kau tindas datangnja dari Bapak.
— Ah! Aku bukan bilang tindas; batasi kataku.
— Aku mengerti. Tapi malah dengan begitulah aku membatasi kesanggupanku.
— Dan itu pulalah sebabnja aku menemuinja kembali kini. Kau merasa perlu untuk melebih-lebihinja. Mengertilah jang baik, bukan satu pengurangan, malahan pengangkatan jang tetap kuminta padamu, dimana unsur-unsur dalam tubuhmu jang sangat berbagai-bagai dan jang paling tidak bisa terdjinakkan, dan djiwamu bekerdja sama dengan harmonis, dimana jang djelek dalam dirimu harus mengisi jang baik, dimana jang paling baik harus takluk pada…
— Djuga pengangkatan diri jang kutjari dan kutemui dipadang pasir — dan mungkin tidak begitu berlainan sekali dengan jang kau minta.
— Sebenarnja aku tidak memintanja dari kau, aku mau mewadjibkannja.
— Bapak tidak begitu keras bitjaranja.
— Aku tahu apa kata Bapak padamu. Dia tidak lagi bisa mengeluarkan pikirannja dengan njata, sehingga bisa kita menentukan apa jang akan dibilangnja. Tapi aku tahu kemauannja. Bagi budjang-budjang aku hanja djuru-bahasanja dan siapa mau mengerti Bapak, mesti mendengarkan aku.
— Aku mengerti dia benar-benar, djuga tidak dengan kau.
— Itu sangkamu, tapi kau salah mengerti dia. Tidak ada berbagai-bagai djalan untuk mengerti Bapak; tidak ada bermatjam-matjam djalan untuk mendengarkan dia. Kita tidak bisa mentjinta dengan lebih dari satu tjara; agar kita mendjadi bersatu dalam tjintanja.
— Dalam Rumahnja.
— Tjinta ini membawa kesitu; kau lihat sendiri sekarang, sebab kau dibawanja kemari kembali. Katakanlah padaku kini : apa jang membuat kau djadi pergi?
— Keras betul terasa padaku bahwa Rumah bukanlah alam saja. Aku sendiri tidak semata-mata dalam dia jang kau ingini supaja aku mendjadi. Sungguhpun aku tinggal diriku sendiri, aku membajangkan peradaban lain, negeri-negeri lain dan djalan-djalan untuk didjalani, djalan-djalan jang belum ditempuh. Sudah terasa olehku lebih dulu insan baru jang hendak tampil keluar. Aku lari.
— Pikirkanlah apa jang akan terdjadi djika aku seperti kau meninggalkan Rumah Bapak. Budjang-budjang serta penjamun akan mentjuri semua kekajaan kita.
— Waktu dulu aku tidak berapa perduli, karena didjauhan aku melihat kekajaan-kekajaan lain…
— Jang tambah dilebih-lebihkan dari jang sebenarnja oleh keangkuhan. Saudaraku, sudah tjukuplah dengan kekurangan disiplin ini. Dari kekatjauan mana manusia terlahir kau akan beladjar nanti, kalau belum tahu. Dengan segala kesusahan dia keluar dari situ, dengan semua beban asalnja dia djatuh kembali kedalamnja selama Djiwanja tidak lagi mengangkat dia mengatasinja. Djanganlah beladjar dari pengalaman : unsur jang teratur baik dari mana kau terdiri hanja menunggu supaja dihampiri, menunggu suatu kelemahan dari pihakmu untuk djatuh kembali djadi anarchi…Tapi apa jang tidak akan bisa kau insafi ialah berapa lamanja manusia perlu waktu untuk membentuk manusia. Marilah kita sekarang, sesudah ditentukan tjontohnja, berpegang padanja. „Peganglah apa jang punjamu” kata Djiwa kepada Bidadari di Geredja1 dan ditambahkannja: „biar djangan orang lain mengambil mahkotamu.”
Apa jang kau punja, itu mahkotamu, itulah keradjaanmu atas orang lain serta atas dirimu sendiri. Musuh iri hati atas mahkota itu; dia ada dimana sadja; dia selalu mengelilingi kau, dia ada dalam dirimu.
Peganglah apa kepunjaanmu, saudara! Pegang jang erat!
— Aku terlalu lama membiarkan dia lepas, aku tidak bisa lagi mentjengkamkan tanganku memegang hartaku dengan benar.
— Masih bisa, masih bisa; aku tolong kau. Aku sudah mendjaga harta kau dengan baik ketika kau pergi.
