Baca EPUB: Pulang

2 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. Table of Contents
  2. Table of Contents
TOHA MOHTAR
Pulang
Kacabenggala Editions

Publisher Note

untuk bunda

Bintihasanah

"Aku ingin dapat menembang lagu jang baru, dimana bukan hanja aku, engkau dan orang² didesa ini sadja jang mengerti, tapi djuga orang² djauh diseberang lautan sana harus mengerti. Tembang itu haruslah tembang jang baru, jang dapat merobek-robek batas antara manusia jang satu dengan jang lain. Ia harus mampu djadi duta semua hati jang terdjepit, dan ia harus dapat melenjapkan pengertian sempit jang pernah menimbulkan perang."

KEISTIMEWAAN Toha ialah bahwa ia dengan murninja bisa ikuti dan bawa kita ikuti gerak gerik djalan pikiran orang jang dilukiskannja, perasaan orang jang paling halus dalam menghadapi peristiwa² jang mengharu kalbunja, dalam harapan dan tjita-tjitanja. Dan kemurnian itu disebabkan karena ia masih satu dengan tokoh-tokohnja, mengerti keinginan dan hasrat mereka dalam suka dukanja. Ia adalah pengarang rakjat jang satu dengan rakjatnja dan mengukur mereka dengan ukurannja sendiri. Karena itu tak adalah nada edjek dan tjemooh terhadap rakjat sederhana jang dilukiskannja dan tidak pula ia kasihan berlebih-lebihan.

(H. B. Jassin, dalam Kesusasteraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei hal. 115).

Digitizer Note

This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.

All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.

The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.

Bagian 1

RASANJA TIDAKLAH SEPERTI MENGINDJAKKAN kaki atas tanah sendiri jang telah bertahun-tahun ditinggalkan. Bau tanah jang naik oleh turunnja air hudjan ditinggalkan. Bau tanah jang naik oleh turunnja air hudjan sepandjang hari, seperti terasa mendjalari seluruh rongga dada, seperti kuasa menggerakkan pembuluh darah sekudjur tubuh. Ia pernah merasai hudjan dimana-mana, sebagai serdadu pernah bergelut dengan lumpurnja djauh diseberang laut, tapi ini, dimana dia berdiri dipinggir desanja untuk pertama kali, ada sesuatu jang lain, sesuatu jang tersendiri, jang selama ini mampu menghidupkan mimpi dan kenangan jang begitu indah.

Bekas roda tjikar jang digenangi air hudjan, jang tampak berliku-liku oleh kepenatan sampi penariknja, dan jang melenjap diseberang djembatan beberapa puluh hasta dihadapannja, seperti itu pula lukisan jang ia kenal setiap hari pada masa kanak-kanaknja. Ia ingat, betapa ia berlari-lari ditanah betjek dibelakang tjikarnja, sedang diatas, ajahnja jang telah tua itu melambai-lambaikan tjambuk di atas kepala sampi-penariknja sambil berteriak-teriak untuk mengedjar sendja. Berapakah lamanja waktu itu telah berlalu? Ia masih kanak² pada waktu itu, tapi lukisan itu begitu djelas seperti baru kamarin ia tinggalkan.

Tidak! Telah tudjuh tahun lamanja sedjak ia meninggalkan desanja sampai kini, dengan malam-malamnja jang penuh mimpi dan kerinduan untuk dapat mengindjaknja kembali. Bukankah pohon asam itu pula, jang berdiri disamping djembatan, jang tetap rindang, tetap tegak, tetap megah melawan datangnja angin? Ia melihat bajangan sendiri dimasa ketjillnja, berlari-lari dipinggir pematang itu menggembala kerbaunja. Alangkah djelasnja bajangan itu. Suara air terdjun disamping djembatan, terdengar seperti bertambah keras memanggil-manggil. Mesra benar hatinja dapat mendengarkan itu kembali. Ia tak pernah mendengar suara jang lebih indah daripada itu. Ia merasa dan jakin kini, dalam perdjalanannja sedjauh itu dinegeri orang, dalam waktu jang sepandjang itu pula, ia tak pernah menemui sesuatu, jang bisa begitu menggontjangkan hatinja. Ada sesuatu jang terasa memenuhi dada, ada sesuatu jang seperti kuasa hendak memetjahkannja, tapi itu tak hendak meledak, dan djika itu mampu keluar, maka itu tjuma berudjud setetes air jang turun pelan dari matanja.

Ia hendak berteriak sekuat-kuatnja, tak tahu mengapa. Tapi djika ia berbuat itu, maka suaranja dikembalikan pandjang oleh semak² didataran tinggi disamping kampungnja. Seperti dulu djuga, ia menjangka ada orang djauh jang mendjawab suaranja dengan gema jang pandjang. Didjangkaunja segenggam tanah, dikepalnja sekeras batu, lalu dilemparnja sekuat tenaganja melewati bidang sawah dan pematang. Alangkah senangnja untuk mendengar suara djatuhnja jang menimpa genangan air, dan alangkah indahnja melihat burung² bangau jang takut dan terbang karenanja, tinggi melawan awan dan hilang djauh dibarat, dalam keemasan langit jang mengantar turunnja mentari.

Tidak lagi dirasanja berat ransel jang menekan punggung, sepatunja jang penuh lumpur dan pakaiannja jang setengah basah. Bertahun-tahun lamanja ia berdoa untuk kepulangan ini. Dan kini, bila doa itu terkabul, datang sadja rasa takut jang asing mulai merangsang hati, berebut dengan rasa gita jang memukul-mukul. Matanja djauh melampaui djembatan, melampaui semak² hidjau sana, dan diantara semak² itu berdiri sepetak rumah bambu tempat dia dibesarkan, tempat ia menghabiskan masa kanak-kanaknja.

Pulang. Apakah jang dapat lebih menggelorakan hati daripada mengalami pertemuan dengan keluarga kembali? Ibunja sajang, wadjahnja jang bersih dan pandangnja jang menenteramkan, rambutnja jang telah separo putih, matanja jang hitam sedjuk itu, apa jang bisa terdjadi selama tudjuh tahun ini? Betapa pula wadjah ajahnja jang telah tua itu, wadjah jang berkerut-kerut dengan alis kelabu jang tebal, menutupi matanja jang ketjill, dan telah bersembunji, djauh kedalam. Tudjuh tahun. Apa gerangan, jang bisa diberikan oleh waktu sepandjang itu kepada adiknja Sumi, satu-satunja jang tertjinta dibumi ini? Ia tak dapat membajangkan, dan itulah jang mengisi setiap napasnja kini, dengan gita harap dan ketjemasan.

Langkah demi langkah ia bergerak, dilampauinja djembatan dari kaju nangka, dipandangnja sedjenak air keruh jang berdesak-desak kearah terdjunan. Ia membajangkan dirinja, duduk diatas batu besar itu, melemparkan pantjingnja djauh ketengah. Djalanana jang dilampauinja betjek, lumpur bertambah banjak lekat kesepatu, dan kaki bertambah berat karenanja. Sekali lagi diusapnja muka dari bekas air hudjan jang masih membasah.

Matahari telah menjembunjikan diri seluruhnja dibalik gunung Wilis, tinggal tjahajanja jang bertambah lemah menembusi langit dan memberikan tjuman terachir pada mendung jang berarak-arak diatas kepala. Turunnja sendjakala itu disambut oleh kesepian; burung² jang pulang sarang malas berkitjau.

Sepandjang djalan, ia tidak bertemu dengan seorangpun dari desanja. Seperti djuga dahulu, ia tahu sebabnja. Mereka malas turun pada petang hari jang basah seperti ini. Ia tahu, orang² perempuan akan sibuk mengurusi makanan untuk malam hari, jang tua duduk dibalai-balai menikmati tembakau disamping api, jang muda mengumpulkan sisa rumput jang kering ditjampur dengan sampah dari kandang sampi untuk didjadikan perapian, jang akan mengeluarkan asap sepandjang malam sebagai pengusir njamuk. Lalu sesudah itu, kartu dan buku² sedjarah kuno jang bertuliskan hurup Djawa dalam bentuk tembang, akan djadi pengantar tidur. Itu adalah bahagian dari kehidupan desanja, jang terlupa dalam pengembaraan dan jang mendadak sadja mendesak ingatan ketika kembali. Ia dapat membajangkan seluruhnja kini, seperti waktu pengembarannja tak pernah ada. Ia ingat seluruh bahagian hidup dalam desanja kini, dengan begitu djelas, serasa tudjuh tahun adalah kemarin pagi. Kekuatan apa gerangan jang dapat meniadakan pengertian waktu untuk hidup manusia? Ia tidak mengerti, hatinja lebih banjak berkuasa dari otaknja.

Sebab ia telah berdiri disamping pagar halaman rumahnja kini. Dan segala jang ada dihadapannja, seperti memaksakan dia untuk jakin, bahwa baru kemarin pagi ketika ia meninggalkan rumah dengan diantar oleh tangis dan air-mata. Betapa tidak! Pintu depan rumahnja jang berdaun tunggal, masih sadja pintu jang dahulu ia kenal dari kaju taun jang berwarna soklat tua. Dinding tjetak dari kulit bambu seperti tak pernah dibongkar dan diganti. Dan pagar jang mengelilingi seluruh tanahnja adalah pagar bambu jang dahulu djua. Dan pohon² pisang jang menjebar dalam pekarangan, siapa dapat menjatakan, bahwa semuanja itu telah berganti? Tidak, tak ada jang berobah, ketjuali satu jang menjolok. Pohon djambu jang dahulu masih setinggi tubuhnja, kini telah melampaui-tinggi atap-rumahnja.

Ia masih berdiri disamping pagar. Alangkah beratnja kaki untuk melangkah masuk, sekalipun ia jakin bahwa itu adalah rumahnja. Lalu tiba² ada suara jang mengurangi ketjemasannja, jang mampu merobah warna mukanja dan bibirnja gemetaran karenanja. Suara itu adalah suara batuk² ajahnja. Tudjuh tahun lamanja ia tak pernah mendengar suara batuk itu, tapi telinganja mendengarkan begitu segar kini. Ia tahu benar, itu adalah suara ajahnja. Ajahnja masih hidup. Ia akan dapat menatap wadjahnja dengan penuh rindu dan sajang kembali. Lalu dari pintu samping ia melihat perempuan tua berdjalan keluar, membongkok mengumpulkan kaju jang berserakan disamping rumah. Sekalipun ia telah membajangkan, bahwa akan setua itu ibunja, tapi peristiwa sekedjap itu menambah derasnja air mata. Ia ingin berteriak, ia ingin memanggil ibunja, namun segala suara terhenti dikerongkongan belaka. Ia tak lagi punja kekuatan untuk itu.. Tapi kakinja melangkah djua memasuki halaman, tak ada lagi jang ditjemaskan.

Perempuan tua itu terkedjut mengangkat muka, melihat dengan mendadak, hadirnja seorang anak muda tak djauh dari padanja dalam keremangan sendja. Keningnja jang telah keriputan tertarik kebawah, matanja jang ketjill sedjuk memandang dengan penuh tanja. Seperti lama peristiwa itu berdjalan, lalu keluarlah pengutjapan jang pertama kali.

"Aku, Tamin, mak!"

Lambat sekali pengertian suara itu sampai kepada hatinja, dan suara itu sendiri seperti berputar-putar dalam telinga. Kemudian alisnja terangkat tinggi, mulutnja membuka, kedua tangannja jang gemetaran mendjulur kedepan bulat sekali matanja jang telah tua itu, menatap orang dihadapannja dan barulah kemudian terlepas teriakan jang menjajat keheningan petang itu. Itu adalah pertama kali perempuan tua itu mampu mengutjapkan nama anaknja dengan suara selantang itu, dengan hati jang berdebaran mendadak. Mata jang kering itu lalu basah dan tetesan dari padanja djatuh menuruni pipinja jang telah tjekung. Ia menangis. Apa lagi jang dapat ia lakukan? Air mata itu tak dapat ditahan dan sumbernja bertambah lebar djua.

Lalu perempuan tua itu berteriak, memanggil suaminja jang menjambut dengan batuknja jang tak putus², dan dengan suara pandjang ia memanggil Sumi jang tengah sibuk didapur belakang. Ajahnja keluar menjambut diambang pintu tanpa kata, ketjuali pengutjapan nama anaknja berkali-kali dengan tak pertjaja benar akan peristiwa pertemuan jang begitu mendadak. Sumi datang setengah berlari dari dapur. Gadis itu terhenti dekat pintu, matanja memandangi orang asing jang seperti tak pernah dikenal sebelumnja. Adalah benar ia mengetahui, itulah kakaknja.

Tamin, jang begitu banjak mendjadi atjara pertjakapan jang tak pernah mendjemukan. Tapi tidaklah ia menjangka, bahwa Tamin akan sebesar itu. Ia tak pernah membajangkan, bahwa tubuhnja akan begitu tegap dan tinggi, dan tangannja jang’keluar dari lengan badju jang digulung itu, begitu bulat dan hitam. Seperti djuga ajahnja, alis itu begitu subur dan hitam, melindungi matanja jang hitam berkilau. Alangkah tampannja wadjah jang hitam itu, dan alangkah lebarnja pundak jang penuh itu. Dan betapa besarnja kekuatan jang tersimpan dalam tubuh jang begitu penuh! Ia pertjaja, bahwa kekuatan itu akan tjukup untuk menahan amuknja kerbau jang paling buas dari seluruh kampungnja. Ja, betapa akan bangganja nanti, djika ia bisa berdjalan disamping kakaknja memutari kampung,

"Lihat, ini kakakku, Tamin. Ia datang djuga achirnja!"

"Itu Sumi, adikmu! Engkau ingat? Ia masih terlalu tjilik ketika engkau pergi!" kata ajahnja.

Ja, ia tahu, gadis itu adalah Sumi adiknja. Ia berdiri dihadapannja seperti patung, terpesona oleh lukisan jang tak pernah dapat dibajangkan. Rambutnja jang lebat sehitam arang, digelung bulat-bola menutup kuduknja. Wadjahnja bulat hitam, sebulat matanja jang bening berkilau hidup. Bibirnja jang ramping hitam² semburat merah, dan djelas sekali bahwa itu adalah warna darah jang bersembunji dibalik kulitnja basah. Lehernja jang djendjang seperti lemas menjangga kepalanja, dadanja penuh, subur seperti buah datang waktunja mekar. Tangannja hitam, pandjang, lepas menggantung dari pundaknja jang bulat.

"Alangkah besarnja engkau, Sum. Berapa sudah umurmu?"

Sumi menggelengkan kepalanja sambil tersenjum. "Bagaimana aku tahu itu. Aku tak pernah menghitung!"

"Ya telah mengalami enam belas kali Maulud!" kata ajahnja. "Ingatilah itu, Sum; engkau harus tahu itu!" landjutnja.

"Lalu, engkau baru botjah dari sembilan tahun ketika aku pergi. Aku ingat, betapa takut engkau pada Yamaguchi, serdadu Djepang jang pernah datang kemari. Ia adalah orang baik jang pernah kukenal. Pergi djauh meninggalkan seorang isteri dan telah mati diperbatasan Birma!"

"Dia?" kata ajahnja.

"Ja, pak! Dia meninggal dua tahun sesudah dari sini!" Sambil membimbing anaknja jang tinggi besar itu, ajah Tamin berkata: "Achirnja engkau kembali djua, Tamin. Tuhan mengabulkan doaku siang dan malam. Tak ada jang lebih besar kuharapkan dalam hidup ini, ketjuali kedatanganmu. Apa gerangan jang aku mimpikan semalam?"

Tamin melangkah memasuki rumahnja jang terasa sempit dalam kebesarannja sekarang. Dilemparkannja ransel kesudut balai² dan ia mendengar ibunja berkata: "Lepasi pakaianmu, Min. Gantilah jang kering, engkau bisa masuk angin karenanja!"

Dan barulah ia merasai dingin pakaiannja jang setengah basah. Dilepasinja semua pakaiannja dan djika tangannja diangkat tinggi, tangan itu bisa meraih atap. Bertambah djelas tubuhnja jang telah terbuka itu, betapa urat-uratnja jang keras, hitam mengkilat seperti badja.

"Padat benar tubuhmu, Tamin. Sekuat ajahmu ketika masih muda!" kata ibunja. Tamin tersenjum, dan perempuan tua itu teringat pertemuannja jang pertama kali dengan suaminja, jang kini telah begitu tua. Itu bertahun-tahun jang lalu, sebelum, kedua anaknja jang besar² itu dilahirkan.

"Sumi!" seru ajahnja, "tangkap si blorok, bawa kepak Modin. Kita potong ajam kita. Kita wadjib bersjukur. Tak ada hari jang lebih besar daripada hari ini!" Ia duduk diatas kursi tua, matanja jang ketjill memandangi Tamin dalam sela kepulan asap rokok daun djagung dan batuknja jang beruntun pandjang. Adalah benar kata isterinja, sebesar dan sekuat itu pula tubuhnja dahulu. Dan dalam tuanja sekarang, ia memandangi lukisan sendiri menurun pada diri anaknja.

Tamin melangkah menudju dapur. Ia djongkok diperapian sebentar memanasi tubuhnja, lalu berdiri disamping teratak belakang. Untuk pertama kali ia merasai betapa sedjuk angin petang meniup dalam kampungnja. Suara Sumi telah tak ada. Ia telah lari membawa ajamnja kerumah pak Modin. Dan kini berdiri disana, ia dapat mendengar namanja disebut-sebut orang, dan ia tahu suara itu akan mendjalar dari rumah kerumah, dan seluruh perkampungan jang ketjill itu akan bertambah hidup oleh kedatangannja malam ini.

Dimana sekarang Pardan, mak?" Tamin menjebut salah seorang temannja jang terkarib, teman mandi dikali, teman menggembala, teman bersama memantjing ikan. Disana, tengah ia berdjongkok menghabiskan air pantjuran dari bambu pandjang, ia teringat akan teman-temannja seorang demi seorang.

"Engkau tak pernah dengar tentang dia, djadinja!" itu adalah suara ibunja dari dalam dapur bersama Sumi jang telah membawa ajam potongan. "Itu telah bertahun-tahun jang lewat. Ia telah tak ada, Tamin! Ia pergi ke Surabaja pada djaman berontak, djaman perang melawan Nica. Tak lama ia pergi. Seminggu sesudah itu djenazahnja dibawa pulang. Tak ada orang kampung ini jang begitu dihargai waktu matinja. Orang kota banjak jang datang kedesa ini mengikuti upatjara penguburan. Ramai sekali pada waktu itu, tuan Bupati dan tuan Wedana ikut datang menghormati djisimnja! Tidak. Tidak ada jang lebih mulia dari dia dalam kematiannja! Nisannja masih dipudja orang sampai sekarang setiap tahun!"

Utjapan ibunja itu menghidupkan kenangan tentang kawan akrabnja. Bagaimana baik ia, bagaimana setia Pardan mengikutinja bermain, kekali, keladang, kekota djika musimnja mendjual kaju bakar. Kini, teman pertama jang hendak ditemuinja telah tak ada. Ia mulai mengerti, tudjuh tahun selama pengembaraannja ada pula perobahan jang dialami kampungnja.

"Engkau masih ingat Gamik?" itu adalah suara ibunja jang menggema lagi dari dalam dapur. Tamin tidak mendjawab, ia membiarkan air pantjur membasahi kepalanja. Ia ingat, anak jang disebut ibunja itu adalah teman akrab keduanja, anak kerdil jang tak pernah bisa besar, pendek kedua tangan dan kakinja. Namun wadjahnja jang bulat menjenangkan, matanja jang tadjam, mulutnja jang tak pernah diam dengan kelutjuannja, apa djuga jang telah terdjadi dengan dia? Lalu ia mendengar suara ibunja dari dalam dapur.

"Tuhan Maha Adil, Tamin! Dalam kekerdilannja ia memiliki djiwa jang besar. Ketika musim hudjan seperti ini, serdadu Belanda datang mentjari pemuda dan tentara kekampung kita, ia bersama dengan keenam temannja melakukan perlawanan disepandjang kali samping sawah pak Bandji. Belanda itu terlalu banjak, semua temannja lari mentjari hidup, tinggal Gamik seorang diri. Ia diketemukan esok harinja dipinggir pematang, tubuhnja robek² oleh peluru bedil. Tak seorangpun akan melupakan peristiwa ini. Gamik menang, Tamin. Sebab waktu itu orang tahu serdadu² Belanda mengangkut dua temannja kedalam prahoto mereka sebagai bangkai!"

Lalu bibir jang telah tua itu seperti tak mau berhenti. Kegembiraan jang meluap-luap dalam dadanja jang telah tipis itu, dalam mengalami kedatangan anaknja jang tersajang, tak dapat disumbatnja. Ia ingin bitjara apa sadja untuk anaknja. Satu persatu teman² Tamin ditjeritakan. Mawardi jang hilang dikaki gunung Wilis sebelah tenggara jang tak pernah diketemukan majatnja sampai kini. Dulmanan, anak jang gila-bola itu telah kawin dan beranak dan telah pindah kekota. Imam, anak djangkung jang ikut mendampingi Gamik dalam setiap pertempuran telah pergi djauh keibukota djadi Angkatan Laut. Dan satu-persatu, wadjah teman² itu djadi hidup dalam kenangan Tamin. Tamin bertambah mengerti kini, kampungnja telah banjak mengalami perobahan. Tidak dalam lahirnja, djalan jang pernah dikenalnja djalanan itu pula, pendapa kelurahan tetap jang dahulu, perumahan tak banjak jang berobah, djembatannja, kalinja, sawahnja, masdjidnja, semuanja adalah jang dahulu pernah dikenalnja dimasa ketjillnja. Namun ada sesuatu jang telah berobah, dan ia tahu itu terletak didasar hati. Bukankah tjara pengutjapan ibunja itu menundjukkan adanja perobahan jang maha besar? Siapa gerangan jang menanamkan pengertian dalam dada jang ringkih itu, bahwa ada sesuatu jang patut dibela dengan pengorbanan djiwa, bagaimana ia dengan bangga mengutjapkan nama² temannja jang telah mati dalam pertempuran dengan rasa hormat sebesar itu? Ja, ada sesuatu jang telah berobah selama ia tinggalkan. Dan ia merasai, alangkah besarnja perobahan itu.

Tak terasa, achirnja air jang memantjur dari padasan bambu itu habis djua. Dikeringkan tubuhnja, ditinggalkan tempat pemandian itu. Hari bertambah gelap. Tidak satu bintangpun jang tampak. Dari puntjak gunung Wilis mendung tebal bergerak bergumpal-gumpal hitam sekali. Sese kali kilat memetjah gelap dan djauh terdengar geludug mendjandjikan hudjan. Sebentar angin bertiup, lalu tenang kembali. Udara dingin jang menjelimuti kampung mendahului turunnja gerimis.

"Engkau telah berdjalan djauh, Tamin! Dan tidakkah sebagai orang pengembara, ia mengetahui banjak, mengalami banjak, dan mendapatkan pengertian² baru jang tidak ada dalam pengertian kita dikampung ini. Engkau tahu apa sadja selama itu?" kata ajahnja, sebagai sambungan sesudah mereka berebut-rebut mendahului mentjeritakan keadaan kampung sedjak Tamin tak ada. Seisi rumah duduk diatas tikar mendong tua, hidangan makan malam telah diundurkan. Ibunja menjapu tikar dengan sapu merang. Sumi datang membawa seteko kopi dari belakang. Deru hudjan bertambah kurang, tjutjuran air dari atap jang ditadah dengan seng tidak lagi ramai suaranja.

"Ja, kang Tamin," menjela Sumi, "kita sudah bertjerita banjak, kini datang giliranmu. Tjeritakan tentang negri djauh. Orang mengatakan, wanita mereka melobang dahinja dan mengisinja dengan intan jang berkilau. Benarkah itu?" Tanja itu diantar oleh pandang matanja jang bening, tapi punja bajangan jang djauh mendalam. Hitam sekali mata itu dalam tjahaja tintir jang tidak begitu kuat.

Tamin tersenjum seperti hendak tertawa, mengambil selembar daun djagung, digulungnja tembakau, dinjalakan dan diisapnja dalam². Ia seperti masih tak hendak memulai bitjara dan adiknja mendesak: "Tjeritakan bagaimana mereka berhias, tjita jang disenanginja dan bagaimana mereka memasak!"

"Aku pergi tjuma sebagai Heiho, Sumi, kewadjibanku berkelahi dan menembak, pengembaraanku ditengah hutan belantara. Aku tak pernah melihat mereka," sahut Tamin tertawa.

"Itu bohong!" kata Sumi tertawa, "kau laki², kang Tamin. Mengapa kau tidak memilih satu dari mereka, membawanja pulang kemari, biar kampung ini bertambah kaja!" Ia tertawa lagi, lalu disusul tawa itu oleh ajah dan ibunja.

