Baca EPUB: Prancis yang Telah Membentuk Kepribadian Saya

2 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. Tentang Penulis
  2. Table of Contents
  3. Table of Contents
AGUS SETIAWAN WAWORUNTU
Prancis yang Telah Membentuk Kepribadian Saya
Kacabenggala Editions

Tentang Penulis

Agus Setiawan Waworuntu lahir pada tahun 1956 di Pulau Lombok. Pada waktu masih kecil, dia diangkat oleh keluarga Waworuntu yang namanya tercatat dalam sejarah nasionalis Indonesia dan yang lukisannya sendiri sebagai “modernis dan kosmopolit”. Pada umur 19 tahun, dia pergi ke Prancis dan bermukim di Paris selama sebelas tahun (1975-1986). Di sana, dia mempelajari jurnalisme dan perfilman. Sepulangnya ke Indonesia, dia mengelola hotel Tanjung Sari di Sanur, Bali, sambil giat dalam dunia seni dan dekorasi.

Digitizer Note

This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.

All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.

The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.

Jean Couteau: “Anda katanya, pernah hidup lebih dari sepuluh tahun (1975-1986) di Prancis atas prakarsa sendiri. Hal itu tidak biasa untuk generasi Anda, yang lebih sering memilih pergi ke Australia atau ke Amerika. Apa awal pengalaman tersebut?”

Agus Setiawan Waworuntu: “Semuanya bermula dari suatu kesan, semasa kecil saya, ketika kami masih tinggal di Kediri. Orang tua saya pada waktu itu baru pulang dari suatu perjalanan keliling dunia, dan mereka memiliki sebuah mobil Fiat coupé, model baru yang baru keluar dari pabrik. Di kaca belakang Fiat itu, entah sebagai kenang-kenangan atau untuk mempesonakan kami, mereka menempel emble dari kota-kota yang telah mereka kunjungi, dan di antaranya terdapat Menara Eiffel, dengan bentuk khasnya, yang melambangkan kota Paris. Bentuk itu terukir di otak saya, otak seorang bocah yang baru berumur 7 atau 8 tahun.

Berkeliling dunia! Mobil Fiat! Peta dan benda seluruh dunia sesungguhnya sudah terukir sejak kecil di dalam kesadaran saya. Saya sendiri adalah orang keturunan Sasak dari Lombok yang dipungut oleh Waworuntu setelah perceraian orang tua. Adapun keluarga Waworuntu tersebar di antaraJakarta, Sanur, dan Kediri. Mereka sudah lama berkenalan, bergaul, dan mungkin pula bermusuhan dengan dunia yang disebut Barat itu. Mereka konon adalah keturunan opa Bintang atau opsir tentara kolonial Belanda yang ditugaskan mengantar Diponegoro ke pengasingan di Sulawesi seusai perang Jawa (1830). Salah seorang Waworuntu di Raad Batavia menjadi wakil kaum pribumi pada awal abad ke-20. Maka keluarga kami bersikap modernis dan kosmopolit, dengan teman-teman antarbangsa, sebuah hotel di Bali, sebuah rumah di Umbria, dan bahkan sebuah mobil tua tertempel lambang kota-kota dunia.

Maka, pada umur 19 tahun, seusai SMA, saya ingin pula mengenal dunia, yang hanya saya kenal dari cerita orang tua, Om-Om bule yang lewat, dan lambang-lambang tertempel di kaca mobil. Pada waktu itu Donald Friend, pelukis tersohor dari Australia itu, masih tinggal tidak jauh dari hotel kami, Tanjung Sari, dan dia adalah teman baik orang tua saya. Dia sangat memperhatikan anak-anak Waworuntu. Pada suatu sore, saya mengunjungi dia, lalu berkata, “Saya mau ke Paris”. Dia diam, menatap saya dengan intens dan akhirnya berkata, “Kau mempunyai guitar, kan? Datang kemari dengan guitarku.” Keesokan hari saya datang dan hari berikutnya pula, tetapi saya tidak bernyanyi: dia membuat dua belas potret dari saya. Yang satu segera dia jual, dan hasilnya dia berikan kepada saya. Dengan uang itulah saya membelikan tiket ke Paris. Orang tua saya tidak bisa lagi menghalangi saya pergi.

JC: Lalu bagaimana pertemuan awal Anda dengan Prancis, khususnya Paris?

