Baca EPUB: perumpamaan-dalam-bahasa-indonesia

5 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. Table of Contents
  2. Table of Contents
KOESALAH SOEBAGYO TOER
Perumpamaan dalam Bahasa Indonesia
Kacabenggala Editions

Publisher Note

Tulisan ini dimuat dalam majalah Medan Bahasa, edisi No. 3 Th. IV yang terbit pada bulan Maret 1954.

Digitizer Note

This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.

All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.

The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.

Sudah mendjadi hukum alam, bahwa jang baji mendjadi gadis atau anak lelaki (boy), jang boy atau gadis mendjadi pemuda dan pemudi, jang pemuda dan pemuda mendjadi bapak dan ibu, ibu dan bapak mendjadi kakek dan nenek, dan mereka itu kemudian mati. Hukum ini tak bisa dihindari, dan selama ada manusia hukum itu berlaku atas manusia, berlaku atas binatang, dan berlaku djuga atas semua jang ada didunia. Jang tidak ada (sudah tak ada) diganti dan jang menjusul mengganti jang sudah pergi. Begitulah urut-urutan jang selalu terdjadi itu. Dan barangsiapa menentang jang demikian itu, njatalah bahwa ia mengerdjakan sesuatu jang tak mungkin berhasil. Tapi walau demikian tentu ada djuga orang jang mentjoba-tjoba mendjalankan usaha itu. Suatu keistimewaan jang ada diantara manusia ialah selalu adanja ketidaksamaan diantara mereka. Manusia (orang) selalu mempunjai djiwa pribadinja disamping djiwa masarakatnja. Dan djiwa pribadi ini jang menjebabkan timbulnja keragaman dalam masarakat. Ada orang jang senang perang misalnja, meskipun orang lain tak menjukainja. Ada orang jang lebih suka membunuh dirinja, disamping orang-orang jang mati-matian mempertahankan hidupnja. Ada orang-orang jang lebih suka dirinja tolol, bersama orang jang ingin mentjapai kepandaian. Dan banjak lagi tjontoh pementjilan diri sendiri demikian diantara orang jang punja pribadi tersendiri dalam masarakatnja.

Mereka itu tak usah kita sesalkan. Mereka punja djalan tersendiri. Dan kitapun tentu punja djuga. Tiap orang dan angkatan punja djalannja sendiri, walaupun dia tak mentjarinja. Seorang jang tersasar dalam hutan tidak mempunjai djalan jang biasa dilalui orang lain. Tapi ia punja djalan sendiri. Jaitu djalan jang telah dilaluinja, daerah jang sudah diambahnja, meskipun tak disengadjanja ia melalui tempat atau daerah itu.

Angkatan Duapuluh dalam kesusasteraan Indonesia punja djalannja sendiri. Begitupun angkatan Pudjangga Baru serta Angkatan Empatpuluhlima. Mereka itulah anak djamannja. Dan merekalah jang mendjadi tjermin djamannja, bukan orang lain. Dan tiap angkatan itu mempunjai kebiasaannja sendiri. Mereka punja adat dan istiadat sendiri. Entah dari mereka sendiri, ataupun dari angkatan jang telah mendahuluinja. Jang terachir ini susah menghindarinja. Ia djuga memegang rolnja. Dan memang dalam pergaulan itu selalu terdapat saling pengaruh mempengaruhi. Karena itu pengaruh orang-tua itu selalu ada. Pengaruh dari atasan itu tak mungkin tidak ada. Segala jang diatas mempengaruhi jang dibawah. Kita tjarilah mana sesuatu jang diatas tak punja pengaruh atas jang dibawah. Langit itu banjak pengaruhnja terhadap bumi. Bahkan ialah pengaruh jang mungkin terbesar atas bumi disamping pengaruh jang datang dari samping. Kalau diatas ada awan, maka bumi kurang panas, misalnja. Atau kalau matahari suram bumipun kena pengaruh suramnja.