Tapi tadjam seperti pedang, utjapan jang sederhana itu menembus hati Tamin. Wadjahnja berobah warna seperti darah diambil daripadanja dengan mendadak, dan tangan jang tidak tampak telah mengusapnja. Matanja jang hitam itu sesaat kehilangan tjahaja, ia memandang kedepan, seperti djauh sekali pandang itu dan dihadapannja seperti melintas bajangan jang menjentuh rasanja. Tapi tak seorangpun dihadapannja menginsjafinja, tjahaja lampu tintir itu terlalu lemah.

"Biarkan dia bertjerita menurut tjaranja. Itu akan lebih baik. Engkau minta jang bukan²!" kata ajahnja kepada Sumi. "Negara apa itu jang telah kau datangi, Min?" tanjanja kepada Tamin.

"Negara itu disebut Birma, ajah!" sahutnja serak.

"Birma? Kita pernah mendengar nama negara itu, Banjak Heiho jang dibawa Djepang kesana. Berapa djauhnja itu dari sini?"

"Kita berdjalan sepuluh hari dilaut dan sebulan didarat!" kata Tamin. Pelan² warna kembali merajapi wadjahnja, dan matanja jang hitam mulai bertjahaja.

"Alangkah djauhnja!" kata Sumi, "djadinja engkau sudah dipinggir bumi, Kang Tamin. Betapa itu rasanja untuk sepuluh hari ditengah laut? Engkau maksudkan malamnja djuga?"

Tamin menjahut sambil tertawa. "Tentu sadja djuga malam-malamnja. Djika engkau berlajar, seperti djuga didarat, sedjauh pandang engkau hanja melihat tanah dan gunung, maka dilaut engkau hanja melihat air. Didepanmu, dibelakangmu, disampingmu air semata-mata, tidak sedjemput tanah jang tampak!"

"Air semata! Dan engkau ditengah-tengahnja. Alangkah gaibnja, bahwa kini engkau bisa pulang kembali!" semua djadi tertawa.

Lalu seiring dengan tetesan air hudjan jang terachir, suara Tamin mulai memenuhi ruangan jang sempit itu. Pembawaannja sebagai pembatja buku-kuno sedjak ketjillnja menambah hidup apa jang dikisahkan. Bagi kedua orangtuanja jang telah landjut umur itu, apa lagi adiknja Sumi, mereka tidak lagi menjadari suara, melainkan sedjarah hidup jang njata dihadapannja. Oleh suara itu, betapa terang mereka melihat dengan mata hatinja, ketika sebuah kapal pengangkut "Chikara Maru" jang ditumpangi Tamin meninggalkan Tandjung Priuk. Kapal itu kapal pengangkut biasa, berukuran 1100 ton jang diubah bagian geladaknja jang dipersendjatai dengan lima putjuk penangkis udara. Mereka tidak hanja melihat dengan djelas betapa ikan² terbang mengedjar diburitan kapal, betapa alun melondjak-londjak ketika datang angin, dan betapa tenang matahari merah mentjium laut djauh dibarat ketika terbenam, melainkan hatinja ikut tjemas dan berguntjang, ketika kisah Tamin sampai kepada muntjulnja lima pesawat terbang Amerika jang berawak ganda itu dengan mendadak dari arah matahari. Lima buah roket meledak digeladak, lima orang Heiho mendjadi korban dan meninggal pada waktu itu djuga, seorang terlempar kelaut dan tak pernah diketemukan. Waktu itu mereka telah berada pada djarak 30 mil dari Singapura dan pesawat Sekutu itu lari, ketika datang delapan Hayabusa melindunginja. Sebagaimana kisah peperangan, maka itu tjuma berisi membunuh atau dibunuh, darah dan bangkai, seperti djuga kisah serigala sekiranja dapat bertjakap. Tapi pemberian warna pada kisah itu mendjadikan pendengarnja terpaku, "mulut² setengah nganga, djantung berdebar-debar, dan hati-hatinja dibawa oleh Tamin kemedan perbatasan Birma. Dan lebih pandjang tjerita itu, makin tebal kepertjajaan, bahwa tak ada perkataan jang lebih djelek daripada perang.

Djika Tamin menjudahi kisahnja, lampu tintir telah djauh berkurang tjahajanja, hudjan telah lama berhenti, tidak setetespun jang tinggal. Semua menarik napas pandjang.

"Oh, seperti aku ikut engkau selama tudjuh tahun ini, Tamin!" kata ajahnja. "Tuhan telah menjelamatkan kita dari amuknja perang!"

"Djangan pergi lagi; djangan engkau pergi lagi, kang!" kata Sumi ketakutan, "engkau termasuk dalam rumah ini!"

"Katakan, engkau tak akan pergi lagi, Tamin!" pinta ibunja. Mata jang sedjuk itu menatap wadjah anaknja dengan penuh sajang.

"Ja, aku tak hendak pergi lagi, mak!"

Kokok ajam jang pertama telah terdengar ketika Tamin kebelakang menutup pintu. Langit tampak biru dan bersih sekali, tidak sisa mendung segumpal djua. Bulan penuh tersenjum dengan djelita, tjahajanja djatuh berkilau-kilau pada daun² jang basah dan genangan air dipekarangan. Namun udara bertambah dingin djua.

Barulah terasa betapa pajah badan dalam perdjalanannja selama ini, sesudah dia merebahkan dirinja atas balai² bambu. Alangkah asingnja perasaan jang timbul. Bukankah disini djua ia berbaring, dan bukankah lobang² sematjam itu pula tempat angin lalu meniup tubuhnja kedinginan setiap malam dahulu? Dibawah atap ini pula ia berlindung dan diasuh. Oh, alangkah tenteram dan bahagianja untuk dapat pulang kembali!

Sesaat sebelum tintir kehabisan tjahaja, Tamin masih dapat menikmati bentuk tubuh seorang perawan jang terlentang diatas tikar bawah, tidur pulas oleh kepajahan kerdja sehari-hari. Ia ingat kembali, masih ketjill gadis itu ketika ia pergi. Ia tidak pernah mengira, adiknja akan semanis itu achirnja. Alangkah larasnja garis² wadjah itu dalam tjahaja jang bertambah lemah. Ia pernah mendjeladjahi tanah² jang djauh, ia tidak pernah menemui gadis semanis Sumi. Djika matanja telah tertutup samar² diambang mimpinja ia melihat bajangan seorang wanita dengan djelas sekali, dan bahwa itu bukannja bajangan adiknja Sumi. Itu datang dari djauh, djauh sekali, dan djika mimpi itu berlandjut, maka latar belakang jang diambil bukanlah tanah-airnja.

Bagian 2

PAGI² KETIKA SUARA PEDATI PERTAMA MENEMBUS dinding dan langkah orang didjalanan menudju pasar mulai ramai, Tamin telah terbangun. Sumi telah mendahului sibuk didapur mendjadikan api untuk air panas.

"Aku hendak kekebun sebentar, Sumi!" kata Tamin sambil mengambil arit dari selitan dinding. "Aku ingin tahu, apa isinja kebun kita!"

"Tapi djangan biarkan kopi ini djadi dingin, kang!"

"Tidak! Mana mak?"

"Kepasar."

O, ibunja sajang, setua itu ia masih radjin pergi kepasar seperti dulu. Ia tidak berkata lagi, melangkah meninggalkan adiknja sendirian didapur. Tanah masih basah bekas hudjan semalam, namun tjuatja bersih sekali, langit biru merata dan puntjak gunung Kelud djauh ditimur tersaput merah. Pelan sekali seperti merajapi puntjaknja, matahari naik djuga achirnja. Hari masih pagi. Burung djalak berlompatan ditanah samping perigi, kutilang ramai beterbangan dari dahan kedahan. Kandang sampi disamping rumah, masih berdiri pada tempatnja seperti ketika ia pergi. Tiang-tiangnja dari gelugu njiur jang soklat tua itu masih tegak berdiri. Tapi atapnja telah hantjur. Tanah bawahnja telah rapat ditumbuhi rumput tak terpelihara. Banjak dari kaju sawo digantung disebelahnja. Tamin tahu itu, lantaran ajahnja telah setua itu. Ia tak akan kuat lagi mengerdjakan sawahnja.

Diambilnja patjul, dibersihkan tanah bekas kandang sampi, diikatnja bambu² jang tersebar itu untuk dinding pada keempat tiangnja. Ia naik keatas, memeriksa djika ada paku² jang perlu diganti. Kaju-kajuan jang tersebar disamping rumah, dikumpulkan djadi satu dalam tumpukan disamping kandang. Tamin berdiri disana dengan tegak seperti seorang serdadu, pakaiannja telah dilepaskan dan sepagi itu badannja telah basah keringat. Ia tahu, satu hari kandang ini harus berpenghuni lagi. Tinggal atap dan bambu penahannja.

"Apa jang kau kerdjakan disini?"

Hampir terkedjut Tamin mendengar suara jang mendadak dari belakang. Ia menoleh, Sumi tersenjum membawa segelas kopi dan sepinggan ubi rebus.

"Sedjak kapan sampi terachir meninggalkan kandang ini Sum? Kau masih ingat itu?"

Sumi menaruhkan pinggan dan gelas itu diatas kaju dipodjok kandang dan tanpa mengawasi kakaknja lagi ia berkata: "Djika tak salah, telah empat lebaran sampai kini, kang Tamin! Mengapa?"

"Siang ini hendak kuberi atap dan besok akan datang seekor penghuni." Sumi mengangkat muka dan menatap kakaknja dengan mata bulat. "Kau maksudkan kita hendak punja sampi lagi?"

Tamin mengangguk. "Ja!" katanja, "besok sebelum subuh kau kubawa kepasar. Kita pergi membeli sampi!"

Tamin tertawa. "Dalam ranselku ada uang, Sumi. Kuharap itu akan tjukup untuk membeli seekor sampi muda jang kuat seperti aku!" ia tertawa lagi, melangkah mendekati adiknja, duduk diatas kaju menghadap ubi rebus.

Sumi masih menatap kakaknja dengan pandang heran dan tak pertjaja.

"Kau harus mempunjai uang banjak, ...... banjak sekali, kang Tamin!"

"Achirnja kita punja sampi lagi!" kata Sumi.

"Dan kita dapat bekerdja lagi!" sambung Tamin. "Dan kau besok kubawa ketoko. Pilih tjita jang indah, warna jang kau senangi. Dan ambil kain jang tjotjok!"

Sumi berhenti mengunjah. Utjapan kakaknja terlalu besar terasa. Tak pernah dalam seluruh hidupnja ia mendapatkan kesempatan untuk memilih badju dan kain sekaligus. Betapa lamanja untuk menanti esok? Ia hendak memilih tjita sutera jang berbunga merah, dan dalam hatinja ia melihat diri sendiri dalam pakaian itu, kain batik Solo, tapi akan serasikah itu dengan warna kulitnja? Ia hendak tersenjum, dan senjum itu tjuma melintas dipodjok bibir. Untuk pertama kali ia akan mampu menimbulkan iri dalam hati teman-temannja, gadis sekampung.

Sepotong demi sepotong, ubi rebus itu tertelan djua dan achirnja pinggan itu bersih tidak bersisa. Tamin mengangkat gelas menghirup kopinja jang hangat seteguk demi seteguk.

Matahari bertambah panas djua dan bajangan bertambah pendek. Angin bertiup pelan dan kekajuan dikebun bergerak-gerak menari. Sumi berdiri mengambil galah bambu dan berkata: "Saja hendak memunguti nangka-landa, kang Tamin, untuk dibawa esok hari kekota. Engkau tahu? Sedjak engkau pergi, bapak menanam itu mengitari pagar belakang pada djarak lima depa!"

Tamin hendak mengikut adiknja, tapi ketika berdiri, matanja tertumbuk pada ibunja jang tengah berdiri dipodjok rumah belakang. Mata perempuan tua itu mengawasi kandang sampi jang telah bersih, melihat tumpukan kaju jang tersusun baik disampingnja. Gendongan belum dilepas, ia baru pulang dari pasar dan tak seorangpun jang tahu berapa lama ia berdiri disana.

"Kandang itu aku jang membersihkan!" kata Tamin mendekati ibunja.

"Ja." Sahut ibunja. Tapi tak ada perobahan sedikit djuga pada wadjhannja. Matanja masih tetap mengawas kandang sampi.

"Sumi hendak kubawa kepasar esok hari, mak! Kit harus punja sampi lagi!" kata Tamin menatap wadjah ibunja.

"Ja." Tjuma bibir belaka jang bergerak, dan wadjah selebihnja seperti rautan patung dari kaju jang tidak berdarah. Rambut jang telah setengah putih lalu bergera melambai oleh angin dari belakang. Matanja gelap du antara kedua alisnja seperti ada garis jang dalam sekal

"Mengapa, mak?" kata Tamin tjemas, "dengan demikian kita bisa mengerdjakan sawah kembali. Ini telah musimnja membadjak. Ajah dan engkau telah terlalu tua. Aku sudah pulang. Dan bersama Sumi, kami tjukup kuat untuk mengerdjakannja. Tidakkah engkau pertjaja aku tjukup kuat untuk itu?" Ia berdiri didepan ibunja. Tubuhnja jang tidak tertutup badju itu besar dan tinggi, urat-uratnja pandjang dan keras, kulitnja hitam mengkilat oleh keringat. Tidak, tidak seorangpun jang akan menjangsikan kekuatan jang tersembunji dalam tubuh jang begitu besar dan padat.

"Mengapa, mak?" tanja Tamin bertambah tjemas, ia bertambah dekat dengan ibunja. Mata jang begitu sedjuk dan hitam itu, seperti tak ada tjahajanja lagi, seperti tak bisa lagi melihat, semua jang berada dihadapannja. Apa jang tersembunji dibalik mata jang begitu gelap!

"Mengapa, mak?" tanja Tamin, ketjemasan itu lalu berobah djadi rasa takut, betapa takut ia djadinja melihat mata ibunja.

Wadjah jang telah keriputan itu lalu bergerak memandang anaknja, pelan² datang tjahajanja lagi. Dan djika perempuan itu dapat berkata, tampak bibirnja telah bergerak lama mendahului.

"Achirnja, Tamin! Datang djuga waktunja aku harus bitjara kepadamu!" kata ibunja, dan Tamin melihat dengan djelas, bahwa ada air dalam mata jang tua itu.

Apa gerangan jang hendak dibitjarakan oleh ibunja? Ia tak mengerti tentu. Bagaimana ia bisa mengerti, bajangan mata itu terlalu dalam.

"Min!" kata ibunja ketika mereka berdua telah duduk dibalai-balai dapur dan ibunja telah melepasi gendongannja. "Engkau adalah anakku!"

Tamin diam tidak mendjawab. Ia tahu bagaimana ibunja sukar hendak memulai pembitjaraan itu, dan alangkah anehnja kalimat pembuka jang dikeluarkannja. Dan djika perempuan tua itu tidak segera berkata lagi, Tamin menjela : "Apakah itu, mak?”

"Engkau berhadjat hendak membeli sampi?” suara itu lemah, lunak, namun getaran jang dibawanja terasa keras menjentuh hati Tamin.

"Ja, mak. Itulah jang hendak kukerdjakan esok!”

"Berapa banjak engkau mempunjai uang?”

"Itu tak begitu banjak, mak. Tapi kukira ia akan tjukup untuk membeli seekor, meskipun tidak jang terlalu besar!”

Sebentar ibunja tidak menjela lagi. Keduanja diam berhadap-hadapan; ruangan dapur itu terasa sunji menekan dada, dan djauh dipagar kebun, suara galah Sumi menjengget buah nangka-landa bertambah njata terdengar.

"Betapa baiknja sampi untuk kita sekarang? Inilah jang hendak kukatakan kepadamu, nak. Ketika engkau tak ada, rumah ini mengalami kesulitan jang tak dapat dipikul dan djawaban untuk itu tjuma satu : tanah!”

Ia berhenti sebentar, pandjang menelan ludah dan Tamin mulai meraba isi hati ibunja.

"Kita sudah tak punja tanah lagi, nak!” dan napas jang pandjang tertahan mengantar pengutjapan itu.

Betapa djuga pelan dan lemah suara itu, namun dalam telinga Tamin, itu datang seperti guruh, bertalu-talu memukul-mukul dalam telinga, dan lambat² seperti ada kekuatan menekan pundaknja kuat², seperti seluruh berat bumi menimpa diatas, dan aneh sekali dada terasa sesak dan napas mendjadi sukar.

Tanah. Tak ada jang lebih berharga daripada itu. Semendjak ketjill ketika pertama ia mengindjakkan kakinja atas pematang, ia telah beladjar untuk menjintainja. Sebagai kanak² ia telah mentjurahkan semua keringatnja sepandjang petak, mentjangkul bersama ajahnja ketika masih kuat. Pada musim membuka air, ia telah ada disana sebelum matahari terbit, dan setiap petang ia menjaksikan turunnja matahari dibalik gunung Wilis ditengah sawah djuga. Dan dimasa musim padi menguning, ditengah sawah djua, ia menghabiskan malamnja bersama ajahnja diatas gubuk bambu ditengah-tengah. Alangkah senangnja untuk melampaui semua itu, dan alangkah indahnja, bertambah indah rasanja kini untuk dikenang, djika itu telah terlepas tangan. Sebab tanah adalah tanah. Ia satu-satunja jang punja djandji, sumber hidup sepandjang djaman.

Ia ingat betapa ajahnja dahulu berkata kepadanja. Mereka berada ditengah sawah ketika itu, padi menguning dengan indahnja, burung² beterbangan oleh tali² jang ia tarik pada patung² jang didirikan disemua podjok. "Ingat, Tamin,” kata ajahnja. "Tanah ini adalah jang terbaik diseluruh desa, lantaran dibatasi oleh kali jang tidak pernah kering sepandjang musim. Tjintailah ini seperti djuga nenekmu mengadjar aku. Gantungkan pengharapan hidupmu disini, dan bila datang masanja engkau memegang sendiri, djangan engkau lepaskan kelak meski sedjengkal. Engkau harus tahu, bahwa djandji hidup dari keturunanmu terletak dalam tanah ini pula, seperti djuga ia telah menghidupi nenek mojang kita. Ini adalah pusaka!”

Ja, ia tahu itu adalah satu kebenaran. Tanpa pesan itu, ia akan memiliki pengertian itu jang tertanam dari hari ke hari. Ia telah menjintai itu seluruhnja, tanahnja, airnja, rumputnja, burungnja, ikannja, belutnja jang kesasar dibawah pematang.

Kini, ia sudah pulang dari pengembaraannja, sebagai Heiho selama tudjuh tahun. Pulang dengan segala pengharapan dan tjita² untuk melandjutkan pesan ajahnja, maka kenjataan jang dihadapinja adalah lain. Apakah jang diutjapkan oleh ibunja? Tidakkah telinganja telah salah mendengar? Mengapa Sumi tidak berkata sepatah djua perkara itu?

Lalu lamat² mulanja seperti suara itu djauh sekali datangnja, ia mendengar lagi utjapan ibunja, dan adalah benar, bahwa harapan jang paling tertjinta telah ditangan orang.

"Amat berat mengatakan ini kepadamu. Tapi apa bedanja, sekarang atau esok aku harus bitjara. Betapa hati rasanja menanti kedatanganmu selama ini! Ketika perang telah selesai, dengan segala pengharapan, kami menanti kedatanganmu dengan penuh sabar. Sebulan, dua bulan, tiga bulan, engkau mengerti bagaimana rasa hati menanti. Lalu ketika bulan² untuk menanti itu berkumpul mendjadi tahun; dan hari-harinja lalu terisi oleh djaman pemberontakan melawan Belanda, lalu timbul rasa takut terhadap dirimu. Engkau anak laki² satu-satunja. Siang malam kami berdoa, namun harapan bertambah tipis, bahkan ada kalanja lenjap sama sekali. Itu ketika datang tjerita tentang Heiho jang dibawa Djepang djauh keluar seberang laut. Tjerita itu serba ngeri kedengarannja. Tak seorangpun dalam kampung ini jang bisa pertjaja, bahwa engkau achirnja dapat pulang kembali.

"Gusti, Alangkah beratnja untuk menjambung hidup didjaman itu. Lalu kau tahu, Tamin! Ajahmu bertambah tua djuga, badannja bertambah lemah, dan hari-harinja banjak dihabiskan dipembaringan. Dan pada suatu hari, ketika tentara Belanda datang menjasaki kampung, ketika suara bedil banjak memenuhi kampung, ajahmu tak lagi dapat bangun. Kukira telah waktunja ia menghadap Tuhannja!“

"Ja, mak aku mengerti. Aku mengerti!“ sela Tamin ketika ibunja berhenti berkata sebentar. Tapi perempuan tua itu berkata lagi. Terlalu banjak jang hendak dikatakan, ia hendak berkata seluruhnja sekarang.

"Aku seorang diri bersama Sumi melawan maut. Tapi kau tahu, aku perempuan tua tjuma, sedang Sumi belum dewasa. Achirnja aku tjuma melihat satu djalan untuk menolong ajahmu, tanah. Kami tak bisa berbuat lain. Kugadaikan sawah itu dibawah tangan. Buta hatiku melihat keselamatan ajahmu!“ Ja berhenti sebentar, lalu menjudahi utjapannja, "Dan itu sudah terdjadi, Tamin!“

Tamin berdiri pelan, diambang pintu matanja lepas memandang djauh kesawah, jang kini telah mendjadi milik orang, dan achirnja pandangan dihadapannja hilang tertutup oleh bajangan wadjah ibunja.

"Berapa banjak dibutuhkan untuk dapat mengambil itu kembali, mak?“ kata Tamin tanpa menoleh dari ambang pintu.

"Kukira akan meminta dua lipat dari harga lembu dewasa!“

Sesudah itu tak ada pertjakapan lagi. Dua kali lembu dewasa. Kalimat terachir dari ibunja itu dibawa sepandjang djalan ketika ia turun halaman, berdjalan menuruti langkah kakinja. Gemanja seperti tak pernah hilang dari telinga. Dua lipat dari harga lembu. Dari mana dia akan dapat memiliki djumlah sebanjak itu? Dan gema suara itu lalu djadi hidup, seperti ikut menjelingi utjapan orang² jang ditemuinja sepandjang djalan.

Ia ingat, adalah seorang dari teman bekas sepermainan jang berkata. "Engkau Tamin? Siapa jang bisa pertjaja ini? Bagaimana mungkin engkau bisa pulang sesudah selama itu tak ada kabarnja? Alangkah banjaknja tjerita jang dibawa orang, tentang Heiho dan Romusha dinegeri seberang laut jang dibawa Djepang dahulu. Tapi bagaimanapun djuga engkau telah pulang, kawan. Selamat datang dikampung kembali!"

Dan adalah seorang dukun tua jang ia datangi sesudah itu kerumahnja. Apa jang dia katakan? Ia masih ingat. Dukun itu berbadan pendek gemuk, dagingnja tebal lepas menggantung dari tulang-tulangnja dan sekiranja tak ada kulit jang menahannja, daging dan tulang itu akan bersebaran karenanja. Dan menjenangkan, djika melihat ia sedang tertawa, lantjip sekali pada podjok bibirnja dan gigi jang tinggal satu lalu djelas menondjol kedepan; ia bernama mbok Min dan selalu menjatakan kepada siapa sadja, bahwa gigi jang satu itu akan dibawanja bersama kekubur.

"Engkau Tamin?" katanja, dan matanja jang telah sempit itu berat terbuka, dahinja terangkat dan garis² padanja jang telah banjak itu djadi bertambah banjak lagi. "Tampan dan gagah benar engkau sekarang," sambungnja. "Alangkah tingginja engkau, dua kali dari badanku. Alangkah gilanja untuk mengingat kembali, sebesar lenganku ini tjuma dahulu ketika engkau dilahirkan. Engkau ingat, akulah jang menolong kelahiranmu dan akulah jang memotong pusatmu. Tamin, djangan lupa ini sampai matimu kelak." Ia tertawa lalu, dan giginja jang menondjol itu ikut bergerak-gerak.

Lalu dengan suara pelan seperti mengutjapkan sesuatu jang rahasia, mbok Min berkata sambil mendekat : "Engkau sudah kawin? Oh, djika belum perawan² desa ini akan berpatju merebut engkau!" Dan Tamin tertawa karenanja.

