Baca EPUB: Pribadi

3 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. Table of Contents
  2. Table of Contents
HAMKA
Pribadi
Kacabenggala Editions

Publisher Note

Kepada pemuda

Bebanmu akan berat
Djiwamu harus kuat
tapi aku pertjaja
langkahmu akan djaja
kuatkan Pribadimu

Hamka.

Djaya — Karta, Djanuari 1950

Digitizer Note

This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.

All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.

The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.

PENDAHULUAN.

Setelah suatu bangsa jang terdjadjah beratus tahun lamanja mentjapai kemerdekaannja dengan perdjuangan jang hebat, timbullah dengan djelas beberapa orang jang berdjalan dimuka sekali, jang harganja sebagai orang seorang kadang2 lebih dari pada bermiliun-miliun orang. Orang jang seperti itulah jang membentuk sedjarah jang hebat dan besar, karena keberaniannja bertanggung-djawab dan tangkasnja menetapkan suatu djalan jang akan ditempuh. Maka boleh dikatakan bahwasanja fikiran umum dibentuk hanja oleh beberapa orang sadja.

Teringatlah kita kepada nama2 jang besar sedjak kita berdjuang, sedjak dari Sukarno-Hatta jang memenuhi riwajat revolusi sedjak awal sampai achirnja. Sjahrir jang mentjiptakan Linggardjati. Muso jang berontak di Madiun. Hamengku Buwono, M. Natsir, Rum, Sjafruddin dan lain-lain jang turut meneruskan perdjuangan.

Djika orang jang demikian, sebelum namanja timbul, berdiri ditengah-tengah orang banjak, apalah kelebihannja dari pada orang lain, jang merasai haus dan lapar, sedih dan gembira djuga. Bahkan dalam zaman kemasjhurannja itupun, mereka itu masih tetap manusia. Djelas benar kemanusiaannja itu bilamana mereka itu dilepaskan dari pada ikatan tradisi atau pakaian resmi, bila duduk-duduk bertjengkerama dan bersendau-gurau dengan temannja.

Maka dimanakah letaknja manusia jang pada suatu waktu mentjapai deradjat luar biasa itu ?

Sekarang baru nampak beberapa orang jang masjhur karena revolusi, atau karena kepandaian berpolitik. Padahal dalam lapangan jang lainpun tidak kurang orang jang demikian. Ingatlah Dasaad dalam perlombaan ekonomi, Chairil Anwar dalam bersjair, Dr. H.A. Karim Amrullah

dalam keteguhan beragama, Adinegoro dalam djournalistik angkatan tua, Muchtar Lubis dalam angkatan-muda.

Djangan dalam kalangan orang jang terkenal sadja. Mari kita tilik orang tani jang turut berdjuang memberikan harta-bendanja pada zaman pemerintahan berdjuang. Atau tukang betja jang mendapat penghormatan istimewa dari Bung Karno ketika beliau mulai pindah dari Jogja keistana Gambir. Ataupun ’bok Sarinah, sebagai lambang Ibu Indonesia. Ataupun pegawai-pegawai pamongpradja jang bekerdja pada kantor2. Semuanja itu, dan semuanja pula nama jang lain, jang selalu terlintas dihadapan mata, terdengar ditelinga dan terbatja dalam surat-surat kabar. Mengapa maka ada nama-nama itu ? Padahal banjak lagi jang tidak tersebut, jang tidak terkenal ?

Setiap hari kita tidak akan lepas dari pada memperkatakan : orang jang masjhur atau jang tidak masjhur, orang jang sangat luar biasa atau orang jang biasa sadja. Kita akan memperkatakan kemuliaan atau kekurangan seseorang. Seorang pentjuri atau perampok besar jang sangat berani merampok rumah orang pada waktu tengah hari, ditempat jang sangat ramai, semuanja itu tidak akan lepas dari pada pembitjaraan kita. Sahabat kita jang karib, jang paling kita tjintai atau musuh kita jang kita pandang sangat busuk dan jang paling kita bentji. Semuanja mendjadi pembitjaraan kita, semuanja mendapat kupasan kita.

Apanjakah jang kita bitjarakan ?

Kalau kita bitjarakan Presiden Sukarno, misalnja, apanja jang kita bitjarakan ? Mengapa maka setiap hari Sukarno itu tidak lepas dari mulut orang ? Baik jang memudji atau jang mentjela ?

Jang kita bitjarakan ialah diri orang. Dan jang manakah diri itu ? Tubuhnja jang gagahkah ? Padahal banjak pula orang jang lebih gagah dari dia ? Kepandaiannja berpidatokah ? Padahal utjapan jang dikeluarkannja itupun dapat pula ditiru oleh orang lain. Bahkan orang lainpun sanggup berpidato lebih berisi dari pada pidatonja ?

Itulah suatu pengadjian jang telah lama sekali. Diogenes pernah dituduh orang, bahwa ia orang tua gila, sebab dibawanja lentera tiap hari, disiginja segala muka orang jang bertemu, karena dia tengah mentjari ! Mentjari ! Mentjari jang sukar didapatinja, jaitu mentjari ORANG ! Siang hari dibawanja lampu, disiginja muka orang, karena dalam manusia jang sebanjak itu belum djuga ia bertemu dengan jang ditjari. Jaitu jang sebenarnja orang !

Ali bin Abi Thalib pernah menja’irkan :

„Manusia dipandang dari segi tubuh hanja sama
Ajahnja Adam dan ibunja Hawa
Kalau mereka itu membangga²-kan keturunan
Keturunannjapun sama, tanah dan air”.

Kalau begitu mengapa timbul keistimewaan, baik atau mulia pada setengah orang atau setengah golongan ? Dan kenapa ada jang datangnja kedunia tidak terkenal dan hilangnja dari duniapun tidak terkenal ?

Maka tidaklah pantas lagi kita menuduh Diogenes, kitapun tengah mentjari jang ditjarinja !

Dahulu kala orang jang luar biasa didalam tarich, ialah orang jang mentjiptakan pekerjaan jang besar2, baik jang sangat mulia, baikpun jang mendjadikan dia amat masjhur sangat hina, sebagai Alcapone di Amerika. Karena ilmu pengetahuan tentang hal manusia itu belum madju, maka orang jang luar biasa itu dikeluarkan lalu dari golongan manusia. Kalau dia orang baik, sampaihlah disamakan deradjatnja dengan malaikat, bahkan disamakan dengan Tuhan atau di Tuhankan. Dibuat patung2 berhala buat memudja namanja. Sebaliknja kalau dia pendjahat, disamakan dengan setan.

Kian lama kian majdulah ilmu pengetahuan itu. Sedjak 2000 tahun jang telah lalu Secrates menjuruh mempeladjari kepada manusia, siapa dirinja sendiri. Adjaran

Socrates itu dilandjutkan sampai sekarang ini. Kemanusiaan dikupas, diri manusia sendiri-sendiri dikupas. Binatangkah ia semata-mata, atau setankah semata-mata, atau kumpulan keduanja? Dikupas orang apa jang bernama Nafsu, Aku, DIRI ; apa jang dinamakan akal, fikiran, tjita-tjita, kemauan, perasaan dan lain-lain. Pada achirnja dapatlah orang mempeladjari siapa AWAK itu; Tubuhkah dia atau njawakah? Atau kumpulan kedua-duanja? Atau sipat kelebihankah dan kekurangankah jang ada padanja?

Disitulah pokok pembitjaraan tentang Diri Pribadi.

Semasa ilmu pengetahuan tentang hal itu belum dapat dipopulerkan, maka didalam kalangan orang jang berilmu, sebab membatja bahasa asing, lebih tjepat diterima oleh akalnja djika disebut dalam bahasa Inggeris ; Personality. Atau dalam bahasa Belanda; persoonlijkheid.

Sebelum Djepang dan sebelum revolusi, telah ditjobakan orang meng-Indonesiakan kata itu dengan menjebut Diri Pribadi.

Tetapi dalam zaman revolusi dapatlah orang mentjari kata-kata jang baru, jang mula-mulanja rasa-rasa tidakkan tepat, tetapi kian lama kian tepat dan kian diterima oleh fikiran untuk mengertikan bahasa-bahasa asing itu, jaitu Diri Pribadi.

Achirnjapun lebih pendek dan masuk djuga dalam fikiran orang, jaitu:

„PRIBADI”

* * *

Kemadjuan pribadi suatu kumpulan bangsa atau kemerdekaannja, sekali-kali tiada akan tertjapai, kalau lebih dahulu belum ada kemadjuan dan kemerdekaan pribadi seorang. Tanda2 menunjukkan bahwasanja deradjat kemadjuan dan kedjajaan jang didapat oleh beberapa manusia dalam lapangan jang dimasukinja, dapat pula ditjapai oleh orang lain. Asal sadja orang itu mempunjai pribadi jang kuat Kemadjuan pribadi sendiri, akan menentukan tempat kita jang pantas dalam pergaulan hidup, dalam lapangan apa djuapun.

PRIBADI.

Kerap kali kita membitjarakan orang jang kita tjintai atau kita hormati, jang telah lama bertjerai dengan kita. Kita ingat segala kebaikannja dan tidak pula kurang kita membitjarakan kelemahannja.

Perangainja halus, hatinja sutji, sikapnja djudjur, perkataannja teratur dan budinja mulia. Kelakuannja baik, mukanja djernih, sebab dia memandang hidup dengan penuh pengharapan dan tidak pernah putus asa. Apa jang dijakininja, itulah jang dikatakannja dan apa jang dikatakannja itulah jang dijakininja.

Maka kita ambillah kesimpulan, bahwa dia seorang budiman.

Dia tjerdas, akalnja tadjam, buah fikirannja baik, dan iapun tjepat mengambil kesimpulan; terang otaknja, luas pandangannja dan djauh tiliknja.

Maka kita katakan bahwa ia tjerdas.

Dia suka bergaul, suka menolong, tidak menjisih dari masjarakat, tidak memikirkan kepentingan dirinja sendiri atau keluarganja sadja, tidak gila pangkat; mengerti akan kedudukan orang lain dan merasa dirinja turut dalam kedudukan itu. Hormat kepada jang tua, kasih kepada jang muda, pandai bergaul, pandai berkawan.

Maka kita berilah dia bergelar orang masjarakat.

Badannja sehat, mukanja berseri-seri karena kesehatan tubuh dan kesehatan djiwanja. Pakaiannjapun bersih karena kebersihan hatinja. Dia gemar akan olah-raga untuk kesehatan tubuh dan dia suka musik untuk kesehatan batin.

Kita namai dia orang sehat.

Fahamnja luas, penjelidikannja dalam, batjaannja banjak. Sebab itu banjaklah jang diketahuinja, sehingga dia tidak merasa tjanggung dalam pergaulan dengan segala lapisan. Oleh karena ada pengetahuannja dalam sesuatu hal, maka dia berani bertanggung-djawab.

Maka kita namai dia orang tjerdik-pandai.

Semuanja itu: budi, akal, pergaulan, kesehatan dan pengetahuan, berkumpul mendjadi satu, pada suatu orang. Kumpulan itulah jang membentuk suatu pribadi.

Lemah atau kuat, berlebih atau berkurang dari segala jang tersebut itu, menjebabkan lemah atau kuat, lebih atau kurangnja pribadi.

Dialah jang menentukan mutu seseorang.

***

Dua puluh ekor kerbau pedati, jang sama gemuknja dan sama kuatnja, sama pula kepandaiannja menghela pedati, tentu harganjapun tidak pula berlebih kurang. Tetapi 20 orang manusia jang sama tingginja, sama kuatnja, belum tentu sama „harganja”. Sebab bagi kerbau tubuhnja jang berharga. Bagi manusia pribadinja.

Berilmu sadja, walaupun bagaimana ahlinja dalam suatu djurusan, belum tentu berharga, belum tentu beroleh kedjajaan dalam hidup, kalau sekiranja bahan pribadi jang lain tidak lengkap atau tidak kuat, terutama budi, achlak!

Banjak guru, dokter, hakim, insinjur; banjak orang jang bukunja satu gudang dan diplomanja segulung besar, tiba dalam masjarakat mendjadi „mati”, sebab dia bukan orang masjarakat. Hidupnja hanja mementingkan dirinja, diplomanja hanja untuk mentjari harta, hatinja sudah seperti batu, tidak mempunjai tjita-tjita, lain dari pada kesenangan dirinja. Pribadinja tidak kuat. Dia bergerak bukan karena dorongan djiwa dan akal. Kepandaiannja jang banjak itu kerap kali menimbulkan takutnja. Bukan menimbulkan keberaniannja memasuki lapangan hidup.

Djangan disangka bahwa pribadi jang besar dan kuat itu hanja semata-mata memakai sipat jang terpudji sadja.

Tidak! Bahkan kebalikannja, bertambah besar seorang pribadi, bertambah djelas dimana letak kelemahannja, bertambah nampak dimana kekurangannja. Orang Arab berkata : „Iza tamma sjai-un badâ naqshuhu” ; artinja: Bila sesuatu telah sempurna, djelaslah dimana kurangnja.

Hal itu penting sangat. Kalau kita berkawan atau bersahabat dengan orang, harus kita ketahui bahwa sebagai Manusia, dia harus mempunjai suatu segi jang lemah dalam pribadinja. Hanja orang jang bodoh jang dipenuhi perasaan semata, sentiment, bila ia sajang, ia lupa akan segala kesalahan. Dan bila ia bentji iapun lupa akan segala kebadjikan.

***

Bukan pula hal jang mudah mengupas arti Pribadi serta menundjukkannja. Ia termasuk perkara gaib jang hanja dapat ditundjukkan bekasnja, tetapi tidak dapat diraba barangnja. Tidak berapa bedanja dengan listrik, aether dan radio. Pribadi seseorang hanja dapat diketahui setelah melihat perdjalanan hidupnja dan bekas usahanja.

Sudah ringkas namanja, kalau kita katakan bahwasanja pribadi itu :

1.
Kumpulan sipat2 dan kelebihan diri, jang menundjukkan kelebihan seseorang dari pada orang lain.

Sehingga ada manusia besar dan manusia ketjil. Ada manusia jang sangat berarti hidupnja dan ada jang tidak berarti sama sekali. Masuknja tidak menggenapkan dan keluarganja tidak menggandjilkan.

1.
Kumpulan sipat akal-budi, kemauan, tjita-tjita dan bentuk tubuh. Hal itu menjebabkan harga kemanusiaan seseorang berbeda dari jang lain.

Tinggi rendah pribadi seorang adalah karena bekas usaha hidupnja, tjaranja berfikir, tepatnja berhitung, djauhnja memandang dan kuat semangatnja.

Meneropong suatu pribadi tidak boleh terpengaruh oleh rasa sajang dan rasa bentji. Kerap kali terdjadi, baru sadja kita bertemu dengan seseorang, terus lekat sajang kita kepadanja. Atau kebalikannja. Padahal belum patut ada hubungan sajang dan bentji dalam perkara itu. Memang kadang2 kita sajang kepadanja karena ichlasnja, mulia hatinja, setia, berani. Kita bentji karena dia tjuang, tidak mengenal kedjudjuran dan kedjudjuranpun tidak pernah pula berkenalan dengan dia ; bachil, benalu, penohok kawan seiring, penggunting dalam lipatan. Tetapi tidak pula kurang kita menjajangi seorang, karena orang itu mau kita perkuda untuk kepentingan kita sendiri. Atau kita bentji bukan karena dia bersalah, hanja karena kita sendiri seorang pendengki.

Amat perlulah kita mempeladjari pribadi manusia. Tetapi lebih penting lagi sebagai kata Socrates jang terkenal: „Kenallah siapa dirimu”, kenallah pribadimu sendiri!

Tetapi haruslah kita insaf pula, bahwasanja mengenai diri sendiri, seribu kali lebih sukar dari pada keinginan hendak mengetahui pribadi orang lain.

Nabi Muhammad s.a.w. bersabda : „Berbahagialah orang jang mementingkan menjelidiki tjela dirinja sendiri, dan tidak hanja menjelidiki ketjelaan orang lain”.

„Djelaskanlah siapa engkau, dan tentukanlah maksud udjudmu”. (Fichte).

Apakah bentuk suatu pribadi dibawa lahir, atau dapatkah diusahakan ?

Sudah terang bahwa bentuk kehidupan manusia telah ada sedjak dalam rahim ibu. Dahulu hal itu masih diragukan, dan dipandang suatu dongeng sadja. Tetapi menurut madjallah „Woman” dalam faculteit Antioche di Ohio (Amerika), perkumpulan dokter2 jang menjelidiki orang hamil telah mendapat beberapa bukti, bahwasanja kegembiraan atau kesedihan seorang ibu jang tengah mengandung, berpengaruh djuga kepada berat atau ringannja timbangan baji itu setelah dia dilahirkan. Pendjagaan kesehatan ibu jang serapi-rapinja dan pendjagaan atas perasaannja waktu mengandung itu, bukan sedikit mempengaruhi persediaan perkembangan pribadi kandungannja itu kelak. Dan setelah anak itu lahir kedunia, didunia telah menunggu pula lingkungan tempat dia diasuh dan dibesarkan. Setelah besar sedikit lagi menunggu pula pergaulannja jang lebih luas, jaitu masjarakatnja.

Setelah itu amat penting pulalah pendidikan disekolah.

Kalau sekiranja suatu masjarakat telah merdeka, berdemokrasi, berbudi tinggi, sangguplah masjarakat itu menimbulkan pribadi jang kuat.

Pribadi tidak kembang karena beberapa tekanan. Kekerasan didikan orang tua merampas kemerdekaan anaknja; kurang tanggung-djawabnja guru jang mengadjar, adat dalam masjarakat jang kolot dan bodoh, jang belum pandai menghargai pertumbuhan seseorang, dan diatas itu ada lagi pendjadjahan bangsa atas bangsa. Semuanja itu dan beberapa sebab jang lain menghalangi tumbuhnja pribadi.

Sjukurlah kita tidak terdjadjah lagi. Satu penjakit jang djadi pangkal dari berpuluh beratus penjakit jang lain telah terhindar. Tetapi sisa pendjadjahan djiwa masih melekat dan sukar mengikisnja. Misalnja dua perkara jang besar, pertama kebelanda-belandaan, kedua pergaulan kolot. Itupun mempengaruhi bahagian jang terbesar dari masjarakat. Bagaimanakah seorang ajah atau seorang guru akan tjepat melepaskan diri dari ikatan itu? Padahal ajah dan gurulah jang wadjib lebih dahulu menuntun kemerdekaan tumbuhnja pribadi anak. Ajah dan guru belum berani menentang pendapat umum, Dan sukar melepaskan dirinja daripada pengaruh didikannja sendiri. Sebab itu maka „plaat” pikiran dan pandangan hidupnjalah hanja jang dapat dialirkannja kepada putera dan muridnja. Didikan selama ini hanja didikan menurut, berfikir setjara fikiran orang lain, dan tidak berani atau tidak sanggup menjatakan pendirian sendiri.

Selama pendjadjahan, bangsa jang mendjadjah kita berusaha menekan pribadi kita djangan tumbuh. Diberinja kita ilmu, tetapi keberanian kita dihambatnja. Sampai kepada hal jang berketjil-ketjil menimbulkan kesan berlama-lama kedalam fikiran kita bahwa kita tidak sanggup, tidak tjakap mendapati barang sesuatu. Meskipun bangsa kita telah diberi bergelar-gelar „arts”, „Mr.”, „Dr.”, „Ir” dan lain-lain. Dalam pembahagian pangkat jang bertanggung-djawab bangsa kita tidak mendapat kepertjajaan. Setinggi-tinggi pangkat bangsa Indonesia Regent atau Demang! Walaupun bagaimana tua dan banjak pengalamannja, dia tidak dapat mengatasi kedudukan seorang Kontelir! Maka kelihatanlah dalam kantor2 orang2 jang telah kehilangan pribadi dan kehilangan tjita-tjita. Suburlah djiwa budak, jang tjita-tjitanja tidak lain hanjalah pensiun dihari tua. Untuk itu dia bersedia menderita kehinaan dan tekanan.

Djiwa rakjat jang telah sangat menderita itu nistjaja menimbulkan pribadi jang besar2, jang sanggup mentjabik dan merobek segala dinding jang mengurungnja. Pribadi jang besarlah jang menimbulkan kebangsaan, dan keteguhan bangsa itu pulalah jang memupuk pribadi.

Negara dan bangsa jang merdeka, menumbuhkan kemerdekaan pribadi djuga. Orang menerima akan pembahagian pekerdjaannja dengan rela. Biar dia mendjadi seorang sopir oto, tukang betja, djualan sajur; tidak dirasainja ada manusia jang menekannja. Segala kewadjiban itu akan dilaksanakannja dengan penuh tanggung-djawab. Dia jakin bahwasanja pekerdjaan jang lain tidak akan selesai, sekiranja pekerdjaannja itu tidak selesai pula. Dia adalah anggota dari satu bangsa besar, dan kumpulan segenap pribadi itulah jang mendjelmakan pribadi bangsa.

Kelemahan dan kekuatan pribadi bukan sadja nampak pada orang seorang. Bahkan nampak djuga pada satu bangsa. Tiap2 bangsa itu mempunjai pula segi jang kuat dari pribadinja dan ada pula seginja jang lemah.

Pribadi bangsa Djerman terkenal karena kehidupannja jang suka kepada kemiliteran dan kepada disiplin; demokrasinjapun bertali dengan „orang kuat”. Dalam seratus tahun dapat dilihat ta’luknja orang Djerman kepada Frederik van Pruisen, Kaisar Wilhelm II, Bismarck dan Hitler.

Pribadi bangsa Perantjis agak romantis, banjak menaruh harapan dan kaja dengan chajal.

Pribadi bangsa Inggeris menaruh rasa kepertjajaan jang tebal kepada diri sendiri, dan „benar atau salah, adalah bangsaku”, mau apa!

Pribadi bangsa Amerika dibentuk oleh demokrasinja.

Pribadi bangsa Belanda terkenal karena teliti dan degil.

Pribadi bangsa Tionghoa dinegeri kita terkenal karena keradjinannja.

Pribadi bangsa Arab di Indonesia, „baghaina fulus”, saja mau duit!1

Pribadi bangsa Djepang sebelum kalah, terkenal karena kebersihan dan keangkuhannja.

Bangsa Indonesia dizaman terdjadjah terkenal „sebagai suatu bangsa jang sangat sabar menderita!”. Tetapi setelah merdeka, terkenal sebagai suatu bangsa jang tahu harga diri dan hormat kepada tamunja.

Pada orang sebangsapun terdapat perbedaan pribadi. Orang Minangkabau terkenal diperantauan sebagai pengadu untung dan terkenal dikampungnja sendiri „keras adat”. Pribadi orang Atjeh terkenal fanatik agama. Orang Madura terkenal dengan „pisau belatinja”. Orang Bugis terkenal dengan kesukaannja berlajar. Orang Menado dengan kebersihannja. Pribadi orang tani, orang kota! Orang didikan Belanda dan orang didikan surau. Orang kaja, usaha sendiri dizaman tenang, berbeda pribadinja dengan orang kaja tjatut, dan berbeda pula dengan orang kaja karena beroleh pusaka besar.

Pribadi orang seorang ada beberapa kelebihannja dari jang lain dan ada pula kekurangannja. Sukarno mempunjai pribadi jang penuh daja tarik. Hatta terkenal karena keadilannja. Sjahrir terkenal dengan senjumnja jang mempunjai seribu arti. Hadji A. Salim dengan pribadinja jang tetap muda, walaupun badan sudah tua. Maka dengan mendengar suatu nama sadja, kita kenal kemana tjondong pribadinja.

Ada pribadi jang selalu termuka, dan ada pribadi jang kesukaannja hanja djadi ekor ; bukan djadi kepala. Ada Pribadi „Tuan” dan ada Pribadi pendjundjung duli.

Pribadi bukan kepunjaan suatu bangsa sadja, atau satu golongan. Dan kadang2 orang seorang bisa mempunjai dua pribadi. Charles Chaplin mempunjai Pribadi jang djauh bedanja dengan Pribadi „Charlie Chaplin” dengan kaki pengkar, kumis pendek dan tjelana besar ! Padahal orangnja jang seorang itu djuga.

Kadang2 terasa benar perbedaan pribadi djika orang dari suatu golongan bergaul dengan orang dari golongan jang lain. Semuanja mempunjai kesukaan sendiri, tjara sendiri, fikiran sendiri, kebiasaan sendiri.

Tjanggung dan kakulah orang, kalau dalam masjarakat jang seluas selebar ini, dengan berbagai matjam ragamnja, kalau perbedaan itu tidak diperhatikannja. Sehingga singkatlah ukurannja. Dan lebih tjanggung lagi orang jang sengadja djadi Pak Turut, menenggelamkan pribadinja sendiri kedalam kebesaran pribadi orang lain.

JANG MENIMBULKAN PRIBADI.

Jang menimbulkan pribadi itu banjak. Kita ambil sadja disini pokok2 jang penting, jang tidak boleh tidak :

1.
Daja penarik.
2.
Tjerdik.
3.
Timbang rasa
4.
Berani
5.
Bidjaksana
6.
Baik pandangan
7.
Menjesuaikan diri
8.
Bentuk badan
9.
Bidjak
10.
Pertjaja kepada diri sendiri
11.
Tenang.

* * *

1.
Daja Penarik.

Ada hendaknja pada kita suatu daja penarik, jang menjebabkan djiwa orang jang berdekat dengan kita, tetap lekat, sehingga timbul perhubungan jang kekal. Tidak karena dipaksa-paksa dan dibuat-buat. Lojang sepuhan, lama-kelamaan akan kembali djuga kepada warnanja jang asli.

Dengan apa kita menarik orang?

Dengan budi jang tinggi, kesopanan, ilmu pengetahuan jang luas, kesanggupan menahan hati pada perkara jang belum disemupakati; dengan ketjerdasan, ketjepatan menarik kesimpulan, kebagusan susun kata, kepandaian mendjaga perasaan orang dan kesanggupan menenggang.

Kumpulan sipat dan kelebihan itu menimbulkan daja penarik. Hal itu dapat dipeladjari dengan pergaulan jang luas, dan ada djuga karena dipusakai. Pendidikan ibu, bapa, sekolah, teman sedjawat dan lingkungan masjarakat, semuanja itu ialah guru jang membentuk daja penarik. Kuatnja atau lemahnja.

Ada orang, jang mulai kelihatan sadja rupanja, sudah menarik hati kita; tetapi setelah bertukar fikiran, njata dimana kekurangannja.

Sebaliknja ada orang mula2 kita lihat, telah menimbulkan rasa bentji, dan setelah bertukar fikiran, iapun membangkitkan penghargaan. Kita dengar keburukan seseorang dari musuhnja. Kita belum dapat meletakkan hukuman, buruk atau baik, sebelum kita sendiri mendekatinja. Kata musuh pajah jang adil.

Lemah lembut, tetapi bukan diartikan menerima sadja. Lunak tetapi tidak lekas berkisar dari suatu pendirian, dan djudjur dalam perkara jang belum diketahui. Tegas! Banjak perkara sulit jang dapat diselesaikan dengan mudah, karena kelapangan dada menghadapi dia, bukan gegabah. Dengan kekuatan djiwa sadja banjak maksud jang dapat dihasilkan, karena jang mengurusnja mempunjai daja penarik.

Dalam tahun 1931 sangat hebat pertentangan diantara pihak Islam dengan almarhum Dr. Sutomo. Karena beliau menjatakan pendapat bahwasanja terbuang ke Digul karena suatu pendirian djauh lebih utama dari pada naik hadji ke Mekah, kalau hanja turut-turutan.

Saja sudah turut bentji kepadanja karena pengaruh kebentjian orang banjak. Ketika saja sampai di Surabaja dan menjatakan niat kepada seorang teman hendak pergi kepada dokter itu, teman itu menasehatkan, bahwasanja kalau sekiranja kebentjian tuan kepadanja hanja karena turut-turutan, saja pertjaja tuan akan tertarik bila telah bertemu dan bertjakap-tjakap dengan dia. Budinja tinggi. Sebab itu kalau maksud tuan hendak terus bentji djuga, djanganlah mendekat kepadanja. Demikian kata teman itu.

Sebab itu maka orang jang ketjil djiwanja dan sempit hatinja, kalau dia kebetulan mendapat „tempat” pada pimpinan atau djadi ikutan orang banjak jang bodoh2, kerap kali mereka menahan pengikutnja itu, djangan mendekati pemimpin lain jang mendjadi lawannja, dengan nasehat: „Djangan didekati orang itu, dia bidjak benar, dia tjerdik. Nanti engkau tertarik olehnja”.

Bung Karno adalah pemimpin jang mempunjai daja penarik luar biasa. Tiap2 orang jang berhubungan dengan beliau, merasa bahwa dirinjalah jang lebih karib dengan beliau.

Pada waktu beliau ziarah ke Bukittinggi (1948), dia bertemu dengan seorang sahabat-lamanja jang pernah membantunja ketika kesusahan di Padang, waktu pemerintah Belanda telah djatuh dan Djepang masuk. Kawan itulah jang membantunja pada waktu itu. Baharu sadja ia tiba diistana Bukittinggi bertemulah dengan teman itu. Sungguh teman itu tidak menjangka bahwa Bung Karno akan menjapanja lebih dahulu; dengan matanja jang bulat dan telundjuknja jang runtjing itu, dia berkata dihadapan orang banjak kepadanja: „Nama tuan si anu! Saja tidak lupa, tuanlah jang membantu saja di Padang waktu sengsara dahulu!”

Rasailah oleh tuan, bagaimana perasaan orang jang disapa begitu, oleh presiden, dihadapan chalajak ramai !

Waktu dia dalam pendjara Sukamiskin dahulu ada pula seorang lain jang sama terpendjara dengan dia. Orang ketjil biasa sadja. Dia kerap kali bertjengkerama dengan Bung Karno. Waktu Bung Karno sampai di Bukittinggi itu djuga, orang itu datang dari Sibolga sengadja menemui dia akan meminta tanda mata sedikit tanda persahabatan jang telah bertahun-tahun jaitu „tandatangan” Bung Karno. Bung Karno tidak keberatan. Dan hal itu tjukup sudah akan menarik orang itu, agar tjinta kepada Presiden selama-lamanja.

Dia pulang ke-Sibolga, dengan gembira dan terharu.

Selama hidup agaknya dia tidak akan melupakan Bung Karno.

1.
Tjerdik.

Tjerdik dan tjepat berfikir, tidak bermenung-menung sadja, kerenjut kening dalam-dalam, sehingga orang harus menunggu lama2.

Banjak orang jang pintar dan banjak persediaan pikirannja, tetapi tidak tjepat menangkap pikiran dan mengetahui tudjuan orang lain, tidak lekas mengerti. Orang jang demikian bukan orang tjerdik, walaupun banjak pengetahuannja, dan pribadinja tidak menarik, bahkan membosankan.

Orang perempuanpun demikian pula. Banjak perempuan jang tjantik, pandai melagak, tapi tidak menarik perhatian. Ada djuga perempuan jang hanja sederhana sadja sipatnja, tetapi menawan hati, karena dalam perangainja itu nampak ketjerdikan dan ketjerdasan. Perempuan jang tidak mempunjai ketjerdikan dan tidak tjepat mengetahui maksud orang, adalah seumpama sebuah pigura bagus bingkainja, tetapi lukisannja tidak hidup, tidak berseni.

Tjerdas dan tjerdik amat besar pengaruhnja, akan menimbulkan pribadi manusia. Itulah jang lebih banjak mengutamakan orang dalam pergaulan hidup. Orang bodoh, tolol, damban, lambat mengerti, menjebabkan pribadi tidak mendapat penghargaan. Itu pula kadang2 jang menjebabkan mudah berbuat kedjahatan. Perhatikanlah raut muka pendjahat, atau orang pandir ; nampak disana kelemahan akal. Pribadi orang tjerdas njata pada tjara mengeluarkan kata2, mempergunakan fikiran dan perasaan, berfikir tersusun, bermantik. Imam Ghazali berkata: „Siapa jang berfikir tidak bermantik, ilmunja tidak dapat dipertjajai !”

Suatu djawab pertanjaan jang tegas djitu, ketika orang menanjakan suatu perkara jang sulit, lama sekali akan hilang dari ingatan orang.

Orang bertanja kepada Abdullah bin Abbas, paman nabi Muhammad s.a.w.: „Mana tuan jang besar dengan nabi Muhammad?” Beliau mendjawab: „Dia lebih besar dari pada saja, tetapi saja lebih dahulu lahir dari dia”.

Ada pula orang jang bertanja kepada Ali bin Abi Thalib: „Berapa lama perdjalanan dari masjrik kemagrib?”

Djawab beliau dengan tjepat: „Sehari bagi matahari”.

Orang itu bertanja pula: „Berapa ribu tahun perdjalanan dari bumi kelangit, pulang pergi?”

Beliau mendjawab: „Hanja satu detik sadja bagi doa jang ’mustadjab’”.

* * *

Sesudah perang Eropah jang pertama, meskipun Perantjis termasuk negeri jang menang, namun kemelut ekonomi sangatlah mempengaruhi masjarakat Perantjis. Maka naiklah Arstide Briand mendjadi Perdana Menteri, seorang negarawan Eropah jang amat ulung. Maka terdjadilah pemogokan buruh kereta-api karena meminta kenaikan gadji. 150.000 buruh mogok. Dan parlemen belum masa bersidang.

Dengan tjepat Perdana Menteri mengambil sikap luar biasa, jaitu menjatakan undang2 „negara dalam bahaja” dan mengadakan mobilisasi umum, sehingga dengan tjara demikian pemogokan dapat ditindas. Beberapa lama kemudian dipanggilnjalah parlemen bersidang. Baharu sadja ia naik keatas mimbar untuk mempertahankan kebidjaksanaan pemerintahnja, kedengaranlah sorak-sorak dari pihak oposisi „Runtuhlah diktator! Rubuhlah tangan besi”.

Maka dari atas mimbar jang tinggi itu beliau melihat dengan tenangnja kepada barisan oposisi itu, kemudian dipalingkannja pula matanja kepada segala anggota parlemen, seorang-seorang dengan sikap jang tenang, sehingga kian lama-lantaran tenangnja itu — kian heninglah suara sorak kaum oposisi. Melihat madjelis telah tenang, beliaupun memulai pidatonja dengan tenang pula sambil menggeleng-gelengkan kepala …„Diktator kata tuan-tuan? Begini berat kewadjiban jang telah kupikul, didalam usia jang telah meningkat tinggi, untuk tanah-air jang kutjintai. Tidak lebih baikkah, kalau tuan2 utjapkan sadja satu kalimat, satu kalimatpun tjukuplah, satu isjaratpun djadi! Menjuruh saja turun dari atas mimbar ini dan meletakkan djabatan saja! Supaja naik jang lebih tjakap menghadapi kesulitan ini. Maka saja berdjandji akan mengikut perintahnja dengan tidak menjesal sedikit pun. Saja akan duduk kembali keatas kursi saja jang dahulu, akan duduk bersama tuan-tuan, mendjadi seorang pelajan ketjil tanah Perantjis jang tertjinta ini! Sangka tuan2 hanja dengan tjara jang begitu sadjakah menghadapi soal jang amat besar ini? Kesulitan soal ini djauh lebih besar dari apa jang tuan pikirkan!…”

Tiba-tiba madjelis mendjadi hening, suara kaum oposisi tidak dapat dinaikkan lagi. Sikap djudjur dan sungguh-sungguh dengan sendirinja telah memikat dan menaklukkan hati parlemen seluruhnja, bahkan hati ketjil kaum oposisi sendiri djuga. Dia sengadja berhenti berbitjara beberapa detik, seakan-akan meminta keputusan jang tegas dari parlemen. Maka kedengaranlah suara „Terus! Terus!”

Setelah djelas masuknja pengaruh pembitjaraan itu, dan kaum oposisi tidak sanggup berteriak lagi, barulah pembitjaraannja diteruskannja. Diterangkannja sebab2 dia mengambil sikap sekeras itu, dengan alasan tjukup, dengan manthik jang kuat dan ditjampur pula dengan daja penarik jang lain, jaitu kekuatan susunan perkataannja. Diantara bitjaranja: „Kalau tidak saja perintahkan mobilisasi umum, akan banjaklah darah tertumpah”.

Apa kesannja? Hikmat kebidjaksanaannja diterima oleh parlemen. Pemerintah mendapat mosi kepertjajaan dan kedudukannja teguh kembali. Kaum oposisi harus mentjari „bahan” jang lain pula kalau akan menumbangkan dia.

Riwajat Briand itu tertulis dalam sedjarah parlemen dan demokrasi Perantjis dengan tinta-air-mas.

Jang hampir serupa dengan itu adalah jang mengenai Mr. Lloyd George, Perdana Menteri Inggeris dalam perang dunia pertama. Diapun seorang jang tjepat berfikir, djitu mendjawab, sehingga lawannja tidak bisa bangun lagi apabila kena tikam djawabnja. Pada suatu hari ketika diadakan pemilihan umum di Inggeris dia mengadakan kampanje untuk memilih dirinja dikota-kota besar Inggeris, maka datanglah seorang pendengar jang rupanja masuk golongan musuh politiknja. Disinggungnja benar perasaan Lloyd George, jang kalau alang kepalang dapat menimbulkan marahnja dan mendjatuhkan martabatnja. Katanja: „Tuan! Masih ingatkah tuan sekarang, bahwa ajah tuan dahulu seorang tukang pedati tolak? Dimana pedati itu sekarang dan dimana keledainja?”

„Terima kasih, tuan!” Djawab Lloyd George dengan tjepat. „Sudah lama hal itu lampau, sehingga saja sudah lupa dimana gerangan pedati itu. Adapun keledainja baru hari inilah saja dapat kembali, dalam madjelis ini. Sjukur tuan bertanja!”

***

Adakah dalam kalangan orang2 besar Indonesia orang jang seperti itu atau lebih dari itu? Ada!