— Dan lagi pula, aku kenal djuga utjapan Djiwa itu; kau tidak mengulangi seluruhnja.
— Memang katanja seterusnja: „Siapa jang menang akan kudjadikan sebuah tiang dalam rumah sutji Tuhanku, dan dia tidak akan keluar lagi dari situ.”
— „Dia tidak akan keluar lagi dari situ.” Sengadja itulah jang bikin aku takut.
— Kalau memang buat kebahagiaanmu.
— Ah! Aku mengerti. Tapi aku berada dirumah sutji itu,…
— Tidak membawa kebaikan bagimu meninggalkannja; kalau tidak kau tidak akan kembali.
— Aku tahu, aku tahu. Aku kembali; aku akui.
— Harta apakah mau kautjari ditempat lain jang tidak berlebihan disini? Atau lebih tepat, hanja disinilah bisa kau dapat harta jang sedjati.
— Aku tahu kau sudah menjimpankan harta buat aku.
— Semua harta jang tidak kau boroskan, artinja semua kepunjaan kita bersama: barang-barang tetap.
— Tidak adakah kepunjaanku sendiri lagi?
— Ada; bagianmu dalam pemberian Bapak kita jang mungkin masih mau dihadiahkannja padamu.
— Tjuma itulah jang mau kupegang; aku bersedia mempunjai itu sadja.
— Angkuh! Orang tidak akan minta nasihatmu. Dan antara kita sadjalah ini, bagian itu masih belum pasti; aku malahan mau menasihatkan untuk melepaskannja. Sudah sekali bagianmu sendiri itu membawa kedjatuhan; harta itulah jang bakal kau habiskan lagi.
— Jang lain tidak bisa kubawa.
— Karena itulah kau ketemui dia tidak bertjatjat. Tapi tjukuplah buat hari ini. Kembalilah masuki kedamaian di Rumah.
— Memang patut buat aku, aku letih.
— Semoga dikurniailah keletihanmu. Tidurlah sekarang. Besok Ibu akan berbitjara dengan kau.
Si Anak hilang, semangatmu jang masih meronta terhadap kata-kata dari saudaramu, biarkanlah hatimu sekarang berbitjara. Berapa nikmatnja terasa, setengah berbaring dikaki ibumu jang duduk, dengan kening berlindung diantara lututnja, merasakan tangannja mengusap, menundukkan kudukmu jang berontak!
— Mengapa begitu lama kau tinggalkan aku?
Dan karena kau mendjawab hanja dengan air mata :
— Mengapa menangis lagi, anakku? Kau diberikan lagi padaku. Dalam menantikan kau sudah mentjutjur air mataku jang penghabisan.
— Ibu tunggukan aku selalu?
— Tidak berhentinja aku mengharapkan kau. Tiap malam, sebelum tidur, pikirku: kalau malam ini dia pulang, akan bisakah dia membuka pintu? dan lamalah baru aku bisa tertidur. Tiap pagi sebelum aku djaga sama sekali, kupikir: Bukankah ini hari dia akan pulang? Maka sembahjanglah aku. Aku banjak kali sembahjang sehingga mustilah kau kembali.
— Doa ibu memaksa aku supaja kembali.
— Kau, djangan menertawakan aku, anakku.
— Ah ibu! Dalam segala kerendahan aku datang pada ibu kembali. Lihatlah, keningku kuletakkan lebih rendah dari hati ibu. Tidak satupun pikiran kemarin tinggal didiriku jang tidak angkuh kelihatannja. Dekat ibu, aku tidak mengerti mengapa aku bisa meninggalkan rumah.
— Tidakkah kau akan pergi lagi?
— Aku tidak bisa pergi lagi.
— Apakah jang begitu menarik kau diluar?
— Aku tidak mau mengingatnja lagi: Tidak apa-apa…Aku sendiri.
— Apakah kau bisa berbahagia begitu djauh dari kami?
— Aku bukan mentjari bah’gia.
— Apa kau tjari?
— Aku mentjari…siapa aku.
— Ah! Anak dari orang tuamu dan saudara antara saudara-saudaramu.
— Aku tidak seperti saudara-saudaraku. Djangan kita bitjarakan itu lagi; ibu lihat, aku sudah kembali.
— Tapi, mari kita bitjarakan djuga: Djanganlah kira, bahwa saudara-saudaramu dengan kau begitu berlainan.
— Dimasa depan tidak ada keinginanku selain djadi serupa dengan saudara-saudaraku.