Lalu ia datang mengundjungi rumah demi rumah, menemui orang² tua dikampung sekedar memenuhi ada menampakkan diri, sesudah berdjalanan djauh. Apa jang telah mereka katakan kepadanja? Apa jang telah ia dengan sepagi itu? Kata² mereka bertumbukan dalam telinga terngiang-ngiang berebut mentjari tempat. Hampir selu

ruhnja mengatakan kesulitan ajahnja didjaman achir pemerintahan Djepang jang sukar beras, didjaman kedatangan serdadu Belanda jang mendjadikan tanah terbengkalai, lalu sakit ajahnja jang berbulan-bulan.

Tak ada kesulitan jang lebih besar daripada itu, Tamin. Sedang engkau jang mendjadi harapannja tak kundjung datang. Semoga datangmu, mendjadi tanda datangnja rahmat.

Matahari telah melewati kepala ketika ia berdjalan menjusuri kali dipinggir sawah. Air keruh jang berwarna soklat mulai naik. Daun² kambang dari rawa jang dihanjutkan membawa tanda akan datangnja bandjir. Ia mengetahui itu dengan pasti, seperti ia telah mengerti sedjak ketjillnja. Dan ikan² akan turun, maka datanglah musimnja mantjing.

Ia berdjalan menelusuri kali itu seperti hendak mengenali kembali semua sudutnja, semua batu-batunja dan semua pohonnja.

Lalu dipinggir semak, antara batu² jang sebesar kerbau, batu² jang dilemparkan oleh gunung Kelud ketika meledak bersama laharnja, ia menemui beberapa anak jang tengah duduk tenang menunggui pantjignja. Kedatangannja jang begitu mendadak mengganggu mereka. Empat orang anak memandang Tamin dengan mata bulat. Anak² sebesar itu masih pada telandjang dahulu, ketika ia pergi.

"Anak siapa kamu?" tanja Tamin. Dan karena tak ada jang mau menjahut, Tamin bertanja lagi, "belum pernah mendengar nama Tamin?"

Dan seperti digerakkan oleh sesuatu nama jang telah mereka kenal, wadjah anak² itu bergojangan, dan pelan² mereka tersenjum bersamaan.

"Kang Tamin? Bapak bilang, kakang datang kemarin petang!" kata seorang dari mereka.

Tamin duduk diatas batu diantara mereka, ia mengadjar bagaimana melemparkan pantjing, bagaimana menarik, dan tanda² kemungkinan djenis ikan jang telah menelan umpan. Ia menundukkan djenis umpan untuk mendapatkan djenis ikan jang tertentu. Bagaimana memantjing dengan umpan tumbuk, umpan gaäng, umpan tjatjing, umpan ketjoak. Dan anak² itu mendengarkan dengan penuh minat.

"Saja belum pernah bertemu dengan kakang sebelumnja. Tapi orang² mengatakan, bahwa suara kakang halus dan indah sekali. Maukah kakang menembang sesekali diwaktu malam untuk kami?"

Tamin tertawa pandjang. Ia mengangguk dan mendjandjikan.

Matahari telah bertambah rendah, puntjak gunung Wilis tinggal sepenggalah sadja tampaknja. Angin petang mulai berhembus, itu datang dari timur-laut arah gunung Kawi, membawa mendung tebal sehitam abu; sebentar sadja, seperti tak diketahui permulaannja, separo langit telah tertutup olehnja. Orang² jang terachir telah meninggalkan sawah dan anak² jang tengah memantjing telah djauh dibelakang.

Sendiri, Tamin berdiri dipinggir sawah, samping pematang jang masih tergenang air oleh hudjan kemarin petang. Seperti patung, ia berdiri disana, kedua kakinja jang kukuh terentang menjangga tubuhnja jang djendjang tinggi, rambutnja jang hitam lebat bergerakan oleh angin. Matanja jang hitam tadjam mendjeladjahi seluruh petak sawah. Ia mengetahui dengan pasti seluruh batas² dari sawah itu, seperti ia mengenali batas² bentuk tubuh sendiri, lantaran dimana dia berdiri petang itu, adalah podjok sawahnja. Ia tahu, pada bulan seperti ini, dimana hudjan mulai banjak membasahi bumi, dimana kali mulai keruh airnja, musim tanam telah ada diambang pintu. Adalah tanah ini jang ia harapkan dalam kepulangannja, dan betapa djelasnja dalam hati bajangan sendiri disamping ajahnja bermandi keringat ditengah-tengah sana.

Tapi semua itu telah tak ada, sedjengkalpun tak ada lagi haknja untuk bertanam. Dimana gerangan dahulu ajahnja berdiri, ketika djarinja menunduk kesegenap batas sawahnja sambil berkata dan dia sebagai kanak² dengan patuh mendengarkan? Suara itu seperti bertambah djelas kini. "Tamin! Sawah ini adalah jang terbaik diseluruh desa, lantaran dibatasi oleh kali jang tidak pernah kering sepandjang musim. Tjintailah ini seperti djuga nenekmu mengadjar aku. Dan djika datang waktunja engkau memegang sendiri, djangan engkau lepaskan meski sedjengkal!"

Ia menunduk, mengambil segenggam tanah. Mesra tangan memegangnja, dan hatinja mendjerit. Hendak direbut kembali tanah ini, meski segenggam demi segenggam. Ia hendak berdjoang untuk itu, apapun djuga pembajaran jang dimintanja. Disini, seluruh darahnja, seluruh dagingnja, seluruh tulangnja, seluruh napasnja, seluruh hidupnja termasuk dalam tanah ini. Itu telah djadi laksana sebahagian dari djiwanja.

Disana dia berdiri, dipodjok sawahnja jang tertjinta, tubuhnja jang tinggi terasa bertambah besar oleh dada jang menggelora seperti hendak mendjulang langit. Tubuh itu tidak tergerak, besar mengkilat seperti patung. Untuk tanah ini ia sedia bergulat dan memberikan pengorbanan apapun djua.

Djika Tamin mengangkat muka, mendung kelabu tebal telah merata menutupi semua langit. Matahari telah tak tampak dan puntjak gunung Wilis telah hilang menembus mendung. Udara bertambah gelap.

Ia melangkah kepematang berdjalan menudju rumahnja. Pada setiap langkahnja, pada setiap napasnja, terasa seperti ada sesuatu jang menjentuh hati. Itu seperti suara jang bertambah lama bertambah keras, seperti sesuatu jang mempunjai bentuk berputar-putar didepan matanja tak mau pergi. "Tanah itu harus kembali, tanah itu harus kembali".

Suara gelegar dan guruh kemudian seperti sambutan suara hatinja dan tetesan air hudjan pertama jang menimpa tubuhnja bertjampur dengan air matanja jang telah dahulu meleleh sepandjang pipinja. Ia usap mukanja dengan tapak tangan jang kasar dan lebar itu, dan air hudjan bertambah kedjam, guruhnja bertambah ramai. Mendung bertambah tebal dan rendah. Biar, biarkan hudjan, biarkan langit hendak menuangkan seluruh airnja, biarkan lumpur semua tanah, biarkan semua kali menurunkan lahar dari gunung Kelud, itu akan lebih baik. Tanah akan bertambah kaja rabuk karenanja dan tanaman akan bertambah subur. Apa jang diharapkan lebih daripada itu?

Langkah Tamin bertambah tjepat dan seirama dengan tjutjuran air jang memukul tubuhnja, suara itu bergema dan bergema lagi. Tanah itu harus kembali. Tanah itu harus kembali.

Sampai dirumah, ia melihat adiknja sibuk membetulkan atap dapur menadahi tjutjuran jang telah banjak menggenangi tanah lantai.

"Kang Tamin!" seru Sumi ketika melihat kakaknja berdiri diambang pintu, mengusap mukanja jang basah berkali-kali. Rambutnja jang tebal hitam itu berebahan basah merapat kepala. Tamin tersenjum, wadjahnja hitam merah terang sekali matanja jang bersih berkilat-kilat. Apakah jang telah membuat ia demikian? Adakah itu dibawa oleh hudjan jang bertambah besar? Oleh suara jang memukul-mukul, hatinja tidak berhenti?

Sumi mendekat lalu berkata lagi: "Kita tak djadi kekota?"

"Apa jang membawa engkau berkata demikian, Sumi?"

"Lantaran apa guna punja sampi djika kita tidak membadjak? Aku dengar mak bitjara itu kepada bapak!"

"Adalah benar, Sumi! kita tidak djadi membeli sampi!"

"Kita tak kekota djadinja!" kata Sumi setengah mengeluh dan matanja membajangkan rasa ketjewa.

"Tidak! Kita pergi djuga esok pagi² benar!"

"Untuk apa?" tanja Sumi tidak mengerti.

"Kau lupa, bahwa kau akan membeli tjita sutera, hendak memilih kain Solo dipasar?"

Gadis itu tidak menjahut. Tapi disana ada sebuah senjuman jang menarik bibirnja indah, jang membuat matanja lebih bertjahaja oleh pengharapan dan kegembiraan. Ia tak lagi mendengar suara hudjan jang bertambah lebat, tak lagi merasa tjutjuran bertambah menggenang dilantai dapur.

"Ja. Kita kekota besok pagi!" kata Tamin.

"Lantaran itu tjuma?"

Tamin mengangguk, meninggalkan adiknja seorang diri didapur.

Bagian 3

IA BERDJONGKOK MEMBUKA RANSELNJA dengan tangan gemetar. Diantara tumpukan badjunja jang belum dibuka sedjak ia datang terdapat sebuah kotak kaleng. Dibukanja kotak itu, meski dalam gelap ia tahu itu adalah uang simpanan jang diharapkan untuk tjukup membeli seekor lembu dewasa. Ia seperti tak hendak mendjamah uang itu. Didasar, dibawah tumpukan uang itu terdapat lipatan kain putih, sebesar ibu djari tjuma. Dan ketika digenggamnja terasa seperti hangat, seperti belum lama orang lain menggenggammja. Pelan ia berdiri, dibiarakan ranselnja terbuka dan ia melangkah menudju djendela bambu. Dibuka daunnja, angin sedjuk meniup kentjang kedalam, hudjan masih menggila diluar. Djauh tampak lampu ketjill, tjahajanja lemah menembus dinding. Ia berdiri ditentang djendela itu tidak beryerak, matanja menembusi hitamnja malam tidak berkedip. Matanja pergi djauh, melampaui segala jang dihadapinja, djuga ketika kilat memetjah kegelapan dengan terang sekali, ia tak dapat melihat apa². Hatinja ikut melampaui kegelapan malam, melampaui gunung dan laut. Benda jang ada dalam genggamannja kini, bukankah itu pernah dibawanja melampaui darah, maut dan perkelahian, dan ia pernah berdjandji pada diri sendiri, tak hendak melepaskannja sampai mati. Lalu genggaman itu bertambah kentjang, dan ia kembali pada hari dalam pengembaraannja, ketika pertama didalam hidupnja ia bertemu dengan seorang gadis jang punja senjum semanis madu, punja mata sedjernih bintang. Apa gerangan jang pernah diutjapkannja ketika itu? Ia mentjoba memeras dan suara itu datang kembali. "Djika harinja telah datang, aku ingin ikut kenegerimu, betapa akan besar hati untuk dapat melihat gunungmu, sungaimu, ladangmu. Oh, betapa senangnja untuk dapat mentjium tangan ibumu, dan betapa besar hati untuk mendengarkan, ia sedia mengambil aku sebagai anaknja. Pertjajalah, aku mengatakan ini dengan seluruh hati, Tamin." Tapi semua itu telah lenjap kini, ia tinggal kenangan jang tak pernah akan hidup.

"Tamin!"

Ketika ia menoleh, ajahnja telah berada dibelakangnja, dan baru ia menginsjafi, bahwa segala suara jang ada tjuma deru hudjan semata-mata.

"Aku ingin bitjara kepadamu, Min!"

Tamin ingin mendjawab, tapi tak dapat. Bibirnja terasa berat. Matanja sadja memandang ajahnja kini, menatap dengan mesra wadjah jang telah tua itu.

"Kini engkau telah mengetahui seluruhnja, Tamin! Makmu sudah bitjara kepadaku. Itu telah terdjadi, dan aku tak bisa berbuat lain, kukira engkau akan dapat mengerti seluruhnja."

"Djangan, djangan bitjara itu pak! Tentu aku telah mengerti dan aku tak akan menjesali." Tapi itu bukan utjapannja, sebab tak sepatah kata keluar dari mulutnja, itu adalah utjapan jang tjuma tersekat dalam kerongkongan. Lalu suara ajahnja terdengar lagi: Adalah kewadjibanku sebagai orang tua, untuk menjerahkan itu kepadamu sebagai peninggalan, djika djandjiku telah sampai. Aku ingat, betapa aku pernah mendengar pesan nenekmu kepadaku tentang tanah itu, lalu datang waktunja aku pernah menu- runkan pesan itu untukmu. Aku ingat itu seluruhnja dengan djelas sekali. Ja, aku ingat itu!" Ia berhenti sebentar lalu berkata seperti hanja ditudjukan pada dirinja sendiri: "Akulah, Tamin, jang berdosa!"

Wadjahnja terlalu tua tampaknja, garis² padanja dan ketjekungan pipinja masih djelas dalam kegelapan, matanja jang dalam menembus kegelapan seperti ada jang ditjari-tjari. Tapi ia tak melihat apa². Dihadapannja seperti terbentang berpetak-petak sawah, hidjau padinja jang beralun-alun oleh angin dan burung-burungnja jang menjambar-njambar diatasnja. Betapa djelas bajangan itu, dan ia melihat dirinja sendiri dalam umur setua itu, berdiri di tengah-tengahnja dengan keringat bertjutjuran. Itu seperti mampu melahirkan tenaga baru dalam tubuhnja jang tua itu, kesanggupan jang lahir oleh keketjewaan pada diri sendiri. Dan dengan segala kesungguhan achirnja ia berkata: "Kini, engkau telah datang, Tamin. Itu adalah rahmat dan aku akan djadi kuat kembali. Aku bisa menjandang patjul lagi seperti dulu. Pertjajalah, ada sesuatu jang mengatasi kekuatan djasad manusia, dan itulah semangat. Kedatanganmu menumbuhkan semangat itu dalam dadaku! Ja aku hendak berdjuang untuk kembalinja sawah itu!"

Ia berhenti, lalu hening sekali, ketjuali suara hudjan jang mulai berkurang guruhnja. Disana ia berdiri, dihadapan anaknja jang tetap membisu; sekalipun kemudian angin meniup dengan dinginnja ia tak merasainja. Ia merasa hanja, seperti ada kekuatan jang mendadak bertachta dalam dirinja dan bahwa kekuatan itu akan tjukup untuk menghantjurkan gunung dihadapannja. Itu adalah kekuatan jang tidak pernah dirasai dan dimilikinja, meski pada masa mudanja sekalipun. Lalu ia mendengar suara anaknja.

"Pak! Aku ingat ketika kemarin bapak bertanja tentang penglihatan jang kudapati dalam pengembaraan. Aku bertjerita kemarin tentang pertempuran, kehantjuran² jang dibawanja dan kematian². Itu adalah lantaran peperangan jang mengamuk selama ini. Tapi ia tidak berhenti disana, dan sekarang aku tahu peladjaran jang diberikannja. Disini, dalam rumah ini, ia minta pula korbannja. Aku pergi djauh lantaran perang, dan kesengsaraan jang dibawanja merata ketempat-tempat jang tidak pernah mendengar suara bedil. Adalah perang jang telah meminta sampi² kita dan ia pula jang telah merebut tanah kita dengan paksa. Aku tahu, pak! Itu adalah sesuatu diluar kekuatan kita, dan kita harus menerima. Kita tak punja pilihan lain. Dan bila perang telah lewat, tjuma satu harapanku: pulang. Dan kini aku berdiri dihadapannja, pak! Aku sedia melakukan kewadjibanku sebagai seorang anak!"

Tamin berhenti. Betapa asingnja terasa untuk mendengar suara sendiri sepandjang itu. Matanja berhenti memandang wadjah ajahnja. Alangkah tuanja, alangkah redupnja mata itu. Betapa tua ajahnja kini, betapa pula lamanja masih ia dapat menunggui tubuh jang rapuh itu? Lalu kedua tangannja jang besar itu terangkat, memegang kedua lengan ajahnja jang tinggal tulang dan dengan bibir jang tidak tetap ia berkata:

"Aku datang, pak! Untuk merebut tanah itu kembali, untuk mengerdjakannja seperti engkau pernah bergulat bertahun-tahun dengan lumpurnja. Aku sedia memikul itu sebagai wadjib seorang anak terhadap orang tua!" Ia berhenti, menanti djawaban, tapi keheningan tjuma, dan hudjan telah tinggal tetesannja jang terachir menimpa atap.

"Tidakkah engkau pertjaja aku kuat untuk menunaikan wadjib itu?"

Tak ada suara djawaban. Dan hati Tamin bertambah bergelora.

"Katakan pak! Aku ingin mendengar suara Bapak!" achirnja ia menangis lantaran itu. Ia tak dapat menahan air matanja jang membasahi pelupuknja sadja selama berkata. Lalu tangan tua itu terangkat keatas kepala Tamin, membelai rambutnja pelan dengan penuh mesra. Dan ia mengerti, itu adalah djawaban jang dinanti-nantikannja. Mesra benar belaian itu, seperti hangatnja menuruni semua urat² dan sekudjur tubuhnja.

"Ja, Tamin! Aku pertjaja kepadamu!" dari matanja jang telah djauh mendjorok kedalam itu timbul tjahaja jang lembut, berkatja-katja oleh setitik air, dan bibirnja jang telah kering itu bergerak-gerak, sudutnja gemetar oleh kebanggaan.

"Ja, Tamin. Aku pertjaja kepadamu!" katanja sekali lagi.

Malam bertambah sunji. Seperti kemarin djuga orang kampung tak ada jang mau turun dari rumahnja, ketjual jang hendak dinas ronda digardu dekat tikungan djalan. Djalan terlalu betjek dan malam bertambah dingin. Bulan jang telah berkurang bulatnja naik pelan² meninggalkan puntjak gunung Kelud seperti hendak mengusir sisa mendung jang menghadang djalannja.

Mereka duduk bertiga berhadap-hadapan. Tamin diatas kursi kaju duren jang setengah dojong, ibunja diatas kursi gojang jang beralas anjaman rotan sambil mengunjah sirih, ajahnja didipan kaju bersandar kedinding dengan penahan bantal tua jang tipis. Kedua kakinja disilangkan, tangannja mendjepit rokok daun djagung, disampingnja menjala api mantjung, asapnja lurus naik keatas atap. Membatasi mereka sebuah medja persegi, sebuah lampu templek jang sengadja dibesarkan njalanja terletak diatasnja.

Dibawah tjahaja lampu templek itu, Tamin menghitung uang, lembar demi lembar jang semula diharapkan untuk membeli seekor lembu. Tak ada sepatah kata jang menjela, tjuma mata jang mengikuti djari² Tamin jang besar dan pandjang itu, dan suara lembaran uang jang bergesekan seperti keras dan njata sekali kedengarannja.

Lalu lipatan kain putih jang ketjill dibukanja dengan hati² dan pelahan dan ditaruhkannja diatas medja. Ajah Tamin seperti berhenti bernapas sesaat, alisinja jang kelabu itu naik, rokok dalam selitan tangannja djatuh kebawah dipan. Ia tak pertjaja dengan matanja. Sebab dihadapannja, diatas medja, menjembul sadja dari lipatan kain putih itu sebentuk kalung dari emas jang mengkilat oleh tjahaja lampu didekatnja, dan pada udjungnja bergantung sebuah permata jang berkilau, hidup seperti menjala-njala dan lampu seperti djadi suram karenanja. Ibu Tamin jang tengah memegang sisik tembakau berhenti, tangannja turun pelahan kepangkuan. Matanja membelalak, mulutnja setengah membuka dan tiada kata keluar daripadanja. Djika ia lalu bernapas, napas itu dalam sekali. Untuk pertama kali dalam hidupnja, ia melihat perhiasan begitu indah, begitu berkilau. Ia pernah menghiasi lehernja dengan kalung emas, dahulu ketika masih muda, tapi tidaklah seindah itu jang dihadapannja sekarang. Lama sekali mata itu tertantjap sadja pada benda itu. Alangkah anehnja pengaruh perhiasan dihati perempuan. Sekali belum ia menjentuhnja, namun hati berat untuk melepaskannja. Dan ia setua itu, betapa pula djika Sumi ikut melihatnja?

"Bapak!" kata Tamin, lalu matanja pindah kepada ibunja dan ia melandjutkan, "benda ini punja sedjarah dan separo hatiku telah terpaut kepadanja. Ia kubawa melampaui maut, darah dan perkelahian. Dengan tambahan ini, sawah kita hendak kutebus, sebab bukankah kesana pula kita dapat menemui djiwa kita?" Ia berhenti sebentar lalu berkata lagi, "Sebenarnja, aku ingin sekali dapat menjerahkan ini kepada Sumi, biar ia mendjadi hiasan abadi lehernja jang djendjang itu. Tapi aku telah beladjar untuk menaruhkan tanah diatas segala!"

"Hudjan malam ini membawa rahmat untuk rumah kita, Tamin. Kita bisa mengindjak tanah sendiri!" kata ibunja.

"Dan besok malam akan hudjan lagi. Tuhan! Turunkan hudjan sebanjak-banjaknja, tjurahkan airmu untuk sawah kita!" sambung ajahnja.

"Dan lusa hari akan hudjan lagi. Hudjan, hudjan, dan kita akan dapat menanam bibit."

Untuk pertama kali sedjak hilangnja sawah itu, mereka menjambut turunnja hudjan musim ini dengan hati terbuka dan harapan jang memukul-mukul dada.

Bagian 4

ESOK HARINJA KETIKA AJAM PERTAMA BARU berkokok, dan beduk belum lagi ditabuh orang, Sumi telah bangun. Seluruh malamnja diisi dengan mimpi keramaian kota, pasarnja, tokonja, dan betapa riang rasanja melihat dirinja berdiri didepan katja, matanja menembusi kedalam memandangi tjita jang beraneka warna itu.

"Djangan dibawa buah² itu, Sum!" kata Tamin, ketika melihat adiknja menumpuki nangka-landa itu kedalam rindjing. "Kita kekota satu tudjuan semata!"

Sumi menoleh dan Tamin menjambung: "Kita bagi buah² itu kepada tetangga nanti!"

"Kita tak bawa apa² djadinja?"

"Ja!"

"Dan ini adalah pertama kali aku melenggang pergi kekota!"

"Kakakmu telah pulang, Sum. Aku tak hendak membiarkan engkau bekerdja seberat itu!"

Pendek sadja kalimat itu, tapi alangkah sedapnja didengar, alangkah sedjuknja terasa dihati. Ia tak hendak dibiarkannja bekerdja berat. Ia berdiri dihadapan kakaknja, mengetahui betapa besar tubuh itu, betapa kuat tenaga jang ada didalamnja. Dan utjapan itu keluar seperti suatu djandji. Ia mulai merasa sekarang, sedjak kakaknja datang dunia baru terbentang dihadapannja, dengan hidup baru jang penuh dengan harapan. Untuk pertama kali dalam hidupnja sebagai gadis, ada sesuatu jang membanggakan terasa didalam hati. Dan untuk mengetahui, bahwa itu datang begitu mendadak. Betapa besarkah sajang Tamin kepadanja? Ia tak hendak membiarkannja untuk bekerdja berat lagi. Ia tak akan menganjam bakul² lagi sampai djauh malam mendjelang pagi, ia tak akan menggendong barang² itu pagi² buta kekota djauh, sekedar ditukar dengan beberapa beruk beras. Semua itu akan berlalu kini, dan mulailah tumbuh rasa sajang terhadap kakaknja jang dahulu tjuha ada dalam kenangan, dan ia dapat mengutjapkan nama kakaknja dengan bangga dimanapun djuga.

Pelan² dan hati² pintu dibuka untuk tidak mengganggu tidur ajah dan ibunja. Mereka turun dihalaman disambut oleh angin pagi jang dingin mengusap kulit.

Pagi masih gelap. Tapi tidak seperti malamnja, langit bersih sekali, birunja merata diatas kepala dan djauh ditimur, warna itu larut dalam kekuningan dibalik gunung Kelud jang berdiri bertambah djelas dalam kehitamannja.

Orang belum banjak didjalan dan djauh terdengar suara pedati jang menghilang disimpang djalan.

Sedjak turun halaman, Sumi bitjara dan bitjara. Bibirnja tak mau berhenti, dadanja terlalu penuh, kegembiraannja seperti tak termuat dan meluap-luap. Segala jang dirasa melintas tjepat keudjung bibirnja. Itu seperti ia sendiri tak dapat menghentikannja. Bagaimana itu dapat, djika karenanja timbul mesra jang indah sekali? Dan bagi Tamin, kata demi kata menjentuh telinganja seperti dibawakan oleh musik jang kuasa membukakan hatinja. Ia tidak menjela, sebab sebagaimana lajaknja menerima suatu lagu itu adalah wadjib telinganja.