Almarhum Hadji A. Salim terkenal ketjepatannja berpikir. Pada suatu hari—dizaman pendjadjahan—dia ber-tjakap2 dengan seorang bangsa Belanda tentang bahasa Indonesia. Belanda itu mengatakan bahwa bahasa Indonesia hanja bahasa djongos2. Bahasa itu tidak akan sanggup dipakai untuk ilmu-pengetahuan.

„Bisa! mengapa tidak?” tukas Hadji A. Salim.

„Kata-kata „politik” apa bahasa Indonesianja?”

Beliau mendjawab dengan tjepat sekali: „Terdjemahkanlah dahulu kata itu kedalam bahasa Belanda, nanti saja terdjemahkan kedalam bahasa Indonesia setjepat itu pula”.

Belanda itu terdiam.

Beberapa tahun jang telah lalu—dalam zaman djadjahan djuga—beliau mengadakan pidato dalam suatu rapat umum di Djokja. Pemuda2 jang bentji kepada pendirian politiknja, baru sadja dia naik ke mimbar sudah mengembek-ngembek seperti kambing. Sebab beliau bertjanggut! Djadi beliau hendak diserupakan dengan „kambing!”

Setjepat itu pula beliau berkata kepada ketua rapat: „Ini adalah rapat manusia, tuan ketua! Harap tuan ketua halaukan kambing-kambing itu keluar!”

Maka setjepat kilat beralihlah kambing kepada jang mengembek itu sendiri, terhindar dari pada jang berdjanggut!

1.
Timbang Rasa.

Tiap2 orang, tidak ada ketjualinja, ada kesukaannja dan ada pula jang tidak disukainja. Barang jang disukai atau tidak disukai itu dibentuk djuga oleh bi’ah, oleh lingkungan. Ada suatu saat bergembira, seperti hari lahir, kawin dan lain-lain, dan ada pula saat bersih hati, kematian, kerugian dan lain2.

Begitu tuan, begitu saja dan begitu setiap orang.

Tidak ada saat jang lebih berbahagia bagi seorang jang gemar berlumba kuda, dari pada saat ketika kudanja menang. Alangkah bertambah kegembiraannja, djika waktu itu tuanpun menundjukkan kegembiraan tuan.

Meskipun dalam adjaran agama tersebut bahwa kita tidak boleh suka dipudji, namun manusia djangan benar jang tidak suka dipudji. Kalau memudji itu terpandang tidak bagus, bagaimana hal menghargai? Saat kemegahan luar biasa bagi seorang pengarang, ialah bilamana ada seorang mengatakan kepadanja bahwa bukunja jang baru telah dibatjanja dan amat menarik hatinja. Saja mengaku terus-terang, bahwa itulah salah satu kelemahan kami kaum pengarang. Tegasnja kelemahan saja!

Demikian halnja dalam segala lapangan. Tidak memandang besar atau ketjil, tinggi atau rendah kedudukan orang. Maka kalau sudah demikian kelemahan djiwa seluruh manusia, apakah salahnja djika dalam pergaulan, kita memakai timbang rasa? Turut kita rasai dalam djiwa kesedihan atau kegembiraan orang. Bukankah sudah ada pepatah: „Basa tidak akan membeli?”

Djika kita pandai mempergunakan hal itu pada tempatnja, terang bahwa pribadi kita akan tetap terlukis dalam hati orang jang berhubungan dengan kita. Bangsa jang telah madju mengambil kesempatan untuk menundjukkan teguh silaturrahimnja dengan teman sedjawatnja pada saat-saat bergembira. Misalnja pada peringatan hari lahir. Sehingga kepada isteri sendiri, teman hidup setiap hari dilakukan orang demikian djuga.

Orang jang hanja mentjeriterakan kesusahannja kepada orang lain, orang jang bila bertandang kerumah sahabatnja hanja mentjeriterakan untung rugi perniagaannja, kemadjuan sekolah anaknja, keenakan masakan isterinja, dan perempuan jang bila bertandang kepada sesamanja perempuan hanja mentjeriterakan merek radionja, harga subangnja, tjorak kainnja dan lain-lain sebagainja, tentu manusia jang demikian akan mendjemukan orang. Dia hanja suka didengarkan, dan tidak sudi mendengarkan. Kita harus bersedia memberi, dan menerima!

Keberatan orang lain harus diingat, djangan hanja jang lemak pada „awak” sadja. Apalagi dalam pergaulan kita bangsa merdeka sekarang ini njata bahwa kita terdiri dari pada berbagai-bagai golongan dan lingkungan, dan masing2pun berbagai-bagai pula kesukaannja.

Dalam memimpin suatu perusahaan, maka kepala perusahaan itu tidak akan beroleh kedjajaan dan kemadjuan dalam perusahaannja, kalau pertaliannja dengan orang jang dibawahnja, hanja karena pertalian madjikan dan buruh sadja. Pertalian jang kekal adalah pertalian karena tjinta dan hormat, bukan karena takut. Dalam zaman djadjahan, hanja buruhlah jang pergi mengutjapkan selamat tahun baru kepada madjikannja, tetapi adakah madjikan menjelidiki nasib buruhnja? Dan si buruh hanja mendjadi pendjilat, mengambil muka. Pertalian jang seperti itu kaku sekali!

Dalam pekerdjaan memang bertinggi-berendah. Tetapi diluar pekerdjaan itu kita adalah sama manusia, sama merasai sedih dan gembira. Suruhan dan perintah untuk mengerdjakan suatu pekerdjaan tidaklah terpikul oleh djiwa jang merdeka. Tetapi rasa tjinta kepada jang mengepalai dan insaf akan pekerdjaan menjebabkan orang sanggup memikul pekerdjaan, walau bagaimana djuapun beratnja.

Sikap dingin dan muka masam hanja menimbulkan rasa bentji dan djemu. Itu akan menghilangkan kegembiraan. Hilangnja kegembiraan sangatlah memundurkan pekerdjaan.

Perbuatan awak segala benar, perbuatan orang salah belaka adalah pribadi jang lemah. Alamnja hanja dari rumahnja kekantornja, kerumahnja. Habis perkara! Machluk salah belaka, dan hanja dia sendiri jang benar!

Ilmu kehakiman sudah djauh madju. Sedangkan pesakitan jang bersalah besar, pembunuh, perampok, lagi ada hak mendapat pembelaan, kononlah manusia dalam pergaulan hidup.

Pesakitan berhak mendapat pembelaan, sebab hakim harus mempunjai timbang-rasa. Timbang-rasa adalah pintu kepada keadilan mendjatuhkan hukuman.

Orang jang selalu keras dan kasar bukanlah orang kuat. Ia lemah, dan menjelimuti kelemahannja itu dengan sikap keras. Andjing menjalak dibawah rumah kepada orang jang lalu-lintas, sambil memperlihatkan saingnja, adalah karena takut kepada jang disalaknja, bukan karena berani. Kalau diambil sebuah batu ketjil, belum lagi dilemparkan, dia telah lari dengan mengulaikan ekornja.

Timbang-rasa timbul karena hati jang bersinar, dan sinar itu membajang kepada mata, sehingga air mukapun mendjadi djernih.

Sir Walter Scott pengarang Scotland jang terkenal, berkata: „Timbang rasa adalah laksana rantai perak, atau benang sutera jang mempertalikan hati dengan hati, akal dengan akal dan tubuh dengan djiwa”.

Kalau kita fikirkan keberatan orang lain, tentu difikirkannja pula keberatan kita. Kalau dia tahu bahwa kita bersusah hati, karena kesungguhannja, maka ringanlah bebannja dan terobatlah kesusahan itu. Kalau tidak sanggup begitu, hiduplah sendiri.

„Djika orang lain merasa gembira karena kegembiraan kita, maka berlipat-gandalah rasanja kegembiraan itu”, demikian kata Plato.

„Djika kita sudi memikirkan kegembiraan untuk orang lain, tentu lebih dahulu kegembiraan itu akan singgah kepada kita”, demikian kata Aristo.

Senecka berkata: „Kalau didalam mempeladjari hikmat aku akan terpisah dari sesama manusia, maka biarlah hikmat itu tidak kudapat. Aku tak sudi terpisah dari pada sesama manusia”.

Pemuka bangsa, pengandjur, ahli pidato dan lain-lain jang berhubung dengan pergaulan jang luas, berkehendak sangat akan timbang rasa. Orang lebih dahulu harus tertarik kepada diri pemimpin. Dari sana kelak baru akan tertarik kepada tjita-tjitanja dan faham jang diandjurkannja.

Sungguhpun demikian pentingnja timbang-rasa, namun sajang dan bentji tidak djuga boleh menghilangkan timbangan jang adil. Sebab kerap kali rasa sajang atau bentji menghilangkan keadilan. Mata musuh gelap menimbang kebaikan dan mata kawan buta melihat kesalahan. Tuhan menjebut rasa-rasa atau sentimen itu dalam Kur’an ialah hawa. Tuhan bersabda: „Orang jang sanggup menahan nafsunja dari pada pengaruh hawa, akan bertempat dalam surga”.

Akal adalah pandu pertama jang harus diturutkan, bukan rasa-rasa, bukan bentji dan bukan sajang.

***

Dua persukuan Kuraisj telah berselisih sangat sengit, njaris terdjadi pertumpahan darah. Masing2 mempertahankan haknja dan mengakui bahwa pihaknjalah jang benar. Sedang mereka berselisih itu, tibalah Abu Sufjan, seorang tua Kuraisj jang bidjak. „Mengapa tuan2 bertengkar seperti ini? Apa jang tuan2 perselisihkan?”

„Hak kami!”

„Tidaklah tuan-tuan ingat bahwa ada lagi jang lebih tinggi dari pada hak?”

„Ada pulakah jang lebih tinggi dari pada hak dan apakah itu?”

„Ada, jaitu memberi ma’af!”

Mereka itu sadar akan peringatan itu, lalu ditjarinja perkara jang lebih tinggi dari pada hak; mereka bermaaf-maafan dan permusuhanpun hilang!

Abdulmalik bin Marwan ketika mendjadi Chalif, amat murka kepada seseorang dan orang itupun lari ketempat lain, lalu disuruh tangkap. Setelah tertangkap, chalifah mendjatuhkan baginja hukuman bunuh. Seketika perintah akan didjalankan, dia berkata kepada Chalifah: „Ja Amiral Mu’minin! Tuan telah diberi Allah kemenangan, sebab itu anugerahi pulalah saja lebih2 kemenangan itu, jaitu keampunan!”

Chalifah mendjawab: „Engkau dihukum sebab engkau bersalah! Itulah suatu keadilan!”

„Perkataan Amiral Mu’minin tidak salah, memang tuan melakukan keadilan, tetapi ada lagi jang lebih tinggi dari keadilan, jaitu memberi ma’af. Maafkanlah saja, karena Tuhan Allah suka kepada orang jang berbuat baik”.

Chalif rupanja kena oleh perkataan itu, dan dia diberi ampun.

Pada zaman Harum Al-Rasjid terdjadi pulalah jang demikian. Seorang pemberontak bernama Humaid Thusi tertangkap dan akan dibunuh pula dihadapan Chalifah. Segala alat pembunuhan telah disiapkan. Iapun menangis.

„Mengapa engkau menangis? Padahal engkau seorang jang terkenal berani, takutkah engkau akan mati?”

Ia mendjawab: „Demi Allah, ja Amiral Mu’minin, bukan saja menangis karena takut mati! Mati adalah perkara jang mesti ditempuh oleh tiap2 orang jang hidup. Jang saja tangiskan adalah satu perkara, jaitu sebab saja akan mati pada waktu Amiral Mu’minin sedang murka kepadaku”.

Harun Al-Rasjid tertawa mendengarkan djawab itu, „Lepaskan dia dan tjabut hukumannja, dan beri dia persalinan!” demikian titahnja.

Kedjadian2 seperti itu adalah tatkala kekuasaan radja belum ada berbatas, memerintah sekehendak hatinja sadja. Tetapi di Amerika, negeri demokrasi modern, terkenal pula Abraham Lincoln, seorang kepala negara jang sangat halus timbang-rasanja. Barangkali adalah lantaran dia senantiasa ingat bahwa ia diangkat djadi presiden jang ke-16 betul2 dari djendjang jang dibawah sekali. Dahulu ia hanja seorang kuli. Achirnja karena kesungguhan hatinja beladjar, iapun djadi pengatjara. Sesudah itu ia aktif dalam politik, sampai achirnja mendjadi presiden. Dan dia tidak pernah bersekolah.

Seorang opsir tinggi Amerika bertjeritera, bahwa setelah seminggu dia mendjabat pangkat presiden, Markas Tentara menjampaikan nama 24 serdadu jang bersalah melalaikan kewadjiban jang telah didjatuhi oleh mahkamah tinggi militer hukuman tembak-mati. Keputusan itu tinggal menunggu pengesahan presiden. Ketika beslit itu dibawa kehadapan beliau akan ditandatangani, beliau tidak mau membubuh tanda-tangannja. Opsir itu berkata: „Presiden! Kalau jang 24 ini tidak dihukum, maka disiplin tentara akan gojah dan banjak lagi jang lain akan berbuat salah melanggar aturan!”

„Panglima”, djawab beliau, „Negara Amerika telah penuh dengan perempuan djanda dan gadis kehilangan tunangan. Saja tidak mau menambah djumlah orang jang tjelaka itu, saja tidak akan menanda-tangani beslit itu!”

Dalam satu peperangan pula, perang saudara Selatan dan Utara, ada seorang serdadu tertidur selagi mengadakan pendjagaan. Baginja didjatuhkan hukuman mati. Beliaupun tidak mau meneken beslit hukuman matinja. Kata beliau: „Saja tidak mau berhadapan muka diachirat dengan Tuhan, dengan tanda tangan berlumur dengan darah pemuda itu! Seorang pemuda jang karena sangat pajah telah tertidur ditempat pendjagaannja, takkan saja beri balasan dengan 12 pelor!”

Pemuda itu dibebaskan dan diterima kembali mendjadi ditentera, dengan peringatan bahwa hukuman diteruskan djika dia bersalah lagi. Beberapa bulan kemudian, pemuda itupun tewas digaris depan. Ketika orang mendapati maitnja, didadanja kelihatan sebuah medali bergambar presiden. Dibawahnja tertulis: „Moga2 Tuhan memelihara Presiden kami, Lincoln”.

Pada suatu hari beliau memeriksa sebuah rumah sakit. Disana kedengaran olehnja seorang serdadu merintih dan memanggil-manggil!” „Ibu! Ibu!” Beliaupun datang kedekat orang itu dan bertanja dengan lemah-lembut: „Apakah pertolongan jang dapat kuberikan bagimu, anakku?”

„Saja harap tolong sampaikan suratku ini kepada ibuku!”

„Baik, saja sampaikan!” djawab beliau, dan surat itupun disampaikannja bersama sehelai bendera Amerika, untuk ibu jang malang itu, sebagai tanda penghormatan.

***

Tatkala djenazah Dr. Sutomo akan dikebumikan, datanglah orang2 jang tjinta kepadanja memberi penghormatan jang achir. Diantara jang datang itu adalah seorang pemuda pranakan Belanda. Sambil mendekati keranda, iapun menangis dengan sepuas hati. Orang jang hadir mendjadi heran belaka, mengapakah anak Indo itu menangis sedemikian, seakan-akan ia anak kandung almarhum? Sambil timbul keraguan, adakah agaknya almarhum mempunjai seorang putera jang tidak „resmi”?

Akan menghilangkan segala keraguan, terpaksalah Dr. Sumarno, adik almarhum membuka satu rahasia, jang sangat disembunjikan pada masa almarhum hidup. Anak Indo itu adalah seorang pemuda jang ingin melandjutkan peladjarannja di N.I.A.S. tempat Dr. Sutomo mengadjar. Sajang ajah bundanja orang miskin, sehingga rasa-rasanja tidaklah akan ada kesanggupan lagi baginja meneruskan peladjarannja.

Pada suatu hari datanglah ia mengadukan halnja kepada Dr. Sutomo, bahwa dia ingin hendak terus beladjar, tapi sajang perbelandjaan tidak tjukup. Dengan timbang-rasa jang amat dalam, keadaan pemuda itu sangat mempengaruhi almarhum, sehingga achirnja beliau menetapkan bahwa ’sampai tammat sekolahnja, beliaulah jang akan menanggung belandja sekolahnja itu. Dengan satu sjarat, jaitu hal itu mesti tetap dirahasiakan, tidak seorang djuapun jang boleh diberi tahu.

Demikianlah, anak itu telah beladjar dari tahun-ketahun dengan perongkosan Dr. Sutomo sendiri, dengan tidak diketahui oleh umum. Tatkala Dr. Sutomo merasa bahwa adjalnja telah dekat, barulah dibukanja rahasia itu, dibisikkannja kepada adik-adiknja, supaja dapatlah tanggungan atas perbelandjaan anak itu diteruskan oleh jang tinggal.

Tetapi oleh karena kesedihan anak itu atas kematiannja dan terkenang akan ketinggian budinja, meletuslah tangisnja pada saat mait beliau akan dikuburkan. Maka untuk mendjaga orang banjak djangan salah terima, terpaksalah hal jang dirahasiakan itu terbuka djuga oleh keluarga almarhum sendiri.

1.
Berani,

Apakah arti berani?

Berani bertindju atau berani berkelahi?

Tentara jang berdjuang dimedan perang dengan sendjata lengkap belum tentu boleh disebut berani. Karena banjak djuga orang pengetjut, sanggup menghadapi musuh, memegang bedil dengan tangan menggigil. Kerap kita lihat dalam zaman revolusi, rakjat jang hanja bersendjatakan bambu runting tidak gentar menghadapi sendjata musuh serba lengkap.

Pribadi jang berani, jaitu jang sanggup menghadapi segala kesulitan atau bahaja, dengan tidak kehilangan akal.

Bukan sadja dimedan perang harus berani. Bukan sadja pengail dalam perahu ketjil menghadapi ombak dan gelombang besar2 jang harus berani. Melainkan semua manusia harus berani menempuh hidupnja. Sebab sudah njata bahwa hidup itu hanja mata-mata rantai kesulitan jang sambung-bersambung. Kesusahan tidak dapat dielakkan; hanja dapat ditempuh dengan hati tabah. Keberanian adalah menundjukkan kesanggupan manusia menempuh hidup, mudahkah atau sukarkah. Pada waktu bertemu dengan kesulitan, dapatlah dilihat mana jang berani dan mana jang penakut. Mana jang jakin dan mana jang ragu2. Mana jang besar dan mana jang ketjil djiwanja.

Kesehatan badan dan kesehatan djiwa bersangkut-paut dengan keberanian itu. Terutama lagi bergantung kepada pendidikan. Berani jang benar ialah berani dengan ilmu. „Kalau kail pandjang sedjengkal tentu tidak upaja menduga laut”.

Selama keberanian masih ada dalam djiwa suatu bangsa, maka betapa djuapun besarnja kesulitan jang dihadapinja, pertjajalah! dia akan bangun kembali. Sebab itu seluruh benua Eropah jakin bahwasanja bangsa Djerman tidak akan membiarkan negerinja terus-menerus diduduki oleh bangsa asing.

Apa sebab? Sebab bangsa Djerman sendiri jakin akan hal itu.

Ketika bangsa2 Barat mendjadjah negeri2 Timur, maka jang sangat ditakutinja daripada bangsa jang didjadjah itu ialah kesadarannja akan nasibnja dan timbulnja keberanian kembali buat menentang kesulitan, lalu berdjuang mengubah nasib.

Didikan olah raga bukan sedikit menanamkan keberanian. Bukan sadja berani menerima kemenangan, tetapi berani djuga menerima kekalahan. Tidak lekas gembira terlondjak-londjak tatkala berlaba dan tidak pula terharu bersedih-sedih ketika datang malapetaka. Orang jang berani berniaga harus berani bertemu dengan rugi, orang jang berani memanjat, harus berani menghadapi kedjatuhan. Kedjatuhan adalah biasa dalam hidup. Dan orang akan menunggu, akan bangunkah kita lagi sesudah djatuh atau terus rebah, tak bangun2 lagi. Keberanian bukan sadja ketika menjerang, pun djuga ketika bertahan. Keberanian bukan sadja pada ketika mendaki, pun djuga waktu menurun.

  • Tanda berani ialah sikap tenang, walaupun bagaimana hebatnja jang dihadapi. Tidak gugup. Keinsafan kita akan harga dirilah jang menjebabkan kita berani. Misalnja djika kita bertemu dengan seorang berpangkat tinggi, sebagai bangsa merdeka kita akan berlaku hormat kepadanja sebagai kepada orang jang tidak berpangkat djuga. Kita tidak akan mendjilat-djilat dan tidak pula akan menjombong. Sebab arti pangkatnja itu adalah kewadjiban jang dipikulkan rakjat kepadanja. Kalau dia salah, dia dihukum ; kalau dia tjurang dia dituntut. Dan hukuman jang paling berat ialah kebentjian hati orang banjak.

Sedangkan kepada bangsa lain jang telah berurat-berakar dinegeri kita 350 tahun lamanja, kita tidak takut! Mengapa kita akan takut kepada bangsa kita sendiri. Beberapa opsir tentara jang kita bentuk, kita beri bertanda didada dan dilehernja; kita beri berbintang dan sebagainja, bukankah sanak saudara kita djuga? Bahkan bukankah kita jang meninggikan dan memupuk dia dengan keringat kita? Tentara kita adakan, ialah buat mendjaga keamanan kita. Dan sekaliannja itu kita bajar bukan?

Didalam memilih suatu pendirian, kita tidak perlu takut akan dibentji orang. Sebab hal itu adalah berdasarkan pandangan kita dan penjelidikan kita. Kitapun bersedia mengubahnja, kalau datang alasan jang kuat membantah pendiriannja. Kalau kita telah berani menentukan pendirian, mengapa kita tidak berani mengubah pendirian itu kalau njata salah? Bukankah jang djadi pokok segala pendirian itu ialah peri hal menuntut kebenaran?

Orang jang merdeka tidak takut akan kemerdekaan orang lain!

Plato mengatakan dalam „Republik”nja, bahwasanja ahli-ahli fikir, ulama, ahli seni, pengarang dan sebagainja adalah „emas” bagi satu negara. Dia jang akan mengisi djiwa negara itu. Dan demokrasi dalam kemadjuannja mengakui hak manusia menjatakan pendirian. Orang bebas dari rasa takut dan kemiskinan.

Tetapi kewadjiban mendjadi „emas negara” tidak dapat ditunai, kalau djiwa penakut, djiwa segan-segan. Memang, orang tidak takut lagi akan dituntut, tjuma orang takut akan kemarahan orang banjak. Plato djuga jang mengatakan: „Sipengekor kepada orang banjak tidaklah akan djadi Orang Besar”.

Orang jang mendjundjung tinggi kemerdekaan dan kebebasan menjatakan fikiran itu, kerapkali menderita karena memakai hak itu. Ketika semangat revolusi berkobar-kobar sehingga hampir timbul sifat „militerisme”, orang jang demikian memberanikan diri menentang, baik dengan tulisan atau dengan lisan segala perbuatan, segala tindakan jang pintjang. Republik dipakai orang untuk melakukan kezaliman. Dan orang jang menentang perbuatan itu ditahan. Dan tidak pernah diperiksa oleh hakim! Ia tahu bahwa perbuatannja itu akan mendapat tantangan, tetapi ia ingat kepada jang besar dari pada itu; jaitu kusut akan diselesaikan dan jang keruh akan didjernihkan.

Ia dimurkai dan dibentji. Tetapi ia tahu, bahwa apa jang dikatakannja akan membawa perubahan.

Kadang-kadang buah pikiran seorang pengarang jang mempunjai pendirian, diterima orang djuga. Tetapi orang itu marah karena merasa tersinggung. Bukan marah karena prinsip, melainkan ditjarinja sebab jang lain misalnja „keras amat” atau „belum masanja!” dan lain-lain. Kadang2 jang kita djelaskan kesalahannja atau kebenarannja hanja mengenai satu urusan, tetapi orang merasa tersinggung djuga! Sebagai seorang pengarang kita tahu bahwa hal itu akan kedjadian! Ketika itulah saat udjian dan menghendaki ketabahan! Sebagai pengarang kita akan populer dan telah populer. Karangan kita telah kerap kali menarik perhatian orang. Tetapi lantaran karangan jang sekali itu, kepopuleran kita akan tergontjang. Pena pengarang jang berpendirian, kerap kali lebih tadjam dari pedang. Sekarang bagaimana? Beranikah engkau mengurbankan kepopuleran untuk mengabdi kepada kebenaran?

Kalau engkau berani, ketika itulah baru engkau mempunjai pribadi! Tetapi kalau engkau tidak berani, lebih baik lemparkan penamu dan ambil tjangkul, habis perkara! Padahal tjangkul itupun meminta tanggung-djawab djuga!

***

Kita buat bagan, kita buat rantjangan sampai 10 buah. Kita harus insaf bahwa kadang2 tidak sampai kesepuluhnja bisa berlaku ; kadang2 hanja 5 atau kurang! Kita harus insaf bahwa disamping rantjangan kita, ada lagi beberapa sebab jang lain dan keadaan lain, masa dan tempat, atau kekuasaan jang lebih tinggi dari kekuasaan kita, jang akan membelokkan keadaan itu keluar kemauan kita. Kadang2 datang pula hal-hal jang kebetulan, suatu saat jang penting, jang kalau kita awas memperhatikannja, hasilnja akan lebih besar dari segala rantjangan bermula. Banjak perkara besar didunia ini terdjadi dari sebab saat-saat jang tidak disangka itu. Orang jang tak berdaja menerawang, kalau datang saat serupa itu; kalau dibeginikan, kalau dibegitukan! Tetapi siapa jang langsung bisa mempergunakan saat kebetulan itu? Ialah orang jang berani.

Muhammad Ali Pasja jang mendirikan negeri Mesir berkata, „Kesempatan datang dengan tiba-tiba dan pergipun dengan tiba-tiba pula. Orang jang berani menangkap kesempatan itulah jang akan sanggup mentjiptakan pekerdjaan besar”.

„Berilah aku kesempatan dan lemparkanlah aku kelaut !” (A’thini lhaz za wa rmini fi Ibahri).

Takut gagal adalah gagal jang sedjati. Takut mati adalah mati sebelum mati. Hidup itu ialah gerak dan gerak itu ialah madju, berdjuang dan naik djatuh dan naik lagi. Kita tidak tahu apa jang akan terdjadi besok, sebab itu tidak ada tempo jang boleh terbuang. Sebagai bangsa, dahulu kita berdjuang mengusir pendjadjahan. Setelah merdeka kita berdjuang mempertahankan kemerdekaan, dan setelah diakui kemerdekaan itu kita berdjuang mengisinja, supaja bangsa dan negara kita berdiri, dan hidup terus. Apabila kesulitan tidak ada lagi, apabila kita sudah puas sadja dengan apa jang ada, artinja matilah negara kita dan kita sendiri.

Dengan keberanian menempuh kesukaran, orang hendak memperhatikan kesanggupan kita. Orang hendak melihat pribadi kita.

Socrates mengatakan: „Diri adalah semisal negara dan negara adalah semisal diri. Bahkan, diri adalah negara dan negara adalah diri”.

Mentjari kemenangan bukanlah perkara mudah; kedjajaan bukanlah perkara ketjil. Sebab itu beladjarlah dan beranikanlah diri tertawa pada waktu „kematian angin” sebagai tertawa pada waktu diembus angin. Beranilah dan kumpulkanlah kekuatan pada waktu gagal untuk tegak dan melompat sekali lagi, dengan lompat jang lebih keras, sehingga orang jang tadinja tertawa melihat kita djatuh, bertukar mendjadi takdjub.

Tidaklah bernama berani orang jang senantiasa mengadukan nasibnja kepada orang lain. Sebab tjita-tjita dan pengharapan akan zaman depan, dan kejakinan akan menang, itulah perkara jang menguatkan ruh insan untuk berdjalan terus. Itulah jang membesarkan himmah dan tjita. Apalagi djika perdjuangan itu diselenggarakan dengan akal, dengan hati dan dengan tangan.

Mengakui kekurangan diri adalah tangga buat kesempurnaan diri. Berusaha terus mengisi kekurangan adalah keberanian luar biasa. Merasa tjukup adalah alamat tidak tjukup.

Barang siapa tidak sanggup atau tidak berani menguasai diri, djangan harap akan sanggup menguasai orang lain. Bukan keberanian kalau hanja sanggup berkelahi dengan matjan. Tetapi keberanian ialah kesanggupan berkelahi dengan kehendak nafsu.

***

Mari naikkan setingkat lagi.

Sudahkah kita berani memberi maaf musuh kita ? Sudahkah kita berani menghapuskan dari hati kita perasaan dendam, karena kesalahan teman kepada kita?

„Membalas baik dengan djahat adalah perangai jang serendah-rendahnja”.

Membalas djahat dengan djahat, bukanlah pri-kemanusiaan.

Membalas baik dengan baik adalah hal jang biasa.

Tetapi membalas djahat dengan baik adalah tjita-tjita kemanusiaan jang setinggi-tingginja. Kita harus sanggup hidup memberi tjita-tjita itu tumbuh”.

Memang sakit rasanja djiwa tatkala membalas kedjahatan dengan kebaikan. Dalam bathin kita amat hebat perdjuangan nafsu djahat dengan budi jang mulia. Nafsu membajangkan penderitaan kita karena kesalahannja kepada kita dan kerugian kita karena aniajanja.

Terbajang pula bahwa pembalasan adalah hal jang pantas dan patut. Tetapi budi kita jang mulia membajangkan lawannja, jaitu kepuasan hati karena kemenangan budi dan memberi maaf, karena menolong orang lain, dan lagi kepuasan hati bilamana karena ketinggian budi kita, kita dapat membuat musuh besar djadi teman jang karib dan setia. Hebat perdjuangan dalam batin. Kita mesti berani! Achirnja dapatlah kita kalahkan kehendak jang djahat, dan menanglah tjita2 jang mulia! Tidak ada saat jang lebih berbahagia dari pada saat itu. Harga hidup kita naik beberapa tingkat lagi. Pribadi kita mendjadi kuat.

Kais bin ’Ashim, seorang pudjangga Arab berkata:

„Tjobalah buhulkan kembali tali jang telah putus. Tjobalah beri orang jang tidak sudi memberimu. Tjobalah beri maaf orang jang menganiaja kamu”.

Disana baru akan engkau rasai apa artinja kemanusiaan!

Lukman Hakim berkata: „Tidaklah dapat kita mengenal orang, melainkan pada tiga waktu: Tidak dapat diketahui adakah seorang pemaaf, melainkan ketika dia marah. Tidak dapat dikenal orang jang berani, melainkan pada waktu berdjuang. Tidak dapat dikenal sahabat, melainkan dalam waktu susah”.

Mustafa Kamil pemimpin Mesir berkata: „Tidak dapat diketahui perasaan tjinta tanah-air, melainkan ketika datang tjobaan”.

„Orang jang sanggup menderita, sanggup pula memberi maaf. Sedikit aniaja dan banjak temannja”, demikian udjar Socrates.

„Kesanggupan menahan hati adalah sendi kemanusiaan dan itulah tudjuan pendidikan”, kata Herbert Spencer.

„Tidak ada jang sukar bagi jang berani; tidak ada pekerdjaan jang langsung bagi orang jang ragu”, demikian kata Lloyd George.

„Hapuskan gunung2 itu”, kata Napoleon seketika hendak menjeberangkan 60.000 balatenteranja dari Perantjis ketanah Italia. Padahal jang akan didaki ialah pegunungan Alpen jang terkenal. Dan iapun sampai ketudjuannja!

"Dirikan rumahmu diatas puntjak gunung Vesuvius", kata Nietzsche.

Demi kalau tidak ada keberanian mengambil tindakan dan bertanggung-djawab pada kedua pemimpin Indonesia, dengan bersandar pula kepada keberanian pemuda, tidaklah akan terdjelma Proklamasi 17 Agustus 1945. Padahal persendjataan Djepang ketika itu masih amat kuat, istimewa pula persendjataan Sekutu. Dan revolusi Indonesiapun takkan menakdjubkan seluruh dunia, kalau tidak terdjadi pemberontakan Surabaja pada 10 Nopember 1945 itu.

Penjair Iqbal berkata:

„Umur bukan ukuran tahun
Akal bukan ukuran tubuh;
Sehari hidup singa dirimba
Seratus tahun bagi sidomba”.
1.
Bidjaksana.

Hikmat kebidjaksanaan adalah tiang jang kokoh bagi pertumbuhan pribadi. Timbulnja kebidjaksanaan adalah karena ilmu, ketetapan hati, dan karena meletakkan sesuatu pada tempatnja, serta menilik sesuatu menurut harganja. Orang jang bidjaksana tepat pendapatnja, djauh pandangnja dan baik tafsirnja. Dia dapat menjisihkan mana jang benar dan jang salah memilih mana jang patut dikerdjakan dan mana jang patut ditinggalkan. Iapun kenal akan tempat dan tahu akan waktu. Nampak kepadanja lobang jang akan dimasukinja dan djalan jang akan dilaluinja. Kalau dia menegakkan suatu hukum, tidaklah masuk kedalamnja pengaruh hawa-nafsunja. Tidak berudang dibalik batu. Dia Adil.

Hikmat kebidjaksanaan adalah anugerah istimewa dari Allah kepada hambanja. „Diberikan Allah hikmat kepada siapa jang dikehendakinja. Siapa jang dianugerahi hikmat, adalah beroleh anugerah jang sangat banjak”. (Qur’an).

Bidjaksana adalah sendi hidup jang utama, didalam menegakkan pribadi jang tinggi mutunja. Dari sanalah tumbuhnja achlak sebagai sendi keutamaan hidup. Hal itulah jang dibitjarakan pandjang-lebar oleh segenap ahli filsafat dan ahli2 budi, sedjak manusia pandai berfikir. Kalau hikmat tidak ada, pendirian gojah dan pandangan tumpul, hilanglah harga pribadi. Tak tentu kemana akan ditudjukan hidup ini.

Djika kita pandai menjukakan hati orang, adalah kita masuk bilangan orang bidjaksana; itupun asal kita tidak mengurbankan kejakinan dan pendirian sendiri. Jang amat banjak merusakkan kebidjaksanaan ialah sifat kasar, lekas marah, sombong dengki dan bentji. Tidak menghargai orang lain dalam pendiriannja: Awak sadja jang benar!

Baidaba berkata: „Tidaklah bidjaksana orang jang membenarkan perkara jang djusta. Atau meluruskan barang jang telah bengkok. Atau berdaja-upaja mendidik orang jang dasarnja memang tak beradab. Atau memasuki perkara jang bukan kerdjamu”. Katanja pula, „Orang jang mengerdjakan suatu pekerdjaan jang bukan kerdjanja, bukanlah bekerdja namanja. Perempuan djangan memakai pakaian laki-laki dan laki-laki djangan memakai pakaian perempuan. Tamu djangan menjangka dirinja tuan rumah. Barang siapa berkata-kata dalam suatu madjelis atas perkara jang tidak ditanjakan orang, adalah sifatnja gegabah”.

Alat2 untuk bidjaksana :

1.
Bersiap dan djangan terburu.
2.
Ilmu dan pengalaman.
3.
Tjerdik tjendekia.
4.
Teguh dan tetap hati.

Pantangnja 5 matjam :

1.
Terburu-buru
2.
Terlalu pandjang fikir
3.
Kurang ilmu dan kurang pengalaman
4.
Salah berfikir (berfikir tidak teratur)
5.
Beku, lamban dan demben.

„Kurang tjerdas dapat diperbaiki dengan beladjar. Kurang tjakap dapat dihilangkan dengan pengalaman. Tetapi kurang djudjur pajah membetulinja”. Demikian wedjangan Bung Hatta.

Pada saat orang lain dalam kegelapan, terpesona atau tjemas melihat suatu kedjadian jang dipandangnja besar, orang jang bidjaksana hanja tersenjum, sebab ia sudah tahu akibat segalanja itu. Manthiknja dan djalan fikirannja sudah menentukan bahwasanja hal jang begini mulanja, begini lawannja dan begini udjungnja. Tetapi orang jang sontok fikiran, karena sempit pergaulan, karena kurang ilmu dan sedikit pengalaman, menghabiskan waktu dengan tjuma mengurus pekerdjaan ketjil jang disangkanja besar.

1.
Baik Pandangan.

Udjud jang mutlak, kebaikan jang mutlak, kebenaran jang mutlak dan keadilan jang mutlak, hanjalah Satu. Semata-mata mentjari jang baik sadja, jang tidak bertjatjat dalam alam ini, tidaklah akan bertemu. Orang jang berdjiwa besar bukan tidak tahu bahwa ada jang buruk dalam dunia ini. Tetapi kebesaran djiwanja dan keteguhan pribadinja menjebabkan dia memandang dunia dari segi jang baik. Hal itu dinamai pengharapan.

Seorang ahli filsafat jang terkenal, Nietsche, memandang dunia dari segi jang buruk belaka. Tetapi setelah diselidiki, pendiriannja itu tidaklah berarti putus asa, melainkan dia mengandjurkan manusia terus berdjuang, sampai djiwanja teguh menghadapi segala keburukan itu, maka karena pessimislah maka dia mendjadi optimist.

Manusia jang lemah, akan djatuh tersungkur. Sebab itu dia harus membentuk pribadinja sampai mendjadi manusia jang lebih dari pada manusia2 jang sempurna”.

Ahli filsafat Islam jang terkenal pada zaman ini Iqbal, mengadjarkan ilmu memindahkan sipat Tuhan kepada diri kita, sehingga tidak ada lagi hidjab diantara kita dengan Allah. Sebab itu nistjaja kita akan mempunjai pendirian teguh kelak, bahwasanja segala kesulitan, kepintangan, keburukan jang ada dalam dunia ini hanja perkara ketjil belaka, dihadapan perkara jang lebih besar, jaitu kekuasaan Zat Jang Maha Esa.

