Baca PDF (OCR): Dari Ave Maria ke Jalan Lain Roma

85 halaman · 85 halaman diproses dengan OCR· 187014 ms

Daftar isi
  1. IDRUS
  2. Dari Ave Maria
  3. JALAN LAIN
  4. KE ROMA
  5. PN BALAI PUSTAKA
  6. bpPN BALAI PUSTAKA — JAKARTA
  7. Dari
  8. AVE MARIA
  9. Ke Jalan Lain Ke ROMA
  10. Kata Pendahuluan
  11. JAMAN JEPANG
  12. Ave Maria
  13. Adakah yang hendak kaubicarakan dengan daku, Zul? Cerita-
  14. Eingkau sehat, Wartini. Hanya aku ..."
  15. Andante yang sesempurna-sempurnanya. Seperti pencuri kudekati ru-
  16. ISHAK. Tepat betul datangnya. Pukul sepuluh. Hari Selasa.
  17. SATILAWATI. (terkejut) Aku kira engkau tidak akan datang.
  18. ISHAK. Asmadiputera dan Kartili mana?
  19. SATILAWATI. Segera menyusul. Apa yang akan kau katakan ke-
  20. ISHAK. Banyak sekali. Tapi yang terpenting ialah: aku cinta padamu.
  21. SATILAWATI. Kalau itu tidak perlu di sini benar. Mari kita ke
  22. ISHAK. Jauh, jauh sekali. Di rumahmu aku tidak dapat bercakap.
  23. di rumah sekarang. Pergi menjemput nenek ke setasiun.
  24. ISHAK. Yang baik sekarang ini hanya Asmadiputera, Kartili dan eng-
  25. tunanganku dalam gelap, di jalan yang sunyi.
  26. Ha, ha, ha, ha.
  27. SATILAWATI. Tapi apa yang hendak kaukatakan? ISHAK. Engkau pelupa rupanya. Sebentar ini baru kukatakan. Aku
  28. SATILAWATI. Engkau menyebutkan cinta dan pergi itu dalam satu
  29. SATILAWATI. Mengapa?
  30. ISHAK. Karena mungkin kita tidak akan bertemu lagi. Aku pergi,
  31. ISHAK. Ke tempat aku dipahamkan orang. SATILAWATI. (beran) Orang siapa? ISHAK. Orang manusia.
  32. KEJAHATAN MEMBALAS DENDAM
  33. SATILAWATI. Bukan itu sebabnya. Aku repot pekerjaan. Jururawat
  34. JAMAN JEPANG
  35. ISHAK. (membuka cincin dari jarinya, mereka bertukar cincin) Jangan
  36. belum tahu siapa Satilawati. (hendak pergi).
  37. Adegan keempat
  38. ASMADIPUTERA. Engkau sangka rakyat akan percaya pada tuduhan
  39. ASMADIPUTERA. Ya, kalau dilihat sepintas lalu, memang. Jika di-
  40. saku, memperlihatkan kertas itu kepada Ishak) Lihat ini. Ini
  41. Adegan kelima
  42. KARTILI. (tampil ke muka menggeleng-gelengkan kepalanya)
  43. Adegan keenam
  44. SATILAWATI. (kepada Kartili) Betulkah itu, Kartili?
  45. rakyat harus diberi penerangan, obor, obor, Satilawati"... (we
  46. KARTILI. Pak Orok musuh Ishak dalam mengarang. Sungguhpun
  47. SATILAWATI. Aku tahu, engkau selalu berdendam hati terhadap
  48. KARTILI. (menunjuk dadanya) Salahku barangkali? Karena aku ter-
  49. SATILAWATI. Omong kosong. Dari siapa engkau tahu? KARTILI. (menepuk dada) Aku dokter, Satilawati. Sedikit-sedikit aku
  50. tahu juga menganalisir jiwa orang.
  51. KARTILI. Aku mengerti. Karena ia berjuang kelihatan. Aktif dalam
  52. perjuangannya. Tapi jangan kau sangka itu buat nusa dan bangsa.
  53. Banyak contoh dapat dicari di atas dunia ini.
  54. SATILAWATI. Orang yang begitu, pasti lebih tinggi daripada orang
  55. yang menuruti jalan besar saja, jalan yang telah dirintis orang.
  56. ngarang. Mengarang hanya sebab saja. Tapi ini karena waktunya
  57. JAMAN JEPANG
  58. Di halaman muka rumah Suksoro Di sekeliling pohon kecil beberapa
  59. nya. Mengarang, apa lagi. Katanya mengumpulkan bahan-bahua
  60. untuk bukunya tentang pahlawan-pahlawan Aceh.
  61. PEREMPUAN TUA. Banyakkah ia mendapat duit dengan karangan-
  62. SATILAWATI. (menunjuk ke belakangnya) Rumah ini buktinya.
  63. PEREMPUAN TUA. Memang ia seorang yang rajin.
  64. PEREMPUAN TUA. Maksudmu, karangannya tidak disukai orang
  65. SATILAWATI. Hanya oleh kawan-kawannya yang sezaman dengan
  66. dia. Dan oleh orang-orang yang tiada mempunyai perjuangan hi-
  67. PEREMPUAN TUA. Biasanya orang yang sudah tua itu, ... biasanya
  68. SATILAWATI. Tapi bukan itu sebabnya dengan ayah. Ia hanya ke-
  69. SATILAWATI. Memang nenek sebagai ibu kupandang. Ibu tempat
  70. KARTILI. Juga tidak. Tapi sebagai sahabat. Hanya sebagai sahabat,
  71. SATILAWATI. (berasa kasihan) Maafkanlah segala perkataanku yang
  72. anmu kemarin itu. Sekarang aku memuji kesetiaanmu terhadap
  73. sahabat hatiku terbuka untukmu. Mari kita bercakap tentang yang
  74. SATILAWATI. Bukankah itu engkau kerjakan, karena engkau men-
  75. SATILAWATI. (ragu-ragu) Maafkan aku sekali lagi. Aku lekas berasa
  76. KARTILI. Tidak apa-apa. Aku akan pergi ke rumah Asmadiputera
  77. SATILAWATI. Aku mengucap syukur akan ketulusan hatimu itu,
  78. SATILAWATI. Asmadiputera akan datang juga ke sini. Ayah dari
  79. KARTILI. Asmadiputera adalah teman sejadi Ishak.
  80. KARTILI. (kemalu-maluan) Aku juga. (memandang jaub) Tapi tidak
  81. SATILAWATI. Sekarang, cobalah engkau berdua menginsyafkan ayah-
  82. ku. Sungguhpun aku tahu, pekerjaan itu akan sia-sia belaka.
  83. Tapi bagiku seorang dokter harus bekerja karena sebab lain juga. KARTILI. (menentang) Sebab apa?
  84. ini. Dokter sedikit. Dan sebahagian telah diambil pula untuk
  85. dipekerjakan di garis depan, di medan pertempuran.
  86. KARTILI. (sambil mengangkat bahunya) Seperti engkau katakan tadi, pendapat berlain-lainan. Apa lagi!
  87. KARTILI. Entahlah. Aku tidak tahu, apa yang harus kuperbuat.
  88. KARTILI. (termenung).
  89. Dan Hamka seorang yang beragama!
  90. SUKSORO. Zaman per:ang sekarang ini. Semuanya seperti ia menghasut
  91. roman semangat perang. Dan Ishak ialah orang yang suka ber-
  92. SUKSORO. Jadi tuan hendak mempertahankan dia?
  93. yang sejak Nippon masuk, belum juga insaf-insafnya. Mereka
  94. rintah Belanda, karena kedudukannya dalam zaman Belanda itu
  95. ASMADIPUTERA. (lemah) Tuan Suksoro, siapa yang mencaci?
  96. oleh orang-orang seperti itu. Ishak mencari kekuatan dalam
  97. karangannya di dalam perkataan-perkataan pelaku-pelakunya. Ini
  98. SUKSORO. Dan aku tidak ada waktu lagi untuk memahamkannya.
  99. Orang yang tidak insaf itu insaf sebenar-benarnya (membuka
  100. Tiga tahun Nippon di Indonesia sudah. Selama ini kami hanya
  101. tenaga harus dikerahkan, kami menjauh sebagai kucing dibawa-
  102. menceburkan diri ke dalam barisan ''Prajurit Pembela Tanah Air"
  103. Adegan kesepułuh
  104. Suksoro termenung sejurus lamanya.
  105. Adegan kesebelas
  106. PEREMPUAN TUA. Mengapa termenung Suksoro?
  107. SUKSORO. Tidak apa-apa, bi. Urusan karang mengarang juga ....
  108. Telah selesai bibi menyelidiki tentang Satilawati?
  109. PEREMPUAN TUA. Satilawati mencintai dia juga.
  110. PEREMPUAN TUA. Tidak perlu kau ulangi lagi. Coba pikirkan.
  111. Andai kata oleh karena obatku itu, mereka bercerai, apa yang
  112. PEREMPUAN TUA. Ia akan menanggung selama hidupnya, Suksoro.
  113. obat-obat yang begitu. SUKSORO. Aku yakin, tidak akan begitu jadinya dengan Satilawati.
  114. Lagi di kota besar ini, pemuda-pemuda lain masih banyak. Oleh
  115. PEREMPUAN TUA. Tapi cinianya kepada Ishak telah mendalam,
  116. KEJAHATAN MEMBALAS DENDAM
  117. kan, Suksoro. Adukanlah kepada polisi. Jangan engkau meng-
  118. JAMAN JEPANG
  119. Adegan pertama
  120. Adegan kedua
  121. baru Ishak bergerak, seperti orang bingung. Bekerja lagi, ketokan pintu
  122. Adegan ketiga
  123. ISHAK. (agak marab) Nenek siapa?
  124. PEREMPUAN TUA. Aku yang punya rumah ini, nak. Aku girang,
  125. ada orang yang mau menunggui rumahku, waktu aku bepergian.
  126. PEREMPUAN TUA. (cemas melihat mata Ishak) Anakku sudah
  127. Adegan keempat
  128. menulis. Kadang-kadang dibacanya apa yang ditulisnya. Ia tersenyum.
  129. Adegan kelima
  130. PEREMPUAN TUA. Silakan minum dan makan, nak (meletakkan
  131. kuap memegdng tangannya, meletakkan piring berisi makanan
  132. JAMAN JEPANG
  133. Adegan keenam
  134. ISHAK. (terus menulis, berpikir sebentar, menulis lagi).
  135. ISHAK. (berhenti menulis, membaca apa yang telah ditulisnya, ter-
  136. PEREMPUAN TUA. (masuk) Kaiau engkau tidak mau makan, mari
  137. kumakan (memakan makanan itu, berdiri mengambil mangkuk
  138. ISHAK. (terus menulis lagi. Tangannya bergerak sangat cepatnya).
  139. PEREMPUAN TUA. (meletakkan piring nasi dan mangkuk kopi, di
  140. bawah balai-balai. Lama memandang Ishak. Menggelengkan kepala.
  141. Terdengar piring bergerak-gerak, digerakkan tikus. Perempuan tua mengeyunkan kakinya ke bawah balai-balai) Hus. Tikus lapar.
  142. ISHAK. (meletakkan tangan kirinya di atas dahinya, berpikir).
  143. PEREMPUAN TUA. (kuap, meregang tangannya, tidur kembali).
  144. ISHAK. (menulis lagi cepat-cepat lalu melemparkan potlotnya ke atas
  145. lantai, menutup mukanya dengan kedua belah tangannya, me-
  146. Tonil gelap lagi. Terang kembali. Dari sela-sela jendela masuk sinar
  147. ISHAK. (bergerak, bangun, berdiri, kuap, membukakau jendela. Meli-
  148. bat jauh. Mengisap udara pagi. Dari jauh kedengaran petani-petani
  149. bernyanyi-nyanyi kecil pergi ke sawabnya masing-masing. Ishak
  150. PEREMPUAN TUA. (bergerak, bangun duduk di atas balai-balai mem-
  151. Adegar kesepuluh
  152. Tapi ... (mengeluarkan sehelai uang kertas, meletakkan di atas
  153. meja) ... ini jangan nenek tolak pula lagi. Hari ini juga aku
  154. Adegan kesebelas
  155. PEREMPUAN TUA. Disuruh buatkan Kartili. Untuk merampas eng-
  156. PEREMPUAN TUA. (sejurus termenung, tertawa pahit) Karena hanya
  157. SATILAWATI. Nenek jangan bersedih. Waktu untuk memperbaiki
  158. Sekarang pergilah, nak. Aku tidak dapat memberimu apa-apa.
  159. ISHAK. (berontak) Tapi aku hendak berkata sekarang, sekarang
  160. JAMAN JEPANG
  161. PEREMPUAN TUA. Marilah kita kenang-kenangkan sekarang kejadian
  162. dengan kejahatan. Beratus-ratus musuh dalam selimut. (meman-
  163. PEREMPUAN TUA. Semua ini telah berakhir. Kita akan mulai de-
  164. ISHAK. Tapi hari yang «khir-akhir ini rumah kita tidak pernah mereka
  165. injak lagi, nek. Berkata-kata dengan kita agak takut mereka ru-
  166. PEREMPUAN TUA. (mengangguk) Memang mereka takut. Baru ke-
  167. PEREMPUAN TUA. Ya. mereka takut. Karena rumah kita "berisi",
  168. ISHAK. Siapa, nek? Siuman, maksud mereka?
  169. Setiap kita tidur, ia datang malam-malam dan tidur di muka pintu
  170. besar mukanya. Tapi herannya kata mereka, pakaiannya bagus.
  171. Adegan kedua
  172. Adegan ketiga
  173. PEREMPUAN TUA. (gembira) Dari tadi aku menanti. Satilawati,
  174. SUKSORO. (tertawa) Bukan karena sakit, bi. Maklum.
  175. PEREMPUAN TUA. (tertawa) Tuan juga percaya kepada dukun?
  176. ASMADIPUTERA. Sebelum kejadian itu aku tidak percaya. Per-
  177. caya ... Tapi ... aku dengar, Ishak ada menulis buku.
  178. Adegan kelima
  179. SATILAWATI. Dengan itu saja, pengarangnya telah dapat hidup
  180. di telingaku terus, apalagi, waktu hendak tidur.
  181. putera apa cita-cita pengarang-pengarang muda sebenarnya.
  182. Dan jika Indonesia telah merdeka, Indonesia tidak perlu lagi
  183. dukan pengarang-pengarang negara lain. Kedudukan yang bebas
  184. di kota Jakarta dan di rumah mengarang, mengarang dengan
  185. SUKSORO. (lekas menutup muiut Satilawati, memandang kepada
  186. SATILAWATI. (tidak tahu, apa yang harus dibuatnya) Lihat ayah ...
  187. SATILAWATI. (agak marah) Jangan ayah berkata begitu juga. Ishak
  188. JAMAN JEPANG
  189. Kota Harmoni
  190. nya ke hidungnya yang mancung sererti hidung orang Yahudi. Katanya,
  191. hari. Tangan kanannya mengingsut lengan kebayanya, tetapi lengan
  192. dektur bibirnya ditariknya ke kanan seperti monyet, dan katanya,
  193. nya. Beberapa orang berpekikan, "Hai nanti dulu. Mau turun."
  194. Nippon itu, "Hai, engkau apa? Naik dari jendela. Tak tahu aturan."
  195. Jawa Baru
  196. Pasar Malam Jaman Jepang
  197. Sanyo
  198. "Sedikit saja jadi, bang. Penghilang-hilangkan lapar. Dari tadi
  199. orang laki-laki pula. Kata orang laki-laki itu, "Kacang sepicis bang."
  200. Mata-mata ini. Ayo mari ke kantor polisi. Jahanam."
  201. Fujinkai
  202. berjanji dengan tukang ayam. Ditukar dengan baju rombeng-rombeng."
  203. 'Nyonya Salim, saya tak dapat menolong. Sudah ditetapkan begitu."
  204. kasih melulu. Aku permisi pulang."
  205. Oh...Oh...Oh..!
  206. Lebhnya ..."
  207. Heiho
  208. kalau dapat, surat itu ditulis dalam bahasa Nippon saja."
  209. itu. Tapi ini jangan engkau sampaikan pula nanti di rumah. .."
  210. mudah-mudah. Tokh artinya sama juga."
  211. Kisah sebuah celana pendek
  212. Surabaya
  213. Indonesia harus menyerahkan senjatanya kepada sekutu! Persis seperti
  214. diri menghindarkan panas itu, tapi manusia tiada berbuat apa-apa.
  215. Seorang perempuan tua menjadi gila. Ia sebenarnya tidak mau
  216. 'Aku tidak mau lari. Biar mati bersama-sama barangku."
  217. hendak pergi ke peralatan. Ia teius tersenyum dan mengajak orang-
  218. jahat. Pengalaman ini nyonya. Apa merek radio nyonya?"
  219. henti berjalan. Dikerutnya keningnya seperti orang berpikir dan tiba-tiba ia menangis keras-kera3 dan berteriak, 'Barang-barangku,
  220. membelai-belai barang-barangnya dan radio Erresnya. Di udara, di atas kaum pelarian, sering terbang burung-burung
  221. berjalan. Di belakang mereka asap, api kebakaran, cowboy-cowboy dan
  222. terbakar, ayam Eropahnya, anaknya dan tempat tidur keronya. Sedang
  223. orang perempuan melahirkan anak. Ibu-ibu yang beruntung itu merasa
  224. gendutnya mereka melarikan diri dari maut dan di tengah jalan perut-
  225. perut gendut itu tiba-tiba menjadi kempes dan terdengar teriakan
  226. bayi. Tidak banyak orang yang mengacuhkan nasib ibu-ibu ini. Mereka
  227. Yang satu mengatasi yang lain, "Bunuh saja!"
  228. kepala kereta api."
  229. pada waktu listrik kontak tiba-tiba. Di ambang pintu berdiri kepala
  230. Ini harus kita lapurkan kepada polisi."
  231. maju ke depan dan berkata, "Tidak bisa, pak. Tindakan polisi tidak
  232. Orang banyak berteriak tanda setuju, "Ya, bunuh! Bunuh! tidak
  233. sebentar ia tersenyum sendirian, ia baru kawin dan sekarang pergi
  234. Keheran-heranan dan ketakutan perempuan muda itu mengikuti
  235. lain, semua pakai revolver di pinggang seperti kenpei Jepang. Seorang
  236. perempuan muda itu. Ia ini pucat seperti kapur dan pikirannya me-
  237. selopnya, ia dipukul dari belakang. Ia terjatuh ke atas tanah. Hidung-
  238. nya berdarah. Beberapa pukulan lain tiba di bagian badannya yang
  239. Selopnya bukan biru tapi hitam."
  240. ping dan kata mereka, "Tutup mulutmu, Parman! Engkau buta warna."
  241. Dan waktu mereka hendak meneruskan memukul, datang polisi
  242. maafkan mereka. Mereka muda-muda dan berjuang untuk Tanah Air."
  243. penderitaan dengan tidak mengeluh dan mereka tidak tahu, mengapa
  244. mereka harus menderita sedemikian benar beratnya. Semuanya bagi
  245. pekerjaan ini dilakukannya dengan hati yang tetap, semangat yang
  246. kayu yang hangus-hangus keluar asap seperti asap rokok Zipper
  247. berbau aether dan air mawar. Scbentar-sebentar terdengar ledakan,
  248. mereka berjuang untuk keadilan. Dan untuk mengeraskan ucapan itu
  249. ditambahkannya, "Jika yang kuat tidak berjalan di atas jalan keadilan,
  250. bagamanapun juga kuatnya, ia akan diberi Tuhan kekalahan dan mala-
  251. petaka." Tapi jenderal-jenderal zaman duapuluh berpendapat lain,
  252. Jalan lain ke Roma
  253. Anak-anak yang berpihak pada pendapat pertama lebih banyak
  254. yang berteriak keras-keras: selamat pagi, guru goblook ... blok ...
  255. bioook. Atau jika ia pagi-pagi masuk dengan sepeda antiknya ke dalam
  256. anak-anak menamakan engkau guru goblok?"
  257. yang rindang. Pelan-pelan ditutupnya matanya dan tiba-tiba ia ter-
  258. pir mati kelaparan. Sebab itu carilah pekerjaan "
  259. Sejak itu Open ditutup dalam kamar terkunci. Badannya tambah
  260. harga kemerdekaan. Kemerdekaan ada dua macam: kemerdekaan jas-
  261. mani dan kemerdekaan rohani. Kemerdekaan jasmani boleh diambil
  262. orang lain, seperti halnya dengan dirinya sekarang ini, tapi kemer
  263. nya menjulang tinggi tembok empat persegi. Tapi kemerdekaankah
  264. tujuan hidup? Tidak kemerdekaan hanya alat untuk mencapai tujuan
  265. Buat orang lain mungkin jawaban ini bermacam-macam, tapi
  266. karena Open dididik dalam masyarakat Islam dan pernah jadi mualim
  267. pertanyaan ini lekas terjawab, yaitu: Menjunjung tinggi perintah Allah;
  268. agar dapat masuk ke dalam Surga dan di sini dapatlah ia bertemu
  269. Pada waktu yang lain, ia ingat kepada ibunya: Open, engkau
  270. Terus terang ... Kebenaran. Ibunya memang bukan orang desa lagi,
  271. sederhana, ia mengucapkan segala-galanya secara sederhana pula, ia
  272. Sejak Open menjadi pengarang, ia banyak membaca buku-buku
  273. filsafat. Pada waktu ia dalam penjara Kerpeitai ini, dalam mana ia
  274. kadang-kadang hampir-hampir menjadi gila dan putus asa, selalu di-
  275. tutup dalam kamar kecil, buang air besar dan buang air kecil, makan
  276. dan minum di tempat iu juga, pada waktu penderitaannya memun
  277. cak, hanya satu ahli filsafat yang menemani kesengsaraannya: Boethius.

RIWAYAT HIDUP PENGARANG

IDRUS

Nama : A. Idrus Pendidikan : Tamat HIS di Padang, tahun 1936. Tamat MULO di Jakarta, tahun 1940. Tamat AMS/SMT di Jakarta, tahun 1943. Tamat Kursus Moderne Bedrijfsadministratie di Utrecht (Belanda) 1953. Master of Arts 1975 (Monash University. Melbourne, Australia) dalam Sastra Indonesia. Sedang mengejar gelar Doktor dalam Sastra di Monash University juga. Pengalaman: Redaktur Balai Pustaka dari 1943 sampai 1944. Redaktur pada Perserikatan Oesaha Sandiwara Djawa (POSD) dari 1944 sampai 1946. Redaktur Balai Pustaka dari 1947 sampai 1950. Kepala Pendidikan pada Garuda Indonesian Airways dari 1950 sampai 1953. Direktur Penerbit Tintamas dəri 1953 sampai 1956. Kepala Umum dari Perusahaan Teknik Umum dari 1956 sampai 1961. Pemilik Penerbit Bi-Karya Publication di Kuala Lumpur dari 1961 sampai 1965. Senior Lecturer pada Monash University Melbourne dari 1965 sampai 1978. Sekarang pensiunan Monash University. Buku-buku yang telah terbit:

  1. Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma. pada Balai Pustaka, cetakan pertama 1948.
  2. Surabaya, pada percetakan Merdeka, 1947.
  3. Aki, pada Balai Pustaka, 1949.
  4. Keluarga Surono, percetakan Medan, 1950.
  5. Hati Nurani Manusia, pada Dunia Pustaka Jaya, 1975.
  6. Hikayat Putri Penelope. pada Balai Pustaka, 1974.
  7. Hikayat Petualang Lima, di Majalah Dialog (dari No. 5 sampai No. 12 tahun 1978).

    Dari Ave Maria

KE

JALAN LAIN

KE ROMA

PN BALAI PUSTAKA — JAKARTA

PN BALAI PUSTAKA

b8

RIWAYAT HIDUP PENGARANG

Nama : A. Idrus Pendidikan : Tamat HIS di Padang, tahun 1936. Tamat MULO di Jakarta, tahun 1940. Tamat AMS/SMT di Jakarta, tahun 1943. Tamat Kursus Moderne Bedrijfsadministratie di Utrecht (Belanda) 1953. Master of Arts 1975 (Monash University, Melbourne, Australia) dalam Sastra Indonesia. Sedang mengejar gelar Doktor dalam Sastra di Monash University juga. Pengalaman: Redaktur Balai Pustaka dari 1943 sampai 1944. Redaktur pada Perserikatan Oesaha Sandiwara Djawa (POSD) dari 1944 sampai 1946. Redaktur Balai Pustaka dari 1947 sampai 1950. Kepala Pendidikan pada Garuda Indonesian Airways dari 1950 sampai 1953 Direktur Penerbit Tintamas dəri 1953 sampai 1956. Kepala Umum dari Perusahaan Teknik Umum dari 1956 sampai 1961. Pemilik Penerbit Bi-Karya Publication di Kuala Lumpur dari 1961 sampai 1965. Senior Lecturer pada Monash University Melbourne dari 1965 sampai 1978. Sekarang pensiunan Monash University. Buku-buku yang telah terbit:

  1. Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma, pada Balai Pustaka, cetakan pertama 1948.
  2. Surabaya, pada percetakan Merdeka, 1947.
  3. Aki, pada Balai Pustaka, 1949.
  4. Keluarga Surono, percetakan Medan, 1950.
  5. Hati Nurani Manusia, pada Dunia Pustaka Jaya, 1975.
  6. Hikayat Putri Penelope. pada Balai Pustaka, 1974.
  7. Hikayat Petualang Lima, di Majalah Dialog (dari No. 5 sampai No. 12 tahun 1978).

    bpPN BALAI PUSTAKA — JAKARTA

DARI AVE MARIA KE JALAN LAIN KE ROMA

IDRUS

Dari

AVE MARIA

Ke Jalan Lain Ke ROMA

bp PN BALAI PUSTAKA—JAKARTA 1978

KATA PENGANTAR pada cetakan ke-enam Penerbit dan Pencetak: PN BALAI PUSTAKA Karangan Idrus 'Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma" yang terkenal dan kini sudah berusia 30 tahun, kami tampilkan kembali BP no. 1655 untuk ke-enam kalinya. Buku ini memuat kisah kisah dari zaman Revolusi yang ditulis dengan Hak Pengarang dilindungi Undang-Undang gaya khas Idrus. Anda pasti ingat bahwa karya sastra Idrus ini me- rupakan pembaharuan dalam sastra Indonesia, khususnya dalam prosa. Suatu pendahuluan yang menyoroti "Dari Ave Maria ke Jalain Lain Cetakan pertama 1948ke Roma" yang ditulis oleh kritikus ternama H.B. Jassin, kiranya Cetakan kedua 1953dapat memperjelas kedudukan karya ini dalam khasanah sastra Cetakan ketiga 1959 Indonesia serta sekaligus dapat menghubungkan pembaca dan pengarang. Cetakan keempat- 1971 Cetakan kelima-- 1975Semoga di tengah lautan terbitan pop sekarang ini, karya ini tetap Cetakan keenam-1978 nerupakan suatu pulau persinggahan yang nyaman bagi para pencinta sastra.

PN Balai Pustaka Jakarta, 1978

Kata Pendahuluan

ZAMAN Jepang melahirkan Chairil Anwar dan Idrus, masing- masing pembaharu puisi dan prosa. Pembaharuan itu tidak berarti sekiranya hanya mengenai bentuk belaka, tapi dalam hal ini perubahan lahir itu berakar pada perubahan jiwa. Perubahan jiwa yang dimasak ke arah dewasa selama tiga setengah tahun tekanan mengenai pikiran dan perasaan serta keadaan ekonomi yang menggoncangkan seluruh watak manusia Indonesia. Baik pada Idrus, maupun pada Chairil Anwar pelarian ke dasar jiwa sebagai benteng yang tidak bisa direbut. Dan berkat watak yang kuat keluar kembali lebih jernih melihat sekitar dengan dasar yang lebih teguh. Di dalam buku ini dikumpulkan beberapa karangan Idrus dari semenjak kedatangan Jepang tahun 1942 dan sesudah 17 Agustus 1945. Dalam "Ave Maria" dan lain-lain karangannya yang mula-mula keli- hatan romantik yang merawankan hati, di dalam sandiwara "Kejahatan membalas dendam" pendalaman ke dasar jiwa. Sandiwara ini bisa dipertunjukkan dengan cuma pakai dekor yang sangat sederhana dan tehnik yang mengarah kepada pengambilan gambar film dengan hanya permainan sorotan lampu yang tepat, karena yang penting semata- matt:t jiwa pelakon. Dengan ini Idrus mungkin dengan tidak disadarinya telah memulai percobaan baru dalam dunia penulisan sandiwara. Sebagai tulisan yang dimaksud untuk diterbitkan di masa Jepang itu, tentu- uvit keduanya tidak sunyi dari anasir-anasir semangat, pohon jarak dan propaganda buat pengumpulan padi, tapi hal ini pun perlu diketahui

dipandang dari sudut perjalanan jiwa dan sejarah zaman. Dan lagi perlu diterangkan, bahwa kedua tulisan tersebut tidak ada yang bisa lolos dari sensur Jepang, oleh karena masih dianggap terlalu indivi- dualistis dan tidak berjiwa "ketimuran" (Lihat saja kepala: "Ave Maria"', mengapa tidak "'Angklung"'?). Dari tulisan-tulisannya yang mula-mula kelihatan, bahwa Idrus tidak terus menjadi orang yang skeptis, tapi pernah mengalami romantik- nya, dan oleh karena kemudian bosan dengan romantik itu, dengan sengaja mencari jalan lain dan tiba kepada corak "kesederhanaan baru" (Nieuwe Zakelijkheid). Agak kemudian di masa Jepang juga Idrus mengarang "Corat coret di bawah Tanah", lukisan-lukisan dari kehidupan sehari-hari dipandang dengan kacamata realistis humoristis, yang hanya mungkin berhasil dengan ukuran yang benar tentang perbandingan-perbandingan di dalam kehidupan yang nyata. Dan semua itu tatkala didengung-dengungkan semboyan-semboyan "kemakmuran ber- sama". Karangan-karangan Idrus sesudah 17 Agustus 1945 menunjukkan pula pandangannya yang tepat tentang realiteit, seperti jelas ternyata dalam novellenya "'Surabaya", di kala mana sedang revolusi berkobar dengan hebatnya dengan semboyan-semboyan yang berapi-api, pengarang telah melihat dan mengeritik berbagai-bagai kekurangan yang terlihat olehnya. Dan alangkah banyaknya kekurangan-kekurangan itu, sehingga mungkin orang akan mengatakan, bahwa pengarang tidak hidup dengan revolusi bangsanya. Tapi apakah seseorang dengan mengeritik kekurangan bangsanya sudah berarti membenci dan memu- suhi bangsanya? Dengan novelle-nya "Surabaya"Idrus memberikan sesuatu yang baru kepada prosa Indonesia. Dalam bentuk nyata suatu revolusi menyalahi yang lama, dalam ini demikian pula. Dan oleh sifatnya yang dengan sengaja dan insaf menyalahi yang lama, tidak bisa diukur dengan ukuran yang lama, pun tidak cara melihat dengan mata revolusi orang-orang Indonesia seperti koboi-koboi, orang Inggris dan Belanda seperti gangsters, Tuhan lama yang diganti dengan Tuhan baru: meriam, mortir, karabijn, revolver. Lebih jauh lagi pengarang melihat revolusi, seperti penglibatannya tentang kesewenang-wenangan, perbandingan kekuatan yang sebenarnya dan tidak berdasarkan sentimen-sentimen

yang khauvinistis. Dalam hanya dua vel format oktave Idrus telah memberikan apa yang bisa diceritakan oleh romantikus avonturir tua dan muda dalam berpuluh-puluh dan beratus-ratus halaman dengan perkataan-perkataan yang indah-indah dan merayu-merayu, tapi penuh dengan kebohongan. "Jalan lain ke Roma" adalah perkawinan yang berhasil dari romantis idealisme dalam "Ave Maria" dan "Kejahatan membalas Dendam"dengan realisme "Corat Coret di bawah Tanah".

H.B. JASSIN

ISI

5 Kata Pendahuluan

JAMAN JEPANG 11
Ave Maria Kejahatan Membalas Dendam 13 21
CORAT-CORET DI BAWAH TANAH 77
lawa Baru 79 84
Fujinkai Oh ... Oh ... Oh! 88 92 96 101

Kota-Harmoni

Pasar Malam Jaman Jepang Sanyo

Heiho 106 SESUDAH 17 AGUSTUS 1945 111 Kisah Scbuah Celana Pendek 112 Surabaya 116 147 Jalan Lain ke Roma

JAMAN JEPANG

Ave Maria

MALAM bulan purnama raya. Kami duduk di beranda depan. Ayah dan ibu bercakap sebentar-sebentar. Tapi percakapan itu sudah lancarnya rupanya. Keindahan alam yang demikian, mengenangkan kami kepada suatu kejadian. Perpisahan dengan Zulbabri. Zulbahri yang dengan secara aneh berkenalan dengan kami. Bagaimana lekatnya hati kami kepada Zulbahri ternyata, waktu ibu berkata, "'Kasihan Zulbahti. Entah di mana dia sekarang. Serasa anak sendiri." Masih jelas teringat oleh kami, hari perkenalan kami dengan Zulbahri. Aneh betul. Kami sedang duduk-duduk pula di beranda depan. Hari panas alang kepalang. Adik Usup mempermain-mainkan ujung kebaya ibu, sampai kebaya itu robek dibuatnya. Hampir-hampir ia menangis dimarahi ibu. Tiba-tiba ia tertawa gelak-gelak, sambil menunjuk ke tengah jalan. Kami menoleh dan tampaklah kepada kami seorang laki-laki, sedang asyik membaca buku, sambil herjalan juga. Pakaian orang itulah yang menerbitkan tertawa adik Usup. Baju jasnya sudah robek-robek, di bagian belakang tinggal hanya benang-benang saja lagi, terkulai seperti ekor kuda. Mendengar tertawa adik Usup, ia tertegun, berhenti dan melihat kepada kami. Ia ikut tertawa. Sudah itu ia seperti orang berpikir dan tak lama kemudian, ja masuk ke dalam pekarangan kami. Ia memberi hormat kepada ayah dan ibu, lalu duduk di sebelah kursi dekat meja bundar di tengah beranda itu. Ibu sudah ketakutan saja. Tanya ayah, '"Tuan mencari saya?" JAMAN JEPANG

Banyak lagi pertanyaan ayah, tapi semua dijawabnya dengan suara yang halus sekali, sehingga tak jelas kedengaran kepada kami. Segala perkakas rumah kami yang ada di beranda depan itu, diperhatikannya satu persatu. Sudah itu matanya tertambat kepada majalah-majalah yang disimpan ayah di bawah meja bundar itu. Diusai-usainya majalah itu. Diambilnya sebuah, dimasukkannya ke dalam sakunya. Bukunya yang dibawanya ditinggalkannya di atas meja, lalu ia pergi pula. "Gila", kata ibu. Perlahan-lahan ayah pergi ke meja bundar, dianbilnya buku orang laki-laki itu, dan sesudah beberapa lama diperhacikannya, katanya, 'Hm, buku filsafat. Orang pintar juga barangkali." Keesokan harinya ia datang pula kembali. Diambilnya pula majalah yang lain, yang lama diletakkannya kembali ke tempatnya. Setiap hari ia datang. Dan setiap kali ia datang, ada saja perubahan yang membaikkan tampak pada dirinya. Bajunya tak lagi sekotor yang dulu. Sudah keluar beberapa perkataan dari mulutnya. Begitulah kami mengetahui berturut-turut, bahwa ia dulu seorang pengarang. Sungguhpun belum dikenal umum, tapi bukunya banyak juga yang diterbitkan. Keinginan kami hendak mengetahui lebih banyak lagi, tak dipenuhinya. Pada suatu hari kata ibu, "Sudah lama Zulbahri tak datang-datang. Sudah lebih seminggu canggung pula aku." Dan tak berapa lama disambungnya, sambil menunjuk ke jalan "Ha, itu dia." Kami menoleh ke arah jalan."Memang Zulbahrilah itu. Seperti biasa ia tertawa masuk, lalu duduk. Segala perbuatan Zulbahri bagi orang yang baru mengenal dia, aneh. Tapi bagi kami sudah biasa pula. Zulbahri menarik nafas panjang-panjang. Tanya ibu, 'Mengapa sudah lama tak datang-datang, Bahri?" Sangat terkejut kami, waktu Zulbahri berkata terus menerus, tak berhenti-henti. Belum pernah kejadian yang demikian. Seakan-akan ceritanya itulah jawaban atas pertanyaan ibu. Matahari sudah mulai condong ke Barat. Sebentar lagi ia akan hilang dari pandangan mata. Lampu di beranda depan sudah dipasang ibu. Zulbahri terus juga bercerita. Kami mendengar dengan sepenuh- penuh perhatian. AVE MARIA

Kami bahagia. Aku dengan istriku. Sudah delapan bulan kami kawin. Wartini belum juga mempunyai tanda-tanda, ia akan segera mendapat anak. Sungguhpun begitu cinta kami sedikit pun tak berkurang. Ka- ranganku bertambah lama bertambah mendapat perhatian umum dan ahli-ahli. Tapi aku selalu dalam ketakutan saja. Terasa kepadaku, bahwa kebahagiaan yang demikian takkan selama-lamanya. Nanti tentu akan datang masanya, bahagia itu bertukar dengan kesusahan dan sengsara. Tapi dari mana datangnya kesusahan itu, itulah yang menjadi pertanyaan besar bagiku. Sungguhpun begitu aku yakin, bahwa kebahagiaan itu takkan lekas betul meninggalkan kami. Kami baru delapan bulan saja kawin. Setiap hari kucoba menghilangkan perasaan takut itu. Hampir-hampir aku berhasil, hampir-hampir aku berpendapat, bahwa bahagia itu takkan meninggalkan kami buat selama-lamanya. Hampir-hampir tak masuk ke dalam akalku, aku, aku nanti akan menderita kesengsaraan. Tapi pada waktu itu pulalah mulai pertukaran bahagia kami dengan sengsara yang akan datang. Aku menerima surat dari Syamsu, adikku, dari Shonanto. Dua hari dua malam suratnya itu kusimpan dalam sakuku, kubawa ke mana-mana. Surat yang menjadikan pikiranku kacau balau, pekerjaanku terbengkalai. Matahari sudah lama terbenam. Bulan purnama mulai naik perlahan-lahan, memancarkan sinarnya, melalui daun-d.un jarak di peka- rangan, menerangi pekatangan itu. Zulbahri terus juga bercerita, kadang-kadang lambat-lambat, kadang-kadang cepat-cepat. Dua hari dua malam surat itu kubawa ke mana-mana. Pada malam ketiganya kami sedang duduk di ruang dalam rumah. Maksudku tetap sudah hendak membicarakan isi surat itu dengan Wartini. Tapi lidahku kaku. Kalimat-kalimat yag sudah kuapal-apalkan untuk di- katakan kepada Wartini, hilang dari ingatanku. Aku berjalan ke jen- dela. Mataku memandang ke langit bertaburan bintang. Hatiku mulai terbuka kembali, waktu melihat keindahan alam itu. Wartini, indah betul malam ini. Seperti pada malam pertemuan kita benar. Lihatlah ke bintang yang berleret tiga buah itu. Entah karena apa, perkataanku itu menimbulkan syak wasangka dalam hati Wartini. 2 DARI AVE MARIA

Adakah yang hendak kaubicarakan dengan daku, Zul? Cerita-

kanlah. Perkataan Wartini menambah semangatku Jntuk menguraikan segala-galanya kepadanya. Begitulah kami termenung keduanya, setelah kuceritakan bahwa Syamsu, adikku hendak pindah dari Shonanto ke Jakarta dan hendak tinggal bersama kami. Kuterangkan pula, bahwa aku tak dapat menolak. Jika kutolak, aku dipandang rendah oleh orang kampungku. Wartini pun mengerti tentang hal itu. Dan tentang bahayanya Syamsu tinggal bersama kami, terus terang pula kuuraikan kepada Wartini. Takutmu berlebih-lebihan, Zul. Aku cinta kepadamu. Syamsu hanya teman mainku di waktu kecil. Cinta demikian tak masuk ke dalam hati. Cinta monyet, kata orang. Perlu pula kuterangkan, bahwa selama aku kawin dengan Wartini sekali-sekali ada timbul perasaan kepadaku, bahwa perbuatanku kepada Syamsu salah adanya. Syamsulah yang sebenarnya berhak mendapat Wartini. Anehnya, sungguhpun Wartini menerangkan, bahwa ia hanya menyintai aku sendiri, tapi hatiku terus berkata, bahwa Wartini lebih dekat kepada Syamsu. Aku merasa diriku sebagai seotang perampok. Syamsu datang dari Shonanto. Katanya ia kurang senang sekolah di sana. Pernah ia berkelahi dengan seorang guru besar. Sebab itu ia akan mencoba untungnya di Sekolah Tabib Tinggi di Jakarta. Mintakan saja aku dapat lulus di sini. Nah, sudah itu orang akan memanggili aku "'doktor Syamsu''. Tak ada yang dapat dicela tentang pergaulan Syamsu dan Wartini. Keduanya hormat menghormati. Hatikui jugalah yang berkata-kata, bahwa aku adalah seorang perampok. Hatiku berkata, aku berdosa terhadap Syamsu. Dan kata hatiku, cinta Wartini tak lama lagi akan timbul kembali terhadap Syamsu. Perasaan-perasaan yang demikian menjadikan daku menjadi sangat curiga. Segala percakapan Wartini dengan Syamsu kupikir-pikirkan, kalau-kalau ada mempunyai arti yang lain. Dan sering pula kudengar- kan percakapan orang itu dari balik dinding. Tapi sekalipun belum pernah aku mendengar perkataan Syamsu yang meliwati batas. Syamsu tetap menjaga kesopanan. Bulan semakin terang juga. Dari jauh kedengaran bunyi seruling, AVE MARIA

styup-sayup sampai. Daun-daun jarak berdesir-desir ditiup angin malam. Mereka, Wartini dan Syamsu sering bermain musik bersama-sama. Wartini bermain piano dan Syamsu bermain biola. Sejak datang Syausulah, Wartini mulai bermain piano kembali. Sekali, malam-malam, Wartini dan Syamsu memainkan lagu Ave Maria, karangan Gounod. ∧ku waktu itu sedang sakit kepala sedikit dan tidur saja dalam ka- marku. Asyik betul mereka bermain, bunyi biola Syamsu sangat mengharukan hati. Pertengahan lagu itu mengenangkan kepada seorang yang huupir putus asa, memekik ke arah langit, meminta pertolongan dari yang Maha Kuasa. Mereka bermain penuh perasaan .. Dan sesudah labis lagu itu, kedengaran olehku sedu orang menangis. Terdengar pula Syamsu lekas-lekas meletakkan biolanya di atas piano. Mengapa menangis, Tini? Engkau bersedih?" 'Aku terkenang kepada masa silam. Pernah kita memainkan lagu ini dulu bersama-sama." 'Ya, waktu itu takkan dapat kulupakan selama-lamanya, Tini. Waktu itu aku sedang penuh dengan cita-cita yang sangat tinggi." 'Dan semua cita-cita itu kandas, bukan, Syam? Engkau tak me- neruskan pelajatan biolamu." 'Ya ... dan gadis yang kucintai hilang dari pclupuk mataku. Hatiku berdebar-debar." Kedengaran sedu Wartini bertambah- tambah. "Tapi, mengapa engkau menangis, Wartini." Pertanyaan Syamsu itu kuulangi pula sendiri perlahan-lahan dan telingaku kupasang baik-baik. Halus sekali kedengaran suara Wartini. "Syam, dapatkah seorang perempuan mencintai dua orang laki-laki sekali?" "Tidak, Tini. Hanya seorang ibu kepada anak-anaknya dapat.

Eingkau sehat, Wartini. Hanya aku ..."