Sumi bitjara tentang sampi jang dilepas satu persatu, ketika kerdja membadjak telah tak ada. Tentang sakit ajahnja, dan betapa hati ketika menunggui ajahnja jang sakit berbulan-bulan. Lalu tiap² peristiwa rumahnja muntjul satu-persatu dengan djelas, dan Tamin merasa menemukan kembali bagian demi bagian, apa jang dirasanja telah hilang selama tudjuh tahun. Lalu matanja pergi djauh kepuntjak gunung Kelud jang megah dan kelangit dibaliknja jang bertambah merah dan terang. Dingin bertambah tiada terasa, malam telah sampai keudjung dan lahirnja pagi disambut oleh kokok ajam dimana-mana. Seperti itu pula lahirnja pagi didesanja tudjuh tahun jang lalu, seperti itu pula kini dan seperti itu pula esok hari. Tapi ia tak akan djemu menjaksikannja, seperti djuga ia tak akan djemu mendengar kelepar burung pertama jang melintasi kepalanja pagi itu. Alangkah kajanja alam jang melingkungi desanja. Bagaimana mungkin ia bisa meninggalkannja selama itu dahulu? Tak ada jang lebih kaja daripada itu, dan ia memutuskan tak hendak meninggalkannja lagi.

Ketika djalan an sampai kedjalan an geragal jang lebii lebar, hari telah panas. Matahari telah setinggi njiur. Orang telah banjak didjalan an menudju pasar. Kereta- kuda jam tampak pertama kali dipanggil Tamin.

"Kita harus naik kereta, Sumi! Waktu tak ada dan kita harus telah kembali dirumah sebelum lohor. Banjak jang harus dikerdjakan hari ini!"

Lalu mereka berdua melontjat keatas kereta, jang berdjalan setengah gentajangan oleh rodanja jang telah gojang tapi meskipun demikian itu djauh lebih tjepat dari langkah kaki manusia. Kota bertambah dekat, rumah² bertambah rapat dan lalu lintas bertambah ramai, dan mata Sumi bertambah hidup, bertambah bertjahaja karenanja. Tidak setahun sekali ia mampu mengendarai kereta sematjam itu dan kini mungkin lantaran ia telah berdampingan dengan kakaknja. Lalu kalimat jang pendek sepagi itu bergema lagi : "Aku tak hendak membiarkan engkau bekerdjaka kerat Sum." Alangkah sedjuknja kalimat itu dipodjok hati dan tak hendak dilepas lagi. Ja, ia duduk didepan kakaknja dalam kereta itu dan tidak seperti dulu, dalam gitanja sekarang, kota menerima kedatangannja dengan penuh senjum. Alangkah lainnja! Kini ia dapat memandang rumah² batu jang berdiri dipinggir djalan aspal. Rumah jang berdjendela katja, halamannja jang diatur rapi dengan tanaman bunga jang beraneka warna. Serasa warna itu djauh lebih indah daripada dulu. Semua djadi berteriak teriak memanggil matanja, dan semua djadi lebih menarik untuk dipandang.

Sekali melintas sebuah mobil sedan pelan mendahuluinja ia melihat seorang wanita duduk didalamnja. Wanita itu masih muda, kulitnja bersih seperti lilin jang bertambal njata oleh badjunja jang merah anggur. Rasa aneh terbetik dalam hatinja. Ia membajangkan dirinja sendiri mengganti tempat wanita itu, duduk dalam bantalan jang empuk dalam sebuah mobil jang indah, tanpa kesusahan seudjung rambutpun, dengan tawa dan senjum sepandjang hidup.

Bagaimana senangnja untuk bisa seperti itu! Lalu matanja memandang kedepan tanpa melihat apa², ketjuali diri sendiri, sedang didepannja bermain seribu.mimpi. Ia mengerti, itu karena Tamin membukakan dunia baru dihadapannja.

Mereka turun didepan sebuah toko jang besar, dengan etalase jang terisi beraneka ragam barang djualan. Toko itu ramai dikundjungi orang.

"Sekarang, pilih jang engkau mau, Sum!" kata Tamin dan mereka memasukinja ikut berdesakan diantara orang² jang hendak berbelandja. Mereka semua berbadju indah, orang² dari kota itu, wadjah² mereka bersinar riang, dan Sumi dengan matanja jang liar memperhatikan mereka, dan hatinja berkata, aku termasuk diantara mereka kini.

Itu adalah pertama kali ia memasuki toko sebesar dan seramai itu, sebab sebelum itu, sekali setahun kalanja ia mampu membeli tjita kepasar diseberang bengawan. Ia berdiri kini menghadapi deretan tjita jang pandjang bertumpuk-tumpuk, dengan pelajan jang banjak sekali, diantara wanita² jang muda, jang banjak pula dan tjantik². Ia harus memilih. Itu seperti semua bunga dibumi ini telah dilukis diatasnja, semua warna dihiaskan dengan indah sekali. Sumi mentjoba meraba jang satu, lalu jang lain, lalu berganti-ganti, dan djika hatinja hendak mengambil jang satu, matanja lari kepodjok, disana ada masih jang lebih indah. Achirnja ia tak bisa memilih selembar djua.

Tamin tertawa mendadak sadja dibelakangnja, Sumi menoleh terkedjut, "Mengapa engkau ketawa, kang Tamin? Apa jang engkau tertawakan?"

"Kau!" dan ia tertawa lagi.

Tak ada bedanja perempuan itu, tidak peduli apakah mereka jang mandja hidup dikota, jang datang dari pantai, atau jang hidup diseberang laut djauh, ataulah ia seorang Sumi adiknja jang lahir dan besar dikaki gunung Wilis. Adalah kehausan pada pakaian jang indah, pada hiasan diri jang begitu merangsang hatinja, seperti seluruh isi bumi terlalu ketjill untuk memenuhinja. Ia tahu itu, lantaran ia pernah berdjalanan djauh, pernah mengundjungi berbagai negeri dan kota. Ia berdiri kini dihadapan adiknja, jang tidak pernah mengundjungi toko sebesar itu, jang tidak pernah melihat tjita begitu banjak ragam dihadapan matanja. Dan ia melihat dengan terang, mata itu bersinar melampaui seluruhnja seperti bisa berkata : manalah jang lebih indah dari semua ini?

"Kita tak bisa disini lama², Sum. Mana jang kau kehendaki? Kau tahu, ajah menanti kita untuk menjelaskan sawah itu hari ini djuga!"

"Saja takut!" sahut Sumi.

"Takut apa?"

"Isah! Ia biasa berkata pada setiap tjita jang saja beli. Warna ini tidak tjotjok, untuk kulitmu haruslah jang warna begini. Ia melihat warna seperti itu bisa bitjara kepadanja. Dan kita gadis² biasa minta pertolongan kepadanja djika hendak membeli tjita!"

"Siapa dia?"

"Oh, kau tak tahu, kang? Ia seketjill aku ketika kau pergi. Punja mata paling djernih diseluruh desa, kulitnja bersih dan panas matahari tak bisa menghitamkannja. Kau harus tahu, ia paling tjantik diantara kami!"

"Aku tak pernah tahu dia!"

"Isah anak kak Makin, kang! Adiknja Gamik, bekas temanmu jang dibedil Belanda ditengah sawah!"

"Djika demikian aku jang hendak memilih untukmu. Dan tak ada orang jang hendak mentjela!" kata Tamin, dan Sumi mengangguk.

Mendjelang lohor mereka telah sampai dirumah kembali. Sumi mendjepit bungkusan tjita dan kain batik, Tamin membawa tiga ekor ajam biang jang dibelinja dipasar.

"Rumah ini akan ramai dengan ajam lagi!" kata ibunja.

"Kau ingat Sum, ketika Tamin pergi dahulu, ajam-ajamnja mati seekor demi seekor lantaran penjakit piler. Tjuma dia jang paling waris memelihara ajam!"

Sumi seperti tidak mendengar, ia sibuk membuka bungkusan dan menempelkan tjita paris merah djambu-berbunga kuning-telor dan putih. Betapa tjantik dan laras ia dengan tjita itu, matanja berkilau kegirangan memandang ibunja.

"Aku hendak pergi ke Isah sekarang, biar ia jang memotongnja!" Tanpa berkata lagi ia hilang dibalik dapur.

"Kalung itu sudah kudjual, mak. Dengan tambahan uang persediaan membeli sampi sawah kita harus kembali. Semoga pak Djais tidak membuat sulit. Itu sudah tjukup, berapa musim ia mengerdjakan sawah kita?" kata Tamin.

"Ja. Semoga dibuka Tuhan hatinja untuk mengetahui kesulitan kami!" Dan djauh dalam dasar hatinja, perempuan tua itu melihat kembalinja sawah jang telah bermusim-musim dikerdjakan orang. Ia melihat betapa ramai rumahinja kembali dengan ajam-ajamnja, betapa Sumi radjin menanam bibit² ditengah sawah, dan badjak disamping kandang itu akan mengkilat kembali, dan Tamin jang pulang setiap petang dengan keringatnja bertjutjurran. Rumahnja hendak hidup kembali.

Pelaksanaan penebusan sawah itu berdjalan dengan lantjar. Meskipun pak Djais dikenal sebagai orang kaja jang banjak rewel, namun ketika ia menghadapi Tamin ia tak banjak menahan harga. Tentu sadja djauh lebih banjak uang jang diserahkan kepada ajah Tamin dahulu, tapi itu adalah uang Djepang dan hadlirnja pak Lurah Kabul memudahkan masuknja pengertian dalam kepalanja jang keras. Djuga tubuh Tamin jang besar tinggi seperti raksasa dihadapannja menjebabkan ia tak banjak berkata.

Semua telah beres. Sawah itu telah kembali dengan sah. Esok harinja, ajah Tamin pergi kesawah diantar anaknja berdjalan perlahan-lahan mengelilingi pematang, seperti hendak mengenali kembali milik jang telah lama hilang. Ia tak dapat membajangkan, berapa musim lamanja ia tak pernah mengindjakkan kakinja disana, dan untuk pertama kali sedjak itu matanja memandangi gunung Kelud djauh ditimur dan matahari jang masih merah naik perlahan-lahan. Dadanja jang telah tipis itu berdebar-debar oleh kegembiraan. Sesuatu jang ia takut untuk memimpikannja telah mendjadi kenjataan. Sawah telah kembali. Rasa apakah gerangan jang bisa menggontjangkan dada seperti ini, jang bisa membasahi matanja? Angin jang meniup pelan dan sedjuk pagi itu terasa seperti rahmat, puntjak gunung Kelud jang pernah memuntahkan lahar dan asap waktu mudanja dahulu seperti bertambah tjantik tampaknja. Kaki gunung Wilis jang hidjau dan menjatu dengan bidang sawah djauh dibarat, menurun rapi seperti tangga beludru jang dibeberkan dengan semua likunja. Ia pernah melihat dan mengagumi keindahan itu dahulu, tapi rasanja tidaklah seindah seperti kini. Alangkah anehnja semua ini! Djika ia harus bertjutjuran air mata sekarang, maka itu adalah djustru lantaran perginja derita. Anak telah pulang sekarang tidak hanja membawa tubuh dan djiwanja, djuga tanah-pusaka.

"Sedjak pagi ini, Tamin?” katanja; "tanah ini seluruhnja untukmu! Dan aku menjadari, tubuhku terlalu tua untuk dibawa kerdja. Semua terserah kepadamu. Engkau lebih tahu dari aku untuk menetapkan apa jang baik untuk tanah ini!”

Seperti penjesalan suara itu kedengarannja, teriakan jang datang djauh didasar hati seorang tua jang merasa tidak mampu memenuhi wadjibnja. Tamin menundukkan mukanja, takut memandang wadjah ajahnja. Lalu pelan ia berkata; "Aku bekas serdadu, ajah! Aku biasa menerima perintah dan mendjalankan perkelahian untuk memenuhinja. Aku mendapat medan berkelahi sekarang diatas tanah ini. Kewadjiban bapak memerintah dan aku hendak bergulat disini!”

Sedjak hari itu Tamin menghabiskan siangnja ditengah sawah, patjul jang telah berkarat didapur mengkilat kembali, dan badjak disamping kandang telah diturunkan. Ia mendapat pindjaman sepasang sampi dari Lurah Kabul. Semua itu dikerdjakan dengan kegembiraan jang meluap-luap. Kadang², petang harinja djika hudjan tidak mengobah djalanan mendjadi lumpur, ajahnja datang kepinggir sawah, berdiri diatas pematang menunggui Tamin jang tengah menggaru, meratakan tanah jang telah terendam air. Atau ia duduk dikursi gojang depan rumahnja, matanja jang ketjill itu mentjari-tjari djauh kepetak-petak sawah diantara orang² jang mulai ramai menggaru, dan disana ia melihat anaknja bergulat dengan lumpur seperti ia sendiri waktu mudanja. Wadjibnja sekarang memerintah. Alangkah bahagianja untuk memiliki anak seperti Tamin, dan djika datang waktunja ia harus meninggalkan dunia ini, ia hendak pergi menghadap Tuhannja dengan ichlas. Ia tahu, Tamin akan mampu mendjalankan wadjib hidupnja lebih baik dari jang bisa diharapkan.

Dan Sumi, ia tak akan bekerdja berat lagi. Ia tjuma memasak didapur dan mengantar rantang makanan kesawah untuk kakaknja, dan menemaninja diwaktu sendja pulang kerumah. Kegembiraan dalam rumah itu bertambah hari bertambah terasa. Wadjah ajah Tamin bertambah merah, kekuatannja berangsur kembali sedikit demi sedikit. Dada ibunja tak lagi setipis dahulu dan kehitaman kulit Sumi bertambah kurang. Atap rumah jang botjor sedikit demi sedikit telah diganti. Hidup mereka mulai terisi oleh warna. Pada setiap podjok rumah, setiap pendjuru kebun, semua jang termasuk bagian rumah itu seperti ikut meneriakkan kegembiraan.

Dan pertama kali ketika ia menembang mendjelang malam, seluruh kampung seperti tersentak karenanja. Itu adalah hari pertama ketika ia mengerdjakan sawahnja. Ia merasa tjapai, membaringkan tubuhnja pandjang² diatas dipan sambil mengepulkan asap rokok daun djagung keatas langit². Seperti ada sesuatu jang menggerakkan ia untuk duduk, dibuangnja puntung rokok kesamping dipan, lalu pelan² suaranja naik dalam lagu Asmaradana. Suara itu penuh dan lunak mengajunkan udara dalam rumahnja, menembusi lobang² dinding dan mendjalari kegelapan diluar, menjentuh daun² dan dibawa angin merajapi dinding rumah seluruh desa. Seperti tergetar udara desa jang tenang itu penuh oleh alunan suaranja. Jang belum pernah mengenal, mendjulurkan kepala, itukah suaranja? Alangkah merdunja. Jang pernah mengenalnja menerimanja dengan kagum, dia sempat menembang achirnja. Tudjuh tahun seperti tak berobah suara itu. Dan anak² pemantjing dipinggir kali jang pernah ditemuinja mengangkat kepala dalam tidurnja, ia memenuhi djandji, ia memenuhi djandji!

Kang Tamin menembang untuk kita malam ini. Dan hati para gadis dalam kampung jang ketjill itu djadi bangun karenanja dibawa oleh suara Tamin naik dan turun mengikuti irama, mereka menutup matanja pelan² dan mimpi indah mengantar tidur mereka malam itu. Djika ada suami isteri jang bertengkar pada malam seperti itu, mereka akan berhenti, mata akan berpandang-pandangan dan damai menguasai kalbu. Alangkah lunaknja, alangkah halusnja! Tapi itu punja kekuatan untuk menggerakkan hati seluruh kampung.

Dan orang² tua jang mengerti bahasa Kawi akan terperandjat. Mereka akan mengikuti kata demi kata dan bertambah pandjang mereka bertambah heran. Tembang itu tidak terdapat dalam buku² sedjarah jang dikenal oleh desa itu. Mereka akan menutup mata mereka untuk menikmatinja dan rokok jang masih terdjepit antara djari djadi terlupa. Dan benar mereka tidak pernah mengenal isi tembang itu. Tembang itu mengisahkan seorang anak kampung jang pergi kekota keradjaan dan berhasil mendjadi tukang kuda dalam istana. Puteri radja satu-satunja jang masih remadja achirnja djatuh tjinta, sebab dikisahkan anak-kampung tukang kuda itu tampan dan gagah sekali. Radja djadi murka mendengar peristiwa itu, dan sebagai pentjegah peristiwa itu radja mengadakan sajembara: barangsiapa bisa menundjukkan dirinja paling pandai bermain pedang akan djadi menantu keradjaan dan berhak diangkat djadi putera-mahkota.

Tak ada jang memasuki sajembara itu, sebab telah tersiar kabar, bahwa seorang putera radja negeri lain telah menjatakan mengikuti sajembara itu. Anak radja itu terkenal sebagai ahli bermain pedang jang tak ada taranja, dan oleh baginda radja negeri itu memang diharapkan untuk diambil sebagai menantu. Dekat batas waktu sajembara itu habis, muntjullah tukang-kuda itu sebagai penantang. Maka ramailah alun² dikundjungi oleh penduduk seluruh negeri hendak menjaksikan perkelahian pedang jang pasti akan dahsjat itu. Pada waktunja muntjullah putera radja pengikut sajembara dengan pakaian kebesaran kegelanggang dengan pedang mengkilat ditangan, sedang tukang kuda itu dengan pakaiannja jang bersahadja tapi tampan dan gagah sekali dengan pedang pula ditangan. Tak seorangpun akan mengira, bahwa tukang kuda itu akan dapat mengimbangi kemahiran putera radja jang telah begitu tersohor.

Diluar dugaan orang jang mengikuti kisah tembang itu, maka anak kampung tukang kuda itu meninggal dalam gelanggang, putus lehernja oleh pedang lawannja dan majatnja diangkat orang dan ditanam ketempat asalnja. Sedang putera radja jang dinjatakan sebagai pemenang, dinobatkan sebagai pengganti baginda dan berhak mengambil puteri sebagai permaisuri. Tapi kisah itu tidak berhenti disana, sebab pada saat mendjelang upatjara puteri itu lenjap, tak seorangpun jang mengetahuinja. Segera baginda mengerahkan balatentara untuk mentjarinja tapi itu telah terlambat. Puteri radja jang tjantik itu didapati orang meninggal membunuh dirinja dengan sebilah keris diatas pusara tukang-kuda kekasihnja.

Kisah itu dalam bahasa Kawi, disusun dalam bentuk tembang lagu Asmaradana; susunan itu begitu indahnja dan djadi hidup dalam bajangan setiap pendengarnja jang mengenal bahasa itu.

"Tukang kuda itu kalah dalam gelanggang djadinja?” tanja ajah Tamin.

"Ja, pak! Tapi ia menang dalam merebut hati puteri itu!”

"Alangkah indahnja kisah itu. Kukira itu belum pernah ada dalam buku²”

"Tidak! Itu tidak terdapat dalam buku!”

"Bagaimana engkau tahu itu? Dari mana kau dapat itu?”

Hening sedjenak, Tamin tidak segera menjahut. Lalu dengan suara pelahan dan setengah ragu² ia berkata, "Itu lantaran aku sendiri jang menjusunnja!”

"Kau?” kata ajahnja terkedjut, "Kau? Siapa bisa pertjaja itu? Engkau, anakku?”

"Ja, pak! Kususun itu selama perdjalananku, dan kutembangkan itu dinegri djauh meski orang tak mengerti artinja!”

Dan esoknja, dan hari² sesudahnja, kisah itu mendjadi atjara pembitjaraan orang kampung. Mereka kagum akan isinja, dan sebentar sadja ia merata mendjadi milik seluruh desa. Tamin pulang membawa tjerita tembang untuk kita.

Bagi Tamin, hari² selama ia berada dirumah kembali terisi oleh kesibukan jang menggembirakan. Ia tjuma memandang satu kewadjiban, mengerdjakan sawahnja mendjelang musim tanam ini. Ia telah berada disawah diwaktu subuh sebelum matahari terbit dan pulang mendjelang sendja. Bertambah besar hatinja djika melihat mata ajahnja bertambah bertjahaja, kesehatannja bertambah baik. Orang tua itu tidak hanja menghabiskan waktunja dikursi gojang lagi, tapi telah kuat kemudian membawa arit membersihkan kaju-kajuan jang berserakan dikebun belakang. Rumahnja telah penuh dengan warna kehidupan jang menjedjukkan hati.

Dan selama itu ada masanja ia merasa hidupnja bertambah kaja, ada sesuatu jang lebih mengisi harapan² baru jang menjenangkan, jang mendjadikan ia radjin menembang dan mengisi hari-harinja dengan senjum. Ia sudah tak ingat lagi kapan itu bermula. Apakah itu dalam minggu kedua dari mengerdjakan sawah, ia sudah tak ingat lagi. Tapi peristiwanja sendiri tetap tampak djelas dalam kenangannja.

Itu bermula disiang hari terik, ketika matahari tengah memantjarkan tjahajanja dengan kedjam dan mendung segumpalpun tak ada jang menghalanginja. Ia tengah melepas lelah kala itu, dibawah gubuk jang didirikan ditengah-tengah. Perutnja lapar tak tertahankan, keringatnja mengalir sekudjur tubuhnja. Matanja dilepaskan kepodjok sawah, Sumi belum djuga muntjul. Dalam kekesalannja ia membuka mulut berpantun dengan suara sekeras-kerasnja; dan djauh disawah lain, orang mendjawab pantunnja dengan pantun pula, lalu ramailah mereka bersaut-sautan. Dan rasa lapar djadi tidak begitu mengganggu. Tiba² suaranja berhenti, apa jang dinanti-nantikannja achirnja muntjul djua dari seberang djalan, melontjat kepematang dengan rantang hidjau tua, jang mentjorong mengembalikan tjahaja matahari dengan kuat sekali. Seperti mengerti bahwa siang itu ia datang terlambat dari biasa, langkahnja tjepat tergesa-gesa diatas pematang jang belum rata, berlompat-lompatan seperti anak kambing jang baru beladjar djalan. Dan kala itu Sumi tidak sendiri. Untuk pertama kali semendjak ia mengirim makanan setiap siang kesawah, ada seseorang jang mengikutinja dari belakang, membawa rantang pula, ikut berlompat-lompatan dengan mengangkat kainnja setinggi betis, seperti takut djika itu akan basah oleh lumpur pematang jang belum kering. Ia seorang gadis pula, sama besar dengan adiknja, memakai kebaja tjita poplin merah-darah berbunga bintik² putih. Warna itu seperti berteriak-teriak membelakangi kehidjauan kampung djauh dibelakangnja. Siapa dia? Tamin mentjoba mengingat-ingat sekiranja ada kerabat djauh dari lain desa jang tengah bertandang, tapi ia tak dapat menemukannja. Matanja tidak berkedip mengawasinja, tak mau melepaskan bajangan jang muntjul tiba² sadja, dan kini tengah bergerak bertambah lama bertambah dekat dan djelas menudju gubuknja.

Lalu pada djarak tiga pematang, Sumi tersenjum, menoleh, dan gadis berbadju merah membelok kearah sawah jang lain, menjambut dengan senjumnja pula. Dan djarak itu bagi Tamin tjukup untuk mengetahui, betapa bersih tangan gadis itu jang keluar dari lengan badjunja jang digulung setinggi siku, dan betapa bulat wadjahnja, matanja jang bening mendjorok kedalam, seperti takut oleh terik matahari jang begitu panas. Tapi ia pertjaja, betapa pula kuat panas matahari, itu tak akan kuasa menghitamkan kulitnja. Siapa pernah berkata demikian? Ia mentjoba hendak mengingat-ingat, dimana dia pernah mendengar utjapan itu. Dari tempat duduknja, Tamin dapat melihat gadis itu dari samping, dan dada itu tampak bertambah djelas betapa penuh dan subur, rambutnja jang hitam tertutup paro-belakangnja dengan kerudung putih-katja terlipat keatas dan selebihnja melambai-lambai tertiup angin.

"Engkau sudah lapar, kang Tamin?” kata Sumi tertawa.

"Ja!” sahutnja dengan tawa jang dibuat-buat. Ia ingat kini, adalah Sumi jang mengatakan didalam toko tjita, bahwa kulit jang bersih itu tak hendak hitam oleh panas surja. Dan apa jang dikatakan lagi? Mata itu paling bening diseluruh desa. Ja, ia ingat seluruhnja. Ia hendak bertanja, tapi apa pula jang hendak ditanjakan. Ia tahu dengan pasti, gadis itu harus bernama Isah, anak Pak Makin, adiknja Gamik, seperti kepastian pada dirinja sendiri, bahwa ia bernama Tamin. Alangkah anehnja terasa, bahwa mendadak sadja ia ingin mendengar mulut adiknja mengutjapkan nama itu. Dan pasti tidak seperti pertama kalinja didengar, nama itu akan bertambah sedap menjentuh telinganja. Itu sebabnja ia berkata:

"Engkau tidak sendiri siang ini, Sumi!”