Kelemahan hati menjebabkan ketjewa, dan alam terpandang dengan katja mata hitam. Orang jang buruk pandangnja hanja sanggup mentjela, hanja sanggup menjatakan tidak puas. Tetapi orang jang baik pandangnja senantiasa hendak membangunkan, meneruskan bengkalai jang telah ditinggalkan Tuhan, supaja disudahkan oleh manusia.; „Bumi ini kami wariskan kepada hamba kami jang sudi berbuat bakti”. (Qur’an).

Persangkaan buruk jang bukan-bukan menimbulkan sikap mundur madju dalam menghadapi hidup. „Belum djadi pergi, dia sudah pulang”. Hal itu karena kelemahan urat saraf dan kelemahan selidik akal atau djiwa. Itulah pangkal segala kegagalan. Angan-angan berenang dalam udara jang gelap dipengaruhi waham dan prasangka jang tiada berudjung-pangkal. Mega was-was, awan tahjul.

Pandangan jang baik atas hidup menimbulkan akal, membuka ilham dan membuka djalan bagi memperbarui hidup. Sangka buruk menimbulkan malas dan lalai. Maka runtuhlah pribadi.

Jang amat menghambat kemadjuan kita pada zaman djadjahan ialah kepertjajaan kepada jang bukan-bukan. Tahjul dan churafat sangat berpengaruh. Takut kepada beringin sakti, pertjaja kepada hantu kubur, sundal-bolong. Dipengaruhi oleh tanda-tanda dan gerak jang menjebabkan hati berdetak. Akan keluar dari rumah mesti menunggu angin, menentukan langkah. Kalau bertemu ular melintang djalan, atau burung hantu berbunji: Tjelaka! Perdjalanan tidak boleh diteruskan lagi. Kitjau murai ditakuti, kelit elang ditakuti, kubur tua ditakuti. Ajam berkokok sendja, tanda ada gadis dapat malu. Hudjan panas, tanda ada orang mati bertikam. Telinga mendenging, akan mendengar kabar buruk. Andjing meraung mengadah bulan, tanda ada hantu! Dan kepertjajaan kepada Tuhan mendjadi samar, diselubungi oleh tahjul pusaka zaman animisme.

Orang Eropah takut kepada angka 13 dan kutjing hitam.

Itulah sebabnja, maka banjak orang menanjakan nasibnja kepada tukang tenung, tabib2, hakim-filsafat, ahli nudjum dan ramal. Ditanjakan kepada mereka itu nasib pada zaman dulu, kini dan nanti. Apakah perubahan nasib dulu, kini dan nanti? Bukankah hanja beberapa kalimat sadja? Lahir, menangis, dan mati? Aturan ini belumlah berubah dan tidaklah akan berubah selama-lamanja.

Apa perlunja ditanjakan kepada tukang tenung? Apa perlunja dipermainkan kartu? Bukankah menunggu djawab si tabib dengan dada berdebar, alamat kelemahan batin?

Kita tidak memungkiri djiwa besar2 jang dapat anugerah dari pada Tuhan, diberi pengetahuan beberapa perkara. Tetapi perkara itu tidaklah lebih dari pada perkara naik dan djatuh, susah dan senang, laba dan rugi.

Demikian dahulu, demikian kini, dan demikian seterusnja.

Kalau sudah begitu kedjadiannja, apalah gunanja kita muram? Apa gunanja kita memandang buruk kehidupan? Apalah gunanja ditanjakan kepada tukang tenung?

Kadang-kadang kita takut mati. Padahal kalau kita sudah telandjur hidup, mati itu sudah mesti! Lebih baik hidup itu diisi dengan sesuatu, jang akan memberi arti hidup kita, dan manfaat kepada hidup kita.

Mati pasti, Hiduppun pasti!

Apalah artinja kita dihadapan alam jang seluas ini?

„Mereka kiaskan hidup itu dengan zaman.
Salah! Hidup ialah bekerdja dan berfikir”.

Demikian udjar seorang penjair.

Orang jang bergembira dalam hidup, pergi kekutub Utara, pergi kerimba Afrika, atau mengelilingi dunia dengan kapal udara. Semuanja itu tentu ada bahajanja. Pasti! Tidak perlu tukang tenung lagi. Banjak jang mati dan ada jang pulang! Selamat! Jang selamat itulah jang membawa fikiran baru, pengalaman dan pengetahuan baru bagi kemanusiaan. Dan tukang tenung tinggal disitu-kedisitu djuga!

Dengan tangkas pemimpin Indonesia memaklumkan kemerdekaan Indonesia kemuka dunia. Mereka itu memandang zaman depan dengan persangkaan jang baik. Meskipun mereka tahu djuga bagaimana banjaknja darah jang tertumpah karena maklumat kemerdekaan (proklamasi) itu.

***

Amat tjepat perubahan dalam dunia jang ketjil ini. Tidak ada lagi bangsa jang dapat menjisihkan dirinja dari bangsa lain. Dahulu ada peradaban dan kebudajaan suku. Beberapa puluh tahun jang telah lalu ada peradaban dan kebudajaan daerah. Dalam zaman sekarang kita menuju kebudajaan dunia! Orang jang memandang dunia dari seginja jang buruk, hanja akan mengeluh mengingat keindahan susunan jang lama, dan dia akan muram dan berketjil hati melihat aliran jang baru. Mereka lupa — sebagai kita katakan tadi — bahwa dalam jang lama mesti ada kekurangannja dan dalam jang baru, mesti ada pula manfaatnja. Mata djiwa jang muram tentu tidak melihat hal itu.

Orang Arab menangisi unta tatkala dikalahkan oleh oto. Apa jang disangsikan? Padahal oto memang lebih perlu dan kapal terbang berpuluh kali lebih tjepat dari oto?

Ada jang mempertali-talikan segala peristiwa itu dengan agama.

Memang, kalau agama itu telah diikat oleh bermatjam-matjam tradisi. Tetapi kalau agama didjadikan perhubungan jang langsung antara hamba dengan Tuhannja, menurut asal pokoknja, tidaklah agama akan menghambat kemadjuan hidup. Tetapi kemadjuan kehidupan akan memperlekas terbukti kehendak agama.

Tukang „keluh-kesah” tidaklah akan menang, pertjajalah! Tukang „keluh-kesah” akan ditinggalkan oleh zaman. Nasibnja akan sama dengan Samirij, jang kena murka dari Nabi Musa, Lari kehutan, kian lama kian djauh, kesudahannja …berbulu pandjang!

Atau djadi tukang tjemooh. Semuanja ditjibirkan, semuanja salah, tidak ada jang lepas dari tikaman kritiknja. Dan dia sendiri tidak dapat berbuat apa-apa!

Kata Darwin ada pertalian asal usul manusia sekarang dengan monjet. Kata Qur’an dalam zaman nabi Daud ada orang djadi monjet. Tetapi djika diperhatikan kinipun ada djuga orang jang suka djadi monjet. Tidak ada orang lalu-lintas jang terlepas dari tjibirnja.

Maka kalau pribadi hendak kuat, pandanglah alam dengan segala keindahannja, dan berusahalah menegakkan kebadjikan diatasnja. Penjakit muram dan memandang buruk itu, pessimistis, amatlah berbahaja bagi diri sendiri. Anaknja terlalu banjak, diantaranja ialah bentji dan dengki.

Dan itulah pangkal sakit djiwa jang susah diobati.

Dan runtuhlah pribadi!

1.
Tahu Diri.

Tahu diri dalam bahasa Arab tawadu’. Artinja kita insaf dimana kedudukan kita jang sebenarnja, sehingga tidak lebih keatas dari pada tempat kita jang sebenarnja dan tidak pula dibawah. Djadi bukanlah merendahkan diri, sebagaimana kerap kali orang salah mengertikannja.

Orang jang mengangkat dirinja lebih dari pada semestinja, membesar-besarkan diri, tidak tahu mengaku tahu, dsb., nistjaja dalam waktu jang tidak berapa lama akan kelihatan kebodohan atau kelemahannja.

Tak usah kita memukul tjanang menundjukkan diri, karena manikam tulen akan dapat djuga dikenal oleh djauhari. Emas lantjung tiada perlu disepuh, kilat tembaga akan kelihatan djuga. Manusia itu serupa belaka. Kelebihan jang akan didapat, hanjalah karena bekas. Lebih baik serupa orang mengadji, dimulai dari bawah, dari alif. Agar kelak berangsur-angsur kepada huruf jang lain. Buruk amat kalau dimulai dari atas, karena achirnja terpaksa turun djuga.

Tahu diri bukan artinja membuat diri mendjadi hina, segan-segan, menjisih-njisih, hingga timbul takut bergaul, atau kaku dan tjanggung. Bukan! Sebab hal itu sangat berbahaja, harus dibuang djauh-djauh. Orang jang pandai menjesuaikan diri, ialah jang tahu dimana tempat duduknja. Dia tahu apa jang ada padanja dan tentang mana dia kurang. Bagaimanapun djua masjhurnja dan besar seseorang, namun „segala tahu” tidaklah ada. Orang „segala tahu” sangatlah mendjemukan.

Bernardin du St. Pierre, pengarang, tidak merasa tjanggung menemui Napoleon kaisar. Walau Napoleon seorang kaisar dan dia pengarang, Bernardin lebih tinggi dari Napoleon dalam hal mengarang. Emil Ludwig, pembuat riwajat hidup orang besar2 jang terkenal, tidak segan kepada Mussolini. Apa jang akan disegankannja, bukankah tentang membuat riwajat itu dia lebih ahli dari Mussolini?

Sjarif Radhi, seorang pudjangga Arab berkata kepada seorang Chalif Bani Abbas: „Keturunan saja dengan keturunan tuan, sama. Dan kita sama-sama berhak memangku djabatan ini. Kelebihan tuan hanjalah karena tuan jang memangku djabatan itu sekarang”.

Hal itu terdjadi dalam zaman Feodal Arab, dalam masa beradja-radja. Ditanah jang berdemokrasi seperti tanah air kita ini, tentu kita boleh mengatakan kepada Bung Karno, Bung Hatta dan Bung jang lain2: „Kita sama-sama rakjat Indonesia! Sajapun berhak memangku djabatan tuan, kalau saja sanggup”.

Orang jang tahu akan harga dirinja dan kenal dimana tempatnja, tidaklah akan sombong dan tidak pembohong. Tidak perlu menondjol-nondjolkan dan melebih-lebihkan diri, sebab ada jang akan dibawanja ketengah. Jang sangat perlu ialah bekerdja, supaja orang lainpun dapat pula menentukan dan menjetudjui dimana tempat kita.

Kalau kita orang besar, orang hendak melihat tentang apakah kebesaran kita itu. Kalau kita pemimpin, apa jang dapat kita pimpinkan?

Orang jang tahu menjesuaikan diri, tentu akan dihormati, ditjintai dan disukai orang. Ja, kita disukai orang, sekedar kesanggupan kita mengenal diri itu.

Nenek mojang kita bangsa Indonesia sangat memuliakan padi. Dizaman purba padi itu diberi gelar Dewi Sri, atau Sang Hijang Sri. Padi itu didjadikan djua amsal bagi budi. Sebab itu mereka berkata: „Ilmu padi akan dipakai, kian berisi kian tunduk”.

Sahabat Umar berkata: „Saja berharap, hendaklah seorang Amir bergaul dengan rakjatnja, serupa mereka sadja, tetapi disana tetap djuga djelas bahwa dialah amirnja”.

Karena tawadu’ orang ditinggikan, karena sombong orang direndahkan.

Al-Mamun berkata, „Tidaklah orang takabur, melainkan karena dia sendiri merasa kurang. Tidaklah orang meninggi-ninggi, melainkan karena merasa rendah”.

Amsal Baidaba dalam „Kalilah-Daminah”: Pada suatu hari sang kantjil mendengar suatu suara besar dalam sebuah hutan. Dia pergi kesana dan dilihatnja, diatas pokok kaju ada tergantung sebuah tambur besar.

Dia bersuara karena dipukul-pukul oleh ranting dan dahan sekelilingnja, karena dilanda angin. Ditjobanja melihat dekat2 dan dipetjahkannja. Kosong! Maka berkatalah sang Kantjil, „Saja tidak tahu! Rupanja jang kosong itulah jang keras suaranja”.

Pasteur, tabib jang amat berdjasa kepada kemanusiaan itu dihormati orang dengan suatu perdjamuan. Waktu dia masuk, semua orang berdiri dan bertepuk tangan menghormati kedatangannja. Diapun turut berdiri, tidak terus ketempat duduknja dan turut pula bertepuk tangan dan merundukkan kepala memberi hormat. Sekali-kali tidak disangka, bahwa dialah jang dihormati. Sangkanja jang dihormati itu ialah kedatangan putera mahkota. Setelah dibisikkan orang bahwa dialah jang dihormati itu barulah peluhnja terpetjak kemalu-maluan dan barulah tangannja berhenti bertepuk-tepuk.

Mahatma Gandhi adalah tjontoh jang masjhur tentang tawadu’! Kalau naik kereta api, djarang dia naik dikelas jang tinggi, tetap dia membeli kartjis kelas 3. Ada orang jang bertanja: „Mengapa Mahatma membeli kartjis kelas 3?” Beliau mendjawab: „Karena tidak ada kartjis kelas 4!” .

***

Sungguh banjak jang lutju dalam masjarakat ini. Ada orang ditimpa penjakit amat megah sebab dia ada berhubungan dengan orang jang berdjabatan tinggi. Dia berulang-ulang datang kerumahnja, kegedungnja, keistananja! Jang lainpun berasa rindu mendengar kelebihan kawannja itu. Padahal djalan supaja „rapat” kerumah orang besar2 dengan tjara demikian, mudah sadja.

Bagaimana mudahnja?

„Minta djadi djongosnja!

Masa saja djadi ketua Front Nasional di Bukittinggi, ada orang datang kekantor saja mengenalkan diri dengan membawa berhelai-helai „surat keterangan” dan banjak „Tjapnja”. Tjap dari wedana, dari Tentara, dari Tjamat dan lain-lain dia berkata „Saja orang terang, tuan!”

Dia mendjadi orang terang karena suratnja, dan kalau surat itu hilang, tentu dia gelap kembali!

1.
Kesehatan Badan.

Sangat besar pengaruh kesehatan badan kepada kesehatan pikiran. Bukankah pikiran jang sehat jang akan kita bawa ketengah-tengah masjarakat dan pergaulan hidup?

Pikiran sehat adalah Pribadi jang sehat!

Ada orang jang pantang tersinggung, lekas marah ditempat jang belum patut menumpahkan kemarahannja. Dan ada pula jang lekas sekali tertawa terbahak-bahak, sehingga orang lain tertjengang mengapa dia setjepat itu tertawa terbahak, padahal bagi orang lain barulah makanan senjum sadja. Kalau diperiksa, barangkali orang jang pertama telah mulai ditimpa penjakit „tekanan darah”. Dan orang jang kedua barangkali ditimpa penjakit sematjam sedjundai (histeri). Ada orang jang muram sadja warna mukanja, tidak gembira sedikit djuga. Entah rabunja kena permulaan batuk kering, entah limpanja kena tekanan malaria.

Oleh karena itu maka wadjiblah atas tiap-tiap diri memelihara kesehatannja, karena itulah pangkal kedjernihan fikiran. Agama2pun menjuruh memelihara kesehatan. Dalam adjaran agama Nasrani disebut bahwa kita manusia ini adalah peta Tuhan, maka peliharalah peta itu. Islam mengadjarkan bahwasanja bagi setiap penjakit ada obatnja, sebab itu lekaslah tjari obat itu.

Badan jang tidak sehat menjebabkan djiwa remuk, kegembiraan hilang dan penglihatan mata muram suram, kadang2 timbul keseganan mentjampuri pergaulan ramai. Tenaga dan kemauan bekerdja mendjadi hilang. Djantung berdebar-debar. Penjakit selesma sedikit sadjapun mempengaruhi djuga djalan berfikir.

Badan jang sehat mendjadikan hati gembira, dan kegembiraan adalah pelita terang untuk kegelapan djalan hidup jang kita tempuh.

Kesehatan badan tali-bertali dengan kebersihan badan dan tjinta kebersihan.

Kalau sekiranja kita perhatikan dengan seksama adjaran agama Islam, sangatlah dia mengandjurkan kebersihan, sedjak dari didikan dan kehidupan sehari-hari. Sekurang-kurangnja lima kali sehari semalam orang diwajibkan mengambil udhuk sebelum dia mengerdjakan sembahjang. Sjarat sjah sembahjang bergantung kepada kebersihan anggota udhuk dari pada nadjis dan kebersihan seluruh badan. Tentu bersih pula hendaknja seluruh tempat beribadat. Dan apabila hati telah mentjintai kebersihan, bukan sadja tempat sembahjang, bahkan seluruh pekarangan bersih hendaknja. Karena kebersihan dan segala sesuatu jang teratur bukan sedikit membukakan fikiran, dan memperteguh pribadi.

Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: „Tuhan Allah adalah bersih, dan suka sekali akan kebersihan”.

Sebab itu tertulis didalam tarich bahwasanja beliau mempunjai sebuah peti ketjil penjimpan sisirnja, gosok giginja dan dibawah tempat tidurnja terletak penampung kotoran djika beliau bangun tengah malam. Rambutnja senantiasa disisir dan diberi minjak ’athar, sehingga seketika beliau wafat, datang Abubakar mentjium keningnja masih berbau minjak ’athar itu pada rambut beliau.

Dan beliau bersabda: „Perhiasilah pakaianmu dan perhiasilah kuda kendaraanmu, sehingga kamu hidup laksana tailalat ditengah-tengah pipi masjarakat”.

Sebab itu maka pakaian jang tidak teratur, jang kotor, jang tidak terdapat keseimbangan pada warnanja, sedjak dari dasi sampai kepada badju, tjelana dan kaus kaki, boleh djuga didjadikan orang alamat bahwa seseorang tidak mempunjai perasaan jang halus.

***

Tetapi bagi manusia jang mempunjai i r a d a t (kemauan) jang keras, kerap kali kekurangannja didalam beberapa hal dapat ditimbulkannja pada jang lain, sehingga Pribadinja tetap hidup dan menundjukkan s i a p a d i a . Banjak sekali orang besar2 kekurangannja dalam satu hal menimbulkan Pribadinja dalam hal jang lain. Badannja tidak sehat, lantaran itu dia takut akan lekas mati. Sebab itu dia bekerdja keras berlipat ganda menumpahkan kekuatan, untuk meninggalkan djedjak jang baik didunia ini.

Socrates tidaklah bagus tampang mukanja. Kepala sulah, perut gendut dan terkenal hidungnja jang pésék. Pendeknja tidak ada jang menarik hati kalau hanja dipandang lahir. Tetapi bilamana dia telah mengupas suatu soal dengan murid2nja, maka seluruh murid itu akan lekat kepadanja.

Seorang pudjangga Arab jang terkenal bernama „Al-Bahr Al-Djahiz”. Dia digelari „Al-Bahr”, artinja lautan, karena dalam ilmunja jang tidak teradjuk. Tetapi dia bergelar pula „Al-Djahiz”, artinja membelalang, karena matanja terbeliak terbelalang, sehingga kanak-kanak takut djika mula2 melihat beliau.

Milton, penjair Inggeris jang terkenal, buta matanja. Tetapi sjairnja jang sangat tinggi nilainja „Sjorga jang hilang” ialah setelah dia buta.

Seorang ahli tafsir Kurän jang sangat ternama, karena mengarang tafsir bernama „Al-Kasjaf” (Pembuka selubung), bernama Zamachsjari. Kaki beliau telah ditukar sebelah dengan kaju, karena pada mulanja ditimpa penjakit dingin sehingga kaku dan mati. Kekurangannja pada kakinja itulah jang mendorongnja hendak berbuat pekerdjaan besar, jaitu membuat tafsir. Jang dekat dan serupa dengan Zamachsjari ialah almarhum President Roosevelt dari Amerika Serikat. Kaki beliaupun setengah lumpuh. Ketika menghadapi pertemuan jang besar-besar beliau harus dipapah. Tetapi kelumpuhannja itu tidak menghambatnja buat meneruskan tjita-tjita besar jang terkandung dalam djiwa.

Djiwa jang demikian tidak mengenal invalid!

Helen Keller, ahli pengetahuan wanita bangsa Amerika itu, ialah pekak, bisu dan buta!

Kita bangsa Indonesiapun mempunjai Pribadi Besar jang tidak kurang nilainja daripada Pribadi2 jang kita terangkan diatas itu. Ialah Djenderal Sudirman.

Pendiri Tentara Nasional Indonesia itu, Bapa seluruh Pradjurit pedjuang. Perebut Magelang. Pahlawan jang tidak suka berunding, tetapi teguh memegang disiplin Negara dan menekan perasaan sendiri karena tunduk kepada pemimpin politik. Tidak mengenal perbedaan siang dan malam didalam melaksanakan tjita-tjita, sehingga kadang2 beliau lupa mendjaga kesehatan diri sendiri untuk membangunkan semangat pahlawan pada pemuda. Achirnja beliau ditimpa sakit dada. Karena sakit dada jang berat itu, dokter telah melakukan operasi sehingga sebelah rabunja tidak bekerdja lagi, dan tinggallah hidup dengan rabu sebelah. Dalam keadaan jang demikianlah datang serangan Belanda jang kedua. Maka beliau teruskanlah pimpinan perdjuangan melawan pendjadjahan dengan rabunja jang sebelah itu. Beliau masuk hutan, dengan diusung digotong diatas sebuah tandu. Hudjan kehudjanan, panas kepanasan. Sinar djiwa jang besar menaklukkan kelemahan diri. Dari front sini kefront sana. Sehingga dengan melihat sinar matanja jang tak pernah padam itu sadja, sudah tjukup untuk menjalakan lagi sinar pada mata pradjurit dan gerilja, seluruhnja. Kegagah perkasaan Djenderal Spoor dengan alat sendjatanja jang lengkap, jang sanggup, dan telah membuktikan dapat merampas Djokja dalam beberapa hari dan dapat mengamankan Djawa dalam sekian bulan; semuanja kandas berhadapan dengan Pribadi Sudirman, orang sakit „rabu sebelah” itu.

Demi setelah peperangan telah berhenti, dan Djokja telah dikembalikan, maka seluruh pemimpin perdjuangan berkumpullah kembali ke Djokja, Panglima Tertinggi Sukarno memanggil mereka pulang kembali. Amatlah mengharukan seketika Pahlawan Besar itu datang, digotong diatas tandu, badan tinggal djengat pemalut tulang. Segala kekuatan berkumpul pada sinar mata. Sinar jang tidak mau menjerah. Laksana seorang ajah menjambut puteranja jang kekasih, demikianlah President Sukarno menjambut Pahlawan Satrya itu ditangga istana Djokja. Berpeluk-pelukanlah mereka, sama menitikkan air mata.

Setelah itu diserahkan Kedaulatan oleh Belanda kepada Indonesia. Pindahlah President keistana Gambir (Istana Merdeka) di Djakarta. Berhasillah sebagian besar dari apa jang ditjitja-tjitja. Maka pada achir bulan Djanuari 1950 meninggallah Djenderal Sudirman meninggalkan kenang-kenangan sedjarah kepahlawanan dan Kesatryan jang gilang-gemilang dalam hati seluruh bangsa Indonesia.

Djadi dalam langkah jang pertama djagalah kesehatan. Dan djika terdapat kekurangan pada badan, pada kesehatan, djanganlah putus asa membangunkan Pribadi jang sedjati, ialah djiwa itu sendiri. Dalam waktu jang demikian haruslah kita ingat, bahwasanja kita datang kedunia ini bukanlah semata-mata buat melagak menjolek. Apalah artinja kegagahan badan, kalau djiwa sendiri kosong.

Tersebut dalam pepatah orang Arab ;

„Aqbil ’alan-nafsi wastakmil fadhailaha
Fa anta bin nafsi la bildjismi Insanu”
(Hadapkan perhatian kepada djiwa
Tegakkan sempurna budi utama
Dengan djiwamu, bukanlah badan
Engkau sempurna mendjadi Insan).
1.
Bidjak.

Kesanggupan melahirkan perasaan, ketangkasan lidah berkata dan sikap jang gembira, adalah tanda pribadi jang kuat dan menarik. Lidahlah wakil kebatinan kita, menundjukkan ketjerdasan fikiran, keluasan faham, kedalaman penjelidikan, kebanjakan pengalaman. Bagaimanapun gagah, manis seseorang, berapapun banjak ilmunja, bahkan walau ia pengarang djempol sekalipun, kalau lidahnja kelu. Apalah djadinja! Padahal lidah itu ialah besi berani buat menarik manusia supaja ada berhubungan dengan kita. Bukankah sunji hidup kalau hanja sendiri?

Ketika nabi Musa akan diutus Tuhan menentang Fir’aun, dan telah diberi izin Tuhan menghadap kepadanja di Bukit Tursina, Musa bermohon supaja, „Dadanja dilapangkan, pekerdjaannja dimudahkan dan lidahnja di fasihkan”. Karena beliau insaf benar akan kekurangannja dalam berkata-kata. Dia bermohon pula kepada Tuhan supaja saudaranja Harun didjadikan pembantunja, sebab dia lebih fasih berkata-kata.

Sebagai bangsa merdeka, pergaulan kita akan luas dan telah luas. Banjak alat djamuan, resopsi diistana dan ditempat2 jang mulia. Mana tahu, entah kita akan terundang menghadiri segala perajaan, pertemuan, tempat bertukar fikiran itu! Alangkah tjanggungnja, kalau disitu kita hanja djadi batu!

Tentu sadja bukan maksud kita memudji orang njinjir, jang montjongnja tidak pernah terkatup. Bitjara sadja, bermatjam-matjam jang akan dibitjarakannja. Orang ini adalah orang „los”. Tidak ada kuntji diantara batinnja dengan lahirnja, dan tidak mempunjai rahasia. Kalau perangai seperti ini bertemu pada orang jang penting dalam negara, tentulah kaum wartawan akan menjiarkan kabar-kabar jang kemudian akan menjusahkan bagi politik negara.

Didalam perdjamuan jang istimewa, baik dalam zaman feudal dulu, atau zaman sekarang, sengadja diadakan djenang djamuan jang dapat memasang-masangkan orang, jang lantaran persamaan fikiran atau kesukaan akan timbul gembira pertemuan. Dalam satu perdjamuan diistana Langkat tempo dulu, djenang sengadja memperdekatkan duduk saja dengan Amir Hamzah, pudjangga jang terkenal. Sekali-kali saja tidak diperdekatkan dengan Tengku Musa „Richelieu” keradjaan Sumatera Timur! Jang amat kuat mempertahankan kebesaran Radja2, sehingga digelari orang „Richelieu”. Maka perdjamuan istimewa itu bukanlah perkara ketjil. Disana kerap kali diputuskan soal-soal jang sulit, jang tidak putus diatas medja bundar sekalipun. Disana mengadjuk budi dan kesukaan. Bertambah kemadjuan pergaulan pada suatu negara, bertambah timbul beberapa etiket, protocol, tradisi dan segala matjam.

Ikatannja jang membelenggu itu dapat dilepaskan asal lidah sanggup berkata. Demikian djuga dalam musafir kenegeri lain. Terutama duta-duta jang akan memperhubungkan diplomatik negaranja dengan negara jang diziarahi. Nabi Muhammad s.a.w. bersabda, „Utusan suatu kaum adalah tjermin kaum itu”.

Bukan kesanggupan berkata sadja jang harus diperhatikan. Pun djuga kesanggupan mendengar kata orang lain. Djangan kita sadja jang dipeladjari orang, kitapun mempeladjari dia pula.

Berminjak air, mengambil muka, adalah alamat kelemahan pribadi. Disamping itu, keberanian menjatakan jang terasa dalam hati, walaupun kita tahu bahwa jang mendengar tidak akan menjetudjuinja, adalah alamat kekuatan pribadi. Apalagi djika kita dapat mengatasi kesulitan keadaan, dengan kesanggupan menjatakan maksud.

Al-Ahnaf bin Kais, seorang pudjangga jang hidup dizaman Umar bin Chatab, sangatlah kuat pribadinja, diapun amat disukai oleh Chalif dan oleh orang banjak. Jang belum kenal kepadanja akan memandangnja „enteng”, sebab kepalanja botak, gigi tangging, leher tinggi, mata besar. Tetapi bila dia telah berbitjara, hilang semuanja itu; suaranja menarik, lidahnja fasih, mutu perkataannja tinggi dan berisi.

Mirabeau, bapa revolusi Perantjis, terkenal karena pidatonja jang berapi-api didalam bahasa Perantjis jang sangat tinggi mutunja. Awak buruk, bungkuk, gemuk pendek. Tetapi seorang pengarang meriwajatkan hidupnja: „Bila dia telah berpidato diatas mimbar, berlompatanlah dari mulutnja kalimat jang tinggi, membangunkan semangat jang tidur, membangkitkan orang jang lalai, bergontjang mahligai keradjaan, bangkit tjangkul ditangan Pak Tani mendjadi sendjata melawan kelaliman, dan segala perempuan muda seakan-akan hendak bergantung diudjung bibirnja”.

Tidaklah agaknja terlalu dilebih-lebihkan, kalau sekiranja kita katakan bahwa orang banjak hanja dikutak-katikkan oleh lidah beberapa orang. Bahkan peta duniapun diubah-ubah warnanja oleh lidah beberapa orang. Shakespeare telah melukiskan dengan kata-kata jang hidup bagaimana pengaruh lidah kepada orang banjak, seketika Brutus mempertahankan diri sebab membunuh Julius Caisar, dan bagaimana pula Anthonius memutar fikiran umum dengan pidatonja, sehingga orang banjak berbalik memurkai pembunuh Caisar itu.

Tidaklah pula berlebih-lebihan djika kita kenangkan bagaimana pengaruh lidah H.O.S. Tjokroaminoto, sehingga dari lidahnjalah timbul tjabang2 gerakan kebangunan ditanah-air kita. Sedjak Semaun, Tan Malaka, Muso, Darsono dan Marco, dan Alimin, semuanja hidup mengelilingi Tjokro. Demikian djuga Abdulmuis, Hadji A. Salim, H. Fachruddin, K.H. Mas Mansur. Setelah itu Sukarno! Maka setelah tenggelam bintang lidah Tjokro naiklah lidah Sukarno.

Mesir dengan Mustafa Kamil dan Zaglul Pasja. Turki dengan Attaturk. Rusia dengan Lenin. Semua dengan lidah!

Bidjak berkata-kata berarti dengan tiga perkara; perasaan jang halus, kefasihan berkata dan kekajaan bahasa. Lidah jang gagap dan gugup, tidak akan dapat menghasilkan apa-apa.

Kesanggupan menjatakan perasaan diberi nama oleh bangsa Arab al-bajan. Nabi Muhammad s.a.w. pernah bersabda: „Ada djuga al-bajan itu jang mengandung sihir”. Bersihir sebab orang jang mendengar terpesona.

Akal pandu djiwa, ilmu pandu akal, dan lidah jang fasih adalah pandu ilmu.

Berkata Al-Djahiz: „Jang sebaik-baik perkataan ialah jang sedikitnja lebih berfaedah dari banjaknja. Tegas djelas lapalnja dan maksudnja. Artinja dalam, lapalnja mengandung balagat. Susunannja elok, djauh dari pada dibuat-buat, dipaksa-paksa, tidak ditjampur adukkan. Maka adalah bekasnja kedalam hati jang mendengar laksana bekas air-hudjan diatas bumi jang subur, jang telah lama memberinja taufik dan kemadjuan. Pengaruhnja sama, baik kedalam dada radja jang besar sekalipun, atau kepada orang biasa jang tidak landjut fahamnja”.

„Kata2 jang keluar dari hati, akan masuk pula kedalam hati. Tetapi kata2 jang tjuma keluar dari lidah, tidaklah akan sampai kehati, hanjalah sehingga kulit telinga”. Demikian kata pudjangga, Amir bin Abdul-Kais.

Suatu hari Al-Hasan bin Ali turut mendengar seorang memberi petua. Pengadjaran itu tidak terasa oleh hadirin, orang semuanja mengantuk. Maka kata Hasan: „Hai, engkau! Hati engkaukah jang djahat, atau hati kami?”

Buku adalah sahabat jang karib, tetapi harus kita hati-hati. Mentang2 bersahabat karib dengan buku, djanganlah diputuskan persahabatan dan pergaulan dengan manusia. Banjak budak buku jang putus pertaliannja dengan manusia, hanja fikirannja jang menerawang, tetapi beku bila bergaul.

Lidahnja beku, karena buku! — Adjaib!

1.
Pertjaja kepada diri sendiri.

Perbedaan kita dengan machluk jang lain, jaitu kita hidup bermasjarakat. Perhubungan fikiran, senang dan susah diantara kita dengan sesama manusia, teramat eratnja sehingga kita tidak dapat memisahkan diri, seorang dari pada seorang. Sungguhpun demikian, kemadjuan masjarakat itu tidaklah akan tertjapai, kalau sekiranja tiap-tiap orang tidak melakukan kewadjibannja dengan giat. Orang jang hanja memberati orang lain, jang bergantung pada pinggang kawan atau tengkuknja, ditempat pendakian jang tjuram, tentu akan berbahaja kepada dirinja dan kepada orang tempat dia bergantung itu. Kemadjuan pergaulan hidup adalah kemadjuan fikiran dan kemadjuan bakti. Agama Jahudi mengadjarkan, bahwa insan itu peta Tuhan, jang akan melandjutkan pekerdjaan Tuhan dalam alam. Agama Islam mengadjarkan, bahwa dunia ini diwariskan Allah kepada orang jang baik.

Insan itu intan. Intan jang baru keluar dari dalam tambang. Baru timbul tjahajanja, setelah digosok.

Burung memberikan tjontoh jang baik tentang menggosok intan itu. Induk burung hanja memapah anaknja supaja pandai terbang, bilamana bulunja sudah mulai tumbuh. Setelah nampak kekuatannja akan terbang sendiri, si induk berlepas tangan. Sebab itu keluarlah si burung dengan pertjaja kepada kekuatannja sendiri, pagi-pagi, dengan perut kosong, pulang petang dengan perut kenjang.

Pribadi jang berguna ialah pribadi jang pertjaja akan kekuatan dirinja sendiri. Kekuatannja, akalnja, perasaannja dan kemauannja sudah tersedia dalam djiwanja sedjak dalam kandungan. Sekaliannja itu akan timbul kelak dari pada pendidikan, lingkungan serta pergaulan.

Didikan jang baik menimbulkan djiwa jang baik. Orang jang pertjaja kepada dirinja sendiri, itulah orang jang merdeka sedjati. Bukan orang lain jang menentukan ini salah, ini baik, ini buruk, melainkan kemerdekaan fikirannja dan kepertjajaannja kepada dirinja sendiri kelak jang membuat peraturan itu. Orang lain tak usah tjemas atau takut. Sebab djiwa jang bebas itu senantiasa mengedjar kebenaran.

Dua perkara telah merusakkan batin bangsa Indonesia selama ini. Pertama didikan bangsa pendjadjah, jang memasukkan pengaruh setiap hari, bahwasanja bangsa Indonesia tidak akan sanggup berbuat apa2. Bangsa Indonesia tidak akan dapat melaksanakan pekerdjaan jang besar2. Orang jang terdidik disekolah sendiripun berfaham sedemikian. Seketika bangsa berdjuang keras mentjapai kemerdekaan, bukan sedikit jang belot, jang tidak jakin akan kekuatan bangsanja. Bahkan djiwanja sendiri berpendirian, kita tidak bisa merdeka, kalau tidak dengan Belanda! Dan rakjat umumpun, kalau sekiranja tidak tekanan Djepang dalam kelalimannja jang luar biasa, jang belum pernah terdjadi dan belum pernah termimpi dalam djiwa bangsa Indonesia akan kekedjaman itu. Kalau tidak „pertolongan” Djepang dengan kezalimannja, jang memandang anak Indonesia hanja sampah, hanja alat keperluan perang belaka, belumlah djiwa itu akan menggeliat, karena sangat kerasnja pengaruh kejakinan „tidak sanggup” itu. Sekarang tjoba lihat. Djepang sudah pergi dan revolusi terlepas dari satinja jang hebat. Bukankah terlihat masih, bekas djiwa jang lemah itu? Mengapa berkedjar-kedjaran merebut pangkat, memburu kursi, serupa si Dul jang ketinggalan kereta api? Dimana-mana nampak orang jang mabuk kemegahan dan kemewahan, dengan pangkat, dengan tanda2 opsir; padahal banjak jang tidak seukuran dengan kekuatan diri! Bukankah hal itu karena djiwa jang belum pertjaja akan dirinja?

Didikan salah jang kedua ialah didikan taklid dalam agama, didikan Pak Turut. Diantara Kur’an dan Hadis Nabi sebagai pedoman beragama, dengan seorang muslim, terletak batas dan dinding jang terlalu banjak. Beberapa kitab fikhi, karangan ulama, dipandang sangat sutji, dan tidak boleh dibanding. Agama sangat mentjela orang perantaraan jang membatasi manusia dengan Tuhan, padahal dihadapan mata kita nampak dengan djelas pengaruh tukang azimat, tukang tenung, tukang menjembah-njembah keramat dan kubur.

Didikan feodal dinegeri kita sangatlah menekan djiwa. Kepada seorang radja harus menjusun sepuluh djari, menjembah. Beliau harus dibesarkan; „kebawah duli”, artinja kita tidak boleh berhadapan dengan beliau, hanja berhadapan dengan duli, jaitu debu jang ada dibawah sepatunja. „Kebawah kaus baginda”; alangkah hinanja. Di Atjeh kaum feodal harus dibahasakan „ampun”! Kita tidak bersalah meminta ampun djuga! Diri kita sendiri harus dibahasakan „patik” dalam istana radja2 Melaju. Sedang patik artinja anak andjing! Orang lain dibahasakan „patjal tuanku”, patjal artinja budak. Kalau radja memberikan anugerah kepada seseorang, dinamai „ajapan”, artinja nasi dalam tempurung jang biasa diberikan kepada andjing.