Perkataan Syamsu tak diteruskan. Tapi aku mengerti sudah. Mataku berkunang-kunang. Pikiranku kacau. Zulbahri melihat ke bulan purnama yang bertambah lama ber- tumbah terang juga. Kami menahan nafas kami sejurus. Cerita Zulbahri sangat mengharukan hati kami. Di jalan tak ada orang lagi hilir mudik. Di sekeliling rumah sepi hening. Bunyi seruling masih kedengaran dari JAMAN JEPANG

j:ulı, lagu bersedih. Tinggi sekali bunyi seruling itu, seakan-akan pe- mainnya hendak mencari penghibur sedih jauh dari dunia ini. Kukenakan pyamaku. Kuberanikan hati. Perlahan-lahan aku keluar mendapatkan Syamsu dan Wartini. Melihat ak, Wartini terkejut, gugup katanya, 'Kukira engkau sudah tidur, Zul." "Masakan dapat aku tidur, mendengarkan musik yang semerdu itu." ""Tapi, meugapa engkau menangis, Tini? Kareta musik barang- kali? Dalau tonan sering kubaca, orang menangis karena musik. Baru sekatang akıt tahut, hal itu tmungkin juga kejadian dalam kehidupan schati hari." Scjutus lamanya kami berpandang-pandangan. Sekali lagi kuberanikan diriku dan tegas kataku, "Semua kuketahui, Tini. .. '"T'idak, Syam, bukan maksudku hendak mengatakan, kelakuanmu kurang senonoh. Tapi aku hanya hendak mengatakan bahwa perasaan hatiku benar adanyi Wartini adalah hakmu." Sudah itu aku meninggalkan kota Jakarta. Tiba aku di Malang. Di sana kucoba menghilangkan ingatan kepada Wartini. Tapi tak dapat. Badanku bertambah lama bertambah kurus juga. Bajuku tak kuhiraukan lagi. Bercakap pun sedapat-dapatnya kuhindarkan. Tetangga-tetangga menyangka pikiranku sudah bertukar. Aku masuk ke dalam rumah sakit. Tiga bulan aku di rumah sakit, aku keluar kembali. Kata dokter aku tak boleh pergi ke Jakarta. Sedapat-dapatnya harus meninggalkan pulau Jawa. Tapi perkataan dokter tak kudengarkan. Seminggu sudah itu aku sudah ada di Jakarta. Maksudku hendak meminta Wartini kembali kepada Syamsu. Di tengah jalan sering betul pikiranku bulak balik. Sekali-sekali ada pula timbul putusau hendak membunuh Wartini dan Syamsu dan aku sendiri sekali. Di sini Zulbahri berhenti sebentar. Tak scoraug juga dari pada kami, yang betani menyela cerita Zulbahri. Dikeluarkannya sapu tangan- nya, dihapusnya air matanya yang metgctai pipinya. Kedengarannya susah ia hendak menetuskau petcakapannya. Tiba di Jakarta aku terus menuju rumah Syamsu dan Wartini. Dari jauh sudah kedeugaran bunyi piano dan biola,... lagu Ave Maria. Aku tahu mereka sedang mengenangkan zamen silam, kebahagiaan mereka. Piano berbunyi cepat sekali, sedang bicla mendengarkan AVE MARIA

Andante yang sesempurna-sempurnanya. Seperti pencuri kudekati ru-

mah itu. Dari jendela kaca ku menengok ke dalam rumah. Pandanganku tertambat kepada Wartini semata. Kelihatan mukanya berseri, badan- nya agak gemuk sedikit. .. Wartini sedang hamil. Sungguh berbahagia engkau Wartini. Tidak, tidak, aku takkan mengganggumu. Teruskanlah lagu Ave Maria itu, lagu bahagiamu berdua. Kami terharu dan kasihan mendengarkan cerita Zulbahri itu. Ia menengadah ke langit bertaburan bintang itu. Air ınatanya tergenang. Aku lari kembali dari rumah yang sedang diliputi bahagia itu. Tiba di hotel aku menangis, ya, menangis aku ... Keadaan keuangan tak mengizinkan lagi untuk tinggal di hotel lama-lama. Aku pergi tinggal di sebelah rumah di sebelah gang kecil. Yang menjadi hiburan bagiku tinggal hanya buku-buku lagi. Aku selalu mencari, mencari tempat jiwaku dapat bergantung. Sekian lama aku mencari, tapi sia-sia belaka. Aku menjadi tak acuh kembali kepada diriku. Pakaianku tak kuhiraukan pula. Kadang-kadang pakai sepatu, kadang-kadang tidak. Surat-surat kabar tak pernah kubaca lagi. Karangan-karangan tentang berkurban untuk tanah air kuejekkan saja. Kurbanku kupandang lebih besar lagi dari mereka yang berjibaku. Angin malam mulai meresapkan pengaruhnya. Badan berasa dingin. Bulu-bulu tangan berdiri tegak karena dingin. Begitulah keadaanku sampai waktu kita berkenalan buat pertama kalinya. Aku heran sekali. Waktu aku melihat majalah-majalah di bawah meja bundar ini, entah dari mana timbul keinginanku hendak membaca cerita pendek yang selalu ada dalam tiap-tiap majalah itu. Kuakui, sangatlah besar pengaruhnya cerita-cerita pendek itu kepada jiwaku. Baru aku insaf, bahwa kehidupanku yang dulu-dulu itu semata- mata berdasarkan kepentingan diri sendiri belaka. Aku sangat me- nyesal. Angin malam mendesir-desirkan daun-daun jarak. Bulan semakin terang. Zulbahri berhenti bicara. Dari kantongnya dikeluarkannya se- helai kertas, diberikannya kepada ayah. Air teh yang disediakan ibu dia tak disinggung-singgungnya. Ia berdiri, lalu meninggalkan kami. Lipatan kertas dibuka oleh ayah. Dibacanya. Dan perlahan-lahan katanya, "Ia telah masuk barisan jibaku." JAMAN JEPANG

Kami ketiga-tiganya termenung sebentar. Tanya ibu. "Karena affair percintaan itu?" Lekas ayah menggelengkan kepalanya, dan tegas katanya, "Tidak, Lastri. Bacalah sendiri suratnya ini. Semua terasa keluar dari hati yang tulus ikhlas hendak berkurban untuk nusa dan bangsa.KEJAHATAN MEMBALAS DENDAM Bacalah pada penghabisan suratnya: ini adlalah sehagai pembayar utang-(sandiwara dalàm empat babak) ku kepada tanah air yang sudah sekian lama kulupakan karena meng- ingat kepentiagan diri sendiri." PARA PELAKU Pada malam seperti ini pula Zulbahri berpisah dengan kami buat selama-lamanya. Siapa yang takkan terkenang kepada kejadian itu. ISHAK,Pengarang muda. Kami melinat ke bulan purnama raya, dengan segala kenang-kenanganSATILAWATI Tunangannya. kepada Zulbahri yang telah dapat memperbaharui jiwanya. Dari radioKARTILI, Dokter, teman Ishak. amum kedengaran lagu Menuetto in G dari Beethoven. ASMADIPUTERA Meester in de rechten, teman Ishak. SUKSORO, Pengarang kolot, ayah Satilawati. PEREMPUAN TUA, Nenek Satilawati.

BABAK PERTAMA Tonil merupakan sebuah jalan yang sepi di Jakarta. Di sebelah kanan agak ke muka sebuah lentera gas, menerangi jalan itu sedikit ketika layar dibuka. Adegan pertama Seoreng. polisi agen mondarmandir, lelu pergi. Adegan kedua Sudah itu muncul dari kanan seorang perempuan muda, melihat ke sana ke mari Adegan ketiga Dari sebelah kiri masuk seorang laki-laki. Orang-orang dalam babak ini berbicara seperti ketakutan, tidak lepas suaranya. AVE MARIA JAMAN JEPANG

ISHAK. Tepat betul datangnya. Pukul sepuluh. Hari Selasa.

SATILAWATI. (terkejut) Aku kira engkau tidak akan datang.

ISHAK. Asmadiputera dan Kartili mana?

SATILAWATI. Segera menyusul. Apa yang akan kau katakan ke-

padaku?

ISHAK. Banyak sekali. Tapi yang terpenting ialah: aku cinta padamu.

SATILAWATI. Kalau itu tidak perlu di sini benar. Mari kita ke

rumah. ISHAK. Aku akan pergi. SATILAWATI. Pergi? Ke mana?

ISHAK. Jauh, jauh sekali. Di rumahmu aku tidak dapat bercakap.

SATILAWATI. Mengapa? ISHAK. Tidak boleh orang mendengarnya, ayah pun tidak. SATILAWATI. Tapi ayah selalu baik kepada kita. Lagi ia tidak ada

di rumah sekarang. Pergi menjemput nenek ke setasiun.

ISHAK. Yang baik sekarang ini hanya Asmadiputera, Kartili dan eng-

kau, Satilawati. SATILAWATI. Aku seperti main dalam cerita derektip saja rasanya. ISHAK. Tidak banyak bedanya, Satilawati. Aku harus berbicara dengan

tunanganku dalam gelap, di jalan yang sunyi.

Ha, ha, ha, ha.

SATILAWATI. Tapi apa yang hendak kaukatakan? ISHAK. Engkau pelupa rupanya. Sebentar ini baru kukatakan. Aku

cinta padamu dan aku akan pergi.

SATILAWATI. Engkau menyebutkan cinta dan pergi itu dalam satu

nafas saja. Seakan-akan ada hubungannya antata kedua itu. ISHAK. Pasti ada. Keduanya bertaut dalam hatiku. Aku sedih me-

ninggalkan engkau.

SATILAWATI. Mengapa?

ISHAK. Karena mungkin kita tidak akan bertemu lagi. Aku pergi,

jauh, jauh sekali. SATILAWATI. Ke mana?

ISHAK. Ke tempat aku dipahamkan orang. SATILAWATI. (beran) Orang siapa? ISHAK. Orang manusia.

KEJAHATAN MEMBALAS DENDAM

SATILAWATI. Di sini engkau tidak dipahamkan orang? Itu sebabnya engkau pergi meninggalkan aku? ISHAK. Ya, ya, engkau mengerti maksudku. Itu sebabnya aku cinta padamu. SATILAWATI. Tidak ada sebab yang lain? ISHAK. (kemalu-maluan) Tentu ada. Engkau cantik. SATILAWATI. Tapi mengapa engkau pergi? ISHAK. Itu yang akan kuceritakan kepadamu sekarang. Aku dalam bahaya. SATILAWATI. Bahaya apa? ISHAK. Aku mungkin dipandang pengkhianat oleh rakyat. SATILAWATI. Karena apa? ISHAK. Karena karanganku. SATILAWATI. Romanmu itu, maksudmu? ISHAK. Ya, "Hari ketiga Nippon di Indonesia"' SATILAWATI. Mengapa? Sudah diterbitkan, bukan? ISHAK. Ya, semua hartaku telah habis kujual untuk menerbitkan buku itu. Rugi semata. SATILAWATI. Tapi mengapa engkau akan dipandang pengkhianat? ISHAK. Perasaanku saja begitu. Setelah membaca keritik Pak Orok dalam suatu majalah. SATILAWATI. Pak Orok itu siapa? ISHAK. Pengarang kolot. Nama samarannya begiíu. Tapi aku tahu juga siapa orangnya. Pengecut! SATILAWATI. Keritiknya itu bagaimana? ISHAK. Membalik-balikkan maksudku yang sebenarnya dalam roman itu. Sehingga aku mungkin dipandang pengkhianat oleh rakyat, tapi maksudku suci. Engkau telah baca romanku? SATILAWATI. Belum lagi. ISHAK. Telah kusangka. SATILAWATI. Apa? ISHAK. Tunangan pengarang tentu tidak suka membaca roman tu- nangannya sendiri.

SATILAWATI. Bukan itu sebabnya. Aku repot pekerjaan. Jururawat

dibutuhkan betul tenaganya sekarang. ISHAK. Aku bangga engkau jadi jururawat. Membela nusa di garis

JAMAN JEPANG

belakang. Aku juga dengan tulisanku. Tapi rakyat belum mengerti Pak Orok juga. SATILAWATI. Apa yang kau tulis dalam roman ¿tu? ISHAK. Biasa saja. Tapi caraku menulis lain. Itu yang tidak dapat dipahamkan orang. SATILAWATI. Jadi engkau akan meninggalkan Indonesia maksudmu? ISHAK. Kalau dapat, ya. Aku hendak pergi ke Moskow atau ke Tokio. Di sana orang akan memahamkan aku. Tapi sekarang susah. Aku hendak menyembunyikan diri dulu. SATILAWATI. Di mana? ISHAK. Di gunung. Di tempat yang sepi. SATILAWATI. Jadi bagaimana dengan kita? ISHAK. Aku akan tetap cinta padamu. Tapi aku tidak dapat berbuat apa-apa. SATILAWATI. Perkara cinta jangan disebut juga. Engkau tahu sen- diri, aku cinta pula padamu. Tapi apa maksudınu? ISHAK. Aku tidak mau mengikuti engkau. Artinya engkau jangan menunggu aku. Kawin saja dengan orang lain. SATILAWATI. (berontak) Tapi itu aku tidak mau, tidak bisa. Engkau boleh pergi sekarang, tapi lekas kembali. Aku tetap menunggu engkau. ISHAK. Jangan berkata begitu, Satilawati. Hatiku bertambah rusak pergi ini. Lepas aku, seperti melepaskan butung dari sangkar. Banyak orang yang akan mau lagi dengan engkau. SATILAWATI. Ya, aku tahu. Tapi yang berkenan dalam hatiku, hanya engkau. Jika engkau pergi, aku akan menangis dalam hatiku. Aku akan jatuh sakit. Tapi aku selalu menunggu engkau. Ketahuilah itu. ISHAK. Jika aku dapat kembali, tentu aku akan kembali kepadamu. Tapi itu tidak akan terjadi. Aku selalu akan dicemoohkan orang. SATILAWATI. Di gunung itu pun engkau akan dikenal orang. ISHAK. Rupaku akan berobah di sana. Itu akan kujaga. Tapi aku akan terus mengarang ... buku tebal, tebal sekali. SATILAWATI. Percuma engkau mengarang, jika tidak akan diterbitkan. ISHAK. Bagi pengarang bukan diterbitkan itu yang menjadi soal. KEJAHATAN MEMBALAS DENDAM

Yang penting ialah, tulis, tulis apa yang ke luar. (memegang kepala). SATILAWATI. Sudah pasti padamu, rakyat bisa dihasut Pak Orok? Namamu akan jadi rendah oleh karena itu? ISHAK. Pasti, seperti engkau ada di sini. Pak Orok seorang pengarang yang disukai orang, disukai rakyat. Kata pak Orok adalah hukum bagi rakyat, diturutkan rakyat begitu saja. Rakyat kita masih picik. SATILAWATI. Sayang sekali aku belum membaca roman itu. ISHAK. Aku bersyukur engkau belum membacanya. Engkau pasti akan berpihak pula kepada Pak Orok. Engkaupun tidak akan bisa menangkap apa yang kumaksud sebenarnya. SATILAWATI. Apa? ISHAK. Aku juga mengarang untuk nusa dan bangsa. Tapi caraku lain, bukan cara tukang pidato semangat. SATILAWATI. Pasti aku bisa menangkap maksudmu. Aku bisa meng- hargakan karangan yang begitu. Segalanya diceritakan dengan kiasan dan sindiran. ISHAK. Engkau selalu menimbulkan semangatku untuk berjuang, berjuang mati-matian untuk memahamkan pengarang kolot akan cara baru. Cerita semangat juga, tapi dengan cara baru. Tapi sekarang ini aku mesti pergi, jauh, jauh sekali. SATILAWATI. Engkau pengarang pengecut! ISHAK. (terkejut) Mengapa? ... (mengelub) Ah, engkau juga! SATILAWATI. Pengecut. Sedikit diserang keritik orang, engkau hendak melarikan diri. Untuk menjaga nama, supaya jangan merosot. Aku sudah maklum. ISHAK. (samlil menunjuk ke kanan). Pergi dari padaku. Engkau pun boleh memusuhi aku. Untuk cita-cita aku bersedia mengur- bankan segalanya. Juga cintaku. SATILAWATI. (merasa terhina) Satu kali engkau berkata begitu, sepuluh kali aku akan pergi dari pada kau. Apa yang kuharapkan dari padamu. Cita-citamu itu? Aku benci kepada pengarang ... (merasa terdorong berkata). Sungguhpun ayahku seorang pengarang pula. ISHAK. Satu lagi orang memusuhi aku, tidak apa. Pergilah Satilawati. JAMAN JEPANG

Rupamu yang molek jelita itu seperti menghadapi buku pengarang kolot bagiku sekarang. Pergilah Satilawati. SATILAWATI. (seperti hendak pergi) Cintaku!

ISHAK. (membuka cincin dari jarinya, mereka bertukar cincin) Jangan

kau sangka aku akan bersedih oleh karena ini. Perempuan hanya alat saja bagi laki-laki, alat untuk mencapai sesuatu. Tapi aku akan mencoba dengan tidak pakai perempuan. Aku kira aku akan berhasil, pasti berhasil. SATILAWTI, (seperti hendak pergi). ISHAK. Ya. pergilah. Tapi satu pesanku kepadamu. Teruskan peker- jaan jururawatmu. SATILAWATI. (mengejek) Kau kira, aku akan meninggalkan peker- jaan itu, karena aku telah berpisahan dengan engkau? Engkau

belum tahu siapa Satilawati. (hendak pergi).

ISHAK. Barangkali perkataanmu yang penghabisan inilah yang mung- kin menjadi kcnang-kenangan kepadaku. Satu-satunya kenang- kenangan mulia kepadamu. (masuk dari kiri Asmadiputera dan Kartili. Satilawati tidak jadi pergi).

Adegan keempat

ASMADIPUTERA. Selamat malam. Kami terlambat sedikit. Tapi itu terlambat disengaja. KARTILI. Disengaja untuk memberi kesempatan. ISHAK. Terima kasih. Kesempatan itu telah kupergunakan sebaik- baiknya. Aku telah tahu hati Satilawati. Kami telah berpisahan. Kartili dan Asmadiputera terkejut. ASMADIPUTERA. Dalam gelap berpisah? Baru sekali ini terjadi. KARTILI. Kami tidak menyampuri hal itu. Tentu ada hal yang lebih penting yang hendak engkau bicarakan dengan kami di jalan yang sepi ini. ISHAK. Ya. Aku akan pergi melarikan diri dari manusia. Aku takut kepada manusia (Kartili mengamat-amati Ishak). ASMADIPUTERA. Telah kusangka juga. ISHAK. Apa?

KEJAHATAN MEMBALAS DENDAM

ASMADIPUTERA. Aku telah membaca kritik Pak Orok terhadap ro- manmu. Dan aku tahu engkau seorang pengecut. ISHAK. Engkau juga ...?

ASMADIPUTERA. Engkau sangka rakyat akan percaya pada tuduhan

Pak Orok? Engkau gila. ISHAK. Pasti rakyat akan percaya. ASMADIPUTERA. Engkau gila. Engkau kira, tidak ada orang yang akan mempertahankan. ISHAK. Engkau ... (lemah) ya, engkau seorang Meester in de rechten. Tapi aku tidak percaya engkau dapat mempertahankan.

ASMADIPUTERA. Ya, kalau dilihat sepintas lalu, memang. Jika di-

baca sambil lalu, bisa orang mengartikan perkataan-perkataanmu dalam roman itu seperti anti segala-galanya. Tapi aku (sambil menepuk dadanya, dan mengeluarkan beberapa carik kertas dari

saku, memperlihatkan kertas itu kepada Ishak) Lihat ini. Ini

balasan kepada kritik Pak Orok. Engkau hatus percaya kepada percakapan temanmu yang hendak menolong engkau. ISHAK. Maaf, aku tidak percaya. ASMADIPUTERA. Terserah padamu. Tapi aku terus berusaha mem- bela engkau, biarpun engkau telah melarikan diri. ISHAK. Terima kasih Tapi engkau akan berdiri sendiri. Selamat malam, aku mesti pergi ... (dengan cepat menghilang dalam gelap).

Adegan kelima

KARTILI. (tampil ke muka menggeleng-gelengkan kepalanya)

ASMADIPUTERA. (nengangkat bahunya) Telah kusangka. Ia lemah. KARTILI. Aku sebagai dokter mengatakan, ia telah mulai gila. Biar- kan ia pergi ke gunung. Hawa gunung dapat menyehatkannya kembali. Asmadiputera dan Satilawati terkejut. ASMADIPUTERA. (mengepialkan tinju, mengangkat bahu, lalu pergi ke kanan).

JAMAN JEPANG

Adegan keenam
SATILAWATI. (kepada Kartili) Betulkah itu, Kartili?

KARTILI. Ya, sejak lama juga. Waktu romannya itu hampir selesai, ia telah mulai rusak otaknya. SATILAWATI. Kartili! KARTILI. Ia bekerja dari pagi, sampai pagi keesokan harinya. Mentik sendiri, 12 kali, seperti tidak ada waktu lagi. SATILAWATI. Pernah ia berkata, "'Sebelum peperangan tiba di sini,

rakyat harus diberi penerangan, obor, obor, Satilawati"... (we

lihat ke atas, bertukar suara) Ya, itulah katanya. KARTILI. Sudah itu dipinjamnya duitku. Seribu rupiah untuk me- nerbitkan buku itu selekas mungkin. SATILAWATI. Dan penjualan buku itu merugikan. KARTILI. Yang telah membeli, membakarnya ... terlalu realistis, tidak ada idealismenya ... macam-macam pendapat orang. SATILAWATI. Dan engkau sendiri? KARTILI. Uangku dibayarnya habis. Tapi kulihat, lemari pakaiannya kosong. SATILAWATI. Dan Pak Orok?

KARTILI. Pak Orok musuh Ishak dalam mengarang. Sungguhpun

dalam bercakap-cakap biasa Pak Orok kelihatan baik kepada Ishak. Pak Orok mengambil kesempatan ini untuk menjatuhkan Ishak. SATILAWATI. Engkau tahu siapa Pak Orok? KARTILI. Tahu. Tapi tak boleh kukatakan kepadamu. SATILAWATI. (curiga) Mungkin aku tahu juga. KARTILI. Terserah padamu. SATILAWATI. (termenung sejurus). KARTILI. Mengapa engkau termenung, Satilawati? SATILAWATI. (termenung juga, tidak menjawab). KARTILI. (tertawa kecil) Aku tahu. Engkau menyesal berpisahan dengan Ishak. SATILAWATI. (menentang) Ya, aku menyesal. KARTILI. Tapi jangan kuatir itu timbulnya dari perasaan cintamu kepada Ishak. Sekarang engkau hanya kasihan kepadanya.

KEJAHATAN MEMBALAS DENDAM

SATILAWATI. Aku tahu, engkau selalu berdendam hati terhadap

Ishak. Tapi itu bukan salahku.

KARTILI. (menunjuk dadanya) Salahku barangkali? Karena aku ter-

lambat datang dari Ishak? Aku berusaha menambat hatimu, karena aku tahu, engkau tidak cinta kepada Ishak.

SATILAWATI. Omong kosong. Dari siapa engkau tahu? KARTILI. (menepuk dada) Aku dokter, Satilawati. Sedikit-sedikit aku

tahu juga menganalisir jiwa orang.

SATILAWATI. (kesal) Biar bagaimana juga, aku tidak cinta padamu. Aku tahu sekarang. Hanya orang seperti Ishaklah yang bisa

berdampingan dengan aku.

KARTILI. Aku mengerti. Karena ia berjuang kelihatan. Aktif dalam

perjuangannya. Tapi jangan kau sangka itu buat nusa dan bangsa.

Banyak contoh dapat dicari di atas dunia ini.

SATILAWATI. Orang yang begitu, pasti lebih tinggi daripada orang

yang menuruti jalan besar saja, jalan yang telah dirintis orang.

KARTILI. Aku berharap, moga-moga pandanganmu kepadaku akan berubah dengan waktu. Banyak orang seperti Ishak itu, pengarang juga. Waktu mereka kecil, mereka berjuang, katanya. Untuk se- suatu cita-cita yang tinggi. Tapi perjuangan itu padam, cita-cita itu hilang, jika ia telah mendapat nama sebagai pengarang ulung. SATILAWATI. Ishak tidak akan begitu. Aku yakin. KARTILI. (mengejek) Engkau sekarang mempertahankan Ishak ... Tapi tidak ada gunanya lagi. Ia telah gila, katzku. SATILAWATI. Ia akan baik kembali. KARTILI. Ia tidak akan baik kembali. Gila itu bukan karena me.

ngarang. Mengarang hanya sebab saja. Tapi ini karena waktunya

sudah tiba. SATILAWATI. (terkejut, heran) Apa maksudnya? KARTILI. Ini penyakit turunan. Kakeknya mati gila waktu berumur 30 tahun. Ayahnya mulai gila waktu berumur 28 tahun. Dan Ishak sekarang berumur 29 tahun. SATILAWATI. (terkejut) Kartili! KARTILI. Ya, tidak baik, mempertuturkan hati muda saja. Aku setuju dengan perbuatan orang tua-tua dulu. Menyelidiki terlebih dulu

JAMAN JEPANG

riwayat keluarga bakal suami atau istri. (mengcjek) Itu belum engkau lakukan, bukan? SATILAWATI. (memandang jaub) Memang belum (berontak). Tapi mengapa semua itu kau ceritakan kepadaku? Mengapa? Dalam keadaan yang begini. KARTILI. (tegas) Karena aku cinta padamu. Agar engkau jangan ter- sesat.

Adegan ketujuh

ASMADIPUTERA. (berteriak dari luar) Sudah boleh aku mengajak pulang? Telah setengah jam delman menanti. KARTILI. (memegang tangan Satilawati) Tahu engkau skarang, bah- wa ini bukan karena cemburuku kepada Ishak. Sebagai dokter aku lekas mengetahui sesuatu. SATILAWATI. (berdiam diri, terpekur, berjalan ke luar, ke kanan, diiringi Kartili).

Adegan kedelapan

(Dari kiri masuk Suksoro alias Pak Orok dengan seorang perempuan tua. Suksoro menjinjing sebuah koper kecil. Tiba di dekat lampu perempuan tua itu berhenti). PEREMPUAN TUA. Tidak bisa aku berjalan lagi, Suksoro. Engkau katakan setasiun dekat dari rumahmu ... (mengeluh) Biarlah dì sini saja berhenti menantikan beca. SUKSORO. (sungguh-sungguh) Betul, bi ... (menunjuk ke kanan) Lihat, pada lampu gas yang penghabisan itu, jalan ini membengkok ke kanan. Dan dua tiga rumah lagi, sampai kita ke rumah. PEREMPUAN TUA. Tidak, biarlah dengan beca saja. SUKSORO. (meleiakkan koper itu di atas lantai) Baiklah. Sudah lewat pukul sepuluh. Terlambat rupanya kereta api masuk. (menengok ke kanan dan ke kiri) Beca jarang bertemu di jalan ini ... Bagai- mana di atas kereta tadi, bi? KEJAHATAN MEMBALAS DENDAM

PEREMPUAN TUA. (mengeluh, duduk di atas koper) Jika tidak engkau yang mcnyuruh aku datang, maaf Suksoro, aku tidak mau datang. Penuh sesak di atas kereta. SUKSORO. Karena sangat penting, bi. PEREMPUAN TUA. Engkau seperti ayahmu, abangku, betul. Jika ada kesusahan, baru aku diingat. SUKSORO. (tertawa kecil) Bukan begitu, bi. Repot pekerjaan (seperti berpikir) ... bi, apa tidak baik kukatakan di sini saja? Kalau di rumah didengar Satilawati pula nanti. Ia akan terus di dekat bibi. PEREMPUAN TUA. Ya, Satilawati tampaknya lebih sayang kepadaku daripada kepadamu. Memang laki-lak sendiri tidak bisa mendidik anaknya dengan sempurna. Mengapa engkau tidak beristri kembali? SUKSORO. (tertawa kecil) Aku beristri lagi? Aku yang telah tua ini? Tidak. Tidak. Satilawati telah terlalu besar. Ia tidak memerlukan ibu tiri lagi. PEREMPUAN TUA. Buat engkau maksudku. SUKSORO. Buat kesenangan aku? Tidak. Aku belum bisa menghilang- kan bayangan Puspawati. Ia baru setahun meninggal dunia. PEREMPUAN TUA. Kewajibanku hanya mengingatkan engkau ... Apa yang hendak kau katakan kepadaku? SUKSORO. Tentang Satilawati. Ia keras kepala benar. PEREMPUAN TUA. Mungkin itu karena salah didikmu. Engkau terlalu kasar kepada dia barangkali. SUKSORO. (kesal) Bukan keras kepala begitu, bi. Ia kena hatinya kepada seorang anak muda, Ishak namanya. PEREMPUAN TUA. Apa salahnya? SUKSORO. Tidak ada salahnya. Tapi pemuda itu tidak ada yang dapat diharapkan dari dia. Ia mengarang, sangkanya ia sudah bisa mengarang, tapi sebenarnya ia tak mempunyai bakat sama sekali. Pengarang yang akan menjadi besar, dari karangan pertama telah dapat dilihat ... (berjalan kian ke mari). Aku tidak suka sama sekali, jika Satilawati kawin dengan dia. PEREMPUAN TUA. Jadi? ... Engkau suruh datang aku ini untuk mengalangi itu? (berdiam diri sejurus). Kadang kadang kukutuki 3 DARI AVE MARIA

aku pandai menjadi dukun ini. Selalu merusakkan dan tidak pernah membangunkan, memperbaiki. SUKSORO. Jadi bibi tidak mau? PEREMPUAN TUA. (tegas) Kalau orang lain yang meminta kepadaku, segera akan kukerjakan. Tapi ini engkau? Untuk Satilawati, cucuku? ... Berilah aku berpikir barang beberapa hari, Suksoro. SUKSORO. Tentu, tentu, bi ... Tapi jangan terlalu lama. Aku tidak bisa melihat dia sebagai istri Ishak. Aku benci kepadanya. PEREMPUAN TUA. Biarlah aku berpikir dahulu. Kalau orang lain yang meminta ini, segera akan kukerjakan. Untuk duit, duit. Aku kekurangan duit selalu. SUKSORO. Kalau bibi tidak keberatan, aku pun akan memberi bibi duit. Berapa saja. Asal ia jangan kawin dengan Ishak itu. Itu yang penting. PEREMPUAN TUA. Ya, selalu aku kekurangan duit. Orang lain tidak akan percaya. Sawahku di Cianjur luas. Tapi itu bukan kepunyaanku lagi. SUKSORO. (terkejut) Telah bibi jual? PEREMPUAN TUA. Bukan. Hasilnya bukan kepunyaanku. Harus di- serahkan kepada pemerintah. Aku tidak tahu untuk apa. Tapi setiap padi selesai disabit, Kuco datang untuk mengambilnya. Untuk pemerintah, katanya. SUKSORO. Tapi ada dibayar pemerintah, bukan? PEREMPUAN TUA. Ya, ada, tidak sebanyak yang kuingini. Jika ku- jual di pasar gelap, aku akan mendapat sepuluh kali itu. SUKSORO. (melihat ke atas) Ya, surat kabar penuh sekarang dengan perkabaran tentang penyerahan padi. Usaha-usaha yang akan di- jalankan untuk menyempurnakan penyerahan padi. PEREMPUAN TUA. Apa isinya? SUKSORO. Tidak ada kubaca. Sayang sekali. PEREMPUAN TUA. Kadang-kadang aku marah kepadamu, Suksoro. Engkau tidak pernah hendak mengetahui nasibku di desa. SUKSORO. Maaf, bibi. Telah kukatakan, pekerjaanku banyak. Setiap majalah meminta kepadaku, supaya aku membuat cerita pendek untuk mereka. Semua ini meminta pekerjaan yang berat. Kadang-kadang aku tidak bisa tidur semalam-malaman. KEJAHATAN MEMBALAS DENDAM

PEREMPUAN TUA. Sudahlah, sudahlah ... Tapi tentang Satilawati itu akan kupikirkan dalam-dalam dulu. Akan kutanyakan kepada Satilawati. Kalau Satilawati, betul-betul cinta kepada pemuda itu (berpikir) ... mungkin, mungkin aku sekali ini tidak merusakkan. Merusakkan gampang sekali. Tapi membangunkan susah sekali. SUKSORO. (putus asa) Tapi aku tidak mau. Bibi mesti menolong aku. Untuk keselamatan famili kita juga. PEREMPUAN TUA. (tidak mengacubkan perkataan Suksoro) Tapi jika cinta itu datang dari satu pihak saja, dari pihak pemuda itu saja, aku akan menolong engkau. SUKSORO. Tapi, biar bagaimana juga orang berdua itu harus dipisah- kan. Harus, harus, bi. Tolonglah aku sekali ini, bi. PEREMPUAN TUA. (marah berdiri) Jangan engkau pandai pula me- maksa aku, Suksoro. Aku akan merusakkan cucuku, seperti ber- p:luh-puluh gadis yang telah kurusakkan? Tidak, sekali ini akan kuselidiki dulu, dan jika dapat sekali ini aku hendak membangunkan, ya, memoangunkan, (menjinjing koper kccil itu lalu ber- jalan tergesa-gesa ke kanan diikuti Suksoro).

LAYAR TUTUP

JAMAN JEPANG

BABAK KEDUA

Di halaman muka rumah Suksoro Di sekeliling pohon kecil beberapa

kursi kebun dengan mejanya. Di atas meja dua buah mangkok berisi kopi. Perempuan tua sedang bercakap-cakap. Waktu sore.

Adegan pertama PEREMPUAN TUA. Ayahmu tidak kelihatan sehari-hari ini, Satilawati. SATILAWATI. Ayah berkurung saja sehari-harian ini dalam kamar-

nya. Mengarang, apa lagi. Katanya mengumpulkan bahan-bahua

untuk bukunya tentang pahlawan-pahlawan Aceh.

PEREMPUAN TUA. Banyakkah ia mendapat duit dengan karangan-

nya itu?

SATILAWATI. (menunjuk ke belakangnya) Rumah ini buktinya.

PEREMPUAN TUA. Memang ia seorang yang rajin.

SATILAWATI. Tapi sejak mata orang Indonesia teıbuka untuk kesusasteraan baru, ia tercecer. Bahkan ia menjadi lawan pemuda- pemuda yang hendak maju itu.

PEREMPUAN TUA. Maksudmu, karangannya tidak disukai orang

lagi?

SATILAWATI. Hanya oleh kawan-kawannya yang sezaman dengan

dia. Dan oleh orang-orang yang tiada mempunyai perjuangan hi-

dup lagi. Aku sendiri kurang suka membaca karangan ayah.

PEREMPUAN TUA. Biasanya orang yang sudah tua itu, ... biasanya

tidak mau mengambil sesuatu yang baru.

SATILAWATI. Tapi bukan itu sebabnya dengan ayah. Ia hanya ke-

KEJAHATAN MEMBALAS DENDAM

luaran sekolah desa saja. Hanya kepandaian berbahasa Indonesia- lah yang menjadikan dia pengarang dulu. Dan aku pikir, ayah dalam kesusasteraan Indonesia akan seperti air hujan saja. Turun dari langit, masuk ke dalam tanah liar, hilang. Atau jika tergenang di atas tanah, dipanasi sinar matahati, habis menjadi hawa. PEREMPUAN TUA. Rendah betul pandanganmu kepada ayahmu. SATILAWATI. Rendah sekali. Pernah Ishak berkata, "Karangan seperti itu dapat kuselesaikan satu hari satu. Tapi itu sama dengan meracuni kesusasteraan baru Indonesia, Satilawati." PEREMPUAN TUA. (tersenyum) Ishak itu siapa? SATILAWATI. (terkejut, lekas biasa kembali) Temanku, dulu ia sering ke sini. PEREMPUAN TUA. Dan engkau telah bertukar cincin dengan dia diam-diam, bukan? SATILAWATI. (terkejut) Dari mana nenek tahu? PEREMPUAN TUA. Dari ayahmu. SATILAWATI. (sesak bernafas) Ayah tahu? PEREMPUAN TUA. (tersenyum, mengangguk). SATILAWATI. Dan sekarang kami telah bertukar cincin kembali. Juga dengan diam-diam. PEREMPUAN TUA. (terkejut) Betulkah itu Satilawati? SATILAWATI. (cepat-cepat) Tapi hatiku masih kena kepadanya, nek. Tidak pernah aku begitu tertarik kepada laki-laki (memegang tangan perempuan tua). Banyak yang terselip dalam hatiku yang hendak aku keluarkan. Tapi kepada siapa? Kepada siapa? PEREMPUAN TUA. Kepada ayahmu. SATILAWATI. Tidak bisa, nek. Ayah dari semula telah benci kepada Ishak. Ayah melihat kepada Ishak sebagai lawannya dalam me. ngarang. Petnah ayah mengatakan, Ishak seorang yang tidak beragama. Anak peiempuan jahat dipermulianya dalam karanga- nya. Dan waktu ayah mengatakan itu, ia menatap mataku, seakan- akan ia hendak mengatakan, "Coba engkau lanjutkan perkenalan- mu dengan dia ..." Aku takut dekat ayah, nek. PEREMPUAN TUA. (menepuk bahu Satilawati) Keluarkanlah isi hati- mu kepadaku, Satilawati. Anggaplah aku ini sebagai ibumu sendiri. JAMAN JEPANG

SATILAWATI. Memang nenek sebagai ibu kupandang. Ibu tempat

aku mencurahkan perasaan hatiku. Aku cinta kepada Ishak, nek. Banyak sebab-sebabnya. Ia baik hati, memikirkan kemelaratan bangsa kita dan ia berjuang untuk sesuatu cita-cita yang mulia. Meninggikan derajat kesusasteraan Indonesia yang cocok dengan zaman sekarang, zaman perang. PEREMPUAN TUA. Semuanya baik dan bagus. Tapi engkau harus ingat pula, kehidupanmu dengan dia setelah kawin. Orang begitu biasanya tiada berduit. SATILAWATI. Aku tidak menghendaki hidup senang. Aku senang sudah melihat ia berjuang. Berjuang untuk nusa dan bangsa. (termenung sejurus). PEREMPUAN TUA. (menatap mata Satilawati). Habis? SATILAWATI. Tapi hari yang akhir-akhir ini ia telah putus asa. Dan aku benci kepada orang yang putus asa. Itu sebabnya kami telah bertukar cincin kembali. PEREMPUAN TUA. Dan engkau menyesal sekarang. SATILAWATI. Ya, benar, begitu. Sesudah ia pergi meninggalkan aku ... PEREMPUAN TUA. Pergi? Ke mana? SATILAWATI. Katanya jauh dari sini. Jauh dari dunia ramai. Setelah ia pergi, baru kuketahui, bahwa ia melarikan diri itu, bukan karena putus asa. Kata dokter Kartili, otaknya sudah terganggu sedikit. Sudah itu aku menyesali diriku habis-habisan. Beberapa perkataanku telah menusuk hatinya. Nek, tolonglah ia, nek, tolonglah aku. PEREMPUAN TUA. (beran) Tolong ia? Tapi ia sudah pergi SATILAWATI. Aku tahu nenek bisa menolong kami. Nenek adalah seorang dukun yang masyhur. PEREMPUAN TUA. (mengejek) Dukun yang məsyhur? Ya aku masyhur dalam menceraikan orang. Suami bercerai dengan istri, pemuda bercerai dengan gadis. Karena apa? Karena obatku ... Tapi mem- pertemukan orang, belum pernah kucoba. SATILAWATI. Cobalah sekali ini, nek. Untuk kebahagiaan cucu nenek juga. KEJAHATAN MEMBALAS DENDAM

PEREMPUAN TUA. Tapi aku tidak tahu di mana ia. Bagaimana aku bisa menolong. SATILAWATI. Bisa, nek, jika nenek mau. Nenek bisa melihat dia dalam air atau dalam bubuk kopi. PEREMPUAN TUA. Tapi dia telah gila katamu. SATILAWATI. Kata dokter Kartili. Dan katanya bukan gila biasa, tapi gila turunan. PEREMPUAN TUA. (terkejut) Gila turunan? ... Kalau betul itu, biarlah kunasehatkan engkau mencari yang lain saja. SATILAWATI. (putus asa) Kalau nenek tidak bisa, apa boleh buat. Aku akan mencari bahagia dalam pekerjaan sebagai jururawat. (Satilawati meminum kopinya sampai habis, lalu pergi, lemah seluruh tubuhnya)

Adegan kedua PEREMPUAN TUA. (mengambil mangkok kopi Satilawati. Mengge- gerak-gerakkan mangkok itu, lalu lama melihat ke dalam mangkok itu. Mula-mula terkejut kemudian penuh perhatian akhirnya ter- senyum).

Adegan ketiga Kartili masuk. PEREMPUAN TUA. (terkejut, meletakkan mangkok itu lekas-lekas di atas meja lalu berdiri). KARTILI. Duduk sajalah, nek. Aku hendak bicara sebentar dengan Satilawati. PEREMPUAN TUA. (bormat) Ia di dalam, tuan. Biarlah kupanggil- kan sebentar (membawa kedua mangkok itu, lalu ke luar).

Adegan keempat Satilawati masuk, waktu melihat Kartili terkejut. SATILAWATI. (jengkel) Telah kukatakan, jangan datang juga ke mari. KARTILI. Aku mengerti akan kata-katamu kemarin itu, Satilawati.

JAMAN JEPANG

Kedatanganku sekarang ini, bukanlah sebagai orang yang hendak memikat hatimu lagi. SATILAWATI. (mengejek) Sebagai orang yang hendak membalas dendam barangkali.

KARTILI. Juga tidak. Tapi sebagai sahabat. Hanya sebagai sahabat,

Satilawati. SATILAWATI. Sekarang aku belum percaya lagi. Tapi biarlah sama kita lihatkan. Sebagai sahabat, rumahku terbuka untukmu (duduk). KARTILI. Keputusan ini kuambil, setelah memikirkannya semalam- malaman. Dan terpikir olehku, aku tidak boleh memaksa engkau. Apalagi perkataan-perkataanmu yang keluar tentang Ishak kemarin itu, menebalkan kepercayaanku, bahwa engkau betul-betul masih mencintai Ishak (mengelub).

SATILAWATI. (berasa kasihan) Maafkanlah segala perkataanku yang

kemarin itu, Kartili. Jangan dimasukkan ke dalam hati. KARTILI. (tersenyum) Tentu tidak, Satilawati. Aku mengerti keada-

anmu kemarin itu. Sekarang aku memuji kesetiaanmu terhadap

Ishak. Sungguhpun telah engkau ketahui, bahwa ia ... SATILAWATI. Gila, ya. Tapi ada sesuatu, suara halusku mengatakan, bahwa ia akan baik lagi. Baik buat selama-lamanya. KARTILI. Itu yang kuhargakan tinggi, Satilawati: kepercayaanmu kepada diri sendiri itu. SATILAWATI. Dan biarpun ia tidak baik kembali, aku tidak juga dapat mengikatkan diriku kepada orang lain. KARTILI. Telah beberapa kali perkataan itu kauiıcapkan kepadaku. Aku telah mengerti. SATILAWATI. (Menarik nafas, tersenyum) dan Kartili ... sebagai

sahabat hatiku terbuka untukmu. Mari kita bercakap tentang yang

lain saja. KARTILI. (tersenyum; Masih ada yang lupa yang hendak kukatakan kepadamu. SATILAWATI. Asal jangan yang merusakkan hatiku. KARTILI. Pasti tidak. Aku akan berusaha, menyucikan Ishak kembali dalam kesusasteraan Indonesia. Aku akan bekerja bersama-sama dengan Asmadiputera dalam hal ini. SATILAWATI. Engkau akan ikut melawan Pak Orok?

KEJAHATAN MEMBALAS DENDAM

KARTILI. Dengan sekuat tenagaku. Ishak harus kita pertahankan bersama-sama. Biarpun Ishak sendiri andai kata, tidak akan me- nyumbangkan tenaganya lagi untuk kesusasteraan kita, karena ... (terbenti, karena melihat Satilawati marah) ... Percayalah Satilawati.

SATILAWATI. Bukankah itu engkau kerjakan, karena engkau men-

dendami aku? KARTILI. (terkejut) Mengapa ke sana lompat pikiranmu? Engkau masih saja belum mempercayai aku.

SATILAWATI. (ragu-ragu) Maafkan aku sekali lagi. Aku lekas berasa

curiga pada hari yang akhir-akhir ini. Engkau minum apa?

KARTILI. Tidak apa-apa. Aku akan pergi ke rumah Asmadiputera

dulu, untuk membicarakan hal itu.

SATILAWATI. Aku mengucap syukur akan ketulusan hatimu itu,

Kartili. Tapi kudengar dari ayah, Asmadiputera akan ke sini-KARTILI. Ia akan ke sini? Buat apa? SATILAWATI. Tentang Ishak juga. Aku tahu sekarang Pak Orok itu ialah ayahku sendiri. Aku benci ... (tidak diteruskannya, melihat jauh). KARTILI. (terkejut) Engkau tahu, Satilawati? SATILAWATI. Asmadiputera mengirim surat kepada ayah, minta izin datang ke sini. Rupanya ayah berkeberatan. Setelah menerima surat itu ia marah-marah. KARTILI. Habis?