— Kau mengatakannja seperti menjerah.
— Tidak adalah jang lebih meletihkan dari keinsafan, bahwa kita menjimpang. Perdjalanan ini kesudahannja menghabiskan tenagaku.
— Kau memang sudah djadi lebih tua.
— Aku menderita.
— Kasihan anakku! Tentu bukan saban malam randjangmu disiapkan dan medja ditutupkan untuk kau makan?
— Aku makan apa jang kudapat dan kadang-kadang tjuma buah-buah muda atau sudah busuk untuk menghilangkan laparku.
— Tidak adakah selalu lapar mengganggu kau?
— Matahari ketika tengahhari dan tengahmalam angin jang tadjam, pasir kersai digurun, duri-duri jang melukai kakiku sampai berdarah, semuanja itu tidak bisa menghalangi aku, tapi — tidak kukatakan pada saudaraku — aku terpaksa djadi anak semang…
— Mengapa kau diamkan?
— Induk semang jang djahat telah menganjaja badanku, melukai kebanggaanku, dan hampir-hampir tidak memberi aku makan. Lalu pikirku: Ah! menghamba untuk penghambaan!…Dalam mimpi kulihat rumahku; aku kembali.
Dengan lemah lembut si anak hilang menundukkan lagi keningnja jang diusap ibunja.
— Apa maksudmu sekarang?
— Sudah kukatakan pada ibu: mentjoba djadi seperti kakakku; menguasai barang-barang kami; mengambil seorang perempuan seperti dilakukannja.
— Tentu sudah ada seorang dalam pikiranmu, karena kau membilangnja.
— Ah! Tiap perempuan akan kuterima, djika ibu memilihinja. Lakukanlah dengan aku seperti sudah ibu bikin dengan saudaraku.
— Aku mau memilih dengan persetujuan hatimu.
— Apakah perlunja? Hatiku sudah memilih. Aku melepaskan keangkuhan jang begitu mendjauhkan aku dari ibu. Bimbinglah pilihanku. Bukankah aku bilang, aku takluk. Dengan tjara jang sama aku akan menuntut ketaklukan dari anak-anakku; maka pertjobaanku tidak akan kelihatan begitu angkuh.
— Dengarlah; ada seorang anak jang sudah bisa kau djaga dari sekarang.
— Apa maksud ibu dan tentang siapakah ibu berbitjara?
— Tentang saudaramu jang lebih muda jang belum lagi sepuluh tahun umurnya ketika kau pergi, jang hampir tidak kau kenal lagi dan jang toh…
— Teruskan, ibu; siapa jang ibu pikirkan sekarang?
— Pada jang semestinya kau kenali lagi dirimu sendiri, sebab dia persis seperti kau, ketika kau berangkat dulu.
— Dia sama dengan aku?
— Dia sama dengan kau jang dulu, sajang belum sama dengan kau seperti djadinja sekarang.
— Tapi dia bakal djadi.
— Jang musti kita usahakan ialah supaja dia lekas djadi. Bitjaralah dengan dia; tidak sak lagi, dia akan mendengarkan kau, si hilang. Tjeritakan padanja bagaimana djalanmu mengetjewakan, peringatilah dia…
— Tapi mengapa begitu amat ibu memikirkan adikku? Barangkali tjuma satu persamaan rupa jang kebetulan…
— Bukan, bukan, persamaan antara kau berdua lebih dalam lagi. Jang kutjemaskan padanja kini adalah jang pada mulanja kurang kuhiraukan padamu. Dia membatja terlalu banjak dan dia tidak selalu memilih buku jang baik.
— Tidak lebihkah dari itu?
— Dia atjapkali duduk pada tempat jang paling tinggi dikebun kita, kau ’kan tahu, dimana kita bisa melihat djauh atas bagian jang ada dibalik tembok.
— Aku ingat. Itu sadjakah?
— Dia kurang dekat kami, lebih banjak dil dang.
— Ah, apa kerdjana disitu?
— Tidak ada jang salah. Tapi dia sedikit bergaul dengan para petani. Disitu dia banjak berbitjara dengan hamba sahaja dan dengan pengembara-pengembara dari daerah lain. Ada seorang disitu jang datang dari djauh dan bertjerita matjam-matjam padanja.
— Ah! Si gembala babi.