ASW: Pada awalnya sulit. Cuaca kelabu, hujan, dan tidak ada laut, yang saya rindukan. Saya memang dari dulu hidup di pinggir laut di Bali. Apalagi di Paris saya tinggal di kamar sempit milik seorang wartawati dari harian Le Figaro. Sejenis loteng di bawah atap. Lokasinya baik, di pusat kota, namun saya dibuat kaget di situ. Coba bayangkan: di sini kita bisa mandi paling sedikit dua kali sehari. Orang Prancis sebaliknya seakan-akan tidak merasa perlu mandi. Kamar saya tidak ada kamar mandinya, dan WC-nya di koridor umum. Terpaksa saya setiap hari berkeliling kota, menumpang di kamar mandi teman-teman, satu hari di sini, hari berikutnya di sana, dan seterusnya. Hingga menjadi satu obsesi: bagaimana, dan dengan dalih apa mengunjungi orang yang mempunyai “shower”. Dan sifat “kotor” itu bukan suatu kebetulan: wartawari pemilik kamar saya, mungkin perfumenya banyak, tetapi mandinya sedikit. Sampai sekarang ini saya sulit mengaitkan kreativitas tinggi orang Prancis dengan tiadanya kamar mandi di banyak tempat. Mungkin ada kaitan. Belakangan ini, kamar mandi konon menjadi umum di Paris, sedangkan kreativitas orang Prancis juga merosot!!!

JC: Melihat pengalaman awal ini, mengapa Anda sampai sebelas tahun tinggal di Prancis?

ASW: Karena saya segera juga sempat berkenalan dengan segi balik dari keromonan itu: kaum elite burjuis Prancis. Dari Bali (di sanalah saat itu seolah-olah pusat public relation keluarga Waworuntu), saya ditelpon oleh Cécile de Rotschild, yang pernah menjadi tamu kami di hotel Tanjung Sari. Tempat tinggalnya di jantung politik kota Paris, di antara istana presiden, “l’Elysée”, dan kedutaan besar Jepang. Sampai di sana tahu-tahu saya disambut oleh seorang butler, tepat seperti dalam novel-novel Eropa abad yang lalu: jacket klasik, wajah serius rada sombong, mengangguk kepala kaku: amat berbeda dengan gaya kesopanan ala Indonesia, tetapi mengesankan pula. “Puis-je vous annoncer?” (Bolehkah saya memberitahukan kedatangan Anda?). Lalu dia menghilang. Saya menunggu kitak-kituk di kursi berukir kuno: kursi Louis ke XV, saya diberi tahu kemudian. Ketika dia kembali, saya langsung diajak masuk, melalui ruangan satu, dua, tiga: rumah itu ternyata bukan rumah biasa, melainkan sebuah “hotel particulier”, yaitu sejenis istana kota, yang dahulu dihuni oleh pangeran-pangeran dan bankir-bankir besar, dan yang kini hampir hilang dari kota Paris. Cécile de Rotschild, termasuk keluarga bankir bersejarah itu, dia tinggal di salah satu hotel particulier yang terakhir di kota Paris. Di situ saya berkenalan untuk pertama kalinya dengan “gaya” Prancis itu: gaya makan dengan wine dan etiketnya, gaya bicara yang harus dengan suara serak nan dalam itu, dan terutama keseniannya: di situlah saya melihat untuk pertama kalinya lukisan Cézanne, Van Gogh, dan Gauguin yang asli.

JC: Apakah Anda kemudian hanya hidup di kalangan elite itu?

ASW: Tidak, tetapi saya berada di dalam posisi di mana saya dapat memilih lingkungan hidup. Dan ada beberapa. Di satu pihak saya menjadi mahasiswa, belajar jurnalisme dan perfilman, maka bersentuhan dengan kalangan intelektual muda dan para aktivis kiri. Di lain pihak saya juga punya kenalan di kalangan burjuis klasik. Selain dengan Cécile de Rotschild, saya sangat dekat misalnya dengan Georges Halphen, seorang wali kota sosialis yang hingga kini saya anggap sebagai “bapak angkat” saya. Dialah yang menginisiasikan saya pada kesenian modern.

Yang paling mengenal masalah-masalah Indonesia pada umumnya adalah teman-teman kiri atau bahkan komunis, seperti misalnya Jacques Leclerc, yang bergaya Stalinis keras kaku itu. Meskipun saya tidak menyetujui kesimpulan mereka, terpaksa saya menghormati sikap mereka sebagai suatu pencarian kebenaran. Kaum burjuis klasik Prancis, atau bahkan sosialis, lebih estetis sikapnya di dalam cara mereka menanggapi masalah dunia ketiga. Sama-sama menarik buat saya.