SATILAWATI. Asmadiputera akan datang juga ke sini. Ayah dari

tadi tidak keluar-keluar dari dalam kamarnya.

KARTILI. Asmadiputera adalah teman sejadi Ishak.

SATILAWATI. Engkau juga, bukan?

KARTILI. (kemalu-maluan) Aku juga. (memandang jaub) Tapi tidak

seperti Asmadiputera.

SATILAWATI. Sekarang, cobalah engkau berdua menginsyafkan ayah-

ku. Sungguhpun aku tahu, pekerjaan itu akan sia-sia belaka.

KARTILI. Kalau begitu biarlah kunantikan kedatangan Asmadiputera ... Nenek yang duduk di sini tadi siapa, Satilawati? SATILAWATI. Seorang famili kami. Saudaia dari ayah ayahku.

JAMAN JEPANG

KARTILI. (belum mengerti) Saudara ... dari ayah ... ayahmu? Jadi
nenekmu? SATILAWATI. Ya, beberapa hari yang lalu ke sini. Ia tinggal di desa dekat Cianjur. KARTILI. Bersawah di sana barangkali. SATILAWATI. Ya. KARTILI. Tapi padi sudah menguning sekarang, bukan? Beberapa minggu lagi orang akan menyabit. SATILAWATI. Ya, tapi apa hubungannya ... KARTILI. Tentu ada yang penting sekali, maka ia datang ke sini. SATILAWATI. Disuruh ayah datang. KARTILI. Kerja nenek itu selain bersawah apa lagi. Satilawati? SATILAWATI. Ia dukun. KARTILI. Engkau percaya kepada dukun, Satilawati? SATILAWATI. Semua famili kami percaya kepada dukun. Ayahku juga. Dan engkau? KARTILI. Sebagai dokter tentu aku tidak percaya. Tidak boleh percaya. Tapi sebagai manusia ... SATILAWATI. Sebagai manusia ... KARTILI. Aku percaya juga sedikit-sedikit. Lebih-lebih tentang peker- jaan yang halus-halus itu. Di kampungku sangat banyak terjadi ... SATILAWATI. Pernah engkau melihat sendiri? KARTILI. Pernah. Dengan tetangga kami. Siswadhi namanya. Ia di rumah itu yang tertua. Seorang-orangnya anak tiri dari istri tuan Malkewie. Sebelum tuan Malkewie yang kaya raya itu meninggal dunia, Siswadhi dalam rumah itu boleh dikatakan raja. Tapi setelah tuan Malkewie tidak ada lagi, Siswadhi sebagai orang pandir saja. Harta ayahnya jatuh ke tangan ibu tiri itu sama sekali. Sekarang Siswadhi itu diperlakukan ibu tiri itu sebagai orang suruh-suruhannya saja. SATILAWATI. Banyak contoh yang demikian. KARTILI. Tapi tentang yang lain-lain aku tidak percaya kepada dukun. Dalam mengobati sakit dada misalnya dan yang lain-lain seperti itu.

SATILAWATI. Dulu. Sekarang tidak tahu aku lagi. Katanya ia ber- guru kepada pak Miun di Jakarta ini. Tiga puluh tahun yang lalu. KARTILI. (terkejut) Pak Miun? SATILAWATI. Engkau kenal kepadanya? KARTILI. Pernah mendengar nama saja.

Adegan kelima

Asmadiputera masuk, membawa sebuah tas. ASMADIPUTERA. (tersenyum) Selamat sore, nona dan tuan dokter. KARTILI. (berdiri, tertawa) Sejak kapan engkau menyebut aku tuan dokter? ASMADIPUTERA. Sejak Ishak berangkat. KARTILI. Sejak Ishak berangkat? Apa hubungannya? ASMADIPUTERA. (tersenyum) Ia gelisah rupanya, Satilawati (mene- puk babu Kartili). Tidak apa-apa, Kartili. Tidakkah boleh seorang teman berkelakar dengan temannya? Engkau lekas bingung dalam hari yang akhir-akhir ini. SATILAWATI. (berdiri, tertawa) Selesaikanlah soal itu berdua saja Permisi aku dahulu. Sekarang giliranku menjaga malam di rumah sakit. ASMADIPUTERA. Aku hendak berbicara dengan ayahmu, Satilawati. SATILAWATI. Akan kuberitahukan. Duduklah dulu. (Asmadiputera dan Kartili duduk. Satilawati ke luar). Adegan keenam ASMADIPUTERA. (tajam) Engkau sering datang ke sini, kudengar, Kartili! KARTILI. (kesal) Apa salahnya? ASMADIPUTERA. Tidak ada salahnya. Tapi beberapa pasienmu mengomel. KARTILI. Dari mana engkau tahu itu? ASMADIPUTERA. Kebetulan yang mengomel itu teman sekantorku.

SATILAWATI. Itu tentu tidak. Engkau janjikan saja orang sakit keras.
KARTILI. Jadi nenek ini dukun semacam itu juga? 42 KARTILI. Buat sementara waktu aku tidak perlu duit.

KEJAHATAN MEMBALAS DENDAM JAMAN JEPANG

ASMADIPUTERA. Jadi engkau mengobati orang itu karena duit saja? (berpikir, bertukar suara, agak lemah) Ya, pendapat berlain-lainan.

Tapi bagiku seorang dokter harus bekerja karena sebab lain juga. KARTILI. (menentang) Sebab apa?

ASMADIPUTERA. Sebab kemanusiaan. Apa lagi dalam zaman perang

ini. Dokter sedikit. Dan sebahagian telah diambil pula untuk

dipekerjakan di garis depan, di medan pertempuran.

KARTILI. (sambil mengangkat bahunya) Seperti engkau katakan tadi, pendapat berlain-lainan. Apa lagi!

Adegan ketujuh Satilawati masuk, berpakaian jururawat. SATILAWATI. Asmadiputera, telah kukatakan kepada ayah. Sebentar lagi ia akan ke sini. ASMADIPUTERA. Terima kasih. (melihat ke baju, jururawat Satilawati) Engkau giat betul bekerja Satilawati? SATILAWATI. (tersenyumn) Tanyakan saja kepada Kartili. Bukankah aku yang paling malas di rumah sakit, dokter Kartili? Apa lagi

jika diperintah dokter Kartili sendiri. KARTILI. (tertawa pahit) Selama aku tahu, aku belum pernah me- merintah engkau. Kerjamu tidak perlu diperintah-perintah orang lain. SATILAWATI. (tersenum) Memuji itu atau ... menghina? KARTILI. Terserah. ASMADIPUTERA. (tertawa) Seperti tikus dengan kucing saja. Kalau seperti ini juga di rumah sakit, pasti banyak oiang sakit yang tidak tertolong. Habis waktu, karena berkelahi saja. Ha, ha, ha. KARTILI. (kesal) Di ramah sakit Satilawati bungkem. SATILAWATI. (tertawa) Duduklah dulu tuan-tuan (memberi hormat, ke luar).

Adegan kedelapan ASMADIPUTERA. (melihat arah Satilawati pergi) Jika semua pemudi Indonesia begitu, berjuang di garis belakang seperti Satilawati ... KARTILI. (kesal) Niscaya Indonesia akan runtuh! ASMADIPUTERA. (terkejut) Mengapa?

KEJAHATAN MEMBALAS DENDAM

KARTILI. Karena ia hanya pandai mempermain-mainkan laki laki saja. ASMADIPUTERA. (tertawa kecil) Mempermain-mainkan engkau, maksudmu. KARTILI. Mengapa aku? Ishak maksudku. Dalam waktu Ishak me- merlukan pertolongan batinnya, ia menarik diri dari Ishak. ASMADIPUTERA. (mengejek) Dan engkau penuh pengharapan. KARTILI. Ya, dulu. Tapi sekarang tidak lagi. Aku akan berjuang bersama-sama, menjaga nama Ishak. ASMADIPUTERA. Sekarang baru engkau insaf rupanya. Setelah di- tolak Satilawati, barangkali? KARTILI. Bukan karena itu. Aku insaf, karena semestinya insaf. ASMADIPUTERA. Tapi aku akan kuat sendiri menentang tuan Suksoro. Engkau sendiri belum membaca roman itu bukan? KARTILI. Belum. Memang aku masih rendah pandanganku kepada Ishak. Ia baru beberapa tahun mencampungkan diri ke dalam kesusasteraan Indonesia. Dan ia hanya keluaran sekolah menengah saja. ASMADIPUTERA. Kalau belum kaubaca, bagaimana pula engkau dapat mempertahankan Ishak. Jika akan kaubaca pula dahulu, itu akan memakan tempo tiga empat hari pula. Sedang aku sekarang sudah siap untuk menentang tuan Suksoro alias Pak Orok.

KARTILI. Entahlah. Aku tidak tahu, apa yang harus kuperbuat.

Hatiku masih lekat kepada Satilawati. ASMADIPUTERA. Dan engkau kecewa bukan? KARTILI. Engkau rupanya tahu segala-galanya. Aku heran. ASMADIPUTERA. (tidak mendengarkan perkataan Kartili) Dan setelah kecewa itu, baru engkau hendak menolong Ishak. Melepaskan dendammu kepada ayah Satilawati. KARTILI. Aku lupa, aku berhadapan dengan seorang meester in de rechten. Aku tidak dapat mempertahankan diri. ASMADIPUTERA. Karena semua yang kukatakan itu benar, Kartili. Dari dahulu aku telah tahu, hatimu kurang jujur berteman. Ubah- lah, kalau masih ada waktu untuk mengubahnya.

KARTILI. (termenung).

JAMAN JEPANG

Adegan kesembilan

Suksoro masuk, berkain dan berkemeja saja. Lengan kemejanya dising- singkan ke atas. Asmadiputera dan Kartili berdiri, bersalaman, duduk kembali KARTILI. Lesu betul tuan kelihatan. SUKSORO. (tersenyum, gembira) Ada pekerjaan sedikit. Tambah lama kita mendalami perjuangan pahlawan-pahlawan Aceh, tambah bersemangat kita olehnya. ASMADIPUTERA. (tertawa) Asal jangan tuan menyerbukan diri pula ke garis yang paling depan. SUKSORO. Aku telah terlampau tua ... Tapi memang orang Aceh benci kepada Belanda itu, bukan benci dibuat-buat. Malahan pernah orang Belanda sendiri berkata, 'Di Aceh itu, semua yang berjalan dengan kaki dua, membenci Belanda." KARTILI. Mengapa baru sekarang terpikir oleh tuan untuk mendalami itu? SUKSORO. Karena mereka itu dasarnya telah benci kepada Belanda. Bagi kita mudah saja mengarang tentang itu. Tidak perlu kita mengemukakan fantasi kita sendiri. Karangan tentang itu dengan sendirinya sudah bersemangat. ASMADIPUTERA. Tuan Suksoro telah kehabisan fantasi rupanya. SUKSORO. Bukan begitu. Hanya untuk mengadakan selingan dalam cerita-cerita yang dikeluarkan orang sekarang. ASMADIPUTERA. Pernah aku membaca karangan tuan dalam sebuah majalah tentang "Ulama di Tiro" itu. SUKSORO. (penuh perhatian) Bagaimana pendapat tuan? ASMADIPUTERA. Uraiannya bagus (Suksoro merasa senang). Tapi sayang, (Suksoro terkejut) sayang, karena tentang itu sudah pernah kubaca dalam buku Zentgraaf. Kalau aku tidak salah, sama betul. SUKSORO. Sama betul, tentu tidak mungkin, tuan Asmadiputera. Tapi memang aku mendapat ilham itu, setelah membaca buku itulah. ASMADIPUTERA. Meməng baik untuk dikenang-kenang perjuangan nenek moyang kita itu melawan Belanda. Tapi ... SUKSORO. Tapi ...? KEJAHATAN MEMBALAS DENDAM

ASMADIPUTERA. Tapi sudah agak lama juga waktunya itu. Pada pendapat saya, yang harus dianjur-anjurkan sekarang, ialah cara berjuang sekarang, memakai alat-alat yang modern. Dengan itu dapat kita menanam kepercayaan kepada diri sendiri pada pemuda-pemuda kita. SUKSORO. Dengan jalan demikian itu, tuan kira tidak dapat? ASMADIPUTERA. Tentu, tentu dapat juga. Tapi kurang jitu barangkali. SUKSORO. (mengejek) Tuan telah dipengaruhi kcbatinan moderen barangkali. ASMADIPUTERA. Dipengaruhi aliran muda lebih tepat. Dan saya datang untuk saudara saya Ishak (memasang sebuah sigaret). SUKSORO. Telah tuan katakan dalam surat tuan. ASMADIPUTERA. Dan saya pikir, lebih baik kita mulai sekarang ... Apa sebabnya tuan menulis keritik tuan itu? SUKSORO. Sebabnya? Saya kira sudah jelas sebabnya. Karena roman itu tidak bermanfaat bagi rakyat kita. ASMADIPUTERA. Bagi saya belum jelas lagi. SUKSORO. Baik. Pertama roman itu, roman cabul. Anak seorang perempuan jahat dianjung-anjungnya, dijadikannya pandai main biola dan sebagainya. Ini bisa merusakkan rakyat. Mungkin ditiru- nya rakyat. Bagi saya, anak perempuan jahat harus dijadikan sengsara, melarat. Supaya rakyat takut mengerjakan seperti yang dikerjakan perempuan jahat itu. ASMADIPUTERA. Rupanya tuan tidak melihat dari sudut kemanusia- an. Rakyat yang berpikiran, akan mencari perbandingan dalam hal ini. Anak seorang melarat, tidak perlu melarat dan dihinakan orang pula. Bukan salah anak itu, bukan? Orang tuanya melarat. Anak itu sendiri mempunyai Tuhan pula, untuk melindunginya. Jika tuan katakan, roman Ishak ini lain dari yang biasa, aku terima, aku setuju seratus persen. SUKSORO. Memang lain, tapi tidak lebih baik, lebih jelek. ASMADIPUTERA. Rupanya sekarang kita belum dapat menentukan mana yang baik mana yang jelek. Dulu orang memandang penulis JAMAN JEPANG

roman, seorang yang hina. Tapi sekarang? Hamka menulis roman.

Dan Hamka seorang yang beragama!

SUKSORO. Kedua ... roman itu tidak memenuhi kehendak zaman. ASMADIPUTERA. Zaman mana?

SUKSORO. Zaman per:ang sekarang ini. Semuanya seperti ia menghasut

rakyat. ASMADIPUTERA. Ha, ha, ha. Kalau saya boleh bertanya, tuan telah habis membaca roman itu? SUKSORO. Sudah! ASMADIPUTERA. Kalau sudah, saya kira perselisihan ini hanya ter- letak dalam cara bercerita saja. Aku berani mengatakan, bahwa roman ini (mengeluarkan sebuah buku dari dalam tasnya) ialah

roman semangat perang. Dan Ishak ialah orang yang suka ber-

pijak di atas tanah. Perkataannya dalam romannya tidak tergan- tung antara bumi can langit, di awang-awang, dibelai-belai arus aether.

SUKSORO. Jadi tuan hendak mempertahankan dia?

ASMADIPUTERA. Ya, karena ia dituduh, sedang ia tidak bersalah. Dalam zaman perang ini, kita harus berhati-hati dengan keritik, tuan Suksoro. Dan saya datang ini, kalau-kalau kita dapat me- nyucikan keadaan ini antara kita saja. Jangan saya sampai menulis kontra keritik. SUKSORO. Sekarang saya tidak ada waktu. Lain kali saja. ASMADIPUTERA. Harus sekarang, tuan Suksoro. Tuan telah merusakkan sesuatu jiwa, hendaknya tuan perbaiki kembali. Semua tenaga perlu sekarang ini, pun tenaga Ishak sebagai pengarang untuk pengobarkan semangat perang. SUKSORO. Tenaga semacam itu tidak perlu bagi rakyat. Merusakkan jiwa rakyat. ASMADIPUTERA. Saya akan teruskan, tuan Suksoro. Sekarang tiba kita kepada cara Ishak mengarang. Romannya itu dinamakannya

"Hari ketiga Nippcn di Indonesia". Yang dimaksudnya tentu tahun ketiga. Di sini ia menceritakan beberapa orang Indonesia

yang sejak Nippon masuk, belum juga insaf-insafnya. Mereka

masih memihak kepada Belanda, masih terkenang kepada peme-

KEJAHATAN MEMBALAS DENDAM

rintah Belanda, karena kedudukannya dalam zaman Belanda itu

baik. SUKSORO. (mengejek) Dan di sini ia mencari orang yang pro Nippon. Itu bisa dipandang menghasut rakyat.

ASMADIPUTERA. (lemah) Tuan Suksoro, siapa yang mencaci?

SUKSORO. Ishak tentu. ASMADIPUTERA. (marab) Ishak? Ishak? Tuan harus belajar dulu membaca roman. Sudah saya katakan cara Ishak mengarang ialah realistis. Ia mengemukakan kebencian orang-orang yang belum

insaf itu dengan perkataan-perkataan yang mungkin diucapkan

oleh orang-orang seperti itu. Ishak mencari kekuatan dalam

karangannya di dalam perkataan-perkataan pelaku-pelakunya. Ini

yang tidak bisa tuan pahamkan.

SUKSORO. Dan aku tidak ada waktu lagi untuk memahamkannya.

ASMADIPUTERA. (meneruskan) Tapi bagaimana akhirnya.

Orang yang tidak insaf itu insaf sebenar-benarnya (membuka

buku, membaca pada halaman penghabisan). Cobalah dengarkan, tuan Suksoro.

Tiga tahun Nippon di Indonesia sudah. Selama ini kami hanya

sebagai parasiet saja. Jika ada keuntungan bagi kami, kami men- dekat kepada pemerintah sebagai ayam diberi makan. Tapi jika

tenaga harus dikerahkan, kami menjauh sebagai kucing dibawa-

kan lidi. Tapi semua itu telah berakhir. Jiwa kami yang bobrok itu tambah lama tambah hidup kembali. Dan waktu Cuo Sangi In menganjurkan "Gerakan hidup baru', kami insaf-seinsaf-insafnya, bahwa kami pun harus memperbaharui sesuatu dalam dada kami, memperbaharui tekad, memperbaharui jiwa. Dan serentak kami

menceburkan diri ke dalam barisan ''Prajurit Pembela Tanah Air"

SUKSORO. (termenung). ASMADIPUTERA. Bagaimana, tuan Suksoro? Bukankah roman itu bersifat membangunkan juga? SUKSORO. (tegas) Aku tetap pada pendirianku. Roman itu lebih baik tidak diterbitkan. ASMADIPUTERA. (memasukkan buku itu ke dalam tas kembali), berdiri lalu) Saya menunggu seminggu lamanya, tuan Suksoro. Selamat sore! (ke luar, diikuti Kartili).

DARI AVE MARIA 4

Adegan kesepułuh

Suksoro termenung sejurus lamanya.

Adegan kesebelas

Perempuan tua masuk.

PEREMPUAN TUA. Mengapa termenung Suksoro?

SUKSORO. Tidak apa-apa, bi. Urusan karang mengarang juga ....

Telah selesai bibi menyelidiki tentang Satilawati?

PEREMPUAN TUA. Sudah! SUKSORO. (penuh harapan) Bagaimana?

PEREMPUAN TUA. Satilawati mencintai dia juga.

SUKSORO. Jadi? PEREMPUAN TUA. Sebelum bertindak, aku harus berpikir dulu. SUKSORO. (berdiri agak marah) Berpikir lagi? Habis waktu karena berpikir saja. PEREMPUAN TUA. Sekali ini aku harus berhati-hati. Lebih-lebih ini mengenai diri Satilawati. SUKSORO. (duduk kembali, kesal) Tapi telah kukatakan kepada bibi, bahwa mereka harus dipisahkan.

PEREMPUAN TUA. Tidak perlu kau ulangi lagi. Coba pikirkan.

Andai kata oleh karena obatku itu, mereka bercerai, apa yang

akan terjadi dengan Satilawati? SUKSORO. Sudah pasti tidak akan ada apa-apa yang terjadi.

PEREMPUAN TUA. Ia akan menanggung selama hidupnya, Suksoro.

Ia terus akan berasa, bahwa ada sesuatu yang hilang dari dadanya. Lambat laun badannya akan bertambah kurus ... dan akhirnya akan dapat dipastikan! Itu suatu celaan dalam mempergunakan

obat-obat yang begitu. SUKSORO. Aku yakin, tidak akan begitu jadinya dengan Satilawati.

Lagi di kota besar ini, pemuda-pemuda lain masih banyak. Oleh

pergaulan semua akan lekas terlupa.

PEREMPUAN TUA. Tapi cinianya kepada Ishak telah mendalam,

kulihat. SUKSORO. Bibi kulihat masih bimbang. Bahkan tampak kepada wa- jah bibi, bibi akan renolong mereka.

KEJAHATAN MEMBALAS DENDAM

PEREMPUAN TUA. Itu sebabnya aku minta berpikir lagi! SUKSORO. (merentak, berdiri) Kεlau begitu, percuma aku menyuruh bibi datang ke sini PEREMPUAN TUA. (lemab-lemiut) Engkau seperti sediakala juga Suksoro. Jika kemauanmu tidak diperlakukan, engkau marah. Lagi. ini belum tentu kcmauanmu tidak akan diperlakukan. SUKSORO. Tapi rasanya bibi akan menolong mereka. PEREMPUAN TUA. (merab, dengan suara keras) Itu yang akan ku- pikirkan, kataku! SUKSORO. (marah) Tidak perlu bibi berpikir lagi. Bibi harus men- ceraikan mereka! PEREMPUAN TUA. (marah) Harus! Harus! Engkau yang mengha- ruskan? Aku bukan budakmu, Suksoro! SUKSORO. (bertambah marab) Harus, kataku! Kalau tidak.. PEREMPUAN TUA. Kalau tidak ...? SUKSORO. Bibi akan kuadukan kepada polisi! PEREMPUAN TUA. Aku tidak takut, aku tidak bersalah. SUKSORO. (mengejek) Tidak bersalah? Aku tahu rahasia bibi. Bibi menjual padi ke pasar gelap! PEREMPUAN TUA. Engkau tahu, di mana letak kelemahanku. Sila-

kan, Suksoro. Adukanlah kepada polisi. Jangan engkau meng-

hendaki yang bukan-bukan dari padaku. Bahkan sekarang ini telah kuputuskan, hendak menolong mereka. Dan aku dapat menolong! SUKSORO. (dengan suara keras) Pergi dari sini! Aku akan mencari dukun lain! PEREMPUAN TUA. Engkau tiada berhati! (berdiri) Anakmu sendiri hendak engkau celakakan. Hatimu busuk! Engkau hanya memi- kirkan dirimu sendiri. Karena bencimu kepada Ishak itu engkau hendak mencelakakan anakmu! SUKSORO. Aku tidak perlu mendengarkan perkataan bibi lagi. Pergi- lah hari ini juga. Aku akan mencari dukun lain! PEREMPUAN TUA. (bendak pergi) Carilah dukun lain itu. Aku akan bertempur dengan dukunmu itu. Untuk cucuku! (dengan gagah ke luar). LAYAR TUTUP

JAMAN JEPANG

BABAK KETIGA

Di dalam pondok perempuan tua dekat Cianjur. Sangat sederbana sekali. Di tengah-tengah sebuah meja, di atasnya lampu minyak, me- nerangi ruang dekat meja saja. Di sebuah kursi duduk Ishak sedang menulis. Beberapa belai kertas bertebaran di atas meja dan di atas lantai. Di sebelah kanan dekat dinding sebuah balai-balai. Di belakang sebuah pintu muka. Dindıng sebelah kiri sebuah jendela. Waktu layar dibuka:

Adegan pertama

Ishak sedang menulis dengan asyiknya. Sekali-sekali berpikir.

Adegan kedua

Tiba-tiba terdengar ketokan pintu. Setelah beberapa kali mengetok

baru Ishak bergerak, seperti orang bingung. Bekerja lagi, ketokan pintu

lagi. Ishak berdiri masuk, membukakan pintu lalu:

Adegan ketiga

Masuk perempuan tua dengan sebuah koper kecil. PEREMPUAN TUA. Selamat malam tuan. (meletakkan koper itu di sebelah sudut).

ISHAK. (agak marab) Nenek siapa?

PEREMPUAN TUA. Aku yang punya rumah ini, nak. Aku girang,

ada orang yang mau menunggui rumahku, waktu aku bepergian.

KEJAHATAN MEMBALAS DENDAM

ISHAK. Kalau nenek lapar, nasi ada di belakang. Kalau haus, air sedang terjerang. (dengan tidak mengacuhkan perempuan tua itu

lagi, duduk kembali, lalu bekerja).

PEREMPUAN TUA. (cemas melihat mata Ishak) Anakku sudah

makan? ISHAK. (terus menulis, sekali-sekali berpikir). PEREMPUAN TUA. (tidak tahu, apa-apa yang harus diperbuatnya). Biarlah kusediakan makanan dan kopi. (ke luar).

Adegan keempat

Ishek terus menulis, sekali-sekali berpikir. Tampaknya ia tergesa-gesa

menulis. Kadang-kadang dibacanya apa yang ditulisnya. Ia tersenyum.

Lantas menulis kembali.

Adegan kelima

Perempuan tua masuk dengan sebuah piring berisi makanan dan se- mangkuk air kopi.

PEREMPUAN TUA. Silakan minum dan makan, nak (meletakkan

makanan di atas balai-balai. ISHAK. (terus menulis sebentar-sebentar berpikir). PEREMPUAN TUA. (gelisah, berjalan mengelilingi Ishak). Bisukah anakku? Makanan telah kusediakan. ISHAK. (terus menulis). PEREMPUAN TUA. Berhentilah menulis itu sebentar. ISHAK. (terus menulis, beberapa lembar kertas terjatub ke atas lantai). PEREMPUAN TUA. (mengumpulkan kertas yang bertebaran itu me- letakkannya di atas meja. Pergi mengambil mangkuk di atas balai-balai itu) Kalau belum hendak makan, minum sajalah kopi ini (meletakkan mangkuk kopi itu di atas meja). ISHAK. (terus menulis tak berhenti-henti). PEREMPUAN TUA. (menggeleng-gelengkan kepala. Pergi duduk di atas balai-balai. 'Putus asa. Memandang Ishak dengan teliti. Lalu

kuap memegdng tangannya, meletakkan piring berisi makanan

di pinggir balai-balai merebahkan diri, lalu).

JAMAN JEPANG

Adegan keenam

T'onil gelap sebentar. Terang kembali. Hari telah larut malam.

ISHAK. (terus menulis, berpikir sebentar, menulis lagi).

PEREMPUAN TUA. (menggerakkan badannya, bangun, kuap, duduk di atas balai-balai). Banyak betul bangsat di sini (memandang

kepada Ishak) Belum juga engkau berhenti menulis lagi? (melibat ke piring makanan dan ke mangkuk kopi) Lihat, makanan telah dingin.

ISHAK. (berhenti menulis, membaca apa yang telah ditulisnya, ter-

senyum)

PEREMPUAN TUA. (masuk) Kaiau engkau tidak mau makan, mari

kumakan (memakan makanan itu, berdiri mengambil mangkuk

kopi, meminum kopi itu).

ISHAK. (terus menulis lagi. Tangannya bergerak sangat cepatnya).

PEREMPUAN TUA. (meletakkan piring nasi dan mangkuk kopi, di

bawah balai-balai. Lama memandang Ishak. Menggelengkan kepala.

Terdengar piring bergerak-gerak, digerakkan tikus. Perempuan tua mengeyunkan kakinya ke bawah balai-balai) Hus. Tikus lapar.

ISHAK. (meletakkan tangan kirinya di atas dahinya, berpikir).

PEREMPUAN TUA. (kuap, meregang tangannya, tidur kembali).

ISHAK. (menulis lagi cepat-cepat lalu melemparkan potlotnya ke atas

lantai, menutup mukanya dengan kedua belah tangannya, me-

ngambil kertas yang baru ditulisnya, membacanya. Ia kuap, lalu kepalanya terhempas ke atas meja. Ia mendengkur). Adegan ketujuh

Tonil gelap lagi. Terang kembali. Dari sela-sela jendela masuk sinar

matahari pagi.

ISHAK. (bergerak, bangun, berdiri, kuap, membukakau jendela. Meli-

bat jauh. Mengisap udara pagi. Dari jauh kedengaran petani-petani

bernyanyi-nyanyi kecil pergi ke sawabnya masing-masing. Ishak

asyik melihat keindaban alam).

PEREMPUAN TUA. (bergerak, bangun duduk di atas balai-balai mem-

perhatikan Ishak).

KEJAHATAN MEMBALAS DENDAM

ISHAK. (menoleh ke belakang, pandangan mereka bertemu, Ishak ter-senyum. Memandang jauh kembali) Aku sehat. Aku sehat. PEREMPUAN TUA. (girang berdiri, berjalan arah Ishak). ISHAK. Dengar, dengarlah petani bernyanyi pergi ke sawah. PEREMFUAN TUA. Secang hatimu nak? ISHAK. Mereka bernyanyi. Tapi suara mereka tidak lepas keluarnya. Rasa mereka bersedih. PEREMPUAN TUA. Mereka senang hatinya, nak. Pekerjaan yang terberat telah selesai. Akan tiba waktu menyabit. Seminggu lag. ISHAK. (berontak) Tidak, tidak, mereka tidak bersenang, mereka bersedih. Padi menguning dan mereka bersedih. Heran. PEREMPUAN TUA. Bagaimana takkan bersedih. Padi menguning untuk siapa? ISHAK. (melihat kepada perempuan tua) Ya, untuk siapa? PEREMPUAN TUA. Bukan untuk dia. ISHAK. Pasti bukan untuk dia. Tapi untuk dia dan untuk kita. PEREMPUAN TUA. Untuk kita? Siapa kita? ISHAK. Untuk Nusa dan bangsa. Segala-galanya untuk Nusa dan Bangsa. PEREMPUAN TUA. Tapi mereka yang bertanam. Dan orang lain yang akan memungut hasilnya? ISHAK. (menentang) Orang lain? Pemerintah orang lain? PEREMPUAN TUA. Mengapa kita harus menyerahkan padi kita kepada pemerintah? ISHAK. Untuk kita, untuk kita juga. (memandang jaub kembali) Itu rupanya mereka bersedih, sedang padi menguning (sambil me- ngepalkan tinjunya) Mereka harus mendapat penjelasan lebih banyak lagi. Mereka tidak tahu, tidak mengerti. PEREMPUAN TUA. (mengeluh). ISHAK. (lekas membalikkan badannya). Tapi nenek siapa? PEREMPUAN TUA. Kemarin telah kukatakan. ISHAK. Kemarin? Aku tidak tahu. PEREMPUAN TUA. Aku kemarin baru datang. ISHAK. Mengapa ke mari? PEREMPUAN TUA. Mengapa? Aku yang punya rumah ini. ISHAK. Nenek ...? Nenek yang punya rumah ini? (tiba-tiba sujud JAMAN JEPANG

di muka perempuan tua itu, mencium tangannya). Maaf, maaf, nek. Aku sangka rumah ini rumah kosong. PEREMPUAN TUA. Rumah di desa biasa begitu. Terbuka buat seka- lian orang. Anakku dari mana dan apa hajat ke sini ini? ISHAK. (bersedih) Dari jauh, jauh sekali. Entah dari mana. PEREMPUAN TUA. Aku baru seminggu pergi dari sini. ISHAK. Seminggu? (berpikir) Ya, aku baru seminggu di sini. Tidak pernah ke luar rumah. Mengarang, mengarang buku tebal (menun- juk ke tumpukan kertas di atas meja). Sekarang telah selesai. Setiap pagi kubuka jendela, angin pagi masuk. Badanku merasa sehat kembali. Petani bernyanyi sedih pergi ke sawah. PEREMPUAN TUA. Sekarang tidurlah anakku. Kemarin semalam- malaman menulis. Anakku mungkin letih. ISHAK. Letih? Letih? Badanku sehat. Karanganku selesai, selesai sudah. PEREMPUAN TUA. Anakku mungkin menjadi sakit. Tidurlah agak sejenak. ISHAK. Sakit? Aku sakit? Ya, dulu aku sakit. Kata dokter Kartili setiap hari kepadaku, aku sakit otak, sakit otak. Aku percaya kepada dokter Kartili. Tetapi sekarang aku baik, waras. Hawa desa, sawah-sawah, gunung-gunung membikin aku waras. PEREMPUAN TUA. Jadi anakku tahu, anakku sakit dahulu? ISHAK. Tahu. Tahu. Setiap hari dokter Kartili datang ke rumahku dan katanya aku sakit, sakit otak. Aku harus pergi ke gunung. Dokter Kartili teman sejatiku. Aku percaya kepadanya. Dan kau sakit, pergi ke gunung, ke alam luas. PEREMPUAN TUA. (cemas) Tidurlah dulu anakku. ISHAK. (berontek) Tidak, kataku. Aku sehat. Aku akan pergi ke sawah. Memberi penjelasan kepada petani, mengapa mereka harus menyerahkan padi kepada pemerintah. PEREMPUAN TUA. Besok masih ada hari lagi. ISHAK. Tidak, tidak. Harus sekarang juga. Aku akan pergi kepada mereka. Dan besol: pagi, jika mereka pergi ke sawah pula, suara mereka akan lepas bernyanyi. Mereka akaa bernyanyi-nyanyi girang. (berjalan hendak pergi, tiba dekat balai-balai ia berhenti KEJAHATAN MEMBALAS DENDAM

duduk di atas balai-balai, mcrebabkan dirinya, 'alu tertidur, meng- hadap ke dinding). PEREMPUAN TUA. (mengemasi kertas-kertas di atas meja meletak- kan kertas itu di balai-balai di bawah kaki Ishak. Membersibkan meja. Tiba-tiba ketokan pintu). PEREMPUAN TUA. Ys, masuk. Rumah desa selalu terbuka bagi orang semua.

Adegan kedelapan Kartili masuk. Perempuan tua keheran-heranan. PEREMPUAN TUA. Tuan ... KARTILI. Ya, saya temán Satilawati. Kemarin bersama nenek ke sini sekereta. Sekarang baru sempat menemui nenek. PEREMPUAN TUA. (tertawa) Apakah jasaku, maka aku mendapat kehormatan sebesar ini? Dan tuan tahu rumah aku? KARTILI. Setelah bertanya kian ke mari. Datangku tentu bukan untuk bersenang-senang. D Jakarta aku tidak dapat berbicara dengan nenek. PEREMPUAN TUA. Tuan hendak meminta pertolongan aku? Jika dapat tentu akan kutolong. KARTILI. Dari Satilawati aku dengar, nenek adalah seorang dukun yang masyhur. PEREMPUAN TUA. (mengejek) Dukun! Teruskan. KARTILI. (mengambil segumpalan uang kertas, meletakkannya di atas meja) Aku sedang dalam bahaya. Rahasiaku akan dibuka oleh teman sejawatku. PEREMPUAN TUA. Rahasia apa? KARTILI. Adalah suatu rahasia. PEREMPUAN TUA. Kalau berahasia pula kepadaku, aku tidak bisa menolong. KARTILI. Rahasia bahwa aku ada beristri di desa. PEREMPUAN TUA. Jadi apa yang tuan minta kepadaku? KARTILI. Supaya rahasia itu jangan terbuka. Supaya orang itu ... PEREMPUAN TUA. Dibinasakan. Aku telah mengerti. Coba aku se- lidiki sebentar. (ke luar, masuk lagi dengan satu buah mangkuk JAMAN JEPANG

kopi. Memberikan semangkuk kepada Kartili) Minumlah ini saun- pai habis. KARTILI. (meminumnya, memberikan mangkuk itu kembali kepado perempuan tua itu). PEREMPUAN TUA. (menggerak-gerakkan mangkuk itu lalu) Tuan bohong. KARTILI. (terkejut) Bohong? PEREMPUAN TUA. (tegas) Rahasia tuan bukan itu. KARTILI. Betul itu. PEREMPUAN TUA. Rahasia tuan ialah: tuan mencatutkan obat-obat rumah sakit. KARTILI. (terkejut, marah) Itu tidak benar. PEREMPUAN TUA. Mungkin tidak benar. Tapi aku tidak bisa menolong tuan. KARTILI. Aku akan bayar ratusan (melihat ke uangnya di atas meja). PEREMPUAN TUA. (melemparkan uangnya itu) Ambil kembali! KARTILI. (berobah sikap lemah lembut. Sambil mengumpulkan uang itu kembali) Maaf, maaf nenek. Jika nenek tidak dapat menolong aku, tidak apa. (melihat kepada Ishak yang sedang tidur nyenyak). Yang tidur itu siapa, nenekku. PEREMPUAN TUA. Anakku. KARTILI. Begini hari masih tidur? PEREMPUAN TUA. (kesal, ke luar).

Adegan kesembilan

Kartili lekas-lekas mengeluarkan sebuah bungkusan kertas kecil, lalu menuangkan isinya ke dalam kopi perempuan tua. Lalu lekas sepertı biasa kembali seperti tidak tahu apa-apa.

Adegar kesepuluh

Perempuan tua masuk kembali. PEREMPUAN TUA. Ya, tuan tidak bisa aku tolong. KARTILI. (tertawa) Tid&k jadi apa, nenekku. Tapi aku heran juga sedikit, mengapa nenek tidak mau menolong.

KEJAHATAN MEMBALAS DENDAM

PEREMPUAN TUA. Mcnolong selalu aku mau. Tapi sekarang aku hendak membangunkan. Aku tidak mau merusakkan lagi. KARTILI. Kalau nenek betul-betul tidak dapat menolong aku, apa boleh buat (beriba hati). Percuma rupanya kedatanganku ke mari.

Tapi ... (mengeluarkan sehelai uang kertas, meletakkan di atas

meja) ... ini jangan nenek tolak pula lagi. Hari ini juga aku

akan pergi ke Jakarta kembali. PEREMPUAN TUA. Terima kasih tuan. Pemberian tuan itu tentu tidak akan kutolak. Terima kasih. Dan selamat jalan (mengambil mangkok kopinya). KARTILI. Aku tahu bahaya mengancam aku di Jakarta itu. Kalau
tidak dapat orang yang menolong aku ... (menggaruk kepala) ....
Entahlah, otakku sakit memikirkannya. Terlalu banyak yang harus dipikirkan. Tinggallah nenek (memberi hormat). PEREMPUAN TUA. Selamat jalan sekali lagi, tuan. (hendak meminum kopi itu. Tiba-tiba.. ).

Adegan kesebelas

Pintu ditolakkan orang keras-keras. Satilawati masuk. SATILAWATI. Nenek? (perempuan tua terkejut). SATILAWATI. (Berlari cepat-cepat ke perempuan tua itu. Menepuk mangkuk itu dari tangannya. Mangkuk terjatuh. Ishak terbangun dari tidurnya. Bingung melihat kejadian itu). PEREMPUAN TUA. Satilawati! KARTILI. Satilawati! SATILAWATI. (menentang mata Kartili, Kartili menekur) Ia hendak membunuh nenek! Ia hendak meracuni nenek! PEREMPUAN TUA. (heran) Satilawati! SATILAWATI. Dari tadi aku tiba di sini. Semuanya kuintip dari sela dinding. Ia hendak meracuni nenek, karena nenek tidak mau menolongnya. PEREMPUAN TUA. (tertawa keras-keras) Hi, hi, hi, hi. Dan oleh karena itu engkau mengejut-ngejutkan aku, Satilawati? SATILAWATI. Nenek tidak percaya? PEREMPUAN TUA. Kaukira aku tidak tahu? Bayangan kopi yang

JAMAN JEPANG

berisi dengan yang tidak berisi lain, anakku (Kartili bendak lari ke luar). Nanti, nanti sebentar tuanku. Jangan pergi dulu (sambil menunjuk kepada Ishak yang masih bingung kelihatan). Ini siapa? KARTILI. (memandang kepada Ishak, terkejut) Ishak! PEREMPUAN TUA. Ya, Ishak. Seorang korban tuan. ISHAK. (berdiri) Kartili! (memandang kepada Satilawati) Satilawati! KARTILI. (lari ke pintu, ke luar).

Adegan keduabelas SATILAWATI. (geram) Manusia setan! (Tiba-tiba terlihat olehnya Ishak) Ishak! Engkau di sini? ISHAK. (bingung) Ada apa? Ada apa? SATILAWATI. Engkau di sini Ishak? Di rumah nenekku? ISHAK. Nenekmu? SATILAWATI. Dari kapan engkau di sini Ishak? Hampir aku tidak kenal kepadamu. Badanmu telah agak kurus. ISHAK. (kesal) Engkau mencari aku ke sini? Pergi, aku tidak mau diganggu lagi (cepat ke luar).

Adegan keligabelas Satilawati bingung. PEREMPUAN TUA. (mendekati Satilawati) Sabar, sabar anakku. Ia masih sakit sedikit. Tapi sabar beberapa hari lagi. Aku hendak membangunkan. SATILAWATI. Betulkah ia sakit, nek? Sakit turunan? PEREMPUAN TUA. Tidak. Tapi sakit ia betul. Dibuatkan Kartili. SATILAWATI. (terkejut) Nenek!

PEREMPUAN TUA. Disuruh buatkan Kartili. Untuk merampas eng-

kau. SATILAWATI. Mungkinkah yang demikian itu masih terjadi, nek? PEREMPUAN TUA. Tapi sudahlah. Mengapa engkau ke sini? Tahu- kah ayahmu? SATILAWATI. Kami telah berkelahi. PEREMPUAN TUA. Berkelahi? Mengapa?

KEJAHATAN MEMBALAS DENDAM

SATILAWATI. Pagi-pagi waktu aku pulang dari rumah sakit, aku dapati nenek tidak ada lagi. Aku tanyakan kepada ayah. Tapi ayah marab-marah. Tahulah aku, bahwa ayah telah berkelahi dengan nenek. PEREMPUAN TUA. Sebab itu engkau berkelahi dengan ayahmu? SATILAWATI. Ya. Tidak tertahankan olehku lagi. Aku benci melihat mukanya. Aku bungkus pakaianku. Sore-sorenya aku berangkat ke sini. Tiba di sini hari telah malam. Terpaksa aku menginap di hotel. Dan tadi, waktu aku tiba di sini, aku lihat ... jahanam itu di sini. PEREMPUAN TUA. Ayahmu memang terlalu keras dalam mendidik engkau. Tapi ia akan berubah. Ya, ia akan berubah. Aku hendak membangunkan. SATILAWATI. Semua cita-citaku dipatahkannya. Pun menjadi juru- rawat itu dialang-alanginya pula mula-mula. Dan dengan Ishak ... PEREMPUAN TUA. Engkau hendak diceraikannya. Dipaksanya aku untuk menceraikan itu. Aku tidak dapat ... SATILAWATI. Dan ayah mengusir nenek. PEREMPUAN TUA. Lebih daripada itu, ia mengancam aku. Ia hendak mengadukan aku kepada polisi, karena aku menjual padi ke pasar gelap. SATILAWATI. Siapa yang tidak menyesal, mempunyai ayah seperti itu. PEREMPUAN TUA. Tapi engkau harus kembali kepada dia, Satilawati. Engkau harus kembali. SATILAWATI. (terkeju!) Aku akan kembali? ... Tidak, tidak. PEREMPUAN TUA. Engkau harus, Satilawati. Aku tidak suka engkau meninggalkan ayahmu. Dengan siapa ia akan di rumah, siapa yang akan melayaninya. SATILAWATI. Biar baggimana juga, aku tidak bisa. PEREMPUAN TUA. (marab) Bukankah kukatakan engkau harus sabar? Telah beberapa kali kukatakan. Aku sekarang hendak membangunkan memperlurus mana yang bengkok. SATILAWATI. (lemab) Tidak kusangka nenek akan marah. Aku kira, nenek akan berbesar hati aku datang ke sini. PEREMPUAN TUA. Siapa yang tidak berbesar hati dikunjungi cucu-JAMAN JEPANG

nya. Tapi ayahmu akan berubah Satilawati. Itu dapat kujanjikan kepadamu! Pulanglah sekarang, ya nak. SATILAWATI. Sekarang juga? Tidak boleh besok? PEREMPUAN TUA. Tidak anakku. Dengan kereta pukul dua belas saja. Duduklah melepaskan lelah dulu. Waktunya masih lama. SATILAWATI. (duduk) Kalau begitu biarlah aku pulang. PEREMPUAN TUA. Aku hendak membangunkan. Semua semua. Juga Ishak! SATILAWATI. Aku terkejut tadi. Tidak kusangka ia di sini. PEREMPUAN TUA. Kudapati, ia telah ada di sini. Kemarin semalam- malaman menulis. Entah apa. Sampai sekarang ia belum makan. SATILAWATI. Ia benci melihat aku rupanya. PEREMPUAN TUA. Jargan dimasukkan ke dalam hati. Ia sakit se- dikit. Karena Kartili. SATILAWATI. (terkejut) Nenek tahu? PEREMPUAN TUA. Aku tahu semua. Nanti akan kuceritakan kepadamu. Sekarang aku hendak bekerja dahulu. SATILAWATI. Demikian busuknya hati Kartili. Dikatakannya ia hendak membela, tapi dia sebenarnya mencelakakan. PEREMPUAN TUA. Sudahlah Satilawati. Semua ini akan berubah. SATILAWATI. Adakah Ishak bercerita apa-apa kepada nenek? PEREMPUAN TUA. Berbicara? Mengomong pun hampir tidak ada. Ia menulis, berpikir, tertawa dengan sendirinya. Aku disangkanya tidak ada saja. SATILAWATI. Aku sangka betul-betul ia karena putus asa. Siapa menyangka ia akan tersesat ke sini! Allah rupanya hendak mem- pertemukan kami juga ... Tapi ayah pasti tidak suka! PEREMPUAN TUA. Serahkan itu kepadaku. SATILAWATI. Nenek selalu kasih kepadaku.