Tapi semua itu akan sangat bertele-tele kalau diuraikan djuga sekaliannja. Soal jang kita hadapi sekarang ialah bahwa jang tua itu mesti mati, dan jang muda mesti menjusulinja. Orang tak usah menolak ini, tapi sebaliknja jang muda berkewadjiban mendjaga kemudaannja terhadap jang tua, kalau mereka mentjoba-tjoba djuga mempertahankan umurnja jang makin habis. Disamping itu, tiap angkatan punja djamannja, punja adatistiadatnja.

Sekarang akan kita bitjarakan perumpamaan jang ada dalam bahasa Indonesia.

Perumpamaan ini suatu bagian dari bahasa seluruhnja. Dia merupakan bagian ketjil dari bahasa jang punja perumpamaan1 itu. Dan bahasa jang memilikinja itu, jaitu bahasa Indonesia, sudah mengalami pertentangan djuga antara jang muda dan jang lama. Bahasanja itulah lapangannja, dan objeknja (pelakunja). Kebetulan bahwa tak lama berselang atau kini, terdapat pertentangan antara jang terdahulu dan angkatan menjusul (boleh kita sebutkan angkatan sekarang, angkatan empatpuluhlima, atau angkatan sesudah atau selama repolusi)

Pertentangan itu tidak meliputi seluruh jang terdapat dalam bahasa itu. Dan jang didjadikan pertentangan itu djuga jang sudah didapati orang sadja. Diantara jang belum disinggung itu kita masukkan perumpamaan jang hingga sekarang masih punja akar-akarnja jang belum bisa ditjabut, padahal sebenarnja sudah mesti tertjabut. Terutama akar-akar jang ketinggalan itu bertjokol disekolah-sekolah rakjat atau menengah dan sedikit disekolah menengah atas.

Sebenarnja sudah tak harus lagi kita membangkit-bangkitkan apa jang sudah lalu. Orang harus selalu madju kedepan. Kalaupun tidak harus, maka orang (manusia) adalah selalu madju dengan sendirinja, sebab pengalaman-pengalaman selalu membawanja kedepan. Seseorang jang berdjalan, jang menjusuri djalan-djalan atau daerah-daerah jang dilaluinja, bertambah pengetahuannja. Makin lama ia berdjalan makin banjak jang bisa diketahuinja. Ia tak usah mentjari mana-mana barang jang mesti dilihatnja, mana-mana derah atau tempat jang mesti dilaluinja. Pengalaman datang dengan sendirinja.

„Biasa mengalahkan bisa2 . Ini suatu peribahasa jang sudah terkenal diantara orang Melaju (dan Indonesia?) dan sudah pula dimuat dalam suatu buku Peribahasa jang diterbitkan oleh Balai Pustaka. Buku ini sudah mengalami tjetakannja jang keenam, dan tjetakan jang terachir ialah pada tahun 1951 kalau tak salah”.

Maksud dari peribahasa ini ialah bahwa segala pekerdjaan (menurut buku Peribahasa tadi) kalau selalu diperbuat, maka ketjanggungan serta takut dalam mengerdjakan pekerdjaan itu akan hilang. Supaja terang kita ambil tjontoh seorang pemburu.

Seorang pemburu, pertamakali ia pergi kehutan dan berburu masih belum punja pengalaman. Karena itu belum tahu ia bagaimana tjara sebaik-baiknja jang harus ia kerdjakan dalam berburu itu. Misalnja tjara menghindari bahaja binatang buas, atau tjara mengintai. Pemburu jang baru pertamakali berburu itu masih mempunjai rasa takut misalnja. Takut pada binatang jang akan diburunja. Takut kalau-kalau binatang itu menjeruduknja atau menerkamnja. Tapi, kalau ia bisa menguasai takutnja itu, dan setiap kali mau mengulangi pemburuannja, . maka lama-lama pasti ia tak seberapa takut lagi. Dibandingkan dengan takutnja jang mula-mula ketika ia mulai berburu, maka takutnja jang sekarang, kalau ia masih menjimpan rasa takut, lebih kurang dari takutnja jang pertama itu.