Bahasa untuk diri sendiri sangat rendah di Indonesia ini; Hamba, sahaja, dalam bahasa Melaju. Abdi dalam bahasa Sunda, Kaula dalam bahasa Djawa. Semuanja itu berarti budak. Hanjalah Aku jang berisi kemerdekaan djiwa.

Bilamana bertemu dengan seorang „said” atau „habib” jang disebut keturunan nabi Muhammad s.a.w. tangannja harus ditjium. Ia menerima tjiuman itu dengan sangat senang dan bangga, dan dia muram muka kalau kita bersalam tjara merdeka.

Oleh karena itu sangatlah mendalam rasa rendah diri, rasa tidak pertjaja kepada diri sendiri dalam djiwa bangsa kita. Djadi kalau kita kadji segi2 ilmu masjarakat, kebangunan revolusi kita tempoh hari, hanjalah reaksi djiwa jang tidak tahan ditekan. Dan bila pekerdjaan demikian telah habis, gelora telah tenang dan air-bah telah susut, terbentanglah kembali kelemahan djiwa karena tidak pertjaja kepada diri sendiri itu.

Kata orang, sardjanalah jang berhak memimpin negara ini. Kita hendak bertanja lebih dahulu, sardjana jang mana? Adakah sardjana jang mendidik dirinja dan bangsanja supaja pertjaja kepada tenaganja sendiri? Atau sardjana jang djiwanja lebih tidak bebas dari djiwa si Amat dan si Dul? Jang hanja melihat kemana angin keras?

Pertjaja kepada diri sendirilah tiang kemerdekaan pribadi dan tiang kemerdekaan bangsa. Dialah jang menimbulkan kekuatan tabiat, achlak, budi.

Keteguhan achlak tidak sukar, asal sadja manusia insaf bahwa dia adalah sebenar-benar manusia; Jang mempunjai kemauan lebih tinggi dari mentjari kedudukan. Mengedjar kebesaran djiwa terlebih dahulu dari pada mengedjar harta. Jang insaf bahwa disamping haknja ada pula kewadjibannja. Dan jang ingat benar, bahwa usia riwajatnja sesudah matinja, djauh lebih lama dari pada usia badannja sendiri ketika hidupnja.

Bila hal itu telah tertjapai oleh satu bangsa, dengan sendirinja timbullah SATU KATA, tidak berbilang. Hanja satu siasat; tidak mengenal mundur-madju dan ragu-ragu. Dan itulah jang bisa akan menimbulkan segan dan malu bangsa-bangsa.

Itu, djauh sekali didalam sudut hati kita, ada sesuatu jang bernama sanubari, perasaan hati jang halus, jang tidak pernah berdusta, tidak pernah bohong, tidak pernah mengetjoh. Itulah jang dinamai orang Arab dhamir. Itulah jang akan kita bebaskan dari pada segala selubungnja, segala lemak dan kerutnja. Bila dia telah bebas, nistjaja timbullah pertjaja kepada diri kita sendiri.

Dengan pertjaja kepada diri sendiri, kita akan mengenal dimana kesanggupan kita, dan apa jang dapat kita kerdjakan. Laksana kewadjibannja anak sandiwara jang meskipun pemimpin menentukan kewadjibannja kita hanja mendjadi djongos, haruslah bermain dengan baik. Pelaku djongos jang melaksanakan kewadjibannja dengan penuh perhatian dan setia, akan lebih berfaedah dari pada pelaku seorang menteri jang tidak bermain hati-hati.

Orang jang pertjaja kepada dirinja sendiri tidak merasa hina apa jang dikerdjakannja, bahkan dia ingin supaja beroleh kemadjuan dalam pekerdjaannja itu. Dalam agama jang dipeluk oleh sebahagian besar umat dikepulauan ini, jaitu agama Islam, ada adjaran; „Jang semulia-mulia kamu disisi Tuhan Allah, ialah siapa jang lebih takwa kepadanja”. Takwa artinja bakti.

***

Disini kita salinkan beberapa kata filsafat ahli-ahli fikir Barat dan Timur.

Goustave Le Bon berkata: „Orang jang pertjaja akan dirinja tidaklah mengharap pudjian manusia. Orang jang mengharap pudjian, nistjaja ragu2 akan harga dirinja”. …

Kata-kata jang masjhur dalam kalangan kaum Shufi ialah: „Siapa jang kenal akan dirinja nistjaja kenallah ia akan Tuhannja”.

Ibnu Sina berkata: „Orang jang arif senantiasa tersenjum simpul dan bermuka djernih. Bagaimana hatinja tiada akan gembira, padahal dia telah beroleh kebenaran jang ditjarinja.

Orang jang arif berani! Bagaimana dia takkan berani, padahal tjintanja akan kebenaran telah menjebabkan dia tidak takut mati.

Orang jang arif itu dermawan. Bagaimana dia takkan dermawan, padahal harta benda baginja bukanlah kekajaan. Kekajaan jang sedjati ialah tjintanja akan kebenaran.

Orang jang arif itu suka memaafkan kesalahan orang. Bagaimana dia takkan pemaaf, padahal ia insaf, bahwa tiap2 orang jang berakal mentjari kebenaran, dan tiap2 orang jang mentjari kebenaran itu selalu akan bertemu dengan kesulitan. Kalau dia sulit, tentu orang lain sulit pula. Tidakkah patut orang itu dimaafkan?”

Kata-kata „emas dari pada penjair besar bangsa Inggeris Rudyard Kipling;

Apabila engkau telah sanggup.

Apabila engkau telah sanggup mengekang nafsumu,

tahan pada masa semua orang telah ditarik oleh sjahwatinja, apabila engkau sendiri masih pertjaja kepada dirimu, pada masa orang lain telah ragu,
apabila engkau telah sanggup menghiasi wadjahmu dengan kesabaran dan menunggu dengan tenang,
padahal berbagai tuduhan telah ditimpakan kepada dirimu,
apabila engkau telah sanggup mengambil kepastian dengan tidak dipengaruhi oleh angan-angan dan dapat mengendalikan pikiran,
apabila engkau telah sanggup mengatasi hidup, tiada terlondjak gembira bila dia datang, dan tiada bersedih bila ia pergi. Tidak sukatjita tatkala tertawa dan tidak berduka ketika menangis,
apabila engkau telah sanggup menahankan pukulan, melihat nasihatmu jang berharga dan keichlasan hatimu diambil djadi sendjata oleh orang-orang jang rendah budi untuk menentang engkau, dan penarik-penarik orang jang lemah,
apabila engkau telah sanggup menahan hatimu, melihat pendirian jang engkau perdjuangkan dan perubahan jang kaukehendaki tidak diperhatikan orang,
apabila engkau telah sanggup menentukan tudjuan dan batasnja tetapi tak berhasil menudjukan jang pertama, lalu tegak lagi dan engkau mulai pula dengan tidak mengeluh,
apabila engkau telah sanggup menetapkan hatimu dan menguatkan perasaanmu, bila bertemu dengan berbagai kesulitan,
apabila engkau telah sanggup mendorongkan hatimu kemuka dalam perdjuangan hidupmu, dan menghadapi dunia, baik pada waktu manis atau pahit dengan tetap memelihara keutamaan dirimu pada waktu jang mana djuapun dan engkau sanggup masuk kedalam madjelis radja-radja dengan pakaian orang biasa,
apabila bentji musuhmu dan sajang temanmu tidak lagi mempengaruhi tegakmu jang adil,
apabila engkau telah sanggup mengambil hikmat dari pada pergiliran zaman, dan mengambil manfaat dari pada pergantian hidup dan semuanja dapat kaukuasai, dan bukannja engkau jang dikuasainja,
apabila engkau telah sanggup menghadapi semuanja itu, maka njatalah bahwa engkau seorang pahlawan dan engkaulah jang berhak mempusakai dunia seisinja serta engkaulah jang sebenar-benar laki-laki, hati anakku”.

__________________

PERTALIAN DJASMANI DENGAN ROHANI

Pada fasal IX telah diterangkan pengaruh bentuk badan dalam pembinaan pribadi. Sekarang kita djelaskan pertalian dan kerdja sama diantara tubuh dengan djiwa. Djika kita bertemu dengan orang jang lekas marah, lekas murung atau suka bergembira, kitapun harus mempeladjari rahasia kerdjasama diantara tubuh dengan njawa orang itu.

Menurut teori lama, manusia itu dipengaruhi oleh mizaadji, jaitu hawa badannja. Hawa badan itu dapat dibagi atas empat bahagian.

1.
Sanguine. Suka bergaul, senantiasa djernih mukanja, pertjaja akan dirinja, bersih fikirannja, bertanggung-djawab atas perbuatannja, tjepat berfikir dan lekas mengambil kesimpulan. Kata mereka itu, hawa badannja terpengaruh oleh darahnja.
2.
Choleric. Sikapnja keras, tjepat terpengaruh, kuat kemauan, tiada lekas memberi maaf. Susah bergaul dengan dia. Hawa badannja terpengaruh oleh empedunja.
3.
Phlegmatic. Tenang, dan kadang2 berat kepada malas. Tidak lekas terpengaruh, lalai dan tiada peduli. Hawa badannja terpengaruh oleh ingusnja.
4.
Melancholic. Penjedih hati, penjisihkan diri, banjak waswas dan dukatjita, tidak lekas pertjaja kepada orang, penakut dengan tidak bersebab. Hawa badannja terpengaruh oleh empedu-hitam.

Hal itu ada djuga ditambah orang dengan hawa jang kelima jaitu lekas marah. Hal sedemikian disebut the nerve fluid.

Penjelidikan baru tidak dapat lagi menerima teori itu. Dipandang orang telah kolot, telah kuno. Keturunan, lingkungan hawa negeri, pengaruh makanan, pergaulan, penjakit jang pernah menimpa diri, pengalaman dan kedjadian jang penting didalam hidup, jang tidak dapat dilupakan; semuanja itu mempengaruhi pribadi orang. Demikian menurut teori sekarang.

Tubuh kasar bertali dengan djiwa, dan dalam badan sendiri ada beberapa hal jang menentukan djalan djiwa. Apabila badan sakit djiwapun merasai djuga. Sakit selesma sadjapun bukan sedikit akibatnja kepada djiwa.

Otak, darah, perut dan anggota kelamin, semuanja menentukan pribadi.

1.
Otak adalah sebagai markas atau pemimpin tertinggi jang memegang tampuk kekuasaan keradjaan-diri. Disana terpegang fikiran, perasaan dan iradah (kemauan). Urat-urat saraf jang halus berpusat kepada otak. Ada jang sebagai tali kontak halus jang menudju kepada anggota2 jang penting dikepala kita, jaitu mata, telinga, hidung, lidah dan seluruh wadjah. Ada pula jang terus menudju kepada otak ketjil jang melekat dibawah otak besar. Otak ketjil adalah laksana pembagi pekerdjaan; Sekretaris djenderal, jang membagi-bagikan kehendak; otak kepada seluruh badan, jang harus melalui sumsum. Dari sumsum itulah dibuat tali kontak akan menudju keseluruh badan. Ada pula urat saraf jang bekerdja sebagai pengantar kabar dan ada jang penerima kabar. Semuanja berpusat pada kepala. Bilamana misalnja — mata kita melihat seorang menjajat djeruk nipis, maka urat saraf dimata menjampaikan hal itu kepada otak dan otak menjampaikan hal itu pula dengan perantaraan saraf jang ada dibawah lidah, jaitu kelendjar, maka setjepat itu pula tergeraklah kelendjar air-ludah dibawah lidah itu, sehingga mengalirlah air-ludah keluar melihat asam, dalam saat jang sangat pendek. Demikianlah kuasa otak itu atas seluruh anggota tubuh kita, dengan perantaraan urat2 saraf jang berpuluh ribu bahkan berjuta-juta banjaknja.
2.
Supaja tjepat pertalian seluruh badan dengan pusat kekuasaan itu, harus ada alat penguatan hubungan. Tenaga penghubung jang kuat itu ialah darah. Asal darah sehat, seluruh badan sehatlah, dan sehat urat2 saraf, bahkan sehat otak sendiri. Pusat darah tidak didekatkan pada otak, supaja tenaga pengatur djangan berkatjau memikirkan hal itu pula. Maka didekatkan pusatnja didada, jaitu djantung. Darah jang berdjalan diseluruh badan, jang pergi, jang datang, berpusat pada djantung. Disamping djantung terletak paru2 jang senantiasa memasukkan udara jang baru dan mengeluarkan udara jang sudah terpakai, sehingga udara tetap bertukar dan darah berdjalan terus.

Darah jang sehat harus diambil dari bahan2 jang sehat. Maka dibawah dada jang diberi berbenteng dengan tulang rangka itu terletaklah gudang makanan, jaitu perut. Segala makanan terkumpul dalam perut itu. Disana ada berlapis-lapis dan berlipat-lipat pentjerna jang akan mentjernakan makanan itu, sehingga disaring dan ditambahkan kepada kekuatan darah, dan ampas saringan itu terus dikeluarkan dari dalam badan, saringan makanan itulah jang memperkuat darah atau jang mendjadi darah.

Dibawah perut ada terletak alat untuk mengekalkan manusia, pemberian mahasutji dari pada Allah, agar supaja dipergunakan untuk memelihara djenis insani ini djangan sampai musnah. Ditumbuhkan naluri akan pentjari teman-hidup, sebagaimana jang ada pada tiap2 jang bernjawa dalam dunia ini. Dari darah jang sehat dan makanan jang sehat, jang mempengaruhi kesehatan otak sebagai putjuk pimpinan dan kekuasaan, dengan sendirinja pun timbullah pula kesehatan alat-kelamin itu. Maka dengan kerdja-sama jang empat itu terdjadilah hidup, terdjadilah perdjuangan, terdjadilah fikiran jang sehat, kemauan jang keras dan perasaan senang dan sakit, duka dan suka, bahkan tjinta dan keinginanpun djua.

Segala alat pemberian Tuhan jang amat mulia dan berharga itu telah kita bawa kedunia sedjak dari kandungan ibu kita. Kita belum mengetahui apa2, akal kita belum tumbuh, pandangan hidup belum ada. Maka tibalah kita dalam lingkungan ajah dan bunda atau keluarga seumumnja. Meskipun dunia ini amat luas, namun bagi ajah-bunda kita tidaklah seluruh dunia itu telah didjalani dan diketahuinja. Badan keduanja amat ketjil untuk mengetahui sekaliannja itu. Sebab itu jang dapat difikirkan oleh otaknja hanjalah jang telah didjalaninja dan dialaminja. Kedalam lingkungan itulah kita lahir. Baru sadja tumbuh akal kita, maka akal itupun telah dipengaruhi oleh segala jang kelihatan disekeliling kita. Lebih dahulu itulah jang akan berbandar dalam otak itu. Kian lama kian besar, maka masuklah kita kedalam pergaulan hidup. Pergaulan hidup itupun hanja sekadar jang dapat didjalani dengan badan ketjil itu, dan biasanja jang kita pilih adalah jang lebih sesuai dengan jang kita lihat bermula. Oleh sebab itu maka mulailah tumbuh akal kita menurut jang kita lihat. Tumbuh timbangan kita atas suatu perkara sekadar jang kita ketahui dan alami. Sekali2 kita boleh keketjewaan atau terbentur langkah kita. Maka kitapun mendapat pengetahuan baru jang menentukan timbangan akal kita tadi itu pula, sehingga pandangan hidup bertambah dari dahulu. Kadang-kadang kita ditimpa penjakit, dan penjakit itu tentu sadja mempengaruhi djalan darah, dan darah mempengaruhi isi otak dan otak memerintah urat saraf.

Makanan jang biasa dimakan, pun demikian pula. Ada makanan jang berchasiat panas, memanaskan darah, ada jang berchasiat dingin, mendinginkan darah. Sebab itu ada orang jang lekas marah, tetapi pula memberi maaf. Ada orang jang lambat marah, tetapi kalau dia marah sekali, lambat baru dia dapat memaafkan. Udara suatu negeri mempengaruhi djalan hidup dan djalan fikiran. Ditanah Chattulistiwa jaitu jang timbangan panas dan dingin karena pergantian musim, sifat orang lemah-lembut, sempat berfikir tenang dan banjak memakai kata sindiran; sebab tidak ada sesuatu jang menjuruhnja bergegas. Pribadi orang kota mau segala tjepat, sebab waktu itu uang. Pribadi orang kampung suka bertengang-tenang sedikit, sebab tumbuhnja padi dan buah-buahan tidaklah setjepat jang dikehendaki, dan dia mesti akan tumbuh asal diasuh. Sebab itu tak usah djauh; diantara orang Djakarta dengan orang Pasar Minggupun ada perbedaan.

Saja sendiri termasuk orang jang membantah akan teori lama jang membagi-bagi perangai menurut hawa badannja. Dizaman muda saja suka sekali mengarang tjeritera jang sedih-sedih. Saja suka sekali kalau udjung tjeritera itu ditutup dengan kematian. Orang sampai menangis sedan2 kalau membatja „Tenggelamnja Van Der Wijck” misalnja.

Maka ada orang jang menjangka bahwa saja bersifat melancholic, penjedih. Tetapi orang jang bergaul dengan saja tahu, bahwa saja amat gembira, suka bersenda-gurau. Kata mereka itu suatu madjelis tidak ada Hamkanja, tidak meriah! Mengapa berlawanan tabiat saja sehari-hari dengan tjeritera, jang saja karangkan? Adakah saja melankolik? Tidak! Tjeritera adalah pengaruh pembatjaan! Atau pengaruh jang lain, djadi bukan karena hawa badan. Padahal sesudah lepas zaman mengarang tjeritera itu, saja bertemu dengan beberapa keadaan diatas diri saja jang betul2 berpengaruh kepada djiwa, jaitu hal2 sedih jang saja tjeriterakan dahulu pada orang lain, benar2 bertemu pada diri sendiri, dan akan enak kalau ditjeriterakan pula. Dan saja tetap gembira suka berkelakar.

Pengaruh kelaminpun bukan sedikit atas pribadi. Napoleon jang gagah-perkasa jang dapat mengalahkan musuh jang besar dimedan perang, dapat menaklukan negeri jang lebih kuat, pun disamping itu, diapun gagah-perkasa berhadapan dengan perempuan. Sebetulnja, pribadi Napoleon itu tidaklah menarik hati. Daja penariknja kurang. Tetapi nafsunja kuat.

Ada pemimpin jang timbul chajalnja, dan lebih hebat pidatonja, kalau kaum wanita jang tjantik-tjantik ada turut mendengar, dan duduk dibaris muka. Hapalannja keluar, sjairnja, prozanja, puisinja, semuanja mengalir keluar dari lidahnja laksana air-hilir, kalau disana ada wanita.

Ketjintaan, tunangan, isteri jang setia dalam rumah-tangga jang bahagia, murid-murid dan pengikut dari kalangan kaum ibu, semuanjapun mempengaruhi pertumbuhan pribadi. Barangkali ada orang jang membawanja kepada jang buruk, ada djuga jang membawanja tjara baik. Dan ada tjara nakal, serupa pemuda-pemuda jang tidak dapat menahan hati, atau tjara agama! Namun soal kelamin tidaklah dapat dipandang enteng sebagai pembentuk pribadi.

Isteri jang selalu mempengaruhi suami, jang kerap kali menentukan suaminja semau-maunja, sehingga bukan suami lagi jang berkuasa, menjebabkan pribadi seorang laki-laki mendjadi lemah dan tidak tjepat mengambil keputusan. Sebab dia takut kalau2 isterinja dirumah tidak setudju. Pengaruh itupun kadang2 tidak dapat disembunjikannja dimuka umum. Seorang laki2 jang dilajani dengan baik oleh isterinja, akan gembira hidupnja dan terbuka angan2nja akan melandjutkan usahanja. Seorang pemuda jang ditjintai oleh seorang gadis, akan giat dan gesit menghadapi pekerdjaannja. Beberapa orang besar dunia mengakui terus terang akan pengaruh itu. Bismarck pernah berkata: „Isteriku jang telah membuat aku sampai djadi begini”.

Djangankan kehidupan pribadi orang besar dunia, malah kehidupan Nabi2pun dipengaruhi oleh djiwa halus perempuan. Tentu sadja dengan arti jang sutji. Adam dengan Hawa, Jusuf dengan Zalecha, Isa anak Marjam meskipun tidak sampai kawin, namun perempuan jang mentjintai dia tetap ada. Maria Magdalena dari perempuan djahat mendjadi perempuan sutji karena mentjintai Isa. Muhammad pada waktu muda, terpengaruh pertumbuhan pribadinja oleh isterinja Chadidjah, dan pada waktu usia tua oleh isterinja ’Aisjah.

Maka djanganlah tuan hambarkan hidup tuan dengan tidak ada perempuan. Asal sadja tuan bawa kepada arti jang baik, tentulah hasilnja akan besar membentuk pribadi jang kuat.

Dan ingatlah kataku tadi, bahwa lain dari pada otak, darah dan perut, ada lagi jang berpengaruh, jaitu alat anugerah Tuhan untuk menjambung dan mengekalkan hidup jang tidak boleh kita sia-siakan itu.

***

Ketika saja mendjadi muballigh, diwaktu lagi muda, kerap kali saja mengatakan dan kerap kali saja mendengar, bahwasanja dunia ini mendjadi rusak karena tiga perkara; mengedjar pangkat, mentjari uang dan karena perempuan.

Ketiganja memang menimbulkan kegembiraan mengedjar hidup. Tetapi membawa tjelaka diri Pribadi kalau tidak diingat tudjuan hidup jang sedjati, jaitu memberi faedah bagi masjarakat.

Maka djanganlah kita menentang hidup, tetapi hadapilah dengan berani. Bersihkan djiwa dan ingat Tuhan, menurut sabdanja: „Dihiaskan bagi manusia kesukaan sjahwat, jaitu perempuan dan harta-benda, dari pada emas dan perak, dan kuda2 kendaraan”.

Dan sabdanja lagi: „Harta dan keturunan adalah perhiasan hidup manusia. Dan jang akan kekal ialah amal kebadjikan djuga adanja! …”

Chalif Al-Ma’mun berkata: „Kalau tidak ada tiga perkara, rusak binasalah dunia ini: Kalau tidak ada sjahwat, putuslah keturunan. Kalau tidak ada keinginan mengumpul, rusak-binasalah penghidupan. Kalau tidak ada keinginan terkemuka, habislah ilmu pengetahuan”.

__________________

PRIBADI BANGSA.

Pribadi jang membuat sedjarah dalam suatu bangsa adalah dua matjam : Pribadi pemikir dan pribadi pekerdja. Atau orang jang menteorikan dan orang jang memperaktikkan. Lantaran itu maka pekerdjaan didalam hidup inipun dua; berfikir dan bekerdja.

Maka timbullah pertanjaan, manakah jang lebih utama diantara keduanja ?

Djawabnja tegas sadja, keduanja utama dan keduanja mulia. Suatu fikiran barulah dapat tertjipta dalam kedjadian, kalau dikerdjakan atau kalau ada jang mengerdjakan. Dan kerdja tidak beres, kalau tidak difikirkan lebih dahulu.

Saja batja dalam dongeng tua, sematjam kain bernama „aduntemadun”, jang digumpal seudjung kuku dan dikembang selebar alam. Itulah fikiran dan pelaksanaan. Fikiran tumbuh dari otak jang ketjil terletak dikepala ; tetapi bila telah dilaksanakan mendjadi pekerdjaan, hasilnja bisa sepenuh alam. Schopenhauer mengatakan „Alam itu ialah fikir”, dan beliau berkata pula „Alam itu ialah iradat, kemauan”.

Jules Verne menjatakan fikirannja, disadur dengan bermatjam chajal, tentang mengelilingi dunia 80 hari tentang 20.000 mil dalam laut, tentang pengembaraan kebulan. Dan teori fikirannja itu dikerdjakan oleh jang mengerdjakan dengan menempuh berbagai kesulitan bertahun-tahun. Pengembaraan kebulan belum djuga dapat dilaksanakan, sampai sekarang.

Voltaire menjatakan fikiran tentang segala kepintangan masjarakat di Eropah, di Perantjis. Fikiran itu-lah jang achirnja terlaksana dengan revolusi Perantjis, jang memakan tempoh tidak kurang 80 tahun.

Pada 17 Agustus 1945 fikiran dilaksanakan dengan proklamasi, jang hanja terdiri dari beberapa perkataan. Tetapi seketika dilaksanakan, telah memakan tempoh bertahun, dan mungkin berpuluh tahun lagi.

Kebanjakan ahli fikir jang „kaja” itu tidak mendapat apa-apa dari hasil fikirannja. Karl Marx tidak melihat hasil bukunja „Das Kapital” dan Stalin telah enak-enak duduk di Kremlin. Phillas Fogg, hanjalah orang chajal Jules Verne. Tapi dia lebih terkenal dari Jules Verne sendiri.

Terutama ditanah Timur kita ini pada zaman jang lalu dan sampai sekarang masih tinggal bekasnja. Sebesar-besar keuntungan ahli fikir hanjalah sebutan dan pudjian setelah dia mati. Biasanja hidupnja sendiri terlantar, dia tidak meninggalkan apa-apa untuk keturunannja, tetapi dia meninggalkan pusaka banjak sekali buat bangsanja.

Ahli fikir tidak ada artinja kalau tidak ada jang mengerdjakan, kalau tidak ada jang menjambut. Berapa banjaknja fikiran tinggi, jang tidak djadi terlaksana, karena tidak ada tenaga jang menjambut. Agaknja selain Edison, banjak djuga pemikir lain jang mungkin sebesar Edison, kalau tidak akan melebihinja. Tetapi Edison berdaja, sebab ada jang menjokong dan jang melaksanakan fikirannja dalam pekerdjaan.

Plato dalam „Republik”nja membagi kewadjiban tiap2 golongan dalam Negara, dan gambaran demikian ada pula dalam „negara tubuh” manusia.

Ahli fikir dinamai otak negara, dan nilainja ialah emas. Pemangku Negara dinamai pelaksana fikiran itu dan djantung dan deradjatnja ialah perak. Adapun ang-gota tubuh, tangan dan kaki Negara ialah saudagar dan kaum tani ; nilainja tembaga.

Pendidikan tjara lama jang hanja mengutamakan hapalan, sangatlah membutuhkan fikiran dan melemahkan kerdja tenaga. Pada suatu hari dalam zaman revolusi — Mohammad Hatta menziarahi sebuah Sekolah Menengah di Sumatera. Murid2 sedang beladjar. Beliau bertanja kepada murid-murid „Siapakah utusan Indonesia keluar negeri?” Tidak ada murid jang sanggup mendjawab! Sedjak itu tentu timbul keinsafan dalam kalangan sekolah, apa gunanja sekolah dalam zaman merdeka? Terpisahkan dia dari pertumbuhan masjarakat, atau diakah djelmaan masjarakat?

Maka didikan menumbuhkan kedua tenaga penting itu, tenaga memikirkan dan tenaga mengerdjakan, itulah jang harus dikuatkan dalam zaman merdeka. Pribadi pemikir dan pekerdjalah jang ditunggu kedatangannja, untuk membesarkan dan mengisi harga suatu bangsa.

Baru sadja berdiri Negara kita, nampak benar kita kekurangan orang. Mengapa kekurangan orang, sebanyak itu orang? Kita kekurangan orang jang dapat berfikir dan dapat bekerdja.

Alangkah banjaknja pikulan kewadjiban sedjak merdeka ini. Kaum tjerdik-pandai sardjana adalah tempat kita memusatkan harapan buat mengisi kekurangan itu. Mereka bukanlah kitab2 indah jang bertulis air-mas untuk disusun baik-baik dalam lemari buku untuk ditengok-tengok sadja. Dan mereka bukanlah buat kian lama kian djauh dari rakjat djelata jang masih sangat kekurangan dalam pembinaan djiwa. Mereka adalah buat memikirkan dan mengandjurkan pekerdjaan. Dalam Negara kita, kewadjiban itu sama dan hak itupun sama. Lantaran itu maka ilmu pengetahuan bukan lagi alat sipandai menekan sibodoh; dan sekali-kali bukan pula alat pendjadjahan. Melainkan alat pembimbing jang lemah supaja turut naik keatas, sehingga tertjapai „sebanjak-banjak manfaat, untuk se-banjak2 orang”.

Ilmu pengetahuan mendjadi kekuatan besar bagi suatu bangsa. Memang, dahulu begitu, kinipun begitu, apalagi nanti. Tetapi kekuatan pengetahuan itu harus dialirkan kepada pekerdjaan. Djangan ilmu itu hanja mengetahui jang telah diketahui orang, tetapi mengetahui jang belum diketahui orang djuga.

Sesudah merdeka ini, bekas pemberontakan djiwa kita masih djelas. Kita sedang mentjari-tjari tempat tegak jang teguh, untuk pendirian hidup. Orang menoleh ke Barat! Disana ilmu sudah dapat dikuasai, didjadikan alat untuk menaklukkan benda. Dan benda untuk keperluan hidup. Padahal dahulu, orang menuntut ilmu karena tjinta kepada ilmu belaka. Sekarang lain pula; orang menuntut ilmu hanja karena mentjari kedudukan. Bagi orang-seorang, asal dengan ilmunja telah baik kedudukannja, apa gunanja menambah lagi? Bagi suatu bangsa, dengan ilmu dia hendak mempertahankan susunan masjarakatnja jang telah lapuk dan buruk. Itu pulalah sebabnja maka dizaman djadjahan, orang lebih banjak jang suka bersekolah tinggi, jang menentukan berapa kekajaan jang akan didapat kalau tammat dari sekolah. Sekolah dokter, sekolah hukum, sekolah insinjur. Sesudah merdeka tentu tidak mungkin begitu lagi. Indonesia mesti menimbulkan ahli2 filsafat besar, ahli sastra besar, ahli agama besar, bahkan ahli2 jang mengurbankan hidupnja semata-mata untuk satu kedjuruan dari tjabang kedjuruan besar. Indonesia tentu akan mempunjai orang sebagai Pasteur jang menjediakan umurnja untuk hanja menjelidiki kuman. Atau orang serupa Nickolson, jang 40 tahun lamanja mempeladjari satu tjabang sadja dari ilmu Islam, jaitu Tasauf.

„Sebetulnja kalau kita kembali kepada djiwa Timur asli, jaitu djiwa tidak terlalu dipengaruhi benda, akan banjaklah jang berkurban untuk itu, meskipun „penghasilan”nja kurang; karena kekajaan fikiran, adalah kekajaan jang tidak dapat dinilai dengan emas. Plato mengatakan, orang itulah emas Negara meskipun dia sendiri tidak mendapat emas. Apa gunanja emas? Padahal djiwanja lebih berharga dari pada emas.

Semua kita ingin untung, ingin „succes”, ingin djaja! Tetapi apalah artinja untung kebendaan? Kalau ilmu tidak dapat memimpin kita menudju kepada untung jang lebih tinggi lagi, jaitu untung kebatinan, kedjiwaan?

Sesudah revolusi landjut pula pertentangan diantara faham lama dengan faham baru. Ada jang hendak membawa kepada kemadjuan kebatinan. Didalam mesdjid tiap hari Djum’at, didalam geredja tiap hari Minggu, kedengaran seruan chatib dan pendeta, mengandjurkan persiapan keteguhan batin. Tetapi djumlah orang jang tidak mau kemesdjid atau kegeredja lebih banjak dari pada jang pergi. Bahkan jang datang kemesdjidpun lebih banjak orang jang tidak berilmu.

Sebaliknja timbul pula segolongan jang mengandjurkan arti kemerdekaan, jang pada pandangan kemadjuan dunia telah kuno jaitu kebebasan diri sendiri, jang mengakibatkan diri memandang masjarakat dengan „masa bodo”!; kebebasan orang-seorang. Bukan bebas beragama, melainkan bebas dari agama. Bukan bebas memilih istiadat tetapi bebas dari istiadat. Hendak mentjari djalan sendiri dengan hitungan dua kali dua empat!

Apakah sikap kita bangsa Indonesia jang baru lahir menghadapi djalan bersimpang dua ini? Akan tetapkah pertentangan ini, atau akan kita tjarikah paduannja?

Djangan tjemas! Kita perlu kepada benda, dan kita perlu kepada djiwanja. Manusia akan sanggup mengedjar benda sampai kebatas jang dapat ditjapai oleh manusia, pun sanggup berdjiwa besar sampai kebatasnja pula. Mementingkan kebatinan sadja, telah mentjelakakan Timur selama ini. Guru-guru agama mengadjarkan „bentjilah akan dunia”. Sebab itu dunia jang dibentjinja itu diambil oleh bangsa Barat. Guru2 mengadjarkan „matilah sebelum mati”. Sebab itu matilah semangat mereka buat berdjuang, lepas makan sadja sudah sjukur!

Sebaliknja perihal orang-seorang Barat telah dapat menaklukkan benda sampai dapat dikuasainja. Seluruh abad ke 19 abad kebanggaan manusia, sehingga mereka sudah berani mengatakan: bahwa semuanja dapat kita kuasai. Tetapi akibatnja djelas nampak. Sebelum pertengahan abad ke 20 telah dua kali perang, karena merebut benda. Achirnja benda itu sendirilah jang menggertak kepala mereka: bom atom! bom hydrogin!

Sesudah bom atom dan bom hydrogin itu nampak tumbuh keinsafan ahli2 fikir Eropah. Bahkan film sebagai kekerluan hidup zaman baru, sudah lebih banjak dari pada sebelum perang, jang berisi, jang dapat didjadikan tjontoh-teladan untuk menghadapi hidup.

Dan sesudah bom atom dan bom hydrogin itu pula tanah2 Timur sadar akan dirinja, sadar akan kekurangannja. Maka diantara Barat dengan Timur itu tumbuhlah kita, bangsa Indonesia.

Kita harus bertjita-tjita, berkemauan, berfikir dan berusaha memadukan kedua kepentingan itu. Tudjuan kita ialah bahagia bagi bangsa dan tanah-air kita, dan sesudah itu bagi seluruh dunia, lahir dan batin, benda dan djiwa, djasmani dan ruhani, kuat dan berpengaruh, berilmu dan berusaha, berpengetahuan dan beragama, berpendirian dan berpri-kemanusiaan.

Kita harus menang! Tetapi dimanakah letak kemenangan itu? Ialah dibalik perdjuangan dan kepajahan. Dibalik keringat, darah dan air-mata. Dibalik kepajahan otak berfikir dan badan bekerdja.

Sebagai bangsa, kita akan menang sesudah melalui berbagai peristiwa ; dan sebagai putera bangsa, jakni masing-masing kitapun akan menang. Baik pengarang dengan pena dan kertasnja, atau pekerdja dengan palu dan tjangkulnja, atau ahli negara dengan perhitungan politiknja, atau sudagar dalam berdjual belinja. Atau jang mana djuapun, jang kita kerdjakan didalam persada tanah-air ini.

Kita hendak mentjiptakan pribadi baru, bukan pribadi kebendaan, persetan sama orang lain. Bukan pribadi budak jang merundukkan muka kepada orang lain; Kita ingin pribadi Indonesia merdeka.

Maka pembangunan bangsa kita amat perlulah kepada pribadi putera bangsa jang besar dan kuat, karena pengetahuan tentang suatu jang akan dikerdjakan, dan harapan akan ilmu. Menang dan pengetahuan sadjapun tiada tjukup, kalau tiada disertai keberanian bertindak.

Pribadi adalah laksana oto. Dia tidak dapat berdjalan kalau mesin-mesinnja tidak bagus. Mesin bertiang kepada dinamo. Bagus bagaimanapun dinamo, belum dapat berdjalan kalau bensin tidak ada. Kalau semuanja telah siap, baguslah djalannja, dan tidaklah lekas rusak. Tetapi segala rukun itu menghendaki sjarat pula, jaitu supir jang pandai dan djalan raja jang keras-litjin.

Mesin bagus penglaksanaan dari persiapan, bensin perumpamaan kemauan, supir kepertjajaan kepada diri sendiri, dan djalan bagus adalah perumpamaan pengharapan.

Maka ketetapan hati pada saat jang genting dan penting, dari ahli fikir dan pekerdja, adalah rahasia besar dari pada kemenangan jang akan diperoleh dalam pembinaan pribadi, untuk mendjuang bangsa dan kemanusiaan.

__________________

PENAMBAH KUAT PRIBADI.

Kesebelas sipat jang harus diisi untuk pembina pribadi telah habis kita terangkan. Sekarang kita djelaskan beberapa sipat jang akan menambah kokohnja.

1.
Bertudjuan.

Djelaskanlah batas tudjuan, djangan menerawang, dan tentukan garis djalan jang akan kita lalui mentjapai tudjuan itu. Asal djelas kemana tudjuan dan djalannja, tentu kita akan sampai. Pokok kesampaian bukan bergantung kepada orang lain, melainkan kepada diri kita sendiri.

Manusia lahir kedunia tidak membawa apa-apa, tetapi setelah melalui hidup, dengan sendirinja timbullah tingkat kehidupan, bertinggi-rendah, jang masjhur dan jang tidak terkenal, sampai kepada suatu ketentuan hidup menurut ukuran kekuatan kesanggupan.

„Tidak ada orang jang sampai sadja dengan tiba-tiba pada suatu tempat!”

Tiap2 manusia ada tudjuan hidupnja, sepandjang tubuh sepandjang itulah pula bajang2nja.

Dan sjukur djuga, karena tiap2 orang diberi Tuhan perasaan rela menerima pekerdjaannja.

