Publisher Note
Tulisan ini diterbitkan di majalah Balairung tahun 1994.
Tulisan ini berasal dari koleksi pribadi Muhammad Reza Magistra.
Digitizer Note
This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.
All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.
The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.
Disela-sela waktu luangnya Pramoedya menyempatkan diri menulis perjalanan hidupnya. Berikut ringkasan otobiografinya.
Blora, 6 February 1925
Aku dilahirkan di kota kecil di Blora, di tengah-tengah keluarga nasionalis-non kooperatif. Ayah seorang guru sekolah Boedi Oetomo dan ibu seorang aktivis gerakan perempuan.
Blora, 1930-1940
Menyelesaikan sekolah dasar selama 10 tahun dengan mengulang 3 tahun. Karena ayah menganggapku bodoh, dia menolak pembiayaan untuk melanjutkan di SMP. Kemudian aku menganggur.
Blora, 1941-1942
Aku memelihara ibu yang sakit, sampai meninggalnya. Mulai menjadi pencari penghidupan bagi seluruh keluarga yang terdiri dari orang tua dan 7 adik. Umur 17 tahun aku diharuskan meninggalkan rumah, pergi ke Jakarta.
Jakarta, 1942-1945
Tahun pertama di Jakarta melanjutkan sekolah di taman dewasa, sampai kelas 2. Kemudian aku bekerja sebagai tukang ketik di kantor berita ‘Domei’ sampai 1945. Pada kurun itu aku mulai menulis dan mulai mengirimkan ke koran ‘Pemandangan’ tapi tak pernah dimuat.
Jakarta, 1945-1946
Bergabung dengan aksi para pemuda dan mendaftarkan diri ke markas TKR yang mengirimku ke markas divisi Siliwangi Resimen Cikampek. Menjadi prajurit resmi dari mulai serdadu tanpa pangkat sampai Letnan II. Pengalaman mengesankan dalam menghadapi Inggris, Jepang dan Belanda terjadi awal 1946 dimana pasukan front kami terkepung di bawah berondongan mitraliur serdadu Sikh, sehingga harus menerobos di sebelah utara Kranji-Bekasi, mengesankan karena setelah seluruh pasukan lolos, komandan front memerintahku untuk kembali menyusup guna mengambil alat komunikasi yang tertinggal.
Jakarta, 1947
Menjadi guru stenografi dan redaktur majalah ‘Sadar’ terbitan The Voice of Free Indonesia. 22 Juli ditangkap oleh marinir Belanda yang menemukan dokumen gerakan bawah tanah yang menginstruksikan aku untuk mencetak dan menyebarkan pamflet perlawanan terhadap aksi militer Belanda ke-I. Kemudian dijebloskan ke penjara Bukit Duri, Jatinegara.
Jakarta, 1947-1949
Menjadi tawanan Belanda, melakukan kerja paksa pembersihan seluruh Jakarta. Di penjara ini aku belajar bahasa Prancis (gagal karena kekurangan teks) dan bahasa Inggris yang langsung digunakan untuk menterjemahkan Steinbeck Filsafat, Ekonomi dan kursus midderstand. Dalam penjara ini pula aku menulis novel Perburuan dan Keluarga Gerilya yang naskah-naskahnya dibawa keluar penjara oleh Prof. Mr. G.J. Resink, mahaguru fakultas Hukum UI, seorang Belanda yang belakangan menjadi warga negara Indonesia.
Jakarta, 1950
Keluar dari penjara aku langsung mendapatkan nama sebagai pengarang dari cerpen Blora yang sekaligus terbit dalam bahasa Indonesia, Belanda, Spanyol dan Jepang. Menerbitkan Keluarga Gerilya, juga kumpulan cerpen Percikan Revolusi. Aku juga menjadi redaktur sastra Indonesia moderen pada penerbit Balai Pustaka.
