Baca EPUB: prof-dr-r-ng-poerbatjaraka-ahli-epigrafi-perintis-bangsa-indonesia

2 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. Table of Contents
  2. Table of Contents
BOECHARI
Prof. Dr. R. Ng. Poerbatjaraka Ahli Epigrafi Perintis Bangsa Indonesia
Kacabenggala Editions

Publisher Note

Tulisan ini terbit di Madjalah Ilmu-Ilmu Sastra Indonesia dalam edisi Djilid II, No. 2 tahun 1964. Edisi ini khusus sebagai persembahan ulang tahun ke-80 kepada Prof. Dr R. Ng. Poerbatjaraka, epigraf dan budayawan Jawa. Artikel yang dimuat dalam edisi ini berasal dari para murid-muridnya.

Digitizer Note

This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.

All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.

The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.

Dalam memenuhi permintaan Dewan Redaksi M.I.S.I. untuk menjumbangkan karangan singkat bagi penerbitan nomor peringatan genap 80 tahun usia Bapak Prof. Dr R. Ng. Poerbatjaraka, kamu merasa sudah pada tempatnjalah djika kesempatan ini kami pergunakan untuk memperingati djasa-djasa beliau sebagai Ahli Epigrafi bangsa Indonesia jang pertama-tama. Meskipun buah karja beliau dalam lapangan penelitian prasasti ini tidak dapat dikatakan banjak, tetapi hampir semuanja merupakan sumbangan jang amat penting bagi ilmu epigrafi dan penulisan Sedjarah Kuna Indonesia1).

Kegiatan beliau dalam lapangan ini sudah dimulai sedjak beliau belum memperoleh gelar kesardjanaannja di Universitas Leiden dalam tahun 1926. Karangan jang pertama berupa transkripsi dua lempengan tembaga, satu di antaranja berasal dari Surabaja, dan jang satu berasal dari desa Pengging, Bojolali (Surakarta) (Poerbatjaraka, 1920, hlm. 135-136). Lempengan jang pertama merupakan bagian dari suatu prasasti mengenai desa Kamban, jang telah diterbitkan oleh Dr. J. L. A. Brandes (Brandes-Krom, 1913, no. LVI)2). Lempengan kedua merupakan prasasti jang memperingati perintah Rakarayân i Garung kepada Sang Pamgat Amrati pu Mananggungi, jang mengatakan bahwa Ra Mamrati tidak akan dikenai lagi drawya haji (sematjam padjak). Angka tahun prasasti itu oleh Pak Poerba dibatja sebagai 861 Çaka, dengan tjatatan bahwa angka 8-nja tidak djelas. Oleh Dr Goris dibatja sebagai 751 atau 761 Çaka (Goris, 1928, hlm. 65); dan achirnja L. Ch. Damais, dengan memperhitungkan unsur-unsur penanggalannja, menetapkan pembatjaan angka tahun itu sebagai 741 Çaka (Damais, 1955, hlm. 102).

Karangan jang kedua mengenai batu bertulis jang terdapat di desa Batutulis dekat Bogor (Poerbatjaraka, 1919/1921: hlm. 380-401). Prasasti jang amat penting bagi sedjarah keradjaan Pakwan Pajajaran itu telah banjak menarik perhatian para ahli, dan telah diterbitkan oleh Dr Friederich, K. F. Holle, C. M. Pleyte, dan Dr Hoesein Djajadiningrat. Namun demikian Pak Poerba masih dapat memberikan pembatjaan dan salinan jang lebih baik. Dan djasa beliau jang terpenting dalam hal ini ialah bahwa beliau telah memberikan tafsiran jang teramat dapat diterima dari angka tahun prasasti ini, jang ditulis dalam „tjandra sengkala”. Menurut Pak Poerba angka tahun itu seharusnja dibatja „pañca pandawa nge(m)ban bumi”; dengan nilai angka mendjadi 1255 Çaka.

Suatu prasasti jang amat penting, jaitu jang terdapat pada âsâna artja Akshobhya di Simpang, jang telah terlebih dahulu diterbitkan oleh Dr H. Kern (1917; hlm. 187-197), diterbitkan lagi oleh Pak Poerba dengan beberapa pembetulan dalam pembatjaan dan salinannja (Poerbatjaraka, 1922 a, hlm. 426-462). Pendapat baru jang penting tentang prasasti ini antara lain ialah bahwa penjusunnja, Nâda, ialah ajah Prapañca, dan bahw prasasti ini jang berangka tahun 1211 Çaka, baru ditulis oleh Nâda sesudah tahun 1272 Çaka.