Tanpa mengangkat muka, adiknja jang tengah membuka isi rantang itu menjahut: "Lantaran menunggu Isah. Ia djuga hendak mengirim ajahnja jang telah mulai mengerdjakan sawahnja hari ini!”

Kalimat itu pandjang tentunja, tapi tjuma satu sadja kata jang tertangkap telinganja dan itu lalu berulang dan berulang lagi. Benar, itu djadi berlainan daripada ketika ia mendengarnja pertama kali.

"Makan, kang!” kata Sumi. Ia terkedjut, lalu hendak tertawa sekeras-kerasnja. Alangkah gilanja, bahwa oleh peristiwa sekedjap sadja ia kehilangan kesadarannja begitu banjak. Ia berdiri, meluruskan tubuhnja tinggi², mengangkat kedua tangannja, dan ketjapaian sepagi itu telah lenjap. Ia hendak melupakan itu dan melihat dirinja sendiri begitu pandir. Ia tersenjum.

"Apa itu kang?”

Ia tersenjum lagi, lalu duduk menghadap nasi jang dihidangkan oleh adiknja dibawah gubuk.

Dan ia dapat melupakannja sehari itu, djuga ketika sendja ia pulang menjandang patjulnja, tak ada lain jang mengisi hatinja ketjuali tanah dan masanja bibit jang hendak disebar. Dan malamnja djika tidak terlalu tjapai benar, suaranja akan memenuhi udara desa dengan tembangnja jang merdu.

Tapi esok harinja, dan esoknja lagi, esoknja lagi, hari² jang beruntun sesudah itu dalam seminggu, ia selalu menanti kedatangan adiknja dibawah gubuk dengan hati berdebar-debar, lantaran ia tahu, kedatangan Sumi tidak lagi seorang diri. Dan setiap siang seperti itu, matanja akan mengawasi langkah gadis dibelakang adiknja, sedjak turun pematang djauh diseberang djalan, sampai djarak tiga pematang ketika berbelok. Ia tahu, itu telah mendjadi sebahagian daripada harinja jang menjenangkan. Ja peristiwa jang tjuma sebentar sadja berdjalan setiap siangnja, lalu djadi harapan setiap pagi dan kenangan setiap petang. Itu seperti sesuatu jang datang sadja mengisi hatinja dan dia tak dapat menolaknja. Dan hatinja bertambah hari merasa bertambah kaja.

Dan betapa nilai dari kekajaan itu, ia tahu seminggu sesudah itu. Itu adalah hari kedelapan, ia tahu pasti lantaran pertemuan itu ia hitung dengan djarinja. Seperti kemarin pula, ia telah sedia duduk dibawah gubuk menanti muntjulnja Sumi. Matanja djauh melampaui pematang terachir. Tapi siang itu Sumi muntjul seorang diri. Ia menarik keningnja, pandangnja bertambah tadjam mentjari, tapi tak seorangpun berdjalan dibelakang adiknja. Seperti mendadak sadja terasa adanja kesepian, angin jang berhembus lengang sadja menjapu wadjahnja, dan panas matahari bertambah terik terasa. Untuk pertama kali sedjak ia terdjun kedalam lumpur sawahnja, ia merasai tjapai seperti bisa, terasa sampai keudjung urat-uratnja jang paling halus.

Ia diam, menghabiskan hidangan jang dibawa adiknja tanpa kata, dan Sumi memandangi seluruh bidang sawah jang telah selesai digaru dan tinggal menanti masanja tanam. Dan achirnja ada suara jang menjebutkan namanja.

"Pak Makin sakit sedjak semalam, kang Tamin! Mungkin esok ia baru dapat bekerdja lagi!”

Tapi ia seperti tak mendengar. Ada terasa sesuatu jang hilang disiang itu, sesuatu jang dinantikannja sedjak pagi.

Dan itu tjuma sekali terdjadi, hari² jang lain menjusul dengan harapan jang lebih menjala-njala.

Hari² berdjalan djua. Musim menjebar bibit telah lewat, padi jang ditanam mulai menghidjau rapat. Kerdja berat telah berlalu. Orang tinggal menunggui, mengatur djalannja air, mendirikan galah² untuk katjang pandjang jang ditanam sepandjang pematang. Sumi radjin menjangi, mentjabuti rerumputan jang tumbuh mengganggu padi dengan topi selebar pajung. Tengah malam kadang², atau djauh sebelum mendjelang pagi, Tamin bangun membawa lampu obor memeriksa air. Ia hendak memutari sawahnja pada malam dingin seperti itu. Bagi setiap petani dimusim sematjam itu tak ada gelap, tak ada kantuk, tak ada dingin. Dalam seluruh kepalanja tjuma-terisi dua harapan : tanah dan air. Djika ada diantara mereka jang berkelahi dipinggir pematang, atau majat kedapatan ditengah rumpun padi, maka tjuma satu soalnja : air. Mereka sedia berkelahi dan mati untuk itu.

Bagian 5

MATAHARI LURUS DIATAS KEPALA, PANASNJA membakar kulit, dan sesekali angin berhembus isis, menggojangkan padi jang telah setinggi lutut, indah mengalun-alun sampai keperbatasan pinggir. Tamin berdiri tegak dekat gubuk, seperti seorang djendral mengawasi balatentaranja, kaki penuh lumpur sampai kebetis. Langit diatas bersih sekali, mendung telah lari kebarat dan djatuh dikaki gunung Wilis.

Lalu terdengar suara lantang dari pinggir meneriakkan namanja. Tamin menoleh dan ia melihat seorang tua jang masih tegap tubuhnja, masih padat daging jang menjelimuti tulang-tulangnja jang besar itu. Rambutnja jang telah separo putih tertutup destar hitam-biru, dan matanja jang dilindungi alis djarang dan pandjang itu, masih bersinar terang. Pundaknja jang terbuka itu menjangga patjul dan seperti dia sendiri, kakinja penuh lumpur. Ia tertawa, tawa itu pandjang dan menjenangkan dan wadjahnja jang telah banjak keriputan itu bertambah njata. Langkahnja tetap dan pandjang seperti langkah serdadu menurut hitungan.

"Tamin! Sudah selama itu kau pulang, baru kali ini aku djumpa!" katanja sambil melangkah djua dan mendekati Tamin, dan tawanja bertambah lebar. Tamin kenal orang tua itu, kenal suaranja jang tidak berobah dan tawanja jang penuh, seperti djuga tawa jang ia kenal dahulu sebelum mengembara.

"Sekali, saja pernah datang kerumah pak Bandji. Waktu itu bapak tak ada. Dan sampai kini saja belum sempat djua. Bapak tahu, saja bekerdja sendiri sekarang!" Meraka telah dekat, dan orang jang disebut pak Bandji itu, menjambut djawaban Tamin dengan tawa lagi. Ia terkenal diseluruh desa sebagai seorang periang, paling kaja tawa dan ditjintai lantaran kedjenakaannja.

"Tak sedikit djua perobahan dalam diri pak Bandji, sedjak saja pergi tudjuh tahun jang lalu!" kata Tamin.

"Lihat!" seru pak Bandji, sambil menundjukkan semua giginja jang besar², rata dan hitam pada akarnja lantaran tembakau, "djuga gigi ini masih lengkap, belum satu djua jang patah! Semua orang² kampung ini jang sebaja dengan aku telah tak punja gigi semuanja!" Lalu djarinja menundjuk ketimur djauh, kepuntjak Kelud. "Ketika gunung itu memuntahkan laharnja, melemparkan batu-batunja dan abu-ja menutup semua sawah ini, aku sudah kawin dan sudah punja anak. Aku ingat, ajahmu belum kawin. Kau tahu berapa tahun umurku?"

Tamin menggelengkan kepala sambil tersenjum. "Bagaimana saja tahu itu pak Bandji?"

"Ha, ha! Aku sendiri tak tahu itu. Tapi tjoba kau hitung sendiri, gunung Kelud itu meledak tahun sembilanbelas dan aku sudah berumur tigapuluh waktu itu!" Ia tertawa sambil menepuk punggung Tamin. "Kau perkasa Tamin. Tubuhmu besar dan kukuh. Kau bisa tua dan bisa tetap muda seperti aku!" Lalu dengan suara pelan dan sungguh², "Nah, seringlah datang kerumahku, nanti kutundjukkan djalannja!" Ia lalu berkata banjak, penuh kelakar dan Tamin tertawa menjelingi setiap kalimatnja.

"Engkau, harus datang kependapa kelurahan nanti malam, Tamin!"

"Ada apa, pak Bandji!"

"Orang hendak membitjarakan rentjana memperbaiki kubur Gamik. Kau sudah dengan tentu kisahnja, Ia temanmu jang karib!"

Tamin mengangguk. "Ja, saja hendak datang, pak!" Lalu orang tua itu pergi meninggalkan tawanja jang segar, menjenangkan, dengan langkahnja jang tetap menuruni pematang dan hilang diseberang sungai.

Hari masih panas, bajangan telah sepandjang hasta, ketika Tamin meninggalkan sawahnja. Sepandjang djalan ia membajangkan adanja pertemuan nanti malam, dan ia akan dapat bertemu dengan wadjah² lama jang belum didjumpai sedjak ia pulang. Akan menggembirakan pertemuan sematjam itu. Dan dimana kerdja disawah telah tidak lagi begitu banjak, orang² akan sering mengadakan pertemuan sematjam itu. Dan ia hendak selalu datang. Tidak seperti dahulu, ia dipandang tjukup dewasa sekarang, bertemu dan bertukar pendapat dengan orang² jang lebih tua dari padanja.

Ia telah sampai kedjalanan dekat rumahnja. Panas tidak terasa lagi, sebab djalan itu sempit, dan kaju-kajuan jang ditanam dipinggir sepandjang djalan itu seperti bertemu, puntjaknja memajungi. Dekat belokan djalan menudju ke rumahnja, ia berhenti. Dan tak dapat lagi menggerakkan kakinja untuk melangkah. Sebab dari belokan muntjul seorang gadis, jang terhenti pula seperti dia, pada djarak empat langkah. Ia tidak bersedia menghadapi pertemuan seperti itu, dan itu terlalu mendadak terdjadi. Adalah kebaja merah-darah jang berbunga bintik² putih, seperti ia lihat pertama kali, dan pada djarak jang sedekat itu ia dapat melihat, betapa indah bulu² pandjang, jang membatasi tumbuh rambutnja menuruni dahi. Adalah benar kata Sumi, bahwa mata jang sesaat masih berani menatap matanja, itu bening sekali, dan hatinja berdebar ketika melihat, betapa darah mendjalari pipi jang bersih itu, dan terlalu lembut senjum jang melintasi bibirnja, jang tetap rapat. Ia tak tahu betapa lama ia berdiri disana, tidak bergerak dan tidak berkata. Untuk itu, seperti harus melalui perdjoangan jang berat lebih dahulu. Dan ketika ia mampu membuka bibirnja, pendek sekali kalimat jang keluar daripadanja, dan itu terdengar dalam telinganja sendiri aneh sekali.

"Engkau Isah, anak pak Makin!"

Lalu ia mendengar suaranja sebagai djawaban. "Engkau kang Tamin, kakaknja Sumi!"

Tjuma itulah pertjakapan mereka. Djika itu sebagai utjapan perkenalan alangkah asingnja, tanpa susulan pertjakapan jang pandjang, tanpa adjakan untuk berkundung kerumah dan tanpa djandji untuk pertemuan lagi. Tapi sekalipun begitu, alangkah banjaknja jang terutjap didalam hati. Darah jang mendjalari pipi itu, adalah duta jang djudjur dari suara hati, dan Tamin tidak menghendaki lebih dari itu. Ia tahu itu dan hatinja berteriak kegirangan. Di dalam tjerita buku, dua remadja bertemu dibawah tjahaja bulan purnama, lalu mengikat djandji dan mengutjapkan seribu sumpah, tidak dipanas terik seperti itu dan dalam kebisuan pula. Tidak, mereka bukan tokoh² didalam buku tjerita roman jang mengasjikkan. Mereka tjuma anak desa jang akan diharamkan oleh adat untuk bertemu.

Sesudah itu tak ada kata lagi. Sedjenak saling termangu, lalu saling melandjutkan langkahnja jang djadi berat.

Petang harinja sesudah mandi, Tamin bersila diatas balai² menghadapi setjangkir kopi. Ajahnja pergi kerumah pak Usup, tetangga sepagar jang sama tua. Sumi kerumah Lurah Kabul mengantar buah nangka-landa, Ibunja datang dari belakang dengan membawa sekotak sirih. Wadjahnja jang telah tua itu kini tampak lebih bertjahaja, matanja tidak lagi sedalam dahulu dan keriputan pada dahinja djauh berkurang.

"Ada sesuatu jang hendak kutanjakan, Tamin!" katanja sambil mengambil tempat duduk dihadapan anaknja.

"Apa itu, mak?" tanja Tamin sambil memperbaiki duduknja.

"Tapi ada kalanja djuga aku takut!" udjar ibunja, "hendak menanjakan ini kepadamu!"

"Mak lupa," kata Tamin, "bahwa aku adalah anakmu! Apakah itu jang hendak mak tanjakan?"

"Tudjuh tahun adalah lama, Tamin! Engkau telah mentjeritakan banjak tentang perdjalananmu. Dan masih adakah sisa tjerita jang berat engkau hendak menjampaikan?" Perempuan tua itu menundukkan kepalanja, memasukkan lipatan sirih kedalam mulutnja. Lalu ia mengangkat mukanja, matanja jang sedjuk itu menatap mata Tamin. Ia merasa pandang mata jang sedjuk itupun menembusi hati, dan seperti apa jang tersimpan dalam hatinja tampak dengan djelas. Ia hendak menjaut, tapi ia tak mendapatkan kata jang semestinja. Dan bertambah lama kesepian itu mendjadikan bertambah benarnja prasangka, bahwa ada sesuatu jang tersembunji.

"Matamu terlalu djauh tampaknja, Tamin. Kadang aku tjemas melihatnja. Apakah gerangan itu jang mendjadikannja?"

Tamin memandang mata ibunja dengan penuh mesra, mentjoba tersenjum, lalu pelan² mulai berkata:

"Engkau benar, mak! Memang ada sesuatu jang tersimpan dalam hati, jang selama ini tjuma mendjadi milikku. Dan engkau berhak mengetahuinja, lantaran aku adalah anakmu. Engkau ingat ketika aku mengisahkan kematian Yamaguchi jang baik itu? Ini terdjadi satu musim dengan kematiannja. Masa itu adalah masa rinduku mengenangkan rumah jang djauh; mengenangkan engkau, ajah dan Sumi. Apa jang terdjadi dirumah? Itu adalah pertanjaan jang memenuhi hati, berulang-ulang mengganggu malamku jang djadi bertambah pandjang karenanja; lantaran aku tak pernah mendapat djawabannja. Setiap malam, hatiku ingin bitjara kepada Tuhan, mentjoba bertanja kepadaNja, tapi Tuhan tak pernah bitjara kepadaku! Kau kira, aku bisa kuat menanggung rindu sebesar itu? Tidak, mak! Itu terlalu berat buat hati serapuh punjaku. Adalah tak mungkin untuk mentjutjurkan air mata setiap malam, dimana wadjahmu begitu djelas membajang mengantar tidurku.

"Itulah sebabnja pada setiap kesempatan, djika ada masanja aku mendapat istirahat, aku pergi kedesa-desa, menelusuri kali² dan sawah. Angin jang meniup isis dan padi², jang bergojangan, gunung² jang menghidjau, dan burung-burungnja jang beterbangan mendatangkan rasa tenteram, seperti aku mengindjak tanah sendiri. Aku pernah mentjeritakan kepadamu, bahwa sebahagian besar dari mereka hidup bertjotjok tanam seperti kita djua.

"Ditengah ladang seperti itu, mak, aku mendapatkan seorang sahabat. Ia seorang petani, sama tuanja dengan Bapak, dengan mata bulat ketjill jang menjenangkan. Ringan benar tangannja jang telah berkerut-kerut itu diulurkan, dan kita djadi sahabat. Ia tertawa. Tawa itu sedap sekali terdengar, aku masih bisa membajangkannja sampai kini. Kita asing, engkau mengerti itu, kita tak akan mudah bertukar kata. Tapi tawanja, rasa tangannja jang berkerut itu jang suka menepuk punggungku, dan tjintanja kepada sawah jang ia kerdjakan, adalah sesuatu jang tidak asing untukku. Aku mengerti lalu, adalah sama sadja petani itu, bangsa apapun djua dia, djika orang mulai membitjarakan tentang tjintanja terhadap tanah.

"Ia membawaku pulang kerumahnja, dan aku melihat isterinja. Semua ini adalah pengalaman jang paling besar selama dinegeri orang. Isterinja, seorang wanita jang sedikit muda dari engkau, menerima aku dengan kegembiraan dan keramahan, meski aku asing baginja. Dan matanja jang bitjara kepadaku, aku tahu, betapa lembut dan sedjuk mata itu. Adalah untuk pertama kali sedjak aku meninggalkan rumah ini, djauh dinegeri orang, aku merasai seperti dirumah sendiri. Aneh dan asing sekali datangnja perasaan itu. Bagaimana itu bisa terdjadi!

"Mak, Tuhan bitjara kepadaku achirnja! Tidak dengan kata² itu seperti semangat jang menembus hati dengan tiba². Aku tahu, aku merasa, aku jakin itu, bahwa itu benar! Sebab lewat mata isterinja jang begitu sedjuk, keramahannja jang tulus, aku seperti bisa melihat engkau kembali. Kerinduanku jang tidak tertahan-tahan seperti mendapatkan obat djua. Tuhan berbitjara kepadaku achirnja.

"Lalu seperti orang gila jang tidak begitu menjadari apa jang dia kerdjakan, kunikah anaknja, seorang gadis semuda Sumi. Itu terdjadi, tidak sebulan sesudah perkenalan kami!"

Tamin berhenti, matanja hitam djauh membasah air, jang ditjobanja menahan dengan menelan ludah, ibunja diam tidak menjahut, ia sudah tak mengunjah sirih lagi.

"Dua bulan sesudah itu aku pergi djauh keperbatasan utara. Dan sesudah itu tak banjak jang bisa ditjeritakan. Sembilan bulan kemudian, ia melahirkan anak. Anak laki², anakku. Betapa gembira hati untuk djadi seorang ajah! Aku punja anak!

"Tapi, tidaklah seperti kehendak Tuhan djika itu harus berlaku. Aku tak pernah dapat memandangi wadjah anak sendiri dan djuga tak dapat memberi pelukan terachir kepada isteriku. Mereka meninggal dirumah bersalin!"

Tamin berhenti lagi. Air mata jang menggantung sadja telah djatuh memandjang dipipinja. Sedang ibunja duduk tidak bergerak, hatinja tenggelam dalam tjerita anaknja. Ia telah punja tjutju djadinja. Itu pengalaman pertama jang diharap-harapkan, impian setiap orang tua, jang telah punja anak dewasa. Hatinja membajangkan, bagaimana sekiranja tjerita itu berachir lain. Dan Tamin bisa membawa anaknja pulang. Betapa kiranja wadjah menantu jang tak pernah dikenalnja. Dan sebelum bajangan perempuan tua itu bertambah pandjang, suara Tamin terdengar lagi.

"Ketika aku pulang, ajahnja menjerahkan kalung jang pernah kubelikan untuknja. Ia berkata, itu adalah hakku untuk menerima kembali dan memesan supaja aku dapat menjimpannja sebagai kenangan!" Tamin berhenti sebentar, memandang wadjah ibunja, lalu berkata lagi : "Tjuma itu, mak! Kisah itu telah berachir dan mak tahu landjutannja!"

Ia lalu berdiri pelan dan melangkah menudju djendela bambu.

"Dan kalung itu pula jang engkau pergunakan untuk menebus sawah?" kata ibunja dari belakang.

"Ja, mak!" sahut Tamin tidak menoleh.

"Engkau telah melanggar djandji dengan begitu!"

Tamin membalikkan badannja jang besar itu menghadap ibunja.

"Mak ingat, ketika malam aku membuka kalung itu pertama kali dihadapanmu? Beberapa saat sebelum itu aku berdiri menggenggamnja dihadapan djendela ini. Malam itu gelap dan hudjan turun seperti tak mau berhenti. Berat sekali untuk mengambil keputusan pada saat itu. Tapi achirnja aku tahu, kalung itu kini telah satu dengan sawah kita!"

Ja, kalung itu telah satu dengan sawah. Adalah benar jang dikatakan anaknja.

Dalam rumah itu telah bertambah gelap. Suara Sumi dari djauh telah kedengaran, memasuki rumah dari belakang dan menjalakan lampu templek. Sendja telah lama turun. Ajah Tamin belum djua datang.

"Apakah engkau tjukup kuat untuk melupakan jang telah terdjadi, Tamin!" kata ibunja.

Ia tersenjum. "Telah lama aku beladjar melupakan itu, dan aku akan tjukup kuat untuk itu, pertjajalah! Jang telah berlalu tak akan kembali! Kini aku tjuma mempunjai hari" jang akan datang. Aku punja engkau, punja Sumi, punja Bapak, dan sawah kami telah menghidjau setinggi lutut. Apa lagi jang aku harapkan?"

Ibunjalah lalu jang tersenjum. "Ja, aku pertjaja itu. Semoga hatimu sekukuh tubuhmu djuga. Lantaran tidaklah salah, nak! Ia anak jang terbaik didesa ini. Aku tahu sedjak ketjillnja seperti aku menunggui anak sendiri!"

Tamin terkedjut tidak mengerti, mendekat kepada ibunja, lalu berkata dengan pelan dan pandjang: "Apa jang engkau maksudkan?"

Dan lebih pelan lagi dengan muka jang didjulurkan mendekat, ibunja menjahut: "Adalah suatu rahmat, Tamin, untuk melihat engkau bertemu dan berdiri terpaku dikelok djalan itu. Aku berdiri dipodjok kebun dan hatiku berteriak kegirangan. Lantaran dengan djelas aku melihat bagaimana ia berdiri dan menundukkan mukanja lalu, bagaimana mukanja jang djadi merah! Djika datang waktunja engkau harus memilih, semoga Tuhan memberikan petundjuknja!"

Oh, ibunja mengetahui itu djadinja. Ia berdiri menghadap ibunja dalam keraguan, matanja bergerakan seperti hendak-lari, dan mukanja seperti merasa dialiri darah sampai kebatas kulit. Ada sesuatu jang ia tak dapat menjembunjikan dihadapan ibunja.

Dan perempuan tua itu mengetahui dengan djelas kini, seperti djuga ia mengetahui dahulu ketika masih gadis, bagaimana muda ia dahulu. Perasaan jang telah lama terpendam oleh pengalaman hidup bertahun-tahun, jang telah hilang seperti tak lagi ada bekasnja, muntjul mendadak sadja dengan djelasnja. Dalam diri anaknja, ia seperti melihat suaminja sendiri dalam pertemuan mereka pertama kali. Itu terdjadi dalam waktu jang telah djauh silam, djauh sebelum Tamin dilahirkan, tapi kini, alangkah djelasnja itu terbajang kembali dalam diri anaknja.

"Ja, Tamin. Doaku didengarkan Tuhan. Mimpiku terlaksana, dan kebahagiaanmu akan mengaliri hatiku djuga. Aku gembira kini. Aku tak pernah merasakan ini sebelumnja."

Bagian 6

PENDAPA KELURAHAN TELAH RAMAI. ORANG telah banjak jang datang. Mereka duduk bersila merupakan lingkaran diatas tikar seperti hendak kenduri. Lampu petromax 200 lilin digantung ditengah-tengah dengan terang sekali.

Malam itu adalah pertama kali Tamin menampakkan diri diantara orang ramai sedjak kembali kedesanja. Ia merasa gembira dapat ikut berkumpul, tidak lagi sebagai kanak-kanak seperti dahulu, ia dianggap dewasa sekarang dan djika datang waktunja, suaranja akan didengar. Ia akan ikut menanggung kekurangan desa bersama-sama dengan orang² tua, memikul tanggung djawab madju dan mundurnja desa. Tak lama lagi ia akan menggantikan ajahnja.