Jakarta, 1951-1952
Menerbitkan novel kecil Bukan Pasar Malam dan Di Tepi Kali Bekasi berdasar pada pengalaman militer 1945-1946. Tahun ini aku keluar dari Balai Pustaka. Pada 1952 aku menerbitkan cerpen Cerita dari Blora, yang sampai saat ini diterjemahkan dalam 18 bahasa (22 bahasa menurut Prof. Ben Anderson).
Holland, 1953-1954
Bermukim di Belanda aku mendapat hadiah untuk kumpulan cerpen Cerita dari Blora dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional Jakarta.
Jakarta, 1954-1955
Menerbitkan novel “Korupsi” dan “Midah Si Manis Bergigi Emas”.
Jakarta, 1956
Melawat ke Cina atas sponsor Mentri PPK Dr. Priono untuk menghadiri peringatan penulis besar Cina Lu Hsun. Sepulang dari perlawatan, umum menganggapku telah menjadi komunis, Penerbit, surat kabar dan majalah mulai menolak mengumumkan karya-karyaku. Ini berlangsung sampai tahun 1959.
Jakarta, 1957
Aku memberikan sokongan pada konsepsi presiden di masa Indonesia mendapat tekanan keras dari negeri barat dan menggelumbangnya perpecahan di dalam negeri. Menjadi juru bicara seniman menghadap presiden untuk menyatakan dukungan.
Jakarta, 1958
Melawat ke pelbagai negara: India, Mesir, Roma, Cekoslovakia, Jerman, Polandia, Soviet, Tiongkok. Melawat ke Sumatra Barat sebagai sukarelawan membantu Angkatan Bersenjata untuk memadamkan pemberontakan PRRI Permesta. Sebagai tamu pada kongres nasional I Lekra di Solo aku dibombardir sebagai anggota pleno organisasi tersebut.
Jakarta, 1959
Aku memprotes tingginya pajak pengarang. Mengetuai “discusi club Simpat Sembilan” (diskusi 9 orang terdiri dari wartawan, pengarang, ekonom, mahasiswa) diantaranya mencetuskan ‘kembali ke UUD 45’ untuk mengatasi perpecahan Konstituante. Dan sepanjang diketahui satu-satunya saran semasanya. Melahirkan novel kecil, Sekali Peristiwa di Banten Selatan. Aku diangkat menjadi anggota dewan penasehat kementrian PETERA.
Jakarta, 1960
Tampil sebagai satu-satunya pribadi yang menentang PP10/60 yang rasialis. Suatu peraturan presiden yang menghalau minoritas cina dari usahanya di pedalaman wilayah RI. Kemudian artikel-artikelku dibukukan dalam, Hoakiu di Indonesia. Sebagai akibat tantangan terhadap PP10/60 dan terbitnya Hoakiu di Indonesia oleh PEPERTI (penguasa perang tertinggi) aku dipanggil untuk diwawancarai yang ternyata di interogasi oleh Mayor Sudharmono, BcHk dan selanjutnya aku diculikd an disekap di RTM (Rumah Tahanan Militer), tanpa proses hukum. Menerbitkan cerita bersambung Gadis Pantai.
Jakarta, 1961
Waktu pers mengetahui aku disekap, juga disiarkan radio ABC Australia, dengan alasan ‘mengacau’ di RTM, aku dipindah ke penjara Cipinang. Di sini aku baru menerima surat penahanan yang ditanda tangani A.H. Nasution. Penahananku berlangsung hampir setahun, dibebaskan bersama kelompok pemberontak PERMESTA. Di penjara Cipinang ini aku menulis buku harian tentang kehidupan para hukuman di blok tempat aku dikucilkan di belakang dua pintu besi terkunci (catatan harianku ini hancur dalam peristiwa 1965, hanya beberapa bagian terselamatkan karena termuat di Lentera).