— Betul. Kau kenal dia?…Untuk mendengarkan dia, saudaramu saban malam ikut dengan dia kekandang babi; baru untuk makan malam dia pulang, tidak berasa lapar dan pakaiannja pada busuk. Tidak satu laranganpun menolong; dia bersikeras menentang tiap paksaan. Atjap, pagi-pagi, masih sebelum dinihari, kalau belum seorangpun diantara kami bangun, dia pergi mengiringkan gembala babi itu sampai kepada pintu gerbang dimana dia ini keluar dengan angonannja.
— Dia tahu tentu, bahwa dia tidak boleh keluar lewat itu.
— Itupun kau tahu dulu. Pada satu aku pasti, dia akan melepaskan diri dari aku. Suatu hari dia akan pergi…
— Tidak, aku akan berbitjara dengan dia, ibu. Tak usah ibu tjemas.
— Padamu, aku pasti, dia akan mendengar. Ada kau lihat bagaimana dimalam pertama itu dia memandang kau? Bagaimana pakaianmu jang tjompang-tjamping membangunkan hormatnja padamu? Dan ketika bapakmu mengenakan djubah merah padamu. Aku takut dia dalam dirinja agak mentjampurkan jang satu dengan jang lain dan dia lebih ketarik pada tjompang-tjampingmu. Tapi belakangan pikiran ini terasa bodoh; sebab bukankah kau, anakku, djika telah lebih dulu melihat kesengsaraan jang menunggu, kau tidak akan meninggalkan kami, bukan?
— Aku tidak lagi mengerti mengapa aku kuasa meninggalkan ibu!
— Nah! itu harus kau katakan padanja semua.
— Semuanja akan kukatakan padanja besok malam. Tjiumlah keningku kini, sebagai aku waktu ketjil dulu dan ibu datang pada randjangku sebelum aku tidur. Aku letih.
— Tidurlah, aku akan mendoa buat kau semua.
Pembitjaraan berdua dengan saudara jang muda.
Disuatu kamar disebelah si anak hilang, suatu kamar luas dengan dinding berkapur tangan memegang lampu, si anak hilang menghampiri randjang, dimana, dengan muka menghadap kedinding saudaranja jang muda berbaring. Dia mulai berbitjara pelan-pelan takut mendjagakan, bila dia sudah tertidur.
— Aku ingin bitjara dengan kau, adik.
— Apa jang menahan kau?
— Aku kira kau telah tidur.
— Kita tidak usah tidur untuk bermimpi.
— Bermimpikah kau? Mimpi apa?
— Apa perdulimu! Bila aku sendiri tidak mengerti mimpiku, kau tentu tidak akan bisa menerangkannja.
— Demikian kalutnja mimpimu? Bila kau mau mentjeritakannja padaku, boleh aku tjoba.
— Mimpi itu tiadalah kita jang memilihnja. Mimpiku berbuat sesuka hatinja dan dia lebih bebas dari aku. Buat apa sebenarnja kau datang ini? Mengapa kau ganggu aku, kalau aku mau tidur?
— Kau tidak tidur, dan aku satu kali ingin bitjara dengan kau sebagai teman.
— Apa mau kau katakan padaku?
— Tak apapun, kalau lagumu begitu.
— Selamat tidurlah.
Si anak hilang pergi kepintu, tapi ditarohkannja lampu dilantai jang kini hanja samar menerangi ruangan itu, maka kembali pula duduk diudjung randjang dan dalam kelam lama mengusap-usap kening anak jang dipalingkan itu.
— Djawabmu lebih bengis dari djawab jang pernah kuberikan pada kakakku. Biar begitu akupun berselisih dengan dia.
Anak jang keras kepala tiba-tiba duduk lurus dirandjang.
— Katakanlah: kakak kitakah jang mengirimkan kau kemari?
— Tidak adik, bukan dia, tetapi ibu.
— Aha! Dengan sendirinja kau tidak akan datang kemari.
— Tapi aku toh datang sebagai kawan.
Setengah duduk dirandjangnja anak itu menatap si hilang.
— Bagaimanakah bisa seorang dari keluargaku mendjadi kawan?
— Kau chilaf terhadap kakak kita …
— Djangan bitjara tentang dia dengan aku! Aku dendam dia…
Seluruh djiwaku berontak menentang dia. Salahnjalah aku begitu kasar mendjawab kau.
— Bagaimana begitu?
— Kau tidak ’kan mengerti.
— Katakan djugalah…
Si hilang mendekapkan adiknja kedadanja maka mulailah dibiarakannja anak jang setengah baligh itu melepas kandungan hatinja:
— Dimalam kau kembali, aku tidak bisa tidur. Semalam-malaman itu aku pikir, aku masih punja saudara tapi aku tidak tahu…Karena itulah hatiku berdebar begitu deras, ketika aku lihat kau masuk pekarang-dalam rumah kita penuh kemenangan.