Tidak seperti lajaknja sekelompok manusia jang mengadakan pertemuan, orang tidak mempunjai ketua rapat, tidak ada palu jang akan dipukulkan sebagai tanda pembukaan, tidak ada atjara jang disusun sebagaimana mestinja, djuga tak ada waktu jang menentukan pembukaan. Djika sadja pak Lurah Kabul merasa jang hadlir telah tjukup, ia mulai berkata tentang maksud pertemuan malam itu. Lalu datanglah usul² jang bertaburan dari segenap podjok. Dan anehnja keputusan dalam pertemuan sematjam itu gampang diambil dan selalu mendapat persetudjuan bulat. Mereka jang berhalangan datang akan setudju sadja pada semua keputusan dari pertemuan sematjam itu.

Keputusan malam itu pendek dan djelas, diutjapkan oleh pak Bandji disamping pak Lurah Kabul. Desa hendak memperbaiki makam Pardan dan Gamik sebagai penghargaan atas djasa² mereka. Pak Lurah jang hendak menjediakan semen dan kapur, Pak Djais, penduduk jang paling kaja diwadjibkan menjediakan makanan kelak untuk pekerdjanja, sedang setiap rumah diharuskan membajar uang satu rupiah untuk membeli batu merah. Tenaga mengerdjakan akan dilakukan oleh anak² muda dibawah pengawasan pak Bandji jang dianggap paling tahu tentang pekerdjaan tukang batu. Djika datang waktunja mengerdjakan ternjata ada kekurangan, maka itu akan dipikulkan kepada pak Lurah dan pak Djais, jang menerima keputusan itu dengan hati berat. Tapi pak Djais jang kikir setudju djua, takut djika hendak diasingkan oleh penduduk seluruh desa. Sesudah pertemuan dianggap selesai tidak banjak jang terus pulang. Mereka lalu meneruskan dengan atjara sendiri untuk menghabiskan malam, sebab pada masa² seperti itu mereka tak akan banjak mempunjai pekerdjaan.

Tjerita kematian Gamik mendjadi atjara jang paling menarik, sekalipun itu telah berulang kali didengar. Mereka ingat, pada bulan jang paling kaja hudjan, bulan Djanuari seperti malam itu, ketika tentera Belanda datang memasuki desanja. Mereka seluruhnja tahu itu, tapi tidaklah seperti ditjeritakan, ia djadi bertambah menarik. Pertempuran ketjill jang terdjadi didesa itu, ketika Gamik dan keenam temannja melakukan perlawanan, seperti satu pertempuran besar dan sedjarahnja akan mendjadi milik desa jang tak bakal mereka lupakan, sebagai pusaka, tjerita itu akan turun-temurun sampai keanak tjutju. Dan itu baru buat Tamin. Ia tak pernah mendengarkan itu sebelumnja. Ia duduk diantara mereka, mendengarkan dengan penuh minat.

Lalu ada jang menjelingi tjerita itu, bagaimana ia sendiri memasang randjau sepandjang djalan dipinggir kali Brantas, bagaimana terlibat dalam pertempuran dengan tentera Belanda, bagaimana ia kemudian mendapat luka pada kakinja jang pintjang kini. Orang itu lalu membuka bungkusan dari slepinja, potong-potongan tulang jang telah putih seperti kertas dipertontonkan. Tentu itu adalah tulang kakinja jang telah diambil dalam operasi. Tjerita itu diutjapkan dengan bangga tentu, sebagai bukti, bahwa ia tidak diam sadja diwaktu gerilja.

Lalu jang lain mentjeritakan pengalamannja ketika ditawan, betapa siksaan jang diderita selama itu. Maka kisah demi kisah muntjul, orang berganti-ganti mentjeritakan pengalaman² jang membanggakan.

"Nah, Tamin! Kau berdjalan djauh. Apa jang engkau ketahui, apa jang engkau alami? Kita belum pernah mendengar itu!"

Tamin telah lupa siapa jang mengutjapkan kata itu tapi suara itu terdengar terang sekali seperti pisau tadjam dingin melintasi hatinja. Dan ia tahu, semua wadjah bergerak kearahnja. Apa jang hendak ia tjeritakan? Ia tak punja tjerita seperti mereka. Ia seorang serdadu tentu, tapi tidak seperti mereka ia bertempur melawan serdadu Inggris dan Gurkha djauh dari tanah air. Dan ia tahu, bukan itu jang mereka harapkan. Barulah ia mengerti sekarang perobahan desa selama ia pergi, bagaimana ibunja jang tua itu menjeritakan kematian Gamik dengan kebanggaan sebesar itu.

Haruskah ia berkata dihadapan mereka, bahwa dalam djaman pemberontakan ia bertempur disamping Belanda untuk menindas pengatjau, mengedjar tentara perampok dan sisa² kekuatan Djepang jang tidak mau menjerah kepada Sekutu? Ia telah diadjar sedjak di Singapura, bahwa daerahnja tidak aman, bahwa Djepang di Djawa menjerahkan persendjataannja kepada kaum pendjahat. Dan bagaimana djuga rindunja terhadap kampung halaman, ia tak hendak pulang dan hidup diantara mereka. Ia mengetahui betapa kesengsaraan jang ditimbulkan oleh Djepang dinegeri Birma, kesengsaraan romusja dan kemiskinan penduduk pada waktu itu, dan kebentjian telah mulai bersemi sedjak disana.. Itulah sebabnja ia sedia memasuki tentara Belanda untuk membersihkan sisa² Djepang dinegeri sendiri dan hendak pulang djika telah aman untuk melandjutkan mengerdjakan tanahnja. Dan kini ia tahu, bahwa perampok dan pengatjau jang ia kedjar² adalah orang² seperti penduduk desanja, pemuda² seperti Gamik dan Pardan teman sepermainan sendiri sedjak ketjill. Sekiranja sadja ia tahu, ia akan sedia bertempur mempertahankan desanja, ia sedia untuk mati lantaran itu. Ia tak pernah mengerti itu. Tidak, ia tak hendak bertjerita itu kepada mereka. Mereka tak pernah akan mengerti!

"Mengapa Tamin! Mengapa engkau tak hendak bertjerita untuk kita?"

"Kita ingin tahu!" Lalu ia mendengar suara lain dalam pengutjapan jang lain pula, "Mulailah kawan! Malukah kau terhadap kami?"

Kata "malu" menusuk hatinja seperti panah berbisa jang tadjam sekali. Mulaikah mereka menaruh prasangka terhadap dirinja? Seperti terdakwa menghadapi tuduhan djaksa, ia duduk tidak bergerak, matanja tunduk kebawah mengawasi tikar. Tidak seperti dipengadilan, disini tak ada seorang pembela jang bisa bitjara atas namanja. Ia harus berkata terhadap mereka seorang diri. Achirnja ia menemukan satu djalan dan itu satu-satunja tjuma. Ia mengangkat muka dan melihat semua mata masih mengarah kepadanja dengan tak sabar. Ia tak hendak mentjeritakan hal jang sebenarnja, mereka tak akan pertjaja, mereka tak akan mengerti.

"Saja, meninggalkan Birma bersama dengan rombongan Heiho jang paling achir. Kapal jang saja tumpangi hanja berlabuh di Tandjung Priuk. Itu sebabnja saja hanja dapat menggabungkan diri dengan beberapa bekas Heiho kedalam Laskar Rakjat, dan bersumpah bersama tak hendak pulang kekampung kembali sebelum perdjoangan berachir!"

Itu terlalu pendek untuk sebuah tjerita, dan telinganja sendiri mendengar suaranja seperti setengah sumbang. Lalu terdengar suara tawa dari podjok. Ia tjuma mengangkat mukanja setengah tegak, dan ia tak tahu siapa jang telah tertawa itu, tapi bagaimana lagak tawa itu keluar, suaranja jang begitu tjemengkling tadjam, hatinja tak akan tahan mendengar suara sematjam itu.

"Itu terlalu pendek, tjeritakan sampai kebagiannja jang ketjill, Tamin! Kata orang daerah Djawa Barat banjak gunungnja jang menguntungkan kaum gerilja!" Oh, suara itu, seperti djuga suara djaksaa jang ingin tahu terlalu banjak tentang dirinja, dan mentjoba mengeluarkan tanja pantjingan!

Lalu dengan suara terputus-putus, kata demi kata mentjara-tjari, ia mentjeritakan tentang pertempuran digunung-gunung Putri dan gunung Tjupu dipinggir Tasik. Dan djika tjerita itu berachir dadanja terasa kosong.

Semua itu tipuan tentunja, buah chajalan jang dipaksakan. Apa jang dapat ia perbuat? Itu jang mereka minta dan ia telah memberikannja. Tidak peduli apakah mereka bisa pertjaja itu atau tidak. Lalu ia bisa bernapas lega. Jang lain menjambung dengan tjerita baru, tjerita pengembaraan selama repolusi dari satu front kelain front. Ramai sekali pertemuan pada malam itu.

Ketika beberapa orang telah berdiri hendak pulang Tamin merasa gembira, seperti seorang tahanan jang keluar dari pemeriksaan pertama. Ia ikut berdiri dan dapat meninggalkan pendapa kelurahan dengan napas jang lega.

Angin malam berhembus sedjuk, langit bersih sekali, bintang berkedip-kedip bertaburan meratainja. Bulan tak tampak, telah tenggelam dibalik gunung Wilis meski malam baru mendjelang djam 10.

Dari djalan depan pendapa, Tamin turun pematang, mengambil djalan jang paling pendek melewati sawah menudju rumahnja. Ia sendiri sekarang. Tak lagi ada mata jang begitu tadjam mengawasinja, tak ada lagi tawa jang begitu menusuk telinga. Sepandjang djalan ia mentjoba mengingat-ingat apa jang telah ditjeritakan dalam pendapa. Sebab tidak seperti mentjeritakan sebuah kebohongan, ia harus hapal itu seluruhnja. Mengulang dan mengulang lagi seperti anak menghapalkan peladjaran sedjarah. Satu hari akan ada pertemuan lagi seperti itu, dan orang jang belum pernah mendengar akan bertanja kepadanja, tentang pengalamannja dan ia harus dapat mengulangi lagi presis seperti pernah ditjeritakan. Chajal itu harus mendjadi milik sendiri seperti ia pernah mengalaminja dengan sungguh².

Alangkah beratnja untuk menipu. Ia tak pernah berbuat sematjam itu sebelumnja.

Lalu ia ingat orang jang menjambung tjeritanja. Orang itu berkata ia telah banjak mengundjungi medan pertempuran, dan bahwa iapun pernah berada difront Djawa Barat itu. Adalah orang baru bagi Tamin jang bertjerita, orang jang tidak pernah dikenalnja. Ia tahu beberapa dari mereka seperti itu dipendapa, orang pendatang dari lain kampung jang menetap didesanja lantaran perkawinan dan pemindahan. Ada djadinja diantara mereka jang ikut bertempur sedjauh itu. Ia tak pernah mengira. Apa jang ia katakan? Orang itu pernah mengundjungi front Djawa Barat. Mungkin ia pernah mendjeladjahi daerah Tasik, Garut, pernah mengalami pertempuran disepandjang djalan jang berliku-liku dan penuh djurang itu. Tahukah dia, bahwa apa jang ditjeritakan tidaklah benar? Dan mungkinkah orang itu pernah melihat dia berpakaian serdadu bertempur disamping Belanda?

Tamin mendadak berhenti ditengah sawah, sebab dengan mendadak djua ia teringat kembali tawa dipendapa jang begitu tjemengkling didalam telinga. Siapa gerangan jang tertawa demikian itu? Oh, ia pertjaja ada seseorang jang tidak pertjaja, seseorang jang mengetahui, bahwa segala jang ditjeritakan tidaklah benar. Orang itu tidak membantah tentu, tapi sesudah itu, ia akan bertjerita dengan diam² terhadap temannja. Siapa jang bertjerita tentang pertempuran didaerah gunung² Tjupu itu? Tamin namanja? Itu tidak benar. Ia tidak pernah ikut berdjoang, orang itu malahan bekas kaki tangan Belanda jang mengedjar laskar rakjat dan TNI didaerah Pasundan. Ia penipu! Ia bekas pengchianat!

Rasa dingin jang aneh mendjalari seluruh tulang belakangnja, dan keringat membasahi dahi dalam malam jang dingin seperti itu. Pengchianat! Ia tahu apa artinja kata itu. Alangkah bodohnja ia telah berdusta sematjam itu. Akan lebih baik djika sadja, ia berani mentjeritakan kepada orang² sedesanja tentang pengalamannja, betapa ia tertipu, betapa ia tidak mengerti semuanja. Orang Belanda itu lebih pintar dari dia. Ia tidak mengerti, alangkah bodohnja ia dahulu. Tapi semua itu telah terlambat kini, ia tak akan bisa mentjeritakan hal jang sesungguhnja kepada orang sedesanja. Mereka tak akan mengerti. Mereka jang pernah menghalang-halangi perdjoangan adalah pengchianat, bagaimanapun djuga isi hatinja.

Ia masih tetap berdiri ditengah sawah itu, memandangi bintang seperti mendoa dan hatinja mendjerit-djerit. Tuhan, djika sadja ada jang mengetahui tentang dustanja, djangan izinkan dia untuk membitjarakan itu. Tapi, bagaimana orang bisa menahan mulutnja djika sekali ia telah mengetahuinja? Orang akan bitjara, sebab menahan mulut adalah pekerdjaan jang paling berat buat manusia, djauh lebih berat daripada membongkar sebuah gunung. Mereka akan bitjara, dari mulut kemulut dan achirnja seluruh kampung mengetahui tentang itu.

Sampai dirumah, ia hanja menghabiskan setengah hidangan, jang disediakan Sumi diatas medja, tanpa kata, tidak seperti biasanja. Lalu matanja djauh memandang kedepan. Ia terkedjut ketika mendengar suara ajahnja menanjakan tentang hasil pertemuan itu, dan ia mendjawab dengan setengah hati. Lalu ia merebahkan dirinja diatas balai², matanja lurus kelangit-langit hatinja djauh kemana-mana.

"Engkau kelihatan tjapai benar, kang Tamin!" kata Sumi. "Bukankah djustru sekarang ini kita tak begitu banjak kerdja?"

Tamin menoleh mentjoba tersenjum, memandang adiknja jang mendekatinja menggelar tikar disamping balai² dan duduk diatasnja.

"Aku tidak tjapai, Sumi!" sahutnja. "Tjuma ada sesuatu jang mendadak sadja memasuki kepalaku, sesuatu jang aku tidak mengerti!"

"Apa itu kang Tamin!"

"Bagaimana aku mentjeritakan itu djika aku sendiri tidak mengerti. Itu tak ada gunanja, Sum! Engkaupun tak akan mengerti pula!"

Gadis itu lebih mendekat lalu berkata setengah berbisik, "kang! Mengapa engkau sediam itu? Pandangmu mendjadikan aku takut!"

Tamin mentjoba tersenjum lagi. "Engkau takut? Takut kepadaku? Alangkah gilanja!" Tangannja jang besar dan kasar itu lalu menepuk pundak adiknja. "Djangan, djangan punja pikiran sematjam itu. Tak ada apa² pada diriku!"

"Aku tjuma ingin melihat engkau segembira kemarin! Mengapa engkau tidak lagi menembang? Orang² pada rindu sudah akan suaramu!"

"Menembang?"

"Ja! Telah terlalu banjak malam² lalu dengan kesunjian. Lagu Asmaradana, kang Tamin. Seperti dahulu."

"Aku sudah djemu suaraku sendiri, Sumi. Djemu, aku djemu sudah!"

"Mengapa djemu? Tjeritakan sadja tentang orang² djauh diseberang lautan, kang Tamin."

Tamin mengerutkan keningnja, pandangnja kembali kelangit-langit. Diam sedjenak dan Sumi mendesak lagi:

"Aku senang mendengar tjerita mereka. Engkau masih punja tjerita jang lain tentu, kang. Jang belum pernah engkau tjeritakan!"

Tamin menarik napas pandjang sebelum menjahut. "Orang djauh? Aku dulu pernah mendengar mereka bernjanyi dan berpantun, tapi aku tidak mengerti, djuga engkau tak akan mengerti. Dan djika aku sendiri menembang lantaran rinduku pada rumah ini dan engkau, djuga mereka tak pernah mengerti akan njanjiku!"

"Engkau tadi minta aku menembang, Sum? Kalau aku mengatakan djemu, itulah sebabnja. Aku ingin dapat menembang lagu jang baru, dimana bukan hanja aku, engkau, dan orang² didesa ini sadja jang mengerti, tapi djuga orang² djauh diseberang lautan sana harus mengerti. Tembang itu haruslah tembang jang baru, jang dapat merobek-robek batas antara manusia jang satu dengan jang lain. Ia harus mampu djadi duta semua hati jang terdjepit, dan ia harus dapat melenjapkan pengertian sempit jang pernah menimbulkan perang. Aku ingin dapat menembang sematjam itu dan melagukan dihadapanmu malam ini!"

"Mengapa engkau tidak menembang sematjam itu, kang Tamin? Tembang itu tentu akan lebih baik dari jang sudah."

"Tembang sematjam itu belum ada, Sum. Ia harus dahulu ditjiptakan oleh manusia jang baru!"

"Kapan engkau dapat mentjiptakan itu?"

"Sum! Kau tak tahu, kau tak tahu ...................."

Tamin bangun dari pembaringannja, turun dipan dan adiknja menjahut.

"Djadi engkau tidak bertjerita dan menembang malam ini?"

Lama baru ia dapat mendjawab. "Engkau tahu, Sum? Aku lupa membuka djalanan air! Aku hendak kesawah sekarang!"

Itu satu dusta lagi tentunja. Alangkah anehnja djika orang sekali telah berdusta, dusta lain akan dibuatnja untuk menutup jang terdahulu. Apa jang diharapkan satu-satunja pada malam itu adalah: sendiri. Ia diantar adiknja sampai keambang pintu dan berdjalan dalam kegelapan memanggul patjul menudju sawahnja. Seperti orang gila, Tamin memutari sawahnja, mendjalani pematang² dan memeriksa tanaman katjang pandjang jang telah mulai berbuah. Achirnja ia menaiki gubuk dan merebahkan dirinja, matanja dipedjamkan dan dingin malam itu tidak terasa.

Langit masih sadja bersih waktu itu. Tidak setapak awan jang tampak. Angin bertambah dingin. Barulah ketika udara basah meniup kentjang menjapu seluruh tubuhnja, Tamin terbangun. Puntjak gunung Kelud telah tersaput merah, terang sekali. Tapi mendung jang berarak diatas kepala dari lereng gunung Wilis makin menebal djuga. Itu adalah hudjan pertama, sesudah dua minggu lamanja orang mengharap-harapkan turunnja. Kokok ajam jang pertama kali menjambut turunnja gerimis jang sebentar terang lagi, seperti ragu² menandai hudjan pagi itu.

Tamin turun dari gubuk, melangkah pandjang menudju rumahnja. Hudjan baru turun melebat ketika ia telah memasuki dapur dari belakang. Namun demikian, gerimis tjukup dapat membasahkan pakaian njja. Sumi telah menjalakan api didapur, ajahnja menunggui diatas ambin, duduk bersandar tiang sambil berselimut sarung.

"Engkau tidak dirumah malam ini, Tamin?" tanjanja.

"Ja, ajah! Saja tidur digubuk. Ada rasa seperti orang hendak mengganggu djalannja air!"

Itupun satu dusta lagi, dan kini terhadap ajahnja. Apakah djadinja ini djika ia hendak berdusta dan berdusta.

Ia melangkah kedalam, membuka badjunja jang basah, menukar dengan jang kering, lalu merebahkan dirinja diatas balai².

Ketika ia membuka matanja, matahari telah tinggi. Tak seorangpun dalam rumah itu jang berani mengganggu tidurnja pagi itu. Ibunja datang dari dapur membawa setjangkir kopi ditaruhkan diatas medja.

"Engkau terlalu tjapai, Tamin," katanja ketika ia melihat Tamin telah membuka mata. Tamin tidak mendjawab, ia mentjoba bangun, tapi kepalanja terasa seperti djauh lebih berat dari seluruh tubuhnja. Ibunja mendekat terkedjut melihat wadjah anaknja jang merah itu. Tangannja diletakkan kedahi.

"Engkau sakit, Tamin," katanja ketjemasan. Tapi perempuan tua itu tidak mengerti, bahwa batin anaknja telah sakit pula. Ia pergi kedapur menjalakan api untuk membuat air djahe.

Adalah benar kata ibunja, ia sakit. Sekudjur tubuhnja bertambah terasa adanja demam jang menelusuri seluruh tubuhnja, urat-uratnja seperti tertarik-tarik dan tulang² seperti dipisahkan oleh rasa ngilu. Udara malam jang basah terlalu banjak memenuhi rongga dadanja.

Tiga hari lamanja ia tak dapat pergi kesawah, dan ketika ia pertama kali mentjoba berdjalan dalam kebunnja, orang banjak telah memulai mengerdjakan perbaikan makam Gamik dan Pardan.

Itu adalah jang ia takutkan selama ini. Alhamdulillah, ia telah didjadikan sakit, Tuhan telah menolong dia karenanja. Sebab bagaimana ia akan bisa ikut beramai-ramai bekerdja, bagaimana ia dapat menghadapi mereka. Ia telah berdusta terhadap mereka, tinggal waktu sadja jang akan menentukan, bahwa mereka akan mengerti itu. Ia sakit, ia punja alasan jang baik untuk tidak menampakkan diri. Tidak, ia tak dapat berbuat itu. Ia akan mendengar tawa, seperti malam dipendapa dahulu, ia akan merasai seluruh mata jang ditudjukan kepadanja. Ia tak akan dapat menanggung itu. Ia bersukur, Tuhan mengetahui gelora hatinja.

Tapi, djika pekerdjaan gotong-rojong itu telah selesai seluruhnja dan orang telah siap² untuk melakukan pembukaan dengan upatjara resmi, Tamin telah sembuh, meskipun keputjatan masih membajang dengan njata pada wadjhahnja, dan matanja jang masih mendalam djauh itu masih membekas. Hari upatjara pembukaan itu didjatuhkan tepat pada hari peringatan gugurnja Gamik.

Hari itu desa djadi ramai sekali. Seluruh penduduk menganggapnja sebagai hari perajaan resmi. Orang banjak berkumpul, laki perempuan tua dan muda, disepatut pusara jang ditandai dengan sebuah papan ketjil dengan tulisan: Taman pahlawan. Tembok batu setinggi lutut didirikan sebagai pagar dan dua buah pusara itu dibatu dengan sederhana. Halaman jang mengelilinginja ditumbuhi rumput hidjau jang diatur bersih. Pak Bandji membuka upatjara dengan utjapan pendek, kata terima kasih kepada jang datang menghadliri, lalu disusul pengheningan tjipta jang berlangsung dengan chidmat sekali. Beberapa gadis kampung madju kedepan, meletakkan karangan bunga pada setiap pusara, lalu doa jang agak pandjang dibatja oleh pak Bandji, dengan mengangkat tangan keatas dan seluruh jang hadlir ikut mengaminkan pada setiap titik pembatjaan itu.

Sesudah itu hadlirin diminta djangan meninggalkan tempatnja terlebih dahulu, sebab pemerintah mengirimkan wakilnja dari kota jang hendak menjampaikan amanat. Maka muntjullah seorang jang berbadan tegap berkulit bersih, memakai katjamata, berkumis dan berpakaian serba putih, kedepan. Tamin, jang setengah menjembunjikan dirinja, diantara orang² tua jang tidak banjak tjakap, memandang orang jang hendak menjampaikan amanat itu agak heran. Wadjah itu, kumis dan mata jang tertutup oleh katjamata, serta kulit jang sebersih itu, ia seperti tak merasa asing, seperti sekali pernah ia melihatnja. Ia mentjoba mengingat-ingat kapan dan dimana ia pernah bertemu dengan orang itu, tapi ia telah tak tahu dengan pasti.

Lalu orang itu mulai membuka amanatnja, pelan mulanja dengan suaranja jang terang dan bersih, kemudian suara itu djadi bertambah bernafsu dan bersemangat, dan kedua tangannja ikut bergerak-gerak, kadang diangkat keatas, kadang semua djari-djarinjia dikepalkan untuk lebih memberi tekanan suaranja dan menghidupkan isi dari amanatnja. Ia memudji desa itu karena djasanja selama repolusi, pengorbanannja jang begitu banjak, lalu satu persatu disebutnja djasa² itu, dari pengorbanan djiwa Gamik sampai kepada perginja banjak pemuda kemedan pertempuran, bantuan desa itu terhadap tentara jang banjak bersembunji dikaki gunung Wilis waktu itu. Dan Tamin mendengarkan itu dengan ketakutan, jang asing sekali terasa dalam kalbunja. Sebab ia djadi bertambah banjak tahu sekarang, bahwa seluruh desanja bergerak melawan tentara Belanda dengan segala djalan pada djaman itu. Orang itu menjebutkan, bahwa desanja sebagai desa pertama jang paling tebal djiwa patriotnja, dan bahwa pemerintah tak hendak melupakan itu dan akan datang waktunja, bantuan untuk desa jang tengah dalam rentjana. Ia menutup pidato itu dengan pekik merdeka jang disambut oleh hadlirin dengan gegap gempita.