Kemudian menjusul transkripsi suatu lempengan tembaga di Museum Surakarta, jang berisi prasasti dari Rakryan Kalabungkal Dyah Manukû, berangka tahun 829 Çaka (Poerbatjaraka, 1922 b, hlm. 85)3). Nama Dyah Manukû sangat menarik perhatian, karena kita mengenal dua orang lain djuga bernama Manukû, jaitu Rakai Patapân pu Manukû dalam prasasti Tulang Air tahun 772 Çaka, dan Rakai Pikatan pu Manukû dalam Prasasti Wanua Tengah tahun 785 Çaka. Nama itu mendjadi makin menarik karena ternjata bahwa didalam prasasti itu terdapat nama-nama pedjabat jang sama dengan nama-nama didalam prasasti-prasasti radja Balitung4).

Didalam disertasinja (1926), Pak Poerba djuga membitjarakan beberapa prasasti, antaranja prasasti Canggal, prasasti Wukiran (Pereng), prasasti Dinojo, salah satu diantara batutulis dari Kutei, dan prasasti Pintang Mas. Prasasti-prasasti itu memang sudah terlebih dahulu diterbitkan oleh sardjana-sardjana lain, tetapi disinipun sering Pak Poerba memberikan pembatjaan dan tafsiran jang lebih baik, dan ada djuga memberikan salinan dari prasasti-prasasti jang semula hanja terbit dalam transkripsi sadja, misalnja prasasti Wintang Mas (Cohen Stuart, 1875, no. XX) dan sebagian dari prasasti Salingsingan (Cohen Stuart, 1875, no. X). Terlepas dari kritik jang amat tadjam dari Dr R. Goris atas disertasi tersebut (Goris, 1927: hlm. 44-46), penerbitan prasasti-prasasti itu didalamnja merupakan sumbangan jang berharga bagi perkembangan epigrafi Indonesia, meskipun dapat pula ditjatat disini bahwa dalam mentafsirkan prasasti-prasasti itu sering Pak Poerba terlalu banjak terbawa oleh keinginan hendak menemukan tokoh Agastya didalamnja.

Sebuah karangan singkat mengenai pertulisan pada suatu tugu batu ketjil jang kini tersimpan di Museum Djakarta (D. 140), telah terbit dalam madjalah Djawa (Poerbatjaraka, 1933: hlm. 238). Dalam karangan itu Pak Poerba memberikan pembetulan atas pembatjaan Dr K. C. Crucq (1929: hlm. 274) dan Dr. W. F. Stutterheim (1932: hlm. 296)5).

Keterangan jang amat penting untuk penulisan Sedjarah Kuna Indonesia terdapat dalam penerbitan empat prasasti tembaga dari zaman Majapahit (Poerbatjaraka, 1936: hlm. 373-390). Salah satu diantara empat prasasti itu ternjata memuat keterangan bahwa Jayanagara, jang sebelum penerbitan ini selalu dipandang sebagai anak Krtarâjasa Jayawarddhana dengan Dara Petak, putri dari Malayu, ialah anak Parameçwarî, putri Krtanâgara jang tertua. Dengan keterangan itu timbullah perspektip baru dalam penulisan sedjarah permulaan keradjaan Majapahit. Seperti diketahui dalam masa itu timbullah pemberontakan-pemberontakan, antaranja dari Rangga Lawe dan Sora, jang mula-mula merupakan hamba Raden Wijaya jang amat setia. Pemberontakan itu ditempatkan dalam masa pemerintahan Jayanagara, dengan keterangan bahwa para pemberontak itu merasa tidak senang melihat jang duduk diatas tachta keradjaan ialah anak Raden Wijaya dengan selir, putri dari luar Djawa. Keterangan mengenai ibu Jayanagara jang terdapat didalam prasasti tersebut ditambah dengan hasil penelitian Dr C. C. Berg jang menempatka pemberontakan Rangga Lawe dan Lembu Sora masih dalam masa pemerintahan Krtarâjasa sendiri (Berg, 1938, hlm. 135-239), mengharuskan kita menindjau kembali tjeritera sedjarah jang dapat menimbulkan pertentangan antar suku di kalangan banga kita, seperti jang tertera diatas.

Keterangan jang sama mengenai ibu Jayanagara terdapat pula dalam prasasti Sukhamerta tahun 1218 Çaka, jang djuga diterbitkan oleh Pak Poerba (1940: hlm. 44-49). Lain daripada keterangan tersebut, prasasti ini djuga memuat keterangan mengenai Pañji Pati, seorang tokoh sedjarah jang mula-mula hanja dikenal dari kitab Pararaton sebagai orang jang menghindarkan Rangga Wuni (nama ketjil radja Wisnu Warddhana) dan Mahisa Campaka dari bahaja maut. Dengan terdapatnja nama Panji Pati dalam prasasti tersebut, jang dikatakan mendjadi teladan bagi anaknja jang bernama Pu Kapat, dapatlah ditetapkan bahwa tjeritera dalam kitab Pararaton mengenai episode dalam hidup radja Wisnu Warddhana itu benar-benar berdasarkan fakta sedjarah.