PEREMPUAN TUA. (sejurus termenung, tertawa pahit) Karena hanya

engkau tempat aku mencurahkan kasih ... Aku hanya setahun genap kawin, waktu aku berumur dua puluh lima tahun. Aku diceraikan dan sesudah itu aku tidak kawin-kawin lagi ... SATILAWATI. (berasa kasiban) Mengapa nenek? PEREMPUAN TUA. Semua orang laki-laki takut kepadaku, karena aku dukun, mulai belajar menjadi dukun. Tapi darah mudaku

KEJAHATAN MEMBALAS DENDAM

deras mengalir untuk mencari duit, duit selalu. Sampai terbeli olehku sawah di sini. Namaku harum, tapi ... setelah aku tua ini, hatiku tidak senang lagi. Hatiku berkata-kata ...

SATILAWATI. Nenek jangan bersedih. Waktu untuk memperbaiki

segalanya itu masih ada. PEREMPUAN TUA. Ya, dan akan kupergunakan sebaik-baiknya.

Sekarang pergilah, nak. Aku tidak dapat memberimu apa-apa.

SATILAWATI. (berdiri seperti orang enggan) Entah apa_ kata ayah, jika aku kembali kepada dia kembali. PEREMPUAN TUA. Ia akan girang sekali. Satilawati. SATILAWATI. (mencium tangan perempuan tua, lalu ke luar).

Adegan keempatbelas

Ishak masuk, keringatan. Mengempaskan diri duduk di atas balai- balai. ISHAK. Tidak bisa mengerti. Mereka tidak bisa mengerti. PEREMPUAN TUA. (mendekati Ishak) Siapa anakku? ISHAK. Semua petani di sini. Aku payah bercakap saja. Mereka tidak mengerti. PEREMPUAN TUA. Apa yang mereka tidak mengerti? ISHAK. Pidatoku. Mercka mendengarkan dengan mulut terbuka. Mereka tidak mengerti bahasa Indonesia. PEREMPUAN TUA. Apa yang anakku katakan kepada mereka? ISHAK. Tentang penyerahan padi. Mengapa mereka 1:arus menyerahkan padi kepada pemerintah, bahwa mereka harus bergiat menanam padi dan menyerahkannya. Untuk perang, untuk kemenangan akhir, kataku. Hanya perkataan yang penghabisan ini yang dapat mereka pahamkan. Mereka bertepuk... Sayang, aku tidak bisa berbahasa Sunda dan mereka tidak bisa berbahasa Indonesia. (termenung). PEREMPUAN TUA. Jika sudah agak lama di sini tentu anakku bisa berbahasa Sunda.

ISHAK. (berontak) Tapi aku hendak berkata sekarang, sekarang

kepada mereka. Supaya besok, jika mereka pergi ke sawah pula pagi-pagi, mereka akan menyanyikan nyanyi girang. Kita harus

JAMAN JEPANG

BABAK KEEMPAT

berbakti kepada tanah air. Aku dengan tulisanku dan mereka dengan padinya. Aku menulis semalam-malaman, bukan untuk mencari duit, begitu juga banyak lagi orang yang begitu. Itu cara mereka berbakti dan petani bisa dan harus berbakti dengan padinya (cepat berlari, mengambil sehelai kertas di atas balai- balai). Dengar, dengarlah, nek, kata penghabisanku: Dari sepuluh gunung mengalirlah menjadikan sepuluh sungai kecil-kecil, mengalir melalui lembah dan hutan, ke satu tujuan, menjadikan sungai yang besar dan luas, mengalir ke lautan bahagia. Demi- kianlah bakti rakyat Indonesia. (perempuan tua terpekur).

LAYAR TUTUP Di tepi sawah. Sebuah botang kayu besar. Di bawahnya duduk Ishak sedang merokok daun nipah. Perempuan tua sedang mengemasi daun-daun pisang pembungkus makanan mereka, yang telah mereka makan.

Adegan pertama

ISHAK. (gembira, menunjuk ke kiri) Lihat, nek, mereka bekerja seperti berlumba-lumbaan. PEREMPUAN TUA. Belum pernah terjadi yang demikian itu. Mereka senang bekerja rupanya. ISHAK. Tidak terkatakan girang hatiku melihat mereka sebulan yang lalu. Dengan riang gembira menyerahkan padinya kepada kuco. PEREMPUAN TUA. Malah ada yang dengan sukarela memberikan lebih daripada yang diminta kuco. ISHAK. Dan nenek sendiri? Setengah dari padi nenek, nenek berikan. PEREMPUAN TUA. Karena aku telah mengerti sekarang, Ishak. Buat apa diserahkan padi itu kepada pemerintah. Dan begitu juga sekalian petani di sini sudah insaf. ISHAK. Dan itu semua adalah oleh karena nenek. PEREMPUAN TUA. (heran) Karena aku? Aku tidak mengerti. Eng- kau yang mengadakan pidato di muka mereka setiap hari, bukan? Aku hanya menyalinnya saja ke dalam bahasa Sunda. ISHAK. Aku tahu, nek. Alangkah enaknya, jika sekiranya mereka mengerti bahasa Indonesia semua. Ya, tapi apa yang kukatakan DARI AVE MARIA

KEJAHATAN MEMBALAS DENDAM

dalam bahasa Indonesia itu, banyak lagi nenek tambah-tambah. (berkelakar) Jangan disangka aku tidak tahu, nek. PEREMPUAN TUA. Baik, kita berdua yang menginsafkan mereka. Tapi siapa yang menginsafkan aku? ISHAK. Tuan Suksoro! PEREMPUAN TUA. Suksoro? ISHAK. Ya, sebenarnyalah tuan Suksoro. Jika aku tidak dibenci tuan Suksoro aku tidak akan melarikan diri ke sini. Dan nenek tidak akan pergi ke Jakarta. Dan kita tidak akan bertemu di sini. PEREMPUAN TUA. Jadi kehendak Tuhan semua. Kita ini hanya alat saja untuk mengerjakan perintahNya. ISHAK. Rasanya aku tidak akan mau pergi ke Jakarta lagi. Lebih senang di sini. Mendengarkan nyanyi petani pagi-pagi pergi ke sawah. Dan ikut bekerja bersama mereka. Aku sehat rasanya di sini. PEREMPUAN TUA. Tidakkah ada sedikit juga lagi yang mungkin menjadikan engkau terkenang kepada Jakarta? ISHAK. Hanya satu. Perkataan penghabisan Satilawati. Ia akan tetap menjadi jururawat, katanya ... PEREMPUAN TUA. Kepada Satilawati sendiri tidakkah engkau terkenang? ISHAK. (memandang jauh) Kami telah berpisahan!

PEREMPUAN TUA. Marilah kita kenang-kenangkan sekarang kejadian

beberapa bulan yang akhir ini. ISHAK. Mengapa baru sekarang nenek hendak membuka tabir lama? PEREMPUAN TUA. Karena hari ini hari gembiraku. Aku mulai mengerjakan sawah hari ini dengan niat yang lebih suci daripada tahun-tahun yang sudah. ISHAK. Baiklah. Bukakanlah tabir itu oleh nenek. PEREMPUAN TUA. Engkau yang harus mulai dulu. ISHAK. Baik, baik, nek (seperti berpikir) Lebih baik mulai dari mula saja. Dokter Kartili setiap hari datang ke rumahku ... PEREMPUAN TUA. Setiap dia datang dikatakannya engkau harus pergi ke gunung, karena urat syarafmu telah terganggu. ISHAK. Mula-mula aku tidak percaya. Tapi setelah setiap hari aku KEJAHATAN MEMBALAS DENDAM

dengar perkataan itu aku mulai percaya. Dokter Kartili adalah teman sejatiku. PEREMPUAN TUA. Dau ia mencintai Satilawati pula! ISHAK. (terkejut) Apa kata nenek? Kartili mencintai Satilawati? (berdiri, berpikir, tiba-tiba memandang perempuan tua). Baru terang kepadaku sekarang, nek. Terang seterang-terangnya. PEREMPUAN TUA. (tersenyum) Apa Ishak? ISHAK. Ya, aku mengerti sekarang ... Tapi tidak, tidak mungkin, nek. Kartili tidak akan sekejam itu! PEREMPUAN TUA. Biarlah kita lanjutkan kenang-kenangan ini. ISHAK. Diberi dokter Kartili aku obat. Kutanyakan mengapa obat itu tidak seperti obat dokter sedikit juga. Dibungkus hanya dengan kertas koran biasa saja. PEREMPUAN TUA. Apa jawab Kartili? ISHAK. Katanya rumah sakit kekurangan kertas. PEREMPUAN TUA. Dan sesudah engkau meminum obat itu, engkau membeo perkataan dokter Kartili saja. ISHAK. (memandang jauh) Ya, ... ia pemain dan aku buah damnya. Bertambah terang kepadaku sekarang. PEREMPUAN TUA. Keluarkanlah semuanya. Dan besok kita akan bekerja dengan semangat baru. Ya, kita sendiri hendaknya menjadi manusia baru besok. ISHAK. Dan waktu romanku dikeritik ayah Satilawati, Kartili datang pula kepadaku. Dikatakannya aku dalam bahaya, akan dipandang pengkhianat. (sesak bernafas) Aku sendiri belum membaca keritik itu sama sekali. Dan kata dokter Kartili pula, urat syarafku akan bertambah terganggu. Aku harus melarikan diri. Dan aku tiba di sini. PEREMPUAN TUA. Dan di sini engkau telah berjasa, menginsafkan petani-petani. ISHAK. (mengepalkan tinju, melihat jaub) Mengapa tidak ke sana pikiranku dulu. Mengapa aku tidak tahu, ia mencintai Satilawati pula? PEREMPUAN TUA. Karena engkau terlalu percaya kepada dia. ISHAK. Benar, lebih enak tinggal di desa. Kota-kota besar penuh JAMAN JEPANG

dengan kejahatan. Beratus-ratus musuh dalam selimut. (meman-

dang jauh).

PEREMPUAN TUA. Semua ini telah berakhir. Kita akan mulai de-

ngan hidup baru. ISHAK. Desa ini sebagai mulai hidup baru, kulihat. (menunjuk ke kiri) Lihat, lihat mereka bekerja, nek ... (berpikir, kusut pikirannya

kelihatan, iba-tiba) Tapi ... PEREMPUAN TUA. Apa anakku ...?

ISHAK. Tapi hari yang «khir-akhir ini rumah kita tidak pernah mereka

injak lagi, nek. Berkata-kata dengan kita agak takut mereka ru-

panya.

PEREMPUAN TUA. (mengangguk) Memang mereka takut. Baru ke-

marin dapat kudengarkan percakapan mereka. ISHAK. Mempercakapkan kita, nek?

PEREMPUAN TUA. Ya. mereka takut. Karena rumah kita "berisi",

katanya. ISHAK. (bingung) Berısi? Apa, nek? PEREMPUAN TUA. Maksud mcreka, rumah kita ada penjaganya.

ISHAK. Siapa, nek? Siuman, maksud mereka?

PEREMPUAN TUA. Ya, tapi bukan siluman babi. Seperti orang juga.

Setiap kita tidur, ia datang malam-malam dan tidur di muka pintu

kita. Pagi-pagi bena: ia hilang kembali. ISHAK. Betulkah itu, nek? PEREMPUAN TUA. Barangkali. Kata mereka, mereka telah melihat orang itu dari jauh saja. Rambutnya tidak beres, menutup sebagian

besar mukanya. Tapi herannya kata mereka, pakaiannya bagus.

Malah terlalu bagus bagi orang desa. ISHAK. Kalau begitu pantas mereka takut. PEREMPUAN TUA. Jangan dipikirkan lagi. Mari kita bersenang. Hari ini ialah hari bersenəng.
ISHAK. Ya, bersenang dan bekerja... untuk nusa dan bangsa. Tapi ....
nenek berlebih-lebihan berseri kelihatannya sekarang. PEREMPUAN TUA. Karena hari ini Satilawati dengan ayahnya akan ke sini ... ISHAK. (lemab) Tuan Suksoro akan ke sini? PEREMPUAN TUA. Dengan Satilawati.

KEJAHATAN MEMBALAS DENDAM

ISHAK. (termenung sejurus, menekurkan kepalanya, pergi ke kiri).

Adegan kedua

PEREMPUAN TUA. (memandang arah Ishak pergi, tersenyum, me- ngemasi daun-daun kembali, berdiri hendak pe.gi ke kanan, lalu).

Adegan ketiga

PEREMPUAN TUA. (terhenti memandang ke kanan, tersenyum gembira). Suksoro, Satilewati dan Asmadiputera masuk.

PEREMPUAN TUA. (gembira) Dari tadi aku menanti. Satilawati,

engkau agak pucat kelihatan.

SUKSORO. (tertawa) Bukan karena sakit, bi. Maklum.

SATILAWATI. (tertawa) Ayah dari tadi mengganggu aku saja. PEREMPUAN TUA. Aku senang melihat ayah dan anak begini mengerti sama mengerti. SATILAWATI. Tapi, nenek menantikan kedatangan kami! PEREMPUAN TUA. Ya, perjanjian kita bukan? SATILAWATI. Masa menantikan tamu di s'ni. Di tengah-tengah sawah. Kami ke rumah nenek tadi. Tidak ada seorang jua di sana. PEREMPUAN TUA. Hendak melihatkan kepada engkau Satilawati, bagaimana giatnya Ishak mengerjakan sawah (menunjuk ke kiri) Lihat, itu dia ... SATILAWATI. (penuh perhatian melihat ke kiri). SUKSORO. (sambil menunjuk kepada Asmadiputera) Nek, ini teman Ishak dan temank'ı, nek. PEREMPUAN TUA. (tertawa) Jadi anakku. Ya, Ishak serasa anak kepadaku. ASMADIPUTERA. Kamı banyak berutang budi kepada nenek. Nenek- lah yang membereskan segalanya ini.

PEREMPUAN TUA. (tertawa) Tuan juga percaya kepada dukun?

ASMADIPUTERA. Sebelum kejadian itu aku tidak percaya. Per-

caya ... Tapi ... aku dengar, Ishak ada menulis buku.

JAMAN JEPANG

PEREMPUAN TUA. Ya, tuan, tebal sekali. Ada di atas meja di rumahku. Setiap hari dibaca Ishak. Puas sekali ia rupanya. ASMADIPUTERA. Boleh aku melihatnya, nek? PEREMPUAN TUA. Rumahku s!alu terbuka. Silakan tuan. ASMADIPUTERA. (ke luar, ke kanan) Permisi sebentar, tuan Suksoro dan Satilawati.

Adegan keempat SUKSORO. (melibat arah Asmad:putera) Belum pernah aku melihat orang berteman begitu. Ia :eorang meester in de rechten dan Ishak seorang biasa saja. SATILAWATI. Ayah, bukan itu yang mengikat mereka. Cita-cita mereka sama. Yang seorang ialah mesin untuk mendorong yang lain. SUKSORO. Bagaimana nanti pertmuanku dengan Ishak. Aku kira ia benci kepadaku ... SATILAWATI. Pada orang yang begitu tidak dibiarkan perasaan benci merajalela dalam badannya, Ishak akan gembira melihat ayah. SUKSORO. Dan aku akan minta maaf. Aku menyesal, Satilawati.
Kepada bibi ... (memandang perempuan tua) ...
PEREMPUAN TUA. Engkau telah kumaafkan, Suksoro ... Tapi tuan yang satu lagi di mana? Tidək datang bersama engkau? SUKSORO. (beran) Siapa maksud bibi. SATILAWATI. Kartili, ayah. SUKSORO. Kartili (tertawa sedih) Tidak ada seorang juga yang tahu ke mana ia. Lima belas hari yang lalu perkaranya telah dibuka. PEREMPUAN TUA. Perkara apa pula itu? SUKSORO. Ia diadukan oleh pak Miun. PEREMPUAN TUA. Pak Miun? Guruku? SUKSORO. Ya, guru bibi dan dukun Kartili selama ini. Rupanya orang itu berselisih dan pak Miun tahu rahasianya. PEREMPUAN TUA. Aku pun tahu juga. Ia mencatutkan obat rumah sakit! SUKSORO. (heran) Bibi tahu?

KEJAHATAN MEMBALAS DENDAM

PEREMPUAN TUA. (kepada Satilawati) Tidakkah engkau ceritakan kepada ayahmu, Satilawati? SATILAWATI. Ada kuceritakan, bahwa ia hendak meracuni nenek. PEREMPUAN TUA. Rupanya belum kuceritakan apa sebabnya ke- padamu. Ia datang ke sini minta pertolonganku. Ia akan diadukan orang katanya. SUKSORO. Orang itu ialah Pak Miun. PEREMFUAN TUA. Mula-mula ia berdusta kepadaku. Dikatakannya orang itu akan membukakan rahasia dia, bahwa ia ada beristri di desa. Setelah kulihat kopinya, kulihat ada bayangan Pak Miun dalamnya dan bayangan obat-obat rumah sakit. Aku tuduh ia, bahwa rahasianya bukan itu, tapi bahwa ia mencatutkan obat-obat rumah sakit. SATILAWATI. Apa jawabnya? PEREMPUAN TUA. Tidak dijawabnya apa-apa. Dimintanya supaya aku membinasakan lawannya itu. Bagaimana aku bisa membinasakan guruku. Pak Miun! SATILAWATI. Betul-betul rusak jiwa Kartili. Dan nenek hendak diracuninya! PEREMPUAN TUA. Jadi bagaimana dengan perkara dia itu? SUKSORO. Diundurkan sampai minggu yang akan datang. Tapi Kartili telah lebih seminggu tidak ada di Jakarta lagi. Rumahnya keli- hatan masih biasa. PEREMPUAN TUA. Barangkali ia pergi menyenangkan hatinya ke tempat yang sepi. Tapi marilah kita ke rumah, jika hendak ber- cakap-cakap. SUKSORO. Bersama Ishak sajalah, bi. Aku senang melihat orang-orang bekerja begitu giat (melihat ke kiri). SATILAWATI. Lain pula enakaya hawa desa dan sawah. Sejuk, nyaman, bebas merdeka. PEREMPUAN TUA. Ya, Ishak sendiri enggan rupanya kembali ke Jakarta ... Tapi tinggallah di sini. Aku ke rumah sebentar, me- nyediakan apa-apa sedikit. SATILAWATI. Di rumah tadi ada kami tinggalkan apa-apa buat renek. Ikan asin, serba sedikit. PEREMPUAN TUA. Terima kasih (ke luar ke kanan). JAMAN JEPANG

Adegan kelima

SATILAWATI. (memandang ke kiri) Perasaan bimbangku bertambah- tambah sekarang ayah. SUKSORO. Setelah melihat Ishak? SATILAWATI. Ia tidak mau ke Jakarta lagi. SUKSORO. Pikiran manusia setiap jam dapat bertukar. Siapa tahu, hatinya tergerak, setelah melihat engkau. SATILAWATI. (menunjuk ke kiri) Lihat ia bekerja, ayah. Telah se- perti petani betul (sesak bernafas). SUKSORO. Kalau dipikir dalam-dalam seorang pengarang seharusnya- lah begitu. Tidak diikat oleh sesuatu pekerjaan kantor. SATILAWATI. Tidak perlu tinggal di desa. Jika hendak bebas, di kota pun dapat juga. SUKSORO. Tinggal di kota sangat mahal. Sernua harus dibeli. Pakaian harus bagus. Akhirnya terpaksa juga mencari pekerjaan. Pengarang-pengarang di negeri asing bisı maju karena mereka bisa merdeka hidupnya. SATILAWATI. Benar juga perkatuan ayah. Hidup merdeka, tentunya hidup dari hasil karangannya. SUKSORO. Itu yang belum bisa di Indonesia ini. Di Eropah sebuah sajak saja kudengar, dibayar oleh majalah yang memuatkannya, ratusan!

SATILAWATI. Dengan itu saja, pengarangnya telah dapat hidup

beberapa bulan! SUKSORO. (menarik nafas) Ya, ke sana hendaknya pergi kita nanti, apalagi pengarang-pengarang muda kita (melihat ke atas) Pengarang-pengarang Indonesia Merdeka? SATILAWATI. (tersenyum) Ayah telah insaf benar rupanya sekarang. SUKSORO. Asmadiputera menceritakan ini kepadaku semua. Mula- mula aku tidak mau mengaku, bahwa aku salah. Sungguhpun begitu, perkataan-perkataan Asmadiputera mendengung-dengung

di telingaku terus, apalagi, waktu hendak tidur.

SATILAWATI. Dan ayah tidak dapat tidur, karena memikirkan itu. SUKSORO. Begitulah. Setelah Asmadiputera datang kembali, aku

KEJAHATAN MEMBALAS DENDAM

telah insaf seinsaf-insafnya. Dan kutanyakanlah kepada Asmadi-

putera apa cita-cita pengarang-pengarang muda sebenarnya.

SATILAWATI. (penuh perhatian) Apa jawab Asmadiputera ayah? SUKSORO. Kata Asmadiputera, Pengarang-pengarang muda Indonesia ini sedang menyiapkan diri untuk menyambut Indonesia Merdeka.

Dan jika Indonesia telah merdeka, Indonesia tidak perlu lagi

malu bergandengan dengan negara manapun juga dalam hal kesusasteraan. Pengarang muda Indonesia sekarang selalu berusaha menciptakan hasil kesusasteraan internasional, diakui oleh seluruh dunia. Dan untuk menciptakan yang demikian, kedudukan pengarang-pengarang Indonesia merdeka harus sama dengan kedu-

dukan pengarang-pengarang negara lain. Kedudukan yang bebas

dan merdeka. SATILAWATI. (gembira) Kalau sudah sampai kita ke sana, ah ... Aku telah melihat Ishak, berkereta motor, mundar-mandir ke seluruh Kota Jakarta, penuh perhatian kepada segala kejadian

di kota Jakarta dan di rumah mengarang, mengarang dengan

memikirkan kurs dompet ... SUKSORO. (berkelakar) O, engkau telah ngelamun saja Satilawati (tertawa). Tapi kata Asmadiputera pula yang demikian itu lambat laun tentu akan tercapai juga. SATILAWATI. Lega dada rasanya, jika itu telah tercapai ... (mena-
rik nafas panjang-panjang, tiba-tiba) .. Ishak! ... Ishak! ...

SUKSORO. (lekas menutup muiut Satilawati, memandang kepada

Satilawati) Engkau gila, Satilawati. Mengapa engkau panggil dia. Mungkin ia marah ...!

SATILAWATI. (tidak tahu, apa yang harus dibuatnya) Lihat ayah ...

ia ke sini! SUKSORO. (pergi ke dekat pohon, memegang batang pobon) Memang Satilawati ... Tiap-tiap orang yang bersalah itu, selalu merasa

takut ...

SATILAWATI. (agak marah) Jangan ayah berkata begitu juga. Ishak

akan gembira, bertemu dengan kita. Kata nenek ia telah baik betul ... SATILAWATI. (memandang ke kiri, tersenyum gembira). SUKSORO. (memandang ke kiri, tersenyum gembira).

JAMAN JEPANG

Adegan keenam

ISHAK. (masuk gembira) Satilawati! Tuan Suksoro! (bersalaman) Sudah lama datang? SUKSORO. Sudah agak lama juga. Senang melihat petani giat bekerja. ISHAK. Enak tinggal di desa tuan Suksoro. Apalagi bagi pengarang (elihat jauh) Itu rupanya maka Tolstoy tinggal di desa ... SATILAWATI. Tapi ia ada juga pergi ke kota sekali-sekali. ISHAK. Ya, tapi dengan enggan hati. Buru-buru ia kembali lagi ke desanya. SATILAWATI. Engkau akan berbuat begitu pula, Ishak? ISHAK. Buat sementara waktu, ya. Sebab sekarang hanya desalah yang dapat memberi kebebasan kepadaku. Tapi nanti ... entah kapan ... aku percaya, kota pun dapat memberi kebebasan kepada perasaan yang hendak menjelma (melihat jauh). SUKSORO. (Seperti ketakutan) Ishak, sekarang baru aku tahu, apa sebenarnya yang dicita-citakan pengarang muda. Maafkan aku, Īshak. ISHAK. Tidak ada yang harus dimaafkan, tuan Suksoro. Tuan telah banyak berjasa ... SUKSORO. (mengejek) Dalam mergalangi? Ya. ISHAK. Tidak. Kita ini dilahirkan ke atas dunia dengan kewajiban masing-masing. Kewajiban tuan ialah mempertahankan yang lama. Dan kewajiban kami ialah mencari yang baru. Ini menimbulkan pergeseran. Pergeseran ini menimbulkan api perjuangan yang maha hebat. Dan oleh perjuangan inı hidup di atas dunia serasa tambah berharga. SUKSORO. (termenung) ... Tapi. .. ISHAK. Antara kita tidak ada apa-apa lagi, tuan Suksoro. Sebagai manusia kita baik kembali. SUKSORO. (heran) Hanya sebagai manusia .. .? Dan sebagai pengarang ... ISHAK. Tetap akan ada jurang yang dalam. SUKSORO. (bertambah heran) Aku tidak mengerti ... KEJAHATAN MEMBALAS DENDAM

ISHAK. Sebagai pengarang, tuan akan tetap berjiwa lama. Itu tidak dapat disangkal lagi. SUKSORO. Tap: ...? ISHAK. Bedanya hanya, tuan telah dapat menghargai angkatan baru sekarang. Dan angkatan baru hanya itu yang diharapkannya dari angkatan lama, penghargaan itu. Salah sangkaan tuan jika kami menghendaki, supaya tuan mengarang cara kami pula ... SUKSORO. Aku mengerti, Ishak. ISHAK. Dan dunia selalu membuktikan, bahwa pemudalah yang selalu menang dalam perjuangannya dengan angkatan lama. SUKSORO. (mengangguk) Aku nıengerti, Ishak ... Mudah-mudahan. Adegan ketujuh Asmadiputera dan perempuan tua masuk dari kanan. ISHAK. (lekas membalikkan badannya) Asmadi! ASMADIPUTERA (mengulurkan tangan, tersenyum) Bagus sekali, bagus sekali. ISHAK. (heran) Apa Asmadiputera? ASMADIPUTERA. 'Dichtung und Wahrheit". ISHAK. Engkau telah tahu, Asmadiputera? ASMADIPUTERA. Aku dengar dari Satilawati. Engkau telah siap dengan bukumu. ISHAK. (tertawa) Semboyan buku itu telah kaubaca? ASMADIPUTERA. Tidak ada kulihat. ISHAK. Di hawah tumpukan kertas itu, di atas meja, kutulis, Asmadiputera. Terpaksa kehabisan kertas. ASMADIPUTERA. Demikianlah hendaknya semangat pengarang Indonesia semua. Tidak ada kertas, tulis di mana saja. Jangan pikiran terbelenggu oleh yang kecil-kecil. Bagaimana semboyanmu itu, Ishak. ISHAK. (tersenyum) Lebih baik menulis kebenaran satu halaman dalam sebulan. Dari membohong berpuluh halaman dalam sehari. ASMADIPUTERA. (menganggukkan kepalanya) Aku bawa ke Jakarta, Ishak? ISHAK. Akan engkau usahakan terbitnya? ASMADIPUTERA. Ya, selekas mungkin. JAMAN JEPANG

CORAT-CORET DI BAWAH TANAH

Kota Harmoni

TREM penuh sesak dengan orang, keranjang-keranjang, tong-tong kosong dan berisi, kambing dan ayam. Hari panas dan orang dan binatang keringatan. Trem bau keringat dan terasi. Ambang jendela penuh dengan air ludah dan air sirih, kemerah-merahan seperti buah tomat. Dalam trem susah bernapas. Tapi orang merokok juga, meng- hilang bau keringat dan terasi. Seorang perempuan muda, Belanda Indo, mengambil sapu tangannya, kecil sebagai daun pembungkus lemper, dihirupnya udara di sapu tangannya, lalu katanya, "Siapa lagi yang membawa terasi ke atas trem. Tidak tau aturan, ini kan kelas satu." Seorang-orang Tionghoa, gemuk seperti Churchill, merasa ter- singgung dan berkata dengan marah kepada nona Belanda Indo itu, 'Jangan banyak omong. Sekarang kemakmuran bersama, bukan Belanda." Orang Tionghoa itu membungkuk, mengambil dari keranjang sayurannya sebuah bungkusan dan katanya, sambil melihatkan bungkusan itu kepada nona Belanda Indo itu, "Ini dia terasi, mau apa?" Seorang perempuan tua, bungkuk dan kurus, bajunya berlubang seperti disengaja melubangkannya, seperti renda seperai, dimarahi kondektur, "Ini kelas satu, mengapa di sini. Ayo ke belakang. Kalau tidak, bayar lagi." Perempuan tua itu beriba-iba, meminta supaya ia dibolehkan di kelas satu saja, "Terlalu sempit di sana tuan. Saya tak bisa." Ya, kalau tak bisa, bayar lagi." DARI AVE MARIA

Lambat-lambat perempuan tua itu pergi ke kelas dua. Tiba di sana ia melihat dengan marah kepada kondektur dan katanya, "Ah, berlagak betul. Sedikit saja dikasi Nippon kekuasaan sudah begitu. Sama orang tua berani. Tapi coba kalau orang Nippon, membungkuk- bungkuk. Bah!" Seorang laki-laki, kuat dan tak memakai baju, berdiri dan katanya kepada perempuan tua itu, "Jangan banyak bicara. Duduk!" Di sebuah tempat perhentian, trem berhenti. Orang berdesak- desak, pekikan tukang jual karcis kedengaran. "Yang turun dulu. Ayu cepat!" Orang-orang berasa lega sebentar. Tapi sebentar lagi trem penuh sesak kembali. Dari bawah kedengaran suara seorang Nippon. "Kasi jaran 1). Bagero 2). Orang-orang tambah berdesak, memberi jalan kepada orang Nippon itu. Seorang anak muda, melihat kepada Nippon itu dengan muka masam dan katanya lambat-lambat, "Orang kelas satu dan orang kelas dua disamakannya saja, seperti binatang saja diperlakukannya." Tapi waktu orang Nippon itu berdiri di dekatnya, ia diam dan melihat ke tempat lain. Orang Nippon itu bergayut pada kulit di atas atap trem dan dari lengan bajunya yang pendek itu keluar bau terasi. Pemuda itu mengambil sapu tangannya dan dilekapkannya ke hidungnya. Di tengah jalan trem berhenti. Orang tercengang-cengang. Pikir mereka tentu ada kerusakan atau ada kecelakaan. Semua orang melihat ke luar. Di tengah-tengah ril kelinatan tiga orang Nippon berdiri me- nahan trem. Kondektur takut dan untuk keselamatan kepalanya diper- hentikannya trem. Ketiga orang Nippon itu naik. Tangan orang gores-gores kena pangkal pedangnya. Mereka berdiri dan tertawa, tertawa kemenangan. Trem jalan lagi berciut-ciut seperti bunyi kerekan. Pada peng- kolan orang-orang terhereng. Seorang perempuan muda tiba di atas pangkuan seorang anak muda. Seperti sudah biasa, anak muda itu

1) Orang Jepang tidak bisa mengucapkan 1. Huruf itu selalu diucapkannya sebagai r. 2jSomacam godverdomme, yang banyak dipergunakan Belanda biadab sebagai makanan artinya: babi.
KOTA HARMONI

memeluk pinggang sigadis dan ditolongnya berdiri kembali. Tapi tem- patnya tak diberikannya kepada gadis itu. Bau keringat tak tertahan-tahan lagi. Setiap Jrang mengeluh. Ah, teringat kepada masa silam, kata seorang-orang Indonesia, bajunya bagus dan bersih. Sebentar-sebentar dipukulnya Iengan bajunya, menghilangkan debu. Orang-orang tak menjawab perkataan orang Indonesia itu. Seperti perkataan itu sudah biasa saja. Di sebuah perhentian trem lagi, naik seorang pemuda dan seorang gadis. Muka mereka merah, karena kepanasan. Tapi mereka tertawa dan berkata dalam bahasa Belanda, kata yang laki-laki: Hm, enak betul di sini. Seperti dalam pasar ayam. Yang perempuan tertawa, diambilnya sapu tangannya, dilekapkan-

nya ke hidungnya yang mancung sererti hidung orang Yahudi. Katanya,

'Lebih baik dari pada berjalan kaki." Yang laki-laki memberengut, "Hm. Pukul berapa hari." Orang perempuan itu mengangkat tangan kirinya, hendak melihat

hari. Tangan kanannya mengingsut lengan kebayanya, tetapi lengan

kebayanya tidak bergerak. Dilihatnya ... arlojinya sudah menonjol ke luar dari sebuah lubang di lengan kebayanya itu. Kemalu-maluan katanya, "Pukul setengah dua." Kondektur berjalan di muka perempuan tua itu di kelas dua. 'Karcis yang baru, karcis yang baru." Perempuan itu melihat saja kepada kondektur. Di belakang kon-

dektur bibirnya ditariknya ke kanan seperti monyet, dan katanya,

"Lihat monyet itu." Orang banyak heran dan melihat ke bibir orang tua itu. Tiba di Harmoni trem berhenti pula. Dari kota ke Harmoni lama- nya dua puluh menit. Seorang-orang Indonesia, pakai destar Jawa dan sepatu Inggris melihat dengan marah ke arlojinya dan dengan suara nyaring seperti gersik daun kelapa yang sudah tua, katanya, "Bah, dulu hanya empat belas menit. Tak ada yang teratur sekarang ini." Pada tukang jual karcis katanya, "Bang, mengapa tak diatur orang banyak di tangga trem. Apa itu macam. Apa sekarang tidak ada aturan lagi. Itu, orang berdiri di atas tangga itu, larang. Nanti jatuh." CORAT CORET DI BAWAH TANAH

Keheranan-heranan tukang jual karcis itu melihat kepada orang Indonesia itu dan mengejek diputa:nya badannya dan ditiupnya peluit-

nya. Beberapa orang berpekikan, "Hai nanti dulu. Mau turun."

Trem yang sudah berjalan ini, tertegun berhenti lagi. Berdesak- desak kembali. Masih banyak orarg yang hendak turun. Orang Indonesia yang berdestar Jawa dan bersepatu Inggris itu melompat ke arah tukang jual karcis, ditariknya bajunya, "Engkau apa? Berbuat sekehendak hatimu. Lihat dulu orang, baru bunyikan peluit." Tukang karcis itu bertambah heran. Dalam hatinya, "Siapa orang ini?" Ia membalikkan badannya pula, tapi tak mengejek lagi, ketakutan rupanya. Sangkanya: Barangkali anggota Chuo Sangiin. 1) Trem berjalan Iagi. Orang tak begitu banyak. Sudah banyak yang dapat tempat duduk. Di tengah-tengah tak berapa orang yang berdiri lagi. Di kelas satu tak seorang jua orang Nippon. Perempuan gemuk berkata, cambil menyeka keringat dari leher- nya, pendek seperti orang Nippo.1, 'Euh, kalau tak terpaksa, kuha- ramkan naik trem. Mobilku diambilnya. Belum dibayar. Bilang saja hendak merampas, lebih baik." Orang laki-laki yang di sebelahnya, berkata, 'Nyonya, siapa yang mengambil mobil?" "Siapa lagi?" Orang tertawa dan maklum. 'Sabarkan saja hati. Nanti tentu datang hari gilang gemilang." Suara ini keluar dari sebuah mulut, berkeringat seperti kulit orang. "Apa? ... Sabar? Kalau aku tak sabar sudah lama aku masuk rumah sakit gila, seperti ..." Perempuan gemuk itu tak mau meneruskan perkataannya. Menge- luh katanya, "Zaman susah sekaıang. Tahun duapuluhan dulu susah juga, tapi tak sesusah sekarang."

1) Semacam Dewan Rakyat, bikinan Jepang.
JAWA BARU

Seorang laki-laki celananya pendek dan kotor, mendekati perempuan muda itu, lambat-lambat katanya, "Jangan bicara begitu. Nanti menyesal." Dekat Pasar Baru trem berhenti di muka gedung kumidi. Orang banyak naik dan turun. Beberapa orang naik dari jendela. Seorang-otang Nippon naik pula dari jendela. Seorang-orang Indonesia di atas trem berkata kepada orang

Nippon itu, "Hai, engkau apa? Naik dari jendela. Tak tahu aturan."

Orang Nippon itu mengeluarkan beberapa perkataan Indonesia, patah seperti pengkolan jalan. Orang Indonesia itu merah mukanya. Baru ia tahu yang ditegurnya tadi, orang Nippon. Tapi ia malu kepada orang banyak. Diberanikannya saja hatinya, dan katanya, "Itu tidak bagus. Naik dari jendela." Orang Nippon itu naik juga. Tiba di atas trem, ia marah-marah kepada orang Indonesia itu, Kerja di manakah? Kenapa berani rarang-rarang Nipponka?" Orang Indonesia itu tak mau kalah, tapi dalam hatinya ia kecut seperti cita Nippon kena air. Katanya, "Tuan kerja di mana? Saya kerja di Naimubu." Mereka bertengkaran mulut. 'Tapi Nippon itu tak mau melekatkan tangannya, sebab dekat itu ada kenpei. Kenpetai itu berdiri, berkata dalam bahasa Nippon dengan orang Nippon pereman itu. Rupanya Kenpetai itu marah. Dengan suara manis, katanya kepada orang Indonesia itu, "Dia sudah saya marahi. Memang dia salah." Orang Indonesia itu berasa senang, mendapat kemenangan yang gilang gemilang.

CORAT CORET DI BAWAH TANAH

Jawa Baru

ORANG-ORANG tak pandai menangis lagi, mereka hanya mengeluh. Setiap orang mengeluh karena kesusahan hidup. Beras sudah tiga rupiah satu liter, gado-gado setalen sebungkus kecil. Di mana-mana orang berbicara tentang beras, kesusahan hidup. Dan setiap orang itu menyalahkan Nippon. Jawa ternama dengan beras, mengapa kita kekurangan? Belum pernah terjadi yang seperti ini. Orang Nippon itu sama saja ¿engan Belanda, menghapuskan harta benda kita. Ya lebih lagi dari orang Belanda, mereka memeras kita dengan muka manis. Perkataan yang demikian tak ada didengarkan orang lagi, sudah biasa pula. Di jalan-jalan raya, di muka-muka rumah-rumah makan, ya di mana-mana kelihatan orang yang setengah telanjang dan setengah mati. Mereka mengemis minta lebih-lebih dari makanan orang. Tapi mereka tidak saja memakan makanan orang, tapi juga makanan anjing sudah sedap pula oleh mereka. Setiap hari kelihatan orang tergelimpang di tengah jalan. Orang banyak berkerumun dan jika ada salah seorang yang bertanya, "Mengapa ia tergelimpang di sana ...?" di jawab yang lain, 'Untuk mencari makan." Seorang anak muda duduk di bawah sebatang pohon, telanjang sebenar-benarnya, seperti kuda aau binatang lain. Setiap orang me- lewatinya, ditutupnya sebagian tubuhnya, tapi apalah yang dapat di- tutup dengan dua buah telapak tangan. Anak-anak gadis melihat JAWA BARU

kepada anak muda itu dan mereka tertawa, seperti ada yang lucu pada anak muda itu. Anak muda itu tak dapat berjalan, tak dapat mengemis, malu masih ada pada dirinya. Ia duduk saja di bawah batang kayu itu sehari-hari. Jika hari sudah malam betul, baru ia berani ke luar. Matanya selalu memandang ke kali dekat tempatnya itu. Dan jika ada bangkai ayam atau bangkai orang hanyut, tergesa- gesa ia turun ke kali itu, diangkatnya bangkai ke tepian dan ... dimakannya. Anak muda ini pun kesudahannya mati juga, tidak karena kekurangan makan, tapi karena terlampau banyak makan ... bangkai. Perempuan-perempuan jalang pun sudah banyak yang mati kela- paran, karena rezeki mereka sudah kendor pula. Beribu-ribu anak-anak gadis melamarkan diri untuk menjadi perempuan jalang. Mereka ini mencari uang, uang ... untuk pembeli beras, buat sanak saudara. Beribu-ribu orang pula berlomba-lomba mencari gadis ini. Akhirnya gadis-gadis ini pun mati juga, karena bunganya sudah layu, tak di- hinggapi kumbang lagi. Anak-anak muda yang masih berbaju pun tak terhindar dari bahaya ini. Mereka semua pucat. Mereka melakukan onani ... untuk menghilangkan lapar. Akhirnya mereka ini pun mati. Kata dokter karena banyak onani ... Surat-surat kabar penuh dengan kabar perang, tapi surat-surat kabar itu kosong dengan pekabaran seperti di atas. Seperti kejadian di atas itu tak ada terjadi di kota Jakarta dan di tempat lain. Jurnalis- jurnalis setiap hari disuruh ke mana-mana untuk melihat keadaan di sekeliling kota, tapi yang ditulisnya hanya tentang kemakmuran ber- sama. Beras susah, setiap orang dapat hanya seperlima liter sehari, tapi orang-orang Nippon dapat lima liter sehari. Kelebihan berasnya diberikannya kepada babunya, jongosnya. Babu-babu ini betul-betul makmur, tapi kemakmuran itu narus dibelinya dengan gadisnya dan jika tuan Nipponnya sudah bosan kepadanya, mereka ... mati ke- laparan. Jawa Hokokai mengadakan rapat besar. Dalam rapat itu dimaju- kan pertanyaan oleh orang-orang Nippon, dan harus dijawab oleh yang hadir, seperti di rumah sekolah saja. Pertanyaan orang Nippon itu mengenai: CORAT CORET DI BAWAH TANAH

Bagaimana dengan jalan setepat-tepatnya berbakti kepada pemerintah? Bagaimana setepat-tepatnya, menambah hasil bumi? Orang-orang berpikir, dan setiap pembicara tak ada yang men- jawab pertanyaan orang Nippon itu, seperti pertanyaan itu susah betul. Mereka mengemukakan kesusahan hidup rakyat. Kata setiap pembicara, "Pengurus Jawa Hokokai harus diubah. Mereka terlalu sedikit mengetahui keadaan rakyat. Beberapa orang di belakang ter- tawa dan berbisik-bisik katanya, "Ya, bagaimana akan mengetahui keadaan rakyat, kalau perut sudah gendut oleh nasi berbal-bal. Pada hari permusyawaratan kcdua, orang Nippon itu memajukan pertanyaan lagi. Dan pada akhir p:mbicaraan diberinya nasihat, bahwa yang akan dibicarakan hanya tentang pertanyaan itu saja, seperti apa- apa yang dikemukakan orang-orang yang kemarin itu tak ada gunanya sama sekali. Di Malang rumah gadai membayar empat rupiah untuk sebuah karung beras. Pemerintah perlu akan karung untuk membawa beras ke negri Nippon, rakyat perlu akan karung untuk penutup aurat. Di Jakarta juga susah kopi. Tapi orang di Bantam hampir teng- gelam dalam kopi. Orang-orang di Bantam pun mati kelaparan juga, karena mereka tak dapat hidup dengan kopi saja. Di Bandung jalan-jalan raya penuh dengan perempuan-perempuan Belanda Indo. Mereka berjualan ... badannya. Kehidupan susah, di mana-mana orang-orang mengeluh, tapi tak ada seorang pun yang berani membuka mulut. Seorang utusan pemerintah baru kembali dari perjalanannya dari seluruh Jawa dan telah mengirimkan laporannya kepada pemerintah. Malamnya diumumkan di radio, bahwa sungguhpun rakyat hidup susah, mereka tak mengeluh, menanggungkan segala-galanya dengan sabar, tanda bakti yang ke- luar dari hati suci. Dan pada penghabisannya dikatakan pula, bahwa pemerintah Nippon terharu sekaii melihat ketulusan seluruh rakyat pulau Jawa. Tokyo letaknya di utara, jauh sekali dari Pulau Jawa, tapi jika Tokyo memerlukan beras, menjadi dekat sekali kepada pulau Jawa. JAWA BARU

Seorang telegrafist bekerja sebentar dan dua hari sudah itu beras sudah di Tokyo dibawa kapal-kapal terbang. Kapal-kapal terbang digunakan untuk berjibaku dan untuk membawa beras. Setiap pagi kelihatan di Noordwijk anak-anak miskin berbaris ke rumahnya dari gereja. Muka mereka ini semua pucat, badannya kurus ... kurang makan. Orang-orang mencatut untuk menambah gaji di kantor. Mereka sudah dilarang pemerintah. Tapi orang-orang Nippon sendiri pun mencatut juga. Mencatutnya lain. Pemerintah memaksa orang kam- pung memberikan segala besi-besi di rumahnya kepada pemerintah. Tapi besi-besi ini jatuh ke tangan orang Nippon pereman dan dica- tutkannya dengan harga mahal kepada pemerintah. Mereka mencatut tak berpokok. Kehidupan susah di Jakarta, di Surabaya, di Plered, di seluruh pulau Jawa. Semua orang menengadahkan tangan ke langit, minta rezeki dari Tuhan yang maha kuasa, seperti Tuhan lupa memberi mereka rezeki. Setiap tahun padi menguning juga, beras digiling juga ... Tuhankah yang salah?