Seorang jang takut membunuh orang, tapi jang karena sesuatu hal harus berkali membunuh orang, maka katjanggungan jang mula-mula makin berkurang. Atau ia kapok oleh apa jang dikerdjakannja itu dan tak mau mengerdjakannja lagi. Djadi dalam hal ini ada dua kemungkinan. Atau dia berani atau tidak. Kalau ia berani maka ia bisa mengalahkan bisa itu, tapi kalau tak berani, maka ia mati oleh bisa itu. (Ini kalau kita bandingkan dengan peribahasa jang kita batja diatas tadi).

Tapi kalau diteliti lagi, ternjata, bahwa peribahasa itu meleset jang sebesar-besarnja. Kita bajangkan bisa disitu sebagai sesuatu jang berwudjud (konkrit). Orang tahu bahwa bisa itu sesuatu jang membunuh manusia kalau ia dimakan atau diminum. Tapi bagaimana kita akan membajangkan bahwa sungguh-sungguh biasa (kebiasaan) itu akan bisa mengalahkan bisa3 ?

Tapi kita ambilllah patokan, bahwa bisa itu suatu benda jang tak baik bagi manusia (menurut sifatnja jang sesungguhnja). Lalu kita ingatlah bisa-bisa jang telah membunuh manusia jang telah meminum atau memakannja. Misalnja Socrates, jang telah mati oleh ratjun jang diminumnja. Atau Hanafi dalam tjerita Salah Asuhan karangan Abdul Muis jang mati oleh sublimat.

Djadi disitu bisa digambarkan sebagai sesuatu jang mendjadi pembunuh manusia (djuga menurut sifatnja jang sesungguhnja).

Nah, kalau itu sudah kita gunakan sebagai patokan, maka kita tindjau kembali peribahasa ,Alah bisa karena biasa itu’ itu.

Tentu tak mungkin seseorang membiasakan dirinja meminum bisa untuk mendjadi orang jang kebal terhadap bisa. (Ini kalau diartikan menurut seluruh utjapan tadi, meminum bisa). Kemungkinan hanja ada dua bagi tjalon peminum bisa itu. Atau ia berani meminum bisa itu dan kemudian mati, atau ia tak berani meminumnja dan tak djadi kebal terhadap bisa. Ketjuali Socrates (jang terpaksa), dan Hanafi (jang terpaksa djuga), ditambah dengan jang lain-lain jang barangkali minum bisa djuga dengan sebab-sebab jang berlainan, maka orang tak mau meminum bisa. Orang mau minum bisa dalam suasana jang lain dari suasana jang biasa ia lalui.

Djadi kita lihatlah peribahasa tadi sekali lagi. Apakah mungkin?

Tapi itu suatu tjontoh sadja. Ini suatu tjontoh jang akan melandjutkan pembitjaraan ini. Djadi pada umumnja kebiasaan itu bisa mengalahkan jang tidak biasa. Orang tak pernah berpikir, bahwa peribahasa ini suatu peribahasa jang tidak tjotjok. Karena terlalu biasa orang memakainja orang sudah menganggap itu betul. Dan memang pendapat masarakat itu lebih kuat dari pendapat orang-seorang, pada umumnja.

Perumpamaan (peribahasa dalam lingkungan luas) jang terdapat dalam bahasa Indonesia (sudah didaftarkan dalam buku Peribahasa sedjumlah duaribu tudjuhratus tigapuluhenam, djadi tentu masih banjak lagi belum dimasukkan) bukan jang telah kita uraikan tadi sadja. Barangkali agak susah djuga kita memikirkan, bagaimana masa rakjat itu mempunjai pengaruh jang besar terhadap segalanja. Kemudian kalau kita bandingkan perumpamaan dalam buku Peribahasa itu (serta jang katanja belum bisa dimasukkan penjusun kedalam buku itu) dengan perumpamaan jang kita kenal sekarang sebagai tjiptaan atau bentukan angkatan terachir ini, akan ternjata pada kita, bahwa akan tampak djuga kita, bahwa bentukan jang terachir perumpamaan itu lebih bisa diterima oleh akal dan tidak memerlukan biasa. Belum lagi dipakai ia sudah biasa. Lain dengan jang terdjadi pada perumpamaan jang terdahulu.