Karangan jang amat penting pula ialah jang mengenai prasasti Pucangan (Poerbatjaraka, 1941: hlm. 424-437). Didalam karangan ini Pak Poerba memberikan pembatjaan jang tepat dari bait ke-14 prasasti tersebut jang berbahasa Sansekerta. Disamping itu beliau memberikan pembatjaan baru jang lebih memuaskan dari prasasti tersebut jang berbahasa Djawa-Kuna hingga baris ke-17. Sajang pada waktu itu Pak Poerba tidak mendapatkan tjetakan kertas jang lebih baik, sehingga bagian selandjutnja jang penuh dengan fakta-fakta sedjarah belum dapat diolah dengan baik oleh para ahli jang berkepentingan.

Menjusul kemudian sebuah karja berupa buku, sedjarah Indonesia-Kuna (Poerbatjaraka, 1952). Kitab ini menundjukkan bahwa penulisan Sedjarah Indonesia Kuna memang harus lain daripada penulisan Sedjarah Indonesia Modern. Disini dapat dilihat bahwa tiap pembitjaraan didahului oleh transkripsi dan terdjemahan sesuatu prasasti, barulah diberikan tafsiran jang luas, jang kemudian didjalin dalam suatu tjeritera sedjarah. (cf. Moh. Ali, 1963, hlm. 6-12). Prasasti-prasasti jang dikupas dalam kitab ini ialah 4 yûpa dari Kutei, 2 prasasti dari keradjaan Târumâ, prasasti Tuk Mas, 3 prasasti dari Çrîvijaya, prasasti Canggal dan prasasti Dinojo. Disini bukanlah maksud kami untuk mengupas kitab ini setjara luas, karena kupasan jang amat mendalam telah diberikan oleh L. Ch. Damais (1957: hlm. 607-649).

Sumbangan Pak Poerba jang terachir dalam lapangan penelitian prasasti ialah penerbitan batu tulis Plumpungan (Poerbatjaraka, 1954, hlm. 19-22). Dalam karangan ini Pak Poerba membantah uraian J. G. de Casparis jang mengatakan bahwa prasasti ini bersifat agama Buddha. Menurut Pak Poerba prasasti ini bersifat agama Çiva, karena Iça jang terdapat didalam prasasti itu ialah nama lain untuk Çiva. Memang seperti pernah ditundjukkan oleh L. Ch. Damais kepada kami, didalam kitab Amarakoça tidak ada keterangan jang menjatakan bahwa Iça merupakan sebutan djuga bagi Buddha seperti jang dikatakan oleh de Casparis (1950 : hlm. 8). Pak Poerba djuga memberikan pembatjaan jang lain dari suatu nama didalam prasasti ini, ialah nama jang oleh de Casparis dibatja sebagai Trigrâmvya, oleh Pak Poerba dibatja Trigostya. Nama ini, jang dalam bentuk biasa berbunji Trigosti, ialah sinonim dari Triçâla, jang kini masih ada dengan bentuk Salatga. Karangan ini djuga telah dibitjarakan oleh L. Ch. Damais (1962: hlm. 461-462).

Demikianlah sekedar tjatatan mengenai djasa-djasa Bapak Prof. Dr R. Ng. Poerbatjaraka dalam lapangan penelitian prasasti. Mudah-mudahan kami, sebagai murid beliau jang kini diserahi tugas memimpin Bagian Urusan Prasasti pada Lembaga Ilmu Purbakala dan Peninggalan Nasional, dapat melandjutkan pekerdjaan beliau itu dengan tidak mengetjewakan.

Tjatatan:

1.
Didalam karangan ini kami hanja membitjarakan karangan-karangan Pak Poerba jang chusus mengenai penerbitan prasasti sadja. Karangan-karangan mengenai penulisan Sedjarah Indonesia Kuna tidak kami singgung, ketjuali bukunja Riwajat Indonesia; itupun hanja penerbitan prasasti-prasasti jang kami utamakan.
2.
Angka tahun prasasti ini sebenarnja tertulis 893 Çaka. Tetapi berdasarkan unsur-unsur penanggalannja Damais dapat menentukan bahwa angka tahun itu sebenarnja harus 863 Çaka (Damais, 1951; hlm. 32-36).
3.
Dalam membatja angka tahunnja Pak Poerba ragu2 antara 849 dan 829. Oleh R. Goris dengan pasti dibatja sebagai 829, dan dalam karangannja mengenai prasasti ini Goris [untuk Tjatatan ini terpotong dan tidak ada scan lanjutan dari nomor 3 hingga nomor 5].