CORAT CORET DI BAWAH TANAH

Pasar Malam Jaman Jepang

SEPERTI ikan melihat umpan, orang berduyun-duyun pergi ke Pasar Malam Rakutenci 1). Umpan dimakan, langit-langit tersangkut, diangkat orang ke atas ... mati. Semua orang kelihatan gembira, tapi baju mereka kelihatannya tipis-tipis dan pudar. Mereka berjalan tergesa-gesa seperti pemuda pergi ke rumah tunangannya. Pada tonggak pintu gerbang tertulis dengan huruf besar-besar seperti pada tugu peringatan: Dengan bantuan Sendenbu. Semua orang telah mengerti arti Sendenbu. Sendenbu, barisan propaganda. Tapi mereka belum mengerti, mengapa Sendenbu itu selalu harus campur tangan. Sandiwara dengan bantuan Sendenbu, perkumpulan musik dengan bantuan Sendenbu, pertandingan bola dengan bantuan Sendenbu. Tapi mereka bergirang hati juga, sebab apa-apa yang dicampuri Sendenbu selalu menarik hati. Di muka tempat orang menjual karcis orang penuh sesak. Seperti biasa, di tempat orang ramai-ramai, terbau-bau keringat, masam atau setengah masam. Orang-orang yang takut kepada bau keringat itu membeli karcis di luar dengan harga dua kali lipat. Amin, bajunya berseterika, jadi bagus, berdasi dan bersepatu, seperti anggota Chuo Sangiin 2), tertawa melihat kepada orang ber-

1) Nama Prinsenpark Jakarta, di masa Jepang. 2 Nama "Volksraad" atau, Dewan Perwakilan Rakyat."
PASAR MALAM JAMAN JEPANG

desak-desak itu. Mengejek katanya kepada temannya, "Apa gunanya berdesak. Beli saja yang di luar ini." Temannya menjawab dengan beberapa perkataan. Waktu berkata itu bibirnya tak bergerak-gerak, :eperti bibir itu dari timah. Amin sebagai rasa tersinggung dan katanya, "Memang, di luar dua kali lipat. Tapi apa peduli kita. Apa artinya uang sekarang ini." Temannya tak menjawab lagi. Seekor kodok melompat-lompat kian ke mari. Tiba di atas kaki seorang perempuan, bundar seperti bola. Perempuan iu terpekik berpegang kepada seorang laki-laki yang tak dikenalnya. Lakinya yang berjalan di sebelahnya, marah. Beberapa perkataan kasar keluar dari mulutnya. Yang perempuan merasa tersinggung, memanggil sebuah beca ... Mereka tak jadi menonton Pasar Malam atas bantuan Sendenbu itu. Di Pasar Malam itu ada tempat terang, ada tempat gelap. Seperti tempat gelap itu disediakan pula untuk penonton-penonton. Di tempat gelap ini penuh sesak seperti di mana-mana. Sebentar- sebentar terdengar pekik orang pcrempuan. Perempuan itu memekik, sungguhpun tak ada kodok yang melompat ke atas kakinya. Dari rumah-rumah makan keluar bunyi musik, seperti bunyi blek kosong dipukul. Tapi di sini orang ramai juga. Haus dan lapar mereka hilang, karena melihat pelayan-pelayan, langsing-langsing seperti pohon kelapa. Pelayan-pelayan ini selalu tertawa menyongsong tamu baru, dilayaninya dengan manis dan tertib dan matanya tertarik kepada kantong tamunya. Di ruang barisan propaganda orang sangat ramainya. Hasil perin- dustrian Jawa di masa perang diperlihatkan, ban kapal terbang dan baju bagor. Orang banyak memegang-megang ban kapal terbang itu sambil tercengang-cengang, tapi oaju bagor tak ada yang memegang, seperti mereka takut mengotorkan tangannya. Seorang Indonesia, bajunya bolong-bolong, kain sarungnya dari karet, berkata kepada istrinya, sambil menunjuk ke baju dari bagor itu. "Ti, baju itu lengket juga apa tidak?" Ti tertawa. Ditariknya tangan lakinya, dibawanya ke luar ruang CORAT CORET DI BAWAH TANAH

itu. Tiba di luar Ti tertawa lagi dan katanya manis, "Kang ini tolol betul. Bagor kan bukan karet." Tak ada orang yang lama-lama berhenti dalam ruang barisan propaganda itu. Tapi di tempat ruang main rolet orang duduk ber- jam-jam. Di sini orang tak ribut. Mereka berdiam diri seperti orang melihat wayang. Mata mereka mengarah ke bal kecil yang berputar- putar di atas meja bundar, seperti meja Ghandi bermusyawarat di London. Di atas meja bundar Ghandi, terletak kertas-kertas, di meja bundar rolet, uang, juga kertas-kertas. Ghandi pulang dengan muka masam, juga muka orang-orang yang main rolet waktu pulang masam, seperti Hitler mendengar kabar sekutu mendarat di Perancis Barat. Daud, tukang sayur di pasar Senen bertanya kepada temannya, "Sim, rolet ini juga dengan bantuan Sendenbu?" Kasim berpikir, menggaruk-garuk kepalanya dan dijawabnya, "Kalau tak dibantu Sendenbu, masa orang seramai ini." Sebagai terpaku duduk seorang-orang Indonesia, kurus sebagai tonggak telpon, menghadapi meja rolet. Mukanya merah. Pasti ia kalah," kata orang di sebelahnya kepada temannya. "Sudah tentu. Kalau tak ada apa-apa, tak ada orang sekarang ini bermuka merah. Semua pucat. Kurang makan." Orang Indonesia yang kurus seperti tonggak telpon itu tak mendengar percakapan orang di sebelahnya itu. Yang diketahuinya hanya, bahwa ia harus meletakkan uang di atas sebuah nomor dan jika tukang putar rolet itu sudah berteriak, dengan sendirinya tangannya merogoh sakunya, dikeluarkannya beberapa helai uang kertas. Begitu berturut- turut. Tiba-tiba mukanya yang merah itu menjadi pucat seperti kapur. Dirogohnya, dirogohnya sakunya. Tapi tak ada lagi uang yang keluar dari sakunya, hanya beberapa kertas kuning, surat gadai. Ia berdiri. Sangka orang ia hendak pulang. Semua orang terkejut waktu ia berteriak, sambil membuka baju tropikalnya. "Siapa mau beli ini. Dua puluh lima rupiah." Beberapa orang Tionghoa berlompatan ke dekat orang Indonesia itu dan berlumba-lumba kata mereka, "Jual sama saya tuan." Baju tropikal itu bertukar tangan. Orang Indonesia itu duduk kembali. Sebentar lagi uang yang dua puluh lima rupiah itu hilang pula. Ia berdiri. Selalu sangka orang ia hendak pergi, jika ia berdiri. PASAR MALAM JAMAN JEPANG

Tapi persangkaan itu selalu meleset. Berturut dibukanya celananya, sepatu Robinsonnya, sampai hanya tinggal celana pendek dalam dan baju kaos dalamnya keduanya kuning-kuning seperti kunyit. Tampak sekarang tulang-tulangnya, seperti kaki ayam jago. Setelah habis pula uangnya, kata seorang-orang Tionghoa, "Sayang sekali tuan. Baju kaos tuan bolong-bolong, kalau tidak mau juga saya membeli lima rupiah. Direndam agak sehari dalam karbol, sudah boleh dipakai pula. Sayang sekali sudah bolong-bolong." Orang Indonesia yang seteng•h telanjang itu tak mendengar, ia telah tuli dan buta. Tergesa-gesa seperti pencuri siang hari ia melompat dari jendela belakang, berlari-lari ke luar Pasar Malam. Beberapa hari sudah itu terdengar kabar angin, di kampung anu sianu telah menggantung diri, karena ... kalah rolet. Dan di ruang besar, indah seperti ruang istana, duduk beberapa orang Nippon tertawa-tawa, sambil melihat ke atas sehelai kertas, penuh dengan angka- angka. Yang seorang meregang tangannya seperti orang baru bangun tidur dan katanya, "Obat mujarab untuk memberantas inflasi."

CORAT CORET DI BAWAH TANAH

Sanyo

DI BAWAH radio umum, duduk seorang tukang kacang goreng, Kadir. Keranjangnya penuh dengan kacang panas-panas dan kantongnya kosong dengan uang. Lampu minyak tanah di atas keranjangnya itu kejip-kejip, seperti lampu menara di tengah lautan. Udara panas dan menyesakkan napas. Tak seorang pun yang ingin hendak makan kacang pada malam itu. Orang-orang lebih suka mendekati tukang es daripada tukang kacang. Dua jam sudah, Kadir duduk di bawah radio umum itu, seperti tukang jaga. Mulutnya gatal-gatal hendak bicara. Hanya radio umum yang selalu bicara kepadanya, tentang pecah sebagai ratna, pengang- katan sanyo 1). Tak ada yang dapat dipahamkan Kadir, seakan-akan radio umum itu orang asing baginya. Orang asing yang datang jauh dari pulau Jawa, pendek sebagai orang kubu, kuning sebagai kunyit, buas sebagai harimau. Perlahan-lahan Kadir mengeluarkan beberapa perkataan, seperti ada orang yang mendengarkan perkataan itu. Sanyo, sanyo. Apa itu? San aku tahu, tiga, Yo? Kadir berpikir. Tiba-tiba katanya, "Apa perlunya berpikir, jika kacangku tak dibeli orang. Mampuskah sanyo itu. Kacangku tak juga akan laku oleh karena itu." Seorang tukang es lilin mendekati Kadir. Topi tukang es itu lebar seperti pak tani. Celananya tobek-robek. Ia tak berbaju. Badan-

1 Penasehat tiap-tiap departemen semasa Jepang. SANYO

nya setengah putih, setengah hitam, seperti bunga pada gaun yang dipakai orang pergi dansa. Pikir Kadir, "Tentu es lilin akan bertam- bah enak dimakan, jika melihat bunga cita itu." Tukang es lilin itu bukan ahli nujum. Ia tak tahu apa yang dipikirkan Kadir. Ia tertawa kepada Kadir dan katanya, "Bang, kasi kacang barang due sen." Lama Kadir melihat kepada tukang es lilin itu. Mengejek katanya, "Sekarang ini tak ada yang berharga dua sen lagi. Barangkali sanyo, tak tahu aku."'

"Sedikit saja jadi, bang. Penghilang-hilangkan lapar. Dari tadi

es saja yang aku makan." Kadir berasa kasihan. Diusainya kacangnya, dicarinya yang kecil- kecil dan diberikannya beberapa buah kepada tukang es lilin. Tukang es lilin memberikan dua helai uang kertas, kotor seperti tukang arang, kepada Kadir. Satu demi satu kacang itu masuk ke dalam mulut tukang es lilin. Menyesal katanya, "Banyak yang tak berisi, bang." Tercengang Kadir menjawab, 'Banyak? Kan kuberikan tadi hanya empat buah kepadamu?" Tanya tukang es lilin, 'Bang dari mana?" 'Dari Bogor. Sekali sebulan baru pulang. Di sana menjadi kumico." 1). Tukang es terkejut. Ia selalu berasa takut kepada kumico. Kumico kampungnya selalu diberinya es lilin sebatang setiap hari. Ia takut, kalau-kalau kumico menahan pembagian beras kepadanya. Lemah lembut dan hormat katanya, "Jadi selama tuan kumico di Jakarta, siapa yang menggantikan?" Kadir merah mukanya, mendengarkan ia dipanggil tuan itu. Sombong dijawabnya, "'Anak saya, Binu. Lepas sekolah desa. Ia lebih pandai daripada aku. Aku tak pandai membaca dan menulis. Hanya kalau terdengar ada pembagian rokok Kooa aku buru-buru pulang ke Bogor. Bukan untuk mencatutkan Kooa itu, bukan. Aku takut, kalau-kalau pembagian itu tak beres jalannya."

1) Kepala Rukun Tetangga CORAT CORET DI BAWAH TANAH

'Tuan kumico, kalau orang seperti saya ini boleh jadi kumico atau tidak?" Kadir mengerincutkan keningnya. Dengan suara seperti Saiko Sikikan 1) katanya, "Tak tahu aku. Dulu mudah saja. Tapi sekarang ini susah juga. Tadi kudengar diumumkan di radio, bahwa pangkat sanyo sudah ditambah pula. Tentu akan lebih teliti penjagaan kepada kumico-kumico." Tanya tukang es lilin, "Sanyo itu apa, tuan Kumico?" 'Tak tahu aku. Orang sekarang memakai perkataan yang susah-susah untuk pekerjaan tetek bengek." Seorang laki-laki mendekati mereka. Rambutnya kusut masai. Ia berbaju pyama dan bercelana dalam, tampak pahanya kecil seperti batang padi. Katanya, 'Kasi tiga sen." Tukang es Klin mengambilkan sebatang es lilin dan diberikannya kepada orang laki-laki itu. Marah kata orang laki-laki itu, "Tolol, bukan es maksudku. Kacang." Lambat-lambat Kadir menjawab, "Hanya es yang berharga tiga sen, tuan." Orang laki-laki itu marah lagi dan katanya, 'Mesti kasi. Engkau tahu sanyo sudah ditambah sekarang? Nanti kuadukan." Kadir gemetar ketakutan. Dipilihnya kacang yang kecil-kecil, diberikannya kepada orang laki-laki itu. Kadir memberanikan dirinya dan katanya, '"Tuan, kalau boleh saya bertanya ... sanyo itu apa sebenarnya." Orang laki-laki itu membuka sebuah kacang dan katanya, "Sanyo itu tuan besar orang Indonesia. Kepalanya ... Orang laki-laki itu membuka sebuah kacang lagi, tak berisi. Marah dilemparkannya kulit kacang itu kepada Kadir dan keras-keras katanya, "Seperti ini, hampa." Orang laki-laki itu memberungut dan pergi. Kata Kadir kepada tukang es lilin, "Dari sekarang aku mesti mengetahui arti sanyo. Dipertakutnya saja aku dengan perkataan itu. Siapa tahu sanyo itu orang biasa saja. Tukang catut misalnya." Mengeluh kata tukang es lilin sambil melihat ke badannya, "Sekarang ini serba susah. Badan kita seperti es lilin saja. Ber-

1) Pangkat tertinggi militer Jepang.
SANYO

tambah kecil juga, akhirnya habis menjadi air. Dilemparkan orang." Jawab Kadir, "'Aku melihat dari jurusan lain. Kita sama dengan es lilin. Sama-sama digigit dan dihirup orang."' Tukang es lilin menjawab, 'Banyak jalan, kalau hendak pergi ke langgar." Dari radio umum keluar sekarang bunyi musik. Sangka Kadir lagu Nippon, tapi dipertengahan lagu itu kedengaran "Ya, jiwa." Kadir bertepuk dan katanya, "'Ah, enak ini. Keroncongan mo- deren barangkali." Kadir dan tukang es lilin terkejut. Di mukanya sudah ada se-

orang laki-laki pula. Kata orang laki-laki itu, "Kacang sepicis bang."

Lekas tangan Kadir menjangkau sehelai kertas dan dibungkus- nya kacang sepicis. Gembira tanya Kadir kepada orang laki-laki itu, "Tuan, boleh saya bertanya sedikit?" Orang laki-laki itu tercengang dan jawabnya, "Boleh." "Yang hendak saya tanyakan ini, tuan. Apa sanyo itu tukang catut?' Orang laki-laki itu terkejut dan marah katanya, "Apa katamu? Engkau jangan menghina Dai Nippon, ya. Engkau tahu siapa ini?

Mata-mata ini. Ayo mari ke kantor polisi. Jahanam."

DARI AVE MARIA

Fujinkai

FUJINKAI kampung A berapat. Sehari sebelam rapat ini nyonya Sastra repot betul, seperti ia hendak mengawinkan anaknya. Pinjam meminjam kursi, panggil memanggil anggota. Bagi nyonya Sastra rapat Fujinkai itu suatu kejadian yang penting dalam kehidupannya sehari-hari. Bersemangat betul ia, kata seorang anggota kepada temannya. Nyonya Sastra berdiri, berbicara, membuka rapat. Dengan suara seperti ngeong kucing kedinginan, nyonya Sastra menguraikan, bahwa ia dapat perintah dari atas untuk mengadakan rapat ini, untuk mem- bicarakan beberapa soal. Seorang anggota, duduknya berhadap-hadapan dengan nyonya Sastra, menggumam beberapa perkataan, "Ya, kalau tak diperintahkan masa berani." Sedang berbicara, nyonya Sastra melihat kepada anggota ini. Muka nyonya Sastra masam dan muka anggota itu mengejek. Agak gementar nyonya Sastra melanjutkan pembicaraannya. Lama sekali ia berbicara, yang diperintahkan orang di atas itu belum juga ke luar. Semua anggota kuap, sepcrti serdadu di medan perang yang sepi. Sepuluh menit ... dua puluh menit, nyonya Sastra masih berbicara. Mulutnya yang seperti muncung tupai itu kembang kuncup seperti lubang puputan. Lubang kidungnya terbuka sebesar-besarnya, seperti jala dalam air. Tampak bulu-bulu hitam-hitam seperti ikan

FUJINKAI

cumi-cumi. Sedang bicara keluar air ludahnya antara giginya, me- leleh di atas dagunya, seperti ingus anak kecil. Seorang anggota berdiri dan kemalu-maluan katanya, 'Nyonya Sastra, saya permisi saja pulang. Banyak pekerjaan di rumah."' Nyonya Sastra berasa tersinggung dan dengan suara marah ta- nyanya, "Mengapa nyonya Waluyo? Rapat belum habis lagi. Baru saja dimulai. Di rumah nyonya bekerja untuk diri nyonya sendiri. Sedang di sini kita bekerja untuk kepentingan bersama." Nyonya Waluyo seperti orang berpikir dan katanya dengan tegas, "Sayang sekali nyonya Sastra." Nyonya Waluyo melihat ke atloji tangannya, kecil seperti kum- bang dan dilanjutkannya pembicaraannya, "Saya pukul enam tepat

berjanji dengan tukang ayam. Ditukar dengan baju rombeng-rombeng."

Nyonya Waluyo mengangguk kepada nyonya Sastra dan kepada semua anggota, lalu keluar. Tiba di luar katanya antara giginya, "Buat pertama dan penghabisan kalinya." Dan seperti orang mengejek katanya, "Hm ... kepentingan bersama." Anggota-anggota yang lain gelisah tampaknya seperti orang ber- temu muka dengan jandanya. Nyonya Sastra terus juga bicara. Segala isi surat kabar pada hari yang akhir-akhir ini keluar. Terima kasih kepada Angkatan Laut Nippon yang telah mendapat kemenangan gilang gemilang di Laut sebelah Timur Taiwan, penghormatan kepada prajurit-prajurit Nippon yang telah pecah sebagai ratna di pulau Pililiou, terima kasih kepada Dai Nippon Teikoku atas kemerdekaan Indonesia di kelak kemudian hari, lagi terima kasih atas pembagian beras yang sudah diatur rapi oleh pemerintah bala tentara, yaitu setiap orang mendapat seperlima liter sehari. Seorang anggota berdiri pula. Agaknya orang kampung totok. Bahasa Indonesianya patah-patah seperti lidah nenek-nenek. Bajunya pudar dan tipis. Dadanya seperti air danau Toba, tak berombak. Sebentar-sebentar ia batuk. Lemah lembut katanya, "Nyonya Sastra, seperlima liter kan tak sampai. Dari mana dicari tambahnya. Laki saya tak dapat bekerja lagi. Tangannya telah dipotong Nippon karena ..." CORAT CORET DI BAWAH TANAH

Berat hatinya meneruskan kalimat ini. Tapi ia harus menimbul- kan kasihan nyonya Sastra. Kalau-kalau nyonya Sastra dapat menolong- nya. Dikeraskannya hatinya dan di antara batuk-batuknya, "Karena ia mengambil beras seliter dari rumah tuannya. Karena terpaksa, nyonya. Kalau tidak, Salim seorang yang lurus hati. Tolonglah saya, nyonya. Anak saya dua orang sedang kuat makan." Semua anggota berasa kasihan. Tegas nyonya Sastra berkata,

'Nyonya Salim, saya tak dapat menolong. Sudah ditetapkan begitu."

Kita harus menurut saja. Sekarang ini lain dari dulu. Dulu kita boleh membantah keputusan orang di atas. Sekarang ini zaman menurut, ini membaikkan sekali. Sebab kalau seperti zaman dulu itu, segala-galanya makan tempo yang lama sekali Dai Nippon lain. Segala-galanya cepat. Baru dua tahun, kita sudah mendapat kemerdekaan kita di kelak kemudian hari. Kita harus bekerja, nyonya Salim. Nyonya Salim seperti orang hendak menangis dan tanyanya, "Jadi seperlima liter itu kurang lagi dari seperempat? Kalau begitu biarlah saya pulang saja. Banyak pekerjaan di rumah." Lambat-lambat seperti pengumuman kekalahan oleh Dai Honei, Nyonya Salim menuju pintu. Tiba di rumahnya ia menangis. Nyonya Sastra tertawa mengejek Nyonya Salim. Katanya, "Beginilah kalau orang kampung serta puia dalam rapat. Yang dibicarakan lain. Yang ditanyakan lain. Hai, ha', hai."' Nyonya Joko dan nyonya Surya, duduknya agak jauh dari nyonya Sastra, asyik berbicara. Kata nyonya Joko, "Joko sekarang pucat kelihatannya. Kasihan aku melihatnya. Setiap hari bekerja keras, tiba di rumah hanya dapat bubur. Kalau kau, mendingan juga. Segala apa yang lalu di muka rumah, gado-gado oncom goreng kubeli, untuk penghilangkan lapar. Kadang-kadang sampai serupiah sehari. Kasihan Joko." Nyonya Surya tak begitu susah hidupnya. Lakinya anggota Shu Sangikai dan agak sombong katanya, 'Kami, hidup kami biasa saja, tak banyak ubahnya dari dulu. Surya dapat surat pas untuk pergi ke mana-mana. Pulang dari Bantam dibawanya kopi. Pulang dari Cirebon beras dan rokok Kooa." Biasanya beras yang dibawanya itu berlebih untuk kami berdua. Ya, apa boleh buat. Lebihnya itu kami jual. Kadang-kadang sampai FUJINKAI

seringgit setalen seliter terjual. Ya, lepas juga ongkos menonton Warnasari. Nyonya Joko berdiri dan katanya kepada nyonya Sastra, "Nyonya Sastra, itu saja yang akan dibicarakan dalam rapat ini? Segala terima

kasih melulu. Aku permisi pulang."

Nyonya Sastra terkejut, dari tas kulitnya diambilnya sehelai kertas dan katanya dengan suara ngeong kucing kedinginan, 'Nanti dulu, nyonya Joko. Yang tadi itu baru permulaan kata saja. Acara rapat itu sebenarnya ..." Nyonya Sastra membuka lipatan kertas itu. Dilanjutkannya pem- bicaraannya. Ini. Tanggal 8 Desember yang akan datang ini, genap sudah tiga tahun Nippon mengumumkan perang kepada Amerika dengan menggempur Hawai. Hal itu harus diperingati. Kewajiban Fujinkai pun sudah ditentukan, yaitu: Kita bersama-sama dengan Fujinkai kampung lain, pergi mengunjungi prajurit-prajurit Nippon yang sakit. Untuk itu kita akan membuat kuwe-kuwe untuk mereka. Dan membuat kuwe itu memakan ongkos. Kita harus melihatkan terima kasih kita kepada mereka yang telah berjoang buat kepentingan kita itu. Nyonya-nyonya sekalian. Kalau dapat saya memendekkan pembicaraan saya, maka saya akan berkata: acara rapat ini ialah, meminta kemu- rahan hati nyonya-nyonya, memberi ala kadarnya sejumlah uang, untuk membuat kuwe-kuwe itu. Paling sedikit seringgit setiap keluarga. Saya rasa ini tak terlalu berat bagi nyonya-nyonya. Apa artinya seringgit. Sangka saja nyonya membeli seliter beras. Pasti takkan berat terasa. Tentang kapan kita akan mulai bekerja, nanti akan saya beri tahukan lebih lanjut. Anggota-anggota Fujinkai kampung A berbisik-bisik. Seorang dari pada mereka berkata, '"Tentang seringgit itu perkara yang kedua. Mengapa nyonya memakai kata pendahuluan yang panjang lebar, untuk mengatakan kepada kami, kami harus merogoh kantung kami lebih dalam lagi? Coret saja nama saya jadi anggota Fujinkai. Biar dikatakan orang saya tak bersemangat." Nyonya Sastra ketakutan dan gemetar katanya, 'Nyonya Samiun, nyonya jangan lekas marah. Kita harus sabar dalam masa sekarang ini. Nyonya salah sangka sebenarnya. Terpaksa saya mengatakan di CORAT CORET DI BAWAH TANAH

Oh...Oh...Oh..!

sini, sungguhpun rahasia, bahwa segala apa yang saya ucapkan tadi sudah dititipkan dari atas. Bersama-sama datangnya dengan surat perintah untuk mengadakan rapat ini. Sucah rajin saya kemarin mengapalkan segalanya itu di luar kepala, perkataan demi perkataan, nyonya Samiun." Nyonya Sastra menghapus keringat dari keningnya. Rapat bubar dengan selamat.

SUKABUMI masyhur dengan dinginnya, tapi orang-orang yang berleret di muka tempat menjual karcis kereta api setengah mati kepanasan. Baju mereka di sebelah belakangnya, di lehernya, di bawah lengannya penuh keringat. Di sebelah leretan manusia itu di dekat kaki mereka, berleret pula lalar hitam-hitam seperti obat batuk, sedang mengisap air ludah, ada yang encer dan jernih dan ada pula yang beku seperti susu kental. Sebentar-sebentar kedengaran batuk, diikuti oleh bunyi air beku jatuh. Lalar-lalar berkerumun ke air ludah yang baru jatuh itu seperti manusia membeli goreng pisang yang baru masak. Orang yang batuk itu ialah seorang anak muda kurus seperti ranting mati. Ia berdiri di tengah-tengah barisan. Orang yang berdiri di belakang bertanya, "Tuan, mengapa tuan batuk-batuk. Kan tak ada debu di sini." Jawab anak muda itu, 'Di kamar yang sebersih-bersihnya aku batuk juga. Aku baru saja pulang dari Pacet. Hendak ke Jakarta." Kata orang yang di belakangnya, sambil mengambil saputangannya, 'Kalau tuan sakit dada jangan meludah di tanah, dong. Kan berbahaya bagi orang banyak." Anak muda itu batuk kembali dan dari mulutnya keluar susu kental, di tengah-tengah campur warna merah seperti bendera Nippon. Di muka barisan berdiri seorang orang Indonesia, pakaiannya compang camping. Tangannya yang kudisan itu dimasukkannya ke dalam lubang loket dan berkali-kali katanya, "Jakarta satu kelas empat." CORAT CORET DI BAWAH TANAH FUJINKAI

Tukang jual karcis melihat agak marah kepada orang itu dan katanya, "Kalau tak bisa menunggu boleh pergi." Jawab orang Indonesia itu marah pula, "Sudah setengah jam aku menunggu. Belum juga dladeni. Orang itu juga diberi dulu." Orang Indonesia itu menunjuk kepada seorang pegawai stasiun di belakang tukang jual karcis. Tukang jual karcis bertambah marah dan keras-keras katanya, "Apa pedulimu. Itu urusanku. Kalau engkau mau lekas juga, boleh beli dari belakang. Tambah setengah perak." Orang Indonesia itu berdiam diri. Kepalanya digeleng-gelengkan- nya dan memberengut katanya, "Tak dapat disesali. Set:ap orang berusaha menambah pengalamannya sekarang," Sesudah memberungut itu, ia melihat ke kantungnya yang berisi beras. Dan lambat-lambat disambungnya, "Aku juga." Seorang-orang Tionghoa keluar dari barisan. Keringat di kening- nya dihapusnya dengan sapu tangan pyramidenya. Ia berdiri di sebelah orang Indonesia itu. Orang Indonesia itu marah. Putus putus katanya, 'Dengan hormat, tuan. Jangan keluar dari barisan. Kalau begini semua orang mau. Tapi akhirnya berdesak-desak. Susah tukang jual karcis." Mengejek jawab orang Tionghoa itu, '"Engkau jangan banyak omong. Engkau tahu aku siapa. Aku dapat surat pas dari sikuco 1)." Dan kepada tukang jual karcis katanya, "'Kelas dua satu, Jakarta." Tukang jual karcis tercengang katanya, "Kelas dua hanya buat Nippon, tuan dan ... orang-orang yang mendapat surat keterangan dari sikuco." Orang Tionghoa itu tertawa gelak-gelak. Katanya, sambil melihat ke jarinya memegang sehclai uang kertas lima rupiah, "Ini tuan, surat keterangannya. Ke Jakarta kan hanya dua perak enam puluh lima sen.

Lebhnya ..."

Lekas-lekas tukang jual karcis mengambil uang dari tangan orang Tionghoa itu dan lemah-lembut katanya, "Ini tuan, kelas dua. Jakarta." Kereta api berangkat meninggalkan setasiun Sukabumi. Orang

1) Lurah dalam zaman Jepasg
OH. OH. OH .!

Tionghoa itu duduk di kelas dua, tertawa dan tersenyum manis kepada seorang nona Belanda Indo. Di kelas tiga dan di kelas empat orang menangis, karena berdesak desak. Kondektur berjalan dari kelas tiga ke kelas empat. Sampai ia ke sekumpulan orang berdiri dekat tangga. 'Karcis-karcis," kata kondektur. Semua orang mengeluarkan uangnya. Pura-pura marah kata kondektur, 'Kalau tak ada karcis, mengapa naik keretaapi juga. Bagai- mana masuk setasiun tad:?" Seorang dari pada mereka berkata, "Tukang periksa karcis di pintu setasiun, kami beri sepicis seorang, tuan." Kondektur tak menjawab lagi, uang di tangan orang-orang itu diambilnya, dimasukkannya ke dalam sakunya dan lambat-lambat katanya, "Lain kali beli karcis, ya." Di sebuah setasiun kecil kereta api berhenti. Beberapa orang anak muda, semuanya tak berbaju naik ke atas kereta api. Hanya pecinya yang menandakan mereka keibodan 1). Orang-orang diperiksanya. Beras diambil, diturunkan, dan orang yang kedapatan membawa beras dipukuli, juga orang-orang perempuan. Dalam tempat duduk terletak sebuah bungkusan berisi beras. Seorang keibodan bertanya, "Siapa punya ini?" Tangannya sudah memegang bungkusan itu. Seorang agen polisi mendekati keibodan itu dan megah katanya, "Saya punya, boleh ambil." Keibodan itu memberi hormat, dan kemalu-maluan katanya, 'Maaf tuan, saya kira orang lain yang punya." Semua keibodan turun kembali dari atas kereta api. Di atas lantai setasiun berunggun-unggun bungkusan berisi beras yang mereka ambil dani penumpang. Seorang keibodan berbisik kepada temannya, 'Tuan Murakawa ada?" Temannya menggelengkan kepalanya dan dari mulutnya yang lebar itu keluar beberapa perkataan yang ditahan-tahan, ""Tadi pagi pergi ke Bogor. Sore-sore baru pulang. Kita bagi lima saja beras ini. Tinggalkan saja sedikit di sini, sebagai tanda kita telah bekerja hari ini." Waktu kereta api hendak berangkat, naik seorang-orang Arab.

1) Pembantu polisi dalam zaman Jepang. CORAT CORET DI BAWAH TANAH

Sambil melihat kepada orang yang berdesak-desak dalam kereta api, katanya, "Masya Allah." Di belakang orang Arab itu berjalan seorang anak muda, bajunya robek-robek, kakinya yang sebelah kiri dari kayu. Berjingkat-jingkat ia naik tangga kereta api. Tanya orang Arab itu, "Engkau hendak ke mana? Bisa berdiri Iama-lama? Anak berkaki satu itu menjawab dengan hormatnya, "Ke Jakarta, tuan. Di sini tak ada orang yang mau memberi sedekah lagi. Biarlah saya duduk di tangga saja tuan." Kereta api berjalan pula. Pohisi di kelas empat tadi lama me- mandang kepada seorang perempuan muda, punggungnya bungkuk. Seperti Don Juan agen polisi itu mendekati perempuan muda itu, "Kak umurnya berapa?" Perempuan muda itu tercengang. Jawabnya, "Tiga puluh dua. Mengapa?" "Tidak. Sayang sekali. Begini muda sudah bungkuk." Agen polisi mengulurkan tangannya, dirasainya punggung perempuan itu dan katanya, "Kok halus-halus benar punggung kakak." Dan setelah berpikir sebentar, disambungnya, "Beras he. Kak, aku benci melihat perempuan muda bungkuk. Curahkanlah beras itu ke dalam bungkusanku ini. Nanıi di Jakarta kita takar lagi, berapa liter beras kakak. Jangan takut. Kita takkan diganggu keibodan lagi.' Agen polisi itu tertawa. Kemalu-maluan perempuan muda itu membuka kutangnya. Beras dicurahkannya ke dalam kantung agen polisi. Dekat setasiun Bogor kereta api berjalan dengan cepatnya. Tangan orang yang berkaki sebelah itu terlepas dari pegangannya. Ia jatuh, mati. Kereta api terhenti. Kondektur membuat beberapa catatan. Kereta api berjalan lagi. Orang Arab yang melihat semua kejadian itu mengeluarkan sapu tangannya, menyeka keringat dari keningnya dan sebentar-sebentar ke- luar dari mulutnya, "Astagfirullah, astagfirullah." Seorang-orang Indonesia yang berdiri dekat Arab itu berkata, "Aku lebih senang melihat ia mati begitu dari pada melihatnya mati di pinggir kali Ciliwung di Jakarta nanti." OH .. OH. OH ..!

Orang Arab itu marah rupanya dan lebih keras lagi katanya, "Astagfirullah." Di sebuah setasiun kecil lewar Bogor, kereta api berhenti pula sebentar. Kondektur cepat-cepat turun dari kereta api, menuju sebuah rumah. Di rumah itu sudah menanti seorang laki-laki. Baru saja ia melihat kondektur, tanyanya, "Bagaimana, Rim ? Jalan ?’ Karim menggelengkan kepalarya. 'Mujur saja jalan, Sur. Tapi seratus lima puluh rupiah juga. Aku mengharapkan persen saja dari padamu."' "Engkau, itu salahnya, Rim. Sudah kukatakan aku bersih dapat seratus lima puluh rupiah. Tiga lusin Koh-I Noor tulen. Kan harga pasarnya sekarang selusin sudah enam puluh rupiah. Ini sepuluh rupiah, lebih tak dapat kuberikan." Tanya Karim, sambil mengambil uang yang sepuluh rupiah itu, "Ada barang lain, untuk ke Jakarta?" 'Ada injeksi salvarsan. Laku apa tidak di Jakarta?" 'Sedang dicari orang sekarang, Sur. Pendeknya pemuda Jakarta semuanya sakit perempuan. Tapi jangan mahal-mahal, dong." Kondektur Karim kembali membawa injeksi salvarsan beberapa botol ke kereta api. Tak berapa lama kereta api sampai ke setasiun Gambir. Orang berdesak-desak pula dahulu mendahuli ke luar setasiun. Di dekat pagar setasiun Gambir berdiri seorang perempuan muda menangis tersedu-sedu. Waktu ditanya orang, jawabnya, 'Beras saya. Beras saya lima belas liter dibawa agen polisi itu." Orang-otang melihat ke kanan kiri, kalau-kalau ada agen polisi yang membawa kantung beras. Agen polisi tak kelihatan. Perempuan muda itu terus juga menangis, sampai air matanya kering sekering-keringnya seperti kantung uangnya.

CORAT CORET DI BAWAH TANAH

107.

Heiho

KARTONO sedang asyik bekerja. Dadanya bengkok seperti akal orang Nippon. Pertengahan dadanya melekat ke pinggir meja, Kartono jurutulis di sebuah kantor. Pekerjaan itu telah membosankannya. Gaji tak juga bertambah-tambah. Tiga tahun ia bekerja tak putus-putusnya. Sehari pun belum pernah ia mangkir. Tapi penghargaan orang di atas belum juga, kelihatan. Beberapa bulan yang telah lalu ia telah mencatatkan namanya untuk menjadi Heiho 1) dan ia sudah pula diperiksa badannya. Jika ada orang bertanya kepadanya, sclalu dijawabnya, bahwa ia hendak membela Tanah Air. Kartono terkejut. Seorang oras pos mendekati mejanya, mem- bawa sehelai surat. Diberikannya kepada Kartono. Opas pos pergi. Kartono terkejut lagi. Permintaannya telah diluluskan. Hari itu juga harus menghadap ke sebuah asrama Heiho. Kartono bergirang hati. Beberapa teman-teman memberi dia se- lamat, seperti kepada penganten. Muka Kartono berseri-seri dan selalu juga keluar dari mulutnya perlahan-lahan, "Miarti... Miarti." Dan setiap mengucapkan perkataan itu kelihatan jangat keningnya berkerinyut seperti pipi perempuan tua. Digaruk-garuknya kepalanya seperti monyet mencari kutu. Kepala kantor bergirang hati dan katanya, "Kartono engkau jurutulis yang rajin. Dan kupikir, sebagai Heiho engkau akan lebih berguna untuk nusa dan bangsa. Tunggulah sebentar. .. akan kuberi-

19) Heiho = pembantu serdadu Jepang, terdiri dari orang Indonesia.
HEIHO

kan untukmu sebuah surat penghargaan atas jasamu di kantor ini." Jangat kening Kartono berkerinyut pula dan dijawabnya, "Tuan,

kalau dapat, surat itu ditulis dalam bahasa Nippon saja."

Kepala kantor itu bukan seorang nasionalis. Ia orang biasa saja yang mengutamakan kemakmuran rumah tangga. Seperti pernah di- katakannya, ia selalu berjalan di atas rel. Tapi waktu mendengar perkataan Kartono itu ia marah juga dan dengan suara keras katanya, Kalau engkau hendak mendapat surat yang bertulisan Nippon, me- ngapa bekerja di kantorku? Haruskah aku belajar bahasa Nippon pula, membengkok-bengkokkan tanganku, hanya untuk menulis surat penghargaan? Kalian semuanya sakit demam, malaria tropikal. Engkau mimpi Kartono ... Pendek kata, apa gunanya aku marah kepada orang yang seperti engkau ini. Kalian semuanya monyet, pandai meniru saja. Kalau lihat temanmu mudah mendapat pekerjaan, karena surat peng- hargaannya bertulisan Nippon, engkau mau pula mempunyai surat seperti itu. Sekiranya aku pandai berbahasa Nippon, dan aku tulis dengan huruf cakar ayam itu, bahwa engkau babi besar, apa engkau tahu?" Jawab Kartono, "Ya, tuan, jangan lekas marah saja. Maksudku bukan tuan sendiri yang akan menulis surat itu. Di sini kan ada Supadi yang baru lulus dari sekolah bahısa Nippon tinggi." Kelihatannya kepala kantor tak dapat menahan nafsu marahnya. Perkataannya yang diucapkannya putus-putus seperti tulisan Nippon. Katanya, 'Begini saja Kartono. Aku tak mau tahu dengan sekolah bahasa Nippon tinggi itu biarpun ia setinggi pohon kelapa. Engkau mau surat penghargaan apa tidak? Dalam bahasa Indonesia sejati. Kalau tidak, engkau sudah boleh berangkat. Engkau belum jadi Heiho lagi, Kartono, jadi sekarang aku ak perlu takut." Lemah lembut kata Kartono, "Tuan suka lekas marah. Tadi itu hanya permintaan saja. Boleh dikabulkan dan boleh tidak. Aku juga bersenang hati dengan surat yang dalam bahasa Indonesia saja." Di asrama Heiho Kartono diberi pakaian Heiho. Pakaian kantornya harus ditukarnya dengan pakaian Heiho di asrama itu juga. Tanya Kartono kepada seorang Heiho, "Tuan, kita tak mendapat celans dalam?" CORAT CORET DI BAWAH TANAH

Jawab Heiho itu, 'Ya, sudah kami usulkan juga dulu. Tapi orang Nippon tak inenganggap perlu. Katanya, Heiho harus bekerja lekas. Semuanya harus dikerjakan lekas dan juga... orang Nippon itu meniru bunyi air mancur dan ia tertawa. Itu sebabnya kita tak men- dapat celana dalam." Kartono ikut tertawa. Waktu pakaian Heiho itu dikenakannya, badannya bagian bawah berasa gatal-gatal, seperti dijalari semut halus-halus. Kata Heiho itu, 'Ya, tuan, mula-mula memang begitu. Nanti sudah biasa pula. Bau keringat pun tak menjadi alangan lagi bagi kita. Sekarang tuan boleh pulang dulu, pamitan dengan pamili. Nanti malam pukul delapan tuan sudah harus ada di sini." Baru saja dua langkah ia berjalan, terasa kepada Kartono, bahwa sepatunya terlalu sempit. Terkelupas jangat kakinya sebelah belakang. Kartono tak dapat berjalan lurus lagi. Kakinya yang terkelupas itu sudah digeserkan saja ke tanah, waktu berjalan. Kata seorang-orang tua yang berjalan dengan anaknya, Mat lihat itu Heiho. Politik Nippon halus betul. Dicarinya orang-orang udik untuk menjadi Heiho. Bersepatu saja ia belum pandai. Jawab anaknya sambil tersenyum, "Ya, bagaimana bisa bersepatu, jika jari kaki itu sudah kembang-kembang seperti kerangka kipas terbuka." Orang tua itu tertawa dan katanya, 'Dulu Belanda, orang ter- pelajar yang diberinya hati. Sekarang Nippon, orang-orang udik. Pintar juga Nippon. Orang udik mudah diberi semangat." Dan sebagai hendak membantah perkataannya sendiri, kata orang tua itu melanjutkan perkataannya, "Sebenarnya sama pintar dengan Belanda. Maksudnya sama. Seperti dikatakan bung Karno ... apa, Mat? ... vida dan pera?" Jawab Akhmad, "Ah, bapak selalu hendak membesar-besarkan perkataan dengan perkataan asing. Baru kemarin dikatakan bung Karno, sekarang bapak sudah lupa pula. Tapi, memang, kita lekas lupa pada perkataan yang kita benci. Adakah bapak pernah mengingat nama perempuan jahat?" Muka orang tua itu merah, diurutnya kumisnya yang putih seperti sikat pengapur dinding itu dan marah katanya, "Engkau jangan bicara HEIHO

seperti itu dengan aku, engkau harus hormat kepadaku. Biarpun engkau sudah besar, tapi aku tetap bapakmu. Jangan bicara tentang perempuan jahat dengan aku. Selama hidupku baru tiga kali aku berhubungan dengan mereka. Itu pun karena kesal kepada ibumu yang cerewet

itu. Tapi ini jangan engkau sampaikan pula nanti di rumah. .."