Seorang supir oto menjetir otonja menempuh djalan raja, jang lurus, jang berkelok berliku-liku, mendatar dan menurun. Sedang ia melalui rimba raja jang amat sunji, tiba2 meletuslah ban oto itu, atau adalah suatu kerusakan pada mesin. Si supir turun kebawah memeriksa segala kerusakan dengan saksama, atau memompa dan menempel ban. Biarpun sipenumpang gelisah menunggu, namun supir menghadapi pekerdjaannja djua dengan tenang. Berlumur badannja dengan minjak silinder, atau ia merungkuk kebawah oto itu, melentang memeriksai kerusakan. Tidak ada keluhan, tidak ada kesal; sebelum selesai belum dihentikannja, karena dia insaf betul, lebih baik berhenti sekali, biar lamanja dari pada kerap kali berhenti dan akan bertambah lama djua. Demi selesai pekerdjaannja itu, dengan hati gembira iapun naik kembali, lalu dipegangnja pula kemudi otonja dan berdjalan terus …

Dia rela dengan pekerdjaaannja.

Dilautan jang mahaluas kelihatan kapal besar berlajar, kelihatan pula perahu, sekunar, pelang, djung dan selodang, bahkan biduk ketjil pengailpun ada djua. Lihatlah, semuanja berlajar ketudjuannja dengan tenang, dan alangkah ketjilnja kapal dan perahu itu didalam lautan jang maha-luas itu! Semuanja itu ada tudjuannja.

Hidup hanja satu kali! Dalam kepertjajaan jang umum pada kita, tidak ada perulangan hidup! Umur itupun hanja sekedjap, tersela sedikit kita datang kemari, diantara dunia jang sebelum kita, jang berusia berdjuta tahun, dan dunia jang akan kita tinggalkan kelak, djuta tahun pula. Berapa detikkah kita disini? Alangkah murahnja detik jang sedikit itu, kalau hanja kita isi dengan keraguan, dengan kerdja jang tidak tentu arahnja?

Berdjalanlah terus! Sebanjak kita, sebanjak itu pula kewadjiban. Lebih baik satu asal tetap, dari pada banjak tapi ragu. Setiap batas tudjuan, lalu kita berhenti sedjenak dan menoleh kebelakang! Telah kita selesaikan dan sjukurlah! Dan lihat pula apa2 jang akan kita tempuh, dihadapan kita, dengan senang dan sulitnja dan tetaplah jakin!

Bagaimana kalau aku mati, sebelum tertjapai tudjuanku?

Mengapa tuan lupa bahwa membina dunia ini bukanlah pekerdjaan kita seorang? Kalau sudah djelas tudjuan hidup tuan itu, pertjajalah, bahwa orang jang datang dibelakang berani melandjutkannja.

* * *

1.
Keinginan bekerdja.

Meskipun tudjuan telah njata, harus ada keinginan didalam hati untuk menghadapinja. Kalau tidak begitu, kita hanja akan mendjadi „si tjebol jang merindukan bulan.”

Keinginan dan ketjintaan kepada pekerdjaan menimbulkan beberapa kemadjuan:

1.
Menambah tingginja mutu pekerdjaan.
2.
Menggiatkan dan memadjukkan ; jang mengakibatkan tumbuhnja kegembiraan.
3.
Mendorong kita agar lebih kuat melaksanakan ; menimbulkan inspirasi untuk merompak segala pagar kesulitan.

Tersinggung perasaan seorang pemuda jang bernama Abraham Lincoln, tatkala dia berdjalan dengan beberapa orang teman sedjawatnja akan melihat orang memperdjual-belikan manusia. Perasaannja jang halus tidak dapat menerima sesama manusia didjadikan barang dagangan. Kalau sekiranja ditumpahkannja perasaan demikian kepada orang lain maka orang hanja mentertawakan dia, sebab sudah memang begitu susunan masjarakat negaranja waktu itu. Dan lagi orang berpendapat, bahwasanja jang diperdjual-belikan itu hanjalah orang kulit hitam ; apalah salahnja. Hatinja tidak dapat menerima kalau bangsa Amerika jang berdjuang berperang bertahun-tahun melepaskan diri dari pendjadjahan Inggeris, memberi izin dirinja sendiri memperbudak sesamanja manusia pula, untuk kepentingan kemerdekaannja jang diperdjuangkannja itu. Dia sudah insaf, bahwa dengan tjara propaganda, walau bagaimanapun djuapun dia hanja akan kena edjekan. Maka tumbuhlah azam dalam hatinja, bahwa walau bagaimanapun djua mulia maksudnja, sutji tudjuan, kalau kita masih terhitung, „orang ketjil”, perkataan kita hanja akan sebagai air djatuh kepasir sadja. Tak ada orang jang akan memperdulikan.

Dia telah insaf, bahwasanja untuk mentjapai tjita-tjita memerdekakan budak itu, harus dilalui dua buah anak tangga, pertama pengaruh, kedua kekuasaan. Maka berdjuanglah ia, tidak kurang dari 30 tahun lamanja, sedjak dari seorang kulit ketjil jang miskin, berkuli sambil membatja, berkuli sambil mempersiapkan diri. Dan tjita-tjita itu senantiasa berkobar dalam dadanja. Berkat jakinnja, dapatlah ditingkatnja kedua anak tangga itu dalam 30 tahun. Dia berpengaruh, dan achirnja sekali ia diangkat mendjadi president Amerika Serikat. Kepadanja telah diberikan kekuasaan. Kalau kekuasaan telah ditangan awak, laksanakanlah tjita-tjita. Dengan sembojannja jang terkenal : „Untuk rakjat, dari rakjat, dengan rakjat, dia mulai melangkah kepada tjita-tjitanja 30 tahun : hapuslah perbudakan!

Tentu timbullah reaksi. Tentu timbul perang saudara. Sebab orang Amerika dinegara2 bagian sebelah Selatan hidupnja bergantung kepada perbudakan. Apa boleh buat! Perang! Banjak darah tertumpah, banjak orang jang tewas! Tetapi tjita-tjitanja tidak pernah lepas! Budak dimerdekakan, dan seluruh dunia achirnja meneladan tjita2 itu. Dan ada jang sakit hati, iapun dibunuh! Tentu sadja djasmani jang lemah itu, tidak terdiri dari pada besi. Dia ditembak orang sedang menonton satu pertundjukkan, dan mati! Dan segala machluk mesti mati. Tetapi dengan kematian Lincoln matikah tjita-tjita menghapuskan perbudakan? Tidak!

\textit{Mati karena mengedjar tjita2 adalah permulaan harga hidup.}

Lihatlah kehidupan orang besar2 dunia! Lihatlah riwajat kehidupan pengarang Inggeris jang terkenal, Charles Dickens. Ia mengarang dengan tudjuan membela nasib orang-orang jang lemah, fakir dan miskin, membantah dengan pena segala kepintjangan masjarakat. Dia menulis bukan semata-mata buat menulis, buat mempermainkan kata-katanja. Lihat kehidupan Tagore sebagai penjair Hindu jang mengingini kebangunan Timur dengan budinja, menentang keserakahan Barat. Lihatlah penghidupan Ikbal penjair Pakistan jang ingin kedjajaan Islam kembali. Lihat penghidupan Gandhi, jang mengingini perdamaian dunia dan hidup tjinta-mentjintai. Lihat Tolstoy! Lihat djuga jang lain!

Maka kalau tidak ada tjita-tjita dan keinginan mentjapai tjita-tjita itu, tidaklah akan ada kemadjuan peri kemanusiaan. Tidaklah akan timbul manusia besar, Pribadi besar ; jang melandjutkan pekerdjaan orang jang dahulu dan kelak mempusakakan pula kepada orang jang datang dibelakang.

Kesitulah titik berat perhatian harus ditumpahkan, setelah kita mentjapai maksud jang pertama dalam menegakkan kemerdekaan ini.

***

Memang, keinginan itu ada dua matjam. Keinginan jang langsung dan jang tidak langsung.

Untuk mendjelaskannja, saja ambil misal atas kaum pengarang.

Ketika mulai mengarang suatu buku, sudah ada satu tjita2 jang akan djadi isinja. Ketika membatja, orang akan dapat mempeladjari kelak, apakah tjita-tjita kita itu. Pribadi pengarang jang bertanggung djawab, berusaha sangat agar buku itu ada harganja dan ada isinja, dari segi pengetahuan dan peradaban. Itulah harga jang pertama. Dan harga jang pertama itu tidak tentu berapa banjaknja sebab dia djasa. Dan djasa itu tidak ada harganja!

Karena tidak terhargai!

Sesudah itu dengan sendirinja timbullah keinginan kedua, jang tidak langsung, jaitu djika buah tangannja bagus, ada „berisi”. Dan tjukupkah isi itu dipudji-pudji sadja? Adakah pudjian itu mengenyangkan perut? Sebab itu maka djika bertambah tinggi budi masjarakat, bertambah pula tingginja nilai penghargaan. Bangsa Eropah telah djauh lebih madju itu karena halus perasaannja, djika dia memberi uang kepada pengarang, diberinja nama jang amat halus, honorarium, penghormatan. Dalam kata honorarium itu tidak ada terkandung makna uang, harta mas atau intan.

Dengan hasil usaha jang tidak langsung itu si pengarangpun insaf, bahwa pekerdjaannja dihargai dan dihormati oleh masjarakat bangsanja. Dengan sendirinja diapun bergiatlah mentjiptakan jang lebih sempurna, dan tidak mau berhenti ditengah djalan.

Bintang jang disematkan keatas dada seorang pedjuang, tegasnja setiap orang jang berdjasa kepada bangsa dan tanah-airnja, dan kepada kemanusiaan, pun hanja honorarium! Bintang Gurilja, sebagai bintang pertama dalam Republik Indonesia, hanja terdjadi dari pada petjahan mortir; itupun lebih tidak berharga dari pada djumlah uang jang diberikan oleh penerbit buku kepada pengarang. Padahal „harganja” amat tinggi.

Sebagai pemimpin rakjat, Sukarno mau berkurban, mau dibuang, diasingkan. Dia tidak mengharapkan apa-apa. Tetapi sebagai manusia, setelah permulaan perdjuangan berhasil, masjarakat memberinja djaminan kehidupan; istana indah, oto jang paling bagus. Dan itulah haknja. Pribadi berchidmat kepada masjarakat dan masjarakat memberi apa2 kepada Pribadi itu. Bertambah tinggi suatu masjarakat, bertambah eratlah perhubungannja dengan tiap2 anggotanja.

Mudjahjid2 jang berdjuang menegakkan agama Islam dalam zaman nabi Muhammad s.a.w. bersedia mati untuk tjita-tjita, dan banjak jang mati. Tetapi nabi Muhammad mengenal keinginan mereka itu jang tidak langsung, jaitu harta-benda. Maka 4/5 dari harta rampasan boleh dibagi-bagikan kepada pedjuang itu, menurut pantasnja masing-masing. Tjuma 1/5 jang harus diserahkan kepada beliau. Dan oleh beliau sendiri dibagi-bagikanlah pula jang seperlima itu kepada fakir-miskin. Karena sebagai nabi jang seluruh hidupnja itu tjita2 belaka, memang keperluan jang tidak langsung itu tidak banjak. Sahabatnja sudah kaja-raja, dan dia sendiri, pernah sebulan dapurnja tidak berasap. Ketika sahabat Zubair meninggal berjuta-juta ia meninggalkan pusaka. Ketika Nabi meninggal, hanja sekarung gandum pusakanja.

Sjukur kalau kita dapat meniru kehidupan Nabi2. Tetapi beliau2 tidak menjuruhkan kita berbuat seberat itu! Dan kalau masjarakat hanja setjara begitu menerima orang jang berdjuang untuk memadukan kemanusiaan, tentulah masjarakat itu turun kebawah, bukan naik keatas.

1.
Rasa wadjib.

Apakah jang dikatakan kewadjiban dan apakah artinja jang sebenarnja? Kewadjiban sedjati jaitu sesuatu jang diperintahkan oleh hati sendiri, bukan jang diperintahkan orang lain. Telandjangi batin kita dari pada pengaruh dan selubung jang lain, djemur dia dihadapan tjahaja Tuhan, langsungkan hubungan dengan Dia. Batin jang demikian, karena sudah dibasuh dan langsung mendapat tjahaja tentu akan hidup. Dia akan dapat menentukan mana jang buruk dan mana jang baik. Mana jang mesti diperbuat dan mana jang tak mesti dikerdjakan. Mendustai batin adalah dusta jang paling besar. Memikul kewadjiban jang bukan kewadjiban diri sendiri, adalah menipu diri sendiri, menghabiskan usia sendiri dan mendjatuhkan pribadi. 24 djam sehari semalam kita diberi modal, untuk melakukan kewadjiban, dan alangkah banjaknja modal itu! Padahal kadang2 tiap2 pekerdjaan besar dapat dimulai dan ditjiptakan dalam beberapa menit sadja.

Berapa menit Sukarno-Hatta mengutjapkan proklamasi?

Kewadjiban jang diperintahkan djiwa sendiri, adalah hakekat kewadjiban. Djika kita telandjur membuat jang dibantah oleh batin kita, karena dikalahkan oleh nafsu kita, maka batin meraung, memprotes, berontak. Itulah neraka djahanam dalam hidup, sebelum masuk keneraka diachirat. Sebab itu maka bagi budiman, tidak ada dosa jang ketjil, semuanja dosa besar! Dan sebaliknja pula, walaupun orang banjak menuduh kita salah, kalau batin kita jang bertelandjang dan didjemur dihadapan tjahaja Tuhan itu, mengatakan tidak salah, sekali-kali tidaklah ada ketakutan dan kedukaan kita.

Emmerson mengatakan: „Manusia jang bekerdja karena didorong rasa wadjib, akan gembira mengerdjakan pekerdjaannja itu”.

Rasa wadjib itu dengan sendirinja memaksa diri supaja berdjalan terus dan lurus. Dalam itu timbullah selidik akan kekurangan diri. Sehabis dikerdjakan suatu kewadjiban perintah hati tadi, timbullah rasa senang, puas dan gembira. Itulah surga hidup! Walaupun orang lain melihat kita dalam kesengsaraan. Dia tidak mengenal rasa takut dan gentar ; Hidup dan mati sama sadja. Maka apa jang diperintahkan batin itu bernama „KEBENARAN, atau Al-Haqq.

„Al-Haqqu min rabbika, fala takunanna minal mumtarim”. Kebenaran dari Tuhan : djanganlah ragu! (Qur’an).

Untuk memikul kewadjiban itu sehingga tidak ada jang berat, djiwa itu sendiri harus tinggi deradjatnja. Djika sempit tempat engkau dialam jang katjau-balau ini, tingkatlah awan dan naiklah kebintang. Turun balik dan lakukan kewadjiban. Setengah dari pada tangga untuk naik keatas itu, tjinta kepada jang indah, jang molek! Tuhan indah dan suka kepada keindahan. Musik jang tinggi, sja’ir jang tinggi adalah rumus, alamat, atas adanja Zat Jang Mahatinggi.

Diperhalus djiwa itu dengan pembatjaan jang berfaedah, dengan tasauf, dengan filsafat, dengan tjiptaan ahli seni. Bertambah halus perasaan, bertambah nampaklah kewadjiban kita dalam hidup.

Demikianlah, pribadi jang besar telah timbul didunia ini, dahulu, sekarang dan nanti. Oleh karena perintah dari hati jang halus itu, mereka telah melakukan kewadjibannja. Apa jang diperdjuangkan oleh manusia jang datang dibelakang ini haruslah menjambung bengkalai mereka jang belum sudah, bengkalai dari orang besar2, jang ada sinar Tuhan didalamnja. Suara itulah jang dituruti oleh tubuh kasar dengan tidak dapat membantah.

Didepan kita terentang djalan ; sebanjak kita, sebanjak itu pula djalan. Ada suara dalam batin kita menjuruh menempuh djalan itu. Roh jang sutji menurut dengan ta’at ; walaupun badannja akan pajah, namun dia puas djua. Adapun djiwa jang lemah, dia bimbang, ragu dan takut-takut. Sajang, kalau perdjalanan itu tiba-tiba terhenti, sebab dibatasi maut.

Ingin berdjasa, berpegang kepada kewadjiban, adalah menimbulkan gensi dan kebesaran, menambahkan hidup jang sesaat itu kepada prikemanusiaan. Tepat apa jang pernah diutjapkan oleh Saad Zaglul Pasja pemimpin Masir :

„Diriku dan kalku, kepandaian dan lidahku, telah kuserahkan semuanja kepada bangsaku. Kalau usahaku diterima baik oleh bangsaku, puaslah hatiku. Djika tidak, tidak pula aku menjesal. Sebab jang kukerdjakan ialah kewadjiban jang diperintahkan hatiku”.

***

1.
Pengaruh agama dan iman.

Mempunjai iman dan agama, tidak dapat tidak besar pengaruhnja pembentuk pribadi. Bagaimanapun djua banjak ilmu kepintaran ; walaupun kitab bersusun dalam almari dan dibatja setiap hari, tidaklah akan asjik mendorong tjipta dan tidaklah akan berani menghadapi kewadjiban, kalau iman tidak ada. Iman itu pokok, kepertjajaan kepada Zat Jang Maha Kuasa. Kadang2 gelap suasana jang kita tempuh dan tidak tentu lagi ranah jang akan ditudju. Ditengah padang pasir sahara jang luas, air tak ada.

Walaupun ada mas sebesar tindju, hilanglah harganja. Apa gunanja mas itu? Kita hanja perlu akan air! Jang demikian mesti bertemu dalam hidup kita. Waktu itu akal berhenti berdjalan, fikiran tidak dapat menembusnja lagi. Karamlah orang jang tidak ada pegangan. Kita banjak bertemu dengan teman jang semata-mata hanja menurutkan hitungan fikiran, jang memandang agama itu hanja memberati belaka. Tetapi achirnja dia terpaksa surut tersipu-sipu menghadap Dia, jang tadinja telah diinkarinja. Sjukurlah sebab Dia itu memang Tuhan. Hambanja itu diterimanja kembali. Dan kata orang Kristen, „anak jang hilang telah pulang” !

Diatas telah kita terangkan hal menelandjangi djiwa, menghindarkan bungkusnja dan mendjemurnja dibawah tjahaja Ilahi.

Djika kita naik keatas kapal-udara, terbang tinggi, kelihatan kampung2 dibawah kita sebagai noktah ketjil belaka, dan djika ditakdirkan kita terbang dan terbang lagi, bumi inipun satu noktah ketjil sadja diantara bintang2 ditjakrawala jang luas. Dan djika terbang lagi, mataharipun hanja satu diantara beribu matahari. Siapakah kita ini sebenarnja?

Ilahi, Ia maldjaä minka illa ilaika!

(Tuhanku, tidak ada tempat lari dari murkamu, melainkan pulang kepadamu djua!)

Seketika orang bertanja kepada Mr. Asa’at, dengan apakah beliau dapat mententeramkan fikirannja, sedang tanggung-djawab jang dipikulnja dan kesulitan jang dihadapinja teramat besar? Dengan djudjur beliau mendjawab: „Dengan sembahjang”.

Beliau itu seorang Islam jang taat. Sebagai Dr. Leimena dalam Keristen.

Riwajat hidup kita sendiri membuktikan bahwa memang banjak hal jang terdjadi diluar kuasa kita sendiri, atau kuasa manusia seumumnja. Kalau kejakinan itu telah ada, kita mulailah melangkahi ambang pintu hidup ; tentu kita tidak akan putus asa, djika bertemu jang sulit. Dan kemudian sekali, setelah djauh suatu kesulitan kita lampaui, tahulah kita, bahwa kedjadian jang tadinja tidak menjenangkan hati kita itu adalah rupanja mempunjai hikmat jang lebih tinggi.

Maka bekerdjalah manusia itu dengan penuh kepertjajaan kepada Tuhan. Dalam adjaran agama jang saja peluk, tersebut bahwasanja seluruh pekerdjaan didalam hidup kita itu, asal kita niatkan, adalah ibadat (bakti) belaka.

Bukannja sembahjang dan puasa sadja jang dikatakan ibadat itu. Mengurus Negara, djadi ahli politik, djadi sudagar, bahkan segenap tjabang pekerdjaan, sehingga menjekolahkan anak dan membelandjai isteripun ibadat djua. Dan tentu djiwa jang demikian ada djuga pada agama jang lain. Jang djadi pokoknja ialah niat, jaitu niat menuntut keridaan Allah Subhanahu wa Taala.

Orang jang beragama sematjam itu pertjaja kepada dirinja, sebab dirinja itu pertjaja kepada Chaliknja. Dan iapun dapat pula dipertjajai oleh orang lain. Dia berusaha meninggikan nilai kerdjanja, sebab jang diharapnja bukan keridaan manusia, melainkan rida Allah. Adapun orang jang hanja beragama karena keturunan, agama jang tidak „hidup bernjala” dalam djiwanja, kerap nian kehilangan kegembiraan dan ragu-bimbang.

Kemadjuan besar jang telah ditjapai pada permulaan abad ini, jang sangat besar djasanja bagi peri kemanusiaan, jaitu alat radio. Marconi jang menjempurnakan pekerdjaan mentjipta alat radio itu beragama Katholik. Tjita-tjitanja jang paling besar sebagai seorang Katholik, ialah kerelaan Paus atas usahannja itu. Sangatlah puas djiwanja seketika Bapa Sutjinja itu berkenan menerima Radio itu mendjadi alat beliau menjampaikan seruan keseluruh kaum Katholik dunia, atas amalnja jang sutji dalam kejakinannja.

Banjak orang besar dunia jang tumbuh karena iman itu:

Goethe, Tolstoy, Edison, Marconi di Eropah.

Tagore, Gandhi di India.

Hulail dan Okbah dalam agama Jahudi.

Dante, Martin Luther, de Loyala, Thomas Carlyle dan Ruskin dalam agama Nasrani.

Djamaluddin Afghani, Muhammad Abduh, Ikbal dalam Dunia Islam, dan lain-lain.

Seorang ahli filsafat berkata: „Terimalah, walau dalam agama apa engkau dilahirkan. Sama sadja, dalam agama Nasrani, atau Islam, atau Jahudi atau Buddha sekalipun. Tjuma satu jang penting engkau perhatikan; jaitu engkau lahir dalam lingkungan satu agama dan satu kepertjajaan jang dipertahankan oleh nenek mojangmu. Ingatlah bahwa dalam agamamu ada kewadjibanmu kepada Allah jang harus engkau sempurnakan”.

Guru saja A. R. St: Mansur pernah mengatakan: „Dalam agama ini, umpamanja kita lahir dua kali ; kelahiran jang pertama, jaitu kita dalam Islam. Tetapi setelah kita dewasa, kita harus lahir sekali lagi. Kita selidiki agama itu sedalam-dalamnja dan kita sesuaikan hidup kita dengan dia. Kemudian kita selidiki pula agama jang lain, supaja — sebagai orang Islam — kita ketahui apa persamaan kita dan apa pula perbedaan kita”.

Orang jang telah meleburkan dirinja kepada agamanja sendiri, walau agama apa jang dipeluknja, sekali-kali tidak ada kesempatan buat bentji kepada pemeluk agama lain. Bagaimana akan ada kebentjian dalam hati orang jang mendekati Tuhan? Bukankah semua machluk itu sama-sama hamba Allah dengan dia? Orang lain telah mengurbankan waktunja buat beribadat kepada Tuhan. Ibadat dengan erti jang luas, jang saja katakan diatas tadi, tidaklah sempat berdebat-debat menjalahkan tjara ibadat pemeluk agama jang lain. Sebagaimana Qurän pernah mengatakan: „Bagi tiap-tiap kamu kami berikan peraturan dan sistem sendiri, supaja Allah mentjobai keteguhanmu dalam perkara jang didatangkan kepadamu. Sebab itu berlumba-lumbalah menegakkan kebadjikan”.

Menurut penjelidikan ahli filsafat, sari adjaran Buddha adalah „Fanäa (meniadakan diri). Sari adjaran Jahudi adalah „Tadhhijah” (berkurban), sari adjaran Keristen adalah „Hubb” (tjinta), sari adjaran Islam adalah „Uchuwwah” (Persudaraan seluruh dunia).

Alangkah berbahagia dunia ini, kalau masing2 kita mendapat sari itu. Dan sjukurlah dalam Negara kita telah ditentukan filsafat tempatnja tegak, jaitu Ketuhanan Jang Maha Esa. Djiwa filsafat Ketuhanan itu, akan mengubah sisa djiwa filsafat pendjadjahan, jaitu netral agama secularisme) dengan arti menjia-njiakan agama. Berubah kepada filsafat jang amat tinggi, jaitu andjuran bagi segenap kita mentjari Tuhan dan menuntut keridaannja, dalam agama kita masing-masing.

* * *

Pengaruh sembahjang.

Didalam menempuh hidup itu, selalulah kita berdjumpa dengan djalan sulit jang tidak dapat dipetjahkan, walaupun bagaimana kepertjajaan kepada diri sendiri. Kian lama kian terasalah bahwa kekuatan manusia itu terbatas. Maka sembahjang dan ibadat adalah sumber kekuatan jang amat besar bagi Pribadi. Dengan sembahjang pribadi jang tadinja lemah, memperoleh kekuatannja kembali. Penjatupaduan fikiran diperdapat karena penjatupaduan tempat menumpukan kepertjajaan.

Djendral Eisenhower seketika memimpin Tentara Sekutu buat menaklukkan Hitler dimedan Perang Eropa, telah memulai pekerdjaan besar dan dahsjat itu dengan sembahjang. Batjaan sembahjang (do’anja) ditjetak dan disiarkan pada seluruh tentara Amerika jang turut kemedan perang, dan dilakukan bersama dalam upatjara2 besar dibawah pimpinan Pendeta-pendeta Tentara. Eisenhower jakin bahwasanja pekerdjaan ini tidaklah dapat dimenangkan oleh semata-mata tenaga manusia, dan tidak oleh sendjata jang sangat lengkap sadja. Diatas daripada itu semuanja adalah keizinan dari Jang Maha Kuasa. Maka benar-benarlah bertemu pada diri Eisenhower utjapan jang biasa disebut orang agama ; „Ichtiar di djalankan sehabis daja, adapun hasilnja diserahkan kepada keizinan Tuhan”. Dan dia sendiripun adalah seorang Keristen Prysheterian jang thaät.

Sudah teranglah bahwasanja segala Pribadi mentjari sandaran jang kuat dan kokoh, jang tidak akan dapat bergandjak lagi. Dan sandaran itu tidaklah dapat kepada benda, karena benda itupun akan tergandjak, sebab diatas jang kuat dan kuasa masih ada jang lebih kuat dan kuasa. Maka disinilah rahasia kemenangan Pribadi orang jang beragama! Mengambil sumber kekuatan Pribadi dari Tuhan.

Seketika beberapa orang Negarawan besar berkumpul dimasa perang Dunia II, memperkatakan ichtiar usaha untuk menghantjurkan kekuatan Hitler, maka bertanjalah Stalin kepada Churchill, berapa benarlah kekuatan tentara Paus di Roma itu, makanja beliau dimasukkan pula dalam pembitjaraan? Demi setelah pertanjaan Stalin jang demikian sampai ketelinga Paus Pius XII di Roma, beliau berkata ; „Sampaikan kepada anakku Stalin bahwa tentaraku terlalu amat banjak dilangit!

Dan dialah jang menentukan pada peperangan ini!”.

Maka dalam pertanjaan Stalin jang pendek dan djawaban Paus Pius XII jang pendek pula, dapatlah diketahui betapa dalamnja djurang jang memisahkan diantara hidup Kebendaan dengan hidup Kerohanian! Dan memang, Paus orang Katholik, alm. Pius XII itu diakui oleh seluruh dunia, baik oleh kawannja atau lawannja, ataupun pemeluk agama lain jang berbeda kepertjajaan dengan Kaum Katholik, bahwa beliau itu memang seorang jang berpribadi besar, turut tertjatat dalam daftar „Orang-orang” jang mengisi sedjarah Abad ke-XX ini.

__________________

FIKIRAN DAN RASASENI.

Tjara berfikir jang teratur adalah tenaga penarik jang utama pada manusia. Kata2 jang keluar dari lidah ialah dorongan dari djalan fikiran. Kata2 dan perbuatan jaitu bukti, adakah beres berfikir atau tidak. Seni jang bersumber pada kehalusan perasaan sekali pun tidaklah dapat ditjiptakan, kalau fikiran tidak beres. Dari adukan dan tjampuran warna dapat diketahui orang bagaimana perasaan pelukis. Oleh sebab itu adalah beberapa lukisan, patung dan sjair jang telah bertahun-tahun usianja, masih amat dalam pengaruhnja. Lukisan2 diistana Paus di Vatican, dipandang orang sebagai raksasa seni, jang hampir tak ada tolok-bandingnja sampai beberapa keturunan. Lukisan Rembrandt menjebabkan bangsa Belanda, tempat dia dilahirkan, dapat mengangkat muka dihadapan dunia dan berkata: „Rembrandt kami punja!!”

Thomas Carlyle mengatakan: „India pada suatu ketika akan terlepas dari tangan kita, tetapi Shakespeare tidak. Djika orang menjuruhkan daku memilih diantara dua, jaitu mempertahankan bahasa Shakespeare atau mempertahankan kedaulatan atas India, tentu akan saja pilih jang pertama. Shakespeare adalah daulat radja jang lebih tinggi, jang menguasai seluruh keindahan perasaan tiap2 bangsaku jang memakai bahasa Inggeris, baik ditanah Inggeris asli baikpun diseberang lautan”.

Musikpun demikian pula, musik itu takkan terdjelma kalau tidak dibantu oleh fikiran jang sehat, walaupun isinja sangat halus. Kalau hendak melihat bangsa2 Eropah jang telah tinggi pendidikannja, termenung dan lupa diri, satu detikpun tidak boleh kedengaran suara lain dilantai ; lihatlah ketika mereka itu mendengarkan musik Beethoven, Mozart atau Bach.

Fikiran dan perasaan mesti sedjalan.

Salah kita kalau kita menjangka, bahwa dengan mempeladjari undang2 dan teori musik sadja, atau mengakui suatu teori susunan sjair, kita telah mendjadi ahli musik atau ahli-sjair. Undang2 hanjalah sebagai dasar. Sebagai kami disurau dahulu mempeladjari ilmu alat, supaja kami kelak dapat berdjalan sendiri dalam mendjelami rahasia bahasa Arab, dengan fikiran sendiri. Walaupun dua pelukis sama2 tegak ditepi sebuah ngarai dan sama2 melihat keindahan alam dan sama2 memindahkan dia keatas kertas, kalau kelak hasil keduanja diperhatikan, akan nampaklah djuga perbedaannja. Sebab mereka itu memandang dengan teropongnja masing-masing.

Kita peladjari undang-undang seni, kita masuki sekolahnja jang tinggi, kita turuti dengan segala pertjobaan jang tiada mengenal bosan. Dan kitapun insaf, tidak ada ahli seni jang tidak terpengaruh oleh ahli seni jang lain. Kita meniru dan kita membanding, tetapi kita tidak boleh mendjadi bajang-bajang dari kesenian pribadi jang mempengaruhi kita itu. Melainkan kita pupuk pertumbuhan djiwa kita sendiri. Dengan itulah kita mendjadi ahli-seni jang besar!

Pada kejakinan saja, fikiran dan djiwa seni seorang seniman atau pudjangga jang besar adalah tumbuh diatas tanah wathannja jang dihisapnja, sehingga sebagai orang Inggeris berhak berkata: „Shakespeare itu kami jang punja!”

Dan orang Djerman berhak berkata: „Goethe itu kami jang punja”, maka bangsa Indonesia pada suatu waktu tentu boleh pula berkata „Si Anu kami jang punja”.

Dan itu adalah berasal dari djiwa jang besar!

Bukannja didalam kota jang ramai, ditempat kendaraan bersilang-siur dan hiruk-pikuk jang menulikan telinga sadja, tempat mentjari djiwa seni bangsa. Selamilah

djiwa mereka itu, ketahuilah kesukaan dan kebentjiannja; terutama ditanah-air kita jang bermasjarakat berbagai ragam ini. Ada jang telah terpesona oleh musik Beethoven, dan ada jang masih tergila-gila oleh suara gamelan. Ada jang telah makan dengan memakai sendok dan garpu, pun ada jang masih makan andjing! Ada jang telah mengatur pakaian pesta, pakaian malam, pakaian sore, dan ada pula jang masih bertelandjang.

Mendidik bukanlah memaksa!

Roh jang akan meningkat besar nampak alamatnja pada ketjintaan akan alam dan keindahannja serta kepertjajaan kepada Tuhan.

Pada suatu hari dimusim darurat, saja berdjalanan melereng bukit meninggalkan kampung saja, Manindjau, akan menudju ke Malalak. Hari ketika itu kira2 pukul tudjuh pagi, matahari telah mulai mengintip dari bukit itu dan tjahajanja lebih dahulu telah dikirimnja ketengah danau; Seorang gadis ketjil sedang mendjaga sawahnja ; padinja muda dan unggas banjak. Tiba-tiba datanglah ibunja hendak menemaninja. Maka berkatalah anak perempuan itu: „Lihatlah, ibu! Matahari telah naik, indahnja panas dalam danau itu. Adakah ibu lihat biduk orang keseberang? Unggaspun tidak banjak, sepagi ini ; tidak lama lagi padi kita akan masak!”

Saja sedang lalu dipematang sawah itu, memang dibawah terhampar kampungku jang indah permai, dan lantaran hudjan pada malam itu, daun2 kaju dirimbapun sangat hidjau rupanja. Kawan jang mengiringkan saja berkata: „Seperti sjair perkataan anak gadis itu!”

„Memang”, djawabku, „Sjair itu terasa oleh setiap manusia, terutama dilembah jang indah ini, sajang tidak diasuh dan dipupuk. Alangkah hebatnja, kalau anak itu terdidik.”

„Tuanpun tidak terdidik pada mulanja”, kata temanku senjum.

„Saja ini wakil dari sekalian mereka itu”, djawabku.

Dalam susunan katanja jang sederhana, tetapi tumpahan perasaannja, nampaklah bakat kejakinan dan kepertjajaan menghadapi hidup pada gadis itu. Tetapi apa hendak dikata, selama ini pertumbuhan ditekan oleh kedjahilan, karena kesempatan tidak diberi. Ditambah pula oleh kemiskinan. Dimanakah akan subur kesenian dalam djiwa, kalau setiap hari jang difikirkan hanja beras seliter; apalagi dalam zaman darurat.

Bakat untuk djiwa jang kuat ada pada petani tengah mengerdjakan sawahnja, tampak pada guru jang tengah menghadapi muridnja didusun jang terpentjil. Tampak djuga pada seorang pemimpin ketjil dalam kampung, jang kurang berhubung dengan dunia luar ; sambil berladang dia memimpin, membawa surat2 pemerintah dan maklumat resmi, dibatjakan dimesdjid sebelum chutbah. Nampak pada bapa walinegeri, bapak lurah dalam zaman perdjuangan. Lain daripada „pangkat” itu tidak ada jang didapatnja. Entah kalau sawahnja sendiri jang tergadai, atau tjelananja jang bertambal.

Djiwa jang besar tidak perlu dipukulkan gung! Jang bersorak-sorak atau disorak-sorakkan sangat mudjarrab dan didjamin beres, adalah obat2 „chasiat 1001” dipinggir pasar! Djiwa jang besar tenang djalannja, melangkah setapak demi setapak, tetapi tetap! Menahan segala pukulan dan gelombang, jang laksana batu karang, bertambah dipukul gelombang, bertambah banjaklah anasir jang lekat pada dirinja untuk menambah kokohnja.

Baik sudagar jang hanja menghitung berapa laba sehari dan djangan banjak rugi ; baikpun ahli politik jang siang malam mendjaga martabat negaranja ; baikpun ahli ekonomi, dan baikpun siapa jang mentjempungkan dirinja kedalam masjarakat, sekaliannja itu harus berdjiwa seni. Sebab hidup itu seni. Djangan tuan sangka bahwa sjair, atau filsafat, atau tasauf, atau gambar lukisan, tidak perlu untuk mentjipta pekerdjaan jang besar2.

Seorang jang miskin ingin hendak membeli badju baru, lalu dia berdjalan kemuka kedai. Dia ada berduit, lalu ditawarnja kain itu. Dihitung-hitungnja, rupanja tidak tjukup; berkali-kali ditawar, jang empunja tidak mau menjerahkan. Sudah ditjobanja pergi dari tempat itu lambat2, moga2 dipanggil. Pun tidak dipanggil. Maka pulanglah ia dengan tangan hampa; dibelandjakannja djuga duitnja, tetapi bukan kepada kain, melainkan kepada barang lain jang lebih murah. Demikianlah orang miskin dengan maksud jang lebih besar dari kesanggupannja. Maka begitu pulalah orang miskin djiwa dalam menudju kearah pekerdjaan besar. Adapun musik, seni, filsafat, tasauf itu adalah kekajaan djiwa dan tampang kebesarannja, sehingga tidak ada pekerdjaan jang dipandangnja besar.

Sjair Arab :

„Menurut ukuran orang jang mempunjai tjita²
akan tertjipta pekerdjaan dan perkara jang penting.
Dan akan tertjipta suatu perkara mulia
menurut kemuliaan orang jang mentjiptakannja.
Besar segala perkara ketjil² dimata orang ketjil
dan ketjil perkara jang besar² dalam mata orang jang besar”.

* * *

Tiga perkara mendjadi sendi bagi kebesaran djiwa :

1.
Tidak gelisah. Tenang, tidak pandjang agak2 dan ragu. Adakalanja karena bawaan badan dan adakalanja karena pandai menahan hati dan dilatih tidak tergesa-gesa, karena pengaruh suka dan duka, sajang dan bentji. Adapun takut dan segan-segan sangatlah besar pengaruhnja serta menghambat kemadjuan akal, sehingga fikiran terlepas dari pada keseimbangannja. Selama akal masih dipengaruhi oleh ketakutan dan ketjemasan, maka sikap tenangpun hilang, lalu timbul kegelisahan.