JC: Selama sebelas tahun Anda di Prancis, apakah Anda mengalami masalah untuk berintegrasi dengan masyarakat Prancis?

ASW: Setelah saya mengatasi kendala bahasa, tidak. Mungkin lebih mudah pada waktu itu daripada sekarang ini. Pengangguran sedikit, ekonomi lagi “booming”. Dan diskursus yang lagi ngetrend di kalangan anak muda adalah diskursus “dunia ketiga” dengan penokohan figur-figur seperti Ho Chi Minh dan Che Guevara. Orang Prancis pada waktu itu berprasangka positif terhadap pendatang. Suaka politik diberikan secara otomatis kepada yang memintanya—misalnya Omar Said, bekas wartawan komunis yang kini memiliki restoran Indonesia di “Rive Gauche” itu. Sekarang lebih sulit. Masalah imigran menjadi politik dan ditumpangi oleh partai ekstrim kanan.

JC: Apakah Anda berhadapan dengan masalah rasisme?

ASW: Secara pribadi tidak pernah. Rasisme yang ada lebih diarahkan kepada orang Afrika Utara. Namun yang menjengkelkan adalah bila kami, orang Asia, diperlakukan sebagai “boneka” dari Timur. Disukai justru karena perbedaan itu. Namun banyak orang Indonesia, terutama wanita, yang memanfaatkan “eksotisme” itu demi tujuan pribadi mereka. Untuk saya hal itu masih berbau prasangka, meskipun positif.

Tergantung juga gaya hidup. Sebagian besar orang Indonesia yang ada di Paris hidup terkungkung di kalangan mereka sendiri. Sosialisasi mereka terbatas, pengetahuan atas bahasa dan masyarakat Prancis pun terbatas. Mereka terasing akibat sikap mereka sendiri.

Orang Indonesia harus juga menerima kenyataan bahwa mereka tidak dipersepsi sebagai Indonesia, tetapi sebagai “Cina” atau “Vietnam”, apalagi setelah “boat people” mulai banyak di Prancis. Perbedaan yang besar di mata kami antara “Melayu” dan “Cina” kecil di mata orang Prancis.

Sikap orang Prancis mungkin sulit difahami oleh orang Indonesia. Selain nampak angkuh, orang Prancis suka memperdebatkan segalanya, kadang-kadang dengan gaya yang nampak keras di mata kami, seakan-akan suka berhantam. Tetapi, secara paradoksal, justru hal itu yang saya sukai: untuk orang Prancis, tidak ada yang kekal atau wajib. Semua dipertanyakan, elalu.

JC: Bagaimana dengan sistem pendidikan di Prancis?

ASW: Itu pun aneh. Pada hari pertama saya mau mendaftar untuk kuliah di Censier (Fakultas Sastra Paris), mahasiswa sibuk-sibuk bukan dengan kuliah, tetapi dengan pemogokan. Tembok-tembok penuh grafiti politik. Majalah-majalah politik ditawarkan di mana-mana. Ada yang berteriak, yang lain merokok. Suasana itu tampak lebih penting daripada suasana perkuliahan. Saya mula-mula berpikir, “Apakah memang begitu semua universitas di Prancis?” Lama-kelamaan saya mengerti bahwa suasana yang “tidak karuan” itu adalah bagian yang tak terpisahkan dari suasana intelektual Prancis pula, yang terus mendidih, berubah-ubah itu.

JC: Orang Prancis sering berpretensi kebudayaan mereka menawarkan sejenis “universalisme” yang lain daripada yang ditawarkan di negeri-negeri Anglo-Sakson. Bagaimana pendapat Anda?

ASW: Prancis menawarkan satu pandangan khas, suatu jarak tertentu terhadap segalanya. Bukan secara kebetulan bila tokoh-tokoh yang tengah digemari di Indonesia adalah cendekiawan Prancis seperti Foucault, Barthes, Louis Althuser, Maurice Godelier, dll.

JC: Setelah sebelas tahun di Prancis, bagaimana Anda beradaptasi kembali pada kehidupan di Indonesia?

ASW: Di satu pihak saya menyesal terputus dari budaya Prancis yang telah membentuk kepribadian saya. Saya ingin tetap terkait dengan budaya Prancis. Ada satu kerinduan tertentu di dalam diri saya. Di lain pihak saya telah belajar di Prancis untuk memahami dan mencintai negeri asal saya dengan lebih matang. Saya kini terbelah. Di mana pun terasing. Dan mungkin itu baik.