'Bapak marah saja. Maksudku hanya kita lekas lupa pada suatu yang kita benci." Jawab orang tua itu, "Itu pun tidak betul. Mengapa aku tak pernah lupa kepada nama ibumu?" Akhmad mengeluh dan katanya dengan suara parau, "Begini saja, pak. Jangan pakai perkataan yang susah-susah kalau ada perkataan yang mudah. Apa perkataan jahanam tak lebih tepat bagi ,mereka itu? Belanda jahanam Nippon jahanam dan Indonesia .." Disambung orang tua itu antara batuk-batuk, katanya, "Tolol dan pandir. Ya, Mat, engkau pintar juga. Pakai saja perkataan yang

mudah-mudah. Tokh artinya sama juga."

Kartono tiba di rumahnya. Dilihatnya muka Miarti masam saja. Girang katanya, "Ti, lihat Ti." Geram jawab Miarti, "Apa yang dilihat? ... Pakaian monyet itu? Kau kira aku suka engkau jadi Heiho? Sehelai iambut pun aku tak rela. Jika engkau mati, siapa yang akan mengembalikan engkau kepadaku, Nippon?" Kartono terkejut mendenga" perkataan Miarti itu. Sangkanya Miarti akan bergirang hati betul. Bingung jawabnya, "Kan aku hendak membela tanah air." 'Tanah air? Mana tanah airmu? Engkau tah apa arti Heiho? Kalau dalam rumah tangga Heiho itu dinamakan jongos, tolol!"' 'Miarti, engkau belum insaf. Engkau memikirkan dirimu sendiri. Tanah air memanggil putranya. Engkau te'ah sesat, engkau harus insaf akan zaman sekarang ini." '"Aku tak perduli. Tapi engkau tak kurelakan menjadi Heiho itu. Sekarang ada dua jalan. Pertama lemparkan baju monyet itu, dan kedua ceraikan aku dan pergilah sesuka hatimu. Pilihlah antara dua itu." 'Miarti ..." Kartono mengeluh panjang seperti perempuan hamil. Jangat di CORAT CORET DI BAWAH TANAH

keningnya berkerinyut pula. Beberapa lama ia terdiam. Tiba-tiba katanya dengan suara seperti anak kecil yang mengaku kesalahannya, 'Ya, Miarti. Kalau tak kau izinkan aku pergi, tentu aku tak dapat pergi. Tapi ini sudah terlanjur, Miarti. Kepalaku dipotong, jika aku pukul delapan malam nanti tak ¿da di asrama. Kukira engkau akan SESUDAH 17 AGUSTUS 1945 berbesar hati. Itu sebabnya aku rahasiakan dulu kepadamu." Lama Miarti berpikir. Ke luat air matanya. Sekarang kasihan ia kepada Kartono dan lambat-lambat katanya, ''Memang sudah terlanjur. Tidak dapat menolak lagi. Sebab itu pergilah. Kartono terkejut mendengar perkataan Miarti itu. Agak kecewa ia. Sangkanya, Miarti akan terus menahan dia. Sebab itu bersedih hati katanya, "Engkau tidak cinta kepadaku, Miarti." Pukul 8 malam Kartono sudah ada di asramanya dan 8 bulan sudah itu ia meninggal dunia di Birma. Miarti sementara itu sudah hamil empat bulan, anak dari suaminya yang kedua.

HEIHO 8 DARI AVE MARIA

Kisah sebuah celana pendek

TEPAT pada hari Pearl Harbour diserang Jepang, Kusno dibelikan ayahnya sebuah celana pendek. Celana kepar 1001, made in Italia. Pak Kusno buta politik. Tak tahu ia, betapa besarnya arti penyerangan itu. Yang diketahuinya hanya, bahwa anaknya sudah tidak mempunyai celana lagi yang pantas dipakai. Setiap orang yang sedikit banyak kenal politik di seluruh dunia mengernyutkan kening- nya, karena dendam, karena khawatir, karena marah. Tapi Pak Kusno tersenyum senang pada hari itu. Ia telah berhasil, apa yang disangkanya semua sesuatu yang tidak bisa, membelikan Kusno sebuah celana pendek. Pada waktu itu Kusno berusia 14 tahun. Baru tamat sekolah rakyat. Sekarang hendak melamar pekerjaan. Dan dengan celana baru, rasanya baginya segala pekerjaan terbuka. Ia akan membuktikan kepada ayahnya, bahwa ia adalah anak yang tahu membalas guna. Pendek kata, keluarga Kusno pada hari itu bergirang hati seperti belum pernah sebelum itu. Dan kabar-kabar tentang Pearl Harbour tidak bergema sedikitpun juga dalam hati orang-orang sederhana ini. Demikian benarlah ucapan, hanya orang besar-besar yang mau perang, rakyat sederhana mau damai cuma! Tapi Kusno tak selekas seperti sangkaannya mendapat pekerjaan. Kantor-kantor tahu, apa arti penyerangan Pulau Mutiara itu. Mereka tidak menerima seorang pekerja baru pun juga lagi. Di atas kantor itu bergumpal awan hitam dan dari sela-sela awan itu menjulur muka malaikalmaut. SESUDAH 17 AGUSTUS 1945

Kusno terpaksa menurunkan harga dagangannya, dari juru tulis menjadi portir dan dari portir menjadi opas. Dan setelah berpuluh kantor dinaikinya, akhirnya berhasil juga ia mendapatkan sebuah pekerjaan ... sebagai opas. Dengan gaji sepuluh rupiah sebulan. Pak Kusno bersusah hati. Ia sendiri seorang opas. Mestikah anaknya menjadi opas lagi? Dan anak Kusno kelak opas pula? Turun temurun menjadi opas? Tidak pernah tercita-cita olehnya, keluarganya akan menjadi keluarga opas. Tapi, seperti juga orang-orang kampung lain dalam kesusahan, Pak Kusno ingat kepada Tuhan, manusia ber- usaha, Tuhan menentukan! Kusno bekerja dengan rajin, tapi celana kepar 1001 nya bertambah lama bertambah pudar, karena sering kena cuci. Setiap bulan ia berharap akan dapat membeli sekuah celana baru, tapi uang yang sepuluh rupiah itu untuk makan saja pun tak mencukupi. Dengan sendirinya kepar 1001 bertambah sering harus dicuci, dan setiap kena cuci, rupanya bertambah mengkhawatirkan. Seluruh pikiran Kusno tertuju pada celana itu. Apakah yang terjadi dengan dirinya, jika celana itu sudah tidak bisa dipakai lag? Setiap hari ia mendo'a, agar Tuhan jangan menurunkan hujan. Dan jika hujan turun juga, Kusno dengan hati kembang kempis melihat kepada celananya, seperti seorang ibu melihat kepada anaknya yang hendak dilepas ke medan peperangan. Kepar 1001. 1 X 1 = 1. Dan berapakah 1 — 1? Kalau pikiran Kusno mengenangkan celana 1001 ini. Apalagi kalau tidak ada uang pembeli sabun, sedang celana lagi kotor. Tidak, rakyat sederhana tidak mau perang, ia hanya mau hidup sederhana dan hidup bebas dari ketakutan esok hari tidak mempunyai celana. Tapi orang tinggi-tinggi dan besar-besar mau perang, yang satu untuk demokrasi dan yang lain untuk kemakmuran bersama di Asia Timur Raya. Kusno tidak tahu arti demokrasi dan perkataan kemakmuran sangat menarik hatinya. Ia sebenarnya ingat kepada celananya. Kemakmuran berarti baginya celama. Dan sebab itu disambutnya tentara Jepang dengan peluk cium dan salaman tangan. KISAH SEBUAH CELANA PENDEK

Dan seperti kebanyakan bangsa Indonesia hidup dengan pengharapan akan kemerdekaan, Kusno hidup dengan pengharapan akan celana baru, terus menerus berharap selama tiga setengah tahun. Tapi seperti juga kemerdekaan itu, celana itu pun tak berbayang. Dan waktu Kusno melepaskan harapannya itu, celana 1001 itu sudah tidak seperti celana lagi. Di sana sini benangnya sudah keluar dan apa yang dulunya putih, sekarang sudah kuning kehitam-hitaman. Dan karena itu tidak pantas lagi dipakai oleh seorang opas. Waktu Kusno memberanikan hatinya meminta kepada sepnya, ia dibentak demikian hebatnya sehingga pada waktu itu hilang semangatnya. Dia datang juga beberapa hari lagi ke kantor, tapi akhirnya malunya berkuasa atas gaji yang sepuluh rupiah itu dan ia pun minta berhenti. Hari kemudian gelap bagi Kusno. Tapi sekarang ia lepas bebas dari malu yang mencoret mukanya. Ia tahu, bahwa hari gelap dan maha menakutkan akan menimpa dia. Tapi Tuhan maha pengasih dan pemurah. Demikian keyakinan Kusno. Pada suatu hari Kusno sakit kepala. Ia tahu, bahwa sakit kepala itu segera akan hilang, jika ia dapat mengisi perutnya. Dua hari dua malam tak ada lain yang dimakannya selain daun-daun kayu, Ada terlayang di pikirannya untuk menjual celana 1001 itu, guna membeli sekedar makanan yang pantas dimakan manusia. Tapi lekas di- buangnya pikiran itu. Jika celana itu dijualnya, perutnya kenyang buat beberapa detik, tapi sesudah itu dengan apa akan ditutupnya auratnya? Sekali pula ada niatnya untuk mencuri barang orang lain, tapi Tuhan berkata, jauhi dirimu dari curi mencuri. Dan keluarga Kusno turun temurun takut kepada Tuhan itu, sungguhpun belum pernah dilihatnya. Begitulah Kusno tidak menjual celana, tidak mencuri, sering sakit kepala dan hidup dengan daun-daun kayu. Tapi ia hidup terus, sengsara memang, tapi hidup dengan bangga. Tentang celana kepar 1001 itu, tak ada yang akan diceritakan lagi. Pada satu kali ia pasti hilang dari muka bumi, seperti juga Kusno akan hilang dari muka bumi. Dan mungkinkah ia bersama-sama dengan Kusno hilang dari muka bumi ini? SESUDAH 17 AGUSTUS 1945

Surabaya

Tapi bagaimana pun juga, Kusro tak akan putus asa. Ia dilahirkan dalam kesengsaraan, hidup bersama kesengsaraan. Dan meskipun celana 1001 nya lenyap menjadi topo, Kusno akan berjuang terus melawan kesengsaraan, biarpun hanya guna mendapatkan sebuah celana kepar 1001 yang lain. Hanya yang belum juga dapat dipahamkan Kusno ialah, mengapa selalu saja masih ada peperangan. Kusno merasa seorang yang dikor- bankan.

ORANG-ORANG dalam mabuk kemenangan. Segala-galanya di luar dugaannya dan mimpinya. Keberanian timbulnya sekonyong- konyong seperti ular dari belukar. Kepercayaan kepada diri sendiri dan cinta tanah air meluap seperti rvap bir. Pemakaian pikiran menjadi berkurang, orang-orang bertindak seperti binatang dan hasilnya me- muaskan. Orang tidak banyak percaya lagi kepada Tuhan. Tuhan baru datang dan namanya macam-macam, bom, mitralyur, mortir. Waktu beberapa orang Belarda-Indo berani menaikkan bendera merah putih biru di hotel Yamato, orang-orang Indonesia tercengang- cengang. Orang-orang tercengang bertambah banyak dan bertambah lama bertambah mendekati hotel itu. Tiba-tiba melompat seorang pemuda ke depan. Dipanjatnya tiang bendera, dirobeknya kain biru dari bendera itu. Orang-orang tercengang bertepuk dan bersorak, tapi orang-orang Belanda Indo marah-marah. Bukan untuk dirobek mereka menaikkan bendera. Mereka terkenang kepada masa tiga setengah rahun yang lalu dan kepada ayah-ayahnya, Belanda betul-betul. Dan mereka merasa terhina seperti ayah-ayahnya sendiri ditelanjangi orang. Karena itu mereka marah-marah. Dan waktu itu marahnya menjelma menjadi pukulan dengan tinju, terjadi keributan, seperti dalam pilem cowboy-cowboy. Dan waktu pilem habis, datang mobil-mobil ambu- lance dan setelah berisi muatan, mobil-mobil ini berangkat pula. Sopir- sopirnya kelihatan sangat berhati-hati dan rodanya dan tangannya penuh darah. Waktu itu orang Indonesia masih percaya kepada Tuhan lama. SESUDAH 17 AGUSTUS 1945 KISAH SEBUAH CELANA PENDEK

Tapi setelah ancaman kepada diri dari sehari ke sehari bertambah tajam terasa, dirampas mereka kehormatan Jepang, pedang samurai dan senjata, seperti laki-laki jahat merampas kehormatan seorang gadis. Jepang merintih-rintih kesakitan dan menyerah. Pilem Cowboy baru — diputar. Di belakang jerajak-jerajak besi kelihatan muka-muka kuning. Di tengah jalan cowboy-cowboy. Di pinggang mereka revolver-revolver dan pisau-pisau belati. Revolver-revolver guna menembak pencuri-pencuri sapi dan pisau-pisau belati .. guna perhiasan. Anak-anak gadis tidak suka melhat lagi kepada titel- tel mentereng atau paras-paras yang elok. Mereka sekarang hanya melihat kepada revolver-revolver i n pisau-pisau belati dengan perasaan cinta dan menyerahkan diri kepada benda-benda pembunuh itu. Orang-orang berjalan dengan dada busung. Pencurian sapi tiada pernah terjadi, tapi tembak-tembakan revolver setiap hari kedengaran. Mula- mula orang-orang terkejut, kalau mendengar tembakan. Tapi setelah mereka tahu, bahwa tembakan-tembakan itu ditujukan ke atas, ke tempat Tuhan lama, sekarang n.ereka bersorak gembira mendengar setiap tembakan. Tiba-tiba terdengar guntur di hari cerah, ke luar dari pesawat radio, sekutu mau mendarat. Orang-orang terkejut dan merasa kuatir seperti menunggu bahaya datang. Di mana-mana tampak kegelisahan, pada orang-orang, pada mobil-mobil yang menderu-deru di tengah jalan, pada mesin-mesin cetak dan pada anjing-anjing. Anjing-anjing ini menyalak sampai parau, akhirnya suaranya hilang sama sekali dan perutnya kempes seperti ban sepeda bocor, mereka kelupaan diberi makan. Di mana-mana orang-orang berkata hampir sama. Sekutu memang bukan musuh, tapi mereka membunuh dan men- culik di Jakarta. Dan seperti nyanyian bersama yang jelek mereka berteriak, "Kita tidak mau diperlakukan seperti orang-orang Jakarta. Kita akan menolak. Kita akan berjuang. Kita punya revolver dan pisau belati." Teriakan-teriakan membelah udara, tapi pemimpin-pemimpin Indonesia membelah dua jantung rakyat. Mereka ini dengan sekuat tenaga memberikan penerangan kepada rakyat, sekutu tidak akan berlaku seperti di Jakarta. Sekutu hanya akan mengambil tawanan-SURABAYA

tawanan perang dan orang-orang Jepang. Jantung rakyat yang sebelah percaya kepada kata-kata pemimpin, tapi jantungnya yang sebelah lagi tetap mencurigai sekutu. Sungguhpun begitu mereka tahu disiplin dan melihatkan sekutu mendarat dengan perasaan mengkal dalam hati. Serdadu-serdadu sekutu, hitam-hitam seperti kepala kereta api, di- curigai cowboy-cowboy seperti bandit-bandit yang dibiarkan lepas dan berkuasa. Dan jika bandit-bandit lepas bebas seperti burung di udara dan berkuasa seperti Hitler almarhum, masyarakat menjadi kacau. Segalanya tidak aman, sapi-sapi, gadis-gadis, emas-emas dan juga revolver-revolver dan pisau-pisau belati kepunyaan cowboy-cowboy ditahan oleh bandit-bandit dan diharuskan menyerahkan senjatanya. Bandit-bandit berteriak, sambil mengacungkan bayonetnya. Jiwamu atau senjatamu! Cowboy-cowboy tidak mengangkat tangannya dan tidak pula mau memberikan senjatanya. Mereka berteriak, ambillah jiwa kami! — dan pada waktu berteriak itu mereka menembak. Bandit-bandit pun menembak dan pertempuran seru terjadi. Satu hari satu malam pertempuran itu. Sudah itu terbang dari Jakarta kepala cowboy dan kepala bandit. Mereka berapat dengan pemimpin-pemimpin lainnya. Hasilnya sehelai kertas berisi huruf-huruf Inggris dan Indonesia. Dan di bawah huruf-huruf itu tanda- tanda tangan, Sukarno, Hawthorn. Bandit-bandit menyerah dan hanya dibolehkan tinggal dekat pelabuhan. Surat-surat kabar memuat berita- berita penting: Kita mau damai, tapi juga bersedia untuk perang. Pada pibak kita seribu orang mati. Musuh tiga ratus orang. Kemenangan berturut-turut memabukkan manusia. Orang-orang bertambah percaya kepada Tuhan baru dan meninggalkan Tuhan lama sama sekali. Karabijn dan revolver dicintai seperti gadis-gadis molek jelita, dibelai-belai, dicium dan dijual dengan harga yang sangat tinggi. Muka-muka kelihatan gembira dan bangga. Kepercayaan kepada ke- kuatan sendiri memancar dari gagang-gagang senapan dan mulut-mulut manusia. Orang-orang bersuka ria, seperti orang-orang Roma sehari sebelum peletusan Gunung Vesuvius. Mulut-mulut berbau tembakau dan omongan bual. Gunung Vesuvius mengeluarkan api dan asap. Sebentar lagi ia akan meletus. Sejak beberapa hari sekutu mendaratkan serdadu-serdadu lebih SESUDAH 17 AGUSTUS 1945

banyak dan tank-tank raksasa. Tank-tank itu turun dari kapal seperti malaikalmaut turun dari langit, diam-diam dan dirahasiakan oleh orang yang menurunkannya. Asap Vesuvius bertambah tebal dan ber-gumpal-gumpal. Hujan surat selebaran turun dari Iangit, orang-orang

Indonesia harus menyerahkan senjatanya kepada sekutu! Persis seperti

perintah Tuhan dalam mimpi orang-orang Roma, Hai, orang-orang Roma, kamu harus menyerahkan diıimu kepadaKu, kalau tidak Gunung Vesuvius akan Kuletuskan. Malaikalmaut akan Kuturunkan memus- nahkan kamu! dan persis pula seperti orang-orang Roma, orang-orang Indonesia menolak perintah itu dan tidak mengindahkannya. Malaikalmaut berjalan di atas dunia, menderu-deru dengan giginya yang besar-besar. Gunung Vesuvius meletus. Ribuan manusia berham- paran mati di tengah jalan. Udarı diliputi asap hitam dan tebal. Kilat

sabung bersabung. Api kebakaran menjilat gedung-gedung dan jiwa bangsa Indonesia ...

berjalan dengan kaki-kaki berat seperti terbuat dari timah menuju tujuan hidupnya yang utama padı waktu itu: kota lain yang aman, rumah tempat menginap. Panas membakar segalanya: daun-daun, punggung manusia dan kerongkongannya. Daun-daun membalikkan

diri menghindarkan panas itu, tapi manusia tiada berbuat apa-apa.

Mereka berjalan terus, berjalan terus sambil berdiam diri dengan pikirannya masing-masing.

Seorang perempuan tua menjadi gila. Ia sebenarnya tidak mau

melarikan diri. Ia mau tetap tinggal dalam kota terbakar itu di dalam rumahnya yang indah permai, di sebelah radio Erres menantunya dan di dekat lemari gudang emasnya. Berkali-kali ia berkata dalam hatinya,

'Aku tidak mau lari. Biar mati bersama-sama barangku."

Tapi waktu bom jatuh dekat rumahnya, ia berlari ke luar, berlari, berlari dan diseret oleh geroırbolan manusia yang berjalan menuju ke luar kota. Waktu itu ia sebenarnya bukan manusia lagi, ia seorang pingsan, tak sadarkan diri. Dengan senyum gembira di bibir ia berjalan-jalan bersama yang lain. Langkahnya dan lenggoknya seperti orang

hendak pergi ke peralatan. Ia teius tersenyum dan mengajak orang-

orang berjalan di sebelahnya dan berbicara. Macam-macam pertanyaan diajukannya, "'Nyonya kenal dengan nyonya dokter Mustafa? O, dia sangat baik, peramah. Tapi jeleknya, a suka berkata yang buruk-buruk tentang crang-orang lain. Siapa suami nyonya? Hati-hati nyonya men- jaga suami. Jarang laki-laki yang tiada pernah pergi kepada perempuan

jahat. Pengalaman ini nyonya. Apa merek radio nyonya?"

Perempuan tua itu tidak heran sama sekali tiada mendapat jawaban dari nyonya yang berjəlan di sebelahnya itu. Tapi waktu seorang laki-laki tua berteriak, Kita sudah dekat Krian, — ia ber-

henti berjalan. Dikerutnya keningnya seperti orang berpikir dan tiba-tiba ia menangis keras-kera3 dan berteriak, 'Barang-barangku,

rumahku, radioku!" Ia berlari kian ke mari dan berteriak tak keruan. Dirobek-robek- nya bajunya, kutangnya, ditanggalkannya kainnya dan dalam keadaan seperti Siti Hawa ia lari kencang-kencang menuju ke Surabaya untuk

membelai-belai barang-barangnya dan radio Erresnya. Di udara, di atas kaum pelarian, sering terbang burung-burung

putih sebagai perak. Burung-burung ini menderu-deru dan menjatuhkan

SESUDAH 17 AGUSTUS 1945

2 JALAN-JALAN di luar kota pe uh dengan manusia, kebanyakan kaum perempuan. Muka mereka kelihatan letih dan lesu karena lama

berjalan. Di belakang mereka asap, api kebakaran, cowboy-cowboy dan

bar:dit-bandit dan segala yang dicintainya: suaminya, rumahnya yang

terbakar, ayam Eropahnya, anaknya dan tempat tidur keronya. Sedang

berjalan mereka menangis seperti anak kecil, mengeluh dan beberapa

orang perempuan melahirkan anak. Ibu-ibu yang beruntung itu merasa

mendapat kecelakaan. Mereka merintih-rintih kesakitan di tepi jalan dan dalam hatinya mereka menyumpahi Tuhan. Tidak seorang pun dari mereka menghendaki anak pada waktu ini. Dengan perut-perut

gendutnya mereka melarikan diri dari maut dan di tengah jalan perut-

perut gendut itu tiba-tiba menjadi kempes dan terdengar teriakan

bayi. Tidak banyak orang yang mengacuhkan nasib ibu-ibu ini. Mereka

SURABAYA

kotoran sedang terbang itu, peluru-peluru senapan mesin. Kaum pelarian bersiduga cepat masuk got-got. Mereka sangat takut kepada burung-burung putih itu seperti kucing dibawakan lidi. Kotoran-kotoran itu menembus badan-badan kaum pelarian dan me- ninggalkan lobang-lobang terbakar dalam badan-badan itu. Sudah itu burung-burung itu menghilang, seperti malaikalmaut yang sudah men- jalankan kewajibannya. Orang laki-laki tua yang berteriak, bahwa Krian sudah dekat itu, kena tembakan pada tangan kanannya. Ia menggerung-gerung kesakitan, minta kasihan dan pertolongan dari kaum pelarian yang lain. Tapi ketika beberapa orang perempuan mendekati hendak mem- berikan pertolongan, mereka ini iertawa gelak-gelak. Mereka berseru kepada teman-temannya yang lain leras-keras, sambil menunjuk kepada orang kesakitan itu, "'Lihat, ia tidak tua, ia pemuda!" Dan segera sesudah berseru itu mereka melompat kepada orang tua yang bukan tua itu, ditariknya baju jasnya, rambut palsu dan kumis palsunya dan berseru sekali lagi, "Lihat! Lihat!" Panas sedang teriknya, cahaya panas melalui jangat kepala, masuk ke dalam kepala. Orang-orang menjadi marah dan galak seperti harimau. Mereka berteriak, "Jahanam! Pengecut! Pemuda lain me- nyabung nyawanya. Dan engkau melarikan diri seperti orang perempuan." Tiba-tiba terdengar sebuah teriakan, mengatasi teriakan orang banyak, "Bunuh dia! Beberapa orang perempuan datang dengan batu-batu besar dan melepaskan batu-batu itu di atas kepala anak muda itu. Anak muda itu mengeluarka keluhan panjang dan penghabisan. Kaum pelarian meneruskan perjalanannya ke kota aman." Seorang wartawan terkenal gatang dari Jakarta. Ia hendak melihat kaum pelarian. Dadanya tipis dan juga pantatnya. Setiap orang melihat dia yakin, bahwa wartawan itu tidak pernah main sport dan banyak sekali main onani. Tapi ctaknya tajam dan agak dari atas ia bertanya kepada seorang dokter, "Berapa orang pelaran yang menjadi kurban tembakan sekutu di tengah jalan?" Dokter yang sedang asyik bekerja itu, marah karena diganggu dan jawabnya, Aku bukan kantor setatistik! Hitunglah sendiri! SURABAYA

Wartawan itu merasa dihina dan untuk menghilangkan pil pahit itu, dilayangkannya pandangannya kepada pelarian-pelarian perempuan yang manis-manis. Dalam hatinya ia berkata, 'Banyak kesempatan di sini. Syurga betul-betul." Tapi waktu ia ada di Jakarta lagi, ia lupa kepada perempuan perempuan manis itu. Terdengar olehnya kembali perkataan tajam dokter itu dan tidak setahunya ditulisnya dalam surat kabarnya. Perawatan kepada kaum pelarian jelek sekali. Dokter-dokter banyak yang belum insyaf akan perjuangan sekarang. Di Krian kaum pelarian menginap semalam. Rumah-rumah pe- nginapan tiada mencukupi. Kebanyakan mereka tidur di atas peron setasiun, seperti balok-balok kayu atau seperti angka-angka lima. Tengah-tengah malam mereka mimpi keras-keras. Mimpinya tentang segala macam yang indah-indah dan enak-enak. Seorang perempuan muda mengeluh senang dalam mimpinya dan katanya keras-keras, 'Baik, baik, nanti kelihatan orang lain." Di sebuah sudut duduk seorang perempuan. Ia tidak bisa tidur. Dalam tangannya digendongnya sebuah bungkusan. Bungkusan itu digerak-gerakkannya beraturan, sambil menyanyikan lagu anak-anak perlahan-lahan. Sesudah lelah bernyanyi, katanya kepada gendongannya, 'Minum susu, nak?" Dibukanya botol susu dengan tangan kanannya, tapi waktu mulut botol itu dihadapkannya ke gendongan itu, ia terkejut. Segala benda yang ada di tangannya jatuh ke atas lantai, botol susu dan sebuah bantal guling. Lama peren:puan itu melihat ke bantal guling di atas peron itu. Sudah itu ia berteriak dan menangis tersedu-sedu, "Anakku! Anakku!"' Orang-orang yang tidur dekat sudut terbangun oleh teriakan itu, tapi perempuan itu sudah menghilang dalam gelap gulita di luar setasiun. Orang-orang yang terbangun itu melihat ke botol susu pecah dan bantal guling di atas peron. Mereka heran dan bertanya dalam hati, 'Siapa yang berteriak? An, mungkin bantal guling dan botol susu!" Dan mereka tertidur kembali dengan nyenyak ... SESUDAH 17 AGUSTUS 1945

3 TUMINAH diberi sebuah kamar kecil oleh pamilinya di Sidoarjo. Sebenarnya ini bukan kamar biaça. Waktu pamili itu belum begitu makmur lagi, ia dipakai untuk menyimpan arang dan segala peraboran- perabotan yang tiada terpakai lagi. Waktu itu kamar itu berbau buah-buahan busuk. Dan setelah pamili ini agak berada sedikit, kamar itu dipakainya sebagai kandang anjtng yang baru dibelinya. Tapi bau buah-buahan busuk masih ada dan sekarang bertambah dengan bau kotoran anjing. Nyonya rumah tiada punya anak, sebab itu ia meme- lihara anjing, sungguhpun anjing itu tiada pernah dipangku-pangkunya sebagai anak kandungnya. Tapi sebagai biasanya, di depan rumah itu ditaruh sebuah papan bergambar kepala anjing dan huruf-huruf, Awas! Ada anjing — Orang-orang yang lewat dan tukang minta-minta melihat ketakutan kepada kepala anjing di papan itu dan mereka lekas-lekas pergi dari rumah itu. Melihat ini, nyonya rumah tertawa geli sendirian dan katanya seperti mengulangi pelajaran sekolah rakyat, "Anjing adalah binatang yang setfra?" Sudah itu pertempuran Surabaya pecah dan Tuminah datang kepada pamili itu, kepayahan karena lama berjalan dan kurang makan. Lama pamili itu berpikir untuk memberikan kamar itu kepada Tuminah. Anjing itu disayanginya, tapi menurut adat ia harus kasihan dengan Tuminah. Dan setelah menyumpahi adat itu dalam hatinya nyonya rumah berkata dengan pendek, ''Bersihkanlah sendiri kamar itu. Tempat tidur tidak ada. Kami miskin. Jangan harapkan apa-apa dari kami. Besok carilah pekerjaan." Banyak lagi perkataan nyonya rumah itu, tapi Tuminah tidak mendengarnya. Ia telah buta dan tuli karena kelelahan. Lagi pula ia tidak peduli apa yang akan dikatakan orang kepadanya. Ia perlu tempat membaringkan badan, semalam ini, semalam ini saja. Dan apa yang akan dilakukan besoknya, ia tiada mempunyai waktu hari ini untuk memikirkannya. Bergegas-gegas dibukanya pintu kandang anjing itu. Anjing itu menyalak kepada Tuminah, tapi Tuminah tidak mendengarnya, ya ia tidak melihat anjing itu sama sekali. Bau buah-buahan busuk dan kotoran anjing menguap melalui pintu masuk ke dalam lubang hidung Tuminah, tapi Tuminah tidak membauinya. SURABAYA

Yang dilihatnya hanya sebidang lantai dalam kamar itu, persis sepan- jang badannya dan dibaringkannya badan itu di atas lantai itu dan segera mendengkur seperti kerbau. Di bawah kakinya dan di ujung kepalanya terdapat onggokan-onggokan kotoran anjing itu dan anjing itu sendiri menjilat-jilat dahi Tuminah dengan senangnya. Pada waktu itu nyonya rumah sedang bercakap-cakap dengan tamunya di ruang makan. Sekali-sekali kedengaran tertawa riang. Tapi waktu membicarakan pertempura.r Surabaya, nyonya rumah kelihatan sungguh-sungguh dan katanya bersemangat, "Kita harus gotong royong. Kita harus memberikan pertolongan secukupnya kepada kaum pelarian. Kalau kita punya baju tiga, kita harus bisı mengasikan satu potong kepada mereka." Dan setelah berkata, ia tertawa gelak-gelak dan lekas pula ke- sungguh-sungguhan tadi hilang dai mukanya. Di sebuah kota, tempat kaum pelatian terbanyak pergi, didirikan badan-badan amal dua buah bedeng. Yang satu untuk pelarian-pelarian perempuan dan yang satu lagi untuk pelarian-pelarian laki-laki tua. Badan-badan amal telah mengatur dengan sebaik-baiknya, supaya kedua bedeng itu mendapat makanan yang sama. Tapi setelah pelarian-pelarian perempuan berjalan-jalan dengan pengawal bedeng di tempat gelap dan d: bawah cahaya bulan kabur, pembagian makanan itu men- jadi berat sebelah. Bedeng laki-laki tua memprotes ke atas dan penuh harapan mereka menunggu-nunggu hasil protesnya. Tepat keesokan harinya hasil itu pun datang dan dirasai oleh laki-laki tua dan oleh setiap perut mereka: hari itu kepada bedeng laki-laki tua tidak di- bagikan makanan sama sekali. Pengawal-pengawal bedeng tertawa geli dan katanya kepada laki-laki tua, "Jangan suka protes. Tiru pelarian-pelarian perempuan itu. Mereka menyerahkan diri kepada nasib dan dapat makanan berlebih-lebihan.' Laki-laki tua mendongkol daa tidak menjawab apa-apa. Dalam hatinya ia berkata, "Alangkah enaknya jadi perempuan. Dapat kesenangan dan makanan." Tapi akhirnya mereka berteriak bersama-sama kepada pengawal-pengawal itu, "Kalian jahanam! Jahanam! Semuanya!" Bedeng pelarian-pelarian perempuan bertambah lama bertambah banyak dapat makanan dan cinta pengawal-pengawal. Perempuan-SESUDAH 17 AGUSTUS 1945

penderitaan yang bertahun-tahun. Tapi waktu ia di tempat kediaman barunya mengalami kesusahan-kesusahan hidup, ia menangis sehari-hari dan berkali-kali berseru, "Maafkan aku, Jaleah. O, jika engkau ada di sini, tentu penderitaanku tidak akan seberat ini benar." Dan malam-malam dalam mimpinya dilikatnya Jaleah sedang bersenda gurau dengan serdadu-serdadu Gurkha dan teriaknya keras-keras, "Jaleah, jangan! jangan!"

perempuan itu semakin sehari semakin liar. Mereka sering lupa kepada suaminya yang ditinggalkannya bertempur di Surabaya dan pergi mengecap kesenangan dengan pengawal-pengawal ke tempat gelap. Gadis-gadis kehilangan benda berharganya di sini, tapi mereka tidak menyesal. Minggu-minggu yang akhir ini penderitaan mereka bukan main, perjalanan kaki yang berkılo-kilometer panjangnya, haus dan lapar dan waktu kesenangan datang, itu akan mereka tolak mentah- mentah? Manusia tetap manusia. Ia mau menderita segala apa saja, tapi sudah itu ia minta bersenang-senang. Di dalam bedeng setiap harfi lahir perkataan-perkataan koter baru dan beberapa bulan lagi bayi-bayi. Kaum pelarian Surabaya terdapat di seluruh Jawa. Mereka yang masih berpikiran sehat, hidup seperti tikus kapal. Waktu ombak besar, mereka diempas-empaskan ombak ke dinding kapal dan mati. Yang la:n menjalani kehidupan senang seperti perempuan-perempuan hotel atau seperti tukang minta-minta di tengah jalan. Pikiran mereka ini pendek-pendek seperti pikiran orang putus asa. Amat, seorang pemuda yang dapat meloloskan diri dari penjagaan perajurit, membual di mana-mana. Ia tidak suka dinamakan pelarian. Ia pemuda yang berjuang gagah perkasa dan baru mencari tempat aman, setelah semua teman-temannya gugur seperti bunga bangsa. Ia bisa menceritakan, bagaimana makannya mortir, bagaimana bentuknya senapan mitralyur, bag:tmana ia berhasil membunuh sepuluh serdadu Inggris sendirian, dan untuk membikin orang lebih percaya ditambahnya di belakang, dengan sebuah granat tangan yang tepat mengenai sasarannya. Mula-mula crang dengan peauh perhatian men- dengarkan ceritanya itu. Tapi akhirnya orang-orang bosan dan mual seperti perempuan jahat yang bar.ı selesai dipakai. Seorang laki-laki tua menangis setiap hari dalam kamarnya seperti anak kecil yang kehilangan sesuatu. Ia tidak pernah mencintai istrinya. Kepada teman-teman karibnya sering ia berkata, "Aku tidak dapat berterus terang dalam hal ini. Hanya yang bisa kukatakan kepadamu, bahwa ada sesuatu yang tidak enak pada istriku. Itu barangkali sebabnya ia terlupa membawa istrinya, waktu hendak lari dari Surabaya. Mula-mula ia mengucapkan syukur kepada Tuhan yang Maha Penolong seperti seorang yang baru terlepas dari SURABAYA

4 JIKA orang-orang berani menentang mulut meriam, o, mereka ini alangkah takutnya kepada mata-mata musuh. Hantu takut ini menderu- deru seperti angin tepan di atas kota-kota, di dalam jiwa manusia dan merebahkan segala yang ada di jalannya, semangat berjuang dan pikiran sehat. Setiap orang mencurigai orang lain dan untuk melepaskan diri dari siksaan hantu itu, mereka saling bunuh membunuh. Di setasiun-setasiun dekat niedan pertempuran semua penumpang-penumpang kereta api harus turun. Laki-laki di kamar untuk laki-laki, dan perempuan-perempuan di kamar untuk perempuan. Ini bukan klinik rumah sakit, tapi tempat pemeriksaan di setasiun-setasiun. Laki-laki dan perempuan ditelanjangi seperti Adam dan Siti Hawa, diperiksa di mana-mana, juga di tempat-tempat yang biasanya orang-orang malu memperlihatkannya, kalau-kalau ada tanda mata-mata musuh. Mula-mula yang memeriksa orang-orang perempuan, pemuda-pemuda. Mereka ini meraba-raba badan perempuan-perempuan itu dan jika ada yang harus mereka katakan, mereka tidak bisa berkata apa-apa karena terpesona dan hawa nafsu. Tapi setelah perkumpulan-perkumpulan wanita mengajukan protes atas tindakan yang "biadab" ini, pemuda-pernuda itu ditukar dengan perempuan-perempuan tua. Pada suatu kali tertangkap seorang mata-mata musuh laki-laki. Pengawal-pengawal setasiun berkerumun ke tempat pemeriksaan. Mereka berteriak-tiak dan bersorak gembira seperti anak kecil men- dapatkan gula-gula. Kata mereka, "Bunuh! Bunuh saja!" Mata-mata musuh itu pucat seperti mayat. Waktu orang bertam-DARI AVE MARIA

bah banyak berkerumun ke tempat pemeriksaan di sekelilingnya, ia tidak membantah-bantah lagi. Ia telah menyerahkan diri kepada Tuhan dan orang banyak itu. Suara-suara kacau balau memenuhi ruangan.

Yang satu mengatasi yang lain, "Bunuh saja!"

Ya, itu tentu, tapi bagaimana caranya? Tembak! Tembak! Tidak, itu terlalu lekas dan ringan. Kita gantung. Kita gantung. Dan seperti bunyi guntur kedengaran, "Kita seret di belakang

kepala kereta api."

Tiba-tiba suara kacau balau hilang lenyap, seperti bunyi radio

pada waktu listrik kontak tiba-tiba. Di ambang pintu berdiri kepala

setasiun. Dengan suara tenang ia bertanya, "'Ada apa? Ada apa?" Beberapa pegawai setasiun menjawab, "Mata-mata musuh, pak! Kita bunuh saja!" Kepala setasiun masuk kamar pemeriksaan dan kepada orang banyak katanya, "Jangan bertinak sendiri-sendii, saudara-saudara.

Ini harus kita lapurkan kepada polisi."

Dari orang banyak keluar kata-kata tidak setuju. Suara-suara ini bertambah lama bertamnbah keras. Dan waktu seorang pemuda

maju ke depan dan berkata, "Tidak bisa, pak. Tindakan polisi tidak

radikal. Kita bunuh saja!"'

Orang banyak berteriak tanda setuju, "Ya, bunuh! Bunuh! tidak

perlu dikasih sama polisi. Kita r.dikal. Kita, kedaulatan rakyat, kedaulatan rakyat!" Dan seperti gerakan reflex, tangan orang-orang menjangkau baju mata-mata musuh. Mula-mula kepalanya dipukul dengan tinju-tinju, sudah itu dengan kayu-kayu, dengan potongan-potongan rel kereta api dan akhirnya dengan golok-golok. Dari telinga, hidung dan mulut

keluar darah, hitam merah seperti warna buah manggis yang sudah masak. Dari rangka kepala keluar otak, cair dan putih seperti sumsum ayam jago. Di pasar Mojokerto berjalan seorang perempuan muda. Sebentar-

sebentar ia tersenyum sendirian, ia baru kawin dan sekarang pergi

ke pasar membeli makanan untuk suaminya. Ia selalu tersenyum sendirian, jika ia mengerjakan sesuatu untuk menyenangkan hati suaminya. Ia sangat chnta kepada suaminya. Tiba-¿iba senyumnya

SURABAYA

hilang. Di mukanya berdiri seorang pemuda, revolver di pinggang dan pisau belati di tangan. Kata pemuda itu dengan kasar, "Nyonya, ikut saja!"

Keheran-heranan dan ketakutan perempuan muda itu mengikuti

pemuda itu ke belakang pasar. Di sana banyak lagi pemuda-pemuda

lain, semua pakai revolver di pinggang seperti kenpei Jepang. Seorang

daripadanya maju ke muka dan bertanya, "Hai, Karto, siapa kau- bawa?" Karto tersenyum dan katanya, 'Biasa, siapa lagi." Mendengar jawaban itu pemuda-pemuda berkerumun di sekeliling

perempuan muda itu. Ia ini pucat seperti kapur dan pikirannya me-

layang kepada suaminya. Sangkanya, pemuda-pemuda itu hendak mencemarkan kehormatannya, tapi persangkaan itu lekas-lekas dbu- angnya, orang yang hendak memperkosa perempuan, tidak suka kepada orang-orang banyak. Tiba-tiba seorang pemuda berkata, "Mata-mata musuh, ya?" Keheranan perempuan muda itu bertambah-tambah. Ia ingin hendak menjawab dengan beberapa perkataan, tapi mulutnya rasa terkunci karena ketakutan. Digelengkannya saja kepalanya, seperti kuda menghalau lalar dari tengkuknya. Dan sesudah menggeleng itu ia tersenyum. Melihat senyum itu, pemuda-pemuda bertambah marah dan keras-keras katanya, "Hendak dibujuknya kita dengan senyum manisnya! Ya, begitu caranys selalu, selalu begitu. Hm, selendang merah, baju putih dan selop biru, he. Dikiranya kita tidak tahu cara- caranya." Muka perempuan muda itu bertambah putih. Baru ia tahu sekarang, mengapa ia dianggap mata-mata musuh. Berturut-turut dilihat- nya selendangnya, bajunya dan waktu ia menekur hendak melihat

selopnya, ia dipukul dari belakang. Ia terjatuh ke atas tanah. Hidung-

nya berdarah. Beberapa pukulan lain tiba di bagian badannya yang

lain. Maki-makian memenuhi udara. Tiba-tiba seorang pemuda berkata terkejut, "Saudara-saudara, berhenti memukul! Kita salah, kita salah.

Selopnya bukan biru tapi hitam."

Beberapa orang menundakan pemuda yang berteriak itu ke sam-

ping dan kata mereka, "Tutup mulutmu, Parman! Engkau buta warna."

Dan waktu mereka hendak meneruskan memukul, datang polisi

SESUDAH 17 AGUSTUS 1945

ke tempat itu bersenjata lengkap. Pemuda-pemuda bersikap seperti tak tahu apa-apa. Polisi membawa beberapa pemuda ke seksinya dan perempuan muda yang setengah mati itu ke rumah sakit. Waktu ia sadarkan diri, katanya kepada seorang juru rawat, "Aku telah me-

maafkan mereka. Mereka muda-muda dan berjuang untuk Tanah Air."

Tapi polisi berpendapat lain, berjuang tinggal berjuang. Kesalahan harus dihukum.