Tjemburu, hasad dan dengki menghilangkan ketenangan, karena itu kita sendirilah jang meratjuni djiwa sendiri. Tjita-tjita mesti besar. Angan2 jang tidak berudjung dan chajal jang tidak berkeputusan, pun menghilangkan ketenangan akal.

Banjak orang jang hilang tenangnja, timbul gelisahnja, sebab tidak dapat menjesuaikan jang njata dengan jang ditjita-tjita. Dia mau supaja perdjalanannja sampai keudjung dalam sekedjap mata. Itulah sebabnja maka banjak orang jang djadi gila atau bertukar akal pada permulaan revolusi. Dia ingin segala pekerdjaan beres dalam saat itu djuga. Padahal Allah pun mendjadikan alam dalam enam hari dan istirahat dihari jang ketudjuh. Hanja Negara „1001 malam”, jaitu Negara Aladin jang dapat diseru dengan lampu-hikmat Aladin. Negara demikian hanja ada dalam dongeng.

Dan lagi kehidupan mewahpun selalu menggelisahkan djiwa.

Jaitu hidup jang dipaksa melebihi kemampuan dan kesanggupan diri.

1.
Rela menerima hidup dan berusaha Rela menerima hidup, bukanlah artinja menjerah dengan tidak berusaha. Kalau menjerah sadja, bukan lagi rela namanja, tetapi lemah. Arti rela ialah menjempurnakan pekerdjaan sendiri dan mempertinggi mutunja.

Kalau kerelaan akan hidup tidak ada lagi, keberanianpun hilanglah. Tidak berani lagi membantah jang salah, menegur jang tidak adil. Kalau begitu masjarakatpun terhentilah kemadjuannja. Sebab anggota masjarakat itu telah mundur dalam medan hidup. Rela jang timbul karena lemah dan malas, dengan perasaan „tjukuplah begitu sadja”, bukanlah rela, tetapi mati!

Untuk mentjapai kemadjuan kita harus menuntut jang lebih sempurna. Djiwa mesti dinamis, bergerak terus ; djangan statis, membeku.

Orang jang rela dalam hidup, tidak hendak keluar dari ukuran jang pantas bagi dirinja. Kemegahan kulit tidak mempengaruhinja. Biar tinggal dipondok ketjil, asal djiwa besar.

Kerelaan hidup mengadjar kita agar sudi menerima hidup bersakit-sakit. Sebagai bangsa berdjuang, dan perdjuangan ini belum habis, walaupun Negara telah merdeka, kita harus mengadjar hidup bersakit itu. Ikan sungai jang hidup menangkis air hilir lebih padat dagingnja dari pada ikan dalam tebat. Banjak pada zaman revolusi „orang halus” jang tidak tahan menderita, sebab itu dia lekas menjerah. Mulanja dirasanja senang, sebab telah mendapat beberapa laba lahir. Tetapi kian hari ia kian kurus, kegembiraannja hilang, sebab djiwa sendiri menderita. Disangka akan „sehat” karena telah mendapat gadji besar, tjukup pembahagian distribusi dan lain-lain. Tetapi kian hari kian terasa olehnja bahwa dia kehilangan, jaitu kehilangan kegembiraan karena mendustai tjita-tjita sendiri.

Emile Zola, pengarang Perantjis jang masjhur itu, telah meningkat tangga kemasjhurannja sedjak dari anak tangga jang dibawah sekali. Orang melihat bagaimana melarat hidupnja ketika mula2 datang ke Paris. Menjewa sebuah kamar jang telah tiris. Tetapi karena dia tidak putus asa, achirnja salah satu dari karangannja telah membuka pintu baginja kepada kedjajaan besar. Sehingga uang jang masuk dari keuntungan karangannja telah mengubah hidupnja, telah menjebabkan dia tertawa sesudah lama melarat.

Pada waktu Zola diatas puntjak kemasjhuran, terdjadilah perkara Dreyfus. Dreyfus dituduh mendjual rahasia negaranja sendiri kepada suatu Negara asing. Alasan tuduhan itu tidaklah tjukup, tetapi Dreyfus dibuang djuga kepulau Setan, sebab pemerintah anti-Jahudi dan Dreyfus itu orang Jahudi. Tiap2 usaha hendak membela Dreyfus, tidak berhasil, sebab segala keterangan jang djelas ditahan sadja oleh pihak atas.

Achirnja isteri Dreyfus meminta tolong kepada Zola. Sebab Zola itu pengarang jang ternama, penanja berpengaruh, iapun disukai rakjat. Dengan sangat perempuan itu bermohon kepada Zola, supaja suaminja dibela.

Zola mulanja enggan dan ragu. Diapun tahu, Dreyfus tidak salah dan ia teraniaja. Tetapi, kalau soal itu digugatnja, pemerintah akan murka, dan akan banjak orang jang menentangnja. Zola berdjuang dalam hati. Dia meminta buah pikiran kepada salah seorang temannja. Temannja itu berkata, bahwa djiwa pudjangga jang sedjati adalah pentjinta kebenaran. Adapun kemegahan dan kemewahan, kalau diperturutkan, akan mendjatuhkan djiwa pudjangga, bahkan akan menghilangkan hasil langkah perdjuangan jang telah lama, dalam waktu jang hanja sebentar. Pada saat demikian itulah pudjangga harus menundjukkan kepudjanggaannja.

Achirnja Zola dapat menetapkan pendirian. Dibelanja Dreyfus dengan karangannja jang terkenal „Saja menuntut!” Karangan itu tersiar diseluruh kota Paris dan tanah Perantjis pada umumnja. Dengan bahasanja jang hidup, ditegakkannja keadilan dan ditentangnja perbuatan lalim : Dreyfus tidak salah! Pena Zola mempertahankan dia. Segenap kekajaan kata-katanja sebagai pudjangga, diberikannja, dikurbankannja untuk pembela Dreyfus, artinja pembela kebenaran! Pendapat umum terpengaruh oleh buah pena itu, tetapi pemerintah bertahan dengan kekuatan kekuasaannja. Zola terpaksa menerima akibat dari tulisannja, jaitu dibuang keluar negeri. Dan dia rela menerima hal itu.

Kekuasaan tidaklah dapat melawan kebenaran. Achirnja pemerintah jang keras kepala itu terpaksa djatuh djuga. Pemerintah jang baru menjelidiki perkara Dreyfus kembali. Ternjata Dreyfus tidak bersalah, hukumannja ditjabut, dia dipulangkan ketanah-airnja, pangkat dan kehormatannjapun dikembalikan. Pena Zola menjadjarkan pendapat umum supaja kembali kepada kebenaran. Tetapi sajang, seketika orang hendak menghormati pahlawan pena itu, sebagai putera Perantjis, jang berdjasa, Zola telah wafat lebih dahulu diluar negeri.

Dalam mengambil ketetapan hendak membela Dreyfus, lain dari pada sahabatnja, ada lagi orang lain jang sangat berpengaruh memperkuat semangatnja. Jaitu isterinja. Isterinja itu lebih rela sengsara, asal sengsara karena menggenapkan kewadjiban sebagai pudjangga. Isteri itulah jang banjak mengeraskan supaja suaminja menetapkan sikap, djangan ragu2. Sehingga walaupun Zola mati, dia mati dalam kemuliaan. Dengan kematiannja itu dia menggenapkan kewangian nama sebagai seorang pudjangga.

Dia telah mendjadikan mautnja sebagai penutup kehidupan pudjangga jang indah.

Kalau begitu tidak sedikit pengaruh isteri atas membentuk pribadi kita. Dalam saat jang genting ketika revolusi jang telah lalu, tidak sedikit orang jang djatuh atau tertjetjer ditengah djalan, menjerah kepada lawan, bukan karena dirinja sendiri jang tidak tahan, melainkan karena kelemahan isterinja. Pihak lawanpun kerap kali lalu dari pintu belakang, jaitu dari pihak isteri, untuk melemahkan djiwa seorang pedjuang. Bung Karno berterang-terang menuliskan hal itu dalam bukunja jang terkenal „Sarinah”. Kegagalan kita dalam beberapa hal ketika melaksanakan revolusi, tidak sedikit tersebab dari kaum perempuan. Oleh sebab itu lebih baik djanganlah beristeri hanja karena pertalian benda; lebih baik karena pertalian hati dan pertalian tjita-tjita.

Djangan dikedjar orang jang belum tiba dan djangan pula dinantikan orang jang telah pergi lebih dahulu.

Lord Eferbry berkata: „Siapa jang ingin menang didalam hidupnja, asal hati tabah, pastilah sampai maksudnja. Tetapi suatu tjita-tjita jang timbul hanja karena keinginan hawa-nafsu, tidaklah akan memuaskan hati, dan tidak semuanja akan sampai.

Gagal dalam kemuliaan lebih baik dari pada menang dalam kehinaan. Orang jang gagal sekali-kali tidaklah rugi, selama dia belum putus-asa. Kalau sekali maksud belum sampai, djanganlah patah pengharapan”.

Kata Marx Twain: „Peliharalah tjita-tjitamu baik2. Karena tjita-tjita kalau telah padam, samalah artinja dengan mati”.

Hu Hsih ahli filsafat Tionghoa berkata: „Tidak dapat tidak, seorang mesti gagal agak sekali dalam hidupnja. Dengan kegagalan itu dia dapat mengetahui dimana segi kelemahan dirinja. Gagal sekali tidaklah mengapa. Jang rumit ialah djika gagal dua kali ditempat jang serupa itu djuga”.

Rugi harta-benda belumlah patut disebut rugi, karena harta dapat ditjari. Rugi keberanian, samalah artinja dengan separuh kerugian. Tetapi kalau rugi kehormatan, djatuh martabat dan gensi, maka itulah rugi jang sebenarnja.

Kata Bacon: „Njalangkanlah mata waktu berdjalan, karena ditengah djalan pasti akan bertemu dengan kesempatan. Adapun kesempatan itu sendiri buta. Peganglah dia kuat-kuat. Karena datangnja tidak memberi-tahu, perginjapun tidak pula”.

1.
Muka djernih.

Sungguh, muka jang kusut-kerut sadja alamat bahwa jang didalampun kusut pula. Ada orang bertanja: „Siapa jang dapat mengetahui hati orang lain? Dapat! Sebab mukanja dapat dibatja! Terutama matanja! Dalam fasal jang diatas telah kita njatakan bagaimana hubungan otak dengan anggota tubuh jang lain. Urat2 saraf diperintah oleh otak menjampaikan kepada wadjah muka, menjatakan perasaan bentji dan sajang, dengki dan mendongkol jang ada dalam otak.

Orang jang buruk sekalipun mendjadi bagus kalau mukanja djernih. Muka djernih mendatangkan simpati. Tetapi muka jang kusut mendatangkan djemu orang, walaupun pada dasarnja muka itu tjantik. Orang jang mukanja kusut sadja, artinja mengurung dirinja sendiri dan memutuskan ikatannja dengan orang lain.

Pernah saja lihat seorang jang sederhana kehidupannja, tetapi selalu tamunja banjak. Orang senang sadja menziarahi rumahnja, padahal dia bukan seorang jang mampu. Saja perhatikan apa jang mendjadi pokok hal itu. Tak lain hanjalah kedjernihan muka si suami dan si isteri Dengan mukanja jang djernih dia mendapat banjak sahabat. Sekali2 pernah djuga dia mengeluh, sebab kesukaran hidupnja menjebabkan dia tak dapat menjelenggarakan tetamunja dengan sebaik-baiknja. Maka berkatalah isterinja: „Supaja kita terhindar dari kesulitan ini, kanda, lebih baik kita ubah sikap kita. Kita kerutkan sadja muka kepada tiap2 orang jang datang. Tentu mereka itu tidak akan kemari lagi”.

Suaminja mendjawab: „Dan sedjak waktu itu, tidaklah berarti lagi kita ini”.

Setelah muka merekapun djernih kembali, sebab djiwa mereka djernih pula. Dan walaupun bagaimana belum pernah mereka kehilangan akal, sebab djiwa tidak mereka biarkan kusut.

__________________

JANG MELEMAHKAN PRIBADI.

1.
Djadi bajang-bajang orang lain. Orang jang hanja mendjadi bajang-bajang orang lain, berkata dan menulis, bahkan sampai kepada gerak dan geriknja, hanja mendjadi pak tiru, — orang jang demikian tentulah akan lenjap pribadinja ditelan oleh pribadi orang jang ditirunja itu. Sehingga tidak djelas lagi bagaimana sebenarnja dirinja sendiri.

Kitapun mengaku bahwasanja manusia tidaklah tumbuh sendiri, melainkan adalah hal2 berkeliling, lingkungan, pendidikannja dan keturunannja jang mempengaruhi pertumbuhannja itu. Gandhi terpengaruh oleh Tolstoy dan Tolstoy terpengaruh oleh Rousseau. Tetapi meskipun terpengaruh, achirnja Gandhi tumbuh sendiri, sebagaimana Tolstoy pun tumbuh sendiri pula. Keempat imam dalam Islam, jaitu Maliki, Hanafi, Sjafiie dan Ahmad bin Hanbal pun begitu djuga. Mereka itu mula2 ada berhubungan sebagai guru dengan murid, tetapi masing2 achirnja mempunjai pribadi dan pendirian sendiri-sendiri.

Saja teringat ketika ajah saja Dr. H. A. Karim Amrullah mengadjar agama di Padang Pandjang dari tahun 1916 sampai tahun 1926. Beliau selalu membangkitkan semangat pada murid2nja supaja menjelidiki sendiri dan merdeka berfaham. Djangan hanja mendjadi pak turut, mendjadi taklid buta. Tidak mengapa kalau sekiranja beliau sendiri dibantah, dengan alasan jang tjukup. Padahal pada masa itu masih amat gandjil dalam kalangan guru2 agama, kalau ada murid jang mentjoba membantah pendapat gurunja. Maka dalam beberapa tahun kemudian tumbuhlah murid2nja, lalu memegang peranan jang penting dalam kemadjuan agama di Sumatera Barat. Banjak ulama di Sumatera Barat, tetapi tidak ada jang mempunjai murid besar2 sebagai beliau. Diantara murid-muridnja itu adalah Zainuddin Labay, jang mendirikan Sekolah Dinijah dan memimpin s.k. „Almunir”, Abdulhamid Hakim, Engku Mudo, guru besar pada Madrasah Sumatera Tawalib, H. Djalaluddin Thaib, ketua Permi, H. Muchtar Luthfi pemimpin Permi jang terkenal, Rahmah El-Junusijah pemimpin Sekolah2 Dinijah Perempuan, A. R. St. Mansur pemimpin Muhammadijah dan H. Dt. Batuah jang kemudian masuk P.K.I., semuanja itu mempunjai pribadi sendiri-sendiri, dan tidak hanja „membebek” kepada gurunja.

Ilmu memang ada pergurunannja, tetapi murid jang tidak merdeka dari gurunja, adalah murid jang tidak berpribadi. Barangkali gurunja tidak pandai atau tidak ingin muridnja beroleh kemadjuan!

1.
Ikatan adat-lama pusaka-usang.

Hidup didunia tentu memakai adat-istiadat, dan bagi suatu bangsa adat-istiadatnja itulah tanda alamat kebangsaannja. Tetapi djanganlah lupa bahwasanja adat itu adalah kebiasaan. Adat bukanlah undang-undang atau hasil mupakat jang telah diperbuat lebih dahulu. Sebab itu bilamana zaman telah berubah, dengan sendirinja adat itupun berubah pula. Tetapi sudah mendjadi undang-undang pula dalam ilmu masjarakat, bahwa orang tua-tua jang telah merasa enak dengan susunan jang lama, enggan menerima perubahan adat, padahal anak muda ingin akan perubahan. Disini timbullah pertentangan. Kadang-kadang sengit dan achirnja menang djugalah jang muda. Tetapi apabila jang muda jang berdjuang untuk perubahan itu telah menang, usianjapun berangsur tua pula, dan diapun enggan pula melepaskan kebiasaan dan adat jang telah diperdjuangkannja itu. Dan jang muda menentang pula. Demikianlah seterusnja.

Maka supaja pribadi kuat-kokoh, djanganlah dibiarkan adat itu begitu-begitu sadja. Saja misalkan sekarang keadaan suatu negeri ditanah-air kita ini jang amat kokoh akan adatnja, jaitu Minangkabau. Banjak kaum kolot jang sampai sekarang memudji-mudji kebaikan adat Minangkabau, susunan mamak-kemenakan, harta pusaka, dan lain2nja itu memang bagus, tidak dapat dimungkiri, djika susunan masjarakat masih serupa dengan susunan 60 tahun jang telah lalu. Tetapi karena roda hidup bangsa terus berputar djuga, maka memakai badju adat lama itu tidak ubahnja dengan memakai badju sempit. Tidak mau lagi disesuaikan dengan masjarakat sebagai sekarang. Achirnja nenek-mamak hanja membilang-bilang pepatah, berpidato serupa murai dibubuhi ekornja, memudji-mudji susunan lama dan mengutuki zaman baru.

Dipudjinja dan disandjungnja djuga susunan jang lama. Kita bertanja, sanggupkah mereka itu mengembalikan dunia kepada susunannja 60 tahun jang lalu itu? Sanggupkah mereka menutupi pintu djalan Bukit-Patah Sembilan, Lurah Berangin, supaja anak-kemenakannja djangan berhubung dengan Singapura? Sanggupkah mereka menutup djalan ke Djawa? Sanggupkah mereka menjuruh berhenti naik kapal udara?

Tiap2 zaman ada baiknja dan ada pula buruknja. Tjelaka orang jang tidak dapat menjesuaikan diri. Orang jang serupa itu walaupun dalam zaman apa dia hidup, dia hanja akan menampak jang buruk, sebab katja matanja memang „hitam” !

Pribadi kita bangsa Indonesia baru, bukanlah pribadi orang seorang, kebesaran pribadi untuk kepentingan diri sendiri sadja. Pribadi kita haruslah besar dan kukuh untuk memimpin kaum kita jang masih ketinggalan, mengeluarkannja dari bawah kurungan tempurung, laksana katak. Dan bawalah dia ketengah-tengah alam jang luas ini, supaja diketahuinja dimana sebenarnja tepi langit !

Adapun terhadap hal2 jang berkenaan dengan ibadat kepada Allah, seumpama upatjara2 agama, sembahjang 5 waktu dalam Islam, naik Hadji ke Mekkah sambil melempar djumrah, atau upatjara jang lain dalam agama jang lain, maka dalam sekalian hal itu hendaklah kita tunduk! Perkara itu tidak masuk bilangan adat-istiadat, melainkan ibadat. Tidak ada kolot dan modernnja. Tidak termasuk perkara jang hendak dikupas dengan leluasa atau dipandang telah kolot. Hal itu adalah sjiar setiap agama. Jang mengenai pokok2 sjariat agama itu djanganlah diusik, djangan dipandang telah kolot. Hal itu adalah sjiar setiap agama. Jang penting, jaitu menjelidiki mana adjaran jang asli dan mana jang saduran, mana jang betul2 menurut dasar Kitab Sutji jang tidak boleh dirobah, dan mana jang ditambah-tambahkan sadja oleh ulama atau pendeta.

Penjelidikan terhadap agama dengan tjara susunan ilmu pengetahuan setjara Barat memang amat baik. Kaum tjerdik pandai kita telah banjak sekarang, dan di Barat sendiri sudah beratus ratus banjaknja kaum sardjana jang menjelidiki masalah ketimuran, jang mengupas soal-soal agama dengan dasar ilmu pengetahuan. Tetapi pemuda jang terdidik mengupas soal setjara Barat itu, haruslah hati-hati pula djika hendak memasuki soal itu.

Berpuluh tahun lamanja bangsa Belanda memasukkan adjaran jang salah terhadap Islam, bekerdja keras bersama-sama dengan kaum geredja. Dan ummat muslimin disini sendiripun sangat pula ketinggalan. Berpuluh tahun pula lamanja keislaman disini tidak beroleh kemadjuan tjara berfikir. Dua orang ahli fikir Islam, Djamaluddin Afghany dan Muhammad Abduh jang mula-mula membangunkan faham baru dalam Islam, masih belum diterima oleh bahagian jang terbesar dari pada ummat Islam disini. Pada masa jang achir ini telah ada beberapa orang Doktor dalam hal filsafat, kesusasteraan dan lain2 dalam Islam dinegeri Masir, Pakistan, Turki, dan lain2. Buah2 tangan mareka jang penting, jang mengupas soal Islam dengan tjara ilmu pengetahuan, seumpama „Kehidupan Muhammad” oleh Dr. Husain Haikal, „Fadjar ul Islam” oleh Dr. Ahmad Amin dan berpuluh-puluh buku filsafat Islam karangan beberapa orang Doktor ilmu pengetahuan Islam jang terbit sedjak tahun2 jang achir ini, belum sempat dibatja atau dipahamkan oleh kalangan Islam sendiri. Lebih2 berpuluh buku jang terbit sesudah perang dunia II.

Oleh sebab itu, djika angkatan muda jang terdidik berfikir tjara Barat hendak memasuki soal keislaman, haruslah dia hati-hati benar.

Nasrudin Dinet, seorang pudjangga Perantjis, orientalis, jang kemudian memeluk agama Islam mengarang riwajat kehidupan nabi Muhammad s.a.w. (Disalin oleh Al-Hadi Wiranatakusuma kedalam bahasa Belanda) mengatakan, djanganlah mentjukupkan menjelidiki kehidupan Nabi itu kalau hanja dengan fikiran tjara Barat. Kita harus menjelami pula alam berfikir tjara Timur”.

Kita bersenang hati melihat, bahwa dalam kalangan tjerdik pandai sudah ada jang hendak mengupas agama itu dengan merdeka. Tetapi kerap kali bau-bau „fanatiknja” kepada Barat masih mempengaruhi tjaranja berfikir. Kita andjurkan; kalau tuan hendak mengetahui agama dan hendak mengupasnja setjara ilmu pengetahuan, hendaklah pakai pula sjaratnja. Jaitu ketahui bahasa Arab! Orang tidak bisa mengetahui peradaban bangsa Junani jang sedjati, kalau dia tidak mempeladjari bahasa Grik kuno. Padahal bahasa itu telah mati. Hanja karena ingin akan pengetahuannja bahasa itu dipeladjari orang. Dan sekarang bahasa Arab masih hidup dan madju. Apa salahnja kalau dipeladjari? Djiwa Islam lebih dahulu tuan selami, apalagi tuan seorang Islam, baru tuan berhak memberikan kupasan tentang hal agama. Kalau tidak lebih baik diam! Lebih baik katakan sadja terus terang :

pengetahuan saja belum dapat dipertjaja dalam soal jang dibitjarakan itu sebab keahlian bukanlah artinja segala tahu!

Disitu baru ada harga pribadi.

1.
Budak kitab. Ketika akan membatja suatu kitab sutji, jang berasal dari wahju jang diturunkan Tuhan kepada manusia dengan perantaraan nabinja, hati kitalah jang kita tundukkan kepadanja. Lebih dahulu kita telah berniat hendak mentjari tuntunan bagi djiwa kita. Meskipun ada jang belum termakan oleh fikiran, kita tekankan fikiran itu dan kitapun pertjaja (iman). Tetapi membatja karangan sesama manusia apa djua pangkat dan gelarnja, kita harus tahu bahwa dia manusia dan kitapun manusia. Tidak semua apa jang ditulisnja itu harus kita terima. Sebagai manusia dia akan pernah silap. Dalam beberapa pandangan hidup kita tidak sama dengan dia. Tjara memandang suatu soalpun berbagai-bagai, dari sudut jang berlain-lain.

Kalau semua jang dibatja lantas ditelan sadja, hilanglah djiwa kritis jang ada pada kita.

Pamur kaum muslimin mendjadi padam, sedjak 700 tahun jang achir, adalah karena ulama-ulamanja sudah mendjadi budak kitab. Tidak keluar lagi pendapat jang baru, ditjukupkannja dan diikutnja sadja dengan membuta-tuli apa jang ditulis oleh ulama2 jang dahulu.

Penjakit beginipun kerap menimpa sardjana didikan Barat. Dia sanggup mengumpul udjar propesor anu, doktor anu, sardjana anu. Tetapi pendapatnja sendiri tidak ada!

Selamilah sedalam-dalamnja fikiran orang lain dalam buku orang lain, agar kita dapat membanding dan mentjari siapa diri kita sendiri. „Telan” kitab jang banjak itu semuanja, lalu saring atau djadikan pupuk untuk menjuburkan diri sendiri dengan bentuk sendiri.

Rousseau berkata: „Saja tidak serupa dengan orang orang lain, meskipun saja tidak mengaku sajalah jang lebih bagus !”

1.
Tak tentu arah. Ada orang jang ingin benar hendak mendjadi orang besar. Kerap dia membanggakan diri bahwa dia berkenalan dengan menteri Anu, pernah naik oto sama-sama dengan pemimpin polan. Dia melihat bahwa orang lain telah mendapat kedudukan pantas dan kehormatan besar karena mendjadi pemimpin sesuatu partai, atau ketua sesuatu perserikatan. Sebab itu setiap ada orang berapat mendirikan satu badan, dia suka sekali datang kesana. Kalau ketua mempersilakan hadirin menjatakan fikiran, dia jang dahulu sekali mengatjungkan tangannja minta berbitjara. Dia tidak segan mengandjurkan hadirin supaja dia diangkat mendjadi ketua. Ketika orang hendak mentjari utusan akan menghadiri suatu permusjawaratan penting, dia menundjukkan beberapa sjarat orang jang akan dipilih, sehingga orang tahu sudah, bahwa dialah jang dimaksudnja melengkapi sjarat itu. Kadang2 diperbuatnja kampanje memilih dirinja, baik didalam rapat itu djuga, baikpun diluar rapat dengan djalan berbisik-bisik. Buat maksud itu dia tidak keberatan membusukkan orang lain.

Dia tidak berkeberatan memikul empat lima beban. Mula2-nja memang bersemangat dia mengurusnja, tetapi kian lama kian kendur semangat itu dan achirnja beban2 itu tidak diurusnja lagi, bahkan dilupakannja. Dan kerap djuga dia membanggakan kepada orang lain, bahwa kerdjanja sangat repot, dia ketua ini, kepala itu pemimpin partai ini, pengurus perkumpulan itu. Maka oleh karena banjak urusannja itu, tidak ada lagi jang dapat diurusnja!

Kenapa djadi begini? Dia giat, gesit, lintjah. Tetapi rupanja bukanlah dia mentjintai pekerdjaan karena nilai pekerdjaan. Dia mentjintai suatu pekerdjaan dan usaha, ialah supaja dirinja terkemuka. Memang, setiap orang ingin terkemuka, tetapi mengapa dia itu tidak djaja? Sebab dia tidak mau menetapi satu hadap! Ini rasa2kan enak, itu rasa2kan berhasil ; jang sana rasa2kan ada harapan, jang sini …dll. Tetapi setelah dilihatnja bahwa apa jang dihadjatinja itu tidak lekas bertemu, diapun gelisah, lalu singgah pula matanja kepada jang lain. Disana rasa2kan dapat djuga mendjadi tangga untuk kenaikan. Namun kenaikan tidak djuga didapatnja. Tentu bertambah lama bertambah djauhlah dari padanja kedudukan atau kehormatan jang ditjarinja itu, sebab orang tidak pertjaja lagi akan keteguhan hatinja.

Orang jang hendak menghadapi semua urusan, tidaklah akan djaja. Umur kita amat sedikit, dan djalan adalah sebanjak kita. Apa jang bagus kita lihat pada orang lain, belum tentu bagus bagi kita. Dan suatu kemasjhuran atau kemegahan hanjalah karena tahan hati menghadapi satu, bukan tudjuh, bukan duapuluh. Segala pekerdjaan jang hendak diborong, tidak dapat dibereskan oleh satu tangan.

Lebih baik suatu pekerdjaan jang dihadapi, kita dalami, dan kita hadiahkan kepada persada kemanusiaan. Bukan sadja Churchill jang besar di Inggeris karena dia bergelimang dengan politik. Charles Chaplin-pun besar. Churchill besar dalam politik, tetapi didalam membadut dia itu „nol-besar”. Charles Chaplin (Charlie Chaplin) sebesar-besar manusia diabad ini, sampai mendapat gelar „Sir” dari radja Inggeris, dalam soal membadut. Sir Conan Doyle pun besar, tidak ada taranja dalam abad ini, karena kadjempolannja mengarang tjerita detective „Sherlock Holmes”.

Masing2 menentukan arahnja. Dan tahu membatasi diri !

Tidaklah mungkin bagi hidup kita jang pendek ini hendak memborong semua jang bagus nampaknja. Tak ubahnja kita — kalau demikian — dengan orang jang berdjalan mengembara dipadang jang luas, melihat gedjala panas, menjangkanja air, padahal setelah didekati, kedapatanlah hanja pasir belaka.

1.
Benalu.

Meskipun kita memudjikan orang jang djernih muka, lapang hati dan dada terbuka serta mempunjai timbang-rasa, namun timbang-rasa pada seseorang jang budiman tidaklah akan bertambah subur, kalau kepada temannja timbang-rasa itu didjadikannja kuda-kuda untuk keuntungan dirinja.

Ada orang kaja jang dermawan menolong orang jang susah. Di Minangkabau namanja „orang kaja suka dimakan”.

Mentang2 dia suka dimakan, akan pergi sadjakah kita makan-makan kerumahnja ?

Beribu-ribu orang kampung sekarang pindah hidup kekota, karena disitu terbuka pintu pentjaharian. Dia telah menegakkan rumah-tangganja sendiri, beserta isteri dan anak-anaknja, dengan tjutjur keringatnja. Bukan main susah mentjari nafkah hidup. Berkubur dikantor dari pagi sampai petang. Dia telah berfikir, siapa jang bekerdja, dialah jang berhak makan. Dia merasa terlepas dari neraka hidup kampung, jang kalau ada kelebihan sedikit, ini meminta, itu memohon, ini mengatakan kamanakan, itu mengatakan ipar, ini mengatakan saudara sepupu, itu mengatakan sepersukuan. Dia sudah lega dikota.

Tetapi kelegahan itu tiba-tiba dikatjaukan oleh si benalu. Diapun datang dari kampung. Makan-minumnja sebelum mendapat pekerdjaan mesti ditanggung. Dan kadang-kadang lebih senang hatinja hanja makan-makan sadja. Ada pula jang tidak ada sedikit djuga perasaannja, tidak segan dia meminta, sekali lagi meminta. Minta uang, minta belandja, minta kain, minta kemedja. Jang dikemukakannja hanjalah kepentingan dirinja, kesusahannja. Dia rupanja tidak mau tahu, apa pula kesusahan orang jang „disalaknja” itu. Apa sebab? Sebab dia berkaum. Bagaimana perkaumannja? Beliau tempat meminta itu mamak dari saudara isterinja! Pak tjik dari keluarga ajah nenek menantunja!

Betul, kita orang Timur hidup berkeluarga. Tetapi kalau kehidupan benalu itu masih diperbiarkan, perkauman itupun akan runtuh. Tidak ada orang jang akan dapat naik! Seorang pajah mentjari, untuk kesenangannja, isterinja dan anaknja, lalu berpuluh banjaknja orang jang hendak menjandarkan hidup kepadanja.

Adakah orang jang demikian akan berlapang dada sadja, adakah adil perbuatan si kaum pura2 itu? Anak2 muda tidak habis mengerti, mengapa maka kesenangannja mesti diganggu oleh sekumpulan benalu itu. Dan bagaimana kalau sekali diberi? Lebih tjelaka! Dia hendak bertengger dikuduk awak, hendak bergantung dipinggang awak, seketika djalan sangat mendaki. Dia tidak peduli, entah nafas kita akan putus karena menjelenggarakan dia, entah bagaimana …! Kalau sudah diberi hati, dia akan bertambah berani. Kesudahannja dia hendak mengatur keadaan kita. Si ini patut diberi, sianu patut disedekahi! Sebab si anu kemanakan, si anu bako, artinja keluarga ajah!

Bukan maksud buku ini chusus untuk orang Minangkabau karena barangkali dalam daerah jang lain di Indonesia ini ada pula penjakit pribadi seperti itu, sebabnja Minangkabau saja kemukakan karena itulah jang lebih saja kenal.

Banjak pemuda jang berfikir tjara sekarang, mau sadja lari dari kampung, karena diperkedjar-kedjarkan oleh benalu2 itu.

Djadi supaja pribadi dihargai, djanganlah suka meminta, djanganlah menjandarkan nasib kepada orang lain. Orang akan lekas bosan dengan si benalu, dan achirnja ia sendiripun akan bertambah sakit djiwanja dan merana. Akan hilang keberaniannja menempuh hidup. Sabda Nabi Muhammad s.a.w.: „Tangan jang diatas lebih baik dari pada jang dibawah”. Lebih baik memberi dari pada meminta.

Ada pula sematjam benalu, bukan benalu benda dari pribadi jang sangat rendah sebagai diatas itu, tetapi benalu djiwa. Jaitu orang jang membanggakan diri bahwa dia anak sianu, keluarga si anu! Tjobalah fikir! Apatah artinja, kalau sekiranja orang hormat kepada kita, atau segan kepada kita, hanja karena kita anak si anu, keluarga si anu, murid si polan. Bukan karena pribadi kita sendiri?

Dalam zaman demokrasi ini lekas benar dirasa berat oleh orang, djika dia berhadapan dengan orang jang pembilang keturunan, radennja, daengnja, tengkunja, ampunnja, sutannja, datuknja, saidnja, habibnja. Orang sekarang meminta bukti, manusia jang bergunakah engkau untuk pembinaan demokrasi atau tidak? Kalau tidak, lebih baik engkau pergi duduk meratap kedekat Kubur mojangmu, minta dia datang kedunia kembali tempat engkau mengadu bahwa engkau tidak dihargai orang lagi.

__________________

KESEMPURNAAN PRIBADI.

Supaja pribadi meningkat lebih tinggi dalam menudju kesempurnaannja haruslah diisi pula dengan beberapa sipat, diantaranja ;

1.
Pandangan hidup
2.
Keichlasan
3.
Semangat jang berkobar-kobar
4.
Halus perasaan
5.
PANDANGAN HIDUP.

Lingkungan, keturunan, pergaulan dan pengalaman, membentuk pandangan hidup seseorang, sehingga dia melalui djalan sendiri dalam hidupnja, jang tidak serupa dengan djalan hidup orang lain.

Tjaranja berfikir, kesukaannja, jang tidak disukainja, semuanja mendjadi kepunjaannja sendiri. Kita bandingkan kita didunia ini dengan orang jang tinggal dikaki sebuah gunung. Tidaklah sama bentuk gunung itu pada pandangan orang jang tinggal di Utara dengan orang jang tinggal di Selatan, orang jang mendaki puntjaknja dengan orang jang masih dibawah, orang jang melihatnja dari djauh atau orang jang sedang mendakinja. Kalau sekiranja ditanjakan kepada masing-masing, bagaimana bentuk gunung itu, tentu dia akan menjatakan apa2 jang kelihatan olehnja. Apa jang dikatakannja itu tentu benar, dari segi pandangan dirinja. Dan tidak benar dari segi pandangan lain. Itulah sebabnja tidak sama pandangan orang terhadap hidup ini, berlain-lain pendapat akal, menurut pengalaman dan pergaulan.

Supaja tertjapai kesempurnaan pribadi, haruslah djelas njata pendapat akal kita tentang suatu soal, walaupun berbeda dengan pendapat orang lain. Itu bukan perkara kita. Maka orang jang mendjadi pak turut, tidaklah djelas pandangan hidupnja. Orang jang tidak merdeka djiwanja dari pada pengaruh orang lain, tidak djelas pandangan dihupnja.

Bagaimana usaha mendjelaskan siapa diri dan bagaimana pandangan hidup?

Untuk itu harus kita perhatikan hal:

a.
Terus terang

Orang jang bersikap terus-terang menjatakan apa jang terasa dihatinja, tidak tersangkut-sangkut, tidak bermain „disebalik lajar”, tidak „lain dimulut lain dihati”, lekas diketahui orang bagaimana dan siapa dia. Dia mengatakan apa jang dirasakannja dan dapat dikerdjakannja. Dia mengerdjakan apa jang dikatakannja, dan timbul dari perasaannja. Apa jang diutjapkannja adalah dijakinnja, dan apa jang dijakinnja, berani dia mengutjapkannja.

Dia tidak merasa perlu berdusta, sebab dusta adalah menjusahkan dirinja untuk menjatakan siapa dia. Sebab dia tahu bahwa suatu dusta mesti didjalankan terus. Dusta tidak mau satu kali. Sekurang2nja dusta jang sekali itu harus diulangi sekali lagi, dan seratus kali lagi, tiap-tiap orang bertanja. Demi tiap dia berdusta itu, dia sendiri merasa bahwa dia berchianat kepada dirinja. Suatu dusta kerap kali mesti dipertahankan dan dipagar dengan dusta jang lain.

Orang pendusta hendaklah kuat ingatan! Padahal itulah jang djarang bertemu, sehingga satu dusta berobah berkali-kali!

Zaglul Pasja berkata: „Saja telah berdjandji dengan Tuhan sedjak ketjilku, supaja saja menjatakan terus-terang apa jang terasa dalam hatiku. Itulah satu kesenangan bagiku”.

Perkataan jang dinjatakan dengan ragu, sehingga tidak dapat dipegang orang apa maksudnja, sangatlah merusakkan diri pribadi.