— Ah, sajang! Aku penuh tjompang-tjamping.
— Memang aku lihat kau, tapi kau telah penuh kemenangan. Dan aku lihat djuga apa jang dilakukan Bapak: dikenakannja sebuah tjintjin pada djarimu, sebuah tjintjin seperti jang belum pernah dipunjai kakak kita. Tidak pada siapapun aku bertanja tentang kau, aku tjuma tahu, bahwa kau pulang dari djauh sekali dan pandanganmu dimedja…
— Kau turut santapan itu?
— Ah! Aku tahu, kau tidak melihat aku: selama makan kau melihat ke djauhan, dengan tidak melihat apa2. Dan jang engkau dimalam kedua musti berbitjara dengan bapa, itu sepatutnja, tapi dimalam ketiga…
— Tjurahkanlah.
— Ah, kalau kausapa sadjalah aku dengan suatu kata jang manis.
— Djadinja kau nantikan aku?
— Bukan main! Apakah kaukira aku akan begitu mendendam kakakku, kalau kau malam itu tidak sangat lama bitjara dengan dia? Apakah jang dipertjakapkan satu sama lain? Kau tahu bila kau seperti aku, bahwa tidak ada satupun persamaanmu dengan dia.
— Aku sudah berlaku sangat tidak adil terhadap dia.
— Mungkinkah itu?
— Biar bagaimanapun, terhadap bapak dan ibu memang. Kau ’kan tahu, bahwa aku lari dari rumah.
— Ja, aku tahu. Tapi itu sudah lama, bukan.
— Kira2 ketika aku seumur kau.
— Ah!…Itukah jang kaunamakan tidak adil.
— Ja, itulah ketidak-adilanku, dosaku.
— Ketika kau lari, kau rasa djuga, bahwa kau berbuat salah?
— Tidak; aku lebih merasa sebagai kewadjiban, bahwa aku berangkat.
— Apakah jang terdjadi semendjak itu? Jang membikin kebenaranmu dulu mendjadi kesesatan.
— Aku menderita.
— Dan karena itu kau bilang, kau tidak benar?
— Tidak, tidak begitu sadja; tapi itu membikin aku merenung.
— Djadi sebelumnya tidak kaupikirkan dulu?
— Ada, tapi otakku jang lemah djadi tertawa oleh keinginanku.
— Sebagai kemudian hari oleh derita. Sehingga kau kembali kini…sebagai orang kalah.
— Tidak, tidak sama-sekali: tawakkal.
— Bagaimana sekalipun, telah kauhentikan hendak mendjadi orang jang kauningini!
— Sebagi keangkuhanku mendorongku untuk mendjadinya.
Anak itu diam sedjenak, lalu dia tiba2 terisak-isak dan berseru:
— Saudara! Aku adalah dia, kau jang pergi dahulu itu. Katakanlah padaku: tiada lain dari keketjewaan kau ketemui diperdjalananku? Apakah semuanja diluar jang kubajangkan hanja chajal? Semua jang baru, jang terasa dalam diriku hanja ketololan? Katakanlah, apakah jang bikin kau sangsi ditengah djalan? Ah, apa jang bikin kau kembali?
— Aku kehilangan kemerdekaan jang kutjari: sebagai seorang tawanan aku terpaksa menghamba.
— Aku tertawan disini.
— Ja, tapi musti menghamba pada induk semang jang djahat; disini orang tuamulah jang kauhambai.
— Ah! menghamba untuk penghambaan. Tidakkah kita mempunjai kebebasan untuk memilih penghambaan kita.
— Begitulah pengharapanku. Sedjauh kaki bisa membawa aku, aku berdjalan, seperti Saul jang mentjari keledai-keledainja, aku mengikuti keinginanku; tapi baginja keradjaan jang menanti dia, aku hanja ketemu kesengsaraan. Tapipun…
— Tidakkah mungkin, karena kau salah pilih djalan?
— Aku lurus mengikuti djalanku.
— Pastikah kau? Tapi toh masih ada keradjaan2 lain dan negeri2 tiada beradja jang dapat diketemui.
— Siapa mengatakan itu padamu?
— Aku tahu. Aku rasa. Aku rasa sudah, aku telah memerintah disana.
— Angkuh!