Tentu tidak semua perumpamaan bentukkan masa terdahulu memerlukan biasa.

Kita ambil tjontohnja; pertama jang memerlukan biasa:

1.
Ia rindu tak terperikan akan Susila, takut takkan bertemu-temu lagi, se-akan2 melepas majat kekubur, (Djangar Bali), halaman 113. Dari perumpamaan ini bisa diketahui, bahwa tjara mengumpamakan disini telah tak tepat. Orang melepas majat kekubur bukankah tak selalu dengan hati sedih atau sajang atau perasaan-perasaan lain jang menjatakan tak rela ? Perasaan demikian untuk sebagian besar kita temui dalam masarakat jang masih animistis. Dan kita tahu, bahwa anisme untuk djaman sekarang sudah tak laku lagi, walau tidak sama sekali (dan memang ia tak mungkin lenjap dari perhatian orang (manusia) sekarang. Pun dalam masarakat jang sudah madju dikota-kota besar (seperti Djakarta, Semarang dan Bandung). Orang (masjarakat) animistis menganggap orang, binatang dan benda-benda mempunjai djiwa atau rohnja masing-masing. Dan dikalangan masarakat manusia roh manusia itu dianggap sebagai tenaga jang berpengalaman, jang akan selalu memperhatikan keturunan dan masarakat jang ditinggalkannja. Karena itu masarakat jang tinggal menghormatinja, dan mereka pertjaja akan tenaga roh jang telah pergi badannja tapi tetap mem perhatikan keturunan dan masarakatnja itu. Mereka chidmat terhadap roh itu, hingga kadang-kadang mereka harus mengadakan upatjara tangis, jang chusus menangisi majat jang dikuburkan itu, meskipun mereka tak hendak menangis. Begitu tjara mereka merasakan keberatan hatinja.

Orang sekarang mana ada perhatian untuk pekerdjaan itu (maksud pengarang : masarakat, orang, jang sudah madju). Mereka sudah bisa berpikir kritis (pada tahun terbitnja buku Djangir Bali tentu pengaruh Barat jang individualistis itu telah masuk). Mereka sudah bisa berpikir, bahwa orang mati adalah suatu jang sewadjarnja. Tiap orang harus mati, dan akan mati. Itu sadja sudah tjukup untuk alasan, bahwa orang jang telah tak bernjawa tak usah disajangkan lagi. Tak usah lagi diharapkan untuk hidup kembali, dan kembali kedunia dengan segala tjintanja, setianja, ataupun patuhnja.

Djadi kita tak usah membenarkan pengumpamaan jang tertera diatas itu. Dan lagi kata takut dalam perumpamaan itu tak tjotjok untuk dipasang disitu. Hal tidak bertemu dengan majat jang telah dikuburkan itu tak bisa disangsikan lagi (dalam keadaan hidup). Kalau orang sudah dikubur, sudahlah. Kita tak usah takut kalau ia tak hidup kembali karena kita jakin bahwa ia akan hidup kembali. 2. Tubuh gadis itu gemetar sebagai batang padi ditiup angin, (Djangir Bali, halaman 155). Tubuh jang gemetar dan padi jang ditiup angin. Tentu tak sesuai untuk dibandingkan. Batang padi tidaklah gemetar kalau ditiup angin. Dia hanja tjondong atau meliuk. (Ini kenjataan jang pertama). 3. Ia berlaku dengan hemat dan tjermat, sebagai menghela rambut dalam tepung (Djangir Bali, halaman 189). Maksud penulisnja tentu keadaan rambut jang ditjabut dari dalam tepung itulah jang dipakai mengumpamakan tingkahlaku jang hemat dan tjermat itu. Tapi kita tak boleh berpikir begitu. Kita tindjaulah perumpamaan itu. Ternjata jang dipakai mengumpamakan tingkahlaku itu ialah hal menghela rambut dari tepung itu. Dan kita tahu, bahwa menghela rambut dari dalam tepung jang akan mendjadi makanan itu, adalah tidak dengan berhati-hati melainkan dengan rasa djidjik dan tak senang, dan segera melemparkannja ketempat jang disukainja.