Tamin tetap berdiri disana, kini djika ia telah mendengar suara itu, lagak pengutjapannja, tangan jang sering digerak-gerakkan dan kepalan jang sering diatjung-atjungkan ditengah-tengah pembitjaraannja, ia djadi ingat dengan pasti, siapa orang jang mendjadi wakil pemerintah daerah jang datang dari kota itu. Ia pasti, ia mengenal suara itu. Ia pernah mendengar itu sebelumnja beberapa tahun jang telah lalu. Kata demi kata, ia seperti ingat kembali kini, bahwa orang itu djuga dahulu jang pernah datang kedesa, jang berbitjara tentang Dai Toa, tentang semangat, tentang Asia Timur Raja, tentang kebaktian jang diminta oleh Nippon untuk menjelesaikan peperangan. Ia ingat, orang itu djuga dahulu jang menepuk-nepuk punggungnja ketika ia memasuki Heiho. Ja, kini ia ingat seluruhnja.

Sepandjang djalan ketika ia meninggalkan "taman pahlawan", kepalanja terisi penuh oleh tanja jang tidak berdjawab. Bukankah dia orangnja jang mengirim dirinja sebagai Heiho djauh keseberang laut, dan kini djika peperangan berachir lain, ia tak hendak ingat itu sedikit djua. Alangkah gampangnja untuk bitjara seperti itu, untuk berkata tanpa hati sepotong djua.

Ia merasa, betapa sendiri dan sunjinja hati. Seluruh desa telah berobah, dan ia tak punja tempat untuk menaruhkan hati ketjuali dirumah sendiri. Ia tak berani menemui orang² lagi, dan djika ada pertemuan seperti itu lagi, ia takkan dapat menjembunjikan mukanja. Sekalipun kepada seorang tua seperti pak Bandji, bagaimana ia bisa bertemu lagi, bisa bitjara sebebas dan bergurau seperti sebelumnja. Tawa orang tua itu akan lain terdengar. Tidak, ia takkan bisa berhadapan, sekalipun dengan orang seramah dia. Ia tak punja tempat lagi ketjuali dirumah sendiri. Dengan sekedjap sadja seluruh desa djadi asing baginja.

Datang dirumah, ibunja menanjakan tentang upatjara itu, dan dengan kata jang ditjari-tjari, seperti sukar sekali ia hendak mentjeritakannja.

"Aku tak bisa berdiri dibawah terik diantara orang sebanjak itu," kata ibunja, "tapi hatiku bersama-sama dengan mereka!"

Perkataan itu dikeluarkan seperti permintaan maaf, seperti ketidak hadlirannja merupakan suatu dosa.

"Aku ingat, setahun tepat sampai kini Tamin, ketika Belanda itu datang memasuki desa. Suara bedil seperti hendak menghabiskan penduduk desa seluruhnja. Oh, alangkah aibnja untuk dikenangkan sekarang, bahwa semua itu tjuma lantaran seorang Gamik, anak kerdil jang membawa sendjata, jang djauh lebih besar dari tubuhnja sendiri. Ia gugur disana, dipodjok sawah pak Bandji. Engkau sering mengalami pertempuran sematjam itu, Tamin. Alhamdulillah, Tuhan melindungi engkau!"

Itu adalah suara ibunja jang begitu halus dan mesra terdengar dahulu, tapi tidak sekarang. Bagaimana dia dapat mendengarkan itu, pudjian sematjam itu? Tuhan melindunginja, dan apakah baiknja itu untuknja sekarang? Ia akan lebih memilih tubuhnja djadi bangkai djauh dirantau, ia lebih suka tulangnja berserakan ditengah-tengah hutan dinegeri Birma, daripada merasai sisa hidup terasing seperti kini.

Lalu datanglah Sumi lewat kebun belakang, memasuki rumah dan dengan suaranja jang ramai itu, ia mentjeritakan semua jang dialaminja sepagi itu. Ia mentjeritakan betapa tjantik Isah sepagi itu, betapa air matanja jang meleleh selama mengikuti upatjara, dan dengan rasa iri jang disembunjikan ia berkata, betapa mata semua djedjaka kampung mengerling Isah.

"Engkaupun semanis dia, Sum!" menjela ibunja dan ia tersenjum.

"Mereka menanjakan kebaja dan kain jang aku pakai ini!" kata Sumi, "dan aku beri tahu kepada mereka, bahwa ini adalah pemberian kakakku, bahwa dialah jang memilih warna dan tjitanja. Seluruh mata perawan itu lalu memandang aku tidak pertjaja. Tamin? kata seorang, kakakmu jang suka menembang malam² dahulu? Sudah lama aku tidak mendengar suaranja lagi. Mintakan dia menembang malam ini, engkau mau Sum? Dan Isah jang berdiri tak djauh dari kami, menoleh dengan pandang seperti kami membitjarakan tentang dirinja!"

Ia tertawa, gadis itu penuh hidup dan kegirangan pada pagi itu penuh kebanggaan tentang diri kakaknja, jang begitu banjak menarik perhatian seluruh gadis didesanja.

Tamin duduk diambin tidak berkata. Ia mendengar semua tjerita adiknja, dan ketika Sumi berhenti, ia tidak mengerti sepatah djua. Ia berdiri, mengambil patjul dibelakang dan pergi menudju sawahnja. Ia tak ingin mendengar suara adiknja. Untuk pertama kali ia merasa, bahwa djuga dalam rumahnja sendiri ia tak dapat menjembunjikan hatinja.

Bagian 7

PETANG HARINJA MENDJELANG BEDUK MAGRIB, hudjan turun rintik². Mendung tipis diatas jang merata seperti enggan hendak djatuh. Pelan² mendjadi gelap, petang itu matahari turun tanpa diantar kitjau burung jang bersenda menudju sarangnja. Dimana-mana sunji, dikebun, djuga didalam rumah. Sumi sibuk membelah kaju didapur, ajah Tamin membolak-balik buku riwajat kuno jang bertulisan hurup Djawa jang tebal itu, ibunja tengah mendjahit badju kain jang robek diambin belakang. Tidak seorangpun jang ingin mengganggu kesunjian sendja petang itu. Tamin merebahkan dirinja diatas ambin tengah, kedua tapak tangannja menjangga kepala sebagai pengganti bantal, matanja lurus keatas, terbuka lebar, tapi tidak melihat apapun djua. Hatinja djauh mentjari masa-masanja jang telah pergi. Tjuma kesana ia dapat menemukan djawaban hati; ia tak berani lagi menghadapi hari-harinja jang bakal datang dihadapannja.

Tiba² terdengar suara meneriakkan namanja, suara itu keras datang dari halaman depan. Tamin tersentak, bangun terkedjut dan duduk diatas ambin. Ia tahu benar, suara itu adalah suara pak Bandji. Demi Tuhan, hendak mengapa orang tua itu datang diwaktu sendja dan disaat hudjan merintik tak mau berhenti seperti ini? Rasa takut lalu menguasai seluruh hatinja. Ada jang penting tentu, tapi apa gerangan jang menggerakkan kaki orang tua jang suka ketawa itu untuk menemuinja disaat seperti ini? Lalu seperti ada jang menekan hatinja, satu kepertjajaan jang timbul sadja dengan mendadak lantaran ketakutannja. Ia telah mendengar tentu, ia tahu kebenarannja sekarang. Ia pasti datang hendak berkata kepadanja, Tamin, engkau telah menipu. Tidak benar apa jang engkau tjeritakan dipendapa tempoh hari. Apa hakmu hendak mengabui mata seluruh penduduk dengan tjerita chajal sematjam itu? Engkau menipu kampung, menipu aku, menipu dirimu sendiri. Ia dapat membajangkan betapa marah orang tua itu dihadapannja, lalu ajahnja jang telah tua itu djadi mengerti, ibunja akan menangis karenanja dan menjesali hidup. Tak ada malu jang lebih besar dari pada mendjadi ibu seorang jang dianggap pengchianat seluruh kampung. Tamin berpaling kedjendela bambu. Tak tjukup besar djendela itu, ia hendak lari, lari, ia tak akan bisa menghadapi peristiwa sematjam itu.

Tapi selama itu pak Bandji telah memasuki rumah dari depan, dengan langkahnja jang tegap itu sebentar sadja ia telah menghadapi Tamin. Mukanja tidak merah seperti dibajangkan, dan sebelum berkata orang tua itu tertawa terbahak-bahak, Tamin tidak menjahut. Dengan lagak jang kaku sekali, ia mengulurkan tangannja dan menjilahkan pak Bandji untuk mengambil tempat duduk.

"Aku ingin engkau datang kerumahku, Min! Engkau lupa djandjimu ketika ditengah sawah tempoh hari?" ia tertawa lebar lagi.

"Engkau sudah sehat benar rupanja! Engkau harus ikut djaga malam ini, Min. Aku lupa menjampaikan kepadamu kemarin. Malam ini adalah giliranmu."

Tjuma itu djadinja jang diutjapkan orang tua jang baik itu. Ia tidak mengetahuinja. Tidak, ia akan mengetahui itu, dan itu tjuma tinggal dalam hitungan hari belaka. Rasa berat jang menekan dadanja djadi seperti hilang dengan tiba².

"Ja, pak Bandji. Saja sudah kuat kembali dan sedia melakukan wadjib djaga malam ini!"

Pak Bandji menepuk-nepuk punggung Tamin, tertawa lagi, berbitjara dengan ajah Tamin sebentar, lalu pergi lagi menembusi hudjan dan udara kebun jang telah djadi setengah gelap.

Malamnja mendjelang waktu djaga, ia turun dari rumahnja menudju gardu. Hudjan telah tak ada, namun langit masih tertutup rapat oleh mendung jang telah merata dan tidak mau djatuh² djuga. Djalanan gelap dan basah, dan angin meniup dingin sekali. Empat orang telah berkumpul digardu menanti kedatangannja. Tanpa kata, Tamin mendekati mereka.

Malam itu dua kali mereka memutari desa dengan tabuh tong², membangunkan orang² untuk memeriksa podjok² rumahnja.

Sedikit lewat tengah malam, langit djadi bersih. Hudjan tak djadi turun, dan mendung telah tak ada, tak diketahui kemana arah djatuhnja. Bulan jang tinggal separo wadjahnja muntjul disamping gunung Kelud, tapi tjahajanja tjukup kuat mengusir kegelapan malam, dan pelan² ia meninggi djua. Mereka jang djaga bertjakap berlarat-larat, sedjak dari perkara tembakau sampai kepada perkara politik. Seorang diantaranja mentjeritakan peristiwa pemberontakan Madiun dengan asjik sekali, seperti ia ikut sendiri menjaksikan peristiwa berdarah itu. Itu adalah hal baru bagi Tamin, dan ia mendengarkan dengan diam, tidak menjela sepatah djua. Untuknja lebih baik mendengarkan dari pada membuka mulut. Dan sedikit dari sedikit rasa sepinja terasa hilang. Tapi achirnja mereka kehabisan bahan pertjakapan djua sedang kantuk mulai merangsang. Mendadak sadja seorang diantara mereka berkata:

"Engkau diam sadja selama ini, Tamin! Mengapa engkau tak mau bitjara?"

"Apa jang hendak aku bitjarakan? Aku tak punja apa² jang menarik buat ditjeritakan!"

Orang itu lalu tertawa, seperti dibuat-buat tawa itu kedengarannja.

"Mengapa engkau tertawa, mengapa engkau tidak pertjaja kepadaku?" kata Tamin. Dan mereka bertambah geli mendengar djawaban Tamin, hingga tawa mereka bertambah keras dan pandjang kedengarannja dimalam jang hening itu.

Mendadak sadja darah Tamin naik kemuka seluruhnja, kedua tangannja dikepalkan dan giginja berderakan, beradu seperti rasa dingin datang membekukan daging dan menarik-narik semua uratnja. Ia tak dapat mendengar tawa sematjam itu, jang terdengar tadjam seperti sembilu menusuk-nusuk dadanja. Ia telah siap hendak menghentikan tawa sematjam itu dengan seluruh tenaganja. Sebagai serdadu ia pernah dinamai seorang pegulat dan ia menginsjafi tenaganja tjukup kuat untuk menghadapi keempat orang dihadapannja.

"Djangan, djangan tertawa sematjam itu, aku tak bisa mendengarnja."

"Aku tjuma ingin tjeritamu dipendapa dahulu, Tamin. Engkau tahu aku tak hadir kesana lantaran sakit. Tjeritakan, biar pagi segera datang," menjela seorang, "Apa salahnja djika aku sebagai sahabat meminta itu kepadamu?"

Dan itu adalah benar, orang jang berkata itu tak hadir pada pertemuan dipendapa beberapa hari jang lalu. Ia punja hak untuk bertanja.

Tamin menarik napas pandjang. Sekiranja sadja ia kehilangan kesedaran njia dan menendang orang² dihadapannja, apa akan terdjadi? Itu tjuma akan lebih mempertjepatkan tersebarnja prasangka seluruh kampung tentang dirinja.

"itu tak ada harganja untuk ditjeritakan!" katanja dan suaranja djadi gemetar.

"Mengapa engkau tak hendak mentjeritakan itu? Adakah sesuatu jang engkau hendak menjembunjikan, Tamin!"

"Ja. Ja, aku hendak mentjeritakan itu!" kata Tamin memotong. Ia membenarkan duduknjia, mengusap wadjahnja seperti ada jang hendak dihilangkan daripadanja. Lalu mukanja menengadah kelangit jang telah terang. Apa gerangan jang diharapkan seluruh kampung ini dari padanja? Lalu pelan² ia memulai kisah chajal, tjerita dusta jang pernah ia keluarkan dipendapa kelurahan. Alangkah beratnja untuk mengeluarkannja, kata demi kata, sebertambah menjesakkan dadanja.

"Oh, engkau djuga ikut mempertahankan republik Tamin. Sjukur, bahwa engkau tidak mengikuti Belanda seperti Heiho² jang lain!" Dan semuanja lalu tertawa.

"Djustru Heiho jang lari kepada kami, adalah penembak jang ulung!" menjela salah seorang dari mereka.

Tong² subuh dimesdjid menjebabkan mereka berserentak. Hari telah pagi, angin terasa bertambah dingin dan genta sampi djauh disimpang djalan menandai lahir pagi. Beberapa orang tampak melintasi djalanan menudju pasar.

Tamin mengambil djalan kearah lain meninggalkan teman-temannja djaga dan ketika ia sampai dibelokan djalan ia mendengar tawa mereka. Apa djuga jang mereka tawakan? Telah tiba waktunja kini orang hendak bertanjakan tentang tjerita chajalnjia, pada setiap kesempatan dan setiap waktu dan ia akan mendengarkan tawa seperti itu lagi, berulang-ulang tak ada habisnja. Tidak, ia tak akan dapat menghadapi mereka lagi. Langkahnja dipertjepat seperti dikedjar hantu, dan dalam hatinja ia mendengar gema tawa itu kembali, dan seperti seluruh tangan menundjuk kepadanja, kau pendusta, kau pendusta. Kau pengchianat! Ia menutup telinganja dengan kedua tangannja, tapi suara itu seperti bertambah keras kedengarannja. Dan tak hendak lama lagi waktunja mata seluruh desa akan mengawasi semua gerak-geriknja.

Datang dirumah ia mendapatkan Sumi telah bangun. Gadis itu tengah menimba air diperigi mengisi pantjuran.

"Oh, engkau telah datang, kang Tamin," katanja. Tamin tidak menjahut.

"Pak Makin semalam datang kemari. Ia bertjerita pandjang sekali dihadapan kami!" gadis itu berhenti sebentar, tapi Tamin tetap tidak menjahut.

"Tjerita itu indah sekali, kang. Mengapa engkau tidak mentjeritakan itu kepada kami dahulu?"

"Apa jang engkau maksudkan? Bagaimana aku mentjeritakan itu kepadamu, djika aku sendiri tidak mengetahuinja?" sahut Tamin dengan suara lemah.

"Engkau tahu itu. Lantaran tjerita itu tentang dirimu sendiri, ketika engkau berdjoang dilereng gunung Tjupu di Pasundan! Mengapa engkau tidak pernah mentjeritakan itu kepada kami?"

"Djangan, djangan berkata itu kepadaku, Sumi!" utjapan itu dikeluarkan dengan tadjam dan matanja memandang adiknja dengan liar.

"Mengapa? Adakah sesuatu dibalik tjerita itu, kang?" menjela Sumi.

"Aku bilang djangan bitjara itu, kau dengar aku?" bentaknja.

Mendadak sadja Sumi tertawa. Gadis itu memandang kakaknja dengan djenaka. Djika sadja ia telah berkata, ia tak mudah menutup mulut dan djika ia telah tertawa, maka itu akan beruntun kepandjangan.

"Djangan tawa itu, Sumi, djangan tawa itu." Itu tjuma hatinja jang berteriak-teriak, namun bibirnja terkatup rapat, giginja rapat menekan, dan kedua tangannja gemetar. Matanja liar sedang napasnja tertahan-tahan. Tamin telah tak dapat lagi menguasai dirinja. Ia berdiri disana, dihadapan adiknja, tidak bergerak, tubuhnja bertambah tinggi, dalam dadanja menggelora, seperti gunung Kelud hendak memuntahkan laharnja. Tapi bagi Sumi, pagi masih terlalu gelap untuk dapat menjaksikan wadjah kakaknja dengan djelas. Dan tawanja masih sadja mengumandang memenuhi pagi.

Tiba² sadja tangan Tamin jang besar dan kukuh itu terajun sekerasnja, wadjah gadis itu terputar dan tawanja lenjap mendadak, lalu djatuh tersungkur disamping perigi. Tak ada suara sesudah itu. Sesaat Tamin tidak bergerak, ia baru mengetahui apa jang telah dilakukan terhadap adiknja sesudah itu terdjadi. Dengan gugup ia berdjongkok disamping adiknja jang terlentang itu, meraba nadinja, lalu mengusap wadjahnja dengan air dingin. Mata jang djernih itu terbuka pelahan, dan Tamin mentjiurnja dengan air mata jang bertjutjuran.

"Aku tak bermaksud itu, Sum. Aku tak bermaksud itu!" Adiknja diam, matanja jang telah lebar terbuka mengawasi kakaknja seperti tak tahu apa jang telah terdjadi pada dirinja. Djelas sekali bekas tangan membajang dipipi jang montok itu.

"Engkau dapat memaafkan aku, Sum?"

"Apa jang harus aku maafkan, kang?"

Dibimbingnja Sumi memasuki dapur, didudukkanja diatas ambin, dan pipi jang bengkak itu ditjiuminja lagi. Ia keluar meninggalkan rumah. Kedua kakinja jang tengah berdjalan itu seperti benda mati jang bisa bergerak sendiri, membawa tubuhnja tanpa tudjuan. Ia menuruni pematang sawahnja, tanpa berhenti tangannja mentjabut sebatang padi. Untuk pertama kali ia mengetahui, bahwa padinja telah hamil. Dalam beberapa hari lagi buah² itu akan menjembul keluar dan akan datang waktunja kelak untuk menunggui setiap malam, dan datanglah musim panen jang diharap-harapkan seluruh desa. Tapi semua itu tak akan ada artinja. Seluruh desa tidak menghendaki kepulangannja, djuga rumah sendiri tidak lagi bisa memberikan rasa tenteram. Tidak sedjengkal lagi tanah desa itu jang bisa diindjaknja. Ia melintasi sungai, menaiki sawah pak Bandji, berdjalan memasuki desa keluar desa. Ketika pertama kali ia memalingkan mukanja, desanja sudah tak tampak.

Bagian 8

MATAHARI TELAH TINGGI, PANASNJA TERASA terik, dan tubuh Tamin jang hitam mengkilat itu bertambah basah keringat. Kakinja tetap melangkah dan melangkah tidak berhenti. Ia tak tahu kemana hendak pergi, tapi ia telah memutuskan tak akan mengindjakkan kakinja ditanah desanja lagi.

Achirnja kakinja terasa berat djuga untuk digerakkan. Seluruh uratnja kaku setengah kedjang. Hari telah lepas asar, matahari telah djauh rendah diatas gunung Wilis bulat, besar dan merah warnanja seperti bulan jang baru terbit. Barulah ia mengerti betapa djauh djalanan jang dia tempuh, sehari penuh tanpa berhenti. Ia duduk ditangga babakan sebuah sungai ketjill, jang memuntahkan seluruh airnja kebengawan. Perahu² jang dipergunakan untuk menghubungkan kedua tepi bengawan itu telah dimasukkan kemulut sungai ketjill itu, diikat pada tonggak kaju besar jang ditanam dipinggir. Tinggal sebuah perahu sadja jang bergerak mondar-mandir dari tepi ketepi, didjalankan oleh seorang jang telah tua dengan satang bambu sepandjang perahu itu sendiri jang kuat membawa sepuluh orang. Djika perahu jang satu ini telah memasuki anak sungai dan diikat dengan tali pada tonggaknja berjadjar-djadjar dengan jang lain, maka sunjilah babakan itu. Pengemudi perahu jang telah tua itu meninggalkan perahunja dengan membawa uang penghasilannja sepetang itu.

Tamin berdiri, berdjalan pelan dipinggir bengawan, matanja mengawasi air keruh jang berputar-putar tidak berhenti menjentuh tepinja, dan menengah air itu ladju dengan kentjangnja. Lalu ia berhenti, menghadap bengawan dan matanja tak pernah meninggalkan air jang berputaran. Betapa dalamkah air bengawan ini, dan betapa besar kekuatan menghanjutkannja? Ada masanja bengawan ini menghanjutkan rumah² dimasa pasang; ia membawa bangkai kerbau, sampi, kekajuan jang besar² dari lereng gunung. Tamin tahu kekuatan jang dibawa arusnja, dan betapa djuga kuat tubuhnja ia tak hendak dapat melawannja. Oh, alangkah mudahnja, tjuma sekali lompat jang dibutuhkan, dan seluruhnja jang djadi tanggungan hati akan hanjut ikut bersama bangkainja kedasar laut. Dan segala berlalu tanpa bekas. Ia tak akan mendengarkan tawa orang² sekampungnja, ia takkan rindu lagi kepada isi rumahnja. Ia tak akan dipaksakan lagi, mentjeriterakan kisah chajal itu. Ia tak punja apa² jang harus dilakukan, ketjuali melompat. Matanja masih tetap mengawasi putaran air dan kepalanja bertambah pening, tanah jang diindjaknja lalu seperti mulai bergojang.

Tamin terkedjut merasai tapak tangan memegang pundaknja dari belakang dan suara jang dingin menjentuh daun telinganja.

"Saudara asing disini!" suara itu pelan, lunak, diutjapkan untuk tidak mengedjutkan. Tamin menoleh dan mengangguk.

"Bermaksud hendak kemana?"

"Hendak kelaut. Saja ingin kelaut!" sahut Tamin sambil menundjukkan djarinja kearah ladjunja air.

"Saja djuga hendak kelaut malam ini!" kata orang itu, dan Tamin heran mendengarnja. Ia menentang mata orang dihadapannja dengan pandangan bulat. Tapi orang dihadapannja tersenjum dan menundjukkan djarinja.

"Saja hendak melepaskan getek malam ini," sambungnja, "saudara mau ikut?"

"Ja, saja mau ikut, djika kakang tidak keberatan!" sahut Tamin.

"Ja. Saja sendiri kali ini. Orang jang biasa membantu saja tengah sakit. Asal sadja saudara nanti mau menolong sedikit, mengajuh dan ikut mendjaga bambu² jang akan lepas!"

"Ja. Saja akan senang melakukan itu!"

Tamin lalu diadjak berdjalan diatas tanggul dan tak djauh, telah kelihatan getek bambu jang pandjang, diikat pada sebuah pohon trembesi. Diatas getek itu telah disusun beratus-ratus buah kelapa jang telah dikupas sabutnja untuk didjual kemuara bengawan. Untuk pertama kali sedjak peristiwa pertemuan dipendapa desanja, ia merasa ada orang jang dapat bitjara kepadanja tanpa prasangka, dan ia mulai merasa adanja seorang teman. Baru beberapa detik mereka bertemu, namun Tamin merasa, sebahagian kehampaan hati telah terisi.