5 ORANG-ORANG seperti kuda beban. Mereka menanggungkan segala

penderitaan dengan tidak mengeluh dan mereka tidak tahu, mengapa

mereka harus menderita sedemikian benar beratnya. Semuanya bagi

mereka sekarang kabur, hari kemudian dan perjuangan yang menim- bulkan putus asa. Satu-satunya yang masih terang benderang bagi mereka ialah, bahwa mereka harus membunuh dan mengusir musuh yang menginjak-injak tanah tumpah darahnya yang sudah merdeka. Dan

pekerjaan ini dilakukannya dengan hati yang tetap, semangat yang

berkobar-kobar dan perut yang setengah lapar. Kota merupakan rumah Rebecca yang habis terbakar dan dalam rumah mana terjadi suatu tragedie yang dahsyat. Dari balok-balok

kayu yang hangus-hangus keluar asap seperti asap rokok Zipper

dan dari mulut-mulut manusia keluar keluh kematian. Udara berbau mesiu, bangkai-bangkai manusia dan binatang dan rumah-rumah sakit

berbau aether dan air mawar. Scbentar-sebentar terdengar ledakan,

sudah itu banyak asap hitam mengepul-ngepul ke udara. Air hujan berisi debu-debu hitam lagi kotor, menyakitkan mata dan hati. Tentara sekutu bertambah maju masuk kota, tentara Indonesia bertambah mundur ke luar kota. Demikian selalu dalam peperangan, yang kuat maju dan yang kalah mundur dan mati. Orang-orang agama akan berkata, bahwa yang kuat diberi Tuhan kemenangan, karena

mereka berjuang untuk keadilan. Dan untuk mengeraskan ucapan itu

ditambahkannya, "Jika yang kuat tidak berjalan di atas jalan keadilan,

bagamanapun juga kuatnya, ia akan diberi Tuhan kekalahan dan mala-

petaka." Tapi jenderal-jenderal zaman duapuluh berpendapat lain,

SURABAYA

mereka lebih percaya kepada meriam-meriamnya dari pada kepada dogma-dogma khayal itu. Seluruh perhatian rakyat Indonesia ditujukan kepada perjuangan yang sedang berlaku di Surabaya itu. Pada setiap kabar yang menga- takan, gedung ini, gedung itu sudah hancur, mereka mengeluh sedih seperti orang tua yang dihinakan anaknya. Dari mulut mereka keluar perkataan-perkataan yang seorang pun tidak dapat membantah kebe- narannya, "Nanti harus diperbaiki lagi. Tapi tidak apa." Dari segala penjuru datang lemper-lemper, bulat-bulat seperti granat tangan. Anggota-anggota tentara tertawa melihat lemper-lemper itu dan katanya antara mereka, "Seperti ini rupanya tank-tank raksasa Inggris menerima granat-granat tangan kita." Dan sambil tertawa juga digantungkannya lemper-lemper itu di pinggangnya seperti menggantungkan granat-granat tangan dan di- bawanya ke medan pertempuran untuk dilemparkan ke dalam mulut di tengah-tengah pertempuran maha dahsyat. Pada suatu hari meriam penangkis udara Indonesia menembak jatuh beberapa kapal terbang musuh. Dunia tiba-tiba seperti tersentak dari tidur. Telegrafist-telegrafist di seluruh dunia bekerja giat dan dalam surat-surat kabar hari itu termuat berita penting, 'Orang-orang Indonesia kepintaran menembaknya sama dengan serdadu-serdadu Jerman." Kabar ini menggirangkan hati rakyat, semangat perjuangan menjadi tambah meluap dan kepercayaan kepada kekuatan sendiri timbul kembali. Tapi tank-tank raksasa musuh bergerak pula dengan giatnya, segalanya menjadi hilang, semangat yang berkobar tadi, kepercayaan kepada kekuatan sendiri dan beratus-ratus jiwa. Terhadap malaikalmaut ini rakyat dan tentara Indonesia hanya bisa memberikan nyawa- nya sambil tersenyum penghabisan. Yang masih hidup, setelah ber- hadapan dengan malaikalmaut itu berkata, "Ia seperti presiden kita ... onschendbaar." Anggota-anggota tentara sudah pada mengetahui, bahwa perjuangan, mereka mempertahankan kota Surabaya segera akan berakhir dengan kekalahan. Mereka tahu pula, bahwa yang menyebabkan kekalahan itu bukan kelalaian atau kelembekan semangat mereka atau karena serdadu-serdadu sekutu lebih berani dari mereka. Mereka SESUDAH 17 AGUSTUS 1945

tidak akan sombong, kalau berkata, bahwa keberanian mereka ada dua kali lipat. Dengan tombak bamiu mereka bisa merampas tank-tank biasa musuh, tapi tank-tank raksasa yang duapuluh meter panjangnya itu dan kapal-kapal terbang yang selalu menjatuhkan kotorannya itu ... Ya, inilah sebab dari segala kekalahan mereka. Sebab itu mereka benci kepada kedua benda pembunuh ini dan bencinya sangat besarnya, sebesar kebencian mereka kepada imperialisme. Waktu puncak perjuangan sudah tiba, pemimpin-pemimpin ten- tara berapat. Waktu berapat itu hati mereka penuh dengan kesedihan dan kebencian dan muka mereka penuh dengan kerinyut di sekeliling mata, karena kurang tidur. Rapat itu sangat demokratis dan seperti rapat perkumpulan anak-anak. Jika ada orang yang mendengarkan rapat itu, ia tidak ada teringat bahwa ia ada di tengah-tengah dentuman meriam dan mortir. Ketua rapat membentangkan dengan panjang lebar perjalanan perjuangan beberapa minggu yang akhir-akhir ini. Ia tidak pula lupa mengatakan, bahwa ia sendiri sebenarnya harus pergi ke Malang untuk melihat istrinya melahirkan anak. Tapi katanya pula, kita harus bersyukur kepada Tuhan karena masih ada terus yang lahir sebab kalau tidak begitu, kita akan putus asa melihat banyaknya manusia yang mati di sini ini. Dengan senyum sedih ia meneruskan, "Tapi aku tidak bisa pergi. Biarkan manusia lahir di tempat aman. Kita di sini akan mati. Supaya ada keseimbangan dalam segala-galanya. Aku telah mengirim surat untuk istriku dan lemper pembagianku untuk anakku yang baru lahir itu." Sudah itu rapat memutuskan menerima usul ketua rapat untuk mati semuanya di Surabaya, karena di tempat aman banyak lagi yang akan lahir. Mereka akan bertahan sampai titik darah yang pengha- bisan. Dan di tengah-tengah kegembiraan menerima putusan mati itu. tiba-tiba seorang opsir mendapat ilham, ilham yang baik sekali. Pada waktu ia bicara membentangkan ilhamnya itu kepada rapat, pikirannya tidak ada Surabaya, tapi sedang melayang-layang di atas negri Belanda. Di hadapannya kelihatan negri Belanda digenangi air, se- waktu fascis Jerman hendak memasuki negri itu. Memang katanya, fascis Jerman dapat juga menduduki negri Belanda, tapi mereka banyak yang mati karena air bah itu. Dan dengan suara nyaring ia SURABAYA

bertanya kepada rapat, "Bagaimana, kalau kita melakukan yang seperti itu untuk menahan fascis sekutu masuk ke riegeri kita?" Banyak lagi ilham-ilham lain yang dikemukakan oleh opsir-opsir lainnya. Yang seorang mengusulkan, supaya pada saat genting ini seluruh rakyat Indonesia diajak berbaris, ketujuh puluh jutanya, di hadapan tank-tank raksasa dan menyuruh giling badan mereka, ketujuh puluh jutanya, oleh tank-tank raksasa itu. Pengendara-pengendara tank itu pasti akan lelah karena menggiling demikian banyaknya manusia dan akhirnya ia mati karena lelah dan kita rampas tank-tanknya. Opsr lain mengusulkan, supaya dalam dua hari ini hendaknya peme- rintah sudah dapat memesan tank-tank raksasa dari luar negeri. Dan waktu seorang opsir lain bertanya, dengan apa akan dibawa tank-tank itu dalam waktu yang sesingkat itu, ia menjawab, "Dengan kapal terbang, saudara. Dari Australia dan Amerika hanya dua hari perjalanan dengan kapal terbang, bukan?" Rapat tertawa gelak-gelak. Usul yang akhir ini ditolak dengan tiada memungut suara. Dan hasil dari rapat yang tiga jam lamanya itu, ialah penerimaan usul menggenangi kota Surabaya seperti negri Belanda dan selanjutnya sumpah semua opsir yang berapat untuk mati di medan pertempuran, karena di tempat aman yang lain akan lahir pula, beribu-ribu dan berjuta-juta lagi.

6 ADA pepatah : orang dagang pu,tar sekali membohong sampai ia sendiri tidak bisa membedakan lagi antara mana yang bohong dengan mana yang tidak bohong. Penjahat-penjahat tiada pernah mengotorkan tangannya dengan kejahatan-kejanatan. Segala apa yang mereka kerja- kan, adalah pekerjaan biasa seperti pekerjaan seorang klerek di kantor. Bahwa ada orang-orang yang menjadi kurban daripada pekerjaannya, tiada menjadi soal bagi mereka. Yang demikian itu dapat juga terjadi karena pekerjaan seorang klerek yang birokratis. Kaum pelarian semua sudah mendapat atap di atas kepalanya, hotel-hotel, bedeng-bedeng, kandang-kandang anjing. Surat-surat kabar tidak banyak membicarakan soal kaum pelarian ini. Kadang-kadang SESUDAH 17 AGUSTUS 1945

kita merasa, seakan-akan mereka itu sudah tidak ada lagi di atas dunia. Hanya sekali ada pengumurnan dari sebuah kementerian yang memperingati tukang-tukang catut, supaya jangan menjadikan perempuan-perempuan pelarian menjadi perempuan-perempuan jahat dengan uangnya yang bertumpuk-tumpuk itu. Tapi tukang-tukang catut tertawa membaca pengumuman yang aneh itu. Mereka heran, mengapa sesuatu kementerian ikut campur dengan soal-soal seksuil. Adakah kementerian penerangan Perancis melarang penambahan jumlah perempuan-perempuan jahat di Paris? Itu adalah soal biasa, bahwa di atas dunia harus ada orang-orang yang suka menjadi perempuan jahat, seperti seharusnya ada orang-orang yang suka menjadi ahli-ahli kesusasteraan. Bagi ahli-ahli kesusasteraan didirikan orang sekolah-sekolah tinggi dan bagi perempuan-perempuan jahat didirikan orang rumah-rumah tinggi. Dan bahwa kita segalanya itu bisa mencapainya dengan Jang, itupun adalah soal biasa pula. Tidak, kementerian-kementerian harus mengurus soal-soalnya sendiri, merencanakan rancangan lima tahun misalnya dan jangan mengotorkan tangan pula dengan perempuan-perempuan jahat. Tukang-tukang catut tertawa dan jumlah perempuan-perempuan jahat dari sehari ke sehari bertambah banyak. Sampai-sampa: kita tidak bisa membedakan lagi antara perempuan biasa dengan perempuan yang istimewa, persis seperti orang-orang dagang tidak bisa membedakan omongannya yang bohong dengan yang tidak bohong. Tapi di antara kaum pelarian perempuan tentu ada juga orang-orang yang patuh kepada agamanya dan suaminya. Mereka ini tidak mau dibeli tukang-tukang catut. Setiap kali tukang-tukang catut me- ngajak mereka menginjak jalan serong, mereka sembahyang kepada Tuhannya tujuh kali sehari dan menolak tukang-tukang catut dengan senyuman pahit dan getir. Mereka masih bisa tersenyum, sungguhpun pahit dan getir, itu adalah ajaran yang mereka dapat dari suami-suami mereka yang sekarang sedang meremui matinya li bawah tank-tank raksasa. Tapi juga perempuan-perempuan beragama ini pun harus hidup dan mempunyai uang. Dan uang tidak dapat mereka minta kepada Tuhannya, biarpun mereka sembahyang tigabelas kali sehari. Dan karena pemerintah sendiri tidak dapat memberikannya secukupnya, SURABAYA

muncul dewa-dewa yang pengasih dan penyayang dari negri antah berantah. Dewa-dewa ini berjalan masuk kampung ke luar kampung, sepesial untuk mencari kaum pelarian dan sepesial untuk menolong mereka yang sengsara. Dewa-dewa ini memberikan uangnya sambil tersenyum manis dan waktu orang yang menerima uang itu hendak mengambil air teh buat diminumnya, dewa-dewa menolak dengan perkataan-perkataan yang menunjukkan sopan santun, "Tidak usah, nyonya. Tidak usah, tuan. Jangan susah-susah!" Dan memang, pada waktu itu dewa-dewa tidak bohong, ia betul- betul tidak memerlukan air teh atau biar air limun sekalpun. Yang mereka butuhkan hanya satu: sebuah hitungan murid sekolah rakyat: sepuluh menjadi dua belas. Muric-murid sekolah takyat akan menambahkan dua batang lidi kepada sepuluh batang lidi, untuk men- dapatkan angka duabelas itu. Tapi dewa-dewa ini tidak menambahkan apa-apa. Ia hanya menunggu, menunggu dan tiba-tiba angka sepuluh dengan sendirinya menjadi angka duabelas. Tentu ada orang-orang yang tidak setuju dengan pekerjaan dewa-dewa itu. Mercka ini berkata kian ke mari dengan marahnya 'Itu menyolok mata benar! dan pada waktu bicara itu pikirannya berbelit-belit mencari jalan yang tidak begitu menyolok mata." Jika mereka ini orang-orang yang mengurus makanan kaum di bedeng-bedeng, mereka tidak mengadakan hitungan sepuluh menjadi duabelas, tapi hitungan lain yang lebih mudah dan yang tidak me- nyclok mata benar, yaitu hitungan 200 gram menjadi 195 gram, 195 gram menjadi 190 gram, 190 gram menjadi 185 gram. Begitu sete- rusnya dan selalu kurangnya lima gram lima gram. Dan akhirnya setiap kaum pelarian hanya berhadapan dengan sebuah onggokan makanan seperti yang diberikan otang kepada burung-burung peliharaan. Dan waktu luar negri mengatakan, bahwa pemerintah republik membunuh rakyatnya sendiri, pemerintah membantah kabar bohong itu sekeras-kerasnya. Pemerintah raenegaskan, bahwa ia bersedia memberikan daftar-daftar makanan yang diberikannya kepada orang-orang yang di bawah perlindungannya. Orang-orang yang bekerja pada kantor statistik akan berkata, bahwa angka-angka itu adalah barang-barang yang hidup, bisa bicara. Tapi dalamn keadaan makanan di bedeng kaum pelarian ini, angka-angka ini adalah barang-barang yang mati dan bisu SESUDAH 17 AGUSTUS 1945

seperti lukisan yang jelek. Satu-satunya yang bisa bicara dan memang hidup ialah orang-orang yang membikin hitungan 185 gram menjadi 180 gram tadi itu dan satu-satunya orang yang bisa memaksa mereka ini bicara ialah: hakim pengadilan dan algojo. Bertambah lama bertambah banyak orang-orang yang menaruh perhatian yang besar sekali kepada kaum pelarian ini. Waktu terdengar kabar, bahwa banyak orang, beribu-ribu, melarikan diri dari Surabaya, tiba-tiba semua rumah dalam kota-kota dekat Surabaya seperti berisi semuanya. Kaum pelarian yang mempunyai uang sedikit masuk kam- purg, ke luar kampung mencari rumah, sebuah kamar atau sebuah garase mobil, tapi sia-sia. Dan sela!u, jika kaum pelarian hampir putus asa, muncul dewa-dewa lain, juga pengasih dan penyayang, menawar- kan bantuannya. Mereka in pintar sekali mengomong, katanya, "Rumah susah di sini, sejak dari dahulu!' Biasanya mereka berhenti scbentar, jika sudah sampai kepada kalimat yang akhir ini. Dengan saksama diperhatikannya muka kaum pelarian yang hendak menyewa rumah itu, persis seperti seorang dokter jiwa memperhatikan air muka orang-orang sakitnya. Dan jika muka ini melihatkan keputus-asaan, diteruskan mereka, "Tapi saya ada kenalan yang mau mengalah untuk kaum pelarian. Hanya per- mintaannya sedikit, supaya ia dberi uang sedikit untuk ongkos memindahkan barang-barangnya." Dan waktu kaum pelarian bertanya, berapa banyaknya uang yang sedikit itu, dewa-dewa ini menyebutkan angka-angka yang kecil sekali, seperti 1, 2 dan 3. Tapi sambil tersenyum dikatakənnya pula, bahwa di belakang setiap angka itu harus ditambahkan tiga buah benda yang tidak ada artinya sama sekali: 0 0 0. Sebuah kanar kecil, angka 1 dengan 0 0 0. Sebuah garase mobil, angka 2 dengan 0 dan sebuah rumah kecil, angka 3 dengan 0 0 0. Dan uang yang sedikit ini adalah untuk membayar ongkos ... memindahkan barang-barang kepunyaan orang-orang yang mau mengalah untuk menolong kaum pelarian yang dikasihani dan yang banyak mencerita itu. Sambil menerima uang yang sedikit itu dengan rasa turat menanggungkan penderitaan kaum pelarian, orang-orang yang mau ir.engalah itu berkata dengan suara sayup-sayup. "Dalam zaman revolusi ini, kita harus bersatu dan gotongroyong!" SURABAYA

PADA detik-detik penghabisan dari perjoangan mempertahankan kota Surabaya, orang-orang kembali ingat kepada Tuhan lama. Setiap malam kedengaran keluar dari radio, "Pemberontakan" kata-kata dari kitab suci: Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar! Tapi entah karena apa, entah Tuhan tidak punya pesawat penerima suara, entah karena Tuhan sudah bosan melihat tingkah laku manusia yang hanya ingat kepadaNya waktu ada kesusahan, entah bagaimana, suara-suara suci yang keluar dari radio itu tidak didengarkan Tuhan. Kekalahan demi kekalahan menimpa rakyat Indonesia dan akhirnya seperti yang dikatakan radio sekutu, "Surabaya sudah aman kembali." Berakhir sudah pertempuran cowboy dengan bandit dan sekali ini bandit yang menang. Tapi luka-luka masih ternganga besar, penderitaan rakyat Surabaya masih berjalan terus. Gedung-gedung masih dijilati api dan yang tidak ada apinya lagi masih seperti onggokan- onggokan kotoran kerbau. Rakyat Indonesia di Surabaya yang dikuasai bandit-bandit hidup seperti prajurit di medan perang yang paling depan. Setiap waktu badarrya dapat dilanggar peluru kesasar, setiap waktu ia dapat di- tangkap dan setiap waktu ia dapat mengeluh panjang penghabsan. Tapi sebelum itu mereka tidak mau mengeluh dan tidak mau me: nyerah. Seperti orang Jerman yang kalah perang, mereka tidak mem? bungkuk-bungkuk seperti orang Jepang kalah perang. Dalam hatinya mereka bangga seperti orang-orang politik dulu digiring oleh Belanda masuk penjara. Seorang ulama besar menjadi gila dan mati. Ia ini dulu ber- sahabat kental dengan Jepang dan percaya kepada Jepang seratus persen. Tapi waktu Jepang bertindak seperti Belanda, kejam dan hanya pintar memberikan janji-janji kosong belaka, ia mencurigai Jepang seperti mencurigai saudara yang tidak jujur: ia tidak memukul saudaranya sampai mati, tapi ia hanya berdiam diri dan menunggu

saatnya saudaranya terpukul mati sendirian oleh keadaan. Tapi keadaan ini datangnya terlalu lama dan lama sebelum Jepang terpukul SESUDAH 17 AGUSTUS 1945

mati sendirian, ia dibawa orang ke rumah sakit gila. Tapi waktu kemerdekaan Indonesia diproklamairkan, ia baik sedikit. Dengan gembira ia berteriak-teriak dengan orang-orang lain: Merdeka! Merdeka! Sayang hanya sebentar. Waktu penduduk Surabaya bertindak seperti · cowboy-cowboy dalam cafe-cafe, menciumi gadis-gadis dan revolvernya, ia menjadi gila kembali. Ia tidak dapat ikut-ikut memuja Tuhan baru penduduk Surabaya. Dan waktu kota itu "sudah aman kembali", ia bertambah gila dan meninggal dunia dengan senyum mengejek dan kebencian. Seorang laki-laki setengah tua selalu menyembunyikan tangan kirinya ke dalam saku celananya. Hanya untuk yang perlu-perlu saja dikeluarkannya tangannya itu. Orang-orang melihat keheranan kepada tangan itu, mereka tidak pernah melihat tangan itu telanjang, selalu dibungkus rapi-rapi dengan sapu tangan putih. Seorang daripada mereka tidak dapat menahan keheranannya lagi dan pada suatu hari ditanyakannya, "Maaf tuan, tapi tangar kiri tuan selalu menimbulkan pertanyaan dalam diri saya. Jika saya teringat kepada tangan kiri tuan, malam-malam saya tidak bisa tidur dan siang hari saya tidak bisa berpikir dan makan, persis seperti orang mengingatkan kekasih yang tidak jujur." Selalu saja timbul pertanyaan ini dalam kalbu saya. Mengapa selallu disembunyi-sembunyikan? Mengapa selalu di bungkus-bungkus? Tuan, lepaskanlah saya dari penderitaan pikiran ini dan jawablah pertanyaan kalbu saya itu. Orang itu tiba-tiba menjadi pucat seperti kapur dan kemalu-maluan dijawabnya, ""Tidak ada apa-apa, tuan. Hanya kelima jarinya tidak ada lagi, sudah dipotong serdadu sekutu. Sebab itu ia kubungkus rapi-rapi supaya orang lain jangan merasa jijik melihatnya. Karena saya sendiri jijik melihat tanganku yang tiada berjari lagi itu." Orang itu pergi kemalu-maluan dan tiada seorang pun yang me rasa perlu menanyakan, mengapa serdadu sekutu itu memotong kelima jarinya. Mencurikah dia? Menggedorkah dia? Orang-orang tiada merasa perlu menanyakan itu, seakan-akan sudah sewajarnya serdadu sekutu harus memotong jari tangan dan leher manusia. Pemuda-pemuda Indonesia tidak ada tampak berkeliaran lagi di jalan-jalan Surabaya seperti zaman cowboy. Mereka ini sekarang ting-SURABAYA

gal rapi-rapi dalam rumah panjang-panjang. Pagi-pagi benar mereka sudah bangun, dan setelah memakan roti keras sepotong kecil, mereka buru-buru naik ke atas truck-truck Inggris dan dibawa ke mana- mana untuk melakukan suatu pekerjaan yang maha penting untuk pembangunan: menyapu jalan-jalan, mengangkut runtuhan-runtuhan gedung-gedung, mengangkat barang-barang di pelabuhan. Jika dicerita- kan begitu, mungkin ada orang yang menyangka, bahwa pemuda-pemuda itu dengan kemauannya sendiri mengerjakan segala pekerjaan itu. Tapi persangkaan itu salah sama sekali, karena mereka bangun pagi-pagi benar itu, karena teriakan-teriakan dan maki-makian pengawal-pengawal rumah-rumah panjang itu. Dan waktu mereka dengan truck-truck pergi ke tempat pekerjaan, selalu ikut bersama mereka beberapa serdadu Gurkha bersenjata lengkap. Serdadu-serdadu Gurkha yang baik-baik selalu berusaha menimbulkan suasana yang agak gembira, tapi pemuda-pemuda Indonesia 'di atas truck itu hanya bisa tersenyum pahit dan getir dan menekurkan kepalanya seperti mereka malu memandang orang-orang yang lalu lintas di jalanan. Tidak! Pada waktu itu pemuda-pemuda Indonesia itu bukanlah makhluk-makhluk yang mempunyai kemauan sendiri: mereka adalah "tawanan perang sekutu". Dan tawanan-tawanan perang sekutu ini melakukan pekerjaan-pekerjaan itu dengan tiada mengeluh. Dari mukanya yang tersenyum pahit dan getir itu memancar cahaya baja, baja sejati, baja kemerdekaan. Seorang gadis muda remaja, bajunya compang camping, berkata kepada setiap orang yang dijumpainya : Inggris, Gurkha, maupun Indonesia, "Saya bukan perawan lagi! Periksalah! Periksalah sendiri!" Dan sehabis berkata itu, diraba-rabanya pinggangnya dengan tangannya di bawah roknya dan tiada berapa lama seperti permainan sunglap meluncur sebuah lap kuning lagi kotor melalui kedua belah kakinya ke bawah. Orang-orang Inggris melihat sebentar ke lap kuning lagi kotor itu, tapi lekas-lekas dipalingkannya mukanya kembali dan tersenyum mengerti kepada temannya. Orang Gurkha tertawa gelak-gelak melhat lap kuning lagi kotor itu, melihat bermenit-menit kepadanya, seakan-akan mereka kena pesona. Orang-orang Indonesia tidak melihat sama sekali kepada lap kuning lagi kotor itu. Waktu mereka mendengar perkataan gadis muda remaja itu, muka mereka SESUDAH 17 AGUSTUS 1945

menjadi merah padam karena dendam dan kebencian. Mereka cepat- cepat meneruskan perjalanannya dan dalam hatinya mereka berkata, "Seorang kurban revolusi!"' Dan agak keras diteruskannya, "Seperti aku, seperti kita semua. Seperti seluruh rakyat Indonesia ..."

8 ENAM bulan sudah sejak pertempuran di Surabaya dimulai. Pada hari peringatan itu surat-surat kabar Malang terbit dengan tinta merah. Orang-orang tercengang melihat tinta merah itu dan dalam hatinya mereka bertanya, "Mengapa tinta merah? Apakah pertempuran Surabaya pertempuran Trotsky melawan kaisar Nikolas II? Ataukah itu darah Indonesia yang mengalir di kota itu?" Orang-orang tiada tahu, pun juga pemimpin surat-surat kabar itu sendiri tidak. Yang mereka ketahui dan rasakan sekali ialah, bahwa mata mereka menangis waktu melihat tinta merah itu. Orang-orang yang melihat orang menangis itu tentu menyangka, bahwa tangis itu disebabkan oleh sesuatu karangan asli yang sedih merindukan atau karena berasa bersatu dengan pemuda-pemuda harapan bangsa yang telah gugur di medan pertempuran. Persangkaan ini meleset pula, karena orang-orang menangis itu setelah menghapus air matanya, tertawa gelak-gelak dan meludahi tinta merah itu seperti orang meludahi barang yang jijik dan kotor. Di Mojokerto dapur umum bertimbun-timbun pekerjaannya pada hari itu. Dari kepala divisi tentera ia mendapat perintah untuk me- nyediakan tiga puluh ribu lemper untuk dihadiahkan kepada anggota-anggota tentara yang ada di garis depan. Dalam surat kepala divisi kepada dapur umum tertulis, "Anak-anak kita di garis depan dapat merayakan hari peringatan seperti penduduk kota-kota. Untuk meme- lihara semangat anak-anak kita pada hari itu, harap dikirimkan tiga puluh ribu biji lemper berisi daging. Saya tahu, bahwa beras susah didapat dan harganya tinggi sekali. Sebab itu saya tidak minta nasi, tapi cukup lemper saja." SURABAYA

Mula-mula kepala dapur umum bangga menerima surat semacam itu dari kepala divisi. Kepada anggota-anggota pengurus yang lain katanya, "Itu baru orang perjuangan. Ia tahu beras susah. Sebab itu ia minta lemper saja. Aku bangga mempunyai pemuda-pemuda seperti itu." Tapi pada waktu ia tiba di pasar hendak membeli rempah- rempah untuk lemper itu, ternyata harga ketan lebih mahal dari beras dan harga daging untuk pengisi lemper itu demikian tingginya, sehingga dapur umum tidak cukup mempunyai uang untuk dipcrgunakan untuk daging saja. Setelah menyumpahi tukang-tukang jual ketan dan daging ia buru-buru pulang dan segera ditulisnya surat kepada kepala divisi, 'Harus tuan tahu, bahwa harga ketan lebih mahal darpada beras. Daging untuk mengisi lemper, dapur umum tidak sanggup membeli- nya. Kami akan mengirimkan saja tiga puluh ribu pisang Ambon untuk anak-anak tuan. Harap tuan maklum." Kepala divisi mendapat sebuah pisang Ambon, dan waktu di- makannya dicobanya menghilangkan ingatannya kepada pisang Ambon yang hampir busuk itu dan menganggapnya saja sebagai sebuah lemper berisi daging yang enak lagi lezat. Selain dari surat-surat kabar bertinta merah, Malang mengadakan pula rapat "Samudra". Dulu rapat-rapat semacam itu dinamakan rapat ''Raksasa", tapi setelah mendapat protes dari orang-orang yang anti Jepang seratus persen, ia diberi nama lain. Beribu-ribu manusia datang berduyun-duyun ke stadion Malang. Panas matahari ditahannya dengan sabar seperti menghadapi pen- jajahan yang tiga ratus lima puluh tahun lamanya itu, dalam hati mereka mendongkol. Tapi waktu lagu "Indonesia Raya" dimainkan, mereka berdiri dengan tegap seperti perajurit dan ikut menyanyikan lagu kebangsaan itu. Setiap orang merasa tengkuknya seperti digili-gili orang. Segala bulu berdiri: bulu tengkuk dan bulu kaki. Dan waktu lagu itu habis, beberapa orang nasionalis tulen menangis dan katanya parau, "Itu yang kita perjuangkan sepanjang masa. Dan untuk itu kita mengurt bankan harta benda dan jiwa pemuda-pemuda kita. Bukan main indahnya lagu itu. Ya, perjuangan kita tidak sia-sia!" Tiba-tiba orang-orang semua berdiam diri. Mata mereka mengarah SESUDAH 17 AGUSTUS 1945

ke depan, ke sebuah pal putih di atas panggung. Pal itu kecil dan pendek dan dari padanya keluar suara seperti gersik daun kayu kering. Wakil Gubernur Jawa Timur sedang bicara. Tentang wakil gubernur ini banyak tersiar kabar angin yang baik dan yang buruk. Tapi pada waktu ia membentangkan tentang keadaan Surabaya sehari sebelum terjadi pertempuran, semua orang ternganga mendengarkan kesombongan tentara sekutu. Dan waktu ia berkata, bahwa peng- hinaan semacam itu tidak bisa dibiarkan begitu sija, semua orang, tidak ada kecualinya, setuju dengan wakil gubernur yang baik dan yang buruk itu. Sudah itu bicara kepala divisi tentera Malang. Ia sudah tua tapi dengan segala daya upaya dicobanya berpidato seperti anak muda. Katanya bersemangat, "Saya jenderal, bukan karena tanda-tanda di leher saya ini. Tapi saya jenderal karena rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Demi Allah saya adalah jenderal rakyat." Setiap sesudah pidato, ke luar tepuk sorak dari stadion itu seperti pada pertandingan sepak bola internasional. Tapi setelah pidato divisi Malang itu, tepuk sorak disusul senyum lebar mengejek, kata-kata seperti itu sudah terlalu sering didengar orang. Sekarang orang selalu menghendaki sesuatu yang baru dan sehat dan mengejekkan segala sesuatu yang basi dan sakit. Kejadian yang maha besar dan menarik hati akan berlaku. Orang-orang bertepuk sorak sepuluh kali hebat dari yang sudah-sudah Semua mata mengarah kembali ke depan, tapi sekali ini tidak lagi kepada pal putih kecil pendek, tapi kepada benda hitam dan kotor. Di puncak benda itu tergerai rambut panjang seperti rambut perempuan dan dari rambut itu keluar bau bantal ying tiada pernah dijemur-jemur. Bung Tomo, kepala "Pemberontak" bicara! Mula-mula ia bicara lambat-lambat untuk menenteramkan rakyat. Suaranya besar dan bengis, orangnya kecil dan manis. Matanya bersinar-sinar seperti cahaya menara di tengah lautan. Dengan pendek dan tegas dicerita- kannya pengalamannya di medan pertempuran: Yang saya takutkan hanya satu: mata-mata musuh perempuan. Perempuan jika berjiwa penjahat, lebih kejam dan licik daripada laki-laki. Jika saya berjalan-jalan di kota Malang, anak-anak gadis SURABAYA

pada melihat kepada saya dengan senyum merayu. Tapi ketahuilah, hai gadis-gadis, bahwa bung Tomo hanya akan mengambil satu gadis saja dan gaais itu pasti harus bukan mata-mata musuh. Sebab itu selama revolusi ini bung Tomo akan tetap sendirian saja dan sebab itu pula janganlah lagı melihat kepada bung Tomo dengan pandangan yang merayu-rayu sukma bung Tomo itu. Orang-orang yang beribu-ribu itu tertawa gelak-gelak dan ber- sorak karena setuju aengan bung Tomo. Pemuda-pemuda yang sudah beristri berminat dalam hatinya hendak mencerail an istrinya setiba di rumah nanti. Tapi setelah berpikir agak panjang, katanya mem- bujuk diri sendiri. Ah, tidak apa, istri saya past bukan mata-mata musuh! Mendengar sorak yang riuh rendah itu bung Tomo tiba-tiba menjadi manusia lain, banteng kedaton. Dengan suara yang besar lagi bengis itu dicelanya perbuatan-perbuatan sekutu di Surabaya sejak hari mendaratnya. Dengan sinar mata yang menghypnotisir pendengar-pendengar dan penonton-penonton, digambarkannya kekejaman-kekejaman serdadu sekutu terhadap pemuda-pemuda Indonesia yang ditangkapnya. Dan setelah kering air ludahnya bicara, ia me- nyudahi pidatonya yang berapi-api dan yang membakar semangat itu dengan kata-kata tegas, "Kita harus memberantas tukang-tukang catut: tukang catut biasa, tukang catut pangkat, tukang catut peluru, tukang catut pakaian militer dan tukang catut Inggris! Kita harus berjuang terus! Sekarang baru enam bulan, tapi kalau perlu enam puluh tahun lagi kita akan terus berjuang! Kita harus mengusir Belanda-Belanda dan semua bangsa asing yang hendak menjajah kita!"

9 SURABAYA sudah dikuasai sama sekali oleh sekutu dan "'sudah aman kembali". Rakyat Indonesia tidak berbuat .ıpa-apa lagi. Setiap waktu dan pada setiap kesempatan, pemimpin-pemimpin tentera DARI AVE MARIA 10

berkata dengan kepastian seratus persen, "Surabaya akan kita rebut kembali! Selekas mungkin!" Tapi setelah ada di garis depan, mereka berhadapan dengan kenyataan yang seratus persen pula. Tank-tank raksasa musuh masih ada. Kapal-kapal terbangnya masih ada dan kedua benda ini tidak bisa digertak dengan perkataan bual belaka. Garis depan sekarang bukan lagi pelabuhan Tanjung Perak, tapi sudah jauh masuk ke dalam negri. Sekali-sekali terjadi pertempuran kecil-kecil dan terdengarlah kembali bunyi-bunyi senapan, meriam dan mortir seperti pada hari-hari pertama. Tapi biasanya keadaan medan pertempuran sepi dan kesepian yang berhari-hari dan berbulan-bulan ni lamanya, menekan jiwa sangat hebatnya dan terasa kepada anggota-anggota tentara lebih memutuskan asa daripada pertempuran besar-besaran. Pada pertempuran besar-besaran orang tiada memikirkan kekasih yang ditinggalkan bersedih hati di garis belakang. Pendek kata pada pertempuran orang-orang tiada berpikir, orang hanya bertindak: membunuh atau jika tidak ada harapan lagi, lari puntang panting menuju masuk negri. Pada hari-hari sepi itu pemimpin-pemimpin tentera repot sekali. Anggota-anggota tentera biasanya permintaannya banyak sekali, permintaan yang tidak-tidak. Karena tidak tertahankan lagi, pemimpin- pemfimpin tentera berkirim surat ke mana-mana, "Paduka tuan, kirimkan kami gerombolan sandiwara. Anak-anak tidak tahan lagi me nanggungkan kesepian semacam itu. Atau jika tidak ada sandiwara apa saja yang dapat memecah kesepian itu." Pemimpin-pemimpin tentera itu tahu betul apa sebenarnya yang diminta anak-anaknya. Ia tidak minta dikirimkan pisang atau lemper untuk memecah kesepian, tapi sandiwara. Sandiwara selalu mempunyai gadis-gadis dan gadis-gadis inilah yang sebenarnya dikehendaki anggota-anggota tentera dengan permintaan yang tidak-tidak itu. Pemimpin tentera tahu, bahwa sandiwara setelah bermain segera akan meninggalkan mereka pula, tapi tidak selekas lemper atau pisang Ambon yang setengah busuk meninggalkan mereka. Dan lagi pula bagi anggota-anggota tentera yang romantis, gadis-gadis sandiwara itu akan tetap tinggal dalam ingatannya buat selama-lamanya. SURABAYA

Sandiwara datang dengan gembira, tapi muka pemimpin tentera tiba-tiba mendung seperti hari hendak hujan. Dan waktu ditanyakan, mengapa mukanya masam saja, dijawabnya dengan kasar, "Orang-orang di garis belakang itu sudah gila barangkali. Mereka bekerja serampangan. Kita bertempur habis-habisan di sini dan mereka me- ngirimkan kita sandiwara dengan perempuan-perempuan jelek." Tapi anggota-anggota tentera girang juga. Mereka tidak melihat kepada jelek atau bagus, tapi kepada perempuan. Dan perempuan di medan pertempuran sama dengan air di padang pasir Sahara. Dan karena sekarang zaman kedaulatan rakyat, pemimpin-pemimpin tentera terpaksa mengalah dan melihat kepada perempuan-perempuan jelek itu dengan perasaan benci dan mual. Pada hari-hari sepi yang lain pemimpin-pemimpin tentera menuls pula ke orang di garis belakang, "Paduka tuan, kesepian sudah memuncak pula. Harap kirimkan kami dengan segera lemper atau pisang Ambon saja. Jika ini tidak ada apa saja pun baik, asal jangan sandiwara." Medan pertempuran sekeliling Surabaya sangat luas. Selain dari pos-pos tentera terdapat juga pos-pos palang merah. Dan selain dari itu hutan belukar dan kesepian yang menekan jiwa tadi itu. Pada pos-pos palang merah banyak bekerja gadis-gadis jelita, sebab itu orang-orang yang patuh kepada agama mengadakan garis demarkasi antara pos-pos jejaka dan pos-pos wanita itu dan di tengal tengah garis itu dipancangkanlah sebuah papan berisi sebuah maklumat dari kepala pos tentera, "Dilarang keras melanggar garis perbatasan ini. Jika tidak seizin kepala pos tentera atau kepala pos palang merah." Dan garis itu dijagalah oleh beberapa anggota tentera yang berdisiplin. Begitu berjalan beberapa minggu, tapi akhirnya orang bosan sendirian. Pikiran sehat timbul kembali: bukan jejaka dan gadis-gadis yang harus dijaga tentera, tapi tank-tank raksasa, kapal-kapal terbang dan seluruh imperialisme yang hendak menjajah tanah tumpah darah. Penjagaan garis demarkasi dihilangkan, papan maklumat itu hilang entah ke mana, dan timbullah suasana yang menghibur hati yang dalam kesepian, yang menghilangkan ingatan kepada segala yang kecil-kecil: pertempuran, kekasih-kekasih di garis belakang, ya, kepada mati sekalipun. Karena sekarang anggota tentera dan gadis-

SESUDAH 17 AGUSTUS 1945

gadis palang merah menghadapi sesuatu yang maha besar, lebih besar dari segala-galanya, yaitu: melanjutkan umur dunia! Dalam sidang dewan perwakilan rakyat Malang kepada divisi sekitar Surabaya, mendapat kritik habis-habisan. Seorang anggota sangat marah, karena ia pernah ditahan oleh pengawal-pengawal batas dengan cara tidak sopan. Ia meminta dengan sangat, supaya keadaan fascistis itu segera berubah. Negri kita tidak boleh menjadi negri yang militeristis katanya. Tentera sebenarnya harus tunduk kepada pegawai-pegawai pemerintahan sipil. Anggota lain sangat kecewa, karena anggota tentera banyak bertindak bertentangan dengan adat kesopanan. Ia tidak suka jika anggota tentera bercumbu-cumbu dengan perempuan-perempuan Belanda yang diinternir. Saya tidak keberatan, katanya, jika mereka bercumbu-cumbu dalam kamar gelap ,gulita. Akan saya pasti tidak akan menjadi rusak jiwanya. Tapi saya sangat keberatan, jika hal itu dilakukan di ,tengah-tengah pasar. Dan sebagai penutup katanya, bahwa ini adalah salah satu faktor yang menyebabkan kekalahan- kekalahan di Surabaya itu. Wakil tentera sudah itu diberi kesempatan bicara. Tampangnya gagah dan setiap orang sebenarnya bangga, jika tentera seluruhnya mempunyai badan dan sikap seperti wakil tentera itu. Ia ini mula mula bicara sangat lambat-lambat dan beraturan sekali. Tapi kemudian sangat bersemangat dan mempengaruhi jiwa anggota dewan, sehingga sehabis pidato itu semua orang mencela kritik-kritik yang diucapkan oleh beberapa anggota terhadap kelakuan-kelakuan anggota tentera. Wakil tentera itu berkata kira-kira demikian, "Keadaan tertera kita sangat menyedihkan. Mereka boleh dikatakan hanya mempunyai bambu-bambu runcing sebagai senjata. Tapi dengan bambu-bambu itu mereka menahan, ya memukul mundur serangan-serangan musuh dan dengan itu mereka menyelamatkan kita semua d garis belakang ini. Saya tidak akan membantah kritik-kritik terhadap anak-anak saya, tapi malahan hendak menambah kritik-kritik itu dengan sebuah keadaan vang lebih menyedihkan lagi." Di sini ia berpaling sebentar kepada anggota wanita, lalu dilanjut- kan pula, "Maaf anggota-anggota warita, tapi saya di sini hendak bicara dengan terus tetang. Keadaan yang menyedihkan itu ialah 95% dari

SURABAYA

anak-anak kita yang memanggul senapan sekarang ini, 95% saudara-saudara, menderita suatu penyakit yang menegakkan bulu roma: 95% dari mereka sekarang mendapat penyakit sipilis. Penyakit raja singa, saudara-saudara."Sekutu menghamburkan perempuan-perempuan jahat ke medan pertempuran yang paling depan, dan anak-anak kita yang sedikit sekali mendapat hiburan dari bapak-bapaknya dari garis belakang mencari hiburan pada perempuan-perempuan jahat ini. Sekarang, saudara, sekarang cobalah katakan kepada saya, bagaimana jalan untuk memberantas semua itu. Bagaimana? Ya, bagaimana? Kami dari tentera sering berdiam diri, tapi ketahuilah, bahwa kami terjuang menghadapi berbagai-bagai rintaagan: kekurangan salvarsan dan obat-obat lainnya dan kelebihan kritik-kritik saudara-saudara! Semua anggota terdiam dan yang melepaskan kritik kritik pedas tadi, merasa malu. Yang mempunyai anak di medan pertempuran yang paling depan hendak mengirimkan kawat kepada anaknya, supaya menjaga dirinya dengan hati-hati. Tapi setelah diadakan pe- ryelidikan yang seksama setulan kemudian, ternyata, bahwa wakil tentera itu adalah seorang romancier yang memberi jalan kepada fantasinya seluas-luasnya. Dari penyelidikan ternyata, bahwa anggota tentera tidak ada lagi yang memakai bambu runcing dan yang ter- penting ialah, bahwa angka 95% itu adalah angka yang fantastis dan sangat dilebih-lebihkan. Maka dalam rapat dewan yang berikut, anggota yang diperlakukan tentera kurang sopan dulu itu membera- nikan diri dan berkata kepada wakil tentera dengan marah-marah. Kami telah mengadakan penyelidikan yarg saksama tentang segala apa yang tuan katakan dalam dewan ini dulu. Dan ternyata, bahwa semua yang tuan katakan itu bohong, bohorg belaka! Tuan waktu itu hanya hendak mempengaruhi jiwa kami, supaya kami tidak lagi membikin kritik yang pedas-pedas. Sekarang dengan sangat saya minta kepada rapat, supaya mendesak kepada tentara untuk menghilangkan kebohongan dan penyakit sipilis itu sama sekali." Anggota-anggota dewan semua bertepuk sorak 'anda setuju dan katanya hampir bersamaan, 'Ya, penyakit sipilis dan imperialisme! Hancurkan!"