Pemakaian dalam dalam sebagai menghela rambut dalam tepung kelihatan tak tepat. Menghela bukanlah dalam kalau jang dihela itu sesuatu benda, tetapi daridalam atau dari. 4. Air matanja mengalir sebagai pantjuran (Tjinta dan Kebenaran, halaman 79). Bagaimana djuga derasnja airmata keluar dari pembuluhnja tidaklah mungkin untuk menjerupai pantjuran. Kita masing-masing bisa membajangkan itu, tapi kita tahu bahwa pengumpamaan itu banjak sekali dipakai orang. 5. Hatinja sedih sebagai disajat dengan sembilu (Tjinta dan Kebenaran, halaman…) Perumpamaan ini djuga tak terhitung lagi orang jang memakainja. Dalam njanjian perumpamaan ini djuga sering terdapat. Tapi dalam buku-buku lebih-lebih lagi.

Dari perumpamaan itu kita ketahui, bahwa jang disajat adalah hatinja, ja, hati orang jang sedih itu. Padahal orang tak pernah bisa mengalami, bagaimana rasanja kalau hatinja disajat dengan sembilu atau pisau. Dan kalaupun bisa, tak tahu kita, adakah akan bisa ia membandingkan, mana jang lebih ngeri atau sakit, disajat dengan pisau, ataukah disakiti oleh suatu jang menjakiti hati. Ataukah kedua-duanja akan sama rasanja. Kita tak tahu, mengapa jang menjajat itu sembilu dan bukan pisau atau parang. Mungkin saat ditjiptakannja perumpamaan itu orang belum mengenal pisau. Atau kalau sudah maka pisau itu baru sedikit sekali dipakai orang. Dengan demikian kita bisa tahu, bahwa perumpamaan itu telah lama hidup didunia ini (kalau terkaan itu betul). Dan masarakat dengan tak insaf telah memakainja turun-temurun.

Sekarang kita ambil tjontoh-tjontoh untuk perumpamaan jang bisa diterima dengan senanghati; kita ambil djuga dari kedua buku jang kita ambil tjontohnja tadi:

1.
Kulit kuning langsat bagai emas disepuh, (Tjinta dan Kebenaran, halaman 14). Perumpamaan disini hanja akan menekankan apa-apa jang dikatakan disitu, jaitu kulit jang kuning dan tidak lebih tjondong pada pembandingan (menurut kenjataan pertama).
2.
Sebagai kena pukul pada mukanja sekarang pendeta Dyumna (Tjinta dan Kebenaran, halaman 34). Dengan tidak kita lihat hubungannja dengan kalimat jang mendahului dan menjusulnja kita lebih terang bisa membenarkan perumpamaan itu.
3.
Kedatangannja sebagai tikus menjumpai kuntjing (Tjinta dan Kebenaran, halaman 60). Dalam pilem Ivanhoe ada djuga kita djumpai utjapan jang demikian. Dan pada hakekatnja utjapan itu memang tjotjok. Ivanhoe datang pada musuhnja, jaitu alat-alat pemerintahan radja John, jang dengan segera akan menangkap dan menghukumnja. Begitulah keadaan tikus jang mungkin mendjumpai kuntjing. Kita tak tahu apakah betul ada tikus jang mendjumpai kutjing untuk dimakannja. Tapi kalau betul itu ada, maka ia akan menguatkan kebenaran utjapan tadi. Tapi kalau tak ada kita djuga bisa mengambil objek jang lain. Dalam keadaan jang biasa (normal) kutjing tak membiarkan mangsanja mendatanginja. Tentu akan lekas ditangkap dan dimakannja.
4.
Setelah ia siuman pula, iapun meratap berbuah-buah dengan sedih dan pilu (Djangir Bali, halaman 153). Pada umumnja kata benda njata (claas noun lebih tepat) bisa kita ikuti dengan kata buah untuk menjatakan djumlahnja. Tapi untuk membeda-bedakannja kemudian orang menjebut ekor, bilah, putjuk dan lain-lain untuk menjatakan djumlah sapi atau kerbau, pisau, surat atau senapan dan lain-lain.