Kelelawar telah banjak menjambar-njambar dipermukaan air bengawan ketika getek dilepas, dan mulai bergerak-gerak pelan menurutkan alir bengawan. Seorang perempuan muda menggendong anak berdiri ditepi, anak itu melondjak-londjak, tukang getek menjambutnja dengan tangannja jang melambai-lambai. Achirnja semua itu lenjap, sendja bertambah gelap, dan air tampaknja mendjadi hitam. Getek menjusur dengan tenang sepandjang Brantas.

"Kemari, dik! Dekat angklo, biar dingin malam ini tidak begitu terasa," kata tukang-getek.

Tamin mendekati keburitan, menghadapi angklo jang dinjalakan untuk memanasi air kopi. Sebakul ubi rebus disodorkan dan tukang getek itu mulai bitjara. Bibirnja jang tipis dan ringan sekali menampakkan senjum itu sesuai benar dengan kekajaan utjapannja, wadjahnja terang seperti tak sedikit djuga kesedihan jang pernah dialaminja. Ia mentjeriterakan sedjarah bengawan didjaman purba, dengan tangannja jang ramai itu menundjuk-nundjuk kesemua arah, seperti djelas sekali sedjarah itu baginja. Ia mentjeriterakan djuga betapa bentuk djung² Tjina jang membawa balatentera mereka menudju keradjaan Daha. Tjerita itu pandjang dan tak putus². Tjerita pertempuran didjaman Djajakatong dan bagaimana mereka lari menudju laut.

"Mereka lari melewati djuga djalanan air jang kita tempuh sekarang ini, sebab bengawan ini adalah satu-satunja djalanan alam jang paling baik."

Tukang-getek itu menutup tjeritanja dengan menjodorkan bakul, dan kopi telah dihidangkan pula, jang lalu dihirupnja seteguk demi seteguk.

"Djadi bengawan ini punja tjerita peperangannja sendiri," kata Tamin seperti pada dirinja sendiri.

"Ja!" sahut tukang-getek.

Sesaat sepi tak ada jang hendak berkata. Tukang getek menarik dajung untuk mendjauhkan tepian. Lalu dengan suara seperti mengeluh Tamin berkata : "Saja tidak mengerti, kang! Bagaimana dunia ini selalu diisi oleh perang!

Sedjak kisah wajang-purwa, sampai kepada djaman Madjapait jang kakang tjeritakan, dan kita sendiri pernah hidup didjaman perang."

Tukang-getek itu tersenjum sebelum menjahut : "Adik ingat ketika masih botjah? Kita berkelahi, lantaran kita tidak dapat menemukan pengertian bersama. Begitu dengan perang, tjuma dalam bentuk jang lebih besar. Tapi kita sudah merdeka sekarang, dan perang itu tak akan ada!"

Kita sudah merdeka, dan kita tak akan berperang lagi. Itu benar, lantaran tanah jang telah berabad-abad ditangan orang telah kembali, dan kita tidak menghendaki jang lain. Tapi seperti dia sendiri jang merasa, bahwa njala apinja masih membakar hati manusia seperti dia.

"Kang!" katanja, "tudjuh tahun lamanja saja pergi meninggalkan kampung lantaran perang jang meminta. Ketika damai jang diharapkan datang, dan saja pulang dengan pengharapan dapat mengerdjakan sawah kembali hati seluruh desa telah berobah dan saja tidak menemukan damai dalam hati sendiri! Alangkah anehnja untuk mengetahui kenjataannja, bahwa ada sesuatu jang lebih menenteramkan hati didalam peperangan dari pada kini!"

Tukang-getek itu tak dapat mengerti tentunja, kalimat itu terlalu pendek. Tapi dalam tjahaja lampu ting jang digantung pada ikatan kaju jang didirikan pada buritan, ia dapat melihat betapa gelap mata Tamin memandangi putaran air jang mengikuti getek. Ada sesuatu jang mendjadikan ia takut melihat mata itu, dan ia ingat ketika ia menegur Tamin pertama kali. Betapa gelap mata itu ketika menoleh, bukan mata ketika mendengarkan tjeritanja tentang kisah pertempuran didjaman Daha. Beberapa saat lamanja hening, getek bergerak menurutkan air dengan kesenjapan.

"Itu sebabnja saja meninggalkan desa, dan saja belum tahu kemana badan harus dibawa!" Betapa senang tukang-getek itu mendengar suara Tamin kembali dan melihat mata jang gelap itu djadi bertambah terang.

"Dari mana asal adik?"

Tamin menjebut nama desanja.

"Oh, saja sudah mengenal desa itu, dik! Tak ada seorangpun dari daerah sepandjang Berantas ini jang tidak pernah mendengar desa adik. Semua mengetahui betapa pengorbanan jang telah diberikan, pemudanja jang berpantjaran kesemua medan pertempuran, padinja jang disediakan untuk keperluan gerilja. Kita mengetahui itu! Saja senang dapat berkenalan dengan salah seorang dari mereka!"

"Djangan, djangan kakang bitjara seperti itu. Aku bukan pedjoang, dan aku tak mau berchianat. ’Aku tjuma ingin hidup seperti manusia biasa, seperti jang lain sekarang ini!’"

Tamin berhenti berkata. Suara air jang bersentuhan dengan bambu² getek bertambah njata. Dari kegelapan tepi bengawan kadang² tampak lampu ketjill jang berkelip-kelip hilang tampak, dan getek itu telah djauh melampaui desa demi desa.

"Aku ingin hidup bahagia seperti kakang sekarang ini!" kata Tamin!"

"Tidak, dik! Kukira bahagia tidaklah, djika kita dapat hidup seperti jang lain, lantaran itu berumah didasar hati kita sendiri. Dan kuntji untuk membukakan itu kita dapati dimana-mana. Aku pernah menemukan itu pada malam seperti ini, ketika angin meniup dengan dinginnja, dan tahu, bahwa ada seorang jang menantikan kedatanganku dirumah. Aku pernah menemuinja dalam tawa seorang anak ketjill, dalam tangis dan dalam segala lakunja. Djuga pernah kudapati itu ketika aku djatuh sakit, sedang getek telah siap untuk dilepas. Datang sadja isteriku berkata : Djangan kakang pergi dalam sakit ini kita tangguhkan sadja kerdja sekali ini, meski kita djadi lapar karenanja! Kukira bahagia hanjalah ada pada dasar hati sendiri."

Dan dalam mendengarkan suara tukang-getek itu, Tamin ingat perempuan muda jang menggendong anak ditepi bengawan dengan melambai-lambaikan tangannja. Ia tahu, betapa sajang ia terhadap isteri dan anaknja. Pada dingin malam seperti ini, ia pergi menelusuri bengawan didalam gelap, dan alangkah gembiranja ia dengan kerdja sematjam itu, lantaran ia pertjaja, ada orang jang menanti dirumah dengan pengharapan. Adalah benar pikir Tamin, seperti djuga dia sendiri gembira dibakar panas terik ditengah sawahnja, lantaran ia mengerti bahwa ada orang jang mengharapkannja dirumah sendiri. Ia tahu itu seluruhnja, betapa bahagia ia merasainja ketika itu. Tapi tidaklah sekarang! Alangkah kukuhnjia tembok jang membatasinja sekarang ini. Ia tak hendak pulang kembali.

Pelan² Tamin merebahkan dirinja diatas tikar jang mengalasi susunan bambu jang tidak rata itu, dan matanja mengawasi langit jang gelap. Dan mulailah terasa betapa penat seluruh urat² kakinja.

Tukang getek itu tak berani mengganggu, berdiri melangkahi susunan bambu, memeriksa tali². Dengan lampu senternja jang berbatu lima itu, ia sebentar² menerangi kegelapan dihadapan getek.

Dua hari dua malam achirnja getek memasuki daerah Sepandjang, sebuah desa pangkalan getek jang terletak dipinggir kota Surabaja.

"Pemberian kakang terlalu banjak kepada saja. Saja tak mengetahui tjaranja untuk dapat mengutjapkan kata terima kasih dengan patut!” kata Tamin ketika ia hendak meninggalkan getek.

"Djangan anggap itu terlalu banjak,” kata tukang-getek itu malu, sambil menepuk pundak Tamin. "Aku berharap adik akan berhasil mentjapai tjita²!”

Tamin melangkah meninggalkan getek, menaiki djalanan aspal menudju kota. Dunia baru terbentang dihadapannja, dan ia akan beladjar melupakan hari² dibelakangnja. Empat bulan lamanja ia memutari kota, namun ia tak pernah menemukan apa jang ia tjari. Kota telah banjak berbeda dengan djaman perang, seperti masanja ketika ia masih sebagai serdadu. Apa jang hendak dapat ia kerdjakan disini? Sedjak ketjill ia diadjar untuk menjintai tanah, untuk mengenali bibit padi dan beladjar apa artinja hudjan, bagaimana menangkap ikan dan bagaimana melawan hama. Semua itu tidak berharga untuk bekal hidup dikota, meski hudjan jang dianggap sebagai turunnja rahmat didesa, djadi peristiwa jang mendjemukan djika turun dikota. Itu adalah dunia baru baginja jang tidak dapat memberi tempat. Dan pengalaman selama tudjuh tahun dalam pengembaraan, ketjakapan menembak dan berkelahi tak ada artinja sedikit djua. Apa jang dahulu tampak membanggakan dan dikagumi, ia sendiri ketjewa mengenangkan. Ia pernah djadi pegulat jang terbaik dari seluruh pasukan, penembak sendjata mesin jang dikagumi oleh opsirnja dan banjak menolong keselamatan teman-temannja dimedan perang. Sungguh semua itu ngeri hatinja djika mengenang. Ia hendak melupakan itu seluruhnja.

Achirnja jang tinggal tjuma kekuatan tubuhnja jang besar dan tinggi itu. Tjuma itu jang dapat ia pakai untuk mempertahankan hidup. Dengan itu ia mendapatkan penghasilan jang djauh lebih besar daripada teman² kerdjanja sebagai kuli, kekuatan tubuhnja menimbulkan iri diantara mereka. Akan tetapi tidak seudjung kuku ada hatinja dalam pekerdjaan seperti itu. Sebab apapun buah dari padanja, ia tak pernah merasai kegembiraan sebesar hati, ketika menjambut muntjulnja padi pertama kali. Tak ada rasa gita, seperti djika ia memandangi hidjaunja sawah jang mengalun oleh angin petang jang sedjuk.

Bagian 9

EMPAT BULAN MATANJA BERTAMBAH DALAM, wadjahnja bertambah kering. Tidak seperti tukang-getek, Tamin tidak menemukan tudjuan dari kerdja jang memeras tenaganja setiap hari. Makin lama ia makin jakin, bahwa seluruh hidupnja termasuk didalam sawah. Separo dari djiwanja tinggal didesa, disepandjang pematang dan disepandjang sungai. Mimpinja tjuma terisi oleh hidjaunja lereng gunung Wilis dan puntjak gunung Kelud jang merah keemasan, ketika matahari merajap dipagi hari.

Tidak! Ia tak dapat melupakan harinja jang telah lalu. Pandang mata ibunja jang sedjuk itu mengganggunja dimana-mana, senjum adiknja melintas sadja depan hati, dan ia bertambah ingat betapa ajahnja jang telah tua itu dapat memiliki kembali harapan hidup, semendjak ia berada dirumah lagi. Alangkah indahnja hidup ketika itu dan mengetahui dengan kebanggaan bahwa seorang Isah dengan matanja jang bening itu akan menambah kekajaannja. Semua itu termasuk dalam hari-harinja jang telah lalu, lantaran ia tak bakal pulang kembali. Meski dalam mimpinja sekalipun ada rasa takut mengenangkan kepulangan sematjam itu, rasa takut jang ia tak pernah dapat mengerti, lantaran didalamnja ada rindu jang membakar hati.

Berapa lamakah ia dapat menanggung itu sepandjang hari dan malam-malamnja? Sampai dimanakah mata itu hendak mendalam dan dagingnja dapat bertahan dari kekusutan?

Empat bulan. Waktu itu terlalu pendek untuk umur manusia. Tapi alangkah pandjang dan banjaknja jang diminta dari hidup, djika itu melewati penderitaan. Untuk pertama kali dalam hidup, Tamin melihat garis pada dahinja, dan itu akan disusul oleh jang lain, dan akan tiba masanja garis² sematjam itu memenuhi wadjahnja seperti djuga wadjah ajahnja jang telah berkeriputan itu. Berapa tahun kini umurnja? Berapa lama ia meninggalkan rumahnja?

Pagi² benar ketika ia tengah duduk dipodjok gudang, ia melihat seorang jang telah tua terhenti dihadapannja. Ia kenal orang itu, tapi tidak menjangka, bahwa dalam pengembaraan jang begini djauh, ia akan dapat bertemu dengan salah seorang dari desanja. Orang itu hampir setinggi dan sebesar badannja sendiri, rambutnja telah banjak jang putih, kulitnja telah banjak keriputan, tapi pandang matanja masih bening, ia masih dapat berdiri tegak dihadapannja. Tak ada tawa pandjang jang dia dengar pada kebiasaan pertemuan mendadak sematjam itu, melainkan mata orang itu terbuka lebar, dan hanja bibirnja sadja bergerak tapi itupun tampak ragu².

"Engkau, Tamin?" katanja.

Tamin berdiri pelan, mengulurkan tangannja dan mengangguk.

"Ja, saja Tamin, pak Bandji!"

Kini salah seorang dari mereka datang. Mengapa orang² ini tak hendak membiarkannja, djuga dalam persembunjiannja jang sedjauh ini masih djuga dikedjar-kedjar mereka? Seluruh desa sudah mengetahui tentang kisah chajal itu tentu.

"Empat bulan engkau pergi, Tamin! Betapa banjak engkau telah berobah. Aku hampir tak bisa mengenali engkau lagi!"

Pak Bandji mendekat dan menepuk-nepuk punggungnja berkali-kali, dan berkata lagi : "Aku tak mengira dapat bertemu dengan engkau disini!"

Oh, itu satu kebetulan djadinja, dan tidak seperti disangkanja orang tua itu tidak marah kepadanja. Bahkan dari suaranja, ia mengerti, betapa sajang, ia berdiri disana seperti menemukan anak sendiri jang telah hilang. Lalu terbit keberaniannja untuk bertanja.

"Kabar apa jang bapak bawa tentang rumah saja?"

Pak Bandji tidak segera menjahut, dan Tamin menambah pertanjaannja.

"Empat bulan! Rasanja telah bertahun-tahun saja tidak mendengar tentang bapak, mak, dan Sumi. Seperti pengembaraan saja selama tudjuh tahun dahulu lebih pendek terasa!"

Tapi ketika Tamin berhenti berkata, pak Bandji masih sadja tidak menjahut, ia bertambah gelisah. Apakah gerangan jang tersembunji dalam hati orang tua dihadapannja ini? Dan dengan tjemas ia berkata lagi :

"Apakah itu, pak Bandji? Katakan! Aku sedia untuk mendengarkannja, apa pula bentuknja!"

"Aku takut menjampaikan kabar ini, Tamin!" katanja disela dengan usapan mesra tangannja, "Ajahmu telah tiada lagi!"

Kabar itu terutjapkan djua achirnja. Ia pernah membajangkan datangnja peristiwa sematjam itu, tapi tidaklah setjepat ini. Empat bulan, alangkah banjaknja jang telah terdjadi. Ia tidak menjahut, tak ada kata untuk itu. Lalu orang tua itu djua menjambungnja.

"Djangan mentjoba menghidupkan penjesalan diri, Tamin! Itu sudah harus terdjadi dahulu, lama sebelumnja. Kepulanganmu tjuma berarti penundaan waktu! Djandji memang telah sampai. Engkau masih punja ibu, Sumi dan sawah. Ibumu kuat, dan Sumi menangis sepandjang malam merindukan engkau!"

"Ia pasti menghabiskan waktunja pada musim panen jang lalu!" kata Tamin.

"Itu tidak benar! Ia telah sakit waktu itu," lalu menjusul kesepian dan Tamin bertambah teringat akan adiknja, jang menangis sepandjang malam sedjak perginja.

"Pulanglah, Tamin! Kukira tjuma itu jang paling baik untukmu dan seisi rumah!"

"Bagaimana saja dapat pulang? Djika mereka marah kepada saja?" kata Tamin dan matanja jang dalam itu memandang lurus kedepan.

"Apa jang engkau maksudkan, Tamin?" kata pak Bandji terkedjut. "Tak seorang djua jang marah kepadamu."

"Mereka, orang² seluruh desa!" kata Tamin.

"Bagaimana engkau punja pikiran sematjam itu? Engkau tak tahu, ketika datang musim memotong padi dan ajahmu telah sakit, maka kami seluruh desa telah menolong memotong padimu. Itu adalah kerdja gotong-rojong, tanpa memungut padimu segantang djua sebagai upah. Engkau tahu mengapa? Lantaran seluruh desa tjinta kepadamu, Tamin. Mereka menganggap engkau sebagai lambang, betapa semangat jang engkau tjurahkan untuk menjelesaikan sawahmu pada musim ini. Tak seorangpun mampu mengerdjakan sawah selebar punjamu seorang diri seperti engkau. Kita kagum dan bangga melihat engkau. Dan engkau mengerti, betapa sepinja seluruh desa sedjak engkau tak ada. Mereka seluruhnja mengharapkan engkau kembali, mereka telah rindu akan suaramu. Betapa sedjuk hati diwaktu malam, djika udara desa tergetar oleh suara tembangmu. Pulanglah, Tamin!"

Tamin tidak mendjawab. Ia diam dan matanja masih djauh mengawasi hadapannja.

"Engkau berdjandji hendak pulang, Tamin? Mereka semua telah sedia hendak menerima engkau."

"Benarkah itu, pak Bandji?" kata Tamin setengah tak pertjaja. "Apa jang ada dalam hatimu, Tamin? Bagaimana kami bisa marah kepadamu, bagaimana engkau bisa berpikir demikian?"

Lalu tak ada jang segera berkata lagi, kedua-keduanja berhadapan dengan pandang seperti hendak saling menembusi hati.

"Ja, saja pulang. Saja hendak pulang!" kata Tamin achirnja, dan dalam hatinja, ia melihat bajangan adiknja dengan djelas sekali. Mereka tak akan marah kepadanja. Dan malam-malamnja hendak diisi oleh njanjinja seperti dahulu.

"Dan pak Bandji datang sedjauh ini?"

"Aku hendak menemui pak Gubernur malam ini di rumahnja, untuk menjampaikan salam seluruh desa dan menanjakan djandjinja hendak memberikan bantuan kepada kita, djika damai datang. Engkau tahu, ketika djaman gerilja jang lalu, ketika beliau masih berkelarian dilereng-lereng gunung Wilis dan sering mengundjungi desa kami, beliau menjatakan djandji itu, lantaran desa kami dianggapnja sebagai desa jang paling banjak memberi pengorbanan."

"Dan djandji itu hendak ditepati?"

"Tentu, Tamin. Didekat sawahmu itu hendak didirikan dam jang akan mengatur pengairan sawah seluruh desa dengan baik!" Dan pertama kali dalam pertemuan pagi itu pak Bandji tertawa sambil menepuk-nepuk punggung Tamin. "Kami hendak menundjukkan, bukan hanja didjaman gerilja, tapi djuga didjaman damai ini kami hendak berdjuang untuk sawah kami!"

Matahari telah djauh meninggalkan pertengahan langit, panasnja tidak begitu terik lagi, dan makin lama bajangan makin memandjang djua. Untuk pertama kali sedjak ia meninggalkan desanja empat bulan jang lalu, Tamin berdjalan menuruni sungai, memandangi sawahnja dari djauh dengan pengharapan baru. Ia pulang, dan tak hendak pergi lagi. Sepandjang tepi sungai, ia memandangi lereng gunung Wilis jang bertambah indah djua tampaknja, dan angin terasa seperti dapat melahirkan kesegaran jang tidak pernah ia rasai selama ini. Ia melewati sawah pak Bandji, menaiki djalan ketjill ditengah sawah dan berdjalan dengan langkah jang pandjang. Ia hendak menemui ajahnja dahulu sebelum menemui ibu dan adiknja.

Bagian 10

LAMA IA BERDIRI MENGHADAP MAKAM AJAHNJA. Nisan kaju djati jang masih baru itu ditanam disamping kubur neneknja. Tanah penimbun belum kembali seperti semula, kaju kembodja belum pandjang bersemi. Ia tak hendak menangis, ia ingin dapat menahan air matanja, betapapun rasa haru hendak menggontjangkan hatinja. Kini jang ditjinta dengan setulus hati telah ditanam, tapi bajangannja seperti djelas dihadapannja. Ia djadi ingat seluruhnja, seperti dapat mendengar lagi batuk-batuknja. Achirnja ia berdjongkok dan hatinja berkata.

"Aku telah pulang ajah! Untuk menjambung pengharapanmu diatas bumi ini. Aku hendak memelihara sawah itu dan mempertahankannja seperti engkau minta. Djika datang waktunja Tuhan memberi aku seorang anak, akan aku peladjari ia untuk menjintainja, seperti djuga engkau pernah mengadjar aku!"

Ia mentjium nisan ajahnja dan air mata jang ditahan-tahan ternjata djatuh djua. Ketika ia membalikkan dirinja hendak melangkah, ia berhenti. Suara kaju-kajuan jang bergerak-gerak tertiup angin, seperti guruh menderu-deru ditelinga Tamin. Kitjau burung jang berlompatan dari dahan kedahan seperti terdengar bertambah keras. Langit seperti terang sekali. Dihadapannja berdiri Sumi dengan mata membelalak tidak pertjaja. Bibir jang gemetar itu tak dapat bersuara, kedua tangannja sadja lalu mendjulur kedepan, dan kedua anak muda itu achirnja berpelukan disamping pusara ajahnja. Tangan Tamin membelai rambut adiknja, matanja mentjari pipi jang pernah membekas tangannja jang kasar itu, tapi ia tidak menemukan apa².

"Engkau masih marah kepadaku, Sum?" katanja.

"Apa pula jang hendak aku marahkan, kang Tamin?" sahut Sumi sedang matanja jang basah mentjari-tjari mata kakaknja.

"Pagi, ketika aku pergi tanpa pamit?"

"Oh, itu? Bagaimana aku bisa marah kepadamu? Aku telah lupa peristiwa itu," gadis itu seperti tak hendak mengusap matanja jang basah, lalu menjambung pengutjapannja dengan suara lemah, sedang matanja menengadah keatas. "Ia datang! Ia datang! Tuhan, djangan djadikan lni tjuma suatu mimpi!"

"Engkau tahu, ini bukan suatu mimpi, Sum!"

"Engkau tak hendak meninggalkan kami lagi?"

"Aku tak hendak meninggalkan engkau lagi!"

"Oh, ia benar! Ia selalu benar!"

"Siapa jang engkau maksudkan, Sum?"

Mata Sumi mengarah kenisan ajahnja lalu berkata lagi,

"Ketika engkau petangnjia tak djuga datang, ajah berkata, engkau akan pulang djuga achirnja. Dan ia mengatakan itu lagi, ketika harinja telah berachir!"

Ia berhenti sebentar, mengusap matanja, lalu berkata lagi: "Besok petang mendjelang hari keempatpuluh, kang! Engkau tahu? Kita hendak mengadakan selamatan sebagai sedekah kiriman, dan seluruh kampung hendak kami undang. Mereka telah menolong kami sedjak engkau pergi, lantaran mereka tjinta kepadamu!"

Mereka berdua lalu melangkah meninggalkan pusara ajahnja.

"Sum! Engkau ingat, ketika malam² engkau meminta aku menembang lagu Asmaradana?"

Gadis disisinja mengangkat muka lalu tersenjum. "Ja, aku ingat itu. Engkau hendak menembang lagi?"

"Ja, malam ini aku hendak menembang untukmu!"

"Untukku?"

"Ja, untukmu seorang, Sum!" sahut Tamin.

"Kang, ada seorang jang selalu berurai air mata semendjak engkau pergi, dan jang merindukan suaramu setiap malam. Engkau tak tahu itu?"

"Tidak! Bagaimana aku bisa tahu itu?"

"Engkau ingat, aku pernah mengatakan kepadamu, bahwa ia mempunjai mata jang paling bening diseluruh desa."

Tamin memandang adiknja, tersenjum dan wadjahnja djadi merah.

"Aku hendak kerumahnja sekarang, kang! Ia akan gembira mendengar engkau telah pulang!"

Tanpa menanti djawaban kakaknja, Sumi lari mendahului, melintasi pematang jang tidak rata. Ketika gadis itu hendak membelok kearah djalan menudju rumah pak Makin, Tamin berteriak dari kedjauhan:

"Djangan lupa! Katakan, aku hendak menembang malam ini untuknja djuga!"

Sumi menoleh, tersenjum, dan hilang dibalik kekajuan.