Kata2 jang tepat, jang keluar dari fikiran jang teratur, jang tidak banjak bunga, itulah jang disukai orang. Berkeliling-keliling, melentur kesana-kemari, dan lambat baru akan sampai kepada jang ditudju, sangatlah mendjemukan. Didalam madjelis perserikatan atau Parlement dan sekalian Dewan Perwakilan Rakjat, kita dapat melihat mana orang jang berfikir teratur dan sanggup menjatakan diri dan mana jang hanja „tagih” bitjara sadja. Orang jang tepat-tjepat lagi berisi, akan mendapat penghargaan istimewa dalam pergaulannja. Orang perempuan lebih suka kepada orang jang tjepat-tepat. Orang perempuan tidak suka kepada laki-laki jang hendak mengambil tabiatnja, jaitu keperempuan-perempuan. Dia „gemas” melihat laki-laki demikian.

Ketentuan siapa diri adalah dari keberesan berfikir. Kalau fikiran mandul, dengan sendirinja perkataanpun tidak teratur. Tak tentu udjung pangkal, dan bahasanjapun banjak salah. Atau timbangan berat sebelah.

a.
Tanggung-djawab.

Berani tanggung-djawab, adalah kata jang telah hidup dalam masjarakat bangsa Indonesia sedjak memperdjuangkan kemerdekaan. Dahulu kita tidak mengenal artinja jang dalam. Berani tanggung-djawablah jang telah menimbulkan proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Berani tanggung-djawab dan tidak mengelak dari pada pikulan jang telah disanggupi, dan sudi memikul akibat pekerdjaan jang telah dimulai, itulah alamat jang pasti dari pada kepertjajaan pada tenaga diri sendiri.

Banjak terdjadi, orang jang dikira dapat memikul suatu tanggung-djawab, mengelak dari tanggung djawab itu dan orang jang sebelumnja tidak dapat menjempurnakan tanggung-djawab, berkedjaran dan berebut-rebutan akan tanggung-djawab itu. Keduanja itu ialah „semangat budak” jang belum kikis, karena sifat itu telah beratus tahun tertanam didalam hati bangsa Indonesia. Dalam dua zaman pendjadjahan kita memandang bahwa pangkat atau djabatan bukanlah kewadjiban jang harus dipikul, melainkan suatu kemegahan jang harus dibanggakan. Sebab pada masa itu tanggung-djawab jang penuh tidaklah ada pada kita, setinggi-tinggi pangkat adalah mendjalankan perintah „dari atas”. Lain tidak. Deradjat seorang kontelir Belanda, djauh lebih tinggi terasa oleh kita dari pada deradjat seorang bupati. Padahal bupati itu pangkat jang setinggi-tingginja jang dapat ditjapai bangsa kita pada masa itu, dan kontelir itu pangkat Belanda jang rendah.

Kalau kiranja orang jang mengedjar pangkat, dipandang suatu kesalahan, maka orang jang mengelak dari tanggung-djawab, padahal padanja ada kesanggupan, adalah lebih salah lagi. Dan hal itu alamat sipat penakut. Orang jang takut ditjela, achirnja tentu takut kepada bajang2 sendiri. Padahal kalau dia berfikir agak dalam tentu suatu hal jang patut lebih ditakutinja, ialah mengetjewakan urusan umum, karena dia sebagai tenaga jang pantas tidak berani menghadapinja.

Memang, keberanian memikul tanggung-djawab pada suatu waktu akan menghadapi suatu kesulitan. Tetapi adakah didapati suatu djalan didunia ini jang datar belaka? Adakah didalam segala lapangan penghidupan jang tidak ada kesulitannja? — „Saja takut, orang akan marah!” — katanja. Maka adakah manusia bertanggung-djawab jang semata-mata dimarahi orang sadja? Bukankah sebanjak kepala manusia itu pula banjak pendapatnja? Pedoman dalam memikul suatu tanggung-djawab adalah djiwa sendiri. Dalam djiwa jang bertudjuan sutji, jang berkehendak mulia senantiasa ada timbul ilham akan menghadapi pekerdjaan. Langsungkan terus kerdja itu dan djangan dihitung kebentjian dan kemarahan orang. Sebab tidak semuanja akan marah atau bentji. Pasti ada jang akan menjetudjui. Djangan hanja diingat orang jang tidak suka. Ingat pula bahwa banjak pula jang suka. Disana terletak kebesaran djiwa orang jang sudi bertanggung-djawab.

Kalau kita orang masjarakat, mesti ada lawan kita. Jang tidak ada lawannja, hanjalah orang jang tidak berani bertanding. Tanjailah hati sendiri. Adakah didalamnja rasa tjinta kepada Tuhan, tanah air, bangsa, kewadjiban, dan kemuliaan hidup? Kalau ada, maka dengan penuh rasa tanggung-djawab, pikullah kewadjiban itu dan dakilah gunung kehidupan. Tentu ditengah djalan akan ada jang menghambat. Bila engkau dapat mengatasi alangan jang pertama, maka alangan jang kedua kelak, bukanlah bernama alangan jang pertama lagi. Achirnja engkau akan sampai dipuntjak, dan pada hakekatnja alangan2 itulah jang menolong menaikkan engkau kepuntjak itu.

Keberanian bertanggung-djawab akan menimbulkan orang jang memudja, dan menghargai. Disamping jang mentjela dan ingin engkau djatuh. Maka keduanja itulah kelak jang akan mendesak supaja engkau lebih hati-hati dan mempertinggi mutu pekerdjaan, sehingga seorang engkau akan bernilai lebih tinggi dari beribu manusia. Namamu tidak lepas-lepasnja dari mulut jang memudji dan jang mentjela. Jang memudji setinggi langit, sehingga kedudukanmu disamakannja dengan malaikat sutji, dan jang mentjela, membenamkan engkau sampai kepetala bumi. Diatas keduanja itulah pudjaan dan tjelaan, terletak kebesaran. Apabila keduanja tidak ada lagi, tammatlah riwatmu, walaupun nafasmu masih ada.

Seorang pendengki pada suatu hari berkata dan mentjela orang jang dibentjinja: „Si polan sekarang sudah djatuh!” Maka djelaslah bahwa dalam perkataannja itu tersimpan pengakuan bahwa jang ditjelanja itu memang tinggi. Kalau tidak diakunja telah tinggi, mengapa disebutnja perkataan „djatuh”? Adakah barang dibawah jang djatuh? Adapun benarkah telah djatuh atau belum, hal itu masih mendjadi perselisihan diantara jang memudja dengan jang mentjela, selama didunia ini masih ada perlumbaan hidup.

Berani bertanggung-djawab adalah membuat orang jang kuat mendjadi lebih kuat. Ataupun sebaliknja, suatu pekerdjaan jang dipikul dengan tidak penuh tanggung-djawab, membuat orang jang lemah djadi lebih lemah.

Sultan Hamangku Buwono IX, sedikitpun tidak mengelak dari tanggung-djawab, ketika diserahkan kepadanja tanggung-djawab mendjaga keamanan kota Jogjakarta waktu Republik akan dikembalikan. Tanggung-djawab itu diterimanja dengan sepenuh hati dan dilaksanakannja dengan tidak banjak bitjara! Hamangku Buwono mendjadi tudjuan mata dunia! Kesanggupannja itu menjebabkan pemerintah memberikan tanggung-djawab jang lebih besar, jaitu djadi menteri Pertahanan Republik Indonesia. Dalam beberapa bulan sadja terdjaminlah keamanan seluruh daerah Republik Indonesia dan berdjalanlah rasionalisasi. Namanja bertambah naik. Achirnja sehabis Konperensi Medja Bundar, berdirilah Republik Indonesia Serikat. Dan kepadanja dipikulkan tanggung-djawab jang lebih besar lagi, djadi menteri Pertahanan Republik Indonesia Serikat. Orang jang seperti itu, walaupun tidak mendjabat pangkat menteri lagi, tetap mendjadi kekajaan tanah air, jang senantiasa siap sedia menunggu panggilan.

Kadang2 seorang menteri, atau seorang kepala suatu perusahaan besar, atau pimpinan suatu surat kabar, kelihatan hanja duduk-duduk sadja menghadapi medjanja, kadang2 lekas benar dia masuk kantor, terdahulu dari pegawainja, kadang2 sehari-harian dia tidak datang. Dia hanja menanda tangani surat2 jang disodorkan oleh kraninja. Nampaknja dia senang sadja tidak kerdja. Tetapi dimana2 tiap2 sudut, kelihatan kranji2, klerk dan djuru-tik bekerdja riuh sekali. Semuanja bergerak, tiada jang diam, gesit dan giat, dan wadjah orang gembira semuanja. Apa sebab? Djiwa tanggung-djawab jang ada pada menteri atau pimpinan itu mengalir laksana aliran listrik kepada tiap2 djiwa pekerdja jang ada dibawah kekuasaannja. Rasa tjinta bertjampur dengan gembira, bertjampur pula dengan takut, terkumpul semuanja. Gadjinja lebih besar! Memang, sebab jang diberi gadji ialah tanggung-djawabnja. Meskipun masuknja kedalam kantor hanja sesuka hatinja, tetapi masuknja itu sadja sudah tjukup untuk memberi sinar seluruh djabatan atau kantor itu. Orang2 bawahannja berani mengerdjakan pekerdjaan, walaupun perintah tidak banjak, karena dia mengetahui akan isi hati pemimpin itu; apa jang disukainja dan apa jang tidak. Ketika dia membatja surat jang akan ditandatangani dengan senjum dia membubuhi tanda-tangannja.

Lihatlah nachoda besar didalam sebuah kapal besar dalam pelajaran jang djauh. Djurumudi-pertama mengepalai segala pekerdjaan diatas. Masinis bekerdja dibawah, segala klasi bergerak, djurubatu mengukur lautan, dan nachoda hanja asjik bertjakap-tjakap dengan penumpang jang terhormat. Tetapi segala gerak-gerik jang terdjadi dalam kapal itu adalah aliran semangat tanggung djawab nachoda itu.

a.
Sabar

Kesempurnaan tanggung-djawab itu ialah sabar. Bukan sadja alangan dari pada bentji dan sajang manusia jang akan menghambat. Bahkan banjak keadaan lain jang harus dihadapi, dilalui atau diatasi. Pengalaman hidup menundjukkan bahwa suatu keadaan jang sulit tidaklah terus dalam kesulitannja. Hari ini ada kemudahan, besok pasti ada pula kesulitan. Tetapi kita pertjaja, kesulitan itu tidak terus, melainkan akan terlepas pula dan akan mendjadi salah satu mata-rantai dari kenangan-kenangan hidup.

William Pitt, negarawan Inggeris jang terkenal, pernah bertanja kepada teman-temannja: „Apakah sipat2 jang mesti ada pada seorang perdana menteri?”

Seorang mendjawab: „Fasih lidah berkata-kata!”

Seorang lagi mendjawab: „Luas ilmunja!

Kata jang seorang lagi: „Giat bekerdja!”

Achirnja William Pitt sendiri berkata: „Pada hemat saja, sjarat jang terutama bagi seorang perdana menteri ialah kesabarannja”.

Teringatlah kita Dr. H. Mohammad Hatta, pada ketika djadi perdana menteri. Ingatlah bengkalai Renville jang ditinggalkan oleh Amir Sjarifuddin. Dengan matanja jang tenang itu, dia melihat dari pinggir Ngarai Bukittinggi, bagaimana kekalahan dan kesalahan kita, jang telah terdjadi sedjak Revolusi ; Surabaja, pentjulikan Shahrir, Linggadjati, tindakan pertama, lalu kepada Renville. Kesudahannja jang lain tidak dapat melaksanakan lagi, benang telah bertambah kusut. Maka „Wakil Presiden” Hattapun didjemputlah ke Sumatra. Hanja dialah lagi jang ditunggu: Dialah „Orang waktu”.

Sampai di Djawa dilaksanakannjalah perkataan jang pernah diutjapkannja, bahwa pemimpin itu pada suatu waktu harus sanggup mendjadi perdana menteri. Kepertjajaan rakjat belum usak kepada Sukarno dan Hatta! Maka djatuhlah kabinet Amir Sjarifuddin berdiri kabinet Presiden dan Hatta, Wakil Presiden mendjadi perdana menteri. Diterimanja persetudjuan Renville, tetapi tangannja sendiri jang harus memegang, walaupun sebetulnja hatinja sendiri tidak menjetudjui. Seakan-akan dia berkata „Hantjur negara ini kelak, kalau dibiarkan djuga jang muda-muda”.

Amir menjusun kekuatan, Muso datang dari Moskow. Dengan berbagai-bagai akal orang hendak mendjatuhkan kabinetnja. Dahulu, di KNIP Malang dia pertama kali menundjukkan siapa dia dan siapa Sukarno, „Kalau undang2 jang kami kemukakan itu tidak diterima, tuan boleh mentjari presiden dan wakil presiden jang lain!”. Madjelis diam!

„Singa Hatta” keluar kembali. Setelah dia tahu bahwa Muso-Amir akan melakukan tindakan tidak sah, maka dalam sidang KNIP telah dinjatakannja: „Kita tidak mau mendjadi object dari dua Negara besar jang sedang bertentangan. Kita akan menentukan nasib kita sendiri!” Dan — „Segala sikap jang akan mengganggu keamanan, akan kita tindas dengan tangan besi!” Maka timbullah pemberontakan Madiun jang menjedihkan itu. Hatta menebus apa jang telah dinjatakannja dengan mulutnja. Aksi-Madiun dipatahkan dengan tidak mengenal ampun! Masih belum selesai Madiun, Belanda mengambil kesempatan, tindakan Polisi Kedua dilakukannja. Dengan perhitungan tepat, Hatta telah mengatur lebih dahulu segala persiapan. Maramis keluar Negeri, Sjafruddin meneruskan perdjuangan gerilja di Sumatera dan Presiden bersama dia menerima djadi tawanan. Gerilja menghebat, dunia geger, Belanda terpaksa melandjutkan pembitjaraan dan mengemukakan djempolan ulungnja Van Royen. Hatta memberikan anak-tjaturnja, Roem!

Inter-Indonesia Konperensi, Konperensi Medja Bundar, Penjerahan Kedaulatan dan Republik Indonesia Serikat. Dan kembali lagi kenegara Kesatuan.

Belum berapa hari penjerahan kedaulatan, timbullah peristiwa Westerling. Kedapatan niat Hamid II merobohkan pemerintahannja dan membunuhnja. Timbul peristiwa Makasar! Akan adakah lagi?

Akan banjak lagi perkara besar jang akan dihadapinja. Tetapi pribadi Hatta, disamping Presiden Sukarno akan tetap mendjadi salah satu bintang kemanusiaan di Asia, bahkan didunia! Karena kesabarannja. Dan kalau tuan hendak mentjari tafsir jang sebenarnja dari pada sabar, setelah Indonesia merdeka ini, maka ambil sadjalah tafsirnja dari Pribadi Hatta.

Apa sebab kita berkata demikian?

Sebab dalam zaman pendjadjahan, karena kelajuan aniaja dan pendjadjahan, menahan hati melihat kehinaan djiwa, kita telah salah memberi arti sabar. Menahan jang menimpa bangsa, sehingga semangat mendjadi pasif, itulah arti sabar pada bangsa jang lemah.

Sekarang Hatta masih hidup. Penghargaan jang kita berikan adalah haknja. Sebagai manusia, tentu ada djuga kekurangannja, jang akan lekas nampak oleh orang2 jang tidak menjetudjuinja. Bukankah itu jang bernama politik?

Setengah dari pidato Chalid bin Walid: „Hai, keluarga Islam Sabar itu kemuliaan, kalah itu kehinaan. Kemenangan adalah pada kesabaran”.

Memang, kalau tidak ada kesabaran menderita, jang ada pada rakjat berdjuang dan gerilja, selama empat tahun, ditimpa kemelaratan dan kemiskinan, dengan kekurangan alat sendjata, selain iman, agaknja tidaklah akan sampai terpantjang bendera Dwiwarna dipuntjak istana Merdeka itu.

Keguntjangan menghadapi keadaan jang genting dan hebat, adalah tanda kelemahan djiwa; itulah pangkal kalah.

Pribadi jang kuat tidak lekas terguntjang. Apa jang sulit kata silemah djiwa, „perkara ketjil” kata pribadi jang besar. Orang jang lemah, tetapi sabar, lebih berharapan besar akan menang, dari orang kuat, tetapi terburu-buru dan terlalu bernafsu.

* * *

Djika kesabaran telah mendjadi sebab kemenangan bagi seorang besar, sebagai William Pitt dan Hatta, maka kesabaran pulalah jang akan mengokohkan pribadi orang biasa hingga dapat pula mendjadi orang besar. Asalnja maka Isaac Newton mendjadi orang besar, adalah karena kemarahan gurunja, sebab otaknja tumpul. Suatu hari gurunja marah: „Hai, Isaac! Kenapa engkau tidak djuga faham apa jang saja adjarkan?” Dengan sedih murid jang tumpul otak itu mendjawab: „Djanganlah marah kepada saja, tuan guru! Ada saja perhatikan, tidak ada adjaran guru jang saja biarkan lepas dari telinga saja, saja tidak pemalas. Namun begitu belum djuga dapat! — Tetapi, tuan guru, saja jakin achir kelaknja akan dapat djuga!”

Gurunja terdiam mendengar djawabnja itu

Kesudahannja, karena sabarnja, dapatlah ditingkatnja djendjang filsafat jang tinggi, sehingga dia terhitung salah seorang ahli ilmu alam jang besar. Dialah jang mendapat teori ilmu alam tentang kekuatan „tarik menarik”, jang asalnja karena melihat buah delima djatuh dari tangkainja. Dan diapun mengaku bahwa kenaikannja adalah lantaran kesabarannja walaupun mulanja otaknja tumpul.

Oleh karena itu tepatlah disini kita suntingkan perkataan Sjech Muhammad Abduh, ahli filsafat Islam: „Sabar adalah ibu segala achlak”.

a.
Kemauan jang keras.

Kalau kita simpulkan ketiga hal jang mengenai pribadi itu : tanggung-djawab, kesabaran dan kemauan, maka adalah semuanja tumbuh dari satu pokok sadja, jaitu kemauan. Tiga perkara jang mendjadi kekajaan djiwa kita, didalam mendjadi manusia, jaitu fikiran, perasaan dan kemauan. Bagaimanapun tadjamnja fikiran, sebagai ahli filsafat jang besar2, atau halus perasaan sebagai penjair atau pelukis, tidaklah akan terlaksana tjita2, kalau kemauan tidak ada. Tertjapainja suatu tjita-tjita, dan segala orang tentu ada tjita-tjitanja, atau terlaksananja suatu fikiran jang besar, adalah lantaran kemauan.

Keradjaan jang besar2, paberik2 besar, radio, listrik, bom atom dan hydrogin, kapal udara jang paling baru, mulanja adalah perasaan, jang mendjelma mendjadi fikiran dan didorong oleh kemauan. Maka kehidupan kita, nasib berbahagia atau tjelaka, bergantung kepada kemauan. Panglima-panglima perang besar, jang mengagumkan dunia, sebagai Iskandar Macedonie, Julius Caisar, Napoleon dan segenap orang besar adalah kemauan!

Schopenhauer hanja menjimpulkan filsafatnja atas kemauan : „Alam ini adalah kemauan”.

Dan salah satu sipat Allah ialah IRADAT, kemauan.

Kalau tidak didorong oleh kemauan, tidaklah kita akan mendapat apa-apa. Ingatlah berapa banjaknja darah tertumpah, berapa banjak njawa melajang. Selama kemauan masih ada dan akan tetap ada, sebab dia adalah segi djiwa kita, nistjaja kita akan mendapat dan berhasil usaha kita.

Kesempurnaan pribadi terletak pada kesempurnaan kemauan.

Kemauan menimbulkan tabah, gigih dan kebal. Ketika memukul hendaklah memukul sampai lumat, ketika mendjadi landasan hendaklah menahan pukulan, walaupun berapa hebat datangnja. Siapa jang lebih dahulu berhenti, itulah jang kalah!

Dalam mengadakan pertandingan olahraga kemauan itu dididik. Misalnja mengadakan perlumbaan berlari. Walaupun lawan bertanding telah djauh terdahulu, sekali-kali djangan mengentjong ketepi djalan, oleh karena telah merasa kalah. Terus djuga dengan bersemangat sampai ketempat perhentian. Sampai disana ulurkan tangan kepada lawan jang menang itu, turutlah bergembira menjambut kemenangannja. Dan kita sendiri jang hari ini kalah, terus pula berlatih, moga2 hari lain bermain lebih baik dan beroleh kemenangan. Kalau tiap berpatju kalah djuga, maka kentjongkanlah kepada jang lain. Tanda bukan disitu tempat kita akan beroleh kemenangan. Masih banjak lagi pintu kemenangan jang lain didalam hidup ini, Asal mau!

1.
ICHLAS.

Kata ichlas jang masjhur itu, artinja ialah sutji-bersih dari kotoran. Atau ibarat emas jang tulen tidak bertjampur sedikit djuapun dengan tembaga, atau lojang jang disepuh emas. Kalau diartikan dalam bahasa kita, lebih tepat disebut djudjur, karena mengenai hati. Dan boleh djuga lebih halus dari itu, jaitu murni. Dan boleh djuga dima’nakan maruiah. Orang jang bersipat ichlas, jang disebut djuga muchlis, selalu bekerdja dengan baik, walaupun tidak dihadapan orang lain. Adapun orang jang mengerdjakan suatu kebadjikan jang hanja karena ingin dilihat orang, bernama ria atau munafik.

Bagi tubuh adalah njawa menjebabkan hidupnja. Djika njawa tidak ada lagi, matilah tubuh. Bagi pribadi ichlas itulah jang djadi njawanja. Pribadi jang tidak ada ichlasnja ialah pribadi jang mati. Karena meskipun dia masih bernjawa, namun arti hidupnja tidak ada.

Dimuka dan dibelakang, diluar dan didalam, lahir dan bathin orang jang ichlas itu sama sadja. Amatlah besar pengaruh ichlas bagi kemadjuan hidup. Orang jang ichlas, tidaklah akan kekurangan tempat. Masjarakat akan tahu dimana dia diletakkan, sehingga dia tidak perlu mengedjar-ngedjar lagi. Sipembohong, si-pengchianat, sipepat-diluar-pantjung-didalam, tidaklah akan sampai keudjung perdjalanannja. Meskipun dia naik, pada suatu waktu dia mesti turun ; dengan maunja atau tidak dengan maunja. Dan selama dia menduduki tempat jang bukan tempatnja itu, selama itu pula orang akan menontonnja sebagai menonton badut! Itu hanja menunggu tempohnja sadja. Meskipun dia mulanja beroleh laba, namun kerugiannja dibelakang akan lebih hebat lagi.

„Manusia dapat mendustai segolongan orang pada suatu ketika, tetapi manusia tidak dapat mendustai segala orang untuk segala ketika”. Demikian udjar Abraham Lincoln.

Orang jang masjhur dan besar, pemimpin jang berpengaruh dan terhormat, sarikat dagang jang beroleh kemadjuan, maskapai atau bank jang terkenal, kalau kita periksa, modalnja jang utama ialah ichlasnja. Djika ichlas tidak ada lagi, walaupun berapa modalnja, runtuhlah segala jang disebut besar itu.

Menurut Emmerson, sjarat jang utama bagi kemadjuan dan kedjajaan suatu usaha, ialah tjemburu. Jaitu tidak merasa puas, kalau sekiranja suatu pekerdjaan tidak berhasil. Lalu siang malam memikirkan kemadjuannja. Tjemburu adalah hasil dari ichlas.

Orang jang tidak ichlas senantiasa tidak pertjaja kepada orang lain. Apa sebabnja? Sebab semua orang diukurnja dengan kebusukan hatinja. Dikiranja orang lain seperti dia pula. Seorang anak muda misalnja, jang selalu bila bertjakap dengan temannja hanja menjatakan keluhan, sebab senantiasa kemana dia berdjalan pada sendja-kala dia bertemu dengan perempuan latjur. Pertjakapannja kerap kali tentang urusan perempuan latjur itu sadja, menundjukkan bahwa hatinja amat „tertarik” kesana.

Menundjukkan diri kepada orang lain, lebih dari pada jang sebenarnja adalah alamat tidak ichlas djuga. Lihatlah orang jang memakai tjintjin dengan permata besar2 didjarinja, sambil memetik-metik rokoknja dan mematut-matut badjunja djuga. Dia waktu itu menjangka bahwa orang lain memperhatikannja. Padahal sebanjak ini orang jang lalu-lintas, dalam trem, dalam kereta-api dan ditempat-tempat ramai, siapa pula agaknja jang akan berkesempatan memperhatikan dirinja? Entah kalau „mata-mata”!

Orang jang mengatakan dirinja segala tahu, adalah alamat kebodohannja. Lebih baik tidak tahu, serupa tidak tahunja Socrates atau Imam Sjafeii. Jang bertambah banjak menjelidiki, bertambah insjaf, bahwa belum ada jang diketahuinja.

Orang jang menondjol-nondjolkan asal keturunannja, adalah orang jang tidak sanggup berusaha sendiri mendjadikan dirinja besar. Sebab itu dia bergantung kepada nama keluarga atau ajahnja.

Orang jang senantiasa menghitung-hitung kekajaan, jaitu orang jang baru didjedjak kaja.

Orang jang menghitung-hitung duitnja dimuka orang banjak, tanda kekajaannja hanja jang dihitungnja itu sadja.

Orang jang membangga-banggakan kekuatan ialah orang jang lemah.

Orang jang keras mulut bersorak-sorak, tandanja persediaan didalam tidak ada lagi.

Menipu orang lain suatu ketjurangan, tetapi menipu diri sendiri adalah 1000 ketjurangan. Orang lain belum tentu membantah, tetapi hati ketjil sendiri, pasti membantah. Orang jang telah hilang kepertjajaannja atas dirinja sendiri, mustahil akan merasa kuat.

Sebab tidak ichlaslah orang mendjadi pendengki. Dan dengki itu ialah penjakit djantung bagi pribadi. Orang jang hasad melihat kemadjuan orang lain, belum senang sebelum berlaku tjurang. Sebab itu, lawan ichlas ialah tjulas, sekurang-kurang keburukannja ialah malas, dan setinggi-tingginja djadi setan alas.

Dalam negara jang berdasar demokrasi boleh mendirikan berbagai partai. Tetapi jang seburuk-buruk partai ialah partai jang didjalankan dengan nafsu hasad dan dengki.

Pengadjian ini boleh dikata hanjalah pengadjian lebai-lebai disurau, sebab itu banjak agaknja jang bosan membatja. Tetapi kalau membatja sambil meneropong kedalam hati sendiri, terdapat djuga kadang2 daki2 djiwa jang harus disingkirkan. Penjakit begitu tidak kurang dalam kalangan orang jang terkemuka. Buktinja tidak perlu diminta, sebab pekerdjaan orang jang terkemuka itu sangat djelas dipandang mata. Mengapa meminta bukti atas adanja siang, padahal matahari masih bertjahaja? Pertentangan kepentingan diantara golongan dan golongan, perebutan pengaruh dan pangkat, pengedjaran kursi, diantara segala orang jang didahulukan selangkah, ditinggikan seranting, kadang-kadang amat menjolok mata. Rakjat umum kadang-kadang hanja menggeleng-gelengkan kepala, sambil berkata dia sama dia, ketika duduk mereguk kopi dimuka sebuah warung ketjil: „Rupanja bapak-bapak pemimpin kita itu seperti kita djuga”.

Berkelahi diantara siketjil dengan siketjil, karena memperebutkan keuntungan setali dan setengah rupiah, tidaklah disesalkan benar. Sebab jang setali atau setengah rupiah itu, lain dari pada untuk makanannja, adalah untuk pembajar iuran negara, untuk pembelandjai kursi bapak-bapak. Kata mereka, „didalam politik tidak boleh ichlas, kalau ichlas awak dilanda orang”. Padahal ketjurangan djualah jang menggojangkan tiang negara. Barang jang didapat karena dirampas, hilangnjapun dirampas orang pula.

Keichlasan tidak berarti mendjual pendirian. Seorang ichlas dalam Islam dan seorang ichlas dalam Kristen, bisa berkawan selapik seketiduran, dengan tidak usah mengurbankan agama masing-masing.

Memang berat dan sulit djalan jang dilalui dalam menegakkan ichlas. Terutama dalam masjarakat jang tjurang, masjarakat tipu dan ketjoh, masjarakat jang ria, masjarakat jang korup! Masjarakat penuh dengan tertawaan dimuka lajar dan edjekan dibelakangnja. Tetapi djanganlah kita putus asa. Sekurang2nja untuk membuktikan kepada anak-tjutju, bahwa masih ada jang berani menentang kelaliman dan ketjurangan, walaupun akan membahajakan bagi kehidupannja.

Orang jang ichlas itu berani, dan sanggup menebus apa jang dikatakannja. Orang jang tiada ichlas, lidahnja berputar-putar, serupa lidah ular senduk; „ular beludak” kata nabi Isa Almasih a.s. Dan matanja tiada bertjahaja, tiada berani menentang mata orang lain. Tidak menarik. Senantiasa merasa kekurangan dirinja, tetapi disembunjikannja dengan kelakuan jang berlebih-lebihan. Salah satu penjakit jang diterbitkan sifat tidak ichlas ialah „kurang terima”. Disumpahinja masjarakat, ditimbulkannja segala tjatjat, kalau dia tidak dipedulikan. Dan kalau dia naik, dia tidak berkeberatan menekan orang jang dibawahnja. Dalam zaman revolusi banjak orang jang mentjela keburukan pemerintah dan bersikap menentang. Tetapi kalau dia diberi suatu pangkat, mulutnjapun diam pada mulanja. Lepas dari zaman diam, berganti dengan zaman gembira. Lepas dari zaman gembira, terus meningkat kepada zaman menerima dan melakukan segala kesalahan jang ditjatjat ditjelanja dahulu. Dia itu adalah sebagai serigala jang mentjela buah anggur dan mengatakannja pahit, sebab kakinja tidak sampai buat meningkat pohon anggur itu.

Dan kalau kakinja dapat meningkat, akan dilahapnja habis, dan sisanja tidak akan ditinggalkannja sedikitpun.

Orang jang ichlas berani surut kepada jang benar, kalau njata kepadanja bahwa jang ditempuhnja salah. Bukankah berani namanja orang jang sudi menanggungkan makian orang jang sontok akal, jang menuduhnja tidak berpendirian? Saad Zaglul Pasja berkata: „Kita disini berapat mentjari jang benar. Kalau ternjata bahwa jang kita kerdjakan ini salah, alangkah berbahagia djika kita surut kepada jang benar. Kita berkumpul disini bukan mempertahankan diri kita, melainkan mempertahankan kebenaran”.

Dapatkah sifat ichlas itu dilatih? — Dapat! Asal sadja memakai tjara. Tjaranja ialah:

1.
Hati2 memilih perkataan jang akan dikeluarkan, sebagaimana hati-hati menjisihkan uang palsu dari uang jang tulen.
2.
Hati-hati menjusun pikiran, sebab pikiran jang tersusun akan dikeluarkan dengan perantaraan kata-kata.

Pengarang dan wartawan, kalau memang ichlas kepada bangsanja, harus berani menentang kesalahan bangsanja itu dan menundjukkan djalan jang lebih baik. Diterima atau ditolak, bukan perkara kita. Kewadjiban kita adalah dengan djudjur dan ichlas menjatakan apa jang kita timbang baik. Orang lain boleh membantah kita dan kita harus sedia menerima bantahan.

Tanda kasih kita bukanlah semata-mata membudjuk-budjuk dan memudji-mudji. „Pudji tidaklah mengenyangkan perut, tjelaan tidaklah membunuh”. Tanah air kita sekarang meminta sebanjak-banjak orang jang ichlas. Jang berani menjatakan penjakit dan bersedia memberikan obatnja. Tahan hati menerima kemarahan orang banjak, karena perasaan mereka tersinggung! Hati akan berobat, karena diantara jang banjak itu ada jang akan menimbang dan memikirkan. Tjarilah jang menimbang itu, walaupun sedikit djumlahnja. Kian lama golongan jang sedikit itu akan bertambah banjak djua. Adapun orang banjak jang marah itu achir kelaknja akan insjaf, sehingga hatinja akan menerima, walaupun mulutnjapun menolak. Disinilah pangkal timbul pribadimu.

Orang jang ichlas tjintanja kepada tanah-air dan bangsanja, harus sudi berkurban. Tjinta jang tidak dibuktikan dengan pengurbanan, ialah tjinta palsu. Kalau engkau timbang bahwa suatu perbuatan salah, lalu engkau diamkan sadja, tandanja tjintamu tidak ichlas, engkau tjuma lebih mentjintai dirimu.

Hidup kita adalah dua kali. Jang pertama ialah selama badan masih mengandung njawa. Hidup jang kedua kali ialah setelah njawa bertjerai dengan badan. Setelah mait dikuburkan, keluarlah dari dalam kubur itu suatu barang jang gaib tetapi njata, jang hadir pada tiap-tiap madjelis, pada tiap-tiap pergaulan, meskipun tidak kelihatan. Namanja ialah „sebutan”. Kadang-kadang usianja lebih pandjang dari kehidupan jang pertama itu. Kadang-kadang dengan perbuatan setengah menit sadja, ditentukan kehidupan sebutan itu buat beratus, bahkan beribu tahun.

Didalam kantor kontelir di Manindjau, kira2 dalam tahun 1938, Dr. H.A. Karim Almrullah, diberi nasihat oleh kontelir supaja bersikap hati-hati ketika mentafsirkan Kurän. Beliau mendjawab bahwa beliau telah tjukup hati-hati, tetapi buat memutar tafsir Kurän dari maksudnja jang sedjati sepandjang pengetahuannja, beliau tidak sanggup.

Dengan ichlas beliau menjatakan, bahwa beliau tidak sanggup.

Kontelir menjatakan dengan tegas, bahwa kalau beliau tidak menjanggupi nasihatnja, berbahajalah bagi diri beliau sendiri. Beliau mungkin diasingkan, karena bukti-bukti sudah lama dikumpulkan.

Sebagai manusia beliaupun merasa djuga tekanan perasaan karena antjaman itu. Sudah lama beliau merasa bahwa dirinja dipandang berbahaja dan diantjam akan dibuang, tetapi dia terus djuga mentafsirkan Kurän, menurut arti jang diketahuinja. Sekali lagi dia dipanggil. (sampai 8 kali telah dilakukan panggilan sematjam itu). Achirnja dengan ichlas beliau menjatakan, bahwa dia tidak dapat menafsirkan Kurän lain dari pada tafsirnja jang sedjati. Karena Kurän itu sendiri jang melarang memutar artinja kepada jang bukan maksudnja.

Dia masih terus mentafsirkan Kurän, masih terus bertabligh agama kemana-mana, berdasarkan Kurän. Dan achirnja pendjadjah Belanda tidak dapat menahan sikapnja lagi. Beliau dibuang ke Sukabumi.

Sampai disana, ketika ditanja oleh pers, beliau tetap mengatakan bahwa beliau tidak merasa bersalah, Beliau bersedia dihadapkan kemuka hakim! Bukankah buangan itu hak-istimewa pendjadjah, untuk memperkokoh kekuasaannja?

Belanda djatuh, Djepangpun datang. Djepang sangat hormat kepadanja, hormat politik! Karena Djepang menjangka bahwa beliau anti Belanda. Kalau bukan anti Belanda, mengapa dibuang? Penghormatan itu diterimanja dengan gembira. Banjak opsir Djepang jang menziarahi rumahnja di Tanahabang, Djakarta. Disambutnja dengan baik. Pada suatu hari diadakan rapat ulama di kabupaten Bandung. Beliau turut diundang dan diberi tempat istimewa. Lain dari tempat ulama jang banjak itu. Ketika rapat akan dimulai, semuanja dipersilahkan supaja „Keirei”, artinja „rukuk” menghadap keistana kaisar Djepang di Tokio.

Semua orang berdiri akan rukuk, tetapi beliau tinggal duduk. Alangkah hebatnja pertentangan djiwanja pada waktu itu. Dia tahu bahwa perbuatannja itu sangat berbahaja. Djiwanja akan terantjam, Kenpei-tai akan bertindak. Dia sudah lama mendengar kekedjaman Djepang, main tampar tempeleng, main bunuh terhadap siapa jang tidak mengikut kebudajaan jang diandjurkannja. Tentu ada djuga dalam hatinja perasaan takut, tetapi dilawannja dengan perasaan jang lebih murni, jaitu ichlas kepada Allah, ichlas kepada pengetahuannja tentang agama. Dia tetap duduk.

Kedjadian itu hanja kira-kira satu menit. Tetapi dia telah melukiskan suatu sebutan buat beratus, bahkan beribu tahun. Drs. Mohammad Hatta pernah mengatakan: „Beliaulah anak Indonesia jang dahulu sekali dengan berterang-terang menghadapkan revolusinja kepada Djepang, dengan kekuatan djiwa”.

1.
BERSEMANGAT.

Bersemangat jang berapi-api adalah sebagian dari sikap berani, jang timbul karena dorongan pertjaja akan kekuatan diri sendiri. Tetapi semata-mata bersemangat sadja, kalau pengetahuan tentang jang akan dihadapi tidak ada, tidaklah mendjadi.

Pada permulaan revolusi Indonesia tampillah kemuka orang jang bersemangat berapi-api itu, dengan sembojan „merdeka atau mati!” Pada saat itu orang jang djauh pandangannja dan berfikir tenang, kerap kali tersisih atau menjisih ketepi, karena kalau perbuatan „bapak-bapak” revolusionair itu ditegur dan diberi pandangan akan akibatnja mungkinlah berbahaja djiwa sendiri. Tidaklah heran kalau pada saat itu supir dapat djadi opsir, tukang sajur djadi majur, Tjek Mamat djadi Tjamat. Kemudian setelah djelas bahwa revolusi itu rupanja meminta nafas jang agak pandjang, dan tidak dapat menghasilkan maksud setjepat jang disangka-sangkakan, maka oleh karena „nafasnja pendek” terpaksalah ia naik kembali kekulit air sebelum sampai kepasir dasar laut.