— Ah! Ah! Itulah utjapan kakak kita padamu. Mengapa kau kini berkata begitu padaku? Mengapa tidak kau genggam keangkuhan itu? Tidakkah djadi kau kembali.
— Djadinja aku djuga tidak ’kan mengenal kau.
— Ja, ja, disana aku akan menjatakan diri dengan kau, kau akan mengenal aku sebagai saudaramu; malahan kelihatan olehku, aku berangkat akan menemui kau.
— Kau berangkat?
— Tidakkah kau mengerti? Kau sendiri tidak mengandjurkan supaja aku berangkat?
— Aku mau mendjauhimu dari kesedihan kembali, tetapi dengan mendjauhimu dari kesedihan berangkat.
— Tidak, tidak, djangan kau berkata begitu; djuga bukan itu jang hendak kau katakan padaku. Kau djuga pergi bertolak sebagai seorang perebut, bukan?
— Maka itulah lebih berat terasa olehku penghambaan.
— Mengapa kau minta takluk? Sudah letih benarkah kau?
— Tidak, belum; tapi aku sangsi.
— Apa maksudmu?
— ’Ku sangsikan semua, diriku sendiri; aku mau berlepas lelah, pada achirnja menetap disuatu tempat; kesenangan jang didjandjikan induk semang itu menggoda aku…ah, kini kurasa, aku kurang berdaja.
Sianak hilang menundukkan kepalanja dan disembunjikannja mukanja dalam tangan.
— Tapi pada mulanja?
— Lama aku berdjalan melalui dataran jang luas.
— Padang pasir?
— Bukan selamanja padang pasir.
— Apa kau tjari?
— Aku sendiri tidak tahu lagi.
— Berdirilah dari randjangku. Lihat, diatas medja, dekat bantalku itu, disebelah buku kojak itu.
— Kulihat sebidji buah jang sudah dikupas.
— Sigembala babi jang membawanja kemari, sesudah tiga hari berturut-turut dia tidak pulang.
— Ja, itu sematjam buah hutan.
— Aku tahu; bukan kepalang pahitnja; meski begitupun, aku kira akan kumakan kalau aku haus sangat.
— Ah! Kini bisa kutjeritakan padamu: kedahagaan itulah jang kutjari dipadang pasir.
— Kedahagaan jang tjuma bisa dihilangkan dengan buah jang djauh dari manis ini…
— Bukan; tapi dia membikin kita tjinta pada kedahagaan itu.
— Tahu kau dimana bisa memetiknja?
— Pada pohon ketjil jang ditinggalkan orang, dimana kita tiba sebelum kelam. Tidak ada tembok lagi memisahkannja dari padang pasir. Ada sungai ketjil mengalir disitu; beberapa buah-buah pada bergantungan didahan.
— Buah apa?
— Sama dengan jang dikebun kita; tapi tidak didjaga. Sehari-harian panas benar disitu.
— Dengarlah; tahu kau mengapa kutunggu kau malam ini? Sebelum malam ini lampau, aku hendak berangkat. Malam ini; malam ini, selekas langit mulai pudar…Sudah kuperkentjang tali pinggangku, tjapalku tidak kulepaskan.
— Apa? Hendak kau kerjakan apa jang aku tidak dapat?…
— Sudah kau buka djalan bagiku dan ingatan padamu tetap akan membantu aku.
— Kekagumanku akan tertudju padamu, sebaliknjalah soalmu melupakan aku. Apa kau bawa?
— ’Kan kau tahu, bahwa aku jang lahir penghabisan, tidak dapat bagian pusaka. Aku berangkat tidak bawa apa-apa.
— Begitulah sebaliknja.
— Apakah jang kau lihat itu dari tingkap salib?
— Taman tempat nenek mojang kita beristirahat.
— Kak…(dan anak muda jang berdiri dirandjangnja memeluk leher si anak hilang dengan tangan jang selembut suaranja), berangkatlah bersama aku.
— Biarkan sadjalah aku! Aku tinggal bakal obat hati ibu. Tidak bersama aku, kau akan lebih berani. Sudah sampai waktu! langit mulai pudar. Berangkatlah diam2. Marilah! Peluklah aku sekali lagi, adikku; seluruh harapanku ada padamu. Berteguhlah; lupakan kami; lupakan aku. Semoga kau tidak pulang kembali…
Pelan-pelan turun tangga. Lampu kupegang…
— Mari! Kasih tanganku sampai pintu.
— Hati-hati ditangga…
1Apoc III, 11,