Jakarta, 1961
Setelah bebas dianjurkan teman-teman di redaksi surat kabar Bintang Timur dari pada hanya ‘terlanjur basah’ lebih baik ‘nyebur sekalian’. Redaksi memberiku kesempatan untuk membuka rubrik kebudayaan yang kunamai Lentera, yang semula hanya ¼ halaman kemudian berkembang menjadi 1 halaman. Aku dimintai Prof. Dr. Tjan Soe Siem mengajar di Universitas Res Publika untuk mata kuliah sastra Indonesia dan sejarah Indonesia.
Jakarta, 1963
Lentera kubentuk menjadi medan polemik untuk mendapatkan jawaban terbaik dalam mengantisipasi tekanan barat yang semakin keras terhadap Indonesia. Nampaknya undangan untuk berpolemik praktis gagal, tidak terjawab.
Jakarta, 1965
Lentera menjadi semakin populer. Isu-isunya tidak jarang menjadi bahan pembicaraan sampai berbulan dalam media massa. Materi dan sorotan baru atas sejarah modern semakin banyak dimuat, juga pandangan baru atas sejarah sastra Indonesia, juga pengkoreksian atas pandangan tradisional sejarah sastra. Oleh segolongan pembaca kadang dianggap sebagai teror terhadap pandangan lama yang sudah mapan dibidang sastra, budaya, dan sejarah. Pada 13 Oktober malam ditangkap, naskahku yang belum diterbitkan, koleksi dokumen 1918-1948, koleksi majalah sejak abad lalu dan koleksi buku yang mencapai 5000 jilid. Dalam penculikan/penahanan para penguasa Negara gaya baru ini menyaksikan betapa brutal sistem dan aparat teror beraksi. Praktis semua metode penganiayaan diterapkan pada setiap tangkapan. Sementara tenagaku diperas untuk bertanam sayur baik untuk ditanam sendiri maupun untuk kepentingan penjaga. Dengan jatah makan yang minim hampir tiap hari terjadi kematian.
Nusakambangan, Juli-Agustus 1969
Bersama para tapol dikirim ke Nusakambangan, sedang ditransitkan untuk dibawa ke pulau Buru.
Buru, Agustus 1969-November 1979
Melakukan kerja paksa perintisan dan pembangunan jalan, membabat hutan, mencetak sawah sampai menjadi penggodam pada bengkel pandai besi. Membangun irigasi, bendungan dan perumahan, semua tanpa imbalan. Sampai 1973 dijenguk oleh berbagai pihak yang terpenting adalah kunjungan Pangkopkamtip Jendral Soemitro yang memberiku ijin menulis.
Buru, 1973-1979
Menulis sejumlah novel yang kuketik dengan sejumlah tembusan, juga satu kopi kudepositkan pada gereja katolik di pelabuhan Namlea. Yang terakhir ini kemudian diperbanyak dengan seijinku, yang ternyata disebarkan ke Eropa, Amerika dan Australia. Karya-karya yang kuhasilkan di sini adalah; Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca, Nyanyi Tunggal Seorang Bisu (Catatan Buru), Arus Balik, Mangir, Mata Pusaran.
Jakarta, 1981-1992
Novel Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa dilarang beredar oleh Jaksa Agung tahun 1981. Tahun 1982 aku memberikan ceramah di UI memenuhi undangan Senat Mahasiswa UI, karena ceramah tersebut, aku diinterogasi selama seminggu. Tahun 1985 dia bukuku Jejak Langkah dan Sang Pemula dilarang beredar. Tahun ini pula aku menerbitkan antologi Tempo Doeloe satu-satunya buku yang tidak dilarang sampai sekarang. Tahun 1987 aku menerbitkan Hikayat Siti Maria yang dilarang beredar tahun 1988. Tahun 1988 aku menerbitkan Rumah Kaca yang langsung dilarang beredar. Pada tahun ini aku menerima penghargaan Freedom to Write Award (Amerika). Tahun 1990 aku menerima penghargaan The Fund for Free Expression Award (Washington). 7 Desember 1992 aku mengeluarkan pernyataan sehubungan dengan hari hak-hak asasi Dunia yang disiarkan ke seluruh dunia termasuk PBB dan UNESCO.