Sebab itu, meskipun semangat berapi-api djanganlah berdjalan dalam gelap-gulita malam dengan tiada bersuluh. Suluhnja ialah kekuatan kepertjajaan, ilmu dan fikiran.

Alangkah hebat dan bernas hasilnja djika orang bersemangat, dan tjukup ilmunja tentang apa jang dikerdjakannja. Meskipun angan-angan setinggi langit, rantjangan sepandjang tali beruk, dilukiskan diatas kertas luas dengan bagan tali-bertali, berdjurai berbelit-belit ; apalah artinja, kalau semangat tidak ada. „Pasarannja dingin!”

Pendidik berkewadjiban membangkitkan semangat pada kanak-kanak jang dididiknja. Kanak-kanak harus digembirakan dan djangan dipangkas putjuknja, jang akan tumbuh itu. Djangan selalu dipatahkan. Apa djuapun pekerdjaan jang dikerdjakannja dengan gembira, asal djangan melarat, djanganlah dilarang, tetapi sambut dan tuntunlah. Hasil2 pekerdjaannja jang ketjil diwaktu ketjil, sampai besarnja akan menjuburkan semangatnja meneruskan perdjuangan untuk pekerdjaan jang besar.

Emmerson berkata: „Dengan tidak bersemangat, tidak ada pekerdjaan besar jang bisa ditjiptakan”.

Semangat jang besar karena tjita-tjita jang besar, tidaklah bergantung kepada umur. Memang terkenal sedjak zaman revolusi, bahwa pemudalah jang memulai revolusi dan pemuda djua jang akan meneruskannja dan menjelesaikannja.

Pemuda jang mana? Ialah pemuda, jang djiwanja senantiasa bergerak, senantiasa gelisah mentjari jang lebih sempurna. Sebab itu djangan silap! Banjak pemuda jang tersadai ditengah djalan, terhenti dan mandek. Karena revolusinja hanja untuk dirinja. Dia turut berdjuang, bersemangat, dengan keluar keringat, sampai dia mendapat suatu tempat jang „lumajan” dalam negara. Padahal tempat lumajan itu belum tetap. Maklumlah revolusi! Rasionalisasi akan didjalankan, barang sesuatu akan dipulangkan ketempatnja jang asal. Ada pemuda jang tidak mau, sampai dia membuat „blok” untuk mempertahankan kedudukan jang didapatnja. Dia telah mendjadi reaksionair sesudah sekian lama mendukung revolusi.

Selama revolusi bertemu beberapa pemuda jang tetap berapi-api semangatnja, dan umurnja belum lama, barangkali baru enam puluh tahun. Dia masih muda padahal ubannja telah tumbuh. Diantara pemuda itu ialah almarhum pak Surjo jang turut mengiringkan wakil Presiden Mohammad Hatta ke Bukittinggi sedjak sebelum tindakan aksi-polisi I, sampai kepada djatuhnja kabinet Amir Sjarifuddin.

Pada zaman permulaan revolusi Indonesia beliau mendjadi gubernur Republik di Djawa Timur. Beliau turut menjaksikan dan turut mengandjurkan revolusi November di Surabaja jang terkenal itu. Karena Surabaja djatuh ketangan Inggeris, beliau mengundurkan diri, terus diangkat djadi wakil ketua Dewan Pertimbangan Agung, dan kemudian turut dengan Bung Hatta ke Sumatera. Disanapun dia tetap lintjah. Sampai kedusun-dusun dan kampung-kampung mengobar-ngobarkan semangat rakjat. Pendirian beliau ialah: „Hidup ialah buat bekerdja dan berdjuang dengan penuh semangat, walaupun apa nama pangkat!” Apa djadi regent sebagai dalam zaman Belanda, atau djadi kentyo sebagai dalam zaman Djepang, atau djadi gubernur sebagai dalam zaman Republik, atau wakil ketua Dewan Pertimbangan Agung, atau pergi ke Sumatera, sama sekali tidak dipusingkannja. Jang penting terus kerdja dan bersemangat. Sebab itu badannja selalu sehat dan gembira. Tjepat dia mentjotjokkan diri. Dahulu gelarnja kandjeng Raden Temenggung Surio. Setelah revolusi ditukarnja dengan pak Surio. Habis perkara. Dia mati terbunuh oleh pemberontak Madiun ketika akan melihat keluarganja jang belum pernah bertemu sedjak beliau keluar dari Surabaja dan telah pergi ke Sumatera.

Almarhum Hadji A. Salim pun seorang „pemuda” jang bersemangat. Dia wafat tutup usia 70 tahun. Dengan batuk-batuk dia naik kapal udara dan pergi ke Sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lake Succes, pergi kenegara-negara Arab, pulangnja membawa satu „goni” jang penuh berisi „bungkus-bungkusan” pengakuan „de Jure” dari negara-negara Arab dan dihidangkannja kehadapan Negara. Setelah beres dia melakukan tugas itu, seakan dia berkata: „Apakah lagi tugas jang akan diberikan kepada saja?”

Di Sumatera Barat saja bertemu pula dengan „pemuda” beruban. Usianja „baru” lebih 80 tahun, jaitu engku Besar Bandaro. Dalam tahun 1908 beliau turut kerdjasama dengan ulama-ulama mengandjurkan perubahan dan kemadjuan di Sumatera barat. Dalam thn 1918 dia turut membangunkan Perserikatan Sumatra. Thawalib dan memimpin sk. „Almunir”. Dalam tahun 1928 dia turut membangunkan Partai Islam „Permai”. Dalam tahun 1938 dia memberikan semangat kepada pemuda2 Chathib Sulaiman, Marzuki Yatim, Sutan Saidi, dan Mr. Nasrun untuk membangunkan ekonomi dan bank di Sumatera Barat. Dalam tahun 1948 dia berulang-ulang keistana wakil Presiden Hatta di Bukittinggi menjampaikan hasrat hatinja. Dia memberi nasihat kepada anak-anaknja jang sangat ditjintainja, jaitu Kapau Gani, Tedja, bahkan Hatta djuga.

Kepada penulis pernah dia berkata: „Malik! Apa jang engkau tulis, saja tahu baik maksudnja. Apa jang engkau pidatokan baik djuga. Tjuma satu jang harus engkau perhatikan, jaitu pilihlah tanah tempat engkau menanam!”

Waktu Presiden Sukarno datang ke Bukittinggi dalam bulan Djuni 1948 diantara orang jang lebih dahulu ditanjakannja dan diharapnja hendak bertemu, ialah engku Besar Bandaro. Beliau telah wafat pada achir bulan Nopember 1949 di Bogor.

Bagi Negara jang telah madju, umur tidaklah mendjadi soal, namun semangat berapi-api tetap mendorong. Gladstone ahli siasat Inggeris, mentjampuri politik dalam usia 50 tahun. Benjamin Franklin seorang diantara pedjuang kemerdekaan Amerika, memperdjuangkan kemerdekaan dan pengakuan bangsa Eropah atas kemerdekaan Amerika; dalam usia 60 tahun. Tidaklah heran kalau memang ada franco jang menjandingkan Hadji A. Salim dengan Benjamin Franklin itu!

Dan Winston Churchill baru undur dari politik setelah usia lebih 80 tahun!

* * *

Bagaimanapun besar dan berkobar2 semangat pada kaum laki2, boleh dikatakan dan tidaknja artinja, kalau kaum perempuan tidak bersemangat begitu pula. Ditanah air kita ini, beberapa hal jang diperdjuangkan bangsa lain dengan sangat sulit, telah ditjapai oleh kaum wanita dengan mudahnja. Mulai sedjak revolusi, kaum wanita telah mendapat tempat jang lajak dia berhak dipilah dan memilih, dia telah pernah djadi menteri. Gerakan kaum ibu menuntut persamaan hak dengan kaum laki2 telah bangkit. Tetapi para gerakan beberapa orang sadja, adakah benar2 timbul dari semangat? Sudahkah tumbuh pemimpin kaum wanita jang berurat kebawah? Dalam masjarakat kita jang masih serba gandjil? Barangkali baru 2%, malahan kurang, kaum ibu jang mengetahui gerakan kaum ibu diluar negeri jang akan didjadikan tjontoh, adapun golongan kaum ibu jang terbesar, masih belum mengerti akan hal itu.

Dalam kalangan terpeladjar belum tambah sebab2 jang sebenarnja, jang akan menimbulkan semangat. Oleh sebab itu maka gerakan kaum ibu masih dalam langkah pertama.

Kita sajangkan kalau tjontoh jang diambil dari Barat hanja perkara tjat-bibir, make-up, tjorak kain. Beberapa perkumpulan kaum ibu telah berdiri, tetapi belum bersemangat.

Dalam dunia Timur djaranglah barangkali kaum ibu jang beruntung seperti kaum ibu Indonesia. Perdjuangannja tidak akan sehebat kaum ibu Tiongkok atau Turki sebelum Kemal Attaturk jang sudah sangat pandjang sedjarahnja. Adat dan kebudajaan kita tidak sekedjam negara-negara tetangga itu terhadap kaum ibu. Sehingga setelah datang zaman baru, dia tidak terlena dan lupa daratan. Tetapi hal itu akan membawa bahaja djuga, kalau pimpinan jang bersemangat tidak ada. Pribadi ibu Indonesia tetaplah Timur, dia tidak mau di Baratkan. Barat sendiri pada zaman jang arhir ini telah mengeluh dan merintih melihat akibat tamaddunnja jang berdasarkan individualisme itu, jang mengakibatkan gojahnja sendi2 rumah-tangga.

Pada saat seperti ini pihak wanita menghendaki puterinja jang berpribadi, untuk mendjadi tuntunan bagi kaumnja jang masih buta huruf dan buta hidup. Djangan sampai dia hanja melihat kulitnja sadja dari kemadjuan ini.

Batjalah buku-buku jang berfaedah, roman jang berisi, ketahui djalan fikiran bangsa sendiri. Batja sjair pudjangga kita sendiri, Chairil Anwar dengan „binatang djalangnja”, Aoh Kartahadimadja dengan sjairnja jang dari mentjintai alam „fana”, dapat mentjintai Jang Baka. Djangan hanja sehingga Vondel dan Sheakspeare, atau Du Perron dan Hemingway sadja. Itulah jang akan menumbuhkan semangat dalam djiwa buat bekerdja dan berdjuang, menegakkan kebenaran, masjarakat dan budi. Sehingga setelah lajar ditutup, permainan habis, kepuasan mendjelma dalam hati kita. Setelah perasaan mendjadi halus karena fikiran jang tinggi dan dahaga djiwa telah dipuaskan, maka penuhlah pribadi dengan semangat dan berani berdjuang. Sebab tidak ada orang lain jang akan memikul beban ini, melainkan kita sendiri.

Jang melemahkan semangat dua perkara. Pertama sjakwasangka, kedua hati busuk.

Sjak-wasangka menjempitkan lapangan tempat djiwa berbegar. Tjampurilah masjarakat dan tegaklah ditengahhnja, djangan menerawang langit seorang diri. Bersama adalah kekuatan, menjisih adalah kelemahan. Pada kekuatan terletak kebesaran, dan pada kelemahan terletak kehinaan.

Hati busuk, tukang tjemooh, tukang ketjimus bibir, hilang sariwarna mukanja. Bibirnja jang selalu mentjibirkan orang itu, akan selalu tertjibir, sehingga raut mukanjapun berobah. Pada pendapatnja tidak ada orang jang benar dalam dunia ini, hanja dia sadja.

Bersemangat; artinja djika dia berkata; jang dikatakan ialah kata hati. Djika menulis, jang dituliskan ialah suara djiwa. Kata hati diterima oleh hati, suara djiwa disambut oleh djiwa pula. Kata jang tidak sungguh, hanja akan sampai didaun telinga dan tidak masuk kedalam.

Djangan pula sebagai seorang wanita jang sangat halus perasaannja. Sehingga ketika dia menonton satu sandiwara membawa lakon sedih, dia menangis tersedu-sedu karena kasihan kepada orang jang dianiaja, sedang supir otonja telah menggigil kedinginan menunggunja diluar, dan telah lebih kelaparan. Sebab „njonja besar” tidak menanjakan tadi sudahkah dia makan, ketika akan berangkat.

Atau dia pergi menghadiri rapat-rapat wanita, dan makan minum suaminja dirumah diserahkannja sadja kepada „kebidjaksanaan” babunja. Dia bersolek supaja tjantik dimata orang lain, padahal suaminja „mendjalar” keluar rumah, karena tidak puas.

1.
HALUS PERASAAN

Kehalusan perasaan adalah bekas pribadi jang kuat. Setengahnja karena dipusakai dan setengahnja karena luas pergaulan, banjak pengalaman dan banjak berkeliling melihat negeri orang lain, sehingga dapat membandingkan masjarakat dan lingkungan sendiri dengan masjarakat dan lingkungan orang lain.

Dia dapat menghargai orang lain dalam pendiriannja, karena diketahuinja pokok pangkal jang mendjadi sebab pendirian itu, meskipun pada dasarnja dia tidak menjetudjuinja.

Orang jang kasar perasaan, atau jang tebal muka dan orang jang hanja menghargai dirinja sadja, jang sempit daerahnja dan pitjik pahamnja, adalah memberati orang lain. Kasar perasaan, matanja mata betung, telinganja telinga kuali, berat darah; padahal hanja binatang jang diikat dengan tali, namun manusia tahu akan arti sindir.

Bila kita renungkan kata-kata pusaka jang ditinggalkan nenekmojang, mengakulah kita bahwa mereka telah pernah meningkat ketinggian budi pakerti, sehingga berbekas dalam pepatahnja. Orang jang halus perasaan disebut oleh mereka itu „Tahu akan ribut jang mendingin, tahu akan renggas jang meleting, tahu akan sindir bajangan kata-kata”. Merekapun berkata: „Djika kakimu terantuk kepada batu, inai (patjar) lah djadi obatnja. Tetapi djika lidahmu jang telandjur, emaslah pembajarnja”.

Sampailah sekarang kita kepada zaman demokrasi. Manusia merdeka menjatakan perasaan dan fikirannja. Tetapi tentu kita ingat pula, bahwa dengan kemerdekaan, manusia merdeka pula memperkembang pribadinja dan memberi batas-batas bagi dirinja sendiri-sendiri, mana jang tidak merugikan orang lain. Mentang2 demokrasi, bukanlah artinja „tidak berperasaan”.

Meskipun diandjurkan halus perasaan, sifat „lekas perasa angin” amat berbahaja pula. Terlalu „sentimen” sangat pula besar tjelakanja. Karena dengan demikian, kita akan merasa tjanggung bergaul dengan orang lain, berasa-rasa akan salah sadja ; dipegang-pegang dasi, dilihat-lihat sepatu, dibarut-barut rambut, adakah baik sisirnja. Halus perasaan jang seperti ini tidak menegakkan pribadi, melainkan mungkin meruntuhkannja.

__________________

KEBESARAN PRIBADI.

Djasa2 dan perbuatan besar jang telah pernah dilalui dan diatasi didalam hidup, riwajat-riwajat gemilang jang telah dilalui menjebabkan orang kagum akan seorang pribadi. Kepertjajaan kepada diri sendiri mengalir dibawa urat sjaraf dari dalam otak kepada tjahaja mata, sehingga dimata itu tergambarlah siapa pribadi itu. Walaupun kita belum mengenal seseorang, pada raut mukanja dan sinar matanja, orang jang arif dapat mengetahui bahwa orang itu bukan sembarang orang.

Pribadi Nabi Muhammad s.a.w. teramat besar, sehingga ada orang jang djatuh tersungkur, merengat keringatnja keluar ketika mula2 berhadapan dengan beliau, padahal beliau tidak marah.

Lebih kurang 100 tahun jang telah lalu, dinegeri Libanon ada seorang amir jang sangat terkenal namanja, karena keberaniannja dan kesanggupannja menghadapi hal2 jang berbahaja. Namanja Amir Basjir Asj-Sjihabi. Sangat madju agama Kristen dinegeri itu, karena beliau sangat teguh mendjalankan agamanja. Libanon waktu itu dibawah pengaruh keradjaan Turki.

Pada suatu ketika terdjadilah suatu kemelut politik, sehingga beliau dipanggil ke Istambul akan menghadap sultan Turki, dengan maksud akan diasingkan. Beliaupun datang, sikapnja tangkas, penuh hebat, djanggut pandjang, matanja menakutkan. Namanja sangat dibusuk2kan; seorang amir jang lalim, seorang amir jang belot dan lain2. Waktu dia dipanggil datang menghadap perdana menteri, semua orang di Kementerian telah bersedia akan menjambut dia dengan sikap mengedjek. Setelah diberi tahukan bahwa dia telah ada dihalaman istana, semua orang terus mengerdjakan pekerdjaan masing-masing, dan perdana menteri sendiripun terus pula menulis, dengan maksud supaja amir itu merasa, bahwa dia tidak patut dihormati. Pintu terbuka, diapun masuk dengan langkah jang tenang. Sesudah itu dilihatnja dengan matanja jang bersinar-sinar sekalian orang jang dalam kantor itu seorang-seorang. Tidak ada jang tidak gugup kena pandang itu. Achirnja sekali dilihatnja perdana menteri (Ash-shadrul A’zham), dan dengan langkah lambat dan berat dia menudju djuga kemuka. Perdana menteri sendiripun gugup, dan dengan tidak sadar diapun dipaksa oleh satu kekuatan gaib, berdiri dari kursinja dan madju kemuka, mendjabat tangan pahlawan Libanon jang telah berusia lebih dari 70 tahun itu, dan membimbing dia kedalam madjelis.

Tidak berapa lama Amir itu disana, diapun pulang kerumah penginapannja, dan perkataan akan disambung pula besoknja. Sepeninggal beliau, perdana menteri memberi perintah keras, bahwa besok djika amir itu datang pula, seorangpun tidak boleh berdiri memberi hormat. Semua pegawai berdjandji patuh.

Besoknja Amir itu datang pula dan seorangpun tidak ada jang berdiri. Amir melihat kembali kepada perdana menteri. Rupanja iapun lebih gugup dari kemarin, dan dengan tidak sadar diapun berdiri pula dari tempat duduknja sebagai kemaren. Sebab itu segala pegawaipun berdirilah menurut perbuatan perdana menteri itu.

Itulah pengaruh kekuatan pribadi.

Almarhum Radja Ibnu Saud, pahlawan Padang Pasir jang terkenal itupun, seorang jang luar biasa besar pribadinja. Dalam hidupnja sehari-hari, baginda sangat demokratis. Baginda tidak suka kepada penghormatan dan upatjara jang berlebih-lebihan. Bilamana bertemu dengan seorang, lapaslah parkataan beliau selepas-lepasnja, tidak ada jang tersembunji dalam hatinja. Lebih2 terhadap orang jang telah dipertjajainja. Sungguhpun begitu, tidak ada orang dalam madjelisnja jang tidak tunduk atau „hilang” bila berhadapan dengan baginda. Said Rasjid Ridha, ahli fikir Islam jang besar itu, dan namanjapun telah termasjhur seluruh dunia Islam, ketika datang menghadap Ibnu Saud, serupa sadja dengan seekor kutjing dibawakan lidi. Walaupun utusan keradjaan mana, walau diplomat Inggris jang paling besar, jang bergelar Lord atau Sir, terpaksa „djatuh” kalau berhadapan dengan dia.

Duta Indonesia di Negara-negara Arab, H. Rasjidi pernah mentjeriterakan pribadi Ibnu Saud : „Saja sudah bertemu dengan hampir semua pemimpin dan orang besar ditanah Arab. Saja bawakan adat kehormatan dan upatjaranja, tetapi ketika berhadapan dengan Ibnu Saud, saja merasa bahwa pada dirinja ada suatu magnit penarik, jang menjebabkan kita mesti kagum dan tunduk. Usianja sudah lebih dari 70 tahun, matanja agak rusak sebelah, salah satu dari djarinjapun rusak dan pada tangan jang tegap itu djelas kelihatan bekas-bekas luka, dimukanja sendiripun kelihatan gores-goresan perdjuangan. Memang dialah jang telah membina keradjaannja dengan tangannja sendiri”.

Sajapun kerap kali melihat pengaruh pribadi almarhum Dr. H. A. Karim Amrullah. Pada waktu saja masih berusia 8 tahun, saja bersama almarhum H. Dt. Batuah mengiringkan beliau pergi mengadji ke Kuraitadji Pariaman.

Beliau batalkan pengadjian ulama jang ternama ditempat itu, sehingga murid2 ulama itu sakit hati kepadanja. Ketika akan pulang, murid2 itu menunggu ditengah djalan, dengan maksud hendak menganiaja. Orang telah membisikkan kepada beliau, bahwa ada bahaja. Beliaupun djalan terus dan kami mengiring dibelakang. Sesampai ditempat pemuda2 itu berkumpul, beliau menengok kepada mereka dengan matanja jang penuh kegagahan dan bertanja : „Mengapa tuan-tuan disini?” Lama baru akan ada djawaban, sebab masing2 berpandang-pandangan.

„Mengapa?”

Tiba-tiba kedengaran suatu djawab „Tidak mengapa, engku”.

„Kalau tidak mengapa, pulang sadjalah, mengadji sudah habis dan hari telah tengah malam!”

„Baik, engku!” Kemudian mereka itupun mengundurkan diri dari tempat itu dan hilang dalam gelap, seorang demi seorang.

Saja lihat kalau ulama-ulama Sumatera Barat jang banjak itu telah berkumpul disurau Sjech Djambek, memperkatakan pengadjian dan kadang2 memperkatakan persatuan sikap menghadapi politik Belanda. Kalau datang waktu sembahjang pergilah semuanja ketempat sembahjang. Dan ketika menentukan siapa jang akan djadi imam, tidak ada jang berani kemuka, semuanja mempersilahkan beliau djadi Imam.

Apakah sebabnja maka begitu?

Keteguhan hati pahlawan2 itu, keberaniannja menghadapi soal2 jang sulit, menjebabkan timbul pada orang jang menghadapinja naluri asli, jaitu tunduk kepada jang kuat. Dan memang ada diantara manusia jang telah didjadikan Tuhan untuk memerintah dan membimbing. Karena kagum orang senantiasa memperkatakannja, baik dengan ketjintaan, baikpun dengan kebentjian. Sebab orang besar2 itu tidak kurang mempunjai musuh. Bukankah perdana menteri Turki amat bentji kepada Amir Basjir Asj-Sjihabi? Tetapi setelah berhadapan, bukanlah perdana menteri dipaksa oleh djiwanja sendiri berdiri dari tempat duduknja dengan tidak sadar?

Maka pribadi jang besar2 itu tidak lain dari pada manusia biasa. Orang jang hidup didekat mereka, akan dapat melihat segi-segi kelemahannja dan kekurangannja. Maka jang memaksa orang tunduk kepadanja, bukanlah dia dan bukan orang lain, hanjalah orang jang tunduk itu sendiri nalurinja. Hal-hal jang seperti itu hanja bertemu pada orang jang berani. Bukan sadja berani berperang, tetapi berani menghadapi soal jang sulit didalam hidupnja dan dapat diatasinja. Dia sekali-kali tidak takut dan tjemas, tidak ragu-ragu dalam soal jang sulit2 bagi orang jang lain. Itulah orang besar. Sebab pekerdjaan jang besar kata orang lain, dipandangnja seperti hal jang wadjib dikerdjakannja sadja.

Sebab itu, walaupun kita bukan seorang pahlawan dimedan perang, walaupun dileher dan dibahu kita tidak ada tanda-tanda ketenteraan, kitapun dapat djuga disegani orang, bahkan ditakuti, asal ada didalam hidup kita ada sifat berani melalui perdjuangan jang mengatasi kesanggupan manusia jang lain, sehingga orang kagum dan hormat.

__________________

PENGARUH KEADAAN ATAS PRIBADI BANGSA INDONESIA.

Djiwa Indonesia jang tenang dan patuh, sampai diberi tjap „bangsa jang sepatuh-patuhnja didunia”, dengan sertamerta berubah, dan perubahan itu amatlah hebatnja. Bangsa jang tadinja belum mengenal apa artinja perang dan tidak pernah dibawa tjampur dalam peperangan, tenteram dalam rumah-tangganja, menerima gadji habis bulan dan menunggu pensiun pada hari tua ; bangsa jang damban, terpengaruh oleh tanam-tanaman jang ditanamnja itu, diguntjang dan disuruh menukar susunan hidupnja. Oleh sebab itu pribadinjapun terguntjang, lalu berubah.

Permulaan kedjadian jang hebat ini ialah pada tanggal 8 Desember 1942. Jaitu sedjak petjah perang Pasifik. Kita masih ingat, bagaimana paniknja kita ketika itu. Lebih2 bangsa jang memerintah pada masa itu lebih panik pula. Kita disuruh menggali lubang perlindungan, disuruh menggantungkan karet dileher, jang akan disumbatkan ke mulut, bila bom djatuh. Baru sadja kelihatan kapal-udara dari djauh, seisi rumah telah lari berkedjaran masuk lubang perlindungan itu, dibimbing anak-anak, orang tua lumpuh, perempuan jang baru bersalin. Tidak ada jang beres djalan akalnja pada waktu itu. Sesudah itu tibalah zaman mengungsi besar-besaran, takut tinggal dikota, rumah-rumah ditinggalkan dan lari masuk kampung. Dan jang dikampung lari pula, lebih kekampung! Tidak pilih orang, tidak pangkat, tidak pilih si Amat dan si Ali, atau profesor, dokter! Sama sadja.

Sesudah itu berangsur-angsur pulang kekota, lebih2 karena perang seperti itu tidak lama. Kedjatuhan Belanda jang sangat tjepat, sangat tjepat pula membawa perubahan bagi djiwa. Dahulu kedjatuhan Belanda boleh dikatakan hanja ada dalam chajal kaum pedjuang kemerdekaan. Tetapi setelah melihat dia menjerah dengan tidak bersjarat kepada Djepang, maka pribadi bangsa Indonesia mulai bertanja kepada dirinja sendiri, mengapa setjepat itu djatuhnja? Kalau begitu, kekuatannja memerintah kita beratus tahun, hanjalah karena kebodohan kita sadja.

Setelah Djepang masuk dan kita bergaul dengan Djepang, banjak kita melihat keadaan jang belum pernah kita lihat. Baru waktu itulah kita mengenal apa jang bernama kedjam. Di Medan baru 5 hari Djepang masuk, lima buah kepala orang sudah dikerat dari badannja, dilekatkan disimpang djalan ke Pusat Pasar, jaitu didjalan raja Wilhelmina1 1Ditukar kemudian djadi Djalan Sutomo. jang sangat ramai, dilihat oleh segala orang jang lalu-lintas. Baru waktu itu kita mengenal tempeleng jang tidak membedakan deradjat orang. Padahal selama ini kita lihat tempeleng hanja dari guru kepada murid, atau ajah kepada anak. Waktu itu kita melihat atau mendengar anak sultan ditempeleng atau gubernur Belanda, ditempeleng. Hukuman indjak batjan, memukul orang dengan ikat pinggang kulit sepuas-puas hati, memberi minum orang tawanan dengan air satu belik, memaku tangan orang, dan berbagai ragam jang lain. Waktu itu pula kita lihat bagaimana mudahnja bangsa Djepang memikat hati gadis anak orang baik-baik ; mula2 didjadikan pelajan, achirnja dipakai sebagai gundik. Ada jang merasa megah, pun orang tuanja sendiri, sebab ada perhubungan dengan bangsa jang menang. Waktu itu kita melihat djiwa manusia sangat murah harganja, semurah harga perawan gadis gadis-gadis pula. Manusia dikerahkan sebagaimana mengerahkan kambing sadja, ketempat pekerdjaan jang berat-berat, membuka djalan raja baru, membuka lapangan kapal-udara dan lain-lain. Sesudah itu beras diambil semau-maunja, dan rakjat dibiarkan mati kelaparan. Bergelimpangan mait orang jang mati kelaparan itu.

Orang kaja banjak jang djatuh miskin, dan orang jang belum pernah didjedjak kaja, banjak jang mendjadi kaja raja, karena baik perhubungannja dengan kumiai-kumiai atau kaisha-kaisha. Pada waktu itu orang sudah pandai menipu dan mengetjoh besar-besaran. Krani-krani mulai beladjar bertani, membuka tanah peladangan. Kaum feodal jang selama ini bermegah dengan kebesaran dan keturunan, mulai disama-ratakan dengan rakjat djelata. Pernah sultan Djohor, Pahang dan radja-radja Melaju harus berbaris memegang bendera Djepang, akan mengelu-elukan perdana menteri Todjo, datang ke Melaya. Banjak pula orang ternama jang „hilang” sadja ; di Sumatera dibawa ke Padang Hidjau di Bukittinggi, dan dipotong lehernja disana, sebab dituduh anti Nippon. Dan pembunuhan besar-besaran jang sangat terkenal ialah di Pontianak.

Tetapi pada waktu itu pula banjak pemuda jang sempat beladjar disiplin ketentaraan, sehingga dapat dipergunakan dan besar faedahnja setelah menghadapi revolusi.

Djepangpun djatuh ; datanglah zaman revolusi jang mahahebat. Kita mulai pertjaja akan kekuatan diri sendiri. Kita tidak mau lagi di „pindah-tangan”kan oleh bangsa jang kalah kepada bangsa jang menang. Kita hendak menentukan nasib kita sendiri. Utjapan „merdeka!” adalah satu kata jang amat keras pengaruh sugestinja kepada djiwa kita. Jang kita utjapkan siang dan malam petang dan pagi, dirapat umum dan ditempat ramai.

Kita tidak takut lagi melihat darah, kita tidak lagi menangis djika ada sanak-saudara mati dalam pertempuran. Malahan kalau ada seorang pemuda jang putus kakinja sebelah, adalah mendjadi kemuliaan, karena putus mempertahankan tanah-air. Orang jang kakinja putus digiling kereta-apipun kadang-kadang telah turut membontjeng pula!

Demikianlah, bangsa baru telah tumbuh dan negara baru telah lahir, sebab pribadi bangsa itu telah mendjelma baru. Kian hari kian teguh. Lihatlah bagaimana perbedaan djiwa kita sebelum perang dengan sekarang, ketika kita naik kereta-api atau menonton bioskop. Dahulu kita merasa agak takut menjewa kelas jang tinggi, sehingga bukan sadja orang Belanda kita takuti, orang Tionghoapun kita segani. Sehingga walaupun duit banjak, kita lebih suka menonton bioskop diklas dua sadja setinggi-tingginja. Sekarang hanja kita tanjai kantung sadja! Berapa sanggup? Hotel Des Indes jang besar di Djakarta itu, dahulu hanja kita intip-intip dari djauh, meleleh selera melihat Belanda berdansa. Sekarang mendjadi medan tempat tjabang atas Indonesia bertjengkerama bersama-sama dengan bangsa-bangsa asing. Dan tentu lama-lama akan bertambah, sebab sekarang masih terpaksa ada „prioritetnja”, lantaran kemerdekaan belum seimbang dengan penjakit buta-huruf pusaka pendjadjahan. Dan orang tidak menjesal akan pembahagian itu, karena dia sudah tahu bahwa diapun ada kemungkinan mendapat hal itu.

Tetapi kurbannjapun banjak. Segala perubahan jang datang dengan mendadak, ada jang tidak lekas terterima oleh djiwa. Orang berpangkat tinggi, jang selama ini mendapat kedudukan istimewa karena dekat hubungannja dengan bangsa pendjadjah, mendjadi terombang-ambing karena putus tempat bergantung dan terban tempat berpidjak. Orang jang halus perasaannja karena tinggi ilmunja, pada permulaan revolusi harus bergaul dengan orang jang baru naik, dengan anak2 gembala dan jang tidak terpeladjar, tetapi bersemangat berapi-api.

Ketika itu pula kita melihat „beliau banjak urusan”, pedang samurai tergantung dipinggang, pistol terselempang, rambut pandjang, kumis pandjang, djanggut pandjang, mata berapi-api serupa akan menelan orang sadja. Lama-kelamaan, rambut pandjang itupun mendjadi mode, disisir baik-baik, dipersingkat sedikit, sesudah itu dipendekkan, dan muka jang tadinja penuh bulu, ditjukur habis-habis, lalu dibedaki, dan rambut diberi berminjak harum. Maka mulailah naik oto halus, naik djip, duduk bersanding dengan sidjantung hati. Mulailah perebutan strip dan bintang, perebutan pangkat dan kedudukan. Mulai korupsi besar-besaran. Padahal jang tinggal digaris depan, malam kedinginan dan siang kepanasan.

Rumah-tangga djadi sangat gojah, pertjeraian djadi sangat mudah dan berbini baru sudah mendjadi hal jang biasa sadja. Ketika terdjadi tindak-tindakan dari pihak Belanda, beberapa pegawai Republik meninggalkan kota-kota jang ramai, pindah ke Jogja, atau pindah ke Bukittinggi. Anak istrinja ditinggalkan dan mereka melepasnja dengan hati sutji, sebab suaminja menurutkan pemerintah pergi berdjuang. Perhubungan amat sulit atau tidak ada sama sekali diantara tempat kediaman baru dengan tempat jang lama. Maka terdjadilah perkawinan ditempat baru. Istri dan anak-anak-pun tinggal berusaha sendiri buat makan. Maka didjualnjalah segala kekajaan jang ada, kursi dan medja, tjawan dan pinggan, achirnja kain-kain jang lekat dibadan. Setengahnja karena tidak tahan lagi, apa boleh buat, didjualnjalah barang jang paling mahal pada dirinja, jaitu kehormatannja. Ada pula orang jang musnah sekampung, sedesa, mulanja ditanggalinja atap rumahnja, untuk pembeli beras ; kemudian habislah kain jang dipakai, pembeli beras.

Maka timbullah keruntuhan achlak pada jang lemah, demoralisasi. Dan sebaliknja terbit achlak baru pada jang kuat ; pribadi.

Guru-guru agama ada jang terpaksa djadi tukang tjatut, menutup sekolahnja dan pergi kepasar. Dahulu dia bersekolah agama, kemudian tidak pernah mengerdjakan sembahjang lagi, bahkan ada jang menjumpahi Tuhan : „Tuhan tidak adil”. Kawannja telah dapat pangkat, dia sendiri masih begitu-kebegitu sadja. Ada pula jang lari kehutan, sebab memandang segala kedjadian jang baru, kebebasan gadis-gadis, pelatjuran dan lain-lain sebagainja sebagai alamat, bahwa hari akan kiamat. Diapun mulailah menjumpah-njumpah dari puntjak bukit!

Hari ini kita bertemu dengan seorang pengadu untung, mendapat pangkat pada suatu djabatan Republik. Hari lain dia digeser kawan, sehingga teluntjur ; rupanja kedjadian jang demikian sangat mendjungjung djiwanja, maka berbenamlah dia dirumah, termenung-menung, menjesali nasib. Setengahnja lalu menjumpah-njumpah, menghitung segala kesalahan, segala ketjurangan, dan dia sadja jang sebersih-bersihnja.

Pendeknja, banjaklah jang beroleh sakit djiwa, atau djatuh gila sama sekali.

Pemuda-pemuda jang pulang dari pertempuran, berbeda djiwanja dengan pemuda jang tetap tinggal dikampung, walaupun pada hakekatnja sama berdjuang. Kadang-kadang pemuda berdjuang itu marah-marah dan mempermain-mainkan pistolnja, sebab — katanja — masjarakat tidak menghargai dia. Lalu timbul bentjinja tinggal dikota, dia hendak kembali kegaris depan djuga, sebab disana jang lebih senang katanja. Kalau garis depan itu tidak ada lagi dibuatnja „garis depan” baru.

Setengahnja djengkel karena merasa bahwa masjarakat tidak mengingat dia lagi, telah melupakan djasanja. Setengahnja meminta djasa itu dihargai. Padahal, berapa mesti dihargai, dan siapa jang sanggup menghargai?

M. Natsir, Pemimpin Islam jang terkenal itu pernah mengatakan : „Ketetapan revolusi ialah tidak tetap. Jang luar biasa itulah jang biasa”.

Revolusi telah memaksa djiwa kita supaja dinamis, setelah mendjadi djiwa statis beratus tahun lamanja. Sekarang peperangan dengan Belanda telah terhenti, tetapi djiwa dinamis telah ada pada kita. Maka untuk menghadapi zaman mengisi kemerdekaan, kita telah mempunjai modal, jaitu djiwa kita sendiri. Jang djatuh telah djatuh, jang lemah telah tersungkur, jang tjurang telah tersingkir, dan jang mentjoba-tjoba tjurang tentu akan tersingkir pula : Jang tua-tua kian sehari kian berangsur hilang, maka naiklah jang muda-muda jang akan merupakan bentuk bangsa Indonesia dalam zaman depan. Maka beberapa sipat-sipat jang telah kita bentangkan sebagai modal bagi pertumbuhan pribadi, sebagai kedjudjuran, keberanian, timbang-rasa, daja penarik dan lain-lain dan kesempurnaan pribadi, tanggung djawab, kesabaran, keuletan, keichlasan, kekuatan kemauan, akan tetaplah mendjadi modal jang tidak habis-habisnja dan tidak basi-basinja, selama-lamanja, Insja Allah.

Hari telah hudjan semalam, sekarang matahari telah terbit, tjerah langit sepagi ini. Mari kawan kita madju kemuka bersama-sama, riang gembira!

Mari! Nasib kita, kita sendiri jang menentukan!

__________________


1Diterima beberapa senggahan dari saudara² bangsa Arab dan warganegara Indonesia keturunan Arab karena tulisan tentang pribadi bangsa Arab di Indonesia ini. Tetapi orang Madura tidak memprotes karena disebut pisaubulatinja, dan orang Minangkabau, negeri kelahiran pengarang sendiri, tidak pula memprotes karena dikatakan pengadu-untung dan keras-adat.

Oleh sebab itu maka dalam tjetakan ke-4 ini tidaklah ada niat pengarang menghapus bahagian jang disanggah oleh duatiga orang saudara bangsa Arab itu!