Disini ratapan, kata benda tak njata jang kita ambil dari meratap, tidak hendak kita terangkan dengan buah itu untuk menjatakan djumlahnja, tetapi berbuah-buah disitu ialah untuk menjatakan keadaan jang tidak terus-menerus; untuk menjatakan sesuatu jang terputus-putus. Kita pernah melihat orang menangis jang kadang-kadang disela-sela dengan diam (tidak menangis). Itulah jang hendak dinjatakan oleh berbuah-buah itu. 5. Bagai manik putus talinja (pengarang), (Djangir Bali, halaman 208). Kalau perumpamaan itu kita artikan sebagai sesuatu jang tjerai berai (manik jang putus talinja tentu tak teratur lagi susunannja), maka betul perumpamaan ini. Tapi kalau kita artikan sebagai air mantjur, maka tidak tepat ia. Air mantjur mempunjai tudjuan jang tertentu, dan selamanja ia akan memiliki tudjuannja itu, kalau tak dirintangi oleh siapapun djuga (tenaga disamping manusia). Sedang manik jang baru putus talinja tidak. Ia akan bertjampur baur satu dengan lainnja.

Sekarang akan kita ambil pula tjontoh-tjontoh dari perumpamaan bentukan baru. Tidak usah kita beri pendjelasan lagi (komentar).

Tjontoh-tjontoh ini kita ambil dari madjalah Kisah, jang kira-kira se tengah tahun jang lalu terbit di Djakarta:

1.
Pertjakapan melompat-lompat, seperti seekor kodok melompat-lompat dari batu jang satu kebatu jang lain.
2.
Bilamana bini tua dan muda bertemu, selalu terdjadi bentrok, seperti api disiram bensin.
3.
Putusan-putusan datangnja dengan tjepat sadja, seperti penjakit kolera mentjekek njawa orang. Dan dibawah ini kita ambil dari buku „Dari Ave Maria ke Djalan lain Ke Roma” karangan Idrus dalam Kota-Harmoni:
4.
Ambang djendela penuh dengan air ludah dan air sirih, kemerah-merahan seperti buah tomat.
5.
Seorang perempuan muda, Belanda-Indo, mengambil saputanganja, ketjil sebagai daun pembungkus lemper, …Djelaslah, bahwa perumpamaan bentukan terachir lebih bisa diterima. Dan kita tentu tak ragu-ragu untuk membuangkan perumpamaan jang tak menjedapkan seperti: Sebagai dilangit jang ketudjuh karena senangnja, atau: Bibirnja bagi limau seulas, ataupun: Raut mukanja mendaun sirih.

Dalam bahasa Indonesia tjukup banjak kata-kata untuk melukiskan perumpamaan jang sedap-sedap, jang tidak seperti perumpamaan jang susah kita membajangkannja. Bagaimanakah akan kita bajangkan muka jang mendaun sirih itu ? Dan bagaimana pula senangnja dilangit jang ketudjuh ?

Tjatatan Redaksi:

Sifat kebanjakan pepatah memang begitu dan bukan dlm. bahasa kita sadja. Kalau kita ambil sebuah pepatah barat: Als ’t kalf verdronken is, dempt men de put-,maka utjapan kita barangkali akan lebih djelas dan terasa. Memang pepatah—bukan ungkapan atau uitdrukkingen dalam bahasa asingnja—tidak tepat lagi kita suguhkan banjak2 lagi kepada anak-anak kita. Murid-murid disekolah-sekolah landjutan banjak mengetahui barang2 itu, terutama akan menginsafkan mereka akan kebidjakan orang dulu menjusun kata tepat2, sehingga dua tiga kata jang tepat dan baik-baik susunannja dapat mengandung arti jang agak dalam. (Red. M. B.)


1Kurang djelas maksud penulis dengan perumpamaan disini. Peribahasa pada umumnja atau pepatah2 pada kususnja barangkali? (Red. M. B.).


2Jang lazim. Allah bisa oleh biasa (Red. M. B.).


3Bukankah bisa disini maksudnja: dapat atau sanggup? (Red. M. B.).