SESUDAH 17 AGUSTUS 1945

Jalan lain ke Roma

OPEN mula-mula jadi guru sekolah rakyat, sudah itu jadi mualim, lantas jadi pengarang, kemudian jadi tukang jahit. Tentang perawakannya tak banyak yang dapat diceritakan. Ia punya dua kaki, dua tangan, dua telinga, dua mata dan satu hidung. Bahwa lobang hidungnya ada dua, itu sudah sewajarnya. Open seperti manusia lain, lain tidak. Tapi namanya memang mempunyai riwayat. Itu tidak dapar disangkal. Beribu-ribu nama lain ada, Abdullah dan Effendi, Al'aut dan binuwak — enak kedengaran dan sedap dilihat jika tertulis. Dan orang-orang yang kritis sudah pasti tidak akan merasa puas, jika tidak diterangkan mengapa Open bernama Open. Open sendiri sudah barang tentu tak ada bagiannya dalam memberi nama itu. Waktu itu ia masih merah: sebentar-sebentar ia berteriak dan buru-buru datang ibunya berbuka dada dan disodor- kannya ke mulut bayi ini sesuatu yang menjulur dari dada terbuka itu. Open menghirup dengan senangnya, berhenti berteriak dan setelah selesai, tidur dengan nyenyaknya. Pekerjaan ayah dan ibunyalah memberikan nama itu dan orang yang pernah mengalami ini, pasti akan mengakui, bahwa pekerjaan itu bukan pekerjaan mudah. Mula-mula ayah dan ibu ini mau me- nanyakan kepada dukun, apa nama yang terbaik bagi anaknya. Tapi ini segera dibuangnya jauh-jauh. Mereka merasa hina berhubungan dengan dukun, karena di sekolah HIS dulu mereka belajar, bahwa dukun pembohong, tidak pintar dan harus dijauhi, jika hendak se- famat. Sudah itu mereka hendak memberikan nama "Ali" saja kepada anaknya, tapi tetangganya juga bernama Ali dan ia ini adalah buaya JALAN LAIN KE ROMA

besar, penjudi, pengadu ayam. Dan mereka tak mau anaknya jadi buaya dan pengadu ayam pula kelak. Pada suatu hari ayah itu bermimpi. Mimpi tentang kota New York dengan gedung-gedungnya yang menjangkau awan, tapi entah karena apa, selalu saja mendengking di telinganya satu perkataan Belanda: openhartig. Waktu ia mandi pagi-pagi keesokan harinya masih kedengaran olehnya, seperti ada orang yang memekikkan ke- padanya : openhartig — openhartig — openhartig. Ya, waktu ia di kamar kecil pun, tentang mana orang tak pernah openhartig, di sini pun membisik di telinganya: openhartig — openhartig — openhartig. Dan waktu hal ini diceritakan ayah ini kepada istrinya, istrì itu meloncat setinggi langit dan gembira ia berkata, "Ini bisikan Tuhan, tolol. Anak kita harus jadi orang terus terang, openhartig. Mari kita namakan saja — Open." Ayah itu membelalakkan matanya dan katanya, "Apa katamu? Anak kita diberi nama Open? Engkau gila!" Tapi seperti biasanya dalam hal ini, istri mesti dan selalu menang dan begitu Open bernama Open. Apakah ia besarnya betul-betul akan jadi orang terus terang, openhartig, tentu orang lain yang mesti me- nentukan, bukan Open. Tapi waktu ia dengar dari ibunya tentang riwayat namanya ini, sejak dari itu. Open sungguh-sungguh berniat dalam hatinya, akan mengabulkan cita-cita ibunya itu, artinya ia akan berusaha sedapat mungkin dalam kehidupannya akan berterus terang dalam segala hal. Waktu ia jadi guru sekolah rakyat, saban ia hendak masuk kelas untuk memberi pelajaran, ia selalu ingat kepada eta-cita ibunya ini, dan sebab itu ia selalu mulai pelajarannya dengan, "Selamat pagi, anak-anak. Kemarin aku telah kawin dengan seorang gadis di kota ini." Aku sengaja tidak mengundang kamu sekalian, karena aku pikir, kamu tokh tak akan dapat memberi apa-apa. Apa pula yang dapat diharapkan dari anak-anak, bukan? ... eh, Amat!. berapa 41 X 41 !? Atau pada lain kali ia menceritakan panjang lebar tentang per- selisihannya dengan istrinya itu. Waktu itu ia pakai celana pendek saja dan istrinya pegang golok. Kata bersahut dengan kata dan tiba- tiba istrinya mengejar dia dengan golok itu dan dia lari puntang panting. Dan bagaimana ia lari itu, dicobakannya pula di muka kelas. SESUDAH 17 AGUSTUS 1945

Anak-anak pada tertawa, seorang berkata, "Ah, pak guru takut sama istri, yang lain berkata: kasihan pak guru, dirongrong terus-terusan oleh istrinya."

Anak-anak yang berpihak pada pendapat pertama lebih banyak

dan itu sebabnya sejak dari itu Open bernama: guru golok, dan karena perkataan golok sangat baik bersajak dengan goblok, Open akhirnya bernama: guru goblok. Setiap ia masuk kelas ada saja anak-anak nakal

yang berteriak keras-keras: selamat pagi, guru goblook ... blok ...

bioook. Atau jika ia pagi-pagi masuk dengan sepeda antiknya ke dalam

pekarangan sekolah berteriak dari segala jurusan: gobloookgo- bloook... gobloock! Orang yang sesabar-sabarnya akhirnya marah juga. Dan Open adalah orang yang selalu menurutkan kata hatinya. Jika hati ini berkata: pegang seorang anak dan pukul dia, ia memegang seorang anak yang terdekat dari dia, lalu dipukulnya. Rasanya pada Open, ia memukul hanya pelan-pelan, tapi dari telinga anak itu keluar darah. Dan inilah sebabnya datangnya orang tua murid yang kena pukul itu ke sekolah, guru kepala memaki-maki Open dan akhir cerita: Open dberhentikan. Tapi waktu Open mau pergi meninggalkan sekolah celaka itu, ia menentang guru kepala, dan tegas-tegas katanya, "Satu hal tuan harus akui. Saya tidak goblok. Saya hanya menceritakan kepada anak-anak, bahwa istri saya pernah mengejar saya dengan golok. Saya lari ... dan anak-anak menamakan saya dari sejak itu guru goblok. Mengapa, Tuhan saja yang tahu. Saya tidak."' Sudah itu ia pergi, kepala terkulai menghadap ke tanah dan waktu ia baru saja menginjakkan kakinya di atas jalan besar, anak-anak bersorak ramai-ramai dan sekarang lebih keras dari biasa. "Sela-
mat pergi guru goblok ... blok ... bloook."
Open tidak mau menengok ke belakang lagi. Ini sudah tabiat Open. Jika ia sudah ambil keputusan dengan sesuatu hal, ia tidak mau menengok ke belakang lagi. Dinaikinya sepeda antiknya dan pelan-pelan a menuju rumahnya. Ada baiknya, diceritakan sedikit, bagaimana jadinya sepeda ini jatuh ke tangan Open. Tentu saja bukan boleh dicurinya. Sepeda ini dibelinya dengan uang simpanannya, dibeli secara halal. Lagi pula, JALAN LAIN KE ROMA

jika betul-betul dicurinya ini pasti akan dil-atakannya, kepada siapa pun yang mau mendengarkan. Dan karena ini tidak pernah keluar dari mulutnya, dapatlah dipercayai, bahwa sepeda itu dibelinya dengan cucuran keringatnya. Apa yang keluar dari mulut Open tentang pembelian sepeda itu adalah ini, "Ia sudah lama hendak membeli sepeda. Pada suatu hari datang seorang Belanda gemuk padanya membawa sebuah sepeda." Kata Belanda itu, sepeda ini ia mau jual, apa Open mau beli. Open berpikir sebentar, lalu menjawab, bahwa ia mau beli, tapi uang simpanannya cuma ada seratus rupiah dan spakah tuan Belanda itu mau menjualnya seharga sebegitu. Tuan Belanda itu tidak keberatan, tapi katanya, lampu Berkonya ia harus buka dulu, dan kedua bannya ditukar dengan yang usang, kedua belah pedalnya akan d'tanggaikan- nya. Open tidak keberatan, diberikannya uang yang seratus rupiah itu, dan keesokan harinya Open menerima sepeda, vang hampir telanjang. Tapi sepeda itu jalan dan ini yang penting baginya. Ia bersyukur, karena ia telah mengkurniai dia dengan sata sepeda. Dan dalam keadaan Open seperti sekxrang ini, tidak punya peker- jaan lagi, diusir sebagai anjing boleh dikatakan, pada waktu ini lebih-lebih lagi ia bersyukur karena punya seped: ini. Waktu ia menaiki sepeda itu, terasa kepadanya la seolah-olah menaiki kuda yang dicin- tainya dan yang berguna sekali sebagai teman hidup dalam hari-hari kesusahan, ia sebenarnya ingat untuk menjual sepeda itu sewaktu- waktu. Dengan ingatan itu, Open merasa lega sedikit. Dan sekarang dapat ia mempergunakan pikirannya untuk memikirkan hal-hal yang lain. Apa sebenarnya yang terjadi? Anak-anak nakal, ia memukul se- erang anak sampai berdarah telinganya. Ia diberhentikan dan anak-anak boleh belajar terus dengan senangnya. Di mana letak keadilan? Ibunya berkata, Open, engkau harus berterus terang dalam segala hal. Dengan jalan begitu engkau dapat memajukan dunia yang penuh dengan kebohongan ini. Dan perkataan ibunya ini benar seratus persen, pada pendapat Open. Kemana pun juga ja melihat, selalu ia bertemu dengan kebohongan, kebusukan-kebusukan yang disimpan baik-baik. SESUDAH 17 AGUSTUS 1945

Kelas sekolah bagi Open adalah tempat yang terbaik untuk menyebarkan benih terus terang ini. Itu sebabnya ia jadi guru, tapi akhirnya itu pula sebabnya yang melemparkan dia dari kelas itu. Buat pertama kali terasa kepada Open, bahwa dunia penuh dengan kurang terima kasih. Yesus Kristus disalib, Nabi Muhammad diuber- uber dan diperangi. Dan waktu Open ingat kepada Nabi Muhammad ini, timbul dalam dadanya keinginan yang tak tertahan-tahankan untuk melemparkau segala keduniawian ini, menukar pantolan dengan kain, topi helm dengan pici. Didorongnya sepedanya masuk toko buku. Dibelinya sebuah Quran terjemahan Moh. Yunus dan inilah permulaan perjalanan kehi- dupan Open sebagai mualim. Tapi masih ada kesukaran-kesukaran yang harus dilalui Open, sebelum ia sampai kepada maksudnya ini. Kesukaran yang pertama ialah dengan istrinya. Orang perempuan hanya boleh dikagetkan dengan kabar-kabar seperti yang dibawa Open pada hari ini. Apa arti berhenti bekerja bagi seorang istri? Habisnya kesenangan, tidak ber- asapnya dapur dan malu pada tetangga-tetangga. Perkelahian hebat pada waktu itu. Tapi hal ini tidak akan ber- akibat apa-apa, jika istri Open tidak bertanyakan, "Apa sebabnya

anak-anak menamakan engkau guru goblok?"

Dan Open setia akan janjinya kepada ibunya, menceritakan segala-galanya dan waktu istri ini mendengar, bahwa namanya dibawa oleh Open ke muka kelas, ia tak dapat mençhan hatinya lagi. Dijang- kaunya Quran yang masih dipegang Open, lalu dirobek-robeknya dan dimasukkannya ke dalam api. Jika perkelahian sudah sampai kepada bakar membakari sesuatu yang disenangi oleh salah seorang laki istri, maka segala jalan untuk berbalik lagi semua tertutup rapat, kecuali jalan bercerai. Penuh dengan kemarahan, ditinggalkan Open istrinya itu, pergi ia ke tukang lowak untuk menjual sepedanya. Sepeda yang dibelinya seratus rupiah dulu itu, sekarang tak ada orang yang mau membelinya lebih dari tiga puluh lima rupiah. Tukang Jowak yang seorang me- ngatakan, bahwa ia sebenarnya hanya membeli batang sepeda itu saja, karena bannya telah usang, pedal tak ada, bagase tak ada, roda-rodanya telah karatan. Tukang lowak yang lain kebetulan hanya tertarik kepada JALAN LAIN KE ROMA

roda-rodanya saja, karena batangnya sudah bengkok, bannya telah usang dan segala macam tak ada. Dan ada pula tukang lowak yang kedorong mulutnya dan berkata, bahwa ia sebenarnya hanya membeli pedalnya. Tapi waktu dilihatnya, bahwa pedal sama sekali tak ada di sepeda itu, lekas-lekas dirobahnya dengar membeli jari-jari saja. Akhirulkalam Open menjual sepeda itu dengan harga tiga puluh lima rupiah dan dengan uang itu ia kembali ke desa orang tuanya. Desa itu seperti desa-desa lainnya tidak punya penerangan, tidak punya toko buku, tidak punya kamar kecil. Jika perut Open merasa sakit, ia pergi ke pematang dan sambil memainkan-mainkan batang padi, keluar segala apa yang menyakitkan perutnya tadi. Tapi pada suatu kali, waktu sedang memainkan-mainkan batang padi pula, lalu dekatnya seorang gadis dan Open menjadi demikian malunya, sehingga ia dengan perut sakitnya buru-buru pulang dan tiba di rumah ia merentak-rentak kepada ibunya: Kita harus punya kamar kecil Aku tidak tahan lama-lama begitu. Tadi Surtiah jalan dekatku dan aku malu sangat. Dan ibu Open mengabulkan permintaannya, karena pikirnya, Kasihan Open."Ia baru bercerai dengan istrinya. Biar kukabulkan segala permintaannya, supaya senang hatinya dan bisa lekas melupakan segala yang pahit-pahit dalam kehidupannya dulu. Begitu selalu seorang ibu, selalu kasih sayang kepada anak, selalu khawatir akan anak. Tapi dengan Open ini ibu itu sebenarnya tak perlu khawatir. Waktu ia menerima uang tiga puluh lima rupiah dulu, ia sudah tidak ingat lagi kepada kejadian-kejadian yang berlalu: tidak kepada istri yang baru diceraikannya, tidak kepada guru kepala yang memaki-maki, ya juga kepada sepedanya yang sudah jadi milik tukang lowak dan yang masih di pelupuk matanya. Demikian Open. Ia lekas lupa kepada kejadian-kejadian yang berlalu dan ia tak pernah memikirkan kejadian-kejadian yang akan datang. Ia adalah manusia waktu. Jika waktu berjalan, ia ikut berjalan dengan waktu itu. Dan jika waktu berhenti ... Open sudah lama tak ada di dunia ini lagi. Tidak, bukan seperti pikiran ibunya itu pikiran Open. Ia hanya malu sangat pada Suriah dan itu sebabnya mendesak menyuruh bikin- kan kamar kecil di rumah ibunya itu. SESUDAH 17 AGUSTUS 1945

Tidakkah ada sebabnya yang lain? Ada, tapi karena ini belum keluar dari mulut Open sendiri, maka hal itu masih disangsikan. Tidakkah harus dicurigai cara Open melarikan diri dengan sakit perutnya masih di perutnya menuju rumahnya dan cara ia mendesak kepada bunya dan cara ia malu kepada Surtiah, sesuatu yang di desa sebenarnya tak perlu dimalukan. Suriah seorang gadis desa betul betul. Jari kakinya jarang-jarang dan telapak tangannya bintul-bintul, bukan karena dimakan nyamuk, tapi karena dimakan gagang pacul. Hanya dalam satu hal ia sama dengan gadis-gadis di kota: buah dadanya besar-besar, tapi di sini pun ada perbedaan-perbedaan sebab, dengan gadis-gadis di kota. Jika buah dada gadis-gadis di kota besar-besar karena dansi-dansi dan foya-foya, buah dada Surtiah besar, karena darah sehat mengalir dengan biasa, karena badan bergerak setiap hari, karena memacul dan memotong padi dan menjunjung bakul nasi untuk ayah dan ibunya yang bekerja di sawah. Manis mukanya tidak, tapi ini tak begitu penting bagi cinta yang mau mekar. Ini tentunya, jika kita dapat berkata "cinta" tentang perasaan Open pada waktu itu. Open sendiri sudah lupa pula kepada kejadian pertemuan Surtiah. Ia sekarang banyak ngelamun. Pikiran pergi ke alam abstrak. Apa maksud hidup di atas dunia? Terus terang, seperti kata ibunya? Ya, jawabnya. Dengan menjadi guru kembali, menyebarkan benih terus terang di muka kelas? Tidak, jawab Open pula. Apakah agama? Kesucian, jawab Open. Dari mana datang kesucian? Dari kebenaran, jawab Open. Bagaimana mendapat kebenaran? Dengan terus terang, jawab Open. Bagaimana menyebarkan benih ini sebaik-baiknya? Dengan jadi mualim, jawab Open. Dan Open bertekuk muka di atas buku-buku agama. Sifat dua puluh diapalnya di luar kepala, ayat Yasin setiap hari diulanginya, sembahyang lima waktu dilakukannya dengan taat dan segera Open terkenal di desa itu sebagai mualim muda yang baru datang dari kota. Orang tidak dapat menjadi besar tiba-tiba. Ia harus mulai dari permulaan dan lama kelamaan dan setingkat demi setingkat ia dikenal orang dan akhirnya terpancanglah namanya sebagai ahli filsafat besar, pengarang besar, Nabi besar atau pun juga mualim besar. JALAN LAIN KE ROMA

Ini diinsafi Open dan dengan hati berat dan terpaksa, ia harus mulai dari permulaan, yaitu mengajar anak-anak membaca alif bata, kembali jadi guru, tapi sekarang jadi guru agama. Sungguhpun begitu, kejadian yang berlaku sewaktu ia jadi guru sekolah rakyat dulu, sekarang kembali pula, artinya ia kembali berhadapan dengan anak-anak nakal. Bulan-bulan pertama tak ada kejadian apa-apa. Anak-anak meri- deru alif bata seperti mobil menderu di jalan besar dengan kecepatan enam puluh kilometer sejam. Segera Open depat menutup kitab per- mulaannya itu dan sekarang dapat ia mulai dengan mengajar sendi-sendi agama Islam. Salah satu dari sendi ini, ialah sifat dua puluh, yaitu dua puluh sifat-sifat Tuhan yang tidak boleh dikomentari atau diragu-ragukan. Sifat-sifat ini harus ditelan mentah-mentah, tiada dengan bukti-bukti seperti yang diberikan Spinoza, sama saja dengan menelan pil kinine, biar pun pahit, tapi memberi harapan akan sembuhnya penyakit dalam baian. Dan seperti juga dalam hal lain-lain dalam mempelajari agama Islam di desa-desa atau di langgar-langgar, semuanya harus diapal di luar kepala dan dideru sewaktu-waktu, ujud, qidam, baqa ... dan terus sampai sifat yang kedua puluh. Celakanya bagi Open, di antara murid-muridnya ada seorang anak Jawa. Seperti semua orang Jawa totok, mengucapkan a di bela- kang sesuatu perkataan, adalah sangar susah. Begitu ia ini selalu menderu sifat dua puluhnya seperti ini, ujud, qidam, bako ... tiba di sini selalu ditahan oleh Open, anakku sayang, bukan bako, tapi
baqa ... a ... a...
Anak Jawa itu menderu lagi, ujud, qidam, bako ... ujud, qidam, bako ... Seorang murid karena panas hatinya pelajaran begitu lama tertahan oleh murid Jawa ini, menunggu kesempatan baik untuk melepaskan panas hatinya itu. Dan waktu murid Jawa itu hendak menderu pula, ujud ... anak yang panas hati ini meneruskan keras-keras, ujud qidam. bako, sigaret, lisong... Mendengar ini semua murid tertawa keras-keras dan beberapa orang mengulangi, ujud, qidam, bako sigaret, lisong.. Muka Open bukan main merahnya karena marah dipukulnya anak SESUDAH 17 AGUSTUS 1945

nakal itu, tapi syukurlah kejadian itu tidak berakibat berhentinya Open jadi guru agama dan mualim. Hal ini diceritakannya kepada ibunya, Open kelihatannya sangat bersedih hati. Ibunya mula-mula mengeluarkan perkataan-perkataan penghibur, tapi kemudian pikirnya dengan agak gembira, sebenarnya itu bukan pekerjaanmu lagi terhadap anak yang sebesar ini. Yang harus menghibur ialah seorang perempuan, istri Open, dan tiada diketahuinya katanya kepada Open, Open, bagaimana, kalau engkau beristri lagi, mempunyai orang tempat engkau mencurahkan perasa, anmu. Ibumu ini sudah tua, kadang-kadang łanyak tak mengerti lagi akan perasaanmu itu. Bagaimana, kalau aku minta Surtiah? Mendengar nama Surtiah ini, Open ingat akan pertemuannya dulu, waktu ia sedang menjongkok mengeluaıkan isi perutnya, sambil memain-mainkan batang padi. Bagaimana malunya waktu itu berlari menuju ke rumahnya, sambil memegang pinggang celananya. Ya, sam- pai sekarang pun ia merasakan malu itu, dan sebab itu ia menjawab, "Aku malu." Ibunya yang tak tahu jalan pikiran Open berkata, "Apa yang kau malukan, nak." Bangsa kita lebih tinggi daripada orang tua Surtiah. Engkau mualim dan Surtiah adalah perempuan biasa saja. Tidak, biarlah kubicarakan hal ini dengan orang tua Surtiah. Dan seperti kecepatan dalam dongeng, Surtiah dua minggu setelah itu telah ada di samping Open. Dan waktu Open membaui, bagaimana harumnya bau mulut Surtiah, tahulah dia, bahwa pilihan ibunya adalah benar adanya. Pada suatu hari dibawa Open Surtiah ke kota. Di sini mereka bertemu dengan seorang mualim pula. Tapi anehnya pada mualim ini, ia tidak pakai kain, tapi pantolan, sama saja dengan seorang klerk di kantor. Pun peci ia tidak pakai, rambutnya pakai 4711 dan disisir rapi-rapi, persis seperti studen sekolah tingg. Mula-mula hal ini agak mengecewakan Open, apalagi Surtiah. Tapi waktu mualim kota ini berkata tentang agama, kebenaran dan tujuan hidup, tabulah Surtiah dan Openpun juga, bahwa cara berpakaian, tidaklah suatu tanda mutlak bagi kepintaran dan kebesaran seorang mualim. Mualim kota ini selanjutnya berkata, "Orang banyak salah faham. Misalnya tentang pakaian saja. Umum mengatakan, bahwa mualim JALAN LAIN KE ROMA

tidak boleh pakai pantalon. Tapi dalam Quran atau kitab-kitab apa pun juga tak ada satu barispun yang melarang hal ini. Sebab itu aku sengaja pakai pantolan untuk melawan pendapat umum itu. Pun kata umum, mualim tidak boleh mengarang, itu sebabnya aku mengarang." Mengarang? tanya Open. Sebenarnya Open mengeluarkan per- tanyaan itu bukan karena kaget, tapi karenı ia pun dalam beberapa hari belakangan ini pernah memikirkan kemungkinan ini. Ia merasa terlalu banyak yang hendak dikatakannya kepəda banyak orang. Kelas sekolah hanya berisi tiga atau empat puluh murid. Orang-orang desa yang belajar agama padanya paling banyak tujuh puluh orang. Dan dengan mengarang kita lekas dapat berkata kepada beribu-ribu orangs Sebab itu tanyanya lagi, "Apa yang tuan karangkan?" Mualim kota ini menjawab, "Segala macam, romanpun juga." Sekali ini Open betui-betul kaget, "Roman?" Ya, jawab mualim kota itu. Percintaan seorang gadis dan seorang pemuda, misalnya. Biasa saja, tapi berisi ... berisi. Sekian percakapan itu. Open dan Surtialı pulang ke desanya. Tak lama datang orang-orang sipil berkulit kuning, pendek-pendek, pakai baju kaki, kaplaars tinggi dan segala senjata pembunuh. Semua orang jadi melarat. Kain mualim Open robek-robek sudah. Untuk beli yang baru kainnya dan uangnya tak ada. Dan waktu kain itu sudah jadi topo, kata Surtiah pada suatu malam, "Kak, pantalon banyak. Pakai saja pantalon. Ingat mualim kota dulu." Open memeluk sayang istrinya, dan keesokan harinya, hari ke duanya dan hari seterusnya, Open pakai pantalon. Orang orang desa tercengang-cengang. Beberapa orang berbisik-bisik, "Lihat, mualim kita sudah gila." Ya, ada puia yang berani berkata, "Mualim kita sudah jadi mata-mata Jepang — Awas, jangan didatangi rumahnya lagi, Jangan dibiarkan lagi anak-anak belajar sama dia." Akhirnya semua ini tak tertahankan lagi, lebih-lebih oleh Surtiah. Pada suatu malam pula, kata Surtiah kepada Open, "Kak, mari kita ke kota. Coba mengarang di sana. Ingat mualim di kota dulu." Open memeluk sayang istrinya pula dan mereka pergi ke kota. Open akan jadi pengarang. Open dan Surtiah tiba di kota. Orang yang pertama sekali di-SESUDAH 17 AGUSTUS 1945

kunjunginya ialah mualim dulu yang selalu pakai pantolan itu. Maksud Open hanya untuk bercakap-cakap saja tentang pekerjaan karang me- ngarang mualim itu, kalau-kalau ia dapat menarik pelajaran dari kata-kata mualim itu. Tapi sayang ia tak sampai bertemu, karena kata istr: mualimn itu, suaminya beberapa bulan yang lalu ditangkap Jepang. Sebabnya ialah, karena ia tak mau bekerja bersama-sama dengan Jepang, tak mau memkacakan khoibah Juni'at yang elah disiapkan oleh kantor urusan agana Jepang. Setelah mendengar ini, tiba-tiba pandangan Open terhadap segala apa yang dilihatnya berlainan sekali. Jika ia melihat orang di tengah jalan pakai celana karung, timbul pertanyaan padanya, mengapa? Jika ia bertemu dengan orang-orang minta-minta, ia tak lekas memarahi orang itu dengan perkataan: pemalas, kunyuk, tapi ia bertanya dalam hatinya, mengapa? Jika ia melihat orang mati di tepi Kali Ciliwung ... mengapa? Dan waktu dilihatnya orang-orang lain yang meliwati mait-mait itu, tak sedikit pun mengacuhkan mait-mait itu, timbul dua kali dalam hatinya: mengapa, mengapa? Kembali ia ingat kepada mualim yang ditangkap Jepang dan waktu timbul pula dalam hatinya pertanyaan: mengapa, mengapa, semua segera menjadi terang benderang baginya. Jepang datang bukan untuk kemakmuran, Jepang datang untuk memperkosa kernerdekaan agama, untuk melaparkan dan menelanjangi bangsa Indonesia. Dan orang Indoresia sendiri tidur lelap, seperti sejak tiga abad yang lalu. Dan seperti terpedo ke luar dari kapal selam, keluar perkataan dari mulut- nya, 'Rakyat Indonesia harus dibangunkan, dibangunkan, dibangunkan!" Dan hampir bersamaan terbayang di hadapannya wajah ibunya, "Open, engkau harus berterus terang." Sudah itu Open menjadi manusia lain, ya ia bukan manusia lagi, ia adalah ketel kepala kereta api yang berisi uap berlebih-lebihan dan yang sewaktu-waktu akan meletus, menghancnrkan segala yang menga- langi, segala kebusukan manusia. Duduk di hadapan meja tulisnya menghadapi kertas-kertas tulis, ia melihat rakyat Indonesia yang tidur nyenyak itu beramai-ramai menanam pohon jarak dan di atas, di udara dilihatnya kapal-kapal terbang yang diminyaki dengan minyak jarak itu, membawa bom-bom dan me-JALAN LAIN KE ROMA

lepaskan bom-bom itu di tengah-tengah orang-orang yang menanam jarak itu. Terbayang pula di hadapan matanya pctani-petani berbungkuk- bungkuk mcryabit padi dan tiada setalunya mendengking di telinganya perkataan-perkataan Multatuli, "De rijst is niet voor dengenen, die zij geplant hebeen." Timbul pula kejadian sehari-hari di tepi Kali Ciliwung : orang-orang telanjang bulat berebut-rebutan bangkai anjing yang kebetulan dibawa oleh arus Kali Ciliwung. Dan segera Open mencatat di atas kertas di hadapannya, "Bangkai merebut bangkai." Open melihat di mukanya, bangkai anjing itu dimakan oleh seorang yang beruntung dapat merebutnya dan ditulisnya sebagai catatan, 'Bangkai makan bangkai." Dilihat Open pula yang lain-lain dengan iri hati melihat temannya makan sendirian. Sedikit pun tak ada tegoran makan dari orang yang beruntung ini. Perasaan kemanusiaan sudah hilang, seperti hilangnya perasaan malu. Lalu Open menulis di atas kertasnya, "Anjing makan bangkai." Sudah kenyang makan orang bersender di batang sebuah pohon

yang rindang. Pelan-pelan ditutupnya matanya dan tiba-tiba ia ter-

guling di atas tanah, sambil memegang perutnya dengan kedua belah tangannya. Dan Open menulis, "Bangkai jadi bangkai." Yang lain-lain bersorak kesenangan. Pelancong-pelancong berjalan dengan senangnya, sambil mengisap sigaret "KOOA" Dan Open menulis, "Kooa diisap orang tidur." Akhirnya terbayang pada Open ibunya, "Open engkau harus terus terang dalam segala hal." Dan Open segera mulai menulis, menulis, tak putus-putusnya. Tangannya terlalu lambat untuk menurutkan jalan pikirannya. Ia menulis, menulis dan siap sebuah karangan. Open dengan karangan itu pergi kepada seorang redaktur. Ia ini kecil kurus. Mukanya melihatkan onani dan bajunya melihatkan uang Jepang. Tapi hatinya baik dan katanya, "Tuan, ini berbahaya bagi tuan sendiri. Lebih baik tuan simpan saja. Atau bakar. Apa gunanya menggambarkan tai kebo, jika ada pemandangan alam yang indah- indah. Lihat ke Priangan, lihat Selecta dekat Malang, pasti pandangan DARI AVE MARIA

tuan terhadap kehidupan akan berlainan sekali. Pasti tuan akan senang dan tertawa melihat kehidupan. Kehidupan tidak sejelek yang tuan gambarkan itu." Open pulang, tapi dalam hatinya ia berkata: pantas, muka tuan kurus dan baju tuan bagus. Dan Open pulang dengan kesal hati. Di rumah Open berpikir. Redaktur itu berkata, karanganku tai kebo. Ya, betul tai kebo. Kelihatannya jelek, tapi jika dipakai sebagai pupuk, bisa menyuburkan kehidupan pohon-pohon. Dan pohon-pohon itu, ialah bangsa Indonesia yang sedang tidur dengan nyenyaknya. Dan Open menulis lagi karangan yang lain, disimpannya baik-baik dalam lipatan kain Surtiah. Kesenangan mengarang terasa segera bagi Open, tapi Surtiah pada suatu hari berkata, "Kak, karangan-karangan itu bagus, tapi kita ham-

pir mati kelaparan. Sebab itu carilah pekerjaan "

Mula-mula perkataan Surtiah ini dijawabnya dengan manis, tapi lama kelamaan jawaban itu menjadi agak pedas. Dan pada suatu hari, waktu Open sedang mengarang, waktu Surtiah mendesak suruh cari pekerjaan juga, Open melemparkan penanya dan berkata, 'Engkau selalu mengganggu aku. Kau kira aku tidak bekerja? Nyahlah engkau: Pulang ke desa." Ini diucapkan sungguh-sungguh oleh Open dan Surtiah merasa, ia memang lebih baik pulang saja ke desa. Mudah-mudahan Open pada suatu ketika memerlukan dia kembali dan ia tentu akan segera kembali ke kota. Tapi sekarang ini, lebih baik ia pulang saja ke desa: Dan Surtiah dengan sedih hati pulang ke rumah orang tuanya. Merasa lega ditinggalkan istrinya. Open terus lagi mengarang. Satu hari satu cerita pendek. Tidak peduli, tidak diterbitkan. Ia harus menurutkan bisikan kalbunya dan ia harus iugat akan perkataan ibu- nya. Dan untuk keduanya itu ia tak peduli ditinggalkan istrinya. Ya, mati sekalipun ia mau. Hanya satu karangaa Open diterbitk.ın orang. Pusat Kebudayaan Jepang mengadakan sayembara dongeng-dongeng, Open ikut menulis: Ia pernah dengar satu dongeng dan sekarang ia mau menuliskannya. Dongeng itu tentang seorang Papua seratus tahun yang lalu. Papua ini, seperti Papua-Papua yang lain menyembah berhala. Tapi ia tak pernah tertolong oleh berhala itu. Selalu saja ia sial, jika menangkap JALAN LAIN KE ROMA

ikan. Berpuluh kali ia menyembah berhala, tapi ia tak pernah dapat ikan banyak. Akhirnya ia berpikir, bahwa menyembah berhala itu sebenarnya tak ada gunanya. Buat apa menyembah berhala, jika tak dapat menolong dia? Papua ini lalu pergi dari kampungnya dan tiba di pantai. Di sini ia berkenalan dengan manusia yang lain sekali. Manusia ini seluruh badannya ditutupi kain, jadi tidak telanjang bulat seperti dia. Tapi yang mengherankan dia sekali ialah, mengapa orang-orang ini selalu berhasil menangkap ikan banyak-banyak. Pada suatu kali diberanikan- nya hatinya menanyakan hal ini. Siapa yang memberi mereka ikan sebanyak itu? Semua orang itu menjawab, sambil menunjuk ke langit, Tuhan Allah, Tuhan Allah. Keinginan hendak mengetahui lebih banyak menusuk-nusuk hati Papua ini, dan dari sejak itu mulailah ia mempelajari Tuhan yang banyak dapat memberikan ikan itu, mempelajari agama Islam dan akhirnya ia masuk menganut agama Islam, karena sekarang ia yakin; bahwa tak ada suatu apa pun di atas dunia yang dapat menentukan nasib manusia, selain Tuhan Subhanahu Wataala. Karangan Open ini diterbitkan, bahkan mula-mula mau diberi hadiah no. 1, tapi kemudian sensur Jepang menyesal telah meluluskan karangan itu. Terlambat sensur ini melihat, bahwa karangan itu sangat berbahaya. Bahwa karangan itu adalah serangan sehebat-hebatnya ter hadap Tenno Heika. Terlambat, tapi ada satu yang belum terlambat, yuitu menangkap Open. Open diminta datang di Kenpeitai. Di sini ia tidak ditanyai baik bik, tapi segera dipukul dan dipaksa mengaku, bahwa karangan itu adalah serangan atas Tenno Heika. Sebenarnya memaksa Open tidak perlu sama sekali, karena ia tokh akan mengatakan dengan terus terang, bahwa karangan itu me mang dimaksudkannya begitu. Tapi katanva pula dongeng itu bukan dibikin-bikinnya begitu saja, tapi betul-betul pernah didengarnya dan mungkin sekali betul-betul pernah terjadi. Setelah mengaku Open dipukul lagi. Darah mengalir di seluruh badan. Setelah itu ia disuruh mandi, sampai kaku, lalu disuruh duduk di bawah panas terik. Beberapa hari sudah itu dengan sendirinya luka-luka di badannya baik kembali. Rupanya demikian cara Jepang SESUDAH 17 AGUSTUS 1945

mengobati luka-luka: dimandikan sampai kaku, dijemur sampai ter- bakar, dan luka baik dengan sendirinya, tidak dengan jodoform atau jodium tinctuur atau zalf, tapi dengan obat-obat yang disediakan alam. Hampir tidak dapat dipercayai.

Sejak itu Open ditutup dalam kamar terkunci. Badannya tambah

lama tambah kurus, tapi mujurlah ia tak pernah dipukul-pukul lagi. Dalam kamar tertutup itu, buat pertama kali Open insaf akan

harga kemerdekaan. Kemerdekaan ada dua macam: kemerdekaan jas-

mani dan kemerdekaan rohani. Kemerdekaan jasmani boleh diambil

orang lain, seperti halnya dengan dirinya sekarang ini, tapi kemer

dekaan rohaninya tiada seorang pun yang bisa mengambilnya. Ia bisa pergi ke mana-mana dengan pikirannya, biapun di sekeliling badan-

nya menjulang tinggi tembok empat persegi. Tapi kemerdekaankah

tujuan hidup? Tidak kemerdekaan hanya alat untuk mencapai tujuan

itu. Dan apakah tujuan itu?

Buat orang lain mungkin jawaban ini bermacam-macam, tapi

karena Open dididik dalam masyarakat Islam dan pernah jadi mualim

pertanyaan ini lekas terjawab, yaitu: Menjunjung tinggi perintah Allah;

agar dapat masuk ke dalam Surga dan di sini dapatlah ia bertemu

dengan Allah itu dan bersatu dengannya.

Pada waktu yang lain, ia ingat kepada ibunya: Open, engkau

harus terus terang dalam segala hal. Sebenarnya maksud ibunya sama saja. Tuhan ... Kesucian ..:

Terus terang ... Kebenaran. Ibunya memang bukan orang desa lagi,

sekolah HIS di kota. Tapi karena selalu bergaul dengan orang-orang

sederhana, ia mengucapkan segala-galanya secara sederhana pula, ia

bukan mengatakan Tuhan atau Kesucian atau Kebenaran, tapi Terus Terang. Ya, sama saja maksud ibunya sebenarnya.

Sejak Open menjadi pengarang, ia banyak membaca buku-buku

filsafat. Pada waktu ia dalam penjara Kerpeitai ini, dalam mana ia

kadang-kadang hampir-hampir menjadi gila dan putus asa, selalu di-

tutup dalam kamar kecil, buang air besar dan buang air kecil, makan

dan minum di tempat iu juga, pada waktu penderitaannya memun

cak, hanya satu ahli filsafat yang menemani kesengsaraannya: Boethius.

Ya, ada kadang-kadang ia merasa ialah Boethtus sendiri. Dipenjarakan, JALAN LAIN KE ROMA

karena hendak berbuat baik kepada manusia sesamanya, ia dipenjarakanı oleh kebaikan itu sendiri. Tapi Boethius berkata, kesengsaraan itu sebenarnya tidak apa- apa. Hanya anggapan yang salah terhadap kesengsaraan itu, itu yarg menjadikan orang putus asa dan merasa celaka. Perkataan Boethius ini tergores dalam hati Open sebagai suatu kebenaran dan adalah hiburan baginya, setelah ia yakin, bahwa kewa- jibannya dalam penjara itu ialah menghilangkan anggapan salah tentang kesengsaraan. Kesengsaraan bukan musuh, anggapan itulah yang musuh. Dan setelah ia dapat melepaskan anggapan itu dan dapat melihat kesengsaraan yang dideritanya sebagai sewajarnya, ia mengucap syukur kepada Tuhan dan terima kasih kepada Boethius. Demikian ia dengan sabar dapat menanggungkan penderitaannya dalam penjara Kenpeitai itu. Dan waktu Reprblik Indonesia diprokla- masikan, ia dilepas. Badannya memang agak kurus sedikit, tapi isi pikirannya bertambah gemuk. Ini bukan Open yang dulu lagi, ini adalah Open yang berlainan sekali, lebih berfaham dan melihat kehi- dupan secara lebih luas. Itu sebabnya ia tidak ikut-ikutan dengan revolusi membunuh Jepang, Belanda Indo dan Tionghoa. Revolusi baginya baik, tapi segera ia menunjukkan anasir-anasir yang jahat, ia harus dicekek kembali, dialirkan melalui tempat yang lebih baik, menuju cita-cita yang sama juga. Revolusi baik. Dia sendiri mengalami revolusi yang paling hebat dalam dirinya sendiri. Revclusi tidak lain dari pada akibat evolusi yang berlaku, evolusi berupa pemerasan perlahan-lahan dan secara teratur. Tapi revolusi tidak membunuh, revolusi hanya berarti menggoncangkan yang ngelamun dan membangunkan yang tidur dan melompat selangkah besar menuju cita-cita. Dalam pada itu karangan-karangannya yang dibikinnya dulu di- terbitkan orang dan segera nama Open terkenal ke mana-mana. Satu dua kali ia mendapat surat dari pembaca, yang mengancam dia jika berani juga mengeluarkan karangan-karangan yang kotor itu. Dan ada pula yang menamakan dia pengarang tolol. Tapi ini hanya kekecualian. Biasanya ia dapat penghargaan dari kanan kiri. Open sendiri girang membaca karangar.-karangan itu kembali, tapi sesuatu dalam hatinya berkata, bahwa ia rasa tak bisa membikir karangankarangan seperti itu lagi. Jika ia nanti tokh menulis lagi; SESUDAH 17 AGUSTUS 1945

pasti akan berlainan sekali, lebih halus barangkali dan mungkin juga lebih berisi. Tapi sekarang ini belum bisa. Ia memang telah banyak memikirkan soal-soal kehidupan yang pelik-pelik, tentang tujuan hidup; kebenaran, kesucian ataupun juga yang disebut ibunya dengan terus terang itu, tapi ia merasa serasa ada lowongan masih dalam kalbunya yang harus diisinya dulu dengan air kefilsafatan yang merupakan pandangan hidup yang lebih tegas. Tidak, sekarang ini biarlah Open mengeluarkan karangan-karang- annya yang dulu satu per satu dan tiada menulis yang baru. Ia tahu dan yakin, bahwa pada suatu ketika lowongan dalam kalbunya pasti akan terisi penuh dan barulah tiba waktunya untuk menulis lagi dengan keyakinan yang lebih tegas. Waktu revolusi mulai tenang, Open terpaksa mencari pekerjaan untuk hidupnya. Ia dapat pekerjaan, muia-mula scbagai penolong tukang jahit, tapi kemudian ia lekas pintar menjahit sendiri. Pekerjaan ini membawa dia ke pergaulan dengan sampah-sampah masyarakat segala bangsa: serdadu Inggris, serdadu Belanda serdadu Gurkha dan serdadu Inlander. Dari sehari ke sehari ia berkenalan rapat dengan segala kejahatan yang ada di dunia, tapi ia sebagai pe- nonton cuma. Jika jiwanya seperti dulu juga, pasti semua ini akan dituliskannya menjadi cerita pendek dan toman. Tapi sekarang ini semua itu dilihatnya belaka, dimasukkannya ke dalam hatinya, diana- lisirnya, dijadikannya unsur bagi air filsafat yang akan mengisi lowongan dalam kalbunya itu. Malam-malam, sebelum tidur bayangan-bayangan mengejar dia. Di sana kelihatan olehnya seorang serdadu Gurkha sedang mem- bunuh perempuan, merampas barang perhiasan dan kehormatannya, membeli baju dengan uang perempuan tu dan menyuruh bikinkan baju itu kepada Open. Sebentar lagi berdiri di hadapannya serdadu Belanda, yang berkata selalu akan mendatangkan keamanan di Indo- nesia, yang tak pernah mengganggu orang katanya, ya mengganggu binatang dan hubungan ia ini tak pernah. Datang pula serdadu Inggris yang dengan senang hati mengatakan, bahwa ia baru saja datang dari Bekasi, setelah membakar kampung itn habis-habisan. Berganti pula bayangan itu dengan serdadu Inlander. Ini bukan manusia yang berdiri di hadapan Open. Manusia ialah pribadi dan orang ini tak ada JALAN LAIN KE ROMA

sedikit pun kepribadiannya. Bersusah payah ia minta pakaian kepada kaptennya dan bersusah payah pula ja minta pada Open supaya upah buat dia diturunkan. Dan waktu Open menolak, ia diancam dengan bayonet. Open tenang saja, membiarkannya dirinya ditembak. Di sini Open tertawa. Lalu ia berkata sendiri dengan dirinya, "Orang-orang jahat, biar pun bentuk badan manusianya tetap seperti orang lain, tapi menurut isi kalbunya mereka sebenarnya telah berubah jadi binatang buas." Demikian Open saban malam sampai kepada sesuatu kesimpulan dan ia percaya dan yakin, bahwa semua ke impulan itu pada suatu wakıu akan mnendekatkan ia kepada terus terang yang sebenarnya, tidak terus terang seperti yang diamalkannya, waktu ia jadi guru sekolah rakyat dulu. Dan lama kelamaan, bersamaan dengan bertambah penuhnya lowongan dalam kalbunya, bertambah terasa kepadanya, bahwa ke- hendak menyendiri seperti dulu, egoisme dulu, bertambah lama bertambah jauh daripadanya. Apa sebabnya ia menyuruh Surtiah pulang dulu itu? Karena ia tak mau digatiggu dalam jalan pikirannya dengan soal-soal cari pekerjaan. Ini adalah anasir egoisme. Sekarang semuanya ini tak terasa lagi padanya. Bahkan sebaliknya dari sehari ke sehari bertambah keyakinannya, bahwa Surtiah berguna sekali bagi kehidupan rohaninya. Surtiah tidak akan menjadi gangguan lagi baginya. Tidak, tidak, Surtiah adalah tulang punggungnya. Segera Open menulis surat kepada Surtiah dan tiga hari sudah itu Surtiah datang bersama ayah dan ibunya. Pun ibu Open datang pula. Rumah Open seketika menjadi ramai. Buat seketika itu Open memang tidak bisa mempergunakan pikirarnya untuk memikirkan hal-hal yang selama ini dipikirkannya. Tapi ja tidak merasa jengkel, Ia merasa perlu adanya selingan ini sekali-kali dan waktu orang-orang tua itu kembali ke desanya, Open merasa ditinggalkan oleh orang orang yang dikasihinya dan dicintainya dan yang mengasihi dan men- cintai dia. Surtiah melihat perubahan besar ini pada suaminya dan ia gembira seperti belum pernah sebelumnya. SESUDAH 17 AGUSTUS 1945